Apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Terdapat beberapa aspek-aspek keterampilan berbicara anak usia dini. Untuk mengembangkan keterampilan berbicara apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara beberapa aspek kegiatan keterampilan bebicara. Kemampuan berbahasa anak harus dioptimalkan diberdasarkan aspek yang mendukung peningkatan keterampilan berbicara. Dalam pengoptimalkan keterampilan berbicara perlu instrumen untuk mengamati perkembangan anak usia dini atau TK, mengacu pada indikator yang ingin dikembangkan.

Menurut Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009) kemampuan mengucapkan, penguasaan kosakata dan pengenalan kalimat sederhana perlu dikembangkan instrumen untuk menilai, sehingga tampak jelas mengenai tingkat kemampuan bahasa anak. Sedangkan Suhartono (2005) aspek yang dapat dilakukan dengan merangsang minat keterampilan berbicara, latihan menggabungkan bunyi bahasa, memperkaya perbedaharaan kata, mengenalkan kalimat melalui cerita dan nyayian, dan mengenalkan lambang tulisan.

Dari pendapat Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009) dan Suhartono (2005) dapat diambil beberapa poin untuk mewakili penilaian perkembangan keterampilan berbicara anak antara lain: • Minat anak berbicara • Kaya kata (kosakata) • Pengucapan lafal • Pengenalan kalimat sederhana yang diuraikan sebagai berikut: Minat anak berbicara Menurut Suhartono (2005) merangsang minat anak untuk berbicara dimaksudkan supaya anak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan ide, gagasan, pendapat, keinginan, apa yang ada dalam pikirannya sesuai dengan kegiatan sehari-hari.

Tadkiroatun Musfiroh (2005: 7-8) Hal yang seharusya dilakukan oleh pengasuh ketika anak diam berceritalah, ketika anak bercerita simaklah, ketika anak bertanya jawablah, ketika anak menjawab dukunglah dengan pujian, kalimat penyemangat. Syarat yang lebih penting lagi adalah pendengaran yang baik untuk menangkap berbagai jenis nada bicara. Kata “kosakata” merupakan gabungan dari kosa dan kata. Kosa berasal dari bahasa sansekerta dan berarti kekayaan Sri Hastuti (1993).

Kata merupakan unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudkan kesatuan perasaan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.

Kosakata adalah perbedaharaan kata, tidak berbeda didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 462 tertulis bahwa kosakat ialah apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara kata (vokabuler). Dapat disimpulkan bahwa kosakata adalah kekayaan unsur bahasa yang diucapkan atau ditulis yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.

Dalam mengembangkan kosakata, anak harus belajar mengaitkan arti dengan bunyi Elizabeth B. Hurlock (1978). Karena banyak kata yang memiliki arti yang lebih dari satu dan karena sebagian bunyinya hampir sama, tetapi arti yang berbeda. Oleh karena itu membangun kosakata jauh lebih sulit dari pada mengucapkannya. Suhartono (2005) usaha untuk memperkaya perbedaharaan kata sangat diperlukan agar anak mempunyai wawasan yang lebih luas, sehingga anak makin lancar berbicara.

Kegiatan memperkaya perbedaharaan kata anak dapat dilakukan dengan meyebutkan benda-benda disekitarnya, misalnya menyebutkan nama-nama binatang, nama hari, nama anggota badan. Menurut Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009) berpendapat bahwa tingkat kemampuan berbahasa seseorang, sangat dipengaruhi oleh seringnya kata- kata diucapkan kepada anak sejak dini secara berulang-ulang, yang selalu didengar dari lingkungannya.

Kata-kata yang diucapkan oleh anak secara berulang-ulang akan berpengaruh pada kemampuan bahasa anak, seperti yang dikatakan oleh Bunnett (Harun Rasyid, Mansyur & Suratno, 2009) bahwa kata-kata yang diterima anak akan diulang dan diingat terus, sehingga mereka akan menjadi matang atau benar dalam mengucapkan kata-kata tersebut.

Bagi anak usia dini dan Taman Kanak-kanak kemampuan membuat kalimat sederhana merupakan subtansi pengembangan bahasa, sebagai hasil dari akuisisi literasi yang bertalian dengan kebahasaan yang mereka peroleh dari interaksi dengan lingkungan dimana dia berada Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009).

Untuk mengekspresikan gagasan dalam bentuk bahasa, anak perlu menguasai sejumlah kata, lalu menyusunnya menjadi satuan-satuan yang disebut kalimat.

Untuk dapat menyusun kata-kata menjadi kalimat, orang (termasuk anak) harus menguasai kaidah penyusunan kata-kata dan pemilihan bentu kata (Sri Hastuti, 1993). Dengan kata lain, untuk dapat berbahasa, anak harus menguasai kosa kata dan kaidah tata bahasa. Suhartono (2005) menyusun kalimat dapat dilakukan dengan pengenalan bentuk kalimat melalui cerita dan bernyanyi.

Dalam cerita ada kalimat sederhana yang diperkenalkan pada anak sehingga anak akan mampu menangkap dan menyesuaikan diri dalam berkalimat. Sedangkan untuk bernyanyi dapat pada baris-baris atau pengalan-pengalan lagu diumpamakan sebagai kalimat.

Yang paling penting untuk guru adalah memberikan latihan keterampilan berbicara sesuai dengan kondisi lingkungan anak dan lingkungan TK. Pada prinsipnya ujian keterampilan berbicara memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara, bukan menulis, maka penilaian keterampilan berbicara lebih ditekankan pada praktik berbicara.Untuk mengetahui keberhasilan suatu kegiatan tertentu perlu ada penilaian.

Penilaian yang dilakukan hendaknya ditujukan pada usaha perbaikan prestasi siswa sehingga menumbuhkan motivasi pada pelajaran berikutnya. Penilaian kemampuan berbicara dalam pengajaran berbahasa berdasarkan pada dua faktor, yaitu faktor kebahasaan dan nonkebahasaan.

Faktor kebahasaan meliputi lafal, kosakata, dan struktur sedangkan faktor nonkebahasaan meliputi materi, kelancaran dan gaya [1]. Dalam mengevaluasi keterampilan berbicara seseorang pada prinsipnya harus memperhatikan lima faktor, yaitu: a) Apakah bunyi-bunyi tersendiri (vokal atau konsonan) diucapkan dengan tepat?; b) Apakah pola-pola intonasi, naik dan turunnya suara serta rekaman suku kata memuaskan?; c) Apakah ketepatan ucapan mencerminkan bahwa sang pembicara tanpa referensi internall memahami bahasa yang digunakan?; d) Apakah kata-kata yang diucapkan itu dalam bentuk dan urutan yang tepat?; e) Sejauh manakah “kewajaran” dan “kelancaran” ataupun “kenative-speaker-an” yang tecermin bila sesorang berbicara?

Berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan bahasa setelah mendengarkan.

Berdasarkan bunyi-bunyi (bahasa) yang didengarnya itulah kemudian manusia belajar mengucapkan dan akhirnya mampu untuk berbicara. Untuk dapat berbicara dalam suatu bahasa secara baik, pembicara harus menguasai lafal, struktur, dan kosakata yang bersangkutan.

[2] Di samping itu, diperlukan juga penguasaan masalah dan atau gagasan yang akan disampaikan, serta kemampuan memahai bahasa lawan bicara. Dalam kegiatan berbicara diperlukan penguasaan terhadap lambang bunyi baik untuk keperluan menyampaikan maupun menerima gagasan.

Lambang yang berupa tanda-tanda visual seperti yang dibutuhkan dalam kegiatan membaca dan menulis tidak diperlukan. Itulah sebabnya orang yang buta huruf pun dapat melakukan aktivitas berbicara secara baik, misalnya para penutur asli. Penutur yang demikian mungkin bahkan tidak menyadari kompetensi kebahasaannya, tidak “mengerti” sistem bahasanya sendiri. Kenyataan itu sekali lagi membuktikan bahwa peguasaan bahasa lisan lebih fungsional dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, kemampuan berbicara seharusnyalah mendapat perhatian yang cukup dalam pembelajaran bahasa dan tes kemampuan berbahasa. Dalam situasi yang normal, orang melakukan kegiatan berbicara dengan motivasi ingin menemukan sesuatu kepada orang lain, atau karena ingin memberikan reaksi terhadap sesuatu yang didengarnya.

Pembicaraan dalam situasi yang demikian, kejelasan penuturan tidak semata-mata ditentukan oleh ketepatan bahasa (verbal) yang dipergunakan saja, melainkan amanat dibantu oleh unsur-unsur paralinguistik seperti gerak-gerakan tertentu, ekspresi wajah, nada suara, dan sebagainya, suatu hal yang tidak ditemui dalam komunitas tertulis.

Situasi pembicaraan (serius, santai, wajar, tertekan) dalam banyak hal juga akan memengaruhi keadaan dan kelancaran pembicaraan. Hal lain yang mempengaruhi keadaan pembicaraan adalah masalah apa yang menjadi topik pembicaraan dan lawan bicara. Kedua hal tersebut merupakan hal yang esensial, dan karenanya harus diperhitungkan dalam tes kemampuan berbicara peserta didik dalam suatu bahasa (Oller: 1979:305).

[3] Atau paling tidak, tes berbicara hendaknya mampu mencerminkan apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara yang menghadirkan kedua faktor tersebut.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Tes apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara berbicara yang memertimbangkan faktor-faktor tersebut, dan karenanya pembicaraan mendekati situasi yang normal, boleh dikatakan telah memenuhi harapan tes pragmatik dan bermakna sebagaimana tuntutan tes otentik.

Di bawah ini akan dicontohkan berbagai bentuk tes kompetensi berbicara. Akan tetapi, tugas-tugas tes yang ditekankan pada tugas-tugas pragmatik atau otentik, sedang tugas-tugas yang bersifat disket atau mungkin integratif sengaja ditinggalkan. Tugas-tugas tes pragmatik atau otentik menghendaki peserta didik telah menguasai tahap elementer dalam suatu bahasa, atau paling tidak sudah dapat memergunakan bahasa itu untuk aktivitas berbicara.

