Pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, احرص على ما ينفعك وا ستعن بالله و لا تعجز "Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangan engkau lemah."(HR. Muslim) sebagaimana hadits mulia diatas, dan InsyaALLAH ilmu yang kita tekuni sekarang - ilmu dunia red.- adalah ilmu yang bermanfaat jika kita memang menggunakannya untuk menuju dalam hal kebaikan, maka marilah kita bersemangat menjalaninya, menjauhi sikap lemah dan senantiasa selalu memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan.

• Aktifitas Ritmik (1) • Atletik (1) • Beasiswa Olahraga (1) • Belajar Gerak (Motorik) (1) • Biomekanika Olahraga (1) • Bola Basket (3) • Curhatan Mahasiswa (1) • Daily Activity (1) • English First (1) • Evaluasi Pembelajaran Penjas (1) • Gold Messenger (2) • Ilmu Alamiah Dasar (Basic Natural Science) (2) • Ilmu Faal Lanjut (1) • Ilmu Kepelatihan (1) • IMORI (Ikatan Mahasiswa Olahraga Indonesia) (5) • Karya Tulis Ilmiah Populer (1) • Kewirausahaan (1) • Komentar penulis (1) • Kurikulum 2013 (9) • Leadership Camp 2013 (1) • Manajemen Olahraga (2) • Massage (1) • MAWAPRES 2014 (Mahasiswa Berprestasi) (2) • Pendidikan Jasmani dan Olahraga Adaptif (1) • Pendidikan Rekreasi (1) • Penelitian Pengajaran (1) • Pengembangan Kurikulum (1) • PPC (Pencegahan dan Perawatan Cidera) (1) • Profesi Kependidikan (3) • Psikologi Olahraga (6) • Renang (1) • Research PKM Dikti 2013 (5) pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas Sarana dan Prasarana Olahraga (1) • Seminar Olahraga (3) • Senam Lantai (1) • Sport Injuries (2) • teknologi pembelajaran (1) • Tes dan Pengukuran Pendidikan Jasmani/Olahraga (1) • Tulisan sederhana merajut makna (1) • Twitter Blog Pintar Olahraga Pendidikan (1) • volleyball (1) Evaluasi merupakan kemampuan dasar yang mutlak harus dimiliki setiap guru atau calon guru.

Karena evaluasi menunjukan bahwa pada semua model kompetensi dasar guru selalu menggambarkan dan mensyaratkan adanya kemampuan guru dalam mengevaluasi pembelajaran.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu dalam rangka pembuatan keputusan.

Berdasarkan pengertian ini, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan lebih lanjut, yaitu : • Evaluasi adalah suatu proses bukan hasil (produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti.

Membahas tentang evaluasi berarti mempelajari bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas sesuatu. • Tujuan evaluasi adalah untuk menentukan kualitas sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti.

S.Hamid Hasan (1998). Pemberian nilai dan arti yang digunakan oleh Scriven (1967) adalah formatif dan sumatif. Jika formatif dan sumatif merupakan fungsi evaluasi, maka nilai dan arti adalah hasil kegiatan yang dilakukan oleh evaluasi. • Dalam proses evaluasi harus ada pemberian pertimbangan (Judgment). Ini merupakan konsep dasar dari evaluasi.

Melalui pertimbangan inilah ditentukan nilai dan arti/makna dari sesuatu yang sedang dievaluasi. Tanpa pemberian pertimbangan, suatu kegiatan bukanlah termasuk kategori kegiatan evaluasi. • Pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti haruslah berdasarkan kriteria tertentu. Tanpa kriteria yang jelas, pertimbangan nilai dan arti yang diberikan bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi. Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses, merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.

Sesuai dengan pengertian diatas maka setiap kegiatan evaluasi merupakan proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi data, berdasarkan data tersebut kemudian di coba membuat suatu keputusan. Tujuan Evaluasi Dengan mengetahui makna evaluasi dari beberapa pendapat, maka dapat dijelaskan bahwa tujuan evaluasi ada beberapa hal: • Sebagai tujuan seleksi • Sebagai tujuan • Sebagai tujuan penempatan • Sebagai pengukur keberhasilan Fungsi Evaluasi dalam proses belajar mengajar • Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.

• Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. • Untuk keperluan bimbingan dan konseling (BK) • Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.

• Aktifitas Ritmik (1) • Atletik (1) • Beasiswa Olahraga (1) • Belajar Gerak (Motorik) (1) • Biomekanika Olahraga (1) • Bola Basket (3) • Curhatan Mahasiswa (1) • Daily Activity (1) • English First (1) • Evaluasi Pembelajaran Penjas (1) • Gold Messenger (2) • Ilmu Alamiah Dasar (Basic Natural Science) (2) • Ilmu Faal Lanjut (1) • Ilmu Kepelatihan (1) • IMORI (Ikatan Mahasiswa Olahraga Indonesia) (5) • Karya Tulis Ilmiah Populer (1) • Kewirausahaan (1) • Komentar penulis (1) • Kurikulum 2013 (9) • Leadership Camp 2013 (1) • Manajemen Olahraga (2) • Massage (1) • MAWAPRES 2014 (Mahasiswa Berprestasi) (2) • Pendidikan Jasmani dan Olahraga Adaptif (1) • Pendidikan Rekreasi (1) • Penelitian Pengajaran (1) • Pengembangan Kurikulum (1) • PPC (Pencegahan dan Perawatan Cidera) (1) • Profesi Kependidikan (3) • Psikologi Olahraga (6) • Renang (1) • Research PKM Dikti 2013 (5) • Sarana dan Prasarana Olahraga (1) • Seminar Olahraga (3) • Senam Lantai (1) • Sport Injuries (2) • teknologi pembelajaran (1) • Tes dan Pengukuran Pendidikan Jasmani/Olahraga (1) • Tulisan sederhana merajut makna (1) • Twitter Blog Pintar Olahraga Pendidikan (1) • volleyball (1) Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing.

Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.

Ralph W. Tyler, yang dikutif oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating, obtaining and providing pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas information for judging decision alternatif.

Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data. Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.

Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran.

Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.

Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “ Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior” Pengertian penilaian yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti BaikSedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) “ The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules” JANGAN LUPA KLIK IKLANNYA YAA.

