Apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

Jawaban Kata Yunani di Perjanjian Baru yang sering diterjemahkan sebagai “penyembahan” (proskuneo) memiliki makna “tersungkur di hadapan” atau “bersujud di hadapan.” Penyembahan merupakan sebuah sikap roh. Karena penyembahan merupakan kegiatan pribadi yang terjadi dalam diri seseorang, maka orang Kristen menyembah Allah setiap saat, tujuh hari dalam seminggu.

Ketika orang-orang Kristen secara resmi berkumpul bersama-sama dalam penyembahan, titik fokusnya harus tetap pada penyembahan pribadi kepada Allah. Bahkan sebagai bagian dari jemaat, setiap orang yang mengambil bagian harus menyadari bahwa ia sedang menyembah Allah secara pribadi. Sifat ibadah dalam Kekristenan adalah “dari dalam ke luar,” sehingga memiliki dua syarat yang sama pentingnya. Kita harus menyembah "dalam roh dan kebenaran" (Yoh 4:23-24). Menyembah dalam roh tidak ada hubungannya dengan sikap tubuh kita.

Ini berhubungan dengan lubuk hati kita, sehingga hal ini membutuhkan beberapa hal. Pertama-tama, kita harus sudah dilahir-barukan. Tanpa Roh Kudus yang berdiam di dalam kita, kita tidak bisa meresponi Allah dalam penyembahan, karena kita tidak sungguh-sungguh mengenal-Nya.

"Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah" (1 Kor 2:11b). Roh Kudus yang berdiam di dalam kita adalah Pribadi yang memampukan kita untuk menyembah. Pada dasarnya Dia sedang memuliakan diri-Nya. Semua penyembahan yang benar pasti memuliakan Allah. Kedua, menyembah dalam roh membutuhkan pikiran yang berpusat kepada Allah.

Juga, pikiran yang sudah diperbaharui oleh kebenaran. Paulus mendorong kita untuk "mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu" (Rm 12:1b, 2a). Hanya ketika pikiran kita berubah, dari yang tadinya berpusat kepada hal-hal duniawi menjadi berpusat kepada Allah, barulah kita dapat menyembah di dalam roh.

Berbagai macam gangguan dapat memenuhi pikiran ketika kita mencoba untuk memuji dan memuliakan Allah, apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah bisa menghalangi penyembahan yang sejati.

Ketiga, kita hanya dapat menyembah dalam roh jika memiliki hati yang murni, terbuka dan mau bertobat. Ketika hati Raja Daud dipenuhi dengan rasa bersalah atas dosanya dengan Batsyeba (2 Sam 11), ia mendapati bahwa tidak mungkin baginya untuk menyembah. Dia merasa bahwa Allah jauh darinya, dan dia "mengeluh sepanjang hari," merasa tangan Allah menekannya dengan berat (Mzm 32:3, 4). Namun, ketika ia mengakui dosanya, persekutuannya dengan Allah langsung dipulihkan.

Pujian serta penyembahan dicurahkan kepadanya. Dia memahami bahwa "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk" (Mzm 51:17). Pujian dan penyembahan kepada Allah tidak bisa datang dari hati yang penuh dengan dosa yang tidak diakui. Syarat kedua dari penyembahan yang benar ketika hal tersebut dilakukan "di dalam kebenaran." Semua penyembahan adalah respon terhadap kebenaran.

Apa yang bisa mengukur kebenaran lebih baik daripada Firman Allah? Yesus berkata kepada Bapa-Nya, "firman-Mu adalah kebenaran" (Yoh 17:17b). Mazmur 119 mengatakan, "Taurat-Mu benar" (ayat 142b) dan "Dasar firman-Mu adalah kebenaran" (ayat 160a). Supaya bisa benar-benar menyembah Allah, kita harus memahami siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan.

Satu-satunya tempat di mana Dia mengungkapkan diri-Nya sepenuhnya hanyalah di Alkitab. Penyembahan adalah ekspresi pujian dari hati yang terdalam kepada Allah, yang kita pahami melalui Firman-Nya.

Jika kita tidak memiliki kebenaran yang dinyatakan di Alkitab, kita tidak mungkin mengenal Allah. Kita tidak mungkin bisa benar-benar menyembah-Nya. Karena perbuatan yang tampak (lahiriah) bukanlah hal utama dalam penyembahan di Kekristenan, tidak ada aturan mengenai apakah kita harus melakukannya dengan duduk, berdiri, tersungkur, diam, atau menyanyikan pujian dengan keras dalam penyembahan bersama.

Hal-hal ini harus diputuskan bedasarkan kesepakatan jemaat. Yang paling penting justru apakah kita sudah menyembah Allah dalam roh (di dalam hati kita) dan kebenaran (di dalam pikiran kita) atau belum. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Apa artinya penyembahan dalam Kekristenan? Bagikan halaman ini: Dapatkan Mesej Bergambar di Sini [al baqarah Ayat : 42] larangan mencampur adukkan yang hak dengan yang batil Dan janganlah kamu campur-adukkan yang benar itu dengan yang salah, dan kamu sembunyikan yang benar itu pula padahal kamu semua mengetahuinya.

[al baqarah Ayat : 154] larangan mengatakan orang yang gugur pd sabilillah mati yang sia sia Dan janganlah kamu mengatakan (bahawa) sesiapa yang terbunuh dalam perjuangan membela Agama Allah itu; orang yang mati; bahkan mereka itu orang yang hidup (dengan keadaan hidup yang istimewa), tetapi kamu tidak dapat menyedarinya.

[al baqarah Apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah : 169] larangan mengikuti kehendak syaitan kerna syaitan musuh yg nyata Ia hanya menyuruh kamu melakukan kejahatan dan perkara yang keji, dan menyuruh kamu berkata dusta terhadap Allah, apa yang kamu tidak ketahui [al baqarah Ayat : 173] larangan memakan bangkai,darah,babi,dan binatang yg disembelih selain dari nama allah Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, darah, daging babi, dan binatang-binatang yang disembelih tidak kerana Allah, maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana dharurat) sedang ia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas, maka tidaklah ia berdosa.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani [al baqarah Ayat : 187] larangan bersetubuh pd siang hari pd bln puasa dan dibolehkan pada malam hari Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur dengan isteri-isteri kamu.

Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawasanya kamu mengkhianati diri sendiri, lalu Ia menerima taubat kamu dan memaafkan kamu.

Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu; dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib); dan janganlah kamu campuri isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beriktikaf di masjid.

Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukum-Nya kepada sekalian manusia supaya mereka bertakwa [al baqarah Ayat : 188] larangan memakan/memperoleh harta dari orang lain dengan cara yang tidak halal Dan janganlah kamu makan harta orang lain di antara kamu dengan jalan yang salah, dan jangan pula kamu menghulurkan harta kamu (memberi rasuah) kepada hakim-hakim kerana hendak memakan (atau mengambil) harta manusia dengan (berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (salahnya) [al baqarah Ayat : 219] larangan berjudi dan meminum yang memabukkan Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai arak dan judi.

Katakanlah: Pada keduanya ada dosa besar dan ada pula manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu: Apakah yang mereka akan belanjakan (dermakan)? Katakanlah: (Dermakanlah apa-apa) yang berlebih dari keperluan (kamu). Demikianlah Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-Nya (keterangan-keterangan hukumNya) supaya kamu berfikir. [al baqarah Ayat : 221] larangan mengahwini wanita musyrik Dan janganlah kamu kahwini wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman; dan sesungguhnya seorang hamba wanita yang beriman itu lebih baik daripada wanita musyrik, sekalipun ia menarik hati kamu.

Dan janganlah kamu (kahwinkan wanita Islam) dengan lelaki musyrik sebelum mereka beriman. Dan sesungguhnya seseorang hamba lelaki yang beriman lebih baik daripada lelaki musyrik, sekalipun keadaannya menarik hati kamu. (Yang demikian ialah kerana) orang-orang kafir itu mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke Syurga dan memberi keampunan dengan izin-Nya.

Dan Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya (keterangan-keterangan hukum-Nya) kepada umat manusia, supaya mereka dapat mengambil pelajaran (daripadanya) [al baqarah Ayat : 222] larangan bersetubuh waktu isteri sedang haidh Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai haid.

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

Katakanlah: Darah haid itu suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) ketika haid, dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci.

Apabila mereka sudah bersuci maka datangilah mereka seperti yang diperintahkan oleh Allah kepada kamu. Sesungguhnya Allah mengasihi orang yang banyak bertaubat, dan mengasihi orang yang sentiasa mensucikan diri. [al baqarah Ayat : 224] larangan bersumpah dengan serampangan Dan janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpah kamu sebagai benteng yang menghalangi kamu daripada berbuat baik, dan bertaqwa, serta mendamaikan perbalahan antara sesama manusia. Dan (ingatlah), Allah sentiasa mendengar lagi sentiasa mengetahui.

[al baqarah Ayat : 256] larangan melakukan paksaan untuk memeluk agama islam Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang engkar kepada Taghut, dan ia beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang teguh, yang tidak akan putus.

Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. [al baqarah Ayat : 264] larangan menyebut nyebut bantuan sedekah yg menimbulkan sakit hati/penghinaan Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rosakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan si penerima seperti orang yang membelanjakan hartanya kerana riak kepada manusia, dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat.

Maka bandingan orang itu ialah batu licin yang ada tanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ditinggalkannya bersih licin. Mereka tidak mendapat sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan.

Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. [al baqarah Ayat : 275] larangan melakukan riba dan memakan hasil riba Orang yang memakan riba itu tidak dapat berdiri betul melainkan seperti berdirinya orang yang dirasuk Syaitan kerana sentuhan (Syaitan) itu. Yang demikian ialah disebabkan mereka mengatakan: Bahawa sesungguhnya jual beli itu sama saja seperti riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka sesiapa yang telah sampai peringatan dari Tuhannya lalu ia berhenti, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan perkaranya terserahlah kepada Allah.

Dan sesiapa yang mengulangi lagi (mengambil riba) maka mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya [ali imran Ayat : 28] larangan mengambil orang kafir menjadi wali Janganlah orang yang beriman mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang yang beriman. Dan sesiapa yang melakukan yang demikian maka tiadalah ia (mendapat perlindungan) dari Allah dalam sesuatu apapun, kecuali kamu hendak menjaga diri daripada sesuatu yang ditakuti daripada mereka.

Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya (siksaan-Nya). Dan kepada Allah jua tempat kembali. {ali imran Ayat : 118] larangan menjadikan orang2 diluar golongan mukmin menjadi orang kepercayaan Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu ambil orang yang bukan dari kalangan kamu menjadi 'orang dalam' (yang dipercayai). Mereka tidak akan berhenti-henti berusaha mendatangkan bencana kepada kamu.

Mereka sukakan apa yang menyusahkan kamu. Telahpun nyata (tanda) kebencian mereka pada pertuturan mulutnya, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sesungguhnya telah kami jelaskan kepada kamu keterangan-keterangan itu jika kamu (mahu) memahaminya. [ali imran Ayat : 130] larangan memakan hasil riba Wahai orang yang beriman!

Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat-ganda; dan hendaklah kamu bertakwa kepada Allah supaya kamu berjaya. [ali imran Ayat : 139] larangan merasa rendah diri dan bersedih hati Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah kamu berdukacita, padahal kamulah orang yang tertinggi (darjatnya) jika kamu orang yang beriman. [ali imran Ayat : 169] larangan menyangka/menduga orang yang gugur pada jalan allah mati bahkan sebaliknya mereka sebenarnya hidup Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang yang terbunuh pada jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.