Tugas berbicara otentik dimaksudkan sebagai tes berbicara yang memenuhi kriteria asessmen otentik. Hal ini perlu dikemukakan kembali karena pada kenyataan praktik pemberian tugas berbicara di sekolah belum tentu berkadar otentik. Misalnya, pembelajaran pelafalan ( pronunciation) dalam bahasa target yang melatih ketepatan pelafalan peserta didik, pengucapan kata, apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara kata, pola dan tekanan kalimat, dan lain-lain.

Kegiatan tersebut penting dalam penguasaan bahasa target, dan bahkan menjadi prasyarat kompetensi berbahasa lisan, namun berkadar otentik. Tugas-tugas semacam itu dalam sudut pandang pendekatan komunikatif dikenal sebagai tugas prakomunikatif. Dalam tugas berbicara otentik terdapat dua hal pokok yang tidak boleh dihilangkan, yaitu benar-benar tampil berbicara (kinerja bahasa) dan isi pembicaraan mencerminkan kebutuhan realitas kehidupan (bermakna).

[4] Jadi, dalam assesmen otentik peserta didik tidak sekedar ditugasi untuk berbicara, berbicara dalam arti sekedar praktik memergunakan bahasa secara lisan, melainkan juga menyangkut isi pesan yag dijadikan bahan pembicaraan.

Dalam kebutuhan sehari-hari, misalnya di kantor atau di dunia pekerjaan, orang terlibat pembicaraan pasti karena ada sesuatu yang perlu dibicarakan dan bukan berbicara sekedar praktik berbahasa. Hal inilah yang kemudian diangkat dalam asesmen otentik kompetensi berbahasa lisan: berbicara dalam konteks yang jelas.

Konteks menunju pada berbagai faktor penentu: siapa yang berbicara, situasi pembicaraan, isi dan tujuan pembicaraan, dan lain-lain. Tugas berbicara sebagai bentuk asesmen otentik harus berupa tugas-tugas yang ditemukan dan dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Jadi, tugas berbicara otentik mengambil model aktivitas bentuk-bentuk berbicara sehari-hari sehingga kompetensi yang dikuasai peserta didik bersifat aplikatif.

Orang berbicara karena ingin menyampaikan sesuatu lewat bahasa, maka penggunaan bahasa yang benar adalah yang sesuai dengan konteks penggunaan. Jadi, pada intinya ketepatan bahasa dalam berbahasa lisan dilihat dari ketepatan bahasa yang dipakai dan kejelasan komunikasi yang dituturkan dalam konteks pembicaraan yang jelas. Untuk itu, tugas-tugas berbicara yang dipilih untuk mengukur kompetensi berbahasa lisan peserta didik haruslah yang memungkinkan peserta didik mengungkapkan keduanya: berunjuk kerja bahasa untuk menyampaikan informasi.

Ada banyak bentuk tugas yang dapat diberikan kepada peserta didik untuk mengukur kompetensi berbicaranya dalam bahasa target. Apapun bentuk tugas yang dipilih haruslah yang memungkinkan peserta didik untuk tidak saja mengekspresikan kemampuan berbahasanya, melainan juga mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, atau menyampaikan informasi.

Dengan demikian, tes tersebut bersifat fungsional, disamping dapat juga mengungkap kemampuan peserta didik berbicara dalam bahasa yang bersangkutan mendekati pemakaiannya secara normal. Selain itu, pemberian tugas hendaklah juga dilakukan dengan cara yang menarik menyenangkan agar peserta uji tidak merasa tertekan dan dapat mengungkapkan kompetensi berbahasanya secara normal dan maksimal.

Untuk mengungkapkan kemampuan berbicara pembelajar dalam suatu bahasa, gambar dapat dijadikan rangsang pembicaraan yang baik. Rangsang yang berupa gambar sangat baik untuk dipergunakan anak-anak usia sekolah dasar ataupun pembelajar bahasa asing pada tahap awal.

Akan tetapi, rangsang gambarpun dapat pula dipergunakan pada pembelajar yang kemampuan berbahasanya telah (lebih) tinggi tergantung pada keadaan gambar yang dipergunakan itu sendiri.

Burt dkk (Oller, 1979:47-48, 304-314) menyusun gambar-gambar menarik yang dimaksudkan untuk mengungkap kemampuan berbicara peserta didik yang potensial untuk tes yang berkadar pragmatik.

Gambar yang dimaksud kemudian disebutnya sebagai the Bilingual Syntax measure. Rangsang gambar yang dapat dipakai sebagai rangsang berbicara dapat dikelompokkan ke dalam gambar objek dan gambar cerita. Gambar objek merupakan gambar tentang objek tertentu yang berdiri sendiri seperti binatang, kendaraan, pakaian, alam dan berbagai objek yang lain yang kehadirannya tidak memerlukan bantuan objek gambar lain.

Gambar cerita adalah gambar susun yang terdiri dari sejumlah panel gambar yang saling berkaitan yang secara keseluruhan membentuk sebuah cerita. Gambar objek adalah gambar yang masing-masing memiliki nama satu kata dan merupakan gambar-gambar lepas yang antara satu dengan yang lain kurang ada kaitannya. Gambar objek dapat dijadikan rangsang berbicara unuk peserta didik tingkat awal, misalnya taman kanak-kanak, atau pembelajar bahasa asing tingkat pemula yang masih dalam tahap melancarkan lafal bahasa dan memahami makna kata.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Gambar-gambar tersebut contohnya sebagai berikut. Untuk maksud mengungkap kemampuan berbicara, misalnya, peserta didik diminta untuk menyebutkan, menemukan nama-nama gambar objek tersebut, atau bahkan merangkai kalimat berdasarkan gambar. Misalnya, kita mengajukan pertanyaan seperti “gambar apakah ini?”, “bukankah ini gambar katak?”, “kalau ke luar negeri kita naik apa agar cepat?”, dan sebagainya.

Namun, sebenarnya tugas peserta didik yang sekedar menyebutkan atau menemukan nama-nama gambar tersebut tidak alamiah, tidak wajar, peserta didik sudah tahu jawabannya, karena tidak pragmatik, tidak otentik.

Tugas yang dilakukan dengan gambar tersebut tidak bermakna karena tidak berada dalam kaitannya dengan situasi konteks. Tugas seperti di atas tidak memaksa peserta didik untuk menunjukkan kemampuan berbicaranya, apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara yang menyangkut ketepatan aspek linguistik maupun unsur ekstraliguistik.

Oleh karena itu, penggunaan media tersebut untuk maksud merangsang berbicara peserta didik sebaiknya dibatasi. Gambar cerita adalah rangkaian apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara yang membentuk sebuah cerita. Ia mirip komik, atau mirip buku gambar tanpa kata ( wordless picture books), yaitu buku-buku apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara cerita yang alur ceritanya disajikan lewat gambar-gambar,atau gambar-gambar itu sendiri menghadirkan cerita.

Kalaupun dalam gambar-gambar itu disertai kata-kata, bahasa verbal tersebut sangat terbatas. Gambar cerita atau buku gambar tanpa kata bervariasi tingkat kompleksitasnya dari yang sederhana dan mudah dikenali sequensialnya sampai yang abstrak.

Dilihat dari sifat alamiah gambar cerita tersebut, ia terlihat potensial untuk dijadikan bahan rangsang berbicara. Gambar cerita berisi suatu aktivitas, mencerminkan maksud atau gagasan tertentu, bermakna, dan menunjukkan situasi konteks tertentu. Untuk menunjukkan urutan gambar, panel-panel gambar tersebut dapat diberi nomor urut, namun dapat pula tanpa nomor agar peserta didik menemukan logika urutannya sendiri. Jadi, pada intinya gambar cerita itu sudah menunjukkan makna tertentu.

Maka, tugas berbicara berdasarkan rangsang gambar cerita tidak lain adalah tugas menceritakan makna gambar itu atau menjawab pertanyaan yang terkait. Tugas-tugas pragmatik atau otentik yang diberikan kepada peserta didik untuk berbicara berdasarkan gambar-gambar yang disediakan tersebut dapat dengan cara-cara sebagai berikut; Pertama, Pemberian pertanyaan secara terbuka untuk dijawab semua peserta didik termasuk asesmen otentik.

Namun pertanyaan yang diajukan harus yang menuntut mereka berpikir tingkat tinggi dan bukan sekedar pertanyaan hafalan atau menagih fakta dan konsep. Berdasarkan gambar-gambar yang disediakan, misalnya seperti dalam gambar di atas, kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pragmatis.

Pertanyaan yang dimaksud hendaklah yang memungkinkan peserta didik mengungkapkan kemampuan berbahasa dan pemahaman terhadap kandungan makna gambar. Untuk gambar cerita di atas, misalnya kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: a) Mengapa pemburu memanjat pohon dengan ketakutan?; b) Bagaimana sikap kera demi melihat pemburu yang ketakutan?; c) Bagaimanakah karakter pemburu yang justru menembak kera?; d) Mengapa harimau yang semula mengejar pemburu kini datang lagi?

Sekali lagi, perlu dicatat bahwa tidak semua pertanyaan yang diajukan pasti berupa tugas pragmatik. Pertanyaan yang dimaksud adalah yang dengan mudah dijawab karena memang hanya itu jawabannya. Misalnya pertanyaan yang dimulai dengan kata “siapa”. Siapa yang mengejar pemburu?, siapa yang menolog pemburu?, yang jawabannya telah jelas, yaitu harimau dan kera.

Jawaban peserta didik terhadap pertanyaan-pertanyaan pragmatis di atas dimungkinkan sekali berbda-beda. Untuk itu perlu ditentukan kinerja jawaban yang tepat dan yang sebaiknya. Oller (197:313) mengemukakan bahwa penilaian dapat dilakukan secara terpisah, yaitu dari segi ketepatan (struktur) bahasa dan kelayakan konteks. Namun, ia menambahkan bahwa kelayakan konteks haruslah mendapat penekanan.

