Karma wasana artinya

karma wasana artinya

Kosa kata ini tidak asing lagi bagi sanatin. Kata karma merujuk kepada pengertian, suatu tindakan atau akumulasi berbagai tindakan, yang baik atau yang tidak baik, telah terjadi mengikuti jalan pikiran yang sudah dipolakan, terstruktur, sesuai dengan kadar intelektualitas orang yang bersangkutan.

Dan tindakan-tindakan yang telah terjadi, membawa konskwensi tertentu pula. Merujuk kepada uraian sederhana ini, maka semua tindakan, yang baik atau yang tidak baik, yang dilatar belakangi oleh kesadaran, memberikan stigma dalam kurun waktu yang tidak terbatas. Namun pada sisi lain, ada suatu tindakan yang tanpa didahului oleh suatu pemikiran sadarterlebih dahulu, namun tindakan itu sudah muncul, bersifat reflektoris atau bahkan yang dilakukan semasa bayi.

Pada situasi ini, maka stigma tersebut menurut saya dapat diabaikan, walau dalam kisah Bhagawan Mandawya, justru sebaliknya, semua tindakan memberikan dampak stigma. Wasana dikatakan sebagai bekas-bekas dari tindakan dan/atau pikiran yang telah dilakukannya sendiri, terlepas dari pikiran itu murni berasal dari dirinya sendiri atau merupakan produk pola pikir orang lain, namun telah direkonstruksi seolah murni hasil pemikirannya sendiri.

Merujuk penjelasan sederhana ini, karmawasana dapatlah diartikan sebagai bekas-bekas tindakan sebagai akibat produk pikiran yang sadar yang mendahuluinya. Lalu, bagaimana menemukan bekas-bekas tindakan yang dimaksudkan? “Dalam roda besar Brahman, jiwa mengembara seperti seekorangsa, memikirkan dirinya dan sang pemberi inspirasi sebagai dua entitas yang terpisah.

Manakala sang jnana hadir pada dirinya, maka dua entitas itu tidak lagi ada, dia karma wasana artinya jiwa lebur kedalam Jiwa Yang Agung. Dia kini menjadi “dia yang mencapai keabadian” demikian Brhadaranyaka Upanisad IV,4.4 mengingatkan. Pada kondisi ini, maka wasana tidak akan diketemukan lagi. Apakah kita kehilangan jejak? Kata Upanisad 11.2.1. menjelaskan: “Beberapa jiwa masuk kedalam kandungan untuk ditubuhkan, yang lain masuk kedalam obyek-obyek yang tidak bergerak, sesuai dengan perbuatannya dan pikirannya.”.

Sebelumnya Bhagawadgita juga memberikan penekanan yang senada, “manuju kepada tindakan apa yang telah dipolakan atau dipikirkan. Yang menyembah leluhur, yang menyembah semesta, yang menyembah jiwa yang agung (Aku), akan mendapatkan atau menemukan jalan untuk sampai sampai disana. Banyak basya muncul akan makna kalimat ini, namun Sarvepalli Radhakrishnan memberikan penjelasan yang amat apik untuk kalimat ini, demikian juga Karma wasana artinya.

Frase: “kedalam kandungan untuk di tubuhkan, yang lain masuk kedalam obyek-obyek tidak bergerak’’. Saya sangat meyakini, maksud kalimat ini hanya merujuk pada pengertian reinkarnasi, frase sebagai salah satu standard para sanatin dalam keimanan ( sraddha). Bagi saya, frase ini muncul oleh adanya peristiwa awal ( preliminary act) yang kita sebut dengan karma. Lalu, jiwa yang mana masuk ke mana? Kita lanjutkan kalimat terputus diatas “.sesuai dengan perbuatannya.”.

Ini lembar isian terbuka. Setiap jiwa yang ditubuhkan ulang, tidak akan pernah keliru memasuki obyek-obyek bergerak (hidup) atau obyek yang tidak bergerak (mati) yang sesuai dengan perbuatannya.

Jiwa-jiwa individu masuk ketempat-tempat itu tidak akan keliru, tidak salah arah, karena penciptanya dirinya sendiri. Artinya, hanya jiwa itu yang memasuki tempat yang spesifik untuk dirinya, bukan yang lain.

karma wasana artinya

Pergerakan menuju kearah sana hanya ada satu sebab, karma, bukan sebab lain, bukan keimanan, bukan karena mengamini suatu tradisi yang ada, namun “hanya itu”, yang sesuai dengan perbuatannya”. Ini juga berarti, dengan munculnya hal seperti ini ( one way trafic path-way), kita dibawa kepada satu pemahaman, reinkarnasi menolak adanya kehidupan kekal seperti dalam dunia fenomenal.

Reinkarnasi adalah samsara, pengulangan bentuk kehidupan setelah kematian sampai ada batas waktu tertentu yang diciptakan juga oleh dirinya sendiri. Reinkarnasi, kini sangat mashyur tidak saja pada agama-agama timur, tapi secara individual telah menarik perhatian para ekspert di luar katagori agama-agama. Mereka mencoba menemukan makna kata ini dengan berbagai cara. Banyak diantara mereka meyakini, bahwa reinkarnasi adalah rasional. Banyak bukti-bukti ilmiah yang sudah mencatat peristiwa reinkarnasi di seluruh dunia.

Karma Hal yang sama terjadi pada kosa kata karma, walau tidak sedikit yang skeptis “cape deh hidup seperti gasing, hanya demikian saja” Selalu ada silang pendapat dan wajar. Itu syah dalam ranah karma wasana artinya manakala muncul statement-statement yang berbeda. Paham yang ingin dikemukakan oleh reinkarnasi adalah: yang kekal adalah jiwa; bukan badan mated. Logikanya, reinkarnasi “memperbanyak jumlah hidup tiap orang” sampai dia dibersihkan-bersih dari dosa, menentukan secara definitif hidup terakhirnya, hidupnya yang adil.

karma wasana artinya

“ Kadyangganing dyun, mewadahning hinggu, huwus ilang hinggunya, pinahilang, kawekas ya ta ambonya, gandhanya rumaket irikang dyun" Demikian Wraspati Tattva 3-35 mengingatkan.

Ketika kemenyan dalam dyun sudah habis, aura bau tetap melekat. Inilah karmawasana. Inilah yang membawa samsara. Atas nama samsara jiwa tidak pernah keliru mau masuk ke daerah mana, sesuai dengan tindakannya. “ Yata dumadyaken ikang jadma mapalenan, hana dewayoni, hana widhyadarayoni, akibat karmawasana ini pula, maka ada penjelmaaan yang berbeda-beda; orang yang hidupnya penuh kebaikan, ada orang yang hidupnya penuh dengan dukhalara (kesengsaraan) .” demikian dilanjutkan oleh Wraspati tattva.

Dalam mitologi kematian yang berhubungan dengan karmawasana di Bali, Bhatara Yamadipati, mempunyai juru tulis, daitya yang bernama Sang Suratma, yang merekam semua tindakan semua mahluk, apakah karma baik atau karma buruk semasa hidupnya. Ini dengan sangat jelas menjelaskan makna dari karmawasana, bahwa Rta (Sang Suratma), bekerja di luar kesadaran manusia, mengalir dan tidak ada yang tidak direkam.

