Nikmat mana lagi yang kau dustakan

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Surat Ar Rahman ayat 13 yang diulang 31x di Surat Ar-Rahman yang berjumah 78 ayat: فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُما تُكَذِّبانِ “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13).

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Ayat itu diulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar-Rahmaan. Kerap membuat siapapun tertegun membacanya. Betapa kita, sebagai makhluk-Nya, terkadang terlalu sombong untuk sekadar mengucapkan ‘terima kasih’ kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Menikmati ketentuan Allah atas untuk dioptimalkan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Dengan begitu, akan menjadi pribadi yang sempurna. Mari perhatikan bahwa Allah menggunakan kata "DUSTA", bukan kata nikmat mana lagi yang kau dustakan.

Hal ini menunjukkan bahwa nikmat yg Dia berikan kpd manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya.Dusta berarti menyembunyikan kebenaran, dusta sangat dekat dengan kesombongan yang acap tolak kebenaran dan menyepelekan hal lain kecuali dirinya.

Contoh sederhananya, kerapkah kala kita mendapat uang banyak, kita lalu pongah dan merasa bahwa itu akibat kerja keras kita? Manfaat syukur akan menguntungkan pelakunya. Allah tidak akan memperoleh keuntungan dengan syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya kufur. Jangan terlena hingga lupa dan mengklaim itu adalah hasil jerih payah sendiri, tanpa menganggap Allah sebagai Maha Pemberi. Karena, sikap seperti itu dapat menjerumuskan kepada kekufuran terhadap nikmat Allah.

Masya Allah, Maha Besar Allah Yang Maha Agung. Ternyata air laut yang tidak bercampur itu benar-benar ada. Saya sudah sering membaca ayat tersebut, tapi masih belum tahu di mana gerangan air laut yang tidak pernah bercampur itu.

Surat Ar-Rahman ayat 19 dan 20 yang berbunyi: مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيانِ 19 بَيْنَهُما بَرْزَخٌ لا يَبْغِيانِ 20 “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman:19-20) Ayat lain yang menceritakan fenomena yang sama terdapat pada Surat Al-Furqan ayat 53 yang berbunyi: وَ هُوَ الَّذي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هذا عَذْبٌ فُراتٌ وَ هذا مِلْحٌ أُجاجٌ وَ جَعَلَ بَيْنَهُما بَرْزَخاً وَ حِجْراً مَحْجُوراً 53“ Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S.

Al-Furqaan:53) “Alhamdulillah”, itulah ucapan terbaik yang perlu diucapkan oleh setiap insan setiap kali bangkit dari tidur. Tidur itu satu nikmat dari Ilahi yang mungkin tidak semua perasan dan ketahui. Sungguh bagi mereka yang mengambil ikhtibar dengan setiap yang berlaku di dunia ini, mereka akan hidup dalam kesedaran dan keinsafan bahawa semua terjadi atas kehendak Tuhan Pencipta Nikmat mana lagi yang kau dustakan.

“Jika mampu maka hitunglah dan senaraikanlah seberapa banyak nikmat yang engkau di anugerahkan dari tapak kakimu sebesar dua helai jari orang dewasa sehingga dinihari usiamu. Adakah kamu mampu?” Firman Allah (mafhummnya): “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkannya kepada kamu), tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihi.” (Surah An-Nahl, ayat 18) Nikmat-nikmat itu tidak diberi untuk sia-sia, engkau memerlukannya dan mereka di sekelilingmu memerlukannya.

Adakah masih ada rasa ragu dalam benak hati kalian sehingga mendustakan nikmat itu secara terang-terangan? Kalian mungkin tertanya, mana mungkin aku mendustakan nikmat Allah!

Aku tahu Allah yang memberikan segalanya! Kita memang tahu, bahkan jika ditanya murid sekolah rendah juga tahu. Namun, di mana buktinya untuk engkau membela diri di atas ucapan “tahu” yang dimaksudkan? “Di antara masjid dan pusat hiburan yang mana lebih dikunjungi orang? Di antara game dan solat yang mana menjadi keutamaan?

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Di antara bercouple dan Rasulullah s.a.w yang mana paling dicintai?” Kadang manusia tidak perasan bahawa apa yang mereka tahu iaitu ilmu misalnya, jika tidak diguna pakai dan dipraktiskan sehari-hari maka ianya tidak ada beza dengan debu-debu pasir yang berterbangan.

Jelas, tiada satu pun nikmat yang mampu dipertikaikan oleh seorang hamba kepada Rabb-Nya kerana kita sedar kita hanya “Si Pelazim Dosa” saban hari membuat dosa dan kita juga “Si Pengharap Redha Ilahi” menunduk sujud kepada Allah meminta pengampunan dan keredhaan dalam setiap perkara.