KeduaBercerita dimana pertanyaan-pertanyaan yang disajkan di atas hanya menuntut peserta didik untuk memberikan jawaban yang sesuai yang biasanya hanya terdiri dari satu kalimat. Pertanyaan-pertanyaaan seperti itu walaupun terarah, agak membatasi kreativitas imajinatif peserta didik. Tugas pragmatik atau otentik yang lebih memberi kebebasan peserta didik, disamping juga lebih mengugkap kemampuan berbahasa dan pemahaman kandungan makna secara logis, adalah meminta mereka untuk bercerita sesuai dengan gambar yang disedikan.

Jika tugas itu meminta peserta didik untuk menceritakannya secara tertulis, tugas ini menjadi tugas menulis. Untuk menilai kompetensi berbicara peserta didik, kita dapat membuat dan menggunakan rubrik yang sengaja disiapkan untuk maksud itu.

Komponen penilaian harus melibatkan unsur bahasa dan kandungan makna. Namun demikian, karena tugas yang demikian lebih tepat dilakukan dalam tes proses yang sekaligus menjadi bagian dari strategi pembelajaran, guru jga perlu mencatat kesalahan-kesalahan kebahasaan yang dilakukan peserta didik untuk dibetulkan kemudian. Ingat, kita sebaiknya tidak memotong pembicaraan peserta didik agar mereka tidak terganggu dan justru mematikan keberanian.

Rubrik penilaan yang dimaksudkan dicontohkan sebagai berikut. Tugas berbicara berdasarkan rangsang suara yang lazim dipergunakan adalah suara yang berasal dari siaran radio atau rekaman yang sengaja dibuat untuk maksud itu. Program radio yang dimaksud dapat bermacam, misalnya siaran berita, sandiwara, atau program-program lain yang layak.

Jika program siaran radio yang dipilih waktunya tidak berkesesuaian dengan waktu pembelajaran di sekolah, kita dapat merekam program itu dan menghadirkannya dalam bentuk rekaman. Atau, kita sengaja menugasi peserta didik untuk mendengarkan siaran tertentu pada radio tertentu pada jam tertentu untuk kemudian menceritakannya di sekolah. Tugas ini memang sangat terkait dengan tes kompetensi menyimak.

Pengaitan antara kedua kompetensi itu justru harus ditekankan dalam pembelajaran bahasa sehingga pembelajaran yang dimaksud memenuhi tuntutan whole language. Jika kita memilih bentuk ini sebagai tugas yang harus dilakukan peserta didik, tugas yang diberikan dapat bermacam-macam salah satunya ditunjukkan di bawah.

Dengarkan siaran sandiwara radio yang telah direkam ini dengan baik. Anda boleh menuliskan hal-hal yang penting. Setelah itu, Anda minta untuk menceritakannya kembali di depan kelas. Kinerja peserta didik kemudian dinilai dengan memergunakan rubrik penilaian. Kita dapat membuat sendiri rubrik itu dengan melibatkan komponen kebahasaan dan isi pesan yang diungkapkan. Rubrik yang dimaksud misalnya dicontohkan di bawah.

Berbicara berdasarkan rangsang visual dan suara merupakan gabungan antara berbicara berdasarkan gambar dan suara di atas. Namun, wujud visual yang dimaksud sebenarnya lebih dari sekedar gambar.

Selain wujud gambar diam, ia juga berupa gambar gerak dan gambar aktivitas. Contoh rangsang yang dimaksud yang paling banyak dikenal adalah siaran televisi, video, atau berbagai bentuk rekaman sejenis. Siaran televisi juga dapat direkam untuk kemudian dibawa di kelas, misalnya karena jika siaran yang diperlukan tidak berkesuaian waktu dengan jam pembelajaran di sekolah.

Siaran televisi yang dipilih dapat berupa siaran berita, sinetron, acara flora dan fauna, dan lain-lain yang di dalamnya terkandung unsur pendidikan atau unsur penting lainya. Tugas bentuk ini terlihat didominasi dan terkait dengan kompetensi menyimak, namun juga terdapat bentuk-bentuk lain yang memerlukan pengamatan dan pencermatan seperti gambar, gerak, tulisan, dan lain-lain yang terkait langsung dengan unsur suara dan secara keseluruhan menyampaikan suatu kesatuan informasi.

Tugas menonton siaran televisi dapat langsung di kelas atau di rumah dengan menunjuk pada siaran tertentu. Tugas yang diberikan kepada peserta didik misalnya berbunyi sebagai berikut. Tugas ini dalam jenis asesmen otentik berupa tugas menceritakan kembali teks atau cerita ( retelling texts or story). Jadi, rangsang yang dijadikan bahan untuk bercerita dapat berupa buku yang sudah dibaca, berbagai cerita (fiksi dan cerita lama), berbagai pengalaman (pengalaman bepergian, pengalaman berlomba, pengalaman berseminar), dan lain-lain.

Sebagai bagian asesmen otentik, penilaian kinerja bercerita juga praktis dilakukan lewat pembuatan rubrik. Rubrik dapat dibuat sendiri oleh guru berdasarkan bahan tugas yang diberikan, misalnya tugas menceritakan kembali isi buku cerita (fiksi) yang dibaca.

Di bawah dicontohkan rubrik penilaian tugas bercerita berdasarkan buku cerita yang dibaca yang mirip dengan rubrik penilaian berdasarkan rangsnag gambar di atas. Wawancara biasanya dilakukan terhadap seorang pembelajar yang kompetensi berbahasa lisannya, bahasa target yang sedang dipelajarinya, sudah cukup memadai sehingga memungkinan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam bahasa itu.

Kegiatan wawancara dalam rangkaian tes kompetensi berbahasa lisan termasuk ke dalam jenis asesmen otentik dan bukan sekedar kegiatan untuk mengetahui informasi tertentu tentang jati diri peserta uji. Kegiatan wawancara dilakukan oleh dua (beberapa) orang penguji dalam praktik yang sering terjadi di sekolah hanya seorang penguji terhadap peserta didik atau calon tertentu selama jangka waktu tertentu, misalnya minimum sepuluh menit untuk seorang calon.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Wawancara dimaksudkan untuk menilai kompetensi berbahasa peserta uji lewat pertanyaan tentang berbagai masalah keseharian. Pewawancara hendaknya mengusahakan agar calon tetap tenang, tidak merasa tertekan, tidak merasa seperti sedang diuji, sehingga bahasa yang diungkapkan dapat mencerminkan kemampuan yang sebenarnya.

Biasanya, kesadaran calon bahwa ia sedang diuji akan memengaruhi mentalnya sehingga bahasanya pun akan berpengaruh pula, misalnya tidak lancar, sering terjadi kesalahan atau bahkan mungkin tidak dapat berbicara. Oleh karena itu, pada awal dimulainya wawancara, penguji sebaiknya menanyakan hal-hal yang mudah dijawab calon agar tumbuh keberanian dan rasa percaya dirinya.

Masalah yang ditanyakan dalam wawancara dapat menyangkut berbagai hal, tetapi hendaknya disesuaikan dengan tingkat pengalaman peserta uji misalnya usia, sekolah, dan kemampuan berbahasa. Alat penilaian yang dipergunakan perlu diaspkan sebelum apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara dimulai.

Pewawancara perlu menyiapkan seperangkat alat dan teknik penilaian yang disepakati bersama. Penilaian itu sendiri diberikan setelah wawancara selesai.

Akan tetapi, selama berlangsung wawancara, penguji telah mencatat dalam hati nilai masing-masing komponen yang dinilai sesuai dengan kemampuan peserta didik. Ada beberapa model penilaian wawancara, misalnya model the foreign service institute atau model yang kita kembangkan sendiri. Kedua model tersebut di bawah ditunjukan. Model ini dikembangkan untuk menilai wawancara dalam bahasa kedua (bahasa asing, bahasa inggris) oleh The Foreign Servise Institute. Model ini mencakup tiga komponen, yaitu tujuan, komponen dan deskripsi kefasihan, serta penyekoran yang ketiganya saling terkait.

Model ini hanya mencakup komponen kebahasaan saja, dan tidak mengukur komponen gagasan. Selain itu, hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa skor tingkat kefasihan (1-6) akan berbeda untuk tiap komponen tergantung bobot masing-masing.

Misalnya, skor tingkat kefasihan 4 untuk tata bahasa, kosakata, dan kelancaran masing-masing atau menjadi 24, apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara, dan 8 karena bobotnya berbeda. Besar kecilnya bobot menunjukkan tingkat pentingnya komponen yang bersangkutan. Di bawah ini ditunjukkan model penilaian yang dimaksud. Tujuan utama dilakukannya wawancara adalah untuk menentukan tingkat kefasihan berbahasa calon. Adapun tingkat-tingkat kelancaran atau kefasihan yang dimaksud dideskripsikan sebagai berikut: a) Mampu memenuhi kebutuhan rutin untuk bepergian dan tata krama berbahasa secara minimal; b) Mampu memenuhi kebutuhan rutin sosial untuk keperluan pekerjaan secara terbatas; c) Mampu berbicara dengan ketepatan tata bahasa dan kosa kata untuk berperan serta dalam umumnya percakapan formal dan nonformal dalam masalah yang bersifat praktis, sosial, dan profesional; d) Mampu memergunakan bahasa itu dengan fasih dan tepat dalam segala tingkat sesuai dengan kebutuhan profesional; e) Mampu memergunakan bahasa itu dengan fasih sekali (asing: setaraf dengan penutur asli terpelajar).

