Prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Penciptaan seni rupa (murni, desain, dan kriya) yang mementingkan kreativitas, sangat memerlukan keberanian bereksperimen. Ada perupa yang bereksperimen dalam penyajian bentuk seni (menciptakan bentuk baru), sementara perupa lain bereksperimen dalam memilih dan mengkombinasikan aspek konseptual penciptaan seni. Penciptaan seni rupa murni merupakan kegiatan berkarya seni lukis, seni patung, seni grafis, seni serat, dan lain-lain, untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman kehidupan menjadi perwujudan visual dilandasi kepekaan artistik.

Kepekaan artistik mengandung arti, memerlukan kemampuan mengelola atau mengorganisir elemen-elemen visual untuk mewujudkan gagasan menjadi karya nyata. Aspek konseptual dalam penciptaan karya seni rupa murni berhubungan dengan konsep-konsep penciptaan sebuah karya seni rupa itu sendiri. Aspek konseptual ini sangat berpengaruh terhadap hasil karya seni yang akan dibuat atau diciptakan. Aspek konseptual penciptaan karya seni rupa murni terdiri dari penemuan sumber inspirasi, penetapan interes seni, penetapan interes bentuk, dan penerapan prinsip bentuk.

1) Penemuan Sumber Inspirasi Sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni sangatlah luas dan bebas, hampir semua hal yang dapat dilihat dan dipikirkan memiliki potensi dan pesona untuk digubah menjadi karya seni.

Beberapa seniman ingin diakui keberadaan diri dan karya-karyanya, yaitu dengan menampilkan karakter, gaya yang berbeda dalam mengungkapkan karyanya.

Titik tolak penciptaan karya seni rupa murni adalah penemuan gagasan. Kita harus memiliki gagasan yang jelas dalam mengekspresikan pengalaman artistik. Sumber-sumber gagasan dalam penciptaan karya seni rupa antara lain sebagai berikut. • Berasal dari realitas internal, perambahan kehidupan spiritual (psikologis) kita sendiri.

Misalnya harapan, cita-cita, emosi, nalar, intuisi, gairah, kepribadian dan pengalaman-pengalaman kejiwaan lain yang kadangkala belum teridentifikasi dengan bahasa. Dengan kata lain, gagasan seni timbul dari kebutuhan kita sebagai manusia untuk berekspresi. • Berasal dari realitas eksternal, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan (tema religius), hubungan pribadi kita dengan sesama (tema sosial: keadilan, kemiskinan, nasionalisme), hubungan pribadi kita dengan alam (tema: lingkungan, keindahan alam) dan lain sebagainya.

Arti kata interest dalam bahasa Indonesia adalah perhatian atau minat. Dalam hubunganya denga seni rupa kata interes dapat diartikan sebagai minat terhadap seni rupa. Dalam aktivitas penciptaan kita harus dapat menentukan interes seni kita sendiri, sehingga dapat berkreasi secara optimal. Pada dasarnya terdapat tiga interes seni yaitu sebagai berikut.

• Interes pragmatis, menempatkan seni sebagai instrumen pencapaian tujuan tertentu. Misalnya tujuan nasional, moral, politik, dakwah, dan lain-lain. • Interes reflektif, menempatkan seni sebagai pencerminan realitas aktual (fakta dan kenyataan kehidupan) dan realitas khayali (realitas yang kita bayangkan sebagai sesuatu yang ideal). dan prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas Interes estetis, berupaya melepaskan seni dari nilai-nilai pragmatis dan instrumentalis.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Jadi interes estetis mengeksplorasi nilai-nilai estetik secara mandiri (seni untuk seni). Dengan menetapkan interes seni, kita akan lebih memahami tujuan kita menciptakan karya.

Interes bentuk merupakan keterterikan terhadap bentuk-bentuk karya seni rupa murni. Untuk. mengekspresikan penghayatan nilai-nilai internal atau eksternal dengan tuntas, perlu mempertimbangkan kecenderungan umum minat dan selera seni kita sendiri.

Misalnya kita dapat mencermati karya-karya yang telah kita buat selama studi. Kecenderungan yang dapat dipilih dalam penciptaan karya seni rupa murni adalah : • Bentuk figuratif, yakni karya seni rupa yang menggambarkan figur yang kita kenal sebagai objek-objek alami, manusia, hewan, tumbuhan, gunung, laut dan lain-lain yang digambarkan dengan cara meniru rupa dan warna benda-benda tersebut.

• Bentuk semi figuratif, yakni karya seni rupa yang “setengah figuratif”, masih menggambarkan figur atau kenyataan alamiah, tetapi bentuk dan warnanya telah mengalami distorsi, deformasi, stilasi, oleh perupa. Jadi bentuk tidak meniru rupa sesungguhnya, tetapi dirubah untuk kepentingan pemaknaan, misalnya, bentuk tubuh manusia diperpanjang, atau patung dewa yang bertangan banyak, bentuk gunung atau arsitektur yang disederhanakan atau digayakan untuk mencapai efek estetis dan artistik.

• Bentuk nonfiguratif, adalah karya-karya seni rupa yang sama sekali tidak menggambarkan bentuk-bentuk alamiah, jadi tanpa figur atau tanpa objek (karenanya disebut pula seni rupa non objektif). Karya-karya seni rupa non figuratif, jadinya merupakan susunan unsur-unsur visual yang ditata sedemikian rupa untuk menghasilkan satu karya yang indah. Istilah lain menyebut karya seni rupa non figuratif adalah karya seni abstrak. 4) Penetapan Prinsip estetik Pada umumnya karya seni rupa murni menganut prinsip estetika tertentu.

unsur estetik, yaitu azas atau prinsip untuk mengubah atau merencana dalam proses mencipta nilai-nilai estetik dengan penerapan unsur-unsur senirupa. Rumusan prinsip estetik merupakan hukum atau kaidah seni yang berfungsi sebagai sumber acuan dalam berkarya seni rupa. Tiap bangsa dan tiap zaman pada hakekatnya memiliki hukum seni yang berbeda.

Seorang perupa harus dapat mengidentifikasi cita rasa keindahan yang melekat pada karya-karya yang pernah kita ciptakan. Pada tahap ini, perlu menetapkan prinsip estetika yang paling sesuai untuk mengungkapkan pengalaman kita.

Alternatif prinsip estetika yang dapat dipilih dalam penciptaan karya seni rupa murni ialah sebagai berikut. • Pramodern adalah prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas merepresentasi bentuk-bentuk alam, atau aktivitas pelestarian kaidah estetik tradisional • Modern adalah prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas kreatif, yang mengutamakan aspek penemuan, orisinalitas, dan gaya pribadi atau personality. • Posmodern adalah prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas permaianan tanda yang hiperriil dan ironik, sifatnya eklektik (meminjam dan memadu gaya seni lama) dan menyajikannya sebagai pencerminan budaya konsumerisme masa kini.

B. Aspek Visual Aspek visual dalam karya seni rupa murni adalah aspek yang berhubungan dengan wujud karya seni rupa.

Wujud karya seni rupa dapat direspon oleh indera manusia. Seni rupa adalah wujud hasil karya manusia yang dapat dinikmati melalui indara penglihatan (visual). Aspek visual dalam karya seni rupa terapan terdiri dari struktur visual, komposisi, dan gaya pribadi.

• Struktur Visual. Untuk mewujudkan aspek konseptual menjadi karya visual, perlu ditegaskan lebih spesifik dalam subject matter, masalah pokok atau tema seni yang akan diciptakan. Misalnya tema sosial: kemiskinan, dengan pilihan objek “pengemis”. Tema perjuangan: dengan pilihan objek “Pangeran Diponegoro”, tema religius: lukisan kaligrafi dengan objek “ayat tertentu”, dan lain sebagainya.

Objek-objek tersebut dapat divisualisasikan dengan berbagai cara, pilihlah unsur-unsur rupa (garis, warna, tekstur, bidang, volume, ruang), sesuai dengan kebutuhan interes seni, interes bentuk dan prinsip estetika yang telah ditetapkan dalam aspek konseptual. • Komposisi. Hasil seleksi unsur-unsur rupa dikelola, ditata, dengan prinsip-prinsip tertentu, baik terhadap setiap unsur secara tersendiri maupun dalam hubungannya dengan bentuk atau warna.

Dengan memperhatikan empat prinsip pokok komposisi, yaitu: proporsi, keseimbangan, irama, dan kesatuan untuk memperlihatkan karakteristik keunikan pribadi kita. • Gaya pribadi. Dalam penciptaan karya seni, karakteristik atau prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas khas seorang perupa merupakan faktor bawaan, yang menandai sifat unik karya yang diciptakannya.

