Berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Dalam proses penciptaan sebuah karya seni, seorang seniman pada umumnya melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah pencarian, dimana si seniman berusaha menemukan gagasan atau ide. Tahapan ini bisa juga disebut sebagai tahapan mencari inspirasi. Pada tahapan awal ini, tak jarang inspirasi atau ilham didapatkan dengan tidak sengaja oleh karena suatu kejadian atau peristiwa yang tak disangka-sangka. Banyak usaha yang dilakukan dalam memperoleh ide atau gagasan. Mulai dari hal-hal sederhana yang seringkali luput dari pengamatan orang awam, bisa menjadi sumber inspirasi bagi seorang seniman.

Beberapa sumber inspirasi yang seringkali digunakan oleh seniman dalam proses perwujudan karya seni diantaranya : • Lingkungan alam, termasuk juga kehidupan flora dan fauna. Banyak karya seni rupa yang mengambil ide dasar atau menggunakan tema alam, seperti lukisan, patung atau berbagai ornamen yang bernuansa binatang dan tumbuhan. • Lingkungan buatan yang merupakan hasil rekayasa manusia seperti misalnya obyek bangunan gedung, pemandangan kota, pemukiman penduduk serta obyek-obyek lain buatan manusia.

Di sini perkembangan teknologi sangat banyak berpengaruh dalam memberi inspirasi bagi seniman. • Kondisi sosial kemasyarakatan, yang berupa kejadian sehari-hari yang dialami oleh masyarakat, seperti kegiatan bidang politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

• Alam mimpi atau fantasi, yaitu alam khayalan atau imajinasi yang muncul dari seniman itu sendiri. Contohnya adalah karya seni surealis atau abstrak yang banyak terinspirasi oleh alam fantasi atau alam bawah sadar.

Sumber inspirasi tersebut tidaklah mutlak, karena dalam perkembangannya ada banyak sumber lain yang dapat menginspirasi manusia untuk melahirkan sebuah karya seni. Tahapan kedua yaitu tahap penyempurnaan atau pengembangan ide dan gagasan sang seniman. Pada tahapan ini, ide dan gagasan yang muncul mulai diwujudkan dalam bentuk yang lebih konkret. Nah, dalam Kinetic Art, gerakan ( movement) menjadi konsep utama pengembangan ide yang berujung pada sebuah karya seni.

Pengembangan ide bisa dilakukan dengan pendalaman obyek melalui beragam pendekatan, seperti studi pustaka, atau bisa juga dengan melakukan observasi dan pengamatan. Dan tahap ketiga adalah tahapan visualisasi ke dalam sebuah medium secara nyata. Di tahapan ini gagasan yang sudah matang dituangkan ke dalam bidang garap sesuai dengan medium dan teknik yang dipilih seniman.

Penuangan gagasan ke dalam sebuah karya seni tidak selalu sesuai dengan pendalamannya, karena terkadang dalam proses visualisasi muncul beragam ide atau gagasan baru, sehingga bisa jadi hasil akhirnya akan jauh berbeda dari sketsa atau model awalnya.

Hasil dari tahapan yang ketiga inilah yang merupakan akhir dari proses penciptaan karya seni. kinetic art Hasil karya kerajinan tangan atau handicraft kini makin mendapatkan banyak perhatian.

Ada dua nilai yang dimiliki karya handicraft tersebut, yaitu nilai estetis sebuah karya seni dan nilai fungsional barang untuk kegunaan tertentu.

Misalnya saja sebuah patung, selain mengandung nilai seni patung juga berfungsi untuk menghias ruangan atau kegunaan lainnya. Karena itulah perlu adanya sarana yang menjadi wadah bagi ekspresi seni sang pembuat karya handicraft tersebut. Dan sesuai dengan fungsinya maka ada dua wadah ekspresi untuk karya seni handicraft yang bisa dimanfaatkan. Yang pertama, yaitu galeri seni. Melalui galeri seni, orang bisa menikmati beragam barang kerajinan dalam bingkai estetika sebuah karya bernilai seni.

Sebagai contoh adalah di Edwinsgallery Kinetic Art, yang memamerkan beragam karya seni unik. Di sini, orang bisa menikmati keindahan karya-karya seni tanpa harus memikirkan untuk membelinya, meskipun diperkenankan.

Tentunya tidak ada patokan harga pada sebuah karya seni, sehingga jangan harap Anda dapat melihat bandrol harga pada setiap produknya. Yang kedua, di galeri toko online. Dalam setiap karya handicraft terdapat nilai ekonomis yang bila digali sangatlah potensial. Sebagai contoh adalah online shop spesialis handicraft Indonesia Budidansiti. Pajangan karya-karya indah di dalamnya juga bisa dinikmati melalui jalur transaksi jual beli.

Inilah salah satu bisnis yang memanfaatkan kreativitas untuk menciptakan karya handicraft unik khas Indonesia. handicraft kineticart Pada tahun 1990, sebuah spesies baru lahir di negeri Kincir Angin, Belanda. Uniknya, spesies ini bukanlah hasil dari perkawinan silang, tetapi lahir dari seniman yang memiliki daya imajinasi tinggi dan ilmu pengetahuan yang luar biasa bernama Theo Jansen.

Spesies ini merupakan prototipe dari hewan pantai yang direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi terlihat mirip seperti aslinya. Untuk menciptakan karyanya ini, Jansen menggunakan berbagai media (pipa PVC, tabung plastic, botol plastik, dll.), kemudian dibentuk menjadi karya seni kinetik yang menakjubkan.

Theo Jansen menyebut kinetic sculpture tersebut dengan nama ‘Animari’. Sebuah 'makhluk baru’ sejenis strandbeest yang hanya bisa bergerak bila terdorong oleh angin. Sistem kinetic sculpture ini dikembangkan dari pergerakan pada satu titik yang diakibatkan oleh tiupan angin dan diteruskan kepada seluruh bagian tubuh lain sehingga bisa bergerak.

Pergerakan yang bermula dari satu berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu sentral ini memicu pergerakan ke bagian lainnya, sehingga Animari bisa bergerak dengan sempurna. Secara simpelnya, bisa Anda bayangkan ketika salah satu tungkai simetris dihubungkan langsung dengan sendi yang bisa memicu pergerakan, ketika tungkai tersebut tertiup angin, secara otomatis pergerakan tersebut menjalar ke bagian sendi sehingga bisa menggerakkan seluruh bagian tubuh Animari.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Jika dilihat, pergerakan prototipe hewan pantai ini layaknya makhluk sungguhan. Tungkai yang Jansen buat memang tidak sama panjang, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk saat ini, kompleksitas Animari sudah mencapai kepada tingkat yang luar biasa. Animari sudah memiliki sistem penyimpanan energi (efisiensi energi yang diambil dari angin) dan kemampuan pertahanan diri dari hembusan angin yang terlalu kencang.

Sehingga, Animari tidak akan terhempas dan merusak seluruh bagian tubuhnya. Karena media yang digunakan sangat ringan dan Jansen sudah memperkirakan desainnya, membuat Animari bisa bergerak lebih lama berapa pun kecepatan anginnya.

Meski begitu, Animari hanya bisa digerakkan di kawasan yang lapang dan memiliki ruang pergerakan angin yang cukup besar. Bagi kalangan ilmuwan, karya seni kinetik dari Theo Jansen ini merupakan sebuah inovasi baru yang diharapkan bisa memberikan inspirasi lebih untuk perkembangan seni dan ilmu fisika ke depannya. Hingga saat ini pun, Animari masih diteliti untuk meminimalisasi lagi kekurangannya, terutama pada bagian lingkup ruang pergerakan dan ruang anginnya.

Tertarik menciptakan inovasi baru yang meleburkan kinetic art dengan cabang ilmu lainnya? Semoga artikel ini dapat menginspirasi Anda ya.

seni kinetik kinetic art Sebuah lukisan berwarna matahari tenggelam karya Mark Rothko berjudul “Orange, Red, Yellow” menjadi salah satu karya seni kontemporer termahal. Lukisannya mencapai nilai US$ 86,9 juta di sebuah lelang di Christie’s New York. Karya lukisan Rothko sebelumnya juga berhasil memecahkan rekor di balai lelang.

Lukisan sebelumnya mencapai nilai USS 72,84 juta. Lukisan “Orange, Red, Yellow” juga berhasil memecahkan rekor karya seni kontemporer kinetic art edwins gallery lainnya yang pernah di lelang. Selain karya Rotkho, banyak juga seniman-seniman lain yang mencapai spektakuler dalam lelangnya. Salah satunya karya “FCI” oleh Yves Klein. Klein menggambarkan sinar X yang membentuk figur dua model telanjang yang diterapkan ke dalam kanvas tampak menjadi seperti campuran cat, air, dan bara api.

Estimasi penjualan lukisan tersebut mencapai nilai US$ 40 juta. Namun pada akhirnya, terjual di angka US$ 36,5 juta, termasuk komisi. Nilai ini berhasil mengalahkan karya Klein lainnya yang mencapai nilai US$ 23,6 juta. Karya lain yang mengalami peningkatan penjualan dari tahun sebelumnya, yaitu karya Gerhard Richter. Lukisan Abstraktes Bild terjual dengan nilai US$ 21,8 juta. Sebelumnya, lukisan karya Richter terjual di angka US$ 18 juta. Baru-baru ini, rumah lelang Christie’s melalui pekan yang menakjubkan.

Lukisan Pablo Picasso bertema ‘Les femmes d’Alger’ terjual seharga US$ 141,3 juta dan mencetak rekor pelelangan karya seni lukis dengan harga tertinggi di dunia. Lukisan Picasso ini menterjemahkan wanita Berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu dianggap sebagai karya seni utama kontemporer. Lukisan tersebut memperlihatkan fitur pelacur telanjang, tema umum untuk Picasso, dan dicat dalam gaya cubist yang telah menjadi ciri khasnya.

Total penjualan lelang lukisan di Christie’s, New York pada 2015 mencapai angka US$ 1,5 miliar atau Rp 19,6 triliun dalam tiga hari. Ini merupakan angka tertinggi bagi pelelangan karya seni kontemporer dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hasil lelang yang terus mengalami kenaikan mengingatkan kita bahwa dunia seni tampaknya mulai pulih dari kehancuran krisis finansial tahun 2008 di wilayah tersebut. Selain faktor finansial, peningkatan penjualan lelang lukisan kemungkinan juga dipengaruhi karena eksistensi seni kontemporer dan minat para pecinta seni semakin meningkat.

Rumah lelang Christie’s merupakan tempat lelang bergengsi dan legendaris dalam menjual karya seni internasional dari seniman dunia. Rumah lelang ini didirikan pada 1766 oleh James Christie. Rumah lelang Christie’s telah melakukan lelang terbesar dan paling terkenal selama berabad-abad dalam menyediakan karya seni populer yang unik dan indah.

Rumah lelang Christie’s memiliki sejarah panjang dan sukses dalam menjual karya seni kontemporer dan aliran seni lainnya. kinetic art kinetic Seni kontemporer kinetic art mulai populer di Indonesia tahun 1988, saat Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo mendirikan galeri seni Cemeti di Yogyakarta.

Dari sanalah, kemudian diperkenalkan seniman lokal Eddie Hara, Heri Dono, Eko Nugroho, Agung Kurniawan, dan Kelompok Jendela. Saat para seniman tersebut diperkenalkan pada khalayak, seni rupa Indonesia jadi tak semanis sebelumnya. Gambar-gambar yang ditampilkan sangat provokatif dan dijadikan sebagai alat perjuangan untuk melawan rezim Orde Baru. Seni rupa yang dikibarkan oleh Cemeti dan para senimannya dinamakan sebagai seni rupa kontemporer. Namun sejatinya, seni rupa kontemporer Indonesia sudah dimulai pada tahun 1975, sebagai reaksi Biennale 1974.

Saat itu pemberian gelar pelukis terbaik pada forum Biennale 1974 memunculkan protes dari seniman generasi muda. Menurut mereka lukisan-lukisan pada Biennale hanya merepresentasikan dekoratif-isme.

Protes itu pada akhirnya berujung pada pembentukan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). GSRB merepresentasikan konsep-konsep seni instalasi, pembebasan karya dua dimensi dan tiga dimensi, serta karya pencampuran antara karya lukis, puisi, gerak, dll.

Meski sudah melahirkan seniman-seniman besar, seperti Dede Eri Supria, Jim Supangkat, Agus Dermawan, FX Harsono, dan Ronald Manullang, perjuangannya dalam menolak kecenderungan seni baru yang dekoratif tersebut harus berakhir.

GSRB tidak berumur panjang dan kehilangan gemanya selama puluhan tahun. Dari GSRB, hanya Dede Eri Supria yang masih aktif berkarya sampai tahun 90-an. Seni Kontemporer Kembali Menemukan Gemanya Seni kontemporer kembali booming pada April 2007, saat Balai Lelang Shoteby’s di Hongkong menjual lukisan Putu Sutawijaya seharga 70.000 USS.

Imbasnya, karya seniman-seniman lain juga terangkat naik dalam kisaran Rp 300-700 juta.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Gema positif pada tahun 2007 memberikan perubahan dalam sejarah seni kontemporer Indonesia. Booming berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu membuat seni rupa Indonesia menjadi lebih bergairah dan membuat para seniman senior membuat karya-karya yang lebih spektakuler. Akhir-akhir ini, seni kontemporer Indonesia memiliki kecenderungan yang gigantik dalam bentuk karya instalasi.

Baik dalam forum Art Fair atau Biennale, karya-karya itulah yang mampu menyedot perhatian orang untuk berhenti dan terpana untuk terus memperhatikan. Namun dampak dari kecenderungan instalasi gigantik tersebut menyebabkan orang menjadi sulit untuk mengoleksi karena membutuhkan ruang pamer yang besar.

Hal inilah yang membuat seni kontemporer menjadi sulit dipasarkan. Kehadiran seni kinetik mampu mengatasi kesulitan di atas. Seni kinetik merupakan wujud seni kontemporer yang menggabungkan unsur mekanis dan artistik. Tidak perlu ruang besar untuk memamerkan atau mengoleksinya. Namun permasalahannya, seni kinetik terbilang belum populer di Indonesia. Inilah tugas para seniman negeri untuk terus mempopulerkan seni kontemporer agar selalu eksis, baik lokal maupun dunia global.

kinetic art art Karya seni merupakan hasil ciptaan olah rasa dan karsa manusia. Dimana pada hakikatnya, akan selalu terkandung suatu karakter unik yang ingin disampaikan kepada para penikmatnya. Dari karakter inilah, manusia dapat memperoleh suatu pengalaman batiniah tersendiri yang akan memperkaya kepribadian dalam kehidupan, baik pribadi maupun sosial. Sebagai suatu genre, kinetic art atau seni kinetik juga menjadi salah satu medium seni yang bernilai estetis dengan karakter uniknya.

Kehadirannya secara fisik tentu menumbuhkan rasa keingintahuan sekaligus kebutuhan untuk mencerna dan memahami makna yang terkandung dalam karya seni. Karya-karya kinetic art merupakan perpaduan antara seni dan teknologi. Dengan basic seni kontemporer dalam bentuk instalasi, di dalamnya tersisip suatu unsur gerak mekanis yang dimunculkan oleh teknologi mekanis yang sifatnya sederhana sekalipun.

Wujud karya seni kinetik inilah yang menjadikannya unik sekaligus memiliki makna estetis yang layak untuk dinikmati sekaligus dipelajari.

Meskipun belum begitu populer di Indonesia, kehadiran karya-karya seni kinetik ini cukup mewarnai khasanah dunia seni. Terlebih dengan hadirnya Edwins Gallery sebagai pusat sosialisasi dan pengembangan seni kinetik, menjadikan masyarakat dapat lebih mudah untuk mengakses dan mengenalnya.

Keberadaan galeri juga memberi nilai positif bagi para seniman untuk menyalurkan hasrat seninya melalui karya-karya unik kinetic art yang bernilai estetis tinggi. Sehingga nantinya, kinetic art juga dapat disejajarkan dengan aliran seni yang lain dan mampu berkiprah dalam membentuk karakter sebuah bangsa. kinetic art Dalam era modernisasi, seni rupa tetap bertahan dengan eksistensinya. Galeri Seni menjadi salah satu wujud institusi dan disiplin yang mendukung perkembangan seni. Namun pada hakikatnya, disiplin seni yang ada saat ini berwujud pada penolakan terhadap karya seni yang merujuk pada modernisasi yang berkembang saat ini.

