Anak jenderal moeldoko

anak jenderal moeldoko

Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Moeldoko" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Petahana Mulai menjabat 17 Januari 2018 Presiden Joko Widodo Pendahulu Teten Masduki Panglima Tentara Nasional Indonesia ke–18 Masa jabatan 30 Agustus 2013 – 8 Juli 2015 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Joko Widodo Pendahulu Agus Suhartono Pengganti Gatot Nurmantyo Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke–28 Masa jabatan 20 Mei 2013 – 30 Agustus 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Panglima TNI Agus Suhartono (2013) Pendahulu Pramono Edhie Wibowo Pengganti Budiman Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi ke–30 Masa jabatan Oktober 2010 – Agustus 2011 Pendahulu Pramono Edhie Wibowo Pengganti Muhammad Munir Panglima Komando Daerah Militer XII/Tanjungpura ke–1 Masa jabatan Juni 2010 – Oktober 2010 Pendahulu Jabatan baru Pengganti Geerhan Lantara Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad ke–32 Masa jabatan Januari 2010 – Juni 2010 Pendahulu Hatta Syafrudin Pengganti Adi Mulyono Informasi pribadi Lahir 8 Juli 1957 (umur 64) Kediri, Jawa Timur, Indonesia Partai politik • Randy Bimantoro • Joanina Rachma Tempat tinggal Jl.

Lembang Terusan, Menteng Alma mater Akademi Militer (1981) Universitas Terbuka (2001) Universitas Indonesia (2014) Penghargaan sipil Adhi Makayasa - Tri Sakti Wiratama 1981 Karier militer Pihak Indonesia Dinas/cabang TNI Angkatan Darat Masa dinas 1981–2015 Pangkat Jenderal TNI Satuan Infanteri Moeldoko sebagai Panglima TNI Jenderal TNI ( Purn.) Dr. H. Moeldoko, [1] S.I.P.

(lahir 8 Juli 1957) adalah pengusaha, politikus, dan purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Indonesia sejak 17 Januari 2018 pada Kabinet Kerja Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Anak jenderal moeldoko.

Pada 23 Oktober 2019, ia ditunjuk kembali menjadi Kepala Staf Kepresidenan pada Kabinet Indonesia Maju Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Moeldoko kemudian terpilih menjadi ketua umum Partai Demokrat (PD) periode 2020-2025 versi Kongres Luar Biasa Deli Serdang. [2] Ia pernah menjabat sebagai Panglima TNI sejak 30 Agustus 2013 hingga 8 Juli 2015. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Anak jenderal moeldoko TNI Angkatan Darat sejak 20 Mei anak jenderal moeldoko hingga 30 Agustus 2013.

Daftar isi • 1 Kehidupan awal • 2 Pendidikan • 3 Karier militer • 4 Penghargaan • 5 Kehidupan pribadi • 6 Riwayat jabatan • 7 Riwayat organisasi • 8 Penghargaan • 8.1 Tanda Jasa • 8.2 Brevet/Wing • 9 Referensi • 10 Pranala luar Kehidupan awal Moeldoko yang dilahirkan di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri, Kediri ini merupakan putra bungsu dari 12 bersaudara pasangan Moestaman dan Masfu'ah.

Saudara-saudaranya adalah Moesadi, Muhammad Sujak, Poerwono, Suyono, Sugeng Hariyono, Supiyani, dan Siti Rahayu. [ butuh rujukan] Pendidikan Moeldoko merupakan alumnus Akabri tahun 1981 dengan predikat terbaik dan berhak meraih penghargaan bergengsi Bintang Adhi Makayasa.

[3] Pada 15 Januari 2014, Moeldoko meraih gelar doktor Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia, dengan disertasinya berjudul "Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan Kawasan Perbatasan di Indonesia (Studi Kasus Perbatasan Darat di Kalimantan)".

anak jenderal moeldoko

{INSERTKEYS} [4] Ia lulus dan mendapatkan gelar tersebut dengan predikat sangat memuaskan. [5] Karier militer Sidang Paripurna DPR-RI pada tanggal 27 Agustus 2013 menyetujui jenderal asal Kediri tersebut sebagai Panglima TNI baru pengganti Laksamana Agus Suhartono. [6] Ia adalah KSAD terpendek dalam sejarah militer di Indonesia seiring pengangkatan dirinya sebagai panglima.

[7] Operasi militer yang pernah diikuti antara lain Operasi Seroja Timor-Timur tahun 1984 dan Konga Garuda XI/A tahun 1995. Ia juga pernah mendapat penugasan di Selandia Baru (1983 dan 1987), Singapura dan Jepang (1991), Irak-Kuwait (1992), Amerika Serikat, dan Kanada. [ butuh rujukan] Penghargaan Selama karier militernya, Moeldoko juga banyak memperoleh tanda jasa yaitu Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Satya Lencana Dharma Santala, Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun, Satya Lencana Kesetiaan XIV tahun, Satya Lencana Kesetiaan VIII tahun, Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Wira Dharma, dan Satya Widya Sista.

[ butuh rujukan] Kehidupan pribadi Ia menikah dengan Koesni Harningsih dan memiliki 2 anak, yaitu: Randy Bimantara dan Joanina Rachmaa. [ butuh rujukan] Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) pada 2020, Moeldoko memiliki kekayaan dengan total Rp46,7 miliar. Harta kekayaan tersebut mencakup tanah dan bangunan yang tersebar di Bogor, Jakarta, Pasuruan, dan Surabaya.

[8] Harta kekayaan Moeldoko meningkat dibandingkan saat ia masih menjabat menjadi Kepala staf TNI AD (KASAD) pada 2013 yang berjumlah Rp 33 miliar. [9] Riwayat jabatan • Danton Yonif Linud 700/BS Kodam XIV/Hasanuddin (1981) • Danki A Yonif Linud 700/BS Kodam XIV/Hasanuddin (1983) • Kasi Operasi Yonif Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana • Perwira Operasi Kodim 1408/BS Makassar • Wakil Komandan Yonif 202/Tajimalela • Kasi Teritorial Brigif-1 PAM IK/JS • Komandan Yonif 201/Jaya Yudha (1995) • Komandan Kodim 0501/Jakarta Pusat (1996) • Sespri Wakasad (1998) • Pabandya-3 Ops PB-IV/Sopsad • Komandan Brigif-1/Jaya Sakti (1999) • Asops Kasdam VI/Tanjungpura • Dirbindiklat Pussenif • Komandan Rindam VI/Tanjungpura (2005) • Komandan Korem 141/Toddopuli Watampone (2006) • Pa Ahli Kasad Bidang Ekonomi (2007) • Direktur Doktrin Kodiklat TNI AD (2008) • Kasdam Jaya (2008) • Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad (2010) • Panglima Kodam XII/Tanjungpura (2010) • Panglima Kodam III/Siliwangi (2010) • Wakil Gubernur Lemhannas (2011) • Wakasad (2013) • KSAD (2013) • Panglima TNI (2013-2015) [10] [11] • Kepala Staf Kepresidenan (2018–sekarang) Riwayat organisasi • Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Hati Nurani Rakyat (2016–2018) [12] [13] • Ketua Umum HKTI (2017–2020) [14] [15] • Ketua Umum Partai Demokrat (2020–2025) versi Kongres Luar Biasa Deli Serdang [16] Penghargaan Tanda Jasa • • Bintang Mahaputra Adipradana (2015) • Bintang Dharma [A] (2013) • Bintang Yudha Dharma Utama (2014) • Bintang Kartika Eka Paksi Utama (2013) • Bintang Jalasena Utama (2014) • Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama (2014) • Bintang Bhayangkara Utama (2013) [17] • Bintang Yudha Dharma Pratama [C] • Bintang Kartika Eka Paksi Pratama • Bintang Yudha Dharma Nararya • [D] Bintang Kartika Eka Paksi Nararya • Darjah Kepahlawanan Angkatan Tentera Malaysia (Utama) • Pingat Jasa Gemilang (Tentera/Singapura) • Darjah Paduka Keberanian Laila Terbilang Yang Amat Gemilang (DPKT Utama/Brunei) • Darjah Utama Bakti Cemerlang (Tentera/Singapura) (2015) • SL.