Duhai kalian yang sangat dicintai Allah, jika Allah memberi nikmat berdasarkan segala dosa yang kalian buat setiap hari, maka mungkin pada saat ini tiada lagi nikmat udara dan nyawa yang kalian miliki. Bersyukurlah kerana segala kenikmatan itu masih diberi. Maklumat Penulis Artikel ini ditulis oleh Hannani Juhari, berasal dari Johor Bahru, Johor. Meminati penulisan bergenre islamik. Ikuti perkembangan beliau di media sosial Facebook Tarbiah Santai, Blog https://lovehaniee.blogspot.com/ dan Wattpad MisSh9.

Berminat menulis artikel? Anda inginkan supaya hasil penulisan anda diterbitkan dalam website iluvislam? Klik sini.
Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? ﻓَﺒِﺄَﻱِّ ﺁﻟَﺎﺀِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺗُﻜَﺬِّﺑَﺎﻥِ Arti Ayat : " Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan ?" (QS Ar-Rahmaan: 13) Penjelasan Ayat itu diulang sebanyak 31 kali dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rahmaan. Kerap makna ayat tersebut membuat siapapun tertegun membacanya.

Betapa nikmat mana lagi yang kau dustakan, sebagai makhluk-Nya, terkadang terlalu sombong untuk sekadar mengucapkan 'terima kasih' kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Sudah banyak sekali nikmat yang sudah Dia berikan. Namun, kita malah tidak bersyukur kepada-Nya. Bukankah Allah SWT telah berfirman: ''Dan, Dia telah memberikanmu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.

Dan, jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).'' (QS Ibrahim [14]: 34).

Sudah banyak sekali nikmat yang Dia berikan. Nikmat mencicipi manisnya iman, nikmat menghirup udara segar, dan sebagainya. Allah telah memberi iming-iming yang menggiurkan untuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur, dan ancaman untuk hamba-hamba-Nya yang kufur, seperti yang termaktub dalam Surah Ibrahim ayat 7: “''Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah ( nikmat ) kepadamu.

Dan, jika kamu mengingkari (nikmat- Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'' Maka, syukurilah nikmat yang datang pada kita.

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Jangan kita terlena hingga kita lupa dan mengklaim itu adalah hasil jerih payah kita sendiri, tanpa menganggap Allah sebagai Maha Pemberi. Karena, sikap seperti itu dapat menjerumuskan kita kepada kekufuran terhadap nikmat Allah. Bila hal yang di atas berhubungan dengan pemberian yang sesuai dengan keinginan kita, lalu bagaimana dengan pemberian yang nikmat mana lagi yang kau dustakan sesuai dengan keinginan kita? Terkadang kita, sebagai manusia, mengeluhkan atau tidak mensyukuri pemberian Allah SWT yang tidak sesuai harapan kita.

Padahal, kita tidak tahu kalau itu sebenarnya baik untuk kita. Kita hanya terus menyalahkan keputusan-Nya. Tidak adillah, tidak baiklah, atau keluhan-keluhan lainnya terus meluncur dari lisan kita.

Jarang kita melihat sisi positif dari pemberian itu. Padahal, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, ketika ditimpa suatu musibah, janganlah cepat-cepat mengeluh. Lihatlah sisi positifnya. Berpikirlah bahwa Allah sayang kepada kita, karena Allah ingin segera menghapus dosa kita lewat ujian itu. Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa rasa lelahnya badan, rasa lapar yang terus menerus atau sakit, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa sekarang, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa lalu, gangguan orang lain pada dirinya, sesuatu yang membuat hati menjadi sesak sampai- sampai duri yang menusuknya melainkan akan Allah hapuskan dengan sebab hal tersebut kesalahan-kesalahannya” (HR Bukhori no 5641, Muslim no .

nikmat mana lagi yang kau dustakan

2573). Begitu juga ketika keputusan Allah tidak sesuai harapan kita. Mungkin itu adalah untuk kebaikan jangka panjang kita. Ingatlah, Allah memberikan apa yang kita PERLUKAN, bukan yang kita HARAPKAN, karena bisa jadi apa yang kita harapkan justru mendatangkan mudharat bagi kita. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “.Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) nikmat mana lagi yang kau dustakan menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216) Perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai, penyakit yang menggerogoti tubuh kita, merupakan beberapa ujian yang perlu kita ambil sisi positifnya.

Jangan kita terus mengeluh dan mengeluh. Karena, tak ada gunanya juga terus meratapi nasib. Sesekali, beranikan diri kita untuk mengambil sisi positif dari itu semua.