1 X KLIK SANGAT BERARTI Anda sedang membaca artikel Evaluasi Belajar Penjas. Terimakasih atas kunjungan serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Jika memang bermanfaat, Anda boleh menyebarluaskannya dan jangan lupa untuk menyertakan sumber link dibawah ini: https://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2012/04/evaluasi-belajar-penjas.html
.

Adil dan objektif Kata adil dan objektif itu mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk direalisasikan menjadi sebuah tindakan. Dalam melakukan proses evaluasi pembelajaran, maka yang paling utama wajib dimiliki oleh guru adalah bersifat adil dan objektif terhadap siswa. Guru tidak pilih kasih terhadap siswa. Siapapun mereka kalau tidak memenuhi standar untuk mendapat nilai baik, maka harus ditulis apa adanya.

Guru juga harus memandang siswa pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas pandang bulu dan melakukan penilaian dengan menjauhkan diri dari sikap like and dislike, perasaan serta prasangka negatif lain.

Guru harus menilai siswa sesuai dengan kenyataan dilapangan yang sebenarnya. Komprehensif Ketika guru ingin melakukan evaluasi terhadap siswa, maka harus dilihat secara utuh kepribadian siswa. Guru tidak cukup hanya dengan mengevaluasi aspek kognitif an sich dengan mengabaikan aspek lainnya, seperti afektif dan psiomotorik. Kalau guru hanya melihat bagian aspek tertentu saja terhadap siswa, maka evaluasi tidak akan sempurna atau bahkan bisa salah paham.

Sebagai sebuah contoh, ada guru melihat siswanya sangat pintar dalam mengerjakan soal dan berdiskusi. Murid itu seakan sangat pintar sehingga sang guru langsung memberikan siswa itu nilai yang tinggi tanpa memperhitungkan aspek lainnya. Ini sungguh proses evaluasi yang kurang komferehensip. Bisa saja siswa itu hanya handal secara kognitif tapi lemah dalam aspek afektif dan psiomotorik.

Evaluasi yang baik harus dilakukan secara menyeluruh. Kontinuitas Proses pembelajaran itu dilakukan secara terus menerus.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Tidak jauh beda dengan evaluasi. Melihat siswa tidak hanya pada saat melakukan evaluasi sekarang, tapi hasil evaluasi sebelumnya juga menjadi komparasi. Proses perkembangan siswa bisa dipantau dengan baik apabila ada komparasi antara hasil evaluasi yang sekarang dengan evaluasi yang sebelumnya.

Perkembangan peserta didik akan jelas dengan melakukan komparasi itu. Jadi, perkembangan peserta didik terus dipantau mulai dari input, proses hingga out pout. Evaluasi dengan system kontinuitas ini akan menjadikan evaluasi lebih bermakna holistic.

Kooperatif Dalam melakukan proses evaluasi, guru tidak bisa berdiri sendiri. Evaluasi itu akan berjalan dengan baik apabila guru mampu melakukan proses kerja sama yang baik dengan pelbagai pihak; mulai dari keluarga peserta didik, guru BK, wali kelas, kepala sekolah dan elemen-elemen lain dalam sekolah.

Jalinan kerja sama itu menjadi penting karena guru bisa mempunyai pandangan yang lebih luas terhadap perkembangan peserta didik dan hasil evaluasi pun mampu membuat semua pihak merasa puas.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Praktis Guru mesti menggunakan alat evaluasi yang mudah dicerna dan dipahami oleh peserta didik atau pun guru lain yang akan menggunakan alat tersebut. Dalam membuat soal, guru harus membuat dengan sesederhana dan sejelas mungkin, baik itu dalam aspek bahasa, petunjuk dalam mengerjakan atau pun isi soal itu sendiri. Tidak sedikit guru yang pintar dan cerdas tapi kadang belum tentu mampu memberikan penjelasan serta petunjuk pada orang lain.

Kecerdasannya seakan tidak akan banyak berarti tanpa diiringi dengan metode atau cara yang jelas terhadap peserta pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas. Ini juga berlaku dalam proses evaluasi belajar mengajar. Memilih instrumen yang tepat dan membuat petunjuk serta soal yang jelas menjadi prinsip dasar evaluasi pembelajaran.

Follow-up atau tindak lanjut Hasil evaluasi pembelajaran tidak hanya dijadikan arsip mati yang harus disimpan dalam rak. Hasil evaluasi itu mesti ditindaklanjuti dengan aksi nyata oleh guru atau pun pihak sekolah. Kalau evaluasi tidak di follow-up dengan aksi nyata, maka evaluasi tidak lebih hanyalah sebatas ritual formal yang tidak akan memberikan efek apa-apa terhadap kualitas belajar mengajar. Hasil evaluasi mesti ditindaklanjuti dengan perbaikan nyata oleh guru, baik itu dalam aspek strategi pembelajaran atau pun factor siswa iu sendiri.

Dengan tindak laut ini, proses belajar mengajar akan terus perkembangan menuju perbaikan demi perbaikan. Tahu tidak teman-teman kalau keberhasilan seorang guru dalam tugas mengajar, dapat dilihat dari hasil yang dicapai oleh anak didiknya.

Bagaimana seorang pendidik dapat mengetahui apakah peserta didiknya maju dalam belajarnya kalau tidak mengadakan penilaian terhadap hasil belajarnya. Demikian pula, bagaimana seorang guru dapat mengetahui bagian-bagian pelajaran yang manakah yang dianggap sukar oleh para peserta didik, kalau ia tidak mengadakan penilaian secara teliti terhadap hasil-hasil yang dicapai oleh mereka. Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya, dapat dilihat dari hasil yang dicapai oleh para peserta didiknya.

Hasil kegiatan evaluasi tersebut akan memberikan gambaran kepada guru dalam menyusun program berikutnya.Dengan demikian akan memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan program perbaikan (remedial). • Evaluasi secara harfiah berasal dari bahasa Inggris ”Evaluation” yang dalam bahasa Indonesia berarti ”Penilaian”. (Anas: 2011) • Evaluasi / Penilaian adalah pengambilan Keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan kriteria tertentu.

(Purwanto: 2011) • Evaluasi Pendidikan (educational evaluation) secara hafiah dapat diartikan sebagai: Penilaian dalam (bidang) Pendidikan atau Penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.

