Inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

Oleh: Wardizal, Dosen PS Seni Karawitan Suku bangsa Minangkabau merupakan suku bangsa yang cukup unik di Indonesia dengan masyarakatnya yang menganut sistem kekerabatan matrilineal.

Umar Junus sebagaimana dikutip Hajizar mengemukakan: Pendukung kebudayaan Minangkabau dianggap sebagai suatu masyarakat dengan sistem kekeluargaan yang ganjil diantara suku-suku bangsa yang lebih dahulu maju di Indonesia, yaitu menurut sistem kekeluargaan yang Matrilineal. Inilah yang biasanya dianggap sebagai salah satu unsur yang memberi identitas kepada kebudayaan Minangkabau; terutama dipopulerkan oleh roman-roman Balai Pustaka pada periode pertama dari abad ke-20 (Junus dalam Hajizar, 1988:46).

Prinsip kekerabatan masyarakat Minangkabau adalah matrilineal descen yang mengatur hubungan kekerabatan melalui garis ibu. Dengan prinsip ini, seorang anak akan mengambil suku ibunya. Garis turunan ini juga mempunyai arti pada penerusan harta warisan, dimana seorang anak akan memperoleh warisan menurut garis ibu. Warisan yang dimaksud adalah berupa harta peninggalan yang sudah turun-temurun menurut garis ibu.

Secara lebih luas, harta warisan (pusaka) dapat dikelompokkan dua macam, yaitu pusaka tinggi dan pusaka rendah. Pusaka tinggi adalah harta yang diwarisi dari ibu secara turun-temurun; sedangkan pusaka rendah adalah warisan dari hasil usaha ibu dan bapak selama mereka terikat perkawinan. Konsekwensi dari sistem pewarisan pusaka tinggi, setiap warisan akan jatuh pada anak perempuan; anak laki-laki tidak mempunyai hak memiliki—hanya hak mengusahakan; sedangkan anak perempuan mempunyai hak memiliki sampai diwariskan pula kepada anaknya.

Seorang laki-laki hanya boleh mengambil sebagian dari hasil harta warisan sesuai dengan usahanya—sama sekali tidak dapat mewariskan kepada anaknya. Kalau ia meninggal, maka harta itu akan kembali kepada ibunya atau kepada adik perempuan dan kemenakannya (Yunus, inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah 39-40).

Dalam sistem kekerabatan matrilineal, satu rumah gadang dihuni oleh inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah keluarga. Rumah ini berfungsi untuk kegiatan-kegiatan adat dan tempat tinggal. Keluarga yang mendiami rumah gadang adalah orang-orang yang seketurunan yang dinamakan saparuik (dari satu perut) inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah setali darah menurut garis keturunan ibu.

Ibu, anak laki-laki dan anak perempuan dari ibu, saudara laki-laki ibu, saudara perempuan ibu serta anak-anaknya, atau cucu-cucu ibu dari anak perempuannya disebut saparuik, karena semua mengikuti ibunya. Sedangkan ayah (suami ibu) tidak termasuk keluarga di rumah gadang istrinya, akan tetapi menjadi anggota keluarga dari paruik rumah gadang tempat ia dilahirkan (ibunya) (Hajizar, 1988:46-47).

Sistem Kekerabatan di Minangkabau selengkapnya Hilmi, Alfa Sutardi and Ida Bagus Ketut, Trinawindu and Arya Pageh, Wibawa (2022) DESAIN KOMUNIKASI VISUAL SEBAGAI MEDIA DALAM UPAYA MEMBANGUN SINERGISITAS DI YAYASAN BUNGA BALI DENGAN MASYARAKAT LUAS. Working Paper. ISI Denpasar, Denpasar, Bali. • Perancangan Font dan Desain Preview Font Two Hand di Alit Desain Studio Ni Nyoman, Puspa Dewi and A.A Gde Bagus, Udayana and Cokorda Gde, Raka Swendra (2022) Perancangan Font dan Desain Preview Font Two Hand di Alit Desain Studio.

Working Paper. ISI Denpasar, Denpasar, Bali. • Metode Pembelajaran Anak Usia Dini pada Happy Kidz Early Learning Centre (Early Children's Learning Methods in Happy Kidz Early Learning Center) Dewa Ayu, Lingga Saridewi and I Nyoman, Artayasa and A.A Gde Bagus, Udayana (2022) Metode Pembelajaran Anak Usia Dini pada Happy Kidz Early Learning Centre (Early Children's Learning Methods in Happy Kidz Early Learning Center).

Working Paper. ISI Denpasar, Denpasar, Bali. • Perancangan Motion Graphic Cerita Rakyat Sumatera Utara Putri Naga Putih Di Tantraz Comic Denpasar, 27 April 2022 – Program Studi Seni Program Magister Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menyelenggarakan acara seremoni Hari Ulang Tahun ke-11 di Gedung Vicon, Citta Kelangen, Kampus ISI Denpasar, Jalan Nusa Indah. Acara ini dihadiri oleh Rektor ISI.

Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof.Dr. I Wayan “Kun” Adnyana menyerahkan Penghargaan kepada 122 Mitra MBKM Berdedikasi pada acara Pasamuan Widya Kanti (Temu Mitra Merdeka Belajar-Kampus Merdeka) ISI Denpasar Apr 30, 2022 - Berita Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof.Dr. I Wayan “Kun” Adnyana menyerahkan Penghargaan kepada 122 Mitra MBKM Berdedikasi pada acara Pasamuan Widya Kanti (Temu Mitra Merdeka Belajar-Kampus Merdeka) ISI Denpasar serangkaian Penganugerahan Sewaka Kerthi.

Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, didampingi Koordinator Program Studi Seni Program Magister Dr. Ni Wayan Ardini, menghadiri dan membuka perayaan HUT ke-11 Program Studi Seni Program Magister ISI Denpasar Apr 30, 2022 - Berita Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof.

Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, didampingi Koordinator Program Studi Seni Program Magister Dr. Ni Wayan Ardini, menghadiri dan membuka perayaan HUT ke-11 Program Studi Seni Program Magister ISI Denpasar, dengan mengusung. Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana mengapresiasi pameran topeng seniman Singapadu di Puri Anyar Art Space Apr 25, 2022 - Berita Rektor ISI Denpasar Prof.

Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana mengapresiasi pameran topeng seniman Singapadu di Puri Anyar Art Space (24/4/2022), bersama sineas Nicolas Saputra, penggerak budaya Cok Bayu, dan perupa yang juga dosen ISI Denpasar Cok Alit Artawan. Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana tampil sebagai Pembicara Kunci dalam Seminar Nasional serangkaian Musyawarah Daerah VII Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Bali Apr 25, 2022 - Berita • Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Konten Terkait • Kelemahan Kurikulum atau Sistem Pendidikan di Indonesia • Kelemahan Sistem PPDB-UMPT di Indonesia • Kelemahan Sistem Pendidikan di Indonesia • Kelemahan Sistem Raport-Ijazah di Indonesia • Tradisi "Bakumpua Basamo Bako" Saat Hari Raya yang Hampir Hilang di Minangkabau • Penyebab Kemunduran Sistem Pendidikan Indonesia Di dalam masyarakat Minangkabau terdapat banyak suku oleh sebab itu, tentu pula banyak sistem kekerabatan di Minangkabau.

Contohnya saja jika kamu sendiri memiliki suku Koto, tetangga sebelah kanan mu memiliki suku caniago dan tetangga sebelah kirimu memiliki suku Piliang. Setiap orang yang asli Sumatera Barat atau yang biasa disebut orang Minangkabau pasti memiliki suku. Di Sumatera Barat sendiri memiliki banyak suku, Seperti suku Tanjung, suku Guci, suku Dalimo, suku Caniago, suku Sikumbang, suku Bodi, suku Jambak dan masih banyak nama suku lain yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera Barat.

Ada satu hal yang unik dari adat suku Di Minangkabau ini, mungkin di daerah lain suku/marga diambil dari ayahnya namun berbeda dengan orang Minangkabau.

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

Di Minangkabau suku di ambil dari ibu atau bisa disebut garis keturunan berasal dari ibu. Jika ada saudara perempuan ib, misalnya adik perempuan akan di panggil etek dan kakak perempuan biasanya di panggil mak tuo. Jika saudara ibu tersebut laki laki biasa di panggil dengan sebutan mamak. Sistem tersebut sudah berlangsung sejak lama sampai dengan zaman sekarang masih tetap seperti itu. Dengan kata lain orang minangkabau akan selalu menghubungkan keluarga sepesukuannya menurut keturunan ibunya.

Sistem kekerabatan itu sendiri adalah sebuah hubungan yang teratur antara seseorang dengan orang lain. Atau dengan kata lain hubungan dengan orang yang mempunya garis keturunan pihak ibu dan biasa disebut dengan kekerabatan matrilineal.

Dalam kekerabatan matrilineal terdapat beberapa unsur yaitu: 1. Garis keturunan yang berasal dari ibu 2. Perkawinan harus dilakukan dengan suku lain dengan kata lain tidak boleh nikah sepersukuan. 3. Ibu memegang peranan sentral 4.

Harta pusaka diwariskan oleh mamak kepada  kemenakannya. 5.  Suami dan anak-anak tinggal di rumah  istrinya sampai mereka bisa membeli/membuat rumah sendiri. Sistem kekerabatan dalam kehidupan Minangkabau Kekerabatan yang sedarah dapat dilihat dalam kehidupan sehari hari karena adanya panggilan khusus dari seseorang ke anggota keluarganya yang lain.

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

Panggilan- panggilan tersebut adalah mamak untuk panggilan saudara laki-laki ibu, mak tuo dan etek panggilan saudara perempuan ibu, uni dan uda panggilan dari adik kepada saudara laki laki dan perempuan yang lebih tua, sedangkan kemanakan adalah panggilan panggilan mamak kepada anak-anak dari saudara perempuannya. Sistem kekerabatan bertali darah Inti dari sistem matrilineal itu sendiri adalah sebuah kaum atau biasa disebut dengan paruik, pecahan dari paruik biasa disebut dengan jurai, pecahan dari jurai biasa disebut dengan semande.

