Jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

INSTRUMEN KEBIJAKAN MONETER – Pengertian kebijakan moneter ialah serangkaian upaya untuk mengarahkan atau mengendalikan perekonomian makro agar stabil dan sesuai dengan kondisi yang diinginkan (yang lebih baik) dengan cara mengatur jumlah uang beredar. Instrumen Kebijakan Moneter bisnis Liputan6.com Ada 5 Instrumen Kebijak moneter, diantaranya ialah: 1.

Kebijakan Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation), yang dimaksud dengan Operasi pasar terbuka ialah kebijakan yang di ambil bank sentral untuk mengurangi atau membatasi jumlah duit beredar. Cara yang dilakukan dalam Kebijakan ini ialah dengan cara menjual sertifikat Bank Indonesia (SBI) ataupun membeli surat bernilai di pasar modal.

2. Kebijakan Diskonto (Potongan harga Policy), Maksud Diskonto ialah pemerintah mengurangi atau mengeluarkan jumlah duit beredar dengan cara merubah diskonto bank umum.

Bank sentral mempertimbangkan jumlah duit yang beredar apakah melebihi keperluan (tanda-tanda inflasi)dengan cara mengeluarkan ketentuan untuk menambah suku bunga. Dengan menambah suku bunga diharapkan dapat merangsang hasrat orang untuk menabung.

3. Kebijakan Cadangan Kas, Bank sentral dapat membuat ketentuan dalam prihal menambah ataupun menurunkan cadangan kas (cas ratio). Bank umum hanya bisa menerima uan dari nasabah berupa giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito, dan type tabungan yang lain.

Ada peraturan dan persentase yang spesifik dari uang yang disetorkan oleh nasabah yang tidak bisa dipinjamkan. 4. Kebijakan Credit Ketat : bank umum diperbolehkan memberikan kredit tetap, akan tetapi pemberiannya harus didasarkan pada persyaratan 5C, yakni Character, Capability, Collateral, Capital, serta Condition of Economy.

Dengan kebijakan adanya kebjikana seperti ini, diharapakan jumlah uang yang beredar dapat dipantau. Langkah kebijakan seperti ini biasanya di ambil ketika ekonomi tengah alami tanda-tanda inflasi. 5. Kebijakan Dorongan Moral (Moral Suasion), Bank sentral dapat juga membatasi jumlah uang yang beredar melalui pengumuman, pidato, atau surat edaran yang ditujukan kepada bank umum atau pelaku moneter yang lain. Isi pengumuman, pidato serta edaran tersebut dapat berupa ajakan atau larangan untuk menahan utang tabungan ataupun melepas utang.

Instrumen Kebijakan Moneter – Berbicara tentang kebijakan pastinya yang terlintas di benak kita adalah sebuah peraturan. Dalam semua aktivitas tentu saja kebijakan atau sebuah akan tindakan selalu dibutuhkan, hal ini dikarenakan untuk dapat mengatasi suatu masalah atau mengambil sebuah tindakan.

Begitu juga dalam kegiatan perekonomian, dalam perputaran ekonomi akan diperlukan suatu kebijakan yang dapat mengatur dan mengkoordinir perjalanan tersebut. Dalam ekonomi sendiri kebijakan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Namun pada kesempatan kali ini kita hanya akan membahas tentang kebijakan moneter terutama instrumen-instrumen yang dimiliki oleh kebijakan moneter.

Baca juga: Instrumen Kebijakan Fiskal Sebelum itu kita akan membahas terlebih dahulu mengenai pengertian kebijakan moneter. Kebijakan dapat diartikan sebagai salah satu langkah atau suatu tindakan yang diambil oleh petinggi moneter yang disini bertindak ialah Bank Sentral atau Bank Indonesia untuk dapat mengatur atau mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan daya beli atas uang tersebut.

Pada dasarnya, kebijakan moneter adalah kebijakan yang berkaitan dengan masalah keuangan. Adapun beberapa instrumen kebijakan moneter adalah sebagai berikut : • Kebijakan Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) Operasi pasar terbuka merupakan sebuah kebijakan yang diambil oleh bank sentral untuk dapat mengurangi dan menambahkan jumlah uang yang tengah beredar di masyarakat.

Hal tersebut akan dilakukan dengan cara menjual sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau bisa pula dengan membeli surat berharga yang terdapat dalam pasar modal.

Contoh dari kebijakan ini ialah pada saat Bank Indonesia melelang sertifikatnya atau bisa pula membeli atau menarik surat-surat berharga yang beredar di pasar modal.

Lelang sertifikat akan diberlakukan pada saat uang yang beredar di masyarakat berlebih maka dengan demikian jumlahnya dapat diminimalisir. Sedangkan pembelian surat-surat berharga diberlakukan pada saat uang yang beredar di masyarakat sedikit atau rendah maka dengan cara ini uang yang telah beredar di masyarakat akan kembali menjadi normal.

Konsekuensi dari kebijakan ini cukup besar karena tempatnya adalah di pasar terbuka, dimana semua pihak memiliki kebebasan untuk masuk dan melakukan bisnisnya. Akan tetapi di sisi lain dengan ikut pasar terbuka kita akan menjadi lebih mudah untuk mencapai tujuan utama, seperti misalnya untuk menjual sertifikat berharga kita lebih mudah untuk menemukan pihak yang akan membeli surat atau sertifikat.

Disamping itu, kita juga akan lebih mudah untuk membangun suatu jaringan dimana pada saat mengalami kesulitan atau masalah akan terselesaikan dengan baik dan efektif. Related posts: • Kepanjangan Dan Tugas CEO, COO, CFO, CMO, CTO • Korupsi : Pengertian Menurut Ahli, Menurut UU • Tax Amnesty : Pengertian, Tujuan, Manfaat • Analisa Usaha Daur Ulang Plastik Dan Botol Kaca • Definisi Pajak : Pengertian Menurut Para Ahli • Ciri Ciri Firma, Kelebihan Dan Kekurangannya Posted in Ekonomi Bisnis Tagged ekonomi nasional, pemerintahan Post navigation
Pengertian Kebijakan Moneter – Kebijakan moneter merupakan kebijakan dalam upaya mengendalikan perekonomian negara secara makro untuk mencapai perekonomian yang lebih baik dengan cara mengatur jumlah uang yang beredar.

Perekonomian yang baik sendiri dapat dilihat dari kestabilan harga melalui tingkat inflasi yang terkontrol, Grameds. Simak lebih lengkapnya berikut ini, Grameds. Daftar Isi • Pengertian Kebijakan Moneter • Pengertian Kebijakan Moneter Menurut Pendapat Para Ahli • Jenis-jenis Kebijakan Moneter • 1. Kebijakan Moneter Ekspansif • Anda Mungkin Juga Menyukai • 2.

Kebijakan Moneter Kontraktif • Tujuan Kebijakan Moneter • 1. Stabilitas Ekonomi • 2. Kesempatan Kerja • 3. Kestabilan Harga • 4. Neraca Pembayaran Internasional • 5. Menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi • Instrumen Kebijakan Moneter • 1.

Fasilitas Diskonto (Discount Rate) • 2. Operasi Pasar Terbuka • 3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter Ratio) • 4. Imbauan Moral (Moral Persuasion) Pengertian Kebijakan Moneter Kebijakan moneter merupakan proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu misalnya menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera.

Kebijakan moneter dapat melibatkan pengaturan standar bunga pinjaman, “ margin requirement “, kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain.

Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilitas ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang.

Jika kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat digunakan untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.

Kebijakan moneter adalah upaya mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Mencapai tujuan tersebut, Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan atau distribusi barang.

Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas. Pahami istilah populer lainnya seperti ekonomi, moneter, keuangan, dan perbankan melalui Kamus Istilah Populer: Ekonomi, Moneter, Keuangan, Perbankan yang ada dibawah ini. Pengertian Kebijakan Moneter Menurut Pendapat Para Ahli Berikut ini adalah pengertian kebijakan moneter menurut para ahli diantaranya: • Muana Nanga : Pengertian kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter dengan mengendalikan jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga untuk mempengaruhi tingkat permintaan agregat dan mengurangi ketidakstabilan ekonomi.

• Boediono Moneter : Yang dimaksud dengan kebijakan moneter adalah tindakan pemerintah melalui Bank Sentral untuk mempengaruhi dalam situasi makro yang dilaksanakan yaitu dengan menyeimbangkan jumlah uang beredar dengan penawaran barang sehingga inflasi dapat dikendalikan, tercapainya kesempatan kerja penuh dan kelancaran suplai atau distribusi barang.

• M. Natsir : Yang dimaksud dengan monetary policy adalah segala tindakan atau upaya bank sentral untuk mempengaruhi perkembangan variabel moneter (uang beredar, nilai tukar, suku bunga, dan suku bunga kredit) untuk mencapai tujuan yang diinginkan. • Perry Warjiyo : Kebijakan moneter adalah kebijakan otoritas moneter atau bank sentral dalam bentuk agregat moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan ekonomi yang dilakukan dengan memperhatikan siklus aktivitas ekonomi, sifat ekonomi suatu negara dan faktor ekonomi fundamental lainnya.

Jenis-jenis Kebijakan Moneter Dua jenis kebijakan moneter yang dapat diambil sebagai langkah untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Kebijakan tersebut adalah kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif, berikut penjelasannya: 1. Kebijakan Moneter Ekspansif Kebijakan Moneter Ekspansif sering disebut kebijakan uang Longgar (easy money policy) ialah kebijakan yang mengatur jumlah uang yang dipasok dalam perekonomian. Caranya dengan menurunkan suku bunga, membeli sekuritas pemerintah oleh bank sentral, dan menurunkan persyaratan cadangan untuk bank.

Kebijakan ekspansif juga akan menurunkan tingkat pengangguran dan merangsang aktivitas bisnis atau kegiatan belanja konsumen. Secara keseluruhan di seluruh negara, tujuan kebijakan moneter ekspansif adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan risiko inflasi akan semakin tinggi.

Kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive policy) utamanya melakukan penambahan uang yang beredar dalam masyarakat agar roda perekonomian semakin berjalan cepat. Kebijakan ini mampu meningkatkan daya beli (permintaan) masyarakat dan mengurangi jumlah pengangguran pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan moneter ekspansif juga mempengaruhi tingkat pengangguran di suatu negara. Rp 115.000 Contohnya, kebijakan ekspansif biasa diterapkan untuk mengurangi angka pengangguran karena ketersediaan uang dalam jumlah banyak akan merangsang kegiatan bisnis sehingga pasar tenaga kerja semakin besar.

Dengan otoritas fiskal, bank sentral mengontrol nilai tukar mata uang dalam negeri (Rupiah) terhadap mata uang asing. Contoh konkretnya, yaitu bank Indonesia menambah jumlah uang beredar dengan mengeluarkan lebih banyak uang cetak. Mata uang Rupiah menjadi lebih murah daripada mata uang negara lain. Pelajari kebijakan moneter lainnya yang ada di Indonesia melalui studi kasus yang dibahas pada buku Ekonomi Moneter oleh Prof. Dr. Haryo Kuncoro, S.E., M.SI. 2. Kebijakan Moneter Kontraktif Kebijakan Moneter Kontraktif adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar.

Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy). Kebijakan moneter kontraktif (monetary contractive policy) yang disebut kebijakan uang ketat (tight money policy) ialah kebijakan mengurangi jumlah uang yang beredar.

Tujuan utama dari kebijakan ini adalah menurunkan tingkat inflasi. Tujuan kebijakan moneter kontraktif adalah mengurangi jumlah uang beredar dalam perekonomian. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan suku bunga, menjual obligasi pemerintah, dan menaikkan persyaratan cadangan untuk bank.

Contoh Kebijakan Moneter di Indonesia Beberapa contoh monetary policy yang telah diterapkan di Indonesia, adalah sebagai berikut: Bank Indonesia (BI ) melakukan lelang sertifikatnya, atau bisa juga melalui pembelian surat berharga di pasar modal.

UBI dapat menurunkan suku bunga jika kondisi ekonomi sesuai dengan ekspektasi. Sebaliknya, BI bisa menaikkan suku bunga bila ingin membatasi aktivitas ekonomi sehingga aliran uang berkurang. Ketika perekonomian mengalami resesi maka peredaran uang akan meningkat sehingga aktivitas perekonomian meningkat.

Contohnya adalah membeli sekuritas (surat-surat berharga) Saat terjadi inflasi, BI akan mengurangi aliran uang ke masyarakat dengan menjual surat berharga untuk mengurangi aktivitas ekonomi yang berlebihan.

Prof. Dr. Ali Wardhana selaku Gubernur Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional mengungkapkan betapa beratnya usaha untuk beliau meloloskan diri dari tekanan rumusan kebijakan negara maju dalam krisis ekonomi global yang dibahas pada buku Prof.

Dr. Ali Wardhana: Pembaharu Kebijakan Moneter dan Fiskal di Indonesia. Baca juga : Pengertian Ilmu Ekonomi Tujuan Kebijakan Moneter Bank Indonesia memiliki tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia. Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi.

Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan.

Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.

Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter atau suku bunga) dengan tujuan menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah. Jika dirangkum, maka tujuan kebijakan moneter diantaranya: 1. Stabilitas Ekonomi Stabilitas ekonomi adalah suatu keadaan di mana pertumbuhan ekonomi berlangsung secara terkendali dan berkelanjutan.

Artinya, pertumbuhan arus barang/jasa dan arus uang berjalan seimbang. 2. Kesempatan Kerja Kesempatan kerja akan meningkat bila produksi meningkat. Peningkatan produksi biasanya diikuti dengan perbaikan nasib para karyawan ditinjau dari segi upah maupun keselamatan kerja. Perbaikan upah dan keselamatan kerja akan meningkatkan taraf hidup karyawan dan pada akhirnya kemakmuran dapat tercapai. 3. Kestabilan Harga 4. Neraca Pembayaran Internasional Neraca pembayaran dapat dikatakan dalam keadaan seimbang apabila jumlah nilai barang yang diekspor sama dengan nilai barang yang diimpor.

Untuk mendapatkan neraca pembayaran yang seimbang, pemerintah sering menjalankan kebijakan moneter. Contohnya adalah dengan cara melakukan devaluasi. 5. Menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Menjaga stabilitas harga dari banyaknya jumlah uang yang beredar, Meningkatkan kesempatan kerja, Memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran, jika negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing.

Instrumen Kebijakan Moneter Kebijakan moneter adalah kebijakan ekonomi yang mengatur tingkat pertumbuhan dan peredaran uang di dalam suatu negara. Variabel makroekonomi utama yang diatur oleh kebijakan moneter adalah inflasi dan pengangguran. Cara-cara yang menjadi ciri khas kebijakan moneter adalah pengaturan suku bunga, transaksi jual dan beli sekuritas pemerintah, dan pengubahan jumlah uang tunai yang beredar di pasar.

Bank sentral atau badan negara pengatur keuangan seperti Kementerian Keuangan bertanggung jawab atas perumusan kebijakan moneter. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah manajemen inflasi, manajemen pengangguran, dan penjagaan nilai tukar mata uang.

Kebijakan moneter bisa membuat target tentang tingkat inflasi, suku bunga, dan nilai mata uang. Bank Sentral adalah aktor utama dalam pelaksanaan kebijakan moneter secara langsung dan tidak langsung. Contoh dari kebijakan moneter langsung adalah mencetak uang baru, membekukan saldo perusahaan swasta/negara, merombak sistem perbankan, mengambil alih urusan perbankan/perkreditan, dan masih banyak lagi.

Bank sentral ikut serta dalam peredaran uang dan lalu lintas kredit perbankan. Sedangkan contoh kebijakan politik moneter tidak langsung adalah memberikan pengaruh kepada pemberian kredit oleh dunia perbankan. Pengaturan uang beredar dalam masyarakat dilakukan dengan menambah atau mengurangi jumlah uang jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter beredar.

Pelajari mengenai kebijakan moneter termasuk siklus ekgiatan ekonomi, sasaran kebijakan, hingga studi kasus di Indonesia melalui buku Kebijakan Fiskal&Moneter: Teori&Empirikal. Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, tujuannya mengatur jumlah uang yang beredar demi terjaganya stabilitas harga, baik instrumen langsung maupun tidak langsung.

Beberapa instrumen utamanya, diantaranya: 1. Fasilitas Diskonto (Discount Rate) Fasilitas Diskonto adalah tingkat bunga yang ditetapkan pemerintah pada bank-bank umum yang meminjam uang kepada bank sentral. Ketika bank-bank umum mengalami kondisi yang mengharuskan mereka untuk meminjam uang ke bank sentral, pemerintah dapat menggunakan kesempatan ini untuk mengatur jumlah uang yang beredar.

Jika pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar, maka pemerintah akan menurunkan tingkat suku bunga pinjaman atau diskonto. Ketika tingkat suku bunga pinjaman menurun menjadi lebih murah, maka bank-bank umum akan lebih tertarik untuk meminjam uang ke bank sentral. Sebaliknya ketika pemerintah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar, maka pemerintah akan menaikan tingkat suku bunga. Kenaikan suku bunga tersebut akan mengurangi niat bank-bank umum untuk melakukan pinjaman di bank sentral sehingga pemerintah dapat menekan laju pertambahan jumlah uang beredar.

2. Operasi Pasar Terbuka Operasi Pasar Terbuka (OPT) merupakan salah satu instrumen kebijakan moneter tidak langsung yang sangat penting karena sifatnya yang sangat fleksibel dibanding dengan instrumen lain. OPT dilakukan oleh pemerintah untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar dengan menjual (open market selling) jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter membeli (open market buying) surat-surat berharga milik pemerintah.

a.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Open Market Selling dilakukan ketika pemerintah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar dengan menjual surat-surat berharga yang beredar. Ketika pemerintah menjual surat-surat tersebut ke masyarakat, maka uang yang digunakan masyarakat untuk membeli surat tersebut akan masuk ke otoritas moneter.

Akhirnya, uang yang beredar di masyarakat semakin sedikit. b. Open Market Buying dilakukan ketika pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar dengan cara membeli surat-surat berharga yang beredar. Ketika pemerintah membeli surat berharga dari masyarakat, maka uang yang beredar di masyarakat akan bertambah. Di Indonesia, kebijakan moneter berupa OPT dilakukan dengan cara menjual atau membeli surat-surat berharga yang terdiri dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI, Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) dan Surat Berharga Negara (SBN) yang dibagi menjadi Surat Utang Negara (SUN) terdiri dari Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan Obligasi Negara termasuk Zero Coupon Bond (ZCB) dan Obligasi Negara Ritel (ORI), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) termasuk SBSN Ritel.

Ketika pemerintah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar maka pemerintah akan menjual berbagai surat berharga tersebut, sebaliknya ketika pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar maka pemerintah akan membeli kembali berbagai surat-surat berharga yang telah dijual sebelumnya.

3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) Ketika minimum cadangan wajib tersebut berkurang, maka bank memiliki lebih banyak uang yang dapat diedarkan di masyarakat melalui pinjaman. Sebaliknya jika pemerintah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar, maka pemerintah dapat menambah jumlah minimum cadangan wajib bank sehingga bank memiliki uang yang lebih sedikit untuk diedarkan.

Ketika minimum candangan wajib tersebut berkurang, maka bank memiliki lebih banyak uang yang dapat diedarkan di masyarakat melalui pinjaman. Sebaliknya jika pemeritnah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar, maka pemerintah dapat menambah jumlah minimum cadangan wajib bank sehingga bank memiliki uang yang lebih sedikit untuk diedarkan.

4. Imbauan Moral (Moral Persuasion) Instrumen kebijakan moneter berupa imbauan moral dapat dilakukan oleh bank sentral untuk mengontrol jumlah uang yang beredar melalui berbagai hal.

Bank sentral dapat mengimbau bank-bank umum untuk menurunkan atau menaikan suku bunga pinjamannya. Bank sentral juga dapat memberikan saran kepada bank-bank tersebut jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter hati-hati dalam memberikan pinjaman kredit kepada masyarakat ataupun membatasi keinginannya untuk meminjam uang kepada bank sentral melalui Fasilitas Diskonto.

Selain 4 instrumen tersebut, Bank Indonesia memiliki beberapa instrumen kebijakan moneter lainnya seperti: • Kredit Langsung yaitu Bank Indonesia memberikan kredit secara langsung kepada sektor, program, proyek, ataupun kegiatan yang sifatnya mendesak dan harus diprioritaskan. Kredit langsung ini akan menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat karena digunakan untuk membiayai program ataupun kegiatan yang diprioritaskan.

• Penetapan Uang Muka Impor dimana para importir diwajibkan membayar sejumlah persentase tertentu sebagai uang muka untuk pembelian valuta asing yang mereka perlukan untuk mengimpor barang dari luar negeri.

Dengan ditetapkannya instrumen ini, pemerintah dapat mengatur jumlah uang yang beredar dari sisi impor jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter dapat mengontrol devisa negara. • Fasilitas Overdraft (Overdraft Window) dimana Bank Indonesia akan menyediakan fasilitas pinjaman yang berjangka sangat pendek kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas (pencairan) jangka pendek.

Suku bunga yang diterapkan pada fasilitas ini lebih tinggi dibanding sumber pinjaman lain sehingga dapat mengontrol jumlah uang yang beredar. • Intervensi Rupiah dimana Bank Indonesia melakukan pinjam meminjam dana secara langsung di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) dalam jangka waktu overnight sampai dengan 7 hari demi membantu instrumen kegiatan Operasi Pasar Terbuka.

• Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) adalah instrumen yang pada awalnya dibuat oleh Bank Indonesia sebagai fasilitas untuk bank-bank syariah, namun tidak menutup kemungkinan SWBI ini digunakan untuk membantu Operasi Pasar Terbuka. Pelaksanaan SWBI tidak dilakukan secara lelang melainkan membuka window sehingga memiliki kemiripan dengan fasilitas simpanan bank sentral. Selanjutnya, bank akan meningkatkan suku bunga yang mereka tetapkan kepada pelanggan mereka.

Dengan demikian, biaya pinjaman dalam perekonomian akan meningkat, dan jumlah uang beredar akan berkurang. Baca juga artikel berikut ini : • Pengertian Ekonomi Makro: Tujuan, Ruang Lingkup, Kebijakan, dan Penerapannya di Indonesia • Ekonomi Mikro: Pengertian, Ruang Lingkup, Teori, Contoh Kebijakan dan Perbedaannya dengan Ekonomi Mikro • Mengenal Apa Itu Resesi Ekonomi, Penyebab, Dampak dan Solusi Sumber: dari berbagai sumber Editor : Ahmad Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 9 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1 Squad, sebelum baca artikel ini jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter wajib baca dulu tentang Kebijakan Moneter untuk Krisis Ekonomi di Indonesia.

Yay! Sekarang sudah tahukan ternyata Indonesia telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan moneter sejak dulu dengan tujuan menyelamatkan perekonomian Indonesia tentunya. Sesuai dengan pengertiannya, kebijakan moneter adalah kebijakan yang diambil oleh bank sentral dengan tujuan memelihara dan mencapai stabilitas perekonomian.

Ilustrasi Kebijakan Moneter (Sumber: swarasenayan.com) Nah, Squad untuk mengeluarkan suatu kebijakan moneter terdapat instrumen-instrumen yang harus ada didalam kebijakan tersebut, antara lain: 1. Kebijakan Pasar Terbuka ( Open Market Operation) Kebijakan pasar terbuka merupakan kebijakan yang diambil oleh bank sentral dengan cara menjual atau membeli surat berharga seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Baca juga: Faktor-faktor yang Memengaruhi Permintaan dan Penawaran Uang Nah, perlu diperhatikan: - Bila bank sentral menjual SBI, maka akan mengurangi jumlah uang beredar untuk mengatasi inflasi Ketika SBI dibeli oleh masyarakat, maka uang akan diterima bank sentral, akibatnya dapat mengurangi jumlah uang beredar.

- Bila bank sentral membeli SBI, maka akan menambah jumlah uang beredar untuk mengatasi defaluasi Ketika bank sentral akan membeli SBI, maka bank sentral akan menukarkannya dengan uang, sehingga uang yang beredar di masyarakat akan bertambah. 2. Tingkat Bunga Diskonto ( Discount Rate) Kedua, tingkat bunga diskonto adalah kebijakan bank sentral menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga bank. Squad, perhatikan hal-hal ini ya: - Bila bank sentral menaikkan suku bunga akan berakibat mengurangi jumlah uang yang beredar untuk mengatasi inflasi Jadi, ketika suku bunga dinaikkan maka masyarakat akan lebih tertarik untuk menabung di bank, Squad karena akan mendapatkan bunga yang lebih besar.

Karena masyarakat b erbondong-bondong menabung, maka uang yang bererdar akan berkurang, karena uangnya disimpan di bank. - Bila menurunkan suku bunga maka akan menambah jumlah uang yang beredar untuk mengatasi deflasi Jadi, ketika suku bunga diturunkan maka masyarakat akan lebih tertarik untuk menggunakan uang karena bila ditabung hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit.

3. Cadangan Kas Minimal ( Cash Ratio/Reserve Requirement) Seperti namanya, cadangan kas minimal adalah kebijakan bank sentral untuk menaikkan atau menurunkan cadangan kas bank umum.

Ilustrasi Cadangan Kas Minimal (Sumber: daerah.sindonews.com) Hal yang harus diperhatikan nih Squad: - Bila bank sentral menaikkan cadangan kas maka akan mengurangi jumlah uang beredar untuk mengatasi inflasi.

Nah, akibatnya bank umum harus menahan uang lebih banyak sebagai cadangan, jumlah uang yang beredar dapat dikurangi, Squad. - Bila menurunkan cadangan kas maka akan menambah jumlah uang beredar untuk mengatasi deflasi. Jadi, bank umum harus mengelurakan uang lebih banyak ke masyarakat daripada menahan uang tersebut sebagai cadangan, nah karenanya jumlah uang yang beredar akan bertambah di masyarakat. 4. Pengawasan Kredit Selektif ( Selective Credit Control) Pengawasan kredit selektif ini juga merupakan kebijakan dari bank sentral lho, kebijakan ini menentukan jenis-jenis pinjaman mana yang harus dikurangi dan jenis pinjaman mana yang perlu didorong.

