Berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

Ketika selesai shalat fadhu, mungkin kita mendapati beberapa orang yang berdzikir setelah shalat. Tangan kanannya aktif menghitung dzikir akan tetapi mulut dan bibirnya diam. Maka ini adalah cara berdzikir dan berdoa yang perlu kita luruskan bersama. Pengertian dzikrullah Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, وإذا أطلق ذكر الله : شمل كل ما يقرِّب العبدَ إلى الله من عقيدة ، أو فكر ، أو عمل قلبي ، أو عمل بدني ، أو ثناء على الله ، أو تعلم علم نافع وتعليمه ، ونحو ذلك ، فكله ذكر لله تعالى.

“jika dimutlakkan kata “dzikrullah”, maka (maksudnya) mencakup segala sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah berupa aqidah, pemikiran, amalan hati, amalan badan, pujian kepada Allah, mempelajari ilmu yang bermanfaat dan mengajarkannya dan lain-lain. Maka semua ini adalah dzikrullah Ta’ala” [1] Perlu diketahui ulama membagi dzikir menjadi dua: dzikir lisan dan dzikir hati (ada yang menambahkan dengan dzikir anggota badan).

Sebagaimana perkataan syaikhul Islam Ibnu Taiimiyyah rahimahullah, النَّاسَ فِي الذِّكْرِ أَرْبَعُ طَبَقَاتٍ : إحْدَاهَا : الذِّكْرُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَهُوَ الْمَأْمُورُ بِهِ “Manusia dalam hal dzikir ada 4 tingkatan, yang pertama dzikir dengan hati dan lisan, maka ini diperintahkan.” [2] Maka dzikir dengan hati bukan yang kita bahas dalam artikel ini, karena yang kita maksud dalam artikel ini adalah dzikir lisan, adapun yang dimaksud dengan dzkir hati adalah dengan merenungi dan memikirkan kebesaran Allah, bukan dzikir di dalam hati ( mbatin).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, وصفة الذِّكر بالقلب : التفكر في آيات الله ، ومحبته ، وتعظيمه ، والإنابة إليه ، والخوف منه ، والتوكل عليه ، وما إلى ذلك من أعمال القلوب. “Tata cara berdzikir dengan hati (dzikir hati) adalah merenungi ayat-ayat Allah, mencintai-Nya, mengagungkan-Nya, dan kembali kepada-Nya, takut, tawakkal dan lain-lainya berupa amalan hati.” [3] Berdzikir dengan lisan dengan menggerakkan bibir Allah Ta’ala menyebutkan dalam Al-Quran, لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (berdzikir/ membaca Al Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya .” (AL-Qiyamah: 16) Ibnu Rusyd menukilkan, عن الإمام مالك رحمه الله أنه سئل عن الذي يقرأ في الصلاة ، لا يُسْمِعُ أحداً ولا نفسَه ، ولا يحرك به لساناً.

فقال : ” ليست هذه قراءة ، وإنما القراءة ما حرك له اللسان ” انتهى. “Imam Malik rahimahullah ditanya mengenai orang yang membaca dalam shalat (termasuk berdzikir), suaranya tidak didengar oleh seorangpun dan tidak juga dirinya, ia tidak menggerakkan lisannya, maka Imam Malik berkata, “Ini bukan termasuk membaca (berdzikir), berdzikir itu dengan menggerakkan lisan” [4] Al-Kasani rahimahullah berkata, القراءة لا تكون إلا بتحريك اللسان بالحروف ، ألا ترى أن المصلي القادر على القراءة إذا لم يحرك لسانه بالحروف لا تجوز صلاته “ Membaca (berdzikir) harus dengan menggerakkan lisan (mengucapkan) huruf-huruf.

Jika engkau melihat seseorang shalat, ia mampu membaca akan tetapi ia tidak menggerakkan lisannya (mengucapkan) huruf-huruf, maka tidak sah shalatnya.” [5] Dan Fatwa ulama di zaman ini juga demikian, syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, لا بد من تحريك اللسان، ولا بد من صوت، وإلا ما يسمى قارئ، من قرأ في قلبه فقط ما يسمى قارئ، لا بد من شيء عند القراءة والذكر حتى يسمى ذاكراً، ويسمى قارئاً، ولا يكون ذلك إلا باللسان، لا بد من كونه يسمع نفسه، إلا إذا كان به صمم، فهو معذور، “Berdzikir itu harus menggerakan lisan dan harus bersuara, minimal didengar oleh diri sendiri.

Orang berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir membaca di dalam hati (dalam bahasa arab) tidak dikatakan Qaari. Orang yang membaca tidak dapat dikatakan sedang berdzikir atau sedang membaca Al Quran kecuali dengan lisan. Minimal didengar dirinya sendiri. Kecuali jika ia bisu, maka ini ditoleransi” [6] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ” القراءة لابد أن تكون باللسان ، فإذا قرأ الإنسان بقلبه في الصلاة فإن ذلك لا يجزئه ، وكذلك أيضاً سائر الأذكار ، لا تجزئ بالقلب ، بل لابد أن يحرك الإنسان بها لسانه وشفتيه ؛ لأنها أقوال ، ولا تتحقق إلا بتحريك اللسان والشفتين ” انتهى.

“ Qira’ah itu harus dengan lisan. Jika seseorang membaca bacaan-bacaan shalat dengan hati saja, ini tidak dibolehkan. Demikian juga bacaan-bacaan yang lain, tidak boleh hanya dengan hati. Namun harus menggerakan lisan dan bibirnya, barulah disebut sebagai aqwal (perkataan).

Dan tidak dapat dikatakan aqwal, jika tanpa lisan dan bergeraknya bibir” [7] Berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Walamdulillahi robbil ‘alamin. @pogung-Lor-Jogja, 22 Jumadal Awwal 1434 H Penyusun: Raehanul Bahraen Artikel www.muslimafiyah.com 1. Definisi dan Dalil Dzikir : Dzikir menurut konteks bahasa mengandung beberapa pengertian, mengandung arti "Menceritakan" (QS. Maryam : 56), "Al-Qur'an" (QS. Al-Anbiya : 50), "Shalat" (QS. Al Baqarah : 239), "Wahyu" (QS. Al Qamar : 25) dan sebagainya. Arti Dzikir yang sebenarnya adalah suatu cara / media untuk menyebut/mengingat nama Allah, jadi semua bentuk aktivitas yang tujuannya mendekatkan diri kepada Allah dinamakan dzikir seperti shalat (QS.

Thoha : 14), tetapi lebih spesifik lagi dzikir dibatasi dengan kata mengingat Allah dengan lisan dan hati. Dalil berdzikir (QS. Al Ahzab : 41). (QS. Al Baqarah : 152). "Siapa yang ingin bersenang - senang ditaman syurga, perbanyaklah dzikir". (HR.Thabrani). 2. Sebutan dan nama dalam Dzikir.

Untuk mempermudah mengingat dzikir para ulama memberi sebutan dzikir yang digunakan dalam keadaan tertentu. -Basmalah : diucapkan setiap memulai sesuatu -Hamdalah / Tahmid : diucapkan setiap meakhiri sesuatu -Istigfar : diucapakan ketika melihat / mendengar sesuatu yang tidak diinginkan atau untuk memohon ampun -Hauqalah : diucapkan ketika melihat / mendengar sesuatu yang dibenci.

-Al Masyiah : diucapakan apabila ingin mengerjakan sesuatu yang hebat atau ajaib. -Tahlil / Syahadah : diucapkan ketika memasukkan orang non muslim kedalam agama islam / bacaan wajib bagi orang muslim didalam shalat. -Tasbih : diucapkan ketika melihat atau mendengar kekuasaan Alloh. Pemberi nama dalam dzikir biasanya diberikan nama orang yang pertama mendapatkan dzikir atau orang yang yang menyusun dzikir-dzikir dalam satu susunan, seperti Hijib Nawawi dzikir yang ditulis oleh Syeikh Nawawi Al-Bantany, Ratib Al-Haddad dzikir yang disusun oleh Al Habib Alawi Al Haddad, Ratib Al-Aththas dzikir yang disusun oleh Al Habib Ali bin Husain Al Aththas.

3. Anggota tubuh dalam Dzikir. Pada hakikatnya semua anggota tubuh manusia dapat digunakan sebagai dzikir asalkan digunakan untuk bersyukur atau mendekatkan diri kepada Alloh, seperti shalat ,puasa dan pergi haji. Tetapi para ahli tasauf membagi dzikir itu dengan dua bagian : 1. Dzikir Billisan : Berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصلاَةَ إِن الصلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً موْقُوتاً "Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa).

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. "(QS. Annisa : 103). Mu'az bertanya kepada Nabi tentang amal yang paling utama. Nabi menjawab : "Sampai mati lidahmu basah dengan berdzikir kepada Alloh". (HR. Al Baihaqi). Dalam Hadits Qudsi dikatakan : "AKU selalu bersama hambaKU apabila ia mengingatKU dengan menggerakkan kedua bibirnya".

Berzikir dengan lisan ada dua cara : Pertama : Sir : berdzikir dengan suara perlahan sekiranya hanya terdengar oleh telinga orang yang berdzikir, orang tasauf menamakan dzikir ini adalah "Azzikru Bissirry" yang merupakan cara berdzikir yang paling Afdhol. وَاذْكُر ربكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُو وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن منَ الْغَافِلِينَ "Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS.

Al Araf : 205). Kedua :Jahar : berdzikir dengan suara keras sekira terdengar telinga orang yang berdzikir dan orang yang didekatnya. 2. Dzikir Bilqolbi : Berzikir dengan menggunakan hati dan sama sekali tidak terdengar oleh telinga. (QS. Ali Imran : 135). الذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِن قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِن الْقُلُوبُ "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Rad : 28) Setiap zikir Billisan dan Bilqolbi mempunyai kelebihan dan kekurangan. Zikir billisan dengan suara jahar kelebihannya disamping berzikir secara tidak langsung dapat mengajarkan orang yang disekitarnya untuk mengikuti zikirannya seperti zikir sesudah shalat Fardhu yang dipandu oleh imam. Sabda Nabi : "Siapa yang mengajarkan / menunjukkan seseorang dalam kebaikan pahalanya sama dengan orang yang mengarjakannya".

Akan tetapi kekurangannya dekat kemungkinan menjadikan orang yang berzikir menjadi Riya ( rasa ingin dipuji) dan Ujub (merasa dirinya lebih dari orang lain), kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah. Zikir dengan Sir atau Bilqolbi pahala dan zikirannya hanya untuk orang yang membaca zikir tersebut, tetapi jauh kemungkinan menimbulkan sifat yang buruk. 4. Jumlah dalam ber-Dzikir : Pada hakikatnya Allah menyuruh hambanya banyak berzikir dan jangan sampai lalai kepadaNya dalam sedetikpun.

يَا أَيهَا الذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْراً كَثِيراً "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. AL Ahzab : 41) وَسَبحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيل "Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang " (QS. AL Ahzab : 42) Bahkan termasuk golongan orang munafik yang sedikit zikirnya. tetapi ada zikir yang dibatasi dengan jumlah tertentu karena mempunyai keistimewaan dan ada maksud tertentu. Sabda Nabi :"Aku ber-Istigfar sehari semalam 100 kali ".

Istigfar ini menunjukkan rasa syukurnya beliau dijadikan Nabi yang Makshum (terbebas dari dosa). "Siapa yang membaca :Laa ilaaha illalloh wahdahu laasyariilalah lahul mulku wahul hamdu wahuwa alaa kulli syai'in qodiir.sehari 200 kali maka orang-orang yang sesudah dan sebelum-mu selalu berbuat baik kepadamu". Jumlah zikir dengan bilangan tertentu sering dipakai oleh para Ahli Thariqah dan Ahli Hikmah, karena mempunyai kelebihan dan tujuaan tertentu, seperti membaca Shalawat "Kamilah" 4444 kali dengan maksud keselamatan dan bentang dari musuh.Angka-angka yang mereka tentukan berdasarkan dari hasil Mujahadah (kesungguhan jiwa) dan Riyadhah (latihan jiwa) dalam menjalankan tasauf.

5. Sikon dalam ber-Dzikir dan larangannya : Pada dasarnya berzikir tidak dibatasi dengan sesuatu apapun, karena mengingat kepada Sang Pencipta tidak boleh dibatasi oleh apapun, kecuali ada hal-hal tertentu yang dilarang untuk mengerjakannya. Berzikir boleh dilakukan dalam kondisi berdiri, duduk atau berbaring فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصلاَةَ إِن الصلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً موْقُوتاً "Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.

Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. " (QS. An-Nisa : 103). Ibnu Abbas berkata : "Ayat ini mengandung pengertian boleh berzikir pada waktu siang atau malam, didaratan atau dilautan, sedang bepergian dalam kendaraan atau disuatu tempat dan dalam kondisi apapun seperti, sakit atau sehat, sendiri atau ramai ".

