Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Jakarta - Pulau dengan penduduk terbanyak di Indonesia adalah pulau Jawa. Masyarakat yang menetap berasal dari berbagai wilayah dengan budaya tertentu, termasuk bahasa daerah asal. Apa saja bahasa daerah yang ada di pulau Jawa? Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk sekitar hampir 160 juta, dan menjadi pulau berpenduduk terpadat di dunia. Meski menempati urutan terluas ke-5, Pulau Jawa dihuni oleh 60 persen masyarakat Indonesia. Pulau ini secara administratif terbagi menjadi enam provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten, serta dua wilayah khusus yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.

Baca juga: Kamus Bahasa Jawa Sederhana yang Bisa Digunakan Sehari-hari Selain tiga bahasa tadi, ada beberapa bahasa daerah yang juga digunakan di Jawa menurut laman Kemendikbud, yaitu: 1. Jawa Bahasa Jawa tentu terbanyak digunakan di Pulau Jawa, yaitu di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Di Jawa Barat, bahasa Jawa dibagi menjadi tiga dialek yaitu dialek Pantai Utara, dialek Cirebon, dan dialek Ciamis.

Menurut perhitungan dialektometri, persentase perbedaan ketiga dialek ini adalah 51-60,75 persen. Kemudian, bahasa Jawa di Jawa Tengah terdiri dari lima dialek.

Ada dialek Solo-Yogya, dialek Pekalongan, dialek Wonosobo, dialek Banyumas, dan dialek Tegal. Perbedaan kelima dialek itu sekitar 60 persen. Lalu bahasa Jawa di Yogyakarta. Isolek Jawa yang dituturkan di Yogyakarta dibandingkan dengan bahasa Jawa wilayah lainnya memiliki perbedaan dialek sekitar 51-80 persen sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi perbedaan subdialek berkisar 31-50 persen.

Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur terbagi atas empat dialek, yaitu dialek Jawa Timur, dialek Osing, dialek Tengger, dan dialek Solo-Yogya. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, perbedaan keempat dialek itu berkisar 52-64 persen. Terakhir, bahasa Jawa yang ada di Banten terdiri dari dua dialek, yaitu dialek Pantai Utara dan dialek Cikoneng.

Menurut penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kedua dialek tersebut sebesar 55 persen. 2. Sunda Bahasa Sunda cukup banyak dituturkan oleh penduduk pulau Jawa. Seperti di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Tengah. Isolek Sunda di Jawa Barat terbagi menjadi dua, yaitu dialek (h) dan dialek non-(h).

Persentase perbedaan antara keduanya adalah 60 persen. Dialek (h) ini dituturkan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat kecuali pesisir utara, seperti Bogor, Tasikmalaya, Kuningan, Bandung, Karawang, Subang, dan lainnya.

Bahasa Sunda di Jawa Barat dengan bahasa Sunda yang tersebar di daerah lainnya memiliki persentase perbedaan berkisar 51-80 persen sehingga beda dialek. Di Provinsi DKI Jakarta, bahasa Sunda kebanyakan tersebar di Kepulauan Seribu dan Jakarta Timur. Menurut perhitungan dialektometri, bahasa Sunda di DKI Jakarta dengan Sunda di Jawa Barat memiliki perbedaan 51,25 persen sehingga beda dialek. Lalu, bahasa Sunda dituturkan di hampir seluruh wilayah Banten kecuali pesisir utara.

Antara lain Tangerang, Tangerang Selatan, Serang, Lebak dan Pandeglang. Isolek Sunda di Banten memiliki persentase perbedaan berkisar 51-80 persen, beda dialek jika dibandingkan dengan Sunda di daerah lainnya. Terakhir, bahasa Sunda juga dipakai di Jawa Tengah.

Seperti Kecamatan Bantarkawung, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, dan masih banyak lagi.

Persentase Sunda di Jawa Tengah dengan daerah lain adalah 51-80 persen sehingga beda dialek menurut dialektometri. 3. Madura Bahasa Madura berasal dari Pulau Madura. Bahasa ini tersebar di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Selain itu, juga tersebar di Kabupaten Malang, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, dan Kabupaten Gresik. Bahasa Madura di Jawa Timur memiliki dua dialek, yaitu dialek Pulau Madura dan dialek Pulau Bawean dengan persentase perbedaan 53 persen. Baca juga: 7 Bahasa Daerah Sumatera Selatan, Bukan Hanya Palembang 4.

Mandarin DKI Jakarta Menurut penelitian, bahasa daerahdi Jawa selanjutnya adalah bahasa Mandarin DKI Jakarta. Bahasa ini banyak tersebar di Glodok, Jakarta Barat.

Berdasarkan hasil dialektometri, isolek Mandarin DKI Jakarta dan isolek Mandarin di Ampenan, NTB memiliki perbedaan 88,75 persen. 5. Melayu Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat Betawi DKI Jakarta, sering juga disebut bahasa Betawi atau Melayu Betawi. Bahasa Melayu Betawi terdiri dari dua dialek, yaitu dialek Betawi Pusat dan dialek Betawi Pinggiran.

Bahasa Melayu Betawi memiliki persentase perbedaan sebesar 75,75 persen dengan bahasa Melayu di Riau. 6. Lampung Cikoneng Bahasa ini awalnya berasal sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Lampung. Namun, dituturkan juga oleh masyarakat Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten. Menurut pengakuan penduduk, nenek moyang mereka berasal dari daerah Kalianda di Lampung Selatan.

Secara historis, dulu Lampung dan Banten juga memiliki kedekatan khusus dan secara geografis posisi kedua daerah itu hanya dihubungkan Selat Sunda. Menurut hasil perhitungan dialektometri, isolek Lampung di Banten dengan Lampung di Lampung Selatan memiliki perbedaan dengan persentase di atas 81 persen.

Bahasa ini kemudian disebut Lampung Cikoneng sesuai daerahnya. 7. Bugis Bahasa Bugis sebenarnya adalah bahasa asal Pulau Sulawesi. Namun bahasa ini juga dituturkan di DKI Jakarta, yaitu di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Menurut penghitungan dialektometri, perbandingan isolek Bugis DKI Jakarta dengan isolek Bugis di Pulau Sulawesi memiliki persentase perbedaan sebesar 45 persen. 8. Bajo Bahasa Bajo juga merupakan bahasa yang berasal dari Pulau Sulawesi.

Namun dituturkan juga oleh masyarakat yang berada di Desa Sapeken, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Bahasa Bajo di masyarakat Desa Sapeken, Jawa Timur dibandingkan dengan bahasa Bajo di Provinsi Sulawesi keseluruhan memiliki persentase perbedaan sekitar 71-74,25 persen sehingga beda dialek.

Beragam sekali ya, detikers? Mana bahasa daerah Pulau Jawa atau daerah lain yang sudah kamu ketahui? Simak Video " Viral! John Lennon Ubah Lirik 'Imagine' Jadi Bahasa Jawa" [Gambas:Video 20detik] (lus/lus) Contents • 1 Bahasa Daerah Bali • 1.1 1.

Bahasa bali kuno • 1.2 2. Bahasa Bali Tengahan • 1.3 3. Bahasa Bali Kepara ataupun bahasa bali lumrah • 1.4 Dialek • 1.4.1 Dialek Bali Aga • 1.4.2 Dialek Bali Dataran • 1.5 Contoh bahasa daerah Bali • 2 FAQ • 2.1 Apa saja bahasa Bali? • 2.2 Apa bahasa bali permisi? • 2.3 Bahasa Daerah Bali Apa kabar? • 2.4 Apa bahasa Bali selamat malam? • 2.5 Apa bahasa Balinya kamu cantik? • 2.6 Di mana dalam bahasa Bali? • 2.7 Apa bahasa bali nya saya sayang kamu?

• 2.8 Kangen bahasa Balinya apa? • 2.9 Galeri Bahasa Daerah Bali, Contoh dan Artinya • 2.10 Sebarkan ini: • 2.11 Posting terkait: Bahasa daerah Bali merupakan salah satu bahasa yang hingga kini masih terus terjaga kelestariannya.

Bahasa bali ialah bahasa awal untuk sebagian warga bali dan dipakai secara luas sebagai media komunikasi dalam kehidupan sosial. kamus bahasa bali, belajar bahasa bali, bahasa bali selamat pagi, bahasa bali kamu, percakapan bahasa bali dan artinya, bahasa bali jawaban, bahasa bali alus gedeg, siap bahasa bali Bahasa Daerah Bali bahasa daerah bali Bahasa Bali berasal dari kata“ Bal” dalam bahasa sansekerta yang maksudnya“ kekuatan”, jadi kata“ Bali” berarti“ pengorbanan” yang berarti agar kita tidak melupakan kekuatan kita.

Agar kita senantiasa siap berkorban. Bahasa daerah bali ialah peninggalan budaya bali yang sangat berarti serta wajib dilindungi, dilestarikan serta dibesarkan. Perihal ini sebaiknya dijadikan kewajiban untuk segala generasi warga bali kedepannya buat menguasai arti yang tercantum dari dalam bahasa bali itu sendiri. Lihat Juga kursus bahasa inggris di bali Peradaban warga bali dari dahulu hingga saat ini biasanya senantiasa memakai bahasa wilayah bali.

Dari segi historis bahasa daerah bali memahami 3 periodesasi yakni: 1. Bahasa bali kuno Ini merupakan bahasa bali yang digunakan oleh raja raja pada jaman bali kuno. Sejumlah prasasti prasasti bali kuno baik itu lontar yang berisikan huruf ataupun bahasa jawa kuno masih bisa kita jumpai.

2. Bahasa Bali Tengahan Yaitu bahasa bali yang sering digunakan untuk menuliskan karya-karya sastra. Misalnya, kidung- kidung, babad, wariga, usada, usana serta karya sastra lainnya. 3. Bahasa Bali Kepara ataupun bahasa bali lumrah Bahasa ini merupakan bahasa bali yang masih sering dipakai oleh warga dalam berkomunikasi sehari-hari.

Bila dilihat dalam konsumsinya bahasa ini mempunya system tingkatan tingkatan. Baca Juga: Macam-Macam Bahasa dan Perkembangan Bahasa Warga bali, dalam etika pergaulannya senantiasa dilandasi dengan sopan santun, yang terpola yang biasa diucap dengan“ manyama braya”. Bahasa ini bagaikan wujud kepribadian serta pola pikir orang bali. Seperti daerah- daerah yang lain di bermacam belahan dunia, Bali juga mempunyai bahasa yang digunakan untuk membangun komunikasi antara sesama masyarakatnya ataupun antara warga dekat dengan turis yang datang dari bermacam belahan dunia.

Warga Bali walaupun mendiami satu daerah, tetapi mempunyai tingkatan keragaman bahasa serta budaya yang multikulturalistik. Bahasa Bali tidak hanya terdapat di Pulau Bali, bahasa wilayah Bali ini pula menyebar ke wilayah dekat pulau Bali, Nusa Tenggara Barat serta Jawa Timur.

Bahasa Bali juga terdapat di Provinsi Lampung serta sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi sampai Sulawesi Tenggara serta Kalimantan Tengah. Lihat Juga aku sayang kamu Dialek Dialek Bahasa Bali terdapat 2 tipe, yaitu dialek Bali Aga/ Bali Mula dan dialek Bali dataran.

Dialek Bali Aga Bahasa Bali dialek Aga maksudnya Bahasa Bali yang dituturkan oleh warga Bali yang terdapat di dataran besar Pulau Bali. Dialek Bali Dataran Bahasa Bali dialek Dataran kebalikannya. Penuturnya merupakan penduduk Bali yang terletak di dataran rendah Pulau Dewata.

Kota Denpasar salah satunya yang memakai dialek Bali Dataran.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Contoh bahasa daerah Bali bahasa daerah bali • 1. Rahajeng Semeng Rahajeng Semeng ialah sapaan dalam bahasa Bali. Maksudnya Selamat Pagi.

Lihat Juga translate bahasa bali • 2. Kenken Kabare Kalimat ini mempunyai makna Apa Kabarnya. Kala memperoleh persoalan semacam ini, kalian dapat jawab becik- becik yang dalam bahasa Indonesia” baik- baik”. • 3. Matur Suksma Dalam bahasa Bali Matur Suksma maksudnya Terima Kasih. Kalian pula dapat menyingkat jadi Suksma. Jangan kurang ingat bilang ini ya sehabis menemukan dorongan di Bali!

• 4. Tiang Tresna Ajak Adi Nah, jika kalian jatuh cinta sama wanita di Bali dapat coba kalimat ini. Ini ialah perkata bahasa bali buat pacar, maksudnya” Saya cinta sama kalian( adik). • 5. Aji Kuda Niki Bahasa Bali ini sangat bermanfaat dikala tengah berbelanja. Aji Kuda Niki maksudnya Berapa biayanya ini ataupun kalian dapat menyingkat jadi Kuda niki?

• 6. Ngudiang Bila mau sedikit basa- basi dengan sahabat, kalian dapat menanyakan Lagi mengapa? ataupun dalam bahasa Bali Ngudiang. Apabila sahabat lagi jalan- jalan tentu dia hendak menanggapi melali yang maksudnya jalan- jalan. Lihat Juga makanan daerah bali beserta bahasanya di sini • 7. Dija Mau menanyakan posisi sahabat kalian dalam bahasa Bali? Coba tanya dengan kata Dija? yang maksudnya Di mana. Dipastikan dia hendak menanggapi lokasinya dikala itu pula.

(*) Bahasa Bali menjadi satu diantaranya bahasa serta alat rekam budaya Bali paling penting sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi dipiara. Perawatan bahasa Bali pun diinginkan untuk menjaga taksu Bali. Di Bali ada kelas(anggah-ungguhin basa) berbahasa yang mengakibatkan adanya pengelompokan sosial dalam orang Bali.

Kapabilitas satu orang dalam gunakan bahasa Bali mempertunjukkan posisi sosial serta norma orang itu dalam berbahasa. Lalu ada pertanyaan di saat orang Bali berkata ke bahasa Bali tanpa kuasai jenjang bahasa. Untuk kondisi santun serta seirama, pengucap bahasa Bali diinginkan dapat gunakan bahasa yang benar sesuai sama jenjang berbahasa (sama sama singgihang). Bahasa Bali menjadi sarana kebudayaan Bali kelihatannya terus alami pengubahan di satu segi serta usaha konservasi disebelah yang lainnya.

Lihat Juga terjemahan bahasa bali mengenai anggota tubuh bahasa daerah yang digunakan oleh penduduk di bali adalah terbagi atas beberapa kosa kata Berdasar pada paparan selintas di atas, bisa disimpulkan kalau pengubahan ke bahasa Bali terjadi di tataran kosa kata yang dipakai oleh pengucapnya tuju bahasa yang humanis, tidak ada yang berasa semakin tinggi serta yang direndahkan.

Pemanfaatan ujaran yang ke arah ke kesetaraan telah mulai terlihat terang penggunaannya, terpenting di tataran alus sor, ingat kata alus sor sudah dipakai oleh semuanya grup orang Bali dalam perbincangan keseharian. Sedang sisi konservasi bahasa Bali, bersangkutan kuat dengan peristiwa pendahulu orang Bali. Prinsip wangsa selalu jadi dasar penentuan ujaran dalam pertemanan buat orang Bali, akan tetapi bukan dalam bahasa yang memiliki sifat feodal akan tetapi lebih ke sikap egaliter atau ‘kesetaraan’ dalam berbahasa.

Kesetaraan dalam sikap berbahasa Bali penting dimasukkan buat tiap jiwa pengucap bahasa Bali, kalau orang Bali tidak mau bahasa ibunya dibiarkan oleh pengucapnya. Hal Menarik lainnya bahasa bali translate untuk kata aku sayang kamu Supaya pengucap bahasa Bali dapat menghargakan lainnya dalam berkata karenanya pengenalan bahasa lembut harus diawali sejak mula-mula (mulai anak-anak mengenali kursi sekolah dari TK).

Setelah itu, dengan bertahap mereka dikenalkan dalam bahasa wajar serta kasar. Dalam andilnya menjadi penjaga kearifan lokal (local genius), kecuali selalu menjaga sikap berbahasa yang ber “Anggah-Ungguh”, penting juga dijalankan pengembangan dengan mengambil beberapa unsur bahasa yang berada pada luar bahasa Bali sendiri. Pembiasaan bahasa Bali dijalankan dengan memperlebar tempat, seperti bikin atau tuliskan. FAQ Apa saja bahasa Bali? Tiga Kelas Bahasa Bali • Bahasa Bali Alus Singgih (ASI) • Bahasa Bali Madya/ Sor (ASO) • Bahasa Bali Kepara.

Apa bahasa bali permisi? – Sira pesengan ragane? Permisi Bahasa Daerah Bali Apa kabar? kenken kabare = apa kabar. Apa bahasa Bali selamat malam? jika tak salah “rahajeng wengi”. Apa bahasa Balinya kamu cantik? Bahasa balinya”Kamu cantik sekali” yakni “Jegeg gati iluh e”.

Di mana dalam bahasa Bali? Dija dipakai buat bertanya tempat yang maknanya “Di mana”. Anda dapat mengucapkan “Dija” pada satu orang. Apa bahasa bali nya saya sayang kamu? Anda bisa mengutarakan saya cinta kamu dengan Tiang tresna ajak ragane. Atau alternatif lainnya “Bli tresna teken adi” yang mempunyai arti abang atau kakak cinta dengan adik…. Lalu, dalam bahasa Batak (Toba), “Holong rohakku tu ho”. Kangen bahasa Balinya apa? In Balinese: Pidan saja, kangen karasayang. Galeri Bahasa Daerah Bali, Contoh dan Artinya Posting pada Pendidikan Ditag ada berapa bahasa di bali, apa bahasa daerah bali, apa bahasa daerah suku bali, apa bahasa dari daerah bali, apa itu bahasa daerah bali, apa kabar bahasa daerah bali, apa nama bahasa daerah bali, apa saja bahasa bali, Bahasa Daerah Bali, Bahasa Daerah Bali Contoh dan Artinya, bahasa daerah di indonesia, berikan contoh bahasa daerah yang ada di indonesia, ciri khas bali, Contoh dan Artinya, gambaran pulau bali, jumlah bahasa daerah di indonesia, nama bahasa daerah, nama bahasa daerah bali, pulau bali, suku suku di pulau bali dan nusa tenggara Navigasi pos Rumah Dijual • Rumah Minimalis Mewah di Gowa Siap Huni Rp300.000.000 • Perumahan Komersil Murah di Makassar NEW PROJECT PERUMAHAN GRIYA KENARI SAMATA Rp350.000.000 • Perumahan Subsidi Makassar Murah Dekat Kampus IMMIM Rp200.000.000 Rp156.000.000 • Jual Tanah Cepat Butuh Uang Lokasi Poros Jalan di Maros (Masih Nego) Rp2.000.000.000 Rp1.500.000.000 • Perumahan Komersil di Makassar
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT A.

PENDAHULUAN Manusia merupakan mahkluk individu dan sosial. Sebagai mahkluk sosial, manusia perlu berinteraksi dengan manusia lain. Dalam berinteraksi, manusia memerlukan bahasa untuk menyampaikan pikirannya. Menurut Kridalaksana (2001), bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Dengan demikian, bahasa merupakan unsur terpenting dalam sebuah komunikasi.

Di dunia ini banyak bahasa yang digunakan manusia dalam berinteraksi. Setiap wilayah maupun negara memiliki bahasanya sendiri. Tidak terkecuali di Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa. Kurang lebih terdapat sekitar 500 sampai 700 suku bangsa di Indonesia yang setiap suku memiliki bahasa daerahnya sendiri (Katitira, 2007).

Bahkan, dalam satu suku memiliki bahasa yang berbeda misalnya, dalam suku Jawa terdapat perbedaan antara bahasa Jawa di daerah Yogyakarta dengan bahasa Jawa di daerah Surabaya.

