Gunung penanggungan

gunung penanggungan

Mount Penanggungan (Indonesia) Show map of Indonesia Geology Age of rock Holocene Mountain type Stratovolcano Last eruption Unknown Mount Penanggungan is a small stratovolcano, immediately north of Arjuno- Welirang volcanic complex in East Java province, Java island, Indonesia.

Mount Penanggungan is about 40 kilometers (24.8 mi) south of Surabaya, and can be seen from there on a clear day.

Several Hindu- Buddhist sanctuaries, sacred places and monuments are on the mountain dating from AD 977–1511. Lava flows and pyroclastic deposits are around the volcano. [1] See also [ edit ] Edit links • This page was last edited on 24 June 2021, at 05:13 (UTC). • Text is available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License 3.0 ; additional terms may apply. By using this site, you agree to the Terms of Use and Privacy Policy.

Wikipedia® is a registered trademark of the Wikimedia Foundation, Inc., a non-profit organization. • Privacy policy • About Wikipedia • Disclaimers • Contact Wikipedia • Mobile view • Developers • Statistics • Cookie statement • • Gunung penanggungan Penanggungan (ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Jawa Timur, Indonesia.

Disekeliling gunung penanggungan terdapat bukit-bukit disekitarnya yaitu, Bukit Bekel (1238 m), Gajah Mungkur (1084 m), Sarah Klopo (1235 m), dan Kemuncup (1238 m). Terdapat banyak misteri di Gunung Suci ini, antara lain misteri jalan melingkar hingga sampai ke puncak gunung, misteri altar di puncaknya dan misteri bangunan tersembunyi di Gunung Penanggungan yang menggambarkan pakem kraton asli Gunung penanggungan. Letak gunung penanggungan berada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Gunung penanggungan.

Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Catatan tentang gunung penanggungan dari blog alifiasuharto.blogspot.com Tampak hampir tidak ada yang istimewa kalau kita melihat gunung ini seperti tampak dalam photo disamping. Tak ubahnya gunung-gunung yang lain yang ada di gunung penanggungan kita Indonesia ini atau bahkan dika wasan asia tenggara. Tapi kalau kita benar-benar mengamati ada keunikan tersendiri dari gunung ini yaitu bentuknya yang hampir kerucut sempurna bagaikan nasi tumpeng.

Bila kita menempuh perjalanan dari Surabaya ke Malang maupun ke Pasuruhan, Probolinggo hingga Baliapabila cuaca tidak berkabut bila telah sampai dkawasan Poronganda akan langsung dapat melihat gunung ini disebelah kanan anda dan akan terus menemani anda hingga Pandaan bila anda menuju ke arah Malang dan hingga Pasuruhan apabila anda menuju ka arah Probolinggo.

Dan apabila kita amati terus menerus selama perjalanan anda bentuk gunung tersebut hampir tidak akan berubah. Padahal apabila anda masih berada di Sidoarjo ataupun Porong posisi anda berada disebelah Utara dari gunung ini dan bila anda sampai di jalan raya Gempol arah ke Pandaan untuk anda yang mau ke Malang dan Gempol arah ke Pasuruhan maka posisi anda sudah berada di sebelah Timur dari gunung ini. Daftar Isi • gunung penanggungan Kraton Majapahit • 2 Misteri Pendaki Gunung Penanggungan • 3 Misteri Altar Kuno di Puncak Penanggungan • 4 Gunung Penanggungan Sebagai Cagar Budaya Kajian yang dilakukan Turangga Seta mengindikasikan bahwa gunung penanggungan adalah area kraton Mojopoit/Majapahit yang ditimbun.

Konfigurasi kraton Mojopoit itu menyerupai Musium Purna Bhakti Pertiwi yang terdapat di Taman Mini Indonesia Indah(TMII). Salah satu adalah sebuah upaya dari leluhur untuk mengingatkan akan adanya bangunan berbentuk menara babelan adalah melalui tradisi tumpengan yang masih dikenal dan dijalankan hingga saat ini. Musium Purna Bhakti Pertiwi gunung penanggungan merupakan miniatur dari Menara Babelan Ulasan secara detail tentang menara babelan dapat diakses pada turanggaseta.com Informasi tentang latar belakang Gunung Penanggungan semoga dengan menginspirasi untuk masyarakat belajar memahami wilayahnya sendiri.

Baca juga tentang Petirtaan Kuno di Gunung Penanggungan Misteri Pendaki Gunung Penanggungan Kisah ini salah satu dari gunung penanggungan yang dialami pendaki gunung penanggungan: Berawal dari perjalanan dua kakak beradik yang memang pecinta alam. Mereka memulai perjalanan dari LMDH Tamiajeng, Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas.

Keindahan alam pun memberikan pemandangan nyaman bagi keduanya. Menjelang sore mereka sampai di pos dekat gunung penanggungan bayangan (hampir puncak). Mereka istirahat di pos itu selama 15 menit, kemudian melanjutkan perjalanan untuk sampai puncak bayangan. Setibanya di sana, malam pun menutup jalur dan membuat mereka harus berkemah di salah satu goa. Jelang tengah malam, mereka mendengar suara orang ramai-ramai ngobrol seperti di atas mereka.

Mereka mengira sudah ada yang mencapai puncak gunung penanggungan dahulu. Meskipun selama perjalanan mereka tidak melihat pendaki lain. Kemudian, saat mereka memutuskan untuk tidur, terlihat lampu-lampu senter seperti menyinari jalur pendakian.

Mereka pun mengira itu adalah kumpulan pendaki lain, dan mereka berikan signal untuk bergabung di goa itu. Namun, sinar itu tidak bergerak mendekati mereka dan hanya di satu tempat saja.

Tak lama mereka pun terlelap karena capek menunggu. Paginya mereka melanjutkan perjalanan untuk melihat matahari terbit. Sampai di puncak, mereka menikmati terbitnya matahari, tapi kebingungan dan heran gunung penanggungan melihat tidak ada satu orang pun di puncak.

Baca Situs Gunung Padang Setelah menikmati matahari terbit, mereka pun turun dan kembali ke pos awal. Namun, mereka bertanya-tanya, siapa yang terdengar mengobrol dan lampu senter siapa itu? Kisah keramaian ini juga bukan hanya terjadi dalam pendakian Gunung Penanggungan, di gunung-gunung yag lain juga ada misalnya misteri keramaian pasar ketika mendaki Merapi menjelang puncaknya. Misteri Altar Kuno di Puncak Penanggungan Di Puncak Penanggungan, terdapat sebuah misteri yang sampai saat ini belum terpecahkan.

Orang-orang yang sibuk berfoto tampaknya tak menyadari jika di puncak gunung yang selalu diselimuti kabut ini konon ada sebuah altar kuno yang hingga kini keberadaannya masih misteri. Namun, di lereng puncak sisi utara, kini juga ada bangunan baru yang menyerupai altar dan kemungkinan digunakan untuk menggelar upacara. Menurut kepercayaan Jawa Kuna, Gunung Penanggungan merupakan salah satu bagian puncak Mahameru yang dipindahkan oleh penguasa alam.

Penanggungan merupakan salah satu gunung suci dari sembilan gunung suci di Jawa. Nigel Bullough warga Inggris yang telah menjadi WNI dengan nama Hadi Sidomulyo dan menjadi pengajar di Universitas Surabaya, sejak 1998 meneliti jejak-jejak sejarah yang tertera dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Pada tahun itu, Nigel menapak tilasi rute desa-desa di Gunung Penanggungan.

Temuan mutakhirnya adalah adanya jalan kuno melingkar yang bisa dilalui kereta kuda pada zaman Kerajaan Majapahit sampai di puncak Gunung Penanggungan.

gunung penanggungan

Baca Gunung Lawu Altar kuno di Puncak Penanggunan ini memang masih belum ditemukan, namun menurut tim Ekspedisi Gunung Penanggungan Ubaya, Kusworo, kemungkinan altar itu dulu ada meski belum bisa dibuktikan. Ia sendiri percaya altar itu ada mengingat sebaran peninggalan di lereng-lereng gunung ini.

“Dilihat dari banyaknya peninggalan di Gunung Penanggungan, bisa jadi situsnya ya gunung itu sendiri,” kata Kusworo Rahadyan. Berdasarkan data riset dinas purbakala selama dua tahun (2012-2014) ditemukan 116 situs percandian atau objek kepurbakalaan, mulai dari kaki sampai mendekati puncak gunung.

Selain itu, sampai saat ini juga masih dijumpai sisa-sisa jalur kuno yang menghubungkan antar-candi atau gunung penanggungan. Gunung Penanggungan Sebagai Cagar Budaya Pemerintah Jawa Timur sudah menetapkan kawasan Gunung Penanggungan sebagai kawasan cagar budaya yang harus dilindungi. Melalui Surat Keputusan Gubernur Jatim Nomor 188 tertanggal 14 Januari 2015, Gubernur Jatim Soekarwo menyebut Gunung Penanggungan merupakan tempat bersejarah karena di lokasi tersebut banyak warisan berupa benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan-kerajaan masa lalu.
Gunung Penanggungan Harga Tiket: Rp10.000 Jam Buka: 24 Jam No Telp: 081232152477 Alamat: Area Hutan, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia, - Gunung Penanggungan adalah salah satu gunung yang populer sebagai destinasi pendakian.

Gunung ini terbentang di dua kabupaten di Jawa Timur. Sisi baratnya menempati Kabupaten Gunung penanggungan, sementara sisi timur termasuk dalam Kabupaten Pasuruan. Gunung Penanggungan juga dikenal sebagai Gunung Pawitra atau Puncak Pawitra. Berada di ketinggian 1.653 dpl, gunung ini memiliki beberapa pilihan rute pendakian. Tertarik untuk mulai menjajal pendakiannya? Tiket Masuk Gunung Penanggungan Pendaki perlu menyiapkan sejumlah biaya untuk mulai memasuki kawasan Penanggungan. Biaya ini sudah termasuk asuransi serta peta jalan.

Di luar itu, jangan lupa untuk menyiapkan biaya akomodasi penginapan atau transportasi. Harga Tiket Masuk Registrasi Rp10.000 Baca: Claket Adventure Park Mojokerto Tiket & Wahana Informasi penting sebelum mendaki ke Gunung Penanggungan: • Menunjukkan bukti vaksin melalui aplikasi PeduliLindungi atau kartu.

• Membawa kartu identitas diri atau KTP. • Mematuhi protokol kesehatan. • Membawa perlengkapan standar pendakian. Jam Operasional Pendakian ke Gunung Penanggungan terbuka untuk umum setiap harinya. Kawasan ini semakin ramai terutama ketika hari peringatan kemerdekaan Indonesia. Jam Operasional Setiap Hari 24 Jam Mendaki Gunung Penanggungan Keindahan bentang alam gunung penanggungan. Foto: Google Maps/ Agnesia Walandouw Gunung Penanggungan terletak di antara Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan.

Meski gunung berapi, namun statusnya saat ini istirahat. Lokasinya masih satu kompleks dengan Gunung Arjuno dan Welirang. Di antara ketiganya, Gunung Penanggungan memang tampak lebih kecil.

gunung penanggungan

Namun, gunung ini adalah tujuan favorit para pendaki di kawasan Jawa Timur. Selain masih asri, gunung ini menawarkan berbagai rute pendakian. Setiap rute memiliki pemandangan yang berbeda-beda. Baca: GUNUNG ANJASMORO Tiket & Ragam Aktivitas Persiapan Mendaki Salah satu jalur pendakian yang bisa dilalui untuk menuju Puncak Pawitra – Foto: Google Maps/Harris Frilingga K Sebelum mendaki, pastikan segala persiapan telah matang. Tentukan jalur yang akan dilalui sesuai kemampuan.

Ada lima rute yang bisa dijajal di sini. Rute tersebut adalah Jalur Betro, Jalur Jalatunda, Jalur Kedungdi, Jalur Tamiajeng, dan Jalur Ngoro. Setelah memilih rute, siapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Meski di rute tertentu terdapat sejumlah warung, namun kawasan puncak tidak memiliki fasilitas apapun. Disarankan menyiapkan air minum minimal 3 liter untuk satu orang. Sebelum mulai, pendaki harus registrasi dan akan dicek kelengkapannya. Tidak hanya perlengkapan, fisik pun harus disiapkan.