Misalnya Raden Saleh, Basoeki Abdullah dan S. Soedjojono, meskipun sama-sama melukis dengan gaya realisme, karyanya akan sangat berlainan karena unsur gaya pribadi. Karya Raden Saleh menghadirkan suasana dramatis aristokratis, karya Basoeki Abdullah memperlihatkan idealisasi keindahan yang permai, sedangkan karya S. Soedjojono menghadirkan suasana heroisme dan nasionalisme. Aspek operasional berkaitan dengan proses penciptaan sebuah karya seni rupa.

Sebuah karya seni dihasilkan melalui beberapa tahap yang harus dilalui. Langkah-langkah kerja dalam keseluruhan proses perwujudan karya dimulai dari penetapan bahan, peralatan utama dan pendukung, serta teknik-teknik dalam memperlakukan bahan dengan peralatannya.

Seluruh proses dikelompokkan ke dalam tiga tahap: • Tahap persiapan. pengadaan dan pengolahan bahan utama, bahan pendukung, dan pengadaan peralatan. • Tahap Pelaksanaan, berkenaan dengan pengalaman artistik, aktivitas proses kreasi dari awal hingga selesai. • Tahap akhir, karya seni rupa yang sudah diciptakan, masih membutuhkan tindakan-tindakan khusus supaya siap dipamerkan. Jenis karya seni rupa tertentu memerlukan pembersihan menyeluruh, lapisan pengawet (coating), atau lembaran kaca dan bingkai.

Jenis lain membutuhkan kemasan. Semuanya harus digarap dengan baik, sampai sebuah karya seni rupa dikatakan siap pamer. Estetika - Pengantar Filsafat Keindahan, Rasa dan Selera - serupa.id Tutup • Donasi Pencarian untuk: Cari • Beranda • Seni • Fundamental Seni • Teori Seni • Praktik Seni • Desain • Sejarah • Aliran Seni Rupa • Sejarah Seni • Pendidikan • Filsafat • Informatika • Semua Kategori • Semua Artikel • Tentang • Kebijakan Privasi • Kontak Tutup Memang benar bahwa keindahan berada di mata pemandangnya dan keindahan adalah hal yang subjektif, tidak usah diperdebatkan lagi.

Namun, sebetulnya keindahan yang merupakan topik utama estetika adalah salah satu faktor pertama yang akan diperhatikan dalam berbagai interaksi kehidupan sosial. Pada umumnya estetika adalah penilaian utama yang selalu dijatuhkan pada setiap karya seni. Meskipun demikian, dalam perkembangannya, keindahan tidak selalu menjadi hal utama dalam seni. Seni tidak melulu harus menjadi objek yang indah dan para ahli memilah bidang studi alternatif dari estetika untuk membahasnya, yakni dalam filsafat seni.

Keduanya, baik estetika maupun filsafat seni menjadi salah salah satu pencarian yang tak pernah usai digali, baik di dalam filsafat maupun bidang seni secara umum. Oleh karena itu, penting prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas pegiat seni untuk mempelajari estetika secara komprehensif untuk memperluas khazanah pemahaman seni.

Tujuan Estetika Estetika adalah ilmu yang membahas tentang keindahan ataupun selera dan rasa, termasuk seni.

Walaupun prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas ini menilai seseorang dari penampilan dianggap kurang pantas dan tidak adil, tetapi mau tidak mau hal tersebut akan selalu bersemayam dipikiran semua orang dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah sebabnya, mengapa kita selalu memperhatikan penampilan diri sendiri, sekecil apapun itu. Hal tersebut karena nyatanya, penampilan tetap berpengaruh pada karir, kehidupan asmara, bahkan lingkungan pertemanan dan masyarakat secara umum.

Semakin baik pemahaman suatu masyarakat terhadap estetika, maka semakin dalam juga apresiasinya terhadap keragaman paras wajah, penampilan, budaya, hingga pengaruh visual lain pada umumnya. Apresiasi yang lebih baik terhadap estetika juga akan memicu sikap toleransi positif pada keanekaragamannya; tidak berpatok pada satu pandangan ras, warna, dll tentang keindahan/kecantikan.

Cantik tidak selalu harus putih atau berhidung mancung. Keindahan tidak hanya terletak pada mata yang melihatnya, tetapi beradasarkan konteks tertentu (misalnya: aspek sosial) dari pemandang dan subjek yang dipandangnya itu sendiri. Hal seperti itulah yang terus digali oleh estetika. Pengertian Estetika Secara etimologis estetika berasal dari kata Yunani: Aistetika yang berarti hal-hal yang dapat dicerap dengan panca indra, Aisthesis yang berarti pencerapan panca indra/ sense perception, (The Liang Gie, 1976, hlm.15).

Namun pengertian estetika umumnya sendiri adalah cabang ilmu filsafat yang membahas mengenai keindahan/hal yang indah, yang terdapat di alam dan seni. Estetika sebagai ilmu tentang seni dan keindahan pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762), seorang filsuf Jerman. Walaupun pembahasan estetika sebagai ilmu baru dimulai pada abad prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas 17 namun pemikiran tentang keindahan dan seni sudah ada dari sejak zaman Yunani Kuno.

Dalam proses perkembangannya filsuf dan para ahli terus mengemukakan pendapat yang berbeda mengenai cabang filsafat ini. Mulai dari pengertian estetika, hingga jangkauan ilmunya sendiri. Secara singkat sejarah estetika barat dapat dibagi menjadi beberapa masa seperti yang diutarakan pada tabel dibawah ini.

Periode Estetika Tokoh Penting Estetika klasik Graeco-Roman Plato (428-348 SM), Aristoteles (384-322 SM), Horatius (65-8 SM), Plotinus (204-269 M) Estetika abad pertengahan St. Agustinus (353-430), Thomas Aquinas (1225-1275) Estetika renaisans Ficino (1433-1499), Alberti (1409-1472) Estetika pencerahan Earl of Shaftesbury (1671-1713), Hutcheson (1694-1746), David Hume (1711-1776), Alexander Gottlieb Baumgarten, Immanuel Kant (1724-1804) Estetika romantik Friedrich Schiller, Friedrich Schleiermacher, Wolfgang von Goethe Estetika positivism dan naturalism Herbert Spencer, Grant Allen (Kaum Fisiologis), Hyppolyte Taine, Gustaf Theodor Fechner, Ernst Grosse Estetika abad ke-20 Edward Bullough, Jerome Stolnitz, Virgil Aldrich, Benedetto Croce, George Santayana, John Dewey Estetika kontemporer Clive Bell, Susanne K.

Langler, Collingwood, Morris Weitz Estetika Menurut Plato Filsafat Keindahan Menurut Plato, sumber rasa keindahan adalah cinta kasih, karena ada kecintaan maka kita manusia selalu ingin kembali menikmati apa yang telah dicintainya itu.

Rasa cinta pada manusia bukan hanya tertuju pada keindahan, tetapi juga kebaikan (moral) dan kebenaran (ilmu pengetahuan). Rasa cinta pada keindahan timbul karena manusia sendiri telah belajar hal yang dicintainya itu. Pendidikan menjadi proses tertanamnya rasa cinta pada keindahan dan dapat diuraikan sebagai berikut: • Manusia dididik untuk mencintai keindahan nyata yang tunggal, seperti tubuhnya sendiri, tubuh seorang manusia.

• Kemudian di didik untuk mencintai keindahan tubuh yang lain, sehingga tertanam hakikat keindahan tubuh manusia. • Keindahan tubuh yang bersifat rohaniah lebih luhur daripada keindahan tubuh yang bersifat jasmani. • Keindahan rohaniah dapat menuntun manusia mencintai segala sesuatu lainnya yang bersifat rohani, misalnya ilmu pengetahuan.

• Pada akhirnya manusia harus dapat menangkap ide keindahan itu sendiri tanpa kaitan dengan sifat jasmaninya itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa terdapat keindahan yang melekat pada benda dan ada juga keindahan yang berada di luar benda itu sendiri.

Keindahan pada benda/objek merupakan ilusi dari keindahan yang sebenarnya. Ada bentuk indah yang abadi, sedangkan keindahan benda di dunia fisik hanyalah tiruan dari ide keindahan yang abadi itu sendiri, keindahan bersifat transendental/ transcendental. Ada keindahan yang sederhana dan nada keindaan yang kompleks. Keindahan sederhana menunjukkan adanya kesatuan yan sederhana.

Jika di jelajahi asal muasalnya, bisa jadi pemikiran Plato yang satu ini adalah sumber salah satu prinsip prinsip seni yang umum digunakan, yaitu: kesatuan.

