Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

• Pengertian Peternakan • Macam-Macam Hewan Ternak • Heewan Ternak Berdasarkan Ukurannya • Hewan Ternak Berdasarkan Jenisnya • Tujuan Beternak • Manfaat dan Hasil Beternak • Peternakan Di Indonesia • Sebarkan ini: • Posting terkait: Pengertian Peternakan Ternak adalah tempat pengembangbiakan dan budidaya ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan ini. Pengertian peternakan tidak terbatas pada pemeliharaaan saja, memelihara dan beternak perbedaannya terletak pada tujuan yang ditetapkan.

Tujuan peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi yang telah dikombinasikan secara optimal. Berdasarkan ukuran hewan ternak, bidang peternakan dapat dibagi atas dua golongan, yaitu peternakan hewan besar seperti sapi, kerbau dan kuda, sedang kelompok kedua yaitu peternakan hewan kecil seperti ayam, kelinci dan lain-lain. Berdasarkan jenisnya, ternak dibagi menjadi ruminansia dan nonruminansia. Macam-Macam Hewan Ternak Adapun jenis-jenis ternak diantaranya sapi, kerbau, sapi perah, domba, kambing, babi, kelinci, ayam, itik, mentok, puyuh, ulat sutera, belut, katak hijau, dan ternak lebah madu.

Masing-masing hewan ternak tersebut dapat diambil manfaat dan hasilnya. Hewan-hewan ternak ini dapat dijadikan pilihan untuk diternakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Artikel Terkait : Cara Ternak Ayam Joper Heewan Ternak Berdasarkan Ukurannya • Peternakan Unggas Peternakan Unggas umumnya hewan yang memiliki bulu, seperti ayam, bebek, entok, angsa, dan lain lain. Yang di ambil dari peternakan unggas biasanya adalah telus, daging dan bulunya.

Umumya, para masyarakat pedesaan beternak unggas untuk di konsumsi dagingnya dan sebagian di jual telur dan anakan ayamnya. • Peternak Hewan Besar Peternakan hewan besar itu seperti Sapi, Kuda, Kerbau, Unta dan sebagainya. Jenis peternakan ini sering kali dimanfaatkan dagingnya, kotorannya, kulitnya dan apa saja yang bisa digunakan untuk kebutuhan pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan. • Peternakan Hewan Kecil Hampir sama dengan peternakan hewan beasr, bila jenis ini contohnya seperti Babi, Kambing, kelinci.

Untuk alasannya sendiri, bisa di ambil dagingnya, bisa di ambil susu, dan kotorannya sebagai pupuk lahan pertanian. Hewan Ternak Berdasarkan Jenisnya • Hewan Non Ruminansia Hewan non ruminansia (unggas) memiliki pencernaan monogastrik (perut tunggal) yang berkapasitas kecil.

Makanan ditampung di dalam crop kemudian empedal/gizzard melakukan penggilingan sempurna hingga halus.

Makanan yang tidak tercerna akan keluar bersama ekskreta, oleh karena itu sisa pencernaan pada unggas berbentuk cair (Blakely, 1985). Zat kimia dari hasil–hasil sekresi kelenjar pencernaan memiliki peranan penting dalam sistem pencernaan manusia dan hewan monogastrik lainnya. Pencernaan makanan berupa serat tidak terlalu berarti dalam spesies ini. Unggas tidak memerlukan peranan mikroorganisme secara maksimal, karena makanan berupa serat sedikit dikonsumsi.

Artikel Terkait : Cara Ternak Bebek Saluran pencernaan unggas sangat berbeda dengan pencernaan pada mamalia. Perbedaan itu terletak didaerah mulut dan perut, unggas tidak memiliki gigi untuk mengunyah, namun memiliki lidah yang kaku untuk menelan makanannya. Perut unggas memiliki keistimewaan yaitu terjadi pencernaan mekanik dengan batu-batu kecil yang dimakan oleh unggas digizzard (Dorland, 2002).

• Hewan Ruminansia Ruminansia adalah kelompok hewan mamalia yang bisa memamah (memakan) dua kali sehingga kelompok hewan tersebut dikenal juga sebagai hewan memamah biak.

Dalam sistem klasifikasi, manusia dan hewan ruminansia pada umumnya mempunyai kesamaan siri dari sistem pencernaan hewan ruminansia dan manusia. Contoh hewan ruminansia ialah kerbau, domba, kambing, sapi, kuda, jerapah, kancil, rusa dan lain – lain (Dorland, 2002). Seperti halnya pada manusia, hewan ruminansia memiliki seperangkat alat pencernaan seperti rongga mulut (gigi) pada hewan ruminansia terdapat gigi gerahan yang besar yang berfungsi untuk menggiling pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan menggilas serta mengunyah rerumputan yang mengandung selulosa yang sulit dicerna.

Selain rongga mulut hewan ruminansia memiliki persamaan dalam alat pencernaan yaitu esophagus, lambung dan usus. Mekanisme pencernaan makanan hewan ruminansia adalah makanan berupa rumput yang telah dikunyah di dalam mulut masuk ke dalam rumen melalui esophagus makanan disimpan sementara dirumen.

Selanjutnya, makanan menuju retikulum dan dicerna di dalamnya. Makanan yang telah dicerna kemudian dikeluarkan kembali ke mulut. Didalam mulut dikunyah kembali dan ditelan lagi ke retikulum, proses ini disebut memamah biak. Selanjutnya makanan masuk ke omasum, di sini terjadi proses penyerapan air. Selanjutnya makanan diteruskan ke abomasum (perut masam), makanan yang sudah dicerna di abomasum akan akan diteruskan ke usus halus.

Di usus halus terjadi proses penyerapan sari-sari makanan, sisa-sisa makanan yang tidak diserap dikirim ke usus besar. Setelah mengalami penyerapan air, sisa makanan berupa ampas dikeluarkan melalui anus (Soeprapto, 2006). Artikel Terkait : Cara Ternak Ulat Hongkong Tujuan Beternak Suatu usaha agribisnis seperti peternakan harus mempunyai tujuan, yang berguna sebagai evaluasi kegiatan yang dilakukan selama beternak salah atau benar Contoh tujuan peternakan yaitu tujuan komersial sebagai cara memperoleh keuntungan.

Bila tujuan ini yang ditetapkan maka segala prinsip ekonomi perusahaan, ekonomi mikro dan makro, konsep akuntansi dan manajemen harus diterapkan. Namun apabila peternakan dibuka untuk tujuan pemanfaatan sumber daya, misalnya tanah atau untuk mengisi waktu luang tujuan utama memang bukan merupakan aspek komersial, namun harus tetap mengharapkan modal yang ditanamkan dapat kembali.

Manfaat dan Hasil Beternak • Beternak kambing Manfaat yang dapat diambil dari usaha beternak kambing selain diambil hasil dagingnya, kambing dapat diambil hasil kulitnya, kotorannya dapat dimaanfaatkan untuk pupuk dan hasil tulangnya juga dimanfaatkan. Bahkan jenis-jenis kambing tertentu dapat dimbil hasil susunya, hasil bulunya untuk bahan kain wol. • Beternak lebah Manfaat yang dapat diambil dari usaha beternak lebah Apis mellifera yang bibit awalnya didatangkan dari Australia adalah jasanya untuk polinasi (penyerbukan) tanaman, banyak pemilik perkebunan di luar Indonesia yang menyewa koloni lebah dari peternak untuk melakukan penyerbukan tanaman di perkebunannya.

Perkebunan yang sering menyewa koloni lebah adalah perkebunan apel. • Beternak kelinci Beternak kelinci juga banyak memiliki manfaat, diantaranya yaitu daging yang dapat diambil untuk menambah gizi keluarga, penambah penghasilan keluarga, kulit kelinci dapat dijual untuk bahan industri, kotoran serta air kencingnya dapat kita jual untuk dijadikan pupuk tanaman serta untuk bahan bakar biogas.

Artikel Terkait : Cara Ternak Kacer Manajemen pemeliharaan ternak diperkenalkan sebagai upaya untuk dapat memberikan keuntungan yang optimal bagi pemilik peternakan.

Dalam manajemen pemeliharaan ternak dipelajari, antara lain : • Seleksi Bibit • Pakan • Kandang • Sistem Perkawinan • Kesehatan Hewan • Tata Laksana Pemeliharaan • Pemasaran. Pakan yang berkualitas baik atau mengandung gizi yang cukup akan berpengaruh baik terhadap yaitu tumbuh sehat, cepat gemuk, berkembangbiak dengan baik, jumlah ternak yang mati atau sakit akan berkurang, serta jumlah anak yang lahir dan hidup sampai disapih meningkat. Singkatnya, pakan dapat menentukan kualitas ternak.

Selain itu berdasarkan penelitian, hasil dari kualitas pupuk dari ternak potong dengan ternak perah berbeda. Ternak yang diberi makanan bermutu (seperti ternak perah)akan menghasilkan pupuk yang berkualitas baik, sebaliknya ternak yang makanannya kurang baik juga akan menghasilkan pupuk yang kualitasnya rendah. Peternakan Di Indonesia Setiap daerah memiliki budaya ternak sendiri, budaya Timor Tengah Selatan, dalam hal pemeliharaan ternak, umumnya penduduk yang diteliti masih memiliki kecendrungan untuk melepas saja hewan-hewan ternak peliharaan mereka dipadang rumput pada siang hari.

Begitu pula di Maluku, bidang peternakan belum menjadi sebuah bidang yang ditekuni oleh masyarakat. Yang ada hanyalah peternakan-peternakan biasa tanpa adanya suatu sistem tertentu.

Artikel Terkait : Cara Ternak Puyuh Pada umumnya jenis-jenis hewan ternak yang dipelihara, diantaranya adalah : kambing, ayam dan itik. Hewan-hewan ini dibiarkan bebas berkeliaran tanpa kandang. Di Lampung, hewan-hewan ternak dibiarkan bebas berkeliaran, dan setelah beberapa tahun kemudian, mereka ditangkap dan dimasukkan kedalam kandang, dihitung jumlahnya dan diberi tanda milik pada tubuhnya. Demikian penjelasan artikel diatas tentang Pengertian Peternakan -Macam, Tujuan, Manfaat, Jenis, Contoh semoga bermanfaat bagi pembaca setia Lahan.Co.Id Baca Juga : • 13 Teknik Budidaya Unggas Petelur Ayam Beserta Perencanaannya • Cara Ternak Jangkrik Alam Dan Kalung Bagi Pemula • 9 Cara Budidaya Kroto Semut Rangrang Dengan Toples (Pemula) Posting terkait: • Melatih Mental Kacer Bakalan • Cara Merawat Burung Cendet • Cara Ternak Ulat Hongkong Posting pada Peternakan Ditag apa tujuan memelihara hewan ternak, arti kandang, contoh peternakan, contoh ternak kecil, jenis jenis peternakan, jenis kandungan dan manfaat hasil peternakan dan perikanan, jenis peternakan menurut para ahli, kerugian peternakan, macam macam peternakan, makalah peternakan, manfaat peternakan, masalah peternakan di indonesia 2018, paman beni beternak burung merpati, pengertian dari kandang hewan ternak, pengertian hasil samping perikanan, pengertian perindustrian dan kerajinan, Pengertian Peternakan, pengertian peternakan brainly, pengertian peternakan menurut para ahli, pengertian peternakan modern, pengertian produksi peternakan, pengertian ternak, perkembangan peternakan di indonesia, persebaran peternakan di indonesia, peternakan di indonesia, peternakan hewan kecil contohnya, peternakan unggas, peternakan unggas adalah, potensi sektor peternakan di indonesia, produksi peternakan adalah, sebutkan pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan contoh hasil peternakan, sebutkan contoh hewan ternak yang di, sebutkan pembagian usaha peternakan, syarat kandang ternak yang baik yaitu, ternak kecil adalah, tujuan mempelajari ternak potong Pos-pos Terbaru • 7 Cara Menanam Jeruk Nipis Supaya Cepat Berbuah ( Lebat & Melimpah ) • Melatih Mental Kacer Bakalan • Cara Merawat Burung Cendet • Budidaya Rumput Laut • Budidaya Pepaya Calina • Cara Membuat Pupuk Kompos • 8 Cara Menanam Bayam Cabut Yang Baik Dan Benar (Biji & Batang) • 10 Cara Merawat Tanaman Hias Di Rumah Agar Subur Dan Manfaatnya • Cara Ternak Ulat Hongkong • Cara Ternak Puyuh • Budidaya Kemiri Sunan • Pertanian Modern • Cara Budidaya Udang Vaname • Cara Merawat Perkutut • Jenis Kucing • Budidaya Lebah Madu • Cara Budidaya Kroto • Cara Ternak Ayam Joper • Cara Memelihara Ikan Discus • Jenis Ikan Laut Dalam Daftar Jurusan Kuliah – Untuk kamu anak SMA apalagi yang sebentar lagi mau lulus.

Beberapa diantaranya pasti galau dalam menentukan jurusan kuliah. Studi apa yang mau diambil, mau kuliah di kota mana, Universitas apa? Kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa adalah mereka gagal menentukan bakat apa yang mereka miliki dan bidang apa yang akan mereka tekuni.

Alhasil mereka malah masuk jurusan kuliah yang sedang ng-trend atau ikut- ikutan teman. #haduuh Kemudian, pengetahuan kita kadang kurang luas tentang jurusan- jurusan kuliah yang ada di Indonesia. Haii . Jurusan kuliah itu banyak sekali. baik untuk kamu yang berlatar belakang SMA jurusan IPA, jurusan IPS ataupun Teknik. Nah, dalam artikel ini kami telah menuliskan lebih dari 100 jurusan kuliah yang ada di kampus- kampus Indonesia.

Kami tidak dapat menjelaskan jurusan- jurusan tersebut satu persatu karena terlalu banyak jumlahnya. hehe. Ini hanya sebagai referensi dasar saja. Sebelum Menentukan Jurusan Kuliah thefamilyalpha.com Berikut ini adalah hal- hal yang harus anda lakukan atau pertimbangkan sebelum menentukan jurusan kuliah dikutip dari lama blog.ruangguru.com 1.

Tuliskan Minat dan Pekerjaan Ambil secarik kertas, bentuk kolom minat dan pekerjaan, Isi kolom minat dengan aktivitas yang kamu senangi.

sedangkan kolom pekerjaan isi dengan pekerjaan yang bisa berkaitan dengan minatmu di kolom pertama. Contohnya: Jika kamu suka komputer maka kamu tulis di kolom minat “Saya suka komputer” dan dikolom pekerjaan tuliskan pekerjaan apa yang ingin kamu dapatkan dengan komputer. Apakah itu programmer, guru komputer dan sebagainya. 2. Pikirkan Biaya Ada baiknya pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan browsing dan ketahui berapa budget yang harus dikeluarkan persemester jika kuliah di Universitas tersebut beserta dengan beban biaya hidup lainnya seperti kos-kosan makan dan lain sebagainya.

Info tentang beasiswa bisa juga kamu jadikan pilihan untuk meringankan biaya kuliah nantinya. 3. Lihat Prospeknya Tentu saja kamu harus melihat prospek pekerjaan yang disediakan oleh jurusan tersebut. Apakah dalam 4-5 tahun kedepan itu akan menjanjikan untuk masa depanmu. 4. Komitmen Jika sudah memilih satu jurusan kamu harus memiliki komitmen dengan pilihanmu.

Teguhkan hati, jangan terbawa dengan pilihan teman semata, atau karena trend yang ada di lingkunganmu. 5. Persiapkan Plan A B Persiapkan juga alternatif jurusan lain seandainya kamu gagal lolos ujian di Perguruan Tinggi Negeri. tapi jika kamu sudah mantap dengan pilihanmu tersebut. Maka jalan lainnya tentu saja dengan masuk ke Perguruan Tinggi Swasta. tentu saja dengan mempertimbangkan kembali budget dan lain sebagainya.

Daftar Jurusan Kuliah noos.co.id I nilah daftar daftar atau list jurusan kuliah yang dapat kamu jadikan referensi sebelum memutuskan jurusan dan tempat dimana kamu nanti melanjutkan studi.

Khususnya untuk kamu anak SMA IPA IPS atau Teknik di SMK. Jurusan-jurusan atau program studi beberapa diantaranya terdengar asing ditelinga kita dan Ada juga beberapa jurusan yang memiliki kampus khusus yang jumlahnya tidak banyak di Indonesia. berikut adalah daftarnya yang disaring dari laman youthmanual,com Rumpun Ilmu Jurusan Kuliah / Program Studi Kesehatan Kedokteran Kedokteran Gigi Kedokteran Hewan Kesehatan Masyarakat Kesehatan Lingkungan Ilmu Gizi Keselamatan & Kesehatan Kerja Ilmu Keperawatan Farmasi Kedokteran Hewan Nutrisi dan Teknologi Pangan Kebidanan Fisioterafi Ilmu Keolahragaan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Manajemen Pelayanan Rumah Sakit Matematika & IPA (MIPA) Matematika Fisika Kimia Biologi Statistika Astronomi Bioteknologi Geofisika Meteorologi Geografi Biokimia Metrologi Aktuaria Statistika Terapan Mikrobiologi Bioentrepreneurship Ilmu Pangan (Food Science) Matematika Bisnis Fisika Medis Kartografi dan Penginderaan Jauh Pengelolaan dan Pemberdayaan SDA dan Lingkungan Sosial dan Humaniora llmu Politik Filsafat Kriminologi Psikologi Ilmu Hukum Sosiologi Jurnalistik Antropologi Hubungan Internasional (HI) Ilmu Kesejahteraan Sosial Ilmu Pemerintahan Administrasi Publik Administrasi Bisnis Ilmu Komunikasi Hubungan Masyarakat Marketing Communication Penyiaran (Broadcasting) Periklanan (Advertiing) Peradilan Agama Politik Islam Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Business Law Manajemen Komunikasi Branding Kearsipan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Ilmu Keluarga dan Konsumen Manajemen Produksi Media Ekonomi dan Bisnis Akuntansi Manajemen Keuangan Menajemen Sumber Daya Manusia dan Organisasi Manajemen Operasi Manajemen Pemasaran Administrasi Fiskal Ekonomi Bisnis Internasional Manajemen Informatika Ekonomi Pembangunan Techopreneurship Green Economy Manajemen Bisnis Administrasi Niaga Manajemen Keuangan Syariah Bisnis Islam Business Creation Kewirausahaan Manajemen Bisnis dan Pemasaran Manajemen Bisnis Internasional Ekonomi Syariah Keuangan Pemasaran Internasional Ekonomi Bisnis Akuntansi Bisnis Manajemen Pariwisata Manajemen Manajemen Transportasi Akuntansi Sektor Publik Manajemen Industri Katering Administrasi Keuangan Manajemen Bisnis Telekomunikasi Informatika Sastra dan Budaya Ilmu Sejarah Sastra Inggris Arkeologi Sastra Jawa Sastra Arab Sastra Jepang Sastra Indonesia Sastra Rusia Sastra Perancis Sastra Korea Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan Jerman Sastra Belanda Sastra Cina Sastra Sunda Sastra Bali Sastra Slavia Sastra Minangkabau Sastra Nusantara Sejarah dan Kebudayaan Islam Komputer dan Teknologi Teknik Informatika Mobile Application & Technology Sistem Informasi (Manajemen Informatika) Teknologi Game Ilmu Komputasi Cyber Security Bioinformatika Sistem Komputer (Teknik Komputer) Sistem Informasi Bisnis Software Engineering Sistem dan Teknologi Informasi Computerized Accounting Information Systems Audit Accounting Information Audio Engineering Ilmu Komputer Human Computer Interaction Pendidikan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Manajemen Pendidikan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah Pendidikan Luar Biasa (PLB) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Administrasi Pendidikan Pendidikan Bimbingan Konseling Ilmu Perpustakaan Teologi Pendidikan Kependudukan Tafsir Hadits Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pendidikan Agama Islam Pendidikan Kepelatihan Olahraga Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pendidikan Sejarah Pendidikan Matematika Manajemen Pendidikan Islam Pendidikan Geografi Pendidikan Bahasa Arab Pertanian Agronomi dan Hortikultura Mikrobiologi Pertanian Agribisnis (Sosial Ekonomi Pertanian) Agroteknologi Ilmu Kelautan Peternakan Agroeteknologi Kehutanan Budidaya Perairan (Akuakultur) Teknologi Pangan Rekayasa Pertanian Teknologi Pasca Panen Teknologi Hasil Hutan Silvikulutur Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan (Proteksi Tanaman) Teknologi Industri Pertanian (Agroindustri) Manajemen Sumberdaya Lahan (Ilmu Tanah) Teknologi Hasil Perikanan Agrobisnis Perikanan (Sosial Ekonomi Perikanan) Pengelolaan Hutan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Teknologi Industri Benih Produksi Ternak Teknologi Hasil Ternak Rekayasa Pertanian Budidaya Perikanan Manajemen Sumber Daya Perairan Manajemen Hutan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Teknik Pertanian Manajemen Bisnis Unggas Profesi dan Ilmu Terapan Pariwisata Pendidikan Kepolisian Pendidikan Militer Penerbang (Pendidikan Pilot) Pendidikan Intelijen Komunikasi Penerbangan Lalu Lintas Udara Manajemen Logistik Seni Desain Interior Desain Produk Furniture Design Tata Boga Desain Grafis Animasi DKV New Media DKV Creative Advertising Teknik Teknik Pertambangan Teknik Kelautan Teknik Lingkungan Teknik Metalurgi Teknik Sipil Arsitektur Teknik Geodesi Teknik Elektro Teknik Mesin Teknik Industri Teknik Perkapalan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Teknik Penerbangan (Aeronautika dan Astronautika) Oseanografi Teknik Nuklir Teknik Geologi Teknik Otomotif Teknobiomedik Teknik Perancangan Jalan dan Jembatan Teknik Refrigerasi dan Tata Udara Teknik Telekomunikasi Teknologi Bioproses Teknik Grafika Transportasi Laut Teknik Otomasi Manufaktur dan Mekatronika Rekayasa hayati Teknik Material Automotive and Robotics Engineering Teknik Tenaga Listrik Teknik Sistem Komputer Manajemen Rekayasa Industri Teknik Bioenergi dan Kemurgi Industrial RoboticsDesign Teknik Kimia Teknik Fisika Teknik Geomatika Teknik Perminyakan Teknik Alat Berat Rekayasa Infrastruktur Lingkungan Teknik Pesawat Udara Teknik Telekomunikasi dan Navigasi Udara Teknik Bangunan dan Landasan Teknik Listrik Bandara Teknik Ekonomi Konstruksi (Quantity Surveyor) Teknik Sistem Perkapalan Teknik Pengairan (Sumber Daya Air) Meteorologi Terapan Arsitektur Lanskap Teknik Konversi Energi Teknik Perpipaan Nah, itu tadi beberapa hal yang berkaitan dengan Jurusan kuliah dari mulai cara memilih jurusan kuliah hingga daftar fakultas dan jurusan kuliah yang ada di kampus- kampus di Indonesia.

Sekian dari saya . Terima Kasih dan #Wassalam ARTIKEL LAINNYA • Arti JABODETABEK : Singkatan dan Kepanjangannya Adalah• FAX Adalah : Apa Itu Nomor Fax Toko, Npwp & Contohnya• CLOUD COMPUTING: Pengertian, Manfaat, Jenis & Contoh• Apa Itu Ilmu SEO?• METODE WATERFALL: Pengertian, Kelebihan & Tahapan Model• PENGERTIAN SDLC adalah: Fungsi, Metode dan Tahapan SDLC
• Aragonés • العربية • Asturianu • Azərbaycanca • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • བོད་ཡིག • Bosanski • Català • Čeština • Чӑвашла • Deutsch • Thuɔŋjäŋ • Ελληνικά • Emiliàn e rumagnòl • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Suomi • Français • Frysk • Gaeilge • Kriyòl gwiyannen • Galego • ગુજરાતી • Hausa • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Kabɩyɛ • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Кыргызча pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan Latina • Lingála • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Македонски • മലയാളം • Bahasa Melayu • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Русский • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • తెలుగు • ไทย • Türkmençe • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Tiếng Việt • Walon • Winaray • 吴语 • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Domba sedang digembalakan di padang rumput, Yunani Pertanian Umum • Agribisnis • Agroindustri • Agronomi • Ilmu pertanian • Jelajah bebas • Kebijakan pertanian • Lahan usaha tani • Mekanisasi pertanian • Menteri Pertanian • Perguruan tinggi pertanian • Perguruan tinggi pertanian di Indonesia • Permakultur • Pertanian bebas ternak • Pertanian berkelanjutan • Pertanian ekstensif • Pertanian intensif • Pertanian organik • Pertanian urban • Peternakan • Peternakan pabrik • Wanatani Sejarah • Sejarah pertanian • Sejarah pertanian organik • Revolusi pertanian Arab • Revolusi pertanian Inggris • Revolusi hijau • Revolusi neolitik Tipe • Akuakultur • Akuaponik • Hewan ternak • Hidroponik • Penggembalaan hewan • Perkebunan • Peternakan babi • Peternakan domba • Peternakan susu • Peternakan unggas • Peladangan • Portal:Pertanian • l • b • s Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan dan pemeliharaan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut.

Hewan yang banyak diternakkan di antaranya sapi, ayam. kambing, domba, dan babi. Hasil peternakan di antaranya daging, susu, telur, dan bahan pakaian (seperti wol). Selain itu, kotoran hewan dapat menyuburkan tanah dan tenaga hewan dapat digunakan sebagai sarana transportasi dan untuk membajak tanah.

Hal-hal yang termasuk kegiatan beternak di antaranya pemberian makanan, pemuliaan atau pengembangbiakan untuk mencari sifat-sifat unggul, pemeliharaan, penjagaan kesahatan dan pemanfaatan hasil. Peternakan dapat dibedakan menjadi peternakan ekstensif atau intensif, dan terdapat juga peternakan semi intensif yang menggabungkan keduanya. Dalam peternakan ekstensif, hewan dibiarkan berkeliaran dan mencari makan sendiri, kadang di lahan yang luas, dan kadang dengan pengawasan agar tidak dimangsa.

Dalam peternakan intensif, terutama peternakan pabrik pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan umum di negara-negara maju, hewan dikandangkan dalam gedung berkepadatan tinggi, makanannya dibawa dari luar, dan hidupnya diatur agar memiliki produksi dan efisiensi tinggi.

Peternakan dimulai sejak terjadinya domestikasi hewan (budi daya hewan agar dapat dipelihara dan dimanfaatkan manusia) dalam proses yang dimulai sekitar tahun 13.000 SM. Berbagai jenis hewan mulai didomestikasi pada saat dan tempat yang berbeda-beda dalam sejarah. Selain hewan ternak yang telah disebutkan di atas, hewan-hewan seperti kuda, kerbau, unta, llama, alpaka, dan kelinci juga diternakkan di beberapa belahan dunia.

