Hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

Merdeka.com - Mengurus jenazah merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim. Dalam syariat Islam, ada beberapa tata cara yang harus dipenuhi saat mengurus orang yang sudah meninggal. Mengingat hukum mengurus jenazah adalah fardu kifayah, tentu tata cara mengurus jenazah perlu diketahui setiap muslim.

Melansir dari NU Online, setidaknya ada empat kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim terhadap orang yang meninggal, seperti memandikan, mengkafani, mensalati, dan mengubur. Dalam pelaksanaannya, setiap muslim dianjurkan untuk menerapkan sesuai sunnah yang telah ditentukan. Mengurus jenazah dari memandikan hingga menguburkan perlu diketahui setiap muslim. Hal ini karena mengurus jenazah bersifat wajib bagi seluruh atau sebagian orang di sekitarnya saat mereka masih hidup. Lantas, bagaimana tata cara mengurus jenazah dalam Islam?

Simak penjelasannya yang merdeka.com rangkum dari Liputan6.com: Tata Cara Mengurus Jenazah Seperti yang sudah diketahui, ajal bisa menimpa kapan dan kepada siapa saja setiap saat. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah jenazah, jika ada orang yang meninggal dunia.

Seperti dikutip dari Liputan6.com, berikut ini tata cara mengurus jenazah dalam Isalam: Memandikan Jenazah Tata cara mengurus jenazah yang pertama adalah memandikan jenazah.

Hal ini sebagai tindakan untuk memuliakan dan membersihkan tubuh orang yang sudah meninggal dunia. Adapun tata cara memandikan jenzah dalam Islam yang benar adalah sebagai berikut: 1. Meletakkan jenazah dengan kepala agak tinggi di tempat yang disediakan. Pastikan orang yang memandikan jenazah memakai sarung tangan.

BACA JUGA: Doa Sholat Jenazah Latin dan Artinya, Lengkap dengan Tata Cara yang Benar Agar Sah Yasin dan Tahlil Lengkap dengan Latin, Tulisan Arab dan Artinya hingga Doa Arwah 2. Setelah itu, ambil kain penutup dari jenazah dan ganti dengan kain basahan agar auratnya tidak terlihat. Bersihkan giginya, lubang hidung, lubang telinga, celah ketiaknya, celah jari tangan, dan kaki serta rambutnya. 3. Langkah berikutnya, bersihkan kotoran jenazah baik yang keluar dari depan maupun dari belakang terlebih dahulu.

Caranya, tekan perutnya perlahan-lahan agar apa yang ada di dalamnya keluar. Kemudian siram atau basuh seluruh anggota tubuh jenazah dengan air sabun.

4. Setelah itu, siram dengan air yang bersih sambil berniat sesuai jenis kelamin jenazah. Niat memandikan jenazah laki-laki: Nawaitul ghusla adaa 'an hadzal mayyiti lillahi ta'aalaa BACA JUGA: Niat Sholat Jenazah Anak Perempuan dan Bayi Lengkap dengan Bacaan Doa hingga Artinya Hukum dan Sholat Jenazah untuk Transgender dalam Islam, Patut Diketahui Artinya: "Aku berniat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari jenazah (pria) ini karena Allah Ta'ala." Niat memandikan jenazah perempuan: Nawaitul ghusla adaa 'an hadzihil mayyitati lillahi ta'aalaa Artinya: BACA JUGA: Doa untuk Mayit Perempuan, Pahami Tata Cara Sholatnya Kisah Gloria Elsa jadi Perias Jenazah karena Nazar, Dandani Ibu Hamil Paling Sedih "Aku berniat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari jenazah (wanita) ini karena Allah Ta'ala." 5.

Setelah membaca niat, miringkan jenazah ke kanan, basuh bagian lambung kirinya sebelah belakang. Setalah itu, siram dengan air bersih dari kepala hingga ujung kaki dan siram lagi dengan air kapur barus. 6. Jenazah kemudian diwudhukan seperti orang yang berwudhu sebelum sholat. Perlakukan jenazah dengan lembut saat membalik dan menggosok anggota tubuhnya. 7. Jika keluar dari jenazah itu najis setelah dimandikan dan mengenai badannya, wajib dibuang dan dimandikan lagi.

Jika keluar najis setelah di atas kafan, tidak perlu diulangi mandinya, cukup hanya dengan membuang najis tersebut. BACA JUGA: Singkatan Almarhumah dan Maknanya dalam Agama Islam, Perlu Diketahui Niat Sholat Hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah bagi Laki-laki dan Perempuan beserta Tata Caranya 8.

Bagi jenazah wanita, sanggul rambutnya harus dilepas dan dibiarkan terurai ke belakang. Setelah disiram dan dibersihkan, lalu dikeringkan dengan handuk dan dikepang. Keringkan tubuh jenazah setelah dimandikan dengan handuk sehingga tidak membasahi kain kafannya. 9. Selesai memandikan jenazah, berilah wangi-wangian yang tidak mengandung alkohol sebelum dikafani.

Biasanya menggunakan air kapur barus. Mengafani Jenazah ยฉ2012 Merdeka.com/Eko Prasetya Tata cara mengurus jenazah berikutnya yaitu mengafani jenazah. Ada beberapa perbedaan cara mengafani jenazah laki-laki dan perempuan. Adapun tata cara mengafani jenazah perempuan adalah sebagai berikut: Cara Mengafani Jenazah Perempuan 1. Langkah pertama, bentangkan dua lembar kain kafan yang sudah dipotong sesuai ukuran jenazah. Letakkan kain sarung tepat pada badan antara pusar dan hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah lututnya.

Setelah itu, persiapkan baju gamis dan kerudung di tempatnya. 2. Selanjutnya, sediakan 3โ€“5 utas tali dan letakkan di paling bawah kain kafan. Sediakan juga kapas yang sudah diberikan wangi-wangian, yang nantinya diletakkan pada anggota badan tertentu. Jika kain kafan sudah siap, angkat dan baringkan jenazah di atas kain kafan. 3. Letakkan kapas yang sudah diberi wangi-wangian tadi ke tempat anggota tubuh seperti halnya pada jenazah laki-laki.

Kemudian, selimutkan kain sarung pada badan jenazah, antara pusar dan kedua lutut. Pasangkan baju gamis berikut kain kerudung. Untuk yang rambutnya panjang bisa dikepang menjadi 2/3, dan diletakkan di atas baju gamis di bagian dada.

4. Terakhir, selimutkan kedua kain kafan selembar demi selembar mulai dari yang lapisan atas sampai paling bawah. Setelah itu ikat dengan beberapa utas tali yang tadi telah disediakan.

Cara Mengafani Jenazah Laki-laki 1. Pertama, siapkan tali-tali pengikat kafan secukupnya. Kemudian, letakkan secara vertikal tepat di bawah kain kafan yang akan menjadi lapis pertama. Bentangkan kain kafan lapis pertama yang sudah dipotong sesuai ukuran jenazah. 2. Langkah berikutnya, beri wewangian pada kain kafan lapis pertama.

Setelah itu, bentangkan kain kafan lapis kedua yang sudah dipotong sesuai ukuran jenazah.Beri wewangian pada kain kafan lapis kedua. 3. Setelah itu, bentangkan kain kafan lapis ketiga yang sudah dipotong sesuai ukuran jenazah. Beri wewangian pada kain kafan lapis ketiga dan letakkan jenazah di tengah-tengah kain kafan lapis ketiga. 4. Tutup dengan kain lapis ketiga dari sisi kiri ke kanan, kemudian kain dari sisi kanan ke kiri.

Kemudian tutup dengan kain lapis kedua dari sisi kiri ke kanan, kemudian kain dari sisi kanan ke kiri. 5. Selanjutnya,tutup dengan kain lapis pertama dari sisi kiri ke kanan, kemudian kain dari sisi kanan ke kiri dan Ikat dengan tali pengikat yang telah disediakan.

Menyolatkan Jenazah ยฉ2018 arrahmah.co.id Setelah selesai memandikan dan mengafani jenazah, tata cara mengurus jenazah berikutnya menyolatkan jenazah. Adapun tata cara menyolatkan jenazah adalah seperti berikut: 1. Berniat (di dalam hati). 2. Berdiri bagi yang mampu. 3. Melakukan empat kali takbir (tidak ada rukuโ€™ dan sujud). 4. Setelah takbir pertama, membaca Al Fatihah.

5. Setelah takbir kedua, membaca shalawat " allahumma sholli โ€˜ala Muhammad" 6. Setelah takbir ketiga, membaca doa untuk jenazah sebagai berikut: Allahummaghfirla-hu warham-hu wa โ€˜aafi-hi waโ€™fu โ€˜an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassiโ€™ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa aโ€™idz-hu min โ€˜adzabil qobri wa โ€˜adzabin naar.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka." (HR.

Muslim no. 963) 7. Takbir keempat membaca doa sebagai berikut: Allahumma laa tahrimnaa ajro-hu wa laa taftinnaa baโ€™da-hu waghfir lanaa wa la-hu Artinya: "Ya Allah, jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya, ampunilah kami dan ampunilah dia". Untuk jenazah perempuan, kata โ€“hu diganti โ€“haa. 8. Salam 1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Ketiga, Penampilannya Mencuri Perhatian 3 Barisan Prajurit Kopaska TNI Menangis di Hutan, Alasannya Bikin Haru 4 Misteri Penembak Arief Rahman Hakim: Pengawal Presiden atau Polisi Militer Jakarta?

5 Mantan Kasad ke Prabowo: Mas Bowo harus Jadi Presiden Selengkapnya Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran:185]. Ketika seorang muslim meninggal, maka kewajiban bagi setiap orang di sekitarnya untuk melakukan pengurusan jenazah sesuai dengan syariat Islam. Berikut ini adalah proses pengurusan jenazah dalam Islam: 1. Memandikan mayat Abdullah bin Abbas radhiallahuโ€™anhu, beliau berkata: ุจูŠู†ูŽุง ุฑุฌู„ูŒ ูˆุงู‚ููŒ ู…ุน ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ุŒ ุฅุฐู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ุนู† ุฑุงุญู„ุชูู‡ู ููŽูˆูŽู‚ูŽุตูŽุชู’ู‡ู ุŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„ ูุฃูŽู‚ู’ุนูŽุตูŽุชู’ู‡ู ุŒ ูู‚ุงู„ูŽ ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ : ุงุบู’ุณูู„ูˆู‡ู ุจู…ุงุกู ูˆุณูุฏู’ุฑู ุŒ ูˆูƒูŽูู‘ูู†ููˆู‡ู ููŠ ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู†ู ุŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ : ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆู„ุง ุชูุญูŽู†ู‘ูุทููˆู‡ู ุŒ ูˆู„ุง ุชูุฎูŽู…ู‘ูุฑูˆุง ุฑุฃุณูŽู‡ู ุŒ ูุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠุจู’ุนูŽุซูู‡ู ูŠูˆู…ูŽ ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉู ูŠูู„ูŽุจู‘ููŠ โ€œ Ada hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah lelaki yang sedang wukuf di Arafah bersama Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam.

Tiba-tiba ia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu meninggal. Maka Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda: mandikanlah ia dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain, jangan beri minyak wangi dan jangan tutup kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyahโ€ (HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206). Baca juga: โ€ข Keutamaan Shalat Fajar โ€ข Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid โ€ข Tata Cara Shalat Jamak โ€ข Shalat dalam Kendaraan Juga hadits dari Ummu โ€˜Athiyyah radhialahuโ€™anha, ia berkata: ุชููˆููŠุชู’ ุฅุญุฏู‰ ุจู†ุงุชู ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ ุŒ ูุฎุฑุฌ ูู‚ุงู„ : ุงุบู’ุณูู„ู’ู†ูŽู‡ุง ุซู„ุงุซู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุฎู…ุณู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุฃูƒุซุฑูŽ ู…ู† ุฐู„ูƒ ุฅู† ุฑุฃูŠุชูู†ู‘ูŽ ุฐู„ูƒ ุŒ ุจู…ุงุกู ูˆุณุฏุฑู ุŒ ูˆุงุฌุนู„ู†ูŽ ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉู ูƒุงููˆุฑู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุดูŠุฆู‹ุง ู…ู† ูƒุงููˆุฑูุŒ ูุฅุฐุง ูุฑุบุชูู†ู‘ูŽ ูุขุฐูู†ู‘ูŽู†ููŠ ูู„ู…ุง ูุฑุบู†ุง ุขุฐู†ุงู‡ ูุฃู„ู‚ู‰ ุฅู„ูŠู†ุง ุญู‚ูˆู‡ ูุถูุฑู†ุง ุดุนุฑู‡ุง ุซู„ุงุซุฉ ู‚ุฑูˆู† ูˆุฃู„ู‚ูŠู†ุงู‡ุง ุฎู„ูู‡ุง โ€œ Salah seorang putri Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam meninggal (yaitu Zainab).

Maka beliau keluar dan bersabda: โ€œmandikanlah ia tiga kali, atau lima kali atau lebih dari itu jika kalian menganggap itu perlu. Dengan air dan daun bidara. Dan jadikanlah siraman akhirnya adalah hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah yang dicampur kapur barus, atau sedikit kapur barus.