Karena, di balik semua kejadian, pasti ada hikmahnya. Wallahu a’lam. فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Arab-Latin: Fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān Artinya: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

« Ar-Rahman 12 ✵ Ar-Rahman 14 » Ingin pahala jariyah dan bonus buku Rahasia Rezeki Berlimpah? Klik di sini untuk mendapatkan Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 13 (Terjemah Arti) Paragraf di atas merupakan Surat Ar-Rahman Ayat 13 dengan text arab, latin dan artinya.

Tersedia bermacam penjabaran nikmat mana lagi yang kau dustakan kalangan ahli tafsir berkaitan kandungan surat Ar-Rahman ayat 13, di antaranya sebagaimana tertera: Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia Maka nikmat manakah dari nikmat-nikmat Tuhan kalian berdua (wahai jin dan manusia) baik nikmat dunia atau nikmat akhirat, yang kalian dustakan?

Dan betapa bagus jawaban jin saat Nabi membacakan surat ini kepada mereka, setiap kali beliau membaca ayat ini, mereka berkata, “Tidak, tidak ada satu pun dari nikmat-nikmatMu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan.

Segala puji bagiMu.” Demikian sepatutnya seorang hamba, bila nikmat-nikmat dan karunia-karunia Allah dibacakan kepadanya, hendaknya dia mengakuinya, mensyukurinya, dan memujiNya karenanya. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr.

Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) 13. Maka dengan nikmat Allah yang banyak untuk kalian -wahai jin dan manusia- yang mana yang kalian dustakan? Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah 13.

Maka kenikmatan mana yang Tuhan kalian berikan, yang kalian ingkari wahai jin dan manusia? Dan seorang muslim harus mengakui segala kenikmatan Allah dan mensyukurinya. Ingin pahala jariyah dan bonus buku Rahasia Rezeki Berlimpah?

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Klik di sini untuk mendapatkan Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 13. فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?) Ayat ini ditujukan kepada jin dan manusia. Makna (الآلاء) yakni kenikmatan-kenikmatan. Allah menyebutkan dalam surat ini berbagai kenikmatan, dan mengingatkan makhluk-makhluk-Nya tentang kenikmatan-kenikmatan itu.

kemudian Allah menyandingkan setiap penyebutan suatu kenikmatan dengan ayat ini, dan menjadikannya pemisah antara kenikmatan yang lain yang disebutkan dalam surat ini agar menjadi pengingat bagi hamba-hamba-Nya tentang kenikmatan-kenikmatan tersebut. Sebagaimana ketika kamu berkata kepada orang yang kamu beri banyak kebaikan kepadanya namun dia mengingkari kebaikanmu: Bukankah dulu kamu miskin kemudian aku membantumu?

Apakah kamu mengingkarinya? Bukankah dulu kamu lemah lalu aku menguatkanmu? Apakah kamu mengingkarinya? Bukankah kamu sebelumnya berjalan kaki, lalu aku membawamu bersamaku? Apakah kamu mengingkari itu? pengulangan pada hal seperti ini merupakan sesuatu yang baik.

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah 13. Maka nikmat Tuhan mana yang kalian dustakan wahai para manusia dan jin?

Istifham itu berfungsi sebagai bentuk pemberitahuan. Kalian tidak akan bisa mendustakannya. Dalam sunnah beliau bersabda setelah ayat itu: “Tidak satupun dari nikmat Tuhan yang kami dustakan, Maka segala puji bagiMu”. Pengulangan ayat ini merupakan perkara yang bagus untuk menyebut satu per satu nikmat (Allah). untuk memberi perhatian terhadap nikmat-nikmat itu. Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah {Maka nikmat Tuhan kalian yang manakah} nikmat Tuhan kalian {yang kalian dustakan Ingin pahala jariyah dan bonus buku Rahasia Rezeki Berlimpah?

Klik di sini untuk mendapatkan Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H 13. Setelah Allah menyebutkan banyak dari nikmat-nikmatNya yang dapat disaksikan dengan mata dan pandangan hati, di mana pesan ini ditujukan kepada jin dan manusia, Dia menyatakan nikmat-nikmatNya kepada mereka dengan berfirman, “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” yakni, nikmat din dan keduniaan manakah yang kalian dustakan?

Dan alangkah bagusnya jawaban jin ketika Nabi membacakan surat ini kepada mereka, setiap sampai kepada Firman Allah, “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” mereka menjawab, “Tidak ada satu pun nikmat dariMu yang nikmat mana lagi yang kau dustakan dustakan wahai Rabb kami, maka bagiMulah segala pujian.

Demikianlah yang seharusnya dilakukan oleh hamba, apabila disebutkan kepadanya nikmat dan karunia Allah, hendaknya ia mengakui dan mensyukurinya serta memuji Allah atasnya. An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi Surat Ar-Rahman ayat 13: Kemudian Allah mengarahkan firman-Nya kepada jin dan manusia dengan pengulangan dan kepastian, Allah berkata : Maka nikmat Tuhan kalian yang mana wahai jin dan manusia yang kalian dustakan ?!