Terdapat dua jenis kredit, yaitu: - Kredit Ketat adalah kebijakan bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar untuk mengatasi inflasi, maksudnya adalah syarat pemberian yang ketat akan mengurangi jumlah masyarakat atau pengusaha yang bisa memperoleh kredit, karena kesulitan dalam memperoleh kredit dengan syarat-syarat yang dipersulit.

- Kredit longgar adalah kebijakan bank sentral untuk menambah jumlah uang yang beredar untuk mengatasi deflasi, maksudnya adalah syarat pemberian yang longgar akan menambah jumlah masyarakat atau pengusaha yang bisa memperoleh kredit karena k emudahan dalam memperoleh kredit dengan syarat-syarat yang dipermudah.

Dengan demikian, jumlah uang yang beredar dapat ditingkatkan. 5. Pembujukan Moral ( Moral Suasion) Terakhir merupakan pembujukan moral.

Nah, pembujukan moral ini merupakan kebijakan bank sentral dengan cara mengadakan pertemuan langsung antara bank sentral dengan pimpinan-pimpinan bank umum untuk meminta bank-bank umum melakukan langkah-langkah tertentu. Yeay! Itu tadi Squad 5 instrumen dalam kebijakan moneter. Untuk mengeluarkan suatu kebijakan moneter perlu banyak pertimbangan ya, karena berpengaruh pada perekonomian suatu negara.

Nah kalau kamu ingin memelajari 5 instrumen ini lebih jauh atau ingin belajar materi ekonomi lainnya, kamu bisa nih nonton video belajar di ruangbelajar! Referensi Alam S. 2014. Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI. Jakarta: Erlangga Sumber Foto Ilustrasi kebijakan moneter. Tautan: https://www.swarasenayan.com/kinerja-jokowi-urus-moneter/ Ilustrasi cadangan kas minimal.

Tautan: https://daerah.sindonews.com/read/28291/174/bi-larang-masyarakat-tukar-uang-pinggir-jalan-1589436355 Artikel diperbarui 14 Desember 2020
Kebijakan moneter tentu istilah yang tidak asing bagi mahasiswa ekonomi maupun para politisi maupun pengamat bidang ekonomi. Tidak cukup hanya pernah mendengar istilahnya. Perlu juga mendalami agar kita paham bagaimana sebenarnya seluk beluknya.

Pada pembahasan ini menguraikan terkait kebijakan moneter dalam beberapa bagian yaitu • Pengertian Kebijakan Moneter menurut para ahli • Jenis Kebijakan Moneter • Alat/instrumen kebijakan • Contoh Pengertian Kebijakan Moneter Berikut akan diuraikan beberapa pengertian kebijakan moneter menurut para ahli: Menurut Warjiyo & Solikin Pengertian Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter atau bank sentral dalam rangka mengendalikan besaran moneter agar tercapai perekonomian yang sesuai dengan yang diharapkan.

Besaran moneter (monetary aggregates) yang kendalikan dalam hal ini diantaranya uang jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter, uang primer, atau kredit perbankan. Adapun perekonomian yang diinginkan dari hasil kebijakan moneter yaitu adanya stabilitas ekonomi makro yang dicerminkan dari terciptanya stabilitas harga (terwujudnya laju inflasi yang rendah), kenaikan output riil (pertumbuhan ekonomi), dan tersedianya lapangan kerja yang luas bagi masyarakat. Kebijakan moneter terdiri atas proses penyusunan, pengumuman, serta implementasi rencana tindakan dari bank sentral atau otoritas moneter suatu negara yang mengendalikan jumlah uang dalam suatu ekonomi dan saluran-saluran di mana uang baru disediakan.

Tujuan kebijakan moneter mengatur jumlah uang yang beredar disuatu negara jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter tingkat suku bunga nya adalah dengan harapan mencapai tujuan ekonomi makro yang diharapkan. Tujuan ekonomi makro yang diharapkan disini seperti inflasi yang terkendali, konsumsi, pertumbuhan, dan likuiditas. Jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter mencapai jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter tersebut dilaksanakan kebijakan moneter guna memodifikasi tingkat suku bunga, membeli atau menjual obligasi pemerintah, mengatur kurs mata uang, dan mengatur jumlah uang cadangan yang harus di pertahankan oleh bank.

Hynková Kebijakan moneter adalah bagian dari alat kebijakan ekonomi makro. Pengertian Kebijakan moneter adalah serangkaian tindakan dan kebijakan yang harus memenuhi target yang diperlukan melalui instrumen kebijakan moneter atau mata uang. Kebijakan moneter adalah alat bank sentral dan tujuan kebijakan moneter utamanya adalah pemantauan dan pengaruh aktif pada tingkat inflasi.

Bank sentral menggunakannya untuk memenuhi target kebijakan moneter dengan memanfaatkan berbagai instrumen yang dapat mempengaruhi fungsi dari bank komersial dan juga mempengaruhi kegiatan ekonomi negara. Adelina-geanina Pandangan lainnya menyatakan bahwa pengertian kebijakan moneter adalah proses yang dimana pemerintah bersama bank sentral suatu negara mengendalikan persediaan dan ketersediaan uang, serta tingkat bunga sehingga tercapai pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.

Wawasan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter bagaimana penyusunan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter moneter yang optimal akan bisa di pelajari dalam teori ekonomi moneter.

Baca juga: Kebijakan fiskal Baca juga: Uang Baca juga: Bank Baca juga: Jumlah Uang Beredar Baca juga: Teori Kuantitas Uang Memahami Kebijakan Moneter Kebijakan moneter dirumuskan berdasarkan input yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Dalam mengambil kebijakan moneter biasanya indikator makro diperhatikan. Indikator yang diperhatikan seperti inflasi, PDB, pertumbuhan sektoral, harga minyak atau tarif perdagangan. Bank Sentral biasanya diberikan mandat kebijakan, untuk mencapai kenaikan stabil dalam pertumbuhan ekonomi, menjaga agar pengangguran rendah, dan menjaga nilai kurs mata uang dan inflasi dalam kisaran yang dapat diprediksi oleh pemerintah.

Kebijakan moneter dapat digunakan dalam kombinasi dengan atau sebagai alternatif kebijakan fiskal, yang menggunakan pajak, pinjaman pemerintah, dan pengeluaran untuk mengelola ekonomi. Baca juga: PDB, PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Baca juga: Inflasi Baca juga: Pengangguran Baca juga: Kurs Jenis Kebijakan Moneter Pada tingkat yang luas, kebijakan moneter dikategorikan kedalam dua kelompok yaitu ekspansif dan kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif dicirikan oleh fakta bahwa ada peningkatan jumlah uang beredar dalam perekonomian.

Sebaliknya, jenis jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter moneter kontraktif berarti mengurangi jumlah uang beredar. Kedua jenis kebijakan ini berdampak pada permintaan agregat (AD).

Bank sentral memilih kebijakan moneter ekspansif untuk merangsang pertumbuhan permintaan agregat. Dampak kebijakan moneter ekspansif tidak jelas. Kita perlu membedakan lamanya waktu dan itu tergantung di mana ekonomi berada. Dalam jangka panjang, uang itu netral – artinya ekspansi tidak memengaruhi produk nyata; karena kurva penawaran agregat jangka panjang adalah vertikal dan peningkatan permintaan agregat hanya berdampak pada kenaikan tingkat harga (produk nominal meningkat, produk riil tidak berubah).

Ini juga tergantung pada apakah ekonomi beroperasi pada tingkat output potensial, atau berada dalam kesenjangan output. Baca juga: Keseimbangan Agregat Demand-Agregat Supply Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2001-2019 Dalam kasus kedua, pertumbuhan output lebih besar dari pertumbuhan tingkat harga. Dampak dari ekspansi moneter juga dapat dipengaruhi oleh keengganan bank-bank komersial, yang tidak menanggapi pemotongan suku bunga dengan meningkatkan volume pinjaman, atau ekspektasi negatif ketika perusahaan-perusahaan tidak mengharapkan perbaikan situasi, dan karenanya penurunan suku bunga dapat tidak mempengaruhi peningkatan konsumsi dan aktivitas investasi dan akibatnya peningkatan permintaan agregat dan output.

Bank sentral memilih kebijakan yang ketat, khususnya, untuk mengurangi inflasi dengan mengurangi jumlah uang beredar dan dengan demikian mengurangi permintaan agregat. Dampak dari kebijakan moneter kontraktif tergantung pada periode waktu dan situasi ekonomi. Dalam jangka panjang, pembatasan moneter tidak mengubah output riil dan kesempatan kerja tetapi mengurangi tingkat harga. Terhadap dampak yang diinginkan dari pembatasan moneter (mengurangi inflasi), mungkin ada beberapa harapan positif dari operator ekonomi atau kesempatan untuk membeli pinjaman yang lebih murah di luar negeri.

Alat/instrument Kebijakan Bank sentral menggunakan sejumlah alat untuk mengimplementasikan kebijakan moneter. Diantara instrumen kebijakan yang digunakan yaitu: Pertama adalah pembelian dan penjualan obligasi jangka pendek di pasar terbuka menggunakan cadangan bank yang baru dibuat. Ini dikenal sebagai operasi pasar terbuka. Operasi pasar terbuka menyasar tingkat bunga untuk jangka pendek.

Bank sentral menambahkan uang ke dalam sistem perbankan dengan membeli aset (atau memindahkan dengan menjual aset), dan bank merespons dengan meminjamkan uang dengan lebih mudah dengan suku bunga yang lebih rendah (atau lebih tepatnya, pada tingkat yang lebih tinggi) sampai target suku bunga bank sentral adalah bertemu.

Selain itu, dengan menggunakan operasi pasar terbuka juga dapat mempengaruhi variabel ekonomi spesifik lainnya seperti jumlah uang beredar. Opsi kedua yang digunakan oleh otoritas moneter adalah mengubah suku bunga dan / atau jaminan yang diminta oleh bank sentral untuk pinjaman langsung darurat ke bank dalam perannya sebagai pemberi pinjaman.

Memberikan suku bunga yang lebih tinggi dan membutuhkan lebih banyak jaminan, akan berarti bahwa bank harus lebih berhati-hati dengan pinjaman mereka sendiri atau kegagalan risiko dan merupakan contoh kebijakan moneter kontraktif.

Sebaliknya, pinjaman kepada bank dengan suku bunga rendah dan persyaratan agunan lebih longgar akan memungkinkan bank untuk membuat pinjaman berisiko. Kebijakan tersebut menjadi contoh yang bersifat ekspansif. Opsi ketiga, melalui cadangan wajib minimum. Cadangan wajib minimum ini merupakan dana dari simpanan yang dibuat oleh pelanggan yang harus dicadangkan bank. Cadangan wajib minimum ini digunakan sebagai jaminan bahwa bank mampu melakukan kewajibannya.

Menurunkan persyaratan cadangan ini akan memberikan peluang lebih banyak bagi bank untuk menawarkan pinjaman atau untuk membeli aset lain. Meningkatkan persyaratan cadangan memiliki dampak sebaliknya, membatasi pinjaman bank dan memperlambat pertumbuhan jumlah uang beredar. Terakhir, di samping pengaruh langsung terhadap jumlah uang beredar dan pinjaman bank, bank sentral memiliki alat yang kuat dalam kemampuan mereka untuk membentuk harapan pasar dengan pengumuman publik mereka tentang kebijakan masa depan bank sentral itu sendiri.

Persuasi yang dilakukan bank sentral dapat mempengaruhi kondisi pasar. Dengan persuasi ini diharapkan akan membuat para investor mengira apa yang akan terjadi kedepannya sehingga mampu memperoleh keuntungan atau menjaga bisnisnya. Beberapa bank sentral memilih untuk secara sengaja tidak memberitahu bagi para pelaku pasar dengan keyakinan bahwa ini akan memaksimalkan keefektifan dari pergeseran kebijakan dengan membuat mereka tidak dapat diprediksi dan tidak “dipanggang” dengan harga pasar di muka.

Namun bank sentral bisa saja memilih kebijakan yang berbeda dengan lebih terbuka pada publik. Harapannya investor dapat memprediksi ekonomi kedepan, serta membentuk ekspektasi pasar agar tercapai kondisi kestabilan. Meskipun demikian, cara mengendalikan gejolak juga bisa dilakukan dengan membuat kebijakan yang tidak dapat diprediksi.

Namun, pengumuman kebijakan hanya efektif sejauh kredibilitas otoritas yang bertanggung jawab untuk merancang, mengumumkan, dan menerapkan langkah-langkah yang diperlukan.

Dalam dunia yang ideal, bank sentral seperti itu harus bekerja sepenuhnya independen dari pengaruh pemerintah, tekanan politik, atau otoritas pembuat kebijakan lainnya. Meskipun kita harus realistis juga, pada tataran negara, otoritas moneter bisa saja mendapatkan intervensi dari pemerintah sesuai dengan ketentuan dimasing-masing negara.

