Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Portal Analisa Daily edisi 29/1/2016 mengungkap adanya Buku Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk kelas 5 tingkat Sekolah Dasar (SD) pada halaman 86, yang menuliskan Nabi Muhammad sebagai nabi ke-13, sedangkan Nabi Isa sebagai Nabi terakhir urutan ke-25. Pencantuman pada buku terbitan Grafindo Media Pratama Bandung yang sudah beredar sejak Juli nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut tersebut ternyata memang meresahkan masyarakat di Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara (Sumut).

Penulis buku tersebut adalah Fauzi Abdul Ghofur dan Masyhudi. Sejumlah orang tua yang anaknya bersekolah di tingkat SD resah dan mengecam beredarnya buku tersebut di Paluta. Pengamat pendidikan mendesak pihak berwenang untuk segera menarik buku tersebut.

Menurut Musyuhito Solin, pengamat pendidikan yang juga dosen di Universitas Negeri Medan, persoalan salah penulisan buku tersebut sangat sensitif. Sehingga cepat menimbulkan keresahan di masyarakat. Dia juga meminta agar buku yang beredar di Padang Lawas, Sumatera Utara tersebut segera ditarik, karena pasti ada efek yang buruk. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta) Drs.Umar Pohan,M.Si, sebagian buku Pendidikan Agama Islan (PAI) yang diduga sesat itu sudah ditarik dari peredaran dan diamankan di kantornya.

Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Paluta Imran Sanusi Siregar yang membidangi Sekolah Dasar mengaku kecewa dengan ditemukannya buku PAI SD yang diduga sesat itu. Pasalnya, baru kali ini ditemukan ada kejanggalan pada buku pelajaran Agama Islam siswa SD. “Selama ini pihak sekolah yang hendak membeli buku melalui dana BOS selalu berkoordinasi dengan kita. Bukan dalam hal pemesanan atau pembelian. Namun tujuan koordinasi itu untuk mengoreksi atau menganalisa kembali isi buku yang dipesan itu,” jelasnya.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Tjipto Sumardi mengatakan buku yang bermasalah itu bukan buku resmi keluaran Kemendikbud. Menurutnya untuk proses pembelajaran sudah cukup menggunakan buku dari Kemendikbud yang sudah ditelaah banyak pihak. Tetapi di lapangan pada praktiknya masih ada sekolah yang mengadakan buku-buku pengayaan dari penerbit swasta.

Kemendikbud tidak bisa membatasi atau mengharuskan sekolah hanya menggunakan buku keluaran Kemendikbud saja. Terkait dengan kesalahan konten tersebut, Tjipto belum bisa memastikan motifnya. ’’Perlu dicermati itu kesalahan cetak ( layout, red) atau kesalahan yang disengaja,’’ jelas dia. Sebab urutan nama-nama Nabi dari nomor 1 sampai 12 dan nomor 14 sampai 24 sudah benar. Tjipto berharap kesalahan ini hanya sebuah kelalaian, bukan kesalahan yang disengaja.

Terkait dengan urusan perbukuan, khususnya buku pelajaran, Kemendikbud akan menerbitkan regulasi baru. Mendikbud Anies Baswedan mengatakan aturan baru itu adalah, setiap buku wajib mencantumkan identitas lengkap penulisnya. Mulai dari nomor HP, alamat rumah, sampai nama resmi atau asli. “Bukan nama pena atau nama populer,” kata Anies. Dengan cara itu, masyarakat bisa langsung menyampaikan kontrolnya kepada penulis jika menemukan kesalahan-kesalahan.

Iman Kepada Rasul Terlepas dari sebuah kelalaian atau kesalahan cetak, jika memang benar terjadi, ada hal-hal yang perlu dikritisi dari buku PAI secara umum. Apalagi iman kepada kepada Nabi dan Rasul termasuk hal pokok (ushul) iman. Oleh karena itu, umat Muslim, lebih-lebih generasi pelajar Muslim, harus ditanamkan pengetahuan yang benar bagaimana beriman kepada Nabi dan Rasul.

Beriman kepada Nabi dan Rasul, mencakup pengertian mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul, mengimani nama-nama Nabi dan Rasul, membenarkan berita-berita yang shahih dari para Nabi dan Rasul, dan mengamalkan syari’at Nabi di mana Nabi diutus. Serta yang pokok lagi adalah mengimani bahwa penutup para nabi adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diutus Allah untuk seluruh umat manusia, bahkan untuk semesta alam.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

Allah menyebut di dalam firman-Nya: وَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً۬ لِّلۡعَـٰلَمِينَ Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi semesta alam”.

(QS Al-Anbiya [21]: 107). قُلۡ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡڪُمۡ جَمِيعًا ٱلَّذِى لَهُ ۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡىِۦ وَيُمِيتُ‌ۖ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلۡأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَڪَلِمَـٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّڪُمۡ تَهۡتَدُونَ Artinya: Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya [kitab-kitab-Nya] dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.

(QS Al-A’raf [7]: 158). Muhammad Nabi Terakhir Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Nabi dan Rasul terakhir penutup para Nabi dan Rasul utusan Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut. Urutannya bukan hanya yang terakhir, atau yang ke-25 dari Nabi dn Rasul yang wajib diketahui umat Islam.

Namun juga ajarannya menyempurnakan seluruh syariat yang pernah Allah turunkan kepada Nabi dan Rasul sebelumnya. Jumlah keseluruhan Nabi sebenarnya lebih dari 25 orang. Seperti disebutkan di hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari, ia bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, berapa jumlah Rasul?”, Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam menjawab, “Tiga ratus belasan orang.” (HR Ahmad dishahihkan Syaikh Albani).

Dalam riwayat Abu Umamah, Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa tepatnya para Nabi?”, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “124.000 dan Rasul itu 315 orang.” Namun terdapat pendapat lain dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa jumlah Nabi dan Rasul tidak dapat kita ketahui. Wallahu’alam. Oleh karena itulah, walaupun dalam Al-Qur’an hanya disebut 25 nabi, maka kita tetap mengimani secara global adanya Nabi dan Rasul yang tidak dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya: وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلاً۬ مِّن قَبۡلِكَ مِنۡهُم مَّن قَصَصۡنَا عَلَيۡكَ وَمِنۡهُم مَّن لَّمۡ نَقۡصُصۡ عَلَيۡكَۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأۡتِىَ بِـَٔايَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ فَإِذَا جَآءَ أَمۡرُ ٱللَّهِ قُضِىَ بِٱلۡحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada [pula] yang tidak Kami ceritakan kepadamu.

Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu’jizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan [semua perkara] dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang bathil. (QS Al-Mu’min [40]: 78). Kita pun mengimani semua Nabi dan Rasul utusan Allah tersebut seperti Allah sebut di dalam ayat: ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ‌ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓٮِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٍ۬ مِّن رُّسُلِهِۦ‌ۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَا‌ۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ Artinya: “Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.

Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. [Mereka mengatakan]: “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun [dengan yang lain] dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta’at”.

[Mereka berdo’a]: “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (QS Al-Baqarah [2]: 285). Adapun penyebutan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut dan Rasul terakhir utusan Allah, dan tidak ada lagi Nabi sesudahnya, atau urutan ke-25 dari Nabi dan rasul yang wajib kita ketahui, Allah nyatakan di dalam ayat: مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ۬ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَـٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمً۬ا Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.

Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS Al-Ahzab [33]: 40). Jadi, tidak ada lagi Nabi dan Rasul sesudah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi, urutan ke-25 itu bukan Nabi Isa ‘Alaihis Salam. Hal ini dapat mengesankan bahwa Isa ‘Alaihis Salam adalah Nabi dan rasul terakhir. Dalam hal hal ini Allah menegaskan di dalam ayat: وَإِذۡ قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ يَـٰبَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم مُّصَدِّقً۬ا لِّمَا بَيۡنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَٮٰةِ وَمُبَشِّرَۢا بِرَسُولٍ۬ يَأۡتِى مِنۢ بَعۡدِى ٱسۡمُهُ ۥۤ أَحۡمَدُ‌ۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡبَيِّنَـٰتِ قَالُواْ هَـٰذَا سِحۡرٌ۬ مُّبِينٌ۬ Artinya: “Dan [ingatlah] ketika ’Isa Putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab [yang turun] sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan [datangnya] seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad [Muhammad]” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.

(QS Ash-Shaff [61]: 6). Dan semua syariat pokok yang dibawa oleh Para Nabi dan Rasu utusan Allah adalah sama, yakni Tauhidullah, mengesakan Allah, Tuhan Yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

Mereka semua adalah sebagai Muslim, hamba yang menyerahkan dirinya kepada Allah. Mereka semua mengajarkan untuk menegakkan dinul Islam dengan berjamaah, bersatu padu, terpimpin, dengan tidak bercerai-berai. Maka, sangat mustahil jika Allah yang Esa (Ahad), mengajarkan agama menyembah sesama manusia makhluk-Nya, atau menyembah tiga Tuhan.

Allah berfirman di dalam ayat: شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ‌ۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِىٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَہۡدِىٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ Artinya: “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.

Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada [agama]-Nya orang yang kembali [kepada-Nya]”. (QS Asy-Syura [42]: 13). Termasuk Nabi Isa ‘ Alaihis Salam beserta para pengikutnya pun menyembah Allah, sebagai Muslim. Seperti firman-Nya: فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡہُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ Artinya: “Maka tatkala ’Isa mengetahui keingkaran mereka [Bani Israil] berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk [menegakkan agama] Allah?” Para hawariyyin [sahabat-sahabat setia] menjawab: “Kamilah penolong-penolong [agama] Allah.

Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (QS Ali Imran [3]: 52). Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua. Aamiin ya robal ‘aalamiin. (P4/P001) Mi’raj Islamic News Agency (MINA) ===== Ingin mendapatkan update berita pilihan dan info khusus terkait dengan Palestina dan Dunia Islam setiap hari dari Minanews.net. Yuks bergabung di Grup Telegram " Official Broadcast MINA", caranya klik link https://t.me/kbminaofficial, kemudian join.

Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Jakarta - Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang diutus Allah SWT dengan membawa kabar gembira sekaligus peringatan bagi seluruh umat. Rasulullah SAW kemudian mendapat julukan Khataman Nabiyyin.

Mempercayai keberadaan nabi dan rasul termasuk rukun iman yang keempat. Allah SWT mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Dari sekian banyak nabi dan rasul, 25 di antaranya wajib diimani. مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۦنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا Artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.

Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al Ahzab: 40). Sebagaimana firman tersebut, Nabi Muhammad SAW mendapat gelar Khātam an-Nabiyyīn (خاتم النبيين) atau penutup para nabi dan rasul.

Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, tidak akan ada lagi nabi setelah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda: "Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku." (HR. Abu Dawud). Nabi Muhammad SAW memiliki nasab dan keturunan yang mulia.

Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah oleh Imam Nawawi, ayah Nabi Muhammad SAW adalah Abdullah bin Abdul Muththalib. Ayahnya memiliki saudara laki-laki Al-Abbas, Hanzah, Abu Thalib yang nama aslinya adalah Abu Manaf, Az-Zubair, Al-Harts, Hajl, Al-Muqawwim, Dhirar, dan Abu Lahab dengan nama asli Abdul Uzza. Abdullah juga memiliki saudara perempuan bernama Shafiyyah, Ummu Hakim Al-Baidha', Atikah, Umaimah, Arwa, nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut Barrah.

Abdullah lahir dari istri Abdul Muththalib yang bernama Fathimah binti Amr. Kakek Nabi Muhammad SAW adalah Abdul Muththalib bin Hasyim. Sementara itu, ibunda Nabi Muhammad SAW merupakan wanita yang paling baik nasab dan keturunannya di kalangan Quraisy. Wanita mulia tersebut bernama Aminah Binti Wahb. Ia adalah putri dari Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddaar bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.

Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Mekah pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Ia lahir dalam keadaan yatim. Ayah Rasulullah SAW meninggal saat ia masih dalam kandungan. Sejak lahir, ada banyak tanda-tanda kenabian yang muncul pada diri Rasulullah SAW. Seiring berjalannya waktu, Rasulullah SAW tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbakti kepada ibu, paman, kakek dan orang-orang yang dekat dengan beliau.

Menginjak dewasa, Rasulullah SAW menikah dengan saudagar kaya bernama Siti Khadijah. Bahkan, usia keduanya terpaut 15 tahun. Rasulullah SAW saat itu tengah berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu saat usia 40 tahun. Allah SWT menurunkan kitab suci Al Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW.

Al Quran menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di dalamnya mengandung seluruh aspek hukum bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, Al Quran merupakan sumber hukum Islam yang utama. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 105 sebagai berikut: إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًا Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat," (QS.

An-Nisa:105).
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh… Pada kesempatan penulisan artikel ini, mari kita men-sifati Rasulullah SAW yang menjadi seorang Nabi juga Rasul terakhir / penutup para nabi ¹) Nabi ( bahasa Arab: ﻲﺒﻧ) ; Kata “nabi” berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ semestinya punya penglihatan ke tempat yang jauh (prediksi masa depan) yang disebut nubuwwah.

Jumlah nabi menurut suatu hadits berjumlah 124 Ribu orang. ²’¹) Dan Rasul adalah laki-laki yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada kaumnya pada zamannya. ²’²) Bagaimana kita mengetahuinya bahwa Nabi benar-benar Nabi terakhir ?? Itu sudah termaktub dalam Al-Quran Al Karim dalam surah Al-Ahzab ayat 40 ; “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.

Al Ahzab: 40) Kata “khatamun nabiyyin” di ayat itu menjelaskan bahwa nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang diutus Allah swt. Karana kata “khatm” itu berarti akhir dan yang mengakhiri.

Jadi tidak ada nabi lain setelah Rasulullah saw yang membawa ajaran baru.” “Semua ahli tafsir mengakui bahwa arti “khatam” di ayat itu adalah “pengakhir” atau “yang terakhir”. Karena menurut ahli bahasa, kata khatam tidak pernah diungkapkan untuk mensifati manusia. Kata “khatam” yang berarti cincin itu pun pada mulanya berarti “pengakhir”, bukan cincin itu sendiri. Karena cincin sering digunakan sebagai stempel untuk mengakhiri surat, maka cincin disebut “khatam”. Sekarang kita lihat pendapat para ahli bahasa tentang arti “khatam”: Fairuzabadi dalam kitab Qamus Al Lughah berkata: “Khatm berarti mengecap dengan stempel.

Juga berarti mengakhiri sesuatu, atau sesuatu telah sampai pada akhirnya.” Jauhari dalam kitab bahasanya Shihah berkata: “Khatm berarti sampai di akhir.” Ibnu Manzur dalam kitabnya Lisanul Arab berkata: “Katamul Qaum berarti orang terakhir pada suatu kaum.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

Sedang Khatamun Nabiyyin adalah nabi yang terakhir.” Raghib dalam kitabnya Al Mufradat berkata: “Khatamun Nabiyyin yakni Rasulullah saw dengan kedatangannya telah menutup risalah kenabian dan mengakhirinya.” ³) Ath-Thabari rahimahullahu mengatakan tatkala menjelaskan makna ayat ini: “Wahai manusia, Muhammad bukanlah bapak Zaid bin Haritsah.

Bukan pula bapak dari salah seorang di antara kalian, yang tidak dilahirkan oleh Muhammad, sehingga diharamkan atasnya untuk menikahi istri Zaid setelah berpisah dengannya.

Namun beliau adalah Rasul Allah dan penutup para nabi, yang menutup pintu kenabian dan mengakhirinya, sehingga tidak lagi terbuka bagi siapapun setelahnya hingga hari kiamat. Dan Allah Maha Mengetahui segala amalan dan ucapan kalian serta yang lainnya.

Allah Maha berilmu, tidak ada yang tersamarkan atasnya sesuatu apapun.” (Tafsir Ath-Thabari) Al-Allamah As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah bapak salah seorang dari laki-laki di antara kalian, wahai umat. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memutus hubungan nasab Zaid bin Haritsah darinya, karena perkara ini. Tatkala peniadaan tersebut bersifat umum pada seluruh keadaan, maka jika dipahami secara zahir pada lafadznya, bermakna: bukan bapak dalam hal nasab dan bukan pula bapak angkat.

Dan telah ditetapkan pula sebelumnya bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bapak bagi seluruh kaum mukminin, sedangkan istri-istri beliau adalah ibu-ibu bagi mereka. Maka untuk mengeluarkannya dari jenis ini, dengan larangan sebelumnya yang bersifat umum, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Namun Dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi”, yaitu kedudukan beliau adalah kedudukan orang yang ditaati dan diikuti, yang dijadikan sebagai pembimbing, yang diimani, yang wajib mendahulukan kecintaan kepadanya di atas kecintaan terhadap siapapun, yang senantiasa menasihati kaum mukminin.

Karena kebaikan dan nasihatnya, beliau seakan-akan bagaikan seorang bapak bagi mereka. “Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalah-Nya, siapa yang berhak mendapatkan keutamaannya dan siapa yang tidak berhak.” (Tafsir Al-Karim Ar- Rahman) Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang untuk dikatakan (kepada Zaid bi Haritsah) setelah (turun ayat) ini ‘Zaid bin Muhammad’.

Beliau bukan ayahnya walaupun telah mengangkatnya menjadi anak, sebab beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempunyai satu anak laki-laki pun yang mencapai usia baligh. Beliau memiliki anak bernama Qasim, Thayyib, dan Thahir, dari Khadijah, namun mereka meninggal di masa kecil. Beliau juga dikaruniai Ibrahim dari Mariyah Al-Qibthiyyah, yang juga meninggal di masa masih menyusui.

Dari Khadijah, beliau dikaruniai empat anak wanita: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah radhiyallahu ‘anhum. Tiga orang meninggal semasa beliau masih hidup, adapun Fathimah meninggal enam bulan setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.” (Tafsir Ibnu Katsir) Qatadah rahimahullahu berkata tentang ayat ini: “(Ayat ini) turun berkenaan tentang Zaid, bahwa dia bukanlah anak beliau.” Juga diriwayatkan dari ‘Ali bin Husain.