Disiplin seni lebih merujuk pada seni kontemporer yang memiliki sifat anti-modernisme. Edwins Gallery adalah sebuah galeri seni yang menyajikan hasil karya seni kontemporer, utamanya adalah karya-karya seni kinetik atau kinetic art.

Aliran ini merupakan pengembangan dari seni kontemporer, yang mengkolaborasikan antara seni dan teknologi. Dan sebagaimana hakikat seni kontemporer, kinetic art ini juga mendukung anti-modernisme walaupun di dalamnya terkandung unsur teknologi dan ilmu pengetahuan dalam menciptakan unsur gerak.

Prinsipnya, apapun bentuk dan perwujudannya, seni-seni dalam beragam aliran perumusan dasarnya berasal dari pemaknaan terhadap seni tradisional. Meskipun gesekan-gesekan antara seni kontemporer dan modernisme yang begitu ketat, keduanya tak bisa menghapus kenyataan bahwa mereka lahir dari induk seni yang sama.

Sehingga pada dasarnya, galeri seni menjadi wujud dari disiplin seni yang mampu memberi batasan antara seni kontemporer dan seni modern. Realisasi seni kinetik ini sebenarnya sudah cukup lama dirasakan masyarakat, hanya saja pemahaman tentang seni kinetik secara spesifik masih kurang populer, bahkan kurang dipahami oleh masyarakat. Berdasar kenyataan inilah, Edwins Gallery hadir untuk menjadi wahana pengembangan sekaligus sosialisasi seni kinetik di Indonesia.

kinetic art Melihat sejarahnya, kinetic art merupakan salah satu cabang dari seni rupa yang memadukan keindahan seni dengan gerak mekanis suatu mesin. Gerakan dalam Kinetic Art memiliki keterkaitan akar konsep dengan gejala visual yang digarap.

Mendasarkan pada konsep ‘seeing is believing ‘, dasar eksperimennya pernah dilakukan oleh Schlemer dan Robert Delaunay pada sekitar tahun 1912. Demikian pula eksperimen Joseph Albers dari Sekolah Seni Bauhaus di sekitar tahun 1920. Setelah mereka, beberapa seniman yang berperan dalam perkembangan aliran seni kinetik ini diantaranya : • Naum Gabo, sebagai pelopor lahirnya kinetic art, dengan karyanya yang bersifat konstruktivisme • Alexander Calder, seniman pertama yang dikenal kerap menggabung-gabungkan suatu bagian dari efeknya.

• George Rickey, yang berpendapat bahwa gerakan pada dasarnya sama dengan prinsip kerja sebuah gramaphon, tanpa adanya gerakan maka objek tidak akan melakukan apa-apa. • Nicholais Schoffer, seniman yang mengembangkan ‘ spatiodynamics‘ dan ‘ illuminodynamics‘.

Dimana gerakan konstruksi berbahan metal digunakan dengan kombinasi cahaya yang merupakan refleksi dari bidang-bidang datar, yang kemudian direkam dan ditransfer melalui lembaran plastik berwarna-warni yang diiringi dengan musik. Di Indonesia sendiri, seni kinetik mungkin belum banyak dikenal walaupun sudah cukup lama dikembangkan. Adalah Edwin Rahardjo yang menjadi pelopor kinetic art, yang kemudian berupaya memperkenalkannya kepada publik dengan membangun sebuah galeri seni yaitu Edwins Gallery.

Kecintaannya berawal dari dunia mekanik yang kemudian berlanjut menjadi sebuah objek seni, sehingga jadilah karya-karya seni kinetik tersebut. Di dalam galeri banyak karya-karya unik yang dipamerkan seperti “ Amnesia Nation” karya Heri Dono, “ I Don’t Know” ciptaan Bagus Pandega, “ Little Bridge” karya Rudi Hendrianto, “ Myths Chariot”-nya Bob Potts, serta karya Edwin sendiri yaitu “ Light Rhytm” dan “ Floating Fleets”.

Bila tertarik, silakan mengunjungi galeri yang terletak di Kemang, Jakarta Selatan ini. kinetic art Apabila dilihat dalam konteks definisinya, peran seni rupa mungkin hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan domain seni murni yang banyak diciptakan.

Padahal bila diperhatikan, seni rupa justru memegang peranan yang penting dan sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Hampir semua peralatan, perabotan bahkan juga perlengkapan yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan adalah produk atau hasil dari seni rupa. Dari seni rupa, lahirlah beragam benda yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti misalnya kursi, meja serta peralatan makan sebagai wujud seni rupa.

Mungkin kita saat ini masih tidur beralaskan tanah, apabila belum ditemukan seni rupa yang menghasilkan berbagai jenis keramik yang menjadi pembentuk lantai di rumah kita. Tak hanya itu, seni arsitektur juga termasuk dalam cabang seni rupa yang sesungguhnya, hingga manusia mampu membuat beragam bentuk dan desain bangunan rumah.

Memang harus diakui, seni rupa mau tak mau memegang peran dan fungsi penting dalam memudahkan kehidupan manusia. Bahkan bila seni desain tidak sempat ditemukan, ada kemungkinan mobil yang kita gunakan saat ini hanyalah berbentuk seperti sebuah gerobak tanpa adanya desain interior yang menarik. Hanya saja, tidak semua seni rupa menghasilkan barang yang benar-benar dapat digunakan dalam kehidupan. Termasuk diantaranya adalah karya kinetic art atau seni kinetik. Sebagai perpaduan antara seni dan gerak, karya kinetic art mungkin tidak begitu dapat dirasakan secara fungsional, namun lebih pada estetika sebuah karya seni.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Masyarakat umum pun sudah seharusnya turut mengenal dan mengetahui bagaimana pengertian seni kinetik ini yang sesungguhnya. Sehingga dalam penerapannya, akan lebih banyak lagi masyarakat yang mampu menghargai hasil karya seni yang ada di kehidupan mereka.

kinetic art Dalam dunia seni rupa Indonesia, ada paradigma yang dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang terlihat dari konsep para seniman, yang mana tercermin pada berbagai gaya di tiap periodenya.

Paradigma estetik pada suatu periode menjadi tesis yang telah disepakati bersama, sesuai dengan konteks sosial budaya yang berkembang.

Di setiap kemunculannya, suatu tesis berpotensi membawa negasi dan kontradiksi yang menimbulkan antitesis dan sintesis, hingga akhirnya menjelma menjadi satu tesis yang baru. Dan setidaknya ada lima paradigma dalam seni rupa modern Indonesia dari segi estetis karya seni. Paradigma Pertama, dari awal 1900 hingga akhir tahun 1930-an, berkembang pandangan romantisme eksotis Mooi Indie yang menyertai perkembangan seni lukis Bali Baru.

Mereka memuja konversi keharmonisan dan nilai ideal, yang dalam diwujudkan dalam lukisan yang berupa keindahan pemandangan alam dalam aliran naturalisme dan impresionisme. Karya-karya lukisan Mooi Indie ini dapat dilihat pada hasil karya Locatelli, Du Chattel, Ernest Dezentje, Willem Hofker, Le Mayuer, Abdullah Suriosubroto, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wahdi, Wakidi, dan lain sebagainya.

Paradigma Kedua, sekitar tahun 1938 hingga 1965 melalui para seniman Persagi hingga Lekra, berkembang suatu paradigma estetik dalam kontektualisme kerakyatan. Paradigma ini dipengaruhi oleh perubahan sosial dalam konteks-konteks politik.

Semangat nasionalisme dan independen sangat mempengaruhi perubahan estetis dalam karya seni lukis. Paradigma Ketiga, di pertengahan tahun 1960 hingga tahun 1980-an, menguat suatu paradigma estetik humanisme yang universal.

Di sini, seni rupa mencari pembebasan karya seni dari berbagai pengaruh politik. Di samping itu, ada pengaruh modernisasi dan pembangunan yanhg sangat signifikan dalam sifat-sifat karya seni yang dihasilkan. Paradigma Keempat, mulai tahun 1974, suatu muncul paradigma estetik kontektualisme yang bersifat pluralistis.

Masalah sosio-actual dianggap lebih pemting dibanding keharuan sentimental personal seniman.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Dan di tahun 1980-an mulai terjadi sintesis dari berbagai bentuk seni rupa kontemporer Indonesia. Ciri-ciri paradigma ini yaitu proses kreatif dilakukan melalui analitik, kontekstual, dan partisipatoris. Paradigma Kelima, merupakan paradigma Sistesis Baru. Pada kurun waktu 1980 sampai 1990-an, terjadi polarisasi antara lirisisme dan non-lirisisme dalam seni rupa Indonesia. Di antara kedua kutub, ada beberapa seniman moderat yang mencari jalan lain dengan menyerap kedua kutub tersebut.

Termasuk diantaranya adalah seni Kinetic Art, yang memakai bahasa lirisisme, namun mereka juga melakukan performance art, serta membuat seni instalasi dan video art. Mereka juga tidak melihat fenomena sosial hanya dari kebenaran sepihak saja. Beberapa seniman yang cenderung pada aliran ini diantaranya Heri Dono, Tisna Sanjaya, Dadang Christanto, Hendrawan Riyanto, Marida Nasution, dan lain sebagainya. Itulah lima paradigma seni rupa Indonesia yang dilihat dari perjalanan waktu dan sejarah.

Sangat terlihat adanya pengaruh lain di luar hanya sekedar perwujudan rasa individu, sebab di dalamnya juga terkandung unsur sosio-kultural yang mewarnai perjalanannya. kinetic art Bagi Anda penikmat seni rupa yang selalu haus akan kreativitas baru yang muncul dari sebuah karya seni kontemporer, mampirlah sekali waktu ke Edwin’s Gallery. Inilah salah satu galeri seni kontemporer, yang sekaligus menjadi satu-satunya kinetic art gallery di Indonesia.

Sebagai motor utama pendorong kemajuan seni kontemporer, tak heran bila koleksi-koleksi seni yang ada di dalamnya sebagian besar menampilkan karya seniman-seniman kontemporer, tak terkecuali aliran kinetic art tersebut. Kinetic Art muncul berawal dari rasa ingin tahu para seniman yang dalam proses eksplorasi karyanya, mereka mencari medium-medium baru yang tentunya berbeda dari yang pernah mereka gunakan. Sebenarnya, di Indonesia sudah cukup banyak seniman yang menghasilkan karya di aliran kinetic art ini, entah mengapa masih kurang begitu banyak dikenal oleh masyarakat.

Beberapa saat yang lalu, dalam sebuah pameran kinetic art yang disponsori oleh galeri seni milik Edwin Rahardjo itu diantaranya menampilkan karaya-karya seniman seperti : Ade Darmawan yang hadir dengan karya yang berjudul ‘Kucing Hoki’. Karya yang berupa instalasi mesin berbentuk menyerupai Manekineko ini hadir dalam 4 jenis patung kucing dengan ukuran yang berbeda-beda. Ada pula Heri Dono dengan gayanya yang khas menghadirkan karya seni yang diberi judul ‘ Watching the Marginal People’. Ada pula Yani M.

Sastranegara dengan karyanya yang berjudul ‘ Soulmate’ dengan ukuran karya yang paling besar. Wujudnya berupa 2 buah instalasi yang berbentuk lingkaran besi tersusun keatas saling bertumpuk, sedang di bagian paling atas terdapat sepasang burung besi.

Gerakan yang terlihat adalah dalam rentang waktu tertentu burung dan bola akan bergerak sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yang cukup nyaring terdengar. Pada bagian lain, ada Jompet Kuswidananto yang membawakan karya berjudul ‘ Third Bodies #7′, dimana wujudnya adalah berupa susunan mesin bersayap yang tergantung ke atas, sangat cantik bak kunang-kunang yang sedang terbang. Dalam pameran tersebut ada kurang lebih 17 orang seniman yang turut ambil bagian.

Hal ini membuktikan bahwa minat seniman dalam aliran seni kinetik ini cukup besar. Yang mungkin masih kurang agresif adalah upaya sosialisasinya, agar karya-karya kinetic art ini banyak dikenal masyarakat dan mereka pun mampu untuk menikmatinya.

Karena itulah, Edwin’s Gallery menjadi wahana yang tepat sebagai pusat pengembangan kinetic art di Indonesia. kinetic art 13. Tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni adalah a. menentukan bahan b. menggali ide c. membuat sketsa d. menyiapkan bahan dan alat 14. Tahapan pembuatan karya seni dapat dilakukan dengan mengacu pada . a sketsa c. bahan b. perencanaan d. alat 15. Tahapan untuk mengetahui berbagai kekurangan serta kelemahan selama proses pembuatan karya kerajinan adalah tahap .

a membuat sketsa b. menyiapkan bahan dan alat c. pembuatan karya seni d.evaluasi​
1. Tahapan yg harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu? ( berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu.

menentukan bahan b. menggali ide c. membuat sketsa d. menyiapkan bahat dan alat. ). 2. Tahapan pembuatan karya seni dpt dilakukan dengan mengacu pada? ( a. sketsa b. perencanaan c. bahan d. alat ) 3. Tahapan utk mengetahui berbagai kekurangan serta kelemahan berbagai kekurangan, selama proses pmbuatan karya kerjainan adalah tahap?

(a.membuat sketsa b. menyiapkan bahan dan alat c, pembuatan karya seni d. evaluasi) Daftar Isi • Cara Membuat Email Gmail Gratiss Lengkap Dengan Gambar • Cara Membuat Privacy Policy Blog • 1.

Menentukan bahan dan fungsi kerajinan. • 2. Menggali ide dari berbagai sumber. • 3. Membuat beberapa sketsa karya dan menentukan sebuah karya terbaik.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

• 4. Menyiapkan bahan dan alat. • 5. Membuat karya kerajinan. • 6. Mengevaluasi karya. Dalam menciptakan sebuah karya kerajinan tangan, tentunya tidak terlepas dari adanya tahapan pada proses penciptaannya. Dengan melalui tahapan yang benar dalam proses penciptaan suatu karya kerajinan, maka secara otomatis akan menghasilkan karya kerajinan yang baik kualitasnya.

Oleh sebab itu, proses penciptaan karya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut Menentukan bahan dasar dan fungsi kerajinan yang akan dibuat sangat penting, karena bahan dasar yang digunakan berpengaruh terhadap fungsi dari sebuah produk kerajinan dan demikian pula sebaliknya.

Sebagai contoh apabila kita membuat mangkuk untuk wadah sayur, maka tentu saja bahan yang digunakan haruslah sesuai, misalnya yaitu tanah liat atau logam.

Hal ini disebabkan karena sangat tidak mungkin bila menggunakan bahan dasar serat alam, karena bahan dasar serat alam hanya cocok untuk pembuatan mangkuk yang difungsikan sebagai produk kerajinan untuk hiasan. 2. Menggali ide dari berbagai sumber. Penggalian ide dari berbagai sumber diperlukan sebagai bahan referensi atau tolok ukur dalam proses penciptaan suatu karya.

Hal ini juga penting karena dengan adanya ide dari berbagai sumber maka bukan tidak mungkin nantinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu karya kerajinan inovatif model baru. 3. Membuat beberapa sketsa karya dan menentukan sebuah karya terbaik. Sketsa produk diperlukan sebagai acuan dalam pembuatan berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu karya kerajinan.

Oleh sebab itu dalam proses pembuatan suatu karya kerajinan dibutuhkan adanya sketsa yang jelas sehingga dapat mempermudah dan mempercepat pengerjaannya.

Hal tersebut serupa dengan proses pembuatan sebuah gedung atau produk lainnya yang juga menggunakan sketsa sebagai acuan dasar dalam penciptaannya. 4. Menyiapkan bahan dan alat. Alat dan bahan disiapkan sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan kebutuhan yang dimaksud di sini adalah disesuaikan dengan jenis, fungsi, dan model produk yang akan dibuat. 5. Membuat karya kerajinan. Pembuatan karya dapat dilakukan dengan mengacu pada sketsa yang telah dibuat sebelumnya dan dengan menggunakan alat serta bahan yang telah disiapkan.

Yang mana dalam hal pembuatan karya kerajinan di sini tentunya tidak lepas pula dari fungsi kemasan dalam kerajinan yang telah ditentukan sebelumnya. 6. Mengevaluasi karya. Apakah produk kerajinan yang diciptakan sudah sesuai dengan yang diharapkan? Ataukah ternyata produk kerajinan yang dihasilkan masih jauh dari rencana sebelumnya? Nah, disinilah perlunya evaluasi terhadap karya yang dihasilkan, karena dengan melakukan evaluasi maka dapat diketahui berbagai kekurangan serta kelemahan selama proses pembuatan karya kerajinan tersebut.