Baca juga: Jenis-jenis pasar Baca juga: Investasi Baca juga: Peran Pemerintah dalam perekonomian Contoh Kebijakan Contoh Kebijakan moneter 1: Implementasi Implementasi kebijakan moneter paling sukses yang diakui secara luas di Amerika Serikat terjadi pada tahun 1982 selama resesi anti-inflasi yang disebabkan oleh Federal Reserve di bawah bimbingan Paul Volcker. Ekonomi AS pada akhir 1970-an mengalami peningkatan inflasi dan meningkatnya pengangguran.

Fenomena ini, yang disebut stagflasi, sebelumnya dianggap mustahil berdasarkan teori ekonomi Keynesian dan Kurva Phillips yang sekarang sudah tidak ada. Pada 1978, Volcker khawatir bahwa Federal Reserve mempertahankan suku bunga terlalu rendah dan menaikkannya menjadi 9%.

Tetap saja, inflasi tetap bertahan. Volcker tetap bertahan dan terus berjuang melawan tekanan inflasi dengan menaikkan suku bunga. Pada Juni 1981, suku bunga The Fed naik menjadi 20%, dan suku bunga utama naik menjadi 21,5%. Inflasi, yang memuncak pada 13,5% pada tahun yang sama, turun hingga 3,2% pada pertengahan 1983. Tingkat kenaikan adalah kejutan untuk struktur modal dalam perekonomian.

Banyak perusahaan harus menegosiasikan kembali hutang mereka dan memangkas biaya. Bank meminta pinjaman, dan total pengeluaran dan pinjaman turun secara dramatis. Selama reorganisasi ini, tingkat pengangguran di AS naik menjadi lebih dari 10% untuk pertama kalinya sejak Depresi Hebat. Namun, tujuan kebijakan untuk menurunkan inflasi tampaknya telah terpenuhi.

Contoh Kebijakan Moneter 2: Ekspansif Ada beberapa tindakan yang dapat diambil oleh Bank Sentral yang merupakan kebijakan moneter ekspansif. Kebijakan moneter adalah jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter yang diambil untuk mempengaruhi ekonomi suatu negara. Langkah ekspansi meliputi: • Penurunan tingkat diskonto • Pembelian surat berharga pemerintah • Pengurangan dalam rasio cadangan Semua opsi ini memiliki tujuan yang sama — untuk memperluas pasokan mata uang atau suplai uang untuk negara.

Menstimulasi Kebijakan Seringkali bank sentral akan menggunakan kebijakan untuk merangsang ekonomi selama resesi atau mengantisipasi resesi. Memperbanyak jumlah uang beredar menghasilkan tingkat suku bunga lebih rendah dan biaya pinjaman, dengan tujuan untuk meningkatkan konsumsi dan investasi. Pada saat tingkat bunga tinggi, pihak otoritas moneter akan memfokuskan kebijakan untuk memperkecil tingkat diskonto.

Ketika tingkat ini turun, perusahaan dan konsumen dapat meminjam lebih murah. Penurunan suku bunga membuat obligasi pemerintah, dan rekening tabungan kurang menarik, mendorong investor dan penabung terhadap aset berisiko.

Sebaliknya, pada saat tingkat bunga rendah, bank sentral dapat melakukan penurunan tingkat diskonto. Bank sentral dapat melakukannya dengan cara beli sekuritas dari pemerintah. Contoh 3: Contoh lainnya yaitu salah satunya Jika suatu negara menghadapi tingkat pengangguran yang tinggi selama perlambatan atau resesi, otoritas moneter dapat memilih kebijakan moneter ekspansif yang ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperluas kegiatan ekonomi. Sebagai bagian dari kebijakan moneter ekspansif, bank sentral seringkali menurunkan suku bunga melalui berbagai langkah yang membuat penghematan uang relatif tidak menguntungkan dan mendorong pengeluaran.

Dengan peningkatan jumlah uang beredar diharapkan agar mendorong peningkatan konsumsi dan investasi. Suku bunga yang lebih rendah berarti bahwa bisnis dan perorangan dapat mengambil pinjaman dengan persyaratan yang mudah untuk memperluas kegiatan produktif dan membelanjakan lebih banyak untuk barang konsumen. Sebuah contoh dari pendekatan kebijakan moneter ekspansif ini adalah suku bunga rendah hingga nol yang dijaga oleh banyak ekonomi terkemuka di seluruh dunia sejak krisis keuangan 2008.

Namun, peningkatan jumlah uang beredar dapat menyebabkan inflasi yang lebih tinggi, meningkatkan biaya hidup dan biaya melakukan bisnis. Dengan melakukan kebijakan moneter yang kontraktif, diharapkan dapat meningkatkan peningkatan suku bunga, melambatkan laju uang beredar, serta menurunkan inflasi. Kebijakan demikian, memang dapat melambatkan laju pertumbuhan ekonomi dan mendorong peningkatan pengangguran. Namun, hal tersebut juga dapat memperkecil inflasi.

Contohnya semisal inflasi tinggi sekitar 15 persen yang terjadi pada awal 1980an. Federal Reserve pada saat jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter membuat tingkat bunga yang lebih tinggi hingga mencapai 20%. Hal ini memang dapat mendorong terjadinya resesi, namun disisi lain efektif mengembalikan inflasi pada tingkat 3-4 % ke depannya. Leave a Reply Cancel reply Your email address will not be published.

Required fields are marked * Comment * Name * Email * Website Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Δ Terbaru • Kenapa perlu peranan negara dalam perekonomian? • Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019, 2020, 2021 • Cara menggunakan mendeley Populer • MPC, Jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter, APC, APS • Indifference Curve dan Budget Line (Garis Anggaran) • Teori produksi: Isoquant dan isocost • Skala Hasil Produksi (Return to Scale) • Laba Maksimum • Teori perilaku konsumen: pendekatan kardinal dan ordinal • Produksi Marginal, Produksi Total, Produksi Rata-rata dan The Law of Diminishing Return • Surplus Konsumen dan Surplus Produsen serta grafiknya • Keseimbangan konsumen dalam teori perilaku konsumen • Perekonomian 3 sektor (perekonomian tertutup) Ekonomi Mikro
Salah satu hal yang mempengaruhi ketidakstabilan ekonomi dalam suatu negara adalah jumlah uang beredar.

Untuk menjaga kondisi perekonomiannya, maka negara menetapkan salah satu kebijakan yaitu kebijakan moneter. Kebijakan moneter adalah salah satu kebijakan yang berkaitan pengendalian jumlah uang yang beredar di masyarakat.

Kebijakan moneter disuatu negara menjadi tanggung jawab otoritas moneter suatu negara, adalah Bank Indonesia. kebijakan moneter juga dapat diartikan sebagai proses mengatur, mengawasi, dan mengendalikan uang yang beredar atau suku bunga bank.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Ada tujuh macam kebijakan moneter, antara lain: • Operasi pasar terbuka ( open market operation), yaitu kebijakan dengan cara menjual atau membeli surat berharga di pasar uang. Seperti sertifikat Bank Indonesia. Sertifikat Bank Indonesia ialah surat berharga yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai surat pengakuan utang jangka pendek dengan sistem diskonto.

• Politik diskonto (discount policy), yaitu kebijakan dengan cara menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga kredit yang dibayar bank umum kepada Bank Indonesia. Jika diskonto naik, maka biaya peminjaman dari Bank Indonesia semakin tinggi sehingga keinginan bank umum untuk meminjam dana akan berkurang. Kebijakan ini mempengaruhi tingkat suku bunga bank yang diberikan kepada masyarakat. • Cadangan kas minimum, yaitu kebijakan yang berkaitan dengan penentuan cadangan kas bank umum sesuai ketentuan yang berlaku.

Kebijakan ini berpengaruh pada jumlah uang yang beredar di masyarakat. Jika ingin menambah jumlah uang yang beredar. Maka Bank Indonesia akan menurunkan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter cadangan kas minimum bank umum.

Sebaliknya, apabila jika ingin mengurangi jumlah uang beredar maka Bank Indonesia dapat menaikkan cadangan kas minimum bank umum. • Kredit selektif, yaitu kebijakan yang berkaitan dengan upaya mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara memperketat penyaluran kredit. Biasanya hal ini dilakukan dengan cara memperketat syarat kredit.

• Imbuan moral (moral persuasion), yaitu kebijakan yang dapat dilakukan dengan cara menghimbau lembaga perbankan dan masyarakat yang berkaitan dengan jumlah uang yang beredar. Hal ini bertujuan untuk saling memahami kondisi ekonomi dan mendukung kebijakan yang diterapkan pemerintah Indonesia. • Devaluasi, yaitu kebijakan yang berkaitan dengan otoritas moneter dengan cara menurunkan kurs mata uang rupiah terhadap mata uang asing. Tujuan dari devaluasi itu sendiri adalah untuk memperbaiki neraca pembayaran dan harga ekspor menjadi lebih murah sehingga kinerja ekspor meningkat.

• Revaluasi, yaitu kebijakan yang diberlakukan otoritas moneter dengan cara menurunkan kurs mata uang rupiah terhadap mata uang asing Biasanya kebijakan revaluasi terjadi ketika kurs mata uang rupiah dianggap terlalu rendah terhadap mata uang asing.• Home • Tentang Kami • Pengertian • artikel ekonomi • Artikel Biologi • Pendidikan kewarganegaraan ( PKN ) • Artikel Agama • sejarah • Bahasa Indonesia • Artikel Sosiologi • Artikel Seni • Kontak Kami • Privacy Policy • Covid-19 Home » artikel ekonomi » Bank » Pengertian, Jenis, Tujuan dan Instrumen Kebijakan Moneter Pengertian, Jenis, Tujuan dan Instrumen Kebijakan Moneter- Banyak dari para ahli yang telah mendefinisikan pengertian kebijakan moneter.

Sedangkan Pengertian Kebijakan Moneter Secara Umum adalah langkah-langkah yang diambil penguasa moneter (Bank Sentral atau Bank Indonesia) untuk memengaruhi jumlah uang yang beredar dan daya beli uang. Kebijakan berasal dari kata bijak, ditambah dengan imbuhan ke-an. Kebijakan artinya kepandaian atau kemahiran. Moneter artinya keuangan atau mengenai keuangan. Jadi, menurut artinya katanya kebijakan moneter adalah kepandaian mengenai keuangan.

Caranya dengan menggunakan instrumen-instrumen kebijakan moneter seperti operasi pasar terbuka, kebijakan diskonto, rasio cadangan minimum, batas maksimum pemberian kredit, dan moral suasion. Melalui instrumen-instrumen tersebut akan terjadi perubahan jumlah uang yang beredar. Perubahan jumlah uang ini pada akhirnya akan memengaruhi kestabilan moneter agar lebih kondusif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Keberhasilan kebijakan moneter biasanya diukur dari peningkatan kesempatan kerja, perbaikan neraca pembayaran, dan kestabilan tingkat harga.

1. Jenis-Jenis Kebijakan Moneter Kebijakan moneter dibagi atas dua macam atau jenis. Jenis-Jenis kebijakan moneter adalah sebagai berikut…. • Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary expansive policy) : Kebijakan moneter ekspansif adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah uang yang beredar.

Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan moneter ekspansif juga disebut dengan kebijakan moneter longgar (easy money policy).

• Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary Contractive Policy) : Kebijakan moneter kontraktif adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Kebijakan moneter kontraktif disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).

2. Tujuan Kebijakan Moneter Secara garis besar, tujuan kebijakan moneter adalah menjaga kestabilan ekonomi yang ditandai dengan gairah dunia usaha dan meningkatnya kesempatan kerja. Jika dirinci tujuan kebijakan moneter adalah sebagai berikut. • Menjaga Stabilitas Ekonomi : Stabilitas ekonomi adalah suatu keadaan perekonomian yang berjalan sesuai dengan harapan, terkendali, dan berkesinambungan.

Artinya, pertumbuhan arus uang yang beredar seimbang dengan pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia. • Menjaga Stabilitas Harga : Kebijakan moneter selalu jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter dengan jumlah uang beredar dan jumlah barang dan jasa. Interaksi jumlah uang beredar dengan jumlah barang dan jasa akan menghasilkan harga. Ada kalanya harga naik atau turun tidak beraturan, sehingga perubahan harga dapat memengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat.

Apabila harga cenderung naik terus-menerus, orang akan membelanjakan semua uangnya yang mengakibatkan terjadinya gejala ekonomi yang disebut inflasi.

• Meningkatkan Kesempatan Kerja : Jika jumlah uang beredar seimbang dengan jumlah barang dan jasa, maka perekonomian akan stabil. Pada keadaan ekonomi stabil, pengusaha akan mengadakan investasi. Investasi akan memungkinkan adanya lapangan pekerjaan baru.

Adanya lapangan pekerjaan baru atau perluasan usaha berarti meningkatkan kesempatan kerja. • Memperbaiki Posisi Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran : Kebijakan moneter dapat memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Jika negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing, harga-harga barang ekspor akan menjadi lebih murah, sehingga memperkuat daya saing dan meningkatkan jumlah ekspor. Peningkatan jumlah ekspor akan memperbaiki neraca perdagangan dan neraca pembayaran.