Jika kalian sudah selesai, maka biarkanlah aku masukโ€. Ketika kami telah menyelesaikannya, maka kami beritahukan kepada beliau. Kemudian diberikan kepada kami kain penutup badannya, dan kami menguncir rambutnya menjadi tiga kunciran, lalu kami arahkan ke belakangnyaโ€ (HR. Bukhari no. 1258, Muslim no.

939). 2. Mengkafani Dari Abdullah bin Abbas radhiallahuโ€™anhu tentang orang yang meninggal karena jatuh dari untanya, di dalam hadits tersebut Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda: ุงุบู’ุณูู„ูˆู‡ู ุจู…ุงุกู ูˆุณูุฏู’ุฑู ุŒ ูˆูƒูŽูู‘ูู†ููˆู‡ู ููŠ ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู†ู โ€œM andikanlah ia dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kainโ€ (HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206). Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda : ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽูู‘ูŽู†ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ููŽู„ู’ูŠูุญูŽุณู‘ูู†ู’ ูƒูŽููŽู†ูŽู‡ู โ€œ Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah memperbagus kafannyaโ€ (HR.

Muslim no. 943). Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda: ุงู„ุจูŽุณูˆุง ู…ูู† ุซูŠุงุจููƒู… ุงู„ุจูŠุงุถูŽ ูˆูƒูู‘ูู†ูˆุง ููŠู‡ุง ู…ูˆุชุงูƒู… ูุฅู†ู‘ูŽู‡ุง ู…ูู† ุฎูŠุฑู ุซูŠุงุจููƒู… โ€œ Pakailah pakaian yang berwarna putih dan kafanilah mayit dengan kain warna putih. Karena itu adalah sebaik-baik pakaian kalianโ€ (HR. Abu Daud no. 3878, Tirmidzi no. 994, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.1236). Baca juga: โ€ข Hukum Menahan Kentut Saat Sholat โ€ข Hukum Keluar Air Mazi dengan Sengaja โ€ข Hukum Mengeluarkan Air Mani dengan Sengaja โ€ข Cara Berwudhu yang Benar Dari โ€˜Aisyah radhiallahuโ€™anha ia berkata: ูƒููู‘ูู†ูŽ ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŠ ุซู„ุงุซู ุฃุซูˆุงุจู ุจูŠุถู ุณุญูˆู„ูŠุฉู ุŒ ู…ู† ูƒูุฑู’ุณูููŽ.

ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ู‚ู…ูŠุตูŒ ูˆู„ุง ุนู…ุงู…ุฉูŒ โ€œ Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam dikafankan dengan 3 helai kain putih sahuliyah dari Kursuf, tanpa gamis dan tanpa imamahโ€ (HR. Muslim no. 941). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: ูˆู‚ุฏ ุฌุงุก ููŠ ุฌุนู„ ูƒูู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฎู…ุณุฉ ุฃุซูˆุงุจ ุญุฏูŠุซ ู…ุฑููˆุน ุŒ ุฅู„ุง ุฃู† ููŠ ุฅุณู†ุงุฏู‡ ู†ุธุฑุงู‹ ุ› ู„ุฃู† ููŠู‡ ุฑุงูˆูŠุงู‹ ู…ุฌู‡ูˆู„ุงู‹ ุŒ ูˆู„ู‡ุฐุง ู‚ุงู„ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก : ุฅู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุชูƒูู† ููŠู…ุง ูŠูƒูู† ุจู‡ ุงู„ุฑุฌู„ ุŒ ุฃูŠ : ููŠ ุซู„ุงุซุฉ ุฃุซูˆุงุจ ูŠู„ู ุจุนุถู‡ุง ุนู„ู‰ ุจุนุถ โ€œDalam hal ini telah ada hadits marfuโ€™ (kafan seorang wanita adalah lima helai kain, Pen).

Akan tetapi, di dalamnya ada seorang rawi yang majhul (tidak dikenal). Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: โ€œSeorang wanita dikafani seperti seorang lelaki. Yaitu tiga helai kain, satu kain diikatkan di atas yang lain.โ€ ( Asy Syarhul Mumtiโ€™, 5/393).

Disunnahkan menambahkan sarung, jilbab dan gamis bagi mayit wanita. Al Lajnah Ad Daimah mengatakan: ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ูŠุจุฏุฃ ุชูƒููŠู†ู‡ุง ุจุงู„ุฅุฒุงุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุนูˆุฑุฉ ูˆู…ุง ุญูˆู„ู‡ุงุซู… ู‚ู…ูŠุต ุนู„ู‰ ุงู„ุฌุณุฏุซู… ุงู„ู‚ู†ุงุน ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุฃุณ ูˆู…ุง ุญูˆู„ู‡ุซู… ุชู„ู ุจู„ูุงูุชูŠู† โ€œMayit wanita dimulai pengkafananannya dengan membuatkan sarung yang menutupi auratnya dan sekitar aurat, kemudian gamis yang menutupi badan, kemudian kerudung yang menutupi kepala kemudian ditutup dengan dua lapisโ€ (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah.

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

3/363). Baca juga: โ€ข Manfaat Shalat Tarawih โ€ข Fadhilah Tarawih Setiap Malam โ€ข Shalat Tarawih bagi Wanita โ€ข Shalat Lailatul Qadar 3. Menyolatkan Setelah dimandikan dan dikafani, mayat hendaknya langsung disolatkan. Adapun rukun shalat jenazah adalah sebagai berikut: 1. Berniat di dalam hati Adapun niat shalat jenazah laki-laki, ุงูุตูŽู„ูู‘ู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุงุงู„ู’ู…ูŽูŠูู‘ุชู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจูุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู’ู…ู‹ุง ูู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ (Ushollii โ€˜alaa haadzal mayyiti arbaโ€™a takbirootin fardhol kifaayati maโ€™muuman lillaahi taโ€™aalaa) Niat shalat jenazah perempuan, ุงูุตูŽู„ูู‘ู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠูู‘ุชูŽุฉู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจูุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู’ู…ู‹ุง ูู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ (Ushollii โ€˜alaa haadzihill mayyitati arbaโ€™a takbirootin fardhol kifaayati maโ€™muuman lillaahi taโ€™aalaa) 2.

Berdiri bagi yang mampu 3. Melakukan empat kali takbir (tidak ada rukuโ€™ dan sujud). 4. Setelah takbir pertama, membaca Al Fatihah. 5. Setelah takbir kedua, membaca shalawat (minimalnya adalah allahumma sholli โ€˜ala Muhammad). 6. Setelah takbir ketiga, membaca doa untuk mayit. 7. Salam setelah takbir keempat. Di antara yang bisa dibaca pada doโ€™a setelah takbir ketiga: ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ู ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู ูˆูŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุฑูู…ู’ ู†ูุฒูู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽูˆูŽุณู‘ูุนู’ ู…ูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุงุบู’ุณูู„ู’ู‡ู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู„ู’ุฌู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุฑูŽุฏูุŒ ูˆูŽู†ูŽู‚ู‘ูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ู†ูŽู‚ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุจู’ูŠูŽุถูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุณูุŒ ูˆูŽุฃูŽุจู’ุฏูู„ู’ู‡ู ุฏูŽุงุฑู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฏูŽุงุฑูู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ุงู‹ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽุฒูŽูˆู’ุฌู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุฏู’ุฎูู„ู’ู‡ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽุนูุฐู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู Allahummaghfirla -hu warham-hu wa โ€˜aafi-hi waโ€™fu โ€˜an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassiโ€™ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa aโ€™idz-hu min โ€˜adzabil hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah wa โ€˜adzabin naar.

โ€œ Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es.

Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.โ€ (HR.

Muslim no. 963) Baca juga: โ€ข hukum suami membandingkan istri dengan ibunya, โ€ข hukum suami membantu pekerjaan rumah tangga, โ€ข hukum istri tidak mau ikut suami, 4. Menguburkan Dari Aisyah Radhiyallahu โ€˜anha, beliau berkata: ู„ูŽู…ูŽู‘ุง ู‚ูุจูุถูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงุฎู’ุชูŽู„ูŽูููˆุง ูููŠ ุฏูŽูู’ู†ูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑู ุณูŽู…ูุนู’ุชู ู…ูู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู…ูŽุง ู†ูŽุณููŠุชูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ู‚ูŽุจูŽุถูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู†ูŽุจููŠู‹ู‘ุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุถูุนู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูŽุฌูุจู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฏู’ููŽู†ูŽ ูููŠู‡ู ููŽุฏูŽููŽู†ููˆู’ู‡ู ูููŠ ู…ูŽูˆู’ุถูุนู ููุฑูŽุงุดูู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ) Ketika Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam meninggal dunia, para sahabat berselisih pendapat dalam masalah tempat untuk mengubur Beliau.

Abu Bakar Radhiyallahu โ€˜anhu berkata,โ€Saya mendengar dari Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sesuatu yang aku belum lupa. Beliau bersabda,โ€™Tidaklah Allah mewafatkan seorang Nabi, kecuali di tempat tersebut wajib untuk dikuburโ€™.โ€ Kemudian mereka mengubur Beliau di tempat tidurnya.

[HR At Tirmidzi]. Itulah proses pengurusan jenazah menurut Islam. Demikianlah artikel yang singkat ini. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Jakarta - Hukum mengurus jenazah muslim adalah fardhu kifayah. Ada empat kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya, orang Islam yang meninggal dunia yaitu memandikan, mengafani, mensholatkan dan menguburkannya.

Sholat jenazah juga merupakan salah satu kewajiban umat Islam terhadap jenazah dan hukumnya fardhu kifayah. Arti fardhu kifayah adalah kewajiban yang bersifat kolektif, artinya kewajiban ini dianggap sudah terpenuhi bila di dalam suatu wilayah ada beberapa orang yang melakukannya. Namun jika tak ada yang menjalankannya, maka semua orang di wilayah itu ikut berdosa.

Baca juga: Fardhu Kifayah dan Fardhu 'Ain, Apa Perbedaannya? Selain itu ada pula hal-hal yang harus dilakukan kepada orang yang telah meninggal. Dikutip dalam buku "Fiqih Lengkap Mengurus Jenazah" oleh M.

Nashirussin al-Albani, berikut ini hal-hal yang harus dilakukan jika menghadapi seseorang yang meninggal: 1. Memejamkan mata jenazah Setelah seseorang meninggal dunia, segeralah memejamkan matanya dan mendoakannya.

Tindakan ini berdasarkan hadits yang dikisahkan Ummu Salamah, ia berkata, "Rasulullah SAW mendatangi Abu Salamah yang telah menghembuskan napas terakhirnya dengan kedua mata terbelalak, lalu beliau memejamkan kedua mata Abu Salamah dan bersabda,'Sesungguhnya apabila ruh telah direnggut (hendaknya) diikuti dengan pemejaman mata'.

Pada saat keluarga sang jenazah gaduh, beliau pun bersabda, 'Janganlah kalian mengatakan kecuali yang baik-baik karena sesungguhnya para malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.' Rasulullah SAW berkata seraya mendoakan Abu Salamah, 'Ya Allah, ampunilah dosa dan kesalahan Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya di kalangan orang-orang yang diberi petunjuk, dan janganlah keturunan sesudahnya termasuk orang-orang yang binasa. Ampunilah kami dan dia dan lapangkan kuburnya serta berilah cahaya di dalamnya.'" (HR.

Muslim, Ahmad, dan Baihaqi). 2. Menutupi seluruh tubuh sang jenazah Menutup seluruh badan jenazah dengan pakaian (kain), selain pakaian yang dikenakannya. Yang demikian berdasarkan hadits Aisyah r.a, "Ketika Rasulullah SAW wafat, seluruh jasadnya ditutupi dengan kain lurik (nama jenis kain buatan Yaman)" (HR. Bukhari, Muslim dan Baihaqi).

3. Menyegerakan pemakaman Hukum mengurus jenazah adalah menyegerakan hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah jika telah nyata kematiannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang dikisahkan Abu Hurairah r.a, "Segerakanlah pemakaman jenazah." Hendaklah memakamkan jenazah di kota tempat ia wafat dan tidak dipindahkan ke kota atau negeri lain.

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

Hal ini disebabkan pemindahan berarti bertentangan atau menyalahi perintah untuk menyegerakan pemakaman. Ketika Aisyah r.a mendengar bahwa saudaranya telah wafat di Wadi al-Habasyah telah dipindahkan hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah tempat kematiannya, ia pun berkata,"Tidaklah ada yang merisaukan dan menyedihkanku kecuali aku ingin agar ia dikebumikan di tempat ia wafat." (HR. Baihaqi). 4. Melunasi hutang-hutang sang jenazah Hendaklah keluarga atau kerabat sang jenazah melunasi hutang-hutang sang jenazah dari harta yang dimiliki.

Apabila sang jenazah tidak meninggalkan harta atau tidak mampu, hendaklah negara yang menanggungnya jika terbukti sang jenazah semasa hidupnya telah berusaha untuk melunasi seluruh hutangnya. Jika pemerintah atau negara tidak juga memerhatikan hal ini, diperbolehkan dari sebagian kaum muslimin untuk melunasinya dengan sukarela sebagai salah satu hukum mengurus jenazah.

