Tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Pernahkah kalian membuat puisi ? Paling enggak untuk seseorang yang paling kamu cintai.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang pengertian puisi, unsur intrinsik puisi, unsur ekstrinsik puisi beserta contohnya. Puisi menggambarkan kejadian yang memberikan makna yang mendalam untuk kehidupan seseorang. Kata-kata yang tersirat di dalam puisi, membuat puisi jadi lebih indah.

Namun apa sebenarnya pengertian dari puisi itu sendiri ? Berikut ini adalah penjelasannya : • Pengertian Puisi • Unsur Intrinsik Puisi • Unsur Ekstrinsik Puisi • Contoh Puisi Beserta Unsur Intrinsiknya • “HAMPA” • Unsur Intrinsik Puisi Pengertian Puisi 500px.com Puisi datang dari bahasa Yunani, yaitu Poet yang berarti orang yang mencipta sesuatu lewat imajinasi.

pribadi. Imajinasi pribadi maksudnya puisi merupakan karya yang benar-benar dihasilkan oleh seseorang berdasarkan pada pengalamannya dan belum pernah dibuat sebelumnya.

Puisi mengungkap perihal fikiran serta perasaan dari seseorang penyair dengan cara yang imajinatif. Pikiran serta perasaan sang penyair kemudian disusun dengan fokus pada kekuatan bahasanya dengan struktur fisik dan batinnya. Puisi merupakan sebuah karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah serta kaya akan makna dan arti. Di Indonesia, puisi merupakan bentuk kesastraan yang paling tua, yang terdiri dari 2 periode, menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Kedua periode tersebut adalah puisi klasik dan puisi modern. Penjelasan mengenai puisi modern Indonesia, yaitu puisi yang dihasilkan tanpa memperhatikan irama, bait, baris, serta rima. Puisi ini mengandung 2 unsur pokok yaitu susunan fisik serta susunan batin. Susunan fisik dalam puisi modern Indonesia sangat berkaitan dengan pilihan kata atau diksi, bahasa figuratif atau majas, serta citraan yang merupakan susunan kata untuk mengungkapkan pengalaman dari sensoris.

Sedangkan susunan batin dalam puisi modern Indonesia sangat berkaitan dengan hal-hal yang akan disibakkan oleh sang penyair yang terkait dengan perasaan serta situasi jiwanya. Unsur Intrinsik Puisi 500px.com Unsur intrinsik puisi merupakan unsur-unsur yang berasal dari dalam naskah puisi itu sendiri. Adapun unsur intrinsik puisi sebagai berikut : • Tema ( sense) merupakan gagasan utama dari puisi baik itu yang tersirat maupun yang tersurat.

• Tipografi disebut juga ukiran bentuk puisi. Tipografi merupakan tatanan larik, bait, kalimat, frasem kata, dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa, dan suasana.

• Amanat ( intention) atau pesan merupakan suatu yang ingin disampaikan oleh penyair melalui karyanya. • Nada ( tone), merupakan sikap penyair terhadap pembacanya, misalkan sikap rendah hati, menggurui, mendikte, persuasif dan yang lainnya.

• Rasa atau emosional merupakan sentuhan perasaan penulisannya dalam bentuk kepuasan, kesedihan, kemarahan, keheranan, dan yang lainnya. • Perasaan ( feeling) merupakan sikap pengarang terhadap tema dalam puisinya, misalnya konsisten, simpatik, senang, sedih, kecewa, dan yang lainnya. • Enjambemen merupakan pemotongan kalimat atau frase dengan diakhiri lirik.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Kemudian meletakkan potongan itu diawal larik berikutnya. Tujuannya adalah untuk memberikan tekanan pada bagian tertentu ataupun sebagai penghubung antara bagian yang mendahuluinya dengan bagian-bagian yang berikutnya.

• Kata konkret ( imajination), merupakan penggunaan kata-kata yang tepat atau bermakna denotasi oleh penyair. • Diksi merupakan pilihan kata yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui puisi tersebut. • Akulirik merupakan tokoh aku yang terdapat dalam puisi. • Rima merupakan pengindah dalam puisi yang berbentuk pengulangan bunyi baik di awal, tengah, ataupun di akhir.

• Verifikasi merupakan berupa rima dan ritma. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi dan sedangkan ritma adalah tinggi rendahnya, panjang pendeknya, keras lemahnya bunyi dalam puisi) • Majas merupakan cara penyair menjelaskan pikiran dan perasaannya dengan gaya bahasa yang sangat indah dalam bentuk puisi.