3. Instrumen Kebijakan Moneter Agar tujuan kebijakan moneter dapat tercapai, bank sentra menggunakan instrumen-instrumen kebijakan moneter seperti berikut… • Kebijakan Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) : Operasi pasar terbuka adalah salah satu kebijakan yang diambil bank sentral untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan dengan cara menjual sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau membeli surat berharga di pasar modal.

• Kebijakan Diskonto (Discount Policy): Diskonto adalah pemerintah mengurangi atau menambah jumlah uang beredar dengan cara mengubah diskonto bank umum. Jika bank sentral jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter jumlah uang beredar telah melebihi kebutuhan (gejala inflasi), bank sentral mengeluarkan keputusan untuk menaikkan suku bunga.

Dengan menaikkan suku bunga akan merangsang keinginan orang untuk menabung. • Kebijakan Cadangan Kas : Bank sentral dapat membuat peraturan untuk menaikkan atau menurunkan cadangan kas (cas ratio). Bank umum, menerima uang dari nasabah dalam bentuk giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito, dan jenis tabungan lainnya. Ada persentase tertentu dari uang yang disetorkan nasabah yang tidak boleh dipinjamkan.

• Kebijakan Kredit Ketat : Kredit tetap diberikan bank umum, jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter pemberiannya harus benar-benar didasarkan pada syarat 5C, yaitu Character, Capability, Collateral, Capital, dan Condition of Economy. Dengan kebijakan kredit ketat, jumlah uang yang beredar dapat diawasi. Langkah kebijakan ini biasa diambil pada saat ekonomi sedang mengalami gejala inflasi.

• Kebijakan Dorongan Moral (Moral Suasion) : Bank sentral dapat juga memengaruhi jumlah uang beredar dengan berbagai pengumuman, pidato, dan edaran yang ditujukan pada bank umum dan pelaku moneter lainnya.

Isi pengumuman, pidato dan edaran dapat berupa ajakan atau larangan untuk menahan pinjaman tabungan ataupun melepaskan pinjaman. Demikianlah informasi yang bertemakan Pengertian, Jenis, Tujuan dan Instrumen Kebijakan Moneter.

Semoga teman-teman menerima point dari berbagai uraian di tema tersebut seperti pengertian kebijakan moneter, jenis-jenis atau macam-macam kebijakan moneter, instrumen kebijakan moneter.

Sekian dan terima kasih. “Salam Berbagi Teman-Teman”. Recent Posts • Pengertian Kimia, Fungsi, Cabang Ilmu, Manfaat, & Kimia Menurut Para Ahli • Pengertian Kronologi, Fungsi, dan Contoh Kronologi Dalam Sejarah • Pengertian Presipitasi, Fungsi, Arti Presipitasi Menurut Para Ahli dan Kimia, Biologi • Pengertian Periodisasi, Tujuan, Komponen & Contoh Periodisasi • Pengertian Perusahaan Manufaktur, Karakteristik/Ciri, & Fungsi Perusahaan Manufaktur
MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me 5.3.

Sebarkan ini: Kebijakan Moneter Adalah – Pengertian, Tujuan, Instrumen & Macam – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Kebijakan Moneter ( Monetary Policy ) yang dimana dalam hal ini meliputi Tujuan, Jenis, Indikator dan Instrumen, naha agar lebih dapat memahami dan mengerti simak ulasan selengkapnya dibawah ini.

Kebijakan Moneter Dan Kebijakan Fiskal Di Indonesia Untuk mengatur kestabilan perekonomian di Indonesia, pemerintah menggunakan dua kebijakan yakni kebijakan moneter dan kebijakan fiscal. Kebijakan moneter adalah suatu kebijakan yang digunakan pemerintah untuk mengatur sector financial, ssedangkan kebijakan fiscal adalah suatu kebijakan yang digunakan pemerintah untuk mengatur sector riil.

Kebijakan Moneter Untuk melihat suatu kebijakan moneter yang diambil efektif atau tidak, pemerintah perlu melihat tolak ukur stabilitas moneter. Setiap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah harus memiliki target dan ukuran keberhasilan. Hal ini penting, untuk mengukur atau sebagai acuan, apakah kebijakan tersebut berhasil atau tidak. Dalam perekonomian beberapa indkator yang biasanya digunakan untuk menilai kebijakan moneter adalah : • Jumlah Uang Beredar (JUB) • Laju inflasi yang cukup rendah terkendali • Suku bunga pada tingkat yang wajar • Nilai tukar rupiah yang realistis, dan • Ekspektasi/harapan masyarakat terhadap moneter Pengertian Kebijakan Moneter “Monetary Policy” Kebijakan moneter “Monetary Policy” adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah atau otoritas moneter dengan menggunakan peubah jumlah udang beredar “money supply” dan tingkat bunga “interest rates” untuk mempengaruhi tingkat permintaan agregat “aggregate demand” dan mengurangi ketidakstabilan di dalam perekonomoian “Nanga, 2005:180”.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Tujuan Kebijakan Moneter Tujuan akhir sebuah kebijakan moneter ialah suatu kondisi ekonomi makro yang ingin dicapai. Tujuan tersebut tidak sama dari satu negara dengan negera lainnya serta tidak sama dari waktu ke waktu.

Tujuan kebijakan moneter tidak statis, namun bersifat dinamis karena selalu disesuaikan dengan kebutuhan perekonomian suatu negara. Akan tetapi kebanyakan negara menetapkan empat hal yang menjadi tujuan dari kebijakan moneter yaitu: • Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan.

• Kesempatan kerja. • Kestabilan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter. • Keseimbangan neraca pembayaran. Jenis Dan Indikator Kebijakan Moneter • Kebijakan moneter kontraktif “tight money policy”, untuk mengurangi/membatasi jumlah uang beredar, kebijakan ini dilakukan pada saat perekenomian mengalami inflasi. • Kebijakan moneter ekspansif “easy money policy” untuk menambah jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat “permintaan masyarakat” pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi.

Indikator kebijakan moneter ada dua yaitu suku bunga dan atau uang beredar. Kedua variable tersebut mempunyai dua fungsi yakni sebagai sasaran menengah dan indikator “Pohan, 2008”.

• Tingkat Suku Bunga Kebijakan moneter yang menggunakan suku bunga sebagai sasaran antara akan menetapkan tingkat suku bunga yang ideal untuk mendorong kegiatan investasi, apabila suku bunga menunjukkan kenaikan melampaui yang ditetapkan, maka bank sentral akan segera melakukan ekspansi moneter agar suku bunga turun sampai tingkat yang jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter.

• Uang Beredar “Monetary Aggregate” Kebijakan moneter yang menggunakan moneter aggeregate atau uang beredar sebagai sasaran menengah yang mempunyai dampak positif berupa harga yang stabil. Dari kelima indikator tersebut, hanya JUB yang tidak dapat dimonitor dan dirasakan lansung oleh masyarakat, sementara itu indikator nomor 2 sampai dengan 5, relatif dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dengan alasan ini, berikut ini akan dijelaskan secara ringkas dari keempat indikator tersebut. Baca Juga: E konomi Industri Laju Inflasi Bagi dunia perbankan laju inflasi yang tinggi akan menimbukan kesulitan bagi Bank untuk mengerahkan dana masyarakat, karena dengan inflasi yang tinggi tersebut, tingkat bunga riil (bunga nominal-inflasi) akan menurun, sehingga mengurangi keinginan masyarakat untuk menyimpan kekayaannya dalam produk-produk perbankan.

Dampak selanjutnya adalah, bunga riil yang menurun bila dibandingkan tingkat bunga riil di luar negeri akan memicu larinya dana masyarakat ke luar negeri, karena dirasakan masyarakat lebih menguntungkan menyimpan dananya di luar negeri. Kedua dampak inflasi diatas akan menyebabkan Perbankan kekurangan dana yang berasal dari masyarakat, dan ini berarti kemampuan Bank dalam menyediakan dana untuk investasi juga turut berkurang, akibatnya laju pertumbuhan produksi dan ekonomi juga akan melambat.

Selain itu, inflasi yang tinggi juga akan memicu ketidakpastian dalam banyak aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya dalam hal perencanaan dan operasional perusahaan, termasuk dalam perbankan. Suku Bunga Selain yang telah sering dijelaskan sebelumnya, bahwa dari sisi masyarakat tingginya suku bunga memang akan menambah keinginan masyarakat untuk menyimpan dananya di bank, namun di sisi lain, tingginya suku bunga tersebut akan mengurangi niat dunia usaha untuk mengambil kredit bagi pengembangan usahanya.

Akibatnya dana yang sudah terlajur masuk ke perbankan dengan adanya bunga tinggi tersebut, tidak dapat tersalurkan dan menimbulkan permasalahan baru bagi perbankan, yakni, Kemana dana masyarakat tersebut akan disalurkan ? Apabila masalah ini tidak segera mendapat jalar keluar, maka perbankan terancam akan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter masalah likuiditas dan tentu saja masalah penghasilan dari bunga yang seharusnya diperoleh.

Dengan penjelasan yang sedikit berbeda, rendahnya tingkat bunga memang akan mendorong banyak pelaku dunia usaha untuk mengambil dana di perbankan, namun karena rendahnya tingkat bunga tersebut, apalagi bila dibandingkan dengan tingkat bunga di luar negeri; masyarakat akan lebih tertarik menyimpan dananya di perbankan luar negeri, sehingga perbankan dalam negeri akan kekurangan dana yang sedang dibutuhkan oleh dunia usaha.

Dampak lebih jauh lagi adalah terhambatnya investasi yang terjadi di sektor industri karena kesulitan mendapatkan dana, sehingga produksi akan melambat. Baca Juga: Manajemen Logistik Nilai Tukar Rupiah Nilai tukar yang stabil tentu akan lebih memberi iklim kepastian bagi semua pelaku usaha, termasuk sektor perbankan, dunia usaha dan masyarakat.

Nilai tukar rupiah yang rendah saat ini dapat dijadikan saat yang baik dunia usaha yang beorientasi ekspor, dan ini dapat memicu peningkatan permintaan kredit dari dunia usaha untuk melanjutkan dan meningkatkan produk ekspornya. Dengan kejadian ini tentu akan menguntungkan dunia perbankan. Penyesuaian nilai tukar yang terlalu cepat akan sangat merugikan karena hal ini dapat mendorong bergeraknya aliran dana masyarakat ke luar negeri.

Dengan demikian antara nilai tukar dan inikator kebijakan moneter lainnya memiliki hubungan yang sangat erat, khususnya bagi kebijakan pemerintah yang sedang ditempuh untuk menstabilkan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ekspektasi/harapan Masyarakat Meskipun lebih sulit untuk diukur, namun ekspektasi masyarakat mulai mendapat perhatian besar dalam rangka pelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia.

Ekspektasi umumnya terjadi melalui ekspektasi masyarakat terhadap tingkat inflasi dan ekspektasi terhadap nilai tukar. Ekspektasi masyarakat yang berlebihan terhadap besaran inflasi akan mendorong semakin tingginya harga-harga, sehingga akan mengurangi tingkat konsumsi dan daya saing produk dalam negeri yang akan ekspor.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Sementara itu, ekspektasi masyarakat yang negatif terhadap nilai tukar akan berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat pada mata uang rupiah, sehingga dapat memicu mengalirnya dana masyarakat keluar negeri. Apabila hal ini terjadi maka perbankan akan kesulitan dalam menghimpun dana masyarakat yang sangat diperlukan untuk keperluan investasi dunia usaha. Dengan penjelasan keempat indikator moneter tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, sangatlah dipengaruhi oleh keempat indikator tersebut, sehingga kebijakan moneter yang ditempuh pemerintah akan hal itu, harus memberikan hasil yang baik, dalam arti terkendali, wajar, dan realistis.

Baca Juga: Manajemen Kinerja Strategi Kebijakan Moneter Untuk mendapatkan indikator moneter seperti disyaratkan di atas, pemerintah yang dalam hal ini otoritas moneter, memerlukan stratei yang tepat dan sesuai dengan kondisi di Indonesia Secara umum, strategi moneter yang dapat dipilih antara lain adalah : • Startegi Kebijakan moneter longgar (Easy Monetary Policy) atau Strategi kebijakan moneter ketat (Tight Monetary Policy) Kebijakan moneter longgar akan ditempuh untuk menggiatkan kembali perekonomian yang sedang lesu, dengan cara mempermudah dan menambah jumlah uang beredar, agar permintaan konsumsi naik  produksi naik.

Namun demikian dalam perekonomian terbuka dan sistem devisa bebas, kebijakan moneter yang longgar dapat menimbulkan dampak seperti gambar berikut ini.