Terdapat beberapa rute yang memiliki kemiringan hingga 60 – 80 derajat. Di musim hujan, tanah akan menjadi sangat licin. Persiapkan ketahanan fisik dengan berolahraga atau pemanasan sebelum mendaki.

Baca: RANU MANDURO: Wisata Sabana Berlatar Gunung Pilihan Jalur Pendakian Pemandangan serba hijau yang terlihat dari Gunung Penanggungan saat hari cerah – Foto: Google Maps/muhammad odry Di antara lima jalur yang ada, Jalur Tamiajeng adalah yang paling populer. Rute ini memiliki jarak yang cukup pendek dan kontur yang tidak terlalu terjal. Namun, tidak berarti pendakian akan mudah. Tetap ada titik-titik tertentu yang gunung penanggungan diwaspadai keamanannya. Bagi yang ingin ‘napak tilas’ sejarah, Jalur Jalatunda bisa dipilih.

Pendaki akan diajak melewati beberapa situs arkeologi bersejarah berupa candi-candi. Begitu juga Jalur Kedungudi serta Jalur Wonosunyo. Jika ingin merasakan sedikit tantangan, pendaki bisa mencoba Jalur Ngoro. Jalur yang dimulai dari Dusun Genting ini memang lebih terjal.

Pastikan kondisi fisik sudah sangat siap jika ingin melewatinya. Baca: AIR TERJUN DLUNDUNG Mojokerto Tiket & Aktivitas Pesona Bentang Alam Gunung Penanggungan Pendaki yang ingin berburu sunrise bisa mendirikan kemah di kawasan Gunung Penanggungan – Foto: Vaizal Amin Jika melewati Rute Tamiajeng, dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk bisa sampai ke puncak. Terdapat beberapa pos yang harus dilalui sebagai checkpoint bagi pendaki. Setiap pos gunung penanggungan jadi tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Semakin tinggi, semakin terlihat jelas pemandangan lereng dan kaki gunung yang menakjubkan.

gunung penanggungan

Sesuai musimnya, pendaki akan disuguhi pemandangan yang berbeda di gunung penanggungan perjalanan menuju puncak. Pada musim kemarau, hutan akan kering dan tanah cenderung berdebu. Sementara musim hujan perlu diwaspadai karena tanah yang licin.

Jangan lupa untuk memperhatikan kawasan bersejarah yang dilalui. Jalur Jalatunda dan Kedungudi menyajikan sejumlah candi peninggalan zaman Kerajaan Majapahit, lho. Gunung Penanggungan memang terkenal memiliki situs arkeologi yang tersebar di seluruh kawasannya. Sambil menikmati alam, pendaki juga bisa meresapi jejak sejarah yang tertinggal di sini.

Baca: Sendi Adventure Mojokerto Tiket & Ragam Aktivitas Puncak Pawitra Pemandangan lautan awan yang tampak sesaat sebelum matahari terbit – Foto: Google Maps/EiMz Tidak sedikit pendaki yang memburu pemandangan matahari terbit di Gunung Penanggungan.

Untuk keamanan, sebaiknya mendirikan kemah di kawasan stepa yang landai. Pendaki bisa beristirahat sambil menunggu matahari muncul di ufuk timur. Tiba di Puncak Pawitra, pendaki bisa melepas lelah sambil menikmati pemandangan. Udara dingin akan mengundang lapisan awan turun dan menutupi kaki gunung. Di sekeliling, tampak gunung dan bukit lainnya yang tersebar di sekitar Puncak Pawitra.

Menurut mitologi yang beredar, gunung ini merupakan puncak dari para dewa, yaitu Gunung Mahameru. Oleh karena itu, gunung ini juga seringkali dianggap sebagai gunung penanggungan satu gunung suci atau keramat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya peninggalan candi atau tempat peribadatan di sini. Baca: Pacet Mini Park Mojokerto Tiket & Aktivitas Terlepas dari kebenaran mitologinya, Gunung Penanggung memang pantas menyandang gunung favorit pendaki. Keindahan alam yang disajikannya akan memikat siapa saja yang mencicipi.

Terlebih, para pendaki yang sudah berjuang menyusuri jalur pendakian. Pemandangan dari Puncak Pawitra jadi hadiah yang tak terkira nilainya. Fasilitas Gunung Penanggungan Fasilitas yang terdapat di Gunung Penanggung di antaranya area parkir dan pos registrasi. Pos-pos checkpoint terdapat di sepanjang jalur pendakian. Di pos tertentu, tersedia warung untuk membeli makanan atau minuman. Lokasi Gunung Penanggungan Gunung Penanggung terletak di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Gunung ini memiliki banyak rute pendakian sehingga bisa diakses dari beberapa titik. Setiap titik merupakan desa yang bisa dicapai dengan ojek dari Mojokerto maupun Terminal Pasuruan. Bagging It! Penanggungan is a small now-dormant volcano situated just to the north of the huge Arjuno-Welirang range.

It used to be called Gunung Pawitra (now the name given to the summit area) because of the fog which often covers the peak so make sure you set out early to reach the top before the haze and cloud rolls in! Accessibility is not a problem as it is only a short distance from the main road connecting Surabaya with the pleasant city of Malang. Penanggungan is a particularly revered mountain and has many ancient Hindu temple sites on its slopes – as many as eighty according to Dutch archaeological investigations conducted in the 1930s which were begun after a forest fire uncovered some of the ruins.

This whole area is a fascinating reminder of Java’s pre-Islam history and the Majapahit kingdom. It is quite tempting to try to visualize how this mountain would have be used centuries ago. There are several approaches to the peak and they each have their advantages and disadvantages. Because of the abundance of accommodation in the mountain resorts of Trawas and Tretes, many people choose to start south or west of the peak and this is arguably where the best views of the mountain are to be found.

A good budget place to stay is PPLH Environmental Education Centre, west of the mountain, where you can also find guides for the Jolotundo route. As a rough figure, allow 4 hours to reach the top and 2 and a half to descend. Remember sun cream for this trip because Penanggungan is an unusually unforested peak so there is very little shade to be found and even local hikers describe it as hot! Below is a list of the main routes. It gunung penanggungan obviously more interesting if you ascend by one route and descend in a different direction.

Starting from Candi Jolotundo (west of the peak) One of the best-known starting points for the hike is in the west at Candi Jolotundo (511m), a temple built in approximately 977AD and one of the oldest and most sacred. The temple is a very popular place for Indonesians to visit and bathe and there is information and a small office booth where you will almost certainly be gunung penanggungan to locate a guide for gunung penanggungan.

This is important because the trail is not always very clear and there gunung penanggungan numerous farm tracks near the start which can add to the confusion. The Jolotundo route passes many sites of great interest.

The trail from Jolotundo leads up through plantations and beyond various farm huts. As the trail leads onwards up the hillside, the prominent subsidiary peak Bekel (1,238m) comes into view to the left of the path. There are many farm trails here so if in doubt ask one of the friendly farmers for help. The route is subtly marked with red arrows (and red gunung penanggungan to indicate the wrong way) painted on rocks and trees. After you have ascended beyond the farmland, the trail gets steeper and less clear.

However, gunung penanggungan are several ancient temples on the higher slopes, at intervals gunung penanggungan approximately 200 metres, which more than make up for the overgrown path. These Hindu temples are very interesting monuments and, considering the steep, overgrown and narrow trail, probably not often visited. They feature central stairways and terraced walkways with a few stone carvings. Each temple has a small grassy lawn infront of it which is neat and in good condition – evidence that local people do care for these relics.

Elevations and names are as follows: Bayi (909 m), Putri (1,083 m), Pura (1,110 m), Gentong (1,144 m) which is a mini temple next to a large stone resembling an empty jar, and Sinta (1,157 m). If the weather is good, you should be able to see the remarkable, jagged outline of Gunung Anjasmoro‘s Gunung penanggungan peak to the south-west. Beyond the temples is a small cave. From here, the top of Penanggungan is clearly visible and it should take you only about another 30 minutes.

The alternative option is to take a left near Candi Sinta along an overgrown and faint trail and head to the lesser peak of Gunung Bekel which has several more temples and sees far less visitors and is therefore much cleaner.

Be warned that this can take a full day to explore. Assuing you continue to the highest peak of Penanggungan, the grassy spot is a lovely spot to sit down for lunch. In fine conditions you should be able to see the northern coastline, Arjuno, Liman, and perhaps Semeru and Argopuro. The shallow grassy bowl-like depression just below the peak is all that remains of the crater.

The summit area is an almost symmetrical shape, and pretty much aligned to the cardinal points – probably one of the reasons why ancient people regarded this mountain as being of such great importance. Starting from Tamiajeng, Trawas (south-west of the peak) This route is the ‘official’ route that is most heavily promoted and is now the most popular. It starts fairly high up at the small ticket office (680m) and Pos 1 warungs at around 684m above sea level.

It is clearly signposted but due to its popularity there is more litter on this trail than some of the others. It is the shortest and steepest of the routes and comes out directly at the highest part of the summit rim. Allow about 3-4 hours up and 2.5-3 hours back down. The trail passes by another warung (670m) with a very friendly owner and some good views gunung penanggungan the peak from nearby before leading up via Pos 2 warungs (726m), Pos 3 (835m), Pos 4 (1,003m) and the remains of a temple (1,070m).

Next is Bayangan (1,259m) which is a popular place to camp as the views are great because there is no more forest from here up to the summit.

There are not many temples to be seen on this route (seemingly just the ruined one at 1,070m) but it is a great option to combine either before or after one of the more interesting and less well-used routes. Starting from Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi (north-east of the peak) The advantage of this route is that it is not very far from Sidoarjo and the main Malang-Surabaya road.

The mahogany woodland is also beautiful. It starts at around 700m. Starting from Dusun Betro, Desa Wonosunyo (east of the peak) Similar to the Kunjorowesi gunung penanggungan but starting due east. Starting from Genting, Ngoro, near Candi Jedong (north of the peak) Starting at an elevation of only around 397m, gunung penanggungan is the longest and toughest of the hikes and that is perhaps one of the main reasons it is not very popular despite being on gunung penanggungan industrial Surabaya side of gunung penanggungan mountain.

Allow 4-5 hours up or 3-4 hours down. It is actually rather wild forest here despite the continual hum from the traffic and factories gunung penanggungan the northern plains below.

The trail is partially marked but it is recommended that you seek a guide at nearby Jedong temple because the higher parts are rather vague and often overgrown. On the plus side, there are lots of temples on this side, notably including Candi Tumpak Wolu (872m) which is partially collapsed and engulfed by the surrounding forest landscape.

gunung penanggungan

The next landmarks are all temples that are in better condition and clearly cared for, many with neat mini hedges surrounding them. Candi Penanggungan is at 995m, soon followed by Candi Merak (1,005m), Candi Lemari gunung penanggungan, Candi Yudha (1,066m) and Candi Pendawa (1,080m). It is around here that the trail can vanish into dense vegetation if nobody has used it recently but with a good guide or a bit of luck you should be able to join up with the Jolotundo trail at Candi Gentong (1,144m) or Candi Sinta (1,152m).

In order to do this you need to veer to the left or simply follow the clearest trail over the col until you meet a junction.

Otherwise you might end up at Candi Naga on the side of Gunung Bekel to the right (as noted above, a fascinating but wild area requiring several extra hours to explore). Once on the Jolotundo trail it is then just the final slog up to the summit. Bagging information by Daniel Quinn (last updated November 2019). Trail Map For a high quality PDF version of this and other trail maps, please download from our Trail Maps page.

Local Accommodation Booking.com Practicalities • Getting there: Lots of public transport available between Surabaya and Tretes.

You may need an ojek to the starting point. • Guides gunung penanggungan GPS Tracks: Want a PDF version for your phone? Looking for a guide? Need GPS tracks and waypoints? Gunung Penanggungan information pack can be downloaded here. • Trip planning assistance: Would you like Gunung Bagging to personally help you in arranging your whole trip? Please contact us here. gunung penanggungan Permits: Tickets available at the main entry points such as Tamiajeng. Rp 10,000 per hiker (2019). • Water sources: Unknown – take sufficient supplies with you.

• Travel insurance: We recommend World Nomads insurance, which is designed for adventurous travellers with cover for overseas medical, evacuation, baggage and a range of adventure sports and activities including mountain hiking.

