Perang puputan margarana dipimpin oleh

perang puputan margarana dipimpin oleh

Salah satu isi perundingan Linggajati pada tanggal l0 November 1946 adalah bahwa Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura.

Selanjutnya Belanda harus sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949. Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali, ikut pula tokoh-tokoh yang memihak Belanda.

Pada waktu itu Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai Komandan Resiman Nusa Tenggara sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI. Sementara itu perkembangan politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkan akibat perundingan Linggajati di mana Bali tidak diakui sebagai bagian wilayah Republik Indonesia.

Rakyat Bali merasa kecewa terhadap isi perundingan ini. Lebih-lebih ketika Belanda membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai diajak membentuk Negara Indonesia Timur. Ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I Gusti Ngurah Rai, bahkan dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18 November 1946 I Gusti Ngurah Rai memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan.

Kemudian Belanda mengerahkan perang puputan margarana dipimpin oleh kekuatan di Bali dan Lombok untuk menghadapi perlawanan rakyat Bali ini. Pertempuran hebat terjadi pada tanggal 29 November 1946 di Margarana, sebelah utara Tabanan. Puputan adalah tradisi perang masyarakat Bali. Puputan berasal dari kata puput. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata puput perang puputan margarana dipimpin oleh terlepas dan tanggal. Adapun yang dimaksud dengan kata puputan versi pribumi bali adalah perang sampai nyawa lepas atau tanggal dari badan.

Dapat dikatakan kalau puputan adalah perang sampai game over atau titik darahterakhir. Istilah Margarana diambil dari lokasi pertempuran hebat yang saat itu berlangsung di daerah Marga, Tababan-Bali. Menurut sejarah, ada sejumlah puputan yang meletus di Bali. Namun, yang terkenal dan termasuk hebat, terdapat sekitar dua puputan. Pertama, Puputan Jagaraga yang dipimpin oleh Kerajaan Buleleng melawan imprealis Belanda. Strategi puputan yang diterapkan ketika itu adalah sistem tawan karang dengan menyita transportasi laut imprealis Belanda yang bersandar ke pelabuhan Buleleng.

Alur Puputan Margarana bermula dari perintah I Gusti Ngurah Rai kepada pasukan Ciung Wanara untuk melucuti persenjata polisi Nica yang menduduki Kota Tabanan. Perintah yang keluar perang puputan margarana dipimpin oleh pertengahan November 1946, baru berhasil mulus dilaksakan tiga hari kemudian. Puluhan senjata lengkap dengan alterinya berhasil direbut oleh pasukan Ciung Wanara.

Pasca pelucutan senjata Nica, semua pasukan khusus Gusti Ngurah Rai kembali dengan penuh bangga ke Desa Adeng-Marga. Perebutan sejumlah senjata api pada malam 18 November 1946 telah membakar kemarahan Belanda. Belanda mengumpulkan sejumlah informasi guna mendeteksi peristiwa misterius malam itu. Tidak lama, Belanda pun menyusun strategi penyerangan. Tampaknya tidak mau kecolongan kedua kalinya, pagi-pagi buta dua hari pasca peristiwa itu (20 November 1946) Belanda mulai mengisolasi Desa Adeng, Marga.

Demi menghancurkan Desa Marga, Belanda terpaksa meminta semua militer di daerah Bali untuk datang membantu. Belanda juga mengerahkan sejulah jet tempur untuk membom-bardir kota Marga. Kawasan marga yang permai berganti kepulan asap, dan bau darah terbakar akibat seranga udara Belang. Perang sengit di Desa Marga berakhir dengan gugurnya Gusti Ngurah Rai dan semua pasukannya.

Puputan Margarana menyebabkan sekitar 96 gugur sebagai pahlawan bangsa, sementara di pihak Belanda, lebih kurang sekitar 400 orang tewas. Untuk materi secara lengkap mengenai Perjuangan Fisik Mempertahankan Kemerdekaan silahkan klik link youtube berikut ini. Jika bermanfaat, jangan lupa subscribe, like, komen dan share. Terimakasih • • Katagori • Ayo Kerja • Barisan6 • IPS Terpadu • Kumpulan Soal • Masa Awal Kemerdekaan • Masa Demokrasi Liberal • Masa Demokrasi Terpimpin • Masa Hindu-Budha • Masa Islam • Masa Kolonial Barat • Masa Orde Baru • Masa Pendudukan Jepang • Masa Pergerakan Nasional • Masa Pra-Aksara • Masa Reformasi • Materi Daring Sejarah • Pakar Kejombloan • PembaTIK 2021 • Pemberontakan di Indonesia • Pendidikan • Perjuangan Bangsa Indonesia • Sejarah Dunia • Sejarah Indonesia • Soal EHB BKS Sejarah Peminatan • Soal IPS Terpadu • Soal OSN IPS • Soal PAS Sejarah • Soal PAT Sejarah • Soal Sejarah SMA • Soal Tes Wawasan Kebangsaan • Soal USBN IPS • Soal USBN Sejarah • soal UTBK Sejarah • Toeri-Teori • Uncategorized • Pos-pos Terbaru • Kisi Tes Potensi Akademi Pretest PPG 2022 Matapelajaran Sejarah • Sebelum keluarnya Undang Undang Agraria tahun 1870 • Peran Marthen Indey • Kontribusi Indonesia dalam OKI • Tokoh yang memprakarsai Gerakan Non Blok • Negara Pelopor ASEAN • Tokoh pendiri Dinasti Isyana • Fungsi peninggalan Megalitikum • Saluran persebaran Islam di Indonesia • Dasar Teori Persia • Faktor pendorong adanya penjelajahan samudera • Bentuk pelaksanaan politik etis • Ciri perjuangan bangsa Indonesia sebelum tahun 1908 • Akhir dari Demokrasi Liberal • Tokoh Indonesia yang berjasa ikut mendirikan ASEAN • Pasal terkait jabatan presiden • Prinsip Gerakan Non Blok • Latar belakang pembentukan Romusa • Hasil Konferensi Meja Bundar • Kerajaan Islam di Pulau Sumatera • Isi Kapitulasi Kalijati • 3 Peserta Peraih Suara Terbesar Pemilu 1971 • Penyelesaian masalah Timor Timur • Asal usul nenek moyang Indonesia • Memilih Sumber • Partai yang tergabung dalam PDI • Provinsi Baru di Sulawesi Pasca Reformasi • Negara yang hadir dalam Konferensi Asia di New Delhi • Pengaruh Portugis dalam Bidang Kesenian • Gerakan bawah tanah masa pendudukan Jepang Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan.

Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Puputan Margarana" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Pertempuran Puputan Margarana Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia Tanggal 20 November 1946 Lokasi Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, Indonesia Hasil Kekalahan Indonesia, dikuasainya Bali oleh Belanda Pendirian Negara Indonesia Timur Pihak terlibat Indonesia Belanda Tokoh dan pemimpin Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai † Letnan Kolonel F.

Mollinger Kapten J.B.T König Pasukan Batalyon Ciung Wanara Brigade-Y [1] • 8 (IV) Bataljon Stoottroepen [2] • Gajah Merah KNIL Batalyon Infanteri X [3] • Gajah Merah KNIL Batalyon Infanteri XI [4] • Gajah Merah KNIL Batalyon Infanteri XII [5] • 1 pesawat pangebom (saking Makassar) Korban 96 orang ±400 orang Pertempuran Puputan Margarana merupakan salah satu pertempuran antara Indonesia dan Belanda dalam masa Perang kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada 20 November 1946.

Pertempuran ini dipimpin oleh Kepala Divisi Sunda Kecil Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Dimana Pasukan TKR di wilayah ini bertempur dengan habis perang puputan margarana dipimpin oleh untuk mengusir Pasukan Belanda yang kembali datang setelah kekalahan Jepang, untuk menguasai kembali wilayahnya yang direbut Jepang pada Perang Dunia II, mengakibatkan gugurnya seluruh pasukan termasuk I Gusti Ngurah Rai yang kemudian dikenang sebagai salah-satu Puputan pada era awal kemerdekaan serta mengakibatkan Belanda sukses mendirikan Negara Indonesia Timur.

Peristiwa [ sunting - sunting sumber ] Awal pertempuran Puputan Margarana pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 20 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga.

Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan NICA dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran tersebut pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak.

Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan " Puputan" atau perang habis-habisan di Desa Margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri.

Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut pada tanggal 20 November 1946 dikenal dengan perang puputan margarana, dan kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa. Referensi [ sunting - sunting sumber ] • Halaman ini terakhir diubah pada 6 Mei 2022, pukul 17.21. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied. The Amazon CloudFront distribution is configured to block access from your country. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error.

Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: QUiiN1TjSsFQVYge6JNkpIzQvSP7z-oL6cFT5RyBRoRgnDdMb1qlSg== Pertempuran ini dipimpin oleh Kepala Divisi Sunda Kecil Kolonel I Gusti Ngurah RAI. Yang mana Pasukan TKR di wilayah ini bertempur dengan habis – habisan yang bertujuan untuk mengusir pasukan – pasukan Belanda kembali datang setelah kekalahan jepang, mereka datang untuk menguasaai kembali segala wilayahnya yang telah direbut oleh jepang, pada perang dunia ke II.

Dengan kejadian ini mengakibatkan kematian seluruh pasukan I Gusti Ngurah Rai dan kemudian di kenang sebagai salah satu Puputan di era awal kemerdekaan dan juga mengakibatkan belanda dan akhirnya sukses mendirikan Negara Indonesia Timur. Latar Belakang Pertempuran Puputaan Margarana Pertempuran Margarana Konteks kemunculan pada puputan Margarana sendiri ini lahir dari negosiasii Linggar jati Pada tanggal 10 November tahun 1946, Belanda mengadakan negosiasi Linggar jati dengan pemerintah indonesia.

Linggarjati menjadi sangat menguntungkan bagi Belanda. Karena Linggarjati, Belanda hanya bisa mengakui Sumatra, Jawa, dan juga Madura sebagai wilayah teritorial de facto Indonesia, akan tetapi tidak untuk pulau seribu cita – cita, Dewata, dan Bali. Kemudian belanda harus meninggalkan zona defacto selambat – lambatnya pada tanggal 1 Januari tahun 1949. Dan pada Tanggal 2 – 3 Maret tahun 1949, Belanda mendaratkan pasukanya sekitar 2.000 tentara di Bali, dan diikuti oleh angka – angka yang mendukung Belanda.

Pendaratan Belanda di Bali ini sendiri di maksudkan untuk mempertahankan fondasi bagi negara Indonesia bagian timur. Pada saat itu, I Gusti Ngurah Rai, yang juga merupakan komandan Resiman Nusa Tenggara, sedang melakukan suatu kunjungan ke daearah Yogyakarta dalam rangka untuk melakukan konsultasi ke markas tinggi di TRI, sampai ia tidak mengetahui apa – apa tentang pendaratan Belanda tersebut.

Dalam upaya untuk menjadikan Bali sebagai negara bagian timur Indonesia, Belanda juga meningkatkan kekuatan pada militernya untuk mencetak paku kekaisaran yang lebih dalam lagi di Bali. Setelah Linggarjati pada sejumlah kapal mendarat di pelabuhan lepas pantai Baling. Ini juga dapat menyebabkan letusan pada puputan jagarana yang telah diperintah oleh Kerajaan Buleleng.

Situasi ini membuat suhu politik internal ini menjadi sedikit tidak stabil, dan juga rapuh. Beberapa pihak untuk menganggapnya bahwa perjanjian Linggarjati ini sangat berbahaya bagi RI. Orang Bali kecewa dengan mereka karena mereka memiliki hak untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia. I Gusti Ngurah Rai perang puputan margarana dipimpin oleh pada saat itu menjadi komandan resimen Nusa Tenggara digoda oleh Belanda.

