Baju sadariah sekolah

baju sadariah sekolah

Baju Sadaria cocoknya atau khasnya dengan memakai celana panjang batik yang modelnya agak longgar, tetapi dapat juga memakai celana pantalon. Pakaian ini biasanya dibuat dari bahan katun dan juga sutra yang modelnya berkrah tinggi yang lebarnya 3 atau 4 cm berkancing sampai bawah dan berkantong dua buah di kiri kanan bawah. Kadang-kadang memakai belahan di sisi kanan kiri bawah supaya agak bebas atau tidak ketat di bagian bawah.

Biasanya belahan dibuat ± 15 cm. Sekarang Sadaria dibuat dengan bermacam-macam variasi yaitu bordiran di krah, di tengah-tengah atau kanan dan kiri. Bahan yang digunakan bermacam-macam, misalnya darai linen/katun, sutera alam, dan lain-lain. Baju Sadaria dilengkapi dengan kain sarung yang dilipat dan diletakkan di bahu (dinamakan cukin), memakai peci (kopiyah) hitam polos, dan memakai alas kaki selop terompah. Pakaian ini dilengkapi dengan akserori seperti cincin batu-batuan dan gelang bahar.

Ringkasan Baju Sadaria adalah : • Kemeja berkrah tinggi 3 atau 4 cm • Berkancing sampai bawah • Berkantong • Boleh baju sadariah sekolah belahan samping kanan dan kiri ± 15 cm • Bahan aslinya terbuat dari katun, sedangkan bahan lainnya adalah sutera, sutera alam linen. • Boleh divariasikan dengan bordiran • Stelan bawahan celana panjang batik atau celan pantaloon • Memakai alas kaki berupa slop trompa Pada awalnya Baju Sadaria dipakai sebagai pakaian sehari-hari, khususnya pada acara keagamaan, namun sekarang dipakai pada pelbagai acara.

Tidak ada makna filosofis di dalamnya. Hanya saja ada fungsi yang sangat khusus dari kain plekat (kotak-kotak) yang dijadikan cukin. Kain itu multi fungsi, antara lain dapat digunakan untuk sarung jika ingin sembahyang; digunakan untuk sajadah; digunakan sebagai alat atau senjata jika berhadapan dengan perampok atau begal yang ingin berbuat jahat di tengah hutan/jalan. a. Bentuk/Desain Bentuk dan Kelengkapan Baju Sadaria terdiri dari : • Baju longgar berleher tertutup (kerah Sanghai) lengan panjang dengan dua kantong tempel di bagian depan bawah baju.

• Kopiah hitam polos sebagai penutup kepala (tinggi disesuaikan). • Kain sarung plekat terlipat rapi digunakan di leher. • Celana bahan warna gelap dengan sepatu pantofel atau celana komprang bermotif batik dengan sandal terompah. b. Filosofi/Makna : Sebagai identitas lelaki rendah hati, sopan, dinamis dan berwibawa. c. Fungsi dan Penggunaan : Fungsi dan penggunaan sebagai seragam karyawan berbagai kantor pemerintah dan swasta, sekolah dan berbagai acara seremonial, atraksi pariwisata serta pentas seni budaya.

Jakarta - Keunikan budaya Betawi juga identik dengan pakaian adatnya. Tak cuma kaum wanita, prianya pun memiliki baju adat Betawi tersendiri yang dikenal dengan nama Sadariah. Baju Sadariah terdiri dari baju koko warna putih dengan celana longgar bermotif batik parang.

Komprang, demikian nama celana tersebut karena potongannya longgar. Pakaian adat Betawi untuk pria ini juga dilengkapi dengan cukin, sebutan untuk kain yang diselempangkan di leher seperti syal. Baca juga: Macam-macam Pakaian Adat Bali, Fungsi dan Makna di Baliknya Menurut Audi Pratama, Wakil 1 Abang Jakarta Utara 2014, cukin pada pakaian adat Betawi biasanya berwarna merah gelap tapi merah.

"Tapi biasanya warna cerah," kata Audi kepada Antara News. Cukin bisa berupa kain sarung atau kain bermotif batik betawi dihiasi gambar ondel-ondel hingga Monas. Sementara itu, alas kaki yang dipakai biasanya berupa sandal terompah. Awalnya baju Sadariah dikenakan untuk kegiatan keagamaan, seperti ke mesjid, atau sedekahan. Kemudian baju sadariah atau disebut tikim dan koko dikenakan juga untuk keperluan keperluan sehari-hari atau acara resmi.

Bentuk baju Sadariah sama dengan baju koko pada umumnya, namun biasanya berwarna polos. Pendiri Wisata Kreatif Jakarta Ira Lathief mengungkapkan, baju Sadariah adalah satu dari delapan ikon budaya Betawi.

Ada pengaruh budaya China, salah satu budaya yang bercampur baur di Betawi. Baca juga: Aurel Hermansyah Siraman, Kebayanya Disulap Jadi Gaun Mewah "Bajunya model kerah shangai, disebut koko karena dulu dipopulerkan para koko, diadaptasi dari baju orang China," katanya. Berdasarkan penjelasan buku 'Pakaian Adat Tradisional Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta' (1995), baju sadariah adalah blus laki-laki dengan leher tanpa kerah, berbentuk bulat.

Potongan baju Koko disebut gunting Cina, karena bahan pakaian tersebut dianggap oleh masyarakat Betawi terbuat dari bahan katun berwarna krem, atau kuning muda.

Pada pakaian adat Betawi, Untuk celana panjang terbuat dari kain batik bermotif daun asem. Di mana mirip dengan motif lereng kecil dengan dasar putih atau krem. Baju sadariah sekolah Video " Asinan Betawi Gerobak Keliling, Citarasa Otentik Sesungguhnya, Jalan Veteran Jakarta" [Gambas:Video 20detik] (dtg/dtg) MOST POPULAR • Begini Nasib Penyiar Radio yang nge-Prank Orang Sampai Bunuh Diri • 10 Foto Transformasi Artis Sebelum dan Setelah Photoshop, Madonna Bikin Kaget • Viral Kisah Sedih Anak Bupati Istrinya Meninggal Dunia Usai Melahirkan • Ramalan Zodiak 9 Mei: Aries Lakukan Pengetatan, Libra Main Aman Saja • Hari Ibu, Priyanka Chopra dan Nick Jonas Unggah Foto Perdana Bersama Anak • Baju sadariah sekolah Woori the Virgin, Drakor Diadaptasi dari Serial AS, Tayang di Viu • Kontroversi Influencer yang Berhubungan Intim 5 Kali Sehari, Sampai Pingsan • 8 Potret Viral Wanita yang Pelihara 6 Buaya di Rumah, Nggak Ada Takut-takutnya • Yuki Kato Pamer Foto Keluarga, Wajah Ayahnya yang Jarang Tersorot Curi Atensi • Viral Pengamen Badut Cilik Berparas Cantik Sampai Mau Diadopsi, Ini Sosoknya
Ketika sekolah SD, pastinya sebagian besar dari anda pernah belajar mengenai pakaian adat yang ada di Indonesia.