Sedangkan keindaan kompleks menunjukkan adanya ukuran, proporsi, dan unsur-unsur yang membentuk kesatuan besar. Prinsip kesatuan tersebut nyatanya banyak dianut oleh para filsuf lain. Plato tidak hanya melihat bahwa kesatuan hanyalah satu-satunya ciri keindahan. Kesatuan hanya merupakan salah satu karakteristik keindahan. Baca juga: Prinsip Prinsip Seni Rupa dan Desain Filsafat Seni Plato memiliki pemikiran yang dilematis teradap karya seni. Walaupun Plato tidak menyukai seni karena ditakutkan dapat memberikan dampak buruk bagi pemikiran ‘dunia Idealnya’, dia tetap membahas berbagai kelebihan dan manfaat yang dapat dihasilkan oleh karya seni.

Plato berpendapat bahwa benda seni yang diciptakan para seniman merupakan tiruan benda indah yang merupakan ilusi dari ide keindahan yang telah dijabarkan diatas. Karya seni itu sendiri hanya sebuah ilusi/bersifat maya. Karenanya, karya seni itu inferior (bertaraf rendah). Karya seni juga dapat merusak akal sehat akibat prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas emosi dan akibat tiruan ide keindahan (hegemonisasi kecantikan: harus putih, berhidung mancung dan berambut lurus).

Baca juga: Filsafat Seni Karya seni tidak dapat dijadikan sumber menimba pengetahuan, tidak seperti matematika atau ilmu eksak lain. Sementara itu, emosi pada karya seni bersumber dari keirasionalan yang di ilhami dari para dewa (konteks zaman yunani kuno).

Emosi dalam karya seni juga dapat membutakan akal sehatnya. Karenanya ia berpendapat bahwa karya seni dapat membahayakan kehidupan sosial dalam suatu negara. Karya seni juga dianggap bukan sumber yang baik untuk pengetahuan dan pendidikan karena dinilai pengetahuan disitu rendah.

Pandangan Plato tersebut terjadi karena pendekatannya yang terlalu rasional (seperti pemikir zaman tersebut pada umumnya. Pendekatannya terlalu intelektual dan terlalu mengangkat nilai-nilai ilmu pengetahuan berdasarkan akal dan pikiran yang masih terbatas pada masanya. Karya seni dinilai dari sudut ilmu pengetahuan rasional yang masih kurang mumpuni untuk menjamah seni. Estetika Menurut Aristoteles Berbeda dengan Plato, Aristoteles berpendapat bahwa seni justru memberikan dampak yang baik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang dapat diaplikasikan dan tidak kalah dengan ilmu eksak.

Walaupun begitu menariknya Aristoteles justru banyak mendapatkan pengaruh dari pemikiran Plato yang kritis terhadap seni.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Mimesis Seperti Plato, Aristoteles juga berpendapat bahwa seni itu suatu imitasi atau tiruan; mimesis. Manusia meniru untuk mendapatkan kegembiraan, keindahan dan hal lainnya. Tetapi imitasi yang dimaksudkan oleh Aristoteles disini bukan sekedar reproduksi realitas. Seniman memang meniru realitas, tapi menyimpang dari dunia pengalaman atau empiris.

Seniman memilih sejumlah realitas untuk membangun sebuah gambaran yang memiliki makna. Hal yang ditiru oleh seniman termasuk tingkah laku manusia. Gambaran tingkah laku manusia itu mengandung hukum kemungkinan terjadi atau keharusan terjadi pada manusia.

Karya seni bersifat universal karena digambarkan dapat terjadi kapanpun dimanapun bagi manusia. Berbeda dengan Plato yang menganggap karya seni hanyalah ilusi, Aristoteles justru beranggapan bahwa karya seni adalah karya nyata yang dapat diresapi secara sensoris (inderawi).

Pendekatan Aristoteles jauh lebih ilmiah dibandingkan dengan pendekatan Plato yang lebih bersifat rasional / intelektual idealis. Sastra Filsafat seni Aristoteles lebih berporos pada sastra melalui kajian terhadap drama dan epos pada zamannya. Telaah utamanya adalah pada drama, yaitu ‘komedi’ dan ‘tragedi’. Dia juga banyak menguraikan bentuk epos dan puisi.

Aristoteles merinci unsur-unsur drama yang terdiri atas: • Objek imitasi, adalah tingkah laku dan kelakuan manusia (drama, perbuatan). • Medium imitasi, dapat erupa bahasa, irama dan nada. • Karakteristik imitasi, berupa dialog, narasi, deklamasi dan acting. Dalam drama tragedy, manusia digambarkan lebih baik dari kenyataan sebenarnya, sementara dalam komedi manusia digambarkan lebih buruk dari kenyataan sebenarnya. Tragedi menggambarkan kesuperioran manusia melebihi kekuatan aslinya.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Sedangkan komedi menggambarkan keburukan dan kelemahan manusia. Tragedi memiliki sejumlah unsur utama berupa: • Plot (alur cerita) • Karakter • Pikiran • Bahasa • Musik • Spektakel Aristoteles juga membahas perbedaan sejarah dan sastra. Sejarah menggambarkan apa yang telah terjadi apa adanya, sedangkan sastra menggambarkan yang mungkin terjadi prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas sastra lebih bersifat universal/umum, dan lebih mengandung filsafat dibandingkan dengan sejarah yang bersifat fakta dan partikular.

Sehingga dia melihat seni dapat menjadi simbol atau lambing yang maknanya harus ditemukan oleh apresiatornya sendiri: penonton, pembaca atau pemain. Ciri Keindahan Dalam memberikan karakteristik mengenai apa itu yang disebut indah, Aristoteles masih terpengaruhi oleh pemikiran Plato. Keduanya menekankan adanya kesatuan dan harmoni.

Terjaringnya keserasian antara berbagai unsur yang disusun/disatukan menjadi fokal utama pada keindahan. Berikut adalah beberapa ciri keindahan menurut Aristoteles: • Kesatuan atau keutuhan yang dapat menggambarkan kesempurnaan bentuk, tidak ada yang lebih atau kurang. Sesuatu yang pas dan khas. • Harmoni atau keseimbangan antara unsur dan proporsi, sesuai dengan ukuran yang khas. • Kejernihan, segalanya memberikan suatu kesan yang jelas, terang, jernih, murni tanpa ada keraguan.

Berbeda dengan Plato, Aristoteles berpendapat bahwa semua keindahan tersebut dapat diapresiai melalui nalar dan pikiran biasa. Tidak bersifat transendental seperti yang dikatakan Plato. Estetika Menurut St. Agustinus Pemikiran seni Agustinus sering juga disebut neo-platonisme, atau pemikiran platonisme yang baru. Pokok pikiran klasik dari Plato mengenai harmoni, keteraturan dan keutuhan/kesatuan, dan keseimbangan dalam karya seni digunakan oleh Agustinus. Sesuatu yang indah adalah kesatuan objek atau unsur seni yang sesuai dengan pengaturan/prinsip seni sesuai dengan perbandingan/proporsi masing-masing bagiannya.

Ide keindahan Plato dikenakan pada Tuhan/Dewa, sehingga keindahan seni dan alam berhubungan erat dengan agama. Karya seni yang indah adalah karya yan sesuai dengan keteraturan yang prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas dan hanya dapat diperoleh melalui sinar Ilahi. Karena itulah filsafat Agustinus sering disebut juga iluminasi, yang segala sesuatunya indah karena cahya Ilahi, cahaya terang dari Tuhan. Dalam karya seni yang baik selalu terdapat kecemerlangan keteraturan dan dengan pemikiran itu Agustinus menolak seni sebagai mimesis.

Seni itu transendental, peran cahaya ilahi sangatlah besar. Agustinus juga tertarik menilai jenis karya fiksi dalam sastra. Menurutnya ada dua jenis cerita fiksi dalam sastra. Keduanya sebetulnya adalah kebohongan/fiksional, hanya saja ada kebohongan yang tidak bermaksud menipu da nada yang tidak bermaksud menipu.

Yang lebih dihargai keindahannya adalah karya fiksi yang meskipun menyampaikan kebohongan tetapi bermaksud baik secara moral dan agama. Estetika Menurut Earl of Shaftesbury Shaftesbury menilai gejala seni sebagai sesuatu yang bersifat transendental. Keindahan alamiah hanyalah bayang-bayang dari keindahan asal. Terdapat pengaruh pemikiran Plato dalam filsafatnya.

pemikiran Plato, yang menilai tinggi adanya ide murni yang abadi dan ditambah dengan berkembangnya aliran agama Puritanisme di Inggris mengakibatkan Shaftesbury berpendapat bahwa interest atau kepentingan pribadi (selera) dalam seni akan menjadi unsur perusak keindahan murni. Dalam ajaran agama Puritan, hal inderawi manusia menggerakkan berbagai nafsu manusia yang tidak terkendali, dan buruk.