[an nisa' Ayat : 10] larangan memakan harta anak yatim dengan cara yang tidak halal Sesungguhnya orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu hanyalah menelan api ke dalam perut mereka; dan mereka pula akan masuk ke dalam api neraka yang menyala-nyala. [an nisa' Ayat : -23-24] larangan mengahwini wanita seperti berikut Diharamkan kepada kamu berkahwin dengan (wanita-wanita berikut): ibu-ibumu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, saudara-saudara bapamu, dan saudara-saudara ibumu, anak-anak saudaramu yang lelaki, anak-anak saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang telah menyusukan kamu, saudara-saudara susuanmu, ibu-ibu isterimu, anak-anak tiri yang dalam pemeliharaanmu dari isteri-isteri yang kamu telah campuri; tetapi kalau kamu belum campuri mereka, maka tiadalah salah kamu mengahwininya.

Dan bekas isteri anak-anakmu sendiri yang berasal dari benih kamu. Dan menghimpunkan dua beradik (untuk dikahwini), kecuali yang berlaku di masa lalu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniDan (diharamkan kamu mengahwini) isteri orang, kecuali hamba yang kamu miliki. Itulah ketetapan hukum Allah ke atasmu. Dan dihalalkan bagi kamu wanita-wanita selain dari itu, untuk kamu kahwini dengan hartamu secara bernikah, bukan berzina. Kemudian mana-mana perempuan yang kamu nikmati dengannya, maka berikanlah mereka maskahwinnya sebagai suatu ketetapan.

Dan tiadalah kamu berdosa tentang suatu yang telah dipersetujui bersama, sesudah ditetapkan maskahwin itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. [an nisa' Ayat : 29] larangan mendapatkan harta dengan jalan yang batil dan dilarang membunuh Wahai orang yang beriman, janganlah kamu makan harta-harta sesama kamu denggan jalan salah, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan secara suka sama suka di antaramu, dan janganlah kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri.

Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihi kamu [an nisa' Ayat : 43] larangan mengerjakan solat dalam keadaan mabuk Wahai orang yang beriman, janganlah kamu hampiri sembahyang sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sedar apa yang kamu katakan. Dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub kecuali kamu hendak melintas sahaja hingga kamu bersuci.

Dan jika kamu sakit, atau sedang dalam musafir, atau salah seorang di antara kamu datang dari tempat buang air, atau kamu bersentuh dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah yang suci, iaitu sapukanlah ke muka kamu dan kedua tangan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun. [an nisa' Ayat : 144] larangan mengangkat orang kafir menjadi wali selain dari mukmin Wahai orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang yang beriman.

Adakah kamu hendak mengadakan alasan yang terang nyata bagi Allah untuk (menyeksa) kamu? [al maidah Ayat : 3] larangan memakan 9 macam diantaranya bangkai,daging babi . Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai, dan darah, dan daging babi, dan binatang-binatang yang disembelih kerana yang lain dari Allah, dan yang mati tercekik, dan mati dipukul, dan mati jatuh, dan mati ditanduk, dan yang mati dimakan binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih, dan yang disembelih atas nama berhala; dan (diharamkan) kamu mengundi nasib dengan anak panah.

Yang demikian itu adalah perbuatan fasik. Pada hari ini, orang kafir telah putus asa dari agama kamu. Sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, sebaliknya takutlah kepada-Ku. Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagimu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku telah redhakan Islam itu menjadi agamamu. Maka sesiapa yang terpaksa kerana lapar sedang ia tidak ingin melakukan dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

[al maidah Ayat : 51] larangan mengangkat orang2 yahudi dan nasrani menjadi wali Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali, kerana setengah mereka menjadi teman kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka temannya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu.

Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kamu yang berlaku zalim. [al maidah Ayat : 87] larangan mengharamkan makanan yang halal Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu haramkan benda-benda yang baik yang dihalalkan oleh Allah bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas; kerana sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas.

[al maidah Ayat : 90] larangan meminum yang memabukkan,dan berjudi Wahai orang yang beriman! Bahawa sesungguhnya arak, dan judi, dan pemujaan berhala, dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah, adalah perbuatan keji dari perbuatan Syaitan. Oleh itu hendaklah kamu menjauhinya supaya kamu berjaya. [al maidah Ayat : 95] larangan berburu sewaktu ihram Hai orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu berihram. Dan sesiapa di antara kamu yang membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya, diganti dengan binatang ternak yang sama dengan binatang yang dibunuh itu, yang akan dihukumkan oleh dua orang yang adil di antara kamu, sebagai hadiah yang disampaikan ke Kaabah, atau bayaran kafarah, iaitu memberi makan orang miskin, atau menggantikan yang apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah itu dengan berpuasa supaya dapat ia merasai kesan dari perbuatannya.

Allah maafkan apa yang telah lalu; dan sesiapa yang mengulangi (kesalahan itu) maka Allah akan menyeksanya; dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Berkuasa membalas dengan seksa. [al maidah Ayat : 101] larangan banyak tanya Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu bertanyakan perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu, dan jika kamu bertanya mengenainya ketika diturunkan Al-Qur'an, tentulah akan diterangkan kepadamu.

Allah maafkan kamu dari perkara-perkara itu; kerana Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyabar. [al an'am Ayat : 121] larangan memakan binatang sembelih tanpa menyebut nama allah Dan janganlah kamu makan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, kerana sesungguhnya itu adalah perbuatan fasik; dan sesunggguhnya Syaitan itu membisikkan kepada pengikut-pengikutnya, supaya mereka membantahmu; dan jika kamu menurut apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah mereka, maka sesungguhnya kamu tetap menjadi orang musyrik.

[al an'am Ayat : 152] larangan mendekati/mengurus harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik dan menguntungkan Dan janganlah kamu hampiri harta anak yatim melainkan dengan cara yang baik, sehingga ia baligh; dan sempurnakanlah segala sukatan dan timbangan dengan adil. Kami tidak memberatkan seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata maka hendaklah kamu berlaku adil, sekali pun orang itu ada hubungan kerabat; dan janji Allah hendaklah kamu sempurnakan.

Yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu beringat. [al anfal Ayat : 46] larangan kaum muslimin berpecah belah yang akibatnya melemahkan Dan taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah kamu; sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar. [at taubah Ayat : 23] larangan menjadikan bapa dan saudsara menjadi wali jika mereka menyukai kekafiran Wahai orang yang beriman!

Janganlah kamu menjadikan bapa-bapa kamu dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin jika mereka memilih kufur atas iman; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka merekalah orang yang zalim.

[an nahl Ayat : 91] larangan membatalkan sumpah sumpah Dan sempurnakanlah janji-janji Allah apabila kamu berjanji; dan janganlah kamu merombak sumpahmu sesudah kamu memperkukuhkannya sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai Penjamin sumpahmu.

Sesungguhnya Allah mengetahui akan apa yang kamu lakukan [al israk Ayat : 29] larangan bersifat kikir dan boros Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu, dan janganlah pula engkau menghulurkan dengan sehabis-habisnya, akibatnya akan tinggallah engkau dengan keadaan yang tercela dan menyesal.

[al israk Ayat : 31] larangan membunuh anak kerana takut miskin Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu kerana takutkan kepapaan; Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kamu. Sesungguhnya perbuatan membunuh mereka adalah satu kesalahan yang besar.

[al israk Ayat : 32] larangan mendekati zina Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat. [al israk Ayat : 33] larangan membunuh orang yang tidak bersalah Dan janganlah kamu membunuh seseorang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.

Dan sesiapa yang dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan warisnya berkuasa menuntut balas. Tetapi janganlah ia melampaui batas kerana sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat sepenuh-penuh pertolongan [al israk Ayat : 34] larangan mengurus harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik lagi menguntungkan Dan janganlah kamu menghampiri anak yatim melainkan secara yang baik, sehingga ia baligh; dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan ditanya.

[al israk Ayat : 36] larangan mencampuri/memberitakan sesuatu perkara masalah yang tidak diketahui Dan janganlah kamu mengikut apa yang kamu tidak ketahui; sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya apa yang dilakukan [al israk Ayat : 37] larangan berjalan dengan sombong Jangan kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembusi bumi, dan tidak akan sampai setinggi gunung.

[an nur Ayat : 3] larangan berkahwin dengan wanita yang berzina dan lelaki yang berzina Lelaki yang berzina tidak ingin berkahwin melainkan dengan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina itu pula tidak ingin berkahwin dengannya melainkan lelaki yang berzina atau lelaki musyrik. Dan perkahwinan yang demikian itu dilarang atas orang yang beriman. [an nur Ayat : 21] larangan mengikuti kehendak jejak langkah syaitan Wahai orang yang beriman, janganlah kamu menurut jejak langkah syaitan; dan sesiapa yang menurut jejak langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu sentiasa menyuruh melakukan perkara yang keji dan yang mungkar.

Dan kalaulah tidak kerana limpah kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu, nescaya tidak ada seorang pun di antara kamu menjadi bersih dari dosanya selama-lamanya; akan tetapi Allah membersihkan sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan (ingatlah) Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

[an nur Ayat : 27-28] larangan memasukki rumah orang sebelum meminta izin dan mengucapkan salam Wahai orang yang beriman, janganlah kamu masuk ke dalam rumah yang bukan rumah kamu, sehingga kamu lebih dahulu meminta izin serta memberi salam kepada penduduknya (ahlinya); yang demikian adalah lebih baik bagi kamu, supaya kamu beringat (mematuhi cara dan peraturan yang sopan) Maka sekiranya kamu tidak mendapati sesiapa (yang berhak memberi izin) maka janganlah masuk ke dalam rumah itu sehingga kamu diberi izin; dan jika dikatakan kepada kamu baliklah, maka hendaklah kamu berundur balik; cara yang demikian adalah lebih suci bagi kamu; dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui akan apa yang kamu lakukan.

[al furqan Ayat : 52] larangan mentaati orang kafir Oleh itu, janganlah engkau (wahai Muhammad) menurut kehendak orang kafir, dan berjuanglah dengan Al-Qur'an dengan perjuangan yang besar. [al qashas Ayat : 88] larangan menyembah tuhan selain allah Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain di samping Allah.

Tiada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan kepada-Nyalah kamu semua dikembalikan. [lukman Ayat : 15] larangan mentaati ibubapa jika mereka mengajak kepada kemusyriKAN Dan jika mereka berdua mendesakmu supaya engkau mempersekutukan dengan-Ku sesuatu yang engkau tidak mengetahui sungguh adanya, maka janganlah engkau taat kepada mereka; dan bergaullah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik. Dan turutlah jalan orang yang rujuk kembali kepada-Ku.

Kemudian kepada Akulah tempat kembali kamu, maka Aku akan menerangkan kepada kamu segala yang kamu telah kerjakan. [lukman Ayat : 18] larangan bersikap angkuh dan sombong Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong; sesungguhnya Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri.

[al ahzab Ayat : 1] lareangan mengikuti/mentaati orang kafir dan munafik Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu turuti orang kafir dan munafik.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. [az zumar Ayat : 53] larangan berputus asa dari rahmat allah Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, kerana sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa; Sesungguhnya Dialah jua Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

[al mukmin Ayat : 66] larangan menyembah tuhan selain allah Katakanlah: Sesungguhnya aku dilarang menyembah benda-benda yang kamu sembah yang lain dari Allah setelah datang kepadaku bukti-bukti yang jelas nyata dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk taat bulat-bulat kepada perintah Tuhan sekalian alam.

[asy syura Ayat : 15] larangan mengikuti hawa nafsu Oleh kerana itu, maka serulah mereka dan tetaplah engkau sebagaimana yang diperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu menurut hawa nafsu mereka; Katakanlah: Aku beriman kepada Kitab yang Allah turunkan, apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu.

Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal kami dan bagimu amalmu. Tidak ada pertengkaran antara kami dengan kamu. Allah akan himpunkan kita bersama pada hari kiamat, dan kepada-Nyalah tempat kembali semuanya [muhammad Ayat : 35] larangan merasa rendah diri dan lemah untuk mengajak berdamai Maka janganlah kamu lemah untuk mengajak berdamai, padahal kamulah orang yang tertinggi keadaannya, Dan Allah bersama-sama kamu, dan Ia tidak akan mengurangi pahala amal-amal kamu.

