Lansia diteriaki maling

lansia diteriaki maling

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang pengemudi motor berinisial K (27) bersembunyi di gorong-gorong usai menabrak mobil di Jalan Bangunan Barat, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur.

Awalnya, pengemudi motor itu membonceng istri dan anaknya. Motor yang ia kemudikan lalu menabrak mobil terparkir di pinggir jalan, Sabtu (2/4/2022) sekitar pukul 23.00 WIB. Akibat tabrakan itu, kaca mobil hancur.

lansia diteriaki maling

K beserta istri dan anaknya juga terjatuh. Baca juga: Peringatan Dini BMKG: Tiga Wilayah Jakarta dan Bodebek Berpotensi Hujan Petir-Angin Kencang "Korban (pengemudi motor) yang panik langsung melarikan diri ke sebuah kali karena sempat diteriaki maling dan ditimpuk batu oleh warga sekitar," ujar Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pulogadung Kompol David Richardo, Minggu (3/4/2022) petang. K kemudian bersembunyi di gorong-gorong kali Jalan Haji Ten, Kayu Putih, Pulogadung.

Sementara istri dan anaknya tetap berada di lokasi kecelakaan.

lansia diteriaki maling

Mengetahui K sedang bersembunyi, jajaran Polsek Pulogadung kemudian berkoordinasi dengan petugas pemadam kebakaran (damkar) Kecamatan Pulogadung untuk melakukan pencarian. "Setelah hampir dua jam dicari, korban ditemukan sedang terjebak di gorong-gorong sempit karena takut diamuk massa dan hampir kehabisan napas," kata David. Suku Dinas (Sudin) Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur Sektor Pulogadung mengerahkan lima personel guna mengevakuasi K dari gorong-gorong. Baca juga: Pemprov DKI Berencana Jadikan JIS Lokasi Shalat Idul Fitri 1443 Hijriah "Kami evakuasi mulai pukul 00.30 WIB (Minggu dini hari), selesai pukul 01.30 WIB," kata Kepala Seksi Operasi Sudin Gulkarmat Jakarta Timur Gatot Sulaeman.

Selanjutnya, K dilarikan ke Rumah Sakit Persahabatan, Pulogadung karena mengalami sesak napas dan menggigil kedinginan. Berita Terkait Pertama Sejak Pandemi, Masjid Istiqlal Kembali Gelar Buka Puasa Bersama Korsleting Listrik, Ruko Penjual Jas Hujan dan Payung di Jakarta Barat Hangus Terbakar Pengamat Sebut Kendaraan yang Melaju di Bawah Batas Kecepatan Minimum di Tol Harus Ditilang Hotman Paris Dilaporkan ke Polda Metro lansia diteriaki maling Dugaan Konten Asusila Polda Metro Terima 2 Laporan soal Dugaan Penipuan Kapten Vincent, Total Kerugian Rp 60 Juta Berita Terkait Pertama Sejak Pandemi, Masjid Istiqlal Kembali Gelar Buka Puasa Bersama Korsleting Listrik, Ruko Penjual Jas Hujan dan Payung di Jakarta Barat Hangus Terbakar Pengamat Sebut Kendaraan yang Melaju di Bawah Batas Kecepatan Minimum di Tol Harus Ditilang Hotman Paris Dilaporkan ke Polda Metro atas Dugaan Konten Asusila Polda Metro Terima 2 Laporan soal Dugaan Penipuan Kapten Vincent, Total Kerugian Rp 60 Juta Peringatan Dini BMKG: Tiga Wilayah Jakarta dan Bodebek Berpotensi Hujan Petir-Angin Kencang https://megapolitan.kompas.com/read/2022/04/04/05000071/peringatan-dini-bmkg--tiga-wilayah-jakarta-dan-bodebek-berpotensi-hujan https://asset.kompas.com/crops/AVsQg7eeQwMRTvvL4WxqZ916-OA=/0x26:3104x2096/195x98/data/photo/2022/02/02/61f9f12450336.jpg ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied.

Request blocked. We can't connect to lansia diteriaki maling server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation.

Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: wKjieWvCWhoK1J6WrOMCGfUzU40nHdE0X7tssFZCkYKngeXl2ao-RA==
TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Saat ditinggal salat tarawih, rumah milik Sunia, seorang lansia di Desa Tunggilis Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran dibobol maling, Senin (11/4/2022). Baca juga: Ditinggal Salat Tarawih, Rumah Miad di Pangandaran Dibobol Maling, Laptop hingga Tabungan Digasak Baca juga: Lansia diteriaki maling Indramayu Diusir Warga Semarang, Ketahuan Bobol Kamar Mandi Kos Cewek, Diteriaki Maling Akibat rumahnya dibobol maling, barang berharga milik wanita berusia 62 tahun ini, emas seberat 40 gram, satu unit handphone android dan uang senilai Rp 1.350.000 hilang dibawa lari pencuri.

(*) 1 Oplas Dinilai Berhasil, 5 Potret Lucinta Luna di Malaysia Dipuji Bak Boneka Barbie 2 4 Cara Mudah untuk Mengawali Hari dengan Lebih Bugar dan Bertenaga 3 Innalillahi Waina Ilaihi Rajiun, Sang Raja Dangdut Rhoma Irama Berduka 4 Dibegal 9 Orang di Jalan, 2 Prajurit TNI Lakukan Perlawanan 1 Pelaku Diamankan 5 Selamat!

Jessica Iskandar Melahirkan Anak Kedua, Wajah Sang Bayi Bikin Penasaran Selengkapnya
Suara.com - Pengadilan Negeri Jakarta Timur akan menggelar sidang perdana kasus pengeroyokan yang menewaskan kakek Wiyanto Halim (89) pada hari ini, Senin (18/4/2022). Adapun agenda dalam sidang perdana kali ini adalah pembacaan dakwaan terhadap para terdakwa. "Benar sidangnya hari ini," kata Alex dalam pesan singkat. Hanya saja, belum diketahui secara pasti berapa total terdakwa yang akan menjalani sidang dan mendengarkan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Lansia diteriaki maling Umum (JPU).

Dari informasi yang ada, persidangan akan berlangsung di Ruang Ali Said sekitar pukul 13.00 WIB. Provokasi Teriakan Maling Baca Juga: Peran 3 Provokator Tewaskan Kakek Wiyanto di Cakung: Pencet Klakson, Direkam hingga Teriak-teriak Maling Polisi mengungkap motif pelaku pengeroyokan yang menewaskan Wiyanto Halim adalah akibat adanya provokasi teriakan maling.

Kasus pengeroyokan lansia itu bermula dari serempetan yang terjadi antara korban dengan pengendara sepeda motor berinisial JI yang juga sudah ditetapkan sebagai tersangka. JI kemudian meneriaki mobil korban dengan teriakan maling dan teriakan inilah yang mengundang perhatian dari pengendara sepeda motor lainnya, kemudian berusaha mengejar mobil yang dikendarai oleh korban.
Hari ini Pengadilan Negeri Jakarta Timur menggelar sidang perdana kasus pengeroyokan kakek Wiyanto Halim yang sempat viral.

Kuasa hukum keluarga Wiyanto Halim, Marloncius Sihaloho menilai persidangan secara lansia diteriaki maling memiliki banyak kendala, terutama soal jaringan. Dia berharap sidang ini dilaksanakan secara offline.

lansia diteriaki maling

Kronologi kasus pengeroyokan lansia ini, berawal saat korban mengendarai mobil Toyota Rush sendirian dan menyerempet moto r di kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur, pada 23 Januari 2022. Namun, saat itu Wiyanto tidak berhenti dan lanjut berjalan. Hal itu memancing amarah korban penyerempetan dan mengejar mobil tersebut hingga ke Pulogadung. Dia meneriaki Wiyanto sebagai maling untuk memancing warga dan membantunya menghentikan kendaraan korban.

Setelah mobil berhenti, warga langsung menghajar kakek 98 tahun itu hingga tewas. Mereka juga merusak mobil HM sampai ringsek. Bryana Halim, anak Lansia diteriaki maling, menceritakan ayahnya mengalami luka parah akibat pengeroyokan itu.