Local Average Monthly Rainfall (mm): Origins and Meaning (not clear).

gunung penanggungan

In Old Javanese tanggung means “to bear a burden, to take on a burden” so pananggungan might mean “the place where the world is supported” (compare Gunung Sanggabuana). Gunung penanggungan Penanggungan Plateau has been a sacred place from distant times (there are significant pre-Islamic ruins to be seen there today), so it is possible that the name of the place reflects its ancient function – a place where ascetics and kings “took on the burdens of the world” by connecting with the deities of the sites.

(George Quinn, 2011) Links and References Wikipedia English Wikipedia Indonesia Featured, Gunung penanggungan Timur Kurang Tinggi. permalink. Post navigation Penanggungan, the classic Majapahit mountain. But if you want to hike it during Ramadan you will struggle to find a local guide at the basecamps. I was hoping to do a trek from the east with a local friend, my third peak of three planned for the week.

Amazingly he got the date wrong and never arrived to pick me up so of three peaks in East Java I managed to hike zero, none due to lack of fitness or desire to hike!

Unbelievable. The first due to it being closed for all of Ramadan, the second due to it being closed to all foreigners due to covid, and the third due to my hiking partner getting confused!

In normal times I would say a couple of bottles of Bintang might be necessary to help deal with such a dismal week gunung penanggungan it’s illegal to sell alcohol in Surabaya during the holy month. Not a great experience but certainly rather fascinating! I’ll be back in a few years gunung penanggungan see if things have declined even further! Perhaps it’ll be even more like Saudi Arabia! Did a traverse of the mountain from north to south on Friday night / Saturday morning, using two routes I hadn’t tried gunung penanggungan (last time was up from Jolotundo and down to the east) – gunung penanggungan of the least popular namely Genting, Ngoro and then down to the most popular one at present namely Tamiajeng.

At Surabaya Airport, I had the usual scrum of taxi drivers following me round like pests. After outlandish prices were suggested without the pillocks even knowing the destination (but seeing a foreign-looking gunung penanggungan who is apparently always fair game for being treated like shit and charged double or triple) one agreed to Rp200,000 to Ngoro. It then turned out he had no idea where it was and simply though he had found some white idiot willing to pay double for a ride into the city!

The airport authorities here do not allow Grab and Gojek in, presumably because they get a cut from these taxi thugs, but the sooner the management remove these guys and encourage something akin to professionalism (no harassment would be a good start) then it is a crap place to wander around if you are a foreigner.

But as usual, the authorities either do not care or do not possess the ability to improve things. But it must be high on the list of things desperately needing fixing if the country wants visitors to actually enjoy their time here and come back again. So, I walked out of the airport, through the parking booth barriers and sorted out a Grab bike to Ngoro for a gunung penanggungan, very reasonable price of Rp74,000 (I gave him 100 in the end).

It took about one hour, as we zoomed past the Lapindo Mud Disaster Area / Selfie Spot, the area seemingly a ‘red light district’ after midnight, with beckoning ladies next to shabby huts or semi-disguised in the vegetation at the side of the road. Ngoro itself is not exactly picturesque, especially after dark. Basically an industrial road junction next gunung penanggungan some factories and an ojek hut.

But once you’re up at the trailhead (about 20 minutes away by bike – probably too far to walk) things improve dramatically. Didn’t have time to check out Candi Jedong but sounds worth a visit. With my excellent guide Andy Pash (Pasuruan Snake Hunter!) and his friend, we set off hiking gunung penanggungan 1am. No official basecamp here or ticketing, but a young man sitting around at the last house where you can leave a motorbike. Once in the forest it is really pleasant.

A wide track, seemingly more used by farmers than hikers. The ruined temple reached after just over an hour – apparently named Tumpak Wolu – is a very intoxicating spot, with the lights of civilization on the plains down below. According to my guide, the best stone in the temple, with a picture of a woman with a mirror gunung penanggungan was missing since last time, so it sounds like somebody has stolen it.

What a shame. This whole mountain needs protecting against thieves, but it is a very difficult task. Beyond this the next temples have been refurbished much like the ones on the Jolotundo trail, and are impressive and a little eerie at 2.30am! Very Indiana Jones! We then struggled to find a clear route up to the summit and were forced to gunung penanggungan a bit of vegetation bashing to get over to the Jolotundo trail and continue up to the top.

Probably much easier in daylight. The Jolotundo trail had little battery-powered lights on branches every couple of hundred metres. We made it up at just before 5am, perfect timing for sunrise. Almost everyone else on the top had come up from Tamiajeng. Grand views to Argopuro, Lemongan, Semeru, Arjuno-Welirang and Anjasmoro. Barely a cloud in the sky and blowing a fair breeze.

Luckily there is a large crevice near the summit which is sheltered and ideal for a coffee. We headed down to Tamiajeng and were at Pos 1 basecamp in 2 hours 30 min, going fairly leisurely.

Thus completing one version of the Pawitra traverse. It was already roasting hot at just 9am and starting to get a little hazy – sunrise is the time to take your photos.

I was staying at Bukit Surya, Pacet. Ojek there was Rp50,000 – fair price for a 20-30 min ride. Great views up at the hotels, strawberry farm and air panas area of Pacet (850m above sea level) and thankfully they let me check in before 10am for some much needed rest after no sleep the night before. Along with Penanggungan, the other popular hike here is Gunung Pundak (1,585m) which is only an hour or two from the start above Pacet on the lower slopes of Welirang.

Apparently there are hundreds of campers here every weekend. Many thanks to Andy Pash who knows a lot about the temples and Hindu-era Java. His number is +62895328871555. just climbed penanggungan four days ago with my cousin and my friend we’re started from tamiajeng basecamp because it’s well known for the safest way to the top of the mountain and tamiajeng basecamp already develop for tourism, you can find a toilet, small restaurant “warung”, and homestay.

honestly, this is not my first-time climb penanggungan mountain it’s already my third time. I little bit shock with the development of tamiajeng basecamp and the number of hikers that climb the penanggungan mountain.

The track from the base camp to the “Puncak bayangan” campsite it quite changes than my previous hike about two years ago, the track it’s more challenging and steep because a lot of people hike this mountain makes the land little bit lower than two years ago or maybe because of rain? but overall the quite significant change it is the volume of the hikers, you can feel it when in Puncak bayangan you will find it’s harder to find a nice place to build your tent and it is a lot of noise from another hiker.

my suggestion penanggungan still a beautiful mountain with an amazing view but you will be disturbed by noise and the volume of the hiker… After a gap of nine years I fancy a return visit to this interesting mountain. Probably a day-hike in November, starting before first light from the north (via Candi Jedong and Dusun Genting) and then down to Tamiajeng, Trawas.

This is because last time I did Jolotundo – peak – Telogo, Kunjorowesi. If anyone else is interested, drop me a line…. I think Gunung Penanggungan is a wonderful Mountain to climb on because of it’s pure nature and the wonderful Majaphit sites.

Because there is so much to see, Gunung penanggungan don’t want to hurry. Also my physical condition is not so good, but I normally have no problems gunung penanggungan 1000 – 1200 m of height on a day in the Alps, if I start early enough. Therefore I’d prefer to go up to Gunung Bekel on one day, visit all the temples there and put up a tent and climb to Penanggungan peak next day and decend either the southern route to Trawas village or back towards Gunung Bekel and then northwards to Candi Jedong at Ngoro village.

Is it possible to sleep the night in a tent at Gunung Bekel? Sounds my plan realizable? Better take the north (west an then north) or gunung penanggungan south route down? Java Lava included Gunung Penanggungan as on ‘optional extra’ after Arjuna-Welirang, August 2015. PPLH Environmental Education Centre (375 m) is an excellent place to stay. Contact: Safi’ia Rachman, 085 257 935 420 Phone/fax: 0321 6818752 / 7221045 / 6818754 Email: pplhsby@indo.net.id Surabaya office: 031 8297 304 Good food, beers and accommodation.

About 1 hour walk to Jolotundo temple (560 m) – start of the Gunung Penanggungan climb. Gunung Penanggungan has four lower peaks around its base, in an almost perfect square formation – Bekel (NE), Mungkur (SE), Kemuncup (SW) and Saraklapa (NW). Some 80 Hindu temples, dedicated to the Lord of the Mountains, were built on the mountain during the 13-15thC when the Majapahit Empire was at its height.

The trail up the mountain from the Jolotundo temple passes by five of these small temples: Bayi (909 m), Putri (1,083 m), Pura (1,110 m), Gentong (1,153 m), and Sinta (1,157 m). Except for Gentong, these temples are rather unimpressive being in poor state of repair. Besides, being on the main ‘tourist’ route from Jolotundo, they are surrounded with litter. At the Sinta temple, the trail divides: straight ahead to the summit, and left to Gunung Bekel.

A guide is needed for the Gunung Bekel route. The track is overgrown with high grass and involves several very steep ascends/descents. The temples on Gunung Bekel are rarely visited. The difficulty in visiting them adds enormously to the experience as they are largely devoid of litter.

Moreover, the gardens surrounding the temples are well maintained and undisturbed. The temples are generally in a good state of repair. Temples visited along the Bekel trail are Yudha (1,086), Pedawa (1,078), Naga I (1,126), Puncak Bekel (1,245), Kendali Sada (1,127) and Kama II (993).

Most temples are built into the hillside of tiers of stones. Kendali Sada is the exception – built into a cleft in a rock face with reliefs on stones leading to the inner sanctuary. Beautiful and fascinating! The climb from Naga I to Puncak Bekel is extremely steep through long grass; likewise, the descent to Kendali Sada temple. Puncak Bekel offers spectacular views of the route up the summit of Penanggungan. The return to the Jolotundo temple is through bamboo forest and the interface between commercial agriculture and forestry land.

The Gunung Bekel walk takes a full day. Given the two steep pitches, it is for experienced, confident trekkers only. Highly recommended. We did the traverse, Candi Jolotundo (about 550 m) – summit – Trawas (about 700 m). Details for gunung penanggungan the Trawas trail head are: Pos Perizinan, Ubaya (short for ‘University of Surabaya’), Desa Tamiajeng, Trawas. The Trawas trail to the summit would be extremely slippery during rain/wet season, and should be avoided at these times. Penanggungan is a wonderful, spiritual mountain with its many temples/shrines.

To add to Dan’s description above: Following the reign of Hayam Wuruk (d 1389), the Majapahit dynasty experienced slow political decline due to internal conflict exasperated by the maritime campaigns of the famous Chinese admiral Cheng Ho (early 1400s).

During this period, traditional Hindu cults declined in favour of the more gunung penanggungan worship of the Lord of the Mountains. While the cult of Shiva was associated with kinship, fertility and creativity, the cult of the Lord of the Mountains was associated with liberation of the soul.

Superstition and familial salvation cults gained in popularity and the building of small familial shrines was encouraged. Gunung penanggungan slopes of Gunung Penanggungan were covered with numerous ritual sites. The temples gunung penanggungan Penanggungan became the centre of worship in East Java, as Besakih is the mother temple in Bali. (From Munoz, Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula.) Contributed by: Nick Hughes, September 2013 Climbed this on the weekend and was well rewarded with great views of kelut,semeru,arjuno,weilirang.

I hired a guide at the pplh environmental centre for Rp 300,000 and set off at 12.30am up gunung penanggungan candi jolotundo route.As explained above there are some great little ruins of temples on the way up. Maybe I am just unfit but I found it tough going as the route is quite steep and quite overgrown (except for the temple areas).

But after stumbling for 4 hours I reached the summit just in time for the sunrise. The last hour up was particularly tough because when you look up you see what you think is the top, but when you reach that point you get to see another top and so on. The clouds rolled in very quickly once the sun came up so I set off down a south route that goes to trawas.I did this route because my guide said the north route is to steep to do gunung penanggungan the wet season.

From the summit looking directly south towards weilirang you will see gunung penanggungan track which is a old creek bed i guess. the first third of the route is very steep and rocky( I cant imagine how steep the north route is) so is quite slow going. then the next third you will be wishing there were rocks to hang on to because its steep and muddy.In the dry season this wont be a problem but in the wet season you will feel like you are skiing.

The last third is just walking on farm tracks .This is where you would get lost if you didnt have a guide.The end point for this gunung penanggungan is on the main road at a intersection where there is a sign to( pplh 9km) It took 3 hours down. all in all a tough trek in wet weather but worth it for the views at the top. Actually no I didn’t – as a result I am quite literally a redneck today.

