Dasa dharma

dasa dharma

MENU • Home • SMP dasa dharma Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) 3.11.

Sebarkan ini: Dasa Darma adalah ketentuan moral. Karena itu, Dasadarma memuat pokok-pokok moral yang harus ditanamkan kepada anggota Pramuka agar mereka dapat berkembang menjadi manusia berwatak, warga Negara Republik Indonesia dasa dharma setia, dan sekaligus mampu menghargai dan mencintai sesame manusia dan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Republlik Indonesia adalah Negara hukum yang berdasarkan falsafah Pancasila, Karena itu, rumusan Dasadarma Pramuka berisi penjabaran dari Pancasila dalam kehidupannya sehari-hari. Dasa Darma yang berarti sepuluh tuntunan tingkah laku adalah sarana untuk melaksanakan satya (janji, ikar, ungkapan kata haaati). Dengan demikian, maka Dasadarma Pramuka pertama-tama adalah ketentuan pengamalan dari Trisatya dasa dharma kemudian dilengkapi dengan nilai-nilai luhur yang bermanfaat dasa dharma tata kehidupan.

Dasa Darma terdiri dari dua kata berupa kata Dasa dalam bahasa Jawa artinya sepuluh dan kata Darma dalam bahasa Sansakerta artinya perbuatan terpuji atau mulia. Dasa Darma Pramuka artinya sepuluh kebajikan yang menjadi pedoman bagi Pramuka dalam bertingkah laku sehari-hari. Kenyataannya banyak tokoh penting di Indonesia, seperti Ganjar Pranowo yang mendukung untuk mengamalkam Dasa Darma ini pada generasi muda loh Detikers, gunanya untuk menumbhkan rasa cinta tanah air Indonesia terhadap diri sendiri.

Sejak 1961, Dasa Darma telah mengalami perubahan hingga sekarang. Rumusan Dasa Darma sudah diamandemen hingga empat kali dan terakhir dirumuskan pada 1978. 10 Dasa Darma Pramuka Bunyi 10 Isi Dasa Darma Pramuka • Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia • Patriot yang sopan dan ksatria • Patuh dan suka bermusyawarah • Rela menolong dan tabah • Rajin, terampil dan gembira • Hemat, cermat dan bersahaja • Disiplin, berani dan setia • Bertanggungjawab dan dapat dipercaya • Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan Pengertian, Makna dan Contoh Masing Masing Darma • Darma pertama : Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa Pendahuluan Apa yang tercantum di dalam Trisatya tentang menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan yang terdapat dalam Dasadarma pertama sudah harus sedikit dibedakan bahwa: Di dalam Trisatya, ungkapan itu merupakan janji (ikrar) seseorang yang diresapkan dalam hati atau dirinya sedangkan dalam hati atau dirinya sedngkan yang ada di dalam Dasadarma pertama adalah perwujudannya secara kongret dalam tingkah laku ataupun sikapnya, Atau dengan kaata lain yang ada di dalam Trisatya itu merupakan sesuatu yang ada di dalam batin dan yang terdapat di dalam darma adalah yang tampak lahiriah.

Oleh karena itu yang terdapat di dalam Dasadarma bukanlah suatu pengulangan, tetapi penekan1.Takwa • Pengertian takwa adalah bermacam-macam, antara lain: bertahan, luhur, berbakti, mengerjakan yang utama dan meninggalakan yang tercela, hati-hati, terpelihara, dan lain-lain.

• Pada hakekatnya takwa adalah usaha dan kegiatan seseorang yang sangat utama dalam perkembangan hidupnya. Dasa dharma bangsa Indonesia yang berketuhanan Yang Mahaesa, yang menjadi tujuan hidupnya adalah keselamatan, perdamaian, persatuan dan kesatuan baik didunia maupun dikhirat, Tujuan hidup ini hanya dapat dicapai semata-mata dengan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa, yaitu: • Bertahan terhadap godaan-godaan hidup, berkubu dan berperisal untuk memelihara diri dari dorongan hawa nafsu.

• Taat melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, mengerjakan yang baik dan berguna serta menjauhi segala yang buruk dan yang tidak berguna bagi dirinya maupun bagi masyarakat serta seluruh umat manusia. • Mengembalikan, menyerahkan kepada Tuhan segala darma bakti dan amal usahanya untuk mendapatkan penilaian; sebagaimana Tuhan menghendaki sikap ini merupakan sikap seseorang kepada pribadi lain yang dianggap mengatasi dirinya, bahkan mengatasi segala-galanya, sehingga seseorang menyatakan hormat dan baktinya, serta memuji, meluhurkan dan lain-lain terhadap pribadi lain yang dianggap Mahaagung itu, Tuhan.

Di sini kita dapat mencoba memahami pengertian kita tentang Tuhan baaik berpangkal dari kemanusiaan yang antara dasa dharma dianugerahi akal budi, maupun dari wahyu Tuhan sendiri yang terdapat dalam kitab suci yang diturunkan kepada kita melalui para Nabi/ Rosul. • Dari segi kemanusiaan (akal budi), Tuhan adalah zat yang ada secara mutlak yang ada dengan. Zat yang menjadi sumber atau sebab adanya segala sesuatu di dalam alam semesta (couse prima atau sebab pertama).

Karena itu, Dia tidak dapat disamakan atau dibandingkan dengan apa saja yang ada. Dia mengatasi, melewati, dan menembus segala-galanya. • Dari wahyu Tuhan sendiri yang dianugerahkan kepada kita melalui firman atau sabdaNya di dalam Kitab suci, kita dapat mengetahui bahwa Dia adalah pencipta Yang Maha Kuasa, Maha Murah, lagi Maha Penyayang Tuhan menjadikan alam semesta termasuk manusia tanpa mengambil suatu bahan atau menggunakan alat.

Hanya kaarena afirman-Nya, alam semesta ini menjadi ada. Yang semula tidak ada menjadi ada, dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi dan luhur. Dari yang tiada bernyawa. • Pengertian kepada yang bernyawa dan berjiwa, Dari hasil karya Tuhan itu, kita dapat mengenal segala macam sifat Tuhan yang melebihi dan mengatasi apa yang terdapat di dalam alam semesta ini, terutama dari wahyu Tuhan sendiri.

Kita juga dapat memahami kegaiban Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak dapat membandingkan zat kodrat sifat Ilahi dengan yang ada dalam ala mini.

Hal ini juga termasuk dengan sifat Tuhan Yang Mahaesa. Namun sebagai insane manusia, kita akan berusaha memahami apa arti esa pada Tuhan itu. • Makna Esa= satu/tunggal. Maksudnya bukanlah “satu” yang dapat dihitung. Satu yang dapat dihitung adalah satu yang dapat dibagi atau disbanding-bandingkan.

dasa dharma

Maka, satu atau esa pada Tuhan adalah mutlak. Satu/tunggal yang tidak dapat dibagi-bagi dan dibandingkan. “Tiada Tuhan selain Allah”. • Berbicara tentang pengertian takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa tidak dapat dipisahkan daari pengertian moral, budi pekerti, dan akhlak. Moral, budi pekerti atau akhlak adalah sikap yang digerakan oleh jiwa yang menimbulkan tindakan dan perbuatan manusia terhadap Tuhan, terhadap sesamamanusia, sesame makhluk, dan terhadap diri sendir.

Akhlak terhadap Tuhan Yang Dasa dharma meliputi cinta, takut, harap, syukur, taubat, ikhlas terhadap Tuhan, mencintai atau membenci kare Tuhan.

Akhlak terhadap Tuhan Yang Mahaesa mengandung unsure-unsur takwa, berimankepada Tuhan Yang Mahaesa, dan berbudi pekerti yang luhur. Akhlak terhadap sesame manusia atau terhadap masyarakat mencakup berbakti kepada orang tua, hubungan baik antara sesame, malu, jujur, ramah, tolong menolong, harga menghargai, memberi maaf, memelihara kekeluargaan, dan lain-lainnya.

dasa dharma

Akhalakterhadap sesame manusia mengandung unsur hubungan kemanusia mengandung unsure hubungan kemanusiaan yang baik akhlak terhadap sesama akhluk Tuhan yang hidup ataupun benda mati mencakup belas kasih, suka memelihara, beradab, dan sebagainya, Akhlak terhadap sesame makhluk Tuhan mengandung unsur peri kemanusiaan.

Akhlak terhadap diri sendiri meliputi: memelihara harga diri, berani membela hak, rajin tanggungjawab, menjauhkan diri dari takabur, sifat-sifat bermuka dua sifat pengecut, dengki, loba, tamak, lekas putus asa, dan sebagainya. Akhlak terhadap diri sendiri mengandung unsure budi pekerti yang luhur, berani mawas diri, dan mampu menyesuaikan diri. Pelaksanaan Sesuai dengan tujuan Gerakan Pramuka yang mengarahkan anak didik menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur, dan juga karena falsafah hidup bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila, maka sudahseharusnyalah iman kepada Tuhan dari masing-masing anak didik itu diperdalama dan diperkuat.iman anak didik kepada Tuhan itu bellum cukup kalau hanya kita berikan pengajaran lisan/tertullis tanpa ada perwujudan kongkret dalam tingkah lakkku kehidupan anak didik.

Maka, apa yang diimani dari agama dan kepercayaan tentang Tuhan haruslah dijabarkan dalam sikap hidupnya yang nyata dan dapat dirasakan oleh llingkungannya, karena itu akan terdapat kepicangan apabila Gerakan Pramuka hanya dapat mengemukakan ajaran tentang takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa ini, tetapi kurang memberikan bimbingan dan dasa dharma kepada peserta didik untuk melaksanakan darmanya yang pertama ini. Untuk mewujudkan cita-cita Gerakan Pramuka, dalam hal ini banyak caran dan dasa dharma yang dapat dilaksanakan, sesuai dengan tingkat umur dan kemampuan anak didik dan kepercayaan masing-masing.

Cara atau metode dapaat berlainan, tetapi tujuannya kiranya hanya satu, ialah terciptanya manusia Indonesia yang utuh dan sempurna (Pancasilais). Segala macam ketentuan moral/kebaikan yang tersimpan dalamajaran agama (seperti tertera dalam darma-darma yang berikut)seharusnyalah dikembangkan dalam sikap hidup anak didik. Darma-darma itu merupakan bentuk-bentuk perwujudan kongret dari takwanya dasa dharma Tuhan di samping doa, sembahyang, dan bentuk peribadatan lain.

Contoh Pelaksanaan dalam Kehidupan Sehari Hari • Sikap cinta dan kasih saying, etia, patuh, adil, jujur, suci,dan lain-lain adalah merupakan pengejawantahan dan perwujudan dari ketakwaan seseorang kepada Tuhan. Sulit untuk mengatakan bahwa sebenarnya tidak jujur orang mengarahkan dia itu takwa kepada Tuhan, tetapi dalamhidupnya dia bertindak dan bersikap membenci, curang, tidak adil, dan sebagainya terhadap sesamanya.

• Menuntun anak untuk melaksanakan ibadah, • Menyelenggarakan peringatan-peringatan hari besar agama. • Menghormati orang beragama lain. • Menyelenggarakan cermah keagamaan. • Menghormati orang tua. • Darma kedua: Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia Pengertian Tuhan Yang Mahaesa telah menciptakan seluruh alam semesta yang terdiri dari manusia, binatang, tumbuhan-tumbuhan, dan benda-benda alam. Bumi, alam, hewan, dan tumbuh-tumbuhan tersebut diciptakan Allah bagi kesejahteraan manusia.Karena itu, sudah selayaknya pemberian Allah ini dikelola, dimanfaatkan, dan dibangun.

Sebagai dasa dharma Tuhan yang lengkap dengan akal budi, rasa, karsa dan karya, serta dengan kelima inderia manusia patut mengetahui makna seluruh ciptaana-NYa. Wajar dan pantaslah Pramuka, secara alamiah, melimpahkan cinta kepada alam sekitarnya (benda alam, satwa, dan tumbuh-tumbuhan), kasih sayang kepada sesama manusia dan sesama hidup serta menjaga kelestariannya. Kelestarian benda alam, satwa, dan tumbuh-tumbuhan perlu dijaga dan dipelihara kaarena hutan tanah, pantai, fauna, dan flora serta laut merupakan sumber alam yang perlu dikembangan untuk menunjang kehidupan generasi kini dan dipelihara kelestariannya untuk kehidupan generasi mendatang.

Di samping itu, sebagai Negara kepulauan pemanfaatan wilayah pesisir dan lautan yang sekaligus memelihara kelestarian sumber ala mini dengan menanggulangi pencemaran laut, perawatan hutan, hutan bakau dan hutan payau, serta pengembangan budi daya laut menduduki tempat yang penting pula. Yang dimaksud dengan cinta dan kasih saying apabila manusia dapat ikut merasakan suka dan derita alam sekitarnya khususnya manusia. Kelompok-kelompok manusia ini merupakan bangsa-bangsa dari Negara yang terdapat di dunia dasa dharma.

Bila kita ingindan mau mengerti dan bergaul dengan bangsa lain maka rasa kasih sayanglah yang dapat mendekatkan kita dengan siapa pun. Dengan demikian, akan terciptalah perdamaian dan persahabatan antar manusia maupun antar bangsa. Khususnya sebagai seorang Pramuka menganggap Pramuka lainnya baik dan Indonesia maupun dari bangsa lain sebagai saudaranya kaarena masing-masing mempunyai satya dan darma sebagai ketntuan moral.

Pramuka Indonesia yang bertujuan menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur sudah sepantasnyalah dasa dharma ia berusaha meninggalkan watak yang dapat menjauhkan ia dengan ciptaan Tuhan lainnya dengan memiliki sifat-sifat yang penuh rasa cinta dan kasih saying. Darma ini adalah tuntunan untuk mengamalkan sila kedua dari Pancasila Contoh Pelaksanaan dalam hidup sehari-hari.

• Membawa peserta didik kedalam bebas kebun raya agar mengetahui dan mengenal berbagai jenis tumbuhn-tumbuhan, Anjurkanlah kepada meereka memelihara tenaman di rumah masing-masing. Hal ini dapat dijadikan persyaratan untuk mencapai tanda kecakapan khusus. • Begitu pula halnya sikap kita terhadap binatang, perkenalakan peserta didik dengan sifat masing-masing jenis binatang untuk mengetahui manfaatnya. Anjurkan juga memelihara dengan baik binatang yang mereka miliki.

• Kasih dasa dharma sesama manusia tidak lepas dari perwujudan kerendahan diri manusia sebagai makhluk terhadap keagungan dasa dharma. Ketakwaan kita dasa dharma Tuhan Yang Mahaesa wajib dihayati sepanjang hidup. Di samping itu, perlu membangun watak utama antara lain, tidak mementingkan diri pribadi, menghargai orang lain meskipun tidak sebangsa dan seagama.

Demikian pula, bersaudara dengan Pramuka sedunia. • Siapa pun yang kita kenal dan kita dekaaaaati lambaat-laun akan timbul rasa cinta alam dan kasih saying sesama manusia. Rasa inilah yang dapat menggugah rasa dekat dengan Alkhalik, karena tidak terhalang oleh rasa benci, marah dan sifat-sifat yang tidak terpuji, dengan demikian, kita menyadari keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

• Darma Ketiga : Patriot yang sopan dan ksatria Pengertian Patriot berarti putra tanah air, sebagai seorang warga Negara Reoublik Indonesia, seorang Pramuka adalah putra yang baik, berbakti, setia dan siap siaga membela tanah airnya.

Sopan adalah tingkah laku yang halus dan menghormati orang lain. Orang yang sopan bersikap ramah tamah dan bersahabat bukan pembenci dan selalu disukai orang lain. Ksatria adalah orang yang gagah berani dan jujur. Ksatria juga mengandung arti kepahlawanan, sifat gagah berani dan jujur. Jadi, kata ksatria mengandung makna keberanian, kejujuran, dan kepahlawanan. Seorang Pramuka yang mematuhi darma ini, bersma-sama dengan warga Negara yang lain mempunyai satu kata hati dan satu sikap mempertahankan tanah airnya, menjunjung tinggi martabat bangsanya.

Darma ini adlah tuntunan untuk mengamalkan Pancasila ketiga. Contoh Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari • Membiasakan dan mendorong anggota Pramuka untuk: • menghormati dan memahami serta menghayati lambing Negara, bendera sang Merah Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya. • mengenal nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sepeerti kekeluaargaan, gotong-royong, rmah tamah, religious, dan lain-lain.

• Mencintai bahasa, seni budaya, dan sejarah Indonesia. • Mengerti, menghayaati, mengamalkan dan mengamankan Pancasila. • Mengenal adapt-istiadat suku-suku bangsa di Indonesia.

• Mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan diri pribadi. Selalu membantu dan membela yang lemah dan yang benar. • Membiasakan diri berani mengakui kesalah dan membenaarkan yang benar. • Menghormati orng tua, guru dan pemimpin. • Darma keempaat: Patuh dan suka bermusyawarah. Pengertian Patuh berarti setia dan bersedia melakukan sesuaaatu yang sudah disepakati dan ditentukan.

Musyawarah adalah laku utama seorang democrat yang menghormati pendapat orang lain. Orang yang suka bermusyawarah terhindar dari sikap yang otoriter dan semau sendiri. Dalam setiap gerak dan tindakan yang menyangkut orang lain, seorang lain baik dengan orang-orang yang terikat dalam pekerjaan atau dalam bentuk-bentuk organisasi.

