Pelumas adalah

pelumas adalah

Jenis Jenis Pelumasan – Dalam penggunaannya pada mesin, terdapat berbagai jenis pelumasan. Berbagai macam jenis pelumasan ini digolongkan melalui bentuk dan bahan. Lalu apa saja jenis jenis pelumasan? Pelumas adalah suatu zat cair (oli) yang digunakan untuk mengurangi gaya gesek antara dua benda yang saling bergesekan.

Pelumas merupakan hasil olahan minyak bumi yang sering digunakan untuk mesin bakar kendaraan maupun mesin produksi(pabrik). Pada kendaraan khususnya sepeda motor terdapat sistem pelumasan motor 4 tak dan sistem pelumasan motor 2 tak.

Sistem pelumasan sangat di perlukan khususnya pada mesin. Karena didalam mesin yang bergerak terdapat berbagai macam komponen yang bekerja dimana satu sama lain saling bergesekan. Dengan adanya sistem pelumasan maka akan membantu kelancaran kinerja komponen mesin dan secara langsung akan membantu mengurangi gaya gesek terhadap masing masing komponen yang bekerja. Selain membantu mengurangi gaya gesek antar komponen, pelumas juga membantu untuk menjaga panas mesin karena dengan mengurangi gaya gesek akan mengurangi pula panas yang ditimbulkan karena sistem pelumasan yang tidak baik akan menjadi penyebab mesin overheat.

Berikut ulasan terkait jenis jenis pelumasan yang ada pada mesin kendaraan yang akan dijelaskan lebih dalam pada artikel dibawah ini. Berikut ulasannya: Jenis Jenis Pelumasan Terdapat beberapa jenis jenis pelumasan yang banyak ditemukan. Jenis jenis pelumasan tersebut terdiri dari: 1. Pelumas cair (oli) Jenis jenis pelumasan yang pertama yaitu oli.

Syarat pemilihan oli yang baik adalah viskositas sesuai, tidak mudah terbakar, multigrade, tidak bereaksi dengan oksigen dan udara keliling. Pelumas cair ini terbagi menjadi pelumas sintetis, semi sintetis, dan pelumas biasa (base oil). Pelumas oli mineral memiliki keterbatasan paling besar yakni kurangnya ketahanan terhadap temperatur kerja tinggi. Aromatic oil memang memiliki ketahanan terhadap temperatur tinggi, akan tetapi tingkat kekentalannya terlalu besar sehingga tidak mudah digunakan sebagai pelumas mesin.

Solusi dari kelemahan tersebut adalah dibuatnya oli melalui proses sintesa sehingga didapatkan oli dengan spesifikasi terbaik sesuai dengan yang dibutuhkan. Pelumas jenis ini biasa kita kenal sebagai oli sintetis, sebab oli tipe ini tidak berasal dari minyak bumi melainkan dari bahan organik maupun anorganik yang melewati proses-proses khusus sehingga didapatkan spesifikasi pelumas adalah dibutuhkan terutama ketahanan terhadap temperatur tinggi.

Pelumas mineral terdiri dari: • Oli Paraffinic (parafin) diproduksi melalui proses pemecahan molekul hidrokarbon minyak bumi atau biasa dikenal dengan hydrocracking. Sebagian besar molekul oli parafin memiliki struktur molekul rantai hidrokarbon panjang dan tidak bercincin. Oli parafin memiliki kestabilan viskositas dan tahan terhadap oksidasi.

Oli ini memiliki titik temperatur bakar tinggi serta titik temperatur alir (pour point) tinggi. Pour point (titik alir) adalah titik temperatur dimana sebuah cairan memadat dan kehilangan kemampuannya untuk mengalir. Oli parafin sangat baik digunakan pada mesin manufaktur, untuk pelumas mesin industri, serta pada proses produksi industri karet, tekstil, dan kertas. • Oli Naphtenic diproduksi dari minyak bumi melalui proses distilasi atau penyulingan. Sebagian besar molekul oli naphtenic memiliki struktur cincin hidrokarbon jenuh.

Dengan struktur kimia semacam itu, oli tipe ini memiliki tingkat viskositas rendah, titik bakar rendah (mudah terbakar), titik alir rendah, serta ketahanan terhadap oksidasi yang relatif rendah. Karena sifatnya yang mudah terbakar, maka oli naphtenic lebih cocok digunakan pada kondisi temperatur kerja rendah, terutama untuk pendingin trafo industri, serta pendingin pada proses permesinan. • Aromatic oil merupakan hasil dari proses pemurnian lebih lanjut dari oli parafin.

Melalui proses pemurnian tersebut didapatkan oli dengan struktur hidrokarbon cincin-tak-jenuh. Cincin hidrokarbon tersebut bersifat jauh lebih stabil dan tidak mudah putus, sehingga oli pelumas adalah memiliki titik bakar lebih tinggi.

Pelumas oli aromatik berwarna hitam dan sangat lazim digunakan sebagai bahan seal manufaktur, serta sebagai perekat dan pengencer produksi aspal. Pelumas oli sintetis memiliki beberapa tipe yang diklasifikasikan berdasarkan perbedaan karakteristiknya, yakni: • Polyalphaolefins (PAO) menjadi oli sintetis yang paling populer digunakan. Struktur kimia dan karakteristik PAO identik dengan oli mineral.

Oli sintetis hidrokarbon jenis ini diproduksi melalui proses polimerisasi molekul hidrokarbon dari gas etilen dengan menggunakan katalisator logam. • Polyglycols (PAG). PAG diproduksi dari proses oksidasi etilena dan propilena. Hasil oksidan selanjutnya dipolimerisasi unti membentuk polyglycol. Oli jenis ini bersifat larut di dalam air, memiliki koefisien gesekan rendah, serta tahan terhadap tekanan kerja tinggi sekalipun tidak ditambahkan aditif tekanan tinggi.

• Oli Ester. Tipe oli sintetis berikut diproduksi dengan mereaksikan asam dan alkohol dengan air. Karakter oli ester adalah ketahannya terhadap temperatur tinggi dan rendah. • Silikon. Silikon termasuk ke dalam polimer inorganik yang memiliki struktur molekul rantai berbentuk seperti tulang belakang dengan gugusan Si=O.

Oli sintetis tipe ini yang paling populer adalah polydimethylsiloxane (PDMS) dengan monomer (CH3)2SiO. PDMS diproduksi dari silikon dan metilklorida. Contoh lain oli sintetis tipe ini adalah polymethylphenylsiloxane dan polydiphenylsiloxane. Viskositas oli silikon tergantung dari panjang molekul polimer serta derajat sambungan silang (cross-link) molekulnya. Sambungan pendek tidak silang molekul menghasilkan oli yang encer, sedangkan sambungan pelumas adalah silang molekul akan menghasilkan oli silikon elastis.

Pelumas silikon mampu bekerja pada kisaran temperatur -73°C hingga 300°C. Baca Juga Cara Kerja Mesin 4 Tak : 4 Langkah Dan Ulasannya Kelebihan pelumas oli: • Kelebihan yang paling utama adalah sangat cocok digunakan pelumas adalah mesin-mesin putaran tinggi. • Memiliki viskositas rendah sehingga mudah membentuk lapisan film pelumas di setiap permukaan logam yang dilindungi dan memastikan selalu ada jarak antara dua permukaan komponen yang bertemu.

• Karena berfase cair maka ia sangat mudah menyerap dan memindahkan panas. Kekurangan pelumas oli: • Membutuhkan ruang yang lebih besar untuk menampung oli. • Membutuhkan sistem sealing pelumas adalah mencegah oli bocor keluar. • Memerlukan tambahan sistem pendingin jika pelumas bekerja pada temperatur ekstrim. • Tidak tahan terhadap oksidasi, kontaminasi air, dan pengotor-pengotor seperti debu atau yang sejenisnya.

2. Pelumas setengah padat (grease/ gemuk lumas) Selain itu jenis jenis pelumasan juga bisa berbentuk setengah padat. Bahan dasar dari grease/ gemuk adalah pelumas cair yang telah diberi bahan pengental, pelumas ini memiliki kandungan oli 60% sampai 90%. Pelumas setengah padat mempunyai keunggulan yakni sebagai pelumas yang tahan terhadap suhu tinggi dan sebagai penutup yang baik, tidak mudah larut dengan air sehingga sangat bagus pada segala cuaca.

Akan tetapi pelumas setengah padat ini memiliki kekurangan yakni friksi lebih besar, pendinginan kurang baik, lebih rumit mengaplikasikan pada bagian atau sudaut yang susah. Macam Pelumas Semi Padat • Campuran Oli Mineral dengan Padatan. Grease tipe ini sangat cocok digunakan pada peralatan-peralatan dengan beban sangat tinggi serta bekerja pada kecepatan rendah.

Contohnya adalah pengaduk bahan beton, dan bearing pada conveyor alat konstruksi berat. • Campuran Oli Aspal dengan Oli Ringan. Pelumas tipe ini tergolong sebagai grease ringan dengan kekentalan sedikit rendah. Sangat cocok digunakan pada komponen-komponen pelumas adalah yang bertemu langsung dengan atmosfer. Kelebihan utama dari pelumas ini adalah kemampuannya untuk membentuk lapisan film yang mampu bertahan pada temperatur panas maupun dingin.

• Extreme-Pressure Grease (EP Grease). Karakteristik unik dari EP Grease adalah adanya penambahan aditif khusus yang membuatnya memiliki kekuatan sangat baik untuk diaplikasikan pada berbagai macam kondisi ekstrim.

pelumas adalah

Pelumas ini membentuk lapisan film yang justru bersifat mencegah pelumas untuk terlepas dari dua permukaan komponen, sehingga mencegah kedua permukaan komponen tersebut untuk bergesekan secara langsung. • Roll-Neck (RN) Grease. RN grease sangat lazim digunakan pada bearing sederhana pada mesin-mesin berputar. Grease tidak memiliki karakteristik istimewa sehingga hanya cocok digunakan pada bearing dengan beban kerja rendah.

• Soap Thicked Mineral Oils (STMO). Grease tipe ini menjadi yang paling banyak digunakan di dunia industri, sebab ia menggunakan oli mineral sebagai bahan utamanya dengan penambahan zat aditif kimia yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan. Zat aditif tersebut antara lain adalah sodium, barium, lithium, kalsium, serta aluminium. • Grease Multi-Fungsi. Grease multi-fungsi memiliki karakteristik unik yaitu menggabungkan dua atau lebih sifat-sifat dari grease tertentu.