Peternakan juga meliputi budidaya perairan untuk memelihara hewan air seperti ikan, udang, dan kerang. Peternakan serangga juga dilakukan di beberapa tempat, seperti peternakan lebah, ulat sutra, bahkan jangkrik yang dijadikan makanan di Thailand.

Kebanyakan hewan ternak adalah herbivor atau pemakan tumbuhan, tetapi ada juga yang pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan seperti babi atau ayam. Hewan pemamah biak ( ruminansia) seperti sapi dan kambing dapat mencerna selulosa, sehingga dapat diberi makan rumput di alam bebas.

Selain itu, hewan-hewan itu dapat diberi makan berenergi dan protein tinggi, seperti tumbuhan serealia dan pakan buatan. Hewan non-ruminansia tidak dapat memakan rumput sehingga harus makan dari sumber lain. Pada zaman modern, dampak peternakan terhadap lingkungan mulai disoroti, karena kegiatan peternakan membutuhkan banyak air dan lahan, baik untuk hewan ternak maupun untuk tanaman yang ditumbuhkan sebagai makanannya.

Selain itu, hewan ternak mengeluarkan emisi gas rumah kaca seperti metana (CH 4), dinitrogen monoksida (N 2O), dan karbon dioksida (CO 2). Muncul juga kekhawatiran akan kesejahteraan hewan terutama seiring meningkatnya peternakan pabrik. Daftar isi • 1 Aspek-aspek peternakan • 1.1 Sistem ekstensif dan intensif • 1.2 Pakan ternak • 1.3 Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan ternak • 1.4 Kesehatan ternak • 1.5 Macam-macam hewan ternak • 1.6 Hasil • 2 Jenis-jenis • 2.1 Peternakan potong • 2.2 Peternakan perah • 2.3 Peternakan unggas • 2.4 Budi daya perairan • 2.5 Peternakan serangga • 3 Sejarah • 3.1 Awal peternakan • 3.2 Dalam peradaban kuno • 3.3 Dalam abad pertengahan • 3.4 Interaksi Dunia Lama dan Dunia Baru • 3.5 Revolusi Pertanian Britania • 4 Dampak peternakan • 4.1 Bagi lingkungan • 4.2 Bagi kesejahteraan hewan • 4.3 Dalam budaya • 5 Referensi Aspek-aspek peternakan Sistem ekstensif dan intensif Domba Herdwick diternakkan dalam di perbukitan dengan sistem ekstensif, Inggris Awalnya, peternakan adalah bagian dari kehidupan petani swasembada, dengan tujuan bukan hanya sumber makanan untuk keluarga petani tetapi juga sumber pupuk, pakaian, sarana transportasi, tenaga untuk dimanfaatkan, serta bahan bakar.

Awalnya, hewan dimanfaatkan sebisa mungkin selagi hidup untuk menghasilkan telur, susu, wol, bahkan darah (misalnya, oleh suku Maasai), dan memakan hewan itu sendiri bukanlah tujuan utama.

[1] Dalam gaya hidup nomaden yang disebut transhumans, manusia dan hewan ternak berpindah antara beberapa kawasan tinggal musiman. Misalnya, di kawasan montane mereka tinggal di gunung pada musim panas dan di lembah pada musim dingin.

[2] Peternakan dapat dilakukan secara ekstensif (di luar) maupun intensif (di kandang). Dalam peternakan ekstensif, hewan dapat berkeliaran, kadang bebas atau kadang diawasi peternak atau penggembala agar dapat dilindungi dari pemangsa. Di Amerika Utara terdapat sistem ranch ( Bahasa Inggris) atau rancho ( Bahasa Spanyol), yaitu lahan besar yang dimiliki umum atau swasta yang menjadi tempat penggembalaan sapi dalam jumlah besar.

[3] Terdapat juga tempat penggembalaan serupa di Amerika Selatan, Australia, atau tempat-tempat lain dengan lahan yang luas dan hujan yang sedikit. Selain untuk sapi, sistem ini dapat digunakan untuk domba, rusa, burung unta, llama, dan alpaka. [4] Di kawasan tinggi Britania Raya, domba-domba dibawa ke atas pegunungan pada musim semi dan dibiarkan bebas memakan rumput, kemudian dibawa turun mendekati akhir tahun dan diberi makanan tambahan pada musim dingin. [5] Di daerah pedesaan, ternak seperti unggas dan babi dapat hidup dengan mencari sisa-sisa makanan.

Di beberapa komunitas Afrika, ayam dapat hidup berbulan-bulan tanpa diberi makan dan masih menghasilkan satu atau dua telur per pekan. [1] Babi dikandangkan dalam sistem peternakan intensif, Amerika Serikat Di sisi lain, hewan juga sering diternakkan secara intensif terutama di negara-negara maju yang menerapkan peternakan pabrik.

Sapi perah dikandangkan dan makanannya dibawakan dari luar, sapi potong digemukkan di kandang-kandang khusus dengan kepadatan tinggi. [6] Babi dipelihara di bangunan yang pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan dikendalikan, dan selama hidupnya tidak pernah berada di luar ruangan. [7] Hewan unggas dipelihara di kandang dan jeruji di dalam ruangan yang penerangannya dikendalikan.

Di antara dua sisi ini ada juga peternakan semi-intensif, yaitu campuran antara peternakan intensif dan ekstensif. Contohnya adalah peternakan keluarga yang hewannya berganti antara memakan dari alam dan memakan pakan yang disiapkan peternak. Kadang hal ini terjadi secara musiman, hewan ternak dibiarkan makan di luar hampir sepanjang tahun, tetapi saat rumput sudah tidak tumbuh lagi hewan diberi makan jerami, pakan, atau bahan-bahan lain yang dibawa dari luar.

[8] Pakan ternak Sapi makan dari tempat yang telah disediakan, Inggris Kebanyakan hewan ternak adalah herbivor atau pemakan tumbuhan; hewan ternak yang omnivor di antaranya pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan atau babi. Hewan-hewan herbivora ada yang pemakan rumput (seperti sapi), pemakan bahan bernutrisi tinggi seperti biji, buah, dan daun muda, serta pemakan berbagai macam bagian tumbuhan (seperti kambing).

Selain itu, beberapa hewan ternak dapat digolongkan sebagai ruminansia atau pemamah biak, seperti sapi, domba, dan kambing. Hewan-hewan ini mencerna makanannya dua kali; pertama dengan mengunyah pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan menelan normal, lalu memuntahkannya dalam bentuk mamahan untuk dikunyah lagi, sehingga dapat memaksimalkan gizi yang diserap. [9] Kebutuhan gizi hewan memamah biak dapat dipenuhi sebagian besar dengan memakan rumput.

Rumput dapat tumbuh dari pangkalnya, sehingga walaupun banyak dimakan tetap hidup dan tumbuh lagi. [10] Dalam iklim tertentu, rumput tidak tumbuh sepanjang tahun, misalnya hanya dalam musim panas atau dalam musim hujan, sehingga rumput dipangkas dan disimpan untuk kemudian hari, misalnya dalam bentuk jerami (rumput kering) atau silase (rumput terfermentasi). [11] Tanaman hijauan lain juga dapat ditanam dan disimpan sebagai tambahan makanan untuk musim yang minim tumbuhan.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

{INSERTKEYS} [12] Seorang anak membawa hijauan untuk makanan ternak dengan sepeda, Tanzania. Hewan dalam sistem ekstensif dapat memenuhi nutrisinya hanya dari alam, tetapi hewan ternak intensif biasanya membutuhkan tambahan makanan kaya energi dan protein.

Energi biasanya didapat dari serealia seperti padi atau jagung (maupun produk olahannya), lemak, minyak, dan makanan kaya gula. Protein berasal dari pakan berbahan ikan atau daging, produk susu, kacang-kacangan, atau bahan olahan dari tumbuhan. [13] Hewan yang bukan pemamah biak seperti unggas atau babi tidak dapat mencerna selulosa yang ada di rumput, sehingga harus diberi pakan lain, misalnya dari serealia.

Pakan ternak dapat ditanam di tempat peternakan ataupun dibeli dalam bentuk produk yang kadang dikhususkan sesuai jenis hewan, masa pertumbuhan, atau kebutuhan gizi khusus. Vitamin dan mineral dapat ditambahkan agar pakan menjadi seimbang. [14] Pemuliaan ternak Artikel utama: Pemuliaan ternak Perkembangbiakan hewan ternak sering tidak terjadi secara spontan tetapi dikendalikan oleh peternak yang ingin agar keturunannya memiliki sifat-sifat tertentu.

Contoh sifat yang sering diinginkan adalah ketahanan, kesuburan, kemampuan mengasuh anak, kecepatan tumbuh, konsumsi pakan yang efisien, proporsi tubuh ideal dan kejinakan. Untuk hewan yang diambil produknya (seperti susu atau wol), keunggulan kuantitas dan kualitas produksi juga merupakan sifat yang diinginkan. Selain itu, peternak menghindari sifat-sifat yang tidak diinginkan seperti penyakit atau perilaku agresif. [15] [16] Pemuliaan ternak, yaitu pengembangbiakan ternak untuk mencari sifat yang diinginkan, berperan meningkatkan produksi ternak dengan tajam.

Pada 2007, berat ayam pedaging berumur delapan pekan umumnya mencapai hampir lima kali berat hewan yang sama pada tahun 1957. [15] Dalam waktu 30 tahun hingga 2007, produksi susu sapi di Amerika Serikat meningkat hampir dua kali lipat.

[15] Kesehatan ternak Memberi vaksinasi kepada kambing di Niger Faktor penting dalam kesehatan hewan ternak adalah perawatan yang baik, makanan yang tepat serta penjagaan kebersihan. Secara ekonomi, upaya menjaga kesehatan ternak akan menghasilkan keuntungan berupa produksi yang lebih optimal.

Jika ternak terkena penyakit, ilmu kedokteran hewan dapat digunakan untuk mengobatinya, baik oleh peternak sendiri ataupun oleh dokter hewan. Di beberapa negara, seperti di Uni Eropa, ketika peternak mengobati ternaknya sendiri, mereka tetap diwajibkan mengikuti aturan yang ada dan mencatat tindakan yang diberikan. [17] Terdapat penyakit yang umum menjangkiti hewan ternak. Sebagian hanya menjangkiti hewan tertentu, misalnya penyakit kolera babi yang hanya menjangkiti babi, [18] atau penyakit mulut dan kuku yang menjangkiti berbagai hewan berkuku belah.

[19] Dalam kondisi parah, pemerintah dapat melakukan tindakan dengan membatasi impor atau ekspor, membatasi perpindahan ternak, menerapkan karantina, serta mewajibkan laporan dugaan penyakit. Sebagian penyakit dapat dicegah dengan vaksinasi, dan sebagian dapat diobati dengan antibiotik. Antibiotik pernah ditambahkan ke pakan untuk membantu pertumbuhan, tetapi praktik ini kini dihindari di banyak negara karena meningkatkan risiko resistansi antibiotik. [20] Hewan dalam sistem peternakan intensif memiliki risiko tinggi terhadap parasit, baik parasit internal maupun eksternal.

Contohnya, kutu laut banyak menjangkiti ikan salmon yang diternakkan secara intensif di Skotlandia. [21] Mengurangi atau memberantas parasit pada hewan ternak dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan. [22] Sebagian penyakit, disebut zoonosis, dapat menular dari hewan ke manusia. Kadang penyakit ini berasal dari hewan liar yang menularkan penyakitnya ke hewan ternak yang memiliki keamanan biologi rendah. Menjangkitnya infeksi virus Nipah di Malaysia pada 1999 berasal dari babi yang mengalami kontak dengan kalong beserta kotoran dan urinnya.

Babi ini terkena penyakit yang kemudian menular ke manusia. [23] Penyakit flu burung H5N1 berasal dari populasi burung liar dan dapat menyebar jarak jauh melalui migrasi burung. Virus ini mudah menyebar ke unggas ternak, dan ke manusia yang hidup dekat unggas tersebut. Penyakit-penyakit lain yang dapat menular ke manusia dari hewan ternak maupun liar adalah rabies, leptospirosis, bruselosis, tuberkulosis, dan trikinosis. [24] Gambar pedesaan dengan berbagai hewan ternak: unta, kerbau, ayam, domba, dan kambing, ilustrasi dari Al-Wasithi, Irak Macam-macam hewan ternak Tidak ada definisi universal yang menentukan hewan apa saja yang dianggap hewan ternak.

Berbagai pihak memiliki definisi masing-masing, contohnya pemerintah Indonesia mendefinisikannya sebagai "Hewan peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian” dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014.

[25] Hewan yang hampir selalu dianggap hewan ternak di antaranya sapi (termasuk sapi potong dan perah), kambing, domba, dan unggas (seperti ayam dan itik). Kuda kadang dianggap hewan ternak juga, [26] sedangkan beberapa burung unggas kadang tidak dianggap hewan ternak. Beberapa hewan ternak hanya ada di bagian dunia tertentu, misalnya kerbau atau anggota famili unta Amerika Selatan seperti llama dan alpaka.

[27] [28] [29] Definisi yang lebih luas lagi juga mencakup peternakan ikan, hewan-hewan kecil seperti kelinci dan tikus belanda, maupun lebah madu dan serangga yang dipelihara untuk dimakan. [30] Hasil Tenaga kerbau digunakan untuk membajak sawah, Indonesia. Hasil utama peternakan di antaranya daging, susu, dan telur, yang menjadi makanan untuk manusia.

Hasil peternakan juga dapat dimanfaatkan industri, misalnya wol (untuk pakaian), kulit (untuk sepatu, tas, dan sebagainya), bulu, dan lemak (untuk sabun, mentega). [31] Tulang, tanduk, kuku, dan usus pun dapat digunakan untuk berbagai keperluan. [32] Kotoran hewan dapat digunakan sebagai sumber pupuk, sehingga mengembalikan sebagian mineral dan bahan organik yang dikonsumsi hewan ternak ke sistem dan membantu menumbuhkan kembali makanannya sendiri.

[33] Tenaga hewan juga dapat dimanfaatkan, misalnya kuda sebagai sarana transportasi dan kerbau untuk membajak (terutama di negara yang belum banyak menggunakan mesin). [32] Hewan ternak juga dapat digunakan dalam kegiatan rekreasi, misalnya karapan sapi di Madura dan pacu jawi di Tanah Datar. [34] Ada juga hewan ternak yang dipelihara untuk tujuan khusus, misalnya menghasilkan vaksin dan antiserum (yang mengandung antibodi) untuk tujuan pengobatan.

[35] [36] Jenis-jenis Peternakan potong The Sapi Hereford, salah satu ras sapi potong yang banyak diternakkan di berbagai negara. Peternakan potong menghasilkan daging, yang merupakan salah satu sumber utama protein di seluruh dunia. Rata-rata 8% dari kebutuhan energi manusia berasal dari daging.

Jenis hewan yang dimakan tergantung pada preferensi dan kebiasaan setempat, ketersediaan, biaya, dan faktor-faktor lainnya. Sapi, kambing, domba, dan babi adalah spesies-spesies yang paling banyak diternakkan untuk dagingnya. Hewan-hewan ini memiliki kecepatan berkembang-biak yang berbeda. Sapi biasanya hanya melahirkan satu anak dan membutuhkan lebih dari setahun untuk dewasa; kambing dan domba sering memiliki anak kembar dan dapat disembelih sebelum umur satu tahun; babi adalah hewan yang sangat subur dan tiap tahun dapat menghasilkan hingga 11 anak.

[37] [38] Di kawasan tertentu, kuda, keledai, rusa, kerbau, llama, dan alpaka juga diternakkan untuk diambil dagingnya. Sifat yang diinginkan dari hewan-hewan ternak potong diantaranya kesuburan, ketahanan, kecepatan tumbuh, kemudahan pemeliharaan, dan efisiensi konversi makanan (tingginya hasil daging per pakan yang diberikan).

Sekitar setengah dari daging di dunia dihasilkan dari hewan yang dibiarkan bebas di padang rumput atau kandang yang cukup luas, sedangkan setengahnya lagi dihasilkan dari peternakan intensif dengan sistem pabrik, terutama daging sapi, ayam, dan babi.

Dalam sistem intensif, hewan-hewan ini dipelihara dalam ruangan dengan kepadatan tinggi. [39] Peternakan perah Ruang pemerahan berputar di industri peternakan perah modern, Jerman Semua mamalia menghasilkan susu untuk anak-anaknya, tetapi sapi adalah hewan utama yang dijadikan sumber susu untuk konsumsi manusia.

Hewan lain juga diambil susunya di berbagai kawasan dunia, termasuk kambing, domba, unta, kerbau, kuda, dan keledai. [40] Hewan-hewan ternak perah telah didomestikasi dari habitat liarnya sejak lama, sehingga telah terjadi banyak pemuliaan sehingga memiliki sifat-sifat seperti kesuburan, produktivitas susu, kejinakan, dan kemampuan hidup di kondisi setempat. [41] Awalnya, dan kini masih dilakukan di berbagai peternakan tradisional, sapi memiliki berbagai fungsi sekaligus. Sapi tidak hanya dipelihara untuk diperah tetapi juga sebagai sumber tenaga (untuk menarik kendaraaan atau membajak sawah), kotorannya digunakan untuk menyuburkan tanah, dan menghasilkan produk lain seperti daging, kulit, atau rambutnya yang dapat dicukur dan dipintal.

[40] Dalam peternakan modern, melalui pemuliaan muncul tipe-tepi sapi perah yang menghasilkan susu dalam jumlah sangat besar, seperti ras Sapi Holstein yang dikenal sangat ekonomis. Peternak dapat melakukan inseminasi buatan untuk mengawinkan hewan-hewan untuk menghasilkan keturunan unggul atau cocok dengan kondisi peternak.

[41] Kambing dan domba kadang juga diternakkan untuk menghasilkan susu jika iklim atau kondisi setempat tidak memungkinkan peternakan sapi perah. [40] Pada zaman modern, peternakan perah cenderung menunjukkan peralihan dari sistem peternakan keluarga menjadi peternakan besar yang intensif. Dalam peternakan keluarga yang kini mulai ditinggalkan, sapi makan dari padang rumput dan hanya dibawakan makanan saat musim dingin atau kering.

Dalam sistem intensif, sapi dipelihara dalam jumlah besar, hidup di dalam bangunan, dan makanannya dibawakan sepanjang tahun tanpa diberi kesempatan merumput. [42] Peternakan unggas "Kandang baterai", sistem untuk mengandangkan ayam petelur dengan kepadatan tinggi, Brazil Hewan-hewan unggas, seperti ayam, bebek, angsa, dan kalkun diternakkan untuk dagingnya dan telurnya.

Ayam adalah hewan utama yang diternakkan untuk telurnya. Metode peternakan unggas bervariasi dari sistem ekstensif yang membebaskan unggas-unggas berkeliaran dan hanya dikandangkan pada malam hari demi keamanan, atau sistem semi-intensif yang memelihara unggas di kandang besar atau pagar yang masih memungkinkan unggas tersebut bergerak atau bertengger, hingga sistem intensif yang memelihara unggas dalam kerangkeng. Salah satu metode yang digunakan dalam peternakan intensif adalah sistem kandang baterai, tempat unggas dikandangkan dalam kerangkeng sempit bertingkat-tingkat dengan sistem khusus untuk memberi makan, minum, dan mengambil telur.

Secara ekonomi, metode ini memiliki produksi telur tinggi dan hemat tenaga kerja, tetapi banyak dikritik oleh para pengusung kesejahteraan hewan karena unggas dalam sistem ini tidak dapat mengikuti gaya hidup alamiahnya. [43] Di negara-negara maju, ayam potong pun sebagian besar dipelihara di dalam ruangan, menggunakan kandang-kandang besar dengan kondisi yang diatur ketat menggunakan peralatan otomatis.

Ayam broiler atau ayam ras pedaging biasanya dipelihara dengan cara ini, dan melalui budidaya genetis hewan ini dapat siap potong dalam umur enam atau tujuh pekan. Dalam sistem ini, ayam yang baru menetas dikurung dalam tempat kecil dan diberikan pemanas buatan. Kotoran mereka diserap oleh alas kandang dan tempatnya diperluas seiring tumbuhnya ayam-ayam ini. Pakan dan minuman diberikan secara otomatis dan penerangan dikendalikan secara ketat. Ayam dapat diambil dan disembelih dalam beberapa tahap, atau satu kandang dapat "dibersihkan" secara serentak.

[44] Sistem pemeliharaan serupa juga digunakan untuk kalkun, tetapi kalkun tidak beradaptasi dengan lingkungan ini semudah ayam. Kalkun juga butuh waktu lebih lama untuk tumbuh dan sering dipindahkan ke fasilitas khusus agar menggemuk. [45] Bebek adalah unggas populer di Asia dan Australia, dan dengan sistem komersial dapat dipotong saat berumur tujuh pekan. [46] Budi daya perairan Tambak ikan air tawar, Prancis.

Budi daya perairan atau akuakultur dapat meliputi berbagai hewan air (ikan, udang, tiram, dan sebagainya) atau tumbuhan air (misal alga) dengan melibatkan campur tangan manusia untuk pembibitan, pemberian makanan, peningkatan produksi, perlindungan dari predator, dan lain-lain.

[47] Budi daya perairan juga melibatkan kepemilikan perorangan atau perusahaan terhadap hewan atau tumbuhan yang dibudidayakan. Dalam prakteknya, budi daya perairan dapat dilakukan di laut ataupun air tawar, dan dapat bersifat ekstensif maupun intensif.

Budi daya ekstensif dapat dilakukan di suatu teluk, danau, atau kolam, sedangkan budi daya intensif dapat melibatkan tangki, kerangkeng, jaring, atau karang buatan. Ikan dan udang dapat dibudidayakan di sawah, baik melalui pembibitan atau datang sendiri, sehingga memberi hasil tambahan untuk petani. [48] Bibit dapat dihasilkan di mesin tetas yang menghasilkan ikan, udang, atau tiram muda yang kemudian dipelihara.

Bibit tersebut kemudian dipindahkan ke tangki khusus ketika cukup besar, dan dijual ke pembudi daya ikan untuk diperlihara hingga lebih besar lagi. Spesies yang banyak menggunakan pembibitan di mesin tetas di antaranya udang, ikan salmon, ikan nila, tiram, dan kerang. Fasilitas pembibitan serupa dapat dilakukan untuk memelihara hewan yang akan dibebaskan ke alam, atau mengisi perairan yang digunakan untuk memancing.

Aspek peternakan yang penting dalam proses pembibitan di antaranya pemilihan bibit, pengendalian kualitas air, dan pemberian makanan. Di alam, hewan air memiliki tingkat kematian tinggi di usia muda.

Tujuan budi daya bibit adalah mengurangi risiko kematian dan memaksimalkan kecepatan pertumbuhan. [49] Peternakan serangga Jangkrik diternakkan untuk dijadikan makanan manusia, Thailand Lebah telah dipelihara di sarang lebah buatan sejak masa Dinasti Pertama Mesir Kuno, kira-kira lima ribu tahun yang lalu.

[50] Sebelum itu, manusia telah lama mengambil madu dari lebah liar. Sarang buatan dapat dibuat dari berbagai bahan yang ada di berbagai kawasan dunia. [51] Di negara-negara berkembang, budi daya lebah telah menghasilkan jenis lebah yang jinak dan berproduksi tinggi, dan sarang lebah dirancang khusus untuk memudahkan pengambilan madu.

Selain menghasilkan madu dan lilin, lebah juga dipelihara dan disalurkan untuk membantu penyerbukan tanaman pertanian maupun tanaman liar. [52] Peternakan ulat sutra, atau serikultur, telah ada paling tidak sejak Dinasti Shang di Tiongkok. [53] Bombyx mori adalah satu-satunya spesies yang dapat diternakkan secara komersial. Hewan ini menghasilkan benang sutera yang panjang dan tipis saat larvanya membentuk kepompong.

Ulat ini memakan daun murbei dan hal ini berarti hanya satu generasi dapat tumbuh per tahun karena tumbuhan ini bersifat musiman. Dua generasi per tahun dapat tumbuh di Tiongkok, Korea, atau Jepang, dan lebih banyak lagi dapat tumbuh di daerah tropis. Saat ini, kebanyakan produksi sutra terjadi di daerah Asia Timur, dan di Jepang pakan sintesis digunakan untuk menumbuhkan ulat sutra.

{/INSERTKEYS}

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

{INSERTKEYS} [54] Berbagai serangga menjadi bahan makanan dalam beberapa budaya. [55] Di Thailand bagian utara, jangkrik diternakkan untuk menjadi makanan sedangkan di bagian selatan negara tersebut ulat sagu diternakkan untuk tujuan serupa. Jangkrik dipelihara di kandang atau kotak dan diberi pakan komersial, sedangkan ulat sagu memakan batang sagu sehingga hanya bisa diternakkan jika tumbuhan tersebut tersedia.

[56] Sejarah Domestikasi hewan pemamah biak seperti domba memberikan sumber makanan yang stabil untuk suku pengembara di Timur Tengah dan Asia Tengah. Gambar: Domba di Afganistan Domestikasi hewan ternak (budi daya hewan yang sebelumnya merupakan hewan liar di alam) didorong oleh kebutuhan manusia akan makanan jika hasil berburu tidak cukup.

Sifat-sifat yang dicari dari hewan yang hendak didomestikasi adalah hewan tersebut harus berguna untuk peternaknya, mampu hidup bersama manusia, mudah berkembang biak, dan mudah dipelihara. [57] Domestikasi bukanlah satu peristiwa tunggal, melainkan sebuah proses yang terjadi berkali-kali di berbagai tempat dan waktu. Misalnya, para suku pengembara di Timur Tengah awalnya mendomestikasi domba dan kambing, sedangkan sapi dan babi banyak didomestikasi oleh komunitas penetap.

[58] Hewan liar pertama yang didomestikasi manusia adalah anjing. Anjing didomestikasi perlahan-lahan karena dibiarkan memakan sampah dan memangsa hewan-hewan yang mengganggu manusia. Selanjutnya, berbagai hewan didomestikasi untuk menjadi makanan, seperti domba, kambing, babi, dan sapi. Proses ini terjadi di awal sejarah pertanian. [58] Babi pertama kali didomestikasi di Mesopotamia pada 13.000 SM.

