Tari dayak

tari dayak

Tarian (tari) adat suku dayak tradisional daerah Kalimantan Barat akan disampaikan pada kesempatan kali ini dilengkap dengan gambar dan keterangan atau tari dayak. Bicara adat tentunya kita tidak bisa lepaskan dari sebuah tradisi masa lampau disuatu daerah.

Sedangkan bicara suku Dayak, maka tidak bisa kita lepaskan dari masa lalu di daerah Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat. Dengan begitu tidak salah jika kami akan ulas tentang tarian yang juga diperankan oleh suku Dayak ketika itu. Tari adat Kalimantan Barat yang ibukotanya adalah Pontianak ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya tari yang ada di daerah lain yang masih dalam jangkauan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ini dampak yang logis akan kekayaan Indonesia dari sisi sejarah seni tari yang terus diwariskan dari sampai saat ini. Sebagian tarian tari dayak masih ada yang dilestarikan, sedang yang lainnya ada yang tinggal namanya saja. Jika memungkinan, bisa dilestarikan lagi oleh masyarakat guna menjawa tradisi para leluhur tari dayak tidak punah. Baca : Upacara Adat Kalimantan Barat Jelang pesta pernikahan, biasanya pada zaman dahulu menggelar tari sebagai ajang hiburan bagi para undangan yang hadir.

Begitu pula jika hendak panen lahan pertahian, para nenek moyang dulu juga membuat acara ritual tertentu yang terkadang menampilkan tarian pula.

Apakah tarian yang kami maksudkan ada pada zaman dahulu di Kalimantan Barat? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, maka Anda bisa melihat poin per poin dibawah ini. Namun sebelumnya, ada baiknya kami sampaikan pula bahwa kami sudah menulis artikel terkait yang berjudul tarian adat Kalimantan Timur.

tari dayak

Kami beri saran untuk Anda agar membacanya usai selesai membaca informasi ini. Daftar Tarian Adat Kalimantan Barat Yang Perlu Diketahui Berikut ini adalah daftar atau list poin per poin mengenai kebudayaan kesenian tari adat yang ada di daerah Kalimantan Barat. 1.Tari Adat Ajat Temuai Datai Sumber : Wikipedia Tari Ajat Temuai Datai yang adai di Kalimantan Barat dikabarkan asalnya dari suku yang bernama Suku Dayak Iban.

Pada istilah Tari dayak Temuai Datai terkandung maksud proses pengucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas kedatangan tamu di tanah didaerah Kalimantan Barat. Seiring bergulirnya sang waktu, tarian ini kesenian tari penyambutan tamu kenegaraan. Ada beberapa kriteria tamu yang mendapat penyambutan dari tari ini. Salah satunya, pemimpin dari dari lain yang ingin menjalin kerjasama atau sekedar menghadiri undangan.

2. Tari Adat Kondan Sumber : Google Image Tari adat Kondan merupakan tarian yang berasal dari Kalimantan Barat, tarian ini memiliki makna yang berbeda antara satu gerakan dengan tari dayak yang lainnya. Pada jenis-jenis tarian tertentu ada yang sangat terkenal pada kalangannya sendiri, dan ada juga yang kurang populer disebabkan gerakan yang belum pernah terlihat atau terkesan kaku sama sekali.

Tari Kondan merupakan tarian yang sering dipakai pada acara seperti acara pernikahan, acara adat istiadat ataupun acara keagamaan serta ritual. Ada kesamaan dengan tari daerah yang ada di pulau Jawa. Pada beberapa gerakan menuai tanda tanya dan masih menyimpan misteri pada beberapa gerakan yang dilakukan oleh penari bagi para penonton. 3. Tari Adat Pedang Mualang Sumber : Blogger Tari adat Pedang Mualang merupakan sebuah tarian tunggal tradisional yang pada umumnya dipentaskan guna menghibur masyarakat setempat, seperti acara Gawai Belaki Bini (pesta pernikahan), acara Gawai Dayak (pesta panen padi), dan acara adat istiadat lainnya.

Pada pertunjukannya, tarian tersebut lebih mengedepankan pada gerakan yang sangat aktraktif dengan memakai alat perang yang bernama pedang sebagai propertinya. Jika merujuk pada sejarah, bahwa tarian ini dilakukan oleh para kesatria guna mendatangkan rasa semangat dan kepercayaan dalam berperang sebelum melaksanakan ekspedisi Mengayau. Dampaknya untuk memperkuat kepercayaan mereka bahwa saat berperang harus menang didalam melawan baik itu serangan maupun dalam menyerang lawannya.

Sumber : BackpakerJakarta Tari adat Monong memiliki nama lain, yakni tari Manang. Kesenian daerah ini merupakan sebuah tari terapi kepada orang yang sedang sakit. Fungsi lainnya ialah diyakini tari dayak daerah untuk menangkal penyakit. Pada pergelerannya, penari bertindak persis seorang dukun dengan menggunakan jampi-jampi. Kental suasana mistis. Tari Monong juga sering di sebut dengan nama Tari dayak Baliatn.

Dalam tarian tersebut, para anggita yang sakit juga ikut serta dan di pimpin oleh seorang dukun. Tari Adat Jonggan (Blogger) Tari adat Jonggan merupakan kebudayaan masyarakat Dayak kanayant di Kalimantan barat. Pengambilan nama Jonggan sendiri di ambil dari bahasa Dayak yang memiliki arti joget atau menari.

tari dayak

Pada setiap gerak dan lekukan tubuh sang penari mengambarkan sukacita dan kebahagiaan masyarakat Dayak. Jonggan dibawakan yang berperan sebagai hiburan pada saat pagelaran upacara adat Kalimantan Barat, sebagai ajang mencari jodoh, sebagai kenikmatan tari dayak dan penggambaran simbolik.

Tari Adat Bopureh (Indonesiakaya.com) Tari adat Bopureh merupakan sebuah deskripsi tentang kisah cinta antar dua manusia yang terhalang adat. Yakni kisah tentang cinta pemuda Dayak Djongkang atau lebih dikenal sebagai Jangkang dengan wanita dari suku Dayak Kanayan.

Mereka berdua tidak kuasa berbuat apa-apa. Hal ini disebabkan ada aturan yang berlaku. Tari dayak aturan adat itu melarang bagi masyarakat Dayak menikah dengan orang diluar kelompoknya. Bopureh sendiri dalam bahasa Jangkang yang berarti “silsilah”. Tari ini pada umumnya dibawakan oleh 10 orang penari. Pada 2 orang penari merupakan tokoh utama yang memerankan sepasang kekasih, sedang 8 orang penari lainnya ialah penari pelengkap. Di bagian tengah pementasan, 8 penari membentuk lingkaran, dengan penari pria dipusatnya.

Tari Adat Ayun Pala (Wikipedia) Tari adat Ayun Pala umumnya merupakan satu diantara ragam tari-tarian suku Dayak Mualang. Tari adat dari daerah Kalimantan Barat yang dibawakan secara tunggal ini disajikan setelah para ksatria (sabung) Mualang pulang dari Mengayau.

Mengayau ialah pulang dengan membawa pulang kepala musuh. Maksud dari ini merupakan sebagai bukti kemenangan bagi masyarakat setempat. Kemudian, kepala hasil kayau tersebut, dihantarkan dan disambut oleh penari wanita.

