Mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

Pergerakan atau mobilitas penduduk merupakan salah satu gejala atau fenomena sosial dalam kependudukan. Pengertian mobilitas penduduk dapat dinyatakan sebagai perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lainnya baik secara permanan (tetap) atau non permanen (tidak tetap).

Contoh mobolitas penduduk adalah pergerakan penduduk dari desa ke kota atau sebaliknya, perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lainnya, dan berbagi jenis mobilitas penduduk lainnya.

Gejala mobilitas penduduk merupakan gejala alamiah yang terjadi sebagai respon terhadap kondisi yang dihadapi. Kondisi yang dihadapi tersebut dapat berasal dari segi ekonomi, sosial, situasi politik, atau kebutuhan akan pendidikan.

Selain itu, mobilitas penduduk juga dapat terjadi karena gangguan keamanan misalnya adanya bencana alam. Mobilitas penduduk memiliki peran dalam mengatasi beberapa masalah kependudukan. Selain itu, mobilitas penduduk juga memegang peran penting dalam pembangunan suatu wilayah. Mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah penduduk di Indonesia dibedakan menjadi dua yaitu mobilitas tidak permanen/mobilitas sirkuler (ulang-alik/harian, musiman) dan mobilitas permanen (internal dan internasional).

Bagaimana penjelasan dari setiap jenis-jenis mobilitas penduduk? Sobat idschool dapat mencari tahu melalui ulasan di bawah. Baca Juga: Asas Kewarganegaraan Menurut UU No 12 Tahun 2006 Jenis Mobilitas Penduduk Non Permanen Mobilitas penduduk non permanen adalah pergerakan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain yang bersifat sementara. Seseorang yang melakukan mobilitas non permanen tidak bertujuan menetap dalam waktu yang lama.

Berdasarkan lamanya waktu di tempat tujuan, mobilitas non permanen dibedakan menjadi dua, yaitu komutasi dan sirkulasi. Komutasi (Mobilitas Harian) Komutasi adalah bentuk mobilitas penduduk non permanen secara pergi-pulang atau ulang-alik tanpa menginap di tempat yang dituju.

Seseorang yang melakukan mobilitas komutasi dinamakan komuter atau penglaju. Umumnya, durasi waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menetap pada mobilitas komutasi kurang dari 24 jam. Contoh mobilitas penduduk yang termasuk komutasi: • Seseorang yang tinggal di Bogor namun memiliki pekerjaan di Jakarta, setiap hari kerja akan melakukan perjalanan menggunakan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek untuk bekerja di Jakarta dan kembali pulang ke Bogor di hari yang sama • Penduduk desa atau pinggiran kota yang pada pagi hari pergi ke kota untuk bekerja dan sore hari pulang ke desa.

Sirkulasi (Mobilitas Musiman) Sirkulasi adalah bentuk mobilitas penduduk non permanen bersifat sementara namun sempat menginap di tempat tujuan. Orang yang melakukan sirkulasi dinamakan sirkuler. Umumnya, sifat dari bentuk mobilitas penduduk yang termasuk sirkular adalah musiman. Contohnya mobilitas penduduk yang termasuk sirkulasi: • Buruh tani yang selama ada kegiatan pertanian tinggal desa dan ketika tidak ada kegiatan pertanian di desa mereka pergi ke kota untuk mencani nafkah tambahan.

• Orang-orang yang pergi mudik ke kampung halaman masing-masing ketika libur lebaran dan menetap disana selama beberapa hari. Baca Juga: Cara Menghitung Kepadatan Penduduk Mobilitas Penduduk Permanen (Migrasi) Mobilitas permanen adalah pergerakan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain dengan memiliki tujuan menetap dalam jangka waktu yang lama.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

Mobilitas penduduk permanen biasa dikenal dengan istilah migrasi. Seseorang yang melakukan migrasi disebut migran. Mobilitas penduduk yang termasuk migrasi mengalami perpindahan tempat dengan batas administrasi suatu wilayah atau negara dengan tujuan menetap.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

Migrasi penduduk dapat dipengaruhi oleh faktor yang menjadi faktor pendorong dan faktor penarik. Contoh faktor pendorong terjadinya migrasi adalah tidak adanya kesempatan memperbaiki kondidi ekonomi di suatu daerah.

