Percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Akulturasi (Pencampuran) ialah percampuran dua kebudayaan atau lebih yg saling bertemu dan saling mempengaruhi antar proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu. Proses atau hasil pertemuan kebudayaan atau bahasa di antara anggota dua masyarakat bahasa, ditandai oleh peminjaman atau bilingualisme.Sedangkan akulturasi kebudayaan adalah Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Dalam bahasa Inggriskebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. • Ø Seni Bangunan Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni asli bangsa Indonesia percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi seni Hindu-Budha.

Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Contohnya candi Borobudur. Pada candi disertai pula berbagai macam benda yang ikut dikubur yang disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi sebagai makam bukan semata-mata sebagai rumah dewa.

Sedangkan candi Budha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak terdapat peti pripih dan abu jenazah ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa. • Ø Seni Berpakaian Pakaian Adat Betawi, orang Betawi pada umumnya mengenal beberapa macam pakaian. Namun yang lazim dikenakan adalah pakaian adat berupa tutup kepala (destar) dengan baju jas yang menutup leher (jas tutup) yang digunakan sebagai stelan celana panjang Melengkapi pakaian adat pria Betawi ini, selembar kain batik dilingkari pada bagian pinggang dan sebilah belati diselipkan di depan perut.

Para wanita biasanya memakai baju kebaya, selendang panjang yamg menutup kepala serta kain batik. Pada pakaian pengantin, terlihat hasil proses asimilasi dart berbagai kelompok etnis pembentuk masyarakat Betawi. Pakaian yang digunakan pengantin pria, yang terdiri dari: sorban, jubah panjang dan celana panjang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab. Sedangkan pada pakaian pengantin wanita yang menggunakan syangko (penutup muka), baju model encim dan rok panjang memperlihatkan adanya pengaruh kebudayaan Cina Uniknya, terompah (alas kaki) yang dikenakan oleh pengantin pria dan wanita dipengaruhi oleh kebudayaanArab.

• Ø Seni Tarian Tari Betawi. Sejak dulu orang Betawi tinggal di berbagai wilayah Jakarta. Ada yang tinggal di pesisir, di tengah kota dan pinggir kota. Perbedaan tempat tinggal menyebabkan perbedaan kebiasaan dan karakter. Selain itu interaksi dengan suku bangsa lain memberi ciri khas bagi orang Betawi. Tari yang diciptakanpun berbeda. Interaksi orang Betawi dengan bangsa Cina tercipta tari cokek, lenong, dan gambang kromong.

• Ø Adat Kebiasaan Tradisi membagi rezeki saat hari raya sebenarnya terjadi karena proses akulturasi budaya Tionghoa dengan Islam. Memberi dengan ketulusan hati merupakan bagian luhur dari menjalankan kewajiban sebagai manusia.

Dan lebih indah lagi jika segala kebajikan dilakukan di hari raya.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Menjalankan tradisi tentu merupakan bagian dari kebajikan. Tradisi yang diwariskan leluhur sejatinya tetap dilaksanakan karena mengandung nilai-nilai moral yang bertujuan baik. Salah satu tradisi Lebaran yang tak kalah populer adalah berbagi rezeki. DAMPAK BAIK DAN BURUKNYA PENCAMPURAN ITU : PENGARUH KEBUDAYAAN Dampak Positif : Budaya Indonesia tumbuh lewat lintasan sejarah yang panjang.

Jika budaya diartikan sebagai tata keyakinan, pemikiran, perilaku ataupun produk yang dihasilkan secara bersama, maka budaya Indonesia dapat percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi mengalami relativitas. Artinya, budaya yang kini berkembang di Indonesia merupakan hasil percampuran dari aneka budaya berbeda.

Hasil dari percampuran tersebut hingga kini masih berada dalam keadaan berubah secara konstan. Terdapat gelombang-gelombang pengaruh “luar” yang turut membentuk karakter budaya Indonesia.Namun, pembentukan budaya oleh pengaruh “luar” bukannya hendak menganggap Indonesia “asli” tidak punya budaya spesifik. Misalnya, dalam tata keyakinan sesungguhnya “orang Indonesia” telah mengenal keesaan Tuhan. Meski dalam bentuk yang masih “proto” (tua), tokoh wayang Semar (asal katanya “samar”) sesungguhnya telah beredar dalam tata keyakinan orang Indonesia lokal (terutama di Jawa) sebelum datangnya pengaruh Hindu-Buddha.

Semar digambarkan meliputi seluruh sifat dan ciri yang tidak dimiliki makhluk biasa. Tokoh ini bukan perempuan juga bukan laki-laki. Tidak senyum atau cemberut. Tokoh Semar merupakan upaya orang “asli” Indonesia mencari keberadaan Tuhan yang tunggal, dan hendak diterapkan dalam kredo keagamaan mereka. Kitab-kitab narasumber pewayangan dari India (semisal Mahabaratha atau Baratayudha) tidak mengenal tokoh Semar ini.Tulisan ini tiada bertujuan melakukan penelusuran atas dimensi prasejarah Indonesia sebelum kedatangan pengaruh Hindu-Buddha.

Tulisan ini sekadar berupaya memberi gambaran tentang pembentukan budaya Indonesia pasca datangnya pengaruh “luar” yang turut membentuk karakter budaya Indonesia. Percampuran oleh yang “baru” terhadap yang “lama” dari budaya yang ada merupakan titik pusat perhatian tulisan. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, antara lain sebagai percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi 1.

Bidang agama, yaitu berkembangnya agama Hindu-Buddha di Indonesia .Sebelum masuk pengaruh India, kepercayaan yang berkembang di Indonesia masih bersifat animisme dan dinamisme. Masyarakat pada saat itu melakukan pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan benda-benda pusaka tertentu serta kepercayaan pada kekuatan-kekuatan alam.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Dengan masuknya pengaruh Hindu-Buddha, kepercayaan asli bangsa Indonesia ini kemudian berakulturasi dengan agama Hindu-Buddha. Hal ini terbukti dari beberapa upacara keagamaan Hindu-Buddha yang berkembang di Indonesia walaupun dalam beberapa hal tidak seketat atau mirip dengan tata cara keagamaan yang berkembang percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi India.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam tatacara pelaksanaan upacara keagamaan mengalami proses sinkretisme antara kebudayaan agama Hindu-Buddha dengan kebudayaan asli bangsa Indonesia. 2. Bidang politik dan pemerintahan, pengaruhnya terlihat jelas dengan lahirnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia tampaknya belum mengenal corak pemerintahan dengan sistem kerajaan.