Setiap suku di Minangkabau terdiri dari banyak paruik, yaitu orang yang berasal dari satu nenek. Sistem kekerabatan bukan bertali darah Jika ada sebuah perkawinan maka akan berkembang pula sebuah hubungan kekerabatan baru. Kekerabatan tersebut adalah sebagai berikut: A. Kekerabatan induk bako dan anak pisang Kekerabatan induk bako adalah anak saudara perempuan dari pihak ayah. Kekerabatan anak pisang yaitu anak-anak ayah disebut anak pisang bagi kemenakannya B. Kekerabatan ipar dan bisan Kekrabatan ipar adalah hubungan antara ayah dan saudara laki-laki dari pihak inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah, sedangkan hubungan kekerabatan bisan adalah hubungan ayah dan saudara perempuan dari ibu.

C. Kekerabatan sumando dan mamak rumah pasumandan kekerabatan sumando adalah hubungan yang terjadi antara seluruh keluraga pihak ibu dan ayah, sedangkan pasumandan adalah hubungan pihak ibu dengan ayah dirumah keluarga ayah.

D. Kekerabatan minantu dan mintuo Hubungan mintuo dan minantu sifatnya saling memperlakukan satu sama lain dengan baik. Kekerabatan mintuo yaitu hubungan antara orang tua pihak dari ibu.
Kabarantau.com – Sumatera Barat memiliki banyak keunikan, Salah satunya adalah Sistem Kekerabatan Matrilineal yaitu Sistem kekerabatan berdasarkan Garis Keturunan Ibu. Setiap anak yang lahir dalam sebuah keluarga minang akan menjadi kerabat keluarga ibunya, bukan kerabat ayahnya yang biasa terjadi di suku-suku lain di Indonesia.

Hal ini menjadikan ciri khas tersendiri bagi Minangkabau yang membedakannya dengan suku lain di Indonesia, berikut dijelaskan kenapa orang minang menganut garis keturunan ibu atau matrilineal atau matriakhi dan bukannya patrilineal.

1. Secara Logika Selain di Minangkabau yang menganut Matrilineal ada juga daerah lain yg menganut sistem tsb yaitu : Negara Bagian Gowa ( India )dan Malagasi di Afrika.Betapapun Modernnisasi melanda Minangkabau,Budayanya tetap tdk akan tergusur.

Harta ulayat diwariskan kepada perempuan.Sedangkan kaum lelaki hanya mengawasinya. Kenapa Kaum Ibu ? • Yang ada didunia adalah : Ibu Negara, Ibu Kotadan Ibu Jari,tidak ada Bapak Negara,Bapak Kota atau Bapak Jari. • Dalam Etika Antre berbasa basi kita mendengar Ladies First .

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

• Dalam Al-Quran terdapat Surat Annisa ,tidak terdapat Surat Rajulun. • Kuburan Nenek moyang inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah Siti Hawa diabadikan untuk nama kota Jeddah ( Nenek di Arab Saudi tapi tidak diketahui makam Nabi Adam AS.

2. Fitrah Manusia Ketika Lahir ke alam Dunia • Bukankah bayi yang sudah bicara waktu menangis memanggil Maak…. maak… ? • Dalam mengekspresikan keluhan terucap Ondeh Mandeh Memaki lawan terlontar Mandeh aang ! • Waktu lahir siapakah saksinya ? Tidak ada yang tahu kecuali Tuhan dan sang ibu ketika proses pembapakan terjadi.Sementara untuk seorang ibu,sangat lah jelas,sangat transparan.Sembilan bulan Ibu mengandung bakal anaknya.Pasti banyak orang melihat.Ketika melahirkan pun ada saksinya,paling tidak bidan yang menolong persalinan.

• Keturunan menurut garis ibu adalah pasti dan murni.Hanya dari seorang ibu dapat dibuktikan ia melahirkan seorang anak.Sedangkan dari Bapak tidak,tidak ada saksinya.

Ada pun yang selalu dipertanyakan, ketua LKAAM, diantaranya, tentang tidak sesuainya adat minang dengan syara. Misalnya, dalam agama kekerabatan tidak matrilineal, atau garis keturunan dari ibu. Kenapa di Minangkabau garis keturunan justru dari ibu? Sayuti menjelaskan, dalam Islam memang tidak ada hadits yang mengatakan kekerabatan matrilineal, namun tidak ada juga hadits yang melarangnya. Bahkan, nabi justru menyuruh menghormati ibu tiga kali lebih dari ayah.

Kemudian, Sayuti juga sering mendapat pertanyaan, kenapa harta pusaka tidak boleh dijual dan dibagikan pada anak? Padahal dalam Islam orangtua harus membagi harta pada anak laki-lakinya. Pria yang akrab dipanggil Datuk ini mengatakan, dalam Minang harta pusaka terbagi dua, yaitu ; Harta pusaka yang merupakan harta milik seluruh anggota keluarga yang diperoleh secara turun temurun melalui pihak perempuan.

Anggota kaum memiliki hak pakai dan biasanya pengelolaan diatur oleh datuk kepala kaum. Harta pusaka tinggi tidak boleh diperjualbelikan dan hanya boleh digadaikan. Pusako tinggi tidak boleh dijual karena bukanlah pencarian atau pembelian orangtua kita. Harta pusaka tinggi tidak jelas siapa yang punya pertama kali dan pemilik pertama biasanya adalah orang yang membuka lahan pertama kali. Dia tidak pernah meninggalkan wasiat untuk boleh menjual. Logikanya sederhana saja, secara Islam, kalau kita menjual harta yang bukan milik kita, dan tidak ada wasiat untuk kita, hukumnya haram.

Makanya tidak boleh dijual, bebernya. Selanjutnya kenapa di Minangkabau pimpinan kaum tidak ada perempuan? Menurut Sayuti, dalam Islam juga tidak ada panglima perang perempuan. Pasalnya, dalam sejarah dijelaskan, setiap panglima menjelang pergi perang berwudhu dan pergi dalam keadaan suci dan hati yang ikhlas. Sehingga ketika gugur langsung dimakamkan supaya mendapatkan gelar mujahidin.

Perempuan tidak mungkin bisa seperti itu, karena ada masa datang bulan dan keadaan tidak suci. Selain itu, menurutnya itu sangat sesuai dengan agama, contohnya, nabi juga tidak ada yang perempuan.

3. Kedudukan Perempuan di Minangkabau Perempuan/ibu yang disebut bundokanduang digambarkan sebagai limpapeh (tiang) rumah nan gadang (rumah tangga). Peran utamanya ada inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah pertama, melanjutkan keberadaan suku dalam garis Matrilineal dan kedua, menjadi ibu rumah tangga dari keluarga, suami dan anak-anaknya. Dalam sistim keluarga matrilineal, selain memiliki keluarga inti (ayah, ibu dan anak) juga punya keluarga kaum (extended family).

Dalam keluarga kaum terhimpun keluarga Samandeh (se-ibu). Anggota keluarga Samandeh berasal dari satu Rumah Gadang dan dari saudara seibu. Pimpinan dari keluarga Samandeh adalah Mamak Rumah (yaitu seorang saudara laki-laki dari ibu). Sistem ini menempatkan laki-laki pada peran pelindung, dan pemelihara harta dari perempuan dan anak turunan saudara perempuannya.

Keterkaitan dan keterlibatan seorang individu dalam sistim matrilineal terhadap keluarga inti dan keluarga kaum adalah sama. Dimana seorang perempuan, walau sudah menikah tidak lepas dari ikatan kaumnya. Perempuan Minang dikatakan memegang kekuasaan seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, ia memiliki kebesaran yang bertuah (kata-katanya didengar oleh anak cucu). Hal ini makin memperjelas kokohnya kedudukan perempuan Minang pada posisi sentral.

Sedangkan ayah dalam masyarakat hukum adat Minangkabau, adalah bapak dari anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang diikat dengan satu hubungan pernikahan. Suku anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut ditentukan mengikuti garis keturunan ibu mereka. Seorang suami tidak punya kewenangan mengatur keluarga pihak istrinya namun kedudukannya sebagai sumando (menantu) begitu dihormati oleh kaum istrinya.

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

Dan di sisi lain, dia tetap mempunyai keterikatan dan tanggung jawab terhadap kaumnya sebagai penghulu dan niniak mamak. Sehingga, seorang ayah tidak hanya berperan sebagai bapak dari anak-anaknya, tapi juga sebagai mamak dari kemenakannya dan berkewajiban memperhatikan dan menjaga para kemenakan tersebut. Dia wajib melindungi keduanya, sesuai pepatah adat Minang inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah dipangku kamanakan dibimbiang (anak dipangku keponakan dibimbing).

Oleh karena itu lahirlah sebuah kompromi dari sistim matrilineal dan syariat Islam, bahwa generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya dan bersuku ibunya.

Suatu persenyawaan agama dan budaya yang sangat indah. yang jadi masalah sampai kini ko urang awam dak mangarati kalau masalah adaik tu khusus untuak adaik ijan dicampua aduak jo ego masiang-masiang batuah dak. urang minang tu mamuliakan kaum induak karano kaum induak tu panghuni rumah gadang ijan kaum induak tu terlantar karano kaum bapak tu lai bapitih.

sadangkan kaum induak ko kamano ka dicari kok suami no alah maningga . nan jaleh nan wak bahas ko adaik pusako dilua adaik pusako Minang dak wak bahas du bia fokus ok karano janjangnyo alah lain tu mah.

dak ado yang manyimpang dari syariah tu surang namun kini karano urang dak banyak tahu jo adaik banyak dak mangarati jadi asa mangecek-sen sakalamak paruiknyo surang 4. Islam memberi kedudukan dan penghormatan yang tinggi kepada wanita, Dalam hukum ataupun masyarakat.

Dalam kenyataan, jikakedudukan tersebut tidak seperti yangdiajarkan ajaran Islam maka itu adalah soal lain. Sebab, struktur, adat, kebiasaan dan budayamasyarakat juga memberikan pengaruh yang signifikan. Beberapa bukti yang menguatkan dalil bahwa ajaran Islam memberikan kedudukantinggi kepada wanita, dapat dilihat pada banyaknya ayat Alquran yangberkenaan dengan wanita.

Bahkan untuk menunjuk kan betapa pentingnya kedudukan wanita, dalam Alquran terdapat surah bernama An-Nisa, artinya wanita. Selain Alquran, terdapat berpuluh hadits (sunnah) Nabi Muhammad SAW yang membicarakan tentang kedudukan wanita dalam hukum dan masyarakat. Pada masyarakat yang mengenal praktik mengubur bayi wanita hiduphidup,ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW sangat revolusioner, yakni: Yang terbaik diantara manusia adalah yang terbaik sikap dan prilakunya terhadapkaum wanita.

