Jatinegara berasal dari kata

jatinegara berasal dari kata

Sumber Foto : Istimewa JAKARTASATU.com – Berbicara soal Jakarta, tentu banyak cerita yang ada didalamnya. Jakarta bukan hanya sebagai ibukota dari Indonesia. Jakarta juga punya cerita. Setiap tempat di Jakarta tentu mempunyai arti dan makna tidak terkecuali Jatinegara. Mendengar kata Jatinegara, tentu kita sudah tidak asing dengan istilah tersebut.

Masyarakat luas kini mengenal Jatinegara sebagai sebuah Kecamatan di Kota Administratif Jakarta Timur. Jatinegara berasal dari kata Jatinegara baru muncul ke permukaan pada tahun 1942, atau setelah Tentara Jepang mengalahkan tentara Belanda.

Pada saat pemerintahan Jepang yang berlangsung singkat nama Jatinegara sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda. Rachmat Ruchiat dalam sebuah bukunya ‘Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta’ menjelaskan pada pertengahan abad ke 17 Pemerintah Kolonial Belanda memberikan izin penuh kepada Cornelis Senen untuk membuka hutan baru yang letaknya dekat dengan Batavia.

Hutan yang dibuka oleh Cornelis dikenal oleh penduduk Pribumi dengan sebutan Meester Cornelis. Cornelis sendiri dikenal sebagai guru dan pemuka agama Kristen. Cornelis berasal dari Pulau Banda, dan menetap di Batavia sejak Belanda menguasai kawasan tersebut pada tahun 1621. Dan sebagai seorang guru dan tuan tanah, ia disapa Meester oleh penduduk lokal. Seiring dengan berjalannya waktu, lambat laun kawasan yang dibuka Cornelis di dekat Batavia segera menjelma menjadi daerah ramai yang disambangi penduduk dari berbagai daerah di Nusantara.

Pada tahun 1924 kawasan Meester Cornelis menjadi sebuah Kabupaten sendiri yang terdiri atas empat kawedanan, yaitu Kawedanan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi dan Cikarang. Selanjutnya pemerintah kolonial Hindai Belanda membentuk pemerintahan Kota Praja (Gemeente). Dan pada tahun 1936, Gemeente Meester Jatinegara berasal dari kata digabungkan dengan Gemeente Batavia.

Pada zaman kependudukan Jepang, nama Cornelis segera diubah menjadi Jatinegara. Statusnya setingkat dengan Kawedanan, bersama-sama dengan Penjaringan, Mangga Besar, Tanjung Priok, Tanah Abang Gambir dan Pasar Senen. ( Jks/BM) TENTANG KAMIJAKARTASATU.COM dikelola di bawah naungan PT Meprindo (Media Pribumi Indonesia), dengan Akta Notaris Nomor 14 / 30 Oktober 2015.

Notaris Raden Reina Raf’aldini, SH, dengan Pengesahan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Nomor AHU-2463874.AH.01.01.TAHUN 2015. Sebagai media online kami membuka ruang baru jurnalisme terbuka dan lugas. Untuk ikut saran silakan kirim ke: redaksi@jakartasatu.com atau redaksijakartasatu@gmail.com Stasiun Jatinegara (JNG) merupakan stasiun besar yang berada di Jakarta Timur. Mempunyai ketinggian +16 mdpl jatinegara berasal dari kata merupakan stasiun yang cukup sibuk di Daop 1 Jakarta, karena Stasiun Jatinegara melayani perjalanan KRL Commuter Line relasi Bekasi-Jakarta Kota PP, Jatinegara-Bogor PP, dan juga melayani kedatangan kereta api dari Luar Kota.

Stasiun Jatinegara mempunyai 5 Jalur utama yang digunakan untuk melayani perjalanan kereta api dan 3 jalur alternatif yang digunakan untuk langsir lokomotif dan menyimpan kereta perawatan jalur kereta api.Stasiun Jatinegara yang merupakan karya Ir. Snuyff, tak dapat dilepaskan dari kawasan Jatinegara itu sendiri yang sarat dengan sejarah dan terlihat dari banyaknya bangunan bersejarah yang pantas untuk dilestarikan.

Kawasan Jatinegara awalnya bernama Meester Cornells, mengacu pada nama Cornelis Senen seorang guru yang mendirikan sekolah, mengajar dan memberikan khotbah di kawasan itu sehingga dia mendapat julukan meester atau tuan guru. Nama Jatinegara mulai digunakan pada jaman penjajahan Jepang yang menganggap nama Meester terlalu berbau Belanda. Ada pendapat bahwa Jatinegara berasal dari kata ‘Negara Sejati’ sebutan dari Pangeran Jayakarta yang sudah lebih dulu mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum setelah pemerintahan Belanda menghancurkan Keraton Sunda Kelapa.

Khususnya orang-orang berkebangsaan Belanda yang berdomisili di daerah tersebut pemerintah Kolonial mengembangkan sarana transportasi pendukung. Pada tanggal 16 Juni 1872 jalur kereta api Gambir-Jatinegara diresmikan pemakaiannya dan kemudian dilanjutkan untuk jalur Jatinegara-Bogor setahun kemudian.

Berikutnya pada tahun 1925 kereta listrik mulai dioperasikan untuk menghubungkan Jatinegara dengan Tanjung Priok dan Manggarai. Banyaknya transportasi publik yang melintasi Jatinegara menunjukkan bahwa daerah ini merupakan wilayah penting dan cukup ramai sejak dahulu dan stasiun kereta api menjadi fasilitas publik yang vital.

Hingga saat ini, Stasiun kereta api Jatinegara yang sebelum kemerdekaan bernama Stasiun Meester Cornelis merupakan stasiun penting tempat bertemunya tiga jalur kereta api yaitu jalur ke Pasar Senen, jalur ke Manggarai, dan jalur ke Bekasi. Stasiun ini setiap harinya dilewati sekitar 350 kereta api yang menghubungkan kota Jakarta ke semua jurusan di Pulau Jawa.


Jakarta, faktapers.id – Kota Jakarta adalah jantung ibukota dari negara Republik Indonesia, sebagai pusat perekonomian beserta berjuta permasalahannya ada di kota kecil padat jatinegara berasal dari kata ini. Di balik nama beberapa daerah di Jakarta tersimpan kisah, cerita dan sejarah dari mana dan apa sebab nama itu muncul. Berikut beberapa asal-muasal nama daerah terkenal di DKI Jakarta : 1. Glodok. Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air.

Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali Ciliwung. Orang Tionghoa dan keturunan Tionghoa menyebut grojok sebagai glodok, karena orang Tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti jatinegara berasal dari kata orang pribumi. 2. Kwitang. Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam.

Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si kwitang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang. 3. Senayan. Dulu daerah Senayan adalah milik seseorang yang bernama Wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut orang-orang dengan sebutan Wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik wangsanayan.

Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan. 4. Menteng. Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan.

Karena banyak pohon buah menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung menteng. Setelah tanah jatinegara berasal dari kata dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda maka daerah itu disebut Menteng.

5. Karet Tengsin. Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas kuningan ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati.

Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal dengan nama Karet Tengsin.

6. Kebayoran. Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya “tempat penimbunan kayu bayur”. Kayu bayur yang sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatanya serta tahan terhadap rayap.

7. Lebak Bulus. Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil dari kata “lebak” yang artinya lembah dan “bulus” yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak rata seperti lembah dan di kali Grogol dan kali Pesanggrahan- dua kali yang mengalir di daerah tersebut-memang terdapat banyak sekali kura-kura alias bulus.

jatinegara berasal dari kata

8. Kebagusan. Nama kebagusan, daerah yang menjadi tempat hunian mantan presiden Megawati, berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak Lenang. Konon, kecantikan gadis keturunan kesultanan Banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya.

Agar tidak mengecewakan hati pemuda itu, ia akhirnya memilih bunuh diri.

jatinegara berasal dari kata

Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal dengan nama ibu Bagus. 9. Ragunan. Berasal dari kata Wiraguna, yaitu gelaran yang di sandang tuan tanah pertama kawasan tersebut bernama Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa. 10. Pasar Rumput. Komon dulu tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa mangkal di lokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman elit Menteng.

