Nabi yaqub adalah cucu nabi

nabi yaqub adalah cucu nabi

• العربية • مصرى • Boarisch • বাংলা • Deutsch • English • Español • Eesti • فارسی • Suomi • Français • हिन्दी • Magyar • 日本語 • ქართული • Қазақша • 한국어 • Kurdî • Bahasa Melayu • Polski • پنجابی • Português • Română • Русский • Shqip • Српски / srpski • Svenska • ไทย • Türkçe • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • اردو • 中文 • 文言 Daftar isi • 1 Khalifah utama (Khulafaur Rasyidin) • 1.1 Khulafaur Rasyidin (632–661) • 1.2 Khalifah Hasan bin 'Ali (661) • 1.3 Wangsa Umayyah (661–750) • 1.4 Wangsa Abbasiyah (750-1258, 1261–1517) • 1.4.1 Periode pertama (750-1258) • 1.4.2 Periode kedua (1261–1517) • 1.5 Kekhalifahan Utsmaniyah (1517–1924) • 2 Kekhalifahan lainnya • 2.1 'Abdullah bin Zubair • 2.2 Wangsa Fatimiyah (909–1171) • 2.3 Khalifah di Kordoba (929–1031) • 2.4 Wangsa Muwahhidun (1145–1269) • 3 Kekhalifahan Syarif (1924) • 4 Lihat pula • 5 Referensi • 6 Bibliografi Khalifah utama (Khulafaur Rasyidin) [ sunting - sunting sumber ] Khalifah utama merujuk pada para khalifah yang garis kepemimpinannya tersambung dengan khalifah sebelumnya hingga Abu Bakar, khalifah pertama.

Pada umumnya, khalifah utama ini diakui oleh hampir semua dunia Islam. Ketersambungan kepemimpinan ini setidaknya terdapat beberapa macam: • Penunjukkan. Seorang khalifah menunjuk seseorang untuk menjadi penerusnya. Hal ini seperti yang dilakukan Abu Bakar kepada 'Umar bin Khattab, Mu'awiyah kepada Yazid, dan Sulaiman bin 'Abdul Malik kepada 'Umar bin 'Abdul 'Aziz.

Dalam cara ini, seseorang yang telah ditunjuk akan menjadi khalifah setelah khalifah lama mangkat. • Pengangkatan. Seorang khalifah baru diangkat oleh dewan musyawarah, majelis negara, atau pihak berwenang lain yang merupakan bagian dari pemerintahan khalifah sebelumnya.

Bila tidak, tokoh berpengaruh yang semula berada di luar lingkaran dalam khalifah lama dapat menunjuk seseorang calon dan disetujui para pemuka dari anggota pemerintahan khalifah sebelumnya. Contoh kasusnya adalah pengangkatan 'Ali bin Abi Thalib dan Marwan bin al-Hakam. • Pewarisan. Metode ini biasanya dilakukan dalam sistem monarki dinasti yang menunjuk anggota keluarga besar penguasa lama sebagai penerus. Sistem pewarisan ini tidak harus menurunkan jabatan yang bersangkutan dari orang tua kepada anak, tapi bisa juga kepada kerabat lain yang masih dipandang sebagai satu keluarga besar dengan penguasa lama.

Di masa Abbasiyah sendiri, tampuk kekhalifahan sering diwariskan dari penguasa lama ke saudaranya, sepupunya, atau keponakannya. • Penyerahan. Seorang khalifah lama menyerahkan kedudukannya kepada orang yang dia tunjuk. Berbeda dengan metode penunjukkan, penyerahan berarti khalifah lama masih hidup dan turun takhta sehingga khalifah baru dilantik saat pendahulunya masih hidup dalam keadaan sudah bukan merupakan khalifah lagi.

Hal ini pernah dilakukan Hasan bin 'Ali yang menyerahkan kedudukannya kepada Mu'awiyah dan Muhammad al-Mutawakkil III kepada Selim I. • Penggulingan. Khalifah baru mendapat kedudukannya setelah menggulingkan khalifah sebelumnya. Hal ini terjadi pada Wangsa Abbasiyah yang menggulingkan Wangsa Umayyah. Selain lima metode tersebut, ada juga beberapa kasus khusus. • Pemilihan 'Utsman menjadi khalifah merupakan gabungan dari metode penunjukkan dan pengangkatan.

Di ranjang kematian, 'Umar menunjuk enam orang untuk memilih salah satu di antara mereka menjadi khalifah. • Wangsa Abbasiyah mulai abad kesembilan secara praktik menggunakan gabungan pewarisan dan pengangkatan. Khalifah harus merupakan keluarga Abbasiyah, tapi para tokoh militer berpengaruh kerap campur tangan secara terbuka. Pada masa-masa Khalifah Abbasiyah kehilangan sebagian besar pengaruhnya, para pemuka militer ini bahkan memiliki kekuatan untuk menurunkan khalifah yang sudah dipandang tidak layak.

Kekhalifahan dimulai sejak Abu Bakar dilantik menjadi khalifah pada 632 dan pembubaran kekhalifahan pada 3 Maret 1924. Sesuai latar belakang masing-masing khalifah, kekhalifahan dibagi menjadi beberapa masa.

• Khulafaur Rasyidin • Wangsa Umayyah • Wangsa Abbasiyah • Wangsa Utsmaniyah Khulafaur Rasyidin (632–661) [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Khulafaur Rasyidin # Nama Berkuasa Kaligrafi Rentang usia Catatan 1 'Abdullah Abu Bakar أبو بكر 8 Juni 632 (11 H) – 22 Agustus 634 (13 H) (2 tahun, 76 hari) 573 – 22 Agustus 634 • Bergelar Ash-Shiddiq (tepercaya) • Berasal dari Bani Taim • Ayah: 'Utsman Abu Quhafah • Ibu: Salma binti Shakhar • Ayah dari Aisyah, istri Nabi Muhammad 2 ʿUmar bin Khattab عمر بن الخطاب 23 Agustus 634 (13 H) – 3 November 644 (23 H) (10 tahun, 73 hari) 584 – 3 November 644 • Bergelar Al-Faruq (pembeda (yang baik dan buruk)) • Berasal dari Bani 'Adi • Ayah: Khattab bin Nufayl • Ibu: Hantamah binti Hisyam • Ayah dari Hafshah, istri Nabi Muhammad 3 ' Utsman bin 'Affan عثمان بن عفان 11 November 644 (23 H) – 20 Juni 656 (35 H) (11 tahun, 223 hari) 579 – 20 Juni 656 • Bergelar Dzun Nurrain nabi yaqub adalah cucu nabi cahaya) karena menikahi dua putri Nabi Muhammad • Anggota Bani Umayyah pertama yang menjadi khalifah.

Meski begitu, ' Utsman tidak dimasukkan dalam daftar khalifah dari Dinasti Umayyah lantaran Bani Umayyah bukan sebuah dinasti pada masanya.

• Ayah: 'Affan bin Abi al-'Ash • Ibu: Arwa binti Kuraiz • Suami dari putri Nabi Muhammad, Ruqayyah, kemudian Ummu Kultsum • Cucu Ummu Hakim nabi yaqub adalah cucu nabi Abdul Muttalib, bibi Nabi Muhammad 4 ' Ali bin Abi Thalib علي بن أبي طالب 20 Juni 656 (35 H) – 29 Januari 661 (40 H) (4 tahun, 224 hari) 15 September 601 – 29 Januari 661 • Dipandang sebagai imam pertama oleh umat Syi'ah • Berasal dari Bani Hasyim • Ayah: Abu Talib bin 'Abdul Muttalib • Ibu: Fatimah binti Asad • Sepupu Nabi Muhammad • Suami dari putri Nabi Muhammad, Fatimah az-Zahra • Suami dari cucu Nabi Muhammad, Umamah binti Zainab Khalifah Hasan bin 'Ali (661) [ sunting - sunting sumber ] # Nama Berkuasa Kaligrafi Rentang usia Catatan 5 Ḥasan bin ' Ali الحسن بن علي 661 (enam atau tujuh bulan) 1 Desember 624 – 1 April 670 • Beberapa sumber menyebut Hasan sebagai Khulafaur Rasyidin kelima, sedangkan sebagian sumber yang lain tidak memasukkannya dalam daftar khalifah resmi • Berasal dari Bani Hasyim • Ibu: Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad • Ayah: (4) ' Ali bin Abi Thalib • Menyerahkan kekhalifahan kepada (6) Mu'awiyah setelah 6-7 bulan berkuasa Wangsa Umayyah (661–750) [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Kekhalifahan Umayyah Secara silsilah, khalifah dari Wangsa Umayyah dibagi menjadi dua: • Kelompok Sufyani, yakni yang merupakan keturunan dari Abu Sufyan bin Harb.

Ada tiga orang khalifah yang berasal dari garis Sufyani. • Kelompok Marwani, merujuk kepada Marwan bin al-Hakam dan keturunannya. Ada sebelas orang khalifah yang berasal dari garis Marwani. Abu Sufyan dan Al-Hakam (ayah Marwan) adalah cucu dari Umayyah bin 'Abd asy-Syams dan dari sini nama Bani Umayyah ditetapkan.

# Nama Berkuasa Kaligrafi Rentang usia Catatan 6 Mu'awiyah bin Abu Sufyan معاوية بن أبي سفيان 661 – 26 April 680 (60 H) 602 – 26 April 680 • Ayah: Abu Sufyan bin Harb • Ibu: Hindun binti 'Utbah • Saudara tiri Ummu Habibah, istri Nabi Muhammad • Secara resmi mengubah bentuk kekhalifahan dari sistem pemilihan menjadi pewarisan 7 Yazid bin Mu'awiyah زيد بن معاوية 26 April 680 – 11 November 683 (3 tahun, 200 hari) 647 – 11 November 683 • Ayah: (6) Mu'awiyah bin Abu Sufyan • Ibu: Maysun binti Bahdal 8 Mu'awiyah bin Yazid معاوية بن يزيد 11 November 683 – 684 sekitar 664 – sekitar 684 • Ayah: (7) Yazid bin Mu'awiyah • Ibu: wanita dari Bani Kalb • Khalifah Umayyah terakhir dari garis Sufyani 9 Marwan bin al-Hakam مروان بن الحكم Juni 684 – 12 April 685 623 atau 626 – April 685 • Ayah: Hakam bin Abi al-Ash • Ibu: Aminah binti 'Alqama • Sepupu (3) ' Utsman bin 'Affan • Khalifah Umayyah pertama dari garis Marwani 10 ' Abdul Malik bin Marwan عبد الملك ابن مروان 12 April 685 – 8 Oktober 705 (20 tahun, 180 hari) 646 – 8 Oktober 705 • Ayah: (9) Marwan bin al-Hakam • Ibu: 'Aisyah binti Mu'awiyah 11 Al-Walid bin ' Abdul Malik الوليد بن عبد الملك 8 Oktober 705 – 23 Februari 715 (9 tahun, 139 hari) 668 – 23 Februari 715 • Ayah: (10) ' Abdul Malik bin Marwan • Ibu: Walladah binti Abbas 12 Sulaiman bin ' Abdul Malik سليمان بن عبد الملك 23 Februari 715 – 22 September 717 (2 tahun, 212 hari) 674 – 22 September 717 • Ayah: (10) ' Abdul Malik bin Marwan • Ibu: Walladah binti Abbas 13 ' Umar bin 'Abdul 'Aziz عمر بن عبد العزيز 22 September 717 – 5 Februari 720 (2 tahun, 137 hari) 2 November 682 – 4 Februari 720 • Ayah: 'Abdul 'Aziz bin (9) Marwan • Ibu: Layla binti 'Ashim bin (2) ' Umar bin Khattab 14 Yazid bin ' Abdul Malik يزيد بن عبد الملك‎ 5 Februari 720 – 26 Januari 724 (3 tahun, 356 hari) 687 – 26 Januari 724 • Ayah: (10) ' Abdul Malik bin Marwan • Ibu: 'Atikah binti (7) Yazid bin Mu'awiyah 15 Hisyam bin ' Abdul Malik هشام بن عبد الملك 26 Nabi yaqub adalah cucu nabi 724 – 6 Februari 743 (19 tahun, 12 hari) 691 – 6 Februari 743 • Ayah: (10) ' Abdul Malik bin Marwan • Ibu: Fatimah binti Hisyam dari Bani Makhzum 16 Al-Walid bin Yazid الوليد بن يزيد 6 Februari 743 – 17 Nabi yaqub adalah cucu nabi 744 (1 tahun, 72 hari) 709 – 17 April 744 • Ayah: (14) Yazid bin ' Abdul Malik • Ibu: Ummu al-Hajjaj binti Muhammad 17 Yazid bin Al-Walid bin ' Abdul Malik يزيد بن الوليد 17 April 744 – 4 Oktober 744 (171 hari) 701 – 4 Oktober 744 • Ayah: (11) Al-Walid bin ' Abdul Malik • Ibu: Syah-i Afrid binti Peroz III bin Yazdegerd III, Kaisar Sasaniyah terakhir 18 Ibrahim bin Al-Walid bin ' Abdul Malik ابراهيم ابن الوليد 4 Oktober 744 – 4 Desember 744 (62 hari) mangkat 25 Januari 750 • Ayah: (11) Al-Walid bin ' Abdul Malik • Dihukum mati bersama keluarga besarnya oleh (20) 'Abdullah As-Saffah 19 Marwan bin Muhammad مروان بن محمد 4 Desember 744 – 25 Januari 750 (5 tahun, 53 hari) mangkat 6 Agustus 750 • Ayah: Muhammad bin (9) Marwan bin al-Hakam Wangsa Abbasiyah (750-1258, 1261–1517) [ sunting nabi yaqub adalah cucu nabi sunting sumber ] Artikel utama: Kekhalifahan Abbasiyah Wangsa Abbasiyah adalah keluarga besar yang merupakan keturunan dari ' Abbas bin Abdul-Muththalib, paman Nabi Muhammad.

Silsilah dari ayah dari dua khalifah Bani Abbasiyah pertama adalah Muhammad bin 'Ali bin 'Abdullah bin 'Abbas. Masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah dibagi ke dalam dua periode. Periode pertama adalah sebelum jatuhnya Baghdad pada 1258 dan periode kedua adalah setelah penaklukan Baghdad. Periode pertama (750-1258) [ sunting - sunting sumber ] Pada masa ini, khalifah tidak lagi memiliki kendali langsung atas semua wilayah negara Islam.

Gelar sultan mulai digunakan untuk merujuk pada penguasa Muslim yang menguasai wilayah tertentu di dunia Islam, berbeda dengan khalifah yang merupakan pemimpin seluruh dunia Islam.

