Kasus pelecehan seksual di unri

kasus pelecehan seksual di unri

Pekanbaru - Penyidik Polda Riau menggelar prarekonstruksi kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi FISIP Universitas Riau ( Unri). Penyidik menyegel ruang Dekan FISIP Syafri Harto. Pantauan detikcom, gedung dekanat FISIP Unri dijaga pihak keamanan kampus.

Semua pihak dilarang masuk ke ruang Dekan FISIP yang telah disegel penyidik. "Tidak boleh masuk, Pak, memang begitu ketentuannya," ujar pihak keamanan di lokasi, Kamis (11/11/2021). Baca juga: Kasus Dosen Diduga Ciumi Mahasiswi Unri Naik ke Penyidikan! Ada garis polisi yang dipasang di depan ruangan tempat mahasiswi diduga korban pelecehan itu melakukan bimbingan skripsi.

Polisi menyebut ruangan itu merupakan ruang Dekan FISIP Syafri Harto. "Iya, disegel, police line. Dipasang setelah tadi malam menggelar prarekonstruksi," kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto. Polisi juga telah meningkatkan status perkara dari penyelidikan ke penyidikan.

Sunarto mengatakan kasus ditingkatkan ke penyidikan setelah polisi memeriksa Dekan FISIP Unri Syafri Harto dan saksi lain serta pihak korban. "Saksi-saksi sudah diperiksa, korban juga sudah diperiksa. Maka hari kasus pelecehan seksual di unri kasus telah ditingkatkan ke penyidikan," kata Sunarto.

Sebelumnya, sebuah video pengakuan seorang mahasiswi soal pelecehan seksual di kampus Unri viral. Mahasiswi itu mengaku menjadi korban pelecehan yang diduga dilakukan Dekan FISIP Unri Syafri Harto. Wanita dengan wajah yang disamarkan itu mengaku mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2018 yang sedang menjalani bimbingan skripsi. Dia mengaku mengalami pelecehan pada akhir Oktober lalu di lingkungan kampus.

Baca juga: 6 Kabar Terkini soal Dugaan Dosen Unri Ciumi Mahasiswi Mahasiswi itu mengaku dicium Syafri saat bimbingan. Kasus ini telah dilaporkan ke polisi. Syafri telah membantah tudungan tersebut. Dia kemudian melaporkan balik mahasiswi tersebut ke Polda Riau. Syafri melapor karena merasa nama baiknya dicemarkan. Dia juga mengancam akan menuntut Rp kasus pelecehan seksual di unri miliar ke mahasiswi itu. Merdeka.com - Kasus dugaan pelecehan seksual kasus pelecehan seksual di unri terlapor Dekan Fisip Universitas Riau (Unri) sudah masuk ke tahap penyidikan.

Selain di kepolisian, pihak kampus juga mengusut kasus yang dialami mahasiswi inisial L. Dari pengakuan korban lewat video dan viral di medsos, sang dosen diduga melakukan pelecehan seksual kepada korban. BACA JUGA: Pelaku Pelecehan Seksual di Palembang Dihajar Massa usai Motor Mogok saat Kabur Ketua DPR Minta Aturan Turunan UU TPKS Dikawal agar Implementasi Lebih Kuat TPF terdiri dari dosen-dosen Satuan Pengawas Internal (SPI) di kampus pelat merah itu.

Namun pihak mahasiswa disebut tidak dilibatkan dalam tim itu. "TPF tidak melibatkan kasus pelecehan seksual di unri mahasiswa. Padahal yang diperiksa adalah dosen juga, makanya kami minta ini terbuka. Harus disampaikan apa hasil-hasil yang ditemukan ke publik," jelasnya. Rian berharap rektor Prof Aras juga segera membentuk Satgas sesuai Permendikbud No 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Sehingga kasus itu bisa diungkap secara terang benderang. "Memang kalau untuk Satgas butuh proses panjang, tapi ini diperlukan. Bisa langsung dibentuk agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di lingkungan kasus pelecehan seksual di unri kata Rian yang juga alumni kampus UNRI tersebut.

BACA JUGA: Ketua DPR: UU TPKS Hadiah Bagi Perempuan di Hari Kartini Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di DIY Masih Tinggi, Ini 4 Faktanya LBH Pekanbaru juga memastikan kondisi korban sudah mulai stabil. Namun korban masih belum bisa komunikasi dengan orang banyak. Korban mempercayakan kasus itu ke penegak hukum dan meminta LBH untuk mengawal hingga tuntas.

Sebab, korban tak ingin kasus yang dialaminya kembali terjadi. Sebelumnya, rektor Aras telah membentuk TPF untuk mengusut kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi.

"Tim TPF sudah melakukan proses pencarian fakta. Tim terdiri dari dosen semua," ujar Humas Unri, Rioni Imron kemarin. Tim itu dibentuk dan mulai bekerja pada Senin (8/11). "Tim TPF dibentuk ad hoc karena kasus ini.

Dibentuk oleh pak rektor," ujar Rion. BACA JUGA: Video Porno Siswa Sekolah Viral, Nigeria Ancam Penyebar Video dengan 14 Tahun Penjara Menteri PPPA Berharap Guru Ngaji Cabuli 15 Santri di Pangalengan Dihukum Berat Tim TPF dipimpin Ketua satuan Pengawas Internal (SPI) Unri, Ikhsan, yang merupakan mantan Dekan Fakultas Hukum Unri. Meski dari kasus pelecehan seksual di unri internal, dia menjamin netralitas tim TPF besutan rektor.

[cob] 1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Ketiga, Penampilannya Mencuri Perhatian 3 Barisan Prajurit Kopaska TNI Menangis di Hutan, Alasannya Bikin Haru 4 Misteri Penembak Arief Rahman Hakim: Pengawal Presiden atau Polisi Militer Jakarta? 5 Mantan Kasad ke Prabowo: Mas Bowo harus Jadi Presiden Selengkapnya
tirto.id - Mahasiswi Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau ( Unri) angkatan 2018, L, hendak bimbingan proposal skripsi, 27 Oktober 2021, pukul 12.30.