Untuk menentukan tingkat kemampuan berbicara peserta uji yang sesuai dengan ke-4 (ke-5) tingkatan di atas (dalam tabel konversi nanti akan terlihat bahwa kemungkinan nilai tertinggi yang dapat dicapai seorang calon adalah tingkatan ke-4 +), artinya, lebih dari 4 dan kurang dari 5.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Dipergunakan alat penilaian yang terdiri dari komponen-komponen tekanan, tata bahasa, kosakata, kefasihan, dan pemahaman. Penilaian tiap komponen tersebut disusun secara berkala: 1-6, skor 1 berarti sangat kurang, sedang skor 6 berarti sangat baik. Adapun deskripsi kefasihan untuk masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, tekanan kendalanya yaitu: 1) Ucapan sering tidak dapat dipahami; 2) Sering terjadi kesalahan besar dan aksen kuat yang menyulitkan pemahaman, menghendaki untuk selalu diulang; 3) Pengaruh ucapan asing (daerah) yang memaksa orang mendengarkan dengan teliti, salah ucap yang menyebabkan kesalahpahaman; 4) Pengaruh ucapan asing (daerah) dan kesalahan ucapan tidak menyebabkan kesalahpahaman; 5) Tidak terjadi salah ucapan yang mencolok, mendekati ucapan standar; 6) Ucapan sudah standar (asing: sudah seperti penutur asli).

Kedua, dalam Tata bahasa kendala yang muncul diantaranya: 1) Penggunaan tata bahasa hampir selalu tidak tepat; 2) Adanya kesalahan dalam penggunaan pola-pola pokok secara tetap yang selalu mengganggu komunikasi; 3) Sering terjadi kesalahan dalam pola tertentu karena kurang cermat yang dapat mengganggu komunikasi; 4) Kadang-kadang terjadi kesalahan dalam penggunaan pola tertentu, tetapi tidak mengganggu komunikasi; 5) Sedikit terjadi kesalahan, tetapi bukan pada penggunaan pola; 6) Tidak lebih dari dua kesalahan selama berlangsungnya kegiatan wawancara.

Ketiga, dalam menggunakan kosa kata sering terjadi kesalahan, diantaranya: 1) Penggunaan kosakata tidak tepat dalam percakapan yang paling sederhana sekalipun; 2) Penguasaan kosakata sangat terbatas pada keperluan dasar personal (waktu, makanan, transportasi, keluarga); 3) Pemilihan kosakata sering terjadi tepat dan keterbatasan penguasaannya menghambat kelancaran komunikasi dalam masalah sosial dan profesional; 4) Pengguaan kosakata apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara tepat dalam pembicaraan tentang masalah tertentu, tetapi penggunaan kosakata umum bersifat berlebihan; 5) Penggunaan kosakata teknis lebih luas dan cermat, kosakata umum pun tepat sesuai dengan situasi sosial; 6) Penggunaan kosakata teknis dan umum luas dan tepat sekali (asing: seperti penutur asli yang terpelajar).

Keempatkelancaran dalam berbicara memiliki beberapa kendalah, yaitu: 1) Pembicaraan selalu terhenti dan terputus-putus sehingga wawancara macet; 2) Pembicaraan sangat lambat dan tidak ajek kecuali untuk kalimat-kalimat pendek dan telah rutin; 3) Pembicaraan sering tampak ragu, kalimat tidak lengkap; 4) Pembicaraan kadang-kadang masih ragu, pengelompokkan kata kadang-kadang juga tidak tepat; 5) Pembicaraan lancar dan halus, tetapi sekali-kali masih kurang ajek; 6) Pembicaraan dalam segala hal lancar dan halus (asing: seperti penutur asli yang terpelajar).

Kelimapemahaman dalam berbicara sering mengalami kenadala, yaitu: 1) Memahami sedikit isi percakapan yang paling sederhana; 2) Memahami dengan lambat percakapan sederhana, perlu penjelasan dan pengulangan; 3) Memahami dengan baik percakapan sederhana, dalam hal tertentu masih perlu penjelasan dan pengulangan; 4) Memahami agak baik percakapan normal, kadang-kadang pengulangan dan penjelasan; 5) Memahami segala sesuatu dalam percakapan normal, kecuali yang bersifat koloqial; 7) Memahami segala sesuatu dalam pembicaraan formal dan koloqial (asing: seperti penutur asli).

Pemberian skor kepada masing-masing peserta uji yang diwawancarai dilakukan dengan memergunakan tabel pembobotan, seperti yang ditunjukkan di bawah. Angka-angka dalam tabel yang dimaksud hendaknya dilihat secara horisontal. Angka 1 sampai 6 pada larik paling atas adalah skala tingkatan kemampuan atau deskripsi kefasihan seperti yang dikemukakan di atas. · Skor hasil wawancara Tono adalah 86, dan berdasarkan tabel konversi di atas ia berada pada tingkat kefasihan 4 (dalam skala interval 83 – 92).

Hal itu berarti bahwa Tono memunyai tingkatan kefasihan yang dideskripsikan sebagai: “mampu memergunakan bahasa itu dengan fasih dan tepat dalam segala tingkat sesuai dengan kebutuhan profesional”. · Skor Tini adalah 69 yang berdasarkan tabel konversi ia berada pada tingkat kefasihan 3 (skala 63 – 72). Artinya, Tini memunyai tingkat kefasihan berbicara yang dideskripsikan sebagai: “mampu berbicara dengan ketepatan tata bahasa dan kosakata untuk berperan serta dalam umumnya percakapan formal dan nonformal dalam masalah yang bersifat praktis, sosial, dan profesional”.

Tugas berbicara yang dimasukkan dalam bagian ini adalah berdiskusi, berdebat, berdialog, dan berseminar. Berdiskusi, berdebat, dan berdialog merupakan tugas-tugas berbicara yang paling tidak melibatkan dua orang pembicara. Bahkan, dalam berseminar lazimnya diikuti banyak peserta walau belum tentu semuanya mau dan dapat berbicara. Situasi pembicaraan dalam kegiatan berdiskusi, berdebat, dan berdialog dapat formal, setengah formal atau nonformal, sedang dalam berseminar mesti formal.

Dalam penulisan ini berbagai tugas berbicara tersebut diandalkan berlangsung dalam situasi formal, maka bahasa yang dipergunakan juga karena harus formal. Berbagai tugas berbicara tersebut baik dilakukan para peserta didik di sekolah dan terlebih lagi para mahasiswa untuk melatih kemampuan dan keberanian berbicara. Selain itu, tugas-tugas tersebut juga baik dan strategis sebagai latihan beradu argumentasi.

Dalam aktivitas itu, peserta didik berlatih untuk mengungkapkan gagasan, menanggapi gagasan-gagasan kawannya secara kritis serta mempertahankan gagasan sendiri dengan argumentasi secara logis dan dapat dipertaggung jawabkan. Untuk maksud itu semua, sudah tentu kemampuan dan kefasihan berbicara dalam bahasa yang bersangkutan sangat menentukan. Untuk menilai capaian pembelajaran peserta didik dalam tugas-tugas tersebut kita sebaiknya memergunakan rubrik yang sengaja disiapkan untuk maksud itu.

Aspek yang dinilai harus juga mencakup komponen kebahasaan dan gagasan yang diungkapkan masing-masing dengan subkomponennya. Rubrik penilaian yang dipergunakan untuk penilaian wawancara di atas tampaknya juga dapat diterapkan pada tugas ini. Dilihat dari segi kebebasan peserta didik memilih bahasa untuk mengungkapkan gagasan, berpidato memunyai persamaan dengan tugas bercerita.

Untuk melatih kemampuan peserta didik mengungkapkan bahasan dalam bahasa yang tepat dan cermat, tugas berpidato baik untuk diajarkan dan diujikan di sekolah. Ujian berbahasa lisan dengan tugas berpidato pun tinggi kadar keotentikannya. Dalam kaitannya dengan pembelajaran (dan tes) bahasa di sekolah, tugas berpidato dapat berwujud permainan simulasi.

Misalnya, peserta didik bersimulasi sebagai kepala sekolah berpidato dalam upacara bendera, menyambut tahun baru, hari sumpah pemuda, dan sebagainya. Kompetensi berbahasa lisan yang berupa aktivitas berpidato cukup populer di sekolah dan perguruan tinggi, terbukti dengan seringnya diselenggarakannya lomba berpidato antarpeserta didik atau mahasiswa.

Ada beberapa cara untuk menilai tugas berpidato. Cara pertama adalah mengembangkan alat evaluasi sendiri dengan membuat rubrik penilaian, sedang yang kedua kita dapat mengadopsi model yang dikembangkan orang.

Rubrik untuk menilai kemampuan berpidato tampaknya tidak berbeda dengan rubrik penilaian tugas bercerita dan wawancara. Rubrik penilaian yang dimaksdukan dicontohkan di bawah. Rubrik lain yang telah dikembangkan orang misalnya yang dibuat Jakobovits dan Gordon yang mengembangkan teknik penilaian untuk tugas-tugas laporan lisan yang di sini dikembangkan untuk tugas bercerita dan berpidato berhubung ada persamaan sifat dengan skala 0 sampai dengan 10. Aspek-aspek yang dinilai mencakup berbagai komponen, tetapi justru tidak mencakup unsur kosa kata dan struktur kalimat (kebahasaan).

Hal itu disebabkan mereka, juga Valette lebih menekankan komponen isi gagasan daripada kebahasaan. Contoh yang ditunjukkan di bawah adalah apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara yang telah dimodifikasi dari Jakobovits dan Gordon, beberapa aspek sengaja dihilangkan dan ditambah dengan aspek kebahasaan, termasuk penyekoran yang mulai dengan angka 1.

Faktor penunjang pada kegiatan berbicara sebagai berikut. Faktor kebahasaan meliputi : ketepatan ucapan, penempatan tekanan nada, sendi atau durasi yang sesuai, pilihan kata, ketepatan penggunaan kalimat serta tata bahasanya, ketepatan sasaran pembicaraan. Sedangkan faktor nonkebahasaan, meliputi sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, pendangan harus diarahkan ke lawan bicara, kesediaan menghargai orang lain, gerak-gerik dan mimik yang tepat, kenyaringan suara, kelancaran, relevansi, penalaran, penguasaan topik.