Contoh faktor penarik adalah kesempatan mendapatkan pendapatan yang lebih baik di suatu daerah. Mobilitas permanen atau migrasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu internal dan internasional. Migrasi Internal Migrasi internal adalah bentuk mobilitas penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dalam satu negara.

Ada tiga jenis migrasi internal yang umumnya terjadi di Indonesia. Ketiga jenis migrasi internal adalah urbanisasi, ruralisasi, dan transmigrasi.

• Urbanisasi: perpindahan penduduk dari kawasan pedesaan ke wilayah perkotaan. • Ruralisasi: perpindahan penduduk dari wilayah kota ke kawasan desa untuk menetap di desa. Mobilitas penduduk yang termasuk ruralisasi biasanya dilakukan oleh penduduk kota yang pulang kembali ke desa asalnya.

• Transmigrasi: perpindahan penduduk dari pulau yang padat ke pulau yang kurang padat penduduknya dalam satu wilayah negara. Program transmigrasi umumnya diatur oleh pemerintah. Migrasi Internasional Migrasi internasional adalah perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain. Ada tiga jenis mobilitas penduduk yang termasuk migrasi internasional yaitu imigrasi, emigrasi, dan remigrasi.

• Imigrasi: proses masuknya penduduk ke suatu negara dari negara lain dengan tujuan menetap di negara tujuan. Orang yang melakukan Imigrasi disebut imigran. Contoh: orang Jepang yang datang dan tinggal di Indonesia karena suatu urusan. • Emigrasi: proses keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain dengan tujuan menetap di negara tujuan. Orang yang melakukan emigrasi disebut emigran. Contoh: orang Indonesia yang pergi dan tinggal ke Amerika untuk bekerja.

• Remigrasi/repatriasi: proses kembalinya penduduk ke negara asal, atau perpindahan penduduk untuk kembali ke tanah air atau negara asalnya. Baca Juga: Skala pada Peta Kontur/Topografi Contoh Soal dan Pembahasan Beberapa contoh soal di bawah dapat sobat idschool gunakan untuk menambah pemahaman materi jenis mobilitas penduduk. Setiap contoh soal yang diberikan dilengkapi dengan pembahasannya. Sobat idschool dapat menggunakan pembahasan tersebut sebagai tolak ukur keberhasilan mengerjakan soal.

Selamat Berlatih! Contoh 1 – Mengenali Jenis Mobilitas Penduduk Penduduk suatu daerah pindah ke daerah lain atas kemauan sendiri dengan tujuan menetap secara permanen, mobilitas penduduk tersebut disebut ….

(A). sirkulasi (B). penglaju (C). komuter (D). urbanisasi (E). transmigrasi Pembahasan: Jenis mobilitas penduduk untuk sirkulasi, penglaju, dan komuter termasuk dalam mobilitas non permanen.

Transmigrasi merupakan jenis mobilitas penduduk permanen yang biasanya merupakan bagian dari program pemerintah. Jenis mobilitas penduduk suatu daerah pindah ke daerah lain atas kemauan sendiri dengan tujuan menetap secara permanen disebut urbanisasi. Mobilitas penduduk yang termasuk urbanisasi biasanya dilakukan atas keinginan sendiri untuk memenuhi kebutuhan.

Jawaban: D Contoh 2 – Mengenali Nama/Jenis Mobilitas Penduduk yang Tepat dari Sebuah Kejadian Pak Seno memiliki rumah dan tinggal di Bekasi. Namun, Pak Seno memiliki pekerjaan yang kantornya berlokasi di Jakarta. Pak Seno setiap pagi berangkan kerja dan pulang sore hari.