Kesetiaan 32 Tahun • SL. Dharma Bantala • SL. Kesetiaan 24 Tahun • SL. Kesetiaan 16 Tahun • SL. Kesetiaan 8 Tahun • SL.

Wira Dharma [E] • SL. Seroja (Ops. Timor Timur) • SL. Dwidya Sistha • SL. Santi Dharma Brevet/Wing • Brevet Komando Kopassus • Brevet Free Fall • Brevet Jump Master • Brevet Taipur • Wing Penerbad • Wing Penerbang TNI AU • Brevet Hiu Kencana • Brevet Tri Media Taifib • Brevet Denjaka (Anti Teror) • Brevet Komando Paskhas • Brevet Parachutist Thailand Referensi • ^ Prasetyo, Erie (23 Mei 2015).

"Panglima TNI: Sekarang Panggil Saya Jenderal Moeldoko Ginting". Okezone . Diakses tanggal 28 Oktober 2021. • ^ antaranews.com (2021-03-05). "Moeldoko terpilih jadi Ketum Partai Demokrat versi KLB". Antara News . Diakses tanggal 2022-02-06.

• ^ ALUMNI - 1981 lihat bagian infanteri no. 1 • ^ Jenderal TNI Moeldoko raih gelar doktor ANTARA. 15 Januari 2014. Diakses 20 Januari 2014 • ^ Moeldoko Raih Gelar Doktor dengan Predikat Sangat Memuaskan Diarsipkan 2014-02-02 di Wayback Machine. Metro TV News. 15 Januari 2014. Diakses 20 Januari 2014 • ^ Laela Badriyah (27 Agustus 2013). "DPR Setuju Moeldoko Jabat Panglima TNI". Metro TV News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-03-01 . Diakses tanggal 30 Agustus 2013.

• ^ Riski Adam (31 Juli 2013). "Wiranto: Saya Serahkan Rekor Tercepat KSAD pada Jenderal Moeldoko". liputan6.com . Diakses tanggal 30 Agustus 2013. • ^ Okezone (2021-11-22).

"Sumber Kekayaan Moeldoko Rp46,1 Miliar, Ternyata Juragan Tanah" . Diakses tanggal 2022-03-09. • ^ News, Tagar (2017-12-23). "Moeldoko Punya Harta Rp 46 Miliar, Ini Rinciannyya". TAGAR . Diakses tanggal 2022-03-09. • ^ "DPR Setujui Jenderal Moeldoko Jadi Panglima TNI". August 22, 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-03-30 . Diakses tanggal 2013-08-22. • ^ "DPR Sahkan Moeldoko Sebagai Panglima TNI". Agustus 27, 2013. • ^ Dani Prabowo (22 Februari 2017). "Krisdayanti, Moeldoko dan Loyalis Anas Jadi Pengurus DPP Hanura, Ini Susunan Lengkapnya".

Tribunnews . Diakses tanggal 14 Maret 2021. • ^ SK Menkumham Partai Hanura 2018 • ^ Moeldoko Terpilih sebagai Ketua Umum HKTI Tempo.co, 10 April 2017 • ^ Moeldoko dan Cerita 'Ambil Alih' HKTI Kumparan, 2 Februari 2021 • ^ antaranews.com (2021-03-05).

"Moeldoko terpilih jadi Ketum Partai Demokrat versi KLB". Antara News . Diakses tanggal 2022-02-06. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Mldk-acadealumni2 Pranala luar • Moeldoko di Twitter • Moeldoko di Instagram • Website Moeldoko.com • Jabatan militer Didahului oleh: Agus Suhartono Panglima Tentara Nasional Indonesia 2013–2015 Diteruskan oleh: Gatot Nurmantyo Didahului oleh: Pramono Edhie Wibowo Kepala Staf TNI Angkatan Darat 2013 Diteruskan oleh: Budiman Didahului oleh: Budiman Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat 2013 Diteruskan oleh: M Munir Didahului oleh: Pramono Edhie Wibowo Pangdam III/Siliwangi 2010–2011 Didahului oleh: jabatan baru (reaktivasi) Pangdam XII/Tanjungpura 2010 Diteruskan oleh: Geerhan Lantara Didahului oleh: Hatta Syafruddin Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad 2010 Diteruskan oleh: Adi Mulyono • Menteri KP: Edhy Prabowo, Luhut Binsar Panjaitan ( a.i.), Syahrul Yasin Limpo ( a.i.), Sakti Wahyu Trenggono • Menparekraf/Kepala Baparekraf: Wishnutama Kusubandio, Sandiaga Uno • Menhub: Budi Karya Sumadi • Menteri ESDM: Arifin Tasrif • Menteri PUPR: Basuki Hadimuljono • Menteri LHK: Siti Nurbaya Bakar • Meninves/ Kepala BKPM: Bahlil Lahadalia • Menkes: Terawan Agus Putranto, Budi Gunadi Sadikin • Mensos: Juliari Batubara, Muhadjir Effendy ( a.i.), Tri Rismaharini • Menag: Fachrul Razi, Yaqut Cholil Qoumas • Menteri PPPA: I Gusti Ayu Bintang Darmawati • Menteri DPDTT: Abdul Halim Iskandar • Menpora: Zainudin Amali • Mendikbudristek: Nadiem Makarim • Menteri PPN/Kepala Bappenas: Suharso Monoarfa • Mensesneg: Pratikno • Kepala BRIN: Laksana Tri Handoko • Kepala IKN: Bambang Susantono • Jaksa Agung: Arminsyah ( Plt.), ST Burhanuddin • Panglima TNI: Hadi Tjahjanto, Andika Perkasa • Kapolri: Ari Dono Sukmanto ( Plt.), Idham Azis, Listyo Sigit Prabowo • Kepala Staf Kepresidenan: Moeldoko • Mensesneg: Pratikno • Menteri PPN/Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago, Sofyan Djalil, Bambang Brodjonegoro • Jaksa Agung: Andhi Nirwanto ( Plt.), Muhammad Prasetyo • Panglima TNI: Moeldoko, Gatot Nurmantyo, Hadi Tjahjanto • Kapolri: Sutarman, Badrodin Haiti, Tito Karnavian • Kepala Staf Kepresidenan: Luhut Binsar Panjaitan, Teten Masduki, Moeldoko • Menkeu: Sri Mulyani Indrawati, Agus Martowardojo, Hatta Rajasa ( Plt.), Muhammad Chatib Basri • Menteri ESDM: Darwin Zahedy Saleh, Jero Wacik, Chairul Tanjung (Plt.) • Menperin: M.

