Apa itu tepo seliro

apa itu tepo seliro

Apa itu Tepo Sliro?… Tepo sliro adalah Istilah Jawa yang berarti Tenggang rasa atau Menenggang perasaan orang lain. Istilah yang berisi Apa itu tepo seliro ini bukan hanya sekedar ucapan, namun benar² berpengaruh dalam kehidupan terutama dalam bermasyarakat.

Source: Brilio.net Salah satu Contoh Tepo Sliro ialah Menghargai orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita, Memberi kepada sesama, Gotong Royong dlsb… Intinya apapun yang bertujuan untuk kebaikan bagi sesama manusia.

Nah, disini Addidiero bakalan Membagikan sebuah lagu atau Langgam berbahasa jawa, serta liriknya yang kebetulan Terngiang di telinga Addidiero dan kebetulan maknanya juga positif. Kanjeng Sunan – Tepo Sliro – Rebana Wali Songo Intro: Ngati ati Sak jeroning urip Genyo niro podo sesrawungan Saben rino lan wengine Ojo Adigang-Adigung Urip ngunduh wohing pakarti Nduweho Tepo Sliro Welas asih tuwuh Ojo podo seneng ngino Laku becik Mbesokke bakal kethitik Olo bakal ketoro * Umpomo di enyek kok loro atimu Yo ojo ngenyek kancamu Umpomo di Jiwit keroso loro Yo ojo jiwit wong liyo Lamun siro pengen uripe mulyo Mbok yo nduwe Tepo Sliro Nanging Lamun siro biso mulyo Yen urip senenge ngino Apa itu tepo seliro sak jagat royo Ora ono cidro ngunduh mulyo Wong becik mesti kethitik ugo Wong olo bakal ketoro Nalikane siro ing akhirate Mesti ono tulisane (Mesti wae ono tulisane) Gusti Allah ora bakal lali Kabeh kang wis mbok lakoni #Reff Marhaban ya nurul aini marhaban Marhaban jagat khusaini (Marhaban jagat khusaini) Marhaban Allahu wassalam marhaban Marhaban ya khoirot aini 2X * & Reff Nah diatas adalah lirik lagunya, Kalau Brosis berminat silahkan download lagunya Di sini Credits & thanks to: – http://www.nafaz.wapka.mobi – Kompasiana (Dita Widodo) Semoga Bermanfaat & See you brosis!

Cari untuk: Artikel terbaru lainnya • JKT48 – Jiwaru Days (Gabriela Margareth Warouw Special Song) – Lirik lagu & Chord • Hal-hal Baru dalam 2 Tahun • Lirik lagu: M16.

Tentang Suratku (Tegami No Koto) - JKT48 Setlist Tunas di Balik Seragam (Seifuku no Me) • Menjadi Anti-mainstream Dalam Memilih Selera Musik • JKT48 – BETTER (Lyrics) Sosial Media • Tampilkan Addidiero Nascimento Junior’s profil di Facebook • Tampilkan Adidiero’s profil di Twitter • Tampilkan Addidiero’s profil di Instagram Instagram Tidak ada gambar Instagram yang ditemukan.

Ikuti Blog Saya melalui Email Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

apa itu tepo seliro

Bergabunglah dengan 431 pengikut lainnya Alamat Email: Ikuti Ikuti saya di Twitter Kicauan Saya Statistik Blog • 13.624 hit! Top Apa itu tepo seliro & Halaman • JKT48 - Jiwaru Days (Gabriela Margareth Warouw Special Song) - Lirik lagu & Chord • Hal-hal Baru dalam 2 Tahun • Lirik lagu: M16. Tentang Suratku (Tegami No Koto) - JKT48 Setlist Tunas di Balik Seragam (Seifuku no Me) • Menjadi Anti-mainstream Dalam Memilih Selera Musik • JKT48 - BETTER (Lyrics) • Mandeg Jegreg • (Lyrics) Captain Jack Band - Atas Nama Trauma • Titik Transisi • Menjadi Adaptif • Tentang (Susahnya) Mendapatkan Pekerjaan Di Daerah.

