Perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Menilik dari judul yang tertera di atas, timbul suatu gambaran yang sangat kontras diantara keduanya. Bagai garis tegas yang memisahkan antara putih dan hitam, moderat dan radikal selalu digambarkan sebagai dua kutub berbeda yang selalu bertentangan.

Seringkali moderat atau moderatisme digambarkan sebagai pihak yang penuh persahabatan, kedamaian, dan toleransi sehingga selalu dianggap sebagai representasi dari ‘kebaikan’ yang diasumsikan dengan warna putih.

Sedangkan radikal atau radikalisme sering pula diserupakan dengan pihak yang penuh dengan permusuhan, kekerasan, dan in-toleransi akan dianggap sebagai representasi dari ‘kejahatan’ yang diwakili dengan warna hitam.

Dalam pemahaman yang beredar kini, banyak anggapan bahwa kedua entitas putih-hitam ini merupakan pertarungan abadi antara kebaikan-kejahatan, antara benar-salah, dan dikotomi lainnya yang direpresentasikan dengan putih-hitam tersebut. Moderat dan radikal selalu menjadi pihak yang saling berseberangan dan berusaha untuk saling mengalahkan, saling melenyapkan.

Berbagai wacana sudah memakai dikotomi ini untuk memisahkan pihak-pihak yang terlibat didalamnya ke dalam pembagian peran protagonis dan antagonis. Dalam wacana terorisme misalnya, sebuah wacana yang paling gamblang mengupas hal ini, menempatkan para teroris menjadi bagian dari radikalisme, sebuah kegiatan jahat untuk menebar teror. Sehingga pemerintah sebagai tokoh protagonis mempunyai tugas melakukan perlawanan untuk memadamkan radikalisme. Sedangkan dalam wacana ormas, khususnya ormas Islam, seringkali ormas tersebut dicap sebagai ormas radikal atau ormas yang melakukan radikalisme ketika mereka melakukan sweeping atau melakukan pengerusakan.

Dari keadaan tersebut munculah istilah “deradikalisasi” yang berarti menurunkan derajat radikalisme yang jahat agar menjadi moderatisme yang baik, atau dengan kata lain sebagai jalan ‘pertobatan’ si jahat agar menjadi baik, radikal bertobat menjadi moderat.

Dapat disimpulkan, radikalisme selalu menjadi pembuat onar atas nilai-nilai kemapanan yang moderat. Namun apakah segamblang itukah pemahaman dan ide mengenai moderat dan radikal?

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Perlu kita telaah terlebih dahulu mengenai pengertian masing-masing dari moderat dan radikal. Secara etimologi, moderat berasal dari bahasa latin moderatus yang secara bebas dapat diartikan sebagai lunak, sedang, menengah. Sedangkan radikal berasal dari bahasa yang sama, dari kata radicalis yang berarti akar, mengakar, kuat. Maka secara sederhana jika kedua kata tersebut diimplementasikan ke dalam kehidupan kita terutama seperti pada wacana di atas, akan diperoleh pemahaman: • Moderat(isme) adalah suatu sikap untuk mengambil jalan tengah dari suatu ide ketika dihadapkan dengan konflik terhadap ide lain, dengan kata lain kompromistis atau kooperatif.

Maka tak heran ketika moderatisme selalu lekat dengan toleransi, karena ide mengenai toleransi sendiri merupakan tindakan kompromistis. • Radikal(isme) merupakan sikap untuk mempertahankan ide secara utuh ketika dihadapkan dengan konflik terhadap ide lain, atau dengan kata lain non-kooperatif.

Atas dasar tersebut, radikalisme biasanya akan menempuh langkah yang perlu dilakukan untuk mempertahankan ide yang dianutnya. Konflik antar ide bisa terjadi pada keduanya, namun yang membedakan adalah sifatnya.

Moderatisme bersifat lebih pasif, artinya sikap moderat hanya terjadi ketika menerima tekanan-tekanan ide yang berasal dari luar. Berbeda dengan radikalisme yang bersifat lebih agresif, terjadi tidak hanya ketika mempertahankan ide karena tekanan-tekanan ide yang berasal dari luar, namun juga terjadi ketika memperkenalkan dan menyebarkan ide-ide baru.

Inilah mengapa perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut pembaharu biasanya terlihat lebih radikal ketika melahirkan pemikiran-pemikiran baru.

Jangan lupakan sejarah! Manakah yang lebih baik, moderat atau radikal? Sejarah telah mencatat, bahwa kedua entitas ini selalu ada bahkan ikut mewarnai perjalanan sejarah negeri kita.

Tidak bisa dipungkiri lagi, masing-masing kelompok yang menempuh jalur moderat maupun radikal turut memberikan sumbangsih atas sejarah kita. Jika kita tengok lagi, pada tahun 1912 berdiri organisasi Sarekat Islam (SI) di Surakarta, SI merupakan organisasi politik pertama di Nusantara yang anti-pemerintahan kolonial.

Organisasi ini merupakan evolusi dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri pada tahun 1905, sebuah kongsi dagang lokal yang memiliki benih-benih anti-kolonialisme. Evolusi SDI menjadi SI berawal dari kesadaran, bahwa perlawanan sosial tidak cukup hanya dari satu bidang saja (SDI saat itu hanya menyangkut bidang ekonomi saja) akan tetapi harus menyangkut seluruh aspek sosial, dan politik merupakan bidang yang memiliki jalur ke seluruh aspek sosial tersebut.

SDI dan SI berinisiatif menempuh jalur non-kooperatif sebagai langkah memperjuangkan tujuannya, sehingga pemerintah kolonial mengkategorikan kedua organisasi tersebut sebagai organisasi radikal.

Berbeda dengan radikalisme, moderatisme yang bersifat lebih kooperatif biasanya tetap eksis dimasa kapanpun mengikuti kondisi sosial yang terjadi.

Misal pada masa pra-kemerdekaan, Petisi Soetardjo sebagai langkah kaum moderat dalam mengangkat peran pribumi dalam pemerintahan kolonial. Namun ketika masa kemerdekaan, dengan mengikuti kondisi sosial saat itu, tindakan-tindakan diplomasi menjadi langkah kaum moderat bagi kemerdekaan.

Dengan melihat lebih lanjut, moderat maupun radikal masing-masing telah menyumbangkan kontribusi besar bagi pembebasan Nusantara. Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan pernah terjadi jika tidak ada tekanan kaum radikal, yang diwakili oleh kelompok pemuda, untuk disegerakan proklamasi.

Aksi penculikan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok merupakan tindakan radikal bagi kelompok pemuda untuk menjadi jalan pembuka perubahan tersebut. Jadi perubahan selalu dimotori oleh gerakan radikal. Meskipun begitu, 27 Desember 1949 menjadi momen penting dalam perjuangan moderat Nusantara. Melalui jalan diplomasi, penjajah akhirnya mengakui kekalahannya dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Tidak hanya memperoleh pengakuan dari luar, langkah tersebut juga menjadi jalan konsolidasi ke dalam negeri sendiri.

Tidak hanya keberhasilan dan kejayaan yang diraih oleh moderat dan radikal, kedua entitas ini juga pernah melakukan tindakan khilaf atau blunder. Sebagai contoh beberapa perjanjian pasca kemerdekaan (Linggajati, Renville, Roem-Royen), dimana sebenarnya telah terjadi ‘kekalahan diplomasi’, yang berakibat muncul beberapa pemberontakan (baca: pembangkangan) sebagai reaksi atas isi perjanjian tersebut. Dari beberapa perjanjian itu, sesungguhnya berisi klausul yang merugikan pihak kita.

Bagaimana tidak?

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Wilayah Republik yang pernah dibebaskan oleh gerakan bersenjata kaum radikal, dilepas begitu saja oleh para diplomat moderat yang menandatangani perjanjian itu hanya karena takut dengan gertak (sambal) kaum kolonis. Para diplomat moderat tersebut tidak mengetahui kekuatan Belanda sebenarnya, padahal kekuatan riil Belanda saat itu masih terseok-seok dan compang-camping pasca Perang Eropa. Maka tak heran dan tidak sepenuhnya suatu kesalahan jika pada masa itu banyak timbul pembangkangan bersenjata, seperti Madiun Affair, DI/TII, gerilya Soedirman, dll.

Disisi lain, blunder yang pernah dilakukan oleh kaum radikal tercatat pada tahun 1926, ketika sebuah aksi sepihak yang dilakukan oleh rakyat jelata. Aksi yang dimotori oleh Ulama (juga Ulama Kiri) bersama Kaum Kiri tersebut melakukan aksi sepihak dengan merebut tanah dan aset milik pemerintah kolonial, para tuan tanah kolonis, dan perusahaan asing, sebagai puncak kemarahan kepada Kaum Kolonis atas perlakuannya yang semena-mena kepada pribumi selama ini.

Aksi sepihak tsb sebenarnya mendapat dukungan dari grass-root pribumi, terlihat dari pelaku aksi yang semakin banyak semakin harinya, terutama golongan yang dirugikan selama ini, petani dan buruh.

Namun aksi sepihak tersebut dengan mudahnya digerus oleh KNIL dan Politie karena kesalahan kalkulasi kekuatan. Volksraad sebagai satu-satunya lembaga yang juga menampung pribumi, menjadi sangat elitis dan ikut menuding aksi sepihak rakyat jelata tsb sebagai biang-kerok perusuh harmonisasi koloni.

Blunder dari tindakan radikal seperti ini disebut dengan Putsch. Baik moderat maupun radikal, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan, namun dalam perkara ini sebenarnya bukan soal mana yang baik dan mana yang buruk, akan tetapi ‘kapan’ waktu yang tepat untuk menjalaninya. Mengapa? Sebab hakikat kedua entitas ini adalah sarana untuk mewujudkan dan melestarikan keberadaan ide (ideologi) itu sendiri.

Keduanya mempunyai fungsi yang berbeda akan menjadi sangat efektif ketika digunakan pada saat yang tepat, selain itu keduanya tidak akan bisa saling meniadakan.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Kekuatan radikal dan moderat sama-sama dibutuhkan oleh pergerakan untuk meraih tujuannya, mereka saling melengkapi, saling membutuhkan, dan tak terpisahkan. Jadi moderat dan radikal laksana sebuah koin yang memiliki dua sisi, keduanya pasti ada, hanya saja ada masanya ketika kita bisa moderat, dan ada kalanya kita harus menjadi radikal. Bilamana kaum moderat dan radikal bekerja? Sebelumnya perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa moderat maupun radikal hanyalah metode untuk mewujudkan ide.

Sebuah ide yang sama dapat diwujudkan dengan kedua jalan ini tergantung dengan keadaan dan kebutuhan ketika itu. Dalam hal ini adalah soal masa ketika kaum moderat atau kaum radikal yang dibutuhkan dalam menjalankan sistem untuk mengatasi permasalahan.

