Teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me 2.12.

Sebarkan ini: Penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India.

Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.

Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam.

Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia. Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke delapan masehi. Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau 1082 M.

Sedangkan menurut laporan seorang musafir Maroko Ibnu Batutah yang mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya ke Negeri Cina pada 1345M, Agama islam yang bermadzhab Syafi’I telah mantap disana selama seabad. Oleh karena itu, abad XIII biasanya dianggap sebagai masa awal masuknya agama Islam ke Indonesia. Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan.

Menurut kesimpulan “Seminar Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan tahun 1963, Islam masuk ke Indonesia sudah semenjak abad pertama Hijriyah (abad ke-7 M).

“Seminar Masuknya Islam di Indonesia” tersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut: • Menurut sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah (abad ke 7/8 M) dan langsung dari Arab.

• Daerah yang pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera dan bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam yang pertama berada di Aceh. • Mubaliq-mubaliq Islam pertama yang datang ke Indonesia merangkap sebagai saudagar. • Penyiaran itu di Indonesia dilakukan secara damai. • Kedatangan Islam membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia dalam menahan penderitaan dan perjuangan melawan penjajahan bangsa asing.

Beberapa Teori Masuknya Islam ke Indonesia Proses masuknya agama Islam ke Indonesia tidak berlangsung secara revolusioner, cepat, dan tunggal, melainkan berevolusi, lambat-laun, dan sangat beragam.

Menurut para sejarawan, teoriteori tentang kedatangan Islam ke Indonesia dapat dibagi menjadi: • Teori Mekah Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta.

Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia.

Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat. Baca Juga : Konferensi Meja Bundar • Teori Gujarat Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M.

Gujarat ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat.

Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia. • Teori Persia Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran).

Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat.

Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi. • Teori Cina Teori Cina mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau Cina. Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dam pesisir Cina bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.

Teori Cina ini bila dilihat dari beberapa sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat), dapat diterima. Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas Cina di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang pada abad ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan Cina, diduduki pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang Cina.

Metode-Metode Masuknya Islam Di Indonesia Menurut uka tjandrasasmita masuknya islam di Indonesia dilakukan enam jalur yaitu: • Melalui jalur perdagangan Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke Nusantara (Indonesia).

Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama Islam. Baca Juga : Perang Diponegoro • Melalui jalur perkawinan Para pedagang muslim itu ada yang menetap di Indonesia dan menikah dengan penduduk setempat. Sudah barang tentu mereka menjadi keluarga muslim dan penyebar agama Islam yang gigih.

• Melalui jalur tasawuf Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan mudah diterima. Kehidupan mistik bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi bagian dari kepercayaan mereka.

Oleh karena itu, penyebaran Islam melalui jalur tasauf atau mistik ini mudah diterima karena sesuai dengan alam pikiran masyarakat Indonesia.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Misalnya, menggunakan ilmu-ilmu riyadhat dan kesaktian dalam proses penyebaran Islam kepada penduduk setempat. • Melalui jalur pendidikan Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan Islam di Indonesia. Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara.

Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia. • Melalui jalur kesenian Penyebaran Islam melalui kesenian berupa wayang, satra, dan berbagai kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti Walisongo untuk menarik perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan tanpa terasa mereka telah tertarik kepada ajaran-ajaran Islam sekalipun pada awalnya mereka tertarik karena media kesenian itu.

Misalnya, Sunan Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Ia tidak pernah meminta bayaran pertunjukkan seni, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat.

Sebagian cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabrata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan media islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni arsitektur, dan seni ukir. Baca Juga : Inilah Pembabakan Zaman Prasejarah Berdasarkan Geologi • Melalui jalur Politik Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan.

Di pulau Jawa, misalnya kesultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara.

Keadaan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang. Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah di Indonesia • Perkembangan Islam di Sumatera Daerah Pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatera bagian Utara, seperti Pasai dan Perlak.

Karena wilayah Pasai dan Perlak letaknya di tepi selat Malaka, tempat lalu lintas kapal-kapal dari India. Pada abad XIII-XV M berdiri kerajaan Samudra Pasai dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai terletak di kampung Samudra di tepi sungai Pasai dan berdiri sejak tahun 1261 M.

Raja-raja yang memerintah Samudra Pasai berturut-turut sebagai berikut : • Sultan Al Malikus Shaleh 4. Sultan Zainal Abidin • Sultan Al Malikuz Zahir II 5. Sultan Al Malikuz Zahir I • Sultan Iskandar Persia dan Gujarat yang juga para mubalig Islam banyak yang menetap di bandar-bandar sepanjang Sumatera Utara. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diislamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim.

Para mubalig pada waktu itu juga ke Cina. Para pedagang dari India, yakni bangsa Arab berdakwa kepada para Raja-raja kecil, ketika raja tersebut masuk Islam, rakyatnya pun banyak yang ikut masuk Islam sehingga berdirilah kerajaan Islam pertama, yaitu Kerajaan Samudera Pasai. Seiring dengan kemajuan Samudera Pasai yang sangat pesat, perkembangan agama Islam pun mendapat perhatian dan dukungan penuh dan para ulama serta mubalignya menyebar ke seluruh nusantara.

Baca Juga : Peninggalan Kerajaan Kediri Perkembangan Islam di Jawa Masuknya Islam di Pulau Jawa pada awalnya dibawa oleh pedagang muslim setelah berdirinya kerajaan Malaka yang mencapai punjak kejayaannya pada asa Sultan Mansursah. Wilayah perdagangannya sangat luas sampai ke Demak, Jepara, Tuban dan Giri.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Melalui hubungan perdagangan tersebut, akhirnya masyarakat Jawa mengenal Islam. Selanjutnya, perkembangan Islam di Pulau Jawa banyak dilakukan oleh para Adipati dan Para Wali yang dikenal dengan sebutan “Walisongo”yaitu Maulana Malik Ibrahim, Raden Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kududs, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Dengan meluasnya wilayah kekuasaan kerajaan Demak, perkembangan Islam di Pulau Jawa juga menjadi sangat luas, bahkan sampai ke Banten, Jakarta, Cirebon, dan daerah Jawa Barat lainnya.

Perkembangan Islam di Sulawesi Masuknya Islam di Sulawesi, tidak terlepas dari peranan Sunan Giri di Gresik. Hal itu karena sunan Giri melaksanakan pesantren yang banyak didatangi oleh santri dari luar pulau Jawa, seperti Ternate, dan Situ. Di samping itu, beliau mengirimkan murid-muridnya ke Madura, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara.

Pada abad ke-16, di Sulawesi Selatan telah berdiri kerajaan Hindu Gowa dan Tallo. Penduduknya banyak yang memeluk agama Islam karena hubungannya dengan kesultanan Ternate. Pada tahun 1538, Pada masa Pemerintahan Somba Opu, kerajaan Gowa dan Tallo banyak dikunjungi oleh pedagang Portugis. Selain untuk berdagang, mereka juga bermaksud untuk mengembangkan agama katolik.

Akan tetapi, Islam telah lebih dahulu berkembang di daerah itu. Perkembangan Islam di Kalimantan Pada abad XVI, Islam memasuki daerah kerajaan Sukadana. Bahkan pada tahun 1590, kerajaan Sukadan resmi menjadi Giri Kusuma.

Sunan Giri digantikan oleh putranya Sultam Muhammad Syarifuddin. Beliau banyak berjasa dalam mengembangkan agama Islam karena bantuan seorang mubalig bernama syaikh Syamsuddin. Sebagai Mubalig, mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk berdakwa. Islam akhirnya dapat memasuki kerajaan Kutai dan tersebar di Kalimantan Timur pada permulaan abad XVI M.

Perkembangan Islam di Maluku dan sekitarnya Penyebaran Islam di Maluku tidak terlepas dari jasa para santri Sunan Drajat yang berasal dari Ternate dan Hitu.

Islam sudah dikenal di Ternate sejak abad ke-15. Pada saat itu, hubungan dagang dengan Indonesia barat, khususnya dengan Jawa berjalan dengan lancar.

Selain berdagang, para pedagang juga melakukan dakwah. Selain Islam masuk dan berkembang di Maluku, Islam juga masuk ke Irian yang disiarkan oleh raja-raja Islam Maluku, para pedagang, dan para mubalignya. Baca Juga : Perjanjian Tuntang : Pengertian, Sejarah, Latar Belakang, Isi Dan Dampaknya Faktor Pendukung Islam Cepat Berkembang di Indonesia • Adanya perkawinan antara pedagang Arab, Persia, dan Gujarat dengan penduduk Indonesia.

• Adanya sistem pendidikan pondok pesantren. • Gigihnya para da’i atau mubaligh dalam menyebarluaskan Islam • Metode penyampaiannya mengena dihati masyarakat, sebab disesuikan dengan latar belakang kebudayaan yang dimiliki, misalnya: • Wayang kulit • seni bangunan, dan • seni karawitan/seni gamelan Ajaran sederhana, mudah dimengeri dan diterima.

