Perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Al-Qur’an adalah kitab pedoman bagi umat Islam. Di dalamnya, terdapat banyak tuntunan bagi manusia untuk menjalani kehidupan di dunia, baik perihal ibadah maupun etika sosial-kemasyarakatan, seperti etika bertamu dan perintah menjaga pandangan. Tuntunan tersebut diberikan agar manusia tidak mencederai hak sesama manusia lainnya. Setiap tuntunan Al-Qur’an seperti perintah menjaga pandangan adalah ajaran yang mengandung dua manfaat, yakni internal dan eksternal.

Pada satu sisi, menjaga pandangan mencegah seseorang dari mencederai hak orang lain yang dilihatnya. Di sisi lain, menjaga pandangan juga dapat mencegah seseorang dari gejolak nafsu yang diakibatkan pandangan berlebih. Menjaga pandangan sangatlah penting bagi manusia, baik perempuan maupun laki-laki, karena mata adalah jendela hati. Ia juga merupakan sahabat sekaligus penuntun hati.

Mata mentransfer objek dan informasi-informasi yang dilihatnya ke hati, kemudian informasi tersebut – baik negatif maupun positif – tertanam, berkembang dan perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat perilaku seseorang.

Jika pandangan mata tak tertuntun, maka itu akan mempengaruhi dan mengotori hati, bahkan mungkin mematikannya. Sedangkan pandangan yang tertata dapat membuat hati menjadi lapang, hidup, bersih, dan bening layaknya cermin. Dengan hati yang bersih ini, seseorang dapat memberikan nilai positif bagi dirinya dan lingkungan sekitar.

Tafsir Surah An-Nur [24] Ayat 30: Perintah Menjaga Pandangan Karena menjaga pandangan sangat vital dan signifikan bagi kehidupan manusia, maka Allah Swt melalui Al-Qur’an memerintahkan setiap hamba yang beriman agar menundukkan pandangannya dari segala sesuatu yang dikhawatirkan dapat menjerumuskan kepada kemaksiatan.

Perintah ini termaktub pada surah an-Nur [24] ayat 30 yang berbunyi: قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ٣٠ “Katakanlah kepada perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka.

Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Menurut Quraish Shihab, ayat di atas merupakan kelanjutan dari larangan bagi tamu untuk melihat rahasia pemilik rumah yang disebutkan pada surah an-Nur [24] ayat 29. Pada ayat 30 kemudian dilanjutkan dengan perintah menjaga pandangan dan kemaluan, karena barangkali ketika seseorang bertamu matanya menjadi liar dan karena itu pula hasratnya menjadi-jadi.

Baca Juga: Baca Ayat Ini Untuk Menjaga Hafalan Al-Quran dan Semua Ilmu Pengetahuan Thahir Ibnu ‘Asyur juga menghubungkan an-Nur [24] ayat 29 dan 30.

Menurutnya, setelah ayat 29 menjelaskan ketentuan memasuki rumah, di sini (ayat 30) diuraikan etika yang harus diperhatikan bila seseorang telah berada di dalam rumah, yakni tidak mengarahkan seluruh pandangan kepadanya dan membatasi diri dalam pembicaraan serta tidak mengarahkan pandangan kecuali sesuatu yang sukar dihindari. Apapun hubungannya, yang jelas ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw, seakan-akan Allah Swt berfirman, “Hai Rasul, katakanlah yakni perintahkanlah kepada laki-laki mukmin yang demikian mantap imannya bahwa: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka yakni tidak membukanya lebar-lebar untuk melihat segala sesuatu yang terlarang seperti aurat wanita dan sesuatu yang kurang pantas untuk dilihat seperti area kamar.” “ Dan di samping itu, hendaklah mereka memelihara secara utuh dan sempurna kemaluan mereka sehingga sama sekali tidak menggunakannya kecuali pada yang halal, tidak juga membiarkannya terlihat kecuali kepada siapa yang boleh melihatnya.

Yang demikian itu yakni menahan pandangan dan memelihara kemaluan adalah lebih suci dan terhormat bagi mereka. Ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Kata yaghudhdhu pada surah an-Nur [24] ayat 30 terambil dari kata ghadhdha yang berarti menundukkan atau mengurangi.

Apa yang dimaksud di sini adalah mengalihkan arah pandangan, serta tidak memantapkan pandangan dalam waktu yang lama kepada sesuatu yang terlarang atau sesuatu yang kurang pantas untuk dilihat ( Tafsir Al-Misbah [9]: 324).