Saat itu, sado adalah sarana transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian besar penduduk Menteng memelihara kuda. 11. Paal Meriam. Asal usul nama daerah yang berada di perempatan Matraman dengan Jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813.

Pada waktu itu pasukan artileri meriam Inggris yang akan menyerang Batavia, mengambil daerah itu untuk meletakan meriam yang sudah siap ditembakan. Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakat sekitar dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam disiapkan).

12. Cawang. Duku, ketika belanda berkuasa, ada seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Jatinegara berasal dari kata Awang.

Letnan ini bersama anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari Jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang. 13. Pondok Gede. Sekitar Tahun 1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut dengan Onderneming.

Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat besar milik jatinegara berasal dari kata tanah yang bernama Johannes Hoojiman. Karena merupakan satu-satunya jatinegara berasal dari kata besar yang ada di lokasi tersebut, bangunan itu sangat terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya “Pondok Gede” 14. Condet Batu Ampar dan Balekambang. Kokon pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memiliki beberapa orang anak.

Salah satu anaknya, perempuan, di beri nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makassar pun tertarik melamarnya. Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan diatas empang, dekat kali Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Ciliwung.

Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran Tenggara, dibuat jalan yang diampari (dilapisi) Batu. Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut batu ampar, dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air itu disebut Balekambang.

15. Buncit. Dulu kala di jalan buncit raya sekarang, ada pedagang kelontong China berperut gendut (Buncit) yang terkenal. 16. Bangka. Kabarnya dulunya di sana banyak ditemukan mayat (bangke/bangkai) orang yang dibuang di kali krukut. 17. Cilandak Konon di sana pernah ditemukan seekor landak raksasa 18. Tegal Parang Jaman dahulu disana banyak ditemukan alang-alang tinggi (tegalan) yang di potong dengan parang (golok).

19. Blok A/M/S Nama itu karena dulunya sekitar situ tempat pembukaan perumahan baru yang ditandai dengan blok, mulai A-S. Sayang yang tersisa tinggal 3 blok doang. 20. Kampung Ambon Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung Ambon sudah muncul sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris.

Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon lalu merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan dari Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.

Sejak itulah pemukiman tersebut dinamakan Kampung Ambon. 21. Sunda Kelapa Sunda Kelapa merupakan sebutan sebuah pelabuhan di teluk Jakarta. Nama kelapa diambil dari berita yang terdapat dalam tulisan perjalanan Tome Pires pada tahun 1513 yang berjudul Suma Oriental. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa nama pelabuhan itu adalah Kelapa. Karena pada waktu itu wilayah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda maka kemudian pelabuhan ini disebut Sunda Kelapa.

22. Pasar Senen Pasar Senen pertama kali dibangun oleh Justinus Vinck.

jatinegara berasal dari kata

Orang-orang Belanda menyebut pasar ini dengan sebutan Vinckpasser (pasar Vinck). Tetapi karena hari pada awalnya Vinckpasser dibuka hanya pada hari Jatinegara berasal dari kata, maka pasar itu disebut juga Pasar Senen (disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang yang lebih sering menyebut Senen ketimbang Senin). Namun seiring kemajuan dan pasar Senen semakin ramai, maka sejak tahun l766 pasar ini pun buka pada hari-hari lain. 23. Taman Anggrek Berawal dr keinginan bu Tien untuk mengambil kebon anggrek milik juragan tanah Sunda bernama Rasman, yang dikenal orang-orang sekitar dengan nama H.

Rasman karena dia memiliki tanah berhektar-hektar di Cipete. Jadi bu Tien mengambil bunga-bunga anggrek tersebut dengan niat membeli (tapi namun tidak dibayar) yang akhirnya di pindahkan ke daerah Jakarta Barat yang sekarang jadi Mall Taman Anggrek. emudian di pindahkan lagi ke yang sekarang semua orang ketahui ada di Taman Mini Indonesia Indah.

Walaupun bunga-bunga anggreknya sudah tidak ada, namun Jl. Kebon Anggrek masih ada juga sampai sekarang. Lokasinya di Cipete (seberang SMA Cendrawasih).

24.

jatinegara berasal dari kata

Grogol Grogol berasal dari bahasa Sunda (g a r o g o l) yang artinya perangkap terdiri dari tombak-tombak yang digunakan untuk menangkap hewan liar yang banyak terdapat di hutan.

Nama Garogol dipasang sebagai nama sebuah desa di Limo Depok. Dahulu kawasan ini memang masih hutan liwang-liwung yang kata pak dalang “jalma mara-jalma mati” alias menyeramkan. Sudah barang tentu di kawasan ini banyak terdapat hewan liar dan buas sehingga penduduk setempat memburunya dengan memasang perangkap (garogol).

Hewan yang masuk ke perangkap mirip ciptaan “geek” alias soldadu Vietnam dijamin akan mati tertembus ujung tombak yang menganga didasar lubang. Tapi belum jelas apakah jaman dulu ada keresahan masyarakat bahwa kambing mereka pada tewas karena darahnya dihisap oleh “mahluk misterius” yang sekarang kian marak di Depok.

Konsekuensinya kali yang melewati desa ini juga dinamai kali Garogol. Penduduk Betawi yang main gampang saja, setiap ada desa dilalui kali ini langsung di beri stempel desa Grogol, kampung Grogol.

Repotnya pada peta keluaran tahun 1903, ada kampung bernama Grogol di kawasan Pal Merah. Dari Pal Merah, kali Grogol melewati Taman Anggrek untuk menuju ke kawasan Pluit (jalan Latumeten) dan tiba pada satu daerah yang kini disebut Grogol- Negeri Tanah Tumpah Darah Anak Beta. Kalau yang memberi nama orang jaman sekarang bisa-bisa namanya “Grogol Perjuangan”. Pada 1928, sebagian Kali Grogol diuruk oleh Kumpeni.

Pasalnya volume air yang mengalir di banding kapasitas kali sering tidak memadai. Dan ini bisa mengancam kehidupan kastil sehingga harus dialirkan keluar kawasan kastil.

Pada 1950-an kawasan Grogol menjadi populer. Karena tercatat terlanggar banjir bandang yang merendam kelurahan ini. Untuk pengendalian banjir di bangun pula waduk Grogol yang letaknya di jalan dr. Semeru (Sumeru) sekarang ini. Di tengah waduk ada air muncrat yang memang agak indah tetapi meresahkan masyarakat.

Pasalnya air yang muncrat tadi kualitasnya kurang bagus sering ketika butiran air yang menjulang tinggi lalu di tiup angin pantai, maka banyak baju penduduk yang sedang dijemur tiba-tiba saja diberi tambahan noda kuning dan berbau got.

Bertepatan dengan alat pompa yang sering ngadat, maka pemandangan air muncrat sudah nyaris tidak dipertunjukkan. Soal nama jalan juga unik. Nama jalan di sini mengambil nama pahlawan seperti Latumeten, Sumeru, Mawardi, Susilo. Semeru adalah nama dari Dokter Sumeru salah satu tokoh pejuang bangsa Indonesia, disamping nama Dokter Mawardi, Dr. Susilo. Lalu lidah Jawa mulai mengubahnya menjadi Semeru dan seperti keahlian bangsa ini, nama inipun di utak-atik lagi sehingga menjadi suatu statement bahwa S(u)meru adalah nama Gunung.

Nama dokter Mawardi cuma kepleset sedikit menjadi dr. Muwardi. 25. Utan Kayu Dulunya memang berbentuk hutan di samping basis prajurit Mataram mau menyerang Batavia. Hutan ini sumber kayu dari perumahan-perumahan maupun perkampungan para pengepung Batavia maupun benteng Belanda jaman dulu. Saking lebatnya hutan ini yang jatinegara berasal dari kata rawa-rawa kemudian saat pembangunan daerah ini, mulai disebut Hutan Kayu yang kemudian dipersingkat menjadi Utan Kayu.

