Kisah roro mendut

kisah roro mendut

Rara Mendut atau yang sering di kenal Roro Mendut merupakan seorang gadis cantik yang berpendirian teguh. Keindahan wajahnya yang luar biasa membuat Rara Mendut menjadi rebutan para pria, mulai dari kalangan rakyat biasa, bangsawan, bahkan sampai panglima perang. Pada suatu waktu, Rara Mendut diculik oleh Adipati Pragolo II, penguasa Kadipaten Pati untuk dijadikan selir. Namun, sebelum menjadi selir Adipati Pragolo II, Rara Mendut direbut oleh panglima perang Kerajaan Mataram, Tumenggung Wiraguna untuk dijadikan selir pula.

Bagaimana nasib Rara Mendut selanjutnya? Yuk kita ikuti bersama sampai selesai. Cerita Rakyat Indonesia Jawa Tengah : Kisah Roro Mendut Pada zaman dahulu, di pesisir pantai utara Pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, Jawa Tengah, tersebutlah sebuah desa nelayan bernama Teluk Cikal.

Desa itu termasuk ke dalam wilayah Kadipaten Pati yang diperintah oleh Adipati Pragolo II. Kadipaten Pati sendiri merupakan salah satu wilayah taklukan dari Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. Cerita Rakyat Indonesia Jawa Tengah Dongeng Roro Mendut Di Teluk Cikal, hidup seorang gadis anak nelayan bernama Rara Mendut.

Ia seorang gadis yang cantik dan rupawan. Rara Mendut juga dikenal sebagai seorang gadis yang teguh pendirian. Ia tidak sungkan-sungkan menolak para lelaki yang datang melamarnya sebab ia sudah memiliki calon suami, yakni seorang pemuda desa yang tampan bernama Pranacitra, putra Nyai Singabarong, seorang saudagar kaya-raya. Suatu hari, berita tentang kecantikan dan kemolekan Rara Mendut terdengar oleh Adipati Pragolo II.

Penguasa Kadipaten Pati itu pun bermaksud menjadikannya sebagai selir. Sudah berkali-kali ia membujuknya, namun Rara Mendut tetap menolak. Merasa dikecewakan, Adipati Pragolo II mengutus beberapa pengawalnya untuk menculik Rara Mendut.

Hari itu, ketika Rara Mendut sedang asyik menjemur ikan di pantai seorang diri, datanglah utusan Adipati Progolo.

“Ayo gadis cantik, ikut kami ke keraton!” seru para pengawal itu sambil menarik kedua tangan Rara Mendut dengan kasar. “Lepaskan, aku!” teriak Rara Mendut sambil meronta-ronta, “Aku tidak mau menjadi selir Adipati Pragolo. Aku sudah punya kekasih!” Para pengawal itu tidak peduli dengan rengekan Rara Mendut. Mereka terus menyeret gadis itu naik ke kuda lalu membawanya ke keraton. Sebagai calon selir, Rara Mendut dipingit di dalam Puri Kadipaten Pati di bawah asuhan seorang dayang bernama Ni Semangka dengan dibantu oleh seorang dayang yang lebih muda bernama Genduk Duku.

Sementara Kisah roro mendut Mendut dalam masa pingitan, di Kadipaten Pati sedang terjadi gejolak. Sultan Agung menuding Adipati Pragolo II sebagai pemberontak karena tidak mau membayar upeti kepada Kesultanan Mataram. Sultan Agung pun memimpin langsung penyerangan ke Kadipaten Pati. Menurut cerita, Sultan Agung tidak mampu melukai Adipati Pragolo II karena penguasa Pati itu memakai kere waja (baju zirah) yang tidak mempan senjata apapun. Melihat hal itu, abdi kisah roro mendut payung sang Sultan yang bernama Ki Nayadarma pun berkata, “Ampun, Gusti Prabu.

Perkenankanlah hamba yang menghadapi Adipati Pragolo!” pinta Ki Nayadarma seraya memberi sembah. “Baiklah, Abdiku. Gunakanlah tombak Baru Klinting ini!” ujar sang Sultan. Berbekal tombak kisah roro mendut Baru Klinting, Ki Nayadarma langsung menyerang Adipati Pragolo II. Namun, serangannya masih mampu ditepis oleh Adipati Pragolo II. Saat Adipati itu lengah, Ki Nayadarma dengan cepat menikamkan pusaka Baru Klinting ke bagian tubuh sang Adipati yang tidak terlindungi oleh baju zirah.

Adipati Pragolo II pun tewas seketika. Sementara itu, para prajurit yang dikomandani panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna, segera merampas harta kekayaan Kadipaten Pati, termasuk Rara Mendut. Tumenggung Wiraguna langsung terpesona saat melihat kisah roro mendut Rara Mendut.

Ia pun memboyong Rara Mendut ke Mataram untuk dijadikan selirnya. Tumenggung Wiraguna berkali-kali membujuk Rara Mendut untuk dijadikan selir, namun selalu ditolak.

Bahkan, di hadapan panglima itu, ia berani terang-terangan menyatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih bernama Pranacitra.

Sikap Rara Mendut yang keras kepala itu membuat Tumenggung Wiraguna murka. “Baiklah, Rara Mendut. Jika kamu tidak ingin menjadi selirku, maka sebagai gantinya kamu harus membayar pajak kepada Mataram!” ancam Tumenggung Wiraguna.

Rara Mendut tidak gentar mendengar ancaman itu. Ia lebih memilih membayar pajak daripada harus menjadi selir Tumenggung Wiraguna. Oleh karena masih dalam pengawasan prajurit Mataram, Rara Mendut kemudian meminta izin untuk berdagang rokok di pasar. Tumenggung Wiraguna pun menyetujuinya.

Ternyata, dagangan rokoknya laku keras, bahkan, orang juga beramai-ramai membeli puntung rokok bekas isapan Rara Mendut. Suatu hari, ketika sedang berjualan di pasar, Rara Mendut bertemu dengan Pranacitra yang sengaja datang mencari kekasihnya itu.

Pranacitra berusaha mencari jalan untuk bisa melarikan Rara Mendut dari Mataram. Setiba di istana, Rara Mendut menceritakan perihal pertemuannya dengan Pranacitra kepada Putri Arumardi, salah seorang selir Wiraguna, dengan harapan dapat membantunya keluar dari istana. Rara Mendut tahu persis bahwa Putri Arumardi tidak setuju jika Wiraguna menambah selir lagi. Putri Arumardi dan selir Wiraguna lainnya yang bernama Nyai Ajeng menyusun siasat untuk mengeluarkan Rara Mendut ke luar dari istana.

Bersama dengan Pranacitra, Rara Mendut berusaha untuk kembali ke kampung halamannya di Kadipaten Pati. Namun sungguh disayangkan, pelarian Rara Mendut dan Pranacitra diketahui oleh Wiraguna. Pasangan ini akhirnya berhasil ditemukan oleh para prajurit Wiraguna. Rara Mendut pun dibawa kembali ke Mataram, sedangkan secara diam-diam, Wiraguna memerintahkan abdi kepercayaannya untuk menghabisi nyawa Pranacitra. Alhasil, kekasih Rara Mendut itu tewas dan dikuburkan di sebuah hutan terpencil di Ceporan, Desa Gandhu, terletak kurang lebih 9 kilometer sebelah timur Kota Yogyakarta.

Sepeninggal Pranacitra, Tumenggung Wiraguna kembali membujuk Rara Mendut agar mau menjadi selirnya. Namun, usahanya tetap sia-sia, gadis cantik itu tetap menolak.

Sang Panglima pun tidak kehabisan akal. Ia kemudian menceritakan perihal kematian Pranacitra kepada Rara Mendut. “Sudahlah, Rara Mendut. Percuma saja kamu menikah dengan Pranacitra,” ujar Tumenggung Wiraguna. “Apa maksud, Tuan?” tanya Rara Mendut mulai cemas.

“Pemuda yang kamu kasihi itu sudah tidak ada kisah roro mendut jawab Tumenggung Wiraguna. “Kanda Pranacitra sudah tidak ada? Ah, itu tidak mungkin terjadi.

Aku baru saja bertemu dengannya kemarin,” kata Rara Mendut tidak percaya. “Jika kamu tidak percaya, ikutlah bersamaku, akan kutunjukkan kuburnya,” ujar Tumenggung Wiraguna.

Rara Mendut pun menurut untuk membuktikan perkataan Tumenggung Wiraguna. Betapa terkejutnya Rara Mendut begitu sampai di tempat Pranacitra dikuburkan. Ia berteriak histeris di hadapan makam kekasihnya.

“Kanda, jangan tinggalkan Dinda!” tangis Rara Mendut. “Sudahlah, Mendut! Tak ada lagi gunanya meratapi orang yang sudah mati,” ujar Wiraguna, “Ayo, kita tinggalkan tempat ini!” Rara Mendut pun bangkit lalu mengikuti Tumenggung Wiraguna sambil terus menangis.

Belum jauh mereka meninggalkan tempat pemakaman itu, Rara Mendut pun murka dan mengancam akan melaporkan perbuatan Wiraguna kepada Raja Mataram, Sultan Agung. “Tuan jahat sekali. Perbuatan Tuan akan kulaporkan kepada Raja Mataram agar mendapat hukuman yang setimpal!” ancam Rara Mendut. Seketika, Tumenggung Wiraguna menjadi sangat marah. Ia kemudian menarik tangan Rara Mendut untuk dibawa pulang ke rumahnya. Namun, gadis itu menolak dan meronta-ronta untuk melepaskan diri.

