Kaum nabi shaleh disebut kaum

kaum nabi shaleh disebut kaum

HITAM PUTIH – Nabi Shaleh merupakan keturunan keenam dari Nabi Nuh. Nabi Shaleh lahir sebagai salah satu dari Kaum Tsamud yang masih keturunan dari Kaum Aad. Tak berbeda dari Kaum Aad, Kaum Tsamud juga menyembah berhala. Satu mukjizat yang selalu diingat dari Nabi Shaleh adalah, ia bisa mengeluarkan sepuluh ekor unta betina dari dalam batu besar yang ia pukul menggunakan tangan kosong.

Nabi Saleh ‘alaihi salam (AS) diutus oleh Allah SWT untuk mengajak Kaum Tsamud beriman kepada Allah. Ulama tafsir mengatakan bahwa nasab kaum Tsamud ialah Tsamud ibnu Asir ibnu Iram ibnu Sam ibnu Nuh. Dia adalah saudara lelaki Jadis ibnu Asir, demikian pula kabilah Tasm. Mereka semuanya adalah kabilah-kabilah dari kalangan bangsa Arabul Aribah sebelum Nabi Ibrahim as. Kaum Samud ada sesudah kaum Ad, tempat tinggal mereka terkenal, yaitu terletak di antara Hijaz dan negeri Syam serta Wadil Qura dan daerah sekitarnya.

Rasulullah SAW pernah melalui bekas tempat tinggal mereka ketika dalam perjalanannya kaum nabi shaleh disebut kaum medan Tabuk, yaitu pada tahun sembilan Hijriah. Dalam Alqur’an, Nabi Saleh disebut sebanyak sembilan kali. Kisah Nabi Saleh AS ini salah satunya termaktub dalam Surat Hud ayat 61-68. وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ Artinya: “Dan kepada Samud (Kami utus) saudara mereka.

Saleh. Saleh berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagi kalian Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya.

Karena itu, mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. BACA JUGA : Kisah Nabi Adam: Dari Awal Penciptaan Hingga Turun ke Bumi Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS.

Surat Hud: 61) Kaum Tsamud menyembah berhala Mufasir Ibnu Katsir menerangkan, Kaum Tsamud adalah orang-orang yang bertempat tinggal di kota-kota Hajar yang terletak di antara Tabuk dan Madinah. Mereka hidup sesudah kaum Ad, lalu Allah mengutus seorang rasul kepada mereka yang juga dari kalangan mereka. Lalu Nabi Saleh datang dan memerintahkan kaumnya agar menyembah Allah SWT.

Karena itu, Saleh AS berkata kepada mereka: “Dia (Allah) telah menciptakan kalian dari tanah. (Hud: 6,1). Nabi Saleh melanjutkan “Karena itu, mohonlah ampunan-Nya atas dosa-dosa kalian yang telah lalu”. Namun ajakan Nabi Saleh itu dicibir kaumnya. Mereka berkata, “Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini kaum nabi shaleh disebut kaum seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.

” Nabi Saleh berkata, “Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat kaum nabi shaleh disebut kaum, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu, kalian tidak menambah apa pun kepadaku selain dari kerugian.” Allah SWT menceritakan pembicaraan antara Nabi Saleh AS dan kaumnya, serta keadaan kaumnya yang bodoh lagi pengingkar karena mereka mengatakan: “Sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan.

Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? (Hud: 62). BACA JUGA : Kisah Nabi Ishaq Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat Saleh berkata, “Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku. (Hud: 63) Maksudnya, bukti yang meyakinkan dan tanda yang pasti yang membenarkan apa yang aku sampaikan kepada kalian ini.

Mukjizat Nabi Saleh AS dapat mengeluarkan unta betina dari Nabi Saleh berkata lagi “Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untuk kalian.

Sebab itu, biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kalian ditimpa azab yang dekat. Buatlah Ringkasan Kisah Nabi Shaleh AS, kisah nabi saleh singkat brainly Nabi Saleh adalah nabi ke berapa? Nabi Shaleh AS. Jika dilihat dari silsilah, Nabi Shaleh merupakan keturunan keenam dari Nabi Nuh. Nabi Shaleh lahir sebagai salah satu dari Kaum Tsamud yang masih keturunan dari Kaum Aad.

Mukjizat apakah yang diberikan Allah kepada Nabi Saleh? Mukjizat Nabi Saleh ‘alaihisalam yakni dapat mengeluarkan unta betina dari dalam batu besar atas izin Allah SWT. Mukjizat tersebut sekaligus sebagai hujjah atau bukti kenabian Nabi Saleh alaihi salam yang diutus kepada kaum Tsamud yang menyembah berhala. Azab apa yang diturunkan Allah kepada kaum Tsamud yang tidak beriman? Hari ketiga wajah mereka menjadi hitam dan akhirnya mereka disambar petir. Setelah mengatakan azab Allah kepada kaum Tsamud, Nabi Saleh dan pengikutnya yang beriman meninggalkan mereka.

… Pada hari keempat, Allah menurunkan azab-Nya yang pedih, yakni sambaran petir. Apa nasehat Nabi Shaleh kepada kaumnya? BACA JUGA : Kisah Nabi Yakub dan Mukjizat Nabi Yakub nabi Saleh mengajak kaum tasmud untuk bertakwa kejalan Allah karena kaum Gaya hidup kaum Tsamud selalu dihiasi dengan kemaksiatan, yaitu berfoya-foya, mabuk-mabukkan, berzina dan melakukan tindak kejahatan. Nabi Saleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.

Apa keajaiban unta Nabi Saleh? Sebagaimana diterangkan dalam surah Hud ayat 64 “Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat (yang menunjukkan) kebenaran untukmu, sebab itu biarlah ia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.” Mengapa kaum Tsamud di azab?

Nabi Saleh AS diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan ajaran kepada kaum Tsamud yang berada di Al Hijr. Kaum Tsamud memiliki banyak keahlian seperti terampil bercocok tanam, berternak dan arsitektur Siapakah nama lengkap Nabi Saleh? Shaleh (bahasa Arab: صالح, translit. Shāliḥ‎) adalah seorang tokoh dalam Al-Qur’an, yakni seorang rasul yang diutus pada kaum Tsamūd.

Shaleh dikaruniai mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu sebagai bekal dalam berdakwah. Apa keteladanan Nabi Saleh? Perilaku yang dapat diteladani dari Nabi Saleh a.s. adalah berani dalam menyampaikan kebenaran kepada Kaum S-amūd yang suka berbuat kejahatan dan zalim.

• Redaksi • Copyright • Pedoman • Kode Etik • Contact • About Us • Disclaimer • Standar Perlindungan Profesi Wartawan Copyright © 2022 PT. ANTERO INTI MEDIA, hitamputih.co.id All Right Reserved.

• Kontributor • Login • Tips Menulis Berita • Kirim Artikel Anda • Berita Banten • Kota Tangerang • Kab. Tangerang • Tangerang Selatan • Kota Serang • Kab. Serang • Kab. Lebak • Kab. Pandeglang • Cilegon • Seni dan Budaya • Pariwisata • Budaya • Lifestyle • Kecantikan • Kesehatan • Life N Love • Kuliner • Resep Kue • Resep Masakan Kisah Nabi Shaleh As Kisah Nabi Shaleh As – Nabi Shaleh as diutus untuk kaum Tsamud. Kisahnya disebut dalam 72 ayat Al Quran.

Mukjizat terkenal dari nabi Shaleh as adalah lahirnya unta betina dari celah batu dengan ijin Allah. Berlalulah hari demi hari.

Lahirlah sebagian pria dan matilah sebagian yang lain. Setelah kaum ‘Ad, datanglah kaum Tsamud. Lagi-lagi azab berulang kepada kaum Tsamud dalam bentuk yang lain. Kaum Tsamud juga menyembah berhala kemudian Allah SWT mengutus Nabi Shaleh As kepada mereka. Nabi Shaleh As berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada Tuhan lain bagi kalian selain-Nya.

” (QS. Hud: 61) Kalimat yang sama yang disampaikan oleh setiap nabi, dan kalimat tersebut tidak pernah berubah sebagaimana kebenaran tidak pernah berubah. Para pembesar kaum Nabi Shaleh As terkejut dengan apa yang dikatakannya. Beliau menyatakan bahwa tuhan mereka tidak memiliki nilai yang berarti. Beliau melarang mereka untuk menyembahnya dan memerintahkan mereka hanya menyembah Allah SWT. Dakwah Nabi Shaleh As cukup menggoncangkan masyarakat.

Nabi Shaleh As terkenal dengan kejujuran dan kebaikan. Kaumnya sangat menghormatinya sebelum Allah SWT mengutusnya dan memberikan wahyu padanya untuk berdakwah kepada mereka. Kaum Nabi Saleh berkata: “Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?

Dan sesung­guhnya kami betul-betul dalam keraguan yang mengelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami. ” (QS. Hud: 62) Renungkanlah bagaimana pandangan orang-orang kafir dari kaum Nabi Shaleh As : “Sesungguhnya engkau sangat kami harapkan karena kaluasan ilmumu, kematangan akalmu, kejujuranmu dan kebaikanmu. Kemudian hilanglah harapan kami terhadapmu. Apakah engkau akan melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh kakek-kakek kami.

Alangkah celakanya! Kami tidak berharap engkau mencela tuhan-tuhan kami yang kami mendapati orang tua-orang tua kami menyembahnya.” Demikianlah kaum Nabi Shaleh As merasa bingung di hadapan kebenaran dan mereka heran terhadap saudara mereka Nabi Shaleh As yang mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT.

Mengapa?

kaum nabi shaleh disebut kaum

Karena mereka tidak memiliki alasan dan pemikiran kaum nabi shaleh disebut kaum benar. Mereka hanya beralasan bahwa kakek-kakek mereka menyembah tuhan-tuhan ini. Demikianlah taklid yang menyebabkan manusia ter-jerumus dalam kesesatan. Dan Nabi datang untuk menghilangkan taklid buta ini. Akidah tauhid disebarkan sebagai dakwah untuk membebaskan pikiran dari segala belenggu, yaitu suatu dakwah yang membebaskan akal manusia dari belenggu taklid, khurafat orang-orang dulu, dan khayalan tradisi yang mapan.

Inilah dakwah tauhid yang menyuarakan kebebasan akal dan segala bentuk kebebasan lainnya. Dakwah tersebut tidak akan ditentang kecuali oleh orang-orang yang akalnya terpasung oleh pemikiran orang-orang dulu dan khayalan orang-orang tua.

Meskipun dakwah Nabi Shaleh As disampaikan dengan penuh ketulusan, namun kaumnya tidak mempercayainya. Mereka justru meragukan dakwahnya. Mereka mengira bahwa Nabi Shaleh As tersihir. Mereka meminta kepadanya agar ia mendatangkan mukjizat ynag membuktikan bahwa ia memang utusan Allah SWT. Allah SWT berkehendak untuk mengabulkan permintaan mereka. Kaum Tsamud mengukir rumah-rumah besar dari gunung. Mereka menggunakan batu-batu besar untuk membangun. Mereka adalah orang-orang yang kuat yang Allah SWT membuka pintu rezeki bagi mereka dari segala hal.

Mereka datang setelah kaum ‘Ad lalu mereka tinggal di bumi dan memakmurkannya. Nabi Shaleh As berkata kepada kaumnya ketika mereka meminta mukjizat kepadanya: kaum nabi shaleh disebut kaum kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.” (QS.

Hud: 64) Yang dimaksud ayat dalam surah tersebut adalah mukjizat. Diriwayatkan bahwa unta itu merupakan mukjizat karena batu gunung pada suatu hari terpecah dan keluar darinya unta, dan keluar di belakangnya anaknya yang kecil. la lahir melalui cara yang tidak umum dalam proses kelahiran. Diriwayatkan juga bahwa ia merupakan mukjizat karena ia minum air yang terdapat di sumur-sumur pada suatu hari lalu binatang-binatang yang lain tidak berani mendekati air itu pada hari tersebut.

Ada riwayat lain mengatakan bahwa ia merupakan mukjizat karena ia mengeluarkan susu yang mencukupi untuk dipakai minum oleh seluruh manusia di hari di mana ia minum seluruh air sehingga tidak ada sedikit pun yang tersisa darinya. Unta ini merupakan mukjizat di mana Allah SWT menyifatinya dengan sebutan: “naqatullah” (unta Allah).