[al hujurat Ayat : 11] larangan mengejek orang lain Wahai orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak merendah-rendahkan puak yang lain, mungkin puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula kaum wanita ke atas kaum wanita yang lain, mungkin puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri; dan jangan kamu panggil-memanggil antara satu sama lain dengan gelaran yang buruk. Amatlah buruknya sebutan nama fasik sesudah ia beriman.

Dan sesiapa yang tidak bertaubat maka merekalah orang yang zalim. [ar rahman Ayat : 9] larangan mengurangkan timbangan Dan betulkanlah cara menimbang itu dengan adil, serta janganlah kamu mengurangi barang yang ditimbang.

[al mujadalah Ayat : 9] larangan berbisik Wahai orang yang beriman! Apabila kamu berbisik sesama sendiri, maka janganlah kamu berbisik untuk melakukan dosa, pencerobohan dan menderhakai Rasulullah; dan berbisiklah untuk kebajikan dan takwa. Dan hendaklah kamu bertakwa kepada Allah yang kepada-Nya kamu semua akan dihimpunkan. [al hasyr Ayat : 19] larangan melupakan allah Dan janganlah kamu menjadi seperti orang yang telah melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupakan diri mereka.

Mereka itulah orang yang fasik [al mumtahanah Ayat : 9] larangan berkawan dengan orang2 yang memerangi orang mukmin Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu daripada menjadikan teman rapat orang-orang yang memerangi kamu kerana agama (kamu), dan mengeluarkan kamu dari kampung halamanmu, serta mereka membantu (orang lain) untuk mengusir kamu. Dan (ingatlah) sesiapa yang menjadikan mereka teman rapat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

[al mumtahanah Ayat : 13] larangan berkawan dengan kaum dimurkai allah Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan teman rapat kaum yang dimurkai Allah atas mereka; mereka telah berputus asa daripada mendapat kebaikan akhirat, sebagaimana berputus asanya orang kafir yang ada di dalam kubur.

[ash shaff Ayat : 2] larangan mengatakan hal2 yang tidak dilakukan Wahai orang yang beriman! Mengapa kamu memperkatakan apa yang kamu tidak melakukannya!Amat besar kebenciannya di sisi Allah bahawa kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak lakukannya. [al munafiqun Ayat : 9] larangan lalai mengingati allah Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu dilalaikan oleh harta benda kamu dan anak-pinak kamu daripada mengingati Apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah.

Dan (ingatlah), sesiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang yang rugi. [at thalaq Ayat : 1] larangan bercerai sewaktu isteri sedang haidh Wahai Nabi! Apabila kamu hendak menceraikan isteri-isterimu, maka ceraikanlah mereka pada masa mereka dapat memulakan iddahnya, dan hitunglah masa iddah itu (dengan betul), serta bertakwalah kepada Allah, Tuhan kamu.

Janganlah kamu mengeluarkan mereka dari rumah-rumah mereka, dan janganlah (dibenarkan) mereka keluar, kecuali mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan itulah hukum-hukum Allah; dan sesiapa yang melanggar hukum-hukum Allah maka sesungguhnya ia telah berlaku zalim kepada dirinya.

Engkau tidak mengetahui boleh jadi Allah akan mengadakan sesudah itu sesuatu perkara (lain). [al qalam Ayat : 8] larangan mengikuti orang2 yang mendustakan agama Oleh itu janganlah engkau menurut kemahuan orang yang mendustakan (agama Allah). [al muthaffifin Ayat : 1-3] larangan mengurangi timbangan Kecelakaan besar bagi orang yang curang (dalam timbangan dan sukatan).Iaitu mereka yang apabila menerima sukatan dari orang lain mereka mengambilnya dengan cukup, Dan (sebaliknya) apabila mereka menyukat atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.

[al buruj Ayat : 10] larangan menimpakan bencana Sesungguhnya orang yang menimpakan bencana untuk memesongkan lelaki dan perempuan yang beriman, kemudian mereka tidak bertaubat, maka mereka akan beroleh azab neraka Jahannam, dan mereka akan beroleh lagi azab api yang kuat membakar (kerana mereka tidak bertaubat). [ad duha Ayat : 9] larangan berlaku kasar kepada anak2 yatim dan mengherdik orang yang meminta Oleh itu, adapun anak yatim maka janganlah engkau berlaku kasar terhadapnya.

Adapun orang yang meminta (bantuan pimpinan) maka janganlah engkau tengking herdik.
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Al-Baqarah (2) : 3.

"Adapun orang-orang yang beriman dengan yang ghaib dan mendirikan sembahyang dan menginfakkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka". al-Baqarah (2) : 195. "Dan berinfaklah kamu (bersedekah atau nafakah) di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah kerana sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik".

al-Baqarah (2) : 215. "Mereka bertanya kepada engkau tentang apa yang mereka infakkan, Jawablah! Apa sahaja harta yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.

Dan apa sahaja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui". al-Baqarah (2) : 245. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.

Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. al-Baqarah (2) : 254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at [160].

Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. al-Baqarah (2) : 261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

al-Baqarah (2) : 262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yangdinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.

Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. al-Baqarah (2) : 263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima).

Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. al-Baqarah (2) : 264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir dokprial-Baqarah (2) : 265.

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah.

Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. al-Baqarah (2) : 267. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.

Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 1 Korintus 10:31 Konteks TB (1974) © SABDAweb 1Kor 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah 1.

h AYT (2018) Jadi, entah kamu makan atau minum, atau apa saja yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. TL (1954) © SABDAweb 1Kor 10:31 Sebab itu, baik kamu makan atau minum, baik barang sesuatu perbuatanmu, perbuatlah sekalian itu kepada kemuliaan Allah. BIS (1985) © SABDAweb 1Kor 10:31 Apa pun yang Saudara lakukan--Saudara makan atau Saudara minum--lakukanlah semuanya itu untuk memuliakan Allah.

TSI (2014) Saya menjawab, apa saja yang kita lakukan— baik itu makan atau minum atau hal yang lain, lakukanlah itu untuk memuliakan Allah! TSI3 (2014) Terhadap keberatan itu, saya menjawab: Apa saja yang kita lakukan, baik makan atau minum ataupun hal lain, lakukanlah itu untuk memuliakan Allah! MILT (2008) Selanjutnya, bilamana kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu, lakukanlah semuanya bagi kemuliaan Allah Elohim 2316.

Shellabear 2011 (2011) Apabila kamu makan, apabila kamu minum, atau apabila kamu melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya demi kemuliaan Allah. AVB (2015) Setiap yang kamu lakukan, baik makan mahupun minum, lakukanlah untuk memuliakan Allah. [+] Bhs. Inggris TB (1974) © SABDAweb 1Kor 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah 1. h TB +TSK (1974) © SABDAweb 1Kor 10:31 Aku menjawab: Jika 1 engkau makan 2 atau jika 1 engkau minum, atau jika 1 engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Catatan Full Life 1Kor 10:31 1 Nas : 1Kor 10:31 Sasaran utama dari kehidupan orang percaya ialah menyenangkan hati Allah dan menjunjung tinggi kemuliaan-Nya (lihat art.

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

KEMULIAAN ALLAH). Jadi, apa yang tidak dapat dilakukan untuk kemuliaan Allah (yaitu, untuk menghormati dan mengucap syukur kepada-Nya sebagai Tuhan, Pencipta, dan Penebus kita) hendaknya jangan dilakukan sama sekali. Kita menghormati Dia dengan ketaatan, ucapan syukur, ketergantungan, doa, iman dan kesetiaan. Ketetapan ini ("lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah") harus menjadi petunjuk utama kehidupan kita, tuntunan bagi perilaku kita dan ujian bagi tindakan kita.
5.Berikut ini yang bukan merupakan larangan ketika wukuf adalah.

A.memakai pakaian berjahit B.memakai wewangian bagi perempuan C.membunuh hewa … n D.memakai pakaian berjahit bagi wanita 6.jamaah haji indonesia berangkat ke Padang Arafah satu hari menjelang wukuf.Hal itu untuk mengurangi kemacetan dan mempermudah pengaturan kendaraan dalam pemberangkatan jamaah haji.Wukuf dilaksanakan pada tanggal.zulhijah A.8 B.9 C.10 D.11 10.selama berada ditanah suci,pak ahmad mèlakasanakan tawaf bersama istrinta setelah selesai salat subuh.Tawaf yang mereka laksanakan adalah tawaf A.sunah B.qudum C.ifada D.wada TOLONG YA BANTU CEPAT, YG BANTU SAMA² PUNYA PENGALAMAN BELAJAR BARENG.MAKASIH
MELAKSANAKAN PERINTAH, JAUHI LARANGAN DAN JANGAN BANYAK BERTANYA Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhudia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka’.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim].

Hadits di atas dengan redaksi seperti itu diriwayatkan oleh Muslim dan ath-Tha hâwi [1] dari riwayat az-Zuhri dan Sa’îd bin al-Musayyib dan Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

Hadits di atas juga diriwayatkan dari beberapa jalan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan lafazh: ذَرُوْنِيْ مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُؤَالُهُمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَاءِهِمْ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.

Biarkan aku terhadap apa yang aku tinggalkan pada kalian, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa oleh pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian. TAKHRIJ HADITS Hadits ini sha h î h. Diriwayatkan oleh imam-imam Ahlul Hadits, di antaranya ialah: • Al-Bukhâri, no.

7288. • Muslim dalam Kit â bul-Fadh â -il, 1337. • Mâlik dalam al-Muwaththa`, no. 2045, Tahq î q dan Takhr î j: Syaikh Salim al-Hilali. • Asy-Syâfi’i dalam Musnad-nya, no. 24. • A hmad, II/247, 258, 428, 517. • Al- Humaidi dalam Musnad-nya, no. 1125. • ‘Abdur-Razzâq dalam al-Mushannaf, no. 20372. • At-Tirmidzi, no. 2679. • An-Nasâ-i, V/110-111. • Ibnu Majah, no. 1, 2.

• Imam Ibnu Hibbân, no. 18-21 dan 2102-2103 – at-Ta’l î q â tul- His â n. • Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnad-nya, no.

6275. • Al-Baghawi dalam Syar hus-Sunnah, no. 98, 99. Dalam riwayat lain disebutkan latar belakang hadits di atas dari riwayat Mu hammad bin Ziyâd dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami, kemudian beliau bersabda: أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوْا. فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ، يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ فَسَكَتَ.

حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْ قُلْتُ : نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ. ثُمَّ قَالَ: ذَرُوْنِيْ مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ.

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata ,”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda ,”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian.

Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah”. [2] Hadits tersebut dari jalur lain diriwayatkan ad-Dâruquthni, Ibnu Hibbân, dan Ibnu Khuzaimah, di dalamnya disebutkan, “Kemudian turunlah firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian.’ [al-Mâidah/5: 101].

Diriwayatkan dari jalur lain bahwa ayat di atas turun setelah para sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang haji, “Apakah haji itu setiap tahun?” Dalam Sha h î h al-Bukh â ri dan Sha h î h Muslim disebutkan hadits dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, ia berkata,”Rasulullah berkhutbah kepada kami kemudian seseorang bertanya, ‘Siapa ayahku?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Si Fulan.’ Setelah itu turunlah ayat di atas.” [3] Dalam Sha h î h al-Bukh â ri dan Sha h î h Muslim juga disebutkan hadits dari Qatâdah, dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, ia berkata,”Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mereka menekan beliau dalam pertanyaan mereka.

Beliau marah kemudian naik mimbar dan bersabda, ‘Pada hari ini, tidaklah kalian menanyakan suatu apa pun kepadaku, melainkan aku akan menjelaskannya,‘ Seseorang yang jika berdebat dengan orang-orang, ia dipanggil dengan nama selain nama ayahnya sendiri lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapa ayahku?’ Nabi bersabda, ‘Ayahmu ialah Hudzafah.’ ‘Umar bin al-Khaththaab bangkit lalu berkata, ‘Kami ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.

Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan berbagai fitnah.’” Dan Qatâdah ketika menyebutkan hadits di atas, ia membaca firman Allah Ta’ala, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian.'[al-Mâ-idah/5:101]. [4] Dalam Sha h î h al-Bukh â ri disebutkan juga hadits dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Satu kaum bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan maksud mengejek. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Siapa ayahku?’ Orang yang untanya tersesat berkata, ‘Di mana untaku?’ Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat ini, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian’.” [al-Mâ-idah/5:101] [5] SYARAH HADITS Larangan Banyak Bertanya Hadits-hadits di atas menunjukkan tentang larangan menanyakan hal-hal yang tidak perlu karena jawaban pertanyaan tersebut justru menyusahkan penanya, misalnya pertanyaan penanya apakah ia di neraka atau di surga?

Apakah ayahnya bernasabkan kepadanya atau tidak? Hadits-hadits di atas juga menunjukkan larangan bertanya dengan maksud membuat bingung, tidak berguna dan sia-sia, serta mengejek seperti biasa dilakukan orang-orang munafik dan orang-orang selain mereka.

Contoh lain juga ialah menanyakan hal-hal yang disembunyikan Allah Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak memperlihatkannya kepada mereka, seperti pertanyaan tentang waktu terjadinya hari Kiamat, hakikat ruh, dan lain sebagainya. Hadits-hadits di atas juga melarang kaum Muslimin menanyakan banyak hal tentang halal dan haram apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah jawabannya dikhawatirkan menjadi turunnya perintah keras di dalamnya, misalnya bertanya tentang haji, apakah haji wajib setiap tahun atau tidak.

Dalam Sha h î h al-Bukh â ri disebutkan hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqâsh bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ، فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ. Sesungguhnya kaum Muslimin yang paling besar dosanya ialah orang yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian sesuatu tersebut diharamkan dengan sebab pertanyaannya itu.

[6] Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang li’an (suami-istri saling melaknat dengan sebab tuduhan berzina), (lihat QS an-Nûr/24 ayat 6-9) beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka dengan pertanyaan seperti itu hingga penanya mendapatkan musibah karenanya sebelum menjatuhkannya pada istrinya. [7] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang desas-desus (gossip), banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta.

[8] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberi keringanan kepada orang-orang Arab Badui dan orang-orang seperti mereka, misalnya delegasi-delegasi yang menghadap beliau guna mengambil (membujuk) hati mereka. Adapun Sahabat Muhajirin dan Anshar yang menetap di Madinah dan keimanan menancap kuat di hati mereka, maka mereka dilarang banyak bertanya.

Dalam Sha h î h Muslim disebutkan hadits dari an-Nawwâs bin Sam’ân Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku tinggal bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah selama setahun, dan tidak ada yang menghalangiku untuk hijrah, melainkan bertanya.

Karena, jika salah seorang dari kami berhijrah, maka tidak akan bisa bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [9] Dalam Sha h î h Muslim juga disebutkan hadits dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami dilarang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sesuatu. Yang membuat kami senang ialah seseorang yang berakal dari penduduk lembah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia bertanya kepada beliau sedang kami mendengarkannya.” [10] Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih baik daripada sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka hanya bertanya tentang dua belas masalah dan kesemuanya ada di dalam Al-Qur’ân; ‘Mereka apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah kepadamu tentang minuman keras dan judi’ -Qs al-Baqarah/2 ayat 219; ‘Mereka bertanya kepadamu tentang bulan Haram’ -Qs al-Baqarah/2 ayat 217); ‘Mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim’ –Qs al-Baqarah/2 ayat 220.” [11] Terkadang para sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum sesuatu yang belum terjadi namun hal itu untuk diamalkan bila telah terjadi.

Misalnya, mereka bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Kami akan bertemu musuh besok pagi. Kami tidak mempunyai pisau, bolehkah kami menyembelih dengan kayu?” [12] Mereka juga bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang para penguasa yang beliau kabarkan sepeninggal beliau, tentang ketaatan kepada mereka, dan memerangi mereka. Dan Hudzaifah Radhiyallahu anhu bertanya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah-fitnah dan apa yang mesti ia kerjakan pada zaman tersebut.[13] [13] Sebab-Sebab Kebinasaan Umat Terdahulu Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ذَرُوْنِيْ مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ… (Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian.

Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian karena banyaknya pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka …), menunjukkan tentang makruhnya dan tercelanya banyak bertanya. Namun sebagian orang menduga bahwa itu khusus untuk zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena dikhawatirkan terjadinya pengharaman sesuatu yang belum diharamkan, atau kewajiban sesuatu yang sulit dikerjakan, sedangkan itu semua tidak terjadi sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebab makruhnya banyak bertanya bukan karena sebab di atas, namun ada sebab lain, yaitu yang diisyaratkan Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma dalam perkataannya yang telah disebutkan sebelumnya, “Namun tunggulah. Jika Al-Qur’ân telah turun, maka tidaklah menanyakan suatu apa pun, melainkan kalian mendapatkan penjelasannya.” Maksudnya bahwa semua yang dibutuhkan kaum Muslimin dalam agama mereka itu mesti akan dijelaskan Allah dalam kitab-Nya dan disampaikan Rasul-Nya dari-Nya.

Setelah itu, siapa pun tidak perlu bertanya lagi karena Allah Ta’ala lebih tahu tentang kemashlahatan hamba-hamba-Nya daripada mereka. Jadi, apa saja yang di dalamnya terdapat petunjuk dan manfaat bagi kaum Muslimin, Allah Ta’ala pasti menjelaskannya kepada mereka tanpa didahului pertanyaan, seperti difirmankan Allah Ta’ala, “Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian agar kalian tidak sesat” – an-Nisâ`/4 ayat 176- maka pada saat itu tidak butuh lagi bertanya tentang sesuatu, apalagi sesuatu yang belum terjadi dan tidak ada kebutuhan padanya.

Justru kebutuhan yang penting ialah memahami apa yang telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya menurut pemahaman para sahabat lalu mengikutinya, dan mengamalkannya. Pada hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa sibuk mengerjakan perintah dan menjauhi larangan beliau itu membuat orang tidak bertanya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan sesuatu pada kalian, kerjakanlah semampu kalian.” Yang harus diperhatikan seorang muslim ialah membahas apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dilanjutkan berusaha keras memahaminya, memikirkan makna-maknanya, lalu membenarkannya jika hal tersebut termasuk hal-hal yang bersifat ilmiah.

Jika hal tersebut termasuk hal-hal yang bersifat amaliyah, ia mencurahkan segenap tenaga untuk bersungguh-sungguh mengerjakan perintah-perintah yang mampu ia kerjakan dan menjauhi apa saja yang dilarang. Jadi, semua perhatiannya terfokus pada hal tersebut dan tidak kepada sesuatu yang lain.

Seperti itulah keadaan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam mencari ilmu yang bermanfaat dari Al-Qur`ân dan As-Sunnah. [14] Namun jika perhatian pendengar ketika mendengar perintah dan larangan diarahkan kepada perkiraan teoritis dari perkara-perkara yang bisa terjadi atau tidak, maka itu termasuk hal yang dilarang dan membuat orang tidak serius mengikuti perintah.

Seseorang bertanya kepada Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhumatentang mengusap Hajar Aswad. Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhumaberkata kepada orang tersebut, “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap Hajar Aswad dan menciumnya.” Orang tersebut berkata, “Bagaimana pendapatmu kalau aku tidak bisa melakukannya?

Bagaimana pendapatmu kalau aku didesak?” Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata kepada orang tersebut: “Letakkan kata-kata ‘bagaimana pendapatmu’ di Yaman.

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap Hajar Aswad dan menciumnya”. [15] Maksud perkataan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ialah hendaklah engkau hanya mempunyai semangat untuk mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak usah memperkirakan tidak akan mampu melakukannya atau mempersulitnya sebelum terjadi karena hal tersebut melemahkan semangat untuk mengikuti beliau.

Sebab, mempelajari agama dan bertanya tentang ilmu itu akan dipuji jika untuk diamalkan, dan bukannya untuk perdebatan. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu bahwasanya beliau menyebutkan sejumlah fitnah yang akan terjadi di akhir zaman, apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata kepadanya, “Kapan itu terjadi, wahai ‘Ali?” ‘Ali bin Abi Thâlib menjawab: إِذَا تُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّيْنِ، وَتُعُلِّمَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِغَيْرِ الآخِرَةِ.

Baca Juga Keutamaan Sayyidul Istighfar “Fitnah-fitnah tersebut terjadi jika fiqih diperdalam bukan karena agama, ilmu agama dipelajari bukan untuk diamalkan, serta kehidupan dunia dicari bukan untuk kepentingan akhirat“.

[16] Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Bagaimana dengan kalian jika fitnah terjadi pada kalian di mana padanya anak kecil menjadi dewasa, orang dewasa menjadi tua, fitnah tersebut dijadikan sebagai sunnah, dan jika fitnah tersebut dirubah pada suatu hari maka dikatakan, ‘Ini (merubah fitnah) adalah kemungkaran’.” Orang-orang bertanya, “Kapan fitnah tersebut terjadi?” Ibnu Mas’ud menjawab: إِذَا قَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ، وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ، وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ، وَكَثُرَ قُرَّاؤُكُمْ، وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّيْنِ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الآخِرَةِ.

“ Fitnah tersebut terjadi ketika orang-orang jujur dari kalian sangat sedikit, para pemimpin kalian banyak, fuqaha’ kalian sedikit, para qari` (pembaca Al-Qur`ân) kalian banyak, fiqih dikaji bukan karena agama, dan dunia dicari dengan amalan akhirat“. [17] Karena itulah, banyak para sahabat dan tabi’in tidak suka menanyakan peristiwa-peristiwa yang belum terjadi dan tidak menjawabnya jika ditanya seperti itu.

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhumaberkata, “Kalian jangan bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, karena aku mendengar ‘Umar bin al-Kaththab melaknat orang yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.” [18] Jika Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu ditanya tentang sesuatu, ia berkata, “Sudahkah ini terjadi?” Orang-orang berkata, “Belum.” Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu berkata, “Biarkan hal tersebut hingga terjadi.” [19] Masruq rahimahullah berkata, “Aku bertanya sesuatu kepada Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, kemudian ia berkata, ‘Apakah sebelumnya hal tersebut sudah terjadi?’ Aku menjawab, ‘Belum.’ Ubay bin Ka’ab berkata, ‘Biarkan kami hingga hal tersebut terjadi.

Jika hal tersebut benar-benar terjadi, kami akan berijtihad mengeluarkan pendapat kami untukmu’.” [20] Ibnu Wahb rahimahullah juga berkata, dari Imam Malik, “Aku dengar Malik mengecam sikap banyak bicara dan fatwa.” Al-Haitsam bin Jamîl rahimahullah berkata: Aku berkata kepada Imam Mâlik rahimahullah“Wahai Abu ‘Abdillah, seorang yang mengetahui hadits apakah ia berdebat tentang hadits kepada orang lain?” Imâm Malik menjawab, “Tidak, ia hanya menyampaikan as-Sunnah, semoga diterima, jika tidak diterima, maka ia diam.” Imam Mâlik rahimahullah berkata, “Perdebatan tentang ilmu itu membuat hati keras dan menimbulkan kedengkian.” [21] Dalam hal ini, manusia terbagi menjadi beberapa kelompok berikut.

• Di antara pengikut ulama hadits ada orang yang menutup pintu pertanyaan sehingga fiqhnya sedikit dan ilmunya terbatas pada apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya saja. Karenanya, ia menjadi pengemban fiqh namun tidak faqih. • Di antara fuqaha ahli ra`yu, ada orang yang membuka lebar-lebar kemunculan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjadi.