Namun dalam praktiknya, daerah kekuasaan beberapa sultan lebih luas daripada wilayah yang dipimpin langsung oleh khalifah. Meski sepenuhnya mandiri dari campur tangan khalifah dalam memerintah wilayah kekuasaannya, para sultan ini tetap menyatakan ketundukannya kepada khalifah meski hanya secara simbolis. Terdapat 37 khalifah pada masa ini, terhitung dari 'Abdullah as-Saffah naik takhta sampai terbunuhnya 'Abdullah al-Musta'shim pada 1258 saat Baghdad jatuh ke tangan Mongol. # Nama Berkuasa Gambar Rentang usia Catatan 20 'Abdullah As-Saffah عبد الله السفاح 25 Januari 750 – 10 Juni 754 (4 tahun, 137 hari) 721 – 10 Juni 754 • Ayah: Muhammad, cicit ' Abbas bin Abdul-Muththalib, paman Nabi Muhammad • Ibu: Raita (Rithah) binti 'Ubaidillah al-Haritsiyah 21 'Abdullah Al-Manshur عبد الله المنصور 10 Nabi yaqub adalah cucu nabi 754 – 6 Oktober 775 (21 tahun, 119 hari) 714 – 6 Oktober 775 • Ayah: Muhammad, cicit ' Abbas bin Abdul-Muththalib, paman Nabi Muhammad • Ibu: Sallamah, budak-selir Berber • Saudara (20) 'Abdullah As-Saffah 22 Muhammad Al-Mahdi محمد المهدي 6 Oktober 775 – 24 Juli 785 (9 tahun, 262 hari) 744 atau 745 – 24 Juli 785 • Ayah: (21) 'Abdullah Al-Manshur • Ibu: Arwa binti Manshur al-Himyariyah 23 Musa Al-Hadi موسى الهادي 24 Juli 785 – 14 September 786 (1 tahun, 83 hari) 26 April 764 – 14 September 786 • Ayah: (22) Muhammad Al-Mahdi • Ibu: Al-Khayzuran binti 'Atta 24 Harun Ar-Rasyid هَارُون الرَشِيد‎ 14 September 786 – 24 Maret 809 (22 tahun, 192 hari) 17 Maret 766 – 24 Maret 809 • Ayah: (22) Muhammad Al-Mahdi • Ibu: Al-Khayzuran binti 'Atta 25 Muhammad Al-Amin محمد الأمين‎ 24 Maret 809 – 27 September 813 (4 tahun, 188 hari) 787 – 27 September 813 • Ayah: (24) Harun Ar-Rasyid nabi yaqub adalah cucu nabi Ibu: Zubaidah, putri Ja'far bin (21) 'Abdullah Al-Manshur dan Salsal, saudari Al-Khayzuran binti 'Atta • Satu-satunya Khalifah 'Abbasiyyah yang merupakan anggota Wangsa 'Abbasiyyah dari jalur ayah dan ibu 26 'Abdullah Al-Ma'mun عبد الله المأمون‎ 27 September 813 – 7 Agustus 833 (19 tahun, 315 hari) 14 September 786 – 7 Agustus 833 • Ayah: (24) Harun Ar-Rasyid • Ibu: Marajil, budak-selir 27 Muhammad Al-Mu'tashim Billah محمد المعتصم بالله‎ 9 Agustus 833 – 5 Januari 842 (8 tahun, 150 hari) Oktober 796 – 5 Januari 842 • Ayah: (24) Harun Ar-Rasyid • Ibu: Marida, budak-selir 28 Harun Al-Watsiq Billah هارون الواثق باللہ 5 Januari 842 – 10 Agustus 847 (5 tahun, 218 hari) 18 April 812 – 10 Agustus 847 • Ayah: (27) Muhammad Al-Mu'tashim • Ibu: Qarathis, budak-selir 29 Ja'far Al-Mutawakkil 'Alallah جعفر المتوكل على الله 10 Agustus 847 – 11 Desember 861 (14 tahun, 124 hari) 31 Maret 822 – 11 Desember 861 • Ayah: (27) Muhammad Al-Mu'tashim • Ibu: Syuja', budak-selir dari Khwarezmia 30 Muhammad Al-Muntashir Billah محمد المنتصر بالله 11 Desember 861 – 7 Juni 862 (179 hari) November 837 – 7 Juni 862 • Ayah: (29) Ja'far Al-Mutawakkil • Ibu: Hubsyiya, budak-selir dari Yunani 31 Ahmad Al-Musta'in Billah أحمد المستعين بالله 8 Juni 862 – Januari 866 (sekitar 3 tahun 7 bulan) 834/836 – 866 • Ayah: Muhammad bin (27) Muhammad Al-Mu'tashim • Ibu: Makhariq, budak-selir dari Sisilia 32 Muhammad Al-Mu'tazz Billah محمد المعتز بالله 25 Januari 866 – 13 Juli 869 (3 tahun, 170 hari) 847 – Juli/Agustus 869 • Ayah: (29) Ja'far Al-Mutawakkil • Ibu: Qabihah, budak-selir dari Yunani 33 Muhammad Al-Muhtadi Billah محمد المهتدي بالله‎ 21 Juli 869 – 17 Juni 870 (332 hari) 833 – 21 Juni 870 • Ayah: (28) Harun Al-Watsiq • Ibu: Qurb, budak-selir dari Yunani 34 Ahmad Al-Mu'tamid 'Alallah أحمد المعتمد على الله‎ 19 Juni 870 – 15 Oktober 892 (22 tahun, 119 hari) sekitar 842 – 15 Oktober 892 • Ayah: (29) Ja'far Al-Mutawakkil • Ibu: Fityan, budak-selir dari Kufah 35 Ahmad Al-Mu'tadhid Billah أحمد المعتضد بالله‎‎ 15 Oktober 892 – 5 April 902 (9 tahun, 173 hari) 857 – 5 April 902 • Ayah: Thalhah bin (29) Ja'far Al-Mutawakkil • Ibu: Dhirar, budak-selir 36 'Ali Al-Muktafi Billah علي المكتفي بالله‎‎ 5 April 902 - 13 Agustus 908 (6 tahun, 131 hari) 877 – 13 Agustus 908 • Ayah: (35) Ahmad Al-Mu'tadhid • Ibu: Čiček (Jijak), budak-selir Turki 37 Ja'far Al-Muqtadir Billah جعفر المقتدر بالله‎‎ 13 Agustus 908 – 31 Oktober 932 (24 tahun, 80 hari) 13 November 895 – 31 Oktober 932 • Ayah: (35) Ahmad Al-Mu'tadhid • Ibu: Syaghab, budak-selir dari Rûm • Saudara 'Ali Al-Muktafi 38 Muhammad Al-Qahir Billah محمد القاهر بالله‎‎ 31 Oktober 932 – 19 April 934 (1 tahun, 171 hari) 899 – 950 • Ayah: (35) Ahmad Al-Mu'tadhid • Ibu: Qatul, budak-selir Berber • Saudara 'Ali Al-Muktafi dan Ja'far Al-Muqtadir 39 Muhammad Ar-Radhi Billah محمد الراضي بالله‎‎ 24 April 934 – 12 Desember 940 (6 tahun, 233 hari) Desember 909 – 12 Desember 940 nabi yaqub adalah cucu nabi Ayah: (37) Ja'far Al-Muqtadir • Ibu: Zhalum, budak-selir 40 Ibrahim Al-Muttaqi Lillah إبراهيم المتقي لله 15 Desember 940 – 26 Agustus 944 (3 tahun, 256 hari) 908 – Juli 968 • Ayah: (37) Ja'far Al-Muqtadir • Ibu: Khalub atau Zahrah, budak-selir • Saudara Muhammad Ar-Radhi 41 'Abdullah Al-Mustakfi Billah عبد الله المستكفي بالله‎ 26 Agustus 944 – 28 Januari 946 (1 tahun, 156 hari) 905 – September/Oktober 949 • Ayah: (36) 'Ali Al-Muktafi • Ibu: Ghusn, budak-selir 42 Fadhl Al-Muthi' Lillah فضل المطيع لله‎ 28 Januari 946 – 4 Agustus 974 (28 tahun, 189 hari) 914 – September/Oktober 974 • Ayah: (37) Ja'far Al-Muqtadir • Ibu: Syaghla, budak-selir dari Sisilia 43 'Abdul Karim Ath-Tha'i Lillah عبد الكريم الطائع لله‎ 4 Agustus 974 – 30 Oktober 991 (17 tahun, 88 hari) 932 – 3 Agustus 1003 • Ayah: (42) Fadhl Al-Muthi' • Ibu: Hazar atau Atab, budak-selir 44 Ahmad Al-Qadir Billah أحمد القادر بالله‎ 1 November 991 – 29 November 1031 (40 tahun, 31 hari) 947 – 29 November 1031 • Ayah: Ishaq bin (37) Ja'far Al-Muqtadir • Ibu: Tumna atau Damnah, budak-selir 45 'Abdullah Al-Qa'im Bi Amrillah عبد الله القائم بأمر الله‎ 29 November 1031 – 2 April 1075 (43 tahun, 125 hari) 1001 – 2 April 1075 • Ayah: (44) Ahmad Al-Qadir 46 'Abdullah Al-Muqtadi Bi Amrillah عبد الله المقتدي بأمر الله‎ 2 April 1075 – 3 Februari 1094 (18 tahun, 308 hari) 1056 – 3 Februari 1094 • Ayah: Muhammad adz-Dzakirah bin (45) 'Abdullah Al-Qa'im • Ibu: Arjuan atau Urjuwan, budak-selir Armenia 47 Ahmad Al-Mustazh'hir Billah أحمد المستظهر بالله‎ 3 Februari 1094 – 6 Agustus 1118 (24 tahun, 185 hari) April/Mei 1078 – 6 Agustus 1118 • Ayah: (46) 'Abdullah Al-Muqtadi • Ibu: Altın, budak-selir Turki 48 Al-Fadhl Al-Mustarsyid Billah الفضل المسترشد بالله‎ 6 Agustus 1118 – 29 Agustus 1135 (17 tahun, 24 hari) April/Mei 1092 – 29 Agustus 1135 • Ayah: (47) Ahmad Al-Mustazh'hir • Ibu: Lubaba, budak-selir Turki 49 Manshur Ar-Rasyid Billah منصور الراشد بالله‎ 29 Agustus 1135 – 17 Agustus 1136 (355 hari) 1109 – 6 Juni 1138 • Ayah: (48) Al-Fadhl Al-Mustarsyid • Ibu: Ummu as-Sada, budak-selir dari Habasyah 50 Muhammad Al-Muqtafi Li Amrillah محمد المقتفي لأمر الله 17 Agustus 1136 – 12 Maret 1160 (23 tahun, 209 hari) 9 Maret 1096 – 12 Maret 1160 • Ayah: (47) Ahmad Al-Mustazh'hir • Ibu: Nasim, budak-selir dari Habasyah 51 Yusuf Al-Mustanjid Billah يوسف المستنجد بالله 12 Maret 1160 – 20 Desember 1170 (10 tahun, 284 hari) 1124 – 20 Desember 1170 • Ayah: (50) Muhammad Al-Muqtafi • Ibu: Thawus, budak-selir dari Romawi 52 Hasan Al-Mustadhi' Bi Amrillah حسن المستضيء بأمر الله 20 Desember 1170 – 30 Maret 1180 (9 tahun, 102 hari) 1124 – 30 Maret 1180 • Ayah: (51) Yusuf Al-Mustanjid • Ibu: Ghaddah, budak-selir Armenia 53 Ahmad An-Nashir Li Dinillah أحمد الناصر لدين الله 30 Maret 1180 – 5 Oktober 1225 (45 tahun, 190 hari) 6 Agustus 1158 – 5 Oktober 1225 • Ayah: (52) Hasan Al-Mustadhi' • Ibu: Zumurrud, budak-selir Turki 54 Muhammad Azh-Zhahir Bi Amrillah محمد الظاهر بأمر الله 5 Oktober 1225 – 10 Juli 1226 (279 hari) 1176 – 10 Juli 1226 • Ayah: (53) Ahmad An-Nashir 55 Manshur Al-Mustanshir Billah منصور المستنصر بالله 10 Juli 1226 – 5 Desember 1242 (16 tahun, 149 hari) 17 Februari 1192 – 5 Desember 1242 • Ayah: (54) Muhammad Azh-Zhahir • Ibu: Zahra, budak-selir Turki 56 'Abdullah Al-Musta'shim Billah عبد الله المستعصم بالله 5 Desember 1242 – 20 Februari 1258 (15 tahun, 78 hari) 1213 – 20 Februari 1258 • Ayah: (55) Manshur Al-Mustanshir • Ibu: Hajir, budak-selir Habasyah • Khalifah Abbasiyah periode pertama yang terakhir.

• Setelah kehancuran Baghdad oleh tentara Mongol pada 1258, sebagian anggota Wangsa 'Abbasiyah berlindung di Mesir dan melanjutkan garis kekhalifahan di sana Periode kedua (1261–1517) [ sunting - sunting sumber ] Setelah Baghdad runtuh, Wangsa Abbasiyah mengungsi ke Mesir yang saat itu dikuasai Kesultanan Mamluk dan melanjutkan tampuk kekhalifahan di sana.

nabi yaqub adalah cucu nabi

Berbeda saat sebelum kejatuhan Baghdad, Khalifah Abbasiyah di Mesir sama sekali tidak memiliki wilayah kekuasaan dan hanya berperan sebagai simbol pemersatu dunia Islam. Kekurangan dalam memiliki kekuatan politik menjadikan khalifah pada masa ini kerap terombang-ambing saat terjadi pergolakan di pemerintahan Mesir, membuat khalifah pada periode ini juga disebut dengan "khalifah bayangan." Sultan Mamluk bahkan mampu menunjuk khalifah yang baru atau menggulingkan khalifah yang sedang berkuasa.

Terdapat 17 khalifah pada periode ini. Di antara mereka, tiga khalifah menjabat sebanyak dua kali dan seorang khalifah menjabat sebanyak tiga kali. Periode kedua Wangsa Abbasiyah berakhir setelah Kesultanan Mamluk ditaklukan oleh Kesultanan Utsmaniyah pada 1517. # Nama Berkuasa Rentang usia Catatan 57 Ahmad Al-Mustanshir Billah II أحمد المسنتصر بالله الثاني 13 Juni 1261 – 28 November 1261 (169 hari) Mangkat 28 November 1261 • Ayah: (54) Muhammad Azh-Zhahir • Saudara (55) Manshur Al-Mustanshir • Dinobatkan sebagai khalifah oleh Sultan Mesir 58 Ahmad Al-Hakim Bi Amrillah أحمد الحاكم بأمر الله 21 November 1262 – 19 Januari 1302 (39 tahun, 60 hari) Mangkat 19 Januari 1302 • Ayah: Hasan bin Abu Bakar bin Hasan bin 'Ali bin (48) Al-Fadhl Al-Mustarsyid • Sebagian meragukan klaimnya sebagai anggota Wangsa 'Abbasiyah lantaran jauhnya Al-Hakim dari garis utama keluarga besar tersebut 59 Sulaiman Al-Mustakfi Billah II سليمان المستكفي بالله الثاني 20 Januari 1302 – Februari 1340 (sekitar 38 tahun) Mangkat Februari 1340 • Ayah: (58) Ahmad Al-Hakim 60 Ibrahim Al-Watsiq Billah II إبراهيم الواثق بالله الثاني Februari 1340 – 16 Juni 1341 Mangkat setelah 1341 • Ayah: Muhammad bin (58) Ahmad Al-Hakim 61 Ahmad Al-Hakim Bi Amrillah II أحمد الحاكم بأمر الله الثاني 16 Juni 1341 – 1352 Mangkat 1352 • Ayah: (59) Sulaiman Al-Mustakfi II 62 Abu Bakar Al-Mu'tadhid Billah II أبو بكر nabi yaqub adalah cucu nabi بالله الثاني 1352 – 1362 Mangkat 1362 • Ayah: (59) Sulaiman Al-Mustakfi II 63 Muhammad Al-Mutawakkil 'Alallah محمد المتوكل على الله 1362 – 1377 (periode pertama) Mangkat 9 Januari 1406 • Ayah: (62) Abu Bakar Al-Mu'tadhid II • Masa kekuasaan pertama 64 Zakariyya Al-Musta'shim Billah II زكريا المستعصم بالله الثاني 1377 (periode pertama) Mangkat 1389 • Ayah: (60) Ibrahim Al-Watsiq II • Masa kekuasaan pertama Muhammad Al-Mutawakkil 'Alallah محمد المتوكل على الله 1377 – 1383 (periode kedua) • Masa kekuasaan kedua 65 'Umar Al-Watsiq Billah III عمر الواثق بالله الثالث September 1383 – 13 November 1386 Mangkat 13 November 1386 • Ayah: (60) Ibrahim Al-Watsiq II Zakariyya Al-Musta'shim Billah II زكريا المستعصم بالله الثاني November 1386 – 1389 (periode kedua) • Masa kekuasaan kedua Muhammad Al-Mutawakkil 'Alallah محمد المتوكل على الله 1389 – 9 Januari 1406 (periode ketiga) • Masa kekuasaan ketiga 66 Al-'Abbas Al-Musta'in Billah II العباس المستعين بالله الثاني 22 Januari 1406 – 9 Nabi yaqub adalah cucu nabi 1414 (8 tahun, 47 hari) Mangkat 1430 • Ayah: (62) Abu Bakar Al-Mutawakkil • Ibu: Bay Khatun, budak-selir Turki • Juga berkuasa sebagai Sultan Mesir selama enam bulan pada tahun 1412 67 Dawud Al-Mu'tadhid Billah Nabi yaqub adalah cucu nabi داود المعتضد بالله الثالث 9 Maret 1414 – 23 Juli 1441 (27 tahun, 137 hari) Mangkat 23 Juli 1441 • Ayah: (62) Abu Bakar Al-Mutawakkil • Ibu: Kazal, budak-selir Turki 68 Sulaiman Al-Mustakfi Billah III سليمان المستكفي بالله الثالث 23 Juli 1441 – 29 Januari 1451 (9 tahun, 191 hari) Mangkat 29 Januari 1451 • Ayah: (62) Abu Bakar Al-Mutawakkil • Ibu: Bay Khatun, budak-selir Turki 69 Hamzah Al-Qa'im Bi Amrillah حمزة القائم بأمر الله 1451 – 1455 Mangkat 1458 • Ayah: (62) Abu Bakar Al-Mutawakkil • Ibu: Bay Khatun, budak-selir Turki 70 Yusuf Al-Mustanjid Billah II يوسف المستنجد بالله الثاني 1455 – 7 April 1479 Mangkat 7 April 1479 • Ayah: (62) Abu Bakar Al-Mutawakkil • Ibu: Bay Khatun, budak-selir Turki 71 'Abdul 'Aziz Al-Mutawakkil 'Alallah II عبد العزيز المتوكل على الله الثاني 8 April 1479 – 27 September 1497 (18 tahun, 173 hari) Mangkat 27 September 1497 • Ayah: Ya'qub bin (62) Muhammad Al-Mutawakkil • Ibu: Haj al-Malik, putri tentara 72 Ya'qub Al-Mustamsik Billah يعقوب المستمسك بالله 27 September 1497 – 1508 (periode pertama) Mangkat 1521 • Ayah: (71) 'Abdul 'Aziz Al-Mutawakkil II • Masa kekuasaan pertama 73 Muhammad Al-Mutawakkil 'Alallah III محمد المتوكل على الله الثالث 1508 – 1516 (periode pertama) Mangkat 1543 • Ayah: (72) Ya'qub Al-Mustamsik • Masa kekuasaan pertama Ya'qub Al-Mustamsik Billah يعقوب المستمسك بالله 1516 – 1517 (periode kedua) • Masa kekuasaan kedua Muhammad Al-Mutawakkil 'Alallah III محمد المتوكل على الله الثالث 1517 (periode kedua) • Masa kekuasaan kedua • Khalifah terakhir dari Wangsa 'Abbasiyah dan Suku Quraisy • Menyerahkan kedudukan khalifah kepada (74) Selim I setelah Kesultanan Utsmaniyah menaklukkan Kesultanan Mamluk Kekhalifahan Utsmaniyah (1517–1924) [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Kekhalifahan Utsmaniyah Sebelum penaklukan Mesir, para penguasa Utsmani menyandang beberapa gelar, di antaranya adalah sultan dan padisyah.

Penguasa Utsmani menyandang gelar sultan atas kedudukan mereka sebagai kepala negara Muslim. Padisyah merupakan kaisar atau maharaja dalam bahasa Persia dan penguasa Utsmani menyandang gelar ini untuk menegaskan kedudukan mereka di atas para raja. Penguasa Utsmani resmi menyandang gelar khalifah setelah penaklukan Mesir, meski beberapa penguasa Utsmani sebelumnya sudah mulai mengklaim dirinya sebagai khalifah.

Gelar khalifah kehilangan kekuasaannya sebagai kepala negara sejak jatuhnya Baghdad pada 1258 dan hanya berperan menjadi pemimpin simbolis dunia Islam. Hal itu tetap tidak berubah pada masa Utsmani. Para penguasa Utsmani memiliki kekuasaan karena kedudukan mereka sebagai sultan dan padisyah, bukan karena status mereka sebagai khalifah.

Pada praktiknya, para penguasa Utsmani terbilang sangat jarang menggunakan gelar khalifah mereka dalam perpolitikan dalam dan luar negeri. Gelar khalifah mulai digunakan penguasa Utsmani pada saat Perjanjian Küçük Kaynarca, untuk menegaskan kedudukannya sebagai pelindung umat Islam di Rusia.

Sultan Abdül Hamid II merupakan penguasa Utsmani yang paling sering menggunakan gelar khalifah dalam upayanya menggalang persatuan di dunia Islam untuk menghadapi imperialisme Barat. Pada November 1922, Majelis Agung Nasional Turki membubarkan Kesultanan Utsmani dan sultan terakhirnya, Mehmed VI, diasingkan ke Malta. Meski begitu, Mustafa Kemal (Atatürk) belum berani membubarkan kekhalifahan demi menjaga dukungan masyarakat, juga karena kekhalifahan adalah lambang pemersatu umat Islam Sunni seluruh dunia, berbeda dengan Kesultanan Utsmani yang merupakan sebatas negara.