Tiga faktor penyebab gangguan dalam kegiatan berbicara, yaitu: Faktor fisik, Faktor media, Faktor psikologis. Salah satu bentuk kemampuan berbicara adalah percakapan. Dalam pembalajaran, percakapan ini sebenarnya dapat menggunakan teknik percakapan terbimbing dan bebas. Metode pembelajaran berbicara yang baik selalu memenuhi kriteria.

Berbagai kriteria yang harus dipenuhi oleh metode berbicara antara lain: Relevan dengan tujuan, Memudahkan siswa untuk memahami materi pembelajaran, Mengembangkan butir-butir keterampilan proses, Dapat mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang, Merancang siswa untuk bisa belajar, Mengembangkan penampilan siswa, Tidak menuntut peralatan yang rumit, Mengembangkan kreatifitas siswa, Mudah melaksanakan, Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.

• ► 2000 (6) • ► Mei 2000 (1) • ► Juni 2000 (2) • ► Agustus 2000 (2) • ► September 2000 (1) • ► 2011 (12) • ► Februari 2011 (6) • ► April 2011 (1) • ► September 2011 (2) • ► Apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara 2011 (2) • ► Desember 2011 (1) • ► 2012 (86) • ► Januari 2012 (1) • ► Maret 2012 (2) • ► April apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara (5) • ► Mei 2012 (7) • ► Juni 2012 (4) • ► Juli 2012 (7) • ► Agustus 2012 (7) • ► September 2012 (21) • ► Oktober 2012 (13) • ► November 2012 (8) • ► Desember 2012 (11) • ► 2013 (118) • ► Januari 2013 (29) • ► Februari 2013 (22) • ► Maret 2013 (12) • ► April 2013 (7) • ► Mei 2013 (9) • ► Juni 2013 (12) • ► Juli 2013 (3) • ► Agustus 2013 (5) • ► September 2013 (3) • ► Oktober 2013 (9) • ► November apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara (4) • ► Desember 2013 (3) • ► 2014 (63) • ► Januari 2014 (8) • ► Februari 2014 (3) • apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara Mei 2014 (2) • ► Juni 2014 (2) • ► Juli 2014 (4) • ► Agustus 2014 (16) • ► September 2014 (13) • ► Oktober 2014 (6) • ► November 2014 (5) • ► Desember 2014 (4) • ► 2015 (64) • ► Januari 2015 (15) • ► Februari 2015 (4) • ► Maret 2015 (4) • ► April 2015 (4) • ► Mei 2015 (4) • ► Juni 2015 (5) • ► Juli 2015 (5) • ► Agustus 2015 (4) • ► September 2015 (6) • ► Oktober 2015 (4) • ► November 2015 (4) • ► Desember 2015 (5) • ▼ 2016 (52) • ► Januari 2016 (4) • ▼ Februari 2016 (4) • Chapter 13 Apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara dan Penuulisan Ilmiah • Keterampilan Berbicara • Penilaian Keterampilan Berbicara • Keterampilan Membaca • ► Maret 2016 (5) • ► April 2016 (4) • ► Mei 2016 (4) • ► Juni 2016 (5) • ► Juli 2016 (4) • ► Agustus 2016 (4) • ► September 2016 (5) • ► Oktober 2016 (4) • ► November 2016 (4) • ► Desember 2016 (5) • ► 2017 (35) • ► Januari 2017 (5) • ► Februari 2017 (4) • ► Maret 2017 (5) • ► April 2017 (4) • ► Mei 2017 (4) • ► Juni 2017 (5) • ► Oktober 2017 (5) • ► November 2017 (3) • ► 2018 (2) • ► Mei 2018 (1) • ► Desember 2018 (1) • ► 2019 (8) • ► Januari 2019 (4) • ► Februari 2019 (3) • ► September 2019 (1) • ► 2020 (8) • ► Maret 2020 (6) • ► April 2020 (1) • ► Oktober 2020 (1) • ► 2021 (4) • ► Maret 2021 (1) • ► April 2021 (1) • ► Mei 2021 (1) • ► September 2021 (1) • ► 2022 (6) • ► Januari 2022 (2) • ► Februari 2022 (1) • ► Maret 2022 (2) • ► April 2022 (1)
ASPEK-ASPEK PRAGMATIK: TINDAK TUTUR, PRAANGGAPAN, IMPLIKATUR Oleh edisuryadimaranaicindo • 1.

Pendahuluan Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa memiliki berbagai cabang. Di antaranya cabang-cabang itu ialah Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Pragmatik. Fonologi, Morfologi, Sintaksi, dan Semantik mempelajari struktur bahasa secara internal, yaitu berhubungan dengan unsur bagian dalam bahasa. Semantik dan Pragmatik memiliki kesamaan, yaitu cabang-cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan bahasa.

Namun, di antara kedua cabang ilmu bahasa itu memiliki perbedaan, yaitu semantik mempelajari makna satuan bahasa secara internal sedangkan pragmatik mempelajari makna satuan bahasa secara eksternal. Contoh penggunaan kata pintar, rajin, dan menyukai 1) Karena pintar, Dinudin disenagi teman-temannya. 2) Orang yang rajin disenangi teman-temannya.

3) Guru sangat menyukai murid yang rajin dan pandai. Kata pintar dalam kalimat (1) secara internal bermakna ‘pandai’ atau ‘cakap’. Kata rajin secara internal bermakna ‘suka bekerja atau suka belajar’ atau ‘sungguh-sungguh bekerja’.

Kata menyukai secara internal bermakna ‘menyayagi’. Kata ‘pandai’ atau ‘cakap’ tetapi bermakna sebaliknya, yaitu ‘bodoh’. Kata suka bekerja atau suka belajar’ atau ‘sungguh-sungguh bekerja sebaliknya, yaitu ‘malas’. Demikian juga pada kata ‘menyayagi’ bermakna ‘tidak menyayangi’. Dari uraian di atas makna yang digeluti cabang bahasa semantik ialah makna bebas konteks, sedangkan cabang makna yang digeluti cabang ilmu bahasa pragmatik ialah makna yang terikat konteks (Kaswati Purwo, 1990:16).

Dibawah ini dikutip beberapa definisi pragmatik yang dikemukan oleh para ahli. Menurut Levinson (1983:9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa.

Di sini, pengertian atau pemahaman bahasa menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan atau ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu´.

(Nababan, 1987:2). Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana, 1993: 177).

Menurut Ver haar (1996:14), pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ekstralingual yang dibicarakan. Purwo (1990:16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan ( utterance) menggunakan makna yang terikat konteks.

Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo, 1990:31). Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik.

Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. Pragmatik memiliki kajian atau bidang telaah tertentu yaitu dieksis, praanggapan ( presupposition), tindak tutur ( speech acts), dan implikatur percakapan ( conversational implicature) (Kaswanti Purwo, 1990:17).

Namun, pada makalah ini akan membahas tindak tutur, praanggapan dan implikatur. • 2. Pembahasan 2.1 Pengertian Tindak Tutur Tindak tutur adalah bagian dari pragmatik. Tindak tutur (istilah Kridalaksana ‘pertuturan’ / speech act, speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana, 1984:154).

Tindak tutur ( speech atcs) adalah ujaran yang dibuat sebagai bagian dari interaksi sosial (Hudson dikutif Alwasilah, 1993:19). Menurut Hamey (dikutif Sumarsono, dan Paina Partama, 2002:329-330)tindak tutur merupakan bagian dari peristiwa tutur, dan peristiwa tutur merupakan bagian dari situasi tutur. Setiap peristiwa tutur terbatas pada kegiatan, atau aspek-aspek kegiatan yang secara langsung diatur oleh kaidah atau norma bagi penutur.

Ujaran atau tindak tutur dapat terdiri dari satu tindak apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara atau lebih dalam suatu peristiwa tutur dan situasi tutur. Dengan demikian, ujaran atau tindak tutur sangat tergantung dengan konteks ketika penutur bertutur.

Tuturan-tuturan baru dapat dimengerti hanya dalam kaitannya dengan kegiatan yang menjadi konteks dan tempat tuturan itu tejadi. Sesuai dengan pendapat Alwasilah (1993:20) bahwa ujaran bersifat context dependent (tergantung konteks) Tindak tutur merupakan gejala individu, bersifat psikologis, dan ditentukan oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Tindak tutur di titikberatkan kepada makna atau arti tindak, sedangkan peristiwa tutur lebih dititikberatkan pada tujuan peristiwanya (Suwito, 1983:33).

Dalam tindak tutur ini terjadi peristiwa tutur yang dilakukan penutur kepada mitra tutur dalam rangka menyampaikan komunikasi. Agustin (dikutuf Subyakto, 1992:33) menekankan tindak tutur dari segi pembicara. Kalimat yang bentuk formalnya berupa pertanyaan memberikan informasi dan dapat pula berfungsi melakukan suatu tindak tutur yang dilakukan oleh penutur. Dengan demikian, penutur yang diucapkan suatu tindakan, seperti “Pergi!”, “Silahkan Anda tinggalkan rumah ini, karena Anda belum membayar kontraknya!”, “Saya mohon Anda meninggaln rumah ini” tindak tutur ini merupakan suatu perintah dari penutur kepada mitra tutur untuk melakukan tindakan.

Tindak tutur adalah kegiatan seseorang menggunakan bahasa kepada mitra tutur dalam rangka mengkomunikasikan sesuatu. Apa makna yang dikomukasikan tidak hanya dapat dipahami berdasarkan penggunaan bahasa dalam bertutur tersebut tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspejk komunikasi secara komprehensif, termasuk aspek-aspek situasional komunikasi. Dalam menuturkan kalimat, seorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkan kalimat itu.