Salah satu pakaian adat yang popular adalah pakaian adat khas suku Betawi. Nama pakaian adat Betawi yang familiar dipakai oleh kaum pria adalah baju sadariah dan baju ujung serong.

Memiliki desain yang sederhana menjadi ciri khas dari adat suku Betawi. Contents • 1 Nama Pakaian Adat Betawi • 1.1 1. Mengenal pakaian adat Betawi • 1.2 2. Jenis-jenis pakaian adat Betawi • 1.2.1 Baju sadariah • 1.2.2 Baju ujung serong/demang • 1.2.3 Kebaya encim • 1.2.4 Baju kurung • 1.3 3. Komponen pakaian adat Betawi • 1.3.1 Peci/kopiah • 1.3.2 Selendang • 1.3.3 Kain sarung/kain batik • 1.3.4 Kerudung • 1.3.5 Sabuk hijau • 1.3.6 Celana panjang batik Nama Pakaian Baju sadariah sekolah Betawi Pakaian adat Betawi yang ada biasanya dikenakan pada saat acara-acara daerah, atau acara besar di daerah Betawi.

Namun tidak sedikit pula masyarakat Betawi mengenakan baju adat untuk kesehariannya. Untuk mengetahui informasi tentang nama pakaian adat Betawi, mari kita simak pembahasannya sebagai berikut. 1.

baju sadariah sekolah

Mengenal pakaian adat Betawi Nama pakaian adat Betawi merupakan pakaian khas yang berasal dari baju sadariah sekolah Betawi yang terkenal di daerah DKI Jakarta. Pakaian adat di Betawi memiliki beberapa jenis untuk pemakaian pada kegiatan yang berbeda. Ada yang dipakai untuk kaum bangsawan dari Betawi, ada yang untuk acara formal/semi formal, dan ada pula yang dikenakan untuk sehari-hari. Pakaian adat tersebut muncul sejak lama yang model pakaiannya terpengaruh oleh beberapa budaya asing.

Contohnya seperti budaya Tiongkok, Arab, India dan Melayu. Hal tersebut di karenakan daerah Betawi dulunya menjadi tempat persinggahan oleh para pelabuh asing yang melakukan pelayaran/ekspediri ke daerah nusantara. 2. Jenis-jenis pakaian adat Betawi Pakaian adat yang dikenakan masyarakat Betawi biasanya dibedakan menjadi beberapa kategori.

Kategori tersebut didasarkan pada pemakaiannya untuk kegiatan apa. Misalnya baju keseharian berbeda dengan baju untuk acara acara formal.

baju sadariah sekolah

Berikut adalah jenis-jenis pakaian adat Betawi. • Baju sadariah Pakaian adat Betawi yang satu ini sangat familiar sering dipakai di acara lenong. Namanya adalah baju sadariah yang dipakai untuk laki-laki. Baju ini bermodelkan baju koko yang merupakan pakaian dari akulturasi budaya Tiongkok. Baju koko tersebut umumnya dipilih warna putih polos dengan adanya dua saku di bagian bawah.

• Baju ujung serong/demang Baju ujung serong ini merupakan pakaian khas dari Betawi untuk dipakai pria saat menghadiri acara-acara formal. Bentuk baju ini seperti jas tutup yang berwarna hitam. Memiliki kerah lurus seperti baju koko. Jenis baju ini dulu dipakai oleh para bangsawan, namun sekarang dikenakan saat menghadiri acara-acara formal.

baju sadariah sekolah

• Kebaya encim Kebaya encim merupakan pakaian adat Betawi untuk wanita yang memiliki model kebaya seperti di Jawa. Pembuatan baju kebaya ini sering menggunakan elemen warna yang cerah seperti hijau, kuning, pink, biru atau lainnya.

Selain itu, model bagian bawah kebaya ini berbentuk belah ketupat yang dibordir ataupun polosan. • Baju kurung Baju kurung merupakan nama pakaian adat Betawi untuk dipakai kaum wanita.

Pakaian ini memiliki model seperti tunik yang terdapat belahan di bagian depan baju. Panjang baju kurung ini hingga lutut. Memiliki warna-warna yang cerah seperti biru, hijau, merah, kuning dan sebagainya. BACA JUGA: Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat 3. Komponen pakaian adat Betawi Setelah mengetahui beberapa jenis pakaian adat Betawi untuk laki-laki maupun perempuan, ada beberapa komponen pakaian yang menjadi satu kesatuan pelengkap pakaian adat Betawi ini.

Berikut adalah komponen pakaian adat Betawi yang perlu anda ketahui. • Peci/kopiah Peci/kopiah merupakan penutup kepala untuk dipakai para laki-laki.

Peci ini bisa dibilang sebagai ciri khas yang identik dengan pakaian adat Betawi. Di sisi lain, peci sendiri merupakan penutup kepala khas masyarakat muslim yang mana mayoritas penduduk suku Betawi juga beragama islam.

• Selendang Selendang atau sorban ini menjadi pelengkap berbusana pakaian adat Betawi untuk pria seperti halnya pakaian adat Sunda. Jenis kain selendang ini berupa kain bermotif ataupun lipatan sarung yang di baju sadariah sekolah di leher.

Biasanya selendang tersebut dipasangkan dengan pemakaian baju koko warna putih. • Kain sarung/kain batik Kain sarung atau kain batik merupakan komponen yang dipakai bukan untuk pria, melainkan untuk wanita.

Pemakaiannya sebagai bawahan dengan dililitkan ke pinggang. Namun kini sudah banyak kain sarung yang dimodifikasi sebagai rok, yang mana menggunakan karet ban pada bagian pinggangnya. baju sadariah sekolah Kerudung Kerudung yaitu komponen yang ada pada pakaian adat Betawi untuk dikenakan para wanita. Kerudung tersebut berbentuk persegi panjang dengan pilihan warna yang mencolok.

Missal warna kuning, orange, merah, pink atau lainnya.

baju sadariah sekolah

pemakaian kerudung tersebut cukup di selampirkan dengan rambut yang masih terlihat. • Sabuk hijau Sabuk hijau sering dipakai oleh para pria Betawi yang mana sering terlihat untuk dipakai ahli silat Betawi. Sabuk hijau ini memiliki fungsi selain menahan celana, yakni menaruh sebilah golok di pinggang.