Syarat memeluk Islam mudah, yaitu dengan mengucapkan Kalimat Syahadat. Didalam agama Islam tidak mengenal sistem kasta. Upacara keagamaan cukup sederhana, tidak memerlukan banyak biaya. Seiring surutnya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit memungkinkan tersebarnya agama Islam. Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia • Pengaruh Bahasa dan Nama Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional banyak terpengaruh dari bahasa Arab. Bahasa ini sudah begitu menyatu dalam lidah bangsa Indonesia.

Tidak hanya dalam bahasa komunikasi sehari-hari, bahakan dipergunakan pula dalam bahasa surat kabar, dan sebagainya. Pengaruh Islam dalam bidang nama, sungguh banyak sekali.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Banyak tokoh dan bukan tokoh masyarakat menggunakan nama berdasarkanpada bahasa Arab,yang merupakan bahasa simbol pemersatu Islam. Semua itu bukti adanya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. • Pengaruh Adat Istiadat Adat istiadat yang ada dan berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Diantara pengaruh itu adalah ucapan salam kepada setiap muslim yang dijumpai, atau penggunaannya dalam acara-acara resmi pemerintahan.

Pengaruh lainnya adalah berupa ucapan-ucapan kalimat penting dalam do’a. yang merupakan pengaruh dari tradisi Islam yang lestari. • Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah Pengaruh kesenian yang paling menonjol dalam hal ini terlihat dalam irama qasidah dan lagu-lagu yang bernafaskan ajaran Islam. Syair pujian yang mengagungkan nama-nama Allah yang sering diucapkan oleh umat Islam, merupakan bukti pengaruh ajaran Islam terhadap kehidupan beragama masyarakat Islam Indonesia.

Begitu pula pengaruh dalam bidang bangunan peribadatan. Banyak bangunan mesjid yang ada di Indonesia, terpengaruh dari bangunan mesjid yang ada di Negara-negara Islam, baik yang ada di Timur Tengah ataupun di tempat-tempat lainnya di dunia Islam.

• Pengaruh Dalam Bidang Politik Ketika kerajaan-kerajaan Islam mengalami masa kejayaannya, banyak sekali undur politik Islam yang berpengaruh dalam system politik pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam tersebut.

Misalnya tentang konsep khalifatullah fil ardi dan dzilullah fil ardi. Kedua konsep ini diterapkan pada masa pemerintahan kerajaan Islam Aceh Darussalam dan kerajaan Islam Mataram. Kebanyakan penduduk negara kita beragama Islam. Para ahli berpendapat bahwa agama Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M.

Agama dan kebudayaan Islam masuk Indonesia melalui para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat (India), dan Cina. Agama Islam berkembang dengan pesat di tanah air. Hal ini dapat dilihat dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam dan peninggalan-peninggalan sejarah Islam di Indonesia. Agama dan kebudayaan Islam mewariskan banyak sekali peninggalan sejarah. Peninggalan-peninggalan sejarah bercorak Islam antara lain masjid, kaligrafi, karya sastra, dan tradisi keagamaan.

Berikut ini akan dibahas satu per satu peninggalan sejarah Islam di Indonesia. Baca Juga : Perjanjian Saragosa : Pengertian, Latar Belakang, Tujuan, Isi Dan Dampaknya Hikmah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia • Islam membawa ajaran yang berisi kedamaian. • Penyebar ajaran Islam di Indonesia adalah pribadi yang memiliki ketangguhan dan pekerja keras. • Terjadi akulturasi budaya antara Islam dan kebudayaan lokal meskupin Islam tetap memiliki batasan dan secara tegas tidak boleh bertentangan dengan ajaran dasar dalam Islam.

Penyebaran Islam ke Nusantara dibawa oleh pedagang dari Gujarat, India pada abad ke-11, meskipun umat Islam datang ke Nusantara sebelumnya. Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui jumlah penganut Hindu dan Budha sebagai agama dominan masyarakat Jawa dan Sumatera. Bali Hindu mayoritas mempertahankansedangkan pulau-pulau bagian timur sebagian besar tetap animisme sampai abad ke-17 dan ke-18 ketika agama Kristen menjadi dominan di daerah.

Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya didorong oleh peningkatan jaringan perdagangan luar nusantara. Pedagang dan bangsawan kerajaan nusantara biasanya adalah yang pertama mengadopsi agama Islam. Kerajaan yang dominan, termasuk Kesultanan Mataram “di Jawa Tengah sekarang”, dan Kesultanan Ternate dan Tidore di Maluku Kepulauan di timur. Pada akhir abad ke-13, Islam didirikan di Sumatera Utara, abad ke-14 di timur laut Malaya, Brunei, Filipina selatan, di antara beberapa abdi dalem di Jawa Timur pada abad ke-15 Malaka dan daerah lain di Semenanjung Melayu “sekarang Malaysia”.

Meskipun diketahui bahwa penyebaran Islam mulai di sisi barat Nusantara, potongan bukti yang ditemukan tidak menunjukkan konversi bertahap gelombang sekitar masing-masing wilayah nusantara, namun proses konversi rumit dan lambat.

Meskipun menjadi salah satu perkembangan yang paling signifikan dalam sejarah Indonesia, bukti sejarah putaran ini terfragmentasi dan umumnya tidak informatif sehingga pemahaman tentang kedatangan Islam ke Indonesia sangat terbatas. Ada perdebatan di kalangan peneliti tentang apa kesimpulan yang bisa ditarik tentang konversi Nusantara pada saat itu. Bukti utama, setidaknya dari tahap awal proses konversi ini, adalah batu nisan dan beberapa kesaksian dari para peziarah, namun bukti ini hanya dapat menunjukkan Muslim pribumi yang ada di tempat tertentu pada waktu tertentu.

Bukti ini tidak bisa menjelaskan hal-hal yang lebih rumit seperti bagaimana gaya hidup dipengaruhi oleh agama baru ini, atau bagaimana dalam Islam mempengaruhi masyarakat. Dari bukti ini tidak dapat diasumsikan, bahwa karena penguasa saat itu dikenal sebagai seorang Muslim, maka proses Islamisasi daerah selesai dan mayoritas penduduk telah masuk Islam, namun proses konversi ini adalah proses yang berkesinambungan dan terus di Nusantara, bahkan berlanjut hingga hari ini di Indonesia modern.

Namun demikian, titik balik yang jelas terjadi adalah ketika kerajaan Hindu Majapahit di Jawa dihancurkan oleh Kerajaan Islam Demak. Pada 1527, pemimpin perang Muslim Fatahillah mengubah nama baru ditaklukkan Sunda Kelapa sebagai “Jayakarta” yang berarti “kota kemenangan” yang pada akhirnya dari waktu ke waktu menjadi “Jakarta”. Asimilasi ke dalam warisan budaya Islam kemudian meningkat pesat setelah penaklukan ini.

Penyebaran Islam Menurut Wilayah Pada sejarawan pertama percaya bahwa Islam tersebar di Nusantara dengan cara yang sebagian besar damai, dan dari abad ke-14 sampai akhir abad ke-19, kepulauan melihat hampir tidak ada aktivitas misionaris Muslim terorganisir. Tapi klaim ini kemudian disangkal oleh temuan sejarawan bahwa beberapa bagian dari Jawa, seperti Sunda Jawa Barat dan Jawa Timur Majapahit ditaklukkan oleh orang Jawa Muslim dari Kesultanan Demak. Kerajaan Hindu-Budha Sunda Padjadjaran ditaklukkan oleh umat Islam di abad ke-16, sedangkan Muslim pesisir dan pedalaman Jawa Timur Hindu-Buddha sering berperang.

Pendiri Kesultanan Aceh Ali Shah Mughayat memulai kampanye militer pada tahun 1520 mendominasi bagian utara Sumatera dan mengkonversi penduduk Islam. Penyebaran terorganisir Islam juga dibuktikan dengan Wali Sanga “sembilan orang kudus” diakui memiliki andil besar dalam Islamisasi Nusantara secara sistematis selama periode ini.

• Malaka Didirikan pada awal abad ke-15, perdagangan negara Melayu Kesultanan Malaka (sekarang bagian dari Malaysia) didirikan oleh Sultan Parameswara, adalah, sebagai pusat perdagangan yang paling penting di kepulauan Asia Tenggara, pusat kedatangan Muslim asing, dan dengan demikian muncul sebagai pendukung penyebaran Islam di Nusantara.

Parameswara sendiiri diketahui telah masuk Islam dan mengambil nama Iskandar Shah setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho yang adalah seorang Muslim Hui Cina. Di Malaka dan di tempat lain batu nisan bertahan dan menunjukkan tidak hanya penyebaran Islam di Nusantara Melayu, tetapi juga sebagai budaya dan agama penguasa mereka pada akhir abad ke-15. • Sumatera Utara Masjid di arsitektur tradisional Minangkabau Sumatera Barat.