Terkadang pertanyaan-pertanyaan tersebut terjadi dan terkadang tidak. Kemudian mereka sibuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan terlibat perdebatan di dalamnya sehingga hal tersebut melahirkan kekerasan hati, hawa nafsu, kebencian, permusuhan, dan kemarahan.

Pada umumnya, hal tersebut disertai dengan niat mengalahkan lawan, mencari popularitas, dan mengambil simpati manusia. Ini jelas sesuatu yang dicela para ulama yang Rabbani, dan Sunnah menunjukkan tentang keburukan dan keharamannya. • Adapun para fuqaha ahli hadits sekaligus mengamalkannya, sebagian besar semangat mereka ialah mencari makna-makna Kitabullah dan apa saja yang menjelaskannya, misalnya hadits-hadits sha h î h dan perkataan para sahabat serta tabi’in.

Mereka juga mencari makna-makna Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammengenali mana yang sha h î h dan dha’if darinya, kemudian mempelajarinya, memahaminya, mengkaji makna-maknanya, mengenali perkataan para sahabat dan tabi’in di berbagai disiplin ilmu, dalam hal tafsir, hadits, masalah halal dan haram, prinsip-prinsip Sunnah, zuhud, dan lain-lain.

Itulah metode-metode Imam Ahmad dan yang sejalan dengannya dari para ulama hadits yang Rabbani. Sibuk dengan aktifitas seperti itu membuat orang tidak lagi sibuk dengan sesuatu yang dipikirkan akal yang tidak ada gunanya dan belum tentu terjadi, namun justru perdebatan di dalamnya menimbulkan permusuhan dan ucapan yang tidak jelas sumbernya. Jika Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang salah satu dari masalah-masalah baru yang tidak akan terjadi, ia berkata: “Tinggalkan aku dari masalah-masalah baru yang diada-adakan seperti ini”.

Sungguh indah apa yang dikatakan Yunus bin Sulaiman as-Saqathi rahimahullah : “Aku melihat salah satu masalah, ternyata masalah tersebut adalah apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah dan ra`yu. Dalam hadits-hadits tersebut, aku temukan penyebutan Allah kkerububiyyahan-Nya, keagungan-Nya, ‘Arasy, sifat Surga, sifat Neraka, para nabi dan rasul, halal dan haram, anjuran untuk silaturahmi, dan kumpulan sejumlah kebaikan.

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

Kemudian pada ra`yu aku temukan makar, pengkhianatan, tipu muslihat, pemutusan silaturahmi, dan kumpulan sejumlah keburukan”. [22] A hmad bin Sibawaih rahimahullah berkata, “Barang siapa ingin mengetahui seluk-beluk ilmu kubur, ia harus membaca atsar-atsar. Barang siapa ingin mengetahui seluk-beluk ilmu roti, ia harus menggunakan akal.” [23] Kesimpulannya, hendaklah seorang muslim tujuan (hidupnya) untuk mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengetahui apa yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya, meniti jalan beliau, mengamalkan apa yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya, dan mengajak manusia kepadanya.

Barang siapa berbuat seperti itu, Allah memberi bimbingan dan petunjuk kepadanya, mengilhamkan petunjuk kepadanya, mengajarinya apa yang belum ia ketahui, dan ia termasuk ulama yang dipuji dalam Kitabullah: إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah para ulama… [Fâthir/35:28].

Nafi` bin Yazid rahimahullah berkata, “Ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya ialah orang-orang yang tawadhu` kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya dalam keridhaan-Nya, tidak menjilat kepada orang-orang di atas mereka, dan tidak menghina orang-orang di bawah mereka.” [24] Perkataan di atas didukung sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ،هُمْ أَضْعَفُ قُلُوْبًا وأَرَقُّ أَفْئِدَةً: اْلإِيْمَانُ يَمَانٍ، وَالْفِقْهُ يَمَانٍ، وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ.

Penduduk Yaman telah tiba di tempat kalian. Mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Iman adalah Yaman, fiqh adalah Yaman, dan hikmah adalah Yaman. [25] Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah isyarat beliau kepada Abu Musa al-Asy’ari dan orang-orang dari ulama penduduk Yaman yang sejalan dengannya. Sabda tersebut juga isyarat kepada Abu Muslim al-Khaulani, Uwais al-Qarni, Thawus, Wahb bin Munabbih, dan ulama-ulama Yaman lainnya. Mereka semua termasuk ulama Rabbani yang takut kepada Allah.

Sebagian dari mereka lebih luas ilmunya tentang hukum-hukum Allah dan syariat-syariat agama-Nya daripada sebagian yang lain. Kelebihan mereka atas orang lain sama sekali bukan karena banyak perkataan yang tidak jelas tujuannya, pembahasan, dan perdebatan.

Seperti itu pula, Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu yang merupakan orang paling ahli tentang halal dan haram, serta dikumpulkan pada hari Kiamat di depan para ulama dalam jarak sejauh lemparan anak panah.

Ilmunya luas bukan karena memperluas dan memperbanyak pertanyaan, namun karena ia tidak suka membicarakan sesuatu yang tidak terjadi, akan tetapi karena ia adalah orang yang mengetahui (mengenal) Allah dan prinsip-prinsip agama-Nya. Ditanyakan kepada Imam Ahmad: “Siapakah orang yang bisa kami tanya sepeninggalmu?” Imam Ahmad menjawab, “’Abdul-Wahhab al-Warraq.” Ditanyakan lagi kepada Imam Ahmad, “Ilmu ‘Abdul Wahhab al-Warraq itu tidak banyak,” Imam Ahmad berkata, “Orang shalih seperti dia itu akan diberi petunjuk untuk mendapatkan kebenaran.” [26] Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang Ma’ruf al-Kurkhi tkemudian ia menjawab: “Pada dirinya ada pokok ilmu, yaitu takut kepada Allah.” Itu karena didasarkan kepada perkataan salah seorang generasi Salaf: كَفَى بِخَشْيَةِ اللهِ عِلْمًا، وَكَفَى بِالاِغْتِرَارِ بِاللهِ جَهْلاً.

( Cukuplah takut kepada Allah itu sebagai ilmu dan terpedaya dari Allah itu sebagai kebodohan). Pembahasan Perihal Ini Sangat Panjang Kita kembali pada pembahasan awal tentang syarah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu di atas. Kami katakan bahwa orang yang tidak sibuk dengan memperbanyak pertanyaan-pertanyaan di mana pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak ada dalam Al-Qur`ân dan As-Sunnah, lebih sibuk memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya dengan tujuan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, ia termasuk orang-orang yang melaksanakan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadits tersebut dan mengerjakan konsekuensinya.

Barang siapa tidak mempunyai perhatian untuk memahami apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, sibuk memperbanyak pertanyaan-pertanyaan yang terkadang terjadi dan tidak terjadi, dan membebani diri menyiapkan jawaban-jawabannya berdasarkan pendapatnya, ia dikhawatirkan menyalahi hadits tersebut, mengerjakan larangannya dan meninggalkan perintahnya.

Ketahuilah, penyebab terjadinya banyak masalah yang tidak mempunyai landasan Al-Qur`ân dan As-Sunnah ialah karena tidak adanya upaya apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, dan meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.

Jika seseorang yang ingin beramal bertanya tentang apa yang disyariatkan Allah mengenai amal tersebut kemudian ia mengerjakannya dan ia juga bertanya tentang apa yang dilarang Allah pada amal tersebut kemudian ia menjauhinya, maka masalah-masalah tersebut terjadi dalam batasan Al-Qur`ân dan As-Sunnah.

Jika seseorang beramal karena pendapat dan hawa nafsunya, maka secara umum ia telah menyimpang dari apa yang disyariatkan Allah dan bisa jadi masalah-masalah tersebut sulit dikembalikan kepada hukum-hukum yang disebutkan dalam Al-Qur`ân dan As-Sunnah karena masalah-masalah tersebut sangat jauh dari hukum-hukum tersebut.

[27] Pertanyaan-pertanyaan yang dapat membinasakan ialah sebagai berikut. • Bertanya tentang hal-hal yang didiamkan oleh syariat dan tidak dijelaskannya, karena Allah Ta’ala yang berhak menjelaskan hal-hal yang membuat manusia bahagia di dunia dan akhirat. • Bertanya tentang hal-hal yang tidak ada manfaatnya dan tidak adanya kebutuhan. Karena, bisa jadi jawabannya tersebut akan berakibat buruk kepada orang yang bertanya.

• Bertanya dengan tujuan untuk menghina, mengejek, memperolok-olok, dan kesia-siaan. • Banyak bertanya mengenai masalah-masalah yang belum terjadi. • Bertanya dengan pertanyaan yang bersifat memaksa, menyusahkan, dan mengada-ada. Sebab, terkadang jawabannya akan banyak sehingga sulit untuk mengamalkannya, sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka disuruh untuk menyembelih seekor sapi betina.

• Bertanya tentang hal-hal yang Allah Ta’ala sembunyikan dari para hamba-Nya dengan sebab adanya hikmah yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala saja, contohnya bertanya tentang rahasia takdir, waktu terjadinya hari Kiamat, hakikat ruh, dan yang sepertinya. Adapun selain itu, maka bertanya tersebut dituntut menurut syariat. Allah Ta’ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ …Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

[an-Na hl/16:43]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ اللهُ! أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ. Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka, bukankah yang menjadi obat kebodohan itu adalah bertanya.

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

{INSERTKEYS} [28] Di antara pertanyaan itu ada yang hukumnya fardhu ‘ain, seperti bertanya tentang hukum-hukum thaharah (bersuci), shalat, puasa, dan selainnya. [29] Di antaranya juga ada yang hukumnya fardhu kifayah, yaitu bertanya untuk memperluas ilmu-ilmu agama seperti ilmu fara-idh (pembagian warisan) dan peradilan. Dan di antaranya juga ada yang hukumnya dianjurkan, seperti bertanya tentang amal-amal kebaikan dan amal-amal taqarrub yang berkisar pada hal-hal yang dianjurkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Wajib atas setiap muslim berusaha keras dengan sungguh-sungguh melaksanakan kewajiban dengan sempurna, berjuang melawan hawa nafsunya untuk taat kepada Allah dan istiqamah dalam melaksanakannya. Kemudian berusaha melaksanakan apa-apa yang ia mampu mengerjakannya dari amalan-amalan sunnah sehingga ia mendapatkan ganjaran dan pahala yang sempurna.

Apabila kita melihat perjalanan hidup Salafush-Shalih, maka kita dapati mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam berbuat kebajikan dan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Kesimpulannya, barang siapa mengerjakan apa saja yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits tersebut, menjauhi apa saja yang beliau larang, dan sibuk dengan kedua hal tersebut, ia selamat di dunia dan akhirat. Barang siapa tidak seperti itu, sibuk dengan lintasan-lintasan hatinya dan apa yang ia anggap baik, ia jatuh ke dalam apa yang telah diperingatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu seperti Ahli Kitab yang binasa karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan mereka, penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka, serta tidak adanya kepatuhan dan ketaatan mereka kepada rasul-rasul mereka.

Menjauhi Berbagai Larangan dan Mengerjakan Berbagai Perintah Tentang sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ… (Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian …). Salah seorang ulama berkata: “Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa larangan itu lebih berat daripada perintah, karena tidak ada rukhshah (dispensasi) untuk mengerjakan salah satu dari larangan-larangan, sedangkan perintah dikaitkan sesuai dengan kemampuan.” Perkataan tersebut diriwayatkan dari Imam Ahmad.

Perkataan tersebut mirip dengan perkataan salah seorang ulama yang berkata: “Perbuatan-perbuatan baik itu dikerjakan oleh orang baik-baik dan orang jahat. Sedangkan maksiat itu hanya ditinggalkan (tidak dikerjakan) oleh orang yang benar (jujur).”[30] [30] Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: اِتَّقِ الْمَحَارِمَ، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ… Takutlah engkau kepada yang hal-hal yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling hebat ibadahnya … [31] Yang dimaksud dengan perkataan-perkataan yang mengutamakan meninggalkan hal-hal haram daripada pengerjaan ketaatan-ketaatan, ialah ketaatan-ketaatan yang bersifat sunnah.