Sedangkan kata furuj adalah jamak dari kata farj yang pada mulanya berarti celah di antara dua sisi. Al-Qur’an menggunakan kata yang sangat halus itu untuk sesuatu yang sangat rahasia bagi manusia, yakni alat kelamin. Memang kitab suci Al-Qur’an dan hadis selalu menggunakan kata-kata halus, atau kiasan untuk menunjuk hal-hal yang dianggap oleh manusia sebagai aib untuk diucapkan ( Tafsir Al-Misbah [9]: 325).

Ayat di atas menggunakan kata min ketika berbicara tentang abshar atau pandangan-pandangan dan tidak menggunakan kata min ketika berbicara tentang furuj atau kemaluan. Kata min itu dipahami dalam arti sebagian, karena memang agama memberi sedikit kelonggaran bagi mata dalam pandangannya. Ali bin Abi Thalib berkata, “ Anda diberi toleransi dalam pandangan pertama, tapi tidak dalam pandangan kedua.” Menurut Yusuf Qardhawi dalam al-Halal wa al-Haramyang dimaksud dari “menundukkan pandangan pada surah an-Nur [24] ayat 30 bukanlah memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah, karena itu merupakan hal yang sangat sulit dilakukan dan berpotensi menimbulkan bahaya.

Apa yang dimaksud dari ayat tersebut sebenarnya adalah menjaga pandangan dari sesuatu yang dilarang syariat. Baca Juga: Baca Ayat Ini untuk Menghilangkan Rasa Takut dan Menjaga Kesehatan Mental Lebih jauh, Yusuf Qardhawi menegaskan bahwa pandangan yang terjaga adalah pandangan yang apabila melihat kepada lawan jenis, maka ia tidak mengamati secara intens keelokannya dan tidak menoleh kepadanya dalam jangka waktu yang lama, serta tidak pula melekatkan pandangannya itu terhadap lawan jenis atau sesuatu yang lain tanpa henti.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa surah an-Nur [24] ayat 30-31 merupakan perintah menjaga pandangan dan kemaluan – baik bagi laki-laki maupun perempuan – dari hal yang tidak dihalalkan. Maksud menjaga pandangan di sini adalah tidak melihat secara intens lawan jenis, menghindarkan pandangan dari hal yang tidak dibolehkan, bukan menundukkan kepala secara berlebihan dan bukan pula memejamkan mata, karena ini berpotensi membahayakan.

Wallahu a’lam. TENTANG KAMIDengan semangat membangun peradaban islami berbasis tafsir Al Quran, kami berusaha memenuhi asupan kebutuhan masyarakat terhadap kitab suci Al Quran, baik terjemah, tafsir tematik dengan materi yang aktual di masyarakat, maupun Ulumul Quran yang merupakan perangkat keilmuan dalam memahami Alquran Islam tidak membebaskan perempuan dan laki-laki bergaul seenaknya sendiri, ada batasan dan aturan yang perlu diperhatikan dan tidak boleh diterabas.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Mengapa demikian? Karena ada bahaya besar jika aturan-aturan ini diabaikan, yakni perzinaan, sebuah dosa besar yang akibatnya bisa ditanggung oleh keturunan pelakunya. Zina bisa merusak nasab, resiko pembunuhan bayi tak bersalah (aborsi), penyakit kelamin menular, serta penyakit berujung kematian. Berikut ini adab pergaulan dengan lawan jenis yang diajarkan dalam Islam: • Perintah menjaga pandangan “Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS.

an-Nur: 30). Allah juga berfirman yang artinya,”Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Menundukkan pandangan dalam ayat ini tentu saja dimaksudkan untuk menjaga mata dari hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat, termasuklah menonton video porno dan sejenisnya. • Larangan berdua-duaan “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” (HR.

Bukhari & Muslim) Tidak hanya larangan berdua-duaan secara fisik nyata dalam satu ruangan, melainkan juga larangan berdua-duaan dalam chatroom. Bukankah saat ini banyak yang melakukan cybersex, dengan webcam atau menggunakan kamera ponselnya.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Walaupun tidak bersentuhan langsung, namun mereka saling membuka aurat dan memperlihatkannya pada lawan jenisnya, ini juga diharamkan. • Tidak bersentuhan fisik Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari). Jelas bahwa sentuhan fisik antara lawan jenis bisa menstimulus syahwat. Oleh sebab itu, perlu menahan diri ketika ingin menyentuh lawan jenis.

“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Thabrani dengan sanad hasan) • Tidak mendesah atau membuat-buat dalam berbicara Terutama kaum wanita, janganlah membangkitkan syahwat lawan jenis dengan cara membuat-buat dalam berbicara, kata cantik berubah jadi syantik. Atau sejenisnya yang memang disengaja untuk memancing perhatian. “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS.