(Anas: 2011) • Menurut Lembaga Administrasi Negara (LAN) Indonesia, Evaluasi Pendidikan adalah: Evaluasi dalam Pendidikan Jasmani, bertitik tolak dari tujuan pendidikan jasmani itu sendiri. Tujuan pendidikan jasmani bersifat majemuk, mencakup perkembangan yang bersifat menyeluruh meliputi aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan moral.

Hal ini sesuai dengan hakekat evaluasi sebagai upaya yang berencana untuk mengetahui seberapa jauh tujuan program berhasil. Karena itu evaluasi dalam pendidikan jasmani, terikat dengan pemahaman terhadap tujuan pendidikan jasmani. Evaluasi hasil belajar biasanya dilakukan pada akhir catur wulan, semester akhir tahun pelajaran atau pada akhir jenjang tingkat pendidikan, berupa ujian penghabisan atau evaluasi belajar tahap akhir.

Evaluasi pada akhir studi suatu jenjang tingkat pendidikan tertentu dimaksudkan sebagai tanda berakhirnya studi. 1) Evaluasi Formatif.

Evaluasi formatif pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar, setelah peserta didik selesai mengikuti program satuan pelajaran tertentu. Jika guru telah selesai mengajarkan suatu bahan atau beberapa satuan bahan pelajaran kepada kelas tertentu, guru perlu mengadakan evaluasi hasil belajar peserta didiknya, untuk mengukur hingga di mana daya serap peserta didik.

Dengan demikian evaluasi formatif atau sering disebut evaluasi harian diharapkan guru dapat memperbaiki program pembelajaran ataupun strategi pelaksanaannya. Oleh karena itu, fungsi dari pada evaluasi ini terutama ditujukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar melalui proses pengayaan materi ajar. 2) Evaluasi Sumatif. Evaluasi sumatif adalah evaluasi terhadap hasil belajar setelah selesai mengikuti materi pelajaran tertentu dalam satu caturwulan atau akhir semester.

Oleh karena itu evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai peserta didik selama satu semester. Jadi fungsinya untuk mengetahui kemajuan peserta didik. Dari hasil evaluasi sumatif ini dapat memberikan informasi kepada orang tua tentang kemampuan anaknya selama belajar, sehingga orang tua dapat mendorong anaknya untuk lebih giat belajar.

3) Evaluasi penempatan atau evaluasi kedudukan ranking. Evaluasi penempatan ialah evaluasi keadaan pribadi peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar-mengajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didik tersebut. Evaluasi penempatan dimaksudkan juga sebagai penilaian dalam penempatan kedudukan/ranking peserta didik dalam kelompoknya.

4) Evaluasi Diagnostik Evaluasi diagnostik adalah evaluasi terhadap hasil analisis keadaan belajar peserta didik mengenai kesulitan-kesulitan atau hambatan-hambatan yang dihadapinya dalam situasi belajar-mengajar.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Tujuan evaluasi diagnostik adalah untuk melihat kelemahan-kelemahan peserta didik serta faktor penyebabnya yang mengganggu kelancaran jalannya program pengajaran satu atau seluruh bidang studi.

Peserta didik merasa takut melakukan gerakan-gerakan tertentu pada cabang olahrga yang diajarkan, hal ini guru Penjasorkes perlu mengetahui cara mengatasinya. Guru ataupun pengelola pengajaran mengadakan penilaian dengan maksud melihat apakah usaha yang dilakukan melalui pengajaran sudah mencapai tujuan.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa tujuan evaluasi secara umum adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya perubahan pada diri peserta didik serta tingkat perubahan yang dialaminya setelah ia mengikuti proses belajar mengajar. Tetapi sebenarnya hal tersebut baru merupakan sebagian dari tujuan evaluasi dalam arti yang sebenarnya.

Seperti yang dikemukakan Moelyono Biyakto Atmodjo dan Sarwono (2002:6) tujuan evaluasi terhadap peserta didik di antaranya yang penting adalah: • Untuk mengetahui sampai sejauh mana potensi peserta didik itu berada. • Untuk mengadakan seleksi • Untuk mengetahui apa yang telah dicapai peserta didik dalam pelajaran Penjasorkes. • Untuk mengetahui letak kelemahan-kelemahan atau kesulitan-kesulitan yang dialami para peserta didik. • Untuk memberi bantuan dalam pengelompokan peserta didik untu tujuan-tujuan tertentu.

Misalnya pengelompokan diadakan untuk bermain bola voli, agar kedua tim yang bertanding kira-kira sama kuatnya. • Memberi dorongan atau motivasi bagi peserta didik dalam berolahraga • Memberikan bantuan dalam bimbingan ke arah pemilihan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan peserta didik.

• Memberikan data bukti untuk dilaporkan kepada orang tua dan juga kepada masyarakat yaitu pihak-pihak yang memerlukan keterangan tentang seorang peserta didik.

Laporan itu dapat berbentuk surat keterangan, sertifikat, rapor, tanda tamat belajar, ijazah dan lain-lain. • Memberikan data untuk keperluan penelitian atau riset. • Memuaskan Jika peserta didik memperoleh hasil yang memuaskan, dan hal itu menyenangkan, tentu kepuasan itu ingin diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu. Akibatnya, peserta didik akan mempunayai motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat, agar lain kali mendapat hasil yang lebih memuaskan lagi.

• Tidak memuaskan Jika peserta didik tidak puas dengan hasil yang diperoleh, ia akan berusaha agar lain kali keadaan itu tidak terulang lagi. Maka ia lalu belajar giat. Namun demikian, keadaan sebaliknya dapat terjadi.

Ada beberapa peserta didik yang lemah kemauannya, akan menjadi putus asa dengan hasil kurang memuaskan yang telah diterimanya. • Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui peserta didiknya mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui peserta didik yang belum berhasil menguasai bahan. Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatiannya kepada peserta didik yang belum berhasil.

• Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi peserta didik, sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan. • Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika sebagian besar dari peserta didik memperoleh angka jelek pada penilaian yang diadakan, mungkin hal ini disebabkan oleh pendekatan atau metode yang kurang tepat. • Apabila guru-guru mengadakan penilaian dan diketahui bagaimana hasil belajar peserta didiknya, pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas diketahui pula apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.

Hasil belajar merupakan cermin kualitas sekolah. • Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan datang.

• Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ke tahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah sudah memenuhi standar atau belum.