Sistem pemerintahan yang berlangsung masih berupa pemerintahan kesukuan yang mencakup daerah-daerah yang terbatas. Pimpinan dipegang oleh seorang kepala suku bukanlah seorang raja. Dengan masuknya pengaruh India, membawa pengaruh terhadap terbentuknya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Kerajaan bercorak Hindu antara lain Kutai, Tarumanagara, Kediri, Majapahit dan Bali, sedangkan kerajaan yang bercorak Buddha adalah Kerajaan Sriwijaya.

Hal yang menarik di Indonesia adalah adanya kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha yaitu Kerajaan Mataram lama. Dampak Negatif : Datangnya Budaya “Luar” Perlu ditegaskan terlebih dulu, pengertian budaya yang digunakan pada tulisan ini mengacu pada pendapat Kathy S. Stolley. Menurutnya, budaya terbangun dari seluruh gagasan (ide), keyakinan, perilaku, dan produk-produk yang dihasilkan secara bersama, dan menentukan cara hidup suatu kelompok. Budaya meliputi semua yang dikreasi dan dimiliki manusia tatkala mereka saling berinteraksi.Selain itu, budaya juga dapat dibedakan menurut komponen material dan nonmaterial yang menyusunnya.

Komponen material misalnya makanan, teknologi, pakaian, rumah, dan sejenisnya.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Sementara komponen nonmaterial termasuk bahasa, nilai, keyakinan, tata perilaku, dan sejenisnya.Budaya tidak statis melainkan dinamis. Budaya baru, apapun itu, tatkala memasuki suatu ranah budaya lain akan mengalami proses percampuran. Pasca percampuran tersebut, muncul suatu budaya jenis “baru” yang khas. Ia sulit disamakan begitu saja dengan yang “lama” atau “baru.” Proses percampuran budaya ini dinamakan sinkretisasi.

Demikian pula budaya Hindu dan Buddha ini, selain mempertahankan wujud-wujud aslinya, juga menampakkan pengaruh budaya “asli” Indonesia. Pengaruh Budaya Hindu-Buddha di Indonesia Penggunaan istilah “pengaruh Hindu-Buddha” pun kiranya kurang tepat. Istilah ini sesungguhnya hendak memberikan gambaran beberapa pengaruh yang diberikan orang-orang India atau Cina yang datang dan melakukan kontak dengan penduduk kepulauan Indonesia. Kebetulan, orang-orang India dan Cina yang melakukan kontak-kontak tersebut mayoritas beragama Hindu dan Buddha.

Di masa-masa awal ini, Islam belumlah lagi berdiri selaku sebuah agama secara formal. PENGARUH KEBUDAYAAN ISLAM Dampak Positif : Seiring dengan mundurnya wibawa kerajaan: Majapahit pada akhir abad ke-14 dan selama abad 15, kekuasaan maritimnya juga tidak bisa lagi menduduki daerah-daerah strategis di seluruh nusantara. Terjadi kekosongan kekuasaan di beberapa kota pantai di Jawa pada khususnya.

Situasi dan kondisi ini membuat para pedagang makmur yang bermukim di kota-kota pelabuhan menjalin hubungan perdagangan secara sendirisendiri dengan pedagang asing untuk kepentingan sendiri-sendiri dan pada akhirnya tumbuh menjadi negara-negara pantai yang dapat merongrong kekuasaan Majapahit di pedalaman. Timbul negara Malaka di semenanjung Melayu, negara Aceh di ujung utara Sumatra, negara Banten di Jawa Barat dan negara Demak di pantai Utara Jawa Tengah serta negara Goa di Sulawesi Selatan.Dalam proses perkembangan negara-negara tersebut terjalin hubungan perdagangan antara pedagang-pedagang Indonesia dengan pedagang dari Persia dan Gujarat di India Selatan yang membawa kebudayaan Islam yang pada waktu itu mengandung banyak unsur-unsur mistik.

Untuk tahap pertama, agama Islam yang berkembang di Indonesia masih percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi unsur-unsur mistik, yang kemudian disebarkan oleh Nurudin Percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi di Sumatera atau Syech Siti Jenar di Jawa. Agama Islam yang seperti itu jugalah yang disebarkan oleh penyiar-penyiar yang kemudian di dalam folklore orang Jawa disebut wali dan di dalam kepercayaan rakyat dianggap sebagai orang keramat.

Kegiatan para wali inilah yang kemudian menyebabkan tersebarnya agama Islam, tidak hanya di pantai Jawa Utara, melainkan juga di daerah pedalaman. Agama Islam yang lebih murni sifatnya datang kemudian sebagai gelombang pengaruh kedua setelah banyak orang Indonesia mengunjungi Mekah dan Madinah serta kembali dari naik haji. Di daerah-daerah yang belum amat terpengaruh oleh kebudayaan Hindu, agama Islam mempunyai pengaruh yang mendalam dalam kehidupan penduduk di daerah yang bersangkutan, seperti Aceh, Banten, Pantai Utara Jawa dan Sulawesi Selatan.

Sebaliknya, di daerah-daerah dengan pengaruh kuat kebudayaan Hindu telah berkembang suatu corak tersendiri seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur, agama Islam dirubah menjadi suatu agama yang dikenal dengan nama agama Jawa. Adapun orang-orang yang menganut ajaran-ajaran dan syariah agama Islam secara taat disebut dalam bahasa Jawa orang Islam santri. Masuknya Islam ke Indonesia Durasi penyebaran awal Islam Indonesia dalam kisaran abad ke-7 hingga 13 Masehi.

Penyebarnya berasal dari Arab, Persia, dan India (Gujarat, Benggala). Profesi para penyebar umumnya pedagang, mubalig, wali, ahli-ahli tasawuf, guru-guru agama, dan haji-haji. Mereka menyebarkan Islam lewat sejumlah saluran. Saluran-saluran ini berlangsung dalam enam aras, yaitu perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, seni[5] dan tawaran pembentukan masyarakat egalitarian dalam strata sosial.