Ajaran ini menyatakan bahwa keinginan pribadi untuk memiliki keindahan secara tetap adalah unsur yang dapat merusak apresiasi seni. Pertimbangan kepentingan pribadi atau berbagai keinginan individu dalam hal praktis ( practical) tidak sejalan dengan apresiasi seni.

Bagi para filsuf seni yang yangikuti pemikiran Shaftesbury ini, terdapat tiga tingkat keindahan dalam hidup, yaitu: keindahan tingkat jasmani, tingkat rohani (spiritual) dan tingkat ilahi ( transcendent). Segala yang indah itu bersifat baik dan teratur. Inilah sebanya ukuran faktor moral menjadi penting dalam nilai seni.

Apresiasi seni atau sering disebut faculty of taste bagi mereka mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai hukum moral dan rasa keindahan. Fungsi moral seni tersebut bersifat intelektual karena menyangkut hal-hal yang baik dan buruk. Sementara itu selera keindahan bersifat transendental, karena asalnya turun dari langit (dari atas), ciri khas pemikiran agama samawi.

Keindahan adalah sesuatu yang agung dan hanya dapat ditangkap setelah adanya tindak renungan atau kontemplasi. Apresiasi atau faculty of taste tersebut harus dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih kepentingan pribadi manusia. Estetika Menurut Hutcheson Hutcheson menolak pemikiran Shaftesbury tentang faculty of taste. Selera seni atau keindahan bersifat tunggal, yaitu murni keindahan yang bersifat imanen dan bukan transenden seperti pemikiran Hutcheson atau Plato.

Hutcheson berpendapat bahwa pada diri manusia terdapat kemampuan dasar yang bersifat internal dan eksternal. Kemampuan dasar internal manusia meliputi kemampuan moral, kemampuan kemuliaan, kemampuan solidaritas, kemampuan patriotic dan kemampuan keindahan. Kemampuan internal manusia bersifat mental yang akan memberikan tanggapan atau reaksi terhadap berbagai objek di luar diri manusia.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Hal-hal di luar diri manusia akan mampu menggerakkan kemampuan mental manusia yang internal tersebut, termasuk kemampuan keindahannya. Sementara kemampuan eksternal manusia diwakili oleh lima indera manusia dalam berhubungan dengan hal-hal di luar dirinya. Kegiatan indera manusia akan memberikan persepsi. Apabila seseorang menghadapi objek seni di luar dirinya, maka sense of beauty sebagai kodrat internal manusia akan menanggapinya dengan perasaan tenang, damai, harmonis, seimbang, utuh dan bahagia.

Dalam menanggapi objek tersebut, kodrat internal maupun eksternal bekerjasama secara simultan sebelum adanya campur tangan peran rasio dan akal intelektual. Karena itu seni selalu bersifat disinterestedness atau tidak memiliki motif tertentu untuk kepentingan individu secara praktis. Estetika Menurut Alexander Gottlieb Baumgarten Filsuf asal Jerman yang underrated (minor) ini adalah penggagas istilah ‘estetika. Peranannya terhadap bidang filsafat sebetulnya sangat besar, tetapi sering terhitung diabaikan dalam bidang filsafatnya sendiri.

Baumgarten berpendapat bahwa objek seni bersifat inderawi. Seni dimasukkan sebagai bagian dari ilmu keinderawian sehingga sifatnya intelektual. Keberadaan objektif harus sesuai dengan kebenaran estetik. Meskipun demikian, kebenaran estetik terletak pada hal-hal yang tampaknya ‘tidak benar’ dan ‘benar’, yaitu suatu kebenaran yang ‘mungkin’.

Ada kebenaran yang bersifat intelektual da nada kebenaran yang bersifat inderawi. Terdapat kebenaran yang secara prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas benar, Pengertian Estetika Menurut Immanuel Kant Immanuel Kant adalah filsuf Jerman yang hidup di abad ke-18 dan memulai perubahan drastis di bidang estetika dan teleologi, karena itulah, Kant adalah salah satu figur terpenting untuk bidang estetika.

Seperti pemikir ‘Era Pencerahan’ ( Enlightment Age) yang lain, dia memegang teguh kepercayaan bahwa pemikiran manusialah yang memenuhi dunia yang kita alami ini dengan struktur-struktur tertentu.

Dia berpendapat bahwa kemampuan penilaian kitalah yang memungkinkan kita mengalami atau merasakan keindahan dan memahami pengalaman itu sebagai bagian dari dunia yang terstruktur dan teratur dengan tujuan tertentu. Menurut Kant, estetika memiliki pengertian yang luas, tidak saja mengenaikeindahan dan keagungan tetapi juga kesenangan secara umum.

Prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas berfokus pada kesenangan dalam konteks karakteristik subjek yang mengalami kesenangan itu daripada karakter objeknya. Penilaian keindahan menurut Kant bersifat stabil karena esensial dan universal, berbeda dengan kesenangan lain yang bukan keindahan. Immanuel Kant membagi teori estetika menjadi empat bagian, yaitu: teori disinterestedness atau teori tanpa pamrih dalam seni, teori universalitas, teori esensialitas, dan terakhir teori bentuk dan tujuan.

Berikut ini adalah uraian dari masing-masing pembagian teori tersebut. Teori Disinterestedness Karya seni identik dengan keindahan murni tanpa dikotori oleh kepentingan dan keinginan praktis manusia.

Menikmati keindahan suatu objek harus dihilangkan dari kepentingan hidup sehari-hari seperti keinginan/hasrat untuk memiliki, menguasai, memantafaatkan apalagi jika kepentingan tersebut memiliki issue yang sensitif seperti: politik, dikte moral, kepercayaan dan kegunaan praktis lainnya. Penilaian keindahan harus dipisahkan dari keberadaan atau eksistensi objeknya.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Keindahan ada pada subjek tertentu, misalnya keindahan pada bunga mawar. Warna merah pada mawar dan bentuk mawar itu sendiri harus dipisahkan dari mawar itu sendiri yang mungkin ingin kita miliki dan manfaatkan. Keindahan warna bunga mawar dan keindahan bentuknya harus dinilai secara terpisah dari keberadaan bunganya sendiri.

Teori Universalitas Masih berhubungan dengan teori disinterestedness. Jika dalam teori tanpa pamrih tadi manusia merisaukan antara kenyataan dan keindahan murni dengan keberadaan objek nyata, maka objek keindahan dan objek benda nyata juga dapat dibedakan.

Pada objek keindahan tidak ada lagi kaitan kepentingan personal yang spesifik. Kepentingan spesifik subjektif yang berhubungan dengan karakteristik objeknya tentunya bersifat khusus dan bukan universal karena keindahan itu harus tanpa pamrih, sehingga bersifat universal, lepas dari kepentingan subjek atas karakteristik objek yang bersifat ruang dan waktu.

Kesenangan atas keindahan yang ada pada objek itu berada di luar ruang dan waktu dengan segala kepentingannya. Dengan demikian kesenangan tersebut bersifat universal, abadi dan berlaku untuk kapan saja dimana saja. Sementara itu, eksistensi objek keindahan itu sendiri dapat dimanfaatkan menurut kepentingan ruang dan waktu manusia. Teori Esensialitas Prinsip ini menegaskan bahwa jika seseorang menilai sesuatu indah, maka dia sedang membicarakan sesuatu yang memberikan kesenangan yang muncul dari kemampuan manusia umumnya.

Mendatangkan kesenangan pada seseorang dapat juga mendatangkan kesenangan bagi orang lain, karena setiap manusia pada suatu titik memiliki kemampuan dasar kesenangan yang sama. Namun kenyataannya tidak begitu, karena kemampuan dasar tersebut meskipun ada pada setiap manusia, perkembangannya tidaklah sama.

Setiap penilaian keindahan selalu bersifat tunggal, sehingga tidak pernah ada aturan umum yang dapat diformulasikan dari kumpulan penilaian tunggal yang ada. Pada dasarnya, pemikiran prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas menunjukkan bahwa setiap orang dapat setuju tentang apa yang indah, tetapi kita tidak memperoleh petunjuk bagaimana dapat mendapatkan persetujuan bersama itu ( agreeable).

Teori Bentuk Tujuan Jika ketiga teori sebelumnya berkaitan dengan subjek yang mengalami keindahan dan teori keempat mengenai objek keindahan itu sendiri, maka dalam teori ini Kant berpendapat bahwa keindahan yang mendatangkan rasa senang itu muncul dari adanya hubungan bentuk sebagai stimulus keindahan.