Pemenuhan standar akan terlihat dari bagusnya angka-angka yang diperoleh peserta didik. Hasil evaluasi yang diperoleh secara objektif, akan memberikan umpan balik bagi guru sehingga guru dapat memperbaiki kelemahan yang ada pada dirinya, merevisi bahan ajar yang sudah tidak relevan dengan tujuan pengajaran dewasa ini, menyempurnakan metode pembelajaran. Sedangkan umpan pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas bagi peserta didik, yaitu dapat mengetahui kemampuannya dalam mengikuti pelajaran di sekolah, mengetahui kelemahan yang ada pada dirinya, mengetahui kemajuan perkembangan hasil belajarnya dan kedudukannya di kelas jika dibandingkan dengan peserta didik lainnya.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

• Membangkitkan motivasi belajar. Mutu hasil belajar peserta didik di sekolah akan mencerminkan kualitas dari lembaga/sekolah itu.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Bersumber dari hasil evaluasi hasil belajar peserta didik dapat dijadikan bahan informasi bagi monitoring dan pengendalian proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah, sebagai salah satu upaya kendali mutu sekolah tersebut.• Memenuhi kebutuhan program evaluasi Data yang diperoleh dari hasil pengukuran, akan memberikan gambaran kelebihan dan keunggulan dari subjek atau objek tersebut.

Informasi ini dapat dijadikan acuan dalam menyusun program evaluasi yang akan dilaksanakan di sekolah/lembaga itu, terutama mengenai bahan masukan, proses dan hasilnya.• Membuat keputusan yang lebih baik tentang pengelompokan peserta didik. Penentuan kelompok-kelompok peserta didik berdasarkan kemampuannya akan sangat membantu dalam pengajaran motorik atau keterampilan.

Bagi peserta didik yang memiliki kemampuan motorik yang lebih baik akan lebih cepat menguasai gerakan-gertakan tersebut sehingga mereka akan lebih banyak memperoleh pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas ajar.• Meningkatkan kualitas sekolah. Dalam menentukan kelulusan peserta didik, evaluasi memberikan peran yang sangat penting. Oleh karena dalam penentuan kelulusan peserta didik harus didasarkan atas evaluasi yang objektif.

Hasil evaluasi yang objektif dapat dicapai apabila dalam pelaksanaan evaluasinya memperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan evaluasi, yaitu evaluasi harus objektif, kontinyu dan komprehensif. Ketepatan dalam memilih program studi di sekolah, akan membantu terhadap kesuksesan peserta didik dalam belajarnya. Selain dari itu ketepatan dalam memilih program studi, akan memberikan motivasi peserta didik dalam kegiatan belajarnya, sehingga dalam kegiatan belajarnya terdorong untuk meraih prestasi yang lebih baik.

Setiap proses belajar mengajar sudah pasti memerlukan proses evaluasi. Proses belajar tidak akan diketahui secara pasti apa bila tidak melaksanakan proses evaluasi. Apabila guru mengajarkan suatu keterampilan menendang, maka guru itu harus mengevaluasi kemampuan siswa dalam gerakan tendangan tadi.

Apakah siswa sudah mampu melkukan gerakan menendang? Apakah keterampilan siswa sudah melekat, apakah gerakan menendang sudah akurat terhadap sasaran?

Gerakan apa yang harus diperbaiki dan gerakan apa yang perlu dipertahankan. Demikian pula apa bila guru mengajar dalam suatu periode yang lama, beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan keberhasilan mengajar akan muncul. Sehubungan dengan jawaban atas semua pertanyaan diatas, maka evaluasi harus dilaksanakan. Tanpa evaluasi pertanyaan tersebut tidak akan dapat dijawab dengan memuaskan.

Karena itu dapat dikatakan: evaluasi merupakan bagian integral dari suatu proses belajar mengajar. Evaluasi berfungsi salah satu cara memantau perkembangan belajar dan mengetahui seberapa jauh pengajaran dapat dicapai oleh siswa.

Faktor yang sangat penting dalam evaluasi adalah guru-guru itu sendiri harus memiliki sikap dasar yakni memahami evaluasi sebagai tahap kegiatan yang perlu dilaksanakan sebaik-baiknya, sehingga pelaksanaan evaluasi berlangsung menurut prosedur yang dapat di pertanggung jawabkan dan hasilnya relative objektif dan fair.

Menurut Ralp C. Davis menyatakan bahwa Keputusan ialah suatu hasil pemecahan masalah pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan adalah suatu jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus menjawab sebuah pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan suatu perencanaan.

Keputusan bisa pula berupa suatu tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula. Telah disebutkan sebelumnya bahwa evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan standar kriteria. Pengukuran dan evaluasi merupakan dua kegiatan yang berkesinambungan. Evaluasi dilakukan setelah dilakukan pengukuran dan keputusan evaluasi dilakukan berdasarkan hasil pengukuran. Pengambilan keputusan dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria yang ditetapkan.

Oleh karena itu, terdapat dua kegiatan dalam melakukan evaluasi yaitu melakukan pengukuran dan membuat keputusan dengan membandingkan hasil pengukuran dan kriterianya. Pertimbangan atau penilaian yang cermat sangat dibutuhkan dalam pembuatan keputusan dibidang pendidikan.

Realisasi pencapai tujuan pendidikan banyak tergantung pada kecermatan keputusan yang dibuat oleh para pembuat keputusan. Karena itu pengumpulan data yang cermat merupakan prasyarat bagi pembuat penilai yang baik. Dengan demikian penilain melibatkan penggunaan tes dan pengukutan yang teliti pula.

Semakin teliti informasi yang diperoleh, semakin baik keputusan yang diambil. Sebagai contoh seorang guru penjas ingin mengetahui berapa rata-rata tinggi badan para siswa SMP kelas 1, jumlah siswa ada 50 orang. Untuk mengetahui kebutuhan tersebut, guru yang yang bersangkutan perlu melakukan pengukuran tinggi badan para siswa dengan mempergunakan alat pengukuran yang dapat dipercaya ( yang telah di tera / kalibrasi) sehingga dapat di peroleh data tinggi badan yang cermat.

Secara harfiah kata “test” berasal dari kata bahasa prancis kuno yaitu testum yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia,dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi tes yang berarti ujian atau percobaan.