Sisa kejayaan dari hutan ini masih dirasakan hingga saat ini di mana kawasan ini masih cukup hijau dan sejuk meski bukan termasuk dalam kawasan mewah seperti halnya Menteng. 26. Rawamangun Melanjutkan cerita mengenai Utan Kayu, hutan yang sangat lebat disertai jatinegara berasal dari kata di dalamnya terdapat banyak rawa-rawa yang kemudian setelah masa perang dengan mataram selesai dan perluasan kota Batavia, mulai diterabas untuk pembangunan wilayah perumahan.

Struktur tanah yang sifatnya rawa-rawa asalnya, membuat banyak pembangunan yang menggunakan pondasi ekstra dalam untuk wilayah ini, dan seperti halnya sifat rawa-rawa yang selalu berada di tengah hutan dan mirip halnya daerah Utan Kayu, Rawamangun juga masih relatif lebih hijau. 27. Hek Tempat yang terletak jatinegara berasal dari kata Kantor Kecamatan Kramatjati dan kantor Polisi Resor Kramatjati, sekitar persimpangan dari jalan Raya Bogor ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus ke Pondokgede, dikenal dengan nama Hek.

Rupanya, nama tersebut berasal dari bahasa Belanda. Menurut Kamus Umum Bahasa Belanda – Indonesia (Wojowasito 1978:269), kata hek berarti pagar. Tetapi menurut Verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenen- Endpols, 1946:388), kata hek dapat juga berarti pintu pagar (“.raam-of traliewerk…”).

Dari seorang penduduk setempat yang sudah berumur lanjut, diperoleh keterangan, bahwa di tempat itu dahulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, ujung – ujungnya diruncingkan, berengsel besi besar – besar, bercat hitam. Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar – masuk kompleks peternakan sapi, yang sekelilingnya berpagar kayu bulat. Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini menjadi kompleks Pemadam Kebakaran dan Kompleks polisi Resort Kramatjati.

Sampai tahun tujuh puluhan kompleks tersebut masih biasa disebut budreh, ucapan penduduk umum untuk kata boerderij, yang berarti kompleks pertanian dan atau peternakan. Kompleks peternakan tersebut merupakan salah satu bagian dari Tanah Partikelir Tanjoeng Oost, yang pada masa sebelum Perang Dunia Kedua terkenal akan hasil peternakannya, terutama susu segar untuk konsumsi orang – orang Belanda di Batavia.

(Sumber: De Haan 1935: Van Diesen 1989). 28. Jalan Cengkeh Jalan Cengkeh terletak di Kota Tua Jakarta sebelah utara Kantor Pos, di samping sebelah timur Pasar Pisang. Dahulu jaman penjajahan Belanda, Jalan itu bernama Princenstraat, tetapi umum juga disebut Jalan Batutumbuh, mungkin karena disana terdapat batu bertulis.

Kawasan sekitar batu prasasti Purnawarman, di Tugu juga biasa disebut Kampung Batutumbuh. Pada tahun 1918, di dekat tikungan Jalan Cengkeh ke Jalan Kalibesar Timur, yang waktu itu bernama Groenestraat, ditemukan batu bertulis peninggalan orang – orang Portugis, yang biasa disebut padrao. Padrao itu dipancangkan oleh orang – orang Portugis, menandai tempat akan dibangun sebuah benteng, sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara Raja Sunda dengan perutusan Portugis yang dipimpin oleh Henriquez de Lemme, yang menurut Sukamto ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522.

Batu bertulis itu diberi ukiran berupa lencana. Raja Immanuel. Rupanya de Leme beserta rombongannya belum mengetahui bahwa raja Portugal tersebut telah meninggal tanggal 31 Desember 1521.

Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa.

jatinegara berasal dari kata

Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang – barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Mulai saat benteng dibangun pihak Sunda akan menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan barang – barang yang dibutuhkan (Sumber: Hageman 1867: Soekamto 1956: Danasasmita 1983) 29.

Japat Japat terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Sunda Kalapa, termasuk wilayah Kelurahan Ancol Utara, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Nama kawasan tersebut berasal dari kata jaagpad.

Ada yang mengatakan, kata jaagpad berarti “Jalan setapak yang biasa digunakan untuk berburu”. Katanya jaag, dari jagen, artinya “berburu” Pad, artinya “jalan setapak” padahal, kata jaagpad tidak ada sangkut pautnya dengan berburu, melainkan sebuah istilah dalam pelayaran perahu. Pada alur sungai atau terusan yang dangkal, perahu yang melaluinya baru dapat bergerak maju, kalo ditarik.

Pada jaman Kompeni Belanda, bahkan beberapa dasawarsa sebelum pelabuhan Tanjungpriuk dibuat, kapal jatinegara berasal dari kata kapal (layar) yang cukup besar bila berlabuh di pelabuhan Batavia, yang sekarang menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa, tidak merapat seperti sekarang, melainkan biasa membuang sauh masih jauh dilaut lepas. Pengangkutan orang dan barang dari kapal biasa dilakukan dengan perahu.

Untuk mempermudah pendaratan, di sebelah timur Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang dibuat terusan jatinegara berasal dari kata untuk perahu – perahu pendarat. Terutama di musim hujan, terusan tersebut biasa menjadi dangkal, dipenuhi lumpur dari darat bercampur pasir dari laut sehingga perahu kecil pun sulit melewatinya.

Apalagi perahu besar, berlunas lebar, sarat muatan, agar bisa bergerak maju harus dihela beberapa kuda atau sejumlah orang yang berjalan di depan perahu, sebelah kiri dan kanan terusan. Terusan tersebut diuruk pada abad ke- 19, sehingga sekarang sulit untuk melacaknya. Yang tersisa hanya sebutannya jaagpad yang berubah menjadi japat, sebagai nama dari kawasan tersebut. 30. Jatinegara Jatinegara dewasa ini menjadi nama sebuah Kecamatan.

Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur, salah satu pusat Kota Jakarta yang multipusat itu. Nama Jatinehara baru muncul pada kawasan tersebut, sejak tahun 1942, yaitu pada awal masa pemerintahan pendudukan balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda. Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin pembukaan hutan dikawasan itu kepada Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen, berasal dari Lontor, pulau Banda.

Setelah tanah tumpah – darahnya dikuasai sepenuhnya oleh kompeni, pada tahun 1621 Senen mulai bermukim di Batavia, ditempatkan di kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkannya kepada kaum sesukunya. Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol) Sebagai guru, ia biasa dipanggil mester, yang berarti “tuan guru”. Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Mester Cornelis, yang oleh orang – orang pribumi biasa disingkat menjadi Mester.

Bahkan sampai dewasa ini nama itu nampaknya masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh para pengemudi angkot (angkutan kota). Kawasan hutan yang dibuka oleh Mester Cornelis Senen itu lambat laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia Belanda dibentuklah Pemerintahan Gemeente (kotapraja) Meester Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia.

Kemudian, mulai tanggal 1 Januari 1936 Gemeente Meester Cornelis digabungkan dengan Gemeente Batavia. Disamping kedudukannya sebagai gemeente, pada tahun 1924 Meester Cornelis dijadikan nama kabupaten, Kabupaten Meester Cornelis, yang terbagi menjadi 4 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang (Kolonial Tidschrifft, Maart 1933:1). Pada jaman Jepang pemerintah pendudukan jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, bersetatus sebagai sebuah Siku, setingkat kewedanaan, bersama – sama dengan Penjaringan, Manggabesar, Tanjungpriuk, Tanahabang, Gambir, dan Pasar Senen.

Ketika secara administrative Jakarta ditetapkan sebagai Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi kewedanaan, jatinegara berasal dari kata kewedanaan dipindahkan ke Matraman, dengan sebutan Kewedanaan Matraman.

Jatinegara menjadi salah satu wilayah Kecamatan Pulogadung, Kewedanaan Matraman (The Liang Gie 1958:144). 31. Jatinegara Kaum Jatinegara Kaum dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kotamadya Jakarta Timur.

Disebut Jatinegara Kaum, karena di sana terdapat kaum, dalam hal ini rupanya kata kaum diambil dari bahasa Sunda, yang berarti “tempat timggal penghulu agama beserta bawahannya” (Satjadibrata, 1949:149). Sampai tahun tigapuluh abad yang lalu, penduduk Jatinegara Kaum umumnya berbahasa Sunda (Tideman 1933:10). Dahulu Jatinegara Kaum merupakan bagian dari kawasan Jatinegara yang meliputi hamper seluruh wilayah Kecamatan Pulogadung sekarang.