Bahwasanya jin dan manusia tidak mungkin mendustakannya. Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sekian nikmat-nikmat-Nya yang dapat dilihat oleh mata dan dipikirkan oleh hati, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mentaqrir mereka (membuat mereka (jin dan manusia) mengakuinya) dengan firman-Nya di atas.

Sungguh bagus jawaban jin ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan kepada mereka surah ini, dimana Beliau tidak membacakan ayat, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” kecuali mereka mengatakan, “Tidak ada satu pun nikmat mana lagi yang kau dustakan nikmat-nikmat Engkau wahai Tuhan kami yang kami dustakan. Maka untuk-Mulah segala puji.” Demikianlah yang seharusnya dilakukan seorang hamba, yakni ketika disebutkan kepada mereka nikmat-nikmat Allah, maka ia mengakuinya dan mensyukurinya serta memuji Allah Ta’ala terhadapnya.

Pertanyaan di sini adalah untuk mengokohkan. Ingin pahala jariyah dan bonus buku Rahasia Rezeki Berlimpah? Klik di sini untuk mendapatkan Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Ar-Rahman Ayat 13 Setelah memaparkan nikmat dan anugerah-Nya, Allah lalu menantang jin dan manusia, 'wahai manusia dan jin, nikmat-nikmat Allah begitu banyak, maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, apakah nikmat yang sudah disebutkan ataukah yang lainnya'14-16.

Setelah menjelaskan penciptaan langit dan bumi seisinya, Allah menjelaskan penciptaan manusia dan jin. Dia menciptakan jenis manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan dia menciptakan jenis jin dari nyala api yang murni tanpa asap. Maka, wahai manusia dan jin, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan'.

Ingin pahala jariyah dan bonus buku Rahasia Rezeki Berlimpah? Klik di sini untuk mendapatkan Itulah beraneka penafsiran dari beragam pakar tafsir terkait kandungan dan arti surat Ar-Rahman ayat 13 (arab-latin dan artinya), semoga membawa faidah bagi ummat. Bantu syi'ar kami dengan mencantumkan tautan ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com. Sedang Populer • Surat Yasin • Surat al-Waqiah • Surat al-Kahfi • Surat al-Mulk • Surat ar-Rahman • Surat al-Fatihah
Setiap pagi, kita membuka mata.

Kita bernafas, merasakan dinginnya udara pagi, dan merasakan kesibukan di pagi hari. Kita terburu-buru ke sekolah, ada yang ke kantor, ke pasar, dan beragam kesibukan lainnya.

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Terkadang, kita ditimpa kesialan di tengah jalan. Kehilangan dompet, terlambat, bahkan merasa waktu di pagi hari itu terlalu menyesakkan untuk dilalui. Sejenak berhentilah dari rutinitas. Lihatlah alam sekitar. Hiruplah nafas panjang. Dan perhatikan betapa Allah mencintai kita. Dia masih memberimu kehidupan, di tengah kesulitan yang melanda. Tidak punya uang bukan masalah, kita masih diberi kesehatan.

Sementara itu, kesehatan adalah harta yang paling berharga. Kehilangan seseorang yang dicintai? Awalnya terasa menyesakkan dan mungkin saja kita sulit melupakan kejadian ini.

Namun, seiring waktu kita harus berusaha ikhlas melepas seseorang itu dan berbaik sangka kepada Allah. Sungguh, nikmat Tuhan itu tiada dua. “Maka, nikmat Tuhan mana lagi nikmat mana lagi yang kau dustakan Engkau dustakan?” (Ar-Rahman:28). Allah menciptakan semua segala sesuatunya dengan sempurna.

Jadi, mengapa harus mengeluh, bersedih atas segala sesuatu yang menimpa kita. Tiada sulit bagi-Nya untuk memberi dan melepas nikmat yang Dia berikan kepada kita. Adapun, apabila nikmat itu dicabut, akan ada hikmah di dalamnya yang tidak kita ketahui. Karena Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. Janganlah kita menerka-nerka buruk atas segala kejadian yang kita alami. Padahal, kita belum pernah tahu apa yang ada di dalamnya. Sekali-kali jangan, karena Allah Maha Tahu akan apa yang terjadi dalam hidup ini.

Jadi, sahabat jalani hidup kita dengan tawaqqal kepada-Nya. Berserah diri, karena kita tahu, segala sesuatu itu, terjadi atas kehendak-Nya. Tidak ada satu peristiwa yang luput dari penglihatannya.

