Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

none Hak Cipta  dan Hak Penerbitan dilindungi Undang-undang Cetakan pertama, Agustus 2018 Penulis : Imas Masturoh, SKM., M.Kes. (Epid) Nauri Anggita T, SKM, M.KM Pengembang Desain Intruksional : Dr.

Rini Yayuk Priyati, S.E., M.Ec. Desain oleh Tim P2M2 : Kover & Ilustrasi : Tata Letak : Bangun Asmo Darmanto, S.Des. Nono Suwarno Jumlah Halaman 307 : DAFTAR ISI Halaman BAB I: KONSEP DASAR PENELITIAN . 1 Topik 1. Ilmu dan Penelitian . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .…………………………………………. Tes 1 .…………………………….……. 3 8 9 9 Topik 2. Perkembangan Penelitian di Bidang Kesehatan .

Latihan .……………………………………………. 11 15 Ringkasan .……………………………………. Tes 2 .….………………….……. 16 16 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF . GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA . 18 19 20 BAB II: PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN . 21 Topik 1. Masalah Penelitian . Latihan .…………………………………….………. Ringkasan .………………………………….………. Tes 1 .…………………………….……. 23 33 33 34 Topik 2. Tujuan Penelitian .

Latihan .……………………………………. 36 40 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan iii iv Ringkasan .…………………………………………. Tes 2 .…………………………….…….

41 41 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF . GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA . 43 44 45 BAB III: Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk PUSTAKA . 46 Topik 1. Landasan Teori . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .…………………………………………. Tes 1 .…………………………….……. 48 54 55 55 Topik 2. Penulisan Referensi . Latihan .………………………….………………. Ringkasan .…………………….……………………. Tes 2 .…………………………….…….

57 62 64 64 Topik 3. Plagiarisme . 66 Latihan .………………………….……………. Ringkasan .…………………….……………………. Tes 3 .…………………………….……. 71 72 72 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF . GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA . 76 77 78 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ BAB IV: KERANGKA KONSEP, VARIABEL, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL 79 Topik 1.

Kerangka Penelitian . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .…………………………………………. Tes 1 .…………………………….……. 81 84 85 85 Topik 2. Variabel . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .…………………………………………. Tes 2 .…………………………….……. 89 100 101 101 Topik 3. Hipotesis . 104 Latihan .…………………………………….………. Ringkasan .………………………………….………. Tes 3 .…………………………….……. 107 107 107 Topik 4. Definisi Operasional . Latihan .…………………………………….………. Ringkasan .………………………………….………. Tes 4 .……….………………….……. 111 116 116 117 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA . 121 123 124 BAB V: RANCANGAN ATAU DESAIN PENELITIAN . 125 Topik 1. Penelitian Kuantitatif . Latihan .……………………………………………. 127 144 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan v vi Ringkasan .………………………………………….

Tes 1 .…………………………….……. 145 146 Topik 2. Penelitian Kualitatif . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .…………………………………………. Tes 2 .…………………………….……. 150 154 156 156 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF . GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA .

159 160 161 BAB VI: POPULASI DAN SAMPEL . 162 Topik 1. Populasi dan Sampel . Latihan .…………………………………………….…. Ringkasan .…………………………………………. Tes 1 .…………………………….……. 164 170 171 171 Topik 2. Teknik Sampling . 175 Latihan .……………………………………………. Ringkasan .…………………………………………. Tes 2 .…………………………….……. 184 185 186 Topik 3. Besaran Sampel . Latihan .………………………………………….…. Ringkasan .…………………………………….……. 188 192 193 Tes 3 .…………………………….……. 193 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA . 197 198 199 BAB VII: PENGUMPULAN DATA . 200 Topik 1. Metode Pengumpulan Data . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .………………………………………….

Tes 1 .…………………………….……. 201 208 209 209 Topik 2. Pengembangan Alat Ukur . Latihan .……………………………………………. 212 225 Ringkasan .…………………………………………. Tes 2 .…………………………….……. 226 226 Topik 3. Etika Penelitian . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .………………………………………….

Tes 3 .…………………………….……. 230 235 235 236 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF . GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA . 239 240 241 BAB VIII: PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA . 242 Topik 1. Analisis Data Kuantitatif . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .………………………………………….

243 254 255 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan vii viii Tes 1 .…………………………….……. 255 Topik 2. Analisis Data Kualitatif . Latihan .……………………………………………. Ringkasan .…………………………………………. Tes 2 .…………………………….……. 258 261 262 262 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF .

GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA . 265 266 267 BAB IX: LAPORAN PENELITIAN DAN PUBLIKASI . 268 Topik 1. Fungsi Teks . Latihan.……………….……………………. Ringkasan .…………………………………………. Tes 1 .…………………………….……. 269 279 281 282 Topik 2. Publikasi Hasil Penelitian . Latihan .……………………………………………. 285 291 Ringkasan .…………………………………………. Tes 2 .…………………………….……. 292 292 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF . GLOSARIUM . DAFTAR PUSTAKA . 295 296 297 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Bab 1 KONSEP DASAR PENELITIAN Imas Masturoh, SKM., M.Kes (Epid) Pendahuluan P enelitian merupakan hal penting dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan.

Penelitian yang baik dapat mengembangkan khasanah keilmuan dalam rangkamemperoleh pengetahuan baru, fakta baru atau teori baru. Perkembangan zaman yang begitu cepat disertai dengan teknologi yang semakin tinggi menyebabkan terjadinya suatu ketimpangan atau ketidakseimbangan apabila tidak disertai dengan kemampuan sumber daya manusia yang memadai.

Dengansumber daya manusia yang handal, penuh dengan tanggung jawab, serta memiliki kemauan dan keingintahuan yang tinggi dalam mengembangkan pengetahuannya khususnya melalui sebuah penelitian, maka akan didapatkan suatu pengetahuan yang berkualitas karena telah melalui rangkaian yang kebenarannya telah teruji.

Penelitian yang telah teruji mempunyai peranan penting dalam membantu manusia untuk memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan baru. Tanpa adanya penelitian maka pengetahuan akan terhenti, tidak valid, dan akhirnya mengalami kemunduran.

Dalam melakukan sebuah penelitian seorang peneliti harus menggunakan metode yang dapat dimengerti serta dapat diikuti atau dapat diulang oleh peneliti lainnya sehingga menghasilkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kemampuan ilmiah yang harus dimiliki oleh mahasiswa yaitu berfikir ilmiah sebagai upaya dalam memecahkan masalah. Dalam berfikir ilmiah mahasiswa harus obyektif, rasional, terbuka dan selalu berorientasi pada kebenaran.

Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir yang baik serta metode ilmiah yang benar. Setelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan mampu untuk menjelaskan konsep dasar penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan. Selain itu secara khusus mahasiswa mampu menjelaskan tentang: ◼ Metode Penelitan Kesehatan 1 1.

2. 3. 4. 5. 2 Ilmu Pengetahuan dan Penelitian Tahapan dalam Metode Ilmiah Batasan Penelitian Kesehatan Tujuan Penelitian Kesehatan Manfaat Penelitian Kesehatan Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 1 Ilmu dan Penelitian A. ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN Ilmu pengetahuan adalah suatu pengetahuan yang sifatnya umum atau menyeluruh, memiliki metode yang logis dan terurai secara sistematis.

Sedangkan penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan secara terencana, penuh kehati-hatian dan teratur terhadap suatu objek atau subyek tertentu untuk memperoleh bukti, jawaban atau pengetahuan.

Pada dasarnya ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dengan penelitian. Penelitian yang baik didasari dengan ilmu pengetahuan, begitu pula sebaliknya. Dengan penelitian maka ilmu pengetahuan dapat dikembangkan. Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang karena manusia memilikikemampuan untuk berfikir dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tetapi, keingintahuan yang kompleks memerlukan suatu cara yang sistematis sehingga diperoleh suatu pengetahuan.

Kegiatan penyelidikan secara sistematis tersebut yang dinamakan penelitian. Menurut Almack dalam Notoatmodjo (2010), hubungan ilmu pengetahuan dan penelitian ini sebagai hasil dan prosesdimana penelitian sebagai prosesnya dan ilmu pengetahuan sebagai hasilnya. Dalam melaksanakan suatu penelitian sebaiknya dilakukan dengan cara ilmiah yaitu cara yang benar berdasarkan fakta serta empiris, objektif dan logis.

Kerlinger dalam Wibowo (2014)mengutarakan empat cara untuk memperoleh pengetahuan: 1. Metode keteguhan (Method of tenacity), yaitu berpegang teguh pada pendapat yang sudah diyakini kebenarannya sejak lama. 2. Metode otoritas(Method of authority), yaitu merujuk pada pernyataan para ahli atau 3.

4. yang memiliki otoritas. Metode Intuisi(Method of intuition), yaitu berdasarkan keyakinan yang kebenarannya dianggap terbukti dengan sendirinya atau tidak perlu pembuktian lagi. Metode Ilmiah (Method of science), yaitu berdasarkan kaidah keilmuan, sehingga walaupun dilakukan oleh orang yang berbeda-beda namun dapat menghasilkan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk yang sama.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 3 Sedangkan Notoatmodjo(2014) membagi ke dalam 2 bagianbesar cara untuk meperoleh pengetahuan yaitu: 1. Cara Non Ilmiah atau Tradisional Cara yang biasa dilakukan oleh manusia saat sebelum ditemukan cara dengan metode ilmiah. Cara ini dilakukan oleh manusia pada zaman dulu kala dalam rangka memecahkan masalah termasuk dalam menemukan teori atau pengetahuan baru.

Cara-cara tersebut yaitu melalui: cara coba salah (trial and error), secara kebetulan, cara kekuasaan atau otoritas, pengalaman pribadi, cara akal sehat, kebenaran melalui wahyu, kebenaran secara intuitif, melalui jalan pikiran, induksi dan deduksi. 2. Cara Ilmiah atau Modern Cara ilmiah ini dilakukan melalui cara-cara yang sistematis, logis dan ilmiah dalam bentuk metode penelitian.

Penelitian dilaksanakan melalui uji coba terlebih dahulu sehingga instrumen yang digunakan valid dan reliabel dan hasil penelitiannya dapat digeneralisasikan pada populasi. Kebenaran atau pengetahuan yang diperoleh betul-betul dapat dipertanggungjawabkan karena telah melalui serangkaian proses yang ilmiah. Peneliti dalam melaksanakan penelitiannya harus menjujung tinggi etika dan moral dan mengedepankan kejujuran.

Hasil penelitian harus dilaporkan apa adanya, tidak boleh memutarbalikkan fakta penelitian agar sesuai keinginan atau merekayasa hasil uji statistik sesuai dengan keinginan atau kepentingan tertentu. Selain menjunjung etika dan moral, seorang peneliti harus memahami landasan ilmu, yaitu pondasi atau dasar tempat berpijaknya keilmuan.

Tiga landasan ilmu filsafat tersebut merupakan masalah yang paling fundamental dalam kehidupan karena memberikan sebuah kerangka berpikir yang sangat sistematis. Ketiganya merupakan proses berpikir yang diawali dengan pembahasan “Apa itu pengetahuan?”, “Bagaimana mendapatkan pengetahuan?”, dan “Untuk apa pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari?”.

Pada dasarnya semua ilmu pengetahuan tidak terlepas dari tiga problem filosofis tersebut (ontologis, epistemologis dan aksiologis). Artinya semua ilmu pengetahuan pasti berbicara tentang apa yang menjadi objek kajiannya, bagaimana cara mengetahuinya dan apa manfaatnya buat kehidupan manusia.

Oleh sebab itu, maka jelas bahwa ilmu dan penelitian merupakan hal yang berkaitan untuk memperoleh suatu pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2014) bahwa pengetahuan adalah hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Pengetahuan tiap orang akan berbeda-beda tergantung dari bagaimana penginderaannya masing-masing terhadap objek atau sesuatu.

Secara garis besar terdapat 6 tingkatan pengetahuan (Notoatmodjo, 2014), yaitu: 4 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ a. Tahu (know) Pengetahuan yang dimiliki baru sebatas berupa mengingat kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya, sehingga tingkatan pengetahuan pada tahap ini merupakan tingkatan yang paling rendah.

Kemampuan pengetahuan pada tingkatan ini adalah seperti menguraikan, menyebutkan, mendefinisikan, menyatakan. Contoh tahapan ini antara lain: menyebutkan definisi pengetahuan, menyebutkan definisi rekam medis, atau menguraikan tanda dan gejala suatu penyakit.

b. Memahami (comprehension) Pengetahuan yang dimiliki pada tahap ini dapat diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan tentang objek atau sesuatu dengan benar. Seseorang yang telah faham tentang pelajaran atau materi yang telah diberikan dapat menjelaskan, menyimpulkan, dan menginterpretasikan objek atau sesuatu yang telah dipelajarinya tersebut.

Contohnya dapat menjelaskan tentang pentingnya dokumen rekam medis. c. Aplikasi (application) Pengetahuan yang dimiliki pada tahap ini yaitu dapat mengaplikasikan atau menerapkan materi yang telah dipelajarinya pada situasi kondisi nyata atau sebenarnya.

Misalnya melakukan assembling (merakit) dokumen rekam medis atau melakukan kegiatan pelayanan pendaftaran. d. Analisis (analysis) Kemampuan menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen yang ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis yang dimiliki seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), memisahkan dan mengelompokkan, membedakan atau membandingkan.

Contoh tahap ini adalah menganalisis dan membandingkan kelengkapan dokumen rekam medis menurut metode Huffman dan metode Hatta. e. Sintesis (synthesis) Pengetahuan yang dimiliki adalah kemampuan seseorang dalam mengaitkan berbagai elemen atau unsur pengetahuan yang ada menjadi suatu pola baru yang lebih menyeluruh.

Kemampuan sintesis ini seperti menyusun, merencanakan, mengkategorikan, mendesain, dan menciptakan. Contohnya membuat desain form rekam medis dan menyusun alur rawat jalan atau rawat inap. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 5 f. Evaluasi (evalution) Pengetahuan yang dimiliki pada tahap ini berupa kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Evaluasi dapat digambarkan sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif keputusan. Tahapan pengetahuan tersebut menggambarkan tingkatan pengetahuan yang dimiliki seseorang setelah melalui berbagai proses seperti mencari, bertanya, mempelajari atau berdasarkan pengalaman. B. TAHAPAN DALAM METODE ILMIAH Metode ilmiah merupakan hasil sintesis dari proses berfikir ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahan masalahnya melalui kajian data empiris dalam suatu langkah-langkah kegiatan ilmiah atau penelitian.

Proses tersebut dilakukan secara sistematis dan terkontrol melalui tahapan-tahapan berikut: ▪ Menemukan masalah penelitian yang mendorong untuk dicari pemecahan atau ▪ ▪ ▪ ▪ solusinya. Ide masalah dapat ditemukan dari fakta-fakta di lapangan yang tidak sesuai dengan teori atau terdapat kesenjangan antara teori dengan kenyataan di lapangan. Menyusun kerangka permasalahan dalam bentuk rumusan masalah yang jelas batasannya. Masalah yang telah ditemukan dan didukung dengan fakta atau data terkait.

Selain dengan melakukan observasi dapat juga dilakukan studi pendahuluan untuk mendapatkan data atau fakta yang sesuai dengan masalahnya. Menyusun pemecahan masalah dalam bentuk dugaan sementara yang disebut hipotesis. Hipotesis digunakan untuk mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti yang sifatnya masih praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya melalui uji statistik.

Melakukan pengujian terhadap hipotesis yang telah diajukan. Hasilnya ada dua kemungkinan yaitu hipotesis diterima atau ditolak. Merumuskan pemecahan masalah berdasarkan hasil uji hipotesis. Tahapan penelitian sebagai implementasi dari metode ilmiah, secara detail dapat digambarkan sebagai berikut: ▪ Menguraikan masalah penelitian dalam latar belakang penelitian, kemudian dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan penelitian. Selanjutnya menyusun tujuan penelitian mengacu pada uraian dan rumusan masalah pada latar belakang penelitian tersebut.

6 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Melakukan telaah pustaka dengan mencari teori dan materi-materi terkait topik penelitian serta menyusunnya ke dalam tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka disusun sebagai landasan penyusunan kerangka teori dan kerangka konsep penelitian. Pada penelitian kuantitatif perlu disusun hipotesis sebagai dugaan sementara yang nanti akan dibuktikan kebenarannya melalui uji statistik Menentukan desain penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian Menentukan populasi dan sampel, cara pemilihan sampel, serta menghitung besar sampel.

Menyusun instrumen penelitian dan cara pengumpulan data Menentukan variabel penelitian, definisi operasional, cara ukur, skala ukur, dan hasil ukur variabel penelitian. Menyusun jadwal dari mulai tahap persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan, serta penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk biaya penelitian yang diperlukan selama penelitian.

Mempersiapkan teknis administrasi seperti mengurus perizinan ke kesbangpol dan dinas terkait Melaksanakan penelitian dalam tahap pengumpulan data baik melalui wawancara ataupun melalui observasi sesuai dengan perencanaan Melaksanakan pengolahan dan analisis data data yang telah dikumpulkan Menyusun hasil dan pembahasan penelitian dalam laporan akhir penelitian Melakukan desiminasi penelitian melalui forum seminar hasil penelitian dan publikasi ilmiah ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 7 Secara garis besar, tahapan penelitian digambarkan dalam skema dibawah ini: Teori Kesenjangan Data/fakta empiris Fakta Perumusan Masalah Tujuan Tinjauan Pustaka Kerangka Teori KerangkaKonsep Hipotesis Metodologi Penelitian Hasil dan Pembahasan Generalisasi Kesimpulan dan Saran Sumber: Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis (Sastroasmoro S, 2014) Gambar.

1.1 Tahapan Penelitian Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) 2) Jelaskan tiga landasan keilmuan yang menjadi landasan dalam berfikir ilmiah! Jelaskanenam tingkatan pengetahuan dalam tugas anda sebagai perekam medis! Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu Anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka silahkan untuk mempelajari kembali tentang Ilmu Pengetahuan dan Penelitian.

8 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 1) 2) Uraikan tentang tiga landasan keilmuan danberikan contoh penerapannya dalam salah satu tugas anda sebagai perekam medis.

Uraikan implementasi tugas seorang perekam medis dalam tiap tingkatan pengetahuan. Ringkasan 1. 2. 3. 4. Ilmu dan penelitian saling berhubungan dalam memperoleh suatu pengetahuan, karena ilmu merupakan hasil dan penelitian merupakan prosesnya.

Cara memperoleh pengetahuan terdapat 4 metode yaitu metode keteguhan, metode otoritas, metode intuisi dan metode ilmiah. Terdapat tiga landasan ilmu sebagai dasar berpikir ilmiah yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiganya memberikan sebuah kerangka berpikir yang sistematis dalam memperoleh suatu pengetahuan.

Pengetahuan yang terbentuk pada seseorang terdapat 6 tingkatan yaitu: tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application), analisa (analysis), sintesis (synthesis) dan evaluasi (evalution).

Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Di bawah ini yang merupakan penerapan contoh cara memperoleh pengetahuan melalui metode otoritas(method of authority) adalah seorang . A. mengandalkan kecocokan nalarnya dalam mengerjakan sesuatu B. C. D. 2) mahasiswa melaksanakan penelitian studi kasus di rumah sakit tempat praktik lapangan petugas bekerja berdasarkan pada kebiasaan yang terjadi di lingkungannya bukan merujuk pada aturan yang berlaku perekam medis menganalisis kelengkapan dokumen rekam medis merujuk pada metode Huffman Penelitian sejenis yang pernah dilakukan beberapa kali oleh orang yang berbeda-beda dan pada tahun pelaksanaan yang berbeda, namun memperoleh hasil kesimpulan yang sama.

Maka hal tersebut merupakan cara memperoleh pengetahuan melalui metode . A. intuisi B. ilmiah ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 9 C. D. 3) Mahasiswa yang mencari jawaban terhadap pertanyaan bagaimana cara melakukan kodefikasi yang benar menunjukkan cara berfikir ilmiah berdasarkan landasan ilmu .

A. Ontologi B. Epistemologi C. Aksiologi D. 4) 10 Aksiologi Tenacity Seorang petugas rekam medis mampu menghitung kebutuhan rak dan luas ruangan yang dibutuhkan untuk 5 tahun ke depan dan membuat usulannya kepada pimpinan. Kemampuan pengetahuan yang dimiliki oleh petugas tersebut adalah kemamouan . A. aplikasi (application) B. analisis (analysis) C.

sintesis (synthesis) D. 6) Tenacity Pelaksanaan retensi dokumen rekam medis di rumah sakit seringkali terabaikan dikarenakan pihak manajemen belum mengetahui manfaat retensi sehingga dokumen menumpuk di tempat yang tidak memadai dengan kondisi yang memprihatinkan.

Maka pihak manajemen dalam hal ini belum menunjukkan cara berfikir ilmiah berdasarkan . A. Ontologi B. Epistemologi C. D. 5) keteguhan otoritas evaluasi (evalution) Tugas perekam medis yang termasuk ke dalam tingkatan pengetahuan sintesis adalah . A. membuat desain formulir rekam medis rawat inap B. menilai kelengkapan dokumen rekam medis secara kuantitatif C. menyusun atau merakit dokumen rekam medis D. menjelaskan tentang analisis kuantitatif dan kualitatif Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 2 Perkembangan Penelitian di Bidang Kesehatan A.

BATASAN PENELITIAN KESEHATAN Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu upaya penyelidikan secara sistematis, logis dan ilmiah untuk memecahkan masalah. Manusia sepanjang hidupnya tidak lepas dari berbagai permasalahan hidup. Masalah-masalah tersebut dapat dikelompokkan dalam berbagai bidang kehidupan antara lain keagamaan, politik, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain. Terkadang bidang pengetahuan yang satu dapat mempengaruhi bidang pengetahuan lainnya.

Sebagai contoh kehidupan politik dapat mempengaruhi kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat. Komitmen dan keputusan politik tertentu dapat menentukan naik dan turunnya harga kebutuhan pokok masyarakat. Bagi masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah akan berdampak dalam pemenuhan kebutuhan sehari-harinya.Bila kebutuhan sehari-harinya terganggu maka kebutuhan lainnya terganggu, termasuk pemenuhan konsumsi makanan sehat dan bergizi yang pada akhirnya dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Era globalisasi dan mobilisasi penduduk dari luar kota, luar jawa, bahkan luar negeri atau sebaliknya akan mempermudah akses transfernya berbagai penyakit dan perilaku serta ditambah dengan cuaca sebagai dampak global warming dan kemajuan teknologi yang menyebabkan perubahan gaya hidup sehari-harimenambah daftar meningkatnya permasalahan kesehatan.

Belum tuntas masalah penyakit menular, saat ini bertambah dengan meluasnya penyakit tidak menular, sehingga menambah beban masyarat itu sendiri dan pemerintah. Penelitian kesehatan dilakukan dalam rangka mengatasi dan memecahkan masalahmasalah di bidang kesehatan dengan berbagai pengaruh dan dampak yang ditimbulkannya seperti yang telah dipaparkan diatas. Penelitian kesehatan memiliki dua sasaran yaitu yang pertama untuk memecahkan masalah kesehatan individu yang sedang mengalami masalah kesehatan atau sedang sakit.

Yang kedua berorientasi pada kesehatan kelompok atau masyarakat yang sehat supaya dapat mempertahankan dan memelihara kesehatannya agar tetap sehat. Secara umum, ruang lingkup penelitian di bidang kesehatan tidak terlepas dari upaya pemecahan masalah dalam bidang preventif dan promotif serta kuratif dan rehabilitatif. Penelitian kesehatan dapat digambarkan dalam skema berikut: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 11 Penelitian Kesehatan Ruang lingkup Preventif Promotif Masyarakat yang Sehat Kuratif Rehabilitatif Orang yang sakit sasaran Gambar 1.2 Penelitian Kesehatan Upaya pemecahan masalah kesehatan dilakukan oleh tenaga-tenaga kesehatan yang kompeten di bidangnya.

Berdasarkan Undang-Undang No.36 Tahun 2014, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tenaga kesehatan yang dimaksud antara lain: tenaga medis, psikologi klinis, keperawatan, kebidanan, kefarmasian, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, gizi, keterapian fisik, keteknisian medis, teknik biomedika, rekam medis, dan tenaga kesehatan lainnya.

Tenaga kesehatan bekerja di berbagai fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit. Rumah sakit dalam penyelenggaraannya wajib mengadakan rekam medis termasuk di dalamnya pengisian rekam medis yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Berdasarkan Permenkes No.55 tahun 2013, tenaga kesehatan yang kompeten di bidang rekam medis adalah petugas rekam medis. Petugas rekam medis atau professional manajemen informasi kesehatan wajib berupaya untuk memastikan pendokumentasian dilakukan dengan baik, pengkodean dilakukan dengan benar, penyampaian informasi kesehatan dengan prosedur yang sah, mengolah data rekam medis dengan baik, memanfaatkan data rekam medis untuk kepentingan pengendalian mutu layanan kesehatan, dan penyelenggaraan elektronik rekam medis serta menjaga aspek kerahasiaan.

Kebutuhan bidang rekam medis saat ini berkembang pesat seiring dengan berkembangnya era Jaminan Kesehatan Nasional atau lebih tepatnya dikenal dengan BPJS yaitu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang mulai beroperasi secara resmi pada tanggal 1 Januari 2014. Jika sebelumnya jaminan kesehatan hanya dimiliki oleh elemen masyarakat tertentu dalam bentuk asuransi kesehatan (Askes), saat ini jaminan kesehatan dapat dimiliki 12 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ oleh semua lapisan masyarakat.

Hal ini berdampak pada proses pelayanan di semua fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan jaminan kesehatan khususnya BPJS. Tentunya banyak permasalahan-permasalahan yang muncul mulai dari masalah pembiayaan, kemitraan dengan berbagai tenaga kesehatan lainnya yang berperan dalam pengisian dokumen rekam medis, percepatan verifikasi dan proses klaim yang berimbas terhadap keberlangsungan hidup sebuah fasilitas kesehatan bila mengalami kerugian atau sebaliknya BPJS itu sendiri yang mengalami kerugian, sehingga diperlukan upaya-upaya pemecahan masalah melalui metode yang sistematis, terus menerus dan ilmiah agar dapat memberikan solusi dan meningkatkan perbaikan kebijakan yang berkeadilan dan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi semua pihak.

B. TUJUAN PENELITIAN KESEHATAN Tujuan penelitian kesehatan merupakan acuan dalam melaksanakan penelitian kesehatan. Hal ini berkaitan dengan jenis penelitian yang akan dilakukan serta batasan dalam penelitian kesehatan. Berdasarkan jenis penelitiannya, penelitian yang dilakukan terbagi ke dalam dua kelompok yaitu kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif lebih menekankan pada hasil berupa angka dengan analisis menggunakan uji statistik. Sementara penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak diperoleh dengan prosedur statistik dan dapat menjawab/menggali tentang alasan atau pertanyaan mengapa.

Berdasarkan batasan penelitian kesehatan maka secara umum ruang lingkup penelitian kesehatan meliputi preventif dan promotif serta kuratif dan rehabilitatif. Langkah preventif dan promotif di bidang rekam medis misalnya dengan melakukan langkah pencegahan dan sosialisasi tentang potensi fraud dalam penggunaan kartu identitas berobat, kartu asuransi dan lain-lain kepada masyarakat ataupun petugas bagian pendaftaran.

Sedangkan pada kuratif dan rehabilitatif, misalnya penelitian dalam bentuk menganalisis perancangan desain formulir dokumen rekam medis yang diperlukan di bagian rawat jalan, rawat inap ataupun di unit lainnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kekhususannya sehingga penggunaan formulir benar-benar efisien dan efektif. Mengidentifikasi dan menganalisis kelengkapan dokumen rekam medis pada kasus/penyakit tertentu baik dengan menggunakan metode Huffman maupun metode Hatta.

Upaya evaluasi melalui penelitian di bidang rekam medis diharapkan dapat menjaga dan meningkatkan mutu layanan kesehatan secara keseluruhan. Dengan mengevaluasi dokumen rekam medis sebagai tupoksi seorang praktisi rekam medis sekaligus dapat mengevaluasi kinerja tenaga kesehatan lainnya seperti dokter, perawat, tenaga kefarmasian, atau tenaga analis laboratorium, karena merekalah yang mengisi dokumen rekam medis sebagai bukti dalam pelayanannya.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 13 a. b. c. d. Tujuan penelitian di bidang rekam medis antara lain: Menemukan atau membuktikan fakta lama ataupun baru di bidang rekam medis dan informasi kesehatan Menganalisis atau melakukan uji hubungan atau interaksi antara fakta-fakta yang ditemukan di bidangrekam medis dan informasi kesehatan Menjelaskan fakta-fakta yang ditemukan dibandingkan dengan teori dan hasil penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk sebelumnya yang sejenis di bidangrekam medis dan informasi kesehatan Mengembangkan alat, teori atau konsep dan memberikan pemecahan masalahatau alternatif solusi terkait dengan kebijakan dibidangrekam medis dan informasi kesehatan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan dari mulai pasien masuk hingga pulang termasuk proses pembiayaan/ klaim BPJS.

C. MANFAAT PENELITIAN KESEHATAN Penelitian dalam bidang kesehatan sangat bermanfaat bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Penelitian di bidang kesehatan dapat memberikan informasi tentang paparan atau faktor-faktor penyebab terjadinya suatu kasus/penyakit, informasi tentang halhal yang dapat mencegah terjadinya suatu penyakit hingga hal-hal yang dapat menanggulangi ataupun mengobati suatu penyakit. Manusia yang sehat dapat melakukan berbagai aktifitas yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat sekitarnya seperti bekerja, sekolah, kerja bakti, beribadah, dan lainlain.

Begitu pula sebaliknya, bila sakit maka keseimbangan dalam rumah tangga atau suatu organisasi juga akan terganggu karena tidak dapat melakukan aktifitas sebagaimana biasanya atau bahkan dapat menjadi beban bagi keluarga ataupun orang lain. Selain itu juga dapat menimbulkan masalah ekonomi karena ada biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat.

1. 2. 14 Secara umum manfaat penelitian di bidang kesehatan antara lain sebagai berikut: Hasil penelitian dapat digunakan untuk mendeskripsikan status kesehatan individu, kelompok dan masyarakat. Di bidang rekam medis antara lain dapat digunakan untuk mendeskripsikan pasien dengan diagnosis tertentu dari mulai pencatatan tanda dan gejala hingga penentuan kodefikasi yang tepat, mendeskripsikan mutu pelayanan kesehatan mengacu pada standar pelayanan minimal di pelayanan kesehatan, mendeskripsikan angka morbiditas dan mortalitas, mendeskripsikan kebutuhan sumber daya manusia, dan lain-lain.

Hasil penelitian dapat menggambarkan potensi kemampuan sumber daya baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya dalam mendukung pengembangan kesehatan. Di bidang rekam medis, hasil penelitian dapat menggambarkan Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 3. 4. 5. penyelenggaraan rekam medis dan ketersediaan data yang lengkap dan akurat dalam rangka menunjang, menjaga dan meningkatkan mutu pelayananan kesehatan Hasil penelitian dapat digunakan untuk memecahkan masalah dan memberikan alternatif solusi terkait dengan penyebab masalah kesehatan atau kendala lainnya yang terjadi dalam sistem pelayanan kesehatan.

Di bidang rekam medis, hasil penelitian dapat memberikan data secara keseluruhan baik data pasien maupun gambaran kinerja tenaga kesehatan yang terlibat di pelayanan kesehatan, sehingga dapat memberikan informasi penyebab atau kendala dan alternatif solusinya. Hasil penelitian dapat digunakan untuk melakukan tindak lanjut berupa pengambilan keputusan atau kebijakan pengembangan kesehatan.

Di bidang rekam medis, hasil penelitian sangat erat kaitannya dengan penyediaan data sebagai dasar dalam pengambilan keputusan kebijakan di tingkat top manajemen. Hasil penelitian dapat menggambarkan secara kuantitas dan kualitas keadaan suatu pelayanan kesehatan dari segi pembiayaan, sarana prasarana dan ketenagaan. Di bidang rekam medis, hasil penelitian tentang analisis beban kerja dan ketenagaan (SDM), ketersediaan formulir dokumen rekam medis, ketersediaan data dan penentuan kodefikasi dalam proses pembiayaan atau klaim.

Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) Jelaskan batasan penelitian di bidang rekam medis! 2) Jelaskan tujuanpenelitian di bidang rekam medis! Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka silahkan untuk mempelajari kembali tentang batasan dan tujuan penelitian kesehatan. 1) Uraikan batasan penelitian kesehatan menurut ruang lingkup dan sasaran dikaitkan dengan bidang rekam medis 2) Uraikan tujuan penelitian kesehatan dikaitkan denganbidang rekam medis ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 15 Ringkasan 1.

2. 3. 4. Penelitian kesehatan dilakukan dalam rangka mengatasi dan memecahkan masalahmasalah di bidang kesehatan. Penelitian kesehatan memiliki dua sasaran yaitu yang pertama untuk memecahkan masalah kesehatan individu yang sedang mengalami masalah kesehatan atau sedang sakit, yang kedua kesehatan kelompok atau masyarakat yang sehat. Ruang lingkup penelitian kesehatan terdiri dari: bidang preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Dalam bidang rekam medis wajib berupaya untuk memastikan pendokumentasian dengan baik, pengkodean dilakukan dengan benar, penyampaian informasi kesehatan dengan prosedur yang sah, mengolah data rekam medis dengan baik danpemanfaatan data rekam medis untuk kepentingan pengendalian mutu.

Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Penelitian dengan melakukan sosialisasi tentang penggunaan kartu identitas berobat yang benar pada masyarakat dan selanjutnya dilakukan posttest untuk menilai sejauhmana pengetahuan masyarakat tersebut.

Hal ini termasuk ke dalam ruang lingkup penelitian kesehatan …. A. preventif B. promotif C. D. 2) Di bawah ini yang merupakan contoh penerapan tujuan penelitian kesehatan berdasarkan ruang lingkup preventif adalah …. A. upaya imunisasi massal vaksin filariasis di kota Bekasi B. sosialisasi tentang sistem rujukan BPJS pada pengunjung rumah sakit C. mengidentifikasi kelengkapan dokumen rekam medis pada pasien rawat inap kasus stroke D. 16 kuratif rehabilitatif upaya pemulihan penderita pasca stroke melalui latihan fisioterapi secara teratur Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 3) Batasan penelitian kesehatan berdasarkan sasaran terdiri dari ….

A. preventif dan promotif B. kuratif dan rehabilitatif C. individu sakit dan kelompok sehat D. penyakit menular dan tidak menular 4) Hasil penelitian di bidang rekam medis sangat erat dengan… A. penyediaan data sebagai dasar dalam pengambilan keputusan kebijakan oleh B.

C. D. pimpinan pelayanan pengobatan pada pasien rawat inap dan rawat jalan di rumah sakit penyediaan sarana prasarana dalam kegiatan pelayanan di rumah sakit pelayanan penyediaan data penerimaan dan pengeluaran obat – obatan di rumah sakit ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 17 Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) D 2) B 3) B 4) C 5) 6) D A Tes 2 1) B 2) A 3) 4) 18 C A Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Glosarium BPJS Empiris Fraud Generalisasi Kesbangpol : : : : : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial suatu sumber pengetahuan yang diperoleh dari observasi atau percobaan Kecurangan membentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu kejadian/hal kesatuan bangsa dan politik Klaim Kuratif : tuntutanatas sesuatu : suatu kegiatan / serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengendalian penyakit agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin Preventif : suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit Promotif : suatu rangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan Rehabilitatif : usaha pemulihan pada keadaan sebelumnya ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 19 Daftar Pustaka Notoatmodjo, S.

(2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. (2014). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.

Edisi revisi. Jakarta: Rineka Cipta. Riyanto, A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.Bantul: Nuha Medika. Sastroasmoro, S dan Ismael, S. (2014). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.

Edisi ke – 5. Jakarta: Binarupa Aksara. Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Wibowo, A. (2014). Metodologi Penelitian Praktis Bidang Kesehatan.

Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. 20 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Bab 2 PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN Imas Masturoh, SKM., M .Kes (Epid) Pendahuluan P enelitian dilakukan berawal dari adanya sebuah permasalahan. Tanpa adanya permasalahan maka suatu penelitian tidak dapat dilakukan, karena tidak ada masalah yang harus dipecahkan atau dicari jawabannya.Kesulitan pertama yang dirasakan oleh mahasiswa dalam penelitian adalah menentukan masalah.Banyak masalah yang ditemukan mahasiswa kesehatan termasuk mahasiswa rekam medis pada saat melakukan praktikum di lahan praktik baik di puskesmas ataupun di rumah sakit, namun kebingungan menentukan masalah yang layak untuk diangkat ke dalam penelitian.

Hal ini karena mahasiswa yang akanmelakukan penelitian belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah yang akan diteliti, minat dan kepekaan sebagai seorang peneliti. Untuk lebih memudahkan dalam menentukan masalah penelitian antara lain dengan memperbanyak membaca buku-buku ataupun jurnal-jurnal penelitian terkait dengan topik yang diminatinya.

Praktisi atau profesi tertentu, akademisi dan pengalaman seseorang juga dapat meningkatkan kepekaan seseorang dalam menentukan masalah penelitian.Seseorang yang concern dalam menekuni bidang keahlian tertentu, yang telah mengikuti pendidikan tinggi pada disiplin ilmu tertentu dan yang mempunyai pengalaman atau praktisi di bidang terntentu tentunya akan semakin peka dalam mengetahui permasalahan di bidang yang digelutinya tersebut.

Dengan permasalahan yang penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk dengan disiplin ilmunya masing-masing, maka setiap orang akan berusaha memecahkan permasalahannya tersebut sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa mampu untuk membuat rumusan masalah penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan. Selain itu secara khusus mahasiswa mampu membuat dan merumuskan: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 21 1. 2. 3. 4. 5. 22 Rumusan masalah Judul Penulisan latar belakang Tujuan Manfaat Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 1 Masalah Penelitian A.

RUMUSAN MASALAH Masalah adalah suatu kesenjangan (gap) antara teori dan kenyataan atau perbedaan antara teori dengan prakteknya. Masalah ini biasanya muncul dan ditemukan oleh mahasiswa pada saat melakukan praktikum di lahan praktik. Berbekal pengetahuan melalui praktik yang telah dipelajari sebelumnya, namun terkadang kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya. Sebenarnya kesenjangan tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa tapi oleh semua orang yang berkecimpung dalam dunia akademik maupun praktisi di dunia kerja.

Untuk mengatasi kesenjangan yang dirasakan oleh seseorang yang berkecimpung baik di dunia akademisi maupun praktisi, maka perlu dirumuskan dan ditentukan terlebih dahulu masalah apa yang layak diangkat untuk dicari jawabannya melalui sebuah penelitian. 1. Sumber Masalah Penelitian Masalah penelitian dapat dikembangkan dari berbagai sumber, antara lain: a. Kepustakaan berupa buku teks atau bahan ajar, jurnal ilmiah, dan lain-lain. Hasil temuan ataupun teori dinyatakan dengan jelas dan terperinci baik perbedaan maupun persamaannya dengan hasil-hasil temuan terdahulu dan saat ini.

Hal-hal yang masih bertentangan dari temuannya tersebut dapat dijadikan sumber masalah pada penelitian yang akan dilakukan. Selain itu, rekomendasi hasil-hasil penelitian dari jurnal atau laporan penelitian juga dapat dikembangkan untuk penelitian selanjutnya. b. c. Pengalaman sendiri ataupun orang lainyang merasakan adanya suatu permasalahan sewaktu melakukan praktik ataupun dalam pekerjaan sehari-hari.

Setiap orang mungkin memiliki pengalaman yang sama ataupun berbeda saat praktik, tergantung dari temuan masalah, sudut pandang serta kelimuannya masing-masing. Seorang yang professional atau memiliki pengetahuan yang cukup dan sesuai bidangnya akan dapat mengidentifikasi masalah dari pengalamannya tersebut.

Seminar-seminar yang diselenggarakan oleh organisasi profesi ataupun akademisi yang menyajikan topik-topik terkini di bidangnya dapat dijadikan sumber inspirasi dalam menemukan masalah penelitian. Pada saat sesi diskusi biasanya banyak peserta yang bertanya tentang masalah-masalah yang terkait dengan pekerjaannya masing-masing.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 23 d. e. Pendapat para ahli yang sifatnya masih spekulatif. Walaupun demikian, tentunya ada dasarnya mengapa para ahli mengemukakan pendapat tertentu. Hal ini dapat dikembangkan dan dicari landasan teorinya dan dikembangkan dalam sebuah penelitian. Berita terkini melalui surat kabar atau televisi bahkan dari internet, misalnya tentang peningkatan jumlah penderita penyakit tertentu yang sangat pesat yang menimbulkan wabah atau adanya temuan penyakit langka.

2. Langkah-langkah Menemukan Masalah Penelitian Langkah-langkah dalam menemukan dan menentukan masalah penelitian adalah sebagai berikut: a. Menentukan Area Penelitian Area penelitian merupakan bidang ilmu atau pekerjaan yang selama ini digeluti dan dapat dijadikan patokan dalam menentukan masalah penelitian.Area penelitian menjadi batasan dalam sebuah penelitian sehingga kajiannya lebih fokus dan spesifik.Bagi profesi tertentu seperti peneliti atau dosen, melakukan penelitian yang konsisten dan kontinyu dalam satu area/bidang penelitian merupakan suatu keharusan dalam upaya pendalaman dan peningkatan pengembangan keilmuannya.Area penelitian di bidang kesehatan misalnya dibagi lagi ke dalam peminatan yang lebih spesifik tergantung dari bidang kelimuan atau profesinya.Bagi profesi dokter atau perawat setelah menyelesaikan S1 atau S2 maka dapat melanjutkan ke jenjang profesi serta spesialis dan selanjutnya jenjang sub spesialis.

Sedangkan bagi disiplin ilmu lainnya seperti disiplin ilmu kesehatan masyarakat berbeda dengan profesi tersebut, jenjang pendidikan lanjutannya berupa kelanjutan peminatan seperti epidemiologi, biostatistik, promosi kesehatan, gizi masyarakat, kesehatan lingkungan, administrasi kebijakan kesehatan, manajemen rumah sakit, dan sebagainya. Semakin spesifik dan intens peneliti meneliti suatu area penelitian maka akan semakin ahli atau pakar ia dibidangnya.

b. Menentukan Topik Penelitian Topik penelitian merupakan pernyataan inti setelah menentukan area penelitian terlebih dahulu. Keraf dalam Wibowo (2014) menyebutkan tiga syarat topik penelitian yaitu: ▪ Topik yang ditentukan merupakan hal yang menjadi minat dan menarik bagi peneliti tersebut untuk diteliti. Sebagai contoh di bidang rekam medis, meskipun topik tentang kodefikasi adalah merupakan area penelitian profesi tersebut, namun bila peneliti merasa tidak berminat atau tidak tertarik untuk menelitinya maka peneliti tersebut ▪ 24 tentu tidak akan melakukan penelitian tentang topik tersebut.

Topik penelitian harus spesifik dan fokus. Di bidang rekam medis, setelah area penelitian ditentukan sesuai bidangnya maka penentuan topik harus mengerucutatau semakin Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ ▪ sempit dan fokus.

Misalnya topik yang diinginkan oleh peneliti terkait klasifikasi dan kodefikasi. Tentukan secara lebih spesifik kodefikasi penyakit apa yang akan diteliti, karena klasfikasi dan kodefikasi tidak hanya tentang penyakit saja namun juga tentang tindakan. Contoh topik penelitian di bidang rekam medis yaitu kesesuaian penentuan kodefikasi penyakit thypoid di rumah sakit.

Topik penelitian merupakan bidang yang dikuasai oleh peneliti. Semakin tinggi tingkat pengetahuan dan penguasaan terkait materi yang akan diteliti maka akan semakin mudah peneliti tersebut dalam merumuskan tahapan selanjutnya. Contoh keterkaitan Area, Topik Penelitian dan Masalah Penelitian Contoh 1 ▪ Area penelitian: Rekam Medis dan Informasi Kesehatan ▪ Topik penelitian: Gambaran kelengkapan dokumen rekam medis rawat inap form ringkasan masuk dan keluar ▪ Hasil temuan penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa dari seluruh form rekam ▪ medis, penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk ketidaklengkapan tertinggi terdapat pada form ringkasan masuk dan keluar.

Masalah penelitian: Bagaimana gambaran kelengkapan form ringkasan masuk dan keluar? Contoh 2 ▪ Area penelitian: Rekam Medis dan Informasi Kesehatan ▪ Topik penelitian: Gambaran ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus thypoid ▪ ▪ Sebagian rumah sakit di Indonesia belum membuat diagnosis yang lengkap dan jelas berdasarkan ICD 10, di satu sisi padahal ketidakakuratan kode diagnosis akan mempengaruhi data laporan dan ketepatan tariff INA-CBG’s.

Berdasarkan data profil RS X bahwa kasus thypoid di rumah sakit tersebut memiliki jumlah kasus tertinggi selama kurun waktu 3 tahun berturut-turut. Masalah penelitian: Bagaimana gambaran ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus thypoid?

d. Menentukan Masalah Penelitian Menentukan area dan topik penelitian merupakan runtutan dalam menemukan masalah, tanpa mengetahui area dan topik yang akan diteliti maka akan kesulitan dalam menentukan masalah apa yang akan diangkat dalam sebuah penelitian, karena area dan topik ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 25 dalam satu disiplin ilmu saja sangat banyak apalagi area dan topik yang terlalu luas atau umum.

Masalah penelitian merupakan dasar penelitian dilakukan. Bila tidak ada masalah tentunya tidak ada yang perlu dilakukan. Masalah merupakan hal paling penting untuk beranjak ke tahap selanjutnya. Apapun jenis penelitiannya semua memerlukan masalah sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian.

Baik penelitian observasional desktiptif, analitik cross sectional, case control dan cohort, atau eksperimen.

3. SyaratMasalah Penelitian Beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam menentukan masalah penelitian, antara lain: a. Besaran Masalah (magnitude of the problem) Masalah penelitian yang akan diteliti harus didukung dengan data.

Data yang ditampilkan sebaiknya aktual yang terjadi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir beserta penyebab dan dampak yang diuraikan dalam bentuk narasi. Contohnya data pasien demam berdarah Dengue (DBD) dalam 3 tahun terakhir di sebuah rumah sakit, kemungkinan ada yang mengalami peningkatan atau penurunan. Dengan data yang terlalu sedikit jumlahnya akan sulit untuk dilaksanakan penelitian kecuali untuk penyakit langka atau jarang ditemukan seperti penyakit difteri, H5N1, dan lain-lain.

Apabila data yang diperlukan masih kurang atau bahkan tidak ada maka dapat diangkat data pada rumah sakit dengan tingkat yang lebih tinggi yaitu pada rumah sakit pusat rujukan atau data nasional.

Contohnya peneliti berniat meneliti tentang ketepatan penentuan kode pada pasien kanker paru, sementara di rumah sakit setempat, data kasus yang dibutuhkan tidak ada sehingga dapat menggunakan data pada rumah sakit dengan tingkat yang lebih tinggi atau rumah sakit khusus paru. b. Keseriusan Masalah Keseriusan sebuah masalah dalam penelitian dapat dilihat dari dampak yang akan timbul, telah atau sedang terjadi. Dalam kaitannya dengan contoh diatas, dampak yang timbul apabila kode penyakit paru dinyatakan tidak sesuai pada saat proses pengajuan klaim maka kemungkinan klaim dikembalikan lagi untuk diperbaiki atau bahkan ditolak, sehingga pada akhirnya pencairan menjadi tertunda, terdapat selisih atau bahkan rumah sakit mengalami kerugian, sementara biaya operasional telah dikeluarkan dan biaya untuk operasional lainnya dan pengobatan serta perawatan pasien lainnya pun terus berjalan.

c. Kesensitifan Masalah Masalah penelitian dianggap sensitif bila masalah penelitian bertentangan dengan kultur atau budaya, ras, dan agama. Hal-hal yang digali biasanya hal yang tersirat bukan 26 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ tersurat seperti keyakinan dan sikap. Menurut Notoatmodjo (2012), sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap sesuatu.

Karena sifatnya yang tertutup maka belum tentu hasilnya adalah hal yang sebenarnya namun bisa saja apa yang diungkapkan berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya karena merasa tidak enak atau belum percaya sepenuhnya terhadap penanya.

Contohnya penelitian tentang dukungan pimpinan dalam pelaksanaan sistem informasi di Puskesmas, belum tentu seorang staf mengungkapkan penilaian yang sebenarnya terhadap pimpinannya tersebut karena merasa tidak enak atau takut. Tidak semua masalah dapat diangkat menjadi masalah penelitian. Hulley penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk Cummings dalam Satroasmoro dan Ismael (2014) mengungkapkan bahwa agar suatu masalah layak untuk diangkat menjadi masalah penelitian, maka diperlukan syarat-syarat FINER (feasible, interesting, novel, ethical, relevant): a.

Kemampulaksanaan (feasible) Suatu masalah penelitian dapat dijawab dengan penelitian. Dengan memperhatikan berbagai pertimbangan seperti aspek metodologi khususnya tentang besar sampel, dimana untuk penelitian kuantitatif harus memenuhi jumlah sampel minimal atau jumlah harus berdasarkan hasil perhitungan rumus besar sampel,biaya, sarana, waktu, dan lainlain.Pertimbangan-pertimbangan teknis tersebut dapat menentukan apakah masalah dapat dijawab melalui penelitian atau tidak.

b. Menarik (Interesting) Peneliti harus memiliki minat dan ketertarikan terhadap masalah penelitiannya. Seseorang yang tertarik terhadap sesuatu maka akan semangat untuk berupaya untuk dapat menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya dan seideal mungkin sesuai dengan tujuan atau target.

Sebaliknya, apabila tidak berminat maka akan cenderung melaksanakannya dengan terpaksa atau seadanya. c. Memberi nilai baru (Novel) Penelitian yang dilakukan dapat memberikan sesuatu hal yang baru atau masalah yang diangkat kekinian sesuai dengan issue yang sedang berkembang di masyarakat. Meski demikian bukan berarti penelitian yang dilakukan tidak boleh sama dengan penelitian sebelumnya. Penelitian dapat dilakukan juga untuk membuktikan apakah hasilnya konsisten sama dengan hasil penelitian sebelumnya ataukah bertentangan.

Dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda, atau dengan menambahkan variabel penelitian lainnya, apakah hasilnya akan berbeda ataukah sama. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 27 d. Etis (ethical) Penelitian yang dilakukan tidak boleh bertentangan dengan etika.Etika adalah ilmu tentang benar dan salah atau tentang hak dan kewajiban, sementara etis adalah hal yang sesuai dengan etika yang telah berlaku dan disepakati secara umum.Dikatakan etis bila sudah sesuai dengan norma-norma sosial, agama dan lainnya yang diterima secara umum.Dikatakan tidak etis bila tidak sesuai dengannorma-norma sosial, agama, dan lainnya yang diterima secara umum.Khusus penelitian yang melibatkan manusia sebagai sampel penelitian, harus medapatkan telaahan dan persetujuan komisi etik terlebih dahulu sebelum melaksanakan penelitian.

e. Relevan (relevant) Penelitian yang dilakukan harus relevan dengan ilmu pengetahuan khususnya sesuai dengan bidang yang ditekuninya.Penelitian juga harus relevan dengan keadaan saat ini sehingga masalah penelitian harus aktual dan sesuai dengan issue yang berkembang saat ini dan berdasarkan sumber informasi atau referensi yang mutakhir.Masalah penelitian kesehatan dari tahun ke tahun berkembang pesat dengan kompleksitas penyakit serta munculnya penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak ada.Oleh karena itu, penelitian kesehatan harus relevan dengan perkembangan kemajuan ilmu, perkembangan penyakit serta dapat memberikan manfaat bagi pengambil kebijakan.

4. Cara Membuat Rumusan Masalah Penelitian Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan penelitian yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data dalam sebuah penelitian.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

Rumusan masalah dibuat mengacu kepada uraian masalah pada latar belakang, kemudian diidentifikasi secara spesifik sehingga rumusan masalah jelas dan fokus. Terdapat beberapa syarat dalam membuat rumusan masalah: a. Kalimat disusun dalam bentuk kalimat tanya, supaya pertanyaan lebih bersifat tajam dan khas. b. c. d. 28 Substansi yang dikemukakan pada pertanyaan penelitian lebih spesifik dan tidak bermakna ganda.

Pertanyaan dikemukakan secara terpisah apabila terdapat beberapa pertanyaan atau beberapa permasalahan. Pada umumnya kalimat pertanyaan pada rumusan masalah diawali terlebih dahulu dengan kalimat berikut: Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut.

Contoh rumusan masalah penelitian deskriptif: ▪ Bagaimana hasil analisis kuantitatif kelengkapan dokumen rekam medis rawat inap formulir ringkasan masuk dan keluar di RS X? ▪ Bagaimana tingkat kepuasan keluarga pasien terhadap pelayanan petugas di tempat pendaftaran pasien?

Contoh rumusan masalah penelitian Analitik: ▪ Apakah terdapat hubungan antara ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus thypoid? ▪ Apakah ada perbedaan tingkat kepuasan antara pasien di Puskesmas A dan B dalam hal pelayanan? B. JUDUL Judul merupakan cerminan dari masalah dan tujuan penelitian serta dapat memberikan gambaran penelitian.

Seseorang akan mencari atau membaca judul terlebih dahulu sebelum membaca isinya. Judul dapat membuat seseorang tertarik untuk membaca isinya walaupun sebelumnya mungkin tidak bermaksud untuk membacanya.

Untuk membuat judul yang tepat sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan memerlukan beberapa persyaratan, antara lain: 1. Judul penelitian sebaiknya memberikan gambaran keseluruhan isi penelitian yang akan dilaksanakan seperti variabel-variabel yang akan diteliti dan lokasi atau tempat 2. 3. 4. 5. penelitian serta waktu penelitian. Judul dibuat dalam kalimat sederhana dan tidak terlalu panjang, ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa judul tidak boleh lebih dari 14 - 16 kata, sehingga apabila penelitian memerlukan judul yang panjang sebaiknya dibuat subjudul.

Judul sebaiknya tidak menggunakan singkatan, kecuali yang sudah baku. Judul sebaiknya dibuat dalam kalimat netral, tidak menggunakan kalimat tanya. Penulisan nama tempat atau lokasi penelitian dengan mempertimbangkan tujuan penelitian dan local specific. Apabila tujuan penelitian spesifik dan khas hanya terjadi di tempat tersebut maka nama tempat harus dicantumkan. Namun apabila penelitian tersebut dapat mewakili atau menggambarkan kejadian di tempat lainnya maka nama tempat tidak perlu dicantumkan.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 29 6. a. Penulisan waktu dalam judul dengan mempertimbangkan kekhasan waktu dan tempat.

Apabila masalah penelitian terjadi di tempat dan waktu yang spesifik dan khas maka sebaiknya waktu perlu dicantumkan dalam judul. Contoh : Judul Penelitian Deskriptif ▪ Analisis kelengkapan dokumen rekam medis rawat inap kasus demam berdarah denguedi RSUD C tahun 2016 ▪ ▪ b.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

Gambaran ketersediaan dokumen rekam medis di Rumah Sakit E Tahun 2016 Gambaran tingkat pengetahuan pasien tentang pelaksanaan sistem rujukan pasien BPJS di Puskesmas Tahun 2017 ▪ Analisis kebutuhan rak penyimpanan dan ruangan di bagian filing rawat inap RSUD A tahun 2015 ▪ Gambaran tingkat kepuasan pasien dalam pelayanan di bagian pendaftaran Rumah Sakit X Tahun 2016 Judul Penelitian Analitik ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ C. Hubungan antara ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus thypoid Perbedaan tingkat kepuasan antara pasien di Puskesmas A dan B dalam hal pelayanan Faktor risiko terjadinya keterlambatan pelaporan di Rumah Sakit X Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian fraud di fasilitas kesehatan Faktor risiko terjadinya gagal klaim BPJS PENULISAN LATAR BELAKANG Latar belakang merupakan yang pertama kali dibahas dalam Bab I.

Penjelasan yang dipaparkan dalam latar belakang sangat penting dalam rangka untuk memberikan pemahaman dan meyakinkan pembaca bahwa penelitian yang diusulkan sangat penting untuk dilakukan. Dalam latar belakang diuraikan tentang alasan (justifikasi) mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan dengan menguraikan besaran masalah, keseriusan masalah, kesensitifan masalah seperti yang telah dijelaskan di halaman sebelumnya.

Berdasarkan Gambar 2.1 tentang kerucut atau segitiga proporsi data di bawah ini menunjukkan bahwa data dukung seperti jumlah kasus atau angka proporsi kejadian diawali dari mulai data global/dunia, kemudian data nasional, data propinsi, kabupaten/kota hingga tempat/lokasi masalah tersebut terjadi.

30 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Pemaparan data dukung ditunjukkan dengan gambar segitiga menunjukkan bahwa pemaparan yang lebih sedikit pada data global atau umum dan semakin banyak dikupas tentang data di tingkat bawah atau ujung tombak dalam pelaksanaan penelitian.

Masalah yang didukung dengan data menunjukkan bahwa kejadiannya valid atau kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan fakta. Fakta-fakta tersebut diuraikan dalam bentuk narasi disertai dengan justifikasi yang didasari oleh hasil penelitian orang lain, teori yang mendasari penelitian, pengalaman peneliti misalnya dalam bentuk penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk pendahuluan, dampak dari permasalahan, serta alternatif pemecahan masalahnya.