• Celana panjang batik Masyarakat Betawi khususnya pria, dalam kesehariannya selalu mengenakan celana panjang yang bermotif batik. Warna celana tersebut memiliki warna coklat atau warna lainnya.

Motif batik dari celana tersebut umumnya menggunakan jenis motif batik parang yang khas dari Yogyakarta. BACA JUGA: Nama Pakaian Adat Lampung dan Keunikannya Itulah beberapa informasi mengenai nama pakaian adat Betawi yang dapat anda ketahui. Model pakaian adat Betawi memiliki karakteristik tersendiri yang mudah dikenal banyak orang.

Pakaian tersebut sering dipakai saat syuting di channel TV, ataupun untuk perayaan hari besar lainnya seperti HUT Jakarta ataupun ajang Abang None Jakarta. Categories Traditional Clothes Post navigation Baju Sadariah disebut juga baju sadarie, tikim atau koko. Biasa dipakai pemuda yang bertugas membawa sirih nanas lamaran, mas kawin, dan sirih nanas hiasan pada prosesi pernikahan adat Betawi. Seperti dikutip dari jakartan.id (11/4/2019), baju resmi tradisional Betawi untuk laki-laki tersebut terdiri dari baju koko sadariah atau sering disebut baju gunting China.

Sebagai bawahan dikenakan celana batik atau celana komprang. Alas kaki yang dipakai adalah terompah atau sandal jepit. Dan tentunya untuk kepala memakai peci atau kopiah berwarna hitam atau merah. [Baca Juga: Wisata Rumah Tokoh Legendaris Betawi di Kampung Marunda ] Pada mulanya baju tersebut dikenakan untuk acara keagamaan, seperti ke masjid, atau sedekahan. Kini baju sadariah juga dikenakan untuk berbagai keperluan lain. Saat Joko Widodo menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia mewajibkan seluruh pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Provinsi untuk mengenakan busana Betawi setiap hari Jumat.

Akulturasi Budaya Keberadaan baju Sadariah merupakan hasil akulturasi dari beragam budaya, namun keberadaannya mencerminkan kesederhanaan masyarakat Betawi. Terutama dilihat dari model bajunya yang memang sederhana.

Ciri khas budaya Betawi memang banyak dipengaruhi budaya Arab, China, dan Eropa. Hal itu tercermin pada keseluruhan tradisi budaya Betawi termasuk di antaranya baju Sadariah. Masyarakat Betawi mengembangkan tradisi budayanya dengan beragam pengaruh budaya yang mereka serap dari berbagai pendatang yang ada.

[Baca Juga: Walau Bau, Jengkol Jadi Makanan Favorit Orang Betawi ] Dalam buku Gado-Gado Betawi: Masyarakat Betawi dan Ragam Budayanya yang ditulis Emot Rahmat Taendiftia disebutkan, masyarakat Betawi sangat memerhatikan masalah penampilan. Mereka tidak hanya melihat dari fungsi pakaian itu saja, tetapi juga keindahan.

Pengaruh budaya Arab dan China mendominasi pakaian tradisional Betawi yang biasa dikenakan untuk mengaji atau bersantai. Mulai tanggal 1 Februari 2017, Pemprov DKI Jakarta juga menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi. Baju sadariah menjadi satu dari delapan ikon budaya Betawi yang wajib dilestarikan, selain ondel-ondel, manggar, gigi balang, kebaya kerancang, batik betawi, kerak telor, dan bir pletok.

[Baca Juga: Topeng Blantek, Warisan Budaya Betawi Sejak Abad 19 ] Pergub tersebut menyebut makna baju sadariah adalah sebagai identitas lelaki rendah baju sadariah sekolah, sopan, dinamis, dan berwibawa. Sedangkan fungsi dan penggunaannya adalah sebagai seragam karyawan berbagai kantor pemerintah dan swasta, industri pariwisata, sekolah dan berbagai acara seremonial, serta obyek dan atraksi pariwisata maupun pentas seni budaya. Setelah disahkan sebagai ikon budaya Betawi, baju sadariah makin populer ke berbagai kalangan.

Baju ini sering disebut oleh masyarakat dengan sebutan baju koko atau baju tikim. Baju Koko digunakan oleh kaum pria yang biasanya dipadukan dengan celana batik, kain pelekat, dan peci atau kopiah.

baju sadariah sekolah

Pakaian ini sering dipakai untuk kegiatan sehari-hari dan dapat juga digunakan pada acara resmi. a. Baju sadariah sekolah Desain Bentuk dan Kelengkapan Baju Sadarie terdiri dari : • Baju longgar berleher tertutup (kerah Sanghai) lengan panjang dengan dua kantong tempel di bagian depan bawah baju • Kopiah hitam polos sebagai penutup kepala (tinggi disesuaikan). • Kain Sarung plekat terlipat rapi digunakan di leher.

• Celana bahan warna gelap dengan sepatu pantofel atau celana komprang bermotif batik dengan sandal terompah.

b. Filosofi/Makna: Sebagai identitas lelaki rendah hati, sopan, dinamis dan berwibawa. c. Fungsi dan Penggunaan : Fungsi dan baju sadariah sekolah sebagai seragam karyawan berbagai kantor pemerintahan dan swasta, industri pariwisata, sekolah dan berbagai acara seremonial, obyek dan atraksi pariwisata serta pentas seni budaya.

Anda baru saja membaca artikel dengan judul Filosofi/Makna Baju Sadariah (Sadarie) dalam Kebudayaan Betawi, Semoga bermanfaat. Terima kasih. • ► 2021 (6) • ► Mei (6) • ► 2020 (3) • ► November (2) • ► Oktober (1) • ▼ 2018 (80) • ► Oktober (7) • ► September (15) • ► Agustus (15) • ► Juli (10) • ► Juni (1) • ► Mei (9) • ▼ April (14) • HDD vs SSD vs SSHD: Perangkat penyimpanan mana yan.

• RPP Kurikulum 2013 (K13) SD Kelas 1 Semester 1 dan 2 • Prota, Promes dan KKM SD Kelas 1 KTSP • Alat musik tradisional Betawi ( Provinsi DKI Jakar. • RPP dan Silabus SD Kelas 6 KTSP Semester I dan II • Filosofi/Makna Bir Pletok dalam Kebudayaan Betawi • Filosofi/Makna Kerak Telor dalam Kebudayaan Betawi • Filosofi/Makna Batik Betawi dalam Kebudayaan Betawi • Filosofi/Makna Kebaya Kerancang dalam Kebudayaan B.