Jika tidak demikian, maka amal-amal perbuatan wajib itu lebih utama daripada meninggalkan hal-hal haram, karena amal-amal perbuatan adalah tujuan kepada dzatnya, sedang yang diminta (dituntut) dari hal-hal haram ialah meninggalkannya. Oleh karena itu, meninggalkan larangan-larangan tidak memerlukan niat, dan ini berbeda dengan pengerjaan amal-amal perbuatan. Oleh karena itu pula, terkadang meninggalkan amal-amal perbuatan itu menyebabkan kekafiran, misalnya meninggalkan tauhid dan rukun-rukun Islam atau sebagiannya yang telah dijelaskan sebelumnya.

Ini berbeda dengan pengerjaan hal-hal haram yang tidak menyebabkan kekafiran dengan sendirinya. Baca Juga Proses Penciptaan Manusia Dan Ditetapkannya Amalan Hamba Maimun bin Miran rahimahullah berkata, “Dzikir kepada Allah dengan lidah itu baik, namun lebih baik lagi jika seorang hamba mengingat Allah ketika bermaksiat kemudian ia berhenti darinya.” [32] ‘Umar bin ‘Abdul-‘Aziz rahimahullah berkata, “Takwa bukanlah dengan sekedar melaksanakan qiyamul-lail, puasa di siang hari, dan mengkombinasikan keduanya, namun takwa ialah mengerjakan apa saja yang diwajibkan Allah dan meninggalkan apa saja yang diharamkan Allah.

Jika itu disertai dengan amal, maka itu adalah kebaikan yang digabungkan kepada kebaikan. Secara umum, perkataan para generasi Salaf di atas menunjukkan bahwa menjauhi hal-hal haram kendati sedikit, itu lebih utama daripada memperbanyak mengerjakan ketaatan-ketaatan Sunnah, karena meninggalkan hal-hal haram adalah wajib, sedang mengerjakan ketaatan-ketaatan Sunnah adalah Sunnah.” [33] Mengerjakan perintah itu tidak terjadi kecuali dengan amal, sedangkan amal itu keberadaannya terkait dengan syarat-syarat dan sebab-sebab.

Sebagian dari syarat-syarat dan sebab-sebab tersebut terkadang tidak mampu dikerjakan seseorang. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasinya dengan kemampuan. Allah Ta’ala berfirman: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ Maka bertakwalah kalian kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian ….

[at-Taghâbun/64:16]. Allah Ta’ala berfirman tentang haji: وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah ….

[‘Ali ‘Imran/3:97]. Sedangkan larangan, tujuannya ialah ketiadaan amal-amal tersebut. Itulah prinsipnya, maksudnya ketiadaan larangan tersebut merupakan prinsip yang terjadi secara berkala. Itu sangat mungkin dan di dalamnya tidak ada yang tidak bisa dikerjakan. Di sini juga ada catatan, karena untuk mengerjakan kemaksiatan itu bisa jadi kuat. Oleh sebab itu, seseorang tidak bisa bersabar untuk menolaknya, padahal ia mampu ketika ia melakukan kemaksiatan tersebut.

Ketika itulah, orang tersebut melakukan perjuangan ekstra keras. Bisa jadi perjuangan tersebut lebih berat bagi jiwa daripada perjuangan jiwa untuk mengerjakan ketaatan. Oleh karena itu, banyak sekali dijumpai orang yang berjuang keras kemudian mampu mengerjakan ketaatan-ketaatan, namun ia tidak sanggup meninggalkan hal-hal haram.

Identifikasi masalah ini bahwa Allah tidak membebani hamba-hamba-Nya dengan amal-amal perbuatan yang tidak sanggup mereka kerjakan. Allah juga menghilangkan banyak sekali amal-amal perbuatan dari mereka karena adanya kesulitan di dalamnya sebagai rukhshah (dispensasi) dan rahmat bagi mereka.

Sedang larangan-larangan, Allah tidak memberi uzur kepada siapa pun untuk mengerjakannya, karena kuatnya penyeru dan syahwat kepadanya.

Bahkan, Allah membebani hamba-hamba-Nya untuk meninggalkannya dalam semua kondisi. Dan sesungguhnya makanan-makanan haram boleh dimakan pada saat-saat darurat agar kehidupan tetap berlangsung dan bukan karena untuk menikmatinya atau karena syahwat. Dari sini bisa diketahui kebenaran perkataan Imam Ahmad: “Sesungguhnya larangan itu lebih berat daripada perintah.” Diriwayatkan dari Tsauban dan selainnya, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اِسْتَقِيْمُوْا وَلَنْ تُحْصُوْا.

[Luruslah (istiqamah) kalian dan kalian tidak akan dapat mengetahui kadarnya], [34] maksudnya, kalian tidak akan sanggup istiqamah secara keseluruhan (sempurna). Al-Hakam bin Hazn al-Kulafi Radhiyallahu anhu berkata: Aku diutus menghadap kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengerjakan shalat Jum’at bersama beliau. Beliau berdiri bersandar pada tongkat atau panah, memuji Allah, dan menyanjung-Nya dengan kalimat-kalimat sederhana, baik, dan penuh berkah.

Setelah itu, beliau bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَنْ تُطِيْقُوْا أَوْ لَنْ تَفْعَلُوْا كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ سَدِّدُوْا وَأَبْشِرُوْا. “Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak akan sanggup –atau tidak akan mampu mengerjakan- seluruh apa yang aku perintahkan kepada kalian, namun berlaku luruslah dan berilah kabar gembira”.[35] [35] Kemudahan Tidak Gugur dengan Adanya Kesulitan Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.

(Dan jika aku perintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian). Adalah dalil bahwa orang yang tidak sanggup mengerjakan seluruh perintah dan hanya sanggup mengerjakan sebagiannya, maka ia telah mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan.

Ini bisa diberlakukan dalam banyak masalah, di antaranya: • Thaharah (bersuci). Jika seseorang tidak mampu berwudhu` karena ketiadaan air atau sakit di salah satu organ tubuhnya, maka ia bertayammum. • Barang siapa tidak mampu shalat dengan berdiri, ia shalat dengan duduk.

Jika ia tidak sanggup shalat dengan duduk, ia shalat dengan berbaring. Di Sha h î h al-Bukh â ri disebutkan hadits dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatlah engkau dengan berdiri. Jika engkau tidak sanggup, shalatlah dengan duduk. Jika engkau tidak sanggup, shalatlah dengan berbaring“.[36] [36] • Zakat fitri.

Jika seseorang hanya mampu mengeluarkan setengah sha`, ia harus mengeluarkannya menurut pendapat yang benar. • Haji hanya wajib dikerjakan sekali seumur hidup bagi yang mampu.

• Dalam ‘aqiqah, apabila seseorang tidak sanggup meng-‘aqiqahi anak laki-lakinya dengan dua ekor kambing, maka dia boleh meng -‘aqiqahinya dengan seekor kambing. FAW Â -ID HADITS (FAIDAH YANG DAPAT DIPETIK DARI HADITS DI ATAS) • Wajibnya menjauhi apa yang dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , berdasarkan sabda beliau: “Apa yang aku larang terhadap kalian, maka tinggalkanlah.” Dan firman Allah Ta’ala: وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.

Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya. [al-Hasyr/59:7]. • Yang dilarang itu mencakup sedikit dan banyaknya karena tidak dikatakan meninggalkannya, kecuali dengan meninggalkan sedikit dan banyaknya, contohnya beliau melarang kita dari riba`, maka mencakup sedikit dan banyaknya.

• Bahwa menahan diri (menjauhi) itu lebih mudah daripada melakukan perbuatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar menjauhi larangan secara keseluruhan karena menahan diri itu mudah. • Melaksanakan kewajiban hanyalah diwajibkan bagi orang-orang yang mampu melaksanakannya, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ”Apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian”. • Bahwasanya manusia memiliki kemampuan dan kesanggupan dalam menjalankan perintah dan manjauhi larangan.

• Apa yang dilarang dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syariat, baik hal itu terdapat dalam Al-Qur`ân maupun tidak. Karena itu, hukum mengamalkannya sama dengan hukum mengamalkan Al-Qur`â • Banyak bertanya adalah sebab kebinasaan, terlebih pada masalah-masalah yang tidak mungkin untuk dicapai, seperti perkara-perkara ghaib, keadaan hari Kiamat, dan selainnya.

• Umat-umat terdahulu dibinasakan karena mereka banyak bertanya dan dengan sebab mereka menentang nabi-nabi mereka. • Peringatan dari menentang para nabi, dan yang wajib bagi seorang muslim adalah mengikuti para nabi, meyakini bahwa mereka adalah para imam, hamba dari hamba-hamba Allah, yang Allah muliakan dengan risalah, dan meyakini bahwa penutup mereka adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah utus untuk segenap manusia, syariatnya adalah agama Islam yang diridhai oleh Allah Ta’ala untuk para hamba-Nya, dan bahwasanya Allah tidak akan menerima dari seseorang agama selainnya.

Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam … [‘Ali ‘Imran/3:19].

• Di dalam hadits ini terdapat isyarat tentang ditekankannya menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang penting dan bermanfaat yang dibutuhkan dengan segera.

MARAJI’: • Al-Qur-an dan terjemahnya. • Al-Mustadrak ‘ala Sha h î h aini. • Al-W â fi f î Syarhil-Arba’ î n an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha. • As-Sunanul-Kubra lil-Baihaqi. • Hilyatul-Auliy â `. • J â mi’ Bay â nil-‘Ilmi wa Fadhlih, karya Ibnu ‘Abdil-Barr. Tahqiq: Abul-Asybal az-Zuhairi.

• J â mi’ul-‘Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrahim Bâ • Kit â bul-‘Ilmi libni Khaitsamah, Takhrij: Syaikh al-Albâ • Kutûbus-Sittah. • Mushannaf ‘Abdur-Razzaq. • Mushannaf Ibni Abi Syaibah.

• Musnad Abu Ya’la. {/INSERTKEYS}

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

{INSERTKEYS} [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl.

Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] Dalam Musykîlul-Âtsâr, no. 548. [2] HR Muslim, no. 1337. An-Nasâ`i, V/110, 111. A hmad, II/508. Al-Baihaqi, VI/326. Ibnu Khuzaimah, no.

2508. Ath-Tha hâwi dalam Musykîlul-Âtsâr, no. 1472. Ibnu Hibbân, no. 3696, 3697 – at-Ta’lîqâtul Hisân ‘alâ Sha hî h Ibni Hibban.

Mu hammad bin Nashr al-Marwazi dalam Kitâbus-Sunnah, no. 110, Ta hqîq: Syaikh Salim al-Hilali. Ad-Dâraquthni, II/534, no. 2668 dan II/535, no. 2670, dan Ibnu Jarir dalam Jâmi’ul-Bayân, no. 12808. [3] HR al-Bukhâri, no. 4621, dan Muslim, no.

2359. [4] HR al-Bukhâri, no. 6362, 7089, 7294. Muslim, 2359 (137), dan Ibnu Jarîr ath-Thabari, no. 12799. [5] HR al-Bukhâri, no. 4622, dan Ibnu Jarîr ath-Thabari, no. 12798. [6] HR al-Bukhâri, no. 7289. Muslim, no. 2358. A hmad, I/176, 179. Abu Dâwud, no. 4610, dan Ibnu Hibbân, no. 110. [7] Lihat Musnad al-Imam A hmad, II/19, 42. Sha hî h Muslim, no. 1493. {/INSERTKEYS}

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

Sunan at-Tirmidzi, no. 1202, dan Sha hî h Ibni Hibban, no. 4272. [8] HR al-Bukhâri, no. 1477, dan Muslim, no. 593, dari al-Mughîrah bin Syu’bah Radhiyallahu anhuia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci tiga hal terhadap kalian: gossip, menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya.” [9] HR Muslim, no.