Atau pula: Barangsiapa yang membesarkan dan mendidik dua putrinya dengan kasih sayang, ia akan masuk sorga. Kemudian: Sorga itu berada di bawah telapak kaki ibu (hadits).

Dalam catatan sejarah dapat ditelusuri, ajaran Islam telah mengangkatderajat wanita sama dengan pria dalam bentuk hukum, dengan memberikan hakdan kedudukan kepada wanita yang sama dengan pria inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah ahli waris mendiang orangtua atau keluarga dekatnya. Hukum Islam pula yang memberikan hak kepada wanita untuk memiliki sesuatu (harta) atas namanya sendiri.Padahal ketika itu kedudukan wanita rendah sekali, bahkan dalam masyarakat.

Arab yang bercorak patrilineal sebelum datang Islam, wanita mempunyai banyak kewajiban, tetapi hampir tidak mempunyai hak. Wanita dianggap benda belaka,ketika masih muda ia kekayaan orangtuanya, sesudah menikah ia menjadi kekayaan suaminya. Sewaktu-waktu mereka bisa diceraikan atau dimadu begitusaja.Fisiknya yang lemah, membuat wanita dipandang tak berguna karena ia tak dapat berperang mempertahankan kehormatan.

Pandangan ini tentu saja merendahkan derajat wanita dalam masyarakat. Kedudukan wanita yang rendah itulah, kemudian menjadi salah satu hal yang diperangi dan ditinggalkan olehajaran Islam.

Menurut ajaran Islam: • Kedudukan wanita sama dengan pria dalam pandangan Allah (QS Al-Ahzab:35,Muhammad:19). Persamaan ini jelas dalam kesempatan beriman, beramal saleh atau beribadah (shalat, zakat, berpuasa, berhaji) dan sebagainya. • Kedudukan wanita sama dengan pria dalam berusaha untuk memperoleh,memiliki, menyerahkan atau membelanjakan harta kekayaannya (QS An-Nisa:4 dan 32).

• Kedudukan wanita sama dengan pria untuk menjadi ahli waris dan memperoleh warisan,sesuai pembagian yang ditentukan (QS An-Nisa:7). • Kedudukan wanita sama dengan pria dalam memperoleh pendidikan dan ilmu pengetahuan: Mencari/menuntut ilmu pengetahuan adalah kewajiban muslim pria dan wanita (Hadits). • Kedudukan wanita sama dengan pria dalam kesempatan untuk memutuskan ikatan perkawinan, kalau syarat untuk memutuskan ikatan perkawinan ituterpenuhi atau sebab tertentu yang dibenarkan ajaran agama, misalnya melaluilembaga fasakh dan khulu, seperti suaminya zhalim, tidak memberi nafkah,gila, berpenyakit yang mengakibatkan suami tak dapat memenuhi kewajibannya dan lain-lain.

• Wanita adalah pasangan pria, hubungan mereka adalah kemitraan,kebersamaan dan saling ketergantungan (QS An-Nisa:1, At-Taubah:71,ArRuum:21, Al-Hujurat:13). QS Al-Baqarah:2 menyimbolkan hubungan saling ketergantungan itu dgn istilah pakaian; Wanita adalah pakaian pria, dan pria adalah pakaian wanita. • Kedudukan wanita sama dengan kedudukan pria untuk memperoleh pahala (kebaikan bagi dirinya sendiri), karena melakukan amal saleh dan beribadahdi dunia (QS Ali Imran:195, An-Nisa:124, At-Taubah:72 dan Al-Mumin:40).

Amal saleh di sini maksudnya adalah segala perbuatan baik yang diperintahkan agama, bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, lingkungan hidup dan diridhai Allah SWT. • Hak dan kewajiban wanita-pria, dalam hal tertentu sama (QSAl Baqarah:228, At-Taubah:71) dan dalam hal lain berbeda karena kodratmereka yang sama dan berbeda pula (QS Al-Baqarah:228, An-Nisa:11 dan 43).

Kodratnya yang menimbulkan peran dan tanggung jawab antara pria dan wanita,maka dalam kehidupan sehari-hari misalnya sebagai suami-isteri fungsi mereka pun berbeda. Suami (pria) menjadi penanggungjawab dan kepalakeluarga, sementara isteri (wanita) menjadi penanggungjawab dan kepala rumahtangga. Menurut ajaran Islam, seorang wanita tidak bertanggungjawab untuk mencari nafkah keluarga, agar ia dapat sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada urusan kehidupan rumahtangga, mendidik anak dan membesarkan mereka.

Walau demikian, bukan berarti wanita tidak boleh bekerja, menuntut ilmu atau melakukan aktivitas lainnya. Wanita tetap memiliki peranan (hak dankewajiban) terhadap apa yang sudah ditentukan dan menjadi kodratnya.

Sebagai anak (belum dewasa), wanita berhak mendapat perlindungan, kasih sayang dan pengawasan dari orangtuanya. Sebagai isteri, ia menjadi kepala rumah tangga, ibu, mendapat kedudukan terhormat dan mulia. Sebagai warga masyarakat dan warga negara, posisi wanita pun sangat menentukan.

(***) Paket tours : 3D2N: PADANG – BUKITTINGGI REGULAR 4D3N: PADANG – BUKITTINGGI REGULAR 5D4N: PADANG – BUKITTINGGI REGULAR 3D2N: PADANG – MANDEH TOUR 4D3N: PADANG – MANDEH TOUR 3D2N: BUKITTINGGI – SEPEDA TOUR 4D3N: BUKITTINGGI – SEPEDA T OURS • JAKARTA BANDUNG TOURS • MEDAN TOBA TOURS • BANDA ACEH TOURS • PADANG BUKITTINGGI TOURS *** Info harga paket klik disini Call / WA… +62812 6745 797 E-mail….abaditours@ yahoo.com List : • Minangkabau Land • Negeri Sembilan • Pariangan, salah satu desa terindah dunia • Negeriku Minangkabau • 37 Fakta Menarik Tentang Sumatera Barat.

• Terbang di Atas Maninjau, Sumatra Barat • 7 Wanita Hebat Dari Ranah Minang • Biografi Buya HAMKA • Matrilineal di Minangkabau • Kawasan Mandeh • Pacu Jawi • 4D3N: Bukittinggi – Sepeda tour • 3D2N: Bukittinggi – Sepeda tour • 4D3N: Padang – Mandeh tour • 3D2N: Padang – Mandeh tour Follow Us • Facebook • Instagram • Twitter • WordPress • WordPress Other tours: BeritaSumbar.com,-Sistem matrilineal adalah sistem dimana garis keturunan yang mengikuti garis keturunan ibu.

Sistem ini merupakan salah satu aspek utama dalam mendefenisikan indentitas masyarakat minang, karena garis keturunan seseorang di rujuk kepada ibu. Di Minangkabau kehadiran seorang perempuan sangat penting sebagaimana yang telah di sebutkan bahwa Minangkabau menganut sistem matrilineal.

Jadi, jika di dalam sebuah keluarga tidak ada keturunan perempuan maka terputuslah garis keturunan tersebut. Begitu pula apabila seseorang bukan terlahir dari ibu yang berasal dari Minangkabau maka dia tidak memiliki suku.

Suku Minangkabau menjadi salah satu suku yang terbesar di Indonesia dan tidak lupa pula menjadi suku yang mempunyai ciri khas yang unik di bandingkan dengan suku lainnya. Dapat dilihat dari kedudukan perempuan yang sangat di junjung tinggi di Minangkabau.

Menurut AA. Navis, Minangkabau inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah kepada kultur etnis suatu rumpun Melayu yang tumbuh besar melalui sistem Monarki, serta menganut adat yang khas di cirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur garis keturunan ibu atau matrilineal, walaupun budaya Minangkabau sangat kuat diwarnai dengan ajaran islam (Wikipedia).

Sistem ini sangat sulit di bantah karena sudah ada sejak dulu dan tumbuh berkembang di Minangkabau hingga saat sekarang ini. Hal ini lah yang menyebabkan perempuan minangkabau memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri.

Nampaknya di Minangkabau sangat memahami kalau perempuan memiliki derjat yang tinggi dimana perempuan memperoleh hak-hak yang biasanya di peroleh oleh laki-laki, namun hak tersebut di peroleh oleh kaum perempuan. Ada dua jenis hak yang di terima oleh perempuan yaitu materil dan moral. Bagi masyarakat minang, ibu adalah bundo kanduang, sebuah lambing kehormatan dalam adat dan nigari. Bundo kanduang dituntut menjadi seorang yang taat beragama, cerdas, berbudi pekerti, bijaksana, dan sifat terpuji lainnya.

Selain itu perkawinan, pembagian harta warisan serta suku Minangkabau juga berdasarkan sistem matrilineal. Dapat dilihat dari perkawinan Minangkabau, menganut sistem matrilineal dengan sistem kehidupan yang komunal.

Maksudnya orang yang menikah tidak membentuk keluarga inti baru karena mereka tetap pada garis keturunan masing-masing, sehingga pengertian tentang keluarga inti di Minangkabau terdiri dari ayah, ibu, dan anak tidak termasuk ke dalam struktur sosial di Minangkabau. Akibatnya anak-anak di hitung berdasarkan garis keturunan ibu bukan dari garis keturunan ayah sehingga menyebabkan anak-anak lebih dekat kepada keluarga ibu di bandingkan keluarga ayah.

Penulis sebagai orang minagkabau juga merasakan hal tersebut, namun pada saat sekarang ini, hal itu telah di tinggalkan oleh masyarakat minang dengan adanya perkembangan zaman saat ini aturan itu berubah dengan menguatnya keluarga inti dan suami tidak tinggal lagi di rimah istri. Dari segi materil, di Minangkabau harta warisan di berikan kepada kaum perempuan yang diturunkan dari mamak (saudara laki-laki ibu) kepada kemenakannya. Maka dari itu ibu harus menjaga keutuhan harta pusaka, karena harta ini di turunkan secara turun temurun melalui garis keturunan ibu.

Sebelum islam masuk ke Minangkabau sistem pewarisan itu yang berlaku tapi ketika islam datang harta warisan di bagi menjadi dua yaitu harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah. Harta pusaka rendah yang diwariskan secara turun temurun dan harta pusaka rendah pembagiannya sesuai dengan hukum islam.