Brilio.net - Dalam ajaran agama Islam, jika ada orang Islam yang meninggal dunia maka orang yang masih hidup wajib mengurus jenazahnya. Adapun tata cara mengurus jenazah telah ditetapkan sesuai syariat Islam. Hukum mengurus jenazah adalah fardhu kifayah.

Artinya, orang-orang sekitar wajib melakukan tata cara pengurusan jenazah. Mengurus jenazah dimulai dengan memandikan, menyolatkan jenazah sampai menguburnya. Namun apabila di antara mereka tidak ada yang mengurusi jenazah, maka semuanya akan mendapatkan dosa Dilansir brilio.net dari berbagai sumber pada Sabtu (25/7) Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam." Beliau bersabda, "Pertama, apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya.

Kedua, apabila engkau diundang, penuhilah undangannya. Ketiga, apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya. Keempat, apabila dia bersin lalu dia memuji Allah hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah 'alhamdulillah') doakanlah dia (dengan mengucapkan 'yarhamukallah'). Kelima, apabila dia sakit, jenguklah dia dan keenam apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman)." (HR Muslim).

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI - Tata cara mengurus jenazah foto: nu.or.id 1. Memandikan jenazah. Ada beberapa tahapan untuk mengurus jenazah, yang pertama adalah memandikannya. Namun, sebelum dimandikan, seorang yang mengurus jenazah harus melakukan beberapa hal seperti memejamkan mata jenazah yang terbuka, mendoakan jenazah, mengikat dagu jenazah.

Setelah hal tersebut dilakukan, perhatikan tata cara memandikan jenazah berikut ini: 1. Membaca niat. Niat memandikan jenazah laki-laki. Nawaitu ghusla adaa'an haadzail mayyiti lillahi ta'aalaa Artinya: "Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari mayit (laki-laki) ini karena Allah Ta'ala." Niat memandikan jenazah perempuan. Nawaitu ghusla adaa'an haadzail mayyitati lillahi ta'aalaa Artinya: "Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari mayit (perempuan) ini karena Allah Ta'ala." 2.

Meletakkan jenazah dengan posisi kepala agak tinggi. 3. Orang yang memandikan jenazah hendaknya memakai sarung tangan. 4. Ambil kain penutup dari jenazah dan ganti dengan kain basahan agar auratnya tidak terlihat. 5. Setelah itu bersihkan dengan menggosok lembut giginya, lubang hidung, lubang telinga, celah ketiaknya, celah jari tangan dan kaki serta rambutnya.

6. Bersihkan kotoran jenazah baik yang keluar dari depan maupun dari belakang terlebih dahulu. Caranya, tekan perutnya perlahan-lahan supaya kotoran yang ada di dalamnya keluar. 7. Siram atau basuh seluruh anggota tubuh jenazah dengan air sabun.

8. Siram atau basuh dari kepala hingga ujung kaki dengan air bersih. Siram sebelah kanan dahulu, lalu kiri masing-masing 3 kali. 9. Memiringkan jenazah ke kiri, basuh bagian lambung kanan sebelah belakang. 10. Memiringkan jenazah ke kanan, basuh bagian lambung kirinya sebelah belakang. 11. Bilas lagi dengan air bersih dari kepala hingga ujung kaki. 12. Siram dengan air kapur barus.

13. Jenazah kemudian diwudhukan seperti orang yang berwudhu sebelum sholat. 14. Pastikan memperlakukan jenazah dengan lembut saat membalik dan menggosok anggota tubuhnya. 15. Jika keluar dari jenazah itu najis setelah dimandikan dan mengenai badannya, wajib dibuang dan dimandikan lagi. Jika keluar najis setelah di atas kafan, tidak perlu diulangi mandinya, cukup hanya dengan membuang najis tersebut.

16. Bagi jenazah wanita, sanggul rambutnya harus dilepas dan dibiarkan terurai ke belakang. Setelah disiram dan dibersihkan, lalu dikeringkan dengan handuk dan dikepang. 17. Keringkan tubuh jenazah setelah dimandikan dengan handuk sehingga tidak membasahi kain kafannya. 18. Selesai memandikan jenazah, berilah wangi-wangian yang tidak mengandung alkohol sebelum dikafani, biasanya menggunakan air kapur barus. 2. Mengkafani jenazah. Setelah jenazah disucikan dengan memandikannya, langkah selanjutnya adalah mengkafani jenazah.

Tata cara mengkafani jenazah dibedakan menjadi dua yaitu jenazah laki-laki dan jenazah perempuan. - Tata cara mengkafani jenazah laki-laki. 1. Siapkan tali pengikat kafan sebanyak 3 hingga 5 utas tali.

Letakkan secara vertikal tepat di bawah kain kafan yang akan menjadi lapis pertama. Bentangkan kain kafan lapis pertama yang sudah dipotong sesuai ukuran jenazah. 2.

Beri wewangian (non alkohol) pada kain kafan lapis pertama. Bentangkan kain kafan lapis kedua yang sudah dipotong sesuai ukuran jenazah. Beri wewangian lagi pada kafan lapis kedua. 3. Bentangkan kain kafan lapis ketiga yang sudah dipotong sesuai ukuran jenazah.

Beri wewangian pada kain kafan lapis ketiga. 4. Letakkan jenazah di tengah-tengah kain kafan lapis ketiga. Letakkan kapas pada anggota tubuh tertentu, berupa manfad atau lubang.

5. Tutup dengan kain lapis ketiga dari sisi kiri ke kanan, kemudian kain dari sisi kanan ke kiri. Tutup dengan kain lapis kedua dari sisi kiri ke kanan, kemudian kain dari sisi kanan ke kiri. Tutup dengan kain lapis pertama dari sisi kiri ke kanan, kemudian kain dari sisi kanan ke kiri.

6. Ikat dengan tali pengikat yang sudah disediakan di bawah kain lapisan. - Tata cara mengkafani jenazah perempuan. 1. Bentangkan 2 lembar kain kafan yang sudah dipotong sesuai ukuran jenazah.

Kemudian letakkan kain sarung tepat pada badan antara pusar dan kedua lututnya. 2. Persiapkan baju gamis dan kerudung di tempatnya. Sediakan 3 hingga 5 utas tali dan letakkan di paling bawah kain kafan. 3. Sediakan kapas yang sudah diberikan wangi-wangian, yang nantinya diletakkan pada anggota badan tertentu.

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

4. Setelah kain kafan siap, lalu angkat dan baringkan jenazah di atas kain kafan. 5. Letakkan kapas yang sudah diberi wangi-wangian tadi ke tempat anggota tubuh seperti halnya pada jenazah laki-laki. 6. Selimutkan kain sarung pada badan jenazah, antara pusar dan kedua lutut. Pasangkan baju gamis berikut kain kerudung.

Untuk yang rambutnya panjang bisa dikepang menjadi 2/3, dan diletakkan di atas baju gamis di bagian dada. 7. Selimutkan kedua kain kafan selembar demi selembar mulai dari yang lapisan atas sampai paling bawah.

Setelah itu ikat dengan beberapa utas tali yang tadi telah disediakan. 3. Memakamkan jenazah. Setelah jenazah sudah dimandikan serta dikafani, langkah terakhir adalah memakamkan jenazah. Adapun tata cara memakamkan jenazah dalam ajaran Islam yaitu sebagai berikut: 1. Memperdalam galian lubang kubur agar tidak tercium bau jenazah dan tidak dapat dimakan oleh burung atau binatang pemahan bangkai. 2. Cara menaruh jenazah di kubur ada yang ditaruh di tepi lubang sebelah kiblat kemudian di atasnya ditaruh papan kayu atau yang semacamnya dengan posisi agak condong agar tidak langsung tertimpa tanah.

Namun bisa juga dengan cara lain dengan prinsip yang hampir sama, misalnya dengan menggali di tengah-tengah dasar lobang kubur, kemudian jenazah ditaruh di dalam lobang. Lalu di atasnya ditaruh semacam bata atau papan dari semen dalam posisi mendatar untuk penahan tanah timbunan.

Cara ini dilakukan bila tanahnya gembur. Cara lain adalah dengan menaruh jenazah dalam peti dan menanam peti itu dalam kubur. 3. Cara memasukkan jenazah ke kubur yang terbaik adalah dengan mendahulukan memasukkan kepala jenazah dari arah kaki kubur. 4. Jenazah diletakkan miring ke kanan menghadap ke arah kiblat dengan menyandarkan tubuh sebelah kiri ke dinding kubur supaya tidak terlentang kembali. 5. Para ulama menganjurkan supaya ditaruh tanah di bawah pipi jenazah sebelah kanan setelah dibukakan kain kafannya dari pipi itu dan ditempelkan langsung ke tanah.

Simpul tali yang mengikat kain kafan supaya dilepas. 6. Waktu memasukkan jenazah ke liang kubur dan meletakkannya dianjurkan membaca doa seperti: Bismillahi Waala Millati Rosulillah Artinya: โ€œDengan nama Allah dan atas agama Rasulullahโ€ (HR. at-Tirmidzi dan Abu Daud). 7. Untuk jenazah perempuan dianjurkan membentangkan kain di atas kuburnya pada waktu dimasukkan ke liang kubur. Sedang untuk mayat laki-laki tidak dianjurkan.

8. Orang yang turun ke lubang kubur mayit perempuan untuk mengurusnya sebaiknya orang-orang yang semalamnya tidak menyetubuhi isteri mereka. 9. Setelah jenazah sudah diletakkan di liang kubur, dianjurkan untuk mencurahinya dengan tanah tiga kali dengan tangannya dari arah kepala mayit lalu ditimbuni tanah. 10.

Berdoa setelah selesai menguburkan jenazah. (brl/vin)
Hukum - Hukum Jenazah ( ) Muhammad ibrahim Al tuwaijry Menjelaskan Hukum-Hukum yang berkaitan dengan jenazah,seperti Hal-hal yang wajib bagi orang yang sakit, Hukum mengharapkan kematian, Tanda-tanda husnul khatimah,dan Apa yang dilakukan terhadap seorang muslim apabila ia meninggal dunia, juga Menjelaskan tentang hukum taโ€™ziyah, ziyarah kubur tata cara dan adabnya, serta apa yang dibaca ketika berziarah, juga menjelaskan hukum ziarah kubur bagi wanita serta macam-macam orang yang berziarah kubur.

โ€ข Hukum - Hukum Jenazah โ€ข 1- Kematian dan hukum-hukumnya โ€ข. Hal-hal yang wajib bagi orang yang sakit: โ€ข. Hukum mengharapkan kematian: โ€ข.

Tanda-tanda husnul khatimah: โ€ข. Mengingat kematian: โ€ข. Apa yang dilakukan terhadap seorang muslim apabila ia meninggal dunia: โ€ข. Hukum melakukan otopsi kepada mayat: โ€ข 2. Memandikan Jenazah โ€ข. Siapakah yang memandikan mayit? โ€ข 3. Mengkafani Jenazah โ€ข.

Cara mengkafan jenazah: โ€ข 4. Tata-cara Menshalatkan Jenazah โ€ข. Keutamaan shalat jenazah dan mengiringinya sampai dikebumikan: โ€ข. Tempat shalat jenazah: โ€ข. Hukum shalat terhadap jenazah yang ghaib: โ€ข 5. Membawa Jenazah dan Menguburkannya โ€ข. Tata-cara menguburkan jenazah: โ€ข Hukum Ta'ziyah โ€ข Hukum menangisi jenazah: โ€ข Ziarah Kubur โ€ข.

Yang dibaca saat memasuki pemakaman dan ziarah kubur: โ€ข. Hukum ziarah kubur bagi wanita: โ€ข. Keadaan-keadaan orang yang melakukan ziarah kubur: โ€ข. Yang mengikuti jenazah setelah kematiannya: Hukum - Hukum Jenazah Hukum Yang Berkaitan Dengan Jenazah 1- Kematian dan hukum-hukumnya Sepanjang apapun usia seorang manusia, ia tetap akan meninggal dunia dan berpindah dari negeri amal menuju negeri pembalasan, dan alam kubur merupakan tempat akhirat yang pertama.

Dan di antara hak seorang muslim kepada muslim yang lain adalah mengunjunginya apabila ia sakit dan mengikuti jenazahnya bila ia meninggal dunia. 1. Firman Allah I: ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุชูŽููุฑู‘ููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูู„ุงูŽู‚ููŠูƒูู…ู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุชูุฑูŽุฏู‘ููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุนูŽุงู„ูู…ู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ููŽูŠูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู… ุจูู…ูŽุง ูƒูู†ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ {8} Katakanlah:"Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".

(QS. Al- Jum'ah :8) 2. Firman Allah I: ุฃูŽูŠู’ู†ูŽู…ูŽุง ุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ูŠูุฏู’ุฑููƒูƒู‘ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูƒูู†ุชูู…ู’ ูููŠ ุจูุฑููˆุฌู ู…ูุดูŽูŠู‘ูŽุฏูŽุฉู Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.