Dengan sejumlah tawaran yang menggiurkan dan telah menawarkan untuk meluluhkan hati kolonel untuk membentuk suatu negara Indonesia bagian timur. Gusti Ngurah Rai, pada saat itu berusia 29 tahun ia memilih Indonesia sebagai tanah airnya. Ketika pasukan Belanda telah berhasil mendarat ke Bali, perkembangan pada politik di pusat pemerintahan Republik Indonesia tidak menguntungkan karena adanya negosiasi Linggajati, yang perang puputan margarana dipimpin oleh pulau Bali ini tidak diakui sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia.

Baca Juga : Contoh Akomodasi Secara umum, orang Bali itu sendiri merasa kecewa dengan isi negosiasi tersebut karena mereka merasa telah di izinkan untuk masuk ke bagian Republik Indonesia Serikat (NKRI).

Selain itu, ketika pasukan Belanda berusaha untuk membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai agar di undang untuk membentuk negara Indonesia bagian timur. Untungnya undangan tersebut ditolak secara tegas oleh I Gusti Ngurah Rai, bahkan mereka merespons dengan perlawanan bersenjata pada tanggal 18 November 1946.

Pada saat itu, I Gusti Ngurah Rai dan juga pasukannya Ciung Wanara berhasil untuk memenangkan serangan di kamp NICA di Tabanan Marah. kemudian Belanda mengerahkan semua pasukan mereka ke Bali dan Lombok untuk menghadapi perlawanan dari I Gusti Ngurah Rai dan orang – orang Bali. Selain merasa marahdan juga dengan kekalahannya didalam pertempuran pertama tersebut, pasukan Belanda nampaknya kewalahan dengan konsolidasi dan juga konsentrasi pada pasukan Ngurah Rai yang ditempatkan di desa Adeng, kabupaten Marga, Tabanan, dan Bali.

Setelah berhasil mengumpulkan pasukan dari Bali dan Lombok, kemudian Belanda berusaha untuk menemukan markas Ciung Wanara. Kronologi Puputan Margarana Pertempuran Perang puputan margarana dipimpin oleh Berikut ini ialah beberapa garis waktu dari pertempuran bellaround, yaitu sebagai berikut : 1.

Pada Tanggal 16 April 1908 Dari patroli keamanan Belanda di wilayah Klungkung dari tanggal 13 – 16 April 1908. Patroli ini telah ditolak oleh Raja Klungkung karena dianggap telah melanggar kedaulatan dan kerajaan Klungkung.

Belanda tersebut berpendapat bahwa patroli ini harus memeriksa dan mengamankan tempat penjualan opium karena monopoli komersial opium yang telah dipegang oleh Belanda. Kerabat raja, Cokorda Gelgel, yang berada di garis oposisi ini bersiap terhadap untuk serangan patroli Belanda. Memang serangan patroli Belanda ini terjadi di Gelgel dan serangan tersebut mendadak dan menyebabkan suatu kekalahan Belanda, 10 tentara terbunuh dan termasuk Letnan Haremaker salah satu dari pemimpin tentara belanda tersebut, dan Perang puputan margarana dipimpin oleh kehilangan 12 tentara termasuk I Putu Gledeg.

2. Pada Tanggal 17 April 1908 Gelgel menyerangan balik Belanda, untuk mendapatkan dukungan dari pasukan Belanda dan mengirim pasukan dari Karangasem untuk memasuki kepemimpinan Satria pada malam 16 April 1908. Laskar Klungkung dengan keras menentang kematian ketiga tentara Belanda tersebut dan melukai lima lainnya. Pada pagi hari tanggal 17 April 1908, pasukan Belanda mulai menyerang Gelgel.

Raja Klungkung telah mencoba untuk mencegah pertumpahan darah tersebut dengan mengirim saudara raja, Cokorda Raka Pugog untuk berdamai dengan Belanda, dan mendesak Geloka Cokorda untuk tidak melawan. Namun, upaya tersebut gagal karena Cokorda Gelgel tetap berada di yayasan nya dan Belanda malah meminta Cokorda Raga Pugog.

Perang ini tidak bisa dihindari dari Gelgel dalam perang ini peninggalan kerajaan I Canon Bangke Bahi telah digunakan.

Namun, perang untuk melawan Gelgel ini berakhir dengan kekalahannya Gelgel. Bahkan, Cokorda Raga Pugog ikut serta dalam pertempuran ini, Pasukan kemanusiaan yang dikirim oleh Raja Klungkung di bawah kepemimpinan Ida Bagus Jumpung juga tidak dapat menyerang pasukan Belanda.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Bahkan, Ida Bagus Jumpung malah terbunuh dalam aksi Cokorda Gelgel dengan sisa pasukan mundur ke Klungkung. Pada malam hari tentara Gelgel menyerang kamp Belanda dan juga meninggalkan mereka dengan banyak yang terluka. Belanda memutuskan untuk mundur ke Gianyar Residen dari Bali – Lombok, setelah F. Liefrinck tiba dan di Jumpai dengan empat kapal perang ini sebagai sarana intimidasi. Warga sekitar memberikan ultimatum kepada raja dan pegawai negeri kerajaannya, Klungkung menyerah tanpa syarat sampai tanggal 22 April 1908.

3. Pada Tanggal 21 April 1908 Klungkung sekarang jelas keberadaannya didalam posisi perang dengan Belanda. Ekspedisi khusus ini dikirim oleh Belanda dari juga Batavia Raja dan rakyat Klungkung ini menerima ultimatum untuk menyerah sampai tanggal 22 April 1908. Raja Klungkung tentu saja menolak tuduhan dari Belanda tersebut pada tanggal 21 April 1908, Belanda ngebom istana Smarapura, Gelgel dan Satria dengan tembakan meriam selama enam hari secara berturut – turut.

Sebelum melancarkan serangan tersebut dari Belanda tersebut mengeluarkan ultimatum yang berisi pesan untuk Buleleng. • Kenali dahulu pemerintahan Belanda. • Hak tawanan terumbu harus dihapus.