Tempo menjadi kunci atas berjalannya kedua entitas ini. Ketika situasi dan kondisi mendukung, maka secara alamiah kedua entitas ini akan bekerja dengan sendirinya. Baik moderat maupun radikal akan bekerja dengan masing-masing parameter yang berbeda.

Banyak faktor yang menjadi penentu parameternya, seperti sistem sosial, politik, ekonomi, hukum, dsb. Dengan sifat dan kekhasannya itu pulalah baik moderatisme maupun radikalisme menjadi solusi ketika jaman membutuhkannya. Ketika sistem dalam kehidupan masih dapat mengakomodasi ide, maka akan ditempuh jalan moderat untuk mewujudkannya, karena sifatnya yang lebih kooperatif.

Sebaliknya, ketika sistem dalam kehidupan kita sudah tidak dapat mengakomodasi ide lagi maka jalan radikal akan ditempuh untuk mewujudkan ide tersebut secara non-kooperatif. Adapun tolok ukur terakomodasinya suatu ide di dalam sistem kehidupan tergantung pada sistem yang sedang berlaku ketika itu. Untuk lebih mudahnya, bisa kita lihat secara gamblang dalam beberapa dimensi.

• Kaum moderat akan mendominasi ketika: Sistem kehidupan secara umum berjalan dengan lebih mapan dan statis. Nilai-nilai normatif dalam sistem sosial masih berlaku dalam kehidupan bermasyarakat (baca: idealisme). Hal ini diikuti dengan kondisi perpolitikan yang biasanya sedang didominasi hanya oleh salah satu entitas politik, sehingga lebih stabil.

Entitas politik mayoritas biasanya lebih kooperatif terhadap minoritas. Demikian juga situasi ekonomi yang lebih pasti, tumbuh dan merata. Dan juga hukum yang masih dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat. Sedangkan dalam hal keamanan dan ketertiban cenderung minim konflik (horisontal) dan ancaman. Ketika masa ini terjadi, memang seharusnya moderatisme yang bekerja, karena segala permasalahan yang terjadi ketika itu akan bisa diatasi dengan dialog yang kompromistis.

Jika radikalisme dipaksakan untuk bekerja pada masa ini maka yang terjadi adalah putsch. • Kaum radikal akan dibutuhkan ketika: Sistem kehidupan sedang berjalan sangat dinamis. Nilai dan norma dalam sistem sosial sudah diabaikan dan hanya menjadi jargon dimulut saja, pragmatisme lebih diutamakan. Kondisi perpolitikan sangat dinamis, tidak ada entitas politik yang mendominasi sistem politik sehingga yang terjadi adalah saling memperebutkan (atau koalisi) kekuasaan guna memenuhi aspek formalitas belaka.

Situasi ekonomi juga dalam keadaan yang tidak pasti, pertumbuhan tidak ajeg dan tidak merata, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Hukum hanya berlaku pada kelas masyarakat tertentu, tajam menghujam masyarakat kelas bawah. Friksi-friksi horisontal pada masyarakat kelas bawah semakin intens dan meruncing. Jika kaum radikal perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut dibiarkan bekerja pada masa itu, yang terjadi adalah kebuntuan dalam segala dimensi kehidupan yang akhirnya akan menghancurkan sistem itu sendiri.

Kemudian timbul pertanyaan, mengapa mereka harus ada dimasa itu? Tentu saja ini berkaitan dengan kebutuhan dan fungsinya berdasarkan kondisi saat itu. Kaum moderat akan dibutuhkan untuk menjalankan sistem yang telah mapan, selain itu moderatisme juga dibutuhkan untuk konsolidasi. Sedangkan kaum radikal dibutuhkan untuk mendobrak kebuntuan ketika sistem tidak bisa berjalan lagi sebagaimana mestinya atau mengganti sistem lama dengan yang baru.

Kemunculannya untuk mendominasi pun juga tidak bisa dihalang-halangi atau diprematur. Sebagai perbandingan, di situasi dan kondisi yang statis dengan sendirinya kaum radikal akan berkurang karena tindakan-tindakan radikal akan dianggap menjadi tindakan berlebihan yang sia-sia, sebaliknya disituasi dan kondisi dinamis, kaum radikal dengan sendirinya akan semakin banyak karena jalan moderat dianggap tidak mampu lagi mengatasi permasalahan yang ada.

Inilah yang dimaksud dengan kedua entitas akan bekerja dengan sendirinya secara alamiah. Menilik kondisi kini, saatnya moderat atau radikal? Mari kita lihat lagi indikasi-indikasi yang sudah dijabarkan sebelumnya dengan keadaan terkini Indonesia.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Perlu kita renungkan dan kita rasakan. Berbagai dimensi dari sistem sudah mulai menunjukkan sarat permasalahan. Dalam dimensi hukum, hal yang paling gamblang adalah maraknya tindak korupsi hampir disemua lapisan masyarakat. Hal ini terjadi karena korupsi menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat kita.

Kebutuhan akan apa? Kebutuhan akan materi dan non-materi. Kebutuhan akan materi hanya karena satu hal: untuk mendapatkan kekayaan, baik untuk mendapatkan yang baru atau untuk mengganti yang telah dikeluarkan sebelumnya.

Biasanya korupsi macam ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki otoritas atau jabatan, karena selalu berkaitan dengan fungsi yang dijalankannya. Sedangkan untuk kebutuhan non-materi selalu berkaitan dengan prosedur, dimana seseorang ketika terjebak oleh suatu prosedur, apalagi turut dimain-mainkan oleh prosedur tersebut, maka biasanya akan memilih ‘jalan mudah’ untuk mengakali prosesnya. Korupsi macam ini mahfum dilakukan hampir semua masyarakat, bukan hanya ketika membuat KTP, tetapi juga tercermin dengan minimnya kepatuhan dalam berlalu lintas (juga kompromistis ketika ditilang).

Dimensi politik juga memiliki dampak yang sangat nyata. Jika kita lihat yang terjadi sekarang adalah hal yang yang dianggap ‘wajar’ ketika perpolitikan kita dipandang secara sempit dan berjalan secara elitis, pragmatis, dan korup. Elitis karena partai telah terpisah dari konstituennya dan hanya dibutuhkan saat menjelang pemilu saja. Partai menjadi kehilangan ruh-nya, dan bertindak hanya sebagai alat berorientasi individu demi pencapaian reputasi pribadi.

Tindakan partai di parlemen tidak pernah lagi mewakili konstituennya. Pragmatis karena partai maupun parlemen bertindak hanya untuk memenuhi faktor formal belaka, untuk mengisi kursi dan jabatan tanpa memikirkan lagi idealisme.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Selain itu, takaran mereka dalam bertindak hanya mempertimbangkan sisi untung tidaknya bagi mereka secara pribadi. Maka tak jarang konstituen ‘digadaikan’ oleh mereka hanya untuk mendapatkan sedikit remeh-remah dari ‘proyek’ yang diperebutkan.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Korup karena tindakan-tindakannya telah menyimpang. Maksudnya ialah mereka telah menyalahgunakan kewenangannya hanya untuk memperoleh tahta, harta, dan wanita. Menggunakan jabatan untuk menumpuk harta dan dikelilingi wanita. Kemudian dimensi ekonomi memiliki dampak yang langsung dirasakan oleh kita semua. Kita tahu bahwa harga-harga melambung tinggi mulai dari harga kebutuhan pokok hingga tarif pelayanan jasa. Bukan hanya terbebani dengan harga-harga tersebut namun juga tercekik dengan macam-macam pajak.

Membuat kita semua semakin sulit untuk hidup. Padahal kita berdiri diatas kekayaan alam alam yang cukup melimpah, apakah mungkin kita harus mati kelaparan di dalam lumbung sendiri yang penuh dengan hasil panen? Tentunya kita tidak ingin itu terjadi, karena memang tidak logis.

Yang terjadi sekarang adalah kekayaan alam kita sedang diangkut keluar negeri sedangkan rakyat kita hanya memperebutkan remeh-remahnya saja.

Pemerintah juga mulai meninggalkan tugasnya sebagai penyelenggara kesejahteraan ( welfare state), terlihat dari kesejahteraan rakyatnya yang kini tidak merata, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Lalu dalam dimensi sosial, terlihat dari perangai masyarakatnya yang berubah. Sikap dalam masyarakat kita sudah menjadi individualistis. Pemuda pada semua lini tumbuh menjadi pemuda-pemudi hedonis yang mengejar kesenangan dan kebanggaan individu.

Perilaku anti-sosial seperti homoseksual, biseksual, dan transgender semakin merebak. Friksi-friksi horisontal semakin meruncing, dengan berbagai macam latar belakang. Social value akhirnya mulai ditinggalkan dan asing ditengah-tengah kita.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Setelah kita perhatikan sedikit contoh dari beberapa dimensi, kita dapat menilai apa yang sebenarnya terjadi disekitar kita. Dalam dimensi hukum, terlihat dengan jelas bahwa kejahatan dan kriminal yang terjadi dalam masyarakat kita telah berlangsung secara sistematik, artinya kejahatan telah berhimpun menjadi terorganisir.

Terorganisirnya kejahatan itu bukan menjadi organ yang berdiri sendiri, namun telah ‘menumpang’ pada sistem hukum yang berlaku, ini mengakibatkan sulitnya melawan kejahatan secara formal, karena sistemnya telah ‘diakali’ oleh para penjahat tersebut untuk dapat luput dari jeratan legal formal.

Hanya orang-orang radikal saja yang juga berani untuk bertindak diluar jalur legal formal yang dapat mengatasi kejahatan macam itu. Kemudian, jika kita lihat juga pada dimensi politik, dimana ketiga sifat elitis, pragmatis, dan korup (el-prakor); telah hinggap hampir disetiap lini birokrat. Eksekutif, legislatif, maupun yudikatif sama-sama diisi oleh para el-prakor. Lembaga negara tidak akan bisa bersih dari para el-prakor, sebab rumusnya seperti ini: para el-prakor akan berteman dengan el-prakor, dan para el-prakor hanya akan digantikan oleh para el-prakor lainnya, maka jadilah lingkaran setan el-prakor.

Siapakah yang akan menderita? Kita semua, rakyat jelata. Hanya orang-orang yang bersih dari sifat el-prakor dan berani bertindak secara radikal saja yang dapat menyingkirkan para el-prakor dan memutus lingkaran setan el-prakor. Ternyata dalam dimensi ekonomi juga telah terjadi kebuntuan luar biasa. Sedikitnya ada 4 macam penjahat yang berperan didalamnya. • Para birokrat pembuat kebijakan el-prakor, penjual kekayaan negeri ini untuk negara lain dan membiarkan rakyatnya sendiri menderita.