(QS. An- Nisaa`:78). Hal- hal yang wajib bagi orang yang sakit: Orang yang sakit harus beriman (percaya) terhadap qadha` Allah I, sabar terhadap qadar-Nya, husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Rabb-nya, berada di antara sifat khauf (khawatir,takut) dan raja` (mengharap), jangan mengharapkan kematian, menunaikan hak-hak Allah I dan hak-hak manusia, menulis wasiatnya, berwasiat untuk karib kerabatnya yang tidak mewarisinya sepertiga (1/3) hartanya atau kurang dari 1/3 dan itu lebih baik, berobat dengan pengobatan yang dibolehkan.

Dan disunnahkan mengeluhkan kondisinya kepada Allah I dan memohon kesembuhan dari-Nya. Hukum mengharapkan kematian: Dari Anas bin Malik t, ia berkata, 'Rasulullah ๏ทบโ€ฌ bersabda, 'Janganlah seseorang darimu mengharapkan kematian karena mudharat yang dialaminya.

Dan jika harus mengharapkan kematian, hendaklah ia membaca, 'Ya Allah, hidupkan aku selama kehidupan lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku." Muttafaqun 'alaih.

[ 1]. Seorang muslim harus bersiap-siap untuk mati dan banyak mengingatnya. Dan bersiap-siap mati adalah dengan taubat dari segala perbuatan maksiat, mengutamakan akhirat, keluar dari perbuatan zalim, menghadap kepada Allah I dengan berbuat taat dan menjauhi yang diharamkan. Hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah di sunnahkan mengunjungi orang sakit dan mengingatkannya agar bertaubat dan berwasiat, dan berobat kepada dokter yang muslim, bukan dokter non muslim.

Kecuali bila ia membutuhkannya dan aman dari hal yang tidak dinginkan. Disunnahkan bagi orang yang menyaksikan seseorang yang hampir meninggal dunia (menjelang sakratul maut) agar mentalqinnya dua kalimat syahadah, lalu mengingatkannya dengan ucapan 'laailaaha hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah, berdoa untuknya dan tidak mengatakan sesuatu di hadapannya kecuali yang baik. Tidak mengapa seorang muslim menghadiri kematian orang kafir untuk menawarkan Islam kepadanya dan berkata kepadanya, 'Katakanlah: 'laailaaha illallah'.

Tanda- tanda husnul khatimah: 1. Mengucapkan dua kalimat syahadah saat meninggal. 2. Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening. 3. Mati syahid atau meninggal fi sabilillah. 4. Meninggal saat bertugas jaga fi sabilillah. 5. Meninggal karena membela dirinya atau hartanya atau keluarganya. 6. Meninggal pada malam Jum'at atau siangnya, dan hal itu menjaganya dari fitnah (cobaan) alam kubur. 7. Meninggal karena penyakit radang selaput dada atau penyakit TBC. 8. Meninggal karena penyakit tha'un (penyakit menular), sakit perut, tenggelam, terbakar, atau tertimpa reruntuhan.

9. Perempuan yang meninggal dunia di saat nifasnya karena melahirkan dan semisalnya. Mengingat kematian: Seorang muslim harus selalu ingat terhadap kematian, bukan karena dia akan meninggalkan keluarga, orang-orang tercinta, dan kenikmatan dunia, ini adalah pandangan sempit. Tetapi karena kematian berarti berpisah dari amal ibadah dan bercocok tanam untuk akhirat. Dengan ini ia bersiap-siap dan bertambah dalam amal akhirat serta menghadap kepada Allah I. Adapun pandangan/pemikiran yang pertama, maka menambahnya rasa rugi dan penyesalan.

Dan apabila Allah I ingin mengambil (mewafatkan) seorang hamba di suatu daerah/wilayah, ia menjadikan baginya suatu keperluan di daerah itu. Seorang muslim harus berhusnuzhann (berbaik sangka) kepada Allah I saat meninggal dunia, karena sabda Nabi ๏ทบโ€ฌ, 'Janganlah seseorang dari kamu meninggal dunia kecuali ia berbaik sangka kepada Allah I.' HR.

Muslim. [ 2] Di antara tanda- tanda kematian: diketahui meninggalnya seseorang dengan turun kedua pelipis, miring hidungnya, terpisah dua telapak tangannya, terulur kedua kakinya, melotot penglihatannya, dinginnya, dan terputus napasnya.

Apa yang dilakukan terhadap seorang muslim apabila ia meninggal dunia: 1. Apabila seorang muslim meninggal dunia, disunnahkan memejamkan kedua hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah dan berdoa saat memejamkan matanya dengan doanya, 'Ya Allah, ampunilah fulan (dengan menyebut namanya), tinggikan derajatnya pada orang-orang yang mendapat petunjuk, luaskanlah kuburnya, terangilah ia di dalamnya, gantikanlah ia pada keturunannya yang masih tersisa, dan berilah ampunan untuk kami dan dia wahai Rabb semesta alam.' HR.

Muslim. [ 3] Kemudian diikat kedua rahangnya dengan pembalut, dilembutkan persendiannya dengan pelan, mengangkatnya dari tanah, melepas pakaiannya, dan menutupnya dengan pakaian yang menutupi semua badannya, kemudian memandikannya. 2. Disunnahkan bersegera membayar hutangnya, melaksanakan wasiatnya, segera mengurus jenazahnya, menshalatkannya, menguburkannya di daerah tempat ia meninggal dunia.

Boleh bagi yang menghadirinya dan yang lainnya membuka wajahnya, mengecupnya dan menangisinya. Wajib membayar hak-hak Allah I dari orang yang wafat, jika hak-hak itu seperti zakat, nazar, kafarat dan haji Islam. Dan didahulukan dari hak-hak ahli waris dan dari hutang. Hutang kepada Allah I lebih utama untuk dibayar, dan jiwa seorang muslim digantungkan dengan hutangnya sampai dibayar.

Boleh bagi seorang perempuan berihdad (tidak berhias diri, sebagai tanda duka cita) karena kematian anaknya atau yang lainnya selama tiga hari, dan karena kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. Dan seorang perempuan akan menjadi istri dari suaminya yang terakhir pada hari hari kiamat. Diharamkan atas karib kerabat yang meninggal dan selain mereka meratapi kematian, yaitu perkara yang melebihi tangisan.

Seorang mayit disiksa di dalam kuburnya karena diratapi. Dan diharamkan saat musibah memukul pipi, merobek lobang baju, mencukur dan mencabik rambut. Dibolehkan menginformasikan kepada orang banyak tentang kematian seseorang supaya mereka menyaksikan jenazahnya dan menshalatkannya. Dianjurkan bagi yang memberi informasi meminta orang-orang beristigfar dan memohon ampun untuknya. Diharamkan na'yu, yaitu memberi informasi tentang kematian karena membanggakan diri dan semisalnya.

Apa yang dikatakan dan dilakukan orang yang mengalami musibah, saat mendapat musibah: Saat karib kerabat yang meninggal dunia mengetahui kematiannya, mereka wajib bersikap sabar. Dan disunnahkan bersikap ridha terhadap qadar, mengharap pahala dan istirja' (membaca innalillahi wa inna ilaihi raaji'un.

1. Dari Ummu Salamah radhiyallahi 'anha, istri nabi ๏ทบโ€ฌ, ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah ๏ทบโ€ฌ bersabda, 'Tidak ada seorang hamba yang mendapat musibah, lalu ia membaca, 'Sesungguhnya kita adalah milik Allah I dan sesungguhnya kita kembali kepada-Nya.

Ya Allah, berilah pahala kepadaku dalam musibahku dan gantikanlah untukku yang lebih baik darinya.' melainkan Allah I memberi pahala kepadanya dalam musibahnya dan menggantikan baginya yang lebih baik darinya.' HR.

Muslim. [ 4] 2. Dari Anas bin Malik t, ia berkata, 'Nabi ๏ทบโ€ฌ bersabda, 'Tidak ada seorang muslim yang meninggal tiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah I memasukkannya ke surga dengan karunia rahmat-Nya kepada mereka.' HR. al-Bukhari. [ 5]. Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah, menahan lisan dari mengadu, dan menahan anggota tubuh dari yang diharamkan, seperti memukul pipi, merobek baju dan semisalnya. Hukum melakukan otopsi kepada mayat: Boleh mengotopsi mayat seorang muslim, jika tujuannya menyelidiki tuduhan kriminalitas, atau menyelidiki penyakit menular, karena hal itu mengandung mashlahat yang berpulang pada keamanan dan keadilan dan menjaga umat dari penyakit berbahaya yang menular.

Jika otopsi itu untuk tujuan belajar dan mengajar, maka seorang muslim harus dimuliakan hidup dan mati. Cukuplah dengan mengotopsi mayat non muslim, kecuali saat terpaksa dengan syarat-syaratnya.

2. Memandikan Jenazah. Disunnahkan agar orang yang memandikan mayat adalah yang paling mengetahui sunnah memandikan mayat. Ia mendapat pahala besar apabila berniat ikhlas karena Allah I, menutupinya, dan tidak menceritakan apa yang dilihatnya dari yang tidak disukai.

Siapakah yang hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah mayit? Yang paling utama memandikan jenazah laki-laki saat terjadi perselisihan adalah yang menerima wasiatnya, kemudian bapaknya, kemudian kakeknya, kemudian kerabat terdekat dan seterusnya dari ashabahnya, kemudian karib kerabatnya.

Dan yang paling berhak memandikan jenazah perempuan adalah perempuan yang menerima wasiatnya, kemudian ibunya, kemudian neneknya, kemudian kerabat terdekat dan seterusnya. Boleh bagi pasangan suami istri memandikan pasangannya yang wafat. Dan boleh memandikan jenazah laki-laki dan perempuan sebanyak satu kali yang meliputi semua badannya.

Prosesi pemandian jenazah dihadiri yang memandikan dan yang membantunya memandikan, dan dimakruhkan selain mereka menghadirinya. Apabila berkumpul orang-orang Islam dan kafir dan meninggal bersamaan seperti kebakaran dan semisalnya, dan tidak bisa membedakan mereka, (cara pelaksanaannya adalah) mereka semua dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan (semua itu dilaksanakan) dengan niat untuk orang-orang Islam dari mereka.

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

. Boleh bagi laki-laki dan perempuan memandikan jenazah seseorang yang berusia tujuh tahun (atau kurang dari usia itu), baik jenazah laki-laki dan perempuan. Dan apabila seorang laki-laki meninggal dunia di antara perempuan-perempuan bukan mahrahmnya, atau seorang perempuan meninggal dunia di tengah-tengah laki-laki bukan mahramnya, atau uzur memandikannya, ia dishalatkan dan dimakamkan tanpa dimandikan.

Orang yang mati dalam peperangan fi sabilillah tidak boleh dimandikan, dan para syuhada lainnya tetap wajib dimandikan. Diharamkan seorang muslim memandikan non muslim, atau mengkafannya, atau menshalatkannya, atau mengikuti jenazahnya, atau menguburkannya.

Tetapi ia menutupinya dengan tanah apabila tidak ada yang menutupinya dengan tanah dari karib kerabatnya. Tidak disyari'atkan bagi orang-orang Islam mengikuti jenazah keluarganya (karib kerabatnya) yang musyrik (non muslim) yang meninggal dunia.

Tata- cara memandikan mayit yang disunnahkan: Apabila seseorang ingin memandikan jenazah, ia meletakkannya di atas keranda pemandian, kemudian menutupi auratnya, kemudian melepaskan pakaiannya, kemudian mengangkat kepalanya hingga jenazah tersebut berada dalam posisi hampir duduk, kemudian menekan perutnya dengan lembut dan banyak menyiram air.

Kemudian ia melilit sepotong kain atau dua sarung tangan di atas tangannya dan mengistinjanya (membersihkan duburnya). Kemudian berniat memandikannya, dan sunat mewudhu`kannya seperti wudhu untuk shalat setelah meletakkan di tangannya sepotong kain yang lain. Jangan memasukkan air di mulut dan hidungnya, tetapi memasukkan dua jarinya yang basahi di hidung dan mulutnya. Kemudian memandikannya dengan air dan bidara atau sabun, memulai dengan kepala dan jenggotnya, kemudian sebelah kanan dari leher hingga tumitnya (kakinya).

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

Kemudian membaliknya ke sebelah kiri dan memandikan sebelah punggungnya yang kanan, kemudian memandikan bagian tubuhnya yang kiri seperti itu. Kemudian memandikannya yang kedua kali hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah ketiga kali seperti yang mandi pertama. Jika belum bersih, ia menambah sampai bersih dalam hitungan ganjil. Dan menjadikan bersama air pada mandi yang terakhir kafur barus atau minyak wangi. Dan jika kumisnya atau kukunya panjang digunting sebagiannya, kemudian dikeringkan dengan kain.

Dan jenazah perempuan dijadikan rambutnya tiga kepangan dan diuraikan dari belakang. Dan jika keluar dari seseorang (kotoran dan semisalnya) setelah dimandikan dicuci tempatnya, diwudhukan, dan ditutupi tempatnya dengan kapas.

3. Mengkafani Jenazah. Wajib mengkafan jenazah dari hartanya. Jika ia tidak mempunyai harta, maka biayanya dibebankan kepada orang yang wajib memberi nafkah kepadanya dari ushul (ayah keatas) dan furu' (anak kebawah). Cara mengkafan jenazah: Disunnahkan mengkafani jenazah laki-laki dalam tiga lipat kain putih yang baru, diharumkan dengan wewangian yang dibakar tiga kali, kemudian diuraikan sebagian di atas sebagian yang lain, kemudian diberikan pengawet, yaitu campuran dari minyak wangi di antara lipatan.

