Jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

• About Us • About TREC • Member • Partnership • Area of Expertise • Battery and Material System • Bioenergy • Eco and Green Building Materials • Green Energy Society Development • Renewable Energy Integration Nanogrids • News • Program & Facility • Research Product • Compact Biomass Gasifier • Floating Solar Photovoltaic • High Efficiency Wind Turbine • Research Innovation of DC-DC Converter 2.5 kW for Nanogrids System • Biogas Disaster • • About Us • About TREC • Member • Partnership • Area of Expertise • Battery and Material System • Bioenergy • Eco and Green Building Materials • Green Energy Jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia Development • Renewable Energy Integration Nanogrids • News • Program & Facility • Research Product • Compact Biomass Gasifier • Floating Solar Photovoltaic • High Efficiency Wind Turbine • Research Innovation of DC-DC Converter 2.5 kW for Nanogrids System • Biogas Disaster • Oleh : Fitria Yuliani*, Eko A Setiawan** Sektor Industri merupakan pengguna energi terbesar kedua setelah sektor rumah tangga, yaitu 35% dari total permintaan energi.

Dengan potensi energi surya yang melimpah dan meningkatnya kebutuhan energi khususnya pada sektor industri tersebut, merupakan peluang bagi sektor industri untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya sehingga dapat meningkatkan daya saing suatu industri. Tahun 2050 diproyeksikan permintaan energi listrik pada sektor industri di Indonesia akan mencapai kisaran 660 TWh atau 10 kali dari penggunaan tahun 2015 yang lalu.

Sedangkan tarif listrik PLN pada sektor ini cenderung terus meningkat, sehingga pemanfaatan energi terbarukan di sektor industri memiliki peran yang strategis menuju modern sustainable energy services atau layanan energi berkelanjutan yang lebih modern dan mempunyai peluang untuk meningkatkan keuntungan finansial serta meningkatkan daya saing.

Caranya adalah dengan pemilihan sumber energi terbarukan yang potensial, semakin murah harga energinya dan pola penggunaan energi yang lebih efisien.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

Salah satunya dengan mengimplementasikan teknologi PLTS Atap ( PV Rooftop) pada sektor industri. Berikut ini adalah empat faktor yang mendasari argumentasi tersebut. • Profil beban dan lokasi kawasan Industri. Konsumsi energi listrik di sektor Industri pada siang hari lebih tinggi dari pada pagi dan sore hari, kondisi ini sesuai dengan siklus matahari.

Lamanya sinar matahari yang dapat menghasilkan energi listrik maksimum di wilayah Indonesia berkisar antara 4 sampai 5.5 jam sehari yaitu berkisar dari pukul 9.30 pagi sampai pukul 2 siang.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

Ini menunjukkan bahwa ada porsi konsumsi industri pada jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia hari yang dapat disuplai dari PLTS Atap. Dilihat dari lokasi pusat kawasan industri di Indonesia yang pada umumnya terletak di Pulau Jawa dan Batam, mempunyai sudut kemiringan panel surya antara 5 sampai 10 derajat. Wilayah ini pun kecepatan angin yang relatif kecil, mengakibatkan biaya pembangunan PLTS Atap menjadi murah karena tidak memerlukan struktur penyangga panel surya yang mahal, serta luas area yang dibutuhkan juga tidak terlalu besar.

Hal ini berbeda sekali dengan penerapan PLTS di negara-negara sub tropis, dibutuhkan sudut kemiringan panel surya yang tinggi karena lokasinya jauh dari garis khatulistiwa dan terpaan angin yang lebih kencang, sehingga biaya pemasangan panel surya jauh lebih mahal.

• Kesiapan infrastruktur dan tenaga ahli, kawasan industri pada umumnya terdiri dari area pabrik, lahan parkir, kantor dan rumah karyawan yang memiliki atap yang luasdidukung dengan bentuk, material dan sudut kemiringan atap yang relatif seragam.

Pembangunan sarana dan prasarana di kawasan industri, pemasangan instalasi listrik, serta sistem jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia petir dan pentanahannya juga telah memenuhi standar keamanan yang tinggi.

Kondisi infrastruktur kelistrikan di kawasan industri biasanya stabil, handal dan kualitas dayanya pun baik. Semua kondisi ini sebenarnya menjadi syarat mutlak masuknya sistem PLTS ke dalam jaringan listrik utilitas/perusahaan listrik negara. Selain itu kawasan Industri juga didukung oleh sumber daya manusia yang profesional, adanya staf/karyawan yang bertanggung-jawab untuk mengatasi masalah teknis kelistrikan bila terjadi gangguan. • Dampak lingkungan dan sosial, pemanfaatan energi surya secara masif di kawasan industri akan mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, kadar polutan di udara dan tingkat kebisingan disekitar tempat kerja dapat ditekan.

Sehingga akan terwujud lingkungan industri yang lestari dan terangkatnya citra positif bagi pelaku industri yang melakukannya. • Potensi penghematan. Pemasangan PLTS Atap di sektor industri dapat memberikan keuntungan finansial jangka panjang, mengingat kecendrungan tarif listrik PLN yang terus meningkat, sedangkan biaya energi (Rp/kWh) dari PLTS semakin murah.

