Masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

مسجد النور الكبير Masjid Agung An Nur Informasi umum Letak Pekanbaru, Riau, Indonesia Afiliasi agama Islam Deskripsi arsitektur Arsitek Ir.

Roseno Jenis arsitektur Masjid Peletakan batu pertama 1963 Rampung 1968 Masjid Agung An Nur ( Jawi: جامع النور الكبير) merupakan sebuah masjid yang terletak di Pekanbaru, Indonesia.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

Masjid ini dibangun pada tahun 1963 dan selesai pada tahun 1968. Masjid yang di ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru tersebut saat ini merupakan salah satu yang termegah di Indonesia. Dilihat dari sisi bangunannya, masjid banyak mendapat pengaruh dari gaya arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India.

Daftar isi • 1 Sejarah • 2 Arsitektur • 3 Galeri • 4 Catatan Kaki • 5 Bacaan lebih lanjut Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Mesjid Raya An Nur berdiri tanggal 27 Rajab 1388 H atau bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1968, Masjid Agung An-Nur diresmikan oleh Arifin Ahmad, Gubernur Riau waktu itu dan tahun 2000 pada masa gubernur Saleh Djasit mesjid ini direnovasi secara besar-besaran. [1] Masjid Agung An-Nur Riau yang kita saksikan begitu megah saat ini bukanlah bangunan asli hasil pembangunan tahun 1966 dan diresmikan tahun 1968.

Tapi merupakan bangunan hasil renovasi total dan pembangunan kembali dari masjid Agung An-Nur yang lama. Di pergantian milenium tahun 2000 lalu, pada saat Riau dibawah kepemimpinan gubernur Shaleh Djasit, Masjid Agung An-Nur yang lama di rombak total ke bentuknya saat ini. Dari pembangunan tahun 2000 tersebut luas lahan masjid ini bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya yang hanya seluas 4 hektare menjadi 12.6 hektare.

Luasnya lahan masjid baru ini memberikan keleluasaan bagi penyediakan lahan terbuka untuk publik Pekanbaru termasuk di dalamnya kawasan taman nan hijau dan lahan parkir yang begitu luas.

Dalam sejarahnya Masjid Agung An-Nur pernah menjadi kampus bagi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim Pekabaru di awal pendiriannya hingga tahun 1973. IAIN Sultan Syarif Kasim kini Menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru.

Arsitektur [ sunting - sunting sumber ] Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini disebut disebut sebagai Taj Mahalnya provinsi Riau. Bila kita masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah arsitektural masjid Agung An-Nur memang memiliki beberapa kesamaan dengan Taj Mahal.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

Arsitektur Masjid ini dirancang oleh Ir. Roseno dengan ukuran 50 X 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yang luasnya 400 X 200 m. Kapasitas masjid dapat menampung sekitar 4.500 orang jamaah. Bangunan masjid terdiri dari tiga tingkat. Tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan. [2] Masjid ini mempunyai tiga buah tangga, 1 buah tangga di bagian muka dan 2 buah tangga di bagian samping.

Di bagian atas terdiri dari 13 buah pintu dan bagian bawah terdiri dari 4 buah pintu dan mempunyai kamar-kamar yang besar dan sebuah aula. Sedangkan tulisan kaligrafi yang terdapat dalam ruangan masjid ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Azhari Nur dari Jakarta yang ditulis pada tahun 1970.

Lantai bawah masjid merupakan sekretariat pengurus masjid, manajemen, remaja masjid serta ruang ruang kelas tempat pelaksanaan pendidikan Islam. Masjid Agung An-Nur Riau juga dilengkapi dengan eskalator penghubung antara lantai satu dan dua. Di halaman masjid Agung An-Nur Riau merupakan lapangan luas Masjid Agung An Nur juga dilengkapi oleh bermacam fasilitas seperti pendidikan mulai dari playgrup, TK, SD, SMP & SMA, perpustakaan yang lengkap dan fasiltas lain seperti aula dan ruang pertemuan, ruand kelas dan ruang ruang kantor.

Selain itu, Masjid Agung An Nur memiliki Radio Penyiaran Komunitas bernama LPK An-Nur FM dengan frekuensi 107.7 MHz. • ^ "Mesjid Agung An Nur". 17 Juli. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ "Masjid Agung An-Nur, Masjid Kebanggaan Masyarakat Riau".

17 Juli 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-11-21. Diakses tanggal 2012-07-17. Bacaan lebih lanjut [ sunting - sunting sumber ] • Tjokrosaputro, Teddy (2011). 100 Masjid Terindah Indonesia. Jakarta: PT Andalan Media. ISBN 978-602-99731-0-5. (Indonesia) • Halaman ini terakhir diubah pada 2 Mei 2022, pukul 07.48.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Masjid Agung Banyumas atau Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas, terletak disebelah barat Alun-Alun Kabupaten Banyumas.

Sulit untuk mengetahui dengan pasti kapan masjid ini dibangun, namun menurut Babad Banyumas oleh Oemarmadi dan Poerbosewojo tertulis bahwa Balai Si Panji (pendopo Kabupaten Banyumas) diperkikaran berdiri pada 1743, sehingga diperkirakan masjid ini didirikan setelah Balai Si Panji didirikan.

Masjid Agung Banyumas didirikan pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Yudanegara II. Bangunan Masjid Agung Banyumas awalnya arsitektur bangunan atapnya menggunakan anyaman daun tebu dan ubinnya masih terbuat dari semen. Masjid Agung Banyumas tetap berdiri kokoh hingga masa pemerintahan Kolonial Belanda. Bencana banjir menyerang wilayah Banyumas sehingga dulu Masjid Agung Banyumas dan Balai Si Panji digunakan sebagai tempat penggungsian, selain itu akibat bencana banjir ini menimbulkan kerusakan yang parah di Kabupaten Banyumas.

Masjid Agung Banyumas kemudian dibangun kembali atau dipugar pada tahun 1899, hal ini didukung dengan temuan pada kayu penggantung bedug terdapat hurus prasasti arab yang tertulis angka 1312, hal ini menurut sejarawan diperkirakan menunjukan tahun 1890.

Selain itu pemugaran juga pernah dilakukan sebelumnya, hal ini terlihat dari temuan tulisan angka 1889 pada sisi barat gapura dan tulisan yang berbunyi pemugaran I 1889 dan ke II 1980 pada tempat wudhu perempuan. Seiring berkembangnya waktu, bangunan Masjid Agung terus mengalami perbaikan. Pada tahun 1980 dilakukan perbaikan berupa pembongkatan pagar tembok di serambi, penggantian atap masjid, pengecetan kembali, dan penggantian usuk serambi.

