Sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Silahkan simakdi bawah ini : 1. Tiga berhala utama yang disembah bangsa Arab adalah…. A. Hubal, Wudd. Nailah B. Hubal, Latta, Wudd C. Uzza, Latta, Manaf D. Uzza, Latta, Nailah E. Suwa, Latta, Manaf JAWABAN : C 2. Berikut ini adalah bentuk pemujaan yang dilakukan oleh bangsa Arab sebelum Islam, Kecuali . A. Menyembah malaikat B.

Menyembah jin C. Menyembah seorang nabi yang sholeh D. Menyembah bintang bintang E. Menyembah berhala JAWABAN : C 3. Sistem pemerintahan pada masa Jahiliah adalah… A. Kerajaan Absolut B. Presidensil C. Theokrasi D. Demokrasai E. Federal JAWABAN : A 4.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Bangsa Arab percayua bahwa untuk menyembah Tuhan dapat menggunakan perantara berupa. A. Pohon B. Berhala C. Batu D. Api E. Jimat JAWABAN : B 5.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Wahyu yang pertama kali turun kepada nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk A. Berdakwah B. Berdo`a C. Membaca D. Menulis E. berperang JAWABAN : C 6. Sikap Penduduk Thaif terhadap dakwah Nabi SAW adalah… A. Bersikap netral antara orang Quraisy dan orang orang Islam B. Bersedia membantu dakwa nabi dengan jaminan C. Menerima dengan baik kehadiran nabi SAW meskipun tidak bersedia membantu D. Menolak dengan olok olokan dan melempari nabi SAW dengan batu E. Menolak ndan membiarkan pergi begitu saja JAWABAN : D 7.

Fakta berikut ini yang terjadi pada masa-masa awal dakwah islam di Mekah, kecuali. A. Jika umat islam hendak beribadah, harus mencari tempat yang tersembunyi B. Kaum kafir Quraisy sangat memusuhi Rasulullah C. Banyak pemuka masyarakat yang masuk islam dengan suka rela D. Jumlah kaum muslimin sangat sedikit E. Beberapa sahabat yang disiksa bahkan dibunuh oleh kaum kafir JAWABAN : C 8 Pada tahun ke 14 Kenabian Nabi Muhammad Saw hijrah dari Makkah ke Madinah.

Hijrah merupakan peristiwa monumental dalam perjalanan da’wah Islam. Untuk membangun Negara Madinah, Rasulullah SAW mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi; dalam bentuk penandatanganan Piagam Madinah. Berikut ini yang tidak termasuk isi pokok dari Piagam Madinah tersebut adalah. A. Menghormati Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin semua golongan B.

Kaum muslimin berhak mendapatkan upeti dari kaum Yahudi Madinah C. Kaum muslimin dan Yahudi bersama-sama mempetahankan Madinah D. Kaum yahudi bebas menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya E. Yahudi memberikan kontribusi bagi pembangunan Negara Madinah JAWABAN : D 9. Titik awal perkembangan Islam adalah ketika Nabi hijrah ke Madinah dan berdakwah disana. Berikut adalah kebijakan pemerintahan Rasulullah SAW periode Islam di Madinah kecuali. A. Mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar B.

Meletakkan dasar-dasar politik dan tatanan sosial masyarakat C. Mendirikan masjid D. Memecah belah kaum Anshar dan Muhajirin E. Menciptakan kesejahteraan umum JAWABAN : D 10. Tanah di kota Madinah terkenal subur karena kota Madinah sebelah selatan berbatasan dengan Bukit air, disebelah Utara dengan Bukit Uhud dan Tsur dan disebelah timur dan barat dengan gurun pasir Harah.

Jadi tidak heran jika Madinah menghasilkan. A. Sayur dan buah-buahan B. Kain C. Tembaga D. Emas E. Perak JAWABAN : A 11. Dakwah Rasulullah SAW periode Makkah berlangsung selama kurang lebih 13 tahun sedangkan periode Madinah selama. A. 9 tahun B. 10 tahun C. 11 tahun D. 12 tahun E. 14 tahun JAWABAN : B 12.

Masjid Nabawi mulai dibangun Rasulullah dan sahabatnya pada tahun. A. 622 M B. 623 M C. 624 M D. 625 M E. 626 M JAWABAN : A 13. Dalam piagam Madinah yang dideklarasikan Nabi Muhammad SAW terdapat.pasal. A. 45 pasal B. 46 pasal C. 47 pasal D. 48 pasal E. 49 pasal JAWABAN : C 14. Isi piagam Madinah pasal 1 yaitu. A. Sesungguhnya mereka satu umat, berbeda dari komunitas manusia lain B. Setiap pasukan yang berperang bersama harus bahu-membahu satu sama lain C.

Kaum Yahudi memikul biaya bersama Mukminin selama dalam peperangan D. Tidak boleh jaminan diberikan kecuali seizin ahlinya E. Sesungguhnya tidak ada perlindungan bagi Quraisy Makkah JAWABAN : A 15. Tokoh yang masuk Islam pada peristiwa Fathu Makkah.