[59] Domba didomestikasi antara 11.000 dan 9.000 SM. [60] Sapi didomestikasi dari leluhurnya yaitu hewan liar aurochs atau urus di kawasan yang kini merupakan Turki dan Pakistan sekitar tahun 8.500 SM. [61] Sapi menjadi hewan yang menguntungkan untuk manusia karena sapi betina menghasilkan susu melebihi kebutuhan anaknya dan memiliki tenaga yang cukup kuat untuk menarik bajak yang menyuburkan dan kelak kereta untuk mengangkat hasil pertanian.

Penggunaan hewan pekerja seperti ini pertama kali terjadi sekitar 4.000 SM di Timur Tengah dan menyebabkan hasil pertanian meningkat tajam. [58] Di kawasan Asia Selatan, gajah juga didomestikasi sejak sekitar 6.000 SM. [62] Fosil tulang ayam yang berasal dari tahun 5.040 SM telah ditemukan di kawasan timur laut Tiongkok, dibawa jauh dari habitat liar leluhurnya di kawasan rimba tropis Asia. Para arkeolog memperikarakan awalnya ayam didomestikasi untuk permainan sabung ayam.

[63] Di Amerika Selatan, terjadi domestikasi hewan llama dan alpaka pada sekitar 3.000 SM untuk dijadikan hewan pengangkut dan diambil wolnya. Tenaga kedua hewan ini tidak cukup untuk menarik bajak, sehingga menghambat perkembangan pertanian di Benua Amerika. [58] Kuda yang hidup liar di stepa Asia Tengah didomestikasi sekitar 3.000 SM di kawasan Laut Hitam dan Laut Kaspia. Awalnya, hewan ini dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan selanjutnya dijadikan hewan pengangkut dan hewan tunggangan.

Pada sekitar saat yang sama, keledai liar didomestikasi di Mesir Kuno. [64] Tak lama kemudian, dua jenis unta didomestikasi yaitu Unta Baktria berpunuk dua di Mongolia dan Unta Arab berpunuk satu, yang dijadikan hewan pengangkut.

Pada tahun 1000 SM, karavan atau rombongan yang mengandalkan unta menjadi tulang punggung perdagangan antara India dan kawasan Mesopotamia dan Laut Tengah.

[58] Dalam peradaban kuno Lukisan Mesir Kuno yang menggambarkan pemerahan sapi Di Mesir Kuno, sapi adalah hewan ternak paling penting. Selain itu, domba, kambing, dan babi juga dipelihara. {/INSERTKEYS}

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

Unggas seperti bebek, angsa, dan merpati ditangkap dengan jaring dan diternakkan di ladang, dan dipaksa memakan adonan tepung agar cepat gemuk. [65] Sungai Nil juga merupakan penghasil ikan, sedagkan lebah madu sudah didomestikasi setidaknya sejak masa Kerajaan Lama Mesir untuk diambil madu dan lilinnya. [66] Peradaban Romawi Kuno juga memelihara hewan-hewan yang diternakkan bangsa Mesir.

Selain itu, mereka juga mendomestikasi kelinci sejak abad pertama SM untuk dijadikan makanan. Penulis Romawi Plinius Tua (abad pertama Masehi) juga menyebutkan domestikasi hewan feret. [67] Dalam abad pertengahan Peternak domba di lukisan Prancis abad ke-15.

Kegiatan pertanian, termasuk peternakan, mengalami kemunduran di Eropa bagian utara setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-5 M. Beberapa aspek peternakan seperti penggembalaan hewan tetap berlanjut pada periode ini. Pada abad ke-11, ekonomi pulih kembali dan lahan pertanian pun kembali produktif.

[68] Di Inggris, Buku Domesday yang disusun pada abad ke-11 berusaha mencatat setiap lahan dan hewan ternak yang ada di negeri tersebut: "Tidak satu hide atau yard tanah pun, bahkan. tidak satupun sapi atau babi yang tersisa, tak ada yang tidak tercatat di catatan Sri Raja." [69] Misalnya, untuk desa Earley di Berkshire tercatat memiliki "2 tambak ikan [dengan pajak per tahun] 7 s dan 6 p dan 20 ekar padang rumput [untuk hewan ternak]. Terdapat hutan kayu [untuk memberi makan] 70 ekor babi." [70] Berkembangnya peternakan di Eropa abad pertengahan berjalan seiring dengan perkembangan lain.

Inovasi pada alat bajak memungkinkan tanah untuk dibajak lebih dalam lagi. Kuda menggantikan sapi sebagai hewan penarik utama, gagasan-gagasan baru untuk rotasi tanaman bermunculan, dan praktik menanam tanaman agar disimpan untuk pakan ternak musim dingin juga meluas. Berbagai jenis kacang-kacangan mulai ditanam; tanaman ini meningkatkan kesuburan pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan karena dapat mengikat nitrogen, sehingga memungkinkan jumlah hewan ternak yang lebih besar.

Interaksi Dunia Lama dan Dunia Baru Informasi lebih lanjut: Pertukaran Kolumbus Penjelajahan benua Amerika oleh bangsa Eropa menyebabkan penyebaran tanaman dan hewan antara "Dunia Baru" (Benua Amerika) dan "Dunia Lama" (Eropa, Asia, dan Afrika); penyebaran ini disebut juga " Pertukaran Kolumbus". Tanaman-tanaman asli Dunia Baru seperti jagung, kentang, dan singkong menyebar ke Dunia Lama, sedangkan tanaman Dunia Lama seperti gandum, beras, dan jelai maupun hewan ternak seperti sapi, kuda, domba, dan kambing menyebar ke benua Amerika untuk pertama kalinya.

[71] Revolusi Pertanian Britania Artikel utama: Revolusi Pertanian Britania Prinsip-prinsip ilmiah praktik seleksi buatan untuk menghasilkan keturunan dengan sifat-sifat unggul secara sistematis diperkenalkan oleh Robert Bakewell pada abad ke-18 dan merupakan faktor penting dalam Revolusi Pertanian Britania. Dengan memilih dan mengawinkan hewan ternak lokal, Bakewell dengan cepat dapat menghasilkan jenis domba yang besar, bertulang lembut, dengan wol panjang dan berkualitas tinggi.

Bakewell mengembangkan ras Domba Lincoln, yang juga digunakan menghasilkan ras baru yang disebut New Leicester (atau Dishley Leicester). Ras ini adlaah dogol atau tidak bertanduk, dan memiliki tubuh berdaging, gemuk, dan berbentuk mirip segi empat. Ia menyewakan hewan-hewan ternaknya untuk peternak lain yang juga ingin memuliakan ternaknya.

[72] Domba-domba ini juga diekspor dan merupakan salah satu sumber gen ras-ras domba modern. Di bawah pengaruhnya, para peternak Inggris mengembangkan pertanian pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan potong. Salah satu ras sapi yang dihasilkan adalah Longhorn Inggris. [73] Dampak peternakan Bagi lingkungan Pemeliharaan dan menumbuhkan makanan hewan ternak membutuhkan lahan yang besar.

Peternakan memiliki pengaruh besar bagi lingkungan. Peternakan membutuhkan air sebesar 20% hingga 33% konsumsi air tawar dunia, [74] dan pemeliharaan ternak atau makanan ternak menggunakan sepertiga daratan dunia yang tidak tertutup es. [75] Peternakan menjadi salah satu faktor penyebab kepunahan spesies, penggersangan tanah, [76] dan kerusakan habitat. [77] Peternakan terkait dengan kepunahan spesies melalui beberapa hal. Pembukaan lahan untuk peternakan atau menumbuhkan makanan ternak sering dilakukan dengan cara menebang hutan dan merusak habitat, dan diiringi perburuan terhadap predator atau herbivora yang dianggap mengganggu.

Misalnya, peternakan diperkirakan menyebabkan hingga 91% dari seluruh penggundulan hutan di kawasan hutan Amazon. [78] Peternakan juga menghasilkan gas rumah kaca, misalnya sapi menghasilkan sekitar 570 juta meter kubik gas metana (CH 4) per hari, [79] yang merupakan 35%–40% dari seluruh emisi metana di bumi. [80] Secara keseluruhan, hewan ternak adalah penyebab 65% pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan gas dinitrogen monoksida (N 2O) yang terkait manusia.

[80] Alhasil, sebagian pihak mencoba meneliti cara mengurangi efek lingkungan dari peternakan. Strategi yang mulai diajukan di antaranya penggunaan biogas sebagai bahan bakar. [81] Bagi kesejahteraan hewan Artikel utama: Kesejahteraan hewan Sejak abad ke-18, mulai muncul kekhawatiran tentang kesejahteraan hewan ternak.

Faktor-faktor yang dijadikan tolok ukur kesejahteraan hewan adalah umur, perilaku, fungsi hidup ( fisiologi), reproduksi, kebebasan dari penyakit, dan kebebasan dari imunosupresi.

Di berbagai belahan dunia muncul standar dan hukum untuk menjamin kesejahteraan hewan. Di Dunia Barat, standar yang berlaku biasanya sesuai dengan prinsip utilitarianisme, yang menganggap peternakan adalah hal yang dapat diterima secara moral asalkan tidak ada penderitaan yang tak perlu, dan manfaat untuk manusia melebihi mudarat untuk hewan ternak.

Selain utilitarianisme, ada pula paham yang menganggap hewan memiliki hak asasi. Menurut paham ini, hewan tidak boleh dijadikan hak milik, dan manusia sebenarnya tidak perlu dan tidak boleh memanfaatkannya untuk tujuan manusia sendiri. [82] [83] [84] [85] [86] Dalam budaya Babi yang bisa berjalan tegak dan berpakaian, di buku anak-anak The Tale of Pigling Bland tahun 1913 oleh Beatrix Potter Hewan ternak banyak muncul dalam buku, cerita, dan lagu anak-anak di seluruh dunia.

Namun, realitas peternakan sering diubah atau diperlunak sehingga kehidupan di peternakan yang diketahui anak-anak sering kali merupakan fiksi yang benar-benar lepas dari kenyataan. Banyak kisah anak-anak menggambarkan hewan ternak seperti manusia, seperti mengenakan pakaian, memiliki rumah, berjalan tegak, dan melakukan aktivitas layaknya manusia.

Kisah-kisah ini juga sering menggambarkan hewan-hewan tersebut bebas berkeliaran di negeri pedesaan yang indah, walaupun gambaran ini tidak sesuai dengan perlakuan terhadap hewan dalam peternakan intensif modern hewan ternak.

[87] Lagu Bahasa Inggris " Old MacDonald Had a Farm" (yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa) menceritakan petani bernama MacDonald yang memiliki berbagai hewan ternak; lagu ini menyanyikan bunyi khas setiap hewan tersebut. [88] Contoh hewan ternak dalam fiksi anak-anak dunia adalah babi, yang muncul di buku anak-anak Inggris oleh Beatrix Potter, atau sebagai Piglet di kisah Winnie the Pooh tulisan A. A. Milne. Beberapa cerita, seperti The Sheep-Pig oleh Dick King-Smith atau Charlotte's Web oleh E.

B. White, memberikan sedikit bayangan bahwa babi-babi ini akan dipotong. [89] Secara umum, dalam literatur dunia babi sering menjadi "pembawa keceriaan, kejenakaan, dan keluguan". [87] Di beberapa daerah perkotaan anak-anak sering tidak pernah melihat hewan ternak secara langsung, sehingga muncul "taman sentuh", "peternakan interaktif", atau "kebun binatang" khusus yang memungkinkan anak-anak berinteraksi dengan hewan ternak yang masih hidup dan menyentuhnya. Di Britania Raya, sekitar lima juta orang mengunjungi taman atau daerah peternakan seperti ini setiap tahunnya.

Tempat seperti ini berisiko meyebebkan infeksi, terutama jika anak memegang hewan ternak lalu tidak mencuci tangan; infeksi bakteri Escherichia coli pernah menjangkit 93 orang pengunjung sebuah peternakan interaktif di Britania pada tahun 2009. [90] Di Amerika Serikat, pengunjung dapat menginap di lahan pertanian dan peternakan bersejarah yang sengaja direstorasi untuk tujuan ini.

Tempat seperti ini sering menyediakan pengalaman seperti cerita-cerita peternakan masa lalu sebelum zaman industri, dan disindir oleh majalah daring Modern Farmer sebagai "versi pertanian yang benar-benar dikuratori untuk mereka yang mau bayar". [91] Referensi • ^ a b Webster, John (2013). Animal Husbandry Regained: The Place of Farm Animals in Sustainable Agriculture.

Routledge. hlm. 4–10. ISBN 978-1-84971-420-4. • ^ Blench, Roger (17 May 2001). 'You can't go home again' – Pastoralism in the new millennium (PDF). London, UK: Overseas Development Institute. hlm. 12. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2012-02-01. Diakses tanggal 2019-09-11. • ^ Starrs, Paul F.

(2000). Let the Cowboy Ride: Cattle Ranching in the American West. JHU Press. hlm. 1–2. ISBN 978-0-8018-6351-6. • ^ Levinson, David; Christensen, Karen (2003). Encyclopedia of Community: From the Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan to the Virtual World. Sage. hlm. 1139. ISBN 978-0-7619-2598-9. • ^ Rebanks, James (2015). The Shepherd's Life. Penguin: Random House. hlm. 286.

ISBN 978-0-14-197936-6. • ^ Silbergeld, Ellen K; Graham, Jay; Price, Lance B (2008). "Industrial food animal production, antimicrobial resistance, and human health". Annual Review of Public Health.

29: 151–69. doi: 10.1146/annurev.publhealth.29.020907.090904. PMID 18348709. • ^ Meyer, Vernon M.; Driggers, L. Bynum; Ernest, Kenneth; Ernest, Debra. "Swine Growing-Finishing Units" (PDF). Pork Industry handbook. Purdue University Cooperative Extension Service. Diakses tanggal 17 May 2017. • ^ Blount, W.P. (2013). Intensive Livestock Farming.

Elsevier. hlm. 360–62. ISBN 978-1-4831-9565-0. • ^ Dryden, Gordon McL. (2008). Animal Nutrition Science. CABI. hlm. 1–3. ISBN 978-1-78064-056-3. • ^ Attenborough, David (1984). The Living Planet. British Broadcasting Corporation. hlm. 113–14. ISBN 978-0-563-20207-3. • ^ United States Agricultural Research Service. Animal Husbandry Research Division (1959). Hay crop silage. • ^ Jianxin, Liu; Jun, Guo.

"Ensiling crop residues". Animal production based on crop residues. FAO. Diakses tanggal 18 May 2017. • ^ Dryden, Gordon McL. (2008). Animal Nutrition Science. CABI. hlm.

16–19. ISBN 978-1-84593-412-5. • ^ "What farm animals eat". Food Standards Agency. Diakses tanggal 18 May 2017. • ^ a b c Turner, Jacky (2010). Animal Breeding, Welfare and Society. Routledge. hlm. Introduction. ISBN 978-1-136-54187-2. • ^ Jarman, M.R.; Clark, Grahame; Grigson, Caroline; Uerpmann, H.P.; Ryder, M.L.

(1976). "Early Animal Husbandry". Philosophical Transactions of the Royal Society of London, Series B. 275 (936): 85–97. Bibcode: 1976RSPTB.275.85J. doi: 10.1098/rstb.1976.0072. • ^ "Farmers". European Platform for the Responsible Use of Medicines in Animals.

2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 May 2017. Diakses tanggal 18 May 2017.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Classical swine fever" (PDF). The Center for Food Security and Public Health. Diakses tanggal 20 May 2017. • ^ "Foot-and-mouth". The Cattle Site. Diakses tanggal 20 May 2017. • ^ "feed (agriculture) - Antibiotics and other growth stimulants".

Britannica.com. Diakses tanggal 29 April 2018. • ^ Fraser, Douglas (14 February 2017). "Scottish salmon farming's sea lice 'crisis '". BBC. Diakses tanggal 20 May 2017. • ^ "Parasite control". Animal Health Ireland. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-05-14.

Diakses tanggal 20 May 2017. • ^ Chua, K.B.; Chua, B.H.; Wang, C.W. (2002). "Anthropogenic deforestation, El Niño and the emergence of Nipah virus in Malaysia". The Malaysian Journal of Pathology. 24 (1): 15–21. PMID 16329551. • ^ Norrgren, Leif; Levengood, Jeffrey M. (2012). Ecology and Animal Health. Baltic University Press. hlm. 103–04. ISBN 978-91-86189-12-9. • ^ Pemerintah Indonesia (2014), Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PDF), Lembaran Negara RI Tahun 2014 Nomor 338, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5619, Jakarta: Sekretariat Negara, diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-10-18diakses tanggal 2019-10-19 pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan ^ "Welcome to Equine Research, Education, and Outreach".

University of Kentucky. Diakses tanggal 18 August 2017. • ^ Ferguson, W.; Ademosun, A.A.; von Kaufmann, R.; Hoste, C.; Rains, A. Blair. "5. Livestock pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan and management". Food and Agriculture Organization. Diakses tanggal 24 May 2017. • ^ "Livestock Species". Texas A&M University Department of Agriculture and Life Sciences. Diakses tanggal 24 May 2017. • ^ Steinfeld, H.; Mäki-Hokkonen, J.

"A classification of livestock production systems". Food and Agriculture Organization. Diakses tanggal 24 May 2017. • ^ Myers, Melvin L. "Chapter 70 – Livestock Rearing". Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Diakses tanggal 24 May 2017. • ^ Ni Made Ayu Gemuh Rasa Astiti 2018, hlm. 133–135. • ^ a b Ni Made Ayu Gemuh Rasa Astiti 2018, hlm.

135. • ^ Godinho, Denise. "Animal Husbandry in Organic Agriculture". Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-05-18. Diakses tanggal 25 May 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Ni Made Ayu Gemuh Rasa Astiti 2018, hlm.

140. • ^ Bae, K.; Choi, J.; Jang, Y.; Ahn, S.; Hur, B. (2009). "Innovative vaccine production technologies: the evolution and value of vaccine production technologies". Arch Pharm Res. 32 (4): 465–80. doi: 10.1007/s12272-009-1400-1. PMID 19407962. • ^ Leenaars, Marlies; Hendriksen, Coenraad F.M. (2005). "Critical Steps in the Production of Polyclonal and Monoclonal Antibodies: Evaluation and Recommendations". ILAR Journal.

46 (3): 269–79. doi: 10.1093/ilar.46.3.269. PMID 15953834. • ^ Aherne, Frank; Kirkwood, Roy (16 February 2001). "Factors Affecting Litter Size". The Pig Site. • ^ Gregory, Neville G.; Grandin, Temple (2007). Animal Welfare and Meat Production. CABI. hlm. 1–2. ISBN 978-1-84593-216-9.

• ^ Miller, G. Tyler; Spoolman, Scott (2014). Sustaining the Earth. Cengage Learning. hlm. 138. ISBN 978-1-285-76949-3. • ^ a b c "Dairy animals". Dairy production and products. FAO. Diakses tanggal 23 May 2017. • ^ a b "Breeding". Dairy production and products. FAO. Diakses tanggal 23 May 2017. • ^ "Housing in a zero grazing system" (PDF). Republic of Kenya: Ministry of Livestock Development. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2018-01-28. Diakses tanggal 5 June 2017. • ^ "About egg laying hens".

Compassion in World Farming. Diakses tanggal 26 May 2017. • ^ "Growing meat chickens". Australian Chicken Meat Federation. 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-05-15. Diakses tanggal 26 May 2017.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sherwin, C.M. (2010). " Turkeys: Behavior, Management and Well-Being".

In The Encyclopaedia of Animal Science. Wilson G. Pond and Alan W. Bell (Eds). Marcel Dekker. pp. 847–49 • ^ "Duck". Poultry Hub. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-05-04. Diakses tanggal 26 May 2017. • ^ "Global Aquaculture Production". Fishery Statistical Collections. Food and Agriculture Organization of the United Nations. Diakses tanggal 26 May 2017. • ^ "Fish culture in rice fields". Fishery Statistical Collections. Food and Agriculture Organization of the United Nations.

Diakses tanggal 26 May 2017. • ^ Mosig, John; Fallu, Ric (2004). Australian Fish Farmer: A Practical Guide to Aquaculture. Landlinks Press. hlm. 25–28. ISBN 978-0-643-06865-0. • ^ "Ancient Egypt: Bee-keeping". Reshafim.org.il. 6 June 2003. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-09. Diakses tanggal 22 May 2017.

• ^ "Fixed combs". Bees for Development. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 May 2011. Diakses tanggal 22 May 2017. • ^ Jabr, Ferris (1 September 2013). "The Mind-Boggling Math of Migratory Beekeeping". Scientific American. Diakses tanggal 22 May 2017.

• ^ Barber, E.J.W. (1992). Prehistoric textiles: the development of cloth in the Neolithic and Bronze Ages with special reference to the Aegean. Princeton University Press. hlm. 31.

ISBN 978-0-691-00224-8. • ^ Hill, Dennis S. (2012). The Economic Importance of Insects. Springer Science & Business Media. hlm. 21–22. ISBN 978-94-011-5348-5. • ^ Carrington, Damian (1 August 2010). "Insects could be the key to meeting food needs of growing global population". The Guardian. • ^ Six-legged Livestock: Edible insect farming, collection and marketing in Thailand (PDF).

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

Bangkok: Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2013. ISBN 978-92-5-107578-4. • ^ Clutton-Brock, Juliet (1999). A Natural History of Domesticated Mammals. Cambridge University Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan.

hlm. 1–2. ISBN 978-0-521-63495-3. • ^ a b c d e "History of the domestication of animals". Historyworld. Diakses tanggal 3 June 2017. • ^ Nelson, Sarah M. (1998). Ancestors for the Pigs.

Pigs in prehistory. University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology. ISBN 9781931707091. • ^ Ensminger, M.E.; Parker, R.O. (1986). Sheep and Goat Science (edisi ke-Fifth). Interstate Printers and Publishers. ISBN 978-0-8134-2464-4. • ^ McTavish, E.J., Decker, J.E., Schnabel, R.D., Taylor, J.F. and Hillis, D.M.

(2013). "New World cattle show ancestry from multiple independent domestication events". Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A.

National Academy of Sciences. 110 (15): 1398–1406. Bibcode: 2013PNAS.110E1398M. doi: 10.1073/pnas.1303367110. PMC 3625352. PMID 23530234. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Gupta, Anil K. in Origin of agriculture and domestication of plants and animals linked to early Holocene climate amelioration, Current Science, Vol.

87, No. 1, 10 July 2004 59. Indian Academy of Sciences. • ^ Adler, Jerry; Lawler, Andrew (1 June 2012). "How the Chicken Conquered the World". Smithsonian Magazine. Diakses tanggal 5 June 2017. • ^ Sapir-Hen, Lidar; Erez Ben-Yosef (2013). "The Introduction of Domestic Camels to the Southern Levant: Evidence from the Aravah Valley" (PDF). Tel Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan. 40 (2): 277–85. doi: 10.1179/033443513x13753505864089.

• ^ Manuelian, Peter der (1998). Egypt: The World of the Pharaohs. Cologne: Könemann. hlm. 381. ISBN 978-3-89508-913-8. • ^ Nicholson, Paul T. (2000). Ancient Egyptian Materials and Technology. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 409. ISBN 978-0-521-45257-1.

• ^ Clutton-Brock, Juliet (1981). Domesticated animals from early times. Heinemann. hlm. 145. • ^ O'Connor, Terry (30 September 2014). "Livestock and animal husbandry in early medieval England". Quaternary International. 346: 109–18. Bibcode: 2014QuInt.346.109O.

doi: 10.1016/j.quaint.2013.09.019. • ^ The Anglo-Saxon Chronicle. Diterjemahkan oleh Giles, J.A.; Ingram, J. Project Gutenberg. 1996. • ^ "Interpreting Domesday". The National Archives. Diakses tanggal 26 May 2017.

• ^ Crosby, Alfred. "The Columbian Exchange". History Now. The Gilder Lehrman Institute of American History. Diakses tanggal 28 May 2017.

• ^ "Robert Bakewell (1725–1795)". BBC History. Diakses tanggal 20 July 2012. • ^ "English Longhorn". The Cattle Site. Diakses tanggal 26 May 2017. • ^ Mekonnen, Mesfin M.; Hoekstra, Arjen Y. (2012). "A Global Assessment of the Water Footprint of Farm Animal Products" (PDF). Water Footprint Network. • ^ "Livestock a major threat to environment".

Food and Agriculture Organizations of the United Nations. • ^ Whitford, Walter G. (2002). Ecology of desert systems. Academic Press. hlm. 277. ISBN 978-0-12-747261-4. • ^ "Unit 9: Biodiversity Decline // Section 7: Habitat Loss: Causes and Consequences".

Annenberg Learner. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-10-28. Diakses tanggal 2021-03-04. • ^ Margulis, Sergio (2003). "Causes of Deforestation of the Brazilian Rainforest". Washington: World Bank Publications.

• ^ Ross, Philip (2013). "Cow farts have 'larger greenhouse gas impact' than previously thought; methane pushes climate change". International Business Times.

• ^ a b Steinfeld H.; Gerber P.; Wassenaar T.; Castel V.; Rosales M.; de Haan C. (2006). "Livestock's Long Shadow: Environmental Issues and Options". FAO. Diakses tanggal 13 December 2017. • ^ Monteny, Gert-Jan; Andre Bannink; David Chadwick (2006). "Greenhouse Gas Abatement Strategies for Animal Husbandry, Agriculture, Ecosystems & Environment". Agriculture, Ecosystems & Environment.

112 (2–3): 163–70. doi: 10.1016/j.agee.2005.08.015. • ^ Grandin, Temple (2013). "Animals are not things: A view on animal welfare based on neurological complexity" (PDF). Trans-Scripts 3: An Interdisciplinary Online Journal in Humanities And Social Sciences at UC Irvine.

Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 19 August 2014. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Hewson, C.J.

(2003). "What is animal welfare? Common definitions pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan their practical consequences". The Canadian Veterinary Journal.

44 (6): 496–99. PMC 340178. PMID 12839246. • ^ Broom, D.M. (1991). "Animal welfare: concepts and measurement". Journal of Animal Science. 69 (10): 4167–75. doi: 10.2527/1991.69104167x. PMID 1778832. • ^ Garner, R. (2005). Animal Ethics. Polity Press. • ^ Regan, Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan.

(1983). The Case for Animal Rights. University of California Press. • ^ a b Hoult-Saros, Stacy E. (2016). The Mythology of the Animal Farm in Children's Literature: Over the Fence. Lexington Books. hlm. 18–29.

ISBN 978-1-4985-1978-6. • ^ Waltz, Robert B.; Engle, David G. (2016). "Old MacDonald Had a Farm". The Traditional Ballad Index. Diakses tanggal 18 May 2017. • ^ "Livestock in literature". Compassion in World Farming. 1 October 2015. • ^ Laurance, Jeremy (15 June 2010). "Children's Petting Farms Face Tough New Rules". The Independent. • ^ Searle, Sarah (30 June 2014).