Bukti kuat mendokumentasikan transisi budaya terus dari dua batu nisan akhir abad ke-14 dari Minye Tujoh di Sumatera Utara, masing-masing dengan tulisan Islam tetapi dengan India dan jenis-jenis huruf Arab. Yang berasal dari abad ke-14, batu nisan di Brunei, Trengganu (timur laut Malaysia) dan Jawa Timur merupakan bukti penyebaran Islam.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Trengganu batu memiliki dominasi atas kata-kata Arab bahasa Sansekerta, yang menunjukkan representasi pengenalan hukum Islam. Menurut Ying-yai Sheng-lan survei umum pantai laut (1.433) yang ditulis oleh Ma Huan, penulis sejarah dan penerjemah Zheng : “Negara-negara besar di bagian utara Sumatera memiliki Kekaisaran Islam Pada 1414, ia (Cheng Ho) mengunjungi Kesultanan Malaka, penguasa Iskandar Shah adalah Muslim dan juga warga negara, dan mereka percaya dengan sangat patuh “.

Kampong Pande, Banda Aceh ada batu nisan Sultan Shah Word, cucu dari Sultan Shah Johan, yang memiliki sebuah prasasti yang menyatakan bahwa Banda Aceh adalah ibukota Kesultanan Aceh Darussalam dan bahwa kota ini didirikan pada Jumat, 1 Ramadhan (22 April 1205) oleh Johan Sultan Shah setelah ia menaklukkan kerajaan Hindu-Budha modal Indra Kuno di Bandar Lamuri. Pembentukan kerajaan Islam lebih jauh di utara pulau Sumatera didokumentasikan oleh kuburan akhir abad ke-15 dan ke-16 termasuk pertama dan kedua sultan kesultanan Pedir “sekarang Pidie”, Muzaffar Shah, terkubur 902 H “1497 M” dan Ma ‘Ruf Shah, terkubur 917 H “1511 M”.

Kesultanan Aceh didirikan pada awal abad ke-16 dan kemudian akan menjadi negara yang paling kuat di utara pulau Sumatera dan salah satu yang paling kuat di seluruh Kepulauan Melayu. Pertama Sultan Kesultanan Aceh adalah Mughayat Ali Shah yang Tombstone tanggal 936 H “1530 M”.

Pada 1520, Ali Mughayat Shah meluncurkan kampanye militer untuk mendominasi bagian utara Sumatera. Ia menaklukkan kekuasaan, dan mengubah orang Islam. Penaklukan terus menyusuri pantai timur, seperti Pidie dan Pasai menggabungkan beberapa daerah penghasil emas dan merica. Penambahan daerah ini akhirnya menyebabkan ketegangan internal di Kesultanan Aceh, kekuatan Aceh adalah sebagai pelabuhan perdagangan, kepentingan ekonomi yang berbeda dari daerah kota produksi.

Dokter Book Portugis Tome Pires yang didokumentasikan pengamatannya di Jawa dan Sumatera dari kunjungannya di 1512-1515, dianggap sebagai salah satu sumber yang paling penting dari penyebaran Islam di Nusantara.

Pada saat itu, menurut Piers, sebagian besar raja di Sumatera adalah Muslim, dari Aceh dan ke selatan di sepanjang pantai timur ke Palembang, para penguasa adalah Muslim, sedangkan sisi selatan Palembang dan di sekitar ujung selatan Sumatera dan ke barat pantai, sebagian besar tidak.

Di kerajaan lain di Sumatera, seperti Pasai dan Minangkabau Muslim penguasa meskipun pada tahap warganya dan masyarakat di daerah tetangga sebaliknya. Namun, dilaporkan oleh Pires bahwa Islam terus mendapatkan pengikut baru. Setelah kedatangan kolonial Portugis dan ketegangan yang diikuti sekitar kekuasaan atas perdagangan rempah-rempah, Sultan Alauddin al-Kahar 1539-1571 mengirim duta besarnya ke Ottoman Sultan Suleiman I tahun 1564, meminta dukungan dari Kekaisaran Ottoman terhadap Portugis.

Ottoman kemudian dikirim laksamana mereka, Kurtoğlu Hızır Reis. Dia kemudian berlayar dengan kekuatan 22 kapal yang mengangkut pasukan, peralatan militer dan perlengkapan lainnya.

Menurut laporan yang ditulis oleh Fernao Mendes Pinto laksamana Portugis, armada Ottoman pertama kali tiba di Aceh terdiri dari beberapa orang Turki dan sebagian besar Muslim dari pelabuhan Samudera Hindia. Demikian penjelasan artikel diatas tentang Penyebaran Islam Di Indonesia semoga bisa bermanfaat bagi pembaca setia kami. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Agama, IPS, Sejarah Ditag 15 kerajaan islam di indonesia, 50 kerajaan indonesia, akulturasi budaya islam, bukti masuknya islam ke indonesia, bukti penyebaran islam di indonesia, cara penyebaran agama islam oleh wali songo, cara penyebaran islam di indonesia, cara penyebaran islam melalui kesenian, corak islam di nusantara, daftar raja dan sultan di indonesia, di mana letak kerajaan majapahit, fase perkembangan islam di dunia, gambar kerajaan perlak, gambar kerajaan samudra pasai, hamka adalah salah satu pendukung teori, islam pada masa kerajaan, jalur penyebaran islam di indonesia, jelaskan prinsip dakwah islam di nusantara, jelaskan proses penyebaran islam di nusantara secara singkat dan jelas, kehidupan politik kerajaan samudra pasai, kerajaan demak berdiri dilatarbelakangi oleh, kerajaan islam demak, kerajaan islam di indonesia dan peninggalannya, kerajaan islam di jawa, kerajaan islam di kalimantan, kerajaan islam di maluku, kerajaan islam di nusantara, kerajaan islam di papua, kerajaan islam di sulawesi, kerajaan islam di sumatera, kerajaan islam mengalami keemasan, kerajaan islam mengalami kemajuan, kerajaan islam pajang, kerajaan islam pertama di jawa, kerajaan islam pertama di nusantara, kerajaan islam pertama di nusantara adalah, kerajaan islam pertama di pulau jawa adalah, kerajaan islam terbesar di indonesia, kerajaan islam tertua di indonesia adalah, kerajaan islam tertua di jawa, kerajaan kerajaan islam di nusantara, kerajaan kerajaan islam di nusantara dan masa kejayaannya, kerajaan maritim islam, kerajaan maritim islam di indonesia brainly, kerajaan samudra pasai, kesultanan islam demak berdiri pada tahun, makalah penyebaran islam di indonesia, makalah sejarah kerajaan islam di indonesia, makalah sejarah masuknya islam ke indonesia, memperjelas kerajaan islam mengalami keemasan, misi islam, nama kerajaan islam di indonesia beserta nama rajanya, pedagang dari mana sajakah yang menyebarkan agama islam di indonesia, peninggalan kerajaan islam, penyebar agama kristen, penyebar agama kristen protestan, penyebaran agama islam melalui kesenian, Penyebaran Islam, penyebaran islam di dunia, penyebaran islam di jawa, penyebaran islam di sumatera, peranan lembaga islam di indonesia, perjanjian rua kara eng, perkembangan ajaran islam, perkembangan islam di sumatera, permulaan agama islam, peta kerajaan islam di indonesia, peta penyebaran islam di indonesia, pola penyebaran islam, proses masuknya islam ke indonesia brainly, proses penyebaran islam di indonesia, proses penyebaran islam di indonesia brainly, raja pertama aceh adalah, raja terkenal dari aceh adalah, rangkuman kerajaan islam di indonesia, salah satu pemimpin kerajaan islam, sebab runtuhnya kerajaan islam di nusantara, sebutkan dasar-dasar munculnya teori gujarat, sejarah kerajaan samudra pasai, sejarah masuknya islam di indonesia lengkap, sejarah masuknya islam ke indonesia pdf, soal fase perkembangan islam di indonesia, strategi dakwah islam di indonesia, sumber sejarah kerajaan samudra pasai, syarat untuk masuk islam sangat mudah yaitu, tahapan perkembangan islam di nusantara, teori masuknya islam ke indonesia brainly, teori masuknya islam ke nusantara, tokoh penyebar agama islam di indonesia Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com Teori Masuknya Islam ke Indonesia - Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengulas topik tentang Saluran-Saluran Penyebaran Islam di Indonesia, dijelaskan bahwa agama Islam menyebar dan berkembang sangat pesat melalui 6 saluran, meliputi perdagangan, perkawinan, pendidikan, ajaran tasawuf, seni budaya dan melalui dakwah.

Nah, untuk mengetahui sejarah masuknya Islam ke Nusantara lebih detail, kalian juga harus paham bahwasanya ada teori masuknya Islam ke Indonesia. Apa saja? Simak selengkapnya berikut ini. Teori Masuknya Islam ke Indonesia Ada beberapa versi mengenai kapan masuknya agama Islam di Indonesia.