Selanjutnya pengecetan tembok masjid dilalukan kembali pada 1984 dan perbaikan tempat wudhu di sebelah utara pada tahun 1989. • Pada tahun 1992 Masjid Agung Banyumas berganti nama menjadi Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas.

Nama Nur berasal dari nama arsitek pembangun masjid yaitu Nurdaiman. Ia merupakan Demang Gumelem sekaligus penghulu masjid. Ia tak hanya mengarsiteki bangunan masjid dibanyumas jasa tetapi juga tempat lain. Salah satunya Masjid Agung Darussalam di Kabupaten Cilacap.

Sedangkan nama Sulaiman diambil dari penyiar agama yang berdakwah di Masjid Agung, yaitu Ki Sulaiman. Muskipun terus mengalami perbaikan, namun Masjid Agung Nur Sualaiman ini masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah menjaga bentuk bangunan dan ornamen aslinya. Jendela-jendela masjid di sekeliling tembok masih menggunakan kayu jati.

Mihrab atau ruang imam terpisah dengan atap bangunan utama, ruang mihrab memiliki atap sendiri. Mustaka masjid ini berbentuk gada. Sumber : http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/masjid-agung-nur-sulaiman-banyumas/ Beri rating: Leave a Reply Cancel reply Your email address will not be published.

Required fields are marked * Comment * Name * Email * Website Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Sertakan Foto/Video Besar ukuran file maksimal: 64 MB.

File yang dapat diunggah: image, audio, video. Tautan ke YouTube, Facebook, Twitter, dan layanan lain yang dimasukkan ke dalam teks komentar akan otomatis disematkan.
Oleh: Tri Windari Putri Masjid Agung Banyumas atau Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas, terletak disebelah barat Alun-Alun Kabupaten Banyumas. Sulit untuk mengetahui dengan pasti kapan masjid ini dibangun, namun menurut Babad Banyumas oleh Oemarmadi dan Poerbosewojo tertulis bahwa Balai Si Panji (pendopo Kabupaten Banyumas) diperkikaran berdiri pada 1743, sehingga diperkirakan masjid ini didirikan setelah Balai Si Panji didirikan.

Masjid Agung Banyumas didirikan pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Yudanegara II. Bangunan Masjid Agung Banyumas awalnya arsitektur bangunan atapnya menggunakan anyaman daun tebu dan ubinnya masih terbuat dari semen.

Masjid Agung Banyumas tetap berdiri kokoh hingga masa pemerintahan Kolonial Belanda. Bencana banjir menyerang wilayah Banyumas sehingga dulu Masjid Agung Banyumas dan Balai Si Panji digunakan sebagai tempat penggungsian, selain itu akibat bencana banjir ini menimbulkan kerusakan yang parah di Kabupaten Banyumas.

Masjid Agung Banyumas kemudian dibangun kembali atau dipugar pada tahun 1899, hal ini didukung dengan temuan pada kayu penggantung bedug terdapat hurus prasasti arab yang tertulis angka 1312, hal ini menurut sejarawan diperkirakan menunjukan tahun 1890.

Selain itu pemugaran juga pernah dilakukan masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah, hal ini terlihat dari temuan tulisan angka 1889 pada sisi barat gapura dan tulisan yang berbunyi pemugaran I 1889 dan ke II 1980 pada tempat wudhu perempuan.

Seiring berkembangnya waktu, bangunan Masjid Agung terus mengalami perbaikan. Pada tahun 1980 dilakukan perbaikan berupa pembongkatan pagar tembok di serambi, penggantian atap masjid, pengecetan kembali, dan penggantian usuk serambi.

Selanjutnya pengecetan tembok masjid dilalukan kembali pada 1984 dan perbaikan tempat wudhu di sebelah utara pada tahun 1989. Pada tahun 1992 Masjid Agung Banyumas berganti nama menjadi Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas. Nama Nur berasal masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah nama arsitek pembangun masjid yaitu Nurdaiman.

Ia merupakan Demang Gumelem sekaligus penghulu masjid. Ia tak hanya mengarsiteki bangunan masjid dibanyumas jasa tetapi juga tempat lain.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

Salah satunya Masjid Agung Darussalam di Kabupaten Cilacap. Sedangkan nama Sulaiman diambil dari penyiar agama yang berdakwah di Masjid Agung, yaitu Ki Sulaiman. Muskipun terus mengalami perbaikan, namun Masjid Agung Nur Sualaiman ini tetap menjaga bentuk bangunan dan ornamen aslinya.

Jendela-jendela masjid di sekeliling tembok masih menggunakan kayu jati. Mihrab atau ruang imam terpisah dengan atap bangunan utama, ruang mihrab memiliki atap sendiri. Mustaka masjid ini berbentuk gada. Referensi: Ferian Pradipta, Sejarah Arsitektur Masjid Nur Sulaiman di Kecamatan Banyumas tahun 1980-2016, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2017 https://m.republika.co.id/berita/mengenal-cagar-budaya-masjid-nur-sulaiman-banyumas.

Diakses pada 12 Agustus 2020 Banyumas, banyumas.org – Masjid Agung Banyumas atau Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas, terletak disebelah barat Alun-Alun kota kabupaten Banyumas. Sulit diketahui kapan pastinya diketahui kapan masjid ini dibangun. Hanya saja, menurut Babad Banyumas yang ditulis oleh Oemarmadi dan Poerbosewojo tertulis bahwa Balai Si Panji (pendopo Kabupaten Banyumas) diperkikaran berdiri pada 1743, sehingga diperkirakan masjid ini didirikan setelah Balai Si Panji didirikan.

Merujuk juga pada catatan kalau Masjid Agung Banyumas didirikan pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Yudanegara II. Awalnya, Masjid Agung Banyumas beratap anyaman daun tebu dan beralas semen. Bencana banjir besar pernah melanda wilayah kota Banyumas. Saat bencana masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah terjadi, Masjid Agung Banyumas dan Balai Si Panji digunakan sebagai tempat pengungsian.

Meski begitu, Masjid Agung tersebut tak luput mengalami kerusakan juga. Maka, Masjid Agung Banyumas kemudian dibangun kembali atau dipugar pada tahun 1899, hal ini didukung dengan temuan pada kayu penggantung bedug terdapat hurus prasasti arab yang tertulis angka 1312, hal ini menurut sejarawan diperkirakan menunjukan tahun 1890.