aum Oleh: Alm Dr. Nengah Sudana Source: Majalah Wartam, Edisi 34, Desember 2017 • DITJEN BIMAS HINDU ( Link) • WHP ( Link) • PRAJANITI ( Link) • PERADAH ( Link) • KMHDI ( Link) • ICHI ( Link) • ADHI ( Link) • PANDU NUSA ( Link) • BDDN ( Link) • PHDI Jawa Tengah ( Link) • PHDI Jawa Timur ( Link) • PHDI Sumatera Selatan ( Link) • PHDI Sulawesi Tengah ( Link) • PHDI Sulawesi Tenggara ( Link) • PHDI NTT ( Link) • PHDI Maluku ( Link ) • PHDI Banten ( Link) • Prajaniti DKI Jakarta ( Link) • Kemenag Papua ( Link) • Kemenag Bali ( Link) • Kemenag Sumsel ( Link) • Kemenag Sumut ( Link) • Kemenag Lampung ( Link) • Kemenag Kalbar ( Link) • Kemenag Kaltim ( Link) • Kemenag Kalsel ( Link) • Kemenag Sulbar ( Link) • Kemenag Sulsel ( Link) • Kemenag Sulut ( Link) • Kemenag Sulteng ( Link) • Kemenang NTT ( Link) • Bimas Hindu Sultra ( Link) • Bimas Hindu Jawa Timur ( Link) • Bimas Hindu Batam ( Link) • Wartam ( Link) • Veda Poshana Asraham ( Link) • Hindu Banten ( Link) • UNHI ( Link) • STAH DN-Jakarta ( Karma wasana artinya • Twitter PHDI ( Link) • Facebook PHDI ( Link) • Youtube PHDI ( Link) Karma wasana itulah yang menyebabkan adanya penjelmaan yang berbeda-beda, ada penjelmaan dewa ( roh suci), ada penjelmaan widyadara ( roh yang bijaksana), ada penjelmaan raksasa (yang angkara murka), ada penjelmaan daitya (yang keras hati), adapula penjelmaan naga (roh yang suka berbelit-belit seperti ular), dan banyak lagi benih-benih penjelmaan atau karma wasana (yoni), karena itulah masing-masing mahluk memiliki sifat yang berbeda-beda.

• Arthi Mantra (3) • banten (4) • Dewanagari (2) • Durga Mantra (7) • Ganesh Ganapataye Mantra (1) • Ganesh Stuti (1) • Gayatri Mantra (5) • japa mala (6) • Maha Laksmi Astakam (4) • mahalaksmi mantra (9) • Mahalaksmy Gayatri Mantra (9) • Mantra (36) • manusia yadnya (3) • Om Nama Sivaya (6) • Perayaan-Perayaan Umat Hindu (4) • pura di bali (9) • Rerainan (11) • saraswati mantra (1) • sejarah hindu (4) • Sree Durga Stuti (9)
• Afrikaans • Alemannisch • العربية • Asturianu • Azərbaycanca • Беларуская • Български • भोजपुरी • Català • کوردی • Čeština • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Føroyskt • Français • Frysk • Galego • Hausa • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Íslenska • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Кыргызча • Latina • Lëtzebuergesch • Lietuvių • Latviešu • मैथिली • Мокшень • Македонски • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • नेपाली • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • Português • Română • Русский • Scots • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • ไทย • ትግርኛ • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Тыва дыл • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • 中文 • 粵語 Untuk kegunaan lain, lihat Karma (disambiguasi).

Karma ( bahasa Sanskerta: कर्म Karma.ogg ( bantuan· info)), karma, ( Karman ;"bertindak, tindakan, kinerja" [1]); ( Pali: kamma) adalah konsep "aksi" atau "perbuatan" yang dalam agama Hindu dan agama Buddha dipahami sebagai sesuatu yang menyebabkan seluruh siklus kausalitas (yaitu, siklus yang disebut " samsara"). Konsep ini berasal dari India kuno dan dijaga kelestariannya di filsafat Hindu, Jain, Sikh dan Buddhisme. [2] Dalam konsep "karma", semua yang dialami manusia adalah hasil dari tindakan kehidupan masa lalu dan sekarang.

Efek karma dari semua perbuatan dipandang sebagai aktif membentuk masa lalu, sekarang, dan pengalaman masa depan. Hasil atau 'buah' dari tindakan disebut karmaphala. [3] Karena pengertian karma [4] adalah pengumpulan efek-efek (akibat) tindakan/perilaku/sikap dari kehidupan yang lampau dan yang menentukan nasib saat ini, maka karma berkaitan erat dengan kelahiran kembali ( reinkarnasi).

Segala tindakan/perilaku/sikap baik maupun buruk seseorang saat ini juga akan membentuk karma seseorang di kehidupan berikutnya. Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ yang netral n-batang, nominatif karma; कर्म; dari akar √ krberarti "untuk melakukan, membuat, melakukan, capai, sebab, efek, menyiapkan, melakukan" • ^ The Manual of Life - Karma, Parvesh Singla, section 1.

books.google.com • ^ A Dictionary of Some Theosophical Terms, Powis Hoult, 1910, hal.67. • ^ 'Sikap dan Pandangan Islam Terhadap Hukum Karma' Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Karma dalam agama Buddha • Dharma • Brahmanisme • Agama Buddha • Agama Hindu • Hukum Karma • Kitab Hukum Karma • Konsekuensi hukum • Konsekuensi sosial • Konsekuensi logis Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • Karma wasana artinya ini terakhir diubah pada 13 September 2021, pukul 10.14.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • BALI EXPRESS, DENPASAR – Banyak orang karma wasana artinya mengaitkan banyak hal dan kejadian dengan Karma Phala.

Namun, masih banyak yang tak tahu makna dan filosofi, juga dasar sastranya. Karma Phala terdiri dari dua kata, yaitu karma dan phala. Karma artinya perbuatan, sedangkan phala artinya buah atau hasil perbuatan. Jadi, Karma Phala adalah hasil dari perbuatan seseorang. “Hasil perbuatan tergantung perbuatan apa yang telah kita lakukan selama hidup. Perbuatan baik disebut Subhakarma dan perbuatan jahat adalah Asubhakarma, yang sangat bergatung pada siklus Rwabhineda,” papar Ida Mpu Yogi Swara kepada Bali Express (Jawa Pos Group ) ketika berkunjung ke kediamannya, Griya Uma Jati, Denpasar.

Ia menjelaskan, secara umum bahwa perbuatan yang baik yang disebut Subhakarma kriterianya adalah segala bentuk tingkah laku yang dibenarkan oleh ajaran agama yang dapat menuntun manusia ke dalam hidup yang sempurna, bahagia lahir batin, dan menuju kepada persatuan Stman. “Dalam ajaran agama Hindu dijelaskan dasar pilar ajarannya adalah Panca Srada, aturan bakunya adalah Rwabhineda, dan hukum pastinya adalah Karma Phala. Apapun yang kita lakukan di dunia pasti akan terikat dan terkait dengan semua hal itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, dari beberapa tingkah laku yang baik, ada beberapa ketentuan yang merupakan jabaran daripada pelaksanaan Subhakarma yang disebut tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berpikir yang bersih dan suci, berkata yang benar dan berbuat yang jujur. “Dalam implementasi Karma Phala di dunia nyata, ada tiga hal yang sangat memengaruhi manusia, yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ketiga hal itulah yang seharusnya disucikan dahulu,” terangnya.

Ida Mpu Yogi menjelaskan, perbuatan buruk ( Asubhakarma) adalah segala bentuk tingkah laku yang menyimpang dan bertentangan dengan Subhakarma.

Asubhakarma ini merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu segala bentuk perbuatan yang selalu bertentangan dengan susila atau dharma (kebenaran), juga selalu cenderung mengarah kepada kejahatan. Semua jenis perbuatan yang tergolong Karma wasana artinya merupakan larangan-larangan yang harus dihindari dalam hidup, karena semua bentuk perbuatan Asubhakarma ini menyebabkan manusia berdosa dan hidup menderita. Lantas, apa kaitannya Subhakarma dan Asubhakarma dengan Karma Phala? “Jelas sangat erat kaitannya.

Karma Phala berjalan sesuai perbuatan yang dilakukan manusia. Jika manusia melakukan Subhakarma, maka hasil yang akan diterima adalah baik. Jika Asubhakarma, maka yang diterima tentu jelek dan karma wasana artinya dengan perbuatannya,” terangnya.

Menurutnya, hukum Karma Phala akan selalu mengikuti manusia, di mana pun dan kapan pun. Seluruh makhluk hidup tidak akan bisa lepas dari lingkaran Karma Phala.

Semua itu tujuannya untuk mencapai kesempurnaan serta kebahagiaan lahir batin, melenyapkan penderitaan, meninggalkan alam Neraka dan selanjutnya menuju ke alam Surga.