• Citraan merupakan gambaran-gambaran yang ada di dalam pikiran penyair. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji. Gambaran pikiran ini merupakan sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang bisa dilihat oleh mata. Unsur Ekstrinsik Puisi 500px.com Unsur ekstrinsik puisi merupakan unsur yang berada di luar naskah puisi. Biasanya berasal dari dalam diri penyair atau lingkungan tempat sang penyair menulis puisinya.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai unsur ekstrinsik puisi : • Unsur Biografi, merupakan latar belakang atau riwayat hidup sang penyair. • Unsur nilai dalam puisi, biasanya mengandung nilai-nilai seperti ekonomi, politik, budaya, sosial, dan yang lainnya. • Unsur kemasyarakatan, merupakan situasi sosial ketika puisi ini dibuat. Contoh Puisi Beserta Unsur Intrinsiknya 500px.com “HAMPA” Ketika tembulan telah nampak. Aku terdiam tanpa sebuah kata. Dengan tetes air mata. Aku teringat akan cintamu.

Tak ada suara sedikitpun. Semuanya terdiam, membisu, sunyi … Ketika rembulan telah nampak. Seakan wajahmu terlintas sudah. Dengan senyuman mu yang berlalu. Aku rindu … rindu akan dirimu … Semua terasa hampa. Tubuh ini terasa menjadi kaku. Mengingat kenangan yang telah lalu bersamamu. Disebuah malam yang penuh dengan tanda tanya ?

Kembalilah… Jangan biarkan hati ini terus merindu. Jangan biarkan hati ini menunggu.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Jangan biarkan hati ini rapuh karenamu. Aku rindu … rindu akan dirimu … Unsur Intrinsik Puisi 1. Tema Tema dari puisi diatas adalah kerinduan seorang kekasih. Dimana sang kekasih sedang menunggu kedatangan kekasihnya untuk kembali seperti yang dulu.

2. Rasa dan Nada Adapun rasa yang terkandung dalam puisi tersebut adalah sabar, pasrah, dan sedih. Sebab itu terlihat dari kata “Dengan tetes air mata” dan “Aku teringat akan dirimu” 3. Pesan atau Amanat Pesan atau amanat yang terkandung dalam puisi tersebut adalah ditujukan untuk seorang kekasih yang sedang menjalin sebuah hubungan.

Maksudnya adalah jangan pernah pergi, jika tidak sanggup untuk kembali. 4. Rima atau Persajakan Rima yang terdapat dalam puisi tersebut terletak pada : “Jangan biarkan hati ini merindu “ “Jangan biarkan hati ini menunggu” “Jangan biarkan hati ini rapuh karenamu” 5.

Ritma atau Irama Ritma yang terdapat dalam puisi tersebut terletak pada : “Jangan biarkan hati ini merindu “ “Jangan biarkan hati ini menunggu” “Jangan biarkan hati ini rapuh karenamu” 6. Metrum atau Matra Metrum yang terdapat dalam puisi tersebut terletak pada : “Aku rindu … rindu akan dirimu … “ 7. Diksi Diksi yang terdapat dalam puisi tersebut terletak pada : “Ketika rembulan telah nampak” 8.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Gaya Bahasa dan Majas • Gaya bahasa yang terdapat dalam puisi tersebut terletak pada : “Disebuah malam yang penuh dengan tanda tanya ?

“ • Majas yang terdapat dalam puisi tersebut terletak pada : “Jangan biarkan hati ini merindu “ “Jangan biarkan hati ini menunggu” “Jangan biarkan hati ini rapuh karenamu” Pengertian Puisi – Puisi merupakan salah satu karya sastra yang banyak disukai karena kata-katanya yang indah dan menggambarkan suasana hati. Puisi adalah karya sastra yang terdiri atas bait-bait yang menyampaikan imajinasi seseorang melalui kata-kata.

Berbeda dengan prosa yang tanda bacanya harus sesuai, puisi lebih bersifat bebas. Maksudnya ialah bebas dalam artian bebas mengekspresikan dalam bentuk kata-kata. Puisi biasanya menggunakan bahasa anarkis, bermakna konotatif, dan menggunakan gaya bahasa tertentu. Daftar Baca Cepat • Definisi Puisi • Puisi Menurut Para Ahli • 1. Situmorang • 2. Aisyah • 3. Kosasih • 4. Suroto • 5. Herman J. Waluyo • 6.

Blair dan Chandika • 7. KBBI V • Ciri-ciri Puisi • Wujud Puisi • Unsur Intrinsik Puisi • 1. Tema • 2. Amanat • 3.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Nada • 4.Perasaan • 5. Tipografi • 6. Enjambemen • 7. Akulirik • 8. Alusi • 9. Gaya Bahasa • 10. Rima • 11. Citraan • Jenis-jenis Puisi • A.

Berdasarkan Waktu Kemunculan • 1. Puisi Lama • 2. Puisi Baru • 3. Puisi Modern • B. Berdasarkan Keterbacaan • 1. Puisi diafan • 2. Puisi Prismatis • 3. Puisi Gelap • C. Berdasarkan Pembacaan • 1. Puisi kamar • 2. Puisi Auditorium • D. Berdasarkan Cara Pengungkapan • 1.