Larangan dalam berzikir : Zikir Bilqolbi tidak ada larangan sama sekali, tetapi zikir Billisan mempunyai larangan tertentu : 1. Berzikir pada tempat yang bernajis seperti WC atau kamar mandi. 2. Wanita yang sedang Haidh atau orang yang sedang junub (hadats besar) dilarang membaca sesuatu yang diambil dari Al Quran, seperti Basmalah atau Innalillahi wainna ilahi raajiun dengan maksud membaca Al Quran.

لا يَمَسهُ إِلا الْمُطَهرُونَ "tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan."(QS. Al Waqiah : 79). Sabda Nabi : "Tidak boleh ada yang menjamah Al Qur'an kecuali orang yang suci" 3.

Orang yang sedang menjalankankan maksiat kepada Allohseperti sedang berjudi, berzina atau meminum- minuman keras dengan maksud mengejek Alloh. 6. Mashdar Dzikir : Mashdar berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir artinya tempat / sumber pengambilan zikir yang kita peroleh dan kita amalkan.Mashdar zikir ada dua : 1.

Ma'tsur yaitu sumber pengambilan zikir dari Al Quran atau Assunah. Banyak zikir-zikir atau doa yang tertera didalam Al Quran dan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.seperti (QS. Al Baqarah : 156) dan Hadits diatas.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

Berzikir secara Ma'tsur lebih utama daripada yang bukan Ma'tsur, karena sumbernya langsung dari Alloh dan Rasul. 2.Gairu Ma'tsur yaitu sumber pengambilan zikir dari para ulama tasauf atau Ahli Hikmah yang tidak ada didalam Al Quran atau Assunah, seperti zikir Asmaul A'dzom, hizib. Mengamalkan zikir Gairu Ma'tsur sebaiknya dengan memakai Ijazah (QS. Al Fathu : 10) agar silsilahnya sampai kepada Nabi yang Ma'tsur, karena pada umumnya para ahli tasauf mendapatkan zikir dari Nabi secara gaib walaupun secara fisik Nabi sudah wafat, tetapi pada Hakikatnya beliau masih hidup 7.

Tingkatan orang yang ber-Dzikir : Meskipun manusia diciptakan Alloh dengan sempurna, tetapi ada manusia yang paling mulia disisiNYa yaitu manusia yang paling bertaqwa. (QS. Al Hujarat : 15) dan mereka yang mendapatkan warisan ilmu dari Alloh. (QS. Al Mujadalah : 11). Sabda Nabi : "Siapa yang mengamalkan sesuatu yang ia dapatkan (dari Allah dan Rasul) maka Alloh wariskan pengetahuan yang tidak pernah diketahui (orang)".

Dalam ilmu tasauf orang terbagi atas dua golongan : Pertama : Orang Awam yaitu golongan yang derajatnya belum mencapai Ma'rifat, golongan awam zikirnya hanya sebatas menyebut / mengingat Allah semata.

Kedua : Orang Arifin yaitu golongan yang derajatnya sudah mencapai Ma'rifat, bagi orang Arifin berzikir wajib hukumnya, bila sekejap mereka lupa kepada Alloh maka berdosa baginya dan zikirnya bukan sekedar menyebut / mengingat Alloh akan tetapi mendekatkan diri kepada yang Zat yang Maha Esa.seperti Zikir Asma'ul ‘Adzom dan zikir Nafi - Itsbat.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

Seorang sufi berkata : "Jika keinginanku terlintas bukan kepada-MU dan hatiku lalai akan zat-Nya maka aku hukumkan diriku telah murtad" 8. Halaqah zikir atau Majlis Dzikir : Salah satu cara untuk mendawamkan (kontinyu) berzikir dengan membuat Halaqah (Forum) atau Majlis zikir, minimal dua orang atau lebih.

Majlis zikir disamping untuk memberi semangat dalam berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir juga mengajak orang lain untuk berzikir.

"Tidaklah sekelompok orang berzikir kepada Allah disatu majlis melainkan mengelilingi malaikat dan menurunkan rahmat kepada mereka, maka Alloh ingat kepada mereka siapa saja yang ada disisinya". (QS. Ali Imran : 104). Para sufi apabila ingin berzikir sendiri maka ia membuat "Jawiyah" yaitu tempat / pojok khusus untuk berzikir dan bila berzikir dilakukan bersama-sama maka mereka membuat "Ribath" yaitu majlis / pesantren khusus untuk zikir bersama.

9. Faidah ber-Dzikir : Setiap zikir yang dibaca oleh seseorang mempunyai manfaat yang besar didunia dan akhirat. Diakhirat mendapat pahala sebagai balasannya adalah Syurga.

Didunia zikir dapat menenangkan jiwa dan dapat dijadikan sebagai renungan yang aplikasinya adalah taqwa. (QS. Ar-Rad : 30). (QS. Az-Zariyat : 55). (QS. Al'Ala : 9). Menurut ahli kebathinan (ahli Hikmah) orang yang berzikir dengan khusyu dan memakai ritual tertentu zikir tersebut mempunyai pengaruh besar pada raganya, sehingga seseorang yang berzikir jasadnya kuat atau dapat melambung keatas.

Umar bin Khaththab ketika beliau terkena anak panah kakinya pada suatu peperangan maka dicabut anak panah tersebut pada waktu beliau sedang shalat agar tidak terasa sakit. Kata orang Hikmah: Asma Alloh atau Al Quran setiap hurufnya mempunyai khadam yang tersembunyi didalamnya yang suatu saat khadamnya dapat dipanggil dan diperintah oleh orang yang berzikir.

"Jangan engkau katakan "ALIF-LAM-MIM" satu rangkaian huruf akan tetapi Alif Lam Mim adalah Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf "Nabi menjelaskan wahwa setiap satu huruf Al Quran yang dibaca mengandung pahala jika dibaca dengan benar, jika dibaca dengan salah maka Al Quran tersebut malah mengutuknya. "Berapa banyak orang yang membaca Al Quran sedangkan Al Quran malah mengutuknya".

Orang Hikmah menganggap semua huruf "Hijaiyyah" disamping mengandung pahala juga mempunyai khadam karena Al Quran, zikir, doa, Asma Alloh dan bacaaan lainnya tersusun dari huruf-huruf tersebut.

Yang sebenarnya khadam yang ada pada zikir adalah para Malaikat yang selalu mendekati orang yang sedang berzikir. "Tidaklah sekelompok orang berzikir kepada Alloh didalam majlis melainkan mengelilingi para Malaikat sambil menurunkan rahmat kepada mereka, Alloh selalu ingat kepada mereka siapa saja yang ada disisiNya". Saya (penulis) yaqin para Malaikat itu dapat kita panggil dan berdialog untuk meminta sesuatu asalkan kita selalu berzikir dan tahu cara bertemunya.

HAKEKAT DZIKIR ” Wahai org yang beriman, Ingatlah dengan ingatan/dzikir yang banyak. (QS. Al-Ahzab:41)” “Ingatlah, saya akan memberitahu kalian tentang sebaik-baik amal kalian, paling sucinya amal kalian di sisi Raja Kalian, Paling tingginya amal kalian dalam Tingkatan beberapa Derajat, dan Paling baiknya Pemberian daripada emas dan perak, Jika kalian Bertemu musuh-musuh kalian (Hawa nafsu), maka kalian akan memukul leher-leher mereka(ganti) memukul leher-leher kalian, Para sahabat bertanya:” Apa itu Wahai Rosululloh?.Beliau menjawab: Dzikrulloh” (HR.Baihaqi dari Ibnu Umar, Kanzul Ummal 1/428.) “Hari Kiamat tidak akan sampai terjadi sampai di berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir ini hingga tidak ada yang mengucap Alloh, Alloh” (HR.Muslim dari Anas Bin malik ) “Ingatlah Aku(Alloh), maka aku akan mengingatmu” (Al Baqarah :152) Dzikir adalah merupakan Rukun yang sangat kuat dalam menuju Al-haq bahkan keberadaannya merupakan tiang, tiada akan menyampaikan kepada Al haq kecualai melanggengkan istiqamah dzkir, Dzikir ada dua macam Yaitu dzkir lisan dan dzkir qolbu (HR.At-Tarmudzi dari anas bin malik) Dzkir lisan mengantarkan hamba kepada pada kelanggengan dzikir Hati/qolbu, Dzikir lisan Punya pengaruh untuk mengantarkan kepada dzkir Hati.

Menurut Para ahli mukasafirin danAhl- khawas Dzikir yang langgeng meyebarkan Kewalian, barang siapa yang melangenggkan Dzikir maka di anugrahi Penyebaran Kecintaan Kekasihnya dan jika Dia mencabut dzkirnya maka Penyebaran Kecintaannya akan dicabut darinya. Dzikir kepada alloh dengan Qolbu adalah Pedang para Penempuh bagi orang-orang yang menuju Ilahiyah, Dengan Pedang itu maka mereka berperang melawan musuh-musuhnya (hawa nafsu) dan menghalau beberapa Penyakit (lahir dan Bathin) yang mencoba menganggunya, dan dengannya menghalau beberapa Musibah dari semua yang dibencinya, Muhammad Al-Wasithi pernah ditanya tentang keutamaan Dzikir,lalu dia menjawab : “Yaitu keluar dari medan Kelupaan dan menuju ke istiqomahan Hati yang mampu mengalahkan tekanan ketakutan dan menambah tarikan Rasa Cinta Kepada Alloh, Dzun Nun Al-Mishri berkata: “Barang Siapa Ingat alloh dengan Ingatan yang Haqiqi maka dia pasti lupa segala sesuatunya disisi ingatannya dan Alloh akan menjaganya dari segala sesuatunya.

Keistimewaan Dzkir tidak dibatasi Ruang dan waktu, bahkan tidak ada kecuali seoang hamba diperintahkan berdikir, baik bersifat wajib dan sunat. Shalat meski kedudukannya sebagai Ibadah yang paling mulia disisi Alloh adalah merupakan rangkaian dari pada Dzkir dan Doa. dan Menurut Syeikh Abu Ali Ad-Daqaq pernah ditanya, Apakah dzkir dan berfikir lebih mulia?” Apa yang terjadi pada Syaikh?” “Bagi saya,” jawab Asy-Syaikh Abu Abdurrahman,”Bahwa zikir lebih sempurna daripada berfikir, karena Allah adalah Dzat Al-Haqq di Sifati dengan dzkir tidak dengan Berfikir, Sesuatu yang menjadi Sifat Al-Haq adalah lebih sempurna dan kesempurnaannya dari pada sesuatu yang dikhususkan oleh Mahluk Sebagai Sifat Al-Haq.

Dalam Suatu Hadis disebutkan Jibril a.s pernah berkata kepada Rosululloh SAW, bahwa Alloh SWT berfirman:”Saya memberi umatmu sesuatu yang belum Pernah Saya Berikan kepada Umat Sebelumnya.” Apa Itu, Wahai Jibril?” Jawab Rosululloh SAW. “Yaitu Firmannya mengatakan karena itu), Ingatlah Kalian, maka akupun pasti MengingatMu (QS.Al-Baqarah:152) Menurut Akhli tafsir ayat tadi adalah Bermakna bahwa Malaikat selalu berkonsultasi dengan Orang Yang berdzikir ketika hendak mencabut Nyawanya bahkan Menghiburnya bagi yang akhli Berdzkir.

Dan dalam Kitab Taurat Musa a.s Pernah bertanya,”Wahai Tuhan, Dimana Engkau Berada?” “Di Qolbu hambaku Orang-orang beriman (yang selalu senantiasa Berdzkir)” artinya, Aktifitas Dzkir yang menetap didalam hati Karena Alloh SWT bebas dari Segala yang bersifat mebetap, berubah dan berpindah,dan Dia menetap dan mewujudkannya dalam Hati Hambanya yang Berdzkir”.

Bahwa dikatakan beberapa akhli Haqeqat dan Bebarapa para Sahabat nabi dari Salam Al Farizi, dan zait Bin Haritsah dll mengatakan bahwa mencapai rasa Manis dalam Kehidupan ada Tiga Hal Yaitu : Khusu di dalam Shalat, Dzkir selalu mengisi aktifitas kehidupan, dan Membaca qur’an sesuatu yang tdk pernah ditinggalkannya setiap hari, Dikatakannya Jika Mengingat-Ku lebih menguasai hamba-Ku, maka berarti Dia Rindu kepada-Ku yang membuat Saya Rindu kepadanya. Dan Ingatlah Aku(Alloh SWT) mewahyukan kepada Nabi Daud a.s “Bersamaku Bergembiralah dan dengan MengingatMu(Dzkrullah) dan dengan mengingatKu bersenang-senanglah” dan segala sesuatu mempunyai siksaan dan Siksaan bagi Orang yang Marifatullah adalah keterpustusan dari Dzkir, Di Dalam Kitab Injil disebutkan:” Hai Isa a.s Ingatlah Aku ketika kamu Marah, maka Pasti aku mengingatmu ketika Aku Murka, Ridalah dengan Pertolongan-Ku Karena Pertolongan-Ku lebih baik daripada Pertolongan (jasadmu/ihtiarmu) maka berdzkirlah kepada_KU”.