Meta • Daftar • Masuk • Feed entri • Feed Komentar • WordPress.com Lebih dekat dengan Penulis Akun Social Media Saya • Tampilkan Andrea Diego Didiero’s profil di Facebook • Tampilkan addidiero’s profil di Twitter • Tampilkan addidiero’s profil di Instagram Instagram Tidak ada gambar Instagram yang ditemukan.

apa itu tepo seliro

Ikuti saya di Twitter Kicauan Saya Berlangganan ke Blog via Email Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel. Bergabunglah dengan 431 pengikut lainnya Alamat Email: Apa itu tepo seliro Pencarian Cari untuk: Artikel Lainnya • JKT48 – Jiwaru Days (Gabriela Margareth Warouw Special Song) – Lirik lagu & Chord • Hal-hal Baru dalam 2 Tahun • Lirik lagu: M16. Tentang Suratku (Tegami No Koto) - JKT48 Setlist Tunas di Balik Seragam (Seifuku no Me) • Menjadi Anti-mainstream Dalam Memilih Selera Musik • JKT48 – BETTER (Lyrics) Apa itu tepo seliro Saya Arsip Saya META • Daftar • Masuk • Feed entri • Feed Komentar • WordPress.com • Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Apa itu tepo seliro • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT 1996 - 2004 Kalbe Nutritional Foods di Finance Division 2004 - 2006 Berwirausaha di Bidang Trading Stationery ( Prasasti Stationery) 2006-sekarang menjalankan usaha di bidang Travel Services, Event Organizer dan Training Consultant (Prasasti Selaras).

2011 Mulai Belajar Menulis sebagai Media Belajar & Berbagi Selanjutnya Tutup Tepo seliro adalah sebuah nasehat Jawa yang berarti menenggang perasaan orang lain. Meski saya yakin, suku apa pun dan bangsa mana pun juga mengenal budi pekerti tersebut sebagai salah satu modal dasar berhubungan dengan orang lain, bersosialisasi. Urusan tenggang rasa ini kelihatannya mudah dan sederhana. Apa susahnya sih menghargai perasaan orang lain sebagaimana kita pun ingin diperlakukan demikian?

Tapi ternyata pada aplikasinya, urusan tepo seliro ini sering diabaikan oleh seseorang. Pembahasan ini tentunya bisa memanjang, melebar dan meluas ke berbagai topik terkait tenggang rasa ini. Namun kali ini saya hanya ingin menyoroti hubungan dengan tetangga. Rumah tangga, atau keluarga adalah himpunan masyarakat terkecil dalam tatanan sebuah negara. Kumpulan keluarga-keluarga yang memiliki tenggang rasa tinggi akan menghasilkan sebuah harmoni kehidupan bernegara, dimana ujung-ujungnya adalah terciptanya rasa nyaman dan kedamaian yang lebih luas.

Menjadi ketua RT di lingkungan perkotaan bukanlah sebuah jabatan prestis yang diinginkan banyak orang. Terbukti hingga saat ini, kami juga belum berhasil ‘lengser’ dari jabatan Ketua RT, lebih karena sulitnya mencari orang yang “bersedia” menggantikannya.

Umumnya orang enggan dan segan ‘ribet’ berbagai hal dimana masing-masing kita sebenarnya juga tidak kurang kesibukan dalam sehari-harinya. Ya, memegang jabatan RT bisa dikatakan adalah kiprah yang bersifat sosial dimana memerlukan kesediaan berkorban sedikit tenaga, sebagian waktu dan cukup banyak pikiran. Salah satu hal yang menjadi masalah dalam hubungan antar tetangga di lingkungan RT adalah tenggang rasa yang diabaikan.

Berikut ini adalah contoh-contoh kasus yang sering terjadi : 1.Membuang sampah di bak sampah tetangga 2.Memelihara binatang peliharaan, dan kotorannya mencemari udara/tanah/rumput tetangga. 3.Mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi ( ngebut ) melintas di lingkungannya 4.Mengklakson mobil setiap kali masuk garasi.

5.Tidak mau menegur / sekadar memberi senyuman/anggukan pada tetangga di lingkungan 6.Melakukan ‘kebisingan’ ketika membangun/merenovasi rumah tanpa permisi ke tetangga terdekat 7.Konstruksi talang air /aliran kran air yang keliru hingga mengakibatkan kebocoran pada dinding tetangga.

8.Tempat penampungan air bermasalah yang meluap hingga rumah tetangga. 9.Parkir kendaraan ‘sembarangan’ di depan rumah tetangga tanpa ijin 10.Dll Sebagian masalah tersebut kadang menjadi sekadar ‘keluhan/ omongan’ dari mulut ke telinga lainnya, dan akhirnya menyebar di udara hingga perlahan tapi pasti menyematkan berbagai ‘stempel’ buruk pihak yang dinilai tidak tahu tenggang rasa di mata masyarakat luas.