Puisi Konvensional • 2. Puisi Kontemporer • Langkah-langkah Memahami Puisi • Langkah-langkah dalam Menganalisis Puisi • A. Pendekatan Puisi • 1. Pendekatan objektif • 2. Pendekatan Mimetik • 3. Pendekatan Ekspresif • 4. Pendekatan Pragmatik • B. Pendekatan Teks Puisi • 1. Pendekatan Parafrasis • 2. Pendekatan Emotif atau Perasaan • 3. Pendekatan Analitis • 4. Pendekatan Historis atau Sejarah • 5. Pendekatan Didaktis atau Pendidikan • 6.

Pendekatan Sosiopsikologis Definisi Puisi Puisi termasuk salah satu genre sastra yang berisi ungkapan perasaan penyair, mengandung rima, dan irama, serta diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat dan tepat. Bahasa yang digunakan penyair harus dapat mewakili rasa dan pesan yang hendak disampaikan. Terdapat kecenderungan penyair untuk selalu menyampaikan pesan atau amanat melalui puisinya.

Puisi Menurut Para Ahli Puisi memiliki berbagai batasan atau definisi. Batasan-batasan tersebut disampaikan oleh beberapa ahli menurut pendapatnya. 1. Situmorang Secara etimologis istilah puisi berasal dari bahasa Yunani, poites yang berarti membangun, pembentuk, dan pembuat.

Dalam bahasa latin, kata poetai memiliki arti membangun, menyebabkan, menimbulkan, dan menyair. Dalam perkembangannya, kata tersebut kemudian menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan bahasa kiasan.

2. Aisyah Puisi adalah susunan kata-kata yang dipilih dan dirangkai untuk menimbulkan efek dan daya sentuh yang tentunya mencakup maksud atau makna yang lebih luas. Bahasa yang luas tersebut memiliki kekuatan-kekuatan, daya pukau, dan daya sentuh yang luar tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut yang dapat menyentuh perasaan, imajinasi, dan pikiran pembaca.

Puisi dapat disebut juga sebagai hasil penafsiran terhadap kehidupan 3. Kosasih Puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Keindahan puisi tersebut disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam sebuah karya sastra. 4. Suroto Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang pendek dan singkat yang berisi ungkapan isi hati, pikiran, dan perasaan pengarang yang padat yang dituangkan dengan memanfaatkan segala daya bahasa secara pekat, kreatif, dan imajinatif.

5. Herman J. Waluyo Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi rima dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias atau imajinatif. 6.

Blair dan Chandika Puisi adalah ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau menyatakan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang memanfaatkan setiap wacana dengan matang dan tepat guna. 7. KBBI V Menurut KBBI V, puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima, serta penyusunan larik dan bait atau gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman hidup dan membangkitkan tanggapan khsusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.

Baca juga: Penyair Indonesia; Biodata Chairil Anwar Ciri-ciri Puisi Bahasa dalam puisi tidak memiliki ciri-ciri yang pasti, namun perlu diingat bahwa pada dasarnya bahasa dalam puisi mengandung irama dan kiasan.

Berikut ialah beberapa ciri puisi: • Disampaikan hanya dalam beberapa kata atau disebut dengan kepadatan bahasa. • Diksi yang dipilih dapat menimbulkan imajinasi bagi pembaca. • Terdiri atas satu atau beberapa bait • Memiliki irama dan terkadang mengandung rima atau persamaan bunyi.

• Menampakkan pola atau bentuk tertentu yang disebut tipografi. Wujud Puisi Ciri puisi juga tampak dari wujud puisi. Dengan begitu wujud puisi dan ciri-ciri puisi saling berhubungan. Apa sajakah wujud puisi tersebut? 1. Bentuk Puisi ditulis dalam bentuk berbait.

Bait adalah satu kesatuan dalam puisi yang terdiri atas beberapa baris. Bait dapat juga disebut larik. 2. Letak Letak puisi tertata ke bawah. Namun, adapula puisi yang letaknya tak beraturan atau biasa disebut tipografi. 3. Ejaan Puisi tidak terlalu mementingkan ejaan, maka penggunaan huruf besar serta tanda baca sering diabaikan.

Ada puisi yang setiap lariknya diawali dengan huruf besar, namun ada pula puisi setelah tanda koma menggunakan huruf besar. 4. Diksi Diksi ialah pilihan kata yang tepat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut tertentu.

Diksi dalam puisi biasanya menggunakan kata-kata yang bermakna konotatif. Unsur Intrinsik Puisi Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang ada di dalam batang tubuh suatu karya sastra. Tanpa adanya unsur intrinsik, suatu karya sastra tidak akan terbentuk dengan baik. Dengan begitu, Apa saja sih unsur intrinsik yang terdapat dalam puisi? 1. Tema Tema merupakan gagasan utama atau gagasan pokok yang menjadi landasan utama dalam sebuah puisi. 2. Amanat Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembacanya dalam puisi, baik yang tersirat maupun tersurat.

Amanat juga merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan sebuah puisi, yaitu menyampaikan sebuah pesan melalui puisi. 3. Nada Nada merupakan sikap penyair terhadap pembacanya. Nada berhubungan dengan tema dan rasa. Cotohnya apakah penyair bersikap menggurui, mengajak, mendikte, dan lain sebagainya.