Mudah-mudahan semua ini menjadikan kita Gemar Berdzkir dan menjadi aktifitas Ritunitas kehidupan sehari-hari baik Dzkir lisan,Qolbu,Sir dan Perbuatan sehari-hari yang kita mampu dan maksimalkan.Insya alloh. amien. 22-11-2013 20:07 KEUTAMAAN BERDZIKIR Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan w…aktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir tanpa disertai dalil baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih/hasan, seperti berdzikir secara berjama’ah (lebih jelasnya lihat kitab Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid, Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy Syar’i wa Khatharul Ibtidaa’, Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah, dan lain-lain).

Atau dzikir-dzikir yang sifatnya muthlaq, yaitu dzikir di setiap keadaan baik berbaring, duduk dan berjalan sebagaimana diterangkan oleh ‘A`isyah bahwa beliau berdzikir di setiap keadaan (HR. Muslim). Akan tetapi tidak boleh berdzikir/menyebut nama Allah di tempat-tempat yang kotor dan najis seperti kamar mandi atau wc. Di antara ayat yang menjelaskan keutamaan berdzikir adalah: 1. Firman Allah, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah:152) 2.

Firman Allah, يَا أَيهَا الذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Al-Ahzaab:41) 3. Firman Allah, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar/jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzaab:35) 4.

Firman Allah, وَاذْكُرْ رَبكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُو وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِين “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf:205) Adapun di dalam As-Sunnah, di antaranya: 1.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الذِيْ يَذْكُرُ رَبهُ وَالذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبهُ مَثَلُ الْحَي وَالْمَيتِ “Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779) Adapun lafazh Al-Imam Muslim adalah, مَثَلُ الْبَيْتِ الذِيْ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الذِيْ لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَي وَالْمَيتِ “Permisalan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Allah adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.“ 2.

Dari ‘Abdullah bin Busrin radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam telah banyak atasku, maka kabarkan kepadaku dengan sesuatu yang aku akan mengikatkan diriku dengannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ “Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.” (HR.

At-Tirmidziy 5/458 dan Ibnu Majah 2/1246, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/139 dan Shahiih Sunan Ibni Maajah 2/317) 3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.

Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5/340) Dzikir terbagi ke dalam dua macam : Dzikir jahr dan dzikir khafi.

Masing-masing keduanya mempunyai pijakan dalil dari al Qur’an dan sunah. Berdzikir dengan lisan bisa dilakukan dengan melafalkan huruf perhuruf secara lantang (bersuara). Karenanya, dzikir jenis ini tidak mudah untuk dipraktekkan setiap saat. Sebab pada saat melakukan jual beli di pasar dan yang sejenisnya sama sekali akan mengganggu seorang yang sedang berdzikir. Dengan demikian, otomatis lisannya akan berhenti berdzikir.

Berbeda halnya dengan dzikir hati, yaitu dzikir dengan mengonsentrasikan diri pada suatu makna (di dalam hati) yang tidak tersusun dari rangkaian huruf dan suara. Karenanya, seorang yang sedang melakukan dzikir jenis ini tidak akan terganggu oleh apapun juga Berdzikirlah mengingat Allah dengan hatimu tanpa bersuara. Tanpa diketahui oleh orang lain dan tanpa ada lafal dan ucapan yang dikeluarkan. Dzikir jenis ini adalah cara berdzikir yang paling utama.

Jenis dzikir ini banyak diamalkan oleh para tokoh. Oleh karena itulah, para pembesar thareqat naqsyabandi lebih memilih dzikir hati. Juga karena hati merupakan tempat pengawasan Allah, tempat bersemayam iman, tempat bersumbernya rahasia dan tempat bertenggernya cahaya. Hati yang baik akan mengakibatkan jasad seluruhnya menjadi baik. Begitu juga hati yang buruk akan berdampak menjadikan jasad menjadi buruk. Ini seperti yang telah dipaparkan oleh Rasulullah Saw.

Karenanya, seorang hamba tidak dikatakan mukmin, jika hatinya tidak terpaut pada apa yang harus diimaninya. Begitu juga ibadah yang menjadi tujuan tidak akan sah jika tidak menyertainya dengan niat (di dalam hatinya). Para imam sepakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh anggota tubuh tidak akan diterima kecuali dengan peranan hati. Hati sendiri dapat berperan (mampu berjalan sendiri) tanpa dituntun oleh anggota tubuh lainnya.

Jika hati sudah tidak berperan lagi, maka keimanan seseorang tidak akan diterima. Ini disebabkan karena iman merupakan sikap pembenaran apa yang diimani oleh hatinya dengan tulus.

Allah berfirman : Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka. (QS. al Mujadilah : 22) Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu. (QS. al A’raf : 205) Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut.

(QS.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

al A’raf : 55) Hadits al Baihaqi dari Aisyah ra. : وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ يَفْضُلُ الذكْرُ (اى الخفى) عَلَى الذكْرِ (اى الجهر) بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا اِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ رَجعَ الله ُالْخَلاَئِقَ اِلَى حِسَابِهِ وَجَائَتِ الْحَفَضَةُ بِمَا حَفَظُوْهُ وَكَتَبُوْا: قاَلَ تَعَالَى اُنْظُرُوْا هَلْ بَقِيَ لِعَبْدِى مِنْ شَيْئٍ؟ فَيَقُوْلُوْنَ مَا تَرَكْنَا شَيْئًا مِما عَلِمْنَاهُ وَحَفِظْنَاهُ اِلا وَقَدْ اَحْصَيْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ فَيَقُوْلُ الله تَعاَلَى: اِن لَكَ عِنْدِى حَسَناً وَاِنا اَجْزِيْكَ بِهِ وَهُوَ الذكْرُ الْخَفِى Dari Aisyah ra.

beliau berkata bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Dzikir (dengan tidak bersuara) lebih unggul dari pada dzikir (dengan suara) selisih tujuh puluh kali lipat. Jika tiba saatnya hari kiamat, maka Allah akan mengembalikan semua perhitungan amal semua makhluk-makhluknya sesuai amalnya.

Para malaikat pencatat amal datang dengan membawa tulisan-tulisan mereka. Allah berkata pada mereka Lihatlah apakah ada amalan yang tersisa pada hamba-Ku ini? Para malaikat itu menjawab, kami tidak meninggalkan sedikit berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir amalan yang kami ketahui kecuali kami mencatat dan menulisnya. Allah lalu berkata lagi (pada hamba-Nya itu), kamu mempunyai amal kebaikan yang hanya Aku yang mengetahuinya.

Aku akan membalas amal kebaikanmu itu. Kebaikanmu itu berupa dzikir dengan sembunyi (tak bersuara).” (HR. al Baihaqi) Abu Awanah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadits shahih mereka, juga al Baihaqi di sebuah hadits berikut : خَيْرُ الذكْرِ الْخَفِى وَخَيْرُ الرزْقِ مَا يَكْفِي وَقَالَ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ الذكْرُ لاَ تَسْمَعُهُ الْحَفْظَةُ يَزِيْدُ عَلَى الذكْرِ تَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا Sebaik-baik dzikir adalah dzikir dengan samar (khafi) dan sebaik-baiknya rezeki adalah rezeki yang mencukupi, Nabi juga bersabda : “Dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat pencatat amal (maksudnya dzikir khafi) mengungguli atas dzikir yang dapat didengar oleh mereka (dzikir jahri) sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR.

al Baihaqi) Menurut ulama : Yang mentakhrij hadits tersebut, hadits itu dinilai sebagai hadits hasan lighairihi.

Hadits-hadits lainnya yang berbicara tentang keutamaan dzikir khafi masih banyak sekali.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

Sebagian orang yang telah mencapai tahapan makrifat mengatakan, “Berdzikir dengan hati adalah pedangnya orang-orang yang meniti jalan ruhani. Dengan dzikir itu, mereka bisa membunuh habis musuh-musuh mereka dan menjadi tameng dari bahaya-bahaya yang merongrong mereka.” Orang-orang yang telah makrifat ini juga berkata, “Siapa saja yang diinginkan baik oleh Allah, maka akan dibukakan penutup hatinya dan ditanamkan keyakinan di dalamnya.” Syaikh Abu Said al Kharraj berkata, “Jika Allah ingin menjadikan seorang hamba sebagai kekasihnya, maka dia akan membukakan pintu pengingatnya.

Jika hamba tersebut sudah merasa kelezatan dalam mengingatnya, maka dia akan membukakan pintu keakrabannya lalu diangkatlah hamba itu ke tempat yang serba nikmat dan senang gembira. Setelah itu dia akan mendudukkan hamba tersebut di atas kursi tauhid. Kemudian disingkapkan tirai yang menutupinya. Hamba itu lalu dimasukkan ke suatu ruangan tersendiri.

Di sanalah, ia akan bisa melihat kebesaran dan keagungan-Nya. Ketika pandangannya tertuju pada kebesaran dan keagungan-Nya, maka dia sudah tidak merasa lagi sebagai makhluk. Karena saat itu ia telah menjadi masa yang fana. Lalu dia pun selalu berada dalam lindungan-Nya dan merasa terbebas dari berbagai pengakuan-pengakuan dirinya. ”Khalid bin Ma’dan berkata, “Seorang hamba pasti mempunyai dua mata di mukanya yang digunakan untuk melihat fenomena berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir.

Selain itu, ia juga memiliki dua mata lagi yang terletak di dalam hatinya yang digunakan untuk melihat fenomena akhirat. Ketika Allah menginginkan hamba tersebut menjadi orang yang baik, maka dia akan membukakan kedua mata hamba itu yang ada di dalam hatinya. Dengan demikian, kedua mata hatinya itu mampu melihat rahasia-rahasia keghaiban yang dijanjikan Allah.

Lalu ketika Allah menginginkan hambanya, maka Allah tidak memperdulikan apa yang ada dalam hatinya.” Ahmad bin Hadrawaih juga berkata, “Hati adalah wadah. Jika wadah itu penuh dengan kebajikan maka cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di dalamnya) akan keluar menyinari anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu penuh dengan kebathilan, maka kegelapan yang ada di dalamnya akan bertambah ketika sampai pada anggota tubuhnya.” Dzunnun al Mishri berkata, “Satu jam dengan hati yang baik lebih utama dari pada ibadah seluruh manusia dan jin.

Jika malaikat saja tidak masuk rumah yang di dalamnya terpadat gambar atau patung, maka bagaimana para pembawa kebajikan itu mau masuk pada seseorang yang di dalam hatinya dipenuhi dengan sesuatu selain Allah?” Seorang agung yang telah menggapai tahapan makrifat, Abu al Hasan al Syadzili berkata”, Sebiji atom amalan–amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan lahiriah (anggota tubuh). 22-11-2013 20:08 DZIKIR ITU BERMACAM-MACAM Ibnu Athaillah As Sakandary Dzikir itu bermacam-macam.

Sedangkan Yang Didzikir hanyalah Satu, dan tidak terbatas. Ahli dzikir adalah kekasih-kekasih Allah. Maka dari segi kedisiplinan terbagi menjadi tiga: Dzikir Jaly Dzikir Khafy Dzikir HaqiqiDzikir Jaly (bersuara), dilakukan oleh para pemula, yaitu Dzikir Lisan yang mengapresiasikan syukur, puhjian, pebngagungan nikmat serta menjaga janji dan kebajikannya, dengan lipatan sepuluh kali hingga tujuh puluh.Dzikir Batin Khafy (tersembunyi) bagi kaum wali, yaitu dzikir dengan rahasia qalbu tanpa sedikit pun berhenti.

Disamping terus menerus baqa’ dalam musyahadah melalui musyahadah kehadiran jiwa dan kebajikannya, dengan lipatan tujuh puluh hingga tujuh ratus kali. Dzikir Haqiqi yang kamil (sempurna) bagi Ahlun-Nihayah (mereka yang sudah sampai di hadapan Allah swt,) yaitu Dzikirnya Ruh melalui Penyaksian Allah swt, terhadap si hamba. Ia terbebaskan dari penyaksian atas dzikirnya melalui baqa’nya Allah swt, dengan symbol, hikmah dan kebajikannya mulai dari tujuh ratus kali lipat sampai tiada hingga.

Karena dalam musyahadah itu terjadi fana’, tiada kelezatan di sana. Ruh di sini merupakan wilayah Dzikir Dzat, berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir Qalbu adalah wilayah Dzikir Sifat, sedangkan Lisan adalah wilayah Dzikir kebiasaan umum.

Mananakala Dzikir Ruh benar, akan menyemai Qalbu, dan Qalbu hanya mengingat Kharisma Dzat, di dalamnya ada isyarat perwujudan hakikat melalui fana’. Di dalamnya ada rasa memancar melalui rasa dekatNya. Begitu juga, bila Dzikir Qalbu benar, lisan terdiam, hilang dari ucapannya, dan itul;ah Dzikir terhadap panji-panji dan kenikmatan sebagai pengaruh dari Sifat. Di dalamnya ada isyarat tarikanpada sesuatu tersisa di bawah fana’ dan rasa pelipatgandaan qabul dan pengungkapan-pengungkapan.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

Manakala qalbu alpa dari dzikir lisan baru menerima dzikir sebagaimana biasa. Masing-masing setiap ragam dzikir ini ada ancamannya.