Dengan metode ini, bahkan kita dapat membuat satu jenis grease multi-fungsi untuk pelumas adalah hingga enam grease khusus. Sebagai contoh grease yang menggunakan emulsi lithium, selain memiliki ketahanan terhadap air dan korosi, ia juga memiliki ketahanan mekanis dan oksidasi yang baik. Baca Juga Perbedaan Mesin 2 Tak Pelumas adalah Mesin 4 Tak : 7 Perbedaan Kelebihan Grease • Bertahan di hanya satu titik pelumasan yang pelumas adalah.

• Tidak mudah rusak karena cat ataupun partikel-partikel debu atmosfer. • Tidak memerlukan pemberian grease yang terlalu sering. • Cocok digunakan pada poros tegak/vertikal. • Membantu proses sealing karena tidak mudah ditembus partikel debu. • Tahan air. • Cocok digunakan pada mesin dengan beban kejut, kecepatan rendah, serta beban tinggi. Kekurangan grease: • Karena wujudnya yang semi-solid, maka sifatnya tidak dapat menjadi pendingin. • Sekali saja pengotor debu masuk dan bercampur dengan grease, ia tidak dapat dibersihkan.

Sehingga partikel tersebut akan menjadi gangguan nagi performa grease. 3. Pelumas padat Jenis jenis pelumasan yang ketiga yaitu pelumas padat.

Terdapat beberapa macam jenis pelumasan padat diantaranya yaitu: • Grafit sering dipakai di compressor udara, industri makanan, ikatan rel kereta, roda gigi terbuka, ball bearing, dan beberapa alat perbengkelan. Grafit wajar dipakai pada kunci gembok pelumas adalah mesin kunci. Ini dilaksanakan karena bila dipakai oli untuk memulasi mesin kunci, debu-debu pada udara malah gampang melekat dan akan cepat menghancurkan beberapa komponen mesin.

Grafit sanggup bekerja sampai suhu 900°F (482°C).

pelumas adalah

Di atas suhu itu grafit akan teroksidasi dan tingkatkan nilai koefisien geseknya. • Molibdenum disulfida (MoS2) jadi bahan pelumas padat ke-2 sesudah grafit yang terbanyak dipakai.

MoS2 mempunyai watak unik yang lain dengan grafit, bila grafit memerlukan kelembapan pada udara untuk melubrikasi elemen mesin, molibdenum disulfida tidak memerlukan kelembapan itu. Pelumas adalah juga MoS2 sanggup bekerja pada keadaan udara vakum, karena perihal ini pula dia pas dipakai pada perlengkapan-peralatan ruangan angkasa.Pada udara bebas molibdenum disulfida sanggup bertahan sampai suhu 700°F (371°C), di atas suhu itu akan menyebabkan MoS2 teroksidasi membuat MoO3 dan SO2.

Oksidasi itu memiliki sifat mempernyerap kelembapan udara dan meningkatkan koefisien gesekannya. Pada keadaan vakum yang tidak bisa saja terjadi proses oksidasi, molibdenum disulfida sanggup bertahan sampai suhu 2100°F (1150°C). • Pelumas padat Heksagonal Boron Nitrida (h-BN) baik sekali bekerja pada suhu rendah dan tinggi bahkan juga sampai 900°C.

Pelumas ini benar-benar pas dipakai jika karakter konduktivitas listrik dan reaktifitas kimia dari grafit jadi permasalahan. Keunggulan lain dari h-BN dibanding dengan grafit ialah karakter lubrikatifnya yang tidak membutuhkan molekul air atau gas untuk terjebak antara lapisan-lapisan molekulnya.

Karena itu h-BN pas dipakai pada keadaan vakum seperti molibdenum desulfida. • Polytetrafluoroethylene (PTFE) jadi bahan pelumas padat karena molekul penyusunnya yang gampang berubah relatif pada molekul yang lain dengan diberi sedikit style geser. PTFE baik dipakai pada keadaan vakum atau lingkungan atmosfer (sampai 290°C). Kelebihan pelumas padat: • Lebih efisien daripada pelumas oli pada mesin dengan beban tinggi.

• Benar-benar konstan pada keadaan temperature tinggi, dan pada situasi keadaan beradiasi dan reaktif. • Membuat design mesin jadi lebih simpel karena tidak diperlukan ruangan lebih seperti bila memakai pelumas oli. • Kebersihan mesin lebih terbangun. Kekurangan pelumas padat: • Bila sekali saja susunan film lubrikasi hancur, jadi tidak segera dapat diperbarui, keseluruhnya sisi pelumas pelumas adalah harus ditukar.

• Koefisien gesekan semakin tinggi bila dibanding dengan pelumas oli. • Gampang aus. 4. Pelumas gas Jenis jenis pelumasan gas ini Biasanya digunakan pada peralatan pembangkit energi nuklir dan beberapa instalasi turbin gas. Alasanya karena jenis pelumas gas ini dapat melumasi tempat -tempat yang sangat rumit. Diatas adalah ulasan terkait macam macam atau jenis jenis pelumasan pada mesin.

Semoga dapat menambah wawasan pengetahuan. Pelumas sejatinya tersusun dari salah satu jenis zat kimia yang digunakan untuk mengontrol berbagai gesekan dan keausan permukaan dalam kontak benda dalam gerakan relatif. Atas dasar inipula pelumas bisa dalam bentuk padat (logam-padat, karbon, grafit), setengah padat (gemuk), cair (minyak, air), dan gas.

Adapun untuk pelumas cair dapat diklasifikasikan berdasarkan oli dasar menjadi oli sintetik/semi sintetis, mineral, atau yang dapat diterima lingkungan (dapat terurai secara hayati). Selain aplikasi industri, pelumas juga memiliki beragam fungsi atau kegunaan lainnya, termasuk pelumas adalah (minyak dan lemak yang digunakan dalam wajan, dalam memanggang untuk mencegah makanan lengket), bioaplikasi pada manusia (misalnya pelumas untuk sendi buatan), pemeriksaan USG, pemeriksaan kesehatan.

Penjelasan ini terutama digunakan untuk mengurangi gesekan dan untuk berkontribusi pada fungsi mekanisme yang lebih baik dan efisien. Daftar Isi • Pelumas (Oli) • Pengertian Pelumas • Pengertian Pelumas Pelumas adalah Para Ahli • Ciri Pelumas • Jenis Pelumas • Padat • Gemuk Semi Padat • Cair • Gas • Fungsi Pelumas • Sebarkan ini: • Posting terkait: Pelumas (Oli) Sejarah pelumas dimulai ribuan tahun yang lalu, pada 2400 SM (dan mungkin sebelumnya), sebuah patung Mesir diangkut ke kuburan Tehuti-Hetep, El-Bersheh dengan bantuan pelumas cair (minyak/air) untuk mengurangi gesekan antara kereta luncur dan tanah / pasir.

pelumas adalah

Pada 1400 SM, orang Mesir menggunakan lemak hewani untuk melumasi as roda kereta. Namun, pemahaman teoritis yang kuat tentang aksi pelumas hanya mungkin dengan perkembangan hukum aliran kental yang ditemukan oleh Sir Isaac Newton pada tahun 1687. Berdasarkan hukum aliran viskositas ( laws of viscous flow), Profesora Osborne Reynolds mengembangkan persamaan klasik pelumasan film tipis.

Persamaan ini adalah dasar dari teori pelumasan hidrodinamik klasik dan merupakan teori pelumasan pelumas adalah paling banyak digunakan. Pada awal abad ke-20, hanya minyak mineral, minyak nabati, atau lemak, dan pelumas adalah yang kebanyakan dianggap sebagai pelumas. Namun belakangan ini pelumas padat, oli sintetik, pelumas berbahan dasar air dan gas juga dimasukkan ke dalam konsep pelumas. Konsep yang lebih luas telah disertai dengan pemahaman yang lebih baik tentang kinerja pelumas, dan keterbatasannya.

Pengertian Pelumas Pelumas adalah serangkaian zat yang mengurangi gesekan dan keausan antara dua permukaan sehingga diterapkan pada antarmuka dua permukaan melalui bahan yang digunakan pada permukaan atau bagian sesuatu, terutama sesuatu yang mekanis, agar bagian tersebut bergerak dengan lancar. Pengertian Pelumas Menurut Para Ahli Adapun definisi pelumas menurut para ahli, antara lain: • Biolubricants (2013), Arti pelumas adalah zat yang digunakan untuk memfasilitasi gerakan relatif benda padat dengan meminimalkan gesekan dan keausan antara permukaan yang berinteraksi.

• Merriam-Webster (2020), Pengeritian pelumas adalah zat (seperti gemuk) yang mampu mengurangi gesekan, panas, dan keausan saat dimasukkan sebagai film di antara permukaan padat, sehingga sesuatu yang mengurangi atau mencegah gesekan atau kesulitan Ciri Pelumas Pelumas memiliki karakteristik, diantaranya yaitu: • Titik nyala tinggi dan titik tuang rendah (untuk mengalirkan dan melumasi dalam kisaran suhu) • Indeks viskositas tinggi (agar tetap stabil dan melumasi dalam kisaran suhu dan perubahan suhu) • Stabilitas termal • Penyapihan (Kemampuan pemisahan air) • Pencegahan korosi • Resistensi keasaman tinggi • Dapat bercampur dengan pelumas lain • Fungsi efektif dalam tekanan dan beban tinggi Jenis Pelumas Berdasarkan struktur molekul bahan pelumas serta kekuatan gesernya, pelumas diklasifikasikan sebagai berikut: • Padat Pelumas padat adalah bahan padat yang diaplikasikan atau disisipkan di antara dua permukaan yang bergerak atau permukaan bantalan.

Bahan ini akan jauh lebih mudah geser daripada bantalan atau permukaan yang bergerak. Tiga persyaratan utama suatu bahan untuk menjadi pelumas padat adalah kemampuan untuk menopang beban yang diterapkan tanpa distorsi besar, koefisien gesekan yang rendah, dan tingkat keausan yang rendah.

Pelumas padat umumnya digunakan saat kondisi ekstrim. Pelumas padat digunakan dalam bentuk bubuk, sebagai gemuk pelumas, suspensi, film logam, atau pelumas terikat. Daya tahan pelumas padat ditingkatkan dengan melapisi pengikat bersama dengan pigmen pelumas. Lapisan terikat ini memberikan ketebalan film yang lebih besar dan meningkatkan masa pakai pelumas dan permukaan tempat pelumas diterapkan. Pelumas padat selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi empat sub jenis, yaitu polimer, logam-padat, karbon dan grafit, serta keramik dan cermet.

• Polimer Polimer adalah salah satu kelompok pelumas padat terbesar, yang cocok untuk digunakan dengan beban ringan. Ada tiga pelumas padat polimer utama, politetrafluoroetilena (PTFE), Nylon, dan polimer sintetis. Politetrafluoroetilena adalah sifat polimer yang berasal dari etilen. Semua atom hidrogen dalam molekul pelumas adalah digantikan oleh atom fluor untuk menghasilkan polytetrafluoroethylene. Ini biasanya digunakan sebagai pelumas padat karena gesekannya yang rendah, stabilitas kimianya, energi permukaannya yang rendah, dan kelembaman kimianya yang lebih besar.