Dengan demikian maka secara otomatis dapat diketahui pula segala kekurangan dan kelemahan dari produk kerajinan yang dicipta, yang akhirnya dapat dipergunakan sebagai tolok ukur atau sebagai dasar untuk melakukan perbaikan dan pembenahan dalam proses pembuatan yang berikutnya sehingga benar-benar dapat menghasilkan karya kerajinan yang baik dan berkualitas.

Pos-pos Terbaru • Rekomendasi Teralis Pintu dan Jendela yang Estetik dan Aman dari Maling April 21, 2022 • Wire Craft Jewelry Dari Estree Fashion Yang Gemerlap Maret 20, 2022 • Melukis Pada Media Kain Baju Menjadi Produk Fashion Unik Kualitas Dunia Flair Handpainted Februari 22, 2022 • John Anglo Leather Potensi Bisnis Produk Kulit custom & Reparasi Januari 31, 2022 • 24 Jenis Tanaman Aquascape dan Ciri – Ciri nya Desember 4, 2021
Tahap penjajagan adalah tahap yang paling awal dalam sebuah proses penciptaan tari.

Garapan tari Hasrat telah digarap pada kelas mata kuliah koreografi VI dengan judul “Mungkinkah?” yang berdurasi waktu 12 menit dan menggunakan musik iringan yang di garap oleh I Wayan Gede Arsana, S.Sn.

ke dalam bentuk CD. Berkaitan dengan tugas akhir penata mengembangkan garapan ini agar terlihat lebih baik lagi. Tahap ini diawali dengan pencarian ide atau gagasan, konsep garapan yang akan digunakan. Setelah ide atau gagasan diperoleh, barulah dituangkan ke dalam konsep garapan, dan selanjutnya adalah pemilihan pendukung. Pendukung dalam sebuah garapan tari merupakan faktor penting dalam sebuah garapan tari, karena pendukung dalam hal ini adalah penari akan menjadi media utama dalam penuangan gerak.

Penari yang akan terlibat dalam garapan ini sebanyak 5 orang yang terdiri dari, 2 orang wanita (termasuk penata sendiri) dan 3 orang laki-laki. Kriteria yang digunakan dalam memilih penari adalah postur tubuh yang memadai atau postur tubuh yang diinginkan penata sesuai dengan tokoh-tokoh yang digarap, di samping itu memiliki teknik tari yang cukup baik, dan memiliki loyalitas serta tanggung jawab mendukung untuk kelancaran proses penggarapan tari, serta kesanggupannya untuk meluangkan waktu dan tetap berkonsentrasi pada proses garapan demi kelancarannya.

Kegiatan selanjutnya adalah mencari hari baik untuk melaksanakan upacara (nuasen), karena menurut kepercayaan umat Hindu di Bali, setiap mulai suatu apapun termasuk penggarapan karya tari ini harus mencari hari baik untuk melakukan sebuah upacara, agar mendapat taksu atau kekuatan dan energy dari Tuhan.

Nuasen dilakukan pada tanggal 23 Maret 2010 di Pura Arda Naraswari di ISI Denpasar dengan dihadiri oleh semua pendukung tari dan beberapa pendukung musik iringan. Setelah diadakan persembahyangan, para pendukung dikumpulkan untuk diberikan pengarahan mengenai ide dan bentuk garapan. Pada tahapan ini penata juga sudah memikirkan kostum yang digunakan, berkonsultasi dengan pembimbing serta beberapa orang yang ahli mengenai kostum tari.

Setelah hal terdebut dikonsultasikan, akhirnya disepakati kostum yang akan digunakan menggunakan warna yang cerah dengan konsep minimalis, dengan tujuan agar pada saat bergerak tidak mengganggu berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu gerak penari.

Pada tahap eksplorasi ini telah didapatkan ide, konsep seperti desain, pola lantai, kostum, dan iringan yang nantinya siap dituangkan pada tahap berikutnya. 3.2 Tahap Percobaan (improvisation) Tahap ini adalah tahap kedua setelah tahap penjajagan dan merupakan tahap pencarian gerak-gerak baru yang akan menjadi perbendaharaan gerak tari kontemporer ini.

Proses pencarian gerak ini dilakukan secara bebas sampai ditemukan dan dipilih gerak-gerak yang dirasa cocok dan sesuai dengan tema dari garapan tari ini selanjutnya gerak-gerak ini disusun dalam frase-frase gerak. Proses penataan iringan musik tari juga dilakukan pada tahap ini. Pada setiap kegiatan latihan, iringan musik tari ini dipadukan dengan gerak-gerak tari yang baru diciptakan agar garapan ini menjadi sebuah garapan yang utuh.

Percobaan-percobaan mencari gerak terus dilakukan baik di rumah, di kampus, maupun di tempat-tempat tertentu ketika tiba-tiba ide itu datang, lalu dilakukan pencatatan serta rekaman video dengan menggunakan hand phone agar gerak atau ide itu tidak terlupakan.

Latihan tari terus berjalan dengan baik selama kurang lebih dua jam setiap latihan. Di tempat latihan para pendukung juga memberi masukan yang berguna mengenai gerak. Pencarian gerak terus dilakukan sejalan dengan pembentukan musik iringan. Kegiatan latihan secara terus menerus perlu dilakukan untuk menjaga keharmonisan antara gerak dan musik iringan.

Bersamaan dengan berlangsungnya proses ini, bimbingan juga terus dilakukan agar mendapat masukan-masukan demi kesempurnaan garapan tari ini. Rincian kegiatan penuangan pada tahap ini, adalah sebagai berikut: Tabel 1 No Tanggal Kegiatan 3 26 Maret 2010 Dilakukan penuangan gerak bagian satu.

4 31 Maret 2010 Dilakukan pengulangan penuangan bagian satu, dan mencari pola lantai. 5 31 Maret 2010, Bimbingan tulisan bab I 6 7 April 2010 Dilakukan penuangan gerak pada bagian dua, serta memantapkan bagian satu dan bagian dua. 7 8 April 2010 Diadakan latihan untuk mengingat bagian satu dan bagian dua, karena akan ada bimbingan 8 8 April 2010 Bimbingan tulisan perbaikan bab I 9 8 April 2010 Bimbingan karya dengan dosen pembimbing di studio tari 10 9 April 2010 Dilakukan pengulangan serta perbaikan gerak yang tidak cocok.

11 10 April 2010 Dilakukan perbaikan opening serta bagian dua. 12 10 April 2010 Bimbingan karya dengan dosen pembimbing membahas perbaikan opening serta perbaikan bab II 13 12 April 2010 Mengumpul tulisan bab III 14 13 April 2010 Membahas perbaikan tulisan bab I,II,&III. 15 15 April 2010 Latihan dengan musik iringan 16 19 April 2010 Latihan dengan musik iringan memadukan bagian opening.

No Tanggal Kegiatan 17 21 April 2010 Latihan dengan musik iringan. 18 22 April 2010 Latihan bersama iringan 19 23 April 2010 Latihan di Studio tari 20 24 April 2010 Latihan di Candra Metu 21 29 April 2010 Latihan mencari ending.

22 30 April 2010 Latihan dari opening hingga ending 23 4 Mei 2010 Latihan memantapkan 24 5 Mei 2010 Bimbingan karya 25 6 Mei 2010 Latihan lengkap dengan penabuh 26 7 Mei 2010 Latihan dengan penabuh 27 8 Mei 2010 Latihan di Studio tari 28 9-10 Mei 2010 Latihan lengkap 29 14 Mei 2010 Bimbingan karya dari opening hingga ending 30 15 Mei 2010 Latihan dengan kostum sederhana dan musik iringan 31 16 Mei 2010 Bimbingan karya serta memantapkan gerak 32 19 Mei 2010 Gladi bersih di Gedung Natya Mandala serta bimbingan dan saran 33 20 Mei 2010 Latihan lengkap dengan penabuh 34 24 Mei 2010 Latihan memantapkan ekspresi 35 26 Mei 2010 Ujian TA Akhirnya dari tahap ini hampir semua elemen telah dituangkan atau diwujudkan, walaupun belum sempurna.

Terlebih lagi masalah ekspresi atau penjiwaaan dan kekompakan, dan ini akan dilakukan pada tahap berikutnya yaitu tahap pembentukan (forming). 3.3 Tahap pembentukan (forming) Tahap pembentukan merupakan tahapan yang paling penting untuk mewujudkan hasil akhir dari karya tari ini. Pada tahapan ini yang harus dilakukan adalah merangkai, membentuk, dan menyempurnakan gerak yang telah didapat pada tahap improvisasi, baik gerak, pola lantai, desain, iringan yang digarap sehingga menjadi sebuah bentuk karya tari yang utuh.

Untuk pemantapan terus dilakukan agar ekspresi dan penjiwaan tokoh yang ada didalamnya dapat dipenuhi, pada tahap ini pula dilakukan percobaan mempergunakan kostum yang akan digunakan agar gerakan pada saat menggunakan kostum tersebut tidak terganggu.

Tahapan terakhir yang akan dilakukan adalah tahap finishing. Dalam tahapan ini garapan sudah terwujud. Pada tahap ini garapan dihayati, serta diendapkan sehingga penjiwaan gerak maupun rasa estetis yang diharapkan dapat dicapai sesuai dengan ide garapan.

Hasil penjajagan atau eksplorasi dan penuangan beberapa gerak, serta pola lantai telah dicapai, maka terbentuklah karya tari yang berjudul Hasrat. Mengenai bentukstruktur garapan, kostum dan pendukung lainnya akan di jelaskan pada bab berikutnya.

Untuk memberikan gambaran jelas tentang tahap-tahap penciptaan tari Hasrat, berikut disajikan sebuah table proses kreativitas. Tabel 2 Proses Kreativitas Tahap-tahap Januari Februari Maret April Mei Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Tahap Penjajagan Tahap Percobaan Tahap Pembentukan X O KETERANGAN : : Pencarian pendukung : Latihan ringan selama ± 2 jam sehari : Latihan sedikit padat selama ± 2 jam sehari : Latihan padat ± 2-3 jam sehari X : Gladi Bersih O : Ujian TA BAB IV WUJUD GARAPAN 4.1.

Deskripsi Garapan Garapan tari dengan judul Hasrat ini merupakan sebuah garapan tari kontemporer dengan mengambil bentuk kelompok yang ditarikan oleh 5 orang penari, 2 perempuan (termasuk penata) dan 3 orang penari laki-laki. Garapan tari ini mengambil bentuk karakter wanita yang memiliki postur tubuh gemuk yang dimana kesehariannya ceria dan percaya diri tetapi ketika dia sedang jatuh cinta dia merasa minder dan kurang percaya diri, sehingga hayalan dan keinginannya untuk kurus selalu menghantuinya.

Untuk dapat mengembangkan dan melahirkan suasana dalam merangkai gerak-gerak dengan struktur garapan maka digunakan pengalaman pribadi sebagai contoh. Mulai dari menghayal ingin menjadi kurus, lalu menghalalkan segala cara untuk memiliki tubuh yang langsing ideal, sampai pada akhirnya dia putus asa karena tidak membuahkan hasil. Di samping hal tersebut keindahan suasana yang ditampilkan juga ditunjang dengan penjiwaan dan ekspresi yang maksimal oleh masing-masing penarinya.

Tidak hanya alur cerita dan keinginan untuk memiliki tubuh yang langsing saja dimunculkan dalam garapan ini, tetapi juga tetap memfokuskan pada pengolahan kelenturan dan keluwesan tubuh yang ditunjang oleh gerak. 19 Tema yang diangkat adalah pergaulan, mengingat dari cuplikan cerita yang diangkat adalah kehidupan sehari-hari yang mengandung nilai penyesalan, percaya diri dan kebanggaan, yang nantinya dapat dijadikan tolak ukur dalam kehidupan sehari-hari.

4.2. Struktur Garapan Garapan tari Hasrat memiliki struktur yang dimulai datangnya penari dari wing sebelah kiri, yang dengan pelansedang, dan akhirnya klimaks pada penutup.

Di dalam setiap bagian alur cerita terdapat perubahan emosi dari tenang (romantis), berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu, hingga gembira. Secara koreografi, garapan tari Hasrat terdiri dari 4 (bagian), dengan durasi waktu 12 menit.

Keempat bagian dari koreografi tari Hasrat adalah: 1. Bagian Pertama (opening) Diawali satu orang penari perempuan datang dari wing kanan, yang menggambarkan keceriaan seorang gadis yang membayangkan dirinya berbunga-bunga karena sedang jatuh cinta (suasana ceria). Satu penari perempuan berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu belakang centre stage menurunkan kain hitam yang menutupi dirinya maju dengan perlahan ,muncul sebagai khayalan, yang memiliki badan langsing dengan bangganya memperlihatkan keseksiannya, lalu datang satu penari laki-laki dari wing kiri yang berperan sebagai kekasihnya.

Ini adalah bayangan gadis tadi yang membayangkan dirinya sedang bercumbu mesra dengan kekesih idamannya (suasana romantis). 2. Bagian Kedua (inti cerita) Menggambarkan seorang gadis yang sadar akan dirinya memiliki tubuh yang gemuk dan dia bersedih, karena itu hanyalah khayalannya saja (suasana marah dan sedih).

Pada bagian ini gerak yang digunakan kebanyakan memakai level bawah dan penyesalan. 3. Bagian Ketiga (klimaks) Menggambarkan kembali keceriaan gadis yang dihibur oleh teman-temannya. Datang 2 penari dari depan kiri panggung dan depan kanan panggung, yang datang bergantian (suasana ceria dan gembira). Pada pertengahan datang 2 penari lagi dari samping kanan dan samping kiri, dengan gerakan yang gembira.

4. Bagian Empat (ending) Menggambarkan pertemuan gadis dan lelaki idamannya, yang ternyata lelaki tersebut juga diam-diam menyukainya (suasana gembira dan romantis). Pada bagian ini banyak menggunakan motif-motif gerak yang ceria. 4.3 Analisa Simbol Penggarapan karya tari Hasrat menggunakan beberapa simbol-simbol gerak dan warna kostum.

Pada bagian pertama menggunakan gerak tangan yang merentangkan satu tangan kearah sudut yang dapat juga dikatakan sebagai disain lanjutan dan juga mempergunakan gerak lefting (gerak angkatan), sebagai simbol kebahagiaan.

Pada bagian kedua merangkul badan sendiri dengan posisi membungkuk simbol dari sifat penyesalan dan kesedihan. Pada bagian ketiga menggunakan gerakan berlari sebagai simbol keceriaan. Pada bagian ke empat menggunakan gerakan bersentuhan simbol dari kebahagiaan. Pemilihan warna kostum Tari Hasrat adalah perpaduan warna pink (merah muda), biru, hijau dan putih sebagai simbol kegembiraan dan keceriaan.

Warna hitam adalah simbol dari kesedihan dan penyesalan. Tata rias juga dapat membantu penampilan penari di atas panggung. Tata rias tertentu dapat menentukan watak dan karakter yang dibawakan. Tata rias wajah yang digunakan adalah tata rias wajah putri halus karena menggambarkan hehidupan sehari-hari.

4.3 Analisa Materi Tari kontemporer ini mengambil pola-pola gerak dari tari modern yang sudah dikembangkan hingga membentuk gerak murni dan gerak maknawi. Dalam garapan tari Hasrat ini menggunakan beberapa disain gerak kelompok yaitu: - Desain Unison (serempak) : Gerakan-gerakan yang dilakukan secara bersama-sama oleh semua penari untuk memberi kesan teratur dan kompak pada garapan dengan demikian keseragaman gerak secara keseluruhan sangat diharapkan.

Pada tari Hasrat Desain unison terdapat pada bagian tiga. - Desain Balance (berimbang) : Membagi kelompok dan menempatkannya dalam desain-desain lantai yang sama pada daerah-daerah berimbang dari stage. Pada tari Hasrat Desain balance terdapat pada bagian dua dan bagian tiga. - Desain Cannon (bergantian) : Merupakan desain gerak yang dilakukan secara bergantian oleh masing-masing penari.

Pada tari Hasrat Desain cannon terdapat pada bagian dua dan tiga. - Desain Broken (terpecah) : Merupakan desain gerak yang memberikan desain gerak yang tidak teratur. Desain ini dilakukan pada transisi dan pada desain-desain tertentu, penari memiliki desain-desain lantainya sendiri, pola lantai sendiri dan memiliki kebebasan di dalam pengolahannya 6. Pada tari Hasrat Desain broken terdapat pada bagian tiga dan empat.