Karya seni selalu berupa wujud, suatu bentuk. Setiap bentuk karya seni adalah hasil dari aktivitas manusia yang memiliki tujuan. Manusia menciptakan karya seni dengan tujuan tertentu.

Maka manusia harus dapat membedakan antara tujuan dan penciptaan dan bentuk itu sendiri. Seperti misalnya alam, dianggap bentuk. Alam diciptakan oleh Tuhan dengan suatu tujuan, suatu maksud. Keindahan hanya berurusan dengan bentuk ini saja. Hanya bentuk yang mendatangkan keindahan, baik bentuk alam maupun bentuk buatan manusia. Kant berpendapat bahwa kualitas warna atau bunyi bukan bagian dari keindahan, tapi merupakan bagian yang memberikan kesenangan pada manusia.

Manusia harus dapat membedakan antara keindahan bentuk dan elemen visual atu audio yang memberikan rasa senang bagi manusia. Penilaian Estetik Lebih jauh prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas pemisahan objek dan subjek Kant, salah satu pemikiran Immanuel Kant tentang estetika yang paling terkenal adalah ‘Penilaian Estetik’ (Aesthetic Judgment).

Menurut Kant, penilaian estetik adalah sebuah keputusan yang didasarkan pada perasaan, dan khususnya pada perasaan senang (pleasure) atau tidak senang (displeasure). Menurut pandangan Kant ada tiga macam penilaian estetik: • Penilaian sesuatu yang menyenangkan, mudah di iyakan oleh banyak orang/populer (judgments of the agreeable) • Penilaian keindahan (atau penilaian rasa).

• Penilaian keagungan (judgments of the sublime), keindahan yang tidak hanya berfokus pada indah itu sendiri, tetapi memancarkan nilai lain yang menarik. Kant juga sering menggunakan ungkapan ‘Penilaian Estetik’ dalam pengertian yang lebih mengerucut dengan tidak memasukkan ‘Penilaian yang Menyenangkan’.

Pertimbangan estetis dalam pengertian mengerucut itulah yang menjadi fokus utama ‘Kritik Penilaian Estetik”. Penilaian tersebut bisa jadi tetap ‘murni’ atau tidak (murni atau ditunggangi kepentingan lain/manfaat praktis); Sementara Kant kebanyakan memusatkan perhatian pemikirannya pada hal-hal yang murni, ada kemungkinan bahwa sebagian penilaian tentang seni yang berlawanan dengan keindahan alam tidak dihitung sebagai sesuatu yang murni.

Catatan itu penting untuk digarisbawahi agar dapat memahami pemikiran Kant mengenai penilaian subjek yang harus dipisahkan dari objeknya. ‘Kritik terhadap Penilaian Estetik’ tidak hanya menyangkut penilalian keindahan dan keagungan, tetapi bersingungan juga dengan cara produksi objek-objek yang membuat keputusan seperti itu dibuat dengan tepat.

Pengertian Estetika Menurut Friedrich Schiller Friedrich Schiller berpendapat bahwa filsuf seni seharusnya tidak menempatkan perasaan sebagai subordinasi pikiran.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Perasaan dan pemikiran dapat saling berkoordinasi secara timbal balik. Unsur pemikiran menuntut keutuhan, sedangkan alam memberikan keragaman. Hubungan perasaan dan pikiran dalam seni: Keindahan merupakan objek bagi kita, karena renungan terhadapnya adalah kondisi yan dapat kita rasakan.

Tapi, keindahan juga merupakan subjek, karena perasaan adalah kondisi yang memungkinkan kita untuk memperoleh persepsi darinya. Salah satu pemikiran yang paling menarik dari Schiller adalah pendapatnya mengenai seni berhubungan dengan naluri bermain.

Naluri bermain lebih dulu ada pada manusia, bahkan pada binatang. Naluri bermain bersifat mimesis (meniru) dalam arti menirum alam.

Bermain dapat menjadi suasana kebebasan tanpa tujuan praktis, yaitu bermain demi permainan itu sendiri. Bermain mengarah pada kesenangan dan relaksasi dari berbagai kemampuan dasar manusia. Ketika bermain, diri dan alam menjadi satu, sehingga alam tidak ada bagi manusia. Manusia menjadi bagian dari alam. Naluri tersebut menjadi dasar estetika, tetapi naluri bermain baru berubah menjadi estetika ketika manusia memisahkan dirinya dengan alam dan merenungkan apa itu alam bagi dirinya.

Dalam naluri bermain kekebasan itu kosong tanpa tujuan, sedangkan dalam estetika kekosongan tersebut diisi dengan ekspresi individual yang imajinatif. Ekspresi individual tersebut didasari oleh unsur intelektual dan moralitas. Melalui kerja intelektual, individu tersebut membangun bentuk. Bentuk terikat pada isi, yang berupa material dan kegunaan praktis, tetapi dalam seni kegunaan praktis itu bersifat memecah kemampuan dasar manusia namun justru perasaan itu juga yang menyatukannya (komplementer / saling mengisi kekurangan masing-masing).

Dari persoalan isi dan bentuk itu Schiller menekankan pentingnya bentuk. Isi bisa saja nihil / kosong, tetapi bentuk adaah segalanya. Dalam bentuk itulah asas permainan ini berlaku. Isi intelektual hanya akan menghalangi tercapainya kebebasan dan kesenangan bermain dalam seni. Keindahan adalah kehidupan, yaitu bentuk yang hidup.

Seniman harus menaklukan alam dalam bentuk, melalui kemampuan intelektual dan moralitasnya tapi bukan demi intelektual atau moralitas itu sendiri. Semuanya demi bentuk yang hidup, bentuk prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas estetis / indah. Estetika Menurut Friedrich Schleiermachera Ajaran estetika Schleiermacher menyetujui pendapat Hegel yang meletakkan estetika sebagai bagian kerja filsafat dan filsafat itu sendiri sejajar dengan agama.

Seni dan estetika diletakannya dalam disiplin filsafat etik, sedangkan di lain pihak ada disiplin filsafat dialektik (ontology) dan fisik. Ia membagi aktivitas manusia menjadi dua kategori, yaitu aktivitas identitas atau aktivitas logic yang bersifat umum serta aktivitas individual yang amat beragam.

Schleiermacher juga membagi aktivitas internal dan aktivitas eksternal, yaitu aktivitas imanen dan aktivitas praktis. Seni termasuk dalam aktivitas individual. Seni juga termasuk dalam aktivitas internal. Seni sejati merupakan imaji internal. Seni adalah kegiatan imanen yang ersifat internal, bukan kegiatan praktis; kegiatan individual, bukan kegiatan logik. Dia memberikan contoh perbedaan antara manusia yang marah dan actor yang memainkan peran orang sedang marah.

Marah actor adalah seni karena emosi marah itu telah dibentuk dan dikontrol oleh actor. Kemarahan telah dibentuk oleh individu secara internal dan kemarahan actor bukan kemarahan praktis lagi. Salah satu pendapatnya yang paling menarik adalah mengenai hubungan antara seni dan mimpi.

Dalam mimipi, aneka fakta muncul dan mengalir secara tidak teratur, merupakan suatu kekacauan/ chaos. Dalam seni fakta pun muncul seperti dalam mimpi, hanya aktivitas internal manusia yang dapat mengubah fakta mimpi menjadi seni dengan memberinya susunan, struktur dan bentuk. Dari bentuk itulah baru muncul berbagai makna.

Kebenaran seni pada awalnya muncul dari kesadaran individual. Kesadaran individual, baik dalam perasaan maupun gagasan dan pengelihatan tidak akan menjadi seni jika tidak didasari oleh kesadaran kemanusiaan yang universal. Seni merupakan kesadaran universal, terasa secara universal sebagai kebenaran dan logis secara universal sebagai kebenaran.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Nilai moralitasnya juga bersifat universal. Tugas seni menuju ke dua arah dalam hubungannya dengan realitas empiris, yaitu menyajikan kebenaran realitas dan sekaligus menyempurnakan realitas itu. Realitas empiris lingkungan disempurnakan dalam aspek dan bidangnya masing-masing, seperti moralitas, norma sosial, religi dan lain-lain.

Sudah menjadi tugas seniman untuk menyajikan sesuatu yang ideal dalam yang nyata, yang subjektif dalam yang objektif. Estetika Menurut Theodor Fechner Fechner terkenal dengan bukunya yang berjudul Introduction to Aesthetic (1876).

Dia dikenal sebagai pakar estetika eksperimental. Disebut demikian karena ia menolak konsep deterministic terhadap objek esensi seni dan keindahan, estetika seperti itu sebagai estetika dari atas.