Biaya pembangunan sistem PLTS Atap (Rp/kW) untuk skala besar dapat lebih rendah 35% daripada skala kecil. Dari tahun ke tahun biaya investasi PLTS mengalami penurunan yang signifikan yaitu berkisar antara 18% sampai 22%, yang berarti bahwa biaya panel surya tahun ini mengalami penurunan harga sebesar 18% – 22% dari tahun sebelumnya. Ada dua kemungkinan mekanisme jual beli listrik antara PLTS Atap di sektor Industri dengan jaringan utilitas, yaitu dengan mekanisme net-metering dan net-billing.

Net-metering adalah pengurangan tagihan listrik utilitas dengan memperhitungkan selisih energi yang yang dijual ke jaringan (ekspor) yang berasal dari PLTS-Atap dengan listrik yang diambil dari jaringan utilitas (impor).

Net metering memungkinkan konsumen listrik untuk menghasilkan listrik untuk digunakan sendiri. Setiap energi listrik yang dihasilkan dari PLTS-Atap nya yang tidak dikonsumsi sendiri, dapat langsung diekspor ke jaringan utilitas dan dikonsumsi oleh pelanggan lainnya.

Perjanjian kontrak jual beli listrik pada mekanisme ini berlaku sampai kurun waktu tertentu yang disepakati (misalkan 20 tahun), dimana harga ekspor listrik dari PLTS- Atap sama dengan harga impor yang diambil dari listrik utilitas. Berbeda dengan mekanisme net-metering, penetapan kontrak jual beli pada mekanisme net-billing harga listrik yang berasal dari PLTS Atap diasumsikan flat selama masa kontrak jual beli listrik tersebut.

Jika pada net-metering perhitungan akumulasi kelebihan energi listrik dikalkulasi pada bulan berikutnya dalam bentuk kWh, sementara pada net-billing dalam bentuk rupiah.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

Studi yang telah kami lakukan menunjukkan bahwa penggunaan PLTS Atap pada industri dengan mekanisme net-metering mampu mengurangi biaya penggunaan energi listrik sebesar 16% dari total kebutuhan listrik pada suatu industrilebih besar jika dibandingkan dengan mekanisme net-billing dengan asumsi tarif listrik yang terus meningkat sebesar 3% setiap tahun.

Bahkan dengan nilai penghematan energi listrik yang dihasilkan oleh PLTS Atap pada industri dapat mengembalikan investasi pemasangan PLTS Atap tersebut kurang dari 10 tahun. Nilai pengembalian investasi yang positif dan terus meningkat hingga tahun ke-20. Hal menarik lainnya menunjukkan bahwa semakin besar kapasitas terpasang sistem PLTS Atap, maka semakin kecil biaya energinya dan mencapai titik optimum di kapasitas 20 MW.

Artinya pemasangan PLTS Atap diatas 20 MW, biaya energinya relatif sama dengan kapasitas 100 MW. Agregasi ke-empat faktor tersebut di atas menunjukkan bahwa, implementasi PLTS Atap di sektor Industri berpeluang meningkatkan efisiensi biaya penggunaan energi di Indonesia.

Saat ini implementasi PLTS Atap di sektor Industri sudah mulai diinisiasi di beberapa negara.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

Pabrik semen Lafarge – Holcim Rashadiya merencanakan pemenuhan seperempat energi-nya dari pembangkit tenaga surya yang beroperasi pada Juli 2017. Studi pemanfaatan PLTS Atap di Industri makanan juga telah dilakukan di Melbourne Australia tahun 2016, yang bertujuan untuk menurunkan emisi karbon secara signifikan dan mengurangi 39% konsumsi energi dengan memasang 100 kWp panel surya.

Sudah saatnya pelaku Industri di Indonesia mulai dari kelas menengah sampai besar bersiap membuat rencana alternatif untuk meningkatkan keuntungan finansial jangka panjang dan membangun citra positif pelaku industri serta berpartisipasi aktif dalam program yang telah dicanangkan dunia yaitu Sustainable Development Goal (SDG) 7, yaitu menjamin akses energi yang terjangkau, handal, berkelanjutan dan modern untuk semua.

*) Mahasiswa Magister Pascasarjana FTUI dan bekerja di Direktorat Jenderal EBTKE **) D irektur P usat R iset E nergi T erbarukan W ilayah T ropis TREC FTUI Efek Minyak Goreng dan Pertamax, BPS Catat Inflasi April 2021 Meroket 3,47 Persen IHSG Sesi I Sempat Tinggalkan 6.900, Asing Jual Saham Rp1,6 Triliun Mesin-Mesin Pertumbuhan Pulih, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,01 Persen di Kuartal I/2022 IHSG Anjlok Hampir 3 Persen, Saham ANTM, BMRI, BBCA, BBRI Tekan Indeks Bisnis-27 LIVE : IHSG lesu sesi I (11:30 WIB) LIVE : Harga emas kompak melemah (10:58 WIB) LIVE : Mata uang Asia turun (10:37 WIB) Bisnis.com, JAKARTA – Tingginya potensi tenaga surya di Indonesia belum diikuti oleh pemanfaatan yang optimal sebagai sumber energi pembangkit listrik.