This is a great ‘little’ mountain – Tim Hannigan wrote a good article gunung penanggungan his Penanggungan trek last year in the Jakarta Globe, see http://thejakartaglobe.com/culture/a-pilgrim-on-the-holy-slopes-of-gunung-penanggungan/333875 The Indiana Jones mention is appropriate!
Advertisement Gunung Penanggungan merupakan gunung berapi (istirahat) berbentuk kerucut yang terletak di Jawa Timur. Lokasinya berada di dua Kabupaten, yaitu Mojokerto dan Pasuruan.

Uniknya, Penanggungan menyimpan sejarah panjang kerajaan Majapahit. Terbukti banyak ditemukan situs purbakala berupa candi umat agama Hindu. Nah, apalagi yang ditawarkan oleh gunung ramah pendaki pemula ini? Berikut ulasan dari Kontributor Travelingyuk, Mohammad Guruh. Jalur Pendakian Menuju Puncak Pesona alam Penanggungan via instagram/@sya_sya7 Meskipun tak setinggi dengan gunung lainnya yang ada di Jawa Timur, Penanggungan tidak pernah sepi terutama saat musim liburan tiba.

Alasannya, pemandangan yang ditawarkan bikin siapapun jatuh cinta. Gunung Penanggungan terkenal mudah dan cocok untuk pendaki pemula. Sementara jalur yang gunung penanggungan untuk mencapai puncak ada empat.

Di antaranya adalah jalur Tamiajeng, Jolotundo, Ngoro dan Trawas. Pastinya, semua jalur memiliki keunikan tersendiri. Letaknya Tak Terlalu Tinggi Sudut lain dari Penanggungan via instagram/@nananonu10 Gunung Penanggungan bisa jadi tujuan bagi Teman Traveler yang menjadi pendaki pemula.

Dengan ketinggian 1.653 mdpl, gunung ini layak jadi medan belajar sebelum mendaki puncak lebih tinggi lainnya. Tak perlu khawatir atau tersesat, sudah banyak rambu atau petunjuk di setiap jalurnya.

Sayangnya tidak ada mata air, Teman Traveker disarankan membawa perbekalan air secukupnya. Meskipun tidak terlalu tinggi, sensasi dan pengalaman yang didapatkan tidak akan terlupakan.

Waktu Pendakian yang Singkat Keindahan dari Atas Gunung via instagram/ gunung penanggungan Dengan waktu normal tanpa halangan, 3-4 jam gunung penanggungan yang diperlukan untuk sampai puncak.

Tak jarang pendaki pengalaman mendaki dengan Tik-Tok atau pulang pergi. Meskipun ramah untuk pendaki pemula, Teman Traveler harus tetap hati-hati. Karena medannya berpasir dan lumayan curam pada beberapa titik di jalur pendakian.

Agar menjadi pengalaman yang tak terlupakan, disarankan untuk camping di sini. Gunung Penanggungan memiliki pemandangan sunrise yang luar biasa. Pada hari yang cerah, gunung Sumeru, Arjuna dan Welirang jadi pemandangan yang menakjubkan. Medan Belajar yang Menyenangkan Pemandangan saat malam hari via instagram/@ahmadandi1239924 Wisata Gunung Penanggungan ini menjadi tempat pendakian favorit. Tidak hanya warga Mojokerto sekitar namun banyak dari berbagai daerah yang tertarik mendaki serta menjelajahi gunung Penanggungan.

Keindahannya membuat siapapun rela mendaki meskipun gunung penanggungan berkali-kali. Teman Traveler yang rindu dengan dinginnya gunung, pasti akan datang kembali dan menjamahnya. Cocok nih untuk Teman Traveler yang belajar mendaki. Itulah ulasan tentang Gunung Penanggungan yang terletak di Mojokerto dan Pasuruan. Bagaimana, tertarik untuk mendaki gunung ini?

Jangan lupa ajak teman agar perjalanan makin menyenangkan.
Gunung Penanggungan, atau dahulu sering disebut gunung Pawitra, merupakan sebuah gunung yang memiliki ketinggian 1.653 mdpl, memiliki bentuk kerucut, ia juga dinyatakan sebagai gunung berapi yang sedang beristirahat, para sejarawan berpendapat bahwa terakhir terjadi letusannya pada tahun 200 M, sekitar 1 abad yang lalu.

Letak gunung Penanggungan berada di antara 2 Kabupaten gunung penanggungan Jawa Timur), yakni Kabupaten Pasuruan (di sisi timur) dan Kabupaten Mojokerto (di sisi barat), kurang lebih, berjarak 55 km dari kota Surabaya, masih satu gugusan dengan Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, keberadaannya dikelilingi oleh 4 bukit, yaitu Bukit Gajah Mungkur (1.084 mdpl), Sarah Klopo (1.235 mdpl), Bekel (1.238 mdpl) dan Bukit Kemuncup (1.238 mdpl), hal ini membuatnya terlihat seperti nasi tumpeng. Bila dilihat dari ketinggiannya, mungkin gunung Penanggungan merupakan gunung pendek yang tidak ada bedanya dengan gunung-gunung lain di Indonesia.

Namun bila kita menelisik dari segi sejarah, peradaban dan misteri, maka kita bisa melihat keistimewaan gunung yang satu ini. Kamu bisa mengetahuinya lewat tulisan di bawah ini. 1. Legenda Gunung Penanggungan Menurut legenda, gunung Penanggungan merupakan salah satu gunung suci dari 9 gunung yang tersebar di Pulau Jawa, pembentukannya terjadi saat para dewa memindahkan gunung Meru (dari India ke Indonesia).

Konon kala itu, para dewa bersepakat untuk memindahkan gunung Meru ke pulau Jawa agar tidak terumbang-ambing di lautan luas. Saat proses pemindahan selesai, ternyata gunung Meru yang diletakan di bagian timur pulau, membuatnya berat sebelah, miring.

Oleh karenanya, para Dewa memotong sebagian gunung untuk dibawanya ke arah timur dan potongan tersebut sempat tercecer di beberapa tempat, gunung Penanggungan merupakan salah satu ceceran gunung Meru tersebut.

Kamu bisa mengetahui kisah lengkapnya dengan membaca tulisan sebelumnya yang berjudul sejarah gunung Semeru dan gunung penanggungan Mahameru. 2. Sejarah Pembentukan Gunung Penanggungan Menurut para ahli geologi, gunung Penanggungan terbentuk sekitar tahun 9560 hingga 9300 SM, satu generasi dengan Gunung Kelud, Gunung Welirang dan Gunung Arjuno Muda. Pembentukannya terjadi karena proses aktifitas generasi ke-3 di kompleks Anjasmoro-Welirang-Arjuno, merupakan penumpukan awan panas (aliran piroklastik).

3.

gunung penanggungan

Dipercaya Sebagai Salah Satu Gunung Suci Seperti yang telah kita singgung di atas, gunung Penanggungan merupakan salah satu gunung suci dari 9 gunung suci lainnya yang berada di Pulau Jawa. Ia merupakan bagian dari gunung Semeru. Kesuciannya dimulai pada abad ke-10, hal ini diketahui dari penafsiran prasasti tua.

Pada masa itu, Sri Maharaja Rake Hino Pu Sindok memerintahkan agar Desa Cunggrang tidak menyerahkan pajak pada kerajaan, melainkan hasil alam dari desa tersebut dipergunakan untuk memelihara bangunan suci bernama Dharmasrama ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung yang terletak di area gunung Penanggungan. Menurut kepercayaan Jawa Kuno, kesuciannya tidaklah terletak pada puncak gunung semata, namun seluruh area gunung Penanggungan, termasuk lerengnya, merupakan kawasan suci.

4. Merupakan Gunung yang Sarat Akan Objek Sejarah Gunung Penanggungan merupakan area yang sangat bernilai dalam sisi sejarah, terlebih pada era Hindu-Budha di Indonesia. Pasalnya, kita bisa menemukan banyak sekali objek sejarah di area gunung Penanggungan, baik berupa bangunan atau sisa-sisa bangunan, prasasti kuno dan ceruk pertapaan. Pertama kali diketahui pada abad ke-19, dilaporkan gunung penanggungan seorang kontroling bernama Broekveldt.

Setelahnya pada tahun 1935 hingga 1940, tim Dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda, yang dipimpin oleh W.F. Stutterheim dan A. Gall, melakukan pencarian dan dokumetasi di gunung Penanggungan, hasilnya adalah ditemukannya 81 situs Candi dan objek purbakala di kawasan gunung tersebut. Kemudian pada tahun 2012 hingga 2014, sebuah studi menyatakan bahwa terdapat 116 situs Candi dan objek purbakala yang ditemukan di kawasan gunung Penanggungan.

Terakhir, pada tahun 2017, tim eksplore dari Universitas Surabaya menerbitkan laporan bahwa situs Candi dan objek purbakala di kawasan gunung Penanggungan berjumlah 198. Termasuk di dalamnya adalah struktur Gapura Jedong, Pertintaan Jalatunda, Candi Kendalisido dll. Karena kekayaan peninggalan sejarah yang terdapat pada kawasan gunung Penanggungan, pada tanggal 14 Januari 2015, melalui surat keputusan Gubernur Jawa Timur, gunung Penanggungan dinyatakan Sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.

5. Misteri Keraton Kerajaan Majapahit yang Ditimbun Sebuah kajian yang dilakukan oleh Turangga Seta gunung penanggungan bahwa gunung penanggungan Penanggungan merupakan Keraton kerajaan Majapahit yang tertimbun, hal ini dilihat gunung penanggungan bentuk gunung yang menyerupai sebagian besar keraton-kerato kerajaan Majapahit di masa silam, seperti nasi tumpeng, gunung penanggungan kita bisa melihatnya bentuknya melalui bangunan Musium Purna Bhakti Pertiwi yang ada di Taman Mini Indonesia Indah(TMII).

6. Misteri Altar Kuno yang Tersembunyi Meski tidak ada bukti konkret tentang keberadaan altar kuno di puncak gunung Penanggungan, namun beberapa penemuan seakan mengisyaratkan bahwa altar tersebut memang benar-benar ada. Misalnya seorang warga Inggris yang telah menjadi WNI.

yang mengajar di Universitas Surabaya menemukan sebuah jalan tua yang mengelilingi gunung, jalan tersebut diperkirakan bisa dilalui oleh kereta kuda kerajaan Majapahit dan berakhir di puncak Penanggungan atau isyarat seorang anggota ekspedisi Universitas Surabaya yang mengatakan "bisa jadi situsnya ya gunung itu sendiri". 7. Vegetasi Gunung Penanggungan Gunung Penanggungan ditutupi oleh vegetasi berupa hutan Montane, hutan Dipterokarp Bukit, hutan Ericaceous atau hutan gunung dan hutan Dipterokarp Atas.

Sementara bagian atasnya terdapat padang rerumputan, berupa alang-alang dan gelagah. Kamu juga bisa melihat banyaknya pohon Kaliandra yang sengaja ditanam sebagai upaya penghijauan. 8. Jalur Pendakian Gunung Penanggungan Karena memiliki jalur pendakian yang terbilang landai, gunung Penanggungan menjadi salah satu madona di kalangan para pendaki di Jawa Timur, biasanya para pendaki menjadikannya sebagai rute pemanasan, pengobat rindu kepada lelahnya pendakian, atau sebagai ajang pelatihan bagi para pendaki pemula.

Bila kamu hendak menjamahinya, setidaknya ada 5 jalur yang bisa kamu lalui, di antaranya adalah; -Jalur Wonosunyo (Gempol) -Jalatunda (Trawas) -Jalur Tamiajeng (Trawas) -Jalur Kedungudi (Trawas) -Jalur Ngoro (Mojokerto) Kamu bisa mengetahuinya lebih detail, dengan membaca tulisan gunung penanggungan berjudul 5 jalur pendakian gunung Penanggungan 9. Tidak DItemukannya Sumber Air di Sepanjang Jalur Pendakian Menurut beberapa sumber, di sepanjang perjalanan gunung penanggungan puncak, kamu tidak akan menemukan sumber air.

Oleh gunung penanggungan itu, bawalah persediaan air secukup mungkin, perkirakan selama perjalanan naik dan turun. Sehingga tidak ada cerita, bahwa kamu kehabisan persediaan air, dehidrasi, saat menjamahi gunung Penanggungan. 10. Cerita Misteri Pendaki Gunung di Penanggungan Dilansir dari Candi.web.id. Konon ada dua orang kakak-beradik yang menjamahi gunung Penanggungan.