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

Di zaman modernisasi ini banyak kalangan muda yang meninggalkan budaya asli mereka kaena di anggap kuno dan tidak kekninian. Berbeda dengan Minangkabau para anak mudanya masih memegang teguh budaya asli mereka salah satunya sistem matrilineal yang masih mengakar dan terpatri dalam jiwa masyarakat Minangkabau. Ya, walaupun ada sebagian telah di tinggalkan masyarakat minang seperti hal dalam perkawinan yang beranggapan keluarga inti tidak ada dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau.

Namun kita sebagai kaum muda sudah seharusnya melestarikan kebudayaan yang telah di tinggalkan oleh nenek moyang terdahulu dan tidak terlarut dalam perkembangan zaman sehingga kita tidak tau dengan kebudayaan sendiri. Penulis : Yuliana Universitas : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan : Bahasa dan Sastra arab
Minangkabau adalah etnis asli Nusantara yang keberadaannya menyebar luas di pulau Sumatera, terkhususnya di Sumatera Barat.

Berdasarkan penyebarannya, Minangkabau adalah etnis yang suka merantau sehingga etnis ini menyebar di sebagian Sumatera yang kawasannya meliputi sebagian Riau, bagian Utara Bengkulu, bagian Barat Jambi, pesisir Barat Sumatera Utara, Barat Daya Aceh, dan Negeri Sembilan, Malaysia.

Dalam kebudayaannya Minangkabau menganut sistem matrilineal, yaitu sistem kekerabatan menurut inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah ibu. Satuan keluarga terkecil adalah semande atau sainduak (seibu) yang terdiri atas tiga generasi yaitu seorang nenek, para ibudan anak-anak mereka. Dalam Sebuah keluarga dipimpin oleh saudara laki-laki ibu, yang dipanggil oleh anak-anak ibu sebagai mamak, dan anak-anak itu disebut kamanakan oleh mamaknya.

Dalam sebuah keluarga ini akan tinggal di sebuah Rumah Gadang yang jumlah kamarnya disesuaikan dengan jumlah perempuan di dalam rumah itu, jika perempuan dalam rumah itu memiliki sembilan orang maka jumlah kamar yang ada di dalam Rumah Gadang juga ada Sembilan kamar. Dalam himpunan beberapa keluarga samande disebut saparuik. Keluarga saparuik terdiri atas inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah generasi, yakni seorang ninik (ibu dari nenek), beberapa orang nenek seibu, para ibu yang merupakan anak para nenek yang seibu, dan para cucu dari nenek.

dari nenek. Paruik dipimpin oleh seorang yang dipimpin oleh seorang mamak tertua, yang disebut Tungganai. Himpunan beberapa keluarga saparuik yang seketurunan disebut sakaum. Satu satuan kaum terdiri atas lima generasi, keturunan dari seorang “ibu dari ninik”. Keluarga sakaum dipimpin oleh seorang primus interpares di antara para tungganai, disebut Mamak Kaum. Himpunan beberapa kaum yang seketurunan disebut sasuku. Satu satuan suku terdiri atas enam generasi, dipimpin oleh seorang Pangulu.

Seorang pangulu ditetapkan berdasarkan musyawarah mufakat di antara kaum yang sekerabat, baik dalam format kalarasan Koto Piliang (sistem aristokratis) maupun kalarasan Bodi Caniago (sistem demokratis).Seorang pangulu menyandang prediket sebagai Datuk, dengan gelar kehormatan khusus suku yang disebut sako.

Sako tersebut diwariskan turun temurun sejak beberapa generasi sebelumnya. Suku-suku yang sama dalam satu nagari (nagari adalah satuan sosial politik terbesar di Minangkabau) ada dalam satu Payung, yang salah satu di antaranya diangkat sebagai pimpinan, yang dalam nagari tertentu disebut Datuk/Pangulu Pucuak. Para pangulu selain Datuk/Pangulu Pucuk disebut Pangulu Andiko. Himpunan payung dalam garis keturunan yang sama disebut Indu. Relasi indu biasanya melampaui teritorial nagari.

Jadi bisa dibayangkan jika dalam satu wilayah yang memiliki beribu-ribu bahkan sampai berjuta-juta penduduk di dalamnya hanya terdiri dari empat suku saja di dalamnya yang masing-masing suku tersebut memiliki banyak sekali Ranji (Ranji adalah silsilah keturunan dalam adat Minangkabau) yang sudah ada di dalam satu wilayah atau Nagari tersebut. Perkawinan merupakan sesuatu yang sangat sakral yang di mana di dalamnya menggunakan berbagai macam adat-adat yang ada di Indonesia dalam pengadaannya.

Salah satunya di Minangkabau, dalam adat Minangkabau memiliki sistem yang sangat unik di dalamnya yakni mempelai wanita dan laki-laki yang merupakan satu suku tidak boleh melakukan pernikahan karena masih dianggap sebagai satu keluarga yang berasal dari nenek moyang yang sama.

Karena Minangkabau menganut sistem matrilineal bukan berarti dalam menikahkan anak-anak perempuannya yang menikahkan anak perempuan adalah seorang ibu atau saudara laki-laki dari ibu, adat Minangkabau tetap berpegang teguh pada adaik basandi syarak-syarak basandi kitabullah yang mana menurut ajaran Islam bahwa yang berhak menikahkan anak perempuan yaitu seorang bapak atau saudara laki-laki dari bapak.

Dua orang yang telah menikah tidak melebur menjadi sebuah keluarga baru, apalagi melebur ke dalam keluarga dari salah satu di antara mereka, tetapi keduanya tetap menjadi anggota kaumnya masing-masing. Mempelai laki-laki tetap menjadi anggota keluarga komunal mereka, demikian pula mempelai perempuan tetap menjadi anggota keluarga komunalnya pula. Keduanya hanya menjadi “duta” dari keluarga komunal mereka masing-masing. Karena pada umumnya masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang suka merantau dan berdagang menjadi salah satu keahlian mereka maka masyarakat mengenal banyak orang sehingga pengenalan sistem Patrilineal kepada masyarakat Minang pun terjadi.

Seiring berkembangnya waktu sistem ini mulai membaur dalam masyarakat Minang tetapi masyarakat Minang juga tidak melupakan sistem sebelumnya yang telah mereka anut, mereka menyesuaikannya dengan adat dan kebudayaan yang mereka miliki. • Pada tataran sistem pewarisan, dikenal sistem faraidh di samping sistem pewarisan pusaka tinggi. Sistem hukum Islam memperkenalkan faraidh, yaitu ketentuan pewarisan harta seseorang.

Ketentuan yang penting bila disandingkan dengan hukum waris adat Minangkabau adalah prihal hak anak laki-laki adalah dua kali bagian yang menjadi hak anak perempuan. Maka sejak itu, di Minangkabau dikenal dua macam harta, yakni harta pusaka dan harta pencaharian/ suarang. Pusaka terbagi dua, pusaka tinggi dan pusaka rendah, keduanya diwariskan secara matrilineal, sedangkan harta pencaharian/suarang diwariskan secara faraidh sesuai hukum Islam.
Sistem Kekerabatan Minangkabau 15 Desember 2009 at 10:10 Tinggalkan komentar Sistem Kekerabatan 1.

Pengantar Sistem kekerabatan pada masyarakat hukum adat Minangkabau oleh para ahli hukum lazim disimpulkan dalam kata-kata rumusan matrilineal, genologis inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah tertorial. Pada sistem kekerabatan matrilineal ini garis keturunan ibu dan wanita : dan anak-anaknya hanya mengenal ibu dan saudara-saudara ibunya, ayah dan keluarganya tidak masuk clan anaknya karena ayah termasuk clan ibunya pula.

Para ahli antropologi sependapat bahwa garis-garis keturunan matrilineal merupakan yang tertua dari bentuk garis keturunan lainnya. Salah seorang dari ahli tersebut bernama Wilken yang terkenal dengan teori evolusinya. Wilken mengemukakan proses dari garis keturunan ini pada masa pertumbuhannya sebagai berikut: 1. Garis keturunan ibu 2.

Garis keturunan ayah 3. Garis keturunan orang tua Menurut teori evolusi garis keturunan ibulah yang dianggap yang tertua dan kemudian garis keturunan ayah, selanjutnya si anak tidak hanya mengenal garis keturunan ibunya, tetapi juga garis keturunan ayahnya. Alasan yang digunakan oleh penganut teori evolusi ini menitik beratkan terhadap evolusi kehidupan manusia. Pada masa lalu pergaulan antara laki-laki dan wanita masih bebas artinya belum mengenal norma-norma perkawinan.

Untuk memudahkan silsilah seorang anak dengan berdasarkan kelahiran. Berdasarkan alam terkembang menjadi guru dalam kenyaaan yang beranak itu adalah wanita atau betina. Dengan demikian keturunan berdasarkan perempuanlah yang mendapat tempat pertama. Dalam kenyataan sampai saat ini, masyarakat Minangkabau masih bertahan dengan garis keturunan ibu dan tidak mengalami evolusi. Disamping itu garis keturunan ibu di Minangkabau erat kaitannya dengan sistem kewarisan sako dan pusako.

Seandainya garis keturunan mengalami perubahan maka akan terjadi sesuatu perubahan dari sendi-sendi adat Minangkabau sendiri.

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

Oleh itu bagi orang Minangkabau garis keturunan bukan hanya sekedar menentukan garis keturunan anak-anaknya melainkan erat sekali hubungannya dengan adatnya.

Sebenarnya garis keturunan yang ditarik dari garis wanita bukan hanya terdapat di Minangkabau saja, melainkan juga di daerah lain pada sejumlah besar suku-suku primitif di Melanesia, Afrika Utara, Afrika Tengah, dan beberapa suku bangsa di India. Malahan ada yang sangat mirip dengan sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau, yaitu suku Babemba di Rodhesia Utara. Raymond Rifth mengemukakan, mengenai ini sebagai berikut: Seorang laki-laki termasuk marga ibunya, dan kalau dia bicara tentang kampung asalnya, maka dimaksudkannya adalah kampung halaman ibunya dan paman-pamannya dari pihak perempuan dilahirkan.

Dia mencari asal usul terutama dari silsilah nenek moyangnya dari pihak perempuan. Bagi seorang laki-laki bangsawan adalah lazim, bahwa nenek moyangnya dari pihak perempuan dapat ditunjukkan sampai keturunan yang ketiga belas, sedangkan nenek moyangnya yang laki-laki hanya sampai dua generasi saja. Pergantian kedudukan juga dilakukan menurut garis silsilah ibu.