Majelis Agung Nasional Turki kemudian mengangkat sepupu Mehmed VI sebagai Khalifah Abdül Mejid II pada 19 November 1922. Abdül Mejid II merupakan satu-satunya khalifah dari Wangsa Utsmani yang tidak merangkap sebagai sultan. Namun karena khawatir Abdül Mejid II akan menggunakan statusnya sebagai khalifah untuk campur tangan dalam urusan dalam dan luar negeri Turki sebagaimana yang dilakukan para Sultan Utsmani terdahulu, Majelis Agung Nasional Turki akhirnya membubarkan kekhalifahan pada 3 Maret 1924, menjadikan Abdül Mejid II sebagai khalifah terakhir.

Negara-negara Muslim mempertanyakan keabsahan pembubaran kekhalifahan oleh pihak Turki dan terdapat beberapa pertemuan para tokoh Muslim terkait keberlangsungan kekhalifahan, tetapi tidak ada kesepakatan bersama yang dapat dicapai. # Nama Berkuasa Gambar Tughra Rentang usia Catatan 74 Selim I سليم اول 1517 – 22 September 1520 1470/1 – 22 September 1520 • Ayah: Bayezid II • Ibu: Ayşe Gülbahar Hatun, budak-selir Yunani atau putri Kadipaten Dulkadir • Juga berkuasa sebagai Sultan Utsmani sejak 1512 • Menjadi khalifah setelah menaklukkan Kesultanan Mamluk Mesir 75 Süleyman I سليمان اول 30 September 1520 – 6 September 1566 (45 tahun, 342 hari) 6 November 1494 – 6 September 1566 (1566-09-06) (umur 71) • Ayah: (74) Selim I • Ibu: Hafsa Valide Sultan, budak-selir atau putri Khan Krimea 76 Selim II سليم ثانى 7 September 1566 – 15 Desember 1574 (8 tahun, 100 hari) 28 Mei 1524 – 15 Desember 1574 (1574-12-15) (umur 50) • Ayah: (75) Süleyman I • Ibu: Hürrem Haseki Sultan, putri pendeta Ortodoks dari Polandia 77 Murad III مراد ثالث 15 Desember 1574 – 16 Januari 1595 (20 tahun, 33 hari) 4 Juli 1546 – 16 Januari 1595 (1595-01-16) (umur 48) • Ayah: (76) Selim II • Ibu: Nurbanu Valide Sultan, keturunan bangsawan Venesia, Yahudi Spanyol, atau Yunani 78 Mehmed III محمد ثالث 16 Januari 1595 – 22 Desember 1603 (8 tahun, 341 hari) 26 Mei 1566 – 22 Desember 1603 (1603-12-22) (umur 37) • Ayah: (77) Murad III • Ibu: Safiye Valide Sultan, budak-selir Albania 79 Ahmed I احمد اول 22 Desember 1603 – 22 November 1617 (13 tahun, 336 hari) April 1590 – 22 November 1617 (1617-11-22) (umur 27) • Ayah: (78) Mehmed III • Ibu: Handan Valide Sultan, budak-selir Bosnia 80 Mustafa I مصطفى اول 22 November 1617 – 26 Februari 1618 (97 hari) (periode pertama) 24 Juni 1591 – 20 Januari 1639 (1639-01-20) (umur 47) • Ayah: (78) Mehmed III • Ibu: Halime Valide Sultan, budak-selir Abkhaz • Saudara dari (79) Ahmed I • Masa kekuasaan pertama 81 Osman II عثمان ثانى 26 Februari 1618 – 20 Mei 1622 (4 tahun, 84 hari) 3 November 1604 – 20 Mei 1622 (1622-05-20) (umur 17) • Ayah: (79) Ahmed I • Ibu: Mahfiruz Hatice Hatun, budak-selir • Keponakan dari (80) Mustafa I Mustafa I مصطفى اول 20 Mei 1622 – 10 September 1623 (356 hari) (periode kedua) • Masa kekuasaan kedua 82 Murad IV مراد رابع 10 September 1623 - 8 Februari 1640 (16 tahun, 152 hari) 27 Juli 1612 – 8 Februari 1640 (1640-02-08) (umur 27) • Ayah: (79) Ahmed I • Ibu: Mahpeyker Kösem Valide Sultan, putri pendeta dari Yunani 83 Ibrahim ابراهيم 9 Februari 1640 – 8 Agustus 1648 (8 tahun, 182 hari) 5 November 1615 – 18 Agustus 1648 (1648-08-18) (umur 32) • Ayah: (79) Ahmed I • Ibu: Mahpeyker Kösem Valide Sultan, putri pendeta dari Yunani 84 Mehmed IV محمد رابع 8 Agustus 1648 – 8 November 1687 (39 tahun, 93 hari) 2 Januari 1642 – 6 Januari 1693 (1693-01-06) (umur 51) • Ayah: (83) Ibrahim • Ibu: Turhan Hatice Valide Sultan, budak-selir 85 Süleyman II سليمان ثانى 8 November 1687 – 22 Juni 1691 (3 tahun, 227 hari) 15 April 1642 – 22 Juni 1691 (1691-06-22) (umur 49) • Ayah: (83) Ibrahim • Ibu: Saliha Dil-aşub Valide Sultan, budak-selir • Saudara dari (84) Mehmed IV 86 Ahmed II احمد ثانى 22 Juni 1691 – 6 Februari 1695 (3 tahun, 230 hari) 25 Februari 1643 – 6 Februari 1695 (1695-02-06) (umur 51) • Ayah: (83) Ibrahim • Ibu: Hatice Muazzez Haseki Sultan, budak-selir • Saudara dari (84) Mehmed IV dan (85) Süleyman II 87 Mustafa II مصطفى ثانى 6 Februari 1695 – 22 Agustus 1703 (8 tahun, 198 hari) 6 Februari 1664 – 30 Desember 1703 (1703-12-30) (umur 39) • Ayah: (84) Mehmed IV • Ibu: Gülnuş Valide Sultan, putri pendeta Ortodoks di Yunani • Keponakan dari (86) Ahmed II 88 Ahmed III احمد ثالث 22 Agustus 1703 – 1 Oktober 1730 (27 tahun, 41 hari) 30/31 Desember 1673 – 1 Juli 1736 (1736-07-01) (umur 62) • Ayah: (84) Mehmed IV • Ibu: Gülnuş Valide Sultan, putri pendeta Ortodoks di Yunani • Saudara dari (87) Mustafa II 89 Mahmud I محمود اول 1 Oktober 1730 – 13 Desember 1754 (24 tahun, 74 hari) 2 Agustus 1696 – 13 Desember 1754 (1754-12-13) (umur 58) • Ayah: (87) Mustafa II • Ibu: Saliha Sabkati Valide Sultan, budak-selir Yunani • Keponakan dari (88) Ahmed III 90 Osman III عثمان ثالث 13 Desember 1754 – 30 Oktober 1757 (2 tahun, 322 hari) 2/3 Januari 1699 – 30 Oktober 1757 (1757-10-30) (umur 58) • Ayah: (87) Mustafa II • Ibu: Şehsuvar Valide Sultan, budak-selir Serbia • Saudara dari (89) Mahmud I 91 Mustafa III مصطفى ثالث 30 Oktober 1757 – 24 Desember 1773 (16 tahun, 56 hari) 28 Januari 1717 – 24 Desember 1773 (1773-12-24) (umur 56) • Ayah: (88) Ahmed III • Ibu: Mihrişah Kadın • Sepupu dari (90) Osman III 92 'Abdül Hamid I عبد الحميد الاول 24 Desember 1773 – 7 April 1789 (15 tahun, 105 hari) 20 Maret 1725 – 7 April 1789 (1789-04-07) (umur 64) • Ayah: (88) Ahmed III • Ibu: Şermi Kadın • Saudara dari (91) Mustafa III 93 Selim III سليم ثالث 7 April 1789 – 29 Mei 1807 (18 tahun, 53 hari) 24 Desember 1761 – 28 Juli 1808 (1808-07-28) (umur 46) • Ayah: (91) Mustafa III • Ibu: Mihrişah Valide Sultan, putri pendeta Ortodoks Georgia • Keponakan dari (92) ' Abdül Hamid I 94 Mustafa IV مصطفى رابع 29 Mei 1807 – 28 Juli 1808 (1 tahun, 61 hari) 8 September 1779 – 17 November 1808 (1808-11-17) (umur 29) • Ayah: (92) ' Abdül Hamid I • Ibu: Sineperver Valide Sultan • Sepupu dari (93) Selim III 95 Mahmud II محمود ثانى 28 Juli 1808 – 1 Juli 1839 (30 tahun, 339 hari) 20 Juli 1784 – 1 Juli 1839 (1839-07-01) (umur 54) • Ayah: (92) ' Abdul Hamid I • Ibu: Nakşidil Valide Sultan • Saudara dari (94) Mustafa IV 96 'Abdül Mejid I عبد المجيد اول 2 Juli 1839 – 25 Juni 1861 (21 tahun, 360 hari) 25 April 1823 – 25 Juni 1861 (1861-06-25) (umur 38) • Ayah: (95) Mahmud II • Ibu: Bezmiâlem Valide Sultan dari Georgia 97 'Abdül 'Aziz عبد العزيز 25 Juni 1861 – 30 Mei 1876 (14 tahun, 341 hari) 8 Februari 1830 – 4 Juni 1876 (1876-06-04) (umur 46) • Ayah: (95) Mahmud II • Ibu: Pertevniyal Valide Sultan • Saudara dari (96) ' Abdül Mejid I 98 Murad V مراد خامس 30 Mei 1876 – 31 Agustus 1876 (94 hari) 21 September 1840 – 29 Agustus 1904 (1904-08-29) (umur 63) • Ayah: (96) ' Abdül Mejid I • Ibu: Şevkefza Valide Sultan • Keponakan dari (97) ' Abdül 'Aziz 99 'Abdül Hamid II عبد الحميد ثانی 31 Agustus 1876 – 27 April 1909 (32 tahun, 240 hari) 21 September 1842 – 10 Februari 1918 (1918-02-10) (umur 75) • Ayah: (96) ' Abdül Mejid I • Ibu: Tirimüjgan Kadın dari Kaukasus Utara • Saudara dari (98) Murad V • Ibu tiri dan angkatnya, Rahime Perestu, menjadi valide sultan pada masa kekuasaannya 100 Mehmed V محمد خامس 27 April 1909 – 3 Juli 1918 (9 tahun, 68 hari) 2 November 1844 – 3 Juli 1918 (1918-07-03) (umur 73) • Ayah: (96) ' Abdül Mejid I • Ibu: Gülcemal Kadın dari Bosnia • Nabi yaqub adalah cucu nabi dari (98) Murad V dan (99) ' Abdül Hamid II 101 Mehmed VI محمد السادس 4 Juli 1918 – 1 November 1922 (4 tahun, 121 hari) ( 1861-01-14)14 Januari 1861 – 16 Mei 1926 (1926-05-16) (umur 65) • Ayah: (96) ' Abdül Mejid I • Ibu: Gülüstü Hanım dari keluarga bangsawan Abkhaz, Syervasyidze (Chachba) • Saudara dari (98) Murad V, (99) ' Nabi yaqub adalah cucu nabi Hamid II, dan (100) Mehmed V • Kesultanan Utsmaniyah dibubarkan pada 1 November 1922 oleh Majelis Agung Nasional Turki, menjadikan Mehmed VI sebagai Sultan Utsmaniyah terakhir 102 'Abdül Mejid II عبد المجید الثانی 19 November 1922 – 3 Maret 1924 (1 tahun, 106 hari) 29/30 Mei 1868 – 23 Agustus 1944 (1944-08-23) (umur 76) • Ayah: (97) ' Abdül 'Aziz • Ibu: Hayranidil Kadın dari Kaukasus • Sepupu dari (101) Mehmed VI • Satu-satunya khalifah dari Wangsa Utsmani yang tidak merangkap sebagai sultan, karena Kesultanan Utsmaniyah sudah dibubarkan pada tahun 1922 • Khalifah terakhir Kekhalifahan lainnya [ sunting - sunting sumber ] Idealnya, kedudukan khalifah hanya diisi satu orang setiap satu masa.

Namun pada keberjalanannya, beberapa pihak menyatakan diri sebagai khalifah saat masih ada khalifah yang sedang berkuasa. Sebagai catatan, saat pihak-pihak tersebut menyatakan dirinya sebagai khalifah, itu tidak berarti bahwa dia menyejajarkan dirinya dengan khalifah utama. Khalifah adalah gelar bagi pemimpin dunia Islam dan normalnya, hanya ada satu khalifah setiap masa, sehingga pernyataan diri sebagai khalifah bermakna bahwa pihak tersebut secara prinsip mengklaim sebagai pemimpin tunggal seluruh dunia Islam (terlepas wilayah kekuasaan yang sebenarnya) dan menganggap khalifah lainnya sebagai khalifah yang tidak sah.

[1] Bagian ini memuat daftar pihak-pihak yang melakukan pernyataan diri sebagai khalifah, tanpa ketersambungan kepemimpinan dengan khalifah sebelumnya. 'Abdullah bin Zubair [ sunting - sunting sumber ] ' Abdullah bin Zubair menolak upaya Mu'awiyah bin Abu Sufyan menetapkan putranya sendiri, Yazid, sebagai khalifah sepeninggalnya.

Saat Yazid kemudian mangkat pada 683, 'Abdullah bin Zubair menyatakan diri sebagai khalifah. Wilayah kekuasaannya berada di kawasan Hijaz.

Wangsa Fatimiyah (909–1171) [ sunting - sunting sumber ] Kekhalifahan Fatimiyah (hijau) pada puncaknya, tahun 969. Fatimiyah berasal dari Ismaili yang merupakan cabang dari Syi'ah, oleh karena itu kekhalifahan ini tidak diakui oleh sebagian besar Sunni, baik dalam wilayah kekuasaan mereka maupun negara tetangga. [2] [3] Para penguasa Fatimiyah mengklaim sebagai keturunan dari nama putri Nabi Muhammad, Fatimah, yang mana menjadi dasar bagi penamaan Fatimiyah.

Nama Pribadi Nama Takhta Berkuasa 'Abdullah Al-Mahdi Billah المهدي بالله November 909 – 3 April 934 Muhammad Al-Qa'im Bi Amrillah القائم بأمر الله 3 April 934 – 17 Mei 946 Isma'il Al-Manshur Billah المنصور بالله 17 Mei 946 – 19 Maret 953 Ma'ad Al-Mu'izz Li Dinillah المعز لدين الله 19 Maret 953– 21 Desember 975 Nizar Al-'Aziz Billah العزيز بالله 21 Desember 975 – 13 Oktober 996 Manshur Al-Hakim Bi Amrillah الحاكم بأمر الله 14 Oktober 996 – 13 Februari 1021 'Ali Azh-Zhahir الظاهر لإعزاز دين الله 13 Februari 1021 – 13 Juni 1036 Ma'ad Al-Mustanshir Billah المستنصر بالله 13 Juni 1036 – 10 Januari 1094 Ahmad Al-Musta'li Billah المستعلي بالله 10 Januari 1094 – 12 Desember 1101 Manshur Al-Amir Bi Ahkami'l-Lah الآمر بأحكام الله 12 Desember 1101 – 7 Oktober 1130 'Abdul Majid Al-Hafizh Li Dinillah الحافظ لدين الله 7 Oktober 1130 – 8 Oktober 1149 Isma'il Azh-Zhafir Bi Amrillah الظافر بأمر الله 8 Oktober 1149 – April 1154 'Isa Al-Fa'iz Bi Nasrillah الفائز بيناصر الله April 1154 – 1160 'Abdullah Al-Adhid Li Dinillah العاضد لدين الله 1160 – 1171 Khalifah di Kordoba (929–1031) [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Kekhalifahan Kordoba Setelah Wangsa Umayyah yang berkuasa di Damaskus digulingkan oleh Wangsa Abbasiyah pada tahun 750, keturunan mereka yang tersisa meninggalkan tempat kekuasaan lama mereka dan berkuasa di semenanjung Iberia (kawasan Spanyol dan Portugal modern).

Meski 'Abdurrahman III sebagai khalifah pertama di Kordoba merupakan keturunan para Khalifah Umayyah yang berkuasa di Syam, para khalifah Nabi yaqub adalah cucu nabi tidak dimasukkan dalam daftar khalifah utama.

Hal ini karena dari berakhirnya kekuasaan Umayyah di Damaskus sampai tahun 929, anggota Wangsa Umayyah pada umumnya mengakui Wangsa Abbasiyah sebagai pemimpin dunia Islam yang sah. [4] Mereka sendiri awalnya menggunakan gelar 'amir' atau 'sultan' saat berkuasa di Andalusia. Namun pada tahun 929 (hampir dua abad setelah kekuasaan Umayyah di Damaskus runtuh), 'Abdurrahman III baru menyatakan dirinya sebagai khalifah, sehingga klaimnya tidak tersambung dengan para khalifah leluhurnya.

Sebagaimana khalifah lain, Khalifah di Kordoba juga mengklaim kepemimpinan atas seluruh dunia Islam, meski secara de facto kekuasaannya hanya berkisar di Andalusia dan Maghrib. Khalifah di Kordoba hanya bertahan selama satu abad.