Pertama pada abad ke 7, dibuktikan dengan berita dari Arab bahwa saat itu mereka telah melakukan kegiatan perdagangan di Nusantara, tepatnya di kerajaan-kerajaan yang terdapat Pulau Sumatera seperti Sriwijaya, Samudra Pasai. Kedua pada abad ke 11, dibuktikan dengan penemuan batu nisan Fatimah Binti Maimun di Gresik, Jawa Timur.

Ketiga pada abad ke 13, dibuktikan dari berita Ibnu Batutah dan peninggalan makam Sultan Malik As Saleh. 1. Teori Gujarat Masuknya Islam ke Indonesia Teori Masuknya Islam ke Indonesia pertama adalah teori Gujarat.

Gujarat merupakan salah satu negara bagian di India, terletak di sebelah barat berbatasan dengan Rajasthan di utara dan Pakistan di barat laut. Menurut teori Gujarat, agama Islam yang saat ini berkembang pesat di Indonesia asal usulnya berasal dari Gujarat, dibawa oleh pedagang Gujarat pada abad ke XIII Masehi.

Pencetus Teori Gujarat Menurut Pijnapel, orang yang menyebarkan agama Islam ke Indonesia bukanlah orang Arab langsung, tapi dari para pedagang Gujarat yang telah beragama Islam. Mereka melakukan hubungan dagang ke dunia timur, kemudian sampai ke wilayah Nusantara. Pendapat tersebut kemudian didukung oleh Snouch Hurgronje (Sarjana barat berasal dari Belanda), ia menjelaskan bahwa Islam masuk ke wilayah Indonesia melalui kota-kota di India seperti Bengali, Gujarat dan Malabar.

Dukungan Hurgronje mengenai Teori Gujarat ditulis dalam bukunya berjudul " L'arabie et Les Indes", ia menjelaskan bahwa orang dari Gujaratlah yang membuka hubungan dagang di Wilayah Indonesia sebelum pedagang dari Arab berdatangan di kemudian hari. Pendapatnya diperkuat dari bukti penemuan nisan Sultan Malik Al-Saleh (raja kerajaan Samudra Pasai) berangka tahun 1297 Masehi. Tokoh kedua yang mendukung teori Gujarat adalah Sucupto Wirtosuparto, pendapatnya terkait dengan masuknya Islam ke Indonesia melalui Gujarat (India) didasarkan pada corak batu nisan raja Samudra Pasai (Sultan Malik AL-Saleh) memiliki kemiripan dengan nisan yang ada di Gujarat dan hubungan dagang antara India - Nusantara telah lama berlangsung, jalur yang dilewati pedagang melalui Indonesia menuju Cambay terus ke Timur Tengah menuju ke Eropa.

Rekomendasi Artikel untuk Anda • Alasan Agama Islam Mudah Diterima di Indonesia • Sejarah Organisasi Sarkat Islam (SI) Namun teori masuknya Islam ke Indonesia melalui Gujarat dibantah oleh banyak ahli, didasarkan dengan bukti-bukti yang lebih akurat yakni berita dari Arab, Turki dan Persia. Salah satunya sejarawan bernama Azyumardi Azraia berpendapat bahwa Gujarat dan kota-kota lain di India hanya sebagai tempat persinggahan pedagang Arab sebelum menuju Asia Timur dan Tenggara.

Kemudian pada abad ke XII sampai XIII Masehi pengaruh agama Hindu masih kuat di daerah Gujarat. 2. Teori Arab (Makkah) Masuknya Islam ke Indonesia Teori Arab atau bisa disebut teori Mekkah menjelaskan bahwa proses masuknya agama Islam di Indonesia (Nusantara saat itu) dibawa oleh musafir dari Arab pada adab ke 7.

Tokoh pencetus dan pendukung teori Arab meliputi : Van Leur, TW Arlond, Anthony H. Johns dan Buya Hamka. Ada tiga bukti yang memperkuat teori masuknya islam di Indonesia ini. Pertama, terdapat perkampungan Islam di Teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Sumatera bagian timur pada abad ke 7 M.

Agama Islam yang berkembang di perkampungan ini mirip dengan yang ada di Dinasti Ummayyah, Arab. Bukti kedua mengenai madzhab yang digunakan penganut islam saat di Kerajaan Samudra Pasai adalah madzhab yang juga terkenal di Arab dan Mesir yakni Madzhab Syafii.

Ketiga, gelar raja di Kerajaan Samudra Pasai menggunakan "Al Malik", sama seperti di Mesir. Teori Arab (Mekkah) bisa dibilang teori masuknya Islam ke Indonesia yang paling benar, karena kelemahannya hanya bukti dan fakta akurat mengenai teori ini kurang detail, termasuk peran orang-orang Arab dalam proses penyebarannya.

Teori masuknya Islam ke Indonesia ketiga adalah "Teori Perisa", pencetusnya bernama Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadainingrat.

Teori ini menyatakan bahwa agama Islam masuk ke wilayah Nusantara melalui orang Persia (Syiah), berlangsung pada abad ke 7. Beberapa bukti yang menguatkan kebenaran teori Perisa adalah kesamaan budaya Islam Nusantara dan Islam di Persia. Contohnya kesamaan seni kaligrafi, adanya peringatan Asyura dan Tabut, adanya aliran Syiah pada awal masuknya Islam dan kesamaan ajaran Sufi. Empat bukti pendukung teori Persia diatas ternyata tidak cukup menjadikannya sebagai teori masuknya Islam ke Indonesia paling benar, karena masih terdapat kejanggalan dan kelemahan.

Yakni terkait waktu masuknya Islam pada abad ke 7. Jika Islam masuk pada abad tersebut, maka Islam di Timur Tengah masih dikuasai oleh Khalifah Umayyah dan tidak mungkin bangsa atau ulama Persia menyebarkan Islam secara besar di Indonesia. 4. Teori China Masuknya Islam ke Indonesia Menurut Teori ini, Islam di Indonesia dibawa olah para perantau Muslim China pada tahun 879 M.

Tokoh pencetus Teori China adalah Sumanto Al Qurtuby dan Slamet Muljana. Dasar teori ini yaitu dari bukti catatan Cina yang menjelaskan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Nusantara pertama kali disinggahi oleh pedagang China.

Fakta lainnya yaitu raja pertama Kerajaan Demak (Raden Patah) merupakan keturunan China, gelar raja yang digunakan juga menggunakan istilah China. Sementara itu, ada peninggalan masjid tua di Jawa dengan arsitektur China. Menurut sejarahnya, orang-orang China pada awalnya datang dari dataran Canton (China) menuju ke Asia Tenggara, kemudian sampai di wilayah Palembang. Baca Juga : Silsilah Raja Kerajaan Demak Pendapat para ahli sejarah terkait dengan teori masuknya Islam ke Indonesia tentu memiliki dasar (landasan) atau bukti yang akurat, baik berupa catatan maupun peninggalan abstrak bangunan atau benda-benda bersejarah.

Namun, dari sekian banyak pendapat dari sejarawan, keempat teori diatas dapat dikatakan paling mendekati kebenaran. Setiap teori yang disebutkan diatas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, pintar-pintar kalian menganalisis mana teori yang paling benar dengan disertai bukti yang jelas.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Baca Juga Kerajaan Islam di Nusantara : • Sejarah Kerajaan Samudra Pasai • Sejarah Kerajaan Demak • Sejarah Kerajaan Aceh
• Adanya perkampungan Islam di Barus, Sumatera di tahun 674 masehi. Sesuai namanya, penghasilan utama dari kampung ini adalah kapur barus. Benda ini menjadi kesukaan dari Timur Tengah. Sehingga mengundang pedagang dari sana untuk datang ke Indonesia. • Ditemukannya makam Islam tertua Indonesia, tepatnya di Gresik, Jawa Tengah.

Makam bernama Fatimah binti Maimun tersebut ditulis menggunakan ukiran kaligrafi arab bergaya kufi. • Adanya pemakaman Islam di wilayah Majapahit di Trowulan.

Diyakini bahwa pada era kerajaan Majapahit sudah banyak orang yang memeluk agama Islam. Pendukung teori Mekah diantaranya H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Ahmaad Mansyur Suryanegara, A.H. Jons, dan T.W. Arnold. Adapun bukti teori Mekah menurut Hamka diantaranya. Catatan Ibnu Batutah yang menjelaskan bahwa Raja Samudera Pasai menganut mazhab Syafi’i.

Mazhab Syafi’i merupakan mazhab terbesar di Mesir dan Arab. Jika Islam yang berkembang di Indonesia berasal dari Persia, tentu sebagian besar penduduk Indonesia akan menganut aliran Syiah. Dan juga jika berasal dari Gujarat India maka mazhab penduduk Indonesia seharusnya bermazhab Hanafi seperi yang dianut masyarakat muslim India. Selain itu, raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al-Malik yang biasa digunakan oleh raja-raja yang ada di Mesir.