Perdagangan. Perdagangan merupakan metode penetrasi Islam paling kentara. Dalam proses ini, pedagang nusantara dan Islam asing bertemu dan saling bertukar pengaruh.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Pedagang asing umumnya berasal dari Gujarat dan Timur Tengah (Arab dan Persia). Mereka melakukan kontak dengan para adipati wilayah pesisir yang hendak melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Sebagian dari para pedagang asing ini menetap di wilayah yang berdekatan dengan pantai dan mendifusikan Islam mereka.

Tatkala para pedagang asing menetap – baik sementara waktu ataupun seterusnya – mereka membangun pemukiman yang disebut Pekojan.[6] Banyak di antara pada saudagar Islam yang kaya sehingga menarik hati kaum pribumi, terutama anak-anak kaum bangsawan, untuk menikahi mereka. Masalahnya, para pedagang menganggap pernikahan dengan penganut berhala tidak sah.

Mereka mensyaratkan bahwa untuk menikah, penduduk Indonesia harus masuk Islam dengan mengucapkan syahadat terlebih dahulu. Proses pernikahan singkat, tidak melalui upacara yang panjang-lebar, membuat kalangan pribumi semakin menerima keberadaan orang-orang asing berikut agama barunya ini. Mukimnya pedagang Islam dalam kegiatan perdagangan (sekadar transit atau menetap), membuat mereka berkembang biak di sekitar wilayah pelabuhan. Pola ini mampu mengembangkan pemukiman Islam baru (disebut koloni).

Ini menjelaskan mengapa Kerajaan Islam nusantara selalu berawal dari wilayah-wilayah pesisir seperti Bone, Banjar, Banten, Demak, Cirebon, Samudera Pasai, Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, Hitu, ataupun Deli.Perkawinan.

Seperti telah dipaparkan sebelumnya, perkawinan banyak dilakukan antara pedagang Islam dengan putri-putri adipati. Dalam pernikahan, mempelai pria Islam (juga wanitanya) mengajukan syarat pengucapan kalimat syahadat sebagai sahnya pernikahan. Anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut cenderung mengikuti agama orang tuanya yang Islam. Perkawinan antara saudagar Islam dengan anak-anak kaum bangsawan, raja, atau adipati menguntungkan perkembangan Islam.

Status sosial, ekonomi, dan politik mertua-mertua mereka memungkinkan Islam melakukan penetrasi langsung ke jantung kekuasaan politik lokal (palace circle).

Saat sudah berada di aras pusat kekuasaan politik, penerbitan kebijakan-kebijakan yang menguatkan penyebaran Islam mendapat prioritas dalam input, konversi, dan output kebijakan para sultan atau para adipatinya.

Tasawuf. Tasawuf merupakan epistemologi Islam yang banyak menarik perhatian kalangan pribumi. Metodenya yang toleran, tidak mengakibatkan cultural shock signifikan, membuat banjir penganut Islam baru. Tasawuf cenderung tidak menciptakan posisi diametral Islam dengan budaya India ataupun tradisi lokal yang dipraktekkan kalangan pribumi. Tokoh-tokoh tasawuf Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, ataupun beberapa tokoh Wali Sanga (termasuk juga Syekh Siti Jenar) mengambil posisi kunci dalam percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi penyebaran ini.

Lewat tasawuf pula, bentuk Islam yang diperkenalkan menunjukkan persamaan dengan alam pikiran orang-orang Jawa-Hindu, çiwa, dan Buddha. Akibatnya, Islam tidak dipandang sesuatu yang sama sekali asing bagi kalangan pribumi.Pendidikan.

Sebelum Islam masuk, Indonesia dikenal sebagai basis pendidikan agama Buddha, khususnya perguruan Nalendra di Sumatera Selatan. Pecantrikan dan Mandala adalah sekolah tempat para penuntut ilmu di kalangan penduduk pra Islam. Setelah Islam masuk, peran Pecantrikan dan Mandala tersebut diambil alih lalu diberi muatan Islam dalam kurikulumnya.

Kini pesantren (Islam) berlaku sebagai pusat pembinaan guru agama, kiai, dan ulama. Percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi pendidikan, lulusan kembali ke kampung dan desa masing-masing untuk menjadi tokoh agama atau mendirikan pesantren sendiri. Misalnya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang mendirikan pesantren di Ampel Denta. Selain itu, pesantren yang didirikan Sunan Giri menjadi terkenal hingga Maluku dan menyebabkan penduduk Maluku (khususnya wilayah Hitu) datangberguru pada Sunan Giri.

Atau, para kiai dari Giri diundang mengajar ke Hitu. Biasanya, yang diundang menjadi khatib, modin, atau kadi masyarakat Hitu dan diberi upah cengkih. Seni. Tidak bisa dipungkiri, seni punya peran signifikan dalam penyebaran Islam. Orang Indonesia sebelum kedatangan Islam terkenal sebagai seniman-seniman jenius yang punya kemashuran tinggi. Lewat seni, Islam mampu menjangkau segmen lebih luas masyarakat pribumi, termasuk para elitnya.

Sunan Kalijaga misalnya, menggunakan wayang sebagai cara dakwah baik atas penduduk biasa maupun elit sosial. Sunan Bonang menggunakan gamelan dalam melantunkan syair-syair keagamaan. Ini belum termasuk tokoh-tokoh lain yang mengadaptasi seni kerajinan lokal dan India yang diberi muatan Islam.

Egalitarianisme. Egalitarianisme akhirnya menempati posisi kunci. Problem utama di budaya percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi adalah stratifikasi sosial berdasarkan kasta. Meski tidak terlampau ketat, Hindu di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi terbentuknya kasta sosial seperti Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan Paria.

Masyarakat biasa kurang leluasa dengan sistem ini oleh sebab mengakibatkan sejumlah keterbatasan dalam hal pergaulan dan perkawinan.