Sementara itu, kebijakan moneter ketat akan memberi dampak sebaliknya, terutama dalam rangka meredam kenaikan harga atau inflasi yang berlebihan, sehingga tekanan terhadap neraca pembayaran berkurang karena produk dalam negeri kembali dapat bersaing, meskipun dengan kebijakan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter akan berdampak pula pada menurunnya pertumbuhan ekonomi, karena jumlah uang yang beredar dikurangi, yang berarti permintaan juga berkurang produksi berkurang.

Sebuah dilema memang akan terjadi, tatkala perekonomian Indonesia menghadapi dua kondisi yang bersamaan, yakni lesunya ekonomi dan tertekannya neraca pembayaran atau melemahnya daya saing produk lokal. Penerapan kebijakan moneter longgar memang akan menyelamatkan ekonomi yang lesu, namun akan memperparah kondisi neraca pembayaran Indonesia…sementara penerapan kebijakan moneter ketat akan menyelamatkan neraca pembayaran dan manikkan daya saing, namun akan berdampak pada menurunnya/lesunya perekonomian.

Kalau sudah demikian, kebijakan mana yang akan dipilih ? Dengan dilema tersebut, pemerintah kemudian memang dituntut untuk dapat meramu kebijakan yang paling pas dan menetapkan skala prioritas pemecahan masalah yang ada, sehingga lesunya perekonomian dapat diatasi dan daya saing produk ekspor Indonesia juga membaik, dan ini memang bukan pekerjaan yang mudah.

Baca Juga: Pasar Input • Countercyclical Monetary Policy atau Accomodative Monetary Policy Countercyclical Monetary Policy Untuk memperlunak konjungtur/naik turunnya perekonomian, pemerintah perlu secara aktif malakukan intervensi di pasar uang, yakni dengan melakukan ekspansi moneter disaat perekonomian mengahadapi masa resesi dan melakukan konstraksi moneter saat perekonomian mengalami boom/laju yang terlalu cepat.

Penjelasan ini dapat dilihat pada gambar berikut : Lebih jelasnya, saat akan perekonomian cenderung mengalami resesi, maka pemerintah harus segera melaksanakan kebijakan moneter yang lebih ekspansif dengan tujuan meningkatkan jumlah uang beredar di masyarakat. Dengan demikian, hasrat masyarakat atau permintaan konsumsi masyarakat diharapkan akan meningkat, yang berarti akan memberi dorongan bagi dunia usaha untuk meningkatkan produksinya.

Pada gilirannya, kondisi ini akan mendorong tumbuhnya ekonomi di Indonesia. Sementara itu, di saat perekonomian mengalami boom, yang cenderung memicu naiknya harga-harga atau inflasi, pemerintah perlu segera menerapkan kebijakan moneter yang ketat, dengan tujuan memperlambat dan mengurangi tingkat konsumsi dan permintaan masyarakat, sehingga laju perekonomian dapat diperlambat.

Accomodatice Monetery Policy Pendapat kedua mengatakan, bahwa sebaiknya pemerintah menghindari intervensi untuk memperlunak konjungtur perekonomian yang terjadi, dan membiarkannya terjadi secara alami. Pendapat ini didasarkan pada pemikiran : • Ekspektasi masyarakat dapat mengalahkan dampak dari variable – variabel moneter lainnya.

Dengan kata lain, masyarakat telah mengantisipasi setiap kebijakan yang akan diterapkan oleh masayarakat • Kebijakan pemerintah tidak dapat memberi dampak secara langsung dan segera. Sebagai contoh; kebijakan moneter longgar yang ekspansif yang diterapkan saat ekonomi lesu/resesi, tidak akan segera kelihatan dampaknya saat itu juga, namun butuh waktu dan itu dapat terjadi justru ketika perekonomian telah mencapai tahap boom. Begitu pula kebijakan moneter ketat/konstraksi yang diterapkan untuk mengatasi kondisi boom, baru akan terasa dampaknya justru saat ekonomi sedang resesi.

Akibatnya adalah, bukan masalah resesi dan boom yang teratasi, tetapi justru kedua kondisi ekonomi itu akan bertambah parah, seperti terlihat pada gambar berikut ini. Oleh karena itu, tidak bijaksana kalau pemerintah melakukan intervensi dengan kebijakan moneter saat terjadi resesi atau boom.

Biarkan kedua kejadian itu berlangsung apa adanya. Kalaupun pemerintah akan membantu, lakukan dengan menyeimangkan jumlah uang beredar dengan kebutuhan saat itu. Baca Juga: Pengertian Pasar Output Efektifitas Kebijakan Moneter Yang dimaksud dengan efektifitas kebijakan moneter adalah, sejauh mana kebijakan moneter yang ditempuh pemerintah (apapun bentuknya), memberi dampak positif bagi perekonomian dan masyarakat, dalam arti : • dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi • dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat • dapat meningkatkan kesempatan kerja • dapat meningkatkan penerimaan devisa negara • serta memberi pengaruh pada kebijakan makro lainnya Teori yang membicarakan mengenai efektifitas kebijakan moneter ini diantaranya adalah : • Teori Natural Rate Hypothesis, yang percaya bahwa kebijakan hanya akan efektif dan memberi dampak dalam jangka pendek saja, namun tidak akan efektif untuk jangka panjang • Teori Rational Expectation Hypothesis, yang percaya bahwa baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang, kebijakan moneter tidak akan efektif Keterkaitan kebijakan moneter dengan kebijakan makro lainnya Yang perlu diketahui, bahwa dalam perekonomian sebuah negara, kebijakan moneter merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan kebijakan – kebijakan makro pemerintah lainnya, seperti kebijakan fiskal, kebijakan ekonomi luar negeri, maupun kebijakan sektor riil lainnya.

Dengan demikian apapun pilihan kebijakan moneter yang ditempuh haruslah memiliki keterkaitan dan mendukung sasaran dan tujuan dari kebijakan ekonomi makro lainnya, sehingga secara bersama dapat memberikan dampak yang positif bagi kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh, kebijakan moneter yang ekspansif memang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di satu sisi, namun di sisi lainnya, kebijakan ini akan menyebabkan kenaikan harga-harga (inflasi), sehingga akan memberatkan neraca pembayaran luar negeri karena produk dalam negeri akan kehilangan daya saingnya di pasar luar negeri, yang berakibat menurunnya penerimaan devisa negara.

Oleh karena itu perlu diimbangi kebijakan sektor luar negeri kondusif yang dapat mengatasi hal tersebut, seperti misalnya dengan member kemudahan ekspor dan intensi ekspor lainnya. Begitu pula dengan kebijakan moneter ketat yang ditempuh untuk tujuan menurunkan tingkat inflasi, akan memberi dampak negatif pada sektor riil dalam meningkatkan produksinya. Dalam kasus ini, diperlukan dukungan kebijakan ekonomi makro lainnya agar produksi tetap dapat ditingkatkan. Kebijakan ekonomi makro lain yang perlu dilakukan diantaranya dengan memberikan insentif atau jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter pajak bagi produsen, atau dengan insentif-insentif lainnya seperti penetapan harga khusus untuk bahan bakar industri dan kebijakan kemudahan perijinan usaha misalnya.

Baca Juga: Pranata Ekonomi Dengan dukungan berbagai kebijakan makro lainnya tersebut, kebijakan moneter yang dijalankan pemerintah akan dapat mencapai sasaran dan dapat diminimalkan dampak negatifnya. Oleh karena itu diperlukan sebuah ramuan dari berbagai kebijakan moneter dan kebijakan makro lainnya, sedemikian jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter, agar berbagai kebijakan tersebut tidak saling bertentangan dan justru saling melengkapi dan mendukung keberhasilannya, dalam arti jangan sampai yang terjadi adalah : • Harga-harga semakin naik • Daya saing produk dalam negeri semkain menurun • Devisa negara semakin berkurang • Nilai tukar rupiah semakin melemah • Daya beli masyarakat semakin lemah • Produksi nasional semkain berkurang • Pengangguran semakin meningkat • Perekonomian semakin lesu, dan • Kesejahteraan masyarakat semakin memburuk Transmisi Kebijakan Moneter Kebijakan moneter adalah salah satu kebijakan yang secara langsung dapat dikendalikan oleh pemerintah, serta memiliki dampak langsung pada perekonomian di Indonesia.

Secara singkat grafis, pengaruh tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar di atas menunjukkan bahwa melalui instrumen (Operasi pasar terbuka, tk. Diskonto, cadangan minimum, himbauan, dll) serta indikator moneter (tk. Bunga, jumlah uang beredar), kebijakan di bidang moneter akan mempengaruhi perekonomian, yang terlihat dari perubahan pendapatan nasional (GDP), tingkat inflasi, jumlah pengangguran dan neraca pembayaran). Meskipun demikian, kebijakan pemerintah lainnya juga turut mempengaruhi beberapa indicator perekonomian Indonesia tersebut.

Tenggang waktu (lag) Efek dari Kebijakan Moneter Dampak kebijakan moneter terhadap kestabilan dan pertumbuhan ekonomi akan tergantung pada : • Kuat tidaknya hubungan antara perubahan kebijakan moneter yang dilakukan dengan kegiatan ekonomi • Jangka waktu antara terjadinya perubahan kebijakan moneter sampai terjadinya efek terhadap kegiatan ekonomi (lag) Kebijakan Ekonomi Indonesia Saat Jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter Perkembangan berbagai indikator ekonomi menjelang akhir tahun 2009 ditandai oleh terus berlanjutnya perbaikan kondisi makroekonomi Indonesia.

Perbaikan tersebut ditopang oleh meningkatnya optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi domestik dan global, serta terjaganya kestabilan makroekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan tumbuh 4,3%, inflasi tercatat sebesar 2,78%, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus, dan nilai tukar secara point-to-point menguat sebesar 15,65% dibandingkan dengan tahun lalu.

Di tengah-tengah krisis global, berbagai kinerja yang cukup positif tersebut tidak terlepas dari daya tahan permintaan domestik yang kuat, sektor perbankan yang tetap sehat dan stabil, ekspektasi pemulihan ekonomi global yang semakin optimis, serta respons kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif dalam mendukung terjaganya perekonomian domestik.

Baca Juga: Tax Amnesty adalah Kondisi perekonomian dan pasar keuangan global secara umum terus jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter perkembangan yang positif. Proses pemulihan ekonomi di negara maju terus berlangsung. Hal tersebut sejalan dengan membaiknya kinerja konsumsi dan produksi, serta kondisi pasar tenaga kerja yang mulai mengindikasikan perbaikan.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Kondisi pasar tenaga kerja di AS dan Jepang membaik sejalan dengan perbaikan konsumsi dan produksi. Sementara itu, ekonomi Asia yang memiliki peranan semakin penting sebagai penggerak utama pemulihan ekonomi global jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter tumbuh semakin kuat. Sejalan dengan itu, kinerja pasar keuangan global terus membaik.

Meskipun sempat mengalami tekanan akibat kembali menurunnya kepercayaan investor terkait krisis utang Dubai World dan krisis fiskal Yunani, dampak kedua krisis tersebut berlangsung singkat dan rambatannya bersifat minimal terhadap pasar keuangan dunia.

Inflasi global tahun 2009 diprakirakan mulai meningkat sejalan dengan proses pemulihan ekonomi dunia, walaupun masih lebih rendah dibandingkan inflasi tahun 2008. Kondisi tersebut memungkinkan sejumlah negara maju untuk cenderung mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif.

Sampai saat ini, sebagian besar bank sentral negara maju seperti AS, Inggris, dan Jepang masih menahan kenaikan suku bunganya pada bulan Desember sebagai upaya mendorong pemulihan ekonomi.

Di sisi domestik, perbaikan ekonomi global mendukung kinerja ekspor dan peningkatan investasi. Kinerja ekspor yang anjlok sangat signifikan di semester I-2009, mulai membaik pada pertengahan tahun sejalan dengan pemulihan perekonomian global yang kian membaik dan peningkatan harga komoditas.

Beberapa sektor yang berorientasi ekspor seperti sektor industri pengolahan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter menunjukkan kinerja yang lebih baik pada kuartal IV-2009 seiring dengan membaiknya permintaan eksternal. Di sisi domestik, jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter rumah tangga masih tumbuh pada level tinggi, didorong oleh stabilnya daya beli masyarakat serta keyakinan konsumen yang masih terjaga.

Membaiknya ekspor dan tetap tingginya konsumsi mendorong optimisme pelaku usaha untuk meningkatkan investasi, terutama sejak pertengahan tahun 2009. Pada triwulan IV-2009, investasi diperkirakan tumbuh lebih tinggi yang tercermin antara lain pada peningkatan konsumsi semen dan perbaikan pertumbuhan impor barang modal. Dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian tersebut, pertumbuhan ekonomi secara tahunan di kuartal IV-2009 diperkirakan akan mencapai sebesar 4,4%.

Secara keseluruhan tahun 2009, perekonomian diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,3%. Ketahanan perekonomian domestik juga dibarengi penurunan tekanan inflasi. Jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter pada bulan Desember tercatat sebesar 0,33% (mtm), jauh lebih rendah dari rata-rata historisnya.

Secara tahunan, inflasi IHK mencapai 2,78% (yoy), sementara inflasi inti tercatat sebesar 4,28% (yoy) pada tahun 2009. Rendahnya realisasi inflasi tidak terlepas dari perkembangan eksternal dan berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah.