Fokus kesenian tari ini lebih menekankan gerakan menyambut dan menimang kepala musuh tersebut. 8. Tari Adat Zapin Tari Zapin merupakan tarian rumpun Melayu di Kalimantan Barat yang menghibur sekaligus sarat pesan agama dan pendidikan secara mendalam.

Tari adat ini mempunyai kaidah dan aturan yang tidak boleh tari dayak namun dari masa ke masa. Hanya saja seiring berjalannya waktu, mulai terjadi pergeseran nilai.

Namun keindahannya tak lekang begitu saja. Menurut bahasa Arab, zapin disebut sebagai al raqh wal zafn. Tari Zapin berkembang di Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab dari Hadramaut.

Baca : Adat Istiadat Melayu 9. Tari Pingan (Tari Pinggan) Tari Pingan (Negerikuindonesia.com) Tari Pinggan merupakan sebuah tarian tunggal tradisional Dayak yang bertujuan untuk menghibur masyarakat dalam setiap acara tradisional.

Misalnya pada acara Gawai Dayak (pesta Panen padi), acara Gawai Belaki Bini (pesta pernikahan ) dan acara lainnya. Tari Pingan termasuk hiburan rakyat yang berasal dari Kalimantan Barat. Pingan dalam bahasa Dayak Mualang berarti piring yang terbuat dari batu atau tanah liat. Sesuai dengan namanya, tarian ini memakai piring sebagai atribut dalam menari. Terjadi pembagian pada Tari Pinggan, yakni tari dayak Tari Pinggan Laki dan Tari Pinggan Indu’. Usai dipelajari, ada kesamaan dan pebedaan dari kedua tari tersebut.

Kesenian Tari ini lebih menekankan pada gerakan – gerakan atraktif yang diadopsi dari gerakan silat tradisional nusantara. tari dayak. Tari Adat Kinyah Uut Danum Tari dayak Adat Kinyah Uut Danum (Blogger) Tari Kinyah Uut Danum merupakan salah satu tarian perang dari Kalimantan Barat (Barat) yang memperlihatkan keberanian dan teknik bela diri dalam berperang. Tarian adat ini berasal dari sub suku Dayak Uut Danum di Kalimantan Barat. Jadi nama tari ini berdasarkan dari nama suku tersebut.

Pada awalnya, Tari Kinyah Uut Danum adalah tarian persiapan fisik sebelum mengayau, yaitu tradisi pemburuan kepala musuh yang di lakukan oleh suku dayak jaman dahulu. Tarian ini guna memperlihatkan kesiapan para laki laki dayak uut danum untuk dilepaskan di hutan untuk Mengayau.

11. Tarian Bopureh Seni tari adat ini adalah tari kreasi yang kehadirannya memberikan cerita kisah cinta pemuda Suku Dayak Jangkang dengan seorang gadis Kanayan. Cinta mereka tidak berjalan mulus diakibatkan ada aturan adat yang tidak memperbolehkan.

Akhirnya mereka tidak bisa menikah. Adapun aturan tersebut melarang seoarang menikah dari luar kelompoknya di kala itu. Jadi lebih memprioritaskan kelompoknya sendiri. Related posts: • 12 Alat Musik Tradisional Khas Kalimantan Barat, Gambar dan Keterangan • 5 Rumah Adat Daerah Kalimantan Barat dan Penjelasannya • 22 Tarian Adat Daerah Sumatera Utara dan Gambar Serta Keterangannya • 12 Tarian Adat Daerah Sulawesi Selatan, Penjelasan dan Gambarnya Posted in Adat, Daerah, Sosial Budaya Tagged Kalimantan Barat, Tarian Adat, Tarian Tradisional Post navigation Advertisements Salah satu kesenian yang dimiliki oleh Suku Dayak adalah dalam bidang tarian tradisional yakni tari dayak.

Dalam kesempatan kali ini saya akan menjelaskan untuk Anda tentang 16 tarian tradisional dari Dayak yang indah dan unik. Apa saja sih tariannya? Langsung saja kita simak pembahasan dibawah ini.

Contents • Tari Adat Dayak Monong • Tari Gantar • Tari Kancet Papatai • Tari Kancet Ledo • Tari Kancet Lasan tari dayak Tari Dayak Hudoq • Tari Dayak Hudoq Kita’ • Tari Kuyang • Tari Serumpai • Tari Pecut Kina • Tari Belian Bawo • Tari Ngerangkau • Tari Dayak Datun • Tari Baraga’ Bagantar • Tari Dayak Leleng • Tari Ajat Temui Datai • Tari Betandik • Bagikan ini: Tari Tari dayak Dayak Monong Tari Dayak yang pertama adalah monong yang mempunyai nama lain tari manang.

Tarian ini sendiri awalnya adalah dari terapi kuda yang sedang mengalami sakit, dan diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai usaha untuk menangkal penyakit. Ketika pertunjukannya digelar, para penari akan bertingkah seperti seorang dukun dengan mengucapkan jampi-jampi dan sangat kental dengan suasana mistis.

Tarian ini juga sering disebut oleh masyarakat Dayak sebagai tari baliat. Di dalam jenis tarian ini, para pemain yang sakit juga ikut menari dan didampingi oleh seorang dukun. Tari Gantar Tari gantar Dayak adalah jenis tarian tradisional yang menggambarkan gerakan orang sedang menanam padi. Properti tongkat yang dibawa oleh para penari memiliki penggambaran kayu penumbuk, sementara tari dayak dan biji-bijian di dalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.

Tarian Dayak satu ini cukup terkenal dan kerap dipentaskan dalam penyambutan tamu pada acara-acara penting. Tarian gantar ini bukan hanya terkenal di Suku Dayak Tanjung saja, namun sudah di kenal juga oleh Suku Dayak Benuaq.

Tari gantar sendiri memiliki 3 jenis, antara lain sebagai berikut: • Gantar Busai. • Tari Gantar Senak ataupun Gantar Kusak. • Gantar Rayatn. Tari Kancet Papatai Tarian tradisional Suku Dayak selanjutnya adalah tari kancet tari dayak yang mengisahkan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah yang berperang melawan musuhnya.

Tari Dayak kancet papatai ini mempunyai gerakan yang cukup lincah, gesit, penuh semangat dan biasanya diikuti oleh suara pekikikan para penari. Pada saat pertunjukan tarian ini, para penari akan menggunakan pakaian adat Dayak Kenyah yang dilengkapi peralatan perang seperti mandau, perisai, dan baju perang. Tarian ini biasanya akan diiringi oleh lagu Sak Paku dan hanya memakai alat musik sampe.

Tari Kancet Ledo Tari tradisional Dayak kancet ledo ini memiliki penggambaran sebagai kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah. Sementara tari kancet ledo memiliki penggambaran dari kelemah lembutan seorang gadis Dayak yang diumpamakan seperti batang padi yang meliuk-liuk lembut apabila tertiup angin.

Tarian ini umumnya akan dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai busana tradisional Suku Dayak Kenyah, dan di kedua belah tangannya memegang rangkaian ekor burung enggang.

Tari Dayak ini akan dipentaskan diatas sebuah gong, maka dari itulah tarian ini disebut dengan tari gong. Tari Kancet Lasan Tarian adat Dayak yang satu ini berbeda dengan kedua tari kancet diatas yang menggambarkan suku Dayak Kenyah. Pada tarian ini lebih menggambarkan maskot dari Suku Dayak, yaitu burung enggang. Burung enggang merupakan burung yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh Suku Dayak, sebab dianggap menjadi tanda keagungan dan kepahlawanan.