4.5. Perbendaharaan Motif Gerak Tari itu adalah gerak, tanpa bergerak tidak dapat dikatakan menari. Pencarian gerak dan pengembangan geraknya adalah elemen yang paling penting.

Seperti pada garapan tari Hasrat ini, terinspirasi dari perasaan senang, sedih, kecewa, menyesal, bersemangat, dan bahagia. Oleh sebab itu ada beberapa gerak tari yang digunakan tentunya sudah dikembangkan mungkin akan mempunyai sebutan baru. Di bawah ini disebutkan jenis-jenis gerakan yang digunakan dalam garapan tari Hasrat. - Jalan datar : berjalan tegak dengan seimbang, secara perlahan kedua kaki melangkah secara bergantian.

- Bercinta : gerakan bersentuhan yang dilakukan dengan dua orang (laki-laki dan perempuan) - Menoleh : gerakan kepala yang mengarah ke samping kiri dan ke samping kanan serta adanya putaran. - Membungkuk : menekuk punggung kearah depan dengan penahanan gerak ada pada perut. 6 Soedarsono. Komposisi Tari, Elemen-elemen Dasar. Terjemahan dari The Basic Elements oleh La Meri. Yogyakarta: Akademi Seni Tari,1975. P.82-83. - Ngelayak : seluruh badan direbahkan ke belakang.

- Getaran pundak : menggetarkan ke dua pundak. - Ngeremas : gerakan dengan meremas-remas seluruh bagian tubuh ,tangan, lengan, perut, kakipaha sebagai tanda penyesalan.

- Berlari : gerakan pada saat kedua kaki berjalan dengan cepat serta diangkat sedikit lebih tinggi dari biasanya, dari satu tempat ke tempat yang lain. - Jinjit : berjalan sambil jinjit perlahan-lahan. - Stakato : gerakan patah-patah. - Alternit : gerakan yang dilakukan secara bergantian. 4.6 Analisa Penyajian 4.6.1 Tempat Pertunjukan Garapan tari kontemporer Hasrat di pentaskan dipanggung proscenium gedung Natya Mandala ISI Denpasar pada hari rabu, 26 Mei 2010. Penataan panggung menggunakan kursi panjang yang berwarna coklat yang dihias sehingga berkesan kursi taman yang diletakkan di pojok depan centre stage, menggunakan layar hitam dari opening hingga ending, juga mempergunakan penataan tata cahaya untuk memperkuat karakter dan mendukung suasana.

Disamping itu di tunjang penataan lighting untuk mendukung suasana yang diinginkan. Penempatan penabuh iringan berada di depan panggung. Denah panggung terdiri dari bagian panggung dan bagian penonton yang hanya bisa disaksikan dari arah depan saja. Hal ini erat kaitannya dengan desain lantai. Desain lantai adalah pola yang dilandasi oleh gerak dari komposisi di atas lantai di ruang tari. Ruang tari yang dimaksud adalah panggung, oleh karena itu perlu kiranya mengenal bagian-bagian panggung khususnya panggung proscenium yang memiliki arti pada daerah tertentu berdasarkan kekuatan, dan kegunaan dalam ruangan tari, yang diungkapkan oleh Soedarsono, dalam buku komposisi tari elemen-elemen dasar.

URS = Up Right Stage (pojok kanan belakang panggung) Sisi panggung UCS = Up Centre Stage (bagian belakang pusat panggung) ULS = Up Left Stage (pojok kiri belakang panggung) DRS = Down Right Stage (pojok kanan depan panggur;) DCS = Down Centre Stage (bagian depan pusat panggung) DLS = Down Left Stage (pojok kiri depan panggung) 4.6.2 Kostum Dalam seni pertunjukan khususnya seni tari penataan kostum penting karena menggambarkan seorang tokoh yang mendukung karakter pada pertunjukan tersebut.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Penataan kostum yang baik dapat menunjang tema dari garapan yang akan dibawakan. Dalam garapan ini penataan kostum memang sengaja dibuat sederhana, disesuaikan dengan konsep garapan yaitu mengenakan busana sehari-hari. Kostum haruslah enak dipakai dan bersifat menggambarkan seseorang tokoh serta dapat mendukung karakter tersebut.

Adapun perlengkapan kostum yang digunakan pada tari Hasrat adalah sebagai berikut: Gambar 2 Foto Penari Putri Tampak Depan Bandana Anting-anting Baju Dress Celana Strait Sepatu Gambar 3 Foto Penari Putri Tampak Belakang Gambar 4 Foto Kostum Penari Pendukung Tampak Depan dan Belakang Baju celana Hiasan Rambut Anting-anting Kain Sari Celana Baju dalam Gelang Gelang Gambar 5 Foto Kostum Penari Pendukung Tampak Depan dan Belakang Baju Calana Sepatu Wig Kribo Hitam Dasi Kupu-kupu Baju Betle Ikat Pinggang Jam Celana Sepatu Gambar 6 Foto Kostum Penari Pendukung Tampak Depan dan Belakang Baju Kaos Kemeja Hitam Gelang Celana Sepatu Baju Kaos Ikat Pinggang Celana Sandal 4.6.3 Properti Tari kontemporer Hasrat tidak menggunakan properti, namun hanya menggunakan dekorasi tempat duduk panjang yang berwarna coklat, yang diletakkan di pojok kanan depan centre stage.

Yang berfungsi untuk duduk dan tempat melamun si penari. 4.6.4 Tata Rias Wajah Tata rias merupakan penataan wajah memakai alat kosmetik untuk dapat menggambarkan karakter yang terdapat dalam garapan tari.

Tata rias bertujuan untuk mengubah wajah alami menjadi wajah panggung. Disamping itu juga untuk memperkuat ekspresi dan karakter yang akan di bawakan nantinya.

Tata rias pertunjukan haruslah mendapatkan perhatian yang serius, karena apabila dilihat dari jarak jauh garis-garis muka penari haruslah ditebalkan seperti mata, alis, serta pemakaian merah pipi yang tepat. Ini dapat mempengaruhi nilai artistik yang ditampilkan oleh penari. Secara umum tata rias wajah yang digunakan pada tari Hasrat ini adalah tata rias putri halus, sesuai karakter gadis yang masih bujangan, yang menggunakan eye shadow berwarna yang senada dengan warna kostum yaitu menggunakan warna putih, kuning, coklat, pink, dan biru muda.

Untuk putra menggunakan tata rias soft (lembut). Adapun bahan-bahan yang dipakai dalam penataan wajah ini adalah sebagai berikut: 1. Cleanser milk digunakan untuk membersihkan kulit wajah dari kotoran-kotoran yang menempel pada wajah. 2. Astrengen digunakan untuk memberikan kesegaran pada wajah. 3. Foundation (alas bedak) digunakan untuk menguatkan tata rias agar dapat bertahan lebih lama. 4. Bedak tabur digunakan untuk menghaluskan wajah. 5. Bedak padat digunakan untuk lebih menghaluskan wajah dan menguatkan tata rias.

6. Eye shadow warna yang digunakan dominan merah muda, biru dan putih untuk membuat kesan ceria. 7. Pensil alis warna hitam digunakan untuk membentuk dan mempertegas garis alis. 8. Eye liner warna hitam digunakan untuk mempertegas lapisan atau garis mata bagian atas dan bagian bawah.

9. Merah pipi digunakan pada bagian tulang pipi. 10. Lipstick berwarna merah digunakan pada bibir untuk mencerahkan dan memperjelas garis bibir.

11. Lip blam memberi kesan mengkilap pada bibir. Untuk lebih jelasnya mengenai tata rias wajah berikut disajikan gambar tata rias wajah pada garapan tari Hasrat.

Gambar 7 Foto Tata Rias Wajah Penari Gambar 8 Foto Tata Rias Wajah Penari 4.6.5 Setting panggung, Tata lampu, Pola lantai, dan Perbendaharaan gerak. Tari kontemporer ini diciptakan untuk memenuhi persyaratan menempuh ujian sarjana di Institut Seni Indonesia Denpasar. Tari kontemporer Hasrat dipentaskan di Gedung Natya Mandala yang berbentuk proscenium yaitu stage yang penontonnya dalam satu arah hadap. Untuk kebutuhan ungkap garapan di dukung oleh seting panggung dengan menggunakan latar belakang layar berwarna hitam dari opening hingga ending.

Sebelum menginjak pada tabel yang menguraikan tentang adegan, pola lantai, rangkaian gerak, dan tata cahaya, perlu dijelaskan mengenai simbol-simbol yang akan digunakan pada table tersebut, sebagai berikut: Gambar 9. Arah Hadap Penari Keterangan : 1 : Penari menghadap ke depan stage 2 : Penari menghadap ke diagonal kanan depan 3 : Penari menghadap ke kanan stage 4 : Penari menghadap ke diagonal kanan belakang stage 2 1 5 : Penari menghadap ke belakang stage 6 : Penari menghadap ke diagonal kiri belakang stage 7 : Penari menghadap ke kiri stage 8 : Penari menghadap ke diagonal kiri depan stage Lintasan Perpindahan : : Lintasan penari ke segala arah : Arah putaran 4.6.6 Musik Iringan Dalam sebuah garapan tari musik iringan juga berperan sebagai penggambaran suasana.

Garapan tari kontemporer Hasrat ini menggunakan beberapa alat musik diatonis dan digabungkan dengan alat musik pentatonis, antara lain: - Alat Musik Diatonis yaitu : 1. Keyboard : alat musik yang dapat menimbulkan suasana keceriaan, kesedihan dan konflik dalam garapan tari Hasrat. - Alat Musik Pentatonis yaitu : 1. Suling : alat musik ini dapat memberikan semua suasana pada garapan tari Hasrat. 2. Gentorag : alat musik ini memberikan aksen gerak pada semua suasana.

3. Gong : alat musik ini juga dapat memberikan semua suasana pada garapan tari Hasrat. Selain alat musik di atas, vocal para pemain musik juga dipergunakan untuk mendukung suasana. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Tari Hasrat adalah suatu garapan tari kelompok yang terinspirasi dari pengalaman pribadi yang memiliki postur tubuh gemuk, serta ide dari menonton sebuah film yang berjudul “Pacarku Besar Sekali”.

Tari hasrat merupakan karya tari yang lahir dari penggarapan elemen-elemen tari, seperti gerak sebagai media dasar utama dari tari dan dipadukan juga elemen lainnya seperti: desain, pola lantai, kostum, tata rias, iringan, dan tata cahaya.

Garapan ini ditarikan oleh 5 orang penari, 2 perempuan (termasuk penata), dan 3 orang penari laki-laki. dengan durasi waktu kurang lebih 12 menit yang diiringi musik diatonis dan pentatonis yaitu: keyboard, suling, gong yang diletakkan dengan posisi tidur dan gentorang, didukung pula dengan penggunaan vocal.

Menggunakan properti kursi panjang berwarna coklat yang diletakkan di pojok depan centre stage. Garapan ini ditarikan oleh 5 orang penari, 2 perempuan (termasuk penata), dan 3 orang penari laki-laki.

dengan durasi waktu kurang lebih 12 menit yang diiringi musik diatonis dan pentatonis yaitu: keyboard, suling, gong yang diletakkan dengan posisi tidur dan gentorang, didukung pula dengan penggunaan vocal. Menggunakan properti kursi panjang berwarna coklat yang diletakkan di berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu depan centre stage.
Langkah-langkah pokok dalam evaluasi Pada umumnya langkah-langkah pokok evaluasi hasil belajar meliputi tiga kegiatan yaitu; Persiapan (perencanaan), Pelaksanaan, dan Pengolahan hasil.

• Menyusun rencana Evaluasi Hasil Belajar Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, terlebih dahulu disusun perencanaan yang baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil belajar pada umumnya mencakup enam jenis kegiatan yaitu; • Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi.

• Menetapkan aspek-aspek yang akan di evaluasi. Misalnya, aspek kognitifnya, aspek afektifnya atau aspek psikomotorik. • Memilih dan menentukan tehnik yang akan di pergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

• Menyusun alat-alat pengukur yang dipergunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik. • Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi. Misalnya apakah akan digunakan penilaian Beracuan Patokan (PAP) ataukah akan dipergunakan Penilaian Beracuan Kelompok (PAK) atau Norma (PAN).

• Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan berapa kali evaluasi belajar itu dilaksanakan). Evaluasi hasil belajar dapat dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur baik berupa tes maupun non tes.

Sumadi Suryabrata dalam bukunya Pengembangan Tes Hasil Belajar mengemukakan lima tahap dalam merencanakan dan menyusun tes sehingga menjadi tes yang baik dan dapat dibakukan sebagai berikut: • Pengembangan spesifikasi tes, spesifikasi tes adalah suatu uraian yang menunjukkan keseluruhan kualitas tes dan ciri-cirinya harus dimiliki oleh tes yang akan dikembangkan. Hal-hal yang penting dibicarakan dalam pengembangan spesifikasi tes adalah: – menentukan tujuan – memilih kisi-kisi soal – memilih tipe-tipe soal, beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni: Kesesuaian antara tipe soal dengan materi pelajaran, kesesuaian antara tipe soal dengan tujuan evaluasi, kesesuaian antara tipe soal dengan skoring.

kesesuaian antara tipe soal dengan pengolahan hasil evaluasi, kesesuaian antara tipe soal dengan administrasi tes yaitu penyelenggaraan dan pelaksanaan tes, kesesuaian antara tipe soal dengan kepraktisan.

– merencanakan taraf kesukaran soal. Tarap kesukaran soal dapat diketahui secara empirik dari persentase peserta yang gagal dalam menjawa. – merencanakan banyak sedikitnya soal. Dalam memperhitungkan banyak sedikitnya soal pada suatu tes yang perlu diperhatikan yaitu hubungan banyak sedikitnya soal dengan reliabilitas tes, bobot keseluruhan bagian, waktu tes dan uji coba suatu tes. • Penulisan soal Dalam penulisan soal, ada beberapa prinsip yang perlu dicermati dalam menyusun atau menulis soal (tes) hasil belajar: – tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning out comes) yang telah ditetapkan sesuai tujuan instrusional sehingga memudahkan bagi guru/dosen dalam menyusun butir-butir soal tes hasil belajar.

– butir-butir soal tes hasil belajar harus merupakan sampel yang refresentatif dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan sehingga dapat dianggap mewakili seluruh ferfomance yang telah diperoleh peserta didik selama mengikuti pelajaran. – bentuk soal tes harus bervariasi sehingga cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan tes itu sendiri. – tes hasil belajar didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang dinginkan.

– tes hasil belar harus dapat memiliki reabilitas yang dapat diandalkan. – tes hasil belajar disamping harus dapat dijadikan alat pengukur keberhasilan belajar peserta didik, harus dapat dijadikan alat untuk mencari informasi yang berguna untuk memperbaiki cara belajar peserta didik dan cara mengajar guru/dosen itu sendiri.

• Penelaahan soal Setelah butir soal tes hasil belajar selesai ditulis, maka butir soal tersebut harus diuji validitas rasionalnya yaitu kesesuaian butir soal dengan materi pengajaran, tujuan evaluasi dan tehnik penulisan soal yang baik. • Pengujian butir-butir soal secara empirik • Administrasi tes bentuk akhir untuk tujuan-tujuan pembakuan.

• Tehnik pelaksanaan evaluasi hasil belajar Tes hasil belajar merupakan salah satu jenis tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik, setelah mengikuti proses pembelajaran.

Tes ini dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu : • Tes hasil belajar bentuk uraian (essay test) yaitu salah satu jenis tes yang memiliki karakteristik: – Berbentuk pertanyaan atau perintah yang membutuhkan jawabanberupa uraian.

– Menuntut kepada testee untuk memberikan komentar, penafsiran, membandingkan dan sebagainya. – Jumlah butir soalnya umumnya terbatas lima sampai sepuluh.

– Umumnya diawali dengn kata-kata, jelaskan……., terangkan……, mengapa….,bagaimana……, dan sebagainya. • Tes hasil belajar berbentuk tes obyektif yang dikenal dengan jawaban pendek (short answer test).