A. Muawiyah bin Abu Sufyan B. Abu Musa Al Asy'ari C. Abu Sufyan bin Al-Harist D. Abu Jahal E. Abu Lahab JAWABAN : B Selanjutnya : 100+ Soal Ujian Madrasah SKI MA dan Jawabannya I Sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah 2 Thaif. Wilayah yang berjarak sekitar 80 kilometer dari Tanah Suci Makkah itu merupakan salah satu tempat yang bersejarah dalam perkembangan agama Islam. Pada tahun kesepuluh kenabian dikenal dengan tahun duka bagi Nabi Muhammad Saw. sebab dua orang yang sangat dicintainya telah meninggal dunia, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib.

Kedua orang ini adalah pembela dan pelindung yang sangat tabah, kuat, dan disegani masyarakat Mekkah. Dengan meninggalnya Siti Khadijah dan Abu Thalib, orang-orang kafir Quraisy semakin berani mengganggu dan menyakiti Nabi Muhammad Saw. Sepeninggal Abu Thalib dan Siti Khadijah, puncak dari sikap permusuhan kaum Quraisy semakin keras. Dalam kondisi ini timbul keinginan dari Nabi Muhammad Saw. untuk berlindung ke Thaif negeri yang terkenal berhawa sejuk dan keramahan penduduknya terhadap tamu yang datang.

Dengan harapan masyarakat Thaif berkenan mendengar dakwah Islam. Perjalanan ke Thaif ini sebenarnya tidaklah mudah, mengingat sulitnya medan yang dilalui disebabkan sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah yang tinggi yang mengelilinginya. Akhirnya, Beliau sampai di Thaif bersama Zaid bin Tsabit.

Akan tetapi, setiap kesulitan itu menjadi mudah bila berada di jalan Allah Swt. Selama sepuluh hari tinggal di Thaif Nabi Saw menyampaikan seruan tauhid meskipun ada yang mau menerima dakwah Islam, akan tetapi penduduk Thaif justru banyak yang menolak beliau dengan penolakan yang lebih buruk.

Mereka menyuruh anak-anak kecil untuk melempari beliau dengan batu, sehingga kedua tumit beliau berdarah. Akhirnya, beliau kembali melalui jalan semula menuju Mekkah dalam keadaan sedih dan susah. Peristiwa penolakan Bani Tsaqif saat hijrah ke Thaif itu merupakan salah satu kejadian yang dianggap sebagai salah satu kejadian paling menyulitkan bagi Rasulullah Saw. Hal itu pernah diungkapkan Rasulullah Saw ketika Aisyah bertanya kepada Nabi Saw. Beliau Saw menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu.

Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’alib, lalu aku angkat kepalaku.

Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril, lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu.

Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’ (dua gunung yang mengelilingi Mekkah) .” Lalu Rasulullah Saw menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”.

(HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim) Di antara beberapa debat yang dilancarkan kaum musyrikin terhadap Rasulullah Saw adalah mereka menuntut beberapa mukjizat tertentu darinya dengan tujuan menundukkan beliau, dan hal ini terjadi berulang kali.

Pernah suatu kali, mereka meminta agar beliau dapat membelah bulan menjadi dua, lalu beliau memohon kepada Allah Swt, untuk kemudian memperlihatkan kepada mereka.

Kaum Quraisy menyaksikan mukjizat ini untuk waktu sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah lama, tapi mereka tetap saja tidak beriman.

Bahkan, mereka mengatakan: “Muhammad telah bermain sihir di hadapan kami”. Lalu seseorang berkata: “Kalaupun toh Muhammad mampu menyihir kalian, namun ia tidak akan mampu menyihir semua orang. Oleh karena itu, mari kita tunggu orang-orang yang sedang bepergian”. Tidak lama kemudian, orang-orang yang sedang bepergian itu datang dan kaum Quraisy menanyai mereka. Lalu mereka pun menjawab: “Benar kami telah melihatnya”. Namun demikian kaum Quraisy tetap saja pada kekafiran mereka. Peristiwa terbelahnya bulan ini, seakan-akan sebagai pembuka bagi sesuatu yang lebih besar darinya, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj.
Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Baca Juga • Dua Nasihat Utsman bin Affan • Ribuan Aktivis Dunia Bahas Kondisi Palestina • Ziarah Kubur Jelang Bulan Suci Ramadhan 1442 H Bahkan ada yang berani menghadang lalu menaburkan debu di atas kepala beliau sehingga Nabi pulang ke rumah dengan kepala penuh debu.

Seorang puteri beliau membersihkan debu itu dengan bercucuran air mata. Rasulullah menghiburnya, “Tak perlu menangis puteriku, karena Allah akan melindungi ayahmu.” Karena memerlukan pendamping setelah kematian Khadijah, pada bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian ini juga Nabi menikah dengan Saudah binti Zam’ah.

