Perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Pengertian Puisi : Ciri-Ciri, Jenis, Struktur, dan Contohnya yang tepat paket-wisatabromo.com – Puisi tergolong teks fiksi. Teks puisi menjadi bahan ajar peserta didik di SMP kelas VII. Peserta didik kelas VII harus memahami teks puisi dengan tepat. Pada pembelajaran kelas VII sudah dibahas mengenai puisi rakyat. Puisi itu terdiri atas pantun, syair, dan gurindam. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai pengertian puisi. Selain itu di bahas juga mengenai ciri-cirijenis, struktur, dan contohnya.

A. Pengertian Puisi Pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan ungkapan perasaan seorang penyair dengan menggunakan bahasa yang bermakna semantis serta mengandung irama, rima, dan ritma dalam penyusunan larik dan baitnya. Ada juga yang menyebutkan pengertian puisi adalah suatu karya sastra yang isinya mengandung ungkapan kata-kata bermakna kiasan dan penyampaiannya disertai dengan rima, irama, larik dan bait, dengan gaya bahasa yang dipadatkan.

Beberapa ahli modern mendefinisikan puisi sebagai perwujudan imajinasi, curahan hati, dari seorang penyair yang mengajak orang lain ke “dunianya.” Meskipun bentuknya singkat dan padat, umumnya orang lain kesulitan untuk menjelaskan makna puisi yang disampaikan dari setiap baitnya.

B.Ciri-Ciri Puisi Ciri-Ciri Puisi Baru • Nama pengarang atau penulis puisi diketahui. • Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama. • Mempunyai gaya bahasa yang dinamis atau berubah-ubah.

• Puisi cenderung bersifat simetris atau memiliki bentuk rapi. • Lebih menggunakan sajak syair atau pola pantun. • Puisi biasanya berbentuk empat seuntai. Ciri-Ciri Puisi Lama • Anonim atau tidak diketahui siapa nama penulis puisi. • Terikat pada jumlah baris, rima, irama, diksi, intonasi, dan sebagainya. • Memiliki gaya bahasa yang statis/tetap dan klise. • Merupakan sastra lisan karena disampaikan dan diajarkan dari mulut ke mulut.

Pengertian Puisi C. Jenis Puisi Puisi memiliki beragam jenis. Namun, pada umumnya puisi dibagi menjadi tiga jenis, yakni puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer.

Masing-masing jenis puisi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda, berikut ulasannya. 1. Puisi lama Pengertian Puisi lama merupakan puisi yang dihasilkan sebelum abad ke-20 sehingga puisi ini cenderung memiliki aturan dan bermakna yang sering digunakan saat upacara adat. dan Puisi ini terbagi menjadi beberapa jenis, seperti pantun, talibun, syair, dan gurindam.

2. Puisi baru Puisi baru merupakan sebuah karya sastra berisi ungkapkan perasaan serta pikiran dengan menggunakan bahasa yang memperhatikan irama, mantra, penyusunan lirik hingga makna dalam puisi tersebut. 3. Puisi kontemporer Puisi kontemporer adalah puisi yang selalu berusaha menyesuaikan perkembangan zaman atau keluar dari ikatan konvensional.

Umumnya jenis puisi ini tidak lagi mementingkan irama serta gaya bahasa seperti puisi lama dan puisi baru. Adapun klasifikasi puisi kontemporer meliputi puisi konkret, puisi lama dan puisi mbeling atau puisi yang tidak mengikuti aturan umum. D. Struktur Puisi Unsur-unsur puisi itu terdiri atas perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut jenis yaitu struktur fisik dan struktur batin puisi.Pada kesempatan ini akan dibahas khusus mengenai struktur fisik puisi.

Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi dari luar. Puisi disusun dari kata dengan bahasa yang indah dan bermakna yang dituliskan dalam bentuk bait-bait. Orang dapat membedakan mana puisi dan mana bukan puisi berdasarkan bentuk lahir atau fisik yang terlihat.

Berikut ini akan dibahas struktur fisik puisi yang meliputi: diksi, imajinasi, kata konkret, majas, versifikasi, majas dan tipografi. Pengertian puisi 1. Diksi atau Pilihan Kata Salah satu hal yang ditonjolkan dalam puisi adalah kata-katanya ataupun pilihan katanya. Bahasa merupakan sarana utama dalam puisi. Dalam menciptakan sebuah puisi penyair mempunyai tujuan yang hendak disampaikan kepada pembaca melalui puisinya.

Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami hatinya. Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk itulah harus dipilih kata-kata yang setepat-tepatnya.

Penyair juga ingin mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat. Penyair harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. 2. Imajinasi (Gambaran angan) Pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan.

Ada hubungan yang erat antara pemilihan kata-kata, pengimajian dan kata konkret, di mana diksi yang dipilih harus menghasilkan imajinasi. Karena itu, kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati dalam penglihatan, pendengaran atau citarasa. Pilihan serta penggunaan kata-kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan energi tersebut dapat mendorong imajinasi atau daya bayang kita untuk menjelmakan gambaran yang nyata.

Dalam puisi kita kenal bermacam-macam imajinasi (gambaran angan) yang dihasilkan oleh indera pengihatan, pendengaran, pengecapan, rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan. Selanjutnya terdapat juga imaji penglihatan (visual), imaji pendengaran (auditif)dan imaji cita rasa (taktil).

Semua imaji di atas bila dijadikan satu, secara keseluruhan dikenal beberapa macam imajinasi, yaitu: Imajinasi Visual, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah seperti melihat sendiri apa yang dikemukakan atau diceritakan oleh penyair. Imajinasi Auditori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar sendiri apa yang dikemukakan penyair.

Suara dan bunyi yang dipergunakan tepat sekali untuk melukiskan hal yang dikemukakan, hal ini sering menggunakan kata-kata onomatope. Artikulatori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut waktu kita membaca sajak itu seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian mulut kita dengan sendirinya.

Olfaktori, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Kita seperti mencium bau rumput yang sedang dibakar, kita seperti mencium bau tanah yang baru dicangkul, kita seperti mencium bau bunga mawar, kita seperti mencium bau apel yang sedap dan sebagainya.

Gustatori, yakni imajinasi pencicipan. Dengan membaca atau mendengar kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam dan sebagainya.

Faktual, yakni imajinasi rasa kulit, yang menyebabkan kita seperti merasakan di bagian kulit badan kita rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh perubahan suhu udara.

Kinestetik, yakni imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan badan atau otot-otot tubuh. Organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita seperti melihat atau merasakan badan yang capai, lesu, loyo, ngantuk, lapar, lemas, mual, pusing dan sebagainya. 3. Kata Konkret Salah satu cara untuk membangkitkan daya bayang atau daya imajinasi para penikmat sastra khususnya puisi adalah dengan menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang kongkret, yang dapat mengarah pada suatu pengertian menyeluruh.

Semakin tepat sang penyair menggunakan kata-kata atau bahasa dalam karya sastranya maka akan semakin kuat juga daya pemikat untuk penikmat sastra sehingga penikmat sastra akan merasakan sensasi yang berbeda. Para penikmat sastra akan menganggap bahwa mereka benar-benar melihat, mendengar, merasakan, dan mengalami segala sesuatu yang dialami oleh sang penyair. Dengan keterangan singkat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang dapat ditangkap dengan indra.

4.Majas atau Bahasa Figuratif Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambing.

Bahasa kias merupakan wujud penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan makna dasar ke asosi lainnya. Kiasan yang tepat dapat menolong pembaca merasakan dan melihat seperti apa yang dilihat atau apa yang dirasakan penulis. Adapun bahasa kias yang biasa digunakan dalam puisi ataupun karya sastra lainnya yaitu: a. Perbandingan/Perumpamaan (Simile) Perbandingan atau perumpamaan (simile) ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama, laksana, dan kata-kata pembanding lainnya.

b. Metafora Bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana dan sebagainya. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama. c. Personifikasi Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir dan sebagainya.

Seperti halnya manusia danbanyak dipergunakan penyair dulu sampai sekarang. Personifikasi membuat hidup lukisan di samping itu memberi kejelasan kebenaran, memberikan bayangan angan yang konkret. d. Hiperbola Kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca. e. Metonimia Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya. Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama.

Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat hubungannya dengan mengganti objek tersebut. f. Sinekdoki (Syneadoche) Bahasa kiasan yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri. Sinekdoke ada dua macam: -Pars Prototo: sebagian untuk keseluruhan -Totum Proparte: keseluruhan untuk sebagian g.

Allegori Cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal lain atau kejadian lainnya. Perlambangan yang dipergunakan dalam puisi:Lambang warna, lambang benda: penggunaan benda untuk menggantikan sesuatu yang ingin diucapkan, lambang bunyi: bunyi yang diciptakan penyair untuk melambangkan perasaan tertentu, lambang suasana: suasana yang dilambangkan dengan suasana lain yanglebih konkret.

5. Versifikasi (Rima, Ritma dan Metrum) Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalisasi atau orkestrasi sehingga puisi menjadi menarik untuk dibaca. Dalam puisi banyak jenis rima yang kita jumpai antara lain: Menurut bunyinya: (a) Rima sempurna bila seluruh suku akhir sama bunyinya (b)Rima tak sempurna bila sebagian suku akhir sama bunyinya (c) Rima mutlak bila seluruh bunyi kata itu sama (d) Asonansi perulangan bunyi vokal dalam satu kata (e) Aliterasi: perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan, (f) Pisonansi (rima rangka) bila konsonan yang membentuk kata itu sama,tetapi vokalnya berbeda.

Jenis rima menurut letaknya antara lain: Rima • depan: bila kata pada permulaan baris sama • tengah: bila kata atau suku kata di tengah baris suatu puisiitusama • akhir bila perulangan kata terletak pada akhir baris • tegak bila kata pada akhir baris sama dengan kata padapermulaan baris berikutnya. • datar bila perulangan itu terdapat pada satu baris.

Menurut letaknya dalam bait puisi terdiri atas rima: • berangkai dengan pola aabb, ccdd • berselang dengan pola abab, cdef • berpeluk dengan pola abba, cddc • terus dengan pola aaaa, bbbb • patah dengan pola abaa, bcbb • bebas: rima yang tidak mengikuti perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut persajakan yang disebut sebelumnya • Efoni kombinasi bunyi yang merdu dan indah untuk menggambarkan perasaan mesra, kasih sayang, cinta dan hal-hal yang menggembirakan.

• Kakafoni kombinasi bunyi yang tidak merdu, parau dan tidak cocok untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau, serba tak teratur, bahkan memuakkan. Ritme Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi.

Ritme terdiri dari tiga macam, yaitu: (a)Andante: Kata yang terdiri dari dua vokal, yang menimbulkan irama lambat. (b)Alegro: Kata bervokal tiga, menimbulkan irama sedang (c)Motto Alegro: kata yang bervokal empat yang menyebabkan irama cepat. Metrum Selain itu, terdapat pula istilah metrum, yakni perulangan-perulangan kata yang tetap bersifat statis.

Nama metrum didapati dalam puisi sastra lama. Pengertian metrum menurut Pradopo adalah irama yang tetap, pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu Peranan metrum sangat penting dalam pembacaan puisi dan deklamasi. Ada bermacam tanda yang biasa diberikan pada tiap kata. Untuk tekanan keras ditandai dengan (/) di atas suku kata yang dimaksudkan, sedangkan tekanan lemah diberi tanda (U) di atas suku katanya. 6. Tipografi atau Perwajahan Ciri-ciri yang dapat dilihat sepintas dari puisi adalah perwajahannya atau tipografinya.

Melalui indera mata tampak bahwa puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi. Larik-larik itu disusunke bawah dan terikat dalam bait-bait.

Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi yang ingin dituliskan penyair. Dengan demikian satu bait puisi bisa terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja.

Dalam hal cara penulisannya puisi tidak selalu harus ditulis dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan seperti bentuk tulisan umumnya. Susunan penulisan dalam puisi disebut tipografi. Struktur fisik puisi membentuk tipografi yang khas puisi. Tiprografi puisi merupakan bentuk visual yang bisa memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret.

Bentuk tipografi bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi, kerucut dan sebagainya. Jadi, tipografi memberikan ciri khas puisi pada periode angkatan tertentu Perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut Batin Puisi Struktur batin puisi atau struktur makna merupakan pikiran perasaan yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991:47).

Dan Struktur batin puisi merupakan wacana teks puisi secara utuh yang mengandung arti atau makna yang hanya dapat dilihat atau dirasakan melalui penghayatan. Menurut I.A Richards sebagaimana yang dikutip Herman J.Waluyo menyatakan batin puisi ada empat, yaitu : tema(sense), perasaanpenyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), amanat (intention) (Waluyo, 1991:180-181). Berikut ini akan dibahas struktur batin puisi. 1. Tema Dalam sebuah puisi tentunya sang penyair ingin mengemukakan sesuatu hal bagi penikmat puisinya.

Sesuatu yang ingin diungkapkan oleh penyair dapat diungkapkan melalui puisi atau hasil karyanya yang dia dapatkan melalui penglihatan, pengalaman ataupun kejadian yang pernah dialami atau kejadian yang terjadi pada suatu.

Masyarakat dengan bahasanya sendiri. Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan caranya sendiri. Atau dengan kata lain sang penyair ingin mengemukakan pengalaman pribadinya kepada para pembaca melalui puisinya (Tarigan, 1984:10).

Inilah tema, tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh sang penyair yang terdapat dalam puisinya (Siswanto, 2008:124). Baca: • Mengidentifikasi Struktur Fisik Puisi Detail dan Lengkap • Jenis-Jenis Teks Fiksi Bahan Ajar Bahasa Indonesia, Ini Lebih Tepat • Jenis-Jenis Teks Fiksi Bahan Ajar Bahasa Indonesia, Ini Lebih Tepat • Contoh-Contoh Analisis Struktur Batin Puisi yang Tepat 2.

Perasaan Penyair (Feeling) Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya. Dan, Perasaan penyair dalam puisinya dapat dikenal melalui penggunaan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisinya karena dalam menciptakan puisi suasana hati penyair juga ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca (Waluyo,1991:121).

Hal ini selaras dengan pendapat Tarigan (1984:11) yang menyatakan bahwa rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya. 3. Nada dan Suasana Menurut Tarigan (1984:17) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair terhadap pembacanya atau dengan kata lain sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya.

4. Amanat (Pesan) Penyair sebagai sastrawan dan anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak merasa bertanggug jawab menjaga kelangsungan hidup sesuai dengan hati nuraninya. Oleh karena itu, puisi selalu ingin mengandung amanat (pesan). Meskipun penyair tidak secara khusus dan sengaja E. Contoh Puisi Kehidupan Remaja Zaman Sekarang oleh: Dino Joy Begitu indahnya saat remaja Masa-masa penuh dengan tawa dan canda… Beratnya bebankehidupan yang belum terasa Belumlah nampak kerikil terjal kehidupan dimata… Indah masa remaja bagaikan pantai yang damai Yang belum pernah di sapa ombak besar dan badai… Menikmati keindahan hidup dan terbuai Dalam tumpulnya kedisiplinan dan kerap terbuai… Tingkah laku remaja cenderung berubah Seiring budaya zaman yang terus berputar arah… Menggerogoti tebalnya adat yang kian parah Tergilas roda mode zaman membuat orang tuapun pasrah… Dunia terus berputar hidup inipun terus berjalan Tak ada jeda waktu untuk menahan… Arus deras dan badai dasyat kan berdatangan Persiapkanlah diri agar tak terhanyut dalam buaian kebebasan zaman SAJAK PUTIH Bersandar pada tari warna Pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolamjiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah… Senja Di PelabuhanKecil Karya: Chairil Anwar (1946) Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.

Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap Aku Ingin Karya: Sapardi Djoko Damono Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 1989 Hujan Bulan Juni Karya: Sapardi Djoko Damono tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu Demikian pembahasan mengenai Pengertian Puisi : Ciri-Ciri, Jenis, Struktur, dan Contohnya yang tepat.

Semoga bermanfaat. Search for: Search Recent Posts • Buku Matematika untuk SMK Kelas X Sekolah Penggerak Kurikulum Merdeka Unduh • Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMK Kelas X Kurikulum Merdeka Unduh • Download Buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMK Kelas X • Buku Panduan Guru PAUD TK Sekolah Penggerak Kurikulum Merdeka Unduh • Buku Panduan Guru Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Untuk PAUD Recent Comments • admin on Menyimpulkan Isi Teks Tanggapan yang Tepat dan Contohnya • Bisma Adinata on Menyimpulkan Isi Teks Tanggapan yang Tepat dan Contohnya • admin on Menelaah Struktur Dan Kebahasaan Teks Laporan Percobaan • admin on Menelaah Struktur Dan Kebahasaan Teks Laporan Percobaan • Jaris ammar on Menelaah Struktur Dan Kebahasaan Teks Laporan Percobaan Diftong adalah bunyi vokal angkap yang tergolong menjadi satu suku kata.

Ciri diftong ialah waktu diucakannya bunyi bahasa posisi lidah yang satu dengan yang lain saling berbeda. Perbedaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturya (jarak lidah dengan langit-langit) SASTRA ANAK A. Pengertian Sastra Anak Sastra anak-anak merupakan karya yang dari segi bahas memiliki nilai estetis dan dari segi isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman ruhani bagi kalangan anak-anak.

Pramuki (2000) mengungkapkan bahwa sastra anak-anak adalah karya sastra (prosa, puisi, drama) yang isinya mengenai anak-anak; sesuai kehidupan, kesenangan, sifat- sifat, dan perkembangan anak-anak. Sedang manurut Solchan dkk (1994:225) membagi pengertian sastra anak-anak atas dua bagian, yakni sebagai berikut. “ Pertama sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya remaja atau dewasa yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak.

Keduasastra anak anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya masih tergolong anak-anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak. Sastra anak-anak adalah suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia d Permainan Tradisional Domikado A. Langkah – langkah Permainan Domikado. Cara bermainnya sangat gampang, pertama kita buat lingkaran kemudian kedua tangan kita letakkan di atas paham teman kita yang berada disamping.

Kemudian teman disampingmu itu akan menepukkan tangannya ke tanganmu sambil menyanyikan lagu domikado, akan ada orang yang terkena hukuman jika tepukan tangan tadi kena kita pas di akhir nyanyian Domikado. Domikado. Mikado. Eska. Eskado. Eskado. Beaa-beaa Sim-sim. One. Two. Three. Four. Five. Six. Seven. Eight. Nine. Teeeeeen!!! Ronde berakhir saa t lagu berakhir dan anak yang terkena bagian akhir lagu harus keluar.