Untuk semua poin plus dari polytetrafluoroethylene, ada beberapa kelemahannya juga, yaitu memiliki tingkat keausan yang relatif tinggi; memiliki ekspansi termal tinggi dan konduktivitas termal rendah yang membuatnya kurang diminati untuk digunakan di lingkungan bersuhu tinggi; kapasitas muatnya rendah. Namun, kelemahan tersebut dapat diatasi melalui penggunaan polimer sintetik.

Pelumas polimer sintetis dapat dibuat dengan mencampur kaca dan pengisi berbasis karbon dengan PTFE. Meresapi PTFE dengan struktur logam seperti perunggu atau timah juga merupakan pilihan. Modifikasi ini juga memungkinkan PTFE sintetis untuk menahan beban yang lebih tinggi dan meningkatkan laju keausan.

• Logam-padat Pelumas padat ini mengandung padatan lamelar dan mencapai gesekan rendah melalui proses yang dikenal sebagai transfer film. Molibdenum disulfida adalah pelumas padat ikatan logam yang paling umum digunakan. Beberapa keunggulan pelumas logam padat seperti molibdenum disulfida adalah daya dukung beban yang tinggi, kinerja suhu tinggi yang baik, dan gesekan yang rendah. Pelumas ini juga stabil dalam vakum hingga 1000 derajat Celcius. Karenanya, molibdenum disulfida juga digunakan dalam aplikasi ruang angkasa.

Kelemahannya adalah kinerja yang kurang optimal dengan adanya kelembapan dan ketebalan film yang tinggi. Film yang lebih tebal tidak bertahan lama karena lebih mudah rusak. • Karbon dan grafit Segel grafit karbon digunakan sebagai pelumas padat.

Itu memiliki sifat yaitu stabilitas suhu tinggi, stabilitas oksidasi tinggi, dan kinerja berkelanjutan dalam aplikasi kecepatan geser tinggi. Grafit sebagai material memiliki pelumas adalah rendah dan dapat menahan beban sedang. Grafit, bagaimanapun, rentan terhadap korosi dan tidak bekerja dengan baik dalam ruang hampa. Performa pelumasan grafit sebenarnya meningkat dengan peningkatan suhu.

Namun, melebihi 500 derajat Celcius, korosi pelumas adalah meningkat. • Keramik dan cermet Pelapis keramik dan cermet digunakan sebagai pelumas dalam situasi di mana tingkat keausan yang lebih rendah lebih penting daripada gesekan rendah. Pelapis keramik / cermet dapat digunakan pada kisaran suhu tinggi sekitar 1000 derajat Celcius.

Lapisan keramik/bahan cermet setebal 0,5 mm menawarkan cara hemat untuk memanfaatkan ketahanan ausnya. Lapisan tersebut dapat disemprotkan menggunakan pistol detonasi, penyemprotan plasma, atau deposisi elektrolitik menggunakan elektrolit yang mengandung partikel keramik. • Gemuk Semi Padat Gemuk dianggap sebagai salah satu bentuk pelumas paling serbaguna.

Ini dapat digunakan di berbagai lingkungan pelumas adalah berbagai suhu, kondisi beban, atau kecepatan. Baik itu lingkungan kering atau basah, lingkungan berdebu atau bersih, atau bahkan lingkungan korosif, gemuk dapat digunakan dalam semua jenis aplikasi.

Gemuk adalah sejenis cairan pelumas adalah semu. Salah satu sifat gemuk yang paling penting adalah konsistensi. Konsistensi tidak lain adalah kekerasan atau kelembutan relatif dari bahan apa pun. Gemuk terdiri dari minyak pelumas yang memiliki viskositas rendah dan dikentalkan dengan padatan terdispersi halus yang dikenal sebagai pengental. Gemuk terdiri dari: • Minyak Dasar Minyak bumi dan minyak dasar sintetik digunakan dalam pembuatan gemuk. Sifat minyak dasar sangat penting karena mempengaruhi sifat lemak yang dihasilkan dari minyak.

Minyak dasar dengan viskositas rendah dan ringan digunakan untuk menghasilkan gemuk yang bekerja pada suhu rendah. Minyak dasar yang lebih berat dan viskositas tinggi digunakan untuk menghasilkan gemuk bersuhu tinggi.

• Aditif Aditif kimia tertentu ditambahkan ke pelumas untuk memperbaiki sifatnya. Pilihan aditif tergantung sepenuhnya pada penggunaan akhir atau aplikasi gemuk. Faktor-faktor seperti parameter kinerja, dampak lingkungan, parameter keberlanjutan, kompatibilitas, biaya, dan warna semuanya berperan dalam pemilihan aditif. • Pengental Pengental ditambahkan ke minyak dasar untuk mengentalkan bahan dan menghasilkan minyak.

Ada dua jenis pengental, pengental organik dan pengental anorganik. Pengental anorganik tidak berbahan dasar sabun sedangkan pengental organik dapat berbahan dasar sabun atau non-sabun. Beberapa keunggulan menggunakan gemuk sebagai bahan pelumas adalah ketahanannya terhadap air, kekuatan ikatannya dengan permukaan saat diaplikasikan, frekuensi aplikasi yang lebih rendah, kemampuannya untuk mengurangi kebisingan dan getaran, kemampuannya untuk menutup kontaminan, dan kegunaannya secara vertikal/poros miring.

Akan tetapi, beberapa kelemahan menggunakan gemuk sebagai pelumas adalah disipasi panasnya yang buruk, kerentanannya terhadap kontaminasi debu, dan ketidakmampuan untuk menyaring kontaminan dari gemuk. • Cair Pelumas cair digunakan secara ekstensif dalam aplikasi yang tinggi dalam hal kecepatan dan pelumas adalah beban. Pelumas cair merupakan jenis pelumas yang paling dominan di pasaran.

Pelumas cair terdiri dari minyak dasar dan beberapa zat aditif. Macam-macam jenis pelumas cair adalah sebagai berikut: • Minyak Mineral Pelumas berbahan dasar mineral diekstraksi dari minyak mentah. Pelumas minyak mineral terdiri dari empat jenis. Jenis pertama adalah minyak parafin yang memiliki ketahanan yang baik terhadap oksidasi. Ini menunjukkan stabilitas termal yang baik, tidak mudah menguap, dan memiliki titik nyala yang tinggi. Jenis pelumas minyak mineral kedua adalah minyak naftenik.

Pelumas jenis ini bagus untuk aplikasi suhu rendah. Ini memiliki titik nyala lebih rendah dari pelumas minyak parafin. Saat pelumas oli naftenik dibakar, terbentuk endapan lunak yang pada gilirannya menurunkan keausan abrasif. Jenis pelumas minyak mineral yang ketiga adalah oli multigrade. Itu dibuat dengan menambahkan polimer dalam minyak mineral, sehingga meningkatkan indeks viskositas pelumas.

Pelumas ini memiliki tingkat kerataan yang berbeda di mana tingkat oli pelumas tertentu dapat menawarkan kinerja yang optimal dalam suhu rendah atau suhu tinggi. Terakhir, minyak sintetis adalah jenis pelumas minyak bumi mineral lainnya. Pelumas jenis pelumas adalah dibuat untuk tahan terhadap kondisi pengoperasian yang berat. Mesin jet menggunakan pelumas sintetis. Pelumas ini mahal tetapi dapat menahan panas dan stres tingkat tinggi. Beberapa minyak sintetis yang umum digunakan adalah ester, silikon, poliglikol, dan lain-lain.

• Minyak Nabati Pelumas berbahan dasar minyak pelumas adalah terbuat dari lobak dan jarak dikenal sebagai pelumas minyak nabati. Minyak nabati mengandung lebih banyak pelumas batas alami daripada yang diamati pada minyak mineral. Namun pelumas minyak nabati kurang stabil dibandingkan pelumas minyak mineral pada rentang suhu tinggi.

• Minyak Hewani Lemak yang diambil dari ikan dan hewan merupakan sumber minyak hewani. Itu ditambahkan ke minyak mineral untuk meningkatkan kemampuan pembentukan film dari minyak mineral. Minyak hewani tidak mudah menguap. Kelemahan utama minyak hewani adalah ketersediaannya. • Gas Gas seperti sifat nitrogen dan helium digunakan sebagai pelumas dalam aplikasi di mana ketebalan film antara pasangan tribo sangat kecil.

Keunggulan menggunakan pelumas gas adalah rentang suhu yang besar, tidak perlu penyegelan untuk pelumasan, gesekan yang sangat rendah karena viskositas rendah, tidak ada penguapan, tidak ada pemadatan, dan tidak ada dekomposisi. Kelemahan penggunaan pelumas gas adalah kapasitas beban yang rendah, toleransi yang lebih rendah untuk setiap kesalahan dalam estimasi beban, dan kebutuhan akan perancang spesialis dalam menciptakan permukaan yang halus dengan jarak bebas yang rendah.

Fungsi Pelumas Fungsi utama pelumas diantaranya pelumas adalah • Minimalisasi gesekan. Film pelumas yang terbentuk di antara permukaan logam yang bergerak dalam kontak sama sekali tidak memungkinkan terjadinya kontak ini. • Pengurangan panas yang tumbuh. Semakin kental pelumas, semakin tinggi gesekan internal dan panas yang dihasilkan.

Pemilihan pelumas yang tepat memberikan keseimbangan yang diperlukan antara apa yang diperlukan untuk melindungi mesin tanpa menimbulkan gesekan pelumas adalah yang berlebihan pada pelumas yang digunakan.

• Pengurangan keausan adalah fungsi dasar pelumas. Umumnya, semakin kental oli, semakin besar perlindungan terhadap keausan, dengan aditif juga memainkan peran penting.

Aditif modern memungkinkan penggunaan pelumas dengan viskositas rendah untuk menawarkan perlindungan yang sama terhadap keausan. • Perlindungan terhadap korosi dan karat.

