Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Ir. SOEKARNO adalah Presiden Indonesia Pertama, Lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Mei 1970 pada umur 69 tahun. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan Bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 (lebih dikenal dengan : SUPERSEMAR) yang isinya berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat, Menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan.

Supersemar menjadi dasar Soeharto untuk membubarkan PKI (Partai Komunis Indonesia) dan mengganti anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggungjawabannya ditolak oleh MPRS pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai Presiden pada Sidang Istimewa MPRSdi tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia. 7. Melakukan Kebijakan atas pemotongan nilai mata uang.Keuntungan dari kebijakan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana adalah rakyat kecil tidak dirugikan karena yang memiliki uang Rp.

2,50 ke atas hanya orang-orang kelas menengah dan kelas atas. Dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah uang yang beredar ,maka pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapat pinjaman sebesar Rp. 200 juta. 1. Terjadinya pengeluaran besar-besaran yang bukan ditujukan untuk pembangunan dan pertumbuhan ekonomi melainkan berupa pengeluaran militer untuk biaya konfrontasi Irian Barat, Impor beras, proyek mercusuar, dan dana bebas (dana revolusi) untuk membalas jasa teman-teman dekat dari rezim yang berkuasa.

7. Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi.

Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi. 9. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana dan negara-negara Barat.Sekali lagi, ini juga salah satu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik, ekonomi, maupun bidang-bidang lain.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998. 7. keberhasilan pembangunan khususnya selama Orde Baru, bisa menjadi perusakan alam dan kerugian besar untuk masyarakat daerah. Ini terjadi karena pelaksanaan pembangunan kurang memperhatikan analisis dampak sosial, dan dapat pengaruh banyaknya pejabat-pejabat yang menguasai sistem untuk kepentingan diri mereka masing-masing sebagaimana yang telah menjadi ciri dari pemerintahan dan masyarakat Orde Baru.

Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun) merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Habibie menjadi Presiden ke-3 Indonesia selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Habibie merupakan “blaster” antara orang Jawa [ibunya] dengan orang Makasar/Pare-Pare [ayahnya]. Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Fisika.

Selama enam bulan, ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955. Dengan dibiayai oleh ibunya, R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen-Jerman.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H.

Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia. 4. ekspor sangat sulit diharapkan dapat meningkat sebaik tahun 2000 karena pertimbuhan ekonomi dunia tahun 2001 menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan tahun 2000. • Masalah dana non-budgeter Bulog dan Bruneigate yang dipermasalahkan oleh anggota DPR.

• Fenomena makin rumitnya persoalan ekonomi ditunjukkan oleh beberapa indikator ekonomi. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) antara 30 Maret 2000 hingga 8 Maret 2001 menunjukkan growth trend yang negatif. Megawati Soekarnoputri, Presiden Republik Indonesia ke-5 yang biasa dipanggil Ibu Mega, lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947.

Sebelum diangkat sebagai presiden, beliau adalah Wakil Presiden RI yang ke-8 dibawah pemerintahan Abdurrahman Wahid. Megawati adalah putri sulung dari Presiden RI pertama yang juga proklamator, Soekarno dan Fatmawati. Wanita bernama lengkap Dyah Permata Megawati Soekarnoputri ini memulai pendidikannya, dari SD hingga SMA di Perguruan Cikini, Jakarta.

Sementara, ia pernah belajar di dua Universitas, yaitu Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung (1965-1967) dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972) tetapi belum pernah sampai sarjana. Dalam bahasa Inggris, kata sejarah ( history) berarti masa lampau umat manusia.

Dalam bahasa Jerman, kata sejarah ( geschicht) berarti sesuatu yang telah terjadi. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ditulis oleh W.J.S. Poerwadaraminta menyebutkan bahwa sejarah mengandung tiga pengertian sebagai berikut: Pada dasarya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Ekonomi – Manajemen Perusahaan Universitas Pancasakti Tegal dan menjawab pertanyaan yang ada pada rumusan masalah.

Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah perjuangan bangsa Indonesia pra kemerdekaan 2. Untuk mengetahui peristiwa – peristiwa heroik pasca kemerdekaan 3. Untuk mengetahui bagaimana sejarah pada masa orde lama 4.

Untuk mengetahui bagaimana sejarah pada masa orde baru Dalam proses penyusunan makalah ini menggunakan metode heuristic. Metode ini yaitu proses pencarian dan pengumpulan sumber-sumber dalam melakukan kegiatan penelitian. Metode ini dipilih karena pada hakekatnya sesuai dengan kegiatan penyusunan dan penulisan yang hendak dilakukan.

Selain itu, penyusunan juga menggunakan studi literatur sebagai teknik pendekatan dalam proses penyusunannya. Sistematika penyusunan makalah ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yang selanjutnya dijabarkan sebagai berikut : Bagian kesatu adalah pendahuluan.Pada bagian pendahuluan ini di paparkan tentang latar belakang, masalah batasan, dan rumusan masalah, tujuan penulisan makalah, metode penulisan dan sistematika penulisan makalah. Bagian Kedua yaitu pembahasan. Pada bagian ini merupakan bagaian utama yang hendak dikaji dalam proses penyusunan makalah.

Penyususn berusaha untuk mendeskripsikan berbagai temuan yang berhasil ditemukan dari hasil pencarian sumber/bahan. Bagian ketiga yaitu Kesimpulan. Pada Kesempatan ini penyusun berusaha untuk mengemukakan terhadap semua permasalahan-permasalahan yang dikemukakan Serangan tentara sekutu sudah mulai diarahkan ke Indonesia. Setelah menguasai Pulau Irian dan Pulau Morotai di Kepulauan Maluku pada tanggal 20 Oktober 1944. Jendral Douglas Mac Arthur, Panglima armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, menyerbu Kepulauan leyte (Filipina).

Penyerbuan ini adalah penyerbuan terbesar dalam Perang Pasifik. Pada tanggal 25 Oktober 1944 Jenderal Douglas Mac Arthur mendarat di pulau Leyte. Untuk menarik simpati rakyat Indonesia, Jepang mengijinkan pengibaran bendera Merah Putih di samping bendera Jepang. Lagu kebangsaan Indonesia Raya boleh dikumandangkan setelah lagu kebangsaan Jepang Kimigayo.

Pada akhir tahun 1944, kedudukan Jepang dalam Perang Pasifik sudah sangat terdesak. Angkatan perang Amerika Serikat sudah tiba di daerah Jepang sendiri dan secara teratur mengebom kota-kota utamanya. Ibukotanya sendiri, Tokyo, boleh dikatakan sudah hancur menjadi tumpukan puing. Dalam keadaan terjepit, pemerintah Jepang memberikan “kemerdekaan” kepada negeri-negeri yang merupakan front terdepan, yakni Birma dan Filipina. Tetapi kemudian kedua bangsa itu memproklamasikan lagi kemerdekaannya lepas dari Jepang.

Adapun kepada Indonesia baru diberikan janji “kemerdekaan” di kelak kemudian hari. Dengan cara demikian Jepang mengharapkan bantuan rakyat Indonesia menghadapi Amerika Serikat, apabila mereka menyerbu Indonesia. Dan saat itu tiba pada pertengahan tahun 1945 ketika tentara Serikat mendarat di pelabuhan minyak Balikpapan. Dalam keadaan yang gawat ini, pemimpin pemerintah pendudukan Jepang di Jawa membentuk sebuah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Junbi Cosakai).

Badan itu beranggotakan tokoh- tokoh utama Pergerakan Nasional Indonesia dari segenap daerah dan aliran dan meliputi pula Soekarno- Hatta. Sebagai ketuanya ditunjuk dr. Radjiman Wedyodiningrat seorang nasionalis tua, dengan dua orang wakil ketua, yang seorang dari Indonesia dan yang lain orang Jepang.

Pada tanggal 28 Mei 1945 dilakukan upacara pelantikan anggota Dokuritsu Junbi Cosakai, sedangkan persidangan pertama berlangsung pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945. Persidangan pertama itu dipusatkan kepada usaha merumuskan dasar filsafat bagi negara Indonesia Merdeka. Dalam sidang 29 Mei, Mr. Muh. Yamin di dalam pidatonya mengemukakan lima azas dan dasar negara kebangsaan Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Indonesia berikut ini.

Ia menambahkan pula nama Pancasila kepada kelima azas itu yang dikataknnya “atas usul seorang teman ahli bahasa”. Sesudah persidangan pertama itu, Dokuritsu Junbi Cosakai menunda persidangannya sampai bulan juli. Sementara itu pada tanggal 22 Juni 1945, 9 orang anggotanya yaitu : Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Muh. Yamin, Mr.

Ahmad subarjo, Mr. A.A. Maramis, Abdulkahar Muzakkir, Wachid hasyim, H. Agus salim dan Abikusno TjokroSuyoso membentuk suatu panitia kecil. tujuan negara Indonesia merdeka. Dokumen ini kemudian dikenal dengan nama “Piagam Jakarta” sesuai dengan penamaan Muh. Yamin. Kemudian pada tanggal 7 Agustus 1945, Dokuritsu Junbi Cosakai dibubarkan. Sebagai gantinya dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Pada tanggal 7 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan dr. Radjiman dipanggil oleh Panglima tertinggi Mandala Selatan Jepang yang membawahi seluruh Asia Tenggara, yakni Marsekal Darat Hisaici Terauci ke markas besarnya di Dalat (Vietnam selatan). Kepada ketiga pemimpin Indonesia itu, disampaikan oleh Marsekal Terauci bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Persoalan siapa yang sebaiknya menandatangani Proklamasi ini. Sukarni yang mengusulkan agar teks proklamasi sebaiknya ditandatangani oleh Ir.Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul itu diterima oleh seluruh hadirin, dan konsep itu kemudian diketik oleh Sayuti Melik. Naskah yang telah diketik oleh Sayuti Melik dan kemudian ditandatangani oleh Ir.

Soekarno dan Drs. Moh. Hatta inilah yang merupakan naskah proklamasi yang otentik (sejati). Malam itu juga diputuskan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dibacakan di tempat kediaman Ir. Soekarno, yaitu Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta (sekarang Jl. Proklamasi). Sejak pagi hari pada tanggal 17 Agustus 1945 telah diadakan persiapan- persiapan di rumah Ir.

Soekarno di Pegangsaan Timur 56 untuk menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia. Lebih kurang 1000 orang telah hadir untuk menyaksikan peristiwa yang maha penting itu. Pada pukul 10 kurang lima menit Hatta datang dan langsung masuk ke kamar Soekarno. Kemudian kedua pemimpin itu menuju ke ruang depan, dan acara segera dimulai tepat pada jam 10 sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.

Soekarno membacakan naskah proklamasi yang sudah diketik dan ditandatangani bersama dengan Moh. Hatta. Pada tanggal 19 Agustus 1945, Presiden dan wakil presiden memanggil beberapa anggota PPKI beserta golongan cendekiawan dan pemuda untuk membentuk “Komite Nasional Indonesia Pusat” (KNPI). KNPI akan berfungsi sebagai Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Perwakilan Rakyat (DPR), sebelum terbentuknya DPR hasil pilihan rakyat.

Sejak hari itu sampai awal September, Presiden dan wakil Presiden membentuk kabinet yang sesuai dengan UUD 1945 dipimpin oleh Presiden sendiri dan mempunyai 12 departemen serta menentukan wilayah RI dari Sabang sampai Merauke yang dibagi menjadi 8 propinsi yang masing- masing dikepalai oleh seorang Gubernur.

Propinsi-propinsi itu adalah Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara). Untuk menjaga keamanan, telah dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada masing-masing daerah sebagai munsur dari pada KNI daerah.

Pemerintah dengan sengaja tidak mau segera membentuk sebuah tentara nasional, karena khawatir bahwa hal itu akan menimbulkan kecurigaan dan sikap permusuhan dari pihak serikat. Para pemuda merasa tidak puas dengan kebijaksanaan pemerintah ini. Mereka berpendapat bahwa Pemerintah harus segera membentuk sebuah tentara nasional sebagai aparat kekuasaan negara yang baru itu.

Golongan pemuda yang tidak puas itu sebagian membentuk badan-badan perjuangan. Sebaliknya pemuda-pemuda bekas PETA, Heiho, KNIL dan anggota badan-badan semi militer, memutuskan untuk memasuki BKR di daerahnya masing-masing dan menjadikan badan itu wahana bagi perjuangan bersenjata menegakkan kedaulatan Republik Indonesia.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Mereka menganggap dirinya pejuang, sama dengan pemuda-pemuda yang membentuk badan- badan perjuangan. Pada bulan oktober golongan sosialis dibawah pimpinan Sutan Sahrir dan Amir Syarifudin berhasil menyusun kekuatan di dalam KNIP dan mendorong dibentuknya sebuah Badan Pekerja yang kemudian dikenal dengan sebutan BP-KNIP.

Langkah berikutnya adalah mendesak terbentuknya sebuah kabinet parlementer di bawah pimpinan seorang Perdana Menteri (suatu hal yang menyimpang dari UUD 1945). Tidak mengherankan bahwa yang diangkat sebagai perdana menteri adalah tokoh sosialis, mula Syahrir dan kemudian Amir Syarifudin. Perkembangan politik selanjutnya adalah dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 yang ditandatangani oleh wakil presiden Hatta yang mencanangkan pembentukan partai-partai politik.

Maka terbentuklah partai-partai seperti cendawan di musim hujan. Pertempuran 5 Hari atau Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan Tentara Jepang. Pertempuran ini adalah perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi (bedakan dengan Peristiwa 10 November – perlawanan terhebat rakyat Indonesia dalam melawan sekutu dan Belanda).

Pertempuran ini dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir tanggal 20 Oktober 1945.

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota SurabayaJawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit ) di Jl.

Tunjungan no. 65 Surabaya. Pertempuran Ambarawa atau yang sering disebut sebagai palagan Ambarawa memang menarik. Secara singkat, dapat diceritakan bahwa disebut Pertempuran Ambarawa karena memang terjadinya di kota Ambarawa.

Pertempuran itu sebenarnya sudah diawali sejak Oktober 1945, di mana pada tanggal 20 Oktober 1945 tentara Sekutu mendarat di Semarang di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Bethel Pada tanggal 24 Agustus 1945, antara pemerintah Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda tercapai suatu persetujuan yang terkenal dengan nama civil Affairs Agreement. Dalam persetujuan ini disebutkan bahwa panglima tentara pendudukan Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas nama pemerintah Belanda.

Dalam melaksanakan hal-hal yang berkenaan dengan pemerintah sipil, pelaksanaannya diselenggarakan oleh NICA dibawah tanggungjawab komando Inggris. Kekuasaan itu kelak di kemudian hari akan dikembalikan kepada Belanda. Inggris dan Belanda membangun rencana untuk memasuki berbagai kota strategis di Indonesia yang baru saja merdeka. Salah satu kota yang akan didatangi Inggris dengan “menyelundupkan” NICA Belanda adalah Medan. Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandungprovinsi Jawa BaratIndonesia pada 24 Maret 1946.

Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Latar belakang munculnya puputan Margarana atau pertempuran Margarana sendiri bermula dari Perundingan Linggarjati. Pada tanggal 10 November 1946, Belanda melakukan perundingan linggarjati dengan pemerintah Indonesia. Salah satu isi dari perundingan Linggajati adalah Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Selanjutnya Belanda diharuskan sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.

Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali yang diikuti oleh tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Tujuan dari pendaratan Belanda ke Bali sendiri adalah untuk menegakkan berdirinya Negara Indonesia Timur. Pada waktu itu Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang menjabat sebagai Komandan Resiman Nusa Tenggara sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI, sehingga dia tidak mengetahui tentang pendaratan Belanda tersebut.

Pertempuran Laut Aru adalah suatu pertempuran yang terjadi di Laut AruMalukupada tanggal 15 Januari 1962 antara Indonesia dan Belanda. Insiden ini terjadi sewaktu dua kapal jenis destroyer, pesawat jenis Neptune dan Frely milik Belanda menyerang RI Matjan Tutul (650)RI Matjan Kumbang (653) dan RI Harimau (654) milik Indonesia yang sedang berpatroli pada posisi 04,49° LS dan 135,02° BT. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, “Kobarkan semangat pertempuran”.

Pada tanggal 26 September 1945 terjadi perebutan kekuasaan dan para pegawai negeri semua mogok karena peristiwa ini. Sejak pukul 10.00, mereka mogok bekerja dan memaksa Jepang untuk menyerahkan semua kantor Jepang ke Indonesia. Diperkuat oleh pengumuman oleh KNI DI Yogyakarta pada 26 September 1945 bahwa kekuasaan di daerah itu sekarang berada di tangan pemerintah RI.

Kemudian terjadilah demo dan para pemuda berusaha untuk merebut senjata dan peralatan perang, sedapat mungkin tanpa melalui jalan kekerasan. Tapi karena usaha perundingan gagal, pada 1 Oktober malam, para pemuda, BKR dan kepolisian menyerbu Tansi Otsuka Butai yang berada di kota baru. Malam itu juga Otsuka Butai menyerah setelah 18 orang pemuda polisi gugur. Pada saat Belanda (Mayjend Van Mook) sedang mengadakan Konferensi Denpasar dalam rangka pembentukan negara Indonesia Timur dan negara-negara boneka lainnya, pada tanggal 11 Desember 1946 Belanda mengumumkan bahwa Sulawesi berada dalam status darurat perang dan hukum militer (akibat dari penolakan rakyat terhadap rencana (pembentukan Negara Indonesia Timur).

Rakyat Sulawesi Selatan yang diangap menolak atau tidak setuju/menentang rencana tersebut dibantai habis oleh pasukan Belanda pimpinan Raymond Westerling yang mengakibatkan lebih dari 40.000 jiwa rakyat Sulawesi meninggal. Robert Wolter Monginsidi dan Andi Matalatta yang memimpin pasukan untuk melawan kebiadaban Belanda akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. Di Aceh terjadi sebuah pertempuran besar.

Pertempuran tersebut terjadi karena pembentukan Organisasi yang dibentuk oleh para pemuda pada tanggal 6 oktober 1945 yang diberi nama Angkatan Pemuda Indonesia (API), namun seminggu berdirinya organisasi tersebut kemudian jepang melarang berdirinya Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana tersebut. Walaupun dipakasa untuk membubarkan API, tapi para pemuda menolak dengan keras dan timbullah pertempuran.

Para pemuda melucuti senjata Jepang. Selain itu, para pemuda juga mengambil alih kantor-kantor pemerintah Jepang dan mengibarkan bendera merah putih. Orde Lama adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soekarno di Indonesia.

Ir. Soekarno adalah presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 – 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya – berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat – menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan.

Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.

Orde Lama berlangsung dari tahun 1945 hingga 1968. Dalam jangka waktu tersebut, Indonesia menggunakan bergantian sistem ekonomi liberal dan sistem ekonomi komando.Di saat menggunakan sistem ekonomi liberal, Indonesia menggunakan sistem pemerintahan parlementer. Presiden Soekarno di gulingkan waktu Indonesia menggunakan sistem ekonomi komando. Pemerintahan Soekarno pada era 1960-an, masa ekonomi surut di Indonesia. Saat itu harga-harga melambung tinggi, sehingga pada tahun 1966 mahasiswa turun ke jalan untuk mencegah rakyat yang turun.

Mereka menuntut Tritura. Jika saat itu rakyat yang turun, mungkin akan terjadi people power seperti yang terjadi di Philipina. Pemerintahanj Rezim Militer (Orba) cukup baik pada era 1970-an dan 1980-an, namun akhirnya kandas di penghujung 1990-an karena ketimpangan dari pemerintah itu sendiri. Di pemerintahan Soekarno malah terjadi pergantian sistem pemerintahan berkali-kali. Liberal, terpimpin, dan sebagainya mewarnai politik Orde Lama. Rakyat muak akan keadaan tersebut. Pemberontakan PKI pun sebagian dikarenakan oleh kebijakan Orde Lama.

PKI berhaluan sosialisme/komunisme (Bisa disebut Marxisme atau Leninisme) yang berdasarkan asas sama rata, jadi faktor pemberontakan tersebut adalah ketidakadilan dari pemerintah Orde Lama.

Masa orde lama yaitu masa pemerintahan yg dimulai dari proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 sampai masa terjadinya G30 S PKI. Dizaman orde lama partai yang ikut pemilu sebanyak lebih dari 25 partai peserta pemilu. Masa orde lama ideologi partai berbeda antara yang satu dengan lainnya, ada Nasionalis PNI-PARTINDO-IPKI-dll, Komunis PKI; Islam NU-MASYUMI- PSII-PI PERI, Sosialis PSI-MURBA, Kristen PARKINDO dll.

Pelaksanaan Pemilu pada Orde Lama hampir sama seperti sekarang. Pada masa Orde lama, Pancasila dipahami berdasarkan paradigma yang berkembang pada situasi dunia yang diliputi oleh tajamnya konflik ideologi. Pada saat itu kondisi politik dan keamanan dalam negeri diliputi oleh kekacauan dan kondisi sosial-budaya berada dalam suasana transisional dari masyarakat terjajah (inlander) menjadi masyarakat merdeka. Masa orde lama adalah masa pencarian bentuk implementasi Pancasila terutama dalam sistem kenegaraan.

Pancasila diimplementasikan dalam bentuk yang berbeda-beda pada masa orde lama. Terdapat 3 periode implementasi Pancasila yang berbeda, yaitu periode 1945-1950, periode 1950-1959, dan periode 1959-1966. Orde Lama telah dikenal prestasinya dalam memberi identitas, kebanggaan nasional dan mempersatukan bangsa Indonesia.

Namun demikian, Orde Lama pula yang memberikan peluang bagi kemungkinan kaburnya identitas tersebut (Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945). Beberapa peristiwa pada Orde Lama yang mengaburkan identitas nasional kita adalah; Pemberontakan PKI pada tahun 1948, Demokrasi Terpimpin, Pelaksanaan UUD Sementara 1950, Nasakom dan Pemberontakan PKI 1965.

Sebelum Republik Indonesia Serikat dinyatakan bubar, pada saat itu terjadi demo besar-besaran menuntut pembuatan suatu Negara Kesatuan.

Maka melalui perjanjian antara tiga negara bagian, Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, & Negara Sumatera Timur dihasilkan perjanjian pembentukan Negara Kesatuan pada tanggal 17 Agustus 1950.

Sejak 17 Agustus 1950, Negara Indonesia diperintah dengan menggunakan Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950 yg menganut sistem kabinet parlementer. Konstituante diserahi tugas membuat undang-undang dasar yg baru sesuai amanat UUDS 1950. Namun sampai tahun 1959 badan ini belum juga bisa membuat konstitusi baru.

Presiden Soekarno menyampaikan konsepsi tentang Demokrasi Terpimpin pada DPR hasil pemilu yg berisi ide untuk kembali pada UUD 1945. Akhirnya, Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959, yg membubarkan Konstituante.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Demokrasi Terpimpin 1. Inflasi yang sangat tinggi, hal ini disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang di negara kita yang sangat tidak terkendali.

Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javashe Bank ,mata uang pemerintah Hindia Belanda,dan mata uang pendudukan Jepang.

banyaknya uang yang beredar di negara kita menyebabkan harga-harga di negara kita menjadi meningkat. 2. Masa demokrasi terpimpin Menurut Ketepan MPRS no. XVIII/MPRS /1965 demokrasi trepimpin adalah kerakyatan yang dipimpn oleh hikmat kebijaksamaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Demokrasi terpimpin merupakan kebalikan dari demokrasi liberal dalam kenyataanya demokrasi yang dijalankan Presiden Soekarno menyimpang dari prinsip-prinsip negara demokrasi.Penyimpanyan tersebut antara lain: Akhirnya dari demokrasi terpimpin memuncak dengan adanya pemberontakan G 30 S / PKI pada tanggal 30 September 1965.

Demokrasi terpimpin berakhir karena kegagalan presiden Soekarno dalam mempertahankan keseimbangan antara kekuatan yang ada yaitu PKI dan militer yang sama-sama berpengaruh. PKI ingin membentuk angkatan kelima sedangkan militer tidak menyetujuinya. Akhir dari demokrasi terpimpin ditandai dengan dikeluarkannya surat perintah 11 Maret 1966 dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto untuk mengatasi keadaan.

Pada era orde lama (1955-1961), situasi negara Indonesia diwarnai oleh berbagai macam kemelut ditngkat elit pemerintahan sendiri. Situasi kacau (chaos) dan persaingan diantara elit politik dan militer akhirnya memuncak pada peristiwa pembenuhan 6 jenderal pada 1 Oktober 1965 yang kemudian diikuti dengan dengan krisi politik dan kekacauan sosial. Pada massa ini persoalan hak asasi manusia tidak memperoleh perhatian berarti, bahkan cenderung semakin jauh dari harapan.

Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia “bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB”, dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas.

Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik – di Eropa Timur sering disebut lustrasi – dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia.

Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak.

Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat “dibuang” ke Pulau Buru. Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol). Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasihat dari ahli ekonomi didikan Barat.

DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat.

Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah. Soeharto siap dengan konsep apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo.

Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.

Eksploitasi sumber daya Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparan dikurangi dengan besar pada tahun 1970-an dan 1980-an. Warga Tionghoa Warga keturunan Tionghoa juga dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka.

Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Bahasa Mandarin dilarang, meski kemudian hal ini diperjuangkan oleh komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari komunitas pengobatan Tionghoa tradisional karena pelarangan sama sekali akan berdampak pada resep obat yang mereka buat yang hanya bisa ditulis dengan bahasa Mandarin. Mereka pergi hingga ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung Indonesia waktu itu Memberi izin dengan catatan bahwa Tionghoa Indonesia berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Indonesia.

Satu-satunya surat kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit adalah Harian Indonesia yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer Indonesia dalam hal ini adalah ABRI meski beberapa orang Tionghoa Indonesia bekerja juga di sana. Agama tradisional Tionghoa dilarang. Akibatnya agama Konghucu kehilangan pengakuan pemerintah. Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat Indonesia dikhawatirkan akan menyebarkan pengaruh komunisme di Tanah Air.

Padahal, kenyataan berkata bahwa kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang, yang tentu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh komunisme, yang sangat mengharamkan perdagangan dilakukan.

Konflik Perpecahan Pasca Orde Baru Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Setiap hari media massa seperti radio dan televisi mendengungkan slogan “persatuan dan kesatuan bangsa”. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur, dan Irian Jaya.

Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan bahwa program transmigrasi sama dengan jawanisasi yang sentimen anti-Jawa di berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa. Pada hakikatnya Orde Baru merupakan tatanan seluruh kehidupan rakyat, bangsa dan negara yang diletakkan pada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 atau sebagai koreksi terhadap penyelewengan penyelewengan yang terjadi pada masa lalu Tritura mengungkapkan keinginan rakyat yang mendalam untuk melaksanakan kehidupan bernegara sesuai dengan aspirasi masyarakat.

Jawaban dari tuntutan itu terdapat pada 3 ketetapan sebagai berikut : a. Pengukuhan tindakan pengemban Supersemar yang membubarkan PKI dan ormasnya ( TAP MPRS No.

IV dan No. IX / MPRS / 1966 b. Pelarangan paham dan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme di Indonesia ( TAP MPRS No. XXV / MPRS / 1966 ) c. Pelurusan kembali tertib konstitusional berdasarkan Pancasila dan tertib hukum ( TAP MPRS No. XX / MPRS / 1966 ) Pada tanggal 3 Pebruari 1967 DPR-GR yang menganjurkan kepada Soeharto untuk melaksanakan Sidang Istimewa, sehingga pada 20 Pebruari 1967 Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto. Tahap selanjutnya adalah : a.

Penyederhanaan Partai b. Memurnikan kembali politik luar negeri bebas aktif c. Menghentikan konfrontasi dengan Malaysia dan membentuk kerjasama ASEAN d.

Kembali menjadi anggota PBB Setelah berhasil memulihkan keamanan kemudian pemerintah melaksanakan pembangunan Nasional jangka pendek dan jangka panjang melalui Pelita yang tidak terlepas dari Trilogi Pembangunan, yaitu a. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat b. Pertumbuhan ekonomi yang cukup timggi c. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis Pelaksanaan pembangunan tidak akan berjalan lancar tanpa ada pemerataan pembangunan yang menetapkan 8 jalur pemerataan, yakni : a.

Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, hususnya sandang, pangan dan perumahan. b. Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan c. Pemerataan pembagian pendapatan d. Pemerataan kesempatan kerja e. Pemerataan berusaha f. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita g. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air h. Pemeratan kesempatan memperoleh keadilan. * semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme * pembangunan Indonesia yang tidak merata * bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin) * kritik dibungkam dan oposisi diharamkan * kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibreidel.

Sejarah Reformasi 1998 – Banyak hal yang mendorong timbulnya reformasi pada masa pemerintahan Orde Baru, terutama terletak pada ketidakadilan di bidang politik, ekonomi dan hukum. Tekad Orde Baru pada awal kemunculannya pada tahun 1966 adalah akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dalam tatanan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Setelah Orde Baru memegang tumpuk kekuasaan dalam mengendalikan pemerintahan, muncul suatu keinginan untuk terus menerus mempertahankan kekuasaannya atau status quo. Hal ini menimbulkan akses-akses nagatif, yaitu semakin jauh dari tekad awal Orde Baru tersebut. Akhirnya penyelewengan dan penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila dan ketentuan-ketentuan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana terdapat pada UUD 1945, banyak dilakukan oleh pemerintah Orde Baru.

Demokrasi yang tidak dilaksanakan dengan semestinya akan menimbulkan permasalahan politik. Ada kesan kedaulatan rakyat berada di tangan sekelompok tertentu, bahkan lebih banyak di pegang oleh para penguasa. Dalam UUD 1945 Pasal 2 telah disebutkan bahwa “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR”. Pada dasarnya secara de jore (secara hukum) kedaulatan rakyat tersebut dilakukan oleh MPR sebagai wakil-wakil dari rakyat, tetapi secara de facto (dalam kenyataannya) anggota MPR sudah diatur dan direkayasa, sehingga sebagian besar anggota MPR itu diangkat berdasarkan ikatan kekeluargaan (nepotisme).

Keadaan seperti ini mengakibatkan munculnya rasa tidak percaya kepada institusi pemerintah, DPR, dan MPR. Ketidak percayaan itulah yang menimbulkan munculnya gerakan reformasi. Gerakan reformasi menuntut untuk dilakukan reformasi total di segala bidang, termasuk keanggotaan DPR dam MPR yang dipandang sarat dengan nuansa KKN.

Perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional dianggap telah menimbulkan ketimpangan ekonomi yang lebih besar. Monopoli sumber ekonomi oleh kelompok tertentu, konglomerasi, tidak mempu menghapuskan kemiskinan pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Kondisi dan situasi Politik di tanah air semakin memanas setelah terjadinya peristiwa kelabu pada tanggal 27 Juli 1996. Peristiwa ini muncul sebagai akibat terjadinya pertikaian di dalam internal Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Krisis politik sebagai faktor penyebab terjadinya gerakan reformasi itu, bukan hanya menyangkut masalah sekitar konflik PDI saja, tetapi masyarakat menuntut adanya reformasi baik didalam kehidupan masyarakat, maupun pemerintahan Indonesia.

Di dalam kehidupan politik, masyarakat beranggapan bahwa tekanan pemerintah pada pihak oposisi sangat besar, terutama terlihat pada perlakuan keras terhadap setiap orang atau kelompok yang menentang atau memberikan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil atau dilakukan oleh pemerintah.

Selain itu, masyarakat juga menuntut agar di tetapkan tentang pembatasan masa jabatan Presiden. Pemilihan umum tahun 1997 ditandai dengan kemenangan Golkar secara mutlak. Golkar yang meraih kemenangan mutlak memberi dukungan terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden dalam Sidang Umum MPR tahun 1998 – 2003. Sedangkan di kalangan masyarakat yang dimotori oleh para mahasiswa berkembang arus yang sangat kuat untuk menolak kembali pencalonan Soeharto sebagai Presiden.

Pelaksanaan hukum pada masa pemerintahan Orde Baru terdapat banyak ketidakadilan. Sejak munculnya gerakan reformasi yang dimotori oleh kalangan mahasiswa, masalah hukum juga menjadi salah satu tuntutannya. Masyarakat menghendaki adanya reformasi di bidang hukum agar dapat mendudukkan masalah-masalah hukum pada kedudukan atau posisi yang sebenarnya.

Krisi moneter yang melanda Negara-negara di Asia Tenggara sejak bulan Juli 1996, juga mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia. Ekonomi Indonesia ternyata belum mampu untuk menghadapi krisi global tersebut. Krisi ekonomi Indonesia berawal dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Ketika nilai tukar rupiah semakin melemah, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 0% dan berakibat pada iklim bisnis yang semakin bertambah lesu.

Kondisi moneter Indonesia mengalami keterpurukan yaitu dengan dilikuidasainya sejumlah bank pada akhir tahun 1997. Sementara itu untuk membantu bank-bank yang bermasalah, pemerintah membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (KLBI). Ternyata udaha yang dilakukan pemerintah ini tidak dapat memberikan hasil, karena pinjaman bank-bank bermasalah tersebut semakin bertambah besar dan tidak dapat di kembalikan begitu saja.

Memasuki tahun anggaran 1998 / 1999, krisis moneter telah mempengaruhi aktivitas ekonomi yang lainnya. Kondisi perekonomian semakin memburuk, karena pada akhir tahun 1997 persedian apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana bahan pokok sembako di pasaran mulai menipis.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Hal ini menyebabkan harga-harga barang naik tidak terkendali. Kelaparan dan kekurangan makanan mulai melanda masyarakat. Untuk mengatasi kesulitan moneter, pemerintah meminta bantuan IMF. Namun, kucuran dana dari IMF yang sangat di harapkan oleh pemerintah belum terelisasi, walaupun pada 15 januari 1998 Indonesia telah menandatangani 50 butir kesepakatan (letter of intent atau Lol) dengan IMF. Utang Luar Negeri Indonesia Utang luar negeri Indonesia menjadi salah satu faktor penyebab munculnya krisis ekonomi.

Namun, utang luar negeri Indonesia tidak sepenuhnya merupakan utang Negara, tetapi sebagian lagi merupakan utang swasta. Utang yang menjadi tanggungan Negara hingga 6 februari 1998 mencapai 63,462 miliar dollar Amerika Serikat, utang pihak swasta mencapai 73,962 miliar dollar Amerika Serikat. Sementara itu, pengaturan perekonomian pada masa pemerintahan Orde Baru sudah jauh menyimpang dari sistem perekonomian Pancasila.

Dalam Pasal 33 UUD 1945 tercantum bahwa dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat.

Sebaliknya, sistem ekonomi yang berkembang pada masa pemerintahan Orde Baru adalah sistem ekonomi kapitalis yang dikuasai oleh para konglomerat dengan berbagai bentuk monopoli, oligopoly, dan diwarnai dengan korupsi dan kolusi.

Pelaksanaan politik sentralisasi yang sangat menyolok terlihat pada bidang ekonomi. Ini terlihat dari sebagian besar kekayaan dari daerah-daerah diangkut ke pusat. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan pemerintah dan rakyat di daerah terhadap pemerintah pusat. Politik sentralisasi ini juga dapat dilihat dari pola pemberitaan pers yang bersifat Jakarta-sentris, karena pemberitaan yang berasala dari Jakarta selalu menjadi berita utama. Namun peristiwa yang terjadi di daerah yang kurang kaitannya dengan kepentingan pusat biasanya kalah bersaing dengan berita-barita yang terjadi di Jakarta dalam merebut ruang, halaman, walaupun yang memberitakan itu pers daerah.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Demontrasi di lakukan oleh para mahasiswa bertambah gencar setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan pada tanggal 4 Mei 1998. Puncak aksi para mahasiswa terjadi tanggal 12 Mei 1998 di Universitas Trisakti Jakarta.

Aksi mahasiswa yang semula damai itu berubah menjadi aksi kekerasan setelah tertembaknya empat orang mahasiswa Trisakti yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidhin Royan.

Soeharto kembali ke Indonesia, namun tuntutan dari masyarakat agar Presiden Soeharto mengundurkan diri semakin banyak disampaikan. Rencana kunjungan mahasiswa ke Gedung DPR / MPR untuk melakukan dialog dengan para pimpinan DPR / MPR akhirnya berubah menjadi mimbar bebas dan mereka memilih untuk tetap tinggal di gedung wakil rakyat tersebut sebelum tuntutan reformasi total di penuhinya. Tekanan-tekanan para mahasiswa lewat demontrasinya agar presiden Soeharto mengundurkan diri akhirnya mendapat tanggapan dari Harmoko sebagai pimpinan DPR / MPR.

Maka pada tanggal 18 Mei 1998 pimpinan DPR/MPR mengeluarkan pernyataan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri. Presiden Soeharto mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat di Jakarta.

Kemudian Presiden mengumumkan tentang pembentukan Dewan Reformasi, melakukan sebagai Presiden. Dalam perkembangannya, upaya pembentukan Dewan Reformasi dan perubahan kabinet tidak dapat dilakukan. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri/berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia dan menyerahkan Jabatan Presiden kepada Wakil Presiden Republik Indonesia, B.J.

Habibie dan langsung diambil sumpahnya oleh Mahkamah Agung sebagai Presiden Republik Indonesia yang baru di Istana Negara. Habibie yang menjabat sebagai Presiden menghadapi keberadaan Indonesia yang serba parah, baik dari segi ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Langkah-langkah yang dilakukan oleh Habibie adalah berusaha untuk dapat mengatasi krisis ekonomi dan politik.

Untuk menjalankan pemerintahan, Presiden Habibie tidak mungkin dapat melaksanakannya sendiri tanpa dibantu oleh menteri-menteri dari kabinetnya. Presiden Habibie sebagai pembuka sejarah perjalanan bangsa pada era reformasi mengupayakan pelaksanaan politik Indonesia dalam kondisi yang transparan serta merencanakan pelaksanaan pemilihan umum yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Pemilihan umum yang akan diselenggarakan dibawah pemerintahan Presiden Habibie merupakan pemilihan umum yang telah bersifat demokratis. Habibie juga membebaskan beberapa narapidana politik yang ditahan pada zaman pemerintahan Soeharto. Kemudian, Presiden Habibie juga mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh independent.

Pada masa Pemerintahan Habibie, orang bebas mengemukakan pendapatnya di muka umum. Presiden Habibie memberikan ruang bagi siapa sajayang ingin menyampaikan pendpat,baik dalam bentuk rapat-rapat umum maupun unjuk rasa atau demonstrasi.

Namun untuk demonstrasi,setiap lembaga atau organisasiyang ingin melakukan demonstrasi hendaknyua mendapat izin dari pihak kepolisian dan menentukan tempat untuk melakukan demonstrasi tersebut. Hal ini karena pihak kepolisian mengaju pada UU No.28 tentang Kepolisian Republik Indonesia.

Setelah Reformasi dilaksanakan, peran ABRI di Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Rakyat DPR mulai dikurangi secara bertahap yaitu 75 orang menjadi 38 orang. Langkah lain yang ditempuh adalah ABRI semula terdiri empatt angkatan yaitu Angkatan Darat, Laut, dan Udara serta Kepolisian RI, namun mulai tanggal 5 Mei 1999 POLRI memisahkan diri dari ABRI dan kemudian berganti nama menjadi Kepolisian Negara.

Istilah ABRI pun berubah menjadi TNI yang terdiri dari AD, AL, dan AU. Selama Pemerintrahan Orba, karakter hukum cenderung bersifat konservatif, ortodoks, maupun elitis. Sedangkan hukum ortodoks lebih tertutup terhadap kelompok – kelompok sosial maupun individu di dalam masyarakat.

Pada hukum yang berkarakter tersebut, maka porsi rakyat sangatlah kecil, bahkan bias dikatakan tidak ada sama sekali. 1. Beberapa peristiwa penting yang terjadi di sekitar proklamasi, diantaranya peristiwa Rengasdengklok, penyusunan teks proklamasi, dan detik-detik proklamasi.

Pada peristiwa Rengasdengklok, para pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Mereka didesak untuk segera memproklamasikan negara Indonesia merdeka. 2. Perumusan teks proklamasi dilakukan tanggal 16 Agustus 1945 di rumah laksamana Maeda yang terletak di jalan Imam Bonjol no. 1 Jakarta. Para perumus teks Proklamasi adalah Ir.

Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Ahmad soebardjo. Teks Proklamasi ditulis tangan oleh Bung Karno dan diketik oleh Sayuti Melik. Proklamasi ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana.

Moh. Hatta, atas nama bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pertama kali dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan pada hari Jum’at, di jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi). 3. Organisasi yang sangat berperan dalam mewujudkan kemerdekaan adalah BPUPKI dan PPKI.

BPUPKI diketuai oleh Dr. Radjiman Widyodiningrat, sedangkan PPKI diketuai oleh Ir. Soekarno. BPUPKI telah berhasil menyusun dasar negara dan rancangan UUD. Dalam sidangnya yang pertama tanggal 18 Agustus 1945, PPKI telah menetapkan tiga keputusan penting yaitu mengesahkan dan menetapkan UU RI, yang kemudian dikenal sebagai UUD 1945, mengangkat presiden dan wakil presiden, dan membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Tokoh-tokoh penting dalam peristiwa proklamasi adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta,Ahmad subardjo, dan Fatmawati. 4. Sesuai dengan pernyataan politik yang dikeluarkan oleh ratu Belanda Wilhelmina tanggal 6 Desember 1942, maka Belanda bermaksud kembali lagi ke daerah jajahannya, kembali sehabis Perang Dunia II.

Belanda datang ke Indonesia sebagai pegawai-pegawai NICA yang bersama-sama dengan Inggris mendarat pada tanggal 24 Agustus 1945. 5. Setelah kemerdekaan dikumandangkan peristiwa-peristiwa heroik pun apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana terbendungkan di berbagai daerah yaitu : Pertempuran lima hari di Semarang, Pertempuran Surabaya, Pertempuran Ambarawa, Pertempuran Medan Area, Pertempuran Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Lautan Api, Pertempuran Margarana, Pertempuran Laut Aru, Tindakan Heroik di Yogyakarta, Peristiwa 11 Nopember 1946 di Sulawesi Selatan, Tindakan Heroik di Aceh, Tindakan Heroik di Palembang, Tindakan Heroik di Kalimantan, Peristiwa Merah Putih di Manado, Tindakan Heroik di Nusa Tenggara, Tindakan Heroik di Papua, Tindakan Heroik di Padang dan Bukit Tinggi, Tindakan Heroik di Surakarta, Tindakan Heroik di Pulau Sumbawa, dan Tindakan Heroik di Lampung.

AMISHA 26 Oktober 2018 08.25 Saya selalu berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan peminjam yang meminjamkan uang tanpa membayar terlebih dahulu.

Jika Anda mencari pinjaman, perusahaan ini adalah semua yang Anda butuhkan. setiap perusahaan yang meminta Anda untuk biaya pendaftaran lari dari mereka. saya menggunakan waktu ini untuk memperingatkan semua rekan saya INDONESIANS. yang telah terjadi di sekitar mencari pinjaman, Anda hanya harus berhati-hati.

satu-satunya tempat dan perusahaan yang dapat menawarkan pinjaman Anda adalah SUZAN INVESTMENT COMPANY. Saya mendapat pinjaman saya dari mereka. Mereka adalah satu-satunya pemberi pinjaman yang sah di internet.

Lainnya semua pembohong, saya menghabiskan hampir Rp15 juta di tangan pemberi pinjaman palsu. Pembayaran yang fleksibel, Suku bunga rendah, Layanan berkualitas, Komisi Tinggi jika Anda memperkenalkan pelanggan Hubungi perusahaan: (Suzaninvestment@gmail.com) Email pribadi saya: (Ammisha1213@gmail.com) Balas Hapus Secara umum, studi observasi terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu studi deskriptif dan studi analitik. Studi deskriptif umumnya paling sering digunakan untuk menggambarkan pola penyakit dan dan untuk mengukur kejadian dari faktor risiko untuk penyakit (pajanan) pada satu populasi.

Sedangkan jika kita ingin mengetahui asosiasi antara kejadian penyakit dan faktor risikonya, maka studi analitik dilakukan. Ada beberapa tipe studi observasional secara umum, antara lain:[1, 2] Studi deskriptif merupakan langkah awal dalam melakukan investigasi epidemiologi. Studi ini menjawab pertanyaan berkaitan dengan aspek epidemiologi yang meliputi ‘orang, tempat dan waktu ’ dan aspek ini dipergunakan untuk menjawab pertanyaan ‘ siapa?, apa?, dimana?

dan ketika?’. Termasuk sebagai studi deskriptif adalah survey prevalensi, studi migrant dan seri penyakit (case series) [1, 2]. Survey prevalensi dilakukan untuk menggambarkan kondisi kesehatan suatu populasi atau faktor resiko kesehatan, misalnya Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia, dilakukan secara rutin setiap dua-tiga tahun sekali, untuk melihat kondisi kesehatan masyarakat di Indonesia dan berguna untuk melakukan perencanaan kesehatan.

Studi migrant dilakukan jika kita ingin melihat perbedaan kondisi kesehatan atau penyakit pada masyarakat berbeda etnik, suku dan negara. Studi ini juga melihat perubahan pola penyakit pada etnik yang berbeda jika mereka bermigrasi ke negara lainnya. Misal, etnik Jawa yang tinggal di Indonesia akan memiliki pola penyakit berbeda dengan etnik Jawa yang telah lama tinggal di Australia. Ataupun perbedaan pola penyakit etnik Jepang yang tinggal di Jepang dan etnik Jepang yang telah lama bermigrasi ke Amerika.

Sedangkan, case series (studi kasus berturut-turut) dilakukan jika kita ingin melihat karakteristik suatu penyakit yang terjadi di suatu populasi. Misal, kejadian Flu Burung pada manusia di Indonesia. Kita bisa mempelajari karakteristik pasien Flu Burung di Rumah Sakit X di Indonesia dengan memperhatikan perbedaan karakteristik pasien, gejala umum dan spesifik Flu Burung pada beberapa pasien yang positif ataupun terduga (suspect) menderita Flu Burung.

Ketika kita akan menggali pertanyaan ‘kenapa’, kita perlu melakukan studi analitik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Studi Analitik merupakan studi yang menganalisa hubungan antara status kesehatan dan variabel lainnya[1, 2].

Sebagai contoh, penelitian Najmah dkk [3], melakukan investigasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan alat dan jarum suntik tidak steril pada pengguna napza suntik. Selain melakukan studi deskriptif sebagai langkah Epidemiologi awal, peneliti menggambarkan karakterikstik penasun di Kota Palembang, peneliti melakukan studi analitik juga untuk mengetahui, hubungan antara faktor karakteristik penasun dan variabel lainnya (lama menggunakan napza suntik, pengetahuan tentang har m reduction dan HIV, sikap terhadap harm reduction dsb) terhadap perilaku penggunaan jarum dan alat suntik steril.

Peneliti melakukan studi analitik dengan menganalisa hubungan antara karakteristik penasun, dan variabel lainnya terhadap perilaku penasun tersebut. • Gambaran dimensi-dimensi tulang pinggul lansia berdasarkan hasil X-Ray, seperti kepadatan tulang, diameter endokortikal, lebar leher femur, dan dimensi lainnya • Prevalensi patah tulang pinggul pada wanita lansia pada desa dan kota di 10 Provinsi terbesar di Indonesia • Trend kejadian patah tulang pinggul pada wanita lansia dari tahun 2005-2014 di Indonesia • Proporsi konsumsi vitamin D, kalsium dan penggunaan hormon steroid pada wanita lansia • Gambaran kebiasaan aktifitas fisik wanita lansia di Indonesia Tahap pertama: tentukan variabel dependen dan variabel independennya.

Dalam studi ini, dapat kita pelajari bahwa variabel independennya adalah Program Terapi Rumatan Metadon sedangkan variabel dependennya adalah angka kesakitan atau kematian akibat HIV/AIDS dan penyakit yang ditularkan melalui darah lainnya dan overdosis narkoba Tahap kedua: tentukan studi desain yang tepat untuk mengetahui efektivitas PTRM.

Secara garis besar, studi desain observasional ada 3 jenis:Potong Lintang (Cross sectional), Kohort (Cohort), dan Kasus Kontrol (Case-control). Perbedaan secara umum terletak pada faktor paparan (exposure factors) dan kejadian penyakit (disease). Studi desain potong lintang, faktor paparan dan kejadian penyakit terjadi pada masa sekarang secara bersamaan (in the present); studi desain kasus-kontrol, faktor paparan terjadi dimasa lalu dan kejadian penyakit terjadi pada masa sekarang; sedangkan desain kohort, faktor paparan terjadi dimasa sekarang, lalu diselidiki hingga kejadian penyakit apakah akan terjadi di masa depan.

Studi lainnya, studi ekologi jarang digunakan untuk membuktikan uji hipotesa sebab akibat tetapi sering menjadi dasar untuk mengembangkan hipotesa. Studi ini mudah dilakukan jika data rutin siap tersedia, tapi hasil studi ekologi sulit untuk interpretasikan.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Perbedaan angka kesakitan atau kematian pada beberapa populasi yang dibandingkan sangat besar dipengaruhi oleh faktor paparan lainnya, dengan kata lain faktor perancu dalam studi ekologi sangatlah tinggi[2].

Bila kita memiliki keterbatasan dana, waktu dan tenaga, alternatif desain yang sederhana adalah desain potong lintang. Desain potong lintang dikenal juga dengan istilah survey. Kunci utama dalam desain potong lintang adalah sampel dalam suatu survey direkrut tidak berdasarkan status paparan atau suatu penyakit/ kondisi kesehatan lainnya, tetapi individu yang dipilih menjadi subjek dalam penelitian adalah mereka yang diasumsikan sesuai dengan studi yang akan kita teliti dan mewakili populasi yang akan diteliti secara potong lintang sehingga hasil studi bisa digeneralisasikan ke populasi.

Oleh karena itu, faktor paparan dan kejadian penyakit/kondisi kesehatan diteliti dalam satu waktu.[2] Dalam studi kasus 1, kita mengamati pengguna narkoba suntik tanpa membedakan mereka akses atau tidak akses PTRM atau status mereka dari HIV/AIDS atau overdosis narkoba.

Sampel kita semua pengguna narkoba lalu kita telusuri apakah mereka akses PTRM dan pernah overdosis atau sebaliknya. Perhitungan yang bisa dihitung angka prevalensi dan rasio prevalensi. Kita mengumpulkan data dalam satu waktu dengan target sampel adalah pengguna narkoba suntik di suatu daerah atau Provinsi (lihat gambar 5) Banyak sekali survey, studi deskriptif yang dilakukan di Indonesia. Contoh penelitian yang menggunakan desain ini adalah Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan Kementrian Kesehatan Indonesia, surveilans terpadu biologis dan perilaku (STBP) pada kelompok resiko tinggi HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya, Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).

Jika kita ingin menganalisa lebih lanjut dengan menghubungkan beberapa variabel yang ada pada survey diatas, misalnya hubungan antara pengetahuan ibu tentang HIV/AIDS terhadap sikap ibu kepada ODHA, data pada Riskesdas maka kita lakukan studi potong lintang dan bisa menghitung rasio prevalensi atau asosiasi yang apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana inginkan. • Keterbatasan dimensi dari interpretasi sebab akibat, yang kita kenal dengan istilah fenomena ayam dan telur (chicken and egg), kita kurang mengetahui apakah sebab atau akibat duluan dari suatu kondisi kesehatan atau penyakit.

• Desain ini tidak efisien untuk faktor paparan atau penyakit (outcome) yang jarang terjadi. Untuk pengolahan data analitik, kita membutuhkan faktor paparan dan penyakit dengan jumlah yang cukup sehingga peneliti bisa melakukan analisa asosiasi lebih lanjut.

• Kasus prevalensi kemungkinan tidak mewakili semua populasi jika angka rata –rata respons (response rate) yang bersedia mengikuti survey tidak mencapai target yang ditentukan.

• Mengukur angka prevalensi, bukan angka insidens • Sampel dalam studi dapat mewakili populasi dengan teknik sampling • Metode dan desain serta definisi penelitian bisa distandardisasi, reliable dan single blind sehingga survey berulang dapat dilakukan untuk mengetahui trend penyakit atau kondisi kesehatan dan kebutuhan pelayanan kesehatan suatu negara dalam kurun waktu tertentu.

• Sumber daya dan dana yang efisien karena pengukuran dilakukan dalam satu waktu • Kerjasama penelitian (response rate) dengan desain ini umumnya tinggi.