Begitu tangannya terlepas, ia menarik keris milik Tumenggung Wiraguna yang terselip di pinggangnya. Rara Mendut kemudian berlari menuju makam kekasihnya. Panglima itu pun berusaha mengejarnya. “Berhenti, Mendut!” teriaknya. Setiba di makam Pranacitra, Rara Mendut bermaksud untuk bunuh diri. “Jangan, Mendut! Jangan lakukan itu!” teriak Tumenggung Wiraguna yang kisah roro mendut saja sampai.

Namun, semuanya sudah terlambat. Rara Mendut telah menikam perutnya dengan keris yang dibawanya. Tubuhnya pun langsung roboh dan tewas di samping makam kekasihnya. Melihat peristiwa itu, Tumenggung Wiraguna merasa amat menyesal atas perbuatannya. “Oh, Tuhan. Sekiranya aku tidak memaksanya menjadi selirku, tentu Rara Mendut tidak akan nekad bunuh diri,” sesal Tumenggung Wiraguna.

Penyesalan itu tak ada gunanya karena semuanya sudah terjadi. Untuk menebus kesalahannya, Tumenggung Wiraguna menguburkan Rara Mendut satu liang dengan Pranacitra. Begitulah kisah perjuangan Rara Mendut dalam mempertahankan harga diri dan kesetiaannya. ———– Demikian cerita Kisah Rara Mendut dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Hingga kini, kisah ini masih dikenang dan menjadi simbol cinta yang abadi dalam masyarakat Jawa. Oleh YB. Mangunwijaya, cerita ini telah ditulis dalam trilogi karya sastra klasik berjudul Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri yang dimuat di harian Kompas secara bersambung.

Sekitar tahun 1983, novel ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul “Roro Mendut” yang disutradarai oleh Ami Prijono. Tahun 2008, novel trilogi ini kembali diterbitkan ke dalam gabungan sebuah novel yang berjudul Rara Mendut: Sebuah Trilogi. Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari Cerita Rakyat Indonesia Jawa Tengah : Dongeng Roro Mendut di atas adalah bahwa harta, pangkat, dan jabatan bukanlah jaminan untuk mendapatkan cinta sejati seseorang.

Cinta sejati tidak selamanya bisa dinilai dengan materi, namun justru cinta itu hadir karena perasaan saling memberi-menerima dan memiliki sebagaimana kisah Rara Mendut dan Pranacitra. Baca juga Cerita Dongeng Malin Kundang (Cerita Rakyat SumBar) dan Fabel Cerita Rakyat : Kisah si Kancil Mencuri Mentimun Kalau berasal dari Jawa Tengah, kamu mungkin sudah tak asing lagi dengan Roro Mendut.

Tapi, sudahkah kamu tahu cerita rakyat Roro Mendut? Kalau belum, simak langsung saja artikel ini. Kamu mungkin sudah tak asing lagi dengan nama Roro Mendut atau yang juga disebut dengan Rara Mendut. Namun, sudahkah kamu tahu cerita rakyat Roro Mendut? Kisah roro mendut singkat, legenda ini mengisahkan tentang seorang wanita yang cantik jelita.

Para pria banyak yang mengejarnya, mulai dari orang biasa hingga pangeran. Akan tetapi, ia tak menerima cinta para pria tersebut. Apa alasan wanita cantik itu menolak para pria yang mendekatinya?

Bila penasaran dengan kelanjutan cerita rakyat Roro Mendut? Langsung saja baca artikel ini saja. Meski cerita rakyat Roro Mendut banyak disajikan dalam bahasa Jawa, di bawah ini kami paparkan kisahnya dalam bahasa Indonesia beserta unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya. Selamat membaca! Cerita Rakyat Roro Mendut Sumber: Pustaka Setia Bandung Alkisah, pada zaman dahulu, ada desa nelayan bernama Teluk Cikal yang berlokasi di wilayah Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung.

Di desa kecil itu, hiduplah seorang gadis bernama Roro Mendut yang merupakan anak dari seorang nelayan. Wajahnya sangatlah cantik dan rupawan. Ia juga senantiasa teguh pada pendiriannya. Wanita cantik ini memiliki kekasih yang cukup tampan dari desa seberang. Pria itu adalah Pranacitra, putra dari Nyai Singabarong yang terkenal kaya raya. Meski telah memiliki kekasih, masih banyak pria yang mencoba mendekati dan melamarnya. Namun, perempuan teguh ini tak segan-segan menolak para pria yang mendekatinya.

kisah roro mendut

Ia dengan lantang mengucapkan bahwa dirinya telah memiliki kekasih dan tak ingin mereka ganggu. Kisah roro mendut suatu hari, kecantikan dan kemolekan wanita ini terdengar oleh penguasa Kadipaten Pati bernama Adipati Pragolo II. Ia pun tertarik untuk menjadikan Roro sebagai selirnya. Oleh karena itu, ia mendatangi wanita itu untuk melamarnya. Meskipun dilamar oleh sang penguasa, wanita cantik ini sama sekali tak tertarik.

Ia tetap menjaga kesetiaan pada kekasih yang dicintainya. Adipati Pragolo II tak menyerah begitu saja. Ia terus-terusan datang ke Teluk Kisah roro mendut untuk membujuk Roro menjadi selirnya. Tapi, wanita cantik tersebut terus-terusan menolaknya.

Adipati Pragolo II Menghalalkan Segala Cara Hingga suatu hari, Pranacitra turun tangan. Ia kesal karena Adipati terus-terusan mengganggu kekasihnya. Tak ada rasa takut, Pranacitra menantang Adipati untuk bertarung dengannya. Karena merasa kesal, Adipati pun meminta beberapa pengawalnya untuk menculik Roro Mendut. Pada suatu pagi, ketika perempuan berambut panjang ini menjemur ikan asin, datanglah pengawal Adipati.

“Ayo gadis cantik, ikutlah kami keraton!” seru salah satu pengawal itu. “Tak sudi aku menjadi selir tuanmu itu! Pengecut sekali dia. Melawan kekasihku saja tak berani. Cuih!” ucap Roro Mendut dengan lantang. “Kami tak ingin mendengar celotehanmu. Tugas kami adalah memaksamu datang ke keraton!” ucap para pengawal sambil menarik kedua tangan perempuan itu dengan kasarnya. “Lepaskan aku! Aku tak sudi jadi selir Adipati!” teriak wanita tersebut sambil meronta-meronta kesakitan. Para pengawal tak mengindahkan rengekkan wanita ini.

Mereka terus menarik tangannya dan memaksanya menaiki kereta kuda. Bahkan, mulutnya juga dibekap dengan kain sehingga ia tak sanggup berteriak. Terjadi Keributan Setibanya di keraton, Roro Mendut dipingit di dalam Puri Kadipaten Pati.

Puri kisah roro mendut merupakan asuhan seorang dayang bernama Ni Semangka dan Genduk Duku. Di sisi lain, selama masa pingitan Roro, ternyata Kadipaten Pati sedang mengalami perkara. Sultan Agung menuding Adipati Pragolo II sebagai pemberontak karena tak membayar upeti atau pajak pada Kesultanan Mataram.

Oleh karena itu, Sultan Agung melakukan penyerangan pada penguasa Kadipaten Pati. Sayangnya, Sultan Agung tak sanggup melakukan penyerangan pada Adipati yang mengenakan kere waja atau baju zirah yang konon sakti karena bisa kisah roro mendut serangan dari senjata apa pun. Mengetahui hal tersebut, Ki Nayadarma, abdi pemegang payung Sang Sultan pun turun tangan. “Gusti Prabu, perkenankanlah hamba yang menghadapi Adipati Pragolo.

Menyerangnya bukanlah hal mudah karena ia mengenakan baju zirah.” pinta Ki Nayadarma pada Sultan Agung. “Baiklah, Abdiku! Tolong bantu aku mengalahkan pemberontak ini,” ujar sang sultan. Berbekal tombak pusaka Baru Klinting, Ki Nayadarma melakukan penyerangan pada Adipati Pragolo II. Sayangnya, Adipati masih mampu menangkal serangan itu. Saat Adipati lengah, dengan sigap Ki Nayadarma menyerang Adipati dengan pusaka Baru Klinting ke bagian tubuhnya yang tak terlindungi baju zirah. Seketika itu pula, Adipati tewas.

Tumenggung Wiraguna Meminta Roro Mendut Menjadi Selirnya Usai pertarungan antara Sultan Agung dibantu Ki Nayadarma melawan Adipati Pragolo II, para prajurit merampas semua harta kekayaan Kadipaten Pati. Para prajurit itu dikomandani panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna. Saat itu pula, keberadaan Roro Mendut di Puri Kadipaten Pati diketahui oleh Tumenggung Wiraguna.

Seketika, komando panglima ini jatuh hati pada Roro. Ia pun menawarkan Roro untuk tinggal di Mataram dan menjadi selirnya. Dengan tegas, Roro menolak Tumenggung. Meski panglima itu membujuknya dengan segala penawaran menarik, Roro tetap menolaknya. Bahkan, ia tak segan-segan mengatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih.

Sikap keras kepala Roro membuat Panglima Tumenggung Murka dan mengancamnya. “Baiklah kalau kamu tak mau menjadi selirku! Tapi, ada syarat yang harus kau penuhi. Seluruh upeti Adipati Pragolo II yang menunggak, harus kamu bayarkan. Yakin kau sanggup membayarnya?” bentak Panglima Tumenggung.

kisah roro mendut

Roro Mendut tak gentar dengan ancaman tersebut, “Kau pikir aku takut dengan ancamanmu! Aku akan membayar upeti milik Adipati. Asalkan, jangan sampai kau muncul di hadapanku lagi! Tak sudi aku melihatmu!” ucap Roro dengan bentakan. “Baiklah jika kau ingin melunasi upetinya. Namun, sebelum melunasinya, kau wajib tinggal bersamaku!” ucap Tumenggung. Roro Mendut pun akhirnya tinggal di Keraton Mataram dan dijaga oleh para dayang dan pengawal Tumenggung. Dalam keraton itu, ia bertemu dengan dua selir Tumenggung lainnya, yaitu Putri Arumardi dan Nyai Ajeng.