Lantas, bagaimana caranya untuk mencapai tujuan tersebut? Ayah satu orang putra ini menjelaskan banyak cara manusia agar karma wasana artinya mencapai tujuan tersebut, seperti berpegang teguh pada dharma (kebenaran), melebur Asubhakarma (perbuatan buruk) dan menjadi Subhakarma (perbuatan baik). “Tujuan tertinggi dari hukum Karma Phala ialah untuk mencapai moksa, yakni bersatunya Atman dengan Brahman, di mana karma wasana artinya telah mencapai kesempurnaan hidup berupa kesucian batin, laksana dan budi pekerti yang luhur sesama manusia.

Diharapkan manusia menjadi Jagadhita,” ujarnya. Dalam kitab Bhagawadgita juga dijelaskan, hukum Karma Phala menjadikan manusia mengerti akan arti sebab akibat.

Jika telah mencapai hasil yang baik dari perbuatan Subhakarma, maka akan memberi ketentraman rohani, sumber kebahagian yang abadi, sukha tanpa walidhuka, yang tiada didasarkan atas terpenuhinya nafsu duniawi, memberi kesucian dan menyebabkan roh bebas dari penjelmaan, serta merasakan manunggal dengan Tuhan, yang disebut Moksa.

Hal itu juga dijelaskan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 2 yang menjelaskan: Manusah sarvabhatesu Vartate vai cabhacubha Acbubhesu samavistam Cubhesveva vakarayet. Artinya: Dari demikian banyaknya makhluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu sama saja yang dapat melakukan perbuatan baik dan buruk itu : adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, juga manfaatnya jadi manusia.

Hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas, ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan dan ada yang abstrak. Oleh karena itu, lanjutnya, hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang, maka akan ia terima setelah di akhirat kelak dan ada kalanya pula akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang.

” Maka dari itu, Karma Phala dapat digolongkan menjadi tiga macam sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya, yaitu Sancita Karma Phala, Prarabda Karma Phala, dan Kriyamana Karma Phala,” ujarnya. Ida Mpu Yogi menjelaskan, Sancita Karma Phala adalah hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang.

Prarabda Karma Phala adalah hasil perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi. “Jadi, perbuatan baik dan buruk dalam Prarabda Karma Phala dikatakan seimbang dan telah mendapat pahala atau hasil perbuatannya,” terangnya. Sedangkan Kriyamana Karma Phala adalah hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Jadi, perbuatan yang pernah kita lakukan, tapi belum sempat mendapat balasan atau pahala, maka akan diterima pada kehidupan yang akan datang.

Dicontohkannya, seseorang melakukan perbuatan baik, tapi pada kehidupan ini belum mendapat balasan. Maka kehidupan yang akan datang mendapatkan pahala kebahagiaan. Ia menegaskan, dalam Veda karma wasana artinya Tattwa 3) dinyatakan sebagai berikut : Wasana artinya bahwa semua perbuatan yang dilakukan di dunia ini. Orang akan menyerap akibat perbuatannya di alam lain, pada kelahiran nanti, apakah pada akhirnya semuanya itu akan menghasilkan buah.

” Jadi, semua perbuatan kita di dunia, baik dan buruk pasti ada balasannya. Makanya, kita hidup di dunia jangan terlalu terlena. Berbuat baiklah mulai dari hal paling sederhana dan kecil, sebab Karma Phala tidak menunggu kita kaya dulu untuk bisa berbuat baik,” tandasnya.

BALI EXPRESS, DENPASAR – Banyak orang selalu mengaitkan banyak hal dan kejadian dengan Karma Phala. Namun, masih banyak yang tak tahu makna dan filosofi, juga dasar sastranya. Karma Phala terdiri dari dua kata, yaitu karma dan phala.

Karma artinya perbuatan, sedangkan phala artinya buah atau hasil perbuatan. Jadi, Karma Phala adalah hasil dari perbuatan seseorang. “Hasil perbuatan tergantung perbuatan apa yang telah kita lakukan selama hidup. Perbuatan baik disebut Subhakarma dan perbuatan jahat adalah Karma wasana artinya, yang sangat bergatung pada siklus Rwabhineda,” papar Ida Mpu Yogi Swara kepada Bali Express (Jawa Pos Group ) ketika berkunjung ke kediamannya, Griya Uma Jati, Denpasar.

Ia menjelaskan, secara umum bahwa perbuatan yang baik yang disebut Subhakarma kriterianya adalah segala bentuk tingkah laku yang dibenarkan oleh ajaran agama yang dapat menuntun manusia ke dalam hidup yang sempurna, bahagia lahir batin, dan menuju kepada persatuan Stman.

“Dalam ajaran agama Hindu dijelaskan dasar pilar ajarannya adalah Panca Srada, aturan bakunya adalah Rwabhineda, dan hukum pastinya adalah Karma Phala. Apapun yang kita lakukan di dunia pasti akan terikat dan terkait dengan semua hal itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, dari beberapa tingkah laku yang baik, ada beberapa ketentuan yang merupakan jabaran daripada pelaksanaan Subhakarma yang disebut tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berpikir yang bersih dan suci, berkata yang benar dan berbuat yang jujur. “Dalam implementasi Karma Phala di dunia nyata, ada tiga hal yang sangat memengaruhi manusia, yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Ketiga hal itulah yang seharusnya disucikan dahulu,” terangnya. Ida Mpu Yogi menjelaskan, perbuatan buruk ( Asubhakarma) adalah segala bentuk tingkah laku yang menyimpang dan bertentangan dengan Subhakarma.

Asubhakarma ini merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu segala bentuk perbuatan yang selalu bertentangan dengan susila atau dharma (kebenaran), juga selalu cenderung mengarah kepada kejahatan.

Semua jenis perbuatan yang tergolong Asubhakarma merupakan larangan-larangan yang harus dihindari dalam hidup, karena semua bentuk perbuatan Asubhakarma ini menyebabkan manusia berdosa dan hidup menderita. Lantas, apa kaitannya Subhakarma dan Asubhakarma dengan Karma Phala? “Jelas sangat erat kaitannya. Karma Phala berjalan sesuai perbuatan yang dilakukan manusia. Jika manusia melakukan Subhakarma, maka hasil yang akan diterima adalah baik. Jika Asubhakarma, maka yang diterima tentu jelek dan sebanding dengan perbuatannya,” karma wasana artinya.

Menurutnya, hukum Karma Phala akan selalu mengikuti manusia, di mana pun dan kapan pun. Seluruh makhluk karma wasana artinya tidak akan bisa lepas dari lingkaran Karma Phala. Semua itu tujuannya untuk mencapai kesempurnaan serta kebahagiaan lahir batin, melenyapkan penderitaan, meninggalkan alam Neraka dan selanjutnya menuju ke alam Surga.

Lantas, bagaimana caranya untuk mencapai tujuan tersebut? Ayah satu orang putra ini menjelaskan banyak cara manusia agar dapat mencapai tujuan tersebut, seperti berpegang teguh pada dharma (kebenaran), melebur Asubhakarma (perbuatan buruk) dan menjadi Subhakarma (perbuatan baik).

“Tujuan tertinggi dari hukum Karma Phala ialah untuk mencapai moksa, yakni bersatunya Atman dengan Brahman, di mana manusia telah mencapai kesempurnaan hidup berupa kesucian batin, laksana dan budi pekerti yang luhur sesama manusia.

Diharapkan manusia menjadi Jagadhita,” ujarnya. Dalam kitab Bhagawadgita juga dijelaskan, hukum Karma Phala menjadikan manusia mengerti akan arti sebab akibat. Jika telah mencapai hasil yang baik dari perbuatan Subhakarma, maka akan memberi ketentraman rohani, sumber kebahagian yang abadi, sukha tanpa walidhuka, yang tiada didasarkan atas terpenuhinya nafsu duniawi, memberi kesucian dan menyebabkan roh bebas dari penjelmaan, serta merasakan manunggal dengan Tuhan, yang disebut Moksa.