Jabatan kepala suku juga diturunkan kepada anak laki-laki saudara perempuannya. Banyak ahli barat menulis tentang Minangkabau yang ada kaitannya dengan sistem kekerabatan Minangkabau. Salah seorang dari para ahli tersebut adalah Bronislaw Malinowsky yang mengemukakan sebagai berikut: Keturunan dihitung menurut garis ibu Suku dibentuk menurut garis ibu Pembalasan dendam merupakan tata kewajiban bagi seluruh suku Kekuasaan di dalam suku, menurut teori terletak di tangan ibu tetapi jarang dipergunakan.

Tiap-tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar suku Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-lakinya.

Perkawinan bersifat matrilokal yaitu suami mengunjungi rumah istri Apa yang dikemukakannya di atas yang tidak ditemui sekarang adalah pembalasan dendam yang merupakan tata kewajiban seluruh suku, mungkin terjadi pada masa dahulu.

Dalam membicarakan sistem kekerabatan matirilinel di Minangkabau yang akan dikemukakan pada bab selanjutnya. 2. Garis Kekerabatan dan Kelompok-Kelompok Masyarakat Garis keturunan dan kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi inti dari sistem kekerabatan matrilineal ini adalah “paruik”. Setelah masuk islam di Minangkabau disebut kaum. Kelompok sosial lainnya yang merupakan pecahan dari paruik adalah “jurai”.

Interaksi sosial yang terjadi antara seseorang, atau seseorang dengan kelompoknya, secara umum dapat dilihat pada sebuah kaum. Pada masa dahulu mereka pada mulanya tinggal dalam sebuah rumah gadang. Bahkan pada masa dahulu didiami oleh berpuluh-puluh orang. Ikatan batin sesama anggota kaum besar sekali dan hal ini bukan hanya didasarkan atas pertalian darah saja, tetapi juga di inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah faktor tersebut ikut mendukungnya.

Secara garis besar faktor-faktor yang mengikat kaum ini adalah sebagai berikut. Orang Sekaum Seketurunan Walaupun di Minangkabau ada anggapan orang yang sesuku juga bertali darah, namun bila diperhatikan betul asal usul keturunannya agak sulit dibuktikan, lain halnya dengan orang yang sekaum. Walaupun orang yang sekaum itu sudah puluhan orang dan bahkan sampai ratusan, namun untuk membuktikan mereka seketurunan masih bisa dicari. Untuk menguji ranji atau silsilah keturunan mereka.

Dari ranji ini dapat dilihat generasi mereka sebelumnya dan sampai sekarang, yang ditarik dari garis keturunan wanita. Faktor keturunan sangat erat hubungannya dengan harta pusaka dari kaum tersebut. Ranji yang tidak terang atau tidak ada sama sekali bisa menyebabkan kericuhan mengenai harta pusaka kaum tersebut. Ranji yang tidak terang atau tidak ada sama sekali bisa menyebabkan kericuhan mengenai harta pusaka kaum dan juga mengenai sako.

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

2. Orang Yang Sekaum Sehina Semalu Anggota yang berbuat melanggar adat akan mencemarkan nama seluruh anggota kaum, yang paling terpukul adalah mamak kaum dan kepala waris yang diangkat sebagai pemimpin kaumnya, karena perasaan sehina semalu-cukup mendalam, maka seluruh anggota selalu mengajak agar jangan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan dari anggota kaumnya.

Rasa sehina semalu ini adat mengatakan : “malu tak dapek dibagi, suku tak dapek dianjak” (malu tak dapet dibagi suku tidak dapat dianjak). Artinya malu seorang malu bersama. Mamak, atau wanita-wanita yang sudah dewasa selalu mengawasi rumah gadangnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diingini.

3. Orang Yang Sekaum Sepandan Sepekuburan Untuk menunjukkan orang yang sekaum maka sebuah kaum mempunyai pandam tempat berkubur khusus bagi anggora kaumnya.

Barangkali ada yang perlu untuk dibicarakan berkaitan dengan pandam ini. Di Minangkabau tempat memakamkan mayat terdapat beberapa istilah seperti pandam, pekuburan, ustano dan jirek.

Kuburan ini merupakan tempat kuburan umum dan disini tidak berlaku seketurunan dan siapa saja atau mamak mana asalnya tidak jadi soal. Yang disebut juga anak dagang. “ustano” adalah makam raja-raja dengan keluarganya. Di luar dari itu tidak dibenarkan. Namun dalam kenyataan sehari-hari orang mengacaukan sebutan ustano dengan istana sebagaimana sering kita baca atau dengar. Sedangkan jirek merupakan makam pembesar-pembesar kerajaan pagaruyung dengan keluarganya.

Ustano dan jirek ini terdapat di pagaruyung batusangkar. Untuk mengatakan seseorang itu sekaum merupakan orang asal dalam kampung itu, kaum keluarganya dapat menunjukkan pandamnya, di dalam adat dikatakan orang yang sekaum itu sepandam sepekuburan dengan pengertian satu pandam tempat berkubur. 4. Orang Yang Sekaum Seberat Seringan Orang yang sekaum seberat seringan sesakit sesenang sebagian yang dikemukakan dalam adat “kaba baik baimbauan, kaba buruk inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah (kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan).

Artinya bila ada sesuatu yang baik untuk dilaksanakan seperti perkawinan, berdoa dan lain-lain maka kepada sanak inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah hendaklah diberitahukan agar mereka datang untuk menghadiri acara yang akan dilaksanakan. Tetapi sebaliknya semua sanak famili akan berdatangan, jika mendengarkan kabar buruk dari salah seorang anggota keluarganya tanpa dihimbaukan sebagai contohnya seperti ada kematian atau mala petaka lain yang menimpa.

5. Orang Yang Sekaum Seharta Sepusaka Menurut adat Minangkabau tidak dikenal harta perseorangan, harta merupakan warisan dari anggota kaum secara turun temurun. Harta pusaka yang banyak dari sebuah kaum menunjukkan juga bahwa nenek moyangnya merupakan orang asal di kampung itu sebagai peneruka pertama, dan kaum yang sedikit mempunyai harta pusaka bisa dianggap orang yang datang kemudian.

Oleh sebab itu di dalam adat sebuah kaum yang banyak memiliki harta tetapi hasil tembilang emas atau dengan cara membeli, maka statusnya dalam masyarakat adat tidak sama sekali dengan orang yang mempunyai harta pusaka tinggi. Malahan orang yang seperti ini disebut sebagai orang pendatang.

Harta pusaka kaum merupakan kunci yang kokoh sebagai alat pemersatu dan tetap berpegang kepada prinsip “harato salingka kaum, adat salingka nagari” (harta selingkar kaum, adat selingkar nagari).

Selanjutnya garis kekerabatan yang berkaitan dengan kaum ini adalah jurai. Sebuah kaum merupakan kumpulan dari jurai dan tiap jurai tidak sama jumlah anggotanya. Setiap jurai membuat rumah gadang pula, tetapi rumah gadang asal tetap dipelihara bersama sebagai rumah pusaka kaum. Pimpinan tiap jurai ini disebut tungganai atau mamak rumah sebuah anggota jurai, merupakan satu kaum.

Pecahan dari jurai disebut samande (seibu) yaitu ibu dengan anak-anaknya, sedangkan suami atau orang sumando tidak termasuk orang samande. Orang yang samande diberi “ganggam bauntuk, pagang bamasieng”.

(genggam yang sudah diperuntukan, dan masing-masing sudah diberi pegengan), artinya masing-masing orang yang semande telah ada bagian harta pusaka milik kaum. Bagi mereka hanya diberi hak untuk memungut hasil dan tidak boleh digadaikan, apalagi untuk menjual bila tidak semufakat anggota kaum.

3. Perkawinan Dalam adat Minangkabau tidak dibenarkan orang yang sekaum kawin mengawini meskipun mereka sudah berkembang menjadi ratusan orang. Walaupun agama Islam sudah merupakan anutan bagi masyarakat Minangkabau, namun kawin sesama anggota kaum masih dilarang oleh adat, hal ini mengingat keselamatan hubungan sosial dan kerusakan turunan. Demikian pula bila terjadi perkawinan sesama anggota kaum mempunyai akibat terhadap harta pusaka dan sistem kekerabatan matrilineal.

Oleh karena itu sampai sekarang masih tetap kawin dengan orang di luar sukunya inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah. Perkawinan merupakan inisiasi kealam baru bagi seorang manusia merupakan perobahan dari tingkat umur, seperti masa bayi ke kanak-kanak, dari kanak-kanak ke alam dewasa dan kemudian ke jenjang perkawinan.

Mengenai perkawinan para ahli antropologi budaya yang menganut teori evolusi seperti Herbert Spencer mengemukakan proses perkawinan itu melalui lima tingkatan. Kelima proses tingkatan itu adalah sebagai berikut: Promisquithelt: tingkat perkawinan sama dengan alam binatang laki-laki dan perempuan kawin dengan bebas.

Perkawinan gerombolan yaitu perkawinan segolongan orang laki-laki dengan segolongan orang perempuan. Perkawinan matrilineal yakni perkawinan yang menimbulkan bentuk garis keturunan perempuan. Perkawinan patrilineal yakni anak-anak yang lahirkan masuk dalam lingkungan keluarga ayahnya. Perkawinan parental yaitu perkawinan yang memungkinkan anak-anak mengenal kedua orang tuanya.

Bagi masyarakat Minangkabau sampai sekarang belum ada keterangan yang diperoleh bagaimana cara dan prosesnya sebelum agama islam masuk ke Minangkabau. Apakah ada proses perkawinan bebas dan bergerombolan ini dahulunya dan untuk itu tentu perlu penyelidikan dan penelitian khusus.Dari cerita-cerita kaba yang ada di Minangkabau digambarkan bahwa untuk mencari seorang sumando dipanjang gelanggang dan diadakan sayembara.

Perkawinan dengan sayembara ini memperlihatkan cara seorang raja atau bangsawan mencari calon menantu. Hal ini tidak sesuai dengan struktur masyarakat Minangkabau yang tidak mengenal adat raja-raja, dan kemungkinan cerita dalam kaba ini merupakan pengaruh dari luar Minangkabau.