4.Perasaan Perasaan merupaka sikap pengarang yang berhubungan dengan tema atau permasalahan dalam puisinya. Misalnya sedih, senang, kecewa, simpati, dan lain sebagainya. 5. Tipografi Tipografi disebut juga dengan pola atau bentuk puisi atau perwajahan puisi. Tipografi merupakan tatanan, larik, bait, dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang dapat membangun isi, rasa, dan suasana. 6. Enjambemen Enjambemen merupakan pemotongan kata atau kalimat pada akhir lirik yang kemudian meletakan potongan tersebut di awal larik berikutnya.

Enjambemen dapat pula disebut peristiwa sambung-menyambungnya isi dua larik sajak yang berurutan. Tujuannya ialah untuk memberikan tekanan pada bagian tertentu atau digunakan sebagai penghubung. 7. Akulirik Akulirik ialah tokoh aku yang terdapat dalam puisi atau orang yang berbicara dalam puisi. 8. Alusi Alusi merupakan kata ganti orang yang terdapat dalam puisi.

9. Gaya Bahasa Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Gaya bahasa dapat disebut pula bahasa figuratif yang menyebabkan puisi menjadi prismatic atau memiliki banyak makna. 10. Rima Rima atau irama adalah persamaan bunyi dalam puisi, baik di awal, tengah, maupun akhir. 11. Citraan Citraan adalah kesan atau gambaran visual yang ada dipikiran pengarang yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat. Citraan disebut juga dengan imaji. Citraan atau imaji terdiri atas penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perasaan.

Baca juga: Majas: Pengertian, Jenis-Jenis, beserta Contoh Majas Jenis-jenis Puisi Jenis puisi diklasifikasikan menjadi empat, yaitu berdasarkan waktu kemunculan, keterbacaan, pembacaan, dan cara pengungkapan. Dari jenis-jenis tersebut dibagi lagi menjadi beberapa jenis dari masing-masing puisi. Apa sajakah jenis-jenis puisi?

Simaklah penjelasan berikut ini. A. Berdasarkan Waktu Kemunculan Puisi berdasarkan waktu kemunculannya dibagi menjadi tiga, yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi modern. 1. Puisi Lama Puisi lama adalah puisi atau karangan yang terikat oleh aturan-aturan dan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang mengikat puisi itu ialah jumlah baris dalam tiap bait, jumlah kata, rima, dan irama. Jenis puisi lama, yaitu mantra, bidal, pantun, karmina, talibun, seloka, gurindam, dan syair.

2. Puisi Baru Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dari segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Namun, pada penamaan puisi baru didasarkan pada jumlah baris dalam setiap baris. Jenis puisi baru, yaitu distikon, terzina, kuatrin, kuin, sektet, septima, stanza, dan sonata. 3. Puisi Modern Puisi modern merupakan bentuk puisi yang benar-benar bebas, bebas dalam bentuk maupun isinya. Jenis puisi modern berdasarkan cara pengungkapannya, yaitu puisi epik atau bercerita, puisi lirik atau curahan hati, dan puisi dramatik yang terdapat unsur dialog di dalamnya.

B. Berdasarkan Keterbacaan Puisi berdasarkan keterbacaannya dimasudkan untuk menggolongkan puisi berdasarkan tingkat kemudahan untuk memaknainya.

Jenis puisi berdasarkan keterbacaannya dibagi menjadi tiga, yaitu puisi diafan, puisi prasmatis, dan puisi gelap. 1. Puisi diafan Puisi diafan atau polos merupakan puisi yang banyak menggunakan kata denotatif dan sedikit menggunakan lambang atau simbol sehingga dapat ditangkap maknanya dengan mudah.

2. Puisi Prismatis Puisi prismatis atau membias merupakan puisi yang banyak menggunakan kata berkonotasi dan menggunakan lambang dan kiasan.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Meskipun puisi ini terkadang sulit ditangkap maknanya, namun terkadang masih dapat diketahui pula maknanya. 3. Puisi Gelap Puisi gelap merupakan puisi yang banyak mengandung majas, bahasa kiasan, lambang ataupun simbol di dalamnya, serta bersifat pribadi sehingga menyebabkan maknanya sulit dipahami.

C. Berdasarkan Pembacaan Puisi berdasarkan pembacaannya dibagi menjadi dua, yaitu puisi kamar dan puisi auditorium.

Berikut penjelasannya: 1. Puisi kamar Puisi kamar ialah puisi yang cocok dibacakan sendirian. Puisi ini tidak cocok dibacakan di depan umum. 2. Puisi Auditorium Puisi auditorium ialah puisi yang mementinkan suara dan biasanya cocok dibacakan di depan khalayak. Jenis puisi ini biasanya digunakan untuk penampilan maupun perlombaan. D. Berdasarkan Cara Pengungkapan Puisi berdasarkan cara pengungkapannya terbagi atas dua jenis, yaitu puisi konvensional dan puisi kontemporer.