Padahal, biaya investasi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) saat ini relatif turun dan lebih murah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemanfaatan tenaga surya di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki. Menurutnya, tenaga surya merupakan energi bersih yang paling potensial untuk dikembangkan di Indonesia dibandingkan dengan sumber energi baru terbarukan (EBT) lainnya.

Pasalnya, Indonesia memiliki sumber tenaga surya yang besar dan harganya yang kian kompetitif. Baca Juga : Pemanfaatan Tenaga Surya, Kementerian ESDM dan Kemendikbud Luncurkan Gerilya “Saat ini hanya 31 megawatt [yang dimanfaatkan]. Padahal ada potensi 32.000 megawatt,” katanya dalam peluncuran Program Gerilya yang berkolaborasi dengan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Jumat (13/8/2021).

Arifin menjelaskan, pemerintah sangat mendorong pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap yang besaran investasinya relatif rendah di tiap-tiap lokasi. Apalagi, PLTS atap juga dapat dikembangkan oleh rumah tangga. Untuk menggairahkan pertumbuhannya, kata Arifin, pemerintah tengah menyempurnakan regulasi PLTS atap agar lebih menarik, sehingga pemanfaatannya bisa lebih cepat.

“[Pemanfaatan] baik di rumah tangga, bisnis industri, sosial maupun gedung-gedung pemerintah dan BUMN,” ucapnya. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi meluncurkan program Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya (Gerilya) untuk mendorong percepatan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya. Melalui Gerilya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) beserta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengajak mahasiswa aktif jenjang S-1 dan vokasi eksakta untuk membantu mengoptimalkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia untuk mencapai bauran energi baru terbarukan (EBT) sebanyak 23 persen di 2025.

Terpopuler • Menhub Imbau Pemudik Tunda Perjalanan Arus Balik Hari Ini • Negara G7 Sepakat Blokir Impor Minyak dari Rusia • Wabah Penyakit Serang Ternak di Jawa Timur, Ini Rekomendasi untuk Pemerintah • Tax Holiday Diharapkan Bisa Undang Banyak Investor Masuk ke Proyek IKN • Kenaikan PDB Indonesia Tarik Minat Investor Asing di Sektor Properti
Energi tak terbarukan adalah energi yang diambil dari sumber yang hanya tersedia dalam jumlah terbatas di bumi dan tidak dapat diperbaharui dalam waktu singkat.

Dikatakan tak terbarukan karena apabila sejumlah sumbernya dieksploitasi, maka untuk mengganti sumbemya dalam jumlah yang sama akan memerlukan waktu lama hingga ratusan tahun. Jika sumber energi ini dieksploitasi secara terus-menerus pasti persediaannya akan menipis dan mungkin akan habis.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

Sementara energi terbarukan atau biasa disebut sebagai energi alternatif adalah energi yang berasal dari sumber daya alam yang dihasilkannya tak terhabiskan dan dapat diperbaruhi dengan proses yang berkelanjutan. Sumber energi terbarukan ini dianggap sebagai sumber energi ramah lingkungan yang tidak mencemari lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.

Indonesia juga dianugerahi dengan potensi panas bumi yang begitu besar. Energi panas bumi bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif. Diperkirakan jumlah potensi panas bumi di Indonesia yang bisa dijadikan sebagai pembangkit listrik sebesar 11.073 MW. Meski demikian, Indonesia baru memanfaatkan energi panas bumi sebesar 1.948. Jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di Indonesia!

- langsut.com Jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di Indonesia!

Jawab Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah khatulistiwa yang mendapatkan cahaya matahari sepanjang tahun dari pagi hingga sore. Oleh sebab itu potensi konversi energi tenaga surya di Indonesia merupakan hal yang sangat menjanjikan.

Pembahasan Pembangkit listrik tenaga surya yang ramah lingkungan merupakan pembangkit listrik masa depan di Indonesia. Indonesia merupakan negara yang mendapatkan asupan sinar matahari terus menerus sepanjang tahun. Dengan hal itu, Indonesia tidak mengkhawatirkan kekurangan pasokan cahaya matahari. Hal ini tentunya berbeda dengan negara-negara yang memiliki empat musim tanah warna yang cahaya matahari nya tidak sebanyak yang didapatkan negara Indonesia.

Oleh sebab itu perlu dikembangkan teknologi yang lebih efisien untuk mengkonversi tenaga surya tersebut menjadi energi listrik di Indonesia. Terimakasih telah berkunjung ke langsut.com. Semoga membantu.
Jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di Indonesia!

Jawab : Indonesia memiliki sinar matahari yang melimpah. Hampir di setiap pelosok Indonesia, matahari menyinari sepanjang pagi sampai sore. Energi matahari yang jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia dapat diubah menjadi energi listrik menggunakan panel surya/solar cell.