Beberapa hal yang perlu dikemukakan yang berkaitan dengan perkawinan ini adalah sebagai berikut: 1. Inisiatif datang dari pihak keluarga perempuan Pada masa dahulu bagi seorang mamak merasa malu bila kemenakannya belum juga mendapat jodoh.

Sedangkan menurut ukuran sudah sepantasnya untuk kawin, malu bila dikatakan kemenakannya “gadih gadang alun balaki” (gadis besar belum bersuami). Pada masa dahulu dibenarkan untuk menggadaikan harta pusaka tinggi bila terdapat gadih gadang alun balaki. Segala daya dan upaya dilkukan demi memperoleh jodoh kemenakan. Mencari calon suami dari kemenakan dikatakan juga mencari junjungan, untuk tempat kemenakannya menyadarkan diri.

Hal ini juga tidak terlepas dari alam takambang jadi guru. Ibarat kacang panjang membutuhkan junjungan untuk membelitkan dirinya.

Lazimnya pada masa dahulu si gadis tidak dinyatakan terlebih dahulu apakah ia mau kawin atau tidak, atau calon suaminya disukai atau tidak. Hal ini dengan pertimbangan seseorang yang belum kawin masih dianggap belum dewasa.

Apalagi pada masa dahulu seorang wanita sudah dicarikan suaminya dalam umur yang relatif muda, seperti umur 13, 14 atau 15. Bila sudah menjanda baru ditanya pendapatnya, karena sudah dianggap matang untuk melakukan pilihan. Drs. M. Rajab mengenai inisiatif dari seorang mamak untuk mencari jodoh inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah mengemukakan sebagai berikut: “dalam masyarakat Minangkabau pada masa dahulu inisiatif untuk mengawinkan anak kemenakan datang dari pihak keluarga perempuan, sesuai dengan sistim keibuan yang dipakai.

Datuk atau mamaknya atau keduanya pada suatu ketika yang baik dan dalam suasana yang tenang dan resmi, mengajak ayah gadis tersebut berunding dan bertanya, apakah sudah terlintas pada pikirannya seorang laki-laki yang layak untuk diminta menjadi menantunya.” Dapat disimpulkan antara mamak dengan ayah kemenakannya melakukan pendekatan terlebih dahulu. Setelah itu baru dibawa kepada anggota kaum yang pantas untuk berunding atau bermusyawarah bersama-sama. Dalam hal ini urang sumando mengajukan calonnya pula.

Setelah dapat kata sepakat barulah diutus utusan untuk menjajaki keluarga laki-laki yang bakal diharapkan menjadi junjungan kemenakannya. Perkawinan yang dilakukan atas musyawarah seluruh anggota kaum dan antara dua kaum sangat diharapkan dalam adat, karena pada lahirnya bukan hanya mempertemukan seorang gadis dengan seorang laki-laki, melainkan mempertemukan dua keluarga besar. Seandainya terjadi hal yang tidak diingini, seperti pertengkaran suami istri, perceraian dan lain-lain, maka seluruh anggota keluarga merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikannya dan menanggung segala resikonya.

Pada saat sekarang mungkin saja calon suami atau istri datang dari pihak gadis atau laki-laki, namun jalur adat harus dituruti juga.

Bawalah permasalahan kepada mamak atau kaum keluarga, sehingga nilai-nilai adat tetap terpelihara. Sangat tercela bila pemuda mencari jodoh sendiri dan melangsungkan perkawinan sendiri tanpa melibatkan masing-masing anggota keluarga. 2. Calon menantu yang diidamkan Pada umumnya orang Minangkabau pada masa dahulu mencari calon menantu mempunyai ukuran-ukuran tertentu atau syarat-syarat yang mempunyai tata nilai yang berlaku waktu itu.

Yang paling disukai adalah urang babangso (orang berbangsa). Orang ini dalam keluarga laki-laki mamaknya pemangku adat atau penghulu yang disegani dalam masyarakat adat.

Kalau dapat calon menantu ini pemangku adat yang berpredikat datuk, serta baik budinya. Tujuannya agar keturunannya nanti anak orang terpandang dan soal pekerjaan dan jaminan ekonomi tidak dipermasalahkan. Setelah islam masuk ke Minangkabau calon menantu yang diinginkan adalah orang yang alim serta taat beragama.

Kesemuanya itu tidak lain untuk menambah martabat bagi seseorang dan anggota kaum pada umumnya. Karena adanya perobahan sistim nilai yang terjadi maka saat sekarang kecendrungan untuk mencari calon menantu itu adalah orang yang penuh tanggungjawab dan sudah mempunyai pekerjaan yang tetap, dan tentu saja ketaatannya beragama serta budinya yang baik tetap menjadi ukuran pertimbangan.

Dahulu soal ekonomi dari calon menantu kurang dipertimbangkan bukan berarti pihak suami tidak bertanggungjawab, melainkan pada waktu itu hasil harta pusaka sawah dan ladang memadai. Tentu penduduk belum sebanyak sekarang jika dibandingkan dengan harta pusaka yang ada. 3. Calon menantu cenderung dicari hubungan keluarga terdekat. Merupakan ciri khas juga pada masa dahulu calon suami atau istri mencari hubungan keluarga terdekat, seperti pulang kebako, atau pulang ke anak mamak. Hal ini lain tidak agar hubungan keluarga itu jangan sampai putus dan berkesinambungan pada generasi selanjutnya.

Secara tersirat ada juga dengan alasan agar harta pusaka dapat dimanfaatkan bersama antara anak dan kemenakan. Hubungan perkawinan keluarga terdekat ini dalam adat dikatakan juga “kuah tatumpah kanasi, siriah pulang ka gagangnyo” (kuah tertumpah ke nasi, sirih pulang ke gagangnya).

Malahan pada masa dahulu perkawinan dalam lingkungan sangat diharuskan, dan bila terjadi seorang laki-laki kawin di luar nagarinya akan diberi sangsi dalam pergaulan masyarakat adat. Tujuan lain untuk memperkokoh hubungan kekerabatan sesama warga nagari.

Sangat tidak disenangi bila seorang pemuda telah berhasil dalam kehidupannya dengan baik, tahu-tahu dia kawin diluar kampung atau nagarinya, hal ini dikatakan ibarat “mamaga karambia condong” (memagar kelapa condong), buahnyo jatuah kaparak urang (buah jatuh kekebun orang).

Keberhasilan seseorang individu dianggap tidak terlepas dari peranan anggota kaum, kampung dan nagari. Oleh sebab itu sudah sepantasnya jangan orang lain yang mendapat untungnya.

4. Setelah perkawinan suami tinggal inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah rumah isteri Berkaitan dengan sistim kekerabatan matrilineal, setelah perkawinan si suamilah yang tinggal di rumah istrinya. Dalam istilah antropologi budaya disebut matrilocal.

Mengenai tempat tinggal di rumah istrinya, beberapa ahli mempunyai pendapat lain, seperti Firth mengatakan dengan istilah “uxorilocal” dan Mordock mengatakan “duolocal residence”, hal ini dengan alasan karena masing-masing suami istri tetap tinggal dan punya domisili yang sah di dalam kelompok tempat tinggal kelahirannya di garis keturunan masing-masing. Sayang sekali pendapat di atas tidak menjelaskan pada zaman apa terjadinya hal yang demikian.

Pada masa dahulu suami pulang kerumah istrinya pada sore hari dan subuhnya kembali kerumah orang tuanya. Hal ini mungkin terjadi bila terjadi dalam lingkungan daerah yang masih kecil, seperti sekampung, senagari dan asal tidak bersamaan suku. Namun dalam adat Minangkabau tidak mengenal istilah duorocal residence atau dua tempat tinggal bagi seorang suami sebagaimana yang dikatakan oleh ahli tersebut diatas. Sejak dahulu sampai sekarang orang Minangkabau tetap mengatakan bahwa suami tinggal di rumah istri bila berlangsung perkawinan.

5. Tali kekerabatan setelah perkawinan Sebagai rentetan dari hasil perkawinan menimbulkan tali kerabat – tali kerabat antara keluarga istri dengan keluarga rumah gadang suami dan sebaliknya.

Tali kerabat itu seperti tali induak bako anak pisang, tali kerabat sumando dan pasumandan, tali kerabat ipar, bisan dan menantu. Tali kerabat induak bako anak pisang, yaitu hubungan kekerabatan antara seseorang anak dengan saudara-saudara perempuan bapaknya, atau hubungan seseorang perempuan dengan anak-anak saudara laki-lakinya.

Saudara-saudara perempuan dari seorang bapak, adalah induak bako dari anak-anaknya. Sedangkan anak-anak dari seorang bapak merupakan anak pisang dari saudara-saudara perempuan bapaknya.

Anak-anak perempuan dari saudara-saudara perempuan bapak adalah “bakonya”. Tali kekerabatan sumando dan pasumandan. Dengan adanya perkawinan maka terjadi hubungan sumando pasumandan. Bagi seluruh anggota rumah gadang istri, suaminya, menjadi urang sumando (orang semenda) seseorang istri bagi keluarga suaminya menjadi pasumandan.

Sumando berasal dari bahsa sansekerta yaitu “sandra”, sedangkan dalam bahasa Minangkabau menjadi “sando” dengan sisipan “um” menjadi sumando. Persamaan kata sando adalah gadai. Dalam kehidupan sehari-hari ada istilah pagang gadai. Bagi pihak yang menerima jaminan berupa benda harta yang digadaikan disebut sando, sedangkan orang yang memberikan hartanya sebagai jaminan dikatakan menggadaikan.

Demikianlah sebagai penerima dari keluarga perempuan terhadap seorang menjadi suami anak kemenakannya dikatakan sebagai sumando. Namun demikian jangan lah diartikan secara negatif seperti terjadinya pegang gadai dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang istri yang menjadi pasumandan dari anggota rumah gadang suaminya dia berperan sebagai komunikator antara suaminya dengan tungganai dan mamak rumah gadangnya. Sedang untuk mengkomunikasikan kepentingan sendiri sebagai istri, biasanya melalui saudara-saudara perempuan suami. Tali kekerabat ipar, bisan dan menantu. Bagi seorang suami, saudara-saudara perempuan istrinya menjadi bisannya. Sedangkan saudara-saudara laki-laki dari istrinya adalah menjadi iparnya.