Jadi, tes adalah alat untuk memperoleh informasi berupa sifat suatu objek atau manusia. Sebuah tes adalah sebuah instrumen yang dipakai untuk memperoleh informsi tentang seseorang atau objek. Tes adalah alat ukur yang dapat digunakan untuk memperoleh data yang objektif tentang hasil belajar peserta didik. Tes dapat berupa pertanyaan tertulis, wawancara, pengamatan, tes kemampuan fisik dan tes keterampilan olahraga dan lain-lain.

Tes lisan, dilakukan secara berhadapan antara yang mengetes (testor) dengan yang dites (testee). Data yang bersifat afektif dapat dihimpun melalui bentuk skla sikap sosial, sportivitas atau angket atau observasi secara langsung terhadap objektif yang akan diukur. Sedangkan data atau informasi yang bersifat psikomotor dapat dilakukan melalui tes kemampuan gerak dasar, tes kebugaran jasmani, tes keterampilan pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas, dll.

Mulyono Biakto Atmojo dan Sarwono (2002:7) mengemukakan: Tes adalah suatu alat pengumpul data yang dirancang khusus. Sebagai alat pengumpul informasi atau data, tes harus dirancang secara khusus. Kekhususan tes terlihat dari bentuk soal tes yang digunakan. Biasanya yang dites yang meliputi tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Domain kognitif ini mencakup tujuan yang berkenaan dengan kemampuan untuk mengingat atau mengutarakan kembali pengetahuan dan perkembangan kemampuan dan intelektual.

Pengukuran domain kognitif ini berhubungan dengan teknik, peraturan dan strategi-strategi olahraga, konsep sehubungan dengan pengembangan dan cara mempertahankan kesegaran jasmani dan lain-lain.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Bila tes diabaikan, proses belajar mengajar akan berlangsung tanpa kejelasan tentang seberapa jauh tujuan pengajaran yang telah dicapai, sehingga sukar ditentukan unsur pengajaran yang telah tercapai dan sukar ditentukan unsur pengajaran yang harus diperbaiki.

Perhatikan contoh tes kemampuan fisik berikut ini. Tes Push-Up Guru mencatat jumlah gerakan yang berhasil dilakukan peserta didik dengan sempurna selama 60 detik Selanjutnya Rusli Lutan dan Adang Suherman (1999/2000) mengemukakan kriteria tes antara lain yakni validitas, reliabilitas dan objektivitas.

Ketiga persyaratan tes tersebut akan dibahas satu persatu: a) Validitas Validitas didefinisikan seberapa baik sebuah tes mengukur apa yang ingin diukur. Suatu alat ukur dikatakan sahih (valid) bila ia benar-benar sesuai dengan apa yang hendak diukur atau sesuai dengan tujuan-tujuan mata ajaran yang telah ditetapkan.

Jadi alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur tersebut mengukur objek dengan tepat dan sesuai dengan gejala yang akan diukur. Sebagai contoh : • Meteran tepat mengukur panjang benda • Kilogram tepatnya mengukur berat benda b) Reliabilitas Reliabilitas menyangkut ketepatan hasil alat pengukuran. Suatu alat pengukuran mempunyai reliabilitas tinggi atau dapat dipercaya, dalam pengertian bahwa alat pengukuran tersebut stabil, dapat pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas dan dapat diramalkan.

Suatu alat pengukur tersebut berkali-kali akan memberikan hasil yang serupa. Misalnya alat penimbang berat yang masih baik bila digunakan menimbang benda yang sama beratnya, selalu memberikan hasil yang sama. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa timbangan berat tersebut reliabel.

c) Objektivitas Dalam pengertian sehari-hari dapat diketahui bahwa objektif berarti tidak ada unsur pribadi pengetes dalam melaksanakan tes.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Sebuah tes dikatakan objektif, bilamana dua orang atau lebih memberikan nilai atau skor yang sama dan bebas dari faktor subyektif dalam sistem penilaiannya. Sebagai gambaran yang lebih nyata adalah, pertama kali pengetes menyelenggarakan tes dan mencatat hasilnya. Kalau hasil yang dicapai oleh masing-masing peserta didik pada penyelenggaraan tes tersebut relatif sama. Hasil tes itu adalah objektif.

Hasil dari pengukuran dinyatakan dalam bentuk angka yang dapat diolah secara statistik. Hasil pengukuran berupa skort misalnya hasil tes pengetahuan si A memperoleh skor, hasil pengukuran berupa waktu, misalnya lari jarak pendek diukur dalam waktu detik. Sedangkan hasil pengukuran berupa jarak misalnya hasil lompat jauh diukur dengan satuan ukuran meter atau centimeter. Hasil pengukuran yang dinyatakan dalam bentuk frekuensi misalnya pengukuran hasil sit-up.

Dengan demikian pengukuran merupakan suatu proses untuk memperoleh data secara objektif dari suatu objek sebagaimana adanya. Dengan demikian pengukuran adalah proses menentukan luas sesuatu yang bersifat kuantitatif.

Melalui kegiatan pengukuran segala program yang menyangkut perkembangan dalam bidang apa saja dapat dikontrol dan dievaluasi.

Alat ukur misalnya ukuran meter, kilogram, stop watch. Dengan alat ukur ini kita menperoleh data, sehingga kita mendapatkan data yang objektif. Dengan demikian pengukuran adalah suatu proses dalam mengumpulkan informasi untuk menentukan tingkat penguasaan seseorang atau partisipan.

Biasanya kita menganggap, pengukuran merupakan penentuan skor secara objektif. Hasil pengukuran dapat dijabarkan dalam istilah waktu, jarak, jumlah atau banyaknya tugas yang harus dilakukan dengan benar. Evaluasi atau penilaian merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh setiap guru, mempunyai arti yang sangat besar bagi keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran guru dan murid.

Evaluasi berasal dari kata ” Evaluation” yang berarti ”menilai”. Menilai lebih dalam maknanya dari mengukur. Dengan mengukur kita akan mendapatkan gambaran sesuatu yang diukur secara kuantitatif. Evaluasi dapat dijadikan ukuran yang dapat dipertanggung jawabkan untuk menilai keberhasilan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh gurunya, apakah proses belajar mengajar berlangsung secara efektif atau malah sebaliknya.

