Kalimat istirja

kalimat istirja

Innalillahiwainnailaihirojiun disebut dengan kalimat istirja atau tarji. Ia terdapat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 156. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk membacanya saat terkena musibah atau hal yang tidak menyenangkan.

Dengan membacanya, seseorang telah memiliki ciri sebagai orang yang sabar dan Allah taala menjanjikan kebaikan untuknya. Dalam artikel ini, kita akan mengulas lebih dalam seputar kalimat innalillahi wainnailaihi rojiun artinya apa dan bagaimana tulisan Arab yang benar darinya, simak hingga selesai.

kalimat istirja

Daftar Isi • Ucapan Innalillahiwainnailaihirojiun Tulisan Arab • Innalillahi Wainnailaihi Rojiun Artinya Apa? • Arti Innalillahiwainnailaihirojiun • Tulisan Arab Innalillahiwainnailaihirojiun dan artinya • Hikmah Membaca Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun • Salah Satu Tanda Rasa Ikhlas • Menghilangkan Rasa Berat di Hati • Menghindarkan dari Sikap Emosi yang Berlebihan • Mendapat Pahala kalimat istirja Hadapan Allah • Keutamaan Membaca Istirja’ • Allah Ganti dengan Sesuatu yang Lebih Baik • Mendapat Shalawat, Rahmat, dan Hidayah • Kapan Kita Kalimat istirja Kalimat Tarji’?

Ucapan Innalillahiwainnailaihirojiun Tulisan Arab Kita mungkin sering mendengar kabar yang tidak baik, entah itu berita kehilangan atau musibah yang datang. Salah satu contohnya adalah pengumuman meninggalnya seseorang yang orang lain menyampaikannya melalui pengeras suara masjid.

Biasanya, kabar tidak baik seperti ini memiliki kaitan erat dengan kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Setiap ada kabar buruk, seorang muslim biasanya langsung mengucapkan kalimat ini. Islam mengistilahkan kalimat ini dengan kalimat istirja.

Istirja adalah berasal dari bahasa Arab الاسترجاع yang artinya adalah mengembalikan. Ia juga memiliki arti ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun yang seseorang mengucapkannya ketika terkena musibah.

Selain itu, terkadang ulama juga menyebutnya dengan kalimat tarji. Lalu, artinya apa? Baca Juga: Dzikir La Haula Wala Quwwata Illa Billah Artinya, Tulisan Arab, dan Khasiat Innalillahi Wainnailaihi Rojiun Artinya Apa? Sebelum kita membahasnya, kita perlu tahu bahwa salah satu sifat orang beriman adalah orang-orang yang sabar dan mengucapkan kalimat ini ketika sedang terkena musibah. Allah taala berkalam dalam Al Quran surah Al Baqarah: الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “(Yaitu) orang-orang yang ketika suatu musibah menimpa mereka, mereka mengatakan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” [Qs.

Al-Baqarah (2) ayat 156] Berikut arti dari kalimat ini. Arti Innalillahiwainnailaihirojiun Innalillahiwainnailaihirojiun adalah berasal dari tulisan bahasa Arab إنا لله و إنا إليه راجعون yang artinya, “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali”. Ia merupakan potongan dari surat Al-Baqarah ayat 156. Ulama menyebutnya sebagai kalimat istirja’ atau kalimat tarji’.

Seorang ulama dari generasi tabi’in yang bernama Said bin Jubair rahimahullah -murid dari sahabat Ibnu Abbas radliyallahu anhu, menjelaskan bahwa kalimat ini tidak diberikan kepada Nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau berkata: لم تعط هذه الكلمات نبيا قبل نبينا، ولو عرفها يعقوب لما قال: يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ kalimat istirja ini tidak diberikan kepada seorang nabi-pun sebelum nabi kita.

Dan kalau saja sudah diketahui oleh Nabi Ya’qub, tentu beliau tidak akan mengucapkan, “Duhai duka citaku terhadap Yusuf”. [Tafsir al-Qurthubi, 2/176] Baca Juga: Sehat Walafiat Artinya Kalimat istirja Sekedar penjelasan dari ucapan Said bin Jubair di atas, ketika Nabi Ya’qub mendapat kabar tentang hilangnya Nabi Yusuf, beliau tidak mengucapkan, “Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”. Akan tetapi, beliau mengucapkan, “Yaa asafaa ‘alaa Yusuf.” Tulisan Arab Innalillahiwainnailaihirojiun dan artinya Berikut ini adalah ucapan istirja’ atau tarji’.

Kami sertakan gambar ucapan innalillahiwainnailaihirojiun tulisan arab dan artinya serta Latin yang benar. Anda dapat mendowloadnya. Hikmah Membaca Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun Beberapa hikmah dalam membaca kalimat istirja adalah: Salah Satu Tanda Rasa Ikhlas Membaca kalimat ini menjadi salah satu tanda keikhlasan seseorang dan tawakkal dia kepada Allah. Seorang muslim memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Allah taala.

Ia juga memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu itu akan kembali kepada-Nya. Dengan keyakinan demikian, seorang muslim tidak akan meratapi apa yang hilang darinya. Ibarat seseorang yang dipinjami suatu barang, maka si peminjam akan merasa ikhlas jika barang diambil oleh pemiliknya. Nah, salah satu tanda ikhlas itu adalah membaca kalimat istirja. Menghilangkan Rasa Berat di Hati Bertemu dengan sesuatu yang tidak disukai seringkali membuat kita merasa susah.

Bahkan kita kalimat istirja mendengar kabar orang bodoh yang bunuh diri karena mendapat musibah yang dia anggap berat. Kalimat istirja, kalau seseorang paham, kalimat tarji mampu menghilangkan rasa sesak di dada jika seseorang mengucapkannya atas dasar keyakinan.

Hanya ada perasaan tenang, nyaman, dan tentram karena pasrah dan mengembalikan semuanya kepada Allah taala. Penguasa semesta alam. Hal ini karena kalimat ini termasuk dari dzikir, sedangkan Allah taala menjelaskan bahwa dzikir dapat membuat hati menjadi tenang.

Allah taala berkalam: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ketahuilah! Sesungguhnya dengan mengingat Allah, hati itu menjadi tenang.” [Qs. Ar Ra’d ayat 28] Oleh karena itu, mohon maaf bila kata-kata saya di atas terkesan kasar. Tapi memang sebenarnya orang yang bunuh diri itu bodoh, karena menyia-nyiakan nyawa hanya karena sesuatu yang sepele. Padahal, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

Menghindarkan dari Sikap Emosi yang Berlebihan Menghadapi sesuatu yang tidak disukai seringkali membuat kita menjadi emosi. Bahkan, tidak sedikit orang yang tidak mampu mengendalikan diri mereka. Mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar, meratapi apa yang telah hilang, bahkan tidak jarang ada yang justru tidak terima dan mencela tuhannya, naudzu billahi min dzalik. Dengan mengucapkan kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, insya Allah kita akan terhindar dari sikap-sikap tersebut.

Mendapat Pahala dari Hadapan Allah Kalimat istirja yang paling penting. Kalimat tarji atau istirja ini termasuk dari kalimat-kalimat yang baik. Ia merupakan salah satu cara berdzikir atau mengingat Allah taala. Baca Juga: Akhwat Artinya Apa? Karena itulah, orang yang mengucapkannya tentu akan mendapatkan pahala dari Allah.

Oleh karenanya, mari kita biasakan diri untuk membacanya. Keutamaan Membaca Istirja’ Ada beberapa kelebihan membaca kalimat innalillahi atau kalimat tarji sesuai sunnah yang bisa kita dapatkan dari Al Quran dan hadits Nabi.