S. Hidayat • Mendag: Mari Elka Pangestu, Gita Wirjawan, Bayu Krisnamurthi (Plt.), Muhammad Lutfi • Mentan: Suswono • Menhut: Zulkifli Hasan, Chairul Tanjung (Plt.) • Menhub: Freddy Numberi, E.E. Mangindaan, Bambang Susantono (Plt.) • Menteri KP: Fadel Muhammad, Sharif Cicip Sutarjo • Menteri PU: Djoko Kirmanto • Menkop UKM: Syarief Hasan, Muhammad Lutfi (Plt.) • Menteri BUMN: Mustafa Abubakar, Dahlan Iskan • Menpera: Suharso Monoarfa, Djan Faridz • Menristek: Suharna Surapranata, Gusti Muhammad Hatta Kategori tersembunyi: • Halaman dengan kesalahan referensi • Templat webarchive tautan wayback • Halaman Wikipedia yang dilindungi sebagian tanpa batas waktu • Artikel yang membutuhkan referensi tambahan Maret 2022 • Semua artikel yang membutuhkan referensi tambahan • Semua orang hidup • Semua artikel biografi • Artikel biografi Maret 2022 • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan Maret 2022 • Nama pengguna Twitter sama seperti Wikidata • Halaman ini terakhir diubah pada 9 Maret 2022, pukul 07.41.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

{/INSERTKEYS}

anak jenderal moeldoko

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Berikut biodata Randy Bimantoro, putra sulung Anak jenderal moeldoko yang geluti berbagai macam bisnis. Berdasarkan penelusuran KUYOU.id, Randy Bimantoro merupakan anak pertama dari pernikahan Moeldoko dan Koesni Harningsih. Seperti yang kita ketahui, belakangan ini tokoh militer kelahiran 8 Juli 1957 tersebut tengah hangat menjadi perbincangan.

Pasalnya, dia ditetapkan sebagai ketua umum partai Demokrat kubu Kontra AHY melalui Kongres Luar Biasa atau KLB yang diselenggarakan di Deli Serdang, Sumatra Utara pada Jumat 5 Maret 2021. Baca Juga: Bio Wikipedia Moeldoko: Agama, Umur, Karir TNI dan Fakta Jadi Ketum Partai Demokrat versi KLB Gaes Bukan hanya sosoknya, keluarga hingga anak-anak Moeldoko yakni Randy Bimantoro dan Joanina Rachma juga ikut menjadi sorotan lho gaes!

Penasaran dengan sosoknya? Yuk simak biodata Randy Bimantoro, lengkap umur dan agama berdasarkan data yang dihimpun oleh tim KUYOU.id melalui dunia digital berikut ini. 1. Profil dan Biodata Randy Bimantoro Nama lengkap: Randy Bimantoro Tanggal lahir: Belum ada sumber resmi Umur: 30 Tahun (Belum ada sumber resmi) Agama : Anak jenderal moeldoko Keturunan: Anak jenderal moeldoko Kewarganegaraan: Indonesia Orang tua: Jend TNI (Purn) Moeldoko, Koesni Harningsih Status: Menikah Pasangan: Raysula Andari Anak: Hawa (5 Tahun), Hanum (1 Tahun) Pendidikan: Universitas Brawijaya Akun Instagram: @99rbm 2.

Anak Sulung Moeldoko Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Randy Bimantoro merupakan anak pertama dari pernikahan Moeldoko dan Koesni Harningsih. Baca Juga: Biodata Koesni Harningsih, Lengkap Umur dan Agama, Istri Moeldoko yang Disorot Netizen karena Kesederhanaannya Dia memiliki seorang adik perempuan bernama Joanina Rachma.

3. Menikah dengan Raysula Andari dan Memiliki 2 Anak Randy Bimantoro diketahui menikah dengan Raysula Andari pada 29 November 2014 yang lalu. Sama seperti sang ayah, alumni Universitas Brawijaya ini juga meminang gadis keturunan militer lho gaes. Diaketahui ayah mertuanya adalah Mayor Jenderal TNI (Purn) Toto Rinanto Soedjiman. 4. Randy Bimantoro Memiliki Banyak Bisnis dan Usaha Meski begitu, Randy Bimantoro gak meneruskan karier sang ayah yang dikenal sebagai tokoh militer Indonesia.

Dia lebih tertarik dengan bisnis dan tengah mengambangkan IDLearn yang merupakan sebagai wadah belajar online. Tak hanya itu, ayah dua anak ini memiliki bisnis lain bernama Workr, aplikasi pencari info lowongan pekerjaan. 5. Hobi Bercocok Tanam hingga Golf Dilansir dari laman Instagram miliknya, Randy Bimantoro mengaku hobi bercocok tanam.

Selama di rumah aja di masa pandemi virus corona, dia mengaku memanfaatkan waktu untuk menjalankan hobi tersebut. Gak hanya itu, dia juga gemar bermain golf. Randy kerap mengunggah kegiatannya saat berolahraga di media sosial.

Baca Juga: Biodata Aghnia Punjabi, Lengkap Umur dan Agama, Beauty Influencer asal Malang yang Jago Make Up Nah, itu dia biodata Randy Bimantoro, putra sulung Moeldoko yang anak jenderal moeldoko berbagai macam bisnis.

Jangan sampai ketinggalan info terbaru tentang artis dan idola kamu hanya di KUYOU.id dan Instagram @kuyou_id ya! Moeldoko Putra Moeldoko Anak Moeldoko Biodata Randy Bimantoro Randy Bimantoro Profil Randy Bimantoro Instagram Randy Bimantoro Umur Randy Bimantoro Agama Randy Bimantoro Share to:
JAKARTA, KOMPAS.com — Calon Panglima TNI Jenderal Moeldoko membeberkan sumber kekayaan yang dimilikinya.

Menurutnya, semua kekayaan yang dimilikinya berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Seusai menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI, Moeldoko menjelaskan bahwa penghasilannya meningkat setelah dirinya sering menjalankan tugas ke luar negeri. Moeldoko mendapatkan 125 dollar AS dalam satu hari tugas ke luar negeri.

"Kan besar itu," kata Moeldoko, Rabu (21/8/2013) sore. Lebih jauh, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini menuturkan, kekuatan finansialnya semakin kokoh karena dirinya menikahi seorang perempuan yang berasal dari keluarga kaya. Baca juga: Profil Moeldoko: Dari Anak Miskin, Reformasi TNI, Kepala Staf Presiden, sampai Arah 2024 Setelah pernikahan itu, Moeldoko diminta untuk fokus menjalankan tugas di TNI oleh orangtua dari istrinya tersebut. "Alhamdulillah saya dapat istri anak orang kaya, kalau saya dikasih orangtua saya harta warisan kan boleh saja, masa tidak boleh?

Mertua saya pesan, 'Kamu jangan mikirin yang lain, pikirin tugas dengan sebaik-baiknya, semua kita akan beresi'. Alhamdulillah kan itu," ujar suami dari Koesni Harningsih ini. Diberitakan sebelumnya, total harta kekayaan milik Jenderal Moeldoko yang tercatat dalam dokumen pengumuman laporan harta kekayaan penyelenggara negara di Komisi Pemberantasan Korupsi lebih dari Rp 36 miliar. Catatan kekayaan dilakukan pada 25 April 2012 saat Moeldoko menjadi Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional.

Jumlah itu terdiri dari harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan sebesar Rp 22,133 miliar, harta bergerak berupa alat transportasi mobil Toyota Land Cruiser senilai Rp 1,7 miliar, peternakan Rp 1,2 miliar, serta logam mulia dan batu mulia senilai Rp 4,6 miliar.