Pembangkit listrik tenaga surya ramah lingkungan dan sangat menjanjikan. Sebagai salah satu alternatif untuk menggantikan pembangkit listrik menggunakan uap (dengan minyak dan batu bara).
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA • Beranda • Profil • Struktur Organisasi • Sejarah • Tugas & Fungsi • Kementerian ESDM • Sekretariat Jenderal • Inspektorat Jenderal • Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan Dan Konservasi Energi • Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi • Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara • Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan • Badan Geologi • Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM • Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM • Nilai-nilai Organisasi • Lokasi & Kontak • Daftar Menteri • Arti Logo • Profil Pimpinan • Agenda • Eselon I • Sekretariat Jenderal • Ditjen EBTKE • Ditjen Gatrik • Ditjen Migas • Ditjen Minerba • Inspektorat Jenderal • Badan Geologi • Badan Litbang • BPSDM ESDM • Reformasi Birokrasi • Inovasi Pelayanan Publik • Perbaikan Pelayanan • Partisipasi Pembuatan Kebijakan • Dorongan Kolaboratif • Cerita Inspiratif Perubahan • Dashboard PNBP • Widyaiswara • Rubrik Berita RB • Berita Reformasi Birokrasi • Berita Foto RB • Arahan Sekjen pada Pembekalan Agen Perubahan KESDM • Reformasi Birokrasi unit kerja eselon I • Kementerian ESDM Butuh Role Model Perubahan • Proses Verifikasi Lapangan dan Eveluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi KESDM • Kunjungan Kerja Transformasi Organisasi • Implementasi RB Balitbang • 4 Unit Kerja Kementerian ESDM Raih Penghargaan Wilayah Bebas Korupsi • Submit PMPRB ke KemenPANRB • Submit Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Sekretariat Jenderal KESDM • Arahan Sekjen KESDM Terkait Penilaian Mandiri Pelaksanaan Zona Integritas (PMPZI) • Jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia Map RB • Road Map RB KESDM 2020-2024 • Publikasi • Rencana Strategis • Rencana Kerja dan Anggaran • Laporan Kinerja • Perjanjian Kinerja • Laporan Keuangan • Indonesia Energy Outlook • Handbook Of Energy & Economic Statistics Of Indonesia • Infografis • Publikasi Hasil Kajian • Lain-lain • Indeks Kepuasan Masyarakat • IKM Sekretariat Jenderal • IKM Inspektorat Jenderal • IKM Ditjen Migas • IKM Ditjen Ketenagalistrikan • IKM Ditjen Minerba • IKM Ditjen EBTKE • IKM Badan Geologi • IKM Badan Litbang • IKM BPSDM • INFO 136 Minggu, 24 Agustus 2008 - Dibaca 79155 kali Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW.

Data potensi EBT terbaru disampaikan Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dalam acara Focus Group Discussion tentang Supply-Demand Energi Baru Terbarukan yang belum lama ini diselenggarakan Pusdatin ESDM. Saat ini pengembangan EBT mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%.

Untuk itu langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah menambah kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW pada tahun 2025, kapasitas terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia (PLT Bayu) sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada tahun 2024, dan nuklir 4,2 GW pada tahun 2024.

Total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD. Upaya yang dilakukan untuk mengembangkan biomasa adalah mendorong pemanfaatan limbah industri pertanian dan kehutanan sebagai sumber energi secara terintegrasi dengan industrinya, mengintegrasikan pengembangan biomassa dengan kegiatan ekonomi masyarakat, mendorong pabrikasi teknologi konversi energi biomassa dan usaha penunjang, dan meningkatkan penelitian dan pengembangan pemanfaatan limbah termasuk sampah kota untuk energi.

Upaya untuk mengembangkan energi angin mencakup pengembangan energi angin untuk listrik dan non listrik (pemompaan air untuk irigasi dan air bersih), pengembangkan teknologi energi angin yang sederhana untuk skala kecil (10 kW) dan skala menengah (50 - 100 kW) dan mendorong pabrikan memproduksi SKEA skala kecil dan menengah secara massal.

Pengembangan energi surya mencakup pemanfaatan PLTS di perdesaan dan perkotaan, mendorong komersialisasi PLTS dengan memaksimalkan keterlibatan swasta, mengembangkan industri PLTS dalam negeri, dan mendorong terciptanya sistem dan pola pendanaan yang efisien dengan melibatkan dunia perbankan. Untuk mengembangkan energi nuklir, langkah-langkah yang dambil pemerintah adalah melakukan sosialisasi untuk mendapatkan dukungan masyarakat dan melakukan kerjasama dengan berbagai negara untuk meningkatkan penguasaan teknologi.