Kontraksi ekonomi global yang cukup dalam mengakibatkan turunnya harga komoditas dunia di tahun 2009. Kondisi tersebut juga menyebabkan perlambatan kinerja ekonomi domestik. Selain dari sisi eksternal, rendahnya realisasi inflasi antara lain juga terkait dengan kecenderungan apresiasi nilai tukar rupiah di tahun 2009. Derasnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik telah mendorong penguatan nilai tukar rupiah, terutama sejak akhir triwulan I-2009.

Selain itu rendahnya realisasi inflasi selama tahun 2009 juga tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah. Penurunan harga komoditas internasional, termasuk minyak mentah, memberi ruang bagi Pemerintah untuk kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal tahun. Sementara itu, upaya Pemerintah untuk menjaga pasokan dan distribusi komoditas bahan pangan, terutama beras, menyebabkan inflasi volatile food tercatat cukup rendah dibandingkan dengan pola historisnya.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, realisasi inflasi berada di bawah kisaran sasaran inflasi tahun 2009 sebesar 4,5% ± 1%. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus mendukung penguatan nilai tukar rupiah.

Pada tahun 2009, NPI mencatat surplus dengan posisi cadangan devisa mencapai USD66,1 miliar atau setara 6,6 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri (ULN) Pemerintah. Surplus NPI terutama dipengaruhi oleh menurunnya impor secara signifikan searah dengan menurunnya kebutuhan bahan baku impor untuk industri yang berorientasi ekspor maupun menurunnya impor barang-barang konsumsi.

Kinerja ekspor, walaupun masih mencatat pertumbuhan negatif, namun masih lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan impor. Baca Juga: “Keuangan Negara” Pengertian & ( Ruang Lingkup – Sumber ) Hal ini terutama disebabkan oleh menguatnya permintaan ekspor komoditas sumber daya alam terutama dari negara-negara emerging Asia, yang mengalami proses pemulihan yang lebih cepat.

Di samping itu, surplus NPI didukung oleh derasnya arus modal masuk ke dalam negeri yang didorong oleh prospek makroekonomi yang membaik, imbal hasil rupiah yang relatif tinggi, serta semakin membaiknya tingkat kepercayaan internasional terhadap korporasi domestik. Sejalan dengan perkembangan NPI tersebut, perkembangan nilai tukar Rupiah cenderung menguat sejak akhir triwulan I-2009. Dibandingkan dengan tahun 2008, rupiah secara point-to-point menguat sebesar 15,65% menjadi Rp9.425/USD.

Di sektor keuangan, stabilitas sistem perbankan tetap terjaga, namun penyesuaian suku bunga kredit belum seperti yang diharapkan. Penurunan suku bunga, khususnya suku bunga deposito perbankan, masih terus berlangsung. Namun demikian, transmisi kebijakan moneter melalui suku bunga sebagaimana tercermin pada penurunan suku bunga kredit masih relatif terbatas.

Tingkat suku bunga kredit yang belum turun secara signifikan, kegiatan ekonomi yang belum meningkat secara pesat, serta persepsi risiko dari perbankan yang masih tinggi mengakibatkan kredit perbankan sejak Januari hingga November 2009 baru tumbuh 5,7% (ytd).

Di jalur harga aset, stance kebijakan yang cenderung longgar direspons secara baik di pasar saham maupun SUN. Indeks harga di bursa saham meningkat sejalan dengan derasnya arus masuk modal asing dan perkembangan positif di pasar keuangan global. Di pasar obligasi, yield SUN terus menurun sejalan dengan optimisme pemulihan ekonomi dunia, membaiknya persepsi risiko global terhadap Indonesia, disertai terjaganya inflasi dan sustainabilitas fiskal.

Di sisi mikro perbankan, stabilitas sistem perbankan nasional tetap stabil. Hal itu diindikasikan oleh masih terjaganya rasio kecukupan modal (CAR) per November 2009 sebesar 17%. Sementara itu, rasio gross Non Performing Loan (NPL) tetap terkendali pada 4,4% dengan rasio net sebesar 1,4%. Likuiditas Perbankan, termasuk likuiditas di pasar uang antar bank makin membaik dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat. Ke depan, prospek perekonomian Indonesia diperkirakan akan membaik, meskipun berbagai faktor risiko dan ketidakpastian perlu terus dicermati.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,0-5,5% pada tahun 2010. Inflasi ditargetkan mencapai kisaran 5±1% pada tahun 2010.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Upaya percepatan momentum untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga inflasi yang rendah masih dihadapkan pada berbagai tantangan-tantangan mikro dan struktural dalam perekonomian seperti kelemahan daya saing sektor industri, struktur pasar komoditas bahan pokok yang cenderung oligopolistik dan berbagai permasalahan terkait lokasi sentra produksi, distribusi, dan tata niaga.

Belum optimalnya transmisi kebijakan moneter melalui jalur kredit merupakan tantangan yang akan menjadi prioritas untuk segera dipecahkan.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Mempertimbangkan permasalahan dan tantangan tersebut, kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mencapai sasaran inflasi sebesar 5±1% di tahun 2010 akan didukung oleh implementasi serangkai langkah kebijakan. Di sisi operasional, fokus kebijakan diarahkan untuk meningkatkan efektifitas transmisi kebijakan moneter, mengelola ekses likuiditas perbankan, dan menjaga volatilitas nilai tukar dalam rangka terjaganya ekspektasi inflasi masyarakat.

Di sisi struktural, upaya koordinasi dengan Pemerintah akan ditingkatkan untuk memitigasi dampak struktural inflasi yang bersumber dari masalah distribusi, tata niaga, dan struktur pasar komoditas bahan pokok.

Untuk itu, Tim Pengendalian Inflasi yang merupakan tim lintas departemen yang terkait dengan pengendalian inflasi akan terus diefektifkan baik di pusat maupun di daerah. Baca Juga: “Delisting & Relisting” Pengertian & ( Syarat Dalam Ekonomi ) Dengan mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5% ±1% dan arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 6 Januari 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5% dengan koridor suku bunga yang juga tetap sebesar +/-50 bps di sekitar BI Rate, yaitu suku bunga repo sebesar 7% dan suku bunga FASBI sebesar 6%.

Kebijakan Fiskal Sebelum kita membahas mengenai kebijakan fiskal terlebih dahulu mungkin kita harus jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter tentang hakikat kebijakan dalam sistem ekonomi. Di dalam sistem ekonomi, kita mengenal dua macam kebijakan yaitu kebijakan ekonomi makro dan kebijakan ekonomi mikro. Kebijakan ekonomi makro adalah tindakan atau kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah dengan mempengaruhi variabel-variabel ekonomi sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi perekonomian yang baik dan dinamis, sehingga perekonomian berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Ketika membahas mengenai kebijakan fiskal maka sebenarnya kita sedang membicarakan mengenai salah satu alat pelaksanan kebijakan ekonomi makro. Untuk lebih jelasnya, kebijakan ekonomi makro dalam pelaksanaanya secara analisis pemikirannya perlu dibedakan menjadi tiga aspek. Ketiga aspek tersebut antara lain: • sasaran yang ingin dicapai, • efek yang diharapkan dari penggunaan alat kebijakan tersebut, • efek yang diharapkan dari penggunaan alat kebijakan tersebut. Sasaran kebijakan ekonomi ada dua, yaitu: • jangka pendek yang bertujuan untuk: • mengatasi masalah pengangguran • mengatasi masalah inflasi • mengukuhkan neraca pembayaran • jangka panjang • mempercepat pertumbuhan ekonomi • meratakan distribusi pendapatan • mengatasi masalah kemiskinan Adapun alat pelaksanaan kebijakan ekonomi terdiri atas dua, • jangka pendek, terdapat empat alat pelaksanaan kebijakan yaitu: • kebijakan fiskal • kebijakan moneter • kebijakan harga • kebijakan untuk sektor luar negeri • jangka penjang, terdapat empat alat pelaksanaan kebijakan yaitu: • kebijakan fiskal • kebijakan moneter • kebijakan harga • kebijakan untuk sektor luar negeri (sama dengan alat pelaksanaan jangka pendek).

Efek yang diharapkan dari kebijakan ekonomi antara lian sebagai berikut: • kesempatan kerja penuh(full employment) • kestabilan harga-harga • stabilitas neraca pembayaran • peningkatan kemakmuran masyarakat • pertumbuhan ekonomi • distribusi pendapatan yang adil • nilai tukar yang stabil Baca Juga: “Ekonomi Deskriptif” Pengertian & ( Contoh – Mempelajari – Fungsi ) Kebijakan Fiskal Indonesia Saat ini • Dalam rangka mengembangkan rasio ketenagalistrikan nasional, apabila dalam tahun 2009 sebesar 64,8 persen meliputi jumlah pelanggan sebesar 41,0 juta, diharapkan dalam tahun 2014 dapat mencapai target sebesar 80,3 persen.

Oleh karena itu, besarnya pendanaan/investasi yang diperlukan sampai dengan tahun 2014 mencapai sekitar Rp506 triliun. Jumlah tersebut diharapkan dapat dipenuhi oleh PT. PLN (Persero) dengan sharing Pemerintah sebesar Rp322 triliun, dan dari IPP/PPP Rp184 triliun. Mengingat kemampuan pendanaan Pemerintah Pusat melalui APBN, maupun PT. PLN (Persero) dalam rangka mengembangkan sektor ketenagalistrikan nasional sangat terbatas, sehingga peran dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu mengatasi masalah pendanaan ketenagalistrikan nasional tersebut.

Agar dapat memenuhi pasokan listrik nasional dalam tahun 2010-2014, perlu dilaksanakan beberapa program ketenagalistrikan sebagai berikut : • Peningkatan kualitas dan kuantitas sarana serta prasarana ketenagalistrikan ramah lingkungan dengan memprioritaskan pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, gardu induk, jaringan distribusi, dan gardu distribusi ; serta • Pembangunan listrik perdesaan dengan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) dalam sasaran pembangunan infrastruktur minimal 14 persen dari kebutuhan nasional.

Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan ketenagalistrikan di luar listrik perdesaan sampai dengan tahun 2014 diperkirakan membutuhkan biaya sebesar Rp442,700 triliun, yaitu mencakup investasi pembangkit sekitar Rp348,282 triliun, investasi transmisi sekitar Rp41,377 triliun, dan investasi gardu induk sekitar Rp52,841 triliun, sehingga setiap tahunnya akan dibangun sekitar 6.318,4 MW untuk mencapai kapasitas pembangkit listrik, 5.555,8 Kms, dengan tambahan rata-rata panjang jaringan distribusi sekitar 175.204 Kms.

Sementara itu, untuk memperbaiki kondisi keuangan PT. PLN (Persero) dalam tahun 2009 dan tahun 2010, Pemerintah telah memberikan kebijakan margin keuntungan sebesar 5 persen, sehingga diharapkan akan terselamatkan dari kondisi technical default.

Selanjutnya untuk menghitung kemampuan Pemerintah dalam memberikan subsidi sektor ketenagalistrikan jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter menengah dapat diestimasikan dengan menggunakan metode estimasi Moving Average dalam tahun 2011-2015, hasilnya berkisar antara Rp32,3 triliun hingga Rp90,4 triliun.

Ketika kondisi makro ekonomi besarnya nilai ICP dan nilai tukar rupiah relatif terkendali maka kemampuan Pemerintah untuk mengalokasikan subsidi listrik adalah sebesar Rp32,3 triliun.

Jika kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, variabel ICP dan nilai tukar rupiah bergejolak secara fluktuatif, maka Pemerintah harus mengalokasikan subsidi listrik sekitar Rp90,4 triliun. Meningkatnya kebutuhan investasi PT. PLN (Persero) tampaknya sulit untuk dapat dipenuhi seluruhnya oleh Pemerintah.

Dengan menggunakan metode estimasi Moving Average dalam tahun 2011-2015 kemampuan pendanaan Pemerintah di sektor “listrik perdesaan” hanya berkisar antara Rp3,3 triliun sebagai batas bawah, dan sebesar Rp10,4 triliun sebagai batas atas, dengan kecenderungan kemampuan pendanaan Pemerintah Rp6,8 triliun pada kondisi perekonomian normal.

Melihat ketimpangan perbandingan antara kebutuhan pendanaan PT. PLN (Persero) dan kemampuan pendanaan Pemerintah, sekiranya peran dan dukungan sektor swasta, serta Pemerintah Daerah sangat diperlukan untuk menjamin suksesnya pelayanan listrik di Indonesia. Tanpa itu semua PT. PLN (Persero) akan menghadapi kendala dalam menyelenggarakan jasa ketenagalistrikan di Indonesia.

Dalam kondisi demikian, maka perlu direkomendasikan bahwa penggunaan alternatif sumber pendanaan dalam rangka mengembangkan sektor ketenagalistrikan lainnya, dapat dilaksanakan melalui : • Peran Pemerintah Daerah, dengan : • menyediakan tenaga listrik untuk kelompok masyarakat tidak mampu; • membangun sarana penyediaan tenaga listrik di daerah yang belum berkembang; • membangun tenaga listrik di daerah terpencil dan perbatasan, dan • membangun listrik di daerah perdesaan.

