Penyebab penyakit meningitis

penyebab penyakit meningitis

Not to be confused with Haemophilia. Haemophilus Haemophilus influenzae on a Chocolate agar plate. Scientific classification Domain: Bacteria Phylum: Pseudomonadota Class: Gammaproteobacteria Order: Pasteurellales Family: Pasteurellaceae Genus: Haemophilus Winslow et al. 1917 Species H. aegyptius H. ducreyi H. felis H. haemoglobinophilus [1] H. haemolyticus H. influenzae H. parainfluenzae H. paracuniculus H. parahaemolyticus H.

paraphrohaemolyticus [1] H. pittmaniae H. piscium [1] H. sputorum [1] Haemophilus is a genus of Gram-negative, pleomorphic, coccobacilli bacteria belonging to the family Pasteurellaceae. [2] [3] While Haemophilus bacteria are typically small coccobacilli, they are categorized as pleomorphic bacteria because of the wide range of shapes they occasionally assume. These penyebab penyakit meningitis inhabit the mucous membranes of the upper respiratory tract, mouth, vagina, and intestinal tract.

[4] The genus includes commensal organisms along with some significant pathogenic species such as H. influenzae—a cause of sepsis and bacterial meningitis in young children—and H. ducreyi, the causative agent of chancroid. All members are either aerobic penyebab penyakit meningitis facultatively anaerobic.

This genus has been found to be part of the salivary microbiome. [5] Metabolism [ edit ] Members of the genus Haemophilus will not grow on blood agar plates, as all species require at least one of these blood factors for growth: hemin (X-factor) and/or nicotinamide adenine dinucleotide (V-factor). They are unable to synthesize important parts of the cytochrome system needed for respiration, and they obtain these substances from the heme fraction, known as the X factor, of blood hemoglobin.

The culture medium must also supply the cofactor nicotinamide adenine dinucleotide (from either NAD+ or NADP+), which is known as the V factor. Clinical laboratories use tests for the requirement of the X and V factors to identify the isolates as Haemophilus species. [4] Chocolate agar is an excellent Haemophilus growth medium, as it allows for increased accessibility to these factors.

[6] Alternatively, Haemophilus is sometimes cultured using the "Staph streak" technique: both Staphylococcus and Haemophilus organisms are cultured together on a single blood agar plate. In this case, Haemophilus colonies will frequently grow in small "satellite" colonies around the larger Staphylococcus colonies because the metabolism of Staphylococcus produces the necessary blood factor byproducts required for Haemophilus growth.

Strain [7] Needs X-Factor Needs V-Factor Hemolysis on HB/Rabbit blood H. aegyptius + + – H. ducreyi + – – H. influenzae + + – H. haemolyticus + + + H. parainfluenzae – + – H. parahaemolyticus – + + References [ edit ] • ^ a b c d LPSN lpsn.dsmz.de • ^ Holt JG, ed. (1994). Bergey's Manual of Determinative Bacteriology (9th ed.). Williams & Wilkins. ISBN 0-683-00603-7. • ^ Kuhnert P; Christensen H, eds. (2008).

Pasteurellaceae: Biology, Genomics and Molecular Aspects. Caister Academic Press. ISBN 978-1-904455-34-9. [1]. • ^ a b Tortora, Gerard J; Funke, Berdell R; Case, Christine L (2016).

Microbiology: An Introduction (12th ed.). Boston: Pearson. p. 301. ISBN 978-0321929150. OCLC 892055958. • ^ Wang, Kun; Lu, Wenxin; Tu, Qichao; Ge, Yichen; He, Jinzhi; Zhou, Yu; Gou, Yaping; Nostrand, Joy D Van; Qin, Yujia; Li, Jiyao; Zhou, Jizhong; Li, Yan; Xiao, Liying; Zhou, Xuedong (10 March 2016).

"Preliminary analysis of salivary microbiome and their potential roles in oral lichen planus". Scientific Penyebab penyakit meningitis. 6 (1): 22943. doi: 10.1038/srep22943. PMC 4785528. PMID 26961389. • ^ Ryan KJ; Ray CG, eds. (2004). Sherris Medical Microbiology (4th ed.). McGraw Hill. ISBN 0-8385-8529-9. • ^ McPherson RA; Pincus MR, eds. (2011). Henry's Clinical Diagnosis and Management by Laboratory Methods (22nd ed.). Elsevier. ISBN 978-1437709742. External links [ edit ] • Haemophilus chapter in Baron's Medical Microbiology (online at the NCBI bookshelf).

Edit links • This page was last edited on 22 April 2022, at 15:18 (UTC). • Text is available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License 3.0 ; additional terms may apply. By using this site, you agree to the Terms of Use and Privacy Policy. Wikipedia® is a registered trademark of the Wikimedia Foundation, Inc., a non-profit organization.

• Privacy policy • About Wikipedia • Disclaimers • Contact Wikipedia • Mobile view • Developers • Statistics • Cookie statement • • Flu atau influenza adalah infeksi virus yang menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Penderita flu dapat mengalami demam, sakit kepala, pilek, hidung tersumbat, serta batuk.

Banyak orang mengira flu sama dengan batuk pilek biasa ( common cold). Walaupun gejalanya mirip, kedua kondisi ini disebabkan oleh jenis virus yang berbeda.

Gejala flu lebih parah dan menyerang secara mendadak, sedangkan gejala batuk pilek biasa cenderung ringan dan muncul secara bertahap. Flu merupakan penyakit yang mudah menular ke orang lain, terutama pada 3-4 hari pertama setelah penderita terinfeksi. Bahkan pada beberapa kasus, penderita flu dapat menularkan penyakitnya sebelum gejala muncul. Penyebab dan Gejala Flu Seseorang dapat tertular flu jika tidak sengaja menghirup percikan air liur di udara, yang dikeluarkan penderita ketika bersin atau batuk.

Selain itu, menyentuh mulut atau hidung setelah memegang benda yang terkena percikan air liur penderita, juga bisa menjadi sarana penularan virus flu. Gejala flu antara lain demam, pilek, hidung tersumbat, dan sakit kepala.

Meskipun sama dengan gejala batuk pilek biasa, gejala flu terasa lebih parah dan sering kali menyerang tiba-tiba. Segeralah berobat ke dokter jika gejala di atas tidak kunjung membaik setelah dua penyebab penyakit meningitis, atau membaik tetapi kemudian memburuk.

Tindakan darurat perlu dilakukan bila gejala flu disertai sesak napas atau penurunan kesadaran. Pengobatan dan Pencegahan Flu Flu ringan bisa diatasi dengan banyak beristirahat, mengonsumsi makanan sehat yang mengandung vitamin C, dan banyak minum. Namun, bila gejalanya berat, segera lakukan pemeriksaan ke dokter agar diberikan obat untuk mempercepat kesembuhan dan mencegah komplikasi.

Cara mencegah flu yang paling efektif adalah dengan menjalani vaksinasi influenza. Selain itu, Anda juga diajurkan untuk rajin cuci tangan dan tidak berdekatan dengan penderita flu. Komplikasi Flu Flu yang sembuh kemudian kambuh dan memburuk bisa menjadi tanda komplikasi serius, seperti paru-paru basah, gangguan jantung, meningitis, atau infeksi virus pada otak. Komplikasi tersebut bisa lebih berisiko terjadi pada ibu hamil dan orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah.
Jakarta: Meningitis adalah kondisi serius yang terjadi ketika meninges (selaput pelindung yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) menjadi terinfeksi dan meradang.

Gejala awal bisa mirip dengan flu. Namun, leher kaku selain gejala seperti flu juga bisa menjadi petunjuk utama bahwa meningitis adalah masalahnya, dan harus diperiksakan ke dokter.

Ada beberapa jenis meningitis, tetapi yang paling umum adalah virus dan bakteri. Pada kasus di mana seseorang telah tertular meningitis bakteri, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan medis dalam waktu beberapa jam setelah gejala awal muncul.

Jika penanganan dilakukan secara dini, pasien bisa sembuh dengan cepat dan terhindar dari cacat permanen atau kematian.

Gejala umum Meningitis dapat dimulai secara tiba-tiba, dan gejala awal yang penyebab penyakit meningitis timbul di antaranya adalah: Demam: Demam adalah bagian umum dari pertahanan sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi. Demam yang disebabkan meningitis biasanya di atas 39 derajat celcius tetapi tidak selalu. Sakit kepala: Sakit kepala yang disebabkan oleh meningitis biasanya digambarkan sebagai sakit kepala yang parah dan tak henti-hentinya.

Bahkan sakit kepala tersebut tidak menghilang sekalipun telah mengonsumsi aspirin. Leher kaku: Gejala ini paling sering melibatkan penurunan kemampuan untuk melenturkan leher ke depan atau disebut juga dengan kekakuan nuchal.

Tergantung pada tingkat keparahan kekakuan nuchal, leher mungkin bisa dilenturkan sekitar setengah dari apa yang bisa dilakukan sebelumnya, atau mungkin hampir tidak bisa dilenturkan sama sekali. Seiring berjalannya waktu, gejala lain dapat berkembang, seperti mual, muntah, kepekaan terhadap cahaya atau suara, masalah kognitif dengan konsentrasi dan memori, hingga banyak gejala tahap akhir lainnya.

Selain itu, perlu dicatat bahwa meningitis bakteri dan virus keduanya menular. Sehingga lebih mungkin untuk tertular dan menyebar di daerah di mana orang tinggal dalam jarak dekat, seperti asrama perguruan tinggi atau barak militer. (FIR) none
Definisi penyakit saraf Apa itu penyakit saraf? Penyakit saraf adalah gangguan, kelainan, atau kerusakan yang terjadi pada sistem saraf manusia, sehingga memengaruhi fungsinya. Sistem saraf adalah sistem penghubung yang sangat kompleks yang dapat mengirim dan menerima informasi dalam jumlah besar secara bersamaan.

Sistem ini memiliki dua bagian, yaitu sistem saraf pusat ( otak dan sumsum tulang belakang), serta sistem saraf tepi atau perifer (semua elemen saraf yang menghubungkan sistem saraf pusat dengan berbagai organ tubuh). Otak, sumsum tulang belakang, dan saraf-saraf ini saling bekerja sama dalam mengatur dan mengoordinasikan seluruh aktivitas tubuh.

Bila ada bagian di antara ketiganya yang rusak atau mengalami gangguan, dapat menimbulkan kesulitan bergerak, bicara, menelan, bernapas, atau mempelajari sesuatu. Tak hanya itu, Anda juga bisa mengalami masalah dengan ingatan, panca indra, hingga suasana hati Anda.

Penyakit pada sistem saraf dapat terjadi secara perlahan dan menyebabkan hilangnya fungsi secara bertahap (degeneratif). Namun, kondisi ini juga bisa terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan masalah yang mengancam jiwa (akut). Seberapa umumkah kondisi ini? World Health Organization menyebut, ratusan juta orang di seluruh dunia terkena gangguan sistem saraf. Jumlah ini terdiri dari berbagai jenis penyakit saraf dari yang umum terjadi hingga yang langka.

Gangguan pada sistem saraf, baik pusat maupun tepi, dapat terjadi pada siapapun. Penyakit ini pun dapat memengaruhi wanita maupun pria di segala penyebab penyakit meningitis, termasuk penyakit saraf pada anak. Anda dapat mencegah penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko yang mungkin menyebabkannya. Diskusikanlah dengan dokter untuk informasi lebih lanjut. Jenis-jenis penyakit saraf Ada lebih dari 600 penyakit sistem saraf yang bisa terjadi. Dari jumlah tersebut, beberapa penyakit yang umum diantaranya: • Stroke Stroke adalah kondisi yang terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, sehingga jaringan otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup.

Kondisi ini menyebabkan sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit. • Alzheimer Penyakit Alzheimer adalah kelainan progresif yang menyebabkan sel-sel otak merosot atau mati. Penyakit ini merupakan penyebab umum dari demensia, yang dapat memengaruhi ingatan, pemikiran, dan perilaku penderitanya. • Parkinson Penyakit Parkinson adalah gangguan yang terjadi ketika sel-sel saraf tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia yang berperan penting dalam mengontrol otot dan gerakan.

• Multiple sclerosis Multiple sclerosis adalah penyakit kronis yang memengaruhi saraf pusat. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan pada selaput mielin, yaitu selubung pelindung yang mengelilingi serabut saraf di otak dan sumsum tulang belakang. • Epilepsi Epilepsi adalah penyebab penyakit meningitis yang ditandai dengan kejang yang berulang atau kambuhan.

Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan aktivitas listrik di otak. • Bell’s palsy Bell’s palsy adalah kondisi lemah atau lumpuh pada satu sisi wajah secara tiba-tiba. Kondisi ini disebabkan oleh peradangan atau kerusakan ada saraf di wajah. Biasanya, kondisi ini hanya sementara dan bisa pulih dalam jangka waktu tertentu. • Neuropati perifer Neuropati perifer adalah penyakit yang terjadi akibat kerusakan saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang (saraf tepi/perifer).

Kondisi ini menyebabkan kelemahan, mati rasa, dan nyeri, yang biasanya terjadi di tangan dan kaki, tetapi juga dapat memengaruhi area lain dari tubuh. • Tumor otak Tumor penyebab penyakit meningitis adalah gumpalan sel abnormal yang tumbuh di otak. Gumpalan ini bisa jinak, tetapi bisa juga ganas atau disebut dengan kanker otak. Kondisi ini bisa merusak otak Anda, sehingga dapat memengaruhi fungsi normalnya.

Tanda dan gejala penyakit saraf Tanda-tanda, ciri-ciri, atau gejala penyakit sistem saraf bisa berbeda pada setiap orang. Hal ini tergantung pada area mana dari sistem saraf yang rusak dan apa yang menyebabkan masalah tersebut. Gejalanya pun bisa ringan atau berat, tergantung dari tingkat keparahan penyakitnya.

Gejala-gejala umum penyakit saraf Secara umum, berikut adalah tanda-tanda dan gejala yang paling umum dari gangguan sistem saraf. • Sakit kepala yang muncul mendadak dan terus menerus. • Sakit kepala yang berubah atau terasa berbeda dengan jenis sakit kepala umumnya. • Mati rasa atau kesemutan. • Pusing atau goyah hingga tidak mampu berdiri atau berjalan. • Kelemahan atau kehilangan kekuatan otot. • Kehilangan penglihatan atau penglihatan ganda. • Kehilangan memori atau hilang ingatan. • Gangguan kemampuan mental.

• Kurangnya koordinasi tubuh. • Otot kaku. • Tremor dan kejang. • Nyeri punggung yang menjalar ke telapak atau jari kaki atau bagian tubuh lainnya.

• Atrofi otot dan cadel. • Kesulitan bicara atau kesulitan memahami pembicaraan. • Mual atau muntah yang parah. Gejala gangguan sistem saraf dapat menyerupai kondisi atau masalah medis lainnya.

Selalu konsultasikan pada dokter untuk diagnosis yang tepat. Kapan harus periksa ke dokter? Diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah gangguan saraf memburuk dan mengurangi risiko komplikasi. Jadi, konsultasikan pada dokter sesegera mungkin jika Anda mengalami satu pun tanda atau gejala yang disebutkan di atas.

Tubuh setiap orang bereaksi dengan cara berbeda. Selalu diskusikan dengan dokter untuk solusi terbaik sesuai kondisi Anda. Penyebab penyakit saraf Apa penyebab penyakit saraf?

Penyakit saraf dapat disebabkan oleh beberapa hal. Berikut adalah beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gangguan sistem saraf: • Faktor keturunan atau genetik. • Masalah pasokan darah (gangguan vaskuler).

• Cedera atau trauma, terutama pada kepala ( cedera otak) dan sumsum tulang belakang ( cedera tulang belakang). • Masalah yang muncul pada saat lahir (kongenital). • Masalah kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, atau psikosis. • Paparan zat beracun, seperti karbon monoksida, arsenik, atau timah. • Rusak atau matinya sel saraf yang menyebabkan hilangnya fungsi secara bertahap (degeneratif), seperti penyakit Parkinson, multiple sclerosis (MS), Amyotrophic lateral penyebab penyakit meningitis (ALS), penyakit Alzheimer, penyakit Huntington, dan neuropati perifer.

• Infeksi, seperti penyakit abses otak. • Penggunaan berlebihan atau penarikan obat-obatan resep dan nonbebas, obat-obatan terlarang, atau alkohol. • Jaringan sel yang abnormal (tumor atau kanker). Kondisi gagal organ yang bisa menyebabkan penyakit saraf Tak hanya itu, beberapa kondisi atau kegagalan yang terjadi di organ lainnya juga bisa menjadi penyebab gangguan sistem saraf.

Sebagai contoh gagal jantung, gagal hati, atau gagal ginjal. Selain itu, kondisi lain yang bisa menyebabkan kelainan sistem saraf, yaitu: • Disfungsi tiroid, baik tiroid terlalu aktif maupun kurang aktif. • Gula darah tinggi ( diabetes) atau gula darah rendah (hipoglikemia). • Masalah elektrolit.

• Kekurangan nutrisi, seperti vitamin B1 (tiamin) atau defisiensi vitamin B12. • Sindrom Guillain-Barre’. Faktor risiko penyakit saraf Setiap jenis penyakit saraf mungkin memiliki faktor risiko yang berbeda. Namun, secara umum, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kelainan penyebab penyakit meningitis sistem saraf, yaitu: • Usia lanjut, karena efek penuaan terhadap sistem saraf, terutama pada kelainan degeneratif seperti penyakit Alzheimer, parkinson, dan lainnya.

• Riwayat penyakit sistem saraf dalam keluarga. • Sistem kekebalan yang lemah, termasuk pengidap HIV/AIDS. • Pola makan buruk yang berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi, seperti vitamin B1 dan B12. • Konsumsi alkohol. • Kebiasaan merokok. • Kelebihan berat badan atau obesitas. (Anda bisa mengecek kalkulator BMI ini untuk mengetahui apakah berat Anda berlebih dan berisiko). • Kurang aktivitas fisik, termasuk olahraga.

• Konsumsi obat-obatan tertentu, termasuk obat-obatan terlarang karena efek buruk narkoba pada otak. Perlu diketahui pula, memiliki faktor risiko di atas bukan berarti Anda akan terkena penyakit saraf. Sebaliknya, seseorang yang memiliki gangguan pada sistem saraf pun mungkin memiliki faktor risiko yang tidak diketahui.

Untuk informasi lebih lanjut, konsultasikan selalu dengan dokter Anda. Diagnosis dan pengobatan penyakit saraf Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda untuk informasi lebih lanjut. Bagaimana gangguan sistem saraf didiagnosis? Untuk mendiagnosis sakit saraf, dokter akan menanyakan gejala yang Anda rasakan, riwayat medis yang Anda dan keluarga miliki, serta berbagai faktor lain yang mungkin menyebabkannya.

Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis untuk mengevaluasi gejala tersebut. Setelah itu, dokter biasanya akan meminta Anda untuk melakukan beberapa tes pemeriksaan. Berikut beberapa tes yang umumnya perlu Anda jalani: • CT scan, untuk melihat gambar bagian tubuh Anda, seperti tulang, otot, atau organ tubuh tertentu. • Magnetic resonance imaging ( MRI), untuk melihat struktur tubuh atau organ Anda secara lebih detail.

• Elektroensefalografi ( EEG), untuk mengukur aktivitas listrik di otak. • Tes elektrodiagnostik, seperti elektromiografi ( EMG) dan studi konduksi saraf, untuk mendiagnosis gangguan otot dan neuron motorik. • Angiogram, untuk mendeteksi penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah. • Positron emission tomography (PET), untuk mengukur penyebab penyakit meningitis metabolisme sel. • Pungsi lumbal (spinal tap), dengan mengambil sampel cairan serebrospinal dari tulang belakang untuk mendeteksi infeksi atau masalah saraf lainnya.

• Evoked potentials, untuk mencatat respons listrik otak terhadap rangsangan visual, pendengaran, dan sensorik. • Neurosonografi, untuk menganalisis aliran darah jika terjadi stroke. Beberapa tes lainnya pun mungkin dibutuhkan, termasuk tes urine atau tes darah, untuk mengidentifikasi kondisi medis lainnya yang mungkin memengaruhi sistem saraf.

Konsultasikan selalu dengan dokter untuk jenis pemeriksaan yang tepat sesuai kondisi Anda. Apa saja pengobatan penyebab penyakit meningitis penyakit saraf? Pengobatan untuk gangguan sistem saraf disesuaikan dengan jenis penyakit dan kondisi yang menyebabkannya. Misalnya, pada gangguan saraf yang terjadi karena penggunaan obat tertentu, dokter mungkin akan mengganti obat atau menyesuaikan dosis obat yang Anda konsumsi.

Bila terjadi karena tumor atau kanker, dokter akan memberikan serangkaian pengobatan untuk kanker, seperti radioterapi, kemoterapi, atau bahkan operasi pengangkatan tumor. Selain itu, obat-obatan pun mungkin saja diberikan untuk mengatasi berbagai gejala lain yang timbul, seperti obat pereda nyeri, antikonvulsan, atau antidepresan.

Obat-obatan ini umumnya diberikan untuk mengatasi nyeri yang terkait dengan saraf (neuropati). Namun, obat antikonvulsan juga merupakan pengobatan epilepsi yang utama untuk mengontrol kejang yang terjadi. Pada kondisi tertentu, tindakan operasi atau pembedahan pun mungkin dilakukan. Selain itu, berbagai macam terapi atau rehabilitasi, seperti terapi fisik, okupasi, atau wicara, juga sering direkomendasikan untuk membantu Anda menjalani aktivitas sehari-hari.

Konsultasikan selalu dengan dokter untuk jenis pengobatan yang tepat. Pencegahan penyakit saraf Anda dapat mengikuti panduan pencegahan berikut untuk menjaga kesehatan sistem saraf, serta terhindar dari penyakit saraf: • Olahraga teratur, seperti berjalan atau jenis olahraga untuk kesehatan otak lainnya. • Berhenti merokok. • Istirahat yang cukup. • Tangani kondisi kesehatan yang dapat menurunkan fungsi sistem saraf, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi.

• Terapkan pola makan yang sehat dan seimbang, dengan mengurangi lemak serta memperbanyak asupan vitamin B6, B12, dan folat. • Minum banyak air putih untuk membantu mencegah dehidrasi, yang dapat menyebabkan linglung dan masalah memori. • Hindari mengonsumsi alkohol dan narkoba. • Konsumsi obat-obatan sesuai dengan dosis dan ketentuan yang direkomendasikan dokter. • Lakukan perlindungan diri untuk mencegah cedera. Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah pada dokter untuk memahami solusi terbaik untuk Anda.

5 Makanan Bernutrisi Baik untuk Kesehatan Otak Harvard Health Publishing. 2020. Drugs that relieve nerve pain. https://www.health.harvard.edu/pain/drugs-that-relieve-nerve-pain.

Accessed December 18, 2020. Healthdirect. 2020. Nervous system disease. https://www.healthdirect.gov.au/nervous-system-diseases. Accessed December 18, 2020. Healthdirect. penyebab penyakit meningitis. Meningitis. https://www.healthdirect.gov.au/meningitis. Accessed December 18, 2020. Healthdirect. 2020. Parkinson’s disease. https://www.healthdirect.gov.au/parkinsons-disease.

Accessed December 18, 2020. Healthdirect. 2020. Brain tumours. https://www.healthdirect.gov.au/brain-cancer. Accessed December 18, 2020. Healthdirect. 2020. Brain tumour treatment. https://www.healthdirect.gov.au/brain-tumour-treatment Accessed December 18, 2020. Healthdirect. 2020. Bell’s palsy. https://www.healthdirect.gov.au/bells-palsy. Accessed December 18, 2020. Healthdirect. 2020. Epilepsy. https://www.healthdirect.gov.au/epilepsy.

Accessed December 18, 2020. Healthdirect. 2020. Multiple sclerosis (MS). https://www.healthdirect.gov.au/multiple-sclerosis-ms. Accessed December 18, 2020. Healthdirect. 2020. Meningitis. https://www.healthdirect.gov.au/meningitis. Accessed December 18, 2020. Johns Hopkins Medicine. 2020. Overview of Nervous System Disorders. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/overview-of-nervous-system-disorders.

Accessed December 18, 2020. Mayo Clinic. 2020. Encephalitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/encephalitis/symptoms-causes/syc-20356136#:~:text=Encephalitis%20(en%2Dsef%2Duh,or%20no%20symptoms%20at%20all. Accessed December 18, 2020. Mayo Clinic.

2020. Peripheral neuropathy. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peripheral-neuropathy/symptoms-causes/syc-20352061. Accessed December 18, 2020. Mayo Clinic. 2020. Stroke. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stroke/symptoms-causes/syc-20350113.

Accessed December 18, 2020. Mayo Clinic. 2020. Alzheimer’s disease. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/alzheimers-disease/symptoms-causes/syc-20350447.

Accessed December 18, 2020. Michigan Medicine – University of Michigan. 2020. Nervous System Problems. https://www.uofmhealth.org/health-library/nersp. Accessed December 18, 2020. Michigan Medicine – University of Michigan.

2020. Nervous System Problems – Prevention. https://www.uofmhealth.org/health-library/nersp#hw97990. Accessed December 18, 2020. National Institute of Neurological Disorders andd Stroke. 2020. Neurological Complications of HIV and AIDS Fact Sheet. https://www.ninds.nih.gov/disorders/patient-caregiver-education/fact-sheets/neurological-complications-aids-fact-sheet#:~:text=HIV%20does%20not%20directly%20invade,confusion%20and%20forgetfulness.

Accessed December 18, 2020. University of Rochester Medical Center. 2020. Diagnostic Tests for Neurological Disorders. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=85&contentid=P00811. Accessed December 18, 2020. US National Library of Medicine – MedlinePlus.

2020. Neurological Diseases. https://medlineplus.gov/neurologicdiseases.html. Accessed December 18, 2020. WHO. 2020. What are neurological disorders? https://www.who.int/news-room/q-a-detail/what-are-neurological-disorders. Accessed December 18, 2020. Kowalska, M., Owecki, M. K., Prendecki, M., et al. (2017). Aging and Neurological Diseases.

In book: Senescence – Physiology or Pathology. 63-94. https://doi.org/10.5772/intechopen.69499.
Virus ini secara spesifik menyerang sel CD4 yang menjadi bagian penting dalam perlawanan infeksi. Hilangnya sel CD4 akan melemahkan fungsi sistem imun tubuh manusia secara drastis. Akibatnya, HIV akan membuat tubuh Anda rentan mengalami berbagai penyakit infeksi dari bakteri, virus, jamur, parasit, dan patogen merugikan lainnya.