(Tafsir Ath-Thabari) Ibnu Katsir rahimahullahu: “Ayat ini merupakan nash bahwa tidak ada Nabi setelah beliau. Jika tidak ada nabi setelah beliau, maka lebih utama dan lebih patut untuk tidak ada rasul setelahnya.

Sebab kedudukan rasul lebih khusus dari kedudukan nabi, sebab setiap rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya. Tentang hal ini telah datang hadits-hadits yang mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sekelompok sahabat. “ (Tafsir Ibnu Katsir).

Selain Al-Quran banyak hadits yang menjelaskan bahwa Muhammad adalah nabi terakhir dan tidak ada lagi setelahnya : Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada Rasul setelahku dan tidak pula nabi.” (HR. At- Tirmidzi no. 2272, Ahmad, 3/267, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak.

Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At- Tirmidzi) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku lebih diutamakan atas para nabi dengan enam perkara: (1) aku diberi jawami’ul kalim (kalimat ringkas namun mengandung faedah yang banyak), (2) aku ditolong dengan rasa takut musuh (dari jarak perjalanan sebulan), (3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang, (4) dijadikan bumi ini bagiku sebagai alat bersuci dan tempat shalat, (5) aku diutus kepada seluruh makhluk, (6) dan telah ditutup para nabi dengan diutusnya aku.” (HR.

Muslim no. 523) Juga berdasarkan hadits Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (yang menghapus) yang kekafiran dihapuskan melalui (perantaraan) aku, aku adalah Al-Hasyir yang mana manusia dikumpulkan (setelah tegaknya hari kiamat) setelah diutusnya aku, dan aku adalah al-‘aqib (penutup) yang tidak ada nabi setelahnya.” (HR.

Al-Bukhari no. 3339 dan Muslim no. 2354). ⁴) Dengan ini kita sebagai muslim yang meyakini Rasulullah adalah Nabi terakhir tidaklah hanya sekedar beriman tapi juga berlandaskan sesuai dengan Al-Quran Al Karim juga Hadits… Semoga bermanfaat … ============================== Sumber : 1 : QS.

Al-Ahzab ayat 40 2¹: Dari Abi Zar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas(312)” Hadits riwayat At-Turmuzy. 2²: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Nabi_Islam 3 : hauzahmaya.com/ 4 : muwahiid.wordpress.com/ Assalamu ‘alaikum ustadz Saya tidak sengaja melihat halaman di facebook tentang seseorang yang mengaku sebagai rasul beberapa tahun terakhir.

yang menjadi pertanyaan saya: • menurut dia nabi Muhammad adalah penutup para nabi alias nabi terakhir, tapi bukan penutup para rasul, jadi masih ada kemungkinan rasul akan muncul lagi setelah nabi Muhammad saw. karena tidak semua rasul adalah nabi.

dan dia mengaku tidak membawa ajaran baru, hanya meluruskan ajaran Quran. apa benar penutup rasul tidak ada? • menurut dia di dalam Quran salat itu cuma ada tiga, yaitu fajar, wusta, dan isya. dan gerakannya pun cuma tiga, yaitu berdiri, berlutut (bukan rukuk atau membungkuk), dan sujud. dan pengucapan allahu akbar salah, yang benar adalah al kabir karena akbar artinya lebih besar, bukan maha besar.

apa benar demikian? sebenarnya nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut banyak yang ingin saya tanyakan tapi segitu aja dulu takut kebanyakan. Terima kasih ustadz. wassalamu ‘alaikum Waalaikumussalam Wr Wb Saudara Aziz yang dimuliakan Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut swt Semoga Allah swt senantiasa menjaga umat ini dari finah para pendusta yang mengaku dirinya seorang Nabi setelah datangnya penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Penutup Para Nabi dan Rasul Sesungguhnya kenabian dan kerasulan telah ditutup dengan diutusnya Nabi dan Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil-dalil al Qur’an dan Sunnah. مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٤٠﴾ Artinya : “ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.

dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab : 40) Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna firman Allah diatas seperti firman-Nya pula : اللّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ سَيُصِيبُ Artinya : “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

Al An’am : 124) Ayat ini merupakan sebuah nash bahwa tidak ada Nabi setelahnya. Dan jika tidak ada Nabi setelahnya maka tidak ada Rasul (pula) setelahnya menjadi lebih utama karena kedudukan kerasulan lebih khusus nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut kedudukan kenabian, karena sesungguhnya setiap Rasul adalah Nabi bukan sebaliknya.

Dalam hal ini terdapat beberapa hadits yang mutawatir dari sekelompok sahabat, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari At Thufail bin Ubay bin Ka’b dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Perumpamaanku dari para Nabi adalah seperti seorang lelaki yang membangun rumah, dia memperindahnya dan melengkapinya, namun dia meninggalkan satu tempat sebesar batu bata dan dia tidak meletakkannya, maka orang-orang berkeliling mengitari bangunan dengan terkagum kagum sambil mengatakan, ‘seandainya tempat batu bata ini sempurna’, maka saya dari para Nabi itu seperti tempat batu bata itu.”.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Bundar dari Abi Amir al Al Aqadi, dan beliua (Tirmidzi) mengatakan,”Hasan Shahih” (Tafsir al Quran al Azhim juz VI hal 428) Perintah Shalat Lima Waktu di Dalam Al Qur’an Sesungguhnya perintah melaksanakan shalat lima waktu telah disinggung Allah swt didalam al Qur’an, didalam firman-Nya : أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا ﴿٧٨﴾ Artinya : “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh.

Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra : 78) Ibnu Katsir menyebutkan bahwa didalam ayat ini terdapat waktu-waktu shalat yang lima waktu, yaitu didalam firman-Nya : لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ (dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam) yaitu gelapnya, ada juga nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut mengatakan tenggelamnya matahari dan termasuk didalamnya adalah zhuhur, ashar, maghrib dan isya.

Sedangkan firman-Nya : إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا adalah shalat fajar. Gerakan-Gerakan Shalat Diwajibkan bagi setiap muslim untuk menjadikan As Sunnah sebagai referensi keduanya setelah Al Qur’an. Hal itu dikarenakan tidak seluruh permasalahan bisa didapat didalam Al Qur’an, karena itu diperlukan Sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menjelaskan perkara-perkara yang secara global disebutkan didalam al Qur’an maupun menerangkan suatu permasalahan yang tidak disebutkan didalamnya.

Termasuk dalam hal ini adalah perintah Allah swt untuk berdirilah (menegakkan) shalat dan didalam ayat lain Allah swt menyinggungnya dengan firman-Nya : ruku’ dan sujud.

Namun demikian dibutuhkan bimbingan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hal ini sebagai tuntunan dan penjelasan tentang gerakan-gerakan shalat yang sebenarnya, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Malik Al Asy’ari mengumpulkan kaumnya lalu berkata: Hai sekalian kaum Asy’ari! Berkumpullah, kumpulkan istri-istri dan anak-anak kalian, aku akan mengajarkan kepada kalian shalatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau lakukan di Madinah.

Mereka pun berkumpul, mengumpulkan istri-istri dan anak-anak mereka, Abu Malik Al Asy’ari berwudhu dan memperlihatkan kepada mereka bagaimana caranya berwudhu, ia menyempurnakan wudhu hingga ke tempat-tempatnya hingga usai, ia pun berdiri lalu mengumandangkan adzan, kaum lelaki pun berbaris dalam shaf yang dekat, anak-anak berbaris dibelakang mereka dan kaum wanita berbaris dibelakang anak-anak.

Shalat pun diiqamati. Ia maju kemudian mengangkat kedua tangan seraya bertakbir, ia membaca faatihatul kitaab dan surat yang dibaca pelan, selanjutnya ia bertakbir ruku’ dan membaca: Subhaanallaah wa bihamdihi sebanyak tiga kali, setelah itu mengucapkan: Sami’allaahu liman hamidah dan berdiri lurus, setelah itu ia bertakbir dan turun sujud, selanjutnya bertakbir dan mengangkat kepala, setelah itu bertakbir lalu sujud, lalu bertakbir dan berdiri, ia bertakbir sebanyak enam kali dalam rakaat pertama, ia bertakbir saat berdiri untuk rakaat kedua.

Seusai shalat ia menghadap ke kaumnya lalu berkata: Hafalkan takbirku, pelajarilah ruku’ku dan sujudku karena itulah shalat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang beliau kerjakan untuk kami seperti itu saat di siang hari. Abu Daud juga meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu, lalu ruku’lah hingga kamu benar-benar (tenang) dalam posisi ruku’, setelah itu bangkitlah sampai berdiri lurus kembali, kemudian sujudlah hingga benar-benar dalam posisi sujud, lalu duduklah hingga benar-benar dalam posisi duduk, lalu sujud kembali hingga benar-benar sujud, kemudian lakukanlah hal itu di setiap shalatmu.” Makna Kalimat “Allahu Akbar” Pada hadits-hadits diatas disebutkan bahwa disyariatkan bertakbir untuk berpindah dari satu gerakan kepada gerakan lainnya didalam shalat kecuali ketika seorang berdiri dari ruku dengan mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah.