Ketika kita bisa membedakan status responden sebagai kelompok yang menderita suatu penyakit atau suatu kondisi kesehatan dan status responden yang sehat atau memiliki penyakit lainnya, maka kita bisa melakukan penelitian dengan kasus kontrol atau case control. Ada dua kelompok partisipan yang akan direkrut dalam penelitian dengan studi ini, kelompok kasus dan kelompok kontrol. Partisipan di kelompok kasus pada sumber populasi didefinisikan sebagai semua orang yang akan datang ke pusat layanan kesehatan, baik Klinik, Puskesmas maupun Rumah Sakit dan datanya akan disimpan dalam rekam medis jika mereka menderita penyakit yang akan diteliti.

Permasalahan yang sering muncul, pusat layanan kesehatan umumnya melayani masyarakat yang berbeda penyakitnya sehingga pola rujukan dan reputasi pusat layanan kesehatan sangat menentukan perekrutan kelompok kasus yang optimal [5]. Sedangkan, partisipan pada kelompok kontrol, dapat dipilih dengan beberapa cara, antara lain[5]: • Kontrol dari Populasi (Population controls): kelompok kontrol diambil langsung dari populasi, umumnya dilakukan jika ada data registrasi populasi, atau kelompok tertentu.

Hal ini biasanya dilakukan di negara maju yang memiliki data registrasi yang komprehensif sehingga bisa dilakukan melalui telepon, dan melalui surat/pos. • Kontrol dari tetangga(Neighbourhood controls): kelompok kontrol diambil dari sekitar kelompok kasus yang ada, misal lebih kurang 10 meter tinggal di sekitar kasus. Misal, satu kasus yang melakukan bunuh diri, kelompok kontrol dipilih dari tetangga yang tidak melakukan bunuh diri.

• Kontrol dari Klinik atau Rumah Sakit (Hospital or clinic based controls): kelompok kontrol dipilih pada pusat layanan kesehatan yang sama dengan kelompok kasus direkrut, tetapi memiliki penyakit yang berbeda dan penyakitnya tidak berhubungan dengan faktor paparan pada kelompok kasus, misal kelompok kasus adalah pasien Kanker Paru, kelompok kontrol bisa dipilih dari pasien yang menderita gangguan pencernaan, sangat dihindari memilih kelompok kontrol yang juga merokok karena berhubungan dengan kanker paru.

• Kontrol dari orang yang telah meninggal (Dead people): kelompok kontrol direkrut dari responden yang telah meninggal karena penyakit lain dari kelompok kasus, umumnya kita menggunakan proxy atau perwakilan kelompok kontrol yang bisa kita wawancarai sama seperti menginvestigasi informasi dari keluargakelompok kasus yang telah meninggal.

Mari kita aplikasikan studi kasus 1 dengan studi desain kasus kontrol, penulis telah membuat alur penelitian dengan desain kasus kontrol dibawah ini, coba jelaskan bagaimana penelitian ini bisa dilakukan dengan desain ini. Silahkan coba anda jelaskan alur diatas, Apa yang kita mulai, dari mana kita memulai dan apa yang kita telusuri ke belakang??

“Peneliti ingin mengetahui apakah status gizi ibu mempengaruhi kejadian BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) di Sumatera Selatan.Karena kejadian BBLR tidak terlalu sering terjadi, maka peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian dengan desain kasus kontrol”.Apa yang harus kita pahami dalam studi kasus 2 ini?

Pertama, peneliti menentukan kriteria kelompok kontrol dan kasus. Untuk kelompok kontrol, peneliti memberi kriteria yaitu ibu yang melahirkan anak yang tidak BBLR (>=2500 gram), sedangkan untuk kelompok kasus, kriteria inklusinya adalah ibu yang melahirkan anak yang BBLR. Peneliti ingin mengetahui hubungan status gizi ibu dengan resiko terjadinya BBLR. Lalu peneliti menanyakan pertanyaan berkaitan dengan status gizi(dengan kategori status gizi ibu baik dan status ibu gizi kurang) dan resiko BBLR kepada ibu-ibu yang baru saja melahirkan anaknya di beberapa Rumah Sakit dan Klinik Bersalin di Sumatera Selatan.

Coba perhatikan alur desain penelitian kasus kontrol dbawah ini, dan coba buat alur yang sama untuk studi kasus BBLR. • Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi. • Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya.

Kasus dipilih dari populasi sumber yang memiliki outcome, sedangkan kelompok kontrol merupakan estimasi distribusi faktor paparan dari populasi sumber, sehingga hasil perhitungan yang kita dapatkan adalah Odds Rasio (OR). Walaupun asosiasi bisa ditegakkan dengan perhitungan Odds rasio, tetapi tidak bisa menghitung resiko absolut (abosulute risk) karena angka insidens tidak diketahui • Bias seleksi.

Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena responden sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor resiko yang merupakan penyebab dari penyakit pada kelompok kasus, karena kemungkinan kelompok kontrol bisa menderita sakit yang sama seperti kelompok kasus, tetapi masih tahap tanpa gejala (asymptomatic group) dengan faktor resiko tersebut. Sehingga kemungkinan terjadinya bias seleksi sangat besar. Misal, untuk mengetahui hubungan antara kasus kanker paru-paru dan merokok. Untuk pemilihan kasus kontrol, peneliti harus semaksimal mungkin untuk memilih kelompok ini pada pasien penyakit selain kasus kanker, yang tidak terpapar dengan rokok, misal penyakit mag, pasien katarak yang bukan perokok dsb.

• Bias Informasi. Seperti kita pahami, bahwa informasi yang kita akan dapatkan tergantung daya ingat responden. Rekam medis dapat meminimalisir bias informasi, tetapi tidak semua faktor resiko/paparan terdokumentasi pada rekam medis. Oleh karena itu, kemungkinan bias pada informasi tinggi, terutama untuk kelompok kontrol. Kelompok kasus akan cenderung lebih mengingat faktor resiko yang dia alami daripada kelompok kontrol. Seperti contoh diatas, ibu dengan anak BBLR, umumnya daya ingat akan faktor paparan yang dia alami, memorinya akan lebih tinggi daripada ibu yang melahirkan bayi normal, misalnya status merokok, status gizi, periksa kehamilan dan sebagainya.

Untuk kelebihanya, tentu saja desain ini sangat tepat sekali pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat, seperti kasus kanker, HIV/AIDS, sehingga kita bisa mengetahui faktor risiko suatu kondisi kesehatan dengan metode retrospektif dengan cepat, responden ditanya tentang faktor paparan yang telah terjadi pada periode tertentu di masa lampau hingga terjadinya penyakit.

Kemudian, desain ini bisa dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome.

Odds rasio nilainya mendekati risk rasio (risk ratio), terutama pada kasus yang jarang terjadi. Nilai odds rasio merupakan rata-rata, karena kelompok kasus dan kontrol seharusnya mewakili populasi dengan memperhatikan paparan [5].

Ketika peneliti mempunyai waktu, tenaga dan pendanaan yang cukup dan telah banyak penelitian sebelumnya melakukan penelitian dengan desain potong lintang dan kasus-kontrol, maka pilihan selanjutnya adalah desain kohort. Kelebihan studi kohort adalah kita bisa menilai kausalitas karena faktor paparan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana sebelum responden sakit, sehingga adanya tingkat alur jelas antara faktor paparan kemudian baru terjadi sakit.

Oleh karena itu, tingkat bias bisa diminimalisir terutama bias informasi, karena responden diikuti oleh peneliti ke depan (prospektif). Kemudian faktor perancu bisa dikontrol dan memungkinkan beberapa outcome hasil penelitian dapat dihasilkan dalam penelitian ini. Studi ini juga sangat baik untuk faktor paparan yang jarang terjadi dan memungkinkan peneliti menghitung angka insiden (incidence rates).

Kelemahan studi dengan desain kohort adalah memerlukan waktu yang panjang terutama untuk mengetahui efek dari beberapa faktor paparan karena desain ini umumnya untuk menginvestigasi penyakit kronik. Desain ini juga membutuhkan jumlah sampel penelitian dalam cukup besar yang bisa bermanfaat jika adanya banyak sampel yang hilang sepanjang penelitian berlangsung dalam periode tertentu (loss of follow up).

Biaya yang dibutuhkan juga tidak murah pada desain ini. Kelemahan lainnya, jika penyakit yang diteliti jarang terjadi baik di group yang terpapar dan group tidak terpapar, sangat sulit sekali mencari responden dalam jumlah yang sangat banyak. Contoh yang fenomenal adalah Framingham Cohort, yang dilakukan pada lebih dari 5209 responden yang berumur 30-62 tahun di Framingham, Ma, Boston hingga tiga generasi yang dimulai pada tahun 1948 dan diikuti hingga lebih dari 50 tahun kedepan(untuk melihat hasil penelitian dapat diakses di http://www.bmc.org/strokecerebrovascular/research/framinghamstudy.htm).

Sudah lebih dari 1000 publikasi untuk penelitian ini. Contoh beberapa topik yang sudah dieksplorasi selama lebih kurang 50 tahun itu antara lain: • Faktor risiko vaskular baik yang konvensional maupun baru • Tindakan longitudinal penyakit subklinis yang dikumpulkan melalui ultrasound seri karotis, echocardiography, tonometry arteri dan CT dan MR pencitraan struktur jantungarteri pusat dan arterosklerosis koroner.

• Data mengenai perubahan struktural dan fungsional subklinis yang menyertai penuaan otak dikumpulkan melalui MRI otak volumetrik dan pengujian kognitif rinci. • Data insiden titik akhir klinis stroke, gangguan kognitif ringan tanpa demensia dan demensia klinis ( pembuluh darah dan tipe alzheimer ). Data ini dikumpulkan melalui pemeriksaan dan tindak lanjut oleh ahli saraf studi dan neuropsychologists. Informasi tentang fase klinis setelah onset penyakit juga tersedia.

• Informasi mengenai diet, aktivitas fisik, depresi dan jaringan sosial • Data alternatif penyebab morbiditas dan mortalitas termasuk kanker, jantung dan penyakit pembuluh darah perifer, tulang, paru-paru dan penyakit ginjal • Database genetik padat termasuk genom informasi polimorfisme lebar pada 550.000 SNP dan pemetaan lebih dari 50 gen kandidat potensial relevansi kardiovaskular pada lebih dari 9000 orang di 3 generasi • Jelaskan perbedaan studi kohot dan studi potong lintang?

• Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol? • Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort? • Berikan beberapa apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana judul penelitian dengan studi desain potong lintang?

• Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol? • Buatlah mind mapping kesimpulan materi studi desain observasional? • Bonita R, Baeglehole R, Kjellstorm T. Basic of Epidemiology. Switzerland: WHO Press; 2006 [cited. Available from: http://whqlibdoc.who.int/publications/2006/9241547073_eng.pdf. p.39-51 • Webb P, Bain C, Pirozzo S. Essential Epidemiology, An Introduction for Students and Health Professionals. New York: Cambridge Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Press; 2005.

p. 118-145 • Najmah, Nuralam Fajar, RIco Januar Sitorus. The Effect of Needle and Syringe Program on Injecting Drug Users’ Use of Non-Sterile Syringe and Needle Behaviour in Palembang, South Sumatera Province, Indonesia International Journal of Public Health Research 2011; (Spesial Issue):193-9. • Najmah, L.

Gurrin, M.Henry, J.Pasco. Hip Structure Associated With Hip Fracture in Women: Data from the Geelong Osteoporosis Study (Gos) Data Analysis-Geelong,Australia.

International Journal of Public Health Research 2011. 2011(Special Issue):185-92. • Rothman KJ. Epidemiology, An Introduction. New York: Oxford University Press; 2002. p.57-93 • Richards D, Les Toop, Stephen Chambers, Lynn Fletcher. Response to antibiotivs of women with symptoms of urinary tract infection but negative dipstick urine test results: double blind randomised controlled trial. BMJ. 2008 22 June 2005:1-5. • Sacher PM, Maria Kolotourou, Paul M. Chadwick, Tim J. Cole, Margaret S.

Lawson, Alan Lucas, et al. Randomized Controlled Trial of the MEND Program: A Family-based Community Intervention for Childhood Obesity. Obesity. 2010;18(1):S62-S8. • Elwood M. Critical Appraisal of Epidemiological Studies and Clinical Trials.

New York: Oxford University Press; 2007. p. 19-44 • Dallas E. Study Design in Epidemiology. Melbourne; 2008 Contract No.: Document Number. Unknown mengatakan. Nama : Ria Puspita Sari NIM : 10111001019 LATIHAN STUDI DESAIN EPIDEMIOLOGI Jawaban: 1. Perbedaan studi Kohort dan Studi Potong Lintang Studi kohort: a. Merupakan penelitian epidemiologi analitik non eksperimental yang mengkaji hubungan antar “Faktor Risiko” dan “Efek” b.

Pendekatan waktu : prospektif ( kausa/ FR diidentifikasi terlebih dahulu lalu diikuti sampai waktu tertentu untuk melihat efek/penyakit ) c. Suatu studi pengamatan lanjut (follow-up) dengan direksionalitas ke depan d. Tersedianya kelompok subyek tanpa efek tertentu sejak awal penelitian e.

Dapat prospektif atau retrospektif, pada kohort retrospektif, prinsipnya sama dengan kohort prospektif, bedanya : identifikasi faktor risiko dan efek yang telah terjadi pada masa lampau f.

Memerlukan waktu yang lama dan biaya mahal dibangding cross-sec g. Perlu sarana dan pengelolaan yang rumit h. Kemungkinan adanya subyek penelitian yg drop out sehingga dapat mengganggu hasil i. Adanya masalah etis, terkait pengamatan subyek dari awal sampai terjadinya efek Studi Potong Lintang: a. Merupakan studi epidemiologi deskriptif yang digunakan untuk mempelajari dinamika hubungan (korelasi) antara “faktor risiko” dan “efek” dengan menggunakan “point time approach” (observasi/pengukuran terhadap faktor risiko dan efek dilakukan pada saat yang sama.

b. Mudah dilakukan dan relatif murah dibanding studi cohort c. Mempunyai kontrol sebagai pembanding d. Dapat memberikan informasi frekuensi & distribusi penyakit yang menimpa masyarakat, serta informasi mengenai faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit. e. Dapat dipakai untuk mengetahui stadium dini atau kasus sub klinik dari suatu penyakit. f. Diperoleh informasi secara cepat g.

Tidak dapat dipakai untuk penelitian terhadap penyakit yang akut atau cepat sembuh. h. Time sequence tidak jelas i. Simpulan korelasi faktor risiko dengan penyakit lemah 3 November 2014 03.14 Unknown mengatakan. 2. Contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol: a.

Hubungan status gizi ibu terhadap kejadian BBLR pada bayi b. Hubungan antara perilaku merokok dengan Ca. Paru c. Hubungan antara kanker serviks dengan perilaku seksual d. Hubungan antara tuberculosis anak dengan pemberian vaksinasi BCG e.

Hubungan antara status gizi bayi berusia satu tahun dengan pemakaian KB suntik pada ibu f. Hubungan pemberian esterogen pada ibu pada periode sekitar konsepsi dengan kejadian tingginya risiko terjadinya kelainan jantung bawaan g.

Hubungan antara malnutrisi pada anak balita dengan perilaku pemberian makanan oleh ibu 3. Contoh judul penelitian dengan studi desain kohort: a. Hubungan antara perilaku merokok dengan Ca. Paru b. Hubungan jajan sembarangan dan perilaku tidak mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian thypoid pada anak c. Hubungan antara ibu dengan perilaku merokok berat dengan kejadian kasus BBLR d. Hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan anak usia prasekolah 4. Contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang: a.

Hubungan kualitas menyusui terhadap kelancaran pengeluaran air susu ibu b. Hubungan antara perilaku ibu yang perokok berat dengan kejadian kasus BBLR c. Hubungan antara perilaku merokok dengan Ca.

Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana d. Hubungan antara pengetahuan ibu tentang HIV/AIDS terhadap sikap ibu kepada ODHA 5. Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol: Kelebihan: a. Berguna untuk meneliti masalah kesehatan yang jarang terjadi di masyarakat b.

Sangat berguna untuk meneliti masalah kesehatan yang terjadi secara laten di masyarakat. c. Memungkinkan mendapatkan jumlah kasus yang cukup bila dilakukan pada studi penyakit kronik atau penyakit yang jarang atau penyakit dengan masa laten yang panjang d.

Butuh waktu singkat dan biaya rendah dibanding studi cohort. e. Waktu pendek f. Cenderung memerlukan ukuran sampel yang lebih kecil dari rancangan lain g. Dapat mengevaluasi dampak berbagai eksposur yang berbeda Kelemahan: a. Faktor risiko dikumpulkan setelah penyakit terjadi sehingga data tidak lengkap dan terjadi penyimpangan. b. Sulit menghindari bias (terutama bias informasi). c. Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita dimulai dari satu kondisi kesehatan dan kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi.

d. Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. Kasus dipilih dari populasi sumber yang memiliki outcome, sedangkan kelompok kontrol merupakan estimasi distribusi faktor paparan dari populasi sumber, sehingga hasil perhitungan yang kita dapatkan adalah Odds Rasio (OR). Walaupun asosiasi bisa ditegakkan dengan perhitungan Odds rasio, tetapi tidak bisa menghitung resiko absolut (abosulute risk) karena angka insidens tidak diketahui e.

Bias seleksi. Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena responden sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor resiko yang merupakan penyebab dari penyakit pada kelompok kasus, karena kemungkinan kelompok kontrol bisa menderita sakit yang sama seperti kelompok kasus, tetapi masih tahap tanpa gejala (asymptomatic group) dengan faktor resiko tersebut.

Sehingga kemungkinan terjadinya bias seleksi sangat besar f. Bias Informasi. Seperti yang dipahami, bahwa informasi yang akan didapatkan tergantung daya ingat responden. Rekam medis dapat meminimalisir bias informasi, tetapi tidak semua faktor resiko/paparan terdokumentasi pada rekam medis. Oleh karena itu, kemungkinan bias pada informasi tinggi, terutama untuk kelompok kontrol.

Kelompok kasus akan cenderung lebih mengingat faktor resiko yang dia alami daripada kelompok kontrol. 3 November 2014 03.15 Unknown mengatakan. OLGA DWIYANI 10111001042 1. Perbedaan studi kohort dan studi potong lintang Studi kohort adalah studi yang dilakukan ketika seprang peneliti mempunyai waktu, tenaga dan pendanaan yang cukup (lebih cukup dibanding kasus control/potong melintang).

Studi kohort mampu menilai kausalitas karena factor paparran terjadi sebelum responden sakit, sehingga ada tingkat alur jelas antara factor paparan kemudian baru terjadi sakit. Oleh karenanya, tingkat bias bias diminimalisir terutama bias informasi, karena responden diikuti oleh peneliti ke depan (prospektif). faktor perancu bisa dikontrol dan memungkinkan beberapa outcome hasil penelitian dapat dihasilkan dalam penelitian ini.

Studi ini juga sangat baik untuk faktor paparan yang jarang terjadi dan memungkinkan peneliti menghitung angka insiden (incidence rates) Studi Potong lintang (cross sectional) kita lakukan apabila kita memiliki keterbatasan dana, waktu dan tenaga, alternatif desain yang sederhana. Desain potong lintang dikenal juga dengan istilah survey. Kunci utama dalam desain potong lintang adalah sampel dalam suatu survey direkrut tidak berdasarkan status paparan atau suatu penyakit/ kondisi kesehatan lainnya, tetapi individu yang dipilih menjadi subjek dalam penelitian adalah mereka yang diasumsikan sesuai dengan studi yang akan kita teliti dan mewakili populasi yang akan diteliti secara potong lintang sehingga hasil studi bisa digeneralisasikan ke populasi.

Oleh karena itu, faktor paparan dan kejadian penyakit/kondisi kesehatan diteliti dalam satu waktu. 2. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus control - Hubungan antara Penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada remaja dengan perilaku pemberian makanan. - Pengaruh Kejadian BBLR dengan Status Gizi Ibu di Sumatera Barat - Huubungan MPerilaku merokok dengan kejadian karsinoma paru-paru 3.

Contoh penelitian dengan desain studi kohort - Hubungan antara kejadian Penyakit Jantung dengan Kebiasaan Merokok - Hubungan antara Kehamilan di luar Rahim dengan pemakaian IUD - Hubungan antara Kejadian Diare dengan kebiasaan jajan sembarangan anak SD 4. CONTOH PENELITIAN DENGAN STUDI POTONG LINTANG (CROSS SECTIONAL) - hubungan antara kebiasaan menggunakan obat nyamuk semprot dengan batuk kronik berulang (BKB) pada anak balita. - hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan berat badan bayi lahir (BBL) - Hubungan Kualitas Menyusui dengan Kelancaran Pengeluaran ASI 3 November 2014 04.54 Unknown mengatakan.

lanjutan . 5. Kelemahan dan kelebihan desain studi kasus control a. Kelemahan - Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi.

- Tidak bisa apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. Kasus dipilih dari populasi sumber yang memiliki outcome, sedangkan kelompok kontrol merupakan estimasi distribusi faktor paparan dari populasi sumber, sehingga hasil perhitungan yang kita dapatkan adalah Odds Rasio (OR).

Walaupun asosiasi bisa ditegakkan dengan perhitungan Odds rasio, tetapi tidak bisa menghitung resiko absolut (abosulute risk) karena angka insidens tidak diketahui. - Bias seleksi. Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena responden sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor resiko yang merupakan penyebab dari penyakit pada kelompok kasus, karena kemungkinan kelompok kontrol bisa menderita sakit yang sama seperti kelompok kasus, tetapi masih tahap tanpa gejala (asymptomatic group) dengan faktor resiko tersebut.

Sehingga kemungkinan terjadinya bias seleksi sangat besar. Misal, untuk mengetahui hubungan antara kasus kanker paru-paru dan merokok. Untuk pemilihan kasus kontrol, peneliti harus semaksimal mungkin untuk memilih kelompok ini pada pasien penyakit selain kasus kanker, yang tidak terpapar dengan rokok, misal penyakit mag, pasien katarak yang bukan perokok dsb.

- Bias Informasi. Seperti kita pahami, bahwa informasi yang kita akan dapatkan tergantung daya ingat responden. Rekam medis dapat meminimalisir bias informasi, tetapi tidak semua faktor resiko/paparan terdokumentasi pada rekam medis.

Oleh karena itu, kemungkinan bias pada informasi tinggi, terutama untuk kelompok kontrol. Kelompok kasus akan cenderung lebih mengingat faktor resiko yang dia alami daripada kelompok kontrol.

Seperti contoh diatas, ibu dengan anak BBLR, umumnya daya ingat akan faktor paparan yang dia alami, memorinya akan lebih tinggi daripada ibu yang melahirkan bayi normal, misalnya status merokok, status gizi, periksa kehamilan dan sebagainya. b. Kelebihan - desain ini sangat tepat sekali pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat, seperti kasus kanker, HIV/AIDS, sehingga kita bisa mengetahui faktor risiko suatu kondisi kesehatan dengan metode retrospektif dengan cepat, responden ditanya tentang faktor paparan yang telah terjadi pada periode tertentu di masa lampau hingga terjadinya penyakit.

- desain ini bisa dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome. - Tidak menghadapi kendala etik, seperti halnya penelitian kohort dan eksperimental. - Biaya yang diperlukan relative lebih sedikit - Memungkinkan untuk midentifikasi pelbagai factor risiko sekaligus 3 November 2014 04.55 Unknown mengatakan.

Nama : Jesica Joana Khalim NIM : 10111001031 1. Jelaskan perbedaan studi kohot dan studi potong lintang? Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Desain Penelitian : Mempelajari hubungan natara paparan dan penyakit dengan membandingkan kelompok terpapar berdasarkan status penyakit. Metode Penelitian : Longitudinal prospective (dimulai dari status keterpaparan kemudian dilakukan penelusuran kedepan terhadap suatu penyakit).

Waktu / biaya : Kurang efisien dari segi waktu dan biaya. Hasil penelitian : Menerangkan hubungan antara factor risiko dan efek Penyakit yang diteliti. Tidak efisien untk penyakit yang jarang. Informasi : Tidak akan terjadi recall bias Rumus : RR = a / (a+b) : c / (c+d) POTONG LINTANG Desain Penelitian : Mempelajari/mengukur hubungan penyakit (akibat) dengan pajanan (penyebab) dalam waktu yang bersamaan pada satu saat. Metode Penelitian : Diperoleh prevalensi suatu penyakit dalam populasi pada suatu saat, (Prevalence study).

Waktu / biaya : Mudah, murah, dan hasilnya relatif cepat dapat diperoleh. Hasil penelitian : Sulit untuk menentukan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan.

Penyakit yang diteliti dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus. Informasi : Bisa terjadi recall bias Rumus : RP = a/(a+b) : c/(c+d) 2. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol? a. Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Stroke Di Rsud Dr.

Doris Syvanus Palangka Raya b. Paparan Polusi Rumah Tangga Sebagai Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Balita Di Kabupaten Temanggung c. Kurang Energi Kronis (kek) Ibu Hamil Sebagai Faktor Risiko Bayi Berat Lahir Rendah (bblr) Di Kabupaten Bantul 3.

Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort? a. Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah. b. Jarak Antara Kehamilan Dan Resiko Abortus Spontan Di Kabupaten Musi Banyuasin 4. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain Cross sectional ?

a. Analisa Pemilihan Terapi Kombinasi Metformin Dengan Penambahan Satu Obat Sulfonylurea Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 b. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Oleh Peserta Jamsoskes Sumatera Selatan (sumsel) Semesta Di Puskesmas Kabupaten Muara Enim c.

Hubungan Antara Kadar Superoksid Dismutase (sod) Dengan Arus Puncak Ekspirasi Pada Anak Asma 5. Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol? Kelebihan a. Studi kasus kontrol kadang atau bahkan menjadi satu-satunya cara untuk meneliti kasus yang jarang atau yang masa latennya panjang, atau bila penelitian prospektif tidak dapat dilakukan karena keterbatasan sumber atau hasil diperlukan secepatnya.

b. Hasil dapat diperoleh dengan cepat. c. Biaya yang diperlukan relatif lebih sedikit sehingga lebih efisien. d. Memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai faktor risiko sekaligus dalam satu penelitian (bila faktor risiko tidak diketahui).

e. Tidak mengalami kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau kohort. Kelemahan a. Data mengenai pajanan faktor risiko diperoleh dengan mengandalkan daya ingat atau catatan medik. Daya ingat responden menyebabkan terjadinya recall bias, baik karena lupa atau responden yang mengalami efek cenderung lebih mengingat pajanan faktor risiko daripada responden yang tidak mengalami efek.