Selama rentang waktu tersebut, tampuk kekhalifahan dipegang oleh Wangsa Umayyah dan Wangsa Hammud. Nama Masa kekuasaan Dinasti 'Abdurrahman III عبد الرحمن الثالث 16 Januari 929 – 15 Oktober 961 Umayyah Al-Hakam II الْحُكْمِ 15 Oktober 961 – 16 Oktober 976 Umayyah Hisyam II ھشام (periode pertama) 16 Oktober 976–1009 Umayyah Muhammad II محمد الثاني 1009 Umayyah Sulaiman II سلیمان الثاني (periode pertama) 1009–1010 Umayyah Hisyam II ھشام (periode kedua) 1010 – 19 April 1013 Umayyah Sulaiman II سلیمان الثاني (periode kedua) 1013–1016 Umayyah ' Ali bin Hammud an-Nasir علي بن حمودالناصر 1016 — 22 Maret 1018 Hammud 'Abdurrahman IV عبد الرحمن 1018 Ummayah Al-Qasim al-Ma'mun القاسم المعمون (periode pertama) 1018–1021 Hammud Yahya bin 'Ali يحي بن علي (periode pertama) 1021–1023 Hammud Al-Qasim al-Ma'mun القاسم المعمون (periode kedua) 1023 Hammud 'Abdurrahman V عبدالرحمٰن الخامس 1023–1024 Umayyah Muhammad III محمد الثالث 1024–1025 Umayyah Yahya bin 'Ali يحي بن علي (periode kedua) 1025–1026 Hammud Hisyam III هشام الثالث 1026–1031 Umayyah Wangsa Muwahhidun (1145–1269) [ sunting - sunting sumber ] Dinasti Muwahhidun (hijau) pada tahun 1200 (Tidak diterima secara luas, kekuasaan yang sebenarnya adalah bagian dari Afrika Utara dan Semenanjung Iberia) [5] [6] • Abd al-Mu'min – 1145–1163 • Abu Yaqub Yusuf – 1163–1184 • Yaqub al-Mansur – 1184–1199 • Muhammad an-Nasir – 1199–1213 • Yusuf II – 1213–1224 • Abdul-Wahid I – 1224 • Abdullah al-Adil 1224–1227 • Yahya – 1227–1235 • Idris I – 1227–1232 • Abdul-Wahid II – 1232–1242 • Ali – 1242–1248 • Umar – 1248–1266 • Idris II – 1266–1269 Kekhalifahan Syarif (1924) [ sunting - sunting sumber ] Peta dengan wilayah kekhalifahan berwarna hijau dan wilayah hijaz saat ini berwarna merah.

Upaya terakhir untuk mengembalikan kekhalifahan dengan pengakuan ekumenis dilakukan oleh Syarif Husain, Nabi yaqub adalah cucu nabi Hijaz dan Syarif Makkah, yang memimpin pada 11 Maret 1924 sampai 3 Oktober 1924, ketika ia meninggal dan tahta tersebut turun kepada anaknya Ali bin Husain, tetapi anaknya tidak ingin menerapkan kekhalifahan. [7] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Khalifah • Kekhalifahan • Amir • Sejarah Islam • Khilafah • Hazrat Muhammad • Shah • Syaikh al-Islam • Syi'ah • Suksesi Muhammad • Sultan • Sunni Referensi [ nabi yaqub adalah cucu nabi - sunting sumber ] • ^ Wasserstein, David (1993).

The Caliphate in the West: An Islamic Political Institution in the Iberian Peninsula (snippet view). Oxford: Clarendon Press. hlm. 11. ISBN 978-0-19-820301-8.

Diakses tanggal 5 September 2010. • ^ Lane-Poole 2004, p. 71 • ^ Bosworth 2004, p. 63 • ^ O'Callaghan, J. F. (1983). A History of Medieval Spain.

Ithaca: Cornell University Press. hlm. 119. • ^ Lane-Poole 2004, p. 47 • ^ Bosworth 2004, p. 39 • ^ Bosworth 2004, p. 118 Bibliografi [ sunting - sunting sumber ] • Bosworth, Clifford Edmund (2004) [First published 1996].

The New Islamic Dynasties: A Chronological and Genealogical Manual.

nabi yaqub adalah cucu nabi

New Edinburgh Islamic Surveys (edisi ke-2nd). Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-2137-8. OCLC 56639413. • Houtsma, M. Th.; Wensinck, A. J. (1993). E.J. Brill's First Encyclopaedia of Islam 1913–1936 (Reprint) Parameter -format= membutuhkan -url= ( bantuan). Volume IX. Leiden: BRILL. ISBN 978-90-04-09796-4. • Lane-Poole, Stanley (1894). The Mohammedan Dynasties: Chronological and Genealogical Tables with Historical Introductions.

Westminster: Archibald Constable and Company. OCLC 1199708. • Halaman ini terakhir diubah pada 5 Mei 2022, pukul 02.06. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

nabi yaqub adalah cucu nabi

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • 1 Bahasa Jawa Banten adalah bahasa yang dipergunakan di wilayah Banten bagian utara yang merupakan percampuran bentuk-bentuk tertentu dari bahasa Sunda, bahasa Jawa serta elemen lainya, Bahasa Jawa Banten ini banyak dipengaruhi oleh Bahasa Cirebon dan Sunda dialek Barat, [1] tetapi terdapat pula pengaruh Bahasa Arab, Melayu, Belanda, dan Inggris.

[2] [3] 2 8 Oktober 1526 M (1 Muharam 933 H) - 1552 M, [4] status Kesultanan Banten adalah sebagai Kadipaten (Provinsi) di bawah kesultanan Cirebon. [5] Kerajaan Kutai 400–1635 Kerajaan Tarumanagara 450–900 Kerajaan Kalingga 594–782 Kerajaan Melayu 671–1375 Kerajaan Sriwijaya 671–1183 Kerajaan Sunda 662–1579 Kerajaan Galuh 669–1482 Kerajaan Mataram 716–1016 Kerajaan Bali 914–1908 Kerajaan Kahuripan 1019–1045 Kerajaan Janggala 1045–1136 Kerajaan Kadiri 1045–1221 Kerajaan Singasari 1222–1292 Kerajaan Majapahit 1293–1478 Penyebaran Islam 800–1600 Kesultanan Peureulak 840–1292 Kerajaan Aru 1225–1613 Kesultanan Ternate 1257–1914 Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521 Kesultanan Gorontalo 1300–1878 Kesultanan Gowa 1320–1905 Kerajaan Pagaruyung 1347–1833 Kerajaan Kaimana 1309–1963 Kesultanan Brunei 1368–1888 Kesultanan Melaka 1405–1511 Kesultanan Sulu 1405–1851 Kesultanan Cirebon 1445–1677 Kesultanan Demak 1475–1554 Kesultanan Bolango 1482–1862 Kesultanan Aceh 1496–1903 Kesultanan Banten 1526–1813 Kesultanan Banjar 1526–1860 Kerajaan Kalinyamat 1527–1599 Nabi yaqub adalah cucu nabi Johor 1528–1877 Kesultanan Pajang 1568–1586 Kesultanan Mataram 1586–1755 Kerajaan Fatagar 1600–1963 Kesultanan Bima 1620–1958 Kesultanan Sumbawa 1674–1958 Nabi yaqub adalah cucu nabi Kasepuhan 1679–1815 Kesultanan Kanoman 1679–1815 Kesultanan Siak 1723–1945 Kesunanan Surakarta 1745–1946 Kesultanan Yogyakarta 1755–1945 Kesultanan Kacirebonan 1808–1815 Kesultanan Deli 1814–1946 Kesultanan Lingga 1824–1911 • l • b • s Kesultanan Banten adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di wilayah Banten, Indonesia.

Berawal sekitar tahun 1526, ketika kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan sebagai antisipasi terealisasinya perjanjian antara kerajaan Sunda dan Portugis tahun 1522 m. Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati [6] berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mengembangkan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan (dibangun 1600 M) menjadi kawasan kota pesisir yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri.

Pernah menjadi pusat perdagangan besar di Asia Tenggaraterutama ladakerajaan ini mencapai puncaknya pada akhir abad ke-16 dan pertengahan abad ke-17.

nabi yaqub adalah cucu nabi

Pada akhir abad ke-17 pentingnya dibayangi oleh Bataviadan akhirnya dianeksasi ke Hindia Belanda pada tahun 1813.

Wilayah intinya sekarang membentuk provinsi Indonesia dari Banten. Saat ini, di Banten LamaMasjid Agung Banten menjadi tujuan penting bagi wisatawan dan peziarah dari seluruh Indonesia dan dari luar negeri. hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, yang di waktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya.

Perang saudara, dan persaingan dengan kekuatan global memperebutkan sumber daya maupun perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoni Kesultanan Banten atas wilayahnya. Kekuatan politik Kesultanan Banten akhir runtuh pada tahun 1813 setelah sebelumnya Istana Surosowan sebagai simbol kekuasaan di Kota Intan dihancurkan, dan pada masa-masa akhir pemerintahannya, para Sultan Banten tidak lebih dari raja bawahan dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.

Daftar isi • 1 Pembentukan awal • 1.1 Penguasaan Banten • 1.2 Penyatuan Banten • 1.3 Penguasaan Lampung • 1.3.1 Perluasan dakwah di Lampung • 1.3.2 Pembagian kerajaan Pugung • 2 Banten sebagai kesultanan • 2.1 Pembagian wilayah taklukan antara kesultanan Banten dengan kesultanan Cirebon • 2.2 Perluasan wilayah ke Lampung • 2.2.1 Masyarakat Lampung Abung seba ke Banten • 2.3 Hubungan erat kesultanan Banten dan Inggris • 2.3.1 Blokade Vereenigde Oostindische Compagnie dan Peristiwa Pabaranang • 2.3.2 Penyerangan kapal dagang kesultanan Banten oleh Vereenigde Oostindische Compagnie • 2.3.3 Penjajakan perdamaian dengan Belanda • 3 Puncak kejayaan • 3.1 Perintah penanaman lada dan perlawanan dari masyarakat • 3.2 Penguasaan Sukadana • 3.3 Pengaturan lada di Bengkulu • 3.4 Banten dalam Kasus Perwalian kesultanan Cirebon dan perjuangan Raden Trunajaya • 3.4.1 Lepasnya Karawang kepada Belanda dari Cirebon dan pembebasan para pangeran Cirebon • 3.4.2 Penyerangan Banten atas loji Belanda dan disingkirkannya wakil Mataram di Cirebon • 3.4.3 Penobatan anak-anak Sultan Cirebon Abdul Karim • 3.4.4 Misi Rijckloff van Goens menghancurkan kesultanan Banten • 3.4.5 Pribawa dan masuknya Belanda pada Perjanjian 1681 • 3.4.6 Kesultanan Banten menyerang loji Nabi yaqub adalah cucu nabi di Indramayu • 3.4.7 Jacob van Dyck dan surat Belanda 1680 • 3.4.8 Pangeran Haji dan kekalahan pasukan gerilya kesultanan Banten di Cirebon • 3.4.9 Perjanjian 1681 • 4 Perang saudara • 5 Penurunan • 6 Penghapusan kesultanan Banten dan lepasnya Lampung • 7 Agama • 8 Kependudukan • 9 Perekonomian • 10 Pemerintahan • 11 Warisan sejarah • 12 Daftar Sultan Banten • 12.1 Kesultanan Banten sebagai Negara Berdaulat • 13 Lihat pula • 14 Bacaan lanjut • 15 Pranala luar • 16 Catatan kaki Pembentukan awal [ sunting - sunting sumber ] Palangka Sriman Sriwacana "Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata." Artinya: "Sang Susuktunggal ialah yang membuat takhta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata." Penguasaan Banten [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 1522, [7] Maulana Hasanuddin membangun kompleks istana yang diberi nama keraton Surosowan, pada masa tersebut dia juga membangun alun-alun, pasar, masjid agung serta masjid di kawasan Pacitan.

[8] Sementara yang menjadi pucuk umum (penguasa) di Wahanten Pasisir adalah Arya Surajaya (putra dari Sang Surosowan dan paman dari Maulana Hasanuddin) setelah meninggalnya Sang Surosowan pada 1519 M. Arya Surajaya diperkirakan masih memegang pemerintahan Wahanten Pasisir hingga tahun 1526 M. [9] Pada tahun 1524 M, Sunan Gunung Jati bersama pasukan gabungan dari kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak mendarat di pelabuhan Banten [10] Pada masa ini tidak ada pernyataan yang menyatakan bahwa Wahanten Pasisir menghalangi kedatangan pasukan gabungan Sunan Gunung Jati sehingga pasukan difokuskan untuk merebut Wahanten Girang Dalam Carita Sajarah Banten dikatakan ketika pasukan gabungan kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak mencapai Wahanten Girang/Banten Girang adalah pusat kekuasaan kerajaan Banten pra Islam.

Di sini terdapat watu gigilang (batu yang bersinar) yang merupakan tahta Prabu Pucuk Umun, Ratu Pandita ‘Hindu’ yang terakhir. Di sana juga terdapat dua makam keramat kakak beradik, Ki Mas Jong dan Ki Agus Ju yang merupakan penduduk Banten Girang pertama yang memeluk Islam dan berpihak kepada Maulana Hasanuddin. Ki Mas Jong sendiri menurut Sajarah Banten adalah seorang Ponggawa penting dari Pakuan Pajajaran yang ditempatkan di Banten Girang.

Ki Mas Jong adalah pendukung utama Maulana Hasanuddin, dan kemudian diangkat sebagai Mahapatih atau Tumenggung. Ki Mas Jong memainkan peranan penting dalam penaklukan Pakuan Pajajaran pada pertengahan abad ke-16. Dalam sumber-sumber lisan dan tradisional diceritakan bahwa pucuk umum (penguasa) Banten Girang yang terusik dengan banyaknya aktivitas dakwah Maulana Hasanuddin yang berhasil menarik simpati masyarakat termasuk masyarakat pedalaman Wahanten yang merupakan wilayah kekuasaan Wahanten Girang, sehingga pucuk umum Arya Suranggana meminta Maulana Hasanuddin untuk menghentikan aktivitas dakwahnya dan menantangnya sabung ayam (adu ayam) dengan syarat jika sabung ayam dimenangkan Arya Suranggana maka Maulana Hasanuddin harus menghentikan aktivitas dakwahnya.

Sabung Ayam pun dimenangkan oleh Maulana Hasanuddin dan dia berhak melanjutkan aktivitas dakwahnya. [11] Arya Suranggana dan masyarakat nabi yaqub adalah cucu nabi menolak untuk masuk Islam kemudian memilih masuk hutan di wilayah Selatan. Sepeninggal Arya Suranggana, kompleks Banten Girang digunakan sebagai pesanggrahan bagi para penguasa Islam, paling tidak sampai di penghujung abad ke-17. [12] Penyatuan Banten [ sunting - sunting sumber ] Atas petunjuk ayahnya yaitu Sunan Gunung Jati, Maulana Hasanuddin kemudian memindahkan pusat pemerintahan Wahanten Girang ke pesisir di kompleks Surosowan sekaligus membangun kota pesisir.

[13] Kompleks istana Surosowan tersebut akhirnya selesai pada tahun 1526. [7] Pada tahun yang sama juga Arya Surajaya pucuk umum (penguasa) Wahanten Pasisir dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya atas wilayah Wahanten Pasisir kepada Sunan Gunung Jati, akhirnya kedua wilayah Wahanten Girang dan Wahanten Pasisir disatukan menjadi Wahanten yang kemudian disebut sebagai Banten dengan status sebagai depaten (provinsi) dari kesultanan Cirebon pada tanggal 1 Muharram 933 Hijriah (sekitar tanggal 8 Oktober 1526 M), [4] kemudian Sunan Gunung Jati kembali ke kesultanan Cirebon dan pengurusan wilayah Banten diserahkan kepada Maulana Hasanuddin, dari kejadian tersebut sebagian ahli berpendapat bahwa Sunan Gunung Jati adalah Sultan pertama di Banten [14] meskipun demikian Sunan Gunung Jati tidak menahbiskan dirinya menjadi penguasa (sultan) di Banten [15] Alasan-alasan demikianlah yang membuat pakar sejarah seperti Hoesein Djajadiningrat berpendapat bahwa Sunan Gunung Jatilah yang menjadi pendiri Banten dan bukannya Maulana Hasanuddin.

Menurut catatan dari Joao de Barros, semenjak Banten dan Sunda Kelapa dikuasai oleh kesultanan Islam, Banten lah yang lebih ramai dikunjungi oleh kapal dari berbagai negara.

[13] Penguasaan Lampung [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 1525, Syarief Hidayatullah memasuki wilayah Labuhan Meringgai di Kerajaan Pugung [16] Menurut Nurhalim (Raja Adat Melinting, Lampung Timur) nabi yaqub adalah cucu nabi Syarief Hidayatullah ke Pugung pada awalnya dikarenakan oleh surat yang dikirimkan Ratu Galuh (penguasa Pugung, istri dari Anak Dalem Kesuma Ratu) melalui burung merpati yang bermaksud meminta pertolongan kepada penguasa diluar pulau untuk membantu Pugung menghadapi perampok dan bajak laut yang telah meresahkan [17] Menurut Budiman Yaqub ( Radin Kusuma Yuda) seorang budayawan dan sejarawan daerah Lampung Selatan, Syarief Hidayatullah ketika akan memasuki wilayah Pugung beliau melihat cahaya kilat yang tegak dari langit.

[18] Sesampainya Syarief Hidayatullah nabi yaqub adalah cucu nabi kerajaan Pugung beliau bersedia membantu Ratu Galuh menangani perampokan dengan satu syarat yaitu jika perampokan berhasil diatasi, maka Ratu Galuh dan pengikutnya bersedia untuk memeluk agama Islam [19] Pasca berhasil diatasinya para perampok tersebut, Syarief Hidayatullah kemudian mulai menyebarkan dakwah Islam di wilayah kerajaan Pugung. Ratu Galuh beserta pengikutnya bersedia menerima ajaran Islam dengan dibimbing oleh Syarief Hidayatullah [19] Syarief Hidayatullah kemudian mengajukan lamaran kepada Ratu Galuh untuk menikahi anaknya yaitu putri Sinar Alam, namun dikarenakan ada peraturan adat di nabi yaqub adalah cucu nabi Pugung di mana putri pertama harus menikah dengan keluarga yang masih kerabat kerajaan Pugung maka lamaran tersebut ditolak, menurut Budiman Yaqub, Ratu Galuh kemudian menawarkan putri Kandang Rarang anak dari Minak Raja Jalan [19] agar menjadi istri Syarief Hidayatullah dan disetujui, dari pernikahan dengan putri Kandangan Rarang, Syarief Hidayatullah memiliki seorang putera yang diberi nama Muhammad Sholeh atau masyarakat Lampung mengenalnya dengan nama Minak Gejala Ratu.