Kemudian jenazah diletakkan di atas hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah kain bertelentang di atas punggungnya, kemudian diberikan sebagian dari pengawet di kapas di antara dua pantatnya.

Kemudian diikat sepotong kain di atasnya seperti celana kecil yang menutupi auratnya, dan diberi minyak wangi beserta seluruh badannya. Kemudian dikembalikan ujung lipatan kain yang atas dari sisi sebelah kiri di atas bagian sebelah kanan. Kemudian dikembalikan ujung sebelah kanan di atas bagian kiri yang di atasnya.

Kemudian yang kedua sama seperti itu, kemudian yang ketiga juga sama seperti itu. Dan dijadikan sisa di bagian kepalanya, atau di bagian kepala dan kedua kakinya jika lebih. Kemudian diikat lebar lipatan agar jangan terbuka, dan dibuka di dalam kubur. Perempuan sama seperti laki-laki dalam penjelasan di atas. Anak kecil dikafani satu kain dan boleh tiga kain. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah ๏ทบโ€ฌ dikafani pada tiga lapis kain buatan Yaman berwarna putih dari kapas, tidak termasuk padanya baju dan surban." Muttafaqun 'alaih.

[ 6]. Boleh mengkafani jenazah dengan satu kain yang menutupi semua badannya. Syahid fi sabilillah dikuburkan pada pakaiannya yang dia syahid padanya dan tidak dimandikan.

Disunnahkan mengkafannya dengan satu kain atau lebih di atas pakaiannya. Apabila orang yang berihram meninggal dunia, ia dimandikan dengan air dan bidara atau sabun, tidak didekatkan wangi-wangian, memakai yang berjahit, kepala dan wajahnya tidak ditutup jika ia seorang laki-laki, karena ia dibangkitkan pada hari kiamat sambil bertalbiyah di atas kondisinya, dan tidak diqadha darinya ibadah haji yang tersisa.

Apabila janin yang keguguran meninggal, dan kandungannya berusia empat bulan, ia dimandikan, dikafani, dan dishalatkan. Barang siapa yang uzur (tidak mungkin) memandikannya karena terbakar atau robek dan semisalnya, atau tidak ada air, ia kafani dan dishalatkan atasnya.

Sah shalat terhadap sebagian anggota tubuh jenazah seperti tangan, kaki, dan semisalnya, Apabila tidak bisa mendapatkan bagian tubuh yang lain. Apabila keluar najis dari jenazah setelah dikafani, tidak perlu dimandikan ulang, karena menyulitkan dan memberatkan. 4. Tata-cara Menshalatkan Jenazah Menyaksikan jenazah dan mengikutinya mengandung faedah besar, yang terpenting adalah: menunaikan hak jenazah dengan menshalatkannya, memohon syafaat hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah berdoa untuknya, menunaikan hak keluarganya, menghibur perasaan mereka saat mendapat musibah kematian, memperoleh pahala besar bagi pelayat, mendapatkan nasehat dan pelajaran dengan menyaksikan jenazah, pemakaman, dan yang lainnya.

Shalat jenazah adalah fardhu kifayah, yaitu tambahan pahala orang-orang yang shalat dan syafaat kepada orang-orang wafat. Disunnahkan (dianjurkan) banyak yang menshalatkannya. Bilamana yang menshalatkan lebih banyak tentu lebih utama. Dari Ibnu 'Abbas t, ia berkata, 'Saya mendengar Rasulullah ๏ทบโ€ฌ bersabda, 'Tidak ada seorang muslim yang meninggal dunia, lalu berdiri di atas jenazahnya empat puluh (40) orang laki-laki yang tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya I melainkan Allah I menerima syafaat mereka padanya." HR.

Muslim. [ 7]. Orang yang melaksanakan shalat lebih dulu berwudhu, menghadap kiblat, dan meletakkan jenazah di antara dia dan kiblat. Tata- cara shalat terhadap jenazah: Imam disunnahkan berdiri di sisi kepala jenazah laki-laki dan di tengah jenazah perempuan.

Bertakbir empat kali, terkadang lima, atau enam, atau tujuh atau sembilan. Terutama kepada para ulama, orang shalih dan taqwa, dan yang berjasa terhadap Islam. Dilakukan seperti ini sekali, dan seperti ini sekali, karena menghidupkan sunnah. Melakukan takbir pertama sambil mengangkat kedua tangannya hingga kedua pundaknya, atau sampai kedua telinganya. Demikian pula takbir-takbir selanjutnya. Kemudian ia meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya di atas dadanya, tidak membaca doa iftitah.

Kemudian berta'awwudz (membaca A'udzubillahi minash-syaitaanirrajim), membaca basmalah, membaca al-Fatihah pelan-pelan dan terkadang membaca surah bersamanya. Kemudian bertakbir yang kedua dan membaca: 'Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad ๏ทบโ€ฌ dan keluarga Muhammad ๏ทบโ€ฌ, sebagaimana Engkau memberi rahmat kepada Ibrahim u dan keluarga Ibrahim u.

Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah berkah kepada Muhammad ๏ทบโ€ฌ dan keluarga Muhammad ๏ทบโ€ฌ, sebagaimana Engkau berikan berkah kepada Ibrahim u dan keluarga Ibrahim u.

Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia." Muttafaqun 'alaih. [ 8]. Kemudian melakukan takbir yang ketiga dan berdoa dengan ikhlas dengan doa diriwayatkan dalam hadits, di antaranya adalah:. "Ya Allah, ampunilah kami yang hidup dan mati, yang hadir dan gaib, kecil dan besar, laki-laki dan perempuan.

Ya Allah, siapapun yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah ia di dalam Islam, dan siapapun yang Engkau wafatkan dari kami maka wafatkanlah dia di atas iman. Ya Allah I, janganlah Engkau menghalangi kami dari pahalanya dan janganlah Engkau sesatkan kami sesudahnya." HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. [ 9]. 'Ya Allah, ampunilah dan berilah rahmat kepadanya, maafkanlah dia, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, cucilah dia dengan air, salju, dan batu es.

Bersihkanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Gantilah kepadanya negeri yang lebih baik dari negerinya, istri yang lebih baik dari istrinya, masukkanlah ia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari siksaan kubur (atau siksaan neraka).' HR. Muslim. [ 10]. 'Ya Allah, sesungguhnya fulan bin fulan berada dalam jaminan-Mu dan ikatan perlindungan-Mu, maka peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksaan neraka.

Engkau yang paling menepati janji dan paling benar. Ampuni dan berilah rahmat kepada-Nya. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' HR.

Abu Daud dan Ibnu Majah. [ 11]. Jika yang meninggal dunia seorang anak kecil, ia menambah: 'Ya Allah, jadikanlah ia pendahulu, pahala dan simpanan bagi kami.' HR. al-Baihaqi. [ 12]. Kemudian ia bertakbir yang keempat dan berdiri sebentar sambil berdoa. Kemudian ia membaca salam ke sebelah kanan. Dan jika terkadang ia membaca salam ke sebelah kiri maka tidak mengapa.

Barang siapa yang ketinggalan takbir, ia mengqadhanya menurut tata-caranya. Dan jika ia tidak mengqadhanya dan salam bersama imam, maka shalatnya sah insya Allah I.

.

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

Sunnah bahwa jenazah dishalatkan secara berjamaah dan jumlah shaf (barisan) tidak kurang dari tiga shaf (baris). Dan apabila berkumpul beberapa jenazah, disunnahkan yang berada didekat adalah jenazah laki-laki, kemudian anak-anak, kemudian perempuan, dan menshalatkan mereka satu kali shalat.

Dan boleh satu kali shalat untuk satu orang jenazah. Doa pada shalat jenazah menurut keadaan jenazah. Laki-laki seperti doa yang telah lalu, dimu`annatskan dhamir (kata ganti) bersama jenazah perempuan, dijama'kan dhamir apabila terdiri dari beberapa jenazah. Jika semuanya perempuan, ia berdoa: allahummaghfir lahunna (ya Allah, ampunilah mereka) dan seterusnya.

Jika ia tidak mengetahui yang didepan, laki-laki atau perempuan, boleh khitabnya untuk mayit (muzdakkar) atau jenazah (mu`annats), ia berdoa: Allahummaghfir lahu (mayit), atau allahummaghfir laha (jenazah).

Para syuhada yang mati syahid dalam peperangan fi sabilillah, imam (pempimpin) diberi pilihan pada mereka. Jika dia menghendaki, dia menshalatkan mereka dan jika dia tidak menghendaki, dia meninggalkan shalat jenazah untuk mereka, dan shalat lebih utama.

Dan mereka dimakamkan di tempat mereka meninggal dunia. Dan para syuhada selain mereka, seperti yang mati tenggelam, terbakar dan semisal mereka. Mereka adalah para syuhada dalam pahala akhirat, akan tetapi tetap dimandikan, dikafani, dishalatkan seperti selain mereka. Disunnahkan shalat terhadap jenazah muslim, baik dia seorang yang shaleh atau fasik, akan tetapi yang meninggalkan shalat tidak dishalatkan atasnya. Orang yang bunuh diri dan khianat dari harta ghanimah, imam atau wakilnya tidak boleh menshalatkan keduanya sebagai hukuman hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah dan peringatan bagi yang lain, dan kaum muslimin tetap menshalatkannya.

Seorang muslim yang ditegakkan atasnya had (hukuman) rajam atau qishash, dimandikan dan dishalatkan atasnya shalat jenazah. Keutamaan shalat jenazah dan mengiringinya sampai dikebumikan: Sunnah mengiringi jenazah karena iman dan berharapkan pahala hingga dishalatkan dan selesai menguburnya. Mengikuti/mengiringi jenazah hanya untuk laki-laki, bukan wanita.

Jenazah tidak boleh diikuti suara, api, bacaan, dan tidak pula zikir. Dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah ๏ทบโ€ฌ bersabda, 'Barang siapa yang mengikuti jenazah seorang muslim karena iman dan mengharap pahala, dan ia tetap bersamanya hingga dishalatkan dan selesai menguburnya, maka sesungguhnya ia pulang membawa pahala dua qirath, setiap qirath seperti bukit Uhud.

Dan barang siapa yang shalat atasnya, kemudian kembali sebelum dimakamkan, maka sesungguhnya ia pulang dengan pahala satu qirath.' Muttafaqun 'alaih. [ 13]. Tempat shalat jenazah: Menshalatkan jenazah di tempat yang disiapkan untuk shalat jenazah adalah sunnahdan itulah yang lebih utama. Dan boleh dishalatkan di dalam masjid sewaktu-waktu. Dan barang siapa yang ketinggalan shalat jenazah, yang utama adalah menshalatkannya setelah dimakamkan.

Dan barang siapa yang dikuburkan dan belum dishalatkan, maka dishalatkan di atas kuburnya. Apabila seseorang meninggal dunia dan engkau ahli untuk melaksanakan shalat dan dikhithab untuk menshalatkannya dan engkau belum menshalatkannya, maka kamu boleh shalat di atas kuburnya.

Hukum shalat terhadap jenazah yang ghaib: Disunnahkan shalat terhadap jenazah yang ghaib, yang belum dishalatkan atasnya. Dari Abu Hurairah t, bahwasanya Rasulullah ๏ทบโ€ฌ memberi kabar duka cita kematian an-Najasyi hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah hari yang dia meninggal dunia. lalu beliau I keluar bersama mereka ke mushalla dan bertakbir empat kali takbir.' Muttafaqun 'alaih. [ 14]. Disunnahkan bersegera mengurus jenazah, menshalatkannya, dan pergi dengannya ke pemakaman.

Dari Abu Hurairah t, dari Nabi ๏ทบโ€ฌ, beliau bersabda, 'Bersegeralah mengurus jenazah, jika ia seorang yang shalih, maka kebaikan yang kamu dahulukan kepadanya. Dan jika ia selain yang demikian itu, maka keburukan yang kamu letakkan dari pundakmu.' Muttafaqun 'alaih. [ 15]. Perempuan seperti laki-laki, apabila jenazah sudah ada di mushalla atau di masjid, sesungguhnya ia menshalatkannya bersama kaum muslimin, dan untuknya pahala seperti untuk laki-laki dalam menshalatkan dan ta'ziyah.

Waktu- waktu yang jenazah tidak boleh dimakamkan dan tidak boleh dishalatkan: Dari 'Uqbah bin 'Amir al-Juhani t, ia berkata, 'Tiga waktu, Rasulullah ๏ทบโ€ฌ melarang kami melaksanakan shalat jenazah padanya dan menguburnya: saat matahari terbit hingga terangkat, saat tengah hari hingga gelincir matahari, dan saat tenggelam matahari hingga tenggelam.' HR.

Muslim. [ 16] 5. Membawa Jenazah dan Menguburkannya Disunnahkan jenazah dibawa oleh empat orang laki-laki, pejalan kaki berada di depan dan belakangnya, dan yang berkenderaan berada di belakangnnya. Jika pemakaman jauh atau ada kesulitan, tidak mengapa dibawa kendaraan (mobil).