• Harus melindungi perdagangan Belanda. 4. Pada Tanggal 27 April 1908 Ekspedisi khusus dari Batavia telah sampai dengan kapal perang dan senjata lengkap di perairan Jumpai pada malam 27 April 1908.

Dari kapal, Belanda kembali untuk memberikan ultimatum sampai siang hari, Raja Klungkung menyerah tanpa syarat. Raja Klungkung menanggapi ultimatum dan meminta lima hari untuk bernegosiasi dengan pejabat senior kerajaannya. Belanda menolak permintaan tersebut dan Klungkung ditembak oleh meriam dari kapal. perang puputan margarana dipimpin oleh.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Pada Tanggal 28 April 1908 Perang puputan margarana dipimpin oleh dimulai Karena persenjataan yang dimiliki diangga[ tak seimbang sehingganya Belanda akhirnya berhasil mengendalikan wilayah Jumpai dan Kusamba, walaupun penduduk kedua desa tersebut menentang dengan keras.

Secara perlahan pasukan Belanda melonjak menuju ke Klungkung Istana Smarapura di kelilingi dan Cokorda Gelgel dan juga Dewa Besar Gde Semarabawa meninggal di depan tentara Belanda di benteng selatan.

Berita ini mendorong istri Muter Dewa Besar dengan putra mahkotanya, Dewa Agung Gde Agung untuk turun berperang setelah ibu ratu, dan Dewa Agung Muter. Semuanya harus berpakaian putih, dan harus siap untuk menghadapi kematian.

The Great God Muter dengan Putra Mahkota akhirnya mati. Mendengar Permaisuri dan Putra Mahkota yang mati di medan perang bahkan tidak menyerah pada Kaki Dewa Besar, namun dengan suara bulat memutuskan untuk bertarung sampai meneteskan darah terakhir.

Dewa Agung Jambe keluar bersama seluruh keluarganya dari istana dan juga tentara yang setia bentrok dengan Belanda. Karena senjata yang tidak rata mereka tewas dalam rentetan peluru Belanda. Mereka menunjukkan jiwa patriotiknya untuk membela tanah air mereka dan harga diri mereka. Dan pada hari itu juga tanggal 28 April 1908 sore sekitar pada jam 3:00 malam. Kota Klungkung jatuh ke tangan Belanda setelah kependudukan Klungkung, berarti ini semua bahwa Bali ditempati oleh pemerintah Belanda.

Tokoh Yang Terlibat Pertempuran Margarana Di Bali 1. Kolonel Anumerta I Gusti Ngurah Rai Kolonel (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai lahir di desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali, Hindia dan Belanda, tanggal 30 Januari tahun 1917, meninggal di Marga, Tabanan, Bali, Indonesia pada tanggal 20 November 1946 pada usia 29 tahun ialah merupakan pahlawan Indonesia dari Kabupaten Badung, Bali. Ngurah Rai juga memiliki pasukan yang bernama “TOKRING” GARING BOX yang membuat pertempuran terakhir di kenal sebagai Puputan Margarana.

Puputan dalam bahasa Bali berarti “serba”, sedangkan Margarana artinya “Pertempuran di Marga” Marga ialah merupakan suatu desa di ibu kota kecamatan dan di wilayah terpencil Tabanan, Bali. Dengan 1.372 anggota Dewan (MBO atau Markas Besar Oemoem) untuk persidangan Republik Indonesia Minor Sunda (SK DPRI), sebuah batu nisan yang dibuat di Monumen Kompleks Eilanden Kleine Sunda, Candi Marga, dan Tabanan.

Rincian perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW dapat didengar di beberapa buku, seperti “Gerilya Bersama dengan Ngurah Rai” perang puputan margarana dipimpin oleh : BP, 1994), kesaksian dari staf anggota MBO SK SKI, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa, pemenang “Jurnalisme Harkitnas Award 1993”, pada buku “Orang – Orang di Sekitar Pak Rai : Kisah para sahabat pahlawan nasional brigadir jenderal Anumerta, I Gusti Ngurah Rai, Denpasar : Upada Sastra tahun 1995, atau buku “Puputan Margarana pada tanggal 20 November tahun 1946” yang disusun oleh Wayan Djegug A Giri Denpasar : YKP, 1990.

Pemerintah Indonesia telah memberikan Bintang Mahaputra dan telah dipromosikan menjadi brigadir jenderal secara anumerta.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Nama tersebut kemudian di masukkan atas nama Bandara Bali yaitu, Ngurah Rai. Perang sampai akhir ini atau disebut juga dengan bellow kemudian mengakhirinya I Gusti Ngurah Rai.

Acara tersebut kemudian di rekam sebagai acara puputan margarana pada Malam ini tanggal 20 November 1946 di Marga ialah merupakan langkah – langkah yang bersejarah dan yang sangat penting dalam perjuangan rakyat Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda atas nama Nusa dan Bangsa. Dampak Pertempuran Puputan Margarana Akibat perang ini banyak orang yang meninggal dunia dan akhirnya Belanda menguasai daerah tersebut. Akan tetapi tetap saja, apa yang I Gusti Ngurah Rai lakukan ialah merupakan suatu hal yang benar karena akan lebih baik mati setelah perjuangan habis – habisan dari pada tidak berusaha sama sekali.

Walaupun dengan melakukan perang ini saya Gusti Ngurah Rai harus mengorbankan banyak pasukan dan bahkan diri saya sendiri. Akhir Pertempuran Puputan Margarana Pada tanggal 20 November 1946, I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya Ciung Wanara, berjalan – jalan ke Gunung Agung, ujung timur pulau Bali.

Namun tiba – tiba, di tengah perjalanan para pasukan ini dicegat oleh tentara Belanda di desa Marga, Tabanan, Bali. Tidak bisa dihindari lagi, bahkan pertempuran sengit dapat diabaikan, kemudian tiba – tiba wilayah Marga, yang masih dikelilingi oleh ladang jagung yang tenang, menjadi berubah karena pertempuran yang penuh dengan gejolak dan mengasyikkan bagi penduduk setempat.