"Stop Romanticizing Farms". Modern Farmer. • Halaman ini terakhir diubah pada 26 Maret 2022, pukul 23.45. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Jika kita bandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, lingkungan di sekitar kita masih begitu alami dan sejuk, banyaknya lahan hutan yang menjadi habitat bagi berbagai jenis hewan kini sudah berubah menjadi pemukiman-pemukiman penduduk, pabrik, area perbelanjaan, lahan pertanian, dan sebagainya.

Hal ini akan menimbulkan dampak yang luas bagi kehidupan kita dimasa yang akan datang. Seperti banjir, tanah longsor kepunahan berbagai satwa langka, ketersediaan air bersih yangterbatas dan sebagainya, hingga berujung pada pemanasan global. Pembangunan tidak dapat dihentikan, sebab pembangunan berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah penduduk dan jumlah kebutuhan masyarakat. Semakin banyak penduduk, maka semakin banyak pula lahan yang harus digunakan untuk membuat pemukiman tempat tinggal mereka, semakin banyak penduduk maka semakin banyak pula kebutuhan akan bahan pokok yang menyebabkan pembangunan industry dan lahan pertanian akan semakin menjamur.

Oleh karena itu, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk yang ikut menambah jumlah pembangunan, kita hanya dapat melakukan pembangunan yang ramah terhadap lingkungan, dan saling menguntungkan antara kehidupan manusia dan kehidupan makhluk hidup lainnya serta lingkungan sekitar kita tinggal agar terjaga selalu keseimbangan lingkungan.

Oleh karena itu, kami membuat makalah ini, agar dapat membantu pembaca agar dapat mengetahui dampak-dampak apa saja yang dapat ditimbulkan dengan pembangunan yang asal-asalan yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Kami berharap pembaca sadar akan pentingnya pembangunan yang ramah akan lingkungan, mengingat sangat sulit bagi kita untuk menghentikan laju pertumbuhan penduduk yang menjadi salah satu faktor pembangunan yang masih berlangsung sekarang, kita hanya dapat melakukannya dengan melakukan pembangunan yang ramah dengan lingkungan.

Maka dari itu, kami menuliskan pula beberapa solusi yang akan membantu kita dalam melakukan pembangunan yang tidak merusak lingkungan dan baik untuk kehidupan manusia itu sendiri. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini antara lain: Apakah dampak pembangunan terhadap Ekosistem? Apakah dampak pembangunan terhadap stuktur tanah? Apakah dampak pembangunan terhadap perubahan iklim? Apakah dampak pembangunan terhadap tata ruang? Apakah dampak pembangunan terhadapa lingkungan sosial?

Apakah dampak pembangunan terhadap keadaan ekonomi ? Tujuan Tujuan dari makalah ini, yaitu: Mengetahui dampak pembangunan terhadap ekosistem. Mengetahui dampak pembangunan terhadap struktur tanah. Mengetahui dampak pembangunan terhadap perubahan iklim. Mengetahui dampak pembangunan terhadap tata ruang. Mengetahui dampak pembangunan terhadap lingkungan social. Mengetahui dampak pembangunan terhadap keadaan ekonomi.

BAB II PEMBAHASAN Dampak Pembangunan Terhadap Ekosistem Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di segala bidang yang menyangkut kehidupan manusia. Pembangunan dalam prosesnya tidak terlepas dari penggunaan sumberdaya alam, baik sumberdaya alam yang terbarukan maupun sumberdaya alam tak terbarukan.

Seringkali di dalam pemanfaatan sumberdaya alam tidak memperhatikan kelestanannya, bahkan cenderung memanfaatkan dengan sebanyak-banyaknya. Di sisi lain, pembangunan itu sendiri dapat menimbulkan dampak terhadap sumberdaya alam. Dampak dari kegiatan manusia terhadap lingkungan hidup telah menimbulkan berbagai masalah berikut : Mutasi Gen. Mutasi adalah peristiwa perubahan sifat gen (susunan kimia gen) atau kromosom sehingga menyebabkan perubahan sifat yang baka (diturunkan) tetapi bukan sebagai akibat persilangan atau perkawinan.

Hal ini dapat diakibatkan oleh adanya sifat yang tidak tetap dan selalu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor baik alamiah maupun buatan.

Agar suatu species tidak mengalami kepunahan diperlukan usaha untuk menyesuaikan diri terhadap timbulnya suatu perubahan. Dampak rumah kaca Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia.Akibat yang dialami adalah meningkatnya suhu permukaan bumi yang akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi.

Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar. Hujan asam Istilah Hujan Asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang Polusi Industri di Inggris.

Tetapi istilah hujan asam tidaklah tepat, yang benar adalah deposisi asam. Terjadinya hujan asam harus diwaspadai karena dampak yang ditimbulkan bersifat global dan dapat menggangu keseimbangan ekosistem. Hujan asam memiliki dampak tidak hanya pada lingkungan biotik, namun juga pada lingkungan abiotik. Pencemaran air Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia.

Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Manfaat terbesar danau, sungi, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata.

Akibat dari pencemaran air adalah terjadinya banjir, erosi, kekurangan sumber air, dapat membuat sumber penyakit, tanah longsor, dapat merusak ekosistem sungai.

Dampak Pembangunan Terhadap Struktur Tanah Aspek lingkungan adalah dimensi khusus yang sebenarnya berfungsi sebagai alat penjaga dan penyelaras pola pembangunan, terutama dari peran lingkungan yang mensejahterakan dan melindungi kehidupan manusia. Setidaknya pembangunan berkelanjutan mensyaratkan 3 aspek pembangunan yang harus diperhatikan yaitu, ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan, yang ketiganya harus terimplementasikan di dalam program pembangunan negara-negara di dunia.

Tanah secara umum merupakan suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair, gas, dan mempunyai sifat serta perilaku yang dinamik. Tanah merupakan akumulasi tubuh alam yang bebas yang menduduki sebagian besar permukaan bumi dan mempunyai sifat-sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan organisme yang bekerja pada batuan induk pada relief tertentu dan dalam jangka waktu tertentu.

Dari berbagai unsur yang terkandung, tanah merupakan unsur yang penting dalam Geografi. Dampak Negatif Pembangunan Terhadap Struktur Tanah, yaitu: Erosi.

Kekeruhan tanah Hilangnya unsur hara Terakumulasinya zat pencemar dalam tanah Terganggunya kestabilan ekosistem alam dan permasalahan lingkungan Adapaun akibat dari kerusakan tanah yaitu: Pencemaran dan kerusakan tanah akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kesehatan masyarakat dan lingkungan oleh pengaruh zat pencemar yang ada Menurunnya angka produktifitas ekosistem oleh akibat kerusakan tanah yang terjadi.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan beberapa solusi perbaikan struktur tanah diantaranya: Menjaga dan memperbaiki lingkungan agar air baku tetap tersedia adalah jalan keluar yang terbaik, bukan air kemasan. Membangun sumur resapan atau bidang resapan Tidak membuang sampah dan limbah di sungai dan kali Membangun bangunan di sempadan sungai adalah cara yang bisa dilakukan. Memulihkan kembali vegetasi yang dapat menyerap air hujan dan menyimpan air tanah Menggunakan air secara hemat Melakukan penanggulangan terhadap komponen bahan pencemaran tanah Mendaur ulang sampah-sampah menjadi barang-barang yang mungkin bisa dipakai atau juga bisa dijadikan hiasan dinding Mengolah limbah-limbah industri sebelum dibuang kesungai atau kelaut Mengurangi penggunaan pupuk sintetik dan berbagai bahan kimia untuk pemberantasan hama seperti pestisida diganti dengan penggunaan pupuk kompos Dampak Pembangunan Terhadap Perubahan Iklim dan Cuaca Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang iklim dalam jangka waktu berdekade ke jutaan tahun.

Perubahan iklim bisa menunjukkan perubahan dalam rata-rata kondisi iklim, pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan mennyebabkan perubahan iklim yang berkondisi ekstrim, atau setiap bagian dalam iklim. Dengan kata lain perubahan iklim merupakan perubahan musiman jangka panjang dalam pola suhu.Faktor penyebab perubahan iklim tak lain adalah manusia sendiri.

Kegiatan-kegiatan manusia seperti konsumsi energi, meningkatnya industri dan transportasi, dan pembukaan lahan baru merupakan pemicu awal dari perubahan iklim. Dampak Perubahan Iklim,yaitu: Meningkatnya suhu permukaan bumi sepanjang lima tahun mendatang. Mengakibatkan gunung es mencair. Panen gagal, yang hingga tahun 2050 membuat 130 juta penduduk dunia terutama di Asia akan mengalami kelaparan.

Permukaan laut meningkat, Lenyapnya beberapa spesies, Bencana nasional yang makin meningkat. Dampak Pembangunan Terhadap Tata Ruang Kebijakan nasional penataan ruang secara formal ditetapkan bersamaan dengan diundangkannya undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang penataan ruang [uu 24/1992], yang kemudian diperbaharui dengan undang-undang nomor 26 tahun 2007 [uu 26/2007].

Kebijakan tersebut ditujukan untuk mewujudkan kualitas tata ruang nasional yang semakin baik, yang oleh undang-undang dinyatakan dengan kriteria aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Namun, setelah lebih dari 25 tahun diberlakukannya kebijakan tersebut, kualitas tata ruang masih belum memenuhi harapan. Bahkan cenderung sebaliknya, justru yang belakangan ini sedang berlangsung adalah indikasi dengan penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan. Pencemaran dan kerusakan lingkungan bahkan makin terlihat secara kasat mata baik di kawasan perkotaan maupun di kawasan perdesaan.

Dengan diberlakukannya pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan nasional penataan ruang tersebut, maka tidak ada lagi tata ruang wilayah yang tidak direncanakan. Tata ruang menjadi produk dari rangkaian proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, penegasan sanksi atas pelanggaran tata ruang sebagaimana diatur dalam UU 26/2007 menuntut proses perencanaan tata ruang harus diselenggarakan dengan baik agar penyimpangan pemanfaatan ruang bukan disebabkan oleh rendahnya kualitas rencana tata ruang wilayah.

Peningkatan aktivitas pembangunan membutuhkan ruang yang semakin besar dan dapat berimplikasi pada perubahan fungsi lahan/kawasan secara signifikan. Euphoria otonomi daerah yang lebih berorientasi pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) juga memotivasi pertumbuhan penyediaan sarana dan prasarana di daerah, yang faktanya menyebabkan peningkatan pengalihan fungsi ruang dan kawasan dalam jangka panjang.

Di antara kenyataan perubahan lahan dapat ditemui pada pembangunan kawasan perkotaan yang membutuhkan ruang yang besar untuk menyediakan lahan untuk sarana dan prasarana permukiman, perkantoran, perindustrian, pusat-pusat perdagangan (central business district, CBD) dan sebagainya. Demikian halnya pada pola perubahan kawasan seperti kawasan hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan, yang menyebabkan penurunan fungsi hutan sebagai kawasan penyangga, pemelihara tata air, pengendali perubahan iklim mikro dan sebagainya.

Perubahan fungsi ruang kawasan meyebabkan menurunnya kualitas lingkungan, seperti terjadinya pencemaran, kemacetan, hilangnya ruang publik dan ruang terbuka hijau, serta terjadinya berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, kekeringan dan sebagainya. Pemanfaatan sumberdaya ruang juga dapat memicu perbedaan persepsi dan persengketaan tentang ruang, seperti munculnya kasus-kasus persengketaan batas wilayah pada berbagai daerah dan juga internasional.

Hal tersebut seolah-olah menunjukkan adanya trede off antara perkembangan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Permasalahan konflik antara perkembangan ekonomi dengan kelestarian lingkungan semakin jelas terlihat dewasa ini pada hal dalam penataan ruang kebijakan-kebijakan telah mengakomodasi prinsip-prinsip utama menuju pembangunan berkelanjutan (sustainable development) seperti prinsip-prinsip keterpaduan, keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

Pada makalah ini akan dijelaskan mengenai permasalahan- permasalahan dalam penataan ruang dan solusi-solusi yang dapat digunakan untuk melakukan harmonisasi pemanfaatan sumber daya alam, lahan dan perkembangan aspek sosial-ekonomi dalam penataan ruang. Pada dasarnya pengembangan wilayah adalah usaha pembangunan daerah yang memperhitungkan keterpaduan program sektoral seperti pertanian, pertambangan, aspirasi masyarakat dan potensi loin dengan memperhatikan kondisi lingkungan.

Pembangunan industri dasar berorientasi pada lokasi tersedianya sumber pembangunan lain. Pada umumnya lokasi industri dasar belum tersentuh pembangunan, baik dalam arti kualitatif maupun kuantitatif bahkan masih bersifat alami. Adanya pembangunan industri ini akan mengakibatkan perubahan lingkungan seperti berkembangnya jaringan infra struktur dan akan menumbuhkan kegiatan lain untuk menunjang kegiatan yang ada.

Pembangunan di satu pihak menunjukkan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat seperti tersedianya jaringan jalan, telekomunikasi, listrik, air, kesempatan kerja serta produknya sendiri memberi manfaat bagi masyarakat luas dan juga meningkatkan pendapatan bagi langsung dapat menikmati sebagian dari hasil pembangunannya. Di pihak lain apabila pembangunan ini tidak diarahkan akan menimbulkan berbagai masalah seperti konflik kepentingan, pencemaran lingkungan, kerusakan, pengurasan sumberdaya alam, masyarakat konsumtif serta dampak sosial lainnya yang pada dasarnya merugikan masyarakat.

Pembangunan industri pada gilirannya membentuk suatu lingkungan kehidupan zona pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan. Dalam zona industri kehidupan masyarakat makin berkembang; zona industri secara bertahap dilengkapi pembangunan sektor ekonomi lain seperti peternakan, perikanan, home industry, dan pertanian sehingga diperlukan rencana pembangunan wilayah berdasarkan konsep tata ruang. Tujuan rencana tata ruang ini untuk meningkatkan asas manfaat berbagai sumberdaya yang ada dalam lingkungan seperti meningkatkan fungsi perlindungan terhadap tanah, hutan, air, flora, fungsi industri, fungsi pertanian, fungsi pemukiman dan fungsi lain.

Peningkatan fungsi setiap unsur dalam lingkungan artinya meningkatkan dampak positif semaksimum mungkin sedangkan dampak negatif harus ditekan sekecil mungkin. Konsepsi pembangunan wilayah dengan dasar tata ruang sangat dibutuhkan dalam upaya pembangunan industri berwawasan lingkungan.

Secara umum, kegiatan eksploitasi dan pemakaian sumber energi dari alam untuk memenuhi kebutuhan manusia akan selalu menimbulkan dampak negatif pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan lingkungan (misalnya udara dan iklim, air dan tanah).

Untuk mengantisipasi dampak negatif pembangunan terhadap tata ruang, maka perlua ada upaya-upaya sebagai berikut: Penyelarasan implementasi terhadap rencana pembangunan dengan rencana tata ruang melalui mekanisme yang diatur didalam suatu kebijakan/peraturan Perlunya sinkronisasi kebijakan antar sektor dan instansi pemerintahan secara hirarki untuk mewujudkan keselarasan program pembangunan.

Mewujudkan keterpaduan dan kerjasama pembangunan lintas provinsi dan lintas sektor untuk optimasi dan sinergi struktur pemanfaatan ruang. Perlunya penyusunan rencana tata ruang yang berkualitas dan menyeluruh. Produk rencana tata ruang daerah harus dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah yang selaras dengan visi dan misi daerah. Ketegasan sanksi dan ketetapan hukum sebagai alat yang digunakan untuk mengendalikan segala bentuk pemanfaatan ruang.

Penyelenggaraan sosialisasi dalam rangka memberikan informasi pentingnya peranan penataan ruang didalam pelaksanaan program pembangunan kepada masyarakat. Peningkatan manajemen kelembagaan penataan ruang baik di Pusat maupun di daerah. Mendorong kemitraan secara vertikal dan horisontal yang bersifat kerjasama pengelolaan (co-management) dan kerjasama produksi (co-production).

Mewujudkan konsistensi dalam penyerasian rencana tata ruang dengan rencana pembangunan antar pemangku pemerintahan, baik pada tingkat legislatif maupun eksekutif. Dampak Pembangunan terhadap lingkungan social Pemahaman terhadap pembangunan menghasilkan ide kemajuan, berkonotasi ke depan atau ke tingkat yang lebih tinggi. Pembangunan harus dipahami sebagai suatu proses yang berdimensi jamak yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan, dan pemberantasan kemiskinan absolut.

Pembangunan juga telah didefinisikan sebagai pertumbuhan plus perubahan, yang merupakan kombinasi berbagai proses ekonomi, sosial dan politik, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik (United Nations, 1972). Selain pengertian tersebut, Surna (1992) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai kegiatan-kegiatan yang direncanakan dalam mengolah sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk kelangsungan hidup manusia.

Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di segala bidang yang menyangkut kehidupan manusia. Pembangunan dalam prosesnya tidak terlepas dari penggunaan sumberdaya alam, baik sumberdaya alam yang terbarukan maupun sumberdaya alam tak terbarukan. Seringkali di dalam pemanfaatan sumberdaya alam tidak memperhatikan kelestanannya, bahkan cenderung memanfaatkan dengan sebanyak-banyaknya.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

Di sisi lain, pembangunan itu sendiri dapat menimbulkan dampak terhadap sumberdaya alam. Pada hakekatnya ada tiga domain dalam pembangunan, yaitu : domain ekonomi, domain sosial, dan domain ekologi. Himpunan bagian yang saling beririsan antara domain tersebut menghasilkan tiga paradigma pembangunan, yaitu: pembangunan sosial (social development); pembangunan berwawasan lingkungan (environmental development); pembangunan yang berpusatkan pada rakyat (people centered development).

Dampak Positif pembangunan terhadap lingkungan sosial, yaitu: Menambah penghasilan penduduk sehingga meningkatkan kemakmuran Perindustrian menghasilkan aneka barang yang dibutuhkan oeh masyarakat. Perindustrian memperbesar kegunaan bahan mentah Usaha perindustrian dapat memperluas lapangan pekerjaan bagi penduduk.

Mengurangi ketergantungan Negara pada luar negeri. Dapat merangsang masyarakat utuk meningkatkan pengetahuan tentang industi Dampak Negatif pembangunan terhadap lingkungan sosial, yaitu: Limbah industry akan menimbulkan pencemaran air, tanah dan udara Asap-asap pabrik menimbulkan polusi udara.

Akibat dari pncemaran, banyak menimbulkan kematian bagi binatang-binatang, manusia dapat terkena penyakit, hilangnya keindahan alam dan lain-lain. F. Dampak Pembangunan terhadap Keadaan Ekonomi Pengertian Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan terhadap Ekonomi Pembangunan terhadap ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara.

Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.

Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Pembangunan terhadap ekonomi bisa diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya.

Dengan adanya batasan di atas maka pembangunan ekonomi pada umumnya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil per kapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan. Dari definisi tersebut jelas bahwa pembangunan terhadap ekonomi mempunyai pengertian: Suatu proses yang berarti perubahan yang terjadi secara terus-menerus.

Usaha untuk menaikkan pendapatan. Kenaikan pendapatan per kapita harus terus berlangsung dalam jangka panjang. Perbaikan sistem kelembagaan di segala bidang (misalnya ekonomi, politik, hukum, sosial, dan budaya). Jadi, pembangunan terhadap ekonomi harus dipandang sebagai suatu proses agar saling keterkaitan dan saling mempengaruhi antara faktor-faktor yang menghasilkan pembanguna ekonomi tersebut dapat dilihat dan dianalisis.

Dengan cara tersebut bisa diketahui deretan peristiwa yang timbul dan akan mewujudkan peningkatan kegiatan ekonomi dan taraf kesejahteraan masyarakat dari satu tahap pembangunan ke tahap pembangunan berikutnya. Pembangunan terhadap ekonomi bisa diartikan sebagai pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya.

Jadi, pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai suatu proses agar saling keterkaitan dan saling mempengaruhi antara faktor-faktor yang menghasilkan pembanguna ekonomi tersebut dapat dilihat dan dianalisis. Hubungan antara ekonomi dan pembangunan Hubungan antara ekonomi dan pembangunan sangat lah erat kaitannya. Beberapa hal yang dapat dikatakan berkaitan adalah: Pembangunan sebagai suatu proses Pembangunan sebagai suatu proses, artinya bahwapembangunan merupakan suatu tahap yang harus dijalani olehsetiap masyarakat atau bangsa.

Sebagai contoh, manusia mulai lahir, tidak langsung menjadi dewasa, tetapi untuk menjadi dewasa harus melalui tahapan-tahapan pertumbuhan.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

Demikian pula, setiap bangsa harus menjalani tahap-tahap perkembangan untuk menuju kondisi yang adil, makmur, dan sejahtera. Pembangunan sebagai suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita. Sebagai suatu usaha, pembangunan merupakan tindakan aktif yang harus dilakukan oleh suatu negara dalam rangka meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan demikian, sangat dibutuhkan peran serta masyarakat, pemerintah, dan semua elemen yang terdapat dalam suatu negara untuk berpartisipasiaktif dalam proses pembangunan.

Hal ini dilakukan karena kenaikan pendapatan perkapita mencerminkan perbaikan dalam kesejahteraan masyarakat. Peningkatan pendapatan perkapita harus berlangsung dalam jangka panjang Suatu perekonomian dapat dinyatakan dalam keadaan berkembang apabila pendapatan perkapita dalam jangka panjang cenderung meningkat.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

Hal ini tidak berarti bahwa pendapatan perkapita harus mengalami kenaikanterus menerus. Misalnya, suatu negara terjadi musibah bencana alam ataupunkekacauan politik, maka mengakibatkan perekonomian pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan tersebut mengalami pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan.

Namun, kondisi tersebut hanyalah bersifat sementara yang terpenting bagi negara tersebut kegiatan ekonominya secara rata-rata meningkat dari tahun ke tahun. Hubungan antara pembangunan dan ekonomi sangat erat dan bersifat timbal balik. pembangunan mempengaruhi perkembangan ekonomi, sebaliknya ekonomi juga mempengaruhi perkembangan pembangunan. Pembangunan memberikan pengaruh perkembangan ekonomi dengan cara memberikan kaidah mengenai apa yang bisa di manfaatkan dan tidak boleh dimanfaatkan dalam proses-proses ekonomi masyarakat.

Peranan pembangunan dalam pembangunan ekonomi sangat strategis, dan peranan ini tergantung pada model pembangunan ekonomi yang dianut oleh suatu negara. Secara garis besar dikenal dua model pembangunan terhadap ekonomi yaitu pembangunan terhadap ekonomi berenana dan pembangunan terhadap ekonomi pasar.

Begitu pula halnya dengan Sumber daya alam yang memengaruhi pembangunan ekonomi hubungan antara SDA dengan SDM.

Dampak Positif dan Negatif Pembangunan Ekonomi Dampak Positif Pembangunan Ekonomi Melalui pembangunan ekonomi, pelaksanaan kegiatan perekonomian akan berjalan lebih lancar dan mampu mempercepat proses pertumbuhan ekonomi. Adanya pembangunan ekonomi dimungkinkan terciptanya lapangan pekerjaan yang dibutuhkan oleh masyarakat, dengan demikian akan mengurangi pengangguran. Terciptanya lapangan pekerjaan akibat adanya pembangunan ekonomi secara langsung bisa memperbaiki tingkat pendapatan nasional.

Melalui pembangunan ekonomi dimungkinkan adanya perubahan struktur perekonomian dari struktur ekonomi agraris menjadi struktur ekonomi industri, sehingga kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh negara akan semakin beragam dan dinamis. Pembangunan ekonomi menuntut peningkatan kualitas SDM sehingga dalam hal ini, dimungkinkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang dengan pesat.

Dengan demikian, akan makin meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dampak Negatif Pembangunan Ekonomi Adanya pembangunan ekonomi yang tidak terencana dengan baik mengakibatkan adanya kerusakan lingkungan hidup. Industrialisasi mengakibatkan berkurangnya lahan pertanian. Hilangnya habitat alam baik hayati atau hewani. Solusi dari dampak pembangunan terhadap keadaan ekonomi Jika kita kaji lebih dalam, memang dalam setiap pembangunan sebuah wilayah tentunya akan memiliki dampak-dampak sosial yang mengiringinya, baik itu dampak positif maupun dampak negatif.

Pilihannya adalah mana yang lebih dominan, jika nilai-nilai positifnya lebih banyak, maka pembangunan tersebut layak untuk dilaksanakan, namun jika justru akan berdampak negatif terhadap wilayah atau area sekitarnya ada baiknya untuk ditinjau ulang, bukan untuk dihentikan tapi kembali dikaji lagi secara ilmiah agar dampak-dampak negatif tersebut bisa diminimalisir.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu, masalah pembangunan di satu pihak menunjukkan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat seperti tersedianya jaringan jalan, telekomunikasi, listrik, air, kesempatan kerja serta produknya sendiri memberi manfaat bagi masyarakat luas dan juga meningkatkan pendapatan bagi daerah yang bersangkutan. Masyarakat sekitar pabrik langsung atau tidak langsung dapat menikmati sebagian dari hasil pembangunannya.

Di pihak lain apabila pembangunan ini tidak diarahkan akan menimbulkan berbagai masalah seperti konflik kepentingan, pencemaran lingkungan, kerusakan, pengurasan sumberdaya alam, masyarakat konsumtif serta dampak sosial lainnya yang pada dasarnya merugikan masyarakat. Saran Pembangunan adalah salah satu usaha yang sebenarnya sangat membantu manusia. Tetapi bila pembangunan tidak sesuai dengan tata aturan yang ada, dimana manusia tidak memperhitungkan dampak-dampak yang terjadi dimasa mendatang maka dampak dari perubahan itu akan ditanggung sendiri oleh manusia.