Sebaliknya, saudara-saudara perempuan suaminya adalah merupakan bisannya, dan saudara laki-laki suaminya menjadi iparnya. Dalam kehidupan sehari-hari orang Minangkabau menyebut ipar, bisan ini “ipa bisan” dan kadang-kadang disambung saja jadi “pabisan”. Bagi orang Minangkabau menantu dibedakan atas dua bahagian. Pertama menantu sepanjang syarak. Bagi seorang suami istri dan saudara laki-lakinya.

Istri-istri atau suami-suami anaknya merupakan menantu sepanjang syarak. Yang kedua, menantu sepanjang adat, maksudnya bagi seorang mamak beserta istri dan saudara-saudara laki-lakinya, istri atau suami kemenakan merupakan menantu sepanjang adat. 6. Sumando yang diidamkan Nilai seorang sumando sekaligus, merupakan nilai seorang mamak di luar lingkungan sosial rumah gadang, karena orang sumando tersebut seorang mamak di rumah gadangnya.

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

Sampai sejauh mana tingkah laku seorang sumando itu dalam melakukan perannya, orang Minangkabau mengklasifikasikannya sebagai berikut: 1. Sumando bapak paja atau sumando ayam gadang (ayam besar). Maksudnya orang sumando hanya pandai beranak saja seperti ayam besar, sedangkan tanggungjawab kepada anak istrinya tidak ada. 2. Sumando langau hijau (lalat hijau). Penampilan gagah dan meyakinkan tetapi perangai tidak baik.

Suka kawin cerai dengan meninggalkan anak. Seperti langau hijau suka hinggap di mana-mana dan kemudian terbang meninggalkan bangan (kotoran). 3. Sumando kacang miang. Orang sumando kacang miang punya perangai yang suka memecah belahkan kaum keluarga istrinya, seperti “kacang miang” yang membuat orang gatal-gatal.

inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah

4. Sumando lapiak buruak (tikar buruk). Sumando lapiak buruak (tikar buruk) orang sumando seperti ini tidak menjadi perhitungan di tengah-tengah kaum istrinya. Ibarat tikar buruk hanya dipakai kalau betul-betul diperlukan kalau tidak alang kepalang perlu tikar buruk ini tidak dipergunakan. 5. Sumando kutu dapua. Sumando seperti ini banyak di rumah dari di luar, suka melakukan pekerjaan yang hanya pantas dilakukan oleh wanita, seperti memasak, mencuci piring, menumbuk lada, menggendong anak dan lain-lain.

6. Sumando niniak mamak. Sumando ninik mamak adalah sumando yang diharapkan oleh inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah istrinya. Sumando ninik mamak di rumah gadang istrinya dia akan bersikap, nan tahu dikieh kato sampai, mengampuangkan nan taserak, mangamehi nan tacicia.

(yang tahu dengan kias kata sampai mengapungkan yang terserak, mengemasi yang tercecer). Maksudnya halus budi bahasanya, suka membantu kaum keluarga istrinya, baik secara moril maupun materil. Demikian pula di rumah gadang kaumnya berfungsi mauleh mano nan putuih, senteng mambilai, kurang manukuak (mangulas mana yang putus, senteng menyambung, kurang menambah).

Dengan pengertian dia suka turun tangan dan cepat tanggap menyelesaikan segala persoalan dalam anggota kaumnya. Dengan adanya pengklasifikasian orang sumando ini bagi orang Minangkabau sendiri, terutama bagi laki-laki akan dapat berfikir jenis manakah yang akan dipakainya, seandainya dia kawin dan menjadi sumando di rumah istrinya. 4. Peranan Ibu Dan Bapak dalam Keluarga Perkawinan tidak menciptakan keluarga inti (nuclear family) yang baru, sebab suami atau istri tetap menjadi anggota dari garis keturunan masing-masing.

Oleh karena itu pengertian keluarga inti yang terdiri dari ibu, ayah dan anak-anak sebagai suatu unit yang tersendiri tidak terdapat inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah struktur sosial Minangkabau.

Yang dimaksud dengan keluarga dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau, adalah paruik yang terdiri dari individu-individu yang dikemukakan diatas. Dalam proses sosialisasi seorang individu dalam rumah gadang banyak ditentukan oleh peranan ibu dan mamak. Sedangkan ayahnya lebih berperan di tengah-tengah paruiknya pula.

Pengertian ibu dalam hal ini bukan berarti ibu dari anak-anaknya, melainkan sebagai sebutan dari semua wanita yang sudah berkeluarga dalam sebuah rumah gadang.

Sedangkan untuk wanita keseluruhan orang Minangkabau menyebut perempuan. Perempuan berasal dari kata sansekerta yaitu: “empu” yang berarti dihormati.

Begitu dihormati perempuan Minangkabau dapat dilihat dimana inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah keturunan ditarik dari garis ibu, rumah tempat kediaman diperuntukkan inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah wanita, hasil sawah ladang juga untuk wanita dan lain-lain.

Peranan seorang ibu sangat besar sekali, semasa seseorang masih bayi orang yang dikenal pertama kalinya hanya ibunya dan saudaranya seibu. Dia mencintai ibunya sebagai orang yang mengasuh dan memberinya makan. Ia dan ibunya dan saudara-saudaranya merupakan suatu kelompok inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah terasing dari orang-orang di luar kelompok. Bila terjadi sesuatu hal terhadap ibunya atau saudara-saudaranya jia akan berrpihak kepadanya. Setelah mulai besar, maka anggota seluruh rumah gadang adalah keluarga dan merupakan suatu kelompok yang mempunyai kepentingan yang sama pula terhadap dunia luar yaitu dari orang-orang rumah gadang lainnya.

Setelah menanjak dewasa mulai diadakan pemisahan antara pemuda dan gadis. Bagi anak laki-laki tidak dibenarkan lagi tinggal di rumah gadang, ia dengan teman-teman sebaya tidur di surau atau di rumah pembujangan. Proses sosialisasi selanjutnya banyak diperolehnya di surau ini, karena di surau ini bukan hanya para pemuda dan remaja saja yang tinggal, tetapi juga anggota keluarga laki-laki yang sekaum dengannya dan belum kawin atau menduda dan umumnya sudah dewasa dari mereka.

Surau adalah tempat mengaji, tempat belajar adat istiadat dan tempat mendengar kisah-kisah lama bersumber dari tambo alam Minangkabau. Adakalanya sebelum tidur mereka juga belajar pencak silat sebagai ilmu bela diri untuk membekali dirinya, baik untuk di kampung maupun persiapan untuk pergi kerantau nantinya.

Proses sosialisasi anak laki-laki menuju remaja dan dewasa banyak ditentukan oleh peranan mamak-mamaknya dalam rumah gadang. Anak-anak perempuan yang meningkat gadis selalu berada disamping ibunya dan perempuan-perempuan yang sudah dewasa di dalam rumah gadang. Dia diajar masak-memasak membantu ibunya di dapur, mengurus rumah tangga.

Disamping itu juga diajar menjahit, menyulam. Semua kepandaian yang diajarkan oleh ibunya untuk mempersiapkan dirinya untuk berumah tangga nantinya.

Dalam sistem keturunan matrilineal, ayah bukanlah anggota dari garis keturunan anak-anaknya. Dia dipandang tamu dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga, yang tujuannya terutama memberi keturunan.

Seorang suami di rumah gadang istrinya sebagai seorang sumando. Namun demikian bukanlah berarti laki-laki tersebut hilang kemerdekaannya. Ia tetap merdeka seperti biasa sebelum kawin dan boleh beristri dua, atau tiga lagi dan sampai empat, tanpa dapat dihalangi oleh istrinya. Dia boleh menceraikan istrinya, jika dia atau keluarganya tidak senang dengan kelakuan istrinya.

Sebaliknya istri dapat pula meminta cerai dari suaminya jika dia tidak cinta lagi kepada suaminya, atau bilamana pihak keluarganya tidak senang melihat kelakuan menantunya atau kelakuan salah seorang keluarga menantunya. Bila diperhatikan pula ungkapan-ungkapan adat memperlihatkan, bahwa seorang ayah atau seorang sumando di dalam kaum istrinya tidak mempunyai kekuasaan apa-apa dalam keluarga istrinya termasuk terhadap anak-anaknya, sebagaimana dikatakan “sedalam-dalam payo, sahinggo dado itiak, saelok-elok urang sumando sahingga pintu biliak” (sedalam-dalam paya, sehingga dada itik, sebaik-baik orang semenda sehingga pintu bilik).

Demikian pula dikatakan orang sumando ibarat “abu di ateh tunggua” (abu di atas tunggul). Datang angin berterbangan. Ada beberapa hal yang mendukung mengapa peranan ayah begitu kecil sekali terhadap anak/istri, dan kaum keluarga istrinya waktu itu. Kehidupan waktu itu masih bersifat rural agraris yaitu kehidupan petani sebagai sumber penghidupan. Penduduk yang masih jarang, harta yang masih luas, dan memungkinkan seorang ayah tidak perlu memikirkan kehidupan sosial ekonominya. Disamping itu seorang ayah tidak perlu memikirkan tentang pendidikan anak-anaknya, serta biaya karena sekolah formal waktu itu tidak ada.

Secara tradisional seorang anak meniru pekerjaan mamaknya. Bila mamaknya bertani, maka kemenakannya dibawa pula bertani, jika mamaknya berdagang, maka kemenakannya dibawa pula untuk membantunya. Kawin cerai tidak menjadi persoalan yang penting keturunan dan martabat dari pada ayahnya.

Demikian pula anak-anak perempuan pendidikannya hanya terbatas dalam lingkungan rumah gadang saja, dan proses pendidikan lebih banyak diarahkan kepada persiapan untuk menempuh jenjang perkawinan.

Disamping itu karena interaksi dengan dunia luar belum ada, sehingga kemungkinan untuk merobah pola struktur yang telah ada sedikit sekali.

Barangkali bagi orang Minangkabau sekarang kurang tepat bila memandang masa lalu dengan kaca mata sekarang, karena ruang lingkup waktu dan tempat yang berbeda. Dalam proses selanjutnya terjadi perobahan peranan ayah terhadap anak dan istrinya karena berbagai faktor sesuai dengan perkembangan sejarah. Munculnya keinginan merantau dari orang Minangkabau, masuknya pengaruh islam dan pendidikan modern telah membawa perubahan-perubahan cara berfikir dalam hidup berkeluarga dan dalam tanggungjawab terhadap anak istrinya.