Guru sering terkejut melihat hasil proses belajar mengajar yang menurut gurunya sudah dilaksanakan dengan baik, namunternyata hasil tes menunjukkan kurang baik. Dengan demikian evaluasi merupakan tindak lanjut dari adanya alat ukur (tes) dan pengukuran. Evaluasi merupakan kegiatan yang harus dilakukan terus menerus pada setiap program, karena tanpa evaluasi sulit untuk diketahui kapan, dimana dan bagaimana perubahan-perubahan akan dibuat.

Evaluasi dilaksanakan dalam rangka menggambarkan kemajuan yang dicapai oleh seseorang. Menurut Trisnawati Tamat dan Moekarto Mirman (2008:9.4) Evaluasi atau penilaian mempunyai arti : Usaha guru untuk mengetahui ukuran atau perbandingan guna mendapatkan gambaran tentang, tujuan atau target terhadap penguasaan bahan ajar yang telah dicapai oleh peserta didik.

Kegiatan tersebut dilakukan dengan cara ulangan atau ujian. Pelaksanaannya secara berkala, berkesinambungan dan menyeluruh, dalam bentuk kuantitatif (jumlah) maupun kualitatif (mutu), sesuai dengan ukuran tertentu. Sedangkan Ismaryati (2006:2) mengemukakan “Evaluasi adalah proses pemberian nilai atau harga dari data yang terkumpul.

Data yang terkumpul digunakan sebagai bahan informasi untuk mengambil keputusan, apakah peserta didik memperoleh kemajuan yang berarti”. Dengan demikian evaluasi adalah proses pemberian makna dari data tersebut dengan membandingkan dari acuan norma atau patokan. Dari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa istilah tes hanya suatu alat yang direncanakan untuk memperoleh informasi, pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas pengukuran adalah pemberian angka misalnya mengukur tinggi atau berat seseorang.

Dalam pengukuran kita belum melakukan penafsiran terhadap informasi yang diperoleh. Sedangkan evaluasi adalah suatu proses pemberian nilai/makna terhadap data/informasi yang diperoleh dari hasil tes dan pengukuran. Assessment adalah proses pengumpulam informasi. Assasment berfungsi untuk membantu siswa dalam belajarnya, dan juga berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi siswa.

Bukan hanya sekedar pengumpulan informasi untuk keperluan penilaian. Data yang dihimpun melalui assesment dapat secara langsung dipakai sebagai umpan balik bagi perbaikan atau peningkatan pembelajaran. Pelaksanaan assessment ini lebih bersifat alamiah (tidak dilaksanakan secara resmi) diantara instrument assessment yang sering digunakan guru adalah daftar cek atau borang, dengan ini guru dapat lebih mudah memantau kemajuan belajar dan menentukan materi yang harus diberikan sesuai dengan tingkat kemajuan belajar siswa.

Grading atau penentuan nilai adalah proses menetapkan nilai siswa berdasarkan informasi yang diperoleh melalui assessment atau pengukuran. Proses ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, bergantung pada konsep dasar dan keyakinan gurunya. perbedaan pelaksanaan penentuan nilai merupakan suatu hal yang biasa, dan buakanlah suatu masalah.

Yang menjadi masalah adalah justru para guru tidak menentukan nilai siswa dengan cara yang fair. Komponen apa saja yang harus dipertimbangkan dalam penentuan nilai? Pertanyaan ini merupakan permasalahan yang menarik untuk dijadikan bahan diskusi. • Peningkatan skor hasil belajar cenderung tidak reliabel. • Siswa yang memperoleh skor tinggi pada awal pembelajaran cenderumg memperoleh skor hasil belajar lebih rendah pada akhir program daripada siswa yang memperoleh skor rendah pada awal pembelajaran.

• Siswa mungkin secara sengaja menampilkan kemampuannya tidak maksimal pada awal pembelajaran agar memperoleh skor peningkatan yang lebih baik. 1. Domain kognitif Bertambahnya Kognitif (Pengetahuan) siswa tentang kesegaran jasmani dan sebagai keterampilan gerak merupakan salah satu tujuan pendidikan jasmani sekolah. Selain harus mengumpulkan data perkembangan pengetahuan siswa tentang materi yang sudah di berikan gurunya. Untuk itu guru tersebut harus menentukan : Guru penjas dapat membuat soal yang tidak begitu banyak, tapi di imbangi frekwensi pelaksanaan yang lebih sering.

Misalnya tes pengetahuan untuk satu Kli per semester dengan jumlah soal 30 butir, pelaksanaanya dapat diubah menjadi 3 kali dalam satu semester dengan jumlah soal masing masing 10 butir. Utuk menghemat waktu tes, tes dilakukan beberapa saat saat sebelum siswa pergi kelapangan. Dengan demikian mutu soal dapat meningkat, seperti juga mutu keterwakilannya. Guru tentu sangat sibuk bila 400 orang anak dites pada waktu tes bersamaan. Guru tersebut harus membuat soal untuk semua kelas ( kelas 1 sampai kelas 6) dan guru juga harus memeriksa hasi dan menilainya.

Karena itu perbedaan waktu tes merupakan salah satu alternative untuk memecahkan kesulitan itu. Perbedaan waktu ini diatur agar tidak menyibukan gurunya, misalnya dihari senin dilaksanakan tes di kelas 3, selasa kelas di kelas 4 dan seterusnya.

• Dikoordinasikan oleh sekolah Cara pengetesan lainnya adalah dikoordinir oleh sekolah : • Penyediaan waktu khusus. Pihak sekolahan menyediakan waktu khusus untuk melakukan pengetesan terutama pada tengah catur wulan atau pada akhir catur wulan. Pada sekolah tertentu pemberian waktu khusus tersebut pula sering di ikuti oleh jadwal khusus ujian dan pengawas ujian yang melibatkan seluruh guru. • Pelayanan khusus dari pihak sekolah. Karena guru bidang studi berbeda dengan guru kelas, maka untuk keperluan tertentu, kepala sekolah memberikan layanan khusus untuk guru bidang studi.

Salah satunya caranya adalah meminta bantuan kepada guru • kelas untuk menyisihkan waktu mengajarnya untuk melakukan pengetesan penjas pada masing masing kelas yang di ajarnya. Dalam aplikasinya guru mengadakan tes Afektif (Sikap) untuk mengetahui sikap anak didiknya terhadap aktivitas belajar atau program penjas pada umumnya. Misalnya apakah siswa menyenangi hasil belajar yang diperoleh dan sebagai berikut. Sikap anak didik ini penting diketahui sebagai ukuran untuk melihat kecenderungan gaya hidup siswa pada saat sekarang dan selanjutnya.