Uraian substansi justifikasi tersebut ditunjukkan dengan gambar segitiga terbalik artinya bahwa pemaparan data bersifat deduktif yaitu dari hal umum mengerucut ke hal khusus, semakin ke bawah uraian semakin terperinci, detail dan makin fokus serta tajam.

Merumuskan data(Proporsi data) Global, nasional Propinsi, kabupaten Kecamatan/ institusi / lokasi penelitian/ masyarakat yang akan diteliti Merumuskan substansi yang akan diteliti Superfisial / Umum Detail/ Terperinci, Makin tajam Sumber: Wibowo, A, 2014 Gambar 2.1 Proporsi Data dan Cara Berfikir dalam merumuskan masalah penelitian Contoh 1: ▪ Judul penelitian: Analisis Kelengkapan Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Kasus Demam Berdarah Denguedi RSUD C Tahun 2016 ▪ Latar belakang perlu diuraikan tentang: a.

b. Pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain melalui pelayanan kesehatan di rumah sakit Undang-undang tentang rekam medis sebagai payung hukum terselenggaranya rekam medis di rumah sakit ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 31 c.

d. e. f. g. Pentingnya dokumen rekam medis bagi pasien, dokter dan tenaga kesehatan lainnya serta bagi peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit. Masalah penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia, propinsi, dan kabupaten/kota dan rumah sakit Target kelengkapan dokumen rekam medis yang harus dicapai menurut standar serta dilandasi dengan teori dan hasil penelitian lainnya Dampak yang terjadi bila dokumen rekam medis tidak lengkap Masalah kelengkapan dokumen rekam medis kasus DBD di rumah sakit sebagai tempat penelitian yang diperoleh melalui studi pendahuluan ▪ ▪ Contoh 2: Judul penelitian: Gambaran Proses klaim BPJS Latar belakang perlu diuraikan tentang: a.

Pembangunan nasional dan kesehatan di Indonesia b. Undang-undang tentang pelayanan kesehatan dan Undang-undang Sistem jaminan sosial nasional sebagai payung hukum terselenggaranya BPJS c. d. e. f. g. 32 Pentingnya rekam medis dalam proses klaim BPJS Masalah yang sering terjadi dalam proses klaim Target dalam proses klaim adalah biaya yang di klaim dapat disetujui sesuai dengan biaya yang diajukan dan cair tepat waktu Dampak bila proses klaim mengalami kendala/hambatan atau bahkan ditolak maka ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi yaitu pencairan akan mengalami keterlambatan, biaya mengalami selisih yang tidak sesuai dengan yang diklaim atau bahkan gagal klaim/tidak cair, padahal rumah sakit sudah mengeluarkan biaya operasional terlebih dahulu sehingga rumah sakit akan mengalami kerugian dan selanjutnya dapat menghambat keberlangsungan biaya operasional lainnya, seperti biaya pengobatan, perawatan, maupun biaya jasa atau insentif bagi tenaga kesehatan.

Masalah yang terjadi tentang proses klaim BPJS di rumah sakit tempat penelitian berlangsung melalui studi pendahuluan. Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) Jelaskanlimasyarat masalah penelitian yang layak diangkat sebagai masalah dalam penelitian! 2) 3) Jelaskan syarat-syarat dalam membuat rumusan masalah!

Jelaskan cara menyusun data dukung dalam penulisan latar belakang berdasarkan segitiga atau kerucut! Jelaskan cara menyusun uraian substansi penelitian dalam penulisan latar belakang berdasarkan segitiga atau kerucut terbalik! Tentukan satu judul penelitian, kemudian susun secara berkesinambungan latar belakang dan rumusan masalahnya! 4) 5) Petunjuk Jawaban Latihan 1) 2) 3) 4) 5) Untuk membantu Anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka : Uraikan syarat masalah penelitiandengan menguraikan singkatan dari kata FINNER.

Uraikan cara penulisan rumusan masalah berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan. Uraikan penyusunan data dukung secara sistematis mengikuti kaidah segitiga. Uraikan penulisan substansi secara sistematis mengerucut mengikuti kaidah segitiga terbalik.

Berikan satu contoh judul penelitian dan kemudian susun latar belakang dan rumusan masalah berdasarkan judul tersebut. Ringkasan 1. 2. 3. Masalah penelitian merupakan dasar untuk melakukan sebuah penelitian, yang dituangkan dalam latar belakang. Penulisan latar belakang disusun secara sistematis mengerucut dari hal umum ke hal khusus antara lain berisi masalah, alasan/justifikasi dan data dukung serta uraian dampak dan alternatif pemecahan masalahnya.

Setelah uraian latar belakang lengkap maka dibuat rumasan masalah dalam bentuk pertanyaan penelitian. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 33 Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!

1) Yang merupakan contoh penelitian/uraian/pernyataan yang menggambarkan unsur “besaran masalah” penelitian adalah …. A. penelitian tentang keyakinan masyarakat suku kampung naga terkait dengan B. C. D. 2) 34 diperbaiki atau bahkan ditolak sehingga dapat menimbulkan kerugian tidak ada perbedaan antara puskesmas A dengan puskesmas B dalam hal pelayanan Yang merupakan contoh uraian/pernyataan yang menggambarkan syarat masalah penelitian “feasible” adalah penelitian ….

A. yang mempertimbangkan hal teknis teknis seperti biaya, sarana dan waktudapat menentukan apakah masalah dapat dijawab melalui penelitian atau tidak B. yang sesuai dengan keadaan saat ini, actual sesuai dengan issue yang berkembang dengan perkembangan masalah kesehatan saat ini C.

harus sesuai dengan norma-norma sosial, agama dan lainnya yang diterima secara umum D. 3) adanya pantangan makanan tertentu data profil kesehatan menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 3 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus campak di daerah A, dengan presentase 25%, 30% dan 31% dampak yang timbul apabila kode penyakit paru dinyatakan tidak sesuai pada saat proses pengajuan klaim maka kemungkinan klaim dikembalikan lagi untuk kesehatan harus sesuai dengan perkembangan kemajuan ilmu, perkembangan penyakit dan dapat memberikan manfaat bagi pengambil kebijakan.

Di bawah ini yang merupakan sebuah kalimat rumusan masalah adalah …. A. bagaimana hasil analisis kuantitatif kelengkapan dokumen rekam medis rawat inap formulir ringkasan masuk dan keluar di RS X ? B. tingkat kepuasan keluarga pasien terhadap pelayanan petugas di tempat pendaftaran pasien C. hubungan antara ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus D.

thypoid ada perbedaan tingkat kepuasan antara pasien di Puskesmas A dan B dalam hal pelayanan Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 4) Kalimat manakah yang paling tepat menggambarkan rumusan masalah deskriptif ?

A. Apakah ada hubungan kepuasan keluarga pasien dengan pelayanan petugas di tempat pendaftaran pasien? B. Apakah terdapathubungan antara ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus thypoid?

C. Bagaimana gambaran hasil analisis kuantitatif kelengkapan dokumen rekam medis rawat inap formulir ringkasan masuk dan keluar di RS X ? D. Adakah perbedaan tingkat kepuasan antara pasien di Puskesmas A dan B dalam hal pelayanan? 5) Kalimat manakah di bawah ini yang merupakan kalimat judul penelitian analitik ? A. Gambaran tingkat kepuasan pasien dalam pelayanan di bagian pendaftaran Rumah Sakit X B. Studi kualitatif pelepasan informasi resume medis C.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian fraud di fasilitas kesehatan D. Analisis Pengaruh pemberian reward dan punishmet terhadap kelengkapan dokumen rekam medis ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 35 Topik 2 Tujuan Penelitian A.

TUJUAN Tujuan penelitian merupakan arah atau acuan suatu penelitian yang memberikan arahan bagi peneliti secara jelas apa yang akan dicapai. Tujuan penelitian harus dirumuskan dalam bentuk pernyataan secara jelas dan terukur. Tujuan penelitian pada umumnya dibedakan menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. 1. Tujuan Umum Pernyataan satu tujuan dalam lingkup besar yang erat dengan pertanyaan dalam rumusan masalah. 2. Tujuan Khusus Pernyataan tujuan dalam lingkup kecil, yang merupakan turunan dari tujuan umum.

Tujuan khusus dinyatakan lebih operasional dan menjadi arahan secara detail untuk tahapan penelitian selanjutnya. Contoh 1: ▪ Tujuan Umum Mengetahui hasil analisis kuantitatif kelengkapan dokumen rekam medis rawat inap formulir ringkasan masuk dan keluar di RS A. ▪ Tujuan Khusus a. Mengetahui kelengkapan identifikasi pasien formulir ringkasan masuk dan keluar b.

c. d. di RS A. Mengetahui kelengkapan autentikasi pasien formulir ringkasan masuk dan keluar di RS A. Mengetahui kelengkapan laporan yang penting pasien formulir ringkasan masuk dan keluar di RS X. Mengetahui kelengkapan pencatatan pasien formulir ringkasan masuk dan keluar di RS A.

Contoh 2: ▪ Tujuan Umum Mengetahui gambaran ketersediaan dokumen rekam medis rawat jalan di RS B. 36 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ ▪ Tujuan Khusus a.

Mengetahui ketersediaan dokumen rekam medis rawat jalan berdasarkan jenis pembayaran. b. Mengetahui ketersediaan dokumen rekam medis rawat jalan berdasarkan poliklinik.

c. Mengetahui ketersediaan dokumen rekam medis rawat jalan berdasarkan hari kunjungan. Contoh 3: ▪ Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus thypoid. ▪ Tujuan Khusus a. Mengetahui ketepatan penulisan diagnosis kasus thypoid. b. Mengetahui keakuratan kode kasus thypoid.

c. Mengetahui hubungan ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus thypoid. Contoh 4: ▪ Tujuan Umum Mengetahui perbedaan tingkat kepuasan antara pasien di Puskesmas A dan B dalam hal pelayanan.

▪ Tujuan Khusus a. Mengetahui tingkat kepuasan pasien di Puskesmas A dalam hal pelayanan. b. Mengetahui tingkat kepuasan pasien di Puskesmas B dalam hal pelayanan. c. B. Mengetahui perbedaan tingkat kepuasan antara pasien di Puskesmas A dan B dalam hal pelayanan.

MANFAAT Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kepentingan program pemerintah, dan tempat penelitian tersebut dilaksanakan. Manfaat penelitian harus diuraikan secara terinci apa manfaat panelitian nanti. Secara spesifik, manfaat penelitian terdiri dari 2 aspek sebagai berikut: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 37 1.

Manfaat Teoritis Hasil penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan dapat menambah wawasandan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang tersebut, yang manfaatnya dapat dirasakan oleh akademisi baik mahasiswa, dosen, instruktur, serta peneliti yang concern dalam bidang rekam medis dan informasi kesehatan. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan dapat digunakan sebagai masukan terhadap kebijakan di tingkat manajemen ataupun praktisi dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan citra rumah sakit.

Contoh 1: ▪ Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan di bidang rekam medis dan informasi kesehatan. ▪ Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi pihak rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan.

Contoh 2: Proposal KTI (Raisandi, 2015) Judul : Gambaran Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Pasien Rawat Jalan Tentang Hak Akses Dokumen Rekam Medisdi RSU X. Tujuan : Tujuan Umum: Mengetahui gambaran karakteristik dan tingkat pengetahuan pasien rawat jalan tentang hak akses dokumenrekam medis di RSU X. Tujuan Khusus: a. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pasien rawat jalantentang hak akses dokumen penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk medis berdasarkan karakteristik pendidikan, pekerjaan, dan umur.

b. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pasien rawat jalantentang pengertian hak akses dokumen rekam medis. c. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pasien rawat jalantentang tujuan mengakses dokumen rekam medis. d. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pasien rawat jalantentang prosedur e. 38 mengakses dokumen rekam medis. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pasien rawat jalantentang hak-hak pasien atas informasi medis. Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Manfaat: 1.

Bagi rumah sakit: MeningkatkanpelayananRSUXdengan memberikan informasi kepada pasien terkait dengan hak pasien dalam mengaksesdokumen rekam medis. 2. Bagi bidang akademik: Menambah kepustakaan yang bisa dimanfaatkan oleh civitas akademika prodi D III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan serta sebagai bahan referensi untuk tindak lanjut penelitian selanjutnya. Contoh 3: Artikel penelitian Judul: Analisis Budaya Organisasi Teknologi Informasi Menggunakan Ocai (Megawati, 2015) Pendahuluan Setiap organisasi telah memanfaatkan teknologi informasi dalam proses bisnisnya.

Pemanfaatan teknologi diutamakan untuk lebih unggul dalam bersaing dengan pesaingnya. Agar dapat bersaing dengan pesaing bisnisnya, maka suatu organiasi harus menetapkan suatu strategi untuk mencapai sasaran bisnisnya.

Strategi merupakan alat mencapai tujuan. Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) secara terus-menerus dan dilakukan berdasarkan sudut pandang yang diharapkan oleh para pelanggan dimasa depan.

Organisasi perlu mencari kompetensi inti didalam bisnis yang dilakukan.Kompetensi inti akan mendorong terciptanya keunggulan organisasi dan menjaga eksistensinya. Organisasi menetapkan strategi dapat dipandang dari budaya organisasi tersebut. Budaya organisasi pada umumnya tercermin dalam kerangka kerja dari anggota organisasi tersebut.

Kerangka kerja tersebut mengandung asumsi dan nilai dasar tertentu. Asumsi dan nilai dasar tersebut diajarkan ke anggota baru sebagai cara pandang, berpikir, merasakan sesuatu, bertingkah laku dan harapan kepada anggota organisasi lainnya dalam bertingkah laku.

Bagian Pengelolaan Data Elektronik (PDE) merupakan suatu bagian diKantor Sekretariat Daerah Kota Pekan baru. Bagian PDE bertugas melaksanakan penyusunan pedoman dan petunjuk teknis pembinaan manajemen dan sistem pengelolaan data,telematik dan penyelenggaraan pengelolaan data elektronik, sehingga dalam melakukan tugas di bagian tersebut sangat memerlukan adanya teknologi informasi untuk mempermudah dalam penyusunan pedoman dan teknis pembinaan di bidang tersebut.

Permasalahan yang ditimbulkan dari pengolahan Data Elektronik (PDE) yaitu seperti: pemimpin sebagai koordinator mengorganisir dan memelihara efisiensi dalam suatu instansi ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 39 masih kurang maksimal, menentukan budaya organisasi dengan menggunakan metode OCAI sangat dibutuhkan untuk perkembangan instansi itu 5 tahun kedepan, serta menentukan langkah-langkah strategi penerapan IT.

Penelitian yang dilakukan untuk menganalisis kecenderungan tipe budaya organisasi pada Bagian PDE ini dilakukan dengan menggunakan model budaya OCAI (Organizational Culture Assement Instrument). Model ini mendefinisikan kecenderungan budaya organisasi berkaitan dengan pihak internal organisasi.

Kecenderungan tersebut nantinya dapat diidentifikasi strategi maupun kebutuhan sistem seperti apa yang tepat untuk mendukung pencapaian tujuan bisnis organisasi.

Tipe budaya yang telah diidentifikasi dan dianalisis maka diharapkan organisasi mampu menerapkan strategi TI yang tepat. Berdasarkan contoh 2 dan 3, terdapat perbedaan penulisan antara proposal denganartikel yang dipublikasikan. Penulisan tujuan dan manfaat pada proposal dituliskan secara eksplisit dengan sub judul tujuan dan manfaat, sementara penulisan tujuan dan manfaat pada artikel dituliskan secara implisit dalam narasi atau paragraf. Biasanya penulisan tujuan dan manfaat di artikel tercantum pada paragraf akhir uraian pendahuluan seperti kalimat yang telah digaribawahi pada contoh 3 diatas.

Bila diuraikan, maka tujuan penelitian pada artikel tersebut adalah: Penelitian yang dilakukan untuk menganalisis kecenderungan tipe budaya organisasi pada Bagian PDE ini dilakukan dengan menggunakan model budaya OCAI (Organizational Culture Assement Instrument) Manfaat penelitiannya adalah: Dengan budaya yang telah diidentifikasi dan dianalisis maka diharapkan organisasi mampu menerapkan strategi TI yangtepat.

Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! Rumuskan tujuan dan manfaat penelitian secara berkesinambungan berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah pada latihan topik 1 sebelumnya! Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka silahkan untuk mempelajari kembali tentang: 40 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 1) 2) 3) Pengertian Tujuan dan manfaat Perhatikan dan pelajari contoh-contoh pada materi tersebut Rumuskan tujuan dan manfaat sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah pada latihan Topik 1 Ringkasan 1.

2. 3. Tujuan penelitian ini disusun sebagai arahan atau acuan secara jelas apa yang akan dicapai. Tujuan dibagi menjadi dua bagian yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum merupakan pernyataan global atau umum sedangkan tujuan khusus merupakan turunan dari tujuan umum yang dinyatakan secara operasional dan terinci.

Hasil penelitian yang telah diperoleh nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis bagi institusi pendidikan maupun lahan praktik/ tempat penelitian.

Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Dari kalimat-kalimat di bawah ini yang manakah yang merupakan contoh yang tepat tentang kalimat tujuan umum penelitian?

A. Mengetahui gambaran ketersediaan dokumen rekam medis di Rumah Sakit E Tahun 2016. B. C. D. 2) Analisis Kelengkapan Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Kasus Demam Berdarah Denguedi RSUD C Tahun 2016. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian fraud di fasilitas kesehatan.

Gambaran kelengkapan dokumen rekam medis kasus thypoid di Rumah Sakit X tahun 2017. Dari pernyataan di bawah ini manakah yang merupakan contoh yang paling tepat dari pernyataan tujuan khusus penelitian? A. Mengetahui gambaran proses klaim BPJS kasus thypoid di Rumah Sakit X tahun B.

2016. Mengetahui kelengkapan dokumen rekam medis kasus thypoid di Rumah Sakit X tahun 2016. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 41 C. D. 3) Judul: faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pengisian dokumen rekam medis. Berdasarkan judul tersebut maka tujuan umum yang paling tepat adalah …. A. mengetahui hubungan faktor pengetahuan dengan perilaku pengisian dokumen B. C. D. 4) Mengetahui kelengkapan autentikasi dokumen rekam medis kasus thypoid di Rumah Sakit X tahun 2016.

Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian fraud di fasilitas kesehatan. rekam medis. mengetahuifaktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pengisian dokumen rekam medis. mengidentifikasi kebiasaan pengisian dokumen rekam medis. membuktikan faktor sikap yang berhubungan dengan perilaku pengisian dokumen rekam medis. Judul: Analisis kuantitatif dokumen rekam medis kasus thypoid di Rumah Sakit X. Berdasarkan judul tersebut maka pernyataan tujuan khusus yang paling tepat adalah….

A. mengetahui kelengkapan pencatatan yang baik dokumen rekam medis kasus thypoid di Rumah Sakit X. B. mengidentifikasi kelengkapan dokumen rekam medis kasus thypoid di Rumah Sakit X. C. mengetahui gambaran ketersediaan dokumen rekam medis kasus thypoid di Rumah Sakit X. D. mengidentifikasi ketidaktersediaan dokumen rekam medis kasus thypoid di Rumah Sakit X. 5) Dari pernyataan di bawah ini yang merupakan contoh yang paling tepat dari pernyataan manfaat praktis penelitian adalah … A.

hasil penelitian ini sebagai masukan dan evaluasi bagi kebijakan di instansi terkait. B. hasil penelitian ini dapat dijadiakan sebagai dasar pengembangan penelitian selanjutnya.

C. hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan keilmuan di bidang rekam medis dan informasi kesehatan. D. 42 hasil penelitian ini dapat menambah kepustakaan di prodi RMIK.

Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) B 2) A 3) A 4) C 5) C Tes 2 1) A 2) C 3) B 4) 5) A A ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 43 Glosarium Analisis Kuantitatif : telaah review bagian tertentu dari isi Rekam Medis dengan maksudmenemukan kekurangan khusus yang berkaitan dengan pencatatan Rekam Medis (Huffman) Citra : gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk Filing ICD 10 INA CBG’s Mutu Operasional 44 : salah satu bagian dalam unit rekam medis yang mempunyai tugas pokok menyimpan dokumen rekam medis : International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems revisi ke 10 : singkatan dariIndonesia case base Groups, merupakan sistem pembayaran dengan sistem "paket", berdasarkan penyakit yang diderita pasien.

: suatu nilai atau keadaan : konsep yang bersifat abstrak untuk memudahkan pengukuran suatu Praktis : RSUD Spekulatif Teoritis : : : variabel untuk mendapatkan kemudahan dan kenyamanan dalam mencari pengetahuan; berdasarkan praktik Rumah Sakit Umum Daerah dengan pemikiran dalam-dalam secara teori pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Daftar Pustaka Notoatmodjo, S.

(2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo, S. (2014).Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Edisi revisi.Jakarta: Rineka Cipta Riyanto, A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.Bantul: Nuha Medika Sastroasmoro, S dan Ismael, S.

(2014). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke – 5. Jakarta: Binarupa Aksara Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Wibowo, A. (2014). Metodologi Penelitian Praktis Bidang Kesehatan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 45 Bab 3 TINJAUAN PUSTAKA Imas Masturoh, SKM., M.Kes(Epid) Pendahuluan S ebuah penelitian harus didukung dengan landasan teori yang kuat.

Pada proposal atau laporan penelitian, landasan teori ini biasanya diuraikan pada bab tersendiri yaitu pada Bab 2. Berbagai teori yang dikemukakan oleh para ahli dan hasil penelitian terdahulu yang mendukung terhadap penelitian yang akan dilakukan harus dipaparkan secara detail, sistematis, dan menyeluruh sehingga terbangun suatu kerangka berpikir yang ilmiah. Teoriteori yang dikemukakan merupakan penjelasan lengkap dari apa yang telah diulas sebelumnya pada latar belakang.

Uraian justifikasi, penyebab, dampak, pencegahan dan penanggulangan, serta alternatif solusi sebagai pemecahan masalah yang terdapat pada latar belakang merupakan acuan dalam menyusun tinjauan pustaka. Tulisan dalam tinjauan pustaka juga merupakan referensi yang digunakan sebagai dasar teori dalam pembahasan. Namun terkadang apa yang dicantumkan dalam tinjauan pustaka tidak digunakan secara optimal dalam menyusun pembahasan sehingga tulisan dalam tinjauan pustaka seakan-akan hanya sekedar sebuah pajangan.

Padahal dengan adanya tinjauan pustaka tersebut, maka peneliti tinggal mengaitkan atau membandingkan hasil penelitian dengan teori yang ada pada tinjauan pustaka tersebut. Apabila dirasakan masih ada yang kurang, baik teori maupun hasil penelitian lainnya untuk memperkuat dan memperkaya pembahasan maka kita hanya tinggal menambahkan kekurangannya saja tanpa perlu mencari dari nol lagi karena sebagian besar teori ataupun hasil penelitian yang diperlukan sudah tersedia dalam tinjauan pustaka.

Hal paling penting dalam menyusun tinjauan pustaka adalah cara mensitasi dan pencantuman referensi, karena dikhawatirkan terjerumus kepada tindakan plagiat. Agar terhindar penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk praktek plagiat maka semua tulisan yang terdapat dalam tinjauan pustaka harus dicantumkan referensinya secara lengkap dalam daftar pustaka.

46 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Setelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan mampu untuk membuat tinjauan pustaka penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan.

Selain itu secara khusus mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan deskripsi teori 2. Menjelaskan langkah-langkah telaah pustaka 3. Menyusun sumber referensi 4. Menjelaskan definisi plagiarisme 5. Menjelaskan cara pencegahan dan penanggulangan plagiarisme ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 47 Topik 1 Landasan Teori Landasan teori diperlukan dalam menjelaskan dan membangun pemahaman terhadap penelitian yang akan dikerjakan.

Uraian pada landasan teori ini harus dilengkapi dengan referensi baik yang bersumber dari buku-buku ajar, artikel maupun dari jurnal ilmiah sebelumnya. Landasan teori yang baik tidak hanya membahas secara substansial variabel dependen maupun variabel independen yang diteliti dari berbagai buku ajar / texbook, namun juga secara mendalam menggali teori– teori yang berhubungan dengan variabel yang diteliti. A. DESKRIPSI TEORI 1. Definisi Teori Dalam tinjauan pustaka diuraikan tentang teori-teori dan konsep-konsep serta generalisasi hasil penelitian.

Teori ini penting sebagai bukti empiris dan penguat terhadap hal yang akan diteliti. Cooper and Schindler (2003) dalam Wibowo (2014) mengemukakan bahwa Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.

Dari masa ke masa teori akan terus berkembang, seiring dengan waktu dan perkembangan zaman. Termasuk di bidang kesehatan, dimana perkembangan teknologi, era globalisasi, dampak global warming, mobilisasi yang sangat cepat antardaerah bahkan antarnegara menyebabkan penularan dan perubahan penyakit yang semakin cepat dan kompleks. Terjadinya double burden disease yaitu pergeseran peningkatan penyakit dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia dimana masalah penyakit menular belum tuntas sudah ditambah lagi dengan meningkatnya penyakit tidak menular.

Belum lagi ditambah dengan munculnya penyakitpenyakit baru yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal. Seiring dengan perkembangan masalah di bidang kesehatan secara umum tentunya bidang rekam medis dan informasi kesehatan pun akan terus mengikuti, dimana sistem pengklasifikasian dan pengkodean penyakit telah mengalami pengembangan melalui revisi dari mulai ICD 1 – 10 dan saat ini sedang menuju pengembangan ICD versi 11 serta sistem informasi rekam medis yang tadinya secara manual beralih secara bertahap ke sistem informasi rekam medis elektronik.

Dengan demikian maka teori-teori akan selalu ada dan berkembang untuk menjawab permasalahan yang muncul atau berkembang termasuk apabila teori sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah. 48 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Mark (1963) dalam Wibowo (2014) mengemukakan bahwa terdapat tiga macam teori yang berhubungan dengan data empiris yaitu: a.

Teori deduktif yaitu berupa uraian teori atau keterangan dari mulai hal-hal umum yang kemudian mengerucut kepada data khusus. Uraian kumpulan teori dan data secara deduktif ini memberikan pemahaman kerangka berfikir secara utuh dan menyeluruh sehingga terbentuk suatu kerangka teori dan selanjutnya kerangka konsep penelitian.

b. Teori induktif merupakan kebalikan dari deduktif yaitu dimulai dari hal-hal khusus terlebih dahulu kemudian mengarah kepada hal umum. c. Teori fungsional dimana terdapat interaksi antara data dan teori, dan saling memberikan pengaruh diantara keduanya. 2. Kegunaan Teori Secara umum teori mempunyai tiga fungsi yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction) dan pengendalian (control). Secara lengkap Cooper and Schindler (2003) dalam Wibowo (2014), menyatakan bahwa kegunaan teori dalam penelitian adalah: a.

Untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup penelitian, termasuk menjelaskan b. c. d. e. apa saja variabel yang akan diteliti. Sebagai prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta dan sebagai dasar dalam menentukan hipotesis penelitian serta untuk menyusun instrumen penelitian.

Digunakan dalam pembahasan antara lain sebagai penjelasan atau justifikasi terhadap hasil penelitian dan juga digunakan untuk dibandingkan dengan hasil penelitian. Hasil temuan penelitian tersebut selanjutnya dijadikan dasar untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah. Merangkum fakta yang ditemukan pada sampel penelitian dalam rangka generalisasi terhadap populasi Untuk memprediksi fakta lebih lanjut dengan mempelajari kondisi-kondisi menuju kepada kejadian itu.

3. Pendeskripsian Teori Menurut Wibowo (2014) langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut: a. Menetapkan variabel beserta jumlah variabel yang akan diteliti. b. Mencari referensi sebanyak banyaknya baik melalui buku, jurnal penelitian maupun laporan akhir penelitian seperti skripsi, tesis, disertasi yang relevan dengan penelitian c. yang akan diteliti. Melihat daftar isi dan mencari topik yang relevan dengan variabel yang akan diteliti.

Perhatikan bacaan dari mulai judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 49 d. e. tempat penelitian, sampel penelitian, teknik pengumpulan data, analisis, kesimpulan dan saran. Mencari referensi definisi dari setiap variabel yang akan diteliti, pilih definisi yang paling sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. Membaca seluruh isi topik penelitian dari setiap sumber data yang dibaca dan kemudian menuangkannya dalam sebuah tulisan dengan bahasa sendiri.

Sumber-sumber bacaan yang digunakan harus dicantumkan di daftar pustaka. B. LANGKAH-LANGKAH TELAAH PUSTAKA 1. Tujuan telaah pustaka menurut Wibowo(2014) antara lain: a. memperoleh informasi yang ilmiah dan kredibel, b. memperoleh data dan informasi yang berguna untuk menyusun latar belakang, c. d. e. f. g. dimana data dan teori dalam latar belakang dapat menggambarkan besaran masalah, keseriusan masalah dan kesensitifan masalah, memperoleh teori terbaru dan terkini, bagi peneliti pemula, dapat membantu dalam menemukan ide atau topik penelitian, membantu dalam menemukan variabel-variabel apa saja yang masuk dalam penelitian dan metode penelitiannya yang sesuai, berlajar cara menyusun atau menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan dengan mengamati tulisan atau karya peneliti lain, dan memperoleh informasi tentang keterbatasan peneliti lain sehingga dapat dijadikan masukan dan pelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

2. Cara membuat telaah atau tinjauan pustaka Tinjauan pustaka adalah kegiatan yang meliputi mencari, membaca dan menelah penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk penelitian dan bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.

Berikut langkah-langkahnya: a. Diawali dengan menentukan topik-topik dari informasi yang akan dicari atau dengan menggunakan kata kunci untuk lebih memudahkan pencarian kemudian mencari sumber yang relevan baik dari buku ajar, jurnal cetak maupun jurnal elektronik dan lain sebagainya.

Biasakan segera untuk selalu menulis referensi secara lengkap di daftar pustaka agar tidak terlewat atau kelupaan. b. 50 Merangkum dari setiap bacaan yang diperlukan dalam tulisan penelitian yang akan dilakukan dengan menggunakan kalimat sendiri untuk menghidari plagiarisme Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ c. d. e. Memperhatikan gaya penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk penulisan apakah mudah dimengerti atau tidak dengan cara berulang ulang membaca tulisan sendiri Mengelompokkan hasil temuan pustaka dalam satu topik yang sama, kemudian menganalisis content bacaan dan selanjutnya dibuat ringkasannya.

Menyusun semua ringkasan hasil telaahan dalam sebuah tulisan secara sistematis, berkesinambungan dan menyeluruh sehingga terbentuk penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk berfikir ilmiah secara utuh dalam satu kesatuan. Sistematika penulisan tinjauan pustaka dapat mengacu pada judul penelitian, karena judul penelitian memberikan gambaran variabel yang akan diteliti.

Dimana hasil rangkuman yang telah dikumpulkan sebelumnya tersebut kemudian dituangkan disesuaikan dengan pengelompokkan kajian atau berdasarkan variabel. Contoh 1 : Judul penelitian: Gambaran Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Pasien Rawat Jalan Tentang Hak Akses Dokumen Rekam Medis di RSU X. Penulisan Tinjauan Pustakadengan judul tersebut antara lain meliputi: 1. 2. 3. 4. Pengetahuan Karakteristik Dokumen rekam medis Hak akses dokumen rekam medis 1. a. Berikut contoh uraian singkat: Pengetahuan Pengertian Pengetahuan.

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri.

Pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010).

1) Tingkat Pengetahuan 2) Tahu (know) 3) Memahami (comprehension) 4) Aplikasi (application). 5) 6) 7) Analisis (analysis). Sintesis (synthesis). Evaluasi (evaluation).

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 51 b. Pengukuran pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden.

Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas (Notoatmodjo, 2012). c. Kategori pengetahuan Pengetahuan seseorang dapat diketahui atau diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu tingkat pengetahuan: 1) baik bila skor atau nilai 76-100 % 2) cukup bila skor atau nilai 56-75 % 3) kurang bila skor atau nilai < 56 % 2. Karakteristik Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakteristik adalah ciri-ciri khusus atau mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu.

Karakteristik adalah ciri khas seseorang dalam meyakini, bertindak, ataupun merasakan. Berbagai teori pemikiran dari karakteristik tumbuh untuk menjelaskan berbagai kunci karakteristik manusia. Karakteristik menurut Notoatmodjo (2012) bisa dilihat dari beberapa sudut pandang diantaranya demografi seperti umur dan jenis kelamin, dari struktur sosial seperti tingkat pendidikan dan pekerjaan. 3. Dokumen Rekam Medis a.

Pengertian rekam medis b. Tujuan dan kegunaan rekam medis c. d. e. 4. Isi Dokumen rekam medis Pengguna rekam medis Nilai guna rekam medis Hak Akses Dokumen Rekam Medis Hak akses dokumen rekam medis adalah hak atas isi kandungan rekam medis miliknya. Pasien sebagai pemilik isi rekam medis/informasi kesehatan, memiliki hak untuk mengakses informasi kesehatannya dan hak untuk menentukan boleh atau tidaknya informasi kesehatannya diakses oleh pihak lain, kecuali apabila peraturan perundangan mengaturnya lain (Hatta, 2008).

52 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh 2: Judul penelitian: Analisis Kuantitatif Dokumen Rekam Medis Rawat Inap di RS X. Penulisan Tinjauan Pustaka dengan judul tersebut antara lain meliputi : 1. Rekam medis 2. Formulir dokumen rekam medis 3. Assembling 4. Analisis kuantitatif Berikut contoh uraian singkat: 1.

Rekam Medis a. Pengertian Rekam Medis Rekam medis adalah keteranganbaik yang tertulis maupun yang terekam tentang identitas, anamnese, pemeriksaan fisik, laboratorium, diagnosa serta segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien, dan pengobatan baik yang dirawat inap, rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat (Depkes RI, 2006).

b. Tujuan Rekam Medis Tujuan rekam medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan dirumah sakit. c. Kegunaan Rekam Medis Menurut Depkes RI (2006),kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain aspek: 1) administrasi 2) medis 3) 4) 5) hukum keuangan penelitian 6) 7) pendidikan, dan dokumentasi.

d. 1) 2) Jenis dan Isi Rekam Medis Jenis Isi e. Tata Cara Penyelenggaraan Rekam Medis ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 53 2. Formulir Dokumen Rekam Medis a. Pengertian formulir dokumen rekam medis b. Tujuan dan manfaat formulir c. Formulir dokumen rekam medis rawatinap d. Formulir ringkasan masuk dan keluar e.

Cara pengisian formulir ringkasan masuk dan keluar 3. Assembling a. b. c. d. e. Pengertian assembling Tugas pokok dan fungsi assembling Fungsi-fungsi terkait assembling Pengendalian ketidaklengkapan isi data rekam medis Analisis kelengkapan pengisian dokumen rekammedis 4.

Analisis Kuantitatif a. Pengertian Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif pada rekam kesehatan menelaah kelengkapan dan ketepatan b. c. d. lembaran (laporan/dokumentasi) yang terkumpul sesuai dengan jenis pelayanan pasien serta mengikuti ketentuan penataan lembaran pada RM kertas atau tersedianya data RKE secara elektronis (Hatta,2013).

Tujuan analisiskuantitatif Hasil analisis kuantitatif yangdiharapkan Komponen analisiskuantitatif Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! Susunlah secara ringkas outline tinjauan pustaka yang sesuai dengan judul, latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian yang akan dilakukan! Petunjuk Jawaban Latihan 1) 54 Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas, maka: Pelajari kembali tentang cara membuat telaah atau tinjauan pustaka beserta contohnya Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 2) Tentukan sub – sub judul outline tinjauan pustaka sesuai dengan penelitian yang akan anda lakukan atau berdasarkan judul, latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah anda buat sebelumnya kemudian lengkapi dengan penjelasan atau uraian dari setiap sub judul tersebut Ringkasan 1.

2. 3. Pada proposal atau laporan penelitian, landasan teori ini diuraikan pada bab tersendiri yaitu pada Bab 2 dengan judul tinjauan pustaka atau telaah pustaka. Tinjauan pustaka memuat tentang teori-teori dan konsep-konsep dari variabel yang akan diteliti dan keterkaitan antar variabel tersebut serta generalisasi hasil penelitian yang disusun secara sistematis dan menyeluruh sehingga menjadi acuan untuk membangun suatu kerangka berfikir yang akan disusun dalam kerangka teori.

Pada bab pembahasan, teori-teori yang terdapat pada tinjauan pustaka sangat berguna untuk menjelaskan berbagai fenomena yang ditemukan dalam hasil penelitian. Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Pernyataan di bawah ini yang merupakan contoh uraian teori yang menggambarkan teori induktif adalah uraian yang diawali dengan …. A. teori tentang rumah sakit dan selanjutnya tentang puskesmas B. kelengkapan dokumen rekam medis dan selanjutnya tentang kelengkapan laporan C.

D. 2) RS teori variabel-variabel yang akan diteliti, kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan tentang rumah sakit secara umum penjelasan tujuan pembangunan millenium (MDG’s), kemudian secara spesifik membahas tentang sertifikat kematian ibu/maternal. Pernyataan di bawah ini yang merupakan contoh uraian teori yang menggambarkan teori deduktif adalah uraian yang diawali dengan …. A. teori tentang rumah sakit dan selanjutnya tentang puskesmas B. kelengkapan dokumen rekam medis dan selanjutnya tentang kelengkapan laporan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 55 C.

D. 3) Kegunaan teori dalam bab pembahasan adalah …. A. untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup penelitian, termasuk menjelaskan apa saja variabel yang akan diteliti B.

C. D. 4) teori variabel-variabel yang akan diteliti, kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan tentang rumah sakit secara umum penjelasan 8 tujuan pembangunan millenium (MDG’s), kemudian secara spesifik membahas tentang sertifikat kematian ibu/maternal dijadikan dasar untuk memberikan solusi dalam upaya pemecahan masalah sebagai penjelasan atau justifikasi terhadap hasil penelitian dan juga digunakan untuk dibandingkan dengan hasil penelitian sebagai dasar dalam menentukan hipotesis penelitian serta untuk menyusun instrumen penelitian Berikut ini merupakan contoh ringkas isidan susunan tinjauan pustaka yang paling tepat dengan judul:“Analisis kelengkapan dokumen rekam medis kasus thypoid di RS X” adalah ….

A. A. Rumah Sakit; Pengertian, Tipe RS. B. Rekam Medis; pengertian, Dokumen Rekam Medis. C. Analisis Kuantitatif Dokumen Rekam Medis; Identifikasi; Autentikasi; laporan yang penting; pencatatan yang baik. D. Thypoid; Pengertian; Tanda dan Gejala; Pemeriksaan dan Pengobatan.

B. A. Rumah Sakit; Pengertian, Tipe RS. B. Analisis kelengkapan dokumen rekam medis. C.Thypoid; Pengertian; Tanda dan Gejala; Pengobatan kasus thypoid; pencegahan dan penanggulangan penyakit thypoid.

C. A. Rekam Medis. B. Rumah Sakit. C. Analisis kelengkapan dokumen rekam medis. D. 5) Tujuan telaah pustaka dalam content latar belakang adalah untuk …. A. memperoleh data dan informasi yang dapat menggambarkan besaran masalah, keseriusan masalah dan kesensitifan masalah. B. membantu dalam menemukan variabel-variabel apa saja yang masuk dalam penelitian dan metode penelitiannya yang sesuai C. D. 56 D. Penyakit Thypoid A. Rekam Medis. B. Analisis Kuatitatif dokumen rekam medis.

C. Rumah Sakit membantu dalam menemukan ide atau topik penelitian memperoleh informasi tentang keterbatasan peneliti lain sehingga dapat dijadikan masukan dan pelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang sama Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 2 Penulisan Referensi A.

SUMBER REFERENSI Sumber informasi atau referensi dalam sebuah penelitian dapat berupa buku, jurnal penelitian, atau makalah ilmiah. Laporan hasil penelitian yang tersimpan di perpustakaan baik skripsi, tesis, maupun disertasi yang belum dipublikasikan tidak dapat menjadi referensi karena kesahihannya kurang dan bukan sebagai rujukan yang baku. Laporan hasil penelitian dapat dijadikan sebagai referensi apabila telah dipublikasikan melalui jurnal atau prosiding baik nasional maupun internasional.

Referensi yang digunakan sebaiknya dari jurnal ilmah atau buku – buku teks yang benar-benar dibaca bukan hanya dari kumpulan abstraknya saja dan bukan dari makalah atau majalah populer, surat kabar, brosur, pamflet, dan sebagainya. Dianjurkan agar rujukan merupakan edisi terbaru atau up to date, yaitu publikasi dalam kurun waktu 5 atau 7 tahun terakhir.

Namun bukan berarti sumber referensi yang lebih dari 5 tahun tidak diperbolehkan. Khusus untuk sumber – sumber primer berupa teori yang pertama kali muncul dan masih dipergunakan sampai saat ini serta sumber lama juga dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa masalah yang diteliti bukan masalah penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk dan pernah diteliti pada zaman dahulu dan sekarang muncul kembali atau masih menjadi perdebatan (Sastroasmoro, 2014).

Saat ini penelusuran referensi juga dapat dilakukan melalui website danhanya website resmi yang dapat menjadi rujukan, seperti untuk rujukan data kesehatan tingkat global atau dunia dapat menggunakan sumber dari World Health Organization (WHO), untuk tingkat nasional dapat menggunakan sumber data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), Profil Kementerian Kesehatan, data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Badan Pusat Statistik (BPS) dan lain-lain.

Sementara penggunaan referensi dari blogspot atau wordpress baik instansi ataupun perorangan tidak diperkenankankan karena kesahihannya kurang atau dianggap tidak kredibel untuk sebuah kegiatan ilmiah khususnya untuk kegiatan penelitian.

Referensi yang digunakan dalam sebuah penelitian harus relevan dan yang benar-benar penting saja. Penulisan referensi tidak diperbolehkan dengan cara langsung menyalin persis satu atau seluruh paragraf asli seperti dari sumbernya namun harus diringkas atau dirangkum dalam kalimat dengan menggunakan kata-kata sendiri, kecuali untuk hal-hal tertentu yang tidak dapat diubah atau tidak dapat diartikan lain seperti kalimat dalam Undang–Undang Dasar 1945 atau kalimat dalam Garis–Garis Besar Haluan Negara(Sastroasmoro, 2014).

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 57 B. CARA PENULISAN REFERENSI Penulisan referensi harus memuat minimal tiga unsur yaitu nama penulis, judul tulisan, dan informasi tahun penerbitan. Nama penulis tidak selalu berupa nama orang namun dapat juga nama sebuah instansi misalnya Kementerian Kesehatan, BKKBN, BPS, Balitbangkes, dan sebagainya.

Penulisan nama dimulai dengan nama belakang atau nama keluarga, namun apabila namanya tunggal maka dicantumkan langsung sesuai namanya tersebut. Di bawah ini contoh dalam penulisan nama: Nama tunggal : Sugiyono ditulis Sugiyono Nama belakang : Soekidjo Notoatmodjo ditulis Notoatmodjo S Nama keluarga/marga : Abdul Haris Nasution ditulis Nasution AH Judul artikel penelitian dalam sebuah majalah atau jurnal penelitian, ditulis selengkapnya termasuk mencakup nama majalah, volume, halaman pertama dan terakhir, serta tahun penerbitan.

Apabila terdapat kutipan sebuah teori berasal dari buku maka harus ditulis nama buku, penulis, edisi (kecuali yang pertama), halaman pertama dan terkahir, penerbit, kota tempat penerbitan dan tahun penerbitan. Penulisan singkatan nama majalah dan penerbit harus ditulis menurut aturan yang telah dibakukan (Index Medicus). Nama kota penerbit bila lebih dari satu hanya ditulis nama kota pertama atau nama kota pertama dan terakhir jangan dituliskan semua nama kota penerbit.

Cara penulisan referensi ada beberapa macam yaitu: 1. Sistem nomor Pada sistem nomor ini setiap rujukan diberi nomor sesuai dengan urutannya di dalam makalah yang diletakkan di antara tanda kurung, baik di belakang nama penulis, akhir pernyataan atau akhir kalimat.

Untuk penunjukan lebih dari satu digunakan nomor-nomor yang bersangkutan yang dipisahkan dengan koma. Contoh: Gizi buruk pada baduta dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi sebagai tritunggal dalam epidemiologi yaitu pejamu (host), agent dan lingkungan (environment) (1).Faktor pejamu antara lain penyakit infeksi. Masa baduta terutama usia 6 – 23 bulan merupakan kelompok umur paling rentan untuk mengalami ISPA (2).

Penyakit infeksi lainnya selain ISPA adalah diare (3,4). 58 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Kemudian pada daftar pustaka dituliskan nama-nama penulis berdasar pada nomor urut di uraian dalam makalah, bukan menurut urutan abjad (alphabet). a. Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I.

Penilaian Status Gizi: Penerbit Buku Kedokteran EGC. cetakan 1; 2002. Hal 8-78. b. Chalabi DAK. Acute Respiratory Infection and Malnutrition among children below 5 years of age in Erbyl.

Eastern Mediterranian Journal. Past Issues. Volume 19. Issue 1. 2013. c. Hidayat TS, Fuad N. Hubungan sanitasi lingkungan, morbiditas dan status gizi balita di Indonesia. PGM.2011. 34(2): 104 - 113. 2011. d. Rice AL. Malnutrition as an Underlying Cause of Childhood Deaths Associated With Infectious Diseases in Developing Countries. Bulletin of the World Health Organization. 2000, 78: 1207 – 1221. 2. Sistem Nama dan Tahun (Harvard) Pada sistem ini daftar referensi disusun secara alfabetik berdasarkan nama penulis (dengan nama keluarga berada di depan).

Penunjukannya dalam artikel penelitian dengan mencantumkan nama belakang penulis dan tahun di dalam kurung dengan tanda koma diantaranya.

Bila nama penulis lebih dari satu orang, di belakang tahun dibubuhkan tanda titik koma sebelum penulis berikutnya.

Contoh: Gizi buruk pada baduta dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi sebagai tritunggal dalam epidemiologi yaitu pejamu (host), agent dan lingkungan (environment) (Supariasa, 2002).Faktor pejamu antara lain penyakit infeksi.

Masa baduta terutama usia 6 – 23 bulan merupakan kelompok umur paling rentan untuk mengalami ISPA (Chalabi, 2013). Penyakit infeksi lainnya selain ISPA adalah diare (Hidayat, 2011; Rice, 2000). Sumber kutipan yang dinyatakan dalam karya ilmiah harus ada dalam daftar pustaka dengan penulisan berdasar urutan abjad (alphabet).Bila terdapat penulis yang sama, maka urutan abjad berdasarkan nama penulis berikutnya.

Apabila nama para penulis sama, maka penulisannya berdasarkan kronologi (tahun penerbitan). Apabila nama penulis dan tahun penerbitannya sama, maka ditambahkan huruf a, b, c dan seterusnya di belakang tahun. Pola penulisan referensi berjenis buku; nama belakang pengarang, inisial tahun terbit, judul buku (edisi jika edisinya lebih dari satu), tempat diterbitkan, penerbit.

Hal hal yang perlu diperhatikan adalah judul buku yang dituliskan secara italic dengan peggunaan huruf kapital mengikuti standar penulisan kalimat. Jumlah pengarang yang boleh dituliskna di satu referesi maksimal berjumlah enam. Jika pengarang lebih dari enam makapengarang ketujuh dan selajutnya dituliskan et al. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 59 Contoh: Satu pengarang : Conley, D. 2002. The daily miracle: an introduction to journalism. New York: Oxford University Press.

Dua pengarang : Anna, N & Santoso, CL. 1997. Pendidikan Anak. Edisi 5. Jakarta: Family Press. Lebih dari dua pengarang : Kotler, P, Adam, S, Brown, L, & Amstrong, G 2003, Priciples of marketing, 2nd edn. Melbourne: Pearson Education Australia, Melbourne. Pola penulisan referensi berjenis artikel atau jurnal; nama belakang pengarang, inisial tahun terbit, judul artikel meggunakan tanda kutif tunggal, Nama jurnal menggunakan format italic, Nomor Volume (ditulis Vol), nomor halaman.

Contoh: Satu pengarang : Hall, M 1999, ‘Breaking the silence: marginalization of registered nurses employed in nursing home, Contemporary Nurse, Vol.8, No.1, hh. 232 – 237. Dua pengarang : Davis, L, Mohay, H & Edwards, H 2003, ‘Mothers involvement in caring for their premature infants: an historitical overview’, Journal of Advanced Nursing, vol.

42. No.6, hh.578 – 586. Lebih dari dua pengarang : Wijaya, K, Phillips, M & Syarif, H 2002, ‘Pemilihan sistem penyimpanan data skala besar’, Jurnal Informatika Indonesia, vol.1, no.3, hh. 132 – 140.

3. Sistem Kombinasi Alphabet dan Nomor Pada sistem ini menunjukkan di dalam makalah diberi nomor seperti pada butir 2 dan pada daftar rujukan nama penulis disusun secara alfabetik. Penulisan referensi dalam daftar pustaka disusun menurut alphabet nama penulis. Diantara nama keluarga dan nama diri diberikan tanda koma, antara nama-nama penulis diberikan tanda titik koma, dan pada akhir nama penulis diberikan tanda titik dua, kemudian diikuti dengan judul makalah lengkapnya.

Di belakang judul makalah ditulis nama majalah yang disingkat menurut aturan yang baku, kemudian diberi tanda titik. Di belakang nama majalah ditulis volume majalah kemudian titik dua, halaman pertama sampai terakhir, akhirnya ditulis tahun penerbitan dalam tanda kurung. Contoh ▪ 60 Majalah Allan, J.D., Mason, A., Moss, A. D.: Nutritional supplementation in the treatment of cystic fibrosis. Am. J. Dis. Child. 126 : 22 – 26 (1973) Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ - Brozovich, B.; Cattel, W.R.; Cottrail, M.F,; Gwyther, M.

M.; McMillan, J. M., Jr.; Malpas, J.S.; Salisbury, A.; Trotta, N.G. von: Iron metabolism in patients undergoing regular dialysis therapy. Br.med.J.ii: 695 – 698 (1975) Untuk penulisan referensi dalam buku caranya sama yang rinciannya dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.

▪ Buku - Bucher, T.; Pfleiderer, G.: Pyruvate kinase from muscle; in Colowick, Kaplan, Methods in enzymology, vol.1, p.323 (Academic Press, New York 1972). Rueff, F.; Korfmacher, I.: Zeichen akut lebensbedroh-licher Zusta” nde; in Hadorn, Zo”llner, Vom Symtom zur Diagnose; 7. Aufl. (Karger, Basel 1979). ▪ Monogram Dixon, M.; Webb, E.C.: Enzymes; 2nd ed., pp. 43 – 68 (Longmans Green, London 1976). ▪ Simposium Symposium: La radiotherapie de la maladie de Hodgkin.

Nouv. Revue fr.Hemat.6: 1 – 176 (1976) ▪ Badan internasional, kelompok kerja World Health Organization: Standardization of procedures for the study of glucose-6phosphate dehydrogenase.

Tech. Rep. Ser. Wld Hlth Org., No.366 (1977). 4. Sistem Vancouver Sistem ini dibuat dengan tujuan untuk menyeragamkan atau membakukan tata cara penulisan makalah ilmiah di dunia. Cara ini telah mengalami revisi beberapa kali dan yang terakhir adalah revisi tahun 2010, yang diterbitkan oleh International Committee of Medical Journal Editors dengan judul “Uniform requirements for manuscript submitted to biomedical journal”. Sistem ini merupakan cara penulisan referensi dengan menggunakan penomoran dimana di setiap rujukan diberi nomor sesuai dengan urutannya di dalam artikel, yang diletakkan di akhir pernyataan atau akhir kalimat tanpa menggunakan tanda kurung, nomor ditulis dengan font superscript, dan selanjutnya dicantumkan pada daftar pustaka dengan urutan penulisan sebagai berikut: nomor urut, nama penulis, judul buku atau artikel, nama kota penerbit, nama penerbit dan tahun penerbitan.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 61 Contoh: Gizi buruk pada baduta dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi sebagai tritunggal dalam epidemiologi yaitu pejamu (host), agent dan lingkungan (environment) 1. Faktor pejamu antara lain penyakit infeksi. Masa baduta terutama usia 6 – 23 bulan merupakan kelompok umur paling rentan untuk mengalami ISPA 2. Penyakit infeksi lainnya selain ISPA adalah diare 3,4.

Kemudian pada daftar pustaka dituliskan nama-nama penulis berdasar pada nomor urut di uraian dalam makalah, bukan menurut urutan abjad (alphabet). Bila ada nama penulis, judul dan tahun yang sama persis dengan sebelumnya maka nomor mengikuti pada yang pertama kali tercantum.

Kemudian untuk makalah dengan jumlah pengarang kurang atau sama dengan 6 orang maka nama pengarang ditulis semuanya. 1. Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I. Penilaian Status Gizi: Penerbit Buku Kedokteran EGC. cetakan 1; 2002. Hal 8-78. 2. Chalabi DAK. Acute Respiratory Infection and Malnutrition among children below 5 years of age in Erbyl. Eastern Mediterranian Journal. Past Issues. Volume 19. Issue 1. 2013. 3. 4. Hidayat TS, Fuad N.

Hubungan sanitasi lingkungan, morbiditas dan status gizi balita di Indonesia. PGM.2011. 34(2): 104 - 113. 2011. Rice AL. Malnutrition as an Underlying Cause of Childhood Deaths Associated With Infectious Diseases in Developing Countries.

Bulletin of the World Health Organization. 2000, 78: 1207 – 1221. Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! Sisipkan referensi ke dalam artikel dibawah ini dan susun daftar pustakanya menggunakan sistem harvard! Artikel: Kegiatan pengolahan berkas rekam medis yaitu penyimpanan berkas rekam medis. Bagian ini bertujuan untuk menyediakan DRM untuk berbagai keperluan, mempermudah dan mempercepatditemukan kembali berkas rekam medis yang disimpan di dalam rak filing, mudah mengambil dari tempat penyimpanan, mudah pengembaliannya, melindungi berkas rekam medis dari bahaya pencurian, kerusakan fisik, kimiawi dan biologi (a).

62 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit NHS Inggris menyatakan bahwa dari 1161 pasien rawat jalan terdapat 18 pasien (1,5%)yang seluruh berkas rekam medisnya hilang dan175 pasien (15%)yang sebagian berkas rekam penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk hilang, yaitu satu atau lebih formulir di dalam rekam medisnya tidak ada.

Dampak dari kejadian ini yaitu sebesar 32% dari pasien yang rekam medisnya hilang mengalami keterlambatan atau gangguan terhadap perawatan mereka dan 20% memiliki resiko bahayaseperti efek samping yang serius karena hasil tes diagnostik, radiologi dan catatan tindakan yang hilang. Lebih dari setengah kasus yang rekam medisnya hilang, dokter hanya mengandalkan informasi klinis dari hasil wawancara kepada pasien untuk melakukan keputusan klinis (b).

Keterangan: (a). Pengarang: Budi dan Citra Savitri Judul: Manajemen Unit Kerja Rekam Medis. Penerbit: Quantum Sinergi Media Yogyakarta Tahun terbit : 2011 (b). Pengarang: Susan Burnett Judul: Missing Clinical Information in NHS Hospital Outpatient Clinics: Prevalence, Cause and Efeects on Patient Care Penerbit:BMC Health Services Research. Vol 11 page 1-7 Tahun terbit : 2016 Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka silahkan untuk mempelajari kembali tentang: 1) Cara penulisan referensi menurut Harvard 2) Sisipkan referesi menurut Harvard di akhir paragraf berdasarkan keterangan diatas, 3) dengan mencantumkan nama belakang penulis dan tahun di dalam kurung dengan tanda koma diantaranya Kemudian susun referensi tersebut menurut Harvard dalam daftar pustaka, dengan pola: nama belakang pengarang, inisial tahun terbit, judul buku (edisi jika edisinya lebih dari satu), tempat diterbitkan, penerbit ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 63 Ringkasan 1.

2. 3. Sumber informasi atau referensi dalam sebuah penelitian dapat berupa buku, jurnal penelitian atau makalah ilmiah. Referensi sebaiknya merupakan edisi terbaru dalam kurun waktu 5 atau 7 tahun terakhir, kecuali untuk sumber – sumber primer berupa teori yang pertama kali muncul dan masih dipergunakan sampai saat ini.

Referensi yang telah diperoleh dicantumkan dalam daftar pustaka secara lengkap mengikuti aturan dari cara penulisan referensi yang berlaku di masing-masing jurnal penelitian. Macam-macam cara penulisan referensi yaitu antara lain sistem nomor, sistem nama dan tahun (Harvard), sistem kombinasi alphabet dan nomor serta sistem vancouver.

Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Penulisan referensi harus memuat minimal tiga unsur, yaitu …. A. nama penulis, judul tulisan dan informasi tahun penerbitan B. nama penulis, Judul tulisan dan informasi tempat penerbitan C. nama penulis, Judul tulisan dan informasi nama penerbit D.

nama penulis, informasi nama dan tempat penerbit 2) Secara umum cara penulisan referensi nama penulis yang paling tepat di bawah ini adalah…. A. B. C. D. 3) Sugiyono Tan menjadi T Sugiyono Sudigdo sartoasmoro mejjadi Sastroasmoro S Soekidjo Notoatmodjo menjadi Soekidjo N Abdul Haris Nasution menjadi Nasution Abdul H Artikel: Gizi buruk pada baduta dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi sebagai tritunggal dalam epidemiologi yaitu pejamu (host), agent dan lingkungan (environment) (1).Faktor pejamu antara lain penyakit infeksi.