Data sekunder, dalam hal ini catatan medik rutin yang sering dipakai sebagai sumber data juga tidak begitu akurat (objektivitas dan reliabilitas pengukuran variabel yang kurang).

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

b. Validasi informasi terkadang sukar diperoleh. c. Sukarnya meyakinkan bahwa kelompok kasus dan kontrol sebanding karena banyaknya faktor eksternal / faktor penyerta dan sumber bias lainnya yang sukar dikendalikan. d. Tidak dapat memberikan incidence rates karena proporsi kasus dalam penelitian tidak mewakili proporsi orang dengan penyakit tersebut dalam populasi. e. Tidak dapat dipakai untuk menentukan lebih dari satu variabel dependen, hanya berkaitan dengan satu penyakit atau efek.

f. Tidak dapat dilakukan untuk penelitian evaluasi hasil pengobatan. 3 November 2014 06.17 Unknown mengatakan. Nama : Titin Elia Ningsi Harahap Nim : 10111001023 1. Perbedaan studi Kohort dan studi Potong lintang Perbedaan secara umum terletak pada faktor paparan (exposure factors) dan kejadian penyakit (disease). Pada Studi desain potong lintang, faktor paparan dan kejadian penyakit terjadi pada masa sekarang secara bersamaan (in the present), sedangkan desain kohort, faktor paparan terjadi dimasa sekarang, lalu diselidiki hingga kejadian penyakit apakah akan terjadi di masa depan.

a. Studi potong lintang (cross sectional) adalah rancangan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi tunggal, pada satu saat atau periode.

yang dimaksud satu periode misalnya satu tahun. Dalam rancangan studi potong lintang, peneliti memotret frekuensi dan karakter penyakit serta paparan faktor penelitian pada suatu populasi pada satu saat tertentu.

Konsekuensinya data yang dihasilkan adalah prevalensi. Sehingga studi potong lintang disebut juga survai prevalensi. Tujuan studi potong lintang adalah untuk memperoleh gambaran pola penyakit dan determinan-determinan pada populasi sasaran.

b. Studi Kohort adalah rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit. Ciri-ciri studi kohort adalah pemilihan subyek berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek dalam perkembangannya mengalami penyakit yang diteliti atau tidak.

Kelompok-kelompok studi dengan karakter tertentu yang sama (yaitu pada awalnya bebas dari penyakit) tetapi memiliki tingkat paparan yang berlainan, dan kemudian dibandingkan insidensi penyakit yang dialaminya selama periode waktu, disebut kohort.

2. Contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol: a. Hubungan antara Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan Kebiasaan Merokok pada Ibu Hamil. b. Hubungan hubungan antara perilaku merokok dan kanker paru-paru c. Hubungan ubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan Kejadian Thypoid.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

3. Contoh judul penelitian dengan studi desain Kohort : a. Hubungan antara kebiasaan mandi di sungai dengan bakteriura pada anak 5-10 tahun. b. Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah. c. Hubungan antara kehamilan di luar rahim dengan pemakaian IUD d. Hubungan antara perilaku merokok demgan Ca paru 3 November 2014 06.26 Unknown mengatakan. sambungan 4. Contoh judul penelitian dengan studi desai potong lintang : a.

Hubungan Kualitas Menyusui dengan Kelancaran Pengeluaran ASI b. Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan Kejadian Thypoid. c. hubungan antara tumbuh kembang anak dengan pemberian ASI eksklusif 5. Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol? A. Kelemahan : 1.

Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi.

2. Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. Kasus dipilih dari populasi sumber yang memiliki outcome, sedangkan kelompok kontrol merupakan estimasi distribusi faktor paparan dari populasi sumber, sehingga hasil perhitungan yang kita dapatkan adalah Odds Rasio (OR). Walaupun asosiasi bisa ditegakkan dengan perhitungan Odds rasio, tetapi tidak bisa menghitung resiko absolut (abosulute risk) karena angka insidens tidak diketahui 3.

Bias seleksi. Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena responden sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor resiko yang merupakan penyebab dari penyakit pada kelompok kasus, karena kemungkinan kelompok kontrol bisa menderita sakit yang sama seperti kelompok kasus, tetapi masih tahap tanpa gejala (asymptomatic group) dengan faktor resiko tersebut.

Sehingga kemungkinan terjadinya bias seleksi sangat besar. Misal, untuk mengetahui hubungan antara kasus kanker paru-paru dan merokok. Untuk pemilihan kasus kontrol, peneliti harus semaksimal mungkin untuk memilih kelompok ini pada pasien penyakit selain kasus kanker, yang tidak terpapar dengan rokok, misal penyakit mag, pasien katarak yang bukan perokok dsb.

4. Bias Informasi. Seperti kita pahami, bahwa informasi yang kita akan dapatkan tergantung daya ingat responden. Rekam medis dapat meminimalisir bias informasi, tetapi tidak semua faktor resiko/paparan terdokumentasi pada rekam medis.

Oleh karena itu, kemungkinan bias pada informasi tinggi, terutama untuk kelompok kontrol. Kelompok kasus akan cenderung lebih mengingat faktor resiko yang dia alami daripada kelompok kontrol. Seperti contoh diatas, ibu dengan anak BBLR, umumnya daya ingat akan faktor paparan yang dia alami, apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana akan lebih tinggi daripada ibu yang melahirkan bayi normal, misalnya status merokok, status gizi, periksa kehamilan dan sebagainya.

B. Kelebihan : 1. Sifatnya relatif murah dan mudah dilakukan. 2. Cocok untuk meneliti penyakit dengan periode laten yang panjang, karena subyek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit, maka penelitian memiliki keleluasaan menentukan rasio ukuran sampel dan kontrol yang optimal. 3. Dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sebuah penyakit. 4. Desain ini bisa dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome.

3 November 2014 06.28 Unknown mengatakan. nama: Putri Intan Eriska NIM: 10111001040 Jawab: 1. Perbedaan studi kohort dan studi potong lintang STUDI KOHORT • Dana, tenaga dan waktu yang digunakan cukup banyak. • Menilai kausalitas • Sampel diikuti secara berkelanjutan dari awal sebelum sakit (sehat) sampai terkena penyakit. • Mengukur incidence rate • Kemungkinan bias cukup besar • Dibutuhkan follow up sampel • Memiliki kekuatan dalam membuktikan inferensi kausa dibanding studi observasional lainnya STUDI POTONG LINTANG • Dana, tenaga dan waktu yang digunakan terbatas • Sebuah survey • Sampel yang direkrut tidak berdasarkan status paparan atau penyakit tetapi yang diasumsikan sesuai dengan studi penelitian serta mampu mewakili popoulasi.

• Mengukur angka prevalensi • Metode dan desain serta definisi penelitian bisa distandardisasi, reliable dan single blind • Tidak dibutuhkan follow up sampel • Merumuskan hipotesis hubungan kausal yang dibutuhkan oleh studi penelitian lain 2. beberapa judul menggunakan studi case control: • Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Berdarah pada Balita di Kabupaten Sleman • Beberapa Faktor Risiko Kepatuhan Berobat Penderita Malaria Vivax (Studi Kasus di Kab.

Banjarnegara) • Asupan Gizi dan Status Gizi Sebagai Faktor Resiko Hipertensi Esensial pada Lansia di Puskesmas Curup dan Perumnas Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu 3. beberapa judul menggunakan studi kohort: • Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 di Kalangan Peminum Kopi di Kotamadya Palembang Tahun 2006-2007 • Peran Clinical Pathway Terhadap Luaran Pasien Stroke Iskemik di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta • Analisis Efektivitas Biaya Pengobatan Demam Tifoid dengan Menggunakan Siprofloksasin dan Seftriakson di Rumah Sakit Umum Haji Makassar Tahun 2010 – 2011 3 November 2014 06.35 Unknown mengatakan.

SANGKUT HAYATI (10111001050) JAWABAN LATIHAN DESAIN STUDI OBSERVASIONAL 1. Perbedaan desain studi kohort dan studi potong lintang Desain studi Kohort Merupakan penelitian epidemiologi analitik non eksperimental yang mengkaji hubungan antar “Faktor Risiko” dan “Efek”, Pendekatan waktu desain studi kohort adalah prospektif ( kausa/ FR diidentifikasi terlebih dahulu lalu diikuti sampai waktu tertentu untuk melihat efek/penyakit ) sehingga memerlukan waktu yang lama dan biaya mahal dibangding cross-sec dan Perlu sarana dan pengelolaan yang rumit.

Merupakan studi pengamatan lanjut (follow-up) dengan direksionalitas ke depan, tersedianya kelompok subyek tanpa efek tertentu sejak awal penelitian prospektif atau retrospektif, pada kohort retrospektif, prinsipnya sama dengan kohort prospektif, bedanya : identifikasi faktor risiko dan efek yang telah terjadi pada masa lampau, memerlukan waktu yang lama dan biaya mahal dibangding cross-sec, perlu sarana dan pengelolaan yang rumit, kemungkinan adanya subyek penelitian yg drop out sehingga dapat mengganggu hasil, adanya masalah etis, terkait pengamatan subyek dari awal sampai terjadinya efek.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Sedangkan desain studi potong lintang merupakan studi epidemiologi deskriptif yang digunakan untuk mempelajari dinamika hubungan (korelasi) antara “faktor risiko” dan “efek” dengan menggunakan “point time approach” (observasi/pengukuran terhadap faktor risiko dan efek dilakukan pada saat yang sama, mudah dilakukan dan relatif murah dan mempunyai kontrol sebagai pembanding. Dapat memberikan informasi frekuensi & distribusi penyakit yang menimpa masyarakat, serta informasi mengenai faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit.

Dapat dipakai untuk mengetahui stadium dini atau kasus sub klinik dari suatu penyakit, informasi diperoleh dengan cepat, tidak dapat dipakai untuk penelitian terhadap penyakit yang akut atau cepat sembuh, time sequence tidak jelas, simpulan korelasi faktor risiko dengan penyakit lemah 2.

Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol? 1) Suatu penelitian kasus kontrol tentang hubungan antara rokok dan kanker paru-paru. 2) suatu penelitian yang menggunakan rancangan kasus-kontrol untuk menentukan hubungan antara infark miokard dengan rokok.

3) hubungan karsinoma paru- paru dengan rokok 3. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort? 1) Penelitian tentang hubungan antara kehamilan di luar rahim dengan pemakaian IUD 2) Penelitian tentang hubungan antara alkohol dengan terjadinya hemorage stroke 3) Resiko kebiasaan minum kopi pada kasus toleransi glukosa terganggu terhadap terjadinya Diabetes Militus Tipe II 3 November 2014 06.42 Unknown mengatakan. LANJUTAN. 4. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang?

1) Hubungan antara tumbuh kembang anak dengan pemberian ASI eksklusif 2) Hubungan antara kualitas menyusui dengan kelancaran pengeluaran ASI 3) Hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan berat badan bayi lahir (BBL) 5. Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol! Kekurangan: a. Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi.

b. Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. Kasus dipilih dari populasi sumber yang memiliki outcome, sedangkan kelompok kontrol merupakan estimasi distribusi faktor paparan dari populasi sumber, sehingga hasil perhitungan yang kita dapatkan adalah Odds Rasio (OR). Walaupun asosiasi bisa ditegakkan dengan perhitungan Odds rasio, tetapi tidak bisa menghitung resiko absolut (abosulute risk) karena angka insidens tidak diketahui c.

Bias seleksi. Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena responden sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor resiko yang merupakan penyebab dari penyakit pada kelompok kasus, karena kemungkinan kelompok kontrol bisa menderita sakit yang sama seperti kelompok kasus, tetapi masih tahap tanpa gejala (asymptomatic group) dengan faktor resiko tersebut.

Sehingga kemungkinan terjadinya bias seleksi sangat besar. Misal, untuk mengetahui hubungan antara kasus kanker paru-paru dan merokok. Untuk pemilihan kasus kontrol, peneliti harus semaksimal mungkin untuk memilih kelompok ini pada pasien penyakit selain kasus kanker, yang tidak terpapar dengan rokok, misal penyakit mag, pasien katarak yang bukan perokok dsb.

d. Bias Informasi. Seperti kita pahami, apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana informasi yang kita akan dapatkan tergantung daya ingat responden. Rekam medis dapat meminimalisir bias informasi, tetapi tidak semua faktor resiko/paparan terdokumentasi pada rekam medis.

Oleh karena itu, kemungkinan bias pada informasi tinggi, terutama untuk kelompok kontrol. Kelompok kasus akan cenderung lebih mengingat faktor resiko yang dia alami daripada kelompok kontrol. Seperti contoh diatas, ibu apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana anak BBLR, umumnya daya ingat akan faktor paparan yang dia alami, memorinya akan lebih tinggi daripada ibu yang melahirkan bayi normal, misalnya status merokok, status gizi, periksa kehamilan dan sebagainya.

Kelebihan: a. Desain ini sangat tepat sekali pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat, seperti kasus kanker, HIV/AIDS, sehingga kita bisa mengetahui faktor risiko suatu kondisi kesehatan dengan metode retrospektif dengan cepat. b. responden ditanya tentang faktor paparan yang telah terjadi pada periode tertentu di masa lampau hingga terjadinya penyakit.

c. Desain ini bisa dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome. d. Odds rasio nilainya mendekati risk rasio (risk ratio), terutama pada kasus yang jarang terjadi. Nilai odds rasio merupakan rata-rata, karena kelompok kasus dan kontrol seharusnya mewakili populasi dengan memperhatikan paparan.

3 November 2014 06.43 Unknown mengatakan. Nama : Riski Amelia NIM : 10111001046 No. Absen : 45 (Ganjil) 1) Perbedaan studi kohot dan studi potong lintang Cross Sectional (Potong lintang) 1. Observasi terhadap variabel bebas (faktor risiko) dan terikat (efek) dilakukan satu kali, pada saat yang sama. 2. mudah untuk dilakukan dan murah, sebab tidak memerlukan follow-up 3. kurang akurat dalam membuktikan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana kausa 4.

hasil didapatkan dalam waktu singkat 5. Umumnya studi cross sectional dimanfaatkan untuk merumuskan hipotesis hubungan kausal yang akan diuji dalam studi analitiknya (kohort atau kasus control) 6.

Tidak dapat dipakai untuk meneliti penyakit yang terjadi secara akut dan cepat sembuh (durasi penyakit pendek) Kohort 1. desain observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan memilih dua atau lebih kelompok-kelompok studi berdasarkan perbedaan status paparan 2. Penelitian harus diikuti (di- follow up) hingga periode tertentu sehingga dapat diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian penyakit. 3. perlu dana yang besar dan waktu yang panjang.

4. Lebih akurat dalam membuktikan inferensi kausa 5. Hasil di dapatkan dalam jangka waktu yang lama 6. Cocok untuk meneliti paparan yang langka. 2) Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol?

1. Hipnoterapi untuk penurunan berat badan pada individu obes 2. Konsumsi fast food sebagai faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja usia 15-17 tahun 3.

Hubungan perlakuan fisioterapi respirasi pada penderita Buerger’s Disease 4. Pengaruh penggunaan KB suntik dengan peningkatan berat badan 3) Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort? 1. Pengaruh pencemaran Pb terhadap kesehatan 2. Status antioksidan glutation pada pasien tuberkulosis paru 3.

efek asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh" trans" terhadap kesehatan 3 November 2014 06.51 Unknown mengatakan. lanjutaaan. 4) Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang?

1. hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian kapsul vitamin A 2. Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan siswi kelas i tentang dismenorea 3. Faktor risiko gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil 5) Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol? Kelebihan : 1. Cocok untuk mempelajari penyakit yang jarang ditemukan 2. Hasil cepat, ekonomis 3. Subjek penelitian bisa lebih sedikit 4.

Memungkinkan mengetahui sejumlah faktor risiko yang mungkin berhubungan dengan penyakit 5. Kesimpulan korelasi kurang baik, karena ada pembatasan dan pengendalian faktor risiko 6. Tidak mengalami kendala etik 7. Sangat berguna untuk meneliti masalah kesehatan yang terjadi secara laten di masyarakat. Kelemahan : 1. Tidak diketahui pengaruh variabel luar yang tak terkendali dengan teknik matching 2. Pemilihan kontrol dengan mathcing akan sulit bila faktor risiko yang di “matching”kan banyak 3.

Tidak dapat dipakai untuk menentukan angka insidensi (incidence rate) penyakit. 4. Data faktor resiko disimpulkan setelah penyakit terjadi sehingga data tidak lengkap dan sering terjadi penyimpangan.

5. Odds Ratio tidak dapat digunakan untuk mengestimasi resiko relatif jika masalah kesehatan yang sedang diteliti terdapat di masyarakat lebih dari 5%. 6. Sulit untuk menghindari bias seleksi karena populasi berasal dari dua populasi yang berbeda. 3 November 2014 06.52 Unknown mengatakan.

FITRIANA MAYATAMA (10111001007) 1. Jelaskan perbedaan studi kohot dan studi potong lintang? Studi Potong Lintang Pengertian : Rancangan studi yang yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan dengan cara mengamati status paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi tunggal pada satu saat Waktu Penelitian : Cepat, sederhana Data yang diperoleh : Prevalensi Biaya : Relatif murah/ efisien Studi Kohort Pengertian : Rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar melalui pendekatan longitudinal ke depan atau prospektif.

Waktu Penelitian : Lama, rumit Data yang diperoleh : Insidensi Biaya : Mahal 2. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol?

• Sanitasi Lingkungan Perumahan Dan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian Filariasis Di Kecamatan Kampung Rakyat Kabupaten Labuhan Batu Selatan Tahun 2012 Alamat: http://repository.usu.ac.id/ • Hubungan Perilaku Dan Kondisi Sanitasi Rumah Dengan Kejadian Tb Paru Di Kota Solok Tahun 2011 Alamat: http://repository.unand.ac.id/ • Hubungan pola Pemberian ASI dan MP ASI Dengan Gizi Buruk Pada Anak 6- 24 Bulan di Kelurahan Pannampu Makasar 3. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort?

• Analisis Faktor Resiko Pada Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Kabupaten Sumenep Alamat: http://www.fik.umsurabaya.ac.id/ • Studi Kohort Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue Alamat: http:// jurnal.ugm.ac.id • Hubungan antara asuoan energy dan Protein dengan kenaikan berat badan ibu hamil di Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta oleh Joko Prianto • Hubungan antara Tingkat Kecemasan Ibu dengan Lama Persalinan Kala II di Bidan Praktik Swasta Kabupaten Tuban Alamat: Http://Www.Kopertis7.Go.Id/Uploadjurnal/Sainmed_Vol.03_No.02_Des.2011.Pdf • Kebisingan Memengaruhi Tekanan Darah Pekerja PT.

PLN (Persero) Sektor Barito PLTD Trisakti, Banjaramasin Alamat: http://www.kalbemed.com/ 3 November 2014 07.23 Unknown mengatakan.

Lanjutan 4. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang? • Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan KejadianGastritis Pada Pasien Yang Berobat Jalan Di Puskesmas Gulai Bancah Kota Bukittinggi Tahun 2011 Alamat: http://repository.unand.ac.id/ • Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Insiden Penyakit Malaria Di Kelurahan Teluk Dalam Kecamatan Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan Tahun 2005 Alamat: http://repository.usu.ac.id/ • Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang Serat Makanan dengan Konsumsi Serat Makanan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Alamat: http://fk.unmul.ac.id/ • Hubungan Status Gizi dan Perkembangan Batita (The Relationship between Nutritional Status and Development of Child on the Age 1–3 Years) Alamat:http://www.kopertis7.go.id/uploadjurnal/SainMed_Vol.03_No.02_Des.2011.pdf • Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Dermatitis Kontak Pada Pekerja PT.

Inti Pantja Press Industri 5. Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol? A. Kelebihan Studi Kasus Kontrol • Desain ini sangat tepat sekali pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat. Seperti kanker paru, kanker serviks, dsb. • Tidak memerlukan waktu yang lama Karen peneliti tidak perlu mengikuti perkembangan penyakit pada subjek selama bertahun-tahun.

• Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen, karena tidak mebedakan antar kelompok kasus dan kelompok kontrol • Adanya kesamaan ukuran waktu antara kelompok apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana dengan kelompok control • Bisa dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome B.

Kelemahan • Pengukuran variabel yang retrospective, objectivitas, dan realibilitasnya kurang karena subjek penelitian harus mengingat kembali faktor-faktor risikonya, sehingga dapat menimbulkan bias informasi. • Terkadang sulit memilih kontrol yang benar- benar sesuai dengan kelompok kasus karena banyaknya faktor risiko yang harus dikendalikan. Sehingga dapat menimbulkan bias seleksi jika tidak dikendalikan. • Karena subjek dipilih berdasarkan status penyakit, maka dengan studi kasus control pada umunya peneliti tidak dapat menghitung laju insidensi baik pada populasi yang terpapar dengan populasi yang tidak terpapar.

Itu lah sebabnya untuk menghitung risiko relative digunakan ukuran rasio odss (OR) • Secara umum, studi kasus control tidak efisien untuk mempelajari paparan –paparan yang langka. Paparan yang langka bisa diteliti dengan rancangan ini, asal beda risiko (RD) antara populasi yang berpenyakit dan tidak berpenyakit cukup tinggi • Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi.

3 November 2014 07.25 Unknown mengatakan. Nama : Irna Anggraini NIM : 10111001037 1. Perbedaan secara umum terletak pada faktor paparan (exposure factors) dan kejadian penyakit (disease).

Pada Desain Cross Sectional, paparan dan outcome terjadi pada masa sekarang (satu waktu yang sama). Sedangkan pada desain kohort paparan terjadi pada masa sekarang, dan outcome terjadi pada masa yang akan datang.

2. Contoh judul penelitian dengan desain Kasus Kontrol : Hubungan antara kejadian penyakit Ca Paru dengan kebiasaan Merokok Hubungan kejadian kejadian PJK dengan prilaku kebiasaan berolahraga Hubungan kejadian obesitas terhadap prilaku konsumsi fast food 3.

Contoh judul penelitian dengan desain Cohort : Hubungan prilaku merokok dengan kejadian penyakit jantung koroner Hubungan kebiasaan berolahraga dengan kejadian obesitas Hubungan pola makan terhadap penyakit diabetes milietus 4. Contoh penelitian dengan desain potong lintang : Hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi balita Hubungan tingkat pedidikan ibu terhadap pemilihan makanan keluarga Hubungan tingkat ekonomi keluarga terhadap penggunaan jamban sehat 5. Kelebihan desain Kasus Kontrol : a.

Sangat sesuai untuk penelitian penyakit yang jarang tterjadi atau penyakit dengan fase laten yang panjang atau penyakit yang sebelumnya tidak pernah ada. b. Pelaksanaannya relative lebih cepat jika dibandingkan dengan cohort karena pada penelitian case control diawali dengan penderita yang berarti penyakit yang diteliti telah timbul, sedangkan pada penelitian cohort, insidensi penyakit yang akan diteliti harus menunggu cukup lama.

c. Biaya penelitiannya relative lebih kecil dibandingkan dengan penelitian cohort karena sampel yang lebih sedikit dan waktu yang lebih singkat. Sedangkan kekurangan desain kasus-kontrol ini sendiri, adalah : a. Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi. b. Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya.

c. Berpotensi timbulnya bias informasi dan bias seleksi. d. Perhitungan resiko relative hanya berupa perkiraan 3 November 2014 07.46 Unknown mengatakan. Mariani Juliana Lumban Gaol (10111001011) 1. Perbedaan Studi Kohort dengan Cross Sectional a) Desain Penelitian: 1) Kohort Mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan membandingkan kelompok terpapar berdasarkan status penyakit.

2) Cross Sectional Mempelajari/mengukur hubungan penyakit (akibat) dengan pajanan (penyebab) dalam waktu yang bersamaan pada satu saat b) Metode Penelitian: 1) Kohort Longitudinal prospective (dimulai dari status keterpaparan kemudian dilakukan penelusuran kedepan terhadap suatu penyakit).

2) Cross Sectional Diperoleh prevalensi suatu penyakit dalam populasi pada suatu saat (Prevalence study). c) Waktu/Biaya 1) Kohort Kurang efisien dari segi waktu dan biaya. 2) Cross Sectional Mudah, murah, dan hasilnya relative cepat dapat diperoleh. d) Hasil Penelitian: 1) Kohort Menerangkan hubungan antara factor risiko dan efek. 2) Cross Sectional Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan.

e) Penyakit yang diteliti: 1) Kohort Tidak efisien untuk penyakit yang jarang. 2) Cross Sectional Dapat dipakai untuk meneliti banyak variable sekaligus. 2. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus control: a) Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Sistiserkosis Pada Penduduk Kecamatan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Propinsi Papua Tahun 2002.

b) Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 (Studi Kasus di Poliklinik Penyakit dalam Rumah Sakit Dr. Kariadi). c) Faktor Risiko Kanker Payudara Wanita. d) Perilaku Pemeriksaan Antenatal Sebagai Faktor Risiko Anemia Gizi Ibu Hamil di Puskesmas II Denpasar Selatan Tahun 2012. 3. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort: a) Nilai Prognostik Tumor Necrosis Factor Alpha Penderita Demam Berdarah Dengue Tanpa Renjatan Pada Anak.

b) Studi Kohort Kejadian Penyakit DBD di Wilayah Kecamatan Sawahan Kota Surabaya Tahun 2010. c) Hubungan Antara Kepatuhan Antenatal Care dengan Pemilihan Penolong Persalinan.

d) Hubungan Derajat Asma dengan Kualitas Hidup yang Dinilai dengan Asthma Quality of Life Questionnaire. 3 November 2014 08.24 Unknown mengatakan. Lanjutan 4. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang: a) Hubungan Kadarzi dengan Anemia Pada Ibu Hamil Trimester III di Puskesmas Tegalrejo Salatiga. b) Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Terhadap Keaktifan Kader dalam Pengendalian Tuberkulosis. c) Hubungan Faktor Risiko Individu dan Lingkungan Rumah dengan Malaria di Punduh Pedada Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung Indonesia 2010.

d) Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gastritis Pada Pasien yang Berobat Jalan di Puskesmas Gulai Bancah Kota Bukittinggi Tahun 2011. e) Kelainan Refraksi Pada Anak Usia 3 – 6 Tahun di Kecamatan Tallo Kota Makassar. 5. Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus control: a) Kelebihan Untuk kelebihanya, tentu saja desain ini sangat tepat sekali pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat, seperti kasus kanker, HIV/AIDS, sehingga kita bisa mengetahui faktor risiko suatu kondisi kesehatan dengan metode retrospektif dengan cepat, responden ditanya tentang faktor paparan yang telah terjadi pada periode tertentu di masa lampau hingga terjadinya penyakit.