Bagi yang pergi merantau dia melihat struktur sosial yang berbeda dari masyarakat kampung yang ditinggalkan selama ini. Dan betapa akrabnya hubungan suami istri beserta anak-anaknya yang tinggal dalam satu rumah. Membawa istri kedaerah rantau dan hidup bersama-sama anak-anak merupakan sejarah baru, yang selama ini tidak pernah ditemui.

Hidup yang bebas dengan anak-anaknya dalam rumah sendiri telah membawa gema ke kampung halaman. Bila mendapat rezeki di rantau, si ayah membuatkan rumah untuk anak istrinya di kampung untuk membuktikan keberhasilannya di rantau.

Rumah yang didirikan walaupun masih ditanah kaum istrinya, tetapi sudah berpisah dari rumah gadang. Pergeseran peranan mamak kepada ayah dipercepat lagi setelah mantapnya agama islam menjadi anutan masyarakat Minangkabau. Agama islam secara tegas menyatakan, bahwa kepala keluarga adalah ayah. Dalam permulaan abad ke XIX pengaruh barat, terutama melalui jalur pendidikan ikut juga memperkuat kedudukan dan peranan ayah ditengah-tengah anak istrinya.

Namun inti dari sistem kekerabatan matrilineal di minangkabau adalah bukan berarti bergesernya sistem kekerabatan matrilineal kepada patrilineal. Betapa cintanya seorang ayah kepada anaknya, Drs. M. Rajab mengatakan : “dan tidak jarang terjadi seorang ayah, biarpun dia seorang penghulu. Dengan diam-diam memberikan hibah kepada anak-anaknya tanpa diketahui oleh pengawas-pengawas adat lainnya.

Dengan berbuat demikian sebenarnya ia melanggar hukum adat yang wajib dibelanya, tetapi karena ia mulai cinta kepada anak-anaknya maka terbuktilah bahwa kecintaan ayah kepada anak mulai bertambah kuat. Barangkali sebagai klimaks pergeseran peranan mamak kepada ayah dengan suatu konsensus yang tidak nyata telah melahirkan talibun adat yang menyatakan: Kaluak paku kacang balimbiang Ambiak tampuruang lenggang-lenggangkan Dibawo nak urang saruaso Tanam siriah jo ureknyo Anak dipangku kamanakan dibimbiang Urang kampuang dipatenggangkan Tenggang nagari jan binaso Tenggan sarato jo adatnyo (keluk paku kacang belimbing, ambil tempurung lenggang-lenggangkan, dibawa anak ke saruaso, tanam sirih dengan uratnya, anak dipangku kemenakan dibimbing, orang kampung dipatenggangkan, jaga nagari jangan binasa, jaga beserta dengan adatnya).

Dari talibun adat ini secara jelas dikatakan bahwa peranan ayah terhadap anaknya adalah “dipangku” dan secara tidak langsung menunjukkan bahwa hubungan antara anak dengan ayahnya dekat sekali dan berada pada haribaannya. Sedangkan hubungan anak dan kemenakan adalah “dibimbing”. Secara filosofis pengertian anak dipangku kemenakan dibimbing dapat juga diartikan, bahwa anak yang dipangku lebih dekat dengan harta pencaharian.

Sedangkan kemenakan dibimbing yang kakinya berada di tanah sebagai kiasan, bahwa kemenakan sumber kehidupannya masih dapat diharapkan dari tanah. Yaitu harta pusaka. Disamping itu ayah dan kedudukannya sebagai seorang mamak tetap diharapkan oleh kemenakan sebagai pembimbing sesuatu yang dibutuhkan oleh kemenakannya meskipun tidak sepenuhnya dapat dilakukan seperti kedudukan anak dalam keluarga yang langsung setiap hari dibawah lindungan dan bimbingan orang tuanya.

Meskipun kemenakan itu sebenarnya sebagai anak pada orang tuanya akan sama pula keadaannya sebagaimana bapak-bapak yang lain mempertanggungjawabkan anaknya.

Beruntunglah seorang anak di Minangkabau jika seorang bapak yang juga berfungsi sebagai mamak mengamalkan ajaran adat “anak dipangku kamanakan dibimbiang”.

5. Mamak Dan Kemenakan Tali kekerabatan mamak dan kemenakan dapat dibedakan atas empat bahagian. Keempat macam tali kekerabatan mamak dan kemenakan ini adalah sebagai berikut: 1.

Kemenakan Bertali Darah. Kemenakan bertali darah, yaitu semua anak dari saudara perempuannya bagi seorang laki-laki yang didasarkan atas hubungan darah menurut garis keibuan. 2. Kemenakan Bertali Adat. Kemenakan bertali adat, yaitu kedatangan orang lain yang sifatnya “hinggok mancankam tabang manumpu” (hinggap mencengkam terbang menumpu). Hal ini diibaratkan kepada seekor burung, jika ia akan terbang menumpukan kakinya agar ada kekuatan untuk terbang, dan mencengkram kakinya bila akan hinggap kepada dahan atau ranting.

Maksudnya orang yang datang kepada sebuah nagari. Di nagari baru ini dia dan keluarganya menepat kepada seorang penghulu. Agar dia diakui sebagai kemenakan haruslah “adat diisi lembaga dituang”. Dengan pengertian dia dan keluarganya mengisi adat yang sudah digariskan. Namun statusnya dalam masyarakat adat dia tidak duduk sama rendah tegak tidak sama tinggi dengan penghulu-penghulu dalam nagari itu.

3. Kemenakan Bertali Air. Kemenakan bertali air yaitu orang datang yang dijadikan anak kemanakan oleh penghulu pada sebuah nagari. Orang datang ini tidak mengisi adat dan lembaga di tuang. 4. Kemenakan Bertali Ameh. Kemenakan bertali ameh yaitu orang yang dibeli untuk dijadikan kemenakan oleh penghulu. Kemenakan seperti ini tidak mengisi adat pada penghulu tersebut, dan tidak menuang lembaga pada nagari tersebut.

Seorang laki-laki di Minangkabau dalam hubungan tali kekerabatan mamak kemenakan terutama yang bertali darah akan selalu memangku dua fungsi yang bersifat diagonal, yaitu sebagai kemenakan saudara laki-laki ibu dan sebagai mamak dari saudara-saudara perempuan. Hubungan tali kerabat ini diturunkan atau dilanjutkan kebawah melalui garis keturunan perempuan. Hubungan mamak kemenakan ini diperkembangkan karena keperluan memasyarakatkan anggota-anggota rumah gadang dan menyiapkan serta menumbuhkan calon pemimpin dari lingkungan sosial yang terkecil (parui), kampung sampai kelingkungan sosial yang lebih besar yaitu nagari, agar anggota laki-laki dari lingkungan sosial itu berkemampuan dan berkembang menjalankan fungsi yang digariskan.

Sebagai calon pemimpin kepada kemenakan oleh mamak diturunkan dasar-dasar dan prinsip-prinsip tanggungjawab, meliputi fungsi peranan pemeliharaan dan serta penggunaan unsur potensi manusia atau keturunan, pemeliharaan harta pusaka. Sedangkan keluar berkaitan dengan norma-norma hidup bermasyarakat sebagai anggota kampung dan nagari.

Kemenakan laki-laki dipersiapkan sedemikian rupa oleh mamaknya, agar nantinya salah seorang dari mereka akan menjadi pucuk pimpinan di tengah kaumnya. Sehubungan dengan hal tersebut kepemimpinan seseorang itu sangat ditentukan pembinaan di tengah-tenah kaumnya oleh mamak-mamaknya. Konsep-konsep dasar tentang pembinaan individu oleh mamak telah diwarisi secara turun temurn, dan karenanya pengetahuan si mamak harus melebihi kemenakannya, sebagaimana dikatakan “indak nan cadiak pado mamak, melawan mamak jo ilmunya, melawan malin jo kajinyo” (tidak ada yang cerdik dari mamak, melawan mamak dengan ilmunya melawan malin dengan kajinya).

Dengan arti kata boleh melawan tetapi dengan pengertian positif dan kemenakan seperintah mamak (kemenakan seperintah mamak), maksudnya kemenakan mengikuti apa yang diwariskan oleh mamaknya dari generasi terdahulu, dan sekarang wajib pula bagi kemenakan untuk menerima dan mengamalkannya.

Dalam adat sudah dikiaskan agar dalam membina kemenakan jangan sampai terjadi otoriter dan kesewenangan. Hal ini dikatakan dalam adat “kemenakan manyambah lahia, mamak manyambah batin” (kemenakan menyembah lahir, mamak menyembah batin). Dengan pengertian mamak dalam membimbing kemenakan hendaklah menunjukkan sikap, tingkah laku yang berwibawa dan bukan karena kekuasaannya sebagai seorang mamak. Bimbingan terhadap kemenakan laki-laki sangat penting karena mereka dipersiapkan sebagai pimpinan di tengah kaum keluarganya dan sebagai pewaris sako (gelar kebesaran kaum) yang ada pada kaumnya.

Tanpa ada kemenakan laki-laki dikatakan juga ibarat “tabek nan indak barangsang, ijuak nan indak basaga, lurah nan indak babatu” (tebat yang tidak mempunyai ransang, ijuk yang tidak mempunyai saga, lurah yang tidak mempunyai batu), dengan arti kata dari kemenakan laki-laki diharapkan sebagai pagaran dari kaumnya. Bila terjadi silang sengketa antara kelompok masyarakat lainnya pihak laki-laki yang terutama sebagai juru bicara dari kaumnya. Tanpa ada yang laki-laki mungkin orang lain akan bersilantas angan terhadap anggota kaumnya.

Disamping itu bimbingan kepada kemenakan yang perempuan tidak kalah pentingnya, karena dialah sebagai penyambung garis keturunan dan pewaris harta pusaka. Peranan ibu di rumah gadang sangat diutamakan disamping mamak laki-laki yang selalu “siang maliek-liekan, malam mandanga-dangakan, manguruang patang, mangaluakan pagi” (siang melihat-lihatkan, malam mendengar-dengarkan, mengeluarkan pagi mengurung sore), dengan pengertian tidak terlepas dari pengawasannya.

Dengan demikian tali kekerabatan mamak kemenakan merupakan tali yang menunjukkan kepemimpinan dan pewarisan keturunan yang berkesinambungan, yang diturunkan dari nenek kepada mamak, dari mamak kepada kemenakan.

Sistem Kekerabatan Di Minangkabau




2022 www.videocon.com