Itu berarti bahwa unta tersebut bukan unta biasa, namun ia merupakkan mukjizat dari Allah SWT. Allah SWT menurunkan perintah kepada Nabi Shaleh As agar beliau melarang kaumnya untuk mengganggunya atau membunuhnya. Beliau memerintahkan mereka untuk membiarkannya, makan di bumi Allah SWT dan tidak menyakitinya.

Beliau mengingatkan mereka bahwa ketika mereka mencoba untuk mengganggunya, maka mereka akan mendapatkan siksaan dalam waktu dekat. Mula-mula kaum Tsamud sangat terheran-heran ketika melihat unta lahir dari batu-batuan gunung.

Ia adalah unta yang diberkati di mana susunya cukup untuk ribuan laki-laki, wanita, dan anak-anak kecil. Jika unta itu tidur di suatu tempat, maka binatang-binatang lain akan menyingkir darinya. Jelas sekali ia bukan unta biasa, namun ia merupakan tanda-tanda kebesaran dari Allah SWT. Unta itu hidup di tengah-tengah kaum Nabi Shaleh As. Berimanlah orang-orang yang beriman di antara mereka dan sebagian besar mereka tetap berada dalam penentangan dan kekafiran.

Kebencian terhadap Nabi Saleh berubah menjadi kebencian kepada unta yang diberkati itu. Mulailah mereka membikin persekongkolan untuk melawan unta itu. Orang-orang kafir sangat membenci mukjizat yang agung ini dan mereka membuat rencana jahat untuk melenyapkannya. Sebagaimana biasanya, para tokoh-tokoh kaumnya berkumpul untuk membuat, makar. Allah SWT berfirman: “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata: ‘Hat kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Kaum nabi shaleh disebut kaum bagimu selain-Nya.

Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi.

Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah;, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. Pemuka-pemuka kaum nabi shaleh disebut kaum menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: ‘Tahukah kamu bahwa Kaum nabi shaleh disebut kaum diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya ?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Saleh diutus untuk menyampaikannya.’ Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (QS.

al-AVaf: 73-76) Nabi Shaleh As menyeru kaumnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Beliau mengajak mereka untuk hanya menyembah Allah SWT dan mengingatkan mereka bahwa Allah SWT telah mengeluarkan mukjizat bagi mereka, yaitu unta. Mukjizat itu sebagai bukti akan kebenaran dakwahnya. Beliau memohon kepada mereka agar mereka membiarkan unta itu memakan dari hasil bumi, dan setiap bumi adalah bumi Allah SWT.

Beliau juga mengingatkan mereka agar jangan sampai mengganggunya karena yang demikian itu dikhawatirkan akan mendatangkan azab bagi mereka. Bahkan beliau mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah SWT yang turun kepada mereka: “Bagaimana Dia menjadikan mereka penguasa-penguasa yang datang setelah kaum ‘Ad, bagaimana Dia memberi mereka istana dan gunung-gunung yang terukir serta berbagai kenikmatan dan kekuatan.” Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Shaleh As namun kaumnya justru menjawabnya dengan jawaban yang aneh.

Mereka tidak menghiraukan nasihat Nabi mereka. Mereka menemui orang-orang yang beriman kepada Nabi Shaleh As. Mereka bertanya dengan pertanyaan yang tujuan untuk merendahkan dan mengejek: “Apakah kalian mengetahui bahwa Saleh seseorang yang diutus dari Tuhan­nya?” Pertanyaan ini tidak pantas dikemukakan setelah mereka melihat mukjizat unta.

Alhasil, mereka merendahkan pengikut Nabi Saleh dan mengejeknya. Sekelompok kecil yang beriman kepada Nabi Shaleh As berkata: “Sesungguhnya kami percaya dengan apa yang dibawa oleh Nabi Saleh.” Perhatikanlah jawaban orang-orang mukmin. Jawaban terse­but sangat bertentangan dengan jawaban para pembesar dari kaum Nabi Saleh.

Para pembesar itu justru meragukan kenabian Saleh sedangkan orang-orang mukmin itu menegaskan kepercayaan mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Nabi Shaleh As. Kebenaran yang dibawa oleh Nabi Shaleh As tidak berhubungan dengan unta itu, namun berhubungan dengan dakwahnya dan ajarannya. Mereka mengatakan: “Kami mengimani apa yang dibawa oleh Nabi Shaleh As,” dan mereka tidak mengatakan: “Kami beriman kepada untanya.” Mereka tidak mengatakan bahwa unta itu yang menetapkan kenabian Saleh.

Orang-orang mukmin lebih memper­hatikan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Shaleh As, bukan memperhatikan mukjizat yang luar biasa itu. Melalui dialog tersebut kita dapat melihat sikap orang-orang kafir di mana mereka justru merasa mulia dengan penentangan terhadap kebenaran: “Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.

” Demikianlah penghinaan mereka, kesombongan mereka, dan kemarahan mereka. Rasa-rasanya sia-sia untuk mencari dalil yang dapat memuaskan orang-orang kafir saat berdialog dengan mereka. Mereka selalu menolak kebenaran, padahal mereka orang-orang yang merdeka dalam memilih kebenaran itu. Malam mulai menyelimuti kota Tsamud.

Gunung-gunung yang kokoh menjulang dan melindungi rumah-rumah yang terukir di dalamnya. Dinyalakanlah lampu-lampu dalam istana yang terukir di gunung itu. Gelas-gelas minuman diputarkan di antara mereka. Tidak ada seorang pun dari tokoh-tokoh kaum yang tidak hadir dipertemuan penting itu. Dimulailah pertemuan dan terjadilah dia­log.

Salah seorang kaflr berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar dalam keadaan sesat dan gila. ” (QS. al-Qamar: 24) Sementara yang lain menjawab: “Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita?

Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. ” (OS. al-Oamar: 25) Gelas-gelas minuman kembali diputar di antara mereka, dan pembicaraan beralih dari Nabi Shaleh As ke unta Allah SWT. Salah seorang kafir berkata: “Jika datang musim panas, maka unta itu mendatangi lembah yang dingin sehingga binatang-binatang ternak yang lain lari darinya dan kepanasan.” Seorang kafir lagi berkata: “Jika datang musim dingin unta itu mencari tempat penghangat, lalu ia istirahat di situ sehingga binatang-binatang ternak kita lari darinya dan menuju tempat yang dingin sehingga terancam kematian.” Gelas-gelas minuman kembali diputar dan bergoyang di tangan orang-orang yang meminum.

Salah seorang yang duduk memerintahkan agar perempuan yang menyanyi berhenti dari nyanyiannya karena ia sedang berpikir. Kemudian kesunyian menghantui segala penjuru. Orang itu mulai berpikir sambil meminum dua gelas minuman keras, dan dengan suara pelan ia berkata: “Hanya ada satu cara.” Orang-orang yang duduk di sekitarnya bertanya: “Bagaimana jalan keluarnya?” Tokoh mereka berkata: “Kita harus melenyapkan Saleh dari jalan kita.

Yang saya maksud adalah untanya. Kita harus membunuh untanya dan setelah itu kita akan membunuh Saleh.” Demikanlah cara yang dilakukan orang-orang yang kafir sepanjang sejarah. Demikianlah senjata yang digunakan oleh mereka dalam menghadapi kebenaran. Mereka tidak menggunakan akal sehat atau adu argumentasi, tapi mereka justru menggunakan kekuatan fisik. Bagi mereka, ini adalah cara yang paling aman. Pembunuhan akan menyelesaikan masalah. Namun salah seorang di antara mereka berkata: “Bukankah Saleh mengingatkan kita akan azab yang keras jika kita sampai menyakiti unta itu.” Namun, orang-orang yang duduk di majelis itu segera memadamkan suara orang itu dengan dua gelas arak.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Kemudian percakapan dimulai tentang Nabi Shaleh As : “Berapakali kita putus asa dan dibuat kecewa olehnya. Sebaik-baik jalan adalah membunuhnya. Mula-mula kita membunuh untanya setelah itu kita akan menghabisi Saleh.” “Namun siapa gerangan yang berani membunuhnya?” Pertanyaan itu menciptakan keheningan di antara mereka.

Setelah beberapa saat, salah seorang mereka mengangkat suara: “Saya mengenal seseorang yang dapat membunuh­nya.” Lalu nama demi nama berputar di antara mereka sehingga mereka menyebut seorang penjahat yang selalu membikin kerusakan di muka bumi dan ia suka mabuk-mabukan. Ia mempunyai kelompok penjahat di kota. “Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakhan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. an-Naml: 48) Mereka adalah alat-alat kejahatan. Mereka adalah penjahat-penjahat kota yang terkenal.

Mereka sepakat untuk melaksanakan kejahatan.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Kegelapan semakin menyelimuti gunung. Kemudian datanglah malam tragedi. Unta yang diberkati itu sedang tidur dan mendekap anaknya yang kecil di dadanya.

Anaknya yang kecil itu merasakan kedinginan dan mendapatkan kehangatan di sisi ibunya. Sembilan orang penjahat tersebut telah menyiapkan senjata mereka, pedang mereka dan tombak mereka. Mereka keluar di kegelapan malam, dan pemimpin mereka banyak minum khamer sehingga ia hampir tidak melihat apa yang di depannya. “Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.” (QS.

al-Qamar: 29) Sembilan laki-laki itu menyerang unta itu, lalu ia bangkit dan bangunlah anaknya dalam keadaan takut. Akhiranya, darah unta itu terkucur dan anaknya pun terbunuh. Nabi Shaleh As mengetahui apa yang terjadi, lalu beliau keluar dalam keadaan marah untuk menemui kaumnya.

Beliau berkata kepada mereka: “Bukankah aku telah mengingatkan agar kalian jangan mengganggu unta itu.” Mereka menjawab: “Kami memang telah membunuhnya, maka datangkanlah siksaan kepada kami jika engkau mampu. Bukankah engkau berkata bahwa engkau termasuk utusan Tuhan.” Nabi Shaleh As berkata kepada kaumnya: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari.

Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65) Setelah itu, Nabi Shaleh As meninggalkan kaumnya. Kemudian datanglah janji Allah SWT untuk menghancurkan mereka kaum nabi shaleh disebut kaum tiga hari. Berlalulah tiga hari siksaan atas orang-orang kafir dan mereka menunggu-nunggu azab yang datang. Maka pada hari keempat langit terpecah melalui teriakan yang keras di mana teriakan itu menghancurkan gunung dan membinasakan apa saja yang ada di dalamnya. Kemudian bumi berguncang dan menghancurkan apa saja yang di atasnya.

Itu adalah satu teriakan saja yang membuat kaum Nabi Shaleh As hancur berantakan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindahan) mereka dan bersabarlah.

Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta bertina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). Maka, mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.

Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. ” (QS. al-Qamar: 27-31) Mereka hancur semua sebelum mengetahui apa yang terjadi.

Sedangkan orang-orang yang beriman bersama Nabi Shaleh As, mereka telah meninggalkan tempat tersebut sehingga mereka selamat.
Nabi Saleh as. adalah nabi kelima dalam Islam yang wajib diyakini. Lewat kisah ini, kami akan menceritakan bagaimana perjuangan Nabi Saleh as. dalam berdakwah menegakkan tauhid kepada umatnya, kaum Tsamud.

Saleh adalah seorang pemuda cerdas, perilakunya santun, tutur katanya sopan. Hormat kepada yang besar dan sayang kepada yang kecil.

Ia terkenal sangat rajin beribadah. Nabi Saleh adalah putra dari Ubaid bin Asaf bin Masyikh bin Ubaid bin Nadzir bin Tsamud. Jadi, ia adalah keturunan suku Tsamud.

Nasab Nabi Saleh bersambung ke Sam bin Nuh. Tsamud, Kaum Nabi Saleh as. Siapakah kaum Tsamud umat Nabi Saleh itu? Nama Tsamud diambil dari nama kakek Nabi Nuh.

Kaum Tsamud tinggal di sebuah lembah yang luas, bernama Wadi al Qura, di sebelah utara Semenanjung Arab, pada masa prasejarah. Mereka adalah salah satu di antara suku Arab yang terlupakan. Sejarah tidak menyebutkannya. Namun, Al-Qur'an menyebutkan kisah mereka; Rasulullah saw juga menyebutkan mereka dalam hadis-hadis beliau.