Di antara keutamaan itu adalah: Allah Ganti dengan Sesuatu yang Lebih Baik Seseorang yang membaca kalimat tarji dan doa ketika mendapat musibah, maka Allah akan ganti musibah tersebut dengan sesuatu yang lebih baik.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلُفْ kalimat istirja خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا “Tidaklah ada seorang muslim yang tertimpa suatu musibah, lalu dia membaca sesuatu seperti yang Allah perintahkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’, ya Allah berikanlah pahala untukku pada musibahku dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya, kecuali Allah pasti ganti untuknya dengan yang lebih baik darinya”.

[Hr. Muslim 918] Mendapat Shalawat, Rahmat, dan Hidayah Allah taala meberikan janji kepada orang-orang yang sabar dan mengucap istirja bahwa mereka kalimat istirja mendapat sholawat, rahmat, dan hidayah dari-Nya. Allah taala berkalam: أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Mereka adalah orang-orang yang atas mereka sholawat-sholawat dari Pemelihara mereka dan rahmat.

Dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Qs. Al-Baqarah (2) ayat 157] Karena ayat inilah, Umar bin Khaththab radliyallahu anhu berkata: نعم العدلان ونعم العلاوة: الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون* أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون “Sebaik-baik 2 balasan dan sebaik-baik tambahan, yaitu orang-orang yang apabila musibah mengenai mereka, mereka mengatakan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka adalah orang-orang yang atas mereka sholawat-sholawat dari Pemelihara mereka dan rahmat.

Dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Yang beliau maksud sebagai sebaik-sebaik 2 balasan adalah shalawat dan rahmat. Adapun sebaik-baik tambahan adalah hidayah. [Tafsir al-Qurthubi, 2/177] Baca Juga: Tahniah Artinya Apa? Kapan Kita Mengucapkan Kalimat Tarji’? Di atas, kita sudah bahas bahwa tulisan innalillahiwainnailaihirojiun disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 156.

Dalam ayat tersebut, Allah taala menyebutkan bahwa ciri-ciri orang yang sabar adalah mereka membaca kalimat ini ketika mendapatkan musibah. Kalau melihat ayat ini, kita mendapati bahwa ia adalah ucapan orang yang sabar dan diucapkan ketika tertimpa musibah, tidak hanya ketika ada orang yang meninggal dunia.

Dengan mengucapkan kalimat ini, seseorang yakin bahwa segala sesuatu adalah miliki Allah.

kalimat istirja

Allah adalah Dzat yang telah menciptakan dan menguasai jiwanya. Oleh karenanya, mereka pasrah, berserah diri kepada-Nya. Jadi, ucapkanlah innalillahi di setiap menemui kondisi yang tidak anda sukai. Sebagai tambahan, kita perlu sadar bahwa musibah yang menimpa kita sejatinya ada 3, yaitu: • Sebagai cobaan. Musibah Allah taala turunkan untuk menguji kualitas iman seseorang.

• Sebagai teguran. Allah menegur orang beriman yang melakukan kesalahan dengan adanya musibah. • Kalimat istirja azab.

Kategori ini diperuntukkan bagi orang-orang yang bermaksiat kepada Allah. Allah menyiksa mereka di dunia dengan siksaan berupa musibah. Setelah mengetahui 3 kategori ini, seharusnya kita mampu untuk introspeksi diri ketika musibah datang kepada kita. Apakah kita termasuk dari orang yang pertama, kedua, atau justru ketiga. Demikianlah penjelasan mengenai tulisan Arab kalimat istirja yang benar dan artinya apa serta yang berkaitan dengannya, wallahualam.

kalimat istirja

Artikel Populer • Allahummaghfirlahu Warhamhu : Bacaan Doa Orang Meninggal Lengkap Arab dan Artinya • Kalimat Innallaha Ma’ashobirin, Tulisan Arab, Arti, dan Penjelasan • Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma / Doa untuk Orang Tua Tulisan Arab dan Artinya • Innallaha Wa Malaikatahu Yusholluna Alan Nabi Arab dan Arti Lengkap • Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban Artinya, Tulisan Arab, dan Tafsir  Merenungi kalimat ISTIRJA’ : “Innalillaahi wa inna ilaihi Raaji’uun” (Baca perlahan-lahan karena ini adalah dialog untuk orang-orang yang cerdas saja) Imam Fudhail bin ‘Iyadh ra pernah menasehati seseorang lelaki, beliau berkata: “Berapa tahun usiamu?

“ Lelaki itu menjawab: “Enam puluh tahun.” Beliau berkata: “Berarti sudah enam puluh tahun kamu menempuh perjalanan menuju Allah; dan mungkin kalimat istirja kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun, Sesungguhnya kita ini milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya.” Maka Beliau berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu?

Kamu berkata bhw “aku milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya;” Beliau melanjutkan: “Barangsiapa yang menyadari kalimat istirja dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya pada hari kiamat.

Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas semua perbuatannya di dunia. Barangsiapa yang mengetahui akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya”. Maka lelaki itu bertanya: “Lantas bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri ketika itu?” Beliau menjawab: “Caranya mudah” Lelaki itu bertanya lagi: “Apa itu?” Beliau berkata: “Perbaikilah dirimu pada sisa umurmu, maka Allah akan mengampuni dosamu di masa lalu, karena jika kamu tetap berbuat buruk pada kalimat istirja umurmu, maka kamu akan disiksa (pada hari Kiamat) karena dosamu di masa lalu dan pada sisa umurmu” [“Jami’ul ‘Ulumi Wal Hikam” hal.

464) Orang yang cerdas adalah orang yang tahu bahwa kelak dia akan bertemu dengan kematian dan berjumpa dengan Allah untuk mempertanggung-jawabkan kehidupannya selama didunia.

sumber : ktqs-Darul Arqom Bandung Posted in Kajian, KTQS and tagged doa dan kajian islami, kajian, Kajian Tematid Quran dan Sunah, Kajian Tematis Quran dan Sunah, kalimat istirja on May 16, 2012 by admin doa-dan-kajian-Islami. Leave a comment
Logisnya, mana ada orang ateis, komunis, liberalis baca “astaghfirullah”!

Wong percaya akan Pencipta & akhirat aja ngak. Hal ini tergambar dalam hadits Rasulullah tentang nasib Ibnu Jad’an di neraka akibat tak pernah membaca istighfar.

1 Bacaan istighfar selamatkan kita dari dosa merasa suci dan ma’sum kalimat istirja nabi. Karena nabi Ibrahim 2 dan Muhammad 3 sekalipun yang sudah dijamin terjaga dari berdosa, tetap berdoa memohon ampunan Allah.

So, selain kewajiban, amalan ini juga kebutuhan kita sebagai orang Islam. Catatan dan Referensi A. Definisi Istighfar Sebelum membahas tulisan dan kalimat istirja istighfar lengkap dengan artinya, sejenak kita pahami esensi lafadz ini terlebih dahulu. Biar dzikirnya lebih khusyuk. Transliterasi Tulisan Arab Arti Indonesia Ghafara / Gofaro ِِِ غَفَرَ Mengampuni Maghfirah / Magfiroh مغفرة Ampunan Istaghfara / Istagfaro استغفر Memohon Ampun Istighfar استغفار Permohonan Ampun Table derivasi istighfar Istighfar yang sudah diserap dalam bahasa Indonesia menjadi “istigfar” 4; adalah masdar ( abstract noun) dari kata kalimat istirja istaghfara yang berarti meminta atau memohon ampunan.