Kemudian, desain ini bisa dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome.

Odds rasio nilainya mendekati risk rasio (risk ratio), terutama pada kasus yang jarang terjadi. Nilai odds rasio merupakan rata-rata, karena kelompok kasus dan kontrol seharusnya mewakili populasi dengan memperhatikan paparan. b) Kelemahan 1. Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi.

2. Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. Kasus dipilih dari populasi sumber yang memiliki outcome, sedangkan kelompok kontrol merupakan estimasi distribusi faktor paparan dari populasi sumber, sehingga hasil perhitungan yang kita dapatkan adalah Odds Rasio (OR). Walaupun asosiasi bisa ditegakkan dengan perhitungan Odds rasio, tetapi tidak bisa menghitung resiko absolut (abosulute risk) karena angka insidens tidak diketahui 3.

Bias seleksi. Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena responden sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor resiko yang merupakan penyebab dari penyakit pada kelompok kasus, karena kemungkinan kelompok kontrol bisa menderita sakit yang sama seperti kelompok kasus, tetapi masih tahap tanpa gejala (asymptomatic group) dengan faktor resiko tersebut. Sehingga kemungkinan terjadinya bias seleksi sangat besar.

Misal, untuk mengetahui hubungan antara kasus kanker paru-paru dan merokok. Untuk pemilihan kasus kontrol, peneliti harus semaksimal mungkin untuk memilih kelompok ini pada pasien penyakit selain kasus kanker, yang tidak terpapar dengan rokok, misal penyakit mag, pasien katarak yang bukan perokok dsb.

4. Bias Informasi. Seperti kita pahami, bahwa informasi yang kita akan dapatkan tergantung daya ingat responden. Rekam medis dapat meminimalisir bias informasi, tetapi tidak semua faktor resiko/paparan terdokumentasi pada rekam medis.

Oleh karena itu, kemungkinan bias pada informasi tinggi, terutama untuk kelompok kontrol. Kelompok kasus akan cenderung lebih mengingat faktor resiko yang dia alami daripada kelompok kontrol. Seperti contoh diatas, ibu dengan anak BBLR, umumnya daya ingat akan faktor paparan yang dia alami, memorinya akan lebih tinggi daripada ibu yang melahirkan bayi normal, misalnya status merokok, status gizi, periksa kehamilan dan sebagainya.

3 November 2014 08.25 Unknown mengatakan. Rakhmi Putri Nanda (10111001044) 1. Studi design kohort adalah saat peneliti mempunyai waktu, tenaga dan pendanaan yang cukup dan telah banyak penelitian sebelumnya melakukan penelitian dengan desain potong lintang dan kasus-kontrol, maka pilihan selanjutnya adalah studi ini. • Kelebihan studi kohort adalah kita bisa menilai kausalitas karena faktor paparan terjadi sebelum responden sakit, sehingga adanya tingkat alur jelas antara faktor paparan kemudian baru terjadi sakit.

Oleh karena itu, tingkat bias bisa diminimalisir terutama bias informasi, karena responden diikuti oleh peneliti ke depan (prospektif). Kemudian faktor perancu bisa dikontrol dan memungkinkan beberapa outcome hasil penelitian dapat dihasilkan dalam penelitian ini. Studi ini juga sangat baik untuk faktor paparan yang jarang terjadi dan memungkinkan peneliti menghitung angka insiden (incidence rates).

• Kelemahan studi dengan desain kohort adalah memerlukan waktu yang panjang terutama untuk mengetahui efek dari beberapa faktor paparan karena desain ini umumnya untuk menginvestigasi penyakit kronik. Desain ini juga membutuhkan jumlah sampel penelitian dalam cukup besar yang bisa bermanfaat jika adanya banyak sampel yang hilang sepanjang penelitian berlangsung dalam periode tertentu (loss of follow up). Biaya yang dibutuhkan juga tidak murah pada desain ini.

Kelemahan lainnya, jika penyakit yang diteliti jarang terjadi baik di group yang terpapar dan group tidak terpapar, sangat sulit sekali mencari responden dalam jumlah yang sangat banyak.

Desain potong lintang adalah sampel dalam suatu survey direkrut tidak berdasarkan status paparan atau suatu penyakit/ kondisi kesehatan lainnya, tetapi individu yang dipilih menjadi subjek dalam penelitian adalah mereka yang diasumsikan sesuai dengan studi yang akan kita teliti dan mewakili populasi yang akan diteliti secara potong lintang sehingga hasil studi bisa digeneralisasikan ke populasi. Oleh karena itu, faktor paparan dan kejadian penyakit/kondisi kesehatan diteliti dalam satu waktu.

Studi potong lintang dan bisa menghitung rasio prevalensi atau asosiasi yang kita inginkan. Kelemahan studi desain potong lintang, antara lain: a. Keterbatasan dimensi dari interpretasi sebab akibat, yang kita kenal dengan istilah fenomena ayam dan telur (chicken and egg), kita kurang mengetahui apakah sebab atau akibat duluan dari suatu kondisi kesehatan atau penyakit. b. Desain ini tidak efisien untuk faktor paparan atau penyakit (outcome) yang jarang terjadi.

Untuk pengolahan data analitik, kita membutuhkan faktor paparan dan penyakit dengan jumlah yang cukup sehingga peneliti bisa melakukan analisa asosiasi lebih lanjut. c. Kasus prevalensi kemungkinan tidak mewakili semua populasi jika angka rata –rata respons (response rate) yang bersedia mengikuti survey tidak mencapai target yang ditentukan. kelebihan dari desain potong lintang adalah: a. Mengukur angka prevalensi, bukan angka insidens b. Sampel dalam studi dapat mewakili populasi dengan teknik sampling c.

Metode dan desain serta definisi penelitian bisa distandardisasi, reliable dan single blind sehingga survey berulang dapat dilakukan untuk mengetahui trend penyakit atau kondisi kesehatan dan kebutuhan pelayanan kesehatan suatu negara dalam kurun waktu tertentu.

3 November 2014 08.33 Unknown mengatakan. Rakhmi Putri Nanda (10111001044) Lanjutan . 2. Contoh Case Control • Faktor-faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis (Studi Kasus Di Kabupaten Demak) (Priyanto, Agus (2008) • Hubungan antara CA payudara dan penggunaan kontrasepsi oral (OC) pada rumah sakit X pada periode tahun 2008. 3. Cohort • Kejadian Tuberkulosis Pada Anak Setelah Imunisasi Baccilus Calmette Et Guerrin Di 5 Wilayah Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur Tahun 2000-2002 • Hubungan antara CA Paru dengan merokok (Risiko) dengan pendekatan prospektif 4.

Contoh Cross Sectional • Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Oleh Peserta Jamsoskes Sumatera Selatan (sumsel) Semesta Di Puskesmas Kabupaten Muara Enim • Hubungan Kualitas Menyusui dengan Kelancaran Pengeluaran ASI 5. Kelebihan dan Kekurangan Case Control • Kelebihan: 1. Sifatnya relatif murah dan mudah dibandingkan desain analitik lainnya.  Waktu penelitiannya singkat krn penderita yg akan diteliti telah ada sdg pd cohort, insiden penyakit yg diteliti menuggu cukup lama.

 Sampelnya lebih sedikit dan dapat menghemat tenaga.  Dapat memanfaatkan data yang ada seperti data dari rumah sakit. 2. Cocok untuk penyakit yang periode laten yang panjang. 3. Dapat meneliti pengaruh banyak paparan (faktor resiko) terhadap suatu penyakit secara simultan.

4. Dapat Menguji hipotesis hubungan paparan dan penyakit. 5. 5. Biasanya dapat mengevaluasi confounding dan interaksi lebih teliti daripada studi kohort untuk jumlah sampel yang sama, karena kasus dan kontrol lebih sebanding. • Kelemahan 1. Lebih rawan bias dibandingkan desain studi analaitik lainnya, khususnya bias seleksi, bias informasi dan bias recall karena pemelihan subyek berdasarkan status penyakit yg dilakukan saat paparan telah atau sedang berlangsung.

2. Tidak efisien untuk meneliti paparan yang jarang, kecuali odds rasio antara populasi yang berpenyakit dan tidak berpenyakit cukup besar, sehingga dibutuhkan jumlah sampel yang besar. 3.Tidak efisien untuk menyelidiki paparan (exposure) yang jarang. 4.Tidak dapat menghitung insiden rate karena subjek apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana dipilih berdasarkan status penyakit.

Hal ini menyebabkan pada studi ini tidak bisa menghitung Resiko Relatif (RR) 5. Hanya dapat meneliti satu penyakit dan sulit memilih kontrol yang tepat. 6. jika menggunakan data historis, kadang-kadang tidak mudah membedakan antara data prevalensi dan insiden, sehingga tidak mudah untuk memastikan paparan mendahului penyakit. 7.Jika kelompok kasus dan kontrol dipilih dari dua populasi yang terpisah, maka sulit dipastikan apakah mereka apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana.

3 November 2014 08.34 Sri lestari mengatakan. NAMA : SRI LESTARI NIM : 10111001021 1) Perbedaan studi kohort dan studi potong lintang • Studi kohort merupakan merupakan studi penelitian observasi yang didasarkan pada pengamatan sekelompok penduduk tertentu dalam satu jangka waktu tertentu.

Pada desain kohort, faktor paparan terjadi dimasa sekarang, lalu diselidiki hingga kejadian penyakit apakah akan terjadi di masa depan. Studi kohort mrmbutuhkan waktu yang panjang dan tenaga serta biaya yang lebih banyak, namun mampu memberikan gambaran yang cukup lengkap tentang pengaruh dan sifat keterpaparan, hubungan keterpaparan dengan kejadian penyakit serta sifat penyakit yang diteliti.

Memungkinkan peneliti menghitung angka insiden. • Studi potong lintang merupakan studi penelitian prevalensi penyakit dan sekaligus dengan prevalensi penyebab/faktor risiko. Pada Studi desain potong lintang, faktor paparan dan kejadian penyakit terjadi pada masa apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana secara bersamaan (in the present).

Mengukur angka prevalensi buakn insiden. Penelitian ini memberikan gambaran secara umum besarnya/luasnya permasalahan dengan waktu yang cukup singkat dan biaya yang tidak begitu besar. Studi potong lintang ini sangat berguna untuk penilaian pelayanan kesehatan sehingga dapat digunakan untuk refrensi menyusun kebijaksanaan dan program yang akan datang, dan juga hasil penelitian ini tidak dapat digunakan untuk mengukur hubungan sebab akibat /pengaruh faktor penyebab, tetapi dapat memberikan gambaran tentang arah dan sasaran penelitian selanjutnya serta menjadi dasar keterangan untuk penelitian kohort.

2) Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus control. 1. Pengaruh Kebisingan Lalu Lintas Jalan Terhadap Gangguan Kesehatan Psikologis Anak SDN Cipinang Muara Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta 2. Pengaruh Kb Suntik DMPA Terhadap Peningkatan Berat Badan Di BPS Siti Syamsiyah Wonokarto Wonogiri 3.

Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi Pada Laki-Laki Usia 40 Tahun Keatas Di Wilayah Kerja Puskesmas Tegalgubuk Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon Tahun 2010 4. Asupan Gizi dan Status Gizi sebagai Faktor Resiko Hipertensi Esensial pada Lansia di Puskesmas Curup dan Perumnas Kabupaten rejang Lebong Provinsi Bengkulu 3) Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort 1. Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Ibu Dengan Lama Persalinan Kala II Di Bidan Praktik Swasta Kabupaten Tuban 2.

Pengaruh Suplementasi Seng dan Probiotik Terhadap Kejadian Diare Berulang 3. Pengaruh Status Gizi Pasien Bedah Mayor Pre-Operasi terhadap Penyembuhan Luka dan Lama Rawat Inap Pasca Operasi Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. 4. Pola Asuh Ibu, Kejadian Diare dan Pertumbuhan Sampai 4 Bulan Pada Bayi Yang Mengalami Hambatan Pertumbuhan Pada Rahim 3 November 2014 08.39 Unknown mengatakan.

Nora Nindi Arista (10111001059) 1. Perbedaannya adalah jika pada studi potong lintang sampel yang digunakan adalah individu yang diasumsikan sesuai dengan studi yang akan kita teliti dan dapat dianggap telah mewakili populasi sehingga hasil studi bisa digeneralisasikan ke populasi sedangkan pada studi kohort memerlukan sampel penelitian yang cukup besar yang bisa bermanfaat jika selama penelitian terdapat sampel yang hilang selama periode tertentu.

Selain itu juga, studi potong lintang memerlukan dana, waktu dan tenaga yang tidak terlalu besar dibandingkan studi kohort 2. A. Risiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Kalangan Peminum Kopi Di Kotamadya Palembang Tahun 2006-2007 B. Faktor Sosiodemografi dan Lingkungan yang Mempengaruhi Kejadian Luar Biasa Chikungunya di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok 2006 C. Hubungan Pola Pemberian ASI Dan MP ASI Dengan Gizi Buruk Pada Anak 6-24 Bulan Di Kelurahan Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Makassar D.

Hubungan Pola Pemberian Asi Dan Mp Asi Dengan Gizi Buruk Pada Anak 6-24 Bulan Di Kelurahan Pannampu Makassar E. Faktor Risiko Lingkungan Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis Berat (Studi Kasus di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang) 3. A. Pengaruh status gizi pasien bedah mayor pre operasi terhadap penyembuhan luka dan lama rawat inap pasca operasi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta B. Hubungan nilai CD4 pada awal pengobatan ARV dengan kemampuan hidup 1 tahun orang dengan HIV/AIDS (ODHA) C.

Pengaruh Fisioterapi Terhadap Kekuatan Otot Ekstremitas pada Penderita Stroke Non hemorgik D. Pengaruh Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Tradisional pada Usia Dini terhadap Pertumbuhan dan Kesakitan Bayi.

Studi Kohort pada Bayl 0-4 Bulan di Kabupaten Demak. E. Hubungan Antara Metode Operasi Lichtenstein Dengan Tepi Mesh Kranio-Lateral Dilakukan Overlapping Dengan Tidak Dilakukan Overlapping Pada Kejadian Residif Hernia Inguinalis Lateralis 4.

A. Hubungan Antara Metode Operasi Lichtenstein Dengan Tepi Mesh Kranio-Lateral Dilakukan Overlapping Dengan Tidak Dilakukan Overlapping Pada Kejadian Residif Hernia Inguinalis Lateralis B. Hubungan kepuasan kerja dan komitmen organisasi dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB) di Politeknik Kesehatan Banjarmasin C.

Hubungan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Kecepatan Keluarnya ASI Pada Ibu Post Partum Di BPS Firda Tuban D. Risiko Faktor Hereditas, Obesitas Dan Asupan Natrium Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Remaja Awal E. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap Keluarga dengan Kekambuhan pada Pasien Skizofrenia di RSJD Surakarta 3 November 2014 09.15 Unknown mengatakan. Nora Nindi Arista (10111001059) LANJUTAN. 5. Kelebihan studi desain kasus kontrol : • Dapat memperoleh hasil penelitian dengan cepat • Menggunakan dana yang minimal dan waktu yang tidak lama, hal ini menguntungkan ketika data paparan tersebut mahal atau sulit diperoleh • Efisien untuk penyakit yang langka/jarang ditemui atau penyakit dengan jangka waktu panjang (masa laten) antara eksposur dan manifestasi penyakit • Dapat meneliti berbagai faktor resioko sekaligus • Tidak memerlukan subjek penelitian yang banyak Kekurangan studi desain kasus kontrol • Subjek rentan terkena bias.

Data mengenai pajanan factor resiko diperoleh dengan mengandalkan daya ingat atau catatan medic. Daya ingat responden ini yang menyebabkan terjadinya recall bias, baik karena lupa, atau responden yang mengalami efek cenderung lebih mengingat pajanan terhadap factor resikodaripada responden yang tidak mengalami efek. Data sekunder dalam hal ini catatan medic rutin yang sering dipakai sebagai sumber data juga tidak begitu akurat.

• Secara umum studi kasus kontrol tidak effisien untuk mempelajari paparan-paparan yang langka, namun bisa dilakukan apabila beda resiko (RD) antara populasi yang berpenyakit dan tak berpenyakit cukup tinggi. Untuk itu dibutuhkan ukuran sampel yang besar, disamping prevalensi paparan pada populasi yang berpenyakit cukup tinggi. • Karena subyek dipilih berdasarkan status penyakit, pada umumnya peneliti tidak dapat menghitung laju insidensi (kecepatan kejadian penyakit) baik pada populasi yang terpapar maupun tidak terpapar.

Sehingga untuk menghitung risiko relatif menggunakan ukuran rasio odds (OR). • Pada beberapa situasi tidak mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan dan penyakit. • Kelompok kasus dan kelompok kontrol dipilih dari dua populasi yang terpisah, sehingga sulit dipastikan apakah kasus dan kontrol pada populasi studi benar-benar setara dalam hal faktor-faktor luar dan sumber-sumber distorsi lainnya. 3 November 2014 09.17 Sri lestari mengatakan.

SRI LESTARI (10111001021) NO.4 DAN 5 4) Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang 1.

Hubungan Antara Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana HBCO Dengan Kapasitas Vital Paru Pedagang di Terminal Bus Purwokerto. 2. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue Di Kota Mataram 3. Hubungan Antara Konsumsi Protein Hewani Dan Zat Besi dengan Kadar Hemoglobin Pada Balita Usia Usia 13-36 Bulan 4.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Hubungan Sanitasi Rumah Secara Fisik dengan Kejadian ISPA pada Balita 5) Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus control • Kelebihan: 1. sangat tepat sekali untuk meneliti kasus yang jarang terjadi di masyarakat maupun penyakit dengan masa laten yang lama sehingga dapat mengetahui faktor-faktor resiko maupun faktor paparan yang ada dengan memperoleh infomasi dari responden yang bersifat retrospektif., 2.

Pelaksanaanya relative lebih cepat, biaya relaitif lebih murah 3. subjek yang dibutuhkan untuk mempertimbangkan relitif tidak besar jumlahnya karena dilakukan pada sampel terbatas namun dapat mengeksplorasi banyak faktor paparan pada satu outcome.

4. Nilai Odds rasio mendekati risk rasio (risk ratio), terutama pada kasus yang jarang terjadi. kelompok kasus dan kontrol seharusnya mewakili populasi dengan memperhatikan paparan sehingga nilai ods ratio merupakan rata-rata. 5. Memungkinkan untuk mempelajari / mengamati berbagai jenis penyebab yang potensial termasuk penyebab jamak dari suatu penyakit.

• Kekurangan: 1. Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, 2. Tidak dapat menghasilkan angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya dan hanya menghasilkan nilai OR karena Kasus dipilih dari populasi sumber yang memiliki outcome, sedangkan kelompok kontrol merupakan estimasi distribusi faktor paparan dari populasi sumber, 3.

Berisiko terjadi bias - Bias seleksi. Hal ini terjadi karena Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena kelompok control sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor risiko sedangkan kemungkinan kelompok control untuk menderita sakit tetap ada dan kemungkinan juga mengalami sakit tetapi masih dalam tahap gejaa - Bias Informasi. Hal ini karena mencakup informasi yang telah berlalu sehingga sangat dipengaruhi oleh daya ingat salah satu cara meminimalisisr adalah dengan Rekam tetapi tidak semua faktor resiko/paparan terdokumentasi pada rekam medis.

4. Kasus yang diperoleh adalah kasus yang selamat saja. karena tidak bisa menemukan kasus yang telah meninggal 5. Pengamatan/penelitian secara mendalam tentang mekanisme penyebab/hubungan sebab akibat sulit dilaksanakan. 3 November 2014 09.21 Unknown mengatakan.

Dede Suhartati NIM: 10111001002 NO.1 Perbedaan study cohort dan cross-sectional Jawab: Desain Penelitian Cohort: Mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan membandingkan kelompok terpapar berdasarkan status penyakit Cross-Sec: Mempelajari/mengukur hubungan penyakit (akibat) dengan pajanan (penyebab) dalam waktu yang bersamaan pada satu saat Metode Penelitian Cohort: Longitudinal perspective (dimulai dari status keterpaparan kemudian dilakukan penelusuran kedepan terhadap suatu penyakit) Cross-Sec: Diperoleh prevalensi suatu penyakit dalam populasi pada suatu saat (Prevalence study) Waktu/Biaya Cohort: Kurang efisien dari segi waktu dan biaya Cross-Sec: Mudah, murah dan hasilnya relative cepat dapat diperoleh Hasil Penelitian Cohort: Menerangkan hubungan antara faktor risiko dan efek Cross-Sec: Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan Penyakit yang Diteliti Cohort: Tidak efisisien untuk penyakit yang jarang Cross-Sec: Dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus Informasi Cohort: Tidak akan terjadi recall bias Cross-Sec: Bisa terjadi recall bias Rumus Cohort: RR = a/(a+b) : c/(c+d) Cross-Sec: RP = a/(a+b) : c/(c+d) NO.2 Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol?

Jawab: a. “Hubungan konsumsi rokok sebagai pemicu penyakit hipertensi pada penduduk usia produktif 14-65 tahun di Kabupaten X” b. “Hubungan pemberian imunisasi BCG dengan kejadian tuberculosis paru pada anak balita” c.

“Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum Makan dengan Kejadian Thypoid” Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi subyek (anak sekolah) dengan efek atau kelompok kasus (thypoid (+)) dan mencari subyek yang tidak mengalami efek atau kelompok kontrol (thypoid(-)). Kemudian ditelusuri factor risikonya sacara retrospektif yaitu menelusuri dengan melihat riwayatnya di masa lalu dari tiap subyek, apakah subyek dengan kasus (thypoid +) memiliki riwayat terpapar factor risiko (factor risiko (+),kebiasaan jajan di sekolah, dan kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan) atau tidak (factor risiko (-),kebiasaan tidak jajan di sekolah, dan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan).

Begitu juga dengan subyek kontrol (thypoid (-)), ditelusuri secara retrodpektif atau melihat riwayat di masa lalu, apakah terpapar factor risiko (factor risiko (+),kebiasaan jajan di sekolah, dan kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan) atau tidak (factor risiko (-),kebiasaan tidak jajan di sekolah, dan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan) 3 November 2014 13.59 Unknown mengatakan. lanjutan. Dede Suhartati 10111001002 NO.3 Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort?

Jawab: a. “Resiko Kebiasaan Minum Kopi pada Kasus Toleransi Glukosa Terganggu terhadap Terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2” b. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kecacingan yang Disebabkan Oleh Soil-Transmitted Helminth di Indonesia” NO.4 Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang? Jawab: a. “Hubungan Faktor Eksternal dengan Perilaku Remaja dalam Hal Kesehatan Reproduksi di SLTPN Medan Tahun 2002” b.

“Resiko Kebiasaan Minum Kopi pada Kasus Toleransi Glukosa Terganggu terhadap Terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2” NO.5 Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol? Jawab: Kelebihan a. Kasus biasanya tersedia dan mudah didapatkan b.

Dapat dilakukan dengan cepat dan murah c. Biaya yang diperlukan lebih sedikit sehingga lebih efisien d. Hasil penelitian sudah menunjang kea rah dukungan hipotesis kausal dengan menegakkan adanya asosiasi e. Jumlah subyek lebih kecil dibandingkan kebutuhan sampel untuk penelitian cross-sectional dan kohort Kelemahan a.

Peka terhadap recall bias karena hanya tergantung daya ingat subyek b. Data sekunder tidak lengkap yang diterima dari Rumah Sakit c. Kriteria diagnosis yang berbeda antara petugas kesehatan d. Kasus yang diperoleh adalah kasus yang selamat (selective survivor) karena tidak bisa menemukan kasus yang telah meninggal e.

Bias seleksi f. Tidak dapat menentukan angka insiden penyakit 3 November 2014 14.01 Unknown mengatakan. 1. cross sectional dilakukan dalam satu waktu dan outcomenya didapatkan pada saat itu juga dan dapat menghitung rasio prevalensi atau asosiasi sedangkan kohort membutuhkan waktu yang lama dan mengikuti perjalanan penyakit sampai didapatkan outcome. dan dapat menghitung angka insiden 2. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol?

a. Hubungan status gizi ibu dengan kejadian BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) di Sumatera Selatan b. Studi kasus PTRM dan Kematian Akibat Overdosis atau HIV/AIDS dan BBV c. Hubungan antara Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan Kebiasaan Merokok pada Ibu Hamil 3. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort? a. Hubungan antara kehamilan di luar rahim dengan pemakaian IUD b. Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah c.

Hubungan Obesitas dengan kejadian penyakit jantung 4. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang? a. Hubungan antara tumbuh kembang anak dengan pemberian ASI eksklusif b. Hubungan Kualitas menyusui terhadap kelancaran pengeluaran air susu ibu c. Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan Kejadian Thypoid 5. kelebihan case control - untuk kasus yang jarang terjadi - cepat dan murah ( efisien ) - bisa dengan sampel terbatas - dapat mengetahui atau mengexplore banyak faktor risiko pada satu outcome - mengetahui riwayat alamiah penyakit kelemahan - hanya untuk 1 outcome - tidak bisa menghitung angka insiden - bisa terjadi bias seleksi dan informasi karena menanyakan data masa lampau 3 November 2014 18.51 Unknown mengatakan.

NOMOR 5 KELEBIHAN : 1.Desain ini sangat tepat untuk kasus yang jarang terjadi di masyarakat contohnya penyakit kanker paru 2.Desain ini dapat dilakukan pada jumlah sampel terbatas 3.Desain ini bisa mengeksplorasi banyak faktor 3.paparan dimasa lampau pada satu outcome. 4.Desain ini murah dan cepat 5.Sampelnya relative lebih sedikit 6.Odds rasio nilainya mendekati risk rasio (risk ratio), terutama pada kasus yang jarang terjadi.

7.Nilai odds rasio merupakan rata-rata, karena kelompok kasus dan kontrol seharusnya mewakili populasi dengan memperhatikan paparan. KELEMAHAN 1.Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena di mulai dari satu kondisi kesehatan dan dikilas balik ke belakang. 2.Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. 3.Dapat terjadi bias seleksi. 4.Dapat terjadi bias Informasi.