Masa baduta terutama usia 6 – 23 bulan merupakan kelompok umur paling rentan untuk mengalami ISPA (2). Penyakit infeksi lainnya selain ISPA adalah diare (3,4). Cara penulisan referensi artikel tersebut termasuk ke dalam sistem …. A. Harvard 64 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ B. C. D. 4) Vancouver Nomor kombinasi alphabet dan nomor Artikel: Gizi buruk pada baduta dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi sebagai tritunggal dalam epidemiologi yaitu pejamu (host), agent dan lingkungan (environment) (Supariasa, 2002).Faktor pejamu antara lain penyakit infeksi.

Masa baduta terutama usia 6 – 23 bulan merupakan kelompok umur paling rentan untuk mengalami ISPA (Chalabi, 2013). Penyakit infeksi lainnya selain ISPA adalah diare (Hidayat, 2011; Rice, 2000). Cara penulisan referensi artikel tersebut termasuk ke dalam sistem …. A. Harvard B. Vancouver C. Nomor D. kombinasi alphabet dan nomor 5) Artikel: Gizi buruk pada baduta dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi sebagai tritunggal dalam penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk yaitu pejamu (host), agent dan lingkungan (environment) 1.Faktor pejamu antara lain penyakit infeksi.

Masa baduta terutama usia 6 – 23 bulan merupakan kelompok umur paling rentan untuk mengalami ISPA 2. Penyakit infeksi lainnya selain ISPA adalah diare 3,4. Cara penulisan referensi artikel tersebut termasuk ke dalam sistem …. A. Harvard B. Vancouver C. Nomor D. 6) kombinasi alphabet dan nomor Cara penulisan sistem Harvard, apabila nama penulis dan tahun penerbitannya sama maka kita menambahkan …. A. huruf a, b, dan seterusnya di belakang tahun B.

koma di belakang tahun penerbitannya C. titik di belakang tahun penerbitannya D. titik dan koma di belakang tahun ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 65 Topik 3 Plagiarisme A. DEFINISI PLAGIARISME Plagiarisme adalah tindakan pencurian ide, pemikiran, atau tulisan orang lain baik disengaja maupun tidak disengaja yang digunakan oleh penulis seolah-olah merupakan ide atau pemikiran atau tulisannya sendiri.

Pencurian yang terjadi bisa dalam bentuk pencurian kata, kalimat, alinea, atau bab sebuah tulisan atau buku orang lain tanpa menyebutkan sumbernya tersebut. Kata plagiarisme semakin berkembang di kalangan akademisi mengingat mahasiswa dari setiap perguruan tinggi diwajibkan untuk membuat karya tulis ilmiah, skripsi, tesis ataupun disertasi tergantung tingkatannya masing-masing.

Bagi pendidikan Diploma III dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah (KTI), Diploma IV atau S1 dalam bentuk skripsi dan bagi pendidikan S2 dalam bentuk tesis serta bagi pendidikan S3 dalam bentuk disertasi. Tugas akhir tersebut biasanya merupakan prasyarat dalam kelulusan masing-masing jenjang pendidikan. Selain itu, dalam melaksanakan proses pendidikannya setiap mahasiswa tidak lepas dari berbagai tugas yang diberikan dosen untuk membuat makalah.

Hal ini menyebabkan rentannya terjadi plagiarisme di kalangan akademisi khususnya pada mahasiswa, karena dalam melaksanakan tugasnya tersebut mahasiswa banyak melakukan pengutipan-pengutipan dari berbagai sumber. Dengan semakin mudahnya akses untuk mencari sumber referensi melalui internet dan seringkali ditemukan tulisan bagus dan relevan dengan topik tugas yang sedang dicari namun tanpa diketahui dari mana sumbernya sehingga pengutipan-pengutipan yang diambil dari berbagai sumber tersebut terkadang ditulis tanpa menyebutkan nama penulis dan sumbernya, maka tindakan ini dapat dikatakan melakukan tindakan plagiarisme (Wibowo, 2014).

Tindakan plagiarisme dapat dikenai sanksi, baik berupa tertundanya kelulusan perkuliahan bagi mahasiswa karena harus mengulang untuk menyusun tugas akhirnya tersebut, ataupun tertundanya kenaikan pangkat bagi dosen karena jurnal penelitiannya terdeteksi plagiarisme walaupun tindakannya tersebut tidak disengaja. Plagiarisme tidak hanya dapat terjadi di bidang pendidikan saja namun dapat terjadi di berbagai bidang termasuk industri musik atau seni musik, sastra, dan sebagainya.

Plagiarisme di bidang musik bahkan sering masuk ke dalam ranah hukum di mana pihak yang menjiplak dituntut secara perdata untuk membayar sejumlah uang kepada pencipta aslinya.

Akhirnya tentunya bagi penjiplak selain mendapatkan sanksi hukum yaitu kerugian berupa materi 66 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ karena harus membayar denda, terkadang juga mendapatkan sanksi sosial karena kasusnya tersebut dipublikasikan secara luas baik melalui media surat kabar, internet, atau media sosial. B. JENIS PLAGIARISME Kumpulan tulisan-tulisan Hamp-lyons & Courter (1984); Liles, Jefrey A, and Michael Rozalski (2004); Barnbaum (2006); Uturodewo, Felici, dkk (2007); Christle (2008) dalam Wibowo, (2014), menyebutkan bahwa jenis-jenis plagiarisme sebagai berikut di bawah ini.

1. Word by word Plagiarism Jenis plagiarisme ini melakukan pengutipan atau penjiplakan kata atau kalimat pada sebagian atau seluruh paragraf atau bab persis sama dengan sumbernya/aslinya tanpa mengubah susunan kata atau kalimatnya sama sekali dan tanpa mencantumkan nama penulis asli serta sumbernya.

Kata lain dari word by word plagiarism adalah block, copy & paste plagiarism. 2. Word Switch Plagiarism Jenis plagiarisme ini yaitu melakukan pengutipan atau penjiplakan kata atau kalimat pada sebagian atau seluruh paragraf atau bab dengan mengganti beberapa kata dalam kalimat tanpa mengubah susunan kata ataupun susunan kalimat dan tanpa mencantumkan nama penulis asli beserta sumbernya. 3. Style Plagiarism Jenis plagiarisme ini yaitu sudah mengubah kutipan kata atau kalimat pada sebagian atau seluruh paragraf atau bab dengan kata atau kalimat baru tapi gaya penulisannya meniru penulis asli dan dapat menjadi sebuah tindakan plagiat apabila tanpa mencantumkan nama penulis asli beserta sumbernya.

4. Metaphor Plagiarism Jenis plagiarisme ini yaitu melakukan pengutipan atau penjiplakan sebuah bagian dari karya penulis lain untuk memperjelas makna dari tulisannya sendiri.

Penulis tersebut merasa tulisannya kurang lengkap atau kurang difahami sehingga perlu mengutip tulisan lain untuk lebih memberikan penjelasan atau pemahaman. Hal ini dapat menjadi sebuah tindakan plagiat apabila tanpa mencantumkan nama penulis asli beserta sumbernya. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 67 5.

Idea Plagiarism Jenis plagiarisme ini melakukan pengutipan terhadap gagasan, ide tau pemikiran orang lain ke dalam tulisan sendiri tanpa mencantumkannama penggagasnya beserta sumbernya. Bila ide atau pemikiran muncul dari dosen pembimbing atau teman kuliah yang belum tertuang dalam sebuah tulisan maka idealnya pada catatan kaki disebutkan sumber-sumber ide tersebut.

Namun karena belum dalam bentuk tulisan seringkali kesulitan dalam menentukan bahwa sebuah tulisan apakah termasuk kedalam tindakan idea plagiarism atau bukan. Dalam rangka menghargai kepada orang yang memberikan ide atau gagasan orang lain tersebut, maka sebaiknya dapat memberikan penghargaan berupa ucapan terimakasih atau acknowledgment yang ditulis pada bagian akhir artikel ilmiah.

6. Self Plagiarism Jenis plagiarisme ini melakukan pengutipan atau penjiplakan kata atau kalimat pada sebagian atau seluruh paragraf atau bab karyanya sendiri secara identik dan mengirimkannya untuk dipublikasikan tanpa mencantumkan informasi tentang pengutipan hasil karyanya sendiri dan pernah dimuat pada jurnal ilmiah sebelumnya, sehingga terdeteksi sebagai swa plagiarisme atau self plagiarism karena dimuat secara berulang, dimana beberapa editor membuat patokan bahwa bila 50 % sama persis dengan publikasi karyanya terdahulu maka karya tersebut harus ditolak untuk dimuat.

Jenis plagiarisme ini masih menjadi perdebatan, termasuk menurut Samuelson (1994) dalam Wibowo (2014) bahwa swa plagiarism bukan masalah karena alasan beberapa faktor berikut: karya tulis terdahulu merupakan dasar untuk tulisan terbarunya, beberapa dalam karya sebelumnya perlu diulang untuk mendukung dalam konsep terbarunya, pembaca dari karya sebelumnya dengan pembaca sekarang sangat berbeda sekali dalam arti lain untuk memperluas pembaca, dan tulisan yang pertama sudah sempurna sehingga saat menuliskannya kembali tidak ada yang diubah sama sekali.

7. Plagiarisme dari Akses Elektronik/Internet Saat ini akses informasi sangat mudah dengan menggunakan internet, terdapat banyak jurnal online baik nasional maupun internasional, sehingga kemungkinan rentan untuk terjadinya plagiarisme.

Namun saat ini jurnal-jurnal online khususnya yang terpercaya (terakreditasi) sudah memproteksi sedemikian rupa dengan harus mendaftar terlebih dahulu bila akan mengunduhnya dan memiliki aturan dan syarat-syarat yang cukup ketat bila akan mempublikasikan sebuah karya tulis ilmiah.

68 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ B. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PLAGIARISME 1. Pencegahan secara Umum ▪ Memberikan apresiasi atau penghargaan terhadap karya orang lain melalui pencantuman nama penulis beserta sumbernya apabila mengutip sebuah tulisan atau menggunakan gagasan atau ide orang lain.

▪ Melakukan parafrasa yaitu mengangkat sebuah intisari dari sebuah tulisan kemudian menuliskannya kembali dengan kata-kata sendiri tanpa mengubah ▪ ▪ makna atau artinya dan selalu mencantumkan nama penulis beserta sumbernya. Melakukan pengecekan sebuah tulisan dengan peranti lunak pendeteksi plagiarisme, peranti yang dapat mengecek apakah terdapat pengutipan tulisan sebagian atau seluruhnya dan dapat mendeteksi berapa persen tulisan tersebut mengutip dari tulisan orang lain Pustakawan yang professional menjadi tempat bertanya dan dapat memberikan arahan.

Pustakawan dapat memberikan masukan dan arahan terkait referensi yang dibutuhkan oleh penulis, apa dan dimana untuk mendapatkan referensi yang dibutuhkannya tersebut. 2. Sanksi dan Hukuman Terhadap Plagiator Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiarisme di perguruan tinggi antara lain menyebutkan bahwa pada setiap karya ilmiah yang dihasilkan di lingkungan perguruan tinggi harus dilampirkan pernyataan yang ditandatangani oleh penyusunnya bahwa: a) karya ilmiah tersebut bebas plagiat, b) apabila dikemudian hari terbukti terdapat tindakan plagiat dalam karya ilmiah tersebut, maka penulisnya dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Contoh membuat parafrasa Contoh 1: Artikel Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, di Indonesia terdapat prevalensi penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk kurang dan gizi penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk pada balita sebesar 18,4%, dan sedikit menurun pada hasil Riskesdas tahun 2010 yaitu sebesar 17,9 %.9 Kasus gizi kurang dan gizi buruk tersebut tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesia, termasuk di propinsi Jawa Barat sebesar 15% pada tahun 2007, dan menurun menjadi 13% pada tahun 2010.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 69 Gizi kurang pada balita dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi sebagai tritunggal dalam epidemiologi yaitu pejamu (host), agent dan lingkungan (environment). Faktor pejamu antara lain penyakit infeksi. Masa balita merupakan kelompok umur paling rentan untuk mengalami ISPA. Penyakit infeksi lainnya selain ISPA adalah diare. Faktor lainnya yaitu pola asuh anak. Secara umum pola asuh meliputi pola asuh pemberian makan, praktek kebersihan dan kesehatan anak.

Pola asuh yang memadai sangat penting bagi balita mengingat anak-anak kategori usia ini masih sangat bergantung terhadap ibu baik untuk memenuhi asupan makanannya maupun untuk memenuhi semua kebutuhan lainnya.

Parafrasa dari bagian yang dikutip diatas menjadi: Gizi kurangpada balita tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesia yang disebabkan oleh penyebab langsung yaitu penyakit infeksi seperti ISPA dan diare serta penyebab tidak langsung seperti pola asuh ibu dalam pemberian makanan, kebersihan dan kesehatan anak.

Contoh 2: Artikel Berdasarkan salah satu kasus terkait ketersediaan rekam medis yaitu terjadi di pedalaman Kalimantan, dimana seorang pasien dengan diagnosis usus buntu menjalani operasi darurat pengangkatan usus buntu, namun terdapat keluhan lain yaitu batuk, meskipun tidak didukung dengan hasil laboratorium penunjang baik rontgen maupun darah dan urin, namun dokter tetap melaksanakan pengangkatan usus.

Tiga belas hari kemudian terdapat luka terbuka dan dilakukan operasi ulang dan kolostomi, ternyata pada foto rontgen dada yang dilakukan sesudah operasi, diketahui bahwa korban menderitatuberculosis paru. Kejadian seperti ini dapat terjadi diakibatkan tidak adanya riwayat penyakit pasien yang tertulis dalam rekam medis sehingga penanganan medis yang dilakukan saat ini dapat terganggu dan juga membahayakan pasien.

Parafrasa dari bagian yang dikutip diatas menjadi: Riwayat kesehatan pasien harus terekam secara rinci pada dokumen rekam medis.Riwayat kesehatan pasienataupun hasil pemeriksaaan dan pengobatan yang tidak tercatat akan berakibat fatal karenadapat menyebabkan kekeliruan dalam menetapkan diagnosa dan tindakan yang dapat membahayakan jiwa pasien.Seperti kasus yang terjadi di pedalaman Kalimantan di mana dilakukannya tindakan operasi terhadap pasien meskipun tidakdidukung dengan hasil laboratorium pasien sehigga pasien megalami dampakyang sangat fatal.

70 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! Buatlah parafrasa dari kutipan artikel berikut! Analisis kelengkapan dokumen rekam medis ini memiliki manfaat yang sangat besar baik bagi pasien, dokter, institusi rumah sakit maupun bagi pihak ketiga seperti misalnya asuransi, apabila kelengkapan dan ketepatannya terpenuhi. Pasien dapat mengetahui riwayat penyakit serta pengobatan dan tindakan yang diterimanya dengan jelas, kemudian dapat membantu dokter dalam menegakkan diagnosa, tindak lanjut pengobatan dan tindakan lainnya yang tepat sesuai dengan rekam data serta sebagai early warning bila terdapat indikasi komplikasi atau keparahan dari pasien yang diobatinya dan juga dapat dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan, termasuk bagi pihak institusi RS maupun asuransi sebagai dasar/alat bukti klaim dalam pembayaran, yang pada akhirnya muara dari semua kegiatan analisis tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan secara keseluruhan, karena rekam data kesehatan meliputi dari mulai pelayanan terhadap pasien masuk hingga pulang (Hatta, 2013).

Berdasarkan Hasil penelitian Faida di RSIA Kendangsari tentang analisis kelengkapan dokumen rekam medis menyebutkan bahwa masih terdapat ketidaklengkapan dalam pengisian identifikasi dan autentikasi, hal ini dapat menimbulkan masalah apabila pasien tersebut dalam keadaan emergency dan membutuhkan pertolongan segera maka dokter tidak dapat bertindak segera sebelum mendapat persetujuan berupa tanda tangan dari pihak keluarga pasien sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi pasien bahkan dapat berujung pada kematian.

Disamping itu juga tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti apabila terdapat tuntutan hukum dikemudian hari dikarenakan tidak ada tanda tangan dokter yang bertanggung jawab (Faida, 2017).

Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka silahkan untuk mempelajari kembali tentang: 1) Plagiarisme, cara pencegahan dan contoh cara membuat parafrasa 2) Baca berulang ulang hingga faham maksud dari kutipan artikel tersebut, kemudian menuliskannya kembali dengan kata-kata sendiri tanpa mengubah makna atau artinya dengan menulis intisarinya 3) Sebagai contoh parafrasa dari paragraf ke satu artikel diatas yaitu sebagai berikut: Evaluasi terhadap kelengkapan dokumen rekam medis sangat penting dilakukan di rumah sakit, terutama bagi pasien untuk mengetahui catatan riwayat perkembangan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 71 4) kesahatannya dan bagi petugas kesehatan khususnya dokter dapat membantu dalam menegakkan diagnosa dan memonitoring perkembangan kesehatan pasien Selanjutnya, silahkan anda buat sendiri parafrasa seperti yang dicontohkan dengan kalimat anda sendiri!

Ringkasan 1. Mahasiswa selama menjalani perkuliahan tidak lepas dari tugas yang diberikan oleh 2. dosen seperti membuat makalah dan membuat karya ilmiah sebagai prasyarat kelulusan sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing. Dalam penyusunan tugas tersebut mahasiswa banyak melakukan pengutipanpengutipan dari berbagai sumber sehingga rentan terjadinya plagiarisme. Dikatakan plagiarisme apabila pengutipan-pengutipan ditulis tanpa menyebutkan nama penulis 3. dan sumbernya. Tindakan plagiarisme dapat dikenai sanksi sesuai dengan undang-undang atau peraturan yang berlaku.

Tes 3 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! Artikel 1: Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. 1) Penulis melakukan pengutipan dari artikel 1 tanpa mencantumkan referensinya, dengan kutipan sama persis dengan sumbernya seperti berikut : Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.

Maka tindakan tersebut termasuk kedalam jenis plagiarisme …. A. Word Switch Plagiarism B. Word by word Plagiarism C. D. 72 Idea Plagiarism Style Plagiarism Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 2) Parafrasa yang paling tepat dari artikel berikut adalah …. Artikel: Pada Tabel 1 penelitian Wibowo menunjukkan bahwa sejumlah 4,5 % ibu hamil mengalami penyulit selama melahirkan.

Dari ibu-ibu dengan penyulit tersebut, terbanyak (67%) mengalami perdarahan pada waktu melahirkan. Sebanyak 28,6% menderita panas tinggi/demam, dan sebanyak 10,7% mengalami kejang-kejang. Seorang ibu meninggal pada waktu melahirkan. Persentase yang tinggi pada perdarahan ternyata juga timbul pada kelahiran-kelahiran yang lalu. Hasil wawancara menyebutkan bahwa sebagian besar pernah mengalami penyulit pada kelahiran-kelahiran lalu, perdarahan muncul dengan persentase terbesar.

A. sebagian besar pernah mengalami penyulit pada kelahiran-kelahiran lalu, perdarahan muncul dengan persentase terbesar B. sejumlah 4,5 % ibu hamil mengalami penyulit selama melahirkan. Dari ibu-ibu dengan penyulit tersebut, terbanyak (67%) mengalami perdarahan pada waktu melahirkan C. persentase yang tinggi pada perdarahan timbul pada kelahiran-kelahiran yang D.

3) lalu. Hasil wawancara menyebutkan bahwa sebagian besar pernah mengalami penyulit pada kelahiran-kelahiran lalu kematian ibu hamil dan bersalin disebabkan karena penyulit yang dialaminya pada persalinan yang sedang dihadapi atau yang pernah dialami pada kelahiran lalu. Penyulit terbesar berdasarkan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk Wibowo adalah terjadinya perdarahan pada saat persalinan.

Pengutipan di bawah ini merupakan contoh yang termasuk ke dalam tindakan word switch plagiarism berdasarkan pada contoh artikel 1 adalah rekam medis adalah…. A. B. C. D. berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan dokumen yang berisikan keterangan berupa catatan tentang anamnesa pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien di rumah sakit suatu sistem penyelenggaraan rekam medis dari mulai pendaftaran dilanjutkan dengan pencatatan saat dirawat hingga pasien pulang suatu berkas rekam medis yang mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menjadi sumber ingatan dan bahan pertanggungjawaban dan laporan rumah sakit ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 73 4) Parafrasa yang paling tepat dari artikel berikut adalah ….

Artikel: Keamanan, privasi, kerahasiaan dan keselamatan adalah perangkat yang membentengi data/informasi dalam rekam kesehatan (format kertas maupun elektronik), semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan baik itu dokter, dokter gigi, perawat, bidan dan praktisi kesehatan lain termasuk petugas rekam medis serta pihak yang meminta data/informasi harus menjaga keamanan data/informasi milik pasien.

Berdasarkan laporan Mary Butler yang diterbitkan Jurnal of AHIMA bahwa sekelompok hacker yang berbasis di China telah mencuri data medis 4,5 juta pasien yang disimpan dalam pada sistem komputer. Hackertersebut mengambil nama pasien, alamat, tanggal lahir, nomor telepon dan nomor jaminan sosial, sehingga Sistem kesehatan masyarakat mengambil langkah-langkah untuk memberi perlindungan dan keamanan dari pencurian melalui perusahaan keamanan informasi (Butler, 2014).

A. dokumen rekam medis merupakan milik pasien yang kerahasiaannya harus dijaga oleh semua pihak terkait seperti dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lainnya. Akibat yang timbul dari dokumen rekam medis yang tidak terjaga dapat B. C. D. disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu seperti penipuan atau hal lainnya. Seperti yang telah dilaporkan oleh Butler di China telah terjadi pembobolan sistem informasi kesehatan dan pencurian data medis 4,5 juta pasien.

berdasarkan laporan Butler bahwa sekelompok hacker yang berbasis di China telah mencuri data medis 4,5 juta pasien yang disimpan dalam pada sistem komputer. Hackertersebut mengambil nama pasien, alamat, tanggal lahir, nomor telepon dan nomor jaminan sosial,sehingga Sistem kesehatan masyarakat mengambil langkah-langkah untuk memberi perlindungan dan keamanan dari pencurian melalui perusahaan keamanan informasi (Butler, 2014) keamanan, privasi, kerahasiaan dan keselamatan adalah perangkat yang membentengi data/informasi dalam rekam kesehatan (format kertas maupun elektronik), semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan baik itu dokter, dokter gigi, perawat, bidan dan praktisi kesehatan lain termasuk petugas rekam medis serta pihak yang meminta data/informasi harus menjaga keamanan data/informasi milik pasien.

keamanan, privasi, kerahasiaan dan keselamatan adalah perangkat yang membentengi data/informasi dalam rekam kesehatan (format kertas maupun elektronik) dan terhindar dari pencurian data medis 4,5 juta pasien.

74 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 5) Parafrasa yang paling tepat dari artikel berikut ini adalah …. Artikel: Pada pelaksanaan autopsi verbal yang dilakukan oleh tenaga bidan atau paramedis dari daerah binaan puskesmas kecamatan terdapat permasalahan tentang kelengkapan pengisian kuesioner autopsi verbal sehingga menyulitkan dokter dalam menentukan penyebab kematian ibu (Ninawati,2015).

Kelengkapan pengisian autopsi verbal digunakan untuk memperbaiki pelayanan dari petugas dan pencegahan supaya penyebab kematian yang sama tidak terulang kembali (Dirjen Binkesmas, 2010). Berdasarkan studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kabupaten X diperoleh data angka kematian ibu tahun 2013 sebanyak 18 orang.

Dengan kelengkapan pengisian kuesioner autopsy verbal kematian ibu dari dua formulir yang diobservasi didapatkan 56% lengkap dan 44% tidak lengkap.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

A. penyebab kematian ibu sulit ditemukan karena kurangnya komunikasi B. kelengkapan pengisian kuesioner autopsy verbal kematian ibu dari dua formulir belum optimal dengan didapatkan 56% lengkap dan 44% tidak lengkap.

C. kelengkapan pengisian autopsi verbal digunakan untuk memperbaiki pelayanan D. dari petugas dan pencegahan supaya penyebab kematian yang sama tidak terulang kembali pada tahun 2013 jumlah kematian ibu di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten X sebanyak 18 orang dan pelaksanaan pencatatan autopsy verbalbelum dilakukan secara optimal yang ditunjukkan dengan sebesar 44% tidak lengkap sehingga sulit dalam melakukan penelusuran terhadap sebab kematian ibu. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 75 Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) C 2) D 3) C 4) A 5) A Tes 2 1) A 2) B 3) C 4) A 5) B 6) A Tes 3 1) B 2) D 3) B 4) A 5) D 76 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Glosarium Balitbangkes BKKBN BPS Font Supercript Hipotesis : : : : : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Badan Pusat Statistik efek pada text atau tulisan yang posisinya lebih tinggi dari text aslinya Dugaan sementara tentang bagaimana benda, peristiwa, kenyataan atau variabel itu terjadi Infeksi Saluran Pernafasan Akut alasan atau pertimbangan dapat dipercaya terbitan berkala yang dikenal dan disukai orang banyak (umum) Pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah olah karangan sendiri perlindungan faktor atau unsur yang ikut menentukan perubahan ISPA Justifikasi Kredibel Majalah populer Plagiat : : : : : Proteksi Variabel : : Volume : Penomoran terbitan berkala dalam jurnal ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 77 Daftar Pustaka Notoatmodjo, S.

(2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo, S. (2014).Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Edisi revisi. Jakarta: Rineka Cipta iyanto, A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.Bantul: Nuha Medika Sastroasmoro, S dan Ismael, S. (2014). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke – 5. Jakarta: Binarupa Aksara Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Wibowo, A.

(2014). Metodologi Penelitian Praktis Bidang Kesehatan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada 78 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Bab 4 KERANGKA KONSEP, VARIABEL, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL Imas Masturoh, SKM., M.Kes(Epid) Pendahuluan P enyusunan kerangka penelitian dilakukan setelah telaah pustaka tersusun.

Pada telaah pustaka, tersusun kumpulan beberapa teori dan generalisasi hasil-hasil penelitian yang menyeluruh dan berkesinambungan tentang satu topik penelitian yang akanditelitisehingga dapat dijadikan dasar untuk membentuk suatu kerangka penelitian.

Kerangka penelitian yang dibentuk berupa kerangka teori dan kerangka konsep. Kerangka konsep merupakan alur kaitan konsep penelitian yang akan dilakukan, dimana konsep ini belum dapat diukur dan diamati secara langsung, sehingga perlu penjelasan-penjelasan dari variabel dalam konsep penelitian yang akan dilakukan melalui penjelasan di dalam definisi operasional.

Definisi operasional dibuat untuk memudahkan dalam pelaksanaan penelitian dan pengolahan serta analisis data penelitian. Penyusunan definisi operasional yang tidak tepat dapat menyebabkan penyusunaninstrumen tidak tepat pula, yang pada akhirnya akan menyebabkan data hasil penelitian yang diperoleh juga tidak tepat.

Akibat fatal yang timbul apabila data hasil penelitian tidak sesuai atau tidak relevan dengan penelitian yang sedang dilakukan adalah pengumpulan data harus diulang atau bahkan bisa jadi bila hal tersebut baru diketahui saat sidang akhir maka dapat menyebabkan mahasiswa yang bersangkutan tidak lulus.

Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian baik secara finansial, tenaga maupun waktu karena pelaksanaan penelitian atau pendidikan menjadi lebih panjang dan kerja dua penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk itu, pelaksanaan penelitian sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan di setiap perguruan tinggi juga dibatasi oleh waktu.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 79 Setiap perguruan tinggi memiliki aturan-aturan sendiri yang mengatur tentang lama pendidikan dan bagi mahasiswa yang tidak dapat menyelesaikan perkuliahan hingga waktu yang ditentukan maka dapat terancam drop out. Oleh karena itu maka penting sekali agar mahasiswa dapat menyusun tugas akhir dengan sebaik mungkin dan mematuhi semua masukan yang diberikan oleh dosen pembimbing.

Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa mampu untuk membuat kerangka konsep, variabel, hipotesis dan definisi operasional penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan. Selain itu secara khusus mahasiswa mampu menyusun: 1.

2. 3. 4. 5. 6. 80 Kerangka Teori Kerangka Konsep Definisi Variabel Jenis Variabel Hipotesis Menyusun definisi Operasional Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 1 Kerangka Penelitian A. KERANGKA TEORI Kerangka teori merupakan visualisasi hubungan antara berbagai variabel untuk menjelaskan sebuah fenomena (Wibowo,2014).

Hubungan antara berbagai variabel digambarkan dengan lengkap dan menyeluruh dengan alur dan skema yang menjelaskan sebab akibat suatu fenomena. Sumber pembuatan kerangka teori adalah dari paparan satu atau lebih teori yang terdapat pada tinjauan pustaka.

Pemilihan teori dapat menggunakan salah satu teori atau memodifikasi dari berbagai teori, selama teori yang dipilih relevan dengan keseluruhan substansi penelitian yang akan dilakukan. Kerangka teori yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti.

Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar dalam menyusun kerangka teori yang menghasilkan hipotesis.Di bidang rekam medis dan informasi kesehatan, teori yang berkembang belum sebanyak teori-teori di bidang kesehatan lainnya.Teori yang diadopsi masih rujukan lama untuk pendokumentasian rekam medis dan masih dipakai hingga sekarang.Selama belum terjadi perubahan pada teori lama, maka teori tersebut masih dapat dipergunakan.Contohnya teori tentang analisis kuantitatif menurut Huffman (1995) dalam Hatta, sampai sekarang masih banyak digunakan.Teori menurut Huffman ini dapat digunakan sebagai teori yang mendasari sebuah penelitian tentang kelengkapan pendokumentasian rekam medis.Dapat juga dimodifikasi dengan mengkompilasi teori tersebut dengan teori sejenis lainnya misalnya dengan teori analisis kuantitatif dan analisis kualitatif yang dikembangkan oleh Hatta, tergantung dari tujuan penelitiannya dan relevansinya dengan substansi penelitiannya tersebut.

Di bidang perilaku kesehatan, teori tentang perilaku menurut Bloom dalam Notoatmodjo (2010) membagi perilaku manusia ke dalam tiga domain yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor. Teori ini masih banyak diadopsi dan digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kesehatan. Termasuk di bidang rekam medis,teori perilaku tersebut dapat digunakan dengan cara dikompilasi dengan teori rekam medis.Berikut ini contoh cara membuat kerangka teori. Contoh: Judul: Analisis Kelengkapan Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Kasus Demam Berdarah Dengue di RSUD dr.

Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2016 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 81 Tujuan: 1. Mengetahui gambaran kelengkapan identifikasi Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Kasus Demam Berdarah Dengue di RSUD dr.

Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2016. 2. Mengetahui gambaran kelengkapan autentikasi Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Kasus Demam Berdarah Dengue di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2016. 3. Mengetahui gambaran kelengkapan laporan yang penting Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Kasus Demam Berdarah Dengue di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2016. 4. Mengetahui gambaran kelengkapan pencatatan yang baik Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Kasus Demam Berdarah Dengue di RSUD dr.

Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2016. Kerangka Teori: Teori yang digunakan mengacu pada teori analisis kuantitatif menurut Huffman (1995).

Kerangka teori disusun dalam bentuk alur skema variabel-variabel yang menjelaskan tentang kelengkapan dokumen rekam medis.Berikut ini merupakan contoh kerangka teori berdasarkan judul dan tujuan diatas. kelengkapan identifikasi DRM rawat inap kasus DBD kelengkapan autentifikasi DRM rawat inap kasus DBD kelengkapan pelaporan yang penting DRM rawat inap kasus DBD Analisis Kelengkapan Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Kasus Demam Berdarah Dengue di RSUD dr.

Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2016 kelengkapan pencatatan yang baik DRM rawat inap kasus DBD Gambar 4.1 Kerangka Teori B. KERANGKA KONSEP Kerangka konsep merupakan turunan dari kerangka teori yang telah disusun sebelumnya dalam telaah pustaka. Kerangka konsep merupakan visualisasi hubungan antara 82 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ berbagai variabel, yang dirumuskan oleh peneliti setelah membaca berbagai teori yang ada dan kemudian menyusun teorinya sendiri yang akan digunakannya sebagai landasan untuk penelitiannya.

Pengertian lainnya tentang kerangka konsep penelitian yaitu kerangka hubungan antara konsep – konsep yang akan diukur atau diamati melalui penelitian yang akan dilakukan. Diagram dalam kerangka konsep harus menunjukkan hubungan antara variabelvariabel yang akan diteliti. Kerangka yang baik dapat memberikan informasi yang jelas kepada peneliti dalam memilih desain penelitian. Contoh 1. kerangka konsep penelitian: Judul: Gambaran faktor internal dan eksternal kinerja petugas P – Care di Puskesmas.

Faktor Internal - Umur - Pendidikan - Masa Kerja - Motivasi kinerja petugas Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk – Care di Puskesmas Faktor Eksternal - Sumber Daya - Kepemimpinan - Imbalan - Beban Kerja Gambar 4.2 Kerangka Konsep Berdasarkan contoh kerangka konsep penelitian diatas, terdapat tiga konsep yaitu konsep tentang faktor internal, faktor eksternal, dalam kinerja petugas P – care, dan faktor kinerja petugas P – care.

Setiap konsep mempunyai variabel-variabel sebagai indikasi pengukuran, misalnya untuk mengukur faktor internal maka melalui variabel umur, pendidikan, masa kerja, dan motivasi. Dan untuk mengukur faktor eksternal melalui variabel sumber daya, kepemimpinan, imbalan, dan beban kerja. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 83 Contoh 2. kerangka konsep penelitian: Judul: Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya keterlambatan pelaporan Faktor predisposisi (predisposing factor) - Pendidikan - Pengetahuan - Sikap Faktor Pendukung (Enabling factor): - ketersediaan form/aplikasi pelaporan - ketersediaan buku kendali - ketersediaan buku ekspedisi - Ketersedian sarana komputer Terjadinya Keterlambatan Pelaporan Faktor penguat (Reinforcing factor): - Kebijakan atau aturan - Reward dan punishment - Dukungan pimpinan Gambar 4.3 Kerangka Konsep Berdasarkan contoh kerangka konsep penelitian diatas terdapat empat konsep, yang diadopsi dari teori perilaku dan dikompilasi dengan teori terkait pelaporan.

Empat konsep tersebut yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, faktor penguat terhadap kejadian keterlambatan pelaporan, dan faktor keterlambatan pelaporan. Setiap konsep mempunyai variabel-variabel sebagai indikasi pengukuran. Misalnya, untuk mengukur faktor predisposisi diukur melalui variabel pendidikan, pengetahuan dan sikap.Untuk mengukur faktor pendukung diukur melalui variabel ketersediaan form/aplikasi pelaporan, ketersediaan buku kendali dan ketersediaan buku ekspedisi.Dan untuk mengukur faktor penguat melalui variabel kebijakan atau aturan, reward dan punishment serta dukungan pimpinan.

Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! Buatlah kerangka teori dan kerangka konsep penelitian berdasarkan tinjauan pustaka yang telah Anda susun sebelumya! 84 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Petunjuk Jawaban Latihan 1) 2) 3) Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas, maka: Pelajari kembali tentang Topik kerangka Teori dan kerangka Konsep beserta contohnya Susun teori-teori yang berkaitan dengan penelitian anda dalam bentuk skema.

Alur skema teori berupa variabel-variabel yang menjelaskansebab akibat dalam penelitian, dapat mengacu pada satu atau beberapa teori yang relevan dengan penelitian anda.

Selanjutnya buat skema kerangka konsep penelitian mengacu pada kerangka teori yang telah dibuat tersebut. Diagram dalam kerangka konsep harus menunjukkan hubungan antara variabel-variabel yang akan diteliti. Ringkasan 1. Kerangka teori merupakan visualisasi satu atau beberapa teori yang sebelumnya telah disusun dalam telaah pustaka ke dalam bentuk alur skema yang secara teoritis memperlihatkan pertautan antar variabel penelitian.

2. Kerangka konsep merupakan turunan dari kerangka teori, yang berisi kerangka hubungan antara konsep-konsep yang akan diukur atau diamati melalui penelitian yang akan dilakukan. Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!

1) Berdasarkan kerangka konsep dibawah ini, ada berapa konsep yang akan diteliti? Faktor langsung: - Asupan makanan - Penyakit Infeksi Masalah gizi Faktor tidak langsung: - Pola asuh ibu - Sanitasi dan air bersih - Ketersediaan pangan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 85 A. B. C. D. 2) Lima konsep yaitu: asupan makanan, penyakit infeksi pola asuh ibu, sanitasi dan air bersih, ketersediaan pangan. Empat konsep yaitu: asupan makanan, penyakit infeksi pola asuh ibu sanitasi dan air bersih Tiga konsepyaitu faktor langsung, faktor tidak langsung dan masalah gizi Dua konsep yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung Berdasarkan kerangka konsep dibawah ini, ada berapa konsep yang akan diteliti?

Prosedur/SOP pengajuan klaim Lama/watu peyelesaian klaim Tijauan proses klaim BPJS Masalah dalam penyelesaian klaim A. B. C. D. 3) 86 Empat konsep yaitu: prosedur pengajuan klaim, lama penyelesaian klaim dan masalah peyelesaian klaim dan tinjauan proses klaim BPJS Tiga konsep yaitu: prosedur pengajuan klaim, lama penyelesaian klaim dan masalah peyelesaian klaim Dua konsep yaitu: lama penyelesaian klaim dan masalah penyelesaia klaim Satu konsep yaitu: tinjauan proses klaim Jawaban di bawah ini merupakan kerangka konsep yang sesuai denganjudul Gambaran faktor Sumber Daya Manusia pelaksanaan P – care berdasarkan kerangka teori berikut: Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Faktor SDM - karakteristik - Pendidikan - Pengetahuan - masa kerja - beban kerja Gambaran faktor Sumber Daya Manusia dalam pelaksanaan P – care Faktor Sarana prasarana Faktor Sarana prasarana - ketersediaan komputer - ketersediaan komputer - ketersediaan koneksi internet - ketersediaan koneksi internet - ketersediaan jaringan internet - ketersediaan jaringan internet Faktor dukugan organisasi - Kebijakan atau aturan - Reward dan punishment - Dukungan pimpinan A.

B. Faktor SDM - karakteristik - Pendidikan - Pengetahuan - masa kerja - beban kerja Faktor SDM - karakteristik - Pendidikan - Pengetahuan - masa kerja - beban kerja Faktor dukugan organisasi - Kebijakan atau aturan - Reward dan punishment - Dukungan pimpinan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan Gambaran faktor Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk Daya Manusia dalam pelaksanaan P – care Gambaran faktor Sumber Daya Manusia dalam pelaksanaan P – care 87 C.

Faktor SDM - karakteristik - Pendidikan - Pengetahuan - masa kerja - beban kerja Gambaran faktor Sumber Daya Manusia dalam pelaksanaan P – care Faktor Sarana prasarana - ketersediaan komputer - ketersediaan koneksi internet - ketersediaan jaringan internet D.

4) Faktor dukugan organisasi - Kebijakan atau aturan - Reward dan punishment - Dukungan pimpinan Berdasarkan kerangka konsep dibawah ini, ada berapa konsep yang akan diteliti? Faktor SDM - karakteristik - Pendidikan - Pengetahuan - masa kerja - beban kerja Faktor dukugan organisasi - Kebijakan atau aturan - Reward dan punishment - Dukungan pimpinan 88 Gambaran faktor Sumber Daya Manusia dalam pelaksanaan P – care Gambaran faktor Sumber Daya Manusia dalam pelaksanaan P – care A. B.

Satu konsep yaitu: Gambaran faktor SDM Dua konsep yaitu: faktor SDM, dukungan organisasi C. D. Tiga konsep yaitu: faktor SDM, dukungan organisasi dan gambaran faktor SDM Empat konsep yaitu: faktor SDM, dukungan organisasi, dukungan pimpinan dan gambaran faktor SDM Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 5) Berdasarkan kerangka konsep dibawah ini, ada berapa konsep yang akan diteliti?

Faktor predisposisi (predisposing factor) - Pendidikan - Pengetahuan - Sikap Terjadinya Keterlambatan Pelaporan A. Dua konsep yaitu faktor predisposisi dan keterlambatan pelaporan B. C. D. Tiga konsep yaitu pendidikan, pengetahuan dan sikap Empat konsep yaitu pendidikan, pengetahuan, sikap dan keterlambatan pelaporan Lima konsep yaitu faktor predisposisi, pendidikan, pengetahuan, sikap dan keterlambatan pelaporan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 89 Topik 2 Variabel A.

DEFINISI VARIABEL Menurut Hatch dan Farhady (1981) dalam Sugiyono (2015), variabel adalah seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain.

Variabel mengandung pengertian ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki seseorang atau sesuatu yang dapat menjadi pembeda atau penciri antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya variabel umur, berat badan, pendidikan, motovasi, pengetahuan dan lain– lain. Umur tiap orang berbeda, begitupula dengan berat badan tiap orang masing-masing berbeda.Termasuk pendidikan, motivasi, dan pengetahuan juga bervariasi.Untuk mendapatkan ukuran atau nilai yang bervariasi maka sumber data penelitiannya juga harus dari kelompok data atau obyek yang heterogen.

Contoh variabel di bawah ini berasal dari kerangka konsep penelitian pada bahasan sebelumnya. 1. Umur → merupakan konsep penelitian sekaligus sebagai variabel yang akan diukur. Dapat secara langsung disebutkan umurnya berapa, misalnya 1 tahun, 5 tahun, 16 tahun, atau 76 tahun, atau dapat juga dikelompokkan menjadi kategori kelompok misalnya balita, anak, remaja, dewasa dan lansia. Dapat juga dikelompokkan ke dalam kelompok tua atau muda, disesuaikan dengan tujuan penelitiannya.

2. Pendidikan → merupakan konsep penelitian sekaligus sebagai variabel yang akan diukur. Dapat secara langsung disebutkan pendidikannya seperti SD, SMP, SMA, 3. 4. perguruan tinggi. Dapat juga dikelompokkan menjadi pendidikannya tinggi atau rendah, disesuaikan dengan tujuan penelitiannya.

Masa Kerja →merupakan konsep penelitian sekaligus sebagai variabel yang akan diukur. Dapat secara langsung disebutkan masa kerjanya berapa lama apakah 1 tahun, 2 tahun, 20 tahun dan lain-lain. Dapat juga dikelompokkan menjadi masa kerjanya lama atau sedikit, disesuaikan dengan tujuan penelitiannya.

Motivasi → merupakan sebuah konsep, yang harus diterjemahkan ke dalam aspek – aspek yang mendukungnya, kemudian diterjemahkan dalam butir-butir pertanyaan yang relevan, dengan jawaban berjenjang seperti sangat setuju (diberi nilai 5), setuju (diberi nilai 4), biasa saja (diberi nilai 3), tidak setuju (diberi nilai 2) dan sangat tidak setuju (diberi nilai 1).

Jumlah atau skor dari jawaban-jawaban tersebut mencerminkan tinggi rendahnya motivasi kerja seseorang. 90 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 5. 6. 7. 8. B. Sumber daya →manusia (man) dapat diterjemahkan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk variabel umur, jenis kelamin, pengetahuan dan lain-lain, uang (money) dapat diterjemahkan menjadi gaji atau upah, bahan (material) menjadi ketersediaan sarana prasarana, metode (method) menjadi cara atau prosedur (SOP).

Kepemimpinan → merupakan konsep penelitian sekaligus sebagai variabel yang akan diukur. Dapat disebutkan secara langsung tipe kepemimpinannya apakah demokratis atau otoriter dan lain-lain, atau dapat juga diterjemahkan dalam butir-butir pertanyaan yang kesimpulan dari skor jawabannya menunjukkan tipe kepemimpinannya, disesuaikan dengan tujuan penelitiannya.

Imbalan → merupakan konsep penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk sekaligus sebagai variabel yang akan diukur. Imbalan dapat langsung disebutkan jumlahnya atau dapat juga dikategorikan besar dan sedikit atau tinggi dan rendah, disesuaikan dengan tujuan penelitiannya.

Beban kerja → merupakan konsep penelitian sekaligus sebagai variabel yang akan diukur. Beban kerja dapat langsung dengan disebutkan jumlah jam kerjanya, jumlah cuti dan libur kemudian dihitung menggunakan rumus beban kerja.

JENIS VARIABEL 1. Jenis Variabel Menurut Sifatnya Jenis variabel menurut sifatnya dapat dibagi menjadi dua yaitu variabel katagorik dan variabel numerik. a. Variabel katagorik (kualitatif), merupakan variabel hasil dari pengkategorian atau pengklasifikasian data. Cirinya yaitu data dalam bentuk kata-kata. Variabel katagorik biasanya berisi variabel yang memiliki skala nominal dan ordinal.

Contohnya seperti variabel agama, pekerjaan, jenis kelamin, pendidikan dan lain-lain. b. Variabel numerik (kuantitatif), merupakan variabel hasil pengukuran secara langsung atau penghitungan. Cirinya yaitu data dalam bentuk angka. Variabel numerik biasanya berisi variabel yang memiliki skala interval dan rasio. Contohnya seperti variabel umur, berat badan, tinggi badan, dan lain-lain. 2. Jenis Variabel Menurut Skala Pengukurannya Skala pengukuran digunakan untuk mempermudah dalam pengolahan dan analisis data.

Oleh karena itu peneliti harus memahami tentang pengklasifikasian dalam skala pengukuran agar dapat melakukan pengumpulan, pengolahan dan analisis data dengan tepat.

Skala pengukuran terdiri dari 4 (empat) macam yaitu: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 91 a. Skala Nominal. Skala nominal adalah skala yang disusun berdasarkan kategorinya, sebagai pembeda antara karakteristik yang satu dengan yang lainnya. Ciri skala nominal: sederajat dan tidak mengandung tingkatan, tidak mempunyai nol mutlak. Data yang dihasilkan dalam bentuk kata-kata seperti pada contoh di bawah ini, sehingga uji statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik. Contoh: Jenis kelamin: 1.

Laki-laki, 2. Perempuan. Penomoran hanya untuk mengkode atau mengkategorikan tanpa membandingkan apakah no 1 lebih tinggi dari no 2 ataupun sebaliknya. Pengkategorian ini dianggap setara atau sederajat.Termasuk pada variabel pendidikan dan Agama.

Pekerjaan: 1. PNS/TNI/Polri, 2. Karyawan Swasta, 3. Wiraswasta, 4. Buruh, 5. Lain-lain (sebutkan). Agama: 1. Islam, 2. Katolik, 3. Protestan, 4. Hindu, 5. Budha b. Skala Ordinal Skala ordinal adalah skala yang berdasarkan urutan atau tingkatan dari mulai yang tertinggi hingga yang terendah atau sebaliknya.

Data yang dihasilkan dalam bentuk kata – kata seperti pada contoh di bawah ini, sehingga uji statistik yang digunakan yaitu uji statistik non parametrik. Contoh: ▪ Pengetahuan: 1.

Kurang, 2. Cukup, 3. Baik. Pilihan jawaban dari variabel pengetahuan menunjukkan bahwa terdapat tingkatan pengetahuan. ▪ Penghasilan: 1. < UMR, 2. ≥ UMR.Pilihan jawaban dari variabel penghasilan ▪ c. menunjukkan bahwa terdapat tingkatan penghasilan; yang pertama penghasilannya dibawah UMR dan yang kedua penghasilannya sama dengan atau lebih besar dari UMR. Kepuasan: 1. Sangat Tidak Puas, 2. Tidak Puas, 3. Biasa saja, 4. Puas, 5. Sangat Puas.Pilihan jawaban dari variabel kepuasan menunjukkan bahwa terdapat tingkatan kepuasan.

Skala Interval Skala interval adalah skala yang memiliki jarak atau interval antara satu data dengan data yang lain. Data yang dihasilkan dalam bentuk angka, dengan besar interval atau jarak satu data dengan data yang lainnya memiliki bobot nilai yang sama.

Namun untuk skala interval ini tidak memiliki nilai 0 (nol) mutlak, sebagai contoh bila temperatur atau suhu 0derajat celcius 92 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ dikonversi ke Farenheit menjadi 32, maka dengan demikian nilai nol tersebut dikatakan tidak mutlak.

Contoh: Tinggi badan; misalnya membagi tinggi badan ke dalam 4 interval yaitu: 140 – 149, 150 – 159, 160 – 169, dan 170 – 179. Suhu tubuh Tekanan darah Skor IQ d. Skala Rasio Skala rasio adalah skala yang memiliki nilai nol mutlak. Data yang dihasilkan dalam bentuk angkasehingga uji statistik yang digunakan yaitu uji statistik parametrik.Sebagai contoh umur; tidak memiliki angka nol negatif karena seseorang tidak dapat berumur dibawah nol tahun tapi harus diatas nol. Contoh lainnya: Berat badan Tinggi badan 3.

Jenis Variabel Menurut Hubungan antara Variabel a. Variabel Independen (variabel bebas) Variabel independen adalah variabel yang dapat mempengaruhi variabel lain, apabila variabel independen berubah maka dapat menyebabkan variabel lain berubah. Nama lain dari variabel independen atau variabel bebas adalah prediktor, risiko, determinan, kausa. Contoh: Hubungan kepemimpinan dengan kinerja petugas p – care di puskesmas, maka kepemimpinan merupakan variabel independen dan kinerja merupakan variabel dependen karena kepemimpinan mempengaruhi kinerja petugas.

b. Variabel Dependen (variabel terikat/variabel tergantung) Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen, artinya variabel dependen berubah karena disebabkan oleh perubahan pada variabel independen. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 93 Contoh: ▪ Hubungan perilaku merokok dengan kejadian hipertensi, maka perilaku merokok merupakan variabel independen dan hipertensi merupakan variabel dependen karena perilaku merokok berpengaruh terhadap kejadian hipertensi.

▪ Hubungan antara ketepatan penulisan diagnosis dengan keakuratan kode kasus thypoid, maka ketepatan penulisan diagnosis merupakan variabel independen dan keakuratan kode merupakan variabel dependen. Satu jenis variabel dapat berubah fungsi menjadi variabel independen atau menjadi variabel dependen, tergantung dari konteks penelitiannya.Dalam salah satu contoh diatas variabel hipertensi merupakan variabel dependen dari variabel perilaku merokok.Namun dapat berbeda fungsi bila konteksnya dalam penelitian hubungan hipertensi dengan kejadian stroke.Dalam konteks ini maka variabel hipertensi merupakan variabel independen dan stroke merupakan variabel dependen.Walaupun namanya independen – dependen atau bebas – terikat/tergantung, namun hubungan independen – dependen tersebut tidak selalu merupakan hubungan sebab – akibat.

c. Variabel Perancu Variabel perancu (confounding variable) adalah variabel yang berhubungan dengan variabel independen dan variabel dependen, tapi bukan merupakan variabel antara. Keberadaan variabel penelitian ini dapat mempengaruhi validitas penelitian karena dapat menyebabkan bias pada hasil penelitian.

Untuk meminimalisir bias maka variabel perancu ini harus diidentifikasi. Identifikasi variabel perancu ini sangat penting agar kesimpulan hasil penelitian yang diperoleh tidak salah, misalnya hasil penelitian ditemukan terdapat hubungan antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen padahal sebenarnya hubungan tersebut tidak ada, atau sebaliknya disimpulkan tidak ada hubungan antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen padahal sebenarnya ada hubungan. 94 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh 1: Minum Kopi PJK Merokok Sumber: Sastroasmoro (2014) Gambar.

4.4 Peran Variabel perancu (kebiasaan merokok) dalam hubungan antara variabel independen (minum kopi) dengan variabel dependen (kejadian Penyakit Jantung Koroner) Kebiasaan merokok memenuhi syarat sebagai variabel perancu, karena mempunyai hubungan dengan kebiasaan minum kopi (variabel independen) dan berhubungan dengan kejadian PJK (variabel dependen).

Bila kebiasaan merokok ini tidak diidentifikasi, mungkin akan ditemukan hubungan positif antara kebiasaan minum kopi dengan kejadian PJK yaitu diperoleh data yang gemar minum kopi lebih banyak menderita PJK dibandingkan dengan yang tidak suka minum kopi. Hal ini mungkin benar tapi mungkin juga tidak. Bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah tidak terdapat hubungan antara kebiasaan minum kopi dengan kejadian PJK, namun ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian PJK dimana biasanya perokok kebanyakan suka minum kopi jadi seolah - olah kebiasaan minum kopi berhubungan dengan kejadian PJK.

Hal yang sebaliknya dapat terjadi tidak ditemukan hubungan antara variabel independen dengan dependen, padahal sebenarnya terdapat hubungan. Hal ini akibat adanya pengaruh variabel perancu yang bersifat negatif.Seperti contoh pada skema gambar 4.2 di bawah ini. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 95 Contoh 2: Makan permen Karies Dentis Menggosok gigi Sumber: Sastroasmoro (2014) Gambar.

4.5 Hubungan antara variabel independen (makan permen) dengan variabel dependen (kejadian Karies Dentis) Gambar 4.2 menunjukkan suatu penelitian pada anak untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (makan permen) dengan variabel dependen (kejadian karies Dentis), dapat “tersembunyi” apabila anak yang gemar makan permen sebagian besar lebih rajin menggosok gigi daripada anak yang tidak gemar makan permen.

Peran variabel perancu (kebiasaan menggosok gigi) berhubungan positif dengan variabel independen (makan permen) dan juga berhubungan negatif dengan variabel denpenden (kejadian karies Dentis). Contoh 3: Pengetahuan Keterlambatan pelaporan Sarana prasarana Gambar.

4.6 Hubungan antara variabel independen (pengetahuan) dengan variabel dependen (terjadinya keterlambatan pelaporan) Pada contoh Gambar 4.3, suatu penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan terjadinya keterlambatan pelaporan.Bila ketersediaan dan kondisi sarana prasarana untuk melaksanakan pelaporan tidak diidentifikasi, mungkin akan ditemukan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan terjadinya penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk pelaporan, karena bila 96 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ pengetahuan tentang pelaporan kurang maka kemungkinan dapat terjadi keterlambatan dalam pelaporan akibat dari ketidaktahuan tersebut.

Hal ini mungkin benar tapi mungkin juga tidak. Bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan terjadinya keterlambatan pelaporan.Namun ada hubungan antara saranadan prasarana dengan terjadinya keterlambatan pelaporan, karena sarana dan prasarana yang tersedia tidak memadai, misalkan seringnya terjadi error atau jaringan yang lambatsehingga tidak dapat mengirimkan pelaporan secaratepat waktu.

C. CARA MENGONTROL PERANCU Dampak dari pengaruh variabel perancu sangat besar karena dapat menyebabkan hasil penelitian menjadi bias. Hasil penelitian yang bias dapat menyebabkan kesimpulan penelitian yang salah, sehingga akibat fatal dari hasil penelitian yang salah kemungkinan harus diulang kembali penelitiannya.

Oleh karena itu penting sekali agar sebelum pelaksanaan pengumpulan data penelitian agar proposal penelitian sudah melalui proses penyusunan yang matang dengan bimbingan dari dosen pembimbingnya masing-masing serta masukan dari penguji saat seminar proposal. Saat pengumpulan data penelitian, instrumen penelitian yang akan digunakan sudah mendapatkan persetujuan dari pembimbing ataupun masukan dari penguji sehingga instrumen penelitian sudah siap pakai.

Melihat begitu besarnya dampak dari pengaruh variabel perancu tersebut, maka diperlukan upaya-upaya untuk meminimalisir atau menanggulangi terhadap dampak yang ditimbulkannya tersebut melalui upaya-upaya berikut: 1.

Mengidentifikasi Variabel Perancu Peneliti harus menguasai substansi penelitian antara lain melalui studi literatur atau telaah pustaka. Telaah pustaka digunakan untuk menyusun kerangka teori dan kerangka konsep penelitian. Konsep penelitian harus mengidentifikasi semua variabel penelitian baik yang akan diteliti maupun yang tidak akan diteliti kemudian membuat diagram hubungan antar variabel dalam diagram yang jelas.

2. Menghilangkan Perancu Terdapat dua cara untuk menghilangkan perancu yaitu dalam tahap desain penelitian dan dalam tahap analisis penelitian. Pada tahap desain penelitian yaitu melalui : ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 97 3. Restriksi Restriksi yaitu menghilangkan perancu dari setiap subyek penelitian pada tahap desain penelitian. Misalnya pada penelitian observasional tentang hubungan kebiasaan minum kopi dengan kejadian PJK.

Variabel perancunya yaitu kebiasaan merokok. Maka pada pemilihan subyek penelitian harus menghilangkan variabel perancunya tersebut dengan memilih subyek penelitian yang tidak merokok, sehingga betul-betul hubungan antar variabel ini bebas dari peran kebiasaan merokok.

Namun cara ini mempunyai kelemahan antara lain sulit untuk memperoleh subyek penelitian yang diharapkan, karena yang gemar minum kopi biasanya juga sekaligus merupakan perokok dan generalisasi hasil penelitian juga menjadi terbatas karena kenyataan di populasi yang gemar minum kopi biasanya juga perokok.

4. Matching Matching yaitu proses menyamakan variabel perancu pada kedua kelompok agar sebanding. Cara matching yang sering digunakan adalah individual matching Pemilihan variabel untuk matching tergantung pada jenis penelitiannya.

Sebagai contoh penelitian dengan desain case control tentang faktor risiko gizi buruk pada bayi di bawah dua tahun (baduta), maka untuk meminimalisir bias dilakukan matching melalui pemilihan subyek yang sebanding dalam hal jenis kelamin dan umur. Misalnya bila kasus gizi buruk yang ditemukan adalah bayi usia 23 bulan dengan jenis kelamin laki-laki, maka dicari subyek pada kelompok kontrol dengan jenis kelamin dan umur yang sama, kemudian subyek berikutnya bila ditemukan kasus gizi buruk bayi usia 1 tahun dengan jenis kelamin perempuan maka dicari subyek pada kelompok kontrol dengan jenis kelamin dan umur yang sama, begitu seterusnya hingga terpenuhi jumlah sampel.