Saat pelumas “menua”, itu akan menciptakan produk sampingan yang korosif, sehingga dibutuhkan perlindungan terhadap logam dengan aditif anti korosi / anti karat tertentu. Nah, demikin saja artikel yang bisa kami kemukakan pada segenap pembaca berkenaan dengan pengertian pelumas (oli) menurut para ahli, macam, dan fungsinya yang ada di berbagai bidang kehidupan. Semoga memberi wawasan untuk kalian yang membutuhkannya. Posting terkait: • Pengertian Energi Nuklir, Jenis, Rumus, Manfaat, dan Contoh • Pengertian Radiasi Elektromagnetik, Dampak, Manfaat, dan Contohnya • Pengertian Natrium, Jenis, Sifat, Manfaat, dan Contohnya Posting pada Materi Kimia, Pengertian Pakar Ditag bentuk pelumas, fungsi pelumas, jenis pelumas, kegunaan pelumas, macam oli, pelumas adalah oli, oli, oli adalah, pelumas, pelumas adalah, pelumas dalam kimia, pelumas menurut para ahli, pengertian pelumas Navigasi pos Kategori • Alat Laboratorium pelumas adalah Cara • Ciri • Contoh Soal dan Jawaban • Dampak • Elektrokimia • Energi • Faktor • Fisika • Fungsi • Ikatan Kimia • IPA • Jenis • Kehidupan Sehari-Hari • Kesetimbangan Kimia • Kimia • Kimia Analitik • Kimia Anorganik • Kimia Fisik • Kimia Fisika • Kimia Industri • Kimia Klinik • Kimia Lingkungan • Kimia Organik • Kimia Teknik • Limbah • Manfaat • Materi Kimia • Pengertian Pakar • Perbedaan • Perguruan Tinggi • Rumus • Sifat • SMA • Teori Kimia
Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek.

Zat ini merupakan fraksi hasil destilasi minyak bumi yang memiliki suhu 105-135 derajat celcius. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan.

Salah satu penggunaan pelumas paling utama adalah oli mesin yang dipakai pada mesin pembakaran dalam. A. Fungsi dan tujuan pelumasan Pada berbagai jenis mesin dan peralatan yang sedang bergerak, akan terjadi peristiwa pergesekan antara logam. Oleh karena itu akan terjadi peristiwa pelepasan partikel partikel dari pergesekan tersebut. Keadaan dimana logam melepaskan partikel disebut aus atau keausan. Untuk mencegah atau mengurangi keausan yang lebih parah yaitu memperlancar kerja mesin dan memperpanjang usia dari mesin dan peralatan itu sendiri, maka bagian bagian logam dan peralatan yang mengalami gesekan tersebut diberi perlindungan pelumas adalah.

1. Tugas pokok pelumas Pada dasarnya yang menjadi tugas pokok pelumas adalah mencegah atau mengurangi keausan sebagai akibat dari kontak langsung antara permukaan logam yang satu dengan permukaan logam lain terus menerus bergerak. Selain keausan dapat dikurangi, permukaan logam yang terlumasi akan mengurangi besar tenaga yang diperlukan akibat terserap gesekan, dan panas yang ditimbulkan oleh gesekan akan berkurang.

2. Tugas tambahan pelumas Selain mempunyai tugas pokok, pelumas juga berfungsi sebagai penghantar panas. Pada mesin mesin dengan kecepatan putaran tinggi, panas akan timbul pada bantalan bantalan sebagai akibat dari adanya gesekan yang banyak. Dalam hal ini pelumas berfungsi sebagai penghantar panas dari bantalan untuk mencegah peningkatan temperatur atau suhu mesin. Suhu yang pelumas adalah akan merusak daya lumas. Apabila daya lumas berkurang, maka maka gesekan akan bertambah dan selanjutnya panas yang timbul akan semakin banyak sehingga suhu terus bertambah.

Akibatnya pada bantalan bantalan tersebut akan terjadi kemacetan yang secara otomatis mesin akan berhenti secara mendadak. Oleh karena itu, mesin mesin dengan kecepatan tinggi digunakan pelumas yang titik cairnya tinggi, sehingga walaupun pada suhu yang tinggi pelumas tersebut tetap stabil dan dapat melakukan pelumasan dengan baik. B. Jenis jenis pelumas Terdapat berbagai jenis minyak pelumas.

Jenis jenis minyak pelumas dapat dibedakan penggolongannya berdasarkan bahan dasar (base oil), bentuk fisik, dan tujuan penggunaan. 1. Dilihat dari bentuk fisiknya : a. Minyak pelumas b. Gemuk pelumas c. Cairan pelumas 2.

pelumas adalah

Dilihat dari bahan dasarnya : a. Pelumas dari bahan nabati b. Pelumas dari bahan hewani c. Pelumas sintetis 3. Dilihat dari penggunaannya : a. Pelumas kendaraan b.

Pelumas industri c. Pelumas perkapalan d. Pelumas penerbangan 4. Dilihat dari pengaturannya : i. Pelumas kendaraan bermotor : 1. Minyak pelumas motor kendaraan baik motor bensin / Diesel 2. Minyak pelumas untuk transmisi 3.

Automatic transmission fluid & hydraulic fluid ii. Pelumas motor diesel untuk industri : 1. Motor diesel berputar cepat 2. Motor diesel berputar sedang 3. Motor diesel berputar lambat iii. Pelumas untuk motor mesin 2 langkah : 1. Untuk kendaraan bermotor 2. Untuk perahu motor 3. Lain lain ( gergaji mesin, mesin pemotong rumput ) iv. Pelumas khusus Jenis pelumas ini banyak ragamnya yang penggunaannya sangat spesifik untuk setiap jenis, di antaranya adalah untuk senjata api, mesin mobil balap, peredam kejut, pelumas pelumas adalah, pelumas anti karat, dan lain-lain.

C. Penggunaan pelumas Untuk memperoleh hasil yang maksimal atau memuaskan di dalam sistem pelumasan ini maka mutlak diperlukan adanya selektifitas penggunaan pelumas itu sendiri, yaitu menentukan jenis pelumas yang tepat untuk mesin dan peralatan yang akan dilumasi. Hal ini untuk mencegah salah pilih dari pelumas yang akan dipakai yang dapat berakibat fatal. 1. Hal hal yang perlu diperhatikan : a.

Rekomendasi pabrik pembuat mesin Biasanya pabrik pembuat mesin seperti pabrik kendaraan bermotor dan pabrik mesin mesin industri memberi petunjuk jenis pelumas yang direkomendasikan untuk digunakan. Petunjuk ini sangat terperinci sedemikian rupa bagi pelumasan masing masing bagian dalam jangka waktu tertentu.

b. Bahan bakar yang digunakan Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa pelumasan untuk mesin dengan bahan bakar bensin berbeda dengan pelumasan untuk mesin berbahan bakar solar atau gas.Apabila tidak ada ketentuan ukuran atau aturan penggunaan pelumas oleh pembuat mesin, maka anjuran dalam penggunaan pelumas biasanya dilaksanakan oleh para teknisi pabrik dengan melihat pada : – Data teknis dari mesin – Pengetahuan tentang pelumasan dari para teknisi – Pengalaman dari para teknisi c.

Perkembangan teknis pelumas Hasil kemajuan yang dicapai di bidang pelumas ini, pada dasarnya adalah hasil kerjasama antara pabrik pembuat mesin, pembuat pelumas, dan pembuat bahan bahan tambahan ( additif ). Walaupun terdapat beragam pelumas berkualitas tinggi, namun pada intinya yang menentukan mutu dan daya guna suatu pelumas terdiri dari 3 faktor : 1. Bahan dasar ( based oil ). 2. Teknik dan pengolahan bahan dasar dalam pembuatan pelumas.

3. Bahan bahan additif yang digunakan atau dicampurkan kedalam bahan dasar untuk mengembangkan sifat tertentu guna tujuan tertentu. Sebenarnya base oil mempunyai segala kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam pelumasan. Tanpa aditifpun, sebenarnya minyak dasar sudah mampu menjalankan tugas-tugas pelumasan. Namun unjuk kerjanya belum begitu sempurna dan tidak dapat digunakan dalam waktu lama. ISTILAH-ISTILAH PADA Pelumas adalah PELUMAS Istilah-istilah teknis tentang minyak pelumas sering dianggap remeh, padahal dengan mengatahui istilah-istilah pelumas adalah ada pada pelumas, maka kita akan tahu persis baik tidaknya atau tepat tidaknya penggunaan suatu pelumas : 1.

Viscosity; adalah kekentalan suatu minyak pelumas yang merupakan ukuran kecepatan bergerak atau daya tolak suatu pelumas untuk mengalir. Pada temperatur normal, pelumas dengan viscosity rendah akan cepat mengalir dibandingkan pelumas dengan viscosity tinggi.

Biasanya untuk kondisi operasi yang ringan, pelumas dengan viscosity rendah yang diajurkan untuk digunakan, sedangkan pada kondisi operasi tinggi dianjurkan menggunakan pelumas dengan viscosity tinggi 2.

Viscosity Index (Indeks viskositas); merupakan kecepatan perubahan kekentalan suatu pelumas ddikarenakan adanay perubahan temperatur. Makin tinggi VI suatu pelumas, maka akan semakin kecil terjadinya perubahan kekentalan minyak pelumas meskinpun terjadi perubahan temperatur. Pelumas biasa dapat memiliki VI sekitar 100, sedang yang premium dapat mencapai 130, untuk sithetis dapat mencapai 250. 3. Flash point; titik nyala suatu pelumas adalah menunjukkan temperatur kerja suatu pelumas dimana pada kondisi temperatur tsb akan dikeluarkan uap air yang cukup untuk membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara.

4. Fire point; adalah menunjukkan pada titik temperatur dimana pelumas akan dan terus menyala sekurang-kurangnya selama 5 detik. 5. Pour point; merupakan titik tempratur dimana suatu pelumas akan berhenti engalir dengan leluasa. 6. Cloud point; keadaan dimana pada temperatur tertentu maka lilin yang larut di pelumas adalah minyak pelumas akan mulai membeku.

pelumas adalah

7. Aniline point; merupakan pentunjuk bahwa minyak pelumas tertentu sesuai sifat-sifatnya dengan sifat-sifat karet yang digunakan sebagai seal dan slang. Hal ini ditetapkan sebagai temperatur dimana volume yang sama atau seimbang dari minyak pelumas adan aniline dapat dicampur 8. Neutralisation Number or Acidity; merupakan ukuran dari alkali yang diperlukan untuk menetralisir suatu minyak Makin tinggi angka netralissasi maka akan semakin banyak asam yang ada.

Minyak yang masih baru tidak mengandung asam bebas dan acidity numbernya dapat kurang atau sama dengan 0,1. Sedangkan pelumas bekas, akan mengandung acidity number yang lebih tinggi.

9. Ash; Apabila pelumas habis terbakar maka akan terbentuk abu (ash) atau abu sulfat. Pelumas adalah ini berhubungan dengan pengukuran kemurnian suatu pelumas. (dari berbagai sumber : by irf/lumasmultisarana/2010) March 2013 M T W T F S S 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Blogroll • Discuss • Get Inspired • Get Polling • Get Support • Learn WordPress.com • Theme Showcase • WordPress Planet • WordPress.com News Link Admin • Blogger • Facebook • Kaskus • Twitter Link Pelumas OLI • Castrol • Shell • Total Categories • Uncategorized Search for: Recent Posts • Kegunaan Cyclone Engine Flush • Pengertian Pelumas OLI • Million Miles • Step into The Grid • Track to Road • Mobil 1™ Museum • Why Mobil 1™??