Pergerakan penduduk yang dilakukan Pak Seno disebut …. (A) urbanisasi (B) sirkulasi (C) emigrasi (D) evakuasi (E) komutasi Pembahasan: Pak Seno melakukan mbolitas yang sifatnya harian dan tidak menetap (non permanen) dalam waktu yang lama. Nama jenis mobilitas penduduk sesuai dengan perpindahan yang dilakukan Pak Seno adalah komuntasi.

Jawaban: E Demikianlah tadi ulasan jenis mobilitas penduduk yang dibedakan menjadi dua yaitu permanan (tetap) dan non permanan (tidak tetap). Kelima jenis mobilitas tersebut meliputi komutasi, sirkulasi, urbanisasi, ruralisasi, dan transmigrasi. Terimakasih sudah mengunjungi idschool(dot)net, semoga bermanfaat! Baca Juga: Mengenal 6 Negara Bagian Australia dan 2 Daerah Teritorial Mobilitas permanen disebut juga migrasi. Mobilitas permanen adalah perpindahan penduduk untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif atau batas politik/ negara.

Perpindahan ini sifatnya relatif permanen. Mobilitas permanen mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah dikelompokkan atas dua hal berikut.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

• Mobilitas internal adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lainnya dalam satu negara. Bentuk-bentuk mobilitas internal antara lain sebagai berikut. • Urbanisasi adalah bertambahnya proporsi penduduk yang berdiam di daerah-perkotaan yang disebabkan oleh pertambahan penduduk wilayah perkotaan, dan akibat perluasan daerah perkotaan.

• Ruralisasi adalah perpindahan penduduk dari kota kembali ke desa. • Transmigrasi adalah pemindahan dan atau kepindahan penduduk dari suatu daerah untuk menetap di daerah lain yang ditetapkan di dalam wilayah republik Indonesia guna kepentingan pembangunan negara atau karena alasan yang dianggap perlu oleh pemerintah berdasarkan ketentuan yang diatur dalam undang-undang.

Ada beberapa jenis transmigrasi, seperti transmigrasi umum, transmigrasi spontan, transmigrasi sektoral, transmigrasi swakarsa, dan transmigrasi khusus. • Mobilitas eksternal, yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Bentuk-bentuk mobilitas eksternal antara lain sebagai berikut. • Emigrasi adalah perpindahan penduduk dari tanah air sendiri ke negara lain untuk tinggal menetap disana.

• Imigrasi adalah perpindahan penduduk dari negara lain masuk ke negara kita. • Remigrasi adalah kembalinya penduduk suatu negara ke tanah airnya sendiri setelah pindah dan menetap di negara asing.
10.

Pada skema pergiliran keturunan (metagenesis) tumbuhan paku homospora, yang termasuk struktur yang memiliki kromosom haploid dan diploid secara be … rurutan adalah .

a. haploid: spora, protalium, anteridium; diploid: zigot, tumbuhan paku, sporofil b. haploid: spora, protalium, zigot; diploid: sporangium, tumbuhan paku, sporofil c. haploid: zigot, tumbuhan paku, sporofil; diploid: anteridium, arkegonium, ovum d.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

haploid: zigot, tumbuhan paku, tropofil; diploid: anteridium, arkegonium, protalium e. haploid: zigot, tumbuhan paku, sporofil; diploid: anteridium, arkegonium, sel induk spora​ Preview soal lainnya: Ujian Semester 2 (UAS / UKK) Bahasa Inggris SMA Kelas 11 Y: What do you think of going to Senggigi beach next Sunday. (28) X: I think that’s good idea, but few days again we will take semester ——- 28. a. Asking opinion b. Giving opinion c. Advice d.

Request e. Opinion Cara Menggunakan : Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

Materi Latihan Soal Lainnya: • Bahasa Arab MI Kelas 4 • Pemanfaatan dan Bentuk Energi - IPA SD Kelas 4 • Seni Budaya SD Kelas 2 • Ujian Semester 2 Genap PAI SMA Kelas 11 mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah PAT Bahasa Indonesia Tema 8 dan 9 SD Kelas 5 • Debit - Matematika SD Kelas 5 • Ulangan PPKn Tema 7 SD Kelas 5 • PAI Semester 2 Genap SMA Kelas 10 • Ulangan IPA Tema 7 SD Kelas 5 • TryOut PPKn SD Kelas 6 Tentang LatihanSoalOnline.com Latihan Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum.

Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia. Halaman Depan • Hubungi Kami • Kirim Soal • Privacy Policy • •
Mobilitas Penduduk Non Permanen Pada dasarnya tidak semua penduduk yang bergerak atau mengadakan mobilitas dari suatu wilayah ke wilayah lainnya bertujuan untuk menetap di wilayah yang dikunjunginya. Ada kalanya mereka berpindah untuk sementara waktu, baik dalam durasi waktu harian (pulang-pergi), mingguan, bulanan, atau mungkin lebih lama lagi.

Proses perpindahan penduduk semacam ini dinamakan mobilitas non permanen. Berdasarkan lamanya waktu di tempat tujuan, mobilitas non permanen dibedakan menjadi dua, yaitu komutasi dan sirkulasi. • Komutasi merupakan bentuk mobilitas penduduk non permanen secara ulang-alik (pergi-pulang) tanpa menginap di tempat yang dituju, atau dengan kata lain waktu yang dibutuhkannya kurang dari 24 jam. Orang yang melakukan proses komutasi dinamakan komuter atau penglaju.

Sebagai contoh seseorang yang bekerja di Jakarta, sedangkan tempat tinggalnya di kota Bogor atau Bekasi.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

Dengan kemajuan prasarana dan sarana transportasi, jarak antara kedua kota tersebut dirasakan tidak terlalu jauh. Oleh karena itu, terjadi aktivitas pergi pagi hari untuk bekerja dan pulang sore atau senja tanpa harus menginap di Jakarta. • Sirkulasi adalah jenis mobilitas penduduk non permanen tetapi sempat menginap di tempat tujuan atau mobilitas non permanen musiman. Orang yang melakukan sirkulasi dinamakan sirkuler.

Waktu yang dibutuhkan untuk sirkulasi berbeda-beda. Ada yang hanya beberapa hari, namun ada pula yang memakan waktu lama. Mobilitas Penduduk Permanen (Migrasi) Manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan atau daya mobilitas paling tinggi jika dibandingkan dengan organisme lainnya di muka bumi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti kebutuhan ekonomis, pendidikan, keamanan, atau alasanalasan sosial lainnya sering kali manusia pindah dari suatu wilayah ke wilayah lainnya, kemudian menetap di tempat tujuan.

Bentuk pergerakan penduduk semacam ini disebut mobilitas permanen atau migrasi. Secara umum dikenal dua macam mobilitas permanen, yaitu migrasi internasional dan migrasi internal. Migrasi internasional merupakan proses perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Migrasi internasional dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu imigrasi, emigrasi, dan remigrasi.

Imigrasi adalah perpindahan penduduk masuk ke suatu negara, atau dapat pula didefinisikan sebagai proses masuknya warga negara asing ke sebuah negaradisebut imigran.

Emigrasi adalah proses perpindahan penduduk keluar dari suatu negara, seperti warga negara Indonesia bermigrasi dan menetap di negara Malaysia. Orang yang melakukan emigrasi disebut emigran. Remigrasi adalah proses kembalinya penduduk ke negara asalnya setelah pindah dan menetap di negara asing. Migrasi internal merupakan bentuk perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lainnya dalam satu negara.

Secara umum bentuk-bentuk migrasi internal yang biasa dijumpai di Kepulauan Indonesia antara lain urbanisasi, ruralisasi, dan transmigrasi. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari kawasan perdesaan ke wilayah perkotaan, sedangkan orang yang melakukan urbanisasi dinamakan urbanisan.

Sebaliknya, ruralisasi merupakan bentuk perpindahan penduduk dari kota ke desa. Gejala urbanisasi berawal dari adanya ketimpangan pemerataan pembangunan antara kawasan perkotaan dan perdesaan. Di satu pihak akselerasi peningkatan ekonomi dan pembangunan di wilayah perkotaan berjalan relatif lebih cepat dan merambah hampir semua sektor kehi dupan, kecuali bidang pertanian.