Harta bergerak lain berupa giro sebesar Rp 2,8 miliar dan 450.000 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 4,5 miliar). Moeldoko memiliki utang Rp 300 juta. Jakarta, IDN Times - Nama Jenderal TNI (Purn) Moeldoko semakin hari semakin populer.

Apalagi setelah Presiden Jokowi mengangkatnya sebagai Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Moeldoko sendiri telah melewati berbagai rintangan dalam hidupnya untuk sampai ke titik ini. Bagaimana perjalanan karier Moeldoko?

IDN Times/Ardiansyah Fajar Moeldoko merupakan anak pertama dari 12 bersaudara. Moeldoko lahir dari pasangan Moestaman dan Masfu'ah. Ia dilahirkan di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri, Kediri. Meski kariernya di dunia militer cukup moncer, namun ternyata Moeldoko berasal dari keluarga kalangan bawah. Bahkan, sejak kecil, Moeldoko selalu bekerja keras. Moeldoko hampir setiap hari harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Mulai dari mengerjakan proyek pembangunan anak jenderal moeldoko, hingga menyediakan pasir dan batu yang diangkut dari pinggir kali setiap hari sesuai pulang sekolah. Semua itu semata-mata ia lakukan hanya demi membantu menambah biaya kebutuhan keluarganya. Tetapi, meski dari kalangan bawah, anak jenderal moeldoko Moeldoko dalam menjalani hidup tak pernah surut. Anak jenderal moeldoko Juga: Moeldoko Resmikan Desk Tenaga Kerja, Apa Fungsinya?

IDN Times/Teatrika Handiko Putri Moeldoko adalah alumnus Akabri tahun 1981. Dan ia lulus dengan predikat terbaik. Catatan ini membuatnya meraih Bintang Adhi Makayasa. Selama karier militernya, Moeldoko juga banyak memperoleh tanda jasa, yaitu Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Satya Lencana Dharma Santala, Satya Lencana KesetiaanXXIV, Satya Lencana Kesetiaan XIV, Satya Lencana Kesetiaan VIII, Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Wira Dharma, dan Satya Widya Sista.

Dok. IDN Times Moeldoko sudah mengikuti cukup banyak operasi militer. Antara lain Operasi Seroja Timor-Timur tahun 1984 dan Konga Garuda XI/A tahun 1995. Dia juga pernah mendapatkan penugasan di Selandia Baru anak jenderal moeldoko dan 1987), Singapura dan Jepang (1991), Irak-Kuwait (1992), Amerika Serikat, dan Kanada. Puncaknya, Modeldoko diangkat menjadi Panglima TNI pada 27 Agustus 2013. Moeldoko menggantikan Laksamana Agus Suhartono. Ia Moeldoko menjadi Panglima TNI hingga 8 Juli 2015.

Sebelumnya ia pernah menjadi KSAD terpendek dalam sejarah militer di Indonesia. Kemudian, pada 15 Januari 2014, Moeldoko meraih gelar doktor Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia. Moeldoko lulus dan mendapat gelar dengan predikat yang sangat memuaskan. IDN Times/Teatrika Handiko Putri Kesibukannya di dunia militer tak membuat Moeldoko melupakan aktivitas sosial. Ia, misalnya, mendirikan masjid Megah bernama Masjid Dr. H. Moeldoko di dalam Kompleks Islamic Center, di perbatasan Kota Jombang dan Kediri.

Masjid itu diresmikan pada Juni 2016, lebih cepat dari peresmian Islamic Centre Dr. H. Moeldoko. Moeldoko ini dilengkapi dengan fasilitas pendidikan dan sosial, seperti panti asuhan, madrasah, Gedung TKA Dharma Wanita, dan Taman Pendidikan Al Qur'an.

Selain itu, Moeldoko juga mendirikan M Foundation. M Foundatiom adalah yayasan sosial berkonsentrasi pada kegiatan sosial, seperti memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak yatim hingga jenjang perguruan tinggi.

IDN Times/Teatrika Handiko Putri Setelah melalui proses panjang, akhirnya pada 17 Januari 2018, Presiden Joko "Jokowi" Widodo menunjuk Moeldoko menjadi Kepala Kantor Staf Kepresidenan Republik Indonesia. Sebagai Kepala KSP, Moeldoko harus memastikan program-program prioritas nasional dilaksanakan sesuai visi dan misi Presiden.

Selain itu, ia juga bertugas melakukan pengendalian, melaksanakan fungsi menyelesaikan masalah secara komprehensif, dan bertanggung jawab atas pengelolaan isu-isu strategis. Baca Juga: Pemilu 2019, Moeldoko: Banyak Pihak Mengharapkan Evaluasi Berita Terpopuler • Daftar Tanggal Merah Desember 2022: Libur Natal • 10 Potret Liburan Ayu Ting Anak jenderal moeldoko dan Keluarga ke Jogja, Ayah Rozak Hits • 10 Potret Baby Ameena dalam Berbagai Ekspresi, Gemasnya Kebangetan • Kamu Workaholic?

Waspadai 7 Tanda Kamu Terlalu Keras ke Diri Sendiri • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • Menko Muhadjir: Biaya Pasien Hepatitis Akut Ditanggung BPJS Kesehatan • 9 Potret Atta Halilintar di Singapura, Berlibur sambil Momong Anak!

• 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya • Hari Keberuntungan Tiap Zodiak di Bulan Mei 2022, Mohon Dicatat ya!
Merdeka.com - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY mencium adanya upaya pendongkelan dirinya dari posisi ketua umum.

Bahkan, dia menyebut upaya itu dilakukan salah satunya dari pejabat di lingkaran Presiden Jokowi. Nama Kepala Staf Presiden, Jenderal (purn) Moeldoko pun disebut sebagai dalang di balik upaya tersebut. Seperti diketahui, Moeldoko dulu merupakan anak buah Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY). BACA JUGA: KSP Moeldoko Ingatkan Petugas agar Jaga Euforia Pemudik Foto Bersama Tersangka Ekspor CPO Beredar, Begini Tanggapan Moeldoko Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan bahwa Moeldoko menyalahgunakan kekuasaan dengan cara mencatut nama Presiden Jokowi.

Bahkan Moeldoko disebut akan 'menggoyang' posisi AHY dengan cara langsung menemui para kader Demokrat. Moeldoko Akui Bertemu Sejumlah Kader Demokrat Moeldoko mengakui memang sempat bertemu dengan beberapa pihak dari partai Demokrat, ia mengklaim bahwa pertemuannya bertujuan untuk mendengarkan keluh kesah dari partai yang kini dipimpin oleh AHY. Namun ia juga mengaku bahwa bukan hanya menemui pihak dari partai Demokrat saja, akan tetapi seluruh pihak ditemui olehnya.

"Ya yasudah dengerin saja, saya sih sebenarnya prihatin dengan situasi itu dan saya bagian yang mencintai Demokrat dan muncul isu," kata Moeldoko dalam siaran telekonferensi, Senin (1/2).

"Apa susahnya itulah menunjukan jenderal yang tidak mempunyai batas apapun, kalau itu yang menjadi persoalan yang digunjingkan silakan saja, saya enggak keberatan," ungkap Moeldoko tidak keberatan apabila namanya dicatut menjadi salah satu gerakan untuk menduduki Partai Demokrat. Moeldoko Balas AHY: Jangan Mudah Baper Sebelumnya diketahui bahwa AHY membeberkan adanya upaya gerakan perebutan paksa Partai Demokrat yang dilakukan oleh beberapa menteri di sekitar lingkaran Jokowi.