Adapun kalimat takbir yang dimaksud juga dijelaskan pada hadits yang sama, yang diriwayatkan Abu Daud dari Abu Hurairah—diatas– selanjutnya dia melanjutkan seperti hadits di atas, lalu dia berkata; “Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sehingga dia berwudlu’ yaitu membasuh anggota wudlu’nya (dengan sempurna) kemudian bertakbir, memuji Allah Jalla wa ‘Azza, menyanjung-Nya dan membaca AL Qur’an yang mudah baginya.

Setelah itu mengucapkan Allahu Akbar, kemudian ruku’ sampai tenang semua persendiannya, lalu mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah” sampai berdiri lurus, kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu sujud sehingga semua persendiannya tenang.

Setelah itu mengangkat kepalanya sambil bertakbir. Apabila dia telah mengerjakan seperti demikian, maka shalatnya menjadi sempurna.” Dengan demikian ucapan takbir—sebagaimana disebutkan didalam hadits itu adalah—Allahu Akbar artinya Allah Maha Besar bukan Allah Kabir yang berarti Allah Yang Besar.

Karena Makna dari Akbar sebagaimana makna kata-kata yang mengambil pola ini, seperti : Asghor (Paling Kecil), Awsa’ (Paling Luas), Adhyaq (Paling Sempit) dan lainnya berarti tidak ada lagi sesuatu yang melebihinya. Adapun jika yang dimaksud dengan lebih besar dari adalah jika kata-kata diatas diikuti dengan huruf min sebagai perbandingan terhadap sesuatu lainnya, seperti disebutkan didalam firman-Nya : وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ Artinya : “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS.

Al Baqarah : 217) Atau firman-Nya : وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا Artinya : “Dan dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. (QS. Al Baqarah : 219) Wallahu A’lam Ustadz Sigit Pranowo
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi yang paling utama di antara seluruh para nabi. Dalam kitab al-Jawahir al-Kalamiyah, Syekh Al-Jazairy mengungkapkan keistimewaan Rasulullah sebagai berikut: امتاز نبينا عليه الصلاة والسلام عن سائر الأنبياء بثلاث صفات: الأولى أنه أفضل الأنبياء.

الثانية أنه أرسل إلى الناس كافة.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

الثالثة أنه خاتم الانبياء فلا يأتي بعده نبي. "Nabi kita Muhammad melebihi sekalian para Nabi dengan tiga macam sifat: (1) Sesungguhnya beliau adalah Nabi yang paling utama. (2) Sesungguhnya beliau diutus kepada seluruh umat manusia. (3) Sesungguhnya beliau adalah penutup para Nabi, sehingga tidak akan ada Nabi lagi yang datang (diutus) sesudah beliau." Dengan demikian, karena Rasulullah Muhammad adalah nabi terakhir yang diutus maka otomatis wahyu kenabian itu sudah terputus semenjak Nabi Muhammad wafat.

Karena sebagaimana dimaklumi bahwa yang mendapatkan wahyu itu adalah para nabi. Tegasnya, mengapa wahyu kenabian itu terputus? Karena Nabi Muhammad adalah nabi terakhir ( akhirul anbiya'), dan selepas Nabi Muhammad itu tidak ada lagi Nabi baru yang diangkat. Terkait wahyu kenabian yang sudah terputus, Nabi Muhammad pernah bersabda: عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله :إن الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي، قال: فشق ذلك على الناس فقال: «ولكن المبشرات»، قالوا: يا رسول الله وما المبشرات؟ قال: «رؤيا الرجل المسلم وهي جزء من أجزاء النبوة» رواه الإمام أحمد والترمذي والحاكم Rasulullah Muhammad bersabda, "Sesungguhnya kerasulan dan kenabian itu sudah terputus.

Maka tak ada rasul juga tak ada nabi setelahku." Anas ibn Malik (periwayat hadits) berkata: "Hal itu memberatkan manusia." Kemudian Rasulullah bersabda: "Tetapi (masih ada) al-mubasyirat." Para sahabat bertanya, " Ya Rasulallah, apakah maksud al-mubasyirat itu?" Rasulullah menjawab, "Mimpi (yang baik) dari seorang Muslim adalah bagian dari kenabian." (Hadits riwayat Imam Ahmad, Turmudzi, dan al-Hakim). Nah, bagaimana dengan aqidah Ahlussunah wal Jamaah bahwa di akhir zaman sebelum kiamat, Nabi Isa Ibn Maryam akan turun kembali ke dunia?

Apakah berarti bahwa wahyu mutlak terputus bahkan kepada Nabi Isa ibn Maryam? Isa adalah Nabi yang diangkat sebelum Nabi Muhammad. Status kenabiannya itu masih tetap ada dan Nabi Isa ibn Maryam akan turun kembali ke dunia. Karena turunnya beliau kembali adalah tanda akhir zaman ( 'alamun lis-s â ‘ ah). Karena turun kembali maka beliau tetap sebagai nabi, dan sekaligus nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut umatnya Nabi Muhammad.

Jadi, yang menerima wahyu itu adalah para nabi, dan sudah diketahui bahwa nabi yang masih hidup dan turun dari langit, ketika Nabi Muhammad telah wafat adalah Nabi Isa ibn Maryam. Maka, ketika Nabi Isa ibn Maryam turun, wahyu kenabian tetap turun kepada beliau.

Baca juga: Dalil tentang Masih Hidupnya Nabi Isa dan Turunnya di Akhir Zaman Menegaskan bahwa Nabi Isa ibn Maryam benar-benar turun, Rasulullah sendiri dalam beberapa riwayat hadits menerangkan bahwa Nabi Isa Ibn Maryam akan tinggal di bumi selama empat puluh tahun (riwayat lain, 24 tahun) dan akan dishalatkan oleh kaum Muslimin. Nabi Muhammad sebagai Khataman Nabiyyin Dari suatu masa ke masa selalu saja ada orang yang mengaku sebagai nabi atau Rasulullah.

Padahal, umat Islam sudah bulat meyakini bahwa Rasulullah Muhammad adalah nabi yang terakhir diutus Allah untuk umat manusia. Ternyata fenomena bahwa akan ada orang-orang yang mengaku Nabi, sudah dijelaskan Rasulullah.

Dan sesiapa yang mengaku nabi itu disebut dajal atau pembohong. Rasulullah dalam hadits riwayat Imam Bukhari bersabda: ولا تقومُ الساعةُ حتى يُبْعَثَ دجالونَ كذابونَ، قريبًا من ثلاثينَ، كلُّهم يزعُمُ أنه رسولُ اللهِ “Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga dibangkitkan ‘dajjal-dajjal’ pendusta yang jumlahnya mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah.” (HR Bukhari no 3609).

Padahal Rasulullah adalah khataman nabiyyin, yakni nabi yang paling utama dan merupakan nabi yang terakhir diutus. Dalam al-Quran Surah Al-Ahzab, 40: مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ اللَّـهِ وَ خَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.

Dan adalah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dalam hadits riwayat Imam Turmudzi Rasulullah menjelaskan maksud khataman nabiyyin itu dengan وأنا خاتم النبيين لا نبي بعدي» (سنن الترمذي). Aku adalah khataman nabiyyin; tiada nabi lagi selepasku." Rasulullah di dalam hadits yang lain, yaitu riwayat Imam Turmudzi menambah bahwa nama beliau adalah al-Aqib (yang terakhir/pemungkas), yang bermakna tiada lagi Nabi selepas beliau. إن لي أسماء أنا محمد وأنا أحمد وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي وأنا العاقب الذي ليس بعدي نبي Imam Hasan Bashri menafsiri khataman nabiyyin ini dengan: وأخرج عبد بن حميد عن الحسن فى قوله: (وخاتم النبيين)، قال: ختم الله النبيين بمحمد، وكان آخر من بعث “Abdu Ibn Humaid mentakhrij dari al-Hasan terkait firman Allah وخاتم النبيين.

Al-Hasan berkata: Allah telah menutup para nabi dengan Muhammad. Dan beliau (Muhammad) adalah nabi terakhir yang diutus (al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi, ad-Durrul Mantsur, juz 12, halaman 62, dari tafsir Al-Ahzab, ayat 40).

Saat menjelaskan mengapa Nabi Muhammad disebut khataman nabiyyin, Syekh al-Jazairy dalam Al-Jawahir al-Kalamiyah menyatakan: إنما كان نبينا عليه الصلاة والسلام خاتم الأنبياء لأن حكمة إرسال الانبياء دعوة الخلق إلى عبادة الحق وإرشادهم الى طريق السداد فى أمور المعاش والمعاد وإعلامهم بالامور الغائبة عن ابصارهم والاحوال التى لا يصلون إليها بأفكارهم وتقرير الأدلة القاطعة وإزالة الشبه الباطلة. وقد تكلفت شريعته الغراء ببيان جميع هذه الأشياء على وجه لا يتصور أبلغ منه فى الكمال، بحيث توافق جميع الأمم فى جميع الأزمنة والأمكنة والاحوال.