Jenazah muslim dimakamkan di pemakaman kaum muslimin, laki-laki atau perempuan, besar atau kecil. Dan tidak boleh dimakamkan di dalam masjid dan tidak boleh pula di pemakaman kaum musyrikin dan semisalnya.

Tata- cara menguburkan jenazah: Kubur harus digali dalam-dalam, diluaskan, diperbaiki. Apabila telah sampai bagian bawah kubur, digalilah padanya yang mengarah kiblat satu tempat sekadar diletakkan mayit padanya, dinamakan lahad. Ia lebih utama dari pada syaqq. Dan yang memasukkannya membaca: 'Bismillah wa 'ala millati rasulillah' (dengan nama Allah I dan atas agama Rasulullah ๏ทบโ€ฌ).

HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi. [ 17] Dan meletakkannya di lahadnya di atas bagian kanannya, menghadap kiblat. Kemudian dipasang bata atasnya dan disertakan di antaranya dengan tanah.

Kemudian dikuburkan dengan tanah dan diangkat kubur di atas bumi sekadar sejengkal dengan permukaan yang melengkung (seperti punuk unta). Diharamkan membangun di atas kubur, mengapur dan menginjaknya, shalat di sampingnya, menjadikannya masjid dan lampu-lampu atasnya, menghamburkan bunga-bunga di atasnya, thawaf (berkeliling) dengannya, menulis atasnya, dan menjadikannya sebagai hari raya. Tidak boleh membangun masjid di atas kubur dan tidak boleh menguburkan jenazah di dalam masjid.

Jika masjid itu telah dibangun sebelum dimakamkan, kubur itu diratakan, atau digali jika masih baru dan dimakamkan di pemakaman umum. Jika masjid dibangun di atas kubur, bisa jadi masjid yang dibongkar dan bisa jadi bentuk kuburan yang dihilangkan. Dan setiap masjid yang dibangun di atas kuburan, tidak boleh dilaksanakan shalat fardhu dan shalat sunnah di dalamnya. .

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

Sunnah bahwa kubur digali dengan kedalaman yang menghalangi keluar bau darinya dan galian binatang buas. Jika bagian bawahnya berbentuk lahad seperti yang disebutkan diatas, itulah yang lebih utama. Atau Syaqq: yaitu digali di dasar kubur satu galian di tengah, diletakkan mayat padanya, kemudian dipasang bata atasnya, kemudian ditutupi. Sunnah menguburkan jenazah di siang hari dan boleh menguburkan di malam hari.

Tidak boleh di masukkan ke dalam satu liang kubur lebih dari satu jenazah kecuali karena terpaksa, seperti banyaknya yang terbunuh dan sedikit yang memakamkan hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah. Didahulukan di lahad yang lebih utama dari mereka. Tidak dianjurkan bagi laki-laki menggali kuburnya sebelum ia meninggal dunia. Boleh memindahkan jenazah dari kuburnya ke kubur yang lain, jika ada maslahat untuk mayit, seperti kuburannya yang digenangi air atau dikuburkan di pemakaman orang-orang kafir dan semisalnya.

Kuburan adalah negeri orang-orang yang sudah mati, tempat tinggal mereka, dan tempat saling ziarah di antara mereka, dan mereka telah mendahului kepadanya, maka tidak boleh menggali kubur mereka kecuali untuk kepentingan mayit. Laki-laki yang bertugas menurunkan jenazah di kuburnya, bukan perempuan, para wali mayit lebih berhak menurunkannya. Disunnahkan memasukkan jenazah di kuburnya dari sisi dua kaki kubur, kemudian dimasukkan kepalanya secara perlahan di dalam kubur.

Boleh memasukkan mayit ke dalam kubur dari arah mana pun. Dan haram mematahkan tulang mayit. Perempuan tidak boleh mengikuti jenazah, karena mereka memililki sifat lemah, perasaan yang halus, keluh kesah, dan tidak tabah menghadapi musibah, lalu keluar dari mereka ucapan dan perbuatan yang diharamkan yang bertolak belakang dengan sifat sabar yang diwajibkan.

Disunnahkan bagi keluarga mayit memberi tanda di kuburnya dengan batu dan semisalnya, agar ia memakamkan yang meninggal dari keluarganya dan ia mengenal dengan tanda itu kubur yang meninggal dari keluarganya. Barang siapa yang meninggal dunia di tengah laut dan dikhawatirkan berubahnya, ia dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan ditenggelamkan di air.

Anggota tubuh yang terpotong dari seorang muslim yang masih hidup karena sebab apapun, tidak boleh membakarnya, tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.

Tetapi dibalut pada sepotong kain dan dikuburkan di pemakaman. Dianjurkan berdiri bagi jenazah apabila sedang lewat, dan siapa yang duduk tidak ada dosa atasnya.

Disunnahkan duduk apabila jenazah diletakkan dan saat pemakaman, dan terkadang disunnahkan mengingatkan yang hadir dengan kematian dan yang sesudahnya. Disunnahkan setelah menguburkan mayit agar orang yang hadir berdiri di atas kubur dan mendoakan ketetapan untuknya, memohon ampunan baginya dan meminta kepada orang-orang yang hadir agar memohon ampunan untuknya dan tidak mentalqinnya, karena talqin ada saat menjelang wafat sebelum mati. Hukum Ta'ziyah Disunnahkan berta'ziyah kepada yang mendapat musibah kematian sebelum dimakamkan atau sesudahnya.

Dikatakan kepada yang mendapat musibah kematian seorang muslim: 'Sesungguhnya bagi Allah I apa yang Dia ambil dan bagi-Nya apa yang Dia I beri, segala hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah di sisinya dengan waktu yang sudah ditentukan, maka hendaklah engkau sabar dan mengharap pahala." Muttafaqun 'alaih.

[ 18] Dan ia berdoa untuk mayit dan yang berduka dengan ucapannya: 'Ya Allah, ampunilah Abu fulan, tinggikan derajatnya pada orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah ia pada keturunannya yang masih tersisa, dan berilah ampunan untuk kami dan dia wahai Rabb semesta alam, luaskanlah kuburnya, terangilah ia di dalamnya.' HR.

Muslim. [ 19]. Disunnahkan ta'ziyah kepada keluarga mayit dan tidak ada batas baginya. Ia berta'ziyah kepada mereka dengan sesuatu yang bisa menghibur mereka, menahan dari duka cita mereka, dan mendorong mereka untuk sabar dan ridha dalam batas-batas syara', dan berdoa untuk mayit dan yang berduka.

Boleh berta'ziyah di setiap tempat: di pemakaman, di pasar, di mushalla, di masjid, di rumah. Keluarga mayit boleh berkumpul dalam sebuah rumah atau satu tempat, lalu yang ingin berta'ziyah menuju mereka, memberi ta'ziyah, kemudian ia pulang. Keluarga mayit tidak boleh menentukan pakaian khusus untuk ta'ziyah, seperti pakaian hitam umpamanya, karena padanya mengandung sikap murka terhadap qadha dan qadar Allah I. Dibolehkan bertaโ€™ziyah kepada orang kafir tanpa mendoakan mayat mereka jika mereka tidak menampakkan permusuhan terhadap agama Islam dan orang-orang muslim.

Disunnahkan membuat makanan untuk keluarga mayit dan mengirimnya kepada mereka, dan dimakruhkan bagi keluarga mayit membuat makanan untuk manusia dan mereka berkumpul atasnya.

Hukum menangisi jenazah: Boleh menangisi jenazah jika tidak disertai ratapan. Dan haram merobek pakaian, memukul pipi, meninggikan suara dan semisalnya. Dan mayit disiksa โ€“maksudnya merasa sakit dan gelisah- dalam kuburnya bila diratapi atasnya dengan wasiat darinya. 1. Dari Abdullah bin Ja'far t, bahwa Nabi ๏ทบโ€ฌ memberi tempo kepada keluarga Ja'far t selama tiga hari bahwa beliau ๏ทบโ€ฌ mendatangi mereka.

Kemudian beliau datang kepada mereka, lalu berkata, 'Janganlah kamu menangisi saudaraku setelah hari ini.' Kemudian beliau bersabda, 'Panggilkan anak-anak saudaraku untukku.' Lalu kami dibawa, seolah-olah kami adalah anak-anak burung, lalu beliau ๏ทบโ€ฌ bersabda, 'Panggilkan tukang cukur untukku.' Lalu beliau menyuruhnya (agar mencukur rambut kami) lalu ia mencukur rambut kami.' HR.

Abu Daud dan an-Nasa`i. [ 20] 2. Dari Umar bin Khaththab t, dari Nabi ๏ทบโ€ฌ, beliau bersabda, 'Mayit disiksa di dalam kubur karena ratapan atasnya.' [ 21] Ziarah Kubur.

Disunnahkan ziarah kubur bagi laki-laki karena ziarah itu mengingatkan akhirat dan kematian. Ziarah adalah untuk mengambil pelajaran, nasehat, mengucap salam dan berdoa untuk mereka, bukan untuk meminta doa mereka, atau meminta berkah dengan mereka, atau dengan tanah kubur mereka.

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

Semua itu tidak dibolehkan. Diharamkan kepada semua yang hidup meminta doa yang sudah mati, istighotsah dengan mereka, meminta mereka menunaikan hajat dan menghilangkan kesusahan, berkeliling di atas kubur para nabi dan orang-orang shalih dan selain mereka, menyembelih di samping kubur mereka, dan menjadikannya masjid.

Semua itu termasuk perbuatan syirik yang Allah I mengancam pelakunya dengan neraka. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, 'Rasulullah ๏ทบโ€ฌ bersabda dalam sakitnya yang beliau tidak bangun lagi darinya, 'Allah I mengutuk kaum Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.' Ia ('Aisyah) berkata, 'Kalau bukan karena alasan itu niscaya kuburnya dinampakkan, selain dikhawatirkan dijadikan sebagai masjid.' Muttafaqun 'alaih.

[ 22]. Yang dibaca saat memasuki pemakaman dan ziarah kubur: 1. 'Kesejahteraan kepada penghuni negeri (alam kubur) dari golongan mukminin dan muslimin, semoga Allah I memberi rahmat kepada yang terdahulu dari kami dan yang (menyusul) kemudian, dan kami โ€“insya Allah- akan menyusul kamu.'HR.

Muslim. [ 23] 2. Atau membaca: 'Kesejahteraan atasmu, wahai penghuni negeri kaum mukminin, dan sesungguhnya kami โ€“insya Allah- akan menyusul denganmu.'HR. Muslim. [ 24] 3. Atau membaca: 'Kesejahteraan atasmu, wahai penghuni negeri dari kaum mukminin dan muslimin, dan sesungguhnya kami โ€“insya Allah- akan menyusul, aku memohon kepada Allah I afiyat untuk kami dan kamu.' HR. Muslim. [ 25]. Hukum ziarah kubur bagi wanita: Ziarah kubur bagi wanita termasuk dosa besar, tidak boleh bagi wanita melaksanakan ziarah kubur.

Akan tetapi apabila ia melewati pemakaman tanpa bermaksud ziarah kubur, maka disunnahkan ia memberi salam kepada penghuni kubur dan berdoa untuk mereka dengan apa yang diriwayatkan, tanpa memasukinya. Keadaan- keadaan orang yang melakukan ziarah kubur: 1. Berdoa kepada Allah I untuk yang mati dan memohon ampunan untuk mereka, mengambil nasehat dengan kondisi orang mati dan mengingat akhirat, maka ini adalah ziarah yang disyari'atkan.

2. Berdoa kepada Allah I untuk dirinya atau untuk selain dirinya seraya meyakini bahwa berdoa di samping kubur lebih utama dari pada di masjid, maka ini adalah bid'ah yang mungkar. 3. Berdoa kepada Allah I sambil bertawassul dengan jaah atau haqq fulan, seperti ia berkata, 'Aku memohon kepadamu ya Rabb dengan Jaah fulan.' Ini diharamkan, karena ia adalah sarana menuju syirik.

4. Tidak berdoa kepada Allah I, tetapi berdoa kepada penghuni kubur, seperti ia berkata, 'Wahai Nabi Allah, atau wahai waliyullah, atau wahai fulan berilah kepadaku seperti ini, atau sembuhkanlah aku dan semisal yang demikian itu, maka ini termasuk syirik besar. Mayit mengetahui kondisi keluarga dan sahabat-sahabatnya di dunia dan hal itu diperlihatkan kepadanya, dan ia merasa senang dengan sesuatu yang baik dan merasa sakit dengan sesuatu yang buruk.

Dan mayit mengetahui orang yang ziarah kepadanya, mendengar ucapannya, salamnya, doanya dan tidak merasa asing dengannya. Boleh ziarah kubur orang yang mati di luar Islam hanya untuk mengambil pelajaran, tidak boleh berdoa untuknya, tidak boleh memintakan ampun untuknya, bahkan ia mengabarkannya dengan nereka.

Pemakaman adalah tempat mengambil nasehat dan pelajaran, tidak boleh dilakukan penghijauan, pengubinan, penerangan, dan apapun juga yang termasuk keindahan. Yang mengikuti jenazah setelah kematiannya: Dari Anas t, ia berkata, 'Rasulullah ๏ทบโ€ฌ bersabda, 'Yang mengikuti jenazah ada tiga, maka kembali yang dua dan yang satu tetap bersamanya.