Perempuan ini termasuk golongan terdahulu masuk Islam. Saudah ikut rombongan kedua hijrah ke Habsyah bersama suaminya Sakran ibn Amar. Suami pertamanya ini meninggal dunia di Habsyah.

Setelah masa ‘iddah Saudah habis Nabi meminang dan menikahinya. Dialah perempuan pertama yang dinikahi Nabi setelah Khadijah meninggal dunia. BERDAKWAH KE THAIF Sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah Radhiyallahu anha, gangguan kaum Quraisy terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin meningkat.

Kaum Quraisy tak peduli dengan kesedihan yang tengah menghinggapi diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga akhirnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan keluar dari Mekkah untuk menuju Thaif.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berharap penduduk Thaif mau menerimanya. Harapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tinggal harapan. Penduduk Thaif menolak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencemoohnya, bahkan mereka memperlakuan secara buruk terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kenyataan ini sangat menggoreskan kesedihan dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliaupun kembali ke Mekkah dalam keadaan sangat sedih, merasa sempit dan susah. Keadaan ini diceritakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh istri tersayang, yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma : هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “Apakah pernah datang kepadamu (Anda pernah mengalami-Pen.) satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu.

Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku.

Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril qlalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’.

Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.” [1] Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”.

[HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim]. Begitulah sambutan penduduk Thaif. Penolakan mereka saat itu sangat mempengaruhi jiwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamsehingga beliaupun bersedih. Namun kesedihan ini tidak berlangsung lama. Karena sebelum Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Mekkah, saat melakukan perjalanan kembali dari Thaif, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan pertolongan Allah Azza wa Jalla.

Pertolongan ini sangat berpengaruh positif pada jiwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallammengurangi kekecewaan karena penolakan penduduk Thaif, sehingga semakin menguatkan tekad dan semangat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendakwahkan din (agama) yang hanif ini. Baca Juga Hijrah Ke Madinah PERTOLONGAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA Pertongan pertama datang saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Qarnuts-Tsa’âlib atau Qarnul-Manazil.[2] Allah Azza wa Jalla mengutus Malaikat Jibril Alaihissallam bersama malaikat penjaga gunung yang siap melaksanakan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas perlakuan buruk penduduk Thaif.

Namun tawaran ini diabaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkeinginan melampiaskan kekecewaaan atas penolakan penduduk Thaif. Justru sebaliknya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan agar dari penduduk Thaif ini terlahir generasi bertauhid yang akan menyebarkan Islam.

Inilah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang teramat agung. Saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu membalas perlakuan buruk dari kaumnya, namun justru memberikan maaf dan mendoakan kebaikan. Demikian ini selaras dengan beberapa sifat beliau yang diceritakan dalam al-Qur’ân, seperti sifat lemah lembut,[3] kasih sayang, dan sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya.[4] Kemudian pertolongan dan dukungan yang kedua, yaitu saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di lembah Nakhlah, dekat Mekkah.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal disana selama beberapa hari. Pada saat itulah Allah Azza wa Jalla mengutus sekelompok jin kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[5] Mereka mendengarkan al-Qur`ân dan kemudian mengimaninya.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Peristiwa itu disebutkan Allah Azza wa Jalla dalam dua surat, yaitu al-Ahqâf dan al-Jin ayat 1 hingga 15. Allah berfirman dalam surat al-Ahqâf/46 ayat 29-31: وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ ﴿٢٩﴾ قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ ﴿٣٠﴾ يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`ân, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`ân) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Kedua peristiwa di atas meningkatkan optimisme Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamsehingga bangkit berdakwah dengan penuh semangat tanpa peduli dengan berbagai penentangan yang akan dihadapinya.

PERLINDUNGAN AL MUTH’IM BIN ‘ADIY Setelah kembali ke Mekkah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan perlindungan dari al-Muth’im bin ‘Adiy, sehingga kaum kafir Quraisy tidak leluasa mengganggunya.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Al-Muth’im memiliki dua jasa sangat besar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, ia memiliki peran dalam perusakan kertas perjanjian pemboikotan yang ditempelkan di dinding Ka’bah. Kedua, ia memberikan perlindungan saat kaum Quraisy berusaha mengusir dan mengganggu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga Perang Bani Quraizhah Jasa al-Muth’im ini selalu diingat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga seusai mengalahkan kaum kafir Quraisy dalam Perang Badr, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda perihal para tawanan: لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ Seandainya al-Muth’im bin Adiy masih hidup, lalu dia mengajakku berbicara tentang para korban yang mati ini (maksudnya, meminta Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membebaskan mereka, Pen.), maka tentu aku serahkan mereka kepadanya.[6] PELAJARAN DARI KISAH DI ATAS 1.