Pembangunan yang ada sekarang mempunyai hubungan dengan semuanya, baik itu, iklim, sosial, struktur tanah dan sebagainya. Pemerintah diharapkan mempertimbangkan dengan baik, pembangunan yang dilakukan dan sebaiknya memilih wilayah yang akan dibanguni sesuai dan tidak akan merusak ekosistem. DAFTAR PUSTAKA Mustaqim.2012. “Dampak Pembangunan Terhadap Lingkungan”.

http://azthynjcs.blogspot.co.id, diakses tanggal 15 Oktober 2015. Mas’ad, Ali. 2012. “Dampak pembangunan terhadap perubahan iklim”.http://www.google.co.id, diakses tanggal 15 Oktober 2015. Thoyibi. 2015. “Dampak Pembangunan Terhadap Struktur Tanah, Perubahan Iklim dan Solusinya dalam Mencapai Pembangunan Berkelanjutan”.

http://www.academia.edu, diakses pada tanggal 15 Oktober 2015. Sagala, immanuel. “Dampak Pembangunan Prasarana Jalan Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Desa”.

http://www.researchgate.net, diakses pada tanggal 15 Oktober 2015. Irineriskyana. 2011. “Dampak Pembangunan Terhadap Lingkungan”. http://irineriskyana.blog.fisip.uns.ac.id, diakses tanggal 15 Oktober 2015.
• Beranda • Tentang Kami • Ringkasan Laporan Layanan Informasi • Tentang Profil BPS • Informasi Umum • Visi dan Misi • Struktur Organisasi • Tugas, Fungsi, dan Kewenangan • Pengolahan Data • Sejarah • Arti Logo • Alamat dan Kontak BPS • Profil Pejabat • Layanan • Rencana Strategis BPS • Peraturan • Agenda Kegiatan • Berita • Senarai Rencana Terbit • ARC Publikasi BPS • ARC BRS • Publikasi • Berita Resmi Statistik • Layanan • PPID • Profil • Regulasi KIP • Informasi Terbuka Berkala • Tentang Profil BPS • Program Kerja • Laporan Keuangan • Ringkasan Laporan Layanan Informasi • Peraturan • Kegiatan • Laporan Kinerja • Tata Cara Pengaduan • Pengadaan • Prosedur Evakuasi • Leaflet • Informasi Terbuka Setiap Saat • Publikasi Online • Berita Resmi Statistik • Unduh • Daftar Informasi Publik • Informasi tentang peraturan, keputusan dan/atau atau kebijakan Badan Publik • Informasi tentang kepegawaian dan keuangan • Informasi Terbuka Serta Merta • Informasi Tertentu Dikecualikan • Standar Layanan • Laporan Ekspor-Impor Energi Harga Eceran Harga Perdagangan Besar Harga Produsen Industri Besar dan Sedang Industri Mikro dan Kecil Inflasi Input output ITB-ITK Keuangan Komunikasi Konstruksi Matrik Investasi Neraca Arus Dana Neraca Institusi Terintegrasi Neraca Sosial Ekonomi Nilai Tukar Petani Pariwisata Perdagangan Dalam Negeri Produk Domestik Bruto (Lapangan Usaha) Produk Domestik Bruto (Pengeluaran) Produk Domestik Regional Bruto (Lapangan Usaha) Produk Domestik Regional Bruto (Pengeluaran) Transportasi Upah Buruh Usaha Mikro Kecil Selengkapnya.

Pertanian pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan Pertambangan • Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan adalah usaha berbentuk badan usaha/hukum yang bergerak di bidang pengambilan hasil hutan. Ruang lingkup pengumpulan data statistik Perusahaan HPH adalah mencakup seluruh perusahaan HPH yang berada di wilayah Republik Indonesia, yang mana perusahaan-perusahaan tersebut melakukan kegiatan usahanya secara aktif.

• Hak Pengusahan Hutan (HPH) HPH adalah hak untuk mengusahakan hutan didalam suatu kawasan hutan, yang meliputi kegiatan-kegiatan penebangan kayu, permudaan, pemeliharaan hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan sesuai dengan rencana kerja pengusahaan hutan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku serta berdasarkan asas kelestarian hutan dan asas perusahaan. HPH dapat diberikan kepada BUMN dan Badan Milik Swasta (PT), yang memenuhi persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Menteri Kehutanan.

HPH merupakan hak pengusahaan hutan yang dititikberatkan pada penebangan kayu sebagai bahan dasar industri maupun untuk keperluan ekspor. Jangka waktu untuk mengusahakan hutan paling lama 20 tahun tetapi dapat diperpanjang.

• Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan adalah usaha berbentuk badan usaha/hukum yang bergerak di bidang pembudidayaan tanaman hutan. Ruang lingkup pengumpulan data statistik Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan, meliputi: Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI), Perum Perhutani, dan Perusahaan Lainnya pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan HTI dan Perum Perhutani) yang berada di wilayah Republik Indonesia, dimana perusahaan tersebut melakukan kegiatan usahanya secara aktif.

• Pembudidaya Tanaman Kehutanan Pembudidaya tanaman kehutanan adalah kegiatan kehutanan yang menghasilkan produk tanaman kehutanan (kayu, daun, getah, dsb) termasuk usaha pembibitan dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual/ditukar atas resiko usaha.

Perusahaan pembudidaya tanaman kehutanan dapat diberikan kepada BUMN dan Perusahaan Swasta, yang memenuhi persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Menteri Kehutanan. • Kayu Bulat Kayu Bulat adalah semua kayu bulat (gelondongan) yang ditebang atau dipanen yang bisa dijadikan sebagai bahan baku produksi pengolahan kayu hulu (IPKH). Produksi kayu bulat ini dihasilkan dari hutan alam melalui kegiatan perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH/IUPHHK), kegiatan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) dalam rangka pembukaan wilayah hutan, kegiatan hutan hak atau hutan rakyat, dari Hutan Tanaman Industri (HTI), dari kegiatan Perhutani dan kegiatan pengusahaan hutan lainnya.

• Kayu Gergajian Merupakan kayu hasil konservasi kayu bulat dengan menggunakan mesin gergaji, mempunyai bentuk yang teratur dengan sisi-sisi sejajar dan sudut-sudutnya siku dengan ketebalan tidak lebih dari 6 cm dan kadar air tidak lebih dari 18 persen.

Kayu gergajian yang diolah langsung dari kayu bulat, wajib didukung dengan dokumen yang salah. • Kayu Lapis Kayu lapis adalah panel kayu yang tersusun dari lapisan veener dibagian luarnya, sedangkan dibagian intinya (core) bisa berupa veener atau material lain, diikat dengan lem kemudian di-press (ditekan) sedemikian rupa sehingga menjadi panel yang kuat.

Termasuk dalam artian ini adalah kayu lapis yang dilapisi lagi dengan material lain. • Kawasan Hutan Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang berupa hutan, yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.

Hal ini untuk menjamin kepastian hukum mengenai status kawasan hutan, letak batas dan luas suatu wilayah tertentu yang sudah ditunjuk menjadi kawasan hutan tetap. Kawasan hutan Indonesia ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dalam bentuk Surat Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi.

Penunjukan kawasan hutan mencakup pula kawasan perairan yang menjadi bagian dari Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA). • Lahan Kritis Penetapan lahan kritis mengacu pada lahan yang telah sangat rusak karena kehilangan penutupan vegetasinya, sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sebagai penahan air, pengendali erosi, siklus hara, pengatur iklim mikro, dan retensi karbon. Berdasarkan kondisi vegetasinya, kondisi lahan dapat diklasifikasikan sebagai: sangat kritis, kritis, agak kritis, potensial kritis, dan kondisi normal.

• Reboisasi Reboisasi atau rehabilitasi hutan bertujuan untuk menghutankan kembali kawsan hutan yang kritis di wilayah daerah aliran sungai (DAS) yang dilaksanakan bersama masyarakat secara partisipatif.

Metodologi • Metode yang dipakai untuk pengumpulan data statistik perusahaan HPH adalah pencacahan lengkap (Sensus). Kepada seluruh perusahaan HPH di seluruh Indonesia dikirimkan Kuesioner VT-HPH dipakai untuk mendapatkan keterangan yang rinci di lokasi hutan (base camp). Kegiatan pengumpulan data ini dilakukan oleh Koordinator Statistik Kecamatan (dahulu dinamakan Mantri Statistik) atau staf BPS Kabupaten/Kota yang dilaksanakan pada bulan Januari - Juni tahun survei.

Sebelum pencacahan, dilakukan up-dating direktori perusahaan HPH terlebih dahulu. • Metode yang dipakai untuk pengumpulan data statistik perusahaan pembudidaya tanaman kehutanan adalah pencacahan lengkap (Sensus).

Kepada seluruh perusahaan pembudidaya tanaman kehutanan di seluruh Indonesia dikirimkan Kuesioner VT-HPHT dan VT-PERUM, yang dipakai untuk mendapatkan keterangan rinci. Kegiatan pengumpulan data ini dilakukan oleh Koordinator Statistik Kecamatan atau staf BPS Kabupaten/Kota yang dilaksanakan pada bulan Januari - Juni tahun survei. Sebelum pencacahan, dilakukan up-dating direktori perusahaan pembudidaya tanaman kehutanan terlebih dahulu. No. Judul Tabel Update Ket.

Produksi Kayu Hutan, 2000-2020 14 Jan 2022 Statistik Sektoral Produksi Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan menurut Jenis Produksi, 2011-2020 02 Nov 2021 Statistik Dasar Produksi Kayu Bulat Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Menurut Pulau 22019-2020 02 Nov 2021 Jumlah Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan Menurut Pulau Berdasarkan SK Berlaku 22019-2020 02 Nov 2021 Jumlah Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan menurut Pulau, 2011-2020 02 Nov 2021 Statistik Dasar Produksi Kayu Bulat Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Menurut Jenis Kayu, 2004-2020 02 Nov 2021 Statistik Dasar Luas Kegiatan Reboisasi, 2000-2019 11 Jan 2021 Statistik Sektoral Luas Lahan Kritis (1000 Ha), 2006-2018 2006 - 2018 Luas dan Penyebaran Lahan Kritis Menurut Provinsi, 2006-2018 10 Jul 2020 Statistik Sektoral Luas Penutupan Lahan Indonesa di Dalam dan di Luar Kawasan Hutan Menurut Provinsi, 2014-2018 10 Jul 2020 Statistik Sektoral Jumlah Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan Menurut Pulau Berdasarkan SK Berlaku, 2001-2018 10 Jul 2020 Statistik Dasar Capaian Luas Perhutanan Sosial per Skema (1.000 Ha), 2017-2018 24 Mar 2020 Statistik Sektoral Produksi Kayu Bulat Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Menurut Pulau, 2003-2018 13 Feb 2020 Statistik Dasar Luas Areal Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan per Provinsi, 2004-2017 02 May 2019 Statistik Dasar Distribusi Nilai Produksi dan Biaya Produksi per 100 Pohon Usaha Budidaya Tanaman Kehutanan, 2014 2014 - 2014 Nilai Produksi dan Biaya Produksi per 100 Pohon Usaha Budidaya Tanaman Kehutanan, 2014 22 Mar 2018 Statistik Dasar Jumlah dan Persentase Rumah Tangga di Sekitar Kawasan Hutan yang Melakukan Perladangan Berpindah, 2004 dan 2014, 2004-2014 21 Mar 2018 Statistik Dasar Angka Deforestasi (Netto) Indonesia di Dalam dan di Luar Kawasan Hutan Tahun 2013-2020 (Ha/Th) 10 Jan 2022 Statistik Sektoral Luas Kawasan Hutan dan Kawasan Konservasi Perairan Indonesia Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 10 Jan 2022 Statistik Sektoral Luas Penutupan Lahan Indonesia Di Dalam Dan Di Luar Kawasan Hutan Tahun 2014-2020 Menurut Kelas (Ribu Ha) 10 Jan 2022 Statistik Sektoral Rekapitulasi Luas Penutupan Lahan Hutan dan Non Hutan Menurut Provinsi Tahun 2014-2020 (Ribu Ha) 11 Jan 2022 Statistik Sektoral No Judul Publikasi Tanggal Rilis Statistik Perusahaan Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar 2020 01 Nov 2021 Statistik Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan 2020 24 Sep 2021 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2020 27 Aug 2021 Statistik Produksi Kehutanan 2020 30 Jul 2021 Statistik Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan 2019 27 Nov 2020 Statistik Produksi Kehutanan 2019 27 Nov 2020 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2019 27 Nov 2020 Statistik Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan 2018 29 Nov 2019 Statistik Produksi Kehutanan 2018 29 Nov 2019 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2018 29 Nov 2019 Statistik Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan 2017 04 Dec 2018 Statistik Produksi Kehutanan 2017 04 Dec 2018 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2017 04 Dec 2018 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2016 27 Nov 2017 Statistik Produksi Kehutanan 2016 27 Nov 2017 Statistik Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan 2016 27 Nov 2017 Publikasi Statistik Produksi Kehutanan 2015 28 Oct 2016 Statistik Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan 2015 28 Oct 2016 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2015 28 Oct 2016 Ringkasan Eksekutif Struktur Ongkos Rumah Tangga Usaha Budidaya Tanaman Kehutanan 2014 22 May 2016 Statistik Produksi Kehutanan 2014 09 Oct 2015 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2014 09 Oct 2015 Statistik Perusahaan Pembudidayaan Tanaman Kehutanan 2014 09 Oct 2015 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2013 15 Oct 2014 Statistik Perusahaan Pembudidayaan Tanaman Kehutanan 2013 15 Oct 2014 Statistik Produksi Kehutanan 2012 10 Oct 2014 Statistik Produksi Kehutanan 2013 10 Oct 2014 Statistik Perusahaan Pembudidayaan Tanaman Kehutanan 2012 16 Oct 2013 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2012 15 Oct 2013 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2011 16 Oct 2012 Statistik Perusahaan Pembudidaya Tanaman Kehutanan 2011 16 Oct 2012 Statistik Perusahaan Pembudidayaan Tanaman Kehutanan 2010 09 Nov 2011 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2010 09 Nov 2011 Hasil Pencacahan Survei Kehutanan Rakyat 2010 09 Dec 2010 Statistik Perusahaan Pembudidayaan Tanaman Kehutanan 2009 15 Nov 2010 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2009 11 Nov 2010 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2008 14 Dec 2009 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2007 23 Jun 2009 Statistik Perusahaan Pembudidayaan Tanaman Kehutanan 2007 23 Jun 2009 Statistik Perusahaan Pembudidayaan Tanaman Kehutanan 2008 02 Mar 2009 Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan 2006 09 Sep 2008 Statistik Perusahaan Pembudidayaan Tanaman Kehutanan 2006 09 Sep 2008 Badan Pusat Statistik (BPS - Statistics Indonesia) Jl.

Dr. Sutomo 6-8 Jakarta 10710 Indonesia, Telp (62-21) 3841195, 3842508, 3810291, Faks (62-21) 3857046, Mailbox : bpshq@bps.go.id Untuk tampilan terbaik Anda dapat gunakan berbagai jenis browser kecuali IE, Mozilla Firefox 3- and Safari 3.2- dengan lebar minimum browser beresolusi 275 pixel.

Hak Cipta © 2022 Badan Pusat Statistik Semua Hak Dilindungi • Beranda • Tentang Kami • Ringkasan Laporan Layanan Informasi • Tentang Profil BPS • Layanan • Rencana Strategis BPS • Peraturan • Agenda Kegiatan • Berita • Senarai Rencana Terbit • Publikasi • Berita Resmi Statistik • Galeri Infografis • Layanan • Tabel Dinamis • Indikator Strategis • PPID • Profil • Regulasi KIP • Informasi Terbuka Berkala • Ringkasan Laporan Layanan Informasi • Tentang Profil BPS • Leaflet • Laporan Keuangan • Program Kerja • Peraturan • Tata Cara Pengaduan • Pengadaan • Prosedur Evakuasi • Kegiatan • Laporan Kinerja • Informasi Terbuka Setiap Saat • Berita Resmi Statistik • Daftar Informasi Publik • Informasi tentang kepegawaian dan keuangan • Publikasi Online • Informasi tentang peraturan, keputusan dan/atau atau kebijakan Badan Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan • Unduh • Informasi Terbuka Serta Merta • Informasi Terbuka Serta Merta • Informasi Tertentu Dikecualikan • Informasi Dikecualikan • Laporan • Standar Pelayanan • Tautan • Istilah • Metadata • Reformasi Birokrasi • SPK Online • Pengaduan • LPSE • Sekolah Tinggi Ilmu Statistik • Pusat Pendidikan dan Latihan BPS • Forum Masyarakat Statistik • Hak Cipta © Badan Pusat Statistik Republik Indonesia Ekspor-Impor Energi Harga Eceran Harga Perdagangan Besar Harga Produsen Industri Besar dan Sedang Industri Mikro dan Kecil Inflasi Input output ITB-ITK Keuangan Komunikasi Konstruksi Matrik Investasi Neraca Arus Dana Neraca Institusi Terintegrasi Neraca Sosial Ekonomi Nilai Tukar Petani Pariwisata Perdagangan Dalam Negeri Produk Domestik Bruto (Lapangan Usaha) Produk Domestik Bruto (Pengeluaran) Produk Domestik Regional Bruto (Lapangan Usaha) Produk Domestik Regional Bruto (Pengeluaran) Transportasi Upah Buruh Usaha Mikro Kecil Selengkapnya.

Pertanian dan Pertambangan
Artikel ini menjelaskan tentang ekonomi maritim dan agrikultur di Indonesia. -- Apakah kamu suka main ke pantai atau ke laut? Atau kamu justru tinggal di dekat laut? Pasti menyenangkan ya, bermain dan tinggal di daerah laut atau pantai. Psst. tahukah kamu, Indonesia yang merupakan negara kepulauan, punya banyak potensi di bidang maritim atau kelautan, lho! Selain itu, tanah Indonesia yang subur juga memungkinkan untuk melakukan pengembangan di bidang agrikultur.

Ternyata Indonesia sangat kaya, ya! Sekarang kita belajar bagaimana mengembangkan ekonomi maritim dan agrikultur di Indonesia, yuk! Ekonomi Maritim Ternyata ekonomi maritim dan ekonomi kelautan itu berbeda, lho! Ekonomi kelautan adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan di wilayah pesisir dan lautan serta di darat yang menggunakan sumber daya alam (SDA) dan jasa-jasa lingkungan kelautan untuk menghasilkan barang dan jasa.

Sedangkan ekonomi maritim merupakan kegiatan ekonomi yang mencakup transportasi laut, industri galangan kapal dan perawatannya, pembangunan dan pengoperasian pelabuhan beserta industri dan jasa terkait. Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan beberapa sektor yang ada dalam lingkup ekonomi maritim di Indonesia, yaitu sektor pelayaran, sektor perikanan, dan sektor pariwisata bahari. Kita bahas satu persatu, ya! • Sektor Pelayaran Meskipun Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar, industri pelayaran Indonesia masih memiliki banyak tantangan untuk dihadapi.

Kondisi pelayaran di Indonesia belum maksimal dalam meningkatkan perekonomian megara. Selain karena fasilitas kapal angkut yang belum memadai, sistem pelabuhan di Indonesia juga harus terus diperbaiki. Tidak hanya kedua hal tersebut, potensi sumber daya manusia (SDM) di sektor pelayaran juga harus terus ditingkatkan supaya sektor pelayaran bisa terus berkembang dengan baik.

• Sektor Perikanan Sektor perikanan merupakan salah satu sektor yang cukup berkembang. Kementerian Kelautan dan Perikanan juga sudah mengadakan gerakan makan ikan, dengan harapan adanya peningkatan yang konsisten di sektor perikanan dan semakin populernya ikan sebagai bahan makanan di Indonesia. Baca Juga: Tahukah Kamu Mengenai Organisasi Pergerakan Indonesia? • Sektor Pariwisata Bahari Jika pariwisata bahari di Indonesia dapat dimaksimalkan, maka akan menimbulkan banyak dampak positif seperti terserapnya lapangan pekerjaan, meningkatnya minat investor di bidang pariwisata, dan meningkatkan devisa negara dengan masuknya wisatawan asing.

Salah satu contoh pariwisata bahari adalah Raja Ampat, Papua. Akan tetapi, sektor pariwisata bahari juga belum dikembangkan dengan maksimal. Semoga ke depannya akan bisa dikembangkan dengan maksimal, ya! Wisata bahari Raja Ampat, Papua (Sumber: diver-the-world.com) Wah, ternyata masih banyak yang harus dikembangkan, ya. Lalu, strategi dan kebijakan apa saja yang bisa digunakan untuk mengembangkan ekonomi maritim di Indonesia?

Lihat pada gambar di bawah, ya! Ekonomi Agrikultur Apakah kalian tahu tentang Ekonomi Agrikultur? Ekonomi Agrikultur merupakan upaya peningkatan perekonomian dengan memberdayakan sektor pertanian. Agrikultur merupakan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan oleh manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, sumber energi atau untuk mengelola lingkungan hidup.

Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan agrikultur meliputi budidaya tanaman, bercocok tanam, atau peternakan dan bisa juga pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk seperti pembuatan keju dan tempe.

Waah menarik, ya! Potensi dan Peran Agrikultur di Indonesia Indonesia memiliki wilayah yang subur dan beriklim tropis sehingga sangat baik untuk aktivitas pertanian. Selain itu, Indonesia juga memiliki tanaman unggul seperti padi, kedelai, kacang tanah, ubi kayu dan berbagai tanaman lain. Ada beberapa faktor yang mendukung ekonomi agrikultur di Indonesia, lho. Apa saja, ya? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini! Faktor Pendukung Ekonomi Agrikultur • Keanekaragaman hayati Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Sepuluh persen dari spesies tumbuhan berbunga, 12% spesies mamalia, 16% reptil dan amfibi serta 17% burung di dunia terdapat di Indonesia. Potensi sumberhayati yang berasal dari tumbuhan terdiri dari 400 jenis tanaman penghasil buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman berumbi, dan 55 jenis tanaman rempah.

Potensi keberagaman hayati ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, sumber pakan ternak, bahan baku farmasi, bahan baku industri dan bahan obat-obatan. • Lahan pertanian 40% dari total daratan di Indonesia berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian.

Selain itu, jumlah luasan dan sebaran hutan, sungai, rawa dan danau serta curah hujan cukup tinggi merupakan potensi yang dapat menunjang pertanian. Meskipun demikian, potensi ketersediaan lahan pertanian di Indonesia belum dimanfaarkan secara maksimal. • Tenaga Kerja Saat ini, ada 35 juta tenaga kerja di sektor agrikultur.

Sayangnya, pesebarannya belum merata dengan pesebaran lahan sehingga, ada daerah yang kelebihan tenaga kerja dan ada pula yang kekurangan tenaga kerja. Selain itu, jika kemampuan dan ketrampilan tenaga kerja ditingkatkan maka tingkat produksi juga akan meningkat • Pasar Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan pangan hasil olahan dari sektor agrikultur memiliki potensi untuk dimanfaatkan lebih dari 230 juta orang.

Jumlah konsumen bahan pangan yang sangat besar ini merupakan potensi pasar yang besar untuk sektor agrikultur. Oleh karena itu, bahan pangan hasil olahan tersebut harus terus dikembangkan guna memaksimalkan potensi pasar. by the way, masuk ke pembahasan selanjutnya, kamu sering punya kesulitan nggak nih saat belajar? Udah coba fokus, tapi susah paham?

Mungkin kamu bisa coba cara belajar yang baru lewat fitur ADAPTO di ruangbelajar! Fitur ini bisa menyesuaikan dengan kecepatan belajarmu. Nah, pembahasan materi ini, juga sudah dilengkapi dengan fitur Adapto, lho!

Jadi, jangan lupa cobain di aplikasi Ruangguru, ya! Strategi Pengembangan Agrikultur di Indonesia Supaya potensi ekonomi agrikultur Indonesia semakin meningkat, beberapa strategi harus dilakukan nih. Kira-kira strategi apa saja, ya? Simak pada gambar di bawah ini, ya! Wah, menarik sekali ya belajar tentang mengembangkan ekonomi maritim dan agrikultur di Indonesia! Hayo, siapa yang bercita-cita menjadi ahli di bidang ekonomi agrikultur? Yuk, belajar yang semangat supaya cita-citamu tercapai!

Supaya belajarnya makin seru, belajar bersama Tutor favoritmu di ruangbelajar dan buat belajarmu jadi lebih menyenangkan. Referensi: Kurnia A. (2017) IPS Terpadu SMP Kelas VIII. Edisi ke-2. Jakarta: Yudhistira Sumber foto: Foto 'Wisata bahari Raja Ampat' [Daring].

Tautan: https://www.dive-the-world.com/diving-sites-indonesia.php#&gid=1&pid=1 (Diakses: 15 Desember 2020) Artikel diperbarui pada 15 Desember 2020Kegiatan yang dilakukan dalam perusahaan tentunya guna untuk memenuhi kebutuhan ekonomis manusia. Ulasan mengenai tujuan perusahaan dapat membantu kamu mengetahui tentunya perusahaan dan hal-hal lainnya tentang perusahaan. Kegiatan produksi dan distribusi dilakukan dengan menggabungkan berbagai faktor produksi, yaitu manusia, alam dan modal.

Salah satu tujuan perusahaan tentunya untuk mencapai dan menghasilkan sesuatu guna untuk memenuhi kebutuhan ekonomis manusia. Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang tujuan perusahaan hingga jenis-jenis perusahaan, Rabu (14/10/2020).

Sebelum menelaah lebih jauh tentang tujuian dari perusahaan, penting terlebih dahulu mengenal tentang pengertian dari perusahaan.

Secara umum perusahaan adalah organisasi yang didirikan oleh seseorang atau sekelompok orang atau badan dalam melakukan produksi dan distribusi. Perusahaan juga dapat didefinisikan sebagai suatu lembaga dalam bentuk organisasi yang dioperasikan dengan tujuan untuk menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat dengan motif atau insentif keuntungan. Pengertian Perusahaan Menurut Undang-Undang : 1. Undang-Undang No.

3 Tahun 1982 Pengertian perusahaan menurut Undang-Undang No.3 Tahun 1982 adalah setiap bentuk usaha yang bersifat tetap, terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah negara republik Indonesia.

Tujuan perusahaan adalah memperoleh keuntungan (laba). 2. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6 Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, miliki orang perseorangan, milik persekutuan atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang memiliki pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. 3. Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan No.8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan pasal 1 angka 1 Pengertian perusahaan menurut Undang-Undang No.8 Tahun 1997 adalah setiap bentuk usaha yang melakukan kegiatan secara tetap dan terus menerus dengan memperoleh keuntungan dan atau laba, baik yang diselenggarakan oleh orang perorangan maupun badan usaha yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum, yang didirikan dan berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia.

4. Undang-Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2003 pasal 1 Tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pengertian perusahaan umum menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2003 pasal 1 Tentang BUMN adalah perusahaan umum yang selanjutnya disebut dengan Perum adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham.

Pengertian Perusahaan Menurut Para Ahli : Sebelum mengetahui tentang tujuan perusahaan, berikut ini ulasan mengenai pengertian perusahaan menurut beberapa ahli. 1. C. S. T. Kansil Pengertian perusahaan menurut C. S. T. Kansil yakni perusahaan merupakan semua bentuk badan usaha yang menjalankan jenis usaha yang bersifat pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan dan terus menerus, dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia untuk tujuan mendapatkan keuntungan.