Diungkapkan oleh A.H. Jhons. islamisasi di Indonesia dilakukan oleh para musafir. Kaum sufi Arab biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendirikan perguruan tarekat. Pendapat ini didasarkan pada penggunaan mazhab Syafi’i oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Mazhab Syafi’i merupakan mazhab terbesar yang dianut penduduk muslim Arab. Adapun T.W. Arnold dalam bukunya The Preacing of Islam menjelaskan bahwa pada abad ke-7 Masehi di pesisir pantai barat Sumatra terdapat komunitas masyarakat muslim yang terdiri atas pedagang Arab.

Komunitas ini terbentuk sebagai akibat dari pedagang Arab melakukan pernikahan dengan wanita lokal. Penyebaran Islam ini dibuktikan dengan adanya penemuan batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, Jawa timur. Ahmad Mansyur Suryanegara menyatakan pendapat bahwa ketika Nabi Muhammad masih hidup telah terjalin hubungan perdagangan antara pedagang Arab dengan pedagang Indonesia. Islam sudah memulai ekspedisi perdagangan pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

Bukti kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia dapat dilihat dari catatan India, Cina, dan Arab. 2 Teori Gujarat/India Menurut teori ini, Islam dibawa ke Indonesia oleh pedagang yang berasal dari Gujarat pada abad ke 13 Masehi. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh J. Pijnapel. Teori ini kemudian mendapat dukungan dari beberapa tokoh diantaranya Snouck Hurgronje, W.F. Sutterheim, dan Sucipto Wirjosuparto.

Menurut J. Pijnapel, orang-orang Islam bermazhab Syafi’i telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak abad ke-7 masehi. Menurutnya penyebaran Islam di Indonesia tidak langsung dilakukan oleh para pedagang Arab, akan tetapi oleh pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam, kemudian berdagang di Indonesia.

Snouck Hugronje menjelaskan bahawa Islam masuk di Indonesia dari kota-kota di anak Benua India seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar karena Islam lebih dahulu berkembang di kota-kota tersebut. Dalam bukunya berjudul L’arabie et Les Indes Neerlandaises, Snouck Hurgronje menjelaskan bahwa teori Gujarat didasarkan pada peranan orang-orang Gujarat yang telah membuka hubungan dagagang dengan masyarakat Indonesia sebelum pedagang Arab.

Loading. Menurut Sucipto Wiryosuparto, teori Gujarat didasarkan atas bukti berikut: • Corak batu nisan makam Sultan Malik as-Saleh dan Maulana Malik Ibrahim mempunyai kemiripan dengan corak nisan yang ada di Gujarat. • Hubungan dagang antara penduduk Indonesia dan India telah lama terjalin, melalui jalur perdagangan Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa.

3 Teori Persia Menurut teori Persia, Islam di Indonesia berasal dari Persia. Menurut teori ini, Islam dibawa oleh pedagang yang asalnya dari Iran pada abad 11. Adapun pencetus dari teori ini yaitu Hoesein Djajadiningrat dan Oemar Husein. Bukti-bukti teori menurut Hoesein Djajadiningrat Persia diantaranya sebagai berikut: • Kemiripan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Persia dan Indonesia.

Tradisi tersebut antara lain tradisi perayaan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas wafatnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad dan tradisi Tabot yang berkembang di Bengkulu.

• Ajaran sufi Widhatul Wujud Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah yang mempunyai kesamaan dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. • Kesamaan seni kaligrafi yang terpahat di nisan makam Islam di Indonesia dengan makam di Persia. Penggunaan gelar syah pada raja-raja Islam di Indonesia. Bukti-bukti yang disampaikan oleh Hoesein Djajadiningrat didukung oleh Oemar Amir Husein dengan mengemukakan bukti tambahan sebagai berikut.

Di Persia terdapat suku bernama Leran. Kemungkinan besar suku Leran tersebut berasal dari Jawa. Hal ini didukung dengan adanya kampung bernama Leran yang terletak di Jawa Timur. Sementara di Persia terdapat suku Jawi.

Suku Teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya diduga mengajarkan huruf Arab di Jawa.

Huruf Arab itu disebut dengan huruf Arab Pegon yang sering digunakan dalam naskah kuno masa kerajan Islam. 4 Teori Cina Menurut teori ini, proses kedatangan Islam di Indonesia berasal dari para perantau Cina.

Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha orang Cina telah berbaur dengan penduduk Indonesia, terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad Vll Masehi saat Islam sedang berkembang. Sumanto Al-Qurtuby dalam bukunya Arus Cina Islam-Jawa menyatakan bahwa pada abad Vll Masehi, di daerah Kanton, Zhang-Zhao, Quanzhou, dan pesisir Cina bagian selatan telah terdapat sejumlah permukiman Islam.

Menurut sejumlah sumber lokal (kronik) diketahui bahwa raja Islam pertama di Demak, yaitu Raden Patah merupakan keturunan Cina. Kenyataan Ini dikarenakan ibu Raden Patah berasal dari Campa, Cina bagian selatan. Berdasarkan Sajarah Banten dan” Hikayat Hasanuddin nama dan gelar raja-raja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah Cina seperti Cek Ko Po, Jin Bun, Cek Ban Cun, Cun Geh, dan Cu-cu.

Nama-nama seperti Munggul dan Moechoel ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara berbatasan dengan Rusia. [] SUMBER: SYNAOO - PAHAMIFY Jakarta - Salah satu agama yang diakui di Indonesia adalah Islam.

Agama ini diketahui berkembang sejak abad ke-13 hingga sekarang di Tanah Air. Lantas, bagaimana teori masuknya Islam ke Indonesia? Saat ini, ada 6 agama yang diakui di Indonesia, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. 1. Teori Gujarat Pendapat tentang teori masuknya Islam ke Indonesia yang pertama datang dari teori Gujarat.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Dalam teori ini, diceritakan Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 M dari pedagang India Muslim. Teori ini berkembang dari Pijnappel dari Universitas Leiden yang mengatakan bahwa asal muasal Islam dari Gujarat dan Malabar. Kemudian, orang Arab bermazhab Syafi'i bermigrasi ke India dan orang India lah yang membawanya ke Indonesia. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Snouck Hurgronje dalam buku 'L'Arabie et Les Indes Neelandaises atau Reveu de I'Histoire des Religious bahwa hubungan dagang Indonesia dan India telah lama terjalin, kemudian inskripsi tertua tentang Islam terdapat di Sumatera memberikan gambaran hubungan antara Sumatera dengan Gujarat.

Selain itu, ada juga teori Gujarat dari Moquette di mana ia mengatakan bahwa agama Islam di Tanah Air berasal dari Gujarat berdasarkan bukti peninggalan artefak berupa batu nisan di Pasai, kawasan utara Sumatera pada 1428 M.

Adapun, batu nisan itu memiliki kemiripan dengan batu nisan di makam Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur, yakni memiliki bentuk dengan batu nisan di Cambay, Gujarat, India. 2. Teori Mekah Pendapat lainnya adalah teori Mekah. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Hamka dalam Dies Natalis PTAIN ke-8 di Yogyakarta sebagai koreksi dari teori Gujarat. Dalam teori masuknya Islam ke Indonesia ini diterangkan bahwa Arab Saudi memegang peranan yang besar.

Pasalnya, menurut Hamka, bangsa Arab pertama kali ke Indonesia membawa agama Islam dan diikuti Persia dan Gujarat. Adapun, disebutkan masuknya Islam terjadi sebelum abad ke-13 M, yakni 7 Masehi atau abad pertama hijriyah.

Hal ini dibuktikan setelah wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 632 M, di mana kepemimpinan Islam dipegang oleh para khalifa. Di bawah kepemimpinan itu, agama Islam disebarkan lebih luas hingga ke seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol. Kemudian, di masa Dinasti Umayyah pengaruh semakin meluas hingga ke Nusantara. Menurut Arnold (Morrison 1951) bukti masuknya Islam ke Indonesia dari para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka berdagang hal ini juga sesuai dengan fakta pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman di pesisir pantai Sumatera.

Para pedagang Arab tersebut juga melakukan pernikahan dengan penduduk lokal sehingga agama Islam semakin menyebar di Nusantara. 3.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Teori Persia Teori masuknya Islam ke Indonesia terakhir adalah Persia yang dicetuskan oleh Hoesein Djajadiningrat. Dijelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia dari Persia singgah di Gujarat pada abad ke-13. Hal ini terbukti dari kebudayaan Indonesia yang memiliki persamaan dengan Persia. Hal ini juga dipertegas oleh Morgan (1963:139-140) bahwa masyarakat Islam Indonesia sama dengan Persia. Terbukti, peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan Syi'ah atas syahidnya Husein.

Peringatan ini berbentuk pembuatan bubur Syura. Selain itu, di Minangkabau bulan Muharram juga dikenal sebagai bulan-bulan Husein. Lalu di Sumatera Tengah diperingati dengan mengarak keranda Husein untuk dilemparkan ke sungai. Selanjutnya, teori ini juga didukung dengan kesamaan ajaran Syaikh SIti Jenar dengan ajaran Sufi Iran al-Hallaj.