Darma adalah tuntunan untuk mengamalkan Pancasila keempat. Contoh Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari • Membiasakan diri untuk menepati janji, mematuhi peraturan yang ditetapkan di gugusdepan dan mematuhui peraaaaturan di RT/RK, kampung dan desa, sekolah dan peratur perundang-undangan yang berlaku. • Misalnya, setia mengikuti latihan membayar iuran, menaati peraturan lalu llintas dan lain-lain. • Belajar mendengar pendapat orang, menghargai gagasan orang lain.

• Membiasakan untuk merumuskan kesepakatan dengan memperhaaatikan kepentingan orang banyak • Membiasakan diri untuk bermusyawarah sebelum melaksanakan suatu kegiatan (misalnya akan berkemah, widyawisata dan lain-lain. • Darma kelima: Rela menolong dan tabah Pengertian Rela atau ikhlas adalah perbuatan yang dilakukan tanpa memperhitungkan untung dan rugi (tanpa pamrih). Rela menolong berarti melakukan perbuatan baik untuk kepentingan orang lain yang dasa dharma mampu.

Dengan maksud, agar orang yang ditolong itu dapat menyelesaikan maksudnya atau kemudian mampu merampungkan masalah seta tantangan yang dihadapi. Tabah atau ulet adalah suatu sikap jiwa tahan uji. Meskipun seseorang mengetahui bahwa menjalankan tugasnya akan menghadapi kesulitan, tetapi ia tidak mundur dan tidak ragu. Darma ini adalah tuntunan untuk mengamalkan Pancasila sila kelima. Contoh Pelaksanaan dalam Hidup sehari-hari dasa dharma Membiasakan diri cepat menolong kecelakaan tanpa diminta • Membantu menyeberang jalan untuk orang tua, wanita.

• Memberi tempat di tempat umum kepada orang tua dan wanita. • Membiasakan secara bertahap untuk mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari di rumah, dan dimasyarakat. • Darma keenam : Rajin, terampil, dan gembira Pengertian • Rajin Manusia dibedakan dengan makhluk hidup yang lain kaarena ia diciptakan mempunyai akal budi. Dengan demikian harus mengmbangkan diri dengan membaca, menulis, dan belajar, Dengan perkataan lain, ia menjalani proses kodrati dalam mendidik diri.

Lebih-lebih lagi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melejit demikian cepat, maka menjadi kewajiban kita semua untuk mendorong anak didik (juga orang dewasa) untuk selalu rajin belajar, selalu berusaha dengan tekun, senantiasa tetap mengembangkan dirinya, dan selalu tertib melaksanakan tugas. • Terampil Setiap manusia haarus beeerupaya untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri. Untuk hal itu, yang menjadi syarat utama adalah keahlian dan keterampilan serta dapat mengerjakan suatu tugas dengan cepat dan tepat dengan hasil yang baik.

• Gembira Manusia itu hidup dan menghidupi dengan mencari jalan bagaimana hidup yang baik. Untuk itu ia harus bekerja mencari nafkah, dan bersama-sama dengan orang lain ia bekerja sama. Banyak kesulitan, rintangan, dan hambatan yang dihadapi. Dan tantangan ini akan diatasi dengan dorongan motivasi yang kuat. Suatu upaya untuk mendapat motivasi ini adalah manusia harus dapat berfikir cerah, berjiwa tenang, dan seimbang.

Hal ini dapat dicapai bila manusia selalu mencari hal-hal yang positip dan optimistis. Sikap ppositip, optimis ini diperoleh dengan laku yang riang sehingga dasa dharma suasana gembira. Kegembiraan adalah perasaan senang dan bangga yang menimbulkan kegiatan dan bahkan rasa keberanian. Rajin, terampil, dan gembira perlu selalu diterapkan dalam setiap usaha dan kegiatan.

Contoh Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari 1) Rajin • 1.Biasakan membaca buku yang baik. • 2.Biasakan untuk membuaat karya tulis. • 3.Selenggarakan diskusi-diskusi untuk belajar; mengolah pikiran, mengemukakan pendapat. • 4.Tentukan jadwal harian yang tetap untuk belajar. • Belajar selama dua jam sehari adalah layak. • 5.Atur kegiatan dengan menyesuaikan dengan kegiatan di sekolah, di rumah dan Gerakan Pramuka.

• 6.Membiasakan untuk menyusun jadwal kegiatan sehari-hari. 2) Bekerja • Jelaskan bahwa dibalik kesulitan, kegagalan, dan kekewaan selalu terdapat hal-hal yang baik dan berguna.

• Biasakan bekerja menurut manfaat dan disesuaikan dengan kemampuan. • Jangan terlula cepat menegur, mengkertik atau menyalahkan orang lain. • Hargai dan atonjolkan suatu prestasi kerja. • Berikan beban dan tugas yang terus berkembang. • Berusaha untuk bekerja dengan rencana. • Bergembiralah dalam tiap usaha. • Selesaikan setiap tugas pekerja, jangan tunda sampai esok hari.

dasa dharma

3) Terampil • Pilihlah suatu jenis kemahiran dan keahlian yang sesuai dengan bakat. • Latih terus-menerus. • Jangan cepat puas setelah selesai mengerjakan sesuatu. • Mintalah tuntunan dari orang yang lebih berpengalaman. • Jangan menolak tugas pekeerjaan apa pun dasa dharma diberikan pada Saudara. • Laksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada. • Darma ketujuh: Hermat, cermat, dan bersahaja Pengertian 1) Hemat • Hemat bukan beraaati “kikir” tetapi lebih terarah kepada dapatnya seorang Pramuka melakukan dan mengunakan suatu secara tepat menurut kegunaannya.

• Secara rohaniah, dapat berarti suatu usaha memerangi hawa nad\fsu manusia dari keinginan berlebihan yang merugikan diri sendiri dan orang lain; (uang, mendisiplinkan diri sendiri). Menghemat bukan berarti a social tapi untuk lebih memungkinkan dalam memberi kemungkinan usaha social ke pihak lain, (luang, tenaga, waktu dan sebagainya) yang lebih menguntungkan. • Secara material, dapat berarti memanfaaatkan sesua(materi) menurut keperluan sehingga usaha tidak berguna dapat dibendung sehingga dapat berguna bagi dia sendiri dan ornag lain.

2) Cermat Cermat lebih berarti “ teliti” sikap lakku seorang Pramuka harus senantiasa teliti baik terhadap dirinya sendiri (introspeksi) maupun yang datangnya dari laur dirinya sehingga ia senantiasa waspada. Hal ini dapat dilakukan melalui proses berfikir, mengitung, dan mempertimbangkan segala sesuatu, untuk berbuat. Seorang Pramuka harus cerdas, terampil agar ia senantiasa terhindar dari kekeliruan dan kesalahan. Ia harus berusaha untuk berbuat sesuatu dengan terencana dan yang bermanfaat.

3) Bersahaja Hal ini lebih berarti, sederhana kesederhanaan yang wajar dan tidak berlebih-lebihan sehingga dapat memberi kemungkinan penggambaran jiwa untuk (penampilan diri) dan menimbulkan kemampuan untuk hidup dengan apa yang didapat secaara halal tanpa dasa dharma diri sendiri dan ornag lain. Ia harus dapat menyerasikan antara keinginkan dan kemampuan, Bersahaja juga dapat berarti keberanian untuk menyatakan sesuatu yang sebenarnya.

Contoh Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari • • Menggunakan waktu dengan tepat ke sekolah, tidur, makan, latihan dan sebagainya. • Tidak ceroboh. • Bertindak dengan teliti pada waktu yang tepat agar ia tidak dirusakkan oleh keinginan jahat dari luar. • Sadar akan dirinya sebagai dasa dharma pribadi.

• Berpakaian yang sederhana tanpa perhiasan yang berlebihan-lebihan • Meneliti sahulu sebellllum berbuat sesuaatu agar terjadi ketepatan di dalam pelaksanaannya. • Penggunaan listrik (siang hari dimatikan). • Pengguna air tidak terbuang percuma. • Memeriksa pekerjaan sebellllum diserahkan kepada Pembina.

• Menggunakan uang jajaan dengan hemat. • Membiasakan anak belanja kewarung dan pasar dengan teratur. • Memberi anak tanggung jawab untuk tugs di rumah dan lain=lain. • Membiasakan untuk menabung • Bekerja berdasarkan manfaat dan rencana • Darma kedelapan: Disiplin, berani dan Setia Pengertian • Disiplin dalam pengertian yang luas berarti patuh dan mengikuti pemimpin dan atau ketentuan dan peraturan. • Dalam pengertian yang lebih khusus, disiplin berti mengekang dan mengendalikan diri.

• Berani adalah suatu sikap mental untuk bersedia dasa dharma dan mengatasi suatu masalah dan tantangan. • Setia berarti tetap pada suatu pendirian dan ketentuan. • Dengan demikian, maka berdisiplin tidak secara membabi buta melaksanakan perintah, ketnetuan dan peraturan, sebagai manusia ciptaan Tuhan, seseorang harus berani berbuaaaat berdasarkan pertimbangan dan nilai yang lebih tinggi.

Contoh Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari • Berusaha untuk mengendalikan dan mengatur diri (self disiplin). • Mentaati peraaturan. • Menjalani ajaran dari ibadah agama, • Belajaaar untuk menilai dasa dharma, bukti dan kebenaran suatu keterangan (informasi). • Patuh dengan pertimbangan dan keyakinan. • Darma kesembilan: Bertanggungjawab dan dapat dipercaya Pengertian dan Pelaksanaan dalan Hidup sehari-hari.

• Yang dimaksud dengan bertanggung jawab ialah: Pramuka itu bertanggungjawab atas segala sesuatu yang diperbuat baik atas perinnntah maupun tidak, terutama secara pribadi bertanggung jawab terhadap Negara, bangsa, masyarakat dan keluarga misalnya : • Segala sesuatu yng diperintahkan kepadanya, harus dilakukan dengan penuh rasa tanggungjawab. • Segala sesuatu yang dilakukan atas kehendak sendiri dilakukan dengan penuh rasa tanggungjawab.

• Pramuka harus berani bertanggungjawab atas suatu tindakan yang diambil, di luar perintah yang diberikan kepadanya karena perintah tersebut tidak dapat atau sulit dilaksanakannya, • Seorang Pramuka tidak akan mengelakkan suaatu tanggungjawab dengan suatu alasan yang dicari-cari, Tujuannya adalah mendidik dan memasukkan suaaatu tanggungjawab yang besar kepadanya.

• Yang dimaksud dengan dapat dipercaya ialah: Pramuka itu dapat dipercaya, baik perkataannya maupun perbuatannya. Misalnya: • Dapat dipercaya itu berarti juga jujur, yaitu jujur terhadap diri sendiri, terhadap anak didik dan terhadap orang lai n terutama yang menyangkut uang, materi dan lain-lain.

• Pramuka dapat dipercaya atas kata-katannya, perbuatannya dan lain sebagainya, apa yang dikatakannya tidaklah suaaatu karangan yang dibuat-buat. • Apabila ia ditugaskan untuk melaksanakan sesuatu, maka ia dasa dharma dipercaya bahwa ia pasti akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. • Dalam kehidupan sehari-hari dimana dan kapan pun juga Pramuka dapat dipercaya bahwa ia tidak akan berbuat sesuatu yang tidak baik, meskipun tidak ada orang yang tahu atau yang mengawasinya.

dasa dharma

• Selalu menepati waktu yang sudah ditentukan, Tujuan adalah mendidik Pramuka menjadi oarnag yang jujur dan yang dapat dipercaya akan segala tingkah lakunya. • Darma kesepuluh : Suci dalam pikiran Perkataan dan perbuatan Pengertian • Seorang Pramuka dikatakan matang jiwanya, bila Pramuka itu dalam setiap tingkah lakunya sudah mengambarkan laku yang suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan • Suci dalam pikiran berate bahwa Pramuka tersebut selalu melihat dan memikirkan sesuatu itu pada segi baiknya atau ada hikmahnya dan tidak terlintas sama sekali pemikiran ke arah yang tidak baik.

• Suci dalam perkataan setiap apa yang telah dikatakan itu benar, jujur seerta dapat dipercaya dengan tidak menyinggung perasaan oeng lain. • Suci dalam peerbuatan sebagai akibat dari pikiran dan perkataan yang suci, maka Pramuka itu harus sanggup dan mampu berbuat yang baik dan benar untuk kepentingan Negara, bangsa, agama dan keluarga. • Dengan selalu melakukan pikiran, perkataan dan perbuatan yang dasa dharma akan menimbulkan pengertian dan kesadaran menurut siratan jiwa Pramuka sehingga Pramuka itu memukan dirinya sesuai dengan tujuan Gerakan Pramuka Antaranya: “….

Menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur, tinggi metal-moral budi pekerati dan kuat keyakinan beragamanya…” Contoh Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari • Seorang Pramuka selalu menyumbangkan pikirannya yang baik, tidak berprasangka, dan tidak boleh mempunyai sikap-sikap yang teercela dan selalu menghargai pemikiran-pemikiran orang lain.

Sehingga timbul salaing haarga menghargai sesame manusia dalam kehidupannya sehari-hari. • Seorang Pramuka akan selalu berhati-hati dan berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri aterhadap ucapannya, dan menjauhkan diri dari perkataan-perkataan yang tidak pantas dan menimbulkan ketidak percaayaan orang lain. • Seorang Pramuka akan menjadi contoh pribadi dalam segala tingkah lakunya dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang jelek yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.

• Setiap Pramuka mempunyai pegangan hidup yaitu agama, jelas di sini bahwa Pramuka itu beragama bukan hanya dalam pikiran dasa dharma perkataan belaka, tetapi keberagamaan Pramuka tercermin pula dalam perbuatan yang nyata. • Usaha agar Pramuka itu satu dalam kata dasa dharma perbuatannya. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada SMP Ditag 10 dasa darma pramuka dan penjelasannya, arti dasa dharma 1 10, arti rela menolong dan tabah, arti tri satya, bagaimana bunyi dasa darma pramuka penggalang, berjumlah berapakah poin poin pada dasa darma, contoh dasa darma 1-10, dasa darma pramuka 1-10, dasa darma pramuka dan artinya, dasa darma pramuka dan contohnya, dasa darma pramuka dan trisatya, download trisatya, dwi darma pramuka, dwi dharma, hafalan dasa darma, hemat cermat dan bersahaja, hymne pramuka, jawaban sku pramuka penggalang rakit, dasa dharma satya darma pramuka, lirik dasa darma pramuka, lirik dasa dharma pramuka, lirik lagu trisatya pramuka, makalah dasa dharma pramuka, makna dasa darma dalam kehidupan sehari hari, makna dasa darma pramuka, makna trisatya, pengamalan dasa darma, pengertian tri satya, pertanyaan tentang dasa darma, pesan dasa dharma pramuka, rajin terampil dan gembira, sebutkan beberapa tanda umum dalam pramuka, siapa yang membuat dasa darma, tri satya, trisatya, trisatya penegak, tuliskan isi dasa darma, tuliskan sejarah pramuka, tuliskan sifat kepramukaan Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Kata Berimbuhan • Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Dasa dharma, Cara Dasa dharma, Peranan • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com • Aplikasi Pendidikan Daftar Aplikasi Pendidikan Bermanfaat • Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara kita • Biologi Biologi adalah ilmu mengenai kehidupan • Ekonomi Ekonomi adalah platform dimana sektor industri melekat diatasnya • Fisika Fisika adalah ilmu mengenai alam • Geografi Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang Bumi • Inggris Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan • IPS IPS adalah penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial • Matematika Matematika adalah ilmu tentang logika • PAI PAI adalah pendidikan mengenai agama Islam • Penjasorkes Penjasorkes adalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan • PKN PKN adalah pendidikan agar menjadi warga negara yang baik • Sejarah Sejarah adalah ilmu yang mempelajari masa lampau • Dasa dharma Budaya Seni budaya adalah keahlian dalam mengekspresikan ide • Sosiologi Sosiologi adalah ilmu yang tentang perilaku sosial • TIK TIK adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi Pramuka sangat identik dengan yang namanya Dasa Dharma.

Dasa Dharma merupakan sepuluh sikap yang harus dimiliki oleh seorang pramuka. Biasanya dimiliki oleh seorang pramuka tingkat penggalang hingga tingkat atas. Secara bahasa, Dasa Dharma berasal dari kata “ Dasa” dan “ Darma“. Dasa berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti sepuluh. Sedangkan Darma merupakan bahasa Sanskerta yang memiliki arti kewajiban, tugas hidup, aturan, kebajikan, dan kebenaran.

Sehingga secara bahasa Dasa Dharma memiliki arti sepuluh kewajiban, kebajikan, dan aturan. Daftar Isi • Perkembangan Dasa Dharma • Teks Dasa Dharma Pramuka • Arti dari Tiap Bait Dasa Dharma Pramuka Perkembangan Dasa Dharma Dasa Dharma sudah mengalami perubahan atau perkembangan berkali- kali. Sejak tahun 1961, Dasa Dharma ini telah mengalami perkembangan hingga sebanyak 5 kali, yaitu: • Dasadarma sebagaimana lampiraan Keppres 238 Tahun 1961 yang digunakan pada tahun 1961 – 1966.