Sebagiannya memilih menyelesaikan, dengan dari dengan memberi teguran ataupun luapan amarah jika sang tetangga dianggap ‘ndablek’. Muaranya adalah terjadi keributan hingga hilangnya rasa nyaman berada di dalam rumah sendiri. Sebagian lain memilih melaporkan ke ketua RT, karena mereka apa itu tepo seliro urusan demikian sebagai salah satu tugas RT.

Mungkin ini pula yang menjadikan orang yang tinggal di daerah perkotaan ‘malas’ menerima kepercayaan sebagai ketua RT. Terlebih jika mereka berpikir bahwa RT kan juga sudah digaji. Buat apa gajinya jika tidak untuk menunaikan pekerjaannya? Ya, RT memang mendapat gaji dari pemerintah.

Saya kurang tahu di wilayah DKI dan wilayah lain, namun di Bekasi Kota, RT mendapat tunjangan sebesar Rp. 300.000,- per bulan. Dimana biasanya dibayarkan setiap 6 bulan sekali melalui kantor kelurahan. Lalu buat siapakah dana itu kemudian? Setiap RT memiliki kebijakan sendiri. Ada yang dipakai oleh ketua RT-nya pribadi sebagai ganti pulsa dan sedikit imbal jasa atas pekerjaan sosialnya. Ada yang dibagi-bagi ke seluruh pengurus RT, dari ketua, sekretaris, bendahara, dst.

Dan ada juga yang dimasukkan ke kas RT, sebagaimana yang kami lakukan sebagai tambahan kas RT. Dimana dana RT itu digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti pembersihan got-got secara periodik beberapa bulan sekali. Penyemprotan nyamuk demam berarah (fogging), perawatan taman, pembayaran petugas keamanan, dan perawatan sarana dan prasarana lainnya.

Laporan pengeluaran dan pemasukan RT yang tersusun rapi, transparan, auditable dan dipublikasikan ke seluruh warga secara periodik akan menjadikan komunikasi terjaga, sehingga warga pun tahu kemana dana mereka dibelanjakan. Termasuk darimana saja RT memperoleh sumber pendapatan. Kembali ke soal tenggang rasa itu, ternyata faktor tingginya pendidikan juga tidak menihilkan potensi seseorang untuk menjadi lebih baik dari orang lain.

Meski di atas kertas, seharusnya tingginya tingkat pendidikan harus sejalan dengan tingginya budi pekerti. Ibarat padi berisi yang kian merunduk. Entahlah, apakah ini ada kaitannya dengan hasil pendidikan kita yang belum maksimal dan menyentuh berbagai bidang kehidupan? Ataukah materi pendidian budi pekerti dan tenggang rasa perlu menjadi satu mata pelajaran utama di bangku-bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi?

Menjunjung tinggi rasa tenggang rasa bukan saja menjadi hal penting dalam mewujudkan harmoni kehidupan, namun juga menjadikan setiap diri mencapai martabat yang baik di hadapan manusia dan Tuhannya.

Sebagaimana pepatah Jawa lain mengajarkan ; ajining diri dumunung soko lathi – tingginya martabat seseorang tergantung ( berasal ) dari tingkah laku kesehariannya sendiri. Maka terlepas dari mengharapkan keseriusan apa itu tepo seliro dalam menggodok ide materi pendidikan budi pekerti di bangku pendidikan,  setiap kita sebagai orang tua harus benar-benar memberi perhatian khusus dalam rangka mengajarkan tepo seliro/tenggang rasa ini dalam bentuk pemahaman maupun keteladanan bagi anak-anaknya sedari dini.

 Ya, karena setiap keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak bangsa.
Tepo Seliro merupakan sebuah istilah kata berbahasa Jawa yang kini sangat dibutuhkan dalam urusan individu atau kelompok, bermasyarakat dan bernegara. Kalau melihat kondisi sekarang ini dimana mana orang banyak menyebar hujatan, cacian, hingga menimbulkan kebencian satu sama lain sampai beradu fisik seperti tidak ada lagi tenggang rasa. Terus Tepo Seliro tegese opo (apa makna kata Tepo Seliro?) merupakan sebuah ungkapan nasehat Jawa yang berarti menenggang perasaan orang lain.

Kelihatannya ini merupakan sebuah urusan yang mudah dilakukan oleh setiap orang, namun ternyata pada kenyataannya mengenai Tepo Seliro sering diabaikan karna mungkin lupa. Kami pernah mendengar ungkapan kata sebuah himbauan dari ulama ternama Gus Miftah "Selama kita tidak mencampuri urusan orang lain, kemudian kembali ke kamar masing masing maka tidak akan terjadi sebuah masalah".