Ia sendiri menciptakan estetika dari bawah yang lebih mencari kejelasan, bukan sublimitas (keagungan) seni. Ia bekerja secara induktif dengan melakukan berbagai eskperimen estetik. Mengumpulkan data tentang warna yang paling banyak disukai responden, serta alasan mereka menyukai/menyenangi warna tersebut. Ia juga meminta responden memilih dua bentuk atau dua warna dan mengapa mereka memilih bentuk dan warna tersebut.

Hasil yang diperoleh itu kemudian di analisis.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Temuannya ini masih diperdebatkan dalam kajian estetika. Temuan eksperimentalnya meliputi masalah hukum dan prinsip estetika seperti kesatuan dalam keberagaman, kejelasan, asosiasi, kontras, konsekuensi, konsiliasi, makna yang benar, prinsip ekonomi, perubahan, pengukuran, dan masih banyak lagi yang lain. Menurut Gustaf Theodor Fechner makna keindahan berdasarkan eksperimennya, ia tetap kembali pada jawaban spekulatif. Menurutnya ada tiga arti keindahan. • Dalam arti luas bahwa seni adalah segala sesuatu yang menyenangkan secara umum.

• Keindahan memberikan kesenangan yang lebih tinggi, tetapi masih bersifat inderawi. • Keindahan sejati tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kesenangan yang sesungguhnya, yaitu memiliki nilai-nilai dalam kesenangan tersebut yang didalamnya terkait konsep keindahan dan konsep moral, kebaikan.

Fechner juga mengajukan beberapa prinsip prinsip seni seperti yang dipaparkan dibawah ini. • Seni selalu memilih ide berharga dan menarik utnuk direpresentasikan.

• Seni harus mengekspresikan gagasannya dalam bentuk material yang begitu rupa sehingga bentuk setara dengan isi. • Dari berbagai kemungkinan bentuk ekspresinya, harus dipilih bentuk seni yang paling memberikan kesenangan tertinggi. • Semua unsur bentuknya secara rinci harus diperlakukan begitu rupa sehingga memberikan efek kesenangan yang maksimal.

• Tujuan seni adalah memberikan pencapaian kesenangan tertinggi yang mengandung nilai-nilai tertinggi. Estetika Menurut Virgil Aldrich Apakah sebuah karya seni disikapi oleh penanggap seni seperti orang lain menanggapi karya tersebut? Bagaimana seharusnya hubungan antara karya seni dan penanggap seni? Apakah karya seni menentukan sikap penanggap seni atau sebaliknya?

Pertanyaan semacam itulah yang ingin dijawab oleh Aldrich. Apa yang harus dilakukan oleh subjek seni terhadap objek seni sehingga objek seni tersebut menjadi objek estetik?

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Disini dari subjek seni dituntut suatu sikap estetik tertentu atau persepsi estetik tertentu, sebelum adanya keyakinan terhadap nilai estetik tertentu dalam objek seni, sehingga sikapnya itu akan membuktikan keyakinannya.

Menurut Aldrich salah jika orang beranggapan hanya ada satu cara dalam menghadapi karya seni. Ada dua cara persepsi, yaitu persepsi estetik ( prehensi) dan persepsi non-estetik ( observasi). Objek observasi merupakan objek fisik dan objek prehensi disebut sebagai objek estetik. Sementara itu cara menghadirkan, menyusun atau membentuk gambar itu disebut sebagai objek material. Karya seni secara objektif hanyalah objek material. Saat kita mengikapi objek material tersebut estetiklah maka objek material tersebut akan menjadi objek estetik.

Sikap seperti itu disebut prehensi oleh Aldrich, sikap estetik yang sesungguhnya. Contoh yang diajukan Aldrich adalah sebuah gambar ambigu yang memiliki dua arti, yaitu prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas sederhana yang sekilas tampak seperti kelinci, tetapi dalam persepsi tertentu juga merupakan gambar itik.

Jadi, gambar tersebut dapat dilihat atau disikapi sebagai gambar itik atau gambar kelinci. Yang mana yang benar?

Tergantung pada cara pemandang menyikapinya, tidak ada yang salah. Contoh yang diajukan Aldrich: Sebuah gambar ambigu yang memiliki dua arti; bebek atau kelinci Jika sikap estetik kita mengara kepada objek seni sebagai gambar kelinci (objek estetik), maka gambar bebek menjadi objek fisik. Sebaliknya jika persepsi estetik kita pada objek material itu sebagai gambar bebek, maka gambar kelinci menjadi objek fisik. Estetika Menurut Collingwood Collingwood terkemuka melalui bukunya yang berjudul The Principles of Art, Isinya adalah telaah Collingwood mengenai hubungan antara seni dan craft (kerajinan), yang secara prinsip berbeda.

Collingwood menyangkal bahwa seni dan kerajinan sebagai dua spesies yang berasal dari genus tunggal. Tidak ada karakteristik esensial yang mendasari keduanya. Menurutnya kerajinan adalah aktivitas yang mengubah material mentah dengan keterampilan yang dapat dipelajari sehingga menjadi produk yang telah ditetapkan sebelumnya.

Karakterisik kerajinan adalah adanya hubungan antara alat dan tujuan ini. Keterampilan membuat sepatu kulit adalah alat untuk menghasilkan suatu tujuan, yaitu sepatu yang telah dirancang sebelumnya dan dapat dibuat cetak biru/spesifikasinya.

Kerajinan dan seni bisa bersifat komplementer, sehingga substansi benda yang sama dapat menjadi sebuah karya kerajinan dan seni di pihak yang lain. Seniman harus memiliki keterampilan yang menghasilkan kerajinan terlebih dahulu, barulah dia mulai berkembang, bisa sekedar menjadi tukang (artisan) atau menjadi seniman.

Collingwood membedakan antara seni sejati ( proper art) dan seni gadungan yang dinamakannya sebagai seni hiburan. ‘Jika sebuah artefak didesain untuk mencetuskan emosi tertentu dan jika emosi ini dimaksudkan bukan untuk penuangan ke dalam okupasi kehidupan biasa melainkan untuk kegembiraan sebagai sesuatu yang bernilai, maka fungsi artefak tersebut adalah menyenangkan dan menghibur’ katanya.

Ke dalam seni hiburan ini dia juga memasukan beberapa jenis seni yang lain yaitu: seni magis dan seni religius. Seni hiburan maupun seni magis dimaksudkan untuk mencetuskan emosi yang dicetuskannya. Emobis membangkitkan rasa cinta tanah air dalam sebuah patung atau lukisan adalah sejenis dengan emosi yang dicetuskan dalam seni hiburan yang tidak nyata. Seni hiburan dan seni magis keduanya hanya kerajinan karena didesain untuk mencetuskan emosi spesifik yang telah ditetapkan sebelumnya oleh seniman; menghibur.

Ekspresi Seni Salah satu pemikiran Collingwood mengenai seni adalah teori ekspresi seni. Ekspresi emosi dapat diwujudkan dalam beberapa cara. Ekspresi yang umum dalam kehidupan sehari-hari terjadi secara alami dan tidak terkontrol. Untuk mengekspresikan marah, wajah bisa memerah atau ekspresi ketakuan dapat menyebabkan wajah pucat. Namun semua itu di luar kenali subjeknya.

Ekspresi dalam seni adalah adanya kendali dan kesadaran mengendalikan emosi. Ekspresi emosi yang dikendalikan secara sadar adalah bahasa dan seni adalah semacam bahasa.

Pengekspresian emosi yang merupakan seni sesungguhnya semuanya mengarah pada hal yang sama, yaitu ekspresi, seni dan bahasa. Penilaian Seni Mengenai penilaian seni yang baik dan jelek ia menyatakan, ‘Definisi substansi tertentu apapun adalah merupakan definisi substansi yang baik semacam itu…’. Karya seni yang jelek, menurutnya adalah sebuah aktivitas yang membuat seniman mencoba mengekspresikan emosi tertentu, namun gagal. Tetapi sebuah lukisan yang jelek pertama-tama harus berupa lukisan.

Lukisan yang jelek tidak berarti bukan lukisan sama sekali. Lukisan yang jelek telah memenuhi persyaratan seni, tetapi gagal dalam beberapa aspeknya. Estetika Menurut George Dickie Karya seni dalam pengertian klasifikasi adalah sebuah karya dalam pengertian evaluasi.

Jadi, sesuatu disebut mengandung atau tidak mengandung nilai seni tergantung pada adanya suatu evaluasi nilai. Sebuah karya seni dalam pengertian kualifikasi adalah sebuah artefak. Beberapa orang yang bertindak atas nama institusi sosial tertentu memberikan kandidat status untuk apresiasi. Evaluasi suatu institusi dalam masyarakatlah yang memberikan status pada sesuatu sebagai berstatus seni atau tidak.