فلا حاجة للخلق الى نبي بعده، لأن الكمال قد بلغ حده. ومن هذا يظهر سر إرساله لجميع الخلق، وكونه أكملهم فى الخلق والخلق. “Sebenarnya nabi kita Muhammad dikatakan sebagai penutup para nabi itu hanya karena sesungguhnya hikmah terutusnya para nabi itu untuk menyeru umat manusia agar beribadah kepada Allah, menunjukkan mereka ke jalan yang lurus dalam urusan kehidupan duniawi dan ukhrawi, memberi tahu kepada mereka tentang hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mereka, dan memberi tahu keadaan yang pemikiran mereka belum sampai, dan menetapkan dalil yang meyakinkan, serta menghilangkan syubhat-syubhat (keserupaan) yang tidak benar.

Sementara itu, semua itu sungguh telah tercakup dalam syariatnya yang cemerlang, dengan penjelasan segala sesuatu dengan bentuk yang tidak ada sesuatupun yang melebihi kesempurnaannya, sehingga sesuai untuk seluruh umat pada setiap masa, tempat, dan keadaan apa pun. Karena itu, umat manusia tidak memerlukan lagi kepada Nabi sesudah Nabi Muhammad, sebab syariatnya telah mencapai batas kesempurnaan.

Dan dari alasan inilah, tampak jelas tentang rahasia terutusnya beliau untuk seluruh umat manusia, dan keberadaan beliau sebagai manusia yang paling utama dalam segi fisik serta akhlaknya.” Khataman Nabiyyin dan Turunnya Isa di Akhir Zaman Aqidah bahwa Rasulullah Muhammad adalah nabi terakhir dengan tanpa menafikan turunnya Isa di akhir zaman, dijelaskan oleh banyak kitab aqidah.

Di antaranya adalah kitab yang banyak dikaji di pesantren, al-Jawahir al-Kalamiyah karya Syekh Thahir bin Shaleh al-Jazairy. س: كيف يقال ان نبينا عليه الصلاة والسلام خاتم الانبياء مع أن عيسى عليه السلام ينزل فى آخر الزمان؟ ج: إن عيسى عليه السلام ينزل فى آخر الزمان ويحكم بشريعة نبينا عليه السلام دون شريعته، لأن شريعته قد نسخت لمضي الوقت الذي كان العمل بها موافقا لمقتضى الحكمة.

فيكون خليفة لنبينا عليه السلام ونائبا عنه فى إجراء شريعته فى هذه الأمة، وذلك مما يؤكد كون نبينا خاتم الانبياء. “Soal: Mengapa dikatakan bahwa sesungguhnya Nabi kita Muhammad adalah penutup para nabi, padahal Isa ibn Maryam akan turun di akhir zaman?

Jawab: Sesungguhnya Isa Ibn Maryam akan turun di akhir zaman, dan akan berhukum dengan syariat Nabi Muhammad, dan bukan dengan dengan syariat beliau sendiri (Isa), karena sesungguhnya syariat beliau (Isa) telah terhapus ditelan oleh waktu, karena telah lampau waktu untuk mengamalkannya, sesuai dengan ketentuan hikmah kebijaksanaan Allah.

Maka beliau (Isa) menjadi Khalifah (pengganti) Nabi kita Muhammad, dan sebagai pengganti dalam meneruskan syariatnya​ bagi umat manusia ini.

Dan yang demikian itu adalah di antara yang memperkuat kedudukan Nabi kita Muhammad sebagai penutup para Nabi.” Senada dan menguatkan, Nahdlatul Ulama dalam Keputusan Muktamar NU Ke-3, di Surabaya pada 12 Rabiuts Tsani 1347 H/28 September 1928 M) dengan pokok bahasan, "Nabi Isa Akan Turun Kembali ke Dunia sebagai Nabi dan Rasul" menyatakan sebagai berikut ini: Pertanyaan: Bagaimana pendapat Muktamar tentang Nabi Isa a.s.

setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai Nabi dan Rasul? Padahal Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam adalah Nabi terakhir.

Dan apakah mazhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu? Jawab: Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa alaihis salam itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dan hal itu, tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad.

Sedangkan mazhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku). Keterangan, dari kitab: 1. Asna al-Mathalib قَالَ تَعَالَى: وَلَكِنْ رَسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ. وَلاَ يُعَارِضُهُ مَا ثَبَتَ مِنْ نُزُوْلِ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمِ أَخِرَ الزَّمَنِ لِأَنَّهُ لاَ يَأْتِي بِطَرِيْقَهٍ نَاسِخَةٍ بَلْ مُقَرِّرَةً لِشَرِيْعَةِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامِلاً بِهَا.

"Allah berfirman (al-Ahzab: 40) “.akan tetapi Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi” firman Allah ini tidak bertentangan dengan (hadis) yang menjelaskan tentang turunnya Isa di akhir zaman, karena ia tidak membawa syariat yang menghapus syariat Nabi Muhammad, bahkan sebaliknya ia memperkuat syariat Nabi Muhammad dan mengamalkannya.

(Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1422 H/2001 M), Cet. Ke-1, Juz VI, h. 252.) 2. Al-Fatawa al-Haditsiyah سُئِلَ نَفَعَ اللهُ بِهِ بِمَا لَفْظُهُ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ عِيْسَى يَحْكُمُ بِشَرِيْعَتِنَا فَمَا كَيْفِيَّةُ حُكْمِهِ بِذَلِكَ بِمَذْهَبِ أَحَدٍ مِنَ الْمُجْتَهِدِيْنَ أَمْ بِاجْتِهَادٍ؟ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ مُنَزَّهٌ عَنْ أَنْ يُقَلِّدَ غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ بَلْ هُوَ أَوْلَى بِاْلاِجْتِهَادِ.

إهـ. "Beliau ditanya (mudah-mudahan Allah memberi manfaat terhadap ilmu beliau), dengan pernyatan bahwa para ulama telah ijmak (sepakat) bahwa Isa akan melaksanakan hukum berdasarkan syariat kita (Islam), maka bagaimanakah cara pelaksanaan hukumnya apakah berdasarkan salah satu mazhab dari mazhab-mazhab yang ada ataukah berdasarkan ijtihad? Jawabnya adalah, bahwa Isa itu bebas dari kewajiban ikut (taklid) kepada imam-imam mujtahid lainnya, bahkan ia lebih utama untuk berijtihad sendiri." (Ibn Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Haditsiyah, [Mesir: Musthafa al-Halabi, 1390 H/1970 M], Cet.

Ke-2, h. 180.) 3. Al-Mizan al-Kubra فَانْظُرْ يَا أَخِيْ إِلَى الْعَيْنِ فِي أَسْفَلِ الشَّجَرَةِ وَإِلَى الْفُرُوْعِ وَاْلأَغْصَانِ وَالثِّمَارِ تَجِدْهَا كُلَّهَا مُتَفَرِّعَةً مِنْ عَيْنِ الشَّرِيْعَةِ إِلَى أَنْ قَالَ: إِلَى أَنْ يَخْرُجَ الْمَهْدِي عَلَيْهِ السَّلاَمِ فَيُبْطِلُ فِيْ عَصْرِهِ التَّقَيُّدَ بِالْعَمَلِ بِقَوْلِ مَنْ قَبْلَهُ مِنَ الْمَذَاهِبِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ أَهْلُ الْكَشْفِ إِلَى أَنْ قَالَ: ثُمَّ إِذَا نَزَلَ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمِ اِنْتَقَلَ الْحُكْمُ إِلَى أَمْرٍ آخَرَ وَهُوَ أَنَّهُ يُوْحَى إِلَى السَّيِّدِ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِشَرِيْعَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى لِسَانِ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ.

إهـ. "Maka perhatikanlah wahai saudaraku apa yang ada di bawah pohon dan cabangnya, rantingnya serta buahnya, maka kamu akan mendapatkan semuanya itu lahir dari inti syariat. sampai keluarnya Imam Mahdi yang akan membatalkan amalan yang berdasarkan pada pendapat mazhab-mazhab yang ada pada masanya seperti telah dijelaskan oleh para ahli kasyaf. Kemudian manakala Isa turun, maka bergantilah hukum itu kepada kedudukan lain di mana Isa mendapat wahyu untuk melaksanakan syariat Muhammad melalui lisan jibril alaihis salam" (Adul Wahhab Al-Sya’rani, al-Mizan al-Kubra, [Mesir: Musthafa al-Halabi, t.th], Cet I, Juz 1, h.

49.) Dikutip dari Ahkamul Fuqaha, Hasil-Hasil Keputusan Muktamar dan Permusyawaratan Lainnya, penerbit LTN PBNU, cetakan 1, Februari 2010, halaman 46). Ustadz Yusuf Suharto, Peneliti Aliran pada Aswaja NU Center PWNU Jatim
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Adalah Penutup Para Nabi merupakan rekaman kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr.

Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Syarah Aqidah Thahawiyah karya Imam Ath-Thahawi rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 15 Rabbi’ul Awwal 1440 H / 23 November 2018 M.