Sering dikira sebagai satu kesatuan, HIV dan AIDS adalah kondisi berbeda. Meski begitu, keduanya memang saling berhubungan. AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu kumpulan gejala yang muncul ketika stadium infeksi HIV sudah sangat parah. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan munculnya penyakit kronis lain, seperti kanker dan berbagai infeksi oportunistik yang muncul seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Sederhananya, infeksi HIV adalah kondisi yang bisa menyebabkan penyakit AIDS. Jika infeksi virus ini dalam jangka panjang tidak diobati dengan tepat, Anda akan berisiko lebih tinggi mengalami AIDS. Seberapa umumkah HIV dan AIDS? Menurut laporan UN AIDSpada akhir 2019 ada sekitar 38 juta orang di dunia yang hidup dengan penyakit HIV/AIDS alias ODHA. Sebanyak 4% kasus di antaranya di alami oleh anak-anak. Di tahun yang sama, sekitar 690.000 orang meninggal akibat penyakit yang muncul sebagai komplikasi AIDS.

Dari total populasi itu, 19% orang sebelumnya tidak menyadari dirinya terinfeksi. Tanda-tanda dan gejala HIV/AIDS Infeksi penyakit ini pada umumnya tidak menampakkan wujud yang jelas di awal masa infeksi.

Kebanyakan ODHA tidak menunjukkan tanda atau gejala HIV/AIDS yang khas dalam beberapa tahun pertama saat terinfeksi. Jika mengalami gejala, kemungkinan gangguan yang dirasakan tidak begitu berat.

Gejala yang muncul kerap disalahpahami sebagai penyakit lain yang lebih umum. Namun, Anda patut waspada jika mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan melemahnya kondisi sistem imun tubuh. Gejala awal penyakit HIV umumnya mirip dengan infeksi virus lainnya, yaitu: • Demam HIV.

• Sakit kepala. • Kelelahan. • Nyeri otot. • Kehilangan berat badan secara perlahan. • Pembengkakan kelenjar getah bening di tenggorokan, ketiak, atau pangkal paha. Infeksi virus HIV umumnya memakan waktu sekitar 2-15 tahun hingga menimbulkan gejala. Infeksi virus ini memang tidak akan langsung merusak organ tubuh Anda. Virus tersebut perlahan menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkannya secara bertahap sampai kemudian tubuh Anda menjadi rentan diserang penyakit, terutama infeksi.

Jika infeksi virus HIV dibiarkan berkembang, kondisi ini bisa berubah semakin parah menjadi AIDS. Berikut ini adalah berbagai gejala penyakit AIDS yang dapat muncul: • Sariawan yang ditandai dengan adanya lapisan keputihan dan tebal pada lidah atau mulut. • Infeksi jamur vagina yang parah atau berulang. • Penyakit radang panggul kronis. • Infeksi parah dan sering mengalami kelelahan penyebab penyakit meningitis yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya (mungkin muncul bersamaan dengan sakit kepala dan atau pusing).

• Turunnya berat badan lebih dari 5 kg yang bukan disebabkan karena olahraga atau diet. • Lebih mudah mengalami memar. • Diare yang lebih sering. • Sering demam dan berkeringat di malam hari. • Pembengkakan atau mengerasnya kelenjar getah bening yang terletak di tenggorokan, ketiak, atau pangkal paha.

• Batuk kering yang terus menerus. • Sering mengalami sesak napas. • Perdarahan pada kulit, mulut, hidung, anus, atau vagina tanpa penyebab yang pasti. • Ruam kulit yang sering atau penyebab penyakit meningitis biasa. • Mati rasa parah atau nyeri pada tangan atau kaki. • Hilangnya kendali otot dan refleks, kelumpuhan, atau hilangnya kekuatan otot. • Kebingungan, perubahan kepribadian, atau penurunan kemampuan mental.

Ada juga kemungkinan bahwa Anda akan mengalami berbagai gejala di luar yang telah disebutkan. Kapan saya harus periksa ke dokter? Jika Anda menunjukkan gejala seperti yang telah disebutkan di atas atau termasuk orang yang berisiko terinfeksi, segera periksakan diri ke dokter.

Kondisi tubuh masing-­masing orang berbeda. Setiap orang mungkin menunjukkan tanda-tanda yang berbeda. Anda mungkin juga sudah terinfeksi tetapi masih terlihat sehat, bugar, dan bisa berkegiatan normal selayaknya orang sehat lainnya.

Meski begitu, Anda masih dapat menularkan virus HIV ke orang lain. Anda tidak dapat mengetahui secara pasti apakah benar terjangkit penyakit HIV/AIDS sampai melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh. Penyebab HIV/AIDS HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh h uman immunodeficiency virus. Adapun AIDS adalah kondisi yang terdiri dari kumpulan gejala terkait melemahnya sistem imun. ADIS terjadi ketika infeksi HIV sudah berkembang parah dan tidak ditangani dengan baik.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), penularan virus HIV dari orang yang terinfeksi hanya bisa diperantarai oleh cairan tubuh seperti: • Darah • Air mani • Cairan pra-ejakulasi • Cairan rektal (anus) • Cairan vagina • ASI yang berkontak langsung dengan luka terbuka di selaput lendir, jaringan lunak, atau luka terbuka di kulit luar tubuh orang sehat.

1. Hubungan seksual Jalur penularan virus umumnya terjadi dari hubungan seks tanpa kondom (penetrasi vaginal, seks oral, dan anal). Ingat, penularan hanya bisa terjadi dengan syarat, Anda sebagai orang yang sehat memiliki luka terbuka atau lecet di organ seksual, mulut, atau kulit. Biasanya, perempuan remaja cenderung lebih berisiko terinfeksi HIV karena selaput vagina tipis sehingga rentan lecet dan terluka dibandingkan wanita dewasa.

Penularan lewat seks anal juga termasuk lebih rentan karena jaringan anus tidak memiliki lapisan pelindung layaknya vagina sehingga lebih mudah sobek akibat gesekan. 2. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril Selain dari paparan antar cairan dengan luka lewat aktivitas seks, penularan HIV juga dapat terjadi jika cairan terinfeksi tersebut disuntikkan langsung ke pembuluh darah, misalnya dari: • Pemakaian jarum suntik secara bergantian dengan orang yang terkontaminasi dengan h uman immunodeficiency virus.

• Menggunakan peralatan tato (termasuk tinta) dan tindik ( body piercing) yang tidak disterilkan dan pernah dipakai oleh orang dengan kondisi ini. • Memiliki penyakit menular seksual (PMS) lainnya seperti klamidia atau gonore. Virus HIV akan sangat mudah masuk saat sistem kekebalan tubuh lemah. • Ibu hamil pengidap HIV/AIDS dapat menularkan virus aktif kepada bayinya (sebelum atau selama kelahiran) dan saat menyusui. Namun, jangan salah sangka.

Anda TIDAK dapat tertular virus HIV melalui kontak sehari-hari seperti: • Bersentuhan penyebab penyakit meningitis Berjabat tangan • Bergandengan • Berpelukan • Cipika-cipiki • Batuk dan bersin • Mendonorkan darah ke orang yang terinfeksi lewat jalur yang aman • Menggunakan kolam renang atau dudukan toilet yang sama • Berbagi sprei • Berbagi peralatan makan atau makanan yang sama • Dari hewan, nyamuk, atau serangga lainnya Faktor risiko HIV/AIDS Setiap orang, terlepas dari usia, jenis kelamin, dan orientasi seksualnya bisa terinfeksi HIV.

Namun, beberapa orang lebih berisiko untuk terjangkit penyakit ini apabila memiliki faktor seperti: • Melakukan hubungan intim yang berisiko menyebabkan paparan penyakit menular seksual, seperti seks tanpa kondom atau seks anal. • Memiliki lebih dari satu atau berganti-ganti pasangan seksual. • Menggunakan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian dengan orang lain. • Melakukan prosedur STI yakni pemeriksaan pada organ intim.

Komplikasi HIV/AIDS Komplikasi dari infeksi virus human immunodeficiency virus adalah penyakit AIDS. Artinya, AIDS menjadi kondisi lanjut dari infeksi HIV.

Infeksi virus ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga bisa menyebabkan penyebab penyakit meningitis infeksi lainnya. Jika Anda juga memiliki AIDS, Anda mungkin memiliki beberapa komplikasi kondisi yang cukup parah, seperti: 1.

Kanker Orang yang mengalami AIDS juga bisa terkena penyakit kanker dengan mudah. Jenis kanker yang biasanya muncul yaitu kanker paru-paruginjal, limfoma, dan sarkoma Kaposi. 2. Tuberkulosis (TBC) Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi paling umum yang muncul saat seseorang mengidap HIV. Pasalnya, orang dengan HIV/AIDS tubuhnya sangat rentan terkena virus. Oleh sebab itu, tuberkulosis menjadi penyebab utama kematian di antara orang dengan HIV/AIDS. 3. Sitomegalovirus Sitomegalovirus adalah virus herpes yang biasanya ditularkan dalam bentuk cairan tubuh seperti air liur, darah, urin, air mani, dan air susu ibu.

Sistem kekebalan tubuh yang sehat akan membuat virus tidak aktif. Namun, jika sistem kekebalan tubuh melemah karena Anda mengidap penyakit HIV dan AIDS, virus dapat dengan mudah menjadi aktif. Sitomegalovirus dapat menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, paru-paru, atau organ lain.

4. Candidiasis Candidiasis adalah infeksi yang juga sering terjadi akibat HIV/AIDS. Kondisi ini menyebabkan peradangan dan menyebabkan lapisan putih dan tebal pada selaput lendir mulut, lidah, kerongkongan, atau vagina. 5. Kriptokokus meningitis Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Meningitis kriptokokal adalah infeksi sistem saraf umum pusat yang bisa didapat oleh orang dengan penyakit HIV/AIDS.

Kriptokokus yang disebabkan oleh jamur di dalam tanah. 6. Toksoplasmosis Infeksi yang mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii, parasit yang menyebar terutama melalui kucing. Kucing yang terinfeksi biasanya memiliki parasit di dalam tinjanya. Tanpa disadari, parasit ini kemudian dapat menyebar ke hewan lain dan manusia.

Jika orang dengan HIV/AIDS mengalami toksoplasmosis dan tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan infeksi otak serius seperti ensefalitis. 7. Cryptosporidiosis Infeksi ini terjadi disebabkan oleh parasit usus yang umum ditemukan pada hewan. Biasanya, seseorang bisa terkena parasit ini cryptosporidiosis ketika Anda menelan makanan atau air yang terkontaminasi.

Nantinya, parasit akan tumbuh di usus Anda dan saluran empedu, menyebabkan diare parah kronis pada orang dengan AIDS. Selain infeksi, Anda juga berisiko mengalami masalah neurologis dan masalah ginjal jika memiliki penyakit AIDS. Diagnosis HIV/AIDS Mendiagnosis penyakit ini biasanya akan dilakukan dengan tes darah. Ini adalah cara yang paling memungkinkan untuk dokter memeriksa sekaligus menentukan apakah Anda terinfeksi HIV atau tidak.

Keakuratan tes tergantung pada waktu paparan terakhir HIV, misalnya kapan terakhir kali berhubungan seks tanpa kondom atau berbagi jarum suntik dengan orang yang terinfeksi. Jika Anda pernah melakukan berbagai tindakan berisiko, Anda bisa saja terinfeksi. Meski begitu, butuh waktu sekitar 3 bulan setelah paparan pertama untuk antibodi h uman immunodeficiency virus bisa terdeteksi dalam pemeriksaan. Oleh karena itu, lebih baik melakukan tes HIV untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda secara pasti.

Jika hasil tes Anda positif (reaktif), tandanya Anda memiliki antibodi HIV dan memiliki infeksi penyakit tersebut. Meski positif HIV, namun belum berarti Anda juga memiliki AIDS. Tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang terinfeksi virus HIV akan mengalami AIDS. Jika penyebab penyakit meningitis tes HIV negatifartinya di dalam tubuh Anda tidak memiliki antibodi h uman immunodeficiency virus. Pengobatan HIV/AIDS Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menghilangkan sepenuhnya infeksi virus HIV dari dalam tubuh. Namun, gejala penyakit bisa dikendalikan dan sistem imun bisa ditingkatkan dengan pemberian terapi antiretoviral (ARV). Terapi ARV tidak dapat membasmi virus seluruhnya, tetapi bisa membantu orang dengan HIV hidup lebih lama dan lebih sehat.

Setiap pengidap HIV bisa hidup sehat dan menjalani aktivitas secara normal selama menjalani pengobatan antiretroviral. Selain itu, mengikuti pengobatan juga membantu mengurangi risiko penularan terutama pada orang-orang terdekat.

Terapi ARV terdiri dari penggunaan sekumpulan obat antiviral yang dapat mengurangi jumlah virus HIV di dalam tubuh dengan menghambat virus memperbanyak diri. Berkurangnya virus memberi kesempatan bagi sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus yang menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh. Dengan begitu, jumlah virus di dalam tubuh dapat terkendali dan infeksinya tidak menimbulkan gejala. Di samping itu, jumlah virus yang rendah membuat kemungkinan risiko penularan ke orang lain pun semakin berkurang.

Anda biasanya diminta untuk menjalani pengobatan ARV sesegera mungkin setelah terinfeksi HIV, terlebih jika sedang dalam kondisi berikut: • Hamil • Memiliki infeksi oportunistik (infeksi penyakit lain bersamaan dengan HIV) • Memiliki gejala yang parah • Jumlah sel CD4 di bawah 350 • Memiliki penyakit ginjal akibat HIV • Sedang dirawat karena hepatitis B atau C Dalam terapi ART, ada banyak obat untuk Penyebab penyakit meningitis yang biasanya dikombinasikan sesuai dengan kegunaannya.

Beberapa jenis obat antiretroviral adalah: • Lopinavir • Ritonavir • Zidovudine • Lamivudine Pemilihan jenis pengobatan akan berbeda untuk setiap orang karena perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien.

Dokterlah yang akan menentukan rejimen yang tepat untuk Anda. Pengobatan di rumah Selain terapi antiretroviral, berikut gaya hidup sehat yang perlu dilakukan ODHA untuk menjaga kesehatan: • ODHA harus makan makanan dengan gizi seimbang dan memperbanyak sayur, buah, biji-bijian, dan protein tanpa lemak. • Cukup istirahat. • Rutin berolahraga. • Menghindari obat-obatan terlarang termasuk alkohol.

• Berhenti merokok. • Melakukan berbagai cara untuk mengelola stres seperti meditasi atau yoga. • Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun setiap habis memegang hewan peliharaan. • Menghindari daging mentah, telur mentah, susu yang tidak dipasteurisasi, dan makanan laut mentah. • Melakukan vaksin yang tepat untuk mencegah infeksi seperti radang paru dan flu. Pencegahan HIV/AIDS Jika Anda atau pasangan positif terinfeksi HIV/AIDSAnda dapat menularkan virus ke orang lain, meski tubuh tidak menunjukkan gejala apapun.

Untuk itu, lindungi orang-orang di sekitar Anda dengan mencegah penyebaran HIV/AIDS seperti: • Selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks vagina, oral, atau anal. • Tidak berbagi jarum atau peralatan obat lainnya. Jika Anda hamil dan terinfeksi HIVberkonsultasilah dengan dokter yang memiliki pengalaman tentang pengobatan penyakit HIV. Tanpa pengobatan, sekitar 25 dari 100 bayi yang lahir dari ibu juga bisa terinfeksi.

Jika memiliki pertanyaan, silakan berkonsultasi dengan dokter demi lebih memahami solusi terbaik untuk Anda. Maartens, G., Celum, C., & Lewin, S. (2014). HIV infection: epidemiology, pathogenesis, treatment, and prevention. The Lancet384(9939), 258-271. https://www.doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60164-1 Günthard, H. F., Saag, M. S., Benson, C. A., del Rio, C., Eron, J. J., Gallant, J.

E., Hoy, J. F., Mugavero, M. J., Sax, P. E., Thompson, M. A., Gandhi, R. T., Landovitz, R. J., Smith, D. M., Jacobsen, D. M., & Volberding, P. A. (2016). Antiretroviral Drugs for Treatment and Prevention of HIV Infection in Adults: 2016 Recommendations of the International Antiviral Society-USA Panel.

JAMA316(2), 191–210. https://doi.org/10.1001/jama.2016.8900 UN AIDS. (2021). Global HIV & AIDS statistics — 2020 fact sheet. Retrieved 14 January 2021, from https://www.unaids.org/en/resources/fact-sheet National Institute of Health. (2021). HIV Treatment: The Basics. Retrieved 14 January 2021, from https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-treatment-basics HIV gov.

(2020). What Are HIV and AIDS?. Retrieved 14 January 2021, from https://www.hiv.gov/hiv-basics/overview/about-hiv-and-aids/what-are-hiv-and-aids WHO. (2020). HIV/AIDS. Retrieved 14 January 2021, from https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids WHO. (2021). HIV data and statistics. Retrieved 14 January 2021, from https://www.who.int/teams/global-hiv-hepatitis-and-stis-programmes/data-use/hiv-data-and-statistics• Afrikaans • Akan • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • अवधी • Aymar aru • Azərbaycanca • Башҡортса • Žemaitėška • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • Banjar • Bamanankan • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • کوردی • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Thuɔŋjäŋ • डोटेली • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Frysk • Gaeilge • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • Avañe'ẽ • ગુજરાતી • Gaelg • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ilokano • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Kabɩyɛ • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Кыргызча • Latina • Lëtzebuergesch • Лезги • Lingua Franca Nova • Luganda • Limburgs • Lombard • Lingála • Lietuvių • Latviešu • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Bahasa Melayu • Malti • မြန်မာဘာသာ • Nāhuatl • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Diné bizaad • Chi-Chewa • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Română • Русский • Русиньскый • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • SiSwati • Sesotho • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Türkmençe • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Twi • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Walon • Winaray • Wolof • 吴语 • IsiXhosa • ייִדיש • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan.

Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat penyebab penyakit meningitis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.

Tuberkulosis Hasil Sinar-X dada seorang penderita Tuberkulosis tingkat lanjut. Panah putih menunjukkan adanya infeksi pada kedua belah paru-paru. Panah hitam menunjukkan adanya lubang yang sudah terbentuk. Spesialisasi Penyakit infeksi, Pulmonologi Frekuensi Lua error in Modul:PrevalenceData at line 28: attempt to perform arithmetic on field 'lowerBound' (a nil value).

Tuberkulosis ( Tuberculosis, disingkat Tbc), atau Tb (singkatan dari " Tubercle bacillus") merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan.

Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya Mycobacterium tuberculosis (disingkat "MTb" atau "MTbc"). [1] Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara. [2] Infeksi TB mayoritas bersifat tanpa gejala dan laten (sering disebut TB laten).

Namun, satu dari sepuluh kasus infeksi laten berkembang menjadi penyakit aktif (TB aktif). Bila tuberkulosis tidak diobati, maka lebih dari 50% orang yang terinfeksi bisa meninggal. Sebelum ditemukannya antibiotik yang ampuh penyebab penyakit meningitis menangani TB (sekitar tahun 1900 awal) diperkirakan 1 dari 7 orang di dunia meninggal karena penyakit ini.

Gejala klasik infeksi TB aktif yaitu batuk kronis dengan bercak darah pada sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari, dan berat badan turun. (dahulu TB disebut penyakit "konsumsi" karena orang-orang yang terinfeksi biasanya mengalami kemerosotan berat badan). Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang bermacam-macam. Diagnosis TB aktif bergantung pada hasil radiologi (biasanya melalui rontgen dada) serta pemeriksaan fisik dan dilakukan kultur mikrobiologis.

Sementara itu, diagnosis TB laten bergantung pada tes tuberkulin kulit/tuberculin skin test (TST) dan tes darah (IGRA). Pengobatan TB aktif memerlukan pemberian beberapa antibiotik secara teratur dalam jangka waktu 6 sampai 12 bulan.

Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati bila perlu. Dengan perkembangan antibiotik yang ada saat ini pengobatan TB yang dilakukan dengan baik akan memberkan tingkat kesembuhan diatas 90 %. Namun seringkali apabila pengobatan tidak dilakukan dengan teratur dan dengan jangka waktu yang diperlukan, bakteri TB tersebut bisa kembali kambuh dan beradaptasi menjadi resisten terhadap antibiotik.

Resistensi antibiotik merupakan masalah yang besar pada penanganan epidemi TB. Infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (atau sering disebut TB MDR) memerlukan pengobatan yang jauh lebih berat dengan dosis obat yang jauh lebih tinggi dan tingkat kesembuhan yang jauh lebih rendah. Untuk mencegah TB, semua orang harus menjalani tes penapisan penyakit tersebut dan mendapatkan vaksinasi basil Calmette–Guérin.

Para ahli percaya bahwa sepertiga populasi dunia telah terinfeksi oleh M. tuberculosis, [3] dan infeksi baru terjadi dengan kecepatan satu orang per satu detik. [3] Pada tahun 2007, diperkirakan ada 13,7 juta kasus kronis yang aktif di tingkat global.

[4] Pada tahun 2010, diperkirakan terjadi pertambahan kasus baru sebanyak 8.8 juta kasus, dan 1,5 juta kematian yang mayoritas terjadi di negara berkembang. [5] Angka mutlak kasus tuberkulosis mulai menurun semenjak 2006, sementara kasus baru mulai menurun sejak 2002. [5] Tuberkulosis tidak tersebar secara merata di seluruh dunia. Dari populasi di berbagai negara di Asia dan Afrika yang melakukan tes tuberkulin, 80%-nya menunjukkan hasil positif, sementara di Amerika Serikat, hanya 5–10% saja yang menunjukkan hasil positif.

[1] Masyarakat di negara berkembang semakin banyak yang menderita tuberkulosis karena kekebalan tubuh mereka yang lemah. Biasanya, mereka mengidap tuberkulosis akibat terinfeksi virus HIV dan berkembang menjadi AIDS. [6] Pada tahun 1990-an, Indonesia berada pada peringkat-3 dunia penderita TB, tetapi keadaan telah membaik dan pada tahun 2013 menjadi peringkat-5 dunia.

Daftar isi • penyebab penyakit meningitis Tanda dan gejala • 1.1 Tuberkulosis paru • 1.2 Tuberkulosis ekstra paru • 2 Penyebab • 2.1 Mikobakteria • 2.2 Faktor risiko • 3 Mekanisme • 3.1 Penularan • 3.2 Patogenesis • 4 Diagnosis • 4.1 Tuberkulosis aktif • 4.2 Tuberkulosis laten • 5 Pencegahan • 5.1 Vaksin • 5.2 Kesehatan masyarakat • 6 Penanganan • 6.1 Kasus baru • 6.2 Penyakit kambuh • 6.3 Resistensi obat • 7 Prognosis • 8 Epidemiologi • 9 Sejarah • 10 Masyarakat dan budaya • 11 Riset • 12 Penyakit pada hewan • 13 Referensi Tanda dan gejala [ sunting - sunting sumber ] Gejala utama jenis dan stadium TB ditunjukkan dalam gambar.

[7] Banyak gejala yang tumpang tindih dengan jenis lain, tetapi ada pula gejala yang hanya spesifik (tapi tidak seluruhnya) pada jenis tertentu. Beragam jenis bisa muncul secara bersamaan. Dari kelompok yang bukan pengidap HIV namun kemudian terinfeksi tuberkulosis, 5-10% di antaranya menunjukkan perkembangan penyakit aktif selama masa hidup mereka.

[8] Sebaliknya, dari kelompok yang terinfeksi HIV dan juga terinfeksi tuberkulosis, ada 30% yang menunjukkan perkembangan penyakit aktif. [8] Tuberkulosis dapat menginfeksi bagian tubuh mana saja, tapi paling sering penyebab penyakit meningitis paru-paru (dikenal sebagai tuberkulosis paru). [9] Bila tuberkulosis berkembang di luar paru-paru, maka disebut TB ekstra paru.

TB ekstra paru juga bisa timbul bersamaan dengan TB paru. [9] Tanda dan gejala umumnya antara lain demam, menggigil, berkeringat di malam hari, hilangnya nafsu makan, berat badan turun, dan lesu. [9] Dapat pula terjadi jari tabuh yang signifikan.

[8] Tuberkulosis paru [ sunting - sunting sumber ] Bila infeksi tuberkulosis yang timbul menjadi aktif, sekitar 90%-nya selalu melibatkan paru-paru. [6] [10] Gejala-gejalanya antara lain berupa nyeri dada dan batuk berdahak yang berkepanjangan. Sekitar 25% penderita tidak menunjukkan gejala apapun (yang demikian disebut "asimptomatik"). [6] Kadang kala, penderita mengalami sedikit batuk darah. Dalam kasus-kasus tertentu yang jarang terjadi, infeksi bisa mengikis ke dalam arteri pulmonalis, dan menyebabkan pendarahan parah yang disebut Aneurisma Rasmussen.

Tuberkulosis juga bisa berkembang menjadi penyakit kronis dan menyebabkan luka parut luas di bagian lobus atas paru-paru. Paru-paru atas paling sering terinfeksi. [9] Alasannya belum begitu jelas. [1] Kemungkinan karena paru-paru atas lebih banyak mendapatkan aliran udara [1] atau bisa juga karena drainase limfa yang penyebab penyakit meningitis baik pada paru bagian atas.

[9] Tuberkulosis ekstra paru [ sunting - sunting sumber ] Dalam 15–20% kasus aktif, terjadi penyebaran infeksi hingga ke luar organ pernapasan dan menyebabkan tuberkulosis jenis lainnya. [11] Tuberkulosis yang terjadi di luar organ pernapasan disebut "tuberkulosis ekstra paru". [12] TB ekstra paru umumnya terjadi pada orang dewasa dengan imunosupresi dan anak-anak. TB ekstra paru muncul pada 50% lebih kelompok pengidap HIV.

[12] Lokasi TB ekstra paru yang bermakna termasuk: pleura (pada TB pleuritis), sistem saraf pusat (pada meningitisTB), dan sistem kelenjar getah bening (pada skrofuloderma leher). TB ekstra paru juga dapat terjadi di sistem urogenital (yaitu pada Tuberkulosis urogenital) dan pada tulang dan persendian (yaitu pada penyakit Pott tulang belakang). Bila TB menyebar ke tulang maka dapat disebut "TB tulang", [13] yang merupakan salah satu bentuk osteomielitis.

[1] Ada lagi TB yang lebih serius yaitu TB yang menyebar luas dan disebut sebagai TB diseminata, atau biasanya dikenal dengan nama Tuberkulosis Milier. [9] Di antara kasus TB ekstra paru, 10%-nya biasanya merupakan TB Milier. [14] Penyebab [ sunting - sunting sumber ] Mikobakteria [ sunting - sunting sumber ] Hasil pindai mikrograf elektron Mycobacterium tuberculosis Penyebab utama penyakit TB adalah Mycobacterium tuberculosis, yaitu sejenis basil aerobik kecil yang non-motil.

[9] Berbagai karakter klinis unik patogen ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak/lipid yang dimilikinya.

[15] Sel-selnya membelah setiap 16 –20 jam. Kecepatan pembelahan ini termasuk lambat penyebab penyakit meningitis dibandingkan dengan jenis bakteri lain yang umumnya membelah setiap kurang dari satu jam. [16] Mikobakteria memiliki lapisan ganda membran luar lipid. [17] Bila dilakukan uji pewarnaan Gram, maka MTB akan menunjukkan pewarnaan "Gram-positif" yang lemah atau tidak menunjukkan warna sama sekali karena kandungan lemak dan asam mikolat yang tinggi pada dinding selnya.