Tarian ini biasanya akan dibawakan oleh seorang penari tunggal perempuan Suku Dayak Kenyah yang sama gerakan dan posisinya sama dengan kancet ledo. Akan tetapi yang tari dayak pembeda adalah penarinya tidak menggunakan gong dan bulu burung enggang.

Sang penari biasanya akan melakukan gerakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut yang menyentuh lantai. Jenis tarian ini lebih menekankan pada gerakan burung enggang ketika terbang melayang dan hinggap di pepohonan. Baca Juga Tari Kecak Tari Dayak Hudoq Tari Dayak hudoq tari dayak tarian yang berkembang di dalam keseharian masyarakat Dayak Bahau dan Modang.

Tarian ini mempunyai hubungan yang cukup erat dengan upacara keagamaan dan memiliki tujuan untuk memperoleh kekuatan dalam menghadapi hama perusak tanaman dan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang melimpah serta memuaskan. Tarian ini umumnya akan dipentaskan dengan memakai properti topeng kayu yang mirip berbagai binatang buas.

Selain itu, dilengkapi juga dengan daun pisang atau daun kelapa untuk penutup tubuhnya. Tari Dayak Hudoq Kita’ Tari Dayak hudoq kita’ ini aslinya sama saja dengan tari hudoq dari Suku Dayak Bahau dan Modang. Kedua jenis tarian ini mempunyai kegunaan yang sama, yakni sebagai upacara penyambutan tahun tanam atau untuk menyampaikan rasa terimakasih atas hasil panen yang diperoleh.

Namun dari keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas untuk dilihat, yaitu di bagian properti yang digunakan seperti topeng, gerakan dan iringan tarian. Sementara dalam hal pakaian, tari hudoq kita’ ini memakai baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai sarung, sementara topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi ukiran khas Dayak Kenyah.

Tari Kuyang Tari Tari dayak kuyang merupakan tarian adat yang berasal dari Suku Dayak Benuaq sebagai pengusir hantu-hantu yang menjaga pepohonan besar dan tinggi. Dalam tujuan ini adalah agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut. Tari Serumpai Tari serumpai Suku Dayak Benuaq adalah tarian tradisional yang dipakai untuk menolak balak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila.

Tarian ini disebut dengan nama serumpai sebab ketika pertunjukannya akan diiringi oleh alat musik serumpai (sama seperti seruling bambu). Tari Pecut Kina Tari pecut kina ini merupakan bentuk penggambaran perpindahan Suku Dayak Kenyah yang berpindah tempat dari daerah Apo Kayu (Kab.

Balungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tari Belian Bawo Upacara belian bawo ini digunakan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain-lain. Setelah adanya perubahan menjadi bentuk tari, tarian yang berasal tari dayak Suku Dayak Benuaq ini kerap dipentaskan pada acara-acara penerimaan tamu dan acara kesenian lainnya.

Baca Juga Tari Bondan Payung Tari Ngerangkau Tari ngerangku ini adalah salah satu dari sekian banyaknya tarian adat untuk peristiwa kematian dari Suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ngerangkau ini memakai properti berupa alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara tersusun dalam posisi mendatar, sehingga menghasilkan irama tertentu.

Tari Dayak Datun Tari Dayak Datun ini biasanya akan dilakukan secara bersamaan oleh gadis Suku Dayak Kenyah dengan jumlah penari yang tidak menentu, bisa 10 hingga 20 orang.

Berdasarkan cerita yang tersebar di Suku Dayak, tarian bersama ini diciptakan oleh kepala Suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda rasa syukur dan kegembiraan berkat lahir cucunya dengan selamat. Tari Baraga’ Bagantar Tari baraga’ begantar ini pada mulanya adalah berupa acara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar.

Lalu upacara ini diubah ke dalam bentuk tarian tradisional Suku Dayak Benuaq. Tari Dayak Leleng Tari leleng ini mengisahkan tentang seorang gadis bernama Tari dayak Along yang dinikahkan secara paksa oleh orang tari dayak dengan pemuda yang tidak ia cintai. Sebagai wujud penolakannya, ia kemudian melarikan diri ke dalam hutan. Pertunjukan tarian ini biasanya akan diiringi oleh nyanyian lagu leleng.

Tari Ajat Temui Datai Tarian tari dayak temui datai ini berasal dari Suku Dayak Iban Kalimantan Barat yang memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta atas kedatangan tamu di tanah Kalimantan Barat. Dengan semakin cepatnya perkembangan zaman, tarian ini dipakai untuk menyambut berbagai tamu kenegaraan.

Ada berbagai kriteria yang akan mendapatkan penyambutan tarian ini, seperti pemimpin daerah lain yang ingin menjalin kerjasama atau sekedar menghadiri undangan. Baca Juga Tari Monong Tari Betandik Tari tradisional Betandik ini berasal dari Suku Dayak Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan yang cukup memukau para penonton.

Tarian betandik adalah tari dayak satu inti dari proses yang cukup panjang adat Aruh Baharin yang umumnya dilakukan oleh warga Dayak untuk ritual supaya hasil panen berhasil dengan baik. Mungkin hanya itu saja penjelasan yang dapat saya berikan tentang macam-macam tarian adat yang dimiliki Suku Dayak. Semoga dapat menambah pengetahuan Anda dalam bidang warisan budaya nenek moyang negara Indonesia.
Seni tradisional Dayak adalah kesenian tari tradisional masyarakat Dayak yang berhubungan dengan latar belakang budaya yang masih terpelihara di antara sub suku bangsa Dayak secara umum.

Dayak merupakan sebutan bagi penduduk asli Pulau Kalimantan. Pulau Kalimantan terbagi berdasarkan wilayah administratif yang mengatur wilayahnya. Masing-masing pembagian wilayah terdiri dari Kalimantan Timur dengan ibu kotanya Samarinda, Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin, Kalimantan Tengah dengan ibu kotanya Palangka Raya, dan Kalimantan Barat dengan ibu kotanya Pontianak. Kelompok Suku Dayak terbagi lagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 tari dayak.

[1] Masing-masing sub suku Dayak di Pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap permukiman mereka.

Daftar isi • 1 Etnis • 2 Berdasarkan wilayah penyebaran di Kalimantan Barat • 3 Asal Muasal Tari Dayak Ajat Temuai Datai • 4 Tautan Referensi Etnis [ sunting - sunting sumber ] Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U.

Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar,seperti melayu menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman dan perbukitan di seluruh daerah Kalimantan.

Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu daerah berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya. Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa Kayan, ivan:pengembara) demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka tari dayak dirinya dengan nama suku Batang Lupar, karena berasal dari sungai Batang Lupar, daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia.

Suku Mualang, diambil dari nama seorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/ algojo) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) dan kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang. Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain-lain, yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri.

Namun ada juga suku Dayak yang tidak mengetahui lagi asal usul nama sukunya. Nama "Dayak" atau "Daya" adalah nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri). Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya, (walaupun kini banyak masyarakat Dayak yang telah bermukim di kota kabupaten dan provinsi) yang mempunyai kemiripan adat istiadat dan budaya dan masih memegang teguh tradisinya.