Selain itu pemugaran juga pernah dilakukan sebelumnya, hal ini terlihat dari temuan tulisan angka 1889 pada sisi barat gapura dan tulisan yang berbunyi pemugaran I 1889 dan ke II 1980 pada tempat wudhu perempuan. Seiring berjalannya waktu, bangunan Masjid Agung terus mengalami perbaikan. Pada tahun 1980 dilakukan perbaikan berupa pembongkaran pagar tembok di serambi, penggantian atap masjid, pengecetan kembali, dan penggantian usuk serambi. Kemudian, tembok masjid dicat kembali tahun 1984 dan perbaikan tempat wudhu di sebelah utara pada tahun 1989.

Meskipun terus mengalami perbaikan, namun Masjid Agung Nur Sualaiman ini tetap menjaga bentuk bangunan dan ornamen aslinya. Jendela-jendela masjid di sekeliling tembok masih menggunakan kayu jati. Mihrab atau ruang imam terpisah dengan atap bangunan utama, ruang mihrab memiliki atap sendiri.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

Tahun 1992 Masjid Agung Banyumas berganti nama menjadi Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas. Nama Nur berasal dari nama arsitek pembangun masjid yaitu Nurdaiman. Ia merupakan Demang Gumelem sekaligus penghulu masjid. Nur tidak hanya mengarsiteki bangunan masjid di Banyumas saja tetapi juga di tempat lain.

Salah satunya adalah Masjid Agung Darussalam Kabupaten Cilacap. Sedangkan nama Sulaiman diambil dari penyiar agama yang berdakwah di Masjid Agung, yaitu Ki Sulaiman.

BanyumasOrg Phone / WhatsApp : 083 863 150 405 Email : [email protected] Facebook : facebook.com/banyumasorg Twitter : @banyumasorg Instagram : @banyumasorg RECENT POSTS • Kentongan Alat Musik Tradisional Khas Banyumas • Rumah Produksi Oemah Gamelan Pekunden, Banyumas • Wisata Banyumas – Lokawisata Baturaden Ikon Purwokerto • Wisata Banyumas Taman Langit Baturraden Purwokerto • Layanan Kesehatan Rumah Sakit Ananda Purwokerto Kategori • Advetorial (12) • Batik Banyumas (1) • Event (4) • Hiburan (2) • Hotel (3) • Kampus (2) • Kantor Pemerintah (3) • Kerajinan (3) • Klinik (1) • Kuliner (7) • Rumah Sakit (1) • Wisata (6)
none
Tidak ada sumber tertulis yang pasti, namun menurut pengelola dan pemelihara Benda Cagar Budaya Masjid Agung Nur Sulaiman, Djoni M.

Faried, nama Nur Sulaiman diambil dari Nur Daiman yang tidak lain adalah arsitek masjid tersebut. (1) Pembangunan Masjid Agung Nur Sulaiman diperkirakan tidak lama pasca-pembangunan pendopo Bale Sopanji.

Awalnya, mustaka atau atap banunan Masjid Agung Nur Sulaiman dibuat dari anyaman daun tebu. Namun seiring berjalannya waktu, karena anyaman daun tebu sulit didapatkan dan kurang awet maka atap masjid diganti dengan seng bergelombang. Sedangkan lantai masjid yang semula berupa semen, masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah menjadi tegel pada 1929.

Masjid Agung Nur Sulaiman zaman dulu. (masjidnursulaiman.wordpress.com) Pada tahun ini juga, masjid yang semula bernama Masjid Agung Banyumas ini diganti namanya menjadi Masjid Agung Nur Sulaiman seperti sekarang.

Masjid Agung Nur Sulaiman sudah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada prasasti yang ditemukan pada gapura sisi barat terdapat tulisan 1889. Sedangkan di tembok tempat wudhu perempuan terdapat tulisan “Dipugar Ke-I 1889 Ke-II 1980”. Prasasti tersebut menunjukkan kemungkinan besar 1889 merupakan tahun pemugaran pertama, bukan tahun pembangunan masjid.

Pada 1980, Masjid Agung Nur Sulaiman juga pernah diperbaiki. Perbaikan tersebut meliputi pembongkaran tembok di serambi, pengecatan atap seng dan penggantian seng yang rusak, pengubahan teras serambi, penggantian kayu usuk serambi, perbaikan tempat wudhu sebelah utara masjid, perbaikan pagar tembok sisi barat dan selatan, serta pengecatan dinding dan tiang-tiang masjid.

Sementara itu, pada 1984 dilakukan pengecatan tembok masjid. Tahun 1984, tempat wudu sebelah utara masjid kembali direnovasi sekaligus memberi hamparan kerikil di halaman masjid serta pemasangan jaringan air minum dan listrik.

Pada 1996/1997, Masjid Agung Nur Sulaiman kembali dipugar karena mengalami kerusakan pada konstruksinya. Saat pemugaran, dilakukan penelitian untuk mengetahui permasalahan kerusakan masjid agar dapat ditanggulangi sehingga Masjid Agung Nur Sulaiman sebagai saksi sejarah Banyumas dapat terus dilestarikan. (2) Masjid Agung Nur Sulaiman saat ini. (http://wisatajateng.com) Pada 1927, ketika terjadi agresi militer dari Belanda, para apparat pemerintahan terpaksa pindah ke daerah pedalaman yang jauh dari kota di bawah komando militer.

Akibatnya, urusan-urusan seperti nikah, talak, cerai, dan rujuk dipindahkan ke Desa Dawuhan yang lebih jauh dari pusat kota. Baru pada akhir 1949, setelah tentara Belanda menarik mundur pasukannya seluruh instansi pemerintahan masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah ke tempat masing-masing. Kegiatan-kegatan nikah, talak, cerai, atau rujuk di wilayah Kecamatan Banyumas dan sekitarnya dapat kembali di lakukan di serambi Masjid Agung Nur Sulaiman.

(3) • ArsitekturBagian serambi Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas. (http://wisatajateng.com) Masjid Agung Nur Sulaiman dibangun dengan gaya arsitektur Jawa, yaitu berbentuk limasan. Masjid Agung Nur Sulaiman dibangun di atas tanah seluas 4.950 meter persegi. Ruang utamanya memiliki luas 22 x 15,5 meter dan tinggi 5,9 meter. Adapun mimbar yang berukuran 2,2 x 1,2 meter dan tinggi 1,67 meter serta maksura berukuran 2,3 x 2,3 meter. Ada beberapa keunikan yang dimiliki oleh Masjid Agung Nur Sulaiman, diantaranya denah bujur sangkar, memiliki serambi, batur tinggi, serta memiliki maksura atau tempat salat khusus penguasa.