• Para spekulan komoditas, sehingga harga-harga mencekik demi keuntungan pribadinya. • Para bankir penyebar riba, yang mana riba adalah penyebab terbesar inflasi.

• Dan yang terakhir adalah para pelaku shadow economy, yaitu para penggiat ekonomi ilegal yang turut mempengaruhi kestabilan ekonomi legal. Keempat macam penjahat ekonomi ini tumbuh subur pada negara yang menganut sistem ekonomi liberal-kapitalis. Padahal negara kita menganut ekonomi kerakyatan seperti yang disepakati oleh para founding fathers.

Namun jelas-jelas sistem ekonomi kita sudah berubah haluan menjadi sistem ekonomi liberal-kapitalis. Lalu bagaimana cara memperbaiki hal ini? Mau tidak mau, hanya orang-orang yang mau bertindak secara radikal untuk mengembalikan sistem ekonomi kerakyatan atau bila perlu menggantinya dengan yang lebih baik. Caranya: memutus lingkaran birokrat el-prakor, mengawasi distribusi, menghapus riba, dan menekan shadow economy.

Sementara dalam dimensi sosial, dengan berubahnya masyarakat kita menjadi individualis menunjukan bahwa kita tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan sosial yang dihadapi oleh kita. Sebab permasalahan sosial hanya bisa diselesaikan secara sosial, bukan individual.

Sudah saatnya kita berkumpul untuk membentuk tatanan masyarakat lagi. Tatanan masyarakat yang bisa memberikan sanksi bukan hanya sebagai penganjur kebaikan saja. Seharusnya, perilaku anti-sosial menjadi lawan dari tatanan masyarakat kita, nilai-nilai anti-sosial dapat tersaring dengan penolakan secara tegas. Hanya orang-orang yang bersedia bertindak radikal secara tegas untuk mengatasi permasalahan sosial seperti itu.

Setelah melihat beberapa situasi di atas, semuanya diperoleh kesimpulan yang sama, terjadi kebuntuan untuk mengatasi permasalahan yang kita hadapi. Menjadi buntu karena permasalahan yang terjadi tidak bisa diselesaikan begitu saja mengikuti sistem yang ada, sebab bisa jadi dua hal: permasalahan yang terjadi telah berlangsung secara masal sehingga menjadi maklum atau aturan yang ada telah dimanipulasi untuk mengakomodasi permasalahan tersebut.

Artinya ada dua hal yang pasti terjadi, masyarakatnya yang ‘sakit’ dan sistemnya yang ‘sakit’. Hal ini menjadi logis, sebab ketika masyarakat menjadi ‘sakit’ karena perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut permisif dengan ‘penyakitnya’, pasti akan menghasilkan sistem yang ‘sakit’ pula dengan mengakomodasi ‘penyakit’ tersebut. Jika keadaan ini terus berlangsung yang akan terjadi adalah bencana sosial yang menghancurkan seluruh tatanan.

Sehingga ketika masyarakat dan sistemnya sudah sangat permisif dengan keadaan ini, maka tidak lain dan tidak bukan harus ada tindakan radikal untuk memperbaikinya.

Kaum perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut saja yang dapat mendobrak sistem yang sakit itu.

Kamu berada dimana? Radikalkah? Setelah mengetahui uraian sebelumnya, kini saatnya kita bertanya pada diri kita sendiri, dimana posisi kita saat ini? Disinilah kita menentukan peran kita dalam tatanan masyarakat. Kita bisa menjadi moderat atau radikal, itu hanya merupakan pilihan. Keduanya memiliki kedudukan yang setara, bisa memiliki tujuan yang sama, namun hanya berbeda jalan dan metode yang justru saling melengkapi.

Dari perbedaan itulah, masing-masing memiliki waktunya sendiri, ada saatnya kaum moderat yang berkarya, akan tetapi ada kalanya kaum radikal yang harus bertindak.

Dan waktu yang dimaksud kini adalah waktunya kaum radikal untuk meraih kesempatan itu. Akan tetapi bukan berarti seorang moderat harus berubah menjadi radikal, dan bukan pula menghalangi seorang moderat untuk berubah menjadi radikal. Yang moderat tetaplah moderat, namun ketika situasi mengharuskan untuk radikal, berikan kaum radikal ruang dan waktu untuk bekerja.

Janganlah takut atau malu untuk menjadi radikal. Menjadi radikal bukanlah suatu kejahatan, bukan hal tabu, bukan pula hal yang hina-dina. Keberadaan kaum radikal juga merupakan sunnatullah, keniscayaan. Tidak bisa binasa, tidak bisa ditunda, dan tidak bisa diprematur. Jika kesempatan itu datang kepada kaum radikal, harus dipergunakan sebaik-baiknya yang akhirnya bisa menjadi bukti bahwa menjadi radikal bukan merupakan stigma buruk seperti yang telah orang kira kebanyakan.

Menjadi radikal bukan berarti identik dengan kekerasan, sekali lagi bukan itu, kaum radikal pun harus menjadikan kekerasan sebagai jalan terakhir untuk beladiri. Perjuangan paling baik adalah ketika kita memenangkan ide tanpa ada pertumpahan darah. Akan tetapi dalam kenyataan, akan ada pihak-pihak yang berusaha menjegal bahkan tidak segan-segan menggunakan kekerasan, yang artinya mau tak mau kita harus siap terlibat dalam kekerasan untuk alasan beladiri. Dan radikalisme pun tidak identik dengan anarkisme.

Itu merupakan dua hal yang berbeda. Radikalisme adalah tindakan berdasarkan tatanan, sedangkan anarkisme ialah tindakan tanpa tatanan. Sehingga untuk memperbaiki tatanan harus dengan tatanan pula agar bisa pulih, jika tidak maka yang terjadi adalah hilangnya tatanan.

Kita pun harus menjaga diri agar tidak terjebak dengan anarkisme. Karena harus kita ingat satu hal: Kejahatan yang tak terorganisir dapat dikalahkan dengan mudah oleh kebaikan yang terorganisir, namun kejahatan terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang sama terorganisirnya, kecuali kebaikan itu terorganisir dengan lebih baik.

Inilah arti penting dari tindakan harus memiliki tatanan yang tertata rapi. Ingin PERUBAHAN? Jadilah RADIKAL! Dengan berlangsungnya keadaan yang seperti ini, maka akan ada dua macam manusia, mereka yang ingin hal ini terus berlangsung dan mereka yang menginginkan perubahan lebih baik.

Orang-orang yang menginginkan berlangsungnya keadaan ini adalah mereka yang mendapatkan manfaat dan kenikmatan atas situasi ini, merekalah yang dinamakan kaum konservatif. Dijaman yang penuh dengan penjahat ini, kaum konservatifnya terdiri dari dua golongan; yaitu penjahatnya itu sendiri dan mereka yang cukup puas hidup dari remeh-remah para penjahat ini. Sedangkan mereka yang menginginkan perubahan adalah mereka yang pasti dirugikan dan tertindas atas situasi ini. Mereka ini adalah kaum dhuafa, kaum lemah yang butuh pembelaan, dan bersama kaum yang ingin melawan keadaan ini.

Mereka yang melawan inilah yang harus menjadi kaum radikal. Dan perubahan pasti terjadi. Semoga Allah beserta kita menuntun dalam kebaikan.(Ajm) • KONSTITUSI • MENUJU REVOLUSI • SEKOLAH POLITIK • ARTIKEL TERKINI • MUSUH REVOLUSI KITA: GLOBALISASI • CERMIN KEBANGKITAN ISLAMIS DARI AKSI DAMAI 411 (UPDATE: AKSI SUPER DAMAI 212) • TABLIGH AKBAR PPP DISERANG BOM MOLOTOV • DARI INSIDEN SARINAH KITA HAPUS TEROR DAN MULAI REVOLUSI ISLAM • LIPI: RADIKALISME IDEOLOGI MENGUASAI KAMPUS • EVOLUSI SOSIAL ISLAM DAN PERGERAKAN KITA • ISLAM, PANCASILA, DAN MASA DEPAN INDONESIA • PEMBLOKIRAN SITUS ISLAM: KOREKSI POLITIS!

• MENGENALI NEKOLIM (BELAJAR DARI DE LANDRAAD) • KINI SAATNYA JADI ISLAMIS PALING DICARI • MARI BELAJAR MENGENAL POLITIK • MODERAT ATAU RADIKAL • TIGA ENTITAS POLITIK INDONESIA DISKUSI Nyala on SIAPA KAWAN, SIAPA LAWAN … Agus Efendi Wisangge… on SIAPA KAWAN, SIAPA LAWAN … Identitas Semu Anti-… on PANCASILA: SEBUAH PSEUDO-IDEOL… Ain El fuad on ISLAM, PANCASILA, DAN MASA DEP… iman on ANTARA 4 PILAR UMAT DAN 4 PILA… Nyala on ISLAM, PANCASILA, DAN MASA DEP… satrio on KEKALAHAN PARTAI ISLAM Nyala on KEKALAHAN PARTAI ISLAM Ria Citra Perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut on KEKALAHAN PARTAI ISLAM Nyala on TANYAKAN PADA REVOLUSI ISLAM I… HUJJAH • Comment on SIAPA KAWAN, SIAPA LAWAN ISLAMIS by Nyala Evolusi adalah perubahan yang sangat lambat.

Evolusi memerlukan waktu yang lama, di mana terdapat suatu rentetan perubahan-perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Pada evolusi, perubahan-perubahan terjadi dengan sendirinya, tanpa suatu rencana ataupun suatu kehendak tertentu. Perubahan-perubahan tersebut terjadi oleh karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan dan kondisi kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.

Rentetan perubahan perubahan tersebut, tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.

Revolusi adalah perubahan yang sangat cepat. Revolusi bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru. Di dalam prosesnya. revolusi seringkali disertai dengan kekerasan serta jumlah korban yang besar. Sejarah modern mencatat dan mengambil rujukan revolusi mula-mula pada Revolusi Perancis, kemudian Revolusi Amerika. Namun, Revolusi Amerika lebih merupakan sebuah pemberontakan untuk mendapatkan kemerdekaan nasional, ketimbang sebuah revolusi masyarakat yang bersifat domestik seperti pada Revolusi Perancis.

Begitu juga dengan revolusi pada kasus perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan contoh suatu revolusi yang “momentum”nya sangat tepat. Pada waktu itu, perasaan tidak puas di kalangan bangsa Indonesia telah mencapai puncaknya dan ada pemimpin pemimpin yang mampu menampung keinginan-keinginan masyarakat sekaligus merumuskan tujuannya.