Oleh karena sudah dilakukan matching pada jenis kelamin dan umur maka kedua variabel tersebut tidak berperan dalam hasil. Kelemahannya kadang tidak ditemukan kontrol yang betul-betul sebanding atausama persis umurnya meski untuk jenis kelaminnya bisa sama. Kekurangan cara individual matching yaitu: Apabila variabel perancunya banyak, maka akan dilakukan matching terhadap banyak variabel sehingga akan sulit mencari kontrolnya.

Kemungkinan adanya over – matching, yaitu matching terhadap variabel yang bukan perancu, sehingga akan menimbulkan distorsi hasil penelitian. Kemungkinan ada perancu yang cukup kuat namun tidak diketahui, sehingga peran perancu tidak dapat dideteksi.

98 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 5. Randomisasi Randomisasi merupakan penentuan subyek penelitian secara acak terbagi rata seimbang diantara kelompok, sehingga variabel perancu terbagi rata ke semua kelompok meliputi baik variabel perancu yang pada saat penelitian sudah diketahui maupun yang belum diketahui. Supaya proses randomisasi dapat membagi secara seimbang variabel-variabel perancu pada kelompok kasus dan kelompok kontrol, maka syaratnya adalah: a. Jumlah subyek penelitian harus banyak, misalnya lebih dari 100 per kelompok b.

Randomisasi dilakukan dengan benar Berikutnya untuk menghilangkan perancu pada tahap analisis penelitian yaitu melalui cara: a. Stratifikasi Stratifikasi merupakan cara pengelompokkan subyek dalam strata dan cara ini lazim digunakan untuk menghilangkan faktor perancu, dengan catatan faktor perancu hanya satu.

Teknik statistik yang sering digunakan pada stratifikasi adalah statistik Mantel – Haenszel, yang dapat digunakan pada penelitian cross sectional, case control, kohort, dan uji klinis. Contoh stratifikasi pada studi case control: Penelitian tentang Hubungan kebiasaan minum kopi dengan kejadian PJK, dengan kebiasaan merokok sebagai variabel perancu.

Hasil stratifikasi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.1 Stratifikasi Hasil Studi Case Control dengan kebiasaan minum kopi sebagai variabel Independen, PJK sebagai variabel dependen, dan merokok sebagai variabel Perancu Variabel Kasus Kontrol Jumlah RO A.

Semua Subyek Minum Kopi 30 70 100 30 x 80 / 20 x 70 = 1,71 Tidak Minum Kopi 20 80 100 Jumlah 50 150 200 B. Perokok Minum Kopi 25 30 55 25 x 18 / 30 x 13 = 1,15 Tidak Minum Kopi 13 18 31 Jumlah 38 48 86 C. Bukan Perokok Minum Kopi 5 40 45 5 x 62 / 40 x 7 = 1,11 Tidak Minum Kopi 7 62 69 Jumlah 12 102 114 ROMantel-haenszel = (25*18/86+5*62/114) :(30*13/86+40*/114) = 1,14 Sumber: Sastroasmoro (2014) ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 99 Berdasarkan tabel diatas, Tabel 4.1-A adalah tanpa stratifikasi.

Hasil stratifikasi dapat dilihat pada Tabel 4.1-B hanya subyek perokok dan Tabel 4.1-C hanya subyek bukan perokok. Rasio Odds(RO) semua subyek adalah 1,71.RO pada subyek perokok adalah 1,15 dan pada subyek bukan perokok adalah 1,11. Analisis Mantel-Haeszel untuk memperoleh nilai RO Hubungan kebiasaan minum kopi terhadap terjadinya PJK yang bebas dari variabel perancu (Kebiasaan merokok) memberikan hasil ROMH = 1,14.

b. Analisis Multivariat Analisis multivariat adalah analisis yang bertujuan untuk mempelajari hubungan beberapa variabel (lebih dari satu variabel) independen dengan satu atau beberapa variabel dependen (umumnya satu variabel dependen). Analisis multivariat yang sering digunakan dalam bidang kesehatan yaitu analisis regresi logistik ganda dan analisis regresi linier ganda, karena dengan kedua teknik tersebut dapat diperoleh hubungan antar variabel dengan menyingkirkan variabel lain termasuk variabel perancu.

Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! Tentukan variabel-variabel penelitian: variabel bebas, variabel terikat dan variabel perancu dari judul faktor-faktor penyebab kematian ibu pada artikel dibawah ini!

Penyebab kematian ibu secara langsung menurut survey kesehatan rumah tangga 2001 sebesar 90% adalah komplikasi yang terjadi pada saat persalinan dan segera setelah bersalin.Penyebab tersebut dikenal dengan Trias Klasik yaitu: perdarahan, eklampsia dan infeksi.Penyebab kematian ibu secara tidak langsung antara lain: kurang energy kronis (KEK) sebesar 37% dan anemia sebesar 40%.Selain itu beberapa sebab yang tidak langsung berkaitan dengan masalah kesehatan ibu ( dalam melahirkan ) yaitu 4 terlalu 3 terlambat yang terkait dengan faktor akses, sosial budaya, pendidikan, dan ekonomi.

Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka: 1) Tentukan satu variabel terikat berdasar judul dan artikel penelitian tersebut, dengan menentukan mana yang dipengaruhi atau yang merupakan sebagai akibat. 100 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 2) 3) Kemudian tentukan beberapa variabel bebas yang merupakan sebab terjadinya akibat tersebut. Setelah variabel bebas dan terikat ditentukan, kemudian tentukan variabel perancu yaitu variabel yang berhubungan dengan variabel bebas dan variabel terikat, tapi bukan merupakan variabel antara.

Ringkasan 1. 2. 3. 4. Variabel merupakan seseorang penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk obyek yang mempunyai variasi sebagai pembeda atau penciri antara satu orang dengan yang lainnya atau satu obyek dengan obyek yang lain. Penentuan variabel harus dapat terukur agar memudahkan saat pengolahan dan analisis data, dengan memperhatikan jenis-jenis variabel berdasarkan sifat, skala dan hubungan antar variabel serta memperhatikan hal-hal yang dapat mengganggu hasil penelitian seperti terjadinya bias akibat adanya variabel perancu.

Upaya untuk meminimalisir atau menanggulangi perancu dengan cara: mengidentifikasi variabel perancu, menguasai substansi penelitian dan menghilangkan perancu. Dalam bidang rekam medis wajib berupaya untuk memastikan pendokumentasian dengan baik, pengkodean dilakukan dengan benar, penyampaian informasi kesehatan dengan prosedur yang sah, mengolah data rekam medis dengan baik danpemanfaatan data rekam medis untuk kepentingan pengendalian mutu.

Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Hasil Ukur variabel merokok : 0 = merokok dan 1 = tidak merokok, maka variabel merokok termasuk ke dalam skala .

A. nominal B. interval C. ordinal D. rasio 2) Hasil ukur variabel pengetahuan: 1 = rendah dan 2 = tinggi, maka variabel pengetahuan termasuk ke dalam skala . A. nominal ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 101 B. C. D. 3) interval ordinal rasio Berdasarkan Tabel.4.2 di bawah ini, sifat data variabel pada umur, termasuk data .

Tabel. 4.2 Umur: 34 56 23 34 45 …. A. B. C. D. 4) Sex : 1 2 1 1 2 ……. Merokok : 1 2 1 2 1 1 1 … katagorik numerik nominal rasio Judul penelitian: “Hubungan antara karakteristik keluarga pasien dengan tingkat kepuasan di TPPRJ Rumah Sakit X”. Berdasarkan judul tersebut, maka yang menjadi variabel terikat (dependent) adalah . A. karakteristik B. C. D. 5) Judul penelitian: “Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja Petugas di TPPRI Rumah Sakit X”. Berdasarkan judul tersebut, maka yang menjadi variabel bebas (independent) adalah ….

A. kinerja petugas B. motivasi C. D. TPPRI Rumah Sakit X pengaruh 6) Di bawah ini merupakan contoh variabel yang sesuai untuk skala ordinal adalah …. A. suhu tubuh B. pekerjaan C. berat badan D. tingkat kepuasan 7) Di bawah ini yang merupakan contoh variabel yang sesuai untuk skala rasio adalah ….

A. B. 102 hubungan TPPRI Rumah Sakit X tingkat kepuasan suhu tubuh pekerjaan Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ C. D. berat badan tingkat kepuasan 8) Di bawah ini merupakan contoh variabel yang sesuai untuk skala nominal adalah . A. suhu tubuh B.

pekerjaan C. berat badan D. tingkat kepuasan 9) Di bawah ini merupakan contoh variabel yang sesuai untuk skala interval adalah A.

suhu tubuh B. pekerjaan C. berat badan D. tingkat kepuasan 10) Pemilihan subyek yang sebanding antara kelompok kontrol dengan kelompok kasus merupakan salah satu cara untuk mengendalikan perancu dengan cara . A. randomisasi B. retriksi C. matching D. stratifikasi ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 103 Topik 3 Hipotesis A.

DEFINISI HIPOTESIS Hipotesis berasal dari kata hupo dan thesis, hupo artinya sementara kebenarannya dan thesis artinya pernyataan atau teori. Jadi hipotesis adalah pernyataan sementara yang akan diuji kebenarannya. Hipotesis ini merupakan jawaban sementara berdasarkan pada teori yang belum dibuktikan dengan data atau fakta.Pembuktian dilakukan dengan pengujian hipotesis melalui uji statistik.Dalam hal ini hipotesis menjadi panduan dalam menganalisis hasil penelitian, sementara hasil penelitian harus dapat menjawab tujuan penelitian terutama tujuan khusus, jadi sebelum merumuskan hipotesis harus dilihat dulu tujuan penelitiannya.Hasil pengujian yang diperoleh dapat disimpulkan benar atau salah, berhubungan atau tidak, diterima atau ditolak.Hasil akhir penelitian tersebut merupakan kesimpulan penelitian sebagai generalisasi dan representasi dari populasi secara keseluruhan.

1. 2. 3. 4. Fungsi Hipotesis dalam penelitian: Mengarahkan dalam mengidentifikasi variable-variabel yang akan diteliti Memberikan batasan penelitian Lebih fokus dan memberikan arah dalam pengumpulan data Sebagai panduan dalam pengujian hipotesis melalui uji statistik yang sesuai 1. Ciri-ciri hipotesis: Hipotesis dibuat sederhana dan jelas serta ada batasannya 2. 3. 4. Dinyatakan dalam bentuk pernyataan bukan pertanyaan Berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan diteliti Terdiri dari variable-variabel yang dapat diukur sehingga dapat dilakukan pengujian B.

JENIS-JENIS RUMUSAN HIPOTESIS DALAM STATISTIKA 1. Hipotesis Nol (Ho) Merupakan hipotesis penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk menyatakan tidak ada hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya atau hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan antara variabel yang satu dengan yang lainnya.

104 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh: • Tidak ada hubungan pengetahuan petugas dengan terjadinya keterlambatan pelaporan • Tidak ada perbedaan tingkat kepuasan antara pasien di Puskesmas A dan B dalam hal pelayanan 2. Hipotesis Alternatif (Ha) Merupakan hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya atau hipotesis yang menyatakan ada perbedaan antara variabel yang satu dengan yang lainnya.

Contoh : • Ada hubungan pengetahuan petugas dengan terjadinya keterlambatan pelaporan • Ada perbedaan tingkat kepuasan antara pasien di Puskesmas A dan B dalam hal pelayanan C. ARAH ATAU BENTUK UJI HIPOTESIS Dalam hipotesis alternatif dapat ditentukan arah uji statistik apakah satu arah (one tail) atau dua arah (two tail). 1. Satu arah atau satu sisi (one tail) Merupakan hipotesis alternatif yang menyatakan adanya perbedaan dengan pernyataan bahwa hal yang satu lebih tinggi atau lebih rendah dari hal lainnya.

Contoh: Pola asuh ibu yang tidak bekerja lebih baik dibandingkan dengan pola asuh ibu yang bekerja. 2. Dua arah atau dua sisi (two tail) Merupakan hipotesis alternatif yang menyatakan adanya hubungan atau perbedaan tanpa melihat hal yang satu lebih tinggi atau lebih rendah dari hal lainnya.

Contoh: Pola asuh ibu yang tidak bekerja berbeda dibandingkan dengan pola asuh ibu penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk bekerja. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 105 D. HIPOTESIS DALAM PENELITIAN 1. Hipotesis Deskriptif Merupakan hipotesis terhadap nilai satu variabel dalam satu sampel walaupun di dalamnya bisa terdapat beberapa kategori. Contoh: Sebagian besar petugas surveilans DBD di puskesmas terlambat megirimkan laporan ke Dinas Kesehatan Rumusan Masalah: Apakah petugas surveilans puskesmas di RS sering terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan?

Ho : petugas surveilans DBD di puskesmas tidak terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan Ha : petugas surveilans DBD di puskesmas sering terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan 2. Hipotesis Komparatif Merupakan hipotesis terhadap perbandingan nilai dua sampel atau lebih. Hipotesis Komparatif terdiri dari beberapa macam yaitu: komparatif berpasangan dan komparatif independen.

Contoh: (komparatif berpasangan) Rumusan Masalah: Apakah ada perbedaan rata-rata berat badan antara sebelum dan sesudah diet? Ho : Tidak terdapat perbedaan rata-rata berat badan antara sebelum dan sesudah diet Ha : Terdapat perbedaan rata-rata berat badan antara sebelum dan sesudah diet Contoh: (komparatif independen) Rumusan Masalah: Apakah ada perbedaan pemberian ASI ekslusif oleh ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja?

Ho: Tidak ada perbedaan pemberian ASI ekslusif oleh ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja Ha: Ada perbedaan pemberian ASI ekslusif oleh ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja 3. Hipotesis Asosiatif Merupakan hipotesis terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih. 106 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh: Ho: Tidak ada hubungan pengetahuan petugas dengan terjadinya keterlambatan pelaporan Ha: Ada hubungan pengetahuan petugas dengan terjadinya keterlambatan pelaporan Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut!

Buatlah hipotesis dari rumusan masalah berikut ini: Apakah ada hubungan antara ketepatan diagnosa penyakit dengan klaim BPJS Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka: 1) Pelajari kembali tentang hipotesis beserta contohnya. 2) Buat hipotesis nol dan hipotesis alternatif mengacu pada rumusan masalah tersebut di atas. Ringkasan 1. 2. 3. Hipotesis merupakan pernyataan sementara yang akan diuji kebenarannya. Pengujian pada hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji statistik.

Hasil pengujian yang diperoleh disimpulkan diterima atau ditolak.Hasil tersebutmerupakan akhir penelitian sebagai kesimpulan penelitian. Tes 3 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!

1) Pernyataan: “ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas”. Pernyataan tersebut termasuk hipotesis . A. nol B. C. D. kerja deskriptif komparatif ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 107 2) Pernyataan: “ Tidak ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas”.

Pernyataan tersebut termasuk hipotesis . A. nol B. kerja C. deskriptif D. komparatif 3) Pernyataan yang benar hipotesis nol dalam hipotesis statistik terdapat pada pernyataan di bawah ini .

A. Ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas B. Tidak ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas C. Petugas surveilans DBD di puskesmas tidak terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan D. Petugas surveilans DBD di puskesmas sering terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan 108 4) Pernyataan yang benar hipotesis kerja dalam hipotesis statistik terdapat pada pernyataan di bawah ini .

A. Ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas B. Tidak ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas C. Petugas surveilans DBD di puskesmas tidak terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan D. Petugas surveilans DBD di puskesmas sering terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan 5) Pernyataan yang benar hipotesis nol dalam hipotesis deskriptif terdapat pada pernyataan di bawah ini .

A. Ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas B. Tidak ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas C. Petugas surveilans DBD di puskesmas tidak terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan D.

Petugas surveilans DBD di puskesmas sering terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan 6) Pernyataan yang benar hipotesis kerja dalam hipotesis deskriptif terdapat pada pernyataan dibawah ini . A. Ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ B. C. D. 7) Tidak ada hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja petugas Petugas surveilans DBD di puskesmas tidak terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan Petugas surveilans DBD di puskesmas sering terlambat mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan Pernyataan dibawah ini merupakan pernyataan hipotesis alternatif satu arah (one tail) adalah .

A. B. C. D. Pola asuh ibu yang tidak bekerja lebih baik dibandingkan dengan pola asuh ibu yang bekerja. Pola asuh ibu yang tidak bekerja berbeda dibandingkan dengan pola asuh ibu yang bekerja. Ada hubungan antara pola asuh ibu bekerja dengan kejadian gizi buruk pada anak Tidak ada hubungan antara pola asuh ibu bekerja dengan kejadian giziburuk pada anak 8) Pernyataan dibawah ini merupakan pernyataan hipotesis alternatif dua arah (two tail) adalah .

A. polaasuh ibu yang tidak bekerja lebih baik dibandingkan dengan pola asuh ibu yang bekerja. B. polaasuh ibu yang tidak bekerja berbeda dibandingkan dengan pola asuh ibu yang bekerja. C. ada hubungan antara pola asuh ibu dengan kejadian gizi buruk pada anak D. tidak ada hubungan antara pola asuh ibu dengan kejadian gizi buruk pada anak 9) Pernyataan yang benar dari hipotesis nol dalam hipotesis komparatifberpasangan terdapat pada pernyataan …. A. adaperbedaan antara pola asuh ibu bekerja dan ibu tidak bekerja terhadap dengan kejadian gizi buruk pada anak B.

tidak ada perbedaan antara pola asuh ibu bekerja dan ibu tidak bekerja terhadap dengan kejadian gizi buruk pada anak C. tidakterdapat perbedaan rata-rata berat badan antara sebelum dan sesudah diet D.

terdapatperbedaan rata-rata berat badan antara sebelum dan sesudah diet ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 109 10) 110 Pernyataan yang benar dari hipotesis alternatif dalam hipotesis komparatif berpasangan terdapat pada pernyataan . A. adaperbedaan antara pola asuh ibu bekerja dan ibu tidak bekerja terhadap dengan kejadian gizi buruk pada anak B.

tidak ada perbedaan antara pola asuh ibu bekerja dan ibu tidak bekerja terhadap dengan kejadian gizi buruk pada anak C. tidakterdapat perbedaan rata-rata berat badan antara sebelum dan sesudah diet D.

terdapatperbedaan rata-rata berat badan antara sebelum dan sesudah diet Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 4 Definisi Operasional A. PENGERTIAN DEFINISI OPERASIONAL Definisi operasional adalah definisi variabel-variabel yang akan diteliti secara operasional di lapangan. Definisi operasional dibuat untuk memudahkan pada pelaksanaan pengumpulan data dan pengolahan serta analisis data.

Pada saat akan melakukan pengumpulan data, definisi operasional yang dibuat mengarahkan dalam pembuatan dan pengembangan instrumen penelitian. Sementara pada saat pengolahan dan analisis data, definisi operasional dapat memudahkan karena data yang dihasilkan sudah terukur dan siap untuk diolah dan dianalisis.

Dengan definisi operasional yang tepat maka batasan ruang lingkup penelitian atau pengertian variabel-variabel yang akan diteliti akan lebih fokus. B. CARA PENULISAN DEFINISI OPERASIONAL Dalam pembuatan definisi operasional selain memuat tentang pengertian variabel secara operasional juga memuat tentang cara pengukuran, hasil ukur, dan skala pengukuran. Selain itu agar mendapatkan hasil yang tepat maka penomoran atau pengkodean pilihan jawaban dalam hasil ukur harus konsisten antara variabel independen dengan variabel dependen pada setiap variabel yang akan diukur.

Misalnya variabel dependen yang menjadi pokok bahasan atau kasus diberi kode 1 dan non kasus atau kebalikannya diberi kode 0. Selanjutnya pengkodean pada variabel independen harus konsisten dengan kode pilihan jawaban pada variabel dependen; kelompok penyebab kasus diberi kode 1 dan bukan penyebab kasus diberi kode 0. Contoh: Variabel dependen: terjadinya keterlambatan pelaporan, terdapat dua variabel independen yaitu pengetahuan dan sarana prasarana.

Variabel dependen: terjadinya keterlambatan pelaporan; terlambat (diberi kode 1) dan tidak terlambat (diberi kode 0). Maka variabel independennya: pengetahuan; kurang (diberi kode 1) dan baik (diberi kode 0).

Variabel dependen: terjadinya keterlambatan pelaporan; terlambat (diberi kode 1) dan tidak terlambat (diberi kode 0). Maka variabel independennya: sarana prasarana; tidak memadai atau tidak tersedia (diberi kode 1) dan memadai atau tersedia (diberi kode 0). ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 111 Begitu seterusnya hingga semua variabel independen yang akan diteliti disusun dalam definisi operasional.

Biasanya definisi operasional dibuat dalam bentuk tabel.Berikut ini contoh pembuatan definisi operasional secara lengkap. Contoh 1: Judul Penelitian: “ Faktor Risiko Gizi Buruk pada Baduta (Studi Kasus di Kota Tasikmalaya)” No 112 Variabel 1. Status gizi 2 Frekuensi ISPA 3 Frekuensi Diare Definisi Operasional Status gizi pada kasus: keadaan gizi baduta umur 6-23 bulan yang ditandai dengan satu atau lebih tanda berikut: ▪ Sangat kurus ▪ Edema, minimal pada kedua punggung kaki ▪ BB/PB < -3 (berdasarkan standar WHO 2005) Status gizi pada kontrol: keadaan gizi baduta umur 6-23 bulan yang sehat, keadaan tubuh selaras dengan tinggi badan dan berat badan (BB/PB ≥ -2 SD sampai +2 SD) Jumlah episode ISPA yang diderita baduta dalam tiap 2 bulan.

ISPA ditandai dengan batuk, demam, bersin, beringus, sakit kepala. Jumlah episode diare yang diderita baduta dalam bulan terakhir.Diare ditandai dengan keluarnya tinja yang lunak atau cair lebih Skala Ukur Nominal Cara Ukur Hasil Ukur Pengukuran 0. Gizi baik dan 1. Gizi buruk pemeriksaan fisik nominal Wawancara nominal Wawancara 0. Jarang < 3 kali dalam 2 bulan 1.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

Sering ≥ 3 kali dalam 2 bulan 0. Jarang < 3 kali dalam 2 bulan 1. Sering ≥ 3 kali dalam 2 bulan Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ No 4 5 6 7 Variabel Definisi Operasional dari tiga kali dalam satu hari. Inisiasi Upaya menyusui bayi Menyusu Dini sesegera mungkin setelah lahir ≤ 1 jam. Kategori segera bila IMD ≤ 1 jam, dan terlambat bila IMD > 1 jam ASI Eksklusif pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain Pola MP ASI Kebiasaan makan atau minum selain ASI pada baduta berdasarkan umur pertama kali pemberian MP-ASI, jumlah, variasi dan frekuensinya.

Dinilai dengan menggunakan skor. Tingkat Pendidikan Ibu Jenjang Pendidikan formal Ibu yang pernah ditempuh. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan Skala Ukur Cara Ukur nominal Wawancara 0.

Ya 1. Tidak nominal wawancara 0. Eksklusif 1. Tidak Eksklusif Nominal wawancara dg kuesioner terstruktur dan form semi quantitatif Food Frequency Questioner ordinal Wawancara 0. Tepat (skor

Tidak Tepat (skor>median bila data berdistribusi tidak normal atau skor>mean bila data berdistribusi normal) 0. tinggi (wajib belajar > 9 tahun) 1. rendah (wajib belajar ≤ 9 tahun) Hasil Ukur 113 No 8 9 114 Variabel Skala Ukur ordinal Cara Ukur Hasil Ukur Wawancara 0. rendah ≤ UMR kota Tasikmalaya 1. tinggi > UMR kota Tasikmalaya ordinal wawancara Nominal wawancara Bayi baru lahir yang berat Nominal badan lahirnya pada saat kelahiran ≤ 2.500 gram wawancara 0.

Kecil ≤ 2 anak 1. Besar > 2 anak 0. Baik (skormedian bila data berdistribusi tidak normal atau skor>mean bila data berdistribusi normal) 0.BBLN > 2500 gram 1.BBLR ≤ 2500 gram Definisi Operasional Tingkat Pengeluaran keluarga Rata-rata besarnya uang yang dikeluarkan keluarga untuk konsumsi makanan dan konsumsi barang-barang bukan makanan yang dinyatakan dalam rupiah per bulan, dibandingkan dengan UMR kota Tasikmalaya.

(BPS, 2011) Jumlah anak Jumlah anak yang dalam menjadi tanggungan keluarga keluarga. 10 Pola anak 11 BBLR Asuh Pengasuhan yang diberikan ibu atau pengasuh kepada anak dalam hal pemberian makanan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk praktek kebersihan dan sanitasi lingkungan. Dinilai dengan menggunakan skor. Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh 2: Judul Penelitian: “Gambaran Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Pasien Rawat Jalan Tentang Hak Akses Dokumen Rekam Medisdi Rumah Sakit X” Variabel Penelitian 1 Karakteristik a.

Pendidikan No Definisi Operasional Skala ukur Pendidikan adalah jenjang yang ditempuh responden sampai dengan mendapatkan ijazah Ordinal b. Pekerjaan Pekerjaan merupakan cara mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya Nominal penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk.

Umur Umur responden yang dihitung dari tahun saat penelitian dikurangi tahun lahir responden Interval 2 Kemampuan pasien Ordinal dalam menjawab pertanyaan yang diajukan tentang : 1. Pengertian hak akses dokumen rekam medis 2. Tujuan mengakses dokumen rekam medis 3. Prosedur pengaksesan dokumen rekam medis Pengetahuan pasien rawat jalan tentang hak akses dokumen rekam medis ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan Cara ukur Membagi kan kuesioner untuk diisi langsung oleh responden Membagi kan kuesioner untuk diisi langsung oleh responden Membagi kan kuesioner untuk diisi langsung oleh responden Membagi kan kuesioner untuk diisi langsung oleh responden Hasil ukur 1.

2. 3. 4. SD SMP SMA PT 1. 2. 3. 4. 5. 6. PNS/TNI/POLRI Swasta Wiraswasta Buruh IRT Lainnya 1. 2. 3. 4. 5. 6. 16 – 25 tahun 26 – 35 tahun 36 – 45 tahun 46 – 55 tahun 56 – 65 tahun >65 tahun Hasil ukur pengetahuan dikategorikan menjadi: 1.

Baik 76%-100% 2. Cukup 56%-75% 3. Kurang < 56% Arikunto, (2006) 115 4. Pengetahuan pasien tentang hak-hak pasien atas informasi medis Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! Identifikasi variabel–variabel dalam artikel penelitian ini dan buatkan definisi operasionalnya! Judul penelitian: analisis kelegkapan dokumen rekam medis di RS X Analisis yang dapat dilakukan pada rekam medis rawat inap salah satunya melalui analisis kuantitatif.

Analisis kuantitatif menurut Huffman(1999) adalah review bagian tertentu dari isi rekam medis dengan maksud menemukan kekurangan khususyang berkaitandengan pendokumentasian (pencatatan) pada berkas rekam medis.

Rekam medis dapat dikatakan lengkap apabila memuat empat komponen utamaya itu identifikasi pasien, pelaporan penting, autentikasi, serta pendokumentasian yang baik. Apabila rekam medis tidak diisi dengan lengkap maka hal ini akan berdampak pada keakuratan isi rekam medis serta aspek kelegalan rekam medis tersebut menjadi tidak sah.

Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu Anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka 1) Tentukan satu variabel terikat berdasar judul dan artikel penelitian tersebut, dengan menentukan mana yang dipengaruhi atau yang merupakan sebagai akibat.

2) Kemudian tentukan beberapa variabel bebas yang merupakan sebab terjadinya akibat tersebut. 3) Selanjutnya buat tabel definisi operasional dan isikan serta uraikan tiap kolom pada tabel tersebut dengan komponen variabel, definisi operasional, skala ukur, cara ukur dan hasil ukur. Ringkasan 1. 116 Definisi operasional merupakan definisi variabel-variabel yang akan diteliti secara operasional di lapangan. Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 2.

3. Definisi operasional dibuat untuk memudahkan pada pelaksanaan pengumpulan data dan pengolahan serta analisis data. Definisi operasional selain memuat tentang pengertian variabel secara operasional juga memuat tentang cara pengukuran,skala pengukurandan hasil ukur. Tes 4 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Judul penelitian: Hubungan penghasilan dengan kinerja. Skala ukur yang tepat untuk variabel independen; penghasilan (1.

Tinggi: ≥UMR, 2. Rendah: < UMR) adalah…. A. nominal B. interval C. ordinal D. 2) rasio Judul penelitian: Hubungan penghasilan dengan kinerja. Skala ukur yang tepat untuk variabel dependen; kinerja (Baik: ≥ 50%, 2.

Kurang <50%) adalah …. A. B. C. D. nominal interval ordinal rasio 3) Perhatikan tabel dibawah ini! Tabel Definisi operasional dengan judul: Hubungan Penghasilan dengan kinerja. Variabel Penelitian Definisi Operasional Skala ukur Cara ukur Penghasilan Kinerja Hasil ukur 0. rendah< UMR 1. tinggi ≥ UMR ? Berdasarkan hasil ukur variabel independen; penghasilan di atas, maka kode hasil ukur yang paling tepat pada variabel dependen kinerja adalah . A. 0. Kurang, 1. Baik B. 0. Baik, 1.

Kurang C. 1. Baik, 2. Kurang ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 117 D. 4) 2. Baik, 1. Kurang Judul penelitian: “Analisis kelengkapan dokumen rekam medis menurut Huffman di Rumah Sakit X”. Berdasarkan judul tersebut, maka skala ukur dari variabel pada tabel Definisi Operasional dibawah ini adalah …. Variabel Penelitian Definisi Operasional Kelengkapan identifikasi 5) A.

B. C. nominal interval ordinal D. rasio Skala ukur Cara ukur ? Hasil ukur 0. tidak lengkap 1. Lengkap Tabel dibawah ini merupakan petunjuk dalam mengerjakan soal no. 5 – 7. Sebutkanskala ukur yang tepat dari variabel jenis kelamin sesuai dengan hasil ukurnya pada tabel Definisi Operasional dibawah ini …. Variabel Penelitian Skala ukur Jenis Kelamin ? Umur ? Jenis Kepesertaan ? Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk.

B. C. D. 6) Definisi Operasional Cara ukur Hasil ukur 1. Laki-laki 2. Perempuan ……. tahun 1. Umum 2. BPJS nominal interval ordinal rasio Berdasarkan tabel Definisi Operasional pada no. 5 diatas. Sebutkanskala ukur yang tepat dari variabel Umur sesuai dengan hasil ukurnya! A. Nominal B. 118 Interval Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ C. D. 7) Berdasarkan tabel Definisi Operasional pada no.

5 diatas. Sebutkanskala ukur yang tepat dari variabel Jenis kepesertaan sesuai dengan hasil ukurnya! A. Nominal B. Interval C. Ordinal D. 8) Ordinal Rasio Rasio Perhatikan tabel dibawah ini! Tabel Definisi operasional dengan judul: Hubungan pengetahuan dengan Pelaporan. Variabel Penelitian Definisi Operasional Skala ukur Cara ukur Hasil ukur Pengetahuan ? Pelaporan 0. tidak terlambat 1. terlambat Berdasarkan hasil ukur variabel dependen; pengetahuan di atas, maka kode hasil ukur yang paling tepat pada variabel independen pengetahuan adalah ….

A. 0. Kurang, 1. Baik B. 0. Baik, 1. Kurang C. 1. Baik, 2. Kurang D. 9) 2. Baik, 1. Kurang Perhatikan tabel dibawah ini! Tabel Definisi operasional dengan judul: Hubungan frekuensi sakit ISPA dengan Status Gizi pada anak. Variabel Penelitian Definisi Operasional Skala ukur Cara ukur Hasil ukur Status Gizi 1. Gizi Kurang 2. Gizi Baik Frekuensi ISPA ?

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 119 Berdasarkan hasil ukur variabel dependen di atas, maka kode hasil ukur yang paling tepat pada variabel independen frekuensi ISPA adalah .

A. B. C. D. 10) 1. Sering2. Jarang 1. Jarangpenyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk. Sering 0. Jarang, 1. Sering 1. Jarang, 0. Sering Perhatikan tabel dibawah ini! Tabel Definisi operasional dengan judul: Hubungan ketepatan diagnosis dengan klaim BPJS.

Variabel Penelitian Klaim BPJS Ketepatan Diagnosis Definisi Operasional Skala ukur Cara ukur Hasil ukur 1. Sesuai klaim 2. Tidak sesuai klaim ? Berdasarkan hasil ukur variabel dependen di atas, maka kode hasil ukur yang paling tepat pada variabel independenketepatan diagnosis adalah …. A.

1. Tidak Tepat, 2. Tepat B. 1. Tepat2. Tidak Tepat C. 0. Tepat1. Tidak Tepat D. 1. Tepat0. Tidak Tepat 120 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) C 2) A 3) A 4) C 5) A Tes 2 1) A 2) C 3) B 4) D 5) B 6) D 7) C 8) B 9) A 10) C Tes 3 1) B 2) A 3) B 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) A C D A B C D ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 121 Tes 4 1) C 2) C 3) A 4) A 5) A 6) D 7) A 8) 9) 10) 122 B A B Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Glosarium Bias Celcius Drop out Fahrenheit Heterogen Mutlak P - care PJK : Kesalahan sistematis dalam memilih subjek penelitian atau pengumpulan data yang menyebabkan taksiran yang salah.

: Seberapa panas atau seberapa dingin temperatur dinyatakan dalam besaran suhu menurut celcius : Pemberhentian status kemahasiswaan : Seberapa panas atau seberapa dingin temperatur dinyatakan dalam besaran suhu menurut fahrenheit : merujuk pada keanekaragaman yaitu sesuatu atau seseorang yang berbeda jenis atau karakteristiknya. : sepenuhnya atau seutuhnya dan tidak tergantung pada kondisi apapun sebagai syarat : Primary care : Penyakit Jantung Koroner ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 123 Daftar Pustaka Notoatmodjo, S.

(2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo, S. (2014). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Edisi revisi. Jakarta: Rineka Cipta Riyanto, A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.Bantul: Nuha Medika Sastroasmoro, S dan Ismael, S. (2014). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.

Edisi ke – 5. Jakarta: Binarupa Aksara Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta Wibowo, A. (2014). Metodologi Penelitian Praktis Bidang Kesehatan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada 124 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Bab 5 RANCANGAN ATAU DESAIN PENELITIAN Imas Masturoh, SKM., M.Kes(Epid) Pendahuluan D esain penelitian merupakan cara sistematis yang digunakan untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan penelitian.

Dalam desain penelitian dimuat aturan yang harus dipenuhi dalam seluruh proses penelitian. Secara luas pengertian desain penelitian mencakup berbagai hal yang dilakukan peneliti mulai dari identifikasi masalah, rumusan hipotesis, definisi operasional, cara pengumpulan data hingga analisis data. Dalam pengertian sempit desain penelitian merupakan pedoman untuk mencapai tujuan penelitian.

Dengan demikian desain penelitian yang dipilih oleh peneliti harus benar-benar merupakan cara yang paling efisien untuk menjawab tujuan dan pertanyaan penelitian.

Bukan berarti bahwa desain yang dipilih lebih unggul dari desain penelitian yang lainnya. Akan tetapi desain yang dipilih merupakan desain yang paling sesuai dan tepat untuk menjawab tujuan dan pertanyaan penelitian. Pemilihan desain penelitian sangat penting karena apabila desain yang dipilih tidak sesuai dengan pertanyaan penelitian atau tujuan penelitian maka hasil dan kesimpulan yang diperoleh pun akan salah. Desain penelitian yang sesuai dapat menuntun peneliti untuk melakukan penelitian secara efisien dan efektif.

Sebagai contoh apabila peneliti hanya ingin mengetahui gambaran kelengkapan dokumen rekam medis, maka hasil penelitian akan jadi salah bila desain yang dipilih adalah desain penelitian analitik yang menggunakan uji statistik karena desain penelitian yang dipilih tidak menjawab pertanyaan dan tujuan penelitian, sehingga pada akhirnya menjadi tidak efisien dan efektif.

Agar peneliti dapat melakukan pemilihan desain penelitian dengan tepat maka harus memahami desain penelitian.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 125 Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa mampu untuk merumuskan rancangan atau desain penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan.

Selain itu secara khusus mahasiswa mampu: 1. Membuat Desain observasional 2. Membuat Desain eksperimental 3. Melakukan Penelitian kualitatif 4. Membedakan penelitian Kuantitatif dan Kulitatif 126 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 1 Penelitian Kuantitatif K lasifikasi jenis desain penelitian sangat beragam, secara garis besar klasifikasi jenis penelitian terdiri dari dua yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pada topik ini akan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk secara khusus mengenai penelitian kuantitatif.

Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang dilakukan untuk menjawabpertanyaan penelitian dengan cara-cara mengikutikaidah keilmuan yaitu konkrit/empiris, obyektif terukur, rasional dan sistematis, dengan data hasil penelitian yang diperoleh yang berupa angka-angka serta analisis menggunakan metode statistika.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam penelitian kuantitatif adalah sejak awal peneliti harus menentukan apakah akan melakukan intervensi atau apakah hanya akan melakukan pengamatan saja tanpa intervensi.

Apakah akan melakukan penelitian secara retrospektif yaitu melakukan evaluasi atau penilaian suatu peristiwa yang telah terjadi sebelumnya, atau apakah akan melakukan penelitian secara prospektif yaitu mengikuti subyek untuk meneliti suatu peristiwa yang belum terjadi. Klasifikasi desain penelitian kuantitatif secara sederhana digambarkan pada skema berikut: Desain penelitian Observasional 1. Deskriptif 2. Analitik a. Cross Sectional b. Case Control c.

Cohort Eksperimen/Intervensi 1. Pre experimental designs 2. True experimental designs 3. Quasi experimental design Sumber: Sastroasmoro (2014) dan Notoatmodjo (2010) Gambar 5.1 Klasifikasi jenis penelitian kuantitatif A. DESAIN PENELITIAN OBSERVASIONAL Desain penelitian observasional merupakan penelitian dimana peneliti tidak melakukan intervensi atau perlakuan terhadap variabel. Penelitian ini hanya untuk mengamati fenomena alam atau sosial yang terjadi, dengan sampel penelitian merupakan bagian dari populasi dan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 127 jumlah sampel yang diperlukan cukup banyak.

Hasil penelitian yang diperoleh dari sampel tersebut kemudian dapat digeneralisasikan kepada populasi yang lebih luas. Penelitian observasional ini secara garis besar dikelompokkan menjadi dua yaitu: 1. Desain Penelitian Deskriptif Desain penelitian deskriptif merupakan penelitian untuk melihat gambaran fenomena yang terjadi di dalam suatu populasi tertentu. Di bidang kesehatan, penelitian deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan masalah-masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat atau di dalam komunitas tertentu, termasuk di bidang rekam medis dan informasi kesehatan.

Contoh penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan dengan desain penelitian deskriptif antara lain: gambaran pengelolaan rekam medis di bagian filing, tinjauan pelaksanaan pelepasan informasi resume medis, gambaran kelengkapan dokumen rekam medis, dan lain-lain. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian deskriptif antara lain berupa distribusi frekuensi dalam bentuk persentase atau proporsi, mean, median dan sebagainya.

Desain penelitian deskriptif disebut juga survei deskriptif. Jenis masalah survei deskriptif dapat digolongkan ke dalam hal-hal sebagai berikut: a.

Survei rumah tangga (household survey), yaitu suatu survey yang ditujukan kepada rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan kepada keluarga baik kepada kepala rumah tangga maupun anggota rumah tangga atau yang menjadi responden adalah kepala rumah tangganya saja tapi didalamnya ditanyakan juga tentang data dan keadaan anggota keluarganya serta informasi tentang rumah dan lingkungannya. Survey rumah tangga ini sering digunakan dalam penelitian kesehatan antara lain seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan penelitian – penelitian kesehatan lainnya.

Di bidang rekam medis dan informasi kesehatan, survey ini juga dapat dilakukan contohnya b. c. tentang family folder, pengetahuan atau kepuasan keluarga tentang BPJS, dan lain-lain. Survei Morbiditas (morbidity survey), yaitu suatu survey untuk mengetahui distribusi, insidensi dan atau prevalensi kejadian suatu penyakit dalam masyarakat atau populasi tertentu.

Contoh di bidang rekam medis dan informasi kesehatan adalah laporan 10 besar penyakit di rumah sakit atau puskesmas, distribusi kelengkapan dokumen rekam medis dalam analisis kuantitatif, distribusi jumlah kunjungan pasien berdasarkan pasien baru dan pasien lama, jenis kepesertaan, rawat inap dan rawat jalan, poliklinik yang dituju, dan sebagainya. Survei analisis jabatan (functional analysis survey), yaitu survei yang dilakukan untuk mengetahui tugas dan tanggung jawab petugas kesehatan serta kegiatan para petugas terkait dengan pekerjaannya serta hubungan antara atasan dengan bawahan, situasi dan kondisi kerja termasuk fasilitas yang mendukung dalam pekerjaannya.

Contohnya, 128 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ d. gambaran kinerja petugas rekam medis dilihat dari faktor internal dan eksternal, gambaran kinerja petugas rekam medis berdasarkan standar pelayanan minimal rumah sakit seperti: distribusi kelengkapan pengisian rekam medis 24 jam setelah selesai pelayanan, distribusi informed concent setelah mendapatkan informasi yang jelas, jumlah rata-rata waktu penyediaan dokumen rekam medis pelayanan rawat jalan dan rawat inap.

Survei pendapat umum (public opinion survey), yaitu survei yang digunakan untuk memperoleh gambaran tentang tanggapan publik atau masyarakat terhadap suatu program pelayanan kesehatan atau masalah-masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat. Misalnya di bidang kesehatan untuk mengetahui tanggapan atau sikap masyarakat terhadap program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dalam pencegahan penularan penyakit Demam Berdarah.

Contoh lainnya di bidang rekam medis dan informasi kesehatan seperti untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap program BPJS, mengetahui kepuasan pasien terhadap pelayanan pendaftaran rawat jalan dan sebagainya. 2. Desain Penelitian Analitik Desain penelitian analitik merupakan suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana dan mengapa suatu fenomena terjadi melalui sebuah analisis statistik seperti korelasi antara sebab dan akibat atau faktor risiko dengan efek serta kemudian dapat dilanjutkan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi dari sebab atau faktor risiko tersebut terhadap akibat atau efek.

Secara garis besar penelitian analitik dapat dibedakan dalam tiga macam yaitu: a. Rancangan atau desain Cross Sectional Desain penelitian cross sectional merupakan suatu penelitian yang mempelajari korelasi antara paparan atau faktor risiko (independen) dengan akibat atau efek (dependen), dengan pengumpulan data dilakukan bersamaan secara serentak dalam satu waktu antara faktor risiko dengan efeknya (point time approach), artinya semua variabel baik variabel independen maupun variabel dependen diobservasi pada waktu yang sama.

Berikut ini skema desain penelitian cross sectional: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 129 Variabel independen dan dependen diobservasi atau diukur satu kali pada waktu yang sama Faktor risiko (+) Efek (+) Efek (-) Faktor risiko (-) Efek (+) Efek (-) Sumber: Riyanto (2011) Gambar 5.2 Skema dasar penelitian cross sectional Berdasarkan skema tersebut, maka langkah-langkah penelitian cross sectional adalah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian serta mengidentifikasi variabel independen (faktor risiko) dan variabel dependen (efek).

2) Menetapkan populasi dan sampel penelitian 3) Melaksanakan pengumpulan data atau observasi terhadap variabel independen dan variabel dependen sekaligus pada waktu yang sama 4) Melakukan analisis hubungan dengan membandingkan proporsi antar kelompok hasil observasi atau pengukuran. Contoh: Tujuan penelitian: untuk mengetahui hubungan antara karakteristik dengan kinerja petugas P-care.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian beserta perannya masing-masing a) Variabel dependen: kinerja b) Variabel independen: karakteristik (umur, pendidikan, masa kerja, jenis kelamin) 2) 130 Menetapkan populasi dan sampel. Populasi penelitiannya pada penelitian ini adalah petugas P – care di puskesmas di kota atau kabupaten X. Petugas P – care di tiap puskesmas sekitar 1 – 3 orang. Pada penelitian kuantitatif besar sampel harus diperhatikan karena memerlukan sampel yang cukup banyak.

Bila jumlah populasinya Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 3) 4) sedikit maka dapat diambil seluruhnya menjadi sampel penelitian dengan menggunakan teknik pemilihan sampel total sampling. Melakukan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Mengolah dan menganalisis data yang telah diperoleh saat pengumpulan data. Hasil analisis membuktikan apakah ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen ataukah sebaliknya tidak ada hubungan.

Kelebihan Desain Cross Sectional ▪ ▪ ▪ ▪ Desain ini relatif mudah, murah dan hasilnya cepat dapat diperoleh Dapat digunakan untuk meneliti sekaligus banyak variabel Jarang terancam drop out Dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya seperti kohort atau eksperimen Kelemahan Desain Cross Sectional ▪ Memerlukan jumlah sampel yang banyak, terutama apabila variabel yang diteliti ▪ ▪ ▪ banyak.

Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat. Kurang tepat untuk memprediksi suatu kecenderungan. Kesimpulan korelasi faktor risiko dengan efek paling lemah bila dibandingkan dengan dua rancangan analitik lainnya. b. Rancangan atau desain Case Control Desain penelitian cross case control merupakan suatu penelitian analitik yang mempelajari sebab – sebab kejadian atau peristiwa secara retrospektif. Dalam bidang kesehatan suatu kejadian penyakit diidentifikasi saat ini kemudian paparan atau penyebabnya diidentifikasi pada waktu yang lalu.

Berikut ini skema desain penelitian case control: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 131 Apakah ada faktor risiko Ditelusuri waktu yang lalu Penelitian mulai dari sini Risiko (+) Efek (+) Kasus Risiko (-) Risiko (+) Efek (+) Kontrol Risiko (-) Sumber: Riyanto (2011) Gambar 5.3 Skema dasar penelitian case control Langkah-langkah penelitian case control adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengindentifikasi variabel-variabel penelitian.

Menetapkan populasi dan sampel penelitian. Mengidentifikasi kasus. Memilih sampel sebagai kontrol. Melakukan pengukuran retrospektif untuk melihat penyebab atau faktor risiko. Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variabel dari kasus penelitian dengan variabel-variabel kontrol.

Contoh: Tujuan penelitian: untuk membuktikan hubungan faktor risiko (ASI eksklusif, pola MP ASI, pola asuh, BBLR, dan penghasilan keluarga) dengan terjadinya gizi buruk pada anak dibawah dua tahun (baduta). Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi variabel dependen (efek) dan variabel independen (faktor risiko).

Variabel dependen: terjadinya gizi buruk pada baduta Variabel independen: ASI eksklusif, pola MP ASI, pola asuh, BBLR, penghasilan keluarga 2.

Menetapkan populasi dan sampel. Populasinya adalah semua anak usia di bawah dua tahun (6-23 bulan) di kota atau kabupaten X.

Sampelnya adalah sebagian dari anak usia di bawah dua tahun (6-23 bulan) di kota atau kabupaten X. Misalnya ditentukan sampel dipilih di suatu desa atau kecamatan dengan kasus gizi buruk tertinggi di kota atau kabupaten X. 132 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 3. 4. 5. 6. Mengidentifikasi kasus, yaitu anak usia baduta yang menderita gizi buruk. Kasus diambil dari populasi yang telah ditentukan sejumlah hasil perhitungan menggunakan rumus besar sampel.

Memilih sampel sebagai kontrol. Kontrol merupakan anak usia baduta yang sehat. Jumlah sampel kasus dan kontrol setara atau sama. Pemilihan sampel kontrol berdasarkan kesamaan karakteristik dengan sampel kasus seperti lokasinya yang berdekatan atau masih satu daerah penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk sampel kasus. Dan untuk meminimalisir terjadinya bias, dilakukan pengendalian pada saat seleksi atau pemilihan sampel, dengan cara dilakukan matching antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol dengan kriteria: berjenis kelamin sama, memiliki usia setara atau maksimal selisih usia 3 bulan.

Melakukan pengukuran retrospektif untuk melihat penyebab atau faktor risiko. Pengukuran variabel-variabel penelitian terhadap kasus dan kontrol ditanyakan melalui ibunya dengan menggunakan instrumen kuesioner.

Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variabel kasus dengan variabel-variabel kontrol. Analisis data dilakukan dengan membandingkan proporsi faktor risiko yang positif dan negatif pada kelompok kasus dan kelompok kontrol, sehingga diperoleh bukti ada atau tidaknya hubungan antara variabel-variabel faktor risiko (ASI eksklusif, Pola MP ASI, Pola asuh, BBLR, penghasilan keluarga) dengan terjadinya gizi buruk pada baduta. Kelebihan Desain Case Control ▪ Desain ini merupakan salah satu cara dan atau kadang bahkan satu – satunya cara untuk meneliti kasus yang jarang atau langka ▪ Hasil dapat diperoleh dengan cepat ▪ ▪ ▪ Biaya yang diperlukan relatif murah Dapat menggunakan sampel penelitian yang lebih sedikit Dapat digunakan untuk mengidentifikasi berbagai faktor risiko sekaligus dalam satu penelitian Kelemahan Desain Case Control ▪ Pengambilan data faktor risiko secara retrospektif lebih mengandalkan daya ingat sehingga ada kemungkinan responden lupa atau tidak ingat terhadap apa yang pernah dialaminya apalagi yang ditanyakan sudah lama sekali.

Hal ini dapat menimbulkan recall bias. Pengambilan data sekunder juga dapat dilakukan misalnya dengan melihat catatan pada dokumen rekam medis, namun dalam hal ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 133 ▪ ▪ c. ini rekam medis seringkali kurang dapat memberikan informasi yang akurat karena isinya kurang lengkap.

Kadang – kadang sulit memilih sampel kontrol yang benar – benar sebanding dengan kelompok kasus karena banyaknya faktor risiko yang harus dikendalikan.

Tidak dapat digunakan untuk menentukan lebih dari satu variabel dependen, jadi hanya dihubungkan dengan satu kasus atau efek. Rancangan atau desain Cohort Desain penelitian cohort merupakan suatu penelitian yang mempelajari hubungan antara faktor risiko dengan efek, yang dilakukan secara propektif atau kedepan sebelum terjadinya efek. Subyek penelitian diikuti dan diamati secara terus menerus sampai jangka waktu tertentu.

Secara alamiah, pada perjalanannya dari subyek tersebut ada yang terpapar faktor risiko ada yang tidak. Subyek yang terpapar oleh faktor risiko menjadi kelompok yang diteliti dan subyek yang tidak terpapar menjadi kelompok kontrol, karena berangkat dari populasi yang sama maka kedua kelompok tersebut dikatakan sebanding. Kemudian ditentukan apakah telah terjadi efek atau suatu kasus yang diteliti.

Berikut ini skema desain penelitian cohort: Penelitian mulai dari sini Diikuti secara prospektif (kedepan) Apakah terjadi Efek (+) Faktor Risiko (+) Efek (-) Efek (+) Faktor Risiko (-) Efek (-) Sumber: Riyanto (2011) Gambar 5.4 Skema dasar penelitian Cohort 134 1.

Langkah-langkah penelitian cohort adalah sebagai berikut: Mengindentifikasi faktor-faktor risiko (variabel independen) dan efek (variabel 2. 3. 4. dependen). Menetapkan populasi dan sampel penelitian. Memilih sampel dengan faktor risiko positif dari sampel dengan efek negatif.

Memilih sampel sebagai kontrol. Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 5. 6. Mengobservasi perkembangan kedua kelompok tersebut sampai batas waktu yang telah ditentukan, selanjutnya mengidentifikasi ada tidaknya efek yang timbul. Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara subyek yang mendapat efek positif dengan subyek yang mendapat efek negatif baik pada kelompok risiko positif maupun kelompok negatif.

Contoh: Tujuan penelitian: untuk mengetahui hubungan perilaku merokok ibu hamil dengan kejadian berat badan bayi lahir rendah (BBLR) di kota Semarang. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi variabel dependen (efek) dan variabel independen (faktor risiko). Variabel dependen : kejadian BBLR. Variabel independen : perilaku merokok ibu hamil. 2. Menetapkan populasi dan sampel. Populasinya adalah seluruh ibu hamil baik yang merokok (kelompok risiko positif) maupun yang tidak merokok (kelompok risiko negatif) 3.

4. di kota Semarang. Kemudian dari populasi tersebut mengidentifikasi ibu hamil yang merokok dan ibu hamil yang tidak merokok dengan masing-masing kelompok jumlahnya sama.

Mengamati perkembangan efek pada kelompok risiko positif dan kelompok risiko negatif, dengan mengamati perilaku ibu hamil dari kedua kelompok tersebut sampai melahirkan, kemudian mengukur berat badan bayi lahir untuk mengetahui kejadian BBLR. Melakukan analisis hubungan dengan cara membandingkan proporsi antar kelompok ibu yang anaknya BBLR dengan proporsi kelompok ibu yang anaknya tidak BBLR, diantara kelompok ibu yang merokok dan kelompok ibu yang tidak merokok. Kelebihan Desain Cohort: ▪ Desain ini merupakan desain yang paling baik untuk menerangkan hubungan antara faktor risiko dengan efek, menentukan insiden dan perjalanan penyakit.

▪ Sangat baik dilakukan terhadap kasus yang bersifat fatal dan progresif. ▪ Dapat digunakan untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari suatu faktor risiko tertentu. ▪ Memiliki kekuatan yang paling baik untuk meneliti berbagai masalah kesehatan, karena penelitian dilakukan secara longitudinal. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 135 Kelemahan Desain Cohort: ▪ Biasanya memerlukan waktu yang lama. ▪ Lebih rumit dan memerlukan sarana dan biaya yang mahal. ▪ Kemungkinan ada subyek yang drop out dan dapat mengganggu analisis data.

▪ Penelitian pada kasus yang jarang terjadi kurang efisien. ▪ Kurang etis karena mengamati faktor risiko pada subyek sampai terjadinya efek. B. DESAIN PENELITIAN EKSPERIMEN Desain penelitian eksperimen merupakan penelitian dengan adanya perlakuan atau intervensi yang bertujuan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan setelah dilakukan intervesi kepada satu atau lebih kelompok.

Kemudian, hasil intervensi tersebut dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberikan intervensi (kontrol). Langkah-langkah penelitian eksperimen 1. Membuat rumusan masalah. 2. Membuat tujuan penelitian. 3. 4. 5. Membuat hipotesis penelitian. Menyusun rencana eskperimen meliputi: ▪ Menetapkan variabel independen dan dependen.

▪ Memilih desain eksperimen yang akan digunakan. ▪ Menentukan sampel penelitian. ▪ Menyusun metode penelitian seperti alat ukur. ▪ Menyusun outline prosedur pengumpulan data.

▪ Menyusun hipotesis statistik. Melakukan pengumpulan data tahap pertama (pretest). 6. 7. 8. Melakukan eksperimen.

Melakukan pengumpulan data tahap kedua (posttest). Melakukan pengolahan dan analisis data. Pembanding atau kontrol dalam penelitian eksperimen Kontrol merupakan sampel penelitian yang tidak diberikan intervensi atau perlakuan.

Dalam penelitian eksperimen diperlukan kelompok kontrol sebagai pembanding dengan kelompok yang diberikan intervensi atau perlakuan, untuk melihat perubahan variabel apakah perubahan yang terjadi betul–betul karena adanya perlakuan atau karena hal lain.

Manfaat kontrol dalam penelitian eksperimen: ▪ Untuk mencegah munculnya faktor-faktor yang sebenarnya tidak diharapkan berpengaruh terhadap variabel dependen. 136 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ ▪ ▪ Untuk membedakan berbagai variabel yang tidak diperlukan dari variabel yang diperlukan Untuk menggambarkan secara kuantitatif hubungan antara variabel bebas dengan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk terikat, dan sejauh mana tingkat hubungan antara kedua variabel tersebut.

Validitas Dalam Penelitian Eksperimen 1. Validitas Internal Validitas internal berhubungan dengan ketepatan mengidentifikasi perubahan variabel keluaran (hasil eksperimen), bahwa hasil tesebut benar–benar sebagai akibat adanya perlakuan. Banyak faktor yang mempengaruhi terhadap validitas internal ini sehingga dapat mengganggu hasil eksperimen, antara lain: a. Sejarah (history) Peristiwa pada masa lalu kadang–kadang dapat berpengaruh terhadap keluaran (hasil eksperimen), karena perubahan yang terjadi pada efek atau variabel terikat kemungkinan bukan sepenuhnya karena perlakuan tapi karena adanya pengalaman di masa lalu.

b. Kematangan (maturitas) Manusia, binatang, dan makhluk hidup lainnya sebagai subjek penelitian selalu mengalami perubahan. Pada manusia perubahan terkait dengan proses kematangan atau maturitas baik secara biologis maupun psikologis.