Sementara itu, mihrab atau ruang imam merupakan tajug susun dua yang dilengkapi mahkota mirip gada. Masjid Agung Nur Sulaiman juga memiliki empat pilar utama yang bernama saka guru dan 12 pilar pendukung atau biasa disebut saka pengarak. Selain itu, Masjid Agung Nur Sulaiman dibangun seperti masjid-masjid Kerajaan Mataram pada umumnya.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

Posisi Masjid Agung Nur Sulaiman berada di sebelah barat alun-alun sebagai simbol kebaikan, berseberangan dengan letak penjara di sebelah timur alun-alun sebagai simbol kejahatan. (4) Baca: Masjid Siti Aisyah Baca: Masjid Biru (Blue Mosque) Baca: Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan • Masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah Cagar BudayaPintu masuk utara Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas.

(http://wisatajateng.com) Masjid Agung Nur Sulaiman merupakan satu di antara bangunan cagar budaya di Kabupaten Banyumas. Penetapan ini setelah Masjid Agung Nur Sulaiman terdaftar oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah pada 2004 dengan nomor 11-12/Bas/44/TB/04.

Karena telah menjadi bangunan cagar budaya, maka setiap perbaikan yang sifatnya besar harus dikomunikasikan dengan BP3. (5) Sampai sekarang Masjid Agung Nur Sulaiman masih aktif digunakan baik untuk beribadah maupun wisata religi. Berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan juga sering dilaksanakan di masjid bersejarah ini.

(TribunnewsWIKI/Widi) Jangan lupa subscribe channel Youtube TribunnewsWIKI Official Nama Masjid Agung Nur Sulaiman Nickname Masjid Agung Banyumas Alamat Jalan Budi Utomo, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas Posisi Utara berbatasan dengan Jalan Sendanan, Desa Sudagaran, Banyumas Selatan berbatasan dengan Jalan Jaya Sirayu, Desa Sudagaran, Banyumas Timur berbatasan dengan Jalan Budi Utomo dan Alun-alun Kecamatan Banyumas Barat berbatasan dengan Jalan Kulon, Desa Sudagaran, Banyumas Titik Koordinat 7°30'59.6 Google Maps https://goo.gl/maps/wnyumDjqBLjqBxuQA Situs https://masjidnursulaiman.wordpress.com/Masjid Jamik Pangkal Pinang Bangka Belitung Masjid Jamik Pangkalpinang adalah salah satu masjid tua di Propinsi Bangka Belitung.

Lokasi masjid di pusat Kota Pangkalpinang, berada diantara Jalan Kampung Dalam di bagian timur, dan Jalan Kenangan di bagian barat. Sisi selatan masjid merupakan kediaman ulama setempat, sisi utara masjid adalah Sungai Rangkui. Karena letaknya yang sangat strategis, biasanya menjadi tempat singgah para musafir dan pekerja kantoran untuk melaksanakan sholat wajib. Masjid Jamik Pangkal Pinang Masjid Jamik Nur Sulaiman Banyumas Masjid Jamik Nur Sulaiman terletak di sebelah barat Alun-alun kota lama Banyumas.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

Masjid Nur Sulaiman berdiri pada tahun 1725, semasa Bupati Banyumas ke VII Adipati Yudonegoro II (1708-1743), bersamaan dengan dipindahkannya ibukota Kabupaten Banyumas dari Karangkamal (sekarang Kalisube) ke timur, yaitu Grumbul Gegenduren, sekaligus dibangunnya Pendopo Kabupaten Banyumas yang terkenal dengan nama Pendopo Si Panji.

Masjid Nur Sulaiman didirikan oleh Kyai Nur Sulaiman dari Gumelem dengan diarsiteki oleh Kyai Nur Daiman dari Gumelem juga. Beberapa peninggalan yang masih asli misalnya bedug, mimbar, sumur, sakaguru, dan sebagian tembok. Masjid Jamik Banyumas Melihat keberadaan masjid Nur Sulaiman Banyumas ini mengingatkan kita pada pola segitiga antara kraton/kabupaten, alun-alun dan tempat ibadah seperti pada jaman Majapahit dengan berorientasi pada sumbu ‘keramat’ utara selatan.

Sehingga terlihat jelas ekspresi dari kesatuan pemerintah, rakyat dan agama (Tuhan). Masjid ini termasuk dalam kategori non hypostyle. Keunikan yang masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah pada masjid ini adalah ruang mihrab terpisah atapnya dengan ruang utama. Dan konstruksi pada bangunan ini menggunakan sistem tajug mangkurat. Ragam hias pada masjid ini sebagian besar menggunakan motif floral arabeasque dan intricate dan berpola simetris.

Masjid Nur Sulaiman Banyumas merupakan masjid yang memadukan unsur budaya barat dengan budaya lokal meskipun budaya lokal lebih dominan. Ini terlihat dengan adanya umpak berbentuk molding. Pada umumnya bangunan masjid kuno di Jawa ini terlihat jelas sebagai bentuk vernacular. Atap mesjid ini berbentuk tajug bersusun tiga, masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah bawah disebut penitih, tengah disebut pananggap dan puncaknya berbentuk piramidal brunjung dihias dengan mustaka.

Pada celah antara dua atap bertumpuk terdapat celah sehingga cahaya alami dapat masuk. Menurut pandangan, atap berbentuk tajug tidak sesuai untuk rumah duniawi, namum khusus digunakan untuk candi, masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya. Karena atap tumpang yang berundak itu adalah hasil kesenian Indonesia sendiri, yang berupa bangunan meru, dimana pada bangunan jaman sebelum Islam hal itu telah banyak ditemui dan berfungsi sebagai bangunan suci (GF. Pijper, 1987:275). Sekalipun atap rumah di Indonesia, khususnya di Jawa tidak bertingkat, tetapi masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah dasar untuk dijadikan atap bertingkat telah ada ialah atap yang berbentuk joglo (Sucipto Wiryosuparto, 1962: 153).

Keunikan yang ada di Masjid Nur Sulaiman adalah ruang mihrabnya mempunyai atap sendiri. Atap tersebut berupa tajug bersusun dua, dan dilengkapi dengan mustaka berbentuk mirip gada.

Atap mihrab yang terpisah dengan atap ruang utama masjid tampaknya menjadi prototipe bagi masjid-masjid yang lebih muda di wilayah Banyumas.