Bahkan di wilayah Kecamatan Cakung sekarang, terdapat sebuah kelurahan yang bernama Jatinegara, yaitu Kelurahan Jatinegara.

Dari mana asal nama Jatinegara serta kapan kawasan tersebut bernama demikian, belum dapat dinyatakan dengan pasti. Yang jelas nama kawasan tersebut baru disebut-sebut pada tahun 1665 dalam catatan harian (Dagh Register) Kastil Batavia, waktu diserahkan kepada Pangeran Purbaya beserta para pengikutnya.

Pangeran Purbaya adalah salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang digulingkan dari tahtanya oleh putranya sendiri, Sultan Haji, dengan bantuan kompeni Belanda pada tahun 1682.

Setelah tertawan, Pangeran Purbaya beserta saudara-saudaranya yang lain, seperti Pangeran Sake dan Pangeran Sangiang, ditempatkan di dalam benteng Batavia. Kemudianditugaskan untuk memimpin para pengikutnya, yang ditempatkan dibeberapa tempat, seperti Kebantenan, Jatinegara, Cikeas, Citeurep, Ciluwar, dan Cikalong. Orang-orang Banten yang bermukim di Jatinegara, awalnya dipimpin oleh Pangeran Sangiang. Karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Kapten Jonker, kekuasaan Pangeran Sangiang di Jatinegara ditarik kembali, dan pada tahun 1680 diserahkan kepada Kiai Aria Surawinata, mantan bupati Sampora, kesultanan Banten (T.B.G.

XXX:138) yang setelah menyerah kepada kompeni diangkat menjadi Letnan, di bawah Pangeran Sangiang. Sampai tahun 1689.

Surawinata masih bermukim di Luarbatang. Setelah Kiai Aria Surawinata wafat, berdasarkan putusan Pimpinan Kompeni Belanda di Batavia tertanggal 27 Oktober 1699, sebagai penggantinya adalah putranya, Mas Muhammad yang Panca wafat, sebagai penggantinya ditunjuk salah seorang putranya, Mas Ahmad.

Pada waktu para bupati Kompeni diwajibkan untuk menanam kopi di wilayahnya masing – masing, penyerahan hasil pertanian itu dari tahun 1721 sampai dengan tahun 1723. tercatat atas nama Mas Panca.

Baru pada tahun 1724 tercatat atas nama Mas Ahmad. Pada tahun 1740 rupanya Mas Ahmad masih menjadi bupati Jatinegara atas nama Mas Ahmad berjumlah 2.372,5 pikul, kurang lebih 14.650 kg.

32. Kebantenan. Kawasan Kebantenan, atau kebantenan, dewasa ini termasuk wilayah Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Dikenal dengan sebutan Kebantenan, karena kawasan itu sejak tahun 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang – orang Banten, dibawah pimpinan Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa. Tentang keberadaan orang – orang Banten dikawasan tersebut, sekilas dapat diterangkan sebagai berikut.

Setelah Sultan Haji (Abu Nasir Abdul Qohar) mendapat bantuan kompeni yang antara lain melibatkan Kapten Jonker, Sultan Ageng Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdi – abdinya yang masih setia kepadanya.

Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa mereka menyerahkan diri, Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati). Di Batavia awalnya mereka ditempatkan didalam jatinegara berasal dari kata benteng. Jatinegara berasal dari kata Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi – abdinya diberi tempat pemukiman, yaitu di Kebantenan, Jatinegara, Condet, Citeureup, dan Cikalong.

Karena dituduh terlibat dalam gerakan Kapten Jonker, Pangeran Purbaya dan adiknya. Pangeran Sake, pada tanggal 4 Mei 1716 diberangkatkan ke Srilangka, sebagai orang buangan. Baru pada tahun 1730 kedua kakak beradik itu diizinkan kembali ke Batavia.

Pangeran Purbaya meninggal dunia di Batavia tanggal 18 Maret 1732. Perlu dikemukakan, bahwa disamping Kabantenan di Jakarta Utara itu, ada pula Kabantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah barat daya Kota Bekasi. Di salah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya yang berada di barat daya Bekasi itu ditemukan lima buah prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan jaman kerajaan Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan sejarah Jawa Barat.

33. Kampung Ambon Merupakan penyebutan nama tempat yang ada di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP. Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen dimukimkan orang Ambon itu lalu kita kenal sebagai kampung Ambon, terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.

34. Kampung Bali Di wilayah Propinsi DKI Jakarta terdapat beberapa kampung yang menyandang nama Kampung Bali, karena pada abad ketujuhbelas atau kedelapanbelas dijadikan pemukiman orang-orang Bali, yang masing-masing dipimpin kelompok etnisnya. Untuk membedakan satu sama lainnya, dewasa ini biasa dilengkapi dengan nama kawasan tertentu yang berdekatan, yang cukup banyak dikenal.

Seperti Kampung Bali dekat Jatinegara yang dulu bernama Meester Corornelis, disebut Balimester, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur. Balimester tercatat sebagai perkampungan orang-orang Bali sejak tahun 1667. Kampung Bali Krukut, terletak di sebelah barat Jalan Gajahmada sekarang yang dahulu bernama Molenvliet West. Di sebelah selatan, perkampungan itu berbatasan dengan tanah milik Gubernur Reineir de Klerk (1777 – 1780), dimana dibangun sebuah gedung peristirahatan, yang dewasa ini dijadikan Gedung Arsip Nasional.

Kampung Bali Angke sekarang menjadi kelurahan Angke, Kecamatan Tambora Jakarta Barat. Di sana terdapat sebuah masjid tua, yang menurut prasasti yang terdapat di dalamnya, dibangun pada 25 Sya’ban 1174 atau 2 April 1761. Dihalaman depan masjid itu terdapat kuburan antara lain makam Pangeran Syarif Hamid dari Pontianak yang riwayat hidupnya ditulis di Koran Javabode tanggal 17 Juli 1858.

Dewasa ini mesjid tersebut biasa disebut Masjid Al- Anwar atau Masjid Angke. Pada tahun 1709 di kawasan itu mulai pula bermukim orang – orang Bali di bawah pimpinan Gusti Ketut Badulu, yang pemukimannya berseberangan dengan pemukiman orang – orang Bugis di sebelah utara Bacherachtsgrach, atau Jalan Pangeran Tubagus Angke sekarang.

Perkumpulan itu dahulu dikenal dengan sebutan Kampung Gusti (Bahan: De Haan 1935,(I), (II):Van Diesen 1989). 35. Kampung Bandan Merupakan penyebutan nama Kampung yang berada dekat pelabuhan Sunda Kelapa atau masih dalam Kawasan Kota Lama Jakarta (Batavia) Berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan terdapat beberapa versi asal – usul nama Kampung Bandan.

1. Bandan berasal dari kata Banda yang berarti nama pulau yang ada di daerah Maluku. Kemungkinan besar pada masa lalu ( periode kota Batavia) daerah ini pernah dihuni oleh masyarakat yang berasal dari Banda. Penyebutan ini sangatlah lazim karena untuk kasus lain ada kemiripannya, seperti penyebutan nama kampung Cina disebut Pecinan. Tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean dan Pekojan sebagai perkampungan orang Koja (arab), dan lain-lain.

2. Banda berasal dari kata Banda ( bahasa Jawa) yang berarti ikatan Kata Banda dengan tambahan awalan di (dibanda) mempunyai arti pasif yaitu diikat. Hal ini dapat dihubungkan dengan adanya peristiwa yang sering dilihat masyarakat pada periode Jepang, yaitu pasukan Jepang membawa pemberontak dengan tangan terikat melewati kampung ini menuju Ancol untuk dilakukan eksekusi bagi pemberontak tersebut. 3. Banda merupakan perubahan ucapan dari kataPandan.

Pada masa lalu di kampung ini banyak tumbuh pohon, sehingga masyarakat menyebutnya dengan nama Kampung Pandan. 36. Kali Angke “Ang” dari bahasa china dialek suku hokkien yg artinya merah. “Ke” artinya aliran air, sungai, atau kali Pada tanggal 9 Oktober 1740 terjadi peristiwa pembantaian etnis Tionghoa selama tiga hari oleh VOC di Batavia.