Pada saat itu bertepatan dengan kekalahan Jepang melawan Sekutu. Perubahan ini berkaitan dengan perubahan pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Suatu perubahan dalam mode pakaian, misalnya, tak akan membawa pengaruh yang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan karena tidak mengakibatkan perubahan dalam lembagalembaga kemasyarakatannya.

Perubahan ini membawa pengaruh langsung atau menimbulkan pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Sebagai contoh, suatu proses industrialisasi pada masyarakat agraris, merupakan perubahan yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat.

Berbagai lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terpengaruh olehnya seperti dalam hal hubungan kerja, sistem kepemilikan tanah, hubungan-hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat, dan seterusnya. Perubahan yang dikehendaki sudah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat.

Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Agent of change memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial. Dalam melaksanakan hal itu agent of change langsung tersangkut dalam tekanan tekanan untuk mengadakan perubahan, bahkan mungkin menyebabkan perubahan perubahan pula pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya.

Suatu perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan, selalu berada di bawah pengendalian serta pengawasan agent of change tersebut. Cara-cara untuk mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan social engineering atau sering pula dinamakan social planning. Perubahan ini terjadi tanpa dikehendaki serta berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat. Seringkali terjadi perubahan yang dikehendaki bekerja sama dengan perubahan yang tidak dikehendaki dan kedua proses tersebut saling mempengaruhi.
Revolusi adalah perubahan yang bersifat radikal dengan menghancurkankan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru.

Pembahasan Setiap elemen dalam masyarakat pasti mengalami perubahan. Ada perubahan yang bersifat lambat dan ada juga yang cepat.

Selain itu, tidak semua perubahan menuju ke arah perbaikan. Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Jenis perubahan sosial Berdasarkan kecepatan perubahannya, perubahan sosial dapat dibedakan: • Evolusi = perubahan yang bersifat sangat lambat. Pada evolusi, perubahan terjadi dengan sendirinya, tanpa suatu rencana atau kehendak tertentu. Perubahan tersebut terjadi seiring dengan penyesuaian masyarakat dalam memenuhi keperluan dan kondisi baru. • Revolusi = perubahan yang bersifat sangat cepat. Revolusi bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru.

Di dalam proses perubahannya, revolusi seringkali disertai dengan kekerasan serta memakan sejumlah korban yang banyak. Suatu revolusi bisa terjadi jika syarat-syarat berikut terpenuhi: • Ada keinginan dari masyarakat untuk mengadakan suatu perubahan. Dengan kata lain, masyarakat harus memiliki perasaan tidak puas terhadap keadaan yang ada, dan ingin mencapai perbaikan atas keadaan tersebut.

• Ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mempunyai kemampuan untuk memimpin. • Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat, dan meramunya ke dalam program dan arah bagi geraknya masyarakat. • Pemimpin tersebut harus bisa menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat.

• Harus ada “momentum”, yaitu waktu yang tepat untuk memulai gerakan revolusi. Pelajari lebih lanjut Perubahan sosial lainnya: brainly.co.id/tugas/3813690 Dampak perubahan sosial: brainly.co.id/tugas/14695366 Detil jawaban Kelas: 9 SMP Mapel: IPS Bab: Perubahan Sosial Kode: 9.10.5 Kata kunci: revolusi, perubahan sosial Perubahan yang bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru adalah pengertian dari Revolusi.

Halo Squad!!! Balik lagi di Brainly. Sekarang kakak akan kembali menjawab pertanyaan dari adik-adik. Nah, untuk kali ini kita akan membahas tentang “Revolusi”. Okay, without further ado. Let’s get started!! Pembahasan Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi karena adanya perubahan kondisi, kebudayaan material, geografis, ideology, komposisi penduduk, atau adanya difusi yang menyebabkan timbulnya suatu variasi cara hidup yang baru dan diterima oleh masyarakat.

Menurut Mac Iver, perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam hubungan sosial ataupun perubahan yang terjadi terhadap keseimbangan hubungan sosial. Maka dari itu kita dapat mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi di dalam lembaga sosial masyarakat dan struktur sosial.

Perubahan sosial terjadi pada beberapa hal, seperti perubahan perilaku, teknologi, sistem sosial dan norma. Perubahan-perubahan yang terjadi memberi pengaruh terhadap individu di dalam masyarakat tertentu. Adapun bentuk-bentuk perubahan sosial dibedakan sebagai berikut : a. Berdasarkan Kecepatan Perubahan 1. Evolusi, perubahan yang sangat lambat. Evolusi memerlukan waktu yang sangat lama, yaitu terdapat barisan perubahan kecil dan saling mengikuti secara lambat.

2. Revolusi, perubahan yang bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru. Biasanya di dalam proses revolusi terjadi kekerasan dengan jumlah korban yang besar. Misalnya seperti Revolusi Prancis dan Revolusi Amerika. b. Berdasarkan Besar atau Kecil Pengaruh yang Ditimbulkan 1.

Perubahan yang kecil pengaruhnya, perubahan ini biasanya terddapat dalam unsur struktur sosial dan tidak memberikan pengaruh yang berarti untuk masyarakat. 2. Perubahan yang besar pengaruhnya, contohnya adalah proses industrilisasi terhadap masyarakat agraris. Hal tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat.

Bahkan lembaga kemasyarakatan pun ikut merasakan pengaruh ini, seperti sistem kepemilikan tanah, stratifikasi masyarakatdan sebagainya. c. Berdasarkan Ada atau Tidak Perencanaan Perubahan 1.

Perubahan yang direncanakan atau dikehendaki, perubahan ini sebelumnya sudah direncanakan oleh pihak-pihak yang menginginkan perubahan tersebut. Pihak yang menghendaki atau merencanakan perubahan disebut dengan Agent of Change. 2. Perubahan yang tidak dikehendaki atau direncanakan, perubahan ini terjadi tanpa dikehendaki dan berjalan di luar jangkauan dan pengawasan masyarakat, sehingga dapat menyebabkan akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat.

Pelajari Lebih Lanjut Okay Squad! Demikianlah jawaban dari kakak, Semoga bisa membantu, bermanfaat, and hope you guys like it!! Semangat belajarnya ya adik-adik.

Nah untuk menambah dan memperluas pengetahuan adik-adik tentang materi IPS lainnya, kalian bisa buka link di bawah ini : Baca tentang “macam perubahan sosial budaya dilihat dari waktunya” di brainly.co.id/tugas/18692631 Cek juga tentang soal ini “3 manfaat wilayah perairan bagi negara anggota ASEAN” di brainly.co.id/tugas/18231301 Baca juga mengenai “perubahan sosial budaya yang dipengaruhi oleh nilai bangsa asing” di brainly.co.id/tugas/18740113 Good Luck Squad!!

Jangan lupa jadikan jawaban terbaik!!! Detail Jawaban Kelas : 9 Pelajaran : IPS Kategori : Bab 5 – Perubahan Sosial Kode : 9.10.2005 Kata Kunci : Perubahan sosial, revolusi, evolusi. MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me 1.7.

Sebarkan ini: Kata radikalisme ditinjau dari segi terminologis berasal dari kata dasar radix yang artinya akar (pohon). Makna kata akar (pohon), dapat diperluas kembali sehingga memiliki arti pegangan yang kuat, keyakinan, pencipta perdamaian dan ketenteraman.

Kemudian kata tersebut dapat dikembangkan menjadi kata radikal, yang berarti lebih adjektif. Sehingga dapat dipahami secara kilat, bahwa orang yang berpikir radikal pasti memiliki pemahaman secara lebih detail dan mendalam, layaknya akar tadi, serta keteguhan dalam mempertahankan kepercayaannya.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Memang terkesan tidak umum, namun hal inilah yang menimbulkan kesan menyimpang di masyarakat. Setelah itu, penambahan sufiks –isme, memberikan makna tentang pandangan hidup (paradigma), sebuah faham, dan keyakinan atau ajaran. Penggunaannya juga sering disambungkan dengan suatu aliran atau kepercayaan tertentu. • Ketua umum Dewan Masjid Indonesia, Dr. dr. KH. Tarmidzi Taher Memberikan komentarnya tentang radikalisme bemakna positif, yang memiliki makna tajdid (pembaharuan) dan islah (peerbaikan), suatu spirit perubahan menuju kebaikan.

Hingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara para pemikir radikal sebagai seorang pendukung reformasi jangka panjang. Munculnya isu-isu politis mengenai radikalisme merupakan tantangan baru bagi kalangan masyarakat untuk menjawabnya.

Isu radikalisme ini sebenarnya sudah lama mencuat di permukaan wacana internasional. Munculnya radikalisme pertama kali diperkeisakan sekitar abad ke-19 dan terus berkembang sampai sekarang. Dalam tradisi barat sekuler hal ini ditandai dengan keberhasilan industrialisasi pada hal-hal positif di satu sisi tetapi negative disisi yang lain. • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

• Menurut Horace M Kallen Radikalisme memiliki kekayanyang kuat akan kebenaran ideologi atau program yang mereka bawa. Dalam gerakan sosial, kaum radikalis memperjuangkan keyakinan yang mereka anut.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Baca Juga : Pengertian Lembaga Sosial Menurut Para Ahli Faktor Penyebab Munculnya Radikalisme Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantara faktor-faktor itu adalah sebagai berikut. • Faktor Sosial-Politik Yaitu adanya pandangan yang salah atau salah kaprah mengenai suatu kelompok yang dianggap sebagai kelompok radikalisme.

Secara historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik.

Dalam hal ini kaum radikalisme memandang fakta historis bahwa kelompok tersebut tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga menimbulkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi.Dengan membawa bahasa dan simbol tertentu serta slogan-slogan agama, kaum radikalis mencoba menyentuh emosi keagamaan dan mengggalang kekuatan untuk mencapai tujuan “mulia” dari politiknya.

• Faktor Emosi Keagamaan Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu.

Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut) walaupun gerakan radikalisme selalu mengibarkan bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan mati syahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya interpretatif.

Jadi sifatnya nisbi dan subjektif. Baca Juga : Norma Kesusilaan – Pengertian, Sangksi, Sumber, Manfaat Dan Contohnya • Faktor Kultural Faktor ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asy’ari, bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai.

Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai anti tesa atau pertentangan terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggap sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bumi.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Sedangkan fakta sejarah memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban Barat sekarang inimerupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia. Negara Barat telah dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi seluruh sendi-sendi kehidupan Muslim sehingga umat Islam menjadi terbelakang dan tertindas.Negara Barat dengan sekularismenya, sudah dianggap sebagai bangsa yang mengotori budaya-budaya bangsa Timur dan Islam, juga dianggap bahaya terbesar bagi keberlangsungan moralitas Islam.