Hal itu juga dijelaskan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 2 yang menjelaskan: Manusah sarvabhatesu Vartate vai cabhacubha Acbubhesu samavistam Cubhesveva vakarayet. Artinya: Dari demikian banyaknya makhluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai karma wasana artinya itu sama saja yang dapat karma wasana artinya perbuatan baik dan buruk itu : adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, juga manfaatnya jadi manusia.

Hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas, ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan dan ada yang abstrak. Oleh karena itu, lanjutnya, hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang, maka akan ia terima setelah di akhirat kelak dan ada kalanya pula akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang.

” Maka dari itu, Karma Phala dapat digolongkan menjadi tiga macam sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya, yaitu Sancita Karma Phala, Prarabda Karma Phala, dan Kriyamana Karma Phala,” ujarnya. Ida Mpu Yogi menjelaskan, Sancita Karma Phala adalah hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang. Prarabda Karma Phala adalah hasil perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi.

“Jadi, perbuatan baik dan buruk dalam Prarabda Karma Phala dikatakan seimbang dan telah mendapat pahala atau hasil perbuatannya,” terangnya.

karma wasana artinya

Sedangkan Kriyamana Karma Phala adalah hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Jadi, perbuatan yang pernah kita lakukan, tapi belum sempat mendapat balasan atau pahala, maka akan diterima pada kehidupan yang akan datang. Dicontohkannya, seseorang melakukan perbuatan baik, tapi pada kehidupan ini belum mendapat balasan.

Maka kehidupan yang akan datang mendapatkan pahala kebahagiaan.

karma wasana artinya

Ia menegaskan, dalam Veda (Wrhaspati Tattwa 3) dinyatakan sebagai berikut : Wasana artinya bahwa semua perbuatan yang dilakukan di dunia ini. Orang akan menyerap akibat perbuatannya di alam lain, pada kelahiran nanti, apakah pada akhirnya semuanya itu akan menghasilkan buah. ” Jadi, semua perbuatan kita di dunia, baik dan buruk pasti ada balasannya.

Makanya, kita hidup di dunia jangan terlalu terlena. Berbuat baiklah mulai dari hal paling sederhana dan kecil, sebab Karma Phala tidak menunggu kita kaya dulu untuk bisa berbuat baik,” tandasnya.
Hukum karma phala dan punarbawa A.

PENGERTIAN HUKUM KARMA PHALA Karma Phala berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Karma dan Phala. Karma berasal dari akar kata “ Kr “ yang artinya membuat, bekerja, menciptakan, membangun, melakukan pekerjaan. Sedangkan kata “ Phala “ artinya hasil. Jadi, Karma Phala artinya hasil perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Dalam kitab BhagawadgitaKarma dibagi dua yaitu Subha Karma ( perbuatan baik ) dan Asubha Karma ( perbuatan tidak baik ).

Perbuatan yang tidak baik dibedakan lagi menjadi Akarma ( tidak berbuat ) dan Wikarma ( perbuatan yang keliru ). B. MACAM KARMA Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga karma wasana artinya yaitu : 1) Sanchita Karma Phala, adalah hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang. 2) Prarabdha Karma Phala, adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini tanpa karma wasana artinya sisanya lagi.

3) Kryamana Karma Phala, adalah hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.

Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. Tegasnya, bahwa cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala hasil perbuatan itu pasti akan diterima, karena hal itu sudah merupakan hukum perbuatan.

karma wasana artinya

Di dalam Weda (Wrhaspati Tatwa 3), dinyatakan sebagai berikut: “Wasana artinya bahwa semua perbuatan yang telah dilakukan didunia ini. Orang akan mengecap akibat perbuatannya di alam lain, pada kelahiran nanti; apakah akibat itu akibat yang baik atau yang buruk. Apa saja perbuatan yang dilakukannya, pada akhirnya kesemuanya itu akan menghasilkan buah.

Hal ini adalah seperti periuk yang diisikan kemenyan, walaupun kemenyannya sudah habis dan periuknya dicuci bersih-bersih namun tetap saja masih ada bau, bau kemenyan yang melekat pada periuk itu. Inilah yang disebut wasana.

karma wasana artinya

Seperti juga halnya dengan karma wasana. Ia ada pada Atman. Ia melekat pada-Nya. Ia mewarnai Atman.” C. PROSES BERLAKUNYA KARMA PHALA Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana),kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karma wasana seseorang.

D. WUJUD KARMA PHALA Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu karma wasana artinya fisik dan psikis (batin).

Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contohnya, jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan, suatu saat ketika ia terjatuh di jalan aka nada oramg lain yang menolongnya.

Seseorang yang menerima karma phala baik berwujud fisik maupun psikis akan mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak dan apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contohnya, uang hasil judi. Dari segi fisik tentu menyenangkan, tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi, maka kekesalan dan kemarahannya akan dilimpahkan kepada orang lain, seperti anak atau istrinya.

Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karma phala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima tersebut justru menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk.

E. DAMPAK KARMA BAGI SESEORANG Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1) Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia, baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya.

2) Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. 3) Karma akan membentuk kepribadian seseorang.Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang, selalu melekat pada setiap kelahirannya.

F. PUNARBHAWA Punarbhawa atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ), menuju sorga atau karma wasana artinya.

Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa antara lain: √ “ Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak, remaja dan usia tua, demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya.

Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini.” ( Bab II, sloka 13 ) √ “ Bagaikan seseorang yang menanggalkan karma wasana artinya usang dan mengenakan pakaian lain yang baru, demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. “ ( Bab II, sloka 22 ) √ “ Bagi seseorang yang lahir, kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati, sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka.” ( Bab II, sloka 27).

Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : √ “ Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.” Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekanannya yaitu : 1) Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia.

2) Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ).Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai.

G. KESIMPULAN Karma phala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ). Karma phala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup.

Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam karma wasana artinya. Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya.

Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik. Oleh karena itu, gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman.
Untuk sinetron, lihat Karmapala. Artikel ini adalah bagian dari seri Agama Hindu Topik Sejarah • Mitologi • Kosmologi • Dewa-Dewi Keyakinan Brahman • Atman • Karmaphala • Samsara • Moksa • Ahimsa • Purushartha • Maya Filsafat Samkhya • Yoga • Mimamsa • Nyaya • Waisesika • Wedanta ( Dwaita • Adwaita • Wisistadwaita) Pustaka Weda ( Samhita • Brāhmana • Aranyaka • Upanishad) • Wedangga • Purana • Itihasa • Bhagawadgita • Manusmerti • Arthasastra • Yogasutra • Tantra Ritual Puja • Meditasi • Yoga • Bhajan • Upacara • Mantra • Murti Perayaan Dipawali • Nawaratri • Siwaratri • Holi • Janmashtami • Durgapuja • Nyepi Portal agama Hindu Ilustrasi dari proses karma phala Karmaphala atau karmapala adalah salah satu dari lima keyakinan (Panca Sradha) dari Agama Hindu serta filsafat dari agama Dharmik.

Berakar dari dua kata yaitu karma dan phala. Karma berarti "perbuatan", "aksi", dan phala berarti "buah", "hasil". Karmaphala berarti "buah dari perbuatan", baik yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan.

Karmaphala memberi optimisme kepada setiap manusia, bahkan semua makhluk hidup. Dalam ajaran ini, semua perbuatan akan mendatangkan hasil. Apapun yang kita perbuat, seperti itulah hasil yang akan kita terima. Yang menerima adalah yang berbuat, dan karma wasana artinya kepada orang lain. Karma Phala adalah sebuah Hukum kausalitas bahwa setiap perbuatan akan mendatangkan hasil.

Dalam konsep Hindu, berbuat itu terdiri atas: perbuatan melalui pikiran, perbuatan melalui perkataan, dan perbuatan melalui tingkah laku, Ketiganya lah yang akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat.Kalau perbuatannya baik, hasilnya pasti baik, demikian pula sebaliknya. Daftar isi • 1 Jenis Karma Phala • 2 Sloka • 2.1 Bhagawad Gita • 2.2 Sarasamuscaya • 3 Lihat juga • 4 Referensi Jenis Karma Phala [ sunting - sunting sumber ] Karma phala terbagi atas tiga jenis, yaitu: • Sancita Karma Phala merupakan jenis phala/hasil yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatannya di kehidupan sebelumnya.