5.Data sekunder yang didapat sering tidak lengkap sehingga menimbulkan bias 6.Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. 3 November 2014 19.19 Unknown mengatakan. NAMA : AYU NOVITRIE NIM : 10111001054 NOMOR 1 PERBEDAAN KOHORT DAN POTONG LINTANG • BIAYA Kohort : membutuhkan dana yang cukup besar (mahal) Potong lintang : biaya yang dikeluarkan relative lebih murah • WAKTU Kohort : membutuhkan waktu yang lama karena untuk mengetahui efek dari faktor paparan penyakit biasanya apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana kronik.

Potong lintang : lebih menghemat waktu karena pengukuran yang dilakukan pada suatu waktu • FAKTOR PAPARAN DENGANG KEJADIAN PENYAKIT Kohort : Faktor paparannya terjadi dimasa sekarang,lalu diselidiki hingga kejadian penyakit dimasa yang akan datang Potong lintang : faktor paparan dan kejadian penyakit terjadi pada masa sekarang secara bersamaan di masa sekarang • SAMPEL Kohort : Sampel yang dipakai cukup besar karena untuk menghindari banyak sampel yang hilang Potong lintang : sampel dalam suatu survey direktrut tidak berdasarkan status paparan.

Sampel yang diambil sampel yang diasumsikan sesuai dengan studi yang akan kita teliti • HASIL Kohort : hasil dapat segera diperoleh pada saat itu juga sebab faktor paparan dan kejadian penyakit dilihat pada saat itu juga atau secara bersamaan Potong lintang : butuh waktu yang cukup lama untuk memperoleh hasil penelitian. 3 November 2014 19.22 Unknown mengatakan. NAMA : AYU NOVITRIE NIM : 10111001054 NOMOR 2 Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol : 1.

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA KELOMPOK USIA < 45 TAHUN (STUDI KASUS DI RSUP Dr. KARIADI DAN RS TELOGOREJO SEMARANG) 2. FAKTOR-FAKTOR RISIKO HIPERTENSI GRADE II PADA MASYARAKAT (Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar) 3. FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN LEPTOSPIROSIS BERAT (Studi Kasus di Rumah Sakit Dr.

Kariadi Semarang) 4. FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN MALARIA (Studi Kasus Di Wilayah Kerja Puskesmas Hamadi Kota Jayapura) NOMOR 3 Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort : 1. Pengaruh Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Tradisional pada Usia Dini terhadap Pertumbuhan dan Kesakitan Bayi. Studi Kohort pada Bayl 0-4 Bulan di Kabupaten Demak. 2. HUBUNGAN ANTARA METODE OPERASI LICHTENSTEIN DENGAN TEPI MESH KRANIO-LATERAL DILAKUKAN OVERLAPPING DENGAN TIDAK DILAKUKAN OVERLAPPING PADA KEJADIAN RESIDIF HERNIA INGUINALIS LATERALIS 3.

HUBUNGAN GANGGUAN FUNGSI ENTERAL TERHADAP KEJADIAN DIARE BERULANG PADA ANAK UMUR 1-24 BULAN NOMOR 4 Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang : 1.

Kadar timbal darah, hipertensi, dan perasaan kelelahan kerja pada petugas stasiun pengisian bahan bakar umum di Kota Manado 2. Korelasi antara saturasi oksigen vena sentral supranormal dengan sepsis berat/syok septik :: Rancang penelitian potong lintang analitik 3.

PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR PADA MAHASISWA DENGAN KURIKULUM MODEL SPICES (STUDI POTONG LINTANG PADA MAHASISWA FK UNEJ) 3 November 2014 19.25 Lathifa Umami mengatakan. Lathifa Umami (10111001057) 1. Jelaskan perbedaan studi kohot dan studi potong lintang? Studi kohort merupakan penelitian epidemiologi observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dimasa sekarang lalu diselidiki khingga kejadian penyakit yang akan terjadi menggunakan perbandingan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar berdasarkan kasus atau status penyakit, desain ini membutuhkan waktu lama, dana dan tenaga yang banyak.

Sedangkan studi potong lintang mempelajari hubungan penyakit dan paparan dengan mengamati status paparan dan penyakit dalam waktu serentak pada individu dari populasi tunggal sehingga tidak memerlukan waktu banyak dan lebih sedikit dana dan tenaga. 2. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol?

a. Hubungan antara hiperglikemi dan kejadian karsinoma kolorektal di rumah sakit umum pusat Dr. Kariadi Semarang b. Effect of potentially modifiable risk factors associated with myocardial infarction in 52 countries (the INTERHEART study) c.

Asupan gizi dan status gizi sebagai faktor resiko hipertensi esensial pada lansia di Puskesmas Curup dan Perumnas Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu 3. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort? a. Kejadian relaps pada anak dengan sindrom nefrotik primer remisi yang diberi prednison Alternate Days Program dibanding Three Consecutive Days Program.

b. Disfagia sebagai faktor risiko status gizi pasien stroke di ruang rawat inap rs dr. cipto mangunkusumo jakarta c. Kejadian tuberkulosis pada anak setelah imunisasi baccilus calmette et guerrin di 5 wilayah puskesmas kecamatan jatinegara jakarta timur tahun 2000-2002 4.

Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang? a. Tingkat Kepatuhan Penderita Malaria Vivax Dalam Minum Obat Serta Faktor Yang Mempengaruhinya Studi Pada Penderita Malaria Vivax Di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2005 b. perbedaan efek fisiologis pada pekerja sebelum dan sesudah bekerja di lingkungan kerja panas c. Hubungan antara asupan protein dengan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil di kecamatan Jebres Surakarta 5.

Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol? a. Kelemahan penelitian dengan studi desain kasus kontrol adalah - Tidak bisa menginvestigasi lebih dari satu kondisi penyakit atau keseahtan. - Tidak bisa menghitung resiko absolut karena tidak diketahuinya angka insiden.

- Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana kemungkinan terjadi bias seleksi maupun bias informasi. - Tidak reabilitas jika penelitian retrospektif.

b. Kelebihan penelitian dengan studi desain kasus kontrol adalah - Hasil penelitian lebih tajam dibanding potong lintang karena adanya pengendalian risiko. - Tidak menghadapi kendala etik - Tidak memerlukan waktu lama (ekonomis) - Bisa digunakan untuk kasus yang jarang terjadi di masyarakat.

- Dapar menelusuri banyak faktor di masa lampu untuk satu keluaran dan dapat dilakukan untuk sampel terbatas 3 November 2014 23.41 Unknown mengatakan. NAMA : DESRI PURWANTI NIM : 10111001025 (NEW RESPOND) 1. Perbedaan studi kohot dan studi potong lintang : Studi kohort yaitu, factor paparan yang terjadi dimasa sekarang, kemudian diselidiki apakah kejadian penyakit itu akan terjadi di masa yang akan datang.

Sedangkan desain studi potong lintang atau cross sectional kejadian dan factor paparan penyakit terjadi pada masa sekarang secara bersamaan (in the present). Jadi, desain studi potong lintang dan kohort ini sama-sama menyelidiki factor paparan di masa sekarang, yang membedakan adalah outcome nya, potong lintang outcome nya pada masa sekarang juga dan desain studi kohort outcome nya pada masa depan. 2. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus control : • Hubungan antara angioskorma hati dan vinil klorida [1] • Hubungan karsinoma paru- paru dengan rokok[1] • Hubungan antara CA payudara dan penggunaan kontrasepsi oral (OC) pada rumah sakit X pada periode tahun 2008.

[1] • Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan KejadianThypoid.[2] 3. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort : • Penelitian yang dilakukan oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) yang bertujuan untuk menguji hipotesis bahwa energy yang dihasilkan oleh video display terminal (VDT’s) dimungkinkan dapat menybabkan keguguran secara spontan.[1] • Framingham Cohort, yang dilakukan pada lebih dari 5209 responden yang berumur 30-62 tahun di Framingham, Ma, Boston hingga tiga generasi yang dimulai pada tahun 1948 dan diikuti hingga lebih dari 50 tahun kedepan 4.

Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang : • Penelitian tentang fluorosis yang dilakukan pada anak usia 10-12 tahun di Brazil yang tinggal di daerah yang belum memperoleh fluoridasi air minum.[3] • Angka kejadian diare di Desa X tahun 2001 (Hubungan Pendidikan Orang Tua dengan Kejadian Diare yang Diukur pada Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Bersamaan).[3] • Hubungan antara Anemia dengan Kelahiran Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

[4] • Paparan Auramin di Pabrik Zat Pewarna dan Kanker Buli-Buli. [5] 5. Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus control : • Kelemahan penelitian dengan studi desain kasus kontrol adalah 1. Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi.

2. Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. 3. Bias seleksi. 4. Bias Informasi. • Kelebihan penelitian dengan studi desain kasus kontrol adalah : 1. Desain ini sangat tepat sekali pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat, seperti kasus kanker, HIV/AIDS.

2. Desain ini bisa dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome. 3. Odds rasio nilainya mendekati risk rasio (risk ratio), terutama pada kasus yang jarang terjadi. 6. Mind mapping kesimpulan materi studi desain observasional : Please check : http://elearning.unsri.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=3466 Sumber : [1]http://erlynafkmundip.blogspot.com/2010/10/cross-sectional-case-control-dan-cohort.html [2] http://richwanto.blogspot.com/2010/11/desain-penelitian.html [3] http://abhie-institute.blogspot.com/2012/07/metode-penelitian-cross-sectional.html [4]https://hendronurcahyo.wordpress.com/tag/tugas-kuliah/ [5] http://info–budidaya.blogspot.com/2012/03/makalah-cross-sectional-atau-potong.html 4 November 2014 00.25 nniikenmout mengatakan.

NIKEN TRI GUSTI 10111001015 1. Perbedaan secara umum terletak pada faktor paparan (exposure factors) dan kejadian penyakit. - Studi kohort, faktor paparan terjadi di masa sekarang, lalu diselidiki hingga kejadian penyakit apakah akan terjadi di masa depan, sedangkan - Studi desain potong lintang (cross-sectional), faktor paparan dan kejadian penyakit tejadi pada masa sekarang secara bersamaan (in the present) serta sampel direkrut tidak berdasarkan status paparan/penyakit, tetapi dipilih mereka yang diasumsikan sesuai dengan studi dan mewakili populasi yang akan diteliti secara potong lintang.

2. Contoh studi kasus kontrol o Faktor-faktor Risiko Hipertensi Grade II Pada Masyarakat (Studi Kasus Di Kabupaten Karanganyar) o Faktor-faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis (Studi Kasus Di Kabupaten Demak) o Hubungan Faktor Lingkungan Dankarakteristik Individu Terhadap Kejadian Penyakit Leptospirosis Di Jakarta, 2003-2005 o Faktor-faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Penyakit Jantung Koroner Pada Kelompok Usia <45 Tahun (Studi Kasus Di RSUP Dr.

Kariadi Dan RS Telogorejo Semarang) o Perbedaan Indeks Prestasi Antara Mahasiswa Merokok Dan Tidak Merokok (Studi Kasus Mahasiswa Laki-Laki Fakultas Kedokteran Di Perguruan Tinggi Surakarta 3.

Contoh studi kasus kohort o Studi Kohort Kejadian Penyakit DBD Di Wilayah Kecamatan Sawahan Kota Surabaya Tahun 2010 o Studi Kohort Prevalensi Obesitas Siswa Siswi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Kota Yogyakarta o Hubungan Derajat Asma Dengan Kualitas Hidup Yang Dinilai Dengan Asthma Quality Of Life Questionnaire o Konsentrasi Mangan Dalam Udara Ambient Dan Kejadian Iritasi Saluran Pernafasan (Studi Kohort Prospektif Pada Anak-Anak Usia 6 Sampai 12 Tahun Di Desa Satar Punda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur Tahun 2011) o Pengaruh Senam Terhadap Kadar Gula Darah Penderita Diabetes 4.

Contoh studi kasus potong lintang o Pola Makanan Pendamping Air Susu Ibu Dan Status Gizi Bayi 0-12 Bulan Di Kecamatan Lhokinga Kabupaten Aceh Besar o Hubungan Antara Pola Konsumsi Gluten Dan Kasein Dengan Skor CARS (Childhood Autism Rating Scale) Pada Anak ASD (Autistic Spectrum Disorder) o Hubungan Indeks Massa Tubuh, Hemoglobin Dan Kesegaran Jasmani Dengan Produktivitas Kerja Pada Tenaga Kerja Wanita Bagian Packaging (Studi Di PT Danliris, Banaran, Grogol, Sukoharjo) o Hubungan Kadar Hbco Dengan Kapasitas Vital Paru Pedagang Di Terminal Bus Purwokerto o Hubungan Pola Asuh Dengan Status Gizi Anak Batita Di Kecamatan Kuranji Kelurahan Pasar Ambacang Kota Padang Tahun 2004 5.

kelebihan dan kekurangan studi kasus kontrol: kelebihan : 1. sangat tepat pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat. 2. Bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan di masa lampau. 3. Odds rasio nilainya mendekati risk rasio (risk ratio). 4. Hasil dapat diperoleh dengan cepat 5. Biaya yang diperlukan relatif lebih sedikit 6. Memerlukan subyek penelitian yang lebih sedikit Kelemahan : 1. Hanya bisa menginvestigasi satu kondisi kesehatan/penyakit. 2. Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya.

3. Bias seleksi. 4. Bias informasi. 5. Data mengenai pajanan faktor resiko diperoleh dengan mengandalkan daya ingat atau catatan medik 6. Validasi mengenai informasi kadang-kadang sukar diperoleh 7. Sukar untuk meyakinkan bahwa kedua kelompok kasus dan kontrol itu sebanding dalam faktor eksternal dan sumber bias lainnya.

8. Tidak dapat dipakai untuk menentukan lebih dari satu variabel dependen, hanya berkaitan dengan satu penyakit atau efek. 4 November 2014 01.07 Unknown mengatakan. Perbaikan NAMA : NYAYU NUR QOMARIA NIM : 10111001017 1. Perbedaan studi kohort dan studi potong lintang : Studi Kohort a. Mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan membandingkan kelompok terpapar berdasarkan status penyakit b. Untuk faktor paparan yang jarang terjadi dan menghitung angka insiden (incidence rates).

c. Memerlukan waktu yang panjang serta sampel dan biaya yang cukup besar. d. Dapat mengukur sebab apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana dan akibat (penyakit) karena adanya tingkat yang alur jelas. e. Responden diikuti oleh peneliti ke depan (prospektif) sehingga mengurangi bias. f. Hasil penelitian menerangkan hubungan antara factor risiko dan efek Studi Cross Sectional a. Mempelajari/mengukur hubungan penyakit (akibat) dengan pajanan (penyebab) dalam waktu yang bersamaan pada satu saat b.

Diperoleh prevalensi suatu penyakit dalam populasi pada suatu saat,(Prevalence study) c. Keterbatasan dana, waktu dan tenaga, alternatif desain yang sederhana.

d. Kurang mengetahui alur terjadinya penyakit. e. Dapat terjadi bias karena sampel sedikit sehingga tidak mewakili sebagian besar populasi.

f. Hasil penelitian sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan 2. Contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol a.

Riset Tentang Hubungan Antara Angioskorma Hati Dan Vinil Klorida (Brady Et Al, 1977), Penelitian Tentang Kematian Ibu Postpartum Dan Persalinan Sesar. b. Faktor Sosiodemografi Dan Lingkungan Yang Mempengaruhi Kejadian Luar Biasa Chikungunya Di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok 2006 oleh FY Oktikasari, D Susanna, IM Djaja.

c. Knowledge and attitude toward AIDS/HIV Among senior school student in Isfahan oleh Zahra Abdeyazdan, Narges Sadeghi. d. Konsumsi Fast Food Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Gizi Lebih Pada Siswa Sd Negeri 11 Manado Oleh Fauzul Badjeber, Nova H. Kapantouw, Maureen Punuh 3. Contoh judul penelitian dengan studi desain kohort a.

Penelitian yang dilakukan oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) yang bertujuan untuk menguji hipotesis bahwa energy yang dihasilkan oleh video display terminal (VDT’s) dimungkinkan dapat menybabkan keguguran secara spontan. b. Kejadian Tuberkulosis Pada Anak Setelah Imunisasi Baccilus Calmette Et Guerrin Di 5 Wilayah Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur Tahun 2000-2002 oleh Maria Holly Herawati, Nastiti N.

Rahayoe, Lukman Hakim Tarigan, Asri C. Adisasmita c. Kejadian Ketuban Pecah Dini dan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Oleh Shufiatul Istiqomah, Dyah Noviawati Setya Arum, Yani Widyastuti d. Insidens defisiensi besi dan anemia defisiensi besi pada bayi berusia 0-12 bulan di Banjarbaru Kalimantan Selatan: studi kohort prospektif oleh P Ringoringo, Sari Pediatri 4 November 2014 02.57 Unknown mengatakan.

LANJUTAN 4. contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang a. Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer, Dan Perilaku Masyarakat Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti Di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Surabaya Oleh Ririh Yudhastuti, Anny Vidiyani b.

Hubungan Pola Asuh Dengan Status Gizi Anak Batita Di Kecamatan Kuranji Kelurahan Pasar Ambacang Kota Padang Tahun 2004 Oleh Fivi Melva Diana c. Konsep Diri Dan Gaya Hidup Lansia Yang Mengalami Penyakit Kronis Di Panti Sosial Tresna Werdha (Pstw) Khusnul Khotimah Pekanbaru oleh Reni Zulfitri d. Metode persalinan dan hubungannya dengan inisiasi menyusu dini di RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta oleh Sheilla Virarisca, Djaswadi Dasuki, Sulchan Sofoewan 5. Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol a. Kelebihan studi desain kasus kontrol 1. Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana mengetahui faktor risiko suatu penyakit secara retrospektif. 2. Dapat dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan mengukur faktor paparan dimasa lampau.

3. Tidak terkendala etik. 4. Pengambilan kasus dan kontrol pada kurun waktu yang bersamaan. 5. Adanya pengendalian faktor risiko sehingga hasil penelitian lebih tajam. 6. Tidak perlu intervensi waktu, lebih ekonomis sebab subyek bias dibatasi. b. Kelemahan studi desain kasus kontrol 1. Bias penelitian akibat tidak dilakukan pengukuran oleh peneliti dengan tanpa mengetahui yang harus diukur (blind measurement).

2. Kelemahan pengukuran variable secara retrospektif adalah obyektivitas dan reliabilitasnya sehingga faktor-faktor risiko yang tidak jelas informasinya.

3. Kesulitan memilih kontrol karena banyaknya faktor risiko dan/atau sedikitnya subyek penelitian. 4 November 2014 02.59 Unknown mengatakan. NAMA : GITA YUNI ANDRILA NIM : 10111001038 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT LATIHAN STUDI DESAIN EPIDEMIOLOGI 1.Perbedaan studi kohort dan Studi Potong lintang Studi Kohort a.Informasi : Tidak akan terjadi recall bias b.Rumus : RR = a/(a+b) : c/(c+d) c.Sampel : Jumlah sampel penelitian dalam cukup besar d.Ukuran : memungkinkan peneliti menghitung angka insiden (incidence rates).

e.Biaya : biaya yang dibutuhkan cukup besar untuk melakukan penelitian f.Waktu : Memerlukan waktu yang panjang g.Factor paparan kejadian penyakit : Faktor paparan terjadi dimasa sekarang, apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana kejadian penyakit apakah akan terjadi di masa depan. Studi Potong Lintang a.Informasi : Bisa terjadi recall bias b.Rumus : RP = a/(a+b) : c/(c+d) c.Sampel : Sampel dalah mereka yang diasumsikan sesuai dengan studi yang akan kita teliti dan mewakili populasi yang akan diteliti secara potong lintang sehingga hasil studi bisa digeneralisasikan ke populasi.

d.Ukuran : Perhitungan yang bisa dihitung angka prevalensi dan rasio prevalensi. e.Biaya : biaya studi potong lintang relative lebih murah atau biaya yang dibutuhkan tidak terlalu besar f.Waktu : Pengukuran dilakuakan satu waktu sehingga tidak memerlukan waktu yang begitu panjang g.Factor paparan kejadian penyakit : Potong lintang, faktor paparan dan kejadian penyakit terjadi pada masa sekarang secara bersamaan (in the present) 2.contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol?

a.Faktor Risiko Candiduria Pada Pasien Yang Dirawat Di Rsup Dr Kariadi Semarang b.Hubungan Faktor Lingkungan Dan Praktik Pencegahan Dbd Dengan Kejadian Dbd Pada Anak Sekolah Usia 5-11 Tahun Di Sekolah Wilayah Kecamatan Candisari Semarang Tahun 2013 c.Faktor Pengetahuan Sikap Dan Praktek (Psp) Yang Mempengaruhi Kejadian Malaria (Studi Kasus Di Puskesmas Ansus Distrik Yapen Barat Kabupaten Kepulauan Yapen) d.Perilaku Dan Risiko Penyakit Hiv-Aids Di Masyarakat Papua Studi Pengembangan Model Lokal Kebijakan Hiv-Aids e.Hubungan Kualitas Pemeriksaan Antenatal Dengan Kematian Perinatal (Studi Kasus Di Kabupaten Banyumas) 3.contoh judul penelitian apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana studi desain kohort?

a.Hubungan ketahanan Hidup 1 Tahun Penderita Kanker Paru Yang Dirawat Di RS Dr. Kariadi Semarang dengan Faktor – Faktor – Faktor yang Berpengaruh b.Penentuan jumlah infiltrasi limfosit di sekitar karsinoma Payudara duktus invasive grade II stadium III Sebagai factor prognosis c.Pengaruh Senam Pencegahan Osteoporosis Terhadap Nilai Densitas Tulang Pada Wanita Postmenopause Di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang d.Hubungan gangguan fungsi enteral terhadap kejadian diare berulang pada anak umur 1-24 bulan e.Hubungan antara metode operasi Lichtenstein dengan tepi mesh kranio-lateral dilakukan overlapping dengan tidak dilakukan overlapping pada kejadian residif hernia inguinalis lateralis 4 November 2014 03.47 Unknown mengatakan.

LANJUTAN NAMA : GITA YUNI ANDRILA NIM : 10111001038 4.Contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang? a.Hubungan Antara Jumlah Leukosit, Dan Skor Karnofsky Pada Pasien Kanker Paru b.Faktor-Faktor Yang Berperan Terhadap Kejadian Resistensi Insulin Pada Pasien Hipertensi Esensial Non Diabetika (Factors That Have A Role To The Insulin Resistance Incidence In Non-Diabetic Essential Hypertension Patient) c.Bungan Antara Mikroalbuminuria Dengan Indeks Massa Ventrikel Kiri.

Pada Pasien Hipertensi Esensial Non Diabetik (Correlation Between A/Ficroalbuininuria And Left Ventricular Mass Index In Non-Diabetic Essential Hypertensive Patients) d.Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Pengelasan di Kota Pontianak e.Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dan Motivasi Ibu Peserta Keluarga Berencana Dengan Persepsi Kesuburan Setelah Melahirkan Di Puskesmas Klaten Utara 5.kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol?

Kelebihan dan kelemahan studi kasus kontrol menurut sumber lain Kelebihan a.tidak ada kendala etika ketika penelitian seperti pada penelitian eksperimental b.studi kasus control sesuai untuk penyakit yang jarang terjadi atau yang mempelajari perihal klinik c.waktu yang diperlukan untuk penelitian cepat dan biaya penelitian murah d.Hipotesis kausal didukung oleh hasil penelitian dengan menegakkan adanya asosiasi e.Jumlah subjek lebih kecil dibandingkan kebutuhan sampel cross-sectional dan kohort f.Ada pengendendalian factor resiko sehingga hasil penelitian lebih tajam g.Pengambilan kasus dan control di ambil pada waktu yang bersamaan h.Menggunakan data skunder untuk melihat data historis yang tersedia pada catatan medic pasien Kelemahan a.Data skunder yang diambil dari Rumah Sakit tidak lengkap dan biayanya tidak menyediakan informasi yang butuhkan b.Kasus yang diperoleh mungkin tidak representative, karena kasus yang diperoleh adalah kasus selamat dan tidak menemukan kasus yang meninggal c.Sering terjadi berbagai bias yaitu Bias seleksi dan bias informasi d.Kesulitan memilih kontrol yang tepat (jika diambil pada 2 populasi yg terpisah e.Tidak bisa menghitung laju insidensi 4 November 2014 03.48 Unknown mengatakan.

Nama : Hamida Yanti Nim : 10111001061 1. perbedaan studi kohor dan studi potong lintang yaitu : a.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Studi Kohort : - Membutuhkan waktu, tenaga dan pendanaan yang cukup besar. - Tingkat alur yang dimulai dari faktor paparan sampai terjadinya sakit terlihat jelas karena diikuti secara terus menerus.

- Dapat meminimalisir bias terutama untuk bias informasi karena responden diikuti ke depan (prospektif). - Dapat mengontrol factor perancu sehingga dihasilkan outcome ang diinginkan. b. Sedangkan Studi potong lintang (cross sectional) adalah - Menggunakan desain yang sederhan sehinga tidak membutukan dana, waktu dan tenaga yang cukup besar.

- Cara pemilihan subjek dalam penelitian adalah mereka yang diasumsikan sesuai dengan studi yang akan diteliti dan mewakili populasi sehingga hasil studi bisa digeneralisasikan ke populasi. - faktor paparan dan kejadian penyakit diteliti dalam satu waktu.

2. Contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol a. Hubungan antara hiperglikemi dan kejadian karsinoma kolorektal di rumah sakit umum pusat Dr.Kariadi oleh Qoryami Radjsih Hastut (http://eprints.undip.ac.id/23654/1/Qoryami.pdf) b. Hubungan antara Ca payudara dan penggunaan kontrasepsi oral (OC) pada rumah sakit X pada periode tahun 2008.

( http://richwanto.blogspot.com/2010/11/desain-penelitian.html) c. Hubungan derajat berat merokok berdasarkan indeks brinkman dengan derajat berat ppok oleh Ika Nugraha C.A. (http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=c.%09Hubungan%20derajat%20berat%20merokok%20berdasarkan%20indeks%20brinkman%20dengan%20derajat%20berat%20ppok.%20&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CBsQFjAA&url=http%3A%2F%2Fejournal.stikespku.ac.id%2Findex.php%2Fprofesi%2Farticle%2Fdownload%2F15%2F13&ei=I71YVO73DYyOuASHroHgAQ&usg=AFQjCNEayWuDbXM3DgZi1pLBEee0j1hFVg&sig2=Syx5GRZcck2_iP9-94g--A&bvm=bv.78677474,d.c2E) 4 November 2014 04.19 Unknown mengatakan.

lanjutan 3. contoh judul penelitian dengan studi desain kohort yaitu a. Hubungan antara CA Paru dengan merokok (Risiko) dengan pendekatan prospektif (http://richwanto.blogspot.com/2010/11/desain-penelitian.html) b. Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian methicillin-resistant staphylococcus aureus (mrsa) pada kasus infeksi luka pasca operasi di ruang perawatan bedah rumah sakit dokter kariadi semarang oleh Nurkusuma, Dudy Disyadi (2009) (http://eprints.undip.ac.id/28863/) c.