Pandangan pemberian status ini memang cukup kabur, karena institusi seni juga tidak jelas. Institusi seni idak didukurng oleh persyaratan legal. Institusi seni adalah semua orang yang memandang dirinya sebagai anggota dunia seni dan karenanya memiliki kapasitas untuk memberikan status.

Teori institusi seni menyadari bahwa dirinya harus selalu mempertimbangkan praktek dunia seni. Institusi seni harus selalu diperhatikan bahwa syarat menjadi sebuah karya seni dalam pengertian klasifikasi tidak berarti karya tersebut memiliki nilai aktual. Keputusan bahwa sebuah karya menjadi karya seni secara institusional juga mempertimbangkan latar belakang institusinya.

Suatu karya mungkin diakui bernilai seni dalam satu lingkungan institusi, namun ditolak oleh institusi yang lain. Sebuah intitusi seni bisa mengatakan sebuah karya seni adalah sebuah objek yang membuat seseorang mengatakan bahwa ini adalah karya seni. Skeptikal karena tampaknya sembarangan, tetapi insitusi semacam ini mempertaruhkan semua martabat dirinya untuk menyatakannya demikian. Jika suatu institusi secara sembarangan mengatakan sebuah artefak sebuah karya seni, institusi tersebut akan mendapatkan kehilangan kepercayaan.

Simpulan Pemikiran estetika berawal dari kecintaan manusia terhadap keindahan yang melekat pada bendanya sendiri hingga menuju sisi diluar benda itu sendiri; rohaniah. Perkembangannya juga cenderung selalu membedakan antara seni murni dan seni terapan, walaupun filsuf kontemporer juga menemukan irisan tengahnya dan kita tidak dapat dengan serta merta membuat dikotomi yang membedakan seni rendah dan seni tinggi. Keindahan juga akhirnya ditemukan tidak memiliki patokan tertentu seperti seorang wanita yang cantik tidak selalu harus putih dan berhidung mancung, walaupun pandangan tersebut adalah pandangan yang agreeable untuk kebanyakan orang.

Sisi ekstrinsik estetika sendirilah yang menyebabkan stereotype tersebut hingga kehidupan sosial manusia sempat terusik oleh berbagai issue sosial seperti rasisme dan pandangan sebelah mata terhadap bentuk tertentu. Pencarian estetika di era kontemporer ini bisa dibilang masih berujung pada issue sosial, seperti pemikiran George Dickie mengenai institusi sosial.

Seni seolah beralih dari objek intrinsiknya sendiri menjadi sebuah konsep yang terikat pada medannya sendiri, artefak hanyalah jasad yang mewakilinya. Walaupun begitu bukan berarti pemikiran seperti itu menjadi yang paling benar, tetapi hanya menambah catatan baru untuk kita kembangkan atau mungkin kita bantah melalui pemikiran maupun karya yang baru.

Referensi • Sumardjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung: Penerbit ITB. • Gie, Liang. 1976. Garis Besar Estetik, Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Penerbit Kaya. • Burnham, Douglas. 1997. Immanuel Kant: Aesthetics. Internet Encyclopedia of Philosophy, Diakses tanggal 2018-02-28, https://www.iep.utm.edu/kantaest/#H2 Artikel Terkait Batalkan balasan Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai * Komentar * Nama * Email prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya.

Beritahu saya akan tindak lanjut komentar melalui surel. Beritahu saya akan tulisan baru melalui surel. • Motivasi/Motivation dalam Manajemen (Teori-Praktik) • Directing (Pengarahan) – Pengertian, Prinsip-Prinsip & Jenis • Controlling, Pengendalian, atau Pengawasan & Evaluasi • Kepemimpinan: Pengertian, Unsur, Prinsip, Tingkat & Gaya • Staffing dan Actuating dalam Manajemen • Perilaku Organisasi: Pengertian, Sifat, Karakteristik & Pengembangan Trending • Model Pembelajaran Inquiry Learning (Penjelasan Lengkap) Semua Kategori • Aliran Seni Rupa (13) • Bahasa Indonesia (75) • Biografi (8) • Budaya (4) • Desain (20) • Filsafat (8) • Fundamental Seni (15) • Ilmu Pengetahuan Alam (33) • Ilmu Pengetahuan Sosial (37) • Informatika (29) • Inspirasi (21) • Linguistik (10) • Manajemen (10) • Metode Penelitian (11) • Pendidikan (73) • Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (37) • Prakarya dan Kewirausahaan (19) • Praktik Seni (10) • Sastra (33) • Sejarah (16) • Sejarah Seni (25) • Seniman Indonesia (5) • Seniman Mancanegara (3) • Teori Seni (86) Langganan
• Karya seni rupa yang lebih mengutamakan fungsi tertentu tanpa melepas aspek estetis disebut karya • Aspek yang berkaitan dengan konsep penciptaan sebuah karya seni rupa itu sendiri disebut aspek • Aspek-aspek yang dinilai dalam karya seni yaitu • Penemuan penemuan di bidang teknologi membuat kehidupan manusia semakin • Bagaimana hubungan antara ekonomi kreatif dan industri kreatif • Jelaskan hubungan antara ekonomi kreatif dan industri kreatif • Seni rupa daerah dapat berupa seni kerajinan seni lukis dan seni • Penemuan pesawat telepon sangat membantu dan mempermudah aktivitas kehidupan manusia karena • Prinsip dari penciptaan karya seni rupa disebut prinsip desain yang prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas • Aspek koreografi yang membantu para penata tari untuk mewujudkan isi adalah aspek • Teks yang memiliki struktur pernyataan umum dan aspek-aspek laporan adalah teks • Aspek aspek yang dilaporkan pada laporan observasi berupa • Aspek persamaan kedudukan warga negara yang diwujudkan dalam aspek hukum yaitu • Suatu cabang seni rupa yang hasil karyanya lebih mengutamakan unsur estetis atau keindahan adalah prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas Aliran seni lukis yang mengutamakan ekspresi ungkapan jiwa senimannya adalah • Meskipun tidak saling kenal para anggota bangsa selalu memandang satu sama lain sebagai saudara • Aspek paling penting dalam melaksanakan promosi produk usaha peralatan sistem teknik adalah aspek • Jelaskan posisi silang indonesia baik dari aspek kewilayahan maupun aspek kehidupan sosial • Salah satu prinsip dalam seni rupa yang menyatakan bahwa seni rupa saling bertautan yaitu • Salah satu contoh produk pemanfaatan kekayaan potensi seni budaya daerah dalam ekonomi kreatif jawaban : Modern penjelasan : Beberapa prinsip estetika dalam karya seni rupa murni: 1.

Pramodern adalah prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas merepresentasi bentuk-bentuk alam, atau aktivitas pelestarian kaidah estetik tradisional 2. Modern ddalah prinsip estetika yang memandang sebagai aktivitas kredtif, yang mengutamakan aspek penemuan, orisinalitas, dan gaya pribadi atau personality. 3. Posmodern adalah prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas permaianan tanda yang hiperril dan ironik, sifatnya eklektik (meminjam dan memadu gaya seni lama) dan menyajikannya sebagai pencerminan budaya konsumerisme masa kini.

1.Tempo lagu Indonesia Raya adalah …. A.Di Marcia B.Con Bravura C.Andante D.Moderato 2.Lagu Tanah Airku diciptakan oleh …… A.C.Simanjuntak B.L.Manik C … .H.Mutahar D.Ibu Sud 3.Nilai yang terkandung dalam lagu Tanah Airku adalah ……A.Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh B.Persatuan dan kesatuan memiliki arti kehidupan C.Menumbuhkan kesadaran untuk mencintai tanah air D.Penderitaan akibat penindasan 4.Nilai yang terkandung dalam lagu Rayuan Pulau Kelapa adalah ….

A.Negeri yang kaya dan elok B.Negeri yang aman,makmur,elok C.Negeri yang merdeka D.Negeri yang kucinta 5.Tinggi rendahnya suatu nada berdasarkan urutan tertentu yang berjenjang disebut …. A.Tangga nada B.Tanggga rumah C.Nada dan doa D.Nada tangga 6.Perhatika judul lagu berikut! 1.Ambilkan bulan bu 2.Menanam jagung 3.Naik Delman 4.Hari Merdeka Yang termasuk lagu wajib adalah nomor ….

A.1 B.2 C.3 D.4 7.Tangga nada yang memiliki dua jarak tangga nada disebut …. A.Tangga nada pentatonic B.Tangga nada diatonic C.Tangga nada pelog D.Slendro 8.Tangga nada mayor adalah tangga nada diatonic yang susunan nada-nadanya …. A.1/2 1 ½ 1 1 1 ½ B.1 1 ½ 1 ½ 1 ½ C.1 1 ½ 1 1 1 ½ D.1/2 1 ½ 1 ½ 1 ½ 9.Tangga nada yang hanya memiliki lima nada pokok disebut ….