• Filosofi/Makna Baju Sadariah (Sadarie) dalam Kebud. • Filosofi Ornamen Gigi Balang dalam Kebudayaan Betawi • Filosofi Kembang Kelapa dalam Kebudayaan Betawi • Mengenal Lebih dekat Ondel Ondel Betawi • Makanan dan Minuman Khas Betawi (Provinsi DKI Jaka. • ► Maret (5) • ► Februari (3) • ► Januari (1) • ► 2017 (85) • ► Desember (7) • ► November (11) • ► Oktober (7) • ► September (6) • ► Agustus (3) • ► Juli (6) • ► Juni (4) • ► Mei (5) • ► April (4) • ► Maret (9) • ► Februari (12) • ► Januari (11) • ► 2016 (137) • ► Desember (7) • ► November (46) • ► Oktober (63) • ► September (21) Administrasi Guru,25,Alat Musik Tradisional,34,Antivirus,2,Antivirus 2016,2,Antivirus Terbaik,2,App,2,App Android,1,App Review,1,Basis Data,4,Batik,2,Berita Rekomendasi,17,Blog,11,Blogspot,6,Brainware,1,Budaya Dunia,1,Budaya Indonesia,128,Burung,19,Cirebon,1,Danau,1,DBMS,3,Domain,4,Email,8,Facebook,1,Fauna Indonesia,19,Film Terbaru 2016,1,Flora dan Fauna Indonesia,11,Game,1,Game Terbaru,1,Geodesi,22,Geografi,26,Geologi,3,Globe,1,Gmail,3,Gunung,1,Hardware,17,HDD,1,Hewan Langka di Indonesia,19,Hiburan,1,Hosting,7,Ilmu Pengetahuan Sosial,19,Ilmu Ukur Tanah,4,Info West Movie,1,Internet,17,IP,2,IPS,21,Istilah IT,25,IT,28,Jaringan Komputer,16,K13,1,Kelas 1 SD,10,Kelas 2 SD,9,Kelas 3 SD,5,Kelas 4 SD,3,Kelas 5 SD,4,Kelas 6 SD,3,Keyboard,3,Komponen Jaringan Komputer,7,Komputer,28,KTSP,7,Kuliner Nusantara,2,Kurikulum K13,9,Lagu Baju sadariah sekolah Khas Indonesia,9,Malware,2,Minuman Khas Indonesia,2,Modul,2,Mouse,2,New Info,18,Obyek Wisata,1,P3K,3,Pahlawan Nasional,1,Pahlawan Wanita,1,Pakaian Adat,11,Perangkat Keras Komputer,14,Perangkat Komputer,14,Peta,9,PPPK,3,Promes dan KKM,1,Prota,3,Prota PAI SD KTSP,3,Prota Tematik SD KTSP,3,Protokol Jaringan,1,Provinsi Bali,3,Provinsi Bangka Belitung,2,Provinsi Banten,3,Provinsi Bengkulu,2,Provinsi DI Yogyakarta,3,Provinsi DKI Jakarta,13,Provinsi Gorontalo,2,Provinsi Jambi,4,Provinsi Jawa Barat,3,Provinsi Jawa Tengah,2,Provinsi Jawa Timur,2,Provinsi Kalimantan Barat,2,Provinsi Kalimantan Selatan,2,Provinsi Kalimantan Tengah,2,Provinsi Kalimantan Timur,2,Provinsi Kalimantan Utara,2,Provinsi Kepulauan Riau,3,Provinsi Lampung,1,Provinsi Maluku,2,Provinsi Maluku Utara,2,Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,26,Provinsi NTB,2,Provinsi NTT,2,Provinsi Papua,2,Provinsi Papua Barat,2,Provinsi Riau,10,Provinsi Sulawesi Barat,2,Provinsi Sulawesi Selatan,2,Provinsi Sulawesi Tengah,2,Provinsi Sulawesi Tenggara,2,Provinsi Sulawesi Utara,3,Provinsi Sumatera Barat,9,Provinsi Sumatera Selatan,5,RAM,1,Rekomendasi Antivirus,2,Rekomendasi Film,1,ROM,1,RPP dan Silabus,8,RPP K13,4,Rumah Adat,9,Security,3,Sejarah,2,Seni Sastra,2,Senjata tradisional,8,SIG ( Sistem Informasi geografi),9,Silabus K13,1,Simbol Peta,2,SK,1,Skala Peta,1,SmartPhone,4,Soal Latihan,1,Software,2,Sosial Masyarakat.,2,Sosial Media,6,Storage baju sadariah sekolah Provinsi Aceh,1,Sumatera Utara,8,Sungai,1,Taman Nasional,12,Tari Topeng,1,Tarian Adat,21,Tarian Provinsi Aceh,11,Tips & Trik,16,Topologi Jaringan,2,Twitter,1,UMKM,1,Upacara Adat,4,Virus Komputer,2,Website,9,Worm,2,Yahoo,5, Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
JAKARTA, KOMPAS.com - Beragam komentar datang dari baju sadariah sekolah di Ibu Kota menanggapi kebijakan Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang mewajibkan siswa mengenakan pakaian sadariah (pakaian Betawi) setiap Jumat.

Sebagian pelajar merasa kurang setuju dengan kebijakan tersebut. Apalagi, jika harus mengeluarkan biaya untuk memperoleh pakaian sadariah tersebut. Amel (15), pelajar SMA 43 Jakarta, mengaku keberatan jika harus mengganti pakaian muslim dengan pakaian sadariah. Amel menganggap ini akan menyulitkan kalangan siswi yang menumpang angkutan umum.

"Kalau naik kendaraan umum kan nanti jadi susah. Kalau begitu kan malah jadi ribet. Saya berharap enggak jadi (diterapkan)," ujar Amel, Jumat (25/7/2014) malam. Amel berharap, kebijakan itu dapat dipertimbangkan kembali. Terutama apabila siswa harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli baju tersebut. Kalau pun diterapkan, ia berharap pemerintah dapat menyediakan bajunya. Bila harus membeli, hargannya terjangkau. "Kan enggak semua orang ada yan mampu. Mungkin harapannya harus terjangkau," ujar pelajar yang duduk di bangku kelas I SMA tersebut.

Senada dengan Amel, Natasya (13), pelajar SMP 141 di Pela Mampang, Jakarta Selatan ini menyatakan keberatan jika harus membeli baju sendiri.

Ia berharap, pihak sekolah yang nantinya akan memberikan baju tersebut secara gratis. Selain itu, Natasya berpendapat, di Jakarta warganya sangat majemuk tidak hanya berasal dari adat Betawi saja. "Tapi kalau sudah kebijakan pemerintah saya ikuti. Cuma harapannya bisa gratis," ujar Natasya. Sebelumnya, surat Edaran Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengenai pakaian seragam sekolah dipertanyakan sebab siswa diwajibkan mengenakan pakaian sadariah setiap Jumat.