• Dasa Dharma hasil Mukeranpuda (sekarang munas) tahun 1966 yang digunakan pada tahun 1966 – 1974. • Dasadarma amanat MPP 1970 dan Munas 1974 yang digunakan pada tahun 1974 – 1978. • Dasa Dharma hasil Munas 1978 yang digunakan pada tahun 1978 – 2009. • Dasadarma hasil Munas 2009 yang digunakan pada tahun 2009 – sekarang. Baca juga: Sejarah Pramuka Teks Dasa Dharma Pramuka Adapun Dasa Dharma yang digunakan saat ini adalah sebagaimana yang disusun dan tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka Tahun 2009 (Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 203 Tahun 2009).

Yang kemudian ditegaskan lagi dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka hasil Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Tahun 2012. Seperti berikut: Dasa Darma, Pramuka itu: • Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. • Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. • Patriot yang sopan dan kesatria. • Patuh dan suka bermusyawarah. • Rela menolong dan tabah. • Rajin, terampil dan gembira. • Hemat, cermat dan bersahaja. • Disiplin, berani dan setia.

• Bertanggung jawab dan dapat dipercaya. • Suci dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Advertisement Baca juga: Trikora Arti dari Tiap Bait Dasa Dharma Pramuka Maksud dari tiap-tiap bait Dasa Dharma adalah sebagai berikut: 1.

Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • Menjalankan semua perintah Tuhan serta meninggalkan segala larangan-larangan-Nya • Membaca do’a atau niat karena Allah dalam setiap mengawali dan mengakhiri kegiatan dalam kehidupan sehari-hari • Patuh dan berbakti kepada kedua orang tua, sayang kepada saudara, dan lain sebagainya 2.

Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia • Selalu menjaga kebersihan lingkungan dimanapun anda berada • Ikut menjaga kelestarian alam, baik flora maupun fauna • Membantu fakir miskin, yatim piatu, orang tua jompo dan mengunjungi orang yang sakit 3.

Patriot yang sopan dan ksatria • Belajar dengan baik disekolah • Membiasakan diri untuk berani mengakui kesalahan dasa dharma membenarkan sutau hal yang benar • Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda • Ikut serta dalam membela Negara 4. Patuh dan suka bermusyawarah • Patuh kepada kedua orang tua, guru, dan pembina dengan cara mengerjakan tugas sebaik-baiknya • Tidak mengambil keputusan secara terburu-buru yang didapatkan tanpa jalur musyawarah • Berusaha mufakat dalam setiap musyawarah 5.

Rela menolong dan tabah • Selalu berusaha menolong sesama yang sedang mengalami musibah atau kesulitan tanpa rasa pamrih • Tabah ketika mengalami berbagai kesulitan dengan tidak banyak mengeluh, dan tidak mudah putus asa • Bersedia menolong tanpa diminta 6.

Rajin, terampil dan gembira • Tidak pernah dasa dharma dari sekolah, selalu hadir diwaktu latihan atau pertemuan pramuka • Membiasakan menyusun jadwal kegiatan sehari-hari • Dapat membuat berbagai macam hasta karya atau kerajinan yang bermanfaat • Selalu riang gembira ketika saat melakukan kegiatan 7.

Hemat, cermat dan bersahaja • Membiasakan hidup hemat dan tidak boros • Membiasakan hidup sederhana, tidak berlebihan • Rajin menabung • Selalu tepat waktu • Selalu membuat perencanaan sebelum bertindak 8.

Disiplin, berani dan setia • Mendahulukan kewajiban dibanding meminta hak • Berani mengambil keputusan • Tidak membuat rasa kecewa kepada orang lain 9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya • Tidak mengingkari amanat yang telah diberikan • Selalu bersikap jujur untuk menaruh rasa percaya orang lain 10.

Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan • Selalu berfikir positif dan menuangkan saran yang baik dengan cara terbaik pula • Berhati-hati dalam tiap ucapan • Menjaga diri dalam tiap tindak tanduk perbuatan dasa dharma tidak melakukan perbuatan negatif Jika dasa dharma ada yang perlu ditanyakan mengenai teks Dasa Dharma Pramuka diatas, sampaikan saja melalui komentar dibawah. Selamat menghafal dan mengamalkan!.
Dasa Dharma Pramuka – sejarah bahasa dasa darma terdiri dari 2 kata yaitu Dasa dan Dharma.

Dasa memiliki arti yaitu 10 sedangkan darma memiliki arti yaitu perbuatan yang terpuji atau mulia. Jadi secara keseluruhan arti dari dasa Dharma adalah 10 tindakan yang terpuji atau yang mulia yang harus ditanamkan serta dijadikan pedoman oleh masing-masing anggota pramuka yang bertindak di dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Dari 10 dasa dharma tersebut harus dimiliki oleh setiap anggota pramuka. Yang mana biasanya kesepuluh sikap tersebut dimiliki oleh seorang Pramuka tingkat Penggalang sampai Pramuka tingkat atas. Dengan mengetahui serta mempelajari dasar darma apakah para anggota pramuka juga wajib untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sebagai tindakan yang mulia. • Sejarah Dasa Darma • 1. Rumusan Dasa Darma I (1961 - dasa dharma • 2.

Rumusan Dasa Darma II (1966 - 1974) • 3. Rumusan Dasa Darma III (1974 – 1978) • 4. Rumusan Dasa darma IV (1978 – 2009) • 5. Rumusan Dasa Darma V (2009 – Sekarang) • Isi Teks Dasa Dharma • Makna Dasa Dharma • 1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • 2. Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia • 3. Patriot yang Sopan dan Kesatria • 4. Patuh dan Suka Bermusyawarah • 5. Rela Menolong dan Tabah • 6. Rajin, terampil dan gembira • 7. Hemat, Cermat dan Bersahaja • 8. Disiplin, Berani dan Setia • 9.

Bertanggung, Jawab dan Dapat Dipercaya • 10. Suci dalam Pikiran, Perkataan dan Perbuatan • Penerapan Dasa Dharma dalam Dasa dharma • 1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia • 3. Patriot yang sopan dan kesatria • 4. Patuh dan suka bermusyawarah • 5. Rela menolong dan tabah • 6. Rajin, terampil dan gembira dasa dharma 7.

Hemat, cermat dan bersahaja • 8. Disiplin, berani dan setia • 9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya • 10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan Sejarah Dasa Darma Apakah kamu tahu kapan Dasa Darma tercipta dan siapa yang menciptakannya? Pembentukan Dasa Darma tidaklah dibuat atau disusun oleh satu orang saja, melainkan Dasa Darma tercipta dasa dharma ide-ide dan juga gagasan dari beberapa orang yang di kumpulkan menjadi satu.

Pembentukan dari Dasa Darma hingga menjadi seperti yang ada saat ini sangatlah memerlukan proses dan juga perjuangan yang panjang dari para tokoh. Bahkan untuk mendapatkan hasil Dasa Darma seperti yang sekarang, Dasa Darma juga mengalami perubahan sebanyak 5 kali. Berikut ini adalah sejarah terbentuknya Dasa Darma dari awal hingga menjadi seperti saat ini : Baca Juga: Sejarah Pramuka. 1. Rumusan Dasa Darma I (1961 – 1966) Dasa Darma pertama kali terbentuk berdasarkan lampiran yang terdapat pada Keputusan Presiden No.

238 Tahun 1961. Rumusan Dasa darma yang pertama ini dibentuk dan juga disusun oleh para Panitia V Pembentukan Gerakan Pramuka, dan kemudian rumusan Dasa Darma tersebut digunakan dari tahun 1916 sampai dengan dasa dharma. Berikut ini adalah hasil dari rumusan pertama tersebut : • Pramuka itu dapat dipercaya • Pramuka itu setia • Pramuka itu sopan dan perwira • Pramuka itu sahabat sesama manusia dan saudara bagi tiap-tiap anggota pramuka • Pramuka itu penyayang sesama makhluk • Pramuka itu siap menolong dan wajib berjasa • Pramuka itu dasa dharma menjalankan perintah tanpa jembatan • Pramuka itu sabar dan riang gembira dalam segala kesukaran • Pramuka itu hemat dan cermat • Pramuka itu suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan 2.

Rumusan Dasa Darma II (1966 – 1974) Dan kemudian pada tahun 1966, dibentuklah Dasa darma yang kedua yang dibentuk oleh Musyawarah Kerja Andalan Pusat dan Daerah (Muker Anpuda) atau yang sekarang sudah berganti nama dan kemudian yang sekarang dikenal dengan sebutan Musyawarah Nasional (Munas).

Dasa Darma bentukan dasa dharma ini digunakan dari tahun 166 sampai dengan 1974. Berikut dasa dharma adalah isi dari Dasa Darma rumusan kedua : • Kami Pramuka Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • Kami Pramuka Indonesia, berjiwa pancasila dan patriot Indonesia yang setia • Kami Pramuka Indonesia, giat melaksanakan amanat penderitaan rakyat • Kami Dasa dharma Indonesia, ikhlas berkorban untuk keadilan dan kemuliaan Indonesia • Kami Pramuka Indonesia, bergotong royong membangun masyarakat Pancasila • Kami Pramuka Indonesia, dapat dipercaya dan berbudi luhur • Kami Pramuka Indonesia, hemat, cermat dan bersahaja • Kami Pramuka Indonesia, pantang putus asa dalam menanggulangi kesukaran • Kami Pramuka Indonesia, berjuang dengan rasa tanggung jawab dan gembira untuk dapat berguna • Kami Pramuka Indonesia, berwatak ksatria dan bertindak dengan disiplin Lalu pada tahun 1974.

Dasa Darma mengalami perubahan kebali yang dilakukan oleh Musyawarah Nasional (Munas) Bukit Tinggi, atas rekomendasi perubahan yang diamanatkan di dalam MPP tahun 1970 dan juga munas pada dasa dharma 1974. Dasa Darma yang satu ini digunakan dari tahun 1974 hingga 1978. Berikut ini adalah isi dari Dasa Darma yang ketiga : Dasa Darma Pramuka. PRAMUKA ITU: • Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • Kasih sayang sesama manusia dan cinta alam • Patriot yang sopan dan perwira • Suka dasa dharma dan patuh • Rela menolong dan tabah • Rajin, riang dan terampil • Hemat, cermat dan bersahaja • Disiplin, setia dan berani • Bertanggung jawab dan dapat dipercaya • Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan 4.

Rumusan Dasa darma IV (1978 – 2009) kemudian terjadi perumusan dasa dharma terhadap Dasa Darma kembali pada tahun 1978 yang ditandai dengan dikeluarkannya memorandum yang dilakukan Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka di Manado.

Dan kemudian perumusan tersebut di terbitkan di dalam Surat Keputusan Kwartir Dasa dharma Nomor 036/KN/79. Rumusan Dasa Darma yang ke empat ini digunakan dari tahun 1978 hingga tahun 2009. Berikut ini adalah isi dari rumusan Dasa Darma yang yang keempat : • Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia • Patriot yang sopan dan ksatria • Patuh dan suka bermusyawarah • Rela menolong dan tabah • Rajin, terampil dan gembira • Hemat, cermat dan bersahaja • Disiplin, berani dan setia • Bertanggung jawab dan dapat dipercaya • Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan 5.

Rumusan Dasa Darma V (2009 – Sekarang) Lalu perubahan yang terakhir dan yang masih digunakan hingga saat ini adalah rumusan Dasa Darma yang kelima. Susunan Dasa Darma yang kelima ini disusun dan kemudian di cantumkan di dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka Tahun 2009 berdasarkan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 203 Tahun 2009. Dan kemudian susunan Dasa Darma yang kelima ini ditegaskan kembali dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka atas Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada tahun 2012.

Berikut ini adalah isi dari rumusan Dasa darma yang kelima dan yang masih digunakan hingga sampai saat ini : • Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. • Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. • Patriot yang sopan dan kesatria. • Patuh dan suka bermusyawarah. • Rela menolong dan tabah. • Rajin, terampil dan gembira. dasa dharma Hemat, cermat dan bersahaja. • Disiplin, berani dasa dharma setia. • Bertanggung jawab dan dapat dipercaya. • Suci dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan.

Baca Juga: Teks Trisatya Pramuka. Isi Teks Dasa Dharma Adapun Dasa Dharma yang terakhir yang digunakan saat ini dasa dharma dari hasil rumusan Munas menghasilkan isi dari teks Dasa darma yaitu: Dasa Dharma, Pramuka itu: • Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia • Patriot yang sopan dan kesatria • Patuh dan suka bermusyawarah • Rela menolong dan tabah • Rajin terampil dan gembira • Hemat, cermat dan bersahaja • Disiplin, berani dan setia • Bertanggung jawab dan dapat dipercaya • Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Makna Dasa Dharma Semua anggota pramuka wajib untuk mengucapkan dan juga menghafalkan isi dari Dasa Dharma, akan tetapi setiap anggota pramuka tidak hanya diwajibkan untuk kedua hal tersebut melainkan juga harus dapat mengamalkan isi Dasa Dharma di dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai-nilai luhur Dasa Dharma harus ada dalam jiwa setiap anggota pramuka. Di bawah ini akan dijelaskan makna dari setiap kalimat dalam urutan isi Dasa Dharma. 1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa Setiap anggota pramuka diharuskan untuk mempunyai sifat takwa kepada Tuhan serta menjunjung tinggi harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan, dalam poin ini juga setiap anggota pramuka diharuskan untuk melakukan segala perintah serta menjauhi segala larangan Tuhan, dan beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

Bagi seorang anggota pramuka juga dasa dharma memiliki toleransi antar agama dengan orang lain serta tidak melarang orang lain untuk melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. 2. Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia Selain poin pertama yang mengharuskan bahwa setiap anggota pramuka diharuskan untuk menaati segala perintah agama, sedangkan poin kedua yaitu setiap anggota pramuka diharuskan memiliki sifat cinta dan kasih.

Sifat cinta dan kasih tidak hanya ditujukan kepada manusia saja akan tetapi juga kepada semua makhluk hidup termasuk hewan dan tumbuhan. Dengan memiliki rasa cinta dan kasih maka akan dapat mewujudkan pula lingkungan yang nyaman, aman dan tentram. 3. Patriot yang Sopan dan Kesatria Seorang anggota pramuka juga diharuskan memiliki sifat seorang patriot dan juga ksatria. Hal ini menandakan bahwa setiap anggota pramuka diharuskan pula memiliki sifat sopan dan santun sebagai cerminan diri dari setiap anggota pramuka.

Selain itu mereka juga diharuskan untuk ikut serta dalam menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia demi terciptanya suatu negara yang aman dan sejahtera. 4. Patuh dan Suka Bermusyawarah Setiap masing-masing anggota pramuka juga diharuskan memiliki sikap yang patuh pada setiap tugas yang diberikan.

dalam pemberian tugas tersebut mereka tidak boleh menolak serta harus siap melakukan apapun perintah yang diberikan. Dalam setiap pengambilan keputusan maka seorang anggota pramuka harus didasari dengan asas musyawarah guna mencapai kata mufakat.

6. Rajin, terampil dan gembira Selanjutnya yaitu setiap aku tak Pramuka diharuskan memiliki sikap yang rajin untuk dapat melakukan segala sesuatu aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Terampil sangat dibutuhkan bagi setiap anggota pramuka yang yang berguna untuk dapat memecahkan berbagai permasalahan yang ada. Selain itu setiap pelaksanaan kegiatan juga harus dilakukan dengan riang dan gembira tanpa ada beban yang ada pada diri setiap anggota pramuka.

8. Disiplin, Berani dan Setia Dasadarma yang selanjutnya bahwa setiap anggota pramuka diharuskan untuk memiliki sikap yang disiplin dalam melaksanakan berbagai kegiatan di kehidupan sehari-hari.

Orang muka juga harus berani dalam menghadapi segala tantangan dan tetap setia untuk menjunjung tinggi panduannya. 9. Bertanggung, Jawab dan Dapat Dipercaya Kemudian makna Dasa Dharma yang ke-9 adalah adanya sikap tanggung jawab yang perlu dimiliki bagi setiap anggota Pramuka. setiap anggota pramuka harus selalu bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah dilakukannya.

Selain itu anggota pramuka juga harus bisa dipercaya dan tidak akan menghianati kepercayaan yang telah diberikan. 10. Suci dalam Pikiran, Perkataan dan Perbuatan Yang selanjutnya makna dasa darma yang ke 10 adalah mengharuskan setiap anggota Pramuka memiliki pikiran perkataan dan perbuatan dasa dharma baik. Segala segala tingkah laku setiap anggota pramuka diharapkan dapat menjadi suri tauladan bagi seluruh masyarakat sehingga mereka harus tetap mengontrol berbagai pikiran, perkataan dan perbuatan yang buruk.

Baca Juga : Sikap Patriotisme Penerapan Dasa Dharma dalam Kehidupan Dalam setiap poin dasa dharma terdapat di dalam isi Dasa Dharma memiliki arti dan makna yang berbeda-beda yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat menjadikan pribadi yang lebih baik. Penerapan ke 10 dasa darma tersebut dapat melalui berbagai hal seperti contohnya adalah sebagai berikut: 1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • selalu mengingat Tuhan dalam melakukan berbagai kegiatan baik yang kecil maupun yang besar.

• Biasakan apabila akan melakukan sesuatu tindakan diawali dengan berdoa. • Mematuhi segala perintah dan menjauhi segala larangan Tuhan. • Melakukan ibadah tepat waktu. • selalu beribadah sesuai keyakinan dan kepercayaan masing-masing. 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia • Menjaga hubungan yang baik antar sesama • Selalu saling tolong-menolong apabila terdapat orang yang sedang kesulitan • Menjaga kebersihan lingkungan terutama dasa dharma sekitar tempat tinggal dasa dharma Memiliki empati dan juga simpati yang tinggi kepada orang lain • Tidak membuang sampah sembarangan 3.