Pada suatu ketika, Nabi Muhammad saw. memimpin tentara Muslimin pada tahun 9 H. Beliau menuju Tabuk, karena hendak menghadapi tentara Romawi di sebelah utara Semenanjung Arab. Tentara Muslimin menempuh perjalanan bermil-mil. Karena itu mereka menjadi lelah dan kehausan.

Sehingga, Nabi Muhammad saw. memerintahkan mereka untuk berhenti di lembah sebuah desa (Wadi al Qura), dekat Tabuk. Mereka berkemah di sekitar gunung tersebut, yang di dekatnya terdapat puing-puing dan sumur-sumur. Salah seorang dari mereka bertanya tentang puing-puing tersebut, "Siapa pemilik puing-puing ini?" Dijawab, "Itu adalah puing-puing kaum Tsamud. Dulu, kaum Tsamud mendiami tempat ini." Nabi Muhammad saw.

mencegah kaum Muslim untuk meminum air dari sumur-sumur tersebut. Kemudian beliau menunjukkan kepada mereka sebuah mata air di dekat gunung.

Beliau berkata kepada mereka, "Unta betina Nabi Saleh minum dari mata air ini." Nabi Muhammad saw mencegah para tentaranya memasuki puing-puing tersebut, karena beliau hendak memberikan sebuah pelajaran tentang kaum tersebut, yang memperoleh kutukan Allah dan hancur. Kaum Tsamud muncul setelah kaum 'Ad musnah di lembah Al Ahqaf.

Masyarakat Tsamud bekerja sebagai petani. Mereka menggali sumur-sumur dan membajak ladang-ladang mereka. Mereka membangun rumah-rumah mereka di gunung-gunung. Ternak mereka digembalakan dengan tenang di padang rumput. Kebun dan pertanian mereka berkembang dan dipenuhi buah-buahan. Itulah kehidupan yang dijalani oleh kaum Tsamud. Tetapi kaum tersebut tidak mengenal rasa syukur dan tak mau menyembah Allah. Mereka justru menyembah berhala-berhala.

Sementara, kaum kaya mereka menjadi tiran. Dakwah Nabi Saleh as. Nabi Saleh hidup pada masa ini. Beliau adalah seorang yang baik dan bijaksana. Masyarakat pun sangat mencintainya, karena mereka tahu keutamaan beliau yang masyhur. Bahkan beberapa dari mereka berpikir bahwa Saleh akan memperoleh kedudukan penting nantinya, dan akan menjadi pemimpin kaum Tsamud yang kuat. Nabi Saleh as.

mengetahui bahwa penyembahan berhala telah berakar kuat dalam hati kaumnya itu, karena ayah-ayah dan kakek-kakek mereka adalah penyembah berhala. Nabi Saleh as. pun tahu bahwa para pemimpin kaum ini adalah orang-orang jahat; mereka tidak menyuk kebaikan dan menghukum siapa saja yang menghalangi orang-orang dari menyembah berhala.

Namun demikian, Nabi Saleh as. adalah rasul Allah. Beliau tidak takut apa pun kecuali Allah Yang Mahabesar. Sehingga, Nabi Saleh as. menyerukan risalahnya pada kaumnya. Dari sinilah pertarungan antara hak dan batil dimulai. Para pengikut Nabi Saleh as. memulai perjuangan mereka melawan kaum kafir Tsamud, yang memiliki Sembilan orang yang berkuasa.

Para penduduk pergi ke sebuah batu besar di gunung. Mereka begitu lama menyembah batu itu. Anak-anak melihat ayah-ayah mereka menyembah batu tersebut, sehingga mereka pun melakukan hal yang sama. Ketika mereka tumbuh dewasa, mereka pun meneruskan tradisi menyembah batu itu. Mereka mengelilingi batu itu. Lalu mereka menyembelih domba untuknya, dan memohon rahmat darinya.

Nabi Saleh as. melihat apa yang dilakukan kaumnya, beliau pun menjadi sedih atas hal ini. Sehingga beliau pergi ke batu yang disucikan itu. Dan beliau melihat bahwa kaumnya sedang menyembahnya.

Lalu Nabi Saleh as. berkata kepada mereka, "Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tak ada Tuhan selain Dia." Salah seorang dari mereka berkata, "Mengapa kau meminta karni untuk menyembah Allah?" Nabi Saleh as. menjawab, "Karena Dialah yang menciptakan kalian.

Dia pula kaum nabi shaleh disebut kaum memberi kalian kehidupan." Mereka berkata lagi, "Allah sangat jauh dari kami. Kami tak dapat memohon kepada-Nya. Oleh karena itu, kami menyembah beberapa ciptaan-Nya. Dia mempercayakan urusan kami pada mereka. Kami ingin Allah senang pada kami melalui penyembahan kami terhadap ciptaan-Nya." Nabi Saleh as. berkata dengan sedih, "Wahai kaumku, Allah-lah yang menciptakan kalian. Allah pula yang mengutus aku untuk kalian.

Dia ingin kalian menghamba kepada-Nya dan tidak menyembah kepada selain-Nya. Wahai kaumku, mintalah ampun kepada Allah. Bertobatlah kepada-Nya. Tuhanku adalah dekat. Dia akan menjawab permintaan kalian." Mereka berkata lagi, "Wahai Saleh, sebelum ini engkau adalah salah seorang di antara kami, di mana kami menaruh harapan besar.

Kami menganggap bahwa kami akan bisa memanfaatkan pemikiran dan kebijaksanaanmu. Namun, sekarang, engkau justru membawakan kepada kami sebuah risalah yang aneh. Mengapa kau menyeru kami untuk meninggalkan Tuhan-tuhan kami? Mengapa kau menyeru kami untuk meninggalkan sesembahan ayah-ayah dan kakek-kakek kami? Kami meragukan keadaanmu. Wahai Saleh, kau telah menjadi gila!" Nabi Saleh as. lalu berkata, "Allah telah mengutus aku untuk kalian, maka mengabdilah kepadaNya.

Aku tidak akan meminta apa pun dari kalian atas seruanku ini. Aku hanya mengabdi kepada Allah yang menciptakanku." Mereka pun berkata, "Jika kau adalah rasul Allah, dapatkah kau mengeluarkan seekor unta betina hamil dari batu itu?" Nabi Saleh as.

menjawab, "Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan kita semua dari bumi ini." Mereka berkata, "Kami tak akan mempercayaimu sampai kau keluarkan seekor unta betina dari batu tersebut." Salah seorang dari mereka menambahkan, "Ya, unta betina itu mesti dalam keadaan hamil!" Nabi Saleh as.

berkata, "Aku akan memohonkan kepada Allah. Jika Dia mengabulkannya, maukah kalian percaya bahwa ada satu Tuhan? Maukah kalian percaya bahwa aku adalah rasul Allah yang diutus kaum nabi shaleh disebut kaum kalian?", "Ya," jawab mereka."Kapan janji itu akan terpenuhi?" tanya mereka. Nabi Saleh as. menjawab, "Janji itu akan terpenuhi besok, di sini." Unta Betina Allah Ketika fajar menyingsing, Nabi Saleh as. pergi ke gunung tempat batu itu berada.

Tugas yang dibebankan pada Nabi Saleh as. begitu sulit, karena kaumnya meminta kepadanya untuk mengeluarkan seekor unta betina hamil dari batu tersebut.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Kaum Tsamud berkumpul di sekitar batu itu. Beberapa dari mereka meragukan Nabi Saleh as., beberapa di antaranya memandang batu tersebut, dan yang lainnya lagi menatap Nabi Saleh as.

Mereka melihat Nabi Saleh as. menatap ke langit dengan rendah hati. Mereka mendengar beliau mengucapkan beberapa patah kata. Mereka melihat tangannya menunjuk ke arah batu itu dan kaum Tsamud. Mereka mengerti bahwa Nabi Saleh as. sedang berdoa kepada Tuhannya untuk mendukung ajaran-Nya. Nabi Saleh as. memohon kepada Allah untuk sesuatu yang ajaib. Beliau memohon kepada Allah agar mengeluarkan seekor unta betina hamil dari batu tersebut.

Semua orang memandang Nabi Saleh as. dan batu itu. Nabi Saleh as. pun duduk. Matanya dipenuhi dengan air mata. Beliau memohon kepada Allah untuk memberikan sebuah tanda untuk meyakinkan kaumnya. Karena beliau ingin agar kaumnya kembali ke fitrah mereka, dan hanya menyembah Allah SWT. Tiba-tiba Nabi Saleh as. bangkit. Beliau menunjuk dengan jarinya ke arah batu itu. Semua penduduk Tsamud mendengar sebuah suara keras.

Mereka melihat batu tersebut pecah, lalu keluarlah seekor unta betina yang indah darinya. Dan unta tersebut dalam keadaan hamil.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Orang-orang sangat menyukainya, karena unta itu jinak. Nabi Saleh as. pun bersujud kepada Allah. Beliau bersyukur dan memuliakan-Nya. Allah telah mengeluarkan seekor unta betina hamil dengan kekuasaan absolut-Nya.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Orang-orang Tsamud pun menundukkan kepalanya untuk memuliakan Allah. Beberapa di antaranya bersujud kepada-Nya. Mereka melihat keajaiban besar di depan mata mereka. Lalu mereka berkata, "Apa yang dikatakan Saleh adalah benar. Allah adalah satu-satunya Tuhan, dan tak ada sekutu bagi-Nya." Meskipun mereka berjumlah sedikit, tetapi keyakinan mereka seteguh batu, dari mana unta betina itu keluar.

Seluruh penduduk Tsamud melihat mukjizat itu dengan takjub. Sehingga, unta betina itu menjadi simbol dari risalah Nabi Saleh as., dan simbol dari keesaan Allah. Setelah tiga hari, unta betina itu melahirkan seekor unta jantan yang cantik. Unta jantan muda ini selalu mengikuti dan berada di samping ibunya. Dan ibunya pun merawatnya dengan penuh kasih sayang. Unta betina dan anaknya itu menjadi simbol kasih sayang.

Kaum Tsamud mengatakan bahwa unta betina itu adalah unta betina Nabi Saleh as. Namun, Nabi Saleh as. selalu berkata, "Ini adalah unta betina Allah. Ini adalah sebuah tanda kekuasaan Allah. Maka berhati-hatilah kalian, jangan menyakitinya. Jika kalian melakukan itu, maka kutukan Allah akan menimpa kalian." Hari-hari berlalu. Unta betina itu tinggal di lembah yang sangat luas, makan dari tumbuh-tumbuhan yang ada di lembah tersebut, dan minum dari beberapa mata air di sana.

Unta betina itu juga menghasilkan susu yang lezat untuk semua penduduk. Persekongkolan Jahat Suatu malam, setelah orang-orang pergi tidur, kesembilan orang tersebut mengadakan pertemuan. Mereka makan-makan hingga kenyang, juga minum-minum anggur hingga mabuk. Mata mereka pun merah. Mereka berbicara tentang bahayanya posisi Nabi Saleh as.

bagi mereka. Mereka berkata pada satu sama lain, "Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana cara kita melenyapkan Saleh?" Lalu, salah seorang dari mereka mengatakan, "Aku pikir kita lebih baik melenyapkan unta betinya.

"Yang lain juga berkata, "Ya, kita lebih baik membunuhnya, karena itu adalah bukti kebenaran risalah Saleh. Ketika kita membunuhnya, maka ia akan menjadi lemah di hadapan kita." Orang ketiga menambahkan, "Kita bunuh Saleh juga." Orang keempat bertanya, "Siapa yang akan membunuh untanya?" Orang kelima pun bertanya, "Siapa yang dapat membunuhnya?" Lalu orang keenam menjawab, "Aku tahu siapa yang dapat membunuhnya." Lalu orang ketujuh bertanya, "Siapa dia?" Dan yang lainnya pun serentak melontarkan pertanyaan serupa.

Orang keenam tadi lalu menjawab, "Ia adalah Qaydar, seorang yang tak kenal belas kasihan." Kemudian semua orang serentak berteriak, "Ya, kami setuju dengan Qaydar, seorang yang tak mengenal belas kasihan!" Terbunuhnya Unta Allah Mereka memutuskan untuk membunuh unta betina itu. Salah seorang dari mereka keluar untuk menemui Qaydar. Saat itu tengah malam. Qaydar pun datang dengan membawa pedangnya. Ia lalu minum anggur hingga matanya menjadi Merah. Ia juga menaruh dendam pada unta betina itu, karena telah menjadi simbol kebenaran.