Al Ahzab: 32). Demikianlah 4 adab pergaulan antara perempuan dan laki-laki yang telah diatur dalam Islam, hanya pernikahanlah satu-satunya institusi yang bisa menghalalkan segala sesuatu yang awalnya haram di antara lawan jenis. Jika telah menjadi suami istri, yang awalnya berdosa besar justru menjadi bernilai pahala besar. Maka, jika belum mampu menikah… berpuasalah, belajarlah mengendalikan hawa nafsu, agar selamat dari godaan syahwat yang dahsyat.

(SH)
DALAM 4 Bulan, 11 Bayi Dibuang dan ditemukan dalam keadaan tewas. Dalam satu tahun, 63 Pelajar di daerah…. hamil di Luar Nikah. Tulisan diatas merupakan judul-judul berita yang dirasa sudah tidak asing lagi didengar oleh kita. Terlalu sering koran lokal maupun nasional meliput masalah tersebut. Itu hanyalah salah satu akibat dari pergaulan yang tanpa batas. Padahal dalam Islam telah ada aturan mengenai batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Batas-batas tersebut dibuat untuk kebaikan kita sendiri. Islam adalah agama yang sempurna, di dalamnya diatur seluk-beluk kehidupan manusia, termasuk bagaimana adab bergaul dengan lawan jenis.

Di antara adab bergaul dengan lawan jenis sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama kita adalah: Pertama, menundukkan pandangan terhadap lawan jenis.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-nur ayat 31, yang artinya, perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendahlah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS.

an-Nur: 30). Allah juga berfirman yang artinya,” Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Kedua, tidak berdua-duaan. Rasulullah SAW. bersabda, “ Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” (HR. Bukhari & Muslim) Ketiga, tidak menyentuh lawan jenis.

Di dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “ Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari). Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam.

Rasulullah SAW. bersabda, “ Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan) Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar. [] Berbicara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramsebenarnya tidak dilarang.

Hanya syaratnya, pembicaraan yang dilakukan memenuhi ketentuan secara syara’. Pembicaraan boleh dilakukan jika tidak berkhalwat, tidak menimbulkan fitnah, isi pembicaraan mengandung kebaikan, serta tetap menjaga adab-adab kesopanan yang berlaku. Pada zaman Rasululullah Shallallahu alaihi wa sallam dan shahabat, banyak kisah istri-istri Rasulullah yang berbicara dengan para shahabat.

Misalnya ketika memberi jawaban atas suatu pertanyaan tentang Islam. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah radhiyallahu'anha atau sang Ummul Mukminin juga menjadi guru bagi para shahabat. (Baca juga : Amalan Ringan Ini, Pahalanya Mengalir Terus Hingga Hari Kiamat ) Dalam melakukan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, kita bisa meneladani sikap para istri nabi.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala : يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa.

Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,"(QS Al-Ahzab : 32) Ayat itu menjelaskan tentang adab saat berbicara dengan lawan jenis yang bukan muhrim.

Baik secara langsung, maupun via teks atau media sosial. Untuk menjaga diri dari fitnah, hendaknya perempuan dan laki-laki yang berdialog atau berkirim pesan dengan lawan jenis bukan muhrim bisa menjaga diri. (Baca juga : Di Rumah Tak Menghalangi Perempuan Tetap Produktif ) Ada Batasan dan Adab Dalam kehidupan sehari-hari, kaum muslimah juga tidak lepas dari interaksi dan berkomunikasidengan lawan jenis yang bukan mahram ini.

Ketika saat berbelanja, sekolah, kuliah, bekerja dan aktivitas lainnya. Ustadzah Ummi Fairuz Ar-Rahbini menjelaskan, ada aturan-aturan dalam muamalah antara seorang laki-laki dan perempuan. Menurut istri Buya Yahya ini, dalam pembicaraan dengan lawan jenis, intinya jangan merasa nyaman, jangan dinikmati dan hati-hatilah karena memang awalnya ketertarikan itu tidak serta merta.