Adapun di lain mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah pem bangunan di perdesaan cenderung berjalan dengan lamban. Akibatnya, tingkat kesejahteraan masyarakat kota dirasakan jauh lebih tinggi jika dibanding kan dengan penduduk desa. Kondisi ini memacu penduduk desa untuk pergi mengadu nasib ke kota, dengan harapan akan mendapat penghidupan yang jauh lebih layak dibanding kan di desa.
Daftar Isi • 1 Jenis-jenis Mobilitas Sosial • 1.1 1.

Mobilitas Sosial Horizontal • 1.2 2.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

Mobilitas Sosial Vertikal Jenis-jenis Mobilitas Sosial Pada dasarnya jenis-jenis mobilitas sosial dibedakan menjadi mobilitas horizontal dan mobilitas vertikal. 1. Mobilitas Sosial Horizontal Mobilitas sosial horizontal terjadi apabila terdapat perubahan kedudukan pada strata yang sama. Perubahan kedudukan terjadi pada orang yang sama disebut mobilitas sosial horizontal intragenerasi.

Kedudukan seseorang dapat berubah naik atau turun pada lapisan atau strata yang sama, tanpa mengubah kedudukan yang bersangkutan. Akan tetapi, peran yang dipegang seseorang dapat berubah.

Jika dihubungkan dengan gaji atau imbalan yang didapat oleh seseorang, perubahan kedudukan secara horizontal tidak memengaruhi tingkat imbalan orang yang bersangkutan. Misalnya sebagai berikut. a. Seseorang bekerja di perusahaan sebagai sekretaris, pada suatu saat dipindahkan menjadi bendahara. Orang yang bersangkutan tetap memperoleh gaji yang sama.

b. Seseorang diberi tugas oleh presiden untuk menjadi menteri pertanian pada suatu cabinet selama lima tahun. Pada pergantian kabinet berikutnya, yang bersangkutan diserahi tugas sebagai menteri perindustrian. c. Seorang guru di sebuah SMA di kota A pindah ke SMA di kota B.

Guru tersebut tidak mengalami perubahan kedudukan dan peran, tetapi hanya berpindah tempat kerja. Pergeseran-pergeseran tersebut tidak menurunkan atau menaikkan posisi yang bersangkutan, tetapi bukan berarti tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya.

Kesulitan yang muncul umumnya terjadi pada saat penyesuaian diri (adaptasi). Ada kalanya yang bersangkutan harus mempelajari dan melatih keterampilan yang baru. Begitu pula penyesuaian terhadap kelompok yang didatangi, harus dimulai dengan mengenal dan menerima kembali sifat-sifat dan perilaku rekan sekerjanya agar dapat bekerja sama untuk meningkatkan prestasi kerja di kelompoknya. Eratnya hubungan sosial dan kerja sama yang telah terbina di kelompok yang ditinggalkan, dijalin kembali di kelompok yang baru.

Mobilitas sosial horizontal antargenerasi (intergenerasi) terjadi apabila anak dan orangtuanya berbeda pekerjaan, tetapi memiliki kedudukan sosial yang sama. Misalnya, a. Orangtua mempunyai kedudukan sebagai petani kaya dan digolongkan sebagai kelas menengah di masyarakat, tetapi anaknya tidak menginginkan untuk mengikuti jejak orangtuanya. Anak petani lebih memilih menjadi seorang pedagang yang berhasil dan kaya sehingga keduanya sama-sama berada pada tingkat sosial kelas menengah.

b. Seorang ayah mempunyai kedudukan pegawai negeri dan berperan sebagai guru di sebuah SMA di kota X, anaknya menjadi pegawai negeri di kantor pemerintah. Keduanya memiliki kedudukan yang sama, tetapi memiliki peran yang berlainan. Mobilitas horizontal antargenerasi ini terjadi apabila orangtua dan anaknya mempunyai kedudukan yang sama, tetapi peran berbeda.