Prioritas dakwah Rasulullah terhadap tokoh kabilah Tsaqif di Thaif kala itu merupakan bukti pentingnya menyampaikan dakwah kepada para tokoh panutan manusia. 2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap sabar menghadapi perlakuan buruk para penentangnya. Meskipun mendapatkan perlakuan buruk, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendoakan kepada Allah agar menurunkan siksa kepada mereka.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Namun sebaliknya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah, dan Allah Azza wa Jalla memperkenankan doa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 3. Perjumpaan jin dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di lembah Nakhlah merupakan bukti, bahwa jin itu ada dan mereka itu juga mukallaf .[7] Di antara jin ada yang beriman, dan ada juga yang kafir. 4. Berimannya sekelompok jin tersebut merupakan hiburan bagi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamsetelah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif.

5. Dalam kisah rihlah (perjalanan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Thaif dan penderitaan yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam alami terdapat pelajaran bagi para da’i. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggung derita, maka begitu juga para da’i. Oleh karena itu, pada da’i wajib mempersiapkan diri, karena dakwah merupakan jalan para nabi dan orang-orang shalih. Juga dikarenakan tuntutan hikmah Allah Azza wa Jalla bahwa din ini tidak akan dimenangkan kecuali dengan amalan dan usaha keras manusia.

Sumber: As-Sîratun-Nabawiyatu fi Dhau-il Mashâdiril ash Liyyah, karya Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______ Footnote [1]. Dua gunung besar di Mekkah, yaitu Gunung Abu Qubais dan Gunung Qu’aiqi’an. Ada juga yang mengatakan Gunung Abu Qubais dan Gunung al-Ahmar. Lihat footnote as-Siratun-Nabawiyyah fî Dhau’il Mashadiril-Ashliyyah, hlm.

228. [2]. Tempat miqat penduduk Najd. [3]. Lihat Qs ‘Ali ‘Imran/3 ayat 159 [4].

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Lihat Qs at-Taubah/9 ayat 128. [5]. Kedatangan sekelompok jin ini juga diceritakan dalam hadits shahih riwayat Imam al-Bukhari. Lihat Fathul-Bâri (18/314, no. 4921) dan Imam Muslim (1/331, no. 449). Ibnu Hajar t membawakan beberapa dalil yang mendukung pendapat Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa’ad yang menyatakan, bahwa peristiwa kedatangan para jin ini terjadi saat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari Thaif [6]. HR Imam al-Bukhari. Lihat Fathul-Bâri 12/226-227, no. 3139 [7].

Terkena kewajiban syariat.
Sikap penduduk Thaif terhadap dakwah Nabi Muhammad pada saat nabi Muhammad menyeru mereka untuk beriman kepada Allah adalah mereka menolak ajakan dakwah Nabi Muhammad. Mereka mengusir Nabi Muhammad untuk keluar atau pergi dari Thaif. Bahkan ada beberapa orang yang melempar Nabi Muhammad dengan batu yang menyebabkan Sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah Muhammad terluka.

Akan tetapi, Nabi Muhammad tetap sabar dan tidak membalas perlakuan buruk penduduk Thaif tersebut, bahkan Nabi Muhammad memaafkan penduduk Thaif. Pembahasan Nabi Muhammad merupakan seorang nabi dan rasul utusan Allah yang terakhir yang membawa syariat Islam. Tidak ada nabi dan rasul utusan Allah setelah Nabi Muhammad karena Nabi Muhammad adalah penutus semua nabi dan rasul utusan Allah. Nabi Muhammad menyampaikan dakwah pertama kali di Kota Mekkah dan kemudian Nabi Muhammad hijrah ke Kota Madinah.

Sebelum hijrah ke Kota Madinah, Nabi Muhammad pernah melakukan dakwah di Kota Thaif, akan tetapi dakwah Nabi Muhammad di tolak oleh penduduk yang ada di Kota Thaif.

Nabi Muhammad hijrah dan mulai menyapaikan dakwah di Kota Madinah pada tahun ketiga belas setelah kerasulan. Nabi Muhammad keluar dari Kota Mekkah untuk melakukan hijrah ke Kota Madinah pada malam hari dengan ditemani oleh seorang sahabat yang bernama Abu Bakar. Nabi Muhammad dan Abu Bakar melakukan hijrah ke Kota Madinah yang diikuti oleh kaum kafir Quraisy yang hendak membunuh Nabi Muhammad agar Nabi Muhammad wafat dan tidak dapat berdakwah lagi.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Usaha kaum kafir Quraisy yang hendak membunuh Nabi Muhammad gagal karena Allah melindungi Nabi Muhammad dan Abu Bakar sehingga tiba di Kota Madinah dengan selamat. Pelajari lebih lanjut • Materi tentang kisah Nabi Muhammad pada usia 12, 25 dan 40 tahun, pada brainly.co.id/tugas/36479045 • Materi tentang salah satu sikap atau perilaku terpuji Nabi Muhammad, pada brainly.co.id/tugas/11835971 • Materi tentang kisah nabi pada peristiwa perbaikan ka'bah, pada brainly.co.id/tugas/36285692 ============================= Detail jawaban Kelas: VII Mata pelajaran: Agama Islam Bab: Sejarah Nabi Muhammad SAW Kode soal: 7.14.9 #TingkatkanPrestasimu
🔊 Audio Baca Setelah kejadian penghinaan terhadap Rasulullah Saw oleh Bani Quraisy, Rasulullah SAW melakukan hijrah ke Thaif.