Qaydar membenci perbuatan baik, dan ia berperangai kasar. Ketika kesembilan orang jahat itu menawarkan kepadanya sejumlah uang, ia langsung bangkit. Mereka lalu bertanya kepada Qaydar, "Ke mana kau akan pergi, hai Qaydar?" Qaydar menjawab, "Aku akan membunuh unta itu malam ini juga." Kaum nabi shaleh disebut kaum orang jahat itu berkata, "Tunggu hingga fajar menyingsing.

Unta itu akan pergi ke mata air. Sehingga kau dapat membunuhnya dengan mudah." Qaydar lalu menghabiskan malam itu dengan minum anggur. Wajahnya menjadi menakutkan. Esok harinya, unta betina dan anaknya bangun dari tidur, mereka pun pergi ke mata air untuk minum. Unta jantan muda bermain dengan gembira.

Matahari pun terbit, sehingga padang rumput yang hijau terlihat seperti kaum nabi shaleh disebut kaum bermain yang indah. Unta jantan muda suka bermain-main di padang rumput itu. Induknya setiap hari membawanya ke sana. Tetapi, apa yang terjadi pagi itu? Mengapa unta muda itu tak bermain-main?

Qaydar, si penjahat itu, tiba-tiba muncul. Ia menghadang unta betina dan anaknya. Ia menghunus pedangnya, sementara unta betina itu mencoba berbagai cara untuk pergi. Tetapi Qaydar segera memukulnya, dan unta itu pun roboh ke tanah. Lalu orang jahat ini membacok lehernya. Si unta betina itu hanya bisa memandang anaknya dengan sedih. Anaknya menjadi ketakutan, sehingga berlari ke arah gunung. Tak lama kemudian, kesembilan orang jahat itu datang dan mulai menikam unta betina itu dengan belati mereka.

Unta betina itu pun bersimbah darah, dan akhirnya tewas. Para penjahat itu tidak puas dengan hanya membunuh unta betina itu. Tangan-tangan mereka berlumuran darah unta betina yang tak bersalah itu.

Mereka lalu memotong-motongnya menjadi beberapa bagian layaknya sekawanan serigala. Namun mereka tetap tidak merasa puas dengan itu. Mereka mengejar si unta jantan muda. Kaum nabi shaleh disebut kaum tersebut menjadi ketakutan, dan lalu memanjat bebatuan di gunung. Ia mencari tempat untuk bersembunyi dari kesembilan orang jahat yang lebih kejam daripada serigala tersebut.

Unta jantan muda itu berhenti di puncak gunung dan melihat induknya yang telah terpotong-potong oleh belati para penjahat. Ia juga melihat mereka, yang membawa belati, sedang mendaki gunung itu untuk membunuhnya pula. Unta jantan muda itu sudah tak menemukan tempat untuk lari.

Oleh karena itu, ia memandang ke langit dan menggeram tiga kali. Lalu salah seorang dari mereka menikamnya dengan pisau yang tajam. Unta muda itu pun jatuh ke bebatuan, dan berlumuran darah. Kemudian para penjahat itu menyerangnya lagi, dan dengan kejam memotong-motongnya menjadi beberapa bagian. Bahkan serigala pun masih lebih baik ketimbang kaum kafir ini. Kaum Nabi Saleh Dibinasakan Allah Sementara itu, Nabi Saleh as. dan para pengikutnya pergi untuk melihat unta betina Allah.

Namun, mereka tak menemukan apa pun kecuali darah yang menodai tanah dan puncak gunung. Awan hitam pun muncul di kaki langit.

Langit terlihat menakutkan. Segala yang indah menjadi hilang, karena perbuatan orang-orang jahat itu, yang membenci kebaikan. Mereka bahkan membunuh unta betina yang telah memberi mereka susu setiap hari. Mereka membunuh unta betina itu karena dia menjadi tanda kekuasaan Allah dan bukti kebenaran ajaran Nabi Saleh as.

Nabi Saleh as. lalu berkata kepada mereka, "Nikmatilah rumahmu selama tiga hari ini, karena hukuman Allah akan menimpa kalian. Kalian telah menindas orang lain, mengingkari ajaran Allah, dan membunuh unta betina-Nya. Kalian juga tidak menyukai kebaikan." Kaum Tsamud tersebut tidak mau meminta maaf kepada Nabi Saleh as., walaupun mereka telah membunuh unta betina itu.

Mereka juga tak mau bertobat kepada Allah. Bahkan mereka bermaksud membunuh Nabi Saleh as. dan keluarga beliau. Mereka bertemu lagi dan memutuskan untuk membunuh Nabi Saleh as.

di rumahnya. Lalu mereka akan menyiksa para pengikutnya setelah itu. Tetapi, apa yang terjadi? Sebelum mereka melakukan pembunuhan tersebut, sebuah peristiwa mengerikan terjadi. Tiba-tiba awan hitam berkumpul di langit, menutupi bulan dan bintang-bintang. Lembah-lembah dan pegunungan menjadi gelap gulita.

Saat tengah malam, petir menghantam dengan kuat, dan menghancurkan kaum Tsamud. Tak ada yang seorang pun yang selamat dari petir itu, kecuali Nabi Saleh as. dan para pengikutnya. Itulah akhir dari kaum Tsamud. Empat hari setelah terbunuhnya unta betina itu, matahari baru bersinar lagi di atas reruntuhan orang-orang yang zalim tersebut.

Baca Juga: • Kisah Nabi Hud AS, Nabi Kaum 'Ad • Kisah Nabi Nuh AS dan Perahu Penyelamat • Kisah Hidup Nabi Idris AS Demikianlah uraian tentang Kisah Nabi Saleh AS, Nabi Kaum Tsamud, semoga bermanfaat.

Referensi: • Sayyid, Kamal. 1999. Kisah-kisah Terbaik Al-Quran. Jakarta: Pustaka Zahra Pernah mendengar Pertra? Bangunan ini terletak jauh di gurun pasir Yordania dan menjadi salah satu situs warisan UNESCO. Bangunan ini merupakan peninggalan milik Kaum Tsamud yang terkenal cerdas dalam bidang arsitektur.

Inilah yang membuat terbentuknya istana, rumah hingga makam di bukit-bukit batu meski belum tersentuh teknologi. Kaum ini dikisahkan dalam Al-Qu’ran sebagai bangsa yang hancur dan laknat akibat perbuatan dan kesombongan mereka sendiri. Lalu, bagaimana kisah kaum ini? Mari simak ulasannya dibawah ini. Daftar Isi: • Sejarah Kaum Tsamud • Penyebab Kaum Tsamud Terkena Azab • Terjadinya Gempa dan Petir yang Dahsyat • Penyebutan Kaum Tsamud dalam Al-Quran • Peninggalan Kaum Tsamud • Bukti Kecerdasan Kaum Tsamud Sejarah Kaum Tsamud Berdasarkan catatan sejarah, kaum Tsamud merupakan peradaban masyarakat Arabia Kuno.

Wilayah asalnya diperkirakan dari Arab Selatan kemudian berpindah ke utara, tepatnya di Gunung Athlab, Madain Shaleh. Nama Tsamud sendiri diambil dari leluhur mereka yang merupakan cicit dari Sam, putera Nabi Nuh yang selamat ketika banjir. Maka dari itu, secara silsilah kaum ini disebut Tsamud bin ‘Abir bin Iram bin Sam bin Nuh.

Secara waktu, kaum Tsamud berkuasa setelah dihancurkannya kaum ‘Ad. Namun, peristiwa binasa kaum sebelumnya itu tidak menjadi peringatan bagi mereka. Buktinya, kehidupan kaum ini penuh dengan kemaksiatan. Mulai dari menghamburkan harta, meminum arak, berbuat kejahatan, sampai berzina.

Lebih parahnya lagi, mereka tidak menyembah Allah hingga turun-temurun. Karena perbuatan yang menyimpang ini, Allah mengutus Nabi Sholeh untuk mengajak pada jalan kebenaran. Nabi Sholeh berasal dari dolongan mereka sendiri. Penyebab Kaum Tsamud Terkena Azab Peristiwa diazabnya kaum Tsamud oleh Allah diabadikan dalam Q.S Hud ayat 67-68. Kisahnya, kaum ini tidak mau beriman dan menentang ajaran Nabi Sholeh. Ajakan untuk beriman kepada Allah selama berpuluh-puluh tahun ditolaknya. Baca juga: Gerbang Utama Istana Harran Ditemukan Setelah 2 Tahun Proyek Penggalian oleh Para Arkeolog di Turki Ia berdalih bahwa kepercayaan yang dianut adalah warisan para pendahulu.

Mereka justru ragu dengan kenabian dari Nabi Sholeh. Menanggapi ini, Nabi Sholeh meminta kepada Allah untuk diberikan mukjizat agar kaumnya itu percaya. Allah pun memeritahkannya agar memukul sebuah batu di hadapannya. Seketika muncullah seekor unta betina gemuk sebagai mukjizat. Menyaksikan peristiwa luar biasa ini, kaum Tsamut terperanjat. Sebagian kecil menjadi beriman, namun sebagian besar menganggap itu hanya sihir untuk mengelabuhi mereka.

Keberadaan unta Nabi Sholeh memberikan keberkahan melimpah. Kaum ini diperbolehkan memerah dan meminum susunya.

Bukannya membuat semakin kaum nabi shaleh disebut kaum, orang-orang yang tidak suka tersebut malah merencanakan kejahatan. Dua pemuda kaum Tsamud bernama Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif membunuh unta Nabi Sholeh. Mereka memanah betis sang unta, kemudian menikam perutnya dengan menggunakan pedang. Mengetahui kejadian ini, Nabi Sholeh bersedih hati dan mengatakan bahwa Allah akan menurunkan azab pada kaumnya yang tak kunjung kembali pada kebenaran itu. Dengan izin Allah, azab pun menimpa mereka dengan mendatangkan tanda-tanda terlebih dahulu.

Hari pertama saat bangun tidur, wajah mereka berwarna kuning. Kemudian hari kedua, berubah menjadi warna merah. Pada hari ketiga, wajah mereka menghitam. Dan terakhir di hari keempat, Allah menurunkan azab luar biasa. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran, Allah menurunkan petir menggelegar sehingga semua bangunan porak poranda.

Kemudian angin puting beliung begitu dingin dan di susul gempa hingga dalam sekejap saja semua kaum Tsamud tewas, kecuali orang-orang beriman. Mereka semua lenyap dan yang tersisa hanya bebeparapa istana gunung batu. Terjadinya Gempa dan Petir yang Dahsyat Nabi Sholeh telah memperingatkan jika kaum Tsamud dapat menikmati hidup dan kemaksiatan selama tiga hari, setelah itu mereka tidak akan ada yang bernyawa lagi. Namun, kaum tersebut bukan bertaubat melainkan menantang dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Baca juga: Kesenian Dan Kebudayaan Jepang Yang Menarik Untuk Di Sambangi Pada akhirnya, kaum yang sombong ini merasakan azab dengan petir yang menyambar kepala serta gempa bumi yang menghancurkan rumah-rumah mereka setelah tiga hari yang dijanjikan.

Kejadian ini pun tertulis dalam Surah Al-A’raaf ayat 78 dan Surah Al-Fusilat ayat 17. Bangsa ini pun hancur dan mati kaum nabi shaleh disebut kaum di hari yang telah dijanjikan Nabi Sholeh.

Dua bencana besar ini berhasil merenggut nyawa dan membuat kaum Tsamut tak tersisa seorang pun. Mereka mati bergelimpangan dan mengenaskan meski sebagian orang berlindung di dalam rumah. Lalu, Allah memutuskan untuk mempertahankan bangunan megah yang mereka ciptakan untuk menjadi bukti untuk generasi selanjutnya. Dengan begitu, bukti nyata tersebut dapat dijadikan pelajaran agar tidak menyia-nyiakan nikmat yang diberikan oleh Allah.

Selain itu, supaya manusia lebih menjaga sikapnya agar tidak berlaku sombong dan melupakan apa yang sudah diberikan oleh Allah dalam hidupnya. Penyebutan Kaum Tsamud dalam Al-Quran Segala sesuatu yang termaktub dalam Al-Quran mengandung nilai dan hikmah begitu dalam. Entah itu berbentuk ketaatan atau kekufuran. Kaum Tsamud menjadi salah satu kaum yang diabadikan karena ketidak imanannya kepada Allah. Penyebutan kaum ini di Al-Quran sebanyak 26 kali, yakni surah Al-A’raf: 73-79, Hud: 61-68, Al-Hijr: 80-84, Al-Isra’:59, Asy-Syu’ara:141-159, An-Naml: 45-43, Fushshilat: 17-18, Al-Qamar: 23-32, dan Asy-Syams:11-15.