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa komunikasi yang digunakan secara khusus di lingkungan etnis Jawa. Bahasa ini merupakan bahasa pergaulan, yang digunakan untuk berinteraksi antarindividu dan memungkinkan terjadinya komunikasi dan perpindahan informasi sehingga tidak ada individu yang ketinggalan zaman (Ahira, 2010). Menurut Hermadi (2010), bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari di daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah. Hal ini tidak mengherankan karena kejayaan kehidupan keraton di masa lampau banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dibanding di daerah Jawa yang lain.

Dengan demikian, bahasa Jawa merupakan bahasa asli masyarakat Jawa di Indonesia, khususnya di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan daerah di sekitarnya. Bahasa Jawa adalah bahasa ibu yang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Bahasa Jawa juga merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dijaga karena jika tidak bahasa Jawa dapat terkikis dan semakin hilang dari Pulau Jawa. Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Jawa memiliki fungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah (Khalim dalam Tubiyono, 2008). Bahasa Jawa memiliki hak hidup yang sama dengan bahasa Indonesia.

Hal ini sesuai dengan penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan bahasa (daerah) Jawa akan dihormati dan dipelihara oleh negaratermasuk pemerintah pusat atau pun daerah ( Alwi, 2000 ). Oleh karena itu, generasi muda suku Jawa sudah sepantasnya melestarikan bahasa Jawa demi kelangsungan dan tetap terjaganya bahasa Jawa di Pulau Jawa.

Apalagi, bahasa Jawa merupakan bahasa budi yang menyiratkan budi pekerti luhur, atau merupakan cerminan dari tata krama dan tata krama berbahasa menunjukkan budi pekerti pemakainya.

Dalam penggunaannya, bahasa Jawa memiliki aksara sendiri, yaitu aksara jawa, dialek yang berbeda dari tiap daerah, serta Unggah-ungguh basa (etika berbahasa Jawa) yang berbeda. Bahasa Jawa dibagi menjadi tiga tingkatan bahasa yaitu ngoko (kasar), madya (biasa), dan krama (halus) (Anonim, 2010).

Dalam tingkatan bahasa ini, penggunaannya berbeda-beda sesuai dengan lawan yang yang diajak berbicara. Sehari-hari, ngoko digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya atau yang lebih muda, madya digunakan untuk berbicara dengan orang yang cukup resmi, dan krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang dihormati atau yang lebih tua. Oleh sebab itu, bahasa Jawa memiliki etika bahasa yang baik untuk digunakan dan mencerminkan karakteristik adat budaya Indonesia sebagai bangsa timur.

Bahasa Jawa yang dulu merupakan bahasa yang besar, dengan ber-tambahnya waktu, penggunaannya semakin berkurang. Saat ini para kaum muda di Pulau Jawa, khususnya yang masih di usia sekolah, sebagian besar tidak menguasai bahasa Jawa. Hal ini bisa disebabkan oleh gencarnya serbuan beragam budaya asing dan arus informasi yang masuk melalui bermacam sarana seperti televisi dan lain-lain.

Pemakaian bahasa gaul, bahasa asing, dan bahasa seenaknya sendiri (campuran Jawa-Indonesia Inggris) juga ikut memperparah kondisi bahasa Jawa yang semakin lama semakin surut. Betapa tidak, saat ini murid tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah yang mendapatkan pelajaran bahasa Jawa sebagian besar dari bangku sekolah. Sementara pelajaran bahasa Jawa yang dulunya merupakan pelajaran wajib sekarang hendak (bahkan sudah mulai) dihilangkan dari daftar matapelajaran sekolah.

Meskipun ada, jam mata-pelajarannya juga sangat sedikit, hanya 2 X 45 menit dalam seminggu, sedangkan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan rumah pun tidak lagi seketat seperti di masa-masa dulu. Orang tua tidak lagi membiasakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari untuk berkomunikasi di keluarga. Sebagian besar malah mengajarkan b ahasa Indonesia atau bahasa asing kepada anak-anak mereka. Bahasa Jawa, apalagi bahasa Krama Inggil pun semakin terabaikan.

Kondisi tersebut juga kian diperparah dengan adanya pandangan generasi muda terhadap bahasa Jawa. Mereka menganggap bahasa Jawa adalah bahasa orang-orang desa, orang udik, orang-orang pinggiran, atau orang-orang zaman dulu. Mereka mengaku malu dan gengsi menggunakan bahasa Jawa dan memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa gaul.

Banyak pemuda Jawa yang tidak dapat berbicara menggunakan bahasa Jawa, namun mengerti jika diajak berbicara menggunakan bahasa Jawa. Ini disebabkan sejak kecil mereka telah dibiasakan berbicara bahasa Indonesia oleh keluarganya.

Se benar nya dalam bahasa Jawa tercermin adanya norma-norma susila, tata krama, menghargai yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua. Seseorang sering menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari, tetapi sering lupa bahwa terdapat tingkat tutur pengguna an bahasa Jawa yang dikenal sebagai penerapan unggah-ungguh.

Dampak negatif dari adanya pendangkalan bahasa Jawa di kalangan pemuda Jawa kini mulai ter asa akibatnya. Banyak remaja atau pemuda yang tidak tahu penerapan sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi santun kepada mereka yang lebih tuaatau yang seharusnya dihormati. Hal yang lebih memalukan bila mereka menggunakan bahasa Jawa krama h alus untuk dirinya sendiri ( dirinya sendiri dibahasakramakan ). Lunturnya bahasa Jawa membuat kualitas budi pekerti dan tata krama para pemuda di Jawa semakin menurun.

Karena cenderung tidak bisa berbahasa Jawa halus mereka lebih memilih berbahasa Indonesia yang dianggap lebih mudah. Oleh karena itu, pendidikan berbahasa Jawa yang baik dan benar perlu ditanamkan sejak dini supaya bahasa Jawa tetap terjaga kelestariannya dan karakteristik mayarakat suku Jawa yang dikenal berbudi luhur dan memiliki tata krama yang baik tetap terjaga. Tulisan ini berusaha mendeskripsikan bentuk penggunaan bahasa Jawa, faktor penyebab semakin memudarnya penggunaan bahasa Jawa, serta solusi untuk menyebarluaskan bahasa Jawa dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia.

B. BENTUK PENGGUNAAN BAHASA JAWA Bahasa Jawa mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi. Dari segi kuantitas pemakai bahasa Jawa, lebih dari 150 juta jiwa tinggal di berbagai tempat di Pulau Jawa dan beberapa berada di luar pulau Jawa.

Bahkan, menurut Listyana ( 2010) orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, sering memakai bahasa Jawa dan menggunakannya sebagai lambang jati diri bangsa.

Secara geografis, bahasa Jawa adalah bahasa ibu yang digunakan oleh masyarakat yang berasal dari wilayah Jawa Tengah dan sebagian besar Jawa Timur. Luasnya wilayah dan kendala geografis menyebabkan bahasa Jawa memiliki dialek-dialek yang berbeda (Kridalaksana, 2001). Meskipun memiliki dialek yang berbeda-beda di setiap wilayah, bahasa Jawa memiliki bahasa Jawa baku yang digunakan dan diajarkan dalam setiap kegiatan pendidikan sebagai materi muatan lokal, khususnya pada masyarakat bahasa Jawa.

Kridalaksana (2001) menarik kesimpulan sebagai berikut. Bahasa Jawa baku merupakan bahasa Jawa yang digunakan di wilayah Yogyakarta dan Surakarta, bahasa Jawa yang digunakan di kedua wilayah ini dianggap sebagai bahasa Jawa baku oleh masyarakat bahasa Jawa pada umumnya.

Ciri utama yang sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi bahasa Jawa baku adalah hadirnya seluruh ragam tutur ngoko, madya, krama dalam percakapan sehari-hari baik dalam situasi formal maupun informal.

Bahasa Jawa memiliki nilai sastra yang tinggi, serta struktur dan tata bahasa yang rumit. Untuk menerapkannya sangatlah tidak mudah apalagi bagi orang awam yang belum mengetahui bahasa Jawa sama sekali. Hal ini disebabkan penggunaannya bukanlah menurut waktu jenis lampau, sekarang, maupun waktu yang akan datang seperti layaknya bahasa Inggris yang memiliki tenses sehingga cukup mudah untuk dipelajarimelainkan menurut status orang yang berbicara dan dengan siapa ia berbicara.

Menurut Bastomi (1995) bahasa Jawa memiliki pembagian tingkatan-tingkatan bahasa yang cukup rinci. Penempatan bahasa Jawa berbeda-beda sesuai pada perbedaan umur jabatan, derajat serta tingkat kekerabatan antara yang berbicara dengan yang diajak bicara, yang menunjukkan adanya ungah-ungguh bahasa Jawa.

Dialek baku bahasa Jawa, yaitu yang didasarkan pada dialek Jawa Tengah, terutama dari sekitar kota Surakarta dan Yogyakarta. Beberapa jenis bentuk ragam tutur dalam bahasa Jawa yang disebut juga unggah-ungguhing basa ini dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu (1) bahasa ngoko ( ngoko lugu, ngoko alus), (2) bahasa madya ( madya ngoko, madya krama), (3) bahasa krama ( krama andhap, krama inggil).

1. Bahasa Jawa Ngoko Ragam bahasa Jawa ngoko digunakan untuk penutur dan mitratutur yang mempunyai kedudukan yang akrab atau kedudukan penutur lebih tinggi daripada mitratutur (Susylowati, 2006). Bahasa Jawa ngoko sering digunakan oleh orang yang usianya sebaya maupun oleh orang-orang yang sudah akrab. Bahasa ngoko ini di bagi atas ngoko lugu,dan ngoko alus. Ngoko lugu digunakan untuk menyatakan orang pertama. Ngoko alus digunakan oleh orang pertama dengan lawan bicaranya yang sebaya atau yang sudah akrab, bahasa ini santai namun sopan.

Contoh: Ngoko lugu: Mas Totok nggawekake Dik Darno layangan ( Kridalaksana, 2001 ). Mas Totok membuatkan Dik Darno layangan Ngoko alus: Pak guru basa Jawa sing anyar iku asmane sapa? ( Kridalaksana, 200 1 ). Pak guru bahasa Jawa yang baru itu namanya siapa? 2. Bahasa Jawa Madya Ragam bahasa Jawa madya menunjukkan tingkat tataran menengah yang terletak di antara ragam ngoko dan krama (Kridalaksana, 2001).

Bahasa madya biasanya digunakan terhadap teman sendiri. 3. Bahasa Jawa Krama Ragam bahasa Jawa krama digunakan untuk menunjukkan adanya penghormatan kepada mitratutur yang mempunyai kedudukan atau kekuasaan yang lebih tinggi daripada penutur (Susylowati, 2006). Bahasa Jawa k rama ini digunakan orang sebagai tanda menghormati orang yang diajak bicara.

Misalnyaanak muda dengan orang tua atau pegawai dengan atasannya. Tingkatan yang lebih tinggi dari krama yaitu krama inggil.

Krama inggil dianggap sebagai bahasa dengan nilai sopan santun yang sangat tinggi. Jarang sekali digunakan pada sesama usia muda.

Bahasa krama dibagi menjadi krama andhap dan krama inggil. Contoh: Krama andhap: Kula badhé késah sakmenika (Kridalaksana, 2001).

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Saya mau pergi sekarang. Krama inggil: Panjenengan badhé tindak sakmenika (Kridalaksana, 2001). Anda mau pergi sekarang. Pembicara atau penutur menggunakan kata késah untuk mengacu pada tindakan yang dilakukannya, sedangkan kata tindak digunakan untuk mengacu tindakan yang dilakukan oleh kawan bicara yang dihormati atau memiliki status sosial yang lebih tinggi.

Penggunaan ragam ngoko, madya, dan krama didasarkan atas sikap penghormatan dan tingkat keakraban. Untuk dapat membedakan bentuk penggunaan bahasa Jawa lebih baik lagi dapat dilihat dalam contoh kalimat seperti berikut.

Saya akan makan dahulu. Ngoko: aku arep mangan dhisik. Madya:kula ajeng nedha riyin. Krama:kula badhé nedha rumiyin. Dalam bahasa Jawa untuk menyatakan diri sendiri dengan bahasa halus tidak menggunakan krama inggil tetapi menggunakan madya karena tidak mungkin seseorang menghormati dirinya sendiri. Jadi, penggunaan bahasa Jawa itu ditentukan oleh kedudukan dan tingkat usia. Sudaryanto (1991: 34) menyebutkan fungsi dari tingkat-tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa ini adalah: 1.

Norma dan etika, yaitu digunakan untuk berkomunikasi di masyarakat atau dengan orang lain dengan melihat orang yang diajak bicara (lebih tua atau lebih muda). 2.

Penghormatan dan keakraban, yaitu digunakan untuk menghormati orang yang diajak bicara supaya tidak dibilang tidak mempunyai tata krama dalam berbicara. 3. Pangkat dan status sosial, yaitu digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan melihat pangkat dan status sosialnya di dalam masyarakat tersebut.

C. FAKTOR PENYEBAB SEMAKIN MEMUDARNYA BAHASA JAWA DI KALANGAN PEMUDA JAWA Globalisasi menuntut seseorang terutama kalangan pemuda untuk mampu menggunakan bahasa yang global dan mendunia sehingga dapat berperan aktif menuju modernisasi.

Misalnya saja penggunaan bahasa Inggris di daerah kota dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat mempengaruhi kedudukan bahasa Jawa yang rasanya semakin terabaikan. Memudarnya bahasa Jawa di Jawa tentunya memiliki berbagai alasan yang sangat nyata. Dapat di lihat dan di rasakan bahwa perkembangan jaman dan perkembangan bahasa J awa yang saat ini telah menurun drastis. Banyak pemuda yang tidak bisa menggunakan bahasa Jawa dengan baik, dan memilih menggunakan bahasa Indonesia.

Namun ketidakbisaan ini bukan semata-mata hanya kesalahan pemuda itu sendiri, tetapi banyak faktor yang menyebabkan hal itu dapat terjadi. Keluarga termasuk faktor yang paling berpengaruh, karena keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama kali dikenal oleh anak.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pendangkalan bahasa Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi di kalangan pemuda.

Menurut Ipung (2011), faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut. 1. Faktor pemuda itu sendiri Pemuda maupun remaja cenderung merasa malu menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari dengan alasan bahasa Jawa merupakan bahasa yang sudah ketinggalan jaman, tidak gaul, sulit, tidak tahu artinya dan juga membingungkan.

Sebenarnya perasaan malu ini dipengaruhi juga oleh per-gaulan teman-teman yang juga malu menggunakan bahasa Jawa. 2. F aktor k eluarga Orang tua juga berperan dalam perkembangan bahasa Jawa. Orang tualah yang akan melestarikan budaya ini ke anak-anaknya, sehingga anak-anak akan menerapkannya saat berbicara terutama kepada orang yang lebih tua.

Namun sebaliknya, orang tua malah mendidik anaknya dengan menggunakan bahasa Indonesia bahkan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang orang tua menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anaknya tetapi tetap menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Jika semua orang tua melakukan hal seperti itu, maka dengan waktu yang singkat budaya bahasa Jawa di Jawa akan memudar, musnah dan tenggelam. Tidak ada lagi generasi yang dapat meneruskan bahasa Jawa ini, karena generasi muda tentu akan menjadi orang tua dan jika mereka kurang mengetahui bahasa Jawa tidak mungkin dapat mengajari generasi berikutnya dengan baik pula.

3. Faktor sekolah Alokasi jumlah jam matapelajaran bahasa Jawa baik di SD, SLTP dan SMA hanya dua jam. Padahal materi muatan bahasa Jawa sama seperti muatan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Bahkan saat ini ada beberapa sekolah yang tidak mengajarkan pendidikan bahasa Jawa di s ekolahnya. Hal ini semakin diperkuat dengan banyaknya sekolah terutama sekolah swasta yang khawatir pembelajaran bahasa Jawa dapat membuat siswa terbebani.

Program Hari Berbahasa Jawa yang digagas Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya direspons kalangan sekolah swasta. Mereka berkeberatan apabila penggunaan bahasa lokal itu justru menghambat proses komunikasi kegiatan belajar mengajar.

Muncul kekhawatiran, pencanangan hari berbahasa Jawa bisa membuat siswa semakin terbebani program (Jawa Pos, 2008). 4. Faktor Pemerintah Pemerintah daerah tidak begitu memperhatikan kegiatan yang mengarah pada pelestarian bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan pemerintah daerah tidak mendirikan lembaga/kursus bahasa Jawa, kurangnya pengangkatan guru pendidikan bahasa Jawa juga dapat menyebabkan pendangkalan bahasa Jawa.

Kesadaran masyarakat sendiri akan budayanya sangat kurang. M asyarakat cenderung lebih mencoba mengikuti kebudayaan baru yang lebih nge trend agar tidak dibilang kuno maupun primitif. Pelahan lahan budaya berbahasa Jawa ditinggalkan.

Jika hal ini terjadi terus menerus maka tidak dapat dipungkiri lagi bahasa Jawa akan hilang di pulau Jawa sendiri.

D. SOLUSI UNTUK MENYEBARLUASKAN BAHASA JAWA DALAM MENJAGA DAN MELESTARIKAN WARISAN BUDAYA INDONESIA Bahasa jawa sudah tidak banyak lagi digunakan, apalagi oleh anak-anak muda, mereka beranggapan bahwa bahasa Jawa itu bahasa yang sulit, bahasa yang ketinggalan zaman, maka mereka sudah tidak biasa lagi menggunakan bahasa Jawa, maka dari itu sebagian orang mengatakan bahwa bahasa Jawa akan mati atau punah, karena orang Jawa sendiri saja sudah tidak mengerti akan bahasa Jawa.

Ini keadaan yang sangat disayangkan, jika sampai bahasa Jawa benar-benar punah. Maka sesungguhnya orang Jawa telah kehilangan kebudayaannya, yaitu kehilangan jati diri dan kepribadian yang telah diwariskan nenek moyang terdahulu. Pada dasarnya masyarakat harus memiliki kesadaran untuk tetap melestarikan budaya berbahasa Jawa.

Bukan menjadi alasan bahwa dengan bergerak maju nya masyarakat menuju masyarakat modern lalu begitu saja melupakan tradisi sendiri. Jadi, jangan sampai masyarakat meninggalkan budaya berbahasa Jawa semata-mata untuk modernisasi.

Sebagai masyarakat asli Jawa, masyarakat seharusnya dapat mem - pertahankan dan melestarikan budaya berbahasa Jawa. S iapa lagi yang akan meneruskan budaya wa ris an nenek moyang j ika bukan masyarakat Jawa itu sendiri.

Jangan sampai setelah budaya sudah hilang atau dinyatakan milik negara lain barulah masyarakat peduli dan merasa memiliki. Untuk itu menjaga dari sekarang sangatlah penting agar tidak menyesal kemudian. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang tepat sebagai prasarana untuk mempertahankan budaya berbahasa Jawa, karena siswa dapat belajar serta dapat mempraktekkan dengan guru maupun teman-temannya. Penggunaan bahasa Jawa dalam pembelajaran untuk waktu tertentu juga dapat meningkatkan ketrampilan berbahasa Jawa, jadi semua warga sekolah ikut berpartisipasi dalam melestarikan penggunaan bahasa Jawa.

Di lingkungan keluarga sebaiknya para orang tua juga mengajarkan bahasa Jawa kepada anak-anaknya sehingga anak-anak akan terbiasa dengan bahasa Jawa. Bisa tidaknya seseorang mempelajari bahasa bukan dari mudah atau sulitnya bahasa itu, melainkan dari pembiasaan.

Namun, kenyataannya orang tua cenderung mengajarkan anak-anaknya dengan pengantar bahasa Indonesia. Sarana yang lain ialah melalui media-media yang telah ada di sekitar. Sekarang ini banyak saluran televisi yang memiliki tayangan-tayangan maupun berita dengan menggunakan bahasa Jawaterutama saluran televisi lokal atau daerah. N amunpercuma apabila tayangan tersebut memiliki sedikit pemin at.