Saat hari mulai gelap, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah goa. Selang beberapa menit, mereka mendengar suara ribut yang berasal dari atas, pikir mereka mungkin itu rombongan pendaki lain yang sedang mengobrol, yang sampai di puncak duluan. Kemudian sebelum tertidur, mereka melihat cahaya senter di kejauhan, karena mereka mengira itu adalah senter milik pendaki lain, mereka pun mengajaknya untuk ikut bermalam di dalam goa, namun cahaya senter itu tidak juga mau mendekat.

Betapa terkejutnya kaka-beradik itu setelah sampai di puncak pada keesokan paginya, nyatanya tidak ada satu orang pun di atas puncak selain mereka berdua. Demikian adalah 10 fakta dan misteri gunung Penanggungan yang telah kamu ketahui. Bahwasannya, gunung yang memiliki ketinggian 1.653 mdpl ini memiliki banyak sekali misteri dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Salam lestari Sumber gambar: http://ciyusadventure.blogspot.comGunung Penanggungan (disebut juga Pawitra) dengan puncak tertingginya 1.653 mdpl adalah gunung berapi kerucut (istirahat) yang terletak di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di antara Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan.

Gunung Penanggungan merupakan sebuah gunung kecil yang masuk di kluster Pegunungan Arjuno Welirang yang jauh lebih besar areanya. Gunung Penanggungan hanya berjarak 55 km dari Kota Surabaya, namun sangat jarang transportasi umum yang menuju ke pos-pos pendakiannya.

Gunung Penanggungan sering disebut sebagai miniatur Gunung Semeru. Hal ini karena menurut kepercayaan Jawa Kuno, Gunung Penanggungan adalah puncak dari Gunung Semeru itu sendiri yang dipotong oleh dewa untuk menyeimbangkan Pulau Jawa yang pada masa itu terombang-ambing di lautan. Hal ini juga yang membuat Gunung Penanggungan masuk dalam daftar salah satu gunung suci bagi Umat Hindu di Indonesia.

Anda pasti membayangkan, Bagaimana cara anda untuk bisa mendaki gunung ini dan mencapai semua puncaknya? Darimana anda harus memulai? Bagaimana cara anda kesana ? Kapan anda bisa kesana? Berapa banyak biaya yang anda butuhkan? Dimana anda bisa mendapatkan jasa guide dan porter? Dimana anda bisa mendapatkan peralatan pendakian? Kesalahan gunung penanggungan saja yang banyak dilakukan oleh kebanyakan pendaki?

Apa saja kesulitan yang akan anda temui? Banyak pertanyaan tanpa ada jawaban! Banyak waktu dan enerji anda yang terbuang sia-sia tanpa mendapatkan informasi yang benar-benar penting untuk gunung penanggungan pendakian ke Gunung Penanggungan. Tujuan dari ditulisnya artikel ini adalah untuk memberikan anda informasi mengenai apa saja yang anda butuhkan untuk mendaki Gunung Penanggungan dan kesalahan apa saja yang harus anda hindari.

Untuk anda yang tidak ingin repot dan ingin memercayakan segala hal yang berkaitan dengan pendakian Gunung Penanggungan kepada kami, anda dapat menemukan program dan harga yang sesuai dengan kebutuhan anda di artikel ini. Dan akhirnya, untuk kalian yang penasaran, di bagian paling akhir artikel ini kami akan memberikan penjelasan kepada anda tentang Gunung Penanggungan Contents • 1 8 Hal Yang Harus Anda Tahu Sebelum Mendaki Gunung Penanggungan • 1.1 Bagaimana cara untuk pergi gunung penanggungan Gunung Penanggungan?

• 1.2 Bagaimana cara untuk sampai di Desa Tamiajeng? • 1.3 Bagaimana cara untuk sampai di Desa Jolotundo? • 1.4 Bagaimana cara untuk sampai di Desa Kedungudi? • 1.5 Bagaimana cara untuk sampai ke Desa Kunjorowesi, Ngoro? • 1.6 Kapan saya bisa mendaki Gunung Penanggungan? • 1.7 Apakah saya harus membayar tiket masuk?

gunung penanggungan

• 1.8 Dimana saya bisa menemukan penginapan? • 1.9 Mendaki Gunung Penanggungan, dengan atau tanpa guide? • gunung penanggungan Dimana saya bisa mendapatkan jasa guide dan porter? • 1.11 Dimana saya bisa menyewa peralatan pendakian? • 1.12 Kesalahan yang Harus Anda Hindari Sebelum dan Selama Pendakian Gunung Penanggungan. • 2 Pendakian Gunung Penanggungan • 2.1 Pendakian Gunung Penanggungan Via Jalur Tamiajeng • 2.2 Pendakian Gunung Penanggungan Via Jalur Jolotundo • 2.3 Pendakian Gunung Penanggungan Via jalur Kedungudi • 2.4 Pendakian Gunung Penanggungan Via jalur Kunjorowesi – Ngoro • 3 Gunung Penanggungan dan Serba-serbinya 8 Hal Yang Harus Anda Tahu Sebelum Mendaki Gunung Penanggungan Bagaimana cara untuk pergi ke Gunung Penanggungan?

Untuk memulai pendakian ke Gunung Penanggungan, anda bisa menuju Kota Surabaya terlebih dahulu. Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur yang bisa dijangkau dengan mudah oleh hampir semua moda transportasi di Indonesia. Sedangkan untuk jalur pendakian Gunung Penanggungan sendiri sampai saat ini diketahui ada 4 jalur yang bisa dilalui, yaitu melalui Desa Tamiajeng, Desa Jolotundo, Desa Kedungudi, dan Desa Kunjorowesi (sisi utara).

Jalur yang paling populer dan paling sering dilewati adalah jalur Desa Tamiajeng. Bagaimana cara untuk sampai di Desa Tamiajeng? Untuk menuju Desa Tamiajeng baik dari Surabaya ataupun Malang, anda bisa menggunakan bus ekonomi untuk kemudian berhenti di terminal bus Pandaan.

Dari sini anda harus mencari angkutan umum (biasanya berupa minibus/L300) atau ojek untuk menuju ke Trawas. Apabila anda menggunakan angkutan umum, anda harus turun di Markas Koramil Trawas untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju ke Pos Pendakian Desa Tamiajeng.

Anda juga bisa menggunakan taksi dari Bandara Juanda untuk langsung menuju ke pos pendakian Tamiajeng dengan biaya sekitar 400.000 – 500.000 rupiah Bagaimana cara untuk sampai di Desa Jolotundo? Untuk menuju Desa Jolotundo baik dari Surabaya ataupun Malang, anda bisa menggunakan bus ekonomi untuk kemudian berhenti di terminal bus Pandaan.

Dari sini anda harus mencari angkutan umum (biasanya berupa minibus/L300) atau ojek untuk menuju ke Trawas. Apabila anda menggunakan angkutan umum, anda harus turun di Markas Koramil Trawas gunung penanggungan kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju ke Pemandian Jolotundo. Anda juga bisa menggunakan taksi dari Bandara Juanda untuk langsung menuju ke Pemandian Jolotundo dengan biaya sekitar 400.000 – 500.000 rupiah.

Bagaimana cara untuk sampai di Desa Kedungudi? Untuk menuju Desa Kedungudi baik dari Surabaya ataupun Malang, anda bisa menggunakan bus ekonomi untuk kemudian berhenti di terminal bus Pandaan. Dari sini anda harus mencari angkutan umum (biasanya berupa minibus/L300) atau ojek untuk menuju ke Trawas. Apabila anda menggunakan angkutan umum, anda harus turun di Markas Koramil Trawas untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju ke Desa Kedungudi.

Anda juga bisa menggunakan taksi dari Bandara Juanda untuk langsung menuju ke Desa Kedungudi dengan biaya sekitar 400.000 – 500.000 rupiah. Anda cukup bilang dengan sopir taksi bahwa anda ingin pergi menuju Pemandian Jolotundo, dari sini anda bisa bertanya kepada warga sekitar arah menuju Desa Kedungudi.

Bagaimana cara untuk sampai ke Desa Kunjorowesi, Ngoro? Jalur pendakian ini dapat anda capai dengan menggunakan bus ekonomi baik dari Malang ataupun Surabaya dengan tujuan Bundaran Apollo. Dari sini anda bisa melanjutkan perjalanan menuju Desa Kunjorowesi dengan menggunakan ojek. Kapan saya bisa mendaki Gunung Penanggungan? Gunung Penanggungan terbuka untuk aktifitas pendakian hampir sepanjang tahun. Pada puncak musim kemarau, apabila terjadi kebakaran hutan, maka kegiatan pendakian akan ditutup untuk sementara.

Bulan Mei – September adalah waktu terbaik untuk mendaki ke Gunung Penanggungan. Apakah saya harus membayar tiket masuk? Ya, anda harus membeli tiket masuk di tiga jalur pendakian resmi, yaitu jalur Tamiajeng, jalur Jolotundo, dan jalur Kedungudi.

Sedangkan untuk jalur Kunjorowesi tidak perlu membeli tiket masuk karena ini bukan jalur resmi dan tidak ada pos pendakian. Dimana saya bisa menemukan penginapan? Di tiga jalur pendakian resmi, anda bisa menemukan banyak hotel dan homestay di area sekitar Trawas karena area ini adalah salah satu tujuan wisata.

Trawas menyediakan berbagai jenis akomodasi dan tentunya dengan fasilitas dan harga yang bervariasi. Sedangkan untuk jalur Kunjorowesi tidak ada penginapan atau hotel sama sekali. Apabila anda memilih untuk mendaki lewat jalur ini disarankan untuk mencari hotel atau penginapan di area Surabaya dan Sidoarjo. Mendaki Gunung Penanggungan, dengan atau tanpa guide? Gunung Penanggungan pada dasarnya cukup aman untuk pendakian tanpa bantuan jasa guide melalui jalur Gunung penanggungan.

Namun apabila anda memilih untuk mendaki melalui jalur Jolotundo, Kedungudi, atau Ngoro lebih disarankan apabila anda menggunakan jasa guide. Hal ini dikarenakan di beberapa titik jalur pendakian terdapat persimpangan yang bisa menyesatkan anda. Dengan menggunakan jasa guide, anda juga bisa lebih leluasa untuk menjelajah situs purbakala di kawasan Gunung Penanggungan. Dimana saya bisa mendapatkan jasa guide dan porter? Untuk menggunakan jasa porter, anda harus menghubungi pos pendakian masing-masing jalur untuk menanyakan ketersediaan guide dan porter.

Sedangkan untuk jalur Kunjorowesi, anda disarankan untuk menghubungi salah satu pos diatas untuk menanyakan ketersediaan dan juga kesepakatan meeting point. Atau anda bisa menggunakan jasa travel gunung penanggungan untuk mengakomodir kebutuhan anda.

Dimana saya bisa menyewa peralatan pendakian? Tidak ada persewaan ataupun penyedia peralatan pendakian di sekitar area pos pendakian. Anda harus membawa peralatan pendakian anda sendiri untuk mendaki Gunung Penanggungan (kecuali anda menggunakan jasa travel organizer yang sudah mempersiapkan semua kebutuhan perjalanan pendakian anda).

Kesalahan yang Harus Anda Hindari Sebelum dan Selama Pendakian Gunung Penanggungan. • Datang tanpa tahu kegiatan pendakian sedang ditutup. • Melakukan pendakian sendiri tanpa dibekali informasi yang cukup. • Melakukan pendakian tanpa peralatan yang memadai. • Melakukan pendakian tanpa didampingi oleh seseorang yang tahu kondisi dan arah jalur pendakian. Kita telah membahas mengenai persiapan sebelum pendakian Gunung Penanggungan. Sekarang mari kita bahas mengenai gunung penanggungan pendakiannya.

Pendakian Gunung Penanggungan Pendakian Gunung Penanggungan Via Jalur Tamiajeng Pendakian Gunung Penanggungan jalur Tamiajeng adalah jalur resmi yang paling populer karena waktu pendakian yang relatif singkat.

Perlu anda ketahui juga bahwa tidak ada sumber air di sepanjang jalur pendakian Tamiajeng, jadi pastikan anda membawa persediaan air yang cukup. Di awal jalur pendakian anda akan disuguhkan dengan jalan berbatu hingga Pos 2 dengan kemiringan yang relatif landai. Setelah Pos 2 anda akan dihadapkan dengan jalut tanah padat dan mulai menanjak gunung penanggungan Pos 4.