Berikut ini adalah contoh Tenggang Rasa (tepo seliro) yang sering diabaikan oleh masyarakat : - Parkir kendaraan tepat di depan pintu rumah tetangga - Membuang sampah di bak sampah milik tetangga - Memelihara binatang dilepas seperti Ayam, namun kotorannya hingga ke lantai dan halaman rumah tetangga - Mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi (ngebut) melintas di lingkungannya - Memutar musik dengan suara keras padahal tahu kalau salah satu tetangga ada yang sedang sakit - Mengabaikan talang air atau adanya saluran air buangan yang rusak, padahal airnya meluap ke jalanan - Dll Dari contoh tersebut ternyata tingginya tingkat pendidikan juga tidak bisa menjadi patokan seseorang bisa menerapkan yang namanya Tepo Seliro.

Bahwa pendidikan juga tidak menihilkan potensi seseorang untuk menjadi lebih baik dari orang lain. Memang seharusnya ibarat padi semakin berisi kian menunduk, tapi kadang tingginya pendidikan seseorang belum tentu sejalan dengan budi pekerti mereka.

Apakah karena sistem pendidikan kita yang salah, atau bagaimana? Apa perlu materi pendidian budi pekerti dan tenggang rasa dijadikan satu mata pelajaran utama di bangku-bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi? Akan tetapi pemeraintah pemerintah semakin kesini kurang membarikan contoh apa itu tepo seliro seharusnya, dimana pemerintah sendiri sudah banyak meninggalkan nilai-nilai budaya Indonesia.

Seperti dalam membuat kebijakan dari berbagai hal baik itu ekonomi maupun politik. Jadi apalah artinya membangun sumber daya manusia apabila tidak disertai dengan pendidikan dan etika moral. Sekarang ini hampir semua instansi telah banyak kehilangan nilai tenggang rasa, membuat kebijakan tanpa adanya rasa apa itu tepo seliro kasihan, semua hanya semata mata mencari kekuasaan dan keuntungan.

apa itu tepo seliro

Maka dari itu sebagi tempat pendidikan pertama yakni keluarga, orang tua sudah seharusnya bahkan wajib menjadi tauladan bagi anak-anaknya untuk selalu menerapan memberi contoh tepo apa itu tepo seliro rasa sejak dini. Supaya nantinya tercipta generasi bangsa yang selalu menjunjung tinggi gotong royong dan kerukunan berumah tangga.

Tepo seliro atau tenggang rasa merupakan nasehat bijak yang berasal dari kearifan lokal Jawa. Dalam khazanah budaya Jawa, tepo saliro didefinisikan sebagai sikap individu untuk mengontrol pribadinya berdasarkan kesadaran diri. Wujud tepo saliro adalah sikap menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa melihat latar belakang atau identitasnya untuk saling menghormati dan tolong-menolong. Meski berasal dari bahasa Jawa, namun ungkapan tepo seliro beberapa waktu lalu sempat mencuat secara massif serta menasional, terutama di media sosial pasca insiden Kauman, Yogyakarta.

Sikap tepo seliro sejatinya bukan hanya monopoli suku Jawa. Ini karena sesungguhnya menjadi sikap sebagian besar suku-suku lain, bahkan juga merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

apa itu tepo seliro

Itu sebabnya, ajaran apa itu tepo seliro ini mesti dirawat dan di tumbuhkembangkan di tengah kehidupan yang makin minim empati, tuna solidaritas dan maraknya superioritas dalam segala bentuk. Menjunjung tinggi sikap tepo seliro tidak saja penting, melainkan mutlak diperlukan dalam menciptakan kehidupan yang harmoni, saling tolong menolong dan guyup-rukun, termasuk dalam dunia politik praktis. Hal tersebut lantaran tepo seliro selain berguna untuk memupuk solidaritas dan persatuan juga bermanfaat untuk mengurangi derajat polarisasi politik secara ekstrem.