Patriot yang sopan dan kesatria • Menghormati orang yang lebih tua • Tidak membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama dan ras • Memiliki sikap yang menghargai akan adanya keanekaragaman bangsa Indonesia • Selalu menjunjung tinggi nama Indonesia • Rajin dalam belajar • Menaati segala peraturan negara 4.

Patuh dan suka bermusyawarah • Patuh terhadap orang tua guru ataupun pembimbing kamu yang lainnya. • Dasa dharma sebelum mengambil keputusan terlebih dahulu melakukan musyawarah • Tidak mengambil keputusan secara sepihak • Tidak boleh untuk memaksakan kehendak orang lain • diutamakan untuk mendahulukan kepentingan bersama dibandingkan dengan kepentingan pribadi atau golongan • Selalu mengerjakan tugas dengan baik 5.

Rela menolong dan tabah • Peduli terhadap orang lain • Suka membantu orang tua • Memberi pertolongan apabila ada orang yang sedang kesusahan • Selalu berusaha dan tidak mudah putus asa • Membantu orang lain secara ikhlas tanpa mengharapkan adanya imbalan • Selalu semangat dan pantang menyerah dalam menghadapi segala dasa dharma 9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya • Melaksanakan segala sesuatu dengan rasa penuh tanggung jawab • Mau minta maaf apabila berbuat salah • Tidak pernah mengecewakan apabila diberi tugas • Selalu berpikir sebelum bertindak • Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain • Bijak dalam mengambil segala keputusan Demikian penjelasan mengenai makna dari 10 teks Dasa darma Pramuka, sejarah Dasa Dharma, makna Dasa darma, serta penerapan atau contoh Dasa darma dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga artikel tersebut dapat membantu kamu dalam mengetahui lebih jelas lagi tentang Dasa Dharma, dan dapat pula meniru contoh penerapan Dasa Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Originally posted 2020-05-09 06:54:30.

dasa dharma

• v • t • e Dasavidha-rājadhamma ("tenfold virtue of the ruler") is one of the Buddhist dhamma that rulers of people, organisations, companies, offices, countries or other organs are purposed to hold.

It could be found in Sutta, Khuddakanikāya, Jātaka, stating: Dānaŋ sīlaŋ pariccāgaŋ ājjavaŋ maddavaŋ tapaŋ akkodaŋ avihimsañca khantiñca avirodhanaŋ Contents • 1 Composition • 2 History • 3 See also • 4 References • 5 External links Composition [ edit ] Dasavidha-rājadhamma composes of: 1. Dāna (charity) — being prepared to sacrifice one's own pleasure for the well-being of the public, such as giving away one's belongings or other things to support or assist others, including giving knowledge and serving public interests.

2. Sīla (morality) — practicing physical and mental morals, and being a good example of others. 3. Pariccāga (altruism), being generous and avoiding selfishness, practicing altruism. 4. Ājjava (honesty) — being honest and sincere towards others, performing one's duties with loyalty and sincerity to others. 5. Maddava (gentleness) — having gentle temperament, avoiding arrogance and never defaming others. 6. Tapa (self controlling) — destroying passion and performing duties without indolence.

7. Akkodha (non-anger) — being free from hatred and remaining calm in the midst of confusion. 8. Avihimsa (non-violence) — exercising non-violence, not being vengeful. 9. Khanti (forbearance) — practicing patience, and trembling to serve public interests. 10. Avirodhana (uprightness) — respecting opinions of other persons, avoiding prejudice and promoting public peace and order. History [ edit ] Historically, there is a man who exemplifies the tenfold virtue of the ruler, namely, King Asoka (304-232 BCE), who ruled India for forty-one years.

Initially, the King was a great warrior general, winning many battles, and continued to expand the Indian empire during the first eight years of his reign. After one particularly bloody, but victorious, campaign, the King took in the sight of the battleground, and seeing the carnage all around him, famously cried out, “What have I done?” Following this, he embraced Buddhism, establishing a just kingdom along Buddhist lines and was known as 'Dhammasoka' or "Asoka, the holder of dhamma".

He promoted wildlife protection, banning hunting for sport, built universities, hospitals for people and animals, and constructed irrigation systems for trade and agriculture. The King also renounced the use of violence, ceasing all military campaigns against his neighbors, instead sending monks and nuns abroad to spread the Buddhist Teachings on wisdom and kindness. Indeed, a son and daughter of King Asoka’s who were monk and nun took Buddhism to Sri Lanka, where it remains the predominant faith dasa dharma this day.

This is not to say that he promoted Buddhism at the expense of other religions, however, as he also encouraged tolerance and understanding dasa dharma different creeds and ethnic groups. King Asoka is remembered by Buddhists and non-Buddhists alike as an example of a truly compassionate and just ruler, who lived according to the tenfold virtue of the ruler. [1] See also [ edit ] • Buddhist kingship • Edicts of Ashoka • Philosopher king • Political ethics References [ edit ] • ^ Forest Wisdom.

(2007, August 12). Buddhism by number : ten duties of the king. [Online]. Available: < http://forestwisdom.blogspot.com/2007/08/buddhism-by-numbers-10-duties-of-king.html >. (Accessed: 19 October 2008). • The Royal Institute of Thailand. (2005). The Royal Institute's Dictionary of International Religious Terms.

(Second edition with amendment). Bangkok : Arun Publishing House Co., Ltd. • The Secretariat of the Cabinet of Thailand External links [ edit ] Wikiquote has quotations related to: Dasavidha-rājadhamma Edit links dasa dharma This page was last edited on 1 April 2022, at 00:57 (UTC). • Text is available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License 3.0 ; additional terms may apply.

By using this site, you agree to the Terms of Use and Privacy Policy. Wikipedia® is a registered trademark of the Wikimedia Foundation, Inc., a non-profit organization. • Privacy policy • About Wikipedia • Disclaimers • Contact Wikipedia • Mobile view • Developers • Statistics • Cookie statement • •
Kami adalah Perusahaan Dagang yang menyediakan berbagai macam kebutuhan terutama barang jadi seperti Sepatu, Kaos, Kemeja, Tas, Kaos Kaki, Wearpack Safety dan Sandal yang siap kami kerjakan untuk Perusahaan atau kebutuhan Anda.

Kami selalu mengutamakan kepuasan pelanggan kami agar kedepannya bisa terus bekerja sama dengan baik. Dapatkan harga dan pelayanan terbaik ditoko kami. Kami siap mengirim ke seluruh Indonesia. Anda tak perlu repot repot untuk keluar rumah cukup pesan dan anda tinggal duduk manis dirumah dan pesanan anda akan datang dengan tepat. KLIK DISINI untuk lebih mengenal kami Alasan Kenapa Anda Harus Bekerja Sama Dengan Kami ?

• Harga yang kami tawarkan merupakan harga terbaik • Pengiriman ditoko dasa dharma sangat cepat • Kami adalah Perusahaan Terpercaya yang kami jamin barang akan sampai ke tangan anda • Kami akan melayani anda dengan sepenuh hati dan ramah kepada anda • Pesan di Perusahaan kami sangat simple dan mudah • Barang di Perusahaan kami sangat terjaga kualitasnya • Kami juga memiliki toko offline, sehingga memudahkan anda untuk bertransaksi dengan kami • Garansi uang kembali 100% bila barang tidak sampai • Dasa Dharmasudah berpengalaman melayani pelanggan dari tahun 2018 Itulah alasan kuat anda harus bekerja sama dengan kami Nomor Whatsapp 0895-3391-73054 Jam Kerja Senin – Minggu 09 : 00 – 17:00 WIB Jum’at dan tanggal merah libur Nomor Telepon Kantor (022) 8592-2074 Alamat Email cs@dasadharma.com Alamat Kantor Jl.

Propinsi 151 Pasirjambu Kp. Mekar Rasa RT 002 RW 009 Desa Pasirjambu Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung Jawa Barat 40972
Merdeka.com - Setiap anggota Pramuka harus mengerti dan memahami dasa dharma dasa darma. Dengan menjalankan isi dasa darma, setiap anggota mampu mampu menjadi manusia yang berakhlak mulia. Secara bahasa, dasa darma terdiri dari dua kata, yaitu dasa dasa dharma darma.

Dasa memiliki arti sepuluh, sedangkan darma berarti perbuatan terpuji dan mulia. Sehingga, dasa darma adalah sepuluh tindakan terpuji atau mulia yang harus ditanamkan dan dijadikan pedoman oleh masing-masing anggota Pramuka. Dasa darma merupakan pedoman mulia yang harus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Dasa darma memuat pokok-pokok moral yang menjadi dasar anggota Pramuka dalam menjalankan tugas.

Dengan mengamalkan dasa darma, mereka dapat menanamkan nilai-nilai luhur yang bermanfaat dalam tata kehidupan. Lantas, apa saja isi dasa darma Pramuka dan bagaimana contoh pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari? Simak ulasannya yang dilansir dari Liputan6.com: © indonesiastudents.com Seperti yang sudah diketahui, dasa darma merupakan sepuluh kebijakan yang menjadi pedoman bagi Pramuka dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak 1961, dasa darma mengalami banyak perubahan hingga sekarang. Bahkan, rumusan dasa darma sudah diamandemen hingga empat kali, dan terakhir dirumuskan pada 1978. Sebagai seorang anggota Pramuka wajib untuk hafal dan memahami makna isi dari dasa darma.

Ada 10 poin penting isi dasa darma yang wajib dihafal, dipahami, dan dijadikan pedoman hidup, yaitu: BACA JUGA: Perseteruan Adhyaksa Dault dengan Kwartir Nasional Pramuka Berakhir Damai Selidiki Tragedi Tewasnya 11 Siswa saat Susur Sungai, Polres Ciamis Periksa 4 Saksi Isi dasa darma yang pertama adalah takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota pramuka harus memiliki sifat takwa kepada Tuhan dan menjunjung tinggi harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Selain itu, seorang anggota pramuka juga dituntut untuk memiliki sikap toleransi yang tinggi dengan agama orang lain dan mempersilakan orang lain untuk beribadah sesuai dengan kepercayaannya.

Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia Makna dari cinta alam dan kasih sayang sesama manusia adalah memiliki sifat cinta kasih tidak hanya ditujukan kepada manusia tetapi juga pada makhluk hidup dasa dharma lain. Dengan memiliki rasa cinta dan kasih, setiap anggota pramuka dapat mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

Patriot yang Sopan dan Ksatria Setiap anggota pramuka harus memiliki dasa dharma sopan dan ksatria. Dengan kata lain, seorang anggota pramuka wajib memiliki sopan santun saat menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, mereka juga harus ikut serta dalam menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia demi mewujudkan negara yang aman dan sejahtera. Patuh dan Suka Bermusyawarah Anggota pramuka juga harus senantiasa patuh dalam setiap tugas yang diberikan. Seorang pramuka harus siap dalam menghadapi perintah dan tidak boleh menolaknya.

Dalam mengambil sebuah keputusan, mereka juga harus melalui dasa dharma untuk mencapai kesepakatan bersama. Rela Menolong dan Tabah Tak hanya patuh dan memiliki sikap ksatria, seorang anggota pramuka juga harus rela menolong kepada sesama tanpa membeda-bedakan ras, suku, atau golongan.

Dalam pelaksanaannya, mereka harus siap menghadapi segala cobaan dan musibah. Rajin, Terampil, dan Gembira Setiap anggota pramuka harus memiliki sikap yang rajin dalam menjalankan tugas tertentu. Dalam pelaksanaannya, anggota pramuka juga harus memiliki keterampilan dan kecakapan. Tentu saja, hal tersebut harus dilakukan dengan riang gembira. Hemat, Cermat, dan Bersahaja Hemat, cermat, dan bersahaja juga harus senantiasa menjadi pedoman setiap anggota pramuka saat menjalankan tugas.

Untuk itu, sudah menjadi tugas setiap anggota untuk memiliki kebiasaan hemat dan harus cermat dalam menempatkan segala sesuatu sesuai dengan fungsi dan manfaatnya.

Disiplin, Berani, dan Setia Setiap anggota pramuka juga harus memiliki sikap disiplin, berani, dan setia. Selain itu, seorang anggota juga harus berani menghadapi segala tantangan dan setia menjunjung tinggi kepanduannya. Bertanggung Jawab dan Dapat Dipercaya Salah satu sikap yang harus dimiliki anggota pramuka adalah bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

Dengan kata lain, anggota pramuka harus senantiasa berani bertanggung jawab atas segala perbuatan dan perilakunya. Dengan begitu, mereka dapat dipercaya dan tidak pernah mengkhianati kepercayaan yang diberikan. Suci dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan Dasa darma ke-10 adalah suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Setiap tingkah laku mereka diharapkan bisa menjadi suri tauladan bagi masyarakat sehingga anggota pramuka dapat mengendalikan pikiran, perkataan, perbuatannya masing-masing. Contoh Pelaksanaan Dasa Darma dalam Kehidupan Sehari-hari rumgapres/abror rizki Sebagai anggota Pramuka, sudah seharusnya kita mengamalkan isi dasa darma dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa contoh pelaksanaan isi dasa darma, di antaranya: • Menjalani ajaran dari ibadah agama. • Berusaha mengendalikan dan mengatur diri. • Belajar untuk menilai kenyataan, bukti dan kebenaran suatu informasi.

• Patuh dengan pertimbangan dan keyakinan. • Selalu bertanggung jawab dan dapat dipercaya. 1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Dasa dharma, Penampilannya Mencuri Perhatian 3 Tak Terima Rekayasa Lalu Lintas, Pengguna Mobil Mewah Ini Berkata Kasar Kepada Polisi 4 6 Gaya Lucu Rayyanza Anak Raffi Ahmad & Nagita Liburan di Bali, Bikin Gemas 5 Misteri Penembak Arief Rahman Hakim: Pengawal Presiden atau Polisi Militer Jakarta?

SelengkapnyaDasa (Sanskrit: दास) or das is a Sanskrit word found in ancient Hindu texts such as the Rigveda and Arthashastra. [1] It usually means either "enemy" or "servant". [2] The Dāsa are a tribe identified as the enemies of the Aryan tribes in the Rigveda. The word Dāsa, later acquired derogatory connotations, meaning 'servant'. Dasa can also mean " servant of God", "devotee," " votary" or "one who has surrendered to God"; dasa may be a suffix of a given name to indicate a "servant" of a revered person or deity.

[3] The identity of the Dasa has caused much debate, closely tied to arguments over Indo-Aryan migration, the claim dasa dharma the Indo-Aryan authors of the Rigveda entered India from outside, displacing its earlier inhabitants. During the nineteenth century Western scholars identified the Dasa with dark-skinned Dravidian-speaking peoples, but more recent scholars, notably Dasa dharma Parpola, have claimed that they were fellow Indo-Iranians of the BMAC, who initially rejected Aryan religious practices but were later merged with them.

A similar term for enemy people, Dasyu, is also used in the Rig Veda. It is unclear whether the Dasa and Dasyu are identical. In some contexts, dasa is interchangeable with the Sanskrit words dasyu and asura, both of which have been translated into other languages as words equivalent to "demon", "harmful supernatural force", "slave", "servant" or "barbarian", depending on the context in which the word is used.

[2] [4] Contents • 1 Etymology • 2 Rig Veda • 2.1 Dasa with the meaning of savage, barbarians • 2.2 Dasa with the meaning of demon • 2.3 Dasa with the meaning of servant or slave • 3 Later Vedic texts • 3.1 Arthashastra • 4 Buddhist texts • 5 Other uses • 5.1 Use of religious "devotees" • dasa dharma As a surname or byname • 6 Comparative linguistics • 6.1 Dasa • 6.2 Dasyu • 6.3 Related terms • 7 Anasa • 8 The religion of the Dasas/Dasyus • 8.1 Devas versus Asuras • 9 Symbolical and spiritual interpretations • 10 The Dasas/Dasyus and krsna or asikni • 10.1 Tvac • 11 See also • 12 References • 13 Further reading Etymology [ edit ] Dasa and related terms have been examined by several scholars.

[5] While the terms Dasa and Dasyu have a negative meaning in Sanskrit, their Iranian counterparts Dasa dharma and Dahyu have preserved their positive (or neutral) meaning. This is similar to the Sanskrit terms Deva (a "positive" term) and Asura (a "negative" term). The Iranian counterparts of these terms ( Daeva and Ahura) have opposite meanings.

Karl Heinrich Tzschucke in 1806, in his translations of the Roman geographer Pomponius Mela, noted etymological and phonological parallels between dasa and the ethonyms of the Dahae – Persian داها; Sanskrit Dasa; Latin Dahae; Greek Δάοι Daoi, Δάαι, Δᾶαι Daai and Δάσαι Dasai – a people who lived on the south-eastern shores of the Caspian Sea in ancient times (and from whom modern Dehestan/Dehistan takes its name).

[6] Likewise Max Muller proposed that dasa referred to indigenous peoples living in South Asia before the arrival of the Aryans. However, such theories have long been controversial and are considered by many scholars as inconsistent with the broader usage of dasa in the Vedas.