Suara tembakan tiba – tiba mengepung ladang jagung di daerah berbukit sekitar 40 kilometer dari Denpasar. Pasukan pemuda dari Ciung Wanara yang masih belum siap untuk membawa senjata tidak terburu – buru untuk menyerang tentara Belanda. Mereka selalu fokus terhadap pertahanan mereka dan menunggu perintah I Gusti Ngoerah Rai untuk membalas segera setelah sinyal serangan ditarik. Puluhan pemuda meledak dari ladang jagung dan perang puputan margarana dipimpin oleh serangan dari tentara tersebut dengan Administrasi Sipil Indische Belanda (NICA).

Dengan barang rampasan Ciung Wanara akhirnya berhasil mengusir tentara Belanda tersebut. Namun ternyata pertempuran belum berakhir sampai ini, tentara belanda yang telah diprovokasi oleh emosi menjadi semakin brutal.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Kali ini bukan hanya ledakan senjata yang didengar saja akan tetapi NICA juga menyerbu para tentara muda I Gusti Ngoerah Rai dengan bom pesawat. Hamparan sawah dan ladang jagung yang subur sekarang menjadi ladang pembantaian yang penuh dengan asap dan juga darah. Perang ini berakhir atau bellow inilah dan kemudian berakhir di I Gusti Ngurah Rai.

Acara ini kemudian di rekam sebagai acara puputan margarana malam ini tanggal 20 November 1946 di Marga ialah merupakan langkah yang sanagt bersejarah dan sangat penting dalam perjuangan rakyat Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda atas nama Nusa dan Bangsa.

Ok sob sekian dulu yang bisa edmodo.id sampaikan kali ini, semoga dari serangkaian ulasan diatas bisa sangat membantu sobat semua. Baca Juga : • Dinamika Sosial • Contoh Akomodasi Postingan Terbaru • Arti Mimpi Menangkap Belut • Alat Optik • Caping Penghasil Perang puputan margarana dipimpin oleh • Radiasi Benda Hitam • FGD Adalah • Jenis Jenis Patung • Konsolidasi Adalah • Jurnal Penjualan • Arti Mimpi Tentang Sapi • Arti Mimpi Melihat Pantai • Arti Mimpi Melihat Badai • Kapak Corong • Contoh Pelanggaran HAM • Arti Mimpi Naik Perahu • Pidato Persuasif
Pertempuran Margarana di Bali dipimpin oleh….

A. M.Sarbini B. I Gusti Ktut Jelantik C. Teuku Mohammad Hasan D. Robert Wolter Monginsidi E. Letkol I Gusti Ngurah Rai Pembahasan: • M.Sarbini merupakan pemimpin TKR resimen Kedu Tengah yang menyerang serta mengepung pasukan Sekutu di desa Jambu, Ambarawa. Robert Wolter Monginsidi • Letkol I Gusti Ngurah Rai merupakan pemimpin pertempuran Perang Margarana. I Gusti Ngurah Rai menolak ajakan untuk bergabung ke dalam Negara Indonesia Timur.

I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanara berjuang melawan Belanda mengobarkan perang sampai titik darah penghabisan pada tanggal 20 November 1946 yang dikenal dengan nama Perang Puputan Margarana. • • Katagori • Ayo Kerja • Barisan6 • IPS Terpadu • Kumpulan Soal • Masa Awal Kemerdekaan • Masa Demokrasi Liberal • Masa Demokrasi Terpimpin • Masa Hindu-Budha • Masa Islam • Masa Kolonial Barat • Masa Orde Baru • Masa Pendudukan Jepang • Masa Pergerakan Nasional • Masa Pra-Aksara • Masa Reformasi • Materi Daring Sejarah • Pakar Kejombloan • PembaTIK 2021 • Pemberontakan di Indonesia • Pendidikan • Perjuangan Bangsa Indonesia • Sejarah Dunia • Sejarah Indonesia • Soal EHB BKS Sejarah Peminatan • Soal IPS Terpadu • Soal OSN IPS • Soal PAS Sejarah • Soal PAT Sejarah • Soal Sejarah SMA • Soal Tes Wawasan Kebangsaan • Soal USBN IPS • Soal USBN Sejarah • soal UTBK Sejarah • Toeri-Teori • Uncategorized • Pos-pos Terbaru • Kisi Tes Potensi Akademi Pretest PPG 2022 Matapelajaran Sejarah • Sebelum keluarnya Undang Undang Agraria tahun 1870 • Peran Marthen Indey • Kontribusi Indonesia dalam OKI • Tokoh yang memprakarsai Gerakan Non Blok • Negara Pelopor ASEAN • Tokoh pendiri Dinasti Isyana • Fungsi peninggalan Megalitikum • Saluran persebaran Islam di Indonesia • Dasar Teori Persia • Faktor pendorong adanya penjelajahan samudera • Bentuk pelaksanaan politik etis • Ciri perjuangan bangsa Indonesia sebelum tahun 1908 • Akhir dari Demokrasi Liberal • Tokoh Indonesia yang berjasa ikut mendirikan ASEAN • Pasal terkait jabatan presiden • Prinsip Gerakan Non Blok • Latar belakang pembentukan Romusa • Hasil Konferensi Meja Bundar • Kerajaan Islam di Pulau Sumatera • Isi Kapitulasi Kalijati • 3 Peserta Peraih Suara Terbesar Pemilu 1971 • Penyelesaian masalah Timor Timur • Asal usul nenek moyang Indonesia • Memilih Sumber • Partai yang tergabung dalam PDI • Provinsi Baru di Sulawesi Pasca Reformasi • Negara yang hadir dalam Konferensi Asia di New Delhi • Pengaruh Portugis dalam Bidang Kesenian • Gerakan bawah tanah masa pendudukan Jepang
Perlawanan terhadap pasukan Belanda yang hendak mengacak-acak kedaulatan Indonesia terjadi di banyak wilayah.