Telapak tangannya kena tepukan saat “ten” dia bakal dihukum, hukumannya pun macam-macam tergantung teman-temannya mau dihukum apa. B. Manfaat dari Permainan Domikado. Bermain domikado melatih anak untuk konsentrasi, keakraban, dan kebersamaan di antara anak. Domikado dilakuka
Menurut para ahli sebagai berikut: 1) Muslich, Masnur ( 2008 ), b unyi segmental ialah bunyi yang dihasilkan oleh pernafasan, alat ucap dan pita suara.

Bunyi Segmental ada empat macam ; 2) Abdul C haer ( 2009 ), b unyi segmental ialah bunyi ujar bahasa yang terdiri dari segmen-segmen tertentu; 3) Imam- S uhairi ( 2009 ), b unyi segmental mengacu pada pengertian bunyi-bunyi yang dapat disegmentasi/dipisah-pisahkan.

Kata matang misalnya, dapat disegmentasi menjadi /m/,/a/,/t/,/a/,/n/,/g/. Jelas bunyi-bunyi tersebut menunjukkan adanya fonem. Dengan demikian, sebenarnya bunyi-bunyi bahasa yang telah diuraikan sebelumnya adalah bunyi segmental.

Segmental adalah fonem yang bisa dibagi. Contohnya, ketika kita mengucapkan “Bahasa”, maka nomina yang dibunyikan tersebut (baca: fonem), bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi: b-a-h-a-s-a. Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal berasal dari pita suara yang terbuka sedikit, sedangkan bunyi konsonan terjadi setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut dan rongga hidung dengan mendapat hambatan ditempat-tempat artikulasi tertentu [2].

Pendapat ini senada dengan pernyataan Fromkin: The sounds of all the languages of the World fall into two major natural classes, consonant and vowels [3]. Kushartanti yang menjelaskan bahwa secara garis besar, bunyi bahasa dikelompokan menjadi dua, yaitu konsonan dan vokal.Konsonan adalah satuan bunyi yang dihasilkan jika aliran udara yang keluar dari paru-paru mengalami hambatan Bahasa Indonesia mempunyai 28 buah satuan bunyi terkecil pembeda maknayang biasa disebut dengan istilah fonem, yang terdiri dari: Bunyi – bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga patokan atau kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi.Jika dilihat dari posisi pita suara dibagi menjadi bunyi bersuara dan bunyi tidak bersuara.

Apabila di tinjau dari tempat artikulasi maka akan membahas tentang alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi. Konsonan menurut tempat artikulasinya yaitu: Vokal adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat bicara jika aliran udara yang keluar dari pari-paru tidak mengalami hambatan.

[5] 6 buah fonem vocal dalam bahasa Indonesia, yaitu a, i, u,e, e’, dan o. Bunyi vocal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

Posisi lidah bersifat vertical dan horizontal. Secara vertical dibedakan adanya vocal tinggi, missalnya bunyi/ i/ dan /u/; vocal tengah, misalnya bunyi /e/; dan vocal rendah, misalnya bunyi/a/.

Secara horizontal dibedakan dengan adanya vocal depan, misalnya bunyi /i/ dan /e/; vocal pusat ,misalnya bunyi /e’/; dan vocal belakang, misalnya bunyi/u/ dan /o/.

Vokal bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Bahasa Arab memiliki tiga perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut pendek atau vokal utama (الصوائت القصيرة)yaitu /a/ atau ( َ ), /i/ atau ( ِ ) dan /u/ ( ُ ).

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Dan vokal panjang )الصوائت الطويلة ) yaitu alif ( ىا ) Waw ىو) ) dan Ya ( ىي ).Bahasa Indonesia memiliki enam vokal, yaitu /i/, /a/, /u/, /e/, /o/, /É™/. Distribusi vokal lebih lanjut dijelaskan melalui tabel di bawah ini. • ► 2000 (6) • ► Mei 2000 (1) • ► Juni 2000 (2) • ► Agustus 2000 (2) • ► September 2000 (1) • ► 2011 (12) • ► Februari 2011 (6) perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut ► April 2011 (1) • ► September 2011 (2) • ► November 2011 (2) • ► Desember 2011 (1) • ► 2012 (86) • ► Januari 2012 (1) • ► Maret 2012 (2) • ► April 2012 (5) • ► Mei 2012 (7) • ► Juni 2012 (4) • ► Juli 2012 (7) • ► Agustus 2012 (7) • ► September 2012 (21) • ► Oktober 2012 (13) • ► November 2012 (8) • ► Desember 2012 (11) • ► 2013 (118) • ► Januari 2013 (29) • ► Februari 2013 (22) • ► Maret 2013 (12) • ► April 2013 (7) • ► Mei 2013 (9) • ► Juni 2013 (12) • ► Juli 2013 (3) • ► Agustus 2013 (5) • ► September 2013 (3) • ► Oktober 2013 (9) • ► November 2013 (4) • ► Desember 2013 (3) • ► 2014 (63) • ► Januari 2014 (8) • ► Februari 2014 (3) • ► Mei 2014 (2) • ► Juni 2014 (2) • ► Juli 2014 (4) • ► Agustus 2014 (16) • ► September 2014 (13) • ► Oktober 2014 (6) • ► November 2014 (5) • ► Desember 2014 (4) • ► 2015 (64) • ► Januari 2015 (15) • ► Februari 2015 (4) • ► Maret 2015 (4) • ► April 2015 (4) • ► Mei 2015 (4) • ► Juni 2015 (5) • ► Juli 2015 (5) • ► Agustus 2015 (4) • ► September 2015 (6) • ► Oktober 2015 (4) • ► November 2015 (4) • ► Desember 2015 (5) • ▼ 2016 (52) • ► Januari 2016 (4) • ► Februari 2016 (4) • ► Maret 2016 (5) • ▼ April 2016 (4) • Pengklasifikasian bunyi bahasa • Diphtong atau vocal rangkap • MORFOLOGI • PROSES MORFOLOGIS • ► Mei 2016 (4) • ► Juni 2016 (5) • ► Juli 2016 (4) • ► Agustus 2016 (4) • ► September 2016 (5) • ► Oktober 2016 (4) • ► November 2016 (4) • ► Desember 2016 (5) • ► 2017 (35) • ► Januari 2017 (5) • ► Februari 2017 (4) • ► Maret 2017 (5) • ► April 2017 (4) • ► Mei 2017 (4) • ► Juni 2017 (5) • ► Oktober 2017 (5) • ► November 2017 (3) • ► 2018 (2) • ► Mei 2018 (1) • ► Desember 2018 (1) • ► 2019 (8) • ► Januari 2019 (4) • ► Februari 2019 (3) • ► September 2019 (1) • ► 2020 (8) • ► Maret 2020 (6) • ► April 2020 (1) • ► Oktober 2020 (1) • ► 2021 (4) • ► Maret 2021 (1) • ► April 2021 (1) • ► Mei 2021 (1) • ► September 2021 (1) • ► 2022 (6) • ► Januari 2022 (2) • ► Februari 2022 (1) • ► Maret 2022 (2) • ► April 2022 (1) Blogdope.com– Para calon peserta tes seleksi PPPK tahun 2021 perlu mempelajari perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia untuk memperbesar peluang lolos seleksi PPPK formasi tahun 2021.

Paparan berikut berisi r angkuman materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia bagian 6. Rangkuman Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia bagian 6 ini tersusun berdasarkan indikator esensial yang terbit 2019. Adapun indikator esensial untuk tes tahun 2021 tidak jauh berbeda dari tahun 2019. Pada kesempatan kali ini akan disajikan rangkuman materi tes PPPK kompetensi profesional Bahasa Indonesia.

Jadi, dalam ringkasan materi ini khusus membahas tentang materi bahasa Indonesia. tes pppk kompetensi profesional Artikel Populer Lainnya: 1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 1 2. Baca Dulu Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 2 3.

Raih Skor Tertinggi Seleksi PPPK Tahun 2021 dengan Belajar Ringkasan Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 3! • Rangkuman Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia SMP 2021 Bagian 6 • Tes Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia • A.

Puisi • 1. Ciri, Struktur, dan Isi Puisi Rakyat • Pantun • Ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut. • Jenis pantun • Karmina • Contoh karmina • Gurindam • Syair • 2. Struktur Fisik Puisi • a. Diksi atau Pilihan Kata • b. Imajinasi (Gambaran angan) • c. Kata Konkret • d. Majas atau Bahasa Figuratif • Perbandingan/Perumpamaan (Simile) • Metafora • Personifikasi • Hiperbola • Metonimia • Sinekdoki (Syneadoche) • Allegori • Menurut letaknya dalam bait puisi terdiri atas rima: • 3.

Unsur Batin Puisi • a. Tema (Sense) • b. Perasaan (Feeling) • c. Nada (Tone) • d. Amanat (Intention) • B. Prosa • 1. Alur • Struktur Alur • a.Orientasi • b. Rangkaian peristiwa • c. Komplikasi • d. Resolusi • Jenis-Jenis Fiksi • a. Fabel • b. Legenda • c. Cerita Rakyat (Hikayat) • d. Anekdot • e. Cerpen, Novelet, dan Novel • f. Cerita Fantasi • g. Cerita Sejarah • C. Drama • Pengertian Drama • 7. Dialog • 8. Lakuan • 9. Teks Samping • Unsur Pementasan Drama • 1. Naskah Drama • 2. Pemain (Aktor dan Aktris) • 3.

Sutradara • Jenis drama antara lain: • Bagikan Artikel: Rangkuman Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia SMP 2021 Bagian 6 Ringkasan atau rangkuman adalah penyajian karangan atau peristiwa yang panjang ke dalam bentuk yang lebih singkat dan efektif dengan tetap mempertahankan urutan isi serta sudut pandang pengarang asli.

Dalam proses penulisannya tentu dengan berhati-hati, karena ringkasan tidak boleh campur aduk dengan opini atau pun komentar dari si pembuat ringkasan. Ringkasan juga memiliki perbedaan mendasar dengan ikhtisar, meskipun kedua istilah tersebut sering dan seakan-akan memiliki arti yang sama, kenyataannya jelas berbeda. Adapun pengertian kompetensi profesional adalah kecakapan, kemampuan, pengetahuan dan keterampilan oleh seorang pendidik, pengajar, pembimbing peserta didik dalam proses belajar mengajar.

Sehingga kompetensi profesional itu merupakan kemampuan seorang guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Kemampuan mengelola pembelajaran didukung oleh pengelolaan kelas, penguasaan materi belajar, strategi mengajar dan penggunaan media belajar.

Berikut ini rangkuman materi tes PPPK kompetensi profesional bahasa Indonesia yang terdiri atas makna denotasi, konotasi, simpulan, ide pokok, kalimat utama, dan ringkasan teks. Selain itu, kalimat pro kontra, kalimat yang mengungkap keunggulan dan kelemahan buku, latar kutipan cerpen, bukti watak, dan cara pengarang menggambarkan tokoh. Tes Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Ringkasan 6 materi PPPK kompetensi profesional bahasa Indonesia ini tentang kesasteraan meliputi: puisi, prosa,dan drama.

Artikel Populer Lainnya: 1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 4 2. Baca Dulu Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 5 A.

Puisi Puisi adalah sebentuk pengucapan bahasa yang mempertimbangkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair. 1. Ciri, Struktur, dan Isi Puisi Rakyat Puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang memiliki bentuk tertentu, biasanya terdiri dari beberapa deret kalimat, ada yang berdasarkan mantra, ada yang berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau hanya berdasarkan irama. Sifat puisi rakyat adalah anonim atau tidak diketahui pengarangnya dan berkembang di kalangan rakyat secara lisan.

Karena itulah, puisi ini disebut puisi rakyat. Jenis puisi rakyat di antaranya adalah pantun, gurindam, dan syair. Dalam kategori puisi berdasarkan perkembangan sejarah sastra, puisi tersebut tergolong dalam puisi lama. Puisi lama terikat oleh berbagai aturan, seperti rima atau persamaan bunyi, jumlah suku kata dalam setiap baris, dan jumlah baris dalam setiap bait. Pantun Pada umumnya, pantun merupakan salah satu warisan nenek moyang. Pantun ini berkembang hingga sekarang. Faktanya, pantun ini tumbuh dan perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut dalam budaya masyarakat.

Penggunaan Pantun sering untuk sambutan, ceramah, dan khotbah sehingga menarik. Ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut. a. Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata. Pada pantun di atas, setiap baris terdiri dari 9 suku kata.

b. Setiap bait terdiri atas 4 baris. c. Dua baris pertama (1 dan 2) merupakan sampiran, sedangkan dua baris berikutnya (3 dan 4) merupakan isi pantun. Sampiran dan isi pantun tidak selalu saling berkaitan. d) Sampiran dan isi pantun ini membentuk persajakan atau rima akhir ab-a-b. Jenis pantun Berikut ini pembagian jenis pantun menurut Redaksi Balai Pustaka (2011:xiii). a. Pantun anak-anak, terdiri atas pantun bersukacita dan pantun berdukacita b.

Pantun orang muda, terdiri atas pantun dagang atau nasib, pantun muda, dan pantun jenaka. Pantun muda terdiri atas pantun berkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perceraian, dan perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut beriba hati. c. Pantun orang tua, terdiri atas pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama. Pantun di atas tergolong pantun anak muda yang berisi perkenalan laki-laki dan perempuan. Hal ini tampak pada bagian isi bait 3 dan 4 /Kalau beta yang nona cari/Jangan pura-pura tak kenal/.

Karmina Pada umumnya, Karmina merupakan pantun pendek yang hanya terdiri dari 2 baris. Karmina sering juga disebut pantun kilat. Baris pertama merupakan sampiran. Baris kedua merupakan isi. Jumlah suku kata setiap baris 8-12. Sajak dalam karmina terletak di tengah dan di akhir.

Berdasarkan bunyinya, sajak tersebut berupa sajak sempurna dan sajak paruh. Contoh karmina Burung merpati terbang tinggi ke awan Manusia mati membawa bekal amalan Jangan lupa setia pada sahabat Banyak dosa yuk segera taubat Gurindam Gurindam merupakan puisi yang terdiri dari dua baris yang kesemuanya merupakan isi dan menunjukkan hubungan sebab akibat.

Kebanyakan gurindam bersajak sempurna a-a, namun ada pula yang bersajak paruh a-b. Biasanya Gurindam berisi nasihat yang bermanfaat untuk kehidupan. Penyair gurindam yang sangat terkenal ialah Raja Ali Haji yang telah menulis Gurindam XII yang memiliki 12 pasal. Syair Syair merupakan puisi lama yang berasal dari Arab dan berkembang di kalangan masyarakat Melayu.

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Hamzah Fansuri merupakan penggubah syair yang terkenal di Indonesia. Beberapa karyanya di antaranya adalah Syair Perihal Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdul kadir Munsyi dan Syair Perahu, Syair Dagang dan Syair si Burung Pingai karya Hamzah Fansuri. Syair terdiri atas beberapa bait yang merupakan satu rangkaian cerita yang utuh. Setiap bait syair tersebut terdiri dari 4 baris. Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata.

Sajak Syair tersebut adalah sama a-a-a-a, yaitu persajakan kata ‘ madah- indah-berpindah-sesudah’ pada bait pertama dan ‘ dirimu-tubuhmu-hidupmu-diammu’ pada bait kedua.

Adapun ciri Syair adalah tidak memiliki sampiran karena semua baris merupakan isi yang membentuk satu rangkaian pesan yang utuh. Pertama, penulis ingin menulis sebuah syair dengan kata-kata indah tentang perjalanan hidup manusia mencapai kemenangan akhirat.

Kedua, penulis mengajak kita untuk mengenali diri dengan cara mengibaratkan diri kita sebagai perahu. Selain itu, penulis juga berpesan bahwa kehidupan di dunia ini fana dan kehidupan akhiratlah yang kekal. Video pembelajaran berikut membahas segala hal terkait materi puisi dengan lebih lengkap. Artikel Populer Lainnya: 1. Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 7 2.

Raih Skor Tertinggi Seleksi PPPK Tahun 2021 dengan Belajar Ringkasan Materi Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 8! 2. Struktur Fisik Puisi Struktur fisik puisi yang meliputi: diksi, imajinasi, kata konkret, majas, versifikasi, majas dan tipografi. a. Diksi atau Pilihan Kata Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti hatinya.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk itulah harus memilih penggunaan kata-kata yang setepat-tepatnya. Penyair juga ingin mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat. Di sisi lain, penyair harus cermat memilih kata-kata karena pemilihan kata-kata harus mempertimbangkan maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu.

b. Imajinasi (Gambaran angan) Dalam puisi kita kenal bermacam-macam imajinasi (gambaran angan) hasil dari indera penglihatan, pendengaran, pengecapan, rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan.

Artikel Kenali 5 Jenis Alat Indra pada Manusia dan Fungsinya membahas secara lengkap tentang alat indra. 1) Imajinasi Visual, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah seperti melihat sendiri apa cerita penyair. 2) Imajinasi Auditori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar sendiri apa cerita penyair. Imajinasi auditori mempergunakan suara dan bunyi yang tepat sekali untuk melukiskan hal yang dikemukakan, hal ini sering menggunakan kata-kata onomatope.

3). Imajinasi Articulatori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut waktu kita membaca sajak itu seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian mulut kita dengan sendirinya. 4). Imajinasi Olfaktori, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu.

Kita seperti mencium bau rumput yang sedang dibakar, bau tanah yang baru dicangkul, mencium bau bunga mawar, bau apel yang sedap dan sebagainya. 5).

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Imajinasi Gustatori, yakni imajinasi pencicipan. Dengan membaca atau mendengar kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam dan sebagainya. 6).

Imajinasi Faktual, yakni imajinasi rasa kulit, yang menyebabkan kita seperti merasakan di bagian kulit badan kita rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh perubahan suhu udara.

7). Imajinasi Kinestetik, yakni imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan badan atau otot-otot tubuh. 8). Imajinasi Organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita seperti melihat atau merasakan badan yang capai, lesu, loyo, ngantuk, lapar, lemas, mual, pusing dan sebagainya. c. Kata Konkret Kata konkret adalah kata-kata untuk membangkitkan daya bayang atau daya imajinasi para penikmat sastra.

d. Majas atau Bahasa Figuratif Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.

Adapun bahasa kias yang biasa digunakan dalam puisi ataupun karya sastra lainnya yaitu: Perbandingan/Perumpamaan (Simile) Perbandingan atau perumpamaan ( simile) ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama, laksana, dan kata-kata pembanding lainnya.

Metafora Bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana dan sebagainya.

Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama. Personifikasi Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda mati dapat berbuat, berpikir dan sebagainya. Personifikasi membuat hidup lukisan di samping itu memberi kejelasan kebenaran, memberikan bayangan angan yang konkret.