[18] MTB bisa tahan terhadap berbagai disinfektan lemah dan dapat bertahan hidup dalam kondisi kering selama berminggu-minggu. Di alam, bakteri hanya dapat berkembang dalam sel inang organisme tertentu, tetapi M. tuberculosis bisa dikultur di laboratorium. [19] Dengan menggunakan pewarnaan histologis pada sampel dahak yang diekspektorat, peneliti dapat mengidentifikasi MTB melalui mikroskop (dengan pencahayaan) biasa.

(Dahak juga disebut "sputum"). MTB mempertahankan warna meskipun sudah diberi perlakukan larutan asam, sehingga dapat digolongkan sebagai Basil Tahan Asam (BTA). [1] [18] Dua jenis teknik pewarnaan asam yang paling umum yaitu: teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen, yang akan memberi warna merah terang pada bakteri BTA bila diletakkan pada latar biru, [20] dan teknik pewarnaan auramin-rhodamin lalu dilihat dengan mikroskop fluoresen.

[21] Kompleks M. tuberculosis (KMTB) juga termasuk mikobakteria lain yang juga menjadi penyebab TB: M. bovis, M. africanum, M. canetti, dan M. microti. [22] M. africanum tidak menyebar luas, tetapi merupakan penyebab penting Tuberkulosis di sebagian wilayah Afrika. [23] [24] M. bovis merupakan penyebab umum Tuberkulosis, tetapi pengenalan susu pasteurisasi telah berhasil memusnahkan jenis mikobakterium yang selama ini menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang ini.

[1] [25] M. canetti merupakan jenis langka dan sepertinya hanya ada di kawasan Tanduk Afrika, meskipun beberapa kasus pernah ditemukan pada kelompok emigran Afrika. [26] [27] M. microti juga merupakan jenis langka dan sering kali ditemukan pada penderita penyebab penyakit meningitis mengalami imunodefisiensi, meski demikian, patogen ini kemungkinan bisa bersifat lebih umum dari yang kita bayangkan. [28] Mikobakteria patogen lain yang juga sudah dikenal penyebab penyakit meningitis lain M.

leprae, M. avium, dan M. kansasii. Dua jenis terakhir masuk dalam klasifikasi " Mikobakteria non-tuberkulosis" (MNT). MNT tidak menyebabkan TB atau lepra, tetapi menyebabkan penyakit paru-paru penyebab penyakit meningitis yang mirip TB. [29] Faktor risiko [ sunting - sunting sumber ] Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa orang lebih rentan terhadap infeksi TB. Di tingkat global, faktor risiko paling penting adalah HIV; 13% dari seluruh kasus TB ternyata terinfeksi juga oleh virus HIV.

[5] Masalah ini umum ditemukan di kawasan sub-Sahara Afrika, yang angka HIV-nya tinggi. [30] [31] Tuberkulosis terkait erat dengan kepadatan penduduk yang berlebihan serta gizi buruk. Keterkaitan ini menjadikan TB sebagai salah satu penyakit kemiskinan utama. [6] Orang-orang yang memiliki risiko tinggi terinfeksi TB antara lain: orang yang menyuntik obat terlarang, penghuni dan karyawan tempat-tempat berkumpulnya orang-orang rentan (misalnya, penjara dan tempat penampungan gelandangan), orang-orang miskin yang tidak memiliki akses perawatan kesehatan yang memadai, minoritas suku yang berisiko tinggi, dan para pekerja kesehatan yang melayani orang-orang tersebut.

[32] Penyakit paru-paru kronis adalah faktor risiko penting lainnya. Silikosis meningkatkan risiko hingga 30 kali lebih besar. [33] Orang-orang yang merokok memiliki risiko dua kali lebih besar terkena TB dibandingkan yang tidak merokok. [34] Adanya penyakit tertentu juga dapat meningkatkan risiko berkembangnya Tuberkulosis, antara lain alkoholisme/kecanduan alkohol [6] dan diabetes mellitus (risikonya tiga kali lipat).

[35] Obat-obatan tertentu, seperti kortikosteroid dan infliximab (antibodi monoklonal anti-αTNF) juga merupakan faktor risiko yang semakin penting, terutama di kawasan dunia berkembang.

[6] Meskipun kerentanan genetik [36] juga bisa berpengaruh, tetapi para peneliti belum menjelaskan sampai sejauh mana peranannya. [6] Mekanisme [ sunting - sunting sumber ] Kampanye kesehatan masyarakat pada tahun 1920-an untuk menghentikan penyebaran TB.

Penularan [ sunting - sunting sumber ] Ketika seseorang yang mengidap TB paru aktif batuk, bersin, bicara, menyanyi, atau meludah, mereka sedang menyemprotkan titis-titis aerosol infeksius dengan diameter 0.5 hingga 5 µm. Bersin dapat melepaskan partikel kecil-kecil hingga 40,000 titis.

[37] Tiap titis bisa menularkan penyakit Tuberkulosis karena dosis infeksius penyakit ini sangat rendah. (Seseorang yang menghirup kurang dari 10 bakteri saja bisa langsung terinfeksi).

[38] Orang-orang yang melakukan kontak dalam waktu lama, dalam frekuensi sering, atau selalu berdekatan dengan penderita TB, berisiko tinggi ikut terinfeksi, dengan perkiraan angka infeksi sekitar 22%. [39] Seseorang dengan Tuberkulosis aktif dan tidak mendapatkan perawatan dapat menginfeksi 10-15 (atau lebih) orang lain setiap tahun. [3] Biasanya, hanya mereka yang menderita TB aktif yang dapat menularkan penyakit ini.

Orang-orang dengan infeksi laten diyakini tidak menularkan penyakitnya. [1] Kemungkinan penyakit ini menular dari satu orang ke orang lain tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain jumlah titis infeksius yang disemprotkan oleh pembawa, efektivitas ventilasi lingkungan tempat tinggal, jangka waktu paparan, tingkat virulensi strain M.

tuberculosis, dan tingkat kekebalan tubuh orang yang tidak terinfeksi. [40] Untuk mencegah penyebaran berlapis dari satu orang ke orang lainnya, pisahkan orang-orang dengan TB aktif ("nyata") dan masukkan mereka dalam rejimen obat anti-TB.

Setelah kira-kira dua minggu perawatan efektif, orang-orang dengan infeksi aktif yang non-resisten biasanya sudah tidak menularkan penyakitnya ke orang lain.

[39] Bila ternyata kemudian ada yang terinfeksi, biasanya perlu waktu tiga sampai empat minggu hingga orang yang baru terinfeksi itu menjadi cukup infeksius penyebab penyakit meningitis menularkan penyakit tersebut ke orang lain.

[41] Patogenesis [ sunting - sunting sumber ] Sekitar 90% orang yang terinfeksi M. tuberculosis mengidap infeksi TB laten yang bersifat asimtomatik, (kadang disebut LTBI/Latent TB Infections). [42] Seumur hidup, orang-orang ini hanya memiliki 10% peluang infeksi latennya berkembang menjadi penyakit Tuberkulosis aktif yang nyata.

[43] Risiko TB pada pengidap HIV untuk berkembang menjadi penyakit aktif meningkat sekitar 10% setiap tahunnya. [43] Bila tidak diberi pengobatan yang efektif, maka angka kematian TB aktif bisa mencapai lebih dari 66%. [3] Infeksi TB bermula ketika mikobakteria masuk ke dalam alveoli paru, lalu menginvasi dan bereplikasi di dalam endosom makrofag alveolus.

[1] [44] Lokasi primer infeksi di dalam paru-paru yang dikenal dengan nama " fokus Ghon", terletak di bagian atas lobus bawah, atau di bagian bawah lobus atas.

[1] Tuberkulosis paru dapat juga terjadi melalui infeksi aliran darah yang dikenal dengan nama fokus Simon. Infeksi fokus Simon biasanya ditemukan di bagian atas paru-paru. [45] Penularan hematogen (melalui pembuluh darah) ini juga dapat menyebar ke lokasi-lokasi lain seperti nodus limfa perifer, ginjal, otak dan tulang.

[1] [46] Tuberkulosis berdampak pada seluruh bagian tubuh, meskipun belum diketahui kenapa penyakit ini jarang sekali menyerang jantung, otot skeletal, pankreas, atau tiroid. [47] Tuberkulosis digolongkan sebagai salah satu penyakit yang menyebabkan radang granulomatosa.

Sel-sel seperti Makrofag, limfosit T, limfosit B, dan fibroblast saling bergabung membentuk granuloma. Limfosit mengepung makrofag-makrofag yang terinfeksi. Granuloma mencegah penyebaran mikobakteria dan menyediakan lingkungan khusus bagi interaksi sel-sel lokal di dalam sistem kekebalan tubuh.

Bakteri yang berada di dalam granuloma menjadi dorman lalu menjadi sumber infeksi laten. Ciri khas lain granuloma adalah membentuk kematian sel abnormal ( nekrosis) di pusat tuberkel. Dilihat dengan mata telanjang, nekrosis memiliki tekstur halus, berwarna putih keju dan disebut nekrosis kaseosa.

[48] Bakteri TB bisa masuk ke dalam aliran darah dari area jaringan yang rusak itu. Bakteri-bakteri tersebut kemudian menyebar ke seluruh tubuh dan membentuk banyak fokus-fokus infeksi, yang tampak sebagai tuberkel kecil berwarna putih di dalam jaringan.

[49] Penyakit TB yang sangat parah ini disebut tuberkulosis milier. Jenis TB ini paling umum terjadi pada anak-anak dan penderita HIV. [50] Angka fatalitas orang yang mengidap TB diseminata seperti ini cukup tinggi meskipun sudah mendapatkan pengobatan (sekitar 30%). [14] [51] Pada banyak orang, infeksi ini sering hilang timbul. Perusakan jaringan dan nekrosis sering kali seimbang dengan kecepatan penyembuhan dan fibrosis.

[48] Jaringan yang terinfeksi berubah menjadi parut dan lubang-lubangnya terisi dengan material nekrotik kaseosa tersebut.

Selama masa aktif penyakit, beberapa lubang ini ikut masuk ke dalam saluran udara bronkhi dan material nekrosis tadi bisa terbatukkan. Material ini mengandung bakteri hidup dan dapat menyebarkan infeksi. Pengobatan menggunakan antibiotik yang sesuai dapat membunuh bakteri-bekteri tersebut dan memberi jalan bagi proses penyembuhan.

Saat penyakit sudah sembuh, area yang terinfeksi berubah menjadi jaringan parut. [48] Diagnosis [ sunting - sunting sumber ] Tuberkulosis aktif [ sunting - sunting sumber ] Sangat sulit mendiagnosis Tuberkulosis aktif hanya berdasarkan tanda-tanda dan gejala saja. [52] Sulit juga mendiagnosis penyakit ini pada orang-orang dengan imunosupresi. [53] Meski demikian, orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka memiliki penyakit paru-paru atau gejala konstitusional yang berlangsung lebih dari dua minggu maka bisa jadi orang tersebut tertular TB.

[53] Gambar sinar X dada dan pembuatan beberapa kultur sputum untuk basil tahan asam biasanya menjadi salah satu bagian evaluasi awal.

[53] Uji pelepasan interferon-γ (IGRAs) dan tes kulit tuberkulin tidak penyebab penyakit meningitis diterapkan di dunia berkembang. [54] [55] IGRA memiliki kelemahan yang serupa bila diterapkan pada penderita HIV. [55] [56] Diagnosis yang tepat untuk TB dilakukan ketika bakteri “M. tuberculosis” ditemukan dalam sampel klinis (misalnya, dahak, nanah, atau biopsi jaringan).

Namun, proses kultur organisme yang lambat pertumbuhannya ini membutuhkan waktu dua hingga enam minggu untuk penyebab penyakit meningitis darah dan dahak saja. [57] Oleh karena itu, pengobatan sering kali dilakukan sebelum hasil kultur selesai. [58] Tes amplifikasi asam nukleat dan uji adenosin deaminase dapat lebih cepat mendiagnosis TB. [52] Meski demikian, tes ini tidak direkomendasikan secara rutin karena jarang sekali mengubah cara pengobatan penderita.

[58] Tes darah untuk mendeteksi antibodi tidak begitu spesifik atau sensitif, sehingga tes ini juga tidak direkomendasikan.

[59] Tuberkulosis laten [ sunting - sunting sumber ] Tes kulit tuberkulin Mantoux. Tes kulit tuberkulin Mantoux sering digunakan sebagai penapisan bagi seseorang dengan risiko TB tinggi. [53] Orang yang pernah diimunisasi sebelumnya dapat memberikan hasil tes positif yang palsu. [60] Hasil tes dapat memberikan negatif palsu pada orang yang menderita sarkoidosis, Limfoma Hodgkin, dan malagizi.

Yang terpenting, hasil tes dapat negatif palsu pada orang yang menderita tuberkulosis aktif. [1] Interferon gamma release assays (IGRAs) untuk sampel darah direkomendasikan pada orang dengan hasil tes Mantoux positif. [58] IGRAs tidak dipengaruhi oleh imunisasi ataupun sebagian besar mikobakteri dari lingkungan, sehingga mereka memunculkan hasil tes positif palsu yang lebih sedikit.

[61] Bagaimanapun mereka dipengaruhi oleh “M. szulgai,” “M. marinum,” and “M. kansasii.” [62] IGRAs dapat meningkatkan sensitivitas bila digunakan sebagai tes tambahan penyebab penyakit meningitis tes kulit. Tetapi IGRAs menjadi kurang sensitif dibandingkan tes kulit apabila digunakan sendirian.

[63] Pencegahan [ sunting - sunting sumber ] Usaha untuk mencegah dan mengontrol tuberkulosis bergantung pada vaksinasi bayi dan penyebab penyakit meningitis serta perawatan untuk kasus aktif. [6] The World Health Organization (WHO) telah berhasil mencapai sejumlah keberhasilan dengan regimen pengobatan yang dimprovisasi, penyebab penyakit meningitis sudah terdapat penurunan kecil dalam jumlah kasus.

[6] Vaksin [ sunting - sunting sumber ] Sejak tahun 2011, satu-satunya vaksin yang tersedia adalah bacillus Calmette–Guérin (BCG). Walaupun BCG efektif melawan penyakit yang menyebar pada masa kanak-kanak, masih terdapat perlindungan yang inkonsisten terhadap TB paru. [64] Namun, ini adalah vaksin yang paling umum digunakan di dunia, dengan lebih dari 90% anak-anak yang mendapat vaksinasi.

[6] Bagaimanapun, imunitas yang ditimbulkan akan berkurang setelah kurang lebih sepuluh tahun. [6] Tuberkulosis tidak umum di sebagian besar Kanada, Inggris Raya, dan Amerika Serikat, jadi BCG hanya diberikan kepada orang dengan risiko tinggi.

[65] [66] [67] Satu alasan vaksin ini tidak digunakan adalah karena vaksin ini menyebabkan tes kulit tuberlulin memberikan positif palsu, sehingga tes ini tidak membantu dalam penyaringan penyakit. [67] Jenis vaksin baru masih sedang dikembangkan. [6] Kesehatan masyarakat [ sunting - sunting sumber ] World Health Organization (WHO) mendeklarasikan TB sebagai "emergensi kesehatan global pada tahun 1993.

[6] Tahun 2006, Kemitraan Stop TB mengembangkan gerakan Rencana Global Stop Tuberkulosis yang ditujukan untuk menyelamatkan 14 juta orang pada tahun 2015. [68] Jumlah yang telah ditargetkan ini sepertinya tidak akan tercapai pada tahun 2015, sebagian besar disebabkan oleh kenaikan penderita HIV dengan tuberkulosis dan munculnya resistensi tuberkulosis multi-obat (multiple drug-resistant tuberculosis, MDR-TB).

[6] Klasifikasi tuberkulosis yang dikembangkan oleh American Thoracic Society pada umumnya digunakan dalam program kesehatan masyarakat.

[69] Karena kuman TB ada di mana-mana termasuk di Mal, Kantor dan tentunya juga di Rumah Sakit, maka pencegahan yang paling efektif adalah Gaya Hidup untuk menunjang Ketahanan Tubuh kita: • Cukup gizi, jangan telat makan • Cukup istirahat, jika lelah istirahat dulu • Jangan Stres Fisik, lelah berlebihan • Jangan Stres Mental, berusahalah berpikir positif dan legowo (bisa menerima) Penanganan [ sunting - sunting sumber ] Pengobatan TB menggunakan antibiotik untuk membunuh bakterinya.

Pengobatan TB yang efektif ternyata sulit karena struktur dan komposisi kimia dinding sel mikobakteri yang tidak biasa. Dinding sel menahan obat masuk sehingga menyebabkan antibiotik tidak efektif. [70] Dua jenis antibiotik yang umum digunakan adalah isoniazid dan rifampicin, dan pengbatan dapat berlangsung berbulan-bulan. [40] Pengobatan TB laten biasanya menggunakan antibiotik tunggal.

[71] Penyakit TB aktif sebaiknya diobati dengan kombinasi beberapa antibiotik untuk menurunkan risiko berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. [6] Pasien dengan infeksi laten juga diobati untuk mencegah munculnya TB aktif di kehidupan selanjutnya.

[71] WHO merekomendasikan directly observed therapy atau terapi pengawasan langsung, dimana seorang pengawas kesehatan mengawasi penderita meminum obatnya.

Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah penderita yang tidak meminum obat antibiotiknya dengan benar. [72] Bukti yang mendukung terapi pengawasan langsung secara independen kurang baik. [73] Namun, metode dengan cara mengingatkan penderita bahwa pengobatan itu penting ternyata efektif. [74] Kasus baru [ sunting - sunting sumber ] Rekomendasi tahun 2010 untuk pengobatan kasus baru tuberkulosis paru adalah kombinasi antibiotik selama enam bulan.

Rifampicin, isoniazid, pyrazinamide, dan ethambutol untuk dua bulan pertama, dan hanya rifampicin dan isoniazid untuk empat bulan selanjutnya. [6] Apabila resistensi terhadap isoniazid tinggi, ethambutol dapat ditambahkan untuk empat bulan terakhir sebagai alternatif.

[6] Penyakit kambuh [ sunting - sunting sumber ] Bila tuberkulosis kambuh, lakukan tes untuk menentukan jenis antibiotik yang sensitif sebelum menentukan pengobatan.

[6] Jika multiple drug-resistant TB (MDR-TB) terdeteksi, direkomdendasikan pengobatan dengan paling tidak empat jenis antibiotik efektif selama 8–24 bulan. [6] Resistensi obat [ sunting - sunting sumber ] Resistensi primer muncul saat seseorang terinfeksi jenis TB resisten. Seorang dengan TB yang rentan dapat mengalami resistensi sekunder (didapat) pada saat terapi. Seseorang juga dapat mengalami perkembangan resistensi karena pengobatan yang tidak adekuat, jika obat yang diresepkan tidak dipakai dengan sesuai (karena tidak patuh), atau karena obat yang digunakan berkualitas rendah.

[75] TB dengan resistensi obat merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di negara yang sedang berkembang. Pengobatan untuk TB yang resisten terhadap obat akan penyebab penyakit meningitis lebih lama dan memerlukan obat yang lebih mahal. MDR-TB (Mulitple Drugs Resistance-TB) sering didefinisikan sebagai resistensi terhadap dua obat yang paling efektif dalam lini pertama pengobatan TB: rifampicin and isoniazid.

Extensively drug-resistant TB juga resisten terhadap tiga atau lebih dari enam kelas pengobatan lini kedua. [76] TB resisten obat total adalah resistensi terhadap semua jenis obat yang selama ini digunakan. TB dengan resisten total terhadap obat pertama kali ditemukan pada tahun 2003 di Italia, tetapi hal ini tidak pernah dilaporkan hingga tahun 2012.

[77] Sekarang ini ada kecenderungan untuk mengetahui terlebih dahulu apa betul yang menginfeksi adalah bakteri TB atau bakteri lainnya dan obat apa saja yang masih mempan, oleh penyebab penyakit meningitis perlu dilakukan kultur bakteri terlebih dulu sebelum dilakukan pengobatan.

Pada tahun 2007, WHO merekomendasikan penggunaan media cair untuk kultur bakteri TB agar lebih akurat dan membutuhkan penyebab penyakit meningitis hingga 40 hari. [78] Prognosis [ sunting - sunting sumber ] Perkembangan dari infeksi TB menjadi penyakit TB yang nyata muncul saat basil mengalahkan pertahanan sistem imun dan mulai memperbanyak diri. Pada penyakit TB primer (sejumlah 1–5% dari kasus), perkembangan ini muncul segera setelah infeksi awal.

[1] Namun, pada kebanyakan kasus, suatu Infeksi laten muncul tanpa gejalan yang nyata. [1] Kuman yang dorman ini menghasilkan tuberkulosis aktif pada 5–10% dari kasus laten ini, dan pada umumnya baru akan muncul bertahun-tahun setelah infeksi. [8] Risiko reaktivasi meningkat sebagai akibat imunosupresi, seperti misalnya disebabkan oleh infeksi HIV. Pada orang yang juga terinfeksi oleh “M. tuberculosis” dan HIV, risiko adanya reaktivasi meningkat hingga 10% per tahun.

[1] Studi yang menggunakan sidik DNA dari galur “M. tuberculosis”menunjukkan bahwa infeksi kembali menyebabkan kambuhnya TB lebih sering dari yang diperkirakan. [79] Infeksi kembali dapat dihitung lebih dari 50% kasus dimana TB biasa ditemukan. [80] Peluang terjadinya kematian karena tuberkulosis adalah kurang lebih 4% pada tahun 2008, turun dari 8% pada tahun 1995.

[6] Epidemiologi [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 2007, prevalensi TB per 100.000 orang tertinggi di Afrika sub-Sahara, dan relatif tinggi di Asia. [81] Kurang lebih sepertiga dari populasi dunia pernah terinfeksi “M. tuberculosis.” Satu infeksi baru muncul setiap detik dalam skala global.

[3] Bagaimanapun, kebanyakan infeksi oleh “M. tuberculosis” tidak menyebabkan penyakit TB, [82] dan 90–95% dari infeksi tetap asimptomatik.

[42] Pada tahun 2007, diperkirakan ada 13,7 juta kasus kronis aktif. [83] Pada tahun 2010, terdapat 8,8 juta kasus baru TB yang didiagnosis, dan 1,45 juta kematian, kebanyakan dari jumlah ini terjadi di negara-negara berkembang. [5] Dari seluruh 1,45 juta kematian, sekitar 0.35 juta terjadi pada penderita yang juga terinfeksi HIV. [84] Tuberkulosis merupakan penyebab umum kematian yang kedua yang disebabkan oleh infeksi (setelah kematian oleh HIV/AIDS).

[9] Angka pasti dari kasus tuberkulosis (" prevalensi") sudah menurun sejak tahun 2005. Kasus tuberkulosis baru (" kejadian") telah menurun sejak tahun 2002.

[5] Cina khususnya telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Cina telah menurunkan laju kematian akibat TB mendekati 80% antara tahun 1990 dan 2010. [84] Tuberkulosis lebih umum muncul di negara berkembang. Kurang lebih 80% dari populasi di berbagai negara Asia dan Afrika memberikan tes tuberkulin positif, tetapi hanya 5–10% dari populasi di AS memberikan hasil tes positif.

penyebab penyakit meningitis

{INSERTKEYS} [1] Para ahli berharap bahwa TB dapat dikendalikan secara penuh. Bagaimanapun, sejumlah faktor menyebabkan pengendalian TB menjadi tidak mungkin. Vaksin yang efektif sangat sulit dikembangkan. Sangat mahal dan memakan waktu lama untuk mendiagnosis penyakitnya. Pengobatan memerlukan waktu beberapa bulan. Lebih banyak orang yang terinfeksi HIV menderita TB. TB yang resisten terhadap obat muncul pada tahun 1980an.

[6] Angka tahunan laporan kasus baru TB. Data dari WHO. [85] Pada tahun 2007, negara dengan perkiraan tingkat insiden tertinggi adalah Swaziland, dengan 1.200 kasus per 100.000 orang. {/INSERTKEYS}

penyebab penyakit meningitis

India memiliki total insiden terbesar, dengan estimasi 2,0 juta kasus baru. [83] Di negara maju, tuberculosis tidak umum dan kebanyakan ditemukan di wilayah urban. Pada tahun 2010, laju TB per 100.000 orang di berbagai tempat di dunia adalah: di dunia 178, Afrika 332, Amerika 36, Mediterania Timur 173, Eropa 63, Asia Tenggara 278, dan Pacifik Barat 139.

[84] Di Kanada dan Australia, tuberkulosis sering kali lebih umum terdapat di antara penduduk aborigin, terutama di wilayah yang terpencil. [86] [87] Di Amerika Serikat, para Aborigin mengalami laju mortalitas akibat TB lima kali lebih besar. [88] Insiden TB bervariasi sesuai usia. Di Afrika, hal ini utamanya mempengaruhi penduduk berusia antara 12dan 18 tahun dan dewasa muda. [89] Bagaimanapun, di negara yang laju insidennya sudah menurun dengan tajam (seperti Amerika Serikat), TB umumnya merupakan penyakit pada orang yang lebih tua dan mereka dengan sistem imun rentan.

[1] [90] Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Mumi Mesir di British Museum – sisa pembusukan tuberkulosis ditemukan di spina mumi-mumi Mesir. Tuberculosis sudah ada dalam kehidupan manusia sejak zaman kuno.

[6] Deteksi paling awal “M. tuberculosis” terdapat pada bukti adanya penyakit tersebut di dalam bangkai bison yang berasal dari sekira 17.000 tahun lalu. [91] Namun, tidak ada kepastian apakah tuberkulosis berasal dari sapi (bovin), yang kemudian ditularkan ke manusia, atau apakah tuberkulosis tersebut bercabang dari nenek moyang penyebab penyakit meningitis sama.

[92] Para ilmuwan yakin bahwa manusia terkena MTBC dari binatang selama proses penjinakan. Namun, gen “ Micobacterium tuberculosis” complex (MTbC) pada manusia telah dibandingkan dengan MTbC pada binatang, dan teori tersebut telah terbukti salah. Galur bakteri tuberkulosis memiliki nenek moyang yang sama, yang sebenarnya bisa menginfeksi manusia sejak Revolusi Neolitik.

[93] Sisa kerangka menunjukkan bahwa manusia prasejarah (4000 Sebelum Masehi) mengidap TB. Para peneliti menemukan pembusukan tuberkulosis di dalam tulang spina mumi-mumi Mesir dari tahun 3000–2400 SM.

[94] "Phthisis" berasal dari bahasa Yunani yang artinya “konsumsi,” yakni istilah kuno untuk tuberkulosis paru. [95] Sekira 460 SM, Hippocrates mengidentifikasi bahwa phthisis adalah penyakit yang paling mudah menular pada saat itu.

Orang dengan phthisis mengalami demam dan batuk darah. Phthisis hampir selalu berakibat fatal. [96] Penelitian gen menunjukkan bahwa TB telah ada di Amerika dari sekira tahun 100 AD. [97] Sebelum Revolusi Industri, cerita rakyat sering kali menghubungkan tuberkulosis dengan vampir. Jika seorang anggota keluarga meninggal karena TB, kesehatan anggota keluarga lainnya dari orang yang terinfeksi tersebut perlahan-lahan menurun. Masyarakat percaya bahwa orang pertama yang terkena TB menguras jiwa anggota keluarga penyebab penyakit meningitis.