Ketika ia menuturkan kalimat, berarti ia menindakkan sesuatu. Dengan mengucapkan, “Mau makan apa?” sipenutur tidak semata-mata menanyakan atau jawaban tertentu, ia juga menindakkan sesuatu, yakni menawarkan makan siang.

Seorang ibu berkata kepada anak perempuannya yang dikunjungi oleh pacarnya “Sudah pukul sembilan”. Ibu tadi tidak semata-mata memberitahukan tentang keadaan yang berkaitan dengan waktu, tetapi juga menindakkan sesuatu yakni memerintahkan mitra tutur atua orang laian (misalnya anaknya ) agar pacarnya pulang. 2. 1.1 Jenis-Jenisnya Tindak Tutur Tindak tutur atau tindak ujaran ( speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT.

Menurut pendapat Austin (dikutif Chaer dan Leonie Agustina, 1995:68-69) merumuskan adanya tiga jenis tindak tutur, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi.

• Tindak tutur lokusi atau apa yang dikatakan ( locutionary act) adalah tindak tutur yang untuk menyatakan sesuatu. Misal; kakinya dua, pohon punya daun. Tindak tutur yang dilakukan oleh penutur berkaitan dengan perbuatan dalam hubungannya tentang sesuatu dengan mengatakan sesuatu ( an act of saying something), seperti memutuskan, mendoakan, merestui dan menuntut.

• Tindak tutur ilokusi ( illocutionary act) yaitu, tindak tutur yang didepinisikan tidak tutur ilokusi sebagi sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau mengimformasikan sesuatu dapat juga digunakan untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain, tindak tutur yang dilakukan oleh penutur berkaitan dengan perbuatan hubungan dengan menyatakan sesuatu. Tindak tutur ilokusi berkaitana dengan nilai yang ada dalam proposisinya. Contoh, “Saya tidak dapat datang”.

Kalimat ini oleh seseorang kepada temannya yang baru melaksanakan resepsi pernikahan anaknya, tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu yakni meminta maaf karena tidak datang. • Tindak tutur perlokusi: Austin, Searle, perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu, membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu, dll.

atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh. mengandung pesan. metapesan ‘Jangan pergi ke sana!’ metapesan (Dalam pikiran mitratutur ada keputusan) “Saya tidak akan pergi ke sana.” Pembagian tindak tutur berdasarkan maksud penutur ketika berbicara (ilokusi) Searle membagi dalam lima jenis.

Pembagian ini menurut Searle (1980:16) didasarkan atas asumsi “Berbicara menggunakan suatu bahasa adalah mewujudkan prilaku dalam aturan yang tertentu”. Kelima tindak tutur tersebut adalah sebagai berikut.

• Tindak tutur repesentatif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk menetapan atau menjelakan sesuatu apa adanya. Tindak tutur ini, seperti menyatakan, melaporkan, memberitahukan, menjelaskan, mempertahankan, apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara dan lain-lain. Tindak menyatakan, mempertahankan maksudnya adalah penutur mengucapkan sesuatu, maka mitra tutur percaya terhadat ujaran penutur.

Tindak melaporkan memberitahukan, maksudnya ketika penutur mengujarkan sesuatu, maka penutur percaya bahwa telah terjadi sesuatu. Tindak menolak, menyangkal, maksudnya penutur mengucapkan sesuatu maka mitra tutur percaya bahwa terdapat alasan untuk tidak percaya.

Tindak menyetujui, menggakui, maksudnya ketika penutur mengujarkan sesuatu, maka mitra tutur percaya bahwa apa yang diujarkan oleh penutur berbeda dengan apa yang ia inginkan dan berbeda dengan pendapat semula. Contoh Guru : Pokok bahasan kita hari ini mengenai analisis wacana. Tuturan guru di atas, merupakan salah satu contoh tindak tutur representatif yang termasuk mdalam tindak memberitahukan. • Tindak tutur komisif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pembicaraan melakukan sesuatu, seperti berjanji, bernazar, bersumpah, dan ancaman.

Komisit terdiri dari 2 tipe, yaitu promises (menyajikan) dan offers (menawarkan) (Ibrahim, 1993:34). Tindak menjanjikan, mengutuk dan bersumpah maksudnya adalah penutur menjajikan mitra tutur untuk melakukan A, berdasarkan kondisi mitra tutur menunjukkan dia ingin penutur melakukan A.

Contoh saya berjanji akan datang besok Tuturan di atas, merupakan salah satu contoh tindak komisif yang termasuk dalam menjanjikan • Tinddak tutur direkfif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu, misalnya menyuruh, perintah, meminta.

Menutur Ibrahim (1993:27) direktif mengespresikan sikap penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan oleh mitra tutur, mislnya meminta, memohon, mengajak, bertanya, memerintah, dan menyarankan. Tindak meminta maksunya ketika mengucapkan sesuatu, penutur meminta mitra tutur untuk melakukan A, maksudnya mitra tutur melakukan A, karena keinginan penutur.

Tindak memerintah, maksudnya ketika penutur mengekspresikan keinginannya pada mitra tutur untuk melakukan A, mitra tutur harus melakukan A, mitra tutur melakukan A karena keinginan penutur.

Tindak bertanya, ketika mengucapkan sesuatu penutur bertanya, mengekspresikan keingin kepada mitratutur, mitra tutur menjawab apa yang ditanya oleh penutur. Contoh Guru : Siapa yang piket hari ini? Siswa : Ani (siswa yang bersangkutan maju) Tuturan di atas, merupakan suatu pernyatan yang tujuannya meminta informasi mitra tutur. Guru : Coba, ulangi jawabannya. Tuturan ini juga termasuk tindak tutur direktif yang maksudnya menyuruh meminta si A mengulangi kembali jawabannya.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara Tindak tutur ekspresif, tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan perasaan dan sikap. Tindak tutur ini berupa tindak meminta maaf, berterimakasih,menyampaikan ucapan selamat, memuji, mengkritik. Penutur mengekspresikan perasaan tertentu kepada mitra tutur baik yang berupa rutinitas maupun yang murni. Perasaan dan pengekspresian penutur untuk jenis situasi tertentu yang dapat berupa tindak penyampaian salam ( greeting) yang mengekspresikan rasa senang, karena bertemu dan melihat seseorang, tindak berterimakasih ( thanking) yang mengekspresikan rasa syukur, karena telah menerima sesuatu.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Tindak meminta maaf ( apologizing) mengekspresikan simpati, karena penutur telah melukai atau mengganggu mitra tutur. Contoh : Ya, bagus sekali nilai rapormu. Tuturan di atas, merupakan salah satu contoh tindak ekspresif yang termasuk pujian. • Tindak tutur deklaratif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untk memantapkan sesuatu yang dinyatakan, atara lain dengan setuju, tidak setuju, benar-benar salah, dan sebagainya. Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya, kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif).

Adiknya sakit. Di mana handuk saya? Pergi!. Berdasarkan mudusnya, kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tuturan tidak langsung. Misalnya: Tuturan langsung A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini. Tuturan tidak langsung A: Gulanya habis, yah. B: Ini uangnya. Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah, sehingga merupakan TT tidak langsung ( indirect speech). Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik.

Misalnya: 1. Rumahnya jauh. (ada maksud: jangan pergi ke sana). 2. Adiknya sakit. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya, tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal.

1. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. Misalnya, Buka mulutnya! (makna lugas: buka). 2. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. Misalnya, Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). Hal ini disebut juga ‘nglulu’ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi, yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara, yang jelek dikatakan bagus (disebut ‘ironi’).

Masing-masing tindak tutur (langsung, tidak langsung, literal, dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. 1. TT langsung 2. TT tidak langsung 3. TT literal 4. TT tidak literal 5. TT langsung literal 6. TT tidak langsung literal 7.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

TT langsung tidak literal 8. TT tidak langsung tidak literal Misalnya, kalimat Radione kurang banter. 1. TT langsung Radione kurang banter. betul-betul kurang keras. 2. TT tidak langsung keraskan radionya! 3. TT literal betul-betul kurang keras.

4. TT tidak literal suara radionya keras sekali. 5. TT langsung literal betul-betul kurang keras 6.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

TT tidak langsung literal keraskan radionya! 7. TT langsung tidak literal suara radionya keras sekali. 8. TT tidak langsung tidak literal matikan! 2.2 Pengertian Praanggapan (Presuppotion) Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.

Selain definisi tersebut, beberapa definisi lain tentang praanggapan di antaranya adalah: Levinson (dikutif Nababan, 1987:48) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna.

George Yule (2006:43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat. Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu.

Nababan (1987:46), memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.

Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut : (1) a : “Aku sudah membeli bukunya Pak Udin kemarin” b : “Dapat potongan 30 persen kan?

Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur (1A) memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo. Kesalahan membuat praanggapan efek dalam ujaran manusia. Dengan kata lain, praanggapan yang tepat dapat mempertinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Makin tepat praanggapan yang dihpotesiskan, makin tinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan. Menurut Chaika (1982:76), dalam beberapa hal, maka wacana dapat dicari melalui praanggapan. Ia mengacu pada makna yang tidak dinyatakan secara eksplisit.

Contoh: (2a) “Ayah saya datang dari Surabaya”. (3a) “Minuman nya sudah selesai”. Dari contoh (2a) praanggapan adalah: (1) saya mempunyai ayah; (2) Ayah ada disurabaya. Pada contoh (3a) praanggapannya adalah silahkan diminum. Oleh karena itu, fungsi praanggapan ialah membantu mengurangi hambatan respons orang terhadap penafsiran suatu ujaran. 2.2.1 Ciri Praanggapan Ciri praanggapan yang mendasar adalah sifat keajegan di bawah penyangkalan (Yule, 2006:45).

Hal ini memiliki maksud bahwa praanggapan (presuposisi) suatu pernyataan akan tetap ajeg (tetap benar) walaupun kalimat itu dijadikan kalimat negatif atau dinegasikan.