Tidak ada satu peristiwa yang akan terjadi, tanpa izin-Nya. Seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-An’aam ayat 59 “Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)…” Jadi, Allah itu maha tahu. Apapun peristiwa dalam hidup kita. Senang, sedih, kecewa silih berganti. Sekecil apapun luka, semua atas izin Allah SWT, yang maha mengetahui. “…Allah mengatur urusan makhluknya” (Ar-Rad :2). jadi, jika berpikir bahwa bertemu dengan seseorang dan akhirnya ditakdirkan berpisah.

Itu bukan suatu kebetulan. Allah maha tahu atas diri kita. Pasti ada tujuan dibalik hal itu, mengapa orang yang terkasih yang harus dahulu meninggalkan dunia yang fana ini. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Allah telah mengaturnya sedemikian rupa. Kita tidak mengetahuinya. Namun orang yang selalu sabar dan tawaqqal atas segala ketetapan-Nya akan mendapat kemenangan dan ketenangan batin.

Bukankah Allah bersama orang-orang yang sabar dan menegakkan sholat? Jadi, sahabat Islam semuanya, apapun yang terjadi pada kita hari ini. Semua itu adalah anugerah. Allah menjadikan peristiwa itu, karena ada gunanya untuk kehidupan kita. Bersyukurlah walau itu pahit dan sulit untuk dijalani. Sungguh, udara yang kita hirup adalah bentuk kasih sayang Allah. Sekali-sekali, dapatkah manusia menciptakan udara? Mata yang kita gunakan untuk melihat adalah anugerah dari Allah juga.

Dapatkah manusia menciptakan mata itu sendiri? Jadi, semua yang ada dalam tubuh kita adalah pemberian Allah yang sempurna. Jadi, apa lagi yang kita keluh kesahkan hari ini? Bersyukurlah Allah masih memberi kehidupan. Allah masih memberikan rumah kontrakan yang bocor, masih ada kaki yang luar biasa hebat menopang perjalanan kita, di kala ketiadaan sepeda motor atau mobil. Sungguh, semua yang ada dalam diri kita ini luar biasa. “Jadi, nikmat Tuhan mana lagi yang Engkau dustakan?”
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Arti Ayat : " Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?" (QS Ar-Rahmaan: 13) Penjelasan Ayat itu diulang sebanyak 31 kali dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rahmaan.

Kerap makna ayat tersebut membuat siapapun tertegun membacanya. Betapa kita, sebagai makhluk-Nya, terkadang terlalu sombong untuk sekadar mengucapkan 'terima kasih' kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Sudah banyak sekali nikmat yang sudah Dia berikan. Namun, kita malah tidak bersyukur kepada-Nya. Bukankah Allah SWT telah berfirman: ''Dan, Dia telah memberikanmu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.

Dan, jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).'' (QS Ibrahim [14]: 34). Sudah banyak sekali nikmat yang Dia berikan. Nikmat mencicipi manisnya nikmat mana lagi yang kau dustakan, nikmat menghirup udara segar, dan sebagainya.

Allah telah memberi iming-iming yang menggiurkan untuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur, dan ancaman untuk hamba-hamba-Nya yang kufur, seperti yang termaktub dalam Surah Ibrahim ayat 7: “''Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah ( nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'' Maka, syukurilah nikmat yang nikmat mana lagi yang kau dustakan pada kita.

Jangan kita terlena hingga kita lupa dan mengklaim itu adalah hasil jerih payah kita sendiri, tanpa menganggap Allah sebagai Maha Pemberi.

Karena, sikap seperti itu dapat menjerumuskan kita kepada kekufuran terhadap nikmat Allah. Bila hal yang di atas berhubungan dengan pemberian yang sesuai dengan keinginan kita, lalu bagaimana dengan pemberian yang tidak sesuai dengan keinginan kita?

Terkadang kita, sebagai manusia, mengeluhkan atau tidak mensyukuri pemberian Allah SWT yang tidak sesuai harapan kita. Padahal, kita tidak tahu kalau itu sebenarnya baik untuk kita. Kita hanya terus menyalahkan keputusan-Nya. Tidak adillah, tidak baiklah, atau keluhan-keluhan lainnya terus meluncur dari lisan kita.

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Jarang kita melihat sisi positif dari pemberian itu. Padahal, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, ketika ditimpa suatu musibah, janganlah cepat-cepat mengeluh. Lihatlah sisi positifnya. Berpikirlah bahwa Allah sayang kepada kita, karena Allah ingin segera menghapus dosa kita lewat ujian itu. Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa rasa lelahnya badan, rasa lapar yang terus menerus atau sakit, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa sekarang, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa lalu, gangguan orang lain pada dirinya, sesuatu yang membuat hati menjadi sesak sampai-sampai duri yang menusuknya melainkan akan Allah hapuskan dengan sebab hal tersebut kesalahan-kesalahannya” (HR Bukhori no 5641, Muslim no.