Ketiga, penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda bunyi harakat dalam pengajian Al-Quran tingkat awal. Baca juga: Nisan Kuno di Azerbaijan dan Teori Masuknya Islam ke Nusantara Kesamaan terakhir adalah nisan pada makam Malik Saleh dan Malik Ibrahim dipesan dari Gujarat dan terdapat pengakuan umat Islam terhadap madzhab Syafi'i di daerah Malabar. Walaupun begitu, hingga saat ini belum ada fakta mana teori masuknya Islam ke Indonesia yang paling kuat atau yang paling benar.

(pay/erd)
Jakarta - Sebuah makam menjadi bukti awal masuknya Islam di Jawa. Makan tersebut ditemukan atas nama Maimun pada tahun 1082 M. Lokasi makam adalah di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Nama Leran atau Liran tersebut adalah nama sebuah tempat di Persia.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Melansir dari buku Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik Sampai Kontemporer karya Adi Sudirman, sebab itulah makam Fatimah binti Maimum kemudian dikenal dengan nama Batu Leran dan memiliki batu nisan yang bertuliskan huruf Arab.

Bila ditelisik dari namanya, Fatimah binti Maimun diperkirakan adalah seorang keturunan raja Hibatullah atau salah teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya dinasti yang berkuasa di Liran, Persia.

Bukti-bukti ini merujuk pada kesimpulan bahwa di Gresik sudah ada kelompok muslim pada tahun 1082. Baca juga: Perkembangan Islam di Indonesia, Sejarah Awal hingga Masa Wali Songo Selain makam Fatimah, makam lain yang ditemukan di Gresik adalah makam Malik Ibrahim dari Kasyan, Persia.

Ia meninggal pada tahun 822 H atau 1419 M. Kemudian, masuk lagi ke wilayah agak pedalaman, ditemukan pula ratusan kubur Islam kuno di Mojokerto. Makam-makam itu disebut berasal dari tahun 1374 M. Bahkan diperkirakan berasal dari makam keluarga istana Majapahit.

Dari pesisir utara Jawa, Islam masuk ke Jawa Barat dimulai pada masa pemerintahan Prabu Mundingsari, tepatnya tahun 1190. Saat itu, agama Islam disiarkan oleh Haji Purba. Melansir dari Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII karya H.

Abu Achmadi dan Sungarso, ada salah satu alasan agama Islam bisa berkembang dengan pesat di Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh mulai runtuhnya Kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu. Sebenarnya proses masuknya agama Islam ke Indonesia masih menimbulkan banyak teori. Namun, para ahli sejarah cenderung meyakini bahwa masuknya Islam ke Indonesia terjadi pada abad ke-7 M berdasarkan Berita Cina pada masa Dinasti Tang, seperti yang dikutip dari Sejarah Indonesia Periode Islam karya Ricu Sidiq, Najuah Najuah, dan Pristi Suhendro Lukitoyo.

"Berita itu mencatat bahwa pada abad ke-7, terdapat pemukiman pedagang muslim dari Arab di Desa Baros, daerah pantai barat Sumatera Utara," tulis Ricu Sidiq, dkk. Baca juga: Kerajaan Islam yang Berdiri Pertama di Abad 13, Perlak hingga Samudra Pasai Teori lainnya yang mendukung pernyataan tersebut adalah teori Mekah. Teori menyatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia dibawa langsung dari Mekah atau Arab pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M.

Tokoh yang mengenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah (HAMKA). Dikutip dari Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik Sampai Kontemporer karya Adi Sudirman, HAMKA berpendapat motivasi awal kedatangan orang Arab ke Indonesia adalah dakwah Islam bukan ekonomi.

Jalur perdagangan Indonesia dan Arab telah ada jauh sebelum tarikh Masehi. Demikian gambaran singkat mengenai penyebaran Islam di Jawa yang dibuktikan dalam sebuah makam, hingga seluruh Indonesia. Semoga mudah dipahami ya, detikers! Simak Video " Kedaton, Sejarah Panjang Perkembangan Islam di Kota Pesisir, Ternate" [Gambas:Video 20detik] (rah/row)
Pada masa itu, para pedagang Muslim yang berdagang ke Indonesia semakin banyak, sehingga akhirnya membentuk sebuah pemukiman yang disebut pekojan.

Dari tempat inilah mereka saling berinteraksi dan berasimilasi dengan masyarakat setempat atau penduduk asli seraya menyebarkan ajaran agama Islam di Indonesia.KOMPAS.com - Masuknya Islam ke Nusantara atau Indonesia belum diketahui secara pasti. Banyak yang berpendapat Islam di Nusantara tidak lepas dari adanya jalur perdagangan di Selat Malaka.

Banyak kapal-kapal dagang muslim yang datang dan singgah di Nusantara. Adanya interaksi antar pedagang dari penjuru dunia dengan intensitas tinggi, memunculkan beragam teori mengenai proses masuknya Islam ke Nusantara. Baca juga: Samudera Pasai, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara Teori-teori mengenai proses masuknya Islam ke Indonesia Dalam buku Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (1995) karya Ahmad Mansur Suryanegara, ada tiga teori mengenai masuknya Islam di Nusantara.

Teori apa sajakah yang dikemukakan oleh para ahli tentang pembawa agama Islam di Indonesia? Islam datang dari Gujarat (teori gujarat) Teori gujarat menyebutkan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara dipercaya datang dari wilayah Gujarat, India.

Di mana melalui peran para pedagang muslim yang datang ke Nusantara lewat jalur perdagangan Selat Malaka. Masuknya Islam dari Gujarat dikemukakan oleh Snouck Hurgronje dari Belanda. Ia berpendapat jika Islam masuk ke Nusantara buka dari Arab tapi Gujarat, India. Hubungan langsung antara Nusantara dan Arab baru terjadi pada masa kemudian. Seperti utusan dari Mataram dan Banten ke Mekah pada abad ke-7. Ia juga berpendapat bahwa ada persamaan unsur-unsur Islam Nusantara dengan India.

Baca juga: Kerajaan Demak, Kerajaan Islam Pertama dan Terbesar di Utara Jawa Islam dari Arab (teori Mekah) Teori mekah mengemukan bahwa pada abab ke-7 di pantai barat Sumatera sudah ada perkampungan Islam. Hal itu di dukung adanya jalur perdagangan yang bersifat internasional. Bahkan berita dari China, pada zaman Dinasti Tang pada 674 mesehi, jika orang-orang Arab sudah mendirikan perkampungan di pantai barat Sumatera.

Dilansir situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud)pada waktu Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaan sekitar abad ke-8 dan 8, para pedagang muslim sudah singgah. Banyak tokoh-tokoh yang mendukung teori tersebut. Masuknya Islam ke Nusantara terjadi sebelum abad ke-7 masehi dan berperan besar terhadap proses penyebaran selanjutnya. Islam datang dari Persia (teori Persia) Teori persia mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara abad ke-13 yang berasal dari Persia.

Baca juga: Peranan Selat Malaka bagi Jalur Perdagangan Dalam teori tersebut terdapat kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam Nusantara dengan Persia. Dalam buku Sejarah Islam Nusantara (2015) karya Michael Laffan, sejak awal masehi para penguasa di kawasan barat Nusantara berbagi budaya istana yang bercorak India dan mendapat pengalaman dari para pedagang asing. Karena Asia Tenggara berada di perempatan dua zona perdagangan kuno yang penting. Pertama, Samudera Hindia, sedangkan yang lain meliputi Laut China Selatan.

Kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara paling awal berasal dari berbagai catatan berbahasa Cina yang merekam kedatangan para utusan dengan teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya yang merupakan nama muslim.

Dari arah lain, memiliki laporan-laporan berbahasa Arab mengenai berbagai rute pelayaran dari Teluk Persia ke pelabuhan-pelabuhan di China Selatan dengan titik tumpu di Selat Makaka.

Di sana para kapten menunggu perubahan angin monsun untuk membawa mereka melanjutkan perjalanan atau kembali pulang. Baca juga: Sejarah Pajak Indonesia, Dimulai Zaman Kerajaan Marco Polo dalam laporannya mengenai Sumatera 1292 menyebut sebuah komunitas Muslim baru sekitar yang didirikan oleh para pedagang "Moor" di Perlak. Salah satu batu nisan muslim bertarikh pertama menyebut Malik al Salih sebagai penguasa zaman di bandar terdekat Samudera Pasai. Namun ada bukti mengenai komunitas-komunitas yang lebih awal dari barta di Lamreh.

Tempat penanda-penanda makam yang telah terkikis parah menunjukan adanya hubungan dengan India Selatan dan Cina Selatan. Diberitakan Kompas.com (23/3/2017)dari rekontruksi sejarah, arus utama tentang sejarah mula Islam Nusantara menyebutkan Samudera Pasai sebagai Kerajaan Islam pertama. Samudera Pasai merupakkan gabungan dua kerajaan Hindu, yakni Samudra dan Pasai dengan Raja Meurah Silue yang bergelar Malik as Salih (1267-1297).