Maka dari itu, masyarakat terutama pemuda maupun remaja sebaiknya menyempatkan diri menonton acara tersebut sebagai tanda rasa peduli terhadap bahasa asli sendiri dan menjadi sarana belajar bahasa Jawa.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Selain televisi juga masih ada beberapa sarana yang menggunakan bahasa Jawameskipun jumlahnya masih terbilang sedikit. Jadi, jangan malu untuk menyempatkan diri memahami dan mempelajari sebagai tanda melestarikan budaya Jawa melalui internet, televisi, radio, koran, dan lebih utama lagi dengan perbincangan langsung. Adapun cara atau langkah untuk tetap melestarikan bahasa Jawa supaya tidak hilang menurut Rahardjo (2001) adalah: 1.

Menanamkan sejak dini bahasa dan kebudayaan Jawa kepada anak-anak. Supaya mereka tidak menganggap bahasa Jawa adalah bahasa yang kun odan supaya mereka terbiasa menggunakan bahasa Jawa.

2. Membiasakan diri menggunakan bahasa Jawa, di dalam kehidupan sehari-hari dalam berbicara dibiasakan menggunakan bahasa Jawa yang benar, baik dari segi bahasanya maupun unggah-ungguhnya. Supaya dapat ditiru oleh anak-anak, jadi bahasa Jawa akan tetep lestari dengan baik.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

3. Mengajarkan bahasa Jawa, yaitu mengajarkan bahasa Jawa baik secara formal (sekolah) maupun informal(masyarakat). Secara formal bahasa Jawa dan kebudayaan Jawa diajarkan di sekolah-sekolah di dalam pembelajaran, sehingga anak didik mengenal dan mengetahui bahasa dan kebudayaan Jawa dengan baik.

Secara informal bahasa Jawa bisa diajarkan kepada anak-anak di lingkungan keluarga atau masyarakat, mereka akan belajar secara langsung mengenai kebudayaan Jawa yang ada di masyarakat, sebagai bentuk praktik dari teori yang ada di sekolah tadi E.

PENUTUP Berdasarkan uraian yang telah disebutkan dapat diketahui bahwa bahasa Jawa mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi. Bahasa Jawa memiliki pembagian tingkatan-tingkatan bahasa yang cukup rinci, penempatan bahasa Jawa berbeda-beda sesuai pada perbedaan umur jabatan, derajat serta tingkat kekerabatan antara yang berbicara dengan yang diajak bicara, yang menunjukkan adanya ungah-ungguh (sopan santun) bahasa Jawa.

Terdapat beberapa jenis bentuk ragam tutur dalam bahasa Jawa yang disebut juga unggah-ungguhing basa. Ragam tutur dalam bahasa Jawa ini dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: ngoko, madya, dan krama.

Namun, perkembangan jaman membuat bahasa Jawa semakin terpinggirkan dan dianggap tidak penting. Banyak faktor yang menyebabkan bahasa Jawa semakin ditinggal-kan.

Masyarakat menganggap bahasa Jawa merupakan bahasa orang-orang desa, orang-orang pinggiran, atau orang-orang zaman dulu. Mereka mengaku malu dan gengsi menggunakan bahasa Jawa dan memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa gaul. Masuknya budaya barat juga menjadi faktor bahasa semakin diabaikan, dan dianggap tidak penting.

Sebagai masyarakat asli Jawa, masyarakat memiliki kewajiban menjaga dan melestarikan budaya berbahasa Jawa. S iapa lagi yang akan meneruskan budaya wa ris an nenek moyang j ika bukan masyarakat sendiri. Jangan sampai setelah budaya sudah hilang atau dinyatakan milik negara lain barulah masyarakat peduli dan merasa memiliki. Untuk itu menjaga dari sekarang sangatlah penting agar tidak menyesal kemudian.

Cara atau langkah menjaga dan melestarikan bahasa Jawa diantaranya dengan menanamkan sejak dini, membiasakan diri menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, mengajarkan bahasa Jawa baik secara formal (sekolah) maupun informal (masyarakat).

Dalam hal ini tidak hanya satu pihak saja yang melaksanakan tapi semua lapisan ikut terlibat agar bahasa Jawa tetap bertahan dan lestari di pulau Jawa.

DAFTAR RUJUKAN Ahira, Anne. 2010. Kosa kata Bahasa Jawa yang Unik, (Online), ( http://www.AnneAhira.com ), diakses tanggal 28 Oktober 2011. Alwi, Hasan. 2000. Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo. Anonim. 2010. Unggah-Ungguh Basa Jawa, (Online), ( http://basa_jawa8b.wordpress.com ), diakses tanggal 28 Oktober 2011.

Bastomi, Ahmad. 1995. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Hermadi. 2010. Perlunya Pengenalan Budaya Jawa pada Pembelajaran Tingkat SMP, (Online), ( http:// http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/13/perlunya-pengenalan-budaya-jawa-pada-proses-pembelajaran-tingkat-smp/ ),diakses tanggal 28 Oktober 2011. Ipung. 2011. Pantang Malu Menggunakan Bahasa Jawa, (Online), ( http://www.ipung.blogspot.com ), diakses tanggal 4 Oktober 2011. Jawa Pos. 2008.

Penerapan Hari Bahasa Jawa di Sekolah, Sekolah Khawatir Siswa Terbebani(Online), ( http:// jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=321062), diakses tanggal 4 Oktober 2011.

Katitira. 2007. Persentase Penggunaan Bahasa Daerah di Indonesia(Online), ( http:// nias.online@gmail.com), diakses tanggal 28 Oktober 2011.

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Wiwara Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Listyana, Annisa. 2009. Budaya Berbahasa Jawa kian Memudar, (Online), ( http://www.aneazt.com/budaya-berbahasa-jawa-kian-memudar-), diakses tanggal 4 Oktober 2011. Rahardjo, Maryono. 2001. Bahasa Jawa Krama. Jakarta: Pustaka cakra.

Susylowati, Eka. 2006. Kesantunan Berbahasa Jawa d alam Kraton Surakarta Hadiningrat(Online), (http// esusylowati@gmail.com /kesantunan-berbasa-jawa), diakses tanggal 4 Oktober 2011. Tubiyono. 2008. Kebijakan Pemerintah Daerah tentang Pemakaian Bahasa Lokal : Studi Kasus Pemerintah Kota Surabaya pada Era Otoda(Online), (http:// www.tubiyono.com/template-features/tulisan-ilmiah/makalah/92-kebijakan-pemerintah-daerah-tentang-pemakaian-bahasa-lokal-studi-kasus-pemerintah-kota-surabaya-pada-era-otoda ), diakses tanggal 28 Oktober 2011.

• Acèh • Afrikaans • አማርኛ • العربية • Asturianu • Azərbaycanca • Башҡортса • Basa Bali • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • Banjar • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ • Català • Cebuano • کوردی • Čeština • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Nordfriisk • Frysk • Gaeilge • Gàidhlig • Galego • Bahasa Hulontalo • ગુજરાતી • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Interlingue • Ilokano • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Kurdî • Кыргызча • Latina • Ladino • Lëtzebuergesch • Limburgs • Lombard • Lietuvių • Latviešu • Madhurâ • Basa Banyumasan • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Кырык мары • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • مازِرونی • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi • Norsk bokmål • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • Papiamentu • Polski • Piemontèis • پنجابی • Português • Runa Simi • Română • Русский • संस्कृतम् • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sicilianu • Scots • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Sranantongo • Seeltersk • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 Topografi Pulau Jawa Geografi Lokasi Asia Tenggara Koordinat 7°29′30″S 110°00′16″E  /  7.49167°S 110.00444°E  / -7.49167; 110.00444 Koordinat: 7°29′30″S 110°00′16″E  /  7.49167°S 110.00444°E  / -7.49167; 110.00444 Kepulauan Kepulauan Sunda Besar Luas 128.793,6 (belum termasuk laut) km 2 Peringkat luas sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Titik tertinggi Gunung Semeru (3.676 m) Pemerintahan Negara Indonesia Provinsi Banten Daerah Khusus Ibukota Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Kota terbesar Jakarta (10.557.810 (2019) jiwa) Kependudukan Penduduk 151,6 juta jiwa (2020) Kepadatan 1.121 jiwa/km 2 Kelompok etnis Jawa (termasuk Banyumasan, TegalTengger, Osing, Cirebon, Samin, & Karimun) Sunda (termasuk Banten & Badui) Madura (termasuk Kangean) Betawi Bawean.

Pulau Jawa dalam citra satelit Jawa ( bahasa Jawa: ꦗꦮ, translit. Jåwå, bahasa Sunda: ᮏᮝ, translit. Jawa) adalah sebuah pulau di Indonesia yang terletak di kepulauan Sunda Besar dan merupakan pulau terluas ke-13 di dunia.

Jumlah penduduk di Pulau Jawa sekitar 150 juta. Pulau Jawa dihuni oleh 60% total populasi Indonesia. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan sensus penduduk tahun 1905 yang mencapai 80,6% dari seluruh penduduk Indonesia. Penurunan penduduk di Pulau Jawa secara persentase diakibatkan perpindahan penduduk ( transmigrasi) dari Pulau Jawa ke daerah lain di Indonesia.

Ibu kota Indonesia adalah Jakarta dan terletak di Jawa bagian barat laut (tepatnya di ujung paling barat Jalur Pantura). Jawa adalah pulau yang relatif muda dan sebagian besar terbentuk dari aktivitas vulkanik.

Deretan gunung-gunung berapi membentuk jajaran yang terbentang dari timur hingga barat pulau ini, dengan dataran endapan aluvial sungai di bagian utara. Pulau Jawa dipisahkan oleh selat dengan beberapa pulau utama, yakni Pulau Sumatra di barat laut, Pulau Kalimantan di utara, Pulau Madura di timur laut, dan Pulau Bali di sebelah timur.

Sementara itu di sebelah selatan pulau Jawa terbentang Samudra Hindia. Banyak kisah sejarah Indonesia berlangsung di pulau ini. Dahulu, Jawa adalah pusat beberapa kerajaan Hindu- Buddha, kesultanan Islam, pemerintahan kolonial Hindia Belanda, serta pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Pulau ini berdampak besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia. Sebagian besar penduduknya bertutur dalam tiga bahasa utama. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu dari 100 juta penduduk Indonesia, dan sebagian besar penuturnya berdiam di Pulau Jawa.

Sebagian besar penduduk adalah orang-orang dwibahasa, yang berbahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama maupun kedua.

Dua bahasa penting lainnya adalah bahasa Sunda dan bahasa Betawi. Sebagian besar penduduk Pulau Jawa beragama Islam. Namun tetap terdapat beragam aliran kepercayaan, agama, kelompok etnis, serta budaya di pulau ini. Pulau ini secara administratif terbagi menjadi enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, serta dua wilayah khusus, yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.

Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Aksara • 3 Sejarah • 3.1 Masa kerajaan Hindu-Buddha • 3.2 Masa kerajaan Islam • 3.3 Masa kolonial • 3.4 Masa kemerdekaan • 4 Geografi dan Geologi • 4.1 Geografi • 4.2 Geologi • 5 Demografi • 5.1 Pemerintahan • 5.2 Penduduk • 5.3 Etnis dan budaya • 5.4 Bahasa • 5.5 Agama dan kepercayaan • 6 Ekonomi dan Mata pencaharian • 7 Lihat pula • 8 Pranala luar • 9 Referensi Etimologi Asal mula nama "Jawa" dapat dilacak dari kronik berbahasa Sanskerta yang menyebut adanya pulau bernama yavadvip(a) ( dvipa berarti "pulau", dan yava berarti "jelai" atau juga "biji-bijian").

[1] [2] Apakah biji-bijian ini merupakan jewawut ( Setaria italica) atau padi, keduanya telah banyak ditemukan di pulau ini pada masa sebelum masuknya pengaruh India.

[3] Boleh jadi, pulau ini memiliki banyak nama sebelumnya, termasuk kemungkinan berasal dari kata jaú yang berarti "jauh". [1] Yavadvipa disebut dalam epik asal India, Ramayana.

Sugriwa, panglima wanara (manusia kera) dari pasukan Sri Rama, mengirimkan utusannya ke Yavadvip ("Pulau Jawa") untuk mencari Dewi Shinta. [4] Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut nama Sanskerta yāvaka dvīpa ( dvīpa = pulau). Dugaan lain ialah bahwa kata "Jawa" berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia yang berarti "rumah". [5] Pulau bernama Iabadiu atau Jabadiu disebutkan dalam karya Ptolemy bernama Geographia yang dibuat sekitar 150 masehi di Kekaisaran Romawi.

Iabadiu dikatakan berarti "pulau jelai", juga kaya akan emas, dan mempunyai kota perak bernama Argyra di ujung Baratnya. Nama ini mengindikasikan Jawa, [6] dan kelihatannya berasal dari nama Hindu Java-dvipa (Yawadvipa) Lihat pula: Kerajaan Sabak dan Waqwaq Berita tahunan dari Songshu dan Liangshu menyebut Jawa sebagai She-po (abad ke-5 M), He-ling (tahun 640-818 M), lalu menyebutnya She-po lagi sampai masa Dinasti Yuan (1271-1368), dimana mereka mulai menyebut Zhao-Wa (爪哇).

[7] :12 Menurut catatan Ma Huan (yaitu Yingya Shenlan), orang China menyebut Jawa sebagai Chao-Wa, dan dulunya pulau ini disebut 阇婆 ( She-pó atau She-bó). [8] :86 Sulaiman al-Tajir al-Sirafi menyebutkan dua pulau penting yang memisahkan Arab dan Cina: Yang pertama adalah Al-Rami dengan panjang 800 parasang, yang diidentifikasi sebagai Sumatera, dan yang lainnya sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Zabaj (bahasa Arab: الزابج, Bahasa Indonesia: Sabak), 400 parasang panjangnya, diidentifikasi sebagai Jawa.

[9] :30-31 Saat John dari Marignolli (1338-1353) pulang dari China ke Avignon, ia singgah di Kerajaan Saba, yang ia bilang memiliki banyak gajah dan dipimpin oleh ratu; nama Saba ini bisa jadi adalah interpretasinya untuk She-bó. [10] (hlm.xii, 192–194)Afanasij Nikitin, seorang pedagang dari Tver (di Rusia), melakukan perjalanan ke India pada tahun 1466 dan mendeskripsikan tanah Jawa di buku hariannya, yang ia sebut шабайте (shabait/šabajte).

[11] [12] Kata "Saba" sendiri berasal dari kata bahasa Jawa kawi yaitu Saba yang berarti "pertemuan" atau "rapat". Dengan demikian kata itu dapat diartikan sebagai "tempat bertemu".

[13] Menurut Fahmi Basya, kata tersebut berarti "tempat bertemu", "tempat berkumpul", atau "tempat berkumpulnya bangsa-bangsa". [14] :162-172 Aksara Aksara Jawa, dikenal juga sebagai Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀), [1] adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak [2] Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali.

Berdasar tradisi lisan, aksara jawa diciptakan oleh Aji Saka, tokoh pendatang dari India, dari suku Shaka (Scythia). Legenda melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke pulau Jawa. Kini kata Saka masih digunakan dalam istilah dalam bahasa Jawa, saka atau soko, yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula.

Aji Saka bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama". Sejarah Pemandangan Gunung Merbabu yang dikelilingi persawahan. Topografi vulkanik serta tanah pertanian yang subur merupakan faktor penting dalam sejarah pulau Jawa. Pulau ini merupakan bagian dari gugusan kepulauan Sunda Besar dan paparan Sunda, yang pada masa sebelum es mencair merupakan ujung tenggara benua Asia. Sisa-sisa fosil Homo erectus, yang populer dijuluki "Si Manusia Jawa", ditemukan di sepanjang daerah tepian Sungai Bengawan Solo, dan peninggalan tersebut berasal dari masa 1,7 juta tahun yang lampau.

[15] Situs Sangiran adalah situs prasejarah yang penting di Jawa. Beberapa struktur megalitik telah ditemukan di Pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja batu, dan piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Punden berundak dan menhir ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, Cisolok, dan Gunung Padang, Jawa Barat.

Situs megalitik Cipari yang juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus. [16] Punden berundak ini dianggap sebagai struktur asli Nusantara dan merupakan rancangan dasar bangunan candi pada zaman kerajaan Hindu-Buddha Nusantara setelah penduduk lokal menerima pengaruh peradaban Hindu-Buddha dari India.

Pada abad ke-4 SM hingga abad ke-1 atau ke-5 M Kebudayaan Buni yaitu kebudayaan tembikar tanah liat berkembang di pesisir utara Jawa Barat. Kebudayaan protosejarah ini merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara. Pulau Jawa yang sangat subur dan bercurah hujan tinggi memungkinkan berkembangnya budidaya padi di lahan basah, sehingga mendorong terbentuknya tingkat kerjasama antar desa yang semakin kompleks. Dari aliansi-aliansi desa tersebut, berkembanglah kerajaan-kerajaan kecil. Jajaran pegunungan vulkanik dan dataran-dataran tinggi di sekitarnya yang membentang di sepanjang Pulau Jawa menyebabkan daerah-daerah interior pulau ini beserta masyarakatnya secara relatif terpisahkan dari pengaruh luar.

[17] Pada masa sebelum berkembangnya negara-negara Islam serta kedatangan kolonialisme Eropa, sungai-sungai yang ada merupakan sarana perhubungan utama masyarakat, meskipun kebanyakan sungai di Jawa beraliran pendek. Hanya Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang dapat menjadi sarana penghubung jarak jauh, sehingga pada lembah-lembah sungai tersebut terbentuklah pusat dari kerajaan-kerajaan yang besar. Diperkirakan suatu sistem perhubungan yang terdiri dari jaringan jalan, jembatan permanen, serta pos pungutan cukai telah terbentuk di Pulau Jawa setidaknya pada pertengahan abad ke-17.

Para penguasa lokal memiliki kekuasaan atas rute-rute tersebut, musim hujan yang lebat dapat pula mengganggu perjalanan, dan demikian pula penggunakan jalan-jalan sangat tergantung pada pemeliharaan yang terus-menerus. Dapatlah dikatakan bahwa perhubungan antarpenduduk Pulau Jawa pada masa itu adalah sulit. [18] Munculnya peradaban di Pulau Jawa sering dikaitkan dengan kisah Aji Saka.

Meskipun Aji Saka dikatakan sebagai pembawa peradaban di Jawa, kisah Aji saka (78 masehi) mendapatkan beberapa sanggahan dan bantahan dari sumber-sumber sejarah lainnya. Ramayana karya Valmiki, yang dibuat sekitar 500 SM, mencatat Jawa sudah memiliki organisasi pemerintahan kerajaan jauh sebelum kisah itu: "Yawadwipa dihiasi tujuh kerajaan, pulau emas dan perak, kaya akan tambang emas, dan disitu terdapat Gunung Cicira (dingin) yang menyentuh langit dengan puncaknya." [19] (hlm.6) Menurut catatan China, kerajaan Jawa didirikan pada 65 SM, atau 143 tahun sebelum kisah Aji Saka dimulai.

[20] (hlm.55-56) Kisah Saka atau Aji Saka merupakan kisah Jawa Baru.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Kisah ini belum ditemukan relevansinya dalam teks Jawa Kuno. Kisah ini menceritakan peristiwa di kerajaan Medang Kamulan di Jawa pada masa lalu. Pada saat itu, Raja Medang Kamulan Prabu Dewata Cengkar digantikan oleh Aji Saka.

Kisah ini dianggap sebagai kiasan masuknya bangsa India ke Jawa. Merujuk pada informasi dinasti Liang, kerajaan Jawa terbelah menjadi dua: Kerajaan prapenerapan Hinduisme dan kerajaan setelah menerapkan tradisi Hindu yang dimulai tahun 78 masehi. [21] (hlm.5 dan 7) Masa kerajaan Hindu-Buddha Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda muncul di Jawa Barat, masing-masing pada abad ke-4 dan ke-7, sedangkan Kerajaan Medang adalah kerajaan besar pertama yang berdiri di Jawa Tengah pada awal abad ke-8.

Kerajaan Medang menganut agama Hindu dan memuja Dewa Siwa, dan kerajaan ini membangun beberapa candi Hindu yang terawal di Jawa yang terletak di Dataran Tinggi Dieng. Di Dataran Kedu pada abad ke-8 berkembang Wangsa Sailendra, yang merupakan pelindung agama Buddha Mahayana. Kerajaan mereka membangun berbagai candi pada abad ke-9, antara lain Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah. Sebuah stupa Buddha di candi Borobudur, dari abad ke-9.