Dari kedua bentuk tes tersebut dalam pelaksanaannya dapat diselenggarakan secara tertulis (tes tulis), secara lisan (tes lisan) dan dengan tes perbuatan. Dalam melaksanakan tes tulis, soal-soal tes dituangkan dalam bentuk tertulis dengan berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu tes juga tertulis.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu tes tulis yaitu: – Agar dalam mengerjakan soal tes peserta tes mendapat ketenangan harus jauh dari keramaian dan hiruk pikuk.

– Ruangan tes sebaiknya cukup longgar. – Tersedia meja dan kursi untuk testee (peserta tes). – Testee mulai mengerjakan soal secara bersamaan.

– Sebelum berlangsungnya tes, hendaknya ditentukan tata tertib mengikuti tes (sanksi yang dikenakan bagi pelaku testee yang curang. – Daftar hadir disiapkan sebagai bukti mengikuti tes. – Menyiapkan berita acara pelaksanaan tes, untuk mencegah timbulnya kesulitan dikemudian hari.

Selanjutnya dalam pelaksanaan tes lisan soal tes diajukan secara lisan dan dan dijawab secara lisan pula. Berikut ini dipaparkan tehnik pelaksanaan tes lisan: – Pertama, seyogyanya tester sudah melakukan inventarisasi berbagai jenis soal sebelu tes lisan dilaksanakan.

– Kedua setiap butir soal yang telah ditetapkan untuk diajuakan dalam tes lisan diketahui jawabannya oleh tester. – Ketiga, menentukan skor atau nilia hasil tes lisan saat masing-masing tester selesai dites.

– Keempat, tes hasil belajar yang dilakukan secara lisan hendaknya jangan menyimpang atau berubah arah dari evaluasi menjadi diskusi. – Kelima, menegakkan prinsip obyektifitas dan prinsip keadilan. – Keenam, tes lisan harus berlangsung secara wajar jangan sampai menimbulkan rasa takut, gugup atau panik dikalangan tester.

– Ketujuh, menentukan waktu bagi setiap peserta tes sehingga tercipta keseimbangan alokasi waktu antara testee yang satu dengan testee yang lain. – Kedelapan, membuat pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, meskipun inti persoalan yang ditanyakan sama. – Kesembilan, diusahakan agar tes lisan itu berlangsung secara individual (satu demi satu). Adapun tes perbuatan dilaksanakan dengan pemberian perintah atau tugas yang harus dilaksanakan oleh testee untuk mengukur taraf kompetensi yang bersifat keterampilan.

Dimana penilaiannya dilakukan terhadap proses penyelesaian tugas akhir yang dicapai oleh testee setelah melaksanakan tugas tersebut. Dari tehnik pelaksanaan evaluasi hasil belajar tersebut dibawa untuk memperoleh hasil prestasi belajar (nilai ) peserta didik secara obyektif hendaknya seorang tester mengikuti petunjuk-petunjuk teori sebagai mana telah dipaparkan.

• Pemeriksaan dan pegolahan hasil evaluasi hasil belajar menjadi nilai • Tehnik pemeriksaan hasil evaluasi hasil belajar Sebagaimana diketahui tes tertulis digolongkan ada dua yaitu tes bentuk uraian dan bentuk tes obyektif. Karena kedua bentuk tes hasil belajar itu memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga tehnik pemeriksaan hasil-hasilnya berbeda pula.

Untuk tes bentuk uraian, prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut: – membaca setiap jawaban yang diberikan oleh testee untuk setiap butir soal tes uraian dan membandingkan dengan pedoman/jawaban benar yang sudah disiapkan. – atas dasar hasil perbandingan antara jawaban testee dengan pedoman jawaban benar yang telah disiapkan tester lalu memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskannya dibagian kiri dari jawaban testee tersebut.

– Menjumlahkan skor-skor yang telah diberikan pada testee. Sedangkan untuk pemeriksaan hasil tes belajar bentuk obyektif pada umumnya dilakukan dengan menggunakan kunci jawaban.

Ada beberapa kunci jawaban yang dapat dipergunakan yaitu kunci berdampingan (strip key), kunci sistem karbon, kunci sistem tusukan dan kunci berjendela. Selanjutnya tehnik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes lisan dilaksanakan untuk menilai jawaban-jawaban testee pada tes hasil belajar secara lisan. Pada umumnya bersifat subyektif karena tester tidak berhadapan dengan lembar jawaban.

Oleh karena itu pemeriksaan terhadap jawaban-jawaban testee hendaknya dikendalikan oleh pedoman. Misalnya; kelengkapan jawaban yang diberikan testee, kelancaran menjawab, kebenaran menjawab,dan kemapuan mempertahankan pendapat. Adapun tehnik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes perbuatan diperlukan instrumen tertentu dan setiap gejala yang muncul diberi skor-skor tertentu. • Tehnik Pengolahan skor hasil evaluasi hasil belajar menjadi nilai Sebelum membicarakan tentang tehnik pengolahan skor mentah hasil tes hasil belajar menjadi nilai standar, maka akan dikemukakan perbedaan antara skor dan nilai.

Skor merupakan hasil pekerjaan memberikan angka bagi setiap item, yang oleh testee telah dijawab dengan benar, dengan memperhitungkan bobot jawaban sebenarnya. Sedangkan nilai adalah angka yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainya serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Ada dua hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi skor standar atau nilai yaitu: – Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dapat menggunakan berbagai macam skala seperti, skala lima (stanfive), yaitu 1) Skala bebas.

2) Nilai standar berskala lima atau yang sering dikenal dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan E. 3) Skala sembilan (stanine), yaitu standar berskala sembilan dimana rentang an nilainya mulai dari satu sampai 9. 4) Skala sebelasyaitu rentang 0 sampai 10. 5) Skala z score. Pada umumnya nilai yang dipakai di perguruan tinggi yaitu nilai standar berskala lima yang dikenal skala huruf.

– Pengolahan dan pengubahan score mentah menjadi nilai ada dua cara yang ditempuh yaitu penilaian beracuan patokan (PAP) dan Penilaian beracuan Norma (PAN) atau penilaian Beracuan Kelompok. Apabila penentuan hasil tes belajar menggunakan PAP, maka nilai yang akan diberikan kepada testee itu harus didasarkan pada standar mutlak (standar absolut) artinya pemberian nilai kepada testee dilaksanakan dengan membandingkan antara score mentah hasil tes yang dimiliki masing-masing individu testee, score maksimun Ideal (SMI) yang mungkin dapat dicapai oleh testee, kalau saja seluruh tes dapat dijawab dengan betul.

Sedangkan penilaian beracuan norma atau penilaian beracuan kelompok ini sering dikenal dengan istilah penetuan nilai secara relatif.

Dikatakan demikian, sebab dalam penentuan nilai hasil tes yang dicapai oleh seorang peserta tes diperbandingkan dengan skor mentah hasil tes yang dicapai oleh peserta tes yang lain, sehingga kualitas yang dimiliki oleh seorang peserta tes akan sangat tergantung kepada atau sangat ditentukan oleh kualitas kelompok.

http://ustirahmawati.wordpress.com/2010/07/28/langkah-langkah-pokok-dalam-evaluasi/Baca Juga : Contoh Proposal Penelitian Ilmiah dan Skripsi Untuk lebih jelasnya, berikut ini yang termasuk salah satu langkah-langkah mengkonstruksi karya ilmiah adalah … 1.

Menentukan tema, penerapan penulisan yang beredoman pada kerangka, dan membangun paragraf pembuka serta merevisi 2. Memilih ciri khas dari gaya penulisan, lalu memberikan interpretasi dari isi, dan yang terakhir memberikan kesimpulan secara ringkas. 3. Mencatat seluruh data sesuai kondisi real, mereduksi isi, membuat sebuah kesimpulan dari isi dalam suatu ringkasan. 4. Melakukan proses identifikasi dari keterangan, meringkas isi, melakukan pengeditan pada isi serta membangun sebuah gambaran representatif.

5. Menyeleksi tema yang tepat lalu membuat sebuah tulisan yang berpedoman pada kerangka. Kemudian, melakukan sebuah revisi yang dilanjutkan pada menyimpulkan isi serta membandingkannya.

Pembahasan Konstruksi Karya Ilmiah Sebelum jauh soal bagaimana konstruksi karya ilmiah, tentu ada beberapa tahapan yang perlu kamu lewati. Antara lain sebagai berikut: 1. Menentukan Tema Tak memungkiri, tema menjadi aspek penting dalam bidang karya ilmiah, terutama sebagai penegasan masalah dalam sebuah topik/tema.

Maka dari itu, dalam menentukan pokok tema harus sesuai, memiliki daya tarik, dan mampu memberikan manfaat. 2. Identifikasi Sumber dan Bahan Untuk sumber yang berupa bahan data tulisan pun bisa bersumber dari berbagai variasi cara.

Pertama, bisa melalui metode penelitian, wawancara, ataupun berdasarkan atas rujukan dari buku bacaan. 3. Membangun Rancangan Sistem Artinya, dalam tahapan penulisan karya ilmiah, perlu sebuah rangka yang terukur. Sehingga, akan mempermudah dalam prosesnya. 4. Proses Pengembangan Kesimpulan Selanjutnya, pengembangan karya ilmiah yang mendasarkan dari bahan karya tulis dengan menggunakan metode kerangka karya tulis ilmiah.

Sampai di sini jelas jika mendasarkan atas beberapa informasi yang ada, tentu saja ada tahapan sebagai berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu untuk mengkonstruksi karya ilmiah. Secara urut mulai dari pemilihan tema, menulis sesuai dengan pedoman kerangka secara sistematis, menulis pengantar pada paragraf awal, lalu melakukan revisi.

Dengan begitu, jawaban untuk pernyataan tersebut jatuh pada pilihan nomor 1. Baca Juga : Contoh Karya Ilmiah Lengkap Beserta Jenisnya Sampai di sini, tentu kamu sudah memahami Berikut yang termasuk salah satu langkah-langkah mengkonstruksi karya ilmiah adalah yang ada pada jawaban nomor 1.

Klik dan dapatkan info kost di dekatmu: Kost Jogja Harga Murah Kost Jakarta Harga Murah Kost Bandung Harga Murah Kost Denpasar Bali Harga Murah Kost Surabaya Harga Murah Kost Semarang Harga Murah Kost Malang Harga Murah Kost Solo Harga Murah Kost Bekasi Harga Murah Kost Medan Harga Murah
Dalam berkarya, tentunya tidak terlepas dari adanya tahapan pada proses penciptaannya.

Karena melalui tahapan yang benar dalam proses penciptaan suatu karya, maka secara otomatis akan menghasilkan karya kerajinan yang baik kualitasnya.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Oleh sebab itu, proses penciptaan karya kerajinan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, menentukan bahan dan fungsi kerajinan. Menentukan bahan dasar dan fungsi kerajinan yang akan dibuat sangat penting, karena bahan dasar yang digunakan berpengaruh terhadap fungsi dari sebuah produk kerajinan dan demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh apabila kita membuat mangkuk untuk wadah sayur, maka tentu saja bahan yang digunakan haruslah sesuai, misalnya yaitu tanah liat atau logam.

Hal ini disebabkan karena sangat tidak mungkin bila menggunakan bahan dasar serat alam, karena bahan dasar serat alam hanya cocok untuk pembuatan mangkuk yang difungsikan sebagai produk kerajinan untuk hiasan.

Kedua, menggali ide dari berbagai sumber. Penggalian ide dari berbagai sumber diperlukan sebagai bahan referensi atau tolok ukur dalam proses penciptaan suatu karya. Hal ini juga penting karena dengan adanya ide dari berbagai sumber maka bukan tidak mungkin nantinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu karya kerajinan inovatif model baru. Ketiga, membuat beberapa sketsa karya dan menentukan sebuah karya terbaik. Sketsa produk diperlukan sebagai acuan dalam pebuatan suatu karya kerajinan.

Oleh sebab itu dalam proses pembuatan suatu karya kerajinan dibutuhkan adanya sketsa yang jelas sehingga dapat mempermudah dan mempercepat pengerjaannya. Hal tersebut serupa dengan proses pembuatan sebuah gedung atau produk lainnya yang juga menggunakan sketsa sebagai acuan dasar dalam penciptaannya. Keempat, menyiapkan bahan dan alat. Alat dan bahan disiapkan sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan kebutuhan yang dimaksud di sini adalah disesuaikan dengan jenis, fungsi, dan model produk yang akan dibuat.

Kelima, membuat karya kerajinan. Pembuatan karya dapat dilakukan dengan mengacu pada sketsa yang telah dibuat sebelumnya dan dengan menggunakan alat serta bahan yang telah disiapkan. Yang mana dalam hal pembuatan karya kerajinan di sini tentunya tidak lepas pula dari fungsi kerajinan yang telah ditentukan sebelumnya. Keenam, mengevaluasi karya. Apakah produk kerajinan yang diciptakan sudah sesuai dengan yang diharapkan?

Ataukah ternyata produk kerajinan yang dihasilkan masih jauh dari rencana sebelumnya? Nah, disinilah perlunya evaluasi terhadap karya yang dihasilkan, karena dengan melakukan evaluasi maka dapat diketahui berbagai kekurangan serta kelemahan selama proses pembuatan karya kerajinan tersebut.

Dengan demikian maka secara otomatis dapat diketahui pula segala kekurangan dan kelemahan dari produk kerajinan yang dicipta, yang akhirnya dapat dipergunakan sebagai tolok ukur atau sebagai dasar untuk melakukan perbaikan dan pembenahan dalam proses pembuatan yang berikutnya sehingga benar-benar dapat menghasilkan karya kerajinan yang baik dan berkualitas.

Silakan klik di sini untuk mengeposkan komentar Anda. Jika Anda ingin membaca artikel lain yang terdapat pada blog ini, maka dapat Anda lakukan dengan cara membuka laman daftar isi. Catatan: Komentar balasan hanya diprioritaskan untuk pertanyaan dan atau pernyataan yang diposkan dengan memakai formulir komentar Blogger.
Dalam berkarya, tentunya tidak terlepas dari adanya tahapan pada proses penciptaannya.

Karena melalui tahapan yang benar dalam proses penciptaan suatu karya, maka secara otomatis akan menghasilkan karya kerajinan yang baik kualitasnya.

Oleh sebab itu, proses penciptaan karya kerajinan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, menentukan bahan dan fungsi kerajinan. Menentukan bahan dasar dan fungsi kerajinan yang akan dibuat sangat penting, karena bahan dasar yang digunakan berpengaruh terhadap fungsi dari sebuah produk kerajinan dan demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh apabila kita membuat mangkuk untuk wadah sayur, maka tentu saja bahan yang digunakan haruslah sesuai, misalnya yaitu tanah liat atau logam.

Hal ini disebabkan karena sangat tidak mungkin bila menggunakan bahan dasar serat alam, karena bahan dasar serat alam hanya cocok untuk pembuatan mangkuk yang difungsikan sebagai produk kerajinan untuk hiasan.

Penggalian ide dari berbagai sumber diperlukan sebagai bahan referensi atau tolok ukur dalam proses penciptaan suatu karya. Hal ini juga penting karena dengan adanya ide dari berbagai sumber maka bukan tidak mungkin nantinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu karya kerajinan inovatif model baru.

Ketiga, membuat beberapa sketsa karya dan menentukan sebuah karya terbaik. Sketsa produk diperlukan sebagai acuan dalam pebuatan suatu karya kerajinan. Oleh sebab itu dalam proses pembuatan suatu karya kerajinan dibutuhkan adanya sketsa yang jelas sehingga dapat mempermudah dan mempercepat pengerjaannya.

Hal tersebut serupa dengan proses pembuatan sebuah gedung atau produk lainnya yang juga menggunakan sketsa sebagai acuan dasar dalam penciptaannya. Keempat, menyiapkan bahan dan alat. Alat dan bahan disiapkan sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan kebutuhan yang dimaksud di sini adalah disesuaikan dengan jenis, fungsi, dan model produk yang akan dibuat.

Kelima, membuat karya kerajinan. Pembuatan karya dapat dilakukan dengan mengacu pada sketsa yang telah dibuat sebelumnya dan dengan menggunakan alat serta bahan yang telah disiapkan.

Yang mana dalam hal pembuatan karya kerajinan di sini tentunya tidak lepas pula dari fungsi kerajinan yang telah ditentukan sebelumnya. Keenam, mengevaluasi karya. Apakah produk kerajinan yang diciptakan sudah sesuai dengan yang diharapkan? Ataukah ternyata produk kerajinan yang dihasilkan masih jauh dari rencana sebelumnya? Nah, disinilah perlunya evaluasi terhadap karya yang dihasilkan, karena dengan melakukan evaluasi maka dapat diketahui berbagai kekurangan serta kelemahan selama proses pembuatan karya kerajinan tersebut.