• Prarabdha Karma Phala merupakan jenis perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini dan phalanya akan diterima pada kehidupan saat ini juga.

• Kryamana Karma Phala merupakan jenis perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini, namun phalanya akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang. Sloka [ sunting - sunting sumber ] Beberapa ayat atau sloka tentang karma: Bhagawad Gita [ sunting - sunting sumber ] “ karmany evadhikaras te ma phalesu kadacana ma karma-phala-hetur bhur ma te sango 'stv akarmani Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan.

Jangan menganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu. Bhagawad Gita (II, 47) [1] ” Sarasamuscaya [ sunting - sunting sumber ] “ Apan iking janma mangke, pagawayang subhasubhakarma juga ya, ikang ri karma wasana artinya pabhuktyan karmaphala ika, kalinganya, ikang subhasubhakarma mangke ri pena ika an kabukti phalanya, ri pegatni kabhuktyanya, mangjanma ta ya muwah, tumuta wasananing karmaphala, wasana ngaraning sangakara, turahning ambematra, ya tinutning paribhasa, swargacyuta, narakasyuta, kunang ikang subhasubhakarma ri pena, tan paphala ika, matangnyan mangke juga pengponga subha asubhakarma.

Terlahir sebagai manusia adalah kesempatan untuk melakukan perbuatan bajik dan jahat, yang hasilnya akan dinikmati di akherat. Apapun yang diperbuat dalam kehidupan ini hasilnya akan dinikmati di akherat; setelah menikmati pahala akherat, lahirlah lagi ke bumi. Di akherat tidak ada perbuatan apapun yang berpahala. Sesungguhnya hanya perbuatan di bumi inilah yang paling menentukan. Sarasamuscaya (I,7) ” Lihat juga [ sunting - sunting sumber ] • Panca Sradha Contoh dari bagian karma phala dan akarma Referensi [ sunting - sunting sumber ] • Halaman ini terakhir diubah pada 12 Oktober 2021, pukul 03.46.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •Karma Wasana Kosa kata ini tidak asing lagi bagi sanatin.

Kata karma merujuk kepada pengertian, suatu tindakan atau akumulasi berbagai tindakan, yang baik atau yang tidak baik, telah terjadi mengikuti jalan pikiran yang sudah dipolakan, terstruktur, sesuai dengan kadar intelektualitas orang yang bersangkutan. Dan tindakan-tindakan yang telah terjadi, membawa konskwensi tertentu pula. Merujuk kepada uraian sederhana ini, maka semua tindakan, yang baik atau yang tidak baik, yang dilatar belakangi oleh kesadaran, memberikan stigma dalam kurun waktu yang tidak terbatas.

Namun pada sisi lain, ada suatu tindakan yang tanpa didahului oleh suatu pemikiran sadarterlebih dahulu, namun tindakan itu sudah muncul, bersifat reflektoris atau bahkan yang dilakukan semasa bayi. Pada situasi ini, maka stigma tersebut menurut saya dapat diabaikan, walau dalam kisah Bhagawan Mandawya, justru sebaliknya, semua tindakan memberikan dampak stigma.

Wasana dikatakan sebagai bekas-bekas dari tindakan dan/atau pikiran yang telah dilakukannya sendiri, terlepas dari pikiran itu murni berasal dari dirinya sendiri atau merupakan produk pola pikir orang lain, namun telah direkonstruksi seolah murni hasil pemikirannya sendiri. Merujuk penjelasan sederhana ini, karmawasana dapatlah diartikan sebagai bekas-bekas tindakan sebagai akibat produk pikiran yang sadar yang mendahuluinya.

Lalu, bagaimana menemukan bekas-bekas tindakan yang dimaksudkan? “Dalam roda besar Brahman, jiwa mengembara seperti seekorangsa, memikirkan dirinya dan sang pemberi inspirasi sebagai dua entitas yang terpisah. Manakala sang jnana hadir pada dirinya, maka dua entitas itu tidak lagi ada, dia sang jiwa lebur kedalam Jiwa Yang Agung.

Dia kini menjadi “dia yang mencapai keabadian” demikian Brhadaranyaka Upanisad IV,4.4 mengingatkan. Pada kondisi ini, maka wasana tidak akan diketemukan lagi. Apakah kita kehilangan jejak? Kata Upanisad 11.2.1. menjelaskan: “Beberapa jiwa masuk kedalam kandungan untuk ditubuhkan, yang lain masuk kedalam obyek-obyek yang tidak bergerak, sesuai dengan perbuatannya dan pikirannya…”. Sebelumnya Bhagawadgita karma wasana artinya memberikan penekanan yang senada, “manuju kepada tindakan apa yang telah dipolakan atau dipikirkan.

Yang menyembah leluhur, yang menyembah semesta, yang menyembah jiwa yang agung (Aku), akan mendapatkan atau menemukan jalan untuk sampai sampai disana. Banyak basya muncul akan makna kalimat ini, namun Sarvepalli Radhakrishnan memberikan penjelasan yang amat apik untuk kalimat ini, demikian juga Gandhi.

Frase: “kedalam kandungan untuk di tubuhkan, yang lain masuk kedalam obyek-obyek tidak bergerak’’. Saya sangat meyakini, maksud kalimat ini hanya merujuk pada pengertian reinkarnasi, frase sebagai salah satu standard para sanatin dalam keimanan (sraddha). Bagi saya, frase ini muncul oleh adanya peristiwa awal (preliminary act) yang kita sebut dengan karma. Lalu, jiwa yang mana masuk ke mana? Kita lanjutkan kalimat terputus diatas “.sesuai dengan perbuatannya.”.

Ini lembar isian terbuka. Setiap jiwa yang ditubuhkan ulang, tidak akan pernah keliru memasuki obyek-obyek bergerak (hidup) atau obyek yang tidak bergerak (mati) yang sesuai dengan perbuatannya.

Jiwa-jiwa individu masuk ketempat-tempat itu tidak akan keliru, tidak salah arah, karena penciptanya dirinya sendiri. Artinya, hanya jiwa itu yang memasuki tempat yang spesifik untuk dirinya, bukan yang lain. Pergerakan menuju kearah sana hanya ada satu sebab, karma, bukan sebab lain, bukan keimanan, bukan karena mengamini suatu tradisi yang ada, namun “hanya itu”, yang sesuai dengan perbuatannya”.

Ini juga berarti, dengan munculnya hal seperti ini (one way trafic path-way), kita dibawa kepada satu pemahaman, reinkarnasi menolak adanya kehidupan kekal seperti dalam dunia fenomenal.

Reinkarnasi adalah samsara, pengulangan bentuk kehidupan setelah kematian sampai ada batas waktu tertentu yang diciptakan juga oleh dirinya sendiri. Reinkarnasi, kini sangat mashyur tidak saja pada agama-agama timur, tapi secara individual telah menarik perhatian para ekspert di luar katagori karma wasana artinya.

Mereka mencoba menemukan makna kata ini dengan berbagai cara. Banyak diantara mereka meyakini, bahwa reinkarnasi adalah rasional.

Banyak bukti-bukti ilmiah yang sudah mencatat peristiwa reinkarnasi di seluruh dunia. Karma Hal yang sama terjadi pada kosa kata karma, walau tidak sedikit yang skeptis “cape deh karma wasana artinya seperti gasing, hanya demikian saja” Selalu karma wasana artinya silang pendapat dan wajar.

Itu syah dalam ranah manapun manakala muncul statement-statement yang berbeda. Paham yang ingin dikemukakan oleh reinkarnasi adalah: yang kekal adalah jiwa; bukan badan mated.

karma wasana artinya

Logikanya, reinkarnasi “memperbanyak jumlah hidup tiap orang” sampai dia dibersihkan-bersih dari dosa, menentukan secara definitif hidup terakhirnya, hidupnya yang adil. “Kadyangganing dyun, mewadahning hinggu, huwus ilang hinggunya, pinahilang, kawekas ya ta ambonya, gandhanya rumaket irikang dyun” Demikian Wraspati Tattva 3-35 mengingatkan.