Berikut penjelasannya: 1. Puisi Konvensional Puisi konvensional adalah puisi yang memiliki pola umum, baik dalam penyusunan baris maupun isi. Puisi ini juga masih terikat oleh pengaturan lirik dalam baik, persajakan dan jumlah. 2. Puisi Kontemporer Puisi kontemporer merupakan puisi yang berusaha lari dari ikatan kovensional. Puisi kontemporer seringkali menggunakan kata-kata yang kurang memperhatikan santun bahasa, mengunakan kata-kata yang kasar, ejekan, dan lain-lainnya.

Jenis puisi kontemporer, yaitu puisi mantra, puisi mbeling, dan puisi konkret. Langkah-langkah Memahami Puisi Dalam memahami sebuah puisi terdapat langkah-langkah dalam memahaminya isi puisi. Berikut ialah beberapa langkah memahami isi puisi. • Memerhatikan judul puisi • Memerhatikan kata yang berulang kali dimunculkan pada puisi. Hal tersebut dapat membantu menggambarkan isi puisi.

• Berusaha mengetahui siapa akurilik dalam puisi tersebut. • Berusaha mengetahui siapa yang dimaksud dengan kata ganti orang atau alusi yang ada di dalamnya. • Jangan memulai penafsiran isi puisi secara terpenggal-penggal dahulu, tetapi bacalah dahulu secara utuh. • Mengetahui latar belakang kehidupan penyair sangat membantu memahami puisi. • Untuk mempermudah memahami puisi, dapat dilakukan parafrase.

Langkah-langkah dalam Menganalisis Puisi Dalam melakukan analisis terhadap sebuah puisi dapat dilakukan dengan beberapa cara dan pendekatan. Pendekatan tersebut dikelompokkan kembali menjadi dua, yaitu pendekatan puisi dan pendekatan teks puisi. A. Pendekatan Puisi Dalam memahami seuatu puisi dapat dilakukan dari berbagai pendekatan, baik dari puisi unsur di dalam puisi maupun unsur di luar puisi seperti pembaca dan pengarang.

Berikut ialah jenis-jenis pendekatan dalam memahami sebuah puisi: 1. Pendekatan objektif Pendekatan objektif adalah pendekatan yang melakukan pengkajian terhadap karya sastra dengan hanya berdasarkan pada kenyataan yang terdapat dalam karya sastra. Pada pendekatan ini yang dikaji ialah unsur intrinsik puisi. 2. Pendekatan Mimetik Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang menghubungkan antara karya sastra dan realita objektif.

3. Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ialah pendekatan yang menitikberatkan pada eksistensi pengarang atau penyair sebagai pencipta karya seni. 4. Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatik adalah pendekatan atau pengkajian yang menitikberatkan kajian terhadap peran pembaca dalam menerima, memahami, dan menghayati karya sastra.

B. Pendekatan Teks Puisi Dalam memahami sebuah teks puisi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan, pendekatan teks puisi antara lain: 1. Pendekatan Parafrasis Pendekatan parafrasis adalah pendekatan dengan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan penyair dalam bentuk baru, yakni menyisipkan kata atau kelompok kata dengan tujuan untuk memperjelas makna puisi tersebut. Pendekatan ini bertujuan untuk menguraikan kata yang padat dan mengkonkretkan yang bermakna kias.

2. Pendekatan Emotif atau Perasaan Pendekatan emotif ialah pendekatan yang berupaya untuk mengajuk emosi atau perasaan pembaca dan berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk, isi, maupun gagasan penyair. 3. Pendekatan Analitis Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha untuk memahami cara pengarang menampilkan gagasan melalui unsur intrinsik pembentukan puisi.

Penerapan dalam pendekatan ini dilakukan dengan membaca teks puisi secara utuh terlebih dahulu, kemudian menetapkan unsur yang hendak digunakan untuk dapat memahami puisi tersebut. 4. Pendekatan Historis atau Sejarah Pendekatan historis ialah pendekatan yang menekankan pada unsur ekstrinsik dalam sebuah puisi. Meskipun unsur ekstrinsik berada di luar karya, namun unsur tersebut penting dalam menentukan keutuhan sebuah puisi. 5. Pendekatan Didaktis atau Pendidikan Pendekatan didaktis merupakan pendekatan yang berupaya menemukan dan memahami gagasan serta sikap penyair terhadap nilai-nilai pendidikan yang dituangkan dalam sebuah puisi.

6. Pendekatan Sosiopsikologis Pendekatan sosiopsikologis ialah pendekatan yang mengkaji puisi dari segi sosiologi dan psikologi. Pengkajian ini dilakukan dari sudut sosial dan kejiwaan, bahkan aktivitas. Daftar Pustaka: Budiman, Sumiati. 1987. Sari Sastra Indonesia.