Menurut catatan sejarah pada 1710, Batavia menjadi magnet bagi para imigran asal Cina. Maklum, saat itu di kota jatinegara berasal dari kata, di daerah Ommelanden (daerah luar Benteng Kota Lama, sekitar Kali Besar) terdapat 130 pabrik penggilingan jatinegara berasal dari kata.

Gubernur Jenderal VOC masa itu Adrian Valckenier (menjabat pada 1737-1741), membiarkan kedatangan imigran tersebut. Valckenier terpikat oleh etos kerja, daya tahan, dan keterampilan para imigran itu.

jatinegara berasal dari kata

Hingga akhir tahun 1730-an, ribuan orang Cina perantauan suku Hokkian (asal daerah Fukien, Cina bagian selatan) terus berbondong-bondong datang ke Batavia hingga jumlahnya mencapai 30 ribu penduduk. Selain menjadi buruh pabrik, jatinegara berasal dari kata juga bekerja menjadi pedagang. Ternyata kondisi keuangan VOC goyah oleh persaingan dagang sesama imperialis yaitu The Britisch East India Company, ditambah lagi besarnya pengeluaran angkatan perang VOC akibat pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan kolonial di Nusantara, serta terus meningkatnya jumlah imigran Tionghoa pedagang di Batavia, yang ternyata menjadi pesaing bagi VOC itu sendiri.

Bukan hanya itu, dimata pemerintahan kolonialisme, imigran Tionghoa dianggap sebagai duri dalam daging yang jika dibiarkan terus berkembang bisa menghancurkan kekuasaan kolonial mereka, jika masyarakat Tionghoa bersatu dengan pribumi.

Untuk mengatasinya, Heeren XVII (Kamar dagang VOC) memerintahkan Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia agar dapat memaksimalkan jumlah pendapatan dan aliran dana segar ke kas VOC. Dewan Hindia Belanda dan Adrian Valckenier sepakat melakukan jalan pintas dengan menggalakkan program tanam paksa bagi warga pribumi.

Sementara bagi para imigran Tionghoa pedagang dikenakan berbagai pajak dengan tujuan pemerasan. Pemerintahan VOC memberlakukan “Surat Ijin Tinggal” dengan masa waktu terbatas bagi seluruh imigran Tionghoa yang tinggal di dalam tembok maupun diluar tembok Batavia.

Selain keras, aturan ini juga menjatuhkan sanksi hukuman penjara dan denda, hingga pengusiran etnis Tionghoa dari seluruh wilayah Hindia Belanda, jika tidak memiliki surat ijin tinggal.

Resolusi pemerintahan VOC membuat warga etnis Tionghoa terpukul karena dijadikan korban, sementara menciptakan peluang korupsi bagi oknum pemerintah. Sedangkan kalangan dewan menilai sangat baik, karena selain meningkatkan pendapatan dari sisi pajak, juga dijadikan alat kontrol terhadap semua aktivitas bisnis warga Tionghoa. Aturan tersebut membuat warga Tionghoa mengalami kebangkrutan, bahkan banyak diantara pedagang Tionghoa beralih profesi menjadi buruh kasar akibat tidak kuat membayar pajak yang diberlakukan pemerintahan VOC Belanda.

Kemudian muncul ketidak puasan yang dilanjutkan dengan perlawan terhadap pemerintahan VOC. Sehingga sejak September 1740 mulai terjadi kerusuhan-kerusuhan kecil di luar komplek tembok Batavia.

Aksi perlawanan akhirnya memuncak pada 7 Oktober 1740. Lebih dari 500 orang Tionghoa dari berbagai penjuru berkumpul guna melakukan penyerangan ke Kompleks Benteng Batavia. Setelah sebelumnya menghancurkan pos-pos penjagaan VOC di wilayah Jatinegara, Tangerang dan Jatinegara berasal dari kata Abang secara bersamaan. Lalu, 8 Oktober 1740, kerusuhan terjadi di semua pintu masuk Benteng Batavia dengan jumlah yang lebih besar.

Ratusan etnis Tionghoa yang berusaha masuk dihadang pasukan VOC dibawah pimpinan Van Imhoff. 9 Oktober 1740, jatinegara berasal dari kata dengan artileri berat pasukan VOC berhasil menguasai keadaan dan menyelamatkan Kompleks Batavia dari kerusuhan.

Pasukan kaveleri VOC mulai mengejar para pelaku kerusuhan. Seluruh rumah dan pusat perdagangan warga Tionghoa yang berada di sekitar Batavia digeledah dan dibakar. Termasuk rumah Kapiten Tionghoa Nie Hoe Kong yang dianggap sebagai otak kerusuhan. Ribuan warga Tionghoa yang selamat dari kerusuhan diburu hingga ke pinggir sungai, dan dibunuh tanpa perduli apakah terlibat atau tidak dalam peristiwa pemberontakan tersebut.

Mayat etnis Tionghoa dibuang begitu saja ke sungai itu — diperkirakan jumlahnya mencapai 10ribu — darah manusia sekian banyaknya mengalir memenuhi sungai hingga air sungai berwarna merah; Sejak itu sungai tsb dijuluki “Ang Ke” artinya Sungai Merah.

jatinegara berasal dari kata

37. Kalibata Kalibata itu berasal dari banyaknya pembuat bata (bata buat bangunan) di sekitar sungai ciliwung & jaman dulu bata dari pabrik tersebut diangkut lewat perahu melalui sungai ciliwung. Dan kenapa disebut kali karna orang dulu menyebut sungai dengan kata kali jadi kalibata (sungai yg banyak bata).

38. Condet Ada 2 versi tentang penamaan untuk daerah Condet, Ridwan Saidi memiliki kesimpulan bahwa daerah ini berasal dari kata Ci Ondet. Ci berarti air atau kali seperti nama kali lain, Ciliwung, Citarum, Cisadane dan sebagainya. Jatinegara berasal dari kata Ondet atau Odeh adalah nama pohon sejenis buni. Pada masa dulu di sepanjang aliran kali Ciliwung yang lewat kesana banyak ditemukan pohon Ondet, sehingga disebut Condet.

yg satu lagi menganggap asal nama daerah condet adalah jatinegara berasal dari kata di daerah ini dulu terdapat buah-buahan condet, ondeh, atau ondeh-ondeh yang memiliki nama latin Antidesma Diandrum Sprg. Condet atau ondeh adalah semacam buah yang memiliki rasa manis-manis asem, mirip buah buni. Karena banyaknya buah condet ini, maka daerah ini diberi nama Condet.

Namun sayangnya, karena semakin banyaknya orang berdatangan ke Jakarta, buah asli daerah ini tidak dapat ditemui lagi di wilayah Condet. 39. Bidaracina Bidaracina dewasa ini menjadi nama sebuah kelurahan, kelurahan Bidaracina, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Menurut beberapa informasi, kawasan tersebut dikenal dengan nama Bidaracina, karena pada waktu terjadi pemberontakan orang – orang Cina di Batavia dan sekitarnya terhadap Kompeni pada tahun 1740, ribuan dari mereka terbunuh mati, bermandi darah. Di antaranya di tempat yang kemudian disebut Bidaracina itu. Informasi tersebut tidak mustahil mengandung kebenaran walaupun mengundang beberapa pertanyaan, kenapa hanya dikawasan itu yang disebut Bidaracina, karena banyak orang Cina mati bermandikan darah?.

Padahal peristiwa pembunuhan itu konon terjadi di pelosok Kota Batavia dan sekitarnya. Kenapa tidak di sebut Cina berdarah, sesuai dengan kaidah bahasa Melayu, yang kemudian berubah menjadi cinabedara, selanjutnya menjadi cinabidara?

Perkiraan lainnya, asal nama kawasan tersebut dari bidara yang ditanam oleh orang Cina di situ. Bidara, atau bahasa ilmiahnya Zizyphus jujube Lam, famili Rhanneae, adalah pohon yang kayunya cukup baik untuk bahan bangunan. Akar dan kulitnya yang rasanya pahit, mengandung obat penyembuh beberapa macam penyakit, termasuk sesak nafas.