Ia mau bimbingan skripsi di ruangan Dekan FISIP Unri, Syafri Harto. Siang itu hanya mereka saja. Syafri mengawali bimbingan dengan bertanya kehidupan personal L. Sepanjang pertemuan itu, L tidak nyaman karena pertanyaan yang dilontarkan si dosen. “Ia (Syafri) mengatakan ‘I love you’ yang membuat saya merasa terkejut dan (saya) tidak menerima perlakuan bapak,” ujar L dalam tayangan video yang diunggah dalam akun Instagram komahi_ur, 4 November 2021.

Korban telah menyetujui pernyataannya ditonton publik. Rampung bimbingan, si mahasiswi ingin pamit. Ia hendak bersalaman, tapi Syafri membalasnya dengan meletakkan tangan di kedua bahunya, mendekatinya, kemudian memegang kepalanya sembari mencium pipi kiri dan kening L. Lantaran takut, L menunduk tapi lelaki itu mendongakkan kepala L dan berkata “Mana bibir?

Mana bibir?” “(Perlakuan Syafri) membuat saya merasa terhina, terkejut, badan saya lemas. Saya ketakutan. Setelah saya dorong badan Pak Syafri ia mengatakan ‘ya sudah kalau gak mau’,” jelas L.

Lantas L ambil langkah seribu dari tempat kejadian. “Saya merasa sangat dilecehkan oleh Bapak Syafri Harto. Saya mengalami trauma berat atas perlakuan yang tidak pantas.” L tak diam diri, ia mengadukan perbuatan Syafri ke salah satu dosen Hubungan Internasional. L meminta bantuan dosennya untuk melaporkan perkara itu kepada ketua jurusan dan agar dia bisa mengajukan dosen pembimbing pengganti. Kemudian L pergi ke rumah ketua jurusan, tapi SI dosen yang ia minta bantuan itu, menyuruhnya bertemu di kedai kopi.

Di kedai, si dosen memohon agar kelakuan Syafri tak dibocorkan kepada ketua jurusan karena bisa saja Syafri dan istrinya bercerai karena kasus tersebut. Si dosen juga menegaskan agar L sabar menerima dugaan pelecehan seksual. “Beliau menghalang-halangi saya untuk mendapatkan keadilan atas perlakuan yang tidak pantas,” tutur L.

“Awalnya saya kira bapak (dosen) tersebut mendukung dan ingin melindungi saya, ternyata tidak. Di depan ketua jurusan ia menyalahkan saya atas kecerobohan saya yang tidak menggunakan SK dalam bimbingan proposal. Dia mementingkan SK ketimbang kasus pelecehan seksual yang saya terima.” Bahkan si ketua jurusan mengklaim perbuatan Syafri hanyalah kekhilafan, insidental, dan bukan kebiasaan; dan keduanya menyuruh L bungkam. Baca juga: • Nadiem Terbitkan Permendikbud PPKS Soal Kekerasan Seksual di Kampus • Kekerasan Seksual di Kampus Masif, Permendikbud PPKS Jadi Solusi?

Sumpah Pocong Syafri pun angkat bicara. Bahkan dia menuntut L karena dugaan pencemaran nama baik, ia meminta pihak penuding Rp10 miliar sebagai ganti rugi. “Karena saya tidak berbuat, saya tidak pernah diklarifikasi, saya tidak pernah dikonfirmasi, saya merasa dirugikan, nama baik saya tercemar. Maka saya secara hukum akan menuntut balik. Ke mana pun saya akan tuntut balik," ucap dia, Jumat (5/11) seperti dikutip Antara. Syafri juga akan memburu aktor intelektual di balik video pernyataan L.

Menurutnya, video ini seakan dikaitkan dengan dirinya yang akan maju pada pemilihan Rektor Unri tahun depan. Persoalan yang menimpanya merupakan muruah pribadi, tapi istri dan anak-terdampak. Syafri berani bersumpah di atas Al-Quran hingga sumpah pocong, untuk membuktikan ia tak berbuat seperti yang dituduhkan. Pada 6 November, Syafri mengadukan A dan akun Instagram komahi_ur atas dugaan pencemaran nama baik kepada Polda Riau.

Selanjutnya, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Unri Kaharuddin meminta Rektor Unri mencopot Syafri selama proses pemeriksaan oleh Satuan Tugas. “Kami mendesak agar (Syafri) dapat diberhentikan sementara tugas beliau sebagai pendidik dan Dekan FISIP Unri,” kata dia, Minggu (7/11).

Dasar tuntutannya ialah Pasal 42 Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Bunyi pasal tersebut yakni “Selama Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Pemimpin Perguruan Tinggi dapat memberhentikan sementara hak pendidikan Terlapor yang berstatus sebagai Mahasiswa atau hak pekerjaan Terlapor yang berstatus sebagai Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Warga Kampus.” [ PDF] Baca juga: • Saat Korban jadi Tersangka & Kasus Viral Dulu Baru Polisi Bertindak kasus pelecehan seksual di unri Babak Baru Kasus Pemerkosaan di Luwu Timur Usai Terduga Lapor Balik Laporan Balik: Cara Bungkam Korban Rian Sibarani, Kepala Operasional Lembaga Bantuan Hukum Pekanbaru mengatakan pihaknya selaku kuasa hukum L telah mengadukan dugaan pelecehan seksual kepada Polresta Pekanbaru.

Polisi akan mengusut perkara tersebut. Maka tim kuasa hukum akan mengawal kasus ini. Tanda Bukti Lapor pengaduan tercantum dengan Nomor: SPTL: 906/XI/2021/SPKT II/RESTA PEKANBARU, berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/B/906/XI/2021/SPKT/POLRESTA PEKANBARU bertanggal 5 November 2021.

Usai kejadian tersebut, L hingga kini masih trauma. “Karena masih ada pihak-pihak yang menghubungi korban maupun keluarga korban, baik dengan nomor baru atau secara langsung,” ucap Rian, Minggu (7/11/2021). L masih ketakutan beraktivitas normal, meski telah mendapatkan pendampingan psikologis.