Dengan kata lain bahwa suatu generasi (orangtua) tidak menurunkan segalanya kepada generasi berikutnya (anak). 2. Mobilitas Sosial Vertikal Jenis-jenis mobilitas sosial selanjutnya yakni mobilitas sosial vertikal.

Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan seseorang atau kelompok dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lain yang tidak sederajat, baik pindah ke tingkat yang lebih tinggi ( social climbing) maupun turun ke tingkat lebih rendah ( social sinking). Setiap orang di masyarakat tidak selamanya memiliki kedudukan yang tetap, mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah selalu mengalami perubahan.

Begitu pula halnya dengan seorang karyawan yang tidak ingin selamanya menempati kedudukan sama, Ia akan berusaha untuk naik ke kedudukan yang lebih tinggi. Jabatan yang dipegang oleh seseorang tidak dapat dilepaskan dari kedudukan sosialnya, karena jabatan dapat melambangkan kedudukan sosial. Akan tetapi, jabatan tidak dapat dipegang selamanya karena jabatan suatu saat akan diserahkan kepada orang lain. Orang yang menempati jabatan sebelumnya dapat saja naik untuk menempati jabatan yang lebih tinggi atau selesai bekerja karena pensiun sehingga tidak mempunyai jabatan lagi dan kedudukan sosialnya menurun.

Hal tersebut dinamakan gerak naik turun atau mobilitas sosial vertikal. Seseorang yang sudah lama bekerja di suatu kantor atau perusahaan, akan berusaha mendapatkan kenaikan gaji.

Dengan adanya kenaikan gaji tidak berarti naiknya kedudukan ke tingkat yang lebih tinggi karena yang bersangkutan tetap menempati jabatan semula. Akan tetapi, apabila yang bersangkutan hanya pegawai biasa atau juru ketik karena prestasi kerja, maka dinaikkan kedudukannya menjadi kepala bagian. Perpindahan kedudukan dari lapisan yang lebih rendah ke lapisan yang lebih tinggi tersebut dinamakan promosi.

Contoh lain dari promosi atau mobilitas naik seperti berikut. a. Seorang guru, karena prestasi dan pangkat yang telah mencukupi, mendapat promosi jabatan untuk menjadi kepala sekolah. b. Seorang bupati yang mendapat banyak dukungan dari masyarakat dan dewan, kemudian terpilih menjadi gubernur. Sebagai kepala sekolah atau gubernur, apabila telah habis masa jabatannya dan tidak dapat diangkat lagi, akan kembali ke jabatan sebelumnya atau berhenti sama sekali (pensiun).

Jabatan yang dipegang seseorang merupakan peran yang harus dilaksanakan sesuai dengan mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah yang dimiliki. Dengan demikian, mobilitas sosial vertikal naik mempunyai dua bentuk utama, yaitu. a. masuknya individu-individu atau seseorang yang memiliki kedudukan rendah ke tingkat kedudukan yang lebih tinggi; b.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

pembentukan suatu kelompok sosial baru kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari orang-orang pembentuk kelompok tersebut. Adapun mobilitas vertikal menurun juga memiliki dua bentuk utama, yaitu: a. turunnya kedudukan seseorang ke tingkat yang lebih rendah daripada sebelumnya; b. turunnya derajat sekelompok orang dari tingkat sebelumnya, yang disebut dengan desintegrasi atau degradasi.

Mobilitas sosial yang vertikal memiliki beberapa ciri, yaitu sebagai berikut. a. Masyarakat yang bersangkutan adalah masyarakat yang terbuka, artinya lapisan atau kelas-kelas sosial yang ada di dalam masyarakat tidak menutup kemungkinan untuk naik turunnya kedudukan anggota masyarakatnya.

b. Setiap warga masyarakat (negara) mempunyai kedudukan hukum yang sama tingginya. c. Gerak naik ke lapisan kedudukan yang lebih tinggi mengandalkan kesanggupan seseorang mengatasi sistem seleksi yang semakin berat. Misalnya, setiap orang berhak untuk menempati kedudukan apapun di negara ini asalkan memenuhi syaratsyarat yang telah ditentukan.