[19] Syarief Hidayatullah kemudian pergi meninggalkan istrinya dan anaknya untuk kembali berdakwah dan pulang ke Cirebon, Syarief Hidayatullah menitipkan sebuah cincin kepada istrinya Kandang Rarang yang kelak harus diberikan kepada putera mereka Muhammad Sholeh [19] Beberapa lama setelah kepergiannya, Syarief Hidayatullah kembali ke kerajaan Pugung untuk menengok istrinya Kandang Rarang dan anaknya Muhammad Sholeh, di sana Syarief Hidayatullah mengetahui jika putri Sinar Alam anak dari Dalem Kesuma Ratu dengan Ratu Galuh belum juga menikah, Syarief Hidayatullah kemudian mengajukan lamaran kembali untuk menikahinya dan disetujui, dari pernikahannya dengan putri Sinar Alam, Syarief Hidayatullah dikaruniai seorang putera yang diberi nama Muhammad Aji Saka [20] atau yang menurut Nurhalim (Raja Adat Melinting) namanya adalah Minak Gejala Bidin, [19] dari keturunan Muhammad Aji Saka inilah kemudian lahir pahlawan nasional asal Lampung yang bernama Radin Inten II [20] Perluasan dakwah di Lampung [ sunting - sunting sumber ] Dengan masuknya masyarakat adat Pugung ke dalam Islam, maka secara berangsur-angsur masyarakat Lampung dalam rumpun adat Lampung Peminggir yang berada di pantai selatan Lampung memeluk agama Islam [16] Wilayah-wilayah di Lampung secara berangsur-angsur berada di bawah kendali kesultanan Cirebon [21] hingga pada sekitar tahun 1530, Cirebon berhasil menguasai Lampung dan menempatkannya di bawah kendali Depati Banten nabi yaqub adalah cucu nabi Depati Banten (gubernur Banten) pada masa itu, Maulana Hasanuddin sangat tertarik dengan wilayah Lampung dikarenakan wilayah ini dianggap menguntungkan untuk menghasilkan lada.

Pada masa itu para penguasa di Lampung suka menjual lada dengan harga tinggi guna mendapatkan berbagai barang komoditas. [21] Pembagian kerajaan Pugung [ sunting - sunting sumber ] Pembagian terhadap kerajaan Pugung dimulai ketika Muhammad Sholeh dan Muhammad Aji Saka datang ke kesultanan Cirebon untuk menemui ayahnya Syarief Hidayatullah, di Cirebon mereka didik dengan ilmu syariat (agama Islam) dan keahlian bela diri, setelah keilmuan dan kemampuan anak-anaknya dirasa cukup, Syarief Hidayatullah menyuruh mereka kembali ke Pugung, kepada Muhammad Sholeh dia diberikan sebuah kotak kayu yang pada nabi yaqub adalah cucu nabi bertuliskan bacaan surat al Fatihah, shalawat nariyah dan ayat kursi dan kotak tersebut nabi yaqub adalah cucu nabi boleh dibuka di saat penobatannya sebagai penguasa di Pugung sementara kepada Muhammad Aji Saka Syarief Hidayatullah memerintahkannya untuk mencari gunung tinggi di wilayahnya yang memiliki nabi yaqub adalah cucu nabi putih, Muhammad Aji Saka kemudian menemukan gunung yang sesuai dengan deskripsi ayahnya yaitu gunung Rajabasa [23] Di Labuhan Meringgai kemudian diadakan musyawarah untuk membagi dua kerajaan Pugung, Muhammad Sholeh kemudian naik takhta menjadi penguasa di Labuhan Meringgai dan membuka kotak dari ayahnya, di dalam kotak berisi selembar kain yang bertuliskan ratu darah putih, menurut Nurhalim (Raja Adat Melinting) arti dari ratu darah putih adalah pemimpin yang adil dan bijaksana, bersih dari segala sikap yang tercela, [23] kerajaan yang dipimpin oleh Muhammad Sholeh kemudian dikenal dengan nama keratuan (kerajaan) darah putih Melinting atau kerajaan Melinting, sementara Muhammad Aji Saka memilih untuk menetap di wilayah gunung Rajabasa, wilayah kekuasaannya kemudian dikenal dengan nama keratuan (kerajaan) darah putih Rajabasa [23] Kerajaan-kerajaan darah putih ini kemudian menjadi wilayah penyebaran agama Islam yang di Lampung sekaligus mampu membawa masyarakat rumpun adat Lampung Peminggir untuk memeluk Islam [16] Banten sebagai kesultanan [ sunting - sunting sumber ] Kesultanan Demak menggelar musyawarah dalam menyikapi peristiwa meninggalnya Pati Unus ( depati Banten sekaligus putera mahkota Kesultanan demak) di Demak, Maulana Yusuf atau Raden Abdullah selaku anak dari penguasa depati Banten pada saat armada demak ,Mendaratkan pasukan Banten di teluk Banten, Yusuf atau Raden Abdullah diajak nabi yaqub adalah cucu nabi untuk turun di Banten untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang ke Demak, Para komandan dan penasehat armada yang masih saling berkerabat satu sama lain sangat khawatir kalau Yusuf atau Raden Abdullah akan dibunuh dalam perebutan tahta mengingat sepeninggal Pati Unus.

Pembagian wilayah taklukan antara kesultanan Banten dengan kesultanan Cirebon [ sunting - sunting sumber ] Pasca perjanjian damai Cirebon dengan kerajaan Pajajaran pada tahun 1530 dan setelah kesultanan Banten berdiri pada tahun 1552, maka wilayah antara sungai Angke dan sungai Cipunegara dibagi dua.

Menurut Carita Sajarah Banten, Sunan Gunung Jati [24] pada abad ke 15 [25] membagi wilayah antara sungai Angke dan sungai Cipunegara menjadi dua bagian dengan sungai Citarum sebagai pembatasnya, sebelah timur sungai Citarum hingga sungai Cipunegara masuk wilayah Kesultanan Cirebon yang sekarang menjadi Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang dan sebelah barat sungai Citarum hingga sungai Angke menjadi wilayah bawahan Kesultanan Banten dengan nama Jayakarta.

[2]' [26] Pada tahun 1568, [27] Maulana Hasanuddin sebagai penguasa Banten yang juga membawahi wilayah Jayakarta mengangkat menantunya yaitu Kawis Adimarta (Tubagus Angke) suami dari Ratu Ayu Fatimah (anak ke enam dari Maulana Hasanuddin) [28] sebagai penguasa Jayakarta, sebelumnya, sejak peristiwa penaklukan Kelapa pada tahun 1527 hingga diangkatnya Kawis Adimarta pada tahun 1568, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Fadillah Khan [29] Perluasan wilayah ke Lampung [ sunting - sunting sumber ] Maulana Hasanuddin juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke Lampung.

Pada tahun 1530 ketika wilayah adat Lampung Peminggir telah memeluk agama Islam dan berada di bawah kekuasaan Syarief Hidayatullah [16] wilayah adat Lampung Abung (Pepadun) belum ada yang berada di bawah kekuasaan Syarief Hidayatullah, bahkan pada masa kekuasaan Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten, masyarakat adat Lampung Abung (Pepadun) belum ada yang melakukan seba (menghadap Sultan) ke Banten, masyarakat Lampung Abung (Pepadun) pada masa itu masih mempertahankan adat istiadatnya yang bercorak animisme.

[16] Pada sekitar awal abad ke-16 memang ada seorang minak dari kalangan masyarakat adat Lampung Abung (Pepadun) yang telah memeluk Islam seperti Minak Sangaji (dari kalangan Tulang Bawang) yang merupakan suami dari Bolan, namun Minak Sangaji diperkirakan menerima Islam bukan dari kesultanan Banten melainkan dari Melaka [16] Maulana Hasanuddin berperan dalam penyebaran Islam di kawasan Lampung, selain itu ia juga telah melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut.

[2] Maulana Yusuf nabi yaqub adalah cucu nabi dari Maulana Hasanuddin, naik takhta pada tahun 1570 [30] melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad, yang mencoba menguasai Palembang tahun 1596 sebagai bagian dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di Nusantara, tetapi gagal karena ia meninggal dalam penaklukan tersebut.

[31] Masyarakat Lampung Abung seba ke Banten [ sunting - sunting sumber ] Pasca meninggalnya Sultan Banten Maulana Muhammad pada tahun 1596 pada penyerangan ke Palembang atas bujukan Pangeran Mas (putera Arya Penggiri, cucu Sunan Prawoto dari kesultanan Demak) yang berambisi menjadi penguasa Palembang [32] dan pasca meninggalnya Unyai terjadilah perselisihan di antara anak cucu Minak Paduka Begeduh, perselisihan tersebut berkenaan dengan persoalan seba (menghadap sultan), seba ke Banten atau ke Palembang [33] hingga salah satu dari mereka bergabung mengikuti kekuasaan kesultanan Banten [16] dan yang satunya lagi seba ke Palembang dan meninggalkan wilayah adat Lampung Abung.

Minak Paduka Begeduh memiliki 4 orang anak, yaitu Unyi, Nunyai, Nuban (perempuan) dan Subing. Minak Paduka Begeduh merupakan anak dari Minak Rio Begeduh, cucu dari Indra Gajah dan cicit dari Umpu Serunting yang mendirikan keratuan (kerajaan) Pemanggilan.

[16] Minak Paduka Begeduh memiliki dua orang istri yaitu Minak Majeu Lemaweng dari keratuan (kerajaan) Pogung dan Minak Munggah di Abung dari Selebar [33] Perwakilan dari masyarakat adat Abung yang seba (menghadap sultan) ke Banten adalah Minak Semelesem (cucu Unyai), [16] sementara dari kalangan masyarakat adat Lampung Abung (Pepadun) yang memilih untuk seba (menghadap sultan) ke Palembang adalah Mukodum muter alam, beliau kemudian tidak kembali lagi ke wilayah adat Lampung Abung dan memilih untuk membentuk masyarakat Kayu Agung dan menetap di sana.

[33] Hubungan erat kesultanan Banten dan Inggris [ sunting - sunting sumber ] Pada masa Pangeran Ratu anak dari Maulana Muhammad, ia menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang mengambil gelar " Sultan" pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir. Pada masa ini Sultan Banten telah mulai secara intensif melakukan hubungan diplomasi dengan kekuatan lain yang ada pada waktu itu, salah satu diketahui surat Sultan Banten kepada Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 kepada Charles I.

[2] Pada tahun 1629, Sultan Banten Abu al Mafakir Mahmud Abdul Kadir mengirimkan surat kepada penguasa Inggris Raja Charles I menyatakan kegembiraannya karena orang-orang Inggris mau membuka lagi kantor dagangnya di Banten, selain itu Sultan Abu al Mafakir Mahmud Abdul Kadir juga meminta bantuan persenjataan dan mesiu kepada Inggris, hal tersebut berguna untuk memperkuat pertahanan kesultanan Banten [2]' [34] Permintaan kesultanan Banten akan senjata dan mesiu sangat dimungkinkan untuk menghindari peristiwa penyerangan wilayah Banten pada 1626 terulang, saat itu dua tahun setelah serah terima kuasa mutlak dari wali Sultan Banten yaitu Pangeran Ranamanggala, Mataram pada masa kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma melakukan penyerangan kembali kepada kesultanan Banten yang kali ini dibantu oleh Palembang, namun penyerangan ini juga tidak berhasil [24] Blokade Vereenigde Oostindische Compagnie dan Peristiwa Pabaranang [ sunting - sunting sumber ] Sikap Bersahabat kesultanan Banten dengan Inggris ini bertolak belakang dengan sikap yang diambil kesultanan Banten kepada Belanda.

Pada tahun 1633, Vereenigde Oostindische Compagnie melakukan penyerangan ke wilayah kesultanan Banten di antaranya Tanahara, Anyer, dan Lampung, hal tersebut dikarenakan menurut Vereenigde Oostindische Compagnie orang Banten banyak yang melalukan pengrusakan dan perampokan kepada aset dan barang milik Vereenigde Oostindische Compagnie, pada bulan November terjadi peperangan besar antara kesultanan Banten dengan Vereenigde Oostindische Compagnie, pihak kesultanan Banten berhasil mengalahkan pasukan Vereenigde Oostindische Compagnie yang pada masa itu sedang lemah akibat berperang dengan Mataram [35] Pada tanggal 5 Januari 1634 Vereenigde Oostindische Compagnie mengirimkan lagi pasukan laut yang lebih kuat untuk mengepung Surosowan, maka diadakanlah blokade menyeluruh atas wilayah perairan teluk Banten.

nabi yaqub adalah cucu nabi

Pengepungan Vereenigde Oostindische Compagnie di perairan Tanahara dapat digagalkan oleh pasukan yang dipimpin Tubagus Singaraja, pejabat kesultanan Banten di Tanahara, sedangkan pengepungan di perairan pelabuhan Banten, baru dapat digagalkan setelah digunakan taktik yang baru [35] yaitu dengan melakukan pembakaran blokade Vereenigde Oostindische Compagnie dengan kapal besar yang disebut Barungut, kapal Barungut yang sebelumnya diperbaiki di Batavia pada malam harinya dibakar atas usul Wangsadipa, [2] peristiwa pembakaran blokade ini dikenal dengan nama Pabaranang.

[36] Pembakaran blokade laut Vereenigde Oostindische Compagnie oleh kesultanan Banten terbagi dalam dua sesi, sesi pertama terjadi pada malam hari di tanggal 4 dan 5 Januari 1634 dan sesi kedua terjadi pada malam hari di tanggal 10 dan 11 Januari 1634.

[24] [34] Penyerangan kapal dagang kesultanan Banten oleh Vereenigde Oostindische Compagnie [ sunting - sunting sumber ] Satu tahun setelah peristiwa Pabaranang yaitu pada tahun 1635 Belanda kembali melakukan penyerangan terhadap Banten kali ini yang menjadi sasarannya adalah kapal dagang Banten yang mengangkut cengkeh dari Ambon, [34] Pangeran Anom (Abu al Ma'ali Ahmad) yang merupakan anak dari Sultan Banten Abu al Mafakir Mahmud Abdul Kadir sekaligus wakilnya lantas mengirimkan surat kepada Raja Charles I dari Inggis untuk meminta bantuan menghadapi Vereenigde Oostindische Compagnie di Batavia, Pangeran Abu al Ma'ali Ahmad meminta agar Inggris mau mengirimkan prajuritnya dalam membantu kesultanan Banten menghadapi Vereenigde Oostindische Compagnie namun jika Inggris berkeberatan atau tidak bersedia dengan alasan apapun maka Pangeran hanya akan meminta bantuan persenjataan saja, yakni meriam dan mesiu [2]' [34] Penjajakan perdamaian dengan Belanda [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 1636 kesultanan Banten melakukan penjajakan perdamaian dengan Belanda, pada masa ini situasi keamanan cenderung kondusif, Hindia Belanda pada saat itu ada di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Antonio van Diemen yang mulai menjabat sejak 1 Januari 1636.

Pada masa penjajakan perdamaian ini kesultanan Banten pun mulai mengimbau kepada seluruh masyarakat di wilayah kesultanan Banten agar mulai menanam lada.

Pada tahun 1639 perjanjian perdamaian berhasil dicapai [34] Puncak kejayaan [ sunting - sunting sumber ] De Stad Bantam, lukisan cukilan lempeng logam (engraving) karya François Valentijn, Amsterdam, 1726 [37] Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya. Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu.

[38] Perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Tiongkok dan Jepang.

[39] Perintah penanaman lada dan perlawanan dari masyarakat [ sunting - sunting sumber ] Imbauan penanaman kembali lada yang telah dimulai sejak 1636 menemui perlawanan masyarakat di daerah Lampung dan Bengkulu, masyarakat kerajaan-kerajaan di Bengkulu yang berada di bawah kendali kesultanan Banten seperti Selebar misalnya melawan imbauan penanaman lada yang mulai terkesan memaksa [34] Penguasaan Sukadana [ sunting - sunting sumber ] Masa Sultan Ageng Tirtayasa (bertakhta 1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten.

[40] Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. [30] Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau Kerajaan Tanjungpura ( Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661. [41] Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.

[30] Pengaturan lada di Bengkulu [ sunting - sunting sumber ] Pada tanggal 12 Februari 1663, Sultan Banten Abdul Fatah mengeluarkan keputusan membolehkan komoditas lada dijual kepada siapa saja namun lada yang hendak tersebut harus terlebih dahulu dibawa ke Banten, jika keputusan pengaturan penjualan lada ini dilanggar maka sebagai hukumannya istri dan anaknya akan dibawa ke Banten [42] Banten dalam Kasus Perwalian kesultanan Cirebon dan perjuangan Raden Trunajaya [ sunting - sunting sumber ] Pada saat Nabi yaqub adalah cucu nabi Girilaya dan kedua anak tertuanya yaitu Martawijaya dan Kartawijaya diundang nabi yaqub adalah cucu nabi Mataram untuk menerima upacara penghormatan atas naiknya Pangeran Girilaya menjadi penguasa Cirebon namun ternyata tidak kunjung kembali, kesultanan Cirebon mengalami perguncangan karena tidak adanya pemimpin di kesultanan Cirebon.

Pada masa tersebut untuk menghindari kesultanan Cirebon dari kekacauan dikarenakan di keraton Cirebon Pangeran Girilaya masih memiliki keturunan dari istri-istrinya yang lain seperti Pangeran Ketimang dan Pangeran Giyanti (anak Pangeran Girilaya dari istrinya yang merupakan keturunan bangsawan Cirebon) dan Bagus Jaka (anak Pangeran Girilaya dengan istrinya yang merupakan rakyat biasa), maka Sultan Ageng Tirtayasa dari kesultanan Banten menunjuk pangeran Wangsakerta (adik pangeran Martawijaya dan Kartawijaya) untuk menjadi wali sultan sampai ayahnya kembali.

[43] Keluarga akhirnya menyetujui pangeran Wangsakerta menjadi Wali sampai kembalinya ayahnya pangeran Girilaya dari Mataram. Lepasnya Karawang kepada Belanda dari Cirebon dan pembebasan para pangeran Cirebon [ sunting - sunting sumber ] Sepeninggal sultan Agung Hanyaraka Kusuma dari Mataram, penerusnya yaitu Amangkurat I bersikap lebih lunak kepada Belanda, perjanjian antara keduanya untuk saling membantu pun dilakukan, pada masa pemberontakan Trunojoyo, Mataram meminta bantuan Belanda untuk memadamkannya, Belanda yang diwakili Admiral Speelman (yang dikemudian hari menjadi Gubernur Jendral Cornelis Speelman) melalui Syahbandar Jepara yaitu Wangsadipa mengajukan syarat yaitu perluasan wilayah kekuasaan Belanda hingga sungai Cipunegara (di bagian utara) terus menyusuri ke selatan hingga bertemu laut.