Sedang langkah-langkah yang dilakukan untuk pengebangan mikrohidro adalah dengan mengintegrasikan program pengembangan PLTMH dengan kegiatan ekonomi masyarakat, memaksimalkan potensi saluran irigasi untuk PLTMH, mendorong industri mikrohidro dalam negeri, dan mengembangkan berbagai pola kemitraan dan pendanaan yang efektif.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

Untuk mendukung upaya dan program pengebangan EBT, pemerintah sudah menerbitkan serangkaian kebijakan dan regulasi yang mencakup Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Undang-Undang No. 30/2007 tentang Energi, Undang-undang No. 15/1985 tentang Ketenagalistrikan, PP No. 10/1989 sebagaimana yang telah diubah dengan PP No. 03/2005 Tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik dan PP No.

26/2006 tentang Penyediaan & Pemanfaatan Tenaga Listrik, Permen ESDM No. 002/2006 tentang Pengusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah, dan Kepmen ESDM No.1122K/30/MEM/2002 tentang Pembangkit Skala Kecil tersebar.

Saat ini sedang disusun RPP Energi Baru Terbarukan yang berisi pengaturan kewajiban penyediaan dan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan dan pemberian kemudahan serta insentif. Bagikan Ini!18 Maret 2021-Indonesia memiliki potensi teknis tenaga surya yang jauh lebih besar dibandingkan 207 GW yang merupakan data resmi yang dirilis oleh pemerintah Indonesia melalui kementerian ESDM tahun 2017.

Hal ini dibuktikan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) bekerja sama dengan Global Environmental Institute (GEI) dalam peluncuran kajian “Beyond 207 Gigawatts: Unleashing Indonesia’s Solar Potential” (18/3).

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR dalam sambutannya menjelaskan bahwa berdasarkan potensi teknis dan kesesuaian lahan, tenaga surya di Indonesia bisa mencapai 3000-20.000 GWp. “Bila potensi teknis yang paling sedikit saja, 3 GW, dimanfaatkan secara efektif, maka dapat memenuhi 7 kali dari konsumsi listrik dari tahun 2018,” ujarnya.

IESR mengukur potensi teknis ini dengan menggunakan data geospasial jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia lahan yang cocok untuk PLTS dapat diidentifikasi. Fabby menambahkan bahwa kajian ini merekomendasikan kepada pemerintah untuk memperbaharui sumber data energi terbarukan sehingga dapat memberikan sinyal yang lebih baik untuk mengembangkan energi surya ke depan.

“Tentu saja, hal tersebut akan meningkatkan pula kepercayaan diri berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan energi surya bahwa Indonesia dapat mengandalkan tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan energi bersih.

Selain itu, kajian ini mendukung upaya PLN untuk mengembangkan tenaga surya, dan pemerintah daerah dalam mengimplementasikan Rencana Umum Energi Daerah,” tegasnya.

Dalam tataran global, data ini dapat digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk memperkuat komitmennya dalam aksi iklim secara global, seperti yang diungkapkan oleh Mme. Jiaman Jin, Direktur Eksekutif GEI.

GEI, secara khusus, mempunyai program untuk membantu negara berkembang dalam mengembangkan energi terbarukan dengan memberikan penguatan kapasitas, bantuan teknis dan finansial. “Cina dan negara-negara di Asia Tenggara telah berkolaborasi dalam program aksi iklim global, termasuk dengan Indonesia.

Bila ditilik dari komitmen Persetujuan Paris, hingga kini ada 29 negara yang sudah menargetkan netral karbon dengan mengandalkan energi terbarukan.

Cara lain untuk netral karbon adalah dengan penyimpanan karbon (carbon storage) dan perdagangan karbon (carbon credit). Dua hal ini pula yang Cina sedang kembangkan saat ini,” urainya. Agar tercapai komitmennya dalam Persetujuan Paris, Indonesia sedang berupaya untuk mencapai target 23% bauran energi terbarukan di 2025. Namun hingga akhir tahun 2020, hanya terealisasi sebesar 11,5%. Sementara dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sendiri, pemerintah mempunyai target untuk pengembangan tenaga surya sebesar 6,5 GW hingga 2025.

“Namun target tersebut sedang dalam peninjauan, dan ternyata, surya (fotovoltaik) ditargetkan untuk mewakili sepertiga (17.6 GW) dari total pembangkit listrik bersih sebesar 48 GW pada tahun 2035 dalam grand strategy energi nasional yang dipersiapkan oleh Kementerian ESDM dan Dewan Energi Nasional (DEN).

Sekitar 60 atau 76 persen diharapkan berasal dari tenaga surya skala utilitas termasuk PLTS terapung,” ulas Daniel Kurniawan, Penulis Utama Laporan Kajian “Beyond 207 Gigawatts: Unleashing Indonesia’s Solar Potential”.

Daniel menjelaskan dari 23 jenis tutupan lahan yang ada, tim peneliti IESR memilih jenis lahan yang sesuai untuk pembangunan PLTS. Terseleksi hanya 9 jenis tutupan lahan yang digunakan untuk pemetaan potensi teknis PLTS. “Hutan tanaman ( man-made forest ) dan lahan pertanian kering dan kering campur belukar juga termasuk dari jenis lahan yang dihitung, sebabnya ketiga lahan tersebut ditemukan dapat diakuisisi dalam pengembangan proyek PLTS 3 x 7 MWp di Lombok dan proyek PLTS 21 MWp di Likupang, Sulawesi Utara,” jelasnya.