Thaif merupakan sebuah kota di Provinsi Mekkah, Arab Saudi pada ketinggian 1.700 m di lereng Pegunungan Sarawat. Kota ini adalah kota terbesar kedua yang berada di kawasan Hijaz.

Rasulullah menemui salah satu suku ternama di Thaif yaitu suku Bani Tsaqif, suku yang paling dekat dengan Makkah dan masih memiliki hubungan saudara dengan Rasulullah SAW, tepatnya dengan nenek Rasulullah SAW, ibu dari Hasyim bin Abd Manaf. Rasulullah SAW hijrah dengan ditemani oleh mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah.

Di sana, beliau menemui para pemuka Bani Tsaqif yaitu Abd Yalil, Mas’ud dan Hubaib, mereka adalah anak-anak ‘Amr bin Umair Ats-Tsaqafy. Nabi meminta pertolongan kepada mereka, tetapi mereka menjawab dengan jawaban kasar. Setelah permintaan Rasulullah terhadap ketiga pemuka Bani Tsaqif tidak dikabulkan, Rasulullah SAW meminta agar tidak menyiarkan berita kedatangan Nabi ke Thaif kepada orang-orang Mekah. Tetapi permintaan tersebut pun tidak mereka kabulkan.

Mereka pun menyiarkan berita kedatangan Nabi kepada kaum kafir Quraisy di Mekah. Selain itu, mereka juga menghasut anak- anak kecil untuk melempari Nabi dengan batu hingga mata kaki Nabi berdarah. Zaid bin Haritsah menjadi benteng Nabi ketika beliau dilempari batu oleh anak-anak kecil.

Setelah itu, Nabi beristirahat di bawah kebun anggur yang bersampingan dengan kebun milik kakak beradik yang bernama Uthbah dan Syaibah. Mereka merupakan sahabat karib Abu Jahal. Sesampainya dikebun tersebut, Nabi berdoa: اَللُّهُمَّ اِلَيْكَ اَشْكُوْ ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيْلَتِيْ sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah عَلَى النَّاسِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ، وَاَنْتَ رَبِّي، اِلَى مَنْ تَكِلُّنِيْ اِلَى بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنِيْ ؟ اَوْ اِلَى عَدُوٍّ مَلَكْتَهُ اَمْرِيْ ؟ اِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلاَ اُبَالِيْ وَلَكِنْ عَافِيَتَكَ هِيَ اَوْسَعُ لِيْ، أَعُوْذُ بِنُوْرِوَجْهِكَ الَّذِيْ اَشْرَقَتْ بِهِ الظُّلُمَاتُ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ مِنْ اَنْ تُنَزِّلَ بِي غَضَبُكَ اَوْ تَحُلُّ بِي سَخَطُكَ، لَكَ الْعَتْبَي حَتَّى تَرْضَي، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِكَ “Wahai Rabb-Ku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia.

Wahai Rabb-ku yang Maha Rahim. Engkaulah Robbnya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Robb-ku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkamku, atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap. Dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu.

Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.” Ditolak oleh pembesar suku di Thaif, bukan berarti Rasulullah gagal mendakwahkan Islam saat hijrah ke Thaif. Doa Rasulullah SAW di atas pun menjadi perantaranya. Mendengar doa yang Rasulullah SAW panjatkan membuat dua anak Rabi’ah menjadi tersentuh sehingga meminta budak mereka berdua yang bernama ‘Addas untuk memetikkan anggur dan memberikannya kepada Rasulullah SAW.

Sebelum Rasulullah memulai menikmata anggur tersebut, Rasulullah mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Lalu ‘Addas berkata, “Kalimat tersebut yang biasa diucapkan penduduk negeriku”. Rasulullahpun bertanya, “Dari mana asalmu dan apa agamamu?” kemudian ‘Addas menjawab, “Saya seorang Nasrani dari Niniwe sebuah kota kecil dekat dengan Mosul, Irak.” Rasulullah berkata, “Daerah tersebut merupakan daerah orang saleh, Yusuf bin Matta.” ‘Addas pun merasa ingin tahu apa yang dimaksud Rasululah SAW, lalu bertanya, “Apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?” Rasulpun menjawab dengan membacakan cerita Nabi Yunus yang terdapat pada Al-Qur’an sampai ‘Addas mendeklarasikan dirinya untuk memeluk agama Islam.Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah Juga • Mengapa Kita Tetap Harus Minta Hidayah Meski Sudah Muslim?