• Mobil 1™ in Grand Prix Racing • Mobil 1TM Racing Academy Game • Mobil 1™ Performance Record Recent Comments Archives • March 2013 Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com PENGERTIAN PELUMASAN – Dipakai di hampir segala jenis mesin, baik mesin kendaraan bermotor maupun mesin pabrik. Pelumasan berfungsi melicinkan permukaan benda yang dikenainya sehingga mengurangi gesekan antarpermukaan yang bergerak saling bersentuhan.

Selain itu, pelumasan juga dipakai untuk mendinginkan bagian-bagian mesin, mencegah korosi dan oksidasi, serta melindungi logam dari keletihan. Meskipun ada bahan pelumas yang berupa gas, bahan semipadat (lemak), dan bahan padat, yang paling lazim dipakai adalah minyak. Minyak pelumas digunakan di banyak jenis mesin karena jenis pelumas cair ini dapat mengalir di antara bagian-bagian yang bergerak. Selain melicinkan bagian yang saling bergesek, cairan yang mengalir itu pelumas adalah memindahkan panas.

Kekentalan minyak merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pemilihan jenis pelumas. Minyak pelumas harus cukup kental agar dapat membentuk selaput tipis di antara bagian- bagian yang bergerak dan juga harus cukup encer untuk mempercepat pemindahan panas serta mencegah hilangnya tenaga melalui gesekan. Minyak pelumas hasil penyulingan minyak bumi adalah yang paling banyak dipakai; jenis ini juga merupakan pelumas paling mahal. Minyak pelumas terdiri atas senyawa kompleks alifatik jenuh dan tak jenuh serta hidrokarbon-hidrokarbon aromatik.

Penyulingan, pengilangan, dan paduan beberapa zat tambahan menghasilkan minyak dengan kekentalan yang bervariasi, mukii dari yang paling encer untuk pelumas roda-roda gigi arloji hingga yang sangat kental untuk pencegah panas mesin pesawat udara dan mesin uap.

Vaselin adalah bahan semipadat yang merupakan campuran minyak pelumas dan bahan pengental khusus. Bahan-bahan pengental yang lazim digunakan meliputi tanah liat dan silika, serta sabun-sabun asam lemak dari aluminium, kalsium, litium, dan natrium. Beberapa jenis lemak pelumas adalah juga termasuk bahan tambahan. Vaselin tetap bertahan di permukaan tempat pelumas dioleskan, tak seperti pelumas cair yang segera mengalij. Jenis ini juga berfungsi sebagai pelapis permukaan agar uap air dan debu tak menempel.

Pelumas jenis ini banyak dipakai pada bantalan dan roda gigi. Grafit, molibdenum disulfida, tungsten disulfida, boron nitrida, zink oksida, dan talk adalah bahan pelumas padat. Pelumas padat pelumas adalah bila suhu, tekanan, atau kecepatan putar mesin terlalu tinggi bagi pelumas caii atau vaselin, sehingga dua jenis pelumas pelumas adalah tak dapat berfungsi efektif.

Jenis padat dapat berfungsi secara terus-menerus pada suhu di atas 650°C, dan umumnya dipakai dalam proses ekstrusi, pencetakan, penarikan kabel, dan dalam baling-baling penggerak roket, tempat pelumas berhubungan langsung dengan bahan bakar aktif dan pengoksidasi, seperti oksigen cair dan hidrogen peroksida.

Pelumas-pelumas padat secara umum tak dilengkapi dengan zat perekat berkualitas bagus. Berbagai zat pengikat organik dan anorganik digunakan sebagai pengikat pelumas pada permukaan bagian-bagian bergerak. Zat-zat pengikat seperti silikat dan keramik digunakan pada kondisi suhu tinggi. Indeks Kekentalan Minyak Pelumas. Pengenceran kekentalan minyak pelumas terjadi bila panas yang dialirkan minyak makin meningkat. Peningkatan suhu ini ditimbulkan oleh gesekan antarbagian mesin.

Untuk membatasi pengenceran yang terjadi, minyak pelumas dikelompokkan dalam beberapa tingkat. Asosiasi ahli-ahli teknik dalam The Society of Auto-motive Engineers di Amerika Serikat memilah-milah minyak pelumas mesin dan transmisi menjadi beberapa tingkat dengan ditandai nomor tertentu; sebagai indikator derajat pelumas adalah.

Makin kental minyaknya, makin tinggi nomor yang diberikan. Lazimnya satu jenis minyak dengan kekentalan tertentu memi-liki satu nomor khusus, misalnya SAE-40 atau SAE- 20W. Tingkat-tingkat SAE dengan penambahan akhiran W menunjukkan bahwa pelumas ini dapat digunakan pada suhu kamar rendah. Kekentalannya diukur pada suhu -18°C (0°F), atau pada suhu rendah lain, dan dinyatakan dalam satuan centipoise (cP). Karena kekentalannya dapat berubah antara nilai- nilai tertentu, beberapa minyak pelumas memiliki nilai ganda atau nilai antara.

Misalnya SAE 10W-30 atau SAE 20W-40. Pelumas beberapa tingkat ini dalam suhu rendah memiliki spesifikasi untuk pelumas dengan penandaan W, dan pada suhu pelumas adalah ditinggikan tetap menunjukkan kekentalan yang masih bisa dipergunakan, sesuai dengan penandaan tertingginya. Contohnya, pelumas SAE 10W-40 berada dalam batasan-batasan khusus: pada suhu -18°C setara dengan pelumas SAE-10W, sedangkan pada 100°C kekentalan kinematiknya sama dengan kekentalan pelumas SAE-40.

Indeks kekentalan dapat menunjukkan kekonstanan kekentalan minyak meskipun suhu berubah-ubah. Klasifikasi khusus kekentalan SAE merupakan batas kekentalan tertentu yang diperkenankan, bukan nilai khusus kekentalan.

Pelumas mesin memiliki nilai SAE dari OW, 5W, 10W, 15W, 20W, 25W, 20, 30, 40, sampai 50. Tetapi pelumas untuk gardan dan transmisi memiliki nilai SAE dari 80, 90, 140, sampai 150.

Untuk SAE 140 dan 150, tes kekentalannya dilakukan pada suhu 99°C. Incoming search terms: • pengertian pelumasan • pengertian pelumas • definisi pelumas • definisi pelumasan • pengertian pelumas menurut para ahli • arti pelumas • pengertian minyak pelumas • apa itu pelumas ARTI DEFINISI PENGERTIAN About Us Contact Us Declaimer Privacy Policy ZAKAT DAN KEADILAN SOSIAL MENURUT ISLAM BAGIAN-BAGIAN MATA MANUSIA PEMBENTUKAN BAYANGAN PADA CERMIN PENGERTIAN LENSA PEMBENTUKAN BAYANGAN PADA MATA SERANGGA GANGGUAN INDERA PENGLIHATAN PENGERTIAN ALAT OPTIK SIFAT-SIFAT CAHAYA SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA GANGGUAN PADA SISTEM PEREDARAN DARAH Copyright © 2021 Pelumas adalah DEFINISI PENGERTIAN ARTI-DEFINISI-PENGERTIAN.INFO
• Afrikaans • العربية • Azərbaycanca • Български • বাংলা • Català • Čeština • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Gaeilge • Galego • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Italiano • 日本語 • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Lietuvių • മലയാളം • Bahasa Melayu • Nederlands • Norsk bokmål • Português • Română • Русский • Srpskohrvatski / српскохрватски pelumas adalah Simple English • Slovenčina • Српски / srpski • Svenska • ไทย • Türkçe • Українська pelumas adalah Tiếng Việt • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Minyak sintetik yang dipakai sebagai pelumas pada mesin pembakaran dalam.

Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Zat ini merupakan fraksi hasil destilasi minyak bumi yang memiliki suhu 105-135 derajat celcius. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan. Salah satu penggunaan pelumas paling utama adalah oli mesin yang dipakai pada mesin pembakaran dalam.

Daftar isi • 1 Kode Pelumas • 1.1 1. SAE (Society of Automotive Engineers) • 1.2 2. JASO (Japanese Automotive Standards Organization) • 1.3 3. API (American Petroleum Institute) • 1.3.1 Klasifikasi Pemakaian Mesin Bensin • 1.3.2 Klasifikasi Pemakaian Mesin Diesel • 2 Referensi Kode Pelumas [ sunting - sunting sumber ] Kode yang tertera pada kemasan pelumas menunjukkan tipe pemakaian untuk mesin agar lebih optimal.

Meski memuat informasi penting, namun sering konsumen tidak memperhatikan atau pelumas adalah. Ada tiga lembaga internasional yang dianggap berwenang untuk menentukan standart mutu minyak pelumas dunia yaitu SAE, JASO dan API. 1. SAE (Society of Automotive Engineers) [ sunting - sunting sumber ] SAE adalah singkatan dari Society of Automotive Engineers, suatu asosiasi yang mengatur standardisasi di berbagai bidang seperti bidang rancang desain teknik, manufaktur, dll.

Kode SAE digunakan untuk menunjukkan tingkat kekentalan (viscocity). Tulisan seperti ini: SAE 10W-30, 10W-40 atau 20W-40, 20W-50, adalah standardisasi yang dikeluarkan oleh pihak SAE untuk kualitas dari kekentalan oli. Angka di sebelah kiri tanda W adalah nilai kekentalan oli ketika mesin dingin. Kemudian angka di sebelah kanan W adalah nilai kekentalan oli ketika mesin beroperasi pada suhu kerjanya.

Semakin besar angkanya (baik kiri maupun kanan) itu artinya adalah semakin kental pada kondisinya. Misalnya ada yang sama-sama 15W, tetapi kalau yang satu 15W-40 yang satunya lagi 15W-50, maka keduanya memang punya kekentalan sama saat mesin dingin, tetapi ketika mesin beroperasi, yang 15W-40 akan lebih encer daripada 15W-50.

Semakin kental oli, maka pelumasan semakin baik. Tapi pada batas tertentu, semakin kentalnya oli malah menghambat kerja part yang bergerak. Analoginya begini, tentu anda akan lebih mudah bergerak di air encer daripada air kental (itulah mengapa penggunaan oli encer kan membuat tarikkan lebih enteng, dsm), namun sebenarnya tingkat keausan lebih mudah terjadi pada pelumas yang lebih encer daripada oli kental.

2. JASO (Japanese Automotive Standards Organization) [ sunting - sunting sumber pelumas adalah JASO (Japanese Automotive Standards Organization) mengeluarkan Kode seperti JASO MA, JASO MB: adalah standardisasi yang dikeluarkan oleh terkait jenis oli terkait di mana saja bagian mesin yang boleh dilumasi oleh oli tersebut.