Kata kerja tersebut berasal dari kata ghafara-yaghfiru yang artinya mengampuni atau memaafkan. Maghfirah artinya ampunan. Ada juga sinonim kata magfiroh dan gufron (kata dasar dari istighfar), yakni “ afwu” ( عفو). Kalau boleh dipadankan, kurang-lebih artinya “memaafkan”. Ada pembahasan panjang soal ini, bedanya: • Kata “maghfiroh” (ampunan) hanya berlaku pada Allah. 5 Kita beristighfar atau memohon ampunan kepada Allah dan hanya Allah yang dapat mengampuni dosa.

kalimat istirja

• Kata “afwu” (memaafkan) kadang digunakan sesama manusia. Kita kalimat istirja mengatakan “afwan” pada kawan yang berkata “syukron”. • Maghfiroh bermakna menutupi dosa, dan afwu menghapus dosa. Keduanya sama, serupa dan berkaitan. 6 Jadi, nanti jangan heran kalau dijumpai dalam Quran atau hadits turunan kata yang memuat huruf فع, dan mungkin juga و.

Dalam beberapa teks, istighfar juga bisa berupa atau dibarengi dengan pengakuan dosa. B. Fadhilah & Keutamaan Istighfar Selain penting dan butuh, ada beberapa manfaat atau fadhilah yang bisa kita dapat dari istighfar. Di antaranya: • Bagian dari ketaatan, karena istighfar adalah perintah Allah al-Ghofur. 7 • Istigfar sarana mengingat Allah, karena di dalamnya lafdzul jalalah. • Kalimat istirja latihan rendah hati, karena hanya Allah yang selalu benar. • Wasilah mendapat cinta Allah.

8 • Istighfar bagian dari proses taubat dan hijrah. 9 • Mendekatkan pada sifat taqwa. 10 • Amalan ahli surga 11 • Memudahkan rezeki. 12 • Mengundang rahmat Allah. 13 • Menjauhkan adzab. 14 • Sunnah para nabi dan rasul. • Mengusir kesulitan.

15 • Menggugurkan dosa. 16 • Kebiasaan orang cerdas. 17 Lumayan banyak juga keutamaan istighfar ini. Kalau ada yang kurang, kasih tahu ya di kolom komentar. Buat yang berharap keajaiban, dagangan laris, dapet jodoh, dsb. simak terus ya. C. Bacaan Istighfar Lengkap dengan Arti Lafadz ini tidak asing lagi di telinga orang Islam. Sengaja atau tidak, kita belajar mengucapkannya dari mendegar para orang tua. Bahkan tidak sedikit rekanan nonmuslim bisa melafalkannya.

Terlepas salah atau benar artikulasi. 1. Bacaan Istighfar Pendek أَسْتَغِفِرُ اللهَ Astaghfirullah atau Astagfirulloh Aku memohon ampunan kepada Allah. Masyarakat muslim di Indonesia biasa menambahkan, jadi: أَسْتَغِفِرُ اللهَ العَظِيْم ِِAstagfirullah aladzim Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung.

Selanjutnya, ada banyak bacaan istighfar lain yang dapat kita panjatkan yang tentu saja menambah khidmat dan khusyuk doa kita, diantaranya: 2. Sayyidul Istighfar Doa sayyidul istighfar adalah istighfar yang paling baik. Nabi Muhammad sendiri yang menyebutnya dengan “sayyid” alias rajanya istighfar. اللَّهُمَّ أَنْتَ رِبِّي لاَ إِلَهَ إِلاًّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ kalimat istirja الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ سيد الاسثغفار Allahumma Anta Robbii laa ilaaha illa Anta, kholaqtani wa anaa ‘abduka, wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastato’tu.

A’udzubika min syarri maa shona’tu. Abu u laka bi mi’matika ‘alayya wa abu u laka bi dzanbii faghfirlii, fa innahu laa yaghfiru-dz-zunuba illaa Anta. • Artinya : Duhai Allah Tuhanku, satu-satunya Yang ku sembah, Engkau ciptakan diriku, maka aku hamba-Mu. Semampuku kan setia janjiku pada-Mu.

Aku memohon perlundungan-Mu atas segala buruk perbuatanku. Ku akui semua nikmat dari Mu dan ku akui segala dosaku. Ampunilah aku. Sungguh hanya engkau yang dapat mengampuni dosa. • Fadhilah : Rasulullah bersabda, “Siapa yang membacanya dengan yaqin di siang hari, lalu mati sebelum sore, maka dia masuk surga. Siapa yang membacanya dengan yakin di malam hari, lalu mati sebelum pagi, maka masuk surga.” (al-Bukhari : 6303) 3.

Istighfar Kalimat istirja Muhammad Di antara sunnah Rasul yang paling mudah ialah beristigfar. Sehari-semalam beliau memohon ampunan Allah sampai 100x. Termasuk bacaannya sebagaimana berikut: a) Riwayat Ibnu Umar ربِّ اغفِر لي وتُب kalimat istirja إنَّك أنت التوَّابُ الرَّحيمُ Robbi-ghfirlii wa tub ‘alayya innaka Anta t-Tawwabu r-Rahiim Ya Rabb (Allah Tuhanku) ampunilah dan terima taubatku, karena Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Kasih. (Abu Daud) b) Abu Musa اللَّهُمَّ اغْفِر لِي خَطِيئَتِي, وَجَهْلِي, وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي, وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي, اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي جِدِّي, وَهَزْلِي, وَخَطَئِي, وَعَمْدِي, وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي, اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ, وَمَا أَخَّرْتُ, وَمَا أَسْرَرْتُ, وَمَا أَعْلَنْتُ, وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي, أَنْتَ اَلْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ, وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Ya Allah ampunilah segala salahku, ketidaktahuan-ku, pelanggaranku, bahkan Engkau lebih tahu dariku.

Ya Allah ampunilah dosaku yang serius maupun yang senda-gurau, sengaja ataupun tidak, aku mengaku. Ya Allah ampunilah dosaku yang telah lalu maupun yang belum aku perbuat, yang sembunyi-sembunyi maupun yang terang-terangan, bahkan Engkau lebih tahu dariku.

Sungguh Engkau Maha Mendahului dan Maha Akhir, karenanya Engkau Maha Kehendak atas segala sesuatu. (Muttafaq alaih) c) Abu Bakar as-Shiddiq اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ Ya Allah sungguh aku kalimat istirja banyak mendzalimi diriku, karena hanya Engkau yang dapat mengampuni dosa, maka ampunilah dan rahmati aku wahai Maha Pengampun dan Maha Kasih.

(al-Bukhari & Muslim) d) Abu Said al-Khudry أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ Astaghfirullah al-ladzii laa ilaaha illa huwa l-hayyu l-qoyyum wa atuubu ilaih Aku memohon ampunan kepada Allah, atau-satunya Tuhan lagi Maha Hidup dan Maha Mandiri. (ِAhmad & Abu Daud) 4. Doa Para Rasul Seperti yang sudah kita singgung di atas, bahwa para rasul juga beristigfar. Adapun bacaan dan tulisannya sebagai berikut: a) Istighfar Nabi Adam رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ Duhai Allah, kami telah mendzalimi diri kami, jika engkau tidak mengampuni dan kasihani kami, niscaya kami merugi.

(al-A’raf : 23) b) Nabi Nuh رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلاَّ تَبَارًا Ya Rabb ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan siapa saja yang masuk rumahku, termasuk orang-orang beriman, serta tambahkan kehancuran kepada orang-orang dzalim. (Nuh : 28) c) Doa Cinta Nabi Ibrahim رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ Wahai Tuhan kami, jangan jadikan kami fitnah bagi kalimat istirja kafir dan ampunilah kami, kalimat istirja Engkau Maha Perkasa lagi Bijak.