Menggunakan skenario paling optimistis, 9 jenis tutupan lahan seluas 1,9 juta km 2jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia yang diperoleh dari penghitungan potensi teknis PLTS sangat melimpah hingga mencapai 19.8 TWp, yang berarti 95 kali lebih tinggi dari pada estimasi pemerintah. “Potensi teknis terbesar berada di Kalimantan, Sumatera, Jawa Barat dan Jawa Timur,” jabar Daniel.

Menyinggung tentang Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) (2021-2030) yang sedang disusun oleh PLN, Daniel menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada informasi pasti mengenai alokasi target kapasitas untuk untuk tenaga surya dari total 3,7 GW rencana kapasitas gabungan untuk tenaga surya, bayu, dan sampah dalam RUPTL mendatang.

Data Potensi Teknis Akan Dorong Optimalisasi Pengembangan PLTS Data kajian potensi teknis teranyar yang diluncurkan IESR ini juga dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pengembangan energi terbarukan. Daniel mencontohkan Bali dan Sumba sebagai dua pulau di Indonesia yang sudah mempunyai modal yang cukup ditinjau dari konsistensi pemerintah daerah dalam mendorong pemanfaatan PLTS melalui kebijakan yang mereka terbitkan dan juga potensi teknis PLTS-nya.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Direktorat Jenderal EBTKE Chrisnawan Anditya dalam kesempatan yang sama, mengatakan bahwa pihaknya akan memperbaharui data potensi teknis tenaga surya di Indonesia.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

“Selain itu, kami juga berusaha untuk mengidentifikasi potensi matahari sesuai dengan jalur transmisi. Semakin baik jalur transmisi maka pengembangan PLTS akan semakin besar. Namun bila lokasi di luar jalur transmisi maka kita akan mengembangkan melalui off-grid ,” tutur Chrisnawan.

Senada, Wakil Presiden Eksekutif Divisi Energi Baru dan Terbarukan PLN, Cita Dewi mengungkapkan bahwa PLN mempunyai komitmen untuk meningkatkan pengembangan energi terbarukan. Hanya saja, akibat pandemik COVID-19, PLN masih berhadapan dengan kondisi permintaan energi listrik yang rendah. “Krisis permintaan ini kemungkinan akan berlangsung 2 hingga 3 tahun ke depan.

Namun pendekatan yang kami lakukan untuk mengejar target energi terbarukan diantaranya mempercepat penyelesaian pembangkit listrik surya, air, geothermal, dan mempertimbangkan untuk mengkonversi 5000 pembangkit listrik tenaga diesel dengan surya. Potensinya sebesar 2 GW,” jelas Cita. Dari sisi pengembang, Andhika Prastawa, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), menuturkan bahwa hasil kajian tersebut bermanfaat bagi pengembang untuk menggali lebih banyak peluang untuk berinvestasi PLTS di Indonesia.

Hanya saja, menurutnya, hal ini tetap harus selaras dengan keberpihakan pemerintah dalam menetapkan kebijakan yang ramah bagi para pengembang PLTS. “Keekonomian PLTS sudah kompetitif, namun hingga kini peraturan net metering masih di 6.5, sebaiknya diubah menjadi 1, sehingga memberikan dampak psikologis yang baik bagi pasar PLTS,” imbuh Andhika.

Sependapat dengan Andhika, Herman Darnel Ibrahim, anggota Dewan Energi Nasional mengharapkan bahwa akan ada pembaharuan dalam kebijakan net metering. Ia juga menegaskan bahwa dari segi instalasi, PLTS merupakan energi terbarukan yang paling mudah dikembangkan karena tersedia di hampir semua tempat di Indonesia, sehingga mudah dipanen dalam bentuk PLTS, serta mempunyai beragam skala, sehingga cepat dibangun.

Wirawan, Plt. Presiden Direktur, PT PJB Investasi mengapresiasi hasil kajian IESR dan menawarkan untuk menghitung pula potensi teknis dari sekitar 192 bendungan dan waduk yang tersebar di Indonesia. “Daerah tangkapan air di Indonesia kurang lebih sekitar 86 ribu hektar. Ini merupakan potensi yang besar pula untuk pengembangan PLTS apung,”usulnya. Dengan mengirimkan formulir ini, Anda telah setuju untuk menerima komunikasi elektronik tentang berita, acara, dan informasi terkini dari IESR.

Anda dapat mencabut persetujuan dan berhenti berlangganan buletin ini kapan saja dengan mengklik tautan berhenti berlangganan yang disertakan di email dari kami.
Berkembangnya permintaan terhadap instalasi sistem PV menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai menyadari manfaat tenaga surya ini.

Pasar produk-produk solar pun semakin meningkat tidak hanya pada sistem PV, tetapi juga produk-produk lainnya yang memanfaatkan solar.