Hiperbola Kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca.

Metonimia Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya. Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat hubungannya dengan mengganti objek tersebut.

Sinekdoki ( Syneadoche) Bahasa kiasan yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri. Sinekdoke ada dua macam: – Pars Prototo: sebagian untuk keseluruhan – Totum Proparte: keseluruhan untuk sebagian Allegori Cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal lain atau kejadian lainnya. Pelambangan yang dipergunakan dalam puisi:Lambang warna, lambang benda: penggunaan benda untuk menggantikan sesuatu, lambang bunyi: bunyi untuk melambangkan perasaan tertentu, lambang suasana: suasana yang melambangkan suasana lain yang lebih konkret.

e. Versifikasi (Rima, Ritma dan Metrum) Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalisasi atau orkestrasi sehingga puisi menjadi menarik untuk dibaca. Dalam puisi banyak jenis rima yang kita jumpai antara lain: Menurut bunyinya: (a) Rima sempurna bila seluruh suku akhir sama bunyinya (b) Rima tak sempurna bila sebagian suku akhir sama bunyinya (c) Rima mutlak bila seluruh bunyi kata itu sama (d) Asonansi perulangan bunyi vokal dalam satu kata (e) Aliterasi: perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan, (f) Pisonansi (rima rangka) bila konsonan yang membentuk kata itu sama,tetapi vokalnya berbeda.

Jenis rima menurut letaknya antara lain: Rima • depan: bila kata pada permulaan baris sama • tengah: bila kata atau suku kata di tengah baris suatu puisi itu sama • akhir bila perulangan kata terletak pada akhir baris • tegak bila kata pada akhir baris sama dengan kata pada permulaan baris berikutnya.

• datar bila perulangan itu terdapat pada satu baris. Artikel Populer Lainnya: Ingin Lolos PPPK? Baca Ringkasan Materi Tes PPPK Kompetensi Profesional Bahasa Indonesia Bagian 9 Menurut letaknya dalam bait puisi terdiri atas rima: • berangkai dengan pola aabb, ccdd • berselang dengan pola abab, cdef • berpeluk dengan pola abba, cddc • terus dengan pola aaaa, bbbb • patah dengan pola abaa, bcbb • bebas: rima yang tidak mengikuti pola persajakan yang disebut sebelumnya • Efoni kombinasi bunyi yang merdu dan indah untuk menggambarkan perasaan mesra, kasih sayang, cinta dan hal-hal yang menggembirakan.

• Kakafoni kombinasi bunyi yang tidak merdu, parau dan tidak cocok untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau, serba tak teratur, bahkan memuakkan. Ritme Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Ritme terdiri dari tiga macam, yaitu: (a) Andante: Kata yang terdiri dari dua vokal, yang menimbulkan irama lambat.

(b) Alegro: Kata bervokal tiga, menimbulkan irama sedang (c) Motto Alegro: kata yang bervokal empat yang menyebabkan irama cepat. Metrum Peranan metrum sangat penting dalam perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut puisi dan deklamasi.

Ada bermacam tanda yang biasa pada tiap kata. Adapun penggunaan tanda (/) untuk menandai tekanan keras di atas suku kata tertentu, sedangkan untuk tekanan lemah menggunakan tanda (U) di atas suku katanya. e. Tipografi atau Perwajahan Ciri-cirisepintas dari puisi adalah perwajahannya atau tipografinya. Melalui indera mata tampak bahwa puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi.

Larik-larik itu tersusun ke bawah dan terikat dalam bait-bait. Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi. Dengan demikian satu bait puisi bisa terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja. 3. Unsur Batin Puisi Stuktur batin puisi itu ada empat yaitu tema ( sense), perasaan penyair ( feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca ( tone), amanat ( intention).

Pembahasan keempat unsur batin puisi selengkapnya sebagai berikut. a. Tema (Sense) Tema merupakan gagasan pokok atau subject matter yang dikemukakan penyair. Pokok pikiran itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut penyampaian puisinya.

b. Perasaan ( Feeling) Feeling merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya. Biasanya, perasaan penyair dalam puisinya melalui ungkapan-ungkapan dalam puisinya. c. Nada ( Tone) Pada umumnya, nada dalam puisi dapat diketahui dengan memahami apa yang tersurat. Faktanya nada berhubungan dengan suasana karena nada menimbulkan suasana tertentu pada pembacanya. Suasana adalah keadaan jiwa pembaca (sikap pembaca) setelah membaca puisi atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca.

d. Amanat ( Intention) Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. B. Prosa Unsur-Unsur Prosa Fiksi 1. Alur Alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang disusun berdasar hubungan kausalitas atau hubungan sebab akibat. Artinya, peristiwa-peristiwa dalam perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut fiksi itu saling berhubungan. Struktur Alur a.Orientasi Adalah struktur yang berisi pengenalan latar cerita.

Bagian ini berkaitan dengan latar tempat, waktu, alur, hingga latar suasana. Faktanya, latar digunakan pengarang untuk menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca.

Dengan kata lain, latar merupakan sarana pengekspresian watak, baik secara fisik maupun psikis. b. Rangkaian peristiwa Yaitu kisah berlanjut melalui rangkaian peristiwa tak terduga. c. Komplikasi Adalah cerita bergerak seputar konflik atau masalah yang memengaruhi latar waktu dan karakter. Tokoh utama mengarah ke solusi. d. Resolusi Adalah solusi untuk masalah atau tantangan yang berhasil tercapai. Dengan kata lain cara pengarang mengakhiri cerita.

Jenis-Jenis Fiksi Di sekitar kita banyak ditemukan beragam jenis teks cerita, baik yang bersifat fiksi maupun non fiksi. berikut penjelasan lengkap jenis-jenis fiksi. a. Fabel Fabel merupakan prosa fiksi yang menggunakan tokoh binatang, dan dapat digunakan untuk menanamkan moral dan karakter. b. Legenda Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap sebagai kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Sifat Legenda ini adalah keduniawian (bukan di dunia gaib), bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang.

c. Cerita Rakyat (Hikayat) Hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta. d. Anekdot Anekdot merupakan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut sebenarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, anekdot muncul dalam berbagai media dan bentuk. Dalam pada itu, ada anekdot yang muncul dalam pementasan teater, anekdot dalam teks tulis, anekdot yang muncul dalam pidato.

Meskipun demikian, media anekdot bervariasi tetapi substansi anekdot tetap sama, yaitu lucu dan berisi kritikan untuk menyindir. e. Cerpen, Novelet, dan Novel Cerpen adalah cerita yang pendek, sedangkan novelet adalah cerpen yang panjang tetapi lebih pendek dari novel. Jika berdasarkan panjangnya maka diperoleh urutan: cerpen-novelet-novel.

Cerpen biasanya berguna untuk pada prosa fiksi yang panjangnya antara 1.000 sampai 5.000 kata, sedangkan novel umumnya berisi lebih dari 45.000 kata.

Sementara itu, novelet berkisar antara 5.000 sampai 45.000 kata. f. Cerita Fantasi Cerita fantasi menampilkan tokoh, alur, atau tema yang derajat kebenarannya diragukan, baik dalam seluruh cerita maupun dalam sebagian cerita.

Teks cerita fantasi menghadirkan dunia khayal atau imajinatif pengarang. g. Cerita Sejarah Setidaknya ada tiga fiksi yang mendasarkan diri pada fakta, yaitu historical fiction (fiksi sejarah) jika yang menjadi dasar fakta sejarah, biographical fiction (fiksi biografi) jika yang menjadi dasar fakta biografi seseorang, dan science fiction (fiksi sains) jika yang menjadi dasar fakta ilmu pengetahuan. C. Drama Pengertian Drama Secara luas dapat berarti salah satu bentuk sastra yang isinya tentang hidup dan kehidupan dalam bentuk gerak.

Drama merupakan genre (jenis) karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak. Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan. Unsur-Unsur Teks Drama 1. Tema ialah suatu ide pokok atau sebuah gagasan utama dalam sebuah cerita drama.

2. Alur ialah jalan cerita dari sebuah pertunjukan drama dari babak pertama sampai dengan babak terakhir. 3. Tokoh drama terdiri atas tokoh utama dan tokoh pembantu. Tokoh utamanya adalah primadona sedangkan pada peran pembantu disebut dengan figuran.

4. Watak ialah suatu perilaku si tokoh drama tersebut. Watak protagonis ialah salah satu jenis watak dan protagonis ialah berwatak baik. Sedangkan watak antagonis ialah pemeran berwatak yang jahat. 5. Latar ialah suatu gambaran tempat, waktu, serta situasi yang terjadi dalam suatu kisah drama yang berlangsung.

6. Amanat drama ialah sebuah pesan dari pengarang cerita drama tersebut kepada penonton. Amanat drama bisa disampaikan dengan melalui peran para tokoh drama tersebut. 7. Dialog Pada umumnya, perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut oleh para tokoh dan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan. Dialog ini menggerakkan alur drama. Karena drama adalah gambaran kehidupan, maka dialog juga harus menggambarkan kehidupan para tokohnya 8.

Lakuan Lakuan merupakan gerak-gerik pemain di atas pentas dan harus berkaitan dengan alur dan watak tokoh. Pengertian lakuan adalah proses perwujudan adanya sebuah konflik di dalam sebuah drama. Konflik adalah hal yang bersifat dramatik. Dalam sebuah drama, lakuan tidak selamanya badaniah dengan gerak-gerik tubuh.

9. Teks Samping Teks samping atau petunjuk teknis mempunyai nama lain yaitu kramagung. Dalam bahasa Inggris sering disebut stage direction. Sesuai namanya, teks samping ini memberikan petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana pentas, suara, musik, keluar masuknya pemain, keras lemahnya dialog, warna suara, perasaan yang mendasari dialog, dan sebagainya. Unsur Pementasan Drama 1. Naskah Drama Pementasan drama berdasarkan naskah drama.

Dalam naskah drama terdapat dialog dan teks samping yang akan menjadi panduan pementasan. 2. Pemain (Aktor dan Aktris) Pemain merupakan orang yang memerankan cerita di atas pentas. Aktor adalah pemain laki-laki, sedangkan aktris adalah pemain perempuan. Pemain ini akan menentukan jalan cerita drama.

3. Sutradara Tugas sutradara adalah mengkoordinasi segala anasir pementasan, sejak latihan sampai dengan pementasan selesai. Tugas sutradara meliputi mengurus acting para pemain, mengurus kebutuhan yang berhubungan dengan artistik dan teknis. 4. Tata Rias Tata rias adalah seni menggunakan bahan kosmetika untuk menciptakan wajah peran sesuai tuntutan lakon.

5.Tata Busana Penata busana dalam pementasan drama membantu aktor membawakan perannya sesuai tuntutan lakon. 6. Tata Pentas Tata pentas adalah segala hal yang terkait dengan penataan tempat pementasan. Istilah tata panggung biasanya untuk pementasan di panggung. 7. Tata Lampu Penata lampu bertugas mengatur pencahayaan di panggung. Karena itu, bagian ini sangat terkait dengan tata panggung. Tata lampu dalam pementasan tidak sekadar memberi penerangan selama pementasan.

8. Tata Suara Tata suara bisa terkait pengaturan pengeras suara ( sound system), microphone, musik latar, musik dan suara-suara pengiring, dan sebagainya. 9. Penonton Penonton menjadi unsur penting dalam pementasan drama. Respon para penonton merupakan indikator kesuksesan pementasan sebuah drama.

Jenis drama antara lain: a. Drama Panggung: drama yang sepenuhnya menggunakan panggung. b. Drama Radio: drama radio tidak seperti biasanya. Drama ini hanya dapat didengarkan oleh penikmatnya saja dengan melalui radio.

c. Drama Televisi: hampir sama dengan drama panggung, namun drama televisi tidak dapat diraba. d. Drama Film: drama film menggunakan media layar lebar serta biasanya di bioskop. e. Drama Wayang: drama dengan pagelaran wayang. f. Drama Boneka: para tokoh drama tidak dimainkan oleh aktor manusia sungguhan, tetapi dengan boneka oleh beberapa orang.

Bahasan selengkapnya mengenai drama dan unsur-unsurnya dapat Anda simak pada video berikut. Demikianlah paparan lengkap mengenai ringkasan 5 materi tes PPPK kompetensi profesional bahasa Indonesia 2021. Terima kasih dan semoga bermanfaat. • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) • Click to share on Facebook (Opens in new window) • Click to email this to a friend (Opens in new window) • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) • Click to share on Twitter (Opens in new window) • Category: Materi Ajar Leave a comment Post navigation
PUISI A.

Pengertian Puisi Secara etimologi kata puisi berasal dari bahasa Yunani ‘ poema’ yang berarti membuat, ‘ poesis’ yang berarti pembuat pembangun, atau pembentuk.

Di Inggris puisi disebut poem atau poetry yang artinya tak jauh berbeda dengan to make atau to create, sehingga pernah lama sekali di Inggris puisi disebut maker. Puisi diartikan sebagai pembangun, pembentuk atau pembuat, karena memang pada dasarnya dengan mencipta sebuah puisi maka seorang penyair telah membangun, membuat, atau membentuk sebuah dunia baru, secara lahir maupun batin (Tjahyono, 1988: 50).

Sulit membuat batasan yang memuaskan terhadap pengertian puisi. Namun demikian perlu diterangkan beberapa definisi atau pendapat dari beberapa ahli sastra tentang puisi, untuk memperluas pandangan mengenai pengertian puisi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan lirik dan bait (Depdikbud, 1988: 706). • Jassin (1991: 40) mengatakan puisi adalah pengucapan dengan perasaan. Seperti diketahui selain penekanan unsur perasaan, puisi juga merupakan penghayatan kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya di mana puisi itu diciptakan tidak terlepas dari proses berfikir penyair.

Bahkan aktivitas berfikir dalam puisi merupakan keterlibatan yang sangat tinggi, seperti yang diungkapkan Matheew Arnold yang dikutip Situmorang : “Poetry is the highly organized form of intellectual activity” (Situmorang, 1983: 7). Lebih lanjut Matheew Arnold mengatakan puisi adalah satu-satunya cara yang paling indah, impresif, dan yang paling efektif mendendangkan sesuatu. Demikian pula yang dinyatakan oleh John Dryen, puisi adalah musik yang tersusun rapi. Puisi adalah nada yang penuh keaslian dan keselarasan menurut Isaac Newton (Situmorang, 1991: 8 – 9).

Thomas Chalye yang dikutip Waluyo mengatakan puisi merupakan ungkapan pikiran yang bersifat musikal (Waluyo, 1991 : 23 ) Selain unsur musikal, puisi juga merupakan ekspresi pikiran dan ekspresi perasaan yang bersifat imajinatif. Hal-hal seperti yang dinyatakan para ahli yang dikutip H.G Tarigan dalam bukunya “Prinsip-Prinsip Dasar Sastra” sebagai berikut: (a) Samuel Johnson : puisi adalah seni pemaduan kegairahan dengan kebenaran, dengan mempergunakan imajinasi sebagai pembantu akal pikiran, (b) William Wordsworth : puisi adalah luapan spontan dari perasaan yang penuh daya, memperoleh rasanya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali ke dalam kedamaian, (c) Lord Byron : Puisi adalah lavanya imajinasi, yang letusannya mampu mencegah adanya gempa bumi, (d) Lescelles Abercrombie : Puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang serta bermanfaat.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat dirumuskan bahwa puisi adalah bentuk karangan kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan mengekspresikan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama secara imajinatif, dengan menggunakan unsur musikal yang rapi, padu dan harmonis sehingga terwujud keindahan.

Jadi puisi adalah cara yang paling indah, impresif dan yang paling efektif dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. • Unsur-Unsur Pembangun Puisi Sebuah puisi adalah sebuah struktur yang terdiri dari unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur pembangun tersebut dinyatakan bersifat padu karena tidak dapat berdiri sendiri tanpa mengaitkan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya. Unsur-unsur dalam sebuah puisi bersifat fungsional dalam kesatuannya dan juga bersifat fungsional terhadap unsur lainnya (Waluyo, 1991 : 25).

Puisi terdiri atas dua unsur pokok yakni struktur fisik dan struktur batin (Waluyo, 1991 : 29). Kedua bagian itu terdiri atas unsur-unsur yang saling mengikat keterjalinan dan unsur itu membentuk totalitas makna yang utuh. Struktur batin puisi terdiri atas : tema, nada, perasaan, dan amanat. Sedangkan struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pengimajian, kata kongkrit, majas, verifikasi dan tipografi puisi. Majas terdiri atas lambang dan kiasan, sedangkan verifikasi terdiri dari : rima, ritma dan metrum (Waluyo, 1991 : 28 ) Dari uraian di atas dapat disimpulkan unsur yang membangun puisi terdiri dari dua struktur yaitu unsur fisik dan struktur batin.

Struktur fisik terdiri atas diksi, imaji, kata kongkrit, majas, verifikasi, dan tipografi. Struktur batin terdiri dari tema, perasaan, nada, suasana dan amanat. • Struktur Fisik Puisi Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi dari luar (Waluyo, 1991:71). Puisi disusun dari kata dengan bahasa yang indah dan bermakna yang dituliskan dalam bentuk bait-bait. Orang dapat membedakan mana puisi dan mana bukan puisi berdasarkan bentuk lahir atau fisik yang terlihat.

Berikut ini akan dibahas struktur fisik puisi yang meliputi : diksi, imajinasi, kata konkret, majas, verifikasi, majas dan tipografi. • Diksi (Pilihan Kata) Dalam menciptakan sebuah puisi penyair mempunyai tujuan yang hendak disampaikan kepada pembaca melalui puisinya. Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami hatinya. Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya.

Untuk itulah harus dipilih kata-kata yang setepat-tepatnya. Penyair juga ingin mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat. Penyair harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Selain itu penyair juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan daya magis kata-kata diberi makna baru dan yang tidak bermakna diberi makna menurut kehendak penyair.

Karena begitu pentingnya kata-kata dalam puisi, maka bunyi kata juga dipertimbangkan secara cermat dalam pemilihannya (Waluyo, 1991:72) Kalau dipandang sepintas lalu kata-kata yang dipergunakan dalam puisi pada umumnya sama saja dengan kata-kata yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara kalamiah kata-kata yang dipergunakan dalam puisi dan dalam kehidupan sehari-hari mewakili makna yang sama. Bahkan bunyi ucapanpun tidak ada bedanya (Tarigan, 1988:29) Namun tidak demikian adanya penyair menggunakan bahasa yang berbeda bahasa sehari-hari. Hal ini disebabkan bahasa sehari-hari belum cukup dapat melukiskan apa yang dialami jiwanya.