Sekitar abad ke-10, pusat kekuasaan bergeser dari tengah ke timur Pulau Jawa. Di wilayah timur berdirilah kerajaan-kerajaan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit yang terutama mengandalkan pada pertanian padi. Namun juga mengembangkan perdagangan antar kepulauan Indonesia beserta Tiongkok dan India.

Raden Wijaya mendirikan Majapahit, dan kekuasaannya mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (m. 1350-1389). Kerajaan mengklaim kedaulatan atas seluruh kepulauan Indonesia, meskipun kontrol langsung cenderung terbatas pada Jawa, Bali, dan Madura saja.

Gajah Mada adalah mahapatih pada masa Hayam Wuruk, yang memimpin banyak penaklukan teritorial bagi kerajaan. Kerajaan-kerajaan di Jawa sebelumnya mendasarkan kekuasaan mereka pada pertanian. Namun Majapahit berhasil menguasai pelabuhan dan jalur pelayaran sehingga menjadi kerajaan komersial pertama di Jawa. Majapahit mengalami kemunduran seiring dengan wafatnya Hayam Wuruk dan mulai masuknya agama Islam ke Indonesia.

Masa kerajaan Islam Pada akhir abad ke-16, perkembangan islam telah melampaui Hindu dan Budha sebagai agama dominan di Jawa. Kemunculan kerajaan islam di Jawa juga tidak lepas dari peran walisongo. Pada awalnya penyebaran agama islam sangat pesat dan diterima oleh kalangan masyarakat sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi, hingga pada akhirnya dakwah itu masuk dan dijalankan kepada kaum penguasa pulau ini.

Tercatat kerajaan islam pertama di Jawa adalah Kerajaan Demak atau Kesultanan Demak Bintoro. Kerajaan Demak ini dipimpin oleh salah satu keturunan Majapahit yang beragama islam yaitu Raden Patah. Dalam masa ini, kerajaan-kerajaan Islam mulai berkembang dari Pajang, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, dan Banten membangun kekuasaannya.

Kesultanan Mataram pada akhir abad ke-16 tumbuh menjadi kekuatan yang dominan dari bagian tengah dan timur Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi. Para penguasa Surabaya dan Cirebon berhasil ditundukkan di bawah kekuasaan Mataram, sehingga hanya Mataram dan Banten lah yang kemudian tersisa ketika datangnya bangsa Belanda pada abad ke-17.

Beberapa kerajaan warisan islam di jawa masih dapat kita temukan di beberapa kota misalnya Surakarta terdapat dua kerajaan yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran, di Yogyakarta ada dua kerajaan yaitu Kasultanan dan Pakualaman, dan di Cirebon ada tiga kerajaan yaitu Kasepuhan, Kacirebonan dan Kasepuhan.

Masa kolonial Perkebunan teh di Jawa pada masa kolonial Belanda. Sekitar tahun 1926. Hubungan Jawa dengan kekuatan-kekuatan kolonial Eropa dimulai pada tahun 1522, dengan diadakannya perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis di Malaka. Setelah kegagalan perjanjian tersebut, kehadiran Portugis selanjutnya hanya terbatas di Malaka dan di pulau-pulau sebelah timur nusantara saja.

Sebuah ekspedisi di bawah pimpinan Cornelis de Houtman yang terdiri dari empat buah kapal pada tahun 1596, menjadi awal dari hubungan antara Belanda dan Indonesia. [22] Pada akhir abad ke-18, Belanda telah berhasil memperluas pengaruh mereka terhadap kesultanan-kesultanan di pedalaman Pulau Jawa (lihat Perusahaan Hindia Timur Belanda di Indonesia).

Meskipun orang-orang Jawa adalah pejuang yang pemberani, konflik internal telah menghalangi mereka membentuk aliansi yang efektif dalam melawan Belanda. Sisa-sisa Mataram bertahan sebagai Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Para raja Jawa mengklaim berkuasa atas kehendak Tuhan, dan Belanda mendukung sisa-sisa aristokrasi Jawa tersebut dengan cara mengukuhkan kedudukan mereka sebagai penguasa wilayah atau bupati dalam lingkup administrasi kolonial.

Di awal masa kolonial, Jawa memegang peranan utama sebagai daerah penghasil beras. Pulau-pulau penghasil rempah-rempah, misalnya kepulauan Banda, secara teratur mendatangkan beras dari Jawa untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

[23] Inggris sempat menaklukkan Jawa pada tahun 1811. Jawa kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Britania Raya, dengan Sir Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderalnya. Pada tahun 1814, Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda sebagaimana ketentuan pada Traktat Paris.

[24] Penduduk Pulau Jawa kemungkinan sudah mencapai 10 juta orang pada tahun 1815. [25] Pada paruh kedua abad ke-18, mulai terjadi lonjakan jumlah penduduk di kadipaten-kadipaten sepanjang pantai utara Jawa bagian tengah, dan dalam abad ke-19 seluruh pulau mengalami pertumbuhan populasi yang cepat.

Berbagai faktor penyebab pertumbuhan penduduk yang besar antara lain termasuk peranan pemerintahan kolonial Belanda, yaitu dalam menetapkan berakhirnya perang saudara di Jawa, meningkatkan luas area persawahan, serta mengenalkan tanaman pangan lainnya seperti singkong dan jagung yang dapat mendukung ketahanan pangan bagi populasi yang tidak mampu membeli beras.

[26] Pendapat lainnya menyatakan bahwa meningkatnya beban pajak dan semakin meluasnya perekrutan kerja di bawah Sistem Tanam Paksa menyebabkan para pasangan berusaha memiliki lebih banyak anak dengan harapan dapat meningkatkan jumlah anggota keluarga yang dapat menolong membayar pajak dan mencari nafkah. [27] Pada tahun 1820, terjadi wabah kolera di Jawa dengan korban 100.000 jiwa. [28] Kehadiran truk dan kereta api sebagai sarana transportasi bagi masyarakat yang sebelumnya hanya menggunakan kereta dan kerbau, penggunaan sistem telegraf, dan sistem distribusi yang lebih teratur di bawah pemerintahan kolonial; semuanya turut mendukung terhapusnya kelaparan di Jawa, yang pada gilirannya meningkatkan pertumbuhan penduduk.

Tidak terjadi bencana kelaparan yang berarti di Jawa semenjak tahun 1840-an hingga masa pendudukan Jepang pada tahun 1940-an. [29] Selain itu, menurunnya usia awal pernikahan selama abad ke-19, menyebabkan bertambahnya jumlah tahun di mana seorang perempuan dapat mengurus anak.

[29] Masa kemerdekaan Nasionalisme Indonesia mulai tumbuh di Jawa pada awal abad ke-20 (lihat Kebangkitan Nasional Indonesia), dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan setelah Perang Dunia II juga berpusat di Jawa. Kudeta G 30 S PKI yang gagal dan kekerasan anti-komunis selanjutnya pada tahun 1965-66 sebagian besar terjadi di pulau ini. Jawa saat ini mendominasi kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia, yang berpotensi menjadi sumber kecemburuan sosial.

Pada tahun 1998 terjadi kerusuhan besar yang menimpa etnis Tionghoa-Indonesia, yang merupakan salah satu dari berbagai kerusuhan berdarah yang terjadi tidak berapa lama sebelum runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto yang telah berjalan selama 32 tahun.

[30] Pada tahun 2006, Gunung Merapi meletus dan diikuti oleh gempa bumi yang melanda Yogyakarta. Jawa juga sempat terkena sedikit dampak wabah flu burung, serta merupakan lokasi bencana semburan lumpur panas Sidoarjo. Geografi dan Geologi Gunung Semeru dan Bromo di Jawa Timur.

Geografi Jawa bertetangga dengan Sumatra di sebelah barat, Bali di timur, Kalimantan di utara, dan Pulau Natal di selatan. Pulau Jawa merupakan pulau ke-13 terbesar di dunia. Perairan yang mengelilingi pulau ini ialah Laut Jawa di utara, Selat Sunda di barat, Samudera Hindia di selatan, serta Selat Bali dan Selat Madura di timur. Jawa memiliki luas sekitar 138.793,6 km 2. [31] Sungai yang terpanjang ialah Bengawan Solo, yaitu sepanjang 600 km.

[32] Sungai ini bersumber di Jawa bagian tengah, tepatnya di gunung berapi Lawu. Aliran sungai kemudian mengalir ke arah utara dan timur, menuju muaranya di Laut Jawa di dekat kota Surabaya. Hampir keseluruhan wilayah Jawa pernah memperoleh dampak dari aktivitas gunung berapi. Terdapat tiga puluh delapan gunung yang terbentang dari timur ke barat pulau ini, yang kesemuanya pada waktu tertentu pernah menjadi gunung berapi aktif.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Gunung berapi tertinggi di Jawa adalah Gunung Semeru (3.676 m) dan gunung tertinggi kedua Gunung Slamet(3.432 m), sedangkan gunung berapi paling aktif di Jawa dan bahkan di Indonesia adalah Gunung Merapi (2.968 m) serta Gunung Kelud (1.731 m). Gunung-gunung dan dataran tinggi yang berjarak berjauhan membantu wilayah pedalaman terbagi menjadi beberapa daerah yang relatif terisolasi dan cocok untuk persawahan lahan basah. Lahan persawahan padi di Jawa adalah salah satu yang tersubur di dunia.

[33] Jawa adalah tempat pertama penanaman kopi di Indonesia, yaitu sejak tahun 1699. Kini, kopi arabika banyak ditanam di Dataran Tinggi Ijen baik oleh para petani kecil maupun oleh perkebunan-perkebunan besar. Dataran Tinggi Parahyangan, dilihat dari Bogor (k. 1865-1872). Suhu rata-rata sepanjang tahun adalah antara 22 °C sampai 29 °C, dengan kelembapan rata-rata 75%.

Daerah pantai utara biasanya lebih panas, dengan rata-rata 34 °C pada siang hari di musim kemarau. Daerah pantai selatan umumnya lebih sejuk daripada pantai utara, dan daerah dataran tinggi di pedalaman lebih sejuk lagi. Musim hujan berawal pada bulan Oktober dan berakhir pada bulan April, di mana hujan biasanya turun di sore hari, dan pada bulan-bulan selainnya hujan biasanya hanya turun sebentar-sebentar saja.

Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada bulan-bulan bulan Januari dan Februari. Jawa Barat bercurah hujan lebih tinggi daripada Jawa Timur, dan daerah pegunungannya menerima curah hujan lebih tinggi lagi.

Curah hujan di Dataran Tinggi Parahyangan di Jawa Barat mencapai lebih dari 4.000 mm per tahun, sedangkan di pantai utara Jawa Timur hanya 900 mm per tahun. Geologi Pemerian geologi Jawa paling lengkap diungkap dalam van Bemmelen (1949). [34] Sebagai pulau, Jawa secara geologi relatif muda.

Pembentukan dimulai dari periode Tersier. Sebelumnya, kerak bumi yang membentuk pulau ini berada di bawah permukaan laut. Aktivitas orogenis yang intensif sejak kala Oligosen dan Miosen mengangkat dasar laut sehingga pada kala Pliosen dan Pleistosen wujud Pulau Jawa sudah mulai terbentuk.

Sisa-sisa dasar laut masih tampak, membentuk fitur sebagian besar kawasan karst di selatan pulau ini. Van Bemmelen membagi Pulau Jawa dalam tujuh satuan fisiografi sebagai berikut. • Pegunungan Selatan, merupakan zona gamping bercampur sisa aktivitas vulkanis dari kala Miosen yang mengalami beberapa pengangkatan hingga periode Kuarter.

• Zona vulkanis dari periode Kuarter, dengan gunung-gunung api tinggi, sering kali dengan puncak di atas 2000 m dari permukaan laut, membentang dari barat sampai ujung timur. • Depresi Tengah, membentuk poros cekungan sebagai poros utama pulau, dengan dua depresi besar: depresi Bandung dan depresi Solo • Zona antiklinal Tengah, terdiri dari endapan-endapan kala Miosen sampai Pleistosen, dimulai dari Gunung Karang terus ke timur melewati Bogor, lembah Serayu, lalu Pegunungan Kendeng, terus sampai ke pantai utara Besuki.

• Depresi Randublatung, merupakan depresi kecil memanjang di utara Pegunungan Kendeng, terbentuk dari endapan laut dan daratan. • Antiklinorium Rembang-Madura, merupakan formasi perbukitan gamping di pantai utara Jawa Timur dan membentuk hampir semua bagian Pulau Madura • Dataran aluvial pesisir utara ( Jalur Pantura) yang terbentuk dari delta dan endapan lumpur, merupakan daratan paling muda. Demografi Pemerintahan Secara administratif pulau Jawa terdiri atas enam provinsi: • Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta • Provinsi Banten, dengan ibu kota provinsi Kota Serang • Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota provinsi Kota Bandung • Provinsi Jawa Tengah, dengan ibu kota provinsi Kota Semarang • Provinsi Jawa Timur, dengan ibu kota provinsi Kota Surabaya • Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ibu kota Kota Yogyakarta Penduduk Ragam Penduduk Pulau Jawa Dengan populasi sebesar 150 juta jiwa [35] Jawa adalah pulau yang menjadi tempat tinggal lebih dari 50% atau hampir 60% populasi Indonesia.

[35] Dengan kepadatan 1.317 jiwa/km², [35] pulau ini juga menjadi salah sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi pulau di dunia yang paling dipadati penduduk. Sekitar 42% penduduk Indonesia berasal dari etnis Jawa. [36] Walaupun demikian sepertiga bagian barat pulau ini (Jawa Barat, Banten, dan Jakarta) memiliki kepadatan penduduk lebih dari 1.500 jiwa/km 2.

[35] Sejak tahun 1970-an hingga kejatuhan Presiden Soeharto pada tahun 1998, pemerintah Indonesia melakukan program transmigrasi untuk memindahkan sebagian penduduk Jawa ke pulau-pulau lain di Indonesia yang lebih luas.

Program ini terkadang berhasil. Namun terkadang menghasilkan konflik antara transmigran pendatang dari Jawa dengan populasi penduduk setempat. Di Jawa Timur banyak pula terdapat penduduk dari etnis Madura dan Bali, karena kedekatan lokasi dan hubungan bersejarah antara Jawa dan pulau-pulau tersebut. Jakarta dan wilayah sekelilingnya sebagai daerah metropolitan yang dominan serta ibu kota negara, telah menjadi tempat berkumpulnya berbagai suku bangsa di Indonesia.

Saat ini penduduk Pulau Jawa tidak lagi identik dengan hanya suku asli/lokalnya saja seperti: Jawa, Sunda, Madura, Betawi dan Bawean. Namun sudah menjadi pusat dari segala budaya dan suku di Indonesia, didominasi migrasi pendatang dari suku Batak, suku Melayu, Suku Minang, Suku Banjar, Suku Dayak, Orang Arab, Orang Tionghoa, Orang tamil-india, Suku Bugis, Suku Lampung, Suku Rejang, suku Minahasa/Manado, Suku Bali, Suku Sasak/Lombok, Suku Aceh, Suku Karo, Suku Nias, Suku Gayo, Suku Komering, Suku asal NTT, Suku asal NTB lainnya selain Lombok/Sasak, suku asal Maluku lainnya selain Ambon, Suku Toraja, Suku Gorontalo, Suku Buton, suku Ambon dan suku Makassar yang terkenal sebagai pelayar handal/pelaut ulung serta juga terkenal dengan jiwa semangat merantaunya.

Penduduk Pulau Jawa perlahan-lahan semakin berciri urban, dan kota-kota besar serta kawasan industri menjadi pusat-pusat kepadatan tertinggi. Berikut adalah 10 kota besar di Jawa berdasarkan jumlah populasi tahun 2005. [37] Jaringan Transportasi Jawa Urutan Kota, Provinsi Populasi 1 Jakarta, DKI Jakarta 12.589.247 2 Surabaya, Jawa Timur 4.611.506 3 Bandung, Jawa Barat 3.580.570 4 Bekasi, Jawa Barat 2.793.478 5 Tangerang, Banten 2.221.595 6 Depok, Jawa Barat 2.178.733 7 Semarang, Jawa Tengah 1.974.903 8 Bogor, Jawa Barat 1.154.467 9 Malang, Jawa Timur 1.021.356 10 Surakarta, Jawa Tengah 586.397 Etnis dan budaya Seorang pemuda berpakaian tradisional Jawa dengan kelengkapan: blangkon, kain batik, dan keris (1913).

Mitos asal usul Pulau Jawa serta gunung-gunung berapinya diceritakan dalam sebuah kakawin, bernama Tangtu Panggelaran. Komposisi etnis di Pulau Jawa secara relatif dapat dianggap homogen, meskipun memiliki populasi yang besar dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Terdapat dua kelompok etnis besar pulau ini, yaitu etnis Jawa dan etnis Sunda. Etnis Madura dapat pula dianggap sebagai kelompok ketiga; mereka berasal dari Pulau Madura yang berada di utara pantai timur Jawa, dan telah bermigrasi secara besar-besaran ke Jawa Timur sejak abad ke-18.

[38] Jumlah orang Jawa adalah sekitar dua-pertiga penduduk pulau ini, sedangkan orang Sunda mencapai 25% dan orang Madura mencapai 4% lebih atau hampir 5%. [38] Empat wilayah budaya utama terdapat di pulau ini: sentral budaya Jawa ( kejawen) di bagian tengah dan budaya Jawa pesisir ( pasisiran) di pantai utara, budaya Sunda ( pasundan) di bagian barat, dan budaya Osing ( blambangan) di ujung timur.

Budaya Madura terkadang dianggap sebagai yang kelima, terutama di kawasan pesisir utara Tapal Kuda, mengingat hubungan eratnya dengan budaya pesisir Jawa. [38] Kejawen dianggap sebagai budaya Jawa yang paling dominan. Aristokrasi Jawa yang tersisa berlokasi di wilayah ini, yang juga merupakan etnis dengan populasi dominan di Indonesia.

Bahasa, seni, dan tata krama yang berlaku di wilayah ini dianggap yang paling halus dan merupakan panutan masyarakat Jawa. [38] Tanah pertanian tersubur dan terpadat penduduknya di Indonesia membentang sejak dari Banyumas di sebelah barat hingga ke Blitar di sebelah timur. [38] Jawa merupakan tempat berdirinya banyak kerajaan yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara, [39] dan karenanya terdapat berbagai karya sastra dari para pengarang Jawa.

Salah satunya ialah kisah Ken Arok dan Ken Dedes, yang merupakan kisah anak yatim yang berhasil menjadi raja dan menikahi ratu dari kerajaan Jawa kuno; dan selain itu juga terdapat berbagai terjemahan dari Ramayana dan Mahabharata.

Pramoedya Ananta Toer adalah seorang penulis kontemporer ternama Indonesia, yang banyak menulis berdasarkan pengalaman pribadinya ketika tumbuh dewasa di Jawa, dan ia banyak mengambil unsur-unsur cerita rakyat dan legenda sejarah Jawa ke dalam karangannya. Bahasa Bahasa-bahasa yang dipertuturkan di Jawa (bahasa Jawa warna putih).

Tiga bahasa utama yang dipertuturkan di Jawa adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Madura. Bahasa-bahasa lain yang dipertuturkan meliputi bahasa Betawi (suatu dialek lokal dari rumpun bahasa Melayu di wilayah Jakarta), Bahasa Bawean (erat hubungannya dengan bahasa Madura), dan bahasa Bali.

[40] Sebagian besar besar penduduk mampu berbicara dalam bahasa Indonesia, yang sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi merupakan bahasa kedua mereka. Agama dan kepercayaan Jawa adalah kancah pertemuan dari berbagai agama dan budaya. Pengaruh budaya India adalah yang datang pertama kali dengan agama Hindu- Siwa dan Buddha, yang menembus secara mendalam dan menyatu dengan tradisi adat dan budaya masyarakat Jawa.