[98] Jenis TB paru yang dikaitkan dengan tuberkel ditetapkan sebagai patologi oleh Dr Richard Morton pada 1689. [99] [100] Namun, TB memiliki berbagai gejala, sehingga TB tidak diidentifikasi sebagai satu jenis penyakit hingga akhir 1820-an. TB belum dinamakan tuberkulosis hingga 1839 oleh Penyebab penyakit meningitis. L. Schönlein. [101] Selama tahun 1838–1845, Dr. John Croghan, pemilik Gua Mammoth, membawa mereka yang terkena TB ke dalam gua dengan harapan menyembuhkan penyakit tersebut dengan suhu konstan dan kemurnian udara di dalam gua: mereka meninggal setelah satu tahun di dalam gua.

[102] Hermann Brehmer membuka sanatorium pertama pada 1859 di Sokołowsko, Polandia. [103] Dr. Robert Koch menemukan basil tuberkulosis. Basilus yang menyebabkan tuberkulosis, “Mycobacterium tuberculosis,” diidentifikasi dan dijelaskan pada 24 Maret 1882 oleh Robert Koch. Dia menerima Hadiah Nobel bidang fisiologi atau kedokteran pada 1905 atas penemuan ini.

[104] Koch tidak percaya bahwa penyakit tuberkulosis pada sapi (ternak) dan manusia adalah penyakit yang serupa. Keyakinan ini menunda pengakuan bahwa susu yang terinfeksi menjadi sumber infeksi. Kemudian, risiko penularan dari sumber ini sangat jauh berkurang karena penemuan proses pasteurisasi. Koch mengumumkan ekstrak gliserin dari basil tuberkulosis sebagai "obat" untuk tuberkulosis pada 1890.

Dia menamakannya “tuberkulin.” Meskipun “tuberkulin” tidak efektif, tuberkulin diadaptasi sebagai tes penapisan untuk mengetahui adanya tuberkulosis prasimtomatik. [105] Albert Calmette dan Camille Guérin menerima kesuksesan pertama dalam imunisasi anti tuberkulosis pada 1906.

Mereka menggunakan tuberkulosis galur bovin di-atenuasi, dan vaksin tersebut dinamakan BCG ( basil Calmette dan Guérin). Vaksin BCG pertama kali digunakan pada manusia pada 1921 di Prancis. [106] Namun, vaksin BCG baru diterima secara luas di AS, Inggris, dan Jerman setelah Perang Dunia II. [107] Tuberkulosis menimbulkan kekhawatiran masyarakat pada abad ke-19 dan pada awal abad ke-20 sebagai penyakit endemik masyarakat miskin di perkotaan. Pada 1815, satu di antara empat kematian di Inggris disebabkan oleh "konsumsi." Pada 1918, satu di antara enam kematian di Prancis disebabkan oleh TB.

Setelah para ilmuwan menetapkan bahwa penyakit tersebut menular pada 1880-an, TB dimasukkan ke penyakit wajib lapor di Inggris. Kampanye dimulai agar orang-orang berhenti meludah di tempat umum dan orang miskin yang terinfeksi penyakit tersebut ‘didorong’ untuk masuk sanatorium yang menyerupai rumah tahanan.

(Sanatorium untuk kelas menengah ke atas menawarkan perawatan yang luar biasa dan pemeriksaan medis terus-menerus.) [103] Sanatorium tersebut seharusnya memberi manfaat "udara bersih" dan pekerjaan.

Namun bahkan dalam kondisi terbaik, 50% pasien di dalamnya meninggal setelah lima tahun (“ca.” 1916). [103] Di Eropa, angka tuberkulosis mulai meningkat pada awal 1600-an. Angka penyebab penyakit meningitis TB mencapai puncak tertingginya di Eropa pada 1800-an ketika penyakit ini menyebabkan hampir 25% dari keseluruhan kasus kematian.

[108] Angka kematian kemudian menurun hingga hampir mencapai 90% pada 1950-an. [109] Peningkatan kesehatan masyarakat secara signifikan mengurangi angka tuberkulosis bahkan sebelum streptomisin dan antibiotik lainnya digunakan. Namun, penyakit tersebut masih merupakan ancaman yang serius bagi kesehatan masyarakat. Ketika Konsil Penelitian Medis dibentuk di Inggris pada 1913, fokus awalnya adalah penelitian tuberkulosis.

[110] Pada 1946, pengembangan antibiotik streptomisin mewujudkan pengobatan dan penyembuhan efektif untuk TB.

Sebelum obat ini diperkenalkan, pengobatan satu-satunya (kecuali sanatorium) adalah intervensi bedah. “Teknik pneumotoraks" membuat paru-paru yang terinfeksi kolaps dan memberikan "jeda" sehingga lesi akibat tuberkulosis mulai sembuh.

[111] Kemunculan MDR-TB kembali menjadikan pembedahan sebagai opsi dalam standar tatalaksana untuk perawatan infeksi TB. Intervensi bedah saat ini meliputi pengangkatan kavitas ("bula") patologis di dalam paru-paru untuk mengurangi jumlah bakteri dan meningkatkan pajanan obat bagi bakteri yang masih ada di dalam aliran darah.

Intervensi ini secara bersamaan mengurangi jumlah bakteri total dan meningkatkan efektivitas terapi antibiotik sistemik. [112] Meskipun para ahli mengharapkan agar TB dapat diberantas sepenuhnya ( bandingkan cacar), munculnya galur resistensi obat pada 1980-an membuat pemberantasan TB menjadi sulit. Kemunculan kembali tuberkulosis mendorong deklarasi emergensi kesehatan global yang dibuat oleh WHO pada 1993. [113] Masyarakat dan budaya [ sunting - sunting sumber ] World Health Organization dan Yayasan Bill and Melinda Gates memberi subsidi untuk tes diagnosis cepat yang baru (fast-acting diagnostic test) untuk digunakan di negara berpendapatan rendah dan menengah.

[114] [115] Sejak 2011, banyak tempat miskin penyebab penyakit meningitis hanya memiliki akses ke mikroskopi sputum (pemeriksaan dahak menggunakan mikroskop). [116] Pada 2010, India memiliki jumlah kasus TB tertinggi di dunia. Satu penyebabnya adalah karena pengelolaan penyakit yang buruk oleh sektor pelayanan kesehatan swasta.

Program-program seperti Program kontrol TB nasional terevisi membantu untuk mengurangi jumlah TB di antara orang-orang yang menerima layanan kesehatan masyarakat. [117] [118] Riset [ sunting - sunting sumber ] Vaksin BCG memiliki keterbatasan, dan riset untuk mengembangkan vaksin TB baru masih berjalan. [119] Sejumlah calon potensial saat ini dalam uji klinis fase I dan II. [119] Dua pendekatan utama dalam uji klinis berusaha untuk memperbaiki kemanjuran efikasi vaksin yang ada.

Satu pendekatan melibatkan penambahan vaksin sub-unit ke BCG. Strategi lainnya mencoba untuk menciptakan vaksin baru dan vaksin hidup yang lebih baik. [119] MVA85A adalah contoh dari vaksin sub-unit yang sedang diuji-cobakan di Afrika Selatan. MVA85A didasarkan pada virus vaccinia yang dimodifikasi secara genetik.

[120] Harapannya vaksin akan berperan secara signifikan dalam perawatan penyakit laten dan aktif. [121] Untuk mendorong penemuan lebih lanjut, para peneliti dan pembuat kebijakan memperkenalkan model baru yang lebih murah untuk pegembangan vaksin, termasuk hadiah, insentif pajak, dan komitmen pasar lanjutan.

[122] [123] Beberapa kelompok dilibatkan dalam riset, termasuk Kemitraan Stop TB, [124] the South African Tuberculosis Vaccine Initiative, and the Aeras Global TB Vaccine Foundation. [125] Aeras Global TB Vaccine Foundation menerima hibah lebih dari $280 juta (AS) dari Bill and Melinda Gates Foundation untuk mengembangkan dan melisensi vaksin yang lebih baik untuk melawan tuberkulosis agar dapat digunakan di penyebab penyakit meningitis dengan beban yang tinggi.

[126] [127] Penyakit pada hewan [ sunting - sunting sumber ] Mikrobakteria menginfeksi berbagai hewan, termasuk unggas, [128] binatang pengerat, [129] dan reptil. [130] Subspesies Mycobacterium tuberculosis jarang muncul pada hewan liar.

[131] Penyakit tuberkulosis pada hewan di antaranya yaitu tuberkulosis unggas yang disebabkan Mycobacterium avium, tuberkulosis sapi yang disebabkan oleh Mycobacterium bovis, serta penyakit Johne yang disebabkan oleh Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis. Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b c d e f g h i j k l m n penyebab penyakit meningitis p q Kumar V, Abbas AK, Fausto N, Mitchell RN (2007).

Robbins Basic Pathology (edisi ke-8th). Saunders Elsevier. hlm. 516–522. ISBN 978-1-4160-2973-1. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Konstantinos A (2010). "Testing for tuberculosis".

Australian Prescriber. 33 (1): 12–18. • ^ a b c d e "Tuberculosis Fact sheet N°104". World Health Organization. November 2010.

Diakses tanggal 26 July 2011. • ^ World Health Organization (2009). "Epidemiology" (PDF). Global tuberculosis control: epidemiology, strategy, financing. hlm. 6–33. ISBN 978-92-4-156380-2. Diakses tanggal 12 November 2009. [ pranala nonaktif permanen] • ^ a b c d e World Health Organization (2011).

"The sixteenth global report on tuberculosis" (PDF). • ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v Lawn, SD (2 July 2011). "Tuberculosis". Lancet. 378 (9785): 57–72. doi: penyebab penyakit meningitis. PMID 21420161. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Schiffman G (15 January 2009). "Tuberculosis Symptoms". eMedicineHealth. • ^ a b c d al.], edited by Peter G. Gibson ; section editors, Michael Abramson .

[et (2005). Evidence-based respiratory medicine (edisi ke-1. publ.). Oxford: Blackwell. hlm. 321. ISBN 978-0-7279-1605-1. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • ^ a b c d e f g h Dolin, [edited by] Gerald L.

Mandell, John E. Bennett, Raphael (2010). Mandell, Douglas, and Bennett's principles and practice of infectious diseases (edisi ke-7th). Philadelphia, PA: Churchill Livingstone/Elsevier. hlm. Penyebab penyakit meningitis 250. ISBN 978-0-443-06839-3. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • ^ Behera, D. (2010). Textbook of penyebab penyakit meningitis medicine (edisi ke-2nd ed.).

New Delhi: Jaypee Brothers Medical Pub. hlm. 457. ISBN 978-81-8448-749-7. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • ^ Jindal, editor-in-chief SK. Textbook of pulmonary and critical care medicine.

New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers. hlm. 549. ISBN 978-93-5025-073-0. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • ^ a b Golden MP, Vikram HR (2005).

"Extrapulmonary tuberculosis: an overview". American family physician. 72 (9): 1761–8. PMID 16300038. • ^ Kabra, [edited by] Vimlesh Seth, S.K. (2006). Essentials of tuberculosis in children (edisi ke-3rd ed.). New Delhi: Jaypee Bros. Medical Publishers. hlm. 249. ISBN 978-81-8061-709-6. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • ^ a b Ghosh, editors-in-chief, Thomas M. Habermann, Amit K. (2008). Mayo Clinic internal medicine : concise textbook.

Rochester, MN: Mayo Clinic Scientific Press. hlm. 789. ISBN 978-1-4200-6749-1. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • ^ Southwick F (10 December 2007). "Chapter 4: Pulmonary Infections". Infectious Diseases: A Clinical Short Course, 2nd ed. McGraw-Hill Medical Publishing Division. hlm. 104. ISBN 0-07-147722-5. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-05-13. Diakses tanggal 2013-08-13. Lebih dari satu parameter -pages= dan -page= yang digunakan ( bantuan) • ^ Jindal, editor-in-chief SK.

Textbook of pulmonary and critical care medicine. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers. hlm. 525. ISBN 978-93-5025-073-0. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors penyebab penyakit meningitis ( link) • ^ Niederweis M, Danilchanka O, Huff J, Hoffmann C, Engelhardt H (2010). "Mycobacterial outer membranes: in search of proteins".

Trends in Microbiology. 18 (3): 109–16. doi: 10.1016/j.tim.2009.12.005. PMC 2931330. PMID 20060722. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ a b Madison B (2001). "Application of stains in clinical microbiology". Biotech Histochem. 76 (3): 119–25. doi: 10.1080/714028138. PMID 11475314. • ^ Parish T, Stoker N (1999). "Mycobacteria: bugs and bugbears (two steps forward and one step back)".

penyebab penyakit meningitis

Molecular Biotechnology. 13 (3): 191–200. doi: 10.1385/MB:13:3:191. PMID 10934532. • ^ Medical Laboratory Science: Theory and Practice. New Delhi: Tata McGraw-Hill. 2000. hlm. 473. ISBN 0-07-463223-X. • ^ Piot, editors, Richard D.

Semba, Martin W. Bloem; foreword by Peter (2008). Nutrition and health in developing countries (edisi ke-2nd ed.). Totowa, NJ: Humana Press. hlm. 291. ISBN 978-1-934115-24-4. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • ^ van Soolingen D; et al.

(1997). "A novel pathogenic taxon of the Mycobacterium tuberculosis complex, Canetti: characterization of an exceptional isolate from Africa". International Journal of Systematic Penyebab penyakit meningitis.

47 (4): 1236–45. doi: 10.1099/00207713-47-4-1236.

penyebab penyakit meningitis

PMID 9336935. Parameter -author-separator= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Niemann S; et al. (2002). "Mycobacterium africanum Subtype II Is Associated with Two Distinct Genotypes and Is a Major Cause of Human Tuberculosis in Kampala, Uganda". J. Clin. Microbiol. 40 (9): 3398–405. doi: 10.1128/JCM.40.9.3398-3405.2002. PMC 130701. PMID 12202584. Parameter penyebab penyakit meningitis yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Niobe-Eyangoh SN; et al.

(2003). "Genetic Biodiversity of Mycobacterium tuberculosis Complex Strains from Patients with Pulmonary Tuberculosis in Cameroon". J. Clin. Microbiol. 41 (6): 2547–53. doi: 10.1128/JCM.41.6.2547-2553.2003. PMC 156567. PMID 12791879. Parameter -author-separator= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Thoen C, Lobue P, de Kantor I (2006). "The importance of Mycobacterium bovis as a zoonosis". Vet. Microbiol. 112 (2–4): 339–45. doi: 10.1016/j.vetmic.2005.11.047.

PMID 16387455. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Acton, Q. Ashton (2011). Mycobacterium Infections: New Insights for the Healthcare Professional. ScholarlyEditions. hlm. 1968. ISBN 978-1-4649-0122-5. • ^ Pfyffer, GE (1998 Oct-Dec). "Mycobacterium canettii, the smooth variant of M.

tuberculosis, isolated from a Swiss patient exposed in Africa". Emerging infectious diseases. 4 (4): 631–4. PMID 9866740. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Panteix, G (2010 Aug).

"Pulmonary tuberculosis due to Mycobacterium microti: a study of six recent cases in France". Journal of medical microbiology. 59 (Pt 8): 984–9. PMID 20488936. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ American Thoracic Society (1997).

"Diagnosis and treatment of disease caused by nontuberculous mycobacteria. This official statement of the American Thoracic Society was approved by the Board of Directors, March 1997. Medical Section of the American Lung Association".

Am J Respir Crit Care Med. penyebab penyakit meningitis (2 Pt 2): S1–25. PMID 9279284. • ^ World Health Organization. "Global tuberculosis control–surveillance, planning, financing WHO Report 2006". Diakses tanggal 13 October 2006. • ^ Chaisson, RE (13 March 2008). "Tuberculosis in Africa--combating an HIV-driven crisis". The New England Journal of Medicine. 358 (11): 1089–92.

doi: 10.1056/NEJMp0800809. PMID 18337598. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Griffith D, Kerr C (1996).

"Tuberculosis: disease of the past, disease of the present". J Perianesth Nurs. 11 (4): 240–5. doi: 10.1016/S1089-9472(96)80023-2. PMID 8964016. • ^ ATS/CDC Statement Committee on Latent Tuberculosis Infection (200). "Targeted tuberculin testing and treatment of latent tuberculosis infection. American Thoracic Society".

MMWR Recomm Rep. 49 (RR–6): 1–51. PMID 10881762. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ van Zyl Smit, RN (2010 Jan). "Global lung health: the colliding epidemics of tuberculosis, tobacco smoking, HIV and COPD". Penyebab penyakit meningitis European respiratory journal : official journal of the European Society for Clinical Respiratory Physiology. 35 (1): 27–33. PMID 20044459.

These analyses indicate that smokers are almost twice as likely to be infected with TB and to progress to active disease (RR of ∼1.5 for latent TB infection (LTBI) and RR of ∼2.0 for TB disease). Perokok juga memiliki peluang meninggal karena TB yang lebih besar (Risiko Relatif ∼2.0 dari seluruh angka kematian akibat TB), namun data yang ada sulit diinterpretasikan karena keberagaman/heterogenitas hasil yang didapatkan dari berbagai penelitian berbeda. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Restrepo, BI (15 August 2007).

"Convergence of the tuberculosis and diabetes epidemics: renewal of old acquaintances". Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious Diseases Society of America.

45 (4): 436–8. doi: 10.1086/519939. PMC 2900315. PMID 17638190. • ^ Möller, M (2010 Mar). "Current findings, challenges and novel approaches in human genetic susceptibility to tuberculosis". Tuberculosis (Edinburgh, Scotland). 90 (2): 71–83. doi: 10.1016/j.tube.2010.02.002. PMID 20206579. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Cole E, Cook C (1998). "Characterization of infectious aerosols in health care facilities: an aid to effective engineering controls and preventive strategies".

Am J Infect Control. 26 (4): 453–64. doi: 10.1016/S0196-6553(98)70046-X. PMID 9721404. • ^ Nicas M, Nazaroff WW, Hubbard A (2005). "Toward understanding the risk of secondary airborne infection: emission of respirable pathogens". J Occup Environ Hyg. 2 (3): 143–54. doi: 10.1080/15459620590918466. PMID 15764538. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ a b Ahmed N, Hasnain S (2011).

"Molecular epidemiology of tuberculosis in India: Moving forward with a systems biology approach". Tuberculosis. 91 (5): 407–3. doi: 10.1016/j.tube.2011.03.006. PMID 21514230. • ^ a b "Core Curriculum on Tuberculosis: What the Clinician Should Know" (PDF) (edisi ke-5th).

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Division of Tuberculosis Elimination. 2011. Parameter -pg= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Causes of Tuberculosis". Mayo Clinic. 21 December 2006. Diakses tanggal 19 October 2007.

• ^ a b Skolnik, Richard (2011). Global health 101 (edisi ke-2nd ed.). Burlington, MA: Jones & Bartlett Learning. hlm. 253. ISBN 978-0-7637-9751-5. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • ^ a b editors, Arch G. Mainous III, Claire Pomeroy, (2009). Management of antimicrobials in infectious diseases : impact of antibiotic resistance (edisi ke-2nd rev. ed.). Totowa, N.J.: Humana. hlm. 74. ISBN 978-1-60327-238-4. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • ^ Houben E, Nguyen L, Pieters J (2006).

"Interaction of pathogenic mycobacteria with the host immune system". Curr Opin Microbiol. 9 (1): 76–85. doi: 10.1016/j.mib.2005.12.014. PMID 16406837. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) penyebab penyakit meningitis ^ Khan (2011). Essence Of Paediatrics. Elsevier India. hlm. 401. ISBN 978-81-312-2804-3.

• ^ Herrmann J, Lagrange P (2005). "Dendritic cells and Mycobacterium tuberculosis: which is the Trojan horse?". Pathol Biol (Paris). 53 (1): 35–40. doi: 10.1016/j.patbio.2004.01.004. PMID 15620608. • ^ Agarwal R, Malhotra P, Awasthi A, Kakkar N, Gupta D (2005). "Tuberculous dilated cardiomyopathy: an under-recognized entity?". BMC Infect Dis. 5 (1): 29.

doi: 10.1186/1471-2334-5-29. PMC 1090580. PMID 15857515. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ a b c Grosset J (2003). "Mycobacterium tuberculosis in the Extracellular Compartment: an Underestimated Adversary". Antimicrob Agents Chemother. 47 (3): 833–6. doi: 10.1128/AAC.47.3.833-836.2003. PMC 149338. PMID 12604509. • ^ Crowley, Leonard V. (2010). An introduction to human disease : pathology and pathophysiology correlations (edisi ke-8th ed.).

Sudbury, Mass.: Jones and Bartlett. hlm. 374. ISBN 978-0-7637-6591-0. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • ^ Anthony, Harries (2005). TB/HIV a Clinical Manual (edisi ke-2nd).

Geneva: World Health Organization. hlm. 75. ISBN 978-92-4-154634-8. • ^ Jacob, JT (2009 Jan). "Acute forms of tuberculosis in adults". The American journal of medicine. 122 (1): 12–7. PMID 19114163. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ a b Bento, J (2011 Jan-Feb). "[Diagnostic tools in tuberculosis]". Acta medica portuguesa. 24 (1): 145–54.

PMID 21672452. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ a b c d Escalante, P (2009 Jun 2).

"In the clinic. Tuberculosis". Annals of internal medicine. 150 (11): ITC61–614; quiz ITV616. Penyebab penyakit meningitis 19487708. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Metcalfe, JZ (2011 Nov 15). "Interferon-γ release assays for active pulmonary tuberculosis diagnosis in adults in low- and middle-income countries: systematic review and meta-analysis".

The Journal of infectious diseases. 204 Suppl 4: S1120–9. PMID 21996694. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ a b Sester, M (2011 Jan).

"Interferon-γ release assays for the diagnosis of active tuberculosis: a systematic review and meta-analysis". The European respiratory journal : official journal of the European Society for Clinical Respiratory Physiology.

37 (1): 100–11. PMID 20847080. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Chen, J (2011). "Interferon-gamma release assays for the diagnosis of active tuberculosis in HIV-infected patients: a systematic review and penyebab penyakit meningitis.

PloS one. 6 (11): e26827. PMID 22069472.

penyebab penyakit meningitis

Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Diseases, Special Programme for Research & Training in Tropical (2006). Diagnostics for tuberculosis : global demand and market potential. Geneva: World Health Organization on behalf of the Special Programme for Research and Training in Tropical Diseases.

hlm. 36. ISBN 978-92-4-156330-7. • ^ a b c National Institute for Health and Clinical Excellence. Clinical guideline 117: Tuberculosis. London, 2011. • ^ Steingart, KR (2011 Aug).

"Commercial serological tests for the diagnosis of active pulmonary and extrapulmonary tuberculosis: an updated systematic review and meta-analysis". PLoS medicine. 8 (8): e1001062. doi: 10.1371/journal.pmed.1001062. PMC 3153457. PMID 21857806. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Rothel J, Andersen P (2005). "Diagnosis of latent Mycobacterium tuberculosis infection: is the demise of the Mantoux test imminent?".

Expert Rev Anti Infect Ther. 3 (6): 981–93. doi: 10.1586/14787210.3.6.981. PMID 16307510. • ^ Pai M, Zwerling A, Menzies D (2008). "Systematic Review: T-Cell–based Assays for the Diagnosis of Latent Tuberculosis Infection: An Update". Ann. Intern. Med. 149 (3): 1–9. PMC 2951987. PMID 18593687. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Jindal, editor-in-chief SK.

Textbook of pulmonary and critical care medicine. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers. hlm. 544. ISBN 978-93-5025-073-0.

Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • ^ Amicosante, M (2010 Apr). "Rational use of immunodiagnostic tools for tuberculosis infection: guidelines and cost effectiveness studies". Penyebab penyakit meningitis new microbiologica. 33 (2): 93–107. PMID 20518271. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Penyebab penyakit meningitis, H (12 October 2011).

"Tuberculosis vaccines: beyond bacille Calmette–Guérin". Philosophical transactions of the Royal Society of London. Series B, Biological sciences. 366 (1579): 2782–9.

penyebab penyakit meningitis

doi: 10.1098/rstb.2011.0097. PMC 3146779. PMID 21893541. • ^ "Vaccine and Immunizations: TB Vaccine penyebab penyakit meningitis. Centers for Disease Control and Prevention. 2011. Diakses tanggal 26 July 2011. • ^ "BCG Vaccine Usage in Canada -Current and Historical".

Public Health Agency of Canada. 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-03-30. Diakses tanggal 30 December 2011. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Teo, SS (2006 Jun). "Does BCG have a role in tuberculosis control and prevention in the United Kingdom?". Archives of Disease in Childhood. 91 (6): 529–31. doi: 10.1136/adc.2005.085043. PMC 2082765. PMID 16714729. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ "The Global Plan to Stop TB".

World Health Penyebab penyakit meningitis. 2011. Diakses tanggal 13 June 2011. • ^ Warrell, ed. by D. J. Weatherall .

[4. + 5. ed.] ed. by David A. (2005). Sections 1 - 10 (edisi ke-4. ed., paperback.). Oxford [u.a.]: Oxford Univ. Press. hlm. 560. ISBN 978-0-19-857014-1. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • ^ Brennan PJ, Nikaido H (1995).

"The envelope of mycobacteria". Annu. Rev. Biochem. 64: 29–63. doi: 10.1146/annurev.bi.64.070195.000333. PMID 7574484. • ^ a b Menzies, D (2011 Mar). "Recent developments in treatment of latent tuberculosis infection". The Indian journal of medical research. 133: 257–66. PMID 21441678. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Arch G., III Mainous (2010). Management of Antimicrobials in Infectious Diseases: Impact of Antibiotic Resistance.

Humana Pr. hlm. 69. ISBN 1-60327-238-0. • ^ Volmink J, Garner Penyebab penyakit meningitis (2007). "Directly observed therapy for treating tuberculosis". Cochrane Database Syst Rev (4): CD003343. doi: 10.1002/14651858.CD003343.pub3. PMID 17943789.

• ^ Liu, Q (2008 Oct 8). "Reminder systems and late patient tracers in the diagnosis and management of tuberculosis". Cochrane database of systematic reviews (Online) (4): CD006594. PMID 18843723. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ O'Brien R (1994).

"Drug-resistant tuberculosis: etiology, management and prevention". Semin Respir Infect. 9 (2): 104–12. PMID 7973169. • ^ Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (2006). "Emergence of Mycobacterium tuberculosis with extensive resistance to second-line drugs—worldwide, 2000–2004".

MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 55 (11): 301–5. PMID 16557213. • ^ Maryn Penyebab penyakit meningitis (12 January 2012). "Totally Resistant TB: Earliest Cases in Italy". Wired. Diakses tanggal 12 January 2012. • ^ Ricky Reynald Yulman (1 April 2015). "TB, Bakteri Lebih Cepat Terdeteksi".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-04-02. Diakses tanggal 2015-04-01. • ^ Lambert M; et al. (2003). "Recurrence in tuberculosis: relapse or reinfection?". Lancet Infect Dis. 3 (5): 282. doi: 10.1016/S1473-3099(03)00607-8. PMID 12726976. Parameter -author-separator= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Lebih dari satu parameter -pages= dan -page= yang digunakan ( bantuan) • ^ Wang, JY (15 July 2007).

"Prediction of the tuberculosis reinfection proportion from the local incidence". The Journal of infectious diseases. 196 (2): 281–8.

doi: 10.1086/518898. PMID 17570116. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ World Health Organization (2009).

"The Stop TB Strategy, case reports, treatment outcomes and estimates of TB burden". Global tuberculosis control: epidemiology, strategy, financing. hlm. 187–300. ISBN 978-92-4-156380-2. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-11-19. Diakses tanggal 14 November 2009.

• ^ "Fact Sheets: The Difference Between Latent TB Infection and Active TB Disease". Pusat Pengendalian Penyakit. 20 June 2011. Diakses tanggal 26 July 2011. • ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama WHO2009-Epidemiology • ^ a b c "Global Tuberculosis Control 2011" (PDF). World Health Organization. Diakses tanggal 15 April 2012.

• ^ World Health Organization. "WHO report 2008: Global tuberculosis control". Diakses tanggal 13 April 2009. • ^ FitzGerald, JM (2000 Feb 8). "Tuberculosis: 13. Control of the disease among aboriginal people in Canada".

CMAJ : Canadian Medical Association journal = journal de l'Association medicale canadienne. 162 (3): 351–5. PMID 10693593. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanpa pipa ( link) • ^ Quah, Stella R.; Carrin, Guy; Buse, Kent; Kristian Heggenhougen (2009).

Health Systems Policy, Finance, and Organization. Boston: Academic Press. hlm. 424. ISBN 0-12-375087-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Anne-Emanuelle Birn (2009). Textbook of International Health: Global Health in a Dynamic World. hlm. 261. ISBN 9780199885213. • ^ World Health Penyebab penyakit meningitis. "Global Tuberculosis Control Report, 2006 – Annex 1 Profiles of high-burden countries" (PDF).

Diakses tanggal 13 October 2006. • ^ Centers for Disease Control and Prevention (12 September 2006). "2005 Surveillance Slide Set". Diakses tanggal 13 October 2006. • ^ Rothschild BM; Martin LD; Lev G; et al. (2001). "Mycobacterium tuberculosis complex DNA from an extinct bison dated 17,000 years before the present". Clin. Infect. Dis. 33 (3): 305–11. doi: 10.1086/321886. Penyebab penyakit meningitis 11438894.

Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Parameter -author-separator= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Pearce-Duvet J (2006). "The origin of human pathogens: evaluating the role of agriculture and domestic animals in the evolution of human disease".

Biol Rev Camb Philos Soc. 81 (3): 369–82. doi: 10.1017/S1464793106007020. PMID 16672105. • ^ Comas, I (2009 Oct). "The past and future of tuberculosis research".

PLoS pathogens. 5 (10): e1000600. PMID 19855821. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Zink A, Sola C, Reischl U, Grabner W, Penyebab penyakit meningitis N, Wolf H, Nerlich A (2003). "Characterization of Mycobacterium tuberculosis Complex DNAs from Egyptian Mummies by Spoligotyping". J Clin Microbiol. 41 (1): 359–67. doi: 10.1128/JCM.41.1.359-367.2003. PMC 149558.

PMID 12517873. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ The Chambers Dictionary. New Delhi: Allied Chambers India Ltd. 1998. hlm. 352. ISBN 978-81-86062-25-8. • ^ Hippocrates. Aphorisms. Accessed 7 October 2006. • ^ Konomi N, Lebwohl E, Mowbray K, Tattersall I, Zhang D (2002). "Detection of Mycobacterial DNA in Andean Mummies". J Clin Microbiol. 40 (12): 4738–40. doi: 10.1128/JCM.40.12.4738-4740.2002.

PMC 154635. PMID 12454182. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Sledzik, Paul S. (1994). "Bioarcheological and biocultural evidence for the New England vampire folk penyebab penyakit meningitis (PDF).

American Journal of Physical Anthropology. 94 (2): 269–274. doi: 10.1002/ajpa.1330940210. ISSN 0002-9483. Penyebab penyakit meningitis 8085617. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Léon Charles Albert Calmette di Who Named It • ^ Trail RR (1970).

"Richard Morton (1637-1698)". Med Hist. 14 (2): 166–74. PMC 1034037. PMID 4914685. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Zur Pathogenie der Impetigines. Auszug aus einer brieflichen Mitteilung an den Herausgeber. [Müller’s] Archiv für Anatomie, Physiologie und wissenschaftliche Medicin.

1839, page 82. • ^ Kentucky: Mammoth Cave long on history. Diarsipkan 2006-08-13 di Wayback Machine. CNN. 27 February 2004. Accessed 8 October 2006. • ^ a b c McCarthy OR (2001). "The key to the sanatoria". J R Soc Med. 94 (8): 413–7. PMC 1281640. PMID 11461990. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Nobel Foundation. The Nobel Prize in Physiology or Medicine 1905. Accessed 7 October 2006. • ^ Waddington K (2004). "To stamp out "So Terrible a Malady": bovine tuberculosis and tuberculin testing in Britain, 1890–1939".

Med Hist. 48 (1): 29–48. PMC 546294. PMID 14968644. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Bonah C (2005). "The 'experimental stable' of the BCG vaccine: safety, efficacy, proof, and standards, 1921–1933". Stud Hist Philos Biol Biomed Sci. 36 (4): 696–721. doi: 10.1016/j.shpsc.2005.09.003. PMID 16337557. • ^ Comstock G (1994). "The International Tuberculosis Campaign: a pioneering venture in mass vaccination and research". Clin Infect Dis.

19 (3): 528–40. doi: 10.1093/clinids/19.3.528. PMID 7811874. • ^ Bloom, editor, Barry R. (1994). Tuberculosis : pathogenesis, protection, and control. Washington, D.C.: ASM Press. ISBN 978-1-55581-072-6. Pemeliharaan CS1: Penyebab penyakit meningitis tambahan: authors list ( link) • ^ Persson, Sheryl (2010). Smallpox, Syphilis and Salvation: Medical Breakthroughs That Changed the World.

ReadHowYouWant.com. hlm. 141. ISBN 978-1-4587-6712-7. • ^ editor, Caroline Hannaway, (2008). Biomedicine in the twentieth century: practices, policies, and politics. Amsterdam: IOS Press. hlm. 233. ISBN 978-1-58603-832-8. • ^ Shields, Thomas (2009).

General thoracic surgery (edisi ke-7th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 792. ISBN 978-0-7817-7982-1. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • ^ Lalloo UG, Naidoo R, Ambaram A (2006). "Recent advances in the medical and surgical treatment of multi-drug resistant tuberculosis". Curr Opin Pulm Med. 12 (3): 179–85. doi: 10.1097/01.mcp.0000219266.27439.52.

PMID 16582672. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-10. Diakses tanggal 2013-08-13. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ "Frequently asked questions about TB and HIV".

World Health Organization. Diakses tanggal 15 April 2012. • ^ Lawn, SD (2011 Sep). "Xpert® MTB/RIF assay: development, evaluation and implementation of a new rapid molecular diagnostic for tuberculosis and rifampicin resistance".

Future microbiology. 6 (9): 1067–82. PMID 21958145. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ "WHO says Cepheid rapid test will transform TB care".

Reuters. 8 December 2010. • ^ Lienhardt, C (2011 Nov). "What research is needed to stop TB? Introducing the TB Research Movement". PLoS medicine. 8 (11): e1001135. doi: 10.1371/journal.pmed.1001135. PMC 3226454. PMID 22140369. Parameter -coauthors= yang tidak penyebab penyakit meningitis mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Anurag Bhargava, Lancelot Pinto, Madhukar Pai (2011). "Mismanagement of tuberculosis in India: Causes, consequences, and the way forward".

Hypothesis. 9 (1): e7. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-01-12. Diakses tanggal 2013-08-13. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Amdekar, Y (2009 Jul).

"Changes in the management of tuberculosis". Indian journal of pediatrics. 76 (7): 739–42. PMID 19693453. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ a b c Martín Montañés, C (2011 Mar). "New tuberculosis vaccines". Enfermedades infecciosas y microbiologia clinica. 29 Suppl 1: 57–62. doi: 10.1016/S0213-005X(11)70019-2.

PMID 21420568. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Ibanga H, Brookes R, Hill P, Owiafe P, Fletcher H, Lienhardt C, Hill A, Adegbola R, McShane H (2006). "Early clinical trials with a new tuberculosis vaccine, MVA85A, in tuberculosis-endemic countries: issues in study design". Lancet Infect Dis. 6 (8): 522–8. doi: 10.1016/S1473-3099(06)70552-7.

PMID 16870530. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Kaufmann SH (2010). "Future vaccination strategies against tuberculosis: Thinking outside the box". Immunity. 33 (4): 567–77. doi: 10.1016/j.immuni.2010.09.015. PMID 21029966. • ^ Webber D, Kremer M (2001).

"Stimulating Industrial R&D for Neglected Infectious Diseases: Economic Perspectives" (PDF). Bulletin of the World Health Organization. 79 (8): 693–801. • ^ Barder O, Kremer M, Williams H (2006). "Advance Market Commitments: A Policy to Stimulate Investment in Vaccines for Neglected Diseases". The Economists' Penyebab penyakit meningitis. 3 (3). doi: 10.2202/1553-3832.1144.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-11-05. Diakses tanggal 2013-08-13. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Economic, Department of (2009). Achieving the global public health agenda : dialogues at the Economic and Social Council. New York: United Nations.

hlm. 103. ISBN 978-92-1-104596-3. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Jong, [edited by] Jane N. Zuckerman, Elaine C. (2010). Travelers' vaccines (edisi ke-2nd ed.). Shelton, CT: People's Medical Pub. House. hlm. 319. ISBN 978-1-60795-045-5. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • ^ Bill and Melinda Gates Foundation Announcement (2004-02-12).

"Gates Foundation Commits $82.9 Million to Develop New Tuberculosis Vaccines". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-10-10. Diakses tanggal 2013-08-13. • ^ Nightingale, Katherine (2007-09-19). "Gates foundation gives US$280 million to fight TB". • ^ Shivaprasad, HL (2012 Jan). "Pathology of mycobacteriosis in birds".

The veterinary clinics of North America. Exotic animal practice. 15 (1): 41–55, v–vi. PMID 22244112. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= penyebab penyakit meningitis disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Reavill, DR (2012 Jan). "Mycobacterial lesions in fish, amphibians, reptiles, rodents, lagomorphs, and ferrets with reference to animal models". The veterinary clinics of North America.

Exotic animal practice. 15 (1): 25–40, v. PMID 22244111. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Mitchell, MA (2012 Jan). "Mycobacterial infections in reptiles". The veterinary clinics of North America. Exotic animal practice. 15 (1): 101–11, vii.

PMID 22244116. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Wobeser, Gary A. (2006). Essentials of disease in wild animals (edisi ke-1st ed.). Ames, Iowa [u.a.]: Blackwell Publ.

hlm. 170. ISBN 978-0-8138-0589-4. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) Kategori tersembunyi: • Halaman dengan galat skrip • Halaman dengan kesalahan referensi • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list • Pemeliharaan CS1: Teks tambahan • Halaman dengan rujukan yang memiliki parameter duplikat • Galat CS1: tanggal • Pemeliharaan CS1: Tanpa pipa • Templat webarchive tautan wayback • Halaman ini terakhir diubah pada 11 Maret 2022, pukul 12.27.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
• Afrikaans • Alemannisch • Aragonés • العربية • مصرى • অসমীয়া • Aymar aru • Azərbaycanca • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • Bosanski • Català • کوردی • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Na Vosa Vakaviti • Français • Gaeilge • Galego • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • ქართული • Taqbaylit • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Кыргызча • Latina • Lingua Franca Nova • Limburgs • Lietuvių • Latviešu • മലയാളം • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Polski • پنجابی • Português • Română • Русский • Sicilianu • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Српски / srpski • Sesotho • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • ไทย • Tagalog • Türkçe • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • IsiXhosa • მარგალური • ייִדיש • 中文 • 粵語 Infeksi Gambar mikroskop elektron yang diwarnai menunjukkan sporozoit malaria yang berpindah melalui epitelium usus tikus.

Spesialisasi Penyakit infeksi Penyebab Agen infeksi ( patogen) Pengobatan Antibiotik, antivirus, antijamur, antiprotozoa, dan penyebab penyakit meningitis Infeksi atau jangkitan adalah serangan dan perbanyakan diri yang dilakukan oleh patogen pada tubuh makhluk hidup.

[1] Patogen penyebab infeksi di antaranya mikroorganisme seperti virus, prion, bakteri, dan fungi. Sementara itu, parasit seperti cacing dan organisme uniseluler juga dapat menyebabkan infeksi, meskipun terkadang istilah infeksi dan infestasi dipakai bergantian untuk menyebut serangan agen parasitik.

Serangan patogen-patogen tersebut, maupun racun yang mereka hasilkan, dapat menimbulkan penyakit pada organisme inang.

Penyakit infeksi merupakan penyakit yang dihasilkan oleh infeksi. Individu terinfeksi dapat melawan infeksi menggunakan sistem imun mereka. Mamalia yang terinfeksi bereaksi dengan sistem imun bawaan, yang sering kali melibatkan peradangan, dan kemudian diikuti oleh sistem imun adaptif.

[2] Obat-obatan khusus yang digunakan untuk mengobati infeksi termasuk antibiotik, antivirus, antijamur, antiprotozoa, dan antelmintik. Penyakit infeksi mengakibatkan 9,2 juta kematian pada tahun 2013 (sekitar 17% dari semua kematian). [3] Cabang kedokteran yang berfokus pada infeksi juga disebut penyakit infeksi. [4] Daftar isi • 1 Penyebab • 2 Klasifikasi • 2.1 Klinis, subklinis, dan laten • 2.2 Primer versus oportunistik • 2.2.1 Jenis infeksi lain • 2.3 Infeksius atau tidak • 2.4 Kemampuan menular • 2.5 Lokasi anatomis • 3 Tanda dan gejala • 4 Patofisiologi • 4.1 Kolonisasi • 4.2 Penyakit • 4.3 Penularan • 5 Diagnosis • 5.1 Diagnosis simtomatik • 5.2 Kultur mikrob • 5.3 Mikroskopi • 5.4 Uji biokimia • 5.5 Diagnosis berbasis PCR • 5.6 Pengurutan metagenomika • 5.7 Indikasi pengujian • 6 Pencegahan • 7 Imunitas • 7.1 Faktor genetik inang • 8 Pengobatan • 9 Epidemiologi • 9.1 Riwayat pandemi • 9.2 Penyakit infeksi baru • 10 Teori kuman penyakit • 11 Referensi • 12 Pranala luar Penyebab [ sunting - sunting sumber ] Infeksi dapat disebabkan oleh berbagai entitas biologi yang dikenal dengan sebutan agen infeksi.

Kata sifat patogenik disematkan kepada entitas biologi yang mampu menimbulkan penyakit, misalnya bakteri patogenik dan cacing patogenik. Hal ini juga menunjukkan bahwa tidak semua bakteri dan cacing bersifat patogenik; banyak di antara mereka yang mampu hidup dan berkembang biak tanpa menyerang dan menimbulkan penyakit pada organisme lain. Entitas biologi yang mengakibatkan penyakit disebut sebagai patogen, dan sering disinonimkan dengan agen infeksi.

Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme infeksius, seperti bakteri, virus, fungi, prion, dan cacing. [5] Dalam penggunaan medis, agen infeksi dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu mikroorganisme patogenik (bakteri, virus, prion, fungi) dan parasit (seperti cacing, protozoa, dan artropoda). [6] [7] Meskipun secara konseptual serupa dengan infeksi, tetapi serangan parasit pada tubuh manusia atau hewan biasanya disebut infestasi alih-alih infeksi.

Umumnya, istilah infestasi digunakan untuk menyebut serangan ektoparasit, misalnya kutu, tungau, caplak, dan pinjal, yang menginvasi bagian luar tubuh inangnya dalam jumlah besar. [8] Klasifikasi [ sunting - sunting sumber ] Klinis, subklinis, dan laten [ sunting - sunting sumber ] Infeksi yang menimbulkan gejala dan tanda yang terlihat jelas disebut infeksi klinis, sedangkan infeksi yang aktif tetapi tidak menghasilkan gejala yang nyata dapat disebut infeksi diam atau subklinis.

Infeksi yang tidak aktif atau dorman disebut infeksi laten. [9] Contoh infeksi bakteri laten adalah tuberkulosis laten. Beberapa infeksi virus juga bisa bersifat laten, contoh virus laten berasal dari keluarga Herpesviridae. [10] Kata infeksi dapat menunjukkan adanya patogen tertentu (tidak peduli seberapa sedikit), tetapi juga sering digunakan untuk menyatakan infeksi yang tampak penyebab penyakit meningitis klinis (dengan kata lain, kasus penyakit infeksi).

[11] Penggunaan ini kadang-kadang menciptakan beberapa ambiguitas atau mendorong diskusi penggunaan kata infeksi; untuk menyiasatinya, para tenaga kesehatan biasanya menyebut kolonisasi (bukan infeksi) ketika mereka menyatakan keberadaan patogen, tanpa adanya infeksi yang tampak secara klinis (tidak ada penyakit). Beberapa istilah berbeda digunakan untuk menggambarkan infeksi.

Istilah pertama adalah infeksi akut, yaitu infeksi dengan gejala yang berkembang dengan cepat; jalannya penyakit bisa cepat atau berlarut-larut. [12] Istilah selanjutnya adalah infeksi kronis, ketika gejala penyakit berkembang secara bertahap, selama beberapa minggu atau bulan, dan lambat untuk disembuhkan. [13] Infeksi subakut adalah infeksi dengan gejala yang memakan waktu lebih lama dibandingkan infeksi akut tetapi timbul lebih cepat dibandingkan infeksi kronis.

Infeksi laten adalah jenis infeksi yang dapat terjadi setelah fase akut; organisme patogennya ada tetapi gejalanya tidak; setelah beberapa waktu penyakit ini dapat muncul kembali. Infeksi fokal didefinisikan sebagai tempat infeksi awal suatu patogen sebelum mereka menyebar melalui aliran darah ke area lain tubuh. [14] Primer versus oportunistik [ sunting - sunting sumber ] Di antara berbagai mikroorganisme, hanya relatif sedikit yang mengakibatkan penyakit pada orang yang sehat.

[15] Penyakit infeksi dihasilkan dari interaksi antara sejumlah patogen dan sistem pertahanan inang yang mereka infeksi. Tampilan dan tingkat keparahan penyakit yang dihasilkan patogen tergantung pada kemampuan patogen tersebut untuk merusak inang dan juga kemampuan inang untuk melawan patogen. Akan tetapi, sistem kekebalan inang juga dapat mengakibatkan kerusakan pada inang itu sendiri dalam upaya untuk mengendalikan infeksi. Oleh karena itu, dokter mengklasifikasikan mikroorganisme atau mikrob infeksius berdasarkan status pertahanan inang, baik sebagai patogen primer atau sebagai patogen oportunistik: Patogen primer Patogen primer menyebabkan penyakit sebagai akibat dari keberadaan atau aktivitas mereka di dalam inang yang normal dan sehat, dan virulensi intrinsiknya (keparahan penyakit yang disebabkannya), sebagian, merupakan konsekuensi dari kebutuhan patogen untuk bereproduksi dan menyebar.

Banyak patogen primer manusia yang paling umum hanya menginfeksi manusia, tetapi, banyak penyakit serius diakibatkan oleh organisme yang berasal dari lingkungan atau yang menginfeksi inang nonmanusia. Patogen oportunistik Patogen oportunistik dapat mengakibatkan penyakit infeksi pada inang dengan sistem pertahanan yang tertekan ( defisiensi imun) atau jika mereka memiliki akses yang tidak biasa ke bagian dalam tubuh (misalnya melalui trauma).

Infeksi oportunistik dapat diakibatkan oleh mikrob yang biasanya bersentuhan dengan inang, seperti bakteri atau fungi patogenik di usus atau saluran pernapasan bagian atas, dan mereka juga dapat berasal dari inang lain (seperti pada kolitis akibat Clostridium sulitile) atau dari lingkungan sebagai akibat dari cedera (misalnya infeksi luka penyebab penyakit meningitis bedahan atau patah tulang).

Penyakit oportunistik membutuhkan kerusakan pertahanan inang, yang dapat terjadi sebagai akibat dari cacat genetik (seperti penyakit granuloma kronik), paparan obat antimikrob atau bahan kimia imunosupresif (seperti yang mungkin terjadi setelah keracunan atau kemoterapi), paparan radiasi pengion, atau sebagai akibat dari penyakit infeksi dengan aktivitas imunosupresif (seperti campak, malaria, atau AIDS). Patogen primer juga dapat mengakibatkan penyakit yang lebih parah pada inang dengan imunitas yang tertekan dibandingkan bila terjadi ipada inang yang imunitasnya memadai.

[16] Infeksi primer versus infeksi sekunder Infeksi primer adalah infeksi yang (atau secara praktis dapat dipandang) menjadi akar penyebab masalah kesehatan saat ini. Sebaliknya, infeksi sekunder adalah sekuela (gejala sisa) atau komplikasi dari penyebab utama. Sebagai contoh, tuberkulosis paru sering merupakan infeksi primer, tetapi infeksi yang terjadi hanya akibat luka bakar atau trauma tajam (sebagai akar penyebab) yang memungkinkan akses patogen ke jaringan dalam, merupakan infeksi sekunder.

Patogen primer sering menyebabkan infeksi primer dan juga sering menyebabkan infeksi sekunder. Biasanya, infeksi oportunistik dipandang sebagai infeksi sekunder (karena defisiensi imun atau cedera adalah faktor predisposisinya).

Jenis infeksi lain [ sunting - sunting sumber ] Jenis infeksi lain terdiri dari infeksi campuran, iatrogenik, nosokomial, dan infeksi yang didapat dari masyarakat. Infeksi campuran adalah infeksi yang disebabkan oleh dua atau lebih patogen. Contohnya adalah apendisitis, yang disebabkan oleh Bacteroides fragilis dan Escherichia coli. Jenis kedua adalah infeksi iatrogenik, yaitu infeksi yang ditularkan dari petugas kesehatan ke pasien. Infeksi nosokomial, yaitu infeksi yang didapat saat dirawat di rumah sakit, juga terjadi pada faslitias layanan kesehatan.

Terakhir, infeksi penyebab penyakit meningitis didapat dari masyarakat adalah infeksi yang didapat dari seluruh komunitas. [14] Infeksius atau tidak [ sunting - sunting sumber ] Salah satu cara untuk membuktikan bahwa suatu penyakit bersifat infeksius, adalah untuk mengujinya menggunakan postulat Koch, yang mensyaratkan bahwa, pertama, agen infeksi hanya dapat diidentifikasi dari individu yang memiliki penyakit dan bukan dari kontrol penyebab penyakit meningitis sehat, dan kedua, bahwa individu dengan agen infeksi juga penyebab penyakit meningitis penyakit tersebut.

Postulat ini pertama kali digunakan dalam penemuan bahwa spesies Mycobacterium mengakibatkan tuberkulosis. Akan tetapi, postulat Koch biasanya tidak dapat diuji dalam praktik modern karena alasan etis. Membuktikan penyakit akan memerlukan infeksi eksperimental pada individu yang sehat menggunakan patogen yang diproduksi sebagai kultur murni.

Sebaliknya, bahkan penyakit yang jelas-jelas infeksius tidak selalu memenuhi kriteria tersebut; misalnya, Treponema pallidum, bakteri penyebab sifilis, tidak dapat dikultur secara in vitro, tetapi mikroorganisme ini dapat dikultur dalam testis kelinci. Belum diketahui dengan jelas mengapa kultur murni diperoleh dari hewan yang menjadi inang dibandingkan dengan perolehan dari kultur lempeng.

Epidemiologi, atau studi dan analisis tentang siapa, mengapa, dan di mana penyakit terjadi, dan apa yang menentukan berbagai populasi memiliki penyakit, merupakan alat penting lain yang digunakan untuk memahami penyakit infeksi. Ahli epidemiologi dapat menentukan perbedaan di antara kelompok-kelompok dalam suatu populasi, seperti apakah kelompok usia tertentu memiliki tingkat infeksi yang lebih besar atau lebih kecil; apakah kelompok yang tinggal di lingkungan yang berbeda lebih mungkin terinfeksi; dan oleh faktor-faktor lain, seperti jenis kelamin dan ras.

Para peneliti juga dapat menilai apakah wabah penyakit bersifat sporadik atau hanya terjadi sesekali; bersifat endemik, dengan tingkat yang stabil dari kasus reguler yang terjadi di suatu daerah; epidemi, dengan jumlah kasus yang muncul cepat, dan luar biasa tinggi di suatu wilayah; atau pandemi, yang merupakan epidemi global.

Jika penyebab penyakit infeksi tidak diketahui, epidemiologi dapat digunakan untuk membantu melacak sumber infeksi. Kemampuan menular [ sunting - sunting sumber ] Penyakit infeksi kadang-kadang disebut penyakit menular ketika mudah ditularkan melalui kontak dengan orang yang sakit atau sekresi mereka (misalnya influenza).

Dengan demikian, penyakit menular adalah bagian dari penyakit infeksi, terutama penyakit yang mudah berpindah atau ditransmisikan.

Jenis penyakit menular lain memiliki rute infeksi yang lebih khusus, seperti penularan melalui vektor atau hubungan seksual, biasanya tidak dianggap sebagai "menular", dan sering kali tidak memerlukan isolasi medis (kadang-kadang disebut karantina) bagi penderitanya.

Namun, konotasi khusus dari kata "menular" dan "penyakit menular" (mudah ditransmisikan) tidak selalu dipertimbangkan dalam penggunaan populer. Penyakit infeksi biasanya ditularkan antarindividu melalui kontak langsung.

Jenis kontak yang dimaksud yaitu dari orang ke orang dan penyebaran percikan atau tetesan. Kontak tidak langsung seperti penularan melalui udara, benda yang terkontaminasi, makanan dan air minum, kontak orang dengan hewan (yang bertindak sebagai reservoir), gigitan serangga, dan lingkungan yang terkontaminasi, merupakan cara lain penularan penyakit infeksi.

[17] Lokasi anatomis [ sunting - sunting sumber ] Infeksi dapat dikelompokkan berdasarkan lokasi anatomi atau sistem organ yang terinfeksi, misalnya infeksi saluran kemih, infeksi kulit, infeksi saluran pernapasan, infeksi odontogenik (infeksi yang berasal dari gigi atau jaringan yang berdekatan), infeksi vagina, dan infeksi intraamniotik. Selain itu, lokasi peradangan yang menjadi tempat infeksi dapat dijadikan penamaan radang tersebut, misalnya pneumonia, meningitis, dan salpingitis.