Hal ini dapat dijumpai antara lain pada masjid kuno di komplek makam para Bupati Banyumas di desa Dawuhan, Banyumas. Ini berbeda denagn masjid-masjid Agung Islam kuno pada umumnya yang atap mihrabnya menjadi satu dengan ruang utama, misalnya Masjid Agung di Demak, Kudus, Yogyakarta ataupun Surakarta.

Dilihat dari jumlah atap masjid ini terdiri dari tiga organisasi ruang, yaitu: Serambi, Ruang utama dan mihrab. Pada Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas tidak terdapat kolam di depan atau sekeliling bangunan masjid seperti yang terdapat pada masjid Jawa kuno, namun terdapat bangunan fasilitas yaitu tempat wudlu bagi pria dan wanita. Disamping itu terdapat beberapa bangunan baru yaitu kantor KUA, kantor BKM dan kantor Penilik Pendidikan Islam.

Serambi sebagai salah satu komponen masjid kuno berdiri di depan ruang utama. Serambi yang berukuran 11 x 22 m ini sekarang berfungsi sebagai tambahan tempat sholat, tempat anak-anak belajar Al-Qur’an dan pelajaran agama lainnya.

Pada bagian depan serambi terdapat emperan yang atapnya merupakan perpanjangan dari atap serambi. Lantai serambi ditinggikan 130 cm dari permukaan halaman masjid. Menurut keterangan pengurus BKM permukaan lantai serambi ini dahulu berupa plesteran saja. Akan tetapi pada perbaikan yang dilakukan pada tahun 1929 lantai serambi ditutup tegel berukuran 20 x 20 cm.

Tegel serambi disusun sebagi berikut: bagian pinggir ditutup tegel abu-abu, sedang bagian tengah ditutup tegel warna-warni bermotif geometrik dan bunga yang disusun menurut pola tertentu. Ruang serambi ini mempunyai dinding di sisi utara dan selatan, sisi timur terbuka, sedang sisi barat terdapat dinding pembatas antara serambi dan ruang utama. Dinding sisi utara dan selatan masing-masing mempunyai dua pintu yang ambang atasnya berbentuk lengkung.

Kedua pintu itu mengapit satu jendela berbentuk segi empat. Masjid yang saat ini sedang dalam pengerjaan renovasi dua menara yang dimilikinya ini terdiri dari tiga lantai.

Lantai pertama digunakan sebagai tempat sholat. Ruang utamanya mampu menampung 600 jama’ah. Lantai kedua digunakan untuk penyimpanan kitab-kitab, buku-buku ajaran Islam, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya. Lantai ketiga digunakan untuk mengumandangkan adzan. Pertama kali dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 Hijriah, atau pada tanggal 18 Desember 1936 Masehi. Data itu tertulis di atas meja yang terbuat dari batu marmar putih yang terletak di depan masjid. Bentuk awalnya tidak seperti sekarang ini.

Keadaan masjid saat itu masih menggunakan dinding papan, berlantai semen dan beratap genteng. Letaknya juga sudah berubah, diperkirakan awalnya berada di antara tempat wudlu dan menara masjid yang sekarang. Dahulu, di sekelilingnya adalah rawa-rawa, sungai dan pepohonan rumbia. Perombakan pertama Masjid Jamik Pangkalpinang dilakukan berdasarkan hasil musyawarah para tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha dan pejabat pemerintah pada hari Minggu 12 November 1950 menjelang sholat maghrib.

Dari hasil musyawarah ini terbentuklah panitia pembangunan masjid dengan ketua KH. Mas’ud Nur, yang saat itu sebagai penghulu Pangkalpinang. Selain itu, nama-nama dari kepanitiaan adalah H. Abdullah Addary, H. M Ali Mustofa, H. Mochtar Jasin, H. Masdar, H Hasim, H.

Idris. H Goni, Fattahullah dan yang lainnya. Biaya yang dianggarkan untuk pembangunan masjid ini sebesar Rp 1,2 juta. Untuk menutupi kekurangan dana, kepanitian mengedarkan amplop yang bergambar Masjid Jami dan diedarkan ke kampung-kampung. Namun, sebelum memberikan amplop, panitia memberikan ceramah agama dan mengutarakan maksud kepada masyarakat kampung, tujuan melakukan pengumpulan dana itu.

Kampung-kampung yang dituju untuk pengumpulan dana dibedakan menjadi Bangka Barat yang di dalamnya ada Kampung Kemuja, Petaling, Air Duren, sampai ke Muntok. Bangka Selatan yang di antaranya Koba, Nibung, Payung, Permis dan Bangka Utara seperti Baturusa, Sungailiat, hingga Belinyu. Bahkan Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat menyumbang sebesar Rp 1.000 untuk pembangunan masjid ini. Sebelum melakukan pembangunan, dilakukan penimbunan kolong di dekat Sungai Rangkui yang dalamnya sekitar 10 meter dengan panjang sekitar 37 meter.

Untuk menimbun kolong ini dilakukan dengan gotong royong dengan melibatkan unsur sipil dan militer. Menurut catatan dari buku Risalah Pembangunan Mesjid Jamik disebutkan PT Timah yang saat itu bernama perusahaan TTB, setiap minggu mengerahkan mobilnya untuk mengangkut pasir dan batu-batu. Bahkan ibu-ibu, di lokasi kolong Tambang 6 turut mencari batu-batu kerikil untuk menimbun rawa-rawa.

Akhirnya, rawa-rawa sedalam 10 meter itu dapat ditimbun. Selesai penimbunan dilakukanlah pembangunan masjid dengan panjang dan lebar 30 x 30 meter dengan tinggi menara sekitar 18 meter. Namun, karena kekurangan dana, pembangunan masjid terpaksa dihentikan sementara. Susunan kepanitiaan pun berubah sebab ada yang mengundurkan diri.

Namun, ketua panitia masih dipegang oleh H. Mas’ud Nur. Anggaran dana semula Rp1,2 juta berubah menjadi Rp 1,5 juta. Jumlah ini bertambah karena harus disesuaikan dengan harga bahan dan upah pekerja. Membuat kubah dipercayakan kepada Firma Khu Khian Lan Pangkalpinang, pengerjaan pintu, kusen dan pengecatan oleh Biro Aksi. Sementara untuk menara yang awalnya 18 meter diubah menjadi 23 meter. Akhirnya pada tanggal 3 Juni 1961 sekitar pukul 09.00 WIB oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bangka, Masjid Jamik Pangkalpinang diresmikan.

Ketua panitia, KH. Mas’ud Nur beberapa bulan setelah peresmian masjid, yang tepatnya tanggal 10 November 1961, pada hari Jumat menjelang Subuh yang saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November berpulang ke Rahmatullah dengan tenang pada usia 51 tahun.