Kalimantan Tengah mempunyai problem etnisitas yang sangat berbeda di banding Kalimantan Barat. Mayoritas ethnis yang mendiami Kalimantan Tengah adalah ethnis Dayak, yang terbesar suku Dayak Ngaju, Ot Danum, Maanyan, Dusun, dsb. Sedangkan agama yang mereka anut sangat variatif. Dayak yang beragama Islam di Kalimantan Tengah, tetap mempertahankan ethnisnya Dayak, demikian juga bagi Dayak yang masuk agama Kristen. Agama asli suku Dayak di Kalimantan Tengah adalah Kaharingan, yang merupakan agama asli yang lahir dari budaya setempat sebelum bangsa Indonesia mengenal agama pertama yakni Tari dayak.

Karena Hindu telah meyebar luas di dunia terutama Indonesia dan lebih dikenal tari dayak, jika dibandingkan dengan agama suku Dayak, maka Agama Kaharingan dikategorikan ke cabang agama Hindu. Provinsi Kalimantan Barat mempunyai keunikan tersendiri terhadap proses alkurturasi cultural atau perpindahan suatu culture religius bagi masyarakat setempat.

Dalam hal ini proses tersebut sangat berkaitan erat dengan dua suku terbesar di Kalimantan Barat yaitu Dayak, Melayu dan Tiongkok. Pada mulanya Bangsa Dayak mendiami pesisir Kalimantan Barat, hidup dengan tradisi dan budayanya masing-masing, kemudian datanglah pedagang dari Gujarat beragama Islam (Arab Melayu) dengan tujuan jual-beli barang-barang dari dan kepada masyarakat Dayak, kemudian karena seringnya mereka berinteraksi, bolak-balik mengambil dan mengantar barang-barang dagangan dari dan ke Selat Malaka (merupakan sentral dagang pada masa lalu), menyebabkan mereka berkeinginan menetap di daerah baru yang mempunyai potensi dagang yang besar bagi keuntungan mereka.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Dayak ketika bersentuhan dengan pendatang yang membawa pengetahuan baru yang asing ke daerahnya. Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan, dan interaksi cultural, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka.

Di masa itu system religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan, pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan.

Karena hubungan yang harmonis terjalin baik, maka masyarakat lokal atau Dayak, ada yang menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh, maka agama Islam diterima dan dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada penerintahan Giri Kusuma yang merupakan kerajan melayu dan lambat laun mulai menyebar di Kalimantan Barat.

Masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya, yang mereka sebut: Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi, kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana (Dayak mualang) adalah penguasa tanahRaja Juata (penguasa Air), Kama”Baba (penguasa Darat), Jobata, Apet Kuyan'gh ( Dayak Mali) dan lain-lain.

Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya dan budaya aslinya nya, mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman. Adapun segelintir masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam oleh karena perkawinan lebih banyak meniru gaya hidup pendatang yang dianggap telah mempunyai peradaban maju karena banyak berhubungan dengan dunia luar.

(Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman). Pada umumnya masyarakat Dayak yang pindah agama Islam di Kalimantan Barat dianggap oleh suku dayak sama dengan suku melayu.

Suku Dayak yang masih asli (memegang teguh kepercayaan nenek moyang) pada masa lalu, hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan, suku dayak yang masuk Islam(karena Perkawinan dengan suku Melayu) memperlihatkan diri sebagai suku melayu.

tari dayak

Banyak yang lupa akan identitas sebagai suku dayak mulai dari agama barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya. Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Tari dayak yang pindah (lewat perkawinan dengan suku melayu) ke agama Islam, agama Islam lebih identik dengan suku melayu dan agama Kristen atau kepercayaan dinamisme lebih identik dengan suku Dayak.sejalan terjadinya urbanisasi ke kalimantan, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, karena semakin banyak di kunjungi pendatang baik lokal maupun nusantara lainnya.

Untuk mengatur daerah tersebut maka tokoh orang melayu yang di percayakan masyarakat setempat diangkat menjadi pemimpin atau diberi gelar Penembahan (istilah yang dibawa pendatang untuk menyebut raja kecil) penembahan ini hidup mandiri dalam suatu wilayah kekuasaannya berdasarkan komposisi agama yang dianut sekitar pusat pemerintahannya, dan cenderung mempertahankan wilayah tersebut.

Namun adakalanya penembahan tersebut menyatakan tunduk terhadap kerajaan dari daerah asalnya, demi keamanan ataupun perluasan kekuasaan.

Masyarakat Dayak yang pindah ke agama Islam ataupun yang telah menikah dengan pendatang Melayu disebut dengan Senganan, atau masuk senganan/masuk Laut, dan kini mereka mengklaim dirinya dengan sebutan Melayu. Mereka mengangkat salah satu tokoh yang mereka segani baik dari ethnisnya tari dayak pendatang yang seagama dan mempunyai karismatik di kalangannya, sebagai pemimpin kampungnya atau pemimpin wilayah yang mereka segani.

Berdasarkan wilayah penyebaran tari dayak Kalimantan Barat [ sunting - sunting sumber ] Bangsa Dayak di Kalimantan Barat terbagi berdasarkan sub-sub ethnik yang tersebar diseluruh kabupaten di Kalimantan Barat. Berdasarkan Ethno Linguistik dan cirri cultural gerak tari Dayak di Kalimantan Tari dayak menjadi 4 kelompok besar, 1 kelompok kecil yakni: • Kendayan / Kanayatn Grop : Dayak Bukit (ahe), Banyuke, Lara, Darit, Belangin, Bakati” dll.

Wilayah penyebarannya di Kabupaten Pontianak, Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, dan sekitarnya.mempunyai gerak tari, enerjik, stakato, keras. • Ribunic / Jangkang Grop/ Bidoih / Bidayuh : Dayak Ribun, Pandu, Pompakng, Lintang, Pangkodatn, Jangkang, Kembayan, Simpakng, dll. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Sanggau Kapuas, mempunyai ciri gerak tangan membuka, tidak kasar dan halus.

• Iban / Ibanic : Dayak Iban dan sub-sub kecil lainnya, Mualang, Ketungau, Kantuk, Sebaruk, Banyur, Tabun, Bugau, Undup, Saribas, Desa, Seberuang, dan sebagainya. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Sambas (perbatasan), Kabupaten Sanggau / malenggang dan sekitarnya (perbatasan) Kabupaten Sekadau (Belitang Hilir, Tengah, Hulu) Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Serawak, Sabah dan Brunai Darusalam. mempunyai ciri gerak pinggul yang dominan, tidak keras dan tidak terlalu halus.

• Banuaka" Grop : Taman, Tamambaloh dan sub nya, Kalis, dan sebagainya. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Kapuas Hulu.ciri gerak mirip kelompok ibanic, tetapi sedikit lebih halus. • Kayaanik, punan, bukat dll. Selain terbagi menurut ethno linguistik yang terdata menurut jumlah besar groupnya, masih banyak lagi yang belum teridentifikasikan gerak tarinya, karena menyebar dan berpencar dan terbagi menjadi suku yang kecil-kecil.

Misalnya Dayak Mali / ayek-ayek, terdapat dialur jalan tayan kearah kab. ketapang.

tari dayak

kemudian Dayak Kabupaten Ketapang,Daerah simpakng seperti Dayak Samanakng dan Dayak Kualan, daerah Persaguan, Kendawangan, daerah Kayong, Sandai, daerah Krio, Aur kuning.