Yang mengiringinya adalah keluarganya, hartanya, dan amalnya. lalu kembali keluarga dan hartanya hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah tinggallah amalnya.' Muttafaqun alaih. [ 26]. Melakukan ibadah dari seorang muslim untuk muslim yang lain yang masih hidup atau sudah meninggal dunia hukumnya tidak boleh selain dalam batas-batas yang terdapat dalam syara', seperti berdoa untuknya, memintakan ampunan untuknya, melaksanakan haji dan umrah sebagai badal darinya, bersedekah untuknya, dan puasa wajib untuk orang yang sudah meninggal dan ia punya tanggungan puasa wajib seperti nazar.

Adapun menyewa sekelompok orang yang membaca al-Qur`an dan menghadiahkan pahalanya untuk mayit, maka ia termasuk perbuatan bid'ah yang baru.
Jakarta - Mengkafani jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah bagi umat muslim yang masih hidup. Artinya, kewajiban ini bersifat kolektif. Bila di dalam suatu wilayah ada beberapa orang yang melakukannya, kewajiban ini dianggap gugur atau sudah terpenuhi.

Sebaliknya, jika orang-orang di suatu wilayah tersebut tidak ada yang mengerjakannya maka mereka semua akan dianggap berdosa. Menurut buku Keutamaan Menjenguk Orang Sakit dan Tata Cara Mengurus Jenazah karya Tgk. Husnan M. Thaib, SHI, mengkafani jenazah artinya menutupi atau membungkus jenazah dengan sesuatu yang dapat menutup tubuhnya walau hanya sehelai kain. Tahapan ini dilakukan setelah jenazah muslim selesai dimandikan dan sebelum dishalatkan hingga dikubur.

Baca juga: Berapa Lapis Kain untuk Jenazah Perempuan? Ini Jumlah dan Cara Mengkafaninya Adapun sunnah yang perlu diperhatikan dalam mengkafani jenazah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah sebagai berikut. Sunnah-sunnah ini dikutip dari buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dan buku Tata Cara Mengurus Jenazah: Praktis dan Lengkap Sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Sunnah dalam Mengkafani Jenazah 1. Memilih kain yang baik, bersih, menutup seluruh badan, berwarna putih, dan diberikan wewangian. Dari Abu Said, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas, wewangian yang dianjurkan adalah wewangian dari asap kayu gaharu. Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian memberikan wewangian kepada mayat, maka lakukanlah tiga kali," (HR Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Ibnu Hibban, Hakim, dan Baihaqi).

2. Kain kafan hendaklah berjumlah 3 lapis bagi mayat laki-laki dan 5 lapis bagi mayat wanita. Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah RA, dia berkata, ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒููู‘ูู†ูŽ ูููŠ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉู ุฃูŽุซู’ูˆูŽุงุจู ูŠูŽู…ูŽุงู†ููŠูŽุฉู ุจููŠุถู ุณูŽุญููˆู„ููŠู‘ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ูƒูุฑู’ุณูููุŒ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠู‡ูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽู…ููŠุตูŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุนูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŒ Artinya: "Rasulullah SAW dikafani dengan 3 kain putih dari Suhul (sebuah daerah di Yaman) yang masih baru, tidak ada gamisnya dan tidak ada sorban," (HR Bukhari).

Dibolehkan menggunakan 1 lapis kain bila tidak memiliki 2 lapis kain. Diriwayatkan dari Ummu Athiyah bahwa Rasulullah SAW memberikan kepadanya (kain kafan) satu lapisan sarung, baju, baju kurung, dan dua lapis kain. Baca juga: Tata Cara Sholat Jenazah Laki-laki dan Perempuan Lengkap dengan Arti 3. Salah satu lapisan kain kafan jenazah menggunakan kain sejenis jubah bergaris.

Dengan catatan bila hal tersebut mudah ditemukan. Sabda dari Rasulullah SAW berbunyi, ุฅูุฐูŽุง ุชููˆููู‘ููŠูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽูˆูŽุฌูŽุฏูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ููŽู„ู’ูŠููƒูŽูู‘ูŽู†ู’ ูููŠ ุซูŽูˆู’ุจู ุญูุจูŽุฑูŽุฉู Artinya: "Jika salah seorang diantara kalian meninggal dunia dan menemukan sesuatu, kafanilah ia dengan kain yang modelnya sejenis jubah yang bergaris," (HR Abu Dawud dan Baihaqi).

4. Tidak berlebihan dalam mengkafani jenazah, terlebih bila memberatkan jenazah. Hal ini dicontohkan dari sahabat nabi Abu Bakar yang berkata, "Cucilah pakaianku ini dan tambahkan dengan dua kain lagi, lalu kafanilah aku (nanti) dengannya," Aisyah berkata, "Ini pakaian sudah lama." Abu Bakar menjawab, "Sesungguhnya orang yang hidup lebih membutuhkan pakaian baru dibandingkan orang yang mati. Pakaian kafan itu hanya untuk menunggu waktu kebangkitan (di alam kubur)," Demikian penjelasan tentang hukum mengkafani jenazah beserta sunnahnya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Selamat membaca ya. Simak juga 'PMI Solo Sediakan Layanan Pengantaran Jenazah Pakai Mobil Mewah': [Gambas:Video 20detik] (rah/row)โ€œSetiap yang bernyawa akan merasakan mati., dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmuโ€ฆ.โ€ (Q.S. Ali Imran/3: 185) Jika ada salah satu kerabat kita yang hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah maka keluarga yang ditinggalkannya hendaknya menerima atau ikhlas dan rela melepas kepergian orang yang terkasih.

Semua di dunia ini adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepadaNya. Hal ini tertuang sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut: Artinya : โ€œSesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembaliโ€ (Q.S. Al-Baqarah/2: 156). Baca juga Hukum Berwudhu Sebelum Akad Nikah Hal tersebut juga tertuang pada sabd oleh Nabi Muhammad saw, dalam hadits berikut ini yaitu: Artinya : Dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda, โ€œBanyak-banyaklah kamu mengingat hal yang memutuskan kesenangan, yaitu kematian.โ€ (H.R.

at-Tirmizi: 2229) 1. Kewajiban Mengurus Jenazah Pada dasarnya setiap muslim memiliki kewajiban terhadap saudara sesame muslim yang meninggal dunia. Kewajiban yang harus segera dilaksanakan adalah mengurus jenazahnya dan juga mengurus harta peninggalan orang tersebut. Kewajiban ini bersifat kolektif karena itu dimasukkan sebagai suatu jenis ibadah yang dimana Hukum Mengurus Jenazah Dalam Islam hukumnya fardu kifayah, artinya kewajiban bagi seluruh umat muslim.

Baca juga Hukum Kerja Sebagai Kolektor Dalam Islam Tetapi apabila sudah dilaksanakan oleh beberapa orang yang melaksanakannya, maka kewajiban itu gugur bagi seluruh umat muslim. Kewajiban-kewajiban terhadap orang yang meninggal adalah diantaranya memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah. 2. Memandikan mayit Memandikan mayit juga hukumnya fardhu kifayah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahuโ€™anhu, beliau berkata sebagai berikut: ุจูŠู†ูŽุง ุฑุฌู„ูŒ ูˆุงู‚ููŒ ู…ุน ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ุŒ ุฅุฐู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ุนู† ุฑุงุญู„ุชูู‡ู ููŽูˆูŽู‚ูŽุตูŽุชู’ู‡ู ุŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„ ูุฃูŽู‚ู’ุนูŽุตูŽุชู’ู‡ู ุŒ ูู‚ุงู„ูŽ ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ : ุงุบู’ุณูู„ูˆู‡ู ุจู…ุงุกู ูˆุณูุฏู’ุฑู ุŒ ูˆูƒูŽูู‘ูู†ููˆู‡ู ููŠ ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู†ู ุŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ : ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆู„ุง ุชูุญูŽู†ู‘ูุทููˆู‡ู ุŒ ูˆู„ุง ุชูุฎูŽู…ู‘ูุฑูˆุง ุฑุฃุณูŽู‡ู ุŒ ูุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠุจู’ุนูŽุซูู‡ู ูŠูˆู…ูŽ ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉู ูŠูู„ูŽุจู‘ููŠ โ€œAda seorang lelaki yang sedang wukuf di Arafah bersama Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam.

Tiba-tiba ia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu meninggal. Maka Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda: mandikanlah ia dengan air dan daun bidara.

hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah

Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain, jangan beri minyak wangi dan jangan tutup kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyahโ€ (HR.

Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206). Juga hadits dari Ummu โ€˜Athiyyah radhialahuโ€™anha, ia berkata: ุชููˆููŠุชู’ ุฅุญุฏู‰ ุจู†ุงุชู ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ ุŒ ูุฎุฑุฌ ูู‚ุงู„ : ุงุบู’ุณูู„ู’ู†ูŽู‡ุง ุซู„ุงุซู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุฎู…ุณู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุฃูƒุซุฑูŽ ู…ู† ุฐู„ูƒ ุฅู† ุฑุฃูŠุชูู†ู‘ูŽ ุฐู„ูƒ ุŒ ุจู…ุงุกู ูˆุณุฏุฑู ุŒ ูˆุงุฌุนู„ู†ูŽ ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉู ูƒุงููˆุฑู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุดูŠุฆู‹ุง ู…ู† ูƒุงููˆุฑูุŒ ูุฅุฐุง ูุฑุบุชูู†ู‘ูŽ ูุขุฐูู†ู‘ูŽู†ููŠ ูู„ู…ุง ูุฑุบู†ุง ุขุฐู†ุงู‡ ูุฃู„ู‚ู‰ ุฅู„ูŠู†ุง ุญู‚ูˆู‡ ูุถูุฑู†ุง ุดุนุฑู‡ุง ุซู„ุงุซุฉ ู‚ุฑูˆู† ูˆุฃู„ู‚ูŠู†ุงู‡ุง ุฎู„ูู‡ุง โ€œSalah seorang putri Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam meninggal (yaitu Zainab).

Maka beliau keluar dan bersabda: โ€œMandikanlah ia tiga kali, atau lima kali atau lebih dari itu jika kalian menganggap itu perlu. Dengan air dan daun bidara. Dan jadikanlah siraman akhirnya adalah air yang dicampur kapur barus, atau sedikit kapur barus.

Jika kalian sudah selesai, maka biarkanlah aku masukโ€. Ketika kami hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah menyelesaikannya, maka kami beritahukan kepada beliau. Kemudian diberikan kepada kami kain penutup badannya, dan kami menguncir rambutnya menjadi tiga kunciran, lalu kami arahkan ke belakangnyaโ€ (HR. Bukhari no. 1258, Muslim no. 939). Baca juga Hukum Memainkan Pernikahan dalam Islam 3. Shalat Jenazah Melaksanakan shalat jenazah ialah shalat yang dikerjakan sebanyak empat kali takbir dalam rangka mendoakan orang sesame muslim yang sudah meninggal.

Apabila jenazah sudah selesai dimandikan dan dikafani. Hendaknya segera dishalati sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut: Artinya : โ€œRasulullah SAW, bersabda : shalatkanlah orang orang yang telah meninggal dunia diantara kalian semua.โ€ (H.R. Ibnu Majjah: 1511) Semua di dunia ini adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepadaNya.

Hal ini tertuang sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut: Artinya : โ€œSesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembaliโ€ (Q.S. Al-Baqarah/2: 156) Hal tersebut juga tertuang pada sabd oleh Nabi Muhammad saw, dalam hadits berikut ini yaitu: Artinya : Dari Abu Hurairah, Nabi SAW.

bersabda, โ€œ Banyak-banyaklah kamu mengingat hal yang memutuskan kesenangan, yaitu kematian.โ€ (H.R. at-Tirmizi: 2229) 4. Kewajiban Mengurus Jenazah Pada dasarnya setiap muslim memiliki kewajiban terhadap saudara sesame muslim yang meninggal dunia. Kewajiban yang harus segera dilaksanakan adalah mengurus jenazahnya dan juga mengurus harta peninggalan orang tersebut. Baca juga Kedudukan Mahar dalam Hukum Islam Kewajiban ini bersifat kolektif karena itu dimasukkan sebagai suatu jenis ibadah yang dimana Hukum Mengurus Jenazah Dalam Islam hukumnya fardu kifayah, artinya kewajiban bagi seluruh umat muslim, tetapi apabila sudah dilaksanakan oleh beberapa orang yang melaksanakannya, maka kewajiban itu gugur bagi seluruh umat muslim.