Karena dalam puisi itu belum cukup dapat melukiskan apa yang dialami jiwanya. Karena dalam puisi itu belum cukup bila hanya mengemukakan maksudnya saja, yang dikehendaki penyair adalah supaya siapa saja yang membaca puisinya dapat turut merasakan dan mengalami seperti apa yang dialami dan dirasakan penyair dalam puisinya (Pradopo, 1980:49) Pilihan kata berguna untuk membedakan nuansa makna dan gagasan yang ingin disampaikan dan menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa sebuah puisi.

Dengan memilih kata yang tepat berarti memfungsikan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca seperti yang dipikirkan dan dirasakan penulis pada saat menciptakan puisinya (Keraf, 1984:87) Dalam memilih kata-kata yang tepat dan untuk menimbulkan makna serta gambaran yang jelas penyair harus mengerti denotasi dan konotasi sebuah kata (Pradopo, 1990:58).

Hal ini disebabkan karena penyair berbeda dari penyair dari penyair lainnya (karya sastra lainnya) (Situmorang, 1981:27). Dalam menentukan pilihan kata yang tepat sering terjadi pergumulan dalam diri penyair, bagaimana ia memilih kata-kata yang tepat, yang mengandung arti sesuai dengan maksud puisinya baik dalam arti denotatif maupun konotatif seperti dikatakan di atas. Hal ini dilakukan untuk menimbulkan gambaran yang jelas pada imajinasi pembacanya maupun pada makna puisinya (Situmorang, 1983:19).

Seperti dikatakan di atas puisi memiliki makna masing-masing. Namun secar umum makna kata dalam puisi digolongkan menjadi dua makna; konotasi dan denotasi. Makna denotasi artinya makna yang menunjuk pada arti sebenarnya dalam kamus, sedangkan makna denotasi artinya kata yang memiliki kemungkinan makna lebih dari satu (Waluyo, 1991: 73). Namun dalam puisi (karya sastra) sebuah kata tidak hanya mengandung makna denotasi saja (Pradopo, 1990:59). Hendaknya disadari bahwa kata dalam puisi lebih bersifat konotatif artinya memiliki kemungkinan makna yang lebih dari satu.

Kata-kata dalam puisi dipilih dengan mempertimbangkan berbagai aspek estetis dan juga puitis artinya mempunyai efek keindahan yang berbeda dari kata-kata yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Maka kata-kata yang dipilih penyair bersifat absolut dan tidak bisa diganti. Jika diganti akan mengganggu kompisisi dan daya magis dari puisi itu sendiri (Waluyo, 1991: 73) Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna dan suasana yang diusahakan secermat dan seteliti mungkin, dengan mempertimbangkan arti sekecil-kecilnya baik makna denotatif, maupun makna konotatif, sehingga mampu mempengaruhi imajinasi pembacanya.

Jadi diksi selain penting juga merupakan sebagian dari ciri khas seorang penyair. Karena di antara penyair yang satu dengan penyair yang lain berbeda dalam pemilihan diksi. Maka jelaslah bahwa diksi itu sudah menjadi satu dengan penyairnya.

Sehingga penggunaan diksi dalam puisi kita seakan bisa mengenal orangnya (penyairnya) atau namanya. Kecakapan seorang penyair menggunakan diksi akan membangkitkan imaji pada pembacanya (Situmorang, 1983:19).

• Pengimajian (Imaji) Semua penyair ingin menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialaminya kepada para pembacanya melalui karyanya. Salah satu usaha untuk memenuhi keinginan tersebut ialah dengan pemilihan serta penggunaan kata-kata dalam puisinya (Tarigan, 1984:30). Ada hubungan yang erat antara pemilihan kata-kata, pengimajian dan kata konkret, di mana diksi yang dipilih harus menghasilkan dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati dalam penglihatan, pendengaran atau cita rasa.

Pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan (Waluyo, 1991: 97). Pilihan serta penggunaan kata-kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan energi tersebut dapat mendorong imajinasi atau daya bayang kita untuk menjelmakan gambaran yang nyata.

Dengan menarik perhatian kita pada beberapa perasaan jasmani sang penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga mereka menganggap bahwa merekalah yang benar-benar mengalami peristiwa jasmaniah tersebut (Tarigan, 1984: 30).

Dalam karyanya, sang penyair berusaha sekuat tenaga dan sekuat daya dengan pilihan kata dan jalinan kata agar pembacanya dapat melihat, merasakan, mendengar seperti apa yang dilukiskan penyair melalui fantasinya (imajinya). Dengan jalan demikian penyair dapat menarik perhatian pembaca bahkan bisa meyakinkannya terhadap realitas dari segala sesuatu yang digambarkannya itu (Situmorang, 183: 20).

Imaji bisa muncul pada diri seseorang, apabila seseorang itu mau memikirkan dan mengimajinasikan sesuatu yang dibacanya melalui perasaan. Sebab semua manusia mengalami dan melihat apa yang ada di dunia ini melalui perasaannya. Jika kita pergi ke tepi pantai, kita melihat air laut dan pasir putih. Kita merasakan asinnya air garam. Kita merasakan panasnya matahari di kepala kita dan pasir panas di telapak kaki kita.

Kita mendengar deburan ombak, kita dapat merasakan dinginnya, asinnya air laut. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa kita menikmati semuanya itu melalui pengalaman yang ada pada rasa kita. Jika kita kehilangan atau kekurangan rasa itu, semua hal di atas tidak akan dapat kita rasakan dan nikmati (Situmorang, 1981: 87). Demikian pula halnya dengan penyair pada saat menciptakan puisi. Dengan serangkaian kata penyair berusaha memunculkan daya imajinasi dalam puisinya sehingga pembaca dapat memunculkan apa yang disampaikan penyair dalam puisinya ke dalam pikirannya dengan perasaan.

Segala yang dirasai atau dialami secara imajinatif inilah yang biasa dikenal dengan istilah imagery atau imaji atau pengimajian (Tarigan, 1984:30). Bila seseorang membaca sebuah puisi yang melukiskan indahnya suasana pantai di pagi hari dan di saat senja datang. Maka yang muncul dalam perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut kita adalah ombang yang saling berkejaran, angin yang berhembus sejuk, kerlip-kerlip pasir pantai yang terkena sinar matahari menambah indahnya suasana pantai.

Tidak terasa panorama pantai berubah menjadi senja. Sementara matahari tak bosannya menyengat kulit sampai hitam legam. Imajinasi ini muncul karena kita menggunakan perasaan.

Tanpa perasaan semua hal di atas tidak akan dapat kita rasakan. Pengimajian ditandai dengan penggunaan kata kongkrit yang khas (Waluyo, 1991:79) Effendi menyatakan bahwa pengimajian dalam sajak dapat dijelaskan sebagai usaha penyair untuk menciptakan atau menggugah timbulnya imaji dalam diri pembacanya, sehingga pembaca tergugah untuk menggunakan mata hati untuk melihat benda-benda, warna, dengan kelingan hati untuk melihat benda-benda, warna dengan teling hati mendengar bunyi-bunyian, dan dengan perasaan hati kita menyentuh kesejukan dan keindahan benda dan warna (Waluyo, 1991: 81).

Hal yang dilukiskan dalam imaji dapat kita hayati secara nyata selama kita sungguh-sungguh membaca dan memahami isi dan makna sebuah puisi (Waluyo, 1991: 79). Rahmat Djoko Pradopo menyatakan imaji adalah gambaran pikiran dan bahasa yang menggambarkannya (1990: 79). Berdasarkan uraian dan pendapat di atas dapat disimpulkan pengimajian adalah susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris di mana pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, merasakan seperti apa yang dilihat, didengar dan dirasakan penyair dalam puisinya secara imajinatif melalui pengalaman dan rasa kita.

Dalam puisi kita kenal bermacam-macam (gambaran angan) yang dihasilkan oleh indera pengihatan, pendengaran, pengecapan, rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan (Pradopo, 1990: 81). Selanjutnya terdapat juga imaji penglihatan (visual), imaji pendengaran (auditif) dan imaji cita rasa (taktil) (Waluyo, 1991: 79). Semua imaji di atas bila dijadikan satu, secara keseluruhan dikenal beberapa macam imajinasi, yaitu : 1 ) Imajinasi Visuil, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah seperti melihat sendiri apa yang dikemukakan atau diceritakan oleh penyair.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut Imajinasi Auditory, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar sendiri apa yang dikemukakan penyair. Suara dan bunyi yang dipergunakan tepat sekali untuk melukiskan hal yang dikemukakan, hal ini sering menggunakan kata-kata onomatope.

3) Imajinasi Articulatory, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut waktu kita membaca sajak itu seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian mulut kita dengan sendirinya 4) Imajinasi Olfaktory, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu.

Kita seperti mencium bau rumput yang sedang dibakar, kita seperti mencium bau tanah yang baru dicangkul, kita seperti mencium bau bunga mawar, kita seperti mencium bau apel yang sedap dan sebagainya. 5) Imajinasi Gustatory, yakni imajinasi pencicipan. Dengan membaca atau mendengar kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam dan sebagainya. 6) Imajinasi Faktual, yakni imajinasi rasa kulit, yang menyebabkan kita seperti merasakan di bagian kulit badan kita rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh perubahan suhu udara.

7) Imajinasi Kinaestetik, yakni imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan badan atau otot-otot tubuh. 8) Imajinasi Organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita seperti melihat atau merasakan badan yang capai, lesu, loyo, ngantuk, lapar, lemas, mual, pusing dan sebagainya.

Imaji-imaji di atas tidak dipergunakan secara terpisah oleh penyair melainkan dipergunakan bersama-sama, saling memperkuat dan saling menambah kepuitisannya (Pradopo, 1990: 81). • Kata Konkret Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka kata-kata harus diperkonkret. Maksudnya adalah bahwa kata-kata itu dapat mengarah pada arti secara keseluruhan.

Seperti halnya pengimajian, kata yang diperkonkret erat kaitannya dengan penggunaan bahasa kiasan dan lambang. Jika seorang penyair mahir dalam memperkonkret kata-kata, maka pembaca seolah dapat melihat, mendengar, atau merasa seperti apa yang dilukiskan oleh penyair (Waluyo, 1991: 81). Sedangkan yang dimaksud dengan kata konkret sendiri ialah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama tetapi secara konotatif tidak sama karena disesuaikan dengan kondisi dan situasi pemakainya.

Misalnya pemakaian kata-kata senja, senyap, camar, bakau, teluk benang raja dalam sajak Amir Hamzah dalam “Berdiri Aku” benar-benar merupakan kata yang sesuai untuk mendukung makna dari puisinya (Situmorang, 1983: 20). Dengan kata yang diperkonkret makin memperjelas gagasan penyair dengan begitu pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa, perasaan, keadaan yang dialami penyair pada saat menciptakan puisinya.

Misalnya puisi yang berjudul : “Gadis Peminta-minta”. Untuk melukiskan gadis itu benar-benar seorang pengemis, gembel maka penyair menggunakan kata-kata gadis kecil berkaleng kecil lukisan itu lebih konkret dari pada gadis peminta ataupun gadis miskin begitu saja.

Jadi yang dimaksud konkret adalah kata yang dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh, dengan demikian pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa, keadaan, maupun sesuatu yang digambarkan penyair sehingga pembaca dapat memahami arti puisi. • Bahasa Figuratif Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut bahasa figuratif.

Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengunkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang (Waluyo, 1991: 83). Bahasa kias merupakan wujud penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan makna dasar ke asosi lain. Kiasan yang tepat dapat menolong pembaca merasakan dan melihat seperti apa yang dilihat atau apa yang dirasakan penulis.

Seperti yang diungkapkan Rahmad Djoko Pradopo bahwa kias dapat menciptakan gambaran angan/ citraan (imagery) dalam diri pembaca yang menyerupai gambar yang dihasilkan oleh pengungkapan penyair terhadap obyek yang dapat dilihat mata, saraf penglihatan, atau daerah otak yang bersangkutan (1990: 80). Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair karena: (1) Bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) Bahasa figuratif dalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak menjadi kongret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca, (3) Bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas, (4) Bahasa Figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat (Waluyo, 1991: 83).

Untuk memahami bahasa figuratif ini, pembaca harus menafsirkan kiasan dan lambang yang konvensional maupun yang nonkonvensional. Menurut uraian di atas bahasa figuratif adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imagery dengan mempergunakan gaya bahasa, gaya perbandingan, gaya kiasan, gaya pelambang sehingga makin jelas makna atau lukisan yang hendak dikemukakan penyair melalui puisinya.

Bahasa kias yang biasa terdapat dalam puisi : 1) Perbandingan/ perumpamaan (simile) Perbandingan atau perumpamaan (simile) ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama, laksana dan kata-kata pembanding lainnya. • Metafora Bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana dan sebagainya.

Metafora melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain (Becker, 1978: 317). Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga denan yang lain yang sesungguhnya tidak sama.

3) Personifikasi Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir dan sebagainya. Seperti halnya manusia dan banyak dipergunakan penyair dulu sampai sekarang. Personifikasi membuat hidup lukisan di samping itu memberi kejelasan beberan,memberikan bayangan angan yang konkret.

4) Hiperbola Kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca. • Metonimia Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya. Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama.

Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah obyek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat hubungannya dengan mengganti obyek tersebut.

6) Sinekdoki (Syneadoche) Bahasa kiasan yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri. Sinekdoke ada dua macam : – Pars Prototo : sebagian untuk keseluruhan – Totum Proparte : keseluruhan untuk sebagian (Pradopo, 1990: 78).

• Allegori Cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal lain atau kejadian lain. Perlambangan yang dipergunakan dalam puisi : • Lambang warna • Lambang benda : penggunaan benda untuk menggantikan sesuatu yang ingin diucapkan. • Lambang bunyi : bunyi yang diciptakan penyair untuk melambangkan perasaan tertentu. • Lambang suasana : suasana yang dilambangkan dengan suasana lain yang lebih konkret. • Versifikasi (Rima, Ritma dan Metrum) Versifikasi terdiri dari rima, ritma dan metrum.

• Rima Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalisasi atau orkestrasi sehingga puisi menjadi menarik untuk dibaca. Dalam puisi banyak jenis rima yang kita jumpai antara lain : • Menurut bunyinya : • Rima sempurna bila seluruh suku akhir sama bunyinya • Rima tak sempurna bila sebagian suku akhir sama bunyinya • Rima mutlak bila seluruh bunyi kata itu sama • Asonansi perulangan bunyi vokal dalam satu kata • Aliterasi : perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan • Pisonansi (rima rangka) bila konsonan yang membentuk kata itu sama, namun vokalnya berbeda.

• Menurut letaknya : • Rima depan : bila kata pada permulaan baris sama • Rima tengah : bila kata atau suku kata di tengah baris suatu puisi itu sama • Rima akhir bila perulangan kata terletak pada akhir baris • Rima tegak bila kata pada akhir baris sama dengan kata pada permulaan baris berikutnya.

• Rima datar bila perulangan itu terdapat pada satu baris. • Menurut letaknya dalam bait puisi : • Rima berangkai dengan pola aabb, ccdd……….

• Rima berselang dengan pola abab, cdef…… • Rima berpeluk dengan pola abba, cddc……. • Rima terus dengan pola aaaa, bbbb……. • Rima patah dengan pola abaa, bcbb…… • Rima bebas : rima yang tidak mengikuti pola persajakan yang disebut sebelumnya (Waluyo, 1991: 93). • Efoni kombinasi bunyi yang merdu dan indah untuk menggambarkan perasaan mesra, kasih sayang, cinta dan hal-hal yang menggembirakan.

• Kakafoni kombinasi bunyi yang tidak merdu, parau dan tidak cocok untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau, serba tak teratur, bahkan memuakkan. 2) Ritma Pertentangan bunyi, tinggi rendah, panjang pendek, keras lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan (Waluyo, 1991:94).

Ritma terdiri dari tiga macam, yaitu : • Andante : Kata yang terdiri dari dua vokal, yang menimbulkan irama lambat • Alegro : Kata bervokal tiga, menimbulkan irama sedang • Motto Alegro : kata yang bervokal empat yang menyebabkan irama cepat. • Metrum Perulangan kata yang tetap bersifat statis (Waluyo, 1991:94). Nama metrum didapati dalam puisi sastra lama. Pengertian metrum menurut Pradopo adalah irama yang tetap, pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu (Pradopo, 1990: 40).

Peranan metrum sangat penting dalam pembacaan puisi dan deklamasi. Ada bermacam tanda yang biasa diberikan pada tiap kata. Untuk tekanan keras ditandai dengan ( / ) di atas suku kata yang dimaksudkan, sedangkan tekanan lemah diberi tanda ( U ) di atas suku katanya. • Tipografi Salah satu ciri yang membedakan puisi dengan karya sastra lain pada bentuk tulisannya atau tata wajah. Melalui indera mata tampak bahwa puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi. Larik-larik itu disusun ke bawah dan terikat dalam bait-bait.

Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi yang ingin dituliskan penyair. Dengan demikian satu bait puisi bisa terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja.

Dalam hal cara penulisannya puisi tidak selalu harus ditulis dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan seperti bentuk tulisan umumnya. Susunan penulisan dalam puisi disebut tipografi (Pradopo, 1990:210).

Struktur fisik puisi membentuk tipografi yang khas puisi. Tiprografi puisi merupakan bentuk visual yang bisa memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret.

Tipografi bentuknya bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi, kerucut dan sebagainya. Jadi tipografi memberikan ciri khas puisi pada periode angkatan tertentu. • Struktur Batin Puisi Struktur batin puisi atau struktur makna merupakan pikiran perasaan yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1987: 47). Struktur batin puisi merupakan wacana teks puisi secara utuh yang mengandung arti atau makna yang hanya dapat dilihat atau dirasakan melalui penghayatan.

Tanpa penghayatan unsur-unsur puisi yang membangun dari dalam, mustahil dapat memahami puisi secara benar. Struktur batin puisi merupakan isi/ makna yang sesungguhnya ingin diekspresikan penyair melalui puisinya. karena struktur batin itu merupakan sesuatu yang tersirat di balik yang tersurat, maka pembaca harus terlibat secara mendalam, baik fisik, mental maupun pikiran untuk mengetahui atau memahami hakekat makna sebuah puisi yang sesungguhnya.

Menurut I.A Richards sebagaimana yang dikutip Herman J. Waluyo menyatakan batin puisi ada empat, yaitu : tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), amanat (intention) (Waluyo, 1991: 180-181). Berikut ini akan dibahas struktur batin puisi. • Tema Seorang penyair dalam menciptakan puisi selalu mempunyai keinginan dan tujuan. Keinginan dan tujuan itu disampaikan penyair kepada pembaca melalui puisinya. Keinginan berhubungan langsung dengan penyair, penyair ingin agar apa yang menjadi makna dan isi dari puisinya dapat dipahami dan pembaca tidak mendapatkan kesulitan dalam menafsirkan puisinya.