Daerah Manjau dsb. Kemudian Dayak daerah Kabupaten Sambas, yaitu Dameo/Damea, Sungkung daerah Sambas dan Kabupaten Bengkayang dan sebagainya. Kemudian daerah Kabupaten Tari dayak kearah Nanga Mahap dan Nanga Taman, Jawan, Jawai, Benawas, Kematu dan lain-lain. Kemudian Kabupaten Melawi, yaitu: dayak Keninjal(mayoritas tanah pinoh;antara lain desa ribang rabing, ribang semalan, madya raya, rompam, ulakmuid, maris dll)dayak Kebahan (antara lain desa:poring,nusa kenyikap, Kayu Bunga, dll yang memiliki tari alu dan tari belonok kelenang yang hampir punah), dayak Linoh (antara lain desa:Nanga taum,sebagian ulak muid, mahikam dll), dayak pangen (Jongkong, sebagian desa balaiagas dll), dayak kubing (antara lain desa sungai bakah/sungai mangat,nyanggai,nanga raya dll), dayak limai (antara lain desa tanjung beringin,tain, menukung, ela dll), dayak undau, dayak punan, dayak ranokh/anokh (antara lain sebagian di desa batu buil, sungai raya dll), dayak sebruang (antara lain didesa tanjung rimba, piawas dll),dayak Ot Danum (masuk kelompok kal-teng), Leboyan.

Asal Muasal Tari Dayak Ajat Temuai Datai [ sunting - sunting sumber ] "Ajat Temuai Datai" diangkat dari bahasa Dayak Mualang (Ibanic Group), yang tidak dapat diartikan tari dayak langsung, karna terdapat kejanggalan jika di tari dayak kata per kata.

Tetapi maksudnya Ajat adalah Persembahan/Permohonan dengan menggelar ritual atau Upacara adat, kemudian Temuai artinya: tamu, Datai artinya: Datang. Jika disesuaikan dengan maksud tarian yaitu: Tari yang didalamnya terdapat Upacara Adat dalam prosesi menyambut tamu atau Tari Menyambut tamu. bertujuan untuk penyambutan tamu yang datang atau tamu agung (diagungkan). Awal lahirnya kesenian ini yakni dari masa pengayauan/masa lampau, di antara kelompok-kelompok suku Dayak. Mengayau, berasal dari kata me dan Ngayau.

Me berarti melakukan aksi, Ngayau: pemenggalan kepala musuh, tindakan memenggal kepala musuh (Mengayau terdapat dalam bahasa Dayak Iban dan Ibanik, juga pada masyarakat Dayak pada umumnya). Tetapi jika mengayau mengandung pengertian khusus yakni suatu tindakan yang mencari kelompok lainnya (musuh) dengan cara menyerang dan memenggal kepala lawannya (mengayau terdiri dari berbagai macam adatnya di antaranya Kayau banyau/ramai/serang, Kayau Anak yaitu: Mengayau dalam kelompok kecil, Kayau Beguyap yaitu: Mengayau tidak lebih dari tiga orang.

Pada masyarakat Dayak Mualang dimasa lampau para pahlawan yang pulang dari pengayauan dan membawa bukti hasil Kayau berupa kepala manusia (musuh), merupakan tamu yang diagungkan serta dianggap sebagai seorang yang mampu menjadi pahlawan bagi kelompoknya.

Oleh sebab itu diadakanlah upacara “Ajat Temuai Datai”. Masyarakat Dayak percaya bahwa pada kepala seseorang menyimpan suatu semangat ataupun kekuatan jiwa yang dapat melindungi si empunya dan sukunya. [2], ada empat tujuan dalam mengayau tari dayak untuk melindungi pertanian, untuk mendapatkan tambahan daya jiwa, untuk balas dendam, dan sebagai daya tahan berdirinya suatu bangunan. Setelah mendapatkan hasil dari mengayau, tari dayak pahlawan tidak boleh memasuki wilayah kampungnya, tetapi dengan cara memberikan tanda dalam bahasa Dayak Mualang disebut Nyelaing (teriakan khas Dayak) yang berbunyi Heeih!, sebanyak tujuh kali yang berarti pahlawan pulang dan menang dalam pengayauan dan memperoleh kepala lawan yang masih segar.

Jika teriakan tersebut hanya tiga kali berarti para pahlawan menang dalam berperang atau mengayau tetapi jatuh korban dipihaknya.

Jika hanya sekali berarti para pahlawan tidak mendapatkan apa-apa dan tidak diadakan penyambutan khusus. Setelah memberikan tanda nyelaing, para pengayau mengirimkan utusan untuk menemui pimpinan ataupun kepala sukunya agar mempersiapkan acara penyambutan.

Proses penyambutan ini, melalui empat babak yakni: • 1. Ngunsai Beras (menghamburkan beberapa beras di depan para Bujang Berani/Ksatria/Pahlawan, sambil membacakan doa melalui perantaraan Sengalang Burong), • 2. Mancong Buloh tari dayak Menebaskan Mandau/Nyabor untuk memutuskan bambu yang sengaja dilintangkan atau di empang di pintu masuk wilayah rumah panjai. • 3 Ngajat Ngiring Temuai: menari mengiringi tamu ataupun memandu tamu sampai kedepan tangga naik Rumah Panjai (rumah panggung yang panjang) proses ngiring temuai ini dilakukan dengan cara menari dan tarian ini dinamakan Ngajat Ngiring Temuai.

• 4. Tama’ Bilik (memasuki rumah panjai) atau masuk ke tempat tertentu setelah merendam kakinya pada sebuah batu di dalam sebuah wadah sebagai simbol pencelap semengatsetelah melalui prosesi babak diatas, maka tamu diizinkan naik ke rumah panjang dengan maksud menyucikan diri dalam upacara yang disebut Mulai Semengat (mengembalikan semangat perang), [3] kemudian baru diadakan Gawai pala' acara ini untuk menghormati kepala hasil kayau, dan dalam acara ini terdapat beberapa tarian yang disebut: Tari Ayun Pala, Tari Pedang dll.

Adapun Nama-nama beberapa Panglima / Tuwak Dayak Mualang masa lalu yaitu: Tuwak Biau Balau (pemimpin Kayau), Tuwak Pangkar Begili (Tidak Pernah Mundur). Tautan Referensi [ sunting - sunting sumber ] • Halaman ini terakhir diubah pada 6 Agustus 2021, pukul 07.36. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan tari dayak • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Kata Pengantar Puji dan syukur patut kita panjatkan kehadirat tuhan yang Maha Esa karena dengan rahmat dan karunianya kita dapat memperoleh kesempatan untuk melanjutkan sekolah di jenjang perguruan tinggi.

artikel ini di tulis untuk memenuhi kebutuhan kita akan pengetahuan, pemahaman, dan panduan untuk menganalisis segala hal yang berkaitan dengan Tari Dayak di Indonesia. Materi artikel ini dibatasi dan difokuskan dengan fonemena yang terjadi di lingkungan sekitar kita, sehingga kita dapat melihat dan merekam peristiwa tersebut untuk mengambil manfaat sehingga kita dapat menuju kehidupan berseni yang lebih baik.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita dalam memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan menganalisis segala hal yang berkaitan dengan Tari Dayak di Indonesia tepatnya di daerah sekitar kita, sehingga kita dapat menjadi manusia yang berkualitas dalam upaya mencapai kesejahteraan diri maupun memberikan sumbangan terhadap keharmonisan dan kebudayaan rakyat Indonesia sekarang ini. Akhir kata, saya ucapkan terimakasih. SENI TARI DAYAK Sejarah Dayak Dayak merupakan sebutan bagi penduduk asli pulau Kalimantan.