Ia menduga ayahnya dihajar menggunakan senjata tumpul. "Kepalanya robek, mukanya penyok gitu, tulang belakang hancur, dadanya mungkin hancur juga, kupingnya bengkak ada pendarahan, ya sampai segitunya. Pokoknya tulang belakangnya hancur. Itu diinjak-injak kayaknya," ujar Bryana. Dalam sidang hari ini, enam dari 9 terdakwa dihadirkan secara onlinei.

lansia diteriaki maling

Keenam terdakwa itu atas nama Reinaldi, Muhammad Amar, Zulfikar, Tria Julian, Muhammad Yohan Prasetyo, dan Muhammad Faisal. Polisi menangkap 9 orang tersangka atas kasus lansia diteriaki maling itu. Selain pengeroyok, polisi juga menangkap pelaku perusakan mobil korban.

lansia diteriaki maling

Para tersangka pengeroyokan lansia itu dijerat dengan Pasal 170 ayat 1 dan 2 juncto Pasal 55 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Ancaman hukumannya di atas 12 tahun penjara. Baca juga: Dugaan Pembunuhan Berencana di Balik Pengeroyokan Lansia, Ini Kata PolisiMerdeka.com - Brayen I P Jella Bing (9), mantan siswa Sekolah Dasar Negeri Naikoten 2 Kota Lansia diteriaki maling, Nusa Tenggara Timur diduga dianiaya gurunya berinisial AE, hingga mengalami kebutaan permanen, pada 13 November 2017 silam.

Ayah kandung korban, Daud Jella Bing kepada wartawan menjelaskan, bukan hanya Brayen, kedua anaknya yang lain bernama Indra A P Jella Bing (11) dan Gobsy A F Jella Bing (7), juga diduga pernah dianiaya oleh dua guru.

lansia diteriaki maling

Namun pihak sekolah meminta maaf atas tindakan tersebut, sehingga langkah damai pun ditempuh. "Waktu itu saya minta pihak sekolah membuat surat pernyataan, untuk ditandatangani bersama agar kedua guru itu tidak lagi mendidik anak-anak dengan kekerasan. Saat itu kepala sekolah menyanggupi namun tidak tidak dibuat hingga lansia diteriaki maling kasus penganiayaan yang ketiga terhadap Brayen ini," katanya, Rabu (20/4).

Menurut Daud, dia memproses hukum kasus ini karena merupakan kejadian sama yang dialami oleh ketiga anaknya. Daud pun kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polsek Maulafa, dengan harapan bisa mendapatkan keadilan. BACA JUGA: VIDEO: Rekaman CCTV Wakil Ketua DPRD Lutim dan Sopirnya Diduga Aniaya Petugas SPBU Tak Terima Ditagih Utang Beras, Sersan TNI Pukul Wanita Pakai Sekop Plastik Pada 14 November 2017 kepala sekolah bersama seorang guru yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Brayen, datang ke rumah dan meminta kedua orangtuanya untuk mencabut laporan di Polsek Maulafa.

"Bukannya datang tanya kondisi kesehatan anak kami, malah memaksa kami orangtua untuk segera cabut laporan di Polsek Maulafa, setelah itu damai dan anak-anak sekolah dengan tenang. Daud menceritakan, bukan hanya pihak sekolah namun pengawas, utusan Dinas PPO Kota Kupang, Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas PPO hingga Kepala Dinas PPO pun menemui mereka untuk meminta mencabut laporan polisi.

lansia diteriaki maling

"Kasus penganiayaan yang ketiga ini adalah yang terberat dan terparah, karena anak kami Brayen mengalami bengkak pada kepala bagian belakang kiri serta kanan, dan mata kiri bekas operasi yang masih harus dirawat lebih lanjut, mengalami kebutaan total sampai saat ini," ungkapnya di Kantor P2TP2A NTT. BACA JUGA: Tahanan Kasus BBM Tewas Dihajar di Sel Polres Kutai Barat, 5 Orang Tersangka Anggota Ditpolairud Polda Sumsel Sempat Dibawa 'Kapal Hantu' Lebih mirisnya, pada 25 November 2017, kepala sekolah mengeluarkan Brayen dan kedua adiknya dari sekolah.