Ketika kemenyan dalam dyun sudah habis, aura bau tetap melekat. Inilah karmawasana. Inilah yang membawa samsara. Atas nama samsara jiwa tidak pernah keliru mau karma wasana artinya ke daerah mana, sesuai dengan tindakannya.

“Yata dumadyaken ikang jadma mapalenan, hana dewayoni, hana widhyadarayoni, akibat karmawasana ini pula, maka ada penjelmaaan yang berbeda-beda; orang yang hidupnya penuh kebaikan, ada orang yang hidupnya penuh dengan dukhalara (kesengsaraan) …” demikian dilanjutkan oleh Wraspati tattva.

Dalam mitologi kematian yang berhubungan dengan karmawasana di Bali, Bhatara Yamadipati, mempunyai juru tulis, daitya yang bernama Sang Suratma, yang merekam semua tindakan semua mahluk, apakah karma baik atau karma buruk semasa hidupnya. Ini dengan sangat jelas menjelaskan makna dari karmawasana, bahwa Rta (Sang Suratma), bekerja di luar kesadaran manusia, mengalir karma wasana artinya tidak ada yang tidak direkam.

aum Sumber: Alm Dr. Nengah Sudana GoogleImages Youtube agungsujana 2018-02-04T10:56:16+00:00 Juru Sapuh ( 250 videos, 2M views) Pada hakekatnya tujuan utama Ilmu pengetahuan khususnya kerohanian adalah mengantarkan masyarakatnya untuk dapat hidup sejahtera, tentram dan damai sepanjang waktu. Para leluhur pada Jaman dahulu telah merumuskan nilai-nilai pengetahuan karma wasana artinya yang sederhana namun kaya filosophf pada etika sosial, proses sadhana dan ritual upakara ( bhakti dan karma marga ).
Karma Wasana Karma Wasana adalah perbuatan pada masa lampau atau terdahulu seseorang yang dapat mempengaruhi kualitas kehidupan, baik buruk perilaku subha dan asubha karma dari Tri Guna seseorang yang sebagaimana disebutkan dalam sumber kutipan “Pengaruh Triguna Terhadap Tingkat Sradha Dalam Pengembangan Budhi Pekerti”, dimana untuk mencapai kalepasan dari pengaruh karma ini disebutkan yaitu : • Orang terlebih dahulu harus menunaikan tugasnya tanpa mengharapkan pahalanya.

• Selanjutnya orang harus mempelajari kitab suci weda di bawah pimpinan seorang guru pengajian yang akan memimpinnya menurut kemampuan masing-masing, • Sehingga orang akan mendapatkan pengetahuan yang benar tentang dirinya dan tentang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.

Pengetahuan ini akan melahirkan kasih kepada Tuhan. Kasih ini harus dipelihara sehingga menjadi kasih yang tiada putusnya atau menjadi pemujaan yang terus menerus atau bhakti. Akhirnya Tuhan akan menganugrahkan karunia-Nya (prasadam). Karena karunia inilah manusia di dalam permenungannya akan merealiasasikan Tuhan secara intuitip.

Karma wasana ini juga akan berpengaruh terhadap kehidupan mendatang dan kelahiran berikutnya : • Kualitas dari perbuatan pada kehidupan sebelumnya akan dapat mempengaruhi kualitas kehidupan setelah kematian sebagaimana disebutkan swargarohanaparwa sebagai renungan untuk menuju sorga. • Pengaruh terhadap kelahiran kembali atau reinkarnasi seseorang oleh Karma wasana artinya Hindu Dharma Indonesia, dalam kutipan artikel Mengukur Kwalitas Triguna dengan Karma Pala, disebutkan bahwa, • karena pada saat janin masih dalam kandungan ibu, atman sudah dibungkus dengan karma wasana dari sancita karma phala pada kehidupan terdahulu seseorang.

Semua yang kita alami, yang kita temukan/dapatkan dan kita hasilkan dalam kehidupan ini, • baik ataupun buruk, • suka maupun duka, • pintar ataupun bodoh, • kaya maupun miskin, • keberhasilan ataupun kegagalan Dan semua itu tiada lain juga disebabkan oleh Karma wasana kita sendiri, yang harus kita terima pada kehidupan sekarang ini sehingga dalam tambahan filosofis banten dapetan saat otonan disebutkan yaitu : • Hendaknya kita dapat mensyukuri atas apa yang telah kita dapati; • Dan sepatutnya disebutkan bahwa mulai sekaranglah kita juga hendaknya dapat mempersembahkan karma yang baik agar dalam kehidupan nanti kita dapat menikmati suatu kehidupan yang lebih baik pula.

Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoresi bersama jika ada tulisan/makna yang karma wasana artinya tepat. Suksma… Sumber: Karma wasana artinya Hari Raya Hindu Google Images agungsujana 2017-07-27T05:52:16+00:00 Juru Sapuh ( 250 videos, 2M views) Pada hakekatnya tujuan utama Ilmu pengetahuan khususnya kerohanian adalah mengantarkan masyarakatnya untuk dapat hidup sejahtera, tentram dan damai sepanjang waktu. Para leluhur pada Jaman dahulu telah merumuskan nilai-nilai pengetahuan ketuhanan yang sederhana namun kaya filosophf pada etika sosial, proses sadhana dan ritual upakara ( bhakti dan karma marga ).
Blogger Bali Blog Sastra & Budaya Bali • LOGIN • MENDAFTAR • Home • Krama Bali • Kidung – Geguritan • Cerita (Satua Bali) • Cerita (Panchatantra) • Kumpulan Shloka • Kumpulan Banten • Info Semeton Bali • Lontar & Tattva • Upacara & Yadnya • Adat, Budaya & Tradisi • Spiritual & Kepercayaan • Pengobatan & Usada • Sejarah & Babad • Nulis Aksara Bali • Nulis Sansekerta • Buku Spiritual • Kontak Menebar Spiritualitas Menjaga Budaya Bali OM Swastiastu Blogger Bali sebagai salah satu blog, lahir dari realitas pengalaman karma wasana artinya yang terdapat di Bali.

Di Blog Bali ini memuat berbagai kajian dimensi-dimensi spiritual, budaya dan kepercayaan bersumber dari berbagai sumber yang ditanamkan oleh leluhur orang Bali secara turun temurun, yang diderivasikan dari pemahaman dan pemaknaanya terhadap raelitas Tuhan, Manusia dan Alam.

Blogger Bali berusaha memaparkan selengkap mungkin mengenai konsep ajaran agama hindu di Bali, sebagai derivasi dari pemahaman dan pemaknaannya yang mendalam sebagai pedoman bagi generasi selanjutnya. OM Shanti, Shanti, Shanti OM Agama ageman Balian Budha Cerita Dresta Filsafat Hukum Kesadaran Keyakinan Kitab Mantra Meditasi Mitos pemangku Pendidikan Pengobatan Penyakit Penyembuhan Pikiran pinandita Pura Seni Rupa Seni Tari sesana Tantra Tattwa Tenung Tradisi Tradisional Upakara Wariga Weda Wirausaha ya Yoga • 1Tujuan Bayuh Oton • 1.1A.

Menghilangkan Derita Bawaan • 1.2B. Pembentukan Karakter Anak • 2Proses Ritual Upacara Bayuh Oton • 2.1A. Mewacak (Metenung) • 2.2B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan • 3Banten (Sarana) dan Upakara Bayuh Oton • 3.1A. Banten Bayuh Otonan Sesuai Pancawara • 3.1.1Umanis • 3.1.2Pon • 3.1.3Pahing • 3.1.4Wage • 3.1.5Kliwon • 3.2B.

Banten Bayuh Otonan Sesuai Wuku • 3.3C. Banten Bayuh Otonan Sesuai Dina (Hari) Upacara mabayuh oton merupakan salah satu upacara manusa yadnya yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari derita bawaan atau karma wasana atau dari sifat-sifat buruk yang dibawa sejak lahir.