2573). Begitu juga ketika keputusan Allah tidak sesuai harapan kita. Mungkin itu adalah untuk kebaikan jangka panjang kita. Ingatlah, Allah memberikan apa yang kita PERLUKAN, bukan yang kita HARAPKAN, karena bisa jadi apa yang kita harapkan justru mendatangkan mudharat bagi kita. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “.Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216) Perpisahan nikmat mana lagi yang kau dustakan orang-orang yang kita cintai, penyakit yang menggerogoti tubuh kita, merupakan beberapa ujian yang perlu kita ambil sisi positifnya.

Jangan kita terus mengeluh dan mengeluh. Karena, tak ada gunanya juga terus meratapi nasib. Sesekali, beranikan diri kita untuk mengambil sisi positif dari itu semua. Karena, di balik semua kejadian, pasti ada hikmahnya. Wallahu a’lam. Baca artikel menarik lainnya tentang cara menikmati shalat khusu dalam situs web aswan blog ini.Assalaamu’alaikum wr wb Pernahkah kita berhenti sejenak dari kesibukan kita, lalu merenung untuk mengukur prestasi hari ini?

Syukurlah jika sudah terbiasa atau pernah melakukannya. Banyak peristiwa yang kita lalui setiap harinya. Banyak kisah yang membekas dalam pikir dan rasa kita. Namun, adakah yang kemudian ‘nyangkut’ di benak kita dan menjadikannya sebagai inspirasi, sebagai sarana kontemplasi, sebagai evaluasi diri? Untuk apa itu semua? Tentu saja ada maksudnya. Untuk mengukur sejauh mana kita memaknai setiap detik kehidupan kita, untuk kemudian mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah Swt.

Bahagia rasanya, awal bulan mendapatkan gaji dari perusahaan tempat kita bekerja. Semoga bibir kita juga mudah untuk mengucapkan hamdalah. Pujian hanya bagi Allah Swt. Senang betul hati ini, ketika kita mendapatkan pekerjaan atau diberikan proyek tertentu bernilai tinggi jika dihitung secara materi. Semoga nikmat mana lagi yang kau dustakan, pikiran, dan bibir kita serentak memuji Allah Swt.

NikmatNya yang kita dapatkan tiada tara. Bangga dan bahagia rasanya ketika kita diberikan anak yang akan menjadi penerus kehidupan keluarga kita. Semoga senantiasa kita bersyukur atas nikmatNya itu. Kita bahagia dan kita senang ketika mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita impikan. Itulah nikmat dari Allah Swt. Namun, adakah di antara kita yang tetap mensyukuri nikmatNya meski itu kecil dan bahkan dianggap sebagai kepingan atau bernilai recehan saja?

Semoga saja tetap banyak yang memuji Allah Swt. atas nikmat tersebut, meski menurut ukuran kita ‘tak ada artinya’ atau tak berdampak secara signifikan bagi kehidupan kita. Semoga kita tidak lupa, bahwa Allah Swt. begitu Maha Pemurah. Memberikan apa saja bagi manusia.

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Namun, kita sebagai manusia hampir selalu mengukur bahwa nikmat dan rejeki adalah hal yang berkaitan dengan sesuatu yang besar. Bukan hal-hal yang kecil. Sehingga karena kecil itulah kita menganggapnya sebagai hal yang biasa dan tak perlu ditunjukkan ungkapan syukurnya. Atau, memang tidak dianggap sebagai sebuah nikmat. Benarkah kita seperti itu? Hanya masing-masing dari kita yang bisa menjawabnya. Rasa-rasanya di antara kaum muslimin umumnya sudah pernah membaca surat ar-Rahman.

Ya, pasti akan berkesan dengan diulang-ulangnya hingga 31 kali ayat: Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”). Ayat ini diletakkan di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah Ta’ala yang diberikan kepada manusia.

nikmat mana lagi yang kau dustakan

‘Seolah-olah’ Allah Swt. mempertanyakan kepada kita: “Nikmatku yang mana yang kamu dustakan?” Jika kita sedang berhadapan dengan seseorang yang mempertanyakan dengan pertanyaan seperti itu kepada kita, rasanya kita akan takut ketika kita memang mendustakan pemberiaan orang tersebut. Apalagi di hadapan Allah Swt.? PertanyaanNya terasa sangat menghunjam dada kita. Sesak rasanya. Meski kita tak mendustakan nikmatNya, namun tetap saja ada rasa khawatir, “jangan-jangan banyak juga nikmat yang tak terasa yang kita lupa bersyukur kepadaNya, atau bahkan tak menganggapnya sebagai nikmat”.