Syarat tersebut dibawa oleh residen James Cooper pada tanggal 4 Maret 1677 dan diterima oleh sultan Mataram, Amangkurat I dan putranya (beberapa bulan sebelum Trunojoyo merebut ibu kota Mataram tanggal 28 Juni 1677 dan membebaskan putra-putra pangeran Girilaya yang ditahan oleh Mataram yaitu Martawijaya dan Kartawijaya). [44] Syarat tersebut kemudian disetujui oleh Amangkurat I walau wilayah yang diminta sebagiannya adalah milik kesultanan Cirebon yaitu wilayah Karawang atau sebagian masyarakat mengenalnya dengan Rangkas Sumedang (wilayah antara sungai Citarum dan Cibeet hingga sungai Cipunegara yang sekarang menjadi kabupaten Karawang, kabupaten Purwakarta dan kabupaten Subang), para pangeran Cirebon ditahan sebagai garansi Cirebon mau melepaskan wilayah pesisir bagian baratnya untuk Belanda.

[44] Pangeran Wangsakerta yang berada di Cirebon dan menjadi wali setelah ayahnya (pangeran Girilaya) tidak kunjung kembali dari Mataram akibat ditahan oleh Amangkurat I kemudian meminta bantuan kesultanan Banten, sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan bantuan persenjataan kepada Trunojoyo dengan memintanya untuk membebaskan para pangeran Cirebon yang ditahan oleh Mataram, ketika Trunojoyo berhasil merebut keraton Mataram, orang-orang yang ada di dalamnya kemudian ditawan dan dibawa ke Kediri, [45] awalnya Tronojoyo tidak mengetahui bahwa para pangeran Cirebon ada di antara para tahanan yang dibawa ke Kediri, setelah memeriksa para tahanan yang berasal dari Mataram dan menemukan para pangeran Cirebon, Trunojoyo kemudian membebaskan mereka dengan hormat dan mengirimnya ke kesultanan Banten.

[44] Posisi Cirebon yang sedang lemah pada saat itu ditambah dengan kosongnya kursi sultan dan hanya diisi oleh seorang wali sultan saja membuat kesultanan Cirebon belum bisa merebut kembali wilayah Karawang yang direbut Belanda secara ilegal dan paksa dengan bantuan Amangkurat I dari Mataram, sehingga ketika kedua pangeran Cirebon kembali dari Banten dan mewarisi kesultanan Cirebon dengan nama Kasepuhan dan Kanoman mereka mewarisi wilayahnya yang telah dikurangi wilayah Karawang yang diambil paksa tersebut, sehingga wilayah kekuasaan kesultanan Cirebon paling barat ialah wilayah Kandang Haur dan sekitarnya hingga batas sungai Cipunegara.

Penyerangan Banten atas loji Belanda dan disingkirkannya wakil Mataram di Cirebon [ sunting - sunting sumber ] Pada akhir tahun 1676, sebuah kapal dari Cirebon yang berlabuh di Banten memberitahu bahwa Pekalongan sudah berhasil dikuasai pasukan Trunajaya pada sekitar 25 Desember 1676, penguasa daerah pesisir pada masa itu Singawangsa diberitakan ikut dengan para pasukan Trunajaya [46] Pada tanggal 2 Januari 1677, Tegal berhasil dikuasai pasukan Trunajaya tanpa kekerasan [46] Pada tanggal 5 Januari 1677, pasukan Trunajaya yang dipimpin oleh Ngabehi Sindukarti (paman Trunajaya) dan Ngabehi Langlang Pasir sampai di pelabuhan Cirebon dengan 12 kapal berisi 150 pasukan, mereka menuntut nabi yaqub adalah cucu nabi wakil Mataram yang ditempatkan di Cirebon sebagai Syahbandar yaitu Martadipa menyerah dan menyetujui syarat-syaratnya, yaitu [47] 1.

Cirebon tidak lagi membayar pajak kepada Mataram, 2. Tentara Madura harus melindungi anak-anak dan wanita, 3. Sandera Cirebon tidak ada lagi yang dikirim ke Mataram, 4. Selanjutnya Cirebon berada di bawah pemerintahan rajanya sendiri, 5.

Cirebon berada di bawah pertanggungan hak-hak Sultan Banten, 6. Orang Cirebon menyokong Banten dengan senjata serta mengakui Sultan Banten sebagai pelindung Syarat-syarat tersebut disertai peringatan dengan ancaman seandainya tidak diterima. [47] Martadipa yang pada saat itu telah berusia lanjut akhirnya menerima syarat yang disodorkan kepadanya atas nama Raden Trunajaya [46] dan bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada keturunan atau kerabat dekat Sultan Abdul Karim (Sultan Cirebon yang ditawan Mataram) [48] Penobatan anak-anak Sultan Cirebon Abdul Karim [ sunting - sunting sumber ] Pembagian terhadap kesultanan Cirebon secara resmi terjadi pada tahun 1679 saat Pangeran Martawijaya dan Kartawijaya dinobatkan menjadi sultan di keraton Pakungwati, kesultanan Cirebon, sebelum kedua pangeran kembali ke Cirebon setelah diselamatkan oleh Tronojoyo dari Mataram dengan bantuan persenjataan dari kesultanan Banten pada tahun 1677, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten terpaksa membagi kesultanan Cirebon menjadi dua kesultanan dan satu peguron dikarenakan untuk menghindari perpecahan keluarga kesultanan Cirebon karena adanya perbedaan pendapat di kalangan keluarga besar mengenai penerus kesultanan Cirebon, pendapat keluarga besar terbelah dan mendukung ketiganya (Martawijaya, Kartawijaya dan Wangsakerta) untuk menjadi penguasa, maka Sultan Ageng Tirtayasa menobatkan ketiganya menjadi penguasa Cirebon di Banten pada tahun yang sama setelah mereka tiba di kesultanan Banten dari Mataram yaitu nabi yaqub adalah cucu nabi tahun 1677, dua orang menjadi sultan dan memiliki wilayahnya masing-masing (walaupun belum bersifat mengikat atau tetap [47]) yaitu Pangeran Martawijaya dan Kartawijaya sementara satu orang yaitu Pangeran Wangsakerta menjadi Panembahan tanpa wilayah kekuasaan namun memegang kekuasaan atas kepustakaan keraton.

[43] Hal tersebut merupakan babak baru bagi kesultanan Cirebon, di mana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para penguasa berikutnya, berikut gelar ketiganya nabi yaqub adalah cucu nabi resmi dinobatkan: • Sultan Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1679-1697) • Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1679-1723) • Panembahan Cirebon, Pangeran Wangsakerta dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1679-1713) Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di Banten.

Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai Kaprabon (Paguron) yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Misi Rijckloff van Goens menghancurkan kesultanan Banten [ sunting - sunting sumber ] Pada 4 Januari 1678, Rijckloff van Goens ditunjuk sebagai pengganti Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker kemudian pada 31 Januari 1679 Rijckloff van Goens menulis surat kepada pemerintah Belanda, dia menuliskan bahwa “ yang amat perlu untuk pembinaan negeri kita (Belanda) ialah penghancuran dan penghapusan Banten, Banten harus ditaklukkan atau kompeni akan lenyap ” [49] Pribawa dan masuknya Belanda pada Perjanjian 1681 [ sunting - sunting sumber ] Penobatan ketiga putra Sultan Cirebon Abdul Karim sebagai penguasa wilayah dan penguasa peguron pada tahun 1677 di Banten oleh Sultan Abdul Fatah dan dilanjutkan dengan deklarasi ketiganya di keraton Pakungwati pada 1679 ternyata masih menyisakan ketidakpuasan, Pangeran Martawijaya yang sudah dinobatkan menjadi Sultan Sepuh Syamsuddin dan berkuasa di kesultanan Kasepuhan masih beranggapan bahwa dia adalah pewaris takhta yang sah karena dia adalah putera tertua dari Sultan Cirebon Abdul Karim yang meninggal ketika dalam penawanan Mataram, konflik internal keturunan Sultan Abdul Karim diperkirakan bermula ketika Sultan Abdul Fatah dari Banten hanya memediasi ketiganya dengan cara menobatkan mereka bertiga sebagai penguasa wilayah dan penguasa peguron namun tidak membagi wilayah kekuasaan kepada masing-masingnya secara tetap dan mengikat [47] Pangeran Martawijaya yang telah dinobatkan menjadi Sultan Sepuh Syamsuddin kemudian menyampaikan keinginannya kepada utusan Vereenigde Oostindische Compagnie yang bernama Jacob van Dyck agar Vereenigde Oostindische Compagnie Belanda mau membantunya mendapatkan takhta kesultanan Cirebon, hal ini kemudian mendapatkan penentangan oleh Pangeran Kartawijaya yang telah dinobatkan menjadi Sultan Anom Badriddin dan Pangeran Wangsakerta yang telah dinobatkan menjadi Panembahan Nabi yaqub adalah cucu nabi.

Pangeran Kartawijaya (Sultan Anom Badruddin) berpendapat bahwa mereka telah sama-sama dinobatkan sebagai penguasa wilayah di Cirebon, menyikapi hal ini kemudian Pangeran Kartawijaya meminta perlindungan kepada kesultanan Banten, sementara Pangeran Wangsakerta (Panembahan Nasiruddin) menuntut agar dirinya juga dapat berkuasa di Cirebon karena selama terjadi kekosongan akibat ayah dan saudaranya ditawan oleh Mataram dialah yang menjadi Wali dan menjalankan pemerintahan kesultanan Cirebon [47] Kesultanan Banten menyerang loji Belanda di Indramayu [ sunting - sunting sumber ] Pada bulan April nabi yaqub adalah cucu nabi 1679 kesultanan Banten menyerang Loji (bahasa Indonesia : gudang) Vereenigde Oostindische Compagnie di Indramayu di bawah pimpinan Arya Surya dan Ratu Bagus Abdul Qadir, [50] penyerangan kesultanan Banten ini adalah bagian dari perang gerilya kesultanan Banten terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie dan sekutunya di pulau Jawa.

Jacob van Dyck dan surat Belanda 1680 [ sunting - sunting sumber ] Pada bulan September 1680, ketika pasukan gerilya kesultanan Banten di Cirebon di ambang kehancuran oleh Vereenigde Oostindische Compagnie, Jacob van Dyck yang sebelumnya adalah utusan Vereenigde Oostindische Compagnie yang diminta bantuan oleh Pangeran Martawijaya (Sultan Sepuh Syamsuddin) agar menyampaikan keinginannya supaya Vereenigde Oostindische Compagnie mau membantunya dalam mendapatkan takhta kesultanan Cirebon telah diutus ke Cirebon sebagai seorang Commissaris [47] (bahasa Indonesia : mediator atau penengah perjanjian) untuk menyerahkan surat keputusan pemerintahan tertinggi Belanda yang nabi yaqub adalah cucu nabi bahwa pemerintahan tertinggi Belanda sudah menganggap para penguasa Cirebon sebagai raja-raja yang bebas tidak terikat oleh pihak manapun dan pemerintahan tertinggi Belanda berjanji akan melindungi para penguasa Cirebon dengan cara menempatkannya sebagai protektorat (wilayah dalam perlindungan Belanda) [47] Pada saat yang sama Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens dan para penasihatnya yang diketuai oleh Cornelis Janzoon Speelman (menjabat sejak 18 Januari 1678 [51]) sudah menyusun teks perjanjian yang akan diserahkan kepada tiga penguasa Cirebon, teks perjanjian tersebut disusun sendiri oleh Cornelis Janzoon Speelman yang kemudian pada tanggal 29 Oktober 1680 ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

[52] Penunjukan Cornelis Janzoon Speelman sebagai Gubernur Jenderal dikarenakan Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens menyatakan keinginannya untuk mengundurkan diri, keinginan Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens untuk mengundurkan diri dikarenakan merasa tidak mampu lagi menghadapi penentangan demi penentangan yang dilakukan oleh Cornelis Janzoon Speelman dan rekan-rekannya di pemerintahan tinggi [52] Pengajuan pengunduran diri yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens sebenarnya telah dilakukan sejak 1679 namun baru mendapatkan respon dari Heeren XVII (tujuh belas orang pemimpin tinggi Vereenigde Oostindische Compagnie) melalui surat tertanggal 29 Oktober 1680, di dalam surat tersebut Heeren XVII menerima pengunduran dirinya dengan hormat dan sebagai penghargaan atas jasa-jasanya selama ini kepada Vereenigde Oostindische Compagnie, Heeren XVII menawarkan kepada anaknya yang bernama Rijckloff van Goens Jr yang pada masa itu menjabat sebagai Gubernur wilayah jajahan Belanda di Srilanka sebuah posisi di pemerintahan tinggi [52] Pangeran Haji dan kekalahan pasukan gerilya kesultanan Banten di Cirebon [ sunting - sunting sumber ] Pada masa gerilya ini Sultan Abdul Fatah dari kesultanan Banten menghadapi konflik internal yang dipicu oleh kekhawatiran Pangeran Haji akan takhta kesultanan Banten yang mungkin tidak akan jatuh kepadanya, konflik internal ini memulai puncaknya ketika Cornelis Janzoon Speelman ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menggantikan Rijckloff van Goens pada 29 Oktober 1680.

[52] Pangeran Haji kemudian pada tanggal 25 November 1680 mengirimkan surat ucapan selamat kepada Cornelis Janzoon Speelman atas penunjukan dirinya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pengiriman surat ucapan selamat oleh Pangeran Haji kepada Cornelis Janzoon Speelman memicu kekecewaan Sultan Abdul Fatah dikarenakan pada masa itu Vereenigde Oostindische Compagnie baru saja menghancurkan pasukan gerilya kesultanan Banten di Cirebon [35] yang berimbas pada berhasil dikuasai sepenuhnya wilayah kesultanan Cirebon oleh Vereenigde Oostindische Compagnie Belanda.

[53] Perjanjian 1681 [ sunting - sunting sumber ] Pada akhir tahun 1680 pemerintahan tertinggi Belanda menyetujui isi teks perjanjian yang ditujukan kepada para penguasa Cirebon, kemudian pada saat nabi yaqub adalah cucu nabi baru 1681 tujuh orang utusan dari tiga penguasa Cirebon yang tinggal di Batavia menghadiri upacara kenegaraan di rumah Rijckloff van Goens (Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru saja mengundurkan diri pada 29 Oktober 1680) yang dipimpin oleh Jacob van Dyck, setelah bersulang untuk keselamatan Raja Belanda dengan anggur spanyol maka diserahkan surat keputusan pemerintah tertinggi Belanda untuk ketiga penguasa Cirebon disertai dengan hadiah-hadiah kepada mereka dan atasan mereka (para penguasa Cirebon), menjelang malam harinya Jacob van Dyck berlayar dengan dua buah kapal diikuti oleh perahu-perahu yang membawa para utusan Cirebon menuju ke Cirebon, iringan Jacob van Dyck sampai di pelabuhan Cirebon empat hari kemudian (tanggal 5 Januari 1681), iring-iringan Jacob van Dyck disambut oleh tembakan meriam dan kapten Joachim Michiefs yang telah terlebih dahulu ada di Cirebon.

[47], [54] Pada keesokan harinya tanggal 6 Januari 1681, diadakanlah upacara yang dihadiri oleh para penguasa Cirebon di alun-alun yang disertai tembakan meriam sebagai bentuk penghormatan, kemudian surat keputusan pemerintahan tertinggi Belanda yang dibawa dari Batavia pada tanggal 1 Januari 1681 tersebut dibacakan. [47] [54] Pada tanggal 7 Januari 1681 dimulailah perundingan di antara para penguasa Cirebon dan pada malam harinya dicapailah kesepakatan untuk memberlakukan perjanjian antara Belanda dan Cirebon, Perjanjian tersebut kemudian ditandatangani oleh ketiga penguasa Cirebon.

[55] [56] Pada perjanjian tersebut Belanda diwakili oleh komisioner Jacob van Dijk dan kapten Joachim Michiefs, [57] perjanjian persahabatan yang dimaksud adalah untuk memonopoli perdagangan di wilayah Cirebon di antaranya perdagangan komoditas kayu, beras, gula, [57] lada, serta Jati sekaligus menjadikan kesultanan-kesultanan di Cirebon protektorat Belanda (wilayah di bawah naungan Belanda).

[58] Perjanjian Belanda - Cirebon 1681 tersebut juga membatasi perdagangan, membatasi pelayaran penduduk dan memastikan Vereenigde Oostindische Compagnie memperoleh hak di sana [53] Perang saudara [ sunting - sunting sumber ] Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan nabi yaqub adalah cucu nabi Sultan Haji.

Perpecahan ini dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Nabi yaqub adalah cucu nabi Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.

[2] Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan yang disebut dengan Tirtayasa, tetapi pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan pedalaman Sunda. Namun pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia.

Sementara VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada 5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember 1683 mereka berhasil menawan Syekh Yusuf.

[59] Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati disuruh oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, tetapi terjadi pertikaian di antara mereka, puncaknya pada 28 Januari 1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC.

Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7 Februari 1684 sampai di Batavia. [60] Penurunan [ sunting - sunting sumber ] Bantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji mesti dibayar dengan memberikan kompensasi kepada VOC di antaranya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Laksamana kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung.

[61] Selain itu berdasarkan perjanjian tanggal 17 April 1684, Sultan Haji juga mesti mengganti kerugian akibat perang tersebut kepada VOC. [62] Setelah meninggalnya Sultan Haji tahun 1687, VOC mulai mencengkeramkan pengaruhnya di Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkat menggantikan Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.

Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konfik antara keturunan penguasa Banten [63] maupun gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, di antaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa.

Akibat konflik yang berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vasal dari VOC. [41] Penghapusan kesultanan Banten dan lepasnya Lampung [ sunting - sunting sumber ] Reruntuhan Keraton Kaibon, bekas istana kediaman Ibu Suri Sultan Banten, pada tahun 1933 Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris.

[64] Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon.

Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan.

nabi yaqub adalah cucu nabi

Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia.

nabi yaqub adalah cucu nabi

Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda. [65] Selain itu Gubernur Nabi yaqub adalah cucu nabi Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan pada tanggal 22 November 1808 untuk melepaskan Lampung dari wilayah kesultanan Banten dan keterkaitannya dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), wilayah Lampung dalam surat keputusan tersebut langsung berada di bawah pengawasan Gubernur Jenderal.

[66] Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. [67] Pada tahun itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten.

Agama [ sunting - sunting sumber ] Lukisan litograf Masjid Agung Banten pada kurun 1882-1889. Berdasarkan data arkeologis, masa awal masyarakat Banten dipengaruhi oleh beberapa kerajaan yang membawa keyakinan Hindu- Buddha, seperti Tarumanagara, Sriwijaya dan Kerajaan Sunda.