Politik Nir Tepo Seliro Di lanskap politik sikap tepo seliro sesungguhnya sangat penting dan dibutuhkan. Hal ini karena sikap tenggang rasa, tidak saja akan membangun kultur politik sehat, tapi juga berguna bagi stabilitas politik sehingga roda pembangunan bisa terus bekerja tanpa dibayang-bayangi oleh momok instabilitas politik.

apa itu tepo seliro

Merebaknya politik  Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan merupakan salah satu pangkal mengapa para politisi cenderung mengabaikan tepo seliro. Jika semua itu demi kursi kekuasaan, apa pun juga akan dilakukan termasuk menabrak azaz tepo seliro. Akibatnya, jagat politik kita kehilangan ruh dan marwah perjuangan karena sekadar untuk mendapatkan kekuasaan dan saat yang bersamaan meminggirkan sikap adiluhung tersebut.

Sikap anti- tepo seliro dalam politik marak dalam beragam jenis yang kadang publik jarang memahami. Misalnya, melakukan  stigmatisasi pada pihak lain karena beda dukungan  politik atau beda kubu dengan label-label peyoratif, seperti tidak nasionalis, antek asing, tidak relegius, dan stigma-stigma yang mendiskreditkan lainnya. Ini sekadar contoh kecil yang sesungguhnya bentuk lain hilangnya tepo seliro dalam dunia politik belakangan ini. Dalam Pilpres kemarin misalnya, pendukung Jokowi menuduh pendukung Prabowo sebagai pendukung yang apa itu tepo seliro karena Prabowo dianggap bagian Orde Baru, tidak merakyat dan memiliki sejarah kelam.

Sebaliknya pendukung Prabowo, menuduh pendukung Jokowi sebagai orang yang tak relegius karena Jokowi dipersepsikan sebagai antek asing, petugas partai, dan tidak taat beragama. Sementara yang golput ideologis di stigma pendukung Jokowi dengan tuduhan cuci tangan di tengah negara bangsa yang dalam kondisi darurat. Padahal semua itu, hanya sekadar untuk kepentingan apa itu tepo seliro belaka, tak lebih. Stigma-stigma yang dibangun semacam ini sejatinya juga merupakan bentuk sikap anti tepo seliro.

Dikatakan demikian karena kita tahu, pertarungan politik pada Pilpres kemarin akhirnya hanya berujung bersatunya kedua paslon dalam satu kubu pemerintah. Lantas dimana stigma-stigma tadi? Tak lebih sebagai propaganda serta alat mendiskreditkan secara politik belaka untuk kepentingan elektoral capres-cawapres yang didukung. Beda pilihan dalam demokrasi sesuatu yang lumrah dan wajar tanpa harus bersikap mendiskreditkan secara politik yang mengabaikan aspek tepo seliro.

Toleransi politik ketika berbeda dukungan atau berbeda kubu politik tentu sebuah sikap kedewasaan berpolitik. Bertepo seliro akan perbedaan pilihan politik adalah keharusan jika hendak menuju bangsa maju dan besar. Padahal jika kesadaran dan kedewasaan politik tinggi dalam menghargai pilihan orang lain merupakan pilar penting dalam membangun kualitas demokrasi. Meski nasehat Jawa kuno, namun tepo seliro hingga kini masih relevan diperlukan dalam membangun tatanan sosial politik yang harmoni, guyup-rukun, dan saling tolong menolong.

Tanpa sikap ini, kita akan terperosok dalam lubang jarum menjadi bangsa yang egois, individualis dan tak bisa menghargai yang lain. Dalam dunia politik pun, sikap tepo seliro juga mutlak diperlukan karena dengan sikap demikian maka kualitas demokrasi juga akan kian meningkat. Perebutan kekuasaan yang mengabaikan azaz tepo seliro hanya berdampak pada disharmoni sosial, polarisasi politik ekstrem dan kerapuhan bangsa dan negara.
Glosarium.org versi April 2019 ✰ Glosarium.org adalah website belajar online.

tentang Glosarium kamus kosa kata bebas yang dimuat dari banyak sumber dan referensi di internet.

apa itu tepo seliro

✰ Berdasarkan kategori bidang khusus dan mata pelajaran. ✰ Referensi rata-rata minimal 2 bidang/mata pelajaran per kata. ✰ Lengkap lebih dari 200+ bidang dan mata pelajaran ada di Glosarium.org ✰ Tanpa website mirror/kloningan ampas ✰ AMP, akses glosarium.org lewat Google Search mobile lebih cepat.

✰ Konten berorientasi manusia, mendahulukan penyampaian maksud yg dapat dimengerti manusia daripada mesin pencari. ✰ 2021, glosarium.org 3x lebih cepat.
Informasi Damai • Qadha Ramadhan • Idul Fitri, Tradisi Halal Bihalal dan Ukhuwah Kebangsaan • Filosofi Ketupat: Sarana Penyucian diri apa itu tepo seliro Ideologi di Hari Raya Idul Fitri • Idul Fitri dan Pentingnya Mempertahankan Khittah Anti-Kekerasan Pasca Ramadan • Lebaran; Kembali Ke Fitrah Manusia yang Anti-Kekerasan • Masihkah Ada Jejak Ramadan dalam Manusia Fitri?