Dalam kasus ini, Syafri telah melanggar Pasal 5 huruf l Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021. Bunyi pasal itu yakni “menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh korban tanpa persetujuan korban.” Kemudian Rian berharap Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dapat melindungi L, juga akan melaporkan peristiwa ini kepada Komnas Perempuan cum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ristek.

Tak hanya L, pada 2018, LBH Pekanbaru mendapatkan laporan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh mahasiswa. Sedangkan di tahun ini ada 13 pengaduan perihal kekerasan gender berbasis daring, terduga pelaku menyimpan lebih dari 100 foto editan yang siap disebarluaskan. Perihal laporan balik oleh Syafri, Rian mengatakan pihaknya sangat kecewa ditambah pihak Unri membiarkan peristiwa itu terjadi. “Kami berharap kepolisian bijak mencermati substansi Surat Keputusan Bersama Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik,” terang Rian.

Pada Pedoman Implementasi Pasal 27 ayat (3) huruf c Surat Keputusan Bersama Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung, dan Kapolri itu menegaskan: “Bukan delik yang berkaitan dengan muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE, jika muatan atau konten yang ditransmisikan, didistribusikan, dan/atau dibuat dapat diaksesnya tersebut adalah berupa penilaian, pendapat, hasil evaluasi, atau sebuah kenyataan.” Polisi kudu jeli mengusut kasus ini.

“Intinya bila dalam video atau sebuah unggahan yang disebar merupakan suatu fakta, maka proses itu harus dibuktikan terlebih dahulu. Kami meminta kepolisian yang menerima atau memeriksa laporan terduga pelaku terkait UU ITE untuk tidak melanjutkan laporan tersebut,” ujar Rian.

Tak hanya kali ini korban menjadi terlapor. Misalnya, dalam kasus dugaan pemerkosaan ayah terhadap tiga anak kandungnya di Luwu Timur. Karena tak terima, terduga pemerkosa mengadukan RS, mantan istri sekaligus ibu korban, kepada Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan, 16 Oktober 2021, atas dugaan pencemaran nama baik. Lalu juga ada kasus korban menjadi terpidana. Baiq Nuril, perempuan itu dinilai melanggar Pasal 27 ayat (1) UU ITE karena menyebarkan informasi bermuatan asusila.

Konten yang dimaksud adalah rekaman percakapan telepon antara dia dengan Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram, tempat ia mengajar, bernama Muslim.

kasus pelecehan seksual di unri

Muslim melecehkan Nuril secara verbal dan itu bukan kali pertama. Maka itu pula alasan kenapa Nuril merekam percakapan dengan si lelaki. Pegawai honorer itu divonis hukuman enam bulan penjara dan denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan. Kasus Baiq Nuril kemudian mendapat amnesti dari Presiden Jokowi. Baca juga: • Baiq Nuril Terima Keppres Amnesti Jokowi, Resmi Bebas Pidana UU ITE • Amnesti untuk Saiful Mahdi: Bukan Sekadar Surat, tapi Simbol Nilai Kasus Pelecehan Seksual Harus Diselesaikan Dulu Kriminolog dari Australian National University Leopold Sudaryono berujar dalam perkara L, harus diselesaikan terlebih dahulu dugaan kasus pelecehan seksual.

“Kalau dosen ternyata diputuskan bersalah, dugaan pencemaran nama baik tidak dilanjutkan,” kata dia kepada reporter Tirto, Senin (8/11). Sama seperti kasus korupsi, whistleblower atau terduga korban harusnya dilindungi dari dakwaan pidana pencemaran nama baik sampai kasus kekerasan seksual selesai diproses di penyidikan atau peradilan.

Sementara itu, Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo menyatakan pihaknya siap turun tangan. “LPSK siap berikan perlindungan kepada korban.

Kami kasus pelecehan seksual di unri agar pihak kampus mengedepankan perspektif korban dan fasilitatif terhadap proses pemeriksaan etik maupun hukum kepada terduga pelaku,” kata dia kepada reporter Tirto, Senin (8/11/2021). Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbudristek Nizam menilai, kasus seperti yang menimpa mahasiswi L ini membuat Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang PPKS menjadi sangat penting.

Misalnya, dalam Pasal 2, tujuan regulasi ini sebagai pedoman bagi perguruan tinggi untuk menyusun kebijakan dan mengambil tindakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang terkait dengan pelaksanaan Tridharma di dalam atau di luar kampus dan untuk menumbuhkan kehidupan kampus yang manusiawi, bermartabat, setara, inklusif, kolaboratif, serta tanpa kekerasan di antara mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan warga kampus di perguruan tinggi.

“Kemdikbudristek tidak memberi toleransi atas kekerasan dan kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. Institusi pendidikan yang baik adalah melindungi warganya dari kejahatan dan kekerasan seksual,” tutur Nizam kepada reporter Tirto, Senin (8/11/2021). KOMPAS.com - Dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampus mencuat setelah viralnya sebuah twit, Kamis (4/11/2021).

Akun Twitter @KOMAHI_UR yang merupakan akun Korps Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau ( UNRI) mengunggah pengakuan pelecehan yang dialami salah satu mahasiswi jurusan Hubungan Internasional (HI).

Video pengakuan korban dibagikan dalam 7 bagian. Mahasiswi itu mengaku dilecehkan oleh dosennya saat melakukan bimbingan proposal skripsi. Menurut pengakuan korban, pelaku memaksa mencium pipi dan kening korban. Peristiwa itu terjadi pada 27 Oktober 2021 di Ruangan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau.

Baca juga: Video Viral Diduga InstagramStory Sopir Vanessa Angel, Ini Kata Polisi Atas kejadian yang menimpanya, korban mengaku ketakutan dan trauma.

Dalam pengakuannya di video, kasus pelecehan seksual di unri sempat meminta bantuan salah satu dosen di jurusannya untuk melaporkan dugaan pelecehan seksual itu sekaligus meminta dosen pembimbing baru. Akan tetapi, korban mengaku diintimidasi dan ditertawakan oleh pihak jurusan. Dosen tersebut menekan korban untuk tidak mengadukan kasus ini pada ketua jurusan.