Ancaman bagi Dzikir Ruh adalah melihat rahasia qalbunya. Dan ancaman Dzikir Qalbu adalah melihat adanya nafsu dibaliknya. Sedangkan ancaman Dzikir Nafsu adalah mengungkapkan sebab akibat. Ancaman bagi Dzikir Lisan adalah alpa dan senjang, maka sang penyair mengatakan : Dialah Allah maka ingatlah Dia Bertasbihlah dengan memujiNya Tak layaklah tasbih melainkan karena keagunganNya Keagungan bagiNya sebenar-benar total para pemuji Kenapa masih ada Pengandaian bila dzikir-dzikir hambaNya diterima?

Manakala lautan memancar, dan samudera melimpah Berlipat-lipat jumlahnya Maka penakar lautan akan kembali pada ketakhinggaan Jika semua pohon-pohon jadi pena menulis pujian padaNya Akan habislah pohon-pohon itu, bahkan jika dilipatkan Takkan mampu menghitungnya.

Dia ternama dengan Sang Maha Puji Sedang makhlukNya menyucikan sepanjang hidup Bagi kebesaranNya. Perilaku manusia dalam berdzikir terbagi tiga: • Khalayak umum yang mengambil faedah dzikir.

• Khalayak khusus yang bermujahadah • Khalayak lebih khusus yang mendapat limpahan hidayah. • Dzikir untuk khalayak berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir, adalah bagi pemula demi penyucian. Dzikir untuk khalayak khusus sebagai pertengahan, untuk menuai takdir. Dan dzikir untuk kalangan lebih khusus sebagai pangkalnya, untuk waspada memandangNya.

• Dzikir khalayak umum antara penafian dan penetapan (Nafi dan Itsbat) • Dzikir khalayak khusus adalah penetapan dalam penetapan (Itsbat fi Itsbat) • Dzikir kalangan lebih khusus Allah bersama Allah, sebagai penetapan Istbat (Itsbatul Istbat), tanpa memandang hamparan luas dan tanpa menoleh selain Allah Ta’ala.

• Dzikir bagi orang yang takut karena takut atas ancamanNya. • Dzikir bagi orang yang berharap, karena inginkan janjiNya. • Dzikir bagi penunggal padaNya dengan Tauhidnya • Dzikir bagi pecinta, karena musyahadah padaNya. • Dzikir kaum ‘arifin, adalah DzikirNya pada mereka, bukan dzikir mereka dan bukan bagi mereka.

• Kaum airifin berdzikir kepada Allah swt, sebagai pemuliaan dan pengagungan. • Ulama berdzikir kepada Allah swt, sebagai penyucian dan pengagungan. • Ahli ibadah berdzikir kepada Allah swt, sebagai rasa takut dan berharap pencinta berdzikir penuh remuk redam.

• Penunggal berdzikir pada Allah swt dengan penuh penghormatan dan pengagungan. • Khalayak umum berdzikir kepada Allah swt, karena kebiasaan belaka. [pagebreak] Hamba senantiasa patuh, dan setiap dzikir ada yang Diingat, sedangkan orang yang dipaksa tidak ada toleransi.

Tata cara Dzikir ada tiga perilaku : 1. Dzikir Bidayah (permulaan) untuk kehidupan dan kesadaran jiwa. 2. Dzikir Sedang untuk penyucian dan pembersihan. 3. Dzikir Nihayah (pangkal akhir) untuk wushul dan ma’rifat. Dzikir bagi upaya menghidupkan dan menyadarkan jiwa, setelah seseorang terlibat dosa, dzikir dilakukan dengan syarat-syaratnya, hendaknya memperbanyak dzikir : “Wahai Yang Maha Hidup dan Memelihara Kehidupan, tiada Tuhan selain Engkau.” Dzikir bagi pembersihan dan penyucian jiwa, setelah mengamai pengotoran dosa, disertai syarat-syarat dzikir, hendaknya memperbanyak : “Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Hidup nan Maha Mememlihara Kehidupan.” Ada tiga martabat dzikir : Pertama, dzikir alpa dan balasannya adalah terlempar, tertolak dan terlaknat.

Kedua, dzikir hadirnya hati, balasannya adalah kedekatan, tambahnya anugerah dan keutamaan anugerah. Ketiga, dzikir tenggelam dalam cinta dan musyahadah serta wushul. Sebagaimana dikatakan dalam syair : Kapan pun aku mengingatMu, melainkan risau dan gelisahku Pikiranku, dzikirku, batinku ketika mengingatMu, Seakan Malaikat Raqib Kau utus membisik padaku Waspadalah, celaka kamu, dzikirlah! Jadikan pandanganmu pada pertemuanmu denganNya Sebagai pengingat bagimu.

Ingatlah, Allah telah memberi panji-panji kesaksianNya padamu Sambunglah semua dari maknaNya bagi maknamu Berharaplah dengan dengan menyebut kebeningan dari segala yang rumit Kasihanilah kehambaanmu yang hina dengan hatimu Siapa tahu hati menjagamu Dzikir itu sendiri senantiasa dipenuhi oleh tiga hal : • Dzikir Lisan dengan mengetuk Pintu Allah swt, merupakan pengapus dosa dan peningkatan derajat.

• Dzikir Qalbu, melalui izin Allah swt untuk berdialog dengan Allah swt, merupakan kebajikan luhur dan taqarrub. • Dzikir Ruh, adalah dialog dengan Allah swt, Sang Maha Diraja, merupakan manifestasi kehadiran jiwa dan musyahadah.

Dzikir Lisan dan Qalbu yang disertai kealpaan adalah kebiasaan dzikir yang kosong dari tambahan anugerah. Dzikir Lisan dan Qalbu yang disertai kesadaran hadir, adalah dzikir ibadah yang dikhususkan untuk mencerap sariguna. Dzikir dengan Lisan yang kelu dan qalbu yang penuh adalah ketersingkapan Ilahi dan musyahadah, dan tak ada yang tahu kadar ukurannya kecuali Allah swt.

Diriwayatkan dalam hadits : “Siapa yang pada wal penempuhannya memperbanyak membaca “Qul Huwallaahu Ahad” Allah memancarkan NurNya pada qalbunya dan menguatkan tauhidnya. Dalam riwayat al-Bazzar dari Anas bin Malik, dari Nabi saw. Beliau bersabda : “Siapa yang membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” seratus kali maka ia telah membeli dirinya dengan surat tersebut dari Allah Ta’ala, dan ada suara berkumandang dari sisi Allah Ta’ala di langit-langitNya dan di bumiNya, “Wahai, ingatlah, sesungguhnya si Fulan adalah orang yang dimerdekakan Allah, maka barang siapa yang sebelumnya merasa punya pelayan hendaknya ia mengambil dari Allah swt.

Diriwayatkan pula: “Siapa yang memperbanyak Istighfar, Allah meramaikan hatinya, dan memperbanyak rizkinya, serta mengampuni dosanya, dan memberi rizki tiada terhitung. Allah memberikan jalan keluar di setiap kesulitannya, diberi fasilitas dunia sedangkan ia lagi bangkrut. Segala sesuatu mengandung siksaan, adapun siksaan bagi orang arif adalah alpa dari hadirnya hati dalam dzikir.”[pagebreak] Dalam hadits sahih disebutkan: “Segala sesuatu ada alat pengkilap.

Sedangkan yang mengkilapkan hati adalah dzikir. Dzikir paling utama adalah Laa Ilaaha Illalloh”. Unsur yang bisa mencemerlangkan qalbu, memutihkan dan menerangkan adalah dzikir itu sendiri, sekaligus gerbang bagi fikiran. Majlis tertinggi dan paling mulia adalah duduk disertai kontemplasi (renungan, tafakkur) di medan Tauhid. Tawakkal sebagai aktifitas qalbu dan tauhid adalah wacananya.

Pintu dzikir itu tafakkur, Pintu pemikiran adalah kesadaran. Sedang pintu kesadaran zuhud. Pintu zuhud adalah menerima pemberian Allah Ta’ala (qona’ah) Pintu Qonaah adalah mencari akhirat. Pintu akhirat itu adalah taqwa. Pintu Taqwa ada di dunia. Pintu dunia adalah hawa nafsu. Pintu hawa nafsu adalah ambisi.

Pintu ambisi adalah berangan-angan. Angan-angan merupakan penyakit yang akut tak bias disembuhkan. Asal angan-angan adalah cinta dunia. Pintu cinta dunia adalah kealpaan. Kealpaan adalah bungkus bagi batin qalbu yang beranak pinak di sana. Tauhid merupakan pembelah, di mana tak satu pun bisa mengancam dan membahayakannya. Sebagaimana dinkatakan : “Dengan Nama Allah, tak ada satu pun di bumi dan juga tidak di langit yang membahayakan, bersama NamaNya.

Dan Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Tauhid paling agung, esensi, qalbu dan mutiaranya adalah Tauhidnya Ismul Mufrad (Allah) ini, menunggalkan dan mengenalNya.

Sebagian kaum ‘arifin ditanya mengenai Ismul A’dzom, lalu menjawab, “Hendaknya anda mengucapkan: Allah!”, dan anda tidak ada di sana. Sesungguhnya orang yang berkata “Allah”, masih ada sisa makhluk di hatinya, sungguh tak akan menemukan hakikat, karena adanya hasrat kemakhlukan. Siapa pun yang mengucapkan “Allah” secara tekstual (huruf) belaka, sesungguhnya secara hakikat dzikir dan ucapannya tidak diterima. Karena ia telah keluar (mengekspresikan) dari unsur, huruf, pemahaman, yang dirasakan, simbol, khayalan dan imajinasi.

Namun Allah swt, ridlo kepada kita dengan hal demikian, bahkan memberi pahala, karena memang tidak ada jalan lain dalam berdzikir, mentauhidkan, dari segi ucapan maupun perilaku ruhani kecuali dengan menyebut Ismul Mufrad tersebut menurut kapasitas manusia dari ucapan dan pengertiannya.

Sedangkan dasar bagi kalangan khusus yang beri keistemewaan dan inayah Allah swt dari kaum ‘arifin maupun Ulama ahli tamkin (Ulama Billah) Allah tidak meridloi berdzikir dengan model di atas. Sebagaimana firmanNya : “Dan tak ada yang dari Kami melainkan baginya adalah maqom yang dimaklumi.” Sungguh indah apa yang difirmankan.

Dan mengingatkan melalui taufiqNya pada si hamba, memberikan keistemewaan pada hambaNya. Maka nyatalah Asmaul Husna melalui ucapannya dan dzikir pada Allah melalui dzikir menyebut salah satu AsmaNya. Maka, seperti firmanNya “Kun”, jadilah seluruh ciptaan semesta, dan meliputi seluruh maujud. Siapa yang mengucapkan “Allah” dengan benar bersama Allah, bukan disebabkan oleh suatu faktor tertentu, namun muncul dari pengetahuan yang tegak bersamaNya, penuh dengan ma’rifat dan pengagungan padaNya, disertai penghormatan yang sempurna dan penyucian sejati, memandang anugerah, maka ia benar-benar mengagungkan Allah Ta’ala, benar-benar berdzikir dan mengagungkanNya dan mengenal kekuasaanNya.

Sebab, mengingat Allah dan mentauhidkanNya adalah RidloNya terhadap mereka bersamaNya, sebagaimana layakNya Dia Yang Maha Suci. Ma’rifat itu melihat, bukan mengetahui.

Melihat nyata, bukan informasi. Menyaksikan, bukan mensifati. Terbuka, bukan hijab. Mereka bukan mereka dan mereka tidak bersama mereka dan tidak bagi mereka. Sebagaimana firmanNya : “Nabi Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya.” (Az-Zukhruf: 59) “Dan jika Aku mencintainya, maka Akulah Pendengaran baginya, Mata dan tangan dan Kaki baginya.” Bagiamana jalan menuju padaNya, sedang ia disucikan Dari aktivitas keseluruhan dan bagi-bagi tugas?

Demi fana wujud mereka, karena WujudNya Disucikan dari inti dan pecahan-pecahannya? Tak satu pun menyerupaiNya, bahkan mana dan bagaimana Setiap pertanyaan tentang batas akan lewat Dan diantara keajaiban-keajaiban bahwa WujudNya di atas segalanya dan sirnanya pangkal penghabisan. 22-11-2013 20:09 "yaitu orang2 yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram" (Q.S Ar ra'd ayat 28) dunia sekan hanya milik berdua ketika berdzikir, dan sesuai janji Allah bahwa ketika kita berdzikir maka hati akan menjadi tentram dan lebih kuat nice shar puh 22-11-2013 21:45 Original Posted By zhendavesta ►"yaitu orang2 yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram" (Q.S Ar ra'd ayat 28) dunia sekan hanya milik berdua ketika berdzikir, dan sesuai janji Allah bahwa ketika kita berdzikir maka hati akan menjadi tentram dan lebih kuat nice shar puh tks mbahe.

ditunggu shareny. 22-11-2013 22:45 Original Posted By tjrulezz ►kang mau tanya kenapa klo saat ane dzikir kuping gatel bgt kadang di kanan/kiri kadang 22nya gatelnya ampe ke dalem2. jadi ga khusyuk. waktu ane awal mulai dzikir seh biasa aja terasa tenang+adem, sekarang2 sering gatel kupingnya. mohon penjelasannya kang nuhun godaan,biasajnya 10-15mnt hilang sendiri. biar mpuh deadman yg jelaskan untuk penjelasan lebih detail nya 23-11-2013 13:49 Original Posted By tjrulezz ►kang mau tanya kenapa klo saat ane dzikir kuping gatel bgt kadang di kanan/kiri kadang 22nya gatelnya ampe ke dalem2.

jadi ga khusyuk. waktu ane awal mulai dzikir seh biasa aja terasa tenang+adem, sekarang2 sering gatel kupingnya. mohon penjelasannya kang nuhun mngkin itu gangguan.

bc taawudz stiap mmulai ssuatu. n mhn maaf cb periksa ke tht. mngkn jg itu pnyakit medis. 23-11-2013 18:58
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Jika disebut dzikir pada Allah, maka mencakup dzikir dengan memiliki akidah yang benar pada Allah, dzikir dengan pikiran, dzikir dengan amalan hati, dzikir dengan amalan badan, atau dzikri dengan memuji Allah, atau dzikir juga bisa dengan mempelajari dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan semacam itu.