Akibatnya, peluang bisnis di bidang energi solar pun terbuka lebar. Berikut ini adalah peluang yang terbuka bagi para pengusaha maupun calon pengusaha yang ingin memanfaatkan peluang di bidang tenaga surya ini. 1. Produk solar – Selain solar PV, telah hadir produk-produk solar lainnya yang mulai dimanfaatkan masyarakat, seperti sistem penghangat, solar attic fans, sistem pendingin, pompa solar, lampu jalan, solar gadgets, charger solar, dll.

2. Produk sekunder (aftermarket solar product) – Terdapat pula banyak produk solar yang dapat dijual dengan sasaran pihak yang telah memasang solar di tempatnya. Produk-produk ini berfungsi sebagai pelengkap, seperti solar backup generator, teknologi yang membantu sistem solar memproduksi listrik lebih banyak, maupun teknologi lampu solar daya rendah, dan masih banyak lainnya.

3. Layanan pihak ketiga – Mahalnya biaya investasi sistem PV membuat pelanggan berusaha mencari alternatif metode pembiayaan proyek solar ini. Layanan seperti solar financing yang memberikan pilihan bagi developer solar untuk membiayai proyeknya dengan risiko yang paling kecil dan kemudahan yang optimal akan menjadi layanan yang banyak dicari oleh pelanggan.

Selain solar financing, produk-produk layanan berikut juga dapat dipertimbangkan untuk ide bisnis pemain solar, yaitu solar insurance product, solar cleaning, solar repair, dan solar appraisal (menilai kelayakan suatu proyek solar). Jasa reparasi solar diperlukan untuk memperbaiki komponen yang rusak setelah masa garansi maupun yang tidak termasuk dalam garansi, ataupun maintenance sistem yang efisiensinya sudah berkurang karena umur. 4. Investasi proyek solar – Jika Anda ingin berbisnis di bidang solar, tetapi ingin menghindari aspek teknis dan operasional yang terlalu rumit, Anda dapat berbisnis sebagai investor.

Indonesia dengan proyek solar yang masih berkembang membuat peluang investasi ini menjadi sangat menarik. 5. Pasar niches – solar tidak hanya dapat diterapkan untuk rumah dan gedung bangunan saja, tapi dapat juga diterapkan pada berbagai sistem lainnya, seperti solar untuk RV vehicles, kapal, area pertanian, aplikasi mobile, dll.

6. Penelitian produk solar baru – Jika Anda tertarik dengan sains dan penelitian, Anda juga dapat melakukan penelitian terhadap material yang meningkatkan efisiensi output solar ataupun Anda dapat membuat produk solar baru, seperti yang dilakukan oleh Los Alamos National Laboratory yang mengembangkan jendela solar yang disebut “ Quantum Dot Solar Window” sehingga kedepannya pengguna bisa jadi tidak perlu memasang panel lagi di atap rumahnya, dan hanya perlu menggunakan jendela ini.

7. Produk-produk informasi – Desain dan instalasi sistem PV termasuk keahlian khusus yang memerlukan pelatih berpengalaman. Anda dapat membuat video instruksi, kelas training/workshop, maupun buku digital (e-book) untuk membantu orang-orang yang ingin belajar solar. 8. Portal karir di bidang solar – Seiring berkembangnya solar di Indonesia dan belahan dunia, semakin banyak perusahaan-perusahaan solar bermunculan dan membutuhkan pekerja.

Anda dapat membuat situs untuk memfasilitasi perusahaan tersebut mendapatkan karyawannya dan tentunya memfasilitasi para pencari kerja mendapat kesempatan untuk direkrut. 9. Solar retailer – Jika Anda suka berjualan, tetapi tidak ingin pusing memikirkan supply produk serta urusan teknis lainnya, Anda dapat mempertimbangkan untuk menjadi retailer solar. AIQSC (Australia Indonesia Quality Solar Collaboration) adalah salah satunya yang menyediakan franchise retailer ini.

Untuk keterangan lebih lengkap bisa lihat disni. Selain memanfaatkan peluang-peluang bisnis diatas, Anda juga dapat melakukan kegiatan non-profit di bidang energi surya, seperti membuat yayasan yang menyediakan listrik berbasis energi surya untuk orang-orang yang membutuhkan; yayasan yang membantu agar tercapainya kebijakan yang mendukung pemanfaatan tenaga surya di Indonesia, ataupun komunitas untuk mempromosikan kesadaran mengenai energi surya, dll.

Untuk melihat peluang lainnya di bidang tenaga surya, Anda dapat mengunjungi situs berikut. sumber: https://www.linkedin.com/pulse/peluang-bisnis-di-bidang-tenaga-surya-putri-nhirun?trk=hp-feed-article-title-like
• HOME • NEWS • Politik dan Hukum • Ekonomi • Humaniora • Megapolitan • Nusantara • Internasional • Olahraga • VIEWS • Editorial • Podium • Opini • Kolom Pakar • Sketsa • FOTO • VIDEO • INFOGRAFIS • WEEKEND • SEPAK BOLA • SAJAK KOFE • OTOMOTIF • TEKNOLOGI • RAMADAN • LAINNYA • Live Streaming • Media Guru • Telecommunication Update POTENSI penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia belum maksimal dimanfaatkan.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia menunjukkan potensi energi surya di Indonesia diperkirakan 207.898 Megawatt (MW), paling besar jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia dibandingkan dengan energi terbarukan yang dimiliki negara ini antara lain air 75.091 MW, angin 60.647MW dan panas bumi jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia MW.