Korban mengaku diancam dan diminta bersabar dan tabah atas peristiwa tersebut. Dia dinasehati agar jangan sampai karena peristiwa itu dosen terduga pelaku bercerai dengan istrinya. Tanggapan UNRI Sehari setelah video tersebut viral di media sosial, pihak UNRI memberikan tanggapan. Melalui keterangan tertulis, Rektor Universitas Riau Aras Mulyadi menanggapi dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu dosen. Berita Terkait Viral, Video Polantas Minta Sekarung Bawang Saat Tilang Sopir Truk, Ini Tanggapan Korlantas Analisis BMKG soal Video Viral Hujan Turun Hanya di Satu Mobil Viral, Video Truk Bawa Puluhan Motor Hangus Terbakar di Tol Nganjuk, Bagaimana Awalnya?

Pelanggaran Polisi Tahun 2021 Diklaim Turun, Kenapa Banyak yang Viral? Viral "Salam dari Binjai", Bocah di Lamongan dan Salatiga Rusak Pohon Pisang Warga Berita Terkait Viral, Video Polantas Minta Sekarung Bawang Saat Tilang Sopir Truk, Ini Tanggapan Korlantas Analisis BMKG soal Video Viral Hujan Turun Hanya di Satu Mobil Viral, Video Truk Bawa Puluhan Motor Hangus Terbakar di Tol Nganjuk, Bagaimana Awalnya?

Pelanggaran Polisi Tahun 2021 Diklaim Turun, Kenapa Banyak yang Viral? Viral "Salam dari Binjai", Bocah di Lamongan dan Salatiga Rusak Pohon Pisang Warga Kota Batu Dilanda Banjir, Ini Penjelasan Ahli mengenai Penyebabnya https://www.kompas.com/tren/read/2021/11/05/184500165/kota-batu-dilanda-banjir-ini-penjelasan-ahli-mengenai-penyebabnya https://asset.kompas.com/crops/zLjnciKxz0yw3QHmszRnb1UsZmI=/0x0:0x0/195x98/data/photo/2021/11/05/6184c64109e36.jpg
Merdeka.com - Dekan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Riau (Unri), Syafri Harto ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pelecehan seksual.

kasus pelecehan seksual di unri

Polda Riau yang menangani kasus ini telah menemukan 2 alat bukti dan memeriksa sejumlah saksi. Kasus yang berawal dari bimbingan skripsi hingga beralih ke dugaan 'bimbingan seksual' itu lantaran adanya pengakuan korban inisial L yang diminta untuk dicium. Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto kasus pelecehan seksual di unri peningkatan status tersangka terhadap Syafri Harto (SH) tersebut. "Iya benar. SH sudah ditetapkan sebagai tersangka melalui proses gelar perkara, dalam kasus tindak pidana dugaan perbuatan cabul," ujar Sunarto, Kamis (18/11) Sunarto juga mengatakan, pihaknya telah mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).

BACA JUGA: VIDEO: Duduk Perkara Hotman Paris Terseret Pelecehan Seksual dan Dilaporkan Eks Aspri VIDEO: Ini Tampang Pria Eksibisionis Lakukan Aksi Menjijikkan di KRL "Penyidik akan segera melakukan pemanggilan terhadap SH untuk diperiksa sebagai tersangka," ujarnya.

Kasus ini bermula dari seorang mahasiswi jurusan Hubungan Internasional (HI) FISIP UNRI angkatan 2018 berinisial L mengaku telah dilecehkan dosen pembimbingnya, Syafri Harto. L menyampaikan kejadian pahit yang dialaminya ke media sosial Instagram di akun @komahi-ur. Pengakuannya itu beredar luas. Dalam video pengakuan itu, L kasus pelecehan seksual di unri kejadiannya saat dia datang ke kampus pada Rabu (27/10) untuk bimbingan skripsi. Dia menemui Syafri Harto selaku dosen pembimbingnya.

BACA JUGA: Setelah Dua Tahun, Anggota DPRD di Papua Ditangkap Atas Dugaan Pelecehan Seksual Gadis di Sidoarjo Diperkosa 6 Pria, Modusnya Kenalan di Medsos lalu Mengajak Pacaran Kemudian L dan Syafri Harto menyepakati untuk menjalani bimbingan skripsi di gedung dekan.

Saat melakukan bimbingan, awalnya biasa-biasa saja. Namun ketika proses bimbingan berjalan, Syafri Harto diduga mengeluarkan kalimat yang menyentuh masalah pribadi korban L berulang-ulang.

Saat mahasiswi itu selesai bimbingan skripsi, tiba-tiba dekan itu diduga memegang tangan korban sambil mendekat dan langsung mencium pipi serta kening korban. [bal] Baca juga: Dekan Fisip UNRI Dilaporkan Lakukan Pelecehan, Pengacara Sudutkan Pelapor Lecehkan 7 Anak, 2 Pelaku Paedofil Ditangkap Polisi Fakta Baru Dugaan Pelecehan Seksual Ustaz terhadap Santriwati, Pelaku Katakan Ini UGM Dalami Dugaan Kasus Pelecehan Seksual Dilakukan Mahasiswa Pascasarjana Guru di Flores Timur Cabuli Siswanya, Modus Ajak Pacaran Pentingnya Upaya Lindungi Korban Kekerasan Seksual di Institusi Pendidikan 1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Ketiga, Penampilannya Mencuri Perhatian 3 Barisan Prajurit Kopaska TNI Menangis di Hutan, Alasannya Bikin Haru 4 Misteri Penembak Arief Rahman Hakim: Pengawal Presiden atau Polisi Militer Jakarta?

5 6 Gaya Lucu Rayyanza Anak Raffi Ahmad & Nagita Liburan di Bali, Bikin Gemas Selengkapnya
Pekanbaru - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau ( Unri) mengaku sudah menerima aduan dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampus. BEM mengecam tindakan dosen terjadi saat bimbingan skripsi. "Pascapelantikan (pelantikan Ketua BEM periode 2021-2022) hari ini, kawan-kawan menyampaikan ke kita.