(al-Mumtahanah : 5) d) Nabi Musa رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي Ya Rabb, sungguh Aku telah menyakiti diriku, maka ampunilah aku. (al-Qoshosh : 16) رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ Ya Rabb, ampunilah dosaku dan saudaraku (Harun) serta masukkan kami dalam rahmat-Mu, karena Engkau Maha Penyayang melebihi para penyayang manapun. (al-A’raf : 151) e) Nabi Yunus لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku telah berbuat dzalim.

(al-Anbiya : 87) 5. Tulisan Istighfar Dalam Keseharian Sebenarnya semua doa di atas bisa diamalkan tiap hari kapan dan di mana saja; nyetir, jalan, ngetik, masak dsb. Kalimat istirja Berhubung topik kali ini tentang tulisan istighfar dengan artinya, gak ada salahnya kalau mau ditambah. Kali aja yang atas gak hafal, tapi yang bawah udah hafal. Pake aja. a) Doa Selamat Hari Pembalasan Ini istigfar yang disebut Rasulullah pada nomer referensi 1. Tulisannya: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ Ya Rabb, ampuni salahku di hari pembalasan.

b) Doa Kafaratul Majlis Saya yakin doa ini gampang, karena susunannya kombinasi 5 dzikir: tasbih, tahmid, tahlil, istigfar, dan taubat. Dibaca sesaat sebelum penutup majlis, kalimat istirja pengajian, kelas, kursus, kuliah, rapat, upacara bahkan nobar n’ kopdar. Fahdilahnya kata Nabi, “Siapa membacanya, dosa selama duduk di dalamnya akan diampuni” (ِAhmad) Sengaja atau tidak, kemungkinan berbuat dosa selalu.

Bisa jadi kita nyeletuk, dalem hati nyinyir, meremehkan pembicara, dll. Bacaanya : سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ Maha Suci Engkau ya Allah, Maha Terpuji, hanya Engkau Tuhan yang benar, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada Engkau. c) Doa Shalat Jenazah Ada 2 hal kalimat istirja dilakukan saat mendengar berita kematian : • Ber- istirja, yakni membaca “ innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiuun“.

Kalimat istirja diri bahwa semua kita serta semua yang kita miliki sejatinya milik Allah dan pasti kembali pada Sang Pemilik. Kita melatih keikhlasan. • Mendoakan kebaikan dan ampunan untuk yang meninggal jika orang Islam. Bacaannya: … اللهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ Allahumma-ghfir lahu wa r-hamhu wa kalimat istirja wa’fu ‘anhu … Artinya : Ya Allah Ampunilah ia, rahmati dirinya, berikan kesejahteraan dan maafkan ia… (al-Nasai) Note : Semua kata ganti “ hu, hi”, pada doa boleh diganti “ haa” jika yang bersangkutan kalimat istirja adalah wanita.

d) Munajat Lailatul Qadar Masih ingat kata “afwu” di atas? Nah ini salah satunya. Special riwayat Ibunda Aisyah, doa ini recommended dibaca di malam-malam Ramadhan. Tapi juga boleh untuk setiap hari. Jangan luput ya. اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf, cinta maaf, mohon maafkan aku. (al-Tirmidzi) e) Istighfarlah saat dipuji Sedikit-banyak kita ‘munafik’ menipu orang lain. Orang puji kita, padahal semua kebaikan berasal dari Allah.

Orang sangjung, dalam hati kita berbangga diri. Jujur deh! Pernahkah?

kalimat istirja

Kalau iya, maka sebaiknya kita beristighfar. Bacaannya, اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ Ya Allah, jangan hukum diriku karena perkataan mereka. Ampunilah aku atas kalimat istirja yang tidak merekea ketahui. Serta jadikan aku lebih baik dari husnu dzon mereka. (al-Bukhari, al-Adab al-Mufrod) D. Ketentuan Membaca Istighfar Istighfar artinya kita menyadari lalai dan salah. Ini metode yang sangat bagus untuk melatih tawadhu.

Dengan demikian, kita akan lebih mudah terbuka dan menerima kritik dan saran. Dengan itu kita intropeksi diri.

kalimat istirja

• Memohonlah dengan serius. 18 • Disunahkan dibaca di waktu sahur atau sebelum subuh. 19 • Dianjurkan memintakan ampunan untuk orang lain.

20 • Dibolehkan minta didoakan orang lain untuk ampunan diri sendiri. 21 • Disarankan beristighfar untuk ampunan semua orang beriman. 22 • Jangan pernah bosan atau malu beristighfar. 23 • Perbuatan dzalim kepada manusia tidak cukup dengan istigfar.

24 Mari luangkan waktu setelah shalat, ingat dosa apa aja seharian ini. Kita cari kesalahan diri sendiri, hisab-lah, pasti ada! Rasulullah bersabda, “Beruntunglah orang yang disibukan aibnya daripada aib orang lain.” (al-Bazzar) • Adakah engkau salah hitung uang kembalian? Istighfarlah. • Adakah engkau kalimat istirja sangka? “Astaghfirullah, saya ingat.” • Adakah rasa lebih hebat dari orang lain? Istighfarlah!

• Atau pernahkah engkau mengeluhkan takdir Allah? Sekecil apapun cari, ingat, sadari dan istighfarlah. Lebih baik kau hitung keburukanmu hari ini, daripada esok dihadapan Allah.

Lalu tangan dan kaki bersaksi atas semua kejahatan yang telah kau perbuat di dunia. Catatan dan Referensi 1 Shahih Kalimat istirja, Kitabul Iman, No. 214. 2 Surat al-Syu’ara : 82. 3 Hadits riwayat Muslim, al-Thabari, al-Nasai. 4 KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). 5 Al-Kafawi, al-Kulliyat, h. 666. 6 Abu Hamid al-Ghazali, al-Maqshod al-Asna, h.

140. 7 Al-Baqarah : 199, “Istighfarlah …” 8 Ali Imran : 31. Mengikuti Rasul pangkal kecintaan Allah dan cinta-Nya mengundang maghfiroh. Pemahaman terbaliknya; Jika Allah mengampuni dosa hamba, niscaya Allah akan cintai ia. 9 Hud : 3. 10 Ali Imran : 133. 11 Ali Imran : 16. 12 Nuh : 10-14. Membuka pintu kemudahan rizki dalam segala hal; Menurunkan hujan bagi yang kekeringan. Yang ingin punya keturunan termasuk jodoh, istighfarlah. Petani yang ingin tanamannya subur, perbanyak istigfar.

13 Al-Naml : 46. 14 Al-Anfal : 33. 15 Rasulullah bersabda, “Niscaya akan Allah mudahkan urusan orang yang memperbanyak istigfar dan selalu memberikannya jalan keluar, serta rezeki dari arah tak kalimat istirja (Ibnu Majah, al-Hakim). 16 Al-Nisa : 110. 17 Ali Imran : 193. 18 Rsulullah bersabda, “ لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ“. Artinya, “Janganlah kalian berdoa, “Ya Allah ampunilah aku jika engkau berkehendak.” Seolah Allah lemah, tidak mampu.