Wanita Penjual Rokok Roro Mendut memang memiliki pacar kaya raya, sehingga ia bisa saja meminta uang untuk membayar upeti pada Panglima Temenggung. Akan tetapi, Roro punya pendirian bahwa ia tak akan merepotkan siapa pun. Demi membayar upeti, ia rela berjualan rokok tembakau.

Ia menawarkan dagangannya dari satu orang ke orang lain. Beruntung, rokok yang ia jual laku keras. Hal itu lantaran para pria terpesona dengan kecantikan Roro. Tak sedikit pula pria-pria yang mau membayar banyak puntung rokok bekas isapan Roro Mendut Suatu hari, Roro bertemu dengan kekasihnya, Pranacitra.

Kekasihnya tersebut membawakan sebongkah uang untuk membayar upeti, tapi Roro menolaknya. Ia tak ingin menyusahkan kekasihnya itu. Pranatacitra lalu memikirkan jalan keluar untuk membawa keluar kekasihnya dari Mataram. Roro Mendut pun mencoba berbicara pada para selir Tumenggung bahwa ia ingin keluar dari Mataram. “Putri Arumardi, Nyai Ajeng, aku ingin mengatarakan sesuatu pada kalian. Sebenarnya, aku tak ingin menjadi selir Tumenggung. Aku telah memiliki kekasih dan aku ingin keluar dari pengawasan pengawal Tumenggung.

Akan tetapi, aku tak tahu caranya,” ucap roro pada kedua selir Tumenggung. Putri Arumardi dan Nyai Ajeng pun mendukung keputusan Roro. Mereka turut memikirkan cara untuk membebaskan Roro dari pengawasan para pengawal Tumenggung.

Sebenarnya, mereka juga tak setuju bila Tumenggung memiliki selir baru. Menyusun Rencana Kabur dari Mataram Sumber: Youtube – Generasi Pembangun Setelah semalaman memikirkan cara, Putri Arumardi dan Nyai Ajeng akhirnya menemukan jalan keluar. Mereka berencana akan membuat keributan saat pagi hari tiba, sehingga para pengawal yang mengawasi Roro fokusnya teralihkan. “Roro, besok, saat hari sudah petang, aku dan Nyai Ajeng akan membuat keributan yang sangat hebat.

Tugasmu adalah kabur saat para pengawal sibuk melerai kami. Mintalah kekasihmu untuk menunggu di luar keraton, sehingga setelah keluar dari sini ada yang menjagamu,” ucap Putri Arumardi. “Baik, Putri kisah roro mendut Nyai! Aku besok pagi akan memberi tahu rencana ini pada kekasihku. Malamnya aku akan kabur dari sini.

Aku sangat berterima kasih atas saran yang Putri dan Nyai berikan padaku,” ucap Roro sembari menangis karena terharu. Keesokan harinya, dengan dalih berjualan rokok, Roro bertemu dengan kekasihnya. Sesuai pesan Putri Arumardi, ia meminta Pranacitra untuk menunggunya di luar keraton saat petang tiba.

Pada malam harinya, Putri Arumardi dan Nyai Ajeng pun pura-pura berseteru. Mereka pura-pura memperebutkan Panglima Tumenggung. Keributan itu memancing para pengawal untuk melerai mereka. Saat itu pula, Roro kabur dari pintu belakang dan menemui kekasihnya.

Mereka berdua lalu berlari menuju desa Teluk Cikal untuk menemui ayah Roro. Pranacitra berencana akan menikahi Roro sesampainya di desa Teluk Cikal, sehingga tak ada pria yang berani mengganggu kekasihnya lagi. Sayangnya, dalam perjalanan ke Teluk Cikal, mereka ditangkap oleh pengawal Tumenggung yang ternyata sedari tadi telah mengikuti kisah roro mendut.

Secara paksa mereka membawa Roro kembali ke Mataram. Dengan sisa kekuatan yang tersisa, Pranacitra melawan para pengawal. Namun, karena pengawal tumenggung jumlahnya cukup banyak, Pranacitra pun mengalami kekalahan. Para pengawal lalu membawanya ke suatu tempat. Lalu, Panglima Tumenggung meminta pengawalnya untuk membunuh Pranacitra. Tumenggung Tetap Memaksa Roro Menjadi Selirnya Panglima Tumenggung memaksa Roro lagi untuk menjadi kekasihnya.

Namun, gadis cantik ini tetap menolaknya. “Cuih, tak sudi aku jadi selirmu,” ucap Roro sambil meludahi wajah Tumenggung. “Hahahaha, berani-beraninya kau melawanku! Kau pikir kekasihmu itu akan kisah roro mendut menyelematkanmu seperti waktu itu?” ucap Panglima Tumenggung sambil menjambak rambut Roro. “Tentu saja! Dia bakal menyelamatkanku! Dia tak akan ragu membunuhmu bila kau berani menyentuhku!” ucap Roro dengan tegas.

“Hahahaha, maafkan aku Roro! Tapi, kekasihmu itu telah tiada. Ia telah kubunuh terlebih dahulu. Itulah balasan buat orang yang keras kepala sepertimu!” ucap Tumenggung sambil tertawa licik.

“Aku tak percaya pada mulutmu itu! Aku yakin Pranacitra masih hidup. Ia bakal menyelamatkanku darimu!” lawan Roro dengan berani. “Kalau kamu tak percaya, ayo, akan kubawa kamu ke makam kekasih yang sangat kau cintai itu,” ajak Panglima Tumenggung. Kisah roro mendut menerima ajakan itu. Setibanya di makam kekasihnya, Roro Mendut jatuh dan tersungkur. Ia merasa sangat terpukul dan tak percaya kekasihnya telah tiada.

Ia pun menangis histeris. “Sudahlah, Gadis cantik! Buat apa kau menangisi seseorang yang telah tiada! Ayo, kita tinggalkan saja tempat ini dan jadilah selirku.

Maka, hidupmu kan semakin bahagia,” ucap Tumenggung sembari tertawa. “Kau pikir, dengan membunuh kekasihku, aku lantas mau menjadi selirmu? Sampai ajalku pun tak sudi aku menikah denganmu! Perbuatanmu akan kulaporkan pada Sultan Agung. Kau pikir dia bakal diam saja? Tunggulah pembalasanku!” ancam Rara Mendut. Tumenggung tak memerdulikan kata-kata Roro. Ia lalu menyeret wanita yang lemah itu untuk kembali ke Mataram.

Dengan sisa kekuatan miliknya, ia mengambil keris milik Tumenggung yang terselip pada celana. Seketika itu pula, Roro mengarahkan keris ke arah Tumenggung.

Ia lalu berlari kembali ke makam kekasihnya, “Kakanda, kenapa mereka tega sekali membunuhmu! Bagaimana aku bisa hidup tanpamu,” ucap Roro sambil menangis. Memutuskan untuk Bunuh Diri “Roro Mendut! Kesabaranku telah habis!

Aku akan memaksamu untuk kembali ke Mataram meskipun harus melukaimu!” paksa Panglima Tumenggung. “Lebih baik aku mati daripada harus menjadi selirmu! Keris ini akan menjadi saksinya,” ucap Roro sambil mengarahkan keris itu ke perutnya.

“Hentikan itu Roro! Tak ada gunanya kau bunuh diri! Buang kerisku dan aku tak akan memaksamu lagi!” bujuk Tumenggung. Namun, Roro Mendut tak mendengarkan Tumenggung. Ia lalu menusuk perutnya berulang kali dengan keris milik Tumenggung.

“Aku akan menyusulmu, Kakanda. Aku tak akan mau bersama orang lain, selain dirimu,” ucap Roro Mendut terakhir kalinya sebelum akhirnya tersungkur. Dalam waktu sekejap, Roro pun meninggal tepat di sebelah makam kekasihnya.

Melihat peristiwa itu, Tumenggung menyesali perbuatannya. “Oh, Tuhan. Seandainya aku tak memaksa Roro menjadi selirku, tentu ia tak akan nekad berbuat seperti ini,” sesal Panglima Tumenggung. Untuk menebus kesalahannya, ia mengubur Roro Mendut satu liang dengan Pranacitra. “Kisah cintamu bersama Pranacitra kan abadi selamanya.

Maafkan aku. Tenanglah kalian sekarang,” ucap Tumenggung. Unsur Intrinsik Cerita Rakyat Roro Mendut Setelah membaca cerita rakyat asal Jawa Tengah berjudul Roro Mendut ini, kini saatnya untuk mengulik beragam unsur intrinsiknya.

Berikut ulasannya; 1. Tema Tema atau inti cerita dari kisah Roro Mendut ini adalah tentang kesetiaan cinta dan keteguhan hati seseorang. Meski pria-pria yang melamar punya jabatan tinggi, Roro tetap teguh pada pendiriannya, yaitu setia pada satu pria saja. 2. Tokoh dan Perwatakkan Sumber: Wikimedia Commons Ada beberapa tokoh utama dalam kisah Roro Mendut.