• Persentase Narapidana di India, Berapa Tahanan yang Muslim? • Al-Washliyah: Penuduh Din Radikal Segera Minta Maaf Sayangnya, sikap penduduk tidak menolong Rasulullah dan bahkan ikut memusuhinya. Beberapa perlakuan mereka lebih kejam daripada kaum Quraisy. Dijelaskan dalam buku Kelengkapan Tarikh Rasulullah oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Rasulullah dan Zaid berada di Thaif selama sepuluh hari. Rasulullah berusaha menemui setiap tokoh masyarakat untuk diajak memeluk Islam.

Rasulullah berbicara baik-baik tapi ucapan yang sering terdengar adalah, “Keluarlah dari negeri kami!” Selain mengusir Rasulullah, penduduk juga melempari Rasulullah dan Zaid dengan batu sampai telapak kakinya berdarah. Sementara itu, Zaid yang melindungi Rasulullah harus rela mengalami luka memar di kepalanya. Sepulang dari Thaif, Rasulullah sangat sedih. Dalam perjalanan pulang itu, Rasulullah memanjatkan doa yang terkenal pada orang-orang Thaif.

Berikut doa yang beliau ucapkan: “Ya Allah, kepada Engkaulah aku mengadukan betapa lemah kekuatanku, betapa minim siasatku, dan betapa ringkihnya aku terhadap manusia, wahai Tuhan Yang Mahapenyayang di antara para penyayang. Engkau adalah Rabb orang-orang yang tertindas.

Engkaulah Rabbku. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Apakah kepada orang asing yang akan menyerangku atau kepada musuh Engkau biarkan urusanku dikuasainya? Aku tidak peduli Engkau murka padaku karena aku tahu ampunan-Mu jauh lebih luas daripada murka-Mu. Dengan cahaya pad wajah-Mu yang mampu menyinari segenap kegelapan dan yang membuat baik urusan dunia serta akhirat, aku berlindung jangan sampai aku membuat Engkau murka kepadaku.

Betapa aku selalu menginginkan keridhaan-Mu. Dan tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan-Mu.” اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ !

أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك Kemudian Allah mengirim malaikat penjaga gunung menemui Rasulullah.

Dia ingin Rasulullah menyuruhnya agar menjatuhkan dua gunung sekaligus kepada penduduk Makkah. Namun, dengan santunnya Rasulullah menjawab, “Tidak. Aku mohon mereka diberi tangguh waktu. Kedepannya, mudah-mudahan Allah berkenan melahirkan dari mereka generasi yang akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan dengan sesuatu apa pun.”
• PROFIL • Sejarah • Vision and Mission • Sasaran mutu • Pimpinan • Fasilitas • Kontak • STUDI • Program • Psikologi • Komunikasi • Pendidikan Sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah Inggris • Magister Psikologi Profesi • Hubungan Internasional • Pilihan Studi • LAYANAN • Layanan Akademik • Layanan Divisi Umum dan Rumah Tangga • Sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah Psikologi Terapan • Sertifikat Akreditasi • JURNAL/PUBLIKASI • Jurnal Intervensi Psikologi • Jurnal Psikologika • Asian Journal of Media and Communication • Jurnal Komunikasi • Journal of English and Education • INTERNASIONAL • Pelaporan Kegiatan Mahasiswa ke Luar Negeri • Search • Menu Menu • Instagram • Facebook • Twitter oleh : Willy Prasetya, S.Pd., M.A ————— Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

(QS Al-Anbiya: 107) Sebagai rahmat bagi semesta alam, peran Rasulullah SAW menjangkau semua aspek kehidupan umat manusia dan dunia seisinya.

Rasulullah SAW bukan hanya merupakan pemimpin agama, melainkan juga kepala pemerintahan yang bijak dan adil, panglima perang yang cerdas dan tangguh, kepala keluarga yang penuh kasih sayang, guru yang sabar dan mengayomi, serta seorang individu yang berakhlak mulia.

Setiap perilaku, perkataan, sikap, kebiasaan, dan perjalanan hidup beliau merupakan teladan bagi seluruh manusia. Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab: 21) Perjalanan Dakwah ke kota Thaif di awal masa kenabian adalah pertama kalinya Rasulullah SAW menyampaikan wahyu di luar kota Mekkah.

Ada hikmah berharga yang dapat kita petik dari perjalanan tersebut, yang secara khusus perlu kita terapkan dalam peran kita sebagai pendidik untuk menciptakan suasana belajar yang positif bagi siswa.

Menginspirasi melalui tindakan Rasulullah SAW tidak pernah meminta siapapun untuk melakukan hal yang beliau tidak mau lakukan. Seringkali, Rasulullah SAW bahkan menjadi orang pertama yang maju untuk melakukan hal-hal yang sulit atau berbahaya.

Meskipun hal tersebut bisa menyusahkan atau membahayakan beliau, keberanian Rasulullah SAW untuk menjadi yang pertama dalam bertindak mampu menumbuhkan rasa hormat, kecintaan, dan kesetiaan dari para sahabat.