[41] Para brahmana kerajaan dan pujangga istana mengesahkan kekuasaan raja-raja Jawa, serta mengaitkan kosmologi Hindu dengan susunan politik mereka. [41] Meskipun kemudian agama Islam menjadi agama mayoritas, kantong-kantong kecil pemeluk Hindu tersebar di seluruh pulau. Terdapat populasi Hindu yang signifikan di sepanjang pantai timur dekat Pulau Bali, terutama di sekitar kota Banyuwangi. Sedangkan komunitas Buddha umumnya saat ini terdapat di kota-kota besar, terutama dari kalangan Tionghoa-Indonesia.

Sekumpulan batu nisan Muslim yang berukiran halus dengan tulisan dalam bahasa Jawa Kuno dan bukan bahasa Arab ditemukan dengan penanggalan tahun sejak 1369 di Jawa Timur. Damais menyimpulkan itu adalah makam orang-orang Jawa yang sangat terhormat, bahkan mungkin para bangsawan. [42] M.C. Ricklefs berpendapat bahwa para penyebar agama Islam yang berpaham sufi-mistis, yang mungkin dianggap berkekuatan gaib, adalah agen-agen yang menyebabkan perpindahan agama para elit istana Jawa, yang telah lama akrab dengan aspek mistis agama Hindu dan Buddha.

[43] Sebuah batu nisan seorang Muslim bernama Maulana Malik Ibrahim yang bertahun 1419 (822 Hijriah) ditemukan di Gresik, sebuah pelabuhan di pesisir Jawa Timur.

Tradisi Jawa menyebutnya sebagai orang asing non-Jawa, dan dianggap salah satu dari sembilan penyebar agama Islam pertama di Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi ( Walisongo), meskipun tidak ada bukti tertulis yang mendukung tradisi lisan ini.

Masjid di Pati, Jawa Tengah, pada masa kolonial. Masjid ini menggabungkan gaya tradisional Jawa (atap bertingkat) dengan arsitektur Eropa. Saat ini hampir 100% suku Madura, Betawi, Bawean, & Sunda, serta sekitar 95 persen suku Jawa menganut agama Islam. Agama Islam sangat kental memberi pengaruh pada suku Betawi, Banten, Cirebon sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Sunda.

Muslim suku Jawa dapat dibagi menjadi abangan (lebih sinkretis) dan santri (lebih agamais). Dalam sebuah pondok pesantren di Jawa, para kyai sebagai pemimpin agama melanjutkan peranan para resi pada masa Hindu. Para santri dan masyarakat di sekitar pondok umumnya turut membantu menyediakan kebutuhan-kebutuhannya. [41] Tradisi pra-Islam di Jawa juga telah membuat pemahaman Islam sebagian orang cenderung ke arah mistis. Terdapat masyarakat Jawa yang berkelompok dengan tidak terlalu terstruktur di bawah kepemimpinan tokoh keagamaan, yang menggabungkan pengetahuan dan praktik-praktik pra-Islam dengan ajaran Islam.

[41] Agama Katolik Roma tiba di Indonesia pada saat kedatangan Portugis dengan perdagangan rempah-rempah. [44] Agama Katolik mulai menyebar di Jawa Tengah ketika Frans van Lith, seorang imam dari Belanda, datang ke Muntilan, Jawa Tengah pada tahun 1896.

Kristen Protestan tiba di Indonesia saat dimulainya kolonialisasi Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) pada abad ke-16. Kebijakan VOC yang melarang penyebaran agama Katolik secara signifikan meningkatkan persentase jumlah penganut Protestan di Indonesia. [45] Komunitas Kristen terutama terdapat di kota-kota besar, meskipun di beberapa daerah di Jawa tengah bagian selatan terdapat pedesaan yang penduduknya memeluk Katolik. Terdapat kasus-kasus intoleransi bernuansa agama yang menimpa umat Katolik dan kelompok Kristen lainnya.

[46] Tahun 1956, Kantor Departemen Agama di Yogyakarta melaporkan bahwa terdapat 63 sekte aliran kepercayaan di Jawa yang tidak termasuk dalam agama-agama resmi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 35 berada di Jawa Tengah, 22 di Jawa Barat dan 6 di Jawa Timur.

[41] Berbagai aliran kepercayaan (juga disebut kejawen atau kebatinan) tersebut, di antaranya yang terkenal adalah Subud, memiliki jumlah anggota yang sulit diperkirakan karena banyak pengikutnya mengidentifikasi diri dengan salah satu agama resmi pula.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

{INSERTKEYS} [47] Ekonomi dan Mata pencaharian Wanita Jawa menanam padi di persawahan dekat Prambanan, Yogyakarta. Awalnya, perekonomian Jawa sangat tergantung pada sektor pertanian dan perkebunan, khususnya dari bercocok tanam di areal persawahan. Kerajaan-kerajaan kuno di Jawa, seperti Tarumanagara, Mataram, dan Majapahit, sangat bergantung pada panen padi dan pajaknya. Jawa terkenal sebagai lumbung padi dan menjadi pengekspor beras sejak zaman dahulu. Secara tidak langsung tanah jawa yang subur menjadi kontribusi terhadap pertumbuhan penduduk pulau ini.

Perdagangan dengan negara-negara di Asia lainnya seperti India dan Tiongkok sudah terjadi pada awal abad ke-4, terbukti dengan ditemukannya beberapa peninggalan sejarah berupa keramik Tiongkok dari periode tersebut. Selain itu Jawa juga terlibat aktif dalam perdagangan domestik misalnya perdagangan rempah-rempah Maluku yang sudah dirintis semenjak era Majapahit hingga era Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC).

Perusahaan dagang tersebut mendirikan pusat administrasinya di Batavia pada abad ke-17, yang kemudian terus dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda sejak abad ke-18. Selama masa penjajahan, Belanda memperkenalkan budidaya berbagai tanaman komersial seperti tebu, kopi, karet, teh, kina, dan lain-lain. Di beberapa wilayah Jawa dibuka lahan perkebunan dalam skala besar dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Beberapa komoditas berhasil dikembangkan di Jawa salah satunya adalah Kopi.

Kopi Jawa bahkan mendapatkan popularitas global di awal ke-19 dan abad ke-20, sehingga nama Java telah menjadi sinonim untuk kopi. Jawa telah menjadi pulau paling berkembang di Indonesia sejak era Hindia Belanda hingga saat ini. Jaringan transportasi jalan yang telah ada sejak zaman kuno dipertautkan dan disempurnakan dengan dibangunnya Jalan Raya Pos Jawa oleh Daendels di awal abad ke-19. Kebutuhan transportasi produk-produk komersial dari perkebunan di pedalaman menuju pelabuhan di pantai, telah memacu pembangunan jaringan kereta api di Jawa.

Saat ini, industri, bisnis dan perdagangan, juga jasa berkembang di kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung, sedangkan kota-kota kesultanan tradisional seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon menjaga warisan budaya keraton dan menjadi pusat seni, budaya dan pariwisata.

Kawasan industri juga berkembang di kota-kota sepanjang pantai utara Jawa, terutama di sekitar Cilegon, Tangerang, Bekasi, Karawang, Gresik, dan Sidoarjo. Jaringan jalan tol dibangun dan diperluas sejak masa pemerintahan Soeharto hingga sekarang, yang menghubungkan pusat-pusat kota dengan daerah sekitarnya, di berbagai kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, dan Surabaya.

Selain jalan tol tersebut, di pulau ini juga terdapat 16 jalan raya nasional. Lihat pula • Bahasa Jawa • Bahasa Sunda • Bahasa Madura • Bahasa Betawi • Bahasa Bawean • Suku Jawa • Suku Sunda • Suku Madura • Suku Betawi • Suku Bawean Pranala luar • (Inggris) Segala hal mengenai pulau Jawa • (Indonesia) Objek wisata di Pulau Jawa • (Inggris) Project Gutenberg Library: Monumental Java Monumental Java dan mesin pencarian untuk kata 'Java' Books: Java (sorted by popularity) Referensi • ^ a b Raffles, Thomas E.: "The History of Java".

Oxford University Press, 1965 . Page 3 • ^ "Malay Words of Sanskrit Origin - वेद Veda". veda.wikidot.com. • ^ Raffles, Thomas E.: " The History of Java". Oxford University Press, 1965. Page 2 • ^ "History Of Ancient India (portraits Of A Nation), 1/e". Sterling Publishers Pvt. Ltd. 18 Apr 2010 – via Google Books. • ^ Hatley, R., Schiller, J., Lucas, A., Martin-Schiller, B., (1984).

"Mapping cultural regions of Java" in: Other Javas away from the kraton. pp. 1–32. • ^ J. Oliver Thomson (2013). History of Ancient Geography. Cambridge University Press. hlm. 316–317. ISBN 9781107689923. • ^ Lombard, Denys (2005) . Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. • ^ Mills, J.V.G.

(1970). Ying-yai Sheng-lan: The Overall Survey of the Ocean Shores [1433]. Cambridge: Cambridge University Press. • ^ Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008. • ^ Yule, Sir Henry (1913).

[ Cathay and the way thither: being a collection of medieval notices of China vol. III]. London: The Hakluyt Society. • ^ Braginsky, Vladimir. 1998. Two Eastern Christian sources on medieval Nusantara. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 154(3): 367–396. • ^ Zenkovsky, Serge A. (1974). Medieval Russia's epics, chronicles, and tales. New York: Dutton. hlm. 345–347.

ISBN 0525473637. • ^ Maharsi. Kamus Jawa Kawi Indonesia. Pura Pustaka. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Basya, Fahmi (2014). Indonesia Negeri Saba. Jakarta: Zahira. ISBN 978-602-1139-48-6. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Pope, G G (1988).

"Recent advances in far eastern paleoanthropology". Annual Review of Anthropology. 17: 43–77. doi: 10.1146/annurev.an.17.100188.000355. cited in Whitten, T (1996). The Ecology of Java and Bali.

Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309–312. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Pope, G (August 15, 1983). "Evidence on the Age of the Asian Hominidae". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 80 (16): 4,988–4992. doi: 10.1073/pnas.80.16.4988.

PMC 384173 . PMID 6410399. cited in Whitten, T (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); de Vos, J.P. (9 December 1994). "Dating hominid sites in Indonesia" (PDF). Science Magazine. 266 (16): 4,988–4992. doi: 10.1126/science.7992059. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) cited in Whitten, T (1996).

The Ecology of Java and Bali. {/INSERTKEYS}

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ [1]-Cipari archaeological park discloses prehistoric life in West Java. • ^ Ricklefs (1991), pp. 16–17 • ^ Ricklefs (1991), p. 15. • ^ Sastropajitno, Warsito (1958). Rekonstruksi Sedjarah Indonesia. Zaman Hindu, Yavadvipa, Srivijaya, Sailendra.

Yogyakarta: PT. Pertjetakan Republik Indonesia. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ W.P Groeneveldt (1880). Notes on the Malay Archipelago and Malacca Compiled from Chinese Sources. Batavia. • ^ Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008. • ^ Ames, Glenn J. (2008). The Globe Encompassed: The Age of European Discovery, 1500-1700. hlm. 99. • ^ St. John, Horace Stebbing Roscoe (1853). The Indian Archipelago: its history and present state, Volume 1.

Longman, Brown, Green, and Longmans. hlm. 137. • ^ Atkins, James (1889). The Coins And Tokens Of The Possessions And Colonies Of The British Empire. London: Quaritch, Bernard. hlm. 213. • ^ Java (island, Indonesia). Encyclopædia Britannica. • ^ Taylor (2003), hlm. 253. • ^ Taylor (2003), hlm. 253-254. • ^ Byrne, Joseph Patrick (2008). Encyclopedia of Pestilence, Pandemics, and Plagues: A-M.

ABC-CLIO. hlm. 99. ISBN 0313341028. • ^ a b Taylor (2003), hlm. 254. • ^ "Ethnic Chinese tell of mass rapes". BBC News. 23 June 1998. Diakses tanggal 28 April 2010. • ^ Monk, K.A. (1996). The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 7. ISBN 962-593-076-0. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Management of Bengawan Solo River Area Diarsipkan 2007-10-11 di Wayback Machine.

Jasa Tirta I Corporation 2004. Diakses 26 Juli 2006. • ^ Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since c.1300 (2nd edition). London: MacMillan. hlm. 15. ISBN 0-333-57690-X. • ^ Bemmelen, R.W van. 1949. The Geology of Indonesia. The Hague. Government Printing Office. • ^ a b c d "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-08-24. Diakses tanggal 2011-03-16. • ^ "East Asia/Southeast Asia :: Indonesia — The World Factbook - Central Intelligence Agency".

www.cia.gov. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-12-10. Diakses tanggal 2011-03-16. • ^ "Indonesia: Provinces, Cities & Municipalities". City Population. Diakses tanggal 2010-04-28. • ^ a b c d e Hefner, Robert (1997). Java. Singapore: Periplus Editions. hlm. 58. ISBN 962-593-244-5.

• ^ Lihat puisi Wallace Stevens" Tea" yang menampilkan suatu kiasan dalam menghargai budaya Jawa. • ^ Languages of Java and Bali – Ethnologue. Terdapat sumber-sumber lain yang menyatakan beberapa dari bahasa-bahasa ini sebagai dialek. • ^ a b c d e van der Kroef, Justus M. (1961). "New Religious Sects in Java". Far Eastern Survey. 30 (2): 18–15. doi: 10.1525/as.1961.30.2.01p1432u. JSTOR 3024260. • ^ Damais, Louis-Charles, 'Études javanaises, I: Les tombes musulmanes datées de Trålåjå.' BEFEO, vol.

54 (1968), hlm. 567-604. • ^ Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi, 2nd Edition. London: MacMillan. ISBN 0-333-57689-6.

• ^ cf. Bunge (1983), chapter Christianity. • ^ Goh, Robbie B.H. Christianity in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. Hlm. 80. ISBN 981-230-297-2. OCLC 61478898. • ^ Epa, Konradus. "Christians refuse to cancel Christmas". UCA News. • ^ Beatty, Andrew, Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account, Cambridge University Press 1999, ISBN 0-521-62473-8 Tangerang · Serang · Cilegon · Tangerang Selatan · Bandung · Banjar · Bekasi · Bogor · Cimahi · Cirebon · Depok · Sukabumi · Tasikmalaya · Jakarta Barat · Jakarta Pusat · Jakarta Selatan · Jakarta Timur · Jakarta Utara · Magelang · Pekalongan · Salatiga · Semarang · Surakarta · Tegal · Batu · Blitar · Kediri · Madiun · Malang · Mojokerto · Pasuruan · Probolinggo · Surabaya · Yogyakarta Suku bangsa • Halaman ini terakhir diubah pada 29 April 2022, pukul 01.56.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Pulau Jawa merupakan salah satu pulau besar yang dipunyai Negara Indonesia.

Pulau ini mempunyai gunung – gunung tinggi yang tersebar pada setiap wilayahnya. Secara administratif pulau Jawa dapat dibagi menjadi enam provinsi, yaitu diantaranya adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta serta Jawa Timur. Dengan luas wilayah nya kurang lebih 126.700 km2. Hal ini menjadikan pulau Jawa menempati peringkat sebagai pulau yang terluas urutan ke-5 di Indonesia.

Pulau Jawa adalah pulau yang terpadat di Indonesia dengan jumlah penduduk yaitu mencapai 160 juta jiwa, yang mana pada artinya lebih dari 60 persen populasi penduduk Indonesia terdapat di pulau Jawa. Selain itu juga, kepadatan penduduk di pulau Jawa sendiri mencapai 1.317 jiwa/km2. Padatnya penduduk di pulau Jawa menjadikan pulau ini dapat dihuni oleh suku atau etnis yang beragam. Berikut ini ialah beberapa macam suku bangsa di pulau Jawa antara lain sebagai berikut : • Suku Jawa Suku Jawa merupakan suku bangsa yang dominan di pulau Jawa, selain itu pula suku Jawa adalah suku bangsa terbesar di Indonesia, karena sekitar 41,7 persen penduduk Indonesia merupakan suku Jawa.

Suku Jawa berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Suku Jawa sendiri mempunyai beberapa cabang suku lain, contohnya seperti suku Samin yang berada di Jawa Tengah.Lalu suku Tengger yang menetap di kawasan pegunungan Bromo yang mana merupakan salah satu taman wisata alam di Negara Indonesia, sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi juga suku Osing atau sering disebut Suku Using yang merupakan penduduk asli Banyuwangi.

Suku Jawa sendiri dikenal mempunyai logat atau dialek yang halus dan lembut. Mayoritas suku Jawa memakai bahasa Jawa pada kehidupan nya sehari – hari. Bahasa Jawa sendiri mempunyai pembagian tingkatan, yaitu diantaranya adalah bahasa Jawa ngoko, bahasa Jawa madya, serta bahasa Jawa karma (kromo). Pembagian tingkatan bahasa ini berdasarkan atas perbedaan usia, tingkat kekerabatan serta tingkat derajat nya antara siapa yang berbicara dan siapa yang diajak bicara.

• Suku Sunda Suku Sunda atau urang Sunda merupakan suatu kelompok etnis yang merujuk kepada penduduk pulau Jawa di bagian barat. Suku Sunda berdomisili di wilayah Tatar Pasundan, yaitu diantaranya adalah Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, wilayah bagian barat Jawa Tengah, dan juga Lampung. Sekitar 15,2 persen penduduk Indonesia merupakan orang Sunda, yang mana berarti suku Sunda adalah suku terbesar kedua setelah suku Jawa.

Suku Sunda sendiri mempunyai sub – etnis lain, contohnya seperti suku Baduy atau urang kanekes yang terbagi menjadi dua, yaitu suku Baduy luar dan suku Baduy dalam.

Mayoritas suku Sunda pada kehidupan sehari – hari memakai bahasa Sunda, akan tetapi bahasa sunda yang digunakan mempunyai dialek yang beragam.

Keberagaman dialek ini karena percampuran bahasa Sunda dengan bahasa daerah yang lain. Berikut ini adalah dialek – dialek bahasa yang dipakai oleh suku Sunda yaitu diantarannya sebagai berikut : • Dialek utara yang melingkup daerah Sunda bagian utara, yaitu diantaranya kota – kota di dataran pantai utara (pantura). • Dialek selatan atau yang disebut Priangan yang melingkup kota di daerah Sunda selatan, yaitu Bandung dan daerah sekitarnya.

• Dialek barat yang melingkup daerah Sunda di bagian barat, yaitu Banten dan juga sebagian kecil di daerah Lampung. • Dialek Tengah bagian timur yang melingkup daerah perbatasan Jawa Tengah, seperti daerah Indramayu dan juga Majalengka. • Dialek Sunda bagian tenggara yang melingkup di daerah Ciamis dan juga sekitarnya.

• Dialek Cirebon atau pun dialek timur laut yang melingkup daerah Cirebon dan juga daerah sekitarnya. • Suku Betawi Suku Betawi adalah suku yang secara umum penduduk nya bertempat tinggal atau menetap di daerah wilayah DKI Jakarta. Kata Betawi berasal dari kata ‘Batavia’. Nama Batavia berasal dari suku Batavia yang dimana merupakan nenek moyang bangsa Belanda pada zaman dahulu yaitu zaman Kekaisaran Romawi, dimana saat ini Belanda adalah salah satu negara terkaya yang ada di dunia.

Representasi kehidupan sehari – hari suku Betawi bisa kita tonton pada film “Si Doel Anak Sekolah”. Dimana pada film itu kental dengan unsur – unsur khas dari suku Betawi, baik dari logat atau pun dialek, tradisi, kesenian, dan juga lain sebagainya.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa jika suku Betawi adalah sub – etnis dari suku Sunda. Ada pula yang berpendapat jika suku Betawi adalah suku (etnis) hasil perkawinan silang antar etnis lain yang telah hidup lebih dahulu di daerah Jakarta, seperti suku Jawa, Sunda, Melayu, Arab, Tionghoa, Bugis dan juga suku Makassar.

Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Lance Castles mengungkapkan jika kelompok yang mengaku sebagai suku atau etnis Betawi. Secara biologis berarti kaum berdarah campuran yang memiliki keturunan berbagai suku bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia atau Jakarta • Suku Madura Suku Madura adalah suku yang berasal dari pulau Madura, tetapi dewasa ini suku Madura telah tersebar di pulau Jawa bahkan samapi di luar pulau Jawa.

Selain menghuni pada pulau Madura, suku Madura pun juga mayoritas tinggal di beberapa kota di Jawa Timur, contohnya seperti Situbondo, Bondowoso, Jember, Probolinggo, Lumajang, Surabaya, Malang, serta Kota Pasuruan.

Suku Madura adalah suku yang sering merantau ke berbagai daerah dan juga dikenal mempunyai etos kerja yang tinggi. Biasanya suku Madura yang merantau sering berprofesi sebagai wirausahawan, baik sebagai pedagang atau pun penjual jasa. Suku Madura terkenal dengan logat atau dialek yang khas dan juga unik untuk didengar. Salah satu keunikan logat dari suku Madura yaitu terletak pada bagian pelafalan dengan penekanan pada beberapa huruf, seperti huruf L pada kata poleh (lagi)dapat dibaca polleh.

Selain itu, keunikan logat suku Madura sendiri terletak pada bagian yaitu pengulangan kata. Kata ulang yang mereka ucapkan diambil dari suku kata terakhir sebelum diucapkan nya kembali, misalnya saja seperti taman kanak-kanak (TK) diucapkan man nak kanak, atau kata sate dilafalkan te sate.

Seperti halnya bahasa Jawa yang mempunyai tingkatan dalam penggunaannya, bahasa Madura pula memiliki tingkatan pada penggunaan sehari – hari. Tingkatan itu berdasarkan pada perbedaan usia, kekerabatan dan juga tingkatan derajat. Nah, itulah ada beberapa suku bangsa pada pulau Jawa. Selain suku atau etnis yang disebutkan diatas, masih banyak juga suku yang lainnya, baik suku – suku yang berasal dari seluruh Indonesia ataupun suku yang berasal dari luar negeri. Suku lain yang terdapat di pulau Jawa adalah para perantau yang lama menghuni pulau Jawa sehingga membaur dengan suku lain yang ada di pulau Jawa itu sendiri.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman sekalian. demikianlah artikel dari ayoksinau.com mengenai Suku Bangsa di Pulau Jawa dan Bahasanya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya. Artikel Terkait • Niat Puasa Qadha Ramadhan Lengkap dengan Arab, Latin dan Terjemahannya • Rumus Modus Data kelompok • Niat Puasa Syawal 2022 Lengkap dengan Arab, Latin dan Terjemahannya • Pengertian dan Macam-macam Fungsi dalam Matematika • Mencari Rata-rata Gabungan • Cara Menghitung Konsentrasi Sebuah Larutan • Pengertian Hidrokarbon dan Contohnya • Arti Pancasila Sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup • Bacaan Do'a Malam Lailatul Qadar dan Amalan Sesuai Ajaran Nabi • Sebab Nabi Batal Membocorkan Waktu Lailatul Qadar
Bahasa Jawa yang digunakan di Jawa Timur yang cukup besar penuturnya adalah bahasa Jawa dialek Arekan atau bahasa Jawa Jawa Timuran.

Ada beberapa yang khas dari Jawa Timur. Hal ini terjadi tak lepas dari adanya persinggungan antara bahasa Jawa dan Bahasa Madura yang penuturnya juga menyebar di seluruh wilayah Jawa Timur. Bahkan bahasa Madura menjadi bahasa mayoritas di beberapa kabupaten di Jawa Timur selain di pulau Madura. Bahasa Jawa dialek Arekan atau juga lebih sering dikenal sebagai bahasa Arekan (dalam Bahasa Jawa : boso Arekan) atau Boso Suroboyoan merupakan sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Surabaya dan sekitarnya.

Dialek ini sudah berkembang dan digunakan oleh sebagian besar masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Dilihat dari tata urutan tingkat penggunaan bahasa Jawa. Secara struktural bahasa, bahasa Jawa dialek Suroboyoan dapat disebut sebagai bahasa yang paling kasar. Akan tetapi, bahasa dengan tingkatan yang lebih halus (kromo) masih dipakai oleh beberapa orang di Surabaya.

Hal ini ditujukan sebagai bentuk penghormatan terhadap atas orang lain. Biasanya digunakan untuk orang yang belum dikenal atau lebih dihormati.

Namun, penggunaan bahasa Jawa halus (tingkat jawa krama madya sampai krama inggil) di kalangan orang-orang Surabaya secara kebanyakan tidaklah sehalus bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat di Jawa Tengah. Terutama adalah bahasa yang digunakan sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi wilayah Yogyakarta dan Surakarta (Solo). Bahasa Jawa halus dialek suroboyoan banyak mencampurkan kata sehari-hari yang sebenarnya lebih kasar.

Persebaran penggunaan bahasa Jawa dialek arekan atau suroboyoa di Jawa Timur beberapa kabupaten. Adapun penggunaan penggunaan dialek Suroboyoan (Jawa Arek) ini diperkirakan sampai wilayah berikut ini.

Di bagian selatan sampai Kabupaten Jombang. Wilayah kecamata Perak, Jombang bagian selatan telah menggunakan dialek Jawa Kulonan (Jawa Tengahan), sementara wilayah Perak bagian utara menggunakan dialek suroboyoan.

Di bagian selatan, juga ada di wilayah Malang. Kota dan kabupaten malang, masyarakatnya juga menggunakan bahasa Jawa dialek arekan ini. Meskipun Malang juga memiliki kekhasan sendiri dalam dialek bahasa Jawanya yaitu bahasa Ngalam (dibalik dari Malang). Pembalikan ini menjadi ciri khas bahasa Jawaa dialek malang. Namun, secara keseluruhan bahasa yang digunakan, dan yang dibalik, juga dialek suroboyoan. Persebaran di bagian barat, wilayah yang penduduknya menggunakan bahasa Jawa dialek suroboyoan ini meliputi wilayah Gresik dan Kabupaten Lamongan.

Adapun di bagian timur, persebaran penggunaan bahasa Jawa dialek Suroboyoan meliputi kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Kab. Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi, Jember, hingga Banyuwangi. Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Juga: 5 Data dan Fakta Unik Bahasa Jember Sementara itu, di bagian barat Provinsi Jawa Timur, bahasa Jawa yang digunakan mirip dengan bahasa Jawa kulonan.

Penggunaan bahasa Jawa Kulonan juga menyebar di hampir seluruh bagian Provinsi Jawa Timur. Jadi, selain memahami dan aktif menggunakan bahasa Jawa Suroboyoan. Penutur bahasa Jawa di Jawa Timur juga mampu dan aktif berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa Kulonan. Pusat penutur bahasa Madura ada di Pulau Madura. Bahasa Madura juga digunakan di Ujung Timur Pulau Jawa. Wilayah yang juga disebut daerah Tapal Kuda, di kaki pegunungan Argopuro.

Wilayah tapal kuda meliputi Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Penutur bahasa Madura di Jawa Timur juga banyak di Pasuruan, Surabaya, Malang, dan Probolinggo. Penutur bahasa Madura juga tersebar di gugusan pulau-pulau yang ada di sekitar pulau Madura.

Selanjutnya bahasa yang digunakan oleh orang Jawa Timur adalah bahasa Tengger. Sebagian berpendapat bahwa bahasa Tengger itu merupakan sub dialek bahasa Jawa. Maka terkadang disebut pula bahasa Jawa dialek Tengger. Bahasa ini digunakan oleh suku Tengger. Suku Tengger adalah masyarakat yang mendiami wilayah sekitar pegunungan Bromo Tengger Semeru. Bahasa selanjutnya yang digunakan oleh orang Jawa Timur adalah bahasa Osing.

Bahasa Osing merupaka bahasa yang digunakan oleh penutur di daerah Banyuwangi. Kabupaten yang ada di ujung timur Jawa Timur. Secara linguistik, bahasa Osing termasuk dari cabang Formosa (bahasa yang asal-usulnya berasal dari kepulauan Taiwan) dalam rumpun bahasa Austronesia. Persebaran penutur atau orang yang menggunakan bahasa Osing meliputi sebagian penduduk Kabupaten Banyuwangi. Penduduk Banyuwangi juga menamakan diri Laros (akronim dari Lare Osing atau Anak Osing).

Jumlah penduduk asli Banyuwangi diperkirakan sebanyak 500 ribu jiwa. Penduduk ini secara otomatis menjadi pendukung untuk penurutan Bahasa Osing. Penutur Bahasa Osing ini yang paling dominan tersebar terutama di wilayah tengah Kabupaten Banyuwangi. Wilayah tengah ini meliputiKecamatan Kabat, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Glagah, Kalipuro, Kecamatn Srono, Kecamatan Songgon, Kecamatan Cluring, Kecamatan Giri, sebagian wilayah kota Banyuwangi, Kecamatan Gambiran, Kecamatan Singojuruh, sebagian Kecamatan Genteng, dan Licin.

Penutur bahasa Osing juga ada di daerah luar Banyuwangi. Yaitu ada di Kabupaten Jember. Penutur bahasa Osing juga ada di Kecamatan Wuluhan, Jember. Khususnya di Dusun Krajan Timur, Desa Glundengan. Namun dialek Osing di bagian selatan Jember ini telah banyak dipengaruhi oleh bahasa Jawa dan Madura. Hal ini disebabkan oleh keterisolasiannya dari daerah penutur asal bahasa Osing lainnya di Banyuwangi. Selain itu, bahasa Osing dulu juga dituturkan di beberapa kampung Osing di Jember.

Kampung Osing ada di dekat stasiun kereta api Jember. Penutur Osing juga ada di desa Biting Kecamatan Arjasa, Daerah Tegal Boto (daerah Kampus Universitas Jember), serta Desa Kemiri Kecamatan Panti dan Kecamatan Puger. Bahasa yang juga digunakan oleh orang Jawa Timur adalah Bahasa Kangean. Bahasa ini digunakan oleh suku Kangean. Penuturnya ada di kepulauan Kangean.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Secara linguistik, Bahasa ini termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Yaitu bahasa yang induknya berasal dari kepulauan Taiwan. Cikal bakal seluruh bahasa di kawasan Asia Tenggara. Anonim 9/26/2019 Lumajang pun beraneka ragam bahasa, ada bahasa jawa mataraman, bahasa jawa arekan suroboyo, bahasa jawa arekan ngalam/malangan, bahasa jawa lumajangan, bahasa jawa tengger, bahasa jawa timuran dengan kosa kata sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi bahasa osing, bahasa jawa kuno, bahasa jawa campur madura, bahasa madura logat dialek jawa, bahasa madura asli pakem, bahasa bali, bahasa pendalungan, dan masih banyak sekali.

bagaimana cara mengelompokkannya dan untuk mengidentifikasi bahasa di lumajang, saya sendiri penutur bahasa jawa timuran tapi tercampur kombinasi bahasa osing dann beberapa kosa kata madura ada juga beberapa kata bahasa tengger,dan tidak bisa berbahasa jawa kromo/halus, tidak bisa berbahasa madura, dan juga tidak mampu berbahasa osing murni, saya bingung digolongkan bahasa mana, yang jelas bukan pendalungan karena pendalungan perpaduan 2 bahasa jawa dan madura bahkan menguasai keduanya.

Balas HapusBahasa di Jawa Barat umumnya terbagi menjadi tiga bahasa mayoritas yang dituturkan masyarakat Jawa Barat yaitu Bahasa Sunda yang merupakan bahasa asli di Jawa Barat dan Banten, Bahasa Jawa dan Bahasa Betawi di daerah utara Jawa Barat dan juga bahasa yang dituturkan oleh pendatang dari luar Jawa Barat seperti Bahasa Madura, Bahasa Batak dan lain-lain.

Peta linguistik di provinsi Jawa Barat, Banten, dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Bahasa Sunda merupakan bahasa yang dituturkan oleh Suku Sunda dan mayoritas masyarakat di wilayah Jawa Barat. Bahasa Sunda merupakan bahasa mayoritas di hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat kecuali di Kota Depok, Kota Bekasi, utara Kabupaten Bekasi dan sebagian kecil wilayah utara Kabupaten Bogor serta hampir di seluruh pesisir utara Jawa Barat seperti Kabupaten Indramayu, Kota Cirebon dan sebagian utara Kabupaten Cirebon.

[1] Bahasa Sunda di Jawa Barat terbagi menjadi sekitar enam dialek yaitu: • Dialek Utara yaitu dialek yang dituturkan oleh masyarakat Sunda di sepanjang utara Jawa Barat seperti di Kabupaten Karawang (kecuali Batujaya, Pakisjaya dan Cilamaya), Kabupaten Subang dan sebagian utara Kabupaten Purwakarta.

• Dialek Barat merupakan dialek yang tergolong kasar dalam bahasa Sunda karena tidak mengenal undak usuk seperti bahasa Sunda di daerah Priangan pada umumnya. Dialek ini dituturkan di daerah Banten dan sebagian barat dari Kabupaten Bogor khususnya daerah Jasinga Raya serta sebagian barat dan utara Kabupaten Sukabumi.

• Dialek Selatan dituturkan di daerah Kabupaten Sukabumi bagian selatan, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor bagian selatan dan tenggara, Kota Bogor, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut sebagian selatan dan barat Kabupaten Bandung. • Dialek Tengah Timur dituturkan di wilayah Kabupaten Majalengka dan sebagian selatan Kabupaten Indramayu.

• Dialek Timur Laut dituturkan di daerah Kabupaten Kuningan dan bagian selatan dari Kabupaten Cirebon dan sebelah tenggara Kabupaten Indramayu. • Dialek Tenggara dituturkan oleh masyarakat Sunda di daerah Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran, Kota Cimahi, Kota Bandung dan sebelah timur Kabupaten Bandung. Bahasa Sunda dialek Tenggara merupakan bahasa Sunda yang tergolong halus karena mengenal undak usuk dalam bahasa Sunda. Bahasa Jawa [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Bahasa Jawa Bahasa Jawa merupakan minoritas yang cukup signifikan di Jawa Barat khususnya Jawa Barat bagian utara.

Bahasa Jawa di Jawa Barat umumnya dituturkan oleh masyarakat Jawa di pesisir utara Jawa Barat seperti Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon bagian utara, Kabupaten Indramayu, sebagian utara Kabupaten Subang dan Cilamaya di Kabupaten Karawang. [2] Di bagian utara Jawa Barat bagian terdapat dua dialek bahasa Jawa yaitu Basa Cerbonan dan Basa Dermayon. Bahasa Jawa yang dituturkan pendatang umumnya terdapat di kota-kota besar di Jawa Barat seperti Kota Bogor, Kota Bandung, Kota Bekasi dan Kota Depok.

Bahasa Betawi [ sunting - sunting sumber ] Informasi lebih lanjut: Bahasa Betawi Bahasa Betawi merupakan bahasa yang dituturkan oleh Suku Betawi. Bahasa Betawi terdiri atas 2 dialek, yaitu dialek Betawi Tengahan dan dialek Betawi Pinggiran yang berbatasan dengan penutur bahasa Sunda. [3] Masyarakat Betawi Tengahan meliputi wilayah Tanjung Priok atau meliputi radius 7 km dari Monumen Nasional.

Wilayah ini mayoritas dipengaruhi oleh budaya Melayu dan agama Islam yang terlihat dalam keseniannya seperti samrah, zapin, berbagai macam rebana, kuliner, griya, dan budaya lainnya. Sedangkan masyarakat Betawi Pinggiran, sering disebut orang sebagai Betawi Ora. [4] Pembagian masyarakat ini membuat terbaginya Bahasa Betawi, yakni dialek Betawi Tengah dan dialek Betawi Pinggiran.

Dialek Betawi Tengah dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di daerah DKI Jakarta bagian tengah. Dialek Betawi Pinggiran dituturkan di masyarakat yang tinggal di daerah DKI Jakarta bagian pinggiran, terutama di bagian selatan dan lebih luas di luar wilayah DKI Jakarta, seperti: • Kota Bekasi • Kabupaten Bekasi bagian tengah dan utara • Kota Depok • Kota Tangerang sebelah timur sungai Cisadane • Kota Tangerang Selatan • Kabupaten Tangerang bagian timur laut dan tenggara • Kabupaten Karawang di kecamatan Pakisjaya dan Batujaya • Kabupaten Bogor bagian utara seperti di daerah Bojonggede, Tajurhalang, Parung, sebagian utara Gunung Sindur, sebagian barat Cibinong, sebagian utara Kemang, sebagian Ciseeng, dan Gunung Putri bagian utara • Kota Bogor di kecamatan Tanah Sareal [5] Dialek Betawi Pinggiran mengubah ucapan kata-kata Melayu, yang memiliki akhir kata yang huruf "a" dengan "ah", misal "gua" menjadi "guah".

Sedangkan dari segi bahasa, dialek Betawi Tengahan terdapat banyak perubahan vokal a dalam suku kata akhir menjadi "é", misalnya kata "guna" menjadi "guné". Sementara itu, Bahasa Betawi merupakan dialek dari bahasa Melayu dengan persentase perbedaan sebesar 75,75%.

Apabila, dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya yang ada di Pulau Jawa, persentase perbedaannya di atas 81%, misalnya dengan bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Bahasa lainnya [ sunting - sunting sumber ] • ^ Berada Di Kepulauan Jawa Begini Penjelasan Masyarakat Jawa Barat Berbahasa Sunda Bukan Jawa • ^ Miliki Dialek Khas Ini Alasan Cirebon Tak Memakai Bahasa Sunda • ^ Sejarawan: Bahasa Dan Kultur Depok Itu Betawi • ^ Bahasa Orang Bekasi Merupakan Campuran Betawi, Sunda Hingga Bali • ^ Mengenal Dua Dialek Bahasa Betawi Tautan luar [ sunting - sunting sumber ] • Website Balai Bahasa Jawa Barat • Balai Bahasa Jawa Barat di Instagram • Halaman ini terakhir diubah pada 23 April 2022, pukul 12.50.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Jakarta - Bali adalah kota yang terkenal dengan keindahan alam dan kesenian tradisionalnya.

Banyak orang di seluruh dunia ingin singgah di Pulau Dewata tersebut. Karena itu penting untuk mengetahui bahasa daerah Bali kamu berkunjung ke sana.

Paling tidak kamu mengetahui bahasa sehari-hari yang dipakai. Lalu apa bahasa daerah Bali? Menurut situs Kemdikbud, bahasa daerah Baliyakni: Baca juga: Beda Arti, Ini Bahasa Bali yang Mirip Bahasa Jawa 1. Bahasa Bali Bahasa Bali dipakai di beberapa wilayah lain, misalnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Tenggara. Bahasa Bali juga dipakai di Provinsi Kalimantan Tengah tepatnya Desa Basarang Jaya, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas.

Bahasa Bali yang dipakai di Kalimantan Tengah merupakan bahasa para penduduk transmigran yang berasal dari Pulau Bali. Bahasa Bali terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Bali Aga atau Bali Mula yang dituturkan oleh penduduk Bali di daerah dataran tinggi di Bali. Selain itu dialek Bali dataran yang dituturkan oleh penduduk yang pada umumnya berdiam di daerah dataran rendah di Bali.

2. Bahasa Jawa Bahasa Jawa adalah bahasa yang yang berasal dari Pulau Jawa. Bahasa Jawa yang terdapat di Bali diucapkan di Kabupaten Buleleng. 3. Madura Bahasa Madura merupakan bahasa yang berasal dari Pulau Madura. Bahasa ini tersebar di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Kalimantan Barat. Bahasa Madura di Pulau Bali dituturkan oleh masyarakat di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.

4. Melayu Di Pulau Bali bahasa Melayu dituturkan di Kelurahan Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. 5. Sasak Bali Bahasa daerah Bali lainnya yakni Bahasa Sasak. Bahasa Sasak adalah bahasa yang berasal dari Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bahasa Sasak berkembang pula di daerah lain, termasuk di Bali, yaitu di Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, dan di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Grokgak, Kabupaten Singaraja.
Bahasa Indonesia adalah bahasa kebanggaan warga negara tanah ibu Pertiwi yang menjadi bahasa resmi dan bahasa persatuan Republik Indonesia.