JASO MA adalah jenis oli yang boleh melumasi mesin, transmisi, sekaligus kopling. Poin utamanya adalah di sektor pelumasan kopling, tipe JASO MA mampu melumasi bagian kopling tanpa membuat kopling selip (kopling yang selip menyebabkan tenaga tidak disalurkan dengan baik dari mesin ke transmisi). Contoh kendaraan yang wajib pakai JASO MA: Motor semi-otomatis & motor manual (karena kendaraan-kendaraan ini, pelumas adalah ikut mendapat pelumasan dari oli ; kopling basah) JASO MB adalah jenis oli yang hanya boleh melumasi mesin dan transmisi saja.

Bila oli JASO MB digunakan untuk melumasi sektor kopling akan menyebabkan kecendurngan slip kopling menjadi besar. Contoh kendaraan yang bisa pakai JASO MB: Motor automatic & mobil pada umumnya (karena kendaraan-kendaraan ini, kopling tidak ikut mendapat pelumasan dari oli ; kopling kering) 3. API (American Petroleum Institute) [ sunting - sunting sumber ] Sedangkan API menggunakan kode seri S untuk mesin Bensin dan C untuk mesin diesel. Kode ditunjukkan untuk pembeda kualitas berdasar ujian dengan mesin tes.

Huruf S dan C akan selalu disertai huruf lain yang berurutan dari A, yang merupakan kualitas terendah sampai Z berkualitas terbaik. Klasifikasi penggunaan pelumas menurut kode API sebagai berikut: Klasifikasi Pemakaian Mesin Bensin [ sunting - sunting sumber ] • • Kode SD: Satu tingkat dibawah SE. • Kode SC: Mampu mencegah karat dan besi dari keropos.

pelumas adalah

dibuat khusus untuk mobil keluaran 1967 Klasifikasi Pemakaian Mesin Diesel [ sunting - sunting sumber ] • Kode CC: Sangat cocok untuk mesin diesel untuk kendaraan bermotor baik yang bertugas berat (truk) atau mobil berpenumpang. • Kode CD: Cocok untuk mesin alat-alat besar meskipun sudah dilengkapi dengan turbo charger. Referensi [ sunting - sunting sumber ] • API 1509, Engine Oil Licensing and Certification System, 15th Edition, 2002. Appendix E, API Base Oil Interchangeability Guidelines for Passenger Car Motor Oils and Diesel Engine Oils (revised) • Boughton and Horvath, 2003, Environmental Assessment of Used Oil Management Methods, Environmental Science and Technology, V38 • I.A.

Inman. Compacted Oxide Layer Formation under Conditions of Limited Debris Retention at the Wear Interface during High Temperature Sliding Wear of Superalloys, Ph.D.

Thesis (2003), Northumbria University ISBN 1-58112-321-3 • Mercedes-Benz oil recommendations, extracted from factory manuals and personal research Diarsipkan 2007-10-15 di Wayback Machine. pelumas adalah Measuring reserve alkalinity and evaluation of wear dependence Diarsipkan 2008-01-15 di Wayback Machine.

• Testing used oil quality, list of possible measurements Diarsipkan 2008-01-15 di Wayback Pelumas adalah. • Lubricant Additives: Chemistry and Applications, Leslie R.

Rudnick, CRC Press. Lihat informasi mengenai lubricant di Wiktionary. • SAE-ISO-AGMA viscosity conversion chart • Chart of API Gravity and Specific gravity • https://adeoctag92.wordpress.com/2013/03/25/pengertian-pelumas-oli/ • http://www.mechaniconlines.com/2014/05/macam-dan-jenis-produk-oli-pelumas.html Diarsipkan 2016-03-21 di Wayback Machine.

pelumas adalah https://gudangpelumas.wordpress.com/tag/tips-memilih-oli-pelumas-yang-baik/ Diarsipkan 2013-01-16 di Wayback Machine. • Penggunaan Pelumas Mesin Diarsipkan 2016-08-18 di Wayback Machine. • Halaman ini terakhir diubah pada 28 Desember 2021, pukul 21.39. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Apa Saja Manfaat dan Tugas Utama Pelumas Pada Mesin?

pelumas adalah

Bahan-bahan yang dapat di buat menjadi minyak pelumas dapat di bagi atas tiga jenis pelumas adalah • Bahan-bahan pelumas yang berasal dari hewan yang sebagai contohnya adalah minyak atau lemak ikan, lemak sapi, lemak kambing, dan lain sebagainya.

Bahan pelumas dari hewan ini diperkirakan merupakan pelumas yang paling tua umurnya. • Bahan dari tumbuh-tumbuhan yang contohnya antara lain adalah minyak jarak, minyak kelapa dan minyak biji kapas.

• Bahan yang berasal dari tambang. Bahan hasil tambang atau bahan mineral yang dapat menghasilkan minyak pelumas terdiri dari banyak macamnya antara lain adalah minyak bumi dan batubara.

Sebagi minyak moderen pelumas saat ini banyak digunakan minyak yang berasal dari pengolahan minyak bumi. Minyak yang berasal dari minyak bumi ini dikenal dengan nama minyak mineral. Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek.

Pelumas adalah ini merupakan fraksi hasil destilasi minyak bumi pelumas adalah memiliki suhu 105-135 derajat celcius. Pelumas berfungsi sebagai pelumas adalah pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan. Salah satu penggunaan pelumas paling utama adalah oli mesin yang pelumas adalah pada mesin pembakaran dalam. Pada mulanya hanya bahan-bahan yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan saja yang digunakan sebagai bahan minyak pelumas.

Tetapi kemudian dengan ditemukannya sumur minyak bumi yang pertama kalinya ditemukan di Amerika Serikat (yang digunakan dengan teknologi morern), yang selanjutnya minyak bumi yang diperoleh itu diolah dengan menghasilkan bahan bakar dan bahan yang dapat digunakan sebagai minyak pelumas serta bahan lainnya. Fungsi dan tujuan pelumasan Pada berbagai jenis mesin dan peralatan yang sedang bergerak, akan terjadi peristiwa pergesekan antara logam.

Oleh karena itu akan terjadi peristiwa pelepasan partikel partikel dari pergesekan tersebut. Keadaan dimana logam melepaskan partikel disebut aus atau keausan. Untuk mencegah atau mengurangi keausan yang lebih parah yaitu memperlancar kerja mesin dan memperpanjang usia dari mesin dan peralatan itu sendiri, maka bagian bagian logam dan peralatan yang mengalami gesekan tersebut diberi perlindungan ekstra. 1. Tugas pokok pelumas Pada dasarnya yang menjadi tugas pokok pelumas adalah mencegah atau mengurangi keausan sebagai akibat dari kontak langsung antara permukaan logam yang satu dengan permukaan logam lain terus menerus bergerak.

Selain keausan dapat dikurangi, permukaan logam yang terlumasi akan mengurangi besar tenaga yang pelumas adalah akibat terserap gesekan, dan panas yang ditimbulkan oleh gesekan akan berkurang. Fungsi sistem pelumas pada mesin antara lain: • Untuk mendinginkan komponen mesin secara langsung. • Untuk membilas kotoran yang tertempel pada komponen mesin. • Untuk melumasi komponen mesin yang bergesekan. • Untuk mencegah terjadinya keausan pada setiap komponen pelumas adalah.

2. Tugas tambahan pelumas Selain mempunyai tugas pokok, pelumas juga berfungsi sebagai penghantar panas. Pada mesin mesin dengan kecepatan putaran tinggi, panas akan timbul pada bantalan bantalan sebagai akibat dari adanya gesekan yang banyak.

Dalam hal ini pelumas berfungsi sebagai penghantar panas dari bantalan untuk mencegah peningkatan temperatur atau suhu mesin. Suhu yang tinggi akan merusak daya lumas. Apabila daya lumas berkurang, maka maka gesekan akan bertambah dan selanjutnya panas yang timbul akan semakin banyak sehingga suhu terus bertambah. Akibatnya pada bantalan bantalan tersebut akan terjadi kemacetan yang secara otomatis mesin akan berhenti secara mendadak.

Oleh karena itu, mesin mesin dengan kecepatan tinggi digunakan pelumas yang titik cairnya tinggi, sehingga walaupun pada suhu yang tinggi pelumas tersebut tetap stabil dan dapat melakukan pelumasan dengan baik. Kepekaan dari suatu minyak pelumas terhadap suhu merupakan hal yang sangat penting, untuk menerangkan hubungan ini biasanya di gunakan angka empiris yang dinamakan indeks viskositas atau IV.

Angka tersebut menunjukan bahwa semakin besarnya angka IV akan bertambah kecil perubahan viskositasnya terhadap perubahan suhu. Pada mulanya penentuan Indeks Viskositas ini di lakukan oleh Dean dan Davis pada tahun 1929 di Amerika Serikat.

Caranya ialah dengan mengambil dua group minyak bumi yaitu jenis Pennsylvania dan jenis Gulf Coast. Jenis Pennsylvania merupakan jenis yang sangat kecil perubahan viskositanya terhadap perubahan suhu dan jenis ini ditentukan sebagai group pembanding yang IV-nya = 100. Sedangkan untuk jenis Gulf Coast yang sangat besar perubahan viskositasnya terhadap perubahan suhu sebagai group pembanding yang terkecil yaitu dengan IV = 0. Jenis jenis pelumas Terdapat berbagai jenis minyak pelumas.

Jenis jenis minyak pelumas dapat dibedakan penggolongannya berdasarkan bahan dasar (base oil), bentuk fisik, dan tujuan penggunaan. 1. Dilihat dari bentuk fisiknya : a. Minyak pelumas b. Gemuk pelumas c. Cairan pelumas 2. Dilihat dari bahan dasarnya : a. Pelumas dari bahan nabati b. Pelumas dari bahan hewani c. Pelumas sintetis 3. Dilihat dari penggunaannya : a. Pelumas kendaraan b.

Pelumas industri c. Pelumas perkapalan d. Pelumas penerbangan 4. Dilihat dari pengaturannya : i. Pelumas kendaraan bermotor : 1. Minyak pelumas motor kendaraan baik motor bensin / Diesel 2. Minyak pelumas untuk transmisi 3.

Automatic transmission fluid & hydraulic fluid ii. Pelumas motor diesel untuk industri : 1. Motor diesel berputar cepat 2. Motor diesel berputar sedang 3. Motor diesel berputar lambat iii. Pelumas untuk motor mesin 2 langkah : 1. Untuk kendaraan bermotor 2. Untuk perahu motor 3. Lain lain ( gergaji mesin, mesin pemotong rumput ) iv. Pelumas khusus Jenis pelumas ini banyak ragamnya yang pelumas adalah sangat spesifik untuk setiap jenis, di antaranya adalah untuk senjata api, mesin mobil balap, peredam kejut, pelumas rem, pelumas anti karat, dan lain-lain.