Sedangkan tujuan berhubungan langsung dengan pembaca, penyair berharap setelah membaca dan memahami isi serta pesan moral dalam puisinya dapat menambah pengetahuan dan pengalaman pembaca tentang hidup dan kehidupan. Jika kita berhadapan dengan puisi kita tidak hanya berhadapan dengan unsur kebahasaan yang meliputi serangkaian kata-kata indah, namun juga merupakan kesatuan bentuk pemikiran atau struktur makna yang hendak diucapkan oleh penyair.

Setiap puisi mengandung suatu pokok persoalan (subject matter) yang hendak dikemukakan (Situmorang, 1983:12). Tema merupakan gagasan pokok atau subject matter yang dikemukakan penyair (Waluyo, 1991:106). Jadi jelas bahwa dengan puisinya penyair ingin mengemukakan sesuatu bagi pembaca melalui puisinya. Sang penyair melihat, mengalami beberapa kejadian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan caranya sendiri.

Atau dengan kata lain sang penyair ingin mengemukakan pengalaman pribadinya kepada para pembaca melalui puisinya (Tarigan, 1985: 10). Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.

Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan penyair dengan Tuhan, maka puisinya bertema ketuhanan. Jika desakan yang kuat berupa rasa belas kasih atau kemanusiaan, maka puisi bertema kemanusiaan. Jika yang kuat adalah dorongann untuk memproses ketidakadilan, maka tema puisinya adalah protes atau kritik sosial. Perasaan cinta atau patah hati yang kuat juga dapat melahirkan tema cinta atau tema kedukaan hati karena cinta (Waluyo, 1991: 106-107).

Jadi tidak ada puisi yang tidak mempunyai sesuatu yang hendak dikemukakannya. Walaupun sering penyair sangat lihai menutup-nutupi atau menyelubungi maksud puisinya dibalik kata-kata sehingga pembaca harus bekerja keras untuk memahami dan menafsirkannya. Tapi pasti ada sesuatu yang hendak dikemukakannya. Inilah yang disebut sense (Situmorang, 1983: 12).

Tema berhubungan langsung dengan pengarangnya yang tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain falsafah hidup, lingkungan, agama, pekerjaan dan pendidikan. (1985: 10). Hal ini didukung oleh pendapat Herman J. Waluyo yang mengatakan bahwa tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan (Waluyo, 1991: 106-107). Sebuah puisi bisa menyenangkan karena bersifat menghibur, mengemukakan sesuatu yang menarik atau mengagumkan, namun sebuah puisi tidak hanya bersifat menghibur tetapi juga berupa nasehat-nasehat yang berupa dorongan moral atau berupa pengajaran akan kebenaran yang bersifat spiritual dan rohaniah yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Kita tidak akan dapat memahami tema dari sebuah puisi kalau hanya membaca sekilas saja (Tjahyono, 1988:68). Karena penyair tidak langsung membeberkan dan menjelaskan apa tema yang ada di dalam puisinya. dengan membaca berulang-ulang sedikit demi sedikit, pembaca akan menemukan isi dari puisi itu kemudian mengambil pengalaman yang diperoleh untuk diri sendiri maka itu tandanya penyair telah bekerja dengan perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut dan pembaca mendapatkan kenikmatan dari puisi yang dibacanya (Situmorang, 1983: 36).

Seorang sastrawan akan merasa bangga apabila apa yang disampaikan dalam puisinya dapat diterima dengan baik dan dipahami oleh pembaca, serta pembaca tidak mengalami kesulitan untuk menafsirkan (Sumardjo, 1982:13).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sesuatu yang digambarkan penyair dalam puisinya disebut tema, sedangkan pokok persoalan yang hendak dikemukakan penyair dalam puisinya disebut subject matter.

Jadi tema membangun puisi secara umum dan subject matter membangun puisi secara khusus. Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan tema adalah sesuatu yang diciptakan atau digambarkan penyair melalui puisinya yang mengandung suatu pokok persoalan yang hendak dikemukakan. Tema juga merupakan latar belakang terciptanya sebuah puisi, yang tidak dapat dipisahkan dari pengarangnya. Dengan latar belakang pengetahuan yang sama, penafsir-penafsir puisi akan memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tafsir puisi bersifat lugas, obyektif dan khusus (Waluyo, 1991: 107).

Berikut ini dipaparkan macam-macam tema puisi sesuai dengan Pancasila. • Tema Ke-Tuhanan Puisi-puisi bertema ke-Tuhanan biasanya akan menunjukkan religius experience atau “pengalaman religi” penyair yang didasarkan tingkat kedalaman pengalaman ke-Tuhanan seseorang. Dapat juga dijelaskan sebagai tingkat kedalaman iman seseorang terhadap agamanya atau lebih luas lagi terhadap Tuhan atau kekuasaan gaib (Waluyo, 1991:107).

Kedalaman rasa ke-Tuhanan itu tidak lepas dari bentuk fisik yang terlahir dalam pemilihan kata, ungkapan, lambang, kiasan dan sebagainya yang menunjukkan betapa erat hubungan antara penyair dengan Tuhan.

Juga menunjukkan bagaimana penyair ingin Tuhan mengisi seluruh kalbunya. (Waluyo, 1991:108). • Tema Kemanusiaan Tema kemanusiaan bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembaca bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama.

Perbedaan kekayaan, pangkat dan kedudukan seseorang tidak boleh menjadi sebab adanya perbedaan perlakuan terhadap kemanusiaan seseorang (Waluyo, 1991:112) • Tema Patriotisme / Kebangsaan Tema patriotisme dapat meningkatkan perasaan cinta aka bangsa dan tanah air. Banyak puisi yang melukiskan perjuangan merebut kemerdekaan dan mengisahkan riwayat pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan atau melawan penjajah. Tema patriot juga dapat diwujudkan dalam bentuk usaha penyair untuk membina kesatuan bangssa atau membina rasa kenasionalan (Waluyo, 1991:115) • Tema Kedaulatan Rakyat Penyair begitu sensitif perasaannya untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat dan menentang sikap sewenang-wenang pihak yang berkuasa, didapati dalam puisi protes.

Penyair berharap orang yang berkuasa memikirkan nasib si miskin. Diharapkan penyair agar kita semua mengejar kekayaan pribadi, namun juga mengusahakan kesejahteraan bersama. • Tema Keadilan Sosial Nada protes sosial sebenarnya lebih banyak menyuarakan tema keadilan sosial dari pada tema kedaulatan rakyat.

Yang dituliskan dalam tema keadilan sosial adalah ketidakadilan dalam masyarakat dengan tujuan untuk mengetuk nurani pembaca agar keadilan sosial ditegakkan dan diperjuangkan. • Perasaan (Feeling) Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya.

Perasaan penyair dalam puisinya dapat dikenal melalui penggunaan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisinya karena dalam menciptakan puisi suasana hati penyair juga ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca (Waluyo, 1991:121).

Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa setiap manusia mempunyai sikap dan pandangan tertentu dalam menghadapi setiap pokok yang diekspresikan. Sikap-sikap itu mungkin saja bisa berupa kemarahan, kasihan, simpati, acuh tak acuh, rindu, sedih, gelisah dan lain sebagainya (Tjahyono, 1988:71).

Jadi perasaan adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkan dalam puisinya, yang merupakan gambaran perasaan yang dialami penyair pada saat menciptakan puisinya. • Nada dan Suasana • Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca berkenaan dengan pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya (Tjahyono, 1988:71). Hal ini seperti dikemukakan Tarigan bahwa nada adalah sikap penyair terhadap para penikmatnya (Tarigan, 1985: 13).

• Dalam menulis puisi, penyair memiliki sikap tertentu yang ditujukan kepada pembacanya, apakah penyair itu bersikap menggurui, angkuh, membodohkan, rendah hati, mengejek, menyindir atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca (Waluyo, 1991:125). • Nada perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut puisi dapat diketahui dengan memahami apa yang tersurat, yaitu bahasa/ ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam puisi.

• Nada berhubungan dengan suasana, karena nada menimbulkan suasana tertentu pada pembacanya. Suasana adalah keadaan jiwa pembaca (sikap pembaca) setelah membaca puisi, atyau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca (Waluyo, 1991:71).

Misalnya : puisi yang bernada duka menimbulkan suasana iba hati pada pembaca, nada khusuk dapat menimbulkan suasana khusuk. • Amanat Penyair sebagai sastrawan dan anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak merasa bertanggugjawab menjaga kelangsungan hidup sesuai dengan hati nuraninya.

Oleh karena itu, puisi selalu ingin mengandung amanat (pesan). Meskipun penyair tidak secara khusus dan sengaja mencantumkan amanat dalam puisinya. amanat tersirat di balik kata dan juga di balik tema yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991:130). Amanat adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan,pesan, tujuan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya.

C. Pembelajaran Apresiasi Puisi Pembelajaran apresiasi sastra meliputi pembelajaran apresiasi puisi, prosa, dan drama. Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. (1) Pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa.

(2) Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa. (3) Pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah, aliran, dan teori sastra. (4) Pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata.

Pembelajaran apresiasi puisi dapat dilakukan dengan memadukannya dengan empat aspek keterampilan berbahasa, yakni: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam pembelajaran apresiasi sastra, baik prosa, puisi, maupun drama, siswa tidak hanya sekadar sebagai penikmat hasil sastra (pembaca atau pendengar) saja namun siswa juga dituntut untuk kreatif menulis.

Pada pembelajaran apresiasi puisi yang berkaitan dengan tujuan tersebut dapat dilakukan dengan cara membaca, mendeklamasikan, menciptakan puisi, dan mendiskusikan tema, keindahan bahasa, serta hal-hal yang menarik dari puisi tersebut. Kegiatan yang dilakukan siswa antara lain berikut ini: • Puisi yang telah disiapkan guru (dapat juga yang telah ditulis oleh siswa) dibaca oleh siswa atau dideklamasikan siswa.

Setelah siswa membaca/mendeklamasikan puisi tentu siswa memperoleh pengalaman tentang isi, bahasa, dan gaya bahasa yang digunakan.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

• Puisi yang telah dibaca didiskusikan dari berbagai segi yang menarik untuk didiskusikan. Misalnya: wujudnya, sudut penuturan, pokok yang diungkapkan, sudut pandang, perasaan yang terlibat di dalamnya, amanat, tema, dan sebagainya. Tentang wujud puisi, dibahas antara lain: bait, larik, dan sajak.

Tentang sudut penuturan, misalnya: dibahas siapa yang bertutur dan kepada siapa dia bertutur, serta bagaimana nada penuturannya. Tentang pokok yang diungkapkan, dibahas hal-hal apa yang dikisahkan, digambarkan, atau didialogkan. Tentang perasaan, dibicarakan tentang perasaan yang terlibat di dalamnya, misalnya: sedih, gembira, rindu, benci, dan tertekan.

Tentang amanat, dibicarakan tentang apa yang ingin dibicarakan penyair melalui puisi tersebut, juga apakah amanat dalam puisi tersebut tersirat ataukah tersurat.

• Setelah dilakukan pembahasan puisi tersebut dibaca lagi, dinikmati lagi secara utuh. Dengan demikian diharapkan pemahaman yang lebih tinggi lagi serta pemahaman yang lebih jelas tentang puisi yang akan dibaca. • Hasil pembahasan puisi itu dihubungkan pula dengan kehidupan masingmasing siswa sehingga puisi menjadi lebih bermakna dalam kehidupan mereka sehari-hari. Demikian kemungkinan penyajian bahan pengajaran puisi di sekolah. Untuk pencapaian penulisan kreatif, dapat juga dilakukan kegiatan menulis puisi yang sesuai dengan tema yang ditentukan atau dipilih siswa.

Untuk menulis puisi bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi perlu motivasi yang tinggi oleh guru untuk membangkitkan semangat menulis puisi. Puisi yang mereka tulis dapat dipajang di majalah dinding atau majalah sekolah.

Kebermaknaan sebuah puisi dapat dilakukan dengan memadukan bidang seni lain. Misalnya, teknik yang dapat dilakukan guru di sekolah adalah musikalisasi puisi, yaitu perpaduan antara seni musik dan seni sastra di kalangan siswa. Untuk musikalisasi puisi ini diperlukan alat-alat musik yang dikuasai siswa. Keterpaduan lain yang dapat dilakukan adalah keterpaduan antara seni lukis dengan puisi.

Sebuah lukisan bunga, misalnya, dapat ditulis dengan sebuah puisi yang berkaitan dengan bunga tersebut sehingga ekspresi kedua bidang seni lebih terasa. • Ekspresi Puisi • Menulis Puisi Ekspresi tulis puisi adalah segala kegiatan yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik dalam menulis puisi. Pada saat Anda menemukan peristiwa yang luar biasa, misalnya jatuhnya pesawat terbang, gerhana matahari total, atau gelapnya siang hari karena letusan sebuah gunung berapi, perasaan apa yang ingin Anda ungkapkan?

Apabila Anda mendapatkan hadiah undian ratusan juta rupiah atau bertemu dengan saudara yang telah beberapa tahun menghilang, perasaan apa yang akan Anda luapkan? Sedih, gembira, bahagia, atau campuran dari semuanya? Pengalaman tersebut merupakan bahan berharga apabila diekspresikan melalui puisi. Barangkali kita tidak dengan sengaja menulisnya sebagai puisi karena hanya menuangkannya, misalnya, ke dalam buku harian.

Cobalah buka kembali buku harian Anda. Mungkin Anda akan terkejut karena di sana Anda telah menguntai kata dan kalimat secara emotif. Hal itu perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut saja karena Anda telah mengekspresikan diri Anda sendiri, namun kondisi manusia sebagai homo ludens ‘makhluk bermain’ dan homo fabulans ‘makhluk bersastra’ mendorong kita untuk melakukan semua itu. Apabila kegiatan menulis buku harian itu kita lakukan sebagai pengisi waktu luang, kini kita akan mencoba berekspresi secara khusus, yaitu dengan menulis puisi lama dan modern.

Kegiatan ini, meskipun khusus menulis puisi, hendaknya jangan dianggap terlalu serius. Yang penting adalah mengembangkan imajinasi dan emosi kreatif kita dengan sarana puisi yang sudah kita kenal, yaitu puisi lama dan puisi modern. • Menulis Puisi Lama Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh syarat-syarat, seperti jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik, pola rima dan irama, serta muatan setiap bait.

Silakan Anda perhatikan puisi lama berikut: dari mana datangnya lintah dari sawah turun ke kali dari mana datangnya cinta dari mata turun ke hati. Puisi di atas adalah salah satu bait puisi lama dalam bentuk pantun. Apabila Anda akan menulis puisi lama dengan bentuk demikian, syaratsyarat yang harus Anda patuhi adalah jumlah larik dalam setiap baitnya harus berjumlah empat, jumlah suku kata dalam setiap lariknya harus antara delapan dan dua belas, rimanya mesti berpola a-b-a-b (larik ke-1 dan larik ke-3 mesti sama, demikian juga larik perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut dan larik ke-4), dan dua larik pertama mesti memuat sampiran, sedangkan dua larik terakhir mesti memuat isi, makna, amanat, atau pesan pantun.

Penyebutan puisi lama disebabkan adanya fenomena puisi setelahnya yang dianggap baru. Namun, yang lebih perlu Anda pahami adalah bahwa puisi lama merupakan pancaran masyarakat lama atau warisan budaya nenek moyang kita yang masih hidup dalam tradisi lisan.

Karena tradisi ini menuntut orang mengingat dan menghafal, maka wajar saja jika dalam puisi lama terkandung syarat-syarat tertentu. Di sisi lain, syarat-syarat tersebut karena dijadikan sarana dalam berekspresi secara berulang-ulang, maka jadilah formula atau kaidah tetap yang menjadi ciri setiap bentuk puisi. Bentuk lainnya yang juga termasuk puisi lama adalah bidal, gazal, gurindam, mantra, masnawi, nazam, kithah, rubai, seloka, syair, talibun, dan teromba.

Meskipun bentuk puisi lama cukup banyak, kita akan menekuninya sebagian saja, terutama yang masih memengaruhi penulisan puisi modern, yaitu pantun, syair, dan mantra. (1) Pantun Seperti sudah disinggung sebelumnya, pantun merupakan ragam puisi lama. Baitnya terdiri atas empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata atau delapan sampai dengan 12 suku kata dan dengan ketentuan bahwa dua larik pertama selalu merupakan kiasan atau sampiran, sementara isi atau maksud sesungguhnya terdapat dalam larik ketiga dan keempat.

Berdasarkan struktur dan persyaratannya, pantun dapat terbagi ke dalam pantun biasa, pantun kilat atau karmina, dan pantun berkait. Pantun biasa adalah pantun seperti kita kenal lazimnya dan rincian persyaratannya telah kita singgung di atas, namun dengan tambahan, isinya berisi curahan perasaan, sindiran, nasihat, dan peribahasa.

Pantun biasa pun dapat selesai hanya dengan satu bait. Perhatikanlah pantun berikut, yang termasuk pantun biasa dan cukup populer karena dijadikan lirik sebuah lagu oleh Rhoma Irama: Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Pantun kilat atau karmina memiliki syarat-syarat serupa dengan pantun biasa.

Perbedaan terjadi karena karmina sangat singkat, yaitu baitnya hanya terdiri atas dua larik sehingga sampiran dan isi terletak pada larik pertama dan kedua. Perhatikanlah beberapa karmina berikut: Ada ubi ada talas, Ada budi ada balas.

Anak ayam pulang ke kandang, Jangan lupa akan sembahyang. Satu dua tiga dan empat, Siapa cepat tentu dapat. Pantun berkait, kadang-kadang juga disebut dengan pantun berantai, merupakan pantun yang sambung-bersambung antara bait satu dan bait berikutnya. Dengan catatan, larik kedua dan keempat setiap bait pantun akan muncul kembali pada larik pertama dan ketiga pada bait berikutnya: Tanam melati di rumah-rumah ubur-ubur sampingan dua Kalau mati kita bersama Satu kubur kita berdua.

Ubur-ubur sampingan dua Tanam melati bersusun bangkai Satu kubur kita berdua Kalau boleh besusun bangkai Meskipun pantun merupakan puisi lama, tidak ada yang akan melarang apabila kita memanfaatkannya sebagai sarana pergaulan kini. Terlebih-lebih, aspek didikan dan hiburan sebagai fungsi sastra dalam mayarakat lampau kita tidak terpisahkan di dalamnya. Contoh pantun di atas dapatlah dijadikan sebagian bukti. Apabila kata-kata dalam contoh pantun tersebut dianggap terlalu arkais dan kemelayu-melayuan, kita dapat menggantinya dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari.