Sebut saja Roro Mendut, Pranacitra, Sultan Agung, Adipati Pragolo II, dan Panglima Tumenggung Wiraguna. Roro dan Pranacitra adalah tokoh protagonis yang memiliki sikap saling setia satu sama lain.

Selain itu, Roro juga merupakan wanita pemberani yang teguh pada pendiriannya. Ia bahkan berani menolak menjadi selir meski nyawa adalah ancamannya. Dalam cerita rakyat Roro Mendut ini, Sultan Agung adalah penguasa yang bijak. Sementara Adipati Pragolo II dan Panglima Tumenggung Wiraguna adalah dua orang pemimpin yang jahat. Mereka bahkan menghalalakan segala cara hanya demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Beberapa tokoh yang mendukung dan turut mewarnai cerita rakyat Roro Mendut adalah Putri Arumardi, Nyai Ajeng, Ni Semangka, Genduk Duku, dan Ki Nayadarma. 3. Latar Kisah Roro Mendut menggunakan beragam latar tempat. Pertama adalah desa Teluk Cikal yang berada di wilayah Kesultanan Mataram. Latar tempat berikutnya adalah di Kadipaten Pati. Terakhir adalah kisah roro mendut makam Pranacitra yang kemudian juga menjadi makam Roro Mendut.

4. Alur Cerita Rakyat Roro Mendut Bisakah kamu menebak alur cerita rakyat Roro Mendut? Kalau menyimak kisah Roro Mendut secara seksama, kamu mungkin bisa menebak jika alurnya adalah maju. Cerita bermula dari penguasa Kadipaten Pati yang tertarik pada Roro. Namun, wanita tersebut selalu menolaknya. Alhasil, penguasa Kadipaten Pati memaksanya. Setelah itu, Sultan Agung mendapati penguasa Kadipaten Pati tak bertanggung jawab pada kepemimpinannya.

kisah roro mendut

Lalu, mereka pun bertarung dan berakhir pada kekalahan penguasa Kadipaten Pati. Pada akhirnya, Roro Mendut dipaksa untuk menjadi selir dari Panglima Tumenggung Wiraguna. Hal itu membuat kekasihnya mati dan wanita itu pun memutuskan untuk bunuh diri. Kisah yang cukup tragis, kan? 5. Pesan Moral Ada beberapa pesan moral dari kisah ini, salah satunya adalah jadilah wanita yang teguh pada pendirian. Roro sampai akhir hidupnya tetap menjaga kehormatannya dengan tak menjadi selir.

Selain itu, dari kisah cinta Roro Mendut dan Pranacitra, kamu juga bisa belajar pentingnya saling menjaga kesetiaan. Dari para tokoh antagonis, pesan moral yang dapat kisah roro mendut petik adalah jangan menjadi orang yang suka memaksakan keinginan. Sebab, hal itu dapat menghancurkan kebahagiaan orang lain. Selain intrinsik, cerita rakyat Roro Mendut ini juga memiliki unsur ekstrinsik.

Seperti nilai-nilai moral, sosial, dan budaya yang sesuai dengan lingkungan sekitar. Fakta Menarik Kisah Roro Mendut ini memiliki beragam fakta menarik. Kira-kira, apa sajakah itu?

Daripada penasaran, langsung saja simak ulasan lengkapnya berikut ini, yuk! 1. Ada Novel dan Film yang Mengadaptasi Kisah Ini Sumber: Wikimedia Commons Kisah wanita kuat ini pernah diadaptasi menjadi sebuah film berjudul Roro Mendut yang disutradarai oleh Ami Prijono. Peran utama dalam film yang tayang pada kisaran tahun 1982 ini adalah Meriam Belina, Mathias Muchus, dan W.D.

Mochtar. Tak hanya film saja, cerita rakyat ini juga diangkat menjadi novel trilogi berjudul Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Novel trilogi ini pertama kali terbit pada tahun 2008. 2. Kerap Dikaitkan dengan Kisah Candi Mendut Karena sama-sama bernama mendut, kisah wanita ini dan Candi Mendut kerap dikait-kaitkan. Ada pula yang mengatakan bila wanita tersebut dikuburkan di Candi Mendut. Padahal, keduanya tidak memiliki keterikatan kisah sama sekali.

Candi Mendut sendiri merupakan candi bercorak Buddha yang terletak di kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lebih tepatnya, candi ini berada sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur. 3. Makam Roro Mendut Kerap Menjadi Tempat Pesugihan Makam Roro Mendut dulu kerap menjadi tempat ritual. Namun, karena tak terurus, makam tersebut justru menjadi tempat melakukan hal-hal negatif oleh para pemuda sekitar. Oleh karena itu, pengurus desa menutup akses menuju makam.

Sejak saat itu, banyak orang dari luar kota yang justru datang ke makam untuk mencari pesugihan dan melakukan ritual berhubungan seks dengan lawan jenis yang tidak dalam ikatan suami istri. 4. Memiliki Beberapa Versi Cerita Cerita rakyat Roro Mendut sebenarnya memiliki beberapa versi. Salah satu versi kisah menceritakan bila Roro Mendut bertemu Pranacitra kisah roro mendut ia berjualan rokok. Pranacitra sendiri adalah seorang pria yang biasa atau tidak kaya raya.

kisah roro mendut

Mereka lalu jatuh hati pada pandangan pertama. Cerita lainnya mengisahkan bahwa wanita ini tak berada pada satu liang kubur dengan kekasihnya. Kisah roro mendut bunuh diri saat dipaksa kembali ke Mataram.

Ada pula kisah yang menyebutkan bila hubungan asmara mereka tidak direstui sehingga mereka memutuskan untuk bunuh diri bersama. Sudah Puas dengan Cerita Rakyat Roro Mendut?

Inilah akhir dari kisah Roro Mendut beserta ulasan unsur intrinsik dan fakta-fakta menariknya. Apakah kamu sudah cukup puas dengan kisah yang kami sampaikan? Kalau masih ingin baca kisah lainnya, langsung saja kepoin kanal Ruang Pena pada PosKata.com. Ada cerita rakyat Roro Jonggrang, legenda asal-usul Danau Toba, kisah terjadinya Gunung Merapi, dan masih banyak lagi. Selamat membaca! Penulis Rinta Nariza Rinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru.

Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. Editor Khonita Fitri Seorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing.

Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
Rara Mendut atau Roro Mendut (dalam bahasa Jawa) adalah seorang gadis cantik yang berpendirian teguh. Karunia kecantikan yang luar biasa membuat  Rara Mendut menjadi rebutan para pria, mulai dari kalangan rakyat biasa, bangsawan, hingga panglima perang.

Suatu ketika, Rara Mendut diculik oleh Adipati Pragolo II, penguasa Kadipaten Pati untuk dijadikan selir. Namun, sebelum menjadi selir Adipati Pragolo II, Rara Mendut direbut oleh panglima perang Kerajaan Kisah roro mendut, Tumenggung Wiraguna untuk dijadikan selir pula. Bagaimana nasib Rara Mendut selanjutnya? Berikut kisahnya dalam cerita Kisah Rara Mendut. * * * Dahulu, di pesisir pantai utara Pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, Jawa Tengah, tersebutlah sebuah desa nelayan bernama Teluk Cikal.

Desa itu termasuk ke dalam wilayah Kadipaten Pati yang diperintah oleh Adipati Pragolo II. Kadipaten Pati sendiri merupakan salah satu wilayah taklukan dari Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. Di Teluk Cikal, hidup seorang gadis anak nelayan bernama Rara Mendut. Ia seorang gadis yang cantik dan rupawan. Rara Mendut juga dikenal sebagai seorang gadis yang teguh pendirian. Ia tidak sungkan-sungkan menolak para lelaki yang datang melamarnya sebab ia sudah memiliki calon suami, yakni seorang pemuda desa yang tampan bernama Pranacitra, putra Nyai Singabarong, seorang saudagar kaya-raya.

Suatu hari, berita tentang kecantikan dan kemolekan Rara Mendut terdengar oleh Adipati Pragolo II. Penguasa Kadipaten Pati itu pun bermaksud menjadikannya sebagai selir.

Sudah berkali-kali ia membujuknya, namun Rara Mendut tetap menolak. Merasa dikecewakan, Adipati Pragolo II mengutus beberapa pengawalnya untuk menculik Rara Mendut. “Lepaskan, aku!” teriak Rara Mendut sambil meronta-ronta, “Aku tidak mau menjadi selir Adipati Pragolo. Aku sudah punya kekasih!” Para pengawal itu tidak peduli dengan rengekan Rara Mendut.

Mereka terus menyeret gadis itu naik ke kuda lalu membawanya ke keraton. Sebagai calon selir, Rara Mendut dipingit di dalam Puri Kadipaten Pati di bawah asuhan seorang dayang bernama Ni Semangka dengan dibantu oleh seorang kisah roro mendut yang lebih muda bernama Genduk Duku.

kisah roro mendut

Sementara Rara Mendut dalam masa pingitan, di Kadipaten Pati sedang terjadi gejolak. Sultan Agung menuding Adipati Pragolo II sebagai pemberontak karena tidak mau membayar upeti kepada Kesultanan Mataram. Kisah roro mendut Agung pun memimpin langsung penyerangan ke Kadipaten Pati. Menurut cerita, Sultan Agung tidak mampu melukai Adipati Pragolo II karena penguasa Pati itu memakai kere waja (baju zirah) yang tidak mempan senjata apapun.

Melihat hal itu, abdi pemegang payung sang Sultan yang bernama Ki Nayadarma pun berkata, “Ampun, Gusti Prabu. Perkenankanlah hamba yang menghadapi Adipati Pragolo!” pinta Ki Nayadarma seraya memberi sembah. “Baiklah, Abdiku. Gunakanlah tombak Baru Klinting ini!” ujar sang Sultan. Berbekal tombak pusaka Baru Klinting, Ki Nayadarma langsung menyerang Adipati Pragolo II.