Lalu, Islam datang dan tidak mengenal stratifikasi sosial. Mudah dipahami, orang-orang Indonesia (terutama dari kasta bawah) yang hendak bebas merespon baik agama baru ini. Dampak Negatif : Konversi Islam nusantara awalnya terjadi di sekitar semenanjung Malaya. Menyusul konversi tersebut, penduduknya meneruskan penggunaan bahasa Melayu. Melayu lalu digunakan sebagai bahasa dagang yang banyak digunakan di bagian barat kepulauan Indonesia.

Seiring perkembangan awal Islam, bahasa Melayu pun memasukkan sejumlah kosakata Arab ke dalam struktur bahasanya. Bahkan, Taylor mencatat sekitar 15% dari kosakata bahasa Melayu merupakan adaptasi bahasa Arab.[7] Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf Pallawa ke dalam huruf Arab, dan ini kemudian dikenal sebagai huruf Jawi.Bersamaan naiknya Islam menjadi agama dominan kepulauan nusantara, terjadi sinkretisasi atas bahasa yang digunakan Islam.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Sinkretisasi terjadi misalnya dalam struktur penanggalan Çaka. Penanggalan ini adalah mainstream di kebudayaan India. Secara sinkretis, nama-nama bulan Islam disinkretisasi Agung Hanyakrakusuma (sultan Mataram Islam) ke dalam sistem penanggalan Çaka. Penanggalan çaka berbasis penanggalan Matahari (syamsiah, mirip gregorian), sementara penanggalan Islam berbasis peredaran Bulan (qamariah).

Hasilnya pada 1625, Agung Hanyakrakusuma mendekritkan perubahan penanggalan Çaka menjadi penanggalan Jawa yang sudah banyak dipengaruhi budaya Islam. Nama-nama bulan yang digunakan tetap 12, sama dengan penanggalan Hijriyah (versi Islam).

Penyebutan nama bulan mengacu pada bahasa Arab seperti Sura (Muharram atau Assyura dalam Syiah), Sapar (Safar), Mulud (Rabi’ul Awal), Bakda Mulud (Rabi’ul Akhir), Jumadilawal (Jumadil Awal), Jumadilakir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadhan), Sawal (Syawal), Sela (Dzulqaidah), dan Besar (Dzulhijjah). Namun, penanggalan hariannya tetap mengikuti penanggalan Çaka sebab saat itu penanggalan harian Çaka paling banyak digunakan penduduk sehingga tidak bisa digantikan begitu saja tanpa menciptakan perubahan radikal dalam aktivitas masyarakat (revolusi sosial).

Salah satu wujud pengaruh Islam yang lebih sistemik secara budaya adalah pesantren. Asal katanya pesantren kemungkinan shastri (dari bahasa Sanskerta) yang berarti orang-orang yang tahu kitab suci agama Hindu.

Atau, kata cantrik dari bahasa Jawa yang berarti orang yang mengikuti kemana pun gurunya pergi. Fenomena pesantren telah berkembang sebelum Islam masuk. Pesantren saat itu menjadi tempat pendidikan dan pengajaran agama Hindu. Setelah Islam masuk, kurikulum dan proses pendidikan pesantren diambilalih Islam.

Pada dasarnya, pesantren adalah sebuah asrama tradisional pendidikan Islam. Siswa tinggal bersama untuk belajar ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang disebut Kyai. Asrama siswa berada di dalam kompleks pesantren di mana kyai berdomisili. Dengan kata lain, pesantren dapat diidentifikasi adanya lima elemen pokok yaitu: pondok, masjid, santri, kyai, dan kitab-kitab klasik (kitab kuning).[8] Seputar peran signifikan pesantren ini, Harry J.

Benda menyebut sejarah Islam ala Indonesia adalah sejarah memperbesarkan peradaban santri dan pengaruhnya terhadap kehidupan keagamaan, sosial, dan ekonomi di Indonesia.[9] Melalui pesantren, budaya Islam dikembangkan dan beradaptasi dengan budaya lokal yang berkembang di sekitarnya tanpa mengakibatkan konflik horisontal signifikan. PENGARUH KEBUDAYAAN EROPA Dampak Positif : Dalam masa lebih tujuh abad, kekuasaan Islam di Spanyolumat Islam telah mencapai kejayaannya di sana.

Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian Dunia kepada kemajuan yang kompleks. Baik kemajuan intelektual maupun kemegahan pembangunan fisik.Perlu diketahui bahwa Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), salah seorang khalifah dari Umayah yang berpusat di Damaskus.

Sebelum penaklukan Spanyol umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah.Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin pasukan ke sana.

Mereka adalah Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nusair. Penaklukan diawai dengan pengiriman 500 orang tentara di bawah pimpinan Thariq bin Malik tahun 710 M, Ekspedisi ini berhasil dan ia kembali ke Afrika Utara dengan membawa banyak ghanimah. Percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi bin Nushair, gubernur Afrika Utara kala itu mengirim 7000 orang tentara di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.

Pasukan kedua ini mendarat di bukit Gibraltar percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi Thariq) tahun 711 M. karena musuh yang dihadapinya jumlahnya berlipat ganda, Thariq mendapat tambahan 5000 orang tentara dari Afrika Utara, sehingga pasukannya menjadi 12.000 orang. Pertempuran berhasil sampai Toledo, ibukota Gothia Barat dapat direbut.

Bulan Juni 712 M Musa bin Nushair berangkat ke Andalusia dengan 10.000 tentara dan menaklukan kota-kota yang belum ditaklukan sebelumnya oleh Thariq. Di Kota Talaveria Thariq menyerahkan kepemimpinan kepada Musa. Pada saat itulah Musa memaklumkan Andalusia menjadi bagian wilayah kekuasaan bani Umayah yang berpusat di Andalusia.Penaklukan demi penaklukan dimenangkan umat Islam sampai menjangkau Prancis Tengah dan bagian-bagian penting Italia. Kemenangan ini nampak begitu mudah karena daya dukung dari eksternal maupun internal.

Faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam negeri Spanyol sendiri yaitu kondisi sosial, politik dan ekonomi Spanyol dalam keadaan yang memperihatinkan.

Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak ke beberapa negeri kecil dan rakyat dibagi-bagi dalam sistem kelas sehingga kehidupan mereka diliputi kemelaratan dan ketertindasan. Sementara penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut penguasa. Dalam situasi seperti ini kaum tertindas menanti juru pembebas dan juru pembebas mereka temukan dalam diri orang Islam.Adapun faktor internalnya adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para prajuritnya.

Para pemimpin ketika percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani dan tabah dalam menghadapi persoalan.Eropa memiliki sejarah kebudayaan dan ekonomi yang panjang, dimulai dari Palaeolitik. Penemuan terakhir di Monte Poggiolo, Italia, dari ribuan batuan buatan tangan yang ditanggal karbon sejauh 800.000 tahun lalu, memberikan sebuah bukti penting.Awal dari budaya demokratik dan individualistik Barat seringkali dikatakan berasal dari Yunani Kuno, meskipun beberapa pengaruh lainnya, seperti Kristen, juga turut mempunyai andil atas penyebaran konsep seperti eglitarianisme yaitu kecenderungan cara berpikir bahwa penikmatan atas kesetaraan dari beberapa macam premis umum misalkan bahwa seseorang harus diperlakukan dan mendapatkan perlakuan yang sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonome, sosial, atau budaya dan keuniversalan hukum.

Kekaisaran Romawi membagi benua sepanjang Rhine dan Danube selama beberapa abad. Mengikuti penurunan Kekaisaran Romawi, Eropa mengalami kenaikan dari yang dikenal sebagai Zaman Migrasi. Periode tersebut dikenal sebagai Zaman Kegelapan sampai ke Renaisans.

Pada masa ini, komunitas monastik terisolasi di Irlandia dan di beberapa tempat lain menjaga dan mengumpulkan secara hati-hati pengetahuan tertulis yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Renaisans dan Monarki Baru menandakan mulainya periode penemuan, eksplorasi, dan peningkatan dalam pengetahuan ilmiah. Pada abad percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi Portugal membuka awal penemuan, yang diikuti oleh Spanyol.

Kemudian Perancis, Belanda, dan Britania Raya turut bergabung dalam membangun kekaisaran kolonial besar dengan daerah kekuasaan yang luas di Afrika, Amerika, dan Asia.Setelah masa penemuan, konsep-konsep demokrasi mulai menemukan pengaruhnya di Eropa.

Perjuangan-perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan muncul, terutama di Perancis pada periode yang dikenal sebagai Revolusi Perancis. Ini mengakibatkan pergolakan yang besar di Eropa karena ide-ide yang revolusioner ini menyebar ke sepanjang benua. Kebangkitan demokrasi menyebabkan bertambahnya tekanan di Eropa selain tensi-tensi yang telah ada karena persaingan di Dunia Baru.

Dari semuanya, konflik yang paling terkenal adalah saat Napoleon Bonaparte merebut kekuasaan dan membentuk Kekaisaran Perancis yang jatuh tak lama kemudian. Setelah peristiwa-peristiwa ini, Eropa perlahan-lahan menjadi stabil, namun sisa-sisa dari konsep periode lama telah mulai runtuh.Revolusi Industri dimulai di Britania Raya pada akhir abad ke-18, yang menyebabkan pergeseran dari pertanian, kemakmuran rakyat yang semakin bertambah dan pertumbuhan penduduk.

Banyak negara di Eropa menemukan bentuknya seperti yang sekarang ini pasca-Perang Dunia II. Sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga Perang Dingin, Eropa terbagi kepada dua blok politik dan ekonomi utama: negara-negarakomunis di Eropa Timur dan negara-negara kapitalis di Eropa Barat. Sekitar tahun 1990, Blok Timur pecah bersamaan dengan jatuhnyaTembok Berlin.Eropa memiliki sejarah kebudayaan dan ekonomi yang panjang, dimulai dari Palaeolitik adalah zaman yang bermula kira-kira 50.000 hingga 100.000 tahun yang lalu.

Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM – 10.000 SM. Penemuan terakhir di Monte Poggiolo, Italia, dari ribuan batuan buatan tangan yang ditanggal karbon sejauh 800.000 tahun lalu, memberikan sebuah bukti penting.Awal dari budaya demokratik dan individualistik Barat seringkali dikatakan berasal dari Yunani Kuno, meskipun beberapa pengaruh lainnya, seperti Kristen, juga turut mempunyai andil atas penyebaran konsep seperti eglitarianisme dan keuniversalan hukum.Kekaisaran Romawi membagi benua sepanjang Rhine dan Danube selama beberapa abad.

Mengikuti penurunan Kekaisaran Romawi, Eropa mengalami kenaikan dari yang dikenal sebagai Zaman Migrasi. Periode tersebut dikenal sebagai Zaman Kegelapan sampai ke Renaisans. Pada masa ini, komunitas monastik terisolasi di Irlandia dan di beberapa tempat lain menjaga dan mengumpulkan secara hati-hati pengetahuan tertulis yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Renaisans dan Monarki Baru menandakan mulainya periode penemuan, eksplorasi, dan peningkatan dalam pengetahuan ilmiah. Pada abad ke-15 Portugal membuka awal penemuan, yang diikuti oleh Spanyol. Kemudian Perancis, Belanda, dan Britania Raya turut bergabung dalam membangun kekaisaran kolonial besar dengan daerah kekuasaan yang luas di Afrika, Amerika, dan Asia.Setelah masa penemuan, konsep-konsep demokrasi mulai menemukan pengaruhnya di Eropa.

Perjuangan-perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan muncul, terutama di Perancis pada periode yang dikenal sebagai Revolusi Perancis. Ini mengakibatkan pergolakan yang besar di Eropa karena ide-ide yang revolusioner ini menyebar ke sepanjang benua. Kebangkitan demokrasi menyebabkan bertambahnya tekanan di Eropa selain tensi-tensi yang telah ada karena persaingan di Dunia Baru.

Dari semuanya, konflik yang paling terkenal adalah saat Napoleon Bonaparte merebut kekuasaan dan membentuk Kekaisaran Perancis yang jatuh tak lama kemudian. Setelah peristiwa-peristiwa ini, Eropa perlahan-lahan menjadi stabil, namun sisa-sisa dari konsep periode lama telah mulai runtuh.Revolusi Industri dimulai di Britania Raya pada akhir abad ke-18, yang menyebabkan pergeseran dari pertanian, kemakmuran rakyat yang semakin bertambah dan pertumbuhan penduduk.