Resiko Kebiasaan Minum Kopi pada Kasus Toleransi Glukosa Terganggu terhadap Terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2 (http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=c.%09Resiko%20Kebiasaan%20Minum%20Kopi%20pada%20Kasus%20Toleransi%20Glukosa%20Terganggu%20terhadap%20Terjadinya%20Diabetes%20Mellitus%20Tipe%202&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CBsQFjAA&url=http%3A%2F%2Focw.usu.ac.id%2Fcourse%2Fdownload%2F1110000095-metabolism-system%2Fmbs127_slide_penelitian_prospektif_atau_studi_kohort.pdf&ei=w75YVPecOtehugSI1YKIAg&usg=AFQjCNFxSTYX8RPQloeV16z2biq8eNHTiA&sig2=_tCwKRyVXXIBmOkwghlUxQ&bvm=bv.78677474,d.c2E) 4.

contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang a. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada anak Pra Sekolah di TK Salman ITB Ciputat Tahun 2013. (http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/164?) b. Efek game online terhadap tindakan kekerasan anak jalanan oleh Nurul Ilmi Zulkifli (http://jurnal.kominfo.go.id/index.php/pekommas/article/view/137) c.

Hubungan status gizi dengan kejadian angular cheilitis pada anak-anak di lokasi pembuangan akhir sumompo kota manado oleh Citra Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana, Christy N. Mintjelungan, Joenda Soewantoro. (http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=Hubungan%20status%20gizi%20dengan%20kejadian%20angular%20cheilitis%20pada%20anak-anak%20di%20lokasi%20pembuangan%20akhir%20sumompo%20kota%20manado&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCIQFjAB&url=http%3A%2F%2Fejournal.unsrat.ac.id%2Findex.php%2Fegigi%2Farticle%2Fdownload%2F1927%2F2166&ei=ub9YVJ-bKcfVuQTr1YDoAQ&usg=AFQjCNEbPzQbfJljUB1kocPM-BRTZo97fg&sig2=uYAaMn2qQ4s-F_6AdXKpqQ&bvm=bv.78677474,d.c2E) 5.

kelebihan dan kelemahan studi desain kasus control yaitu sebagai berikut : kelebihanya : - desain studi ini cocok dilakukan pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat, seperti kanker, HIV/AIDS, sehingga bisa diketahui factor risiko dengan metode retrospektif secara cepat. - desain ini bisa dilakukan pada jumlah sampel yang terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana dimasa lampau pada satu kasus.

Kelemahan : - Hanya bisa untuk menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit yang di kilas balik ke belakang mengenai seberapa banyak paparan yang mungkin telah terjadi. - Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. - Bias seleksi. Bias ini terjadi karena responden yang merupakan kelompok control yang seharusnya tidak terpapar oleh factor resiko bias saja menderita sakit seperti pada kelompok kasus, walaupun masih dalam tahap gejala.

- Bias Informasi. Hal ini disebabkan karena informasi yang akan didapatkan tergantung dari daya ingat responden. 4 November 2014 04.20 DMAtikah mengatakan. dwi mulia atikah (10111001034) 1. Perbedaan studi kohot • Desain Penelitian : Mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan membandingkan kelompok terpapar berdasarkan status penyakit • Metode Penelitian : Longitudinal prospective (dimulai dari status keterpaparan kemudian dilakukan penelusuran kedepan terhadap suatu penyakit) • Sampel : Sampel banyak • Waktu : Kurang efisien dari segi waktu dan biaya • Biaya : Menerangkan hubungan antara factor risiko dan efek • Penyakit yang diteliti : Tidak efisien untk penyakit yang jarang • Informasi : Tidak akan terjadi recall bias • Rumus : RR = a / (a+b) : c / (c+d) Perbedaan studi potong lintang • Desain Penelitian : mempelajari/mengukur hubungan penyakit (akibat) dengan pajanan (penyebab) dalam waktu yang bersamaan pada satu saat • Metode Penelitian : Diperoleh prevalensi suatu penyakit dalam populasi pada suatu saat, (Prevalence study) • Sampel : Sampel banyak • Waktu : Mudah, murah, dan hasilnya relatif cepat dapat diperoleh • Biaya : Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan • Penyakit yang diteliti : Dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus • Informasi : Bisa terjadi recall bias • Rumus : RP = a/(a+b) : c/(c+d) 2.

Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol • Hubungan antara Penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada remaja dengan perilaku pemberian makanan. • Hubungan antara Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan Kebiasaan Merokok pada Ibu Hamil • Hubungan antara hiperglikemi dan kejadian karsinoma kolorektal di rumah sakit umum pusat Dr.Kariadi semarang 3. Contoh judul penelitian dengan studi desain kohort • Hubungan antara Penyakit Jantung dengan Merokok • Hubungan antara kehamilan di luar rahim dengan pemakaian IUD • Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan Kejadian Thypoid 4.

Contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang • Hubungan antara kebiasaan menggunakan obat nyamuk semprot dengan batuk kronik berulang (BKB) pada anak balita • Hubungan Kualitas Menyusui dengan Kelancaran Pengeluaran ASI • Hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan berat badan bayi lahir (BBL) 5. Kelebihan penelitian kasus control: a. Sangat tepat sekali pada kasus yang jarang terjadi di masyarakat b.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Dilakukan dengan cepat dan murah c. Dapat dilakukan di tempat fasilitas klinik d. Hasil penelitian sudah menunjang kearah dukungan hipotesis kausal dengan menegakkan adanya asosiasi e. Memungkinkan memakai data sekunder f. Bisa dilakukan pada jumlah sampel terbatas dan bisa mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome Kelemahan penelitian dengan studi desain kasus control: a. Hanya bisa menginvestigasi satu kondisi kesehatan/penyakit, b.

Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya c. Memungkinkan terjadinya bias seleksi dan bias Informasi d.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

Data sekunder kadang tidak lengkap e. Kriteria diagnosis berbeda antar petugas kesehatan f. Sulit mencari kasus yang meninggal sehingga dominan kasus selamat 4 November 2014 04.39 Unknown mengatakan. NAMA : BUNGA EWITA NIM : 10111001029 1. Perbedaan studi kohort dan studi potong lintang : Studi Kohort : - Mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan membandingkan kelompok terpapar berdasarkan status penyakit - Longitudinal prospective - Menerangkan hubungan antara factor risiko dan efek - Paparan terjadi pada masa sekarang dan outcome terjadi pada masa yang akan datang Studi Potong Lintang : - Mempelajari/mengukur hubungan penyakit (akibat) dengan pajanan (penyebab) dalam waktu yang bersamaan pada satu saat - Diperoleh prevalensi suatu penyakit dalam populasi pada suatu saat - Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan - Paparan dan outcome terjadi pada masa sekarang (satu waktu yang sama) 2.Contoh judul penelitian dengan studi desain kasus control : a.Faktor risiko diare pada bayi dan balita di indonesia: Systematic review penelitian akademik bidang kesehatan masyarakat b.Hubungan antara Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karangayar Tahun X c.Faktor-faktor Risiko Ibu Hamil yang Berhubungan dengan Kejadian BBLR Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Ampel I Boyolali Tahun 2008 3.Contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang : a.Kualitas menyusui terhadap kelancaran pengeluaran air susu ibu b.Hubungan antara pengetahuan ibu tentang HIV/AIDS terhadap sikap ibu kepada ODHA c.Hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan berat badan bayi lahir 4.Contoh judul penelitian dengan studi desain kohort : a.Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan KejadianThypoid b.Hubungan antara CA Paru dengan merokok (Risiko) dengan pendekatan prospektif c.Resiko Kebiasaan Minum Kopi pada Kasus Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Glukosa Terganggu terhadap Terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2 5.Kelebihan dan kelemahan studi kasus control : Kelebihan - Relatif murah dan mudah dibandingkan disain penelitian analitik lainnya - Tepat untuk meneliti penyakit dengan periode laten yang panjang - Tepat untuk meneliti penyakit yang langka atau jarang terjadi - Dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sebuah penyakit/outcome Kelemahan - Rawan terhadap berbagai bias apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana seleksi dan bias informasi) - Tidak efisien untuk mempelajari paparan yang langka - Tidak dapat menghitung angka insidens - Tidak mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan dan penyakit 4 November 2014 05.38 Unknown mengatakan.

1) perbedaan studi kohot dan studi potong lintang Studi kohort : 1. faktor paparan dilihat mulai saat ini sampai munculnya kejadian penyakit yang akan terjadi di masa depan. 2. Interpretasi kausalitas faktor paparan dan kejadian penyakit jelas. 3. Untuk faktor paparan atau kasus yang jarang terjadi. 4. Menggunakan ukuran angka insiden. 5. Membutuhkan Biaya yang Mahal. 6. Sampel ditentukan dan membutuhkan jumlah sampel yang banyak agar mencegah adanya kehilangan sampel yang difollow-up.

7. Harus di follow up sehingga membutuhkan waktu yang lama. Studi potong lintang : 1. Faktor paparan dan kejadian penyakit diteliti secara bersamaan pada saat sekarang. 2. Tidak ada kejelasan kausalitas kejadian penyakit. 3. Menggunakan ukuran prevalensi 4. Tidak untuk faktor paparan atau kasus yang jarang terjadi. 5. Biaya murah. 6. Setiap orang dapat menjadi sampel sehingga tersedia cukup banyak dalam mewakili populasi dan tidak sulit mencari responden.

7. Tidak membutuhkan waktu yang lama karena dilakukan dalam satu waktu. 2) contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol - Hubungan antara hiperglikemi dan kejadian karsinoma kolorektal di rumah sakit umum pusat Dr. Kariadi Semarang - Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Akut Pada Balita (Studi Kasus Di Kabupaten Semarang) - Faktor-Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Penyakit Jantung Koroner Pada Kelompok Usia < 45 Tahun (Studi Kasus Di Rsup Dr.

Kariadi Dan Rs Telogorejo Semarang) 3) contoh judul penelitian dengan studi desain kohort - Pengaruh makanan tambahan terhadap konversi dahak pada penderita tuberkulosis di Puskesmas Jagakarsa, Jakarta Selatan Tahun 2008-2009 - Resiko Kebiasaan Minum Kopi pada Kasus Toleransi Glukosa Terganggu terhadap Terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2 - Hubungan Antara Status Gizi Ibu Hamil Dengan Berat Badan Bayi Lahir (Studi Kasus Di Rb Pokasi ) 4) contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang - Faktor Risiko Asma Pada Murid Sekolah Dasar Usia 6-7 Tahun di Kota Padang.

- Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita 10-59 bulan yang dirawat inap di RSUP Persahabatan Jakarta Tahun 2008 - Hubungan antara pengetahuan gizi ibu mengenai susu dan faktor lainnya dengan riwayat susu selama masa usia sekolah dasar pada siswa kelas 1 SMP Negeri 102 dan SMPI PB sudirman Jakarta Tahun 2009 5) kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol - Kelemahan 1. Tidak bisa dipakai lebih dari satu variabel dependen.

2. Hanya bisa menggunakan ukuran Odd Rasio (OR). 3. Bias seleksi. Kemungkinan terjadinya kesalahan dalam memilih sampel, kaitannya dengan faktor paparan dan kejadian penyakit pda kelompok kontrol dan kasus.

apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana

4. Bias Informasi. Kemungkinan terjadinya kesalahan dalam menggali informasi khususnya pada kelompok kasus dalam mengingat faktor paparan suatu penyakit yang terjadi di masa lampau. - Kelebihan 1. Merupakan satu-satunya cara untuk meneliti kasus yang jarang terjadi. 2. Hasil dapat diperoleh dengan cepat. 3. Retrospektif dengan menggali informasi faktor paparan di masa lampau dari suatu kejadian penyakit.

4. Subjek penelitian sedikit. Nama : Puspita Selviani NIM : 10111001018 4 November 2014 05.54 Unknown mengatakan. Lanjutan. 4. beberapa judul menggunakan studi potong lintang: • Hubungan Kadar HbCO dengan Kapasitas Vital Paru Pedagang di Terminal Bus Purwokerto • Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer, dan Perilaku Masyarakat dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Surabaya • Cross-sectional study on the iron and vitamin A status of pregnant women in West Java, Indonesia.

5. kelemahan dan kelebihan studi kasus kontrol Kelemahan: 1. Studi ini rentan terjadi bias, baik bias informasi dan bias seleksi. Mengingat studi ini meminta sampel untuk mengingat masa lalu kejadian penyakitnya yang tidak semua sampel masih ingat terutama yang merupakan kelompok kontrol.

2. Hanya bisa menunjukan 1 penyakit saja 3. Tidak bisa menghitung angka kejadian baru karena kita melihat ke belakang (retrospektif) 4. Tidak dapat mengintervensi penyakit tersebut dan tidak bisa mengevaluasi tindakan pengobatan yang dilakukan 5. Validasi data susah didapat Kelebihan: 1.

Biasa dipakai pada kasus yang langkah atau masa latennya panjang. 2. Hasilnya bisa didapatkan dengan waktu yang relatif cepat 3. Biaya yang digunakan relatif sedikit 4. Terhindar dari masalah etik 4 November 2014 06.44 Unknown mengatakan. 1. Jelaskan perbedaan studi kohot dan studi potong lintang?

Perbedaan Studi kohor dan studi Cross sectional (Potong lintang) secara umum dapat dilihat dari faktor paparan dan kejadian penyakit. a. Studi desain potong lintang, faktor paparan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana kejadian penyakit terjadi pada masa sekarang secara bersamaan (in the present) studi potong lintang tidak memerlukan waktu follow up.

b. desain kohort, faktor paparan terjadi dimasa sekarang, lalu diselidiki hingga kejadian penyakit apakah akan terjadi di masa depan. Berbanding terbalik dengan studi cross sectional maka studi kohor perlu dana yang besar dan waktu yang panjang.

2. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol? a. peranan kadar Trigliserida dan lipoprotein sebagai faktor resiko penyakit jantung koroner. b. Faktor resiko diare pada bayi dan balita di Indonesia c. Fator-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung koroner pada kelompok usia kurang dari 45 tahun 3. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort a. hubungan nilai CD4 pada awal pengobatan ARV dengan kemampuan hidup 1 tahun orang dengan HIV/ AIDS (ODHA) b.

Pengaruh fisioterapi terhadap kekuatan otot ekstremitas pada penderita stroke non hemorgik c. Pengaruh pemberian makanan pendamping asi tradisional pada usia dini terhadap pertumbuhan dan kesakitan bayi 4.

Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang? a. hubungan antara kadar plumbum (pb) dan hipertensi padaa polisi lalu lintas di kota palembang b. Hubungan kepuasan kerja dan komitmen organisasi dengan organizational citizenship behavior (ocb) di politeknik kesehatan palembang c. Metode persalinan dan hubungannya dengan inisiasi menyusui dini di RSMH palembang 5. Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol?

Kelemahan penelitian dengan studi desain kasus kontrol adalah a. kemungkinan terjadinya bias informasi karena penelitian kilas balik ke belakang b. kemungkinan terjadinyaa bias seleksi karena Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena responden sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor resiko yang merupakan penyebab dari penyakit pada kelompok kasus.

c. Tidak dapat menghitung insiden rate karena subjek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit. Hal ini menyebabkan pada studi ini tidak bisa menghitung Resiko Relatif d.

Hanya dapat meneliti satu penyakit dan sulit memilih kontrol yang tepat Kelebihannyaa. Desain Case control lebih tepat digunakan untuk kasus yang jarang terjadi, dengan metode retrospektif, menyelidiki responden dengan memberikan pertanyaan tentang masa lampau hingga terjadi penyakit b. Desain Case control lebih relatif murah dan mudah dibandingkan desain analitik lainnya. c. Dapat meneliti pengaruh banyak paparan (faktor resiko) terhadap suatu penyakit secara simultan.

d. Tidak ada kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau kohort. e. Bisa dilakukan dengan responden yang terbatas 4 November 2014 06.46 Unknown mengatakan. NAMA : MEURA STIFILLA YOLANDA NIM : 10111001013 Fakultas Kesehatan Masyarakat LATIHAN STUDI DESAIN EPIDEMIOLOGI Jawaban : 1. Jelaskan perbedaan studi kohort dan studi potong lintang? Perbedaan Studi Kohort dan Studi Potong Lintang : •Studi Kohort - Jumlah sampel yang dibutuhkan cukup besar. - Dalam penelitian kohort ukuran perhitungan yang digunakan oleh peneliti adalah angka insiden (incidence rates).

- Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian cukup besar dan tidak murah. - Memerlukan waktu yang panjang terutama untuk mengetahui efek dari beberapa faktor paparan dan untuk menginvestigasi penyakit kronik. - Dalam penelitian kohort faktor paparan terjadi dimasa sekarang dan kejadian penyakit terjadi di masa depan. - Penelitian ini dapat menggunakan rumus RR = a/(a+b) : c/(c+d) •Studi Potong Lintang - Subjek yang digunakan dalam penelitian ini diasumsikan sesuai dengan studi yang akan diteliti dan mewakili populasi yang akan diteliti.

- Ukuran perhitungan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah angka prevalensi dan rasio prevalensi. - Biaya yang dibutuhkan relatif lebih murah. apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Pengukuran dapat dilakukan dalam satu waktu, karena dalam penelitian ini waktu yang diperlukan tidak begitu panjang.

- Dalam penelitian potong lintang ini faktor paparan dan kejadian penyakit terjadi pada masa sekarang secara bersamaan. - Penelitian ini dapat menggunakan rumus RP = a/(a+b) : c/(c+d) 2. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol?

Contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol •Hubungan Antara Faktor Lingkungan Dan Perilaku Dengan Kejadian Hepatitis A Pada Taruna Akademi Kepolisian Tahun 2008 Studi Di Akademi Kepolisian Republik Indonesia Semarang. •Hubungan Perilaku Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Dan Kebiasaan Keluarga Dengan Kejadian Demam Berdarah Dangue Di Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan Tahun 2008 •Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) (Studi di Sekolah Dasar Negeri Brebes 3) •Hubungan Antara Pola Makan, Genetik dan Kebiasaan Olah Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Terhadap Kejadian Diabetes Militus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Nusukan, Banjarsari •Pengaruh Paparan Uap Belerang Terhadap Kejadian Erosi Gigi : Studi pada Pekerja Tambang Belerang di Gunung Ijen Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur 3.

Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana kohort? Contoh judul penelitian dengan studi desain kohort •Pengaruh Jaminan Kesehatan Masyarakat Pelayanan Pertolongan Persalinan Terhadap Keikutsertaan Keluarga Berencana •Hubungan Pola Asuh Ibu dan Kejadian Diare Dengan Pertumbuhan Bayi Yang Mengalami Hambatan Pertumbuhan Dalam Rahim Sampai Umur Empat Bulan Correlations Of Mother’s Caring Pattern and Diarrhea Occurences With Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Uterine Growth Retardate Babies’ Growth in The First Four Months •Hubungan Derajat Spastisitas Maksimal Berdasarkan Modified Ashworth Scale Dengan Gangguan Fungsi Berjalan Pada Penderita Stroke Iskemik •Hubungan Status Volume dan Tekanan Darah Penderita Hemodialisis Kronik RS Dr.

Kariadi Semarang •Hubungan Kadar Malondialdehid Plasma Dengan Keluaran Klinis Stroke Iskemik Akut 4. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang?

Contoh judul penelitian dengan studi potong lintang •Hubungan Akses Media Massa dengan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada Remaja (Studi Kasus di SMK Kristen Gergaji) •Hubungan Pengetahuan dan Sikap Pria Tentang Keluarga Berencana dengan Partisipasi Pria Dalam Pemakaian Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Kontrasepsi Keluarga Nerencana di Kabupaten Berito Kuala •Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Pengelasan di Kota Pontianak •Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga, dan Modal Sosial dengan Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Sragen •Hubungan Antara Pemberian Asi Ekslusif Dengan Angka Kejadian Diare Pada Bayi Umur 0-6 Bulan di Puskesmas Gilingan Kecamatan Banjarsari Surakarta 4 November 2014 13.54 Unknown mengatakan.

Lanjutan. NAMA : MEURA STUFILLA YOLANDA NIM : 10111001013 5. Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol? Kelebihan dan Kelemahan studi desain kasus kontrol •Kelebihan : 1.Sebagai desain apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana dapat digunakan untuk meneliti kasus yang jarang terjadi di masyarakat. Dimana faktor risiko bisa diketahui dengan metode retrospektif, faktor paparan yang telah terjadi pada masa lampau sampai terjadinya penyakit dapat diketahui dengan mengajukan pertanyaan pada responden.

2.Menggunakan jumlah sampel yang terbatas serta dapat mengeksplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau pada satu outcome. 3.Desain ini memiliki odds rasio yang nilainya mendekati risk rasio, dimana nilai odds rasio merupakan rata-rata antara kelompok kasus dan kontrol yang mewakili populasi. 4.Penelitian ini dilakukan dengan cepat dan murah dan dapat dilakukan ditempat fasilitas klinik dengan memakai data sekunder.

5.Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjang hipotesis kausal dengan menegakkan asosiasi. 6.Jumlah subjek lebih kecil dibandingkan penelitian cross-sectional dan kohort. •Kelemahan : 1.Penelitian ini hanya bisa menginvestigasi satu outcome, karena dikilas balik ke belakang. 2.Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya.

3.Responden pada kelompok kontrol menghindari untuk terpapar pada faktor risiko dari penyakit pada kelompok kasus, sehingga subjeknya tidak mudah untuk dipilih. Kemungkinan terjadinya bias seleksi dalam penelitian ini sangat besar. 4.Sumber data berupa informasi yang akan didapatkan tergantung kepada daya ingat dari responden, jika responden tidak ingat terhadap faktor yang telah terjadi pada masa lampau, sering menimbulkan bias informasi. 5.Data sekunder yang didapat sering tidak lengkap dan terdapat perbedaan hasil diagnosis kasus dan kontrol karena kriteria yang dipakai setiap petugas yang melakukan diagnosis berbeda-beda.

6.Desain penelitian ini tidak bisa menemukan kasus yang telah meninggal dan kasus dari rumah sakit tidak representatif dari populasi sakit.

4 November 2014 13.56 Unknown mengatakan. Nurul Aini (10111001036) 1. Perbedaan studi kohot dan studi potong lintang adalah sebagai berikut : Desain potong lintang merupakan desain yang mempelajari hubungan antara penyakit dengan pajanan pada saat yang bersamaan.

Biaya yang diperlukan untuk melakukan penelitian dengan desain studi ini relatif murah, waktu yang diperlukan juga seingkat, karena pada desain studi ini dayang yang diperlukan oleh peneliti dapat diperoleh saat itu juga. namun desain studi ini sangat memungkinkan untuk terjadinya bias. Dan hasil studi bisa digeneralisasikan ke populasi.

Desain kohort merupakan desain yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan membandingkan kelompok terpapar. pada desain studi ini peneliti memerlukan biaya dan waktu yang besar dikarenakan sifat penelitian yang longitudinal prospective yaitu penelitian dimulai dari status keterpaparan kemudian dilakukan penelusuran kedepan terhadap suatu penyakit.

dan penelitian ini dinilai tidak efisien untuk kejadian penyakit yang jarang terjadi. 2. Contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol sebagai berikut: a. Hubungan Antara Hiperglikemi Dan Kejadian Karsinoma Kolorektal Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Kariadi Semarang b. Determinan Keberlangsungan Kebiasaan Merokok Dokter Dan Dokter Gigi Di Kota Makassar Tahun 2012.

c. Hubungan Periodontitis Dengan Penderita Stroke di Rsup dr. Kariadi Semarang. 3. Contoh judul penelitian dengan studi desain kohort sebagai berikut: a. Resiko Kebiasaan Minum Kopi pada Kasus Toleransi Glukosa Terganggu terhadap Terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2. b. Evaluasi Penggunaan Antihi Pertensi Konvensional Dan Kombinasi Konvensional-Bahan Alam Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Wilayah Depok.

c. Hubungan Obesitas Sentral Dengan Andropause Di Rsud Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto 4. Contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang sebagai berikut: a. Hubungan Penggunaan Antibiotika Pada Terapi Empiris Dengan Kepekaan Bakteri Di Icu Rsup Fatmawati Jakarta.

b. Hubungan Kecukupan Asupan Energi dan Makronutrien dengan Status Gizi Anak Usia 5-7 Tahun di Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur Tahun 2012. c. Lama Pajanan Organofosfat Terhadap Penurunan Aktivitas Enzim Kolinesterase Dalam Darah Petani Sayuran.

5. Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol adalah sebagai berikut : Kelebihan: a. Kelebihan 1) Satu-satunya cara untuk meneliti kasus yang jarang atau yang masa latennya panjang. 2) Hasil dapat diperoleh dengan cepat 3) Biaya yang digunakan relative murah 4) Memerlukan subyek penelitian yang sedikit 5) dapat mengidentifikasi berbagai factor resiko sekaligus 6) Tepat sekali untuk meneliti kasus yang jarang terjadi di masyarakat.

Kekurangan: 1) Mengandalkan daya ingat atau catatan medic untuk memperoleh data sehingga dapat terjadi recall bias. 2) Sulit untuk mendapatkan validasi mengenai informasi yang diberikan responden. 3) Tidak dapat memberikan incidence rates. 4) Dapat terjadi bias seleksi. 5) Dapat terjadi bias Informasi. 4 November 2014 15.31 Unknown mengatakan.

EMILIA DWI SEPDALENI 10111001005 1. Perbedaan studi kohort dan studi potong melintang sebagai berikut: • Studi kohort mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan memilih dua atau lebih kelompok studi berdasarkan status paparan kemudian diikuti atau di follow up hingga periode tertentu sehingga dapat dihitung besarnya kejadian penyakit, membuktikan inferensi kausa dan dapatkan angka kejadian penyakit (incidence rate) secara langsung, serta cocok untuk meneliti paparan yang langka.