Meski demikian, potensi itu belum terealisasi karena salah satu tantangan investasi PLTS ialah biaya yang cukup besar. "Indonesia dan Malaysia masih menyubsidi listrik yang sumbernya dari batu bara dan gas, padahal industri PLTS ini sudah termasuk kompetitif bisa dijalankan tanpa subsidi dan dari segi lingkungan dapat mengurangi jejak karbon yang berdampak pada perubahan iklim," ujar Managing Director Xurya Eka Himawan dalam acara lokakarya media mengenai energi terbarukan yang diselenggarakan Mongabay Indonesia dan Lembaga Swadaya Masyarakat Hivos yang berlangsung pada Jumat (6/12) hingga Minggu (8/12).

Menurut Eka, kapasitas PLTS atau solar panel yang sudah terinstal baru 78,5 MW atau pemanfaatan 0,04% dari total potensi yang ada. Disampaikannya, investor akan tertarik mengembangkan PLTS di Indonesia apabila harganya bersaing. Sejauh ini, pemasangan instalasi energi surya di Indonesia, terang Eka, banyak dimanfaatkan oleh industri atau pengguna listrik surya atap (solar rooftop) tapi belum secara masif digunakan.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

Berdasarkan Undang-Undang No. 30/2007 tentang Energi bahwa Indonesia menargetkan bauran energi dari terbarukan sebesar 23% pada 2023. Ia pun mengatakan PLTS penting untuk dipertimbangkan sebagai salah satu sumber energi terbarukan pada masa mendatang untuk keberlanjutan energi ketika batu bara dan gas habis.

"PLTS sangat potensial di Indonesia karena terletak di garis ekuator sehingga sinar matahari cenderung konstan didapatkan," ucapnya. Pemerintah, lanjut Eka, sudah memberikan ruang dalam Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT PLN, ada nilai keekonomisan yang bisa didapat para pengguna.

Beleid yang diterbitkan 15 November 2018 tersebut menyebutkan penghitungan nilai kilo watt per hour (kWh) ekspor-impor yang dikali 65% atau senilai 0,65.

"Semakin banyak permintaan pembangkit listrik surya atap, instalasinya semakin murah," tuturnya. Baca juga: UNS Rintis Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Pacitan Biaya investasi untuk pemasangan PLTS Atap, imbuhnya, berada dikisaran Rp12-14 juta per kilo watt peak.

jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia

Ada perbedaan nilai investasi antara sistem panel surya yang inverter On Grid yang dikombinasikan dengan suplai litrik dari PLN dengan off grid. Untuk sistem off grid atau 100% tidak menggunakan listrik dari PLN, ada investasi tambahan yang harus dikeluarkan karena penggunaan baterai lithium yang masih impor karena pabriknya belum ada di Indonesia.

Sementara itu, Guru Besar Teknik Elekto dari Universitas Trisakti Prof. Syamsir Abduh yang sempat menjadi anggota Dewan Energi Nasional menuturkan persoalan harga menjadi tantangan energi terbarukan tidak jalan di Indonesia. Energi terbarukan, kata dia, masih dianggap mahal. "Kalau harga lebih mahal, pemerintah wajib menyubsidi tidak ada alasan. Energi terbarukan memang saat ini lebih mahal dari energi fosil, tapi ongkos lingkungannya tidak diperhitungkan," tegasnya.

Sementara itu, Chairman Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Surya Darma menjelaskan perkembangan energi terbarukan di Indonesia cenderung stagnan sebab dari segi pendanaan untuk investasi dan sumber daya manusia yang mampu mengembangkannya masih terbatas. Saat ini, dipaparkannya bauran energi secara nasional masih didominasi batu bara (64%). Sedangkan energi terbarukan 7 hingga 8% dari total bauran energi nasional. Sementara pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025 dan 31% pada 2050.

Target ini dipandang ambisius. Apabila pemerintah hanya bergantung dari dana riset yang nilainya 0,001% maka teknologi untuk pemanfaatan dan pengembangan jelaskan potensi konversi energi tenaga surya di indonesia terbarukan sulit terealisasi.

Pasalnya, diperkirakan dibutuhkan investasi sebesar 98 juta USD untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia. "Energi terbarukan masih baru dimanfaatkan dalam skala kecil. Padahal dalam pengembangannya bisa menggunakan potensi setempat seperti angin, tenaga air dengan mikrohidro, atau panel surya dari matahari untuk mengaliri listrik ke wilayah yang belum terjangkau PLN," tukasnya.(OL-5)

Fakta Menarik Sumber Energi Terbarukan Beserta Contohnya




2022 www.videocon.com