Kita pantas takut. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya kita memang khawatir. Sebab, banyak juga di antara kita yang tanpa sadar malah mendustakan nikmat Allah Swt. Misalnya saja, dalam tekanan kondisi tertentu kita mengeluhkan kondisi hidup kita yang tak ada peningkatan grafik kemajuan secara finansial. Kita merasa sebagai orang yang sangat menderita. Tanpa sadar kita mempertanyakan: “Di mana keadilan Allah Swt.? Padahal aku adalah orang yang paling bertakwa dan giat berdakwah”.

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Seolah kita meminta jatah dan servis yang berlebih hanya nikmat mana lagi yang kau dustakan kita berbeda dengan orang lain dalam aktivitas amal shalih. Keluhan kita tersebut, ternyata hanyalah bagian dari kecengengan kita, bahkan mungkin kemanjaan kita. Kita lupa, bahwa ujian akan senantiasa mendatangi kita nikmat mana lagi yang kau dustakan kita masih hidup di dunia ini. Ingatlah akan nikmat Allah yang begitu besar meski tanpa kita sadar.

Ya, bahwa selama kita masih bisa bangun pagi, mulut kita masih bisa mengucapkan doa setelah bangun tidur, itu artinya Allah Swt. masih memberikan rizki kepada kita. Masih memberikan nikmatNya agar kita bisa hidup mencari karuniaNya. Inilah nikmat yang seringkali dilupakan oleh manusia. Selain nikmat, tentu juga ada ujian. Jadi, jangan lupakan bahwa Allah Swt. akan menguji orang-orang yang sudah mengaku beriman.

Sebab, di situlah akan bisa dilihat, seberapa kuat keimanannya kepada Allah Swt. Firman Allah Ta’ala (yang artinya): “ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut (29) : 2-3) Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt.

kepada kita. Besar maupun kecil dalam hitungan nalar kita, tetaplah wajib disyukuri. Sebab, ketika kita bersyukur insya Allah, Dia akan menambahkan nikmatNya kepada kita. Sebaliknya, jika kita kufur alias mengingkari atau mendustakan nikmatNya, maka azabNya amat pedih.

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7) Yuk, kita benahi pikir dan rasa kita agar kita pandai mensyukuri nikmatNya yang begitu besar bagi kehidupan kita. Dan ketahuilah, bahwa nikmat menjadi Muslim dan berada dalam barisan orang-orang yang beriman, adalah anugerah terbesar yang diberikan kepada kita semua.

Sehingga tidak ada lagi alasan bahwa kita tidak diberikan nikmat oleh Allah Swt. Wallahu’alam bishowwab. Salam, O. Solihin - Instagram @osolihin Foto diambil dari sini Terbanyak Dibaca • Beberapa Tulisan Jurnalis.

2 views - 0 comments - by menuliskreatif - posted on Friday, 7 May 2010 • “Siapa Bilang Menulis Itu. 1 view - 0 comments - by osolihin - posted on Saturday, 27 July 2013 • Mengapa bingung menuliska.

1 view - 0 comments - by osolihin - posted on Saturday, 21 January 2012 • Menulis Tanpa Henti 1 view - 0 comments - by osolihin - posted on Friday, 9 November 2012 Terbaru • Antara Belajar Menulis dan Belajar Setir Mobil Monday, 26 May 2014 • Belajar Menulis dengan Menulis Tuesday, 26 November 2013 • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” Saturday, 27 July 2013 • Agar Khutbah Jumat Tak Membosankan Wednesday, 2 January 2013 • Menulis Tanpa Henti Friday, 9 November 2012
Breaking News • One Day One Ayat : Al Isra ayat 72, Akibat Buta Hatinya di Dunia… • Kisah Rasulullah Menasihati Sahabat Ali bin Abi Thalib Saat Pemulihan dari Sakit • Bangga Alumni Universitas Muhammadiyah Palembang tak Kalah Bersaing dengan Alumni Muhammadiyah di Pulau Jawa • Warga Indonesia Bersepeda ke Tanah Suci untuk Berhaji Tiba di Kuala Lumpur • Rincian Biaya Haji 2022, Apa Saja yang Sudah Ditanggung?

• Tips Mudah Cegah Gangguan Pencernaan di Zaman Penyakit Mudah Mewabah • Pemprov Sumsel Tak Berlakukan WFH, seperti Imbauan Menaker di Jakarta • Menghidupkan Spirit Ramadhan di 11 Bulan Selanjutnya • Usai Ramadhan Lanjut ke Syawal, Mari Kita Berpuasa untuk Tujuan Takwa • Sempurnakan Ikhtiar, Jangan Biasakan Meminta-minta AsSAJIDIN.Com — Bismillahirahmanirrahiim….

