Nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

2.1. Pengertian Nilai dan Kepribadian NILAI Kita sering mendengar dan bahkan menggunakan istilah “nilai”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nilai didefinisikan sebagai kadar, mutu atau sifat yang penting dan berguna bagi kemanusiaan. Nilai adalah sebuah konsep yang menunjuk pada hal-hal yang dianggap berharga dalam kehidupan.Sesuatu itu dianggap berharga karena hal itu baik, indah, benar dan pantas.

Itulah sebabnya, nilai seringkali dipahami sebagai hal-hal yang dianggap baik, indah, benar dan pantas.Sebaliknya hal-hal yang buruk, tidak indah, salah dan tidak pantas dianggap tidak bernilai.Contoh, ketekunan adalah nilai, karena dianggap sebagai sikap yang baik.Kecantikan adalah nilai, karena dianggap sebagai nilai yang indah.Kejujuran adalah nilai, karena dianggap sebagai nilai yang benar.

Dalam sosiologi, ada berbagai pengertian yang dikemukakan para ahli mengenai nilai. Beberapa pengertian itu adalah sebagai berikut : • Nilai adalah gagasan-gagasan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok tentang apa yang dikehendaki, apa yang layak dan apa yang baik atau buruk.

( Anthony Giddens, 1994 ) • Nilai adalah gagasan-gagasan tentang apakah suatutindakan itu penting atau tidak penting. ( Horton Hunt, 1987 ) • Nilai merupakan gagasan kolektif (bersama-sama) tentang apa yang dianggap baik, penting, diinginkan dan dianggap layak. Sekaligus tentang apa yang dianggap tidak baik, tidak penting, tak diinginkan dan tidak layak dalam sebuah kebudayaan.

Nilai menunjuk pada hal yang penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. ( Richard T. Schaefer dan Robbert P. Lamm, 1998 ) KEPRIBADIAN Kata “kepribadian” berasal nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai bahasa Latin persona yang berarti masker atau topeng.

Secara signifikan, dalam teater dunia Latin berbahasa kuno, topeng itu tidak digunakan sebagai perangkat plot untuk menyamarkan identitas karakter, tetapi lebih merupakan konvensi yang digunakan untuk mewakili atau melambangkan karakter tersebut.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Kepribadian adalah seperangkat karakteristik psikologis yang menentukan pola berpikir, merasakan dan bertindak, yaitu individualitas pribadi dan sosial dari seseorang. Pembentukan kepribadian adalah proses bertahap, kompleks dan unik untuk setiap individu. Istilah ini digunakan dalam bahasa sehari-hari berarti “semua keunggulan dari seseorang,” sehingga kita dapat mengatakan bahwa seseorang memiliki “tidak ada kepribadian”.

Ada pula definisi kepribadian menurut para ahli : Menurut Horton ( 1982: 12 ), kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temperamen seseorang. Sikap, perasaan, ekspresi dan temperamen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika dihadapkan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan berperilaku yang baku atau berpola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.

Schaefer & Lamm ( 1998:97 ) mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan perilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalau dikatakan pola sikap, maaka sikap itu sudah baku, berlaku terus-menerus secara konsisten dalam menghadapi situasi yang dihadapi. Pola perilkau dengan demikian juga merupakan perilaku yang sudah baku, yang cenderung ditampilkan seseorang jika ia dihadapkan pada situasi kehidupan tertentu.

Orang yang pada dasarnya pemalu cenderung menghindarkan diri dari kontak mata dengan lawan bicaranya. YingerKepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.

M.A.W BouwerKepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang. CuberKepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang. Theodore R. NewcombeKepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku. kepribadian dapat di definisikan sebagai suatu set dinamis dan terorganisir dari karakteristik yang dimiliki oleh setiap orang yang secara unik mempengaruhi kognisinya, emosi, motivasi, dan perilaku dalam berbagai situasi.

Kepribadian juga dapat merujuk kepada pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang secara konsisten yang ditunjukkan oleh seorang individu dari waktu ke waktu yang sangat mempengaruhi harapan, persepsi-diri, nilai dan sikap, dan memprediksi reaksi kita terhadap orang lain, masalah dan tekanan. Dalam sebuah kalimat, kepribadian bukan hanya siapa kita, Gordon Allport (1937) dijelaskan dua cara utama untuk belajar kepribadian: yang nomotetis dan idiografis tersebut.