Peninggalan Kaum Tsamud Kemampuan arsitektur dan entrepreneur kaum Tsamud cukup masyhur. Bahkan, Allah mengabadikannya dalam Q.S Al-A’raf: 74. Mereka mampu memahat gunung untuk dijadikan tempat tinggal serta berbagai karya seni lainnya.

Berdasarkan kisahnya, produk komoditas utamanya berupa tembikar unik dengan nilai seni berkualitas tinggi. Dari sini, kekayaan kaum Tsamud melimpah ruah, seperti istana-istana megah. Namun kekufurunnya mengundang kemurkaan Allah.

Semua nyawa dicabut dengan mengenaskan dalam sekejap. Hanya beberapa sisa peninggalan berupa rumah-rumah yang masih ada di sekitar Hadramaut dan Madain Saleh.

Baca juga: Yuk Kenali Tradisi dan Budaya Jepang Yang Unik Bukti Kecerdasan Kaum Tsamud Salah satu bukti kecerdasan kaum ini adalah Petra. Banyak orang yang terheran bagaimana cara membuat bangunan tersebut di bukit-bukit batu. Kaum Tsamud memang dikenal dengan kemampuan arsitekturnya yang luar biasa meski tanpa teknologi seperti saat ini. Petra memiliki pilar-pilar yang sempurna dan bentuk bangunan presisi serta memiliki detail yang indah.

Tidak hanya itu, kaum ini pula dikenal sebagai ahli pertanian yang mampu mengolah ladang dengan profesional dan baik. Dari sinilah kaum Tsamut memperoleh buah-buahan dan makanan yang banyak padahal tempat tinggal mereka berada di padang pasir. Selain itu, di tempat kering seperti padang pasir kaum ini juga dapat dengan mudah mendapatkan akses air melimpah bagi seluruh rakyatnya. Seharusnya bangsa yang dikenal cerdas ini akan semakin makmur dan sejahtera.

Namun, mereka mendustai dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah, sehingga kaum ini dibinasakan. Kaum ini konon menyembah berhala yang dibuat sendiri dari batu-batu layaknya membuat bangunan Petra. Demikian sejarah lengkap mengenai kaum Tsamud. Setiap peristiwa yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran artinya mengandung pelajaran luar biasa, termasuk kisah kaum nabi Sholeh ini. Allah memperingatkan kita sebagai kaum dari nabi akhir zaman untuk kaum nabi shaleh disebut kaum mengikuti jalan kebenaran.

Beruntungnya, Allah memberi keistimewaan kepada umat Nabi Muhammad. Setiap kedzaliman yang kita lakukan tidak langsung dibalas kemurkaan, melainkan masih ditangguhkan, diberi kesempatan untuk bertaubat. Wallahu’alam
Menu • 📖 SURAH-SURAH ALQURAN • 📗 HADITS SHAHIH • 📘 BULUGHUL MARAM • KITAB THAHARAH (BERSUCI) • KITAB SHALAT • KITAB JENAZAH • KITAB ZAKAT • KITAB SHIYAM • KITAB HAJJI • KITAB NIKAH • KITAB URUSAN PIDANA • KITAB HUKUMAN • KITAB JIHAD • KITAB MAKANAN • KITAB SUMPAH DAN NAZAR • KITAB MEMUTUSKAN PERKARA • KITAB MEMERDEKAKAN BUDAK • KITAB KELENGKAPAN • 🙏 DO’A SEHARI-HARI • 🔉 AUDIO PODCAST • 💬 KAMUS ISTILAH ISLAM • ❓ SOAL & PERTANYAAN AGAMA • 🔀 AYAT ALQURAN ACAK • 🔀 HADITS ACAK • 🔀 ARTIKEL ACAK • 🐫 LAINNYA … • Statistik Pencarian • Donasi • Beri Saran & Masukan • Tentang RisalahMuslim Kategori: Nama Golongan Kaum Tsamūd (ثمود) adalah suku kuno Arabia yang diperkirakan hidup sekitar millenium pertama Sebelum Masehi dan dekat dengan waktu kenabian Muhammad.

Mereka diperkirakan berasal dari wilayah Arabia selatan yang kemudian pindah menuju utara. Mereka kemudian menetap di Gunung Athlab, Madain Shaleh. Sejumlah besar kaum Tsamud merupakan pengukir dan pemahat bukit yang baik. Ukiran dan pahatan mereka hingga saat ini dapat ditemui di Gunung Athlab dan hampir seluruh Arab bagian tengah.

Etimologi Kata Tsamud diambil dari salah seorang yang bernama lengkap Tsamud bin Amid bin Iram, namanya dinisbatkan sebagai pendiri klan sebuah kaum (suku bangsa). Nama lain dari Tsamud adalah Ashab Al-Hijr (Penduduk Al-Hijr). Tsamud dalam Al Qur’an Dalam Al-Qur’an Tsamud disebut sebanyak 26 kali baik dalam bentuk kata yang berdiri sendiri maupun untuk menunjukkan kaum.

Tsamud merupakan sekelompok kaum di mana nabi Shaleh berasal dan diutus oleh Allah untuk kaum tersebut Al-Qur’an menggambarkan Kaum Tsamud adalah kaum berkuasa setelah kaum ʿĀd yang mahir dan rajin dalam memahat bukit untuk dijadikan tempat tinggal. Selain itu, Tsamud juga digambarkan sebagai kaum nabi shaleh disebut kaum yang aman, yang terdapat sumber mata air dan banyak perkebunan, dan juga pepohonan seperti kurma.

Dalam narasi Al-Qur’an, kaum Tsamud termasuk kaum yang mendustakan nabi, sehingga kaum tersebut dibinasakan dengan gempa bumi. ۞ Variasi nama: Kaum Tsamūd, Tsamud, kaum samud, samud Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Aurat dari tubuh pria adalah mulai … Fungsi pakaian adalah … Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang … Pencarian Terbaru • apa itu hilah • robbi laa tadzarni fardan wa anta khoirul waaritsin • arti ruqyatun dalam kamus • tasbih malaikat langit tertinggi • makna hadis لا يغلق الرهن • hadits menyusui dewasa • tafsir al anfal 50 • mvidiyo meyiksa twanan cewe hamil di ab ganistan • makna hadits makanan cukup untuk dua orang cukup untuk tiga orang • Radhiyallohu • radhiallahu wa Anna wa radhoh artinya • muwatta artinya • rabbanaghfirlana dzunubana waliwa • hadist sesungguhnya agama itu mudah • doa menerima sodaqoh
Rekomendasi • Haram Hukumnya Menolak Jenazah Pasien Covid-19 • Ingin Masuk Surga?

Lakukan 5 Amalan Ini • Corona Mewabah, Habib Quraisy Ajak Muhasabah dan Tobat Nasuha • Kisah Rasulullah dan Jeruk Asam yang Patut Diteladani • Demi bisa tarawih, naik bus satu jam sepulang kerja • Keutamaan dan Ganjaran Bagi Orang yang Menuntut Ilmu • Beri Tanda pada Hafalanmu! • Ada Apa dengan Usia 40 Tahun? Ini Penjelasannya • Doa Rasulullah Ketika Dilempari Batu dan Diusir Warga Thaif • Rahasia Kemenangan Tentara Islam Generasi Pertama Read Again • Inilah Keutamaan Bulan Syawal Beserta Amalan yang Bisa Dilakukan • Inilah 5 Keutamaan Puasa Syawal Menurut Hadis • Sayyidah Shafiyah: Tawanan Perang, Putri Ulama Yahudi yang Dinikahi Rasulullah SAW • Dua Kisah Sahabat Nabi SAW yang Rutin Membaca Surah Al-Ikhlas dalam Setiap Sholat • 6 Julukan Bulan Syawal yang Penuh Keistimewaan • Niat Puasa Qadha Ramadhan di Bulan Syawal dan Tata Caranya • Hukum Menikah di Bulan Syawal antara Mitos Jahiliyah dan Sunah Rasul Nabi Shaleh 'alaihis salam (AS) memiliki kaum yang dikenal dengan kaum Tsamud.

Dalam Alqur'an, Nabi Shaleh disebut sebanyak 9 kali. Nasab beliau tersambung ke Nabi Nuh, yaitu Shaleh bin Ubaid bin 'Ashif bin Masih bin 'Abid bin Hazir bin Samud bin Amir bin Irim bin Syam bin Nuh 'alaihis salam (AS). Dalam kajian rutin Syeikh Ahmad Al-Mishri (Ulama asal Mesir) di Srengseng, Jakarta Barat, diulas secara singkat kisah Nabi Shaleh dengan kaum Tsamud. Syeikh Ahmad menceritakan, beliau adalah orang pertama di muka bumi yang diberi Nama Shaleh. Kaum Nabi Shaleh disebut Tsamud karena berada di padang pasir yang kekurangan air.

Dalam literatur sejarah disebutkan, tempat tinggal kaum Tsamud berada di Domatha dan Hegra terletak sekitar 470 kilometer dari Kota Madinah.

Ketika Nabi Shaleh diutus, kaumnya saat itu menjadikan berhala sebagai sesembahannya. Ketika perang Tabuk, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) melewati daerah kaum Tsamud. Beliau melarang sahabat minum dari sumur karena di situ tempat penyiksaan kaum tsamud. Kaum Tsamud ini menempati tempat antara Hijaz dan Syam. Tempat tinggalnya dikenal dengan Madain Shaleh. Mereka diberikan nikmat tanah yang melimpah, kebun, buah-buahan.

Mereka terampil memahat gunung dan dijadikan rumah-rumah. Mereka disifati banyak membuat kerusakan dan berlebih-lebihan. Nabi Shaleh AS mengajak kaumnya untuk meninggalkan berhala.

Mereka meminta didatangkan mukjizat untuk membuktikan kebenaran Nabi Shaleh sebagai seorang Rasul. Muncullah seekor unta betina bunting dari batu yang tidak memiliki bapak dan ibu. Unta ini merupakan mukjizat Nabi Shaleh. Nabi Shaleh gak pernah meminta mukjizat karena kalau ingkar akan didatangkan azab. Kemudian muncullah seekor unta betina.

Dan ternyata mereka bukan beriman, malah semakin kufur dan menentang Nabi Shaleh. Nabi Shaleh menyampaikan ke kaumnya agar menggunakan sumur secara bergantian untuk unta tersebut dan kaumnya. Pada hari kedua gantian, untanya tidak minum, tapi kaumnya minum. Unta itu mengeluarkan susu mencukupkan mereka semua. Mereka pun menyembelih untah tersebut dan memakan dagingnya. Ternyata dagingnya tidak enak. Lalu Nabi Shaleh mengatakan Allah akan menurunkan azab.

Lalu muncullah suara keras dari langit dan guncangan dari bawah. Adapun orang yang beriman kepada Nabi Shaleh hanya 120 orang. Maka Nabi Muhammad SAW bilang ada Nabi yang masuk surga sendirian dan ada yang sedikit kaumnya.

Sedangkan yang terbanyak adalah umatnya Nabi Muhammad SAW. Nabi Shaleh sudah mengingatkan umatnya agar tidak menyakiti unta itu. Tetapi 9 di antara kaumnya menyembelih unta itu. Mereka pun membuat kerusakan.

Inilah Penyebab Kehancuran Nabi Shaleh: 1. Mereka melakukan kerusakan di antara manusia. 2. Berlebih-lebihan dan lalai. 3. Angkuh dan sombong. 4. Kufur kepada Allah Ta'ala.

5. Menghina Nabinya. 6. Membunuh mukjizat yang didatangkan berupa Unta. Pelajaran dari Kisah Nabi Shaleh: 1. Menghina kaum nabi shaleh disebut kaum Nabi dan Rasul mendatangkan kemudharatan.

2. Sebuah peradaban yang berdiri di atas keburukan akhlaq dan kesesatan akan hilang. 3. Sabarnya seorang da'i kepada Allah dan pengikutnya.