Mobilitas sosial vertikal terjadi pada orang yang bersangkutan atau pada keturunannya, terdapat dua bentuk yang dinamakan mobilitas vertikal intragenerasi dan mobilitas vertikal intergenerasi (antargenerasi).

Baca juga: Saluran mobilitas sosial Mobilitas vertikal intragenerasi yaitu mobilitas sosial yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok itu sendiri.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

Mobilitas vertikal intergenerasi (antargenerasi) yaitu mobilitas sosial tidak dilakukan langsung oleh seseorang atau kelompok, tetapi oleh keturunannya, baik anak maupun cucunya. Misalnya, sebagai berikut. a.

mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah

Bapak X seorang pengemudi angkutan kota, tetapi anaknya disekolahkan sampai mendapat gelar insinyur (sarjana teknik), kemudian bekerja di perusahaan pertambangan yang dikelola oleh swasta nasional. b. Bapak Y seorang pengusaha kaya di kotanya, tetapi anaknya memilih menjadi seniman. Mobilitas vertikal tidak selalu dilakukan oleh yang bersangkutan baik gerak naik maupun gerak turun. Kadangkala seseorang ingin mewariskan kedudukan atau menginginkan lapisan dan kelas sosial kepada anaknya agar sama dengan dirinya.

Akan tetapi, anak sering memilih hal lain yang berbeda dari pilihan orangtuanya karena anak mempunyai keinginan untuk bebas dalam menentukan nasibnya sehingga kedudukan yang dimiliki anak dapat berbeda dengan orangtua, baik menjadi lebih tinggi maupun menjadi lebih rendah.

Berikut ini prinsip-prinsip umum bagi mobilitas sosial vertikal, yaitu sebagai berikut. a. Hampir tidak ada masyarakat yang sistem sosialnya bersifat tertutup sama sekali (mutlak), seperti masyarakat berkasta di India. Walaupun mobilitas sosial vertikal hampir tidak tampak, proses perubahan tetap terjadi.

Misalnya, seorang dari kasta brahmana yang berbuat kesalahan besar dapat turun ke kasta yang lebih rendah atau mobilitas sosial vertikal ini dapat terjadi karena perkawinan yang berbeda kasta. b. Betapapun terbukanya sistem sosial yang berlapis-lapis di masyarakat, tidak mungkin mobilitas sosial vertikal dilakukan sebebas-bebasnya. Hal ini karena tidak mungkin ada stratifikasi (lapisan) sosial yang menjadi ciri tetap dan umum di setiap masyarakat. c. Mobilitas sosial vertikal berlaku umum bagi semua masyarakat karena setiap masyarakat mempunyai ciri-ciri tersendiri bagi mobilitas sosial vertikal.

d. Laju mobilitas sosial vertikal dapat disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan yang masing-masing berbeda.

e. Mobilitas sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, pekerjaan, tidak ada kecenderungan yang terus berkesinambungan ( continue), baik bertambah naik maupun f. menurun, tetapi akan selalu mengalami perubahan.

Hal ini karena orang yang memiliki suatu kedudukan dan peran tidak akan selamanya sama. Selain itu, mobilitas sosial dapat dibedakan dalam dua jenis yang didasarkan pada keadaan dari tolok ukur bagaimana para individu dalam lapisan sosial berupaya mengubah dirinya, yaitu sebagai berikut. a. Mobilitas yang disponsori ( sponsored mobility) bergantung pada bagaimana kategori dan posisi individu memperoleh pendidikan, keturunan, atau dari kelas sosial yang dianggap memiliki peluang bergerak.

b. Mobilitas sosial tandingan ( contest mobilitas berikut yang bukan termasuk mobilitas permanen adalah akan bergantung pada upaya dan kemampuan para individu, karena persaingan itu terbuka maka status elite tertentu mungkin saja akan dicapai seseorang.

Nah, apabila ada saran dan kritik terkait artikel Jenis-jenis Mobilitas Sosial di atas bisa ditulis di bawah ini. Daftar Pustaka: Waluya, Bagja. 2009. Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Mobilitas Penduduk dan Pengendaliannya




2022 www.videocon.com