Namun, serangannya masih mampu ditepis oleh Adipati Pragolo II. Saat Adipati itu lengah, Ki Nayadarma dengan cepat menikamkan pusaka Baru Klinting ke bagian tubuh sang Adipati yang tidak terlindungi oleh baju zirah.

Adipati Pragolo II pun tewas seketika. Sementara itu, para prajurit yang dikomandani panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna, segera merampas harta kekayaan Kadipaten Pati, termasuk Rara Mendut.

Tumenggung Wiraguna langsung terpesona saat melihat kecantikan Rara Mendut. Ia pun memboyong Rara Mendut ke Mataram untuk dijadikan selirnya. Tumenggung Wiraguna berkali-kali membujuk Rara Mendut untuk dijadikan selir, namun selalu ditolak. Bahkan, di kisah roro mendut panglima itu, ia berani terang-terangan menyatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih bernama Pranacitra.

Sikap Rara Mendut yang keras kepala itu membuat Tumenggung Wiraguna murka. “Baiklah, Rara Mendut. Jika kamu tidak ingin menjadi selirku, maka sebagai gantinya kamu harus membayar pajak kepada Mataram!” ancam Tumenggung Wiraguna. Rara Mendut tidak gentar mendengar ancaman itu. Ia lebih memilih membayar pajak daripada harus menjadi selir Tumenggung Wiraguna.

Oleh karena masih dalam pengawasan prajurit Mataram, Rara Mendut kemudian meminta izin untuk berdagang rokok di pasar. Tumenggung Wiraguna pun menyetujuinya. Ternyata, dagangan rokoknya laku keras, bahkan, orang juga beramai-ramai membeli puntung rokok bekas isapan Rara Mendut. Suatu hari, ketika sedang berjualan di pasar, Rara Mendut bertemu dengan Pranacitra yang sengaja datang mencari kekasihnya itu.

Pranacitra berusaha mencari jalan untuk bisa melarikan Rara Mendut dari Mataram. Setiba di istana, Rara Mendut menceritakan perihal pertemuannya dengan Pranacitra kepada Putri Arumardi, salah seorang selir Wiraguna, dengan harapan dapat membantunya keluar dari istana.

Rara Mendut tahu persis bahwa Putri Arumardi tidak setuju jika Wiraguna menambah selir lagi. Putri Arumardi dan selir Wiraguna lainnya yang bernama Nyai Ajeng menyusun siasat untuk mengeluarkan Rara Mendut ke luar dari istana.

Bersama dengan Pranacitra, Rara Mendut berusaha untuk kembali ke kampung halamannya di Kadipaten Pati. Namun sungguh disayangkan, pelarian Rara Mendut dan Pranacitra diketahui oleh Wiraguna. Pasangan ini akhirnya berhasil ditemukan oleh para prajurit Wiraguna.

Rara Mendut pun dibawa kembali ke Mataram, sedangkan secara diam-diam, Wiraguna memerintahkan abdi kepercayaannya untuk menghabisi nyawa Pranacitra. Alhasil, kekasih Rara Mendut itu tewas dan dikuburkan di sebuah hutan terpencil di Ceporan, Desa Gandhu, terletak kurang lebih 9 kilometer sebelah timur Kota Yogyakarta.

Sepeninggal Pranacitra, Tumenggung Wiraguna kembali membujuk Rara Mendut agar mau menjadi selirnya. Namun, usahanya tetap sia-sia, gadis cantik itu tetap menolak. Sang Panglima pun tidak kehabisan akal.

Ia kemudian menceritakan perihal kematian Pranacitra kepada Rara Mendut. “Sudahlah, Rara Mendut. Percuma saja kamu menikah dengan Pranacitra,” ujar Tumenggung Wiraguna. “Apa maksud, Tuan?” tanya Rara Mendut mulai cemas. “Pemuda yang kamu kasihi itu sudah tidak ada lagi,” jawab Tumenggung Wiraguna. “Kanda Pranacitra sudah tidak ada? Ah, kisah roro mendut tidak mungkin terjadi. Aku baru saja bertemu dengannya kemarin,” kata Rara Mendut tidak percaya. “Jika kamu tidak percaya, ikutlah bersamaku, akan kutunjukkan kuburnya,” ujar Tumenggung Wiraguna.

Rara Mendut pun menurut untuk membuktikan perkataan Tumenggung Wiraguna. Betapa terkejutnya Rara Mendut begitu sampai di tempat Pranacitra dikuburkan. Ia berteriak histeris di hadapan makam kekasihnya. “Kanda, jangan tinggalkan Dinda!” tangis Rara Mendut. “Sudahlah, Mendut! Tak ada lagi gunanya meratapi orang yang sudah mati,” ujar Wiraguna, “Ayo, kita tinggalkan tempat ini!” Rara Mendut pun bangkit lalu mengikuti Tumenggung Wiraguna sambil terus menangis.

Belum jauh mereka meninggalkan tempat pemakaman itu, Rara Mendut pun murka dan mengancam akan melaporkan perbuatan Wiraguna kepada Raja Mataram, Sultan Agung. “Tuan jahat sekali. Perbuatan Tuan kisah roro mendut kulaporkan kepada Raja Mataram agar mendapat hukuman yang setimpal!” ancam Rara Mendut. Seketika, Tumenggung Wiraguna menjadi sangat marah. Ia kemudian menarik tangan Rara Mendut untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Namun, gadis itu menolak dan meronta-ronta untuk melepaskan diri. Begitu tangannya terlepas, ia menarik keris milik Tumenggung Wiraguna yang terselip di pinggangnya. Rara Mendut kemudian berlari menuju makam kekasihnya. Panglima itu pun berusaha mengejarnya.

kisah roro mendut

“Berhenti, Mendut!” teriaknya. Setiba di makam Pranacitra, Rara Mendut bermaksud untuk bunuh diri. “Jangan, Mendut! Jangan lakukan itu!” teriak Tumenggung Wiraguna yang baru saja sampai. Namun, semuanya sudah terlambat. Rara Mendut telah menikam perutnya dengan keris yang dibawanya. Tubuhnya pun langsung roboh dan tewas di samping makam kekasihnya. Melihat peristiwa itu, Tumenggung Wiraguna merasa amat menyesal atas perbuatannya.

“Oh, Tuhan. Sekiranya aku tidak memaksanya menjadi selirku, tentu Rara Mendut tidak akan nekad bunuh diri,” sesal Tumenggung Wiraguna. Penyesalan itu tak ada gunanya karena semuanya sudah kisah roro mendut. Untuk menebus kesalahannya, Tumenggung Wiraguna menguburkan Rara Mendut satu liang dengan Pranacitra.

Begitulah kisah perjuangan Rara Mendut dalam mempertahankan harga diri dan kesetiaannya. * * * Kisah roro mendut cerita Kisah Rara Mendut dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Hingga kini, kisah ini masih dikenang dan menjadi simbol cinta yang abadi dalam masyarakat Jawa. Oleh YB. Mangunwijaya, cerita ini telah ditulis dalam trilogi karya sastra klasik berjudul Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri yang dimuat di harian Kompas kisah roro mendut bersambung.

Sekitar tahun 1983, novel ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul “Roro Mendut” yang disutradarai oleh Ami Prijono. Tahun 2008, novel trilogi ini kembali diterbitkan ke dalam gabungan sebuah novel yang berjudul Rara Mendut: Sebuah Trilogi.

Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa harta, pangkat, dan jabatan bukanlah jaminan untuk mendapatkan cinta sejati seseorang. Cinta sejati tidak selamanya bisa dinilai dengan materi, namun justru cinta itu hadir karena perasaan saling memberi-menerima dan memiliki sebagaimana kisah Rara Mendut dan Pranacitra.

• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Kisah roro mendut • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga kisah roro mendut Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Konten Terkait • Dituntut Tanggung Jawab Moral • Keluarga Aset Moral Bangsa • Pesan untuk Masa Lalu • Sinopsis dan Pesan Moral Drama Brilliant Class 8 • 4 Pesan Moral Perihal Autisme dalam Film "Innocent Witness" (2019) • Tidak Selalu tentang Kisah Cinta, Berikut Beberapa Kisah roro mendut Film India dengan Pesan Moral Terbaik Tentu kita sudah sangat mengenal dengan kisah cinta yang sudah sangat tersohor di seluruh dunia yaitu Romeo dan Juliet.

tetapi taukah di Indonesia juga ada kisah cinta yang juga mirip dengan Romeo dan Juliet yaitu Roro Mendut. Kisah roro mendut ini juga sudah menjadi legenda percintaan di tanah jawa bahkan sering juga kisah cinta ini dipentaskan pada pertujukan ketoprak.

Dikisahkan seorang anak nelayan di pantai pesisir pantai utara jawa tepatnya di desa nelayan yang bernama Teluk Cikal Kabupaten Pati Jawa Tengah yang mempunyai paras rupawan gadis itu bernama Roro Mendut atau dalam bahasa Indonesia sering disebut Rara Mendut. kecantikan Roro Mendut telah memikat hati banyak bangsawan yang berlomba-lomba inggin meminangnya sebagai istri maupun selir. Tetapi Roro mendut memang sudah mempunyai tambatan hati yaitu pemuda desa yang bernama Pranacitra yang juga merupakan putera dari Nyai Singabarong seorang saudagar kaya.

tak terkecuali penguasa Pati yang bernama Adipati Pranggolo II yang inggin menjadikan Roro Mendut sebagai kisah roro mendut. karena menolak suatu hari Adipati Pranggolo mengutus prajuritnya untuk menculik Roro Mendut dan akhirnya Roro Mendut pun dijadikan selir dan disekap di dalam Istana. Setelah Kadipaten Pati bergejolak dan kalah perang melawan Kerajaan Mataram akhirnya Pati jatuh ke tangan Mataram tidak terkecuali Roro Mendut yang juga memikat Tumenggung Wiraguna yang berhasil merampas Pati dari Adipati PranggoloII.