2. Murti Sumarni Menurut Murti Sumarni perusahaan merupakan sebuah unit kegiatan produksi yang mengolah sumber daya ekonomi untuk memproduksi barang dan jasa bagi masyarakat dengan tujuan menyediakan kebutuhan masyarakat dan mendapatkan keuntungan.

3. Willem Molengraaff Selanjutnya adalah pengertian perusahaan menurut Willem Molengraaff. Menurut Willem Molengraaff perusahaan merupakan pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak ke luar untuk mendapatkan penghasilan dengan cara memperdagangkan, menyerahkan barang, atau pengadaan perjanjian perdagangan. 4. Ebert dan griffin Menurut Ebert dan griffin Perusahaan adalah sebuah organisasi yang menghasilkan barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan.

5. Swastha dan Sukotjo Swastha dan Sukotjo memaparkan bahwa perusahaan merupakan suatu organisasi produksi yang menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomi untuk memuaskan kebutuhan dengan cara yang menguntungkan. Berikut ini ulasan lengkap mengenai tujuan perusahaan yang perlu untuk diketahui dalam dunia bisnis. Memahami tentang pengertian, tujuan perusahaan, dan segala hal yang berkaitan dengan perusahaan akan menambah wawasan. Perusahaan tentunya memiliki banyak tujuan untuk karena perusahaan hadir guna untuk memenuhi kebutuhan ekonimis manusia.

Tujuan perusahaan adalah kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. Tujuan perusahaan merupakan sesuatu yang akan dicapai atau yang dihasilkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Tujuan perusahaan adalah target yang bersifat kuantitatif dan pencapaian target tersebut merupakan ukuran keberhasilan kinerja perusahaan.

Tujuan perusahaan sangat penting sehingga perumusan misi dan visi perusahaan harus dilakukan dengan serius. Misi dan visi perusahaan harus dirumuskan sependek mungkin dengan spesifikasi yang jelas sehingga setiap orang akan selalu mengingatnya.

Tujuan perusahaan juga berisikan tentang komitmen beserta resikonya. Tujuan juga untuk menggambarkan arahan bagi perusahaan secara jelas, dalam merumuskannya tujuan harus memberikan ukuran yang lebih spesifik. Setelah pengertian dan tujuan perusahaan, berikut ini pemaparan tentang fungsi perusahaan.

Fungsi perusahaan terbagi menjadi beberapa segi, beberapa diantanya : 1. Fungsi Ekonomi, sebuah perusahaan memiliki tugas utama yaitu memonitoring, menganalisis dan menyelidiki terkait perekonomian perusahaan itu sendiri. 2. Fungsi Akuntansi yang berguna untuk menjaga kekayaan perusahaan, memastikan prosedur perusahaan dijalankan dengan baik, menjaga keandalan informasi akuntansi serta mendorong efisiensi kerja dalam perusahaan. 3. Fungsi Produksi adalah menciptakan hingga menambah fungsi dari sebuah barang atau bisa juga jasa.

Proses produksi tentunya ada berbagai macam yang bisa disesuaikan dengan bidang perusahaan bergerak. 4. Fungsi Pemasaran yaitu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan melalui proses pertukaran yang saling menguntungkan antara produsen dan konsumen.

Banyak metode pemasaran yang digunakan oleh setiap perusahaan bergantung pada kreativitas masing-masing untuk bisa mendapatkan perhatian dari konsumennya. 5. Fungsi Personalia yang merupakan pegawai atau personel yang diberikan tanggung jawab sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Sehingga adanya fungsi personalia ini juga sangat penting untuk menjaga agar efektivitas serta efisiensi pekerjaan yang dilakukan dalam perusahaan dapat berjalan secara optimal sesuai yang diharapkan sebelumnya.

Jenis-jenis perusahaan terbagai menjadi 2, beberapa diantaranya adalah jenis-jenis perusahaan berdasarkan lapangan usaha dan berdasarkan kepemilikan. Jenis-jenis Perusahaan Berdasarkan Lapangan Usaha : 1. Perusahaan Ekstratif Perusahaan ekstraktif merupakan jenis perusahaan berdasarkan lapangan usaha yang pertama.

Perusahaan ekstraktif yaitu perusahaan yang fokus di bidang pemanfaatan kekayaan alam, mulai dari penggalian, pengambilan dan pengolahan kekayaan alam yang tersedia. Misalnya: tambang batu bara. 2. Perusahaan Agraris Perusahaan agraris yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan lahan atau ladang. Misalnya perusahaan yang bekerja di bidang pertanian, perikanan darat, perkebunan, kehutanan, dan lainnya.

3. Perusahaan Industri Perusahaan industri yaitu perusahaan yang memproduksi barang mentah menjadi setengah jadi atau setengah jadi menjadi produk siap jual. Bisa juga perusahaan yang meningkatkan nilai guna barang. 4. Perusahaan Perdagangan Perusahaan lapangan usaha berdasarkan lapangan usaha selanjutnya adalah perusahaan perdagangan. Perusahaan perdagangan yakni perusahaan yang bergerak di bidang jual beli barang, membeli barang yang sudah jadi tanpa diolah lagi.

Misalnya usaha pertokoan, usaha minimarket, dan lainnya. 5. Perusahaan Jasa Selanjutnya yakni perusahaan jasa yaitu perusahaan yang bergerak di bidang jasa atau layanan. Misalnya jasa perbankan, asuransi, perhotelan, pembiayaan, dan lainnya. Jenis-jenis Perusahaan Berdasarkan Kepemilikan : 1. Perusahaan milik negara, yaitu perusahaan yang dimodali dan didirikan oleh negara. 2. Koperasi, yakni perusahaan yang dimodali dan didirikan oleh anggotanya.

3. Perusahaan swasta, yaitu perusaaan yang dimodali dan didirikan oleh sekelompok orang luar (di luar negara). Unsur-unsur Perusahaan Berikut ini ulasan singkat mengenai unsur-unsur perusahaan setelah mengetahui pengertian, tujuan perusahaan, hingga jenis-jenis perusahaan : 1. Badan Usaha 2. Kegiatan di Bidang Ekonomi. 3. Terus –menerus.

Maksud dari terus-menerus disini yakni kegiatan usaha yang dilakukan perusahaan sebagai mata pencaharian, dilakukan secara terus menerus dan bukan kegiatan insidentil.

4. Bersifat tetap 5. Diketahui Publik 6. Mendapatkan Laba 7. Pembukuan Bentuk perusahaan di Indonesia di bagi menjadi beberapa bentuk. Perusahaan berbadan hukum, perusahaan yang bukan berdasarkan hukum, dan perusahaan multinasional. 1. Perusahaan Berbadan Hukum Perusahaan ini bisa dimiliki oleh negara atau swasta. Bisa juga bentuknya persekutuan yang dimiliki oleh beberapa pengusaha baik sasta atau negara yang sudah memiliki syarat-syarat hukum. Contoh perusahan berbadan hukum diantaranya: - PT (Perseroan Terbatas) - P.T.

Tbk. (Perseroan Terbatas, Terbuka) - Perusahaan Perseroan (Persero) - Koperasi (Co-operative) - Perusahaan Umum 2. Perusahaan yang Bukan Berdasarkan Badan Hukum Jenis perusahaan ini adalah perusahaan swasta yang dimiliki dan didirikan oleh beberapa orang pengusaha dalam bentuk kerjasama. Mereka bisa menjalankan berbagai bidang perekonomian seperti perdagangan, perjasaan dan perindustrian.

Perusahaan ini dimiliki oleh swasta, bisa berbentuk perseorangan atau persekutuan. Contoh perusahaan yang bukan berdasarkan badan hukum yaitu: - Perusahaan perseorangan - Firma (FA) - Commanditaire Vennootschap (CV) - Persekutuan Perdata - Yayasan – Foundation 3. Perusahaan Multinasional Perusahaan ini akan tumbuh dan mendapatkan posisi yang kuat dan kebanyakan bisa bersing di era globalisasi. Ada beberapa faktor yang membuat perusahaan bisa tumbuh dan berkembang, salah satunya adalah terlengkapinya unsur-unsur perusahaan sesuai dengan jabaran pengertian perusahaan di atas.
Untuk penyelenggaraan administrasi pemerintahan serta program dan kegiatan pemerintah, Kepada Daerah baik itu Gubernur dan Bupati/Walikota dibantu oleh perangkat daerah.

Perangkat Daerah atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD) merupakan organisasi atau lembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Perangkat Daerah dibentuk oleh masing-masing Daerah berdasarkan pertimbangan karakteristik, potensi, dan kebutuhan Daerah.

Dasar utama penyusunan organisasi perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, yang terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan, namun tidak berarti setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk kedalam organisasi tersendiri. Pembentukan perangkat daerah semata-mata didasarkan pada pe rtimbangan ras ional untuk melaks anakan urusa n pe me rintahan yang menjadi kewenangan daerah secara efektif dan efisien.

Urusan wajib dan urusan pilihan dapat dilihat disini. Penataan Organisasi Perangkat Daerah serta penyusunan struktur organisasi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) saat ini dilakukan be rdas arkan pada kerangka regulas i se rta keb utuhan obye ktif dan kondisi lingkungan s trate gis daerah.

Kerangka regulasi yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 sebagai perubahan terhadap Peraturan Pemerintah sebelumnya. Selain PP No. 41/2007, penataan kelembagaan perangkat daerah juga memperhatikan peraturan perundang-undangan yang memiliki relevansi dengan program  penataan organisasi.

Pembentukan organisais perangkat daerah yang berupa Dinas atau Badan diklasifikasikan berdasarkan Tipe A (beban kerja yang besar), Tipe B (beban kerja yang sedang) dan Tipe C (beban kerja yang kecil). Penentuan beban kerja bagi Dinas didasarkan pada jumlah penduduk, luas wilayah, besaran masing-masing Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah, dan kemampuan keuangan Daerah untuk Urusan Pemerintahan Wajib dan berdasarkan potensi, proyeksi penyerapan tenaga kerja, dan pemanfaatan lahan untuk Urusan Pemerintahan Pilihan.

Sedangkan besaran beban kerja pada Badan berdasarkan pada jumlah penduduk, luas wilayah, kemampuan keuangan Daerah, dan cakupan tugas. • bidang pendidikan, pemuda dan olahraga; • bidang kesehatan; • bidang sosial, tenaga kerja dan transmigrasi; • bidang perhubungan, komunikasi dan informatika; • bidang kependudukan dan catatan sipil; • bidang kebudayaan dan pariwisata; • bidang pekerjaan umum yang meliputi bina marga, pengairan, cipta karya dan tata ruang; • bidang perekonomian yang meliputi koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah, industri dan perdagangan; • bidang pelayanan pertanahan; • bidang pertanian yang meliputi tanaman pangan, peternakan, perikanan darat, kelautan dan perikanan, perkebunan dan kehutanan; • bidang pertambangan dan energi; dan • bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset.

Perumpunan urusan yang diwadahi dalam bentuk badan, kantor, inspektorat, dan rumah sakit, terdiri dari: • bidang perencanaan pembangunan dan statistik; • bidang penelitian dan pengembangan; • bidang kesatuan bangsa, politik dan perlindungan masyarakat; • bidang lingkungan hidup; • bidang ketahanan pangan; • bidang penanaman modal; • bidang perpustakaan, arsip, dan dokumentasi; • bidang pemberdayaan masyarakat dan pemerintahan desa; • bidang pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana; • bidang kepegawaian, pendidikan dan pelatihan; • bidang pengawasan; dan • bidang pelayanan kesehatan.

Dengan adanya Presiden dan Wakil Presiden yang baru dan dengan Penetapan Numenklatur Kementerian baru maka Kementerian Dalam Negeri akan melakukan pembahasan untuk melakukan perubahan pada PP Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah sehingga dimungkinkan akan berubahnya pedoman dan perumpunan urusan. Selain perangkat daerah diatas Gubernur/ Bupati/Walikota dapat membentuk unit pelayanan terpadu untuk meningkatkan dan keterpaduan pelayanan masyarakat di bidang perizinan yang bersifat lintas sektor.

Unit pelayanan terpadu tersebut merupakan gabungan dari unsur-unsur perangkat daerah yang menyelenggarakan fungsi perizinan.

Terkait unit pelayanan terpadu akan dibahas pada posting selanjutnya. Pemerintah.net Cari Tulisan Posting Terakhir • JAM KERJA ASN, TNI DAN POLRI PADA BULAN RAMADHAN TAHUN 2018 • SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT PERMENPAN 14 TAHUN 2017 • CONTOH RENCANA AKSI REFORMASI BIROKRASI • TAHUN 2018, TIDAK ADA KENAIKAN GAJI PNS • CONTOH LAPORAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL • INI FORMASI PRIORITAS CPNS TAHUN 2018 Group
• Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Bamanankan • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Cebuano • ᏣᎳᎩ • کوردی • Čeština • Kaszëbsczi • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Arpetan • Nordfriisk • Furlan • Frysk • Gaeilge • Gagauz • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • Avañe'ẽ • Gaelg • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Interlingue • Igbo • Ilokano • Ido • Íslenska • ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Kabɩyɛ • Қазақша • Kalaallisut • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Kernowek • Кыргызча • Latina • Ladino • Лезги • Lingua Franca Nova • Luganda • Limburgs • Ligure • Lombard • ລາວ • Lietuvių • Latgaļu • Latviešu • मैथिली • Basa Banyumasan • Malagasy • Македонски • മലയാളം • Монгол • ဘာသာ မန် • मराठी • Bahasa Melayu • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • مازِرونی • Nāhuatl • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Li Niha • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Novial • Nouormand • Occitan • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Pälzisch • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Română • Armãneashti • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • ChiShona • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Seeltersk • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • Sakizaya • தமிழ் • తెలుగు • Tetun • Тоҷикӣ • ไทย • ትግርኛ • Türkmençe • Tagalog • Tok Pisin • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • Walon • Winaray • 吴语 • IsiXhosa • მარგალური • ייִדיש • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 Pertanian Umum • Agribisnis • Agroindustri • Agronomi • Ilmu pertanian • Jelajah bebas • Kebijakan pertanian • Lahan usaha tani • Mekanisasi pertanian • Menteri Pertanian • Perguruan tinggi pertanian • Perguruan tinggi pertanian di Indonesia • Permakultur • Pertanian bebas ternak • Pertanian berkelanjutan • Pertanian ekstensif • Pertanian intensif • Pertanian organik • Pertanian urban • Peternakan • Peternakan pabrik • Wanatani Sejarah • Sejarah pertanian • Sejarah pertanian organik • Revolusi pertanian Arab • Revolusi pertanian Inggris • Revolusi hijau • Revolusi neolitik Tipe • Akuakultur • Akuaponik • Hewan ternak • Hidroponik • Penggembalaan hewan • Perkebunan • Peternakan babi • Peternakan domba • Peternakan susu • Peternakan unggas • Peladangan • Portal:Pertanian Gambaran klasik pertanian di Indonesia Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.

[1] Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam serta pembesaran hewan ternak, meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bio enzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekadar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.

Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. [2] Kelompok ilmu- ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, teknik pertanian, biokimia, dan statistika juga dipelajari dalam pertanian.

Usaha tani adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. "Petani" adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani tembakau" atau "petani ikan". Pelaku budidaya hewan ternak secara khusus disebut sebagai peternak.

Daftar isi • 1 Cakupan pertanian • 2 Sejarah singkat pertanian dunia • 3 Pertanian kontemporer • 4 Tenaga kerja • 4.1 Keamanan • 5 Sistem pembudidayaan tanaman • 6 Sistem produksi hewan • 7 Masalah lingkungan • 7.1 Masalah pada hewan ternak • 7.2 Masalah penggunaan lahan dan air • 7.3 Pestisida • 7.4 Perubahan iklim • 8 Energi dan pertanian • 8.1 Mitigasi kelangkaan bahan bakar fosil • 9 Ekonomi pertanian • 10 Lihat pula • 11 Referensi • 12 Pranala luar Cakupan pertanian [ sunting - sunting sumber ] Pertanian dalam pengertian yang luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan manusia.

[3] Dalam arti sempit, pertanian diartikan sebagai kegiatan pembudidayaan tanaman. Usaha pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu. Kehutanan adalah usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar atau liar ( hutan). Peternakan menggunakan subjek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau serangga (misalnya lebah). Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk amfibia dan semua non-vertebrata air).

Suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai subjek ini bersama-sama dengan alasan efisiensi dan peningkatan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga menjadi bagian dalam usaha pertanian.

Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/ bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran.

Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif ( intensive farming).

Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian ke cara pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi. Karena pertanian industri selalu menerapkan pertanian intensif, keduanya sering kali disamakan.

Sisi pertanian industrial yang memperhatikan lingkungannya adalah pertanian berkelanjutan ( sustainable agriculture). Pertanian berkelanjutan, dikenal juga dengan variasinya seperti pertanian organik atau permakultur, memasukkan aspek kelestarian daya dukung lahan maupun lingkungan dan pengetahuan lokal sebagai faktor penting dalam perhitungan efisiensinya.

Akibatnya, pertanian berkelanjutan biasanya memberikan hasil yang lebih rendah daripada pertanian industrial. Pertanian modern masa kini biasanya menerapkan sebagian komponen dari kedua kutub "ideologi" pertanian yang disebutkan di atas.

Selain keduanya, dikenal pula bentuk pertanian ekstensif (pertanian masukan rendah) yang dalam bentuk paling ekstrem dan tradisional akan berbentuk pertanian subsisten, yaitu hanya dilakukan tanpa motif bisnis dan semata hanya untuk memenuhi pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan sendiri atau komunitasnya. Sebagai suatu usaha, pertanian memiliki dua ciri penting: selalu melibatkan barang dalam volume besar dan proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi.

Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya budidaya alga, hidroponik) telah dapat mengurangi ciri-ciri ini tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.

Sejarah singkat pertanian dunia [ sunting - sunting sumber ] Daerah " bulan sabit yang subur" di Timur Tengah. Di tempat ini ditemukan bukti-bukti awal pertanian, seperti biji-bijian dan alat-alat pengolahnya.

Domestikasi anjing diduga telah dilakukan bahkan pada saat manusia belum mengenal budidaya (masyarakat berburu dan peramu) dan merupakan kegiatan pemeliharaan dan pembudidayaan hewan yang pertama kali. Selain itu, praktik pemanfaatan hutan sebagai sumber bahan pangan diketahui sebagai agroekosistem yang tertua. [4] Pemanfaatan hutan sebagai kebun diawali dengan kebudayaan berbasis hutan di sekitar sungai. Secara bertahap manusia mengidentifikasi pepohonan dan semak yang bermanfaat.

Hingga akhirnya seleksi buatan oleh manusia terjadi dengan menyingkirkan spesies dan varietas yang buruk dan memilih yang baik. [5] Kegiatan pertanian (budidaya tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk kebudayaan. Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di daerah "bulan sabit yang subur" di Timur Tengah, yang meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan sekarang.

Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai menunjukkan adanya budidaya tanaman biji-bijian ( serealia, terutama gandum kuno seperti emmer) dan polong-polongan di daerah tersebut. Pada saat itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es terakhir pada era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi mulainya pertanian.

Pertanian telah dikenal pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan masyarakat yang telah mencapai kebudayaan batu muda ( neolitikum), perunggu dan megalitikum. Pertanian mengubah bentuk-bentuk kepercayaan, dari pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan.

Pada 5300 tahun yang lalu di China, kucing didomestikasi untuk menangkap hewan pengerat yang menjadi hama di ladang. [6] Teknik budidaya tanaman lalu meluas ke barat ( Eropa dan Afrika Utara, pada saat itu Sahara pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara).

Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut ( millet) dan padi sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal budidaya padi sawah paling tidak pada saat 3000 tahun SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 tahun SM. Sementara itu, masyarakat benua Amerika mengembangkan tanaman dan hewan budidaya yang sejak awal sama sekali berbeda. Hewan ternak yang pertama kali di domestikasi adalah kambing/ domba (7000 tahun SM) serta babi (6000 tahun SM), bersama-sama dengan domestikasi kucing.

Sapi, kuda, kerbau, yak mulai dikembangkan antara 6000 hingga 3000 tahun SM. Unggas mulai dibudidayakan lebih kemudian.

Ulat sutera diketahui telah diternakkan 2000 tahun SM. Budidaya ikan air tawar baru dikenal semenjak 2000 tahun yang lalu di daerah Tiongkok dan Jepang. Budidaya ikan laut bahkan baru dikenal manusia pada abad ke-20 ini. Budidaya sayur-sayuran dan buah-buahan juga dikenal manusia telah lama. Masyarakat Mesir Kuno (4000 tahun SM) dan Yunani Kuno (3000 tahun SM) telah mengenal baik budidaya anggur dan zaitun.

Tanaman serat didomestikasikan di saat yang kurang lebih bersamaan dengan domestikasi tanaman pangan. China mendomestikasikan ganja sebagai penghasil serat untuk membuat papan, tekstil, dan sebagainya; kapas didomestikasikan di dua tempat yang berbeda yaitu Afrika dan Amerika Selatan; di Timur Tengah dibudidayakan flax.

[7] Penggunaan nutrisi untuk mengkondisikan tanah seperti pupuk kandang, kompos, dan abu telah dikembangkan secara independen di berbagai tempat di dunia, termasuk Mesopotamia, Lembah Nil, dan Asia Timur. [8] Pertanian kontemporer [ sunting - sunting sumber ] Citra inframerah pertanian di Minnesota.

Tanaman sehat berwarna merah, genangan air berwarna hitam, dan lahan penuh pestisida berwarna coklat Pertanian pada abad ke 20 dicirikan dengan peningkatan hasil, penggunaan pupuk dan pestisida sintetik, pembiakan selektif, mekanisasi, pencemaran pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan, dan subsidi pertanian. Pendukung pertanian organik seperti Sir Albert Howard berpendapat bahwa di awal abad ke 20, penggunaan pestisida dan pupuk sintetik yang berlebihan dan secara jangka panjang dapat merusak kesuburan tanah.

Pendapat ini drman selama puluhan tahun, hingga kesadaran lingkungan meningkat di awal abad ke 21 menyebabkan gerakan pertanian berkelanjutan meluas dan mulai dikembangkan oleh petani, konsumen, dan pembuat kebijakan. Sejak tahun 1990-an, terdapat perlawanan terhadap efek lingkungan dari pertanian konvensional, terutama mengenai pencemaran air, [9] menyebabkan tumbuhnya gerakan organik. Salah satu penggerak utama dari gerakan ini adalah sertifikasi bahan pangan organik pertama di dunia, yang dilakukan oleh Uni Eropa pada tahun 1991, dan mulai mereformasi Kebijakan Pertanian Bersama Uni Eropa pada tahun 2005.

[10] Pertumbuhan pertanian organik telah memperbarui penelitian dalam teknologi alternatif seperti manajemen hama terpadu dan pembiakan selektif. Perkembangan teknologi terkini yang dipergunakan secara luas yaitu bahan pangan termodifikasi secara genetik. Di akhir tahun 2007, beberapa faktor mendorong peningkatan harga biji-bijian yang dikonsumsi manusia dan hewan ternak, menyebabkan peningkatan harga gandum (hingga 58%), kedelai (hingga 32%), dan jagung (hingga 11%) dalam satu tahun.

Kontribusi terbesar ada pada peningkatan permintaan biji-bijian sebagai bahan pakan ternak di Cina dan India, dan konversi biji-bijian bahan pangan menjadi produk biofuel.

[11] [12] Hal ini menyebabkan kerusuhan dan demonstrasi yang menuntut turunnya harga pangan. [13] [14] [15] International Fund for Agricultural Development mengusulkan peningkatan pertanian skala kecil dapat menjadi solusi untuk meningkatkan suplai bahan pangan dan juga ketahanan pangan. Visi mereka didasarkan pada perkembangan Vietnam yang bergerak dari importir makanan ke eksportir makanan, dan mengalami penurunan angka kemiskinan secara signifikan dikarenakan peningkatan jumlah dan volume usaha kecil di bidang pertanian di negara mereka.

[16] Sebuah epidemi yang disebabkan oleh fungi Puccinia graminis pada tanaman gandum menyebar di Afrika hingga ke Asia. [17] [18] [19] Diperkirakan 40% lahan pertanian terdegradasi secara serius. [20] Di Afrika, kecenderungan degradasi tanah yang terus berlanjut dapat menyebabkan lahan tersebut hanya mampu memberi makan 25% populasinya.

[21] Pada tahun 2009, China merupakan produsen hasil pertanian terbesar di dunia, diikuti oleh Uni Eropa, India, dan Amerika Serikat, berdasarkan IMF.Pakar ekonomi mengukur total faktor produktivitas pertanian dan menemukan bahwa Amerika Serikat saat ini 1.7 kali lebih produktif dibandingkan dengan tahun 1948. [22] Enam negara di dunia, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Australia, Argentina, dan Thailand mensuplai 90% biji-bijian bahan pangan yang diperdagangkan di dunia.

[23] Defisit air yang terjadi telah meningkatkan impor biji-bijian di berbagai negara berkembang, [24] dan kemungkinan juga akan terjadi di negara yang lebih besar seperti China dan India. [25] Tenaga kerja [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 2011, International Labour Organization (ILO) menyatakan bahwa setidaknya terdapat 1 miliar lebih penduduk yang bekerja di bidang sektor pertanian.

Pertanian menyumbang setidaknya 70% jumlah pekerja anak-anak, dan di berbagai negara sejumlah besar wanita juga bekerja di sektor ini lebih banyak dibandingkan dengan sektor lainnya. [26] Hanya sektor jasa yang mampu mengungguli jumlah pekerja pertanian, yaitu pada tahun 2007.

Antara tahun 1997 dan 2007, jumlah tenaga kerja di bidang pertanian turun dan merupakan sebuah kecenderungan yang akan berlanjut. [27] Jumlah pekerja yang dipekerjakan di bidang pertanian bervariasi di berbagai negara, mulai dari 2% di negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada, hingga 80% di berbagai negara di Afrika. [28] Di negara maju, angka ini secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan abad sebelumnya. Pada abad ke 16, antara 55 hingga 75 persen penduduk Eropa bekerja di bidang pertanian.

Pada abad ke 19, angka ini turun menjadi antara 35 hingga 65 persen. [29] Angka ini sekarang turun menjadi kurang dari 10%. [28] Keamanan [ sunting - sunting sumber ] Batang pelindung risiko tergulingnya traktor dipasang di belakang kursi pengemudi Pertanian merupakan industri yang berbahaya. Petani di seluruh dunia bekerja pada risiko tinggi terluka, penyakit paru-paru, hilangnya pendengaran, penyakit kulit, juga kanker tertentu karena penggunaan bahan kimia dan paparan cahaya matahari dalam jangka panjang.