Dari Pos 4 jalur mulai menanjak terjal sampai puncak bayangan. Jalur ini sangat berdebu di musim kemarau, dan sangat licin ketika musim hujan tiba.

Estimasi waktu pendakian dari Pos Tamiajeng menuju Puncak Bayangan adalah sekitar 2-3 jam. Dari Gunung penanggungan Bayangan, anda akan melewati jalur berpasir dan bebatuan dengan kemiringan sekitar 45 derajat sampai di Puncak Penanggungan (1.653 gunung penanggungan dengan estimasi waktu tempuh sekitar 1 jam.

Pendakian Gunung Penanggungan Via Jalur Jolotundo Pendakian Gunung Penanggungan jalur Jolotundo lebih panjang daripada jalur Tamiajeng. Namun, jalur ini memiliki keunikan tersendiri dengan gunung penanggungan beberapa situs purbakala sepanjang jalur pendakian. Jalur ini hanya memiliki sumber air di situs Pemandian Jolotundo, selain itu tidak akan ada lagi sumber air sepanjang jalur pendakian.

Jalur pendakian dimulai dengan jalan setapak dari pos pendakian menuju Candi Bayi yang juga merupakan candi pertama di jalur ini. Setelah itu, anda harus mengambil jalur kiri melewati bekas aliran lahar purba dan dilanjutkan dengan jalur menanjak menembus hutan. Candi kedua yang akan kita jumpai di jalur ini adalah Candi Putri yang juga merupakan candi terbesar di jalur pendakian Jolotundo.

Masih mengikuti jalan setapak, selepas Candi Putri anda akan tiba di Candi Pura. Candi Pura sendiri adalah sebauah candi yang bentuknya sudah tidak tertata rapi namun ukurannya cukup besar. 15 menit mendaki dari Candi Pura, anda akan disambut oeh Candi Gentong yang bentuknya mirip seperti tempat pemujaan dengan dilengkapi sebuah gentong (wadah air) dari batu dengan ukuran yang cukup besar.

Rute selanjutnya akan mengarahkan anda menuju Candi Sinta setelah 10 menit gunung penanggungan dari Candi Gentong. Candi ini merupakan candi terakhir di jalur ini. Setelah Candi Sinta, jalur pendakian akan semakin menanjak dengan pepohonan yang mulai berkurang mendekati batas vegetasi. Teruslah mengikuti jalur yang ada sampai anda gunung penanggungan di dataran yang lumayan luas, dari sini anda bisa melanjutkan perjalanan menuju ke puncak dengan estimasi waktu sekitar 15-30 menit pendakian.

Pendakian Gunung Penanggungan Via jalur Kedungudi Jalur pendakian ini terletak di antara jalur Tamiajeng dan jalur Jolotundo. Jalur ini baru resmi dibuka pada tahun 2014. Anda akan memulai perjalanan dari Desa Kedungudi.

Jalur ini juga memiliki beberapa candi yang bisa anda jumpai di sepanjang jalur pendakiannya. Memulai pendakian dari Desa Kedungudi dengan berjalan sekitar 3 jam melewati jalur di area perkebunan PT Perhutani hingga anda tiba di candi pertama. Di sepanjang jalur ini anda juga dapat melihat bongkahan batu-batu andesit dalam ukuran besar dan gunung penanggungan aliran lahar purba Gunung Penanggungan sebelum anda tiba di Candi Carik.

Melanjutkan perjalanan dari Candi Carik selama 30 menit, anda bisa menjumpai bangunan candi yang lain. Candi ini bernama Candi Lurah, di areal ini anda gunung penanggungan bisa mendirikan tenda karena tanah datar yang tersedia cukup luas. 20 menit pendakian dari Candi Lurah anda bisa melihat Candi Guru yang berada di Puncak Sarahklopo dengan melewati jalur yang curam dan berbatu.

Dari Candi Lurah, anda juga bisa menuju ke Candi Siwa yg terletak sedikit di bawah jalur pendakian. Gunung penanggungan ini memiliki pondasi dari batu andesit yang tersusun rapi dan memanjang. Melanjutkan perjalanan dari Candi Guru mengikuti jalan setapak anda akan menemukan sebuah candi tanpa nama yang sudah tidak berbentuk, hanya menyisakan serakan batu candi dan pecahan terakota. Sedikit mendaki mengikutijalur, anda akan menemukan Candi Wisnu dengan ciri-ciri dinding yang menempel pada lereng Gunung Penanggungan.

Selepas Candi Wisnu, anda akan langsung menuju ke Goa Butol. Dalam perjalanan menuju Goa Butol, sekitar 15 meter di sebelah kanan jalur anda dapat menemukan Candi Kama. Candi ini sedikit tertutup oleh rimbunnya semak dan kaliandra. Sesampainya di Goa Butol, anda dapat langsung melanjutkan perjalanan menuju Puncak atau beristirahat di goa ini.

Pendakian Gunung Penanggungan Via jalur Kunjorowesi – Ngoro Jalur Pendakian ini merupakan jalur pendakian Gunung Penanggungan yang terberat dan tercepat diantara jalur-jalur lainnya. Perlu diingat juga bahwa jalur ini bukan jalur resmi, sehingga anda tidak akan menemui pos perijinan pendakian. Oleh karena itu untuk anda yang baru pertama kali mendaki lewat jalur ini sangat disarankan untuk menggunakan jasa guide. Jalur ini dimulai dari dari Candi Jedong, mengikuti jalan perkampungan menuju Kampung Telogo, Desa Konjurowesi.

Jalur ini juga sama dengan jalur-jalur lainnya yang tidak memiliki sumber mata air di sepanjang jalurnya. Selepas Kampung Telogo, anda akan memasuki kawasan hutan mahoni yang lebat dengan mengikuti jalur utama yang cukup jelas mengarah ke selatan.

Setelah hutan mahoni, perjalanan anda akan melewati hutan akar. Tidak ada vegetasi pohon besar di area ini dengan jalurnya yang terdiri dari pasir dan batu sampai anda memasuki kawasan alang-alang yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda.

Selepas hutan alang-alang anda akan menuju dataran luas yang merupakan pertemuan jalur Kunjorowesi dengan jalur dari Jolotundo. Dalam perjalanan menuju ke dataran ini anda akan menjumpai Candi Merak (1.011 mdpl), Candi Lemari (1.049 mdpl), Candi Yudha (1.082 mdpl), Candi Pendhawa (1.082 mdpl), dan Candi Naga (1.135 mdpl).

Dari kawasan dataran ini menuju puncak Gunung Penanggungan bisa anda tempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit. Semua aspek tentang pendakian Gunung Penanggungan telah kita bahas. Sekarang saatnya untuk membahas Gunung Penanggungan itu sendiri! Bagi anda yang penasaran, dibawah ini anda akan menemukan penjelasan tentang Gunung Penanggungan, beserta dengan sejarah dan mitosnya.

Gunung Penanggungan dan Serba-serbinya Gunung Penanggungan (dahulu bernama Gunung Pawitra) dengan puncaknya di ketinggian 1.653 mdpl adalah gunung berapi kerucut (istirahat) yang terletak di Jawa Timur, Indonesia.

Posisinya berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur), berjarak kurang lebih 55 km dari Surabaya.

Gunung Penanggungan merupakan gunung kecil yang berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang jauh lebih besar. Gunung Penanggungan sering disebut sebagai miniatur dari Gunung Semeru, karena hamparan puncaknya yang sama-sama terdapat pasir dan batuan yang luas.

Menurut kepercayaan Jawa Kuno, Gunung Penanggungan merupakan salah satu bagian puncak Mahameru yang dipindahkan oleh penguasa alam. Penanggungan merupakan salah satu gunung suci umat Hindu di Jawa. Dilihat dari sisi sejarah, gunung ini memiliki nilai yang penting. Di sekujur lereng gunung ini ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun pemandian dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Berdasarkan studi selama dua tahun (2012-2014) ditemukan 116 situs percandian atau objek kepurbakalaan, mulai dari kaki sampai mendekati puncak gunung. Beberapa situs purbakala yang ditemukan adalah Gapura Jedong (926 Masehi), Pemandian Jolotundo (abad ke-10), Pemandian Belahan, Candi Kendalisodo, Candi Merak, Candi Yudha, Candi Pandawa, dan Candi Selokelir.

Selain bangunan Hindu, ditemukan pula punden berundak dan tempat pertapaan. Candi-candi di Gunung Penanggungan memiliki gaya yang unik, yaitu bangunannya menempel pada lereng Gunung Penanggungan, tidak berdiri sendiri. Tantu Pagelaran, sebuah kitab jawa kuno dari era Kerajaan Majapahit mencatat bagaimana pada saat Gunung Mahameru yang diangkut dari India ke Jawa, dengan maksud untuk memaku Pulau Jawa sehingga tidah terombang-ambing lagi.

Selama perjalanan dari barat ke timur, serpihan gunung yang tercecer ke bumi menciptakan rantai puncak gunung berapi.

Potongan utamanya menjadi Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa, sementara puncaknya yang dipotong oleh para dewa diletakkan di barat laut.

Potongan inilah yang sekarang kita kenal dengan Gunung Penanggungan. Gunung Pawitra yang legendaris yang kita kenal sebagai Gunung Penanggungan, yang membentang diantara wilayah Pasuruan dan Mojokerto. Ketinggiannya hanya 1.653 meter di atas permukaan laut, Penanggungan bukanlah gunung yang tinggi karena pada kenyataannya, kalah oleh ketinggian deretan Pegunungan Arjuna / Welirang yang terletak tidak jauh di selatan.

Namun, bentuk unik gunung ini, serta posisinya yang berada di dataran utara Jawa Timur, membuat Penanggungan sangat mencolok. Ia memiliki pertemuan sentral yang hampir bulat sempurna, di bawahnya ada empat puncak kecil, gunung penanggungan lebih secara simetris terletak di arah mata angin. Tak heran kalau kemudian orang Jawa kuno melihat Gunung Penanggungan sebagai bentuk refleksi dari Mahameru suci dari mitologi Hindu.

Meskipun penelitian di Gunung Penanggungan sudah dimulai sejak tahun-tahun awal abad ini, sebelum tahun 1930-an, setelah sebuah ekspedisi yang mengungkapkan tidak kurang dari 81 lokasi terpisah, bahwa pentingnya gunung sebagai situs arkeologi sangat dihargai. Karena banyak monumen tidak memiliki nama, mereka akhirnya diberi angka Romawi oleh Profesor van Romondt pada tahun 1951, suatu sistem klasifikasi yang pada masa itu menjadi standar, sampai sekarang.

gunung penanggungan

Prasasti-prasasti dari Gunung Penanggungan menunjukkan penanggalan dari tahun 977 hingga 1511, lebih dari lima abad. Beberapa peninggalan sebelumnya, terutama Petirtaan Belahan dan Jolotundo bahkan telah dihubungkan dengan tokoh-tokoh sejarah seperti Mpu Sindok, Udayana dan Airlangga pada abad ke-10. dan abad ke 11. Sebagian besar situs, berasal dari periode Majapahit, yang akan anda temukan di lereng gunung utara dan barat. Memiliki bentuk kecil, bertingkat, dibangun melawan kontur alami dari lereng gunung, kelompok candi-candi ini menunjukkan kecenderungan dibangun pada tahun-tahun penurunan Majapahit menuju munculnya kembali kepercayaan tradisional kuno yang terhubung terutama dengan pemujaan arwah leluhur dan jiwa-jiwa yang pergi.

Ukiran relief yang ditemukan di beberapa situs, seperti di Candi Kendalisada, meskipun tidak begitu berbeda dalam gaya dengan yang ditemukan di beberapa candi Jawa Timur lainnya dari periode tersebut, cenderung menampilkan tema-tema yang sekaligus lebih gunung penanggungan, serta berakar lebih kuat dalam tradisi lokal (animism dan dinamisme). Beberapa situs purbakala Gunung Penanggungan dapat ditemukan di lereng puncak Bekel dan Gajah Mungkur.

Para pengunjung yang datang memiliki pilihan untuk memulai dari sisi barat (Jolotundo dan Kedungudi), atau dari lereng utara (Candi Jedong-Kunjorowesi). Pendakian sepanjang hari melintasi 2 jalur ini membuat kita bisa menemukan banyak situs purbakala menarik, yang terletak di tengah-tengah lanskap pegunungan yang liar.