Dalam Babad Banten menceritakan bagaimana Sunan Gunung Jati bersama Maulana Hasanuddin, melakukan penyebaran agama Islam secara intensif kepada penguasa Banten Girang beserta penduduknya. Beberapa cerita mistis juga mengiringi proses islamisasi di Banten, termasuk ketika pada masa Maulana Yusuf mulai menyebarkan dakwah kepada penduduk pedalaman Sunda, yang ditandai dengan penaklukan Pakuan Pajajaran.

Islam menjadi pilar pendirian Kesultanan Banten, Sultan Banten dirujuk memiliki silsilah sampai kepada Nabi Muhammad, dan menempatkan para nabi yaqub adalah cucu nabi memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakatnya, seiring itu tarekat maupun tasawuf juga berkembang di Banten. Sementara budaya masyarakat menyerap Islam sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Beberapa tradisi yang ada dipengaruhi oleh perkembangan Islam di masyarakat, seperti terlihat pada kesenian bela diri Debus.

Kadi memainkan peranan penting dalam pemerintahan Kesultanan Banten, selain bertanggungjawab dalam penyelesaian sengketa rakyat di pengadilan agama, juga dalam penegakan hukum Islam seperti hudud. [68] Toleransi umat beragama di Banten, berkembang dengan baik. Walau didominasi oleh muslim, tetapi komunitas tertentu diperkenankan membangun sarana peribadatan mereka, di mana sekitar tahun 1673 telah berdiri beberapa klenteng pada kawasan sekitar pelabuhan Banten.

Kependudukan [ sunting - sunting sumber ] Kemajuan Kesultanan Banten ditopang oleh jumlah penduduk yang banyak serta multi-etnis. Mulai dari Jawa, Sunda dan Melayu. Sementara kelompok etnis Nusantara lain dengan jumlah signifikan antara lain Makasar, Bugis dan Bali. Dari beberapa sumber Eropa disebutkan sekitar tahun 1672, di Banten diperkirakan terdapat antara 100.000 sampai 200.000 orang lelaki yang siap untuk berperang, sumber lain menyebutkan, bahwa di Banten dapat direkrut sebanyak 10 000 orang yang siap memanggul senjata.

Namun dari sumber yang paling dapat diandalkan, pada Dagh Register-(16.1.1673) menyebutkan dari sensus yang dilakukan VOC pada tahun 1673, diperkirakan penduduk di kota Banten yang mampu menggunakan tombak atau senapan berjumlah sekitar 55.000 orang. Jika keseluruhan penduduk dihitung, apa pun kewarganegaraan mereka, diperkirakan berjumlah sekitar 150.000 penduduk, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia. [69] Sekitar tahun 1676 ribuan masyarakat Tiongkok mencari suaka dan bekerja di Banten.

Gelombang migrasi ini akibat berkecamuknya perang di Fujian serta pada kawasan Tiongkok Selatan lainnya. Masyarakat ini umumnya membangun pemukiman sekitar pinggiran pantai dan sungai serta memiliki proporsi jumlah yang signifikan dibandingkan masyarakat India dan Arab.

nabi yaqub adalah cucu nabi

Sementara di Banten beberapa kelompok masyarakat Eropa seperti Inggris, Belanda, Prancis, Denmark dan Portugal juga telah membangun pemondokan dan gudang di sekitar Ci Banten. Perekonomian [ sunting - sunting sumber ] Dalam meletakkan dasar pembangunan ekonomi Banten, selain di bidang perdagangan untuk daerah pesisir, pada kawasan pedalaman pembukaan sawah mulai nabi yaqub adalah cucu nabi.

Asumsi ini berkembang karena pada waktu itu di beberapa kawasan pedalaman seperti Lebak, perekonomian masyarakatnya ditopang oleh kegiatan perladangan, sebagaimana penafsiran dari naskah sanghyang siksakanda ng karesian yang menceritakan adanya istilah pahuma (peladang), panggerek ( pemburu) dan panyadap (penyadap). Ketiga istilah ini jelas lebih kepada sistem ladang, begitu juga dengan nama peralatannya seperti kujang, patik, baliung, kored, dan sadap.

Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar dilakukan untuk mengembangkan pertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan menggunakan tenaga sebanyak 16.000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40.000 ribu hektare sawah baru dan ribuan hektare perkebunan kelapa ditanam. 30 000-an petani ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yang didatangkan saudagar Tiongkok pada tahun 1620-an, nabi yaqub adalah cucu nabi.

Di bawah Sultan Ageng, perkembangan penduduk Banten meningkat signifikan. [41] Tak dapat dimungkiri sampai pada tahun 1678, Banten telah menjadi kota metropolitan, dengan jumlah penduduk dan kekayaan yang dimilikinya menjadikan Banten sebagai salah satu kota terbesar di dunia pada masa tersebut. [69] Pemerintahan [ sunting - sunting sumber ] Bendera Kesultanan Banten, versi pelat Jepang tahun 1876.

Setelah Banten muncul sebagai kerajaan yang mandiri, penguasanya menggunakan gelar Sultan, sementara dalam lingkaran istana terdapat gelar Pangeran Ratu, Pangeran Adipati, Pangeran Gusti, dan Pangeran Anom yang disandang oleh para pewaris. Pada pemerintahan Banten terdapat seseorang dengan gelar Mangkubumi, Kadi, Patih serta Syahbandar yang memiliki peran dalam administrasi pemerintahan.

Sementara pada masyarakat Banten terdapat kelompok bangsawan yang digelari dengan tubagus (Ratu Bagus), ratu atau sayyid, dan golongan khusus lainnya yang mendapat kedudukan istimewa adalah terdiri atas kaum ulama, pamong praja, serta kaum jawara.

Pusat pemerintahan Banten berada antara dua buah sungai yaitu Ci Banten dan Ci Karangantu. Di kawasan tersebut dahulunya juga didirikan pasar, alun-alun dan Istana Surosowan yang dikelilingi oleh tembok beserta parit, sementara di sebelah utara dari istana dibangun Masjid Agung Banten dengan menara berbentuk mercusuar yang kemungkinan dahulunya juga berfungsi sebagai menara pengawas untuk melihat kedatangan kapal di Banten.

Berdasarkan Sejarah Banten, lokasi pasar utama di Banten berada antara Masjid Agung Banten dan Ci Banten, yang dikenal dengan nama Kapalembangan.

nabi yaqub adalah cucu nabi

Sementara pada kawasan alun-alun terdapat paseban yang digunakan oleh Sultan Banten sebagai tempat untuk menyampaikan maklumat kepada rakyatnya. Secara keseluruhan rancangan kota Banten berbentuk segi empat yang dipengaruhi oleh konsep Hindu-Buddha atau representasi yang dikenal dengan nama mandala. [41] Selain itu pada kawasan kota terdapat beberapa kampung yang mewakili etnis tertentu, seperti Kampung Pekojan (Persia) dan Kampung Pecinan. Kesultanan Banten telah menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singgah ke Banten, pemungutan cukai ini dilakukan oleh Syahbandar yang berada di kawasan yang dinamakan Pabean.

Salah seorang syahbandar yang terkenal pada masa Sultan Ageng bernama Syahbandar Kaytsu. Warisan sejarah [ sunting - sunting sumber ] Setelah dihapuskannya Kesultanan Banten, wilayah Banten menjadi bagian dari kawasan kolonialisasi. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1817 Banten dijadikan keresidenan, dan sejak tahun 1926 wilayah tersebut menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Kejayaan masa lalu Kesultanan Banten menginspirasikan masyarakatnya untuk menjadikan kawasan Banten kembali menjadi satu kawasan otonomi, reformasi pemerintahan Indonesia berperan mendorong kawasan Banten sebagai provinsi tersendiri yang kemudian ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000.

Selain itu masyarakat Banten telah menjadi satu kumpulan etnik tersendiri yang diwarnai oleh perpaduan antar-etnis yang pernah ada pada masa kejayaan Kesultanan Banten, dan keberagaman ini pernah menjadikan masyarakat Banten sebagai salah satu kekuatan yang dominan di Nusantara. Daftar Sultan Banten [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Daftar Sultan Banten Berikut adalah daftar sultan Banten: [70] [71] Kesultanan Banten sebagai Negara Berdaulat [ sunting - sunting sumber ] No.

Masa/Tahun Nama Sultan Nama Lain Keterangan Sultan Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Sultan ke-2 Kesultanan Cirebon 1 1552 - 1570 Sultan Maulana Hasanuddin Pangeran Sabakinking 8 Oktober 1526 M (1 Muharam 933 H) - 1552 Nabi yaqub adalah cucu nabi, sebagai kadipaten di bawah Kesultanan Cirebon 2 1570 - 1585 Sultan Maulana Yusuf Pangeran Pasareyan 3 1585 - 1596 Sultan Maulana Muhammad • Pangeran Sedangrana • Prabu Seda ing Palembang 4 1596 - 1647 Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir • Pangeran Ratu • Sultan Agung 5 1647 - 1651 Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad • Pangeran Anom • Sultan Kilen 6 1651 - 1683 Sultan Ageng Tirtayasa [72] • Abu al-Fath Abdul Fattah • Pangeran Dipati • Pangeran Surya 7 1683 - 1687 Sultan Abu Nashar Abdul Qahar • Sultan Haji • Pangeran Dakar (Catatan) 1 8 1687 - 1690 Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya 9 1690 - 1733 Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainulabidin • Pangeran Adipadi • Kang Sinihun ing Nagari Banten 10 1733 - 1750 Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin 1750 - 1752 Sultan Syarifuddin Ratu Wakil 2 Pangeran Syarifuddin dalam pengaruh Ratu Syarifah Fatima [73] [74] 11 1752 - 1753 Sultan Abu al-Ma'ali Muhammad Wasi Pangeran Arya Adisantika 12 1753 - 1773 Sultan Abu al-Nasr Muhammad Arif Zainulasyiqin 13 1773 - 1799 Sultan Aliyuddin I Abu al-Mafakhir Muhammad Aliyuddin 14 1799 - 1801 Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 15 1801 - 1802 Sultan Muhammad Ishaq Zainulmuttaqin 1802 - 1803 Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya Untuk sementara administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh seorang Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya 16 1803 - 1808 Sultan Aliyuddin II Abu al-Mafakhir Muhammad Aqiluddin 1808 - 1809 Caretaker Sultan Wakil Pangeran Suramenggala Untuk sementara administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh seorang Caretaker Sultan Wakil Pangeran Suramenggala 17 1809 - 1813 Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin Catatan: 1.

Penobatan nabi yaqub adalah cucu nabi disertai beberapa persyaratan. Persyaratan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah perjanjian yang ditandatangani pada 17 April 1684 yang meminimalkan kedaulatan Banten karena dengan perjanjian itu segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dalam dan luar negeri harus atas persetujuan VOC.

2. Ketika Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin dibuang ke Ambon, istrinya Ratu Syarifah Fatima berhasil membujuk Belanda (Baron van Inhoff) untuk menobatkan putranya dari suami terdahulu sebagai Sultan Banten.

Pangeran Syarifuddin naik takhta dengan gelar Sultan Syarifuddin Ratu Wakil, tetapi pada kenyataannya yang berkuasa adalah Ratu Syarifah Fatima.

[75] Hal tersebut yang menyebabkan tidak diakuinya Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin maupun Ratu Syarifah Fatima sebagai Sultan Banten ke-11. Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Undhang-Undhang Bantěn Bacaan lanjut [ sunting - sunting sumber ] • Hussein Jayadiningrat, Critische Beschouwing van de Sadjarah-Banten, Disertasi Doktor, 3 Mei 1913, Universitas Leiden.

• Guillot, Claude, Lukman Nurhakim, Sonny Wibisono, Banten avant l'Islam - Etude archéologique de Banten Girang (Java Indonésie) 932 (?)-1526 ("Banten sebelum Islam - Studi arkeologis tentang Banten Girang 932 (?)-1526"), École française d'Extrême-Orient, 1994, ISBN 2-85539-773-1 • Darsa, Undang A. 2004. “Kropak 406; Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan“, Makalah disampaikan dalam Kegiatan Bedah Naskah Kuno yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga.

Bandung-Jatinangor: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran: hlm. 1 – 23. • Ekadjati, Edi S. 1995. Sunda, Nusantara, dan Indonesia; Suatu Tinjauan Sejarah. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran pada Hari Sabtu, 16 Desember `1995.

Bandung: Universitas Padjadjaran. • Ekadjati, Edi S. 1981. Historiografi Priangan. Bandung: Lembaga Kebudayaan Universitas Padjadjaran. • Ekadjati, Edi S. (Koordinator). 1993. Sejarah Pemerintahan di Jawa Barat. Bandung: Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

• Raffles, Thomas Stamford. 1817. The History of Java, 2 vols. London: Block Parbury and Allen and John Murry. • Raffles, Thomas Stamford. 2008. The History of Java (Terjemahan Eko Prasetaningrum, Nuryati Agustin, dan Idda Qoryati Mahbubah). Yogyakarta: Narasi. • Z., Mumuh Muhsin. Sunda, Priangan, dan Jawa Barat. Makalah disampaikan dalam Diskusi Hari Jadi Jawa Barat, diselenggarakan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat Bekerja Sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat pada Selasa, 3 November 2009 di Aula Redaksi HU Pikiran Rakyat.

• Uka Tjandrasasmita. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Kepustakaan Populer Gramedia. • E. Rokajat Asura. (September 2011). Harisbaya bersuami 2 raja - Kemelut cinta di antara dua kerajaan Sumedang Larang dan Cirebon.

Penerbit Edelweiss. • Atja, Drs. (1970). Ratu Pakuan. Lembaga Bahasa dan Sedjarah Unpad. Bandung. • Atmamihardja, Mamun, Drs. Raden. (1958). Sadjarah Sunda. Bandung. Ganaco Nv. • Joedawikarta (1933). Sadjarah Soekapoera, Parakan Moencang sareng Gadjah. Pengharepan. Bandoeng, • Lubis, Nina Herlina., Dr. Nabi yaqub adalah cucu nabi, dkk. (2003). Sejarah Tatar Sunda jilid I dan II. CV. Satya Historica. Bandung. • Herman Soemantri Emuch. (1979). Sajarah Sukapura, sebuah telaah filologis.

Universitas Indonesia. Jakarta. • Guillot, Claude, Lukman Nurhakim, Sonny Wibisono, "La principauté nabi yaqub adalah cucu nabi Banten Girang" ("Kerajaan Banten Girang"), Archipel, Tahun 1995, Volume 50, halaman 13-24 • Ricklefs, M.

C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, 2008 (terbitan ke-4) • Zamhir, Drs. (1996). Mengenal Museum Prabu Geusan Ulun serta Riwayat Leluhur Sumedang. Yayasan Pangeran Sumedang. Sumedang. • Sukardja, Djadja. (2003). Kanjeng Prebu R.A.A. Kusumadiningrat Bupati Galuh Ciamis th. 1839 s / d 1886. Sanggar SGB. Ciamis. • Sulendraningrat P.S.

(1975). Sejarah Cirebon dan Silsilah Sunan Gunung Jati Maulana Syarif Hidayatullah. Lembaga Kebudayaan Wilayah III Cirebon. Cirebon.

nabi yaqub adalah cucu nabi

• Sunardjo, Unang, R. H., Drs. (1983). Kerajaan Carbon 1479-1809. PT. Tarsito. Bandung. • Suparman, Tjetje, R.

H., (1981). Sajarah Sukapura. Bandung • Surianingrat, Bayu., Drs. (1983). Sajarah Kabupatian I Bhumi Sumedang 1550-1950. CV.Rapico. Bandung. • Soekardi, Yuliadi. (2004). Kian Santang. CV Pustaka Setia. • Soekardi, Yuliadi. (2004). Prabu Siliwangi. CV Pustaka Setia.

• Tjangker Soedradjat, Ade. (1996). Silsilah Wargi Pangeran Sumedang Turunan Pangeran Santri alias Pangeran Koesoemadinata I Penguasa Sumedang Larang 1530-1578.

Yayasan Pangeran Sumedang. Sumedang. nabi yaqub adalah cucu nabi Widjajakusuma, Djenal Asikin., Raden Dr. (1960). Babad Pasundan, Riwajat Kamerdikaan Bangsa Sunda Saruntagna Karadjaan Pdjadjaran Dina Taun 1580. Kujang. Bandung. • Winarno, F. G. (1990). Bogor Hari Esok Masa Lampau. PT. Bina Hati. Bogor. • Olthof, W.L. (cetakan IV 2008). Babad Tanah Jawi - mulai dari Nabi Adam sampai tahun 1647. PT. Buku Kita. Yogyakarta Bagikan. • A. Sobana Hardjasaputra, H.D.

Bastaman, Edi S. Ekadjati, Ajip Rosidi, Wim van Zanten, Undang A. Darsa. (2004). Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda. Pusat Studi Sunda. • A. Sobana Hardjasaputra (Ed.). (2008). Sejarah Purwakarta. • Nina H. Lubis, Kunto Sofianto, Taufik Abdullah (pengantar), Ietje Marlina, A.

Sobana Hardjasaputra, Reiza D. Dienaputra, Mumuh Muhsin Z. (2000). Sejarah Kota-kota Lama di di Jawa Barat. Alqaprint. ISBN 979-95652-4-3. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Banten. • nabi yaqub adalah cucu nabi Kompas: Sia-sia, Kalau Bangkitkan Sosok Sultan Banten • (Indonesia) Republika: Menunggu Kembalinya Sultan Banten • (Indonesia) Tempo Interaktif: Ribuan Peziarah Serbu Masjid Agung Banten Diarsipkan 2007-09-30 di Wayback Machine.

Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b Taufiqurokhman; Widodo, Hari; Gunawan, Muhammad; Lambe, Sulaeman (2014). Banten dari Masa ke Masa (PDF). Serang: Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Banten. ISBN 9786027140400. • ^ a b c d e f g h i Pudjiastuti, Titik. 2007. Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-surat Sultan Banten. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia • ^ Facal, Gabriel. 2016. Keyakinan dan Kekuatan: Seni Bela Diri Silat Banten. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia • ^ a b Lubis, Nina Herlina, 2004.