Surakarta: PT Intan Pariwara. KBBI V Suhita, Sri. 2017. Power Point Perkuliahan Teori Sastra. Jenis Puisi Puisi Unsur Intrinsik Puisi Navigasi pos
Tema adalah gagasan utama dari puisi baik yang tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut maupun tersurat.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Tema dalam puisi berjudul “Lentera di Kabut Senja” adalah ungkapan perasaan seseorang yang sedang patah hati karna di tinggal oleh kekasihnya dan dia tetap tegar dan berharap kelak akan menemukan cinta yang baru untuk mengobati luka hati nya yang sekarang. Ungkapan tersebut dapat dilihat dari penggalan puisi berikut “ku coba menatap senja, meski hati tersayat luka”. Diksi adalah pilihan kata yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan dalam puisi. Diksi yang digunakan dalam penulisan puisi berjudul “Lentera di Kabut Senja” adalah menggunakan kata-kata yang bermakna konotasi (makna kiasan) sehingga isi puisi tersebut sulit dimengerti oleh pembaca biasa Terbukti pada penggalan puisi berikut “Lentera menyulap cakrawala, berwujud oasis-oasis cinta”.

Rima adalah pengindah puisi dalam bentuk pengulangan bunyi baik awal, tengah, maupun akhir. Puisi berjudul “Lentera di Kabut Senja” memakai rima tidak beraturan karena bunyi akhir puisi tidak sama.

Terbukti pada penggalan puisi berikut “Tercibir…, terhempas badai nestapa”. Pada baris pertama “Tercibir” berakhiran r sedamgkan pada baris kedua “Terhempas badai nestapa” berakhiran a.

Ini menunjukkan rima tidak beraturan. Nada adalah sikap penyair terhadap pembacanya, misalnya sikap rendah hati, menggurui, mendikte, persuasif, dan lain-lain. Nada yang digunakan dalam penulisan puisi berjudul “Lentera di Kabut Senja” adalah rendah hati, karena puisi tersebut mengandung makna keikhlasan si penyair yang telah ditinggal pergi oleh kekesihnya dan mencoba untuk tetap tegar menerima segala kenyataan yang terjadi. Ungkapan tersebut terbukti dari penggalan puisi berikut “Kucoba menatap senja, meski hati tersayat luka”.

Majas adalah cara penyair menjelaskan pikirannya melalui gaya bahasa yang indah dalam bentuk puisi. Penulisan puisi yang berjudul Lentera di Kabut Senja adalah menggunakan majas metafora (pengandaian).

Jadi ungkapan perasaan si penyair tidak di ungkapkan jelas dengan kata-kata tapi menggunakan kata-kata yang bermajas dengan bahasa yang indah. Hal ini dibuktikan dengan adanya kutipan puisi berikut : Amanat adalah sesuatu yang ingin disampaikan penyair melalui karyanya. Amanat puisi berjudul “Lentera di Kabut Senja” adalah kita diharuskan menerima dengan ikhlas segala sesuatu yang di berikan oleh tuhan meskipun itu masalah percintaan, namun kita juga di tuntut untuk tidak berputus asa dan selalu berusaha tetap tegar dan bersemangat menatap masa depan yang lebih baik.

■ Puisi lama adalah tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut puisi yang masih terikat oleh persajakan, pengaturan larik dalam setiap bait, dan jumlah kata dalam setiap larik, serta musikalitas puisi sangat diperhatikan. Jadi, dapat dikatakan bahwa puisi lama adalah puisi yang terikat berbagai aturan baik dari segi substansi maupun dari segi sistematika penulisan. Unsur boigrafi ini adalah latar belakang pengarang.

Latar belakang cukup berpengaruh dalam pembuatan puisi, misalkan penulis puisi yang latar belakangnya berasal dari keluarga miskin, maka jika ia membuat puisi akan sangat menyentuh hati para pembacanya, yang terbawa dari latar belakang penulis sehingga mampu dikesankan dalam sebuah puisi.

Unsur sosial sangat erat kaitanya dengan kondisi masyarakat ketika puisi itu dibuat. Misalkan puisi itu dibuat ketika masa orde baru menjelang berakhir. Pada saat itu kondisi masyarakat itu sedang sangat kacau dan keadaan pemerintahan pun sangat carut marut, sehingga puisi yang dibuat pada saat itu adalah puisi yang mengandung sindiran-sindiran terhadap masyarakat.

Sajak “Berdiri Aku” ini merupakan ekspresi kesedihan yang ditampilkan penyair dengan suasana sunyi. Kesedihan ini tidak lain dikarenakan oleh perpisahannya dengankekasihnya dan dia harus pulang ke Medan dan menikah dengan putrid pamannya.

Perasan sedih yang sangat mendalam digambarkan penyair dengan suasana sunyi pantai disore hari. Dengan demikian penyair hanya mampu melihat keindahan alam sekitar karena kebahagiaannya dan harapan telah hilang.

Kata-kata seperti, senyap, mengurai, mengempas, berayun-ayun dan sayap tergulung identik dengan kesunyian. Kata-kata tersebut membentuk makna kesendirian yang ingin digambarkan pengarang. Kata “maha sempurna” dalam akhir bait juga merupakan arti konotasi dari tuhan yang maha sempurna.