(Baca juga : Awas! Selewengkan Dana BOS saat Pandemi, Ancamannya Pidana Mati ) "Biasanya dimulai dari obrolan santai, pembahasan tugas dan seterusnya lalu berlanjut dengan candaan yang menjadikan kita semakin leboh nyaman dan senang untuk meneruskan komunikasi sampai akhirnya akan menjurus kearah yang lebih privasi. Artinya jangan sampai kita merasa aman lalu berkata “nggak kok, saya bisa jaga diri, saya juga bisa jaga hati insyaAllah gak ada masalah. Dan merasa yakin bahwa hal tersebut tidak membawa pengaruh untuk kita karena dalam menggoda manusia, setan punya seribu satu cara dan yang namanya lawan jenis itu ada daya tariknya seperti positif dan negatif.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Maka antara lawan jenis ada tarik-menariknya dan itu pun tidak bisa dipungkiri,"paparnya saat mengisi kajian muslimah di laman Instagramnya, kemarin. Bagaimana dengan candaan atau sekadar bercanda dnegan lawan jenis? Ummi Fairuz menuturkan, untuk masalah canda, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bercanda. "Mungkin kita sudah pernah mendengar bagaimana Nabi pernah bercanda dengan seorang wanita tua dan dia bertanya kepada Nabi, apakah dia masuk Surga.

Nabi pun menjawab “didalam Surga tidak ada wanita tua.” Dan Nabi tidak berdusta karena memang didalam Surga semua wanita tua akan menjadi muda. Candaan Nabi tidak mengandung unsur kebohongan tidak juga menyakiti. Candaan Nabi pun sangat terhormat.

Lalu bagaimana dengan candaan kita ? apa yang kita obrolkan, apa yang kita jadikan guyon itu semua akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak."tuturnya.

(Baca juga : Pungut Pajak Lewat Industri Digital Asing ) Jika candaan berkaitan dengan obrolan antara lawan jenis itu pasti ada daya tariknya. Obrolan biasa akan menjadi istimewa jika setan sudah ikut campur didalamnya, sehingga tetaplah waspada dan jangan sampai lengah karena setan menjerumuskan kita secaraa langsung akan tetapi dengan cara perlahan-lahan. Dalam urusan berbicara saja Nabi pernah bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللہ وَ اليَوْمِ الأَخِرِ فَليَقُولْ خَيْراً أوْ لِيَصْمُوتِ “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka berkatalah yang baik atau diamlah.” Intinya dalam berkomunikasi dengan lawan jenis, ada adab yang harus diperhatikan terutama oleh kaum perempuan muslimah, antara lain : 1.

Tidak melembutkan suara 2. Tidak berkhalwat 3. Mengucapkan perkataan yang baik 4. Tundukkan pandangan (Baca juga : Tahukah Kamu? Kondisi Ekonomi 2019 Capai Indeks Pembangunan Manusia Tertinggi ) Sedangkan dalam berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram melalui media sosial (medsos) seperti chatting misalnya, memang digunakan syarat-syarat yang hanya bisa diukur oleh diri sendiri.

Seperti bahasa yang digunakan termasuk merayu atau tidak, isi pembicaraan merupakan hal penting atau tidak, dan sebagainya.

Karena itu, dibutuhkan kejujuran masing-masing pribadi dalam mengukurnya, dan sejauh mana kita merasa diawasi oleh Allah.

Semakin kuat iman seseorang, maka semakin takut ia untuk melanggar hal-hal yang telah dibatasi Allah, dan rasa diawasi oleh Allah juga semakin kuat. Wallahu A’lam • adab bicara muslimah • amalan muslimah • adab dan akhlak • muamalah muslimah • Hati-hati, Tabarruj Masih Sering Diremehkan Kaum Muslimah • Bolehkah Menggabungkan Puasa Syawal dan Puasa Sunnah Senin-Kamis Sekaligus?

• Menghindari Riya, Ini 4 Amalan yang Bisa Disembunyikan • Inilah Keutamaan Bulan Syawal Beserta Amalan yang Bisa Dilakukan • Inilah Hikmah dan Manfaat Puasa 6 Hari di Bulan Syawal • Dua Kisah Sahabat Nabi SAW yang Rutin Membaca Surah Al-Ikhlas dalam Setiap Sholat • Mencari Keberkahan perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat Makanan yang Disajikan Sesuai Syariat REKOMENDASI • Nabi Adam Saat Wafat Dikafani dan Dikubur Malaikat perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat Anjuran Berdoa di Malam Nishfu Syaban dan Puasa di Siang Harinya • Ibadahnya Biasa Saja tapi Dia Calon Penghuni Surga, Ini Amalannya • Ketika Malaikat Melempar Dua Jin Utusan Nabi Sulaiman • Kisah Nabi Musa dan Anak yang Saleh, Pemilik Sapi Betina • Kisah Blusukan Nabi Daud yang Patut Ditiru Pemimpin Sekarang Dari Aisyah Ummul Mukminin, bahwa ia berkata: Sudah biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa beberapa hari, hingga kami mengira bahwa beliau akan berpuasa terus.