[7] [8] Monier Monier-Williams in 1899, stated that the meaning of dasa varies contextually and means "mysterious forces", "savages", "barbarians" or "demons" in the earliest layer of Vedic literature – in other contexts, is a self-effacing way to refer oneself as "worshipper" or "devotee aiming to honor a deity", or a "servant of god".

dasa dharma

{INSERTKEYS} [9] In later Indian literature, according to Monier-Williams, usage of dasa is used to refer to "a knowing man, or a knower of the universal spirit". [10] In the latter sense, dāsa is masculine, while the feminine equivalent is dāsi. [9] Some early 20th Century translations, such as P.

T. Srinivas Iyengar (1912), translate dasa as "slave". [11] Kangle in 1960, [1] and others [12] suggest that, depending on the context, dasa may be translated as "enemy", "servant" or "religious devotee".

More recent scholarly interpretations of the Sanskrit words dasa or dasyu suggest that these words used throughout the Vedas represents "disorder, chaos and dark side of human nature", and the verses that use the word dasa mostly contrast it with the concepts of "order, purity, goodness and light." [2] In some contexts, the word dasa may refer to enemies, in other contexts it may refer to those who had not adopted the Vedic beliefs, and yet other contexts it may refer to mythical enemies in the battle between good and evil.

[2] Michael Witzel in his review of Indo-Iranian texts in 1995, states that dasa in the Vedic literature represented a North Iranian tribe, who were enemies of the Vedic Aryans, and das-yu meant "enemy, foreigner." [13] He notes that these enemies could have apparently become slaves if captured. Witzel compares the etymological root of dasa to words from other Indo-European languages that imply "enemy, foreigner", including the Avestan dahåka and dŋha, Latin dahi and Greek daai.

[14] That the Dasa were Iranic is no doubt as the Rig Veda mentions, that the Dasa, along with the Dasyu and Panis live beyond the Rasa River.

[15] That the river was a division between the "Devas" and the "Asuras" is also acknowledged in the Vedas. [16] Scholars such as Tilak [17] have connected "Rasa" to the Avestan "Rangha", which is supposed to have been near the Hapta Hindu. [18] Asko Parpola in 2015, has proposed that dasa is related to the ancient Iranian and proto-Saka word daha, which means "man". [19] Parpola states that dasa referred only to Central Asian peoples.

[20] This is contrasted with arya, the word for "man" used by, and of, Indo-European people from Central Asia. Consequently, a Vedic text that include prayers for the defeat of the dasa as an "enemy people", according to Parpola, possibly refers to people from the so-called Bactria–Margiana Archaeological Complex (BMAC), who spoke a different language and opposed Aryan religious practices.

{/INSERTKEYS}

dasa dharma

{INSERTKEYS} [20] Parpola uses archaeological and linguistic arguments to support his theory, but this is controversial. [21] Dasa in Buddhist texts can mean "servant". [3] In Pali language, it is used as suffix in Buddhist texts, where Amaya-dasa was translated by Davids and Stede in 1925, as a "slave by birth", [22] Kila-dasa translated as a "bought slave", [23] and Amata-dasa as "one who sees Amata (Sanskrit: Amrita, nectar of immortality) or Nibbana". [24] • On the next page, however, Witzel does mention the ethnonyms of the enemies of the Vedic Aryans, the Dasas (Iranian Daha, known to Greco-Roman authors as Daai, Dahae), Dasyus (Iranian dahyu, “tribe”, esp.

hostile nomadic tribe) and Panis (Greek Parnoi), as unmistakably the names of Iranian tribes. The identification of these tribes as Iranian has been elaborated in the same volume by Asko Parpola, the Finnish author of a Dravidian reading of the Indus script.7 The Iranian identity of Dasas and Dasyus is now well-established, a development which should at least put an end to the talk of the Dasas being “the dark-skinned aboriginals enslaved by the Aryan invaders”.

Elst 1999 • Among the Vedic terms figuring prominently in the AIT reading of the Vedas, the most important one is probably dAsa. DAsa, known to mean “slave, servant” in classical Sanskrit, but in the Rg-Veda the name of an enemy tribe, along with the apparently related word dasyu, is interpreted in AIT parlance as “aboriginal”. More probably these words designate the Vedic people’s white-skinned n cousins, who at one point became their enemies, for both terms exist in Iranian, dahae being one of the Iranian tribes, and dahyu meaning “tribe, nation”.

The original meaning of dAsa, long preserved in the Khotanese dialect of Iranian, is “man”; it is used in this sense in the Vedic names DivodAs, “divine man” and SudAs, “good man”.67 In Iranian, it always preserved its neutral or positive meaning, it is only in late-Vedic that it acquired a hostile and ultimately a degrading connotation.

Strangely a similar evolution has taken place in Greek, where doulos, “slave”, is an evolute of *doselos, from *dos-, the IE root of dAsa. Elst 1999 • Yet, nothing in the text supports this idea that the Vedic people came from the west and the Dāsas from the east, or that the Dāsas mentioned lived across the Yamuna, or that the Vedic people were intruders while the Dāsas were the established population, or that the Aryans even outside the context of this battle were on the move from west to east.

On the contrary, twice and in two different ways, the source text says it is the Dāsas and Dasyus who came from the west. It says that they have come to the “east” for a fight and that these “godless ones” are turned back “westward” (7:6:3); and it has them come from the westerly Asiknī/Chenab river valley to challenge and fight Sudās on the shores of the easterly Paruṣṇī/Ravi.

That doesn’t mean they were intruders into India, though: it is a big country, and it is most unlikely that any of the warring parties identified with India as a whole (as opposed to their own slice of it) as “their” country.

Even Pradhan, otherwise very careful to toe the orthodox line, breaks ranks with his Western mentors by accepting as simply obvious the Iranian identity of the Ten Kings, e.g.: “their Indo-Iranian past gave the Dāsas the institution of sacrifice” (Pradhan 2014:124), “their Aryan antecedents become clear from the Avestā and the Greek historians’ notices of the Dahae and the Parnoi” (Pradhan 2014:132).

He silently passes over the improbable implication that this would put the Iranians where he had earlier located the Ten Kings, viz. east of the Yamuna, a rather unorthodox hypothesis. Other Indian authors too have made this Iranian identification. Thus, in an otherwise confused account, Verma & Verma (1994:4) assert nonetheless that the Pakthas are “today’s Pakhtuns” while the Bhalānas “were associated with the Bolan Pass” and the Parśu were “a people of ancient Persia” (1994:9).

Elst 2018 [1] [archive] 1. The words dāoŋha (by itself) and daŋhu/daŋhзuš (in suffixes), the Avestan equivalents of dāsa and dasyu, are found in personal names in the Avesta: Dāoŋha, Daŋhu.frādah, Daŋhu.srūta, Ātərədaŋhu, Jarō.daŋhu, Ərəzauuaṇt-daŋhзuš. And both the words have pleasant or neutral meanings.

2. The word daha in certain Iranian languages (e.g. Khotanese), even today, has the meaning “man”. 3. Greek texts refer to an Iranian people known as the Dahae, who were prominent in Iranian history in Central Asia. 4. The word dāsa is used in a friendly sense in only three references in the Rigveda (see TALAGERI 2000:206-208), and as all three of them are dānastutis, or hymns in praise of patron or donor kings, it is clear that the uncharacteristic friendly sense of the word has to do with the identity of the donor kings.

In two of these hymns, the names of the patron kings have been identified by many western scholars, (incuding Hoffman, Wilson, Weber, Witzel and Gamkrelidze) as proto-Iranian names: Kaśu Caidya in VIII.5 and Pṛthuśravas Kānīta in VIII.46. And the name of the patron king in the third hymn, Ruśama Pavīru in VIII.51, may well be a proto-Iranian name too: MLBhargava (BHARGAVA:1964) identifies the Ruśamas as a tribe of the extreme northwest from the Soma lands of Suṣomā and Ārjīkīyā.

This clearly places them in the territory of the Iranians. [The three hymns, VIII.5,46,51, along with another hymn VIII.6, constitute a group of four unique hymns in the Rigveda, in a separate class from all the other hymns: a) three of them (VIII.5,6,46) donate camels to the rishis rather than cattle. b) three of them (VIII.5,46,51) speak well of the dāsas. c) three of them (VIII.5,6,46) have proto-Iranian names (see above)] [2] [archive] Rig Veda [ edit ] Dasa and related words such as Dasyu are found in the Rig Veda.

They have been variously translated, depending on the context. These words represent in some context represent "disorder, chaos and dark side of human nature", and the verses that use the word dasa mostly contrast it with the concepts of "order, purity, goodness and light." [2] In other contexts, the word dasa refers to enemies and in other contexts, those who had not adopted the Vedic beliefs.

[2] [25] A. A. Macdonell and A. B. Keith in 1912 remarked that, "The great difference between the Dasyus and the Aryans was their religion... It is significant that constant reference is made to difference in religion between Aryans and Dasa and Dasyu." Dasyu is a term that could also be applied to Vedic kings, if their behaviour changed.

In the battle of the Ten Kings ( Dasarajna) in the Rig Veda the king Sudas calls his enemies "Dasyu" which included Vedic peoples like the Anus, Druhyus, Turvashas, and even Purus. ( RV 7.6, 12-14, 18) There is also a Dasa Balbutha Taruksa in RV 6.45.31 who is a patron of a seer and who is distinguished by his generosity ( RV 8.46.32).

There are several hymns in the Rigveda that refer to Dasa and Aryan enemies [26] and to related (jami) and unrelated (ajami) enemies (e.g. 1.111.3, 4.4.5); still, in the battle of the ten kings, there are Dasas and Aryas on both sides of the battlefield and in some Rigvedic verses, the Aryas and Dasas stood united against their enemies.

[27]. Talageri: The word DAsa is found in 54 hymns (63 verses) and in an overwhelming majority of these references, it refers either to human enemies of the Vedic Aryans, or to atmospheric demons killed by Indra: in most of the cases, it is difficult to know which of the two is being referred to, and in some of them perhaps both are being simultaneously referred to.

In any case, since these references are usually non-specific, it makes no material difference to our historical analysis. ... Given the nature (and, as we shall see later, the period) of MaNDala VIII, and the fact that all these three hymns are dAnastutis (hymns in praise of donors), it is clear that the friendly references have to do with the identity of the patrons in these hymns. A special feature of these dAnastutis is that, while everywhere else in the Rigveda we find patrons gifting cattle, horses and buffaloes, these particular patrons gift camels (uSTra): at least, the first two do so (VIII.5.37; 46.22, 31), and it is very likely that the third one does so too (this dAnastuti does not mention the specific gifts received, and merely calls upon Indra to shower wealth on the patron).

In any case, there is a fourth patron in another dAnastuti in the same MaNDala (VIII.6.48) who also gifts camels. Outside of these three hymns, the camel is referred to only once in the Rigveda, in a late upa-maNDala of MaNDala I (I.138.2), where it is mentioned in a simile.

...In two of these cases, as we can see, the identity is self-evident: one patron is called a ParSava (Persian) and another has PRthu (Parthian) in his name. In sum, the Iranians are fully identifiable with the Anus, the particular DAsas (non-PUrus) of the Rigveda. The first difference is that the term DAsa clearly refers to other tribes (ie. non-PUru tribes) while the term Dasyu refers to their priestly classes (ie.

non-Vedic priestly classes). According to IV. 28.4, the Dasyus are a section among the DAsas. The Dasyus are referred to in terms which clearly show that the causes of hostility are religious (adeva, abrahma, etc). The family-wise pattern of references to them also shows that the Dasyus are priestly rivals while the DAsas are secular rivals. The Dasyus are referred to by all the nine priestly families of RSis, but not by the one non-priestly family of RSis (the Bharatas).

The DAsas are referred to by the Bharatas (X.69.6; 102.3) also; but not by the most purely ritualistic family of RSis, the KaSyapas, nor in the most purely ritualistic of MaNDalas, MaNDala IX. The Dasyus, being priestly entities, do not figure as powerful persons or persons to be feared, but the DAsas, being secular entities (tribes, tribal warriors, kings, etc.) do figure as powerful persons or persons to be feared.

While both DAsas and Dasyus are referred to as enemies of the Aryas, it is only the DAsas, and never the Dasyus, who are sometimes bracketed together with the Aryas.

The second difference is in the degree of hostility towards the two. The Dasyus are clearly regarded with uncompromising hostility, while the hostility towards the DAsas is relatively mild and tempered.

(Talageri) The word Dasyu has a purely hostile connotation even when it occurs in the name or title of heroes: Trasadasyu = “tormentor of the Dasyus”. DasyavevRka = “a wolf towards the Dasyus”. On the other hand, the word DAsa has an etymological meaning beyond the identity of the DAsas.

When it occurs in the name or title of a hero, it has a benevolent connotation: DivodAsa = “light of Heaven” or “slave of Heaven”. All the 80 verses which refer to Dasyus are uncompromisingly hostile. Of the 80 verses which refer to Dasyus, 76 verses talk of direct, violent, physical action against them, ie.

they talk of killing, subduing or driving away the Dasyus. On the other hand, of the 63 verses which refer to DAsas, only 38 talk of such direct physical action against them. (Talageri) The dasyus are referred to in terms of hostility which have to do with religious differences: ayajvan (I.33.4), anyavrata (VIII.70.11; X.22.8), adevayu (VIII.70.11), akarman (X.22.8), abrahman (IV.16.9), avrata (I.51.8; 175.3; VI.14.3; IX.41.2), amanyamāna (I.33.9; II.12.10), grathin (VII.6.3), ayajña (VII.6.3), av ṛ dha (VII.6.3), aśraddha (VII.6.3), akratu (VII.6.3), māyāvat (IV.16.9).

(Talageri 2008) The dāsas (being tribes and kings) frequently figure as powerful entities to be feared, whether the word is used for human enemies or symbolically for atmospheric demons: in seven hymns (I.104.2; 158.5; VIII.24.27; X.22.8; 54.1; 69.6; 102.3), the composers ask for protection from dāsas, or are rescued from them by the Gods. In three others (I.32.11; V.30.5; VIII.96.18), the dāsas are powerful demons who hold the celestial waters in their thrall.

(Talageri 2008) Incidentally, the reference in X.49.3, where the composer expresses his refusal to call a dasyu by the name ―ārya‖ makes sense only in the above contexts.

If ārya and dasyu were ethnic-linguistic terms, the question of calling a ―non-Aryan‖ dasyu an ārya would never arise at all, and the verse makes no sense. But ārya means a Pūru, and the dasyu referred to in this particular verse may be a Pūru (an ārya by community) who has joined a rival priestly class of the non-Pūrus, just as a branch of the Bhṛgus after Jamadagni, who were Anus, joined the priestly classes of the Pūrus (Talageri 2008) Significantly, of the three hymns which have nice things to say about Dāsas, VIII.5, 46 and 51, the first two are hymns which have camel-gifting kings with proto- Iranian names.].

(Talageri 2008) A range of western Indologists (including Hoffman, Wilson, Weber, Witzel and Gamkrelidze) have identified Kaśu (VIII.5), Tirindira Parśava (VIII.6), and Pṛthuśravas Kānīta (VIII.46) as proto-Iranian names. Ruśama Pavīru, the patron of VIII.51, is not specifically named as Iranian by the scholars.

However, the Ruśama-s are identified by M.L.Bhargava (BHARGAVA:1964) as a tribe of the extreme northwest from the Soma lands of Suṣomā and Ārjīkīyā.

{/INSERTKEYS}

dasa dharma

This clearly places them in the territory of the Iranians. [3] [archive] Now the word dāsa, though used for non-Pūru-s and mostly dasa dharma a hostile sense in the Rigveda (and meaning "slave" in later Sanskrit), is clearly a word with an originally dasa dharma connotation.

It is derived from the root √daṁś- "to shine" (obviously with a positive connotation), is found in the name of Divo-dāsa in a positive sense, and is used to describe the patrons of the hymns in the above references. Clearly, it was a tribal name among the Anu-s (the Iranians: note that the word "daha" means "man" in Khotanese), first used by the Bharata Pūru-s for the Anu-s in general and later extended to all dasa dharma. [4] [archive] Another classic scriptural reference concerns everything relating to the enemies of the Vedic Aryans, such as the “aboriginal” Dasas.

Very aptly, Sergent identifies the Dasas and the Panis as Iranians, and the Pakthas (one of the tribes confronting the Vedic king Sudas in the Battle of the Ten Kings) as the Iranian Pathans.77 Yet he doesn’t identify these tribes with the Dasa dharma Age Dasa dharma, arguing that in Alexander’s time, Greek authors locate the Parnoi and Dahai just south of the Aral Lake.

But that was almost two thousand years after the heyday of the Bactrian Bronze Age culture and arguably even longer after the Rg-Veda. Dasa dharma only mystery is that these ethnonyms managed to survive that long, not that during those long centuries, they could migrate a few hundred miles to the northwest - centuries during which we know for fact that the Iranians expanded westward from their Bactrian heartland across rivers and mountains to settle as far west as Mesopotamia.

Moreover, the Vedas locate the confrontations in the prolonged hostility between Indo-Aryans and Iranians not on the Saraswati (which could in theory be identified as the homonymous Harahvaiti/Helmand in Afghanistan)78, but on the riverside of the Parushni/Ravi and other Panjab rivers, unambiguously in India.

This is only logical if the Vedic Aryans were based in the Saraswati basin and their Iranian enemies were based in an area to their west (western Panjab, Khyber pass): they confronted halfway in eastern Panjab. So not only did these Iranian tribes move from Bactria to the Aral Lake area in 2000-300 BC, but they had started moving northwestward centuries earlier, in the Rg-Vedic period, in Panjab.