Banyak negara di Eropa menemukan bentuknya seperti yang sekarang ini pasca-Perang Dunia II. Sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga Perang Dingin, Eropa terbagi kepada dua blok politik dan ekonomi utama: negara-negarakomunis di Eropa Timur dan negara-negara kapitalis di Eropa Barat.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Sekitar tahun 1990, Blok Timur pecah bersamaan dengan jatuhnyaTembok Berlin. Dampak Negatif : Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa dalam meneyerap peradaban Islam, baik dalam hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar negara.

Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi berkembang di periode klasik.

Memang banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sicilia dan Perang Salib, tetapi saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam. Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar negara.

Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains disamping bangunan fisik. Yang terpenting diantaranya adalah pemikiran Ibn Rusyd (1120-1198 M). Ia melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berpikir.

Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunnatullah menurut pengertian Islam terhadap pantheisme dan anthropomorphisme Kristen.

Demikian besar pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroeisme (Ibn Rusydisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Pihak gereja menolak pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme ini. Berawal dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M. Buku-buku Ibn Rusyd dicetak di Venesia tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M.

Bahkan edisi lengkapnya terbit pada tahun 1553 dan 1557 M. Karya-karyanya juga diterbitkan pada abad ke-16 M di Napoli, Bologna, Lyonms, dan Strasbourg, dan di awal abad ke 17 M di Jenewa. Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca.

Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan muslim.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas di Eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di akhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di dalam universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat.

Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-1 4 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Latin.

Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah: kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklaerung) pada abad ke-18 M. Asimilasi memang kebanyakan dipikirkan sebagai hal yang negatif, walaupun ada juga yang memandangnya sebagai hal yang positif.

Memang sangat sulit untuk mencari tahu apakah suatu kebudayaan yang masuk kedalam kebudayaan lain akan bersifat menghapuskan/menghilangkan kebudayaan yang ada atau malah bersatu dengan kebudayaan lama dan menciptkan kebudayaan baru (akulturasi).

Dalam contoh sehari-hari dapat dilihat bagaimana budaya yang nenek moyang kita wariskan lama-lama mulai luntur/hilang karena sudah tidak diperhatikan lagi, hal ini disebabkan masyarakat cenderung leih menyukai budaya luar yang dirasa lebih modern, praktis dan gaya.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Kita ambil contoh mengenai permainan tradisonal, banyak sekali yang sudah tidak mengenal permainan tradisionalnya, contohnya seperti enggrang, bagunduh, lempar gasing, balogo, badaku, dll. Sekarang masyarakat lebih mengenal yang namanya playstation, bilyar, skateboard, track-trackan, clubbing, shopping, dll. Secara langsung maupun tidak langsung didalam hal ini telah terjadi asimilasi dimana kebudayaan lama yang ada telah tergantikan dengan kebudayaan yang baru.

Tapi, syukur sekarang sudah ada beberapa orang yang mau menyadari hal tersebut dan berusaha untuk kembali kepada kebudayaan aslinya dan berusaha melestarikan serta mempublikasikan kepada masyarakat contohnya sekarang sudah ada sanggar-sanggar budaya yang bertujuan untuk melestarikan budaya asli terjadinya pencampuran budaya2 luar yg kurang baik ke-budaya kita yg notabene mengedepankan aspek religi, sehingga terjadi penyimpangan dalam beragama.

-hilangnya identitas leluhur kita -memberi peluang untuk hilangnya suatu kebudayaan asli. Jika akulturasi yang terjadi, mungkin dampak negatifnya hanya terjadinya pembauran/percampuran dua budaya yang berbeda, hingga terjadi sebuah kesenjangan budaya satu dengan yang lain, namun budaya asli tidak hilang.

sedangkan jika yang terjadi asimilasi, maka dampak negatifnya adalah akan semakin luntur nya kepribadian budaya asli, jika masyarakat tak mampu menyaring budaya – budaya asing yang masuk, karena asimilasi merupakan upaya untuk saling mengisi kekurangan satu budaya dengan budaya yang lain, dan apabila masyarakat hanya melihat kekurangan itu pada hal yang menyenangkan atau instan maka kebudayaan asli akan terancam kemurniannya.

asimilasi adalah proses sosial salam taraf lanjut yang ditandai dengan adanya usaha saling mengurangi perbedaan yang terdapat antarindividu atau kelompok yang satu dengan yang lainnya. akulturasi adalah pertemuan dua unsur2 kebudayaan / lebih sehingga lambat laun unsur2 budaya diserap oleh kebudayaan penerima tanpa menghilangkan kepribadian asli budaya masing2. Pencarian untuk: • Komentar Terbaru treshadiwijoyo pada Cinta Yang Agung intan maharani pada Cinta Yang Agung treshadiwijoyo pada Tempat Wisata Goa Jomblang… nuansa pada Tempat Wisata Goa Jomblang… treshadiwijoyo pada KEBUDAYAAN REOG PONOROGO SEBAG… • Kategori • Bisnis Ku • ilmu sosial • Uncategorized • Arsip • April 2015 • Juni 2014 • Mei 2014 • April 2014 • Maret 2014 • Februari 2014 • Desember 2013 • November 2013 • Oktober 2013 • JADWAL SOLAT HARI INI Pencampuran kebudayaan yang saling memengaruhi sering kita sebut percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi akulturasi budaya.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Proses terjadinya akulturasi sendiri sangat panjang. Akulturasi juga memberikan beberapa dampak terhadap tatanan kehidupan masyarakat. Nah, pada kesempatan kali ini skalacerita akan membagikan ulasan tentang akulturasi budaya untuk teman cerita.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Dengan begitu kita akan memahami segala macam proses yang mengakibatkan terjadinya pencampuran budaya dalam kehidupan kita. Simak informasi selengkapnya, ya! Pencampuran Kebudayaan yang Saling Memengaruhi Akulturasi Budaya Menurut Kamus Besar Bahasa Percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi, pencampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi disebut sebagai akulturasi budaya.