Dengan demikian maka secara otomatis dapat diketahui pula segala kekurangan dan kelemahan dari produk kerajinan yang dicipta, yang akhirnya dapat dipergunakan sebagai tolok ukur atau sebagai dasar untuk melakukan perbaikan dan pembenahan dalam proses pembuatan yang berikutnya sehingga benar-benar dapat menghasilkan karya kerajinan yang baik dan berkualitas
Berbagai macam jenis patung terdapat di banyak wilayah yang berbeda di Asia, biasanya dipengaruhi oleh agama Hindu dan Buddha.

Sejumlah besar patung Hindu di Kamboja dijaga kelestariannya di Angkor, akan tetapi penjarahan terorganisir yang terjadi berdampak besar pada banyak situs peninggalan di negara itu. Lihat juga Angkor Wat. Di Thailand, kebanyakan patung dikhususkan pada bentuk Buddha.

Di Indonesia, patung-patung yang dipengaruhi agama Hindu banyak ditemui di situs Candi Prambanan dan berbagai tempat di pulau Bali. Sedangkan pengaruh agama Buddha ditemui di situs Candi Borobudur. Di India, karya patung pertama kali ditemukan di peradaban Lembah Indus (3300-1700) SM. Ini adalah salah satu contoh awal karya patung di dunia. Kemudian, setelah Hinduisme, Buddhisme dan Jainisme berkembang lebih jauh, Republic of india menciptakan patung-patung tembaga serta pahatan batu dengan tingkat kerumitan yang besar, seperti yang terdapat pada hiasan-hiasan kuil Berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu, Jain dan Buddha.

Artifak-artifak yang ditemukan di Republik Rakyat Cina berasal dari sekitar tahun x.000 SM. Kebanyakan karya patung Tiongkok yang dipajang di museum berasal dari beberapa periode sejarah, Dinasti Zhou (1066-221 SM) menghasilkan bermacam-macam jenis bejana perunggu cetak dengan hiasan yang rumit.

Dinasti Qin (221-206 SM) yang terkenal dengan patung barisan tentara yang dibuat dari terracota. Dinasti Han (206 SM – 220AD) dengan patung-patung figur yang mengesankan kekuatan. Patung Buddha pertama ditemui pada periode Tiga Kerajaan (abad ketiga). Yang dianggap sebagai zaman keemasan Tiongkok adalah periode Dinasti Tang, pada saat perang saudara, patung-patung figur dekoratif dibuat dalam jumlah banyak dan diekspor untuk dana peperangan.

Kemudian setelah akhir Dinasti Ming (akhir abad 17) hampir tidak ada patung yang dikoleksi museum, lebih banyak berupa perhiasan, batu mulia, atau gerabah–dan pada abad 20 yang gegap gempita sama sekali tidak ada karya yang dikenali sebagai karya patung, meskipun saat itu terdapat sekolah patung yang bercorak sosial realis pengaruh Soviet di awal dekade rezim komunis, dan pada pergantian abad, para pengrajin Tiongkok mulai mendominasi genre karya patung komersial (patung figur miniatur, mainan dsb) dan seniman garda depan Tiongkok mulai berpartisipasi dalam seni kontemporer Eropa Amerika.

Di Jepang, karya patung dan lukisan yang tak terhitung banyaknya, seringkali di bawah sponsor pemerintah. Kebanyakan patung di Jepang dikaitkan dengan agama, dan seiring dengan berkurangnya peran tradisi Buddhisme, jenis penggunaan bahannya juga berkurang.

Selama periode Kofun (abad ketiga), patung tanah liat yang disebut haniwa didirikan di luar makam. Di dalam Kondo yang berada di Horyu-ji terdapat Trinitas Shaka (623), patung Buddha yang berupa dua bodhisattva serta patung yang disebut dengan Para Raja Pengawal Empat Arah. Patung kayu (abad ix) mengambarkan Shakyamuni, salah satu bentuk Buddha, yang menghiasi bangunan sekunder di Muro-ji, adalah ciri khas dari patung awal periode Heian, dengan tubuh berat, dibalut lipatan draperi tebal yang dipahat dengan gaya hompa-shiki (ombak bergulung), serta ekspresi wajah yang terkesan serius dan menarik diri.

Sekolah seni patung Kei, menciptakan gaya patung baru dan lebih realistik. Afrika Seni rupa di Afrika memiliki penekanan pada seni patung. Para seniman Afrika cenderung lebih menyukai karya tiga dimensi dibandingkan dengan dua dimensi. Meskipun para antropolog berpendapat bahwa patung yang mula-mula dikenal di Afrika berasal dari kebudayaan Nok di Nigeria sekitar tahun 500 SM, karya-karya seni Afrika Pharaonic (berkaitan dengan zaman Mesir kuno), kurun waktunya lebih awal daripada periode Nok.

Patung logam yang berasal dari bagian timur Afrika barat, seperti Republic of benin, dianggap sebagai yang terbaik yang pernah dihasilkan. Patung diciptakan dan disimbolkan mencerminkan tempat asal di mana patung tersebut dibuat.

Berdasarkan bahan dan teknik yang digunakan serta fungsinya, karya patung berlainan dari satu daerah ke daerah lain. Di Afrika Barat figur patung memiliki tubuh memanjang, bentuk bersudut, dan tampilan wajah yang lebih merepresentasi bentuk platonic daripada private.

Figur-figur tersebut dipakai dalam ritual keagamaan dan seringkali permukaannya dilapisi bahan lewat upacara sesaji.

Berlawanan dengan ini adalah patung yang diciptakan oleh penduduk Afrika Barat yang berbahasa Mande. Patung karya mereka terbuat dari kayu memiliki permukaan melebar dan rata sementara lengan dan kakinya berbentuk seperti silinder. Di Afrika Tengah ciri khasnya termasuk wajah yang berbentuk seperti hati yang melengkung ke dalam serta pola lingkaran dan titik. Meskipun beberapa kelompok lebih menyukai penciptaan wajah dengan bentuk geometris dan bersudut. Bahan yang digunakan adalah kayu, yang paling banyak digunakan, juga gading, tulang, batu, tanah liat serta logam.

Kawasan Afrika Tengah memiliki gaya patung yang menyolok yang dengan mudah dapat diidentifikasi dari mana asal patung itu dibuat. Satu jenis karya tiga dimensi yang dibuat di kawasan Afrika Timur adalah patung tiang. Tiang dipahat berbentuk manusia dan dihias dengan bentuk-bentuk geometris, sementara bagian puncaknya dipahat dengan figur orang, binatang atau objek-objek lain.

Tiang ini ditaruh di dekat makam dan diasosiasikan dengan kematian. Patung figur dari tanah liat tertua yang dikenal di Afrika Selatan berasal dari tahun 400 sampai 600 AD dan memiliki kepala berbentuk silindris. Berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu dari tanah liat ini memiliki tampilan berupa gabungan antara manusia dan binatang. Selain patung tanah liat ada juga sandaran kepala dari kayu yang dikuburkan bersama pemiliknya dalam makam.

Sandaran kepala ini berupa bentuk geometris atau figur binatang. Mesir Karya seni patung Mesir kuno dikembangkan untuk merepresentasikan dewa-dewa Mesir kuno, juga para Fir’aun, dalam bentuk fisik. Aturan-aturan yang sangat ketat diikuti ketika menciptakan karya patung; patung laki-laki dibuat lebih gelap daripada patung perempuan; dalam patung berposisi duduktangan harus diletakkan pada lutut dan aturan-aturan tertentu dalam menggambarkan para dewa. Peringkat artistik didasari atas kesesuaian dengan aturan, dan aturan tersebut diikuti secara ketat selama ribuan tahun, sehingga penampilan patung tidak banyak berubah kecuali selama periode singkat semasa pemerintahan Akhenaten dan Nefertiti, diperbolehkan penggambaran secara naturalistik.

Eropa Romawi Yunani Klasik Seni patung klasik Eropa merujuk pada seni patung dari zaman Yunani Kuno, Romawi kuno serta peradaban Helenisasi dan Romanisasi atau pengaruh mereka dari sekitar tahun 500 SM sampai dengan kejatuhan Roma di tahun 476 AD, istilah patung klasik juga dipakai untuk patung modernistic yang dibuat dengan gaya klasik.

Patung-patung klasik Eropa memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • Figur badan penuh: berupa laki-laki muda atletis atau wanita telanjang. • Portrait: menunjukkan tanda-tanda usia atau karakter yang kuat. • Memakai kostum serta atribut dewa-dewi klasik • Peduli dengan naturalisme didasari dengan observasi, seringkali memakai model sungguhan.

Bentuk patung telanjang biasanya diterima secara luas oleh masyarakat, didasari pada lamanya tradisi yang mendukungnya. Tapi adakalanya, ada yang berkeberatan dengan tema ketelanjangan ini, biasanya dari kalangan fundamentalis moral dan relijius. Contohnya, beberapa patung Yunani koleksi Vatikan dihilangkan penisnya. Periode Gothik Mata rantai yang menghubungkan seni, dalam hal ini adalah arsitektur, Eropa zaman pertengahan (Gothik) dengan seni arsitektur Romawi disebut dengan periode Romanesque.

Karya seni patung Gothik awal adalah dari pengaruh agama Kristen, serta lahir dari dinding gereja dan biara. Patung yang terdapat di Chartres Cathedral (sekitar th. 1145) di Perancis merupakan karya patung awal zaman Gothik.

Di Jerman, terdapat di Cathedral Bamberg dari tahun 1225. Di Inggris, karya patung hanya terbatas pada yang dipakai pada batu nisan serta dekorasi non figur (sebagian ini disebabkan karena ikonoklasme Cistercian). Di Italia, masih dipengaruh bentuk-bentuk zaman klasik, seperti yang terdapat pada mimbar Baptistery di Pisa serta di Siena.

Renaissance Pada zaman renaissance, seni patung juga turut dihidupkan kembali, bahkan dalam beberapa kasus lebih dulu dibandingkan dengan karya seni lain. Salah satu tokoh penting dalam masa ini adalah Donatello, dengan karya patung perunggunya, David (jangan rancu dengan David-nya Michelangelo).

Ini merupakan karya patung awal zaman Renaissance. Demikian juga dengan Michelangelo yang selain membuat patung David, juga membuat Pietà. Patung David dari Michelangelo merupakan satu contoh gaya kontraposto dalam menggambarkan figur manusia. Masih ada beberapa periode dari zaman renaissance ke modernisme yang dipengaruhi oleh perubahan politik, gerakan kebudayaan atau hal lain, yaitu periode mannerisme, bizarre dan neo klasik. Modernisme Auguste Rodin merupakan salah satu pematung Eropa terkenal dari awal abad 20.

Ia seringkali disebut sebagai seniman patung Impresionis. Seni patung modern klasik kurang berminat pada naturalisme, item anatomi atau kostum dan lebih tertarik pada stilisasi bentuk, demikian juga pada irama volume dan ruang. Seiring dengan perkembangan waktu, gaya seni patung modern klasik kemudian diadopsi oleh dua penguasa totalitarian Eropa: Nazi Jerman dan Uni Soviet. Sementara di kawasan Eropa lain, gaya ini berubah menjadi bersifat dekoratif/art deco (Paul Manship, Carl Milles), stilisasi abstrak (Henry Moore, Alberto Giacometti) atau lebih ekspresif.

Gerakan modernis dalam karya seni patung menghasilkan karya Kubisme, Futurisme, Minimalisme, Instalasi dan Popular art. Dalam hal ini menurut bentuknya, patung merupakan salah satu karya seni rupa tiga dimensi. Sebab, patung memiliki ukuran panjang, lebar dan tinggi (volume) serta dapat dinikmati dari segala arah.

Karya patung modernistic saat ini mulai berkembang pesat seiring dengan kebutuhan dalam mengarungi perubahan gaya hidup di lingkungan kita.

Menurut ensiklopedia indonesia ( 1990 : 215 ) seni patung sculpture berarti seni pahat atau bentuk badan yang padat yang diwujudkan dalam tiga dimensional yang ciptaanya bisa berupa gambar-gambar timbul (relief) atau patung yang di buat dari media kayu maupun logam.

Berikut ini disampaikan beberapa ahli seni rupa yang mendefinisikan seni patung. Menurut Mikke Susanto (2011: 296) seni patung adalah sebuah tipe karya tiga dimensi yang bentuknya dibuat dengan metode subtraktif (mengurangi bahan seperti memotong, menatah) atau aditif (membuat model lebih dulu seperti mengecor dan mencetak).

Sedangkan menurut Soenarso dan Soeroto dalam bukunya ( 1996: half-dozen) Seni Patung adalah semua karya dalam bentuk meruang. Menurut Kamus Besar Indonesia adalah benda tiruan, bentuk manusia dan hewan yang cara pembuatannya dengan dipahat. Selanjutnya B.S Myers (1958: 131-132 ) mendefinisikan Seni patung adalah karya tiga dimensi yang tidak terikat pada latar belakang apa pun atau bidang manapun pada suatu bangunan.

Karya ini diamati dengan cara mengelilinginya, sehingga harus nampak mempesona atau terasa mempunyai makna pada semua seginya. Selain itu Mayer (1969: 351) menambahkan bahwa seni patung berdiri sendiri dan memang benar-benar berbentuk tiga dimensi sehingga dari segi manapun kita melihatnya, kita akan dihadapkan kepada bentuk yang bermakna.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karya seni memiliki media yang sangat luas. Segala hal mampu menjadi aspek pendukung dalam terciptanya karya seni, yang perwujudan salah satunya adalah karya seni patung. Cabang seni rupa tiga dimensi ini merupakan perwujudan ekspresi dan kreasi manusia. Unsur Rupa dalam Seni Patung Dalam berkarya seni patung untuk mendapatkan hasil yang baik diperlukan unsur-unsur pendukung bentuk yang sering disebut unsur-unsur rupa (visual).

Secara garis besar unsur-unsur (visual) yang dikembangkan dalam berkarya adalah sebagai berikut : • Garis Unsur rupa garis merupakan pertemuan dari suatu titik ke titik yang lain. Menurut Yudoseputro (1993:89) garis merupakan unsur visual yang paling penting dan berfungsi sebagai pembatas, pemberi kesan dimensi dan pemberi kesan tekstur pada bidang. Meskipun sederhana garis memiliki peran sangat penting dalam menciptakan karya seni rupa.

Menurut Nursantara (2007:11) garis merupakan barisan titik yang memiliki dimensi memanjang dan arah tertentu dengan kedua ujung terpisah. Ia bisa panjang, pendek, tebal, halus, lurus, lengkung, patah, berombak, horizontal, vertikal, diagonal, dan sebagainya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa menurut wujudnya, garis bisa berupa nyata dan semu.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu

Garis nyata adalah garis yang dihasilkan dari coretan atau goresan langsung. Garis semu adalah garis yang muncul karena adanya kesan kesan batas (kontur) dari suatu bidang, warna, atau ruang. Susanto (2002:45), menyatakan bahwa garis adalah perpaduan sejumlah titik-titik yang sejajar dan sama besar. Ia memiliki dimensi memanjang dan punya arah, bisa pendek, panjang, halus, berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu, berombak, melengkung, lurus, dan lain- lain.

Garis merupakan tanda atau markah yang memanjang, yang membekas pada suatu permukaan dan mempunyai arah. Perwujudan garis juga sangat dipengaruhi oleh karakter senimannya (Sunaryo, 2002:5).

Menurut Kartika (2004:xl), goresan atau garis yang dibuat oleh seorang seniman akan memberikan kesan psikologis yang berbeda pada setiap garis yang hadir. Selain itu alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan karya seni juga sangat menentukan perbentukan garis yang dihasilkan.

Sunaryo (2002:4), menyatakan bahwa garis ditinjau dari segi jenisnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : (i) Garis lurus, garis yang berkesan tegas dan lancar, memiliki arah yang jelas ke arah pangkal ujungnya, garis ini ada umumnya bersifat kaku.

(ii) Garis tekuk, garis yang bergerak meliuk-liuk, berganti arah atau tak menentu arahnya, penampilannya membentuk sudut-sudut atau tikungan yang tajam kadang berkesan tegas dan tajam.