Semua termasuk dzikir pada Allah Ta’ala.” (Ar-Riyadh An-Nadhroh, hal. 245) “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya.” (QS. Al-Kahfi: 28). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, makna orang yang lalai dari dzikir di antaranya adalah orang yang berdzikir dengan lisan namun tidak dengan (perenungan) hatinya.

(Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Kahfi, hal. 62) Ibnu Rusyd berkata dalam Al-Bayan wa At-Tahshil (1:490), dari Imam Malik rahimahullah bahwa beliau ditanya mengenai bacaan yang dibaca dalam shalat lantas tidak didengar oleh seorang pun, tidak pula oleh dirinya sendiri, dan lisan ketika itu tidak bergerak. Jawab Imam Malik, itu bukanlah qira’ah (membaca). Yang dimaksud dengan membaca adalah dengan menggerakkan lisan.

Al-Kasani dalam Badai’ Ash-Shanai’ (4:118) berkata, “Membaca hendaklah dengan menggerakkan lisan (bibir) kala mengucapkan huruf. Jika ada yang mampu membaca namun cuma diam saja tanpa menggerakkan lisan dengan mengucapkan huruf, shalatnya tentu tidak sah. Begitu pula jika ada yang bersumpah tidak mau membaca satu surat pun dalam Al-Qur’an lantas ia melihat Al-Qur’an dan memahaminya tanpa menggerakkan lisannya, ketika itu belum disebut membatalkan sumpah.” Karena saat itu yang terjadi hanyalah melihat, bukan membaca.

Disebutkan pula oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (2:187-189) bahwa para ulama melarang orang junub untuk membaca Al-Qur’an. Namun mereka masih membolehkan jika orang yang junub tersebut melihat mushaf Al-Qur’an dan dia hanya membaca di dalam hati, tanpa menggerakkan lisan. Jadi kedua hal tersebut berbeda. Tidak menggerakkan bibir atau lidah berarti tidak dianggap membaca. Sampaikanlah Walau Hanya 1 Ayat Blog ini merupakan kumpulan Artikel Islami dari berbagai sumber.

Silahkan jika ingin menyalin atau menyebarkan isi dari Blog ini dengan mencantumkan sumbernya, semoga bermanfaat. “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR. Muslim). Berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir. فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً "Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.

Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. "(QS.

Annisa : 103). Mu'az bertanya kepada Nabi tentang amal yang paling utama. Nabi menjawab : "Sampai mati lidahmu basah dengan berdzikir kepada Alloh". (HR. Al Baihaqi). Dalam Hadits Qudsi dikatakan : "AKU selalu bersama hambaKU apabila ia mengingatKU dengan menggerakkan kedua bibirnya". Berzikir dengan lisan ada dua cara : Pertama : Sir : berdzikir dengan suara perlahan sekiranya hanya terdengar oleh telinga orang yang berdzikir, orang tasauf menamakan dzikir ini adalah "Azzikru Bissirry" yang merupakan cara berdzikir yang paling Afdhol.

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ "Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS.

Al Araf : 205). Kedua :Jahar : berdzikir dengan suara keras sekira terdengar telinga orang yang berdzikir dan orang yang didekatnya • ► 2013 (2) • ► April (1) • ► Februari (1) • ▼ 2012 (197) • ► Juli (3) • ► Juni (136) • ▼ Mei (44) • Syariat Islam • Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dil. • Dzikir kepada Allah merupakan pembeda antara orang.

• Banyak menyebut nama Allah akan menjadikan kita be. • .Dzikir itu diperintahkan oleh Allah agar kita ber. • Dengan mengingat Allah, maka Allah akan ingat kepa. • Mendapatkan pengampunan dan pahala yang besar • Membuat hati menjadi tenang • Faidah ber-Dzikir • alaqah zikir atau Majlis Dzikir • Tingkatan orang yang ber-Dzikir berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir Sikon dalam ber-Dzikir dan larangannya • Jumlah dalam ber-Dzikir • Dzikir Bilqolbi • Dzikir Billisan • Anggota tubuh dalam Dzikir • Sebutan dan nama dalam Dzikir.

• Definisi dan Dalil Dzikir • Lolos Dari Maut • Orang-Orang Kanibal • Tugas Yang Mustahil • Tipu Dibalas Tipu • Menjebak Pencuri • Strategi Maling • Cara Memilih Jalan • Asmara Memang Aneh • Peringatan Aneh • Manusia Bertelur • Ketenangan Hati • Taruhan Yang Berbahaya • Abu Nawas Mati • Raja Dijadikan Budak • Menipu Tuhan • Tetap Bisa Cari Solusi • Pintu Akhirat • Hadiah Bagi Berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir Jitu • Ibu Sejati • Botol Ajaib • Pekerjaan Yang Mustahil • Mengecoh Monyet • Debat Kusir Tentang Ayam • Pesan Bagi Para Hakim • Zaid bin Haritsah - Satu-satunya Shahabat yang Nam.

• Thalhah bin Ubaidillah - Pribadi yang Pemurah dan . • ► April (8) • ► Maret (6) • ► 2011 (11) • ► Maret (11)
Artikel Terbaru • Bolehkah Puasa Syawal, Tetapi Masih Memiliki Utang Puasa Ramadhan Karena Haidh? • Buku Gratis: Fikih Bulan Syawal • Cara Puasa Syawal Menurut Ulama Syafi’iyah • Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa?

• Naskah Khutbah Idul Fitri 2022 Terfavorit: Realisasi Syukur Bakda Ramadhan • Faedah Sirah Nabi: Pensyariatan Jihad dan Pelajaran di Dalamnya • Khutbah Jumat: Kiat Istiqamah Bakda Ramadhan • Tingkatan Menghidupkan Lailatul Qadar • Faedah Surat An-Nuur #48: Adab Terhadap Rasulullah, Tidak Boleh Menyelisihi Perintahnya • Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Zakat dan Pelajaran di Dalamnya Apakah dzikir dan shalat harus menggerakkan lidah atau bibir (lisan)?

Misal kala kita membaca surat dalam shalat, apa boleh mulut didiamkan saja? Dzikir Tidak Cukup di Lisan Yang pertama perlu dipahami bahwa dzikir itu tidak cukup di lisan. Dzikir haruslah dengan lisan, dengan hati dan anggota badan. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Jika disebut dzikir pada Allah, maka mencakup dzikir dengan memiliki akidah yang benar pada Allah, dzikir dengan pikiran, dzikir dengan amalan hati, dzikir dengan amalan badan, atau dzikri dengan memuji Allah, atau dzikir juga bisa berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir mempelajari dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan semacam itu.

Semua termasuk dzikir pada Allah Ta’ala.” ( Ar-Riyadh An-Nadhroh, hal. 245) Akan tetapi, dzikir yang terpenting adalah dengan hati, bukan hanya gerakan bibir semata sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ “ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya.” (QS.

Al-Kahfi: 28). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, makna orang yang lalai dari dzikir di antaranya adalah orang yang berdzikir dengan lisan namun tidak dengan (perenungan) hatinya. ( Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Kahfi, hal. 62) Bentuk dzikir dengan hati adalah dengan memikirkan ayat-ayat Allah, mencintai Allah, mengagungkan Allah, kembali pada Allah, takut pada Allah, tawakkal pada Allah, dan amalan hati lainnya.

Bentuk dzikir dengan lisan adalah mengucapkan dengan perkataan yang mendekatkan diri pada Allah. Bentuk dzikir lisan yang utama adalah dzikir ‘ laa ilaha illallah’. Bentuk dzikir dengan jawarih (anggota badan) adalah dengan perbuatan yang mendekatkan diri pada Allah seperti dengan berdiri ketika shalat, dengan ruku’, sujud, jihad dan menunaikan zakat.

Dzikir dengan Menggerakkan Lisan (Lidah) Ibnu Rusyd berkata dalam Al-Bayan wa At-Tahshil (1:490), dari Imam Malik rahimahullah bahwa beliau ditanya mengenai bacaan yang dibaca dalam shalat lantas tidak didengar oleh seorang pun, tidak pula oleh dirinya sendiri, dan lisan ketika itu tidak bergerak.

Jawab Imam Malik, itu bukanlah qira’ah (membaca). Yang dimaksud dengan membaca adalah dengan menggerakkan lisan. Al-Kasani dalam Badai’ Ash-Shanai’ (4:118) berkata, “Membaca hendaklah dengan menggerakkan lisan (bibir) kala mengucapkan huruf. Jika ada yang mampu membaca namun cuma diam saja tanpa menggerakkan lisan dengan mengucapkan huruf, shalatnya tentu tidak sah. Begitu pula jika ada yang bersumpah tidak mau membaca satu surat pun dalam Al-Qur’an lantas ia melihat Al-Qur’an dan memahaminya tanpa menggerakkan lisannya, ketika itu belum disebut membatalkan sumpah.” Karena saat itu yang terjadi hanyalah melihat, bukan membaca.

Disebutkan pula oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (2:187-189) bahwa para ulama melarang orang junub untuk membaca Al-Qur’an. Namun mereka masih membolehkan jika orang yang junub tersebut melihat mushaf Al-Qur’an dan dia hanya membaca di dalam hati, tanpa menggerakkan lisan.

Jadi kedua hal tersebut berbeda. Tidak menggerakkan bibir atau lidah berarti tidak dianggap membaca. Kesimpulannya, tidak cukup mulut mingkem (diam) saat membaca, yang tepat lidah atau bibir (lisan) digerakkan.

Itulah baru disebut membaca jika dituntut membaca seperti membaca Al-Fatihah, membaca surat, dan membaca dzikir. Wallahu waliyyut taufiq. Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 70577 Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Kahfi. Cetakan pertama tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @DarushSholihin, 18 Rajab 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar.

Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh Yang namanya perintah membaca dzikir berarti harus dengan menggerakkan bibir, tidak cukup dalam hati.

Simak lagi keterangan ulama dalam artikel di atas. Ingat bedakan antara membaca dengan sekedar ingat pada Allah. Membaca ada cara tersendiri. Itulah yang kita bahas. السلام عليكم Afwan karena sudah mengganggu ustadz, tapi saya masih punya satu pertanyaan yang mendesak, saya lihat imam masjid di kampung saya kalau shalat sirr, mulutnya nyaris tak bergerak (setelah saya perhatikan, bibir beliau -hafizhohullah- hanya bergerak kurang lebih 0,5 cm), itu sudah termasuk membaca atau bukan
Banyak dari ulama dan kyai kita saat berdzikir menggerakkan kepala, ke kanan dan ke kiri, baik saat Dzikir Thariqah maupun majelis Dzikir.

Ada yang mengatakan bid’ah, tidak ada contohnya dari Nabi dan lainnya. Kita temukan riwayat para Sahabat melakukan hal tersebut, seperti yang disampaikan dua ulama ahli hadis dan ahli sejarah, Al-Hafidz Ibnu Katsir dan Al-Hafidz Ibnu Jauzi: ﻭاﻟﻠﻪ ﻟﻘﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻤﺎ ﺃﺭﻯ اﻟﻴﻮﻡ ﺷﻴﺌﺎ ﻳﺸﺒﻬﻬﻢ، ﻟﻘﺪ ﻛﺎﻧﻮا ﻳﺼﺒﺤﻮﻥ ﺻﻔﺮا ﺷﻌﺜﺎ ﻏﺒﺮا ﺑﻴﻦ ﺃﻋﻴﻨﻬﻢ ﻛﺄﻣﺜﺎﻝ ﺭﻛﺐ اﻟﻤﻌﺰﻯ، ﻗﺪ ﺑﺎﺗﻮا ﻟﻠﻪ ﺳﺠﺪا ﻭﻗﻴﺎﻣﺎ ﻳﺘﻠﻮﻥ ﻛﺘﺎﺏ اﻟﻠﻪ ﻳﺘﺮاﻭﺣﻮﻥ ﺑﻴﻦ ﺟﺒﺎﻫﻬﻢ ﻭﺃﻗﺪاﻣﻬﻢ، ﻓﺈﺫا ﺃﺻﺒﺤﻮا ﻓﺬﻛﺮﻭا اﻟﻠﻪ ﻣﺎﺩﻭا ﻛﻤﺎ ﻳﻤﻴﺪ اﻟﺸﺠﺮ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﺮﻳﺢ Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata: “Demi Allah, sungguh aku telah melihat para sahabat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Tidak ku lihat hari ini sesuatu yang menyerupai mereka. Sungguh para sahabat telah terlihat di pagi hari dalam keadaan rambut acak-acakan, diantara kedua mata mereka seperti lutut kambing, mereka telah bermalam karena Allah, mereka bersujud, mereka bangun ibadah, membaca Alquran dan mereka istirahat diantara dahi dan kaki mereka. Jika mereka telah bangun di pagi hari mereka berdzikir kepada Allah dengan bergerak seperti pohon yang bergerak di saat angin kencang” (Al-Bidayah wa An-Nihayah 8/7 dan Sifat Ash-Shafwah 1/124).