Padahal sementara mempersiapkan diri untuk ujian karena data Dapodik telah dikirim ke Kementerian Pendidikan. "Tanggal 26 November seorang pengacara katanya utusan dari Kementerian datang temui kami orang tua.

lansia diteriaki maling

Dia datang bermaksud untuk menarik surat merumahkan anak yang kami dapatkan dari kepala sekolah, dengan alasan mau dibawa menghadap kepala dinas PPO Kota Kupang. Namun kami tidak mau menyerahkan surat itu," ujarnya. Tidak sampai di situ, 8 Desember 2017 kepala sekolah kembali datang ke rumah dan menemui ibu korban lalu mengumpat kalimat dirinya tidak peduli dengan siapa saja, bahkan wali kota sekali pun sehingga biarkan hukum yang berbicara.

BACA JUGA: VIDEO: Pelaku Penganiayaan Petugas SPBU Dicibir "Lebaran di Penjara" VIDEO: Begini Tampang Duo Bang Jago Cikarang yang Tega Aniaya Petugas SPBU lansia diteriaki maling omong di istri saya begini, ibu bapak lihat saya baik-baik saya adalah seorang pemimpin saya tidak tidak takut dan peduli siapa pun. Karena saya sudah dapat signal dari pimpinan yang paling tinggi yaitu PGRI dan satu hal yang ibu harus paham, bahwa yang kepala sekolah di sini adalah saya bukan wali kota jadi biar hukum yang berbicara," cerita Daud menirukan perkataan kepala sekolah.

Karena tidak menemui jalan keluar agar anak-anaknya tetap mendapatkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Naikoten 2 Kota Kupang, Daud kemudian memberanikan diri menghadap Wali kota Kupang, Jefri Riwu Kore. Lansia diteriaki maling 2 Desember 2017 mereka mendapat surat panggilan mengikuti ujian semester I, setelah mengikuti ujian, ketiga anaknya kembali dirumahkan.

Bahkan kepala sinas PPO dan kepala sekolah mengabaikan memo Walikota Kupang, yang isinya agar ketiga anak Daud kembali mengikuti proses belajar mengajar dengan normal. BACA JUGA: 2 Penganiaya Petugas SPBU di Bekasi Dibekuk, Motif Kesal Tak Dilayani Isi BBM Tiga Terduga Provokator Pengeroyokan Polisi di Cakung Ditangkap, Ini Motifnya Pada 24 Agustus 2018 mereka ditelepon penyidik Polsek Maulafa untuk datang ke kantor.

Dalam pertemuan tersebut, Daud mengaku diminta penyidik untuk mencabut laporan kasus diskriminasi yang sedang ditanganinya. Penyidik beralasan kasihan pada pelaku, karena nanti hukuman kepada guru maupun kepala sekolah sangat berat. "Yang jadi pertanyaan kami orangtua, siapa yang nanti kasihan kepada kami korban?

lansia diteriaki maling

Trus penyidik itu berkata lagi, kalau tidak cabut laporan nanti bikin capai diri, buang waktu, pekerjaan dan tenaga. Bahkan kami dilarang untuk minta perlindungan hukum dari P2TP2A," ceritanya kembali. Daud juga mengaku, tanggal 19 Mei 2020 dia bersama anaknya kembali diperiksa. Mereka disuruh tanda tangan oleh penyidik namun disodorkan BAP korban, yang dibuat lansia diteriaki maling surut tertanggal 4 Mei 2019. "Kami dipaksa harus tanda tangan sehingga kami tanya mengapa BAP korban yang dibuat tahun lalu dan sudah ditandatangani, dibuat ulang berlaku surut yang isinya membuat ragu.