Kewajiban-kewajiban terhadap orang yang meninggal adalah diantaranya memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah. 5. Memandikan mayit Memandikan mayit juga hukumnya fardhu kifayah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahuโ€™anhu, beliau berkata sebagai berikut: ุจูŠู†ูŽุง ุฑุฌู„ูŒ ูˆุงู‚ููŒ ู…ุน ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ุŒ ุฅุฐู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ุนู† ุฑุงุญู„ุชูู‡ู ููŽูˆูŽู‚ูŽุตูŽุชู’ู‡ู ุŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„ ูุฃูŽู‚ู’ุนูŽุตูŽุชู’ู‡ู ุŒ ูู‚ุงู„ูŽ ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ : ุงุบู’ุณูู„ูˆู‡ู ุจู…ุงุกู ูˆุณูุฏู’ุฑู ุŒ ูˆูƒูŽูู‘ูู†ููˆู‡ู ููŠ ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู†ู ุŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ : ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆู„ุง ุชูุญูŽู†ู‘ูุทููˆู‡ู ุŒ ูˆู„ุง ุชูุฎูŽู…ู‘ูุฑูˆุง ุฑุฃุณูŽู‡ู ุŒ ูุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠุจู’ุนูŽุซูู‡ู ูŠูˆู…ูŽ ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉู ูŠูู„ูŽุจู‘ููŠ โ€œAda seorang lelaki yang sedang wukuf di Arafah bersama Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam.

Tiba-tiba ia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu meninggal. Maka Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda: Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain, jangan beri minyak wangi dan jangan tutup kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyahโ€ (HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206). Juga hadits dari Ummu โ€˜Athiyyah radhialahuโ€™anha, ia berkata: ุชููˆููŠุชู’ ุฅุญุฏู‰ ุจู†ุงุชู ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู…ูŽ ุŒ ูุฎุฑุฌ ูู‚ุงู„ : ุงุบู’ุณูู„ู’ู†ูŽู‡ุง ุซู„ุงุซู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุฎู…ุณู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุฃูƒุซุฑูŽ ู…ู† ุฐู„ูƒ ุฅู† ุฑุฃูŠุชูู†ู‘ูŽ ุฐู„ูƒ ุŒ ุจู…ุงุกู ูˆุณุฏุฑู ุŒ ูˆุงุฌุนู„ู†ูŽ ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉู ูƒุงููˆุฑู‹ุง ุŒ ุฃูˆ ุดูŠุฆู‹ุง ู…ู† ูƒุงููˆุฑูุŒ ูุฅุฐุง ูุฑุบุชูู†ู‘ูŽ ูุขุฐูู†ู‘ูŽู†ููŠ ูู„ู…ุง ูุฑุบู†ุง ุขุฐู†ุงู‡ ูุฃู„ู‚ู‰ ุฅู„ูŠู†ุง ุญู‚ูˆู‡ ูุถูุฑู†ุง ุดุนุฑู‡ุง ุซู„ุงุซุฉ ู‚ุฑูˆู† ูˆุฃู„ู‚ูŠู†ุงู‡ุง ุฎู„ูู‡ุง โ€œSalah seorang putri Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam meninggal (yaitu Zainab).

Maka beliau keluar dan bersabda: โ€œMandikanlah ia tiga kali, atau lima kali atau lebih dari itu jika kalian menganggap itu perlu. Dengan air dan daun bidara. Dan jadikanlah siraman akhirnya adalah air yang dicampur kapur barus, atau sedikit kapur barus.

Jika kalian sudah selesai, maka biarkanlah aku masukโ€. Ketika kami telah menyelesaikannya, maka kami beritahukan kepada beliau. Kemudian diberikan kepada kami kain penutup badannya, dan kami menguncir rambutnya menjadi tiga kunciran, lalu kami arahkan ke belakangnyaโ€ (HR.

Bukhari no. 1258, Muslim no. 939). 6. Shalat Jenazah Melaksanakan shalat hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah ialah shalat yang dikerjakan sebanyak empat kali takbir dalam rangka mendoakan orang sesame muslim yang sudah meninggal.

Baca juga Larangan Diskriminasi dalam Islam Apabila jenazah sudah selesai dimandikan dan dikafani. Hendaknya segera dishalati sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut: Artinya : โ€œRasulullah saw, bersabda : โ€œShalatkanlah orang orang yang telah meninggal dunia diantara kalian semua.โ€ (H.R.

Ibnu Majjah: 1511)
Kewajiban kita terhadap jenazah muslim adalah A. Memandikan jenazah B. Mengkafani Jenazah C. Menyalati Jenazah D. Memakamkan Jenazah E. Takziya (Belasungkawa) A. MEMANDIKAN JENAZAH Hukum memandikan Jenazah Para ulama secara umum berpendapat bahwa memandikan mayat hukumnya adalah โ€˜fardhu kifayahโ€™. Dalam artian, jika ada sebagian orang yang telah menjalankannya, maka kewajiban untuk melaksanakannya telah gugur bagi sebagian yang lain.

Hal ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT dan memenuhi hak bagi kaum muslimin. Jenazah yang wajib dimandikan Mayat orang yang beragama Islam Memandikan bagian Tubuh Jenazah Ibnu Hazm berkata: Apapun bagian dari umat Islam, ia mesti dimandikan, dikafani dan dishalati, kecuali jika yang bersangkutan mati dalam keadaan syahid. Lebih lanjut ia berkata: bagi orang yang menyalati bagian tubuh dari mayat, ia tetap berniat sebagaimana ia menyalati mayat yang anggota tubuhnya masih utuh.

Imam Abu Hanifah dan Malik berpendapat jika anggota tubuh mayat lebih dari separuh, maka ia dimandikan dan dishalati. Tapi jika anggota tubuhnya kurang dari setengah maka potongan tubuh tersebut tidak perlu dimandikan ataupun Orang yang syahid di jalan Allah tubuhnya tidak perlu dimandikan.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda: โ€˜Janganlah kalian memandikan mereka (para syuhada) karena setiap luka atau tetesan darahnya akan menjadi misk (minyak) di hari kiamat Orang yang syahid tapi tetap dimandikan dan dishalati Orang yang ikut berperang, tapi kematiannya bukan di medan perang, mereka tetap digolongkan sebagai syahid.

Meskipun demikian ia tetap dimandikan, dishalati. Kaun muslimin juga memandikan dan menshalati jenazah sayyidina Umar, Ustsman dan Ali saat mereka wafat, meskipun mereka termasuk syuhada. Jenazah Orang Kafir tidak (wajib) dimandikan B.

MENGKAFANI JENAZAH Mengkafani jezasah, hukumnya adalah โ€˜fardu kifayahโ€™. Imam Bukhari meriwayatkan dari Khabab, hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah berkata kami hijrah bersama Rasulullah saw, untuk mendapatkan ridha Allah SWT dan hanya Dia yang memberi balasan kepada kami.

Di antaranya adalah adalah Musโ€™ab bin Umar, di mana ia terbunuh pada saat perang Uhud. Ketika itu kami tidak mendapati apapun untuk mengkafani badannya kecuali hanya burdah(baca; selimut), yang jika kami gunakan untuk menutupi kedua kakinya, kepalanya tidak tertutupi.

Lalu Rasulullah saw, memerintahkan kepada kami untuk menutup kepalanya dan menutup kakainya dengan dedaunan yang harum baunya. Beberapa hal yang Dianjurkan Ketika Mengkafani Jenazah: โ€ข โ€˜Jika salah seorang dari kalian memegang urusan saudaranya, hendaknya ia memperbagus saat mengkafaniโ€™ (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Qatadah) Kain yang dipergunakan untuk mengkafani mayat adalah kain yang bagus, suci dan bisa menutupi semua badan mayat.

โ€ข โ€˜Kenakan pakaian dari baju yang kalian miliki yang berwarna putih, karena warna putih merupakan baju yang terbaik bagi kalian dan kafanilah orang yang meninggal dari kalian dengannnyaโ€™ (HR Imam Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Abbas) โ€ข โ€˜Apabila kalian memberi wewangian pada mayat, hendaknya kalian memberinya tiga kali olesanโ€™ (HR Imam Ahmad dan Hakim dari Jabir ra) Abu Said, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas berwasiat agar tubuhnya nanti kalau meninggal dunia diminyaki dengan kayu garu โ€ข Hendaklah kain kafan yang dipergunakan untuk mayat laki-laki tiga lapis dan untuk perepuan lima lapis.

?Berupa kain putih yang bersih dan baru, bukan berpa gamis dan bukan juga serban (dari Aisyah ra). โ€ข Untuk orang yang meninggal ketika ihram maka ia dikafani dengan pakain yang ia gunakan saat ihram, kepalanya ditutupi dan tidak perlu diberi minyak wangi karena minyak wangi merupakan larangan digunakan saat ihram. karena sesungguhnya Allah SWT akan membangkitkannya kelak di hari kiamat dalam keadaan membaca talbiah (HR Ibnu Abbas ra) โ€ข โ€˜Janganlah kalian memberi kain kafan yang mahal, karena sesungguhnya ia akan cepat rusak'(HR Abu Daud) โ€ข Bagi mayat lelaki diharamkan untuk dikafani dengan mengenakan kain sutra.

Sementara untuk mayat perempuan, dia diperbolehkan dikafani dengan kain sutra dan emas. โ€ข Jika ada seorang yang meninggal dunia dan ia memiliki harta untuk diwariskan, maka mayatnya dikafani dari harta yang ia miliki. Jika ia tidak memiliki harta, maka yang mengkafani adalah orang yang berkewajiban memberi nafkah saat masih hidup.

Jika ia juga tidak memiliki orang yang mengkafaninya maka biaya kain kafan untuknya bisa diambilkan dari Baitul Mal. Jika juga tidak memungkinkan maka kewajiban ada dipundak semua kaum muslimin. Begitu pula dengan perempuan yang meninggal dunia. C.MENYALATI JENAZAH Abu Hurairah berkata bahwasanya Rasulullah saw, bersabda: โ€œSiapa yang mengantar jenazah dan menyalatinya, maka baginya satu qirath, siapa mengantar jenazah sampai selesai (proses pemakamannya) maka baginya dua qirath.

Yang paling kecil adalah seperti gunung Uhud atau salah satu dari keduanya adalah seperti gunung Uhudโ€™ Syarat sahnya shalat jenazah: โ€“ Suci badan dari hadats kecil maupun besar โ€“ Menghadap ke arah kiblat โ€“ Menutup aurat Yang membedakan antara shalat jenazah dengan shalat fardhu adalah bahwa shalat jenazah tidak terikat dengan waktu, shalat jenazah dilakukan kapan saja saat jenazah tiba, bahkan dalam waktu yang dilarang sekalipun.

Pendapat ini diutarakan oleh Imam Abu Hanifah dan Syafiโ€™i Imam Ahmad, Ibnu Mubarak dan Ishak berpendapat bahwa melaksankan shalat jenazah saat matahari terbit, tepat berada diatas dan saat tenggelam, hukumnya makruh kecuali jika tubuh dikuatirkan akan berubah (membusuk).

Rukun Shalat Jenazah: 1. Niat Niat letaknya dalam hati. Karenanya melafalkan niat tidak disyariatkan (tidak diharuskan) 2.

Berdiri bagi yang mampu Pada saat berdiri hendaknya tangan kanan menggegam tangan kiri. 3. Takbir sebanyak empat kali Untuk shalat jenazah tidak dikenal istilah takbiratul intiqal (takbir yang menandakan perpindahan antara satu rukun shalat ke rukun yang lain) 4. Membaca Al Fatihah dengan suara lirih 5. Membaca Shalawat Rasul 6. Doa kepada mayat 7. Membaca doa setelah takbir keempat 8.

Salam Tata Cara Shalat Jenazah Tata cara dan Doa Shalat Jenazah โ€œYa Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es.

Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.โ€ Boleh juga hanya membaca : โ€œAllahummagh firlahu warhamhu waโ€™aafihi waโ€™fu anhu.โ€ 5.

Setelah takbir keempat membaca: 6. โ€œSalamโ€ kekanan dan kekiri Catatan: โ€ข Doa diatas adalah doa untuk jenazah laki laki satu, jika jenazahnya ada du orang laki laki atau perempuan, maka HU diganti dengan HUMA.

โ€ข Sedangkan untuk perempuan satu orang, diganti dengan HA. โ€ข Jika jenazahnya berjumlah hukum bagi kaum muslim untuk mengurus jenazah muslim adalah dan berkelamin pria maka diganti HUM. โ€ข Jika banyak mayit wanita maka diganti dengan HUNNA. โ€ข Untuk campuran laki laki maupun perempuan yang digabung sehingga jumlahnya banyak makabisa pakai HUM.

โ€ข Misal โ€œAllahummaghfir lahum warhamhum, waโ€™aafihi waโ€™fu โ€˜anhum โ€ฆ. โ€œ Cara Membawa Jenazah dan Berjalan Menuju Pemakaman โ€ข Hendaknya mayat diletakkan di dalam keranda. Ibnu Majah, Baihaki dan Abu Daud ath-Thailasi meriwayatkan dari Ibnu Masโ€™ud, ia berkata, โ€˜Siapa yang mengikuti jenazah, hendaknya ia ikut mengangkat pada bagian pinggir (keranda) arena hal yang sedemikian merupakan bagian dari sunnah. โ€ข Mempercepat jalan agar cepat sampai di tempat pemakaman.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw, bersabda, โ€˜Bersegeralah kalian membawa jenazah. Jika ia termasuk orang yang saleh, maka itu merupakan suatu kebaikan yang kalian persembahkan kepadanya dan jika ia temasuk orang yang buruk, maka itu termasuk keburukan yang segera kalian lepaskan dari pundak kalian.

D MENG

INI YANG AKAN TERJADI JIKA JENAZAH DIKREMASI - BUYA YAHYA




2022 www.videocon.com