2553 (15). [10] HR Muslim, no. 12. An-Nasâ`i, IV/121, dan Ibnu Hibbân, no. 155. [11] HR ad-Dârimi, I/51, dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul-Kabîr, no. 12288. Menurut riwayat keduanya “tiga belas masalah”. Al-Haitsami dalam Majma’uz-Zawâ`id, I/158-159 menisbatkan hadits tersebut kepada ath-Thabrâni dan berkata: “Di dalam sanad tersebut terdapat Atha’ bin as-Saib yang merupakan perawi terpercaya.

Perawi-perawi lainnya adalah perawi-perawi terpercaya”. [12] Dari Râfi’ bin Khadîj Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri, no. 2488, 2507, dan Muslim, no. 1968. Kelanjutan hadits tersebut ialah: “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah padanya, maka makanlah (sembelihannya), asal bukan gigi dan kuku.

Hal tersebut akan aku jelaskan kepada kalian. Adapun gigi, ia adalah tulang, sedangkan kuku adalah pisau orang Habasyah”. [13] Lihat Sha hî h al-Bukhari, no. 7084. [14] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, I/244. [15] HR at-Tirmidzi, no. 861. Diriwayatkan juga oleh al-Bukhâri, no.

1611, dan an-Nasâ`i, V/230-231. [16] Mushannaf ‘Abdur-Razzaq, no. 20743, dan al-Hakim, IV/451. [17] Mushannaf ‘Abdur-Razzaq, no. 20742. Diriwayatkan juga oleh ad-Dârimi, I/64, dan al-Hakim, IV/514, dari Ya’la yang berkata, al-A’masy berkata kepadaku, dari Syaqiq yang berkata: “Abdullah bin Mas’ud berkata dan seterusnya …”.

Atsar tersebut juga diriwayatkan dari ‘Amr bin Auf, dari Khalid bin ‘Abdullah, dari Yazid bin Abu Ziyad, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Disha hî hkan oleh Imam al-Albâni dalam kitabnya, Qiyâmu Ramadhân, hlm. 4. [18] Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Kitâbul-‘Ilmi, no.

75. Ad-Darimi, I/50, dan Ibnu ‘Abdil Barr, II/1067, no. 2067. [19] Diriwayatkan oleh ad-Darimi, I/50, dan Ibnu ‘Abdil Barr, II/1068, no. 2068. [20] Diriwayatkan oleh ad-Darimi, I/56, dan Ibnu ‘Abdil Barr, II/1065, no. 2057. [21] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, I/248. [22] Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, I/248-249. [23] Lihat Tahdzîbul Kamâl (I/435), Siyar A’lâmin Nubalâ` (XI/7-8), dan Tadzkiratul Huffâzh, II/39, no. 475. [24] Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dalam Tafsîr-nya.

Lihat Tafsîr Ibni Katsir, I/373. [25] HR al-Bukhâri, no. 4388, 4389. Muslim, no. 52 (82-84). At-Tirmidzi, no. 3935. Abu ‘Awanah, I/59-60, dan Ibnu Hibban, no. 7253, 7255-7256, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. [26] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, I/250-251. [27] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, I/251-252. [28] HR Ahmad, I/330. Abu Dawud, no. 337. Al-Hakim, I/178, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma. Lihat Shahîh Sunan Abi Dawud, II/161, no.

365. Syaikh Imam al-Albâni berkata, “Hadits hasan.” [29] Qawâ-id wa Fawâ-id minal al-Arba’în an-Nawawiyyah, hlm. 107-109. [30] Perkataan tersebut diriwayatkan dari Sahl bin ‘Abdullah at-Tusturi dalam Hilyatul-Auliâ`, X/221, no. 15032. [31] Hadits tersebut potongan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad (II/310), at-Tirmidzi (no.

2305), dan al-Kharaithi dalam Makârimul-Akhlâq, hlm. 42, dari jalur Abu Thariq, dari al-Hasan al-Bashri, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapakah yang siap mengambil kalimat-kalimat ini kemudian mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang siap mengamalkannya?’ Aku apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah Hurairah) berkata, ‘Aku, wahai Rasulullah,’ Rasulullah pun memegang tanganku lalu mengulang lagi sabda tersebut hingga lima kali.

Setelah itu beliau bersabda, ‘Takutlah engkau kepada hal-hal haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling hebat ibadahnya. Ridhalah dengan apa yang dibagikan Allah kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang terkaya. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi orang mukmin. Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu, niscaya engkau menjadi orang muslim. Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati’.” [32] Hilyatul Auliyâ`, IV/90, no.

4848.

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

{INSERTKEYS} [33] Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, I/254. [34] HR Ahmad, V/276-277, 282. Ad-Darimi, I/168, dan Ibnu Majah, no. 277, dari jalur Salim bin Abu al-Ja’d, dari Tsauban. Hadits tersebut disha hî hkan al-Hakim (I/130) dan disepakati adz-Dzahabi. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, V/282 dan ad-Darimi, I/168, dari jalur al-Walid bin Muslim, ia berkata, Ibnu Tsauban berkata kepadaku, Hasan bin Athiyah berkata kepadaku, bahwa Abu Kabsyah as-Saluli berkata kepadanya, bahwa ia mendengar Tsauban berkata dan seterusnya.

[35] HR A hmad, IV/212, dan Abu Dawud, no. 1096. Hadits tersebut hasan. [36] HR al-Bukhâri, no. 1117, dan Ibnu Hibban, no. 2413.• QS Ali Imran : 104 Artinya : “Dan hendaklah diantara kamu segolongan orang yang menyeru pada kebaikan, berbuat ma’ruf fan mencegah yang munkar. Dan mereka itu adalah orang yang beruntung” Dakwah adalah sebuah kata yang berarti “menyeru” bukan “menyuruh”, “mengajak” bukan “mengejak”. {/INSERTKEYS}

apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah

Tentu berbeda penjelasannya tentang kedua hal itu. Coba perhatikan kalimat berikut ini, “Cepat kerjakan tugas itu sekarang!” apabila diganti dengan “Bukankah lebih baik jika kamu mengerjakan tugasmu sekarang juga?” Sungguh berbeda bukan maknanya, kalimat yang kedua lebih bisa diterima, diikuti karena diucapkan dengan baik. Sama halnya ketika kita menyampaikan dakwah. Ketika melakukan dkwah, sangat tidak dianjurkan unruk menyembunyikan sesuatu, segala macam kebenaran harus disampaikan, meskipun hal itu mungkin dapat berdampak buruk.

Dalam memperhatikan dakwah harus memperhatikan banyak aspek salah satunya adalah orang yang akan kita beri dakwah. Orang yang kita nasehati atau kita beri dakwah adalah orang-orang yang berasal dari berbagai adat, budaya, suku, pengetahuan dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal inilah yang membuat cara penyampaian dakwah menjadi berbeda-beda. Oleh sebab itu, sorang da’i harus benar-benar memiliki Hubungan Akhlak dengan Iman dalam Islam yang memadai serta ilmu dan pengetahuan tentang Islam dengan baik.

Sebab dari penjelasan seorang da’i tersebut, orang-orang yang mendengarkan dakwah tersebut akan melihat bahwa Islam adalah indah, mudah tapi tidak dimudahkan serta ringan tapi tidak diringankan.

Cara Menyampaikan Dakwah yang Baik dalam Islam Berikut adalah beberapa cara berdakwah yang baik dalam Islam : • Menyampaikannya dengan cara santun Ketika menyampaikan dakwah atau nasihat kepada orang lain, sudah seharusnya kita dapat menyampaikannya dakwah tersebut dengan santun. Allah berfirman : “Maka rahmat dari Allah lah kamu harus berlaku lemah lembut.

Jika kamu berlaku keras dan kasar, maka mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Q.S Ali Imron/3:159) Dari ayat tersebut sudah dipertegas bahwa jangan sekali-kali bersikap kasar, sok tau, sok pintar atau merasa paling pintar saat sedang menyampaikan nasihat. Pendengar bukan malah tertarik atau bersimpati dengan apa yang kita sampaikan, malah mereka akan enggan memperhatikan apa yang kita sampaikan. • Memperhatikan tingkat pendidikan Saat berdakwah kita pun wajib memperhatikan objek yang akan kita beri dakwah misalnya tingkat pendidikan.

Tingkat pendidikan jamaah yang akan mendengarkan dakwah haruslah menjadi pertimbangan kita saat menyampaikan dakwah. Dalam hal ini, bukan berarti seorang pendakwah mau membeda-bedakan tingkat pendidikan setiap orang, namun pendakwah hanya berusaha bagaimana agar dakwah mereka bisa diterima dan dihargai oleh objek dakwah. Seperti sabda Rasulullah“Berbicaralah dengan seseorang dengan memperhatikan kadar akalnya atau daya pikir mereka” (HR. Dailami). • Bahasa yang digunakan harus sesuai Selain objek yang harus diperhatikan, bahasa yang kita gunakan harus dapat dipahami sesuai dengan tingkat keintelektualan objek dakwah.

Bahasa yang digunakan saat berdakwah dihadapan masyarakat awam harus berbeda dengan bahasa yang digunakan saat berdakwah di hadapan masyarakata terpelajar. Allah berfirman dalam QS Ibrahim : 4 yang artinya “Dan Kami tidak akan mengutus seorang Rasulpun melainkan karena sesuai dengan bahasa kaumnya.” Perbedaan bahasa tersebut bukan tanpa alasan sebab salah pengucapan bahasa akan sulit dipahami bagi yang mendengarnya.

Misalnya saja ketika seorang da’i berdakwah dihadapan masyarakat awam namun menggunakan bahasa intelektual atau ilmiah yang tinggai, tentu saja masyarakat yang mendengarnya akan mejadi bingung dan susah memahaminya. Untuk itu, gunakan bahasa sesuai dengan orang yang akan kita beri dakwah.

• Perhatikan pula budanya Sikap selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang pendakwah adalah memperhatikan budaya daerah setempat. Menghargai budaya tidak berarti akan mengahpus seluruh kesesatan yang ada di masyarakat tersebut, tetapi bagaimana cara kita untuk berdakwah secara cerdas dengan melakukan pendekatan sesuai dengabn budaya yang ada di daerah tersebut.

Perihal mengubah kebudayaan yang mengandung keburukan,tugas seorang da’i adalah mengubahnya, namun dengan cara yang harus santun. Apabila seorang pendakwah tidak memperhatikan hal ini, maka akan sulit dihargai, bahkan mungkin saja mereka bisa melarang da’i tersebut untuk kembali memberi dakwah di daerahnya. • Perhatikan usianya Dalam urusan dakwah, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda juga merupakan hal yang sangat penting.

Setiap orang memiliki kemampuan sama dalam memberikan nasihat, namun cara kita dalam memberikan nasihat kepada orang tua tidaklah sama saat kita memberi nasihat kepada teman atau orang yang lebih muda.

Bisa saja ada orang tua yang merasa tersinggung dengan cara kita menasehati sehingga dia sulit menerima dakwah kita. • Menjadi contoh yang baik Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana cara pendakwah menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Bagaimana kita bisa menasehati seseorang sedangkan kita tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi sesama? Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW melalui kisah teladan nabi muhammad SAW, beliau selalu memberikan keteladanan bagi objek dakwahnya.

Tak hanya keteladanan akan bagaimana cara beliau dalam beribadah, tetapi bagaimana cara beliau memuliakan tamu, berbuat baik kepada sesama muslim, cara menjadi anak baik, suami yang baik, saudara yang baik serta pemimpin yang baik pula.

• Berbantah dengan cara baik Dalam berdakwah, yang harus diperhatikan pula adalah bagaimana caranya berbantah dengan cara yang baik misalnya ketika membahas masalah pernikahan seperti kriteria calon istri yang baik menurut islam, mahar pernikahan dalam islam, tujuan pernikahan dalam islam, ayat al quran tentang poligami dalam Islam. Apapun yang diperdebatkan, jika kita menggunakan cara yang tidak baik maka apapun yang kita sampaikan akan sulit untuk diterima.