Namun beliau juga biasa berbuka (tidak puasa) beberapa hari hingga kami mengira bahwa beliau akan tidak puasa terus. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyempurnakan puasanya sebulan penuh, kecuali Ramadhan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau puasa sunnah dalam sebulan yang lebih banyak daripada puasanya ketika bulan Sya'ban.

(HR. Muslim No. 1956)
Artinya: “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat kamu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal .” Etika atau adab pergaulan dengan lawan jenis harus selalu diterapkan agar terhindar dari hal-hal yang melanggar syariat agama. Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam : Akidah Akhlak Untuk Madrasah Aliyah Kelas XII karangan Toto Adidarmo, MA, dan Drs. Mulyadi serta Tausiyah Cinta (Special Edition)berikut etika bergaul dengan lawan jenis dalam aturan Islam. Artinya: “ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.’ ”
Agama Islam adalah agama yang mengatur segala kehidupan umatnya dari mulai hal-hal yang besar hingga hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu saja hal ini dimaksudkan supaya manusia bisa senantiasa berada dalam jalan yang benar. Salah satunya adalah adab dari bergaul dengan lawan jenis. Dalam Islam meski peraturan antara laki-laki dan perempuan sangatlah ketat karena supaya menghindari dari perbuatan zina, meski begitu nyatanya Islam tidak melarang umatnya untuk bergaul atau berteman dengan lawan jenis hanya saja mereka harus tahu batasan-batasannya.

Berikut ini adalah tata cara atau adab bergaul dengan lawan jenis menurut pandangan dari Islam. 5. Tidak Boleh Pacaran 5 Tata Cara Bergaul dengan Lawan Jenis Menurut Pandangan Islam 1. Menjaga Aurat Bagi seorang wanita yang ingin berinteraksi dan berkomunikasi dengan lawan jenis, hendaknya menutup auratnya sesuai dengan ketentuan dari Allah SWT.

Hal tersebut sebagaimana dalam firman Allah surat Al Ahzan ayat 59: يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا Artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( Q.S Al Ahzab: 59 ) Begitu juga dengan laki-laki ketika berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan termasuk mahramnya juga harus menjaga auratnya.

Sebagaimana dalam sabda Nabi SAW yakni فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ Artinya: “Karena di antara pusar sampai lutut adalah aurat.” ( HR.

Ahmad ) Diriwayatkan dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, ia bertanya, “ Wahai Rasulullah, apa yang harus kami tutupi dan kami biarkan dari aurat kami?” beliau berkata, “Jagalah auratmu kecuali kepada istrimu atau hamba sahaya wanita yang engkau miliki.” Aku bertanya kembali, “Bagaimana jika salah seorang dari kami berada sendirian?

beliau menjawab, “Rasa malu kepada Allah lebih berhak untuk dihadirkan.” ( HR. Ibnu Abi Syaibah dan imam hadits yang lima ) 2.

Dilarang Berdua-duaan atau Khalwat Khalwat adalah berkumpulnya seorang laki-laki dan perempuan yang bukan merupakan mahramnya di suatu tempat. Mereka akan berbicara, bersentuhan, hingga melakukan hal yang dilarang agama. Seperti dalam terjemahan Surat Al Ahzab ayat 53 sebagai berikut: “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS.

Al-Ahzab: 53). Penggalan surat tersebut menyebutkan bahwa ketika seseorang memiliki keperluan dengan wanita, maka harus dilakukan melalui penutup. 3. Bisa Menjaga Pandangan Di zaman modern yang bebas seperti sekarang, kita sebagai umat Islam harus pintar dalam menjaga diri dan adab dalam pergaulan.

Jangan sampai karena ingin dipandang sebagai anak gaul, lantas melanggar prinsip Islam yang sudah mengatur batasan antara laki-laki dan perempuan. Salah satu tata cara bergaul dalam Islam adalah menundukkan pandangan terhadap wanita ataupun sebaliknya. Apabila memandang hanya sekilas atau tidak sengaja maka tidak jadi masalah, tapi kalau berlebihan dan sengaja untuk melihatnya kemudian muncul pikiran-pikiran yang lain maka tidak diperbolehkan.

Untuk itu ketika sedang melihat lawan jenis maka tundukkan pandangan tersebut. 4. Menjaga Batasan Menjaga batasan dalam hal ini adalah tidak menyentuh lawan jenis yang bukan mahramnya. Apalagi kepada wanita yang seharusnya kita hormati kehormatannya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW: لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ Artinya: “ Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR.

Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 5. Tidak Boleh Pacaran Pergaulan anak remaja hingga dewasa di zaman yang modern ini jauh dari adab ketimuran. Ada banyak sekali umat muslim yang menjalani hubungan atas nama pacaran padahal belum terikat oleh ikatan halal. Padahal kegiatan pacaran lebih banyak melanggar adab Islam seperti sering bersentuhan, berpelukan, berdua-duaan, hingga melakukan hal mudharat lainnya seperti sex before married.ÂQuraish Shihab menekankan bahwa dalam Islam dianjurkan untuk membatasi pandangan kepada lawan jenis, bukan melarang untuk melihat mereka.

Hal ini penting sebagai salah satu prasyarat sebelum melangsungkan jenjang yang lebih tinggi, yaitu pernikahan. Hal ini karena beberapa orang mengira bahwa melihat lawan jenis adalah maksiat, sehingga ketika ada orang yang akan menikah, mereka tidak diperkenankan untuk bertemu dan bertatap muka.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Menurut Quraish Shihab, cinta itu memang berawal dari pandangan, walaupun tidak mesti itu saja. Ada beberapa faktor lain yang bisa menjadikan sebuah pandangan itu menjadi cinta, atau malah menjadi syahwat. Namun bagi penulis tafsir al-Misbah ini, tetap saja orang yang akan menikah harus melihat pasangannya.

Termasuk harus ketemu dan ngobrol berdua, namun tetap harus diawasi dan didampingi. “Jangan beli kucing dalam karung,” tutur Quraish Shihab dalam salah satu talkshow dengan putrinya, Najwa Shihab. Hal ini dijelaskan Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Jawabannya Adalah Cinta.

Menurut mantan menteri agama ini, Nabi SAW saja menganjurkan sahabat nabi yang bernama al-Mughirah bin Syu’bah untuk melihat calon pasangannya sebelum menikah, karena itu dapat menyingkirkan suatu penyebab yang dapat membuat gagalnya sebuah hubungan. Dalam riwayat at-Tirmidzi dijelaskan, ذالك فإنه أحرى أن يؤذم بينكما “Hal itu dapat membantu untuk melanggengkan hubungan kamu berdua.” (H.R at-Tirmidzi) Namun, lagi-lagi, bagi Quraish Shihab, tetap harus menjalankan tuntunan Islam dalam hal membatasi pandangan.

Islam tidak melarang kita untuk memandang lawan jenis, yang dianjurkan adalah membatasi pandangan. Dalam hal ini, Quraish Shihab mengutip Q.S an-Nur: 30-31. Pandangan yang dibolehkan dalam Islam bukanlah pandangan yang bebas tanpa kendali dan berdua-duaan. Namun demikian, bagi guru besar tafsir ini, tidak harus melihat secara sembunyi-sembunyi dari kejauhan atau hanya melihat dari kejauhan. Quraish Shihab juga berargumen dari kisah putri Nabi Syuaib yang diminta ayahnya untuk mengundang seorang laki-laki (Nabi Musa) yang telah membantunya untuk menimba air untuk datang ke rumahnya.

Hal ini menjadi dalil bahwa seorang perempuan boleh berpandangan dan bercakap-cakap dengan seorang pria, yang tentunya dalam batasan tertentu dan tidak terlalu bebas. (AN) Penjelasan lebih lengkap terkait hal ini bisa dibaca di buku “Jawabannya Adalah Cinta”karya Quraish Shihab.
Tidak ada suatu perkara dalam hidup manusia melainkan sudah diatur dalam ajaran Islam. Itulah kenapa Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, sempurna, menyeluruh dan aplikatif hingga akhir zaman.

Urusan sepele seperti menguap dan bersin saja diatur dalam Islam, apalagi dalam hal hubungan dengan lawan jenis. Jika materi sebelumnya membahas bagaimana Islam menentukan kriteria memilih pasangan hidup, maka pada sesi ke-4 ini akan dibahas tentang adab-adab pergaulan dalam Islam, termasuk salah satunya hukum pacaran.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Session 4 Pemateri: Ust. Mardais Materi: Pacaran Islami…? Adab Pergaulan • Wanita dinikahi karena 4 perkara, yaitu hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Namun bukan berarti pasangan kita mutlak harus memiliki keempat perkara tersebut. Selain karena tidak ada manusia yang sempurna, kita juga perlu berkaca diri apakah kita sekufu/sejajar jika si wanita memiliki keempatnya.