Ketika mendapatkan perundungan dari kaum kafir Quraisy di Mekkah pasca wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, Rasulullah SAW merasa perlu mencari dukungan dari kota Thaif sekaligus membawa misi dakwah.

Untuk hal tersebut Rasulullah SAW tidak mengirim utusan melainkan beliau sendirilah yang menuju ke kota tersebut dengan ditemani oleh Zaid bin Haritsah RA. Sayangnya, orang-orang Thaif menolak dakwah Rasulullah SAW, dan mereka mengusir Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah RA dengan lemparan batu hingga terluka parah.

Dari kisah tersebut, dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang baik selalu berada di depan sesulit apapun situasinya. Keberanian Rasulullah SAW untuk melakukan dakwah secara langsung ke Thaif menunjukkan bahwa beliau tidak setengah-setengah dalam perjuangan untuk Islam, dan hal tersebut menumbuhkan keberanian di dalam diri para sahabat untuk tidak gentar dalam berdakwah dan mempertahankan agama.

Sebagai pendidik yang memimpin jalannya proses belajar-mengajar, kita tidak semestinya meminta siswa untuk melakukan hal yang kita sendiri tidak bisa atau tidak mau melakukannya, apalagi melarang siswa untuk melakukan hal yang kita sendiri lakukan.

Jangan sampai kita menjadi pendidik yang hanya bisa menyuruh tanpa bisa memberikan contoh, dan jangan pula kita membuat larangan yang kita sendiri melanggarnya. Siswa akan lupa dengan sebagian besar apa yang kita katakan, tapi mereka akan banyak mengingat teladan yang kita berikan melalui tindakan.

Tawakal dalam menyampaikan ilmu Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah RA bersembunyi di kebun milik Uthbah bin Rabi’ah untuk menghindari kejaran orang-orang Thaif.

Di sana, Rasulullah SAW memanjatkan doa. “Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia.

Wahai Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku.

Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir) Dalam doa tersebut, Rasulullah SAW bersandar kepada Allah SWT atas usahanya dalam menyampaikan dakwah di kota Thaif. Hal yang sama juga perlu kita lakukan sebagai pendidik saat menyampaikan ilmu kepada siswa. Bisa saja kita memiliki target tertentu untuk dicapai oleh para siswa, akan tetapi kita tidak sepenuhnya memiliki kendali penuh atas kemampuan dan hasil belajar siswa.

Almarhum KH. Maimun Zubair juga pernah berwasiat untuk para pendidik tentang bagaimana cara bersikap dalam mendidik siswa. “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar, sehingga ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar itu ada pada kehendak Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.” Sehingga, kita tidak semestinya terlalu ambisius dalam menyampaikan ilmu ke siswa.

Usaha yang maksimal dalam mendidik adalah suatu keharusan, namun hasil akhirnya sudah sepatutnya kita serahkan kepada Allah SWT agar tidak timbul kekecewaan dan keputusasaan dalam hati kita. Bersabar dan berhati lembut dalam mendidik siswa Mendengar doa Rasulullah SAW, Allah SWT mengutus malaikat Jibril AS untuk menyampaikan bahwa Allah SWT menerima doa beliau.

Bersama Jibril AS turut serta malaikat penjaga gunung yang berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Rasulullah SAW menolak hal tersebut. Bahkan, beliau berharap bahwa suatu saat nanti orang-orang Thaif akan memeluk Islam dan beriman kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW kemudian berdoa, “Ya Allah! Tunjukkanlah kaumku (ke jalan yang lurus), karena sesungguhnya mereka itu tidak mengerti.” Sekalipun sudah dilempari batu hingga terluka parah, Rasulullah SAW tidak menyimpan dendam kepada para penduduk Thaif. Di kemudian hari, penduduk Thaif akhirnya menjadi pengikut Rasulullah SAW dan memeluk agama Islam.

Dari kisah tersebut, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa dakwah harus dilaksanakan dengan penuh kesabaran dan kelembutan hati. Karena tujuan dakwah adalah menyampaikan wahyu dan membawa kebaikan, maka jangan sampai perasaan kecewa dan dendam justru malah membawa keburukan bagi orang-orang yang dituju.

Begitu pula dengan pendidikan, yang tujuan utamanya adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter siswa. Jangan sampai kita menjadi pendidik yang menghukum siswa yang nakal secara berlebihan atau memberikan sumpah serapah kepada siswa yang tidak menurut, karena hal-hal semacam itu justru akan membuat siswa memandang pendidikan secara negatif.