Dengan bertambahnya kematangan pada subjek dapat berpengaruh terhadap variabel terikat, sehingga perubahan yang terjadi pada penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk terikat bukan hanya akibat dari perlakuan namun karena proses kematangan pada subjek.

c. Seleksi (selection) Dalam pemilihan anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrol bisa terjadi perbedaan ciri–ciri atau sifat–sifat anggota kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. Misalnya apabila pendidikan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada pendidikan kelompok kontrol maka sebelum diberikan perlakuan sudah ada perbedaan sehingga perubahan yang terjadi pada variabel terikat bukan hanya karena pengaruh perlakuan tapi juga karena pengaruh pendidikan.

d. Prosedur tes (testing) Pengalaman pada saat pretest dapat mempengaruhi hasil posttest karena penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk subjek penelitian dapat mengingat kembali jawaban–jawaban yang salah pada saat pretest, dan kemudian pada saat posttest subjek tersebut dapat memperbaiki jawabannya, sehingga ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 137 perubahan pada variabel terikat bukan hanya karena hasil perlakuan namun juga karena pengaruh pretest.

d. e. Instrumen (instrumentation) Instrumen penelitian pada saat pretest biasanya dipergunakan lagi pada saat posttest. Hal ini akan berpengaruh pada hasil posttest, sehingga perubahan variabel terikat bukan hanya karena perlakuan namun juga karena pengaruh instrumen. Mortalitas (mortality) Pada saat eksperimen atau pada saat antara pretest dengan posttest seringkali terjadi subjek yang drop out karena pindah ataupun karena meninggal. Hal ini juga dapat berpengaruh terhadap hasil eksperimen.

f. Regresi kearah nilai rata–rata (regression toward the mean) Ancaman validitas ini karena adanya nilai – nilai yang ekstrim baik tinggi maupun rendah dari hasil pretest cenderung tidak ekstrim lagi pada saat pengukuran kedua atau saat posttest namun biasanya mendekati nilai rata–rata.

Perubahan pada variabel terikat tersebut bukan perubahan sebenarnya namun merupakan perubahan semu yang disebut regresi semu (regression artifact). 2.

Validitas Eskternal Validitas eksternal ini berkaitan dengan sejauh mana hasil-hasil penelitian dapat digeneralisasikan kepada subjek–subjek lain yang serupa. Banyak faktor yang mempengaruhi terhadap validitas eksternal ini sehingga dapat mengganggu hasil eksperimen, antara lain: a.

Efek seleksi berbagai “bias” Karakteristik anggota kelompok eksperimen sangat menentukan generalisasi yang diperoleh. Kekeliruan dalam memilih anggota kelompok dapat mengganggu hasil eksperimen. Oleh karena itu pemilihan sampel harus representatif terhadap populasi dan perlu dilakukan identifikasi dan kontrol yang tepat. b. Efek pelaksanaan pretest Pretest dapat mempengaruhi variabel eksperimen, sedangkan pretest hanya dilakukan terhadap sampel sehingga kemungkinan generalisasi yang diperoleh tidak berlaku untuk seluruh populasi.

Untuk menghindari akibat pelaksanaan pretest yang mengganggu generalisasi, maka perlu kontrol yang cermat dalam pelaksanaan pretest sehingga tidak berpengaruh terhadap perlakuan yang menjadi dasar membuat generalisasi. 138 Metodologi Penelitian Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk ◼ c. Efek prosedur eksperimen Eksperimen yang dilakukan terhadap anggota-anggota sampel yang menyadari bahwa dirinya sedang dicoba atau diekperimen menyebabkan generalisasi yang diperoleh tidak berlaku bagi populasi karena adanya perbedaan pengalaman antara anggota sampel dengan anggota populasi, sehingga perlu dilakukan kontrol terhadap pengaruh prosedur eksperimen tersebut.

d. Gangguan penanganan perlakuan berganda Apabila kelompok eksperimen terpapar perlakuan berulang sebanyak dua kali atau lebih secara berturut turut, maka perlakuan terdahulu mempunyai efek terhadap yang berikutnya. Hal ini menyebabkan perlakuan terakhir yang muncul dipengaruhi oleh perlakuan sebelumnya. Jadi generalisasi yang diperoleh hanya berlaku bagi subjek yang mempunyai pengalaman dengan pelaksanaan dan pemunculan perlakuan ganda secara berturut turut.

1. Desain penelitian eksperimen terdapat tiga macam yaitu: Desain penelitian pra – eksperimen (pre experimental designs) a. Posttest only design Desain penelitian ini merupakan suatu penelitian yang dilakukan perlakuan atau intervensi tanpa diawali dengan pretest dan tanpa kontrol namun setelah mendapat perlakuan kemudian diberikan posttest, sehingga tidak dapat dibandingkan antara sebelum dan sesudah serta kelompok yang diberikan perlakuan dengan yang tanpa perlakuan.

Desain ini memiliki kelemahan karena tidak ada kontrol dan tidak ada observasi awal atau pretest sehingga kemungkinan kesimpulan yang diperoleh apakah betul-betul akibat perlakuan atau karena faktor lain. Namun keuntungannya penelitian lebih cepat dan mudah dan dapat digunakan untuk menjajagi masalah-masalah yang diteliti atau mengembangkan gagasan atau metode alat-alat tertentu. Perlakuan X b. Posttest O2 One group pretest posttest design Desain ini dari awal sudah dilakukan observasi melalui pretest terlebih dahulu, kemudian diberikan perlakuan atau intervensi, selanjutnya diberikan posttest sehingga dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah diberikan perlakuan atau intervensi, namun dalam desain ini tidak ada ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 139 kontrol sebagai pembanding antarkelompok.

Kelemahan dari desain ini juga tidak ada jaminan apabila perubahan yang terjadi benar–benar karena adanya perlakuan. c. Pretest Perlakuan Posttest O1 X O2 Static group comparison Desain penelitian ini sama dengan desain posttest only design, hanya bedanya, pada desain ini ditambahkan kelompok kontrol atau pembanding. Pada kelompok eksperimen diawali dengan dilakukannya intervensi atau perlakuan (X) kemudian dilakukan pengukuran (O2).

Hasil pengukuran pada kelompok yang mendapat perlakuan kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran pada kelompok kontrol, kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan atau intervensi.

Perlakuan Kelompok eksperimen X Posttest O2 O2 Kelompok kontrol 2. Desain penelitian eksperimen sungguhan (true experimental designs) a. Desain pretest-posttest dengan kelompok kontrol (pretest–posttest with control group) Dalam desain penelitian ini dilakukan randomisasi berupa pengelompokan anggota-anggota kelompok eksperimen dan kontrol secara acak atau random. Kemudian diawali dengan pengukuran (O1) baik pada kelompok eksperimen maupun pada kelompok kontrol, diikuti dengan intervensi atau perlakuan (X) pada kelompok eksperimen.

Setelah beberapa waktu kemudian dilakukan pengukuran kedua (O2) pada kedua kelompok tersebut. Hasil pengukuran pada kelompok yang mendapat perlakuan kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran pada kelompok kontrol, karena sudah dilakukan randomisasi maka kedua kelompok mempunyai sifat yang sama sebelum diberikan perlakuan, sehingga perbedaan pada hasil posttest dari kedua kelompok tersebut dapat disebut sebagai pengaruh dari intervensi atau perlakuan.

Desain ini merupakan salah satu desain terkuat dalam mengontrol ancaman–ancaman terhadap validitas. Bentuk desain ini sebagai berikut: 140 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Pretest (R) R (R) Kelompok eksperimen Kelompok kontrol O1 O1 Perlakuan X Posttest O2 O2 Desain ini pelaksanaannya di lapangan agak sulit karena biasanya mengalami kesulitan dalam melakukan randomisasi dan ada masalah dari segi etika, misalnya untuk membandingkan reaksi suatu pengobatan atau suatu terapi, dimana pada satu kelompok mendapat perlakuan sementara kelompok yang lainnya tidak mendapatkan.

Desain ini dapat diperluas dengan menambahkan lebih dari satu variabel yaitu dengan melakukan perlakuan pada lebih dari satu kelompok dengan perlakuan yang berbeda, yang digambarkan sebagai berikut: Pretest (R) Kelompok eksperimen (a) (R) Kelompok eksperimen (b) Kelompok kontrol (R) O1 O1 O1 O1 O2 Perlakuan X (a) X (b) Posttest O2 O2 O2 Pada desain ini, kesimpulan–kesimpulan mengenai efek perbedaan antara perlakuan yang satu dengan yang lainnya dapat dicapai tanpa menggunakan kelompok kontrol.

b. Randomized Salomon Four Group Desain ini dapat mengatasi kelemahan eksternal validitas pada desain yang ada pada desain pretest-posttes with control group. Apabila pretest mungkin mempengaruhi subyek sehingga mereka menjadi lebih sensitif terhadap perlakuan dan mereka bereaksi secara berbeda dari subyek yang tidak mengalami pretest, maka eksternal validitas terganggu dan kita tidak dapat membuat generalisasi dari penelitian itu untuk populasi, demikian pula kalau ada interaksi antara pretest dengan perlakuan.

Desain Solomon ini dapat mengatasi masalah ini dengan cara menambah kelompok ke–3 (dengan perlakuan dan tanpa pretest) dan kelompok ke–4 (tanpa perlakuan dan tanpa pretest). Bentuk desain ini sebagai berikut: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 141 (R) Kelompok eksperimen (R) Kelompok kontrol (R) Kelompok kontrol (R) Kelompok kontrol d.

Pretest Perlakuan O1 O1 X Posttest O2 O2 O2 O2 X Desain posttest dengan kelompok kontrol (posttest only control group design) Desain penelitian ini hampir sama dengan desain penelitian eksperimen sungguhan yang lain, hanya bedanya tidak dilakukan pretest, karena kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diambil dengan cara random maka kelompok– kelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan intervensi.

Bentuk desain seperti berikut: Perlakuan (R) Kelompok eksperimen (R) Kelompok kontrol Posttest X O2 O2 Desain ini memungkinkan peneliti mengukur pengaruh perlakuan pada eksperimen dengan cara membandingkan kelompok tersebut dengan kelompok kontrol namun tidak dapat menentukan sejauh mana atau seberapa besar perubahannya terjadi karena di awal tidak dilalukan pretest untuk menentukan data awal. 3. Desain penelitian eksperimen semu (quasi experimental designs) Desain penelitian quasi eksperimen sering digunakan pada penelitian lapangan atau di masyarakat.

Pada desain penelitian ini tidak ada pembatasan yang ketat terhadap randomisasi dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman–ancaman validitas. Macam–macam desain penelitian eksperimen semu: a. Desain runtut waktu (time series design) Desain penelitian ini melakukan pretest dan posttest namun tanpa kelompok kontrol, dan memiliki keuntungan dengan pengukuran atau observasi yang secara berulang–ulang baik sebelum dilakukan intervensi maupun sesudah intervensi, sehingga validitasnya lebih tinggi dan pengaruh faktor luar dapat dikurangi.

Bentuk desain penelitian ini adalah sebagai berikut: 142 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ b. Pretest Perlakuan Postest O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8 Desain rangkaian waktu penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk kelompok pembanding (control time series design) Desain penelitian ini pada dasarnya merupakan time series, namun pada desain ini menggunakan kelompok kontrol.

Keuntungan dari desain ini lebih menjamin adanya validitas internal yang tinggi karena memiliki kelompok kontrol dan pengukuran yang berulang–ulang. Berikut bentuk desain ini: c. Pretest Perlakuan Postest Kelompok Eksperimen O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8 Kelompok Kontrol O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8 Non equivalent control group Desain penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dimungkinkan untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan pada kelompok kontrol yang serupa tetapi tidak perlu kelompok yang benar–benar sama.

Misalnya penelitian tentang pengaruh pelatihan kepada petugas puskesmas tentang aplikasi sistem informasi anak usia sekolah terhadap peningkatan kelengkapan pelaporan perkembangan kesehatan anak usia sekolah. Kelompok petugas UKS yang akan diberikan pelatihan, tidak mungkin benar–benar sama dengan kelompok petugas UKS yang tidak diberikan pelatihan (kontrol). Pemilihan kelompok intervensi dan kontrol tidak dilakukan secara random atau acak.

Berikut bentuk desain ini: Kelompok eksperimen Kelompok kontrol c. Pretest Perlakuan Posttest O1 O1 X O2 O2 Separate sample pretest posttest Dalam desain penelitian ini diawali dengan pengukuran pertama (pretest) pada sampel yang telah dipilih secara random dari populasi. Kemudian dilakukan intervensi pada seluruh populasi.

Selanjutnya dilakukan pengukuran kedua (posttest) pada kelompok sampel yang lain tapi masih dari populasi yang sama.

Desain ini sangat baik untuk menghindari pengaruh atau efek dari pretest. Desain ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 143 penelitian ini sering digunakan dalam penelitian kesehatan dan keluarga berencana. Berikut bentuk desain ini: Kelompok eksperimen Kelompok kontrol Pretest Perlakuan Posttest O1 X X O2 Penerapan Penelitian Eksperimen di Bidang Kesehatan Secara garis besar penerapan penelitian eksperimen atau intervensi di bidang kesehatan terdiri dari dua, yaitu: ▪ Penelitian intervensi preventif, merupakan penelitian yang digunakan untuk mempelajari hubungan faktor-faktor risiko dengan suatu kejadian penyakit atau kasus dengan memberikan perlakuan tentang faktor risiko tersebut kepada subyek.

Perlakuan diberikan secara kolektif namun dapat diamati dengan pendekatan individual. Misalnya perlakuan berupa penyuluhan tentang imunisasi dasar lengkap pada ibu–ibu yang memiliki bayi di komunitas, efeknya akan dilihat dengan meningkatnya cakupan imunisasi di komunitas tersebut. Di bidang rekam medis dan informasi kesehatan, misalnya dengan memberikan perlakuan berupa penyuluhan kepada petugas UKS puskesmas tentang aplikasi sistem informasi kesehatan anak usia sekolah, efeknya meningkatnya pencatatan perkembangan kesehatan anak usia sekolah.

Penelitian Intervensi Kuratif, merupakan penelitian yang digunakan untuk memberikan perlakuan terhadap perkembangan suatu penyakit. Misalnya perlakuan yang diberikan berupa penatalaksanaan tindakan kuratif kepada masyarakat untuk menanggulangi penyakit endemik masyarakat. Perlakuan yang diberikan dapat berupa penyuluhan kepada masyarakat dalam memutus mata rantai penularan penyakit misalnya penyakit DBD melalui PSN. Contoh lainnya imunisasi missal difteri di suatu daerah untuk menurunkan prevalensi penyakit difteri.

Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! Tentukan langkah-langkah penelitian dengan judul: Hubungan mutu pelayanan dengan kepuasan pasien rawat jalan di RS X!

144 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Petunjuk Jawaban Latihan 1) 2) 3) 4) 5) 6) Untuk membantu Anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka: Identifikasi terlebih dahulu judul tersebut termasuk ke dalam rancangan penelitian apa. Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk identifikasi variabel-variabel penelitian dan tentukan variabel bebas dan variabel terikatnya. Variabel bebas bisa lebih dari satu variabel (cari variabel dari komponen aspek mutu pelayanan!) dan variabel terikat terdiri dari satu variabel Setelah variabel bebas dan terikatnya ditentukan kemudian tetapkan populasi dan sampel.

Populasi penelitiannya adalah jumlah pasien rawat jalan dan sampelnya adalah sebagian dari populasi, yang ditentukan melalui perhitungan besar sampel. Kemudian tentukan teknik sampling dalam pengambilan datanya.

Sebelum melaksanakan pengumpulan data, lakukan terlebih dahulu uji validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian Kemudian melakukan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi Setelah data terkumpul semua kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data. Hasil analisis membuktikan apakah ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat ataukah sebaliknya tidak ada hubungan.

Ringkasan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Desain penelitian merupakan suatu cara sistematis untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan atau tujuan penelitian. Secara umum desain penelitian terbagi kedalam dua jenis yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif terdiri dari dua jenis yaitu desain penelitian observasional dan desain penelitian eksperimen.

Desain penelitian observasional terdari dari desain penelitian deskriptif dan analitik (cross sectional, case control, dan cohort). Desain penelitian eksperimen terdiri dari tiga jenis yaitu pre experimental designs, true eksperimental designs, dan quasi eksperimental designs. Pendekatan dalam penelitian kualitatif antara lain yaitu etnografi, studi kasus, grounded theory, phenomenology, dan etnometodologi.

Perbedaan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif yaitu data hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian kuantitatif dalam bentuk angka sementara penelitian kualitatif dalam bentuk kata – kata atau narasi. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 145 Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Suatu penelitian yang mendeskripsikan fenomena atau kejadian dalam populasi tertentu tanpa adanya perlakuan ataupun uji statistik, disebut dengan desain penelitian ….

A. B. C. D. cohort deskriptif case control cross sectional Perhatikan gambar berikut ini untuk menjawab soal no 2 – 4 ! 2) A B Faktor risiko Efek Pernyataan yang tepat tentang desain penelitian cross sectional berdasarkan faktor risiko (A) dan efek (B) pada gambar di atas adalah …. A. pelaksanaan pengumpulan data A dengan B dilakukan bersamaan dalam satu waktu B.

pelaksanaan pengumpulan data A, kemudian ada intervensi, setelah beberapa waktu kemudian diidentifikasi C. 3) 146 pelaksanaan pengumpulan dimulai dari pengidentifikasian B terlebih dahulu kemudian A diidentifikasi dan ditelusuri D.

pelaksanaan pengumpulan data dimulai dari A dan diikuti secara terus menerus hingga waktu tertentu kemudian B diidentifikasi Pernyataan yang tepat tentang desain penelitian case controlberdasarkan faktor risiko (A) dan efek (B) pada gambar di atas adalah ….

A. pelaksanaan pengumpulan data A dengan B dilakukan bersamaan dalam satu waktu B. pelaksanaan pengumpulan data A, kemudian ada intervensi, setelah beberapa C. waktu kemudian diidentifikasi pelaksanaan pengumpulan dimulai dari pengidentifikasian B terlebih dahulu kemudian A diidentifikasi dan ditelusuri Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ D.

4) Pernyataan yang tepat tentang desain penelitian cohort berdasarkan faktor risiko (A) dan efek (B) pada gambar di atas adalah ….

A. pelaksanaan pengumpulan data A dengan B dilakukan bersamaan dalam satu waktu B. pelaksanaan pengumpulan data A, kemudian ada intervensi, setelah beberapa C. D. 5) waktu kemudian diidentifikasi pelaksanaan pengumpulan dimulai dari pengidentifikasian B terlebih dahulu kemudian A diidentifikasi dan ditelusuri pelaksanaan pengumpulan data dimulai dari A dan diikuti secara terus menerus hingga waktu tertentu kemudian B diidentifikasi Dibawah ini yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi validitas internal dalam penelitian eksperimen adalah ….

A. B. C. D. 6) pelaksanaan pengumpulan data dimulai dari A dan diikuti secara terus menerus hingga waktu tertentu kemudian B diidentifikasi sejarah (history) efek Bias efek prosedur perlakuan berganda Gambar dibawah ini merupakan gambar/skema yang termasuk ke dalam penelitian pra eksperimen (pre experimental designs) adalah …. A. Pretest Perlakuan Posttest (R) (R) Kelompok eksperimen Kelompok kontrol B.

O1 O1 X O2 O2 Perlakuan Kelompok eksperimen Kelompok kontrol Posttest X O2 O2 C. Pretest Kelompok eksperimen Kelompok kontrol ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan O1 O1 Perlakuan Posttest X O2 O2 147 Perlakuan D. 7) Kelompok eksperimen (R) Kelompok kontrol X O2 O2 Contoh efek perlakuan berganda dalam validitas eksternal adalah …. A. kekeliruan dalam memilih anggota kelompok B. C. D. 8) (R) Posttest pretest hanya dilakukan terhadap sampel sehingga kemungkinan generalisasi yang diperoleh tidak berlaku untuk seluruh populasi.

kelompok eksperimen terpapar perlakuan berulang sebanyak dua kali atau lebih secara berturut turut, maka perlakuan terdahulu mempunyai efek terhadap yang berikutnya eksperimen yang dilakukan terhadap anggota-anggota sampel yang menyadari bahwa dirinya sedang dicoba atau diekperimen sehingga adanya perbedaan pengalaman antara anggota sampel dengan anggota populasi Di bawah ini yang merupakan salah satu skema jenis desain penelitian quasi eksperimen adalah ….

A. Pretest Perlakuan Postest O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8 Perlakuan B. Posttest X Pretest C. (R) (R) Kelompok eksperimen Kelompok kontrol D. O1 O1 Perlakuan X Kelompok kontrol X O2 Posttest O2 O2 Perlakuan Kelompok eksperimen 148 O2 Posttest O2 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 9) Di bawah ini yang merupakan salah satu kelemahan desain penelitian cross sectional adalah ….

A. Desain ini relatif lebih mudah, murahdan hasilnya cepat dapat diperoleh B. Dapat meneliti sekaligus banyak variabel C. Memerlukan jumlah sampel yang banyak, terutama apabila variabel yang diteliti banyak D. Jarang terancam drop out 10) Di bawah ini yang merupakan salah satu kelebihan desain penelitian cohort adalah ….

A. dapat digunakan untuk meneliti kasus yang jarang atau langka B. secara retrospektif lebih mengandalkan daya ingat C. dapat menimbulkan recall bias D. kadang – kadang sulit memilih sampel kontrol yang benar – benar sebanding ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 149 Topik 2 Penelitian Kualitatif A.

PENGERTIAN Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk KUALITATIF Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan penemuan–penemuan tanpa menggunakan prosedur statistik.

Pada awalnya penelitian kualitatif banyak dipergunakan pada penelitian–penelitian dengan keilmuan antropologi, psikologi dan sosiologi linguistik. Saat ini penggunaannya semakin meningkat pada disiplin ilmu lainnya seperti kesehatan masyarakat, keperawatan, gizi, dan lain–lain.

Bogdan dan Taylor dalam Martha (2016) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang–orang diamati. Melalui penelitian kualitatif peneliti dapat mengenali subjek dan merasakan apa yang meraka alami dalam kehidupan sehari–hari.

Menurut Miles (1992) dalam Martha (2016) bahwa penelitian kualitatif pada dasarnya merupakan suatu proses penyelidikan yang mirip dengan pekerjaan detektif. Hasil data utama yang diperoleh dalam penelitian kualitatif adalah kata–kata dan tindakan yang didukung dengan data tambahan berupa data tertulis, dokumentasi berupa foto dan statistik (Moleong, 2007).

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam terhadap suatu fenomena atau gejala sosial secara lengkap sehingga selanjutnya diharapkan akan dapat menghasilkan sebuah teori. B. PERBEDAAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF Menurut Mack (2005) dalam Martha (2016), perbedaan utama antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif adalah dalam hal keluwesan (fleksibilitas). Penelitian kualitatif lebih fleksibel sedangkan kuantitatif tidak fleksibel.

Pada penelitian kuantitatif setelah menentukan rancangan penelitiannya maka aturan–aturanya akan mengikat terhadap pelaksanaan penelitian keseluruhan seperti penentuan populasi dan sampel dengan sampel dihitung menggunakan rumus besar sampel, serta pembuatan instrumen penelitian dalam bentuk pernyataan dengan jawaban tertutup seperti “ya” dan “tidak” yang dibuat dan ditanyakan secara seragam atau sama kepada seluruh sampel, yang keuntungannya dapat memudahkan dalam pengolahan dan analisis data.

Sementara metode penelitian kualitatif lebih fleksibel karena pertanyaan yang diajukan merupakan pertanyaan terbuka dan pertanyaan selanjutnya secara spontanitas dapat berkembang tergantung dari jawaban informan, dalam hal ini jawaban kompleks kemungkinan dapat muncul. 150 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Jumlah informan dalam penelitian kualitatif tidak memerlukan jumlah sampel minimal tapi berdasarkan kecukupan data yang diperoleh, artinya apabila data yang diperoleh sudah terpenuhi atau jenuh meskipun informannya satu atau dua orang maka pengumpulan data dianggap selesai namun apabila data masih dirasa kurang atau jawaban dari informan masih bervariasi dan masih belum tergali maka masih memerlukan informan tambahan.

Berikut adalah perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif: Tabel 5.1 Tabel Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Penelitian Kualitatif Untuk menggali informasi yang mendalam Penelitian Kuantitatif Untuk mengukur tingkat kejadian Lebih ke arah eksplorasi, memungkin Lebih mengukur jumlah, tindakan dan diperolehnya temuan (discovery), insight pembuktian dari tindakan Apabila mencari makna daripada frekuensi Apabila diwajibkan deskripsi berupa angka atau angka untuk representatif sampel Untuk studi kasus, menggali peristiwa yang Apabila diperlukan generalisasi dari suatu mendalam dan rinci peristiwa perbandingan antar populasi Penjelasan dalam bentuk interpretasi C.

JENIS PENELITIAN KUALITATIF 1. Etnografi Penjelasan lebih kearah deskripsi Etnografi berasal dari bahasa yunani yang berarti sebuah deskripsi mengenai manusia. Secara lengkap pengertian Etnografi yaitu studi yang sangat mendalam tentang perilaku yang terjadi secara alami pada sebuah budaya atau suatu kelompok sosial yang bertujuan untuk memahami sebuah budaya tertentu dari sudut pandang pelakunya.

Dengan kata lain etnografi merupakan metodologi untuk studi deskriptif mengenai kebudayaan dan masyarakat. Bidang kesehatan sangat erat sekali dengan masyarakat karena program–program kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan seluruh masyarakat.

Permasalahan yang terjadi di lapangan kadang–kadang program kesehatan dianggap bertentangan dengan budaya yang berkembang di masyarakat tertentu sehingga masyarakat menolak atau acuh terhadap program tersebut. Tentunya agar suatu program dapat diterima oleh masyarakat maka dengan mempelajari budaya dapat membantu memahami keadaaan masyarakat (Hancock, 2007 dalam Martha, 2016).

Data yang diperoleh dari hasil penelitian etnografi berupa data hasil observasi sangat mendalam sehingga memerlukan waktu yang lama di lapangan. Perbedaan penelitian ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 151 kualitatif ini dengan penelitian kualitatif yang lainnya, biasanya data yang diperoleh dianalisis setelah selesai pengumpulan data di lapangan, namun untuk data penelitian etnografi dianalisis pada saat di lapangan sesuai konteks dan situasi yang terjadi pada saat data dikumpulkan.

Penelitian etnografi ini bersifat antropologis karena akar–akar metodologinya berasal dari ilmu antropologi. Terdapat dua jenis etnografi, yaitu: a. Etnografi deskriptif atau etnografi konvensional, yaitu etnografi yang berfokus pada deskripsi tentang komunitas atau kelompok.

Melalui analisis, etnografi deskriptif mampu mengungkapkan pola, tipologi dan kategori. b. Etnografi kritis, yaitu melibatkan penelitian terhadap faktor-faktor sosial makro. 2. Studi Kasus Studi kasus adalah suatu penelitian intensif menggunakan berbagai sumber bukti terhadap suatu entitas tunggal yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam penelitian kasus memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan informasi yang rinci dan kaya yang mencakup dimensi–dimensi sebuah kasus tertentu atau beberapa kasus kecil (Tohirin, 2012 dalam Martha, 2016).

Selanjutnya karakteristik studi kasus antara lain: a) eksplorasi mendalam dan menyempit, b) fokus pada peristiwa nyata dalam konteks kehidupan sesungguhnya, c) dibatasi oleh ruang dan waktu, d) bisa hanya merupakan kilasan atau penelitian longitudinal tentang peristiwa yang sudah maupun yang sedang terjadi dari berbagai sumber informasi dan sudut pandang, e) disajikan secara mendetail dan deskriptif, f) pandangan menyeluruh, meneliti hubungan dan keterpautan, g) fokus pada realitas yang diterima apa adanya maupun realitas yang penting dan tidak biasa, h) bermanfaat untuk membangun sekaligus menguji teori.

3. Grounded Theory Penelitian grounded dilaksanakan oleh peneliti langsung ke lapangan tanpa diawali dengan rancangan tertentu, semua dilaksanakan di lapangan dari mulai merumuskan masalah berdasarkan temuan di lapangan dan data yang diperoleh di lapangan merupakan sumber teori.

Bungin (2012) menyebutkan bahwa teori berdasarkan data, sehingga teori juga lahir dan berkembang di lapangan. Pettigrew dalam Martha (2016), menyebutkan bahwa pendekatan grounded theory memungkinkan peneliti melakukan penelitian posesual, yaitu penelitian yang fokus pada rangkaian peristiwa, tindakan, dan aktivitas individu maupun kolektif yang berkembang dari waktu ke waktu dalam konteks tertentu.

Terdapat tiga aspek yang membedakan pendekatan grounded theory dibandingkan dengan pendekatan kualitatif lainnya, yaitu: a. Penelitian grounded theory lebih sistematik dan terstruktur dalam proses pengumpulan dan analisis data dibanding dengan penelitian kualitatif lainnya. 152 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ b. c. 4. Peneliti membawa sedikit asumsi saat proses penelitian dan menjauhkan diri dari teori yang sudah ada.

Hal ini bertujuan agar fokus pada penemuan dan pemahaman baru yang akan dimunculkan melalui penelitian yang sedang dilakukan. Penelitian tidak hanya untuk menguraikan atau menjelaskan tapi juga untuk mengkonseptualisasikan dan berupaya keras untuk menghasilkan dan atau mengembangkan teori.

Phenomenology Penelitian kualitatif dengan pendekatan phenomenology merupakan pendekatan yang menekankan secara holistik, yaitu meneliti suatu objek penelitian dalam suatu konstruksi ganda dan dalam konteks “natural” bukan parsial (Martha, 2016).

Van Manen (1990) dalam Martha (2016) menyebutkan bahwa phenomenology adalah studi tentang fenomena dan situasi, dan makna dari temuan adalah tujuan akhir dari penelitian tersebut. Phenomenology bertujuan untuk memberikan gambaran yang akurat dari fenomena yang dipelajari atau untuk memahami pengalaman hidup individu dan tujuan hidup mereka (informan) serta tidak untuk menghasilkan teori atau model atau pengembangan penjelasan umum.

Beberapa pendekatan kualitatif diklasifikasikan menjadi phenomenology jika penelitian fokus pada pengalaman. Sebagai contoh, “Apa rasanya menjadi pasien kanker cerviks yang mengalami kemoterapi?”. Maka untuk mendapatkan jawabannya dilakukan wawancara mendalam kepada pasien kanker cerviks dengan menggunakan pedoman wawancara.

Validitas wawancara ditentukan oleh banyaknya diskusi yang dilakukan atau dengan klarifikasi terhadap berbagai sumber. Validitas di dalam penelitian kualititatif dinamakan triangulasi. Pada penelitian kualitatif, percakapan atau wawancara mendalam yang dilakukan tidak ditentukan sebelumnya namun hanya berupa clue atau pedoman agar peneliti tidak lupa terhadap apa yang akan ditanyakan.

Pertanyaan yang diajukan secara otomatis mengalir dan berkembang berdasarkan jawaban dari informan. Omery (1983) dalam Martha (2016) menyatakan bahwa syarat dari phenomenology adalah tidak ada praduga, harapan, atau kerangka yang diberikan kepada para peneliti dalam proses mengumpulkan dan menganalisis data.

Spielberg dalam Martha (2016) menjelaskan bahwa langkah–langkah dalam mencapai sebuah esensi dalam penelitian kualitatif, yaitu: ▪ Melibatkan pengembangan kesadaran seseorang melalui melihat dan mendengarkan.

▪ Menganalisis yang melibatkan identifikasi struktur fenomena yang diteliti dan yang terjadi melalui dialektika (percakapan antara peserta dan peneliti). ▪ menggambarkan fenomena. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 153 ▪ ▪ Melihat cara (mode) yang muncul dan mengeksplorasi fenomena tersebut secara sadar. Contohnya perhatikan hubungan antara rasa sakit dan sakit.

Peneliti akan melihat dalam kondisi apa rasa sakit yang dialami (mode muncul) dan sifat atau makna sakit. Menangguhkan keyakinan (pengurangan phenomenology) dan menafsirkan makna tersembunyi. Langkah ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman hidup dengan cara yang dapat dinilai dalam menginformasikan praktik dan ilmu pengetahuan kita. Wawasan fenomena didapatkan dengan menggunakan sejumlah teknik yang terdiri dari: melacak sumber etimologis, mencari frasa idiomatik, memperoleh deskripsi pengalaman dari seorang informan, mengamati dan merefleksikan lebih lanjut tentang literatur fenomenologi dan menulis dan menulis ulang (Ray, 1994; Van Manen, 1990 dalam Martha E, 2016).

5. Etnometodologi Etnometodologi adalah salah satu cabang ilmu sosiologi yang mempelajari berbagai upaya, langkah dan penerapan pengetahuan umum pada kelompok komunitas untuk menghasilkan dan mengenali subjek, realitas dan alur tindakan yang bisa dipahami bersama– sama. Pengertian lainnya menyebutkan bahwa etnometodologi adalah suatu upaya yang menunjukkan bagaimana warga masyarakat di suatu kelompok atau budaya memahami, menggunakan dan menata lingkungannya.

Contoh penggunaan teori etnometodologi salah satunya adalah studi yang pernah dilakukan oleh cicourel (1968) mengenai kebijakan yang berkenaan dengan perilaku menyimpang “kejahatan yang dilakukan anak – anak”.

Studi ini menunjukkan bahwa kejahatan yang dilakukan anak – anak berhubungan erat dengan latar belakang keluarganya, anak yang melakukan kejahatan biasanya berasal dari broken home (Sukidin, 2002 dalam Martha E, 2016). Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut!

Identifikasi termasuk kedalam jenis penelitian kualitatif apakah kutipan artikel berikut dibawah ini dan jelaskan alasannya! Salah satu masalah kesehatan yang menjadi isu penting bersama masyarakat dunia adalah penyakit Aquires Immmunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Secara psikologis orang dengan HIV dapat mengalami distress 154 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ psikologi, termasuk harga diri yang rendah, kecemasan, ketakutan, depresi dan ide untuk bunuh diri seperti yang diungkapkan dalam beberapa penelitian wanita yang terdeteksi HIV (Dari sisi sosial adanya label yang buruk dan diskriminasi juga dialami oleh orang dengan HIV seperti anggapan mereka adalah social evils, orang jahat, orang yang tidak bermoral membuat mereka cenderung merahasiakan status HIV dari masyarakat dan keluarga.

Setiap ibu menginginkan persalinan berjalan dengan lancar dan kondisi ibu dan bayi sehat setelah melahirkan. Ibu yang terdeteksi HIV dapat menularkan infeksi HIV ke janin yang dikandung dan bayi yang dilahirkan. Ibu memerlukan dukungan yang adekuat untuk melewati periode ini. Salah satu faktor yang berkontribusi dalam adaptasi wanita dalam masa persalinan adalah pengalaman ibu dan dukungan sosial yang positif terutama dari keluarga.

Dukungan mempunyai peran penting untuk meningkatkan koping adaptasi seseorang terhadap situasi yang penuh dengan tekanan, mengurangi angka kesakitan serta mendisiplinkan pengobatan pada pasien sehingga secara tidak langsung dukungan keluarga dapat meningkatkan kesehatan fisik seseorang.

Penelitian ini menggunakan berbagai pengalaman dari ibu yang terdeteksi HIV wilayah Jawa Tengah untuk mengungkap dukungan keluarga selama persalinan. Petunjuk Jawaban Latihan Untuk membantu anda dalam mengerjakan latihan tersebut di atas maka: 1) 2) Pelajari kembali tentang Jenis – jenis penelitian kualitatif Telaah artikel diatas dengan melihat tujuan penelitiannya untuk menentukan desain penelitiannya, sebagai petunjuk dapat dilihat pada kalimat yang diberi garis bawah diatas, yaitu: Penelitian ini menggunakan berbagai pengalaman dari ibu yang terdeteksi HIV wilayah Jawa Tengah untuk mengungkap dukungan keluarga selama persalinan.

Berdasarkan kalimat tersebut terdapat petunjuk kalimat “ pengalaman”, sehingga merujuk pada kalimat tersebut maka desain penelitian yang sesuai adalah penelitian phenomenology, karena tujuan dari desain penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang akurat dari fenomena yang dipelajari atau untuk memahami pengalaman hidup individu dan tujuan hidup mereka (informan) serta tidak untuk menghasilkan teori atau model atau pengembangan penjelasan umum.

Beberapa pendekatan kualitatif diklasifikasikan menjadi phenomenology jika penelitian fokus pada pengalaman. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 155 Ringkasan 1. 2. 3. 4. Penelitian kualitatif merupakan penelitian untuk menggali pemahaman secara mendalam dan lengkap suatu fenomena atau gejala sosial. Hasil penelitian kualitatif diperoleh dalam bentuk kata – kata atau narasi dan tidak dalam bentuk angka ataupun melalui pengujian statistik. Penelitian kualitatif ini lebih fleksibel namun membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pelaksanaan pengumpulan data karena bentuk wawancara yang dilakukan merupakan pertanyaan terbuka yang secara spontanitas dapat berkembang tergantung dari jawaban informan dan memerlukan wawancara berulang serta triangulasi dengan berbagai sumber untuk memastikan informasi yang didapatkan.

Jenis pendekatan penelitian kualitatif antara lain: etnografi, studi kasus, grounded theory, phenomenology dan etnometodologi. Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Pernyataan yang tepat tentang penelitian kualitatif adalah …. A. data hasil penelitian yang diperoleh berupa kata – kata atau narasi B.

data hasil penelitian yang diperoleh berupa hasil uji statistik C. pertanyaan yang dilakukan merupakan pertanyaan tertutup dengan jawaban ”ya” dan ”tidak” D. pengumpulan data tidak fleksibel 2) Contoh pertanyaan yang tepat menurut kaidah pada penelitian kualitatif penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk pemberian ASI eksklusif adalah ….

A. apakah ibu memberikan ASI secara eksklusif kepada bayi ibu? B. apakah ASI eksklusif itu baik? C. bagaimana menurut ibu tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi? D. haruskah bayi diberikan ASI secara eksklusif? 3) Jenis penelitian kualitatif dibawah ini yang merupakan analisis pada saat di lapangan sesuai konteks dan situasi yang terjadi pada saat data dikumpulkan, bukan setelah selesai pengumpulan data adalah …. A. etnografi 156 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ B.

C. D. 4) Pengujian validitas dengan melakukan diskusi atau klarifikasi terhadap berbagai sumber dalam penelitian kualitatif disebut …. A. triangulasi B. deskripsi C. D. 5) studi kasus grounded theory phenomenology interpretasi validasi Jenis penelitian kualitatif yang langsung ke lapangan tanpa diawali dengan rancangan tertentu mulai dari merumuskan masalah berdasarkan temuan di lapangan adalah jenis penelitian ….

A. etnografi B. studi kasus C. D. grounded theory phenomenology 6) Di bawah ini yang merupakan pengertian studi kasus adalah suatu penelitian …. A. yang sangat mendalam tentang perilaku yang terjadi secara alami di sebuah budaya atau suatu kelompok sosial yang bertujuan untuk memahami sebuah budaya tertentu dari sudut pandang pelakunya B. intensif menggunakan berbagai sumber bukti terhadap suatu entitas tunggal penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk dibatasi oleh ruang dan waktu C.

tentang fenomena dan situasi, dan makna dari temuan adalah tujuan akhir dari penelitian tersebut. D. yang menunjukkan bagaimana warga masyarakat di suatu kelompok atau budaya memahami, menggunakan dan menata lingkungannya 7) Perbedaan pendekatan grounded theory dengan pendekatan kualitatif lainnya adalah ….

A. di samping untuk menjelaskan juga untuk menghasilkan dan atau mengembangkan teori. B. untuk menggali informasi yang mendalam C. data hasil penelitian yang diperoleh dalam bentuk kata – kata atau narasi D.

pengumpulan data yang dilakukan dalam bentuk wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 157 8) Dibawah ini yang merupakan pengertian penelitian phenomenology adalah suatu penelitian …. A. yang sangat mendalam tentang perilaku yang terjadi secara alami di sebuah budaya atau suatu kelompok sosial yang bertujuan untuk memahami sebuah budaya tertentu dari sudut pandang pelakunya B.

intensif menggunakan berbagai sumber bukti terhadap suatu entitas penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk yang dibatasi oleh ruang dan waktu C. tentang fenomena dan situasi, dan makna dari temuan adalah tujuan akhir dari D. 9) Di bawah penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk yang merupakan pengertian penelitian etnografi adalah suatu penelitian …. A. yang sangat mendalam tentang perilaku yang terjadi secara alami di sebuah budaya atau suatu kelompok sosial yang bertujuan untuk memahami sebuah budaya tertentu dari sudut pandang pelakunya B.

C. D. 10) penelitian tersebut. Suatu penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk yang menunjukkan bagaimana warga masyarakat di suatu kelompok atau budaya memahami, menggunakan dan menata lingkungannya intensif menggunakan berbagai sumber bukti terhadap suatu entitas tunggal yang dibatasi oleh ruang dan waktu tentang fenomena dan situasi, dan makna dari temuan adalah tujuan akhir dari penelitian tersebut.

yang menunjukkan bagaimana warga masyarakat di suatu kelompok atau budaya memahami, menggunakan dan menata lingkungannya Dibawah ini yang merupakan pengertian penelitian etnometodologi adalah suatu penelitian ….

A. B. C. D. yang sangat mendalam tentang perilaku yang terjadi secara alami di sebuah budaya atau suatu kelompok sosial yang bertujuan untuk memahami sebuah budaya tertentu dari sudut pandang pelakunya intensif menggunakan berbagai sumber bukti terhadap suatu entitas tunggal yang dibatasi oleh ruang dan waktu tentang fenomena dan situasi, dan makna dari temuan adalah tujuan akhir dari penelitian tersebut.

yang menunjukkan bagaimana warga masyarakat di suatu kelompok atau budaya memahami, menggunakan dan menata lingkungannya 158 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) D 2) A 3) C 4) D 5) 6) 7) 8) 9) 10) A B C A C A Tes 2 1) A 2) C 3) A 4) A 5) C 6) B 7) A 8) C 9) A 10) D ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 159 Glosarium Family folder : Himpunan kartu-kartu individu suatu keluarga yang memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas Intervensi : Peneliti melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan bukan dengan pendekatan subjek secara individual seperti pada penelitian klinik, melainkan dengan pendekatan kelompok Recall bias Pretest Posttest 160 : (bias mengingat kembali) dari subyek penelitian yg terjadi karena misalnya keterbatasan kemampuan seseorang mengingat informasi atau paparan : suatu pengukuran atau evaluasi yang dilakukan di awal untuk memperoleh informasi awal tentang sesuatu : suatu pengukuran atau evaluasi yang dilakukan di akhir untuk memperoleh informasi tentang hasil yang telah dicapai dari intervensi atau perlakuan yang telah diberikan Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Daftar Pustaka Martha, E.

Kresno, S. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Bidang Kesehatan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo, S. (2014).Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Edisi revisi.Jakarta: Rineka Cipta Riyanto, A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.Bantul: Nuha Medika Sastroasmoro, S dan Ismael, S. (2014). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke – 5. Jakarta: Binarupa Aksara Sugiyono.

(2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Wibowo, A. (2014). Metodologi Penelitian Praktis Bidang Kesehatan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 161 Bab 6 POPULASI DAN SAMPEL Nauri Anggita Temesvari, SKM, MKM Pendahuluan M odul ini akan memandu Anda untuk menentukan populasi dan sampel dalam penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan.

Pada penelitian, kita akan meneliti objek penelitian. Objek penelitian dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda mati, dan fenomena yang terjadi di sekitar kita. Peneliti dapat meneliti seluruh atau pun hanya sebagian dari objek. Objek yang diteliti tersebut meskipun hanya sebagian harus dapat mewakili keseluruhan dari objek yang diteliti. Seluruh objek penelitian yang diteliti disebut populasi, sedangkan perwakilan atau sebagian objek yang diteliti disebut sampel.

Anda mungkin pernah mendengar istilah yang dipakai dalam dunia penelitian berupa sensus dan survei. Sensus dapat diartikan bahwa objek yang diteliti merupakan seluruh objek, contohnya sensus penduduk dimana objek yang diteliti adalah seluruh penduduk Indonesia. Sedangkan pada survei, objek yang diteliti merupakan perwakilannya saja. Contohnya survei kesehatan dasar dimana objek yang diteliti hanya perwakilan dari keseluruhan penduduk yang didapat dari perhitungan sampel.

Untuk menentukan besar sampel yang dibutuhkan dalam suatu penelitian harus menggunakan teknik serta rumus perhitungan.

Teknik sampling dapat dibedakan menjadi teknik random (acak) atau teknik non random (bukan acak). Modul ini juga akan dilengkapi dengan latihan soal dari tiap topik berkaitan dengan populasi dan sampel. Diharapkan dengan adanya latihan soal tersebut, Anda dapat menguji kemampuan dalam setiap topik setelah mempelajari modul ini. Setelah mempelajari Bab 6, mahasiswa diharapkan dapat menentukan populasi dan sampel dalam penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan.

Selain itu secara khusus mahasiswa mampu untuk: 162 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 1. 2. 3. Menjelaskan definisi populasi dan sampel Menjelaskan tekning sampling yang dibedakan menjadi teknik sampling acak dan non acak Menentukan besar sampel dalam penelitian rekam medis dan informasi kesehatan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 163 Topik 1 Populasi dan Sampel A.

POPULASI Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian dapat ditarik kesimpulannya (sintesis).

Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain, misalnya: orang, benda, lembaga, organisasi, dan lainlain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau objek yang diteliti itu.

Yang menjadi sasaran penelitian merupakan anggota populasi. Anggota populasi yang terdiri dari orang-orang biasa disebut dengan subjek penelitian, sedangkan anggota penelitian yang terdiri dari benda-benda atau bukan orang sering disebut dengan objek penelitian.

Populasi terdiri dari unsur sampling yaitu unsur-unsur yang diambil sebagai sampel. Kerangka sampling (sampling frame) adalah daftar semua unsur sampling dalam populasi sampling. Unsur sampling ini diambil dengan menggunakan kerangka sampling (sampling frame). Populasi diartikan sebagai seluruh unsur atau elemen yang menjadi objek penelitian. Elemen populasi ini biasanya merupakan satuan analisis dalam penelitian. Populasi merupakan himpunan semua hal yang ingin diketahui, sebagai contoh seluruh pegawai perusahaan, himpunan pekerja, dan seluruh anggota organisasi.

Populasi dalam penelitian dapat pula diartikan sebagai keseluruhan unit analisis yang karakteristiknya akan diteliti. Unit analisis adalah unit/satuan yang akan diteliti atau dianalisis. Berikut ini beberapa pengertian tentang populasi.

1. Pengertian Populasi menurut para ahli a. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005). b. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002). c. Populasi adalah keseluruhan dari variabel yang menyangkut masalah yang diteliti d.

164 (Nursalam, 2003). Populasi adalah semua nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran, baik kuantitatif maupun kualitatif, dari karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang lengkap dan jelas (Usman, 2006). Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ e.

Populasi adalah seluruh individu yang menjadi wilayah penelitian akan dikenai generalisasi (Netra, 1974). 2. a. Populasi Berdasarkan Jenisnya Populasi terbatas Populasi terbatas adalah mempunyai sumber data yang jelas batasnya secara kuantitif sehingga dapat dihitung jumlahnya.

Contoh: Jumlah pasien rawat jalan RS A pada tahun 2017 adalah 457.924 orang. b. Populasi tak Terbatas (tak Terhingga) Populasi tak terbatas yaitu sumber datanya tidak dapat ditentukan batas-batasnya sehingga relatif tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah.Contoh: Jumlah penduduk Indonesia yang mengalami pemutusan hubungan kerja pada tahun 2017.

Dalam hal ini jumlah penduduk Indonesia yang mengalami pemutusan hubungan kerja merupakan populasi tak terbatas karena tidak semua perusahaan melaporkan kejadian tersebut. 3. Populasi Berdasarkan Sifatnya a. Populasi homogen Sumber data yang unsurnya memiliki sifat yang sama dan tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.

Contoh: populasi pasien rawat jalan dengan jenis asuransi yaitu BPJS Kesehatan kelas 3 di RS A pada tahun 2017. b. Populasi heterogen Sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang berbeda (bervariasi) sehingga perlu ditetapkan batas - batasnya secara kualitatif dan kuantitatif.

Contoh: populasi pasien pasien rawat inap di RS A pada tahun 2017. Menentukan Populasi dapat juga diidentifikasi oleh 4 faktor, yaitu: isi, satuan, cakupan (scope), dan waktu. Contoh: Suatu penelitian tentang distribusi penyakit yang pada pasien rawat inap di rumah sakit tingkat Provinsi DKI Jakarta tahun 2017, maka populasinya dapat ditetapkan dengan 4 faktor sebagai berikut. Isi → Semua pasien rawat inap Satuan → Rumah Sakit Cakupan → Provinsi DKI Jakarta Waktu → Tahun 2017 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 165 4.

Populasi Berdasarkan Kelompoknya a. Populasi Umum Populasi umum adalah dimana sumber datanya seluruh objek pada lokasi penelitian b. Populasi Target Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran dalam mengeneralisasi sebagai kesimpulan sebuah penelitian.

Contoh: Populasi umum adalah seluruh pasien rawat jalan Rumah Sakit X. Populasi targetnya adalah seluruh pasien rawat jalan dengan kepesertaan BPJS di Rumah Sakit X. Maka hasil penelitian kita tidak berlaku bagi pasien rawat jalan dengan kepesertaan BPJS di Rumah Sakit X.

B. SAMPEL Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang secara nyata diteliti dan ditarik kesimpulan. Penelitian dengan menggunakan sampel lebih menguntungkan dibandingkan dengan penelitian menggunakan populasi karena penelitian dengan menggunakan sampel lebih menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Dalam menentukan sampel, langkah awal yang harus ditempuh adalah membatasi jenis populasi atau menentukan populasi target.

Populasi Sampel Gambar 6.1 Populasi dan Sampel 166 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 5. Ada beberapa kekeliruan yang mengkibatkan bias dalam penarikan sampel, antara lain: Penentuan populasi target. Contoh: populasi target dalam penelitian adalah pasien rawat jalan BPJS di Rumah Sakit X, tetapi dalam penarikan sampel hanya dilakukan pada kelompok pasien kategori BPJS kelas mandiri.

Karakteristik sampel yang diambil tidak mewakili karakteristik populasi target. Contoh: penelitiannya adalah persepsi pasien rawat jalan BPJS terhadap kepuasan pelayanan dokter, tetapi angketnya diberikan kepada seluruh pasien rawat jalan baik BPJS maupun non BPJS. Kesalahan menentukan wilayah. Contoh: populasi target adalah pasien rawat jalan BPJS di Rumah Sakit X, tetapi dalam penarikan sampel hanya dilakukan di poli penyakit dalam saja.

Jumlah sampel yang terlalu kecil, tidak proporsional dengan jumlah populasinya. Contoh: Populasi tenaga kesehatan di puskesmas X adalah 400 orang. Namun, sampel yang diambil untuk penelitian hanya 20 tenaga kesehatan. Kombinasi dari beberapa kekeliruan diatas. Kegunaan pengambilan sampel adalah sebagai berikut: Menghemat biaya. Dalam proses penelitian, mulai dari pembuatan proposal, pengumpulan data, hingga pengolahan data akan membutuhkan biaya yang relatif besar.

Apabila objek penelitian yang digunakan jumlah sampel yang dibutuhkan banyak, maka dapat diperkirakan biaya yang harus dibutuhkan. Oleh karena itu, dengan menggunakan sampling merupakan keputusan yang tepat untuk meminimalisasikan biaya dalam penelitian. Mempercepat pelaksanaan penelitian.

Dengan menggunakan populasi sebagai objek penelitian, maka untuk mengumpulkan seluruh populasi hingga pengolahan datanya akan dibutuhkan waktu yang relatif lama. Namun, jika menggunakan sampling, jumlah objek penelitian akan lebih mudah dijangkau.

Menghemat tenaga. Dalam proses penelitian, kita dapat bekerja dengan tim. Jika objek penelitian yang digunakan adalah populasi, maka tenaga yang dibutuhkan untuk mengumpulkan data hingga pengolahan data diperkirakan akan membutuhkan tenaga yang lebih banyak.

Memperkecil ruang lingkup penelitian. Ruang lingkup merupakan keseluruhan aspek yang terkait dalam proses penelitian, mulai dari waktu, lokasi penelitian, biaya, serta penunjang lainnya. Jika menggunakan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 167 6. 1. 2. populasi dapat diperkirakan cakupan ruang lingkup yang dibutuhkan akan lebih luas, sehingga lebih mudah menggunakan sampel.

Memperoleh hasil yang lebih akurat. Dengan sampling pengumpulan hingga pengolahan data menjadi lebih dapat dimonitoring prosesnya, sehingga keakuratan data lebih terjamin. Pada dasarnya ada dua syarat yang harus dipenuhi dalam menetapkan sampel yaitu: Representatif.

Representatif adalah sampel yang dapat mewakili populasi yang ada. Untuk memperoleh hasil dan kesimpulan penelitian yang menggambarkan keadaan populasi penelitian, maka sampel harus mewakili populasi yang ada. Jumlah sampel cukup banyak. Sebenarnya tidak ada pedoman umum yang digunakan untuk menentukan besarnya sampel untuk suatu penelitian.

Tetapi, besar kecilnya jumlah sampel akan mempengaruhi keabsahan dari hasil penelitian. Polit dan Hungler (1993) menyatakan bahwa semakin besarnya sampel yang dipergunakan semakin baik dan representatif hasil yang diperoleh. Prinsip umum yang berlaku adalah sebaiknya dalam penelitian digunakan jumlah sampel sebanyak mungkin.

Namun demikian penggunaan sampel sebesar 10-20% untuk subjek dengan jumlah lebih dari 1000 dipandang sudah cukup. Dalam menentukan sampel juga diukur besaran sampel yang harus terpenuhi menggunakan perhitungan besaran sampel yang akan dibahas pada topik selanjutnya.

Untuk menilai suatu besaran sampel dari perhitungan itu terpenuhi jumlahnya, maka beberapa kriteria yang diperlukan antara lain: 1. Derajat keseragaman (degree of homogenity). 2. Makin seragam populasi itu, makin kecil sampel yang dapat diambil. Apabila populasi seragam sempurna (completely homogeneous), maka satu elemen saja dari seluruh populasi itu sudah cukup representatif untuk diteliti.

Berbeda kalau populasi adalah tidak seragam secara sempurna (completely heterogeneous), maka hanya pembuatan kerangka sampel (sampling frame) lengkaplah yang dapat memberikan gambaran yang representatif. Presisi yang dikehendaki dalam penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk.

Tingkat ketepatan ditentukan oleh perbedaan hasil yang diperoleh dari sampel dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari sampling frame yang lengkap, dengan menggunakan asumsi instrument (alat ukur), metode penelitian, kualitas peneliti, dan yang sama. Secara kuantitatif presisi diukur dari standar error. Makin kecil kesalahan baku maka makin besar tingkat presisinya.

168 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 3. Rencana Analisis Recana analisis data dengan teknik analisis tertentu sangat menentukan besarnya sampel yang harus diambil.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

Teknik analisis dengan tabel silang dan analisis lanjutan dengan Chi-Square misalnya mensyaratkan pentingnya sampel minimal yang tersedia dalam setiap sel dalam tabel silang. Untuk tabel ukuran 2x2 diperlukan sampel minimal sebanyak 30. Itupun apabila frekuensi sampel menyebar secara merata pada masingmasing sel. Untuk keperluan analisis yang lebih baik, diperlukan sampel yang lebih banyak. Teknik analisis regresi, misalnya mengasumsikan sampel berdistribusi normal.

Asumsi normalitas umumnya dapat dicapai pada sampel ukuran besar yaitu minimal 30. Penentuan sampel juga menggunakan kriteria pemilihan sampel, yaitu kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

1. Kriteria inklusi. Kriteria inklusi adalah kriteria yang akan menyaring anggota populasi menjadi sampel yang memenuhi kriteria secara teori yang sesuai dan terkait dengan topik dan kondisi penelitian. Atau dengan kata lain, kriteria inklusi merupakan ciri-ciri yang perlu dipenuhi 2.

oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Kriteria eksklusi. Kriteria ekslusi adalah kriteria yang dapat digunakan untuk mengeluarkan anggota sampel dari kriteria inklusi atau dengan kata lain ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel. Sebagai contoh: Kita ingin meneliti “Analisis Kepuasan Pasien Rawat Jalan BPJS terhadap pelayanan di RS X”.

Populasi pada penelitian ini adalah pasien BPJS di RS X. Dalam penentuan sampel, maka kita menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut: 1. Kriteria inklusi. a. Pasien BPJS di RS X pada saat saya melakukan penelitian merupakan pasien yang telah memanfaatkan pelayanan rawat jalan minimal 1 tahun. b. Usia pasien 18-55 tahun. 2. Kriteria eksklusi.

Setelah didapatkan kriteria inklusi seperti di atas maka kita penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk menentukan kriteria eksklusi jika sampel telah memenuhi kriteria inklusi.

Namun ketika sampel tidak dapat berkomunikasi dengan baik, maka akan kita keluarkan sebagai sampel dalam penelitian. Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari penelitian karena alasan tertentu.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 169 Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) 2) Jelaskan jenis-jenis populasi berikut contohnya berdasarkan: a. Populasi berdasarkan jenisnya b. Populasi berdasarkan sifatnya c. Populasi berdasarkan kelompok Suatu penelitian memiliki judul “Analisis Kelengkapan Pengisian Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap di RS Bahagia pada Tahun 2016” memiliki tujuan penelitian untuk menganalisis kelengkapan pengisian berkas rekam medis pasien rawat inap di RS Bahagia Tahun 2016.

Jika Anda sebagai peneliti, tentukan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dalam mendapatkan sampel pada penelitian tersebut! Petunjuk Jawaban Latihan 1) a. b. 2) Populasi berdasarkan jenisnya terdiri dari populasi terbatas yang jumlahnya sudah diketahui dengan pasti, contohnya jumlah pegawai RS A pada Tahun 2016 adalah 678 orang.