Kata “mengecap” memiliki arti yang ingin dirasakan. Permainan kata-kata yang digunakan yang ditulis memang sebuah misteri untuk menyembunyikan ide pengarang. Sajak Berdiri Aku ini menimbulkan imaji penglihatan ”visualimagery”, seolah-olah kita melihat suasana pantai yang indah.

Dalam kalimat pertama imaji kita akan merasakan kesejukan dengan kata-kata tersebut tetapi satyang angin itulah yang menghempaskan harapan dan membawa lari sehingga yang terasa hanyalah sunyi yang semakin dalam. Dengan berbagai citraan yang mampu ditampilkan penyair ini pembaca akan ikut merasakan apa yang ditulis oleh penyair dengan inderanya sendiri. Yaitu pilihan kata sebagai simbol, hal ini karena bukan makna yang sebenarnya.

Pada sajak “Ibu” terdapat diksi pada kata gua pertapaanku sebagai simbol makna kehidupan di dalam kandungan. Kemudian kata pahlawan adalah sebagai simbol seseorang yang telah berjasa besar dan telah rela berkorban. Kata bidadari juga menyiratkan suatu simbol kecantikan lahiriah maupun keelokan akhlak/budi pekerti.

Dan kata bianglala adalah pelangi sebagai suatu simbol keindahan. Yakni pembayangan kembali (reproduksi mental suatu ingatan) terhadap pengalaman sensasional (perasaan) dan pengalaman persepsional (fikiran). Pencitraan pada sajak “Ibu” berupa imaji visual yaitu pembayangan kembali pengalaman sensasional-perseptual terhadap gambaran yang nampak, terdapat pada: sumur-sumur, daunan, reranting, mataair, airmata, ibu, mayang siwalan, bunga, langit, bumi, samudra, lautan, lumut, diri, pukat, sauh, lokan-lokan, mutiara, kembang laut, bidadari, bianglala.

Dalam puisi ini, Rendra menggunakan pilihan kata yang tepat sehingga menimbulkan daya/kekuatan yang diinginkannya. Seperti pada bait Ketika melewati kali terbayang gelakmu. Penyair memilih kata gelak untuk menggantikan kata tawa, dengan tujuan untuk menambah nilai estetis puisi. Diksi (pilihan kata) dalam puisi ini cukup sederhana, namun dalam kesederhanaan itulah letak kekuatan dan keindahan puisi Serenada Kelabu ini. Tipografi adalah penataan bentuk larik/baris dalam puisi yang dapat menambah aspek kekuatan makna dan ekspresi penyair.

Dalam hal ini, puisi Serenada Kelabu memiliki tipografi atau bentuk yang biasa, Rendra tidak melakukan eksperimen pada bentuk puisi.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Namun isi dan unsur lain yang terkandung dalam puisi ini sudah cukup untuk menjadi kekuatan makna dan ekspresi Rendra.
Pelajarancg: Tipografi disebut juga sebagai ukiran bentuk Perwajahan. pelajarancg.blogspot.com, Tipografi dalam Puisi adalah tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana. Untuk memperjelas apa yang dimaksud karya sastra puisi untuk bentuk Tipografi, berikut adalah contoh-contoh dalam rangkuman Mata pelajaran Bahasa Indonesia di artikel kurikulum pelajarancg.blogspot.com CONTOH TIPOGRAFI DALAM KARYA PUISI DIANTARANYA ADALAH 1.

Menggunakan huruf kecil semua dan tanpa tanda baca paman-paman tani utun ingatlah musim labuh sawah tiba duilah musim labuh kurang tidur ya paman kerja berjemur dalam lumpur tak makan sawah-sawah menggempur hancur merpatinya wokwok ketekur (PAMAN-PAMAN TANI UTUN, karya Piek Ardijanto Suprijadi, Angkatan 66, hal. 462) 2. Menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca Di depan gerbangmu tua pada hari ini Kami menyilangkan tangan ke dada kiri Tegak dan tengadah menetap bangunanmu Genteng hitam dinding kusam berlumut waktu (ALMAMATER, karya Taufiq Ismail, Angktan 66, hal.

151) 3. Menggunakan huruf besar-kecil dan tanda baca lengkap Kukitari rumahMu. Kukitari rumahMu bersama jutaan umat Ketika Kauturunkan rahmat meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata : Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami Ulurkan tanganMu, bimbing kami ke jalan lurus yang Kauridoi. Di bumi ini dan di akhirat nanti. Pelajari: 25 KATA-KATA MUTIARA ANTARA LANGIT DAN BUMI (SEMENTARA THAWAF, karya Ajip Rosidi) 4. Sebagian baitnya menjorok ke dalam Laksana bintang berkilat cahaya, Di atas langit hitam kelam, Sinar berkilau cahya matamu, Menembus aku kejiwa dalam.