Moeldoko pun menjawab tudingan terkait dirinya yang diduga menjadi anak jenderal moeldoko satu penggerak kudeta Demokrat. BACA JUGA: Moeldoko Ajak Warga Tanam Cabai di Rumah: Jadi saat Mahal Enggak Bingung 2 Anak Petani Sukses jadi Jenderal TNI, Disegani & Punya Jabatan Penting di Militer "Berikutnya saran saya, jadi seorang pemimpin harus jadi pemimpin yang kuat jangan mudah baper dan terombang ambing," kata Moeldoko dalam siaran telekonference, Senin (1/2).

"Kalau anak buahnya enggak boleh ke mana-mana ya diborgol saja, kalau ada kudeta itu dari dalam bukan dari luar ya begitu saja," lanjut Moeldoko. BACA JUGA: Fakta Terbaru soal IKN Nusantara, dari Anggaran Rp30 T Hingga 100.000 PNS akan Pindah Moeldoko Minta Optimalisasi Pelayanan Mudik, Jangan Sampai Susah Cari BBM dan Toilet Acara pelantikan tersebut anak jenderal moeldoko telah dihadiri juga oleh Jenderal Pranomo Edhie Wibowo, serta pejabat serta menteri hingga kepala lembaga negara yang lain.

Diangkat Menjadi Panglima TNI oleh SBY Karier Moeldoko di TNI juga mencapai puncak di era Presiden SBY. Setelah diangkat menjadi Kasad TNI, Moeldoko kemudian dipilih SBY menjadi Panglima TNI, menggantikan Laksamana TNI Agus Suhartono.

Pelantikan dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta, Jumat 30 Agustus 2013. Moeldoko mengucap sumpah langsung kepada SBY. Upacara pelantikannya saat itu juga dihadiri oleh para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, pimpinan lembaga negara dan jajaran TNI. BACA JUGA: Moeldoko Minta Polisi Tindak Tegas Pengeroyok Ade Armando Moeldoko Minta Polemik Perpanjangan Masa Jabatan Presiden Tak Lagi Digoreng [bil] Baca juga: Moeldoko Disebut Mau Ambil Paksa Demokrat & Sindiran Keras SBY soal Moral Berpolitik Rentetan Aksi Kudeta Menggulingkan AHY Andi Arief: Moeldoko Klaim Dapat Restu Jokowi Ambil Paksa Demokrat Moeldoko Balas AHY: Jadi Pemimpin Harus Kuat, Jangan Mudah Baper Demokrat Sebut Moeldoko Catut Nama Jokowi, Goyang AHY untuk Pencapresan 2024 Moeldoko Akui Sempat Bertemu Sejumlah Kader Demokrat: Saya Prihatin 1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Ketiga, Penampilannya Mencuri Perhatian 3 Barisan Prajurit Kopaska TNI Menangis di Hutan, Alasannya Bikin Haru 4 Misteri Penembak Arief Rahman Hakim: Pengawal Presiden atau Polisi Militer Jakarta?

5 6 Gaya Lucu Rayyanza Anak Raffi Ahmad & Nagita Liburan di Bali, Bikin Gemas Selengkapnya
Jenderal TNI (Purn) Moeldoko JAKARTA–Politicanews: Perjalan hidup Moeldoko memang ajaib, membuat decak kagum banyak orang. Terutama kedua orang tua anak jenderal moeldoko mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Bayangkan, keseharian Moeldoko kecil di langgar, tapi perjalanan karirnya malah membawanya menjadi jenderal.

Apakah ini langkah yang dibimbing Tuhan? Moeldoko dan Langgar Moeldoko kecil sama seperti anak-anak kecil kebanyakan sebayanya. Ia memang anak ndeso, dilahirkan di Desa Pesing, Anak jenderal moeldoko Purwosari, Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada 8 Juli 1957. Desa Pesing jauh dari kecamatan, karena itu hiburan satu-satunya adalah tumbuh dan besar di langgar.

Ia benar-benar anak ndeso, jika malam tiba, langgar kecil itu tak pernah sepi dari anak-anak. Selepas shalat maghrib anak-anak riuh membaca al Quran di bawah temaram lampu minyak mereka belajar mengaji. Selepas shalat isya, anak-anak lelaki biasanya tidak pulang ke rumah, mereka mengingap dan tidur di langgar hingga subuh. Salah satu dari mereka adalah Moeldoko. Kehidupan sosial di langgar anak jenderal moeldoko tradisi anak kampung. Selain shalat dan mengaji, mereka juga menghafal shalawat, puji-pujian dan doa-doa.

Terutama di bulan purnama, anak-anak bisa anak jenderal moeldoko lebih larut, mereka bermain di halaman dan di pelataran langgar hingga lelah, kemudian tertidur pulas.

Tentu saja yang masih menancap dalam ingatannya adalah wejangan-wejangan yang disampaikan para kyai dan ustadz berupa cerita atau dongeng yang penuh hikmah. Termasuk petilasan wali songo para kisah para nabi.

anak jenderal moeldoko

Semua menginspirasi sekaligus membentuk kepribadiannya. Moeldoko masih merekam sosok yang cukup mempengaruhi kehidupannya, yakni Kyai Slamet. Kyai Slamet adalah orang yang menjaga, mengurus, mengajar, sekaligus mengimami langgar di Desa Pesing.

Setiap pukul 04:00 pagi Kyai Slamet sudah tiba di langgar sambil memegang tongkat kecil dari rotan.

anak jenderal moeldoko

Dengan tongkat rotan itulah Kyai Slamet membangunkan anak-anak laki yang menginap di langgar untuk siap-siap shalat subuh. Selepas shalat subuh, sedikit nasihat dari sang kyai, anak-anak pun kemudian pulang ke rumah masing-masing.

Langgar benar-benar telah menjadi rumah kedua Moeldoko. Keheningan Desa Pesing, keriuhan anak-anak langgar, tidur di langgar, didikan orang tua serta doa para kyai, benar-benar membentuk kepribadian Moeldoko, kelak bekal itu sangat berguna ketika menghadapi kehidupan nyata. Didikan Keras dan Kasih Sayang Hal lain yang menarik dalam kehidupan Moeldoko kecil, sebagai anak bontot ia benar-benar digembleng dan didik cukup keras oleh ayahandanya H.

Moestaman dan ibundanya Hj. Masfuah. Saudara-saudara Moeldoko terdiri dari 12 orang, mereka adalah Moesadi, Muhammad Sujak, Poerwono, Suyono, Sugeng Hariyono, Supiyani, dan Siti Rahayu.

Tiga kakak kandungnya yang anak jenderal moeldoko telah lebih dahulu meninggal semasa Moeldoko masih sangat kecil. Ayahandanya H. Moestaman adalah pedagang palawija dan petani ala kadarnya. Sementara Masfu’ah, seorang istri dan ibu rumah tangga biasa.

Dengan anak-anak yang banyak tersebut dan penghasilan yang tidak menentu, membuat hidup keluarga ini serba kekurangan. Selain bertani, Moestaman dipercaya memangku jabatan sebagai perangkat keamanan (jagabaya) desa. Namun tetap saja jabatan itu tak banyak membantu kehidupan keluarga yang serba kekurangan itu. Karena keterbatasannya itu, keluarga Moeldoko terbiasa menjadikan jagung dan singkong sebagai makanan pokok sehari-hari.