Kelembutan hati kita perlahan akan melunakkan hati siswa. Kesabaran kita dalam mendidik perlahan akan mendorong siswa untuk turut berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Sumber: Dakwah ke Thaif 03/05/2021 / by Darzan Hanan M https://fpscs.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/05/inbal-malca-NhlKx6Uvm3E-unsplash.jpg 3264 4896 Darzan Hanan M https://fpscs.uii.ac.id/wp-content/uploads/2017/08/FPSB-logo-1030x346.png Darzan Hanan M 2021-05-03 08:35:09 2021-05-04 00:12:42 Hikmah Perjalanan Dakwah Rasulullah SAW ke Thaif bagi Para Pendidik Recent Posts • Makna Minal Aidin wal Faizin • Husnudzan Kepada Allah Subhanahu Wata’ala • TAFAKKUR NIKMAT • FPSB Bedah Buku “Regret Theory: Perspektif Barat dan Islam” • Merdeka Belajar dan Resiliensi SIstem Pendidikan Arsip Berita Arsip Berita Categories • Agenda Kegiatan • Arsip Pengumuman Agenda Kegiatan-out off date • Bantuan Kemanusiaan • Beasiswa • Berita Fakultas • Berita Universitas • Buku Panduan • Divisi Administrasi Akademik • Divisi Sistem Informasi • Divisi Umum dan Rumah Tangga • FPSCS Magazine • Kepedulian Sosial • Program Kreativitas Mahasiswa • Quote Dekan • SERTIFIKAT PBI • Syiar Islam Meta • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.org
Setelah sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah dikalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Mekkkah untuk memperbaiki pola hidup mereka.

Tetapi hanya sebagian kecil saja orang saja yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya., selebihnya selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk menganggu dan menghalangi beliau dan pengikut-pengikutnya. Diantara mereka yg bersimpati dengan perjuangan Nabu adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ua tudak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Pada tahun kesepuluh setelah kenabian Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib ini, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa menganggu dan menentang Nabi saw. Tha’if merupakan kota terbesar kedua di kawasan Hijaz. Disana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yg sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah kuat dan besar jumlah penduduknya.

Rasulullah saw. pun berangkat ke Tha’id dengan harapan dapat membujuk Bani Tsagif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapatkan tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan kafir Quraisy. Beliaupun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah. Setibanya disana, Rasulullah saw. mengunjungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah islam.

Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi saw. pun mereka tidak mau. Rasulullah saw. diperlakukan secara kasar dan biadab. Sikap kasar mereka itu sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya.

sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah

Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang. Semula Rasulullah membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiringi tutur kata yang lemah lembut, tetapu ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar. Salah seorang diantara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah telah mengangkatmu menjadi pesuruh-Nya?” Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi pesuruh-Nya?” Ada juga yang berkata, “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku.

Sebaliknya jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara padamu.” Menghadapi perlakuan sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah tokoh Bani Tsaqif yg demikian kasar itu, Rasulullah saw.

yg memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkan mudah putus asa dan kecewa. Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Sikap penduduk thaif terhadap dakwah nabi saw adalah Tsaqif yg tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah mencoba mendatangi rakyat biasa, kali inipun beliau mengalami kegagalan. Mereka mengusir RAsulullah dari Tha’if dengan berkata, “Keluarlah kamu dari kampung ini! Dan pergilah kemana saja kamu suka!” Ketika Rasulullah menyadari bahwa usahanya tdk berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if, tetapi penduduk Tha;if tida membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus menganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan.

Lemparan batu yang mengenai Nabi saw. demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudian beliau berdo’a yang artinya; “Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia.

Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah padaku.

Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku azab-Mu. Kepada Engkaulah aku aduka halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.” Demikian sedihnya do’a yang dipanjatkan kepada Allah oleh Nabi saw.

sehingga Allah mengutus malaikat Jibril a.s. untuk menemuinya. Setibanya dihadapan Nabi, Jibril a.s memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah saw.

Kata Malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika engkau mau, kami sanggup menjadikan gunung disekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada dikedua belah gunung unu akan mati tertindih.

Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.” Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata; “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.” Hikmah dari kisah diatas; Perhatikanlah teladan mulia yang dicontohkan oleh Nabi saw.

Kita semua mengaku sebagai pengikutnya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari jika keinginan kita ditolak atau tidak disetujui, dengan cepat kita merasa tersinggung dan memaki-maki, bahkan kadang-kadang mempunyai keinginan untuk membalas dendam. Padahal, sebagai pengikutnya, kita hendaknya mencontoh beliau. Setelah menerima penghinaan dari penduduk Tha’if, beliau hanya berdo’a dan tidak memarahi mereka, tidak mengutuk mereka, dan tidak mengambil tindakan balas dendam walaupun diberi kesempatan untuk itu.

Top Posts • Pentingnya Dzikir bagian I • Shalat menghapus dosa • Syahidnya Anas bin Nadhir r.a. • Dakwah Rasulullah Saw. ke Tha'if • Mengenai kisah para sahabat • Keutamaan Al Quran 1 • Prinsip dalam agama • Adab-adab dalam membaca al Qur'an • Dari Abu Dzar r.a dan Abu Utsman r.a • Keutamaan Tabligh •

KISAH SEDIH RASULULLAH HIJRAH DAN BERDAKWAH DI THAIF.




2022 www.videocon.com