Sebagai contoh perhatikan beberapa kalimat berikut : (4) a: “Gitar Budi itu baru”. b: “Gitar Budi tidak baru”. Kalimat (b) merupakan bentuk negatif dari kaliamt (4a).

Praanggapan dalam kalimat (4a) adalah Budi mempunyai gitar. Dalam kalimat (b), ternyata praanggapan itu tidak berubah meski kalimat (b) mengandung penyangkalan tehadap kalimat (4a), yaitu memiliki praanggapan yang sama bahwa Budi mempunyai gitar.

Wijana (dikutif, 2009:64) menyatakan bahwa sebuah kalimat dinyatakan mempresuposisikan kalimat yang lain jika ketidakbenaran kalimat yang kedua (kalimat yang diprosuposisikan) mengakibatkan kalimat pertama (kalimat yang memprosuposisikan) tidak dapat dikatakan benar atau salah. Untuk memperjelas pernyataan tersebut perhatikan contoh berikut. apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara a. “Istri pejabat itu cantik sekali”. b. “Pejabat itu mempunyai istri”. Kalimat (b) merupakan praanggapan (presuposisi) dari kalimat (5a).

Kalimat tersebut dapat dinyatakan benar atau salahnya bila pejabat tersebut mempunyai istri. Namun, bila berkebalikan dengan kenyataan yang ada (pejabat tersebut tidak mempunyai istri), kalimat tersebut tidak dapat ditentukan kebenarannya.

2.2.2 Jenis-jenis Praanggapan Praanggapan (presuposisi) sudah diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata, frasa, dan struktur (Yule, 2006:46). Selanjutnya Gorge Yule mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 jenis praanggapan, yaitu presuposisi eksistensial, presuposisi faktif, presuposisi non-faktif, presuposisi leksikal, presuposisi struktural, dan presuposisi konterfaktual.

• Presuposisi Esistensial Presuposisi (praanggapan) eksistensial adalah preaanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definit. (6) a. Orang itu berjalan b. Ada orang berjalan 2. Presuposisi Faktif Presuposisi (praanggapan) faktif adalah praanggapan di mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai suatu kenyataan. (7) a. Dia tidak menyadari bahwa ia sakit b. Dia sakit (8) a. Kami menyesal mengatakan kepadanya b.

Kami mengatakan kepadanya 3. Presuposisi Leksikal Presuposisi (praanggapan) leksikal dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan) dipahami. (9) a. Dia berhenti merokok b. Dulu dia biasa merokok (10)a. Mereka mulai mengeluh b. Sebelumnya mereka tidak mengeluh 4. Presuposisi Non-faktif Presuposisi (praanggapan) non-faktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar.

(11) a. Saya membayangkan bahwa saya kaya b. Saya tidak kaya (12) a. Saya membayangkan berada di Hawai b. Saya tidak berada di Hawai 5. Presuposisi Struktural Presuposisi (praanggapan) struktural mengacu pada sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya.

Hal ini tampak dalam kalimat tanya, secara konvensional diinterpretasikan dengan kata tanya (kapan dan di mana) seudah diketahui sebagai masalah. (12) a. Di mana Anda membeli sepeda itu? b. Anda membeli sepeda (13) a. Kapan dia pergi? b. Dia pergi 6. Presuposisi konterfaktual Presuposisi (praanggapan) konterfaktual berarti bahwa yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara benar atau bertolak belakang dengan kenyataan.

(14) a. Seandainya 2.3 Pengertian Implikatur (Makna Tersirat) Konsep implikatur kali pertama dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memcahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa.

Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah Brown dan Yule (1983:1.

Sebagai contoh, kalau ada ujaran panas disini bukan?

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Maka secara implisit penutur menghendaki agar mesin pendingin di hidupkan atau jendela dibuka. Makna tersirat ( implied meaning) atau implikatur adalah makna atau pesan yang tersirat dalam ungkapan lisan dan atau wacana tulis. Kata lain implikatur adalah ungkapan secara tidak langsung yakni makna ungkapan tidak tercermin dalam kosa kata secara literal (Ihsan, 2011:93) Menurut Grice (dikutif Rani, Arifin dan Martutik, 2004:171), dalam pemakaian bahasa terdapat implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang ditentukan oleh ‘arti konvensional kata-kata yang dipakai’.

Contoh: (15) Dia orang Palembang karena itu dia pemberani. Pada contoh (15) tersebut, penutur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri (pemberani) disebabkan oleh ciri lain (jadi orang Palembang), tetapi bentuk ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada.

Kalau individu apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara dimaksud orang Palembang dan tidak pemberani, implikaturnya yang keliru tetapi ujaran tidak salah. Contoh: (16) Minumnya sudah tersedia, Pak! Pada contoh (16) tersebut, Anda tentu akan mengatakan bahwa orang yang mengucapkan kalimat itu sedang memberitahukan bahwa minuman telah telah selesai dihidangkan. Yang menjadi persoalan kita bbukan apakah orang itu telah selesai atau belum selesai menghidangkan minuman tetapi apa maksud ucapan itu sebenarnya?

Nah sekarang minumannya sudah tersedia maka silahkan diminum. Ternyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam percapan umunnya dari ucapan yang dikeluarkan oleh pelaku tindak berbahasa mengandung makna. Oleh karena itu, pendengar harus mampu menetapkan bahwa ada makna atau maksud lain di balik ucapan yang telah dikeluarkan oleh pembicara itu. Dengan demikian, secara efektif pendengar dapat memberi respon atau tanggapan yang sesui dengan implikator yang muncul.

Untuk dapat menetukan apa yang dimaksud dibalik apa yang dikatakan kita memerlukan pengetahuan tentang kaidah pragmatiknya.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Dengan kata lain, untuk menentukan implikatur suatu ucapan kita harus memahami apa kaidah pragmatiknya. 2.4 Kesimpulan Pragmatik mempelajari makna satuan bahasa secara eksternal. Pragmatik merupakan suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. Dengan memahami kaidah-kaidah pragmatik baik bagi pembicara atau penutur, pendengar atau mitra tutur diharpkan dapat menggunakan bahasa dalam percakapan sehari-hari.

Dengan harapan, kalimat-kalimat yang digunakan lebih efektif dengan kata lain dapat lebih mengenai sasaran yang diinginkan. Disamping itu, jika Anda seorang pendengar Anda dapat lebih responsif menanggapi pembicaraan orang lain. Anda dapat memberikan arah pembicaraan orang tesebut lebih tepat.

Dengan demikian komunikasi Anda dengan orang lain dapat berlangsung dengan wajar dan lancar. Pemahaman terhadap tindak tutur dalam pembicaraan implikatur juga sangat bergantung pada situasi dan kondisi saat tutur tersebut berlangsung. Kalau suatu ucapan mempunyai makna dibalik sesuatu yang dikatakan, maka ucapan tersebut mempunyai implikatur. DAFTAR PUSTAKA Alwasilah, A. Chaedar. 1993.

Pengantar Sosiolinguistik Bahasa. Bandung: Angkasa. Chaer, Abdul dan Leoni Agustin. 1995. Sosiolinguistik Pengenalan Awal.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Jakarta: Rineka Cipta. George, Yuli. 1996. Analisis Wacana. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ibrahim, Abd. Syukur. 1993. Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usaha Nasional. Ihsan, Dimroh. 2011. Pragmatik, Anasilisis Wacana, dan Guru Bahasa.

Palembang: Universitas Sriwiwjaya. Kridalaksana. Hari Muriti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia. Nababan, P.W.J.1984. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Remeja Rusdakarya. Rani, A. Arifin, B. dan Martutik. 2004. Analisis Wancana Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing. Serle, John. R. 1980.

Speech Acts An Essay in The Philosophy of Languange Melbrone. Sidney: Cambridge Univerisy Press. Subyakto, Sri Utari Nababan. 1992. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia. Suwito. 1993. Sosiolinguistik: Pengantar Awal. Bandung: Angkasa. Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Cari untuk: Tulisan Terakhir • Penilaian Tes Bahasa • MASYARAKAT BAHASA • KATA SAPAAN BAHASA KOMERING DIALEK MADANG SUKU II KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR • ASPEK-ASPEK PRAGMATIK: TINDAK TUTUR, PRAANGGAPAN, DAN IMPLIKATUR • Videokeman Arsip • Juli 2012 • Maret 2012 • Februari 2012 Kategori • Uncategorized Meta • Daftar • Masuk • Feed entri • Feed Komentar • WordPress.com 5.

Perhatikan identitas buku berikut! Judul Buku Tips & Trik Jago Main Rubik Penulis Buku Wicaksono Hadi Penerbit Buku : Gradien Mediatama Cetakan … I tahun 2009 Tebal Buku 184 halaman Rubik merupakan permainan puzzle mekanik berbentuk kubus yang mempunyai enam warna berbeda pada setiap sisinya.

Rubik ditemukan tahun 1974 oleh Profesor Erno Rubik. Dalam waktu yang tidak lama, rubik menciptakan sensasi internasional. Setiap orang ingin memiliki dan memainkannya. Berdasarkan identitas buku, apa jenis buku tersebut? Jelaskan jawabanmu! Jawab:​
Penilaian aspek speaking skill perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kelancaran dan kemampuan seseorang dalam berbicara menggunakan bahasa inggris. Ada beberapa komponen yang harus dinilai pada aspek kemampuan berbicara dalam bahasa inggris tersebut.

Tujuan penilaian speaking skills in language learning ini berguna untuk meningkatkan kemampuan siswa dan pengetahuannya, baik secara aktif maupun pasif. Berikut ini adalah ulasan mengenai penilaian pada aspek kemampuan berbicara dalam bahasa inggris. Baca Juga >>> Tingkatan Kemampuan Berbahasa Inggris Apa Saja Aspek Penilaian Pada Speaking Skill?