• Idul Fitri; Momentum Kemenangan Melawan Kebencian dan Kekerasan • Kembali Menjadi Fitrah: Suci dari Amarah, Kebencian, Permusuhan dan Kekerasan • Idul Fitri; Mereduksi Nalar Kekerasan, Menumbuhkan Fitrah Kemanusiaan • Zakat sebagai Energi Saling Berbagi, Bukan Saling Memusuhi • Aksiologi Zakat Fitrah untuk Solidaritas dan Kesatuan Umat • Totalitas Berpuasa dan Bagaimana Ramadan Membentuk Sikap Sosial • Ramadan: Kekuatan Moral untuk Saling Apa itu tepo seliro dan Menghapus Permusuhan • Dimensi Ramadan: Membentuk Kesalehan Spiritual dan Sosial • Zakat Fitrah, Kesalehan Sosial dan Urgensi Filantropi Islam • Filantropi: dari Deradikalisasi hingga Keberagamaan Inklusif • Menemukan Persaudaraan dalam Sedekah • Ramadhan: Saling Berbagi adalah Terapi dari Virus Kebencian!

• Sufisme Nusantara, Puasa, dan Tenggang Rasa • Bulan Suci: Filantropi Subur, Provokasi Kebencian Terkubur • Ramadan; Ghiroh Berbagi Menghapus Tabiat Memusuhi • Ramadan; Membangun Kepedulian Sebagai Terapi dari Sindrom Kebencian • Darurat NII : Kegagalan Memahami Pancasila dalam Relasi Agama dan Negara • NII dan Nasionalisme Populistik • Mimpi Negara Islam : Dari Pemberontakan, Teror Hingga Aktifitas Organisasi Politik • Kartini dan Spirit Perempuan Damai • 3 Dosa NII terhadap NKRI : Makar, Teror dan Cuci Otak Ideologi Generasi Muda • NII itu Gerakan Islam Politik Bukan Politik Islam • NII Bukan Hanya Musuh Negara, Tetapi Juga Musuh Agama!

• Menunggu Fatwa tentang Bahaya NII : Kenapa MUI Diam? • KH. Agus Salim, NII dan 3 Inspirasi Pencegahan Gerakan Anti Pancasila • Tiga Bahaya NII dan Pentingnya Regulasi untuk Memberantasnya • Pentingnya Regulasi Khusus dalam Memutus Ideologi Anti Pancasila dan NKRI • NII, Metamorfosis Terorisme, dan Mengapa Kita Perlu Memberangus Gerakan Anti-Pancasila • Darurat NII: Negara Tidak Boleh Kalah!

• Jejaring NII dan Urgensi Payung Hukum Mencegah Ideologi Anti-NKRI • Darurat NII; Antara Kerentanan Ideologi dan Lemahnya Regulasi • Ramadan dan Jumat Agung: Momen Suci Perkuat Toleransi • Menjaga Kesucian Ramadan; Perkuat Toleransi, Hapus Arogansi • Bulan Ramadan: Bulan Pengampunan dan Bulan Persaudaraan • Potret Sejarah Perdamaian di Bulan Ramadan • Panorama Toleransi di Bulan Suci : Tradisi Saling Melindungi • Jangan Kotori Ramadan dengan Kebencianmu! • Ramadan, Aksi dan Darah yang Halal • Jadikan Ramadanmu; Energi Pemersatu dan Saling Berbagi • Menjaga Kesucian Ramadan dari Gerakan Anarkis-Destruktif • Tragedi 11 April dan Tiga Hal yang Merusak Sakralitas Ramadan • Menebar Mahabbah di Bulan Penuh Hikmah • Menemukan Toleransi di Bulan Suci • Merajut Sikap Toleransi dan Cinta-Kasih di Bulan Suci Artikel Utama • Qadha Ramadhan • Idul Fitri, Tradisi Halal Bihalal dan Ukhuwah Kebangsaan • Filosofi Ketupat: Sarana Penyucian diri dan Ideologi di Hari Raya Idul Fitri • Idul Fitri dan Pentingnya Mempertahankan Khittah Anti-Kekerasan Pasca Ramadan • Lebaran; Kembali Ke Fitrah Manusia yang Anti-Kekerasan Istilah tepo seliro memang berasal dari sosiologi masyarakat Jawa.