Terkait pelecehan seksual yang terjadi," terang Ketua BEM Unri, Kaharudin, kepada detikcom, Kamis (4/11/2021). Kahar kemudian menanyakan soal duduk kasus dugaan pelecehan seksual tersebut.

Korban bercerita soal kronologi pelecehan seksual yang dialami. Baca juga: Viral Mahasiswi Unri Diduga Dicium Dosen di Kampus Saat Bimbingan Skripsi Atas tindakan itu, BEM Unri mengecam keras tindakan sang dosen. Apalagi dilakukan saat korban melakukan bimbingan skripsi di kampus.

"Kita tidak membenarkan ini karena nilai-nilai adat kita tinggi. Ini pelecehan sudah terhadap kawan-kawan," katanya. Kahar mendapat laporan korban dicium oleh sang dosen.

Dia menyebut tindakan sang dosen telah melanggar norma hukum. Sebelum memutuskan buka suara, korban mengaku sangat ketakutan dan trauma. Ia kemudian berdiskusi hingga akhirnya memilih buka suara dan menceritakan kronologi ke media sosial Himpunan Mahasiswa. "Kita lindungi korban, kita akan dampingi korban. Harapannya ini berdiri satuan gugus khusus, rektor harus bersikap dan memberikan sanksi kepada pelaku, usut tuntas," katanya tegas.Hakim menilai unsur dakwaan JPU tak terpenuhi, baik primair dan subsider.

Atas dasar itu, hakim menyatakan Syafri Harto dibebaskan dari segala dakwaan serta tuduhan yang menjeratnya dan Syafri Harto harus dibebaskan. Kronologis Kasus Pelecehan Seksual yang Membuat Syafri Harto Tersangka Berikut kronologis lengkap kasus dugaan pelecehan seksual yang dituduhkan pada Syafri Harto?

Dalam sebuah video berdurasi 13 menit 24 detik, seorang mahasiswi jurusan Hubungan Internasional UNRI diuploud melalui akun Instagram @komahi_UR, Kamis, 4 November 2021. Mahasiswi tersebut mengaku dilecehkan oleh Dekan Fisipol UNRI, sekaligus dosen pembimbingnya, Syafri Harto. Korban yang berinisial L menyebutkan kejadian tidak mengenakan itu berlangsung pada Rabu, 27 November 2021 sekitar pukul 12.30 WIB saat melakukan bimbingan proposal skripsi.

Ketika selesai bimbingan, korban menyatakan Syafri Harto menggenggam bahu korban dan mendekatkan badannya. Lalu pelaku memegangi kepala korban dan mencium pipi kiri serta kening korban. "Dia juga mencoba mendongakkan kepala dan berkata 'Mana bibir?

Mana bibir?," tuturnya. Korban akhirnya kasus pelecehan seksual di unri pelaku kemudian berlari meninggalkan kampus dengan perasaan takut. Sesaat setelah video itu diupload, publik gempar dan video pengakuan tersebut viral di semua sosial media dan mendapat perhatian masyarakat Indonesia.

2. Syafri Harto dilaporkan ke Polresta Pekanbaru dan mahasiswa UNRI mulai berdemo Keesokan harinya, korban dengan dukungan orang terdekatnya melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya ke Polresta Pekanbaru, Jumat 5 November 2021.

Kepolisian Polresta Pekanbaru segera menyelidiki laporan tersebut dan mencari saksi serta petunjuk yang akan dibutuhkan saat kasus pelecehan seksual di unri penyidikan. Di hari yang sama, seratusan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Rektorat Universitas Riau. Massa aksi meminta Syafri Harto mengakui tindakannya dan meminta maaf kepada korban serta keluarganya. Selain itu mahasiswa juga meminta Syafri Harto menerima semua sanksi yang akan diterima nanti dari pihak rektor.

3. Syafri Harto angkat bicara atas tuduhan kepadanya Merasa tersudutkan, akhirnya Syafri Harto angkat bicara. Syafri Harto membantah tuduhan pelecehan seksual yang ditudingkan padanya,Jumat, 5 November 2021.

Menurutnya, tuduhan itu dilontarkan berkaitan dengan kabar dirinya yang akan maju pada pemilihan Rektor UNRI di tahun depan.

kasus pelecehan seksual di unri

Syafri Harto juga akan mencari aktor intelektual di balik video viral tersebut. Bahkan, Syafri Harto akan menuntut mahasiswi yang sudah menudingnya melakukan tindakan tidak terpuji tersebut. Tak main-main, angka yang disampaikan Syafri Harto untuk menuntut pihak yang telah menundingnya itu sebanyak Rp10 miliar. 4. LBH Pekanbaru siap mendampingi proses hukum atas kasus ini Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Pekanbaru menyatakan siap membantu pendampingan proses hukum korban usai mengaku dilecehkan dosen pembimbingnya, Minggu, 7 November 2021.

kasus pelecehan seksual di unri

"Kami akan mengawal proses hukum dugaan pelecehan seksual di Kampus Unri hingga selesai," kata Noval Setiawan selaku kuasa hukum dari LBH Pekanbaru. LBH Pekanbaru turut bekerjasama dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Pekanbaru untuk mendampingi pemulihan psikis korban.

5. Syafri Harto diperiksa sebagai saksi di Polda Riau Syafri Harto diperiksa dengan status sebagai saksi atas kasusnya di Mapolda Kasus pelecehan seksual di unri. Selang beberapa jam menjalani pemeriksaan, sekitar pukul 15.05, Syafri Harto didampingi pengacaranya keluar dari salah satu ruangan dari gedung Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Riau, Rabu 10 November 2021.

Namun saat hendak diwawancarai sejumlah jurnalis, Syafri Harto bungkam dan sibuk menelpon seolah-olah agar tidak ingin diganggu.
Liputan6.com, Jakarta - Kembali terulang kasus dugaan pelecehan seksual.