4. Mukjizat itu datang untuk menguatkan para Nabi dan Rasul. 5. Nabi SAW melarang minum di tempat mereka yang diazab. Nabi Shaleh hidup sesudah diwafatkan kaumnya di Palestina, ada yang bilang di Mekkah. Ada yang bilang orang kafir mengawasi gerak-gerik Nabi Shaleh di tempatnya dilempari dengan batu. Allah mengutus Malaikat untuk melemparinya. Allah menyelamatkan Nabi Shaleh. Beliau dikatakan wafat di Yaman dalam usia 280 tahun. Kalau mimpi bertemu Nabi Shaleh maka urusannya baik dan dia termasuk orang baik.

Ucapannya itu jujur, dikatakan akan menang melawan musuhnya. • kaum tsamud • kisah nabi dan rasul • nabi shaleh • sejarah islam • syeikh ahmad al-mishri • Beginilah Kondisi Para Sahabat setelah Berakhirnya Bulan Ramadhan • Kisah Istri-Istri Rasulullah SAW: Cemburu Berat Aisyah kepada Shafiyah • Bolehkah Menggabungkan Puasa Syawal dan Puasa Sunnah Senin-Kamis Sekaligus?

• Sayyidah Shafiyah: Tawanan Perang, Putri Ulama Yahudi yang Dinikahi Rasulullah SAW • Kisah Ibrahim bin Adham: Ketika Kuburan Kian Ramai dan Kota Makin Sepi • 6 Julukan Bulan Syawal yang Penuh Keistimewaan • Dua Kisah Sahabat Nabi SAW yang Rutin Membaca Surah Al-Ikhlas dalam Setiap Sholat • Kisah Dalam Al-Qur'an yang Terulang dan yang Tak Terulang Kembali • Kisah Debat Sengit Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Memerangi Pembangkang Zakat • Kisah Umar Bin Khattab di Masa Jahiliyah, Ahli Miras dan Mencumbu Perempuan Dari Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta bersungguh-sungguh menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat pada suaminya.

Maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka. (HR. Ahmad 1:191)Kaum Tsamud, Pemahat Batu Pada Kisah Nabi Shaleh AS Beritaku,Id, Kisah Islami – Kaum Tsamud dalam Kisah Kaum nabi shaleh disebut kaum Saleh, Melanjutkan Kisah 25 Nabi dan Rasul, salah seorang Sahabat Rasulullah yakni Abu al-Tufail, menyampaikan sebuah kisah yang menarik tentang Nabi Shaleh, AS Dalam kisah Rasulullah SAW dalam perjalanan menyerang Tabuk, beliau memasang tenda di al-Hijr, disaat perkemahan tersebut, beliau bersabda “Wahai orang-orang!

Janganlah meminta tanda (sebagai bukti kenabian) kepada Nabi kalian! Umat Shaleh (berdosa) ini meminta nabi mereka (Nabi Shale AS) untuk mengirimkan kepada mereka sebuah tanda, dan Allah mengirim mereka unta betina sebagai tanda. “Pada hari gilirannya (si unta betina) untuk minum, ia masuk di antara mereka dari celah (batu) ini dan meminum air mereka.

Pada saat (hari) giliran mereka (Kaum Tsamud), mereka akan mendapatkan ini (air) dan akan mengambil susu dari unta betina sebanyak sebagaimana mereka mengambil air sebelumnya. Dengan demikian ia akan keluar dari celah (untuk memberi susu). Ingkarnya Kaum Tsamud “Namun mereka menjadi tidak taat kepada perintah Tuhan mereka dan melukainya (si unta betina), jadi Allah menjanjikan kepada mereka hukuman setelah tiga hari. Itu adalah janji dari Allah dan tidak salah. Maka Allah menghancurkan mereka semua, di Timur dan Barat, kecuali terhadap satu orang yang berada di tempat suci Allah.

Tempat suci Allah melindunginya dari hukuman Allah.” Sahabat penasaran lalu bertanya “Dan siapakah (yang dimaksud) orang tersebut, wahai Rasulullah Muhammad SAW?” Dia berkata, “Abu Righal.”[2] Dalam riwata lain, sabda Rasulullah oleh at-Thabrani, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Orang terdahulu yang paling celaka adalah pemotong unta (Kaum Nabi Shaleh).”[3] Riwayat diatas adalah hal yang terjadi di Zaman Nabi Shaleh dan Kaum bernama Tsamud.

Kehadiran Nabi Shaleh, dapat di lihat dari masa Nabi Nuh, dalam waktu yang cukup dekat. Meskipun dalam kitab Alquran tidak dijelaskan waktu antara peristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh sampai munculnya kaum Suku Tsamud.

Akan tetapi turunan kaum ini masih sangat dekat dengan Nuh. Umur umat pada zaman ini, sangat panjang. Setelah bahtera perahu besar Nuh sampai di Gunung Al-Judi kemudian berlabuh di sana. Nuh menginginkan kaum nabi shaleh disebut kaum diseluruh bumi, maka kepada ketiga anaknya yang lelaki dibagi dunia ini menjadi 3.

Pembagian Wilayah Oleh Nuh Dalam riwayat disebutkan, bahwa kepada Sem Bin Nuh, dia mendapatkan bagian tengah bumi yaitu daerah Yerusalem, Sungai Nil, Sungai Eufrat, Tigris, Sayhan, Jayhan (Gihon), dan Fayshan (Pison) berada. Daratan itu mulai di Pison ke timur Sungai Nil, dan dari daerah dari mana angin selatan bertiup sampai ke utara. Sementara untuk Ham Bin Nuh, dia memberikan bagian (bumi) di sebelah barat Sungai Nil dan daerah-daerah yang melampaui wilayah tempat angin barat bertiup.

Dari ketiga putra Nuh tersebut, adalah keturunan dari Sem yang menenpati Yerussalem memiliki turunan dua kaum penyembah berhala.

Kedua kaum yang dimaksud tersebut adalah Kaum Ad dan Kaum Tsamud. Ad dan Tsamud sendiri nama orang yang masih keturunan Nabi Nuh, yang dianggap sebagai tokoh pada kaumnya. Berikut ini adalah silsilah dari Ad: Ad bin Uz bin Aram bin Sem bin Nuh. Adapunsilsilah dari Tsamud adalah: Tsamud bin Gether bin Aram bin Sem bin Nuh. Allah mengutus dua orang nabi kepada dua kaum atau umat tersebut. Kepada Kaum Ad, Allah mengutus Nabi Hud (kisahnya klik disini), sementara kepada Kaum disebut Tsamud, Allah mengutus Nabinya yakni Shaleh AS.

Nabi Hud telah menghancurkan kaum Ad, kemudian untuk kerajaan Kaum Tsamud menggantikan kaum Ad. Tidak jauh beda dengan kaum Ad, kaum Tsamud yang bergelimangan harta, melakukan pendzaliman dan kejahatan menjadi merajalela, hukum dunia atau hukum rimba berlaku.

Hal ini juga diungkapkan di dalam Alquran: “Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (Q.S 7: 74).

(PH) Kaum Aad dan Tsamud ini mendiami daerah yang sekarang daerah Hijaz di Arab Saudi saat ini. Sampai saat ini disana masih ditemukan pahatan aksara Arab, Aramiya, Yunani, dan Romawi, dengan gambaran bangunan yang mewah telah menjadi reruntuhan, peninggalan kaum Aad dan Tsamud. Dalam riwayat lain, kaum Tsamud adalah kaum terkuat dan berumur panjang, yang dikaruniakan kekuatan oleh Allah SWT, suatu ketika bangunan rumah yang mewah runtuh, dan menimpa mereka, namun karena kuatnya sehingga tidak mengalami apa-apa.

Bahkan mereka membuat rumah dengan melubangi dan memotong gunug-gunung, sebagai tempat tinggal mereka, mereka memahat gunung-gunung tersebut. Nabi Shaleh AS : Peninggalan Kaum Tsamud, Berupa Relief Pahatan Batu Firman Allah SWT dalam Alquran “Dia menempatkan kamu (Kaum Tsamud) di bumi; kamu membuat pada dataran-dataran rendahnya jadi bangunan-bangunan besar, dan kamu pahat gunung-gunungnya menjadi rumah-rumah.” (Q.S 7: 74) Karya Kaum Tsamud Pemahat Batu Bisa dibayangkan ketika gunung-gunung disatukan untuk menjadi satu rumah, yang luas dan nyaman serta asri sebagai tempat tinggal mereka.

Saat ini, dalam sebuah laporan wisata, bekas tempat tinggal Kaum Tsamud dengan gunung berbatu terlihat seolah menyambut pengunjung. Batu-batu yang sangat besar itu berdiri kokoh menjadi memisah dan ada pula yang menyatu yang berbentuk bukit. Pada tahun 2008, UNESCO mengakui pengesahan Madain Salih, atau The archaeological site of Al-Hijr, sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage Site).

Zaman penggalian sumur dimulai pada zaman ini, hal ini terlihat terdapat beberapa sumur untuk menjadi sumber air pertanian, dan saat ini masih bisa dijumpai hingga sekarang ini. Awalnya kaum Tasmud adalah kaum yang taat setelah Kaum Ad dibumihanguskan, kemudian mereka membangun sebuah peradaban dan kemegahan, dengan rumah dan istanah yang megah, sebagai awal perkembangan arsitektur.

Namun kemegahan yang dimiliki membuatnya lalai dari Allah SWT, dan kembali menyembah berhala. Kisah Nabi Shaleh dengan Unta Betina dari Batu Adapun keturunan lengkap Nabi Shaleh adalah: Shaleh bin Ubaid, selanjutnya Ubaid bin Asif kemudian Asif bin Masikh bin Ubaid dan Ubaid bin Khadir bin Tsamud bin Gether Kemudian Gether bin Aram bin Sem bin Nuh.

Diutus untuk meluruskan niat dan keimanan kaum Tsamud agar menyembah hanya Allah SWT. Firman All SWT “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Nabi Shaleh berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.

Dia telah menciptakan kamu kaum nabi shaleh disebut kaum bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’.” (Q.S 11: 61) Dari seruan Nabi Allah tersebut, hanya sebagian yang beriman kepada Allah, dan sebagian besar mencemooh Nabi Shaleh, dan menganggapnya orang tidak waras, seperti mereka memperlakukan Nabi Nuh dan Hud sebelumnya.

Nabi Shaleh sebagai seseorang yang bijaksana, suci, berakhlak baik, dan sangat dihormati oleh mereka. Menolak Dakwah Nabi Shaleh AS Kaum Tsamud, tidak percaya dengan Shaleh AS, mereka menganggap hanyalah seorang penyihir, maka dari itu mereka meminta untuk mengeluarkan mukjizatnya. Dengan angkuh kaum Tsamud yang memiliki keahlian memahat gunung dan membuat relief hidup dan mearik, maka kaum ini memintanya untuk menciptakan sesuatu yang lebih indah dari itu.

Kemudian kaum Tsamud berkata, “Jika engkau memang benar, maka tunjukkanlah kepada kami suatu tanda (yang terlihat)” Mereka kemudian membawa Nabi kesuatu tempat dan menunjuk sebuah batu karang dan memintanya, “Mintalah kepada Tuhanmu (Allah SWT) untuk menciptakan seekor unta betina, dan harus telah hamil sepuluh bulan, ukurannya tinggi, dan menarik.

Buatkanlah dari batu itu untuk kami supaya kami mengetahui bahwa kamu bukanlah penyihir” Shaleh menjawab, “Lihatlah sekarang! Jika Allah mengirimkan kalian apa yang kalian minta, seperti yang telah kalian harapkan tersebut, akankah kalian beriman kepada apa yang telah aku datangkan kepada kalian, dan beriman kepada risalah yang telah aku sampaikan?” Mereka menjawab, “Ya.” Shaleh kemudian mengambil sumpah dari mereka tentang hal ini, lalu berdoa kepada Allah SWT untuk mengabulkan permintaan mereka.

Allah atas ke Maha Kuasaan memerintahkan batu tersebut untuk membelah diri (seperti telur), dan mucullah unta yang hamil sepuluh bulan. Ketika kaum tsamud menatapnya, mereka sangat kagum. Mereka melihat hal yang luar biasa, pemandangan yang sangat menakjubkan, kekuatan yang menakjubkan dan bukti sangat jelas didepannya. Kisah Nabi Shaleh, Unta Betina dari Batu Unta betina tersebut, keluar dari batu beserta anaknya, dengan bulu yang lebat dan sangat menarik. Unta yang berbeda dengan unta lainnya, karena jika minum maka mampu menghabiskan semua air sumur, serta menghasilkan susu untuk ribuan orang kaum Tsamud.