Salah satunya adalah Bali. Ulasan lengkap mengenai sejarah Perang Puputan margarana dapat kamu simak berikut ini. Perang Puputan Margarana yang terjadi di Bali tercatat sebagai salah satu perlawanan rakyat terhadap pasukan Belanda dan Sekutu. Salah satu penyebab perlawanan tersebut adalah karena rakyat ingin mempertahankan kemerdekaan bagaimana pun caranya. Mereka tidak mau kembali pada masa penjajahan yang suram.

Sebelumnya, di Bali juga pernah mengadakan prlawanan serupa terhadap Belanda. Pada masa penjajahan ada Perang Jagaraga yang dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik. Selain itu, ada pula Puputan Klungkung dan Puputan Badung. Nah, daripada semakin penasaran mengenai sejarah dan kronologi Perang Puputan Margarana, mending langsung cek selengkapnya di bawah ini, yuk! Awal Tragedi Puputan Margarana Bermula Sumber: Wikimedia Commons Peristiwa yang menjadi latar belakang peperangan ini adalah kedatangan Belanda yang membonceng Sekutu tak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Kedatangan bangsa asing tersebut tentu saja membuat rakyat marah dan resah. Hal ini dikarenakan bangsa asing tersebut tetap kekeuh ingin mempertahankan Indonesia sebagai salah satu negara bawahannya. Sementara itu, rakyat tentunya tidak mau berada di bawah bayang-bayang Belanda lagi. Bahkan, rakyat tidak segan-segan untuk melawan bangsa perang puputan margarana dipimpin oleh itu jika mengusik kedaulatan Indonesia.

Karena hal tersebut, terjadilah perlawanan di berbagai daerah. Untuk meredam situasi tersebut, pihak Indonesia dan Belanda kemudian mengadakan pertemuan yang kemudian menghasilkan Perjanjian Linggarjati. Salah satu isi dari perjanjian tersebut yang menjadi persetujuan bersama adalah Belanda mengakui Jawa, Madura, dan Sumatera sebagai wilayah Indonesia.

Karena Belanda hanya mengakui tiga daerah tersebut, itu berarti Bali tidak termasuk ke dalam wilayah Indonesia. Tentu saja hal itu membuat rakyat Bali merasa kecewa. Akan tetapi, tak banyak yang bisa dilakukan oleh rakyat pada saat itu.

Kedatangan Sekutu di Bali Pada tanggal 2 Maret 1946, pasukan NICA datang ke Pulau Bali. Tujuan awal mereka adalah untuk membantu melucuti tentara Jepang yang masih bermukim di sana.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Selain itu, mereka membawa agenda tersendiri untuk membentuk Negara Indonesia Timur. Pada waktu itu, Belanda memang ingin mendirikan persemakmuran dengan Indonesia. Selanjutnya, wilayah Indonesia akan terbagi menjadi negara-negara sendiri.

Akan tetapi, nantinya tetap terikat pada persemakmuran dan mengakui raja atau ratu Belanda sebagai pemimpinnya.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Pada mulanya, I Gusti Ngurah Rai tidak mengetahui kedatangan Belanda. Karena sejak awal tahun 1946, ia mengadakan perjalanan ke Yogyakarta untuk menghadap dengan Presiden Soekarno dan pejabat yang lain. Bersama dengan rombongannya, ia baru tiba di Bali sekitar awal bulan April 1946. Mereka pun menyadari keadaan politik telah berubah karena wilayah-wilayah di Bali sudah dikuasai Belanda.

Pada tanggal 16 April 1946, pemerintah Indonesia memberikan mandat kepada I Gusti Ngurah Rai untuk membentuk Markas Besar Perjdoeangan Oemoem Dewan Perdjoeangan Rakyat Indonesia perang puputan margarana dipimpin oleh DPRI) Sunda Kecil. Anggota resimen tersebut berjumlah sekitar 1.000 pemuda yang siap berperang.

Yang kemudian dikenal sebagai pasukan Induk. Baca juga: Perlawanan Rakyat Singaparna Melawan Penjajahan Jepang Kronologi Perang Puputan Margarana Ilustrasi Perang Sumber: Wikimedia Commons Untuk mewujudkan misi mendirikan Negara Indonesia Timur, pihak Belanda kemudian melobi raja-raja Bali dan orang-orang berpangkat supaya mau diajak bekerja sama.

Salah satunya adalah I Gusti Ngurah Rai. Pada saat itu, ia menjabat sebagai Komandan Resimen Tentara Republik Indonesia Sunda Kecil. Akan tetapi, ia adalah seorang prajurit yang menjunjung tinggi sifat ksatria. Tanpa pikir panjang, ia menolak dengan tegas tawaran dari Belanda tersebut. Walau bagaimana pun, dirinya tetap memilih Indonesia.

Lagi pula sebagai orang biasa, I Gusti Ngurah Rai merasa lebih baik melakukan perlawanan daripada perundingan. Bersama dengan para anggota induk MBO DPRI, I Gusti Ngurah Rai melakukan penyerangan ke markas-markas Belanda. Terutama yang berada di daerah Tabanan. Sebelum dapat mengeksekusi rencana, rupanya hal tersebut bocor. Belanda lalu memindahkan pusat komandonya ke Bengkel Anyar. Hal tersebut tentu saja tidak menyurutkan tekad pasukan Bali untuk menyerang Belanda.

Mereka kemudian mengadakan Long March ke Gunung Agung mulai akhir bulan Mei 1946. Tujuannya untuk mengalihkan perhatian Belanda dan mempermudah kontak dengan Pulau Jawa.

Perjalanan Long March Pasukan Induk Selama melakukan long march pada bulan Juni–Juli, pasukan induk telah melakukan baku tembak dengan Belanda sebanyak tujuh kali. Dari pertempuran-pertempuran itu, yang paling parah terjadi di Tanah Aron, Karangasem pada tanggal 9 Juli 1946.