Baca juga: Kerajaan Kutai: Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara Salah satu dokumen tertua tentang keberadaan Kerajaan Pasai ditulis di Vanesia, Italia, Marco Polo yang masih sempat bertemu dengan Sultan Malik as Salih (1292). Kesaksian etnografis Marco Polo tentang Pasai dan tujuh kerajaan lainnya di Sumatera memiliki kesan yang berbeda. Ia menyebutkan Pasai yang terbesar. Penyebutan Perlak adalah tempat yang ia jelahi. Selain dan Perlak yang muslim, kerajaan lain dikatakan masih menganut agama pagan.

(Sumber: Kompas.com/Krisiandi) Berita Terkait Lewat Munas dan Konbes Alim Ulama, PBNU Ingin Teguhkan Islam Nusantara 7 Perayaan Sambut Tahun Baru Islam di Nusantara, Kirab Pusaka hingga Ziarah di Gunung Lawu Kerajaan Demak, Kerajaan Islam Pertama dan Terbesar di Utara Jawa Samudera Pasai, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara Kerajaan Kutai: Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara Berita Terkait Lewat Munas dan Konbes Alim Ulama, PBNU Ingin Teguhkan Islam Nusantara 7 Perayaan Sambut Tahun Baru Islam di Nusantara, Kirab Pusaka hingga Ziarah di Gunung Lawu Kerajaan Demak, Kerajaan Islam Pertama dan Terbesar di Utara Jawa Samudera Pasai, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara Kerajaan Kutai: Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara
Gujarat sendiri merupakan salah satu nama tempat di wilayah India.

Dalam teori Gujarat, penyebaran Islam di Indonesia pertama kali dibawa oleh para pedagang Gujarat (India) pada abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Teori ini sendiri dikembangkan oleh sejarawan J.P Moquetta (1912). Menurutnya, teori Gujarat dapat dibuktikan melalui penemuan batu nisan di kerajaan Samudera Pasai yang mana ia percaya sebagai batu nisan yang berasal dari daerah Gujarat. Selain itu, masyarakat Indonesia juga dinilai lebih banyak mengikuti hazhab Syafi’I sama halnya dengan masyarakat Gujarat.

Selain teori Gujarat tadi, ada pula teori lain yang menyebutkan tentang awal mula masuknya agama Islam ke nusantara yakni teori Arab/Mekkah (berasal dari pedagang Arab) dan Persia (berasal dari para pedagang Persia) yang juga dinilai memiliki bukti-bukti sejarah.

Meskipun memiliki perbedaan teori yang menyebutkan tentang masuknya Islam ke Nusantara, namun ketiganya memiliki persamaan yakni berasal lewat jalur perdagangan. Dalam penyebaran Islam lewat perdagangan ini, para pedagang tersebut diperkirakan memanfaatkan jalur sutra dalam digunakan untuk rute perdagangan komoditas sutra dan rempah-rempah.

Jalur sutra sendiri merupakan sebuah rute perdagangan yang menghubungkan wilayah Tiongkok dengan wilayah Eropa. Jalur tersebut terbagi menjadi dua rute yakni rute darat dan rute laut yang panjangnya diperkirakan berkisar 6500 kilometer. Pada awal penyebaran Islam di Indonesia, wilayah-wilayah nusantara seperti daerah pesisir seperti SumateraJawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku merupakan daerah yang paling cepat menerima ajaran agama Islam.

Oleh sebab itu, dalam perkembangan agama Islam nusantara, daerah-daerah tadi termasuk ke dalam lokasi pusat berlangsungnya pemerintahan kerajaan Islam. (HAI)
Alohaaa ! Oke, kali ini saya akan menerangkan mengenai masuknya Islam serta penyebarannya di Indonesia.

Silakan disimak :v Teori Masuknya Islam Pengaruh hubungan dagang Asia kuno yang melibatkan Cina, India, Arab, dan Persia sangatlah besar terhadup masuknya Islam ke Indonesia. Bangsa-bangsa itu dapat saling mengenal budaya masing-maisng. Selain itu, banyak juga pedagang yang menetap dan menikah dengan penduduk setempat.

Dengan begitu, melalui pendekatan budaya Islam dapat dengan mudah menyebar di berbagai wilayah Indonesia. Dikatakan, ada dua jalur masuknya Islam ke Indonesia, yaitu Jalur Utara dengan rute : Arab (Mekkah dan Madinah), Damaskus, Bagdad, Gujarat (Pantai Barat India), Srilanka dan Indonesia dan Jalur Selatan dengan rute : Arab (Mekkah dan Madinah), Yaman, Gujarat, Srilanka, Indonesia. Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang masuknya Islam ke Indonesia, antara lain : Teori Gujarat Teori Gujarat adalah teori yang menyatakan bahwa Islam masuk di Indonesia berasal dari Gujarat, India.

Teori ini pertama kali dicetuskan oleh seorang penasehat di bidang bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam untuk pemerintah kolonial Belanda bernama Snouck Hurgronje yang mengambil pendapat dari Pijnapel, yaitu seorang pakar dari Universitas Leiden, Belanda yang sering meneliti artefak-artefak peninggalan Islam di Indonesia.

Menurut mereka, Islam masuk ke Indonesia sejak awal abad ke 13 Masehi bersama dengan hubungan dagang yang terjalin antara masyarakat Nusantara dengan para pedagang Gujarat yang datang.

Teori ini didukung oleh beberapa bukti. J.P. Moquette, yaitu seorang peneliti bentuk nisan kuburan raja-raja pasai, kuburan Sultan Malik Ash- Shalih, dan juga Nisan kuburan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur.

Adapun hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Nisan kuburan Maulana Malik Ibrahim di Gresik ternyata memiliki bentuk yang mirip dengan nisan-nisan kuburan yang berada di Cambay, Gurajat.

Selain itu, batu nisan Sultan Samudera Pasai Malik As-Saleh tahun 1297 juga bercorak khas Islam Gujarat, Bukti-bukti lainnya adalah catatan Marcopolo serta adanya warna tasawuf pada aliran Islam yang berkembang di Indonesia.Namun, teori ini juga mempunyai kelemahan. Pertama, masyarakat Gujarat mayoritas menganut mazhab Hanafi sedangkan masyarakat Samudra Pasai menganut mazhab Syafii.

Yang kedua, Gujarat masih merupakan Kerajaan Hindu ketika islamisasi Samudra Pasai. Teori Persia Hoesein Djajadiningrat merupakan pencetus teori Persia yang menyatakan bahwa Islam yang masuk di Indonesia pada abad ke 7 M adalah Islam yang dibawa kaum Syiah, Persia.Ada beberapa bukti yang mendukung teori ini, di antaranya kesamaan budaya Islam Persia dan Islam Nusantara (contoh : peringatan Asyura dan peringatan Tabut), kesamaan ajaran Sufi, penggunaan istilah persia untuk mengeja huruf Arab, kesamaan seni kaligrafi pada beberapa batu nisan, serta adanya pengaruh bahasa Persia yang ditemukan di beberapa tempat di Indonesia.

Selain itu, keberadaan Syeikh Siti Jenar dan Hamzah Fansuri dalam sejarah Indonesia menandakan adanya pengaruh ajaran wihdatul wujud Al-Hallaj, seorang Sufi yang berasal dari Persia. Dengan banyaknya bukti yang mendukung, sebagian ahli sejarah bahkan sempat menerima teori ini sebagai teori masuknya Islam ke Nusantara yang paling benar.

Akan tetapi, ternyata pada teori ini juga terdapat kelemahan. Teori ini mengatakan bahwa Islam masuk pada abad ke 7. Padahal kekuasaan Islam di Timur Tengah yang masih dalam genggaman Khalifah Umayyah di Damaskus, Baghdad, Mekkah, dan Madinah tidak memungkinkan bagi ulama Persia untuk melakukan penyebaran Islam secara besar-besaran ke Nusantara. Teori Arab atau Teori Makkah Teori Arab ini merupakan teori yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori Gujarat. Islam dibawa dan disebarkan oleh bangsa Arab sendiri.

Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa proses masuknya Islam di Indonesia berlangsung saat abad ke 7 karena pada abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya Islam ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya. dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.Tokoh yang mendukung teori ini adalah Van Leur, Anthony H.

Johns, T.W Arnold, dan Buya Hamka. Terdapat 3 bukti utama yang mendukung teori ini. Pertama, sejak tahun 674 di Pantai Timur Sumatera telah terdapat perkampungan Islam khas dinasti Ummayyah, Arab. Kemudian, madzhab yang popular saat itu terutama di Samudera Passai adalah madzhab Syafi’i yang juga populer di Arab dan Mesir. Yang ketiga, adanya penggunaan gelar Al-Malik pada raja-raja Samudera Pasai yang biasanya ditemui pada kebudaya Islam Mesir. Selain itu, menurut Hamka, orang-orang Arab sudah mampu berlayar mencapai Cina pada abad ke-7.