• sedangkan Studi potong melintang mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit dan paparan dengan mengamati status paparan, penyakit atau outcome lain secara serentak pada individu- individu dari suatu populasi pada suatu saat tanpa adanya follow up dan biaya relatif murah serta tidak mengenal adanya dimensi waktu, sehingga mempunyai kelemahan dalam menjamin bahwa paparan mendahului efek (disease) atau sebaliknya.

2. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol: • Hubungan Faktor Lingkungan dan Karakteristik Individu terhadap Kejadian Penyakit Leptospirosis di Jakarta Tahun 2003-2005. • Konsumsi Fast Food sebagai Faktor Risiko Terjadinya Gizi Lebih pada Siswa SD Negeri 11 Manado. • Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) Dini dengan Status Gizi Kurang pada Anak Umur 6-18 bulan di Kabupaten Gunung Kidul. 3. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort: • Perbandingan Manfaat Terapi Antiplatelet Kombinasi Aspirin dan Klopidogrel dengan Aspirin Tunggal pada Stroke Iskemik di RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta. • Pengaruh Suplementasi Seng dan Probiotik terhadap Kejadian Diare Berulang. • Pengaruh Fisioterapi Terhadap Kekuatan Otot Ekstremitas pada Penderita Stroke Non Hemoragik. 4. Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang: • Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gastritis pada Pasien yang Berobat Jalan di Puskesmas Gulai Bancah Kota Bukittinggi Tahun 2011.

• Hubungan Sanitasi Rumah Secara Fisik dengan Kejadian ISPA pada Balita di Kelurahan Penjaringan Sari Kecamatan Rungkut Surabaya. • Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012.

5. Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol: Kelebihan: • Tepat digunakan untuk kasus yang jarang terjadi di masyarakat. • Dapat digunakan pada jumlah sampel terbatas. • Odds rasio apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana mendekati risk rasio (risk ratio) • Cepat, murah dan dapat dilakukan di tempat fasilitas klinik.

• Hasil penelitian sudah menunjang ke arah dukungan hipotesis kausal dengan menegakkan adanya asosiasi. • Data historis biasanya tersedia pada catatan medik pasien sebagai data sekunder. Kelemahan: • Hanya bisa menginvestigasi satu outcome • Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. • Bias seleksi, karena sulit untuk menemukan responden sebagai kelompok kontrol. • Bias Informasi, karena informasi yang diperoleh tergantung dari daya ingat responden. • Data sekunder dari rumah sakit sering tidak lengkap atau tidak dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan.

• Kriteria diagnosis yang dipakai berbeda antar petugas kesehatan sehingga terjadi perbedaan dalam hasil diagnosis kasus maupun kontrol. • Kasus yang diperoleh dirumah sakit mungkin tidak representatif dari populasi sakit. 4 November 2014 16.15 Unknown mengatakan. Perbaikan FEBY HAPPY MONICA 10111001052 1.Perbedaan studi kohort dan potong lintang. a.Aspek faktor paparan – kejadian penyakit Kohort : exposure factors di masa sekarang, outcome (disease) di masa yang akan datang Potong lintang : exposure factors dan outcome(diseases) terjadi di masa sekarang(bersamaan/in the present) b.Aspek biaya Kohort : butuh dana(biaya) yang besar/mahal Potong lintang : biaya relative kecil c.Aspek waktu Kohort : membutuhkan waktu penelitian yang cukup lama Potong lintang : waktu penelitian relative singkat d.Ukuran dalam penelitian Kohor : ukuran yang digunakan angka insidensi Potong lintang : ukuran yang digunakan angka prevalensi dan ratio prevalensi e.Sampel Kohort : butuh sampel yang besar.

Potong lintang : Pemilihan sampel berdasarkan asumsikan sesuai dengan studi yang akan kita teliti dan mewakili populasi yang akan diteliti secara potong lintang. f.Hasil Kohort : Hasil penelitian yang diperoleh membutuhkan waktu yang lama Potong lintang : Hasil dapat segera diperoleh pada saat itu juga 2.Berikut judul judul jurnal dengan studi desain kasus kontrol.

a.Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Berdarah Pada Balita Di Kabupaten Sleman oleh Trisno Agung Wibowo, Sri Suparyati Soenarto dan Dibyo Pramono b.Faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 12-36 bulan di kecamatan pati, kabupaten pati oleh Anugraheni, Hana Sofia and Kartasurya, Martha Irene (2012) c.Faktor faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian kanker payudara wanita oleh Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana, Rini (2005) 3.

Berikut judul-judul jurnal studi desain kohort. a.Studi kohort kejadian penyakit demam berdarah dengue oleh misti rahayu, tri baskoro, bambang wahyudi b.Pengaruh Fisioterapi Terhadap Kekuatan Otot Ekstremitas pada Penderita Stroke Non HemorGIK oleh Muhammad Hayyi Wildani, Ika Rosdiana, Ken Wirastuti c.Pengaruh pemberian kombinasi anti retro virus lebih awal terhadap mortalitas pada ko-infeksi tb-hiv di rumah sakit sanglah denpasar oleh Susila Utama, Agus Somia, Tuti Parwati 4.Berikut judul-judul jurnal studi desain potong lintang.

a.Faktor yang mempengaruhi penularan penyakit kusta berdasarkan pengukuran kadar antibodi anti pgl-1 pada narakontak di kecamatan pragaan kabupaten sumenep oleh Mujib Hannan b.Indeks massa tubuh sebagai determinan penyakit jantung koroner pada orang dewasa berusia di atas 35 tahun oleh Martiem Mawi c.Hubungan antara rinitis alergi dengan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi pada siswa sltp kota semarang usia 13-14 taiiun dengan mempergunakan kuesioner international studi of asthma and allergies in childhood (isaac) oleh Widodo, Pujo (2004) 5.Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol a.Kelebihan studi desain kasus kontrol: -Lebih tepat jika diimplementasikan pada kasus(diseases) yang jarang terjadi.

-Jangka waktu penelitian relative singkat -Biaya relative murah, karena waktu penelitian tidak begitu panjang -Dapat menekan adanya faktor perancu (confounding) b.Kelemahan studi desain kasus kontrol : -Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit.

-Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. -Tingginya kemungkinan terjadi bias seleksi. Hal ini terkait kesulitan dalam pemilihan kelompok kontrol -Tingginya kemungkinan terjadi bias Informasi. Hal ini berhubungan dengan kemampuan mengingat atau daya ingat responden(retropsektif). -Tidak efisien untuk menyelidiki paparan(exposure) yang jarang -Adanya kemungkinan terjadi bias temporal ambiguity jika paparan yang diukur adalah paparan masa sekarang.

4 November 2014 16.54 Unknown mengatakan. Nama : Afry Yanti Sirait Nim : 10111001048 TUGAS METOPID 1.Jelaskan perbedaan studi kohot dan studi potong lintang? jawab: Desain potong lintang adalah sampel dalam suatu survey direkrut tidak berdasarkan status paparan atau suatu penyakit/ kondisi kesehatan lainnya, tetapi individu yang dipilih menjadi subjek dalam penelitian adalah mereka yang diasumsikan sesuai dengan studi yang akan kita teliti dan mewakili populasi yang akan diteliti secara potong lintang sehingga hasil studi bisa digeneralisasikan ke populasi.

Oleh karena itu, faktor paparan dan kejadian penyakit/kondisi kesehatan diteliti dalam satu waktu. Kohort yaitu mempelajari hubungan antara pajanan dan penyakit dengan cara membandingkan kelompok terpajan (faktor penelitian) dan kelompok tak terpajan berdasarkan status penyakit.

Artinya penelitian dimulai dengan mengidentifikasi status pajanan faktor risiko. Dapat disimpulkan bahwa kalau desain potong lintang itu hanya melihat sampel langsung kepada penyakitnya dan tanpa membedakan mereka terpapar atau tidak dengan faktor risikonya. sedangkan kohort, mengikuti sampel dari mereka sama-sama sehat lalu dikelompokkan menjadi terpajan faktor resiko dan tidak terpajan hingga timbul efeknya. 2.Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus kontrol?

Jawab : a) Hubungan antara Ca paru dengan minum alkohol.hubungan antara penyakit ISPA dengan merokok. b) Hubungan antara kejadian kanker serviks dengan perilaku seksual. c) Hubungan antara tuberkulosis pada anak dengan vaksinasi BCG. d) Hubungan antara status gizi bayi berusia 1 tahun dengan pemakaian KB suntik pada ibu.

3. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort? Jawab : a) Hubungan jajan sembarangan dan tidak mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian thypoid. b) Hubungan antara Ca paru dengan merokok. c) Hubungan apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana status gizi ibu dengan bayi BBLR 4. Berikan beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang?

Jawab: a) Hubungan status ekonomi keluarga dengan status gizi anak b) Hubungan perilaku memakai APD dengan kejadian penyakit akibat kerja c) Hubungan perilaku memakai masker dengan terjadinya ISPA. 5. Jelaskan kelebihan dan kelemahan studi desain kasus kontrol?

Jawab: Kelemahan desain kasus kontrol a) Hanya bisa menginvestigasi satu outcome. Karena kita kilas balik terhadap riwayat penyakit sampel yang kita teliti, sehingga peneliti tersebut focus terhadap 1 penyakit saja. Biasanya untuk meminimalkan bias. b) Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. Karena kita memilih sampel yang terpapar dan tidak terpapar sehingga berbeda outcome atau ada yang sehat dan yang sakit. c) Bias seleksi. Ini terjadi karena adanya kelompok yang terpapar dan tidak terpapar.

Mugnkin saja ada kelompok yang tidak terpapar tetapi memiliki sakit yang sama atau masih dalam gejala pada saat di teliti. d) Bias Informasi. Kita tidak bisa memastikan bagaimana daya ingat dari sampel penelitian kita. Sehingga bisa saja si sampel lupa atau malah menyebutkan kata kira-kira sehingga belum pasti dia terpapar atau tidak. Kelebihan studi desain kasus kontrol: a) Cocok untuk kasus yang jarang terjadi. b) Bisa digunakan pada jumlah sampel yang terbatas sehingga dapat mengekplorasi banyak faktor paparan dimasa lampau.

c) Cocok digunakan pada kasus yang ingin diketahui penyebabnya secara cepat. 4 November 2014 17.53 Unknown mengatakan. SANGKUT HAYATI (1011001050) PERBAIKAN soal nomor 5 Kelebihan desain studi kasus kontrol 1. Tepat untuk meneliti kasus yang jarang terjadi di masyarakat 2. Dapat dilakukan dengan jumlah sampel terbatas 3. Nilai OR mendekati nilai RR 4.

Cepat dan retrospektif Kekurangan 1. Hanya menginvestasi satu kondisi penyakit 2. Angka insiden/ukuran asosiasi absolut lainnya tidak dapat di hitung 3. Adanya kemungkinan terjadi bias seleksi dan bias informasi 4 November 2014 17.59 Sri lestari mengatakan. nama : sri lestari (10111001021) 1) Perbedaan studi kohort dan studi potong lintang • Studi kohort.

Arah penelitian: Pada studi ini kita mengobservasi faktor paparan terjadi dimasa sekarang, lalu diselidiki dengan cara mengikutinya hingga kejadian penyakit terjadi atupun tidak terjadi. bersifat prospektif. Waktu penelitian: panjang/lama Ukuran frekuensi : insiden Kegunaan : memberikan gambaran yang cukup lengkap tentang pengaruh dan sifat keterpaparan, hubungan keterpaparan dengan kejadian penyakit serta sifat penyakit yang diteliti.

Memungkinkan peneliti menghitung angka insiden. • Studi potong lintang Arah penelitian : Pada Studi ini kita mengobservasi faktor paparan dan kejadian penyakit terjadi pada saat ini secara bersamaan. Bersifat in present.

Waktu penelitian: lebih cepat dan sesuai pada saat ini Ukuran frekuensi : angka prevalensi Kegunaan: Penelitian ini memberikan gambaran secara umum besarnya suatu permasalahan dan memberikan gambaran dan arah penelitian selanjutnya dan menjadi dasar penelitian kohort. 2) Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kasus control. 1. Pengaruh Kebisingan Lalu Lintas Jalan Terhadap Gangguan Kesehatan Psikologis Anak SDN Cipinang Muara Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta 2.

Pengaruh Kb Suntik DMPA Terhadap Peningkatan Berat Badan Di BPS Siti Syamsiyah Wonokarto Wonogiri 3. Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi Pada Laki-Laki Usia 40 Tahun Keatas Di Wilayah Kerja Puskesmas Tegalgubuk Kecamatan Arjawinangun Apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Cirebon Tahun 2010 4.

Asupan Gizi dan Status Gizi sebagai Faktor Resiko Hipertensi Esensial pada Lansia di Puskesmas Curup dan Perumnas Kabupaten rejang Lebong Provinsi Bengkulu 3) Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain kohort 1. Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Ibu Dengan Lama Persalinan Kala II Di Bidan Praktik Swasta Kabupaten Tuban 2.

Pengaruh Suplementasi Seng dan Probiotik Terhadap Kejadian Diare Berulang 3. Pengaruh Status Gizi Pasien Bedah Mayor Pre-Operasi terhadap Penyembuhan Luka dan Lama Rawat Inap Pasca Operasi Di RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta. 4. Pola Asuh Ibu, Kejadian Diare dan Pertumbuhan Sampai 4 Bulan Pada Bayi Yang Mengalami Hambatan Pertumbuhan Pada Rahim 4) Beberapa contoh judul penelitian dengan studi desain potong lintang 1. Hubungan Antara Kadar HBCO Dengan Kapasitas Vital Paru Pedagang di Terminal Bus Purwokerto. 2. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue Di Kota Mataram 3. Hubungan Antara Konsumsi Protein Hewani Dan Zat Besi dengan Kadar Hemoglobin Pada Balita Usia Usia 13-36 Bulan 4.

Hubungan Sanitasi Rumah Secara Fisik dengan Kejadian ISPA pada Balita 5) Kelebihan dan kelemahan studi desain kasus control • Kelebihan: 1.sangat tepat sekali untuk meneliti kasus yang jarang terjadi di masyarakat maupun penyakit dengan masa laten yang lama. 2.Pelaksanaanya relative lebih cepat dan murah 3.subjek relitif tidak besar jumlahnya. 4.Nilai Odds rasio mendekati risk rasio (risk ratio), terutama pada kasus yang jarang terjadi 5.Memungkinkan untuk mempelajari / mengamati berbagai jenis penyebab yang potensial pada suatu penyakit.

• Kekurangan: 1.Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, 2. hanya menghasilkan nilai OR. 3.Berisiko terjadi bias. - Bias seleksi. Hal ini biasanya berkaitan dengan pemilihan kelompok control yang benar-benar sesuai dengan keadaan penelitian. - Bias Informasi.

Hal ini karena mencakup informasi yang telah berlalu sehingga sangat dipengaruhi oleh daya ingat responden. 4. Kasus yang diperoleh kebanyakan adalah kasus yang selamat saja. 5. Pengamatan/penelitian secara mendalam tentang mekanisme penyebab maupun hubungan sebab akibat sulit untuk dilaksanakan.

5 November 2014 03.40 Unknown mengatakan. Tiket Pesawat Murah Online, dapatkan segera di SELL TIKET Klik disini: selltiket.com Booking di SELLTIKET.COM aja!!! CEPAT,….TEPAT,….DAN HARGA TERJANGKAU!!! Ingin usaha menjadi agen tiket pesawat?? Yang memiliki potensi penghasilan tanpa batas. Bergabung segera di agen.selltiket.com INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI : No handphone :085365566333 PIN : 5A298D36 Segera Mendaftar Sebelum Terlambat.

!!! 6 September 2016 21.13 Angel Tan mengatakan. Nikmati Promo Bonus 100% Khusus untuk Taruhan Sabung Ayam Onlie yang di siarkan secara Live (Langsung) dari Arena yang ada di Negara Filipina !

Pertandingan di liput secara live dari Tournament yang di adakan di negara tersebut ! Dapat di tonton melalui Aplikasi Khusus yang dapat di download dan di Instal di Smartphone Android / iOS kesaangan anda ! Download sekarang juga Klik Di sini ! 22 Januari 2020 17.20 Blogger mengatakan.

Your Affiliate Profit Machine is waiting - And earning money online using it is as easy as 1. 2. 3! Here's how it all works. STEP 1. Choose which affiliate products the system will push STEP 2. Add some PUSH BUTTON traffic (it takes JUST 2 minutes) STEP 3.

See how the affiliate products system grow your list and sell your affiliate products all for you! Are you ready to make money ONLINE??? Click here to start running the system 11 Maret 2020 22.03 Chistine Winata mengatakan. SahabatQQ: Agen DominoQQ Agen Domino99 dan Poker Online Aman dan Terpercaya SahabatQQ adalah agen domino99, poker online, dominoqq, bandarqq, yang sangat berkualitas dan teruji aman dengan permainan kartu online yang sangat menarik dengan winrate yang tinggi Klik Disini >> Join << Klik Disini >> Daftar << 21 Juni 2020 04.50 beritacewehot mengatakan.

AGEN BOLA TERPERCAYA KAMUBET – SITUS JUDI BOLA, TOGEL ONLINE, DAN AGEN CASINO ======SPORTBOOK====== - SBOBET - AFB88 - IBCBET - Minimal Bet Parlay : Rp 3.000 Minimal Single Bet : Rp 10.000 ======DISKON TOGEL====== 2D – 29.75% X 70 3D – 59.50% X 400 4D – 66.00% X 3000 ======PROMO===== BONUS WELCOME DEPOSIT 50% SLOT GAMES BONUS WELCOME DEPOSIT 100% SPORTBOOK BONUS WELCOME DEPOSIT 100% SABUNG AYAM BONUS NEXT DEPOSIT 20% ALL GAMES BONUS CASHBACK MIXPARLAY 100% BONUS ROLLINGAN CASINO 1% BONUS CASHBACK SLOT GAMES UP TO 20% BONUS CASHBACK SPORTBOOK 10% ========================= Minimal Deposit : Rp 10.000 Minimal Withdraw : Rp 50.000 Minimal Deposit Pulsa : Rp.

15.000 Proses Deposit dan Withdraw hanya 2 Menit ======HUBUNGI KAMI====== Link : betkamu.biz Whatsapp - +855882285275 Instagram : @kamubet77 Facebook : @kamubet888 Facebook : https://www.facebook.com/groups/807702616727372/ Twitter : @kamubet Line – Kamubet Wechat – Kamubet 26 Juni 2020 23.32 beritacewehot mengatakan. Slot Genting - Agen Slot Online Uang Asli ======PROMO===== BONUS WELCOME DEPOSIT 50% BONUS NEXT DEPOSIT 20% BONUS CASHBACK 5% ========================= Minimal Deposit : Rp 10.000,- Minimal Withdraw : Rp 50.000,- Minimal Deposit Pulsa : Rp 15.000,- Proses Deposit dan Withdraw hanya apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Menit ======HUBUNGI KAMI====== Link Resmi – slotgenting Whatsapp +6285740170865 LIVECHAT ONLINE 24/7 FB : SlotGenting888 26 Juni 2020 23.35 Nadine mengatakan.

Permisi ya kak Admin ^^ ituBola - ituBolaonline - Bandar Bola - Casino Online - Baccarat - Dragon Tiger - Roulette - Sicbo - BlackJack Ayo Pasang Taruhanmu Sekarang di ItuBolaAgen Judi Bola & Casino Online Terpercaya dan Terbaik di Indonesia.

Minimal Deposit Rp. 25.000,- Dan untuk minimal Withdraw Rp. 50.000,- Proses Deposit & Withdraw Yang Tercepat. Menyediakan berbagai macam permainan Judi Bola & Casino Online Terlengkap. ( Taruhan Bola ) ( Baccarat ) ( Sicbo ) ( Roulette ) ( Dragon Tiger) ( Blackjack ) => Bonus Cashback 5% (dibagikan setiap Hari Senin) => Customer Service 24 Jam Nonsto => Support Deposit Via Aplikasi OVO,PULSA,GOPAY Kontak Kami LINE : itubola757 WECHAT : itubolanet WHATSAPP :+85517696120 TELEGRAM : Itu Bola / +85517696120 Link Alternatif ituBola Online Agen Taruhan Judi Teraman, Situs Taruhan Judi Teraman, Agen JudiBola, Agen Judi Bola Online, Agen Bola Online, Agen Sportsbook, Judi Casino, Agen Judi Casino, Agen Casino Online, Agen Live CasinoTerpercaya 27 Juli 2020 23.17 HOBI4D mengatakan.

Artikel Yang Sangat Bagus Gan ^^ izin Comment Ya Gan BANDAR TOGEL JUDI SLOT TOGEL SINGAPURA PREDIKSI TOGEL SINGAPURA AGEN TOGEL TOGEL JITU TOGEL AKURAT HOBI4D BURUAN DAFTARKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA DI HOBIJITU DAN DAPATKAN BONUS HARIAN HINGGA MENCAPAI 10 % DAN BONUS NEW MEMBER 10% ^^ 30 Juli 2020 23.28 Sumarni Angkasa mengatakan.

Nikmati Bonus Spesial Judi Online Sebesar 100% di Agen Bolavita Sekarang Juga ! Tersedia : » Judi Online Deposit Pakai Linkaja » Judi Online Deposit Pakai Dana » Judi Online Deposit Pakai Ovo » Judi Online Deposit Pakai Gopay » Judi Online Deposit Pakai Sakuku » Judi Online Deposit Pakai Pulsa » Judi Online Deposit Pakai Semua Jenis Rekening Bank Di Indonesia Permainan Tersedia Cukup Lengkap : • Sabung Ayam Online • Sporstsbook / Judi Bola • Casino Live • Slot Online • PokerVita • Tangkasnet • Tembak Ikan Online Dan Masih Banyak Lainnya.

Daftar & Klaim Bonusnya Sekarang Juga ! Hubungi Kontak Resmi Kami Dibawah ini (Online 24 Jam Setiap Hari) : » Nomor WhatsApp : 0812–2222–995 » ID Telegram : @bolavitacc » ID Wechat : Bolavita » ID Line : cs_bolavita 7 Agustus 2020 15.56 KICAU4D mengatakan. Artikel Yang Sangat Bagus Gan^^Mohon Ijin Comment Yahh ^^ Togel Online TOTO TOGEL SINGAPORE toto hk toto sgp togel togel hongkong SABUNG AYAM casino online Ayo Buruan Daftar Sekarang Juga Bonus New Member 10% Bonus Harian up to 10% Bonus Rollingan up to 0.8% ( Casino ) Bonus CashBack up to 15% ( SPORTBOOK,SLOTGAME,SABUNG AYAM,dll ) Bonus Rollingan 0.3% ( Sabung Ayam, Slot Game, SportBookdll ) Bonus Referal (Togel, Sabung Ayam dan Sportbook ) Keterangan Lebih Lanjut Silahkan Hubungi : What's app : +6282337340464 Twitter : @Kicau4D Line : KICAU4DD 16 Agustus 2020 05.25 CsSuperCute mengatakan.

CrownQQ Agen DominoQQ BandarQ dan Domino99 Online Terbesar * Mau menang banyak dengan modal sedikit?? Ayo gabung di CROWNQQ * Bonus Rollingan 0,5% Setiap senin * Bonus Referal 20% Seumur hidup * Minimal deposit-withdraw hanya Rp 20.000 * Hanya Dengan 1 User id bisa bermain 9 Game * Situs yang bisa memberikan kemenangan * Raih jackpot puluhan sampai ratusan juta setiap harinya. * Ayo gabung dan raih kemenangan anda. - Contact Us - WHATSAPP : +6287771354805 LINE : CSCROWNQQ TELEGRAM : +855882357563 Website : CrownQQ Klik Disini : Agen DominoQQ 27 September 2020 01.45 FANNY LIM mengatakan.

Mari Bergabung Sekarang Juga ! Linkaja88 Adalah Agen Judi Deposit Linkaja Terbesar Di Indonesia! Promo : ★ Bonus 10% Deposit Pertama ! ★ Bonus Deposit Harian 5% ★ Bonus Cashback Mingguan s/d 10% ★ Bonus Referral 7% + 2% ★ Bonus 100% (bila anda 8x menang secara beruntun) ★ Bonus Rollingan Mingguan 0.5% + 0.7% Menyediakan Permainan : • Sabung Ayam Online • Sporstsbook apa kelemahan perhitungan indeks harga menggunakan metode sederhana Judi Bola • Casino Live • Slot Online ( PRAGMATIC - RED TIGER - JDB- SPADE GAMING - JOKER - PLAY1628 - FAFASLOT ) • PokerVita ( POKER - DOMINO - CEME - CAPSA - SAKONG - BANDAR Q ) • Tangkasnet • Tembak Ikan Online Dan Masih Banyak Lainnya.

Daftar & Klaim Bonusnya Sekarang Juga ! Hubungi Kontak Resmi Kami Dibawah ini (Online 24 Jam Setiap Hari) : » Nomor WhatsApp : 0812–2222–995 » ID Telegram : @bolavitacc » ID Wechat : Bolavita » ID Line : cs_bolavita 27 Oktober 2020 21.17 • ▼ 2014 (11) • ► November (2) • ▼ Oktober (9) • STUDI DESAIN EKSPERIMENTAL • STUDI DESAIN OBSERVASIONAL • DESAIN PENELITIAN EPIDEMIOLOGI • LATIHAN SKRINING (PENAPISAN) • NILAI PREDIKTIF POSITIF (NPP) DAN NILAI PREDIKTIF . • PERHITUNGAN SENSITIVITAS DAN SPESIFISITAS • PELAKSANAAN SKRINING DI DUNIA KESEHATAN • DEFINISI DAN PRINSIP PELAKSANAAN SKRINING (PENAPISAN) • SKRINING DALAM EPIDEMIOLOGI • ► 2013 (12) • ► Oktober (12) • Confounding (3) • Critical Thinking (2) • Definisi Skrining (1) • DESAIN (3) • DOWNLOAD (1) • EPIDEMIOLOGI (5) • EXERCISE (1) • LATIHAN (1) • Nilai Prediktif Negatif (1) • Nilai Prediktif Positif (1) • NPN (1) • NPP (1) • Pelaksanaan Skrining (1) • PENDAHULUAN (1) • perhitungan (1) • Prinsip Skrining (1) • sensitivitas dan spesifisitas (1) • Skrining (6) • Skrining Kesehatan (1) • Standarization (4) • STUDI EKSPERIMENTAL (2) • STUDI OBSERVASIONAL (2) • Telaah Kritis (2)

video pembelajaran statistika materi ANGKA INDEKS




2022 www.videocon.com