19 Ali Imran : 17. 20 Ali Imran : 159. 21 Yusuf : 97. 22 Muhammad : 19. 23 Ali Imran : 135. 24 Ada banyak dalil tentang ini. Allah sangat Pengampun dan Pemaaf jika kaitannya dengan dosa langsung kepada Allah. Tapi kalau pelanggaran syariat yang merugikan makhluk lain seperti manusia, maka dosa itu tidak mungkin diampuni sepenuhnya jika belum diamaafkan oleh orang yang bersangkutan.

kalimat istirja

Artikel Menarik lain: Kritik Budaya Ulang Tahun Untuk Orang Islam Pengertian Toleransi yang Benar Dalam Sikap Nasehat Untuk Anak Pesantren Yang Sedang di Pondok 30 Adab Terhadap Guru & Ustadz agar Ilmu Berkah Hadits Berbakti Kepada Orang Tua (Birrul Walidain) 5 Cara Berbakti Kepada Orang Tua (Birrul Walidain) Standar Anak Shaleh Pengertian Hadits Qudsi dan Perbedaan dengan al-Quran Pengertian Sanad, Matan dan Rawi Hadits Nabi Muhammad Namun, kematian adalah misteri.

Tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah SWT. Berikut kalimat istirja mendengar kabar orang meninggal dunia: 1.

kalimat istirja

Membaca Istirja Jika mendengar orang meninggal kalimat istirja, Muslim dianjurkan membaca istirja yakni إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.

Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun. {الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ}
Pecihitam.org – Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun atau yang sering di sebut dengan Istirja’ merupakan suatu Frase atau sejenis istilah yang diungkapkan umat Islam khusus dalam ruang lingkup musibah atau Cobaan yang diberikan Allah kepada hambaNya guna melatih kesabaran seorang hamba sekaligus menjadikannya sebagai pelajaran untuk kedepannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi. DONASI SEKARANG “(Yaitu) orang orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.

Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang orang yang mendapatkan petunjuk,” (QS. Al Baqarah [2]: 156-157) Itulah mengapa sebagai umat islam pastinya ketika sedang dilanda musibah atau malapetaka maka sepatutnya mengucapkan kalimat “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un”.

Namun yang perlu kita ketahui ialah pengucapan ini tidak hanya ditujukan pada musibah atau malapetaka yang terbilang besar, namun kalimat istirja musibah kecilpun kita sepatutnya mengucapkan kalimat Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un atau yang disebut dengan kalimat istirja’.

kalimat istirja

Seperti sebuah riwayat dari Akaramah menyebutkan bahwa pada suatu malam lentera Rsulullah Saw mendadak padam, lalu Rasulullah Saw menyebut Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Lantas sahabat bertanya kalimat istirja Apakah ini termasuk salah satu Musibah wahai Rasulullah?”, kemudian beliau pun menjawab “ Benar, setiap penderitaan yang dirasakan oleh seorang mukmin adalah sebuah musibah” (HR.

Muslim) Hingga dari hadits diatas yang hanya me nggambarkan padamnya lentera Rasulullah pun rupanya dianggap sebagai Musibah, maka gugurlah pandangan pandangan kita pada umumnya yang hanya melontarkan kalimat istirja’ dikala peristiwa kematian atau musibah musibah besar seperti kecelakaan atau bencana alam.

Baca Juga: Persamaan Hak Perempuan dan Laki-laki dalam Al-Quran Lantas apa keistimewaan kita sebagai umat yang mengamalkan kalimat ini? Diceritakan dari Abu Sinnan bahwa ketika Anaknya meninggal dunia, Abu Thalhah Al Khaulani ikut serta mengantarkan jenazah anakku.

Lalu tatkalah aku hendak pulang, tanganku digamit olehnya, kemudian ia menghiburku dengan mengatakan: “ Wahai Abu Sinnan, maukah engkau jika aku beritahukan sebuah kabar gembira? Aku pernah diberitahukan oleh Adh-Dhahak, dari Abu Musa, bahwa Rasulullah Saw bersabda “Jika salah seorang hamba ditinggal wafat oleh anaknya, maka Allah bertanya kepada malaikatnya: apakah kalian telah mengambil nyawa anak dari hamba-Ku? Para malaikat pun menjawab: ya.

Kemudian Allah bertanya kembali: apakah kalimat istirja telah mengambil nyawa buah hati dari hamba-Ku? Para malaikat pun menjawab: ya. Kemudian Allah bertanya: lalu apa yang dikatakan oleh hamba-Ku itu? Para malaikat pun menjawab: ia memuji-Mu (bertahmid) dan mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji ‘uun. Kemudian Allah berfirman: dirikanlah sebuah rumah untuk hamba-Ku itu di dalam surga, dan namakanlah rumah tersebut ‘rumah pujian” (HR.

Tirmidzi pada pembahasan tentang jenazah, bab Fadhilah sebuah musibah jika tetap bermuhasabah (3/341, hadits no. 1021). At Tirmidzi juga memberikan komentar bahwa Hadits ini adalah hadits hasan Gharib) Baca Juga: Amalan Tertinggi Seorang Ahli Ibadah, Apakah Itu? Sedangkan dalam hadits Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata: Rasulullah Bersabda: “ Tidak ada seorang muslim kalimat istirja yang mengalami musibah lalu ia mengucapkan (sesuai dengan) ucapan yang diperintahkan Allah kepadanya (yaitu): ‘innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali), ya Allah ganjarlah aku sesuai dengan musibahku, dan gantikan aku dengan yang lebih baik dari yang sebelumnya, kecuali Allah akan menggantikan yang lebih baik untuknya” (HR.

Muslim pada pembahasan tentang jenazah, bab: Apa yang diucapkan ketika mengalami musibah (2/631-632, hadits no. 918). Seperti lanjutan Firman Allah pada QS. Al-Baqarah yakni “ Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang orang yang mendapatkan petunjuk” Pada kalimat diatas menandakan akan limpahan Nikmat Allah begitu luas bagi mereka yang bersabar dan yang tiada henti hentinya mengucapkan kalimat Istirja’ pada setiap musibah yang terjadi dalam hidupnya sekalipun itu hanyalah musibah ringan atau kecil guna meredakan kesedihan.

Sedangkan pada kata Rahmat sendiri yang tercantum pada ayat diatas bermakna menghilangkan kesulitan dan memberikan yang dibutuhkan.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ( bahasa Arab: إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎, ʾinnā li-llāhi wa-ʾinna ʾilayhi rājiʿūn a) adalah kalimat istirja dari ayat Al-Qur'an, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156.

Isi penuh ayat tersebut adalah: ٱلَّذِينَ إِذَ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوا۟ إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali).

(Al-Baqarah 2:156) ” Bacaan tersebut juga dikenal dengan sebutan istirja' atau tarji. Daftar isi • 1 Signifikansi • 2 Waktu mengucapkan • 3 Referensi • 4 Pranala luar Signifikansi [ sunting - sunting sumber ] Dalam Islam, istirja' diucapkan apabila seseorang tertimpa musibah dan biasanya diucapkan apabila menerima kabar dukacita seseorang.

Umat Islam meyakini bahwa Allah adalah Esa yang memberikan dan Dia jugalah yang mengambil, Dia menguji umat manusia. Oleh karenanya, umat Islam menyerahkan diri kepada Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan atas segala yang mereka terima.

Pada masa yang sama, mereka bersabar dan menyebut ungkapan ini saat menerima cobaan atau musibah. Kemudian dalam syariat Islam, jika seorang Muslim ditimpa musibah, ia bersabar dan mengucapkan kalimat istirja maka Allah akan memberikan pahala. [1] Waktu mengucapkan [ sunting - sunting sumber ] Istirja’ disunnahkan untuk diucapkan pada saat-saat berikut: • Saat terjadinya musibah tersebut atau saat mendengar tentang musibah tersebut. • Ketika mengingat sebuah musibah meskipun sudah berlalu dalam waktu lama.