Sebagaimana ajaran agama Hindu bahwa manusia terikat oleh hukum Karma. Keterikatan pada Karma, menyebabkan manusia mengalami samsara atau kelahiran kembali untuk menjalani hasil karma sebelumnya.

Yang dimaksud dengan “Otonan” adalah hari kelahiran bagi umat Hindu yang datang dan diperingati setiap 210 hari sekali berdasarkan perhitungan Sapta Wara, Panca Wara dan Wuku yang berbeda dengan karma wasana artinya hari ulang tahun pada umumnya yang didsarkan pada perhitungan kalender atau tahun Masehi.

Kata Otonan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang telah menjadi kosa kata bahasa Bali yang berasal dari kata “ wetu” atau “ metu” yang artinya keluar, lahir atau menjelma. Dari kata “ wetu” menjadi “ weton” dan selanjutnya berubah menjadi karma wasana artinya oton” atau “ otonan”.

Upacara ini memiliki keunikan tersendiri antarsatu daerah dan daerah lain berdasarkan konsep desa kala patra dan desa mawacara.

Upacara mebayuh oton biasanya diperingati dengan menentukan hari, umumnya dipakai adalah wewaran dan wawukon. Wewaran yang umum dipergunakan adalah dua yaitu Panca Wara yang terdiri dari Umanis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Yang kedua adalah Sapta Wara, yaitu Redite, Coma, Anggara, Budha, Wras-pati, Sukra, dan Saniscara. Sedangkan Wawukon adalah Shinta, Landep, Ukir, Kulantir, Tolu, Gum-bereg, Wariga, Warigadean, Julungwangi Sung-sang, Dungulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Kelurut, Merakih, Tambir, Medan-gkungan, Matal, Uye, Menahil, Perangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Klawu, Dukut lan Watugunung.

Umumnya menurut kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, kelahiran atau kehidupan seseorang baik mengenai perangai, tingkah laku, malang-mujur nasibnya bahkan kesehatannya akan sangat dipengaruhi oleh hari seperti lintang, dauh, ingkel serta wewaran. Tujuan Bayuh Oton Pelaksanaan mabayuh dalam agama Hindu di Bali punya maksud dan tujuan yaitu menyelamatkan manusia dari akibat keburukan hari lahir dan unsur karma phala yang buruk dan masih melekat pada diri manusia serta menyucikan pengaruh bhuta kala yang ada pada diri manusia dan selanjutnya dapat menolong hidup manusia.

karma wasana artinya

Kedua, membentuk karakter anak. Upacara bayuh oton juga diyakini dapat memperbaiki sifat buruk seseorang yang dibawa sejak lahir dengan cara melakukan pabayuhan atau membersihkan badan jasmani dan rohani. A. Menghilangkan Derita Bawaan Jika dikaji lebih dalam, kata karma merujuk kepada pengertian, suatu tindakan atau akumulasi berbagai tindakan, yang baik atau yang tidak baik, telah terjadi mengikuti jalan pikiran yang sudah dipolakan, terstruktur, sesuai dengan kadar karma wasana artinya orang yang bersangkutan.

Dan tindakan-tindakan yang telah terjadi, membawa konskwensi tertentu pula. Maka semua tindakan, yang baik atau yang tidak baik, yang dilatar belakangi oleh kesadaran, memberikan stigma dalam kurun waktu yang tidak terbatas. Namun pada sisi lain, ada suatu tindakan yang tanpa didahului oleh suatu pemikiran sadar terlebih dahulu, namun tindakan itu sudah muncul, karma wasana artinya reflektoris atau bahkan yang dilakukan semasa bayi.

Wasana dikatakan sebagai bekas-bekas dari tindakan dan/atau pikiran yang telah dilakukannya sendiri, terlepas dari pikiran itu murni berasal dari dirinya sendiri atau merupakan produk pola pikir orang lain, namun telah direkonstruksi seolah murni hasil pemikirannya sendiri. Merujuk hal ini, karma wasana dapatlah diartikan sebagai bekas-bekas tindakan sebagai akibat produk pikiran yang sadar yang mendahuluinya.

“Dalam roda besar Brahman, jiwa mengembara seperti seekor angsa, memikirkan dirinya dan sang pemberi inspirasi sebagai dua entitas yang terpisah. Manakala sang jnana hadir pada dirinya, maka dua entitas itu tidak lagi ada, dia sang jiwa lebur kedalam Jiwa Yang Agung. Dia kini menjadi “dia yang mencapai keabadian”. Brhadaranyaka Upanisad IV,4.4 mengingatkan. Pada kondisi ini, maka wasana tidak akan diketemukan lagi.

Kata Upanisad 11.2.1. menjelaskan: Beberapa jiwa masuk kedalam kandungan untuk ditubuhkan, yang lain masuk kedalam obyek-obyek yang tidak bergerak, sesuai dengan perbuatannya dan pikirannya…”. Setiap jiwa yang ditubuhkan ulang, tidak akan pernah keliru memasuki obyek-obyek bergerak (hidup) karma wasana artinya obyek yang tidak bergerak (mati) yang sesuai dengan perbuatannya.

Jiwa-jiwa individu masuk ketempat-tempat itu tidak akan keliru, tidak salah arah, karena penciptanya dirinya sendiri.

Artinya, hanya jiwa itu yang memasuki tempat yang spesifik untuk dirinya, bukan yang lain. Pergerakan menuju kearah sana hanya ada satu sebab, karma, bukan sebab lain, bukan keimanan, bukan karena mengamini suatu tradisi yang ada, namun “hanya itu”, yang sesuai dengan perbuatannya”.

Ini juga berarti, dengan munculnya hal seperti ini (one way trafic path-way), kita dibawa kepada satu pemahaman, reinkarnasi menolak adanya kehidupan kekal seperti dalam dunia fenomenal. Reinkarnasi adalah samsara, pengulangan bentuk kehidupan setelah kematian sampai ada batas waktu tertentu yang diciptakan juga oleh dirinya sendiri. Paham yang ingin dikemukakan oleh reinkarnasi adalah: yang kekal adalah jiwa; bukan badan mated.

Logikanya, reinkarnasi “ memperbanyak jumlah hidup tiap orang” sampai dia dibersihkan-bersih dari dosa, menentukan secara definitif hidup terakhirnya, hidupnya yang adil. “Kadyangganing dyun, mewadahning hinggu, huwus ilang hinggunya, pinahilang, kawekas ya ta ambonya, gandhanya rumaket irikang dyun” Wraspati Tattva 3-35.

Ketika kemenyan dalam dyun sudah habis, aura bau tetap melekat. Inilah karmawasana. Inilah yang membawa samsara. Atas nama samsara, jiwa tidak pernah keliru mau masuk ke daerah mana, sesuai dengan tindakannya. “Yata dumadyaken ikang jadma mapalenan, hana dewayoni, hana widhyadarayoni, akibat karmawasana ini pula, maka ada penjelmaaan yang berbeda-beda; orang yang hidupnya penuh kebaikan, ada orang yang hidupnya penuh dengan dukhalara (kesengsaraan) …” demikian dilanjutkan oleh Wraspati tattva.

Dalam mitologi kematian yang berhubungan dengan karmawasana di Bali, Bhatara Yamadipati, mempunyai juru tulis, daitya yang bernama Sang Suratma, yang merekam semua tindakan semua mahluk, apakah karma baik atau karma buruk semasa hidupnya.

Ini dengan sangat jelas menjelaskan makna dari karma wasana, bahwa Rta (Sang Suratma), bekerja di luar kesadaran manusia, mengalir dan tidak ada yang tidak direkam. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa karma wesana memiliki karma wasana artinya dengan derita bawaan. Setiap manusia yang lahir ke dunia diyakini memiliki karma masa lalu – entah itu yang baik maupun buruk – yang akan dinikmati pada kelahiran selanjutnya.