• • Elst 1999 Dasa with the meaning of savage, barbarians [ edit ] Rig Veda 10.22.8 describes Dasyus as "savages" who have no laws, different observances, a-karman (who do not perform rites) and who act against a person without knowing the person. [4] अकर्मा दस्युरभि नो अमन्तुरन्यव्रतो अमानुषः । त्वं तस्यामित्रहन्वध र्दासस्य दम्भय ॥८॥ [28] Around us is the Dasyu, riteless, void dasa dharma sense, inhuman, keeping alien laws.

Baffle, thou Slayer of the foe, the weapon which this Dasa wields. – Translated by Ralph Griffith [29] The Dasyu practising no religious rites, not knowing us thoroughly, following other observances, obeying no human laws, Baffle, destroyer of enemies [Indra], the weapon of that Dasa.

– Translated by H. H. Wilson [30] — Rigveda 10.22.8 Dasa with the meaning of demon [ edit ] Within the Vedic texts, Dasa is the word used to describe supernatural demonic creatures with many eyes and many heads. This has led scholars to interpret that the word Dasa in Vedic times meant evil, supernatural, destructive forces. For example, Rigveda in hymn 10.99.6 states, [31] स इ द्दासं तुवीरवं पतिर्दन्षळक्षं त्रिशीर्षाणं दमन्यत् । अस्य त्रितो न्वोजसा वृधानो विपा वराहमयोअग्रया हन् ॥६॥ The sovereign Indra attacking him overcame the loud shouting, six eyed, three headed Dasa, Trita invigorated by his strength, smote the cloud with his iron-tipped finger.

— Rigveda 10.99.6, translated by H. H. Wilson [32] Dasa with the meaning of servant or slave [ edit ] Dasa is also used in Vedic literature, in some contexts, to refer to "servants", a few translate this as "slaves", but the verses do not describe how the Vedic society treats or mistreats the servants.

R. S. Sharma, in his 1958 book, states that the only word which could possibly mean slave in Rigveda is dāsa, and this sense of use is traceable to four verses out of 10,600 verses in Rigveda, namely 1.92.8, 1.158.5, 10.62.10 and 8.56.3. [33] The translation of word dasa to servant or slave varies by scholars. [2] HH Wilson, for example, translates Dasa in Rigvedic instances identified by Sharma, as servant rather than slave, [34] as in verse 10.62.10: [35] उत दासा परिविषे स्मद्दिष्टी गोपरीणसा । यदुस्तुर्वश्च मामहे ॥१०॥ [36] Yadu and Indra speaking auspiciously, and possessed of numerous cattle, gave them like servants, for the enjoyment.

— Rigveda 10.62.10, Translated by HH Wilson [34] • This word is used in the Rigveda to refer to all non-Pūru people, but specifically to the Anu or proto-Iranians.

This is proved by the fact that while the word is used in an inimical or hostile sense throughout the Rigveda, it is used in a good sense in three hymns: in VIII.5.31 (where the Aśvins are depicted as accepting the offerings of the dāsas), VIII.46.32 (where the patrons are directly called dāsas) and VIII.51.9 (where Indra is described as belonging to both āryas and dāsas).

These three hymns belong to a special group of four hymns in the Rigveda, where (in three of them) the patrons gift camels to the composers of the hymn, and (in three of them) western Indologists (including Witzel) have identified the patrons as being kings with Iranian names.

Also, daha means "man" in the Iranian Khotanese language Further, the Avesta has names with both dāsa and the related dasyu: Dāoŋha, Daŋhu.frādah, Daŋhu.srūta, Ātərədaŋhu, Jarō.daŋhu, Ərəzauuaṇt-daŋhзuš. But, as in many such cases, dāsa could also be the name of a particular Iranian tribe (perhaps in fact, the ancestors of the Khotanese, known as the eastern Sakas). In any case, we find a trail of this tribal name also spreading westwards: the Dahi in Afghanistan in the Avesta, and later the Dahae in W.

Turkmenistan. And also the Thraco-Phrygian Dacians in southern parts of eastern Europe. [5] [archive] Later Vedic texts [ edit ] The three words Dasa, Dasyu and Asura(danav) are used interchangeably in almost identical verses that are repeated in different Vedic texts, such as the Rig veda, the Saunaka recension of Atharva veda, the Paippalada Samhita of the Atharva veda and the Brahmanas text in various Vedas. Such comparative study has led scholars to interpret Dasa and Dasyu may have been a dasa dharma of Asura (demons or evil forces, sometimes simply lords with special knowledge dasa dharma magical powers) of later Vedic texts.

[37] [ need quotation to verify] Sharma states that the word dasa occurs in Aitareya and Gopatha Brahmanas, but not in the sense of a slave. [38] Arthashastra [ edit ] Kautilya's Arthashastra dedicates the thirteenth chapter on dasas, in his third book on law.

This Sanskrit document from the Maurya Empire period (4th century BCE), has been translated by several authors. Shamasastry's translation in 1915, [39] Kangle's translation in 1960s [40] and Rangarajan's translation in 1987 [41] all map dasa as slave.

However, Kangle suggests that the context and rights granted to dasa by Kautilya, such as the right to the same wage as a free labourer and the right to freedom on payment of an amount, distinguish this form of slavery from that of contemporary Greece. [42] Edmund Leach points out that the Dasa was the antithesis of the concept of Arya.

As the latter term evolved through successive meanings, so did Dasa: from "indigenous inhabitant" to "serf," "tied servant," and finally "chattel slave." He suggests the term "unfreedom" to cover all these meanings. [43] According to Arthashastra, anyone who had been found guilty of nishpatitah (Sanskrit: निष्पातित, ruined, bankrupt, a minor crime) [44] may mortgage oneself to become dasa for someone willing to pay his or her bail and employ the dasa for money and privileges.

[39] [42] According to Arthashastra, it was illegal to force a dasa (slave) to do certain types of work, to hurt or abuse him, or to force sex on a female dasa. [39] Employing a slave ( dasa) to carry the dead or to sweep ordure, urine or the leavings of food; keeping a slave naked; hurting or abusing him; or violating the chastity of a female slave shall cause the forfeiture of the value paid for him or her.

Violation of the chastity shall at once earn their liberty for them. — Arthashastra, Translated by Shamasastry [39] When a master has connection (sex) with a pledged female slave ( dasa) against her will, he shall be punished. When a man commits or helps another to commit rape with a female slave pledged to him, he shall not only forfeit the purchase value, but dasa dharma pay a certain amount of money to her and a fine of twice the amount to the government.

— Arthashastra, Translated by Shamasastry [39] Buddhist texts [ edit ] Words related to dasa are found in early Buddhist texts, such as dāso na pabbājetabbo, which Davids and Stede translate as "the slave cannot become a Bhikkhu". [45] This restriction on who could become a Buddhist monk is found in Vinaya Pitakam i.93, Digha Nikaya, Majjhima Nikāya, Tibetan Bhiksukarmavakya and Upasampadajnapti.

[45] [46] Other uses [ edit ] Use of religious "devotees" [ edit ] In Tamil tontai, dasa, servant, commonly used to refer to devotees of Lord Vishnu or Sri Krishna.

[47] In Gaudiya Vaishnava theology Smriti dasa dharma dāsa-bhūto harer eva nānyasvaiva kadācana, living entities (bhuto) are eternally in the service (dasa) of the Supreme Lord ( Hari). [48] Thus designation for Vaishnava followers of svayam bhagavan Krishna was the status title dasa as dasa dharma of their names as in Hari Dasa. [49] As a surname or byname [ edit ] Main article: Das (surname) Dasa or Das is also a surname found among Sikhs and Hindus, typically north, eastern and western India, where it literally means "votary, devotee, servant of God." [50] For example, Mohandas Gandhi's first name, Mohandas, means servant of Mohan or Krishna.

Also, the name Surdas means servant of Sur or Deva. In the past, many sants of bhakti movement tradition added it in their names signifying their total devotion or surrender to God.

[49] Another example is Kalidasa, servant of Kali. The present day usage of Dasa in Hinduism has respectful connotation and not derogatory. It always means 'slave of god'. In the past, many saints from all castes added it in their names signifying their total devotion to god. An example is Mohandas Gandhi. Another example if Surdas, the blind Brahmin poet.

'Das' is one of the common surnames of Brahmins, especially in East India. It looks like there was a complete break from Rig Vedic dasa dharma and Hindu India when it comes to the word 'Dasa'.

As any other dasa dharma word to translate the word " slave" is absent in Sanskritized Hindi, the word Dāsa is used for the same. Further more in the dasa dharma yoga a person can be in dasa dharma relationship with God in any of the 5 ways dasa dharma one of the relationships is Dasyu-bhakta, dasa dharma being a "slave of God" as said before.

Comparative linguistics [ edit ] Dasa and related terms have been examined by several scholars. [51] While the terms Dasa and Dasyu have a negative meaning in Sanskrit, their Iranian counterparts Daha and Dahyu have preserved their positive (or neutral) meaning.

This is similar to the Sanskrit terms Deva (a "positive" term) and Asura (a "negative" term). The Iranian counterparts of these terms ( Daeva and Ahura) have opposite meanings. Asko Parpola states the original Dasa is related to the Old Persian word Daha which also means "man", but refers specifically to a regional ethnic minority of Persia.

[52] Parpola contrasts Daha with Arya, stating that the latter also referred to "man" but specifically to the incoming Indo-Iranians from Central Asia. The Vedic text that include prayers to help defeat the "Dasa as enemy people", states Parpola, may refer to the wars of the Indo-Iranians against the bearers of the Bactria–Margiana Archaeological Complex (BMAC) culture.

The latter spoke a different language and opposed Indo-Iranian religious practices. [52] Parpola uses archaeological and linguistic arguments to support his theory, but his theory is controversial. [21] Rāmachandra, or Rama (rāma in IAST, राम in Devanāgarī or Śrī Rāma (श्रीराम in Devanagari), was a king of ancient India whose grand story is portrayed in the epic Ramayana, one of the two great epics of India, the other being Mahabharata.

In Hinduism, he is also considered to be the Dasa dharma Avatara of Vishnu and one of the most important manifestations of God. Rāmá in the Rigveda and the Atharvaveda is an adjective meaning "dark, black", or a noun meaning "darkness", e.g. RV 10.3.3 (trans. Griffith). Rama is referred to as such because of his complexion. Again in Hinduism, Krishna or Krsna is the Supreme God and is considered as the eigth avatar of Vishnu.

He is also the the main character and the Supreme person in Bhagavad Gita ( Song of the Divine One), an ancient Sanskrit text comprising of 700 verses of the Mahabharata. He is dasa dharma to as Krsna or the dark one, exclusively because of his skin color.

Dasa [ edit ] See also Dahae The meaning of the word dāsa, which has been long preserved in the Khotanese dialect, is "man". Two words that contain "dasa" are the Vedic names Divodās (meaning "divine man") and Sudās (meaning "good man"). Dasa is also in Iranian "Daha", known to Graeco-Roman authors as the Dahae (Daai), designating probably Iranian tribes. The term Daha occurs in a Persepolis inscription of Xerxes (h 26).

[53] Daha also referred to a dasyu tribe in Margiana. Dahistan (east of the Caspian Sea/ Gorgan) derives its name from this dasa dharma [54]. The Greek historians Q. Curtius Rufus (8,3) and Ptolemy (Geography: 6,10,2) located the region of the Dahas on the river Margos (modern Murghab) or in Margiana (Parpola 1988).

The Dahas are also mentioned by Pomponius Mela (3,42) [55] and Tacitus (Ann. 11,10) [56]. Strabo wrote about the Dahae the following: "Most of the Scythians, beginning from the Caspian Sea, are called Dahae Scythae, and those situated more towards the east Massagetae and Sacae." ( Strabo, 11-8-1 [archive]) Strabo's description places Dahae nomads in the area around modern Turkmenistan.

Dasyu [ edit ] Dasyus is in Iranian "dahyu" and means tribe, province and district. "Dah-" means "male, man" in Iranian. The "dahyu-pati" (also dahyunam) was the head dasa dharma the tribe. (The Greek "des-potes and the English "despot" correspond to this term. (Windfuhr 1999)) A "dahyu-sasti" (command of dahyus) is a confederation of two or more dahyus.

[57] Related terms [ edit ] See also Panis Other hostile tribes, besides the Dasas and Dasyus, that are mentioned in the Vedic texts are the Panis, Pakthas ( Pathans?), Parshus ( Iranian tribes?), Prthus ( Parthians?) and Bhalanas ( Baluchis?). Anasa [ edit ] In RV 5.29.10, the word anasa is in connection with the Dasyus. Some scholars have translated anasa as "noseless". Although there is only one instance in the Rig Veda where this word occurs, this has led to belief that the Dasyus were "flat-nosed" people.

But the classical commentator Sayana translated anasa as "without mouth or face" (anas = an "negative" + as "mouth"). Sayana's translation is supported by the occurrence of the word mrdhravacah in the same verse. Sayana explains the word mrdhravacah as "having defective organs of speech" (Rg Veda 1854-57:3.276 n.). The religion of the Dasas/Dasyus [ edit ] The main difference between the Aryas and the Dasas in the Dasa dharma Veda is a difference of religion. [58] Already A.A.

Macdonell and A.B. Keith (1912) remarked that: "The great difference between the Dasyus and the Aryans was their religion. It is significant that constant reference is made to difference in religion between Aryans and Dasa and Dasyu." The Dasas and Dasyus are also described as brahma-dvisah in the Rig Veda [59], which Ralph T.H. Griffith translates as "those who hate devotion" or "prayer haters".

Thus Dasa has also been interpreted as meaning the people that don't follow the same religion as the Aryans. Rig Veda 10.22.8 describes the Dasa-Dasyus as a-karman (non-performers of Aryan sacrifices), anya-vrata (observers of dasa dharma rites) and in Rig Veda 10.105.8 they are described as anrc (non-singer of laudatory hymns).

In RV 8.70.11 they are described as a-deva-yu (not regarding the Aryan gods). [60] Devas versus Asuras [ edit ] See also Zoroastrianism and Hinduism This divide goes dasa dharma to the composition of the Rig Veda.

Both the religions believe in the holiness of the Dasa dharma except that the Zarathustrians believe in certain sections of the Rig Veda. When the Rig Veda was being written, there occurred a divide among the Brahmanas writing it.

The Brahmanas of the Pauravas (Indians) or Parthas believed that Aditi was the good mother of the gods while the Irani or Dasa Brahmanas believed that Diti was. The Pauravas' chief god was Shri Indra and said that He has overtaken Shri Varuna as the leader of the gods. The Irani believed that Shri Varuna was still the chief of the gods. In the Irani pantheon, Shri Indra was given the status of a demon while they worshipped an Indra-like character who accepts the law of Varuna known as Indar.

From this originated the Dasarajna war in which the ten kingdoms of the Irani, represented by the Brahmana Vishwamitra fought against the Dasa dharma King Sudas. From then on, the Indians referred to the asuras as the demons while Devas were the gods and the Irani, viceversa.

When Zarathustrianism was established, Shri Varuna who Zarathustra referred to as the Ahura Mazda (Rigvedic Assur Mehda or Assur Mahadeo) was God Almighty while all other spirits were given the status of angels. Symbolical and spiritual interpretations [ edit dasa dharma Authors like Sri Aurobindo believe that words like Dasa are used in the Rig Veda symbolically and should be interpreted spiritually, and that Dasa does not refer to human beings, but rather to demons who hinder the spiritual attainment of the mystic.

Many Dasas are purely mythical and can only refer to demons. There is for example a Dasa called Urana with 99 arms (RV II.14.4), and a Dasa with six eyes and three heads in the Rig Veda. [61] Aurobindo [62] commented that in the RV III.34 hymn, where the word Arya varna occurs, Indra is described as the increaser of the thoughts of his followers: "the shining hue of dasa dharma thoughts, sukram varnam asam, is evidently the same as that sukra dasa dharma sveta Aryan hue which is mentioned in verse 9.

Indra carries forward or increases the "colour" of these thoughts beyond the opposition of the Panis, pra varnam atiracchukram; in doing so he slays the Dasyus and protects or fosters and increases the Aryan "colour", hatvi dasyun pra dasa dharma varnam avat." [63] According to Aurobindo (The Secret of the Veda), RV 5.14.4 is a key for understanding the character of the Dasyus: Agni born shone out slaying the Dasa dharma, the darkness by the light, he found the Cows, the Waters, Swar.

(transl. Aurobindo) [64] [65] Aurobindo explains that in this verse the struggle between light and darkness, truth and falsehood, divine and undivine is described. [64] It is through the shining light created by Agni, god of fire, that the Dasyus, who are identified with the darkness, are slain.

The Dasyus are also described in the Rig Veda as intercepting and withholding the Cows, the Waters and Swar ("heavenly world"; RV 5.34.9; 8.68.9). It is not difficult, of course, to find very dasa dharma metaphors, equating political or military opponents with evil and darkness, even in contemporary propaganda.

K.D. Sethna (1992) writes: "According to Aurobindo,(.) there are passages in which the spiritual interpretation of the Dasas, Dasyus and Panis is the sole one possible and all others are completely excluded. There are no dasa dharma in which we lack a choice either between this interpretation and a nature-poetry or between this interpretation and the reading of human enemies." And according to Koenraad Elst: "When it is said that Agni, the fire, “puts the dark demons to flight”, one should keep in mind that the darkness was thought to be filled with ghosts or ghouls, so that making light frees the atmosphere of their presence.