[2] • Saat tertimpa musibah dunia atau agama, kalimat istirja atau pun kecil. Contoh kalimat istirja agama misalnya melupakan al-Quran, lemah dalam menjalankan sunnah Nabi ﷺ. [3] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Diriwayatkan dari ‘Ali bin Al Husain, dari kakeknya rasulullah ﷺ, ia bersabda, ما من مسلم يصاب بمصيبة فيتذكرها وإن تقادم عهدها فيحدث لها استرجاعا إلا أعطاه الله من الأجر مثل يوم أصيب بها "Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja ( inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un) melainkan Allah akan memberinya pahala semisal hari ia tertimpa musibah" (Hadis riwayat oleh Ahmad dan Ibnu Majah.

kalimat istirja

Kitab Al Bidayah wan Nihayah, 8:221 oleh Ibnu Katsir). • ^ "ماهية المصيبة وما يشرع قوله عند وقوعها - إسلام ويب - مركز الفتوى". www.islamweb.net (dalam bahasa Arab). Diakses tanggal 2021-07-14. • ^ "الاسترجاع عند حلول المصيبة الدينية - إسلام ويب kalimat istirja مركز الفتوى". www.islamweb.net (dalam bahasa Arab). Diakses tanggal 2021-07-14. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Indonesia) Surah Al-Baqarah 2:156 di Qur'an Kemenag • (Inggris) Surah Al-Baqarah 2:156 di Quran.com • Halaman ini terakhir diubah pada 23 Desember 2021, pukul 00.10.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •Keberkahan Kalimat Istirja’ Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kalimat istirja’ adalah kalimat inaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun… Allah ajarkan kalimat ini agar dibaca oleh kaum muslimin yang sedang mengalami musibah.

Dan itulah ciri orang yang penyabar. Allah kalimat istirja, وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ .الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS. al-Baqarah: 154 – 155) Sebagian ulama menegaskan bahwa kalimat ini tidak diberikan kepada para nabi sebelum nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti yang dinyatakan ulama tabi’in, muridnya Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, yaitu Imam Said bin Jubair.

Beliau mengatakan, لم تعط هذه الكلمات نبيا قبل نبينا، ولو عرفها يعقوب لما قال: يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ Kalimat ini belum pernah diberikan kepada seorang nabi-pun sebelum nabi kita (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Andaikan sudah diketahui Ya’qub, tentu beliau tidak akan mengucapkan, “Duhai duka citaku terhadap Yusuf”. (Tafsir al-Qurthubi, 2/176). Ketika Ya’qub mendapatkan kabar hilangnya Yusuf, beliau tidak mengucapkan, innaa kalimat istirja wa inna ilaihi raaji’uun, tapi beliau mengucapkan, Yaa asafaa ‘alaa Yusuf… (Duhai duka citaku terhadap Yusuf).

kalimat istirja

Kandungan Kalimat Istirja’ Seperti apa kandungan maknanya? Kita simak keterangan al-Qurthubi. Imam al-Qurthubi menjelaskan, قوله تعالى: قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون. جعل الله تعالى هذه الكلمات ملجأ لذوي المصائب، وعصمة للممتحنين، لما جمعت من المعاني المباركة Firman Allah Ta’ala, ‘Mereka mengucapkan Inna lillaahi kalimat istirja innaa ilaihi raaji’uun’ Allah jadikan kalimat ini sebagai sandaran bagi orang yang tertimpa musibah, dan perlindungan (bacaan) bagi mereka yang sedang menjalani ujian.

Karena kalimat ini mengandung banyak makna yang berkah. Kemudian al-Qurthubi melanjutkan, فإن قوله: إنا لله توحيد وإقرار بالعبودية والملك. وقوله: وإنا إليه راجعون إقرار بالهلك على أنفسنا والبعث من قبورنا، واليقين أن رجوع الأمر كله إليه كما هو له Kalimat, kalimat istirja Inna lillahi’ adalah tauhid dan pengakuan terhadap ubudiyah (status kita sebagai hamba) dan kekuasaan Allah. Sedangkan kalimat, ‘ Wa inna ilaihi raaji’uun’ adalah pengakuan bahwa kita akan binasa, dan akan dibangkitkan dari alam kubur kita, serta keyakinan bahwa semua urusan kembali kepada-Nya, sebagaimana semua ini milik-Nya.

(Tafsir al-Qurthubi, 2/176) Keutamaan Kalimat Istirja’ Dalam hadis dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, beliau pernah mendengar Nabi Kalimat istirja ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا Apabila ada seorang muslim yang mengalami musibah, lalu dia mengucapkan kalimat seperti yang Allah perintahkan, ‘ Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ ya Allah berikanlah pahala untuk musibahku, dan kalimat istirja untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.

Maka Allah akan memberikan ganti untuknya dengan yang lebih baik. (HR. Muslim 918) Di surat al-Baqarah, Allah memberikan janji bahwa orang yang sabar dan mengucapkan istirja’ mereka akan mendapatkan shalawat, rahmat, dan hidayah.

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat kalimat istirja Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS. al-Baqarah: 157). Umar bin Khatab mengatakan, نعم العدلان ونعم العلاوة: الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون* أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون “Sebaik-baik 2 balasan dan sebaik-baik tambahan, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Yang beliau maksud dengan sebaik-sebaik 2 balasan adalah shalawat dan rahmat. Sedangkan sebaik-baik tambahan adalah hidayah. (Tafsir al-Qurthubi, 2/177), Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz kalimat istirja Android.

Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Syafaat Adalah, Hukum Meminjam Uang Di Bank, Hukum Keluar Air Mani Dengan Sengaja, Bertawasul, Yg Membatalkan Wudhu, Mendoakan Orang Yang Kita Cintai, Apa Itu Muharram POPULAR CATEGORIES • FIKIH 1490 • AQIDAH 931 • Ibadah 790 • Sholat 599 • Halal Haram 552 • Pernikahan 517 Recent Posts • Kalimat istirja Ayah Mencium Anak Perempuannya yang Sudah Dewasa?

• Apakah Jual Beli Kurma Secara Online Termasuk Riba? kalimat istirja Hukum Shalat di Antara Tiang-tiang dalam Shalat Jama’ah • Hukum Meminjam Uang di Pinjaman Online (Pinjol) • Apa yang Dilakukan Masbuk ketika Masuk ke Shaf? • Sembuh Sakit karena Bersedekah
Keutamaan Kalimat Istirja’ “Inaalillahi Wainaailaihi Raaji’uun” Asslamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Keutamaan Kalimat Istirja’ “Inaalillahi Wainaailaihi Raajiun” Kalimat Istirja’ atau yang lebih dikenal dengan lafazhnya yaitu Inaalillaahi Wainaailaihi Raaji’uun.

Kalimat istirja’ kalimat istirja sangat sering kita dengar ketika mendengar seseorang telah meninggal dunia. Namun pada hakikatnya kalimat istirja ( Inaalillahi Wainaailaihi Raaji’iun) ini sangat dianjurkan diucapkan ketika seorang muslim memperoleh cobaan seuatu musibah, baik itu mendengar seseorang meninggal dunia, sedang terkena efek tragedi alam, sedang mengalami sakit, kehilangan harta atau musibah lainnya yang memang sudah seharusnya kita kembalikan pada takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik kepada kita langsung, orang renta kita, ataupun pada kerabat kita yang lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut lapar dan kekurangan harta benda.” [QS. Al-Baqarah : 155]. Dari ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya akan kalimat istirja ujian kepada seluruh hamba-Nya. Ujian itu sanggup berupa rasa takut dan juga ujian dalam hal kekurangan harta benda (miskin). Allah Ta’ala menawarkan ujian itu untuk mengetahui (dan Dia Maha Mengetahui) siapa di antara hamba-Nya yang bertakwa, berjihad dan bersabar atas ujian yang diberikan kepadanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan sebetulnya kami benar akan menguji kau supaya kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan supaya kami menyatakan ( baik buruknya ) ihkwal kamu.” [QS. Muhammad : 31] Dan diantara mereka yang diberikan ujian atasnya, maka orang-orang yang bersabar atas kalimat istirja ujian itulah yang dinilai sebagai hamba Allah yang terbaik.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sungguh sangat menakjubkan kondisi seorang mukmin.