Apabila karma masa lalu buruk, maka berdampak pada karma buruk yang juga akan ditemukan pada kelahiran selanjutnya. Begitu juga dengan derita bawaan. Maka dari itu, derita bawaan yang lebih pada dunia bathin dan fisik ini harus dihilangkan dengan melaksanakan upacara ritual, salah satunya adalah Bayuh Oton. Upacara mabayuh agung dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan upakara yang dipergunakan, ini didasari disamping perbedaan wewaran, wuku dan ingkel.

Karena masing-masing punya ukuran pemayuh, tetapi perbedaan umur ini didasari oleh perbedaan unsur bhuta kala atau kekuatan yang dapat menganggu kehidupan manusia, sebab manusia dalam kandungan atau mulai tercipta sudah diikuti oleh saudara empat yang disebut dengan Sang Catur Sanak.

karma wasana artinya

Sang Catur ini akan berubah nama dan kekuatannya sesuai dengan unsur atau perkembangan manusia seperti diceritakan pada waktu masih dalam kandungan manusia di mana terjadi sebagai berikut : Malih banten katuring bhatara nuruning ipun Sang Hyang Kama Ratih, Sang Hyang Kama Jaya. maleh matebus, ma, ih pukulun paduka nira Sang Hyang Suntagi Manik, Sang Hyang Kemik Tuwuh, Sang Hyang Panungguh Urip, sira angamong atas bayune syabu.

Malih dimarane lekad, mategesin Sang Rare, adahang pejati ring Sang Ibu Pertiwi”. “Dilekade rare, punika ajake patpat, yeh nyom, getih, ari-ari luwu, lalima ring Sang Rare, punika ngawenang, reged Sang Rare, punika bersihin sami, ika gawehang banten tunasang ring Dewa, idihang ring manusa, apang ya bersih, ane nganteb banten, apang periksa ngarad kalane, ari-ari, yah nyom, getih, luwune. Artinya Lagi pula upakara diberikan kepada Bhatara yang menjadikan ia manusia, terdiri dari Sang Hyang Kama Ratih, Sang Hyang Kama jaya.

Lagi pula memberikan upah, kepada Paduka Sang Hyang Suntagi Manik, Sang Hyang Kemik Tuwuh, Sang Hyang Penunggun Urip, yaitu yang memegang atma tenaganya si A, Lagi pula ketika lahir, berpesan sang bayi supaya dibuatkan pejati, untuk Sang Ibu Pertiwi.

Pada waktu lahirnya si bayi ikut empat saudaranya yaitu : yeh nyom (merupakan cairan yang melindungi si bayi terhadap sentuhan dari luar). Darah yang mengedarkan sari makanan pada si bayi dan lain-lainnya, ari-ari merupakan tempat melekatnya tali pusar untuk menyerap makanan selama bayi dalam kandungan dan lamad yaitu merupakan lemak yang membungkus jasmani si bayi.

Lama banyaknya dengan sang bayi, itulah yang menyebabkan sakit si bayi, itulah yang dibersihkan semua, dengan membuatkan banten, dimintakan kepada Dewa, dimintakan kepada manusia, supaya bisa ngarad (narik) godaan-godaan yang dikeluarkan oleh ari-ari, lamad, darah dan yeh nyom. Berdasarkana kutipan di atas : manusia terjadi dari kama jaya dan kama ratih. Pertemuan kama jaya dan kama ratih maka menimbulkan kama sunya (Atas).

Pada karma wasana artinya lahirnya manusia dari dalam perut yang diikuti oleh saudaranya yang banyaknya empat itu : ari-ari, lamad, darah dan yeh nyom, maka bayi berpesan atau berjanji kepada Sang Hyang Ibu Pertiwi dan kepada Sang Hyang Akasa memberitahukan bahwa sang bayi beserta saudaranya empat ( Kanda Pat), disuruh menerima dan menjaga keselamatannya, supaya panjang umur, sang bayi itu berjanji memberi karma wasana artinya pejati.

karma wasana artinya

Di samping itu timbulnya penyakit di dalam diri manusia disebabkan oleh saudara empat ini, jika manusia tidak ingat kepada-Nya, dalam arti yang empat itu hendaknya dikembalikan kepada asalnya dengan cara membuat upacara, karma wasana artinya kepada Dewa-dewa supaya saudaranya bersih, sehingga yang memberikan penyakit tidak terjadi.

Manusia hidup di dunia ini tidak begitu lama, setelah mati ia bertemu lagi dengan saudara empatnya. Di sana ia menerima hasil perbuatannya pada waktu hidupnya di dunia, entah itu baik atau buruk tergantung dari karmanya yang diperbuat semasa hidup.

Manusia lahir ke dunia ini serba terbatas adanya, baik itu cara berpikir, berbuat dan tindakannya, maka manusia tidak bisa lepas dari perbuatan baik maupun buruk yang akan diterima hasilnya nanti, seorang yang berjasa dalam melakukan amal soleh atau kebajikan yang suci akan dapat mencapai Tuhan (sorga) dan apabila ia sering berbuat kurang baik atau Adharma maka ia akan menerima pahala yang jelek pula.

Manusia tidak bisa ingkar dari hasil perbuatannya entah itu baik maupun buruk, Tuhan maha adil artinya tidak pilih kasih dalam menjatuhkan hukuman, atma yang banyak membawa karma kurang baik, maka digambarkan hidup di neraka, di sana atma diberi hukuman sesuai dengan karmanya atau mendapat pahala sesuai dengan karmanya, penjelmaan manusia dari alam neraka sangat nista, disini terjadi siklus atma entah karma wasana artinya semakin baik maupun buruk tergantung dari karmanya.

Demikianlah ke-neraka-an yang dialami oleh atma yang selalu berbuat jahat, dan memberikan atma yang melakukan subha karma, pengaruh karma itulah yang menentukan corak nilai dari pada watak manusia. Bermacam-macam jenisnya dan tidak terhitung banyaknya watak manusia beraneka ragam macamnya, karma yang baik menciptakan watak yang baik dan karma yang buruk menciptakan watak yang buruk sehingga dapat menjadikan manusia hidup menderita.

Janji yang diucapkan merupakan suatu hutang, hutang ini harus dibayar. Hutang yang dibawa oleh atma dapat berpengaruh terhadap hari kelahiran manusia di dunia ini, di mana hari-hari atau wewaran dan wuku dapat mempengaruhi hidup manusia, tetapi umat Hindu meyakini hal itu dapat dibayuh dengan upakara tertentu.

Dengan upacara mabayuh diharapkan hidup manusia dapat diselamati dari berbagai bahaya atau rintangan, akibat kelahiran seperti : sakit-sakitan, pikiran kacau (gila), gagal dalam suatu usaha dan kematian. B. Pembentukan Karakter Karma wasana artinya Dalam agama Hindu, pembentukan karakter anak sebenarnya sudah dilakukan sejak dini. Itu sudah dimulai ketika ibu dan bapak mengadakan senggama yang harus dilakukan dengan tujuan mendapat anak yang baik. Artinya, upacara ini dimaksudkan sebagai upaya penyempurnaan terhadap diri manusia secara spiritual, niskala.

Pembentukan sikap, watak, dan karakter anak dapat ditempuh melalui banyak hal salah satunya ada upacara otonan. Di Bali kelahiran atau kehidupan seseorang baik mengenai perangai, tingkah laku, malang-mujur nasibnya bahkan kesehatannya akan sangat dipengaruhi oleh hari seperti lintang, dauh, ingkel serta wewaran. Apabila seorang anak memahami atau mengetahui karakteristik prilaku dan sifat bawaaan sejak lahir, maka mereka memiliki peluang untuk memperbaiki sikap dan karakter tersebut.

Selain itu, digelarnya upacara bayuh oton juga dapat membentuk karakter-karakter yang baik untuk anak. Karma wasana artinya tidak langsung di sana ada internalisasi nilai-nilai religius dalam diri anak. Apalagi sebelum pelaksanaan upacara bayuh agung, si anak akan melalui proses mewacakan terlebih dahulu, setelah itu baru meoton.

3 Kekuatan Karma Phala




2022 www.videocon.com