Masjid dengan arsitektur unik dengan empat tiang penyanggah yang terdapat di dalam masjid semakin menambah keindahan masjid. Dengan halaman yang cukup luas, pada musim haji, biasanya masjid ini digunakan pejabat untuk melepas para jamaah haji.

Keindahan masjid ini semakin lengkap dengan ditempatkannya satu bedug terbesar yang ada di Pangkalpinang. Bedug ini merupakan sumbangan Mantan Kapolda Babel, Brigjen Polisi Erwin TPL Tobing yang saat itu masih berpangkat Komisaris Besar Polisi. Masjid Jamik Sunan Ampel Surabaya Raden Achmad Rachmatulloh adalah seorang figur yang alim, bijak, berwibawa dan banyak mendapat simpati dari masyarakat.

Sebagai seorang yang pandai dengan ilmu-limu agama, dia dipercaya Raja Majapahit masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya (dulu namanya Ampel Dento). Dia pun memimpin sebuah dakwah di Surabaya, namun karena terkendala tempat, Raden berinisiatif bersama masyarakat sekitar membangun Masjid Jamik Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1421 M, untuk media dakwahnya.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

Di tempat tersebutlah, Raden Achmad yang kini dikenal sebagai Sunan Ampel menghabiskan masa hidupanya di masjid itu. Hingga akhirnya pada tahun 1481 meninggal dunia, dan makamnya pun terletak di sebelah kanan depan masjid Ampel.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

Masjid yang dikenal sebagai masjid terbesar nomor dua di Surabaya itu setiap menjelang dan selama bulan ramadhan selalu dipadati pengunjung. Di tempat ini konon, kabarnya menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan Wali Allah dari berbagai daerah di tanah Jawa.

Di tempat ini pula, para ulama membicarakan ajaran Islam sesuai petunjuk Allah. Sekaligus membahas metode penyebarannya di Pulau Jawa. Masjid Sunan Ampel yang dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan nuansa Arab Islami yang sangat lekat ini, terasa kental bagi masyarakat setempat.

Kemudian oleh warga setempat Masjid Sunan Ampel dibangun sedemikian rupa agar orang yang ingin melakukan sholat di masjid dapat merasa nyaman dan tenang. Hal ini tampak jelas dengan dibangunnya lima Gapuro (Pintu Gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam. Dari arah selatan tepatnya di jalan Sasak terdapat Gapuro bernama Gapuro Munggah, dimana pejiarah akan menikmati suasana perkampungan yang mirip dengan pasar Seng di Masjidil Haram Makkah, yang menggambarkan seorang muslim wajib naik haji jika mampu.

Setelah melewati lorong perkampungan yang menjadi kawasan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan, mulai busana muslim, parfum, kurma dan berbagai assesoris orang yang sudah pernah melakukan ibadah haji lengkap tersedia di pasar Gubah Ampel Suci.

Kemudian pejiarah dapat melihat sebuah Gapuro Poso (Puasa) yang terletak di selatan Masjid Sunan Ampel. Kawasan Gapuro Poso ini memberikan suasana pada bulan puasa Ramadhan, yang artinya seorang muslim wajib berpuasa. Selesai melewati Gapura, pejiarah akan memasuki halaman Masjid, disana akan tampak bangunan Masjid Induk yang megah dengan menaranya yang menjulang tinggi yang dibangun oleh Sunan Ampel, dan sampai sekarang masih tetap utuh baik menara maupun tiang penyangganya.

Setelah selesai, perjalanan dapat dilanjutkan, dan pejiarah akan menjumpai Gapuro Ngamal, yang artinya beramal atau shodaqoh. Shodaqoh itupun digunakan untuk pelestarian dan kebersihan kawasan Masjid dan Makam.

Itupun menggambarkan Rukun Islam tentang wajib zakat. Gapura lainnya yang letaknya tidak jauh dari tempat tersebut yakni Gapuro Madep, persis di sebelah barat Masjid Induk, sebagai simbol arah kiblat Masjid Agung Sunan Ampel, yang menggambarkan sholat menghadap kiblat. Gapura yang terakhir adalah Gapuro Paneksan (kesaksian), yang berarti kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Hal lain yang dapat menjadi daya tarik pejiarah adalah, di lokasi tersebut terdapat sumur yang dulu dibuat oleh Sunan Ampel dan pengikutnya. Masyarakat sekitar meyakini, dengan meminum air sumur yang berada di belakang masjid akan membawa berkah tersendiri. Selain sumur, bentuk peninggalan unik bernilai religi dan berarsitektur Islami lainnya adalah masjid yang masih berdiri kokoh.

Menurut sejarah, dalam masa penjajah, masjid yang berbahan kayu jati yang didatangkan dari beberapa wilayah di Jatim ini punya ‘karomah’ tersendiri. Bahkan, saat kolonial membombardir Surabaya dengan peluru dari berbagai arah, dan menimbulkan kerusakan di sana-sini. Masjid Ampel tidak terusik atau mengalami kerusakan sedikitpun. Hingga kini, kawasan Masjid Ampel semakin terkenal. Tidak hanya dari dalam kota, pengunjung terus berdatangan dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara, karena tidak ingin menyia-nyiakan tempat bersejarah itu.

Guna melindungi dan melestarikan budaya dan sejarah bangsa, pemerintah Provinisi Jawa Timur menjadikannya masjid tersebut sebagau cagar budaya dan kawasan wisata religi, terus melalukan pemugaran.

Tidak ketinggalan, di lokasi ini banyak ditemukan pedagang kaki lima yang menjual berbagai aksesoris keperluan sholat, pernak-pernik, berbagai makanan khas Ampel ‘Kue Ebi’, hingga ditemukan makanan Arab atau yang disebut ‘gulai Arab’.

Masjid Agung Sunan Ampel ini terletak di Jl. KH. Mas Mansyur Surabaya Utara. • Klik untuk mengirim ini lewat surel kepada seorang teman(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi pada Reddit(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi pada Tumblr(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi pada Pinterest(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi via Pocket(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru) • • Tulisan Terakhir • Hikmah Puasa Ramadhan • Contoh-Contoh Bidah • Aqidah Islamiyah • Tokoh Islam Kepler • KUmpulan Ceramah Islami • Contoh Singkat Pidato Islam Dan Muqadimahnya • Pacaran Dalam Islam Bolehkah ?