Sedangkan populasi tak terbatas atau infinit yang jumlahnya belum diketahui secara pasti, contohnya populasi terbatas adalah jumlah pegawai RS A pada Tahun 2016 adalah 678 orang. Populasi tak terbatas jumlah penduduk usia 65 tahun ke atas. Populasi berdasarkan sifatnya terdiri dari populasi homogen yang karakteristik seluruh unit di dalamnya sama, contohnya populasi dosen rekam medis dan informasi kesehatan di STIKES Y. Sedangkan populasi heterogen adalah c. Populasi berdasarkan kelompok terdiri dari populasi umum yaotu populasi secara keseluruhan pada lokasi penelitian, contohnya populasi penduduk Kecamatan X pada Tahun 2017.

Sedangkan populasi target adalah populasi yang menjadi objek penelitian, contohnya populasi penduduk Kecamatan X yang belum mendaftarkan dirinya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Kriteria inklusi merupakan kriteria penyaringan populasi menjadi sampel berdasarkan teori, sedangkan kriteria eksklusi adalah mengeluarkan anggota sampel yang telah tersaring pada kriteria inklusi.

Pada contoh tersebut, kriteria inklusinya adalah pasien rawat inap pada tahun 2016 yang lengkap dokumen rekam medisnya pada folder rekam medis.

Sedangkan kriteria ekslusinya adalah jika pada saat observasi penelitian berlangsung, dokumen rekam medis pasien tersebut tidak ada. 170 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Ringkasan 1. 2. 3. 5. Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti, sedangkan sampel adalah perwakilan dari objek yang diteliti. Menurut jenisnya, populasi dibedakan menjadi populasi terbatas dan tidak terbatas. Menurut sifatnya, populasi dibedakan menjadi populasi homogen dan heterogen. Menurut kelompoknya, populasi dibedakan menjadi populasi umum dan populasi target.

Persyaratan dalam menetapkan sampel adalah: 1. Representatif 2. Jumlah sampel yang cukup banyak 4. Dalam mengukur besar sampel yang baik, kriteria yang harus dipenuhi adalah: a. Derajat keseragaman b. Presisi c. Rencana Analisis Pemilihan sampel dapat menggunakan kriteria sampel, yaitu kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

Tes 1 Pilihlah salah penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk jawaban yang paling benar! 1) Di bawah ini yang termasuk ke dalam populasi adalah… A. manusia B. C. D. dokumen lembaga semua jawaban benar (Pahami pernyataan di bawah ini untuk menjawab soal no. 2 – 5). Dalam suatu penelitian dengan judul “Analisis Waktu Pengembalian Dokumen Rekam Medis Pasien Rawat Inap di RS X pada Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk 2016”, selama tahun 2016, jumlah dokumen rekam medis pasien rawat inap di RS X pada Tahun 2016 sebanyak 1250 dokumen.

Dikarenakan keterbatasan waktu dari peneliti, maka dalam penelitian mengambil objek penelitian bagian dari keseluruhan objek, yaitu 100 dokumen. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 171 2) Objek dari populasi pada penelitian di atas adalah… A.

manusia B. dokumen C. lembaga D. organisasi 3) Berdasarkan jenisnya, populasi pada penelitian tersebut adalah populasi… A. terbatas B. C. D. 4) Tujuan penerapan sampling pada penelitian tersebut adalah untuk… A. memperoleh hasil yang lebih akurat B. mempercepat pelaksanaan penelitian C.

memperluas ruang lingkup penelitian D. 172 tak terhingga homogen heterogen menghemat biaya 5) 100 dokumen yang diteliti pada penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan hasil dan kesimpulan penelitian yang menggambarkan keadaan populasi penelitian.

Hal tersebut merupakan syarat dalam penentuan sampel yaitu . A. jumlah sampel yang cukup banyak B. presisi C. derajat keseragaman D. representatif 6) Dengan teknik analisis tertentu sangat menentukan besarnya sampel yang harus diambil.

Hal itu merupakan salah satu kriteria besaran sampel yang baik yaitu . A. presisi B. derajat keseragaman C. rencana Analisis D. representatif Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 7) Makin seragam populasi itu, makin kecil sampel yang dapat diambil. Hal itu merupakan salah satu kriteria besaran sampel yang baik yaitU .

A. presisi B. derajat keseragaman C. rencana Analisis D. representatif (Pahami pernyataan di bawah ini untuk menjawab soal no. 8 – 10). Suatu penelitian dengan judul “Tinjauan Kesesuaian Standar Kerja Petugas Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK) RS X pada tahun 2017, memiliki latar belakang penelitian sebagai berikut: karena hasil kinerja dari Bagian Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) RS X pada tahun 2017 sebesar 67%, dengan adanya permasalahan tersebut makan perlu ditinjau kembali standar yang ditetapkan dari tiap pekerjaan.

Adapun jumlah seluruh PMIK yang ada pada Bagian RMIK RS X adalah 35 orang, yang terdiri dari 1 orang Kepala Bagian, 14 orang bagian pendaftaran, 5 koding, 5 assembling, 5 filing, dan 5 pelaporan.

8) Berdasarkan sifatnya, populasi yang terdapat pada penelitian tersebut termasuk populasi . A. terbatas B. tak terhingga C. homogen D. heterogen 9) Jika penelitian tersebut menetapkan sampel penelitian yaitu PMIK yang telah bekerja lebih dari 1 tahun. Hal tersebut merupakan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk.

A. kriteria inklusi B. kriteria eksklusi C. D. presisi representatif ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 173 10) 174 Jika penelitian tersebut menetapkan sampel dalam penelitian yaitu PMIK yang telah bekerja lebih dari 1 tahun. Namun setelah terpenuhi sampel dengan kriteria tersebut, peneliti mengeluarkan beberapa sampel yang tidak dapat berpartisipasi dalam penelitian karena alasan kesibukan.

Hal tersebut merupakan . A. kriteria inklusi B. kriteria eksklusi C. presisi D. representatif Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 2 Teknik Sampling T elah disebutkan pada topik sebelumnya bahwa alasan sampel digunakan karena tidak semua penelitian mampu meneliti keseluruhan objek yang diteliti. Dalam penentuan sampel harus mengacu kepada teknik sampling. Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2001). Teknik sampling dilakukan agar sampel yang diambil dari populasinya representatif (mewakili), sehingga dapat diperoleh informasi yang cukup untuk mengestimasi populasinya.

Teknik pengambilan sampel dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan sama atau tidaknya kesempatan seluruh anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel yaitu probability sampling dan non probability sampling. Teknik Sampling Probility Sampling 1. Simple Random Sampling 2. Sistematik Random Sampling 3. Stratified Random Sampling 4. Cluster Sampling Non Probility Sampling 1. Sampling Purposif 2.

Sampling Kuota 3. Sampling Aksidental 4. Sampling Jenuh 5. Snowball Sampling Gambar 6.2 Jenis Teknik Sampling ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 175 A.

TEKNIK PROBABILITY SAMPLING Teknik probability sampling adalah cara pengambilan sampel dengan semua objek atau elemen dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Hasil penelitian dijadikan untuk mengestimasi populasi (melakukan generalisasi). Teknik Sampling Sampel Populasi Generalisasi Kesimpulan Gambar 6.3 Generalisasi Sampel pada Populasi dengan Teknik Sampling Yang termasuk dalam probability sampling adalah simple random sampling, systematic random sampling, disproportionate stratified random sampling, proportionate stratified sampling, dan cluster sampling.

Setiap jenis teknik sampling tersebut akan berikut ini: 1. Pengambilan sampel secara acak sederhana (simple random sampling). Pada teknik sampling secara acak, setiap individu dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Teknik sampling acak sederhana merupakan teknik yang populer dibandingkan teknik lainnya dalam penelitian sains.

Teknik ini biasanya menggunakan metode undian. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk teknik pengambilan sampel acak secara sederhana adalah anggota populasi dianggap homogen.

Teknik sampling ini memiliki bias terkecil dan generalisasi tinggi. Prosedur dalam teknik pengambilan sampel acak sederhana adalah sebagai berikut: a. Susun kerangka sampel b. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil c. Tentukan alat pemilihan sampel d.

176 Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Penerapan prosedur teknik pengambilan sampel acak sederhana terlihat pada gambar berikut ini. 1 2 Misal sampel yang diperlukan adalah 8 sampel Populasi 4 Sampel yang didapat setelah diundi 3 Misalnya alat pemilihan sampel dipilih menggunakan undian Gambar 6.4 Prosedur teknik pengambilan acak sederhana 2. 3. Teknik pengambilan sampel acak sederhana yang sering digunakan adalah dengan metode undian.

Ada dua rancangan cara undian: Pengambilan sampel tanpa pengembalian, yang artinya sampel yang sudah terpilih tidak akan dipilih lagi. Akan menghasilkan nilai probabilitas yang tidak konstan. Pengambilan sampel dengan pengembalian, yang berarti sampel yang sudah terpilih ada kemungkinan terpilih lagi.

Menghasilkan nilai probabilitas yang konstan. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 177 Metode lainnya yang dapat digunakan dalam teknik pengambilan acak sederhana adalah dengan tabel random menggunakan Ms. Excel. Tahapan dalam pembuatan tabel random adalah sebagai berikut: 1.

Buat kode untuk setiap anggota populasi yang ditentukan (bisa 2 atau 3 digit). Sebagai contoh dalam suatu penelitian memiliki 50 anggota populasi, dimana populasinya merupakan dokumen rekam medis. Dari 50 rekam medis yang telah ditentukan diberikan kode 2 digit, dari nomor urut 01 s.d 50. Setelah diperhitungkan menggunakan rumus besaran sampel didapatkan sampel yang harus dipenuhi yaitu 44 rekam medis.

Gambar 6.5 Entri kode tiap anggota populasi 2. 178 Kemudian pada kolom 2 buat nama Rand, kemudian buat rumus =rand (Tarik rumus untuk meneruskan pada baris berikutnya) Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Gambar 6.6 Random tiap anggota populasi 3.

Buat kolom baru dengan nama sampel Kemudian tuliskan rumus =INDEX($A$2:$A$51;RANK(B2;$B$2:$B$51)) Catatan: Penggunaan tanda “;” tergantung format komputer jika tidak sesuai gunakan tanda “,”. 4. Tarik rumus pada kolom C2 sesuai jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 44 rekam medis, maka tarik rumus sampai C45 untuk mendapatkan kode dari tiap anggota populasi yang menjadi sampel dalam penelitian.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 179 Gambar 6.7 Sampel yang diambil 2. Sistematik Random Sampling Sistematik random sampling adalah metode yang digunakan dengan cara membagi jumlah seluruh anggota populasi dengan jumlah sampel yang dibutuhkan. Hasil tersebut merupkan interval sampel. Dalam rumus dituliskan sebagai berikut: K= N n (6.1) Keterangan: K = sampling interval N = jumlah seluruh anggota populasi n = jumlah sampel yang diinginkan Contoh: Dalam penerapan pengambilan sistematik random sampling, suatu populasi dalam penelitian yang merupakan seluruh tenaga kesehatan yang terdiri dari 500 orang, kemudian sampel yang diinginkan adalah 50.

Sampling interval pada penelitian tersebut adalah sebagai berikut: 180 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ N n 500 K= 50 K = 10 K= Misal titik awal pada anggota populasi yang akan diambil sebagai sampel adalah nomor 8, maka sampelnya adalah a, a2 (a+k), a2+k, dst sehingga sampel penelitian adalah 8, 18, 28, dan seterusnya sampai mencapai jumlah 50 anggota sampel.

Untuk mencegah nomor urut sampel ketika ditentukan dengan interval tidak tersedia, lebih baik menentukan titik awal dari nomor 1 – 10. 3. Stratified Random Sampling Stratified random sampling merupakan proses pengambilan sampel melalui proses pembagian populasi ke dalam strata, memilih sampel acak sederhana dari setiap strata, dan menggabungkannya ke dalam sebuah sampel.

Dari populasi tersebut kemudian dibagi ke dalam strata yang karakteristiknya sama. Contoh: Dalam suatu penelitian tentang kepuasan pasien rawat inap RS X Januari 2017, populasi pasien rawat inap pada bulan Januari 2017 adalah 300 dengan populasi tiap strata berjumlah sama.

Dari perhitungan besar sampel, didapatkan jumlah sampel yang harus dipenuhi adalah 90 pasien. Ruang rawat inap di RS X terdiri dari ruang rawat kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Maka dengan menggunakan teknik stratifikasi, pengambilan sampel adalah sebagai berikut: 300 Pasien (Populasi Pasien Rawat Inap) Populasi Ruang Rawat Kelas 1 100 Pasien Populasi Ruang Rawat Kelas 2 100 Pasien Populasi Ruang Rawat Kelas 3 100 Pasien Sampel Ruang Rawat Kelas 1 30 Pasien Sampel Ruang Rawat Kelas 2 30 Pasien Sampel Ruang Rawat Kelas 3 30 Pasien Gambar 6.8 Contoh Teknik Stratifikasi ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 181 4.

Cluster Random Sampling. Anggota dalam populasi dibagi ke dalam cluster atau kelompok jika ada beberapa kelompok dengan heterogenitas dalam kelompoknya dan homogenitas antar kelompok. Teknik cluster penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk digunakan oleh para peneliti di lapangan yang mungkin wilayahnya luas.

Contoh: Anggota populasi tersebar di Provinsi DKI Jakarta, maka dalam teknik pengambilan sampel dibuat ke dalam cluster dari seluruh anggota populasi per kota, yang nantinya sampel akan dibagi dari Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Gambar 6.9 Contoh Teknik Cluster Random Sampling B.

TEKNIK NON PROBABILITY SAMPLING Teknik non probability sampling adalah cara pengambilan sampel dengan semua objek atau elemen dalam populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Hasil penelitian tidak dijadikan untuk melakukan generalisasi. 1. Sampling Purposif Penarikan sampel secara puposif merupakan cara penarikan sampel yang dilakukan dengan memilih subjek berdasarkan pada karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai hubungan dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya.

182 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh: Suatu penelitian tentang “Evaluasi Standar Operasional Pengelolaan Rekam Medis di Puskesmas X”, peneliti menetapkan karakteristik subjek penelitian adalah tenaga kesehatan yang bekerja di Bagian Rekam Medis lebih dari 1 tahun.

2. Sampling Kuota Sampling kuota (penarikan sampel secara jatah) merupakan teknik sampling yang dilakukan atas dasar jumlah atau jatah yang telah ditentukan. Sebelum kuota sampel terpenuhi maka peneltian belum dianggap selesai. Contoh: Suatu penelitian tentang “Tinjauan Ketepatan Kode Diagnosa di RS X”, dimana peneliti menetapkan bahwa sampel yang harus terpenuhi sebanyak 50 dokumen rekam medis.

Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan memilih sampel secara bebas dengan karakteristik yang telah ditentukan peneliti. 3. Sampling Aksidental Teknik sampling aksidental dilakukan berdasarkan faktor spontanitas atau kebetulan. Artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti maka orang tersebut dapat dijadikan sampel. Contoh: Suatu penelitian tentang “Evaluasi kepuasan mahasiswa terhadap proses pembelajaran”. Maka pada waktu penelitian, jika ditemui mahasiswa dapat dijadikan sebagai sampel.

3. Sampling Jenuh Teknik sampling jika semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini dilakukan jika jumlah populasi kurang dari 30. Contoh: Suatu penelitian tentang “Penilaian kinerja PMIK di RS X”, dimana populasi pada bagian RMIK di RS X hanya 23 orang. Maka dengan menggunakan sampel jenuh, sampel pada penelitian ini adalah keseluruhan PMIK di RS X yaitu sebanyak 23 orang.

4. Snowball Sampling Penarikan sampel pola ini dilakukan dengan menentukan sampel pertama. Sampel berikutnya ditentukan berdasarkan informasi dari sampel pertama, sample ketiga ditentukan berdasarkan informasi dari sampel kedua, dan seterusnya sehingga jumlah sampel semakin besar.

Dikatakan snowball sampling karena penarikan sampel terjadi seperti efek bola salju. Contoh: Suatu penelitian tentang “Evaluasi Standar Operasional Pengelolaan Rekam Medis di Puskesmas X”. Peneliti menetapkan subjek penelitian pada awalnya adalah Kepala Rekam Medis, kemudian dari hasil wawancara diarahkan ke bagian perencanaan RS. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 183 Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut!

1) Sebutkan jenis teknik sampling dan karakteristik dari masing-masing jenis teknik sampling tersebut! 2) Berikan contoh penerapan teknik sampling menggunakan simple random sampling dan sistematik random sampling!

Jelaskan perbedaan teknik cluster random sampling dengan stratified random sampling beserta contohnya! Jelaskan perbedaan teknik sampling purposif dengan snowball sampling!

3) 4) Petunjuk Jawaban Latihan 1) 2) 3) Teknik sampling dibedakan menjadi 2 yaitu probability samping dan non probability sampling. Pada probability sampling, semua elemen dalam populasi memiliki kesempatan yang sama sebagai sampel dan hasil penelitian dapat digeneralisasi ke dalam populasi.

Sedangkan untuk non probability sampling semua elemen populasi tidak memiliki kesempatan yang sama sebagai sampel dan tidak bias digeneralisasi ke dalam populasi. Pasa suatu penelitian di rumah sakit dengan populasi seluruh staf rekam medis sebanyak 100 orang, maka jika peneliti menggunakan simple random sampling bias menggunakan undian. Sedangkan jika menggunakan sistematik random sampling, tentukan terlebih dahulu penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk yang dibutuhkan, misalnya sampel yang dibutuhkan 50, maka interval (Populasi dibagi sampel) yang didapatkan adalah 2.

Kemudian tentukan nilai awal (a) pengembalian, misalnya 2. Maka sampel selanjutnya (a, a+2, a1+2, dan seterusnya) yaitu 2, 4, 6, 8, dan seterusnya. Cluster random sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana populasi memilki karakteristik yang heterogen, namun homogen dalam penempatan, contohnya penelitian tentang kepuasan pasien poliklinik maka sampel pasien didapatkan dengan membagi populasi ke dalam cluster dari masing-masing poliklinik yang ada di rumah sakit.

Sedangkan stratified random sampling adalah membagi populasi yang heteroge ke dalam strata dengan jumlah yang sama, contohnya penelitian terhadap pemahaman mahasiswa terkait proses pembelajaran yang diberikan, maka dipilihlah mata kuliah yang sudah pernah diambil oleh seluruh mahasiswa, misalnya Biologi.

Kemudian dari total populasii berjumlah 300 mahasiswa dari 3 angkatan (jumlah populasi per angkatan 184 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 4) sama), dengan jumlah sampel yang diinginkan misalnya 90, maka jumlah sampel per angkatan yaitu masing-masing 30 mahasiswa. Purposive sampling digunakan ketika peneliti telah menetapkan karakteristik yang dibutuhkan sebagai sampel, misalnya penelitian tentang kepuasan pasien poliklinik KB, peneliti memiliki kriteria sampel pasien adalah yang telah melakukan kunjungan ke rumah sakit minimal 3 kali kunkungan.

Sedanngkan teknik snowballing adalah teknik pengambilan sampel didapatkan dari informasi atau arah sampel pertama, hingga informasi dalam penelitian dirasa cukup pada sampel-sampel tersebut, contohnya penelitian tentang ketepatan waktu pengembalian rekam medis, pada mulanya ditetapkan sampel kepala rekam medis dan staf rekam medis, ternyata dari sampel tersebut menyatakan perlu informasi ke perawat ruang rawat dan bagian keuangan rumah sakit.

Ringkasan 1. 2. 3. 4. Teknik sampling dibedakan berdasarkan sama atau tidaknya kesempatan yang diberikan kepada seluruh anggota populasi dipilih sebagai sampel Teknik sampling dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: a. Probability Sampling b. Non Probability Sampling Metode yang digunakan dalam teknik probability sampling adalah: a. Simple Random Sampling b. Sistematik Random Sampling c. Stratified Random Sampling d. Cluster Sampling Metode yang digunakan dalam teknik non probability sampling adalah: a.

Sampling Purposif b. Sampling Kuota c. Sampling Aksidental d. Sampling Jenuh e. Snowball Sampling ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 185 Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!

1) Yang termasuk teknik probability sampling adalah . A. cluster sampling B. purposive sampling C. D. 2) Yang merupakan teknik non probability sampling adalah . A. cluster sampling B. simple random sampling C. D. sampling aksidental systematic random sampling 3) Teknik sampling yang dapat mengeneralisasi sampel terhadap anggota populasi adalah .

A. purposive sampling B. non probability sampling C. probability sampling D. sampling jenuh 4) Teknik sampling yang tidak dapat mengeneralisasi sampel terhadap anggota populasi adalah . A. B. C. D. 5) 186 sampling jenuh snowball sampling simple random sampling non probability sampling probability sampling systematic random sampling Metode undian merupakan teknik sampling… A.

simple random sampling B. purposive sampling C. sampling jenuh D. systematic random sampling Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 6) Penentuan interval sampel merupakan cara yang digunakan pada jenis sampling… A.

simple random sampling B. purposive sampling C. sampling jenuh D. systematic random sampling (Pahami pernyataan di bawah ini untuk menjawab soal no. 7 – 8. Suatu penelitian mempunyai populasi sebesar 450 orang, sampel yang dibutuhkan 7) dalam penelitian adalah 90 sampel. Interval sampel pada penelitian tersebut adalah . A. 5 B. 450 C. 90 D.

8) 10 Jika titik awal pada penelitian tersebut adalah nomor urut 6 pada populasi. Maka, nomor urut sampel berikutnya adalah . A. 12 B. 11 C. 10 D. 9 9) 10) Teknik sampling penelitian dimana teknik ini dipilih untuk populasi yang bersifat heterogen kemudian dibagi ke dalam strata yang karakteristiknya sama merupakan teknik pengambilan sampel . A. B. C. stratified random sampling sampling jenuh purposive sampling D.

snowball sampling Populasi pada suatu penelitian adalah 10 orang. Sampel pada penelitian diambil menggunakan keseluruhan populasi sebesar 10 orang. Teknik pengambilan dengan karakteristik tersebut merupakan jenis… A. stratified random sampling B. C. D. sampling jenuh purposive sampling snowball sampling ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 187 Topik 3 Besaran Sampel A.

PERTIMBANGAN Untuk menentukan sampel dari populasi digunakan perhitungan sampel maupun pedoman tabel yang dikembangkan para ahli. Secara umum, untuk penelitian korelasional jumlah sampel minimal untuk memperoleh hasil yang baik adalah 30, sedangkan dalam penelitian eksperimen jumlah sampel minimum 15 dari tiap kelompok dan untuk penelitian survei jumlah sampel minimum adalah 100.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

Besaran atau ukuran sampel sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti. Untuk risiko perbedaan hasil antara populasi dengan sampel, dipergunakan kemungkinan tingkat kesalahan (sampling error atau dapat ditulis dalam simbol “e”, tingkat kelonggaran, “α”) misalnya 1%=0,01; 5%=0,05; 10%=0,1. Namun yang perlu diperhatikan adalah semakin besar jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan generalisasi.

Sebaliknya, semakin kecil jumlah sampel (menjauhi jumlah populasi) maka semakin besar peluang kesalahan generalisasi. B. UKURAN SAMPEL Cara menghitung besar sampel suatu penelitian sangat ditentukan oleh desain penelitian yang digunakan dan data yang diambil. Jenis penelitian observasi dengan menggunakan desain cross sectional akan berbeda dengan case control study dan kohort. Demikian pula jika data yang dikumpulkan adalah proporsi maka akan berbeda dengan jika data yang digunakan adalah data kontinyu.

Penelitian di bidang kesehatan kebanyakan menggunakan desain atau pendekatan cross sectional, meskipun ada beberapa yang menggunakan case control atau pun kohort. Berikut ini adalah beberapa metode yang digunakan dalam menentukan ukuran sampel. 1. Rumus Slovin n= 188 N 1+Ne2 (6.2) Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Keterangan: n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi e = Tingkat kesalahan dalam penelitian Rumus Taro Yamane juga menyerupai Rumus Slovin dimana istilah kesalahan atau e pada Slovin, diganti menggunakan istilah presisi atau d pada Taro Yamane.

Rumus Taro Yamane adalah sebagai berikut: n= N 1+Nd2 (6.3) Keterangan: n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi e = Presisi Contoh: Dalam suatu penelitian yang memiliki jumlah populasi 120 orang dan tingkat kesalahan yang diharapkan oleh peneliti adalah sebesar 5%, maka jika menggunakan rumus slovin, maka didapat sampel sebagai berikut: N 120 = 1+ Ne2 1+ 120.(0.05)2 n = 92 n= 2. Penelitian Cross Sectional Untuk penelitian survei, rumus yang dapat digunakan adalah dengan rumus estimasi proporsi.

Jika besar populasi (N) diketahui, maka dapat menggunakan rumus berikut: n= Z 2 p(1 − p)N d (N − 1)+ Z 2 p(1 − p) 2 (6.4) Namun apabila besar populasi (N) tidak diketahui, maka besar sampel dapat dihitung menggunakan rumus berikut: n= Z 2 p(1 − p) d2 (6.5) Keterangan: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 189 n N Z p d = = = = Jumlah sampel Jumlah populasi Derajat kepercayaan (biasanya pada tingkat 95% = 1,96) Proporsi suatu kasus tertentu terhadap populasi, bila tidak diketahui proporsinya, ditetapkan 50% (0,50) = Derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan: 10% (0,10), 5% (0,05).

Contoh: Suatu penelitian ingin mengetahui proporsi resume medis yang tidak lengkap pada RS X. Namun populasinya belum diketahui peneliti. Untuk derajat penyimpangan yang diinginkan peneliti adalah 5%, maka sampel yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: Z2p(1-p) 1.9620.5(1- 0.5) = d2 0.052 0.96 n= = 384 0.0025 n= Maka, sampel dokumen resume medis yang diperlukan adalah 384 dokumen. 3. Sampel Berstrata Pada topik sebelumnya telah dijelaskan bahwa dalam pengambilan sampel, teknik stratifikasi dipilih untuk populasi yang bersifat heterogen.

Dari populasi tersebut kemudian dibagi ke dalam strata yang karakteristiknya sama. Rumus yang digunakan dalam sampel berstrata adalah sebagai berikut: ni = Ni ×n N (6.6) Keterangan: Ni = Jumlah populasi pada stratum N = Jumlah populasi seluruhnya ni = Jumlah sampel pada stratum n = Jumlah sampel seluruhnya Contoh: Suatu penelitian mengukur evaluasi kinerja dosen dengan subjek penelitian mahasiswa.

Peneliti membuat stratum kelompok mahasiswa sebagai berikut: 190 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Tabel 6.1 Kelompok Mahasiswa Berdasarkan Nilai Mahasiswa Jumlah Mahasiswa Nilai Nilai Ujian 0-30 31-60 7 15 Tidak pandai Sedang 61-80 80-100 Total Siswa 23 5 50 Lumayan Pandai Dengan mengggunakan rumus berstrata maka perhitungan adalah sebagai berikut: a.

Cari besaran sampel secara keseluruhan (Bisa menggukan rumus Slovin: b. dalam penelitian ini menggunakan tingkat kesalahan 5%). Hitung sampel tiap stratifikasi. Maka setelah perhitungan, didapatkan sampel dari tiap populasi seperti berikut: Tabel 6.2 Sampel Tiap Kelompok Mahasiswa Berdasarkan Nilai Mahasiswa Nilai Jumlah Mahasiswa (Ni) Nilai Ujian Sampel Stratifikasi (ni) 0-30 7 Tidak pandai 6 31-60 61-80 15 23 Sedang Lumayan 13 20 80-100 5 Pandai 4 Total (N) 50 Sampel (n) 44 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 44 191 Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut!

1) 2) Dalam suatu penelitian yang memiliki jumlah populasi 300 orang dan tingkat kesalahan yang diharapkan oleh peneliti adalah sebesar 5%. Berapa sampel yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus slovin?

Suatu penelitian cross sectional ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat Kecamatan X untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan. Jumlah penduduk Kecamatan X diketahui 4500 jiwa. Sedangkan persentase penduduk Kecamatan X yang telah terdaftar BPJS Kesehatan sebesar 38%. Untuk derajat penyimpangan yang diinginkan peneliti adalah 5% dan nilai Z = 1,96. Berapa sampel yang dibutuhkan pada penelitian tersebut?

Petunjuk Jawaban Latihan 1) Diketahui: N = 300, e = 5% Maka, perhitungan sampel adalah: N 300 n= = = 171 1+Ne2 1+300(0.05)2 Jadi, sampel yang dibutuhkan yaitu 171 orang 2) Diketahui: N = 4500 p = 0,38 d = 5% (0,05) Z = 1,96 Maka, perhitungan sampel adalah: Z2p(1 − p)N 1,9620,38(1 − 0,38)4500 = d2 (N − 1)+ Z2p(1 − p) 0,052 (4500 − 1)+1,9620,38(1 − 0,38) 1060,2 n= = 88 12,0275 n= Jadi, sampel yang diibutuhkan adalah 88 orang 192 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Ringkasan 1.

2. 3. 4. 5. 6. Besaran sampel sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti. Cara menghitung besar sampel suatu penelitian sangat ditentukan oleh desain penelitian yang digunakan dan data yang diambil.

Jika diketahui populasi dan derajat kesalahan yang diingingkan, dapat menggunakan rumus Slovin atau Taro Yamane, dimana n = N/ (1+e2) Pada penelitian cross sectional atau potong lintang dengan adanya proporsi masalahnya (jika tidak diketahui, anggap proporsi 50%), rumus sampel jika tidak diketahui populasinya adalah n = (Z2p(1-p))/d2 Pada penelitian cross sectional jika populasi diketahui, rumusnya adalah n= (Z2p(1p)N)/(d2(N-1)+Z2p(1-p)) Untuk penelitian yang menggunakan strata pada populasinya, untuk mendapatkan sampel tiap stratanya adalah ni = (Ni/N).n Tes 3 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!

1) Suatu populasi memiliki jumlah 100 orang. Penelitian tersebut mengharapkan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Jumlah sampel yang diperlukan dengan menggunakan rumus Slovin adalah. A. 80 B. C. D. 2) 90 100 110 Suatu populasi memiliki jumlah 100 orang.

Penelitian tersebut mengharapkan tingkat kepercayaan sebesar 90%. Jumlah sampel yang diperlukan dengan menggunakan rumus Slovin adalah… A. 88 B. 99 C. D. 100 200 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 193 3) Suatu populasi memiliki jumlah 100 orang.

Penelitian tersebut mengharapkan tingkat kepercayaan sebesar 99%. Jumlah sampel yang diperlukan dengan menggunakan rumus slovin adalah… A. 88 B. 90 C. 100 D. 200 (Pahami pernyataan di bawah ini untuk menjawab soal no. 4 - 5). Suatu penelitian ingin mengetahui proporsi ketidaktepatan kode diagnosa pada pasien rawat jalan poli bedah di dua rumah sakit yaitu, RS X dan RS Y.

Derajat penyimpangan yang ditentukan oleh peneliti adalah 5% dan derajat kepercayaan tingkat 95%. Sedangkan menurut penelitian terdahulu proporsi ketidaktepatan kode diagnosa sebesar 20%. 4) Jika jumlah pasien rawat jalan pada tahun 2016 di RS X sebanyak 500 orang.

Jumlah sampel yang dibutuhkan di RS X adalah . A. 164 B. 158 C. 30 D. 384 5) Jika jumlah pasien rawat jalan pada tahun 2016 di RS Y belum diketahui. Jumlah sampel yang dibutuhkan di RS Y adalah . A. 164 B. C. D. 6) Dalam teknik pengambilan sampel berstrata terdapat rumus penentuan besar sampel dimana simbol yang menyatakan sampel pada stratum adalah . A. N B. Ni C. n D. 194 158 30 384 ni Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 7) Dalam teknik pengambilan sampel berstrata terdapat rumus penentuan besar sampel dimana simbol yang menyatakan populasi pada stratum adalah… A.

N B. Ni C. n D. ni (Pahami pernyataan di bawah ini untuk menjawab soal no. 8 - 10) Suatu penelitian mengukur tingkat kepuasan pasien di unit rawat inap RS X pada tahun 2017. Peneliti membuat stratum jumlah pasien tiap kelas ruang rawat inap sebagai berikut: Tabel 6.3 Jumlah Pasien Berdasarkan Kelas Ruang Rawat Inap RS X Kelas Rawat 8) VIP I 3 30 II III Total Pasien Rawat 145 300 528 Dengan menggunakan rumus Slovin dan tingkat kesalahan 10%.

Jumlah sampel keseluruhan dari penelitian tersebut adalah… A. 84 B. 4 C. 228 D. 9) Jumlah Pasien 30 Dengan menggunakan rumus slovin dan tingkat kesalahan 5%. Jumlah sampel keseluruhan dari penelitian tersebut adalah… A. 84 B. 4 C. 228 D. 30 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 195 10) 196 Dengan menggunakan rumus slovin dan tingkat kesalahan 5%.

Jumlah sampel yang dibutuhkan pada kelas rawat III dari penelitian tersebut adalah… A. 130 B. 63 C. 3 D. 30 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) D.

2) B. 3) A. 4) B. 5) 6) 7) 9) 10) D. C. B. A. B. Tes 2 1) A. 2) C. 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) C. B. A. D. A. B. A. B. Tes 3 1) A. 2) B. 3) C. 4) A. 5) D. 6) D. 7) B. 8) A. 9) C. 10) A. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 197 Glosarium Sampling frame : Daftar semua unsur sampling dalam populasi sampling Degree of homogeneity : Tingkat keseragaman dalam populasi Probility Sampling : Cara pengambilan sampel dengan semua objek atau elemen dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel Non Probility Sampling : Cara pengambilan sampel dengan semua objek atau elemen dalam populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel 198 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Daftar Pustaka Arikunto, Suharsimi.

(2010). Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Netra, Ida Bagus. (1974). Statistik Infrensial. Surabaya : Usaha Nasional Notoatmodjo, Soekidjo. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian.

Jakarta: Salemba Medika Sugiyono. (2001). Metode Penelitian Bisnis. Bandung. Alfabeta Sugiyono. (2005). Metode Penelitian Kuanlitatif Kuatitatif Dan R&D. Bandung: CV. Afabeta Usman, Husnaini. (2006). Pengantar Statistika. Jakarta: PT Bumi Aksara ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 199 Bab 7 PENGUMPULAN DATA Nauri Anggita Temesvari, SKM, MKM Pendahuluan M odul ini akan memandu Anda untuk memilih metode pengumpulan data dalam penelitian. Selain itu, akan dijelaskan juga tentang etika penelitian kesehatan.

Metode pengumpulan data sangat erat kaitannya dengan sumber data yang digunakan dan rancangan penelitian yang anda pilih. Secara garis besar, metode pengumpulan data dapat dibedakan sesuai dengan pendekatan penelitian yang Anda gunakan, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Dari tiap metode penelitian tersebut akan digunakan alat ukur (instrumen) yang perlu dikembangkan isinya.

Etika penelitian kesehatan harus dapat diterapkan setiap peneliti. Alasan hal tersebut menjadi keharusan karena integritas Anda sebagai peneliti dapat dilihat dari penerapan etika penelitian yang Anda gunakan dalam penelitian Anda. Modul ini akan dilengkapi dengan latihan soal dari tiap topik berkaitan dengan metode pengumpulan data, pengembangan alat ukur, dan etika penelitian.

Diharapkan dengan adanya latihan soal tersebut, Anda dapat menguji kemampuan dalam setiap topik setelah mempelajari modul ini. Setelah mempelajari Bab 7, mahasiswa diharapkan dapat menentukan metode pengumpulan data penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan. Selain itu secara khusus mahasiswa mampu untuk: 1. menjelaskan metode pengumpulan data, 2. mengembangkan alat ukur, dan 3. menjelaskan tentang etika penelitian di bidang kesehatan 200 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 1 Metode Pengumpulan Data A.

SUMBER DATA Data adalah fakta empirik yang dikumpulkan oleh peneliti untuk kepentingan memecahkan pertanyaan penelitian. Data merupakan bentuk jamak dari datum yang berasal dari Bahasa Latin.

Datum berarti sesuatu yang diberikan. Dalam statistika, data adalah kumpulan fakta yang digunakan dalam penarikan kesimpulan (Siswandari, 2009). Data penelitian dapat berasal dari berbagai sumber yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data.

Arikunto (2010) menyatakan bahwa sumber data adalah subjek dari mana suatu data dapat diperoleh. Menurut Sutopo (2006), sumber data adalah tempat data diperoleh dengan menggunakan metode tertentu baik berupa manusia, dokumen, atau organisasi. Moleong (2001) menyatakan bahwa pencatatan sumber data melalui wawancara atau pengamatan merupakan hasil gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya. Jenis data dapat dikelompokkan menjadi: 1.

a. Berdasarkan Sumbernya Data primer Data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang up to date. Untuk mendapatkan data primer, peneliti dapat mengumpulkannya dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, diskusi kelompok terarah, dan penyebaran kuesioner. b. Data sekunder. Data yang diperoleh peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Data sekunder dapat diperoleh dari jurnal, lembaga, laporan, dan lain-lain.

2. a. Berdasarkan Sifatnya Data kualitatif. Data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data kualitatif dapat diperoleh menggunakan teknik pengumpulan wawancara, analisis dokumen, diskusi kelompok terarah, dan catatan. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 201 b. Data kuantitatif Data yang berbentuk angka atau bilangan.

Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan uji statistik. 3. a. Berdasarkan Proses atau cara Mendapatkannya.

Data diskrit. Data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara membilang. Contohnya: 1) 2) Jumlah karyawan di RSUD A sebanyak 678 orang. Jumlah pasien rawat jalan di RS A sebanyak 453 orang.

b. Data kontinum. Data dalam bentuk angka atau bilangan yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran. Contohnya: 1) 2) Luas ruangan penyimpanan dokumen rekam medis RS A adalah 200 m2. Rata-rata waktu tunggu pendaftaran rawat jalan pasien lama di RS A adalah 45 menit. 4. Berdasarkan Skala Pengukuran. a. Skala nominal. Skala nominal adalah skala yang ditetapkan berdasarkan atas proses penggolongan yang bersifat diskrit dan saling pilah (mutually exclusive).

Banyak variabel dalam penelitian sosial menggunakan skala nominal, seperti: agama, jenis kelamin, tempat tinggal, nama universitas, dan lain-lain. Karakteristik yang dimiliki skala nominal adalah: 1) Kategori data bersifat mutually exclusive (saling memisah) 2) 3) 4) 5) 6) Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis Angka pada tiap kategori merupakan label Uji statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik Tidak mempunyai tingkatan Operasi matematika ( +–x, : ) dan logika perbandingan “>” dan “<” tidak berlaku.

Contoh: Jenin Kelamin: (1) Laki-laki (2) Perempuan → Tidak penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk tingkatan antara laki-laki maupun perempuan. Label 1) dan 2) hanya label pada masing-masing indikator. 202 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ b. Skala ordinal. Skala ordinal adalah skala yang dipergunakan dan disusun berdasarkan tingkatan dalam atribut tertentu sehingga penyusunannya dilakukan secara terurut dari yang rendah hingga yang tinggi.

Karakteristik dari penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk ordinal adalah: 1) Kategori data bersifat saling memisah 2) Kategori data mempunyai aturan yang logis 3) Kategori data ditentukan skalanya berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya.

4) Operasi matematika ( +–x, : ) dan logika perbandingan “>” dan “<” tidak berlaku. Contoh: Tingkat kepuasan mahasiswa Prodi D3 Rekam Medis terhadap kinerja dosen memiliki kriteria sebagai berikut: (1) Tidak Puas (2) Kurang Puas (3) Cukup Puas (4) Puas Ada perbedaan tingkatan antara (1) Tidak Puas dengan (2) Kurang Puas.

Namun, data tersebut tidak dapat dijumlahkan, misalnya (1) Tidak Puas + (2) Kurang Puas ≠ (3) Cukup Puas c. Skala interval. Skala interval merupakan data hasil pengukuran yang dapat diurutkan atas dasar kriteria tertentu serta menunjukan semua sifat yang dimiliki oleh skala ordinal. Karateristik dari skala interval adalah: 1) Memiliki sifat kesamaan jarak (equality interval) atau memiliki rentang yang sama antara 2) 3) data yang telah diurutkan. Tidak adanya angka nol mutlak Operasi matematika ( +–x, : ) berlaku pada skala interval Contoh: 1) Hasil pengukuran suhu (temperatur) menggunakan alat pengukur suhu (thermometer) yang dinyatakan dalam ukuran derajat.

Benda dengan suhu 00 Celcius bukan tidak memiliki suhu sama sekali. Angka 00 Celcius memiliki sifat relatif (tidak mutlak). Artinya, 2) jika diukur dengan menggunakan Termometer Fahrenheit diperoleh 0 0 Celcius = 320 Fahrenheit.

Kecerdasaran intelektual seseorang dinyatakan dalam IQ. Rentang IQ 100 sampai 110 memiliki jarak yang sama dengan 110 sampai 120. Namun demikian tidak dapat ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 203 disimpulkan orang yang memiliki IQ 150 tingkat kecerdasannya 1,5 kali dari orang yang memiliki IQ 100. d. Skala rasio. Skala rasio merupakan skala pengukuran yang mempunyai nilai nol mutlak dan mempunyai jarak yang sama.

Ciri-ciri dari skala rasio adalah angka nol menggambarkan suatu titik dalam skala yang menunjukkan ketiadaan karakteristik (memiliki nilai nol absolut). Contoh: Usia pasien yang mengalami diabetes mellitus pada saat pemeriksaan diketahui 35 tahun.

Nilai mahasiswa tertinggi pada kelas Terminologi Medis adalah 85, sedangkan nilai yang terendah adalah 35. B. METODE PENGUMPULAN DATA Metode pengumpulan data dapat diartikan sebagi teknik untuk mendapatkan data yang kemudian dianalisis dalam suatu penelitian.

Tujuan dari pengumpulan data adalah untuk menemukan data yang dibutuhkan dalam tahapan penelitian. Data tersebut digunakan sebagai sumber untuk selanjutnya dianalisis dan disimpulkan menjadi pengetahuan baru. Teknik pengumpulan data dibedakan berdasarkan pendekatan penelitian yang digunakan yaitu teknik pengumpulan data pada penelitian kuantitatif dan teknik pengumpulan data pada penelitian kualitatif. 1. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Kuantitatif a.

Wawancara Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data jika peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk apabila peneliti ingin menggali hal yang yang lebih mendalam dengan jumlah respondennya relatif sedikit. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan dengan tatap muka maupun melalui alat komunikasi berupa telepon.

Teknik wawancara umumnya digunakan pada penelitian kualitatif. Namun, beberapa penelitian kuantitatif juga dapat menggunakan teknik wawawancara. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data jika peneliti telah mengetahui dengan pasti informasi yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara terstruktur, peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaanpertanyaan tertulis dengan menyiapkan alternatif pertanyaan lain jika jawabannya telah 204 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ dapat diperkirakan.

Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder untuk membantu pelaksanaan wawancara berjalan lancar.

Adapun contoh wawancara terstruktur tentang “Tinjauan Desain Formulir Resume Medis Pasien Rawat Inap”: 1. Menurut Anda, bagaimana ukuran tulisan yang ada pada formulir resume medis? a. Sangat sesuai b. c. d. 2. Sesuai Kurang sesuai Tidak sesuai Menurut Anda, bagaimana lebar kolom pengisian pada formulir resume medis?

a. Sangat sesuai b. Sesuai c. Kurang sesuai d. Sesuai Sedangkan wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang tersusun dengan sistematis (Sugiyono, 2009). Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden.

Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban dari responden tersebut, maka peneliti dapat mengajukan berbagai pertanyaan berikutnya yang lebih terarah pada satu tujuan. Adapun contoh wawancara terstruktur tentang Tinjauan Desain Formulir Resume Medis Pasien Rawat Inap adalah: 1) Menurut Anda, bagaimana ukuran tulisan yang ada pada formulir resume medis?

2) Menurut Anda, bagaimana lebar kolom pengisian pada formulir resume medis? b. Kuesioner Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti memahami variabel yang akan diukur dan jawaban apa yang diharapkan dari responden (Iskandar, 2008). Contoh kuesioner kepuasan terhadap sistem pendaftaran pasien online adalah sebagai berikut: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 205 Tabel 7.1 Contoh Kuesioner Penilaian terhadap kepuasan penggunaan sistem pendaftaran online Sangat Puas Tidak Puas Tampilan sistem Kemudahan penggunaan sistem Kestabilan sistem c.

Observasi Dalam menggunakan observasi cara yang paling efektif adalah dengan melengkapinya dengan lembar pengamatan sebagai instrumen. Lembar pengamatan tersebut kemudian disusun dengan format yang berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang diamati.

Dalam observasi pencatatan disertakan penilaian kepada skala bertingkat (Arikunto, 2010). Misalnya dalam mengamati kesesuaian beban kerja petugas koder di rumah sakit, peneliti bukan hanya mencatat hasil pengamatan kegiatan petugas saat waktu kerja, tetapi juga menilai apakah kegiatan tersebut sudah sesuai atau belum. 2. a. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif. Wawancara Seperti dijelaskan pada teknik pengumpulan data kuantitatif, wawancara merupakan teknik yang sering digunakan peneliti dalam kualitatif.

Wawancara adalah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian (Emzir, 2010). Menurut Miles dan Huberman (1984) ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan dalam melakukan wawancara, yaitu: (1) The setting, peneliti perlu mengetahui kondisi lapangan penelitian yang sebenarnya untuk membantu dalam merencanakan pengambilan data.

Hal yang perlu diketahui untuk menunjang pelaksanaan pengambilan data antara lain: tempat pengumpulan data, waktu dan lamanya wawancara, serta biaya yang dibutuhkan. (2) The actors, peneliti mengetahui karakteristik calon informan.

Di dalamnya termasuk situasi yang lebih disukai informan, kalimat pembuka, pembicaraan pendahuluan dan (3) 206 sikap peneliti dalam melakukan pendekatan.

The events, menyusun protokol wawancara, meliputi: pendahuluan, pertanyaan pembuka, pertanyaan kunci, dan probing, penggalian lebih lanjut. Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ (4) The process, berdasarkan persiapan pada bagian pertama sampai ketiga, maka disusunlah strategi pengumpulan data secara keseluruhan. Strategi ini mencakup seluruh perencanaan pengambilan data mulai dari kondisi, strategi pendekatan dan bagaimana pengambilan data dilakukan. Dalam penelitian kualitatif teknik wawancara yang umum dilakukan adalah wawancara mendalam (in-depth Interview).

Wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Sutopo, 2006).

Karakteristik dari wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan. Selain itu, agar informan dapat menyampaikan informasi yang baik dan relevan seperti harapan peneliti, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti adalah: 1) Membuat suasana senyaman mungkin bagi informan, 2) 3) 4) 5) Merencakan waktu dan tempat wawancara sesuai keinginan peneliti, Menghargai informan, Tidak menanyakan hal yang membuat informan tersinggung, dan Sebaiknya wawancara dilakukan sendiri oleh peneliti, bukan orang lain.

b. Observasi Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat sering dipakai dalam metode penelitian kualitatif. Observasi merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian.

Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran nyata suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian (Guba dan Lincoln, 1981). Observasi menurut Bungin (2007) juga dapat dilakukan dimana peneliti mengikuti kegiatan dari informan sekaligus melakukan pengamatan.

Observasi tersebut disebut observasi partisipasi (participant observation). ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 207 c. Telaah dokumen Telaah dokumen juga dapat dijadikan sebagai teknik pengumpulan data. Beberapa data didapatkan dalam bentuk kebijakan, foto, dokumen, hasil rapat, jurnal, dll. Hal tersebut menjadi dasar untuk menarik kesimpulan dalam penelitian. d. Diskusi kelompok terarah Diskusi kelompok terarah (focus group discussion) adalah teknik pengumpulan data dengan menggali permasalahan yang hendak diteliti oleh sekelompok orang lewat diskusi.

Contohnya peneliti ingin menganalisis sikap kepemimpinan kepala unit rekam medis RS X. Oleh karena itu, peneliti mengumpulkan seluruh staf unit rekam medis untuk menggali kepemimpinan dari kepala unit. Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut!

1) 2) 3) Jelaskan jenis-jenis data berikut contohnya! Jelaskan teknik pengumpulan data yang dapat digunakan pada penelitian pendekatan kuantitatif! Jelaskan teknik pengumpulan data yang dapat digunakan pada penelitian pendekatan kualitatif! Petunjuk Jawaban Latihan 1) Jenis data dibedakan dibedakan berdasarkan sumbernya (primer dan sekunder), sifatnya (kuantitatif dan kualitatif), proses (diskrit dan kontinum), dan skala pengukurannya (nominal, ordinal, interval, rasio).

Contoh: • Data hasil observasi langsung (primer), data telaah dokumen (sekunder) • Data kuesioner (kuantitatif), data hasil wawancara mendalam (kualitatif) • Jumlah pegawai rumah sakit (diskrit), luas ruang penyimpanan (kontinum) • Jenis kelamin (nominal), tingkat kepuasan (ordinal), IPK (interval), panjang kolom (rasio) 2) 208 Teknik pengumpulan data yang dapat digunakan pada pendekatan kuantitatif adalah pengisian kuesioner, observasi, dan wawancara Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 3) Teknik pengumpulan data yang dapat digunakan pada pendekatan kualitatif adalah wawancara mendalam, observasi, telaah dokumen, diskusi kelompok terarah.

Ringkasan 1. Data adalah fakta empirik yang dikumpulkan oleh peneliti untuk kepentingan memecahkan pertanyaan penelitian. 2. 3. 4. Menurut sumbernya, jenis data dibedakan menjadi data primer dan data sekunder. Menurut sifatnya, jenis data dibedakan menjadi data kuantitatif dan data kualitatif. Menurut proses atau cara mendapatkannya, jenis data dibedakan menjadi data diskrit dan data kontinum. Menurut skala pengukurannya, jenis data dibedakan menjadi skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio.

Metode pengumpulan data dibedakan berdasarkan pendekatan penelitian yang digunakan yaitu, teknik pengumpulan data kuantitatif dan teknik pengumpulan data kualitatif.

5. 6. 7. 8. Teknik pengumpulan data kuantitatif yaitu wawancara, kuesioner, dan observasi. Teknik pengumpulan data kualitatif yaitu wawancara mendalam, observasi, telaah dokumen, dan diskusi kelompok terarah. Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Di bawah ini jenis data berdasarkan sumbernya adalah .… A. skala nominal B. data kuantitatif C. data primer D. skala ordinal 2) Di bawah ini jenis data berdasarkan sifatnya adalah .… A.

skala interval B. data sekunder C. D. data kualitatif skala ordinal ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 209 3) Di bawah ini jenis data berdasarkan cara mendapatkannya adalah .… A. skala Interval B. data Kuantitatif C. data Sekunder D. data Diskrit 4) Di bawah ini jenis data berdasarkan skala pengukurannya adalah .… A. skala interval B. C. D. 5) Seorang peneliti ingin mengetahui beban kerja staf pendaftaran unit rawat jalan dengan melakukan observasi langsung, dimana peneliti mengamati kegiatan yang dilakukan staf kemudian mencatatatnya dalam lembar pengumpulan data.

Data yang dihasilkan dari observasi peneliti berdasarkan sumbernya merupakan jenis data .… A. B. C. D. 6) data kuantitatif data sekunder data diskrit primer sekunder kuantitatif kualitatif Seorang peneliti ingin menganalisis kepatuhan staf unit rekam medis dan informasi kesehatan terhadap pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada di unit tersebut. Hal pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah mengumpulkan seluruh SOP yang ada pada unit rekam medis dan informasi kesehatan.

Data yang dihasilkan dari pengumpulan SOP berdasarkan sumbernya merupakan jenis data .… A. primer B. sekunder C.

kuantitatif D. kualitatif 7) Dari hasil penelitian menyatakan desain formulir identitas pasien pada kolom alamat yang ada saat ini perlu dilakukan perubahan. Saran dari peneliti kolom tersebut diubah ukuran panjangnya menjadi 10 cm dan lebar 5 cm sehingga pasien dapat mengisi identitas diri lebih lengkap. Hasil pengukuran tersebut peneliti dapat dengan terlibat dalam kegiatan unit rekam medis selama 3 bulan.

Teknik pengumpulan data yang telah dilakukan oleh peneliti adalah .… 210 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ A. B. C. D. 8) Seorang peneliti ingin menggali capaian kinerja unit rekam medis pada tahun 2017 dengan mengumpulkan seluruh staf rekam medis pada suatu forum.

Teknik pengumpulan data yang tepat dengan pernyataan tersebut adalah… A. B. C. D. 9) kuesioner telaah dokumen diskusi kelompok terarah observasi partisipatif kuesioner telaah dokumen diskusi kelompok terarah observasi partisipatif Seorang peneliti membuat instrumen penelitian tentang pendapat pasien terhadap kehandalan petugas pendaftaran unit rawat jalan dengan mengkategorikan jawaban: 1) Kurang handal 2) Cukup handal 3) Handal 4) Sangat handal Responden dapat memilih 1 dari 4 jawaban tersebut yang mendekati persepsi yang dirasakan terhadap kehadalan petugas.

Teknik pengumpulan data yang dapat membantu penelitian tersebut adalah .… A. kuesioner B. telaah dokumen C. diskusi kelompok terarah D. 10) observasi partisipatif Seorang peneliti ingin mengetahui lama kerja responden bekerja pada unit rekam medis dan informasi kesehatan.

Jenis pertanyaan yang dibuat oleh peneliti adalah pertanyaan terbuka dengan satuan tahun. Dalam petunjuk pengisian yang dibuat oleh peneliti, responden dapat menyebutkan lama kerja, misalnya 0 tahun, 1 tahun, 2 tahun, dan seterusnya.

Jenis data yang peneliti akan dapatkan dengan ketentuan pengisian jawaban tersebut adalah .… A. B. C. D. Nominal Ordinal Interval Rasio ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 211 Topik 2 Pengembangan Alat Ukur I nstrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian yang berasal dari tahapan bentuk konsep, konstruk, dan variabel sesuai dengan kajian teori yang mendalam.

Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang telah digunakan pada penelitian terdahulu atau dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri.

Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap teruji untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu. Instrumen penelitian yang umum digunakan telah memiliki 2 (dua) kriteria lulus uji yaitu validitas dan reliabilitas. Validitas diartikan sejauh mana suatu instrumen melakukan fungsinya atau mengukur apa yang seharusnya diukur atau sejauh mana ketepatan suatu instrumen dalam melakukan fungsinya. Sedangkan reliabilitas menunjukkan sejauh mana instrumen dapat dipercaya.

A. BENTUK SKALA PENGUKURAN Skala pengururan dapat dibedakan menjadi: 1. Skala Likert. Skala likert adalah skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang sesuatu gejala atau fenomena dalam penelitian. Ada dua bentuk pentanyaan maupun pernyataan menggunakan skala likert, yaitu favorable (positif) dan unfavorabele (negatif).

Contoh: Terdapat suatu penelitian tentang kepuasan pasien, dimana dalam mengukur kepuasan pasien menggunakan kuesioner. Jika pertanyaan bersifat favorable, maka skor sebagai berikut: Sangat sesuai (4) Sesuai (3) Tidak sesuai Sangat Tidak Sesuai 212 (2) (1) Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Jika pertanyaan unfavorable, maka skor sebagai berikut: Sangat sesuai (1) Sesuai (2) Tidak sesuai (3) Sangat Tidak Sesuai (4) 2.

Skala Guttman. Skala Guttman adalah skala yang menyatakan tipe jawaban tegas, seperti jawaban benar-salah, ya-tidak, penah-tidak pernah, setuju-tidak setuju, dan positif-negatif. Selain dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda, juga dibuat dalam bentuk daftar checklist. Untuk jawaban positif seperti setuju, benar diberi skor 1 dan untuk jawaban negatif seperti tidak setuju, salah diberi skor 0. Contoh penggunaan skala Guttman adalah sebagai berikut: 1.

Bagaimana sarana dan prasarana dalam menunjang pekerjaan anda yang disediakan oleh perusahaan? a. Baik b. Kurang Baik 2. Bagaimana penghargaan atas prestasi kerja yang anda yang diberikan oleh perusahaan? a. Baik b. Kurang Baik 3. Skala Rating. Dalam skala rating responden akan memilih salah satu jawaban dari interval nilai yang telah disediakan.

Dalam model skala rating responden tidak akan menjawab dari data kualitatif yang sudah tersedia, tetapi menjawab dari jawaban kuantitatif, dengan demikian skala rating lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja. Contoh penggungaan skala rating: Tabel 7.2 Tinjauan Ruang Penyimpan di Unit RMIK No. Item Ruang Penyimpanan di Unit RMIK Jawaban 1 Kerapihan ruangan 1 2 3 4 5 2 Kebersihan ruangan 1 2 3 4 5 3 Kelembapan ruangan 1 2 3 4 5 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 213 B.

1. 2. 3. 4. 5. 6. PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN Langkah-angkah dalam penyusunan instrumen adalah sebagai berikut: Berdasarkan konsep sintesis dari teori-teori yang telah ditelaah terkait variabel yang hendak diukur, kemudian dirumuskan konstruk dari variabel tersebut.

Konstruk dapat diartikan sebagai konsep yang telah dibatasi pengertiannya (unsur, ciri, dan sifatnya) sehingga dapat diamati dan diukur. Berdasarkan konstruk tersebut dikembangkan dimensi dan indikator variabel yang telah tertuang secara eksplisit pada rumusan konstruk variabel pada langkah 1.