Seluruh kondisinya baik dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang mukmin. Jika menerima nikmat, ia bersukur dan itu ialah yang terbaik baginya.Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya.” [HR.

Muslim dalam Shahihnya ] Anjuran Mengucapkan Kalimat Istirja’ Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada insan untuk senantiasa berserah diri kepada-Nya dalam segala situasi yang dihadapi dengan mengucapkan kalimat Istirja’ yakni kalimat dengan lafazh “Innaa lillaahi wa inaa ilaihi raaji’uun”. Baik itu pada masalah yang baik apalagi dalam perkaran yang berdasarkan pandangan insan itu tidak baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.

Dan berikanlah gosip besar hati kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang menerima keberkatan yang tepat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang menerima petunjuk.” [QS. Al-Baqarah : 155-157] Melalaui ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa setiap hamba akan diuji dengan aneka macam cobaan, supaya tampak terperinci di antara hamba-hamba Allah kalimat istirja bersungguh-sungguh dalam keimanannya dan yang berdusta dan ragu dalam pengakuannya.

Siapa yang larut dalam kesedihan dan yang bersabar dalam ketaatan. Dan sebetulnya Allah menawarkan cobaan dan menurunkan tragedi kepada hamba-Nya untuk menguji kesabaran dan keimanan seorang hamba, supaya supaya mereka mengangkat kedua telapak tangannya memohon ampunan kepada-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka orang-orang yang tertimpa musibah menghibur diri mereka dari apa yang menimpa diri mereka dengan mengucapkan kalimat istirja tersebut. Mereka menyadari sebagai milik Allah, Allah berhak memilih apa saja pada hambahnya sesuai dengan kehendaknya. Mereka pun tau tidak ada amalan seberat biji sawipun yang hilang di sisi-Nya pada hari kiamat.Ucapan itu memunculkan akreditasi mereka sebagai hamba-Nya, dan mereka akan kembali kepada-Nya di kampung akhirat”.

Kalimat istirja Mengucapkan Kalimat Istirja’ Dalam sebuah hadits disebutkan : “Tidaklah seorang hamba terkena musibah kemudian ia berdoa, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kita milik Allah dan sebetulnya kita akan kembali pada-Nya), ya Allah berilah pahala dalam musibah ini dan berilah saya ganti yang lebih baik daripadanya,” kecuali Allah akan menawarkan pahala dalam musibahnya dan Allah memberi ganti yang lebih baik daipadanya” [HR.

Muslim] Kalimat Istirja’ yang diucapkan oleh seseorang dengan bersungguh-sungguh dalam keimanan dan sabar tersebut mempunyai keutamaan-keutamaan sebagai berikut : 1. Membuat hati Ikhlas dan Tawakkal kepada Allah Ta’ala 2.

Tidak Memberatkan Hati 3. Menjadikan lebih bersabar atas segala ujian hidup 4. Tidak menyesali duduk masalah dengan berlarut-larut Syeikh Abdul Razzaq Al-Badr hafidzahullah menyampaikan : “Kalimat istirja ini mengandung dua prinsip yang agung, kalau seorang hamba mewujudkanya dengan ilmu dan mengamalkanya, kalimat istirja akan merasa terhibur dari musibahnya dan memperoleh pahala besar dan kesudahan yang indah”.

Kedua prinsip tersebut akan diuraikan sebagai berikut : 1. Mengakui kehambaan kalimat istirja di hadapan Allah Ta’ala Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.

Sesungguhnya yang demikian itu ialah gampang bagi Allah.” [QS Al- Hadid : 22 ]. Ayat tersebut di atas telah cukup bagi seorang hamba untuk mengakui dirinya sebagai seorang hamba yang mempunyai Rabb yang telah mengatur segala urusannya di muka bumi ini.

Bahwa seorang hamba meyakini dirinya, keluarganya, harta dan anak-anaknya ialah milik Allah Ta’ala. Dialah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu, dan tak seorang pun yang bisa menolak ketetapanya. Penghambaan diri Ini tersimpulkan dari kata “innaa lillaahi”, yang artinya “sesungguhnya kami semua ialah milik Allah”. Dia ialah Rabb, sedang insan ialah hamba-hamba-Nya. Segala sesuatu yang terjadi pada insan ialah sesuai dengan Qadha dan takdirnya.

2. Meyakini bahwa segala sesuatu itu akan kembali kepada Allah Ta’ala Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).” [QS. Al-Alaq : 8] Ayat di atas juga sebagai klarifikasi dari kalimat “wainnaailaihi raaji’uun”, yang mempunyai makna akreditasi dari seorang hamba bahwa dirinya akan kembali kepada Rabb-nya, dan akan mendapatkan jawaban atas segala amal perbuatanya di dunia.

Keutamaan lain dari kalimat istirja’ yang keluar dari verbal seorang hamba ialah apa yang terkandung dalam hadist dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, kalimat istirja mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada seorang hamba (muslim) yang tertimpa musibah kemudian ia menbaca “innaalillaahi wainnaailahi raaji’uun, Ya Allah berilah pahala kepadaku dalam musibah ini dan berilah saya ganti yang lebih baik darinya”, kecuali Allah akan menawarkan pahala baginya dan menawarkan ganti yang lebih baik darinya.

Ummu Salamah berkata : “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, saya mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah kepadaku. Maka, Allah menawarkan ganti kepadaku yang lebih baik yaitu Rasulullah.” [HR. Muslim : 918]. Demikian risalah wacana “Keutamaan Kalimat Istirja’” ini, semoga kita sekalian sanggup lebih sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam keimanan dengan kalimat Istirja’ “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Semoga Allah Ta’ala mengakibatkan kita dalam golongan hamba-hamba terbaik dalam sabar.

Wallahu a’lam Disadur dari majalah Assunnah, Edisi04/Thn.XXI, Dzulqo’dah 1438 H Label : Fiqih, Tauhid, Akhlak, Istirja’, Innalillahi wa inna ilaihi rajiun Deskripsi : Kalimat Istirja’ dengan lafazhnya “Inaalillahi Wainaailaihi Raajiun” sangat sering kita dengar dikala mendengar seseorang menerima cobaan atau musibah.

Risalah ini akan menjelaskan wacana keutamaan kalimat istirja’ ini yang disertai dengan aneka macam dalil. Tauhid
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan padamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun'." (QS.

al-Baqarah ayat 155-156).
Islam mengajarkan kalimat thayyibah untuk diucapkan umatnya dalam kehidupan sehari-hari. Selain berpahala, kalimat thayyibah ini juga membuat hati tenang dan damai karena ia merupakan bagian dari dzikir. Membuat orang yang mengamalkannya senantiasa ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalimat thayyibah (الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ) berasal dari dua kata.

Yakni al kalimah (الْكَلِمَةُ) yang berarti kalimat istirja atau kalimat. Dan at thayyibah (الطَّيِّبَةُ) yang berarti baik. Jadi kalimat thayyibah adalah kalimat-kalimat kebaikan yang jika diucapkan akan mendapat pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada banyak jenis kalimat thayyibah. Di antaranya adalah 10 kalimat berikut ini: (Bismillaahirrahmaanirrahiim) Artinya: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Waktu yang tepat mengucapkan: Basmalah diucapkan ketika memulai suatu amal atau aktifitas kebaikan.