Keberatan ini beredar di Twitter dengan tagar #kawal.

baju sadariah sekolah

Judulnya, Kontroversi Kebijakan Pendidikan Gubernur PLT DKI Jakarta. Dalam chirpstory, tagar tersebut merupakan keberatan yang disampaikan terkait masalah pakaian sadariah yang menggantikan pakaian muslimah. Harga pakaian sadariah dianggap bisa membebani orang tua siswa. Berdasarkan surat edaran yang terpasang di situs jakarta.go.id, kebijakan itu seragam sekolah itu bernomor 48/SE/2014.

Surat itu baju sadariah sekolah Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Nomor 44/SE/2014 tanggal 4 Juli 2014.

Surat edaran itu ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Lasro Marbun, dengan tembusan kepada Plt Gubernur DKI Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sekretaris Daerah DKI, Asisten Kesmas Sekda DKI, Kepala BKD DKI, dan Kepala Biro Dikmental Setda DKI.Menurut sejarawan Australia, Lance Casle, konon, Betawi adalah etnis yang baru lahir. Pendapat itu didasarkannya atas studi demografi penduduk Batavia. Pada sensus tahun 1815-1853, etnis Betawi belum tercatat.

baju sadariah sekolah

Kategori Betawi sebagai etnis, baru muncul pada tahun 1930. Dia menyimpulkan, etnis bernama Betawi adalah campuran Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Bugis, dan Melayu. Situs Bappedajakarta.go.id mencatat etnis penduduk itu adalah mereka yang dijadikan budak belian, yang di abad ke-18 merupakan mayoritas (49%) penduduk Batavia. Jejak percampuran itu didasarkan pula atas studi kebudayaan: baik bahasa maupun kesenian Betawi yang mengandung banyak unsur perpaduan budaya dari etnis pembentuk baju sadariah sekolah dari luar.

Belum selesai perdebatan soal asal-usul, budaya Betawi akan punah satu generasi mendatang. Alasannya ada dua: karena ketidakpedulian orang betawi terhadap budayanya dan penggusuran orang Betawi ke pinggiran. Dari 4 juta orang Betawi, tinggal 25% yang tinggal di provinsi DKI Jakarta. Bila tesis Lance Casle bahwa orang Beyawi menyatakan dirinya sebagai etnis tahun 1930, itu berarti entitas Betawi akan mati muda.

Sesuram itukah? Identitas yang kabur, dengan stigma keturunan budak belian itu, pernah membuat orang Betawi enggan mengakui etnisnya. Dulu, terutama tahun 1950-an, orang Betawi memilih mengaku sebagai orang Jakarta. Organisasi-organisasi juga diberi nama Jakarta.

Saya bersyukur itu sudah mulai berkurang. Sejak tahun 1989 dilakukan serangkaian penelitian terhadap Betawi.

baju sadariah sekolah

Hal itu dilakukan karena ingin manjawab tesis Lance. Setelah mengamati sejumlah situs arkeologi dan menelisik refrensi kepustakaaan. Betawi, tak ubahnya suku Indian dan Aborigin, yang telah lama mendiami tempatnya, kendati diberi nama rujukan indentitas belakangan. Percampuran etnis bisa saja terjadi, tapi percampuran itu dengan orang Betawi, bukan percampuran yang membentuk etnis Betawi. Pria Betawi zaman dulu, sering mengenakan baju sadariah, sandal jepit dari kulit, celana batik komprang dan menyampirkan sarung di pundaknya lengkap dengan kopiah hitam di kepala.

Sedangkan perempuan Betawi, tampil dengan anggun mengenakan kebaya encim, sarung batik, selendang polos, selop beludru dan konde cepol. Itulah gambaran mengenai busana Betawi. Hanya sayang, sampai sekarang memang belum ada tulisan atau dokumen yang menjelaskan secara pasti mengenai sejarah atau legenda busana Betawi.

Namun gambaran seperti itu dapat diperoleh dari cerita orang tua tempo dulu, kira-kira satu atau dua generasi sekarang. Jika kita mengamati busana Betawi, sebenarnya busana ini mempunyai beragam model.

Di setiap wilayah kota Jakarta, banyak ditemukan berbagai ragam model busana Betawi. Makanya tak heran jika kemudian terlihat perbedaan busana yang satu dengan wilayah lainnya khususnya busana Betawi pinggiran dengan busana Betawi di tengah kota.

Ragam buasana Betawi yang sempat hilang dalam percaturan sejarah Jakarta, kini mulai muncul kembali. Minimal, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, kita bisa menyimak perkembangan busana Betawi dari berbagai literatur dan studi. Busana Betawi pada sekitar tahun 1975 yang disebut sebagai titik balik kemunculan Betawi. Pada tahun itu dimulai berbagai studi tentang Betawi dan pada tahun itu juga muncul gerakan pelestarian dan pengembangan budaya Betawi.

Kendati terjadi persentuhan dan pembauran budaya dengan berbagai bangsa, ciri khas budaya Betawi ternyata tetap terpelihara. Itu terlihat jelas pada busana tradisionalnya. Untuk pakaian resmi adat Betawi, salah satunya menunjukkan perpaduan antara budaya Arab, Cina dan Eropa. Jika kita membaca sebuah rangkuman tulisan berjudul “ Apa saja mengenai Jakarta dan Betawi “ yang dikumpulkan oleh Ikatan Abang dan None Betawi Jakarta Pusat, pakaian resmi pria Betawi berupa jas panjang ( baju abang ) warna hitam atau cokelat yang panjangnya setengah paha dengan leher jas dibentuk seperti kerah baju Cina.

Jas panjang ini dikenakan dengan paduan celana panjang berpotongan menyempit ke bawah. Biasanya, panjang dua jari dari mata kaki. Sedangkan untuk pakaian remi perempuan Betawi, biasanya kebaya panjang atau kebaya none dari bahan chifon tembus pandang dan kain baju sadariah sekolah. Pengaruh Jawa tampak pada kain Pekalongan bermotif tumpal yang digunakan sebagai busana resmi perempuan Betawi.

Selain kain Pekalongan, dapat pula digunakan kain dari lasem yang motifnya tak banyak berbeda dengan satu sama lainnya. Selain pengaruh budaya Jawa dan Cina, busana Betawi juga terpengaruh oleh budaya Arab. Misalnya, terlihat pada busana pengantin Betawi. Nuansa Arab dan Cina amat kental. Sedangkan kata kebaya itu sendiri diambil dari kata “ abaya “, yakni pakaian dari Arab yang biasanya digunakan sebagai baju luar berwarna hitam.