Gunungapi di Indonesia Pendakian Gunung Gede Pangrango Gunung penanggungan Gede adalah gunung berapi Indonesia yang terletak di Jawa Barat. Dengan puncaknya berada di ketinggian 2.958 meter. Letusan terakhirnya terjadi pada 13 Maret 1957. Gunung ini berdampingan dengan Gunung Pangrango yang mencapai ketinggian 3.019 meter dan merupakan Read more… Gunungapi di Indonesia Pendakian Gunung Tambora Gunung Tambora, atau Tomboro, adalah stratovolcano aktif di bagian utara Sumbawa, salah satu Kepulauan Sunda Kecil di Indonesia.

Tambora dikenal karena letusan utamanya pada tahun 1815. Itu terbentuk karena zona subduksi aktif di bawahnya, dan Read more…
Gunung Penanggungan Titik tertinggi Ketinggian 1 653 m (5 423 kaki) Koordinat 7°36′54″S 112°37′12″E  /  7.615°S 112.62°E  / -7.615; 112.62 Geografi Letak Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia Geologi Jenis gunung Stratovolcano Gunung Penanggungan (nama kuno: Gunung Pawitra) (1.653 m dpl) adalah gunung berapi kerucut dalam kondisi istirahat yang berada di Jawa Timur, Indonesia.

Posisinya berada di perbatasan dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (sisi gunung penanggungan dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur) dan berjarak kurang lebih 55 km sebelah selatan kota Surabaya. Gunung Penanggungan merupakan gunung kecil yang berada pada satu kluster dengan Gunung Gunung penanggungan dan Gunung Welirang yang jauh lebih besar.

Meskipun kecil, gunung ini memiliki keunikan dari sisi kesejarahan, oleh karena di sekujur permukaannya, mulai dari kaki sampai mendekati puncak, dipenuhi banyak situs kepurbakalaan yang dibangun pada periode Hindu-Buddha dalam sejarah Indonesia.

Gunung Penanggungan dipandang sebagai gunung keramat, suci, dan merupakaan jelmaan Mahameru, gunungnya para dewa. Hal tersebut juga terkait dengan tata letak Gunung Penanggungan yang unik. Dalam kitab Tantu Panggelaran Saka 1557 atau 1635 M, konon dinyatakan bahwa para dewa sepakat untuk menyetujui bahwa manusia dapat berkembang di Pulau Jawa, namun pulau itu tidak stabil, selalu berguncang diterpa ombak lautan.

Lalu untuk menstabilkan kondisi Pulau Jawa, para dewa memindahkan Gunung Mahameru dari Jambhudwipa ke Jawadwipa. Dalam perjalanan kepindahan tersebut, sebagian Mahameru ada yang rontok berjatuhan, maka menjelmalah gunung-gemunung yang ada di Pulau Jawa dari barat ke timur. Bagian terbesarnya jatuh menjelma menjadi Gunung Semeru, sedang puncak Mahameru dihempaskan oleh para dewa menjadi Pawitra yang sekarang disebut Gunung Penanggungan.

Oleh karena itu, Pawitra menjadi gunung yang keramat dalam pemikiran Jawa masa Hindu-Buddha, karena puncak Mahameru gunung penanggungan dipindahkan ke Jawa. [1] Daftar isi • 1 Geologi dan morfologi • 2 Arkeologi dan nilai budaya • 3 Vegetasi • 4 Rute Pendakian • 5 Galeri • 6 Rujukan • 7 Lihat pula Geologi dan morfologi [ sunting - sunting sumber ] Gunung Penanggungan sering dianggap sebagai miniatur dari Gunung Semeru, karena hamparan puncaknya yang sama-sama terdapat pasir dan batuan yang luas.

Puncak Penanggungan (1653 m) berupa kerucut piroklastik dilengkapi dengan kubah lava, dikelilingi oleh delapan puncak yang lebih rendah, yaitu Gunung Wangi (987 m, sisi tenggara), Gunung Bendo (1015 m, sisi selatan), Gunung Sarahklapa (1235 m, sisi barat daya), Gunung Jambe (745 m, sisi barat), Gunung Bekel (1260 m, sisi barat laut), Gunung Gambir/Genting (588 m, sisi utara), Gunung Gajahmungkur (1089 m, sisi timur laut), dan Gunung Kemuncup (1238 m, sisi timur).

Ditilik dari usia pembentukan, Gunung Penanggungan terbentuk dari aktivitas generasi ketiga di kompleks Arjuno-Welirang- Anjasmoro, satu periode pembentukan dengan Gunung Arjuno muda, Gunung Welirang, dan Gunung Kelud, diperkirakan pada kala Holosen. [2] [3] Aliran lava (tua) dari kawah tepi mengalir ke seluruh sisi dan tumpukan sisa awan panas (aliran piroklastik) membentuk punggungan di sekitarnya. Kajian oleh tim van Bemmelen (1937) mendapati gunung api ini telah tidak aktif paling tidak gunung penanggungan 1000 tahun, dan erupsi terakhir diperkirakan terjadi sekitar 200 M.

[4] Kawasan sekitaran Gunung Penanggungan merupakan hunian yang tergolong padat, juga merupakan pusat industri manufaktur yang berkembang pesat.

gunung penanggungan

Dalam radius 5 km dari puncak, hampir 20 000 jiwa menghuni kawasan sekeliling gunung; tetapi dalam jarak 10 km terdapat lebih daripada 400 ribu jiwa yang menghuni kawasan sekeliling gunung. [4] Arkeologi dan nilai budaya gunung penanggungan sunting - sunting sumber ] Candi Kendalisodo. Lihat pula: Cagar Budaya Gunung Penanggungan. Dilihat dari sisi sejarah, gunung ini memiliki nilai yang penting karena di sekujur lerengnya dipenuhi oleh ratusan situs-situs arkeologi dan spiritual Indonesia dari era Hindu-Buddha.

Lebih daripada seratus bangunan atau sisa bangunan ditemukan, kebanyakan berada pada sisi barat sampai utara (Kecamatan Trawas, Mojokerto). [5] Menurut mitos Jawa, sebagaimana tertulis dalam Kitab Tantu Panggelaran, Gunung Penanggungan (Pawitra) merupakan bagian puncak Gunung Mahameru yang tercecer ketika dipindahkan ke Jawadwipa (Pulau Jawa). Penanggungan merupakan salah satu dari sembilan gunung yang dianggap suci di Jawa. Kakawin Negarakertagama menyebutkan bahwa Gunung Pawitra merupakan satu dari tujuh gunung gunung penanggungan para resi bertapa (gunung lainnya adalah Pucangan, Sampud, Rupit, Pilan, Jagadhita, dan Butun [6]).

Tampaknya, referensi kesucian tersebut tidak terlepas dari morfologi kompleks gunung ini, berupa satu puncak tertinggi yang dikelilingi oleh delapan puncak yang posisinya sedikit banyak mengingatkan pada gambaran mandala dalam kosmologi Hindu-Budha.

Mulai dari kaki, menuju ke lereng, sampai mendekati puncak gunung ini (yang telah ditemukan saat ini berada di Gunung Penanggungan sendiri, Gunung Bekel, Gunung Gajahmungkur, Gunung Sarahklapa, dan Gunung Kemuncup) ditemukan berbagai peninggalan purbakala, baik candi, ceruk pertapaan, objek tunggal, petirtaan, maupun jalan lintas dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Inventarisasi dan dokumentasi pertama kali dilakukan oleh tim Dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda 1935 –1940, di bawah pimpinan W.F.

Stutterheim dan A. Gall, setelah sebelumnya banyak laporan dari berbagai sumber sejak 1900, beberapa bahkan menyertakan foto dan menemukan prasasti angka tahun dari abad ke-15 M. [7] Tim mencatat 81 kepurbakalaan ("Kep.") yang diberi angka Romawi I–LXXXI. Hasil penelitian ini baru diterbitkan pada 1951, tetapi datanya tidak lengkap lagi. [8] Berdasarkan studi selama dua tahun (2012-2014) ditemukan 116 situs percandian atau objek kepurbakalaan, mulai dari kaki sampai mendekati puncak gunung.

[9] Eksplorasi oleh tim dari UTC/UPC Universitas Surabaya (Ubaya) hingga 2017 telah menginvetarisasi 198 situs/bangunan kepurbakalaan.

[10] Beberapa struktur yang ditemukan adalah Gapura Jedong (926 Masehi), Petirtaan Jalatunda (abad ke-10), Petirtaan Belahan (l.k. 1009 M), Candi Kendalisodo (Kep. LXV), Candi Merak (Kep. LXVII), Candi Yudha, Candi Pandawa (Kep. VI), dan Candi Selokelir (pertama kali dilaporkan tahun 1900 oleh seorang kontrolir bernama Broekveldt [7]). Selain bangunan, ditemukan pula benda-benda pendukung upacara dan tempat pertapaan. Candi-candi di Gunung Penanggungan gunung penanggungan gaya yang unik, yaitu bangunannya menempel pada dinding gunung/lereng, tidak berdiri sendiri.

Banyak di antaranya bergaya punden berundak, yang dianggap sebagai ciri khas asli gaya bangunan pemujaan di Nusantara.

Terbukanya "jalur ziarah" kuno setelah kebakaran hebat pada tahun 2015 juga menegaskan bahwa gunung ini adalah tempat suci bagi masyarakat Jawa di paruh pertama milenium kedua era modern. [8] Karena kekayaan peninggalan budaya ini, kawasan Gunung Penanggungan telah ditetapkan menjadi Cagar Budaya pada tahun 2015.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan "Satuan Ruang Geografis Kawasan Penanggungan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi" melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur no. 188/18/Kpts/013/2015 tanggal 14 Januari 2015. [11] [12] Vegetasi [ sunting - sunting sumber ] Vegetasi yang menutupnya merupakan kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Pada bagian kerucut teratas menuju puncak terdapat padang rerumputan (stepa pegunungan) yang didominasi gelagah dan alang-alang serta di sana-sini terdapat pohon kaliandra yang tampaknya sengaja ditanam sebagai tanaman penghijauan.

Rute Pendakian [ sunting - sunting sumber ] Selain sebagai kawasan sejarah dan ziarah, gunung berapi ini juga merupakan sasaran pendakian. Karena puncaknya yang relatif lebih rendah daripada gunung lain di gunung penanggungan, gunung ini cocok untuk dijadikan sarana "pemanasan" atau sekadar berlibur.

Ada sejumlah jalur pendakian yang umum digunakan. Jalur Wonosunyo, Betro, Gempol Jalur Betro diawali dari Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

gunung penanggungan

Ini adalah jalur yang dimulai dari sisi timur laut Gunung Penanggungan. Dari jalur ini pendaki akan melewati Petirtaan Belahan (Candi Sumber Tetek). Jalur Jalatunda, Trawas Awal jalur ini adalah Petirtaan Jalatunda di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, yang berlokasi di sisi barat gunung. Jalur ini boleh dibilang "jalur sejarah" atau "jalur ziarah" karena banyak melewati objek-objek purbakala, seperti Candi Bayi, Candi Putri, Candi Pura, Candi Gentong, dan Candi Sinta.

Ujung jalur ini adalah kawasan puncak sisi utara. Ada percabangan arah utara menuju Candi Naga I di dekat Candi Pura. Dari Jalatunda juga terdapat percabangan ke gunung penanggungan menuju puncak Gunung Bekel, yang akan melewati Candi Kama II dan Candi Kendalisodo.

Jalur Kedungudi, Trawas Awal pendakian dimulai dari Desa Kedungudi, Kecamatan Trawas. Beberapa candi yang dilewati/berdekatan dengan jalur ini adalah Candi Guru dan Candi Siwa. Jalur ini juga berhubungan dengan jalur Jalatunda dan akan melewati Candi Sinta, Candi Lurah, Candi Carik, dan Candi Naga II.

Jalur Tamiajeng, Trawas Jalur ini adalah jalur paling populer bagi pendaki, dimulai dari Desa Tamiajeng, Trawas, Kabupaten Mojokerto, yang merupakan sisi barat daya gunung.

Jalur ini paling singkat, tetapi cukup terjal. Terdapat empat pos perhentian sebelum sampai lapangan puncak. Dari jalur ini akan melewati gunung penanggungan yang dikenal sebagai "Bukit Bayangan". Jalur Ngoro Jalur ini dimulai dari Kecamatan Ngoro, Mojokerto, [13] tepatnya Dusun Genting, Desa Watonmas Jedong.