Kaum nabi shaleh disebut kaum ayat Alquran, dikatakan, “Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Q.S 7: 73) Kehadiran Unta tersebut, membuat pengikut Nabi Shaleh makin bertambah, sementara disisi lain, kaum kafir semakin sakit hati dan iri dengan hal tersebut, maka mereka menyusun rencana untuk membunuh Unta betina tersebut.

Namun Allah memberikan bencana, dengan gempa dan meruntuhkan bangunan-bangunan mereka, lenyap ditelan bumi. 1500 rumah habis oleh gempa yang melanda, dan tertinggal hanya 110 orang yang setia menjadi pengikut Nabi Shaleh, AS Kehebatan Kaum Tsamud : • Membangun bangunan yang megah • Membangun dengan menyatukan beberapa gunung, memahat atau membelah gunung sebagai tempat bangunan megah Posting pada Kisah Para Nabi dan Rasul Ditag Asal Muasah Kaum Ad, Beritaku, Kaum Tsamud, kaum tsamud dan ad, Kehancuran Kaum Ad, Kesombongan Kaum Ad, Kisah kaum tsamud dan ad, Kisah Nabi Shaleh AS, Lokasi kaum ad, Lokasi kaum tsamud, Pemahat Batu, Pemahat Gunung, Peninggalan Kaum Tsamud, Unta Betina Navigasi pos Akhir Tahun 2020, Beritaku.id Di Bawah PT Kaishar Mandiri Telah Melakukan Pembenahan Manajemen.

Berikut daftar karyawan, kategori penulis tetap dan Editor, hasil rekruitmen akhir tahun 2020: Novianti, Jakarta Riska Putri, Kaltim, Sri Damara, NAD Tika Yanti, Djogjakarta Ulfiana, Jawa Timur Sofyani, Jawa Timur Veronika, Jakarta Elsa, Djogjakarta Luluk, Jawa Barat Umu Latifah, Jawa Barat Nur Rahma, Jawa Barat Retno, Jawa Barat Annisa, Jawa Tengah Editor Utama: Ayu Maesaroh, Jawa Tengah Editor: Luthfi Dan May
Kaum Tsamud(kaum nabi shaleh) “Kaum Tsamud pun telah mendustakan ancaman-ancaman itu.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu, benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila”.

Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (QS. Al Qamar, 54: 23-26) ! Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, kaum Tsamud menolak peringatan-peringatan dari Allah sebagaimana dilakukan kaum ‘Ad, dan sebagai konsekuensinya mereka pun dihancurkan. Kini, dari hasil studi arkeologi dan sejarah, banyak hal yang tidak diketahui sebelumnya telah ditemukan, misalnya lokasi tempat tinggal kaum Tsamud, rumah-rumah yang mereka buat, dan gaya hidup mereka.

Kaum Tsamud yang disebutkan dalam Al Quran merupakan fakta sejarah yang dibenarkan oleh banyak temuan arkeologis saat ini. Sebelum lebih jauh melihat temuan arkeologis yang berkaitan kaum nabi shaleh disebut kaum kaum Tsamud, sangatlah bermanfaat untuk mempelajari cerita di dalam Al Quran serta mengamati pertarungan kaum ini dengan nabi mereka.

Karena Al Quran adalah kitab yang diperuntukkan untuk sepanjang massa, pengingkaran kaum Tsamud atas peringatan-per-ingatan yang datang kepada mereka adalah sebuah kaum nabi shaleh disebut kaum yang merupakan sebuah peringatan kepada semua orang di sepanjang masa. Penyampaian Risalah Nabi Shalih Di dalam Al Quran disebutkan bahwa Nabi Shalih diutus untuk memperingatkan mereka.

Shalih adalah orang yang terpandang di ka-langan masyarakat Tsamud. Kaumnya, yang tidak menduga ia akan mengumumkan agama kebenaran, terkejut dengan seruannya untuk me-ninggalkan penyimpangan mereka.

Reaksi pertama adalah menghujat dan mengutuknya: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih. Shalih berkata: ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amatlah dekat (Rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).

Kaum Tsamud berka-ta: ”Hai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami un-tuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan se-sungguhnya kamu betul-betul berada dalam keraguan yang mengge-lisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (QS. Huud, 11: 61-62) !

Segolongan kecil kaum Tsamud memenuhi panggilan Nabi Shalih, namun kebanyakan mereka tidak menerima apa yang dikatakannya. Para pemimpin kaum tersebut, khususnya, menolak dan menentang Shalih. Mereka mencoba menghalang-halangi dan menekan kaum yang beriman kepada Nabi Shalih. Mereka sangat murka kepada Shalih, karena ia mengajak mereka menyembah Allah.

Kemarahan ini tidak khusus hanya pada kaum Tsamud; mereka hanya mengulangi kesalahan yang dibuat kaum Nuh dan kaum ‘Ad yang hidup sebelum mereka. Karena itulah Al Quran menyebutkan ketiga kaum ini sebagai berikut: “Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (ya-itu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang kepada me-reka rasul-rasul (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka me-nutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian) dan berkata: ”Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyam-paikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya”.

(QS. Ibrahim, 14: 9) ! Tanpa mengindahkan peringatan-peringatan Nabi Shalih, orang-orang membiarkan kesangsian menguasai mereka. Namun masih ada sekelompok kecil yang percaya terhadap kenabian Shalih dan merekalah orang-orang yang diselamatkan bersamanya ketika bencana besar da-tang.

Para pemuka masyarakat tersebut berupaya menekan kelompok yang mempercayai Shalih: “Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah ber-iman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menja-di rasul) oleh Tuhannya?” Kaum nabi shaleh disebut kaum menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Shalih diutus untuk menyampaikan-nya”.

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: ”Sesungguh-nya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (QS. Al A'raaf, 7: 75-76) ! Kaum Tsamud terus menyangsikan Allah dan kenabian Shalih. Lebih jauh, kelompok tertentu secara terang-terangan menyangkalnya. Seke-lompok di antara mereka yang menolak keimanan — menurut dugaan, dengan nama Allah — merencanakan untuk membunuh Shalih: ‘Mereka menjawab; “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang bersama kamu”.

Shalih berkata: “Nasib-mu ada pada sisi Allah (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi ka-mu yang diuji”. Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaik-an.

Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bah-wa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba ber-sama keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”.

Dan mereka pun merencanakan makar dengan sesungguh-sungguhnya dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menya-dari.” (QS. An-Naml, 27: 47-50) ! Untuk mengetahui apakah kaumnya akan mematuhi perintah Allah atau tidak, Shalih menunjukkan kepada mereka seekor unta betina sebagai ujian. Untuk mengetahui apakah mereka akan mematuhinya atau tidak, Shalih menyuruh kaumnya untuk berbagi air dengan unta betina tersebut dan tidak menyakitinya. Kaumnya menjawab dengan membunuh unta betina tersebut.

Dalam surat Asy-Syu’araa’ kejadian tersebut disebutkan sebagai berikut: “Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka Shalih, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Adakah kamu akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut.

Kaum nabi shaleh disebut kaum kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan ru-mah-rumah dengan rajin; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Mereka berkata: ”Sesungguhnya kamu adalah seorang dari orang-orang yang terkena sihir; kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka da-tangkanlah sesuatu mukjizat jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar”.

Kaum nabi shaleh disebut kaum menjawab: ”Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran un-tuk mendapatkan air dan kamu mempunyai giliran pula untuk men-dapatkan air di hari tertentu.

Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu keja-hatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang kaum nabi shaleh disebut kaum. Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menyesal, maka me-reka ditimpakan azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’araa’26: 141-158) ! Perjuangan Nabi Shalih terhadap kaumnya dikisahkan sebagai beri-kut: “Kaum Tsamud pun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu).

Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja, se-orang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begi-tu, benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.“ Kelak mereka akan mengetahui siapakah sebenarnya yang amat pen-dusta lagi sombong. Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mere-ka dan bersabarlah.

Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terba-gi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya gilirannya).

Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.” (QS. Al Qamar, 54: 23-29) ! Kenyataan bahwa mereka tidak dilaknat pada saat itu juga, semakin meningkatkan keangkaramurkaan kaum ini. Mereka menyerang Shalih, mengkritik, dan menuduhnya sebagai pendusta : “Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: ”Wahai Sha-lih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).” (QS.

Al A'raaf, 7: 77) ! Allah melemahkan rencana dan tipu daya mereka, dan menyelamat-kan Shalih dari tangan-tangan yang ingin mencelakakannya. Setelah ke-jadian ini, karena Shalih merasa telah menyampaikan seruan kepada kaumnya dengan berbagai cara, dan tetap tak ada seorang pun yang mengindahkan nasihatnya, Shalih berkata kepada kaumnya bahwa mereka akan dihancurkan dalam waktu tiga hari: “Mereka membunuh unta itu, maka berkatalah Shalih: ”Bersukaria kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS.

Huud, 11: 65) ! Begitulah, tiga hari kemudian ancaman Shalih menjadi kenyataan dan kaum Tsamud dihancurkan. “Dan satu suara yang keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu.

Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka.

kaum nabi shaleh disebut kaum

Ingatlah, kebinasaan bagi kaum Tsamud.” (QS. Huud, 11: 67-68) ! Temuan Arkeologis dari Kaum Tsamud Dari berbagai kaum yang disebutkan dalam Al Quran, Tsamud ada-lah kaum yang saat ini telah banyak diketahui keberadaannya. Sumber-sumber sejarah mengungkapkan bahwa sekelompok orang yang disebut dengan kaum Tsamud benar-benar pernah ada.

Penduduk Al Hijr yang disebutkan dalam Al Quran diperkirakan adalah orang-orang yang sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab Al Hijr. Jadi kata “Tsamud” merupakan nama kaum, sementara kota Al Hijr adalah salah satu dari beberapa kota yang dibangun oleh kaum tersebut.

Ahli geografi Yunani, Pliny sepakat dengan ini. Pliny menulis bahwa Domatha dan Hegra adalah lokasi tempat kaum Tsamud berada, dan kota Al Hegra inilah yang menjadi kota Al Hijr saat ini.29 Sumber tertua yang diketahui berkaitan dengan kaum Tsamud adalah tarikh kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang mengalahkan kaum ini dalam sebuah pertempuran di Arabia Selatan.

Bangsa Yunani juga menyebut kaum ini sebagai “Tamudaei”, yakni, “Tsamud”, dalam tulisan Aristoteles, Ptolemeus, dan Pliny.30 Sebelum zaman Nabi Muhammad SAW, sekitar tahun 400-600 Mmereka benar-benar punah. Dalam Al Quran, kaum ‘Ad dan Tsamud selalu disebutkan bersama-an. Lebih jauh lagi, ayat-ayat tersebut menasihati kaum Tsamud untuk mengambil pelajaran dari penghancuran kaum ‘Ad.

Ini menunjukkan bahwa kaum Tsamud memiliki informasi detail tentang kaum ‘Ad. “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata; ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih.

Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu peng-ganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberi-kan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan jangan-lah kamu merajalela di muka bu-mi membuat kerusakan.” (QS. Al A’raaf, 7: 73-74) ! Sebagaimana dapat dipahami dari ayat ini, terdapat hubungan antara kaum ‘Ad dan kaum Tsamud, bahkan mungkin kaum ‘Ad pernah menjadi bagian dari sejarah dan budaya kaum Tsamud.

Nabi Shalih memerintahkan untuk mengingat kejadian kaum ‘Ad dan mengambil peringatan dari me-reka. Kaum ‘Ad ditunjukkan kepada contoh dari kaum Nabi Nuh yang per-nah hidup sebelum mereka. Sebagaimana kaum ‘Ad mempunyai kaitan penting untuk sejarah kaum Tsamud, kaum Nabi Nuh juga mempunyai kaitan penting untuk sejarah kaum 'Ad.

Kaum-kaum ini saling mengenal dan kemungkinan berasal dari garis keturunan yang sama. Dari sini dapat disusun urutan kejadian yang diceritakan dalam Al Quran. Kaum nabi shaleh disebut kaum kita perkirakan kaum Tsamud muncul paling dulu di abad 8 SM, maka dapat ditarik sebuah kronologi.