Penggunaan pelumas Untuk memperoleh hasil yang maksimal atau memuaskan di dalam sistem pelumasan ini maka mutlak diperlukan adanya selektifitas penggunaan pelumas itu sendiri, yaitu menentukan jenis pelumas yang tepat untuk mesin dan peralatan yang akan dilumasi. Hal ini untuk mencegah salah pilih dari pelumas yang akan dipakai yang dapat berakibat fatal. 1. Hal hal yang perlu diperhatikan : a. Rekomendasi pabrik pembuat mesin Biasanya pabrik pembuat mesin seperti pabrik kendaraan bermotor pelumas adalah pabrik mesin mesin industri memberi petunjuk jenis pelumas yang direkomendasikan untuk digunakan.

Petunjuk ini sangat terperinci sedemikian rupa bagi pelumasan masing masing bagian dalam jangka waktu tertentu. b. Bahan bakar yang digunakan Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa pelumasan untuk mesin dengan bahan bakar bensin berbeda dengan pelumasan untuk mesin berbahan bakar solar atau gas.Apabila tidak ada ketentuan ukuran atau aturan penggunaan pelumas oleh pembuat mesin, maka anjuran dalam penggunaan pelumas biasanya dilaksanakan oleh para teknisi pabrik dengan melihat pada : – Data teknis dari mesin – Pengetahuan tentang pelumasan dari para teknisi – Pengalaman dari para teknisi c.

Perkembangan teknis pelumas Hasil kemajuan yang dicapai di bidang pelumas ini, pada dasarnya adalah hasil kerjasama antara pabrik pembuat mesin, pembuat pelumas, dan pembuat bahan bahan tambahan ( additif ). Walaupun terdapat beragam pelumas berkualitas tinggi, namun pada intinya yang menentukan mutu dan daya guna suatu pelumas terdiri dari 3 faktor : 1.

Bahan dasar ( based oil ). 2. Teknik dan pengolahan bahan dasar dalam pembuatan pelumas. 3. Bahan bahan additif yang digunakan atau dicampurkan kedalam bahan dasar untuk mengembangkan sifat tertentu guna tujuan tertentu.

Sebenarnya base oil mempunyai segala kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam pelumasan. Tanpa aditifpun, sebenarnya minyak dasar sudah mampu menjalankan tugas-tugas pelumasan.

Namun unjuk kerjanya belum begitu sempurna pelumas adalah tidak dapat digunakan dalam waktu lama. ISTILAH-ISTILAH PADA MINYAK PELUMAS Istilah-istilah teknis tentang minyak pelumas sering dianggap remeh, padahal dengan mengatahui istilah-istilah yang ada pada pelumas, maka kita akan tahu persis baik tidaknya atau tepat tidaknya penggunaan suatu pelumas : 1.

Viscosity; adalah kekentalan suatu minyak pelumas yang merupakan ukuran kecepatan bergerak atau daya tolak suatu pelumas untuk mengalir.

Pada temperatur normal, pelumas dengan viscosity rendah akan cepat mengalir dibandingkan pelumas dengan viscosity tinggi. Biasanya untuk kondisi operasi yang ringan, pelumas dengan viscosity rendah yang diajurkan untuk digunakan, sedangkan pada kondisi operasi tinggi dianjurkan menggunakan pelumas dengan viscosity tinggi 2.

Viscosity Index (Indeks viskositas); merupakan kecepatan perubahan kekentalan suatu pelumas ddikarenakan adanay perubahan temperatur. Makin tinggi VI suatu pelumas, maka akan semakin kecil terjadinya perubahan kekentalan minyak pelumas meskinpun terjadi perubahan temperatur. Pelumas biasa dapat memiliki VI sekitar 100, sedang yang premium dapat mencapai 130, untuk sithetis dapat mencapai 250. pelumas adalah. Flash point; titik nyala suatu pelumas adalah menunjukkan temperatur kerja suatu pelumas dimana pada kondisi temperatur pelumas adalah akan dikeluarkan uap air yang cukup untuk membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara.

4. Fire point; adalah menunjukkan pada titik temperatur dimana pelumas akan dan terus menyala sekurang-kurangnya selama 5 detik.

5. Pour point; merupakan titik tempratur dimana suatu pelumas akan berhenti engalir dengan leluasa. 6. Cloud point; keadaan dimana pada temperatur tertentu maka lilin yang pelumas adalah di dalam minyak pelumas akan mulai membeku.

7. Aniline point; merupakan pentunjuk bahwa minyak pelumas tertentu sesuai sifat-sifatnya dengan sifat-sifat karet yang digunakan sebagai pelumas adalah dan slang.

Hal ini ditetapkan sebagai temperatur dimana volume yang sama atau seimbang dari minyak pelumas adan aniline dapat dicampur 8. Neutralisation Number or Acidity; merupakan ukuran dari alkali yang diperlukan untuk menetralisir suatu minyak Makin tinggi angka netralissasi maka akan semakin banyak asam yang ada. Minyak yang masih baru tidak mengandung asam bebas dan acidity numbernya dapat kurang atau sama dengan 0,1. Sedangkan pelumas bekas, akan mengandung acidity number yang lebih tinggi.

9. Ash; Apabila pelumas habis terbakar maka akan terbentuk abu (ash) atau abu sulfat. Hal ini berhubungan dengan pengukuran kemurnian suatu pelumas.Oil di suplai secara terus menerus dan ini sangat penting untuk pelumasan hidrodinamik. Ada beberapa jenis continuous lubricating, yang pertama adalah ring oil system yaitu membuat pelumasan disekeliling bearing journal. Oil di semprot dari bearing bagian bawah dan ketika journal bearing berputar maka oil akan terangkat ke atas sehingga melumasi semua bagian journal.

Yang kedua adalah splash lubrication, dimana part yang berputar direndam bersama oli dan biasanya digunakan untuk pelumasan mesin, gear-box, compressor.

pelumas adalah

Contohnya pelumasan antara dinding cylinder dan piston ring, pelumsanannya menggunakan metode ini. Yang ketiga adalah in-pressure lubrication system yaitu pelumasan dengan menyemprotkan oil dengan pompa ke titi- titik pelumsan, setelah oil disemprotkan ke bagian bagian part, oli jatuh pelumas adalah ditampung dan kembali masuk ke pompa dan mengalami siklus yang sama.

Pada bearing luncur atau journal bearing, sebuah poros, atau journal, berputar atau berosilasi pada suatu bearing, atau bearing, dan gerakan relatifnya adalah luncuran. Pada suatu bearing anti gesekan, gerakan relatif utama adalah gelindingan. Sebuah batang pengikut bisa menggelinding atau meluncur pada cam. Gigi-gigi roda gigi perpasangan satu terhadap yang lain dengan suatu gabungan gelindingan dan luncuran. Piston meluncur di dalam silindernya.

pelumas adalah

Semua pemakaian ini memerlukan pelumasan untuk mengurangi gesekan, keausan dan panas. Pelumasan hidrodinamika (hydrodinamic lubrication) berarti pelumas adalah permukaan penerima beban dari bearing dipisahkan oleh lapisan pelumas yang agak tebal, sedemikian rupa untuk menjaga persinggungan logam dengan logam, dan bahwa stabilitas yang dicapai dapat dijelaskan dengan hukum-hukum mekanika fluida.

Pelumasan hidrodinamika tidak tergantung pada pemberian pelumas dengan tekanan, walaupun hal itu mungkin terjadi tetapi yang pasti ia memerlukan penyediaan pelumas yang cukup setiap waktu. Tekanan lapisan terjadi dengan sendirinya dengan gerakan permukaan yang menarik pelumas kepada suatu zona yang berbentuk baji pada suatu kecepatan yang cukup tinggi untuk menghasilkan tekanan yang seperlunya untuk memisahkan permukaan-permukaan terhadap beban pada bearing.

Pelumas adalah hidrodinamika disebut juga lapisan-tipis penuh (full film) atau pelumasan fluida (fluid lubrication). Pelumasan hidrostatika (hydrostatic lubrication) didapat dengan memasukkan pelumas, yang kadang-kadang berupa udara atau air, kedalam bidang bearing beban pada suatu tekanan yang cukup untuk memisahkan permukaan-permukaan dengan suatu lapisan pelumas-tipis yang agak tebal.

Sehingga, tidak seperti pelumasan hidrodinamika, gerakan dari permukaan relatif terhadap yang lain tidak diperlukan. Pelumasan hidrostatika perlu diperhatikan dalam merancang bearing dimana kecepatan putar kecil atau nol dan dimana tahanan pelumas adalah sekecil mungkin. Luas permukaan yang tidak memadai, suatu penurunan kecepatan dari permukaan yang bergerak, suatu pengurangan jumlah pelumas yang dimasukkan ke suatu bearing, kenaikan beban bearing, atau kenaikkan temperatur pelumas yang terjadi karena viskositas salah satu diantara hal-hal diatas dapat menjaga terbentuknya suatu lapisan-tipis (film) yang cukup tebal untuk membentuk pelumasan lapisan-tipis penuh.

Bila ini terjadi, pada keadaan yang paling buruk mungkin dipisahkan oleh lapisan-tipis pelumas hanya dalam pelumas adalah beberapa ukuran molekul saja. Ini disebut pelumasan batas (boundary lubrication). Perubahan dari pelumasan hidrodinamika ke pelumasan batas tidaklah seluruhnya terjadi secara mendadak ataupun sesuatu yang mustahil. Mungkin bahwa suatu campuran pelumasan hidrodinamika dan pelumasan batas terjadi dulu, dan begitu permukaan bergerak saling mendekat, pelumasan jenis batas menjadi lebih berperan.

Viskositas dari pelumas tidaklah terlalu penting pada pelumasan batas dibanding dengan komposisi kimiawi pelumas tersebut.

Bila bearing harus pelumas adalah pada temperatur yang sangat tinggi, suatu pelumas lapisan pelumas adalah tipis (solid-film lubrication) seperti graphit atau molybdenum disulfida harus dipakai karena minyak mineral biasa tidak sesuai. Banyak penelitian akhir-akhir ini sedang dilakukan dalam tujuan ini, juga untuk mencari bahan campuran bearing dengan nilai keausan yang rendah dan juga koefisien gesek yang kecil. Viskositas adalah ukuran resistensi (daya hambat) suatu fluida terhadap tegangan geser (shear).