Jadi, akulturasi merupakan suatu proses sosial yang terjadi di tengah tatanan masyarakat karena suatu kelompok manusia dihadapkan dengan unsur kebudayaan asing yang masuk. Lambat laun kebudayaan asing tersebut akan diterima dan diolah tanpa menghilangkan unsur kebudayaan dari kelompok itu sendiri. Kebudayaan tersebut ada yang diserap banyak, sebagian, atau hanya sedikit. Tergantung dari kelompok itu sendiri. Singkatnya, proses akulturasi merupakan proses adaptasi kebudayaan yang terjadi dengan tetap mempertahankan kebudayaan lama masyarakat itu sendiri.

Adegan wayang orang di Jawa, di mana Prabu Dewa Sukma kalah dalam pertempuran dengan Semar dan Nala Gareng (sumber: KITLV) Salah satu contoh dari akulturasi budaya adalah wayang. Wayang termasuk suatu bentuk akulturasi budaya yang mempertemukan kebudayaan Jawa dengan kebudayaan India. Tokoh pewayangan seperti halnya Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong merupakan kebudayaan Jawa yang kemudian menjadi tokoh dalam kisah Ramayana dan juga Mahabharata dari India.

Model akulturasi budaya yang semacam ini juga terjadi dalam berbagai bidang lain seperti dalam bidang seni tari, seni rupa, seni bangunan, dan lainnya. Proses Akulturasi Budaya Akulturasi budaya berdasarkan percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi terbagi menjadi dua, yaitu bisa berjalan karena paksaan dan dapat berjalan damai.

Akulturasi budaya yang terjadi karena paksaan biasanya dilakukan dengan cara–cara kurang baik misalnya penjajahan bangsa asing terhadap Indonesia. Namun, proses penyesuaiannya tidak dapat bertahan lama karena akulturasi tersebut akan hilang seiring dengan hilangnya penjajah di negara jajahannya.

Hal ini juga diakibatkan adanya penolakan dari masyarakat terhadap kebudayaan bangsa asing tersebut. Akulturasi budaya dengan cara damai merupakan suatu bentuk akulturasi yang mampu bertahan lama jika dibandingkan dengan cara pertama.

percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi

Proses penyesuaiannya sangat lama dan melekat erat dalam budaya masyarakat sehingga tidak dapat hilang dengan mudah. Dalam proses kedua ini, masyarakat menerimanya dengan sadar dan secara alami akan masuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat tersebut.

Dampak Akulturasi Akulturasi yang terjadi bisa mengakibatkan dampak positif dan juga dampak negatif pada tatanan kehidupan manusia.

Dampak dari proses akulturasi sebagai berikut: • Adisi: penambahan unsur kebudayaan lama dengan unsur kebudayaan baru sehingga nantinya akan timbul perubahan secara struktural atau nonstruktural. • Sinkretisme: perpaduan unsur kebudayaan lama dengan unsur kebudayaan baru tanpa percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi jati diri masing–masing dan membentuk suatu konsep atau sistem kebudayaan baru.

• Substitusi: unsur kebudayaan yang telah ada yang diganti oleh unsur kebudayaan baru. Dalam hal ini perubahan struktural yang kemungkinan terjadi sangatlah kecil. • Dekulturisasi: proses tumbuhnya unsur–unsur kebudayaan yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan baru karena adanya perubahan situasi di lingkungan. • Rejeksi: suatu tindakan penolakan yang terjadi atas perubahan sehingga sebagian besar orang tidak dapat menerima karena hal ini dapat menimbulkan pemberontakan atau suatu gerakan kebangkitan.

Teman cerita, itulah konsep pencampuran percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi yang saling memengaruhi di tengah tatanan masyarakat yang kita kenal sebagai proses akulturasi budaya. Dampak positif dan negatif akibat akulturasi budaya bergantung pada penerimaan masyarakat itu sendiri. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!
Jakarta - Di sekitar kita, ada berbagai macam kebudayaan yang berasal dari dua budaya atau lebih yang berbeda.

Meski sudah bercampur, ada unsur asli yang tidak dihilangkan. Hal ini disebut dengan akulturasi. Akulturasi kebudayaan adalah perpaduan antara dua kebudayaan atau lebih yang berbeda. Hal ini terjadi akibat adanya interaksi antara kelompok masyarakat yang mempunyai kebudayaan tertentu dengan kelompok masyarakat lainnya. Proses akulturasi tidak menyebabkan hilangnya unsur-unsur kebudayaan dari dua atau lebih kelompok masyarakat tadi.

Kebudayaan asli masih bisa dilihat ciri-cirinya, serta dapat dibedakan dan dianalisis jika dibandingkan dengan kebudayaan dari luar. Baca juga: Pengertian, Kaidah Kebahasaan, dan Struktur Teks Iklan yang Tepat Pengertian Akulturasi Istilah akulturasi berasal dari bahasa latin Acculturate yang artinya "tumbuh dan berkembang bersama". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada tiga pengertian akulturasi. Ketiganya bisa dilihat secara umum, antropologi, dan linguistik. Secara umum, akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi.

Lalu, secara antropologi, akulturasi adalah proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu.

Sementara dari segi linguistik, akulturasi adalah proses atau hasil pertemuan kebudayaan atau bahasa di antara anggota dua masyarakat bahasa, ditandai oleh peminjaman atau bilingualisme. Ada juga beberapa ahli yang menyampaikan definisi dari akulturasi budaya. Menurut antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, akulturasi adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah kembali tanpa menyebabkan hilangnya percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi budaya itu sendiri.

Sementara sosiolog Amerika, Arnold M. Rose mendefinisikan akulturasi sebagai "the adoption by a person or group of the culture of another social group." Artinya adalah "adopsi oleh seseorang atau kelompok budaya dari kelompok sosial yang lain".

Maka, dapat disimpulkan bahwa akulturasiadalah perpaduan antarbudaya yang kemudian menghasilkan budaya baru tanpa menghilangkan unsur-unsur asli dalam budaya tersebut.

Biasanya, akulturasi kebudayaan terjadi karena unsur budaya yang baru dinilai memberikan manfaat bagi kehidupan suatu masyarakat.