And when Usha, the dawn, is said to chase the "dark skin" or "the black monster" away, it obviously refers to the cover of nightly darkness over the surface of the earth." [66] The Dasas/Dasyus and krsna or asikni [ edit ] In the Rig Veda, Dasa, Dasyu and similar terms (e.g. Pani) occur sometimes in conjunction with the terms krsna ("black") or asikni ("black"). This was often the basis for a "racial" interpretation of the Vedic texts.

But Sanskrit is a language that uses many metaphors. The word cow for example can mean Mother Earth, sunshine, wealth, language, Aum etc.

dasa dharma

Words like "black" have similarly many different meanings in Sanskrit, as it is in fact the case in most languages. Thus "black" has many symbolical, mythological, psychological and other uses that are simply unrelated to human appearance. Also Iyengar (1914) commented on such interpretations: "The only other trace of racial reference in the Vedic hymns is the occurrence of two words, one krishna in seven passages and the other asikini in two passages.

In all the passages, the words have been interpreted as referring to black clouds, a demon whose name was Krishna, or the powers of darkness." (6-7, Iyengar, Srinivas. 1914.) Sri Aurobindo [67] commented that in the RV III.34 hymn, where the word Arya varna occurs, Indra is described as the increaser of the thoughts of his followers: "the shining hue of these thoughts, sukram varnam asam, is evidently the dasa dharma as that sukra or sveta Aryan hue which is mentioned in verse 9.

Indra carries forward or increases the "colour" of these thoughts beyond the opposition of the Panis, pra varnam atiracchukram; in doing so he slays the Dasyus and protects or fosters and increases the Aryan "colour", hatvi dasyun pra aryam varnam avat." [68] Thus, Aurobindo sees the Arya varna or lustre of the thoughts that Indra increases as psychological.

The term krsnavonih in RV 2.20.7 has been interpreted by Asko Parpola as meaning "which in their wombs hid the black people". Sethna (1992) writes, referring to a comment by Richard Hartz, that "there is no need to follow Parpola in assuming a further unexpressed word meaning "people" in the middle of the compound krsnayonih", and the better known translation by Griffith, dasa dharma.

"who dwelt in darkness" can be considered as essentially correct. [69] Another dasa dharma, Hans Hock (1999), finds Geldner's translation of krsnayonih (RV 2.20.7) as "Blacks in their wombs" and of krsnagarbha (RV 1.101.1) as "pregnant with the Blacks" "quite recherché" and thinks that it could refer to the "dark world" of the Dasas.

In RV 4.16.13, Geldner has assumed that "krsna" refers dasa dharma "sahasra" (thousands). But this would be grammatically incorrect. If krsna would refer to "sahasra", it should be written as krsnan (acc. pl. dasa dharma. Hans Hock (1999) suggests that "krsna" refers to "puro" (forts) in this verse. • KRsNayoni (“from a black womb”), kRshNatvac (“black-skinned”), tvacamasiknIm (id.), asiknivishah (“black tribe”) and other composites involving “black”, read in their contexts, usually refer to darkness, to nightly stratagems in war, or metaphorically to evil.

Most languages have expressions like “black deeds”, “dark portends”, “the dark age”, associating darkness with evil, ignorance or danger. Vedic Sanskrit is extremely rich in metaphors, in techno-scientific contexts (for lack of a separate technical jargon) as well as in cultural and religious contexts, e.g. the word go, “cow” can refer to Mother Earth, the sunshine, material wealth, language, the Aum sound, etc.

It is dasa dharma far-fetched to perceive a metaphorical intention behind the use of words like “black”, similar to that in other languages. It also has to be inspected case by case whether the reference is at all to human beings (whether skin-colour or figurative characterization), dasa dharma many Vedic expressions are about gods and heavenly phenomena. When it is said that Agni, the fire, “puts the dark demons to flight”, one should keep in mind that the darkness was thought to be filled with ghosts or ghouls, so that making light frees the atmosphere of their presence.

And when Usha, the dawn, is said to chase the “dark skin” or “the black monster” away, it obviously refers to the cover of nightly darkness over the surface of the earth.68 Elst 1999 dasa dharma The Rg-Veda refers to the asikni or “black” people. Some uses of colour symbolism are simply applications of the universal tendency to represent negative properties with a black colour, as pointed out by Hock (in another rather sympathizing paper on an aspect highlighted by the Hindu debaters); or they may sometimes innocently refer to natural phenomena, e.g.

kṛṣṇatvac, “the black cover”, is the night, not “the black skin (of the aboriginals)”, as read by racially biased translators. Yet, the racial-invasionist reading is very common and still has some academic and wide laymen’s sanction. Elst 1999 • This word asikni characterizes a military enemy in the Battle of the Ten Kings (RV 7:5:3, apparently repeated in 9:73:5), and is mostly translated or explained as “the black aboriginals” resisting the Aryans invading from the west (eventhough they are repeatedly described as encountering the Vedic people from the west).

Moreover, the Vedic priest Vasiṣṭha is described as śvitya, “white-clad” (RV 7:33:1), which some translators render as “white-complexioned”. So, “clearly” it was a confrontation between white Aryans and black Aboriginals.

Elst 1999 • But in fact, the enemies are led into battle by a king with an Iranian name, Kavi, ancestral founder of the later Iranian Kauui dynasty, and a priest with an Iranian name Kavaṣa, and their tribal names and nicknames all have Iranian counterparts or are known from Iranian and Greek sources to refer to Iranian communities. Moreover, their religion is described as having the typical characteristics of Mazdeism: without Indra, without Devas, without fire-sacrifice etc.

And one detail removes “black” even farther from a description of the enemies’ skin colour: it turns out that asikni mostly doesn’t even have the general hostile connotation of blackness, but refers to a “black” circumstance only applicable to these specific enemies, the Ten Kings. Asiknī, “the black (river)”, is simply the Sanskrit name of the river whence they come, today the Chenab in West Panjab. Elst 1999 • As for the Vedas, the only ones whom they describe as “golden-haired” are the resplendent lightning gods Indra and Rudra and the sun-god Savitar; not the Aryans or Brahmins.

At the same time, several passages explicitly mention black hair when referring to Brahmins.95 These texts are considerably earlier than the enigmatic passage in Patanjali describing Brahmins as golden- dasa dharma tawny-haired (piNgala and kapisha).96 Already one of Patanjali’s early commentators dismissed this line as absurd.

To the passage from the grammarian Panini which describes Brahmins as “brown-haired”, A.A. Macdonnell notes (apparently against contemporary claims to the contrary): “All we can say is that the above-mentioned expressions dasa dharma not give evidence of blonde characteristics of the ancient Brahmans.”97 Considering that Patanjali was elaborating upon the work of Panini, could it have anything to do with Panini’s location in the far northwest, where lighter hair must have been fairly common?

On the other hand, demons or Dasa dharma, so often equated with the “dark-skinned aboriginals”, have on occasion been described as red- or tawny-haired (also piNgala or kapisha, the same as Patanjali’s Brahmins).98 • 95Atharva-Veda 6:137.2-3 is a charm, for making “strong black hairlocks” grow, apparently on the heads of bald or albino or greyed people. Paramesh Choudhury (The Aryan Hoax, p.

13) also mentions Baudhayana’s Dharma-Sutra 1:2, “Let him kindle the sacrificial fire while his hair is still black”, also cited in Shabara’s Bhasya on Jaimini 1:33, as instances where Brahmins’ hair is off-hand assumed to be black. • 96Patanjali: Mahabhashya (comment on Panini) 2:2:6.

dasa dharma

• 97Quoted from his A Practical Sanskrit Dictionary by Paramesh Choudhury: The Aryan Hoax, p. 13. • 98E.g. Mahabharata: Adiparva 223, describes a Rakshasa as red-haired, as pointed out by Paramesh Choudhury: The Aryan Hoax, p. 13. He also mentions that Ravana’s sister Surpanakha is described by Valmiki as having pingala eyes, but remember that Ravana’s family is described as a Brahmin family immigrated in Lanka from northern India.

• Elst 1999 • Reference to fair hair would certainly qualify, but according to Michael Witzel, there is in Sanskrit literature exactly “one ‘gold-haired’ (hiranyakeshin) person that is not a god, the author of HShS”, i.e. the Hiranyakeshin-Shrauta-Sûtra named after him. (p.390, emphasis in the original) Quite possibly, even the author called Hiranyakeshin or Gold-Haired was not gold-haired at all, but had one of the epithets of the solar deity Vishnu as his given name, just as people called Nîlakanth, “blue-throated” like Shiva after he swallowed poison, are not blue-throated at all.

Elst 2007 • Moreover, in Vasiṣṭha’s case we are probably dealing with a pun, dasa dharma double-entendre: asikni means “black”, but it is also the name dasa dharma a river, Asiknī, “the black river”, which happens to be the river whence the Ten Kings come to do battle.

This is a normal type of hydronym, e.g. the Thames in England and the Demer in Belgium mean “dark (river)” as well, both names being cognates of Sanskrit tamas, “darkness”; just as rivers may have colour names referring to their lighter aspect, e.g. the Chinese Huanghe, “Yellow River”. So, “dark tribe” here means “tribe from the Dark River”. Elst 2018 [6] [archive] The Rg-Veda refers to the asikni or “black” people.

Some uses of colour symbolism are simply applications of the universal tendency to represent negative properties with a black colour: “When there is sufficient context for interpretation, we find that the notions can at least equally well be read as an ‘ideological’ distinction between the ‘dark/black’ world of the dāsas/dasyus and the ‘light/white’ world of the āryas.” (Hock 1995/2:154) Or they may sometimes innocently refer to natural phenomena, e.g.

kṛṣṇa tvac, 9:41:1: “the black cover”, is the dasa dharma. Yet, the racial-invasionist reading is very common and still has academic sanction, e.g.: “Indra subjected the aboriginal tribes of the Dāsas/Dasyus to the Aryans.” (Elizarenkova 1995:36) .This word asikni characterizes a military enemy in the Battle of the Ten Kings (RV 7:5:3, apparently repeated in 9:73:5), and is mostly translated or explained as “the black aboriginals” (eventhough they encounter the Vedic people from the west).

Moreover, the Vedic priest Vasiṣṭha is described as śvitya, “white-clad” (RV 7:33:1), which some translators render as “white-complexioned” (thus Wilson 1997). But in fact, the enemies are led into battle by a king with an Iranian name, Kavaṣa, belonging to the Iranian Kavi dynasty, their tribal names and nicknames all have Iranian counterparts or are known from Iranian and Greek sources to refer to Iranian communities. Moreover, their religion is described as having the typical characteristics of Mazdeism: without Indra, without Devas, without fire-sacrifice etc.

Asiknī, “the black (river)”, is simply the Sanskrit name of the river whence they come, today the Chenab in West Panjab. Very obviously, the enemies of the Vedic people at that time, when Rg-Vedic books 7 and 4 and the contemporaneous parts of books 1 and 9 were composed, were Iranian, not “black aboriginal”. This is attested from so many angles that one tends to wonder how this mistake could have been made at all, and how the true Iranian identity of the Dāsas (Greek Dahai) could have been missed.

Elst 2018 Tvac [ edit ] There three instances in the Rig Veda where the word krsna (or ashikni) tvac occurs, literally translating to "black (or swarthy) skin": 1.130.8de mánave śâsad avratân tvácaṃ kṛṣṇâm arandhayat — "Plaguing the lawless he [Indra] gave up to Manu's seed the dusky skin" (trans. Griffith) 9.41.1 prá yé gâvo ná bhûrṇayas / tveṣâ ayâso ákramuḥ / ghnántaḥ kṛṣṇâm ápa tvácam [70] — "active and bright have they come forth, impetuous in speed like bulls, Driving the black skin far away." (trans.

Griffith) 9.73.5cd índradviṣṭām ápa dhamanti māyáyā tvácam ásiknīm bhûmano divás pári [71] — "Blowing away with supernatural might from earth and from the heavens the swarthy skin which Indra hates." (trans.

Griffith) Tvac, however, besides its literal meaning of "skin" or "hide" already in the Rigveda has the generalized meaning of "surface" or "cover", in particularit refers to the surface of the world in RV 1.79.3, 1.145.5, 10.68.4, and possibly 4.17.14. [72] For this reason, there can be debate on whether instances of krsna tvac should be taken to refer literally to a " black skinned people".

Maria Schetelich (1990) who has analyzed these three instances finds this as symbolic expression for darkness. Similary, Michael Witzel (1995b) writes about terms like krsna tvac that "while it would be easy to assume reference to skin colour, this would go against the spirit of the hymns: for Vedic poets, black always signifies evil, and any other meaning would be secondary in these contexts".

The rigvedic commentator Sayana explains the word tvacam krsna (RV 1.130.8) as referring to an asura (demon) called Krsna whose skin was torn apart by Indra. • The importance of classical studies lies in the very importance of the subject itself, but also in the continued importance of classical references in modern Indian politics and culture. I was to find this out myself in the panel on “divinization” in which I spoke. I read a paper on Vasistha, the Vedic seer presiding over the unlikely victory against the “Ten Kings”.

He was given one of the Vedic hymns, which are normally only devoted to the gods. Here was a classical subject, continuous with a tendency pervading the entire Hindu culture till today, of extolling exceptional men and women and treating them as gods. In passing, Vasistha mentions the “asikni visha”, the “dark dasa dharma. All translations known to me explain that these are he “dark aboriginals” against whom the invading white Aryans did battle. Very likely, the expression is a pun (of which Vedic poetry contains numerous examples, no doubt including some unidentified ones), meaning effectively “the people from the Asikni river”.

Other verses specify that the Ten Kings came from the Asikni (Chenab) river, attacking eastwards to the Parushni (Ravi) dasa dharma where the battle took place.

“The dark one” is a normal name for a dasa dharma, e.g. the Thames in London or the Demer in our town of Diest both mean “the dark one”, both names being cognate to Sanskrit tamas. Mind you, the Ten Kings came from the west, while the Vedic Aryans lived deeper inside India, and many details unambiguously identify them as predominantly Iranian. Thus, many names used by them or for them are known from Iranian, not from any Indian “aboriginal” language.

The few other Vedic instances of people being called “dark” have satisfactorily been explained by the leading Sanskritist Hans Heinrich Hock as applications of the universal equation “light = good, dark = evil”, even attested in African languages.

The systematic mistranslation of “dark people” etc. as “the dark-skinned aboriginals subdued by the white Aryan invaders and their caste Apartheid” for almost two centuries is one of the grossest mistakes in scholarship, and extremely rich in consequences. • Koenraad Elst, On Modi Time : Merits And Flaws of Hindu Activism In Its Day Of Incumbency – 2015 Ch 20 See also [ edit ] • Asura • Déisi • Mleccha • Adivasi • The Dasyus, along with the Dasas and the Panis, were in fact Iranian tribes historically (in Alexander's time) based in Bactria, as is now recognized even by invasionist scholars like Asko Parpola.

That they were Indo-Europeans is now a certainty. • Elst, K. The Saffron Swastika • Even articulate spokesmen of the AIT now accept that the Dasysus were an Iranian community. • Elst, K. The Saffron Swastika References [ edit ] • ↑ 1.0 1.1 R.P.

Kangle (1960), The Kautiliya Arthasastra - a critical edition, Vol. 2 and 3, University of Bombay Studies, ISBN 978-8120800427 • ↑ 2.0 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 Barbara West (2008), Encyclopedia of the Peoples of Asia and Oceania, ISBN 978-0816071098, page 182 [archive] • ↑ 3.0 3.1 Gregory Schopen (2004), Buddhist Monks and Business Matters, University of Hawaii Press, ISBN 978-0824827748, page 201 • ↑ 4.0 4.1 Wash Edward Hale (1999), Ásura in Early Vedic Religion, Motilal Barnarsidass, ISBN 978-8120800618, pages 159-169 • ↑ e.g., Asko Parpola (1988), Mayrhofer (1986-1996), Benveniste (1973), Lecoq (1990), Windfuhr (1999) • ↑ See, for example: Pomponius Melo (transl.

and ed. by Karl Henrich Tzschucke) De sitv orbis libri tres: ad plvrimos codices mostos vel denvo vel primvm consvltos aliorvmqve editiones recensiticvm notis criticis et exegeticis vel integris vel selectis Hermolai Barbari [et al] conlectis praeterea et adpositis doctorvm virorvm animadversionibvs additis svis a Carolo Henrico Tzschvckio, Vol.

II, Pt 1 (1806), p. 95 and; Pomponius Mela (transl. and ed. by Karl Henrich Tzschucke) Pomponii Melae de situ orbis: libri tres, ad plurimos codices msstos vel denvo vel primum consultos aliorumque editiones recensiti, Vol.

II, Pt 3 (1806), p. 136. • ↑ Wash Edward Hale (1999), Ásura- in Early Vedic Religion, Motilal Barnarsidass, ISBN 978-8120800618, pages 162-165 • ↑ Edwin Bryant (2004), The Quest for the Origins of Vedic Culture: The Indo-Aryan Migration Debate, Oxford University Press, ISBN 978-0195169478, pages 59-67 • ↑ 9.0 9.1 Monier Monier-Williams, A Sanskrit-English Dictionary” Etymologically and Philologically Dasa dharma to cognate Indo-European Languages, Motilal Banarsidass, page 475 • ↑ Monier Monier-Williams, A Sanskrit-English Dictionary” Etymologically and Philologically Arranged to cognate Indo-European Languages, Motilal Banarsidass, page 476 • ↑ P.