Didalam Surat Ar-Rahman ada pengulangan satu ayat yang berbunyi : فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ِ”Fabiayyi alaa’i rabbi-kumaa tukadzdzibaan” Artinya “Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang ”Kamu Dustakan’?” Kalimat ini diulang-ulang sebanyak 31x oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

nikmat mana lagi yang kau dustakan

Apa gerangan makna kalimat tersebut ? Setelah Allah menguraikan beberapa nikmat yang dianugerahkan kepada kita, lalu Allah bertanya : “Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu Dustakan’? “Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata “DUSTA”, bukan kata “INGKAR”. Hal ini menunjukkan bahwa Nikmat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari. Yang sering dilakukan manusia adalah ‘Men-Dustakan’-Nya. Dusta berarti ‘Menyembunyikan Kebenaran’. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah ‘Diberi Nikmat’ oleh Allah, tapi mereka ‘menyembunyikan Kebenaran itu, sehingga mereka… MENDUSTAKANNYA….

Lihat Juga : Jumat Barokah " Asmaul Husna" Warnai Resepsi Ijab Qobul Aidil-Nanda Bukankah kalau kita mendapat rezeki banyak, kita katakan bahwa itu karena hasil dari ‘Kerja Keras’ kita…??? Kalau kita berhasil meraih gelar Sarjana S1, S2, bahkan S3, itu karena ‘Otak Kita’ yang cerdas…???

Kalau kita sehat, jarang sakit, itu karena ‘kepiawaian kita’, kita ‘Pandai Menjaga’ Pola Makan dan Rajin ber-Olah Raga, dan sebagainya.

Semua nikmat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita, tanpa sadar, kita telah melupakan Peranan Allah. Kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan yang kita raih. kita dustakan bahwa sesungguhnya nikmat itu semuanya datang dari Allah. “Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu dustakan…?” Kita telah bergelimang kenikmatan : Harta, Pasangan Hidup, Anak-anak yang telah kita miliki.

Lihat Juga : Mewujudkan Keluarga Sakinah Kala Bunda Berkarya Meniti Karir Semua Nikmat itu akan Ditanya pada Hari Kiamat Kelak. “Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ‘Nikmat’ yang kamu peroleh saat ini” (QS At-Takatsur : 8) Sudah siapkah kita menjawab dan Mempertanggung Jawabkannya… “Dan jika kamu menghitung Nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya. (QS An-Nahl : 18). Tidak patutkah kita Bersyukur Kepada-Nya?

» Ucapkan Alhamdulillah. » Berhentilah mengeluh, apalagi membanggakan diri. » Dan Jalani Hidup ini dengan ikhlas, tawadhu sebagai bagian dari ”Rasa Syukur” kita. Semoga Bermanfa’at. (*) Recent Posts • One Day One Ayat : Al Isra ayat 72, Akibat Buta Hatinya di Dunia… • Kisah Rasulullah Menasihati Sahabat Ali bin Abi Thalib Saat Pemulihan dari Sakit • Bangga Alumni Universitas Muhammadiyah Palembang tak Kalah Bersaing dengan Alumni Muhammadiyah di Pulau Jawa • Warga Indonesia Bersepeda ke Tanah Suci untuk Berhaji Tiba di Kuala Lumpur • Rincian Biaya Haji 2022, Apa Saja yang Sudah Ditanggung?
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “lihatlah orang yang berada di bawah kamu dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena nikmat mana lagi yang kau dustakan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu”.

(HR Bukhari-Muslim) Seseorang yang bersyukur mengakui nikmat-nikmat Nya, menyebut nikmat itu, menggunakannya untuk ketaatan kepada-Nya serta mengerjakan segala sebab yang membantu untuk bersyukur, dimana salah satunya adalah dengan melakukan seperti yang disebutkan dalam hadits di atas. Hadits tersebut menyuruh kita nikmat mana lagi yang kau dustakan melihat orang yang berada di bawah kita dalam hal dunia (seperti dalam hal harta dan fisik), karena dengan cara seperti itu kita dapat merasakan besarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Namun dalam hal beribadah, sebagaimana dikatakan ulama, hendaknya melihat ke atas kita, karena dengan melihat orang yang lebih banyak ibadahnya, membantu kita lebih giat dan banyak beribadah dan menjadikan kita tidak bersikap ‘ujub (bangga diri) yang dapat menghapuskan amal. • Hide similarities • Highlight differences Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order. • Image • SKU • Rating • Price • Stock • Availability • Add to cart • Description • Content • Weight • Dimensions • Additional information • Attributes • Custom attributes • Custom fields




2022 www.videocon.com