• Pernikahan Dalam Islam • Sejarah Kebudayaan Islam • Kajian Islam Tentang Wanita • Arsip • Agustus 2013 • Juli 2013 • Mei 2013 • April 2013 • Maret 2013 • Februari 2013 • Januari 2013 • Desember 2012 • Kategori • DAKWAH ISLAM • FIQH • HIKMAH • Kesehatan • MASJID • TEORI DAKWAH • Tokoh Islam •
Saya besar dan dilahirkan di banyumas 26 tahun silam, terletak di timur pusat kota kecamatan banyumas kurang lebih 15 km tepatnya di desa piasa kulon .Sekarang saya tinggal dan bekerja di Jogjakarta.

Jogja banyak dikenal orang sebagai kota budaya dan pelajar. semenjak tinggal di jogjakarta saya selalu ingat akan kota kecil kelahiran yaitu Banyumas. Banyak bukti sejarah yang masih berdiri kokoh hingga saat ini di kecamatan banyumas. Salah satunya yaitu masjid agung nur sulaiman banyumas. saya kali ini akan coba membahas tentang sejarah berdirinya masjid agung nur sulaiman banyumas.

1. Masjid Agung Nur Sulaiman SEJARAH Proses sejarah pembangunan Masjid Agung tidak terpisahkan dengan Joko Kaiman selaku bupati pertama kabupaten banyumas.

Belum ada catatan yang pasti mengenai sejarah berdirinya Masjid Agung Banyumas ini, namun setidaknya hampir bersamaan dengan Pembuatan Pendopo " Bale Sipanji". berdasarkan masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah sejarah yang di tulis oleh para pakar menyebutkan angka tahun 1755 yang merupakan awal pembangunan pendopo dan sebelum tragedi banjir besar yang melanda banyumas Bulan februari 1861.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

menurut pak Pujadi yang di temui setelah sholat ashar menyebutkan pembangunan masjid atau lebih tepatnya mulai digunakan sekitar tahun 1816. Dengan di pimpin oleh 2 orang sahabat yairu Mbah Nur Daiman yang merupakan tukang atau lebih kerennya arsitek pada jaman itu dan Mbah Sulaiman yang memimpin pembangunan masjid dan merupakan kyai atau penghulu.

dari dua orang tokoh tersebut muncullah nama Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas yaitu NUR sebagai Arsitek dan SULAIMAN sebagai Penghulu Masjid yang pertama (imam) Kyai yang menyebarkan agama islam di daerah kabupaten dan sekitarnya.

LOKASI dan Sarana Transportasi Secara administratif, Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas terletak di Masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.

Di sebelah utara Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas dengan jalan Sekolahan, di sebelah timur berbatasan dengan alun-alun Banyumas, di sebelah selatan berbatasan dengan jalan Serayu, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan jalan Kulon. Sebagaimana di lokasi Masjid Agung lainnya, masyarakat setempat menyebut lokasi perkampungan disekeliling masjid Agung Banyumas dengan nama Kampung Kauman.

Namun nama Kauman secara administratif tidak tercatat pada buku pembagian wilayah di Kelurahan Sudagaran. Adapun secara geografis, masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas terletak pada 7o30’7” BT dan 109o15’10” LU. Untuk menuju Lokasi Masjid Agung Banyumas sangat mudah, Bisa di akses dengan berbagai kendaraan. Dari Kota Purwokerto, melalui terminal purwokerto bisa menggunakan Bis/Mikro yang menuju Banjarnegara, jogja ataupun cilacap.

Karena lokasi di Pinggir jalan besar sehingga mudah di akses. jika anda pernah ke alun-alun banyumas maka itu sebelah barat akan terlihat Masjid Agung yang kokoh dan indah. untuk pengendara mobil pribadi atau sepeda motor sangat mudah untuk menuju ke lokasinya, karena di lalui jalan raya banyumas. Pohon ini merupakan “prasasti” hidup sejarah Banyumas, karena menurut babad dan cerita sejarah Banyumas dari sini titik tonggak sejarah dimulainya / dibangunnya Kabupaten Banyumas.

Pohon ini terletak di daerah yang pertama kali dibangun sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas di hutan Mangli daerah Kejawar dan sekarang terletak di Desa Kalisube Grumbul Mangli, Kecamatan Banyumas. Tempat awal pemerintahan dan nama Banyumas. Menurut penelitian, maka hutan Mangli daerah Kejawar sebagai tempat pertama dibangunnya pusat pemerintahan Adipati Wargo Oetomo II (Djoko Kahiman / Adipati Mrapat) setelah meninggalkan Wirasaba. Menurut riwayat yang juga dipercayai masyarakat, beliau menerima wisik supaya pergi ke suatu tempat tumbuhnya pohon Tembaga.

Di hutan Mangli inilah diketemukan pohon Tembaga yang dimaksud ; yaitu di sebelah Timur pertemuan sungai Pasinggangan dan sungai Banyumas. Kemudian mulailah dibangun tempat tersebut sebagai pusat pemerintahan dengan dibiayai oleh Kjai Mranggi Semu di Kejawar. Ketika sedang sibuk-sibuknya membangun pusat pemerintahan itu, kebetulan pada waktu itu ada sebatang kayu besar hanyut di sungai Serayu.

Pohon tersebut namanya pohon Kayu Mas yang setelah diteliti berasal dari Desa Karangjambu (Kecamatan Kejobong, Bukateja, Kabupaten Purbalinga), sekarang sebelah timur Wirasaba.

Anehnya kayu tersebut terhenti di sungai Serayu dekat lokasi pembangunan pusat pemerintahan. Adipati Marapat tersentuh hatinya melihat kejadian tersebut, kemudian berkenan untuk mengambil Kayu Mas tersebut untuk dijadikan Saka Guru. Karena kayu itu namanya Kayu Mas dan hanyut terbawa air (banyu), maka pusat emerintahan yang dibangun ini kemudian diberi nama Banyumas (perpaduan antara air (banyu) dan Kayu Mas)).
Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah • Video • Infografis • NETWORK • algebra • antariksa • kurusetra • cari-cuan • depok-24-jam • jalan jalan • jouron • mata-pantura • mlipir • sepak pojok • susur-hilir-indonesia • zakhir • legioma • kampus • widyakala • bundalogy • mengbal • tekno • jurnal • tadabbur • genpop • kakibukit • bulutangkis • boyanesia • ramenten • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • Kajian Alquran • Doa • hadist • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • PON 2021 • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Semula masjid tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Agung Banyumas.