Cukup memprihatinkan. Sebagai bungsu, tentu Moeldoko yang paling menderita. Apalagi ayahnya adalah orang yang sangat keras dalam mendidik anak-anak. Untuk bisa bertahan dan tetap berkembang, Moeldoko harus berusaha sangat keras.

Keprihatinan hidup Moeldoko benar-benar nyata, untuk bisa makan nasi beserta lauk pauk yang cukup, ia ambil ubi dari kebon sebelah rumah, setelah itu dijual untuk membeli nasi dan lauk pauknya. Tentu saja sebagai anak langgar, menghadapi kehidupan yang sangat memprihatinkan tersebut, Moeldoko menghadapinya dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Ia sering bertirakat dengan melaksanakan puasa sunnah Senin-Kamis secara rutin, ia berusaha konsisten tak menyentuh makanan dan minuman sampai matahari terbenam di ufuk anak jenderal moeldoko.

Di tengah puasa Senin-Kamisnya, Moeldoko kerap membantu pekerjaan kakaknya, Sujak. Moeldoko mengatur truk, mengangkat material, hingga memecah batu-batu. Semua dilakukan tanpa harus membatalkan puasa. Sujak bekerja sebagai pemborong proyek pembangunan plengsengan atau dinding tembok sungai (turap) Sungai Brantas dari wilayan Braan hingga Ploso.

Suplai batu dari Gebeg, Kabupaten Nganjuk. Setiap pulang sekolah Moeldoko mampir ke tempat proyek Sujak, membantu menyediakan pasir dan batu yang diangkut dari pinggir kali.

Selain terlibat langsung mengatur datangnya truk pengangkut material, bocah berperawakan kecil itu tidak canggung bersama para buruh membelah batu. Selain didikan ayahanda, kakak, Moeldoko juga mendapat kasih sayang yang luar biasa dari ibunya. Karena itu Moeldoko selalu menekankan kepada anak-anaknya dengan mengatakan, “bahwa kekuatan hidup kalian sebagian besar berasal dari ibumu.” Suatu hari di Desa Pesing ada dialog singkat antara seorang anak laki-laki dengan ibunya.

anak jenderal moeldoko

“Bu, saya ingin seperti itu,” kata si anak sambil menunjuk seorang pria berseragam tentara. Dengan lembut ibunya menjawab,”Opo kowe iso to lik (apakah kamu anak jenderal moeldoko nak)?” Itulah dialog sekaligus bimbingan penyemangat sang Ibu kepada Anak jenderal moeldoko kecil. Kombinasi didikan keras sang ayah, asuhan lembut sang ibu, dan bimbingan sang kakak, kelak kemudian hari menjadikan Moeldoko sukses meniti karir.

Meniti Karir Jadi Prajurit TNI Lantas dimana titik balik sehingga Moeldoko tertarik menjadi prajurit TNI? Moeldoko memaparkan suatu hari datang taruna Akabri lengkap dengan seragamnya datang ke Desa Pesing. Darah Moeldoko kecil pun terkisap dan sangat mengagumi taruna berseragam tersebut, ia pun menyatakan pada ibunya ingin menjadi seperti sang taruna.

Hanya saja sang ibu yang buta hurup sedikit menyimpan keraguan, apakah anak bungsunya yang merupakan bocah ndeso, miskin pula, akan mampu menjadi seorang taruna militer.

“Pernyataan ibu saya itu bagi saya seperti sebuah tantangan. Maka sejak itu sayar sering menulis dalam buku, begini kira-kira: Tantangan adalah sebuah kebutuhan. Dengan pertanyaan dari ibu, saya merasa tertantang dan bersemangat untuk bisa masuk Akabri,” tutur Moeldoko seperti dikutip dalam buku Panglima Tani, Moeldoko Anak Dusun yang Jadi Negarawan.

Sosok lain yang mempengaruhinya untuk menjadi tentara adalah kakak kandungnya sendiri yang lebih dulu menjadi anggota TNI. Sang kakak memulai karir sebagai prajurit TNI dari tamtama dan terakhir pensiun sebagai Komandan Koramil (Danramil). Sejak kecil Moeldoko mengidam-idamkan menjadi prajurit TNI seperti kakaknya. Cita-cita yang sudah tertancap kuat di dada, tak lekang oleh panas, tak luput oleh waktu. Ketika Moeldoko masuk SMA Anak jenderal moeldoko di Jombang ia memilih jurusan Paspal (ilmu pasti dan pengetahuan alam—sekarang IPA).

Sepengetahuannya, untuk masuk Akabri, jurusannya harus Paspal, bukan Sos (Sosial—sekarang IPS). Hanya saja jalan untuk mewujudkan cita-cita tersebut memang tidak mudah. Sejak awal masuk SMA saja ia harus berjuang menghadapi cobaan yang menguji keteguhan tekadnya. Entah karena nilai IPA-nya kurang, ketika ada penjurusan di sekolah, Kepala Sekolah SMPP memasukan Moeldoko ke jurusan Sosial. Padahal ia memilih jurusan Paspal agar bisa masuk Akabri.

Moeldokopun protes keras kepada Kepala Sekolah dan ia minta agar tetap masuk Paspal. Tapi Kepala Sekolah mengatakan, “Oo nggak bisa Moel, kamu harus masuk Sosial.” Moeldoko tak menyerah,”Harus bisa Pak,” tegasnya.

Celakanya, Kepala Sekolah tetap pada keputusannya, namun Moeldoko tetap pada tekadnya. Ia memaksa agar Kepala Sekolah tetap memasukkannya kepada jurusan Paspal.

“Akhirnya Kepala Sekolah saya menyerah.” Namun syaratnya Kepala Sekolah memberinya waktu tiga bulan sebagai masa percobaan. Bila dalam waktu itu Moeldoko tak bisa mengikuti pelajaran Paspal, maka ia akan dipindahkan ke jurusan Sosial. Moeldoko setuju. Karuan saja dalam tiga bulan itu Moeldoko belajar dan berjuang sangat keras. Ini juga mungkin cermin baginya, bahwa dia harus selalu berjuang keras dan punya keberanian untuk berjuang.

Jika tidak, Moeldoko tak bisa sukses seperti sekarang sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Lulus SMPP Moeldoko kemudian mendaftar ke Akabri pada 1976. Setelah melewati berbagai tes yang sulit akhirnya ia diterima. Moeldoko sangat bahagia karena cita-citanya menjadi taruna kini terwujud. Mulailah ia menjalani kehidupan baru sebagai taruna Akademi Militer (Akmil) di Lembah Tidar, Magelang, Jawa Tengah.

anak jenderal moeldoko

Setelah diwisuda tahun 1981 mulailah Moeldoko menjalani hari-hari sebagai prajurit TNI. Pada tahun yang sama Moeldoko sempat menjadi Komandan Pleton (Danton) Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana, kini menjadi Kodam XIV/Hasanuddin. Itu adalah jabatan pertama yang disandangnya.

anak jenderal moeldoko

Karir militernya terus meroket, seiring tugas operasi yang dilaluinya. Seperti Operasi Seroja Timor-Timor tahun 1984 dan Konga Garuda XI-A pada tahun 1995. Penugasan luar negeri antara lain Singapura, Jepang, Irak, Kuwait, Amerika Serikat, dan Kanada. Sementara tugas belajar dijalaninya di Selandia Baru pada 1983 dan 1987. Perjalanan karir militer Moeldoko melesat sejak menjabat Kasdam Jaya (2008). Bahkan pada 2010, dia mengalami tiga kali rotasi jabatan dan kenaikan pangkat mulai dari Pangdiv 1/Kostrad (Juni-Juli 2010), menjadi Pangdam XII/Tanjungpura (Juli-Oktober 2010) dan Pangdam III/Siliwangi (Oktober 2010-Agustus 2011).