Jangan terlalu menargetkan pasangan yang cantik/tampan atau kaya, dikhawatirkan kita akan terlalu pemilih dan menunda-nunda pernikahan. Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Pilih agama, niscaya kalian akan beruntung.” • Berikut rambu-rambu pergaulan dalam Islam: • Perintah menundukkan pandangan terhadap lawan jenis terdapat dalam surat An-Nuur ayat 30 yang berbunyi: “ Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.

Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” • Dan perintah menutup aurat terdapat pada ayat setelahnya (An-Nuur ayat 31): “ Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti aurat perempuan.

Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Dan bertaubatlan kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” • Banyak perusahaan mengharuskan wanita-wanita berpenampilan seksi sementara pria berseragam dengan pakaian tertutup. Contohnya di dunia perbankan non syariah, meskipun diperbolehkan mengenakan kerudung namun harus dililitkan ke leher yang tentu saja menyalahi aturan Islam dimana hijab harus diulurkan hingga menutupi dada dan seluruh tubuh.

Hal-hal seperti demikian adalah siasat Yahudi untuk perlahan-lahan menghancurkan Islam dan membuat ajaran Islam sesungguhnya terlihat asing, hingga akhirnya hijab yang melilit leher itu menjadi trend dan dianggap wajar.

• Menutup aurat hukumnya wajib bagi seluruh wanita yang sudah baligh, dan tidak ada udzur/pengecualian untuk perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat. Seperti yang perintah Allah dalam Al-Ahzaab ayat 59: “Wahai Nabi! Katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘ Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.

Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” • Di akhir zaman seperti ini banyak bermunculan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang sangat menyimpang, salah satunya adalah aliran extremist Syi’ah. Di Indonesia salah satu tokoh agama yang dituding sebagai penganut Syiah ialah Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA., mantan Menteri Agama di era Soeharto yang juga merupakan ahli tafsir Al-Quran.

Quraish Shihab menjadi cendekiawan muslim yang banyak menuai kontroversi setelah menyatakan bahwa jilbab bukanlah sebuah kewajiban dan Nabi Muhammad tidak dijamin masuk surga. Penerbit Mizan yang kerap menerbitkan buku-bukunya pun dianggap Syi’ah (Untuk hal ini aku tidak ingin membahas lebih jauh karena takut menjadi fitnah, yang pasti pernyataan jilbab tidak wajib dan Nabi Muhammad tidak dijamin masuk surga itu salah, meski bukan berarti yang bersangkutan termasuk Syi’ah, karena yang tahu isi hati hanya beliau dan Allah.) • Islam sendiri secara bahasa artinya tunduk/patuh, untuk itu tidak mungkin jika Islam menganut paham liberal yang membebaskan manusia berbuat sewenang-wenang.

• Pada Surat Al-Ahzaab ayat 53 diterangkan bahwa apabila seorang pria ada keperluan dengan wanita yang bukan mahramnya maka sebaiknya berbicara dari balik penghalang/tabir. Bunyi ayat tersebut adalah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali apabila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan.

Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat.

Sesungguhnya perbuatan itu amat besar (dosanya) di sisi Allah.” • Berdua-duaan dengan lawan jenis tidak diperbolehkan dalam Islam, menurut hadits riwayat Bukhari 9/330: “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” Dan “Tidaklah seorang dari kalian berdua-duaan dengan lawan jenis kecuali setan menjadi ketiganya.” • Mendayu-dayukan ucapan berarti membuatnya terdengar merdu dan manja. Biasanya dilakukan oleh kaum wanita.

Larangan mengenai hal ini terdapat dalam surat Al-Ahzaab ayat 32: “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” Meskipun kita bukan isteri Nabi namun anjuran ini berlaku untuk seluruh wanita yang menginginkan ketaqwaan dan terlindung dari kejahatan seksual disebabkan oleh suara kita yang mengundang sahwat.

Untuk itu hendaklah berbicara secukupnya dan yang perlu-perlu saja. • Fitnah terbesar kaum pria adalah wanita, sedangkan fitnah terbesar kaum wanita adalah harta.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

Maka jika pria sholeh berhasil menjaga dirinya dalam berurusan dengan wanita semasa hidup, di surga ia akan mendapat 2 hingga 70 bidadari surga sementara istri di dunia juga akan menjadi istrinya di surga. Untuk perempuan jika di dunia mampu meredam kecenderungannya terhadap harta maka di surga ia akan diberi banyak perhiasan sementara suami di dunianya akan tetap menjadi suami di surga. Hukum Pacaran • Pacaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti teman lawan jenis dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih.