Daftar Isi • Status Program Kajian Kitab Syarah Aqidah Thahawiyah • Kajian Tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Adalah Penutup Para Nabi – Syarah Aqidah Thahawiyah • Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download MP3 Kajian Tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Adalah Penutup Para Nabi – Syarah Aqidah Thahawiyah Status Program Kajian Kitab Syarah Aqidah Thahawiyah Status program Kajian Syarah Aqidah Thahawiyah: AKTIF.

Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Jum'at pagi, pukul 06:00 - 07:30 WIB. Download kajian sebelumnya: Luasnya Ilmu Allah Kajian Tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Adalah Penutup Para Nabi – Syarah Aqidah Thahawiyah Seperti biasa kita mengkaji aqidah ahlussunnah, aqidah golongan yang selamat, aqidah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya, aqidah para Salafush Shalih.

Yang tentunya kita berharap kepada Allah azza wa jalla agar Allah menjadikan amalan kita ini sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah dan sebagai bukti bahwa kita orang-orang yang mencintai Rasulullah.

Sehingga kita mempelajari aqidah beliau, mempelajari ibadahnya, mempelajari akhlaknya, dan mempelajari segala aspek agama ini sesuai dengan tuntunan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pembahasan yang sebelumnya seputar masalah perkataan Imam Abu Jafar Ath-Thahawi rahimahullah bahwa Nabi Muhammad adalah hamba pilihan Allah, Nabi yang istimewa dan Rasul yang diridhai. Ini telah kita Jelaskan tentang kedudukan Nabi sebagai hamba Allah yang merupakan kedudukan yang paling tinggi di sisi Allah dan beliau sebagai Nabi yang istimewa, perbedaan antara Nabi dan Rasul, tanda-tanda yang menjelaskan akan kebenaran Nabi diantaranya mukjizat, syariat yang beliau bawa, kemudian orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditolong oleh Allah, dimenangkan oleh Allah diatas orang-orang kafirin, kemudian bagaimana Allah menghinakan orang-orang yang menentang dakwah beliau.

Mendepatkan Setengah Bagian Harta Dari Ahli Waris Semua hal itu menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah yang benar dalam perkataannya, yang adil dalam syariatnya, semua perintah beliau, agama yang beliau bawa seluruhnya kebaikan dan keadilan. Kemudian setelah itu Al-Imam Abu Jafar Ath-Thahawi rahimahullah masih menjelaskan pembahasan berkaitan dengan Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

Sesungguhnya beliau, yaitu Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan Khatamul Anbiya (penutup para Nabi) dan Imamnya orang-orang yang bertakwa, Sayyidul Mursalin (penghulu semua para Rasul), Habibi Rabbil ‘Alamin (kekasih Rabb alam semesta). Dan semua yang mendakwahkan sebagai Nabi sepeninggal beliau, itu hanya kesesatan dan mengikuti hawa nafsu. Beliau diutus kepada seluruh jin dan manusia dengan membawa kebenaran, petunjuk dan cahaya serta penerangan.

Ini merupakan aqidah yang sangat mendasar didalam aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Bahkan merupakan perkara yang utama didalam beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan bagian keimanan kepada para Rasul. Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Khatamul Anbiya (penutup para Nabi) yang dikutuk oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ اللَّـهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٤٠﴾ 5 Wejangan Yang Rasulullah Ajarkan Untuk Abu Hurairah “ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.

Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab[33]: 40) Tidak diragukan lagi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mengakhiri seluruh kenabian. Dan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melengkapi seluruh kenabian sebelumnya. Dalam sebuah hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan perumpamaan beliau dan perumpamaan para Nabi sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَثَلِي وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ ، كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَتَمَّهَا وَأَكْمَلَهَا إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَتَعَجَّبُونَ مِنْهَا ، وَيَقُولُونَ : لَوْلاَ مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ “ Perumpamaanku dengan para nabi adalah bagaikan perumpamaan seorang yang membangun rumah hingga sempurna kecuali ada satu tempat yang kosong untuk satu batu bata.

Orang-orang memasuki rumah itu dan mengaguminya, namun mereka berkata, ‘Sayang sekali, tinggal tempat batu bata ini (yang kosong).” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: خُتِمَ بِيَ الْبُنْيَانُ وَخُتِمَ بِيَ الرُّسُلُ.

“ Akulah tempat batu bata itu, aku datang untuk mengakhiri seluruh para Rasul.” (Muttafaq alaih) Dengan satu bata tersebut maka sempurna 100% istana yang megah dan indah.

Begitu juga dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Biografi Singkat Imam Abu Dawud إِنَّ لِي أَسْمَاءً : أَنَا مُحَمَّدٌ ، وَأَنَا أَحْمَدُ ، وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ ، وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ “ Aku memiliki banyak nama; aku adalah Muhammad dan Ahmad; aku juga al-Mahi (yang menghapus), Allah menghapus kekufuran dengan mengutusku; aku juga al-Hasyir, manusia dikumpulkan di atas kakiku, dan aku juga al-‘Aqib.” (HR.

Bukhari)” Simak menit ke – 15:01 Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download MP3 Kajian Tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Adalah Penutup Para Nabi – Syarah Aqidah Thahawiyah https://mp3.radiorodja.com/Ustadz%20Muhammad%20Nur%20Ihsan/Syarah%20Aqidah%20At%20Thahawiyah/20181123%20Ustadz%20Muhammad%20Nur%20Ihsan%20-%20Syarah%20Aqidah%20Thahawiyyah%20-%20Nabi%20Muhammad%20adalah%20Penutup%20Para%20Nabi.mp3 Podcast: Play in new window - Download Subscribe: RSS Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui : Telegram: t.me/rodjaofficial Facebook: facebook.com/radiorodja Twitter: twitter.com/radiorodja Instagram: instagram.com/radiorodja Website: www.radiorodja.com Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui : Facebook: facebook.com/rodjatvofficial Twitter: twitter.com/rodjatv Instagram: instagram.com/rodjatv Website: www.rodja.tvMENGENAL NABI NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim.

Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putera Nabi Ibrahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.

Beliau berumur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut 23 tahun sebagai nabi dan rasul. Beliau diangkat sebagai nabi dengan “Iqra” [1], dan diangkat sebagai rasul dengan surah al-Mudatstsir. Tempat asal beliau adalah Makkah. Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.

Dalilnya, firman Allah Ta’ala.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ﴿١﴾قُمْ فَأَنْذِرْ﴿٢﴾وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ﴿٣﴾وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ﴿٤﴾وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ﴿٥﴾وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ﴿٦﴾وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ “ Wahai orang yang berselimut ! Bangunlah, lalu sampaikanlah nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut. Agungkanlah Tuhanmu. Sucikalah pakaianmu. Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu menginginkan balasan yang lebih banyak.

Serta bersabarlah untuk memenuhi perintah Tuhanmu”. [al-Mudatstsir /74: 1-7] Pengertian. • “ Sampaikanlah peringatan”, ialah menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid. • “ Agungkanlah Tuhanmu”, agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata-mata. • “ Sucikanlah pakaianmu”, maksudnya ; Sucikanlah segala amalmu dari perbuatan syirik.

• “ Tinggalkanlah berhala-berhala itu”, artinya : Jauhkan dan bebaskan dirimu darinya serta orang-orang yang memujanya. Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu beliau di mi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu.

Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Hijrah, pengertiannya, ialah : Pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami. Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam.

Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat. Dalil yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta’ala. إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴿٩٧﴾إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا﴿٩٨﴾فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا “ Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri [2], kepada mereka malaikat bertanya :’Dalam keadaan bagaimana kamu ini .?

‘Mereka menjawab : Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini ?. Maka mereka itulah tempat tinggalnya neraka Jahannam dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Akan tetapi orang-orang yang tertindas di antara mereka, seperti kaum lelaki dan wanita serta anak-anak yang mereka itu dalam keadaan tidak mampu menyelamatkan diri dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), maka mudah-mudahan Allah memaafkan mereka.

Dan Allah adalah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun”. [an-Nisaa/4 : 97-99] Dan firman Allah Ta’ala. يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ “ Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman ! Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka hanya kepada-Ku saja supaya kamu beribadah”.

[al-Ankabut/29 : 56] Al-Baghawi [3] rahimahullah, berkata :”Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman”.

Adapun dalil dari Sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ الْتَّوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِ بِهَا “ Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat” [4] Setelah Nabi Muhammad menetap di Madinah, disyariatkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat Islam lainnya.

Beliau-pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari. Baca Juga Kaum Muslimin Mencintai Shahabat Nabi Shallallahu’Alaihi Wa Sallam Inilah agama yang beliau bawa : Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan kepada umatnya supaya di jauhi.

Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah, sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya.

Allah Ta’ala berfirman.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا “Katakanlah. ‘Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua”. [al-Araaf /7: 158] Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya untuk kita, firman Allah Ta’ala. الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “ Pada hari ini [5], telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu ni’mat-Ku serta Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu”.

[al-Maaidah/5 : 3] Adapun dalil yang menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah Ta’ala. إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ﴿٣٠﴾ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ “ Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka-pun akan mati (pula).

Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari kiamat berbantah- bantahan di hadapan Tuhanmu”. [Az-Zumar/39 : 30-31] Manusia sesudah mati, mereka nanti akan dibangkitkan kembali.

Dalilnya firman Allah Ta’ala. مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ “ Berasal dari tanahlah kamu telah Kami jadikan dan kepadanya kamu Kami kembalikan serta darinya kamu akan Kami bangkitkan sekali lagi” [Tha-ha/20 : 55] Dan firman Allah Ta’ala.

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا ﴿١٧﴾ ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا “ Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya (lagi) dan (pada hari Kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya”. [Nuh/71 : 17-18] Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan di hisab dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka, firman Allah Ta’ala. وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى “ Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik (surga)”.[an-Najm/53 : 31] Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia adalah kafir.

Firman Allah Ta’ala. زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan.

Katakan : ‘Tidaklah demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah”. [at-Taghaabun/64 :7] Allah telah mengutus semua rasul sebagai penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala. رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ “ (Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan supaya tiada lagi suatu alasan bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu .” [an-Nisaa/4 : 165] Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam [6], Dan rasul terkahir adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para nabi.

Dalil yang menunjukkan nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihissallam, firman Allah Ta’ala. إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ “ Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya .” [an-Nisaa /4: 163] Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan mereka untuk beribadat kepada Allah semata-mata dan melarang mereka beribadah kepada thagut.

Allah Ta’ala berfirman. وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “ Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan) :’Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thagut itu .”.

[an-Nahl/16 : 36] Baca Juga Keutamaan Ahli Bait dan Siapakah Ahli Bait? Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir terhadap thagut dan hanya beriman kepada-Nya. Ibnu Al-Qayyim [7] rahimahullah Ta’ala, telah menjelaskan pengertian thagut tersebut dengan mengatakan. اَلطَّا غُوْتُ : مَاتَجَا وَزَبِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُوْدٍ، اَوْ مَتْبُوْعٍ، اَوْمُطَاعٍ “ Thagut, ialah setiap yang diperlakukan manusia secara melampui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut atau dipatuhi”.

Dan thagut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima : 1. Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah. 2. Orang yang disembah, sedang dia sendiri rela. 3. Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya. 4. Orang yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib, dan 5. Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman. لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “ Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu.

Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. [al-Baqarah/2 : 256] Ingkar kepada semua thagut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat “Laa Ilaaha Ilallah”. Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

رأسُ هَذَا الأَمرِ الإِسلامُ، وعَمُودُهُ الصلاةُ، وذُرْوَةٌ سَنَامِهِ الجِهَادُ في سَبِيلِ اللهِ “Pokok agama ini adalah Islam [8], dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah”. [9] Hanya Allah-lah Yang Mahatau. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Disalin dari buku Tiga Landasan Utama, Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Dicetak dan Disebarkan oleh Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Da’wah dan Penyuluhan Urusan Penerbitan dan Penyebaran Kerajaan Arab Saudi] _______ Footnote [1] Yakni surah al-‘Alaq : 1-5 [2] Yang dimaksud dengan orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri dalam ayat ini, ialah orang-orang penduduk Makkah yang sudah masuk Islam tetapi mereka tidak mau hijrah bersama Nabi, padahal mereka mampu dan sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir supaya ikut bersama mereka pergi ke perang Badar, akhirnya ada diantara mereka yang terbunuh 3] Abu Muhammad Al-Husein bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’ atau Ibnu Al-Farra’.

Al Baghawi (436-510H – 1044-1117M). Seorang ahli dalam bidang fiqh, hadits dan tafsir. Di antara karyanya : At-Tahdziib (fiqh), Syarh As-Sunnah (hadits), Lubaab At-Ta’wiil fi Ma’aalim At-Tanziil (tafsir).

[4] Hadits Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 4, hal. 99. Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Al-Jihad, bab 2, dan Ad-Darimi dalam Sunan-nya, kitab As-Sam, bab 70. [5] Maksudnya, adalah hari Jum’at ketika wukuf di Arafah, pada waktu Haji Wada. [6] Selain dalil dari Al-Qur’an yang disebutkan Penulis, yang menunjukkan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama, di sana juga ada hadits shahih yang menyatakan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama yang di utus kepada penduduk bumi ini, seperti hadits riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al-Anbiya, bab 3 dan riwayat Muslim dalam Shahih-nya kitab Al-Iman, bab.

84. [7] Abu Abdillah : Muhammad bin Abu Bakar, bin Ayyub, bin Said, Az-Zur’i,Ad-Dimasqi, terkenal dengan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah (691-751H – 1292 – 1350M). Seorang ulama yang giat dan gigih dalam mengajak umat Islam pada zamannya untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti jejak para Salaf Shalih. Mempunyai banyak karya tulsi, antara lain : Madaarij As-Salikin, Zaad Al-Ma’aad, Thariiq Al-Hijratain wa Baab As-Sa’aadatain, At-Tibyaan fi Aqwaam Al-Qur’aan, Miftah Daar As-Sa’aadah.

[8] Silahkan melihat kembali pengertian Islam yang disebutkan oleh Penulis (silakan baca Mengenal Islam).

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

{INSERTKEYS} [9] Hadits Shahih riwayat Ath-Thabarani dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami Ash-Shahih, kitab Al-Imaan, bab 8
Kategori • Akhbar Dauliyah (254) • Akhlak (32) • Al-Qur'an (36) • Aqidah (118) • Dakwah (22) • Fikrul Islami (36) • Fiqih (89) • Fiqih Dakwah (85) • Gerakan Pembaharu (35) • Hadits (67) • Ibadah (9) • Kabar Umat (97) • Kaifa Ihtadaitu (6) • Keakhwatan (5) • Kisah Nabi (10) • Kisah Sahabat (3) • Masyarakat Muslim (8) • Materi Khutbah dan Ceramah (45) • Musthalah Hadits (3) • Rumah Tangga Muslim (5) • Senyum (2) • Sirah (56) • Tarikh (54) • Taujihat (18) • Tazkiyah (34) • Tokoh Islam (11) • Ulumul Qur'an (7) • Wasathiyah (34) Allah Ta’ala berfirman, مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.

Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab, 33: 40) Imam At-Thabari rahimahullah saat menafsirkan ayat ini berkata: “Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian (Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, yaitu anak angkat Nabi) melainkan beliau adalah Nabi terakhir, maka tiada lagi Nabi setelah beliau sampai Hari Kiamat dan adalah ALLAH Ta’ala terhadap segala perbuatan dan perkataan kalian Maha Mengetahui .” [1] Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ayat ini mengandung tiga hukum Fiqh: Pertama, saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab (mantan istri Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu) orang-orang munafik berkata: ‘Dia (Muhammad) menikahi mantan istri anaknya sendiri’, maka ayat ini turun untuk menjawab hal tersebut.

Kedua, bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir, tiada nabi sesudahnya yang membawa syariat baru. Ketiga, syariat beliau menyempurnakan syariat sebelumnya sebagaimana sabdanya: ‘Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia’, atau sabdanya yang lain: ‘Perumpamaanku dengan nabi sebelumku seperti perumpamaan seorang yang membuat bangunan yang amat indah, tinggal sebuah lubang batu bata yang belum dipasang, maka akulah batu bata tersebut dan akulah nabi yang terakhir.” [2] Berkata Sayyid Quthb rahimahullah dalam tafsirnya: “Setelah menjelaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah ayah dari Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, sehingga halal bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab radhiyallahu ‘anha, ayat ini juga menggariskan tentang pemenuhan hukum syariat yang masih tersisa yang harus diketahui dan disampaikan kepada ummat manusia, sebagai realisasi dari penutup risalah langit untuk di bumi ini, tidak boleh ada pengurangan dan tidak boleh ada perubahan, semuanya harus disampaikan.” [3] Lebih lanjut Sayyid Quthb menambahkan saat menafsirkan akhir ayat tersebut—dan adalah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu: “Sungguh Dia-lah yang paling mengetahui apa yang paling baik dan paling tepat bagi para hamba-Nya, maka Dia memfardhukan kepada Nabi-Nya apa yang seharusnya dan memilihkan bagi beliau apa yang terbaik… Dia menetapkan hukum-Nya ini sesuai dengan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu dan ilmu-Nya tentang mana yang terbaik tentang hukum, aturan dan undang-undang serta sesuai dengan kasih-sayang-Nya kepada semua hamba-Nya yang beriman.” Demikianlah telah menjadi ijma’ (konsensus) diantara para ulama bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir.

Tidak ada lagi nabi setelah beliau , kecuali para pembohong yang mengaku-ngaku menjadi nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menginformasikan tentang hal ini dengan sabdanya, وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي “Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh pembohong, semuanya mengaku sebagai nabi, padahal akulah penutup para nabi (khaatamun nabiyyin), tak ada lagi nabi setelahku.” (HR.

Abu Daud) Maka, jika ada orang yang datang setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan ada nabi, maka perkataan tersebut adalah batil dan pelakunya harus bertobat kepada Allah Ta’ala. ***** Mengakui Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir mengandung unsur-unsur yang harus diimani sebagai berikut, Pertama, mengakui Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nasikhur risalah (penghapus risalah sebelumnya).