Hingga kini secara umum bangunan masjid tersebut masih mempertahankan keasliannya tanpa adanya penambahan ornamen baru. Kayu jati masih mendominasi arsitektur utama masjid, dengan jendela dan 12 pilar kayu menopang bangunan utama masjid. Arsitektur masjid Agung Nur Sulaiman - (Republika/Idealisa masyrafina) Akses masuk ke serambi masjid pada sisi Utara dan Selatan berbentuk lengkung dengan sebuah jendela di antaranya. Sementara bagian depan masjid yang menghadap ke Timur terbuka tanpa penutup.

Kemudian bagian menara menempel pada dinding yang berada di sisi sebelah kanan. Selain itu, keunikan masjid ini juga terletak pada atap mihrab yang terpisah dengan atap bangunan utama. Biasanya, atap mihrab menjadi satu dengan bangunan utama, namun ruang mihrab di masjid ini memiliki atap sendiri.
A. Museum Wayang Sendangmas Banyumas Terletak di Kec. Banyumas yang menyimpan berbagai koleksi wayang seperti : Wayang Gagrag Banyumasan, Pesisiran, Wayang Beber, Wayang Suket, Wayang Kancil, Wayang Golek, Wayang Gagrag Solo dan Yogyakarta.

Disamping itu juga menyimpan berbagai benda purbakala. B. Museum Bank Rakyak Indonesia (BRI) Merupakan satu-satunya musium perbankan yang ada di Indonesia yang bercikal bakal di kota Purwokerto didirikan oleh Raden Aria Wiriaatmadja pada tahun 1895 dengan nama De Poerwokertoche Hu1p En Spaarbank Der Inlandche Bestuurs Ambtenaren. Musium ini sangat cocok untuk wisata pendidikan bagi pelajar yang mengadakan study tour. Terletak di jalan R.A. Wiriaatmadja Purwokerto.

C. Museum Panglima Besar Jendral Soedirman Musium ini terdiri dari dua Iantai. Pada Iantai bawah berisi foto¬foto perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam merebut Yogyakarta kembali sebagai Ibu Kota Indonesia (pada saat itu) dari kolonial Belanda.

Pada Iantai dua berisi relief sejarah bangsa Indonesia dalam Perang Kemerdekaan 1945 dan Patung Jenderal Soedirman duduk diatas punggung Kuda. D. Museum Ki Diso (Museum Pribadi) Berisi tentang koleksi benda-benda peninggalan sejarah purbakala. Lokasi museum terletak di jalan Dr. Angka Purwokerto. E. Situs Lembu Ayu Lokasi situs Lembu Ayu desa Susukan kecamatan Sumbang. Pada situs ini terdapat yoni dan arca nandi, serta beberapa fragmen batu candi.

Di situs ini pula terdapat makam kuno yang oleh masyarakat disebut makam PandungAguno. F. Masjid Agung Nur Sulaiman Masjid Agung Nur Sulaiman ini merupakan masjid peninggalan Kyai Nurdaiman Demang Gumelem I yang menjadi da’i atau juru dakwah pertama kali ketika masjid ini didirikan.Masjid ini telah berusia Iebih dari 400 tahun dibangun pada masa pemerintahan Bupati Banyumas Yoedanegara II.

Sampai sekarang masjid ini masih berdiri kokoh terbukti setiap hari dipakai sebagai sarana ibadah khususnya untuk sholat Jum’at. Lokasinya sangat strategis karena pada jaman dahulu untuk membangun suatu tempat selalu menggunakan perhitungan hari balk dan arah bangunan yang balk. Masjid Nur Sulaiman ini tepatnya berada di sebelah barat alun-alun Banyumas atau arah timur dari kota Purwokerto yang berjaraksekitar 15 km.

G. Masjid Saka Tunggal Cikakak Terletak di Kecamatan Wangon berjarak 30 km arah barat daya kota Purwokerto. Masjid ini dibangun pada tahun 1871 M /1288 H dan hanya memiliki satu pilar utama penyangga. Disekitar masjid ini terdapat makam seorang penyebar agama Islam yang bernama Kyai Tulih. Di lokasi ini juga dihuni oleh kera-kera jinak yang dapat diajak bercengkrama dengan wisatawan.

masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah

H. Situs Sikepel Terletak di Kec. Banyumas yang menyimpan berbagai koleksi wayang seperti : Wayang Gagrag Banyumasan, Pesisiran, Wayang Beber, Wayang Suket, Wayang Kancil, Wayang Golek, Wayang Gagrag Solo dan Yogyakarta. Disamping itu juga menyimpan berbagai benda purbakala. I. Watu Kentheng/Watu Lumpang Lokasi dukuh Wanasari desa Kemawi kecamatan Somagede (berada di kawasan hutan pinus daerah pegunungan). Ada kepercayaan bahwa apabila seseorang mempunyai suatu keinginan dan bisa mengangkat batu tersebut maka keinginan itu bisatercapai atau terkabul.

J. Situs Carangandul Lokasi dukuh Carang desa Tamansari kecamatan Karanglewas (berada di tengah-tengah kebun). Menurut cerita situs tersebut merupakan bekas kepala patih Carangandul yang dibunuh oleh utusan dari Demak. K. Pendopo Sipanji Banyumas dan Sumur Mas Lokasi desa Sodagaran kecamatan Banyumas (satu lokasi dengan museum Wayang Sendangmas Banyumas). Merupakan pendopo kadipaten Banyumas (kabupaten Banyumas) sebelum pindah ke Purwokerto tahun 1937.

Sumurmas airnya berwarna keemasan dan banyak diziarahi serta diambil airnya untuk obat kesembuhan. L. Situs Baturragung Lokasi desa Baseh kecamatan Kedungbanteng. Situs ini memperlihatkan ciri-ciri megalitik beberapa indikasi arkeologi yang dengan mudah dijumpai di dalamnya, antara lain berupa bangunan berundak (tiga undakan) dengan pagar keliling yang membatasi undakan, batu-batu tegak atau menhir yang berserakan disetiap undakan serta arca-arca batu dan lumpang batu.

sumber : http://pariwisata.banyumaskab.go.id April 2009 M T W T F S S 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 « Mar May » • Recent Posts • ARISAN:UNTUNG ATAU RUGI? • KISAH PERJALANAN IBU SOED masjid agung nur sulaiman terletak di sebelah KISAH SEORANG PENEBANG KAYU • Tempat Wisata Bersejarah di Kabupaten Banyumas • Telaga Warna-Dieng • Top Clicks • None • Blogroll • Blog Seputar Komputer • Blog Seputar Software Gratis • masjid Darunnjah STAIN Purwokerto • WordPress.com • WordPress.org • Archives • May 2009 • April 2009 • March 2009 • February 2009 •

Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas




2022 www.videocon.com