Penyidik menjawab BAP korban yang dibuat 4 Mei 2019, telah hilang di tempat foto copy," ungkap Daud. BACA JUGA: Alami KDRT oleh Suami Warga Thailand, Perempuan Asal Aceh Dipulangkan ke Indonesia Sekelompok Penagih Utang Pinjaman Online Bawa Senjata Tajam, Lakukan Penganiayaan Daud pun mengadukan peristiwa yang dialaminya ke Propam Polda NTT pada 1 Agustus 2019, terkait pemaksaan korban mencabut laporan, dilarang didampingi oleh perlindungan anak oleh Kapolsek, BAP diskriminasi dihilangkan penyidik, penerapan pasal 77 huruf A UU Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 tentang aborsi, yang dipakai dalam kasus diskriminasi, serta penghilangan pasal 9 ayat 1 UU Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 tentang hak anak mengikuti pendidikan, sesuai SP2HP.

Namun karena tidak cukup bukti dan tidak ditemukannya pelanggaran penyidik dalam menangani perkara diskriminasi anak, sesuai surat Kabid Propam Polda NTT maka maka kasus tersebut dihentikan. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh mantan Kabid Propam, namun tidak ada tembusan kepada Kapolda, Wakapolda, Irwasda, Karo SDM, Direskrimum maupun Kabidkum Polda NTT.

Menurut Daud, 10 November 2020 kasus diskriminasi terhadap ketiga anaknya digelar di Reskrimum Lansia diteriaki maling NTT dan tetap memakai pasal aborsi anak. Sedangkan pasal 9 ayat 1 UU perlindungan anak dihilangkan dalam BAP.

Penyidik Reskrimum Polda NTT juga telah mengirim SPDP ke Kejaksaan Tinggi NTT, pada 25 Januari 2021 lalu, namun berkas perkaranya tidak pernah dikirim. Jaksa telah melakukan penagihan namun tidak pernah direspons penyidik.

lansia diteriaki maling

"Tanggal 17 Mei 2021 kami mendapatkan surat dari Direskrimum Polda NTT tentang pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan. Dalam surat itu menerangkan bahwa hasil gelar perkara 13 April 2021 direkomendasikan proses penyidikan dihentikan, karena tidak cukup bukti padahal SPDP yang dikirim masih berada di Kejaksaan Tinggi," jelas Daud.

Saat bersama tim kuasa hukum dari LBH Surya ke Lansia diteriaki maling Tinggi, dijelaskan bahwa jaksa menerima SPDP perkara namun berkasnya tidak pernah dinaikkan oleh penyidik ke Kejaksaan Tinggi.

Pihak Kejaksaan Tinggi telah menagih berkas perkara tersebut tapi tidak direspon oleh penyidik Reskrimum Polda NTT, sehingga pada akhir Mei 2021, SPDP dikirim kembali ke penyidik dengan catatan diperbaiki untuk dinaikkan kembali. Ingin mendapatkan keadilan terhadap kasus diskriminasi yang dialami oleh anak-anaknya, Daud didampingi kuasa hukum, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) NTT dan Peksos, melakukan praperadilan Polda NTT yang telah didaftarkan pada 5 April 2022 kemarin, di Pengadilan Negeri Kupang.

"Sidang pertama telah dilakukan tanggal 12 April kemarin namun tidak dihadiri pihak Polda NTT. Sidang kedua sudah dilakukan dan dihadiri penyidik. Hari ini sidang ketiga," tambah Daud. Dia mengambil langkah hukum pra peradilan, dengan harapan kasus ini menjadi terang benderang, sehingga lansia diteriaki maling bisa ditegakkan.