Banten dalam pergumulan sejarah : sultan, ulama, jawara. Jakarta : LP3ES • ^ Wildan, Dadan. 2003. Sunan Gunung Jati antara fiksi dan fakta : pembumian Islam dengan pendekatan struktural dan kultural. Bandung : Humaniora • ^ Uka Tjandrasasmita, (2009), Arkeologi Islam Nusantara, Kepustakaan Populer Gramedia, ISBN 979-9102-12-X. • ^ a b Pudjiastuti, Titik 2000, 'Sadjarah Banten: suntingan teks dan terjemahan disertai tinjauan aksara dan amanat.

Depok: Universitas Indonesia • ^ Untoro, Heriyanti Ongkodharma, 2007. Kapitalisme Pribumi Awal Kesultanan Banten 1522 - 1684. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia • ^ Effendy, Khasan.

Sumanang Rana Dipaprana. 1994. Pertalian keluarga raja-raja Jawa Kulon dengan Keraton Pakungwati: Sunan Gunung Djati muara terakhir keluarga raja-raja Jawa Kulon. kota Bandung: Indra Prahasta • ^ Hendarsyah, Amir. 2010. Cerita Kerajaan Nusantara. Yogyakarta: Great Publisher • ^ Sariyun, Yugo. 1991. Nilai Budaya dalam Permainan Rakyat Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan • nabi yaqub adalah cucu nabi "Syahdana, Darussalam Jagad.

2015. Gunung Pulasari; Kunci Penaklukkan Banten Girang oleh Sunan Gunung Jati. [[kota Tangerang-Tangerang]]: Banten Hits". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-08. Diakses tanggal 2016-06-16. • ^ a b Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1997. Kongres Nasional Sejarah, 1996: Sub tema dinamika sosial ekonomi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia • ^ Ruhimat, Mamat, Nana Supriatna, Kosim.

nabi yaqub adalah cucu nabi

2006. Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah). Bandung: Grafindo Media Pratama • ^ Adhyatman, Sumarah. 1981. Antique ceramics found in Indonesia. Jakarta: Himpunan Keramik Indonesia • ^ a b c d e f g h i Tim Pusat Penelitian dan Sejarah Budaya. 1980. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan • ^ Tim Radarcom.id.

2018. Asal-Usul dan Hubungan Keratuan Darah Putih dengan Syarief Hidayatullah (1). Bandar Lampung : Radar Komunikasi Digital • ^ Asikin, Zainal. 2018.

Jejak Sejarah Keratuan Ratu Darah Putih di Desa Kuripan Lampung Selatan. Bandar Lampung : Teras Lampung • ^ a b c d e f Tim Radarcom.id. 2018. Asal-Usul dan Hubungan Keratuan Darah Putih dengan Syarief Hidayatullah (II) [ pranala nonaktif permanen].

Bandar Lampung : Radar Komunikasi Digital • ^ a b al Fadillah, Nizar. 2018. Radin Inten II, Pahlawan dari Lampung Selatan. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat • ^ a b van Dijk, Toos. Nico de Jonge. 1980. Ship Cloths of the Lampung, South Sumatera: A Research of Their Design, Meaning and Use in Their Cultural Context. Amsterdam : Galerie Mabuhay • ^ Yulianto, Kresno. 2008. Dinamika permukiman dalam budaya Indonesia.

Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia • ^ a b c 2016. Asal-Usul dan Hubungan Keratuan Darah Putih dengan Syarief Hidayatullah (III). Lampung : harianlampung.com • ^ a b c Djajadiningrat, Hoesein. 1983.

Tinjauan kritis tentang sajarah Banten: sumbangan bagi pengenalan sifat-sifat penulisan sejarah Jawa. Jakarta: Djambatan • ^ Staf Citarum.org. 2001. Sungai Citarum Sekilas Sejarah, Banjir: Dulu hingga Sekarang, Menuju Tujuan Bersama. Bandung: Citarum.org • ^ [1] Diarsipkan 2014-11-21 di Wayback Machine.-jayakarta • ^ Shahab, Yasmine Zaki. 1997. Betawi dalam perspektif kontemporer: perkembangan, potensi, dan tantangannya.

Jakarta : Lembaga Kebudayaan Betawi • ^ Adi, Windoro. 2010. Batavia, 1740: menyisir jejak Betawi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama • ^ Aziz, Abdul. 2002. Islam & masyarakat Betawi. Ciputat : Logos Wacana Ilmu • ^ a b c Hasan Muarif Ambary, Jacques Dumarçay, (1990), The Sultanate of Banten, Gramedia Book Pub. Division, ISBN 979-403-922-5.

• ^ Nabi yaqub adalah cucu nabi Gin Ooi, (2004), Southeast Asia: a historical encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor, Volume 1, ABC-CLIO, ISBN 1-57607-770-5. • ^ Mukarrom, Ahwan. 2014.

Sejarah Islam Indonesia I: Dari Awal Islamisasi sampai Periode Kerajaan-Kerajaan Islam Nusantara. Surabaya: Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel • ^ a b c Hadikusuma, Hilman. 1989. Masyarakat dan adat-budaya Lampung. Bandung : Mandar Maju • nabi yaqub adalah cucu nabi a b c d e f Prasetyo, Agus. 2019. Raja Sufi dari Kesultanan Banten : Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651 M). Jakarta : Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah • ^ a b c Michrob, Drs Halwani, Drs A.

Mudjahid Chudori. 1993. Catatan Masa Lalu Banten. Serang: Penerbit Saudara • ^ Pudjiastuti, Titik. 2015. Menyusuri jejak Kesultanan Banten. Jakarta : Wedatama Widya Sastra • ^ From Valentijn, Beschrijving van Groot Djava, ofte Java Major, Amsterdam, 1796.

Ludwig Bachhofer, India Antiqua (1947:280) notes that Valentijn had been in Banten in 1694. • ^ Heriyanti Ongkodharma Untoro, (2007), Kapitalisme pribumi awal kesultanan Banten, 1522-1684: kajian arkeologi-ekonomi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, ISBN 979-8184-85-8.

• ^ Yoneo Ishii, (1998), The junk trade from Southeast Asia: translations from the Tôsen fusetsu-gaki, 1674-1723, Institute of Southeast Asian Studies, ISBN 981-230-022-8. • ^ Nana Supriatna, Sejarah, PT Grafindo Media Pratama, ISBN 979-758-601-4.

• ^ a b c d Atsushi Ota, (2006), Changes of regime and social dynamics in West Java: society, state, and the outer world of Banten, 1750-1830, BRILL, ISBN 90-04-15091-9.

• ^ Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1977. Sejarah Daerah Bengkulu. Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayan • ^ a b Ekajati, Edi Suherdi. 2005. Polemik naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya: Bandung • ^ a b c "Tim Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata Kota Cirebon. 2015. Riwayat Berdirinya Keraton-Keraton di Cirebon. [[Cirebon]] : Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata Kota Cirebon". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-11. Diakses tanggal 2020-04-11.

• ^ < - Noer, Nurdin M. 2015. Awal Pecahnya Kerajaan Cirebon, Kasepuhan dan Kanoman. Cirebon: Cirebon Trust Diarsipkan 2020-04-11 di Wayback Machine. • ^ a b c de Graaf, Hermanus Johannes. 1987. Runtuhnya istana Mataram. Bogor : Grafiti Pers • ^ a b c d e f g h i Deviani, Firlianna Tiya. 2016. Perjanjian 7 Januari 1681 Dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Sosial Politik Ekonomi di Kerajaan Cirebon (1681 M - 1755 M). Cirebon : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati • ^ Sunardjo, R.

H. Unang. 1996. Selayang Pandang Sejarah Masa Kejayaan Kerajaan Cirebon : kajian dari aspek politik dan pemerintahan. Cirebon : Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon • ^ Mansyur, Khatib.

2001. Perjuangan rakyat Banten menuju provinsi : catatan kesaksian seorang wartawan. Serang : Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Provinsi Banten • ^ Suparman, Sulasman, Dadan Firdaus.

2017. Tawarikh : Political Dynamics in Cirebon from the 17th to 19th Century. Bandung : Universitas Islam Negeri nabi yaqub adalah cucu nabi Sunan Gunung Jati • ^ de Jonge, Johan Karel Jakob.

1873. De opkomst van het Nederlandsch gezag over Java: verzameling van onuitgegeven stukken uit het oud-koloniaal archief, Volume 4. s Gravenhague The Hague : Martinus Nijhoff • ^ a b c d Heniger, J.

2017. Hendrik Adriaan Van Reed Tot Drakestein 1636-1691 and Hortus, Malabaricus. Abingdon-on-Thames : Routledge • ^ a b Blink, Hendrik. 1907. Nederlandsch Oost- en West-Indië : geographisch, ethnographisch en economisch beschreven, Volume 2. Leiden : Evert Jan Brill • nabi yaqub adalah cucu nabi a b Molsbergen, Everhardus Cornelis Godee.

1931. Uit Cheribon's geschiedenis en Gedenkboek der Gemeente Cheribon 1906-1931. Bandung : Nix • ^ Kartodihardjo, Sartono. 1988. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500 - 1900 (dari Emporium sampai Imperium). Jakarta: Gramedia • ^ Roseno, Edi. 1993. Perang Kedondong 1818. Depok: Universitas Indonesia • ^ a nabi yaqub adalah cucu nabi Chambert-Loir, Henri.

Hasan Muarif Ambary. 1999. Panggung sejarah: persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia • ^ Tim Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1982. Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan • ^ Azyumardi Azra, (2004), The origins of Islamic reformism in Southeast Asia: networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulamā' in the seventeenth and eighteenth centuries, University of Hawaii Press, ISBN 0-8248-2848-8.

• ^ Ann Kumar, (1976), Surapati: man and legend: a study of three Babad traditions, Brill Archive, ISBN 90-04-04364-0. • ^ Amir Hendarsah, Cerita Kerajaan Nusantara, Great! Publisher, ISBN 602-8696-14-5. • ^ Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, (1992), Sejarah nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, PT Balai Pustaka, ISBN 979-407-409-8 • ^ Atsushi Ota, Banten Rebellion, 1750-1752: Factors behind the Mass Participation, Modern Asian Studies (2003), 37: 613-651, DOI: 10.1017/S0026749X03003044.

• ^ Ekspedisi Anjer-Panaroekan, Laporan Jurnalistik Kompas. Penerbit Buku Kompas, PT Kompas Media Nusantara, Jakarta Indonesia. 2008 November. hlm. 1–2. ISBN 978-979-709-391-4. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Sartono Kartodirdjo, (1966), The peasants' revolt of Banten in 1888: Its conditions, course and sequel.

A case study of social movements in Indonesia, Martinus Nijhoff. • ^ Komandoko, Gamal. 2010. Ensiklopedia Pelajar dan Umum. Yogyakarta: Pustaka Widyatama • ^ R. B. Cribb, A. Kahin, (2004), Historical dictionary of Indonesia, Scarecrow Press, ISBN 0-8108-4935-6. • ^ Euis Nurlaelawati, (2010), Modernization, tradition and identity: the Kompilasi hukum Islam and legal practice in the Indonesian religious courts, Amsterdam University Press, ISBN 90-8964-088-6.

• ^ a b Claude Guillot, Banten in 1678, Indonesia, Volume 57 (1994), 89-114. • ^ "Silsilah Sultan Sultan Banten dan Keturunannya - Ranji Sarkub". Ranji Sarkub. 2015-06-18. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-02-02. Diakses tanggal 2017-04-14. • ^ Drs. H. Tri Hatmadji, (2005), Ragam Pusaka Budaya Banten, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, ISBN 979-99324-0-8. • ^ {{Sejak masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, gelar-gelar kebangsawanan Banten ditertibkan: Sultan untuk raja, Pangeran Ratu untuk putra mahkota atau pewaris takhta pertama, Pangeran Adipati untuk pewaris takhta kedua atau adik Pangeeran Ratu (Djajadiningrat, 1983: 209-10)}} • ^ redaksi.

"Ingin Kuasai Banten, Ratu Syarifah Fatimah Malah Dibuang ke Pulau Edam". Timika Satu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-01-16. Diakses tanggal 2017-04-14. • ^ "Jejak Kyai Tapa: Awal Konflik Internal Banten: Penyusupan Agen Wanita VOC ke Jantung Keraton".

Sportourism.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-05-04. Diakses tanggal 2017-04-14. • ^ "Ratu yang Dibenci Rakyat Banten - Republika Online". Republika Online. Diakses tanggal 2017-04-14. Kategori tersembunyi: • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Templat webarchive tautan wayback • Galat CS1: tanggal • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Artikel mengandung aksara Jawa • Pages using infobox country with unknown parameters • Pranala kategori Commons ditentukan secara lokal • Halaman ini terakhir diubah pada 19 April 2022, pukul 02.37.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
none Ustaz Hendy Irawan Saleh STh.I ME Pengasuh Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an Bandung Sebagian umat Islam sangat menanti-nanti kedatangan bulan Ramadhan. Ini karena Ramadhan memiliki kemuliaan dan keutamaan spesial dibanding bulan lain. Tak sedikit ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang kemuliaan bulan suci Ramadhan.

Salah satu yang sangat masyhur di kalangan umat Islam, terutama di Indonesia, adalah hadis yang mengatakan bahwa 30 hari bulan Ramadhan terbagi atas tiga hal. Hari-hari pertama di bulan Ramadhan adalah rahmat. Hari-hari pertengahan Ramadhan adalah ampunan. Baca Juga: Apakah Merokok Membatalkan Puasa? Hari-hari akhir Ramadhan adalah pembebasan dari api neraka. Adapun redaksi hadis tersebut sebagai berikut: وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ Artinya: " Ramadhan adalah bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka." Dengan adanya hadis ini, umat Islam tentu sangat termotivasi untuk melakukan sebanyak-banyaknya amal baik.

Umat Islam sangat mengharapkan rahmat Allah di sepertiga pertama bulan Ramadhan, ampunan di sepertiga kedua di bulan Ramadhan, dan pembebasan api neraka di sepertiga terakhir di bulan Ramadhan.

Namun, ulama memperdebatkan hadis tersebut: apakah hadis itu shahih atau tidak? Tak banyak orang tahu bahwa itu adalah hadis yang bermasalah. Kiyai Mustafa Ali Yaqub, ulama hadis Indonesia yang juga pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, mengatakan dalam bukunya yang berjudul "Hadis-hadis Palsu Ramadhan" bahwa hadis tersebut bermasalah.

Ia mengatakan bahwa hadis tersebut bermasalah karena terdapat seorang perawi bernama Ali bin Zaid bin Jud’an yang dianggap dha'if oleh ulama hadis. Lalu, apakah umat Islam tidak lagi bersemangat dalam melakukan amal baik di bulan Ramadhan?

Itu tidaklah benar. Ini karena sebagian ulama Hadis membolehkan umat Islam mengamalkan hadis dha'if dengan beberapa ketentuan. Jika ketentuan itu terpenuhi, maka umat Islam bisa mengamalkannya. Ulama kaliber dalam bidang hadis, Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa umat Islam bisa beramal menggunakan hadis dha'if dengan setidaknya lima ketentuan: 1. Status dha'if hadis tersebut tidak parah.

2. Penggunaan hadis dalam lingkup keutamaan amal (fadha'ilul a'mal) atau targhib dan tahrib, bukan berkaitan tentang akidah atau hukum. 3. Tidak boleh meyakini bahwa itu adalah Hadis. 4. Ada hadis lain yang lebih otoritatif dan redaksinya lebih umum dari hadis dha'if tersebut 5. Jika disampaikan, wajib menjelaskan status dha'if hadis tersebut. Hadis tentang keutamaan di 10 hari pertama bulan Ramadhan sekiranya masih dapat diamalkan oleh umat Islam karena memenuhi kriteria yang diberikan oleh Imam Ibnu Hajar.

Selain itu, banyak dalil-dalil, baik Al-Qur'an maupun hadis yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik di bulan Ramadhan. Baca Juga: 5 Amalan 10 Hari Pertama Ramadhan, Nomor 2 Ganjarannya Berlipat لَقَدۡ كَفَرَ الَّذِيۡنَ قَالُوۡۤا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الۡمَسِيۡحُ ابۡنُ مَرۡيَمَ‌ ؕ وَقَالَ الۡمَسِيۡحُ يٰبَنِىۡۤ اِسۡرَآءِيۡلَ اعۡبُدُوا اللّٰهَ رَبِّىۡ وَرَبَّكُمۡ‌ ؕ اِنَّهٗ مَنۡ يُّشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدۡ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ الۡجَـنَّةَ وَمَاۡوٰٮهُ النَّارُ‌ ؕ وَمَا لِلظّٰلِمِيۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ Sungguh, nabi yaqub adalah cucu nabi kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.

Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu. (QS. Al-Maidah Ayat 72) • ustaz hendy irawan saleh • pppa daarul quran • 10 hari pertama ramadhan • ramadhan 1443 hijriyah • keutamaan ramadhan • Mengenal Allah Lebih Dekat agar Taubat Diterima • Beginilah Kondisi Para Sahabat setelah Berakhirnya Bulan Ramadhan • Alumnus Ponpes Daarul Qur'an Jadi Peserta Konferensi Kaligrafi di Kairo • Inilah Hikmah dan Manfaat Puasa 6 Hari di Bulan Syawal • Niat Puasa Qadha Ramadhan di Bulan Syawal dan Tata Caranya • Inilah 5 Keutamaan Puasa Syawal Menurut Hadis • Mengapa Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Disebut Seperti Puasa Setahun Penuh?

Begini Penjelasannya REKOMENDASI • Meminta Maaf Jangan Ditunda, Tak Perlu Menunggu Jelang Ramadhan • Anjuran Berdoa di Malam Nishfu Syaban dan Puasa di Siang Harinya • Ibadah Ramadhan di Tengah Wabah, Ini Kata KH Said Aqil Siroj • Saatnya Menyiapkan 4 Amalan sebagai Bekal Menyambut Ramadhan • 5 Sebab Bulan Ramadhan Dimuliakan Allah • Menyongsong Ramadhan Bagai Meniti Perjalanan Menuju Puncak Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Para malaikat malam dan para malaikat siang saling bergantian mendatangi kalian.

Mereka berkumpul saat shalat Subuh dan Ashar. Kemudian naiklah para malaikat malam (yang mendatangi kalian). Lalu, Allah bertanya kepada mereka (dan Dia lebih mengetahui semua urusan mereka): Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian meninggalkannya? Mereka (malaikat) menjawab: Kami meninggalkan mereka sedang shalat dan ketika kami mendatangi mereka, mereka juga sedang shalat.

(HR. Nasa\'i No. 481)

sebab tidak ada nabi berasal dari keturunan Nabi Yusuf AS




2022 www.videocon.com