Jadi, sebenarnya mereka yang menuduh bid’ah itu tidak pernah dzikir banyak dan lama. Coba mereka ajak dzikir lama (seperti perintah Allah dalam Al-Ahzab 41) tanpa menggerakkan kepala, in sya Allah tidak lama, lehernya akan terasa nyeri otot.

(KH Ma’ruf Khozin/*/Aswaja NU Center Jatim) Most Viewed Posts • PP RMI NU ingatkan 36 “Pesantren Wahabi” (7.176) • Pendaftaran ASN Jatim dibuka secara daring mulai 30 Juni (2.071) • PWNU Jatim bangun Gedung Baru “Menara 17” sambut Satu Abad NU (1.813) • Kyai Milenial dari Pesantren Tua di Jatim (1.599) • Susunan Pengurus PBNU 2021-2026 dirumuskan bersama 6 Midformatur (1.438) • Akhirnya KH Miftachul Akhyar Mengundurkan Diri dari Ketua Umum MUI (1.432) • Lembaga Falakiyah PBNU: posisi hilal 4-5 derajat saat Rukyatul Hilal Idul Fitri 1443 H (1.139) • Komisaris Utama PT KAI (Persero) “blusukan” tinjau progres pengerjaan kereta LRT Jabodebek (964) • Ust Adi Hidayat menyoal Doa Iftitah “Inni Wajjahtu” (dan “Risalah” KH Hasyim Asy’ari) (914) • Perjalanan Berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir lewat Bandara Juanda segera dibuka, Gubernur Khofifah: Ini Spirit Kebangkitan Ekonomi (907)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Jika disebut dzikir pada Allah, maka mencakup dzikir dengan memiliki akidah yang benar pada Allah, dzikir dengan pikiran, dzikir dengan amalan hati, dzikir dengan amalan badan, atau dzikri dengan memuji Allah, atau dzikir juga bisa dengan mempelajari dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan semacam itu.

Semua termasuk dzikir pada Allah Ta’ala.” ( Ar-Riyadh An-Nadhroh, hal. 245)… Apakah dzikir dan shalat harus menggerakkan lidah atau bibir (lisan)? Misal kala kita membaca surat dalam shalat, apa boleh mulut didiamkan saja? Dzikir Tidak Cukup di Lisan Yang pertama perlu dipahami bahwa dzikir itu tidak cukup di lisan. Dzikir haruslah dengan lisan, dengan hati dan anggota badan. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Jika disebut dzikir pada Allah, maka mencakup dzikir dengan memiliki akidah yang benar pada Allah, dzikir dengan pikiran, dzikir dengan amalan hati, dzikir dengan amalan badan, atau dzikri dengan memuji Allah, atau dzikir juga bisa dengan mempelajari dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan semacam itu.

Semua termasuk dzikir pada Allah Ta’ala.” ( Ar-Riyadh An-Nadhroh, hal. 245) Akan tetapi, dzikir yang terpenting adalah dengan hati, bukan hanya gerakan bibir semata sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ “ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya.” (QS.

Al-Kahfi: 28). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, makna orang yang lalai dari dzikir di antaranya adalah orang yang berdzikir dengan lisan namun tidak dengan (perenungan) hatinya. ( Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Kahfi, hal. 62) Bentuk dzikir dengan hati adalah dengan memikirkan ayat-ayat Allah, mencintai Allah, mengagungkan Allah, kembali pada Allah, takut pada Allah, tawakkal pada Allah, dan amalan hati lainnya.

Bentuk dzikir dengan lisan adalah mengucapkan dengan perkataan yang mendekatkan diri pada Allah. Bentuk dzikir lisan yang utama adalah dzikir ‘ laa ilaha illallah’. Bentuk dzikir dengan jawarih (anggota badan) adalah dengan perbuatan yang mendekatkan diri pada Allah seperti dengan berdiri ketika shalat, dengan ruku’, sujud, jihad dan menunaikan zakat.

Dzikir dengan Menggerakkan Lisan (Lidah) Ibnu Rusyd berkata dalam Al-Bayan wa At-Tahshil (1:490), dari Imam Malik rahimahullah bahwa beliau ditanya mengenai bacaan yang dibaca dalam shalat lantas tidak didengar oleh seorang pun, tidak pula oleh dirinya sendiri, dan lisan ketika itu tidak bergerak.

Jawab Imam Malik, itu bukanlah qira’ah (membaca). Yang dimaksud dengan membaca adalah dengan menggerakkan lisan. Al-Kasani dalam Badai’ Ash-Shanai’ (4:118) berkata, “Membaca hendaklah dengan menggerakkan lisan (bibir) kala mengucapkan huruf. Jika ada yang mampu membaca namun cuma diam saja tanpa menggerakkan lisan dengan mengucapkan huruf, shalatnya tentu tidak sah.

Begitu pula jika ada yang bersumpah tidak mau membaca satu surat pun dalam Al-Qur’an lantas ia melihat Al-Qur’an dan memahaminya tanpa menggerakkan lisannya, ketika itu belum disebut membatalkan sumpah.” Karena saat itu yang terjadi hanyalah melihat, bukan membaca. Disebutkan pula oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (2:187-189) bahwa para ulama melarang orang junub untuk membaca Al-Qur’an. Namun mereka masih membolehkan jika orang yang junub tersebut melihat mushaf Al-Qur’an dan dia hanya membaca di dalam hati, tanpa menggerakkan lisan.

Jadi kedua hal tersebut berbeda. Tidak menggerakkan bibir atau lidah berarti tidak dianggap membaca. Kesimpulannya, tidak cukup mulut mingkem (diam) saat membaca, yang tepat lidah atau bibir (lisan) digerakkan. Itulah baru disebut membaca jika dituntut membaca seperti membaca Al-Fatihah, berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir surat, dan membaca dzikir. Wallahu waliyyut taufiq. Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 70577 Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Kahfi.

Cetakan pertama tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Sumber : https://rumaysho.com/11001-dzikir-dan-shalat-haruskah-menggerakkan-lisan-lidah.html
Terapi.Dzikrullah.Org - Pada hakikatnya semua anggota tubuh manusia dapat digunakan sebagai dzikir asalkan digunakan untuk bersyukur atau mendekatkan diri kepada Alloh, seperti shalat ,puasa dan pergi haji. Tetapi para ahli tasauf membagi dzikir itu dengan dua bagian : 1. Dzikir Billisan : Berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً "Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.

Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

"(QS. Annisa : 103). Mu'az bertanya kepada Nabi tentang amal yang paling utama. Nabi menjawab : "Sampai mati lidahmu basah dengan berdzikir kepada Alloh". (HR. Al Baihaqi). Dalam Hadits Qudsi dikatakan : "AKU selalu bersama hambaKU apabila ia mengingatKU dengan menggerakkan kedua bibirnya".

Berzikir dengan lisan ada dua cara : Pertama : Sir : berdzikir dengan suara perlahan sekiranya hanya terdengar oleh telinga orang yang berdzikir, orang tasauf menamakan dzikir ini adalah "Azzikru Bissirry" yang merupakan cara berdzikir yang paling Afdhol.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ "Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS.

Al Araf : 205). Kedua :Jahar : berdzikir dengan suara keras sekira terdengar telinga orang yang berdzikir dan orang yang didekatnya. 2. Dzikir Bilqolbi : Berzikir dengan menggunakan hati dan sama sekali tidak terdengar oleh telinga. (QS. Ali Imran : 135). الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS.

Ar-Rad : 28) Setiap zikir Billisan dan Bilqolbi mempunyai kelebihan dan kekurangan. Zikir billisan dengan suara jahar kelebihannya disamping berzikir secara tidak langsung dapat mengajarkan orang yang disekitarnya untuk mengikuti zikirannya seperti zikir sesudah shalat Fardhu yang dipandu oleh imam.

Sabda Nabi : "Siapa yang mengajarkan / berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir seseorang dalam kebaikan pahalanya sama dengan orang yang mengarjakannya".

Akan tetapi kekurangannya dekat kemungkinan menjadikan orang yang berzikir menjadi Riya ( rasa ingin dipuji) dan Ujub (merasa dirinya lebih dari orang lain), kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah.

Zikir dengan Sir atau Bilqolbi pahala dan zikirannya hanya untuk orang yang membaca zikir tersebut, tetapi jauh kemungkinan menimbulkan sifat yang buruk.

• ▼ 2013 (109) • ► Juni (1) • ▼ April (33) • Keutamaan meninggal pada hari Jum'at • Sepuluh Wasiat Ilaahi, al an’aam 151-153 • penegakan syari'at • Hukum Mengadzankan Bayi Ketika LAhir • Tatsabbut dan Tabayyun • penyakit yang paling sulit diobati • Optimisme dan efeknya terhadap jantung • Doa Agar Istiqamah menjaga Solat • Doa Agar Hati Cinta pd Al Qur'an • Awas!

Jangan Tidur di Dekat Ponsel • Perhitungan Umur Umat Islam • Perang Mu'tah 3000 Vs 200.000 • Firman Jihad • Kenapa Allah menghilangkan lidah ikan? • Kisah Mempertahankan Bendera Islam • puncak ibadah tertinggi • Fenomena unik dan mistery Sungai Eufrat • Jika Sperma Telah Berumur 42 Malam • Ya Rasulullah Seandainya Aku Tidak Buta • Bacaan Doa Sholat Dhuha Serta Keutamaannya • Bacaan Doa Sholat Tahajud • Tata Cara Serta Do'a Shalat Tahajud • Hukum Mengadopsi Bendera di Dalam Islam.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

• HIBURAN DALAM ISLAM • Bendera dan Panji Islam; al-Liwa dan ar-Rayah • BENDERA ISLAM (AL-LIWA’)DAN PANJI ISLAM (AR-RAYAH) • Mengupas Tentang Bid'ah • Hadits Sahih Hukum Memelihara Jenggot / Janggut • Rahasia Istiqomah Dalam Riyadhoh • Anggota Tubuh Dalam Dzikir • Zikir, Solusi dalam menghadapi Depresi dan Stress • Keajaiban Jenggot untuk Kesehatan Pria • Pengaruh Dzikir Terhadap Kesehatan Jiwa • ► Maret (50) • ► Januari (25)
1.

Definisi dan Dalil Dzikir : Dzikir menurut konteks bahasa mengandung beberapa pengertian, mengandung arti “Menceritakan” (QS. Maryam : 56), “Al-Qur’an” (QS.

Al-Anbiya : 50), “Shalat” (QS. Al Baqarah : 239), “Wahyu” (QS. Al Qamar : 25) dan sebagainya. Arti Dzikir yang sebenarnya adalah suatu cara / media untuk menyebut/mengingat nama Allah, jadi semua bentuk aktivitas yang tujuannya mendekatkan diri kepada Allah dinamakan dzikir seperti shalat (QS.

Thoha : 14), tetapi lebih spesifik lagi dzikir dibatasi dengan kata mengingat Allah dengan lisan dan hati. Dalil berdzikir (QS. Al Ahzab : 41). (QS. Al Baqarah : 152). “Siapa yang ingin bersenang – senang ditaman syurga, perbanyaklah dzikir”. (HR.Thabrani). 2. Sebutan dan nama dalam Dzikir. Untuk mempermudah mengingat dzikir para ulama memberi sebutan dzikir yang digunakan dalam keadaan tertentu. -Basmalah : diucapkan setiap memulai sesuatu -Hamdalah / Tahmid : diucapkan setiap meakhiri sesuatu -Istigfar : diucapakan ketika melihat / mendengar sesuatu yang tidak diinginkan atau untuk memohon ampun -Hauqalah : diucapkan ketika melihat / mendengar sesuatu yang dibenci.

-Al Masyiah : diucapakan apabila ingin mengerjakan sesuatu yang hebat atau ajaib. -Tahlil / Syahadah : diucapkan ketika memasukkan orang non muslim kedalam agama islam / bacaan wajib bagi orang muslim didalam shalat. -Tasbih : diucapkan ketika melihat atau mendengar kekuasaan Alloh. Pemberi nama dalam dzikir biasanya diberikan nama orang yang pertama mendapatkan dzikir atau orang yang yang menyusun dzikir-dzikir dalam satu susunan, seperti Hijib Nawawi dzikir yang ditulis oleh Syeikh Nawawi Al-Bantany, Ratib Al-Haddad dzikir yang disusun oleh Al Habib Alawi Al Haddad, Ratib Al-Aththas dzikir yang disusun oleh Al Habib Ali bin Husain Al Aththas.