Tentunya, semua kita lakukan dengan tetap mengikuti formula dan syarat-syarat sebuah pantun. Misalnya, dalam acara hiburan di salah satu televisi swasta, pantun yang bersifat humor telah menjadi paket acara tersendiri.

Dalam acara rekreasi ke tempat objek wisata, ulang tahun, atau perpisahan, berbalas pantun melalui iringan gitar dapat pula dijadikan kegiatan pelepas lelah dan media berkenalan. Dengan pantun kita pun dapat memanfaatkan kelebihan dan kekurangan orang lain atau diri sendiri sebagai bahan gelak tawa, lelucon, dan banyolan yang dapat menyegarkan suasana.

Di sela-sela kesibukan kuliah pun kita dapat membuat pantun, seperti berikut ini: silau lentera di dalam tenda tikus sawah di atap bambu walau usia masihlah muda lulus ujian tetaplah perlu. burung perkutut di atas galah kayu cendana dibuat bangku tuntut ilmu tiada lelah jadi sarjana cita-citaku Apabila formula pantun di atas dianggap cukup panjang, kita dapat memanfaatkan karmina sebagai alat pergaulan. Biasanya para remaja menuliskan catatan tambahan dalam surat yang dituliskannya kepada seorang teman dengan karmina berikut: empat kali empat enam betas, sempat tidak sempat harus dibalas.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Seorang ketua tingkat dapat pula menempelkan secarik kertas di papan pengumuman dengan karmina berikut: makan kupat disiram kuah, jangan lupa kita kuliah. (2) Syair Syair bersumber dari kesusastraan Arab dan tumbuh memasyarakat sekitar abad ke-13, seiring dengan masuknya agama Islam ke nusantara. Seperti halnya pantun, syair memiliki empat larik dalam setiap baitnya; setiap larik terdiri atas empat kata atau antara delapan sampai dengan dua belas suku kata.

Akan tetapi, syair tidak pernah menggunakan sampiran. Dengan kata lain, larik-larik yang terdapat dalam syair memuat isi syair tersebut. perbedaan pantun dan syair terletak juga pada pola rima. Apabila pantun berpola a-b-a-b, maka syair berpola a-a-a-a. Karena bait syair terdiri atas isi semata, maka antara bait yang satu dan bait lainnya biasanya terangkai sebuah cerita. Jadi, apabila orang akan bercerita, syair adalah pilihan yang tepat.

Cerita yang dikemas dalam bentuk syair biasanya bersumber dari mitologi, religi, sejarah, atau dapat juga rekaan semata dari pengarangnya. Syair yang cukup terkenal yang merupakan khazanah sastra nusantara, misalnya Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, Syair Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Syair Bidasari, Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambunan, Syair Burung Pungguk, dan Syair Yatim Nestapa. Marilah kita sejenak memperhatikan beberapa bait pengantar Syair Burung Pungguk: Bismillah itu mulia dikata Limpah rahmat terang cuaca Berkat Mohammad penghulu kita Ialah penghulu alam pendeta Al rahman itu sifat yang sani Maknanya murah amat mengasihani Kepada mumin hati nurani Di situlah tempat mengasihani Al rahim itu pengasihan kita Kepada Allah puji semata Itulah Tuhan yang amat nyata Memberi hambanya berkata-kata Dengarkan tuan suatu rencana Dikarang oleh dagang yang hina Sajaknya janggal banyak tak kena Dari pada akal belum sempurna (3) Mantra Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut.

Masyarakat zaman dulu percaya bahwa mantra itu mengandung kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Namun, hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance ‘kerasukan’. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata, melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif. Karakteristik mantra memang sangat unik. Karena keunikan itulah kita tidak dapat membandingkan bentuknya dengan puisi yang telah kita singgung sebelumnya, baik dengan pantun maupun syair.

Terlebih-lebih, mantra hanya dapat dilontarkan oleh orang yang dianggap telah memiliki syarat-syarat tertentu. Namun, untuk kepentingan ekspresi, tidak ada salahnya apabila kita mencoba untuk membuat mantra. Meskipun formula mantra tidak sekaku pantun dan syair, kita perlu juga mengetahuinya sehingga memudahkan kita untuk menyusunnya. Menurut Umar Junus (1983:135), ciri-ciri mantra adalah sebagai berikut: • Di dalam mantra terdapat rayuan dan perintah. • Mantra mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi.

• Mantra menggunakan kesatuan pengucapan. • Mantra merupakan sesuatu yang utuh, yang tidak dapat dipahami melalui bagian-bagiannya. • Mantra merupakan sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius. • Dalam mantra terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya.

Sebagai contoh marilah kita perhatikan mantra berikut ini, yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak. Pulanglah engkau kepada rimba sekampung, Pulanglah engkau kepada rimba yang besar, Pulanglah engkau kepada gunung guntung, Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu, Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang, Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering, Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

Kita belajar untuk membuat mantra bukan karena kemanjuran dan daya gaibnya sebab anggapan seperti itu hanya terdapat dalam keyakinan dan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. Kita kini mempelajarinya sebagai kegiatan kreatif dalam penulisan puisi. Terlebih-lebih puisi modern yang akan kita bicarakan nanti masih memanfaatkan puisi lama, khususnya pantun dan mantra, sebagai alat ucap puitiknya. • Menulis Puisi Modern Puisi modern dianggap berbeda dengan puisi lama sehingga ada yang menyebutnya dengan “puisi baru”.

Karena puisi modern tidak terikat lagi oleh syarat-syarat seperti pantun, syair, dan mantra, maka ada juga orang yang menyebutnya dengan “puisi bebas”. Selain itu puisi modern adalah puisi yang ditulis kini dan ada di sekitar kita kini, maka ada juga yang menyebutnya dengan “puisi mutakhir” dan “puisi kontemporer”.

Puisi lama dengan puisi modern meskipun berbeda tidaklah bertolak belakang sepenuhnya. Dalam pertumbuhan awal puisi modern kita masih dapat melihat pengaruh puisi lama di dalamnya, seperti tampak dalam puisi Sanusi Pane berikut: DIBAWA GELOMBANG Alun membawa bidukku perlahan, Dalam kesunyian malam waktu, Tidak berpawang, tidak berkawan, Entah ke mana aku tak tahu. Jauh di atas bintang kemilau, Seperti sudah berabad-abad, Dengan damai mereka meninjau, Kehidupan bumi, yang kecil amat.

Aku bernyanyi dengan suara, Seperti bisikan angin di daun; Suaraku hilang dalam udara, Dalam laut yang beralun-alun. Alun membawa bidukku perlahan, Dalam kesunyian malam waktu, Tidak berpawang, tdak berkawan, Entah ke mana aku tak tahu. Puisi di atas terdiri dari empat larik setiap baitnya, per larik lebih kurang empat kata atau delapan sampai dengan dua belas suku kata dan berpola rima akhir a-b-a-b.

Apabila kita perhatikan selintas, puisi tersebut sama dengan pantun. Namun, apabila kita telaah lebih lanjut ternyata di dalamnya tidak terdapat sampiran.

Apakah puisi ini berbentuk syair? Syair memang tidak memiliki sampiran, akan tetapi rima akhirnya mesti berpola a-a-a-a. Selain itu, isi puisi di atas bukanlah cerita melainkan tumpahan rasa sebagai manusia yang tengah terombang-ambing sendirian di atas perahu dan di laut lepas. Gambaran manusia seperti itu tampaknya bukanlah khusus ditujukan kepada pengarangnya sendiri melainkan untuk manusia pada umumnya. Dengan demikian puisi ini memang menggambarkan manusia secara konkret, namun justru untuk menunjukkan keadaannya yang abstrak.

Dengan kata lain, puisi ini menyimbolkan hidup manusia. Kecanggihan semacam ini tampaknya tidak pernah terdapat dalam puisi lama, baik pantun maupun syair. Di samping itu ada juga penyair modern yang menunjukkan pembaharuan puisi dengan sarana estetika puisi lama. Hal itu dapat dianggap sebagai ironi atau kritik terhadap puisi lama, seperti tampak dalam puisi Rustam Effendi berikut: BUKAN BETA BIJAK BERPERI Bukan beta bijak berperi, Pandai menggubah madahan syair, Bukan beta budak Negeri, musti merantut undangan mair.

Sarat saraf saya mungkiri Untai rangkaian seloka lama, beta buang beta singkiri, sebab laguku menurut sukma. Susah sungguh saya sampaikan, degup-degupan di dalam kalbu, Lemah laun lagu dengungan, matnya digamat rasaian waktu. Sering saya susah sesaat, sebab madahan tidak nak datang, Sering saya sulit menekat, sebab terkurang lukisan mamang. Bukan beta bijak berlagu, dapat melemah bingkaian pantun, Bukan beta berbuat baru, hanya mendengar bisikan alun.

Sanusi Pane dan Rustam Effendi adalah sastrawan yang tergolong ke dalam Angkatan Pujangga Baru. Angkatan ini hidup sekitar tahun 1930-an sampai dengan awal tahun 40-an. Akan tetapi pengaruh puisi lama terhadap puisi modern tidaklah berhenti pada angkatan tersebut. Para penyair setelahnya, seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Sitor Situmorang pun masih menampakkan pengaruh itu, seperti tampak pada puisi “Beta Patti Rajawane”.

“Mantera”, dan “Lagu Gadis Itali”. Bahkan, dalam puisi-puisi mutakhir kini, seperti karya Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, dan Hamid Jabbar unsur-unsur lama itu tampak sekali.

Semua itu dapat membuktikan bahwa para penyair modern tidak membuang begitu saja warisan para pendahulunya, melainkan menjadikannya sebagai sarana, bahan pengalaman artistik dan estetik, serta titik tolak penciptaan puisinya. Dengan kata lain, mereka masih tetap mempertimbangkan tradisi para pendahulunya. Uraian di atas menunjukkan kepada kita bahwa untuk sampai pada pemahaman puisi modern, kita dapat bertolak dari puisi lama.

Demikian pula untuk sampai pada penulisan puisi modern, kita dapat memulainya dengan menulis puisi lama. Jadi, tidaklah sia-sia kreativitas yang telah kita lakukan. Sekarang marilah kita mempersiapkan diri untuk membuat puisi modern. Namun, sebelum sampai pada proses kreatif penciptaan yang bersifat idividual, kita akan bersama-sama mencoba untuk melatih imajinasi dan daya kreatif kita dengan mengikuti latihan berikut. (1) Mendeskripsikan Objek Konkret secara Emotif Objek konkret yang kita inderai seperti: kucing peliharaan, bunga melati, gunung, laut, dan air terjun dapat menjadi bahan pokok puisi kita.

Penyair Abdul Hadi W.M. (dalam Eneste, ed. 1984) pernah berujar, “Saya paling suka menulis puisi jika hujan sedang turun atau sambil melihat kolam air yang memantulkan bayang-bayang benda di atasnya atau langit”. Jika penyair saja menyukai objek yang kasatmata sebagai ilham bagi puisi-puisinya apalagi kita yang baru mau belajar. Cara yang mudah adalah dengan mendeskripsikan seluk-beluk objek tersebut. Akan tetapi, karena kita tengah berlatih menulis puisi, deskripsi kita hendaknya dibangun dengan menggunakan bahasa yang bersifat emotif.

Misalnya, ketika tengadah ke langit malam hari, seseorang takjub pada ribuan bintang yang tertebar di atas langit. Kemudian, ia mendeskripsikannya melalui puisi berikut: Bintang kemerlap jauh di atas sana tertebar di langit hitam Bintang bertebaran ribuan jumlah perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut melimpah ruah Bintang, bintang, bintang!

Kapan kau terhampar di tanah agar manusia tak kehilangan arah. 1972 (2) Mengurai Nama Diri Nama adalah identitas pokok diri kita. Manusia dapat saling mengenal dan menyapa karena memiliki nama. Betapa kecewanya seseorang saat namanya tidak tercantum dalam daftar orang-orang yang berhak mengikuti ujian.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Saat mendapatkan ratusan nama yang berhak mendapatkan hadiah undian sebuah produk sabun di sebuah surat kabar, tentu Anda tidak bergembira karena nama Anda tidak tercantum di dalamnya. Sebaliknya, Anda berteriak kegirangan manakala huruf A sejajar dengan nama Anda dalam sebuah daftar nilai ujian. Semua membuktikan bahwa kita sangat peduli dengan nama kita sendiri.

Kepedulian terhadap nama diri dapat dimanfaatkan untuk belajar menulis puisi. Caranya, yaitu dengan menderetkan nama kita secara vertikal. Misalnya, orang yang bernama Rizal dapat mengurai namanya seperti berikut: R I Z A L Kemudian, kembangkanlah imajinasi dan kreativitas Anda untuk melanjutkan setiap inisial atau huruf awal tersebut. Yang paling mudah adalah menguraikan keadaan atau pengalaman diri sendiri.

Anggap saja, misalnya Rizal adalah seorang remaja yang sedang melamun untuk sampai pada hari ulang tahunnya yang ketujuh belas.

Ia menulis namanya di buku harian dengan mengurainya menjadi sebuah puisi. R iangnya hati ketika datang suatu hari l tulah ulang tahun yang telah lama dinanti Z ikir dan syukur kepada-Nya A dalah tindakan yang paling utama L alu, aku undang semua teman dan saudara (3) Menulis Puisi Berdasarkan Tokoh dalam Sejarah, Mitologi, atau dalam Karya Sastra Karya sastra cerpen, novel/roman, drama, atau puisi yang telah kita baca dapat juga dijadikan media dalam belajar menulis puisi.

Apabila Anda menyenangi tokoh tertentu dalam sebuah novel, Anda dapat saja menulis puisi berdasarkan tokoh tersebut. Puisi tersebut dapat merupakan suara tokoh tersebut (tokoh menjadi aku lirik), atau komentar kita mengenai tokoh tersebut. Selain karya sastra, tokoh dalam sejarah, wayang, atau mitologi dapat juga kita jadikan bahan penulisan puisi. Sebagian besar di antara kita tentu sudah mengetahui bahwa salah satu puisi Chairil Anwar yang berjudul “Diponegoro” atau puisi Amir Hamzah yang berjudul “Hang Tuah” bersumber dari mitos pahlawan.

Perhatikanlah puisi berikut, yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Puisi tersebut bersumber dari cerita wayang, yaitu Arjuna Sasrabahu atau Sumantri Ngenger.

PESAN Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya. Kami saling mencintai, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.

Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan…. (4) Mengkonkretkan Puisi dengan Bantuan Gambar Kadang-kadang orang yang memiliki bakat lebih dari satu seni tidak akan pernah puas ketika dia membuat sebuah karya seni.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Ada sebagian penyair yang mengkonkretkan puisi dengan tambahan gambar atau membentuk tipografi puisi sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, ada juga pelukis yang menambahkan kata-kata ke dalam lukisannya, seperti yang terjadi pada Zaini atau Herry Dim. Untuk puisi, kita dapat menyebut Sutardji Calzoum Bachri sebagai salah seorang penyair puisi konkret.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Kemudian, apa yang terbayang dalam benak kita ketika membaca puisi Akhudiat berikut ini: ( ( (plung) ) ) Puisi yang dikonkretkan melalui gambar, yang dikenal dengan puisi konkret, memang bukan hal yang baru. Di Amerika penyair E.E.

Cummings pernah melakukannya, demikian pula penyair Appolonaire di Prancis. Apabila kita kini belajar menulis puisi konkret, tentu tujuannya bukan untuk membuat pembaharuan, melainkan untuk merangsang dan mengembangkan imajinasi. Hal ini dapat kita mulai, misalnya dengan membuat puisi tentang bunga, rumah, atau benda konkret lainnya, kemudian tipografi dan kaligrafinya kita susun sehingga serupa dengan objek yang kita jadikan bahan penulisan puisi. (5) Menulis Puisi Berdasarkan Pengalaman Diri Kita sering kali mendengar kata-kata, ” Orang dapat menulis puisi ketika sedang jatuh cinta”, atau “Kesedihan akan berkurang apabila dituangkan melalui puisi”.

Kata-kata tersebut, meskipun belum tentu menghasilkan puisi yang bermutu dari segi estetik, dapat Anda manfaatkan sebagai bahan berlatih dalam menulis puisi. Terlebih-lebih, manusia sebagai makhluk hidup tidak akan luput dari pengalaman, baik yang menyedihkan maupun yang membahagiakan. Pengalaman itu tidak perlu Anda tunggu sampai datang karena Anda dapat menghadirkan kembali pengalaman yang telah lampau.

Ketika Chairil Anwar ditinggal nenek yang dicintainya, ia sangat sedih. Namun, kesedihan itu ia konpensasikan menjadi kegiatan kreatif sehingga ia mampu menciptakan sajak berikut: NISAN untuk neneknda bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu Dan duka maha tuan bertakhta Beberapa cara latihan di atas tampaknya masih umum sebab tujuannya sekedar merangsang imajinasi agar dapat berkreasi dengan menulis puisi.

Namun, manfaatnya tak dapat diragukan sebab untuk belajar menulis puisi tidak ada jawaban lain, seperti kata Saini K.M., kecuali…”Tulis!” • Membacakan Puisi Istilah “baca puisi” (poetry reading) sudah akrab di telinga kita. Untuk meluncurkan antologi puisinya, penyair sering kali mengadakan acara baca puisi sebelum kritikus mengulasnya.

Acara hari-hari besar, seperti HUT RI, Hari Pahlawan, atau acara penarik simpati dan solidaritas terkadang juga diisi dengan baca puisi.

Selain itu, acara khusus yang bersifat kompetisi pun sering kali diselenggarakan. Akan tetapi, perdebatan acap kali muncul manakala baca puisi dikaitkan dengan istilah lainnya, yaitu “deklamasi”.

Kedua istilah itu ada yang membedakannya secara hitam putih sehingga muncul fenomena yang aneh. Baca puisi adalah berdiri mematung dengan teks puisi di perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut serta berusaha tidak bergerak dan deklamasi adalah membaca puisi yang telah dihafal dengan tambahan gerak artifisial. Apakah pembedaan itu memang demikian?

Memang harus kita akui, pemahaman orang terhadap kedua istilah tersebut belumlah sama. Mursal Esten (1987) dan Erizal Gani (1989) menganggap deklamasi dan baca puisi merupakan fenomena seni yang berbeda. Dalam membedakan kedua istilah itu, biasanya orang langsung menghubungkan dengan kiprah Rendra sepulang dari Amerika.