(3) Garis lengkung, garis yang berkesan lembut dan kewanitaan ditinjau dari segi arah garis juga dibagi menjadi tiga bagian yaitu : Garis tegak (vertikal) yaitu penampilannya berkesan kokoh, memiliki vitalitas yang kuat; Garis datar (horisontal) yaitu penampilannya berkesan tenang, mantap dan luas; Garis silang (diagonal) yaitu penampilannya berkesan bergerak dan giat.

Pada pahatan sebuah patung garis yang nampak merupakan garis maya yang terkesan tegas, kaku, luwes dan lengkung karena adanya torehan pahat yang membentuk gelap terang dan diakibatkan adanya sinar yang jatuh pada permukaan patung. • Warna Warna adalah suatu kualitas rupa yang membedakan kedua objek atau bentuk yang identik raut, ukuran, dan nilai gelap terangnya. Warna yang kita cerap, sangat ditentukan oleh adanya pancaran cahaya (Sunaryo, 2002 :12). Menurut Soegeng dalam Kartika (2004 : 48) warna merupakan kesan yang ditimbulkan cahaya pada mata.

Warna pada benda-benda tersebut tidak mutlak, melainkan setiap warna akan dipengaruhi oleh kepentingan penggunaannya. Pada setiap patung memiliki warna berbeda-beda dengan patung yang lainnya tergantung medium yang digunakan dalam membuat patung. Dari unsur warna dapat menambah nilai keindahan patung yang diperoleh dari karakteristik warna medium yang digunakan, sehingga unsur warna yang ada pada berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu nilai estetis pada karya seni patung.

berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu Tekstur Tekstur (texture) ialah unsur rupa yang menunjukkan rasa permukaan bahan, sengaja dibuat dan dihadirkan dalam susunan untuk mencapai bentuk rupa, sebagai usaha untuk memberikan rasa tertentu pada permukaan bidang pada perwajahan bentuk pada karya seni rupa secara nyata atau semu (Kartika, 2004 : 47-48). Menurut Susanto (2002:20) tekstur atau barik merupakan nilai raba, kualitas permukaan yang dapat melukiskan sebuah permukaan objek seperti kulit, rambut, dan bisa merasakan kasar-halusnya, teratur-tidaknya suatu objek.

Tekstur adalah sifat permukaan yang memiliki karakter halus, licin, polos, kasap, mengkilap, berkerut, dan sebagainya (Sunaryo, 2002:11). Sesuai dengan Nursantara (2007:15), tekstur adalah nilai raba dari suatu permukaan, bisa halus, kasar, licin, dan lain-lain. Dalam seni patung tekstur dapat diperoleh dengan menggunakan unsur warna, garis, raut yang mempunyai hasil nilai raba yang berbeda-beda dan selain itu tekstur juga dapat diperoleh dari medium patung yang digunakan.

• Raut Raut ( shape) adalah suatu bidang kecil yang terjadi karena dibatasi oleh sebuah kontur (garis) dan atau dibatasi oleh adanya warna yang berbeda atau oleh gelap terang pada arsiran atau karena adanya tekstur (Kartika, 2004 : 41). Di dalam karya seni, shape digunakan sebagai simbol perasaan seniman di dalam menggambarkan objek hasil subjek affair. Menurut Sunaryo (2004:4), berawal dari kata shape yang secara umum bermakna perwujudan yang dikelilingi oleh kontur dan sapuan-sapuan warna, untuk menyatakan suatu bidang maupun sesuatu yang bervolume atau bermassa.

Menurut Wong dalam Sunaryo (2002 : 10) dari segi perwujudannya, raut dapat dibagi menjadi (ane) raut geometris, (2) raut organis, (3) raut beraturan, dan (four) raut tak beraturan. • Bentuk Pada dasarnya pengertian bentuk (form) adalah wujud fisik yang dapat dilihat (Bastomi, 1992 : 55).

Bentuk tidak terlepas kaitannya dengan elemen garis. Bidang adalah suatu bentuk dataran yang dibatasi garis, dengan kata lain bentuk disebut juga bidang bertepi. Bentuk merupakan wujud, seperti pada karya seni patung yang selalu memiliki bentuk yang berbeda-beda. Pada seni patung juga menggunakan unsur bentuk sebagai salah satu unsur keindahannya, karena dengan melihat dari segi fisik atau bentuk yang ada maka patung dapat dinilai keindahan objektifnya.

• Ruang Ruang (space) adalah unsur atau daerah yang mengelilingi sosok bentuknya. Menurut Yudoseputro (1993 : 98) unsur ruang sebenarnya tidak dapat dilihat atau sesuatu yang khayal. Ruang dapat dihayati hanya dengan kehadiran benda atau membuat garis dan bidang di atas lembar kertas.

Dalam desain dwimatra ruang bersifat maya karena itu disebut ruang maya. Ruang maya dapat bersifat pipih, datar dan rata. Berkesan trimatra yang lazim disebut kedalaman. Kedalaman merupakan ruang ilusi atau tidak nyata, sedangkan ruang nyata dapat ditempati benda dan bersifat trimatra seperti pada karya seni patung yang juga memiliki unsur ruang. • Volume Suatu ruang yang dibatasi dengan bidang disebut volume. Book dalam patung terwujud dalam bentuk bagian-bagian dari keseluruhan massa, tercipta karena keluasan dan kedalaman (Tristiadi, 2003: 10).

Seni patung memiliki unsur volume yang juga disebut isi, patung memiliki unsur trimatra dan memiliki unsur ruang di dalamnya yang menjadikan volume ada dalam karya seni patung.

• Gelap Terang Unsur gelap terang disebut unsur cahaya, yang berasal dari matahari yang berubah-ubah derajat intensitasnya, maupun sudut jatuhnya yang menghasilkan bayangan dengan keanekaragaman kepekatannya (Sunaryo, 2002: 19).

Unsur gelap terang pada karya seni menghasilkan bayangan yang dapat mempengaruhi bentuk karya seni itu sendiri. Hubungan antara gelap terang dan pencahayaan menghasilkan suatu bayangan sehingga menimbulkan suatu gradasi. Gradasi inilah yang nantinya membentuk efek pada mata sehingga mengakibatkan adanya perbedaan gelap dan terangnya pada suatu benda. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mewujudkan hasil karya seni yang bernilai estetis tidak dapat lepas dari unsur-unsur visual yang menyusunnya.

Garis, warna, tekstur, raut, bentuk, ruang, volume dan gelap terang adalah bahasa visual yang dapat mengungkapkan emosi, sama persis dengan naught-zilch dalam musik yang langsung menyentuh dan menggetarkan hati. Nada-zero tersebut adalah ungkapan dari semua yang ada di dalam. Garis hadir sebagai terwujudnya raut atau bidang, dan bidang sebagai penggambaran suatu objek dengan torehan warna dan tekstur untuk mengekspresikan jiwa.

Sedangkan hadirnya sebuah objek yang memiliki wujud atau bentuk maka akan tercipta sebuah ruang dan volume yang mengisinya, dengan gelap terang yang terjadi karerna adanya perbedaan intensitas cahaya yang diterima oleh suatu objek. Penyusun atau komposisi dari unsur-unsur estetik merupakan prinsip pengorganisasian unsur dalam desain. Untuk menambah nilai lebih dalam karya seni, selain unsur-unsur visual dalam berkarya seni juga harus memperhatikan prinsip-prinsip desain.

Fungsi Seni Patung Seni patung pada zaman dahulu di buat untuk kepentingan keagamaan, pada zaman Hindu dan Budha, patung di buat untuk menghormati dewa atau orang yang di jadikan teladan. Pada perkembangan selanjutnya patung dibuat untuk monumen atau peringatan suatu peristiwa besar pada suatu bangsa, kelompok atau perorangan.

Pada jaman sekarang seni patung sering diciptakan untuk mengekspresikan diri penciptanya karena lebih bebas dan bervariasi. • Patung religi, selain dapat dinikmati keindahannya tujuan utama dari pembuatan patung ini adalah sebagai sarana beribadah, bermakna relijius. • Patung monument, keindahan dan bentuk petung yang dibuat sebagai peringatan peristiwa bersejarah atau jasa seorang pahlawan.

• Patung arsitektur, keindahan patung dapat dinikmati dari tujuan utama patung yang ikut aktif berfungsi dalam kontruksi bangunan. • Patung dekorasi, untuk menghias bangunan atau lingkungan taman. • Patung seni, patung seni untuk di nikmati keindahan bentuknya.

Patung kerajinan, hasil dari para pengrajin. Keindahan patung yang dibuat selain untuk dinikmati juga sengaja untuk dijual.

Di Indonesia pada masa lampau sudah dikenal patung primitif seperti yang terdapat di Irian Jaya (Asmad) dan Sulawesi Selatan (Toraja). Menurut pendapat Musoiful Faqih M (2004:59) pada masa Hindu-Budha patung klasik terutama berkembang di Jawa dan Bali. Karya patung primitif dan klasik secara tradisional berlangsung turun temurun hingga sekarang.

Selanjutnya primitif dan klasik disebut corak tradisional sedangkan patung di luar primitif dan klasik disebut patung yang bercorak modern. Dilihat dari perwujudannya, ragam seni patung modern dapat dibedakan menjadi tiga: Berdasarkan Coraknya Dilihat Dari Perwujudannya : • Corak Imitatif (Realis/ Representatif) Corak ini merupakan tiruan dari bentuk alam (manusia, binatang dan tumbuhan).

Perwujudannya berdasarkan fisio plastis atau bentuk fisik baik anatomi proporsi, maupun gerak. Patung corak realis tampak pada karya Hendro, Trubus, saptoto dan Edy Sunarso. • Corak Deformatif Patung corak ini bentuknya telah banyak berubah dari tiruan alam. Bentuk-bentuk alam digubah menurut gagasan imajinasi pematung. Pengubahan dan bentuk alam digubah menjadi bentuk baru yang keluar dari bentuk aslinya.

Karya ini tampak pada karya Just Mochtar Yard Sidhartha. • Corak Nonfiguratif (Abstrak) Patung ini secara umum sudah meninggalkan bentuk-bentuk alam untuk perwujudannya bersifat abstrak. Karya ini tampak pada karya Rita Widagdo yang tidak pernah sedikitpun menampilkan bentuk yang umum dikenal seperti bentuk-bentuk yang ada di alam. Ia mengolah elemen- elemen rupa tri-matra seperti; garis, bidang, ruang, dan memperlakukan unsur- unsur rupa tersebut sebagaimana adanya – tidak mewakili konsep atau pengertian tertentu.

Jenis Patung Dilihat Dari Cara Pembuatannya • Arca merupakan patung dengan bentuk makhluk hidup seperti manusia dan binatang. • Relief merupakan karya seni patung yang hanya bisa dinikmati dari arah depan karena terletak pada dinding.

Jenis Patung Dilihat Dari Posisinya • Patung Free Continuing, merupakan jenis patung yang berdiri tegak. • Patung Zonde merupakan jenis patung yang utuh dalam posisi yang beragam seperti duduk, jongkok, tidur, berdiri dan lain-lain.

• Patung Boss merupakan patung setengah badan. • Patung Tarso merupakan patung yang dibuat hanya bagian-bagian tertentu atau sebagian tubuhnya saja. Teknik Pembuatan Patung Berdasarkan bahan yang dipergunakan untuk membuat patung, maka teknik pembuatan patung menurut Humar Sahman (1993 : 80) dapat dibedakan menjadi lima cara : • Memahat ( Carving) Teknik carving atau memahat ini pada dasarnya merupakan proses mengurangi bagian-bagian yang tidak diperlukan.

Proses carving berawal dari bungkahan batu, kayu atau benda padat yang dapat dipahat, akan dibuang bagian- bagiannya yang tidak esensial sehingga gagasan yang ada sebelumnya bisa dibebaskan dari bungkahan itu (Sahman, 1992:85). Menurut Sukaryono (1994:33) teknik pahatan yaitu membuang bagian demi bagian, sedikit demi sedikit dengan cara memahat dan ditinggalkan bagian bentuk yang diinginkan.

Bahan yang digunakan dalam teknik ini antara lain : batu, cadas, marmer, kayu, dan lain-lain. Memahat ( etching) dalam karya seni patung yaitu mengurangi sedikit demi sedikit bagian yang tidak diinginkan hingga menjadi bentuk patung yang diinginkan sesuai ide atau gagasan awalnya. Carving merupakan proses yang sulit, karena itu memerlukan adanya penguasaan teknik khusus dan gagasan atau konsepsi yang cukup matang.

• Membentuk ( Modeling) Modeling atau membentuk adalah teknik membuat karya dengan memanfaatkan bahan plastis, seperti tanah liat dan plastisin. Sahman (1992:85), mengatakan bahwa modeling yaitu membentuk dengan menambahkan sedikit, sehingga menjadi bentuk seperti yang dikehendaki. Bahan yang dipergunakan adalah bahan yang mempunyai sifat elastis, jadi bentuk yang dikehendaki diperoleh dengan cara menambahkan bahan baru pada bentuk yang sedang dalam proses menuju tahap penyelesaian.

Menurut Sukaryono (1994:33) modeling yaitu dengan jalan menempelkan bahannya sedikit demi sedikit sehingga menjadi bentuk seperti yang diinginkan. Bahan yang digunakan dalam teknik ini antara lain: tanah liat, semen, gips, bubur kertas, lilin. Dalam karya seni patung bahan plastis seperti itu memungkinkan pematungnya menggunakan proses aditif dan subtraktif yaitu bentuk yang dikehendaki diperoleh dengan cara menambah atau mengurangi bahan yang sedang dalam proses pembentukan.

• Menuang ( Casting) Casting artinya mencetak, yaitu mencetak adonan yang besifat cair dengan menggunakan cetakan untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan (Sahman, 1992:86). Casting atau cor merupakan teknik cor atau tuang, bahan yang digunakan adalah bahan yang bias dicairkan seperti semen, gipsum, logam, fiber drinking glass dan lain sebagainya. Pembuatan patung ini sebelumnya harus menyiapkan cetakan terlebih dahulu seperti dari bahan gips atau sejenisnya, sehingga menjadi sebuah cetakan yang terdiri dari beberapa bagian dan ketika ingin mencetak maka tinggal menyatukan beberapa bagian tadi sesuai bentuk cetakan.

• Merangkai ( Assembling) Assembling atau merangkai yaitu pembentukan dengan cara merangkai dari berbagai macam bahan (Sahman, 1992:86). Bahan-bahan yang digunakan dalam merangkai antara lain adalah kain bekas, logam, karet, kulit, kaca, plastik, kayu dan lain-lain. • Menyusun ( Constructing) Teknik constructing atau konstruksi mempunyai kecenderungan pada karya arsitektural atau seni bangunan.

Constructing yaitu menyusun atau merakit komponen dari logam atau besi dengan menggunakan alat las sebagai penyambung (Sukaryono, 1994:33). Pengertian lain constructing menurut Sahman (1992:86) adalah membentuk dengan jalan menyusun, menggabungkan, merangkaikan sehingga memperoleh bentuk yang direncanakan dengan media perekat yang sesuai. Alat yang digunakan antara lain; mesin las, palu, lem dan lain-lain. Biasanya teknik ini digunakan untuk mencipta patung dengan menyusun bahan sejenis.

Alat Untuk Membuat Patung Berdasarkan Bahan Yang Digunakan ( Bahan Seni Patung ) Peralatan yang digunakan untuk membuat patung tergantung kepada bahan dan tekniknya. Alat-alat yang digunakan dalam mematung terdiri dari : • butsir adalah alat Bantu untuk membuat patung terbuat dari kayu dan kawat.

• Meja putar adalah meja untuk membuat patung dan dapat di gerakan denagan cara diputar,fungsinya untuk memudahkan dalam mengontrol bentuk dari berbagai arah.

• Pahat • Palu kayu • Cetakan berfungsi untuk mengencangkan ikatan kawat dan memotong ikatan kawat. • Sendok adokan berfungsi untuk mengambil adonan dan menempelkanya pada kerangka patung • Pembuatan patung berbahan tanah liat memerlukan butsir dan sudip untuk mengambil dan menambal atau menambahkan bahan serta menghaluskan permukaan yang sulit dijangkau secara langsung oleh tangan.

• Patung berbahan kayu dalam pembuatannya memerlukan pisau, kapak, martil, gergaji serta ampelas. • Patung dari bahan batu alat yang digunakan berupa pahat baja, martil besi, gurinda “Grenda”.

• Patung cetak dari bahan logam alat yang digunakan ialah kompor pengecor, alat cetak dan gurinda. • Patung pahat dari bahan logam “berupa plat” alat yang diperlukan berupa martil, tatah “patah” dan gurinda “grenda”.