• Peluang investasi Pemerintah Daerah dan swasta, yaitu dengan mendorong pihak swasta melakukan investasi dan menyempurnakan kebijakan sektor ketenagalistrikan, serta melakukan restrukturisasi untuk meningkatkan kemampuan PT. PLN (Persero) dalam membiayai sendiri proyek-proyeknya.

• Alternatif pendanaan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), yaitu dalam menyediakan investasi listrik di daerah dapat memasukkan variabel ketenagalistrikan menjadi salah satu kegiatan yang dapat dibiayai dengan menggunakan DAK.

• Alternatif lainnya, yaitu seperti program 10 ribu MW tahap II, di mana 40 persen di antaranya akan menggunakan panas bumi (geothermal). Apabila pengembangan ketenagalistrikan sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah, berbagai alternatif pendanaan yang dapat digunakan adalah : (i) pajak dan pendapatan negara lainnya (termasuk penerbitan surat utang), (ii) pinjaman langsung dari kreditor, (iii) user charge, (iv) hibah dan pinjaman, (v) penerbitan surat hutang dengan penjaminan badan multilateral.

Selanjutnya apabila pengembangan sektor keteganalistrikan sepenuhnya akan diserahkan pada sektor swasta, maka antara lain dapat ditempuh melalui : (i) strategic investor, (ii) institutional financial investor, (iii) private investor, dan (iv) pembiayaan melalui perbankan dan pasar modal (IPO dan obligasi).

Baca Juga: “Ekonomi Moneter” Pengertian & ( Tujuan – Ruang Lingkup – Konsep Dasar ) Instrumen Kebijakan Moneter Terdapat empat instrumen kebijakan moneter yaitu sebagai berikut “Pohan, 2008”. Cadangan Wajib “Reserve Requirement” Merupakan ketentuan bank sentral yang mewajibkan bank-bank untuk memelihara sejumlah alat-alat likuid jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter sebesar persentase tertentu dari kewajiban lancarnya. Semakin kecil persentasenya, semakin besar kemampuan bank memanfaatkan reserve-nya untuk memberikan pinjaman dalam jumlah yang lebih besar kepada masyarakat.

Begitu pula sebaliknya, semakin besar persentasenya, semakin berkurang kemampuan bank untuk memberikan pinjaman. Oleh karena itu, pinjaman perbankan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar. Operasi Pasar Terbuka “OPT” Operasi pasar terbuka ialah kegiatan jual beli surat-surat berharga oleh bank sentral. OPT dilaksanakan untuk mempengaruhi likuiditas rupiah di pasar uang, yang juga akan mempengaruhi tingkat suku bunga.

Fasilitas Diskonto Fasilitas diskonto ialah kebijakan moneter bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang beredar melalui penetapan diskonto pinjaman bank sentral kepada bank. Dengan menetapkan tingkat diskonto yang tinggi diharapkan bank-bak akan mengurangi permintaan kredit dan bank sentral, yang akan mengurangi jumlah uang beredar, begitu pula sebaliknya. Foreign Exchange Intervention Merupakan kebijakan bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang beredar atau likuiditas di pasar uang melalui jual beli valuta asing atau cadangan devisa.

Moral Suasion Imbauan ini bersifat tidak mengikat, tetapi sebagai lembaga yang kredibel imbauan bank sentral yang memiliki dampak cukup efektif dalam kebijakan moneter. Demikianlah jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter mengenai Kebijakan Moneter Adalah – Pengertian, Tujuan, Instrumen & Macam semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

🙂 🙂 🙂 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Ekonomi Ditag analisis ekonomi perbankan, apa yang dimaksud kebijakan fiskal, apakah tujuan kebijakan moneter, artikel kebijakan moneter, jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter mengatasi deflasi, cara mengatasi inflasi brainly, contoh kasus kebijakan moneter, contoh kebijakan fiskal, contoh kebijakan fiskal dan moneter, contoh kebijakan moneter, contoh kebijakan moneter dan fiskal, contoh kebijakan moneter kontraktif, contoh kebijakan segi penawaran, dampak apbn terhadap sektor moneter, fungsi bank sentral bagi suatu negara, fungsi kebijakan fiskal brainly, fungsi kebijakan moneter, hubungan kebijakan fiskal dan moneter, info bank indonesia, instrumen kebijakan fiskal, instrumen kebijakan moneter, instrumen kebijakan moneter dan fiskal, jenis kebijakan fiskal, jenis kebijakan moneter, kebijakan fiskal adalah, kebijakan fiskal di indonesia, kebijakan fiskal ekspansif, kebijakan moneter bank indonesia, kebijakan moneter dan contohnya brainly, kebijakan moneter dan fiskal, kebijakan moneter dan fiskal brainly, kebijakan moneter dan fiskal di indonesia selama 5 tahun terakhir, kebijakan moneter dan fiskal pdf, kebijakan moneter dan fiskal ruang guru, kebijakan moneter di indonesia, kebijakan moneter ekspansif, kebijakan moneter kuantitatif, kebijakan moneter untuk mengatasi inflasi, kebijakan segi penawaran, ketenagakerjaan dalam pembangunan ekonomi, macam macam kebijakan moneter, makalah kebijakan fiskal, makalah kebijakan fiskal dan moneter, makalah kebijakan moneter, makalah kebijakan moneter dan fiskal, moneter adalah, pengertian sistem moneter, penyebab terjadinya inflasi, peran kebijakan moneter, peran masyarakat dalam mengatasi inflasi, perbedaan kebijakan fiskal dan moneter, perbedaan kebijakan moneter dan fiskal, permasalahan kebijakan moneter, politik diskonto, sistem perpajakan built in flexible adalah, strategi kebijakan moneter, tujuan kebijakan moneter, tujuan kebijakan moneter brainly, tuliskan rumus menghitung angka inflasi, website perbankan, yang termasuk kebijakan moneter Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com
Pada tahun 1998, Indonesia pernah menghadapi kondisi sistem keuangan yang sulit.

Kala itu, terjadi banyak kerusuhan sebagai aksi protes terhadap pemerintah yang gagal menghadapi krisis moneter. Saat krisis moneter tersebut melanda Indonesia, nilai tukar rupiah jatuh dan menyebabkan banyak perusahaan gulung tikar. Dapat dikatakan negara ini sedang mengalami kekacauan dalam sistem ekonomi.

Namun sejak peristiwa tersebut, pemerintahan Indonesia telah banyak belajar dan memperbaikinya, salah satunya dengan menerapkan kebijakan moneter dengan menyediakan berbagai instrumen kebijakan moneter.

Berikut ini beberapa informasi mengenai instrumen kebijakan moneter disertai dengan penjelasan dan contohnya. Dengan diterbitkannya kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara Pengertian Kebijakan Moneter Kebijakan moneter merupakan langkah-langkah yang diambil oleh penguasa moneter, yaitu Bank Sentral atau Bank Indonesia, untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan daya beli yang dimiliki oleh suatu negara.

Ada beberapa instrumen yang dapat digunakan sebagai tolak ukur kestabilan kebijakan moneter. Keberhasilan kebijakan tersebut biasanya dapat diukur melalui peningkatan lapangan kerja, perbaikan neraca pembayaran, dan kestabilan harga jual beli suatu barang.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Baca juga : Jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter Ekonomi Dalam Menjalankan Bisnis Jenis Kebijakan Moneter Ada dua jenis kebijakan moneter yang dapat diambil sebagai langkah untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Kebijakan tersebut adalah kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive policy) merupakan kebijakan yang diambil untuk meningkatkan jumlah uang yang beredar.

Tujuannya dari kebijakan moneter ekspansif adalah untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat. Kebijakan moneter kontraktif merupakan kebijakan moneter yang digunakan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar yang dapat mengatasi inflasi. Kebijakan ini dilakukan juga dalam upaya mengurangi penyebab-penyebab inflasi tersebut, maka dari itu kebijakan ini disebut juga dengan kebijakan uang ketat.

Tujuan Kebijakan Moneter Suatu kebijakan moneter dilakukan pasti dengan latar belakang tertentu dan untuk tujuan tertentu.

Kebijakan moneter memiliki beberapa tujuan, setidaknya terdapat 4 tujuan. Keempat tujuan tersebut antara lain: 1. Untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi negara berjalan dengan baik dan sesuai harapan. 2. Untuk menjaga stabilitas harga dari banyaknya jumlah uang yang beredar.

3. Untuk meningkatkan kesempatan kerja 4. Untuk memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran, jika negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing.

jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter

Instrumen Kebijakan Moneter Kebijakan moneter yang stabil dan berdampak baik pada kondisi ekonomi negara merupakan salah satu tujuan yang harus dicapai. Untuk mengetahui kestabilan keuangan dan keberhasilan dalam melaksanakan kebijakan tersebut, ada beberapa hal yang perlu disediakan untuk mengukur keberhasilan tujuan kebijakan tersebut.

Beberapa Instrumen kebijakan moneter tersebut antara lain: a. Open Market Operation (Kebijakan Operasi Pasar Terbuka) Merupakan instrumen kebijakan moneter yang diambil oleh bank Sentral dengan menambah atau mengurangi peredaran jumlah uang.

b. Kebijakan Diskonto Merupakan instrumen kebijakan moneter yang diterapkan Bank Sentral dengan menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi.

c. Kebijakan Cadangan Kas Merupakan instrumen dengan menaikkan atau menurunkan cadangan kas. d. Kebijakan Kredit Ketat Merupakan instrumen kebijakan moneter dengan 5C yaitu character, capability, collateral, capital, and condition of economy. e. Kebijakan Dorongan Moral Merupakan instrumen untuk memperbaiki dan mengawasi jumlah uang yang beredar.

Contoh Kebijakan Moneter Setelah jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter berbagai aspek mengenai instrumen kebijakan moneter, berikut ini beberapa contoh kebijakan moneter. Contoh pertama dapat dilihat ketika kondisi tingkat kegiatan atau tindakan ekonomi suatu negara masih berada di harapan atau belum sesuai dengan target. Dengan kondisi ini, biasanya negara akan menurunkan suku bunga sehingga warga akan mulai dan semakin banyak yang meminjam ke bank.

Dengan pinjaman dari bank tersebut, maka akan dapat meningkatkan nilai investasi yang ada di masyarakat. Contoh lain yang mungkin terjadi adalah ketika inflasi di suatu negara terjadi, maka biasanya Bank Sentral akan menaikkan cadangan kasnya. Dengan melakukan kebijakan tersebut, maka uang yang beredar dapat dikurangi. Namun, saat negara mengalami kondisi sebaliknya, Bank Sentral akan memilih untuk segera menurunkan cadangan kasnya agar peredaran uang dapat bertambah.

Dengan demikian, masyarakat akan tertarik dan terdorong untuk meminjam uang ke bank. Itulah penjelasan mengenai instrumen kebijakan moneter beserta contohnya. Bagi Anda yang membutuhkan software akuntansi untuk mengelola keuangan perusahaan, Harmony merupakan software akuntansi yang dapat digunakan dengan mudah walau Anda tidak memiliki background sebagai akuntan.

Menggunakan Harmony dapat membantu Anda dalam menerapkan kebijakan moneter loh. Gunakan Harmony sekarang juga, Anda dapat mendaftar 30 Hari Coba Gratis dengan klik disini. Contoh Soal Jurnal Penyesuaian Untuk Perusahaan Jasa dan Dagang Ingin lebih memahami dan menerapkan jurnal dalam usaha Anda? Dalam artikel kali ini Anda akan lebih belajar mengenai contoh soal jurnal penyesuaian dan membahas studi… Persamaan Dasar Akuntansi: Penjelasan dan Contohnya Seringkali pebisnis merasa belum mengetahui persamaan dasar akuntansi secara lengkap.

Akan tetapi teori persamaan dasar akuntansi ini merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi siklus akuntansi… Penjelasan dan Cara Menghitung BEP (Break Even Point) dalam Bisnis Bisa dikatakan hampir semua pengusaha mengetahui istilah BEP (Break Event Point).

Tetapi apakah Anda mengetahui cara menghitung BEP? Sebagai seorang pemilik bisnis, Anda wajib mengetahui… Cara Membuat Laporan Laba Jelaskan macam-macam instrumen kebijakan moneter Lengkap Beserta Contohnya Pada umumnya, cara membuat laporan laba rugi adalah sebuah kewajiban pada setiap perusahaan maupun setiap industri lainnya dengan melakukan teknik pelaporan yang sama.

Dalam pendidikan… 4 Contoh Jurnal Khusus dan Penjelasan Lengkapnya Istilah jurnal dalam akuntansi beragam seperti contoh jurnal khusus, jurnal penyesuaian, jurnal umum, jurnal penutup dan jurnal koreksi.

Setiap jurnal yang ada tentunya juga memiliki…

Cara mengatasi Inflasi dengan KEBIJAKAN MONETER dan instrumen kebijakan moneter.




2022 www.videocon.com