Tanda dan gejala [ sunting - sunting sumber ] Gejala dan tanda klinis infeksi tergantung pada masing-masing penyakit. Beberapa tanda infeksi mempengaruhi keseluruhan tubuh secara umum, seperti kelelahan, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, demam, keringat malam, kedinginan, sakit, dan nyeri. Beberapa tanda lain bersifat khusus untuk bagian tubuh tertentu, seperti ruam kulit, batuk, atau keluarnya cairan dari hidung.

Dalam kasus-kasus tertentu, penyebab penyakit meningitis infeksi mungkin asimtomatik (tidak bergejala) untuk sebagian besar atau bahkan keseluruhan proses penyakit. Pada kasus ini, individu lain dapat menderita penyakit, sebagai penderita sekunder, setelah mengalami kontak dengan pembawa penyakit yang asimtomatik. Suatu infeksi tidak selalu identik dengan penyakit infeksi, karena beberapa infeksi tidak menimbulkan penyakit pada inang. [16] Patofisiologi [ sunting - sunting sumber ] Ada serangkaian peristiwa yang terjadi selama infeksi.

[18] Rantai peristiwa tersebut meliputi beberapa tahapan, yang melibatkan agen infeksi, reservoir, masuknya agen ke inang yang rentan, keluarnya agen dari inang tersebut, dan penularan ke inang baru. Masing-masing mata rantai harus terjadi secara berurutan agar infeksi dapat berkembang. Pemahaman terhadap langkah-langkah ini membantu petugas kesehatan mengendalikan infeksi dan mencegahnya agar tidak terjadi.

[19] Kolonisasi [ sunting - sunting sumber ] Infeksi kuku ( cantengan) pada jari kaki, terlihat nanah nanah (kuning) dan peradangan (ditandai oleh kemerahan dan pembengkakan) yang terjadi di sekitar kuku.

Infeksi dimulai ketika suatu organisme berhasil memasuki tubuh, lalu tumbuh penyebab penyakit meningitis memperbanyak diri. Hal ini disebut kolonisasi. Sebagian besar manusia tidak mudah terinfeksi. Orang-orang dengan sistem imun yang lemah lebih rentan terhadap infeksi kronis atau persisten, sedangkan individu dengan sistem imun yang tertekan sangat rentan terhadap infeksi oportunistik. Umumnya, patogen masuk ke dalam tubuh inang melalui mukosa pada lubang tubuh, seperti rongga mulut, hidung, mata, genitalia, anus, dan bisa juga masuk melalui luka terbuka.

Beberapa patogen dapat tumbuh di tempat awal masuk, tetapi banyak yang bermigrasi dan menyebabkan infeksi sistemik pada organ yang berbeda. Beberapa patogen tumbuh di dalam sel inang (intraseluler) sedangkan yang lain tumbuh bebas dalam cairan tubuh. Kolonisasi luka mengacu pada mikroorganisme yang tidak bereplikasi di dalam luka, sedangkan pada luka terinfeksi, mikroorganisme mengalami replikasi dan mengakibatkan kelukaan jaringan.

[20] Semua organisme multiseluler dikolonisasi sampai tingkat tertentu oleh organisme ekstrinsik, dan sebagian besar kolonisasi ini berada dalam hubungan mutualisme atau komensalisme. Contoh hubungan mutualisme adalah spesies bakteri anaerob, yang melakukan kolonisasi pada usus mamalia, dan contoh komensalisme adalah berbagai spesies Staphylococcus yang ada pada kulit manusia.

Tak satu pun dari kolonisasi ini dianggap infeksi. Perbedaan antara infeksi dan kolonisasi sering kali hanya masalah keadaan. Organisme nonpatogenik dapat menjadi patogenik dalam kondisi spesifik, dan bahkan organisme yang paling virulen (ganas) membutuhkan kondisi tertentu untuk menimbulkan infeksi yang membahayakan.

Di dalam tubuh, beberapa bakteri seperti Corynebacteria sp. dan streptococci viridans, mencegah adhesi dan kolonisasi bakteri patogenik sehingga mereka memiliki hubungan simbiosis dengan inang, mencegah infeksi, dan mempercepat penyembuhan luka. Gambaran langkah-langkah infeksi oleh patogen. [21] [22] [23] Variabel yang terlibat dan memengaruhi hasil akhir infeksi meliputi rute masuknya patogen, akses yang diperolehnya untuk memasuki bagian tubuh tertentu inang, virulensi intrinsik patogen, jumlah patogen di awal inokulasi, dan status kekebalan inang.

Sebagai contoh, beberapa spesies stafilokokus tidak berbahaya pada kulit, tetapi ketika mereka berada dalam tempat yang biasanya steril, misalnya di dalam kapsul sendi atau peritoneum, mereka akan berkembang biak tanpa perlawanan dan menyebabkan kerusakan.

penyebab penyakit meningitis

Dalam beberapa dekade terakhir, kromatografi gas–spektrometri massa, analisis RNA ribosomal 16S, omik, dan teknologi canggih lainnya telah menjelaskan bahwa kolonisasi mikrob sangat umum, bahkan dalam lingkungan yang manusia anggap hampir steril. Karena kolonisasi bakteri merupakan hal yang normal, sulit untuk mengetahui luka kronis mana yang dapat dikategorikan terinfeksi dan seberapa besar risiko perkembangannya.

Meskipun sejumlah besar luka ditemukan dalam praktik klinis, evaluasi tanda dan gejala dengan data yang berkualitas masih terbatas.

Sebuah tinjauan luka penyebab penyakit meningitis mengkuantifikasi pentingnya peningkatan rasa nyeri sebagai indikator infeksi. [24] Tinjauan tersebut menunjukkan bahwa temuan yang paling berguna adalah peningkatan penyebab penyakit meningitis nyeri, tetapi tidak adanya rasa nyeri tidak otomatis menghilangkan kemungkinan infeksi.

Penyakit [ sunting - sunting sumber ] Penyakit dapat muncul jika mekanisme pertahanan inang terganggu dan agen penyebab penyakit meningitis menyebabkan kerusakan pada inang. Penyebab penyakit meningitis dapat menyebabkan kerusakan jaringan dengan melepaskan berbagai racun atau enzim yang merusak. Sebagai contoh, Clostridium tetani melepaskan racun yang melumpuhkan otot, dan Staphylococcus melepaskan racun yang menghasilkan syok dan sepsis. Tidak semua agen infeksi menyebabkan penyakit pada semua inang, misalnya, kurang dari 5% orang yang terinfeksi virus polio akan menderita penyakit polio.

[25] Di sisi lain, beberapa agen infeksi bersifat sangat ganas. Prion yang menyebabkan penyakit sapi gila dan penyakit Creutzfeldt-Jakob selalu membunuh semua hewan dan orang yang terinfeksi. Infeksi persisten terjadi karena tubuh tidak dapat membersihkan patogen setelah infeksi awal. Infeksi persisten ditandai oleh adanya agen penginfeksi secara terus-menerus, sering kali sebagai infeksi laten yang berulang kali kambuh sebagai infeksi aktif. Ada beberapa virus yang mengakibatkan infeksi persisten dengan menginfeksi sel-sel tubuh yang berbeda.

Beberapa virus yang sekali masuk tidak pernah meninggalkan tubuh. Contoh yang khas adalah virus herpes, yang cenderung bersembunyi di saraf dan menjadi aktif kembali dalam keadaan tertentu. Infeksi persisten menyebabkan jutaan kematian secara global setiap tahun. [26] Infeksi kronis oleh parasit merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang tinggi di banyak negara terbelakang.

Penularan [ sunting - sunting sumber ] Nyamuk Culex quinquefasciatus adalah vektor yang mentransmisikan patogen yang menyebabkan demam Nil Barat dan malaria burung. Agar agen penginfeksi dapat bertahan dan mengulangi siklus infeksi pada inang lain, mereka (atau keturunannya) harus meninggalkan inang atau reservoir yang ditempatinya dan menyebabkan infeksi di tempat lain.

Penularan infeksi dapat terjadi melalui banyak rute: • Kontak tetesan atau percikan, yang juga dikenal sebagai rute pernapasan, dan infeksi yang diakibatkannya dapat disebut penyakit bawaan udara.

Jika orang yang terinfeksi batuk atau bersin dan partikelnya sampai ke orang lain, mikroorganisme, yang tersuspensi dalam tetesan yang hangat dan lembab, dapat masuk ke dalam tubuh melalui permukaan hidung, mulut atau mata.

• Penularan fekal–oral, yaitu ketika bahan makanan atau air menjadi terkontaminasi partikel feses (oleh orang-orang yang tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan atau limbah yang tidak diolah dilepaskan ke dalam air minum) sehingga orang-orang yang makan dan minum menjadi terinfeksi. Patogen yang ditularkan melalui metode ini di antaranya Vibrio cholerae, spesies Giardia, Rotavirus, Entamoeba histolytica, Escherichia coli, dan cacing pita.

[27] Sebagian besar patogen ini menyebabkan gastroenteritis. • Penularan seksual, dengan penyakit yang dihasilkan disebut penyakit menular seksual. • Penularan melalui mulut. Penyakit yang ditularkan terutama melalui kontak oral langsung seperti ciuman, atau melalui kontak tidak langsung seperti dengan berbagi gelas minum atau rokok.

• Penularan melalui kontak langsung, Beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui kontak atau sentuhan langsung termasuk tinea pedis, impetigo, dan kutil. • Penyebab penyakit meningitis melalui benda mati, misalnya makanan, air, dan tanah yang terkontaminasi.

[28] • Penularan vertikal, yaitu penularan langsung dari ibu ke embrio, janin, atau bayi selama kehamilan atau persalinan. Hal ini bisa terjadi ketika ibu mendapat infeksi sebagai penyakit penyerta dalam kehamilan.

• Penularan iatrogenik, karena prosedur medis seperti injeksi atau transplantasi bahan yang terinfeksi. • Penularan melalui vektor, yaitu organisme yang tidak menderita penyakit tetapi ikut menularkan infeksi dengan membawa patogen dari satu inang ke inang lainnya.

[29] Hubungan antara virulensi dan penularan sangat kompleks; jika suatu penyakit bersifat fatal, inang dapat mati sebelum patogen dapat ditularkan ke inang lain. Diagnosis [ sunting - sunting sumber ] Diagnosis penyakit infeksi terkadang melibatkan identifikasi agen infeksi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam praktiknya, sebagian besar penyakit infeksi minor seperti kutil, abses kulit, infeksi sistem pernapasan, dan diare didiagnosis berdasarkan manifestasi klinisnya dan diobati tanpa mengetahui agen penyebabnya secara spesifik.

penyebab penyakit meningitis

Kesimpulan tentang penyebab penyakit ini didasarkan pada kemungkinan penderitanya melakukan kontak dengan agen tertentu, keberadaan mikroorganisme dalam suatu komunitas, dan pertimbangan epidemiologis lainnya. Dengan upaya yang memadai, semua agen infeksi dapat diidentifikasi secara spesifik. Namun, manfaat identifikasi sering kali lebih kecil dibandingkan biaya yang perlu dikeluarkan untuk identifikasi, karena sering kali tidak ada perawatan khusus untuk penyakit tersebut, penyebabnya jelas, atau hasil infeksinya tidak berbahaya.

Diagnosis penyakit infeksi hampir selalu dimulai oleh riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Teknik identifikasi yang lebih terperinci melibatkan kultur agen infeksi yang diisolasi dari penderitanya. Kultur memungkinkan identifikasi organisme penginfeksi dengan memeriksa karakteristik mikroskopis mereka, dengan mendeteksi keberadaan zat yang dihasilkan oleh patogen, dan dengan secara langsung mengidentifikasi organisme dengan genotipnya.

Teknik lain (seperti sinar-X, pemindaian tomografi terkomputasi (CT), pemindaian PET atau MRI) digunakan untuk menghasilkan gambar kelainan internal yang dihasilkan dari pertumbuhan agen infeksi. Gambar tersebut berguna dalam mendeteksi, misalnya, abses tulang atau ensefalopati spongiformis yang ditimbulkan oleh prion. Diagnosis simtomatik [ sunting - sunting sumber ] Diagnosis dibantu oleh gejala yang muncul pada setiap individu yang menderita penyakit infeksi, tetapi metode ini biasanya membutuhkan teknik diagnostik tambahan untuk mengonfirmasi kecurigaan tersebut.

Beberapa tanda klinis tertentu, yang disebut tanda patognomonik, merupakan karakteristik khusus yang menjadi indikasi suatu penyakit; tetapi hal ini jarang terjadi. Tidak semua infeksi bersifat simtomatik. [30] Pada anak-anak, adanya sianosis, pernapasan cepat, perfusi perifer yang buruk, atau ruam petekie meningkatkan risiko infeksi serius hingga penyebab penyakit meningitis dari 5 kali lipat. [31] Kultur mikrob [ sunting - sunting sumber ] Empat plat agar nutrien yang menumbuhkan koloni bakteri Gram negatif secara umum.

Kultur mikrobiologi adalah metode utama yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit infeksi. Dalam kultur mikrob, media pertumbuhan digunakan untuk memfasilitasi pertumbuhan agen tertentu. Spesimen dari jaringan atau cairan yang diduga berpenyakit diambil untuk kemudian dikultur untuk mendeteksi keberadaan agen infeksi. Kebanyakan bakteri patogenik mudah tumbuh pada agar nutrien, suatu media padat yang mengandung karbohidrat dan protein yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri.

Satu bakteri akan memperbanyak diri membentuk sebuah koloni berupa gundukan yang terlihat penyebab penyakit meningitis permukaan agar. Koloni ini dapat tumbuh terpisah dari koloni lain atau menyatu dengan koloni lain pada agar tersebut.

Variasi ukuran, warna, bentuk dan bentuk koloni merupakan hasil dari karakteristik spesies maupun galur bakteri, serta lingkungan yang mendukung pertumbuhannya. Bahan-bahan lain sering ditambahkan ke plat agar untuk membantu identifikasi. Zat tambahan tersebut memungkinkan pertumbuhan beberapa bakteri dan mencegah pertumbuhan bakteri lainnya, atau mengalami perubahan warna sebagai respons terhadap bakteri tertentu dan bukan bakteri yang lain.

Plat bakteriologis seperti ini biasanya digunakan dalam identifikasi klinis bakteri infeksius. Biakan mikrob juga dapat digunakan dalam identifikasi virus. Media yang digunakan untuk menumbuhkan virus adalah sel hidup yang dapat diinfeksi oleh virus yang dimaksud. Dalam proses identifikasi virus, akan tercipta suatu zona kematian sel, yang diakibatkan oleh pertumbuhan virus, yang disebut "plak". Parasit eukariotik juga dapat ditumbuhkan dalam kultur.

Apabila tidak ada teknik kultur plat yang sesuai, beberapa mikroorganisme membutuhkan hewan hidup sebagai media pertumbuhan.

Bakteri seperti Mycobacterium leprae dan Treponema pallidum dapat tumbuh pada hewan, meskipun teknik serologis dan mikroskopis membuat penggunaan hewan hidup tidak diperlukan lagi. Virus juga biasanya diidentifikasi menggunakan media lain selain hewan hidup. Beberapa virus dapat tumbuh dalam telur berembrio. Metode identifikasi lain yang bermanfaat adalah xenodiagnosis, atau penggunaan vektor untuk mendukung pertumbuhan agen infeksi. Penyakit Chagas tidak mudah didiagnosis karena sulit untuk menunjukkan keberadaan agen penyebab penyakit ini, yaitu Trypanosoma cruzi, pada penderitanya.

Oleh karena itu, diagnosis definitif sulit ditegakkan. Dalam kasus ini, xenodiagnosis melibatkan penggunaan vektor T. cruzi, yaitu Triatominae, serangga yang tidak terinfeksi, yang mengisap darah seseorang yang diduga terinfeksi.

Serangga tersebut kemudian diperiksa untuk mendeteksi keberadaan T. cruzi dalam ususnya. Mikroskopi [ sunting - sunting sumber ] Alat utama lain untuk mendiagnosis penyakit infeksi adalah mikroskop. Hampir semua teknik kultur yang dibahas di atas bergantung, pada titik tertentu, pada pemeriksaan mikroskopis untuk mengidentifikasi agen infeksi secara definitif. Pemeriksaan mikroskopis dapat dilakukan dengan instrumen sederhana, seperti mikroskop cahaya majemuk, atau dengan instrumen serumit mikroskop elektron.

Spesimen yang diperoleh dari penderita penyakit dapat dilihat langsung di bawah mikroskop cahaya, dan sering kali dapat membantu identifikasi dengan cepat. Mikroskop juga sering digunakan bersama dengan teknik pewarnaan biokimia, dan dapat bersifat sangat spesifik ketika dikombinasikan dengan teknik berbasis antibodi. Suatu antibodi dapat dilabel dengan teknik fluoresens sehingga dapat diarahkan penyebab penyakit meningitis mengikat dan mengidentifikasi antigen spesifik yang ada pada patogen.

Mikroskop fluoresens kemudian digunakan untuk mendeteksi antibodi tersebut, yang telah berikatan dengan penyebab penyakit meningitis di dalam sampel klinis atau sel yang dikultur. Teknik ini sangat berguna untuk mendiagnosis penyakit virus, yang tidak mampu diidentifikasi oleh mikroskop cahaya.

Prosedur mikroskopis lainnya juga dapat membantu mengidentifikasi agen infeksi. Hampir semua sel mudah diwarnai dengan sejumlah bahan pewarna dasar akibat tarikan elektrostatik antara molekul seluler bermuatan negatif dengan muatan positif pada pewarna. Pada mikroskop, sel biasanya terlihat transparan dan pemberian warna akan meningkatkan kontras antara sel dengan latar belakangnya.

Pewarnaan sel dengan zat warna seperti Giemsa atau kristal ungu memungkinkan seorang pengguna mikroskop untuk menggambarkan ukuran, bentuk, komponen internal dan eksternal sel, serta hubungannya dengan sel-sel lain.

Perbedaan respons bakteri terhadap pewarnaan dapat dimanfaatkan untuk mengelompokkan mikroorganisme. Dua metode pewarnaan, yaitu pewarnaan Gram dan pewarnaan tahan asam, merupakan pendekatan standar yang digunakan untuk mengklasifikasikan bakteri dan untuk mendiagnosis penyakit. Pewarnaan Gram dapat mengidentifikasi kelompok bakteri Firmicutes dan Actinobacteria, yang berisi banyak bakteri patogenik penting.

Sementara itu, prosedur pewarnaan asam-cepat dapat mengidentifikasi genus Mycobacterium dan Nocardia. Uji biokimia [ sunting - sunting sumber ] Identifikasi agen infeksi juga bisa menggunakan uji biokimia untuk mengetahui karakter produk metabolik atau enzimatik dari agen infeksi tertentu. Karena bakteri memfermentasi karbohidrat dengan pola tertentu sesuai dengan karakteristik genus dan spesiesnya, deteksi produk fermentasi biasanya untuk mengidentifikasi bakteri.

Asam, alkohol, dan gas juga biasanya dideteksi dalam uji ini ketika bakteri ditumbuhkan dalam media cair atau padat. Isolasi enzim dari jaringan yang terinfeksi juga membantu diagnosis penyakit infeksi.

Sebagai contoh, manusia tidak dapat membuat enzim replikase RNA atau transkriptase balik, dan keberadaan enzim-enzim ini merupakan tanda infeksi virus tertentu. Kemampuan protein hemaglutinin yang dimiliki virus untuk mengikat sel- sel darah merah hingga dapat dideteksi juga merupakan uji biokimia untuk mengetahui infeksi virus, walaupun hemaglutinin bukanlah suatu enzim dan tidak memiliki fungsi metabolik.

Uji serologis merupakan metode pengujian yang sangat sensitif, spesifik, dan sering kali sangat cepat untuk mengidentifikasi mikroorganisme tertentu. Pengujian ini didasarkan pada kemampuan suatu antibodi untuk berikatan secara khusus pada suatu antigen.

Antigen ini biasanya berupa protein atau karbohidrat yang dihasilkan atau dimiliki oleh agen infeksi. Ikatan ini kemudian memicu serangkaian peristiwa yang dapat diamati dengan jelas dalam berbagai cara, tergantung pada jenis pengujiannya. Misalnya, " sakit tenggorokan" biasanya didiagnosis dalam beberapa menit, dengan mendeteksi antigen yang dibuat oleh penyebab penyakit meningitis penyebabnya, Streptococcus pyogenes, yang diambil dari tenggorokan pasien dengan kapas.

Uji serologis, jika tersedia, biasanya merupakan rute identifikasi yang disukai. Meskipun demikian, uji serologis butuh biaya pengembangan yang mahal dan reagen yang digunakan dalam tes sering kali harus disimpan dalam kondisi dingin. Beberapa uji serologis bisa berbiaya sangat mahal, meskipun ketika digunakan secara luas, misalnya dengan " uji cepat", metode ini bisa menjadi murah.

[16] Teknik serologis telah dikembangkan secara kompleks menjadi imunoasai. Imunoasai dapat menggunakan ikatan antibodi–antigen sebagai dasar untuk menghasilkan sinyal radiasi partikel atau elektromagnetik, yang dapat dideteksi oleh beberapa instrumen. Sinyal yang sebelumnya tidak diketahui dapat dibandingkan dengan standar yang memungkinkan penghitungan jumlah antigen target. Imunoasai dapat mendeteksi atau mengukur antigen milik agen infeksi atau protein yang dihasilkan oleh inang terinfeksi sebagai respons terhadap agen asing.

Sebagai contoh, imunoasai A dapat mendeteksi keberadaan protein permukaan dari partikel virus, sedangkan imunoasai B dapat mendeteksi atau mengukur antibodi yang dihasilkan oleh sistem imun organisme yang dibuat untuk menetralisir dan menghancurkan virus. Suatu instrumen dapat digunakan untuk membaca sinyal yang sangat kecil yang dihasilkan oleh reaksi sekunder dari ikatan antigen–antibodi.

Instrumen tersebut dapat mengontrol pengambilan sampel, penggunaan reagen, waktu reaksi, deteksi sinyal, penghitungan hasil, dan manajemen data untuk menghasilkan proses otomatis yang hemat biaya untuk mendiagnosis penyakit infeksi.

Diagnosis berbasis PCR [ sunting - sunting sumber ] Reaksi berantai polimerase (PCR) merupakan metote yang mendeteksi keberadaan segmen asam nukleat dalam spesimen yang diuji.

Teknologi yang didasarkan pada metode ini akan menjadi standar emas untuk berbagai diagnosis penyakit karena beberapa alasan. Pertama, pendataan agen infeksi telah berkembang sehingga hampir semua agen infeksi penting telah diidentifikasi. Kedua, agen infeksi harus memperbanyak diri (melipatgandakan asam nukleatnya) di dalam tubuh manusia untuk menimbulkan penyakit. Amplifikasi asam nukleat dalam jaringan yang terinfeksi ini memungkinkan deteksi agen infeksi dengan menggunakan PCR.

Ketiga, unsur penting untuk melakukan PCR, yaitu primer, berasal dari genom agen infeksi, dan seiring waktu genom tersebut akan diketahui. Dengan demikian, teknologi saat ini telah mampu mendeteksi agen infeksi dengan cepat dan spesifik. Satu-satunya kesulitan untuk menjadikan PCR sebagai alat diagnosis standar adalah biaya yang cukup tinggi dan penerapannya yang tidak mudah.

Beberapa penyakit juga tidak cocok didiagnosis dengan PCR, contohnya adalah penyakit klostridial ( tetanus dan botulisme). Penyakit-penyakit ini pada dasarnya adalah keracunan biologis oleh sejumlah kecil bakteri infeksius yang menghasilkan neurotoksin yang sangat kuat.

Tidak terjadi perbanyakan agen infeksi yang signifikan, yang akan membatasi kemampuan PCR untuk mendeteksi keberadaan bakteri-bakteri tersebut. Pengurutan metagenomika [ sunting - sunting sumber ] Mengingat banyaknya bakteri, virus, dan patogen lain yang menyebabkan penyakit ganas dan mengancam jiwa, kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab infeksi dengan cepat merupakan hal penting meskipun sering kali dijumpai tantangan.

Sebagai contoh, lebih dari setengah kasus ensefalitis, penyakit berat yang memengaruhi otak, tidak terdiagnosis, meskipun telah dilakukan pengujian ekstensif menggunakan metode laboratorium klinis yang canggih. Metagenomika pun dikembangkan untuk penggunaan klinis untuk mendiagnosis infeksi dengan sensitif dan cepat menggunakan pengujian tunggal.

Pengujian ini mirip dengan PCR; namun, amplifikasi materi genetik dilakukan dengan tidak bias dan tidak menggunakan primer untuk agen infeksi tertentu. Langkah amplifikasi ini diikuti oleh pengurutan dan penjajaran menggunakan basis data besar dari ribuan genom organisme dan virus. Pengurutan metagenomika terbukti sangat berguna untuk mendiagnosis penderita yang mengalami imunodefisiensi. Lebih banyak lagi agen infeksi yang dapat mengakibatkan penyakit serius pada individu dengan imunosupresi, sehingga penapisan klinis harus dilakukan lebih luas.

Selain itu, ekspresi gejala sering kali tidak khas sehingga diagnosis klinis yang didasarkan pada manifestasi klinis menjadi lebih sulit. Ditambah lagi, metode diagnostik yang mengandalkan deteksi antibodi cenderung tidak dapat diandalkan.

Pengujian yang luas dan sensitif untuk mendeteksi keberadaan materi infeksius lebih diinginkan dibandingkan deteksi antibodi. Indikasi pengujian [ sunting - sunting sumber ] Identifikasi agen infeksi spesifik biasanya dilakukan ketika ia bisa membantu pengobatan atau pencegahan penyakit, atau untuk menambah pengetahuan tentang proses penyakit sebelum langkah-langkah terapi atau pencegahan yang efektif dikembangkan. Sebagai contoh, pada awal 1980-an, sebelum kemunculan zidovudin untuk pengobatan AIDS, perkembangan penyakit ini diikuti dengan memantau komposisi sampel darah penderitanya, walaupun hasilnya tidak menawarkan pilihan pengobatan lebih lanjut.

Beberapa studi tentang kemunculan HIV di komunitas-komunitas tertentu memungkinkan pengembangan hipotesis mengenai jalur penularan virus. Dengan memahami bagaimana penyakit ini ditularkan, sumber daya dapat ditargetkan ke masyarakat dengan risiko terbesar untuk mengurangi jumlah infeksi baru. Identifikasi serologis, dan kemudian identifikasi genotipik atau molekuler, dari HIV juga memungkinkan pengembangan hipotesis mengenai asal-usul waktu dan lokasi virus, serta segudang hipotesis lainnya.

[17] Perkembangan alat diagnostik molekuler telah memungkinkan dokter dan peneliti untuk memantau kemanjuran pengobatan dengan obat antiretrovirus. Diagnosis molekuler sekarang telah banyak digunakan untuk mengidentifikasi HIV pada orang sehat, jauh sebelum timbulnya penyakit, dan telah digunakan untuk menunjukkan adanya orang yang secara genetik kebal terhadap infeksi HIV.