• Patung berbahan semen alat yang diperlukan pisau, martil dan tang. Bahan dalam Seni Patung Dalam seni patung bahan merupakan media ekspresi dalam penciptaan seni patung. Bahan merupakan dasar dari sebuah karya yang belum terproses atau terolah untuk menjadi sebuah barang jadi. Bahan adalah material yang diolah atau diubah sehingga menjadi barang yang kemudian disebut karya seni (Rondhi, 2003: 25).

Bahan dalam pembuatan patung meliputi banyak hal mulai dari kayu, logam, batu, tanah, karet, plastik, fiber, gypsum, dan lain sebagainya. Setiap bahan memiliki berbagai karakteristik yang berbeda dalam penggunaannya yang berperan dalam menghasilkan karya seni berkualitas tinggi. Seperti pendapat Bastomi (2003:92) bahwa setiap bahan memiliki sifat khusus yang menjadi karakteristiknya. Karakteristik bahan ditentukan oleh beberapa aspek di antaranya: (i) Keindahan yang terkandung di dalam bahan.

Setiap bahan memiliki keindahan tersendiri terutama pada warna. Warna asli yang ada dalam bahan banyak mempengaruhi keindahan hasil karya seni. (two) Tekstur atau kesan permukaan bahan. Tekstur itu sendiri dapat ditentukan oleh warna. Deretan warna bergelombang dapat memberi kesan permukaan yang tidak rata, sedangkan warna • Dasar Pembuatan Patung Setelah kita mengetahui tentang unsur-unsur patung, kita beralih pada apa yang harus dilakukan dengan unsur-unsur tersebut. Perlakuan terhadap unsur-unsur patung dalam proses tersebut disebut sebagai dasar-dasar mematung.

Dasar-dasar pembuatan patung diantaranya: • Membentuk dan membangun Seorang pematung bekerja dengan menyusun unsur-unsur patung untuk membangun sebuah patung. Sejak ia mulai bekerja, seorang pematung mencoba untuk menyusun bingkah-bingkah kedalam suatu bangunan tertentu.

Menyusun dan membangun merupakan tindakan yang utama bagi pematung karena keduanya menentukan keseluruhan ujud dari sebuah patung( G.

Shidarta, 1987:33). • Perbandingan (Proporsi), Keserasian (Harmoni) dan Kesatuan (Unity) Menurut Mikke susanto (2011: 320) Perbandingan atau proporsi adalah ukuran antar bagian dan bagian, serta bagian dan kesatuan atau keseluruhan. Proporsi berhubungan erat dengan rest (keseimbangan), rhythm (irama,harmoni) dan unity (kesatuan).

Proporsi dipakai pula sebagai salah satu pertimbangan untuk mengukur dan menilai keindahan artistik. Perbandingan, keserasian dan kesatuan dari bentuk patung harus diperhatikan. Bila ada salah satu perbandingan yang tidak baik, akan menimbulkan kesan yang kurang serasi.

Karena itu, dalam mematung harus selalu diperhatikan masalah perbandingan, agar patung mempunyai ukuran-ukuran yang sesuai dan serasi, agar tercipta bentuk kesatuan yang seimbang. • Keseimbangan (Balance), Dominasi dan Irama (Rhythem) Keseimbangan (Balance) menurut Mikke Susanto (2011:46) didefinisikan sebagai persesuaian materi-materi dari ukuran berat dan memberi tekanan pada stabilitas suatu komposisi karya seni.

Seorang pematung bekerja dengan mempertimbangkan keseimbangan antara bagian-bagian dari patung dalam menyusun bentuk. Keseimbangan bagian atas dengan bagian bawah atau antara bagian kiri dan kanan dari sebuah patung untuk mendapatkan bentuk yang mantap. Untuk menghindari kesan kaku dan menjemukan, seorang pematung dapat menciptakan irama dengan menggarap unsur-unsur patung. Proses Penciptaan Karya Seni Patung Tujuan penciptaan seni memang bermacam-macam, antara lain hanya untuk mempresentasikan keindahan semata-mata, ada yang merupakan curahan perasaan haru, dan tak kurang pula terdorong oleh keinginan untuk mencukupi kehidupan.

Penciptaan suatu karya seni harus melalui proses untuk menghasilkan sebuah karya seni. Proses adalah suatu runtutan perubahan atau perkembangan sesuatu (Poerwadarminta, 1981 : 769).

Jadi penciptaan suatu karya seni adalah proses secara runtut dan berkesinambungan berupa tahapan-tahapan dengan adanya pengaruh dari lingkungan, sehingga karya seni dapat diciptakan oleh seniman. Menurut L. H. Chapman (dalam Humar Sahman 1993 : 119), proses mencipta itu terdiri dari tiga tahapan : • Tahapan Awal Tahapan awal ini berupa upaya penemuan gagasan atau mencari sumber gagasan.

Dalam tahapan ini juga dapat dikatakan sebagai tahapan mencari inspirasi atau ilham yang terdapat pada lingkungan alam. Mencari inspirasi adalah upaya seniman untuk mendapatkan ide-ide baru. Dorongan yang kuat diperlukan oleh seniman dalam menciptakan karya seni. • Tahapan menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal. Dalam tahap menyempurnakan ini artinya mengembangkan menjadi gambaran pravisual yang nantinya dimungkinkan untuk diberi bentuk atau wujud nyata. Jadi gagasan yang muncul pada tahapan awal, pada tahapan ini masih harus diperbaiki menjadi gagasan yang sempurna, sehingga nantinya pada proses pembentukan sebuah karya seni dapat dengan mudah divisualisasikan yang berupa rancangan atau desain.

• Tahapan visualisasi ke dalam medium Di dalam proses mencipta, medium memang harus digunakan jika kita ingin menuntaskan sampai pada tahapan akhir. Medium ini sendiri berperan sebagai sarana bagi seniman untuk mengekspresikan gagasannya.

Seniman dalam mewujudkan sebuah karya seni dari tahapan awal sampai tahapan visualisasi seniman lebih berperan aktif dan kreatif dalam mencari inspirasi, penyempurnaan gagasan, dan sampai visualisasi ke dalam medium. Penuangan konsep atau bentuk desain ke dalam medium, mempermudah seniman dalam membuat dan menghasilkan sebuah karya seni. Pemilihan medium juga harus diperhatikan dengan baik, karena medium sangat berpengaruh dalam proses penciptaan.

Prinsip Desain dalam Seni Patung Sebuah karya seni merupakan wujud organisasi dari unsur-unsur seni rupa. Unsur-unsur seni rupa tersebut diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu sebuah bentuk yang memiliki makna.

Dalam proses pengorganisasiannya, unsur-unsur tersebut ditata dengan memperhatikan aturan- aturan tertentu sehingga diperoleh suatu karya yang bernilai estetis. Asas yang mempedomani bagaimana mengatur, menata unsur-unsur rupa dan mengkombinasikan dalam menciptakan bentuk karya. Sehingga mengandung nilai estetis atau dapat membangkitkan pengalaman rupa yang menarik disebut dengan prinsip-prinsip desain (Sunaryo, 2002:half-dozen).

Prinsip-prinsip desain disebut juga kaidah-kaidah yang menjadi pedoman dalam berkarya seni rupa. Dalam berkarya khususnya seni patung, harus memperhatikan prinsip-prinsip desain, antara lain : • Keseimbangan Keseimbangan (balance) dalam pembuatan adalah keadaan atau kesamaan antara kekuatan yang saling berhadapan dan menimbulkan kesan seimbang secara visual ataupun secara intensitas kekaryaan.

Keseimbangan ini ada dua macam, yaitu keseimbangan formal dan informal. Keseimbangan formal adalah keseimbangan pada dua pihak berlawanan dari satu poros.

Sedangkan keseimbangan informal adalah keseimbangan sebelah menyebelah dari susunan unsur yang menggunakan prinsip susunan ketidaksamaan atau kontras dan selalu asimetris (Kartika, 2004 : 60).

• Irama Irama (rhythm) merupakan pengaturan unsur-unsur rupa secara berulang dan berkelanjutan., sehingga bentuk yang tercipta memiliki kesatuan arah dan gerak yang membangkitkan keterpaduan bagian-bagiannya (Sunaryo, 2002:35). Menurut Kartika (2007:82), irama merupakan pengulangan unsur-unsur karya seni.

Irama dalam seni rupa sangat penting karena pengamatan karya seni atau proses berkarya sangat membutuhkan waktu, sehingga perlu mengetahui irama dalam persoalan warna, komposisi, garis maupun lainnya (Susanto, 2002:98). Repetisi merupakan perulangan unsur-unsur pendukung karya seni. Repetisi atau ulang merupakan selisih antara wujud yang terletak pada rung dan waktu. Sunaryo (2002:35) mengatakan bahwa irama dapat diperoleh dengan beberapa cara, yakni (1) repetitif, merupakan irama yang diperoleh dengan mengulang unsur, menghasilkan berikut tahapan yang harus dilakukan sebagai tolok ukur proses penciptaan suatu karya seni yaitu total yang sangat tertib, monoton dan menjemukan, sebagai akibat pengaturan unsur-unsur yang sama baik bentuk, ukuran maupun warnanya, (ii) alternatif, merupakan bentuk irama yang tercipta dengan cara perulangan unsur-unsur rupa secara bergantian, (3) progresif, merupakan irama yang diperoleh dengan menunjukkan perulangan dalam perubahan dan perkembangan secara berangsur-angsur atau bertingkat, dan yang ke (4) flowing, merupakan irama yang mengalun terjadi karena pengaturan garis- garis berombak, berkelok, dan mengalir berkesinambungan.

• Dominasi Dominasi atau penonjolan mempunyai maksud mengarahkan perhatian orang yang menikmati suatu karya seni yang dipandang lebih penting daripada hal-hal yang lain. Penonjolan atau penekanan dilakukan dengan cara memberi intensitas, pemakaian warna kontras, dan ukuran yang berlawanan. Menurut Sunaryo (2002: 36-37) dominasi adalah penonjolan peran atau penonjolan bagian, atas bagian lainnya dalam suatu keseluruhan. Dengan adanya dominasi, unsur-unsur tidak akan tampil seragam, setara atau sama kuat melainkan justru memperkuat keseutuhan dan kesatuan bentuk.

Lebih lanjut Bastomi (1992: lxx), mengataan bahwa dominasi merupakan upaya untuk menonjolkan inti seni atau puncak seni, sehingga dominasi pada suatu karya seni sangat dibutuhkan karena akan menjadikan karya menarik dan menjadi pusat perhatian. Karya yang baik mempunyai titik berat untuk menarik perhatian ( middle of interest).

Ada beberapa cara untuk menarik perhatian kepada titik berat tersebut, yaitu dicapai dengan melalui perulangan ukuran dan kontras antara tekstur, null warna, garis, ruang, bentuk (Kartika, 2007: 63) • Kesebandingan Kesebandingan (proporsi) merupakan pengaturan hubungan antara bagian yang satu terhadap bagian keseluruhan (Sunaryo, 2002:31). Pengaturan bagian yang dimaksud bertalian dengan ukuran, yaitu besar kecilnya bagian, luas sempitnya bagian, panjang pendeknya bagian, atau tinggi rendahnya bagian.

Tujuan pengaturan kesebandingan adalah agar dicapai kesesuaian dan keseimbangan, sehingga diperoleh kesatuan yang memuaskan. Kesebandingan juga menjadi prinsip desain yang mengatur hubungan ukuran unsur dengan keseluruhan agar tercapai kesesuaian.

• Kesatuan Kesatuan (unity) merupakan prinsip pengorganisasian unsur rupa yang paling mendasar (Sunaryo, 2002:31). Nilai kesatuan dalam suatu bentuk bukan ditentukan oleh jumlah bagian-bagiannya. Kesatuan diperoleh dengan terpenuhinya prinsip-prinsip yang lain maka kesatuan merupakan prinsip-prinsip desain yang paling berperan dan menentukan.

Kartika (2007:59) mengatakan bahwa kesatuan bukan sekedar kuantitas bagian, melainkan menunjuk pada kualitas bagian-bagian. Dengan kata lain, dalam kesatuan terdapat pertalian yang erat antar unsur-unsurnya sehingga tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lain, serta tidak perlu ada penambahan lagi maupun yang dapat dikurangkan dari padanya. Dari paparan di atas, prinsip desain pada dasarnya merupakan tolok ukur yang digunakan untuk menilai suatu karya yang baik khususnya dalam pengorganisasian setiap unsur sehingga membentuk perpaduan yang menarik.

Karya seni dapat dikatakan memiliki nilai estetis apabila dalam penciptaannya dapat dilihat dari bagaimana cara mendesain. Adapun desain yang baik adalah desain yang dibuat sesuai dengan prinsip desai north. Ada delapan unsur desain yang perlu diperhatikan oleh para seniman dalam mendesain karya seni, yaitu garis, warna, tekstur, raut, bentuk, ruang, volume, dan gelap terang.

Sedangkan yang perlu diperhatikan dalam mendesain adalah mengorganisasikan unsur-unsur desain dalam prinsip-prinsip desain yang terdiri dari : keseimbangan, irama, dominasi, kesebandingan dan kesatuan. Dengan demikian karya seni dapat dikatakan karya yang memiliki nilai keindahan, apabila seniman sudah menerapkan unsur-unsur seni dengan pengaturan yang didasarkan pada prinsip-prinsip desain.

Contoh Seni Patung dan Penjelasannya Lengkap Dengan Gambarnya žContoh Seni Patung Corak imitatif ( realis / representatif ) ; yaitu merupakan tiruan dari bentuk alam (manusia, binatang, dan tumbuhan). Perwujudan patung corak ini berdasarkan fisio plastis atau bentuk fisik baik anatomi, proporsi, maupun gerak. karya Hendra, Trubus, Saptono, dan Edy Sunarso.

Contoh patung corak Imitatif “Pembebasan” karya Edy Sunarso. ž ž Contoh Seni Patung Corak deformatif ; Yaitu bentuknya telah banyak berubah dari tiruan alam. Bentuk-bentuk alam diolah, digubah menurut gagasan dan imajinasi pematung. Pengubahan dari bentuk alam menjadi bentuk baru ini masih terkait dengan sifat-sifat fisik. Dari bentuk-bentuk imajinasi dan geometris selanjutnya muncul corak kubistis.

Corak ini tampak pada karya pematung seperti ; Merely Mochtar, Thousand Sidharta, dan lain-lain. Contoh patung corak deformatif “Dewi Kebahagiaan” karya G. Sidharta ž Contoh Seni Patung Corak nonfiguratif ( abstrak ) ; ž Yaitu secara umum sudah banyak meningglkan bentuk-bentuk alam untuk perwujudannya (abstrak). Corak abstrak dipengaruhi oleh aliran konstruksi.

Patung dipandang sebagai bentuk konstruksi, yaitu susunan textile seperti besi, plat, kawat, kayu, plastik, dan sebagainya. Contoh patung nonfiguratif “Tonggak Samudra” karya Grand. Sidharta. Demikianlah pembahasan mengenai “Seni Patung” Pengertian & ( Jenis – Fungsi – Bentuk – Teknik ) semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Baca Juga: • “Seni Rupa” Pengertian & ( Prinsip -Prinsip ) • Definisi Seni Rupa Murni Dan Terapan Beserta Perbedaannya • Pengertian Seni Menurut Para Ahli Dan Bentuknya • 22 Pengertian Seni Lukis Menurut Para Ahli Terlengkap Terbaru • Cara Membuat Akun Trap Di Lord Mobile • Pengembagan Wilayah Agribisnis Peternakan Ayam Potong • Taplak Meja Dari Kain Perca Tanpa Mesin Jahit • Syarat Materi Penelitian Ternak Sapi Potong • Download Video Cara Membuat Bros Dari Kain Perca • Bakteri Mempertahankan Diri Pada Lingkungan Buruk Dengan Cara • Pdf Peternakan Sapi Perah Di Indonesia • Cara Membuat Tas Dari Bungkus Kopi Kapal Api • Logo Bidang Peternakan Dinas Pertanian Dan Perikanan Kategori • Aplikasi • Berkebun • Bisnis • Budidaya • Cara • News • Pelajaran • Serba-serbi • SIM Keliling • Soal • Ternak • Uncategorized

SOAL DAN PEMBAHASAN MATERI PPPK 2021 BIDANG SENI TARI




2022 www.videocon.com