Kali ini, dialami seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau. Mahasiswi tersebut sempat membuat ramai warganet lantaran video berdurasi 13 menit mengungkapkan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual di sekitaran kampus. Korban mengaku mendapatkan perlakuan tersebut dari salah seorang dosen di kampusnya.

Dalam video tersebut, korban bersaksi bahwa pelecehan tersebut terjadi pada Rabu 27 Oktober pukul 12.30. Korban berniat menemui pelaku lantaran ingin melakukan bimbingan akademisnya, yakni proposal skripsi.

Dalam keterangannya, di ruangan tersebut hanya terdapat mereka berdua. Korban mengaku pelaku menanyakan beberapa pertanyaan diluar pembahasan konteks akademis. "Bapak mengawali bimbingan proposal skripsi dengan menanyakan beberapa pertanyaan yang menuju kepada personal life saya," terang korban. Tidak sampai disitu, sang dosen kemudian melanjutkan aksinya dengan memberi rayuan kepada korban si mahasiswi. Korban pun mengaku ingin mendapatkan perlindungan karena takut kejadian itu terulang lagi.

kasus pelecehan seksual di unri

Hanya saja, rencananya dijegal oleh sejumlah oknum dosen. Berikut fakta-fakta terkait kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau dihimpun Kasus pelecehan seksual di unri Seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau membuat ramai warganet lantaran video berdurasi 13 menit mengungkapkan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual di sekitaran kampus.

Korban mengaku mendapatkan perlakuan tersebut dari salah seorang dosen di kampusnya. Dalam video tersebut, korban bersaksi bahwa pelecehan tersebut terjadi pada Rabu 27 Oktober pukul 12.30. Korban berniat menemui pelaku lantaran ingin melakukan bimbingan akademisnya, yakni proposal skripsi. Dalam keterangannya, di ruangan tersebut hanya terdapat mereka berdua. Korban mengaku pelaku menanyakan beberapa pertanyaan diluar pembahasan konteks akademis.

"Bapak mengawali bimbingan proposal skripsi dengan menanyakan beberapa pertanyaan yang menuju kepada personal life saya," ucap korban. Tidak sampai disitu, sang dosen melanjutkan aksinya dengan memberi rayuan kepada korban.

"Dalam percakapan tersebut, beberapa kali mengatakan kata-kata yang membuat saya tidak nyaman, seperti mengatakan kata-kata 'i love you' yang membuat saya merasa terkejut dan sangat tidak menerima perlakuan Bapak tersebut," lanjutnya. Setelah selesainya proses bimbingan proposal skripsi, korban hendak berpamitan dan bersalaman.

kasus pelecehan seksual di unri

Kasus pelecehan seksual di unri itu korban mengungkapkan bahwa kedua bahunya digenggam pelaku, diikuti dengan mendekatkan tubuhnya pada korban. Kemudian pelaku menggenggam kepala korban dengan kedua tangannya, dilanjutkan dengan mencium pipi kanan, pipi kiri, dan keningnya.

"Saya sangat merasa ketakutan dan langsung menundukkan kepala saya. Namun, Bapak segera mendongakkan kepala saya dan ia berkata, 'mana bibir, mana bibir'," ungkap mahasiswi tersebut. Dalam video tersebut korban menceritakan detail kejadian dengan suara gemetar dan napas yang pendek. Tindakan pelecehan tersebut membuat korban merasa terkejut, ketakutan, hingga badannya lemas.

Mahasiswa tersebut langsung mendorong badan pelaku dan disusul dengan kalimat sang dosen, "yaudah kalo kamu ga mau". Mahasiswi yang membuat pengakuan telah mendapatkan pelecehan seksual dari dosen membuat laporan ke Polresta Pekanbaru. Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Riau ini datang didampingi keluarga dan rekannya.

Pantauan di Polresta Pekanbaru, korban dugaan pelecehan seksual ini tiba di Sentra Kepolisian Layanan Terpadu sekitar pukul 14.40 WIB. Beberapa menit setelah mengisi formulir laporan, koban dibawa seorang polisi wanita ke sebuah aula.

Di Aula Zapin Polresta Pekanbaru ini, korban masih didampingi keluarga dan petugas dari Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Pembuatan laporan dilakukan secara tertutup untuk menghindari beban psikologi dari korban.

Saat datang ke Polresta Pekanbaru, korban terlihat tertekan atas kejadian yang dialaminya ini. Berbalut masker di sebagian wajah, mata korban terlihat kemerahan berkaca-kaca. "Mohon doanya," kata seorang perempuan yang mendampingi korban.

Video viral pengakuan mahasiswi mendapatkan pelecehan seksual dari oknum dosen membuat masyarakat heboh. Pengakuan yang diunggah akun Instagram @komahi_ur itu juga menjadi sorotan civitas akademika Universitas Riau, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol). Korban mengaku mendapatkan pelecehan seksual dari oknum dosen berinisial S. Dia diduga sebagai pimpinan tertinggi di fakultas tersebut. Selain menjelaskan kronologis pelecehan seksual usai bimbingan proposal skripsi ini, mahasiswi yang tak disebut identitas dan disamarkan wajahnya dalam video berdurasi 13 menit itu pernah mengadu ke dosen lainnya.

Korban ingin mendapatkan perlindungan karena takut kejadian itu terulang lagi. Hanya saja, rencana korban itu dijegal kasus pelecehan seksual di unri sejumlah oknum dosen. Dalam video pengakuannya, beberapa hari usai kejadian, korban menghubungi salah satu dosen jurusan Hubungan Internasional (HI), jurusan yang diambilnya, dengan tujuan menemani dirinya menemui ketua jurusan.

Namun, oknum dosen tersebut mencoba merayu korban agar tidak mengadu. Bahkan, ketika korban hampir sampai ke rumah ketua jurusan, oknum dosen tersebut secara aktif mengajak korban untuk bertemu dahulu di warung kopi.

Di situ, kata korban, oknum dosen tersebut malah mengancam dirinya agar mengurungkan niat melaporkan peristiwa tersebut ke ketua jurusan. "Jika ini terungkap, Pak S (terduga pelaku) akan bercerai dengan istrinya," kata oknum dosen tersebut seperti ditirukan korban dalam video pengakuannya.