Sementara dalam Islam tidak dikenal proses pacaran seperti apa yang banyak dipahami oleh remaja saat ini. Proses pacaran seringkali lebih banyak membawa mudharat daripada manfaat.

Banyak orang tua yang cuek saja mengetahui anaknya berpacaran, bahkan tidak sedikit orang tua yang bangga anaknya punya pacar dan bepergian berdua.

perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat

• Dari nash-nash dalam Al-Quran, orang yang berpacaran pasti mengalami: • Tidak mungkin menundukan pandangan • Tidak mungkin menjaga hijab • Biasanya sering berdua-duaan • Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya • Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dan perempuan • Bisa dipastikan orang yang berpacaran selalu saling membayangkan dan jika ini terjadi maka mereka harus segera dinikahkan karena dikhawatirkan menjadi zina pikiran, itulah kenapa jangka waktu dari taaruf dan khitbah tidak boleh lama (paling lama 4 bulan) • Dalil mengenai haramnya pacaran ialah surat Al-Israa ayat 32 yang berbunyi: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.

Dan suatu jalan yang buruk.” • Lalu bagaimana jika berpacaran namun tidak saling bersentuhan atau pergi ke pengajian bersama? Adakah pacaran yang Islami? Jawabannya tentu TIDAK ADA! Jangan melabeli segala sesuatu yang diharamkan dengan embel-embel Islami atau Syariah, tidak akan pernah ada namanya mabuk syari’ah atau judi Islami, begitu juga dengan pacaran.

Nasihat bagi Para Orang Tua • Zaman sekarang orang tua justru bahagia melihat anaknya berpacaran, seolah-olah mendukung kemaksiatan anaknya. Ini adalah musibah besar. Orang tua harus memperhatikan setiap kegiatan anak dan memperhatikan teman-temannya. Lihat akhlaknya, sholatnya, tutur katanya dari teman-teman anak kita tersebut.

Sampai di sini dulu pembahasan materi Pesantren Spesial Pra-Nikah sesi ke-4, semoga bagi yang belum kuat memutuskan hubungan dengan pacarnya segera dikuatkan. Termasuk juga penulis yang saat ini sedang meneguhkan hati untuk membatasi pergaulan dengan lawan jenis meski dalam konteks pekerjaan, pertemanan dan organisasi.

Semoga setiap usaha dan kesulitan yang kita hadapi diganti pahala jihad oleh Allah Azza Wazalla. Amiin Yaa Allah Yaa Robbal Aalamiin. • ► 2021 (2) • ► April (1) • ► January (1) • ► 2020 (1) • ► September (1) • ► 2019 (2) • ► December (1) • ► February (1) • ▼ 2018 (14) • ► July (1) • ► March (4) • ▼ February (8) • PAP 8: Mahar yang Tak Mahal • PAP 7: Khitbah a.k.a Lamaran • PAP 6: Menjemput Jodoh Impian dengan Ta'aruf • PAP 5: Mahram, Bukan Muhrim • PAP 4: Pacaran Islami?

Emang Ada? • PAP 3: Kriteria Memilih Pasangan Hidup • PAP 2: Menikah Juga Bisa Makruh • PAP 1: Pesantren Pra Nikah.?! • ► January (1) • ► 2017 (9) • ► November (2) perintah untuk membatasi pandangan terhadap lawan jenis diterangkan dalam surat ► September (1) • ► August (2) • ► July (1) • ► June (1) • ► April (1) • ► March (1) • ► 2016 (6) • ► December (1) • ► October (1) • ► September (1) • ► August (1) • ► May (1) • ► January (1) • ► 2015 (4) • ► December (2) • ► November (1) • ► July (1) • ► 2014 (19) • ► December (1) • ► November (1) • ► October (1) • ► September (1) • ► July (2) • ► June (5) • ► May (1) • ► April (2) • ► February (2) • ► January (3) • ► 2013 (3) • ► April (2) • ► March (1) • ► 2012 (14) • ► October (1) • ► September (4) • ► August (3) • ► July (2) • ► March (3) • ► February (1) • ► 2011 (34) • ► December (1) • ► November (1) • ► October (1) • ► September (1) • ► August (3) • ► July (3) • ► June (2) • ► May (3) • ► April (10) • ► March (6) • ► February (2) • ► January (1) • ► 2010 (50) • ► December (5) • ► November (4) • ► October (5) • ► September (5) • ► August (5) • ► July (6) • ► June (10) • ► May (10)

Sulit Sekali Menundukkan Pandangan - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA




2022 www.videocon.com