Demikian pula dengan baju kerancang, baju kerancang itu dulunya bernama baju encim. Baju ini harganya mahal dan dipakai oleh orang Cina kaya yang biasanya dipanggil encim. Sekarang dikenal sebagai kebaya encim. Meski populer dengan sebutan baju sadariah sekolah encim, ada juga yang menyebutnya sebagai kebaya kerancang yang memiliki bordiran bolong-bolong baju sadariah sekolah pinggiran kebaya. Persatuan Wanita Betawi pada waktu itu, sepakat menyebutnya kebaya kerancang, karena menurut mereka, baju betawi bukan baju Cina alias encim.

Style busana Betawi antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda. Busana Betawi memiliki ciri khas warna mencolok. Hal ini sesuai dengan karakter orang Betawi yang selalu terbuka dan apa adanya. Sedikit berbeda dengan busana kebaya tradisional Jawa yang didominasi warna gelap.

Dalam perkembangannya busana Betawi terus mengikuti tren dan perkembangan mode. Fleksibelitas itu memudahkan orang yang menyukai warna hitam atau warna baju sadariah sekolah dan selalu ingin memakai baju Betawi. Belakangan ini mulai banyak bermunculan pakaian Betawi dengan warna pastel dan silver, sesuai dengan perkembangan zaman maupun perkembangan mode.

Untuk perempuan muda, biasanya mengenakan busana Betawi yang disebut juga baju none. Rangkaiannya terdiri dari kebaya dengan beragam warna, kain, selendang dan kerudung. Baju ini menjadi ciri khas dalam pemilihan None Jakarta yang diselenggarakan setiap tahun di Jakarta. Sebagai pelengkap busana, dikenakan kerudung, selendang dan selop. Busana perempuan Betawi biasanya menggunakan bahan yang tipis dan transparan. Kendati demikian, pemakainya merasa nyaman-nyaman saja, karena mereka memakai kutang panjang sebagai baju dalam.

Penggunaan kutang panjang ini sebenarnya tidak wajib dipilih alias bisa disesuaikan dengan perkembangan mode busana mutakhir. Busana putra Betawi atau pria betawi juga mengenal model sadariah, baju koko, baju kampret, baju abang dan baju demang. Baju abang dan baju demang ini termasuk busana hasil reka cipta Betawi baru. Pengaruh budaya luar pada baju Betawi amat kental.

Pada baju sadariah yang seringkali dipilih sebagai alternatif pengganti jas misalnyaada nuansa Arab dan cina melayu. Seperti halnya jas, Baju sadariah sekolah memiliki baju demang yang sering dipakai dalam acara-acara resmi.

Baju demang ini berupa jas tutup yang seringkali dikenakan Gubernur DKI Jakarta dalam acara-acara resmi Betawi. Model ini antara lain dipengaruhi Belanda kolonial. Selain baju sadariah dan baju demang, dikenal juga pakaian jawara. Alas kaki untuk jawara biasanya terbuat dari bahan karet dan memiliki multifungsi, selain untuk pelengkap busana, terkadang digunakan pula sebagai alat untuk berkelahi.

Konon, pelengkap busana jawara lainnya juga berfungsi sebagai alat bela diri. Misalnya selendang dan cincin dengan mata dari batu berukuran lumayan besar. Adapula kuku macan berupa gading kecil yang ditempelkan di kancing baju yang dipercaya mengandung kekuatan magic. Bagi tokoh agama, busana yang dikenakan misalnya kain sarung dan kopiah. Untuk atasnya, dikenakan pakaian sadariah.

Kalau ingin tampil santai tanpa jas, mereka memilih sadariah yang berbentuk jas. Bila pergi ke acara pernikahan, pria Betawi memakai kain serebet dengan setelan jas. Sampai sekarang, baju sadariah sekolah serebet masih menjadi favorit pilihan pria Betawi saat menghadiri acara pernikahan.

Perkembangan busana Betawi menunjukkan bahwa busana Betawi mengikuti tren dan perkembangan mode, akan tetapi tetap mepunyai ciri khas dan memiliki jatidiri dari busana Betawi itu sendiri. Ini kepentingan bersama, maka semua kalangan masyarakat etnis Betawi diajak memperjuangkan keberadaan etnis Betawi.

Tradisi dan budaya Betawi telah lama termarjinalisasi di tengah Metropolitan Jakarta Raya sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia baju sadariah sekolah ibukota Provinsi DKI Jakarta. Alahasil, kegiatan seni dan budaya Betawi selama ini juga tidak berkembang karena terbentur antara lain pendanaan, sementara pembinaan yang diharapkan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat tidak berjalan. Padahal, keberadaan seni dan budaya Betawi, termasuk perkembangan busananya sepatutnya berkembang seperti etnis lain.

Masa budaya di kampung sendiri tidak hidup, sepatutnya pemerintah memperhatikan perkembangan budaya warga Betawi. Untuk itulah, Pemerintah Daerah DKI Jakarta nanti harus mengakomodasi pengakuan etnis Betawi dan menjamin pengangkatan harkat dan martabat masyarakat adat jika tidak menghendaki budaya etnis Betawi lenyap ditelan arus perubahan zaman yang sudah mengglobal. Kalau tidak perkembangan budaya Betawi khususnya busana akan lemah sekali.

Rencana pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi perlindungan masyarakat adat akan menguntungkan posisi nasional etnis Betawi di dalam memperoleh hak-hak tradisionalnya. Baju sadariah sekolah itulah, dibutuhkan inventarisasi keberadaan masyarakat adat Betawi di Jakarta dengan melacak legitimasi dan inventarisasi masalah mereka.

Peluang perlindungan itupun juga ada di konstitusi. Legitimasi keberadaan masyarakat adat Betawi dapat dilacak dari sejumlah peraturan daerah yang pernah dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta atau dokumen rencana jangka pendek dan jangka panjang Pemprov DKI Jakarta.

Setelah itu, menginventarisasi masalah masyarakat adat Betawi, terutama bidang pertanahan dan pendidikan. Supaya dapat diterima dan memperoleh justivikasi, diusulkan dilakukannya sosialisasi dan pendekatan kepada para anggota DPR dan DPD, pengawasan terhadap organisasi masyarakat etnis Betawi. Kita perlu menyiapkan diri untuk mengambil kesempatan mempertegas masyarakat adat Betawi.

Pengakuan dapat diikuti dengan pengalokasian dana kompensasi kepada etnis Betawi sekitar 2,5% dari total APBD yang mencapai Rp 20 triliun. Jadi akan sekitar Rp 500 miliar dana kompensasi untuk pendidikan, ekonomi, dan budaya.