Di ketiak dahannya biasa timbul gumpalan getah. Buahnya dapat dimakan (Fillet 1888:52) Ada kaitannya dengan perkiraan tersebut, yaitu keterangan tentang adanya seorang Cina yang mengikat kontrak yang aktanya dibuat oleh Notaris Reguleth tertanggal 9 Oktober 1684, untuk menanami kawasan sekitar benteng Noordwijk dengan pohon buah – buahan, termasuk pohon Bidara (De Haan 1911, (11):613). Walaupun di luar kontrak tersebut, mungkin saja seorang Cina menanam bidara di tempat yang kini dikenal dengan sebutan Bidaracina itu.

40. Cawang Kawasan Cawang dewasa ini menjadi sebuah kelurahan Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur. Nama kawasan tersebut berasal dari nama seorang Letnan Melayu yang mengabdi kepada Kompeni, yang bermukim disitu bersama pasukan yang dipimpinnya, bernama Enci Awang.(Awang, mungkin panggilan dari Anwar).

Lama – kelamaan sebutan Enci Awang berubah menjadi Cawang. Letnan Enci Awang adalah bawahan dari Kapten Wan Abdul Bagus, yang bersama pasukannya bermukim dikawasan yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Melayu, sebelah selatan Jatinegara.

Kurang jelas, apakah sebagian atau seluruhnya, pada tahun 1759 Cawang sudah menjadi milik Pieter van den Velde, di samping tanah – tanah miliknya yang lain seperti Tanjungtimur atau Groeneveld, Cikeas, Pondokterong, Tanjungpriuk dan Cililitan (De Haan, 1910:50).

Pada awal abad ke-20 Cawang pernah menjadi buah bibir, karena disana bermukim seorang pesilat beraliran kebatinan, bernama Sairin, alias Bapak Cungok.

jatinegara berasal dari kata

Sairin dituduh oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai dalang kerusuhan di Tangerang pada tahun 1924. Di samping itu.

Ia pun dinyatakan terlibat dalam pemberontakan Entong Gendut, di Condet tahun 1916. Condet pada waktu itu termasuk bagian tanah partikelir Tanjung Oost (Poesponegoro 1984, (IV):299 – 300). 41. Kebayoran Dulunya merupakan hutan Jati Bayur ( jati yang warnanya agak putih).

jaman belanda dibuat jalan menuju bogor melewati palmerah, kebayoran lama, ciputat dan parung. dan setelah kemerdekaan dibangunlah perumahan pertama untuk pegawai negeri oleh Soekarno yaitu Kebayoran Baru yang terbagi dalam blok-blok mulai dari blok A sampai S.

42. Kemang Dahulu wilayah ini banyak ditumbuhi oleh pohon Kemang, pohon Kemang merupakan pohon Kayu yang langka jaman sekarang. 43. Bangka Kata bangka bukan berasal dari nama pulau di sumatera. Bangka di dekat kemang jakarta selatan berasal dari nama pohon juga.

dahulu wilayah ini banyak ditumbuhi pepohohonan kayu yang sangat besar, tua dan juga keras. (kita mengenal istilah Tua Bangka) 44. PLUIT Berdasarkan peta topographis Bureu Batavia tahun 1903, kawasan ini memang sudah dikenal dengan nama Pluit atau Fluit. Dalam bahasa Belanda, Fluit bisa diartikan sebagai suling atau Pluit yang kerap dibunyikan wasit dalam sebuah pertandingan.

Bisa juga berarti roti panjang yang sempit. Meski memiliki berbagai arti seperti yang disebut di atas, namun nama kawasan Pluit sama jatinegara berasal dari kata tidak memiliki hubungan harfiah seperti itu. Dalam catatan sejarawan Betawi, Alwi Shahab, nama Pluit mulai terkenal ketika pasukan Belanda menghadapi serangan Kesultanan Banten, tahun 1660.

Kala itu, pasukan Belanda menggunakan sebuah kapal rusak untuk menghambat pasukan Kesultanan Banten yang jatinegara berasal dari kata dari arah barat Jakarta. “Pasukan Belanda meletakan sebuah kapal lurus panjang (Fluitship) bernama Het Witte Paert di kali Muara Angke. Kapal itu sudah tidak laik untuk digunakan melaut,” tulis Alwi Shahab.

45. GAMBIR Nama daerah Gambir mengacu pada sebutan masyarakat lokal yang melihat banyaknya pohon gambir yang tumbuh dikawasan ini. 46. GONDANGDIA Asal usul nama kampung Gondangdia ternyata ada beberapa versi, diantaranya adalah: 1. Nama Gondangdia berasal dari nama pohon Gondang (sejenis pohon beringin) yang tumbuh pada tanah basah atau berair. Kemungkinan pada masa lalu ada pohon Gondang yang tumbuh di daerah ini. 2.

Nama Gondangdia berasal dari nama binatang air sejenis keong Gondang. Yang artinya keong besar. Kemungkinan pada masa lalu didaerah ini banyak terdapat keong besar, sehingga masyarakat menyebut tempat ini dengan menyebut nama keong. 3. Nama Gondangdia berasal dari nama seorang kakek yang terkenal dan disegani oleh masyarakat sekitar kampung.

Kakek ini mempunyai nama kondang dan sering juga dipanggil Kyai kondang Karena terkenal dikalangan masyarakat kampung, nama jatinegara berasal dari kata kondang sering disebut – sebut dan masyarakat jatinegara berasal dari kata mengaitkan nama tempat itu dengan nama kakek, maka disebut dengan gondangdia (kakek dia yang tersohor). 47. Depok Awalnya Depok merupakan sebuah dusun terpencil ditengah hutan belantara dan semak belukar.

Pada tanggal 18 Mei 1696 seorang pejabat tinggi VOC, Cornelis Chastelein, membeli tanah yang meliputi daerah Depok serta sedikit wilayah Jakarta Selatan, Ratujaya dan Bojonggede. Chastelein mempekerjakan sekitar seratusan pekerja. Mereka didatangkan dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa, Pulau Rote serta Filipina.

Selain mengelola perkebunan, Cornelis juga menyebarluaskan agama Kristen kepada para pekerjanya, lewat sebuah Padepokan Kristiani. Padepokan ini bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen, disingkat DEPOC/DEPOK. Dari sinilah rupanya nama kota ini berasal. Sampai saat ini, keturunan pekerja-pekerja Cornelis dibagi menjadi 12 Marga. Adapun marga-marga tersebut adalah : Jonathans Laurens Bacas Loen Soedira Isakh Samuel Leander Joseph Tholense Jacob Zadokh Yang lain sobat bisa nambahi ya… di kutip dr berbagai sumber.

• • • • • • • Faktapers.id © 2022 • Home • Kategori • Headline • Nasional • Jabodetabek • Daerah • Pariwisata • Hukum & Kriminal • Topic • Trending • DKI Jakarta • Pendidikan • Sosial Budaya • Teknologi • Laman • Terms of Service • Pedoman Media Siber • Privacy Policy • Disclaimer • Tentang Kami • Redaksi • Hubungi Kami Bercerita sedikit tentang sejarah nama Jatinegara itu sendiri ada beberapa versi, ada yang menyebutkan bahwa nama Jatinegara berasal dari kata ‘Negara Sejati’ sebutan dari Pangeran Jayakarta yang sudah lebih dulu mendirikan perkampungan Jatinegara, setelah pemerintahan Belanda menghancurkan Keraton Sunda Kelapa.

Namun jika mengacu pada cerita yang sebenarnya adalah dahulu sebelum bernama Jatinegara kawasan yang terletak di daerah Jakarta Timur itu bernama Meester Cornells.

Nama itu mengacu pada nama seorang guru di kawasan itu, Meester sendiri diambil dari kata master atau guru atau yang berarti seorang pengajar. Karena kebiasaannya yang suka memberikan khotbah tentang agama Kristen didaerah tersebut.