Membuat butir-butir instrumen yang dapat berbentuk pernyataan atau pertanyaan. Butir-bitir yang telah ditulis merupakan konsep instrumen yang harus melalui proses validasi, baik validasi teoretik dan validasi empirik.

Tahap validasi pertama yang ditempuh adalah validasi teoretik, yaitu melalui pemeriksaan ahli atau melaui diskusi panel yang pada dasarnya menelaah seberapa jauh dimensi merupakan jabaran yang tepat dari konstruk. Setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoretik, dilakukan uji coba instrumen yang merupakan bagian dari proses validasi empirik.

Melalui uji coba tersebut, instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel uji coba yang mempunyai karakteristik sama dengan karakteristik populasi penelitian. Selanjutnya dihitung reliabilitas. Koefisien reliabilitas dengan interval nilai (0-1) adalah besaran yang menunjukkan kualitas atau konsistensi hasil ukur instrumen.

Makin tinggi koefisien reliabilitas makin tinggi pula kualitas instrumen tersebut. Dalam menyusun daftar pertanyaan, seorang peneliti hendaknya mempertimbangkan hal-hal berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 214 Apakah Anda menggunakan tipe pertanyaan terbuka atau tertutup atau gabungan keduanya?

Dalam mengajukan pertanyaan hendaknya jangan langsung pada masalah inti/pokok dalam penelitian Anda. Buatlah pertanyaan yang setahap demi setahap, sehingga mampu menggali informasi yang dibutuhkan. Pertanyaan hendaknya disusun dengan menggunakan bahasa dan pemilihan kata yang dipahami oleh subjek penelitian. Apabila menggunakan pertanyaan tertutup, hendaknya setiap pertanyaan maupun jawaban diidentifikasi dan diberi kode untuk memudahkan dalam pengolahan data.

Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 6. Dalam membuat daftar pertanyaan, hendaknya diingat bahwa Anda bukanlah seorang investigator, tetapi pihak yang membutuhkan informasi dari pihak lain. Oleh karenanya pertanyaan yang diajukan jangan membuat subjek peneliti merasa terintimidasi.

Tabel 7.3 Metode dan Instrumen Pengumpulan Data No. Jenis Metode Jenis Instrumen 1. Kuesioner/Angket Kuesioner/Angket 2. Wawancara Pedoman wawancara 3. Diskusi kelompok terarah Pedoman diskusi kelompok terarah 4. Observasi Daftar tilik (checklist) 5. Telaah dokumen Daftar tilik (checklist) Pada teknik pengumpulan data, tiap metode yang digunakan memiliki alat ukur atau instrumen yang berbeda. Seperti pada tabel di atas, kuesioner atau angket memiliki instrumen kuesioner atau angket, wawancara memiliki instrumen pedoman wawancara, diskusi kelompok terarah memiliki instrumen pedoman diskusi kelompok terarah, dan observasi juga telaah dokumen memiliki instrumen daftar tilik.

Contoh instrumen penelitian adalah sebagai berikut: 1. Kuesioner/ Angket Tabel 7.4 Kuesioner Kepuasan Pasien (Mohon berikan tanda ✓ pada kolom jawaban yang menurut anda menggambarkan pelayanan kesehatan yang anda terima) No. Karakteristik 1. Tenaga kesehatan memberikan informasi yang jelas terkait kondisi kesehatan anda 2.

Tenaga kesehatan menjawab dengan jelas hal-hal yang anda tanyakan terkait kondisi kesehatan 3. Tenaga Kesehatan melakukan pelayanan tepat waktu sesuai jadwal yang dijanjikan 4. Tenaga kesehatan terampil dalam melakukan Sangat Puas Puas Tidak Puas Sangat Tidak Puas pelayanan kesehatan 5. Tenaga kesehatan memberikan informasi yang akurat terkait proses administrasi pelayanan kesehatan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 215 2.

Daftar Tilik pada Observasi Tabel 7.5 Daftar Tilik Kegiatan Pokok Petugas Pendaftaran Rawat Jalan Nama staf yang diobservasi : . Jabatan : .

Hari/Tanggal : . No. Nama Kegiatan Ya/Tidak 1. Mencatat identitas pasien dalam formulir rekam medis rawat jalan 2. Memberi dan mencatat nomor rekam medis sesuai dengan kebijakan penomoran yang ditetapkan 3.

Menyediakan dokumen rekam medis baru untuk pasien baru 4. Menyediakan dokumen rekam medis lama untuk pasien Catatan lama melalui bagian filing 3. Pedoman Wawancara Berikut ini daftar pertanyaan pada pedoman wawancara terkait analisis kebutuhan tenaga koder di RS X: a. Apa latar belakang pendidikan Anda? - Dengan latar belakang tersebut, menurut anda bagaimana kesesuaiannya dengan pekerjaan anda saat ini?

b. 216 Bagaimana rumah sakit mengupayakan pengembangan kompetensi untuk mendukung pekerjaan anda? Apa saja kegiatan pokok yang anda lakukan? - Bagaimana kesesuaian antara kegiatan tersebut dengan uraian kerja pada jabatan anda saat ini? - Apakah dalam keseharian anda dilibatkan dalam kegiatan lainnya? - Apa yang menjadi alasan anda melakukan kegiatan lainnya tersebut?

- Dengan penambahan kegiatan lainnya di luar kegiatan pokok anda, bagaimana beban kerja yang Anda rasakan saat ini? Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 4. Daftar Tilik pada Telaah Dokumen Tabel 7.6 Daftar Tilik Dokumen Kebijakan di Unit Rekam Medis No. Nama Kegiatan 1. SOP Pendaftaran Pasien 2. SOP Penyimpanan Berkas 3. Buku Panduan Pelayanan Administrasi Pasien 4. Struktur Tata Kelola Organisasi di Unit Rekam Medis C. Ya/Tidak Catatan KEABSAHAN DATA Ada beberapa kriteria penampilan instrumen yang berkualitas, baik yang digunakan untuk mengontrol ataupun untuk mengukur variabel, yaitu: 1.

Akurasi (Accuracy) 2. a. Akurasi dari suatu instrumen pada hakekatnya berkaitan erat dengan validitas b. (kesahihan) instrumen tersebut. Apakah instrumen benar-benar dapat mengukur apa yang hendak diukur. Presisi (Precision) a. Presisi instrumen berkaitan erat dengan konsistensi (reliability), yaitu kemampuan memberikan kesesuaian hasil pada pengulangan pengukuran. b. Instrumen mempunyai presisi yang baik jika dapat menjamin bahwa input yang sama memberikan output yang selalu sama baik kapan saja, di mana saja, oleh dan kepada siapa saja instrumen ini digunakan memberikan hasil konsisten.

c. Instrumen dengan presisi yang baik belum tentu akurasinya baik dan sebaliknya. Uji keabsahan dibedakan berdasarkan pendekatan penelitian yang digunakan. Jika menggunakan pendekatan kuantitatif, maka uji keabsahan umum dilakukan menggunakan uji validitas dan reliabilitas.

Namun, jika menggunakan kualitatif, uji keabsahan dapat menggunakan empat kriteria yaitu: (1) derajat kepercayaan (credibility); (2) keteralihan (transferability); (3) kebergantungan (dependability), dan; (4) kepastian (confirmability). ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 217 Uji keabsahan pada penelitian kuantitatif: 1. Validitas Menurut Arikunto (2010) suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur.

Pembuatan instrumen atau alat ukur dapat dilakukan dengan acuan dan validitas penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk (content validity) dan validitas konstruk atau validitas kerangka (construct validity). Validitas isi adalah kesesuaian isi instrumen dengan topik yang diteliti. Validitas isi dilakukan untuk memastikan apakah alat ukur sudah sesuai dengan topik penelitian. Validitas isi juga melihat apakah alat ukur sudah dapat merepresentasikan topik penelitian yang sudah ditentukan.

Biasanya validitas isi dikaji oleh pakar atau dilakukan penilaian oleh orang yang ahli pada bidang yang bersangkutan (professional judgment). Ahli bidang tersebut akan menentukan apakah alat ukur sudah memadai untuk dijadikan sebagai alat ukur dari topik yang bersangkutan.

Sebagai contoh, jika ingin meneliti mengenai kepuasan pasien di suatu rumah sakit, maka peneliti yang telah membuat kuesioner mengenai kepuasan pasien dapat mengkaji kuesioner yang telah dibuat pada pasien di rumah sakit lain sejenis atau pasien di rumah sakit tersebut di unit yang berbeda pada lokasi penelitian.

Validitas konstruk adalah kesesuaian dari definisi operasional tiap variabel untuk dipakai dalam penelitian tersebut atau dapat dikatakan kemampuan alat ukur untuk mengukur pengertian yang terkandung dalam definisi topik atau variabel yang telah ditentukan.

Definisi yang abstrak memerlukan penjelasan yang lebih spesifik sehingga dapat memiliki validitas konstruk yang baik. Dengan kata lain, definisi yang abstrak tersebut harus memiliki indikatorindikator yang jelas sehingga memudahkan peneliti untuk mengukur topik dan variabel yang diinginkan. Sebagai contoh, jika ingin meneliti tentang kepuasan pasien, maka harus mengkaji dimensi apa yang akan digunakan, kemudian indikator apa yang dijadikan tolak ukur dari dimensi tersebut.

218 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Tabel 7.7 Total Skor Item x Item Skor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Total skor (Y) 10 1 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 36 9 1296 108 2 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 37 16 1369 148 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 37 16 1369 148 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30 9 900 90 5 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 28 9 784 84 6 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30 9 900 90 7 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30 9 900 90 8 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 28 9 784 84 9 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30 9 900 90 10 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 37 9 1369 111 11 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 32 9 1024 96 12 3 3 3 3 4 3 4 1 4 4 32 9 1024 96 13 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 36 16 1296 144 14 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 37 16 1369 148 15 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 37 16 1369 148 46 46 50 46 53 51 53 44 54 54 497 170 16653 1675 Subjek total a.

X2 Y2 XY Dari data pada tabel diatas, validitas pada item pertanyaan no. 3 adalah sebagai berikut: Hitung koefisien korelasi 𝑟= 𝑛 ∑ 𝑥𝑦 − (∑ 𝑥) (∑ 𝑦) √(𝑛 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)2 )(𝑛 ∑ 𝑦 2 − (∑ 𝑦)2 ) (7.1) Keterangan: r = koefisien korelasi x = skor pada item pertanyaan nomor ganjil y = skor pada item pertanyaan nomor genap 𝑟= 𝑟= 𝑛 ∑ 𝑥𝑦 − (∑ 𝑥) (∑ 𝑦) √(𝑛 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)2 )(𝑛 ∑ 𝑦 2 − (∑ 𝑦)2 ) 25125 − 24850 √(50)(2786) = 0.7368 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 219 Jika r hitung > r tabel pada tingkat signifikansi tertentu, maka item pertanyaan tersebut dapat dikatakan valid.

Untuk menghitung r tabel menggunakan rumus: 𝑟= 𝑡 (7.2) √𝑑𝑓 + 𝑡 2 Keterangan: r = nilai r tabel t = nilai t tabel df = derajat bebas (n-2) t tabel bisa didapatkan menggunakan rumus Ms.Excel dengan mengetik =TINV(tingkat signifikansi,derajat bebas) maka t tabel pada kasus di atas dengan tingkat signifikansi 0.05 adalah =TINV(0.05,15) sehingga t tabel didapatkan 2.2281. Kemudian kita dapat menghitung r tabel: 𝑟= 𝑡 √𝑑𝑓 + 𝑡 2 = 2.1603 √13 + 2.16032 𝑟 = 0,5139 Dari kasus diatas, item pertanyaan no.

1 dapat dikatan valid karena r hitung > r tabel (0.7368 > 0.5139). 2. Reliabilitas Alat ukur dikatakan reliabel jika alat ukur tersebut memiliki sifat konsisten. Pengujian reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur apakah dapat diandalkan dan konsisten jika dilakukan pengukuran berulang dengan instrumen tersebut. Pengujian relibilitas dapat menggunakan teknik belah dua (split half) yang dianalisis dengan rumus Spearman Brown. 2. 3. Langkah dalam pengujian reliabilitas: Butir-butir instrumen dibagi dua kelompok, yaitu kelompok butir item genap (2, 4, 6, dst) dan kelompok butir item ganjil (1, 3, 5, dst).

Skor data tiap kelompok disusun tersendiri. Hitung skor tiap kelompok. 4. 5. Hitung koefisien korelasinya. Hitung nilai reliabilitas dari koefisien korelasi tersebut.

1. 220 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh: Instrumen penelitian terdiri dari 10 item pertanyaan, dengan skor pilihan jawaban menggunakan skala likert dengan kode 1, 2, 3, dan 4. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan pada subjek penelitian berjumlah 15 orang adalah sebagai berikut: Tabel 7.8 Total Skor Item Instrumen Nomor Ganjil-Genap Item Skor Subjek Total item ganjil (x) Total item genap (y) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 18 18 2 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 19 18 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 19 18 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15 15 5 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 15 13 6 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15 15 7 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15 15 8 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 15 13 9 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15 15 10 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 19 18 11 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 16 16 12 3 3 3 3 4 3 4 1 4 4 18 14 13 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 19 17 14 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 19 18 15 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 19 18 Kemudian hitung korelasi antara skor total kelompok genap dan skor total kelompok ganjil dengan rumus koefisien korelasi (7.1) ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 221 Tabel 7.9 Total Skor Item Instrumen Nomor Ganjil dan Genap 𝑟= Subjek Total Skor (x) Total Skor (y) X2 y2 xy 1 18 18 324 324 324 2 19 18 361 324 342 3 19 18 361 324 342 4 15 15 225 225 225 5 15 13 225 169 195 6 15 15 225 225 225 7 15 15 225 225 225 8 15 13 225 169 195 9 15 15 225 225 225 10 19 18 361 324 342 11 16 16 256 256 256 12 18 14 324 196 252 13 19 17 361 289 323 14 19 18 361 324 342 15 19 18 361 324 342 𝑛 ∑ 𝑥𝑦 − (∑ 𝑥) (∑ 𝑦) √(𝑛 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)2 )(𝑛 ∑ 𝑦 2 − (∑ 𝑦)2 ) = 62325 − 61696 √(764)(764) = 0,823 Kemudian koefisien korelasi dimasukkan ke dalam rumus Spearman Brown sebagai berikut: 𝑟11 = 2𝑟 1+𝑟 (7.3) Keterangan: r11 = nilai reliabilitas r = koefisien korelasi Dengan rumus tersebut, maka didapatkan nilai reliabilitas: 𝑟11 = 222 2𝑟 2 × 0,823 = = 0,902 1+𝑟 1 + 0,823 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Diperoleh nilai reliabilitas 0,902.

Berdasarkan uji coba nilai ini sudah reliabel, karena lebih besar dari 0,7. Jadi instrumen yang digunakan sudah reliabel, maka instrumen dapat digunakan untuk pengukuran dalam pengumpulan data. Subjektifitas peneliti merupakan hal yang sering dialami oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kualitatif, mengingat dalam penelitian kualitatif metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara dan observasi yang dinilai banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol.

Untuk mengatasinya dilakukan pemeriksaan terhadap keabsahan data. Moleong (2005) menyatakan bahwa untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan atas empat kriteria yaitu: 1. Credibility atau Derajat Kepercayaan Ada beberapa kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan derajat kepercayaan yaitu; (a) memperpanjang waktu penelitian; (b) observasi detail yang terus menerus; (c) triangulasi atau pengecekan data dengan berbagai sumber sebagai pembanding terhadap data tersebut; (d) mengekspos hasil sementara atau akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitis dengan rekan sejawat; (e) kajian kasus negatif dengan mengumpulkan kasus yang idak sesuai dengan pola yang ada sebagai pembanding; (f) membandingkan dengan hasil penelitian lain dan; (g) pengecekan data, penafsiran dan kesimpulan dengan sesama anggota penelitian.

2. Transferability atau Keteralihan Transferability atau keteralihan yaitu dapat tidaknya hasil penelitian ini ditransfer atau dialihkan atau tepatnya diterapkan pada situasi yang lain. 3. Dependability atau Kebergantungan Dependability atau kebergantungan yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsepkonsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.

4. Confirmability atau Kepastian Confirmability atau kepastian yaitu dapat tidaknya hasil penelitian dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 223 Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) 2) Jelaskan bentuk skala berikut contohnya! Jelaskan langkah-langkah penyusunan instrumen! 3) Dengan menggunakan item di bawah ini, hitung validitas instrumen pada item pertanyaan no.1 Tabel 7.10 Total Skor Item Instrumen 1 2 1 5 5 2 5 5 3 4 4 4 3 3 Item Skor 5 6 4 5 3 4 3 4 5 6 7 8 9 10 5 4 4 4 5 5 4 4 4 5 3 4 5 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 Subjek 4 3 4 5 5 5 4 4 7 4 4 8 4 4 9 4 4 10 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3 5 3 2 4 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 Petunjuk Jawaban Latihan 1) 224 Skala yang digunakan dalam pembuatan kuesioner, yaitu: a.

Skala likert, yaitu skala yang biasa digunakan dalam mengukur sikap, persepi, dan perilaku. Contohnya, suatu penelitian ingin menilai sikap petugas terhadap kebijakan keselamatan pasien di rumah sakit dengan skor: (1) Sangat baik (2) Baik (3) Kurang baik (4) Tidak baik Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ b.

2) Skala Guttman, skala yang memiliki pilihan jawaban benar-salah, tepat-tidak tepat, dan lain-lain. Contohnya, pada daftar tilik observasi kegiatan pelaporan menggunakan pilihan jawaban Ya/Tidak dari setiap kegiatan yang diobservasi. c. Skala rating, skala yang pilihan jawabannya merupakan bentuk kuantitatif dari nilai terkecil hingga terbesar. Contohnya, pada pengukuran sikap peneliti membuat jawaban yaitu skor dari 1, 2, 3, 4, 5.

Langkah dalam penyusunan instrumen adalah: a. Dari teori yang digunakan kemudian dikembangkan konstruk dari tiap variabel b. c. 3) Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk tersebut dikembangkan ke indikator penilaian Setelah itu instrumen diberikan kepada responden yang hasilnya akan dilakukan uji validasi dan reliabilitas Validitas item pertanyaan no.

1 didapat sebagai berikut: Tabel 7.11 Total Skor Item Instrumen 𝑟= 𝑟= Total skor X2 Y2 XY 42 25 1764 210 5 40 25 1600 200 3 5 39 25 1521 195 4 4 33 16 1089 132 5 4 33 16 1089 132 6 4 34 16 1156 136 7 5 36 25 1296 180 8 5 37 25 1369 185 9 4 33 16 1089 132 10 4 37 16 1369 148 total 45 364 205 13342 1650 Subjek Skot item no.1 1 5 2 (Y) 𝑛 ∑ 𝑥𝑦 − (∑ 𝑥) (∑ 𝑦) √(𝑛 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)2 )(𝑛 ∑ 𝑦 2 − (∑ 𝑦)2 ) 16500 − 16380 √(25)(924) = 0.78954 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 225 Kemudian hitung nilai r tabel pada signifikansi 5% 𝑡 2.306 𝑟= = √8 + 2.3062 √𝑑𝑓 + 𝑡 2 𝑟 = 0,5388 Sehingga item soal no.1 dapat dinyatakan valid karena r hitung > r tabel (0,7895 > 0,5388) Ringkasan 1.

2. 3. 4. 5. 6. 7. Bentuk skala yaitu skala likert, skala Guttman, dan skala rating. Metode pengumpulan data pada penelitian kuantitatif adalah kuesioner atau angket, wawancara, dan observasi.

Metode pengumpulan data pada penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam, observasi, telaah dokumen, dan diskusi kelompok terarah. Instrumen pengumpulan data pada penelitian kuantitatif adalah kuesioner dan daftar tilik. Instrumen pengumpulan data pada penelitian kualitatif adalah pedoman wawancara mendalam, pedoman diskusi kelompok terarah, dan daftar tilik. Untuk menguji keabsahan data pada penelitian kuantitatif menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Untuk menguji keabsahan data pada penelitian kualitatif menggunakan: derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).

Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Terdapat suatu item penelitian tentang persepsi staf terhadap implementasi rekam medis elektronik terhadap kinerja, dimana responden dapat memilih salah satu dari skor jawaban berikut ini: Sangat mendukung (4) Mendukung Kurang medukung Tidak mendukung 226 (3) (2) (1) Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Bentuk skala yang digunakan oleh peneliti adalah skala … A.

Likert B. Rating C. Guttman D. ordinal 2) Terdapat suatu item penelitian tentang penilaian staf terhadap kepatuhan mengikuti standar prosedur operasional (SOP) di setiap kegiatan dalam bekerja, dimana responden dapat memilih jawaban Ya atau Tidak. Bentuk skala yang digunakan oleh peneliti adalah skala … A. Likert B. rating C. Guttman D. ordinal 3) Instrumen yang digunakan pada metode pengumpulan data kuesioner adalah… A.

B. C. D. 4) Instrumen yang digunakan pada metode pengumpulan data wawancara adalah. A. Kuesioner B. Pedoman wawancara C. Daftar tilik D. 5) kuesioner pedoman wawancara daftar tilik pedoman diskusi kelompok terarah Pedoman diskusi kelompok terarah Uji keabsahan data yang dilakukan pada penelitian kuantitatif adalah A. Kebergantungan B. Keteralihan C. Validitas D. Kepastian ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 227 (Untuk menjawab pertanyaan 6-8, pahami skor item instrumen di bawah ini) Tabel 7.12 Total Skor Item Instrumen Subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 5 5 4 3 4 5 4 4 4 4 2 5 5 4 3 3 4 4 4 4 4 3 5 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 5 3 3 3 3 3 3 3 3 5 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 6 4 4 3 3 3 5 3 3 3 3 7 5 5 3 3 3 5 3 3 3 3 8 5 4 3 3 3 5 3 5 3 3 9 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 10 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 6) r hitung pada item pertanyaan no.8 adalah… A.

0.3672 B. 0.0688 C. 0.5388 D. 0.6188 E. 0.8232 7) r tabel pada kasus di atas pada signifikansi 10% adalah. 8) A. B. 5.3176 1.8595 C. D. 1.8124 3.1692 Item pertanyaan no.8 pada signifikansi 10% setelah perhitungan dapat dikatakan… A. valid B. tidak valid C. D. 228 Item Skor reliabel tidak reliabel Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 9) Tipe validitas untuk memastikan apakah alat ukur sudah sesuai dengan topik penelitian adalah… A.

Validitas konstruk B. Validitas isi C. Validitas antara D. Reliabilitas 10) Trianguasi merupakan salah satu cara yang dilakukan dalam penelitian kualitatif untuk memenuh kriteria keabsahan data… A.

Confirmability B. Transferability C. Dependability D. Credibility ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 229 Topik 3 Etika Penelitian E tika berasal dari bahasan Yunani ethos, yang memiliki arti kebiasaan dan peraturan perilaku yang berlaku dalam masyarakat.

Etika membantu peneliti untuk melihat secara kritis moralitas dari sisi subjek penelitian. Etika juga membantu untuk merumuskan pedoman etis yang lebih kuat dan norma-norma baru yang dibutuhkan karena adanya perubahan yang dinamis dalam suatu penelitian. Peneliti dalam melaksanakan seluruh kegiatan penelitian harus menerapkan sikap ilmiah (scientific attitude) serta menggunakan prinsip-prinsip yang terkandung dalam etika penelitian.

Tidak semua penelitian memiliki risiko yang dapat merugikan atau membahayakan subjek penelitian, tetapi peneliti tetap berkewajiban untuk mempertimbangkan aspek moralitas dan kemanusiaan subjek penelitian. A. PRINSIP ETIKA PENELITIAN Semua penelitian yang melibatkan manusia sebagai subjek harus menerapkan 4 (empat) prinsip dasar etika penelitian, yaitu: 1.

Menghormati atau Menghargai Subjek (Respect For Person). Menghormati atau menghargai orang perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya: a.

Peneliti harus mempertimbangkan secara mendalam terhadap kemungkinan bahaya dan penyalahgunaan penelitian. b. Terhadap subjek penelitian yang rentan terhadap bahaya penelitian maka diperlukan perlindungan. 2. Manfaat (Beneficence). Dalam penelitian diharapkan dapat menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya dan mengurangi kerugian atau risiko bagi subjek penelitian. Oleh karenanya desain penelitian harus memperhatikan keselamatan dan kesehatan dari subjek peneliti. 3. Tidak Membahayakan Subjek Penelitian (Non Maleficence).

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian harus mengurangi kerugian atau risiko bagi subjek penelitian. Sangatlah penting bagi peneliti memperkirakan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi dalam penelitian sehingga dapat mencegah risiko yang membahayakan bagi subjek penelitian.

230 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 4. Keadilan (Justice). Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk keadilan dalam hal ini adalah tidak membedakan subjek.

Perlu diperhatikan bahwa penelitian seimbang antara manfaat dan risikonya. Risiko yang dihadapi sesuai dengan pengertian sehat, yang mencakup: fisik, mental, dan sosial. B. KESALAHAN DALAM PENELITIAN Kesalahan yang dilakukan oleh peneliti adalah: 1. Fabrication.

Menggandakan data, hasil penelitian dalam catatan data dalam pelaporan hasil penelitian. Contoh: Peneliti memiliki sampel penelitian dari hasil perhitungan yang telah ditentukan adalah 100 dokumen rekam medis yang harus diobservasi. Namun, dokumen yang berhasil peneliti observasi hanya 80 dokumen karena keterbatasan waktu dan mendekati batas pengumpulan tugas akhir, peneliti menambahkan 20 data untuk melengkapi jumlah sampel yang sebenarnya tidak dilakukan observasi.

2. Falsification. Memalsukan/memanipulasi bahan penelitian, alat, proses, merubah atau menghilangkan data atau hasil sehingga mengubah hasil pencatatan data. Contoh: Suat penelitian tentang evaluasi bed management system di suatu rumah sakit menemukan data bahwa sistem tersebut tidak beroperasional semestinya. Namun, untuk menyenangkan pihak rumah sakit peneliti membuat kesimpulan sistem tersebut beroperasional dengan baik. 3. Plagiarism.

Mengambil data penelitian orang lain; ide, proses, hasil atau kata-kata tanpa menyebutkan sumbernya. Contohnya: Peneliti tidak menuliskan sumber kutipan dari tulisan yang dituangkan dalan laporan tugas akhirnya.

C. PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN Persetujuan setelah penjelasan (PSP) atau biasa disebut dengan informed consent adalah proses dimana seorang subjek penelitian secara sukarela memberikan atau menyatakan keinginannya untuk berpartisipasi dalam penelitian, setelah diinformasikan atau dijelaskan keseluruhan ruang lingkup, manfaat, serta risiko dari penelitian tersebut.

Setelah ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 231 subjek penelitian memahami penjelasan tersebut, kemudian dilakukan persetujuan dengan mendokumentasikan tanda tangan atau cap jempol dari subjek sebagai bukti persetujuan.

PSP merupakan tanggung jawab peneliti yang diatur dalam SK Menkes 1333/2002. Tujuan dari PSP adalah (1) Menjamin bahwa penelitian akan dilaksanakan secara etis, (2) Melindung hak subjek penelitian karena data yang diberikan merupakan rahasia subjek (privacy), dan (3) Proses komunikasi dan edukasi antara peneliti dan subjek penelitian.

Ada 8 (Delapan) unsur pokok dalam PSP yaitu: 1. Deskripsi tentang penelitian. Deskripsi penelitian pada PSP meliputi uraian singkat tentang latar belakang penelitian, tujuan penelitian, dan sasaran penelitian. Deskripsi penelitian penting diuraikan pada PSP untuk memberikan informasi singkat ke calon subjek penelitian.

2. Risiko dan ketidaknyamanan. Risiko dalam penelitian adalah kemungkinan hal buruk yang terjadi selama penelitian yang mengakibatkan ketidaknyamanan bagi subjek penelitian. Telah disebutkan sebelumnya jika etika penelitian menerapkan prinsip yang mana harus meminimalkan risiko yang ada, tetapi risiko tersebut harus tetap diuraikan dalam PSP. 3. Manfaat (potential benefits). Manfaat pada penelitian telah dijelaskan sebelumnya harus berimbang dengan risiko.

4. Alternatif prosedur dan pengobatan. Jika risiko telah diperkirakan, peneliti juga harus mempersiapkan alternatif prosedur dan pengobatan jika risiko tersebut terjadi.

5. Jaminan kerahasiaan. Informasi yang diberikan oleh subjek merupakan kerahasiaan yang harus dijaga oleh peneliti. 6. Kompensasi. Kompensasi merupakan timbal balik yang diberikan oleh peneliti kepada subjek penelitian karena telah berpartsipasi dalam penelitian.

Timbal balik yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan risiko yang mungkin terjadi selama penelitian. Beberapa peneliti memberikan kompensasi berupa cenderamata, uang, atau hanya ucapan terimakasih. 7. Kontak. Kontak pada PSP menjelaskan nama penanggung jawab penelitian beserta kontak yang dapat dihubungi (biasanya berupa nomor telepon). Kontak diperlukan jika subjek membutuhkan konfirmasi terkait penelitian. 232 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 8.

Partisipasi sukarela. Partisipasi sukarela diuraikan dalam PSP dengan pernyataan bahwa tidak ada paksaan atau dorongan dari pihak mana pun untuk berpartisipasi dalam penelitian.

Selamat Pagi Bapak/Ibu, Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri, Saya A dari Prodi D3 Rekam Medis Politeknik Kesehatan B. Saat ini saya sedang melakukan penelitian sebagai tugas akhir saya yang berjudul “Analisis Kepatuhan Tenaga Kesehatan dalam Pengisian Resume Medis Pasien Rawat Inap RS X”. Latar berlakang dari penelitian ini adalah masih rendahnya persentase resume medis di RS. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kepatuhan tenaga kesehatam dalam pengisian resume medis pasien rawat inap RS X dilihat dari faktor pengetahuan, kebijakan, motivasi, dan dukungan organisai.

Bapak/Ibu akan mengisi kuesioner yang telah kami sediakan terdiri dari 30 pertanyaan terkait kepatuhan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya selama  30 menit. Jika Bapak/Ibu kesulitan dalam memahami maksud dari pertanyaan pada kuesioner silahkan mengajukan pertanyaan kepada peneliti.

Penelitian ini bersifat sukarela, artinya tidak ada paksaan bagi Bapak/Ibu untuk menyetujui berpartisipasi dalam peneltian ini. Setelah Bapak/Ibu menyetujui berpartisipasi dan telah mengisi kuesioner dengan lengkap, kami akan memberikan souvenir sebagai ucapan terimakasih kami atas partisipasi Bapak/Ibu. Segala bentuk data yang Bapak/Ibu berikan terkait peneltiian ini menjadi kerahasiaan penelitian. Adapun jika terdapat hal yang ingin dikonfirmasi pada penelitian ini dapat menghubungi A (No.

Hp 0812 3456 789). Demikian yang kami sampaikan kami ucapkan terima kasih. Hormat Saya, A ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 233 Contoh PSP dalam penelitian yang berjudul “Analisis Kepatuhan Tenaga Kesehatan dalam Pengisian Resume Medis Pasien Rawat Inap RS X”. Setelah PSP diberikan, selanjutnya subjek penelitian memberikan persetujuan pada lembar pesetujuan.

Berikut contoh lembar persetujuan dalam penelitian yang berjudul “Analisis Kepatuhan Tenaga Kesehatan dalam Pengisian Resume Medis Pasien Rawat Inap RS X”.

Yang bertanda tangan dibawah ini x Nama : . Usia : . Pekerjaan : . Alamat : . No. Hp : . Telah menerima dan mengerti penjelasan penelitian “Analisis Kepatuhan Tenaga Kesehatan dalam Pengisian Resume Medis Pasien Rawat Inap RS X” termasuk tujuan penelitian, keuntungan, dan kerahasiaan informasi yang didapatkan selama penelitian.

Dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan, saya bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Demikian lembar persetujuan ini saya tanda tangani dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan. Jakarta. 2017 (Nama Responden) 234 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) 2) Jelaskan prinsip etika penelitian! Jelaskan kesalahan yang terjadi dalam penelitian! 3) Jelaskan unsur pokok yang harus ada dalam PSP!

Petunjuk Jawaban Latihan 1) 2) Prinsip etika penelitian yaitu menghormati subjek penelitian (respect for person), memberikan manfaat (beneficence), mengurangi risiko (non maleficence), keadilan (justice). Kesalahan dalam penelitian adalah menggandakan data (fabrication), memanipulasi data (falsification), dan mengambi ide/ gagasan orang lain (plagiarism) Unsur pokok PSP adalah: deskripsi tentang penelitian, risiko dan ketidaknyamanan, manfaat, alternatif prosedur dan pengobatan, jaminan kerahasiaan, kompensasi, kontak, dan partisipasi sukarela.

Ringkasan 1. 2. 3. Prinsip dalam etika penelitian adalah: a. menghormati subjek penelitian (respect for person) b.

memberikan manfaat (beneficence) c. mengurangi risiko (non maleficence) d. keadilan (justice) Kesalahan dapam penelitian diantaranya: a. menggandakan data (fabrication) b. memanipulasi data (falsification) c. mengambi ide/ gagasan orang lain (plagiarism) Persetujuan setelah penjelasan (PSP) adalah proses dimana seorang subjek penelitian secara sukarela berpartisipasi dalam penelitian, setelah diinformasikan keseluruhan ruang lingkup penelitian.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 235 4. 8 Unsur PSP adalah: deskripsi tentang penelitian, risiko dan ketidaknyamanan, manfaat, alternatif prosedur dan pengobatan, jaminan kerahasiaan, kompensasi, kontak, dan partisipasi sukarela. Tes 3 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Prinsip etika penelitian yang mana penelitian harus dapat menghasilan manfaat yang maksimal adalah .… A.

respect for person B. beneficence C. non maleficence D. justice 2) Prinsip etika penelitian yang mana penelitian harus mempertibangkan kondisi pengumpulan data berdasarkan keinginan dari subjek penelitian adalah .… A.

respect for person B. beneficence C. non maleficence D. justice 3) Prinsip etika penelitian yang mana penelitian tidak boleh membedakan antar subjek penelitian adalah .… A.

respect for person B. C. D. 4) Prinsip etika penelitian yang mana peneliti harus memperkirakan kemungkinan risiko yang timbul dan berdampak membuat ketidaknyamanan bagi subjek penelitian adalah .… A.

respect for person B. C. D. 236 beneficence non maleficence justice beneficence non maleficence justice Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 5) Kesalahan penelitian yang mana peneliti tidak mencatumkan sumber kepustakaan dengan tepat adalah .… A. falsifification B. fabrication C. plagiarism D. beneficence 6) Kesalahan penelitian yang mana peneliti menggandakan dokumen penelitian adalah .… A. B. C. D. 7) falsification fabrication plagiarism beneficence Kesalahan penelitian yang mana peneliti memanipulasi hasil penelitian adalah …` A.

falsification B. fabrication C. D. plagiarism beneficence 8) Unsur penelitian yang mana harus disebutkan pernyataan tidak ada paksaan dalam mengikuti penelitian adalah .… A.

deskripsi penelitian B. kontak C. jaminan kerahasiaan D. partisipasi sukarela 9) Unsur penelitian yang mana harus disebutkan ruang lingkup penelitian adalah… A. deskripsi penelitian B. kontak C. jaminan kerahasiaan D. partisipasi suakrela ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 237 10) 238 Unsur penelitian yang mana mencantumkan penanggung jawab penelitian jika suatu saat subjek ingin mengkonfirmasi terkait penelitian adalah… A.

deskripsi peneltiian B. kontak C. jaminan kerahasiaan D. partisipasi sukarela Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) C.

2) C. 3) D. 4) A. 5) A. 6) B. 7) D. 8) C. 9) A. 10) D. Tes 2 1) A. 2) C. 3) A. 4) B. 5) C. 6) A. 7) B. 8) A. 9) B. 10) D. Tes 3 1) B. 2) A. 3) D. 4) C. 5) C. 6) B. 7) A. 8) D. 9) A. 10) B. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 239 Glosarium Respect for person : Prinsip etika penelitian yang mana menghormati dan menghargai subjek penelitian Beneficence : Prinsip etika penelitian yang mana memaksimalkan manfaat penelitian Non maleficence : Prinsip etika penelitian yang mana mempertimbangkan risiko yang akan terjadi selama penelitian Justice : Prinsip etika penelitian menekankan yang mena harus menciptakan keadilan bagi tiap subjek Fabrication : Kesalahan peneliti berupa menggandakan data penelitian Falsification : Kesalahan peneliti berupa menggandakan data penelitian Plagiarism : Kesalahan peneliti berupa pencurian ide atau gagasan orang lain tanpa mencantumkan sumbernya Informed Consent : Lembar persetujuan untuk subjek penelitian sebagai bentuk dokumentasi setelah subjek dijelaskan informasi penelitian 240 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Daftar Pustaka Arikunto, Suharsimi.

(2010). Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Sutopo. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: 2006 Moleong, Lexy J. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: Remaha Rosdakarya Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Iskandar. (2008). Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. Jakarta: Raja Grafindo Persada Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1984).

Qualitative Data Analysis. London Sage. Kemenkes. 2002. SK Menkes No. 1333/Menkes/SK/X2002 tentang Persetujuan Penelitian Kesehatan Terhadap Manusia ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 241 Bab 8 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Nauri Anggita Temesvari, SKM, MKM Pendahuluan M odul ini akan memandu Anda untuk mengolah data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menjadi informasi terkait masalah penelitian yang hendak diselesaikan. Dalam menganalisis data dibedakan berdasarkan penedekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan penelitian kuantiatif dan kualitatif.

Pada penelitian kuantitatif, analisis data menggunakan uji statistik, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Pada penelitian kualitatif analisis data relatif lebih sulit karena menggabungkan berbagai data kualitatif dari beberapa responden untuk disimpulkan informasinya.

Bab ini akan dilengkapi dengan latihan soal dari tiap topik yang berkaitan dengan analisis data. Diharapkan dengan adanya latihan soal tersebut, Anda dapat menguji kemampuan dalam setiap topik setelah mempelajari modul ini. Setelah mempelajari Bab 8, mahasiswa diharapkan dapat mengolah dan menganalisis data dalam penelitian di bidang rekam medis dan informasi kesehatan. Selain itu secara khusus mahasiswa mampu untuk: 1.

Melakukan analisis data kuantitatif. 2. Melakukan analisis data kualitatif. 242 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 1 Analisis Data Kuantitatif P engolahan data adalah suatu cara atau proses dalam memperoleh data (Hasan, 2002). Upaya mengubah data yang telah dikumpulkan menjadi informasi yang dibutuhkan. Alur pengolahan dan analisis data sebagai berikut: Pengumpulan Data Data Primer/Data Sekunder Pengolahan Data: - Editing - Koding data - Entri data - Cleaning data Informasi: - Narasi - Tabel - Grafik Analisis data menggunakan uji statistik Pembuktian hipotesis Sumber: Supardi (2014) Gambar 8.1 Alur pengolahan dan analisis data A.

PENGOLAHAN DATA Pengolahan data adalah bagian dari penelitian setelah pengumpulan data. Pada tahap ini data mentah atau raw data yang telah dikumpulah dan diolah atau dianalisis sehingga menjadi informasi.

Pengolahan data dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 243 1. 2. Secara manual dengan menggunakan alat hitung seperti kalkulator. Dengan aplikasi pengolahan data seperti Ms.

Excel, SPSS, Epi Info, STATA, SAS Data Mining, dan lain-lain. Pengolahan data secara manual memang sudah jarang dilakukan, tetapi tetap dapat dilakukan pada situasi dimana aplikasi pengolah data tidak dapat digunakan.

Tahapan analisis data secara manual adalah sebagai berikut: 1. Editing Editing atau penyuntingan data adalah tahapan dimana data yang sudah dikumpulkan dari hasil pengisian kuesioner disunting kelengkapan jawabannya. Jika pada tahapan penyuntingan ternyata ditemukan ketidaklengkapan dalam pengisian jawaban, maka harus melakukan pengumpulan data ulang. 2. Coding Coding adalah membuat lembaran kode yang terdiri dari tabel dibuat sesuai dengan data yang diambil dari alat ukur yang digunakan.

Contoh lembaran kode adalah sebagai berikut: Tabel 8.1 Lembar Kode Nomor Responden Item Pertanyaan 1 2 3 Dst 001 002 003 004 005 Dst 3. Data Entry Data entry adalah mengisi kolom dengan kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.

Contoh dalam pengisian data adalah sebagai berikut: Suatu penelitian tentang “Tingkat kepuasan mahasiswa Prodi D3 Rekam Medis terhadap kinerja dosen” memiliki kriteria sebagai berikut: (1) Tidak Puas, (2) Kurang Puas, (3) Cukup Puas, (4) Puas. Hasil pengisian jawaban pada tiap responden seperti di bawah ini: 244 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Tabel 8.2 Data Entry 4.

Nomor Responden Item Pertanyaan 1 2 3 4 001 4 3 3 4 002 3 3 3 3 003 3 3 3 3 004 3 4 4 4 005 4 3 3 3 Tabulasi Data Tabulasi data adalah membuat penyajian data, sesuai dengan tujuan penelitian. Pengolahan data dengan aplikasi pengolah data hampir sama dengan pengolahan data manual, hanya saja beberapa tahapan dilakukan dengan aplikasi tersebut.

Adapun tahapan dalam pengolahan data menggunakan aplikasi pengolah data adalah sebagai berikut: 5. Editing Pengeditan adalah pemeriksaan data yang telah dikumpulkan. Pengeditan dilakukan karena kemungkinan data yang masuk (raw data) tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai dengan kebutuhan. Pengeditan data dilakukan untuk melengkapi kekurangan atau menghilangkan kesalahan yang terdapat pada data mentah. Kekurangan dapat dilengkapi dengan mengulangi pengumpulan data. Kesalahan data dapat dihilangkan dengan membuang data yang tidak memenuhi syarat untuk dianalisis.

Kritea yang harus ditekankan dalam tahap penyuntingan adalah: a. Lengkap: semua jawaban responden pada kuesioner sudah terjawab. b. c. d. Keterbacaan tulisan: apakah tulisannya cukup terbaca jelas. Relevan: apakah ada kesesuaian antara pertanyaan dan jawaban.

Konsistensi jawaban: apakah tidak ada hal-hal yang saling bertentangan antara pertanyaan yang saling berhubungan. Contohnya pertanyaan pendidikan dijawab oleh responden tidak tamat SD tetapi ketika menjawab nama instansi pendidikan terakhir SMA. 6. Coding Coding adalah kegiatan merubah data dalam bentuk huruf menjadi data dalam bentuk angka/bilangan.

Kode adalah simbol tertertu dalam bentuk huruf atau angka untuk ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 245 memberikan identitas data. Kode yang diberikan dapat memiliki arti sebagai data kuantitatif (berbentuk skor). Sebagai contoh misalnya: data pendidikan yang dibagi menurut tingkat pendidikan SD sampai dengan Perguruan Tinggi (PT), kemudian dikode menjadi angka seperti angka 1=SD, 2=SLTP, 3=SLTA, 4=PT. 7. Processing Processing adalah proses setelah semua kuesioner terisi penuh dan benar serta telah dikode jawaban responden pada kuesioner ke dalam aplikasi pengolahan data di komputer.

Terdapat bermacam-macam aplikasi yang dapat digunakan untuk pemrosesan data, antara lain: SPSS, STATA, EPI-INPO, dan lain-lain. Salah satu program yang banyak dikenal dan relatif mudah dalam penggunaannya adalah program SPSS (Statistical Package for Social Sciences). 9. Cleaning Data Cleaning data adalah pengecekan kembali data yang sudah dientri apakah sudah betul atau ada kesalahan pada saat memasukan data.

Misalnya untuk variabel Pendidikan hanya ada 3 (tiga) kategori yaitu 1=Pendidikan Dasar (SD-SLTP), 2=Pendidikan Menengah (SLTA), 3=Perguruan Tinggi (D1-D4, S1-S3), tetapi setelah penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk ada jawaban yang memiliki kategori 4.

Tahapan cleaning data antara lain: a. Mengetahui adanya missing data. Cara untuk mengetahui ada tidaknya missing data adalah dengan membuat list (distribusi frekuensi) dari variabel yang ada.

Misalnya data yang diperoleh dari 100 responden, dengan variabel kepatuhan pengisian rekam medis. Tabel 8.3 Distribusi Kepatuhan Pengisian Rekam Medis Kepatuhan pengisian rekam medis 246 Jumlah Responden Patuh 55 Tidak Patuh 45 Jumlah 100 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui tidak ada data yang missing karena dari 100 responden semuanya di entry dan di proses.

Contoh lain dari variabel pendidikan dapat dilihat apada tabel di bawah ini. Tabel 8.4 Distribusi Kepatuhan Pengisian Rekam Medis Kepatuhan pengisian rekam medis Jumlah Responden Patuh 50 Tidak Patuh 45 Jumlah 95 Berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui bahwa ternyata dari 100 responden yang ada hanya ada 95 responden yang di entry dan di proses, sehingga ada 5 responden yang missing.

b. Mengetahui variasi data Variasi data yang diketahui memungkinkan kita mengetahui apakah data yang sudah di entry benar atau salah. Caranya adalah dengan membuat distribusi frekuensi masing-masing variabel. Misalnya variabel pendidikan dikategorikan sebagai berikut: 1=SD, 2=SLTP, 3=SLTA, 4=PT dengan jumlah responden 100 orang.

Sebagai contoh variasi dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 8.5 Distribusi Pendidikan Responden Tingkat Pendidikan Jumlah 1 40 2 20 3 20 4 10 5 5 Jumlah 100 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 247 Dari tabel di atas terlihat bahwa ada 5 kategori, sedangkan yang dibuat hanya 4 kategori (tingkat pendidikan 1 – 4).

c. Mengetahui konsistensi data. Untuk melihat konsistensi data dapat dilakukan dengan cara menghubungkan dua variabel. Contoh dapat dilihat pada tabel dengan menggunakan variabel kepatuhan dan status kepegawaian. Tabel 8.6 Distribusi Kepatuhan Pengisian Rekam Medis Kepatuhan pengisian rekam medis Jumlah Responden Patuh 55 Tidak Patuh 45 Jumlah 100 Tabel 8.7 Distribusi Status Kepegawaian Responden Status Kepegawaian Jumlah Responden PNS 20 Non PNS 70 Jumlah 90 Dari kedua tabel di atas dapat dilihat bahwa antara kedua tabel tidak konsisten dari jumlah responden.

Terdapat missing 10 data dari tabel 8.6 dan tabel 8.7 B. STATISTIK DESKRIPTIF Analisis statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

Statistik deskriptif dapat disebut juga analisis univariat yang dilakukan menurut jenis data baik kategorik maupun numerik. 248 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 1. Data kategorik Untuk data kategorik dapat berupa distribusi frekuensi persentase atau proporsi dari setiap variabel yang diteliti. Contoh: Pada penelitian kepatuhan dokter dalam pengisian resume medis di suatu rumah sakit didapatkan bahwa dari 45 tenaga dokter PNS memiliki kepatuhan 70% sementara 55 tenaga dokter non PNS memiliki kepatuhan 30%.

Penyajian data kategoriknya sebagai berikut: Tabel 8.8 Distribusi Kepatuhan Pengisian Resume Medis berdasarkan Status Kepegawaian Responden Status Kepegawaian Kepatuhan Patuh (%) Total (%) Tidak Patuh (%) PNS 32 (70%) 13 (30%) 45 (100%) Non PNS 17 (30%) 38 (70%) 55 (100%) Jumlah 49 (49%) 51 (51%) 100 (100%) 2.

Data Numerik. Hasil akhir analisis data numerik pada tahap analisis univariat dapat berupa ukuran pemusatan data dan ukuran variasi. a. Ukuran pemusatan data. Ukuran pemusatan data (central tendency) memperlihatkan suatu ukuran kecenderungan skor dalam suatu kelompok data.

Terdapat tiga jenis ukuran kecenderungan pemusatan data yang sering digunakan dalam mendeskripsikan data kuantitatif yaitu mean, median, dan modus. Mean atau rata-rata diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh data dalam satu kelompok kemudian dibagi dengan jumlah anggota kelompok tersebut.

Contoh: Total skor kinerja (interval 0 – 100) dari 10 staf unit rekam medis adalah 770. Maka rata-rata skor kinerja tersebut adalah 77. Median atau nilai tengah diperoleh dengan cara mengurutkan data mulai dari skor terkecil sampai tertinggi dalam satu kelompok kemudian dicari nilai tengahnya.

Contoh: distribusi skor kinerja staf unit rekam medis adalah sebagai berikut. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 249 Tabel 8.9 Distribusi Skor Kinerja Staf Sebelum dan Sesudah Diurutkan Sebelum skor diurutkan Setelah skor diurutkan Staf Skor (0-100) Staf Skor (0-100) 1 75 7 58 2 86 6 65 3 88 5 72 4 91 10 72 5 72 1 75 6 65 8 80 7 58 9 83 8 80 2 86 9 83 3 88 10 72 4 91 Total 770 Total 770 Median skor kinerja dari 10 staf karena total staf berjumlah genap, maka median skor pada baris ke 5 dan 6, kemudian dibagi dua, yaitu 78.

Modus (mode) adalah data yang paling sering muncul pada suatu distribusi dalam satu kelompok data. Contoh pada tabel 8.9, maka modus pada skor kinerja adalah 72 karena muncul 2 kali.

b. Ukuran variasi Keadaan sekelompok data dapat pula didasarkan pada ukuran penyebarannya atau variasinya. Sebaran data menunjukkan variasi data secara keseluruhan dilihat dari nilai tengahnya (rata-ratanya). Ukuran penyebaran data biasanya dilakukan dengan melihat rentang skor (range), varians, dan simpangan baku (standard deviasi). Range diperoleh dengan cara mengurangi data terbesar dengan data terkecil dalam satu kelompok data.

Contoh pada tabel 8.9 diperoleh skor terkecil adalah 58 dan skor terbesar adalah 91, maka rangenya adalah selisih antara dua skor tersebut yaitu 13. Varians yang diberi simbol (s2) dapat menjelaskan homogenistas suatu kelompok. Semakin kecil varians maka semakin homogen data dalam kelompok tersebut. Sebaliknya, semakin besar varians maka maka makin heterogen data dalam kelompok tersebut.

Rumus varians adalah: 250 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 𝑠2 = ∑(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )2 𝑛−1 (8.1) Keterangan: 𝑠 2 = varians 𝑥𝑖 = nilai tiap responden 𝑥̅ = nilai rata-rata 𝑛 = jumlah data Dari data pada Tabel 8.9, varians didapatkan sebagai berikut: 𝑠2 = ∑(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )2 𝑛−1 (1002)2 𝑠 = 10 − 1 2 𝑠 2 = 111,3 Simpangan baku atau standar deviasi yang diberi simbol (s) adalah akar varians (s 2).

Standar deviasi memiliki fungsi yang sama dengan varians dalam menjelaskan kelompok data. Dengan menggunakan data pada tabel 8.9, maka standar deviasinya adalah: 𝑠 = √𝑠 2 𝑠 = √111.3 = 10.55 C. STATISTIK INFERENSIAL Pada statistik inferensial sudah ada upaya untuk mengadakan penarikan kesimpulan dan membuat keputusan berdasarkan analisis yang telah dilakukan. Biasanya analisis ini membutuhkan sampel tertentu dari sebuah populasi yang jumlahnya banyak dan dari hasil analisis terhadap sampel tersebut digeneralisasikan terhadap populasi.

Pada statistik inferensial dilakukan pembuktian hipotesis. Berdasarkan pengujian hipotesis tersebut statistik inferensial dibedakan menjadi analisis hubungan dan analsisis komparatif.

1. Analisis Hubungan. Analisis hubungan menguji hipotesis asosiatif, yaitu dugaan adanya hubungan antara variabel penelitian. Dalam analisis hubungan, variabel dibagi ke dalam dua bagian, yaitu: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 251 a.

b. Variabel bebas (Independent Variable), yaitu variabel yang keberadaannya tidak dipengaruhi oleh variabel lain Variabel terikat (Dependent Variable), yaitu variabel yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel lain Contoh analisis hubungan adalah: Suatu penelitian ingin mengetahui hubungan antara lama kerja, pendidikan, dan pengetahuan terhadap kepatuhan penerapan standar prosedur operasional di unit rekam medis dan informasi keseahtan di RS X, maka kerangka penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut Variabel Independen Variabel Dependen 1.

Lama kerja 2. Pendidikan 3. Pengetahuan Kepatuhan penerapan standar prosedur operasional Gambar 8.2 Kerangka Konsep a. b. c. Dari contoh tersebut maka hipotesis penelitian asosiatif adalah: Ada hubungan antara lama kerja dengan kepatuhan penerapan standar proses operasional Ada hubungan antara pendidikan dengan kepatuhan penerapan standar proses operasional Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan penerapan standar proses operasional Pengujian hipotesis asosiatif dilakukan dengan cara menghitung dan menguji signifikansi koefisien korelasi.

Kekuatan hubungan dapat dilihat dan besar kecilnya koefisien korelasi. Nilai yang mendekati nol berarti lemahnya hubungan dan nilai yang mendekati angka satu menunjukkan kuatnya hubungan. 252 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 2. Analisis Komparatif Analisis komparatif merupakan analisis data dengan tujuan untuk membandingkan dua kelompok data atau lebih. Analisis komparatif atau uji perbedaan digunakan untuk menguji hipotesis komparatif. Berdasarkan hasil analisis komparatif tersebut dapat ditemukan faktorfaktor yang melatarbelakangi munculnya suatu perbedaan.

Dalam analisis komparasi terdapat beberapa jenis, yaitu: a. Kelompok berpasangan: dikatakan berpasangan jika data kelompok yang dibandingkan datanya saling ketergantungan. b. Contoh: sekelompok responden penelitian terkait konsep keselamatan pasien di ukur tingkat pengetahuannya 2 (dua) kali yaitu melalui pretest yang dilakukan sebelum sosialisasi konsep keselamatan pasien, kemudian melalui post test yang dilakukan setelah sosialisasi tersebut.

Kelompok tidak berpasangan: Dikatakan tidak berpasangan jika data kelompok yang yang satu tidak bergantung dari kelompok yang lainnya. Contoh: suatu penelitian ingin melihat perbedaan antara kompetensi petugas koder yang telah mengikuti pelatihan koding dan yang belum mengikuti pelatihan tersebut. Kelompok yang telah mengikuti pelatihan koding dengan yang belum merupakan kelompok yang berbeda yang tidak saling berhubungan. Di samping analisis data di atas, terdapat dua kelompok analisis statistik berdasarkan bentuk parameternya, yaitu statistik parametrik dan nonparametrik.

Statistik parametrik adalah analisis statistik yang pengujiannya menetapkan syarat-syarat tertentu tentang bentuk distribusi parameter atau populasinya, seperti data berskala interval dan berdistribusi normal. Sedangkan statistik nonparametrik adalah analisis statistik yang tidak menetapkan syarat-syarat tersebut. Tabel 8.10 Jenis Uji Analisis Data Skala Pengukuran Jenis Hipotesis Komparatif atau membandingkan Tidak berpasangan Berpasangan >2 >2 2 kelompok 2 kelompok kelompok kelompok Korelasi/Hubungan Numerik Uji t tidak One Way berpasangan Anova Uji t Repeated Korelasi Pearson berpasangan Anova Kategorik (Ordinal) Mann Whitney Wilcoxon Kruskal Wallis Kategorik Chi Square (Nominal/Ordinal) ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan Friedman Korelasi Spearman Wilcoxon 253 Keterangan: Uji tersebut dipilih jika data berdistibusi normal Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk berikut!

1) 2) 3) 4) 5) Jelaskan tahapan dalam pengolahan data! Jelaskan perbedaan statistik deskriptif dengan statistik inferensial! Jelaskan analisis data pada statistik deskriptif jika menggunakan data kategorik! Jelaskan analisis data pada statistik deskriptif jika menggunakan data numerik! Jelaskan analisis data pada statistik inferensial! Petunjuk Jawaban Latihan 1) 2) 3) 4) 5) 254 Pada dasarnya tahapan pengolahan data dimulai dari editing, coding, data entry, dan cleaning data. Editing atau penyuntingan data, coding adalah membuat lembaran kode yang terdiri dari tabel dibuat sesuai dengan data yang diambil dari alat ukur yang digunakan, data entry adalah mengisi kolom dengan kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan cleaning data adalah pengecekan kembali data yang sudah dientri apakah sudah betul atau ada kesalahan pada saat memasukan data.

Statistik deskrptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data, sedangkan statistik inferensial adalah dilakukan pembuktian hipotesis. Analisis statistik deskriptif dengan data kategorik menggunakan distribusi frekuensi persentase atau proporsi.

Analisis statistik deskriptif dengan data numerik menggunakan ukuran pemusatan data (central tendency), yaitu nilai rata-rata (mean), nilai tengah (mean), nilai terbanyak (modus). Analisis statistik inferensial disesuaikan dengan skala data, uji hipotesis, serta distribusi datanya.

Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Ringkasan 1. 2. 3. 4. Tahapan pengolahan data adalah: penyuntingan data (editing), mengubah jawaban menjadi kode (coding), memasukkan data ke yang telah diisi sesuai kode jawaban yang telah dibuat (data entry), dan mengecek kembali data mencegah terjadinya kesalahan cleaning. Analisis statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk.

Analisis statistik deskriptif dapat dibedakan berdasarkan data yang digunakan, yaitu data numerik dengan ukuran yang digunakan adalah ukuran pemusatan (central tendency), yaitu nilai rata-rata, nilai tengah, dan nilai terbanyak. Sedangkan jika data yang digunakan kategork, menggunakan frekuensi atau proporsi. Analisis statistik inferensial dibedakan menjadi analisis hubungan dan analisis komparatif antar variabel.