Korban pun disuruh bersabar untuk tidak mempermasalahkan kasus ini. Sore hari itu juga, lanjut korban, usai Salat Jumat akhirnya korban bertemu dengan ketua jurusan yang didampingi oleh oknum dosen tersebut. Ternyata, harapan korban terhadap oknum dosen yang akan melindungi dirinya hanya pepesan kosong.

"Di depan ketua jurusan, dosen tersebut malah menyalahkan saya ceroboh tidak menggunakan SK dalam melakukan bimbingan proposal," tutur korban. Di pertemuan itu, oknum dosen tersebut, berulang kali menjatuhkan dan menyalahkan korban di depan ketua jurusan. Bahkan, kata korban, oknum dosen itu mengintimidasinya agar tidak membesar-besarkan masalah ini. Parahnya, kata korban, oknum dosen tersebut secara frontal membela S di depan ketua jurusan dengan mengatakan, bahwa pelecehan seksual yang dilakukan itu bukan kebiasaan S, melainkan hanya 'accidental' alias kecelakaan.

Korban pun membeberkan kejadian itu. Namun, reaksi yang diterimanya dari oknum dosen HI dan ketua jurusan itu malah membuatnya semakin terhina. Pengakuannya itu kasus pelecehan seksual di unri ditertawakan kedua pendidik itu. "Mereka berdua menginjak-injak harga diri, saya merasa tidak dilindungi.

Dosen-dosen tersebut sangat jahat sama saya," keluh korban sedih. Kemudian, menurut korban, S mencoba menghubungi dirinya berkali-kali dengan nomor baru. "Dan dia sempat men-chat saya dengan mengatakan 'Kok WA Bapak di-reject'. Ini membuat saya merasa diteror dan dosen yang mengintimidasi saya tersebut berusaha berkali-kali untuk menghubungi saya untuk berdamai," ceritanya.

Kemudian, lanjutnya, melalui perantara, dosen menghubungi keluarga korban dan mengatakan alasannya mencium korban karena mengganggap korban sebagai anaknya. Namun, keluarga korban justru balik bertanya kepada perantara S "kalau dianggap sebagai anak, kenapa mencium di bibir?".

Setelah beberapa waktu, akhirnya korban memberanikan diri memutuskan untuk mengangkat kasus ini ke publik.

kasus pelecehan seksual di unri

"Saya berharap kepada siapa pun di luar sana, siapa pun kalian yang mengalami pelecehan seksual, terlebih di lingkungan kampus, saya berharap mereka mampu berbicara atas perlakukan yang mereka alami.

Jangan mereka (pelaku pelecehan seksual) tertawa atas perbuatan keji yang dilakukan," seru korban. "Dan, saya ingin ini tidak terjadi, terutama kepada mahasiswi yang ketakutan.

kasus pelecehan seksual di unri

Saya harap kalian kuat! Saya harap kalian berani!" dia menegaskan. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Pekanbaru melalui Unit Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) siap memberikan pendampingan bagi korban dugaan kasus pelecehan dengan korban mahasiswi Universitas Riau (Unri). "Dengan syarat, jika korban melaporkan kasusnya kepada Dinas. Sepanjang melapor tentu kami wajib mendampingi," kata Kepala DP3A Kota Pekanbaru Chairani di Pekanbaru, dikutip Antara.

Sejauh ini pihaknya belum menerima pelaporan dari korban dugaan kasus pelecehan dengan korban mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unri tersebut. Meski demikian, lanjut Chairani, anggota yang ada di UPT sudah mengetahui informasi melalui akun media sosial terkait dengan kasus tersebut yang tersebar luas sejak 4 November 2021.

kasus pelecehan seksual di unri

Kendati mahasiswi ini tidak melapor kepada pihaknya, tim akan terus mencari informasi terkait dengan kejadian pelecehan tersebut. Bahkan, tim akan langsung turun ke lokasi.

"Jadi, memang untuk pendampingan, ya, kami menunggu laporan resmi dahulu. Kami tak bisa serta-merta mendampingi, takutnya dia malah enggak mau atau akan menyelesaikan secara kekeluargaan atau bagaimana kami 'kan belum tahu," katanya. Jika memang kejadian ini benar adanya, Chairani sangat menyayangkannya, apalagi terjadi di sebuah kampus.

Terlebih lagi terduga pelakunya adalah oknum dosen. Idealnya seorang pendidik harus membimbing dan mengayomi mahasiswanya. "Terlepas ini kondisinya seperti apa pada saat kejadian, yang harus tetap kami jaga adalah harkat dan martabat mahasiswi ini. Karena takutnya dengan kasus ini, psikis mahasiswi tersebut bagaimana. Mungkin ada yang bully atau gimana. Jadi, dari kami memang harus pelan-pelan masuknya," katanya.

Ia berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Oleh karena itu, semua orang harus bisa menjaga harkat dan martabat perempuan dalam kondisi dan bentuk apa pun.

Saat ini pihaknya sudah membentuk tim pencari fakta independen untuk mengetahui kejelasan kasus yang terjadi pada bulan Oktober 2021.
PEKANBARU, KOMPAS.com - Kasus pelecehan seksual diduga dialami seorang mahasiswi Universitas Riau (Unri) berinisial L.

Dalam kasus ini, terduga pelaku adalah dosen sekaligus Dekan FISIP Unri, Syafri Harto. Inilah lima fakta kasus dugaan pelecehan seksual yang dirangkum Kompas.com, Kamis (18/11/2021). Baca juga: Cerita Lengkap Kasus Mahasiswi Universitas Riau, Mengaku Dicium Dosen Saat Bimbingan Skripsi, kini Dilaporkan Balik ke Polisi 1.

Korban curhat di medsos, alami pelecehan seksual saat bimbingan skripsi Seorang mahasiswi Universitas Riau (Unri) Jurusan Hubungan Internasional (HI) Fakultas FISIP Universitas Riau, angkatan 2018 berinisial L curhat di akun Instagram Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (Komahi), @komahi_ur.