Pada pertanian industri, luka secara berkala terjadi pada penggunaan alat dan mesin pertanian, dan penyebab utama luka serius. [30] Pestisida dan bahan kimia lainnya juga membahayakan kesehatan. Pekerja yang terpapar pestisida secara jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan fertilitas. [31] Di negara industri dengan keluarga yang semuanya bekerja pada lahan usaha tani yang dikembangkannya sendiri, seluruh keluarga tersebut berada pada risiko. [32] Penyebab utama kecelakaan fatal pada pekerja pertanian yaitu tenggelam dan luka akibat permesinan.

[32] ILO menyatakan bahwa pertanian sebagai salah satu sektor ekonomi yang membahayakan tenaga kerja. [26] Diperkirakan bahwa kematian pekerja di sektor ini setidaknya 170 ribu jiwa per tahun.

Berbagai kasus kematian, luka, dan sakit karena aktivitas pertanian sering kali tidak dilaporkan sebagai kejadian akibat aktivitas pertanian. [33] ILO telah mengembangkan Konvensi Kesehatan dan Keselamatan di bidang Pertanian, 2001, yang mencakup risiko pada pekerjaan di bidang pertanian, pencegahan risiko ini, dan peran dari individu dan organisasi terkait pertanian.

[26] Sistem pembudidayaan tanaman [ sunting - sunting sumber ] Budi daya padi di Bihar, India Sistem pertanaman dapat bervariasi pada setiap lahan usaha tani, tergantung pada ketersediaan sumber daya dan pembatas; geografi dan iklim; kebijakan pemerintah; tekanan ekonomi, sosial, dan politik; dan filosofi dan budaya petani. [34] [35] Pertanian berpindah ( tebang dan bakar) adalah sistem di mana hutan dibakar. Nutrisi yang tertinggal di tanah setelah pembakaran dapat mendukung pembudidayaan tumbuhan semusim dan menahun untuk beberapa tahun.

[36] Lalu petak tersebut ditinggalkan agar hutan tumbuh kembali dan petani berpindah ke petak hutan berikutnya yang akan dijadikan lahan pertanian. Waktu tunggu akan semakin pendek ketika populasi petani meningkat, sehingga membutuhkan input nutrisi dari pupuk dan kotoran hewan, dan pengendalian hama. Pembudidayaan semusim berkembang dari budaya ini. Petani tidak berpindah, namun membutuhkan intensitas input pupuk dan pengendalian hama yang lebih tinggi.

Industrialisasi membawa pertanian monokultur di mana satu kultivar dibudidayakan pada lahan yang sangat luas. Karena tingkat keanekaragaman hayati yang rendah, penggunaan nutrisi cenderung seragam dan hama dapat terakumulasi pada halah tersebut, sehingga penggunaan pupuk dan pestisida meningkat.

[35] Di sisi lain, sistem tanaman rotasi menumbuhkan tanaman berbeda secara berurutan dalam satu tahun.

Tumpang sari adalah ketika tanaman yang berbeda ditanam pada waktu yang sama dan lahan yang sama, yang disebut juga dengan polikultur. [36] Di lingkungan subtropis dan gersang, preiode penanaman terbatas pada keberadaan musim hujan sehingga tidak dimungkinkan menanam banyak tanaman semusim bergiliran dalam setahun, atau dibutuhkan irigasi. Di semua jenis lingkungan ini, tanaman menahun seperti kopi dan kakao dan praktik wanatani dapat tumbuh.

Di lingkungan beriklim sedang di mana padang rumput dan sabana banyak tumbuh, praktik budidaya tanaman semusim dan penggembalaan hewan dominan. [36] Sistem produksi hewan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Peternakan, Budi daya perikanan, dan Hewan ternak Sistem produksi hewan ternak dapat didefinisikan berdasarkan sumber pakan yang digunakan, yang terdiri dari peternakan berbasis penggembalaan, sistem kandang penuh, dan campuran.

[37] Pada tahun 2010, 30 persen lahan di dunia digunakan untuk memproduksi hewan ternak dengan mempekerjakan lebih 1.3 miliar orang. Antara tahun 1960-an sampai 2000-an terjadi peningkatan produksi hewan ternak secara signifikan, dihitung dari jumlah maupun massa karkas, terutama pada produksi daging sapi, daging babi, dan daging ayam. Produksi daging ayam pada periode tersebut meningkat hingga 10 kali lipat.

Hasil hewan non-daging seperti susu sapi dan telur ayam juga menunjukan peningkatan yang signifikan. Populasi sapi, domba, dan kambing diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun 2050. [38] Budi daya perikanan adalah produksi ikan dan hewan air lainnya di dalam lingkungan yang terkendali untuk konsumsi manusia.

Sektor ini juga termasuk yang mengalami peningkatan hasil rata-rata 9 persen per tahun antara tahun 1975 hingga tahun 2007.

[39] Selama abad ke-20, produsen hewan ternak dan ikan menggunakan pembiakan selektif untuk menciptakan ras hewan dan hibrida yang mampu meningkatkan hasil produksi, tanpa memperdulikan keinginan untuk mempertahankan keanekaragaman genetika. Kecenderungan ini memicu penurunan signifikan dalam keanekaragaman genetika dan sumber daya pada ras hewan ternak, yang menyebabkan berkurangnya resistansi hewan ternak terhadap penyakit. Adaptasi lokal yang sebelumnya banyak terdapat pada hewan ternak ras setempat juga mulai menghilang.

[40] Produksi hewan ternak berbasis penggembalaan amat bergantung pada bentang alam seperti padang rumput dan sabana untuk memberi makan hewan ruminansia. Kotoran hewan menjadi input nutrisi utama bagi vegetasi tersebut, namun input lain di luar kotoran hewan dapat diberikan tergantung kebutuhan.

Sistem ini penting di daerah di mana produksi tanaman pertanian tidak memungkinkan karena kondisi iklim dan tanah. [36] Sistem campuran menggunakan lahan penggembalaan sekaligus pakan buatan yang merupakan hasil pertanian yang diolah menjadi pakan ternak.

[37] Sistem kandang memelihara hewan ternak di dalam kandang secara penuh dengan input pakan yang harus diberikan setiap hari. Pengolahan kotoran ternak dapat menjadi masalah pencemaran udara karena dapat menumpuk dan melepaskan gas metan dalam jumlah besar. [37] Negara industri menggunakan sistem kandang penuh untuk mensuplai sebagian besar daging dan produk peternakan di dalam negerinya.

Diperkirakan 75% dari seluruh peningkatan produksi hewan ternak dari tahun 2003 hingga 2030 akan bergantung pada sistem produksi peternakan pabrik. Sebagian besar pertumbuhan ini akan terjadi di negara yang saat ini merupakan negara berkembang di Asia, dan sebagian kecil di Afrika.

[38] Beberapa praktik digunakan dalam produksi hewan ternak komersial seperti penggunaan hormon pertumbuhan menjadi kontroversi di berbagai tempat di dunia. [41] Masalah lingkungan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Dampak lingkungan dari pertanian Pertanian mampu menyebabkan masalah melalui pestisida, arus nutrisi, penggunaan air berlebih, hilangnya lingkungan alam, dan masalah lainnya.

Sebuah penilaian yang dilakukan pada tahun 2000 di Inggris menyebutkan total biaya eksternal untuk mengatasi permasalahan lingkungan terkait pertanian adalah 2343 juta Poundsterling, atau 208 Poundsterling per hektare. [42] Sedangkan di Amerika Serikat, biaya eksternal untuk produksi tanaman pertaniannya mencapai 5 hingga 16 miliar US Dollar atau 30-96 US Dollar per hektare, dan biaya eksternal produksi peternakan mencapai 714 juta US Dollar.

[43] Kedua studi fokus pada dampak fiskal, yang menghasilkan kesimpulan bahwa begitu banyak hal yang harus dilakukan untuk memasukkan biaya eksternal ke dalam usaha pertanian. Keduanya tidak memasukkan subsidi di dalam analisisnya, namun memberikan catatan bahwa subsidi pertanian juga membawa dampak bagi masyarakat. [42] [43] Pada tahun 2010, International Resource Panel dari UNEP mempublikasikan laporan penilaian dampak lingkungan dari konsumsi dan produksi. Studi tersebut menemukan bahwa pertanian dan konsumsi bahan pangan adalah dua hal yang memberikan tekanan pada lingkungan, terutama degradasi habitat, perubahan iklim, penggunaan air, dan emisi zat beracun.

[44] Masalah pada hewan ternak [ sunting - sunting sumber ] PBB melaporkan bahwa "hewan ternak merupakan salah satu penyumbang utama masalah lingkungan". [45] 70% lahan pertanian dunia digunakan untuk produksi hewan ternak, secara langsung maupun tidak langsung, sebagai lahan penggembalaan maupun lahan untuk memproduksi pakan ternak. Jumlah ini setara dengan 30% total lahan di dunia. Hewan ternak juga merupakan salah satu penyumbang gas rumah kaca berupa gas metana dan nitro oksida yang, meski jumlahnya sedikit, namun dampaknya setara dengan emisi total CO 2.

Hal ini dikarenakan gas metana dan nitro oksida merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat dibandingkan CO 2. Peternakan juga didakwa sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya deforestasi.

70% basin Amazon yang sebelumnya merupakan hutan kini menjadi lahan penggembalaan hewan, dan sisanya menjadi lahan produksi pakan.

[46] Selain deforestasi dan degradasi lahan, budi daya hewan ternak yang sebagian besar berkonsep ras tunggal juga menjadi pemicu hilangnya keanekaragaman hayati. Masalah penggunaan lahan dan air [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Dampak lingkungan dari irigasi Transformasi lahan menuju penggunaannya untuk menghasilkan barang dan jasa adalah cara yang paling substansial bagi manusia dalam mengubah ekosistem bumi, dan dikategrikan sebagai penggerak utama hilangnya keanekaragaman hayati.

Diperkirakan jumlah lahan yang diubah oleh manusia antara 39%-50%. [47] Degradasi lahan, penurunan fungsi dan produktivitas ekosistem jangka panjang, diperkirakan terjadi pada 24% lahan di dunia.

[48] Laporan FAO menyatakan bahwa manajemen lahan sebagai penggerak utama degradasi dan 1.5 miliar orang bergantung pada lahan yang terdegradasi. Deforestasi, desertifikasi, erosi tanah, kehilangan kadar mineral, dan salinisasi adalah contoh bentuk degradasi tanah.

[36] Eutrofikasi adalah peningkatan populasi alga dan tumbuhan air di ekosistem perairan akibat aliran nutrisi dari lahan pertanian. Hal ini mampu menyebabkan hilangnya kadar oksigen di air ketika jumlah alga dan tumbuhan air yang mati dan membusuk di perairan bertambah dan dekomposisi terjadi.

Hal ini mampu menyebabkan kebinasaan ikan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan menjadikan air tidak bisa digunakan sebagai air minum dan kebutuhan masyarakat dan industri. Penggunaan pupuk berlebihan di lahan pertanian yang diikuti dengan aliran air permukaan mampu menyebabkan nutrisi di lahan pertanian terkikis dan mengalir terbawa menuju ke perairan terdekat.

Nutrisi inilah yang menyebabkan eutrofikasi. [49] Pertanian memanfaatkan 70% air tawar yang diambil dari berbagai sumber di seluruh dunia. [50] Pertanian memanfaatkan sebagian besar air di akuifer, bahkan mengambilnya dari lapisan air tanah dalam laju yang tidak dapat dikembalikan ( unsustainable).

Telah diketahui bahwa berbagai akuifer di berbagai tempat padat penduduk di seluruh dunia, seperti China bagian utara, sekitar Sungai Ganga, dan wilayah barat Amerika Serikat, telah berkurang jauh, dan penelitian mengenai ini sedang dilakukan di akuifer di Iran, Meksiko, dan Arab Saudi.

[51] Tekanan terhadap konservasi air terus terjadi dari sektor industri dan kawasan urban yang terus mengambil air secara tidak lestari, sehingga kompetisi penggunaan air bagi pertanian meningkat dan tantangan dalam memproduksi bahan pangan juga demikian, terutama di kawasan yang langka air. [52] Penggunaan air di pertanian juga dapat menjadi penyebab masalah lingkungan, termasuk hilangnya rawa, penyebaran penyakit melalui air, dan degradasi lahan seperti salinisasi tanah ketika irigasi tidak dilakukan dengan baik.

[53] Pestisida [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Dampak lingkungan dari pestisida Penggunaan pestisida telah meningkat sejak tahun 1950-an, menjadi 2.5 juta ton per tahun di seluruh dunia. Namun tingkat kehilangan produksi pertanian tetap terjadi dalam jumlah yang pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan konstan.

[54] WHO memperkirakan pada tahun 1992 bahwa 3 juta manusia keracunan pestisida setiap tahun dan menyebabkan kematian 200 ribu jiwa. [55] Pestisida dapat menyebabkan resistansi pestisida pada populasi hama sehingga pengembangan pestisida baru terus berlanjut. [56] Argumen alernatif dari masalah ini adalah pestisida merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi pangan pada lahan yang terbatas, sehingga dapat menumbuhkan lebih banyak tanaman pertanian pada lahan yang lebih sempit dan memberikan ruang lebih banyak bagi alam liar dengan mencegah perluasan lahan pertanian lebih ekstensif.

[57] [58] Namun berbagai kritik berkembang bahwa perluasan lahan yang mengorbankan lingkungan karena peningkatan kebutuhan pangan tidak dapat dihindari, [59] dan pestisida hanya menggantikan praktik pertanian yang baik yang ada seperti rotasi tanaman. [56] Rotasi tanaman mencegah penumpukan hama yang sama pada satu lahan sehingga hama diharapkan menghilang setelah panen dan tidak datang kembali karena tanaman yang ditanam tidak sama dengan yang sebelumnya.

Perubahan iklim [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Perubahan iklim dan pertanian Pertanian adalah salah satu yang mempengaruhi perubahan iklim, dan perubahan iklim memiliki dampak bagi pertanian.

Perubahan iklim memiliki pengaruh bagi pertanian melalui perubahan temperatur, hujan (perubahan periode dan kuantitas), kadar karbon dioksida di udara, radiasi matahari, dan interaksi dari semua elemen tersebut. [36] Kejadian ekstrem seperti kekeringan dan banjir diperkirakan meningkat akibat perubahan iklim. [60] Pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Suplai air akan menjadi hal yang kritis untuk menjaga produksi pertanian dan menyediakan bahan pangan.

Fluktuasi debit sungai akan terus terjadi akibat perubahan iklim. Negara di sekitar sungai Nil sudah mengalami dampak fluktuasi debit sungai yang mempengaruhi hasil pertanian musiman yang mampu mengurangi hasil pertanian hingga 50%. [61] Pendekatan yang bersifat mengubah diperlukan untuk mengelola sumber daya alam pada masa depan, seperti perubahan kebijakan, metode praktik, dan alat untuk mempromosikan pertanian berbasis iklim dan lebih banyak menggunakan informasi ilmiah dalam menganalisis risiko dan kerentanan akibat perubahan iklim.

[62] [63] Pertanian dapat memitigasi sekaligus memperburuk pemanasan global. Beberapa dari peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer bumi dikarenakan dekomposisi materi organik yang berada di tanah, dan sebagian besar gas metanan yang dilepaskan ke atmosfer berasal dari aktivitas pertanian, termasuk dekomposisi pada lahan basah pertanian seperti sawah, [64] dan aktivitas digesti hewan ternak.

Tanah yang basah dan anaerobik mampu menyebabkan denitrifikasi dan hilangnya nitrogen dari tanah, menyebabkan lepasnya gas nitrat oksida dan nitro oksida ke udara yang merupakan gas rumah kaca. [65] Perubahan metode pengelolaan pertanian mampu mengurangi pelepasan gas rumah kaca ini, dan tanah dapat difungsikan kembali sebagai fasilitas sekuestrasi karbon.

[64] Energi dan pertanian [ sunting - sunting sumber ] Sejak tahun 1940, produktivitas pertanian meningkat secara signifikan dikarenakan penggunaan energi yang intensif dari aktivitas mekanisasi pertanian, pupuk, dan pestisida. Input energi ini sebagian besar berasal dari bahan bakar pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan.

[66] Revolusi Hijau mengubah pertanian di seluruh dunia dengan peningkatan produksi biji-bijian secara signifikan, [67] dan kini pertanian modern membutuhkan input minyak bumi dan gas alam untuk sumber energi dan produksi pupuk.

Telah terjadi kekhawatiran bahwa kelangkaan energi fosil akan menyebabkan tingginya biaya produksi pertanian sehingga mengurangi hasil pertanian dan kelangkaan pangan.

[68] Rasio konsumsi energi pada pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan dan sistem pangan (%) pada tiga negara maju Negara Tahun Pertanian (secara langsung & tidak langsung) Sistem pangan Britania Raya [69] 2005 1.9 11 Amerika Serikat [70] 1996 2.1 10 Amerika Serikat [71] 2002 2.0 14 Swedia [72] 2000 2.5 13 Negara industri bergantung pada bahan bakar fosil secara dua hal, yaitu secara langsung dikonsumsi sebagai sumber energi di pertanian, dan secara tidak langsung sebagai input untuk manufaktur pupuk dan pestisida.

Konsumsi langsung dapat mencakup penggunaan pelumas dalam perawatan permesinan, dan fluida penukar panas pada mesin pemanas dan pendingin. Pertanian di Amerika Serikat mengkonsumsi sektar 1.2 eksajoule pada tahun 2002, yang merupakan 1% dari total energi yang dikonsumsi di negara tersebut. [68] Konsumsi tidak langsung yaitu sebagai manufaktur pupuk dan pestisida yang mengkonsumsi bahan bakar fosil setara 0.6 eksajoule pada tahun 2002.

[68] Gas alam dan batu bara yang dikonsumsi melalui produksi pupuk nitrogen besarnya setara dengan setengah kebutuhan energi di pertanian. China mengkonsumsi batu bara untuk produksi pupuk nitrogennya, sedangkan sebagian besar negara di Eropa menggunakan gas alam dan hanya sebagian kecil batu bara.

Berdasarkan laporan pada tahun 2010 yang dipublikasikan oleh The Royal Society, ketergantungan pertanian terhadap bahan bakar fosil terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Bahan bakar yang digunakan di pertanian dapat bervariasi tergantung pada beberapa faktor seperti jenis tanaman, sistem produksi, dan lokasi. [73] Energi yang digunakan untuk produksi alat dan mesin pertanian juga merupakan salah satu bentuk penggunaan energi di pertanian secara tidak pangsung.

Sistem pangan mencakup tidak hanya pada produksi pertanian, namun juga pemrosesan setelah hasil pertanian keluar dari lahan usaha tani, pengepakan, transportasi, pemasaran, konsumsi, dan pembuangan dan pengolahan sampah makanan. Energi yang digunakan pada sistem pangan ini lebih tinggi dibandingkan penggunaan energi pada produksi hasil pertanian, dapat mencapai lima kali lipat. [70] [71] Pada tahun 2007, insentif yang lebih tinggi bagi petani penanam tanaman non-pangan penghasil biofuel [74] ditambah dengan faktor lain seperti pemanfaatan kembali lahan tidur yang kurang subur, peningkatan biaya transportasi, perubahan iklim, peningkatan jumlah konsumen, dan peningkatan penduduk dunia, [75] menyebabkan kerentanan pangan dan peningkatan harga pangan di berbagai tempat di dunia.

[76] [77] Pada Desember 2007, 37 negara di dunia menghadapi krisis pangan, dan 20 negara telah menghadapi peningkatan harga pangan di luar kendali, yang dikenal dengan kasus krisis harga pangan dunia 2007-2008. Kerusuhan akibat menuntut turunnya harga pangan terjadi di berbagai tempat hingga menyebabkan korban jiwa. [13] [14] [15] Mitigasi kelangkaan bahan bakar fosil [ sunting - sunting sumber ] Prediksi M. King Hubbert mengenai laju produksi minyak bumi dunia.

Pertanian modern sangat bergantung pada energi fosil ini. [78] Pada kelangkaan bahan bakar fosil, pertanian organik akan lebih diprioritaskan dibandingkan dengan pertanian konvensional yang menggunakan begitu banyak input berbasis minyak bumi seperti pupuk dan pestisida. Berbagai studi mengenai pertanian organik modern menunjukan bahwa hasil pertanian organik sama besarnya dengan pertanian konvensional.

[79] Kuba pasca runtuhnya Uni Soviet mengalami kelangkaan input pupuk dan pestisida kimia sehingga usaha pertanian di negeri tersebut menggunakan praktik organik dan mampu memberi makan populasi penduduknya. [80] Namun pertanian organik akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dan jam kerja. [81] Perpindahan dari praktik monokultur ke pertanian organik juga membutuhkan waktu, terutama pengkondisian tanah [79] untuk membersihkan bahan kimia berbahaya yang tidak sesuai dengan standar bahan pangan organik.

Komunitas pedesaan bisa memanfaatkan biochar dan synfuel yang menggunakan limbah pertanian untuk diolah menjadi pupuk dan energi, sehingga bisa mendapatkan bahan bakar dan bahan pangan sekaligus, dibandingkan dengan persaingan bahan pangan vs bahan bakar yang masih terjadi hingga saat ini.

Synfuel dapat digunakan di tempat; prosesnya akan lebih efisien dan mampu menghasilkan bahan bakar yang cukup untuk seluruh aktivitas pertanian organik. [82] [83] Ketika bahan pangan termodifikasi genetik (GMO) masih dikritik karena benih yang dihasilkan bersifat steril sehingga tidak mampu direproduksi oleh petani [84] [85] dan hasilnya dianggap berbahaya bagi manusia, telah diusulkan agar tanaman jenis ini dikembangkan lebih lanjut dan digunakan sebagai penghasil bahan bakar, karena tanaman ini mampu dimodifikasi untuk menghasilkan lebih banyak dengan input energi yang lebih sedikit.

[86] Namun perusahaan utama penghasil GMO sendiri, Monsanto, tidak mampu melaksanakan proses produksi pertanian berkelanjutan dengan tanaman GMO lebih dari satu tahun.

Di saat yang bersamaan, praktik pertanian dengan memanfaatkan ras tradisional menghasilkan lebih banyak pada jenis tanaman yang sama dan dilakukan secara berkelanjutan. [87] Ekonomi pertanian [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Subsidi pertanian dan Ekonomi pedesaan Ekonomi pertanian adalah aktivitas ekonomi yang terkait dengan produksi, distribusi, dan konsumsi produk dan jasa pertanian. [88] Mengkombinasikan produksi pertanian dengan teori umum mengenai pemasaran dan bisnis adalah sebuah disiplin ilmu yang dimulai sejak akhir abad ke 19, dan terus bertumbuh sepanjang abad ke-20.

[89] Meski studi mengenai pertanian terbilang baru, berbagai kecenderungan utama di bidang pertanian seperti sistem bagi hasil pasca Perang Saudara Amerika Serikat hingga sistem feodal yang pernah terjadi di Eropa, telah secara signifikan mempengaruhi aktivitas ekonomi suatu negara dan juga dunia. [90] [91] Di berbagai tempat, harga pangan yang dipengaruhi oleh pemrosesan pangan, distribusi, dan pemasaran pertanian telah tumbuh dan biaya harga pangan yang dipengaruhi oleh aktivitas pertanian di atas lahan telah jauh berkurang efeknya.

Hal ini terkait dengan efisiensi yang begitu tinggi dalam bidang pertanian dan dikombinasikan dengan peningkatan nilai tambah melalui pemrosesan bahan pangan dan strategi pemasaran. Konsentrasi pasar juga telah meningkat di sektor ini yang dapat meningkatkan efisiensi. Namun perubahan ini mampu mengakibatkan perpindahan surplus ekonomi dari produsen (petani) ke konsumen, dan memiliki dampak yang negatif bagi komunitas pedesaan.

[92] Digitalisasi perlu untuk merespon keterbatasan tenaga kerja dan juga meningkatkan efisiensi yang mampu meningkatkan produktivitas bisnis, value, produk dan konsumen baru men-distruptive teknologi budidaya konvensional. Baik selama proses bahkan hingga memasarkan produk pertanian, digitalisasi begitu efisien. Perlahan, para petani tidak gagap teknologi digital, dan bahkan bisa meningkatkan produkvitas sektor pertanian, hal ini tentu masih banyak tugas untuk mewujudkan petani menjadi petani digital.

[93] Kebijakan pemerintah suatu negara dapat mempengaruhi secara signifikan pasar produk pertanian, dalam bentuk pemberian pajak, subsidi, tarif, dan bea lainnya. [94] Sejak tahun 1960-an, kombinasi pembatasan ekspor impor, kebijakan nilai tukar, dan subsidi mempengaruhi pertanian di negara berkembang dan negara maju.

Pada tahun 1980-an, para petani di negara berkembang yang tidak mendapatkan subsidi akan kalah bersaing dikarenakan kebijakan di berbagai negara yang menyebabkan rendahnya harga bahan pangan. Di antara tahun 1980-an dan 2000-an, beberapa negara di dunia membuat kesepakatan untuk membatasi tarif, subsidi, dan batasan perdagangan lainnya yang diberlakukan di dunia pertanian. [95] Namun pada tahun 2009, masih terdapat sejumlah distorsi kebijakan pertanian yang mempengaruhi harga bahan pangan.

Tiga komoditas yang sangat terpengaruh adalah gula, susu, dan beras, yang terutama karena pemberlakuan pajak. Wijen merupakan biji-bijian penghasil minyak yang terkena pajak paling tinggi meski masih lebih rendah dibandingkan pajak produk peternakan.

[96] Namun subsidi kapas masih terjadi di negara maju yang telah menyebabkan rendahnya harga di tingkat dunia dan menekan petani kapas di negara berkembang yang tidak disubsidi. [97] Komoditas mentah seperti jagung dan daging sapi umumnya diharga berdasarkan kualitasnya, dan kualitas menentukan harga. Komoditas yang dihasilkan di suatu wilayah dilaporkan dalam bentuk volume produksi atau berat. [98] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • ^ Safety and health in agriculture. International Labour Organization.

1999. ISBN pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan. Diakses tanggal 13 September 2010. • ^ Harahap, Fitra Syawal (2021). Dasar-dasar Agronomi Pertanian. Mitra Cendekia Media. hlm. 2. ISBN 9786236957851. • ^ Lamangida, Saiman (2021). "DEKAN HADIRI PENANDA TANGANAN IMPLEMENTASI KERJASAMA JURUSAN PETERNAKAN DENGAN DINAS PERTANIAN PROVINSI GORONTALO". ung.ac.id. Diakses tanggal 2022-01-04.