Yang terlebih dahulu dihan-curkan setelah kaum Nuh adalah kaum Luth, kemudian dalam masa Nabi Musa terjadi penenggelaman Fir'aun (kemungkinan besar Ramses II) dan tentaranya di Laut Merah. Berikutnya adalah dikirimkannya angin badai yang menghancurkan kaum ‘Ad dan terakhir adalah penghancuran ka-um Tsamud.

Hukuman terhadap kaum Nabi Nuh adalah yang pertama terjadi. Bila urut-urutan ini dapat dipertimbangkan, maka tabelnya adalah sebagai berikut : Tentu saja urut-urutan ini tidak bisa dikatakan sangat tepat, namun hal ini menghasilkan sebuah urutan, baik menurut penggambaran dalam Al Quran dan data-data sejarah. Kita telah menyebutkan bahwa Al Quran menceritakan tentang ada-nya hubungan antara kaum ‘Ad dan Tsamud. Kaum Tsamud diingatkan untuk mengingat kejadian kaum ‘Ad serta mengambil pelajaran dari penghancuran mereka.

Meskipun secara geografis kaum ‘Ad dan Tsa-mud sangat berjauhan dan sepertinya tidak berhubungan, namun dalam ayat yang ditujukan kepada kaum Tsamud dikatakan untuk mengingat kaum ‘Ad.

Jawabannya muncul setelah penyelidikan singkat dari berbagai sum-ber, bahwa memang terdapat hubungan yang sangat kuat antara kaum Tsamud dan kaum ‘Ad. Kaum Tsamud mengenal kaum ‘Ad karena ke-dua kaum nabi shaleh disebut kaum ini sepertinya berasal dari asal usul yang sama.

Britannica Micropaedia menuliskan tentang orang-orang ini dalam sebuah tulisan berjudul “Tsamud”: Di Arabia Kuno, suku atau kelompok suku tampaknya telah memiliki keung-gulan sejak sekitar abad 4 SM sampai pertengahan awal abad 7 M. Meskipun kaum Tsamud mungkin berasal dari Arabia Selatan, sekelompok besar tam-paknya pindah ke utara pada masa-masa awal, secara tradisional berdiam di lereng gunung (jabal) Athlab. Penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan sejumlah besar tulisan dan gambar-gambar batu tentang kaum Tsamud, tidak hanya di Jabal Athlab, tetapi juga di seluruh Arabia Tengah.31 Tulisan yang secara grafis mirip dengan abjad Smaitis (yang disebut Tsamudis) telah diketemukan mulai dari Arabia Kaum nabi shaleh disebut kaum hingga ke Hijaz.32 Tulisan itu, yang pertama ditemukan di daerah Utara Yaman Tengah yang dikenal sebagai Tsamud, dibawa ke Utara dekat Rub’al Khali, ke selatan dekat Hadhramaut serta ke Barat dekat Shabwah.

Sebelumnya kita telah memahami bahwa kaum ‘Ad adalah seke-lompok orang yang hidup di Arabia Selatan. Ada kenyataan penting bah-wa banyak peninggalan kaum Tsamud ditemukan di daerah tempat ka-um ‘Ad pernah hidup, khususnya sekitar bangsa Hadhram, anak cucu ‘Ad, mendirikan ibu kotanya.

Keadaan ini menjelaskan hubungan kaum ‘Ad dan Tsamud yang disebutkan dalam Al Quran. Hubungan tersebut diterangkan dalam perkataan Nabi Shalih ketika mengatakan bahwa kaum Tsamud datang untuk menggantikan kaum ‘Ad : “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Kaum nabi shaleh disebut kaum saudara mereka Shalih. Ia berkata; ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi.” (QS.

Al A’raaf, 7: 73-74) ! Singkatnya, kaum Tsamud telah mendapat ganjaran atas pembang-kangan terhadap nabi mereka, dan dihancurkan. Bangunan-bangunan yang telah mereka bangun dan karya seni yang telah mereka buat tidak dapat melindungi mereka dari azab. Kaum Tsamud dihancurkan dengan azab yang mengerikan seperti halnya umat-umat lainnya yang meng-ingkari kebenaran, yang terdahulu maupun yang terkemudian. Dari Al Quran diketahui bahwa kaum Tsamud adalah anak cucu dari kaum ‘Ad. Bersesuaian dengan ini, temuan-temuan arkeologis memperlihatkan bahwa akar dari kaum Tsamud yang hidup di utara Semenanjung Arabia, berasal dari selatan Arabia di mana kaum ‘Ad pernah hidup.

Dua ribu tahun silam, kaum Tsamud telah mendirikan sebuah kerajaan bersama bangsa Arab yang lain, yaitu kaum Nabatea. Saat ini di Lembah Rum yang juga disebut dengan Lembah Petra di Yordania, dapat dilihat berbagai contoh terbaik karya pahat batu kaum ini. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, keunggulan kaum Tsamud adalah dalam pertukangan. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi.

Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.

(QS. Al A'raaf, 7: 74) • ▼ 2010 (18) • ▼ Maret (18) • Politik Masa Khulafaurrasyidin • Sejarah Khawarij • Kerajaan Ottoman • Peradaban Dunia Sebelum Tumbuhnya Peradaban Islam • Nabi Sulaiman dan Ratu Saba' • kehidupan nabi ibrahim • Kaum Tsamud(kaum nabi shaleh) • Kaum Saba' dan Banjir Arim • Kaum Nabi Luth • Kaum ’Ad dan Ubar, “Atlantis di Padang Pasir” • Fir'aun Kaum nabi shaleh disebut kaum Ditenggelamkan • Biografi Luqman AL Hakim • Banjir Nabi Nuh • Kisah Ashabul Kahfi(penghyni goa) • Andalusia(Spanyol) Pada Masa bani Umayyah • ilmuwan pada masa Al Muwahhidun • 10 Cara Meningkatkan Kemampuan Jaringan Wireless • Trik Ampuh Meningkatkan Performa Laptop
Menu • HOME kaum nabi shaleh disebut kaum RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Kaum nabi shaleh disebut kaum Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Petra atau Batra ibu kota Bangsa Nabatea atau Nabataean atau Anbath.

Bangsa ini menguasai wilayah luas yakni selatan Suriah, Yordania, sampai Aqaba. Nabatea berjaya pada abad ke-4 Sebelum Masehi (SM) sampai abad ke-1 Masehi. Petra menjadi perlintasan dagang antara Suriah di timur, Laut Tengah dan Eropa di utara, Mesir di barat, dan Arab Saudi di selatan. Di Petra banyak bangunan monumental yang dibuat dengan cara memotong dan memahat dinding batu atau tebing gunung.

Sebagai kota dengan banyak pedagang antar-bangsa, maka bangunannya pun percampuran gaya Suriah, Mesir, Yunani, Romawi, dan lainnya. Kemampuan dan keterampilan mengukir batuan sandstone menghasilkan istana megah, altar, rumah, makam, gedung teater, tempat religi, termasuk sistem pengairan. Kemampuan memahat dinding batu menjadi bangunan disebutkan dalam Alquran berkenaan Nabi Saleh alaihissalam dan Kaum Tsamud. Apakah mereka tinggal di Petra?

Peradaban Petra runtuh pada abad ke-1 M dan hanya tinggal puing bangunannya saja. Pada tahun 1812, J.L. Burckhardt, datang ke Petra dan melaporkan kepada masyarakat Eropa. Petra pun kembali ke pentas dunia. Apakah Petra merupakan sisa peninggalan Kaum Tsamud? Dalam Alquran Surah Al-A’raf (7): 73-79 dinyatakan Nabi Saleh alaihissalam diutus kepada Kaum Tsamud agar kaum tersebut menyembah Allah subahanawata'ala. Kaum ini mendirikan istana-istana dan memahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah.

Namun, kaum ini membuat kerusakan di muka bumi dan tidak percaya kepada Allah subahanawata'ala. Kaum Tsamud ditimpa gempa dan menjadi mayat-mayat bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Lokasi tempat tinggal Kaum Tsamud dapat diketahui dari hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika Perang Tabuk tahun 630 M. Berkenaan perang ini, antara lain turun ayat Alquran Surah At-Taubah (9): 117-118. Tabuk saat ini provinsi di utara Arab Saudi dan di utara Arab Saudi terdapat Yordania.

Tabuk berbatasan dengan Provinsi Madinah di selatan. Dalam Perang Tabuk, Rasulullah melintasi Al-Hijr sekitar 400 kilometer dari Madinah dan 500 kilometer dari Petra. Hijr atau Al-Hijr atau Hegra oleh Pemerintah Arab Saudi didaftarkan sebagai World Heritage dengan nama Al-Hijr Archaeological Site (Mada’in Salih). Dikutip dari buku Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia mengatakan ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam singgah bersama mereka di Hijr dekat bekas permukiman Kaum Tsamud, maka orang-orang mencari air dari sumur-sumur yang dahulu Kaum Tsamud meminumnya.

Hijr atau Al-Hijr atau Hegra oleh Pemerintah Arab Saudi didaftarkan sebagai World Heritage dengan nama Al-Hijr Archaeological Site (Mada’in Salih). Mada’in Salih merupakan bahasa Arab yang kaum nabi shaleh disebut kaum Kota Salih. Al-Hijr diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO pada 2008. Al-Hijr sarat berbagai peninggalan arkeologi yang dibuat dengan cara memahat dinding batu. Peninggalan yang dapat disaksikan saat ini mirip yang terdapat di Petra.

Selain itu, di daerah Al-Hijr yang kering ini ditemukan kota tempat tinggal yang dilengkapi dengan sumur sebagai sumber air dan oasis untuk kegiatan bercocok tanam. Dengan mengacu pada hadits, maka Petra bukan tempat tinggal Kaum Tsamud.

Kaum Tsamud tinggal di Al Hijr. Namun, peninggalan arkeologi yang dapat disaksikan saat ini di Al-Hijr sebagian besar merupakan peninggalan Bangsa Nabatea.

Wilayah Bangsa Nabatea mencakup Al-Hijr sebagai kota terbesar kedua setelah Petra. Dalam dokumen penominasian Al-Hijr sebagai Warisan Dunia, disebutkan Al-Hijr merupakan peninggalan peradaban Nabatea dari abad ke-1 SM sampai abad ke-1 M.

Patut diperhatikan, periode Nabi Saleh lebih tua dibandingkan Nabi Ibrahim dan nabi lainnya seperti Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Nabi Yakub, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Nabi Ibrahim hidup pada peradaban Mesopotamia. Peradaban Mesopotamia tertua sekitar abad ke-40 SM atau 4000 SM. Sementara, peradaban Nabatea pada abad ke-1 M kurang lebih merupakan masa hidup Nabi Isa.

Situs atau lokasi Kaum Tsamud telah diketahui, tetapi peninggalannya masih dapat ditelusuri lagi. Dalam arkeologi, situs yang berkali-kali ditempati disebut multicomponent site. Terdapat kemungkinan bagian luar dinding batu telah berkali-kali dipahat selama beberapa kali kaum nabi shaleh disebut kaum, sehingga pahatan yang tampak saat ini merupakan yang termuda usianya.

Peninggalan Kaum Tsamud kiranya dapat ditelusuri di area terbuka dekat dengan sumber air atau sumur dan berada di lapisan tanah di bawahnya yakni yang usianya lebih tua. Kaum Tsamud merupakan pendahulu Bangsa Nabatea dalam konteks kemampuan memahat dinding batu.

Singkatnya, Kaum Tsamud jauh lebih tua dibandingkan Bangsa Nabatea. PENULIS: ALI AKBAR, Doktor arkeologi lulusan Universitas Indonesia
Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia kaum nabi shaleh disebut kaum Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Dalam Alquran, banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang.

Berikut adalah kaum-kaum yang dibinasakan. Kaum Nabi Nuh Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14). Kaum Nabi Hud Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

Kaum Nabi Saleh Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12). Kaum Nabi Luth Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian).

Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu'araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12). Kaum Nabi Syuaib Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan.

Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas.

Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44). Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah.

Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu'araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14). Firaun Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan.

Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92). Ashab Al-Sabt Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu.

Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A'raaf: 163). Ashab Al-Rass Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh.

Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (Qs Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).

Ashab Al-Ukhdudd Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Alburuuj: 4-9). Ashab Al-Qaryah Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka.

Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13). Kaum Tubba' Tubaa' adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju.

Salah satunya adalah bendungan air (QS Addukhan: 37). Kaum Saba Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma'rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).

Kisah Nabi Luth dan Kaum Sodom-Tarikhul Islamiyah




2022 www.videocon.com