Sehingga muncullah sebutan master yang ditujukan kepadanya. Setelah sedikit membahas sedikit tentang sejarah nama Jatinegara itu berasal lanjut kita akan membahas tentang salah satu bangunan yang ada di kawasan Jatinegara. Yang pertama terlintas dipikiran saat sesesorang menyebut Jatinegara pastinya adalah Stasiun Kereta Apinya.

jatinegara berasal dari kata

Stasiun yang cukup besar ini terdiri dari 5 jalur kereta utama, dan juga memiliki 3 jalur alternatif. Stasiun Jatinegara merupakan karya dari Ir. Snuyff. Kemudian selain Stasiun Jatinegara gedung atau bangunan lain yang tak kalah keindahannya antara lain adalah kelenteng. Kelenteng-kelenteng yang ada dikawasan Jatinegara memiliki nilai seni yang tinggi meskipun beberapa diantara terletak agak jauh dari jalan raya atau jalan utama. Aksesnya masuknyapun harus melewati gang-gan sempit. Namun sepadan dengan arsitektur bangunannya.

Kemudian selain ada keleteng, ada juga masjid yang terkenal di daerah jatinegara yaitu masjid. Kerukunan beragama di Jatinegara, tidak hanya menyimpan kelenteng bersejarah. Tetapi juga masjid bersejarah. Masjid Jami’ Al Anwar yang berada di Rawa Bunga. Menurut cceritanya masjid tersebut dibangun atas gotong royong 12 desa di sekitar masjid. Cerminan gotong royong desa diwakilkan oleh 12 tiang yang ada di aula utama masjid. Tiang yang kini jatinegara berasal dari kata berlapis tembok itu, ternyata di dalamnya masih mengandung kayu jati asli sejak masjid pertama kali dibangun.

Kemudian yang terakhir adalah sebuah sekolah, yaitu SMPN 14 yang terletak di Jatinegara. Sekolah yang terletak disebrang jalan Jatinegara ini bisa dibilang bukan seperti sekolah pada umumnya karena sekolah ini memiliki bangunan bernuansa art deco yang dipenuhi dengan warna merah bata. Tidak sampai pada warna merah bata yang dominan namun bentuk jendela, pintu dan juga atapnya juga tidak lepas memberikan kesan art deco pada sekolah ini.

DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI: http://travel.kompas.com/read/2013/11/10/1143210/Mengunjungi.Bangunan.Bersejarah.di.Jatinegara http://edupaint.com/diskusi/fas-transportasi/8051-sejarah-stasiun-jatinegara.html https://www.google.co.id/search?q=stasiun+jatinegara&biw=1366&bih=667&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwiq55etxuDLAhVKtJQKHZOrBsYQ_AUIBigB#tbm=isch&q=smpn+14+jakarta+timur https://www.google.co.id/search?q=stasiun+jatinegara&biw=1366&bih=667&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwiq55etxuDLAhVKtJQKHZOrBsYQ_AUIBigB#tbm=isch&q=klenteng+di+jatinegara&imgrc=_ https://www.google.co.id/search?q=stasiun+jatinegara&biw=1366&bih=667&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwiq55etxuDLAhVKtJQKHZOrBsYQ_AUIBigB#imgrc=X7OR0SmXiqlsXM%3A
• Halaman ini terakhir diubah pada 17 Februari 2011, pukul 02.30.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Sekolah Militer Meester Cornelis di akhir abad ke-19 Nama Jatinegara diambil dari jatina nagara, bahasa Sunda yang menyiratkan simbol perlawanan Kesultanan Banten jatinegara berasal dari kata penjajah Belanda saat itu.

Pada abad ke-17, daerah ini merupakan pemukiman para pangeran Kesultanan Banten. Pada tahun 1661, Cornelis Senen, seorang guru agama Kristen yang berasal dari Banda, Maluku, membeli tanah di daerah aliran Ciliwung.

Sebagai guru dan kepala kampung, Cornelis Senen diberi gelar Meester. [1] [2] Semenjak dibangunnya Jalan Raya Daendels, tanah yang dimiliki oleh Cornelis Senen secara partikelir ini berkembang pesat menjadi pemukiman dan pasar yang ramai.

[3] Hingga kini masyarakat menyebutnya dengan Mester, penyingkatan dari Meester Cornelis. Pada abad ke-19, Meester Cornelis merupakan kota satelit ( gemeente) Batavia yang terkemuka. Namun pada awal abad ke-19, tepatnya 14 Agustus - 26 Agustus 1811, Meester Cornelis direbut oleh Tentara Inggris dalam peristiwa berdarah Penyerbuan Meester Cornelis yang merupakan perpanjangan dari peperangan perseteruan besar antara Inggris dan Prancis yang telah mengalahkan Kerajaan Belanda sebelumnya.

Meester Cornelis juga merupakan ibu kota dari kawedanan Jatinegara yang melingkupi Bekasi, Cikarang, Matraman, Tebet, Kramat Jati, Mampang, Pondok Gede, Pasar Rebo, Pancoran dan Kebayoran. Pada tanggal 1 Januari 1936, pemerintah kolonial menggabungkan wilayah Meester ke dalam bagian kota Batavia.

jatinegara berasal dari kata

{INSERTKEYS} [1] Nama Jatinegara baru muncul tahun 1942, setelah Tentara Kekaisaran Jepang menduduki Hindia Belanda. Nama Meester yang terlalu berbau Belanda diganti menjadi Kabupaten Jatinegara.

[4] Transportasi [ sunting - sunting sumber ] Jatinegara merupakan salah satu wilayah yang padat penduduk. Untuk kepentingan masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut pemerintah juga mengembangkan sarana transportasi pendukung.

Pada tanggal 6 April 1875 pemerintah meresmikan jalur kereta yang menghubungkan Jatinegara dengan Jakarta Kota. Pada tahun 1881, Nederlands Indische Tramweg Maatschappij atau Bataviasche Stoomtram Maatschappij mengoperasikan trem uap yang menghubungkan Kampung Melayu (Meester Cornelis) dengan Kota Intan (Batavia) melewati rute Matraman, Kramat, Senen, Harmoni, dan Glodok.

6 April 1925, kereta listrik mulai beroperasi sejauh 15,6 km menghubungkan Jatinegara dengan stasiun Tanjung Priuk dan sejauh 2,6 km menghubungkan Jatinegara dengan stasiun Manggarai. Untuk pengembangan perekonomian pulau Jawa, Daendels membangun jalan Anyer- Panarukan.

Jatinegara merupakan salah satu kota yang dilewati jalur tersebut. Untuk mengurangi kesemrawutan, pada tahun 1970-an pemerintah membangun terminal Kampung Melayu. Transjakarta koridor 5 (rute Ancol - Kampung Melayu) dan koridor 7 (rute Kampung Melayu - Rambutan) juga melayani penduduk yang bermukim di wilayah ini.

Banyaknya transportasi publik yang melintasi Jatinegara menunjukkan bahwa daerah ini merupakan wilayah penting dan cukup ramai sejak dahulu. Daftar tempat penting [ sunting - sunting sumber ] • SMP Negeri 62 Jakarta • SMA Negeri 50 Cipinang Muara, Jakarta Timur • SMA Negeri 53 Cipinang Besar Selatan Jakarta Timur • SMA Negeri 54 Rawa Bunga Jakarta Timur • SMA Negeri 100 Jatinegara Jakarta Timur • SMK Negeri 46 Cipinang Besar Utara Jakarta Timur • SMK Negeri 50 Cipinang Muara Jakarta Timur • STMT Trisakti • Universitas Azzahra • Sekolah Tinggi Ilmu Statistik • Studio Produksi Film Negara (PFN) Persero • Otorita Batam • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan • Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Timur.

• Kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Timur • Masjid Raya Cipinang Muara • Masjid Al Iman Cipinang Elok • Masjid Baitul Hakim Cipinang Muara • Masjid Nurul Islam Rawa Bunga • Masjid Al Fatah Jatinegara • Masjid Abu Bakar As Shidiq • Masjid Mishbahul 'Amal Al Khair • Gedung Qur'an Mishbahul 'Amal • Gereja Koinonia (dahulu dikenal sebagai "Gereja Bethel").