Misalnya belajar, makan, minum, mengaji, bekerja, berkarya dan lain sebagainya. Keutamaan Membaca Basmalah: • Aktifitas kebaikan yang diawali basmalah akan mendapatkan pahala dan keberkahan. Sebaliknya, aktifitas yang tidak diawali basmalah akan terputus keberkahannya. • Menjadi penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia • Menjadi syarat halal penyembelihan hewan.

Sebaliknya, hewan yang disembelih tanpa membaca basmalah, ia menjadi haram dimakan. • Syetan mengecil menjadi seukuran lalat ketika seseorang mengucapkan basmalah • Bacaan basmalah menjadi penghalang syetan saat makan 2. Ta’awudz Kalimat thayyibah yang kedua adalah ta’awudz. Yakni bacaan: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (A’uudzu billaahi minasy syaithoonir rojiim) Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk Waktu yang tepat mengucapkan: Taawudz diucapkan ketika hendak membaca Al Qur’an dan ketika meminta perlindungan dari syetan Keutamaan Membaca Taawudz: • Mendapat pahala • Disunnahkan dibaca ketika hendak membaca Al Quran • Mendapat perlindungan Allah dari godaan syetan • Merupakan salah satu doa ruqyah dan penjagaan dari syetan 3.

Istirja’ Kalimat yang ketiga adalah istirja’. Yakni bacaan: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun) Artinya: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali Waktu yang tepat mengucapkan: Istirja’ ( innalillahi wa inna ilaihi rajiun) diucapkan ketika mengalami musibah, mendengar kabar duka atau ada seseorang yang meninggal dunia Keutamaan Membaca Istirja’: • Mendapat pahala • Ucapan istrija’ merupakan tanda kesabaran • Mendapatkan keberkahan dan ganti atas musibah yang dialami • Mendapatkan rahmat dari Allah • Mendapatkan petunjuk dari Allah 4.

Tasbih Kalimat thayyibah keempat adalah tasbih yang berarti mensucikan Allah. Yakni bacaan: سُبْحَانَ اللَّهِ (Subhaanallah) Artinya: Maha Suci Allah Waktu yang tepat mengucapkan: Tasbih diucapkan ketika heran terhadap suatu sikap atau ketika melihat maupun mendengar sesuatu yang tidak pantas bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun boleh juga diucapkan ketika kagum atau takjub. Lebih lengkap, baca penjelasannya di artikel Kagum Subhanallah atau Masya Allah. Tasbih juga diucapkan ketika melewati jalanan yang menurun. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Keutamaan Membaca Tasbih: • Mendapat pahala • Bernilai sedekah • Membaca tasbih satu kali akan mendapat 10 kebaikan dan dihapus 10 kejelekan • Menggugurkan dosa • Kalimat yang dicintai Allah 5.

Tahmid Kalimat berikutnya adalah tahmid (memuji Allah). Yakni bacaan: الْحَمْدُ لِلَّهِ (Alhamdulillah) Artinya: Segala puji bagi Allah Waktu yang tepat mengucapkan: Tahmid merupakan ucapan syukur kepada Allah. Kalimat ini diucapkan ketika mendapat nikmat, rezeki, hal-hal yang disukai atau selamat dari suatu musibah. Keutamaan Membaca Tahmid: • Mendapat pahala • Bernilai sedekah • Kalimat yang dicintai Allah • Akan ditambah nikmat Allah • Mendatangkan keberkahan 6.

Takbir Kalimat thayyibah keenam adalah takbir. Yakni bacaan: اَللَّهُ أَكْبَرُ (Allaahu akbar) Artinya: Allah Maha Besar Waktu yang tepat mengucapkan: Takbir diucapkan ketika melihat tanda kebesaran dan keagungan Allah. Juga ketika melewati jalan yang naik atau menanjak. Tasbih, tahmid dan takbir juga menjadi dzikir rutin Rasulullah setelah shalat. Keutamaan Membaca Takbir: • Mendapat pahala • Bernilai sedekah • Kalimat yang dicintai Allah kalimat istirja Menghapus dosa • Menguatkan semangat dan keberanian 7.

kalimat istirja

Tahlil Kalimat berikutnya adalah tahlil. Yakni bacaan: لَا إِلَهَ kalimat istirja اللَّهُ (Laa ilaaha illallah) Artinya: Tiada Tuhan selain Allah Waktu yang tepat mengucapkan: Tahlil diucapkan untuk menegaskan tauhid, hanya beribadah kepada Allah.

Seseorang yang masuk Islam, ia harus membaca syahadat yang berisi kalimat tahlil. Tahlil juga diucapkan sebagai dzikir setelah shalat. Dan juga mentalqin kalimat istirja yang hendak meninggal (sakaratul maut).

Keutamaan Membaca Tahlil: • Mendapat pahala • Bernilai sedekah • Kalimat yang dicintai Allah • Menghapus dosa • Dzikir yang paling utama 8. Hauqalah Kalimat thayyibah kedelapan adalah hauqalah. Yakni bacaan: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ (Laa haula walaa quwwata illa billah) Artinya: Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah Waktu yang tepat mengucapkan: Hauqalah diucapkan ketika seseorang menghadapi tantangan, kesulitan atau sesuatu yang berat.

Bahkan ketika diserukan menuju shalat dan kemenangan dalam adzan, jawabannya adalah kalimat hauqalah. Keutamaan Membaca Hauqalah: • Mendapat pahala • Bernilai sedekah • Menjadi simpanan berharga di surga • Mendatangkan kekuatan dari Allah 9.

Istighfar Istighfar merupakan salah satu kalimat thayyibah. Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yakni bacaan: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (Astaghfirullah) Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah Atau أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ (Astaghfirullahal ‘adhiim) Artinya: Aku kalimat istirja ampun kepada Allah yang Maha Agung Waktu yang tepat mengucapkan: Istighfar dibaca ketika kita melakukan kesalahan atau telah berbuat dosa.

Ia juga menjadi dzikir yang dibaca pada pagi dan petang, setelah sholat, dan lain-lain. Keutamaan Membaca Istighfar: • Mendapat ampunan Allah • Mendapatkan rahmat Allah • Mendapat keberuntungan • Mendapat kebahagiaan • Hujan dan keberkahan langit • Membuka pintu rezeki • Mendapatkan keturunan • Keberkahan bumi • Ditambah kekuatannya • Dikabulkan doanya Penjelasan lengkap mengenai keutamaan, bacaan dan waktu terbaik membacanya bisa dibaca di artikel Istighfar 10.

Salam Kalimat selanjutnya adalah salam. Yakni bacaan: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ (Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarookaatuh) Artinya: Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkahNya limpahkan kepada kalian Waktu yang tepat mengucapkan: Salam diucapkan ketika bertemu dengan sesama muslim. Kalimat ini juga diucapkan ketika mengakhiri shalat.

Selengkapnya bisa dibaca di artikel Bacaan Sholat Keutamaan Membaca Salam: • Berpahala • Merupakan doa • Mendapat keselamatan, baik yang membaca maupun yang diberi salam • Mendapat rahmat Allah, baik yang membaca maupun yang diberi salam • Mendapat keberkahan, baik yang membaca maupun yang diberi salam Demikian 10 kalimat thayyibah beserta tulisan Arab, artinya, keutamaan dan waktu yang tepat mengucapkan.

Semoga kita terbiasa mengamalkannya sehingga lebih dekat kepada Allah serta mendapatkan keutamaan-keutamaannya. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

kalimat istirja




2022 www.videocon.com