Pengakuan terhadap etnis Betawi sudah tercakup mutlak dalam persyaratan berdirinya sebuah Negara, karena Betawi merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat Indonesia. Karena itu, pemerintah tidak perlu mempertanyakan kembali eksistensi etnis betawi karena sudah menyatu dengan cita dan semangat kebangsaan Indonesia sebagaimana dirintis Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Yang dihadapai masyarakat Betawi sekarang, ialah pemahaman di kalangan pejabat pemerintah pusat dan daerah terhadap keetnisan Betawi. Kebulatan tekad masyarakat Betawi harus digelorakan kembali dalam memperjuangkan hak-hak tradisionalnya. Alokasi dana kompensasi tersebut, harus mengacu kepada APBD DKI Jakarta sebagaimana digariskan Departemen Dalam Negeri dan Departemen Keuangan. Tuntutan pemberian alokasi hanya dapat digolkan ke dalam anggaran yang dalam nomenklatur APBD tidak dikenal pos dana kompensasi.

Ini jelas sulit, karena membutuhkan good will pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Jika pos dana kompensasi dapat digolkan, akan dianggarkan untuk bidang pendidikan anak-anak atau pemuda-pemudi etnis betawi. Harus ada tuntutan agar alokasi APBD untuk pendidikan mencontoh etnis Melayu di Malaysia.

Ini membutuhkan keputusan politik. Dana kompensasi untuk masyarakat adat dimungkinkan sebagai konsekuensi pengakuan keberadaan mereka. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia merumuskan alokasi dana kompensasi setelah setiap masyarakat adat melaporkan masalah masing-masing.

baju sadariah sekolah

Setelah laporan masuk, pemerintah bisa berbuat untuk masyarakat adat dengan memanfaatkan dana kompensasi tersebut. Untuk membangun citra Betawi agar benar-benar baik di mata kalangan masyarakat lainnya, orang Betawi sendiri tentu harus menunjukan bukti. Pemprov DKI Jakarta juga perlu lebih serius melestarikan budaya Betawi, sebagai warna asli Ibukota.

Indentitas lokal budaya Betawi dianggap sebagai nilai-nilai luhur orang-orang betawi, sehingga ciri-ciri lokal tersebut ditanamkan kepada anak-anak di Jakarta sejak mereka duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Budaya Betawi perlu dilihat melalui perspektif kultural sebab tidak sedikit nilai-nilai luhur kebetawian yang patut ditampilkan ke pentas nasional bahkan internasional dan diperkenalkan sebagai promosi kepariwisataan Jakarta. Untuk itu, perlu dirumuskan kembali strategi kepariwisataan yang lebih holistic dan membumi dengan tetap mengikutsertakan nilai-nilai kebetawian dalam promosi sadar wisata.

Kesadaran terhadap “local genius” (identitas lokal) kebetawian sudah semestinya ditanamkan kepada masyarakat Jakarta, paling tidak sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah dan tinggi. Akan tetapi mengingat makna “local genius” kebetawian adalah ciri-ciri lokal atau identitas lokal yang bertahun-tahun telah dianggap sebagai nilai-nilai luhur orang Betawi, tidak berlebihan rasanya jika ciri-ciri lokal tersebut ditanamkan kepada anak-anak di Jakarta sejak mereka duduk di sekolah dasar himgga perguruan tinggi.

Di sejumlah sekolah-sekolah di Indonesia sudah memasukkan muatan lokal dalam kurikulum daerah tersebut, antara lain dengan memasukkan budaya dan bahasa lokal sebagai salah satu mata pelajaran bagi peserta didik. Karena itu, perlu dipertimbangkan untuk memasukkan identitas lokal kebetawian dalam muatan lokal kurikulum di sekolah-sekolah di Jakarta. Tanpa kepedulian pada identitas lokal kebetawian, dapat diramalkan fandasi kepariwisataan Jakarta hanya berputar pada hal-hal fisik belaka yang makin lama makin hilang kekhasannya.

Dengan mendirikan Pusat Studi Betawi untuk menunjang pelestarian budaya Betawi sekaligus mendukung program pariwisata yang bersifat identitas lokal.

Selain bertujuan untuk melestarikan budaya Betawi, agar masyarakat dapat lebih mendalami budaya Betawi untuk kepentingan promosi industri pariwisata. Pembentukan Pusat Studi Betawi diyakini akan mampu mengembangkan budaya Betawi di antara budaya-budaya dari daerah lainnya. Pusat Studi Betawi dapat mencari dan menemukan keunggulan atau nilai lebih budaya ini sehingga pada saatnya nanti menjadi pilihan masyarakat untuk menjadikan sebagai nilai-nilai positif yang ada pada kebudayaan ini.

Keunggulan dan nilai-nilai positif ini nantinya bisa menjadi sarana pendukung bagi perkembangan industri pariwisata di DKI Jakarta dan Indonesia.Apalagi dilihat dari sudut pandang perkembangan dalam dunia mode, busana Betawi tidak ketinggalan jaman jika berkembang sesuai dengan tren mode yang sesuai, asalkan tidak meninggalkan ciri khas dan jatidiri dari busana Betawi itu sendiri.

sumber : http://www.google.com • Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com • Archives • October 2010 • September 2010 • Blogroll • Documentation • Plugins • Suggest Ideas • Support Forum • Themes • WordPress Blog • WordPress Planet • LINK Berita • Kompas • Republika • Warta Kota • LINK TEMAN • Anisa Irsanti • Opied Wulandhari • Rona Wulandari • LINK UNIVERSITAS • Universitas Budi Luhur • Universitas Gajah Mada baju sadariah sekolah Universitas Negri Jakarta • Search for: • • sriummy • Top Posts • Udeng • Songket • Kebaya • Pangsi • Kebaya baju sadariah sekolah Sadariah • Tentang Tema • Kegiatan Saya • Beskap • Batik • Categories • Baju Daerah Bali • Baju Daerah Betawi • Baju Daerah Jawa • Uncategorized • Recent Posts • Udeng • Songket • Kebaya • Pangsi • Kebaya • Archives • October 2010 • September 2010
GridKids.id - Kids, dalam kebudayaan khastiap daerah di Indonesia terdapat beberapa keunikan yang membedakan identitas satu daerah dengan daerah lainnya.

Salah satu unsur kebudayaan daerah yang menarik untuk diperhatikan dengan seksama adalah pakaian adat. Kali ini kamu diajak untuk mengenal pakaian adat khas Betawi yaitu pakaian adat yang sering dikenakan sehari-hari, yaitu Baju Sadaria dan Kebaya Kerancang atau kebaya encim. Baju Sadariah adalah pakaian untuk laki-laki, dan Kebaya Kerancang dikenakan oleh perempuan. Kedua baju khas Betawi ini termasuk dalam 8 ikon kebudayaan Betawi, lo, Kids.

Baca Juga: Fakta Unik Minuman Tradisional Khas Betawi yang Sudah Ada Dari Era Kolonial, Pernah Coba? Budaya betawi begitu beragam karena mendapat sentuhan budaya Arab, China, Melayu, dan Barat. Hal tersebut bisa terlihat dari desain pakaian adat yang dikenakan di berbagai kesempatan. Tanpa berlama-lama, langsung simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini, yuk!