Setidaknya ada empat anggota yang tewas dan beberapa hilang. Pada akhir bulan Juli 1946, pasukan I Gusti Ngurah Rai menggelar pertemuan untuk menyusun rencana selanjutnya. Dalam pertemuan tersebut, mereka kemudian sepakat untuk membagi pasukan menjadi beberapa kelompok sesuai daerah masing-masing. Sang komandan akan kembali ke daerah Tabanan bersama dengan pasukannya. Sementara itu, pasukan di wilayah lain akan dipimpin oleh I Gusti Ngurah Sugianyar, I Gustu Bagus Putu Wisnu, I Gusti Wayan Debes, Bung Made, dan Bung Ali.

Masing-masing regu itu akan melakukan penyerangan terhadap markas-markas Belanda dengan menggunakan siasat perang gerilya. Selain itu, mereka juga akan melucuti senjata Belanda. Seperti apa yang dilakukan oleh pasukan I Gusti Ngurah Rai di Tabanan pada tanggal 18 November 1946.

Keesokan harinya, santer terdengar kabar bahwa Belanda akan melakukan penyerangan ke Desa Marga yang menjadi markas pasukan I Gusti Ngurah Rai. Untuk berjaga-jaga, ia kemudian membentuk Pasukan Ciung Wanara. Baca juga: Kronologi Sejarah Perang Diponegoro: Perlawanan Rakyat terhadap Belanda Terbesar di Pulau Jawa Puncak Perang Puputan Margarana Monumen Margarana Sumber: Wikimedia Commons Rupanya, kabar tersebut bukan hanya kabar burung.

Pada tanggal 20 November 1946, Belanda sudah melakukan pengepungan terhadap desa Marga mulai pagi-pagi sekali. Tembakan pertama terdengar sekitar pukul sembilan pagi. Setelah itu, terjadilah insiden baku tembak antara pasukan Ciung Wanara dengan tentara Belanda. Pada awalnya, mereka berhasil melumpuhkan tentara terdepan Belanda. Sayang sekali, tak lama kemudian keadaan menjadi berbalik. Rupanya, bangsa asing tersebut meminta bantuan pasukan dari Makassar untuk menjatuhkan bom di medan pertempuran.

Keadaan menjadi semakin genting. Akan tetapi, itu tak membuat pasukan I Gusti Ngurah Rai menjadi gentar. Mereka tetap maju untuk melawan Belanda apa pun yang terjadi. Pasukan Ciung Wanara sudah berusaha dengan sangat maksimal. Namun keterbatasan pasukan dan persenjataan sepertinya membuat mereka menjadi semakin terdesak. Tentara Belanda pada akhirnya perang puputan margarana dipimpin oleh memukul mundur pasukan I Gusti Ngurah Rai. Korban jiwa dari kedua belah pihak pun tak terhitung jumlahnya.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Semua pasukan Ciung Wanara gugur dalam pertarungan tersebut. Termasuk sang komandan, I Gusti Ngurah Rai. Maka dari itu, perang itu disebut puputan karena sampai darah penghabisan. Sementara itu, dri pihak Belanda sendiri lebih dari 300 prajuritnya tewas. Baca juga: Propaganda-Propaganda yang Diterapkan Terhadap Indonesia Selama Penjajahan Jepang Sekilas tentang Tokoh Perang Puputan Margarana, I Gusti Ngurah Rai Sumber: Wikimedia Commons Tadi kamu sudah menyimak ulasan mengenai latar belakang dan kronologi terjadinya perang di Bali ini, kan?

Selanjutnya, tidak ada salahnya jika kamu mengenal sosok tokoh yang memimpin Perang Puputan Margarana. I Gusti Ngurah Rai lahir pada tanggal 30 Januari 1917.

Ibunya bernama I Gusti Ayu Kompyang dan ayahnya adalah I Gusti Ngurah Palung. Sang ayah pada waktu itu menjabat sebagai camat. Maka dari itu, ia bisa mengenyam pendidikan formal di Holands Inlandse School (HIS) setingkat Sekolah Dasar di Denpasar. Lulus dari sana, ia melanjutkan jenjang sekolah menengah pertama atau MULO di Malang. Setelah itu, laki-laki yang lahir di Desa Carangsari ini melanjutkan pendidikan ke Sekolah Kader Militer di Prayodha Bali yang teletak di Gianyar pada tahun 1936.

Menurut beberapa sumber, sejak kecil ia memang sudah tertarik ke dunia militer. Sementara itu, ia masuk korps di mana anggotanya kebanyakan memang berasal dari pemuda bangsawan.

Pada tahun 1940, anak lelaki kedua dari tiga bersaudara tersebut diangkat sebagai Letnan II. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di Magelang. Tepatnya di Corps Opleiding Voor Reserve (CORO). Tak lama kemudian, ia kemudian menjabat sebagai intel.

Kelanjutan Kisah I Gusti Ngurah Rai Sewaktu Jepang menjajah Indonesia pada tahun 1942, I Gusti Ngurah Rai bekerja menjadi pegawai perusahaan Mitsui Bussan Kaisha. Tugasnya adalah untuk melakukan pembelian padi milik rakyat. Pada waktu itu, ia tidak bergabung ke kemiliteran.

Akan tetapi bersama dengan pemuda-pemuda lainnya, dirinya membentuk Gerakan Anti Fasis. Baru setelah Indonesia merdeka, Ngurah Rai kemudian bergabung menjadi anggota angkatan perang Republik Indonesia. Selanjutnya, ia diangkat menjadi komandan resimen Tentara Keamanan Rakyat perang puputan margarana dipimpin oleh.

Nah, seperti yang telah kamu baca di atas, laki-laki yang berasal dari golongan bangsawan tersebut pernah mendapatkan tawaran kerja sama Belanda untuk membangun sebuah negara. Namun, ia menolak permintaan tersebut. Akhirnya, kedua kubu itu saling serang. I Perang puputan margarana dipimpin oleh Ngurah Rai akhirnya gugur bersama pasukannya saat melawan Belanda pada tanggal 20 November 1946.