Dan Hamka meyakini bahwa para pelayar dari Arab juga sudah mulai singgah di Indonesia dalam perjalanan tersebut. Kelemahan teori ini hanyalah kurangnya fakta dan bukti yang menjelaskan peran Bangsa Arab dalam proses penyebaran Islam di Indonesia.

Oleh karena tu, teori Arab ini diaggap sebagai teori yang paling kuat. Teori China Slamet Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby sebagai pencetus teori China ini menyatakan bahwa Islam dibawa masuk ke Indonesia oleh musafir China. Selain itu, seorang pegawai Belanda pada masa kolonial Belanda, Poortman, juga menyimpulkan bahwa Islam dibawa dan disebarkan di Indonesia oleh orang-orang Cina yang bermahzab Hanafi.

Kesimpulan mengenai masuknya Islam ke Indonesia tersebut diperolehnya dari penelitian terhadap naskah Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Selain dari penelitian terhadap kedua naskah tersebut, Poortman juga melakukan penelitian terhadap naskah-naskah kuno Cina yang tersimpan di klenteng-klenteng Cina di Cirebon dan Semarang.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Teori China ini sendiri didasari pada beberapa bukti, yaitu adanya perpindahan orang-orang muslim China dari Canton ke Asia Tenggara, khususnya Palembang pada abad ke 879 M. Lalu, di Jawa juga ditemukan adanya masjid tua beraksitektur China. Raja pertama Demak pun merupakan keturunan China. Istilah China juga digunakan untuk menulis gelar raja-raja Demak. Selain itu, terdapat catatan China yang menyatakan bahwa para pedagang China merupakan yang pertama menduduki pelabuhan-pelabuhan di Nusantara.

Teori Maritim Teori Maritim menyatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari kemampuan umat Islam dalam menjelajah samudera. Namun teori ini tidak menjelaskan mengenai asal Islam yang berkembang di Indonesia tersebut. Teori ini hanya menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke 7 Masehi. Teori ini dicetuskan pertama kali oleh N.A.

Baloch. Dari penjelasan diatas terlihat adanya perbedaan pendapat tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia oleh berbagai tokoh dan peneliti. Dasar berpikir yang digunakan mereka dalam membangun pendapat itu berbeda, sudut pandang dan sumbernya bebeda.

Karena itulah perbedaan pendapat tersebut terjadi. Periodesasi masuknya Islam ke Indonesia Pada Abad ke-7 Dasarnya adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyebutkan bahwa pada tahun 675 M, utusan dari raja Arab muslim berkunjung ke Kalingga. Dan disebutkan pula bahwa koloni Arab Muslim di pantai timur Sumateratelah ada sejak tahun 648.

Selain itu, Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History menyatakan bahwa para pedagang muslim yang sedang melakukan perjalana ke China pada abad ke-7 M selalu singgah di Sumatera sehingga Islam bisa masuk ke Indonesia. Pada Abad ke-11 Dasarnya hanyalah ditemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya.

teori tiongkok menjelaskan bahwa masuknya ajaran islam di indonesia khususnya jawa berasal dari para perantau tiongkok yang melakukan transaksi perdagangan hal ini dapat dibuktikan dengan adanya

Pada makam itu ditemukan prasasti huruf Arab Riq’ah yang berangkat tahun 1082 M. Pada Abad Ke-13 Pendapat ini didasarkan pada catatan perjalanan Marcopolo.

Di catatanitu disebutkan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di Aceh, pada tahun 1292 M. Selain itu K.F.H. van Langen juga menyebutkan adanya kerajaan Pase (Pasai) di Aceh pada 1298 M.

Hal terbut ia dasarkan pada berita Cina. Saluran Dalam Proses Islamisasi di Indonesia Ketika Islam masuk ke Indonesia, banyak masyarakat yang memberikan respons positif terhadap agam Islam. Hal itu dikarenakan Islam masuk dengan damai dan tanpa ada konflik apapun. Banyak sekali bentuk Islamisasi yang terjadi di Indonesia. Berikut keterangan dan penjelasannya : Perdagangan Perdagangan ini menggunakan sarana pelayaran. Kesibukan lalu lintas dagang pada abad ke-7 M hingga ke-16 M menjadikan para pedagang muslim ikut berpartisipasi didalamnya.

Dalam Islam sendiri tidak ada pemisahan antara kegiatan berdagang dan kewajiban dakwah. Para raja dan bangsawan turut ambil bagian dalam proses penyebaran ini berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan para mullah dari tempat asal mereka sehingga jumlahnya semakin bertambah banyak.

Awalnya para pedagang muslim hanya berdatangan di pusat-pusat perdagangan dan di antaranya kemudian ada yang tinggal, baik untuk sementara waktu atauupun menetap. Tempat tinggal mereka lama-kelamaan berkembang menjadi perkampungan (Pekojan). Lingkungan mereka semakin luas dan terus berkembang hingga muncul kerajaan-kerajaan muslim. Perkawinan Para pedagang yang berdagangan dalam jangka waktu yang lama menyebabkan mereka banyak berinteraksi dengan penduduk setempat.

Perkawinan antara pedagang Muslim, mubalig dengan anak bangsawan Indonesia. Melalui perkawinan itu, otomatis orang Muslim tersebut status sosialnya dipertinggi dengan kebangsawanannya. Belum lagi bila pedagang Muslim menikah dengan putri raja. Keturunannya akan menjadi pejabat birokrasi, putra mahkota kerajaan dan sebagainya. Dibandingkan kebanyakan pribumi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik.

Sehingga banyak putri-putri bangsawan yang berminat untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Mereka akan diislamkan terlebih dahulu sebelum menikah.

Dengan adanya keturunan dari mereka, lingkungan mereka pun semakin luas. Hingga kemudian muncul kampung-kampung, daerah-daerah, dan kerajaan-keranaan Muslim. Selain itu, ada pula wanita Muslim yang menikah dengan keturunan bangsawan. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan karena dapat turut mempercepat proses Islamisasi.

Pendidikan Setelah para pedagang menguasai ekonomi di bandar-bandar seperti Sumatera dan daerah Pesisir utara Jawa. Mereka mengembangkan pusat-pusat perekonomian itu menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam. Ulama, guru atau kyai memegang peran sangat penting dalam dunia pendidikan. Mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan islam sebagai sarana penyebaran agama Islam melalui pendidikan. Di Aceh lembaga-lembaga pendidikan Islam mengambil bentuk yang beragam seperti meunasah, dayah dan rangkang.

Di Sumatera Barat dikenal lembaga pendidikan Islam surau. Di Kalimantan dikenal lembaga pendidikan Islam langgar. Sedangkan di Jawa dikenal pondok dan pesantren. Penduduk setempat diberi bekal segala ilmu agama oleh para ulama. Setelah itu, mereka akan disuruh pulang ke daerahnya dan diharuska menyebarkan ilmu yang telah diperoleh.

Tasawuf dan Tarekat Dalam proses Islamisasi tasawuf merupakan salah satu saluran yang penting. Pengajaran ini disesuaikan dengan alam dan pikiran penduduk setempat.

Para pedagang datang bersama dengan para ulama, da’i, dan sufi pengembara. Kemudian, para ulama atau sufi tersebut diangkat menjadi penasehat dan pejabat agama di kerajaan.

Para ahli tasawuf hidup ditengah masyarakat. Para guru terekat juga berperan penting dalam organisasi masyarakat kota-kota pelabuhan. Mereka mengajarkan ilmu tasawuf yang digabungkan dengan budaya yang sudah ada. Ajaran tasawuf yang dikembangkan berupa pemanfaatan kekuatan magis dan kemampuan menyembuhkan orang lain (atas izin Allah swt.). Ajaran mistik seperti ini masih berkembang di abad ke-19 bahkan hingga abad ke-21 ini.

Para sufi sendiri menyebarkan islam dengan dua cara, yaitu dengan membentuk kader mubalig agar mampu mengajarkan serta menyebarkan agama Islam di daerah asalnya dan juga melalui karya-karya tulis yang dapat tersebar diberbagai tempat. Kesenian Kesenian ini banyak dipakai dalam penyebaran Islam terutama di Jawa.

Seni kaligrafi, seni sastra sastra (hikayat, babad), dan lagu-lagu dolanan dibuat untuk menarik minat penduduk agar memeluk agama Islam. Seni ang paling terkenal adalah seni pertunjukan wayang.

Dimana semua tokoh-tokoh Hindu dalam pewayangan diubah namanya dengan istilah Islam. Hal inilah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi minta agar para penonton mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat.

Nah, itulah penjelasan mengenai perkembangan Islam di Indonesia yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat ! Mwehehe.

PT 8: APA ADA AGAMA DI TIONGKOK?




2022 www.videocon.com