Proses ini dapat mencakup berbagai aspek kehidupan seperti bahasa, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Akulturasi bisa terjadi melalui kontak budaya yang bentuknya bermacam-macam, misalnya pada seluruh lapisan masyarakat, sebagian, atau bahkan antar individu dari dua kelompok berbeda. Ada sejumlah faktor pendorong terjadinya akulturasi. Diantaranya sistem pendidikan formal yang maju, sikap menghargai, toleransi terhadap kebudayaan lain, sistem terbuka di masyarakat, penduduk yang heterogen, adanya orientasi ke depan, dan masih banyak lagi.

Namun ada juga faktor-faktor yang menghambat akulturasi. Seperti perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat, sikap tradisional masyarakat, kurang hubungan dengan kelompok lain, adat atau kebiasaan, dan lain-lain. Baca juga: Kalimat Simpleks: Pengertian, Ciri-ciri, dan Contohnya Contoh Akulturasi Budaya Ada beragam contoh akulturasi yang bisa ditemukan di Indonesia. Misalnya seni wayang yang merupakan perpaduan kesenian Jawa dengan cerita dari India, seperti Mahabharata.

Atau budaya campuran adat Betawi dan Cina yang menjadi kesenian seperti tari Cokek atau Lenong. Contoh selanjutnya yaitu Masjid menara Kudus yang memiliki arsitektur kebudayaan Hindu dan Jawa, atau berbagai bangunan peribadatan lainnya. Setelah mengetahui pengertian akulturasi, apakah detikers bisa menyebutkan contoh kebudayaan campuran lainnya?

Simak Video " Dari Kuda Hingga Gajah Turut Memeriahkan Kirab Budaya Aceh" [Gambas:Video 20detik] (lus/lus) Akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. Akulturasi terjadi ketika kebudayaan kedua percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi ras yang bertemu mulai berbaur dan berpadu.

Akulturasi tidak hanya terjadi pada masyarakat yang posisinya sama, tetapi bisa juga pada masyarakat yang posisinya beda. selain itu, proses akulturasi juga menghasilkan pola budaya dimana kedua konteks budaya yang berbaur masih mempertahankan karakternya masing-masing. Jadi, jawabannya adalah A.
Sistem kami menemukan 25 jawaban utk pertanyaan TTS percampuran kebudayaan yang saling mempengaruhi.

Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Kompas, Jawa Pos, koran Tempo, dll. Kami memiliki database lebih dari 122 ribu. Masukkan juga jumlah kata dan atau huruf yang sudah diketahui untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Gunakan tanda tanya ? untuk huruf yang tidak diketahui.

Contoh J?W?B
Dilansir dari Encyclopedia Britannica, proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi disebut akulturasi. Kemudian, saya sangat menyarankan anda untuk membaca pertanyaan selanjutnya yaitu Bahasa perantara yang berkembang menjadi lingua franca di seluruh Kepulauan Nusantara pada masa perkembangan kerajaan Islam adalah bahasa?

beserta jawaban penjelasan dan pembahasan lengkap. Dilansir dari Encyclopedia Britannica, proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi disebut akulturasi. Kemudian, saya sangat menyarankan anda untuk membaca pertanyaan selanjutnya yaitu Bahasa perantara yang berkembang menjadi lingua franca di seluruh Kepulauan Nusantara pada masa perkembangan kerajaan Islam adalah bahasa?

beserta jawaban penjelasan dan pembahasan lengkap.Percampuran Budaya – Di indonesia sendiri banyak sekali terdapat ragam suku dan kebudayaan nya. kana banyak budaya inilah memperbesar kemungkinan terjadinya percampuran budaya atau Akulturasi. Percampuran budaya ini sudah terjadi sekian lama dan semakin berkembang, karena masyarakat indonesia yang memiliki sifat sangat terbuka pada perubahan. Tetapi perubahan-perubahan yang diserap tidaklah selalu berdampak positif, ada juga yang berdampak negatif.

Pengertian Percampuran Budaya • Akulturasi ialah percampuran dua kebudayaan atau lebih yg saling bertemu dan saling mempengaruhi antar proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu.

Proses atau hasil pertemuan kebudayaan atau bahasa di antara anggota dua masyarakat bahasa, ditandai oleh peminjaman atau bilingualisme. • Asimilasi adalah proses masuknya kebudayaan baru yang berbeda setelah mereka bergaul secara intensif, sehingga sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan itu masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran Syarat – syarat terjadinya percampuran budaya : • Terdapat dua atau lebih komunitas masyarakat dengan kebudayaan berbeda di dalam lingkungan hidup tertentu.

• Memungkinkan terjadinya interaksi yang baik antara komunitas yang bersangkutan. • Adanya sikap toleransi antar kebudayaan. Faktor yang dapat mempercepat percampuran budaya : • Masing-masing komunitas memiliki sikap terbuka atas kebudayaan komunitas lainnya. • Menghormati kebudayaan yang dibawa oleh komunitas lain dan segala kebiasaannya.

• Terdapat kesamaan dalam beberapa bidang kebudayaan secara umum. • Terjadinya pernikahan antar anggota kedua komunitas. Dampak Positif Dan Negatif Dari Percampuran Budaya Di Indonesia : Arsip • Juli 2017 • Januari 2017 • November 2016 • Oktober 2016 • Juli 2016 • Juni 2016 • April 2016 • Maret 2016 • November 2015 • Oktober 2015 • September 2015 • Juli 2015 • Juni 2015 • Mei 2015 • April 2015 • Maret 2015 • Desember 2014 • November 2014 • Oktober 2014 • Juni 2014 • Mei 2014 • April 2014 • Maret 2014 • Januari 2014 • November 2013 • Oktober 2013
Sistem kami menemukan 21 jawaban utk pertanyaan TTS percampuran budaya yang saling mempengaruhi.

Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Kompas, Jawa Pos, koran Tempo, dll. Kami memiliki database lebih dari 122 ribu. Masukkan juga jumlah kata dan atau huruf yang sudah diketahui untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Gunakan tanda tanya ? untuk huruf yang tidak diketahui.

Contoh J?W?B

Menyadari Tentang Pentingnya Mohon Maaf & Saling Memaafkan I San Rasan




2022 www.videocon.com