Salah satu contoh yang dapat digunakan guru untuk melakukan tes sikap yaitu menggunakan Kartu Ceria. Hampir sama seperti kartu merah dan hijau, guru menyediakan 3 kartu ceria untuk setiap siswa.

Masing – masing terdiri atas kartu yang bergambar muka ceria, muka netral, dan muka muram. Sebelum siswa meninggalkan tempat olahraga, suruh siswa untuk memilih salah satu kartu tersebut dan simpan ditempat yang sudah ditetapkan. Pilihan kartu harus menggambarkan perasaan siswa terhadap kemempuannya atau kesenangannya terhadap pelajaran yang diberikan gurunya. Beberapa contoh pertanyaan yang dianjurkan guru kepada pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas sebelum siswa mengambil kartu ceria sebagai berikut : Perkembangan Psikomotorik (Keterampilan Gerak) merupakan salah satu tujuan program pendidikan jasmani di Sekolah.

Evaluasi terhadap perkembangan keterampilan gerak harus di lakukan,meskipun di anggap lebih sulit dan memakan waktu. Sebab, aspek gerak ini sangat kompleks dan bervariaasi sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

Namun pengukuran perkembangan keterampilan gerak perlu di lakukan tanpa harus menggunakan semua waktu yang tersedia untuk pelajaran penjas. Beberapa cara yang dapat di lakukan antara lain • Tempat Tes yang Menetap Salah satu siasat untuk menghemat waktu pengetesan adalah dengan cara menempatkan pelaksanaan tes yang menetap di lantai, di dinding, atau di lapangan.

Keuntungannya, guru tidak harus selalu membuat lingkaran sasaran pada dinding atau membuat garis batas awal melempar bola, sebab sudah di buat tetap. Untuk itu perlu di pertimbangkan jenis tes yang harus memiliki tempat dan bagaimana pembuatannya sehingga dapat di gunakan untuk bermacam-macam tes.

Keuntungan cara ini, antara lain adalah • Menghemat pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas • Siswa dapat melakukan tes secara mandiri, dan • Guru dapat memperlakukan tes sebagai pusat belajar. • Menilai Komponen Penting Pengukuran keterampilann gerak biasanya menekankan aspek kuantitatif. Misalnya, melemparkan bola masuk ke dinding dalam tempo 30 detik, atau beberapa kali bola masuk ke ring dari 10 kali lemparan. Tapi guru sering tidak puas dengan hanya mengetahui skor atau frekuensi pelaksanaan tugas gerak, seperti contoh tad.

Guru lebih ingin mengetahui lebih jauh mutu gerak lemparannya, misalnya apakah koordinasi geakan melempar siswa sudah cukup baik. Peneilaian yang menekankan aspek kuantitatif (misalnya kualitas gerak) seperti di sebutkan, terkadang cukup banyak menyita waktu.

Namun demikian ada beberapa alternative yang dapat di gunakan guru untuk menghemat waktu. Salah satunya adalah dengan cara hanya mengamati satu komponen terpenting untuk diskusi. Dengan hanya mengamati satu komponen terpenting, maka guru dapat menghemat waktu pengetesan. Pelaksanaan pengamatan tersebut dapat di laksanakan khusus pada waktu tes atau pada waktu PMB berlangsung. • Pada waktu tes Pada saat pelaksanaan tes frekuensi pukulan bulu tangkis kedinding misalnya, guru dapat mengamati posisi kaki siswa karena di anggap penting untuk berpengaruh terhadap pukulan.

Lama waktu yang di perlukan tersebut untuk melihat keajegkan kualitas gerak selama 5 menit atau lebih. Untuk pelaksanaan tes pukulan tersebut, usahakan pengamatan jangan kurang dari 5 menit. • Pada waktu PMB berlangsung Menjelang akhir pelajaran, guru menyuruh siswa untuk melakukan tugas lempar tangkap. Sementara siswanya sibuk melakukan lempar tangkat, gurunya mengamati tampilan semua siswa, apakah komponen terpenting dari lempar tangkap sudah di kuasai oleh sebagian siswa.

Pengamatan misalnya, tertuju pada koordinasi gerak siswa.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Untuk memahami komponen keterampilan yang harus di kuasai oleh siswa, guru penjas mendiskusikannya dengan guru penjas lainnya. Keuntungan cara ini adalah keterampilan guru mengamati semakin cermat. Tes keterampilan gerak juga memiliki banyak komponen gerak yang perlu di tes. Hal ini tentu dapat menyulitkan guru bila semua komponen di tes sekali gus. Karena itu guru perlu memilih dan menilai beberapa keterampilan gerak yang menjadi fokus dalam program pengajaran penjas.

Keterampilan seperti melempar, menangkap, menendang, menggiring, dan memukul bola (dengan tangan, raket, dan bet) merupakan beberapa bentuk keterampilan gerak yang menjadi fokus dalam pengajaran penjas. Sumber: • Daryanto. 1997. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta • Eddy Sowardi Kartawidjaja.1987. Pengukuran dan Hasil Evaluasi Belajar.

pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas

Sinar Baru. Bandung. • http://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-keputusan-menurut-para-ahli-terlengkap/ • https://ismaan.wordpress.com/2015/05/19/definisi-dan-dasar-pengambilan-keputusan/ • Ismaryati. 2006. Tes dan Pengukuran Olahraga. Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Universitas Sebelas Maret.