Namun demikian, spirit tepo seliro sebenarnya tidak hanya dimonopoli oleh orang Jawa. Spirit tepo seliro dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia. Secara harfiah, tepo seliro dimaknai sebagai sikap tenggang rasa.

Yakni sikap toleran pada perbedaan identitas dan pandangan yang ada di masyarakat. Sedangkan secara maknawiyah, tepo seliro ialah paradigma berpikir individu atau masyarakat yang berorientasi pada terciptanya tata kehidupan sosial, politik dan keagamaan yang harmonis, rukun dan damai.

Caranya ialah dengan menumbuhkan sikap empati dan simpati, yakni berusaha merasakan penderitaan orang lain. Secara sosiologis, tepo seliro ialah sebuah deklarasi pengakuan bahwa semua manusia pada dasarnya sama dan sejajar. Sedangkan secara psikologis, tepo seliro apa itu tepo seliro sebuah perasaan saling memiliki antarindividu dalam masyarakat yang memungkinkan terjalinnya ikatan emosional antarindividu atau antarmasyarakat dalam sebuah bangsa atawa negara. Tepo seliro, dengan demikian merupakan basis kultural yang potensial dijadikan tameng menangkal arus ideologi transnasional.

Seperti kita tahu, penyebaran ideologi transnasional lebih banyak beroperasi di wilayah psikologis individu dan sosiologis masyarakat. Di ranah psikologis, paham transnasional berusaha mendekonstruksi watak dasar manusia Indonesia yang egaliter, humanis, toleran dan pluralis menjadi manusia yang arogan, asosial dan anarkistis.

Dekonstruksi Watak Paham radikal transnasional mendorong manusia menjadi pribadi yang soliter (tidak terhubung dengan realitas sosial), arogan (mau menang sendiri) dan anarkistis (tidak patuh pada pemerintahan yang sah). Ketika individu terpapar ideologi radikal transnasional, ada kemungkinan ia akan menjadi destruktif.

Pola dekonstruksi watak ini terjadi di alam bawah sadar dan terjadi melalui proses yang tidak instan. Tujuannya ialah mencerabut individu dari akar sejarah dan identitas aslinya.

apa itu tepo seliro

Sedangkan di ranah sosiologis, paham radikal transnasional berusaha memecah-belah masyarakat dengan narasi provokatif, berita palsu dan ujaran kebencian. Upaya memecah-belah masyarakat melalui isu-isu sosial, politik dan agama merupakan bagian dari skenario besar menggembosi tatanan masyarakat dan negara.

Langkah awal yang biasa mereka lakukan ialah mengadu-domba sesama umat islam dengan membesar-besarkan perbedaan ritual apa itu tepo seliro. Selanjutnya mereka akan mengadu-domba antarsesama warganegara dengan membonceng isu ekonomi, hukum, politik, sosial dan agama yang tengah menjadi kontroversi publik.

Terakhir, mereka akan melemahkan kepercayaan publik pada pemerintah dan mengadu-domba keduanya sehingga terjadi kekacauan sosial ( social chaos).

Strategi itu sudah banyak dilakukan oleh gerakan radikal-transnasional di sejumlah negara. Misalnya di Suriah. Kelompok radikal-transnasional mengadu-domba muslim sunni dan muslim syi’ah agar bertikai.

apa itu tepo seliro

Selanjutnya, mereka memfitnah pemerintah bertindak zalim pada rakyatnya. Puncaknya, mereka mengemas perang dan kekerasan seolah-olah sebagai sebuah perjuangan suci membela Islam. Padahal, apa yang terjadi tidak lebih dari sebuah drama perebutan kekuasaan politik.

Filosofi Tepo Seliro Upaya men-Suriah-kan Indonesia itu juga tampak beberapa tahun ini. Para pengusung ideologi radikal-transnasional gencar mengadu-domba masyarakat dan mendelegitimasi otoritas pemerintah. Tujuannya ialah mengimpor konflik yang terjadi di banyak negara muslim ke Indonesia. Kita tentu tidak ingin itu terjadi. Negara ini terlalu berharga untuk digadaikan kepada pada para pembuat onar bersenjatakan ideologi transnasional. Untuk itu, apa itu tepo seliro perlu mengembangkan filosofi tepo seliro sebagai basis kultural menangkal ideologi transnasional.