Baca puisi, katanya, merupakan oleh-oleh Rendra dari Negeri Paman Sam, yang langsung menggilas tradisi deklamasi di tanah air. Padahal, Rendra sendiri tidak membedakan kedua istilah itu. Bahkan, di Barat pembedaan baca puisi tidak dihubungkan dengan deklamasi melainkan dikontraskan dengan puisi oral (oral poetry).

Menurut Preminger (1974:967–970), baca puisi merupakan tradisi baru, yaitu tradisi masyarakat yang telah mengenal dunia baca-tulis atau keberaksaraan, sementara puisi oral sebaliknya, yaitu tradisi masyarakat yang masih berada dalam dunia keniraksaraan.

• Dasar-Dasar dan Petunjuk dalam Membaca Puisi Apabila kita menyaksikan orang membaca puisi, adegan itu sebenarnya hanya merupakan tahap akhir yang tampak ke permukaan. Kualitas tahap akhir ini bergantung pada tahap-tahap sebelumnya yang dapat kita sebut tahap dasar.

Menurut Aritonang (1990), dasar-dasar baca puisi itu mencakup olah vokal, olah musikal, olah sukma, olah mimik, olah gerak, dan wawasan kesastraan. Apabila dasar-dasar ini telah kita kuasai, selanjutnya kita akan sampai pada proses pembacaan. Dalam proses pembacaan inilah kita berusaha mencapai kualitas baca puisi secara optimal. Hal itu dapat dimungkinkan apabila kita mengikuti tahap pembacaan sebagai berikut: • Membaca dalam hati (agar puisi tersebut terapresiasi secara penuh).

• Membaca nyaring (agar pembaca dapat mengatur daya vokal, tempo, timbre, interpolasi, rima, irama, dan diksi). • Membaca kritis (dengan mengoreksi pembacaan sebelumnya: segisegi apa yang masih kurang dan bagaimana cara mengatasinya). • Membaca puitis. Untuk sampai pada pembacaan puisi yang kita idam-idamkan, yaitu membaca puitis, kita dapat juga mengikuti petunjuk yang disarankan oleh Mursal Esten (1987): • Perhatikanlah judul puisi.

• Lihatlah kata-kata yang dominan. • Selamilah makna konotatif. • Dalam mencari dan menemukan makna, yang benar adalah makna yang sesuai dengan struktur bahasa. • Tangkaplah pikiran yang ada dalam puisi dengan memparafrasekannya. • Jawablah apa dan siapa yang dimaksud dengan kata ganti dan siapa yang mengucapkan kalimat yang diberi tanda kutip. • Temukanlah pertalian makna tiap unit puisi (kata demi kata, frase demi frase, larik demi larik, dan bait demi bait).

• Carilah dan kejarlah makna yang masih tersembunyi. • Perhatikanlah corak dan aliran sajak yang kita baca (imajis, religius, liris, atau epik?). • Tafsiran kita terhadap puisi mesti dapat kita kembalikan kepada teks puisi itu sendiri. • Rampak Puisi Istilah rampak puisi tampaknya hanya dikenal di daerah Jawa Barat sebab merupakan analogi dari rampak kendang. Barangkali istilah ini sepadan dengan istilah yang digunakan oleh Rusyana (1982), yaitu “paduan baca” puisi.

Rampak puisi dapat dianggap sebagai varian dari baca puisi sebab pembacanya masih mengandalkan teks puisi. Perbedaannya, apabila baca biasa dilakukan oleh seorang pembaca, rampak puisi lazimnya dilakukan oleh lebih dari satu orang. Selain itu, rampak puisi memiliki beberapa keuntungan. Misalnya, dalam membaca puisi epik atau naratif, pembaca puisi tunggal harus dapat membedakan narasi dan karakter tokoh, sedangkkan dalam rampak puisi,hal itu merupakan tugas bersama.

Dalam membaca puisi, sebut saja, “Penangkapan Sukra” secara rampak, kita tinggal menyesuaikan para pembaca dengan karakter tokoh: siapa yang menjadi narator, Sukra, Putra Mahkota, perempuan yang menjerit, dan kelompok koor. Sebagian pembaca dapat juga bertugas memberi efek suara tertentu, seperti suara serigala, kuda, tombak yang dihentakkan, suara batin Sukra. atau suara keramaian orang. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan, rampak puisi tidak perlu memanfaatkan pentas secara optimal.

Pembaca puisi hanya berusaha agar pembacaannya puitis dan agar tidak mengganggu pandangan penonton, para pembaca mestilah mengatur posisi bacanya sehingga “enak” dipandang. • Dramatisasi Puisi Dalam Kamus lstilah Sastra (1986) suntingan Panuti Sudjiman disebutkan bahwa dramatisasi sepadan dengan istilah “dramaan”.

Batasan kedua istilah tersebut adalah pengalihan karya sastra, baik puisi, cerpen, dan lainnya menjadi drama. Dengan demikian, dramatisasi puisi dapat berarti “mendramakan puisi”. Dalam hal perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut, puisi mesti tunduk pada kaidah-kaidah drama.

Misalnya, apabila dalam konvensi drama terdapat kramagung/teks samping/petunjuk pengarang dan wawancang/dialog/ cakapan, maka dalam dramatisasi puisi pun demikian. Pendeknya, jika kita akan menampilkan dramatisasi puisi di atas pentas, syarat utama yang harus kita lakukan adalah memahami terlebih dahulu konvensi drama pentas sehingga kita mesti menguasai penataan pentas (skeneri), blocking dan acting yang benar.

Dramatisasi puisi memang mesti bertolak dari puisi. Akan tetapi, agar puisi itu sesuai dengan kaidah pemanggungan, maka seyogianyalah apabila puisi tersebut ditransformasikan terlebih dahulu ke dalam drama. • Musikalisasi Puisi Musikalisasi puisi adalah menggubah puisi menjadi sebuah lagu.

Dengan demikian, antara puisi dan musik harus memiliki keselarasan. Sepintas memang tidak terdapat perbedaan antara musikalisasi puisi dan lagu yang diiringi musik. Bukankah lagu juga bersumber dari lirik puisi? Syair atau lirik lagu biasanya dibuat setelah musik tercipta. Namun, dapat juga pemusik menciptakan musik dan lirik lagunya secara bersamaan. Bahkan, Ebiet G. Ade biasa membuat syair terlebih dahulu sebelum menyusun partitur musiknya.

Meskipun demikian, tidak ada keharusan bagi pemusik untuk tunduk kepada lirik lagu. Jika perlu, untuk menyelaraskan lirik dengan musik dapat saja kita mengubah atau mengganti kata-kata syair tersebut. Dalam musikalisasi puisi tidaklah demikian.

Hal itu disebabkan puisinya sudah tercipta dan merupakan salah satu bentuk seni, yaitu karya sastra. Dengan demikian, dalam musikalisasi, aransemen musik tidak boleh mengubah puisi.

Puisi harus tetap utuh. Di sinilah kita dituntut untuk lebih kreatif karena dalam musikalisasi puisi yang ideal, aransemen musik mesti dapat menangkap karakter puisi yang digubah.

Misalnya, puisi yang bersuasana muram dan sedih selayaknyalah apabila ditampilkan dalam nada dan irama musik yang bernuansa muram dan sedih pula. Contoh konkret musikalisasi puisi sebenarnya sudah kita kenali.

Misalnya, grup Bimbo pernah menyanyikan lagu “Salju” yang bersumber dari puisi Wing Karjo atau “Sajadah Panjang” yang bersumber dari puisi Taufik Ismail. Akan tetapi, grup Bimbo tidak pernah mengkhususkan diri pada musikalisasi puisi. Puisi-puisi yang mereka gubah barangkali karena dianggap sesuai dengan karakter musik mereka. Contoh yang sangat tepat untuk musikalisasi adalah album kaset Hujan Bulan Juni dan Hujan dalam Komposisi yang diproduksi oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Kedua album ini memang khusus direkam untuk kepentingan musikalisasi puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Untuk kepentingan apresiasi puisi, memusikalisasi puisi dapat dijadikan kegiatan penguatan (reinforcement). Yang penting, Anda memiliki kepekaan rasa sehingga dapat menyelaraskan karakter musik dengan puisi yang kita pilih sebagai lirik lagunya.

Kita pun tidak perlu terpaku pada musikalisasi puisi yang telah ada. Misalnya, apabila Anda mengadakan lomba musikalisasi puisi, materi lomba tidak perlu puisi yang sudah dimusikalisasi karena ini akan menimbulkan pemajalan daya kreativitas. Biarkanlah peserta lomba berkreativitas untuk memadukan karakter puisi dengan musik yang dimainkan.

Alat musik pun tidak harus selamanya gitar, piano, biola, dan alat musik modern lainnya. Alat musik etnik, seperti rebana, rebab, kecapi, gamelan, gong, dan gendang dapat menghasilkan musikalisasi puisi yang eksotik dan ebih bernuansa warna lokal.

Bukankah yang membuat menarik pementasan musikalisasi puisi kelompok Sanggar Matahari Jakarta dan Kiai Kanjeng-nya Emha Ainun Nadjib adalah musik etniknya juga? Kemudian, apabila kita hubungkan dengan karakter puisi Indonesia, bukankah unsure-unsur etnik atau warna lokal juga merupakan bagian senyawa yang tak terpisahkan? Cari untuk: Bisnis Berkah, Modal Yakin, Menggapai Mimpi Siswa Kelas 8 SMP bisa mendapatkan mobil dan income jutaan dari aplikasi ini • umiaisyabilal • Keterampilan Menulis: Materi Minggu ke 3 Bulan Juni • Sastra Indonesia: Materi Minggu ke-2 dan 3 bulan Juni • Pembelajaran Bahasa Berdiferensiasi: Materi Minggu ke -3 Juni Arsip • Juni 2020 (5) • Mei 2020 (9) • April 2020 (11) • Maret 2020 (9) • Januari 2019 (6) • Desember 2018 (35) • November 2018 (9) • Oktober 2018 (59)
Share : Samsuri (1994:95) secara umum menggolongkan bunyi menjadi dua kelompok utama yang disebut vokoid dan kontoid.

Bunyi vokoid adalah artikulasi/bunyi yang secara relatif tidak ada hambatan atau rintangan antara paru-paru dan udara keluar.

Sementara bunyi kontoid adalah artikulasi yang terdapat hambatan atau rintangan antara paru-paru dan udara keluar. Samsuri membedakan istilah vokoid dan kontoid dengan vokal dan konsonan.

Istilah vokoid dan kontoid digunakan dalam ilmu bunyi, sedangkan vokal dan konsonan digunakan dalam ilmu fonem Alwi dkk (2010:50) mengutarakan bahwa vokal adalah bunyi bahasa yang asrus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor: tinggi rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, dan bentuk bibir pada pembentukan vokal itu.

Bunyi konsonan dibuat dengan cara yang berbeda. Pada pelafalan konsonan, ada tiga faktor yang terlibat: keadaan pita suara, penyentuhan atau pendekatan berbagai alat ucap, dan cara alat ucap itu bersentuhan atau berdekatan.

Pada pelafalan konsonan pita suara mungkin merapat, tapi mungkin juga merenggang. Dengan kata lain, suatu konsonan dapat dikategorikan sebagai konsonan yang bersuara atau yang tak bersuara.

Misalnya [p] dan [t] adalah konsonan yang tak bersuara, sedangkan [b] dan [d] adalah konsonan yang bersuara. Samsuri (1994:95) membagi lima jenis artikulasi yang menjadikan bunyi konsonan, yaitu: a. HAMBAT. Apabila terdapat hambatan menyeluruh pada salah satu tempat antara paru-paru dan udara luar, sehingga jalan arus udara tertutup.

Misalnya: p, t, k, b, d, g, Ɂ, di dalam kata-kata / papa/, /tata/, /baba/, /dada/, /gagu/, /anak/. b. NASAL. Jalan arus udara di mulut mungkin seperti pada (a), tetapi dengan membuka jalan ke rongga hidung. Misalnya: m, n, ñ, ŋ, di dalam kata-kata / mana/, /nama/, / ñ ata/, / ŋ a ŋ a/.

c. SPIRAN/GESER. Jalan arus udara mungkin dihalangi pada salah satu tempat, sehingga hanya merupakan sebuah lubang kecil yang berbentuk sebagai lembah panjang atau sebagai celah yang dilalui oleh udara itu. Misalnya: f, s, sy di dalam kata-kata / fakta/, /sama/, /syarat/. d. LATERAL. Garis tengah jalan di mulut mungkin terhambat, tetapi sebuah lubang mungkin tinggal sepanjang sebelah atau kedua belah sisi yang dilalui arus udara.

Misalnya: l, yang terdapat dalam kata / lalat/. e. GETAR. Arus udara yang lalu itu mungkin menyebabkan sebuah alat yang elastis bergetar dengan cepat. Misalnya: r yang terdapat dalam kata / rata/. Berdasarkan alat ucap atau artikulatornya dibagi menjadi lima, yaitu: a. LABIAL. Bunyi-bunyi yang dibentuk oleh bibir bawah. Jika bibir bawah menyentuh bibir atas, bunyi-bunyi itu disebut BILABIAL, dan bila bibir bawah menyentuh gigi atas, bunyi-bunyi itu disebut LABIODENTAL.

b. DENTAL. Bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan pada tepi bagian depan gigi atas atau di antara gigi atas dan bawah, dan pada bagian dalam gigi atas. c. PALATAL. Bunyi-bunyi yang dihasilkan dengan bagian depan lidah dengan langit-langit keras. d. VELAR. Bunyi-bunyi yang dibentuk dengan dorsum. Dorsum adalah bagian belakang dari lidah yang memanjang kira-kira empat sentimeter dari apex sampai bagian belakang mulut. e. GLOTAL. Bunyi yang pengucapannya dilakukan terutama oleh selaput suara.

Bunyi-bunyi ini umpamanya hambat glotal (hamzah) / h/ dan / h/ yang bersuara atau digumamkan. Diftong Pada beberapa bunyi vokal, luncuran komponennya sangat dominan sehingga vokal tersebut tidak dapat diidentifikasi sebagai satu jenis vokal meskipun perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut terdengar seperti satu bunyi.

Bunyi yang demikian dinamakan diftong, (Clark dan Yallop:1995). Dalam kamus linguistik, Kridalaksana (2009:49) mendefinisikan diftong adalah bunyi bahasa yang pada waktu pengucapannya ditandai oleh perubahan gerak lidah dan perubahan tamber satu kali, dan yang berfungsi sebagai inti dari suku kata. Contoh diftong yang ada pada bahasa Indonesia misalnya /oy/, /ay/, /aw/ dan sebagainya.

Menurut Alwi dkk (2010:27) yang dimaksud dengan diftong adalah gabungan bunyi dalam satu suku kata, tetapi yang digabungkan adalah vokal dengan /w/ atau /y/. Jadi, /aw/ pada /kalaw/ dan /baŋaw/ adalah diftong, tetapi /au/ pada /mau/ dan /bau/ bukanlah diftong. Fonem /aw/ pada kata kalau dan bangau termasuk dalam satu suku kata, yakni masing-masing /ka-law/ dan /ba-ŋaw/; fonem-fonem /a/-/u/ pada kata mau dan bau masing-masing termasuk dalam dua suku kata yang berbeda, yakni /ma-u/ dan /ba-u/.

**Sumber Bacaan* Alwi, Hasan, dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Kridalaksana, Harimurti. (2009). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Samsuri. (1994). Analisis Bahasa. Jakarta: Penerbit ErlanggaSastra adalah karya dan kegiatan seni yang berhububngan dengan ekspresi dan penciptaan sedangkan Karya Sastra adalah karya yang diciptakan oleh manusia hasil dari refleksi pikiran manusia yang diituangkan dalam bentuk tulisan, maupun gambar.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Hasil karya sastra dalam bentuk tulisan misalnya: novel, puisi, cerpen, dll. Semua hasil karya sastra sangat menarik untuk dikaji. Dalam penulisan sajak atau puisi, setiap penyair mempersembahkan nya dengan gaya bahasa sendiri. Dan gaya bahasa juga menjadikan sebuah karya itu bermutu tinggi di mata pembaca atau apresiator, biasanya gaya bahasa itu bergantung kepada pengalaman, ilmu dan kemahiran berbahasa yang dimiliki tiap individu.

Bukan hanya itu, perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut menganalisis puisi kita dapat menggunakan 2model analisis. Analisis yang pertama yaitu pendekatan terhadap karya sastra melalui 4 Kritik, yakni Kritik Mimetik (Mimetik kritikism), Kritik Pragmatik, Kritik Ekspresif, serta Kritik Objektif, lalu analisis yang kedua adalah analisis puisi berdasarkan bentuk dan isinya.

Karya sastra melalui pendekatan struktural seperti yang dikatakan Cuddon, keritik objektif berarti kritik yang menekankan pada struktur karya sastra itu sendiri dengan kemungkinan membebaskan dari dunia perang (1979:662). Selanjutnya bahwa kritik obyektif merupakan kritik yang menempatkan karya sastra sebagai suatu yang mandiri, otonom dan punya dunia sendiri, kajiannya lebih intrinsik, mengkaji hal-hal yang ada dalam karya sastra itu sendiri (Abraham dalam Esten, 1987: 13) Karya sastra yang bersifat otonom dengan koherensi yang bersifat intern adalah suatu totalitas antara unsur-unsur yang berkaitan perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut antara yang satu dengan yang lain.

Dengan kata lain pendekatan ini memandang dan menelaah sastra dari sisi intrinsik karya sastra, yaitu: tema, latar, (setting), perwatakan atau penokohan, alur/plot, sudut pandang, gaya bercerita atau berbahasa dan suspense. Dengan memperhatikan unsur-unsur karya satra tersebut dapat dikatakan bahwa pendekatan struktur berarti menganalisis karya sastra dengan mengungkapkan unsur-unsur yang ada didalamnya, yaitu unsur-unsur yang membina kebulatan struktur.

Dalam karya sastra, juga terkandung nilai-nilai. Arti kata nilai adalah harga, tafsiran dan angka (Anda Sontoso, 1990: 264). Kontjaraningrat (1984:25) mengatakan, bahwa nilai itu adalah tingkat utama ideal bagi kehidupan manusia. Tingkat ini adalah ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat, selain itu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam kehidupan.

Oleh karena itu sistem nilai dalam sastra adalah unsur-unsur yang penting dalam kehidupan manusia tentang sisi positif dan negatif dalam karya sastra tersebut. Pengertian nilai merupakan unsur yang baik dan buruknya sesuatu yang dapat ditafsirkan oleh karya sastra tentang nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu sendiri sehingga akan dapat diambil suatu kesimpulan dari unsur nilai tersebut (Partanto1990: 321).