Pulau kalimantan terbagi berdasarkan wilayah Administratif yang mengatur wilayahnya masing-masing terdiri dari: Kalimantan Timur ibu tari dayak Samarinda, Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin, KalimantanTengah ibu kotanya Palangka Raya, dan Kalimantan Barat ibu kotanya Pontianak.

tari dayak

Kelompok Suku Dayak, terbagi lagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. Tari dayak. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka.

Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan.

Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar,seperti melayu menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman dan perbukitan di seluruh daerah Kalimantan.

Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu daerah berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya.Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayan, ivan = pengembara) demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar, karena berasal dari sungai BatangLupar, daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia.

Suku Mualang, diambil dari nama seorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/algojo) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) dan kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang.Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain-lain, yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri.

DOWNLOAD SOFTWARE FACEBOOK VS TWITTER DISINI Namun ada juga suku Dayak yang tidak mengetahui lagi asal usul nama sukunya. Nama "Dayak" atau "Daya" adalah nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri). Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya, tari dayak kini banyak masyarakat Dayak yang telah bermukim di kota kabupaten dan propinsi) yang mempunyai kemiripan adat istiadat dan budaya dan masih memegang teguh tradisinya.

Kalimantan Tengah mempunyai problem etnisitas yang sangat berbeda di banding Kalimantan Barat.

tari dayak

Mayoritas ethnis yang mendiami Kalimantan Tengah adalah ethnis Dayak, yang terbesar suku Dayak Ngaju, Ot Danum, Maanyan, Dusun, dsb. Sedangkan agama yang mereka anut sangat variatif.

Dayak yang beragama Islam di Kalimantan Tengah, tetap mempertahankan ethnisnya Dayak, demikian juga bagi Dayak yang masuk agama Kristen. Agama tari dayak suku Dayak di Kalimantan Tengah adalah Kaharingan, yang merupakan agama asli yang lahir dari budaya setempat sebelum bangsa Indonesia mengenal agama pertama yakni Hindu. Karena Hindu telah meyebar luas di dunia terutama Indonesia dan lebih dikenal luas, jika dibandingkan dengan agama suku Dayak, maka Agama Kaharingan dikategorikan ke cabang agama Hindu.

Propinsi Kalimantan Barat mempunyai keunikan tersendiri terhadap proses alkurturasi cultural atau perpindahan suatu culture religius bagi masyarakat setempat. Dalam hal ini proses tersebut sangat berkaitan erat dengan dua suku terbesar di Kalimantan Barat yaitu Dayak,Melayu dan Tiongkok. Pada mulanya Bangsa Dayak mendiami pesisir Kalimantan Barat, hidup dengan tradisi dan budayanya masing-masing, kemudian datanglah pedagang dari gujarab beragama Islam (Arab Melayu) dengan tujuan jual-beli barang-barang dari dan kepada masyarakat Dayak, kemudian karena seringnya mereka berinteraksi, bolak-balik mengambil dan mengantar barang-barang dagangan dari dan ke Selat Malaka (merupakan sentral dagang pada masa lalu), menyebabkan mereka berkeinginan menetap di daerah baru yang mempunyai potensi dagang yang besar bagi keuntungan mereka.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Dayak ketika bersentuhan dengan pendatang yang membawa pengetahuan baru yang asing ke daerahnya. Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan, dan interaksi cultural, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka.

Di masa itu system religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan, pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan.

Karena hubungan yang harmonis terjalin baik, maka masyarakat lokal atau Dayak, ada yang menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh, maka agama Islam diterima tari dayak dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada penerintahan Giri Kusuma yang merupakan kerajan melayu dan lambat laun mulai menyebar di Kalimantan Barat.

Masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya, yang mereka sebut: Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi, kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana ( Dayak mualang) adalah penguasa tanahRaja Juata (penguasa Air), Kama”Baba (penguasa Darat),Jobata,Apet Kuyan'gh([[Dayak Mali]]) dan lain-lain.

Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan dinamisme nya dan budaya aslinya nya, mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman. Adapun segelintir masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam oleh karena perkawinan lebih banyak meniru gaya hidup pendatang yang dianggap telah mempunyai peradaban maju karena banyak berhubungan dengan dunia luar.

(Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman). Pada umumnya masyarakat Dayak yang pindah agama Islam di Kalimantan Barat dianggap oleh suku dayak sama dengan suku melayu. Suku Dayak yang masih asli (memegang teguh kepercayaan nenek moyang) pada masa lalu, hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan, suku dayak yang masuk Islam(karena Perkawinan dengan suku Melayu) memperlihatkan diri sebagai suku melayu.banyak yang lupa akan identitas sebagai suku dayak mulai dari tari dayak barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya.

Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Dayak yang pindah(lewat perkawinan dengan suku melayu) ke Agama Islam,agama islam lebih identik dengan suku melayu dan agama kristiani atau kepercayaan dinamisme lebih identik dengan suku Dayak.sejalan terjadinya urbanisasi ke kalimantan, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, karena semakin banyak di kunjungi pendatang baik local maupun nusantara lainnya.

Tari Dayak Bangsa dayak di Kalimantan Barat terbagi berdasarkan sub-sub ethnik yang tersebar diseluruh kabupaten di Kalimantan Barat. Berdasarkan Ethno Linguistik dan cirri cultural gerak tari dayak di Kalimantan Barat menjadi 4 kelompok besar, 1 kelompok kecil yakni: 1. Kendayan / Kanayatn Grop : dayak Bukit (ahe), Banyuke, Lara, Darit, Belangin, Bakati dll. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Pontianak, Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, dan sekitarnya.mempunyai gerak tari, enerjik, stakato, keras.

2. Ribunic / Jangkang Grop/ Bidoih / Bidayuh : dayak Ribun, Pandu, Pompakng, Lintang, Pangkodatn, Jangkang, Kembayan, Simpakng, dll. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Sanggau Kapuas, mempunyai ciri gerak tangan membuka, tidak kasar dan halus. 3. Iban / Ibanic : dayak Iban dan sub-sub kecil lainnya, Mualang, Ketungau, Kantuk, Sebaruk, Banyur, Tabun, Bugau, Undup, Saribas, Desa, Seberuang, dan sebagainya.

Wilayah penyebarannya di Kabupaten Sambas (perbatasan), Kabupaten Sanggau / malenggang dan sekitarnya (perbatasan) Kabupaten Sekadau (Belitang Hilir, Tengah, Hulu) Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Serawak, Sabah dan Brunai Darusalam. tari dayak ciri gerak pinggul yang dominan, tidak keras dan tidak terlalu halus. 4. Banuaka" Grop : Taman, Tamambaloh dan sub nya, Kalis, dan sebagainya.

Wilayah penyebarannya di Tari dayak Kapuas Hulu.ciri gerak mirif kelompok ibanic, tetapi sedikit lebih halus. 5. Kayaanik, punan, bukat dll. DOWNLOAD SOFTWARE FACEBOOK VS TWITTER DISINI Selain terbagi menurut ethno linguistik yang terdata menurut jumlah besar groupnya, masih banyak lagi yang belum teridentifikasikan gerak tarinya, karena menyebar dan berpencar dan terbagi menjadi suku yang kecil-kecil.