Maksudnya adalah bahwa risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi satu-satunya risalah yang wajib dianut dan diamalkan sampai akhir zaman. Adapun risalah para nabi sebelumnya, terutama berkenaan syariat-syariat tertentu, telah terhapus oleh syariat Islam dan tidak berlaku lagi. Risalah sebelumnya adalah semua kitab dan hukum yang pernah diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada para nabi ‘alaihimus salam dan dikabarkan oleh-Nya di dalam al-Qur’an maupun di dalam as-Sunnah yang shahih yaitu, • Shuhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim ‘alaihis salam (Lihat: QS.

87: 14-19, 53: 36-42). • Shuhuf yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis salam (Lihat: QS. 87: 14-19, 53: 36-42). • Taurat yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis salam (Lihat: QS. 2: 53, 3: 3, 5: 44, 6: 91). • Zabur yang diturunkan kepada Daud ‘alaihis salam (Lihat: QS. 4: 164, 18: 55, 21: 105). • Injil yang diturunkan kepada Isa ‘alaihis salam (Lihat: QS. 3: 3, 5: 46). Semua kitab-kitab tersebut hukumnya telah di- nasakh (dihapuskan) oleh al-Qur’an, kecuali beberapa hukum dan kisahnya dan semua yang belum di- nasakh tersebut disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an ataupun al-hadits.

Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau sangat marah ketika melihat Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu memegang lembaran yang di dalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat, beliau berkata, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ أَلَمِ آتِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً ؟ لَوْ كَانَ مُوسَى أَخِي حَيًّا مَا وَسِعَهُ إلاَّ اتِّبَاعِي .

“Apakah engkau masih ragu wahai Ibnul Khatthab? Bukankah aku telah membawa agama yang putih bersih? Sekiranya saudaraku Musa (‘alaihis salam) hidup sekarang ini maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikuti (syariat)ku.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi dan lainnya).

Kedua, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mushaddiqan lil anbiya (membenarkan para nabi). Maksudnya adalah membenarkan bahwa Allah Ta’ala telah mengutus nabi dan rasul kepada umat-umat dahulu, dan Allah Ta’ala telah menurunkan wahyu kepada mereka, seperti Taurat, Injil dan sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman, نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيلَ “Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran, 3 : 3) Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pentazkiyah (yang merekomendasi) kitab-kitab sebelumnya, apa saja berita yang dibenarkan Al-Qur’an maka berita itu diterima dan apa saja berita yang ditolaknya, maka berita itu tertolak.

Ia menjadi barometer untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang ada di tangan ahlul kitab saat ini. وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS.

Al-Maidah, 5: 48) Al-Qur’an menolak sebagian berita yang ada di kitab-kitab terdahulu karena kitab-kitab tersebut telah tercampuri oleh perkataan-perkataa manusia. يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “…..Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya semula, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu, (Muhammad) akan selalu melihat kekhianatan dari mereka, kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat)……..”.

(QS. Al Maidah, 5: 13) Ketiga, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah mukammilur risalah (penyempurna risalah sebelumnya) Bahwa Islam adalah agama terakhir, maka nabinya pun adalah nabi penutup, sehingga kitabnya yaitu Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan semua risalah sebelumnya, karena semua risalah sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut telah mengalami perubahan dan penyimpangan dari masa ke masa yang dilakukan oleh generasi setelahnya, berbagai penyimpangan itu diantaranya: • Mengubah arti dari lafazh (kata-kata) yang ada (Lihat: QS.

3: 75, 181, 182; 4: 160,161; 5: 64). • Mengubah atau menambah baik kata, kisah maupun hukum (Lihat: QS. 2: 79; 3: 79,80; 5: 116-117). • Menyembunyikan dan menghilangkan berita-berita tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran lainnya (QS. 2: 89, 90, 109, 146; 3: 71-72; 61: 6). Berkenaan dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penyempurna risalah para nabi sebelumnya, tergambar dalam hadits berikut ini, عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلاَ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dengan perumpamaan para nabi sebelumku adalah seumpama seseorang yang membangun sebuah rumah; di mana ia menjadikan rumah itu indah dan sempurna.

Namun terdapat satu sisi dari rumah tersebut yang belum disempurnakan (batu batanya). Sehingga hal ini menjadikan manusia menjadi heran dan bertanya-tanya, mengapa sisi ini tidak disempurnakan? Dan akulah batu bata terakhir itu (yang menyempurnakan bangunannya), dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari) Keempat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus membawa risalah kepada kaafatan linnas (seluruh umat manusia) hingga akhir zaman.

Bukan hanya untuk suku bangsa tertentu saja sebagaimana risalah para nabi sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS.

Saba, 34 : 28) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً “Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya…” (HR.

Bukhari) Hal ini mengandung dua pelajaran bagi kita, yaitu: • Mengetahui hikmah Allah Ta’ala dalam penetapan hukum bagi setiap umat, sehingga Dia selalu menetapkan hukum yang sesuai bagi setiap umat. • Oleh sebab itu maka hal ini meyakinkan kita bahwa Islam merupakan syari’at yang paling sempurna, paling lengkap dan paling baik karena merupakan penutup dan penyempurna dari risalah semua nabi dan Rasul.

Kelima, risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya, 21 : 107) Kehadiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kemanfaatan bagi seluruh umat manusia. Risalah dan syariat yang dibawanya menjadi jalan bagi manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)” (HR.

Al Bukhari) [4] Risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disampaikan dengan hikmah dan pelajaran yang indah; diiringi kebaikan dan keadilan, kemudahan dan kelembutan. Allah Ta’ala berfirman, ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl, 16: 125) Diriwayatkan dalam sebuah hadits, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ “Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam: ‘Agama bagaimanakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab: “Agama yang lurus lagi toleran.” (HR.

Ahmad no. 2017) [5] Dan dari jalur Aisyah dengan lafal, إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ “Sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus lagi toleran.” (HR.

Ahmad no. 24855) [6] Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا “Mudahkan dan jangan dipersulit, berikan kabar gembira dan jangan dibuat lari”. (HR. Bukhari) Selain itu, risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut rahmatan lil ‘alamin karena membawa dampak kebaikan bagi umat manusia. Risalahnya dapat mengubah sebuah peradaban yang terbelakang, buta aksara dan kejam menjadi pemimpin dan penguasa peradaban dunia serta memenuhinya dengan ketinggian ilmu pengetahuan dan akhlak yang belum dapat ditandingi oleh peradaban modern saat ini sekalipun.

Diantara hasil karya besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi alam semesta adalah sebagai berikut, • Memusnahkan segala jenis syirik baik yang besar maupun yang kecil dan menggantinya dengan keimanan yang total kepada Allah Ta’ala.

• Memusnahkan segala adat tradisi jahiliyyah yang menyimpang, seperti membuka aurat, ber- khalwat dengan lawan jenis, campur baur lelaki dan wanita ( ikhtilath), dan sebagainya dan menggantinya dengan akhlak yang mulia dan tuntunan moral yang luhur. • Menegakkan sebuah sistem kehidupan yang seluruhnya berdiri diatas tauhid, baik ekonomi, politik, sosial, kemasyarakatan, seni, olahraga, dan lain lain.

{/INSERTKEYS}

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

• Melakukan sebuah revolusi total terhadap hati sanubari, pemikiran, peraturan hidup ummat manusia. • Mempersatukan semua ras, semua suku, semua golongan manusia dibawah sebuah sistem yang berlandaskan tauhid, berhukumkan al-Qur’an dan as-Sunnah dan bertujuankan kebaikan dunia dan akhirat Wallahu A’lam… Catatan Kaki: [1] Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam At-Thabari, XX/278 [2] Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, I/4484 [3] Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, VI/89 [4] Bukhari memuatnya dalam Al ‘Ilal Al Kabir, hal.

369, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/596. Hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 490, juga dalam Shahih Al Jami’, 2345. [5] Bukhari memuatnya dalam Al-Adab Al-Mufrad no.

287, dan Abd bin Humaid no. 569. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: Hadits ini shahih li-ghairih [6] Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: Hadits ini kuat dan sanadnya hasan.

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh. Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Komentar Terbaru • Tugas gencarkan ramadhan – Everyone has diffrent personality pada Tadabbur Al-Qur’an Surat Al-Kafirun • Wahyu - id.wikipedia.org - Masuk pada Pembahasan tentang Wahyu • M.F.Noor pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam • Salamun Haris pada Bergerak dan Terus Bergerak! • Tarbawiyah pada Hadits 24: Larangan Berbuat Zalim (Bag. 1) • ana pada Hadits 24: Larangan Berbuat Zalim (Bag. 1) • Ana pada Evalina Heryanti, Perempuan Kristiani Pakar Olimpiade Gabung Dewan Pakar PKS • Zulfikar Ali pada Sayyid Quthb di Mata Para Ulama

nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut

Dalil Bahwa Nabi Muhammad ﷺ Adalah Utusan Terakhir - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA




2022 www.videocon.com