Filosofi tepo seliro ini harus kita ejawantahkan dalam seluruh lini kehidupan publik, mulai dari sosial, politik hingga keagamaan. Di ranah sosial, tepo seliro idealnya mewujud pada sikap masyarakat untuk saling toleran dan inklusif.

apa itu tepo seliro

Paradigma toleransi dan inklusivisme perlu dibangun agar kohesivitas sosial tetap solid. Di tengah masyarakat yang kohesivitas sosialnya terjaga, paham atau gerakan radikal transnasional dipastikan akan kehilangan ruang untuk berkembang. Di ranah politik, tepo seliro hendaknya diwujudkan dalam perilaku politik yang menjunjung etika dan moral.

Tepo seliro dalam berpolitik ialah menjadikan politik sebagai alat perjuangan sosial, bukan semata sebagai alat meraih kekuasaan. Dengan begitu, kita tidak akan mudah terjebak pada praktik politik kotor seperti politik identitas yang memecah belah. Harus diakui, praktik politik identitas yang populer belakangan ini turut menyumbang andil pada tumbuh suburnya paham dan gerakan radikal-transnasional.

Terakhir, dalam konteks keagamaan tepo seliro idealnya mewujud pada pola pikir dan praktik beragama yang moderat dan pluralis. Dalam artian menghormati perbedaan agama dan aliran serta berkomitmen untuk memperlakukan entitas atau kelompok yang berbeda dengan adil dan setara.

Apa itu tepo seliro seliro dalam beragama merupakan kunci menangkal segala bibit radikalisme di tubuh agama. Damailah Indonesiaku • Moderasi Beragama Cara Terbaik Bangun Kerukunan Bangsa dan Hadapi Radikalisme Agama 9 Mei 2022 • Demi Lebih Masifnya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme, Perekat Nusantara Usulkan Revisi UU Nomor 5 Tahun 2018 9 Mei 2022 • Dapat Remisi, Umar Patek Berharap Ini Lebaran Terakhir di Lapas 7 Mei 2022Glosarium.org versi April 2019 ✰ Glosarium.org adalah website belajar online.

tentang Glosarium kamus kosa kata bebas yang dimuat dari banyak sumber dan referensi di internet. ✰ Berdasarkan kategori bidang khusus dan mata pelajaran.

✰ Referensi rata-rata minimal 2 bidang/mata pelajaran per kata. ✰ Lengkap lebih dari 200+ bidang dan mata pelajaran ada di Glosarium.org ✰ Tanpa website mirror/kloningan ampas ✰ AMP, akses glosarium.org lewat Google Search mobile lebih cepat. ✰ Konten berorientasi manusia, mendahulukan penyampaian maksud yg dapat dimengerti manusia daripada mesin pencari. ✰ 2021, glosarium.org 3x lebih cepat.
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora apa itu tepo seliro Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Apa itu tepo seliro • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Teposeliro adalah sebuah ungkapan dengan bahasa jawa ,yang bermakna tenggang rasa, dengan melihat kondisi bangsa sekarang ini yang segalanya di warnai dengan berbagai umpatan, hujatan,cacian bahkan tidak sedikit yang sampai beradu physik, sudah tidak ada lagi rasa tenggang rasa salah satu pemicu utamanya adalah adanya individu individu ataupun kelompok mayoritas yang merasa benar dan besar, tanpa ada lagi rasa saling Hamemayu hayuning bawono(menjaga kedamaian dan keselarasan ) oleh sesama anak bangsa, kenapa hal ini bisa terjadi??

apa itu tepo seliro

 Karena pemerintah sendiri sudah banyak meninggalkan nilai nilai budaya indonesia, dalam membuat kebijakan berbagai hal baik ekonomi maupun politik apalah artinya membangun sumber daya manusia apabila tidak disertai dengan pendidikan dan etika moral, kini hampir semua institusi sudah banyak kehilangan akan nilai nilai yang terkandung dalam tenggang rasa, dengan membuat kebijakan kebijakan tanpa ada rasa belas kasihan semua berorientasi kekuasaan dan ke untungan, kementrian Pariwisata dan kebudayaan justru sibuk dengan menggelar kesenian, gelar budaya, destinasi wisata, justru meninggalkan etika dan nilai nilai budaya itu sendiri. Dengan mengembalikan marwah tenggang rasa (teposeliro) akan kembali ke jati diri bangsa Indonesia yang selalu menjunjung tinggi gotong royong dan kerukunan bangsa.Â

TEPO SLIRO




2022 www.videocon.com