lansia diteriaki maling

"Kami tidak ada kepentingan lain, selain keadilan bagi anak-anak kami. Kami berharap Kapolda bahkan Kapolri mengetahui hal ini," tutup Daud. [eko] Baca juga: Nasib Nahas Tukang Cilok Lagi Jualan Dihajar Polisi, Tetap Dagang Meski Muka Bonyok Injak Bahu Lansia diteriaki maling, Kepala Sekolah di Bali Dipecat dan Berstatus Guru Biasa Viral Aksi Guru di Bali Diduga Beri Hukuman Push Up dan Injak Bahu Siswa Peserta Diklatsar Menwa UNS Tewas, 2 Panitia Dituntut 7 Tahun Penjara Guru Hukum Siswa Benturkan Kepala ke Tembok di Kupang Dijerat UU Perlindungan Anak Benturkan Kepala Siswa ke Tembok, Guru: Korban Hilangkan Buku yang Dipinjam 1 4 Cara Mudah untuk Mengawali Hari dengan Lebih Bugar dan Bertenaga 2 Cantik dan Menggemaskan Salima Anak Wishnutama & Gista Putri Liburan di Luar Negeri 3 Cantik Klasik Khas Sageuk, 10 Aktris Korea Ini Jadi Sering Main Drama Sejarah 4 Nekat Berenang saat Ombak Tinggi, Tiga Wisatawan Tewas Tenggelam di Pantai Sukabumi 5 Potret Carissa Putri Bersama 2 Putranya yang Ganteng-ganteng Banget Liburan ke Bali Selengkapnya
ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied.

Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation.

Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: 7pxfcGLh_yuTLWqT6hXezmCHAro17H3uqBpWJhB47jdn_Suf5_w-2Q==
Suara.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi dalam sidang kasus pengeroyokan terhadap kakek Wiyanto Halim (89), korban pengeroyokan hingga tewas di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (18/4/2022).

Mereka adalah Muhammad Raihan dan Chandra. Dalam kesaksiannya, pada saat kejadian, yakni Minggu (23/1/2022) dini hari, Raihan ikut mengejar Wiyanto yang diteriaki sebagai maling. Semula, Raihan sedang asyik nongkrong bersama terdakwa Zulfikar dan Tria Julian di sebuah warung di kawasan Cipinang Muara. Raihan mengatakan, saat itu melintas sebuah mobil yang kaca depannya sudah dalam kondisi retak. Tidak jauh dari mobil tersebut, ada sekitar empat unit sepeda motor yang sedang mengejar.

‌ ‌"lagi nongkrong mobil lewat tapi kaca depannya retak, di belakang itu ada empat lansia diteriaki maling atau empat orang gitu dibelakang itu teriak maling sambil ngejar pakai motor, setau saya empat motor," kata Raihan di ruang sidang utama, Senin sore. Melihat situasi tersebut, Raihan, Zulfikar, dan Tria yang sedang asyik nongkrong terpancing dan ikut mengejar mobil yang dikemudikan oleh Wiyanto tersebut.

Saat itu, Raihan berboncengan dengan terdakwa Zulfikar. ‌ ‌"Saya ngikut semua, saya sama Zulfikar tapi saya yang bawa motor. Yang nongkrong tadi ngejar semua ‌sampai ke TKP," ucap dia. Baca Juga: 6 Terdakwa Pengeroyok Kakek Wiyanto Halim Didakwa Lakukan Kekerasan dan Perusakan Barang Selama proses pengejaran, kata Raihan, massa ada yang menimpuk mobil Wiyanto.

Sebagian massa lainnya ada yang meneriaki Wiyanto dengan sebutan maling. Hingga pada akhirnya, antara pukul 02.00 dan 03.00 WIB, tepat di kawasan Pulokambing, Jakarta Timur, massa yang mengejar Wiyanto jumlahnya makin banyak.

Raihan yang berboncengan dengan Zulfikar pun sempat memarkirkan kendaraannya. Tidak lama berselang, Zulfikar langsung bergegas ke arah mobil Wiyanto yang sudah terhenti. Terdakwa Zulfikar menendang bemper mobil milik Wiyanto. Baca Juga: Selain Agenda Dakwaan, Anak-Menantu Almarhum Kakek Wiyanto Halim Akan Bersaksi di Sidang Perdana "Saya lihat Muhammad Amar, lansia diteriaki maling ke atas mobil kap, terus injak-injak. ‌Kalau Tria Julian, dia tidak saya perhatikan karena di jalan tidak kelihatan (gelap)," ungkap Raihan.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied. Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time.

lansia diteriaki maling

There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: pjyNnqCErRkFeRF00qAjeh77xkp7TQKxceqCnXk3FodENXNx4H4iGg==

Sedang Viral! Diteriaki Maling, Lansia Meregang Nyawa Dihajar Massa




2022 www.videocon.com