Roro Mendut kembali menolak dan mengatakan bahwa dia sudah mempunyai kekasih yang bernama Pranacitra. Tumenggung Wiraguna murka akan penolakan Roro Mendut kemudian juga memberikan syarat jika Roro Mendut harus membayar pajak kepada Mataram. Roro pun menyetujui dan dia pun mencari uang dengan berjualan rokok di pasar. karena kecantikannya rokok yang di jual Roro Mendut selalu habis bahkan orang-orang berlomba-lomba membeli rokok bekas hisapannya dengan harga mahal.

mendengar sang pujaan hatinya berjualan rokok di pasar akhirnya Pranacitra mencarinya ke pasar dan berusaha melarikan diri bersama Roro Mendut. tetapi sayang pelarian itu tidak berhasil Roro Mendut kembali ke Istana sedangkan Pranacitra diculik dan dibunuh oleh Tumenggung Wiraguna dan dimakamkan di Desa Gandhu Ceporan tidak jauh dari kota Jogjakarta kurang lebih 9 kilometer.

Setelah mengetahui kekasihnya dibunuh Tumenggung Wiraguna, Roro Mendut barusaha kabur dari Istana dan mencari makam kekasihnya. para prajurit dan Tumenggung Wiraguna tetap mengejarnya hingga Roro Mendut menemukan makam kekasihnya. kesedihan Roro Mendut yang sangat mendalam hingga dia berbuat nekat dengan bunuh diri menggunakan keris Tumenggung Wiraguna dengan menusuk perutnya dengan keris tersebut. setelah Roro mendut meninggal Tumenggung Wiraguna merasa bersalah kemudian menguburkan Roro Mendut satu liang dengan kekasihnya Pranacitra.

Pesan moral yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah bahwa harta, pangkat, dan jabatan bukanlah jamimanan untuk mendapatkan cinta sejati seseorang. Cinta sejati tidak selamanya bisa dinilai dengan materi, namun justru cinta itu hadir karena perasaan saling memberi-menerima dan memiliki sebagaimana kisah Rara Mendut dan Pranacitra.
Daftar Isi • Cerita Rakyat Roro Mendut • 1.

Siapakah Roro Mendut • 2. Adipati Pragolo II Menggunakan Segala Cara • 3. Keributan di Keraton • 4. Roro Mendut Diminta Menjadi Selir • 5. Menjadi Penjual Rokok • 6. Kabur Dari Mataram • 7. Tumenggung Memaksa Roro Mendut Menjadi Selir • 8. Roro Mendut Bunuh Diri • Unsur Intrinsik Cerita Rakyat Roro Mendut • 1.

Tema • 2. Latar • 3. Tokoh kisah roro mendut A. Roro Mendut • B. Pranacitra • C. Sultan Agung • D. Adipati Pragolo II dan Tumenggung Wiraguna • E. Tokoh pendukung • 4. Alur • 5. Sudut Pandang • 6. Amanat / Pesan Moral • 7.

Majas • Unsur Ekstrinsik Cerita Rakyat Roro Mendut • 1. Nilai budaya • 2. Nilai sosial • 3. Nilai ekonomi Cerita Rakyat Roro Mendut 1. Siapakah Roro Mendut Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil yang bernama Teluk Cikal hiduplah seorang gadis yang sangat cantik.

Nama gadis itu adalah Roro mendut. Desa Teluk Cikal merupakan desa yang berada di wilayah Kesultanan Mataram. Pada masa itu masih dipimpin oleh Sultan Agung. Dia merupakan anak seorang nelayan disana. Selain cantik, ia juga seorang gadis yang memiliki pendirian teguh. Kala itu dia memiliki kekasih yang bernama Pranacitra. Kekasihnya ini merupakan pemuda desa seberang yang tampan.

kisah roro mendut

Orang tua Pranacitra, Nyai Singabarong sangat terkenal kaya raya. Namun walaupun orang-orang sudah tahu jika Roro Jonggrang memiliki kekasih, masih banyak pria yang mendekatinya. Dengan lantang Roro Jonggrang menolak semua lamaran yang datang. Selang waktu berjalan, kecantikan Roro Jonggrang terdengar oleh Adipati Pragolo II.

Seorang penguasa Kadipaten Pati. Muncul keinginannya untuk menjadikan dia sebagai salah satu selir. Sang Adipati segera datang dan melamar Roro Mendut, namun ditolak. Penolakan ini tidak membuat Adipati Pragolo II menyerah. Dia terus datang ke desa dan membujuk Roro Mendut. Tapi lagi-lagi penolakan yang diterima.

2. Adipati Pragolo II Menggunakan Segala Cara Pranacitra yang mengetahui kisah roro mendut Adipati menjadi sangat kesal. Dia menantang Adipati untuk bertarung melawannya.

Adipati kesal dan merencanakan menculik Roro Mendut. Pengawal Adipati datang ke rumah Roro Mendut dan mengajaknya ke keraton. Dengan lantang Roro Mendut menolaknya, “Dasar pengecut, beraninya hanya menyuruh pengawalnya. Sampai kapanpun aku tidak sudi menjadi selir!” Para pengawal dengan paksa menarik tangan Roro Mendut dan membawanya ke keraton 3.

Keributan di Keraton Roro Mendut dipingit di Puri Kadipaten Pati yang dijaga oleh dayang bernama Genduk Duku dan Ni Semangka. Selama masa pingitan dialami Roro Kisah roro mendut, ternyata sedang terjadi konflik antara Sultan Agung dan Adipati Pragolo II. Adipati Pragolo II dituduh tidak membayar upeti ke Kesultanan Mataram dan dianggap sebagai pemberontak. Kejadian ini memicu penyerangan dari Sultan Agung ke Kadipaten Pati.

kisah roro mendut

Namun ternyata Sultan Agung tidak mampu menyerang karena Adipati mengenakan kere waja. Pakaian kere waja adalah sejenis baju zirah yang memiliki kesaktian dalam melawan serangan. Akhirnya seorang abdi bernama Ki Nayadarma turun tangan.

“Adipati tidak mudah untuk diserang, Gusti Prabu. Izinkan hamba yang maju untuk melawannya” Pinta Ki Nayadarma kepada Sultan Agung. Sang sultan setuju dan meminta Ki Nayadarma untuk mengalahkan Adipati.

Ki Nayadarma membawa tombak pusaka yang bernama Baru Klinting dan berusaha menyerang Adipati. Namun ternyata serangan ini juga bisa ditangkal oleh Adipati, Pada suatu kesempatan, Ki Nayadarma melihat Adipati tengah lengah. Dengan sigap Ki Nayadarma menusukkan tombak Baru Klinting ke bagian tubuh yang tidak terlindung baju zirah.

Akhirnya Adipati Pragolo II tewas seketika. 4. Roro Mendut Diminta Menjadi Selir Setelah peperangan usai, panglima Mataram yang bernama Tumenggung Wiraguna memimpin pasukan untuk merampas semua harta Kadipaten Pati.

Saat itu juga dia bertemu dengan Roro Mendut yang sedang dipingit. Tumenggung Wiraguna jatuh cinta saat melihat Roro Mendut dan memintanya menjadi selir. Tentu saja tawaran itu ditolak oleh Roro Mendut dan mengatakan telah memiliki kekasih. Hal ini membuat Tumenggung Wiraguna murka. “Jika kamu keras kepala dan tidak mau menjadi selir, kamu harus melunasi tunggakan upeti Adipati!” Ancam sang Tumenggung.

“Baiklah aku akan melunasinya, aku tidak takut dengan ancamanmu. Setelah itu pergi dari hadapanku!” jawab Roro Mendut. Selama belum melunasi upeti tersebut, Roro Mendut harus tinggal di keraton yang dijaga oleh pengawal dan dayang Tumenggung. Saat itulah dia bertemu dengan Putri Arumardi dan Nyai Ajeng, para selir Tumenggung Wiraguna.

5. Menjadi Penjual Rokok Demi bisa membayar upeti yang dijanjikannya, Roro Mendut berjualan rokok. Sebenarnya dia bisa saja meminta kepada Pranacitra, namun dia tidak mau merepotkan orang lain. Rokok yang dijual Roro Mendut laris, kebanyakan pembeli adalah laki-laki yang terpesona dengan kecantikannya.

Pranacitra akhirnya mengetahui masalah yang dialami Kisah roro mendut Mendut. Dia datang membawa uang untuk membayar upeti, namun ditolak. Pranacitra berfikir bagaimana caranya agar kekasihnya itu bisa keluar dari Mataram. Akhirnya Roro Mendut berbicara dengan selir Tumenggung Wiraguna dan mengutarakan niatnya untuk kabur. Kedua selir tersebut setuju dan Menyusun rencana agar Roro Mendut lepas dari pengawal Tumenggung. 6. Kabur Dari Mataram Nyai Ajeng dan Putri Arumardi telah menemukan cara agar Roro Mendut bisa kabur.