Meskipun penyebab penyakit meningitis sementara masih belum ada obat untuk menyembuhkan AIDS, ada manfaat terapeutik dan prediktif yang besar untuk mengidentifikasi HIV dan memantau tingkat virus dalam darah orang yang terinfeksi, baik untuk penderita maupun masyarakat luas. Pencegahan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: kesehatan masyarakat dan pencegahan dan pengendalian infeksi Beberapa metode seperti mencuci tangan dan mengenakan alat pelindung diri seperti masker dapat membantu mencegah infeksi dari satu orang ke orang lain.

Teknik aseptik diperkenalkan dalam kedokteran pada akhir abad ke-19 dan sangat mengurangi insiden infeksi yang disebabkan oleh pembedahan. Sering mencuci tangan tetap menjadi cara paling penting untuk mencegah penyebaran organisme yang tidak diinginkan. [33] Beberapa bentuk pencegahan lain seperti menerapkan pola hidup higienis, menjaga sanitasi, berolahraga dengan teratur, mengonsumsi diet seimbang, dan serta memasak makanan dengan baik juga penting untuk mencegah infeksi.

Zat antimikrob yang digunakan untuk mencegah penularan infeksi meliputi: • antiseptik, yang diaplikasikan pada jaringan hidup, misalnya kulit. • disinfektan, yang menghancurkan mikroorganisme pada benda mati. • antibiotik, dalam konteks profilaksis bila diberikan sebagai pencegahan dan bukan sebagai pengobatan infeksi.

Namun, penggunaan antibiotik jangka panjang mengakibatkan resistansi. Pemakaian antibiotik lebih banyak dari yang diperlukan, memungkinkan bakteri bermutasi sehingga menjadi kebal. Salah satu cara untuk mencegah atau memperlambat penularan penyakit infeksi adalah mengenali perbedaan sifat berbagai penyakit. [34] Beberapa karakteristik penting yang harus diperhatikan di antaranya virulensi patogen, jarak yang ditempuh oleh penderitanya, dan tingkat penularan.

Galur virus Ebola pada manusia, misalnya, membunuh penderitanya dengan cepat. Akibatnya, para penderita penyakit ini tidak punya kesempatan untuk bepergian jauh dari zona infeksi awal. [35] Selain itu, virus ini harus menyebar melalui lesi kulit atau membran permeabel seperti mata. Dengan penyebab penyakit meningitis, tahap awal penyakit Ebola tidak terlalu menular karena korbannya hanya mengalami pendarahan internal.

Sebagai hasil dari karakteristik di atas, penyebaran penyakit Ebola sangat penyebab penyakit meningitis dan biasanya tetap dalam area geografis yang relatif terbatas. Sebaliknya, HIV membunuh korbannya dengan sangat lambat dengan menyerang sistem kekebalan tubuh mereka. [16] Akibatnya, banyak dari korbannya menularkan virus ke orang lain bahkan sebelum menyadari bahwa mereka membawa penyakit penyebab penyakit meningitis. Selain itu, virulensi yang relatif rendah memungkinkan para penderitanya untuk melakukan perjalanan jarak jauh, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya epidemi.

Metode umum untuk mencegah penularan patogen yang ditularkan melalui vektor adalah pengendalian vektor tersebut. Pemutusan siklus hidup vektor akan memutus penyebaran agen infeksi yang dibawanya. Jika infeksi hanya dicurigai dan belum dapat dipastikan, seorang individu dapat di karantina sampai masa inkubasi selesai untuk menunggu manifestasi penyakit muncul atau memastikan orang yang dikarantina tetap sehat. Selain terhadap individu, karantina juga dapat diterapkan terhadap kelompok atau populasi.

Dalam suatu komunitas, cordon sanitaire dapat dikenakan untuk mencegah infeksi menyebar di luar komunitas tersebut, atau sekuestrasi protektif untuk mencegah infeksi masuk ke dalam komunitas. Otoritas kesehatan masyarakat dapat menerapkan bentuk-bentuk pencegahan lain seperti pembatasan sosial dalam bentuk penutupan sekolah, untuk mengendalikan epidemi.

Imunitas [ sunting - sunting sumber ] Sebagian besar patogen yang menginfeksi tidak mengakibatkan kematian inang dan patogen tersebut pada akhirnya akan hilang penyebab penyakit meningitis gejala penyakit berkurang. [15] Proses ini membutuhkan sistem imun untuk membunuh atau menonaktifkan patogen. Kekebalan spesifik yang didapat dari penyakit infeksi dapat dimediasi oleh antibodi dan/atau limfosit T. Kekebalan yang dimediasi oleh dua faktor ini dapat dimanifestasikan oleh: • efek langsung pada patogen, seperti bakteriolisis yang bergantung pada komplemen yang diprakarsai oleh antibodi, opsonisasi, fagositosis, dan pembunuhan, yang terjadi pada beberapa bakteri, • netralisasi virus sehingga mereka ini tidak bisa memasuki sel, atau • kinerja limfosit T, yang akan membunuh sel yang dimasuki oleh mikroorganisme.

Respons sistem imun terhadap mikroorganisme sering kali menyebabkan gejala seperti demam tinggi penyebab penyakit meningitis peradangan. Efek ini berpotensi lebih merusak dibandingkan kerusakan langsung yang disebabkan oleh mikrob. [16] Seseorang dapat menjadi resistan atau kebal terhadap suatu penyakit dengan membawa patogen secara asimtomatik, membawa organisme yang strukturnya serupa (reaksi silang), atau melalui vaksinasi.

Patogen primer memberi pengetahuan tentang antigen pelindung dan kekebalan adaptif yang lebih lengkap dibandingkan patogen oportunistik. Fenomena kekebalan kelompok juga bisa tercipta untuk melindungi mereka yang rentan ketika sebagian besar populasi telah kebal dari infeksi tertentu. Sistem imun mampu melawan patogen apabila jumlah antibodi yang spesifik terhadap antigen dan/atau sel T mencapai tingkat tertentu. Sejumlah individu mengembangkan antibodi alami dalam serumnya penyebab penyakit meningitis mereka hanya sedikit terpapar atau bahkan sama sekali tidak terpapar antigen.

Antibodi alami ini memberikan perlindungan khusus kepada individu dewasa dan secara pasif diturunkan ke bayinya yang baru lahir. Faktor genetik inang [ sunting - sunting sumber ] Organisme yang menjadi target infeksi disebut inang. Dalam parasitologi, mereka yang membawa patogen (khususnya parasit) dalam fase dewasa dan bereproduksi secara seksual disebut inang definitif. Sementara itu, inang perantara merupakan sebutan bagi inang yang menjadi tempat parasit hidup dalam fase larva atau bereproduksi secara aseksual.

[36] Pembersihan patogen, baik akibat pengobatan atau terjadi secara spontan, dapat dipengaruhi oleh variasi genetik inang secara individual.

Misalnya, infeksi virus hepatitis C genotipe 1 yang diobati dengan peginterferon alfa-2a atau peginterferon alfa-2b yang dikombinasikan dengan ribavirin menunjukkan bahwa polimorfisme genetik di dekat gen IL28B manusia, yang mengode interferon lambda 3, dikaitkan dengan perbedaan yang signifikan dalam pembersihan virus oleh pengobatan.

Temuan ini, awalnya menunjukkan bahwa penyebab penyakit meningitis hepatitis C genotipe 1 yang membawa alel varian genetik tertentu di dekat gen IL28B cenderung lebih merespons pengobatan virus dibandingkan orang lain. [37] Laporan berikutnya menunjukkan bahwa varian genetik yang sama juga dikaitkan dengan pembersihan alami untuk virus hepatitis C genotipe 1. [38] Pengobatan [ sunting - sunting sumber ] Obat antiinfeksi dapat menekan infeksi yang menyerang tubuh.

Ada beberapa jenis obat antiinfeksi yang luas, tergantung pada jenis organisme yang ditargetkan; obat-obat ini meliputi antibakteri ( antibiotik), antivirus, antijamur, dan antiparasitik (termasuk antiprotozoal dan antelmintik). Antibiotik dapat diberikan melalui mulut, injeksi, atau dioleskan, tergantung pada tingkat keparahan dan jenis infeksi. Infeksi berat pada otak biasanya diobati dengan antibiotik intravena. Kadang-kadang, sejumlah antibiotik digunakan bersamaan jika ada resistansi terhadap satu antibiotik.

Antibiotik hanya bekerja melawan bakteri dan tidak berefek pada virus. Cara kerja antibiotik yaitu memperlambat multiplikasi bakteri atau membunuh bakteri. Tidak semua infeksi memerlukan pengobatan. Untuk infeksi yang sembuh sendiri, pengobatan dapat menimbulkan lebih banyak efek samping dibandingkan manfaatnya. Penatalayanan antimikrob merupakan konsep bahwa penyedia layanan kesehatan harus mengobati infeksi dengan antimikrob yang bekerja dengan baik untuk patogen spesifik dalam waktu sesingkat mungkin dan hanya akan mengobati ketika patogen diketahui atau kemungkinan besar terpengaruh oleh pengobatan tersebut.

[39] Epidemiologi [ sunting - sunting sumber ] ≥50,000 Pada 2010, sekitar 10 juta orang penyebab penyakit meningitis karena penyakit menular. [41] Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumpulkan informasi kematian global berdasarkan kategori kode ICD.

Tabel berikut mencantumkan penyakit infeksi teratas berdasarkan jumlah kematian pada tahun 2002. Data tahun 1993 juga ditampilkan sebagai perbandingan. Kematian di seluruh dunia akibat penyakit infeksi [42] [43] Urutan Penyebab kematian Kematian pada 2002 (dalam juta) Persentase dari seluruh kematian Kematian pada 1993 (dalam juta) Urutan pada 1993 N/A Semua penyakit infeksi 14.7 25.9% 16.4 32.2% 1 Infeksi saluran pernapasan bawah [44] 3,9 6,9% 4,1 1 2 HIV/ AIDS 2,8 4,9% 0,7 7 3 Gastroenteritis [45] 1.8 3.2% 3.0 2 4 Tuberkulosis (TB) 1,6 2,7% 2,7 3 5 Malaria 1,3 2,2% 2,0 4 6 Campak 0,6 1,1% 1,1 5 7 Batuk rejan 0,29 0,5% 0,36 7 8 Tetanus 0,21 0,4% 0,15 12 9 Meningitis 0,17 0,3% 0,25 8 10 Sifilis 0,16 0,3% 0,19 11 11 Hepatitis B 0.10 0,2% 0,93 6 12-17 Penyakit tropis (6) [46] 0.13 0.2% 0.53 9, 10, 16–18 Catatan: Penyebab kematian lainnya termasuk kondisi ibu dan perinatal (5,2%), kekurangan nutrisi (0,9%), kondisi tidak menular (58,8%), dan cedera (9,1%).

Tiga pembunuh teratas adalah HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Meskipun jumlah kematian akibat hampir semua penyakit lain menurun, kematian karena HIV/AIDS telah meningkat empat kali lipat. Penyakit anak-anak termasuk batuk rejan, poliomielitis, difteri, campak, dan tetanus.

Anak-anak juga menjadi bagian besar dari kematian saluran pernapasan bawah dan diare. Pada tahun 2012, sekitar 3,1 juta orang telah meninggal karena infeksi saluran pernapasan bawah, menjadikannya penyebab kematian nomor 4 di dunia.

[47] Riwayat pandemi [ sunting - sunting sumber ] Pandemi (atau epidemi global) adalah penyakit yang menyerang orang di wilayah geografis yang luas. Beberapa pandemi penting sepanjang sejarah di antaranya: • Wabah Yustinianus, dari tahun 541 hingga 542, yang menewaskan antara 50–60% populasi Eropa.

[48] • Maut hitam, antara tahun 1347 hingga 1352 yang menewaskan 25 juta penduduk di Eropa selama 5 tahun. Pandemi ini mengurangi populasi dunia lama dari sekitar 450 juta menjadi antara 350–375 juta pada abad ke-14. • Masuknya variola (cacar), campak, dan tifus ke wilayah Amerika Tengah dan Selatan yang dibawa oleh para penjelajah Eropa sepanjang abad ke-15 dan penyebab penyakit meningitis yang membunuh penduduk asli.

Antara tahun 1518 hingga 1568, pandemi ini menyebabkan populasi Meksiko turun dari 20 juta menjadi 3 juta. [49] • Epidemi influenza Eropa pertama yang terjadi antara 1556 hingga 1560, dengan perkiraan tingkat kematian 20%.

[49] • Variola menewaskan sekitar 60 juta penduduk Eropa selama abad ke-18 [50] (sekitar 400.000 per tahun). [51] Hingga 30% orang yang terinfeksi (80% di antaranya anak-anak berusia di bawah 5 tahun) akan meninggal karena penyakit ini, dan sepertiga dari yang selamat menjadi buta. [52] • Pada abad ke-19, tuberkulosis menewaskan sekitar seperempat dari populasi orang dewasa di Eropa; [53] pada tahun 1918, satu dari enam kematian di Prancis masih disebabkan oleh tuberkulosis.

• Pandemi influenza 1918 (flu Spanyol) yang menewaskan 25-50 juta orang (sekitar 2% dari populasi dunia 1,7 miliar). [54] Saat ini, influenza masih membunuh sekitar 250.000 hingga 500.000 di seluruh dunia setiap tahun.

• Pandemi koronavirus 2019–2020 yang masih berlangsung di seluruh dunia. Penyakit infeksi baru [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Penyakit infeksi baru Pada kebanyakan kasus, mikroorganisme hidup dalam harmoni bersama inangnya dengan hubungan timbal balik atau komensal. Penyakit dapat muncul ketika entitas biologi yang telah lama ada berubah menjadi patogenik atau ketika agen patogenik baru memasuki inang baru.

Hal ini diakibatkan oleh dua hal: (1) koevolusi antara parasit dan inang sehingga inang menjadi resistan terhadap parasit atau parasit mengalami peningkatan virulensi yang mengarah ke penyakit imunopatologis, atau (2) pengaruh aktivitas manusia yang memicu perubahan lingkungan dan memunculkan penyakit infeksi baru sehingga patogen menempati relung yang baru.

Ketika ini terjadi, jangkauan distribusi patogen yang sebelumnya terbatas akan menjadi semakin luas dan mungkin dapat menginfeksi penyebab penyakit meningitis inang yang baru. [55] Patogen yang berpindah dari hewan vertebrata ke manusia menimbulkan zoonosis. Sejumlah kegiatan manusia memungkinkan menyebarnya penyakit penyebab penyakit meningitis dan penyakit yang ditularkan melalui vektor. [55] Kegiatan tersebut meliputi: • Perambahan di habitat satwa liar.

Pembangunan desa-desa baru dan perumahan di daerah pedesaan memaksa hewan untuk hidup dalam populasi yang padat, dan menciptakan peluang bagi mikrob untuk bermutasi dan muncul di tengah populasi manusia.

[56] • Perubahan dalam pertanian. Pemasukan tumbuhan baru ke suatu wilayah akan menarik hama penyakit baru dan mikrob yang mereka bawa ke komunitas pertanian membuat orang terkena penyakit asing. • Perusakan hutan hujan. Ketika suatu negara memanfaatkan hutan hujannya dengan penyebab penyakit meningitis jalan melintasi hutan dan membuka lahan untuk permukiman atau usaha komersial, orang-orang bertemu dengan serangga dan hewan lain yang membaawa mikroorganisme yang sebelumnya tidak dikenal.

• Urbanisasi yang tidak terkendali. Pesatnya pertumbuhan kota di banyak negara berkembang cenderung memusatkan sejumlah besar orang ke daerah padat dengan sanitasi yang buruk. Kondisi ini mendorong penularan penyakit infeksi. • Transportasi modern. Kapal pemumpang dan kapal pengangkut barang sering kali membawa patogen yang tidak diinginkan, yang dapat menyebarkan penyakit ke lokasi yang jauh.

Sementara itu, pesawat jet internasional dapat mengantarkan orang yang terinfeksi penyakit ke tempat yang jauh, atau pulang kembali ke rumah mereka, sebelum munculnya gejala penyakit untuk pertama kali.

Teori kuman penyakit [ sunting - penyebab penyakit meningitis sumber ] Artikel utama: Teori kuman penyakit Pada Zaman Klasik, sejarawan Yunani Thukidides (c. 460 - c. 400 SM) adalah orang pertama yang menulis tentang wabah Athena, bahwa penyakit dapat menyebar dari orang yang terinfeksi ke orang lain. [57] [58] Dalam bukunya On the Different Types of Fever (c.

175 M), tabib Yunani-Romawi Galen berspekulasi bahwa wabah disebarkan oleh "benih wabah tertentu", yang ada di udara.

[59] Dalam teks Sushruta Samhita, dokter Penyebab penyakit meningitis kuno Sushruta berteori: "Kusta, demam, konsumsi, penyakit mata, dan penyakit menular lainnya menyebar dari satu orang ke orang lain melalui penyatuan seksual, kontak fisik, makan bersama, tidur bersama, duduk bersama, dan menggunakan pakaian, karangan bunga, dan pasta yang sama." [60] [61] Buku ini ditulis pada sekitar abad keenam SM.

[62] Teori dasar penularan penyakit diajukan oleh dokter Persia Ibnu Sina (dikenal sebagai Avicenna di Eropa) dalam Qanun Kedokteran (1025), yang kemudian menjadi buku teks penyebab penyakit meningitis paling otoritatif di Eropa hingga abad penyebab penyakit meningitis. Dalam Buku IV Penyebab penyakit meningitis tersebut, Ibnu Sina membahas epidemi, menguraikan teori miasma klasik dan berusaha mencampurnya dengan teori penularan awal miliknya sendiri.

Ia menyebutkan bahwa seseorang dapat menularkan penyakit kepada orang lain melalui napas, setelah mencatat penularan tuberkulosis, dan menjelaskan metode penularan penyakit melalui air dan debu. [63] Konsep penularan tak kasatmata kemudian dibahas oleh beberapa cendekiawan Islam pada Dinasti Ayyubiyah yang menyebutnya sebagai najis ("zat tidak murni"). Sarjana fikih Ibnu al-Haj al-Abdari (c. 1250–1336), saat membahas makanan dan kebersihan Islam, memberi peringatan tentang bagaimana penyakit dapat mencemari air, makanan, dan pakaian, dan dapat menyebar melalui pasokan air, dan menyiratkan bahwa mungkin penularan diakibatkan oleh partikel yang tak terlihat.

[64] Ketika Maut Hitam mencapai Al-Andalus pada abad ke-14, tabib Arab Ibnu Khatima (c. 1369) dan Ibnu al-Khatib (1313–1374) berhipotesis bahwa penyakit menular disebabkan oleh "tubuh kecil" dan menjelaskan bagaimana mereka dapat ditularkan melalui pakaian, bejana, dan anting-anting. [65] Gagasan penularan menjadi lebih populer di Eropa selama Renaisans, terutama melalui tulisan dokter Italia Girolamo Fracastoro.

[66] Antony van Leeuwenhoek (1632–1723) memajukan ilmu mikroskop dengan menjadi orang pertama yang mengamati mikroorganisme dan memungkinkan visualisasi bakteri dengan mudah. Pada pertengahan abad ke-19, John Snow dan William Budd melakukan pekerjaan penting, yaitu menunjukkan penularan tipus dan kolera melalui air yang terkontaminasi. Keduanya mendapat nama seiring dengan menurunnya epidemi kolera di kota-kota mereka setelah menerapkan langkah-langkah pencegahan kontaminasi air.

[67] Louis Pasteur membuktikan tanpa keraguan bahwa penyakit tertentu disebabkan oleh agen infeksi, dan mengembangkan vaksin untuk rabies. Robert Koch menyajikan studi ilmiah tentang penyakit menular dengan dasar ilmiah yang dikenal sebagai postulat Koch. Edward Jenner, Jonas Salk, dan Albert Sabin mengembangkan vaksin yang efektif untuk cacar dan polio.

Alexander Fleming menemukan antibiotik pertama di dunia, penisilin, yang kemudian dikembangkan oleh Florey dan Chain. Gerhard Domagk mengembangkan sulfonamida, obat antibakteri sintetis berspektrum luas yang pertama. Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Definition of "infection" from several medical dictionaries – Retrieved on 2012-04-03 • ^ Alberto Signore (2013).

"About inflammation and infection" (PDF). EJNMMI Research. 8 (3). • ^ GBD 2013 Mortality and Causes of Death, Collaborators (17 December 2014). "Global, regional, and national age-sex specific all-cause and cause-specific mortality for 240 causes of death, 1990-2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013". Lancet. 385 (9963): 117–71. doi: 10.1016/S0140-6736(14)61682-2.

PMC 4340604. PMID 25530442. • ^ "Infectious Disease, Internal Medicine". Association of American Medical Colleges. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-06. Diakses tanggal 2015-08-20. Infectious disease is the subspecialty of internal medicine dealing with the diagnosis and treatment of communicable diseases of all types, in all organs, and in all ages of patients.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Kotra, Lakshmi P. (2007). "Infectious Diseases". xPharm: The Comprehensive Pharmacology Reference (dalam bahasa Inggris). Elsevier. hlm.

1–2. doi: 10.1016/b978-008055232-3.60849-9. ISBN 978-0-08-055232-3. Penyebab penyakit meningitis 7152327. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Format PMC ( link) • ^ Bush, Larry M. (Februari 2019). "Overview of Infectious Disease". Merck Manuals Consumer Version. Diakses tanggal 23 April 2020. • ^ Pearson, Richard D. (Mei 2019). "Overview of Parasitic Infections". Merck Manuals Consumer Version. Diakses tanggal 23 April 2020. • ^ da Silva, Luiz Jacintho (Desember 1997).

"The Etymology of Infection and Infestation". The Pediatric Infectious Disease Journal. 16 (12): 1188. ISSN 0891-3668. • ^ Kayser, Fritz H; Kurt A Bienz; Johannes Eckert; Rolf M Zinkernagel (2005). Medical microbiology. Stuttgart: Georg Thieme Verlag. hlm. 398. ISBN 978-3-13-131991-3. • ^ Grinde, Bjørn (2013-10-25). "Herpesviruses: latency and reactivation – viral strategies and host response".

Journal of Oral Microbiology. 5: 22766. doi: 10.3402/jom.v5i0.22766. ISSN 0901-8328. PMC 3809354. PMID 24167660. • ^ Elsevier, Dorland's Illustrated Medical Dictionary, Elsevier. • ^ "Acute infections (MPKB)". mpkb.org. Diakses tanggal 2019-12-09. • penyebab penyakit meningitis Boldogh, Istvan; Albrecht, Thomas; Porter, David D. (1996), Baron, Samuel, ed., "Persistent Viral Infections", Medical Microbiology (edisi ke-4th), University of Texas Medical Branch at Galveston, ISBN 978-0-9631172-1-2, PMID 21413348diakses tanggal 2020-01-23 • ^ a b Foster, John (2018).

Microbiology. New York: Norton. hlm. 39. ISBN 978-0-393-60257-9. • ^ a b This section incorporates public domain materials included in the text: Medical Microbiology Fourth Edition: Chapter 8 (1996).

Baron, Samuel MD. The University of Texas Medical Branch at Galveston. Medical Penyebab penyakit meningitis. University of Texas Medical Branch at Galveston. 1996. ISBN 9780963117212. Diarsipkan dari versi asli tanggal June 29, 2009. Diakses tanggal 2013-11-27.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e Ryan KJ, Ray CG, ed. (2004). Sherris Medical Microbiology (edisi ke-4th). McGraw Hill. ISBN 978-0-8385-8529-0. • ^ (Higurea & Pietrangelo 2016) • ^ Infection Cycle – Retrieved on 2010-01-21 Diarsipkan May 17, 2014, di Wayback Machine. • ^ Understanding Infectious Diseases Diarsipkan 2009-09-24 di Wayback Machine. Science.Education.Nih.Gov article – Retrieved on 2010-01-21 • ^ Negut, Irina; Grumezescu, Valentina; Grumezescu, Alexandru Mihai (2018-09-18).

"Treatment Strategies for Infected Wounds". Molecules : A Journal of Synthetic Chemistry and Natural Product Chemistry. 23 (9): 2392.

doi: 10.3390/molecules23092392. ISSN 1420-3049. PMC 6225154. PMID 30231567. • ^ Duerkop, Breck A; Hooper, Lora V (2013-07-01). "Resident viruses and their interactions with the immune system".

Nature Immunology (dalam bahasa Inggris). 14 (7): 654–59. doi: 10.1038/ni.2614. PMC 3760236. PMID 23778792. • ^ "Bacterial Pathogenesis at Washington University". StudyBlue. St. Louis. Diakses tanggal 2016-12-02.

• ^ "Print Friendly". www.lifeextension.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-12-02. Diakses tanggal 2016-12-02. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Reddy M, Gill SS, Wu W, et al. (Feb 2012).

"Does this patient have an infection of a chronic wound?". JAMA. 307 (6): 605–11. doi: 10.1001/jama.2012.98. PMID 22318282. • ^ http://www.immunize.org/catg.d/p4215.pdf • ^ Chronic Infection Information Retrieved on 2010-01-14 Diarsipkan July 22, 2015, di Wayback Machine. • ^ Intestinal Parasites and Infection Diarsipkan 2010-10-28 di Wayback Machine.

fungusfocus.com – Retrieved on 2010-01-21 • ^ "Clinical Infectious Disease – Introduction". www.microbiologybook.org. Diakses tanggal 2017-04-19. • ^ Pathogens and vectors Diarsipkan 2017-10-05 di Wayback Machine. MetaPathogen.com.

• ^ Ljubin-Sternak, Suncanica; Mestrovic, Tomislav (2014). "Review: Clamydia trachonmatis and Genital Mycoplasmias: Pathogens with an Impact on Human Reproductive Health". Journal of Pathogens. 2014 (183167): 3.

doi: 10.1155/2014/183167. PMC 4295611. PMID 25614838. • ^ Van den Bruel A, Haj-Hassan T, Thompson M, Buntinx F, Mant D (March 2010).

"Diagnostic value of clinical features at presentation to identify serious infection in children in developed countries: a systematic review". Lancet. 375 (9717): 834–45. doi: 10.1016/S0140-6736(09)62000-6. PMID 20132979.

penyebab penyakit meningitis

• ^ Bloomfield SF, Aiello AE, Cookson B, O'Boyle C, Larson EL (2007). "The effectiveness of hand hygiene procedures including hand-washing and alcohol-based hand sanitizers in reducing the risks of infections in home and community settings".

American Journal of Infection Control. 35 (10): S27–S64. doi: 10.1016/j.ajic.2007.07.001. PMC 7115270. • ^ " "Generalized Infectious Cycle" Diagram Illustration". science.education.nih.gov. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-09-24. Diakses tanggal 2010-01-21. • ^ Watts, Duncan (2003). Six degrees: the science of a connected age. London: William Heinemann. ISBN 978-0-393-04142-2. • ^ Preston, Richard (1995). The hot zone. Garden City, N.Y.: Anchor Books.