• Faktor Ideologis Anti Westernisme Westernisme merupakan suatu pemikiran yang membahayakan Muslim dalam mengaplikasikan syari’at Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus dihancurkan demi penegakan syarri’at Islam. Walaupun motivasi dan gerakan anti Barat tidak bisa disalahkan dengan alasan keyakinan keagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikalisme justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban.

• Faktor Kebijakan Pemerintah Ketidakmampuan pemerintah untuk bertindak memperbaiki situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagian orang atau kelompok yang disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari negera-negara besar. Dalam hal ini elit-elit pemerintah belum atau kurang dapat mencari akar yang menjadi penyebab perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut tindak kekerasan (radikalisme) sehingga tidak dapat mengatasi problematika sosial yang dihadapi umat.

Baca Juga : Norma Adalah Di samping itu, faktor media massa (pers) Barat yang selalu memojokkan umat Islam juga menjadi faktor munculnya reaksi dengan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Propaganda-propaganda lewat pers memang memiliki kekuatan dahsyat dan sangat sulit untuk ditangkis sehingga sebagian “ekstrim” yaitu perilaku radikal sebagai reaksi atas apa yang ditimpakan kepada komunitas Muslim. Selain itu, ada yang beranggapan bahwa radikalisme terutama radikalisme islam munculdisebabkan oleh faktor-faktor berikut ini.

• Faktor Internal Faktor internal yang dimaksud adalah adanya legitimasi teks keagamaan, dalam melakukan “perlawanan” itu sering kali menggunakan legitimasi teks (baik teks keagamaan maupun teks “cultural”) sebagai penopangnya.

Untuk kasus gerakan “ekstrimisme islam” yang merebak hampir di seluruh kawasan islam (termasuk indonesia) juga menggunakan teks-teks keislaman (Alquran, hadits dan classical sources– kitab kuning) sebagai basis legitimasi teologis, karena memang teks tersebut secara tekstual ada yang mendukung terhadap sikap-sikap eksklusivisme dan ekstrimisme ini. Seperti ayat-ayat yang menunjukkan perintah untuk berperang seperti; Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.

(Q.S. Attaubah: 29). Menurut gerakan radikalisme hal ini adalah sebagai pelopor bentuk tindak kekerasan dengan dalih menjalankan syari’at, bentuk memerangi kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan lain sebagainya. Tidak sebatas itu, kelompok fundamentalis dengan bentuk radikal juga sering kali menafsirkan teks-teks keislaman menurut “cita rasa” merka sendiri tanpa memperhatikan kontekstualisasi dan aspek aspek historisitas dari teks itu, akibatnya banyak fatwa yang bertentangan dengan hak-hak kemanusiaan yang Universal dan bertentangan dengan emansipatoris islam sebagai agama pembebas manusia dari belenggu hegemoni.

Teks-teks keislaman yang sering kali ditafsirkan secara bias itu adalah tentang perbudakan, status non muslim dan kedudukan perempuan. Faktor internal lainnya adalah dikarenakan gerakan ini mengalami frustasi yang mendalam karena belum mampu mewujudkan cita-cita berdirinya ”negara islam internasional” sehingga pelampiasannya dengan cara anarkis; mengebom fasilitas publik dan terorisme.

Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut).

Hal ini terjadi pada peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh negara Israel terhadap palestina, kejadian ini memicu adanya sikap radikal di kalangan umat islam terhadap Israel, yamni menginginkan agar negara Israel diisolasi agar tidak dapat beroperasi dalam hal ekspor impor. Baca Juga : Pengertian Mediasi Menurut Para Ahli • Faktor Eksternal Faktor eksternal yang dianggap sebagai latar belakang atau penyebab munculnya radikalisme adalah sebagai berikut.

• Pertama, faktor ekonomi-politik. Kekuasaan pemerintah yang menyeleweng dari nilai-nilai fundamental islam. Itu artinya, rezim di negara-negara islam gagal menjalankan nilai-nilai idealistik islam.

Rezim-rezim itu bukan menjadi pelayan rakyat, sebaliknya berkuasa dengan sewenang-wenang bahkan menyengsarakan rakyat. Penjajahan Barat yang serakah, menghancurkan serta sekuler justru datang belakangan, terutama setelah ide kapitalisme global dan neokapitalisme menjadi pemenang. Satu ideologi yang kemudian mencari daerah jajahan untuk dijadikan “pasar baru”.

Industrialisasi dan ekonomisasi pasar baru yang dijalankan dengan cara-cara berperang inilah yang sekarang mengejawantah hingga melanggengkan kehadiran fundamentalisme islam. Karena itu, fundamentalisme dalam islam bukan lahir karena romantisme tanah (seperti Yahudi), romantisme teks (seperti kaum bibliolatery), maupun melawan industrialisasi (seperti kristen Eropa). Selebihnya, ia hadir karena kesadaran akan pentingnya realisasi pesan-pesan idealistik islam yang tak dijalankan oleh para rejim-rejim penguasa dan baru berkelindan dengan faktor-faktor eksternal yaitu ketidakadilan global.

• Kedua, faktor budaya. Faktor ini menekankan pada budaya barat yang mendominasi kehidupan saat ini. Budaya sekularisme yang dianggap sebagai musuh besar yang harus dihilangkan dari bumi.

• Ketiga, faktor sosial-politik. Pemerintah yang kurang tegas dalam mengendalikan masalah teroris ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu faktor masih maraknya.

Fakta-Fakta Aksi Radikalisme dan Implikasinya dalam Masyarakat Berbicara tentang radikalisme, tidak mungkin menampik adanya aksi-aksi yang memang berasaskan kekerasan, pemankasaan, bahkan pembinasaan. Salah satunya adalah pemboman-pemboman yang dilakukan di Paris oleh kelompok-kelompok Islam Aljazair seperti pegawai islam bersenjata telah memperburuk ketegangan-ketegangan di Perancis dan menambah jumlah dukungan untuk mereka yang mempersoalkan apakah islam sesuai dengan budaya Perancis, entah itu budaya Yahudi-Kristen atau budaya sekuler, dan apabila muslim dapat menjadi warga negara Perancis yang sejati dan loyal.

Baca Juga : Pengertian Etika/Etiket Dan Etiket/Etika Di Dalam Bekomunikasi Beserta Contohnya Penasehat menteri dalam negeri tentang imigrasi mengingatkan, “Sekarang ini, memang benar-benar terdapat ancaman Islam di Perancis itu adalah bagian dari gelombang besar fundamentalisme muslim dunia.

Di tengah-tengah perdebatan Perancis terhadap suatu kecenderungan untuk melihat islam sebagai agama asing, menempatkannya sebagai agama yang bertolak belakang dengan tradisi Yahudi-Kristen. Sementara itu, banyak orang menekankan proses asimilasi yang menyisakan hanya sedikit ruang untuk pendekatan multikultural, sebagian yang lain berpendapat bahwa muslim harus diizinkan untuk mengembangkan identitas muslim Perancis yang khas yang mencampur antara nilai-nilai asli ke-Perancis-an, dengan akidah dan nilai-nilai islam.

Realita lain yang dikenal sebagai awal berkibarnya bendera perang terhadap terorisme oleh AS, yaitu peristiwa 11 September yang merontokkan Gedung WTC dan Pentagon merupakan tamparan berat buat AS. Maka, agar tidak kehilangan muka di dunia internasional, rezim ini segera melancarkan “aksi balasan” dengan menjadikan Afghanistan dan Irak sebagai sasarannya. Jika benar “benturan peradaban” antara Barat dan Islam terjadi tentu aksi koboi AS (dan Inggris) ke Afghanistan dan Irak disambut gembira oleh umat Kristiani.

Faktanya ribuan rakyat (entah Kristen atau bukan) di berbagai belahan dunia Barat justru menggalang solidaritas sosial untuk menentang aksi keji dan biadab ini. Begitu ketika WTC dan Pentagon diledakkan, ribuan umat islam turut mengutuknya.

Reaksi di beberapa negara Amerika Latin banyak yang tidak simpati terhadap peristiwa 11 September itu. Sebab, selama berpuluh-puluh tahun, rakyat di sana tidak pernah menikmati kemajuan sekalipun sumber daya alam mereka yang sudah habis dikuras. China juga bersikap kurang lebih sama dengan Amerika Latin ini. Pasalnya mereka justru menganggap adalah AS sendiri yang bersikap hostile karena surplus perdagangan bilateral memang berada di pihak China.

Akhirnya China, oleh AS, justru dianggap sebagai pesaing strategis ketimbang mitra strategis dalam ekonomi. Peran Idiologi Pancasila untuk Membentengi Diri dari Radikalisme Pancasila merupakan pegangan hidup Bangsa Indonesia yang kini mulai terkikis seiring pesatnya perkembangan Teknologi dan kuatnya arus Informasi di era globalisasi saat ini.

Pemerintah juga sekarang ini tengah sibuk terhadap masyarakat yang berpergian ke Syiria terkait ISIS. Padahal, jika nilai-nilai Pancasila ini diserap baik oleh bangsa Indonesia maka tidak perlu takut terhadap paham-paham Radikalisme seperti ISIS, sebab Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang bersifat fleksibel terhadap perkembangan zaman namun tetap memiliki ciri khas tersendiri.

Pancasila di era globalisasi merupakansebuah pegangan sekaligus pedoman hidup yang dapat menjadi jawaban atas tantangan baru yang dihadapi bangsa ini. Arus informasi yang semakin cepat sehingga paham-paham dunia barat sangat mudah diakses oleh masyarakat Indonesia.

Liberalisme yang dianut oleh dunia barat kini merambat ke tengah-tengah masyarakat Indonesia sebagai dampak negatif globalisasi. Baca Juga : Cara Proses Pengendalian Sosial Beserta Contohnya Lengkap Ideologi Pancasila sebenarnya dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, hanya saja nilai-nilai yang terkandung didalamnya tidak terjiwai oleh masyarakat Indonesia itu sendiri. Sehingga paham liberalis dan radikalis dapat dengan mudahnya menembus pemikiran bangsa ini. Banyak yang berpandangan bahwa Pancasila identik dengan Orde baru (Orba), maka setelah runtuhnya Orba nilai luhur Pancasila juga ikut runtuh.

Padahal pancasila sebagai ideologi bangsa ini sangatlah penting difahami dan dijiwai. Sebab nilai-nilai yang secara tersirat maupun tersurat memiliki tujuan yang mulia dan dapat membawa bangsa ini kedalam peradaban yang baik.