Ada 4 hal yang harus diperhatikan saat melakukan penilaian aspek speaking skill agar Anda tahu bagaimana cara untuk meningkatkannya. Simak penjelasan lengkap berikut ini terkait apa saja hal yang menjadi aspek penilaian pada speaking skill berbahasa inggris.

1. Grammar atau Tata Bahasa Hal pertama yang harus Anda ketahui sebelum melakukan penilaian adalah definition of speaking. Pengguna bahasa inggris harus mengetahui apa itu speaking dan bagaimana tata cara penggunaanya agar bisa menerapkan penggunaan struktur kalimat tersebut dengan tepat.

Aspek pertama harus dinilai dalam speaking skill adalah grammar atau tata bahasa pada kalimat yang akan dilontarkan. Grammar adalah kaidah mengenai struktur penyusunan kalimat dalam bahasa inggris, sehingga layak dan sopan untuk diucapkan. Pada aspek speaking skill dalam bagian grammar ini hal yang penting diperhatikan adalah penggunaan tenses dan part apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara speech dengan tepat. Anda harus bisa menggunakan tenses yang berbeda untuk membahas hal masa lalu, saat ini, atau waktu mendatang.

2. Fluency atau Kelancaran Kelancaran atau fluency merupakan aspek kedua yang harus dinilai karena akan menunjang bagaimana saat Anda bertutur kata. Kelebihan public speaking dalam bahasa inggris yang perlu diketahui adalah tingkat kelancarannya apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara baik. Penilaian pada aspek yang satu ini dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu A sampai D.

Tingkat kelancaran terbaik dalam skala penilaian tersebut adalah A, yaitu dengan range 90 sampai 100. Anda bisa mendapatkan total skor ini dari penilaian setiap aspek. 3. Pronunciation atau Pengucapan Aspek publik speaking berikutnya yang harus dinilai adalah pronounciation atau pengucapannya. Bagian pertama dari pronunciation yang harus dinilai adalah word stress atau penekanan pada satu atau dua suku kata tertentu pada suatu kalimat.

apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara

Penilaian pronunciation selanjutnya adalah sentence stress adalah tekanan kata tertentu pada suatu kalimat agar lebih mudah dimengerti.

Cara penggabungan dan pengucapan kata tertentu juga menjadi salah satu penilaian dalam aspek pronunciation. Aspek pengulangan kata atau word connection ini berhubungan dengan cara pengucapan gabungan huruf vokal dan konsumen.

Intonasi juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan dalam speaking bahasa inggris agar orang lain lebih mudah untuk memahami maksud Anda. 4. Vocabulary atau Kosa Kata Penguasaan kota kata atau vocabulary juga akan dinilai dalam speaking bahasa inggris karena akan mencerminkan seberapa jauh pengetahuan Anda.

Vocabulary ini adalah sekumpulan kata dalam bahasa inggris yang bisa dikuasai. Semakin banyak kosakata yang dikuasai, maka kian bagus.

Penguasan vocabulary ini tidak hanya sekedar pengucapan, melainkan juga makna serta cara untuk menggunakannya. Satu kata dalam bahasa inggris dibedakan menjadi past, present, dan future yang harus dipahami masing-masing kegunaannya.
Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula, pada masa kecil, kita belajar menyimak/mendengarkan bahasa, kemudian berbicara, membaca, dan menulis.

Dengan demikian, rangkaian pemerolehan keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, kemudian menulis. Keterampilan menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah, sedangkan keterampilan apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara dan menulis pada umumnya dipelajari di apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara.

Keempat aspek keterampilan berbahasa berhubungan satu sama lain. Menyimak merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat reseptif. Dengan demikian, menyimak tidak sekadar kegiatan mendengarkan tetapi juga memahaminya.

Ada dua jenis situasi dalam menyimak, yaitu situasi menyimak secara interaktif dan situasi menyimak secara noninteraktif. Menyimak secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau yang sejenisnya. Dalam menyimak jenis ini, kita bergantian melakukan aktivitas menyimak dan berbicara. Oleh karena itu, kita memiliki kesempatan untuk bertanya guna memperoleh penjelasan, meminta lawan bicara mengulang apa yang diucapkan olehnya atau mungkin memintanya berbicara agak lebih lambat.

Kemudian, contoh situasi-situasi mendengarkan noninteraktif, yaitu mendengarkan radio, TV, film, khotbah, atau menyimak dalam acara-acara seremonial. Dalam situasi menyimak noninteraktif tersebut, kita tidak dapat meminta penjelasan dari pembicara, tidak bisa pembicara mengulangi apa yang diucapkan, dan tidak bisa meminta pembicaraan diperlambat. Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan mikro yang terlibat ketika kita berupaya untuk memahami apa yang kita dengar, yaitu pendengar harus mampu menguasai beberapa hal berikut: • menyimpan/mengingat unsur bahasa yang didengar menggunakan daya ingat jangka pendek ( short-term memory); • berupaya membedakan bunyi-bunyi yang membedakan arti dalam bahasa target; • menyadari adanya bentuk-bentuk tekanan dan nada, warna suara, intonasi, dan adanya reduksi bentuk-bentuk kata; • membedakan dan memahami arti kata-kata yang didengar; • mengenal bentuk-bentuk kata khusus ( typical word-order patterns); • mendeteksi kata-kata kunci yang mengidentifikasi topik dan gagasan; • menebak makna dari konteks; • mengenal kelas-kelas kata ( grammatical word classes); • menyadari bentuk-bentuk dasar sintaksis; • mengenal perangkat-perangkat kohesif ( recognize cohesive devices); • mendeteksi unsur-unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, preposisi, dan unsur-unsur lainnya.

Berbicara merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat produktif. Sehubungan dengan keterampilan berbicara ada tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya pergantian antara berbicara dan menyimak, dan juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kita dapat meminta lawan bicara memperlambat tempo bicara dari lawan bicara.

Kemudian, ada pula situasi berbicara yang semiinteraktif, misalnya alam berpidato di hadapan umum secara langsung. Dalam situasi ini, audiens memang tidak dapat melakukan interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa situasi berbicara dapat dikatakan betul-betul bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melalui radio atau televisi.

Berikut ini beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki dalam berbicara. Seorang pembicara harus dapat: • mengucapkan bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya; • menggunakan tekanan dan nada serta intonasi yang jelas dan tepat sehingga pendengar dapat memahami apa yang diucapkan pembicara; • menggunakan bentuk-bentuk kata, urutan kata, serta pilihan kata yang tepat; • menggunakan register atau ragam bahasa yang sesuai terhadap situasi komunikasi, termasuk sesuai ditinjau dari hubungan antara pembicara dan pendengar; • berupaya agar kalimat-kalimat utama ( the main sentence constituents) jelas bagi pendengar; • berupaya mengemukakan ide-ide atau informasi tambahan guna menjelaskan ide-ide utama; • berupaya agar wacana berpautan secara selaras sehingga pendengar mudah mengikuti pembicaraan.

Membaca merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif. Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan menyimak dan berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memiliki tradisi literasi yang telah berkembang, sering kali keterampilan membaca dikembangkan secara terintegrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara.

Keterampilan-keterampilan mikro yang terkait dengan proses membaca yang harus dimiliki pembaca adalah: • mengenal sistem tulisan yang digunakan; • mengenal kosakata; • menentukan kata-kata kunci yang mengidentifikasikan topik dan gagasan utama; • menentukan makna-makna kata, termasuk kosakata split, dari konteks tertulis; • mengenal kelas kata gramatikal: kata benda, kata sifat, dan sebagainya; • menentukan konstituen-konstituen dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek, dan preposisi; • mengenal bentuk-bentuk dasar sintaksis; • merekonstruksi dan menyimpulkan situasi, tujuan-tujuan, dan partisipan; • menggunakan perangkat kohesif leksikal dan gramatikal guna menarik kesimpulan-kesimpulan; • menggunakan pengetahuan dan perangkat-perangkat kohesif leksikal dan gramatikal untuk memahami apa saja yang termasuk aspek-aspek berbicara utama atau informasi utama; • membedakan ide utama dari detail-detail yang disajikan; • menggunakan strategi membaca yang berbeda terhadap tujuan-tujuan membaca yang berbeda, seperti skimming untuk mencari ide-ide utama atau melakukan studi secara mendalam.

Menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat produktif. Menulis dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis keterampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekadar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat; melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur.

Berikut ini keterampilan-keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis, penulis perlu untuk: • menggunakan ortografi dengan benar, termasuk di sini penggunaan ejaan; • memilih kata yang tepat; • menggunakan bentuk kata dengan benar; • mengurutkan kta-kata dengan benar; • menggunakan struktur kalimat yang tepat dan jelas bagi pembaca; • memilih genre tulisan yang tepat, sesuai dengan pembaca yang dituju; • mengupayakan ide-ide atu informasi utama didukung secara jelas oleh ide-ide atau informasi tambahan; • mengupayakan terciptanya paragraf dan keseluruhan tulisan koheren sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran atau informasi yang disajikan; • membuat dugaan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca sasaran mengenai subjek yang ditulis dan membuat asumsi mengenai hal-hal yang belum mereka ketahui dan penting untuk ditulis.

Hi, selamat datang di blog pribadi saya. Nama saya adalah Wisnu Edi Wibowo, nama panggilan saya wisnu. Saya adalah mahasiswa PGSD di Universitas PGRI Yogyakarta. Blog ini dibuat pada hari kamis tanggal 12 September 2013. Saya harap kalian semua menyukai blog saya, saya menerima saran dan komentar, tetapi ingat gunakanlah kata yang baik dan sopan dan tolong kirimkan saran dan komentar di Kontak Saya.

Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Untuk pertanyaan, bisa anda tanyakan lewat kirimkan email ke wisnuediw@gmail.com

TUGAS 1 - Aspek-aspek Keterampilan Berbahasa dan Komunikasi Multiarah




2022 www.videocon.com