Pakaian Laki-Laki Pakaian untuk laki-laki disebut dengan baju sadaria. Setelan ini memiliki kekhasan yaitu menggunakan celana panjang batik dengan model yang agak longgar, namun bisa juga mengenakan celana pantalon.

Pakaiannya biasanya baju koko lengan panjang yang terbuat dari katun atau sutra, dengan model berkerah tinggi dengan lebar sekitar 3-4 cm berkancing sampai bawah dengan dua kantong di bagian kanan dan kiri bawah. Kadang dibuat belahan di sisi kanan dan kiri bawah supaya lebih luwes bergerak dan enggak terlalu ketat untuk beraktivitas.

Baju sadariah dilengkapi dengan kain sarung yang dilipat dan dikalungkan di bagian bahu yang disebut dengan cukin, mengenakan juga peci atau kopiah hitam polos, dan dilengkapi dengan selop sebagai alas kaki.

Baca Juga: Dongeng Indonesia - Macam-Macam Topi #MendongenguntukCerdas Kadang ketika seorang laki-laki mengenakan baju sadaria, dilengkapi juga dengan aksesori pelengkap seperti cincin akik atau gelang bahar (gelang yang terbuat dari tanaman laut yang tumbuh merambat di atas karang). Awalnya baju sadariah digunakan sebagai pakaian sehari-hari, sering juga dikenakan pada acara keagamaan. Namun, kini sudah digunakan untuk berbagai acara atau kesempatan. Baju ini enggak memiliki makna khusus namun memiliki beberapa fungsi serbaguna, khususnya untuk cukinnya.

Kain sarung ini bisa dipergunakan untuk sembahyang, sebagai sajadah, bahkan bisa dipergunakan sebagai senjata jika harus bertemu dengan perampok atau begal di tengah jalan. Kebaya Kerancang/Kebaya Encim Kebaya kerancang atau disebut baju sadariah sekolah dengan kebaya encim adalah salah satu kebaya khas Betawi kini sedang banyak digemari. Dulunya, kebaya ini dikombinasikan dengan lece atau brokat buatan Eropa yang ditutup dengan bordiran sehingga terlihat seperti dibordir langsung, dengan banyak macam variasi bordiran yang memiliki banyak lubang, sehingga disebut dengan kerancang.

Baca Juga: Bak Bangsawan, Ini Potret Artis Indonesia Saat Kenakan Kebaya, Istri Daniel Mananta Terlihat Anggun Kualitas kebaya kerancang saat ini yang sudah didesain dengan komputer sangat berbeda dengan kualitas kebaya kerancang yang dibuat secara manual pada zaman dulu.

Kebaya kerancang umumnya dibuat dari bahan tipis, seperti rubia, paris, voal, brokat, dan sifon. Kebaya ini biasanya dikenakan bersama baju sadariah sekolah atau kain panjang yang disarungkan tanpa diwiru, yang sering disebut dengan kain none.

Motif yang biasanya dipakai adalah model tumbak, belah ketupat, buket, dan bunga-bunga. Selain itu, dikenakan juga kerudung polos tanpa motif yang biasanya memiliki warna enggak senada dengan kebaya atau kain none yang dikenakan.

Kebaya kerancang ini menjadi simbol keindahan, kecantikan, kedewasaan, keceriaan, dan pergaulan yang baju sadariah sekolah, teratur, sesuai dengan nilai-nilai leluhur. Pakaian ini bertujuan untuk memelihara keanggunan dan kehormatan kaum perempuan.

Kebaya kerancang biasanya digunakan sebagai seragam karyawati di kantor pemerintahan atau swasta, industri pariwisata, sekolah, dan untuk beragam acara seremonial, atau pentas seni budaya. Baca Juga: Potret Sejumlah Artis dengan Menggunakan Kebaya untuk Memperingati Hari Kartini, Ada Dian Sastro dan BCL Itulah tadi uraian tentang pakaian adat sehari-hari suku Betawi yang ternyata selain nyaman digunakan juga bertujuan sebagai perlindungan diri dan identitas penggunanya.

Setelah membaca artikel ini diharapkan kamu bisa mendapat wawasan baru tentang beragamnya kekayaan budaya di negeri kita, nih, Kids. ---- Ayo baju sadariah sekolah adjar.id dan baca artikel-artikel pelajaran untuk menunjang kegiatan belajar dan menambah pengetahuanmu. Makin pintar belajar ditemani adjar.id, dunia pelajaran anak Indonesia.
KOMPAS.com - Baju Sadariah dan Baju Kurung merupakan salah satu pakaian adat masyarakat Betawi DKI Jakarta. Baju Sadariah adalah baju yang dipakai oleh kaum laki-laki Betawi.

Sementara untuk baju Kurung dipakai oleh perempuan. Dilansir dari situs Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, baju Sadariah merupakan baju resmi tradisional Betawi untuk laki-laki yang terdiri dari baju koko sadariyah atau sering disebut juga baju gunting Cina, terompah dan berpeci hitam atau merah.

Dapat juga memakai pakaian ujung serong yang biasa dipakai oleh demang dengan jas berkerah dan celana pantolan berhias rantai kuku macan. Baju khas Betawi tersebut biasa dipakai oleh pemuda atau remaja, dengan jas berkerah model baju China " Lokcan", tutup kepala “Liskol”, hiasan kuku macan, arloji gantung, pisau raut dan sepatu yang juga bisa dipakai untuk pakaian resmi. Baca juga: Baju Kurung Tanggung, Baju sadariah sekolah Adat Jambi Untuk pakaian resmi wanita berupa busana kebaya lengan panjang dan kain yang dipakai sampai ke mata kaki, alas kaki atau selop serta kerudung.

Biasanya baju tersebut dipakai pemuda yang bertugas membawa sirih nanas lamaran, mas kawin dan sirih nanas hiasan pada prosesi pernikahan adat Betawi. Bentuk baju adat Awalnya baju Sadariah dikenakan untuk kegiatan keagamaan, seperti ke mesjid, atau sedekahan.

Kemudian baju sadariah atau disebut tikim dan koko dikenakan juga untuk keperluan keperluan sehari-hari atau acara resmi. Bentuk baju Sadariah sama dengan baju koko pada umumnya, namun biasanya berwarna polos. Dikutip dari buku Pakaian Adat Tradisional Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (1995), Baju sadariah adalah blus laki-laki dengan leher tanpa kerah, berbentuk bulat. Baca juga: Tulang Belikat: Posisi, Fungsi, dan Masalahnya

Pakem Baju Sadariah Abang dan Kebaya Encim None




2022 www.videocon.com