• Gereja Kristen Pasundan (dahulu "Rehoboth Kerk") • Klenteng Fu De Gong (Hok Tek Tjeng Sien) • Klenteng Shia Jin Kong • Klenteng Tien Pao Tong (Kwan Im Po Sat) • Bekas Gedung Wedana Meester Cornelis. Gedung bekas kediaman Meester Cornelis ini secara bergantian dikuasai pejuang yang tergabung dalam Kesatuan Laskar Rakyat Jakarta.

Terakhir gedung ini dikuasai Kodim. Setelah dikosongkan oleh Kodim 0505, pada tahun 2005 bagian sayap gedung digunakan untuk kantor Pemuda Panca Marga (PPM). Selanjutnya gedung ini diambil alih Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Pada Mei 2010 gedung ini nyaris roboh dan tidak dirawat. [4] • Penjara Cipinang • Pasar Induk Beras Cipinang • Pasar Meester • Pasar Rawa Bening (Bursa Batu Akik Jakarta) setelah direnovasi dan diresmikan pada tanggal 12 Mei 2010 oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Sekarang dikenal sebagai Jakarta Gems Center (JGC) Rawabening. JGC adalah pusat perbelanjaan batu permata terbesar di Indonesia, bahkan di Asia. Terletak di jalan Bekasi Barat, di depan stasiun Jatinegara, terdapat lebih dari 1.330 kios penjual berbagai jenis batu permata, kristal, batu-batuan, cincin, fosil, bahkan barang antik dan mistik.

JGC berkembang pesat dan selalu dipenuhi wisatawan lokal dan internasional. Setiap hari jumlah pengunjung dapat mencapai 1.000 orang, terutama pada hari Sabtu-Minggu. JGC yang berupa bangunan empat lantai relatif bersih dan aman, modern, dan memiliki tempat parkir yang memadai. • Pasar Gembrong adalah pasar rakyat/tradisional yang terkenal dengan tempat penjualan mainan anak-anak yang murah dan lengkap. • Rumah Sakit Hermina Jatinegara • Rumah Sakit Premier Jatinegara • Terminal Kampung Melayu • Stasiun Jatinegara • Stasiun Cipinang • Park Hotel • Apartemen Basura • MT Haryono Residence Apartment • Tempat Pemakaman Umum (TPU) Prumpung • Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Nanas • Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kober Ulu Kelurahan [ sunting - sunting sumber ] Kecamatan Jatinegara memiliki 8 kelurahan, yakni: • Kelurahan Bali Mester, dengan kode pos 13310 • Kelurahan Kampung Melayu, dengan kode pos 13320 • Kelurahan Bidaracina, dengan kode pos 13330 • Kelurahan Cipinang Cempedak, dengan kode pos 13340 • Kelurahan Rawa Bunga, dengan kode pos 13350 • Kelurahan Cipinang Besar Utara, dengan kode pos 13410 • Kelurahan Cipinang Besar Selatan, dengan kode pos 13410 • Kelurahan Cipinang Muara, dengan kode pos 13420 Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b "Menanti Ruang Publik Meester Cornelis".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-07-15 . Diakses tanggal 2010-02-06. • ^ "Di manakah letak benteng Meester Cornelis". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-03-14 . {/INSERTKEYS}

jatinegara berasal dari kata

Diakses tanggal 2010-02-06. • ^ "Di Meester Cornelis, Cornelis Senen Bersua Daendels". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-01-17. Diakses tanggal 2010-02-06.

• ^ a b Nyaris Roboh, Gedung Eks Kediaman Meester Cornelis Diarsipkan 2010-09-03 di Wayback Machine., Kompas.com • Tandjoengpriok • Batavia Noord • Batavia Zuid • Kleine Boom • Hemradenplein • Batavia-Benedenstad • Pasar Pagi • Amsterdamse Port • Kampoengbandan • Antjol • Doeri • Goenoengsarie • Pisangbatoe • Kemajoran • Passar Senen • Salemba • Kramat • Sawah Besaar • Noordwijk • Batavia-Koningsplein • Kebonsirih • Dierentuin • Pegangsaän • Tanah-Abang • Karet • Mampang • Manggarai • Meester Cornelis NIS • Kebonpala • Gang Solitude • Meester Cornelis SS • Pasarminggoe • Tjililitan • Paal-Merah • Kebajoran Halte Trem • Pasar Ikan • Amsterdamse Port • Batavia • Asemka • Djembatan Lima • Glodok • Tangki • Prinsenlaan • Pisangbatoe • Kali Groot • Goenoeng Sahari • Sawah Besaar • Pintoe Besi • Harmonie • Koningsplein Noordwest • Rijswijk • Noordwijk • Schouwburg • Departement van Marine • Kebondjahe • Fromberg Park • Waterlooplein • Koningsplein • Stoviaweg • Pasar Senen Bandara • Landhuis Tjilintjing • Raden Saleh Huis • Baron van Inhof Huis • Landhuis van Reinier de Klerk • Landhuis Depan • Landhuis Tjililitan • Landhuis Paal Merah • Landhuis van de Majoor-Chinees Khouw • Landhuis Tjenkarang • Landhuis Weltevreden • Het Groote Huis • Landhuis Pondok Ge deh • Tandjoeng-Oost Huis Penjara • De Amsterdamse Poort • Oude Utrechtse Poort • Kasteel Batavia • Westzijdsche Pakhuizen • Oostzijdsche Pakhuizen • Waterkasteel • Bastion Amsterdam • Bastion Buren • Bastion Cuylenburg • Bastion Groningen • Bastion Grimbergen • Bastion Diest • Bastion Oranje • Bastion Enkhuizen • Bastion Overrijsel • Bastion Friesland • Bastion Gelderland • Bastion Hollandia • Bastion Vierkant • • Bastion Zeeburg • Bastion Zeeland • Bastion Middelburg • Bastion Utrecht • Bastion Nassau • Bastion Rotterdam • Fort Anké • Fort Noordwijk • Fort Rijswijk • Fort Ancol • Fort Zouteland • Fort Jacatra • Fort Jacarta Buiten Batavia • Fort Meester Cornelis • Fort Prins Frederik Hendrik Tempat Ibadah • Haantjes Kerk • De Portugeesche Binnenkerk • De Portugeesche Buitenkerk • Armeensche Kerk • De Portugeesche Kerk • Nassaukerk • De Hollandsche Kerk • Christelijke Kerk • De Bethelkerk • Engelsekerk • De Kathedraal • De St.

Theresiakerk • De Willemskerk • Mesigit Loearbatang • Langgar Tinggi • Mesigit Pekojan • Mesigit Kampongsawah • Mesigit Manggadoea • Mesigit Kampongdalem • Mesigit Kampongbaroe • Mesigit Karet • Mesigit Angké • Mesigit Tjikini • Mesigit Tanahabang • Jin De Yuan Tempel • Antjol Tempel Tempat Hiburan Koninklijke Paketvaart Maatschappij · De Nederlandsche Handel-Maatschappij · Landarchief · Bataafsche Petroleum Maatschappij · Landsdrukkerij · Eijkman Instituut · N.V.

de Bouwploeg · Batavia Oosterspoorweg Maatschappij · Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij · Staatsspoorwegen · Bataviasche Verkeers Maatschappij Bank St. Aloysius Broederschool · School tot Opleiding van Indische Artsen · Geneeskundige Hoogeschool te Batavia · Rechtshoogeschool te Batavia · Ursulinen Klooster · Eerste School D · Meer Uitgebreid Lager Onderwijs · Prins Hendrick School · Algemene Middlebare School · Carpentier Alting Stichting Nassau School · Koning Willem III School te Batavia Taman Pemakaman Umum Kategori tersembunyi: • Templat webarchive tautan wayback • Pages using infobox settlement with unknown parameters • Pages using infobox settlement with no map jatinegara berasal dari kata Pages using infobox settlement with no coordinates • Semua kecamatan di Indonesia • Semua daerah tingkat III di Indonesia • Artikel Wikipedia dengan penanda VIAF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Jatinegara berasal dari kata dengan penanda WorldCat-VIAF • Halaman ini terakhir diubah pada 21 Januari 2022, pukul 00.29.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

Viral Jadi Sound, Memahami Makna Kata URA yang Dilontarkan Vladimir Putin




2022 www.videocon.com