A.Pentatonis B.Diatonis C.Pelog D.Slendro 10.Lagu Indonesia Raya ada …… stanza A.1 B. 2 C. 3 D. 4​ Refleksi Diri 1. Keragaman produk budi daya satwa harapan Indonesia dan di daerahmu sendiri. 2. Pemanfaatan sumber/referensi bacaan tentang evaluasi b … udi daya satwa harapan.3. Kesulitan yang dihadapi saat mencari informasi dan pengamatan.4. Pengalaman dalam membuat produk budi daya satwa harapan mulai dari perencanaan, persiapan, proses dan pemasaran/pemanfaatan produk hasil budi daya.

5. Pembelajaran yang didapatkan/dirasakan sebagai individu.​ Dua dari peribahasa ini, memiliki makna yang serupa. Manakah itu? 1. Anda tidak dapat membuat dompet sutera dari kuping babi betina. 2. Orang yang men … curi telur akan mencuri sapi 3.

Batu yang berguling tidak akan mengumpulkan lumut. 4. Anda tidak mungkin menghancurkan kapal yang sudah rusak. 5. Ini ketidakmungkinan yang terjadi.​
KISI-KISI UTS Seni Budaya Kelas XI - Tahun Ajaran 2015/2016 1. “ Sense of beauty” dalam bahasa Indonesia disebut rasa keindahan/estetika 2. Kemampuan mengamati karya seni rupa dalam arti praktis meliputi kemampuan Kemamuan mengklarifikasi, mendeskripsi, menjelaskan, menganalisis, menafsirkan, dan mengevaluasi, serta menyimpulkan makna karya seni 3.

Kebudayaan memiliki 3 wujud yaitu a) Kebudayaan sebagai Konsep b) Kebudayaan sebagai Aktivitas c) Kebudayaan sebagai Artefak 4. Kata “ budaya” berasal dari bahasa Sansekerta → “ buddayah/budhi” (= akal dan nalar) 5.

Tema disebut juga subject matter 6. Proses pelaksanaan aktivitas kreasi seni lukis: 7. Apa yang dimaksud dengan bentuk: → karya seni rupa yang menggambarkan figur yang kita kenal sebagai objek-objek alami, manusia, hewan, laut, dll. yang digambarkan dengan cara meniru rupa dan warna benda-benda tersebut.

b) Non-Figuratif (Abstrak) → karya seni rupa yang sama sekali tidak menggambarkan bentuk alamiah (tanpa figur/objek) → karya seni rupa yang masih menggambarkan figur/kenyataan alamiah, tapi bentuk dan warna telah mengalami distorsi, deformasi, stilasi oleh perupa ( bentuk diubah untuk kepentingan pemaknaan) 8. Apa yang dimaksud dengan sifat: a) Fluensi → kesigapan, kelancaran, dan kemampuan melahirkan banyak gagasan b) Fleksibilitas → kemampuan menggunakan berbagai macam pendekatan dalam memecahkan masalah c) Orisinalitas → kemampuan mencetuskan gagassan-gagasan asli a) Berasal dari Realitas Internal → penambahan kehidupan spiritual/psikologi kita sendiri.

Misal: harapan, cita-cita, emosi, nalar, intuisi, gairah, kepribadian, pengalaman yang belum teridentifikasi bahasa b) Berasal dari Realitas Eksternal → hubungan pribadi dengan Tuhan (religius), dengan sesama (sosial, nasionalisme, kemiskinan), dengan alam (lingkungan, keindahan alam), dsb.

10. 3 Penetapan Interest Seni → menempatkan seni sebagai instrumen pencapaian tujuan tertentu. → misal: tujuan nasional, moral, politik, dakwah, dll. → menempatkan seni prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas pencerminan realitas aktual (fakta) dan realitas khayali (realitas yang kita bayangkan sebagai sesuatu yang ideal).

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

→ berupaya melepaskan seni dari nilai-nilai pragmatis dan instrumentalis. → mengeksplorasi nilai-nilai estetik secara mandiri (seni untuk seni) → memandang seni sebagai aktivitas merepresentasikan bentuk-bentuk alam, atau aktivitas pelestarian kaidah estetik tradisional. → memandang seni sebagai aktivitas kreatif, yang mengutamakan aspek penemuan, orisinalitas, dan personality (gaya pribadi) → memandang seni sebagai aktivitas permainan tanda yang hiperriil dan ironik, sifaatnya eklektik (meminjam dan memadu gaya seni lama) dan menyajikannya sebagai pencerminan budaya konsumerisme masa kini.

12. 3 Tahap Aspek Operasional dalam Karya Seni Rupa a) Tahap Persiapan → pengadaan dan pengolahan bahan utama, bahan pendukung, peralatan b) Tahap Pelaksanaan → aktivitas proses kreasi dari awal hingga selesai (pengalaman artistik) c) Tahap Akhir → tindakan khusus supaya siap dipamerkan (pembersihan, pengawet, dll) 13.

prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas

Gaya Karya Seni Lukis § Basoeki Abdoellah → idealisasi keindahan yang permai § S. Soedjojono → heroisme dan nasionalisme § Raden Saleh → dramatis dan aristokratis Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu.

Kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang-orang; berlainan dengan hewan-hewan maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah-tengah alam, melainkan selalu mengubah alam tersebut. 15. Tingkat kepekaan perasaan keindahan akan berkembang melalui tahapan § Menerima (sikap terbuka) prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas semua manifestasi seni rupa § Mengapresiasi aspek keindahan dan maknanya § Menghargai aspek keindahan dan kegunaannya 16.

Pengalaman Penginderaan Karya Seni secara Psikologis Sensasi → Emosi → Impresi → Interpretasi → Apresiasi → Evaluasi a) Sensasi → reaksi panca indra kita mengamati seni b) Emosi → rasa keindahan c) Impresi → kesan pencerapan d) Interpretasi → penafsiran makna seni e) Apresiasi → menerima dan menghargai makna seni f) Evaluasi → menyimpulkan nilai seni 18. Menurut Brent G. Wilson, 3 Domain Apresiasi § Perasaan ( feeling) → perasaan keindahan § Penilaian ( valuing) → nilai seni § Empati ( emphatizing) → sikap hormat terhadap dunia seni rupa dan profesi perupa Soal yang Jawabanya di luar buku: · Seni Terapan (applied-art) Seni rupa terapan merupakan cabang seni rupa yang dibuat dengan mempertimbangkan fungsinya dan keindahannya.

Contohnya meja ukir Seni rupa murni merupakan cabang seni rupa yang dibuat tanpa mempertimbangkan fungsinya melainkan untuk dinikmati unsur keindahannya saja. Seni rupa murni cenderung lebih bebas dan biasanya memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Untuk fungsinya sendiri, seni rupa murni hanya digunakan sebagai hiasan atau pajangan saja, contohnya kaligrafi, lukisan, patung dan lain sebagainya · Perbedaan senirupa 2D dan 3D ü Seni rupa 2D mempunyai dua ukuran (panjang dan lebar).

Contoh : seni lukis, seni grafis, seni ilustrasi ü Seni rupa 3D mempunyai tiga ukuran atau memiliki ruang. Contoh : patung, kriya, kramik, arsitektur Seni kriya adalah sebuah karya seni yang dibuat dengan menggunakan ketrampilan tangan (hand skill) tetapi tetap memperhatikan aspek fungsional dan juga nilai seni itu sendiri. Contoh seni kriya : ü Seni kriya kayu : kursi, meja ü Seni kriya keramik : guci, vas bunga, pot bunga · Kuas digunakan untuk berkarya….

(seni lukis) · Canting digunakan untuk berkarya…. (seni membatik) · Bahan untuk membatik (malam). Alat untuk membatik (canting, kompor minyak kecil, wajan kecil, gawangan, nampan, panci).

Medium untuk membatik (kain mori) 1. Medium dan bahan karya seni rupa ( medium = bahan utama) · Bahan utama : kanvas dan cat · Bahan penunjang : kayu dan prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas 2. Alat berkarya seni rupa · Alat utama : alat untuk membentuk, menggambar, mewarnai, serta alat pencetak.

Contohnya pensil, pensil warna, spidol, kertas karbon, palet, kuas · Alat penunjang : alat pemotong, alat pengering, alat pengukur. Contohnya gunting, pisau, penggaris.

kelompok 2 (Estetika) 5PS1




2022 www.videocon.com