Ketika kita mampu menjiwai Pancasila, tidak perlu takut dengan paham radikal dan riberal yang meracuni pemikiran kita. Sebab pancasila telah merumuskan nilainya sendiri mengenai “MAU DIBAWA KEMANA BANGSA INI KEDEPANNYA”. Saat ini MPR tengah sibuk mensosialisasikan 4 Pilar Berkehidupan Berbangsa dan Bernegara yang mana terdiri dari Pancasila, UU 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

Ini memang harus ditanamkan sejak dini kepada anak cucu bangsa ini kedepannya. Dan ini bukan hanya menjadi tugas MPR, tetapi tugas kita bersama selaku warga negara yang baik dan menjujung tinggi ideologi Pancasila. • Membentengi Pemuda dari Radikalisme Tidak bisa dipungkiri bahwa pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Masa depan negeri ini bertumpu pada kualitas mereka.

Namun ironisnya, kini tidak sedikit para pemuda yang justru menjadi pelaku terorisme dan radikalisme. Serangkaian aksiterorisme dan radikalisme mulai dari bom Bali-1, bom Gereja Kepunton, bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton, hingga aksi penembakan Pos Polisi Singosaren di Solo dan bom di Beji sertaTambora, melibatkan para pemuda.

Sebut saja, Dani Dwi Permana, salah satu pelaku bom perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton, yang saat itu berusia 18 tahun dan baru lulus SMA.

Fakta di atas diperkuat oleh riset yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP). Dalam risetnya tentang radikalisme di kalangan siswa dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jabodetabek, pada Oktober 2010-Januari 2011, LaKIP menemukan perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut 48,9 persen siswa menyatakan bersedia terlibat dalam aksi kekerasan terkait dengan agama dan moral.

Bahkan yang mengejutkan, belasan siswa menyetujui aksi ekstrem bom bunuh diri tersebut. Rentannya para pemuda terhadap aksi kekerasan dan terorisme patut menjadi keprihatinan kita bersama. Banyak faktor yang menyebabkan para pemuda terseret ke dalam tindakan terorisme, mulai dari kemiskinan, kurangnya pendidikan agama yang damai, gencarnya infiltrasi kelompok radikal, lemahnya semangat kebangsaan, kurangnya pendidikan kewarganegaraan, kurangnya keteladanan, dan tergerusnya nilai kearifan lokal oleh arus modernitas negatif.

Apapun faktor yang melatari, adalah tugas kita bersama untuk membentengi mereka dari radikalisme dan terorisme. Untuk membentengi para pemuda dan masyarakat umum dari radikalisme dan terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menggunakan upaya pencegahan melalui kontra-radikalisasi (penangkalan ideologi).

Hal ini dilakukan dengan membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di daerah, Pelatihan anti radikal-terorisme bagi ormas, Training of Trainer ( ToT) bagi sivitas akademika perguruan tinggi, serta sosialiasi kontra radikal terorisme siswa SMA di empat provinsi. Di atas upaya-upaya tersebut, sejatinya ada beberapa hal yang patut dikedepankan dalam pencegahan terorisme di kalangan pemuda. Baca Juga : Penjelasan Macam-Macam Konflik Sosial Menurut Para Ahli • Pertama, memperkuat pendidikan kewarganegaraan ( civic education) dengan menanamkan pemahaman yang mendalam terhadap empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Melalui pendidikan kewarganegaraan, para pemuda didorong untuk menjunjung tinggi dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan kearifan lokal seperti toleransi antar- umat beragama, kebebasan yang bertanggungjawab, gotong royong, kejujuran, dan cinta tanah air sertakepedulian antar-warga masyarakat.

• Kedua, mengarahkan para pemuda pada beragam aktivitas yang berkualitas baik di bidang akademis, sosial, keagamaan, seni, budaya, maupun olahraga. Kegiatan-kegiatan positif ini akan memacu mereka menjadi pemuda yang berprestasi dan aktif berorganisasi di lingkungannya sehingga dapat mengantisipasi pemuda dari pengaruh ideologi radikal terorisme.

• Ketiga, memberikan pemahaman agama yang damai dan toleran, sehingga pemuda tidak mudah terjebak pada arus ajaran radikalisme. Dalam hal ini, peran guru agama di lingkungan sekolah dan para pemuka agama di masyarakat sangat penting.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Pesan-pesan damai dari ajaran agama perlu dikedepankan dalam pelajaran maupun ceramah-ceramah keagamaan. • Keempat, memberikan keteladanan kepada pemuda. Sebab, tanpa adanya keteladanan dari para penyelenggara negara, tokoh agama, serta tokoh masyarakat, maka upaya yang dilakukan akan sia-sia.

Para tokoh masyarakat harus dapat menjadi role model yang bisa diikuti dan diteladani oleh para pemuda.Berbagai upaya dan pemikiran di atas penting dan mendesak untuk dilakukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum terhadap para pelaku terorisme semata. Tetapi, kita patut bersyukur, upaya-upaya tersebut telah dan sedang dilakukan, baik pemerintah maupun masyarakat sipil seperi tokoh agama, akademisi, pemuda, organisasi masyarakat, serta media massa.

Perspektif Islam tentang Radikalisme Islam sama sekali tidak membolehkan radikalisme. Karena Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Islam berasal dari dari kata salam yang berarti selamat, aman, damai. Islam tidak memperkenankan kekerasan sebagai metode menyelesaikan masalah.

Islam menganjurkan agar kita mengajak kepada kebaikan dengan bijak (hikmah), nasihat yang baik (mau’izah hasanah) dan berdialog dengan santun (wajadilhum billati hiya ahsan). Radikalisme, apalagi terorisme, hanya akan membuat Islam jauh dari watak aslinya sebagai agama rahmat, dan bisa membuat kehilangan tujuannya yang hakiki.

perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut

Syari’at Islam diturunkan kepada manusia untuk menjaga irama fondasi kehidupan (maqosid asy-syari’ah) yaitu: pertama untuk melindungi keselamatan fisik atau jiwa manusia dari tindakan kekerasan di luar ketentuan hukum (hifz an-nafs).

Kedua melindungi keyakinan atas suatu agama (hifz ad-din). Ketiga menjaga kelangsungan hidup dengan melindungi keturunan atau keluarga (hifz an-nasl). Keempat, melindungi hak milik pribadi atau harta benda (hifz al-mal) dan kelma, melindungi kebebasan berfikir (hifz al-aql). Dengan demikian syari’at Islam pada dasarnya melindungi dan menghargai manusia sebagai individu yang bermartabat. Semua tindakan yang melawan kebebasan dan martabat manusia, bertentangan dengan syari’at.

Untuk mewujudkan itu semua, syari’at Islam selain berfungsi melindungi seluruh dimensi kemanusiaan, juga diturunkan untuk memudahkan manusia dalam menjalankan hidupnya, bukan membuat hidup jadi sulit. Islam melindungi hak hidup manusia, karena itu perbuatan melawan hak ini tidak diperkenankan. Ayat-ayat al-Qur‘an yang membincangkan tentang jihad kenyataannya juga tidak mengarahkan umat Islam untuk melakukan kekerasan sehingga memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk agama Islam.

Pun jika ada pemaknaan jihad dalam artian boleh melakukan perang, itu hanya sebatas “membela diri” karena mengalami penindasan yang dilakukan oleh musuh. Sayangnya pembicaraan mengenai jihad dan konsep-konsep yang dikemukakan sedikit ataupun banyak telah mengalami pergeseran paradigma dan perubahan sesuai dengan konteks dan lingkungan masing-masing pemikir.

Begitu pentingnya pembicaraan mengenai jihad dalam Islam, sehingga kaum Khawarij yang cenderung radikal (seperti sudah diuraikan) menetapkannya sebagai “rukun Islam” yang keenam. Banyak pengertian tentang jihad yang dikemukakan para ahli dengan berbagai penjelasan dan dasarnya termasuk pengertian jihad dalam pandangan Barat bahwa jihad fi sabilillah adalah perang suci (the holy war).

• Radikalisme Di dunia Islam Istilah “fundamentalisme” biasa dipakai oleh kalangan akademisi maupun media masa untuk merujuk pada gerakan-gerakan isalam politik yang berkonotasi negativ seperti: Radikal, ekstrem, dan militan “serta anti Barat atau Amerika”. Namun, tidak arang pula julukan “fundamentalisme” diberikan kepada semua orang islam yang menerima Qur’an dan Hadits sebagai alan hidup mereka. Dengan kata lain, “kebanyakan dari penegasan kembali agama dalam politik dan masyarakat tercakup dalam istilah “fundamentalisme” islam “.

Salah satu contohnya adalah Organisasi Al-ana’ah Al-Islamiyah di Mesir. Organisasi ini abanyak diminati dan digerakioleh para pemuda Mesir lahir pada awal 1970-an. Organisasi yang merupakan gerakan Islam konservatif (sayap mahasiswa dari Ikhwan Al-Muslimin) ini awalnya ditunukan untuk membangun kembali kekuatan-kekuatan religius konservatif lewat kampus-kampus, pemuda-pemuda dimasid-masid dan kelompok pemuda lainya.

Ketika pemerintah Sadat mulai mengurangi peran pemerintah dan memeberi kesempatan luas pada peran swasta di Mesirbanyak bermunculan organisasi-organisasi Islam, organisasi ini didirikan di kota-kota besar di Kairo, Ikandariyah, Port Said dan Suez yangberlokasi di Mesir Bawah serta Asyut,Al-Fayyum dan Al-Minya di Mesir bawah.

Hal ini pada giliranya uga telah mendorong organisasi-organisasi islam seperti Alama’ah, al-islamiyah, kegiatan-kegiatanya yang tak terbatas di sekitar kampus ataupun masid, tetapi mencakup kegiatan-kegiatan sosial ekonomi seperti penyediaaan layanan dalam distribusi pangan dan sandang.

Al-ama’ah al-islamiyah ini sebenarnya tidak memiliki kepemimpinan tunggal, karenanya gerakan-gerakan islam memakai bendeanya menajdikan bermacam-macam. Omar Abdel Rahman ia adalah tokoh kharismatis (setidaknya bagi kelompok Al-ama’ah) yang lewat bukunya berjudul Mitsaq Al-amil al-islami, mengemukakan gagasan-gagasan islam radikal yang berupaya untuk menumbangkan negara sekular dan mendirikan negara Islam. Semakin meluasnya pengaruh Syaikh Omar itu membuat pemerintah mengambil sikap tegas dengan menekan dan menutup kegitan-kegiatan apa saa yang diyakini berada dibawah bendera Al-ama’ah Al-islamiyah.

Kelompok Fundamentalis islam yang dalam hal ini di Representasikanoleh organisasi Al-islamiyah adalah yang paling rentan terhadap tuduhan-tuduhan itu karena mereka sering memperlihatkan sikap “tidak mempunyai pemerintah” meskipun belum pasti bahwa aksi itu dilakukan oleh Al-ama’ah Al-islamiyah ini. Dalam upaya menekan kelompok radikal islam pemerintagh Mesir telah membuat satu undang-undang baru tentang terorisme(1992).