Pada Agustus 2011 ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Setelah itu ia kembali ke penugasan Komando TNI dengan menjadi Anak jenderal moeldoko Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) pada Februari 2013.

anak jenderal moeldoko

Jabatan Wakasad ternyata dilalui dalam waktu relatif singkat, hanya tiga bulan lebih. Setelah itu, pada 22 Mei 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melantiknya secara resmi sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) menggantikan Jenderal Pramono Edhie Wibowo di Istana Negara. Jenderal Pramono Edhie memasuki masa pensiun. Pangkatnya pun otomatis menjadi Jenderal bintang empat. Moeldoko diambil sumpahnya oleh Presiden SBY pada pukul 15:40 WIB. Ia diangkat berdasarkan Keputusan Presiden RI No.

24/TNI/2013. Keputusan itu menetapkan, memberhentikan dengan hormat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo sebagai KSAD dan mengangkat Letjen TNI Moeldoko sebagai KSAD. Pada 30 Agustus 2013, adalah hari bersejarah bual Moeldoko, Presiden SBY melantik Jenderal Moeldok sebagai Panglima TNI, menggantikan Laksamana TNI Agus Suhartono yang memasuki masa pensiun.

Hanya berselang empat bulan anak langgar itu sudah berada dipucuk pimpinan TNI. Tentu saja ini berkat kerja kerasnya selama ini, juga tak bisa dilupakan pengalaman kecilnya di langgar, pengalaman membantu sang kakak. Terutama gemblengan keras sang ayah, dan yang paling penting asuhan lembut sang ibu, telah mengubah nasih si anak jenderal moeldoko langgar menjadi jenderal (de)Kepala Staf Presiden Jenderal (purn) Moeldoko dan isteri.

(sumber: Anak jenderal moeldoko Penulis : Iman Firdaus JAKARTA, KOMPAS.TV- Nama Kepala Staf Presiden Jenderal (purn) Moeldoko mencuat beberapa hari terakhir karena dituding sosok yang ingin merebut Partai Demokrat.

Moeldoko pun membantahnya. Dia adalah perwira tinggi angkatan darat dengan segudang prestasi. Anak bungsu dari 11 bersaudara ini lahir di Kediri, Jawa Timur, 8 Juli 1957. Dilihat dari situs yang khusus tentang mantan panglima TNI ini, Moeldoko.Com, tercantum masa kecilnya di desa yang serba kekurangan. "Sejak kecil Moeldoko selalu bekerja keras.

Bahkan, ia nyaris tak pernah melipat jemari tangannya karena bekerja tiada henti. Mulai dari mengerjakan proyek pembangunan desa, hingga menyediakan pasir dan batu yang diangkut dari pinggir kali setiap hari seusai pulang sekolah," tulis situs tersebut.

anak jenderal moeldoko

Namun, kekurangan dan keterbatasan tak membuatnya patah semanat. "Semua itu ia lakukan untuk membantu menopang kebutuhan keluarganya. Pernah hidup susah tidak membuat Moeldoko putus asa. Nyatanya, ia terus membuktikan tekad dan prestasi yang membanggakan," demikian catatan masa kecil Moeldoko. Baca Juga: Moeldoko: Aku Ngopi Kenapa Ada yang Grogi, Politikus Demokrat: Bukan Grogi tapi Geli Moeldoko merupakan perwira penerima Bintang Adi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akabri tahun 1981.

Ia mengawali karier sebagai Komandan Peleton di Yonif Linud 700 Kodam VII/Wirabuana pada 1981. Nama Moeldoko kemudian melesat sejak menjabat Kasdam Jaya pada 2008.

anak jenderal moeldoko

Selama karier militernya, Moeldoko banyak memperoleh berbagai penghargaan dan tanda jasa. Operasi militer yang pernah diikuti antara lain Operasi Seroja Timor-Timur tahun 1984 dan Konga Garuda XI/A tahun 1995. Ia juga pernah mendapat penugasan di Selandia Baru (1983 dan 1987), Singapura dan Jepang (1991), Irak-Kuwait (1992), Amerika Serikat, dan Kanada.

Pada 20 Mei 2013 hingga 30 Agustus 2013, Moeldoko menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Puncak karier militernya menjadi Panglima TNI sejak 30 Agustus 2013 hingga 8 Juli 2015. Sejak 17 Januari 2018 lalu, ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Republik Indonesia. Baca Anak jenderal moeldoko Ribut Partai Demokrat-Moeldoko Belum Reda, Kini Saling Sindir Kopi dan Kudeta Tengsin LINTASAN BALAP MOBIL TERTUA DI JERMAN, SIRKUIT F1 NURBURGRING, JADI PUSAT LOGISTIK BANTUAN BANJIR MANTAN ANGGOTA DPRD KERINCI, JAMBI, YUSUF SAGORO, DITANGKAP SETELAH 13 TAHUN JADI BURONAN KASUS KORUPSI SEBANYAK 23,8 TON IKAN NILA DI KERAMBA JARING APUNG DANAU BATUR, BANGLI, BALI, MATI AKIBAT KERACUNAN BELERANG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO DI BANYUWANGI, JATIM, PERPANJANG MASA PENUTUPANNYA HINGGA 25 JULI 2021 PENUTUPAN 8 RUAS JALAN UTAMA DI SOLO DIPERPANJANG HINGGA 25 JULI 2021 SEIRING PENERAPAN PPKM PEMKAB PURBALINGGA UBAH RSUD GOETENG TAROENADIBRATA JADI RS KHUSUS COVID-19, DAYA TAMPUNG MENCAPAI 232 PASIEN MENKO MARVES LUHUT BINSAR PANDJAITAN OPTIMISTIS KEKEBALAN KELOMPOK BISA TERCAPAI PADA AKHIR TAHUN INI PEMKOT BEKASI TUNGGAK INSENTIF TENAGA KESEHATAN DI DINKES YANG TANGANI COVID-19 PERIODE JANUARI-MEI 2021 SEBANYAK 22 KG ORGAN HEWAN KURBAN TAK LAYAK KONSUMSI DI JAKARTA PUSAT DIMUSNAHKAN PETUGAS KREMATORIUM UNTUK JENAZAH COVID-19 DI TPU TEGAL ALUR, JAKBAR, DITARGETKAN BISA DIGUNAKAN PADA JUMAT, 23 JULI 2021 SEKJEN DPR INDRA ISKANDAR SEBUT 511 ORANG DI DPR POSITIF TERINFEKSI COVID-19, 346 DI ANTARNYA TELAH NEGATIF RANGKAP JABATAN SEBAGAI KOMISARIS DI SALAH SATU PERUSAHAAN BUMN, REKTOR UI ARI KUNCORO PUNYA HARTA KEKAYAAN RP 52,4 M TEMUKAN MALAADMINISTRASI PROSES TWK, OMBUDSMAN RI: KPK HARUS KOREKSI PROSES ALIH STATUS PEGAWAI KPK KAPOLRI JENDERAL LISTYO SIGIT PRABOWO MINTA JAJARANNYA BANTU PERCEPAT PENYALURAN BANSOS SELAMA PANDEMI COVID-19
Warta Ekonomi, Jakarta - Dibesarkan dalam era perkembangan massif teknologi tinggi membuat kalangan milenial lebih paham dan peduli arti kemajuan teknologi bagi nasib dan masa depan bangsa.