ISBN 978-0-385-49522-6. • ^ Barreto Penyebab penyakit meningitis, Teixeira MG, Carmo EH (2006). "Infectious diseases epidemiology". Journal of Epidemiology and Community Health. 60 (3): 192–95. doi: 10.1136/jech.2003.011593. PMC 2465549. PMID 16476746. • ^ Ge D, Fellay J, Thompson AJ, Simon JS, Shianna KV, Urban TJ, Heinzen EL, Qiu P, Bertelsen AH, Muir AJ, Sulkowski M, McHutchison JG, Goldstein DB (2009).

"Genetic variation penyebab penyakit meningitis IL28B predicts hepatitis C treatment-induced viral clearance". Nature. 461 (7262): 399–401. Bibcode: 2009Natur.461.399G. doi: 10.1038/nature08309. PMID 19684573. • ^ Thomas DL, Thio CL, Martin MP, Qi Y, Ge D, O'Huigin C, Kidd J, Kidd K, Khakoo SI, Alexander G, Goedert JJ, Kirk GD, Donfield SM, Rosen HR, Tobler LH, Busch MP, McHutchison JG, Goldstein DB, Carrington M (2009).

"Genetic variation in IL28B and spontaneous clearance of hepatitis C virus". Nature. 461 (7265): 798–801. Bibcode: 2009Natur.461.798T.

doi: 10.1038/nature08463. PMC 3172006. PMID 19759533. • ^ O'Brien, Deirdre J.; Gould, Ian M. (August 2013). "Maximizing the impact of antimicrobial stewardship". Current Opinion in Infectious Diseases. 26 (4): 352–58. doi: 10.1097/QCO.0b013e3283631046. PMID 23806898. • ^ World Health Organization (February 2009).

"Age-standardized DALYs per 100,000 by cause, and Member State, 2004". • ^ "Could Ebola rank among the deadliest communicable diseases?". CBC News. 20 October 2014. • ^ "The World Health Report (Annex Table 2)" (PDF). 2004. • ^ "Table 5" (PDF). 1995. • ^ Infeksi saluran pernapasan bawah meliputi berbagai pneumonia, influenza, dan bronkitis akut. • ^ Gastroenteritis atau diare diakibatkan oleh berbagai organisme yang berbeda, seperti kolera, botulisme, dan E.

coli. • ^ Penyakit tropis di antaranya penyakit Chagas, demam berdarah, filariasis limfatik, leismaniasis, onchocerciasis, schistosomiasis dan tripanosomiasis. • ^ "WHO - The top 10 causes of death". WHO. Diakses tanggal 2015-09-24. • ^ "Infectious and Epidemic Disease in History" Diarsipkan July 12, 2012, di Archive.is • ^ a b Dobson AP, Carter ER (1996).

"Infectious Diseases and Human Population History" (PDF). BioScience. 46 (2): 115–26. doi: 10.2307/1312814. Penyebab penyakit meningitis 1312814. • ^ "Smallpox". North Carolina Digital History. • ^ Smallpox and Vaccinia. National Center for Biotechnology Information. Diarsipkan June 1, 2009, di Wayback Machine. • ^ Barquet, Nicolau (15 October 1997).

"Smallpox: The Triumph over the Most Terrible of the Ministers of Death". Annals of Internal Medicine. 127 (8_Part_1): 635–42.

doi: 10.7326/0003-4819-127-8_Part_1-199710150-00010. PMID 9341063. • ^ Multidrug-Resistant "Tuberculosis". Centers for Disease Control and Prevention. Diarsipkan March 9, 2010, di Wayback Machine. • ^ "Influenza of 1918 (Spanish Flu) and the US Navy".

20 February 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 February 2006. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Krauss H, Weber A, Appel M (2003).

Zoonoses: Infectious Diseases Transmissible from Animals to Humans (edisi ke-3rd). Washington, D.C.: ASM Press. ISBN 978-1-55581-236-2. • ^ Peter Daszak; Andrew A. Cunningham; Alex D. Hyatt (27 January 2000). "Emerging Infectious Diseases of Wildlife—Threats to Biodiversity and Human Health". Science. 287 (5452): 443–49. Bibcode: 2000Sci.287.443D.

doi: 10.1126/science.287.5452.443. PMID 10642539. • ^ Singer, Charles and Dorothea (1917) "The scientific position of Girolamo Fracastoro [1478?–1553] with especial reference to the source, character and influence of his theory of infection," Annals of Medical History, 1 : 1–34; see p. 14. • ^ Thucydides with Richard Crawley, trans., History of the Peloponnesian War (London, England: J.M. Dent & Sons, Ltd., 1910), Book III, § 51, pp. 131–32.

From pp. 131–32. • ^ Nutton, Vivian (1983) "The seeds of disease: an explanation of contagion and infection from the Greeks to the Renaissance," Medical History, 27 (1) : 1–34; see p. 10. Available at: U.S. National Library of Medicine, National Institutes of Health • ^ Rastogi, Nalin; Rastogi, R (1985-01-01). "Leprosy in ancient India". International journal of leprosy and other mycobacterial diseases : official organ of the International Leprosy Association.

52: 541–3. • ^ Susruta; Bhishagratna, Kunja Lal (1907–1916). An English translation of the Sushruta samhita, based on penyebab penyakit meningitis Sanskrit text. Edited and published by Kaviraj Kunja Lal Bhishagratna. With a full and comprehensive introd., translation of different readings, notes, comperative views, index, glossary and plates. Gerstein - University of Toronto. Calcutta. Pemeliharaan CS1: Format tanggal ( link) • ^ Hoernle, A.

F. Rudolf (August Friedrich Rudolf) (1907). Studies in the medicine of ancient India. Gerstein - University of Toronto. Oxford : At the Clarendon Press. • ^ Byrne, Joseph Patrick (2012). Encyclopedia of the Black Death. ABC-CLIO. hlm. 29. ISBN 9781598842531. • ^ Reid, Megan H. (2013). Law and Piety in Medieval Islam. Cambridge University Press. hlm. 106, 114, 189–190.

ISBN 9781107067110. • ^ Majeed, Azeem (22 December 2005). "How Islam changed medicine". BMJ. 331 (7531): 1486–1487. doi: 10.1136/bmj.331.7531.1486. ISSN 0959-8138. PMC 1322233. PMID 16373721. • ^ Beretta M (2003). "The revival of Lucretian atomism and contagious diseases during the renaissance". Medicina Nei Secoli. 15 (2): 129–54. PMID 15309812. • ^ Moorhead Robert (November 2002). "William Budd and typhoid fever". J R Soc Med. 95 (11): 561–64. doi: 10.1258/jrsm.95.11.561.

PMC 1279260. PMID 12411628. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Klasifikasi • ICD- 10: A00- B99 • ICD- 9-CM: 001-139 • MeSH: D003141 • DiseasesDB: 28832 Wikimedia Commons memiliki media mengenai Penyakit infeksi. • European Center for Disease Prevention and Control • U.S. Centers for Disease Control and Prevention, • Infectious Disease Society of America (IDSA) • Infectious Disease Index of the Public Health Agency of Canada (PHAC) • Vaccine Research Center Information concerning vaccine research clinical trials for Emerging and re-Emerging Infectious Diseases.

• Infection Information Resource • Microbes & Infection (journal) • Knowledge source for Health Care Professionals involved in Wound management [ pranala nonaktif permanen] www.woundsite.info • Table: Global deaths from communicable diseases, 2010 – Canadian Broadcasting Corp. Kategori tersembunyi: • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Pemeliharaan CS1: Format PMC • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Templat webarchive tautan wayback • Templat webarchive tautan archiveis • Pemeliharaan CS1: Format tanggal • Pranala kategori Commons ditentukan secara lokal • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Halaman ini terakhir diubah pada 2 September 2021, pukul 05.55.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Penyakit c eliac adalah penyakit autoimun yang gejalanya muncul akibat mengonsumsi makanan yang mengandung gluten.

Penyakit celiac bisa menyebabkan keluhan pada sistem pencernaan dan dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak diobati. Gluten adalah jenis protein yang dapat ditemukan di makanan tertentu, seperti roti, pasta, sereal, dan biskuit. Protein ini berfungsi membuat adonan roti atau makanan menjadi elastis dan kenyal. Gluten umumnya aman untuk dikonsumsi. Namun, pada penderita penyakit celiac, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap gluten. Reaksi tersebut akan menyebabkan peradangan yang lama-kelamaan dapat merusak lapisan usus halus dan menganggu proses penyerapan nutrisi.

Penyebab dan Faktor R i siko Penyakit Celiac Penyakit celiac terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi tidak normal terhadap gliadin, yaitu komponen protein yang terkandung di dalam gluten.

Sistem imun tubuh penderita menganggap gliadin sebagai ancaman dan memproduksi antibodi untuk melawannya. Antibodi itulah yang menyebabkan peradangan pada usus dan mengganggu proses pencernaan. Belum diketahui apa yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Akan tetapi, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit celiac, yaitu: • Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit celiac atau dermatitis herpetiformis • Menderita diabetes tipe 1, penyakit Addison, sindrom Turner, sindrom Down, sindrom Sjogren, penyakit kelenjar tiroid, epilepsi, atau kolitis ulseratif • Pernah mengalami infeksi sistem pencernaan (seperti infeksi rotavirus) saat masa kanak-kanak Pada beberapa kasus, penyakit celiac dapat menjadi aktif pada pasien yang hamil, baru saja melahirkan, menjalani bedah, menderita infeksi virus, atau mengalami masalah emosional yang berat.

Gejala Penyakit Celiac Gejala penyakit celiac dapat berbeda pada anak-anak dan orang dewasa. Pada anak-anak, gejalanya antara lain: • Diare kronis • Sembelit • Perut kembung • Mual dan muntah • Sakit perut • Tinja berbau tidak sedap, berminyak, dan terlihat pucat • Penurunan berat badan atau berat badan sulit naik Gejala penyakit celiac pada orang dewasa juga dapat berupa gangguan pencernaan, seperti diare, mual dan muntah, nyeri perut, dan perut kembung.

Namun, kebanyakan orang dewasa dengan penyakit celiac juga mengalami gejala di luar sistem pencernaan, seperti: • Penyebab penyakit meningitis sendi • Sariawan • Anemia defisiensi besi • Sakit kepala • Pengeroposan tulang (osteoporosis) • Tubuh mudah lelah • Kerusakan pada enamel gigi • Menstruasi tidak teratur • Kesemutan dan mati rasa di jari tangan dan kaki ( neuropati perifer) • Keguguran atau sulit mendapatkan keturunan • Kejang Penyakit celiac juga dapat menyebabkan dermatitis herpetiformis, yang ditandai dengan keluhan ruam kulit yang disertai lepuh dan gatal.

Ruam umumnya muncul di area siku, lutut, bokong dan kulit kepala, tetapi juga dapat menyerang bagian tubuh lain. Meski kondisi ini juga terjadi akibat reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap gluten, penderita penyakit celiac yang terserang dermatitis herpetiformis umumnya tidak mengalami keluhan pada sistem pencernaan.

Diperkirakan, ada 15–25% penderita penyakit celiac yang mengalami dermatitis herpetiformis. Kapan harus ke dokter Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami diare persisten atau keluhan pencernaan yang penyebab penyakit meningitis berlangsung lebih dari 2 minggu. Lakukan pemeriksaan ke dokter anak jika anak Anda sulit naik berat badan, pucat, atau buang air besar dengan tinja yang berbau tengik. Jika Anda memiliki keluarga dengan penyakit celiac atau memiliki faktor risiko lain untuk penyakit celiac, diskusikan dengan dokter apakah Anda perlu melakukan tes guna mendeteksi penyakit ini.

Diagnosis Penyakit Celiac Dokter akan menanyakan gejala yang dialami penyebab penyakit meningitis, dan riwayat penyakit pada pasien dan keluarganya. Jika gejala dan keluhan pasien mengarah ke penyakit celiac, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti: • Tes darah, untuk mendeteksi antibodi yang terkait dengan penyakit celiac • Tes genetik, untuk menyingkirkan kemungkinan gejala yang dialami pasien disebabkan oleh penyakit lain, dengan mendeteksi kelainan genetik pada gen HLA-DQ2 dan HLA-DQ8 Penting bagi pasien untuk tidak menjalani diet bebas gluten sebelum tes di atas dilakukan.

Jika saat tes pasien sudah menjalani diet bebas gluten, hasil tes dapat terlihat normal walaupun sebenarnya pasien memiliki penyakit celiac. Jika dari hasil tes darah pasien diduga menderita penyakit celiac, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan tersebut antara lain: • Endoskopi, untuk melihat kondisi usus kecil dengan menggunakan selang kecil berkamera (endoskop) atau kapsul endoskopi • Biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan di kulit (bagi pasien mengalami gejala dermatitis herpetiformis) atau sampel jaringan di usus kecil, untuk diteliti di laboratorium Jika penyakit celiac terlambat ditemukan atau terdapat gejala yang mengarah ke osteoporosis, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan kepadatan tulang untuk memeriksa apakah pasien sudah mengalami gangguan penyerapan kalsium dan nutrisi lainnya yang penting untuk kekuatan tulang.

Pengobatan Penyakit Celiac Cara utama dalam mengatasi penyakit celiac adalah dengan menghindari makanan atau bahan apa pun yang mengandung gluten. Selain pada makanan, gluten juga terdapat pada obat-obatan, vitamin, bahkan lipstik.

Cara ini harus dilakukan seumur hidup guna mencegah terjadinya komplikasi. Dengan diet bebas gluten, pasien akan terhindar dari kerusakan dinding usus dan gejala terkait pencernaan, seperti diare dan nyeri perut. Beberapa makanan alami bebas gluten yang dapat dikonsumsi adalah: • Nasi • Daging • Ikan • Kentang • Buah-buahan • Sayuran • Susu dan produk turunannya Selain jenis makanan di atas, ada juga jenis tepung yang bebas gluten, seperti tepung beras, tepung kedelai, tepung jagung, dan tepung kentang.

Pada pasien anak-anak, diet bebas gluten selama 3–6 bulan dapat menyembuhkan usus yang rusak. Namun, pada pasien dewasa, penyembuhan mungkin membutuhkan waktu sampai beberapa tahun. Selain diet bebas gluten, terapi tambahan juga dapat diperlukan untuk mengatasi gejala dan mencegah komplikasi. Terapi tersebut antara lain: Vaksinasi Pada beberapa kasus, penyakit celiac dapat menganggu kerja limpa, sehingga pasien rentan terserang infeksi.

Oleh sebab itu, pasien membutuhkan vaksinasi tambahan untuk mencegah infeksi, seperti: • Vaksin influenza penyebab penyakit meningitis Vaksin Haemophillus influenza type B • Vaksin meningitis C • Vaksin Pneumokokus Suplemen vitamin dan mineral Jika pasien dinilai mengalami anemia dan malnutrisi yang cukup berat, atau jika pola makan pasien belum bisa menjamin kecukupan gizinya, dokter akan memberikan suplemen agar pasien mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Suplemen yang dapat diberikan oleh dokter antara lain: • Asam folat • Tembaga • Vitamin B12 • Vitamin D • Vitamin K • Zat besi • Zinc Kortikosteroid Dokter akan meresepkan kortikosteroid penyebab penyakit meningitis pasien yang ususnya sudah rusak parah. Selain untuk mengontrol peradangan, kortikosteroid juga berguna untuk meredakan gejala selama proses penyembuhan usus. Dapsone Dapsone diberikan pada pasien penyakit celiac yang mengalami gejala dermatitis herpetiformis.

Obat ini berfungsi untuk mempercepat proses penyembuhan, tetapi mungkin butuh waktu sampai 2 tahun agar gejala dermatitis herpetiformis dapat terkontrol. Dokter umumnya memberikan dapsone dalam dosis kecil, untuk mencegah efek samping seperti sakit kepala dan depresi. Dokter juga akan menyarankan pasien menjalani tes darah secara berkala untuk memeriksa kemungkinan efek samping.

Komplikasi Penyakit Celiac Jika dibiarkan tidak ditangani atau penderita tetap mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, penyakit celiac dapat menyebabkan komplikasi berikut: • Malabsorpsi dan malnutrisi akibat tubuh tidak bisa menyerap nutrisi dengan sempurna • Infertilitas dan keguguran, yang dapat disebabkan oleh kurangnya kalsium dan vitamin D • Intoleransi laktosa, akibat tubuh kekurangan enzim untuk mencerna laktosa, yaitu gula yang biasanya ditemukan pada produk olahan susu, seperti keju • Berat badan bayi lahir rendah, pada ibu hamil dengan penyakit celiac yang tidak terkontrol • Kanker, terutama kanker usus besar, limfoma usus, dan limfoma Hodgkin • Gangguan sistem saraf, seperti neuropati perifer dan penurunan kemampuan untuk berpikir dan menyelesaikan masalah Pada anak-anak, penyakit celiac yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyebab penyakit meningitis penyerapan makanan dalam jangka panjang.

Hal ini dapat menyebabkan komplikasi berupa: • Gagal tumbuh pada bayi • Gigi keropos • Penyebab penyakit meningitis, yang dapat menurunkan aktivitas dan performa dalam belajar • Postur yang pendek • Pubertas yang terlambat • Gangguan sistem saraf, seperti kesulitan belajar, ADHD, dan kejang Pencegahan Penyakit Celiac Penyakit celiac tidak dapat dicegah. Namun, kemunculan gejalanya dapat dicegah dengan menghindari makanan yang mengandung gluten, seperti: • Roti • Biskuit • Gandum • Kue • Pai • Pasta • Sereal
Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada dinding penyebab penyakit meningitis.

Mari ketahui pengertian, penyebab, gejala, dan pengobatan sinusitis di sini. Dokter spesialis Dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan (THT). Gejala Pilek 7- 10 hari, hidung berair, batuk malam hari, sakit tenggorokan, demam ringan, bengkak di sekitar mata. Faktor risiko Kelainan struktur saluran hidung, paparan asap rokok terus, riwayat rhinitis alergi, asma, masalah imun, infeksi saluran napas.

Cara diagnosis Wawancara medis, pemeriksaan fisik, rontgen sinus, CT atau CAT scan, kultur, tes alergi. Pengobatan Obat semprot dekongestan, antibiotik, antihistamin, larutan saline, operasi. Obat Amoxicilin, fluticasone dan triamcinolone acetonide, larutan salin, ibuprofen. Komplikasi Meningitis, gangguan indera penciuman, infeksi menyebar ke area lain. Kapan harus ke dokter? Terdapat demam, pembengkakan atau kemerahan di sekitar mata atau dahi, sakit kepala parah, kebingungan, penglihatan ganda, dan leher kaku.

Pengertian Penyebab penyakit meningitis Sinusitis adalah kondisi peradangan yang terjadi pada dinding sinus. Sinus sendiri merupakan rongga kosong yang terletak di tulang pipi ( maxillary), bagian bawah dahi (frontal), bagian belakang rongga hidung ( sphenoid), serta di antara hidung dan matang (ethmoid).

Salah satu tugas sinus adalah untuk menghasilkan mukus (cairan lengket dan tebal) di hidung. Mukus turut bekerja untuk mencegah masuknya kuman, alergen penyebab alergi, dan benda-benda asing yang dapat menyebabkan infeksi dalam tubuh.

Jenis Sinusitis Kondisi ini dibedakan menjadi penyebab penyakit meningitis jenis, yakni: 1. Sinusitis Akut Sinusitis akut biasanya disebabkan oleh common cold. Namun jika terdapat infeksi bakteri dapat sembuh dalam waktu seminggu hingga 10 hari.

2. Sinusitis Kronis Sinusitis kronis terjadi ketika ruang di dalam hidung dan kepala (sinus) membengkak dan meradang selama tiga bulan atau lebih, meski telah diobati.

Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh infeksi, polip hidung atau oleh pembengkakan lapisan sinus. Artikel Lainnya: Awas, Infeksi Sinus Bisa Bikin Sakit Gigi!

Penyebab Sinusitis Selain mengetahui apa itu sinusitis, Anda juga perlu tahu apa penyebabnya, seperti: • Virus Virus pilek dan flu dapat memengaruhi saluran hidung. Letak salah satu rongga sinus yang sangat dekat dengan hidung memungkinkan virus untuk berpindah. Sinusitis biasanya berlangsung lebih lama dari pilek dan flu. • Rhinitis Alergi Terkadang, rhinitis dapat terjadi bersamaan dengan sinusitis. Itulah sebabnya mengapa keduanya sering tertukar.

• Polip Hidung Polip merupakan daging kecil yang tumbuh. Salah satu penyebabnya adalah mukus yang sangat tebal hingga membentuk daging. • Fibrosis Sistik Kondisi ini terjadi akibat penyebab penyakit meningitis mukus di berbagai bagian tubuh, seperti rongga hidung dan paru-paru. Akibatnya, proses pernapasan jadi terganggu.

• Gangguan Sistem Imunitas Tubuh Seseorang dengan sistem imunitas tubuh yang sangat rendah, seperti penderita HIV/AIDS, biasanya rentan terhadap sinusitis. • Infeksi Gigi Bakteri yang bersarang di mulut, gigi, dan gusi dapat menyebar hingga ke rongga sinus.

Itulah sebabnya, infeksi gigi harus segera diatasi. • Kelainan Bawaan Sinusitis juga bisa disebabkan oleh adanya kelainan pada bentuk tulang di rongga hidung. Biasanya bentuk yang bengkok atau tidak lurus. Gejala Sinusitis Sinusitis pada anak umumnya menimbulkan gejala-gejala seperti: • pilek yang berlangsung lebih lama dari tujuh hingga 10 hari • ingus biasanya berwarna hijau kental atau kuning, tetapi bisa jernih • batuk malam hari • sakit tenggorokan • demam ringan • penyebab penyakit meningitis di sekitar mata • biasanya tidak ada sakit kepala di bawah usia 5 tahun Sementara itu, gejala sinusitis pada orang dewasa meliputi: • lendir atau ingus kental berwarna hijau atau kuning • lendir mengalir ke belakang tenggorokan • hidung tersumbat • napas berbau • sakit kepala • batuk • rasa sakit atau adanya tekanan di daerah dahi, pipi, hidung di antara mata • berkurangnya daya pengecap • demam • berkurangnya daya penciuman • sakit tenggorokan Faktor Risiko Sinusitis Berikut adalah faktor risiko seseorang terkena sinusitis baik akut maupun kronis: • kelainan anatomi atau struktur saluran hidung (misalnya deviasi septum hidung atau polip) • paparan asap rokok terus-menerus • memiliki riwayat rhinitis alergi, asma • masalah imun (HIV, pengguna kortikosteroid jangka panjang, dll) • infeksi pada saluran pernapasan Artikel Lainnya: Kapan Sinusitis Anda Perlu Dioperasi?

Diagnosis Sinusitis Penegakan diagnosis penyakit sinusitis bisa dilakukan melalui: • Wawancara Medis Wawancara medis penyebab penyakit meningitis tentang gejala apa saja yang dialami serta sudah berapa penyebab penyakit meningitis. • Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dapat meliputi telinga, hidung, dan tenggorokan.

Dokter dapat pula menggunakan senter kecil atau kamera teropong (endoskopi hidung) untuk melihat keadaan hidung dan sekitarnya. Dokter juga bisa memeriksa area nyeri di wajah yang merupakan lokasi sinus. • Rontgen Sinus Tes diagnostik yang menggunakan sinar energi elektromagnetik tak terlihat untuk menghasilkan gambar jaringan internal, tulang, dan organ ke dalam film. • Computed Tomography (CT atau CAT Scan) CT scan dapat menunjukkan gambar rinci dari setiap bagian tubuh, termasuk tulang, otot, lemak, dan organ.

Hasil CT scan lebih detail daripada rontgen umum. • Kultur Tes laboratorium dengan sampel cairan sinus yang akan melihat apakah ada pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme untuk membantu dalam diagnosis. • Tes Alergi Tes alergi dilakukan jika dokter mencurigai bahwa alergi merupakan pemicu sinusitis.

Tes kulit dapat membantu menentukan alergen yang menyebabkan hidung Anda meradang. Pengobatan Sinusitis Dalam kasus yang tak terlalu parah (sinusitis akut), biasanya peradangan akan membaik dalam dua minggu. Bagi beberapa orang, kondisi tersebut membaik sendiri meski tanpa pengobatan khusus.

Jika kondisi belum membaik, Anda dapat berkonsultasi ke dokter spesialis THT (telinga hidung tenggorokan) untuk mendapatkan pengobatan, seperti: • Obat semprot dekongestan Anda tidak boleh menggunakannya lebih dari seminggu. • Antibiotik Obat ini diperlukan jika sinusitis disebabkan oleh bakteri.

• Antihistamin Cara mengobati sinusitis ini dilakukan terutama jika mukus disertai dengan alergi. • Larutan saline Tujuannya adalah untuk menghilangkan mukus yang tebal. • Operasi Prosedur ini hanya dilakukan apabila sinusitis disebabkan karena adanya kelainan bawaan. • Minum air putih Banyak konsumsi air putih dapat membantu mengencerkan lendir • Istirahat cukup Pastikan Anda memiliki waktu istirahat yang cukup. • Menghirup uap hangat Menghirup uap hangat dapat menjadi salah satu cara meredakan sinus.

Artikel Lainnya: Mitos vs Fakta Sinusitis yang Perlu Anda Tahu Beberapa obat sinusitis yang dapat disarankan adalah: • amoxicillin merupakan antibiotik lini pertama penyebab penyakit meningitis sebagian besar pasien dengan rinosinusitis bakteri akut • fluticasone dan triamcinolone acetonide untuk nasal spray • larutan salin ( nasal hygiene) • ibuprofen untuk nyeri Pencegahan Sinusitis Beberapa cara untuk penyebab penyakit meningitis sinusitis penyebab penyakit meningitis • hindari infeksi saluran pernapasan atas • hindari alergen pencetus • kelola asma dan rhinitis alergi • gunakan humidifier Komplikasi Sinusitis Beberapa komplikasi sinusitis yang harus diwaspadai antara lain: • meningitis.

Komplikasi ini terjadi ketika infeksi menyebar ke dinding atau selaput otak. • gangguan indera penciuman. Infeksi di area sinus lambat laun dapat mengganggu saraf penciuman, bisa sementara ataupun permanen. • infeksi menyebar ke area lain, seperti osteomielitis atau mastoiditis. Kapan Harus ke Dokter? Anda disarankan untuk segera menemui dokter jika menemukan gejala: • demam • pembengkakan atau kemerahan di sekitar mata atau dahi Anda • sakit kepala parah • kebingungan • penglihatan ganda atau perubahan penglihatan lainnya • leher kaku Unduh aplikasi KlikDokter untuk info lain seputar penyakit dan penanganannya.

(HNS/AYU) Terakhir Diperbaharui: 14 Februari 2022 Diperbaharui: dr. Theresia Rina Yunita Ditinju Oleh: dr. Theresia Rina Yunita Referensi: • Cleveland Clinic.

Diakses 2022. Sinusitis. • Mayo Clinic. Diakses 2022. Acute sinusitis. • Mayo Clinic. Diakses 2022. Chronic sinusitis. • Verywell Health. Diakses 2022. Sinus infection cause risk factors. • Jacionline. Diakses 2022. Complications of sinusitis.

Gejala Awal Meningitis Yang Sering Diabaikan !!




2022 www.videocon.com