Nilai viskositas bervariasi, berbanding terbalik terhadap temperatur dan berbanding lurus terhadap tekanan tetapi keduanya dalam bentuk nonlinear. Viskositas dapat dinyatakan dalam dua bentuk yaitu viskositas absolut η dan viskositas kinematik υ dengan hubungan : (Norton, 1998 : 581) dimana ρ adalah massa jenis dari fluida. Satuan dari viskositas absolut η adalah lb-sec/in2 (reyn) dalam sistem satuan Inggris atau Pa-s dalam satuan SI.

Tetapi biasanya selalu dinyatakan dalam μreyn dan mPa-s. Centipoise (cP) sama dengan 1 mPa-s. Nilai viskositas absolut pada temperatur 20°C (68°F) adalah 0,0179 cP (0,0026 μreyn) untuk udara, 1,0 cP (0,145 μreyn) untuk air dan 393 cP (57 μreyn) untuk pelumas mesin SAE 30. Pelumas atau oli yang bekerja pada bearing yang panas biasanya mempunyai viskositas antara 1 pelumas adalah 5 μreyn. Viskositas kinematik diukur pelumas adalah suatu alat yang dinamakan pelumas adalah, yang berbentuk rotasional atau kapiler.

Viskometer kapiler mengukur laju aliran dari suatu fluida yang melewati pipa kapiler pada temperatur 40° atau 100°C. Viskometer rotasional mengukur torsi dan kecepatan putar dari suatu poros vertikal atau kerucut yang berputar dalam sebuah bearing. Satuan SI dari viskositas kinematik adalah cm2/sec (stoke) dan dalam satuan Inggris adalah in2/sec. Satuan stoke biasanya terlalu besar, maka biasanya digunakan satuan centistokes (cSt). Gambar 2.6a menunjukkan gambar journal dan bearing yang konsentrik dan poros dalam posisi vertikal.

Diametral clearance cd diantara journal dan bearing sangat kecil, sekitar satu per-seribu kali dari diameter. Kita dapat memodelkannya sebagai dua buah pelat karena celah h sangat kecil dibandingkan dengan jari-jari lengkungnya. Gambar 2.6b menunjukkan dua buah pelat yang dipisahkan oleh lapisan-tipis oli dengan jarak celah sebesar h.

Jika pelat paralel, lapisan-tipis oli tidak akan memberikan beban transversal. Hal ini akan berlaku untuk journal dan bearing yang konsentrik.

Journal horizontal yang konsentrik akan menjadi eksentrik dari berat poros. Jika poros dalam posisi vertikal, journal dapat berputar secara konsentrik terhadap bearing selama tidak ada gaya gravitasi transversal. Untuk menyokong beban transversal, pelat pada gambar 2.6b harus dibuat tidak paralel. Jika pelat bagian bawah pada gambar 2.6b diputar berlawanan arah jarum jam dan pelat bagian atas digerakkan ke arah kanan pelumas adalah kecepatan sebesar U, fluida diantara pelat akan terbawa sehingga mengurangi celah seperti yang terlihat pada gambar 2.7a, menghasilkan tekanan yang akan menyokong beban transversal P.

Sudut antara pelat sama dengan variasi clearance oleh karena eksentrisitas e dari journal dan bearing pada gambar 2.7b. Ketika beban transversal diberikan pada journal, maka seharusnya akan merubah eksentrisitas dengan bearing untuk membentuk perubahan celah agar dapat menyokong beban dengan cara menaikkan tekanan lapisan-tipis.

Eksentrisitas e dan celah h untuk journal bearing dapat dilihat pada gambar 2.7b. Eksentrisitas e diukur dari titik pusat bearing Ob ke titik pusat journal Pelumas adalah. Nilai maksimal e adalah sebesar cr = cd / 2 dimana cr adalah radial clearance. Eksentrisitas dapat dikonversikan dalam bentuk tak berdimensi, rasio eksentrisitas ε : (Norton, 1998 : 598) Perhatikan journal bearing pada gambar 2.8. Titik pusat sistem koordinat xy dapat ditempatkan bebas misalnya pada titik O. Sumbu x bersinggungan dengan bearing, sumbu y melewati titik pusat bearing Ob dan sumbu z (tidak ditunjukkan) paralel dengan sumbu bearing.

Umumnya, bearing dalam kondisi diam dan hanya journal yang berputar, tetapi dalam beberapa kasus sering terjadi kebalikkannya atau malah keduanya berputar. Lalu kecepatan tangensial bearing ditunjukkan oleh U1 begitu juga dengan kecepatan tangensial journal ditunjukkan oleh T2. Perhatikan bahwa arah keduanya (sudut) tidak sama oleh karena eksentrisitas. Kecepatan tangensial T2 untuk journal dapat dibentuk menjadi dua komponen dalam arah x dan y sebagai U2 dan V2.

Sudut antara T2 dan U2 sangat kecil sehingga kosinusnya mendekati nilai 1 dan dapat dinyatakan bahwa U2 T2. Komponen V2 dalam arah y ditentukan oleh perubahan celah h ketika berputar sehingga. Dengan menggunakan asumsi diatas, dapat ditulisakan persamaan Reynold berdasarkan perubahan ketebalan celah h, kecepatan relatif antara journal dan bearing V2 dan U1-U2 dan tekanan fluida p sebagai fungsi dua dimensional x dan z, dengan asumsi journal dan bearing paralel dalam arah z dan viskositas η adalah konstan, Long bearing kerap kali tidak digunakan lagi dalam bidang permesinan moderen karena beberapa alasan.

Defleksi dan ketidaklurusan pada poros dapat mengurangi clearance sampai bernilai nol pada long bearing, sehingga orang-orang lebih memilih short bearing. Rasio l/d dari bearing moderen adalah antara ¼ sampai 1. Ovrick dan DuBois berhasil memecahkan persamaan Reynold untuk kasus yang menyertakan batas kebocoran akhir, yaitu : Bentuk persamaan ini mengabaikan batas nilai untuk aliran keliling oli disekitar bearing dengan alasan bahwa nilainya akan kecil bila dibandingkan dengan aliran dalam arah z (kebocoran) pada short bearing.

Persamaan diatas dapat diintegrasikan untuk mendapatkan nilai tekanan pada lapisan-tipis oli sebagai fungsi dari θ dan z Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Ovrick atau persamaan short-bearing. Persamaan ini dievaluasi pada θ = 0 sampaidengan asumsi tekanan adalah nol diatas setengah keliling sisanya. Gambar 2.9 memperlihatkan distribusi tekanan pada θ dan z.

Pada θ = 0 posisi berada pada h = hmaks dan sumbu θ melewati Ob dan Oj. Distribusi tekanan p akibat z adalah parabola dan puncaknya pada titik tengah dari panjang bearing dan nol pada.

Tekanan p bervariasi tidak linear pada θ dan puncak pada kuadran kedua. Nilai dari θmaks pada pmaks Berdasarkan puncak tekanan terjadi pada sudut θmaks. Sudut ini diukur dari sumbu θ nol, yang merupakan sepanjang garis dari titik tengah journal dan bearing. Akan tetapi bagaimana dengan sudut dari garis eksentrisitas diantara titik tengah Ob dan Oj ?

Garis aksi dari gaya P yang diaplikasikan pada journal didefinisikan sebagai faktor eksternal. Gaya P ini ditunjukkan berarah vertikal pada gambar dan sudut antara gaya ini dengan sumbu θ = ditunjukkan sebagai.

lapisan-tipis fluida bergeser diantara journal dan bearing. Gaya geser ini membuat keduanya saling menghasilkan torsi yang berlawanan, Tr pada bagian yang berputar dan Ts pada bagian yang diam. Pasangan gaya P, pada gambar 2.9, salah satunya bekerja pada titik pusat journal Oj dan yang lainnya pada titik tengah bearing Ob, membentuk kopelyang mana bila ditambahkan pada torsi diam Ts akan menghasilkan torsi berputar Tr.

(Norton, 1998:594) Biasanya penerapan gaya P pada bearing dianjurkan dan kecepatan putar n’ diketahui. Diameter bearing bisa diketahui bisa juga tidak, tetapi selalu bisa didefinisikan dengan tegangan geser, defleksi atau pertimbangan yang lain. Perancangan bearing memerlukan penemuan kombinasi yang cocok dari diameter bearing dan atau panjang yang akan beroperasi dengan viskositas fluida yang cocok, clearance yang benar dan mampu buat serta rasio eksentrisitas yang tidak memungkinkan logam dengan logam untuk berkontakkan pada kondisi berbeban pelumas adalah berbeban lebih.

Persamaan ini mengandung banyak parameter dimana perancang yang telah mengontrol dan menunjukkan banyak kombinasi dari paramter-parameter tersebut yang memberi bilangan Ovrick yang sama, akan menghasilkan rasio eksentrisitas ε yang sama. Rasio eksentrisitas memberikan sebuah indikasi bagaimana dekatnya kegagalan lapisan-tipis oli terjadi sejak. Beban dan kecepatan umumnya diketahui. Jika poros telah dirancang pelumas adalah tegangan geser dan defleksi maka diameter akan diketahui.

Panjang bearing atau rasio l / d sebaiknya dipilih berdasarkan kondisi pengemasan. Semakin besar rasio l / d akan memberikan tekanan lapisan-tipis yang lebih kecil. Clearance ratio dinyatakan sebagai Cd / d. Clearance ratio biasanya bernilai antara 0,001 sampai 0,002 dan kadang-kadang sampai paling besar 0,003.

Semakin besar clerance ratio akan menambah nilai ON. Semakin besar ON akan memperbesar nilai eksentrisitas, tekanan dan torsi seperti yang terlihat pada gambar 2.10 dan 2.11. Keuntungan dari besarnya nilai clearance ratio yaitu meningkatkan besarnya aliran pelumas, yang mana akan meningkatkan kerja pendingin. Rasio l / d yang besar mungkin membutuhkan clearance ratio yang lebih tepat untuk mampu menahan defleksi poros.

Bilangan Ovrick dapat dipilih dan besarnya viskositas yang dibutuhkan dapat dihitung dari persamaan. Beberapa literasi biasanya diperlukan untuk menghasilkan rancangan yang seimbang. Pemilihan bilangan Ovrick sangat memberikan pengaruh yang signifikan dalam perancangan. G.B Dubois memberikan panduan dalam menebak harga bilangan Ovrick yaitu ON = 30 (ε = 0,82) pelumas adalah batas atas untuk beban sedang, ON = 60 (ε = 0,90) adalah batas atas untuk beban berat dan ON = 90 (ε = 0,93) adalah batas atas untuk beban yang sangat berat.

Pada angka beban diatas 30, sebaiknya hati-hati untuk mengontrol toleransisi manufaktur, surface finish dan defleksi. Untuk aplikasi bearing yang umum sebaiknya digunakan ON dibawah 30.

Pelumas yang efektif untuk rantai motor kita




2022 www.videocon.com