3. Anggota tubuh dalam Dzikir. Pada hakikatnya semua anggota tubuh manusia dapat digunakan sebagai dzikir asalkan digunakan untuk bersyukur atau mendekatkan diri kepada Alloh, seperti shalat ,puasa dan pergi haji. Tetapi para ahli tasauf membagi dzikir itu dengan dua bagian : 1. Dzikir Billisan : Berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir. فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً “ Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.

Kemudian apabila kamu telah merasa aman, berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.“(QS. Annisa : 103). Mu’az bertanya kepada Nabi tentang amal yang paling utama. Nabi menjawab : “Sampai mati lidahmu basah dengan berdzikir kepada Alloh”. (HR.

Al Baihaqi). Dalam Hadits Qudsi dikatakan : “AKU selalu bersama hambaKU apabila ia mengingatKU dengan menggerakkan kedua bibirnya”. Berzikir dengan lisan ada dua cara : Pertama : Sir : berdzikir dengan suara perlahan sekiranya hanya terdengar oleh telinga orang yang berdzikir, orang tasauf menamakan dzikir ini adalah “Azzikru Bissirry” yang merupakan cara berdzikir yang paling Afdhol.

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ “ Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

” (QS. Al Araf : 205). Kedua :Jahar : berdzikir dengan suara keras sekira terdengar telinga orang yang berdzikir dan orang yang didekatnya. 2. Dzikir Bilqolbi : Berzikir dengan menggunakan hati dan sama sekali tidak terdengar oleh telinga. (QS. Ali Imran : 135). الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram ” (QS. Ar-Rad : 28) Setiap zikir Billisan dan Bilqolbi mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Zikir billisan dengan suara jahar kelebihannya disamping berzikir secara tidak langsung dapat mengajarkan orang yang disekitarnya untuk mengikuti zikirannya seperti zikir sesudah shalat Fardhu yang dipandu oleh imam.

Sabda Nabi : “ Siapa yang mengajarkan / menunjukkan seseorang dalam kebaikan pahalanya sama dengan orang yang mengarjakannya“. Akan tetapi kekurangannya dekat kemungkinan menjadikan orang yang berzikir menjadi Riya ( berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir ingin dipuji) dan Ujub (merasa dirinya lebih dari orang lain), kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

Zikir dengan Sir atau Bilqolbi pahala dan zikirannya hanya untuk orang yang membaca zikir tersebut, tetapi jauh kemungkinan menimbulkan sifat yang buruk. 4. Jumlah dalam ber-Dzikir : Pada hakikatnya Allah menyuruh hambanya banyak berzikir dan jangan sampai lalai kepadaNya dalam sedetikpun. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً “ Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya” (QS.

AL Ahzab : 41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيل “ Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang ” (QS. AL Ahzab : 42) Bahkan termasuk golongan orang munafik yang sedikit zikirnya. tetapi ada zikir yang dibatasi dengan jumlah tertentu karena mempunyai keistimewaan dan ada maksud tertentu.

Sabda Nabi :” Aku ber-Istigfar sehari semalam 100 kali “. Istigfar ini menunjukkan rasa syukurnya beliau dijadikan Nabi yang Makshum (terbebas dari dosa). “Siapa yang membaca :Laa ilaaha illalloh wahdahu laasyariilalah lahul mulku wahul hamdu wahuwa alaa kulli syai’in qodiir.sehari 200 kali maka orang-orang yang sesudah dan sebelum-mu selalu berbuat baik kepadamu”.

Jumlah zikir dengan bilangan tertentu sering dipakai oleh para Ahli Thariqah dan Ahli Hikmah, karena mempunyai kelebihan dan tujuaan tertentu, seperti membaca Shalawat “Kamilah” 4444 kali dengan maksud keselamatan dan bentang dari musuh.Angka-angka yang mereka tentukan berdasarkan dari hasil Mujahadah (kesungguhan jiwa) dan Riyadhah (latihan jiwa) dalam menjalankan tasauf.

5. Sikon dalam ber-Dzikir dan larangannya : Pada dasarnya berzikir tidak dibatasi dengan sesuatu apapun, karena mengingat kepada Sang Pencipta tidak boleh dibatasi oleh apapun, kecuali ada hal-hal tertentu yang dilarang untuk mengerjakannya. Berzikir boleh dilakukan dalam kondisi berdiri, duduk atau berbaring فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً “ Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.

Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa : 103). Ibnu Abbas berkata : “Ayat ini mengandung pengertian boleh berzikir pada waktu siang atau malam, didaratan atau dilautan, sedang bepergian dalam kendaraan atau disuatu tempat dan dalam kondisi apapun seperti, sakit atau sehat, sendiri atau ramai “.

Larangan dalam berzikir : Zikir Bilqolbi tidak ada larangan sama sekali, tetapi zikir Billisan mempunyai larangan tertentu : 1. Berzikir pada tempat yang bernajis seperti WC atau kamar mandi. 2. Wanita yang sedang Haidh atau orang yang sedang junub (hadats besar) dilarang membaca sesuatu yang diambil dari Al Quran, seperti Basmalah atau Innalillahi wainna ilahi raajiun dengan maksud membaca Al Quran.

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ “ tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. “(QS. Al Waqiah : 79). Sabda Nabi : “Tidak boleh ada yang menjamah Al Qur’an kecuali orang yang suci” 3. Orang yang sedang menjalankankan maksiat kepada Allohseperti sedang berjudi, berzina atau meminum- minuman keras dengan maksud mengejek Alloh.

6. Mashdar Dzikir : Mashdar zikir artinya tempat / sumber pengambilan zikir yang kita peroleh dan kita amalkan.Mashdar zikir ada dua : 1. Ma’tsur yaitu sumber pengambilan zikir dari Al Quran atau Assunah. Banyak zikir-zikir atau doa yang tertera didalam Al Quran dan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.seperti (QS. Al Baqarah : 156) dan Hadits diatas. Berzikir secara Ma’tsur lebih utama daripada yang bukan Ma’tsur, karena sumbernya langsung dari Alloh dan Rasul.

2.Gairu Ma’tsur yaitu sumber pengambilan zikir dari para ulama tasauf atau Ahli Hikmah yang tidak ada didalam Al Quran atau Assunah, seperti zikir Asmaul A’dzom, hizib.

Mengamalkan zikir Gairu Ma’tsur sebaiknya dengan memakai Ijazah (QS. Al Fathu : 10) agar silsilahnya sampai kepada Nabi yang Ma’tsur, karena pada umumnya para ahli tasauf mendapatkan zikir dari Nabi secara gaib walaupun secara fisik Nabi sudah wafat, tetapi pada Hakikatnya beliau masih hidup 7.

Tingkatan orang yang ber-Dzikir : Meskipun manusia diciptakan Alloh dengan sempurna, tetapi ada manusia yang paling mulia disisiNYa yaitu manusia yang paling bertaqwa. (QS. Al Hujarat : 15) dan mereka yang mendapatkan warisan ilmu dari Alloh. (QS. Al Mujadalah : 11). Sabda Nabi : “Siapa yang mengamalkan sesuatu yang ia dapatkan (dari Allah dan Rasul) maka Alloh wariskan pengetahuan yang tidak pernah diketahui (orang)”.

Dalam ilmu tasauf orang terbagi atas dua golongan : Pertama : Orang Awam yaitu golongan yang derajatnya belum mencapai Ma’rifat, golongan awam zikirnya hanya sebatas menyebut / mengingat Allah semata. Kedua : Orang Arifin yaitu golongan yang derajatnya sudah mencapai Ma’rifat, bagi orang Arifin berzikir wajib hukumnya, bila sekejap mereka lupa kepada Alloh maka berdosa baginya dan zikirnya bukan sekedar menyebut / mengingat Alloh akan tetapi mendekatkan diri kepada yang Zat yang Maha Esa.seperti Zikir Asma’ul ‘Adzom dan zikir Nafi – Itsbat.

Seorang sufi berkata : “J ika keinginanku terlintas bukan kepada-MU dan hatiku lalai akan zat-Nya maka aku hukumkan diriku telah murtad” 8. Halaqah zikir atau Majlis Dzikir : Salah satu cara untuk mendawamkan (kontinyu) berzikir dengan membuat Halaqah (Forum) atau Majlis zikir, minimal dua orang atau lebih. Majlis zikir disamping untuk memberi semangat dalam berzikir juga mengajak orang lain untuk berzikir. “ Tidaklah sekelompok orang berzikir kepada Allah disatu majlis melainkan mengelilingi malaikat dan menurunkan rahmat kepada mereka, maka Alloh ingat kepada mereka siapa saja yang ada disisinya“.

(QS. Ali Imran : 104). Para sufi apabila ingin berzikir sendiri maka ia membuat “Jawiyah” yaitu tempat / pojok khusus untuk berzikir dan bila berzikir dilakukan bersama-sama maka mereka membuat “Ribath” yaitu majlis / pesantren khusus untuk zikir bersama. berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir. Faidah ber-Dzikir : Setiap zikir yang dibaca oleh seseorang mempunyai manfaat yang besar didunia dan akhirat.

Diakhirat mendapat pahala sebagai balasannya adalah Syurga. Didunia zikir dapat menenangkan jiwa dan dapat dijadikan sebagai renungan yang aplikasinya adalah taqwa. (QS. Ar-Rad : 30). (QS. Az-Zariyat : 55). (QS. Al’Ala : 9). Menurut ahli kebathinan (ahli Hikmah) orang yang berzikir dengan khusyu dan memakai ritual tertentu zikir tersebut mempunyai pengaruh besar pada raganya, sehingga seseorang yang berzikir jasadnya kuat atau dapat melambung keatas.

Umar bin Khaththab ketika beliau terkena anak panah kakinya pada suatu peperangan maka dicabut anak panah tersebut pada waktu beliau sedang shalat agar tidak terasa sakit.

Kata orang Hikmah: Asma Alloh atau Al Quran setiap hurufnya mempunyai khadam yang tersembunyi didalamnya yang suatu saat khadamnya dapat dipanggil dan diperintah oleh orang yang berzikir. “Jangan engkau katakan “ALIF-LAM-MIM” satu rangkaian huruf akan tetapi Alif Lam Mim adalah Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf “Nabi menjelaskan wahwa setiap satu huruf Al Quran yang dibaca mengandung pahala jika dibaca dengan benar, jika dibaca dengan salah maka Al Quran tersebut malah mengutuknya.

“Berapa banyak orang yang membaca Al Quran sedangkan Al Quran malah mengutuknya”. Orang Hikmah menganggap semua huruf “Hijaiyyah” disamping mengandung pahala juga mempunyai khadam karena Al Quran, zikir, doa, Asma Alloh dan bacaaan lainnya tersusun dari huruf-huruf tersebut. Yang sebenarnya khadam yang ada pada zikir adalah para Malaikat yang selalu mendekati orang yang sedang berzikir. “Tidaklah sekelompok orang berzikir kepada Alloh didalam majlis melainkan mengelilingi para Malaikat sambil menurunkan rahmat kepada mereka, Alloh selalu ingat kepada mereka siapa saja yang ada disisiNya”.

Saya (penulis) yaqin para Malaikat itu dapat kita panggil dan berdialog untuk meminta sesuatu asalkan kita selalu berzikir dan tahu cara bertemunya. Sumber : http://www.nursyifa.net/info_baru/dalil_dzikir.html KENAPA HARUS BERDZIKIR? Oleh Chandraleka April 02, 2006 Berikut beberapa manfaat bisa kita dapatkan dari berdzikir : 1.Membuat hati menjadi tenang.

Allah berfirman, ”Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d : 28) Banyak orang yang ketika mendapat kesulitan maka mereka mencari cara–cara yang salah untuk dapat mencapai ketenangan hidup. Diantaranya dengan mendengarkan musik yang diharamkan Allah, meminum khamr atau berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir atau obat terlarang lainnya.

Mereka berharap agar bisa mendapatkan ketenangan. Yang mereka dapatkan bukanlah ketenangan yang hakiki, tetapi ketenangan yang semu. Karena cara–cara yang mereka tempuh dilarang oleh Allah dan Rasul–Nya. Ingatlah firman Allah Jalla wa ’Ala di atas, sehingga bila kita mendapat musibah atau kesulitan yang membuat hati menjadi gundah, maka ingatlah Allah, insya Allah hati menjadi tenang.

2.Mendapatkan pengampunan dan pahala yang besar. “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab : 35) 3.Dengan mengingat Allah, maka Allah akan ingat kepada kita.

Allah berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152) 4.Dzikir itu diperintahkan oleh Allah agar kita berdzikir sebanyak–banyaknya. Firman Allah ‘Azza wa Jalla “Hai orang–orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak–banyaknya.