Ia mengaku jadi korban pelecehan seksual, Kasus pelecehan seksual di unri (4/11/2021). Peristiwa itu terjadi saat korban melakukan bimbingan skripsi, pada Rabu (27/10/2021), jam 12.30 WIB. Baca juga: Mahasiswi Universitas Riau yang Curhat Dilecehkan Dosennya Lapor Polisi, Terlapor: Saya Hadapi dan Siapkan Pengacara Ia menyebut pelaku pelecehan seksual adalah Dekan Fakultas FISIP bernama Syafri Harto.

Saat bimbingan skripsi tersebut, L tidak nyaman ketika dosennya bertanya soal hal pribadi hingga bilang "i love you". Setelah selesai bimbingan skripsi, korban hendak pamit keluar ruangan.

Namun, korban mengaku pundaknya diremas dan terduga pelaku mendekatkan badannya ke korban. Baca juga: Kasus Dugaan Pelecehan Mahasiswi Unri, Ruang Dekan Disegel Polisi "Setelah itu dia pegang kepala saya dengan kedua tangannya, terus mencium pipi kiri dan kening saya.

Saya sangat ketakutan dan menundukkan kepala. Tapi Bapak Syafri Harto mendongakkan saya sambil berkata mana bibir, mana bibir, membuat saya merasa terhina dan terkejut," kata L dalam video kasus pelecehan seksual di unri menit 26 detik yang dilihat Kompas.com, Jumat (5/11/2021).

Baca juga: Polda Riau Tetapkan Dosen Unri sebagai Tersangka Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Berita Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Unri, Terlapor Diperiksa Pakai "Lie Detector" 7 Orang Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Mahasiswi Unri Dosen Unri Bungkam dan Sibuk Menelepon Usai 6 Jam Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Dosen Unri Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Bimbingan Dosen Unri Dilaporkan ke Polisi Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, BEM Bantah Ada Politisasi Berita Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Unri, Terlapor Diperiksa Pakai "Lie Detector" 7 Orang Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Mahasiswi Unri Dosen Unri Bungkam dan Sibuk Menelepon Usai 6 Jam Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Dosen Unri Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Bimbingan Dosen Unri Dilaporkan ke Polisi Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, BEM Bantah Ada Politisasi UMP Bangka Belitung Disepakati Naik 1,08 Persen Tahun 2022, Ini Acuannya https://regional.kompas.com/read/2021/11/18/114922678/ump-bangka-belitung-disepakati-naik-108-persen-tahun-2022-ini-acuannya https://asset.kompas.com/crops/ThJCeNEvGXfII0wlXBz0wqC3KYY=/118x0:703x390/195x98/data/photo/2012/06/16/1758256780x390.jpg
PEKANBARU, KOMPAS.com - Dosen sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri), Syafri Harto ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan pelecehan seksual atau pencabulan terhadap seorang mahasiswi berinisial L.

Tapi, saat ini Syafri Harto belum ditahan. Baca juga: 5 Fakta Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Unri, Korban Curhat di Medsos hingga Dosen Jadi Tersangka Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto membenarkan hal tersebut sekaligus membeberkan alasannya. "Ya, penyidik telah menetapkan SH (Syafri Harto) sebagai tersangka. Ini setelah proses penyelidikan dan penyidikan, kemudian dilakukan gelar perkara," ujar Sunarto saat diwawancarai Kompas.com di ruang kerjanya, Kamis (18/11/2021).

kasus pelecehan seksual di unri

Baca juga: Polda Riau Tetapkan Dosen Unri sebagai Tersangka Kasus pelecehan seksual di unri Dugaan Pelecehan Seksual 18 saksi diperiksa, termasuk Rektor Unri Ia menjelaskan, dalam penanganan kasus pencabulan di lingkungan kampus itu, ada 18 orang saksi yang diperiksa. Mulai dari pihak korban, tersangka, saksi ahli dari psikologi hingga ahli poligraf atau alat pendeteksi kebohongan ( lie detector).

"Termasuk hari ini kita periksa Rektor Unri (Aras Mulyadi)," sebut Sunarto. Baca juga: Cerita Lengkap Kasus Mahasiswi Universitas Riau, Mengaku Dicium Dosen Saat Bimbingan Skripsi, kini Dilaporkan Balik ke Polisi Masih diperiksa sebagai tersangka Tersangka sejauh ini belum dilakukan penahanan. Penyidik akan menjadwalkan untuk pemanggilan Syafri Harto untuk dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka. "Tersangka SH masih dijadwalkan pemanggilan untuk dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka," kata Sunarto.

Baca juga: Aspidum Kejati Jabar Dimutasi Jadi Jaksa Fungsional, Imbas Tuntut Penjarakan Istri yang Omeli Suami Mabuk Berita Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Unri, Terlapor Diperiksa Pakai "Lie Detector" 7 Orang Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Mahasiswi Unri Kasus Dugaan Pelecehan Mahasiswi Unri, Ruang Dekan Disegel Polisi Dosen Unri Bungkam dan Sibuk Menelepon Usai 6 Jam Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Berita Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Unri, Terlapor Diperiksa Pakai "Lie Detector" 7 Orang Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Mahasiswi Unri Kasus Dugaan Pelecehan Mahasiswi Unri, Ruang Dekan Disegel Polisi Dosen Unri Bungkam dan Sibuk Menelepon Usai 6 Jam Diperiksa Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Cerita Partin, Peraih 4 Medali Peparnas Papua, Disambut Meriah di Lereng Gunung Sumbing https://regional.kompas.com/read/2021/11/18/123626278/cerita-partin-peraih-4-medali-peparnas-papua-disambut-meriah-di-lereng https://asset.kompas.com/crops/rsnhynCOz6sPnwzE4WfQbz84-b8=/0x0:0x0/195x98/data/photo/2021/11/18/6195e36ad86a3.jpg

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di Kampus UNRI Masuk Proses Penyelidikan dan Pengumpulan Bukti




2022 www.videocon.com