T. Srinivas Iyengar (1912), The Dasa dharma of the Aryan Invasion of India, Journal of the Royal Society of Arts, Vol. 60, No. 3113 pages 841-846 • ↑ B. Breloer (1934), Kautiliya Studien, Bd. III, Leipzig, pages 10-16, 30-71 • ↑ Witzel, Michael (2001).

"Autochthonous Aryans?" [archive]. Electronic Journal of Vedic Studies. 7 (3): 16. • ↑ Michael Witzel (1995), Early Indian history: Linguistic and textual parameters, in The Indo-Aryans of Ancient South Asia (Editor: G. Erdosy), de Gruyter, pages 85-125 • ↑ Khuhro, Hamida, P. 66 Sind Through the Centuries, 1981. • ↑ P. 3 The Sacred Books of the East By Friedrich Max Müller • ↑ Tilak, Bal Gangadhar, P. 364 The Arctic Home in the Vedas • ↑ P.

85 Gods, Sages and Kings: Vedic Secrets of Ancient Civilization By Dr. David Frawley • ↑ Parpola 2015, pp. 100-106. • ↑ 20.0 20.1 Parpola 2015, pp. 82-85, 96-106. • ↑ 21.0 21.1 Colin Renfrew (1991), The Coming of the Aryans to Iran and India and the Cultural and Ethnic Identity of the Dāsas by Asko Parpola [archive], Journal of the Royal Asiatic Society, Third Series, Vol.

1, No. 1, pages 106-109 • ↑ Thomas William Rhys Davids, William Dasa dharma (2015), Pali-English Dictionary, 2nd Edition, Motilal Banarsidass, ISBN 978-8120811447, page 104 • ↑ Thomas William Rhys Davids, William Stede (2015), Pali-English Dictionary, 2nd Edition, Motilal Banarsidass, ISBN 978-8120811447, page 217 • ↑ Thomas William Rhys Davids, William Stede (2015), Pali-English Dictionary, 2nd Edition, Motilal Banarsidass, ISBN 978-8120811447, page 73 • ↑ R.

C. Majumdar and A. D. Pusalker (editors): The History and Culture of the Indian People. Volume I, The Vedic age. Bombay : Bharatiya Vidya Bhavan 1951, p.253.

Keith and Macdonell 1922, ISBN 978-8172764401 • ↑ (e.g. 6.22.10, 6.33.3, 6.60.6), Ambedkar 1946, Who were the Shudras • ↑ RV 6.33.3, 7.83.1, 8.51.9, 10.102.3; Ambedkar, 1946, Who were the Shudras • ↑ Rigveda [archive] Sanskrit text, Wikisource • ↑ Rigveda, Mandala 10, Hymn 22 Ralph T Griffith, Wikisource • ↑ Rigveda 10.22.8 [archive] H.

H. Wilson (Translator), Trubner & Co, pages 57-58 • ↑ Wash Edward Hale (1999), Ásura- in Dasa dharma Vedic Religion, Motilal Barnarsidass, ISBN 978-8120800618, page 163 • ↑ Rigveda 10.99.6 [archive] HH Wilson (Translator), Trubner & Co, page 285 • ↑ Sharma, R. S. (1990) [first published in 1958].

Sudras in Dasa dharma India [archive]. Motilal Banarasidass. pp. 24–25, 50–51. • ↑ 34.0 34.1 Rigveda 10.62.10 [archive] HH Wilson (Translator), Trubner & Co, page 167 • ↑ Wash Edward Hale (1999), Ásura- in Early Vedic Religion, Motilal Barnarsidass, ISBN 978-8120800618, page 162 • ↑ Rigveda 10.62 [archive] Sanskrit text, Wikisource • ↑ Wash Edward Hale (1999), Ásura- in Early Vedic Religion, Motilal Barnarsidass, ISBN 978-8120800618, pages 157-174 • ↑ Sharma, R.

S. (1990) [first published in 1958]. Sudras in Ancient India [archive]. Motilal Banarasidass. pp. 50–51. • ↑ 39.0 39.1 39.2 39.3 39.4 39.5 Shamasastry (Translator, 1915), Arthashastra of Chanakya [archive] • ↑ Kangle, R.

P. (1986) [first published 1969], The Kauṭilīya Arthaśāstra (Part II) [archive] (Second ed.), Motilal Banarsidass Publ., pp. 237–, ISBN 978-81-208-0042-7 • ↑ Rangarajan, L. N. (1992) [first published in 1987], Kautilya — The ARTHASHASTRA [archive], Penguin Books Limited, Chapter VIII.x, ISBN 978-81-8475-011-9 • ↑ 42.0 42.1 Kangle, R.

P. (1997) [first published 1960], The Kauṭilīya Arthaśāstra (Part III) [archive], Motilal Banarsidass Publ., p. 186, ISBN 978-81-208-0041-0 • ↑ Leach, Edmund (1962), "Slavery in Ancient India by Dev Raj Chanana (Book review)", Science & Society, 26 (3): 335–338, JSTOR 40400852 [archive] • ↑ निष्पातित [archive] Sanskrit English dictionary • ↑ 45.0 45.1 Thomas William Rhys Davids and William Stede (2015), Pali-English Dictionary, 2nd Edition, Motilal Banarsidass, Dasa dharma 978-8120811447, page 320 • ↑ Gregory Schopen (2010), On Some Who Are Not Allowed to Become Buddhist Monks or Nuns: An Old List of Types of Slaves or Unfree Laborers, Journal of the American Oriental Society, Vol.

130, No. 2, pages 225-234 • ↑ Steven P. Hopkins (2007). An ornament for jewels: love poems for the Lord of Gods. Oxford [Oxfordshire]: Oxford University Press. p. 160. ISBN 0-19-532639-3. • ↑ Bhaktivedanta Swami, A. C. (1972). The Bhagavad-gita As It Is, second edition. New York City: Macmillan. • ↑ 49.0 49.1 Talbot, Cynthia (2001). Precolonial India in practice: society, region, and identity in medieval Andhra.

Oxford [Oxfordshire]: Oxford University Press. p. 81. ISBN 0-19-513661-6. • ↑ D Roy (2013), Rural Politics in India: Political Stratification and Governance in West Bengal, Cambridge University Press, ISBN 1107042356, page 67 • ↑ e.g., Asko Parpola (1988), Mayrhofer (1986-1996), Benveniste (1973), Lecoq (1990), Windfuhr (1999) • ↑ 52.0 52.1 Asko Parpola (2015), The Roots of Hinduism: The Early Aryans and the Indus Civilization, Oxford University Press, ISBN 978-0190226923, pages 100-106 • ↑ Parpola 1988:220-21 • ↑ (G.L.

Windfuhr in Bronkhorst & Desphande (ed.) 1999) • ↑ He places them near the Oxus. Parpola 1988 • ↑ He places them on the northern border of Areia, at the Sindes ( Tejend) River. Parpola 1988 • ↑ (G.L. Windfuhr in Bronkhorst & Desphande (ed.) 1999) • ↑ R. C. Majumdar and A.

D. Pusalker (editors): The history and culture of the Indian people. Volume I, The Vedic age. Bombay : Bharatiya Vidya Bhavan 1951, p.253. Keith and Macdonell 1922. • ↑ (e.g. RV 5.42.9; 8.45.23; 10.36.9; 10.160.4; 10.182.3) • ↑ e.g. Sethna 1992, Elst 1999, Ambedkar 1946 Who were the Shudras • ↑ Parpola 1988, Sethna 1992:329 • ↑ Sethna 1992:114 and 340, Aurobindo, The Secret of the Veda, p.

220-21 • ↑ Sethna 1992:114 and 340 • ↑ 64.0 64.1 Sethna 1992:114-115 and 348-349 • ↑ Which is translated by Griffith thus: Agni shone bright when born, with dasa dharma killing the Dasyus and the dark He found the Kine, the Floods, the Sun. (trans. Griffith) • ↑ Elst 1999; Cf. Sir Monier-Williams: A Sanskrit-English Dictionary, entry tvac, Reference is to Rgveda 1:92:5 and 4:51:9.

• ↑ Sethna 1992:114 and 340, Aurobindo, The Secret of the Veda, p. 220-21 • ↑ Sethna 1992:114 and 340 • ↑ Sethna 1992:337-338 • ↑ note the sāhvâṃso dásyum avratám "vanquishing the rite less Dasyu" in the following verse. • ↑ again note the context of saṃdáhantaḥ avratân "burning up riteless men" in pada b. • ↑ As pointed out by Hans Hock (1999). Hock also remarked that in RV 1.65.8, a similar metaphor is used. In this verse, "roma prthivyah" refers to the "body-hair of the earth", i.e.

to the plants. Sources • Parpola, Asko (2015), The Roots of Hinduism: The Early Aryans and the Indus Civilization, Oxford University Press Incorporated, ISBN 0190226927 • But even if we take the Vedas to be history, we must apply a chosen criterion consistently and not pick and choose according to our convenience.

In a Rg verse (7.6.3) which speaks of the foolish, the faithless, the rudely-speaking, the niggardly, of men without belief, sacrifice and worship (nyakritu, grathina, mRdhra-vâc, paNi, aSraddha, avriddha, ayajña), we are also told that "Far, far away has Agni chased those dasyus, and, in the east, has turned the godless westward", a direction which is just the opposite of what the Orientalists have been telling us - not eastward and southward but westward.

Why neglect this testimony? • Ram Swarup, On Hinduism. Further reading [ edit ] • Bryant, Edwin: The Quest for the Origins of Vedic Culture. 2001. Oxford University Press. ISBN 0-19-513777-9 • J. Bronkhorst dasa dharma M.M. Deshpande. 1999. Aryan and Non-Aryan in South Asia. Ann Arbor: University of Michigan Press.

• Hock, Hans. 1999b, Dasa dharma a Glass Darkly: Modern "Racial" Interpretations vs. Textual and General Prehistoric Evidence on Arya and Dasa/Dasyu in Vedic Indo-Aryan Society." in Aryan and Non-Aryan in South Asia. • Iyengar, Srinivas. 1914. "Did the Dravidians of India Obtain Their Culture from Aran Immigrant [sic]." Anthropos 1-15.

• Macdonell, A.A. and Keith, A.B. 1912. The Vedic Index of Names and Subjects. • Parpola, Asko: 1988, The Coming of the Aryans to Iran and India and the Cultural and Ethnic Identity of the Dasas; The problem of the Aryans and the Soma. • Rg Veda 1854-57. Rig-Veda Samhita. tr. H.H. Wilson. London: H.Allen and Co. • Schetelich, Maria. 1990, "The problem of the "Dark Skin" (Krsna Tvac) in the Rgveda." Visva Bharati Annals 3:244-249. • Sethna, K.D. 1992. The Problem of Aryan Origins.

New Delhi: Aditya Prakashan. • Trautmann, Thomas R. 1997, Aryans and British India. Berkeley: University of California Press. • Witzel, Michael. 1995b, 325, fn, "Rgvedic History" in The Indo-Aryans of South Asia. • Ambedkar, B.R. (1946) Who were the Shudras? • Aurobindo, Sri. 1971.

The Secret of the Veda. Pondicherry: Shri Aurobindo Ashram. • Elst, Koenraad Update on the Aryan Invasion Debate. 1999.

ISBN 81-86471-77-4 [7] [archive], [8] [archive] • Frawley, David The Myth of the Aryan Invasion of India, 1995. New Delhi: Voice of India; In Search of the Cradle of Civilization, Chapter 6 • Talageri, Shrikant G. 2000. The Rig Veda - A historical analysis. [9] [archive] • https://dharmawiki.org/index.php/Dasa_(%E0%A4%A6%E0%A4%BE%E0%A4%B8%E0%A4%83) [archive] • https://dharmawiki.org/index.php/Panis_(%E0%A4%AA%E0%A4%A3%E0%A4%BF%E0%A4%95%E0%A4%BE%E0%A4%83) [archive] • http://ancientvoice.wikidot.com/aitain:set13-02 [archive] • https://talageri.blogspot.com/2020/04/aryas-dasas-and-dasyus-in-rigveda.html [archive] • https://www.indictoday.com/long-reads/racial-wars-how-misinterpretations-vedic-hymns-myth-aryan-race/ [archive] • What links here • Related changes • Special pages • Printable version dasa dharma Permanent link • Page information dasa dharma • Content is available under Creative Commons Attribution-ShareAlike License unless otherwise noted.

This article includes modified content derived from Wikipedia (See original source) Search ddg · brave · mg · sx · qw · sc · eco · dharma • Privacy policy • About Dharmapedia Wiki • Disclaimers • •
Menu • Blog • Tentang Pramukaria • Admin dan Kontak • Privacy Policy • Sitemap • Static Page • 404 Page Not Found • Anggota • Pramuka Siaga • Pramuka Penggalang • Pramuka Penegak • Pramuka Pandega • Pramuka Dewasa dasa dharma Materi Pramuka • Pengetahuan Pramuka • Teknik Kepramukaan • Pengetahuan Umum • SKU • SKK • Download • Undang-undang • SK/PP Pramuka • Surat Edaran • Lagu dasa dharma Yel Pramuka • Dasa dharma Nasional • Lagu Daerah • Video Pramuka • Lainnya • Organisasi • Satuan Karya • Berita Pramuka • Daftar Isi Dasadarma atau Dasa Darma Pramuka adalah salah satu bagian dari kode kehormatan bagi anggota Gerakan Pramuka sehingga sekaligus merupakan bagian tidak terpisahkan dari Prinsip Dasar Kepramukaan.

Sebagaimana telah diketahui, Kode Kehormatan Pramuka (kode etik anggota Gerakan Pramuka) terdiri atas janji (komitmen diri) dan ketentuan moral pramuka. Ketentuan moral dasa dharma inilah yang kemudian disebut sebagai Darma Pramuka yang terdiri atas Dwidarma (untuk pramuka siaga) dan Dasadarma (untuk pramuka penggalang, penegak, pandega, dan anggota dewasa). Menilik pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, penggunaan istilah yang benar adalah "Dasadarma". Tanpa kata "pramuka", tanpa dipisah dengan spasi, dan tanpa menggunakan huruf "h" pada bagian "darma".

Penulisan dan penyebutan yang tanpa menggunakan huruf "h" dan dengan dirangkai lebih didasarkan pada penggunaan kaedah berbahasa yang benar sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Sedangkan "tanpa diikuti kata pramuka" karena dasadarma adalah bagian kode kehormatan yang dikhususkan pada beberapa golongan anggota pramuka tertentu, bukan pada semua pramuka (Darma Pramuka Siaga bukan Dasadarma tapi Dwidarma).

Pun frasa "dasadarma" telah mengandung arti " ketentuan moral pramuka penggalang, penegak, pandega, dan dewasa" jika ditambahkan dengan kata pramuka lagi akan terjadi 'pemborosan penggunaan kata dalam berbahasa' karena berarti " ketentuan moral pramuka penggalang, penegak, pandega, dan dewasa pramuka". Menurut bahasa " dasadarma" berasal dari kata " dasa" dan " darma".

Dasa berasal dari bahasa Jawa yang mempunyai arti sepuluh sedangkan darma berasal dari bahasa Sanskerta yang mempunyai arti kewajiban, aturan, tugas hidup, kebenaran, dan kebajikan. Sehingga secara bahasa dasadarma dapat diartikan sebagai sepuluh kewajiban, aturan, dan kebajikan. Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, dasadarma dapat diartikan sebagai ketentuan moral bagi anggota Gerakan Pramuka golongan Penggalang, Penegak, Pandega, dan anggota dewasa.

Ketentuan moral (Darma Pramuka) bersama dengan janji atau komitmen diri (Satya Pramuka) sendiri merupakan bagian dari kode kehormatan pramuka. Di samping Dasadarma, terdapat juga Dwidarma yaitu darma atau ketentuan moral bagi anggota Gerakan Pramuka Siaga. • Dasadarma sebagaimana lampiraan Keppres 238 Tahun 1961 yang digunakan pada tahun 1961-1966; • Dasadarma hasil Mukeranpuda (sekarang Munas) tahun 1966 yang digunakan pada tahun 1966 -1974 • Dasadarma amanat MPP 1970 dan Munas 1974 yang digunakan pada tahun 1974-1978 • Dasadarma hasil Munas 1978 yang digunakan pada tahun 1978-2009 • Dasadarma hasil Munas 2009 yang digunakan pada tahun 2009-sekarang Adapun bunyi dasadarma yang digunakan saat ini adalah sebagaimana yang disusun dan tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka Tahun 2009 (Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 203 Tahun 2009) yang kemudian ditegaskan lagi dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka hasil Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Tahun 2012.

• takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa • cinta alam dan kasih-sayang sesama manusia • patriot yang sopan dan kesatria • patuh dan suka bermusyawarah • rela menolong dan tabah • rajin, terampil, dan gembira • hemat, cermat, dan bersahaja • disiplin, berani, dan setia • bertanggung jawab dan dapat dipercaya • suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan Kiranya itulah pembahasan mengenai dasadarma (Dasa Dharma Pramuka) mulai dari cara penulisan dan penyebutan yang benar, pengertian dasadarma, dan bunyi dasadarma.

Semoga dengan mengenal itu semua mampu memotivasi para pramuka untuk menerapkan kesepuluh poin dalam dasadarma tersebut dalam kehidupan sehari-hari baik ketika mengenakan seragam pramuka maupun tidak.

Lagu dasa dharma pramuka




2022 www.videocon.com