“Besok pagi-pagi, kita akan membuat keributan agar pengawal sibuk untuk melerai kami. Saat itu kamu bisa keluar dan mintalah kekasihmu berjaga hingga kamu tiba.” Kata Putri Arumardi.

Roro Mendut menangis atas kebaikan para selir tersebut. Diam-diam Roro mendut menceritakan rencananya pada Pranacitra saat berada di pasar. Ketika malam kisah roro mendut, Nyai Ajeng dan Putri Arumardi pura-pura memperebutkan Panglima Tumenggung.

Kejadian tersebut menimbulkan keributan hingga para pengawal datang melerai. Kesempatan itu digunakan Roro Mendut untuk kabur. Mereka berdua berlari menemui ayah Roro di desa Teluk Cikal. Pranacitra akan menikahi Roro Mendut setiba di desa agar tidak diganggu lagi. Naas, ternyata para pengawal mengikuti mereka dan menangkapnya. Pranacitra yang mencoba melawan tidak berdaya. Roro Mendut kembali dibawa ke Mataram.

Panglima Tumenggung memerintahkan pengawalnya untuk membunuh Pranacitra. 7. Tumenggung Memaksa Roro Mendut Menjadi Selir Roro Mendut tetap menolak permintaan Tumenggung untuk dijadikan selir.

Dia masih percaya bahwa Pranicitra akan datang menolongnya. “Maafkan aku, kekasihmu itu telah aku bunuh. Dia telah tiada, ini adalah balasan untukmu!” Kata Tumenggung licik.

Roro Mendut tidak percaya hingga Tumenggung membawanya ke makam sang kekasih. Sampai di depan makam, Roro Mendut menangis histeris hingga jatuh. Tumenggung masih memaksa Roro Mendut agar menyerah dan mau menjadi kisah roro mendut. Tetap saja Roro Mendut tidak memperdulikannya.

Tumenggung menyeret Roro Mendut untuk kembali ke Mataram. Saat itu dia melihat keris terselip di celana, seketika dia mengambilnya dan berlari ke arah makam Pranacitra. 8. Roro Mendut Bunuh Diri Tumenggung berteriak agar Roro Mendut tidak bunuh diri. “Kamu tidak perlu bunuh diri.

kisah roro mendut

Lepaskan keris itu. Aku tidak akan memaksamu lagi!” Kata Tumenggung. Namun Roro Mendut tidak mendengarnya dan menusuk perutnya menggunakan keris tersebut. “Kanda, tunggu aku, aku akan menyusulmu. Aku hanya ingin bersamamu, aku tidak mau bersama yang lain,” Ucap Roro Mendut.

Kemudian dia jatuh dan meninggal di makam Pranacitra. Tumenggung Wiraguna merasa menyesal telah memaksanya menjadi selir. Akhirnya Roro Mendut dikuburkan bersama dengan Pranacitra. “Maafkan aku, semoga kalian tenang disana. Kisah cintamu akan abadi selamanya.” Kata Tumenggung didepan makam. Selain cerita rakyat roro mendut di atas, mungkin kamu juga tertarik membaca cerita berikut: • Cerita Rakyat Malin Kundang • Cerita Rakyat Timun Mas Unsur Intrinsik Cerita Rakyat Roro Mendut Setelah membaca keseruan cerita diatas, berikut kita kisah roro mendut lebih dalam mengenai unsur intrinsik yang terkandung dalam cerita.

Adapun unsur intrinsik cerita rakyat roro mendut adalah sebagai berikut: 1. Tema A. Roro Mendut • Cantik • Setia kepada pasangannya • Pemberani • Memiliki pendirian yang teguh B. Pranacitra • Tampan • Setia dan kaya raya • Berani melawan untuk menolong sang kekasih C. Sultan Agung • Pemimpin yang bijak dan pemberani D. Adipati Pragolo II dan Tumenggung Wiraguna • Pemimpin yang jahat • Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

E. Tokoh pendukung Nyai Ajeng, Putri Arumardi, Genduk Duku, Ni Semangka, dan Ki Nayadarma. 4. Alur Cerita rakyat Roro Mendut ini menggunakan alur maju. Bermula dari Adipati Pragolo II yang jatuh cinta pada Roro Mendut.

Pada saat yang sama terjadi pertempuran antara Adipati dan Sultan Agung dan akhirnya Kadipaten Pati mengalami kekalahan. Tumenggung Mataram yang bernama Panglima Tumenggung Wiraguna juga tertarik pada Roro Mendut. Namun terjadi penolakan. Kejadian ini membuat kekasih Roro Mendut terbunuh dan akhirnya Roro Mendut memutuskan untuk bunuh diri.

5. Sudut Pandang 1. Nilai budaya Pada masyarakat Jawa dulu, wanita dianggap lemah dan bisa dijadikan istri oleh siapapun atau dijadikan selir. 2. Nilai sosial Adanya kewajiban membayar upeti kepada penguasa.

3. Nilai ekonomi Telah dikenalnya mata uang dan jual beli di pasar. Membaca cerita rakyat roro mendut ini menjadi pelajaran tentang arti sebuah kesetiaan dan pentingnya memiliki pendirian yang teguh. Bahkan ketika seorang pemimpin berlaku sesuka hati, Anda harus bisa tetap teguh pada pendirian. Originally posted 2020-12-10 19:58:25. Artikel Terbaru • Mengenal Pendidikan Karakter, Dan Contoh Penerapannya • Metabolisme : Jenis, Cara Kerja, dan Tahapan • Membalik Gambar di Photoshop • Surat Perintah dan Contohnya • Cara Membuat Bootable Flashdisk • Cara Uninstall Microsoft Office • Surat Panggilan dan Contohnya • Penyetaraan Ijazah

Rara Mendut (dibaca " Roro Mendut" dalam bahasa Jawa) adalah cerita rakyat klasik yang merupakan salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi ( teks Jawa kuno). Kisah ini menceriterakan perjalanan hidup dan tragedi cinta seorang perempuan cantik dari pesisir pantai Kadipaten Pati (sekarang Kabupaten Pati) yang hidup pada zaman Sultan Agung, Daftar isi • 1 Latar belakang • 2 Sebagai sejarah • 3 Dalam literatur • 4 Dalam film • 5 Lihat pula Latar belakang [ sunting - sunting sumber ] Dikisahkan kecantikan Rara Mendut telah memukau semua orang, dari Adipati Pragola penguasa Kadipaten Pati, sampai termasuk juga Tumenggung Wiraguna ("Wiroguno", dalam bahasa Jawa), panglima perang Sultan Agung dari kerajaan Mataram yang sangat berkuasa saat itu.

Namun, Rara Mendut bukanlah wanita yang lemah. Dia berani menolak keinginan Tumenggung Wiraguna yang ingin memilikinya. Bahkan kisah roro mendut berani terang-terangan untuk menunjukkan kecintaannya kepada pemuda lain pilihannya, Pranacitra ("Pronocitro", dalam bahasa Jawa). Tumenggung Wiraguna yang murka dan iri kemudian mengharuskan Rara Mendut untuk membayar pajak kepada kerajaan Mataram. Rara Mendut pun harus berpikir panjang untuk mendapatkan uang guna membayar pajak tersebut.

Sadar akan kecantikannya dan keterpukauan semua orang terutama kaum lelaki kisah roro mendut, akhirnya dia tiba pada sebuah cara untuk men jual rokok yang sudah pernah di hisapnya dengan harga mahal kepada siapa saja yang mau membelinya. Dikisahkan bahwa Rara Mendut dan kekasihnya Pranacitra akhirnya mati bersama demi cinta mereka. Sebagai sejarah [ sunting - sunting sumber ] Erotisme Roro Mendut ketika berjualan rokok linting-nya, dengan lem dari jilatan lidah-nya, menggambarkan telah dikenalnya potensi " perempuan dalam pemasaran", bahkan pada zaman kerajaan Jawa abad ke-17.

Di samping itu, penolakan Rara Mendut diperistri oleh Tumenggung Wiraguna yang notabene adalah seseorang yang kaya dan berkuasa, memperlihatkan adanya "sifat kemandirian perempuan Nusantara" yang telah ada, walaupun tidak umum, pada saat babad tersebut ditulis. Satu hal yang perlu mendapat perhatian dari kisah Roro Mendut adalah bahwa tidak semua hal dapat diperoleh dengan mengandalkan kekuasaan. Dalam literatur [ sunting - sunting sumber ] Kisah Rara Mendut ditulis ke dalam kisah roro mendut karya sastra klasik oleh Y.B.

Mangunwijaya (atau " Romo Mangun"), tokoh sastra terkenal asal Ambarawa, Jawa Tengah, Indonesia, ke dalam sebuah novel trilogi yang pertama kali diterbitkan tahun 1982 sampai tahun 1987 dalam harian Kompas dalam format cerita bersambung. Trilogi ini masing-masing berjudul " Rara Mendut", " Genduk Duku", dan " Lusi Lindri". Pada tahun 2008, trilogi tersebut kembali diterbitkan ke dalam gabungan sebuah buku novel berjudul " Rara Mendut: Sebuah Trilogi" oleh Gramedia Pustaka Utama. Dalam film [ sunting - sunting sumber ] Setelah kepopuleran cerita bersambung Rara Mendut karya Y.B.

Mangunwijaya tersebut, pada tahun 1983 kisah roman Rara Mendut diadaptasi menjadi sebuah film berjudul Roro Mendut yang disutradarai oleh Ami Prijono, dibintangi antara lain oleh Meriam Bellina, Mathias Muchus, dan W.D.