Misalnya dayak Mali / ayek-ayek, terdapat dialur jalan tayan kearah kab. ketapang. kemudian dayak Kabupaten Ketapang, daerah Persaguan, Kendawangan, daerah Kayong, Sandai, daerah Krio, Aur kuning.DaerahManjaudsb. Kemudian dayak daerah Kabupaten Sambas, yaitu Dameo / Damea, Sungkung daerah Sambas dan Kabupaten Bengkayang dan sebagainya. Kemudian daerah Kabupaten Sekadau kearah Nanga Mahap dan Nanga Taman, Jawan, Jawai, Benawas, Kematu dan lain-lain.

Kemudian Kabupaten Melawi, yaitu: dayak Keninjal(mayoritas tanah pinoh;antara lain desa ribang rabing, ribang semalan, madya raya, rompam, ulakmuid, maris dll)dayak Kebahan (antara lain desa:poring,nusa kenyikap, Kayu Bunga, dll yang memiliki tari alu dan tari belonok kelenang yang hampir punah), dayak Linoh (antara lain desa:Nanga taum,sebagian ulak muid, mahikam dll), dayak pangen (Jongkong, sebagian desa balaiagas dll), dayak kubing (antara lain desa sungai bakah/sungai mangat,nyanggai,nanga raya tari dayak limai (antara lain desa tanjung beringin,tain, menukung, ela dll), dayak undau, dayak punan, dayak ranokh/anokh (antara lain sebagian di desa batu buil, sungai raya dll), dayak sebruang (antara lain didesa tanjung rimba, piawas dll),dayak Ot Danum ( masuk kelompok kal-teng), Leboyan.

Dalam seni tari Dayak, dikenal beragam tari Dayak dengan gerakan yang eksotik dan memukau. Lewat gerakan para penari Dayak yang biasanya diiringi dengan tetabuhan yang khas, unsur ritmis yang berpadu serasi menjadi sebuah seni penuh makna. Jenis-jenis tari Dayak yang cukup sering ditampilkan di depan umum,di antaranya: 1. Tari Gantar Tarian ini menggambarkan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian di dalamnya menggambarkan benih pada dan wadahnya.

tari dayak

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya. Tarian ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq.

Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak. 2. Tari Kancet Papatai/Tari Perang Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya.

Tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penarinya. Dalam tari dayak ini, penari mempergunakan pakaian tradisional suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang.

Tarian ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe. 3. Tari Kancet Ledo/Tari Gong Jika tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya tarian Kancet Ledo menggambarkan kelemah-lembutan seorang gadis bagaikan sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup angin.

Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisional suku Dayak Kenyah dan pada kedua belah tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Tari dayak.

tari dayak

Tarian ini biasanya ditarikan di atas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong. 4. Tari Kancet Lasan Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tarian Tari dayak Ledo, namun tari dayak penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh tanah/lantai.

Tarian ini lebih menekankan pada gerakan burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon. 5. Tari Serumpai Ini merupakan tarian dari suku Dayak Benuaq yang dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian ini diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).

6. Tarian Belian Bawo Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tarian ini sering disajikan pada acara-acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian dari suku Dayak Benuaq. 7. Tari Kuyang Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon besar dan tinggi agar tidak menggangu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.

8. Tarian Pecuk Kina Trian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun. 9.

Tarian Datun Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak tari dayak, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya.

Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.

tari dayak

10. Tari Ngerangkau Tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu. 11. Tarian Baraga’Bagantar Awalnya Baraga’Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar.

Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq. Tari Monong / Manang / Baliatn, merupakan tari Penyembuhan yang terdapat pada seluruh masyarakat Dayak. tari ini berfungsi sebagai penolak / penyembuh / penangkal penyakit agar si penderita dapat sembuh kembali penari berlaku seperti dukun dengan jampi-jampi.

tarian ini hadir disaat sang dukun sedang dalam keadaan trance, dan tarian ini merupakan bagian dari upacara adat Bemanang / Balian. Tari Pingan, Merupakan Tarian Tunggal pada masyarakat Dayak Mualang Kabupaten Sekadau yang di masa kini sebagai tari hiburan masyarakat atas rezeki / tuah / makanan yang diberikan oleh Tuhan. Tari ini menggunakan Pingan sebagai media atraksi, dan tari ini berangkat dari kebudayaan leluhur di masa lalu, yang berkaitan erat dengan tari dayak / penyambutan tamu / pahlawan.

Tari Jonggan merupkan tari pergaulan masyarakat Dayak Kanayatn di daerah Kubu Raya, Mempawah, Landak yang masih dapat ditemukan dan dinikmati secara visual, tarian ini meceritakan suka cita dan kebahagiaan dalam pergaulan muda mudi Dayak. Dalam tarian ini para tamu yang datang pada umumnya diajak untuk menari bersama. Tari kondan merupakan tari pergaulan yang diiringi oleh pantun dan musik tradisional masyarakat Dayak Kabupaten sanggau kapuas, tari dayak kala kesenian kondan ini diiringi oleh gitar.

kesenian kondan ini adalah ucapan kebahagiaan terhadap tamu yang berkunjung dan bermalam di daerahnya. kesenian ini dilakukan dengan cara menari dan berbalas pantun. Kinyah Uut Danum, adalah tarian perang khas kelompok suku Dayak Uut Danum yang memperlihatkan kelincahan dan kewaspadaan dalam menghadapi musuh. Dewasa ini Kinyah Uut Danum ini banyak diperlihatkan pada acara acara khusus atau sewaktu menyambut tamu yang berkunjung.

Tarian ini tari dayak susah dipelajari karena selain menggunakan Ahpang (Mandau) yang asli, juga karena gerakannya yang sangat dinamis, sehingga orang yang fisiknya kurang prima akan cepat kelelahan.

Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan Suku Dayak sebagai penduduk aslinya kaya dengan keanekaragaman seni dan budaya peninggalan masa lalu. Satu dari kearifan khasanah budaya warisan nenek moyang tersebut terkandung dalam ragam seni tarian. Pekan lalu, Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR) menggelar pentas tari garapan dan tradisional.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk promosi kesenian daerah guna mendukung pengembangan potensi wisata lokal. Kegiatan yang dilangsungkan di Gedung Eka Tingang Nganderang (Betang Mandala Wisata) tersebut menampilkan tujuh cindera tari dari tiga sanggar seni budaya yang ada di kota Palangka Raya.

Ketiga sanggar itu antara lain Sanggar Balanga Tingang dengan menampikan tari Mandau, tari Rantak Kipas Gempita, tari Giring-Giring dan tari Bahalai.

Dari kegiatan tersebut, DeTAK merangkum sejumlah literatur dari sejarah dan makna tarian yang dipentaskan. Berikut catatannya. 1. Tari Wadian Amun Rahu Tarian ini pada mulanya adalah sebuah tarian tradisional Suku Dayak Kalimantan Tengah yang bersifat sakral, magis dan religius.

Tarian yang biasa dimainkan oleh kaum perempuan ini pada masa lampau dimaknai sebagai prosesi adat untuk menghantarkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, setelah selesai panen padi. Selain itu, tarian ini juga sering dilakukan sebagai salah satu prasyarat tata cara penyembuhan seseorang yang menderita penyakit. Ciri khas dari tari Wadian Amun Rahu terlihat pada penggunaan tata busananya yang didominasi warna merah dan putih sebagai perlambang keagungan Sang Maha Pencipta.