Selain itu, dilihat dari distribusi datanya, jika berdistribusi normal (skala numerik) menggunakan statistik parametrik. Sedangkan jika datanya berdistribusi tidak normal (skala kategorik) meggunakan statistik non parametrik.

Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Tahapan penelitian setelah melakukan pengumpulan data adalah .… A. mencari masalah B. pengumpulan referensi C. D. 2) pengolahan data pembuatan instrumen penelitian Tahapan pengolahan data yang mana dilakukan pengecekan kelengkapan pengisian jawaban pada instrumen penelitian adalah… A.

editing B. coding C. data entry D. cleaning ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 255 3) Tahapan pengolahan data yang mana dilakukan pembuatan kode dari jawaban pada kuesioner penelitian adalah .… A. editing B. coding C.

data entry D. cleaning 4) Tahapan pengolahan data yang mana dilakukan penginputan data dari jawaban pada kuesioner sesuai kode jawaban yang telah dibuat .… A. editing B. coding C. data entry D. cleaning 5) Tahapan pengolahan data untuk mengetahui adanya variasi data adalah .… A. editing B. C. D. 256 coding data entry cleaning 6) Di bawah ini yang termasuk ukuran pemusatan data adalah .… A. standar deviasi B. varians C. range D. median 7) Hasil nilai mahasiswa pada mata kuliah etika profesi adalah 60, 70, 60, 70, penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk, 75, 65, 70, 85, 75, 70, 85, 90, 55, 65, 70.

Modus dari data tersebut adalah .… A. 30 B. 60 C. 70 D. 50 8) Di bawah ini yang termasuk ukuran variasi adalah… A. mean B. median Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ C. D. 9) Suatu penelitian memiliki hipotesis penelitian ada hubungan antara jenis pasien dengan kepuasan pasien. Analisis yang tepat untuk pengujian hipotesis tersebut adalah .… A. statistik deskriptif B. simpangan baku C. analisis hubungan D. 10) modus range analisis komparatif Suatu penelitian memiliki hipotesis penelitian ada perbedaan antara Indeks Prestasi Mahasiswa (IPK) yang mengikuti organisasi kampus dan yang tidak mengikuti organisasi kampus.

Analisis yang tepat untuk pengujian hipotesis tersebut adalah… A. statistik deskriptif B. simpangan baku C. analisis hubungan D. analisis komparatif ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 257 Topik 2 Analisis Data Kualitatif A nalisis data dalam penelitian kualitatif berbeda dengan analisis data dalam penelitian kuantitatif. Analisis data kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan.

Tujuan akhir analisis ini adalah memperoleh makna, menghasilkan pengertian- pengertian, konsep-konsep serta mengembangkan hipotesis atau teori baru. Analisis data kualitatif adalah proses mencari serta menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan metode lainnya sehingga mudah dipahami agar dapat diinformasikan kepada orang lain (Bogdan, 1984).

Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dikaji sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan untuk disampaikan kepada orang lain. Ketika peneliti mulai memasuki kegiatan lapangan untuk mengumpulkan data, peneliti melanjutkan analisis data.

Sebagai contoh, ketika peneliti melakukan wawancara mendalam, analisis dilakukan terhadap informasi hasil wawancara. Apabila jawaban tersebut dirasakan belum dapat memberikan kesimpulan, peneliti melanjutkan wawancara dengan mengajukan pertanyaan lanjutan sampai diperoleh data dirasa cukup dalam pengambilan kesimpulan. Miles and Huberman (1984) menyatakan bahwa kegiatan dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus, sehingga datanya jenuh.

Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru. A. PROSES ANALISIS DATA KUALITATIF Tahapan dalam analisis meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), serta penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/ verification). 1. Reduksi Data Reduksi data adalah proses analisis untuk memilih, memusatkan perhatian, meyederhanakan, mengabstraksikan serta mentransformasikan data yang muncul dari catatan-catatan lapangan (Patilima, 2005).

Mereduksi data berarti membuat rangkuman, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, mencari tema dan pola, serta membuang yang dianggap tidak perlu.

Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih spesisifik dan mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya serta mencari data tambahan jika diperlukan. 258 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Semakin lama peneliti berada di lapangan, jumlah data akan semakin banyak, semakin kompleks dan rumit. Untuk itulah diperlukan reduksi data sehingga data tidak betumpuk dan mempersulit analisis selanjutnya.

Reduksi data dilakukan dengan pertimbangan bahwa data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dipilah sesuai dengan kebutuhan dalam pemecahan masalah penelitian.

Dalam mereduksi data setiap peneliti berpedoman pada oleh pertanyaan penelitian yang harus dijawab berdasarkan data. Jawaban pertanyaan tersebut merupakan wujud nyata temuan penelitian. Ketika peneliti menemukan data yang belum jelas dan belum memiliki pola perlu segera dilakukan penelaahan melalui proses reduksi untuk memahami makna yang terkandung dalam data tersebut. Bagi peneliti pemula, reduksi data dapat dilakukan melalui diskusi dengan teman sejawat atau orang yang dipandang ahli dalam bidangnya.

Diskusi akan membuka dan mengembangkan wawasan peneliti sehingga dapat mereduksi data dengan baik. Reduksi data yang baik akan menghasilkan sejumlah data yang memiliki nilai-nilai temuan sebagai bahan untuk menarik kesimpulan.

2. Penyajian Data Setelah data direduksi, langkah analisis selanjutnya adalah penyajian data (data display). Penyajian data dilakukan agar data hasil reduksi terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga makin mudah dipahami. Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian narasi, bagan, hubungan antar kategori, diagram alur (flow chart), dan lain-lain.

Penyajian data dalam bentuk-bentuk tersebut akan memudahkan peneliti memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja penelitian selanjutnya. 3. Verifikasi Data Langkah berikutnya dalam proses analisis data kualitatif adalah menarik kesimpulan berdasarkan temuan dan melakukan verifikasi data.

Kesimpulan awal yang dikemukan masih bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung tahap pengumpulan data berikutnya. Proses untuk mendapatkan bukti-bukti inilah yang disebut sebagai verifikasi data. Apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang kuat dalam arti konsisten dengan kondisi yang ditemukan saat peneliti kembali ke lapangan maka kesimpulan yang diperoleh merupakan kesimpulan yang tepat.

Sejak awal pengumpulan data, peneliti sebaiknya mulai memutuskan antara data yang mempunyai pedoman data mana yang tidak tepat untuk dikumpulkan dan data manaya yang tepat untuk dikumpulkan. Pada langkah verifikasi ini peneliti sebaiknya masih tetap terbuka untuk menerima masukan data.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 259 Saat peneliti turun ke lapangan untuk pengumpulan data, biasanya mereka mendapatkan bahwa sebenarnya banyak bentuk dan ragam gejala atau informasi yang ditemui, tetapi tidak semua data dapat diproses penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk diambil sebagai pendukung fokus penelitian, atau mengarah pada tercapainya kesimpulan. Memilih data yang memenuhi persyaratan tersebut tidaklah mudah.

Proses tersebut di samping memerlukan ketelitian dan kecermatan, peneliti harus menggunakan metode yang variatif dan tepat agar diperoleh data yang dapat digunakan untuk tujuan reduksi. B. JENIS ANALISIS DATA KUALITATIF Jenis analisis data kualitatif beraneka ragam. Secara umum, model analisis data terbagi menjadi tiga kelompok yaitu: 1.

Kelompok metode analisis teks dan bahasa. Contoh jenis analisis kualitatif pada kelompok ini adalah analisis isi (content analysis), analisis semiotik, dan analisis wacana. 2. Kelompok metode analisis tema-tema budaya. 3. Contoh jenis analisis kualitatif pada kelompok ini adalah analisis struktural, domain analysis, taxonomy analysis, grounded analysis, dan ethnology. Kelompok analisis kinerja, perilaku seseorang dan perilaku institusi.

Contoh jenis analisis kualitatif pada kelompok ini adalah studi kasus, analisis SWOT, dan biografi. Kita akan membahas salah satu jenis analisis data kualitatif yang umum digunakan oleh peneliti yaitu analisis isi. Analisis isi merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui kesimpulan dari sebuah teks.

Atau dengan kata lain, analisis isi merupakan metode penelitian yang ingin mengungkapkan gagasan penelti (Weber, 1990). Krippendorff (2004) memberikan gambaran mengenai tahapan-tahapan yang ada di dalam analisis isi. Tahapan tersebut terdiri dari 6 (enam) tahapan, yaitu: 1. Unitizing, adalah upaya untuk mengambil data yang tepat dengan kepentingan penelitian yang mencakup teks, gambar, suara, dan data-data lain yang dapat diobservasi lebih lanjut.

Unit adalah keseluruhan yang dianggap istimewa dan menarik oleh peneliti yang merupakan elemen independen. Unit adalah objek penelitian yang dapat diukur dan dinilai dengan jelas, oleh karenanya harus memilah sesuai dengan 2.

260 pertanyaan penelitian yang telah dibuat. Sampling, adalah cara peneliti untuk memudahkan penelitian dengan membatasi observasi yang merangkum semua jenis unit yang ada. Dengan demikian didapatkan unit-unit yang memiliki tema/karakter yang sama. Dalam pendekatan kualitatif, sampel Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 3. 4. 5. 6. tidak harus digambarkan dengan statistik. Dalam perdekatan ini kutipan-kutipan serta contoh-contoh, memiliki fungsi yang sama sebagai sampel.

Sampel dalam bentuk ini digunakan untuk mendukung atas pernyataan inti dari peneliti. Recording, dalam tahap ini peneliti mencoba menjembatani jarak (gap) antara unit yang ditemukan dengan pembacanya. Perekamaan di sini dimaksudkan bahwa unit-unit dapat digunakan berulang ulang tanpa harus mengubah makna. Recording berfungsi untuk menjelaskan kepada pembaca data untuk menjembatani kepada situasi yang berkembang pada waktu unit itu muncul dengan menggunakan penjelasan narasi.

Reducing, tahap ini dibutuhkan untuk penyediaan data yang efisien. Hasil dari pengumpulan unit dapat tersedia lebih singkat, padat, dan jelas. Inferring, tahap ini mencoba menanalisa data lebih jauh, yaitu dengan mencari makna data unit-unit yang ada. Dengan begitu, tahap ini akan menjembatani antara sejumlah data deskriptif dengan mengarahkan pembaca teks.

Naratting, merupakan tahapan terakhir. Narasi merupakan upaya untuk menjawab pertanyaan penelitian. Dalam narasi biasanya juga berisi informasi-informasi penting sehingga dapat mengambil keputusan berdasarkan hasil penelitian yang ada. Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut!

1) 2) 3) Jelaskan perbedaan analisis data kualitatif dengan analisis data kuantitatif! Jelaskan tahapan pada proses penelitian kualitatif! Jelaskan tahapan pada analisis isi! Petujuk Jawaban Latihan 1) penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk 3) Analisis data kualitatif bersifat menguji hipotesis, induktif dan berkelanjutan. Sedangkan pada analisis kualitatif bersifat memperoleh makna, menghasilkan pengertianpengertian, konsep-konsep serta mengembangkan hipotesis atau teori baru.

Tahapan pada proses peneltian kualitatif adalah data yang telah diperoleh dipilih yang sesuai dengan topik penelitian (reduksi data), kemudian data disajikan ke dalam bentuk penyajian data bisa berupa narasi maupun tabel (penyajian data), dan selanjutnya data tersebut dibuktikan dengan dokumen pendukung (verifikasi). Tahapan analisis isi adalah mengambil data yang tepat untuk diobservasi lebih lanjut dalam penelitian (unitizing), membatasi observasi (sampling), menjembatani hasil ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 261 temuan (recording), meringkas hasil temuan (reducing), menganalisa data lebih jauh (inferring), dan menjawab tujuan penelitian (narrating).

Ringkasan 1. 2. 3. Pada analisis data kualitatif penarikan kesimpulan tidak dilakukan dengan pengujian secara statistik. Jika dalam kuantitatif dilakukan uji hipotesis, maka pada kualitatif dilakkan pengembangan hipotesis atau bahkan penemuan teori baru. Tahapan pada proses peneltian kualitatif adalah data yang telah diperoleh dipilih yang sesuai dengan topik penelitian (reduksi data), kemudian data disajikan ke dalam bentuk penyajian data bisa berupa narasi maupun tabel (penyajian data), dan selanjutnya data tersebut dibuktikan dengan dokumen pendukung (verifikasi).

Jenis analisis data kualitatif dibedakan berdasarkan: a. Kelompok metode analisis teks dan bahasa. Contoh jenis analisis kualitatif pada kelompok ini adalah analisis isi (content analysis), analisis semiotik, dan analisis wacana. b. c. Kelompok metode analisis tema-tema budaya. Contoh jenis analisis kualitatif pada kelompok ini adalah analisis struktural, domain analysis, taxonomy analysis, grounded analysis, dan ethnology.

Kelompok analisis kinerja, perilaku seseorang dan perilaku institusi. Contoh jenis analisis kualitatif pada kelompok ini adalah studi kasus, analisis SWOT, dan biografi. Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 262 1) Pengujian statistik tidak diperlukan pada analisis .… A. data kualitatif B.

data kuantitatif C. univariat D. bivariat 2) Proses dalam analisis data kualitatif adalah… A. analisis data → reduksi data → penyajian data B. reduksi data → penyajian data → verifikasi data Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ C.

D. 3) verifikasi → reduksi data → penyajian data reduksi data → analisis → verifikasi data Proses memilih hingga mentransformasikan data dari catatan lapangan merupakan tahapan .… A. reduksi data B. penyajian data C. verifikasi D. pengujian 4) Data hasil reduksi kemudian disusun dalam bentuk narasi merupakan tahapan .… A. reduksi data B. penyajian data C. verifikasi D. pengujian 5) Penemuan bukti untuk melengkapi data yang telah disusun merupakan tahapan .… A.

reduksi data B. penyajian data C. verifikasi D. pengujian 6) Yang bukan termasuk kelompok jenis analisis data kualitatif adalah kelompok .… A. metode analisis teks dan bahasa B. metode analisis tema budaya C.

D. 7) analisis kinerja metode analisis korelasional Yang termasuk ke dalam jenis analisis data kualitatif kelompok analisis teks dan bahasa adalah .… A.

analisis isi B. domain analysis C. biografi D. grounded analysis ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 263 8) Yang termasuk ke dalam jenis analisis tema budaya adalah .… A. analisis isi B. domain analysis C. biografi D. analisis swot 9) Yang termasuk ke dalam jenis analisis kinerja adalah . A. analisis isi B. C. D. 10) Yang bukan termasuk tahapan dalam analisis isi adalah .… A. unitizing B. sampling C. recording D.

264 domain analysis analisis swot analisis wacana reduction Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) C.

2) A. 3) B. 4) C. 5) 6) 7) 8) 9) 10) D. D. C. D. C. D. Tes 2 1) A. 2) B. 3) A. 4) B. 5) C. 6) D. 7) A. 8) B. 9) C. 10) D. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 265 Glosarium Data Reduction: Proses analisis data kualitatif untuk memilih hingga mentransformasikan data dari catatan lapangan Display Data : Proses analisis data kualitatif untuk mengubah data ke dalam bentuk narasi atau diagram alur Verification : Proses analisis data kualitatif untuk mencari bukti melengkapi data hasil penelitian 266 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Daftar Pustaka Krippendorff, Klaus.

(2004). Content Analysis: An Introductions to its Methodology (Second Edition). California: Sage Publication Milles, M.B. and Huberman, M.A. (1984). Qualitative Data Analysis. London: Sage Publication Patilima, Hamid. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2005). Metode Penelitian Kuanlitatif Kuatitatif Dan R&D. Bandung: CV. Afabeta Suryabrata, Sumadi. 1998. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada Weber, Robert Philiph. (1990). Basic Content Analysis. California: Sage Publication. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 267 Bab 9 LAPORAN PENELITIAN DAN PUBLIKASI Nauri Anggita Temesvari, SKM, MKM Pendahuluan M odul ini akan memandu Anda untuk mebuat laporan penelitian dan selanjutnya membuat publikasi ilmiah.

Pada laporan penelitian akan dibahas teknik penyajian data sebagai bentuk visualisasi dari hasil penelitian yang kita lakukan. Selain itu, pada bab ini juga akan dijelaskan cara menyusun sistematika penelitian, yaitu susunan isi dari laporan penelitian mulai dari bagian awal hingga bagian akhir penulisan Publikasi ilmiah adalah tahapan akhir bagi peneliti dalam rangkaian proses penelitian.

Pada tahapan ini, peneliti menyusun bentuk ringkas laporan penelitian. Topik publikasi ilmiah akan menjelaskan teknik pembuatan artikel penelitian. Publikasi ilmiah dilakukan oleh peneliti dengan memasukkan naskah ilmiah ke dalam jurnal penelitian maupun pembicara di forum ilmiah.

Setelah mempelajari Bab 9, mahasiswa diharapkan dapat membuat laporan penelitian sesuai sistematika penelitian yang berlaku umum serta mampu menyusun publikasi ilmiah di bidang rekam medis dan informasi kesehatan. Selain itu secara khusus mahasiswa mampu untuk: 1. menyusun laporan penelitian 2. menyusun publikasi ilmiah 268 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 1 Laporan Penelitian A. PENYAJIAN DATA Penyajian data merupakan kegiatan dalam pembuatan laporan hasil penelitan sehingga dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Data yang disajikan harus sederhana dan jelas agar muda dibaca. Tujuan penyajian data adalah: 1. memberikan gambaran yang sistematis tentang kejadian yang merupakan hasil penelitian atau observasi 2. data lebih cepat ditangkap dan dimengerti 3. memudahkan dalam membuat analisis data 4. membuat proses pengambilan keputusan dan kesimpulan lebih tepat, cepat, dan akurat. Berikut ini akan dijelaskan bentuk penyajian data sesuai dengan hasil penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif.

1. Penyajian Data Dalam Bentuk Tabel Tabel adalah kumpulan data penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk disusun berdasarkan baris dan kolom. Penyajian data dalam bentuk tabel merupakan susunan angka yang singkat dan jelas dalam baris dan kolom, sehingga memberikan deskripsi atau perbandingan. Persyaratan tabel lengkap adalah: a. Kepala tabel Kepala tabel terdiri dari: • Nomor tabel • Judul tabel diletakkan simetris di atas tabel, berisi keterangan apa, di mana dan kapan tentang isi tabel tersebut.

b. Leher tabel Leher tabel memuat keterangan atau judul kolom yang harus ditulis dengan singkat dan jelas. c. Badan tabel Badan tabel antara lain berisi penjelasan tentang keterangan baris dan kolom Keterangan baris dan kolom harus informatif agar pembaca mudah dipahami. Keterangan yang tertulis pada baris di dalam tabel dapat disusun menurut: • Abjad, misalnya nama-nama orang ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 269 • • • • Geografis, misalnya nama-nama kota yang ada di suatu provinsi Perkembangan waktu, misalnya urutan hari, bulan atau tahun Besarnya angka kejadian Tingkatan, contohnya pendidkan dari SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi d.

Catatan kaki Catatan kaki menjelaskan hal-hal yang tidak bisa ditulis dalam badan tabel, misalnya sumber data dalam tabel. e. Penjelasan tabel dalam bentuk narasi merupakan penjelasan tabel secara singkat. Contoh tabel: Tabel 9.1 Tingkat Pendidikan Karyawan No.

Tingkat Pendidikan Jumlah (n) % 1. SD 0 0% 2. SMP 15 15% 3. SMA 55 55% 4. Perguruan Tinggi 30 30% 100 100% Total Sumber: Data Kepegawaian RS X Tahun 2017 Beberapa tabel yang sering digunakan dalam penelitian kesehatan antara lain sebagai berikut: a. Tabel distribusi frekuensi Tabel distibusi frekuensi adalah tabel yang menjelaskan banyaknya kejadian atau frekuensi dari suatu kejadian.

Penyajian tabel distribusi frekuensi dengan data kategori adalah: 1. menentukan kelas atau interval kategori 2. menghitung frekuensi atau jumlah setiap kategori 3.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

menghitung persentase dari tiap nilai interval 4. membuat tabel distribusi frekuensi. Contoh: Dari pengumpulan data sekunder di RS Z, didapatkan bahwa pada tahun 2017 Jumlah kunjungan poliklinik pada bulan Januari 200 orang, Februari 230 orang, Maret 345 orang, April 270 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 276 orang, Mei 300 orang, Juni 287 orang, Juli 314 orang, Agustus 255 orang, September 300 orang, Oktober 288 orang, November 354 orang, dan Desember 376 orang.

Dari data tersebut tabel distribusi frekuensinya adalah sebagai berikut: Tabel 9.2 Kunjungan Poliklini RS Z pada Tahun 2017 No. Bulan Jumlah (n) % 1. Januari 200 5% 2. Februari 250 7% 3. Maret 354 10% 4. April 276 8% 5. Mei 300 8% 6. Juni 287 8% 7. Juli 314 9% 8. Agustus 255 7% 9. September 300 8% 10. Oktober 288 8% 11. November 354 10% 12. Desember 376 3554 10% Total 100% Sumber: Laporan Kunjungan Poliklinik RS Z Tahun 2017 b. Tabel klasifikasi Tabel klasifikasi adalah tabel yang menjelaskan pengelompokan data.

Tabel klasifikasi dapat berupa tabel klasifikasi tunggal dan ganda. Contoh tabel klasifikasi tunggal: Dari pengumpulan data sekunder di RS Z, didapatkan bahwa pada tahun 2017 Jumlah pegawai yang tetap berjenis kelamin wanita adalah 60 orang dan berjenis kelamin pria adalah 40 orang.

Dari data tersebut tabel klasifikasinya adalah sebagai berikut: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 271 Tabel 9.3 Jenis Kelamin Karyawan RS Z Tahun 2017 No. Jenis Kelamin Jumlah (n) % 1. Wanita 60 60% 2.

Pria 40 40% 100 100% Total Sumber: Data Kepegawaian RS Z Tahun 2017 Dari tabel tersebut dapat dinyatakan pada Tahun 2017, karyawan RS Z yang berjenis kelamin wanita adalah 60% dan berjenis kelamin pria adalah 40%. Contoh tabel klasifikasi ganda: Dari pengumpulan data sekunder di RS Z, didapatkan bahwa pada tahun 2017 jumlah pegawai yang tetap berjenis kelamin wanita adalah 60 orang, dengan jumlah pegawai tetap 20 orang dan pegawai tidak tetap 40 orang. Sedangkan pegawai yang berjenis kelamin pria adalah 40 orang, dengan jumlah pegawai tetap 20 orang dan pegawai tidak tetap 20 orang.

Dari data tersebut tabel klasifikasinya adalah sebagai berikut: Tabel 9.4 Jenis Kelamin Karyawan RS Z Berdasarkan status kepegawaiannya pada Tahun 2017 No. Jenis Kelamin Status Kepegawaian Tetap Tidak Tetap Jumlah 1. Wanita 20 40 60 2. Pria 40 20 40 60 60 100 Total Sumber: Data Kepegawaian RS Z Tahun 2017 c. 272 Tabel kontingensi Tabel kontingensi adalah tabel yang menjelaskan data sesuai dengan rinciannya.

Tujuan pembuatan kontingensi/ silang adalah melihat hubungan atau perbedaan antara dua variabel. Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh tabel kontingensi: Tabel 9.5 Distribusi Kepatuhan Pengisian Resume Medis berdasarkan Status Kepegawaian Responden Status Kepegawaian Kepatuhan Total (%) Patuh (%) Tidak Patuh (%) PNS 32 (70%) 13 (30%) 45 (45%) Non PNS 17 (30%) 38 (70%) 55 (55%) Jumlah 49 (49%) 51 (51%) 100 (100%) Dari tabel di atas didapatkan bahwa pegawai PNS yang patuh dalam mengisi resume medis sebesar 70%.

Sedangkan pegawai Non PNS yang patuh dalam mengisi resume medis sebesar 30%. 2. Penyajian Data Dalam Bentuk Diagram/ Grafik Diagram atau grafik menurut Somantri (2006) adalah gambar yang menunjukan data secara visual dan didasarkan pada nilai-nilai pengamatan aslinya maupun tabel yang telah dibuat sebelumnya.

Adapun tujuan menyajikan data dalam bentuk diagram/ grafik adalah membantu visualisasi data yang besar dan kompleks menjadi lebih sederhana. Jenis diagram/ grafik adalah sebagai berikut: a. Diagram Batang Hasan (2011) menyatakan grafik batang atau balok adalah grafik data berbentuk persegi panjang yang lebarnya sama dan dilengkapi dengan skala ukuran data. Diagram batang digunakan untuk data yang berbentuk kategori.

Contoh: Dengan menggunakan tabel 9.4, maka diagram batang yang dihasilkan adalah sebagai berikut: ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 273 Status Kepegawaian Grafik 9.1 Jumlah Pegawai Kelamin Karyawan RS Z Berdasarkan Jenis dan status penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk pada Tahun 2017 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 40 40 20 20 Wanita Pria Jenis Kelamin Tetap b.

Tidak Tetap Diagram Garis Hasan (2011) menyatakan grafik garis adalah grafik data yang berupa garis, diperoleh dari beberapa ruas garis yang menghubungkan titik-titik pada bilangan.

Contoh: Dengan menggunakan Tabel 9.2, maka diagram garis yang dihasilkan adalah sebagai berikut: Grafik 9.2 Kunjungan Poliklini RS Z pada Tahun 2017 376 400 354 300 300 354 300 287 276 250 200 314 288 255 200 100 0 Jan Feb Mar April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des Kunjungan Poliklinik c. Diagram Lingkaran Hasan (2011) menyatakan grafik lingkaran (pie diagram) adalah grafik data berupa lingkaran yang telah dibagi menjadi bagian sesuai data tersebut.

274 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Contoh: Dengan menggunakan Tabel 9.3, maka diagram lingkarannya adalah sebagai berikut: Grafik 9.3 Persentase Karyawan berdasarkan Jenis Kelamin RS Z Tahun 2017 40% 60% Wanita d.

penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk

Pria Histogram dan Poligon Frekuensi Hasan (2011) menyatakan histogram adalah bentuk grafik yang menggambarkan sebaran distribusi frekuensi. Data yang digunakan pada histogram bersifat kontinyu. Diagram pada histogram yang bentuknya seperti diagram batang dengan sisi-sisi dari batang-batang yang berdekatan harus berhimpitan.

Pada tepi masing-masing kotak/batang ditulis nilai tepi kelas yang diurutkan dari tepi bawah ke tepi atas kelas. Contoh: Dari laporan kunjungan poliklinik RS Z pada tahun 2017 didapatkan jenis pasien berdasarkan kategori umur sebagai berikut: Tabel 9.6 Laporan kunjungan poliklinik RS Z pada Bulan Desember 2017 berdasarkan kategori umur Usia Pasien Jumlah 5-9 276 10-14 117 15-19 134 20-24 107 25-29 189 30-34 195 ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 275 Usia Pasien Jumlah 35-39 217 40-44 267 45-49 243 50-54 325 55-59 265 60-64 331 Total 2666 Grafik 9.4 Kunjungan Poliklinik RS Z pada Bulan Desember 2017 berdasarkan kategori umur 350 300 250 200 150 100 50 0 4,5 e.

9,5 14,5 19,5 24,5 29,5 34,5 39,5 44,5 49,5 54,5 59,5 63,5 67,5 Penyajian data kualitatif Penyajian data kualitatif dilakukan dengan memilih kata-kata yang diucapkan informan. Tidak semua catatan pada saat turun lapangan harus diolah dan disajikan pada laporan. Semua data yang disajikan haruslah informasi yang sesuai untuk menjawab rumusan masalah.

Pemaparan data kualitatif ditunjukkan melalui kutipan-kutipan dari hasil wawancara. Beberapa kesalahan dalam menyajikan data kualitatif adalah: 1. Terlalu banyak kutipan hasil wawancara, sedangkan pada metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan telaah dokumen. 2. Penyajian data dilakukan monoton.

Misalnya penyajian data hasil wawancara dituliskan terlebih dahulu pada satu bagian, kemudian dilanjutkan penyajian data hasil observasi. Sebaiknya penyajian data dilakukan secara bergantian pada tiap variabel yang dibahas, sehingga triangulasi dalam penelitian kualitatif dapat terlihat secara jelas 276 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ B.

SISTEMATIKA PENULISAN Karya Tulis Ilmiah (KTI) terdiri dari bagian awal, bagian utama, dan bagian akhir. Penjelasan dari tiap bagian adalah sebagai berikut: 1. a. Bagian Awal Halaman Sampul Muka dan Halaman Judul Halaman sampul muka memuat: • • • b. Judul penelitian, dibuat singkat dan jelas menunjukkan dengan tepat masalah yang diteliti sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang beragam Nama lengkap mahasiswa kemudian Nomor Induk Mahasiswa (NIM) Instansi pendidikan dan tahun penyelenggaraan KTI Kata Pengantar Kata pengantar merupakan rasa terima kasih yang dituliskan peneliti kepada semua pihak yang membantu penyelesaian KTI.

Namun perlu diperhatikan, ucapan terima kasih dituliskan secara singkat dan tetap menggunakan pedoman penulisan yang benar. c. Halaman Pengesahan Halaman pengesahan berisi persetujuan dari pembimbing maupun penguji KTI.

d. Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Singkatan • Daftar isi merupakan daftar tiap bab pada KTI serta nomor halamannya. • Daftar tabel/gambar adalah daftar tabel/gambar pada KTI serta nomor halamannya. • e. Daftar singkatan adalah daftar singkatan pada KTI Abstrak Abstrak adalah deskripsi singkat tentang hasil penelitian hingga kesimpulan dan saran. Abstrak umumnya terdiri dari 200-250 kata dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

2. Bagian Utama Bagian utama KTI meliputi beberapa bab, yaitu Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Tinjauan Pustaka, Bab 3 Metodologi Penelitian, Bab 4 Hasil Penelitian, Bab 5 Pembahasan, Bab 6 Kesimpulan dan Saran.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 277 a. Bab 1: Pendahuluan • Latar belakang penelitian, berisi hal-hal yang menjadi permasalahan penelitian • Rumusan masalah, menjelaskan alasan masalah tersebut menarik untuk diteliti • Tujuan penelitian, menjelaskan jawaban yang hendak dicari dalam menyelesaikan masalah penelitian • Manfaat penelititan, menjelaskan manfaat yang akan diperoleh pada penelitian b.

Bab 2: Tinjauan Pustaka • • • Landasan Teori memuat uraian sistematis tentang teori yang digunakan oleh peneliti terkait topik masalah penelitian.

Kerangka Berpikir memuat ilustrasi yang menggambarkan hasil teori sebagai landasan pembuatan kerangka konsep. Kerangka berpikir juga harus disertakan dengan narasi. Kerangka Konsep memuat ilustrasi dari dari kerangka berpikir yang telah disesuaikan dengan operasional penelitian.

Pada kerangka konsep juga dijelaskan dengan narasi. • • c. Bab 3: Metodologi Penelitian • • • • 278 Hipotesis Penelitian, jika penelitian menggunakan pendekatan kuantititaf maka diperlukan penulisan hipotesis penelitian. Namun, jika menggunakan penelitian kualitatif tidak membutuhkan hipotesis penelitian. Definisi operasional yang dibuat ke dalam tabel berisi uraian singkat terkait komponen dalam variabel penelitian. Isi tabel definisi operasional antara lain: no., nama variabel, definisi operasional, indikator, cara ukur, alat ukur, hasil ukur, dan skala ukur (jika penelitian kualitatif, tidak memerlukan kolom skala ukur).

Jenis Penelitian merupakan rancangan penelitian yang digunakan oleh peneliti. Secara garis besar pendekatan penelitian dibedakan menjadi pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Selanjutnya peneliti dapat menentukan desain penelitian apa yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Lokasi dan Waktu Penelitian menjelaskan lokasi spesifik peneltian berlangsung dan waktu penelitian dimulai dari proses pencarian masalah, pembuatan instrumen, pengumpulan data, analisis data, hingga diseminasi laporan KTI.

Populasi dan Sampel menjelaskan keseluruhan subjek penelitian dan juga sampel yang dibutuhkan. Pengambilan sampel dapat menggunakan teknik probability sampling dan non probability sampling. Etika Penelitian memuat upaya yang diakukan peneliti dalam menerapkan etika penelitian. Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ • • Teknik Pengumpulan Data memuat tentang instrumen yang digunakan dalam penelitian juga upaya menjaga keabsahan instrumen. Teknik Analisis Data memuat teknik pengolahan data dan analisis data yang ditentukan oleh peneliti.

d. Bab 4: Hasil Hasil merupakan uraian dari tujuan penelitian yang disajikan berupa tabel, grafik, gambar, maupun narasi. e. Bab 5: Pembahasan Pembahasan adalah membanding hasil dengan teori serta penelitian lain terkait penelitian. f. Bab 6: Penutup Penutup pada KTI terdiri dari kesimpulan dan saran. Kesimpulan adalah uraian singkat menjawab seluruh tujuan penelitian yang hendak dicapai. Sedangkan saran adalah rekomendasi yang diberikan oleh peneliti terkait kesenjangan (gap) pada penelitian.

3. Bagian Akhir Bagian akhir dari laporan KTI adalah daftar pustaka dan lampiran. Daftar pustaka merupakan daftar referensi yang digunakan sesuai pedoman penulisan daftar pustaka. Sedangkan pada lampiran adalah informasi pelengkap yang diperlukan pada penelitian, misalnya instrumen penelitian. Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! (Baca pernyataan di bawah ini, untuk menjawab latihan no. 1 dan 2) Suatu penelitian ingin mengetahui gambaran pengetahuan tentang koding diagnosis pasien pada petugas koder RS X pada Tahun 2017.

Dari hasil penelitian tersebut didapatkan jumlah responden sebanyak 150 orang. Responden dengan pengalaman kerja: <3 tahun sebanyak 20 orang, 3-5 tahun sebanyak 100 orang, dan > 5 tahun sebanyak 20 orang.

Jumlah responden < 3 tahun dengan pengetahuan baik sebanyak 8 orang. Sedangkan responden 3-5 tahun dengan pengetahuan baik sebanyak 78 orang, dan > 5 tahun sebanyak 12 orang. 1) Dari hasil penelitian tersebut, buatlah tabel kontingensinya!

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 279 2) 3) Dari hasil penelitian tersebut, buatlah diagram lingkaran persentase pengetahuan petugas koding yang baik dan kurang baik! Bagaimana keterkaitan tujuan dan kesimpulan pada laporan karya tulis ilmiah! Petunjuk Jawaban Latihan 1) a. b. Pahami kembali pembuatan tabel kontingensi Langkah pembuatan tabel kontingensi adalah sebagai berikut: ▪ ▪ ▪ Susun baris tabel dengan kategori “Pengalaman Kerja” dan kolom tabel dengan kategori “Pengetahuan” Buat tabel silang, memuat frekuensi dari masing-masing kategori Isi tabel terlebih dahulu dari informasi yang didapatkan pada penjelasan soal kemudian lengkapi informasi lainnya, sehingga didapatkan tabel sebagai berikut: Tabel 1 Distribusi Pengetahuan berdasarkan Pengalaman Kerja Responden RS X Th.

2017 Pengalaman Kerja <3 th 3-5 th >5 th Jumlah Pengetahuan Baik Kurang Baik 8 (20-8) 78 (100-78) 12 (20-12) (8+78+12) (140-(8+78+12)) Total 20 100 20 140 Isi informasi yang tersedia terlebih dahulu Sehingga didapatkan tabel sebagai berikut: Tabel 1 Distribusi Pengetahuan berdasarkan Pengalaman Kerja Responden RS X Th. 2017 280 Pengetahuan Pengalaman Kerja Baik Kurang Baik <3 th 8 12 20 3-5 th 78 12 100 >5 th 12 8 penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk Jumlah 108 32 140 Total Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 2) a.

b. Pahami kembali pembuatan diagram lingkaran Langkah pembuatan diagram lingkaran adalah sebagai berikut: ▪ Buat informasi ke dalam tabel distribusi frekuensi Tabel 2 Distribusi Pengetahuan Responden RS X Th. 2017 Pengetahuan Pengalaman ▪ Total (%) Kerja Baik (%) Kurang Baik (%) <3 th 8 (40%) 12 (60%) 20 (14%) 3-5 th 78 (78%) 12 (12%) 100 (72%) >5 th 12 (60%) 8 (40%) 20 (14%) Jumlah 108 (77%) 32 (23%) 140 Informasi yang dibutuhkan untuk membuat diagram Sehingga didapatkan diagram sebagai berikut: Grafik 1 Distribusi Pengetahuan Responden RS X Th.

2017 23% 77% Baik 3) Kurang Baik ujuan merupakan uraian tentang variabel-variabel penelitianyang akan dikumpulkan dan dianalisis datanya. Sedangkan kesimpulan adalah uraian singkat jawaban dari tujuan tersebut.

Ringkasan 1. 2. Penyajian data merupakan kegiatan dalam pembuatan laporan hasil penelitan yang sehingga dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Tujuan penyajian data adalah: a. memberikan gambaran yang sistematis tentang kejadian yang merupakan hasil penelitian atau observasi ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 281 b. c. d. 3. 4. data lebih cepat ditangkap dan dimengerti memudahkan dalam membuat analisis data membuat proses pengambilan keputusan dan kesimpulan lebih tepat, cepat, dan akurat. Penyajian data dalam penelitian dapat berupa tabel, diagram/grafik, dan narasi. Sistematika penelitian terdiri dari: a. bagian awal, antara lain terdiri dari halaman judul, kata pengantar, daftar isi, abstrak b.

c. bagian utama, terdiri dari bab pendahuluan hingga bab penutup bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Penyajian data merupakan proses dalam penelitian berupa .… A. B. C. D. 2) Yang bukan termasuk tujuan penyajian data adalah .… A. memberikan gambaran yang sistematis tentang kejadian yang merupakan hasil penelitian atau observasi B.

memudahkan dalam membuat analisis data C. D. 3) menyulitkan proses pengambilan keputusan dan kesimpulan lebih tepat, cepat, dan akurat data lebih cepat dimengerti Yang bukan termasuk persyaratan tabel lengkap adalah .… A. kepala tabel B. warna tabel C. narasi tabel D. 282 mengubah jawaban hasil kuesioner menjadi kode-kode mengumpulkan data menggunakan metode pengumpulan data memberikan visualisasi dari hasil penelitian mengkaji referensi ilmiah yang tepat terkait topik penelitian catatan kaki Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 4) Tabel yang menjelaskan banyaknya kejadian atau frekuensi dari suatu kejadian adalah .

A. tabel distribusi frekuensi B. tabel kontingensi C. diagram batang D. histogram 5) Tabel yang bertujuan melihat hubungan atau perbedaan antara dua variabel adalah .… A. B. C. D. 6) tabel distribusi frekuensi tabel kontingensi diagram batang histogram Pada bab pendahuluan deskripsi masalah penelitian dimuat dalam .… A. latar belakang B.

manfaat C. D. tujuan hasil 7) Pengkajian referensi terkait topik penelitian dimuat dalam .… A. pembahasan B. landasan teori C. pendahuluan D. hasil 8) Penyajian data yang telah dikumpulkan dalam bentuk narasi, tabel, grafik dimuat dalam .… A.

penutup B. hasil C. tinjauan pustaka D. pendahuluan 9) Rancangan penelitian dengan menentukan pendekatan penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif dimuat dalam .… A. metodologi penelitian B. pendahuluan ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 283 C. D. 10) Uraian jawaban secara singkat dari keseluruhan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian dimuat dalam .… A.

kerangka konsep B. manfaat C. kesimpulan D. 284 hasil penutup saran Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Topik 2 Publikasi Hasil Penelitian K arya Tulis Ilmiah (KTI) atau biasa disebut scientific paper adalah tulisan atau laporan tertulis yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian suatu masalah oleh peneliti dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh sekelompok keilmuan.

Data yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya. Karya ilmiah juga sering disebut academic writing karena biasa ditulis oleh kalangan kampus perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa. Karya ilmiah berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berupa penjelasan (explanation), prediksi (prediction), dan pengawasan (control).

Karakteristik karya ilmiah yang membedakannya dengan tulisan non-ilmiah antara lain: 1. Mengacu pada teori sebagai landasan berpikir (kerangka berpikir) dalam pembahasan masalah. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lugas, tidak emosional, bermakna tunggal, tidak menimbulkan interprestasi lain. Logis, yaitu karya ilmiah disusun berdasarkan urutan yang konsisten. Efektif, ringkas dan padat. Efisien, hanya mempergunakan kata atau kalimat yang penting dan mudah dipahami.

Objektif berdasarkan fakta yaitu setiap informasi dalam kerangka ilmiah selalu apa adanya dan apa yang sebenarnya terjadi. Sistematis, baik penulisan dan pembahasan sesuai dengan prosedur dan sistem yang berlaku. Setelah karya ilmiah disusun, tahapan akhir dalam penelitian adalah publikasi. Publikasi hasil penelitian merupakan penyebaran hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti guna mengkomunikasikan hasil penelitian kepada orang lain.

A. JENIS PUBLIKASI HASIL PENELITIAN 1. Jurnal Ilmiah Jurnal ilmiah adalah majalah publikasi yang memuat KTI secara nyata mengandung data dan informasi yang berkaitan dengan Ilmu Pengengetahuan dan Teknologi dan ditulis sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan ilmiah serta diterbitkan secara berkala. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 285 Jurnal ilmiah adalah sebuah kumpulan dari jurnal hasil penelitian. Bentuknya biasanya kurang lebih mirip majalah, namun dengan format berisi kumpulan rangkuman karya ilmiah yang dibuat masing-masing peneliti.

Jurnal ilmiah terbit dalam setiap jangka waktu tertentu (bisa bulanan, semester, atau bahkan tahunan). Jurnal ilmiah diiterbitkan oleh lembaga publikasi ilmiah, baik berupa kampus, perusahaan, ataupun media lainnya.

Salah satu ciri utama dari jurnal ilmiah adalah adanya peer review dari seseorang atau sekelompok orang ahli. Peer review adalah peninjauan, baik dari segi keseuaian isi dengan topik penelitian, sistematika penulisan, hingga penggunaan referensi, untuk menilai seberapa valid dan layak karya tulisan terbit di jurnal tersebut.

Sebuah jurnal biasanya spesifik untuk satu topik tertentu, sebagai contoh jurnal khusus kedokteran, jurnal bidang jaringan komputer, dan jurnal manajemen sumber daya manusia.

Contoh jurnal ilmiah adalah sebagai berikut: 1 (Sumber: 1. 2 http://dellyawallia.web.unej.ac.id/2015/05/07/kumpulan-situs-kesehatandan-keperawatan/ 2. https://www.neliti.com/id/journals/kesmas-jurnalkesehatan-masyarakat-nasional) Gambar 9.1 Contoh Jurnal Ilmiah Kesehatan 286 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 2. Prosiding Proceeding/ Prosiding memuat naskah hasil penelitian atau hasil tinjauan/gagasan yang sudah melalui proses seminar.

Artinya artikel dalam prosiding itu sudah didiseminasikan dalam suatu forum seminar yang dihadiri berbagai pihak. Prosiding menyerupai jurnal. Naskah yang dimuat dalam prosiding sudah melalui tahapan peninjauan oleh ahlinya yang selanjutnya diperbaiki oleh peneliti.

Namun demikian, tidak semua naskah pada prosiding melalui peer review, sehingga membuat prosiding tingkat keilmiahannya tidak sebaik jurnal. 1 (Sumber: 2 1.

http://jurnal.unimus.ac.id/public/journals/21/cover_issue_169_en_US.jpg 2. http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ ) 3. Paper Conference Paper conference pada dasarnya mirip dengan jurnal ilmiah, tetapi biasanya lebih ringkas (jumlah halaman lebih sedikit). Hal ini menjadi pembeda utama dengan jurnal ilmiah yang bisa sangat panjang (rata-rata jurnal minimal 6 halaman, sedangkan paper conference 25 halaman). ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 287 B.

PENYUSUNAN JURNAL ILMIAH 1. Judul Setiap karya ilmiah harus memiliki sebuah judul, sama halnya dengan jurnal yang juga harus memiliki sebuah judul yang jelas. Dengan mengetahui judul dari sebuah karya ilmiah maka pembaca akan langsung mengetahui inti dari karya ilmiah tersebut tanpa harus membaca keseluruhan dari karya ilmiah.

Contoh sebuah karya ilmiah yang berjudul: Analisis Kebutuhan Petugas Rekam Medis Berdasarkan Beban Kerja di Instalasi Rekam Medis RS Y Dari judul tersebut, kita sudah bisa mengetahui isi yang akan dibahas yaitu analisis kebutuhan petugas.

1. Identitas Penulis Identitas penulis ditulis di bawah judul. Terdiri atas nama (tanpa gelar), instansi pendidikan, alamat email. Contoh: Pada penelitian dengan judul pada poin 1 dilakukan oleh 2 peneliti yaitu: a. Muhammad Darojatun, Amd.RMIK, asal instansi pendidikan Prodi DIII RMIK STIKES Sehat Selalu, alamat email: [email protected] b. Ken Ayu, Amd. RMIK, asal instansi pendidikan Prodi DIII RMIK Poltekes Sehat Bugar, alamat email [email protected] Dengan informasi peneliti yang telah ada, maka identitas penulis sebagai berikut: 2.

Muhammad Darojatun 1, Ken Ayu 2 Prodi DIII RMIK STIKES Sehat Selalu1, Prodi DIII RMIK Poltekes Sehat Bugar [email protected], [email protected] 2 3. Abstrak Langkah selanjutnya dalam pembuatan karya ilmiah adalah membuat abstrak. Abstrak di sini berbeda dengan ringkasan, abstrak berfungsi untuk menjelaskan secara singkat tentang kesuluruhan isi karya ilmiah. Abstrak dapat menggunakan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Abstrak bersifat jelas, singkat, dan objektif. Penulisan sebuah abstrak terdiri dari sekitar 200-250 kata yang berisi tentang tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan sebuah karya ilmiah.

Susunan abstrak adalah sebagai berikut: a. Latar belakang: latar belakang adalah alasan penelitian dilakukan atau permasalahan yang diangkat dalam penelitian. 288 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ b. c. d. e. Metode atau pendekatan: jenis penelitian dan populasi serta sampel yang digunakan.

Hasil: hal yang ditemukan pada penelitian. Kesimpulan dan saran: menjawab tujuan dari penelitian beserta rekomendasi yang diajukan. Kata kunci: kata kunci yang menggambarkan inti dari penelitian anda, bisa 3-5 kata kunci. Contoh: ABSTRAK Berdasarkan hasil observasi, RS Y memiliki 7 orang petugas rekam medis yang terdiri dari 4 orang petugas pendaftaran dan 3 orang petugas pengolahan data dan pelaporan.

Petugas pendaftaran terbagi dalam 3 shift yaitu: pagi, siang, malam, dan hari libur. Dengan adanya poliklinik saat shift pagi, petugas pendaftaran yang hanya 1 orang merasa kesulitan dalam melayani pasien. Untuk membantu petugas pendaftaran, biasanya petugas pengolahan data dan pelaporan dilibatkan sehingga akan mempengaruhi beban kerja petugas pengolahan data dan pelaporan.

Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana beban kerja dan kebutuhan petugas rekam medis di RS Y untuk mengetahui kebutuhan petugas secara keseluruhan dengan menggunakan metode WISN (Workload Indicator Staff Need), mengidentifikasi jumlah petugas rekam medis yang tersedia, mengidentifikasi uraian tugas petugas rekam medis, mengidentifikasi hambatan yang ada di Instalasi Rekam Medis dan solusinya, menghitung standar waktu kegiatan di Instalasi Rekam Medis, dan menghitung kebutuhan tenaga berdasarkan beban kerja di Instalasi Rekam Medis.

Jenis penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan rancangan penelitian potong lintang. Sampel penelitian adalah seluruh petugas rekam medis di RS Y. Setelah dilakukan perhitungan kebutuhan petugas dengan rumus WISN ternyata tidak diperlukan penambahan petugas. Hal ini menunjukan bahwa beban kerja yang tinggi bukan karena kurangnya petugas, tetapi karena sistem yang ada di pendaftaran dan poliklinik yang kurang baik.

Saran dari hasil penelitian ini adalah penambahan petugas tidak diperlukan namun perlu perbaikan sistem yang ada. Kata Kunci: Rekam medis, Analisis, Kebutuhan Petugas, Petugas Rekam Medis, Beban Kerja. 4. Pendahuluan Pendahuluan pada karya ilmiah adalah pernyataan dari gambaran masalah yang diinformasikan kepada pembaca sehingga pembaca memahami tujuan dalam melakukan penelitian dan konsep teoritis yang digunakan untuk mendukung tujuan tersebut.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 289 5. Metode Metode menjelaskan tentang proses penelitian tersebut, metode dalam pengumpulan data, gambaran lokasi, dan jenis penelitian. 6. Hasil Dalam bagian ini peneliti menyajikan data yang ringkas dengan tinjauan dalam bentuk teks naratif, tabel, maupun gambar.

Perlu dipahami dalam bagian ini informasi yang diberikan hanya hasil yang disajikan, tidak menyimpulkan data yang ada. Sebuah data yang diinformasikan harus disajikan dalam bentuk tabel/gambar menggunakan teks naratif dan ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Jika menggunakan tabel tidak mengcopy-paste dari laporan penelitian, tetapi membuatnya kembali ke dalam ukuran yang sesuai dengan ketentuan jurnal. Penomoran tabel adalah berurutan. Judul tabel ditulis singkat namun lengkap. Judul dan kepala tabel menggunakan huruf kapital pada awal kalimat penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk atas tabel.

Untuk gambar, diberi nomor sesuai urutan penyebutan dalam teks. Judul singkat, padat dan jelas, terletak di bawah gambar. Maksimal 6 (enam) tabel atau gambar dalan 1 (satu) naskah. 7. Pembahasan Pada bagian pembahasan, peneliti menyajikan data-data yang ada dengan pola yang diamati. Dari setiap hubungan antara variabel penelitian yang penting dan korelasi antarvariabel dapat dilihat dengan jelas. 8. Kesimpulan Kesimpulan ditarik dari keseluruhan penelitian yang telah dilakukan.

Intinya adalah peneliti menjawab pertanyaan yang menjadi tujuan dari penelitian, yaitu capaian dari tujuan penelitian. 9. Saran Dalam bagian ini dari permasalahan yang ditemukan pada hasil dituangkan ke dalam rekomendasi yang peneliti tujukan untuk penyelesaian masalah tersebut.

10. Daftar Pustaka Bagian daftar pustaka merupakan kumpulan dari nama-nama literatur yang kita gunakan sebagai referensi dalam pembuatan jurnal. Dari keseluruhan informasi yang berupa kutipan, kita harus menuliskan daftar pustaka sesuai dengan aturan penulisan daftar pustaka yang baik dan benar.

290 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Beberapa contoh naskah jurnal terkaiit rekam medis maupun kesehatan dapat anda lihat pada website berikut ini: 1. Jurnal Kesehatan Vokasional UGM Halaman website: https://jurnal.ugm.ac.id/jkesvo/index 2. Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Halaman website: https://ojs.iik.ac.id/index.php/wiyata 3.

Jurnal Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Halaman website: http://ejournal.litbang.depkes.go.id/ Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) Jelaskan perbedaan antaran jenis publikasi ilmiah, yaitu jurnal ilmiah, prosiding, dan paper conference!

2) Bagaimana sistematika penulisan jurnal ilmiah! Petunjuk Jawaban Latihan 1) 2) Untuk dapat menjawab latihan di atas, pelajari kembali tentang: Jenis publikasi ilmiah. Pada dasarnya baik jurnal ilmiah, prosiding, maupun press conference hampir sama penulisannya. Untuk menjawab latihan nomor 1 perbedaan dari ketiganya adalah prosiding merupakan kumpulan karya tulis ilmiah yang dipresentasikan pada seminar dalam bentuk buku, sementara jurnal kumpulan karya tulis ilmiah dalam bentuk majalah yang dikeluarkan oleh lembaga dengan waktu penerbitan rutin (bias sebulan, triwulan, atau semester).

Sedangkan paper conference adalah naskah kumpulan naskah ilmiah yang dipublikasikan pada saat konferensi ilmiah. Cara penyusunan jurnal ilmiah Jurnal ilmiah tidaklah sama sistematika penulisannya penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk laporan penelitian. Jurnal penelitian adalah bentuk ringkas dari laporan penelitian dengan sistematika, yaitu: judul penelitian, identitas peneliti, abstrak, pendahuluan, metode, hasil dan pembasan, kesimpulan dan saran, juga daftar pustaka.

◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 291 Ringkasan 1. 2. 3. 4. 5. Karya tulis ilmiah merupakan tulisan atau laporan tertulis yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian suatu masalah oleh peneliti dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan.

Metode pengumpulan data pada penelitian kuantitatif adalah kuesioner atau angket, wawancara, dan observasi Tahapan akhir dalam penelitian adalah publikasi hasil penelitian, yaitu menerbitkan hasil penelitian untuk menginformasikannya kepada orang lain Jenis publikasi ilmiah, antara lain: a. Jurnal ilmiah: publikasi hasil karya ilmiah dalam bentuk majalah yang diterbitkan oleh lembaga dalam jangka waktu tertentu b. Prosiding: publikasi hasil karya ilmiah dalam bentuk buku yang berisi karya ilmiah peneliti yang dipaparkan pada acara seminar c.

Paper conference: kumpulan karya ilmiah yang diterbitkan pada konferensi ilmiah Sistematika penulisan jurnal ilmiah terdiri dari judul penelitian, identitas peneliti, astrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasa, kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka.

Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Karakteristik yang membedakan karya tulis ilmiah dengan karya tulis non ilmiah adalah hasil yang didapatkan mendeskripsikan hal yang sebenarnya terjadi adalah .… A. B. C. D. 2) Karakteristik yang membedakan karya tulis ilmiah dengan karya tulis non ilmiah adalah adalah disusun berdasarkan uratan yang konsisten adalah .… A.

logis B. lugas C. D. 292 lugas objektif sistematik efektif objektif efisien Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ 3) Publikasi hasil penelitian adalah .… A. mengumpulkan data di lokasi penelitian B. menguji keabsahan instrumen penelitian C. menerbitkan hasil penelitian D. menyajikan data dalam bentuk grafik 4) Pada publikasi ilmiah dilakukan telaah terhadap karya tulis peneliti yang kemudian hasil tersebut dilakukan perbaikan sebelum diterbitkan disebut .

A. B. C. D. 5) peer review presentasi data penyajian data analisis data Jenis publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh lembaga, biasanya dalam format majalah dan memiliki jangka waktu penerbitan adalah .… A.

jurnal ilmiah B. C. D. prosiding case report paper conference 6) Penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk yang harus ada dalam penyusunan jurnal ilmiah adalah . A. manfaat penelitian B. keterbatasan penelitian C. kata pengantar D. identitas peneliti 7) Abstrak pada jurnal penelitian terdiri dari .… A.

kata kunci B. daftar singkatan C. manfaat penelitian D. definisi operasional 8) Kesalahan dalam penyusunan jurnal ilmiah adalah .… A. B. C. D. membuat jurnal ilmiah secara ringkas informasi yang dihasilkan jelas melakukan copy paste dari laporan penelitian memberikan saran berdasakan permasalahan yang muncul ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 293 9) Jenis penelitian pada jurnal ilmiah dimuat pada .… A.

identitas peneliti B. pendahuluan C. metode D. hasil 10) Penyajian data dalam bentuk narasi, tabel, dan grafik pada jurnal ilmiah dimuat pada .… A. identitas penelti B. C. D. 294 pendahuluan metode hasil Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) C. 2) C. 3) B. 4) A. 5) B. 6) A. 7) B. 8) B. 9) A. 10) C. Tes 2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) B.

A. C. A. A. D. A. C. C. 10) D. ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 295 Glosarium Pie diagram : Diagram lingkaran yang memuat data kategori Scientific paper : Kajian ilmiah yang ditulis berdasarkan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Peer review : Penelaah jurnal oleh sekelompok ahili sebelum dilakukan penerbitan 296 Metodologi Penelitian Kesehatan ◼ Daftar Pustaka Delly Awallia.

(2015). Kumpulan Situs Jurnal Kesehatan dan Keperawatan. Diperoleh 2 Maret 2017 dari http://dellyawallia.web.unej.ac.id/2015/05/07/kumpulan-situs-kesehatandan-keperawatan/ Hasan, M. Iqbal. (2011). Pokok-Pokok Materi Statistika 1 (Statistik Deskriptif). Jakarta: PT Bumi Aksara Neliti. (2017). Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, Diperoleh 2 Maret 2017 dari https://www.neliti.com/id/journals/kesmas-jurnal-kesehatan-masyarakat-nasional Notoatmodjo, Soekidjo.

(2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Poltekkes Semarang. (2016). E-Journal Poltekkes Semarang. Diperoleh 2 Maret 2017 dari http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ Somantri, Ating dan Sambas Ali Muhidin. (2006). Aplikasi statistika dalam Penelitian.

Bandung: Pustaka Ceria Universitas Muhammadiyah Semarang. penyajian data yang menggambarkan data yang kontinyu lebih tepat disajikan dalam bentuk.

E-Journal Universitas Muhammadiyah Semarang. Diperoleh 2 Maret 2017 dari http://jurnal.unimus.ac.id/public/journals/21/cover_issue_169_en_US.jpg ◼ Metodologi Penelitian Kesehatan 297 Related Documents

PENYAJIAN DATA




2022 www.videocon.com