Mochtar - aktor-aktor yang populer di Indonesia saat itu. Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Babad Tanah Jawi • Asal Usul Kisah roro mendut Tanjungpinang • Asal Usul Nama Pulau Penyengat • Asal Usul Pulau Batam dan Duri Angkang • Asal Usul Pulau Bintan • Awang Sambang Elang Raja di Laut • Badang Sandim Sani dan Batu Ampar • Datuk Putih Laksemana Bentan • Dongeng Ikan Lebai Suka Kenduri • Dongeng Hantu Laut Datuk Jerampang • Dongeng Ketam Buan dan Ugui • Dongeng Sungai Jodoh • Dongeng Wak Colak Yong Dede • Hang Nadim Laksemana Bertimbakan Darah Tiga Puluh Kali • Jenawi Pusaka Perang Lanun • Keris Sempena Riau • Kisah Pulau Senua • Legenda Gunung Daik • Padi Penaungan • Perselisihan Ikan Tongkol dan Ayam Jantan • Putri Pandan Berduri • Raja Bentan Wan Seri Benai • Riwayat Orang Laut Enam Suku • Riwayat Pulau Paku • Tok Nyang Saka Baka Muka Kuning Jawa Barat • Halaman ini terakhir diubah pada 16 Februari 2022, pukul 23.16.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •Roro Mendut atau dalam Bahasa Indonesia dibaca Rara Mendut adalah Cerita Rakyat dari Jawa Tengah.

Pada zaman dahulu, tepatnya di pantai utara kadipaten Pati, hiduplah seorang gadis yang sangat elok, cantik jelita. Ia bernama Roro Mendut. Ia adalah putri seorang nelayan di daerah itu. Kecantikan Roro Mendut sangat tersohor hingga beritanya sampai kepada Adipati Pragolo II, penguasa Kadipaten Pati.

Adipati Pragolo penasaran dan ingin melihat Roro Mendut. Ternyata benar. Roro Mendut luar biasa cantiknya. Adipati Pragolo pun langsung terpesona dan jatuh cinta. Tidak begitu lama sejak pertemuan itu, Adipati Pragolo bermaksud melamar Roro Mendut untuk di jadikan selir. Namun Roro Mendut menolaknya. Adipati Pragolo tidak menyerah begitu saja, Kisah roro mendut kali ia melamar Roro Mendut namun Roro Mendut tetap menolak dan mengatakan bahwa ia sudah punya kekasih, yaitu Pranacitra, pemuda desa yang tampan, anak seorang saudagar yang kaya raya.

tentu saja hal tersebut membuat Adipati Pragolo sangat marah. Maka ia pun menyuruh pengawalnya untuk menculik Roro Mendut dari rumahnya. Saat itu Kadipaten Pati berada di bawah kekuasaan kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung.

Karena Kadipaten Pati tidak membayar upeti, maka Sultan Agung memerintah panglima perangnya, yaitu Tumenggung Wiraguna, untuk menyerang kadipaten Pati.

Kadipaten Pati yang tidak siap siaga menghadapi serangan itu menjadi kalang kabut dan akhirnya kalah. Adipati Pragolo pun dibunuh oleh Tumenggung Wiraguna dengan menggunakan senjata Baru Klinthing.

Maka seluruh kekayaan beserta orang-orang di Kadipaten pati diboyong ke Mataram. Saat itulah Tumenggung Wiraguna melihat Roro Mendut. Ia terpesona dan langsung melamarnya untuk di jadikan selir. Roro Mendut menolak dan mengatakan bahwa ia sudah punya kekasih. Tumenggung Wiraguna pun marah. Sebagai hukuman, ia mengharuskan Roro Mendut untuk membayar upeti. Roro Mendut mencari cara untuk memperoleh uang guna membayar upeti tersebut.

Maka iapun meminta ijin untuk berjualan rokok di pasar. Karena kecantikannya yang luar biasa, maka dagangannya pun laris manis. Bahkan putung hasil isapannya pun laris terjual dengan harga sangat mahal. Suatu hari Roro Mendut bertemu Pranacitra yang selalu mencarinya. Mereka pun berencana untuk melarikan diri. Sesampainya di kerajaan, Roro mendut pun menceritakan ihwal pertemuannya dengan Pranacitra dan rencana mereka untuk melarikan diri dari kerajaan Mataram, kepada dua orang selir Tumenggung Wiraguna yang tidak setuju Tumenggung menambah selir lagi.

Dibantu oleh dua orang selir tersebut, Kisah roro mendut Mendut berhasil melarikan diri bersama Pranacitra. Namun sayang, usaha mereka diketahui oleh pengawal kerajaan.

Maka Roro Mendut pun dibawa pulang ke kerajaan. Sementara itu, tanpa sepengetahuan Roro Mendut, Pranacitra dibunuh, dengan harapan Roro Mendut mau menikah dengan Tumenggung Wiraguna. Tumenggung Wiraguna kembali mendesak Roro Mendut agar mau jadi selirnya.

“Tidak. Saya sudah punya calon suami” Kata Roro Mendut.

kisah roro mendut

“Percuma kamu mengharapkan laki-laki itu. Dia sudah mati.” Kata Tumenggung Wiraguna. “Tidak mungkin. Saya baru saja bertemu dia.” Timpal Roro Mendut. “Kalau tidak percaya, ayo, ku antar ke makamnya.” Kata Tumenggung Wiraguna. Melihat makam itu, Roro Mendut menjerit histeris.

“Sudahlah, tidak ada gunanya meratapi orang yang sudah mati.” Kata Tumenggung Wiraguna. Maka Roro Mendut ditarik paksa agar kembali ke kerajaan. Roro Mendut meronta-ronta. Dan saat tangannya terlepas dari genggaman Tumenggung Wiraguna, secepat kilat ia menyambar keris milik Tumenggung Wiraguna dan segera berlari ke makam Pranacitra. “Jangan Roro Mendut!” Tumenggung Wiraguna berusaha menyusul untuk menghentikan Roro Mendut. Tetapi terlambat. Roro Mendut telah menancapkan keris itu ke tubuhnya, dan ia pun roboh di atas makam Pranacitra.
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama kisah roro mendut Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT [caption caption="Gambar: arekubidotblogspotdotcom"][/caption]Hari ini, Selasa, 31 Mei 2016 adalah World No-Tobbaco Day (Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia) yang diinisiasi oleh World Health Organization ( WHO) beberapa tahun lalu.

Pertimbangan dari dikampanyekannya Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia oleh WHO adalah akibat adanya gangguan kesehatan pada manusia akibat penggunaan tembakau dan produk olahannya di kehidupan sehari-hari. Terutama di negara-negara penghasil dan pengolah tembakau. Kisah roro mendut satu produk olahan tembakau yang paling terkenal adalah rokok.

Rokok dari Indonesia adalah salah satu rokok yang paling terkenal di Dunia. Terkenal karena aroma dan rasanya yang khas. Wajar saja kalau rokok buatan Indonesia itu enak rasa dan aromanya. Karena tembakaunya dicampur dengan racikan cengkeh. Ada yang mengira bahwa awalnya ada yang menduga bahwa kebiasaan merokok sebagian besar orang Indonesia itu adalah sejak jaman penjajahan belanda dan sejak adanya pabrik-pabrik pengolahan tembakau di Sumatera dan di Jawa. Padahal, kalau merujuk pada kisah Roro Mendut yang terkenal sebagai penjual rokok yang cantik dan seksi di sekitar abad 17, artinya, rokok telah ada jauh di masa sebelum kedatangannya Belanda.

Bahkan dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, Sultan Agung Mataram sebagai seorang kisah roro mendut berat. Mungkin, kebiasaan merokok masyarakat di Jawa dan di beberapa daerah lain di Indonesia itu adalah sebagai evolusi dari kebiasaan nyirih.

Kisah roro mendut masa lalu, nyirih adalah kebiasaan umum masyarakat. Laki-laki maupun perempuan semuanya suka nyirih. Dan bahkan nyirih juga adalah sesuguhan bagi tetamu yang datang ke rumah. Kalau dulu ngobrol sambil nyirih. Sekarang ngobrol sambil ngerokok.

:) Sami mawon toh? :)) Ada yang mau beli rokok lintingannya Nyi Roro Mendut? Konon, banyak sekali orang mengantri setiap harinya untuk sekedar membeli rokok lintingannya Nyi Roro Mendut yang terkenal ayu dan seksi itu.

Tentu saja, pembelinya kebanyakan laki-laki. Dan konon lagi, semua rokok lintingannya Nyi Roro Mendut itu dijilatnya dulu agar lintingannya tetap rekat. Dengan begitu, mengisap rokok dagangannya Nyi Roro Mendut diartikan hampir sama dengan dicium oleh bibirnya Sang Nyai yang ayu itu. Hmmm. Pantesan laku :))Â Malah katanya, harga rokoknya Nyi Roro Mendut yang paling mahal adalah rokok yang sebelumnya sudah diibakar dan diisap dulu oleh Si Nyai.

Wuihh.bisa gitu ya :)) ckckckck. Sebenarnya, para lelaki perokok itu datang ke tempat jualannya Nyi Roro Mendut mau beli rokoknya atau mau pada melamunkan dicium atau berciuman dengan Si Nyai sih? :)) Keliatannya sih bukan mau betul-betul beli rokok nih :) Nah, kalau di jaman sekarang ini ada penjual rokok seperti Nyi Roro Mendut, Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia ini pasti susah sekali diikuti. Alih-alih bergerombol dan berpawai mengkampanyekan Anti Tembakau di jalan-jalan, pasti banyak yang lebih memilih bergerombol di warung rokoknya Nyi Roro Mendut :)Â Sekian.

Roro Mendut




2022 www.videocon.com