• ^ Douglas John McConnell (2003). The Forest Farms of Kandy: And Other Gardens of Complete Design. hlm. 1. ISBN 978-0-7546-0958-2. • ^ Douglas John McConnell (1992). The forest-garden farms of Kandy, Sri Lanka. hlm. 1. ISBN 978-92-5-102898-8. • ^ "Kucing Piaraan Tertua di Dunia Ditemukan". Kompas. 17 Desember 2013.

• ^ Hancock, James F. (2012). Plant evolution and the origin of crop species (edisi ke-3rd). CABI. hlm. 119. ISBN 1845938011. • ^ UN Industrial Development Organization, International Fertilizer Development Center (1998).

The Fertilizer Manual (edisi ke-3rd). Springer. hlm. 46. ISBN 0792350324. • ^ Scheierling, Susanne M. (1995). "Overcoming agricultural pollution of water : the challenge of integrating agricultural and environmental policies in the European Union, Volume 1". The World Bank. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-06-05. Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ "CAP Reform". European Commission.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

2003. Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ "At Tyson and Kraft, Grain Costs Limit Profit". The New York Times. Bloomberg. 6 September 2007. • ^ McMullen, Alia (7 January 2008). "Forget oil, the new global crisis is food". Financial Post. Toronto. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-11-13. Diakses tanggal 2013-11-13. • ^ a b Watts, Jonathan (4 December 2007). "Riots and hunger feared as demand for grain sends food costs soaring", The Guardian (London).

• ^ a b Mortished, Carl (7 March 2008). "Already we have riots, hoarding, panic: the sign of things to come?", The Times (London). • ^ a b Borger, Julian (26 February 2008). "Feed the world? We are fighting a losing battle, UN admits", The Guardian (London).

• ^ "Food prices: smallholder farmers can be part of the solution". International Fund for Agricultural Development. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-05. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ McKie, Robin; Rice, Xan (22 April 2007). "Millions face famine as crop disease rages", The Observer' (London).

• ^ Mackenzie, Debora (3 April 2007). "Billions at risk from wheat super-blight". New Scientist. London (2598): 6–7. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-05-09. Diakses tanggal 19 April 2007.

• ^ Leonard, K.J. (February 2001). "Black stem rust biology and threat to wheat growers". USDA Agricultural Research Service. Diakses tanggal 2013-04-22. • ^ Sample, Ian (31 August 2007). "Global food crisis looms as climate change and population growth strip fertile land", The Guardian (London).

• ^ "Africa may be able to feed only 25% of its population by 2025", mongabay.com, pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan December 2006. • ^ "Agricultural Productivity in the United States". USDA Economic Research Service. 5 July 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-02-01. Diakses tanggal 2013-04-22. • ^ " The Food Bubble Economy". The Institute of Science in Society. • ^ Brown, Lester R. "Global Water Shortages May Lead to Food Shortages-Aquifer Depletion".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-07-24. Diakses tanggal 2013-11-13. • ^ "India grows a grain crisis". Asia Times (Hong Kong). 21 July 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-02-21. Diakses tanggal 2013-11-13. • ^ a b c "Safety and health in agriculture". International Labour Organization. 21 March 2011. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ AP (26 January 2007). "Services sector overtakes farming as world's biggest employer: ILO".

The Financial Express. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ a b "Labor Force – By Occupation". The World Factbook. Central Intelligence Agency. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-22.

Diakses tanggal 2013-05-04. • ^ Allen, Robert C. "Economic structure and agricultural productivity in Europe, 1300–1800" (PDF). European Review of Economic History. 3: 1–25. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2014-10-27. Diakses tanggal 2013-11-13. • ^ "NIOSH Workplace Safety & Health Topic: Agricultural Injuries". Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ "NIOSH Pesticide Poisoning Monitoring Program Protects Farmworkers".

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ a b "NIOSH Workplace Safety & Health Topic: Agriculture". Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ "Agriculture: A hazardous work". International Labour Organization. 15 June 2009. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ "Analysis of farming systems". Food and Agriculture Organization. Diakses tanggal 2013-05-22. • ^ a b Acquaah, G. 2002. Agricultural Production Systems. pp. 283–317 in "Principles of Crop Production, Theories, Techniques and Technology".

Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ. • ^ a b c d e f Chrispeels, M.J.; Sadava, D.E. 1994. "Farming Systems: Development, Productivity, and Sustainability". pp. 25–57 in Plants, Genes, and Agriculture. Jones and Bartlett, Boston, MA. • ^ a b c Sere, C.; Steinfeld, H.; Groeneweld, J. (1995). "Description of Systems in World Livestock Systems – Current status issues and trends".

U.N. Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-10-26. Diakses tanggal 2013-09-08. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ a b Thornton, Philip K.

(27 September 2010). "Livestock production: recent trends, future prospects". Philosophical Transactions of the Royal Society B. 365 (1554). doi: 10.1098/rstb.2010.0134. • ^ Stier, Ken (September 19, 2007). "Fish Farming's Growing Dangers". Time. • ^ P.

Ajmone-Marsan (May 2010). "A global view of livestock biodiversity and conservation – GLOBALDIV". Animal Genetics. 41 (supplement S1): 1–5.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan 10.1111/j.1365-2052.2010.02036.x. • ^ "Growth Promoting Hormones Pose Health Risk to Consumers, Confirms EU Scientific Committee" (PDF). European Union. 23 April 2002.

Diakses tanggal 2013-04-06. • ^ a b Pretty, J; et al. (2000). "An assessment of the total external costs of UK agriculture". Agricultural Systems. 65 (2): 113–136. doi: 10.1016/S0308-521X(00)00031-7. • ^ a b Tegtmeier, E.M.; Duffy, M. (2005). "External Costs of Agricultural Production in the United States" (PDF).

The Earthscan Reader in Sustainable Agriculture. • ^ International Resource Panel (2010). "Priority products and materials: assessing the environmental impacts of consumption and production". United Nations Environment Programme. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-12-24.

Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ "Livestock a major threat to pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan. UN Food and Agriculture Organization. 29 November 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-03-28. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ Steinfeld, H.; Gerber, P.; Wassenaar, T.; Castel, V.; Rosales, M.; de Haan, C. (2006). "Livestock's Long Shadow – Environmental issues and options" (PDF).

Rome: U.N. Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2008-06-25. Diakses tanggal 5 December 2008. • ^ Vitousek, P.M.; Mooney, H.A.; Lubchenco, J.; Melillo, J.M. (1997). "Human Domination of Earth's Ecosystems".

Science. 277: 494–499. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Bai, Z.G., D.L. Dent, L. Olsson, and M.E. Schaepman (November 2008). "Global assessment of land degradation and improvement 1:identification by remote sensing" (PDF). FAO/ISRIC. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-12-13. Diakses tanggal 2013-05-24. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Carpenter, S.R., N.F. Caraco, D.L. Correll, R.W. Howarth, A.N. Sharpley, and V.H. Smith (1998). "Nonpoint Pollution of Surface Waters with Phosphorus and Nitrogen".

Ecological Applications. 8 (3): 559–568. doi: 10.1890/1051-0761(1998)008[0559:NPOSWW]2.0.CO;2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Molden, D.

(ed.). "Findings of the Comprehensive Assessment of Water Management in Agriculture". Annual Report 2006/2007. International Water Management Institute. Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ Li, Sophia (13 August 2012). "Stressed Aquifers Around the Globe". New York Times.

Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ "Water Use in Agriculture". FAO. November 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-06-15. Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ "Water Management: Towards 2030". FAO. March 2003. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-10. Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ Pimentel, D. T.W. Culliney, and T. Bashore (1996.). "Public health risks associated with pesticides and natural toxins in foods". Radcliffe's IPM World Textbook.

Diarsipkan pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan versi asli tanggal 1999-02-18. Diakses tanggal 2013-05-07. Periksa nilai tanggal di: -year= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ WHO. 1992. Our planet, our health: Report of the WHU commission on health and environment. Geneva: World Health Organization.

• ^ a b Chrispeels, M.J. and D.E. Sadava. 1994. "Strategies for Pest Control" pp.355–383 in Plants, Genes, and Agriculture. Jones and Bartlett, Boston, MA. • ^ Avery, D.T. (2000). Saving the Planet with Pesticides and Plastic: The Environmental Triumph of High-Yield Farming.

Indianapolis, IN: Hudson Institute. • ^ "Home". Center for Global Food Issues. Diakses tanggal 2013-05-24. • ^ Lappe, F.M., J. Collins, and P. Rosset. 1998. "Myth 4: Food vs. Our Environment" pp. 42–57 in World Hunger, Twelve Myths, Grove Press, New York. • ^ Harvey, Fiona (18 November 2011). "Extreme weather will strike as climate change takes hold, IPCC warns". The Guardian. • ^ "Report: Blue Peace for the Nile" (PDF).

Strategic Foresight Group. Diakses tanggal 2013-08-20. • ^ "World: Pessimism about future grows in agribusiness". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-11-10. Diakses tanggal 2013-11-17. • ^ "SREX: Lessons for the agricultural sector". Climate & Development Knowledge Network.

Diakses tanggal 2013-05-24. • ^ a b Brady, N.C. and R.R. Weil. 2002. "Soil Organic Matter" pp. 353–385 in Elements of the Nature and Properties of Soils. Pearson Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ. • ^ Brady, N.C. and R.R. Weil. 2002. "Nitrogen and Sulfur Economy of Soils" pp. 386–421 in Elements of the Nature and Properties of Soils. Pearson Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ. • ^ " World oil supplies are set to run out faster than expected, warn scientists".

The Independent. 14 June 2007. • ^ Robert W. Herdt (30 May 1997). "The Future of the Green Revolution: Implications for International Grain Markets" (PDF). The Rockefeller Foundation. hlm.

2. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2012-10-19. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ a b c Schnepf, Randy (19 November 2004). "Energy use in Agriculture: Background and Issues" (PDF). CRS Report for Congress. Congressional Research Service. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-09-27. Diakses tanggal 2013-09-26.

• ^ Rebecca White (2007). "Carbon governance from a systems perspective: an investigation of food production and consumption in the UK" (PDF). Oxford University Center for the Environment. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2011-07-19.

Diakses tanggal 2013-11-17. • ^ a b Martin Heller and Gregory Keoleian (2000). "Life Cycle-Based Sustainability Indicators for Assessment of the U.S. Food System" (PDF). University of Michigan Center for Sustainable Food Systems. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2016-03-14. Diakses tanggal 2013-11-17. • ^ a b Patrick Canning, Ainsley Charles, Sonya Huang, Karen R.

Polenske, and Arnold Waters (2010). "Energy Use in the U.S. Food System". USDA Economic Research Service Report No. ERR-94. United States Department of Agriculture. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-09-18. Diakses tanggal 2013-11-17. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Wallgren, Christine; Höjer, Mattias (2009). "Eating energy—Identifying possibilities for reduced energy use in the future food supply system".

Energy Policy. 37 (12): 5803–5813. doi: 10.1016/j.enpol.2009.08.046. ISSN 0301-4215. • ^ Jeremy Woods, Adrian Williams, John K. Hughes, Mairi Black and Richard Murphy (August 2010). "Energy and the food system". Philosophical Transactions of the Royal Society. 365 (1554): 2991–3006. doi: 10.1098/rstb.2010.0172. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Smith, Kate; Edwards, Rob (8 March 2008). "2008: The year of global food crisis".

The Herald. Glasgow. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ "The global grain bubble". The Christian Science Monitor. 18 January 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-11-30. Diakses tanggal 2013-09-26. • ^ "The cost of food: Facts and figures". BBC News Online.

16 October 2008. Diakses tanggal 2013-09-26. • ^ Walt, Vivienne (27 February 2008). "The World's Growing Food-Price Crisis". Time. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-29. Diakses tanggal 2013-11-17. • ^ "World oil supplies are set to run out faster than expected, warn scientists". The Independent.

14 June 2007. • ^ a b "Can Sustainable Agriculture Really Feed the World?". University of Minnesota. August 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-04-25. Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ "Cuban Organic Farming Experiment".

Harvard School of Public Health. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-01. Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ Strochlic, R.; Sierra, L. (2007). "Conventional, Mixed, and "Deregistered" Organic Farmers: Entry Barriers and Reasons for Exiting Organic Production in California" (PDF). California Institute for Rural Studies. Diakses tanggal 2013-04-15. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ P.

Read (2005). "Carbon cycle management with increased photo-synthesis and long-term sinks" (PDF). Geophysical Research Abstracts. 7: 11082. • ^ Greene, Nathanael (December 2004).

"How biofuels can help end America's energy dependence". Biotechnology Industry Organization. • ^ R. Pillarisetti and Kylie Radel (2004). "Economic and Environmental Issues in International Trade and Production of Genetically Modified Foods and Crops and the WTO". 19 (2). Journal of Economic Integration: 332–352. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Conway, G. (2000). "Genetically modified crops: risks and promise". 4(1): 2. Conservation Ecology. • ^ Srinivas (2008).

"Reviewing The Methodologies For Sustainable Living". 7. The Electronic Journal of Environmental, Agricultural and Food Chemistry. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Monsanto failure". New Scientist. 181 (2433). London. 7 February 2004. Diakses tanggal 18 April 2008. • ^ "Agricultural Economics".

University of Idaho. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-04-01. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ Runge, C. Ford (June 2006). "Agricultural Economics: A Brief Intellectual History" (PDF). Center for International Food and Agriculture Policy. hlm. 4. Diakses tanggal 2013-09-16.

• ^ Conrad, David E. "Tenant Farming and Sharecropping". Encyclopedia of Oklahoma History and Culture. Oklahoma Historical Society. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-27.

Diakses tanggal 2013-09-16. • ^ Stokstad, Marilyn (2005). Medieval Castles. Greenwood Publishing Group. ISBN 0313325251. • ^ Sexton, R.J. (2000). "Industrialization and Consolidation in the US Food Sector: Implications for Competition and Welfare". American Journal of Agricultural Economics. 82 (5): 1087–1104. doi: 10.1111/0002-9092.00106. • ^ Novalius, Feby (8 Januari 2019). "Digitalisasi Pertanian Mampu Tingkatkan Produksi hingga Tekan Biaya Pemasaran". Okezone. Diakses tanggal 12 Oktober 2020.

• ^ Peter J. Lloyd, Johanna L. Croser, Kym Anderson (March 2009). "How Do Agricultural Policy Restrictions to Global Trade and Welfare Differ Across Commodities" (PDF). Policy Research Working Paper #4864.

The World Bank. hlm. 2–3. Diakses tanggal 2013-04-16. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Kym Anderson and Ernesto Valenzuela (April 2006). "Do Global Trade Distortions Still Harm Developing Country Farmers?" (PDF). World Bank Policy Research Working Paper 3901. World Bank. hlm. 1–2.

Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ Peter J. Lloyd, Johanna L. Croser, Kym Anderson (March 2009). "How Do Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan Policy Restrictions to Global Trade and Welfare Differ Across Commodities" (PDF). Policy Research Working Paper #4864. The World Bank. hlm. 21. Diakses tanggal 2013-04-16. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Glenys Kinnock (24 May 2011).

"America's $24bn subsidy damages developing world cotton farmers". The Guardian. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ "Agriculture's Bounty" (PDF). May 2013. Diakses tanggal 2013-08-19.

Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Agriculture. • (Indonesia) Departemen Pertanian Republik Indonesia Diarsipkan 2007-02-03 pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan Wayback Machine. • (Inggris) Organisasi Pangan dan Pertanian PBB • (Inggris) Departemen Pertanian AS Diarsipkan 2008-07-08 di Wayback Machine.

• Halaman ini terakhir diubah pada 28 Februari 2022, pukul 01.27. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
DAMPAK YANG DITIMBULKAN Perlunya dilakukan studi AMDAL sebelum usaha dilakukan mengingat kegiatan-kegiatan investasi pada umumnya akan mengubah lingkungan hidup.

Oleh karena itu, menjadi penting untuk memerhatikan komponen-komponen lingkungan hidup sebelum investasi dilakukan. Adapun komponen lingkungan hidup yang harus dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya, antara lain: 1. Hutan lindung, hutan konservasi, dan cagar biosfer. 2. Sumber daya manusia. 3. Keanekaragaman hayati.

4. Kualitas udara. 5. Warisan alam dan warisan udara. 6. Kenyamanan lingkungan hidup. 7. Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup.

Kemudian, komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan penting bagi masyarakat disekitar suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, seperti antara lain: 1. Kepemilikan dan penguasaan lahan 2.

Kesempatan kerja dan usaha 3. Taraf hidup masyarakat 4. Kesehatan masyarakat Berikut ini dampak negatif yang mungkin akan timbul, jika tidak dilakukan AMDAL secara baik dan benar adalah sebagai berikut: 1.

Terhadap tanah dan kehutanan a. Menjadi tidak subur atau tandus. b. Berkurang jumlahnya. c. Terjadi erosi atau bahkan banjir. d. Tailing bekas pembuangan hasil pertambangan akan merusak aliran sungai berikut hewan dan tumbuhan yang ada disekitarnya. e. Pembabatan hutan yang tidak terencana akan merusak hutan sebagai sumber resapan air. f. Punahnya keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, akibat rusaknya hutan alam yang terkena dampak dengan adanya proyek/usaha.

2. Terhadap air a. Mengubah warna sehingga tidak dapat digunakan lagi untuk keperluan sehari-hari. b. Berubah rasa sehingga berbahaya untuk diminum karena mungkin mengandung zat-zat yang berbahaya. c. Berbau busuk atau menyengat. d. Mengering sehingga air disekitar lokasi menjadi berkurang.

e. Matinya binatang air dan tanaman disekitar lokasi akibat dari air yang berubah warna dan rasa. f. Menimbulkan berbagai penyakit akibat pencemaran terhadap air bila dikonsumsi untuk keperluan sehari-hari. 3. Terhadap udara a. Udara disekitar lokasi menjadi berdebu b. Dapat menimbulkan radiasi-radiasi yang tidak dapat dilihat oleh mata seperti proyek bahan kimia.

c. Dapat menimbulkan suara bising apabila ada proyek perbengkelan. d. Menimbulkan aroma tidak sedap apabila ada usaha peternakan atau industri makanan. e. Dapat menimbulkan suhu udara menjadi panas, akibat daripada keluaran industri tertentu. 4. a. Akan menimbulkan berbagai penyakit terhadap karyawan dan masyarakat sekitar. b. Berubahnya budaya dan perilaku masyarakat sekitar lokasi akibat berubahnya struktur penduduk. c. Rusaknya adat istiadat masyarakat setempat, seiring dengan perubahan perkembangan didaerah tersebut.

Alternatif penyelesaian yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak diatas adalah sebagai berikut: 1. Terhadap tanah a. Melakukan rehabilitasi. b. Melakukan pengurukan atau penimbunan terhadap berbagai penggalian yang menyebabkan tanah menjadi berlubang. 2. Terhadap air a. Memasang filter/saringan air. b. Memberikan semacam obat untuk menetralisir air yang tercemar. c. Membuat saluran pembuangan yang teratur ke daerah tertentu. 3. Terhadap udara a. Memasang alat kedap suara untuk mencegah suara bising.

b. Memasang saringan udara untuk menghindari asap dan debu. 4. Terhadap karyawan a. Menggunakan peralatan pengaman. b. Diberikan asuransi jiwa dan kesehatan kepada setiap pekerja c. Menyediakan tempat kesehatan untuk pegawai perusahaan yang terlibat. 5. Terhadap masyarakat sekitar a. Menyediakan tempat kesehatan secara gratis kepada masyarakat. b. Memindahkan masyarakat ke lokasi yang lebih aman.

TUJUAN DAN KEGUNAAN STUDI AMDAL Tujuan AMDAL adalah menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam rangka mencapai tujuan studi AMDAL: 1. Mengidentifikasi semua rencana pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan yang akan dilaksanakan 2.

Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. 3. Memperkirakan dan mengevaluasi rencana usaha yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 4. Merumuskan RKL dan RPL. Kegunaan dilaksanakannya studi AMDAL: 1. Sebagai bahan bagi perencana dan pengelola usaha dan pembangunan wilayah. 2. Membantu proses pengambilan. 3. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari rencana usaha. 4. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha.

5. Memberi informasi kepada masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha. Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beranekaragam dalam bentuk, ukuran, tujuan, dan sasaran. Rona lingkungan hidup juga berbeda menurut letak geografi, keanekaragaman faktor lingkungan hidup, dan pengaruh manusia. Karena itu kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan sesuai dengan rona lingkungan yang ada.

Hal-hal yang perlu dicermati dalam rona lingkungan hidup adalah: 1. Wilayah studi rencana usaha. 2. Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai SDA yang ada di wilayah studi rencana usaha. Berikut ini beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang bisa dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam KA-AMDAL: Fisik Kimia Komponen fisik kimia yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1.

Iklim, kualitas udara, dan kebisingan a. Komponen iklim meliputi tipe iklim, suhu, kelembaban curah hujan dan jumlah air hujan, keadaan angin, serta intensitas radiasi matahari. b. Data pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan bencana, seperti sering terjadi angin ribut, banjir bandang diwilayah studi rencana usaha. c. Data yang tersedia dari stasiun meteorologi dan geofisika yang mewakili wilayah studi tersebut.

d. Pola iklim mikro pola penyebaran bahan pencemar udara secara umum maupun pada kondisi cuaca buruk. e.

Kualitas udara baik pada sumber maupun daerah sekitar wilayah studi rencana usaha.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

f. Sumber kebisingan dan getaran, tingkat kebisingan serta periode kejadiannya. 2. Fisiografis a. Topografi bentuk lahan (morfologi) struktur geologi dan jenis tanah. b. Indikator lingkungan hidup yang berhubungan dengan stabilitas tanah. c. Keunikan, keistimewaan, dan kerawanan bentuk-bentuk lahan dan bantuan secara geologis. 3. Hidrologi a.

Karakteristik fisik sungai, danau, dan rawa. b. Rata-rata debit dekade, bulan, tahunan, atau lainnya. c. Kadar sedimentasi (lumpur) tingkat erosi. d. Kondisi fisik daerah resapan air, permukaan dan air tanah. e. Fluktuasi, potensi, dan kualitas air tanah. f. Tingkat penyediaan dan kebutuhan pemanfaatan air untuk keperluan sehari-hari dan industri.

g. Kualitas fisik kimia dam mikrobiologi air mengacu pada mutu dan parameter kualitas air yang terkait dengan limbah yang akan keluar. 4. Hidrooseanografi Pola hidrodinamika kelautan seperti: a. Pasang surut b. Arus dan gelombang c. Morfologi pantai d. Abrasi dan akresi serta pola sedimentasi yang terjadi secara alami di daerah penelitian. 5. Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan, lahan, dan tanah a. Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya pada saat rencana usaha yang diajukan dan kemungkinan potensi pengembangan dimasa datang.

b. Rencana tata guna tanah dan SDA lainnya yang secara resmi atau belum resmi disusun oleh pemerintah setempat. c. Kemungkinan adanya konflik yang timbul antara rencana tata guna tanah dan SDA lainnya yang sekarang berlaku dengan adanya pemilikan atau penentuan lokasi bagi rencana usaha.

d. Inventarisasi estetika dan keindahan bentang alam serta daerah rekreasi yang ada diwilayah studi rencana usaha. Bilologi Pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan biologi yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1. Flora a. Peta zona biogeoklimati dari vegetasi yang berada diwilayah studi rencana usaha. b. Jenis-jenis dan keunikan vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang yang berada dalam wilayah studi rencana usaha.

2. Fauna a. Taksiran kelimpahan fauna dan habitatnya yang dilindungi undang-undang dalam wilayah studi rencana usaha. b. Taksiran penyebaran dan kepadatan populasi hewan invertebrata yang dianggap penting karena memiliki peranan dan potensi sebagai bahan makanan atau sumber hama dan penyakit. c. Perikehidupan hewan penting diatas termasuk cara perkembangbiakan dan cara memelihara anaknya perilaku dalam daerah teritorinya.

Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1. Demografi a. Struktur penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin, mata pencaharian, pendidikan, dan agama. b. Tingkat kepadatan penduduk. c. Pertumbuhan (tingkat kelahiran dan kematian bayi).

d. Tenaga kerja. 2. Ekonomi a. Ekonomi rumah tangga. b. Ekonomi sumber daya alam. c. Perekonomian lokal dan regional. 3. Budaya a. Kebudayaan.

pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan

b. Proses sosial. c. Pranata sosial/kelembagaan masyarakat dibidang ekonomi. d. Warisan budaya. e. Pelapisan soasial berdasarkan pendidikan, ekonomi, pekerjaan, dan kekuasaan. f. Kekuasaan dan kewenangan. g. Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha. h. Adaptasi ekologis. 4. Kesehatan masyarakat a. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan.

b. Proses dan potensi terjadinya pemajanan. c. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit. d. Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko. e. Sumber daya kesehatan. f. Kondisi sanitasi lingkungan.

g. Status gizi masyarakat. h. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit. PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dampak besar dan terpenting dalam studi AMDAL menurut pedoman penyusunan AMDAL hendaknya dimuat hal-hal sebagai berikut: 1. Prakiraan secara dampak usaha pada saat prakonstruksi, konstruksi operasi, dan pascaoperasi terhadap lingkungan hidup. 2. Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup bagi masyarakat diwilayah studi rencana usaha dan pemerintahan dengan mengacu pada pedoman penentuan dampak.

3. Dalam melakukan telaah butir 1 & 2 tersebut diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan tidak langsung. 4. Mengingat usaha atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha maka telaahan dilakukan untuk masing-masing alternatif. 5. Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metode-metode formal secara sistematis.

REZKY Search Recent Posts • Vibration and autocad • Matlab dan beberapa software aplikasi pada teknik mesin • persatuan insinyur pemanfaatan lahan untuk industri peternakan dan dan standar internasional • Etika Profesi • UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN YANG MENGATUR PELAKSANAAN K3 Archives • May 2016 • March 2016 • November 2015 • October 2015 • April 2015 • January 2015 • November 2014 • October 2014 • June 2014 • May 2014 • April 2014 • March 2014 • January 2014 • December 2013 • November 2013 • June 2013 • November 2012 • October 2012 Categories • Uncategorized Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com tugas softskill • Uncategorized you follow me, i’m follow back • @ InfoBalikpapan @ Berryalmarta di daerah balikpapan manaa??

6 years ago • @ InfoRossoneri 😄 # forzamilan 6 years ago • @ InfoRossoneri 😄 6 years ago • @ MilanWebID stream buat android donkk min makasihh☺ 6 years ago • @ SerieA_Lawas inter 0 vs 6 milan 6 years ago

Pemanfaatan Lahan Untuk Tani Dan Ternak




2022 www.videocon.com