Ah, tersadar aku, Dahulu . Telah terpasang lentera harapan Tetiup angin gelap keliling. Laksana bintang di langit atas, Bintangku Kejora Segera lenyap peredar pula, Bersama zaman terus berputar (SEBAGAI DAHULU, Karya Aoh Kartahadimaja, Gema tanah Air, hal. 51) Hubungan antara Puisi dengan Tipografi Perwajahan puisi (tipografi) yaitu ukiran bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Pada Puisi sehubungan dengan pengertian, Tipografi adalah tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana. Tipografi (tata wajah) merupakan pembeda penting antara puisi dengan prosa dan drama.

Larik-larik puisi tidak dibentuk dalam paragraf, namun berbentuk bait. Pada puisi-puisi konteporer seperti karya-karya Aoh Kartahadimaja, Ajip Rosidi, Taufiq Ismail, dan Piek Ardijanto Suprijadi, tipografi dipandang begitu penting dipelajari sehingga menggeser kedudukan makna kata-kata. Tentang kurikulum pelajarancg.blogspot.com: Blog Informasi Berbagai Kurikulum Mata Pelajaran Seni Sastra & Pendidikan Indonesia berbagai tingkatan dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK dan Perguruann Tinggi.

Istilah kurikulum berasal dari bahasa Latin “curir” yang berarti palri dan “curere” yang berarti tempat berpacu. Sehingga kurikulum dapat diartikan sebagai trek atau lajur yang harus diikuti seseorang untuk mencapai tujuannya. Oleh sebab untuk mendukung Sekolah melancarkan proses pendidikan di Indonesia maka dibuatlah artikel Pantun syair dan puisi yang dirangkum pada Blog Kurikulum pelajarancg.blogspot.com
Tipografi (Perwajahan puisi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Dalam Puisi didefinisikan atau diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana. Menurut analisis penulis dalam sajak ‘Aku’ karya Chairil Anwar ini tidak menggunakan tipografi karena dalam tipografi puisi ini tidak menentu ada yang menggunakan rata kiri ada yang menggunakan rata kanan, tetapi yang sudah tertera contoh puisi aku di atas menggunakan rata tengah, karena semua tulisannaya di tengahkan semua.

Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128).

Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

Pada kata ini jikalau pembaca membacanya seakan-akan memancarkan makna yang sangat mendalam tidak akan mungkin kalau umur Aku pada puisi ini bisa bertahun hidup sampai seribu tahun lagi, pada era sekarang ini umur seseorang paling maksimal yaitu 70an tahun, tetapi penyair mengungkapkan pada puisi ini, dia ingin hidup seribu tahun lagi sangat-sangat tidak mungkin dan sangat mustahil sekali jika Aku ini bisa bertahan hidup sampai seribu tahun lagi, jika si Aku ini hidup di zaman sekarang.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam bahasa puisinya, karena puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin.

Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata Dari itulah dalam pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat.

Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji, puisi “ Aku” ini tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan judulnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalahnya seorang penyair. Sebagai gambaran saja seandainya puisi ini diberi judul dengan kata “Saya” betapa tidak enaknya pembaca dalam mengungkapkannya, dalam puisi ini bahasa keakuan ini sangat menonjol sekali, tetapi penulis tidak tahu bahwa keakuan siapakah yang dituangkan oleh pengarang.

Tema/makna ( sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

Di dalam puisi Aku ini bertemakan tentang perjuanagan seorang “Aku” dan penulis akan menganalisis tiap bait pada puisi ini Rasa ( feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan.

Feeling atau Rasa merupakan salah satu unsur isi yang dapat mengungkapkan sikap penyair pada pokok persoalan puisi. Pada puisi di atas merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa “jika sampai waktunya”, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai “aku”.

Bahkan jika ia terluka, akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup. Oleh sebab itu “Aku” ingin hidup seribu tahun lagi.

Semuanya itulah eksprsesi jiwa seorang pengarang yaitu Chairil Anwar.

tatanan larik bait kalimat frasa kata dan bunyi untuk menghasilkan bentuk fisik puisi disebut

Nada ( tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.

Di sini ada sedikit perbedaan antara feeling dan tone itu kalau feeling menggambarkan sikap penyair kepada pokok persoalan puisinya, sedangkan tone atau nada merupakan unsur isi yang menggambarkan sikap penyair kepada pembacanya. Dalam Puisi ‘Aku’ terdapat kata ‘ Tidak juga kau’, Kau yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk.

Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya, berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian itu kita terima dengan rasa percaya diri dan sebagai pertimbangan kebaikan dalam menciptakan karya selanjutnya.

garethjaili 4 Maret 2022 07.38 Wynn Resorts Casino Names Julie Cameron-Doe as - DrMCD Wynn Resorts 군포 출장마사지 announced today the appointment of Julie Cameron-Doe as its 영천 출장샵 new 경주 출장안마 Chief Operating Officer and 안산 출장안마 Chief Operating Officer. 하남 출장마사지 Balas Hapus

Sekilas Tentang Pengertian Puisi dan Strukturnya




2022 www.videocon.com