Untuk mengenang pertempuran tersebut, dibangunlah Monumen Margarana yang terletak di Candi Marga, Tabanan, Bali. Nah guna menghormati jasa-jasanya, Presiden Soeharto memberikan gelar pahlawan nasional pada tanggal 9 Agustus 1975. Pangkatnya pun juga naik menjadi Brigadir Jenderal (Anumerta). Bentuk penghormatan lainnya adalah menggunakan namanya sebagai nama bandara internasional. Selain itu, kamu juga dapat menjumpai sosoknya dalam lembaran uang 50.000 rupiah.

Baca juga: Kronologi Sejarah Perang Padri: Perang Saudara yang Berubah Menjadi Peperangan Melawan Penjajahan Belanda Ulasan tentang Perang Puputan Margarana Demikianlah ulasan mengenai Perang Puputan Margarana yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. Perjuangan para pendahulu memang sangatlah luar biasa. Mereka tanpa pikir panjang mengorbankan dirinya demi menjaga keutuhan dan kedaulatan Indonesia.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Nah buat kamu yang mungkin ingin membaca informasi menarik tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi Belanda, bisa langsung cek artikel yang lainnya. Tidak hanya pada masa penjajahan, tetapi juga sesudah merdeka. Kalau misalnya kamu mencari ulasan tentang kerajaan-kerajaan juga ada, lho.

perang puputan margarana dipimpin oleh

Jadi, tunggu apa lagi? Lanjutkan saja membacanya, ya! Editor Elsa Dewinta Elsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret perang puputan margarana dipimpin oleh Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.KOMPAS.com - Puputan Margarana terjadi pada 20 November 1946. Perang ini terjadi di Desa Marga, Kecamatan Margarana, Tabanan, Bali.

Pertempuran ini dipimpin oleh Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, selaku Kepala Divisi Sunda Kecil. Ia bersama pasukannya bertempur secara habis-habisan untuk mengusir Belanda. Latar belakang terjadinya Puputan Margarana Dilansir dari situs Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kabupaten Klungkung, Puputan Margarana terjadi setelah Jepang kalah dan Belanda datang ke Indonesia untuk mengambil alih atau merebut daerah kekuasaan Jepang.

Belanda berambisi untuk membuat Negara Indonesia Timur (NIT). Namun, I Gusti Ngurah Rai menolak rencana Belanda tersebut. Mengutip dari Dharmasena (Majalah Resmi Departemen Pertahanan Keamanan) (1976), dalam Perjanjian Linggarjati 15 November 1946, Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia pada wilayah Jawa, Madura dan Sumatra.

Pengakuan secara de facto ini memunculkan rasa kekecewaan dalam hati rakyat Bali. Karena Bali belum diakui perang puputan margarana dipimpin oleh de facto sebagai wilayah Indonesia.

Baca juga: Pertempuran Surabaya, Pertempuran Indonesia Pertama setelah Proklamasi Kronologi terjadinya Puputan Margarana Pada 18 November 1946, markas pertahanan atau militer Belanda di Tabanan, Bali diserang secara habis-habisan. Hal ini membuat Belanda murka dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengepung Bali, khususnya Tabanan. Belanda mengirimkan pasukan 'Gajah Merah', 'Anjing Hitam', 'Singa', 'Polisi Negara' dan 'Polisi Perintis.

Tidak hanya itu, Belanda juga mengirimkan tiga pesawat pemburu miliknya. Pasukan yang dikirim Belanda tersebut mulai melakukan serangan pada 20 November 1946 pukul 05.30 WITA, dengan menembaki area pasukan warga Bali. Kekuatan persenjataan yang dimiliki pasukan tersebut tergolong minim, sehingga mereka belum bisa melakukan aksi balas serangan kepada pasukan Belanda.
KOMPAS.com - Perlawanan raja - raja Bali terhadap Belanda dikenal dengan sebutan perang puputan yang maknanya perang sampai titik darah penghabisan.

Puputan berasal dari bahasa Bali, puput yang artinya tanggal, putus, habis, atau mati. Sehingga puputan dalam bahasa Bali mengacu pada ritual bunuh diri massal yang dilakukan saat perang daripada harus menyerah kepada musuh. Puputan yang terkenal di Bali adalah Puputan Jagaraga dan Puputan Margarana. Berikut penjelasannya: Puputan Jagaraga Perang Puputan Jagaraga disebut Perang Bali II, terjadi pada 1848 hingga 1849.

Perang ini dilakukan oleh Patih Jelantik bersama dengan rakyat Buleleng, Bali. Puputan Jagaraga disebabkan oleh ketidaktaatan Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Made Karangasem dan Maha Patih I Gusti Ketut Jelantik pada perjanjian damai kekalahan perang Buleleng pada 1846. Mengutip dari situs Pemerintah Kabupaten Buleleng, perjanjian tersebut ditandatangani oleh Raja Buleleng serta Raja Karangasem yang membantu Perang Buleleng. Baca juga: Senjata Tradisional Kandik Bali Adapun isi perjanjian damai tersebut, yakni: • Kedua kerajaan harus mengakui Raja Belanda sebagai tuannya serta berada di bawah kekuasaan Gubernemen.

• Tidak diperbolehkan membuat perjanjian dengan bangsa kulit putih lainnya. • Penghapusan peraturan Tawan Karang. Tawan Karang adalah hak raja-raja Bali untuk merampas kapal yang karam di perairannya.

• Harus membayar biaya perang sebesar 300 ribu Gulden. Raja Buleleng harus membayar 2/3 dari biaya perang. Sedangkan Raja Karangasem membayar 1/3 biaya yang harus dilunasi dalam jangka waktu 10 tahun. Setelah Perang Buleleng berakhir, I Gusti Ngurah Made Karangasem dan I Gusti Ketut Jelantik memindahkan Kerajaan Buleleng ke Desa Jagaraga. Di sana mereka mengatur strategi perang untuk melawan Belanda.

Pada 8 Juni 1848, Belanda menyerang Pelabuhan Sangsit dan diserang balik oleh I Gusti Ketut Jelantik. Mengakibatkan 250 prajurit Belanda tewas dan menandakan bahwa Belanda kalah pada Perang Jagaraga pertama.

Peristiwa Sejarah Puputan Margarana Bali 1946




2022 www.videocon.com