Dengan undang-undang itu pemerintah telah menjaring dan menahan pemimpin-pemimpin Al-ama’ah Al-islamiyah yang diyakini menadi kekuatan simbolik organisasi ini.para pemuda maupun mahasiswabak dikampus-kampus maupun di masjid-masjid independen yang jumlahnya ribuan dan tersebar hingga ke plosok-plosok telah menadi kekuatan grass root yang sulit untuk ‘dibasmi’.

Sebailknya, pemerintah uga sulit untuk ditumbangkan oleh Al-jama’ah karena ia didukung penuh oleh militer dan kelompok kelas menengah serta cendekiawan. • Delegitimasi Islam Politik dan Radikalisme Pengertian islam politik radikalisme mnurut Barat berarti gerakan tindakan berbasis politik massa melainkan gerakan individu atau komunitas revolusioner- anarkis yang menggunakan instrumen kekerasan secara acak.

Hal ini berarti bahwa islam radikalisme akan selalu menantang norma-norma dan struktur-strukturyang telah mengalami pengorganisasian secara mendasar. Kalangan barat berasumsi bahwa islam politik radikalis melakukan kegiatan “pembebasan” dengan menentang perspektif anarkis yang mendukung tertib peradaban barat (falk 1980:37-39). Pleh karena itu, gerakan politik islam radikal bahkan mendapat sebutan barat sebagai gerakan teroris, dalam pengertian kelompok powerles melawan barat yang memiliki kekuatan besar.

Gerakan politik islam radikal memperjuangkan identitas islam dengan memanipulasi doktrin dan strategi bagi pengutan militasi dan ekstremitasnya. Gerakan politik islam Radikal di Afrika Utara sebagaimana penuturan Tareq al-Bishri menggambarkan perorganisasian masyarakat melalui Islamisasi. Gerakan politik islam radikal diwilayah initerutama maroko (maghrib), merupakan gerakan kemerdekaan yang memperuangkan kebebasan tidak hanya dari dominasi barat tetapi juga kekuasaan elit sekuler.nasionalisme bagi gerakan ini berarti nasionalisme islam dan bukan nasionalisme Arab karena etnisitas arab telah menyatukedalam islam.

Delegimitasi Islampolitik oleh Barat elas bermaksud melumpuhkan baik dinamika gerakan-gerakan nasionalis dan anti imperialis maupun politik identitas yang berbasis aaran islam total melalui ekspansi nilai-nilai demokrasi. Mereka menolak peran sentral Imam Islami dalam politik. Bagi mereka rasionalitas politik bisa membimbing pembentukan konsesus tentang formulasi kepentingan bersama.perbedaan iman dalam politik dipandang sebagai sumber pembantaian tanpa henti didalam masyarakat.

Tetapi, dibalik semua agumen itu mungkin tersimpan kecemasan mendalam berupa destabilisasi hegemoni Barat. Solusi Masalah Radikalisme dan Terorisme • Meminimalisir Kesenjangan Sosial Kesenjangan sosial yang terjadi juga dapat memicu munculnya pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme.Sedemikian sehingga agar kedua hal tersebut tidak terjadi, maka kesenjangan sosial haruslah diminimalisir.Apabila tingkat pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme tidak ingin terjadi pada suatu Negara termasuk Indonesia, maka kesenjangan antara pemerintah dan rakyat haruslah diminimalisir.

Caranya ialah pemerintah harus mampu merangkul pihak media yang menjadi perantaranya dengan rakyat sekaligus melakukan aksi nyata secara langsung kepada rakyat.

Begitu pula dengan rakyat, mereka harusnya juga selalu memberikan dukungan dan kepercayaan kepada pihak pemerintah bahwa pemerintah akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebagai pengayom rakyat dan pemegang kendali pemerintahan Negara.

• Memahamkan Ilmu Pengetahuan Dengan Baik Dan Benar Hal kedua yang dapat dilakukan untuk mencegah pemahaman radikalisme dan tindak terorisme ialah memahamkan ilmu pengetahuan dengan baik dan benar.

Setelah memperkenalkan ilmu pengetahuan dilakukan dengan baik dan benar, langkah berikutnya ialah tentang bagaimana cara untuk memahamkan ilmu pengetahuan tersebut. Karena tentunya tidak hanya sebatas mengenal, pemahaman terhadap yang dikenal juga diperlukan.

Sedemikian sehingga apabila pemahaman akan ilmu pengetahuan, baik ilmu umum dan ilmu agama sudah tercapai, maka kekokohan pemikiran yang dimiliki akan semakin kuat. Dengan demikian, maka tidak akan mudah goyah dan terpengaruh terhadap pemahaman radikalisme sekaligus tindakan terorisme dan tidak menjadi penyebab lunturnya bhinneka tunggal ika sebagai semboyan Indonesia.

• Mengatasi radikalisme dan terorisme di lingkungan kampus Instrumen pertama menurut Profesor Firmanzah, Rektor Universitas Paramadina, adalah dengan instrumen instruksi.Maksudnya adalah ada struktur komando dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kepada rektor di perguruan tinggi yang dilanjutkan kepada dosen terkait pencegahan gerakan radikal.Namun, instrumen ini tidak bersifat otoriter, melainkan mengedepankan dialog.

Instrumen kedua adalah pemilihan dan pembenahan kurikulum di kampus. Antara lain, kewarganegaraanm pancasila, serta bela negara. Instrumen ketiga adalah perlu diadakannya kegiatan-kegiatan di luar kelas yang bisa memperkuat persatuan dan kesatuan.Kegiatan ini bersifat lintas universitas dan didukung pula oleh pemerintah.Terakhir yaitu perlu adanya strategi budaya.Dengan memiliki modal besar berupa kearifan lokal, Indonesia mampu menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan.

• Menyaring informasi yang didapatkan Menyaring informasi yang didapatkan juga merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme. Hal ini dikarenakan informasi yang didapatkan tidak selamanya benar dan harus diikuti, terlebih dengan adanya kemajuan teknologi seperti sekarang ini, di mana informasi bisa datang dari mana saja.

Sehingga penyaringan terhadap informasi tersebut harus dilakukan agar tidakmenimbulkan kesalahpahaman, di mana informasi yang benar menjadi tidak benar dan informasi yang tidak benar menjadi benar.Oleh karena itu, kita harus bisa menyaring informasi yang didapat sehingga tidak sembarangan membenarkan, menyalahkan, dan terpengaruh untuk langsung mengikuti informasi tersebut.

• Mendukung gerakan BNPT lewat perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut kontra radikalisasi dan deradikalisasi Kontra radikalisasi yakni upaya penanaman nilai-nilai ke-Indonesiaan serta nilai non-kekerasan melalui pendidikan formal ataupun informal.Deradikalisasi ditujukan untuk simpatisan, inti, militan, dan pendukung gerakan teror baik di dalam atau di luar lapas.

Hal ini dilakukan agar mereka meninggalkan cara-cara kekerasan dan teror yang merugikan orang lain, serta menghilangkan paham radikal supaya sejalan dengan paham ideologi pancasila.

Demikian penjelasan artikel diatas tentang Pengertian Radikalisme – Ciri, Penyebab, Solusi, Contoh, Dampak semoga bisa bermanfaat bagi pembaca setia kami. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Sosiologi, Umum Ditag artikel mengenai radikalisme agama, buku radikalisme pdf, cara mengatasi radikalisme, cara mengatasi radikalisme di kampus, ciri ciri radikalisme, contoh gerakan radikalisme di indonesia, contoh radikalisme, contoh radikalisme di kampus, dampak radikalisme, faktor penyebab muncul radikalisme, intoleran adalah, islam dan radikalisme dalam al qur an, kenapa bisa mengikuti aliran radikal, kumpulan pertanyaan tentang paham radikalisme, pengertian fanatik agama berlebihan, pengertian intoleran, pengertian radikal dan radikalisme, pengertian radikalisme, pengertian radikalisme brainly, pengertian radikalisme dan terorisme, pengertian radikalisme kbbi, pengertian radikalisme menurut para ahli, pengertian radikalisme pdf, pengertian terorisme, penyebab radikalisme, pertanyaan tentang radikalisme, power point tentang radikalisme, radikalisme agama pdf, radikalisme dalam islam pdf, radikalisme di indonesia, radikalisme di kampus, radikalisme islam, radikalisme kbbi, radikalisme pdf, radikalisme sebagai ancaman nkri, sejarah radikalisme, siapakah yang memulai penulisan sejarah, terorisme adalah, tirto id radikalisme, upaya pemerintah mengatasi radikalisme Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com
Revolusi Revolusi adalah perubahan yang sangat cepat, radikal, dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru, dan seringkali disertai dengan kekerasan serta jumlah korban yang besar.

Dalam pengertian umum, revolusi mencakup jenis perubahan apapun yang memenuhi syarat-syarat tersebut. Misalnya Revolusi Industri yang mengubah wajah dunia menjadi modern. Dalam definisi yang lebih sempit, revolusi umumnya dipahami sebagai perubahan politik.

Sejarah modern mencatat dan mengambil rujukan revolusi mula-mula pada Revolusi Perancis, kemudian Revolusi Amerika. Namun, Revolusi Amerika lebih merupakan sebuah pemberontakan untuk mendapatkan kemerdekaan nasional, ketimbang sebuah revolusi masyarakat yang bersifat domestik seperti pada Revolusi Perancis.

Begitu juga dengan revolusi pada kasus perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia. Maka konsep revolusi kemudian sering dipilah menjadi dua: revolusi sosial dan revolusi nasional. Pada abad 20, terjadi sebuah perubahan bersifat revolusi sosial yang kemudian dikenal dengan Revolusi Rusia. Banyak pihak yang membedakan karakter Revolusi Rusia ini dengan Revolusi Perancis, karena karakter kerakyatannya.

Sementara Revolusi Perancis kerap disebut sebagai revolusi borjuis, sedangkan Revolusi Rusia disebut Revolusi Bolshevik, Proletar, atau Komunis. Model Revolusi Bolshevik kemudian ditiru dalam Revolusi Komunis Cina pada 1949 Karakter kekerasan pada ciri revolusi dipahami sebagai sebagai akibat dari situasi ketika perubahan tata nilai dan norma yang mendadak telah menimbulkan kekosongan nilai dan norma yang dianut masyarakat.

Pemimpin Revolusi umumnya mensyaratkan hadirnya seorang pemimpin kharismatik, berperannya sebuah partai pelopor (avant garde), adanya sebuah elemen ideologi.