Surakarta. • Kartawidjaja, Eddy Soewardi.1987. Pengukuran dan Hasil Evaluasi Belajar. Bandung: Pen. Sinar Baru • Lutan, Rusli. 2001. Mengajar Pendidikan Jasmani Pendekatan Pendidikan Gerak di Sekolah Dasar. Jakarta: DEPDIKNAS Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Bekerjasama dengan Dirjen Olahraga • Lutan, Rusli dan Adang Suherman. 2000. Pengukuran dan Evaluasi Penjaskes. Departemen Pendidikan Nasional. Jakartra. • Moelyono Biyakto Atmojo dan Sarwono. 2002. Evaluasi Pengajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

Pusat Penerbit Universitas Terbuka. Jakarta. • Nurhasan. 2009. Penilaian Pembelajaran Penjas. Universitas Terbuka. Jakarta. • Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar • Sudijono, Anas. 2011. Evaluasi Pedidikan. Jakarta; Raja Grafindo Persada • Trisnowati Tamat dan Moekarto Mirman. 2008. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

Universitas Terbuka. Jakarta • ► 2022 (1) • ► February (1) • ► 2021 (9) • ► December (1) • ► August pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas • ► May (1) • ► April (2) • ► February (1) • ► January (3) • ► 2020 (29) • ► December (1) • ► November (1) • ► October (1) • ► September (1) • ► August (1) • ► July (3) • ► June (1) • ► May (3) • ► April (3) • ► March (2) • ► February (5) • ► January (7) • ► 2019 (21) • ► December (8) • ► November (4) • ► October (8) • ► September (1) • ► 2018 (8) • ► December (2) • ► August (1) • ► May (1) • ► April (1) • ► March (3) • ► 2017 (16) • ► December (1) • ► November (1) • ► September (1) • ► August (1) • ► July (3) • ► June (2) • ► May (5) • ► February (2) • ▼ 2016 (23) • ► December (1) • ► October (2) • ▼ September (2) • EVALUASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI • KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN JASMANI • ► August (3) • ► July (2) • ► June (3) • ► May (7) • ► March (2) • ► January (1) • ► 2015 (2) • ► September (1) • ► May (1)
Dalam artikel berikut ini akan dijelaskan beberapa prinsip dalam evaluasi pembelajaran.

Semoga bermanfaat untuk Bapak/Ibu Guru. pengertian prinsip dasar evaluasi pembelajaran penjas Sebagai seorang guru, tahapan evaluasi pembelajaran menjadi salah satu unsur penting dalam proses belajar mengajar. Setelah Bapak/Ibu Guru melakukan transfer knowledge melalui tugas dan materi, kini saatnya melakukan sebuah evaluasi dari apa yang sudah Bapak/Ibu Guru ajarkan.

Kata “evaluasi” yang merupakan serapan dari kata “ evaluation” memiliki kata dasar “ value” yang sangat berkaitan dengan hal baik atau buruk. Yap, value atau nilai inilah yang harus Bapak/Ibu Guru tentukan dalam upaya kefektifan kegiatan belajar mengajar.

Dalam pembelajaran paling tidak ada beberapa prinsip yang menjadi pegangan bagi seorang guru. Apa saja prinsip tersebut? Berikut uraiannya. 1. Kontinuitas Evaluasi dalam pembelajaran bukan hanya dilakukan saat ujian tengah semester atau akhir semester saja. Lebih dari itu, jika Bapak/Ibu Guru ingin melihat perubahan nilai dari siswa harus dilakukan secara berkesinambungan. Artinya, sejak dari tahap penyusunan rencana pembelajaran hingga pelaporannya tetap harus dipantau secara kontinyu.

2. Komprehensif Tidak jarang beberapa guru hanya fokus pada aspek kognitif dari siswanya. Padahal, dua aspek lainnya yakni kognitif dan afektif turut berperan besar dalam proses evaluasi pembelajaran. Sebagai guru memang tidak hanya dituntut bagaimana siswa bisa paham sebuah materi. Guru juga dituntut bagaimana bisa membentuk karakter siswa yang baik hingga bisa memiliki dampak positif di kehidupannya. Oleh karena itu evaluasi pembelajaran yang baik dilakukan dari proses belajar hingga hasil belajar dari siswa.

3. Kooperatif Sejatinya, proses evaluasi pembelajaran yang dilakukan harus berkoordinasi dengan berbagai elemen yang turut andil dalam perkembangan siswa. Mulai dari kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, orang tua, hingga petugas administrasi.

Bahkan, sangat dianjurkan juga bekerjasama dengan siswa itu sendiri. Mengapa? Karena ini bertujuan supaya seluruh elemen yang terlibat dalam evaluasi pembelajaran merasa dihargai atas kerjasama yang dilakukan. Ilustrasi menjalin komunikasi antara guru, siswa, dengan orang tua siswa. (sumber: learnsafe.com) 4. Objektif Penilaian hasil dalam evaluasi belajar haruslah bersifat objektif. Artinya, faktor-faktor subyektif seperti hubungan guru dengan siswa dan faktor perasaan karena merasa tidak tega atau yang lainnya tidak boleh dimasukkan ke dalam evaluasi.

Jika siswa tersebut mendapat nilai yang kurang baik, berarti harus dimasukkan nilai tersebut dengan pemberian catatan untuk memotivasi siswa dan pemberitahuan kepada orang tua.

Baca Juga: 5 Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa 5. Praktis Prinsip evaluasi pembelajaran harus bersifat praktis.

Artinya, kegiatan tersebut harus menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Pada prinsip ini sangat menekankan kemudahan guru untuk menyusun instrumen penilaian yang mudah digunakan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga memungkinkan digunakan oleh guru lain. Seiring dengan kepraktisan tersebut, jangan sampai menghilangkan esensi evaluasi pembelajaran itu sendiri yakni mencapai keoptimalan dari tujuan belajar.

Demikian prinsip dalam evaluasi pembelajaran yang bisa diuraikan dari Blog Ruangguru. Bapak/Ibu Guru kini tidak perlu bingung dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, mulai dari pemberian materi ajar hingga tahapan evaluasi belajar. Kini, Ruangguru menyediakan LMS ( Learning Management System) atau sistem tata kelola pembelajaran yang bisa diakses secara gratis yakni ruangkelas. Nantinya, Bapak/Ibu Guru bisa memberikan materi, menganalisis perkembangan nilai siswa, hingga berdiskusi bersama siswa.

Akses ruangkelas di kelas.ruangguru.com sekarang juga. Sumber Referensi Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Alfin, Jauharoti.

2013. Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia MI. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press Sumber Foto Ilustrasi komunikasi guru, siswa, dengan orang tua. Tautan: https://learnsafe.com/the-importance-of-parent-teacher-communication-about-technology/ Photo by Ono Kosuki from Pexels https://www.pexels.com/photo/crop-black-male-executive-writing-on-paper-sheet-near-laptop-5648033/

Konsep Dasar Evaluasi




2022 www.videocon.com