2. Tari Jarangkang Bango Tarian ini merupakan tari kreasi baru yang diadaptasi dari tarian Suku Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah dengan nama yang sama. Di daerah tersebut, tarian ini biasanya dimainkan oleh anak-anak. Jarangkong Bango merupakan perangkat tari berupa benda yang dibuat dari batok kelapa tari dayak dibelah dua, kemudian tari dayak untuk mengaitkan tali pegangan.

Perangkat ini kemudian digunakan oleh para penari sebagai properti utama dalam tarian ini. Tarian ini menunjukan sebuah kebersamaan dan kekompakan serta solidaritas anak-anak Suku Dayak Kalimantan Tengah dalam hidup bermasyarakat.

3. Tari Gelang Dadas dan Gelang Bawo (Iruang Wandrung) Tarian ini merupakan rampak selaras dua gerak tari yang disatukan yaitu Wadian Dadas dan Wadian Bawo dan kemudian disebut Tari Iruang Wandrung.

Tarian Dadas dilakukan oleh penari wanita, sedangkan Gelang Bawo ditarikan oleh penari pria. Dengan iringan perpaduan musik tradisonal yang energik tarian ini pada jaman dulu berfungsi sebagai tarian untuk menghantar syukuran kepada Yang Maha Kuasa karena keberhasilan dalam seluruh aspek kehidupan Suku Dayak Kalimantan Tengah.

DOWNLOAD SOFTWARE FACEBOOK VS TWITTER DISINI 4. Tari Giring-giring Tari giring-giring awalnya adalah tarian tari dayak berasal dari daerah DAS Barito, Kalimantan Tengah. Tari giring-giring biasa dipertunjukkan dengan perangkat musik dari bambu yang berbunji jika digetarkan.

Alat musik ini biasa disebut Ganggereng dan dimainkan bersama sebuah tongkat yang di sebut Gantar. Tari ini biasa ditampilkan pada acara-acara adat sebagai perwujudan perasaan suka cita warga terutama pada saat menyambut tamu-tamu kehormatan.

Dalam perkembangannya, gerak dan ragam Giring-giring telah mengalami banyak pengembangan dengan tidak meninggalkan kaidah dan teknik dasar tarinya. 5. Tari Rantak Kipas Gempita Tarian ini menggambarkan semangat generasi muda dalam meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan.

Kemajemukan sosial dan budaya dalam diri para pemuda yang menuntut ilmu di Bumi Tambun Bungai bukanlah suatu hambatan dalam mewujudkan cita-cita bersama untuk memajukan daerah. Dibanding konsep awalnya, sajian tarian ini telah mengalami pengembangan ragam gerak dengan tidak meninggalkan kaidah dan tehnik dasarnya.

Tarian ini dimainkan dengan lincah dan gembira, sebagai manifestasi dari tari dayak yang dimiliki oleh generasi muda dalam upaya ikut serta dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara.

6. Tarian Mandau Tari ini merupakan tarian yang umumnya dilmainkan oleh kaum perempuan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah semangat seluruh warga Dayak dalam pertahanan diri dan kampong halaman dari ancaman pihak-pihak luar. Dalam penyajiannya penari melakuikan gerakan yang lembut, gagah dan energik. Saat ini, penggarapan tari, gerak dan ragamnya telah mengalami pengembangan dengan tidak meninggalkan kaidah dan tekniknya yang sudah dikenal luas di seluruh wilayah Kalimantan Tengah sejak masa silam.

7. Tari Bahalai atau Tari Selendang Bawi Tarian ini merupakan cindera tari yang diangkat dari kelengkapan pakaian berupa selendang di kalangan kaum wanita Suku Dayak Kalimantan Tengah. Sama seperti tarian lainnya, tari ini juga telah mengalami pengembangan di beberapa bagian gerak dan atribut petari. Tarian ini dimainkan dengan lemah gemulai oleh penari tari dayak sebagai gambaran sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan atas terlaksananya suatu hajatan besar di kalangan warga.

• ► 2016 (65) • ► September (6) • ► August (1) • ► July (3) • ► June (25) • ► May (14) • ► April (16) • ► 2015 (10) • ► May (1) • ► April (9) • ► 2013 (73) • ► December (1) • ► October (2) • ► September (1) • ► August (6) • ► July (3) • ► June (10) • ► May (5) • ► April (14) • ► March (25) • ► February (4) • ► January (2) • ▼ 2012 (38) • ▼ December (4) • Defenisi Seni Tari • Tari Dayak Tari dayak Barat • Macam- macam Olah Pernapasan (Teknik Vocal) • PERATURAN PEMERINTAH TENTANG GURU.

Konsep Dasar Pe. • ► November (22) • ► October (12)
ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied. The Amazon CloudFront distribution is configured to block access from your country. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps tari dayak troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation.

Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: 72w6WYNe8o-QXuV8wgxtmFY-6Qs4o-_Rtb5GK1DjI2zH1HryyeMTew==
KOMPAS.com - Tari Burung Tari dayak sering juga disebut Tari Enggang. Tarian ini merupakan salah satu kesenian suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur.

Tari Burung Enggang wajib diadakan setiap kali ada upacara adat di suku Dayak Kenyah. Biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk meluhurkan nenek moyang serta penyambutan tamu. Apa itu Tari Burung Enggang? Makna Tari Burung Enggang Melansir dari Pusat Data Nasional Kekayaan Intelektual Komunal Indonesia, Tari Burung Enggang menceritakan kehidupan burung enggang. Biasanya tarian ini dibawakan oleh perempuan suku Dayak Kenyah.

Dalam Bahasa Dayak Kenyah, Tari Burung Enggang sering juga disebut Tari Kancet Lasan. Tarian ini sangatlah populer di Kalimantan Timur dan sering dibawakan dalam berbagai acara penting. Berdasarkan kepercayaan warga suku Tari dayak Kenyah, nenek moyang mereka berasal dari langit dan tari dayak ke bumi dengan wujud yang menyerupai burung enggang.

Maka dari itu, tarian ini juga sering dibawakan untuk menghormati atau meluhurkan nenek moyangnya. Bagi masyarakat suku Dayak Kenyah, burung enggang memegang peranan yang sangat penting. Banyak yang menggunakannya dalam upacara adat serta tariannya. Baca juga: Tari Topeng Malangan: Sejarah, Makna, Gerakan dan Propertinya Hal ini bisa dilihat dengan adanya ukiran yang dibuat oleh suku Dayak Kenyah pada setiap permukaan bendanya.

Tidak hanya itu, bulu burung enggang juga digunakan sebagai properti saat menari. Tari Burung Enggang dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan warga suku Dayak Kenyah terhadap nenek moyangnya.

Namun, juga ada yang memaknai tarian ini sebagai simbol perpindahan masyarakat suku Dayak Kenyah dari satu tempat ke tempat lainnya. Perlu diketahui jika dulunya masyarakat suku Dayak Kenyah sering berpindah tempat atau nomaden.

Tujuannya untuk mencari keselamatan serta menghindari perang antar suku.

Tari Tradisional Suku Dayak-Kalimantan Tengah




2022 www.videocon.com