Nilai dalam sebuah karya sastra tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur yang ada dalam cerita tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai merupakan unsur yang ada di dalamnya. Dalam sebuah puisi tentunya sang penyair ingin mengemukakan sesuatu hal bagi penikmat puisinya. Sesuatu yang ingin diungkapkan oleh penyair dapat diungkapkan melalui puisi atau hasil karyanya yang dia dapatkan melalui pengelihatan, pengalaman ataupun kejadian yang pernah dialami atau kejadian yang terjadi pada suatu masyarakat dengan bahasanya sendiri.

Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan caranya sendiri. Atau dengan kata lain sang penyair ingin mengemukakan pengalaman pribadinya kepada para pembaca melalui puisinya (Tarigan, 1984: 10). Inilah tema, tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh sang penyair yang terdapat dalam puisinya (Siswanto, 2008: 124). Puisi-puisi bertema ketuhanan biasanya akan menunjukkan religius experience atau “pengalaman religi” penyair yang didasarkan tingkat kedalaman pengalaman ketuhanan seseorang.

Dapat juga dijelaskan sebagai tingkat kedalaman iman seseorang terhadap agamanya atau lebih luas lagi terhadap Tuhan atau kekuasaan gaib (Waluyo, 1991: 107). Kedalaman rasa ketuhanan itu tidak lepas dari bentuk fisik yang terlahir dalam pemilihan kata, ungkapan, lambang, kiasan dan sebagainya yang menunjukkan betapa erat hubungan antara penyair dengan Tuhan.

Juga menunjukkan bagaimana penyair ingin Tuhan mengisi seluruh kalbunya. (Waluyo, 1991: 108). Tema kemanusiaan bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembaca bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Perbedaan kekayaan, pangkat dan kedudukan seseorang tidak boleh menjadi sebab adanya perbedaan perlakuan terhadap kemanusiaan seseorang (Waluyo, 1991: 112). Tema patriotisme dapat meningkatkan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air.

Banyak puisi yang melukiskan perjuangan merebut kemerdekaan dan mengisahkan riwayat pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan atau melawan penjajah. Tema patriot juga dapat diwujudkan dalam bentuk usaha penyair untuk membina kesatuan bangsa atau membina rasa kenasionalan (Waluyo, 1991: 115).

Penyair begitu sensitif perasaannya untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat dan menentang sikap sewenang-wenang pihak yang berkuasa, di dapati dalam puisi protes. Penyair berharap orang yang berkuasa memikirkan nasib si miskin. Diharapkan penyair agar kita semua mengejar kekayaan pribadi, namun juga mengusahakan kesejahteraan bersama.

Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya. Perasaan penyair dalam puisinya dapat dikenal melalui penggunaan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisinya karena dalam menciptakan puisi suasana hati penyair juga ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca (Waluyo, 1991: 121).

Hal ini selaras dengan pendapat Tarigan (1984:11) yang menyatakan bahwa rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya. Penyair sebagai sastrawan dan anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak merasa bertanggugjawab menjaga kelangsungan hidup sesuai dengan hati nuraninya.

Oleh karena itu, puisi selalu ingin mengandung amanat (pesan). Meskipun penyair tidak secara khusus dan sengaja mencantumkan amanat dalam puisinya. amanat tersirat di balik kata dan juga di balik tema yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991: 130). Amanat adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan,pesan, tujuan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya. Salah satu hal yang ditonjolkan dalam puisi adalah kata-katanya ataupun pilihan katanya. Bahasa merupakan sarana utama dalam puisi.

perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut

Dalam menciptakan sebuah puisi penyair mempunyai tujuan yang hendak disampaikan kepada pembaca melalui puisinya. Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami hatinya.

Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk itulah harus dipilih kata-kata yang setepat-tepatnya. Penyair juga ingin mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat.

Penyair harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu.

Dengan uraian singkat diatas, ditegaskan kembali betapa pentingnya diksi bagi suatu puisi. Menurut Tarigan (1984: 30), pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, nada suatu puisi dengan tepat.

Semua penyair ingin menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialaminya kepada para pembacanya melalui karyanya. Salah satu usaha untuk memenuhi keinginan tersebut ialah dengan pemilihan serta penggunaan kata-kata dalam puisinya (Tarigan, 1984: 30). Ada hubungan yang erat antara pemilihan kata-kata, pengimajian dan kata konkret, di mana diksi yang dipilih harus menghasilkan dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati dalam penglihatan, pendengaran atau cita rasa.

Pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan (Waluyo, 1991: 97). Pilihan serta penggunaan kata-kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan energi tersebut dapat mendorong imajinasi atau daya bayang kita untuk menjelmakan gambaran yang nyata.

Dengan menarik perhatian kita pada beberapa perasaan jasmani sang penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga mereka menganggap bahwa merekalah yang benar-benar mengalami peristiwa jasmaniah tersebut (Tarigan, 1984: 30). Dengan menarik perhatian pembacanya melalui kata dan daya imajinasi akan memunculkan sesuatu yang lain yang belum pernah dirasakan oleh pembaca sebelumnya.

Segala yang dirasai atau dialami secara imajinatif inilah yang biasa dikenal dengan istilah imagery atau imaji atau pengimajian (Tarigan, 1984: 30). Dalam puisi kita kenal bermacam-macam (gambaran angan) yang dihasilkan oleh indera pengihatan, pendengaran, pengecapan, rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan (Pradopo, 1990: 81).

Selanjutnya terdapat juga imaji penglihatan (visual), imaji pendengaran (auditif) dan imaji cita rasa (taktil) (Waluyo, 1991: 79). Semua imaji di atas bila dijadikan satu, secara keseluruhan dikenal beberapa macam imajinasi, yaitu : 3) Imajinasi Articulatori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut waktu kita membaca sajak itu seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian mulut kita dengan sendirinya 4) Imajinasi Olfaktori, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu.

Kita seperti mencium bau perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut yang sedang dibakar, kita seperti mencium bau tanah yang baru dicangkul, kita seperti mencium bau bunga mawar, kita seperti mencium bau apel yang sedap dan sebagainya. Salah satu cara untuk membangkitkan daya bayang atau daya imajinasi para penikmat sastra khususnya puisi adalah dengan menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang kongkret, yang dapat menyaran pada suatu pengertian menyeluruh.

Semakin tepat sang penyair menggunakan kata-kata atau bahasa dalam karya sastranya maka akan semakin kuat juga daya pemikat untuk penikmat sastra sehingga penikmat sastra akan merasakan sensasi yang berbeda.

Para penikmat sastra akan menganggap bahwa mereka benar-benar melihat, mendengar, merasakan, dan mengalami segala sesuatu yang dialami oleh sang penyair (Tarigan, 1984: 32). Dengan keterangan singkat diatas maka dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang dapat di tangkap dengan indra (Siswanto, 2008: 119).

Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang (Waluyo, 1991: 83).

Bahasa kias merupakan wujud penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan makna dasar ke asosi lain. Kiasan yang tepat dapat menolong pembaca merasakan dan melihat seperti apa yang dilihat atau apa yang dirasakan penulis. Seperti yang diungkapkan Pradopo bahwa kias dapat menciptakan gambaran angan/ citraan (imagery) dalam diri pembaca yang menyerupai gambar yang dihasilkan oleh pengungkapan penyair terhadap obyek yang dapat dilihat mata, saraf penglihatan, atau daerah otak yang bersangkutan (1990:80).

Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair karena: (1) Bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) Bahasa figuratif dalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak menjadi kongret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca, (3) Bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas, (4) Bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat (Waluyo, 1991: 83).

Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir dan sebagainya. Seperti halnya manusia dan banyak dipergunakan penyair dulu sampai sekarang.

Personifikasi membuat hidup lukisan di samping itu memberi kejelasan kebenaran, memberikan bayangan angan yang konkret. Perulangan kata yang tetap bersifat statis (Waluyo, 1991: 94). Nama metrum didapati dalam puisi sastra lama.

Pengertian metrum menurut Pradopo adalah irama yang tetap, pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu (Pradopo, 1990: 40). Peranan metrum sangat penting dalam pembacaan puisi dan deklamasi. Ciri-ciri yang dapat dilihat sepintas dari puisi adalah perwajahannya atau tipografinya. Melalui indera mata tampak bahwa puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi. Larik-larik itu disusun ke bawah dan terikat dalam bait-bait.

Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi yang ingin dituliskan penyair. Dengan demikian satu bait puisi bisa terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja. Dalam hal cara penulisannya puisi tidak selalu harus ditulis dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan seperti bentuk tulisan umumnya. Susunan penulisan dalam puisi disebut tipografi (Pradopo, 1990: 210).

Struktur fisik puisi membentuk tipografi yang khas puisi. Tiprografi puisi merupakan bentuk visual yang bisa memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret. Tipografi bentuknya bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi, kerucut dan sebagainya.

Jadi tipografi memberikan ciri khas puisi pada periode angkatan tertentu. Tengku Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Nama Amir Hamzah diberikan oleh sang ayah, Tengku Muhammad Adil, karena kekagumannya kepada Hikayat Amir Hamzah. Dia lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur pada tanggal 28 Februari 1911 dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat). Amir Hamzah mulai mengenyam pendidikan pada umur 5 tahun dengan bersekolah di Langkatsche School di Tanjung Pura pada 1916.

Setamat dari Langkatsche School, Amir Hamzah melanjutkan pendidikannya di MULO, sekolah tinggi di Medan. Setahun kemudian, Amir Hamzah pindah ke Batavia (Jakarta) untuk melanjutkan sekolah di Christelijk MULO Menjangan dan lulus pada tahun 1927. Amir Hamzah kemudian melanjutkan studinya di AMS. Di sana dia mengambil disiplin ilmu pada Jurusan Sastra Timur.

Amir Hamzah adalah seorang siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi. Disiplin dan ketertiban itu nampak pula dari keadaan kamarnya. Segalanya serba beres, buku-bukunya rapih tersusun di atas rak, pakaian tidak tergantung di mana saja, dan sprei tempat tidurnya pun licin tidak kerisit kisut. Persis seperti kamar seorang gadis remaja. Selama mengenyam pendidikan di Solo, Amir Hamzah mulai mengasah minatnya pada sastra sekaligus obsesi kepenyairannya.

Pada waktu-waktu itulah Amir Hamzah mulai menulis beberapa sajak pertamanya yang kemudian terangkum dalam antologi Buah Rindu yang terbitAglemenee Middelbare School pada tahun 1943. Pada waktu tinggal di Solo, Amir Hamzah juga menjalin pertemanan dengan Armijn Pane dan Achdiat K Mihardja. Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS Solo, bahkan mereka satu kelas di sekolah itu. Di kemudian hari, ketiga orang ini mempunyai tempat tersendiri dalam ranah kesusastraan di Indonesia. Setelah menyelesaikan studinya di Solo, Amir Hamzah kembali ke Jakarta untuk melanjutkan studi ke Sekolah Hakim Tinggi pada awal tahun 1934.

Semasa di Jakarta, rasa kebangsaan di dalam jiwa Amir Hamzah semakin kuat dan berpengaruh pada perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut. Bersama beberapa orang rekannya di Perguruan Rakyat, termasuk Soemanang, Soegiarti, Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, dan lainnya, Amir Hamzah menggagas penerbitan majalah Poedjangga Baroe. Amir Hamzah mulai menyiarkan sajak-sajak karyanya ketika masih tinggal di Solo. Di majalah Timboel yang diasuh Sanusi Pane, Amir Hamzah menyiarkan puisinya berjudul “Mabuk” dan “Sunyi” yang menandai debutnya di dunia kesusastraan Indonesia.

Sejak saat itu, banyak sekali karya sastra yang dibuat oleh Amir Hamzah. Revolusi sosial yang meletus pada 3 Maret 1946 menjadi akhir bagi kehidupan Amir Hamzah. Dia menjadi salah satu korban penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Pesindo. Kala itu pasukan Pesindo menangkapi sekitar 21 tokoh feodal termasuk di antaranya adalah Amir Hamzah pada 7 Maret 1946. Pada tanggal 20 Maret 1946, orang-orang yang ditangkap itu dihukum mati. Amir Hamzah wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi.

Amir Hamzah kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975 Hingga kematiannya, Amir Hamzah telah mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa, dan 1 prosa terjemahan.

Jumlah keseluruhan karya itu adalah 160 tulisan. Jumlah karya tersebut masih ditambah dengan Setanggi Timur yang merupakan puisi terjemahan, dan terjemahan Bhagawat Gita. Dari jumlah itu, ada juga beberapa tulisan yang tidak sempat dipublikasikan. Berdasarkan hal yang disebutkan di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat dan menulis tentang Amir Hamzah ini sebagai bahan referensi dan syarat kelulusan dari mata kuliah Sejarah Pergerakan di Sumatera Timur, Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU dengan judul : Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935.

Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya.

Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956--1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia. Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971--1972 dan 1991--1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.

Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya. Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960--1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960--1962). Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964).

Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964. Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968--1978).

Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990). Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali. Hasil karya Taufik Ismail antara lain: 1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960) 2.

Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962) 3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964) Menjelaskan tentang bunga cempaka yang berbaunya harum berwarna putih ,si penyair menyatakan “aduhai” rasa kagum kepada wanita .”penglipur lara” si penyair ketika memikirkan wanita tersebut susah melakukan perbuatan apa,hilang lenyap rasanya ketika memikirkan wanita tersebut karena rasa cinta yang terlalu berlebihan.

Membubung badanku, melambung, mengawan naik, naik, tipis-rampis, kudus halus melayang-terbang, mengembang-kembang menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi. Bertiup badai merentak topan larikan daku hembuskan badan tepukkan daku ke puncak tinggi ranggitkan daku kelengkung pelangi. Tenang-tenang anginku sayang tinggalkan badan di lengkung benang reda-reda badaiku dalam ulikkan sepoi sunyikan dendam.

Biarkan daku tinggal di sini sentosa diriku di sunyi sepi tiada berharap tiada meminta jauh dunia di sisi dewa. Purnama raya bulan bercahaya amat cuaca ke mayapada Purnama raya gemala berdendang tuan berkata naiklah abang Purnama raya bujang berbangsi kanda mara memeluk dewi Purnama raya bunda mengulik nyawa adinda tuan berbisik. Purnama raya gadis menutuk setangan kuraba pintu diketuk Purnama raya bulan bercengkerama beta berkata tinggallah nyawa Bertangkai bunga kusunting kujunjung kupuja, kurenung berlagu hatiku bagai seruling kukira sekalini menyecap untung.

Dalam hatiku kuikat istana kusemayamkan tuan digeta kencana kuhamburkan kusuma cempaka mulia kan hamparan turun dewi kakanda. Tetapi engkau orang biasa merana sahaja tiada berguna malu bertalu kerana aku ganjil terpencil berpaut kedahulu.

· Gaya Bahasa : - bahasa personifikasi jenis gaya bahasa ini dapat di jumpai pada baris ketiga, bait pertama yakni pada “berlagu hatiku”hati yang merupakan organ tubuh dan benda mati di ibaratkan sebagai benda hidup karena dianggap dapat berlagu atau bernyanyi. Bahkan dianggap dengan merdu bagaikan suara seruling, hal ini dapat dilihat pada bait pertama barisan ketiga “berlagu hatiku bagai seruling”.

Daun bergamit berpaling muka mengambang tenang di laut cahaya tunduk mengurai surai terurai kelapa lampai melambai bidai. nyala pelita menguntum melati gelanggang sinar mengembang lemah angin mengusap menyeyang pipi balik-berbalik menyerah-yerah.

Air mengalir mengilau-sinau riak bergulung pecah memecah nagasari keluar meninjau membanding purnama di perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut cerah.

Lepas rangkum pandan wangi terserak harum pemuja rama hinggap mendakap kupu berahi berbuai-buai terlayang lena Adikku sayang berpangku guring rambutmu tuan kusut melipu aduh bahagia bunga kemuning diri dihimpit kucupan rindu.

Berdiri aku di senja senyap Camar melayang menepis buih Melayah bakau mengurai puncak Berjulang datang ubur terkembang Angin perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut menyeduk bumi Menepuk teluk mengempas emas Lari ke gunung memuncak sunyi Berayun-ayun di atas alas. Benang raja mencelup ujung Naik marak mengerak corak Elang leka sayap tergulung dimabuk wama berarak-arak. Dalam rupa maha sempuma Rindu-sendu mengharu kalbu Ingin datang merasa sentosa Menyecap hidup bertentu tuju SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA “Tadi siang ada yang mati, Dan yang mengantar banyak sekali Ya.

Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus! Sampai bensin juga turun harganya Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula Mereka kehausan datam panas bukan main Terbakar muka di atas truk terbuka Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu Biarlah sepuluh ikat juga Memang sudah rezeki mereka Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan Seperti anak-anak kecil “Hidup tukang rambutan!

Hidup tukang rambutani” Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya Dan ada yang turun dari truk, bu Mengejar dan menyalami saya “Hidup pak rambutan!” sorak mereka Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar “Hidup pak rambutan!” sorak mereka “Terima kasih, pak, terima kasih!

Bapak setuju karni, bukan?” Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara “Doakan perjuangan kami, pak,” Mereka naik truk kembali Masih meneriakkan terima kasih mereka “Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!” Saya tersedu, bu.

Saya tersedu Belum pernah seumur hidup Orang berterima-kasih begitu jujurnya Pada orang kecil seperti kita. “Tadi siang ada yang mati, Dan yang mengantar banyak sekali Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus! Sampai bensin juga turun harganya Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula Mereka kehausan datam panas bukan main Terbakar muka di atas truk terbuka ● Diksi : Diksi dalam puisi ini banyak menggunakan kata-kata yang bersifat konotatif sehingga dapat menimbulkan makna yang ambigu.

Selain bersifat konotatif, puisi ini juga banyak menggunakan perumpamaan yang mampu memperindah puisi, Agar pembaca turut merasakan kedukaan, dalam puisi ini banyak menggunakan kata ditembak mati, pita perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan disebut, pemakaman dan sebagainya. Karya sastra merupakan hasil karya manusia yang berupa imajinasi nya ,karya sastra di bagi menjadi tiga yaitu puisi,prosa fiksi, dan drama.karya puisi amir hamzah dan taufik ismail yang di analisis berdasarkan unsur intrinsiknya dapat di simpulakan bahwa karangan puisi amir hamzah banyak menggunakan bahasa konotif dan kurang di mengerti sehingga pembaca harus menterjemahkan terlebih dahulu kata tersebut dan dapat mengetahui isi bacaan tersebut.

sedangkan puisi karya taufik ismail penggunaan bahasa nya dapat di mengerti karna menggunakan bahasa sehari-hari .

Diskusi Fonologi: Bagaimana bunyi bahasa dihasilkan




2022 www.videocon.com