Seperti firman Allah dalam QS An-Nahl ayat 125 yang artinya : “Berserulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, pengajaran yang baik lalu berbantahlah dengan mereka menggunakan cara yang baik” • Menggunakan perumpamaan-perumpamaan dalam berdakwah Perumpamaan-perumpamaan dalam berdakwah bisa digunakan agar pesan dan nasihat dakwah dapat mudah diterima oleh para pendengar dakwah.

Allah berfirman dalam QS Az-Zumar ayat 27 yang artinya : “Sesungguhnya, telah dibuatkan di dalam Al-Quran yaitu perumpamaan-perumpamaan agar manusia dapat mendapatkan pelajaran” Dalam surah yang lain, Allah telah memberikan contoh perumpamaan dalam berdakwah yakni dalam surah Al-Baqarah ayat 261 yang artinya : “Perumapamaan orang yang akan menginfakkan harta di jalan Allah adalah bagai sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dimana satu tangkai berisi seratus biji.

Allah akan melipatgandakan bagi orang yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui” • Tidak memaki orang non Muslim Sebagai seorang pendakwah, memaki seseorang non muslim sama sekali tidak dianjurkan.

Apalagi jika kita menyampaikannya di depan para pendengar dakwah. Seperti firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 108 yang artinya : “Janganlah memaki sembahan mereka selain sembahan kepada Allah, sebab mereka akan memaki Allah dengan berlebihan tanpa menggunakan dasar pengetahuan. Kami jadikan umat untuk menghargai dengan baik pekerjaan mereka. Tuhan adalah tempat kembali mereka, lalu Dia kemudian memberi tahu kepada mereka apa telah dikerjakan.” Dalam surah ini sudah jelas disebutkan bahwa Allah memang tidak menyukai orang yang tidak menyembahNya, namun Allah juga tidak menganjurkan kita untuk memaki agama satu sama lain.

• Mempermudah dan tidak mempersulit Seperti misalnya saat kewajiban melaksanakan shalat, Allah sangat mempermudah kita, namun tidak dimudah-mudahkan. Jika kita seorang musafir, kita dipermudah untuk menjamak shalat. Dzuhur dijamak dengan ashar, maghrib dengan isya, subuh satu waktu. Atau ketika sulit shalat dengan berdiri, kita boleh shalat sambil duduk, bila sulit duduk bisa berbaring. Jika tidak ada air, kita diperbolehkan untuk bertayamum dengan debu. Hal ini merupakan salah satu bentuk kemudahan yang Allah berikan.

Sama halnya ketika menyampaikan dakwah, seorang pendakwah haruslah menyampaikan dakwah dengan mudah dan ringan agar bisa diterima para pendengar. Jika sudah diterima, maka nasihat apapun akan mudah diserap dan dilakukan oleh onjek dakwah kita. • Menyampaikan dakwah dengan yakin Kemudian, hal yang harus dilakukan oleh seorang pendakwah adalah menyampaikan dakwah dengan yakin.

Yakin berarti seorang da’i percaya bahwa apa yang disampaikan merupan sesuatu yang bersumber dari Al-Quran. Kemudian optimis bahwa apapun kebenaran yang disampaikan dapat dipakai seterusnya untuk menegakkan kebenaran dan meruntuhkan kebatilan. • Saling bekerja sama Cara menyampaikan dakwah selanjutnya dalam Islam adalah dengan saling menumbuhkan rasa gotong royong dna bekerja sama. Seorang da’i tidak mungkin bisa terlepas dari yang lain. Antar sesama da’i perlu dibangun adanya jaringan dakwah yang dapat mengkoordinir serta saling menopasng untuk gigih dalam menyebarkan agama Islam.

Bekerja sama juga tidak berlaku hanya sesama pendakwah saja, tetapi juga antara pendakwah dan pendengar. Dimana hal ini bisa diwujudkan saat di dalam maupun di luar kajian Al Quran. Pendakwah dapat terus melakukan dakwahnya di luar kajian dengan aktif membuat video atau sekedar membuka sesi “curhat” di akun media sosial yang sekarang telah banyak mengalami perkembangan.

• Bertanggung jawab dengan yang disampaikan Ini adalah puncak dari segala cara untuk menyampaikan dakwah yang benar menurut Islam. Bahwa apapun nasihat yang kita ucapkan harus benar-benar dapat kita pertanggung jawabkan terutama pada Allah SWT. Jika kita dapat bertanggung jawab, maka apapun yang disampaikan dapat diterima. Demikian cara menyampaikan dakwah dalam Islam. Selain cara berdakwah yang baik, Islam juga mengatur banyak sekali hukum-hukum kehidupan manusia seperti Doa Agar Dimudahkan Rezeki, Hukum Membuang Kucing Dalam Islam, Adab Bertamu dalam Islam, Hukum Berjabat Tangan Bukan Muhrim Dalam Islam, Cara Meningkatkan Kesabaran dalam Islam, Hukum Mengeluarkan Air Mani dengan Sengaja, Wanita Karir dalam Pandangan Islam, Amalan Penghapus Doza Zina, Dosa yang Tak Terampuni.

Semoga bermanfaat.
Jakarta - Iman kepada Allah merupakan rukun iman utama yang wajib diimani oleh tiap umat Muslim. Artinya tiap Muslim percaya akan adanya Allah SWT dengan meyakini bahwa Allah itu Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.

Sebab itu, apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah untuk orang yang beriman kepada Allah dan taat menjalankan perintahnya disebut dengan orang Mukmin.

Lantas, apa sebutan bagi orang yang tidak beriman kepada Allah? Mengutip dari buku yang bertajuk Penuntun: Allah Paling Hebat karya HF. Rahadian, orang yang tidak beriman kepada Allah disebut dengan kafir. Sementara itu, untuk perilaku mengingkari atau tidak mengimani akan adanya Allah berikut dengan agama yang Dia turunkan melalui para Rasul disebut dengan kufur.

Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah QS. An Nahl ayat 55 yang berbunyi: لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ Artinya: "Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)." (QS. An Nahl: 55). Disebutkan juga dalam QS Ar Rum ayat 34: لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ Artinya: "sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka.

Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu)." (QS. Ar Rum: 34). Orang yang Tidak Beriman Kepada Allah Dari kedua ayat Al Quran di atas, kata kafir mengacu pada orang yang mengingkari nikmat Allah dan tidak berterima kasih pada-Nya.

Melansir dari buku Studi Ilmu Kalam karya Dr. Suryan A. Jamrah, M.A, perilaku kufur juga bisa berarti menolak memercayai adanya Allah maupun tidak beragama sama sekali (atheis) atau memercayai Tuhan selain Allah. Di dalam Islam, perilaku kufur dalam arti mengingkari atau apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah keberadaan Allah dan agama-Nya disebut dengan kufur millat.

Sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al Maidah ayat 86: وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ Artinya "Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka," (QS. Al Maidah: 86). Sebab itu, jenis dari orang kafir terbagi menjadi empat macam, di antaranya: - Kafir inkar, yaitu mengingkari tauhid dengan hati dan lisannya; - Kafir penolakan (Juhud), yaitu mengingkari dengan lisannya dan mengakui dalam hatinya; - Kafir Mu'anid, yaitu mengetahui kebenaran Islam dalam hatinya dan dinyatakan oleh lisannya, namun ia menolak beriman; - Kafir nifaq, yaitu menyatakan beriman dengan lisannya, namun hatinya mengingkari.

Kriteria Pengkafiran Menurut MUI Klik halaman selanjutnya >>
Daftar Isi • Ayat Alkitab Tentang Melayani Tuhan Yesus Kristus dan Sesama • Daftar Ayat Alkitab Tentang Melayani • 1. Melayani Tuhan • 2. Melayani Sesama • Kumpulan Ayat Alkitab Terbaik Lainnya Ayat Alkitab Tentang Melayani Tuhan Yesus Apa yang kamu lakukan jika ada orang yang mengajak menyembah tuhan selain allah dan Sesama Bersamakristus.org – Ayat Alkitab tentang melayani dan memberikan pelayanan di masa muda.

Ketika berhubungan antara pelayan dan tuan, maka istilah melayani adalah memberikan segala yang dibutuhkan tuannya. Namun hal itu tidak berlaku dalam pandangan rohani Kristen. Pelayanan terhadap Tuhan berarti memberikan doa, mencoba mendekatkan diri kepada-Nya, dan menanti-nantikan Tuhan baik dalam penyertaan di pagi hari, malam hari, maupun saat di surga nanti.

Pelayanan terhadap Tuhan juga bisa kita wujudkan dalam bentuk menghormati sesama, dikenal juga dengan melayani sesama. Ini semacam berbuat baik kepada anak orang.

Ketika seorang anak diperlakukan baik, maka orang tuanya pun akan senang. Begitu pula dengan Tuhan. Saat Tuhan tahu kita saling melayani sesama, maka kita akan semakin dicintai oleh-Nya. Meskipun sebenarnya cinta Tuhan tak terbatas sepanjang masa, baik kepada siapa saja yang berbuat baik atau buruk. Penjelasan lengkap tentang melayani bisa kita dapatkan dari ayat Alkitab atau firman Tuhan. Ada banyak ayat-ayat yang menjelaskan mengenai pelayanan terhadap Tuhan dan sesama di bawah ini.

Daftar Ayat Alkitab Tentang Melayani Tanpa banyak basa basi lagi, langsung saja silahkan simak pembahasan lengkap mengenai daftar ayat emas Alkitab atau firman Tuhan tentang melayani Tuhan dan sesama. Silahkan simak di bawah ini. 1. Melayani Tuhan Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada.

Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Yohanes 12:26 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Ibrani 6:10 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Roma 12:1 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? 1 Korintus 9:13 Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Matius 6:24 Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Filipi 2:4 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Galatia 5:13 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kolose 3:23 Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.

1 Petrus 1:12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku 1 Timotius 1:12 2. Melayani Sesama Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Matius 25:40 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!

Yesaya 6:8 Maka kata Yesus sekali lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Yohanes 20:21 Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

Roma 7:6 Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Maleakhi 3:17 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.

1 Korintus 12:4-5 Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.

Lukas 22:27 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Matius 20:28 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Yohanes 13:13-15 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Markus 10:45 Kumpulan Ayat Alkitab Terbaik Lainnya Kami sebelumnya juga telah memublikasikan banyak ayat emas Alkitab atau firman Tuhan selain tentang melayani.

Selengkapnya bisa dilihat pada artikel-artikel di bawah ini. • Ayat Alkitab Tentang Rencana Tuhan Yesus • Kumpulan Ayat Alkitab Tentang Keturunan • Ayat Alkitab Tentang Sahabat Teman Kawan Akhir Kata Demikianlah sedikit pembahasan mengenai ayat alkitab tentang melayani tuhan dan sesama. Mudah-mudahan dengan adanya ayat emas Alkitab tentang melayani ini, kita bisa menjadi semakin ikhlas dalam memberikan pelayanan terhadap sesama dan juga Tuhan.

Baca: • Kumpulan Kata Mutiara Kristen Tentang Kasih • Contoh Doa Kristen untuk Kekasih Hati • Makna Doa Aku Percaya dalam Agama Kristen Terbaru • Cara Beribadah Agama Katolik • Ciri Ciri Saksi Yehuwa • Cara Hidup Bahagia Kristen • Ayat Alkitab Tentang Makanan • Tanggung Jawab Ayah dalam Keluarga Kristen • Makanan yang Dilarang Advent • Tata Ibadah Gereja Toraja • Ciri Ciri Agama Kristen Protestan • Pengampunan Dosa dalam Kristen • Cara Mengusir Setan dalam Agama Kristen

Apakah agama yang dipeluk oleh Yesus, Para Oten mutar2 tak mampu Jawab.#Debat_Islam_vs_Kristen




2022 www.videocon.com