Dan bertasbihlah kepada – Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab : 41 – 42) 5.Banyak menyebut nama Allah akan menjadikan kita beruntung. “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al Anfal : 45) Pada Al Qur’an dan terjemahan cetakan Al Haramain terdapat footnote bahwa menyebut nama Allah sebanyak – banyaknya, maksudnya adalah memperbanyak dzikir dan doa.

6.Dzikir kepada Allah merupakan pembeda antara orang mukmin dan munafik, karena sifat orang munafik adalah tidak mau berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit saja. (Khalid Al Husainan, Aktsaru min Alfi Sunnatin fil Yaum wal Lailah, Daar Balansiyah lin Nasyr wat Tauzi’, Riyadh, Terj.

Zaki Rahmawan, Lebih dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan I, Juni 2004 M, hal. 158). Allah berfirman, “Sesungguhnya orang – orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia.

Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An Nisaa’ : 142) 7.Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan. Banyak amal ibadah yang sebetulnya mudah untuk kita lakukan.

Semisal : – Membaca basmillah ketika akan makan / minum – Membaca doa keluar / masuk kamar mandi – Membaca dzikir – dzikir sewaktu pagi dan petang – Membaca doa keluar / masuk rumah – Membaca doa ketika turun hujan – Membaca dzikir setelah hujan turun – Membaca doa ketika berjalan menuju masjid – Membaca dzikir ketika masuk / keluar masjid – Membaca hamdalah ketika bersin – Membaca dzikir – dzikir ketika akan tidur – Membaca doa ketika bangun tidur Dan lain–lain banyak sekali amalan yang mudah kita lakukan.

Bila kita tinggalkan, maka rugilah kita berapa banyak ganjaran yang harusnya kita dapat, tetapi tidak kita peroleh padahal itu mudah untuk diraih. Coba saja hitung berapa banyak kita keluar masuk kamar mandi dalam sehari? DZIKIR HARUS SESUAI DENGAN ATURAN ISLAM Dzikir adalah perkara ibadah, maka dari itu dzikir harus mengikuti aturan Islam.

Ada dzikir – dzikir yang sifatnya mutlak, jadi boleh dibaca kapan saja, dimana saja, dan dalam jumlah berapa berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir karena memang tidak perlu dihitung. Tetapi ada juga dzikir – dzikir yang terkait dengan tempat, misal bacaan – bacaan dzikir ketika mengelilingi (thawaf) di Ka’bah.

Ada juga dzikir yang terkait dengan waktu, misal bacaan dzikir turun hujan. Juga ada dzikir yang terkait dengan bilangan, misal membaca tasbih, tahmid, dan takbir dengan jumlah tertentu (33 kali) setelah shalat wajib. Tentu tidak boleh ditambah – tambah kecuali ada dalil yang menerangkannya. Kalau seseorang membuat sendiri aturan – aturan dzikir yang tidak diterangkan oleh Islam, maka berarti dia telah membuat jalan yang baru yang tertolak.

Karena sesungguhnya jalan – jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah itu telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Patutkah kita menempuh jalan baru berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir jalan yang telah diterangkan oleh Rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Tentu tidak, karena Agama Islam ini telah sempurna. Kita harus mencukupkan dengan jalan yang telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an laa-ilaaha illaa Anta astaghfiruka wa-atuubu ilaik (Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan memujiMu, aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepadaMu) Wassalaamu alaikum wr’ wb’ Referensi : 1.Al Qur’an 2.Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Dzikir Pagi dan Petang dan Sesudah Shalat Fardhu, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Cetakan I, Desember 2004 3.Khalid Al Husainan, Aktsaru min Alfi Sunnatin fil Yaum wal Lailah, Daar Balansiyah lin Nasyr wat Tauzi’, Riyadh, Terj.

Zaki Rahmawan, Lebih dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan I, Juni 2004 M Sumber : http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=141& http://www.dzikir.org/index.php/dzikir
Syech Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Jika disebut dzikir pada Allah, maka mencakup dzikir dengan memiliki akidah yang benar pada Allah, dzikir dengan pikiran, dzikir dengan amalan hati, dzikir dengan amalan badan, atau dzikir dengan memuji Allah, atau dzikir juga bisa dengan mempelajari dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan semacam itu.

Semua termasuk dzikir pada Allah Ta’ala.” (Ar Riyadh An Nadhroh hal.245) Ibnu Rusyd berkata dalam Al Bayan wa At Tahshil (1:490), dari Imam Malik rahimahullah bahwa beliau ditanya mengenai bacaan yang dibaca dalam shalat lantas tidak didengar oleh seorang pun, tidak pula oleh dirinya sendiri, dan lisan ketika itu tidak bergerak.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

Jawab Imam Malik, itu bukanlah qira’ah (membaca). Yang dimaksud dengan membaca adalah dengan menggerakkan lisan. Al Kasani dalam Badai’ Ash Shanai’ (4:118) berkata, “Membaca hendaklah dengan menggerakkan lisan (bibir) kala mengucapkan huruf.

berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir

Jika ada yang mampu membaca namun cuma diam saja tanpa menggerakkan lisan dengan mengucapkan huruf, shalatnya tentu tidak sah. Begitu pula jika ada yang bersumpah tidak mau membaca satu surat pun dalam Al Qur’an lantas ia melihat Al Qur’an dan memahaminya tanpa menggerakkan lisannya, ketika itu belum disebut membatalkan sumpah.” Disebutkan pula oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (2:187-189) bahwa para ulama melarang orang junub untuk membaca Al Qur’an.

Namun mereka masih membolehkan jika orang yang junub tersebut melihat mushaf Al Qur’an dan dia hanya membaca di dalam hati, tanpa menggerakkan lisan. Jadi kedua hal tersebut berbeda. Tidak menggerakkan bibir atau lidah berarti tidak dianggap membaca. • ► 2017 (349) • ► Juni (11) • ► 06 (1) • ► 05 (2) • ► 04 (2) • ► 03 (2) • ► 02 (2) • ► 01 (2) • ► Mei (56) • ► 31 (2) • ► 28 (2) • ► 27 (2) • ► 26 (2) • ► 25 (2) • ► 24 (2) • ► 23 (1) • ► 22 (1) • ► 21 (1) • ► 20 (2) • ► 19 (2) • ► 18 (2) • ► 17 (2) • ► 16 (3) • ► 15 (3) • ► 14 (3) • ► 13 (3) • ► 12 (3) • ► 11 (2) • ► 10 (2) • ► 09 (2) • ► 08 (2) • ► 05 (2) • ► 04 (2) • ► 03 (2) • ► 02 (2) • ► 01 (2) • ► April (73) • ► 30 (2) • ► 29 (2) • ► 28 (2) • ► 27 (2) • ► 26 (2) • ► 25 (2) • ► 24 (2) • ► 23 (2) • ► 22 (2) • ► 21 (2) • ► 20 (2) • ► 19 (2) • ► 18 (2) • ► 17 (1) • ► 16 (2) • ► 15 (2) • ► 14 (3) • ► 13 (3) • ► 12 (3) • ► 11 (3) • ► 10 (3) • ► 09 (3) • ► 08 (3) • ► 07 (3) • ► 06 (3) • ► 05 (3) • ► 04 (3) • ► 03 (3) • ► 02 (3) • ► 01 (3) • ► Maret (91) • ► 31 (3) • ► 30 (3) • ► 29 (3) • ► 28 (3) • ► 27 (3) • ► 26 (3) • ► 25 (3) • ► 24 (3) • ► 23 (3) • ► 22 (3) • ► 21 (3) • ► 20 (3) • ► 19 (3) • ► 18 (3) • ► 17 (3) • ► 16 (3) • ► 15 (3) • ► 14 (3) • ► 13 (3) • ► 12 (3) • ► 11 (3) • ► 10 (3) • ► 09 (3) • ► 08 (3) • ► 07 (3) • ► 06 (3) • ► 05 (3) • ► 04 (3) • ► 03 (3) • ► 02 (2) • ► 01 (2) • ► Februari (56) • ► 28 (2) berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir ► 27 (2) • ► 26 (2) • ► 25 (2) • ► 24 (2) • ► 23 (2) • ► 22 (2) • ► 21 (2) • ► 20 (2) • ► 19 (2) • ► 18 (2) • ► 17 (2) • ► 16 (2) • ► 15 (2) • ► 14 (2) • ► 13 (2) • ► 12 (2) • ► 11 (2) • ► 10 (2) • ► 09 (2) • ► 08 (2) • ► 07 (2) • ► 06 (2) • ► 05 (2) • ► 04 (2) • ► 03 (2) • ► 02 (2) • ► 01 (2) • ► Januari (62) • ► 31 (2) • ► 30 (2) • ► 29 (2) • ► 28 (2) • ► 27 (2) • ► 26 (2) • ► 25 (2) • ► 24 (2) • ► 23 (2) • ► 22 (2) • ► 21 (2) • ► 20 (2) • ► 19 (2) • ► 18 (2) • ► 17 (2) • ► 16 (2) • ► 15 (2) • ► berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir (2) • ► 13 (2) • ► 12 (2) • ► 11 (2) • ► 10 (2) • ► 09 (2) • ► 08 (2) • ► 07 (2) • ► 06 (2) • ► 05 (2) • ► 04 (2) • ► 03 (2) • ► 02 (2) • ► 01 (2) • ▼ 2016 (531) • ► Desember (69) • ► 31 (2) • ► 30 (2) • ► 29 (2) • ► 28 (1) • ► 27 (1) • ► 26 (2) • ► 25 (2) • ► 24 (2) • ► 23 (2) • ► 22 (2) • ► 21 (2) • ► 20 (2) • ► 19 (2) • ► 18 (2) • ► 17 (2) • ► 16 (2) • ► 15 (2) • ► 14 (2) • ► 13 (2) • ► 12 (2) • ► 11 (2) • ► 10 (2) • ► 09 (3) • ► 08 (3) • ► 07 (3) • ► 06 (3) • ► 05 (3) • ► 04 (3) • ► 03 (3) • ► 02 (3) • ► 01 (3) • ▼ November (89) • ► 30 (3) • ► 29 (3) • ► 28 (3) • ► 27 (3) • ► 26 (3) • ► 25 (3) • ► 24 (3) • ► 23 (3) • ► 22 (2) • ► 21 (3) • ► 20 (3) • ► 19 (3) • ► 18 (3) • ► 17 (3) • ► 16 (3) • ► 15 (3) • ► 14 (3) • ► 13 (3) • ► 12 (3) • ► 11 (3) • ► 10 (3) • ► 09 (3) • ► 08 (3) • ► 07 (3) • ▼ 06 (3) • BOLEHKAH MELAGUKAN AL QUR'AN?

• DZIKIR DAN SHALAT HARUSKAH MENGGERAKKAN LISAN (LID. • ZUHUD SECARA LAHIR DAN BATIN • ► 05 (3) • ► 04 (3) • ► 03 (3) • ► 02 (3) • ► 01 (3) • ► Oktober (76) • ► 31 (3) • ► 28 (2) • ► 27 (3) • ► 26 (3) • ► 25 (2) • ► 24 (2) • ► 23 (2) • ► 22 (3) • ► 21 (3) • ► 20 (3) • ► 19 (3) • ► 18 (5) • ► 17 (2) • ► 16 (3) • ► 14 (3) • ► 13 (3) • ► 12 (3) • ► 11 (3) • ► 10 (2) • ► 09 (2) • ► 08 (3) • ► 07 (3) • ► 06 (3) • ► 05 (3) • ► 04 (2) • ► 03 (1) • ► 02 (3) • ► 01 (3) • ► September (143) berdzikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir disebut dzikir ► 30 (3) • ► 29 (3) • ► 28 (3) • ► 27 (5) • ► 26 (5) • ► 25 (5) • ► 24 (5) • ► 23 (5) • ► 22 (5) • ► 21 (5) • ► 20 (5) • ► 19 (4) • ► 18 (5) • ► 17 (5) • ► 16 (5) • ► 15 (5) • ► 14 (5) • ► 13 (5) • ► 12 (5) • ► 11 (5) • ► 10 (5) • ► 09 (5) • ► 08 (5) • ► 07 (5) • ► 06 (5) • ► 05 (5) • ► 04 (5) • ► 03 (5) • ► 02 (5) • ► 01 (5) • ► Agustus (130) • ► 31 (5) • ► 30 (5) • ► 29 (5) • ► 28 (5) • ► 27 (5) • ► 26 (4) • ► 25 (5) • ► 24 (5) • ► 23 (5) • ► 22 (5) • ► 21 (5) • ► 20 (5) • ► 19 (5) • ► 18 (5) • ► 17 (5) • ► 16 (5) • ► 15 (5) • ► 14 (5) • ► 13 (5) • ► 12 (5) • ► 11 (4) • ► 10 (4) • ► 09 (2) • ► 08 (2) • ► 06 (1) • ► 05 (3) • ► 04 (4) • ► 03 (4) • ► 02 (4) • ► 01 (3) • ► Juli (24) • ► 31 (4) • ► 30 (3) • ► 29 (3) • ► 28 (3) • ► 27 (3) • ► 26 (3) • ► 25 (4) • ► 24 (1)

JAWAB UAS!!! Cara Berzikir Yang Baik dan Benar Dalam Islam




2022 www.videocon.com