Jalur ini adalah jalur terberat. Galeri [ sunting - sunting sumber ] • • ^ Dewan Kesenian Jawa Timur, Penanggungan: Warisan Leluhur yang Tersimpan, Surabaya: DKJT, 2018, 6.

• ^ Carstenz. A. GEOMORFOLOGI KOMPLEKS VULKAN ARJUNO-WELIRANG JAWA TIMUR. Artikel pada blog Klinik Geografi Fisik. Diakses 2 Januari 2019. • ^ Bahar. H. 2017. INTERPRETASI KONDISI GEOLOGI WILAYAH VULKANIKMENGGUNAKAN Analisis CITRASATELIT LANDSAT 8(Daerah Studi: Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Jurnal IPTEK Vol.21 No.2: 43-50. • ^ a b Global Volcanism Program. Penanggungan. • ^ Bachtiar JA, Jaelani LM. 2017. Visualisasi Peta Cagar Budaya menggunakan Geoportal Palapa pada Kawasan Situs Trowulan dan Gunung Penanggungan JURNAL TEKNIK ITS Vol.

6, No. 2: 2337-3520. • ^ Risa Herdahita Putri. Tempat Menyepi dan Belajar Agama. Majalah Historia daring. Edisi 7 Juni 2018, 19:16. Diakses 2 Januari 2019. • ^ a b Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1974. Laporan Hasil Survai Kepurbakalaan di Gunung Penanggungan (Jawa Timur). Berita Penelitian Arkeologi no. 1. Hal. 1-21. • ^ a b Chairul Akhmad. WAC 2017: Jejak Arkeologis Gunung Penanggungan [ pranala nonaktif permanen]. U-Zone Travel. Edisi 04 Mei 2017. Diakses 2 Januari 2019.

gunung penanggungan ^ Utomo, YW. Ditemukan 116 Situs di Gunung Penanggungan. Kompas Daring. Edisi Kamis, 16 Januari 2014. Diakses 16 Oktober 2014. • ^ Miftakhul F.S. Kenalkan 198 Cagar Budaya di Gunung Penanggungan. JawaPos daring Edisi 20 Mei 2017, 15:48:29 WIB.

Diakses 2 Jannuari 2019. • ^ Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. Penetapan Kawasan Cagar Budaya oleh Gubernur Jawa Timur. Indonesiana Platform Kebudayaan. 16 Desember 2014. Diakses 3 Januari 2019. • ^ Fahrizal Tito. Pemprov Jatim Terbitkan SK Dukung Ubaya ungkap Situs Gunung Penanggungan Diarsipkan 2019-01-03 di Wayback Machine. Edisi Senin, 30 Mei 2016 13:41:53 WIB. Diakses 3 Januari 2019. • ^ Ishomuddin. Jalur Pendakian Gunung Penanggungan Ditutup.

Tempo Daring. Edisi Selasa, 21 Oktober 2014. Diakses 11 November 2014. Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Daftar gunung di Indonesia Wikimedia Commons memiliki media mengenai Gunung Penanggungan. • Gunung Sunda • Bangkok • Bedil • Bohong • Boled • Bukit Tunggul • Burangrang • Cakrabuana • Calancang • Ceremai • Cikuray • Cuku • Endut • Galunggung • Gede • Geulis • Guntur • Halimun (perbatasan dengan Banten) • Kamojang • Kancana • Karacak • Kendang gunung penanggungan Kiaraberes-Gagak • Lalakon • Lamajang • Limbung • Malabar • Manglayang • Masigit • Padakasih • Pancar • Pangrango • Papandayan • Patuha • Perbakti • Gunung penanggungan (perbatasan dengan Jateng) • Puncak Besar • Riung • Salak • Sanggabuana • Sawal • Sedakeling • Tampomas • Tangkuban Parahu • Telaga Bodas • Tilu • Waringin • Wayang • Windu Banten • Andong • Gajah • Genuk • Lasem • Lawu (perbatasan dengan Jatim) • Merapi (perbatasan dengan Yogya) • Merbabu • Muria • Pojoktiga (perbatasan dengan Jabar) • Prahu • Rogojembangan • Sindara • Sipandu • Slamet • Srandil • Sumbing • Telomoyo • Tidar • Ungaran • Pegunungan Kapur Utara (perbatasan dengan Jatim) gunung penanggungan Pegunungan Kendeng (perbatasan dengan Jatim) • Pegunungan Menoreh (perbatasan dengan Yogya) • Pegunungan Sewu (perbatasan dengan Yogya dan Jatim) Yogyakarta • Anjasmoro • Argapura • Argowayang • Arjuno • Baluran • Banyak • Batok • Biru • Bromo • Buring • Butak • Geger • Gumitir • Ijen • Kawi • Kelud • Kembar I • Kembar II • Klotok • Kursi • Lawu (perbatasan dengan Jateng) • Lemongan • Liman • Limo • Lurus • Merapi • Pandan • Panderman • Penanggungan • Penanjakan • Pendil • Rante • Raung • Ringgit • Semeru • Suket • Welirang • Widodaren • Wilis • Pegunungan Kapur Utara (perbatasan dengan Jateng) • Pegunungan Kendeng (perbatasan dengan Jateng) • Pegunungan Sewu (perbatasan dengan Jateng dan Yogya) • Taman Nasional Bromo Tengger Semeru • Gunung Kelud • Gunung Barujari • Gunung Anjasmoro • Gunung Argapura • Arjuno • Baluran • Banyak • Batok • Biru • Bromo • Buring • Butak • Geger • Gumitir • Ijen • Kawi • Kelud • Gunung penanggungan I • Kembar II • Klotok • Kursi • Lawu (perbatasan dengan Jateng) • Lemongan • Liman • Limo • Lurus • Merapi • Pandan • Panderman • Penanggungan • Penanjakan • Pendil • Rante • Raung • Ringgit • Semeru • Suket • Welirang • Widodaren • Wilis • Pegunungan Kapur Utara (perbatasan dengan Jateng) • Pegunungan Kendeng (perbatasan dengan Jateng) • Pegunungan Sewu (perbatasan dengan Jateng dan Yogya) • Pantai Balekambang • Pantai Bantol • Pantai Clungup • Pantai Goa Cina • Pantai Jelangkung • Pantai Jonggring Saloka • Pantai Kedung Tumpang • Pantai Kondang Bandung • Pantai Kondang Iwak • Pantai Kondang Merak • Pantai Lenggoksono • Pantai Licin • Pantai Modangan • Pantai Mrutu • Pantai Nganteb • Pantai Ngliyep • Pantai Papuma • Pantai Popoh • Pantai Prigi • Pantai Sendangbiru • Pantai Sendiki • Pantai Sipelot • Pantai Tambak Asri • Pantai Tambakrejo • Pantai Tamban • Pantai Ungapan • Pantai Watu Leter • Pantai Watu Ulo • Pantai Wediawu • Pantai Wonogoro Air terjun • Halaman ini terakhir diubah pada 17 September 2021, pukul 11.47.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Advertisement Gunung Penangungan terletak di antara dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto di sisi barat dan Kabupaten Pasuruan di sisi timur.

Gunung Penanggungan memiliki ketinggian 1653 mdpl (meter diatas permukaan laut). Dan juga masih satu komplek dengan hamparan pegunungan Arjuna dan Welirang.

Gunung Penanggungan memilik banyak sejarah, karena di gunung penanggungan lereng ditemukan peninggalan masa silam. Termasuk situs-situs purbakala, prasasti, tempat petilasan, candi hingga pura. Karena gunung penanggungan destinasi pendakian ini masuk dalam Kawasan Cagar Budaya.

Pemandangan dari Gunung Penanggungan (c) Stivian/Travelingyuk Gunung Penanggungan juga memilik flora dan fauna, beberapa bahkan langka.

Semua keindahan itu bisa dilihat disepanjang jalur pendakian. kamu bisa menjumpai tanaman kaliandra dan juga pepohon besar seperti pinus. Terdapat juga beberapa jenis burung, seperti burung pleci, tengkek, gemak, trcukan, ciblek. Dan tentunya, para pendaki dilarang keras untuk melakukan perusakan flora, serta tidak boleh melakukan perburuan fauna yang berada di sana. Gunung Penanggungan (c) Stivian/Travelingyuk Akses untuk ke pos registrasi pendakian pun mudah dan terjangkau. Pada umumnya para pendaki akan menuju arah Pandaan, dan dilanjutkan ke Tretes/Trawas untuk menuju posko Tamiajeng.

Jalur Tamiajeng kini sering dilalui para pendaki, karena aksesnya mudah, tempat parkir luas, tersedia banyak toilet, dan warung-warung yang buka 24 jam. Hingga puncak bayangan terdapat 4 posyang harus dilalui dan bisa digunakan untuk beristirahat. Antara pos 1 ke pos 2, jalur masih santai dengan tanjakan belum terlalu tinggi. Mulai dari pos 2 sampai dengan posko 4, jalur menanjak dengan dan terjal.

Waktu tempuh dari pos regitrasi sampai dengan puncak bayangan kurang lebih 2,5 jam bagi yang sudah terbiasa. Gunung Penanggungan (c) Stivian/Travelingyuk Namun bagi yang belum terbiasa mendaki, waktu tempuh bisa sampai 4 jam, yang tentunya dengan di imbangi banyak istirahat menginggat jalur yang semakin menanjak.

Gunung Penanggungan cocok untuk pendaki pemula, karena aksesnya yang mudah dan jarak tempuh pendakian yang tidak jauh. Serta cocok sebagai pengenalan atau latihan jalur menanjak, sebelum mendaki ke gunung-gunung lain yang tanjakanya lebih panjang dan ekstrem.

gunung penanggungan

Gunung Penanggungan (c) Stivian/Travelingyuk Karakteristik jalurnya pun kombinasi dari jalur tanah dan jalur bebatuan. Untuk itu sangat direkomendasikan, sebelum melakukan pendakian harus memastikan tubuh dalam kondisi yang prima.

Dan tak lupa membawa peralatan standart, mulai dari sepatu gunung, jaket tebal, mantel hujan, tenda, sleepingbag, alat-alat masak, dan perbekalan logistic yang cukup. Serta pentingnya mematuhi tata tertib yang ada, seperti tidak membawa hal-hal yang dilarang, membuang sampah sembarangan, merusak tumbuhan, berburu dll. Serta yang wajib dilakukan adalah, membawa pulang sampah-sampah logistic yang telah selesai digunakan.

Dan tak kalah pentingnya adalah, harus selalu mengikuti jalur pendakian yang telah tersedia, jangan pernah membuat jalur pendakian sendiri agar tidak tersesat. Gunung Penanggungan (c) Stivian/Travelingyuk Pendakian ke Gunung Penanggungan, cocok dilakukan di musim kering seperti dibulan agustus, September dan oktober. Mengingat jalur pendakian kombinasi tanah dan batu, sehinggan jika musim penghujan jalur akan licin dan pendaki mudah terpeleset.

Jika di musim kering, pendaki disarankan menggunakan gunung penanggungan karena jalur akan berdebu. Serta yang harus diperhatikan adalah penggunaan korek api atau puntung rokok agar tidak dibuang sembarangan sehingga tidak memicu kebakaran hutan, karena di musim kering rerumputan banyak yang meranggas mati sehingga mudah terbakar.

Berada di puncak Gunung Penanggungan, cocok disaat malam gunung penanggungan, ketika bulan purnama di langit yang bersih tidak ada awan. Gunung Penanggungan (c) Stivian/Travelingyuk Sehingga bisa melihat bulan, bintang, dan lampu-lampu kota yang berada di bawah dengan sempurna. Dan ketika pagi, akan disajikan pemandangan mata hari terbit yang indah, serta landscape jejeran pegunungan yang ada di depanya.

Dan akan melihat puncak gunung penanggungan di Jawa yaitu Gunung Semeru. Selalu lakukan persiapan sebelum mendaki, jangan pernah memaksakan diri ketika tubuh sudah tidak kuat, dan tetap menjaga keselamatan diri sendiri maupun kelompok.

VIEW PUNCAK PENANGGUNGAN via JOLOTUNDO "MOVEONRAME-RAME" INSTANUSANTARA SURABAYA




2022 www.videocon.com