Karena itu, berkenaan dengan fakta bahwa Indonesia telah memiliki kendaraan listrik bermutu tinggi dari hasil pengembangan dan kreativitas sendiri, wajar bila kalangan milenial pun dengan responsif mengapresiasi. Kebanggaan itulah yang tercermin dari pernyataan Koordinator Aliansi Milenial Muslim Indonesia (AMMI), Nurkhasanah, sehubungan dengan keberhasilan Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI Purn Moeldoko yang telah sukses membangun bus listrik dari nol, hingga saat ini berhasil memasuki generasi kelima dengan mutu terjamin setelah melalui anak jenderal moeldoko macam uji coba pihak-pihak kompeten.

Baca Juga: Petik Hikmah Besar saat Dijegal Moeldoko Cs, Ternyata Oh Ternyata Ini Maksudnya Mas AHY “Keberhasilan Pak Moeldoko membangun mobil listrik dalam bentuk bus, yang beliau namakan Mobil Anak Bangsa (MAB) patut kita apresiasi dan dukung.

Itu jelas merupakan keberhasilan teknologi yang tepat di saat yang sangat pas,” kata Nurkhasanah, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/4/2021). Baca Juga: Usai Duduki Jabatan Ketua Umum, Sekarang Jenderal Moeldoko Bicara Masa Depan Indonesia Sebagai bagian dari kalangan milenial, Nurkhasanah mengaku bahwa pengembangan teknologi tersebut tidak hanya sangat sesuai dengan zaman, melainkan memiliki potensi pengembangan yang akan memengaruhi nasib bangsa ke depan.

Berita Terkait • Mantan Timses Jokowi-Maruf Amin Berharap Ada Partai Politik yang Mau Usung Moeldoko Jadi Presiden • Gugatan Moeldoko Cs Kembali Ditolak, Respons Anak Buah Mas AHY: Berkah Bulan Ramadan • Kubu Moeldoko Kalah Kembali, Demokrat Kubu AHY: Kami Mendoakan, Semoga Mereka Disadarkan • Wake up Call KSP Moeldoko Soal Waspada NII Didukung Penuh!

• Moeldoko Meminta Semua Pihak Hati-hati
Selain dikenal berprestasi, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, S.IP. merupakan sosok yang sangat bersahaja di masa mudanya. Sebelum sukses menapaki karir sebagai perwira TNI, pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, 8 Anak jenderal moeldoko 1957 itu, sempat melakoni hidup prihatin sebagai anak petani sederhana di desa asalnya. Dilansir dari republika.co.id, Moeldoko lahir di tengah keterbatasan ekonomi yang dialami kedua orang tuanya.

Alhasil, dirinya harus bekerja ekstra keras agar mampu mengubah nasib menjadi lebih baik. Hingga pada suatu kesempatan, Moeldoko berhasil menembus ketatnya persaingan menjadi taruna TNI yang memuluskan karirnya di dunia kemiliteran. Seperti apa kisahnya? Simak ulasan berikut.

anak jenderal moeldoko

Hidup prihatin semenjak kecil Sempat hidup susah di masa kecil [ sumber gambar]Sejak lahir, Moeldoko harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia hidup di tengah-tengah keluarga sederhana dengan keterbatasan ekonomi. Dilansir dari republika.co.id, Pendapatan orang tuanya yang tak menentu membuat hidupnya ini seperti terjebak dalam kesusahan. Bahkan saat dirinya kecil, Moeldoko kerap kesulitan jika ingin memakan nasi beserta lauk pauk yang cukup.

Alhasil, mantan KSAD ini pun memilih untuk melakoni urip prihatin demi menjalani masa-masa susahnya tersebut. Rajin tirakat dan bekerja keras demi merubah nasibnya Rajin tirakan dan berpuasa anak jenderal moeldoko senin dan kamis [sumber gambar] Kehidupan Moeldoko yang serba kekurangan, tak lantas membuat dirinya putus asa. Agar tambah menjalani hidup, ia memilih jalan tirakat guna mendekatkan diri dengan sang Maha Pencipta.

Di mana ia bisa mengeluarkan keluh kesah yang dialaminya dan memohon agar diberikan jalan untuk sukses. Laman republika.co.id menuliskan, Moeldoko sering bertirakat dengan melaksanakan puasa sunah setiap Senin dan Kamis. Berhasil diterima menjadi taruna TNI yang anak jenderal moeldoko menjadi jalannya menuju sukses Lulus Akabri dan menjadi Panglima TNI [ sumber gambar]Sembari menjalankan tirakatnya, Moeldoko yang dikenal rajin dan cekatan sejak kecil, tetap menjalani kegiatan tirakatnya secara rutin sembari membantu sang kakak mengangkat batu dan mengangkut pasir dari sungai.

Usahanya pun tak sia-sia. Laman republika.co.id menuliskan, ketika lulus SMA ia pun kemudian masuk Akabri. Kariernya di kemiliteran pun melejit hingga mengatarkan dirinya ke poisis puncak.

Tercatat, Moeldoko pernah menjabat sebagai KSAD dan Panglima TNI di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Figur Jenderal cerdas yang dipercaya oleh Presiden Joko Widodo Dipercaya sebagai Kepala Staff Kepresidenan [ sumber gambar]Selain menimba ilmu dan berpengalaman di kemiliteran, Moeldoko juga juga terus menimba ilmu di dunia pendidikan umum.

Dilansir dari republika.co.id, hal itulah yang mengantarnya meraih gelar doktor ilmu anak jenderal moeldoko pemerintahan dari Universitas Indonesia. Alhasil, pria yang juga memiliki bisnis di bidang transportasi dan fintech syariah untuk UKM itu, dipercaya sebagai Kepala staf Kepresidenan di pemerintahan Presiden Joko Widodo. Filosofi hidupnya yang patut menjadi renungan kita semua Filosofi hidupnya yang patut menjadi renungan [ sumber gambar]Salah satu kiat sukses Moeldoko adalah falsafah Jawa “ Urip iku urup” yang ia pegang teguh dalam hidupnya.

Seperti yang dikutip dari laman republika.co.id, Hidup itu harus menghidupi. Intinya, hidup harus memberikan manfaat bagi orang lain, baik itu berupa hal-hal kecil maupun hal besar. Prinsip sederhananya adalah, hidup harus bermanfaat bagi orang lain.

BACA JUGA: Kisah Mengagumkan Ini Bukti Hoegeng Polisi Jujur dan Sederhana yang Layak Diteladani Dari kisah Jenderal Moeldoko di atas, ada beberapa hal yang bisa kita ambil untuk diterapkan dalam hidup. Pertama adalah bagaimana ia memilih jalan tirakat berpuasa senin dan kamis demi kesuksesan karirnya, serta kegigihannya mengubah nasib meski didera kemiskinan sekalipun. Patut dijadikan teladan ya Sahabat Boombastis.

Sahur Bareng Di Masjid Moeldoko




2022 www.videocon.com