Dalam Revolusi Rusia, misalnya, Lenin dan tokoh puncak Partai Komunis mampu menjadi pemimpin yang kharismatik. Revolusi lain yang mengedepankan seorang tokoh, misalnya Fidel Castro di Kuba, Che Guevara di Amerika Selatan, Mao Tse-Tung di Cina, Ho Chi Minh di Vietnam, Ayatullah Khomeini di Iran, Cory Aquino di Filipina ketika Revolusi Edsa, dll.

• Recent • Apa sih multimedia itu ? • Kinerja Seseorang berdasarkan Zodiak nya • Tips sukses dalam wawancara kerja • Tips negosiasi gaji • Perubahan pandangan dalam berkarir • cara menulis lamaran pekerjaan lewat email • Keterampilan yang paling dicari dalam melamar pekerjaan • Kiat lolos tes wawancara kerja • Wawancara kerja dengan jual pesona • Ayat – ayat Al Qur’an tentang Taubat • Pelayanan Publik dan konsep tentang Kepuasan Pelanggan • konsep dasar dalam memuaskan pelanggan “pelayanan publik” • Tautan • Universitas Gajah Mada • UMM Malang • Google Mail • Media • Yahoo • Ensiklopedia • My Friendster • Bingung Mau Beli Hand Phone?

• Stress? • Harga Barang Elektronik • Librarian site • Liat Score Bola • Lagi bingung Cari Kerja? • cari Lyric lagu barat oldiest • Klub Mentari • Kelompok Peternak Sapi Perah Boyolali • Jejaring sosial • calendar Cari untuk: • Arsip • Februari 2009 • April 2007 • Maret 2007 • Januari 2007 • Desember 2006 • November 2006 • Oktober 2006 • September 2006 • Komentar Terbaru Pegawai Virgo… pada Kinerja Seseorang berdasarkan… Pegawai Virgo pada Kinerja Seseorang berdasarkan… Steven Toh pada Fyodor Mikhailovich Dostoyevsk… Ashleigh Titch pada Ibnu Sina Owen Kofman pada GEORGE MICHAEL – Careles… • Kategori • 1 • Arti kata • Articles of Interest • Artikel Bebas • Edukasi • Filosofi • Iptek • Kesehatan • Lirik dan Lagu • penemu • Politik • Profiles • Realitas • Religion • Sejarah • Tips and Tricks • Tokoh dan Biography • My Photos Lebih Banyak Foto • Tempo News • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok.

Coba lagi nanti. • Berita Olah Raga Dunia • Chelsea menang 3-0 atas Arsenal perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut Liverpool kandaskan Everton • Davydenko juara akhir tahun ATP • ManUnited kandaskan Portsmouth • Tiger Woods diperiksa polisi • Andy Murray tersingkir di London • Grant jadi manajer Portsmouth • ManUnited ditaklukkan Besiktas • Liverpool tersingkir • Pengaturan skor di Eropa • News From BBC • Kasus Bibit-Chandra dihentikan • Fiji harus pulihkan demokrasi • Ito gantikan Susno Duadji • Bank Dubai diberi dana baru • Iran bangun 10 reaktor nuklir • Swiss larang minaret masjid • Osama perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut hampir tertangkap • Parlemen Iran jauhi IAEA • Rusia: kecelakaan 'karena bom' • Karzai harus capai target • Foto – Foto Public Issue • Foto Cotto v Pacquiao • Makanan gratis di Pakistan • Button meraih mimpinya • Gempa di mata Rony Zakaria • Lihat foto gempa Sumbar • Masalah paska banjir Filipina • Berita foto: Hari ke 13 AS Terbuka • Foto: dampak gempa di Jawa • Kampanye di Afganistan selesai • Kehancuran di Kaohsiung • Yunianto Tri Atmojo Lima kelemahan yang menggagalkan kejayaan mu: ketakutan, ketidak tahuan, ketidak percaya diri an, hilangnya kesempatan, permusuhanmu dengan manusia yang lain.

Ada lima untuk mencapai kejayaan mu: keberanian, pengetahuan, percaya diri, kesempatan yang datang, pertemanan antara manusia yang lain. • Yunianto tri Atmojo
Dibawah ini akan diulas secara ringkas mengenai artikel perubahan sosial, bentuk bentuk perubahan sosial, perubahan sosial budaya pada masyarakat, bentuk bentuk perubahan sosial perubahan bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru disebut, bentuk perubahan sosial budaya, bentuk bentuk perubahan sosial beserta contohnya dan juga pola perubahan sosial budaya.

• Harus ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan. Masyarakat harus memiliki perasaan tidak puas terhadap keadaan yang ada, dan tumbuh keinginan untuk meraih perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.

• Harus ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut. • Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat, kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas itu untuk dijadikan program dan arah bagi geraknya masyarakat.

• Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat, artinya tujuan tersebut sifatnya konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Di samping itu, diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak, misalnya, perumusan sesuatu ideologi tertentu.

• Harus ada “momentum” untuk melaksanakan revolusi, yaitu waktu yang tepat untuk memulai gerakan revolusi.

Apabila “momentum” yang dipilih keliru, maka revolusi dapat gagal. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan contoh suatu revolusi yang “momentum”nya sangat tepat.

• Pola drastis, terjadi hanya sekali, misalnya revolusi, kemerdekaan, dan reformasi. • Pola bergelombang, yaitu perubahan yang selalu timbul tetapi segera terjadi keseimbangan kembali, seperti perubahan gerak konjungtur dalam proses ekonomi, perubahan sistem politik, perubahan di bidang mode. • Pola perubahan kumulatif, merupakan gangguan keseimbangan berkali-kali yang menghasilkan perubahan baru, baik membawa kemajuan maupun membawa kemunduran.

• Adsense (1) • Akuntansi (9) • Antropologi (91) • Artikel Lepas (9) • Bahasa Indonesia (1) • Bahasa Inggris (6) • Biografi (6) • Biologi (179) • CPNS 2019 (13) • Ekonomi (115) • Fiqh (14) • Fisika (49) • Geografi (147) • Hikmah (2) • Ilmu Hukum dan Politik (58) • Info Pendidikan (14) • Kamus (1) • Kesehatan (5) • Kewarganegaraan (2) • Kimia (54) • Kisah (12) • Lampung (2) • Makalah (5) • Model Pembelajaran (3) • Nasehat (19) • Pemilu (3) • Psikologi Terapan (1) • Puisi (1) • Sejarah (217) • Seni Budaya (4) • Sosiologi (96) • Tanya Jawab (2) • Tata Negara (64) • Tausiyah (5) • Teknologi Informasi (2) • Trending Topics (3) • Video (1)Perubahan yang bersifat progres adalah perubahan yang Membawa Keuntungan (B).

Halo Squad!!! Balik lagi di Brainly. Sekarang kakak akan kembali menjawab pertanyaan dari adik-adik. Nah, untuk kali ini kita akan membahas tentang “Perubahan Sosial”. Okay, without further ado. Let’s get started!! Pembahasan Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi karena adanya perubahan kondisi, kebudayaan material, geografis, ideology, komposisi penduduk, atau adanya difusi yang menyebabkan timbulnya suatu variasi cara hidup yang baru dan diterima oleh masyarakat.

Menurut Mac Iver, perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam hubungan sosial ataupun perubahan yang terjadi terhadap keseimbangan hubungan sosial. Maka dari itu kita dapat mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi di dalam lembaga sosial masyarakat dan struktur sosial. Perubahan sosial terjadi pada beberapa hal, seperti perubahan perilaku, teknologi, sistem sosial dan norma. Perubahan-perubahan yang terjadi memberi pengaruh terhadap individu di dalam masyarakat tertentu.

Adapun bentuk-bentuk perubahan sosial dibedakan sebagai berikut : a. Berdasarkan Kecepatan Perubahan 1. Evolusi, perubahan yang sangat lambat. Evolusi memerlukan waktu yang sangat lama, yaitu terdapat barisan perubahan kecil dan saling mengikuti secara lambat. 2. Revolusi, perubahan yang bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru.

Biasanya di dalam proses revolusi terjadi kekerasan dengan jumlah korban yang besar. Misalnya seperti Revolusi Prancis dan Revolusi Amerika. b. Berdasarkan Besar atau Kecil Pengaruh yang Ditimbulkan 1. Perubahan yang kecil pengaruhnya, perubahan ini biasanya terddapat dalam unsur struktur sosial dan tidak memberikan pengaruh yang berarti untuk masyarakat. 2. Perubahan yang besar pengaruhnya, contohnya adalah proses industrilisasi terhadap masyarakat agraris.

Hal tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat. Bahkan lembaga kemasyarakatan pun ikut merasakan pengaruh ini, seperti sistem kepemilikan tanah, stratifikasi masyarakatdan sebagainya.

c. Berdasarkan Ada atau Tidak Perencanaan Perubahan 1. Perubahan yang direncanakan atau dikehendaki, perubahan ini sebelumnya sudah direncanakan oleh pihak-pihak yang menginginkan perubahan tersebut.

Pihak yang menghendaki atau merencanakan perubahan disebut dengan Agent of Change. 2. Perubahan yang tidak dikehendaki atau direncanakan, perubahan ini terjadi tanpa dikehendaki dan berjalan di luar jangkauan dan pengawasan masyarakat, sehingga dapat menyebabkan akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat. Sedangkan perubahan secara umum yang tejadi di dalam masyarakat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1.

Progres, merupakan perubahan sosial yang menggiring atau membawa ke arah kemajuan yang dapat menguntungkan kehidupan masyarakat sosial. Perubahan progres dibagi menjadi dua, yaitu Unplanned Progres (tidak direncanakan) dan Planned Progres (direncanakan).

2. Regres, merupakan perubahan sosial yang menggiring atau membawa kea rah kemunduran yang kurang menguntungkan bagi masyarakat.

Pelajari Lebih Lanjut Okay Squad! Demikianlah jawaban dari kakak, Semoga bisa membantu, bermanfaat, and hope you guys like it!! Semangat belajarnya ya adik-adik. Nah untuk menambah dan memperluas pengetahuan adik-adik tentang materi IPS lainnya, kalian bisa buka link di bawah ini : Baca tentang “barang-barang yang tidak boleh diekspor Indonesia” di brainly.co.id/tugas/10248616 Cek juga tentang soal ini “globalisasi bidang komunikasi” di brainly.co.id/tugas/18533970 Baca juga mengenai “hambatan dalam pengembangan investasi dalam negeri Indonesia” di brainly.co.id/tugas/18740639 Good Luck Squad!!

Jangan lupa jadikan jawaban terbaik!!! Detail Jawaban Kelas : 9 Pelajaran : IPS Kategori : Bab 5 – Perubahan Sosial Kode : 9.10.2005 Kata Kunci : Perubahan sosial, progres, regres.

Perspektif PKAD - Tuntutan Proses Hukum Dan Copot Budi Santosa Purwokartiko




2022 www.videocon.com