Bahasa Indonesia sangat menarik jika diulas lebih mendalam karena ternyata memiliki berbagai fakta-fakta menarik yang belum tentu Anda ketahui. Berikut adalah beberapa informasi menarik tentang BAHASA INDONESIA. DAFTAR ISI • 1. Pengertian Bahasa • 2.

Tujuan Bahasa • 3. Fungsi Bahasa • 4. Manfaat Bahasa • 5. Bahasa yang Ada di Indonesia • 6. Sejarah Bahasa Indonesia • 7. Ciri-ciri Bahasa Indonesia • 8. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia • 9.

Ragam Bahasa dan Laras Bahasa • 10. Bahasa Indonesia di Luar Negeri • 11. Pendidikan Bahasa Indonesia 1. Pengertian Bahasa Ada beberapa pengertian bahasa secara umum dan menurut para ahli bahasa. Pengertian bahasa secara umum adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa (berasal dari bahasa Sanskerta भाषा, Bhāṣā) adalah kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk dapat memperoleh serta menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, serta sebuah bahasa adalah contoh spesifik dari sistem tersebut.

Dan berikut ini adalah definisi bahasa menurut para ahli: • Menurut Gorys Keraf (1997), bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. • Menurut Felicia (2001), bahasa adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari, baik bahasa lisan atau pun bahasa tulis. • Menurut Sunaryo (2000), bahasa di dalam struktur budaya ternyata memiliki kedudukan, fungsi serta peran ganda, bahasa sendiri adalah sebagai akar serta produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

• Menurut Owen, bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau pun sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki serta kombinasi simbol-simbol yang telah diatur oleh ketentuan. • Tarigan (1989) memberikan 2 definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau pun simbol-simbol arbitrer. • Menurut Santoso (1990), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.

• Menurut Mackey (1986), bahasa salah suatu bentuk serta bukan suatu keadaan ( L a nguage m ay b e Form a nd Not Matter) atau pun sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau pun suatu tatanan dalam sistem-sistem. • Menurut Wibowo (2001), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna serta berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang mempunyai sifat arbitrer serta konvensional, dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan serta pikiran.

• Menurut Walija (1996), bahasa adalah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan serta suatu pendapat kepada orang lain. • Syamsuddin (1986) juga memberikan 2 definisi bahasa.

Pertama, bahasa merupakan alat yang dipakai untuk membentuk pikiran, perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari suatu kepribadian entah itu yang baik maupun yang buruk, sebuah tanda yang jelas dari keluarga serta bangsa dan tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.

• Menurut Pengabean (1981), bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan serta melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf. • Menurut Soejono (1983), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang teramat penting dalam hidup bersama. KLIK DI SINI UNTUK TERUS MEMBACA 2. Tujuan Bahasa Tujuan bahasa jika dilihat dari tujuan penggunaannya antara lain: • Tujuan praktis, bahasa digunakan untuk komunikasi sehari-hari • Tujuan artistik, bahasa yang dirangkai dengan sedemikian rupa sehingga menjadi bahasa yang indah dan dapat digunakan untuk pemuas rasa estetis.

• Tujuan pembelajaran, bahasa sebagai media untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan baik dalam lingkup bahasa itu sendiri atau di luar bahasa. • Tujuan filologis, bahasa digunakan untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, kebudayaan, dan adat istiadat serta perkembangan bahasa. 3. Fungsi Bahasa Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Terdapat tiga fungsi utama bahasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berikut adalah fungsi bahasa tersebut: 3.1 Sebagai Alat Komunikasi Bahasa merupakan kata-kata yang memiliki makna. Setiap kata memiliki makna dan hubungan abstrak dengan suatu konsep atau objek yang diwakilinya. Melalui bahasa, setiap individu dapat melakukan komunikasi dua arah yang dapat dimengerti oleh masing-masing individu.

3.2 Sebagai Alat Pemersatu Bangsa Bahasa berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa karena penggunaannya sebagai alat untuk berkomunikasi. Setiap warga suatu bangsa dapat menyampaikan pemikirannya dengan menggunakan bahasa yang bisa dimengerti.

Komunikasi masyarakat dengan menggunakan bahasa yang sama dan dapat dimengerti satu sama lain akan mempersatukan bangsa menjadi lebih kuat. 3.3 Sebagai Identitas Suatu Suku atau Bangsa Setiap bangsa atau suku pasti memiliki bahasa yang berbeda-beda, hal ini bisa menjadikan bahasa sebagai identitas dan keunikan tersendiri bagi suatu bangsa atau suku.

Selain tiga fungsi utama bahasa di atas, bahasa juga memiliki beberapa fungsi lain, yaitu: • Sebagai alat untuk berpikir • Sebagai alat untuk kontrol sosial • Sebagai sarana menunjukkan ekspresi • Sebagai sarana untuk memahami diri sendiri dan orang lain • Sebagai alat untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan sejarah • Sebagai sarana untuk membangun kecerdasan dan karakter Menurut Effendi (2007), bahasa memiliki 4 fungsi yaitu: • Basa-basi (seremonial) • Mengajak atau membujuk (direktif) • Menjelaskan (informatif) • Mengungkapkan perasaan dan menjelmakan citra (ekspresif) Finoza (2010) memberikan 5 fungsi bahasa yang 4 di antaranya dikutip dari Keraf (1988) dan 1 fungsi lainnya menurut pendapat pribadi, sebanyak 4 fungsi tersebut yaitu: • Sebagai alat komunikasi • Sebagai alat mengekspresikan diri • Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi sosial • Sebagai alat kontrol sosial Sedangkan 1 fungsi menurut pendapat pribadi Finoza adalah sebagai alat untuk berpikir.

Widjono (2005) memberikan 13 fungsi bahasa antara lain: • Sarana komunikasi • Sarana integrasi dan adaptasi • Sarana kontrol sosial • Sarana memahami diri • Sarana ekspresi diri • Sarana memahami orang lain • Sarana mengamati lingkungan sekitar • Sarana berpikir logis • Membangun kecerdasan • Mengembangkan kecerdasan ganda • Membangun karakter • Mengembangkan profesi • Menciptakan kreativitas baru Berikut fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara: • Sebagai bahasa resmi kenegaraan.

• Sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. • Sebagai alat penghubung di tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah.

• Sebagai alat pengembang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. 4. Manfaat Bahasa Terdapat banyak manfaat bahasa yang dapat didapatkan oleh manusia. Berikut beberapa manfaat bahasa yaitu: 4.1 Bahasa Resmi Suatu Negara Suatu negara biasanya memiliki bahasa daerah yang bermacam-macam. Agar negara tersebut memiliki identitas budaya, perlu adanya suatu bahasa yang mewakili berbagai budaya yang ada di negara tersebut.

Bahasa ini biasanya disebut sebagai bahasa resmi. 4.2 Pengantar dalam Dunia Pendidikan Dalam penyampaian materi di dunia pendidikan harus menggunakan bahasa resmi agar dimengerti oleh warga negara yang bersangkutan. Hal ini juga penting agar tidak terjadi miskonsepsi dalam dunia pendidikan. 4.3 Alat Pengembang Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Pengembangan kebudayaan sastra tentunya sangat dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan.

Berbagai kebudayaan muncul dari bahasa yang digunakan, misalnya puisi, sajak, karangan, pantun, dan sebagainya. Selain itu, dunia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pun memerlukan bahasa. Bahasa digunakan untuk menulis jurnal hasil penelitian, untuk menamai berbagai objek baru hasil inovasi penelitian, untuk sarana bertukar pikiran antar peneliti, dan sebagainya.

5. Bahasa yang Ada di Indonesia Bahasa yang ada di Indonesia selain bahasa Indonesia, ada banyak sekali. Bahasa-bahasa itu disebut dengan bahasa daerah. Bahasa daerah adalah suatu bahasa yang dituturkan di suatu wilayah dalam sebuah negara kebangsaan pada suatu daerah kecil, negara bagian federal, provinsi, atau daerah yang lebih luas. 5.1 Definisi Bahasa Daerah dalam Hukum Internasional Rumusan Piagam Eropa untuk bahasa-bahasa Regional atau minoritas, mengatakan bahasa-bahasa daerah atau minoritas adalah: • Bahasa-bahasa tradisional digunakan dalam wilayah suatu negara, oleh warga negara dari negara tersebut, yang secara numerik membentuk kelompok yang lebih kecil dari populasi lainnya di negara tersebut.

• Bahasa-bahasa yang berbeda dari bahasa resmi atau bahasa-bahasa resmi dari negara tersebut. 5.2 Jumlah Bahasa di Indonesia Saat ini jumlah bahasa di Indonesia tercatat setidaknya ada 671 bahasa yang tersebar dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga provinsi Papua, 34 provinsi, atau dari Sabang sampai Merauke (Januari 2019).

Dari 671 bahasa (sebelumnya 655 Februari 2018) jika dihitung dari penuturan di semua provinsi terhitung ada 750 bahasa yang dipakai di Indonesia. Akan tetapi ada beberapa bahasa yang dipakai di satu provinsi, jadi bahasa tersebut dihitung satu sehingga hanya ada 671 bahasa daerah. Contoh bahasa Jawa yang di gunakan di 15 provinsi. 5.3 Bahasa Daerah yang Digunakan di Indonesia Berikut adalah bahasa daerah yang digunakan di setiap provinsi di Indonesia, penetapan nama bahasa bergantung komunitas pemakai bahasa dimaksud dalam suatu daerah atau adat istiadat dan budaya.

Wilayah Sumatera No. Provinsi Nama Bahasa 1. Nangroe Aceh Darussalam (Aceh) • Aceh • Batak • Davayan • Jawa • Gayo • Minangkabau • Sigulai 2. Sumatera Utara (Sumut) • Batak • Jawa • Minangkabau • Nias • Melayu 3. Riau • Batak • Banjar • Minangkabau • Bugis • Melayu 4.

Kepulauan Riau (Kepri) • Melayu 5. Sumatera Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi (Sumbar) • Batak • Mentawai • Minangkabau 6. Jambi • Bajau Tungkal Satu • Banjar • Bugis • Jawa • Kerinci • Melayu • Minangkabau 7.

Bengkulu • Bengkulu • Enggano • Jawa • Rejang • Sunda • Minangkabau 8. Sumatera Selatan (Sumsel) • Jawa • Kayu Agung • Komering • Lematang • Melayu • Ogan • Pedamaran 9. Lampung • Bali • Basemas • Bugis • Jawa • Lampung • Sunda 10. Kepulauan Bangka Belitung (Babel) • Kayu Agung • Melayu Wilayah Jawa No. Provinsi Nama Bahasa 1. Banten • Jawa • Lampung Cikoneng • Sunda 2. DKI Jakarta • Bugis • Mandarin DKI Jakarta • Sunda • Melayu 3.

Jawa Barat • Sunda • Jawa 4. Jawa Tengah • Jawa • Sunda 5. DI Yogyakarta • Jawa 6. Jawa Timur • Jawa • Bajo • Madura Wilayah Bali dan Nusa Tenggara No. Provinsi Nama Bahasa 1. Bali • Bali • Jawa • Madura • Sasak Bali • Melayu 2. Nusa Tenggara Barat (NTB) • Bali • Bajo • Bugis • Bima • Madura • Makassar • Mandarin Ampenan • Melayu • Sasak • Sumbawa • Makassar 3. Nusa Tenggara Timur (NTT) • Abui • Adang • Alor • Anakalang • Bajo • Bajo Delang • Batu • Blagar • Buna • Dawan • Deing • Dulolong • Gaura • Hamap • Helong • Hewa • Kabola • Kaera • Kalela • Kamang • Kambera • Kambera • Pendawai • Kedang • Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi • Kiraman • Klamu • Klon • Kolama • Komodo • Kui • Kulatera • Lababa • Lamaholot • Lamatuku • Lamboya • Lewuka • Lio • Lura • Mambora • Manggarai • Manulea • Melayu • Nage • Namut • Ndao • Ndora • Nedebang • Ngada • Omesuri • Palu e • Pura • Raijua • Retta • Riung • Rongga • Rote • Sabu sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Sawila • Sikka • So a • Sumba Barat • Tabundung • Teiwa • Tetun • Tewa • Wanukaka • Wersing • Wewewa • Sar Wilayah Kalimantan No.

Provinsi Nama Bahasa 1. Kalimantan Utara (Kalut) • Abai • Bugis • Bulungan • Kenyah • Long pulung • Lundayeh • Punan Paking • Tenggalan • Tidung • Uma Lung 2. Kalimantan Barat (Kalbar) • Bakatik • Bukat • Galik • Kayaan • Melayu • Punan • Ribun • Taman • Uud Danum 3. Kalimantan Timur (Kaltim) • Ahoeng • Bahau Diaq Lay • Bahau Ujong Bilang • Basap • Benuaq • Bugis • Dusun • Jawa • Kenah • Melayu • Pasir • Punan Long Mancir • Punan Merah • Segaai • Tunjung 4.

Kalimantan Tengah (Kalteng) • Bakumpai • Banjar • Bali • Balai • Bayan • Dayak Bara Injey • Dayak Baream • Dayak Kapuas • Dayak Ngaju • Dayak Pulau Telo • Dayak Sei Dusun • Dusun Kalahien • Kadorih • Katingan • Lawangan • Maanyan • Melayu • Mentaya • Sampit • Pembuang • Tamuan • Tawoyan • Uud Danum 5. Kalimantan Selatan (Kalsel) • Bajau Semayap • Bakumpai • Banjar • Berangas • Bugis • Dusun deyah • Jawa • Lawangan • Maayan • Samihin Wilayah Sulawesi No. Provinsi Nama Bahasa 1. Sulawesi Utara (Sulut) • Bantik • Bolang Mongondow • Gorontalo • Melayu • Minahasa • Minahasa Tonsawang • Minahasa Tonsea • Pasan sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Ponosakan • Sangihe Talaud 2.

Gorontalo • Bajo • Gorontalo • Minahasa 3. Sulawesi Tengah (Sulteng) • Bada • Bajo • Balaesang • Balantak • Banggai • Besoa • Bugis • Bungku • Buol • Dondo • Kaili • Kulawi • Laoje Malala • Pamona • Pipikoro • Saluan • Sangihe Talaud • Seko • Taa • Tombatu • Totoli 4.

Sulawesi Barat (Sulbar) • Banggas • Banggaulu • Mamasa • Mamuju • Mandar 5. Sulawesi Selatan (Sulsel) • Bajo • Bunerate • Bugis • Bugis De • Konjo • Laiyolo • Lemolang • Makassar • Mandar • Massenrengpulu • Rampi • Seko • Toraja • Wotu 6.

Sulawesi Tenggara (Sultra) • Bajo • Bali • Cia-cis • Calambacu • Jawa • Lasalimu-Kamaru • Morunene • Muna • Pulo • Sasak • Sunda • Tolaki • Walio Wilayah Maluku No.

Provinsi Nama Bahasa 1. Maluku Utara (Malut) • Bacan • Buli • Galela • Gane • Ibu • Kadae • Makian Dalam • Makian Luar • Melayu • Modole • Patani • Sahu • Sawai • Sula • Taliabu • Ternate • Tobelo 2. Maluku • Ambalau • Asilulu • Balkewan • Banda • Barakai • Bobar • Buru • Damar Timur • Dawelor • Dobel • Elnama • Emplawas • Fordata • Hoti • Illiun • Kaham • Kaiely • Karey • Kei • Kola • Kur • Leinam • Letti • Lola • Loon • .Luhu • Marlasi • Marsela Barat • Marsela Tengah • Marsela Timur • Melayu • Naulu • Nila • Oirata • Oroyliye • Piru • Salas • Saleman • Samasuru • Selaru • Seluwarsa • Seram • Serili • Serua • Tagalisa • Tarangan Barat • Telaah Babar • Yalahatan • Yamdena • Yatoke • Batuley • Kompane • Makatian • Woda-woda Wilayah Papua No Sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi Nama Bahasa 1.

Papua Barat • Mare • Matbat • Matlow • Maya • Maya Legenyan-Kawei • Mee Wosokuno • Meyah • Miere • Moi Sigin • Mor • Moraid • Moskona • Mpur • Muri • Napiti • Napiti Pantai-Busama • Numfor • Palamul • Pokoro • Puragi-Saga • Ron • Roswar • Sabakor • Salafen Matbat • Salkma • Samate • Seget • Sekar-Onim • Selegof • Somu • Soon • Sou • Sough • Tandia • Tehit • Tehit Dit • Tepin • Uruangnirin • Waliam • Wamesa • Wandamen • Wardo • Waruri • Wau Arak • Yaben • Yahadian-Mugim • Yeresiam Kiruru • Yeresiam Pedalaman • Yuafeta • Sough Bohon 2.

Papua Barat • Aabinomin • Abrap • Adagum • Afilaup • Aframa • Airo • Airoran • Amathamit • Ambai • Amungkal • Anasi • Ansus-Papuma • Anus • Arakam • Armati Sarma • Arubos • Arui-Mor • Asmat Bets Mbup • Asmat Safan • Asmat Sawa • Asmat Sirat • Asmat Unir Sirau • Atam • Auye • Awban • Awera • Awyu Anggai • Awyu Darat Kotiak • Awyu Darat Yagatsu-Kiki • Awyu Laut • Awyu Meto • Awyu Tokompatu • Baedate • Barapasi • Batero • Bauzi • Bawija • Beneraf • Berbai • Berik • Betaf-Takar • Beyaboa • Biak • Bian Marind Deg • Biritai • Biyekwok • Bku (Bgu) • Blue Klesi • Boi • Bonoi • Bora-Bora • Burate • Burukmakot • Burumeso • Busami • Citak • Dabe • Dabra • Daikat • Dajub • Damal • Dani • Dani Atas • Dani Bawah • Dani Bokondini • Dani Tengah • Dasigo • Dem • Demisa • Dinana • Dintere • Diuwe • Dra • Dubu • Duvle • Eik • Eipumek • Ekari • Elseng • Elseng Koarjap • Emem • Engkalembu • Etik • Fayu • Fermanggem • Gufinti • Hubla • Iau • Imbuti • Intamaja • Isirawa • Jair • Jelako • Jinak • Jorop • Juvutek • Kadi • Kaigar • Kaiya • Kamoro • Kanum Barkari • Kapori • Kaptiau • Karufo Auf • Kaureh • Kawera • Kayo Pulau • Kejer Menirem • Kemtuk • Ketengban • Keuw • Kimaam • Kimagima • Kimki • Kimyal • Kiri-Kiri • Kitum • Klesi • Klufo • Kofey • Kombai • Kombai Kali • Komolom • Komyandaret • Konerau • Kopkaka • Kopkaka Seredela • Korowai Baigun • Korowai Karuwage • Korowai Selatan • Kurudu • Kwari • Kwer • Kwerba • Kwesten Arare • Kwinsu • Lani • Lepki • Liki • Makleu • Mander • Mandobo • Mandobo Bawah • Manem • Manua • Marap • Maraw • Marita • Marori • Masep • Masimasi • Mawes Dey • Mawes Wares • Mee Ugia • Mek Kosarek • Mek Naica • Mek Nipsan • Melayu • Mnanggi • Moi Maniwo • Molof • Momuna • Moni Bibida • Moni-Kegouda • Monuna Samboga • Mooi • Munggui • Murkim • Muyu • Muyu Selatan • Nafri • Nagi • Nai • Nalik Selatan • Namak • Namalu • Namas • Namblong • Namla • Narau • Ndarame • Ndauwa • Ndom • Ngalum • Nggem • Ngguntar • Ngkalembu • Ningrum • Nobuk • Nosaudare • Nubuai-Waren • Nyaw • Obokuitai • Ormu • Orya • Pijin • Poom • Pupis • Riantana • Ro • Saman • Saponi • Saurisirami • Sause-Ures • Saweru • Sawi • Segar • Sempan • Senggi • Sentani • Serui Laut • Sikari • Silimo • Skou • Smarki Kanum • Soba • Sobey • Sobey Wakde • Sorabi • Sowiwa • Soytai • Srum • Sudate • Sumuri • Sunum • Tabahair • Tabla • Tamario • Tamer Tunai • Tangko • Tapea • Tarfia • Tause • Tebako • Tefanma • Tefaro • Telepe • Tevera Pew • Tobati • Tomor • Torweja • Totoberi • Towe • Trimuris-Bagusa • Tsaukwambo • Ulakin • Una • Vamin • Vedan Nus • Wabo • Wairate • Walak • Walsa • Wambon Kenondik • Wanggom • Wano • Warari Onate • Warembori • Wari • Warlon • Warry • Wate • Wiyagar • Wolani • Wombon • Wonti • Wooi • Woria • Yabanda • Yabega • Yafi • Yaghai Mur • Yaghai Wairu • Yali Anggruk • Yali Kosarek • Yali Ninia • Yali Pass Valley • Yamas • Yaur • Yaur Rihegure • Yawa Onate • Yei • Yei Bawah • Yelmek • Yeresiam • Yeretuar • Yetfa • Yokari • Yoke • Yonggom • Asmat Waijens • Daranto • Diae • Irawa • Kapayap • Kenyam Niknene • Kiwai • Mandobo Tengah • Rarankwa • Weinami 5.4 Bahasa Melayu Bahasa Melayu merupakan sejumlah bahasa yang dituturkan di wilayah Nusantara dan di Semenanjung Melayu.

Bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei, Indonesia (bahasa Indonesia), dan Malaysia (bahasa Malaysia), bahasa nasional Singapura, dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (bahasa Indonesia). Asal usul penutur asli bahasa Melayu adalah orang Melayu.

Ada beberapa sarjana Eropa seperti Hendrik Kern (Belanda) dan Robert von Heine Geldern (Austria) yang telah melakukan penelitian tentang latar belakang dan pergerakan masyarakat Melayu Kuno.

Teori mereka menyatakan bahwa bangsa Melayu berasal dari kelompok manusia daerah Yunan China yang berhijrah dengan beberapa gelombang pergerakan manusia dan kemudian menduduki wilayah Asia Tenggara atau kelompok Austronesia.

Gelombang pertama dikenal sebagai Melayu-Proto yang berlaku sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Sekitar tahun 1500 tahun sebelum Masehi, datanglah gelombang kedua yang dikenal sebagai Melayu-Deutro. Mereka mendiami daerah yang subur di pinggir pantai dan tanah lembah Asia Tenggara.

Golongan Melayu-Deutro adalah nenek moyang masyarakat Melayu yang ada pada masa kini. Bahasa Melayu berasal dari rumpun bahasa Austronesia yang mana bahasa-bahasa Austronesia ini berasal dari keluarga bahasa Austris. Ahli bahasa telah membagikan perkembangan bahasa Melayu dalam tiga tahap utama yaitu: • Bahasa Melayu Kuno • Bahasa Melayu Klasik • Bahasa Melayu Modern 5.4.1 Bahasa Melayu Kuno Bahasa Melayu tergolong dalam keluarga bahasa Nusantara di bawah golongan bahasa Sumatera.

Bahasa Melayu kuno digunakan pada zaman kerajaan Sriwijaya tepatnya abad ke-7 hingga abad ke-13. Bahasa Melayu tidak terikat kepada perbedaan susun lapis masyarakat dan mempunyai sistem yang lebih mudah apabila dibandingkan dengan bahasa Jawa. Bukti penggunaan Bahasa Melayu dapat dilihat pada sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi bersurat abad ke-7 yang ditulis dengan huruf Palawa yaitu: • Batu bersurat di Kedukan Bukit, di Palembang (683 M) • Batu bersurat di Talang Ruwo, di dekat Palembang (684 M) • Batu bersurat di Kota Kampur, di Pulau Bangka (686 M) • Batu bersurat di Karang Brahi, di Meringin, daerah Hulu Jambi (686 M) Berikut ciri-ciri Bahasa Melayu kuno: • Terdapat unsur-unsur pinjaman daripada bahasa Sanskrit.

• Bunyi b adalah w dalam Melayu kuno (contohnya bulan – wulan) • Tidak mempunyai wujud bunyi e pepet (contoh dengan – dngan atau dangan) • Awalan ber- adalah mar- dalam Melayu kuno (contohnya berlepas-marlapas) • Awalan di-adalah ni- dalam bahasa Melayu kuno (Contoh diperbuat – niparwuat) • Terdapat bunyi konsonan yang diaspirasikan seperti bh, th, ph, dh, kh, h (Contoh: sukhatshitta) • Huruf h hilang dalam bahasa modern (contohnya semua-samuha, saya: sahaya) 5.4.2 Bahasa Melayu Klasik Abad ke-13 merupakan bermulanya zaman peralihan di Kepulauan Melayu dengan berkembangnya agama Islam.

Pengaruh India sedikit demi sedikit digantikan dengan pengaruh Islam dan Arab. Waktu itu bahasa Melayu sudah digunakan dalam pentadbiran dan aktivitas perdagangan serta menjadi “lingua franca” para pedagang.

Bahasa Melayu juga sudah menjadi alat penyebaran agama Islam ke seluruh Kepulauan Melayu. Selain itu, bahasa Melayu juga sudah mendapat bentuk tulisan baru yaitu tulisan Jawi.

Salah satu bukti tentang tingginya martabat Bahasa Melayu dan luas penggunaanya di wilayah ini adalah pada surat-menyurat antara pentadbir dan raja-raja di Kepulauan Melayu. Bukti-bukti mengenai besarnya penggunaan bahasa Melayu di antaranya adalah: • Surat Sultan Aceh kepada Kapitan Inggris, James Lancester (1601) • Surat Sultan Alauddin Shah dari Aceh kepada Harry Middleton (1602) • Surat Sultan Aceh kepada raja Inggris, King James (1612) (Ketiga surat ini tersimpan di perpustakaan Bodelein, London) Ciri-ciri bahasa Melayu klasik: • Ayatnya panjang, berulang, berbelit-belit dan banyak menggunakan struktur ayat yang pasif.

• Menggunakan bahasa istana seperti tuanku, baginda, bersiram, mangkat dsb. • Kosa kata arkaik dan jarang digunakan ; ratna mutu manikam, edan kesmaran (mabuk asmara), sahaya, masyghul (bersedih) • Banyak menggunakan perdu perkataan (kata pangkal ayat) seperti sebermula, alkisah, hatta, adapun.

• Banyak menggunakan ayat songsang: pendepanan predikat • Banyak menggunakan partikel “pun’ dan `lah’ 5.4.3 Perkembangan Bahasa Melayu Modern Bahasa Melayu modern bermula pada abad ke-19. Hasil karangan Munsyi Abdullah dianggap sebagai permulaan zaman bahasa Melayu modern karena sifatnya yang dikatakan sedikit menyimpang dari bentuk bahasa Melayu klasik.

Sebelum penjajahan Inggris, bahasa Melayu mencapai kedudukan tinggi yang berfungsi sebagai bahasa perantaraan, pentadbiran, kesusasteraan, dan bahasa pengantar di pusat pendidikan Islam.

Setelah Perang Dunia Kedua, Inggris mengubah dasar menjadikan bahasa Inggris sebagai pengantar dalam sistem pendidikan. Selepas Malaysia mencapai kemerdekaan, Perlembagaan Persekutuan Perkara 152 menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan. Bahasa Melayu modern sudah mulai terlihat ketika Raja Ali Haji, sastrawan istana dari Kesultanan Riau Lingga. Pada pertengahan abad ke-19, secara sistematis menyusun kamus ekabahasa bahasa Melayu (Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Logat Melayu Johor Pahang Riau Lingga penggal yang pertama).

Perkembangan berikutnya, pada abad ke-19 sarjana-sarjana Eropa (Belanda dan Inggris) mulai mempelajari bahasa ini secara sistematis karena dianggap penting dalam urusan administrasi. Bahasa Melayu modern dicirikan dengan penggunaan alfabet latin dan masuknya banyak kata-kata Eropa. Sejak awal abad ke-20 bahasa Melayu diajarkan di sekolah-sekolah sehingga bahasa ini sangat populer.

Di Indonesia, pendirian Balai Poestaka (1901) sebagai percetakan buku-buku pelajaran dan sastra mengantarkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya, bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini menjulukinya “bahasa Melayu Balai Pustaka” atau “bahasa Melayu van Ophuijsen”.

Pada tahun 1901 Van Ophuijsen menyusun ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin untuk penggunaan di Hindia-Belanda. Ia juga menjadi seorang penyunting berbagai buku sastra terbitan Balai Pustaka. Pada 20 tahun berikutnya, “bahasa Melayu van Ophuijsen” ini dikenal luas di kalangan orang pribumi dan mulai dianggap menjadi identitas kebangsaan Indonesia.

Puncaknya adalah ketika dalam Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 dengan jelas dinyatakan, “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Dan sejak saat itulah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa kebangsaan. Bahasa ini dituturkan kurang lebih 42 juta orang dengan penutur terbanyak di Indonesia setelah bahasa Jawa. 5.5 Bahasa Sunda Bahasa Sunda dituturkan di wilayah Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung, wilayah barat Jawa Tengah dan merupakan bahasa resmi Banten (bahasa daerah) dan Jawa Barat (bahasa daerah).

Menurut beberapa pakar, sekitar abad ke-6 wilayah penuturan bahasa Sunda sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Nama Dieng dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dhyang yang merupakan kata bahasa Sunda Kuno). Bahasa Sunda dituturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Bahasa Sunda juga dituturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di kabupaten Brebes dan Cilacap. Banyak nama tempat di Cilacap yang masih menggunakan nama Sunda bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu, dan sebagainya.

Sayangnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa nama tersebut merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama itu merupakan nama Jawa yang “disundakan”, sebab pada abad ke-19 nama ini seringkali ditulis sebagai “Clacap”. Kegiatan mobilisasi oleh warga suku sunda mengakibatkan penutur bahasa ini semakin menyebar. Misalnya di Lampung, Jambi, Riau, dan Kalimantan Selatan banyak sekali warga Sunda yang menetap di daerah baru tersebut.

5.6 Bahasa Minang Bahasa Minangkabau (bahasa Minang:baso Minang) adalah salah satu bahasadari rumpun bahasa Melayu yang dituturkan oleh Orang Minangkabau sebagai bahasa Ibu khususnya di provinsi Sumatera Barat (kecuali kepulauan Mentawai), pantai barat provinsi Riau, bagian utara Jambi, Bengkulu, dan Negeri sembilan, Malaysia.

Bahasa Minang dihipotesiskan sebagai bahasa Melayik, seperti halnya bahasa Banjar, bahasa betawi dan bahasa Iban. 6. Sejarah Bahasa Indonesia Sejarah bahasa Indonesia berawal dari bahasa Melayu yang disahkan menjadi bahasa persatuan ketika Sumpah Pemuda tahun 1928. Perkembangan bahasa Indonesia didorong oleh kebangkitan nasional. Di mana di dalamnya terdapat peranan-peranan penting pada kegiatan politik, perdagangan, surat kabar, maupun memodernkan bahasa Indonesia.

Kemudin pada tanggal 17 Agustus 1945 bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa negara yang memiliki kedudukan dan fungsi yang tinggi. Hingga kini bahasa Indonesia menjadi bahasa yang digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan pemerintah memberi perhatian dengan membentuk Lembaga Pusat Bahasa dan Penyelenggara Kongres Bahasa Indonesia. 7. Ciri-ciri Bahasa Indonesia Bahasa memiliki 6 ciri yaitu: • Sistematik • Arbitrer • Vokal • Bermakna • Komunikatif • Ada di masyarakat Secara lebih spesifik bahasa Indonesia menurut Muslich dan Oka (2010) mengemukakan bahwa bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

• Bahasa Indonesia tidak terdapat perubahan bentuk kata untuk menyatakan jenis kelamin. • Bahasa Indonesia mempergunakan kata tertentu untuk menunjukan jamak atau bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk kata untuk menyatakan jamak. • Bahasa Indonesia tidak terdapat perubahan bentuk kata untuk menyatakan waktu.

• Susunan kelompok kata dalam bahasa Indonesia biasanya menggunakan hokum-hukum D-M (Diterangkan-Menerangkan). Bahasa Indonesia mengenal lafal baku, yaitu lafal yang tidak dipengaruhi lafal asing dan atau lafal daerah. 8. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia Kedudukan bahasa Indonesia terdiri atas: 8.1 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Fungsi Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional adalah sebagai berikut: 8.1.1 Lambang Kebanggaan Kebangsaan Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi budaya yang mendasari rasa kebangsaan rakyat Indonesia.

Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia harus dipelihara dan dikembangkan serta harus selalu membina rasa bangga dalam menggunakan bahasa Indonesia. 8.1.2 Lambang Identitas Nasional Bahasa Indonesia dapat mendapatkan identitasnya sebagai lambang identitas nasional apabila masyarakat pemakai tak hanya memakainya, tetapi juga membina dan mengembangkannya sehingga bersih dari unsur bahasa lain.

8.1.3 Alat Penghubung antar Warga, antar Daerah, dan antar Budaya Dengan adanya bahasa Indonesia kita dapat menggunakannya sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi/ berkomunikasi dengan masyarakat-masyarakat di daerah (sebagai bahasa penghubung antar warga, daerah, dan budaya).

8.1.4 Alat yang Menyatukan Berbagai Suku Bangsa Dengan bahasa Indonesia memungkinkan berbagai suku bangsa mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan.

9. Ragam Bahasa dan Laras Bahasa Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang mana pemakaiannya berbeda satu dengan lainnya menurut topik yang dibicarakan, hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan, serta menurut medium yang digunakan untuk berkomunikasi.

Sedangkan laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya.

sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi

Dalam hal ini kita mengenal iklan, laras ilmiah, laras populer, laras feature, laras komik, laras satra, yang masih dapat dibagi atas laras cerpen, laras puisi, laras novel, dan sebagainya. 10. Bahasa Indonesia di Luar Negeri Bahasa persatuan di negara Indonesia ini, ternyata banyak sebutkan bahasa daerah di pulau jawa serta wilayah penggunaannya dalam lingkup provinsi oleh sejumlah negara. Seperti Republik Rakyat Tiongkok, banyak perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta yang membuka jurusan Bahasa Indonesia.

Bahkan tidak hanya di RRT, tetapi juga di Australia. Pengembangan bisnis di Indonesia dan kesukaan terhadap tradisi di Indonesia merupakan alasan utama warga Australia mempelajari bahasa ini.

“Banyaknya bisnis pariwisata, adaah salah satu alasan mahasiswa mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Hanya saja, seiring dengan perkembangan isu politik dalam negeri maupun politik antar negara. Kondisi tersebut membuat surutnya pembelajaran Bahasa Indonesia di luar negeri (Australia),” ujar prof George Quinn dalam acara Konferensi Inernasional Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (KIPBIPA) ke-9.

Tak hanya Australia dan RRT saja yang memiliki pelajaran bahasa Indonesia. Ada Korea Selatan yang tak hanya orang Indonesia saja yang suka drama Korea namun penduduk Koreapun juga tertarik dengan budaya Indonesia. Hankuk University of Foreign Studies sebagai salah satu kampus terbaik di Korea membuka jurusan bahasa Indonesia.

Kanada, negara ini membuka tempat kursus untuk mempelajari bahasa Indonesia karena meningkatnya jumlah pekerja dari Indonesia. Vietnam, negara ini menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di kota Ho Chi Minh Vietnam sejak Desember 2007.

Jepang, di University of Foreign Studies Tokyo juga mempunyai program studi bahasa Indonesia. Kepulauan Hawaii Amerika, Uiversitas di kepulauan ini juga mengajarkan bahasa Indonesia dalam kurikulumnya.

Ukraina, universitas di Ukraina membuka program studi bahasa Indonesia yaitu di Taras Shevcenko National University of Kyiv. Dan Suriname yang 14% populasinya adalah suku Jawa sehingga di negara ini juga menggunakan bahasa Indonesia. Tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara dan ketetapan ini tercantum dalam Pasal 36 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Kini bahasa Indonesia jumlah penuturnya mencapai 300 juta lebih di seluruh dunia.

Potensi besar yang dimiliki bahasa Indonesia ini dapat dijadikan alasan yang tepat untuk melakukan internasionalisasi bahasa Indonesia. Secara spesifik, bahasa Indonesia dapat menjadi bahara resmi MEA seperti bahasa Inggris yang terlebih dahulu telah menjadi bahasa resmi masyarakat Uni Eropa.

Beragamnya budaya menjadikan Indonesia kaya akan bahasa daerah. Kondisi kebhinekaan bahasa Indonesia marupakan modal dalam menginternasionalisasi bahasa Indonesia. Selain itu bahasa Indonesia berpeluang menjadi bahasa resmi ASEAN karena mempunyai beberapa faktor.

Faktor pertama, bahasa Indonesia mempunyai struktur yang sederhana. Oleh karena itu, bahasa Indonesia sangat mudah untuk dipelajari. Di samping itu yang menjadi faktor kedua, bahasa Indonesia juga mempunyai daya serap kosa kata yang kuat. Jumlah penuturnya tersebar di dalam dan luar negeri. Faktor ke tiga, bahasa Indonesia mempunyai penyebaran geografis yang luas. Sebagaimana diketahui, bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia telah dituturkan di hampir seluruh kasawan ASEAN.

Bahkan bahasa Melayu tercatat menjdi bahasa nasional di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Negara jiran lainnya juga yang berada di kawasan Asean seperti Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina menempatkan bahasa Melayu menjadi bahasa kedua atau ketiga di negara mereka. Karena struktur bahasa Melayu yang mirip denga Bahasa Indonesia, besar kemungkinan bahasa Indonesia dapat diterima di negara-negara tersebut. Faktor keempat, sektor ekonomi juga memengaruhi peluang bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi Asean.

Ekonomi makro di Indonesia yang saat ini berkembang pesat sangat menjanjikan untuk lahan investasi bagi berbagai investor dari Asean.

Itulah pintu gerbang untuk mengenalkan bahasa Indonesia kepada dunia. Faktor kelima, banyak sekali produk sosial dan budaya dari Indonesia yang tersebar di berbagai negara Asean dapat menjadi media pengenalan bahasa Indonesia yang efektif. 11. Pendidikan Bahasa Indonesia Jurusan bahasa Indonesia dibagi menjadi dua yaitu pendidikan Bahasa Indonesia serta Bahasa dan Sastra Indonesia.

Jurusan Bahasa dan Satra Indonesia lebih fokus mempelajari tata bahasa, sejarah Bahasa, dan analisis terhadap karya sastra seperti puisi, drama dan prosa. Sedangkan jurusan pendidikan bahasa Indonesia memiliki fokus tambahan yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pengajaran sehingga siap untuk menjadi seorang pengajar. Dua jurusan tersebut masuk ke dalam daftar jurusan yang seringkali dipandang sebelah mata.

Meski pandangan itu tidak sepenuhnya benar, tetapi bagi Anda yang menjadi mahasiswa mungkin sudah malas menghadapi orang yang tidak terlalu tahu-menahu tentang jurusan Anda. Padahal jurusan ini mempunyai beberapa prospek kerja yang lumayan seperti sebagai editor, penulis, content writer, ataupun menjadi karyawan di lembaga budaya.

Kesimpulannya, tidak ada jurusan yang boleh dipandang sebelah mata karena semua tergantung dengan orang yang menjalaninya. Dari uraian di atas, setidaknya ada beberapa hal yang dapat disimpulkan salah satunya adalah hanya bahasa Indonesialah yang mampu menyatukan berbagai etnis dan suku yang beragam di Indonesia, mereka dapat berkomunikasi dengan lancar dalam kehidupan sehari-hari berkat adanya bahasa Indonesia.

Maka dari itu kita sebagai warga negara Indonesia harus tetap mejaga keutuhan NKRI salah satunya dengan berbangga diri serta memperlajari bahasa Indonesia dan menyaring pengaruh globalisasi yang semakin ingin membelah persatuan di negeri ini.

Berapa Luas Pulau Jawa jika diukur menggunakan Google Earth ? #berapaluaspulau




2022 www.videocon.com