Psikologi nomotetis mencari hukum-hukum umum yang dapat diterapkan untuk orang yang berbeda, seperti prinsip aktualisasi diri, atau sifat extraversion.Psikologi idiografis merupakan upaya untuk memahami aspek unik dari individu tertentu.

Jadi, kepribadian adalah seperangkat karakteristik psikologis yang menentukan pola berpikir, merasakan dan bertindak, yaitu individualitas pribadi dan sosial dari seseorang. 2.2. Macam-macam Nilai dalam Pembentukan Karakter atau Kepribadian Nilai dibagi menjadi empat antara lain : 1. Nilai Etika atau Moral Nilai etika merupakan nilai untuk manusia sebagai pribadi yang utuh.

Misalnya, kejujuran nilai tersebut saling berhubungan dengan akhlak nilai ini juga berkaitan dengan benar atau salah yang dianut oleh golongan atau masyarakat. Nilai etis atau etik sering disebut sebagai nilai moral, akhlak atau budi pekerti selain kejujuran, perilaku suka menolong, adil, pengasih, penyayang, ramah dan sopan termasuk juga ke dalam nilai sanksinya berupa teguran, caci maki, pengucilan atau pengusiran dari masyarakat.

Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral.Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia.Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.

2. Nilai Estetika Nilai estetika atau nilai keindahan sering dikatikan dengan benda, orang dan peristiwa yang dapat menyenangkan hati ( perasaan ).

Nilai estetika juga dikaitkan dengan karya seni, meskipun sebenarnya semua ciptaan Tuhan juga memiliki keindahan alami yang tak tertandingi.

3. Nilai Agama Nilai agama berhubungan antara manusia dengan Tuhan, kaitannya dengan pelaksanaan perintah dan larangan-Nya. Nilai agama diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan yang bermanfaat baik di dunia maupun akhirat, seperti rajin beribadah, berbakti kepada orangtua, menjaga kebersihan, tidak berjudi, tidak meminum-minuman keras, dsb. Bila seseorang melanggar norma/kaidah agama, ia akan mendapatkan sanksi dari Tuhan sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing.

Oleh karena itu, tujuan norma agama adalah menciptakan insan-insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam penertian mampu melaksanakan apa yang menjadi perintah dan meninggalkan apa yang di larangNya. Adapun kegunaan norma agama yaitu untuk mengendalikan sikap dan perilaku setiap manusia dalam kehidupannya agar selamat di dunia dan akhirat. 4. Nilai Sosial Nilai sosial berkaitan dengan perhatian dan perlakuan kita terhadap sesama manusia di lingkungan kita.

Nilai ini tercipta karena manusia sebagai makhluk sosial, manusia harus menjaga hubungan diantara sesamanya. Hubungan ini akan menciptakan sebuah keharmonisan dan sikap saling membantu, kepedulian terhadap persoalan lingkungan, seperti kegitan gotong-royong danmenjaga keserasian hidup bertetangga merupakan nilai sosial.

2.3. Tahap-tahap Perkembangan Karakter atau Kepribadian Pada masa bayi, tahap pertama, anak-anak belajar rasa percaya atau tidak percaya kepada orang lain. Jika ibunya (atau pengasuh penggantinya ) secara konsisten memberi cinta dan kasuh sayang, serta memperhatikan kebutuhan fisik bayi, maka bayi itu akan membangun perasaan aman dan percaya pada orang lain. Tahap kedua, anak usia 2-3 tahun belum begitu tertarik pada nilai-nilai.

Anak lahir memiliki dorongan-dorongan naluri dan reflek-reflek dan belum punya kepribadian. Tahap ketiga, anak usia 4-5 tahun keatas mulai mempunyai kualitas kepribadian. Anak mengenal nilai, berdasarkan faktor pertambahannya usia berarti bertambah pula kematangan, otomatis kepribadian semakin berkembang.

Tahap keempat, dunia anak semakin luas, banyak keterampilan teknis yang ia pelajari dan perasaan bahwa dirinya kompeten atau mampu melakukan sesuatu diperbesar. Tahap kelima, remaja mulai mengembangkan kesadaran akan identitas pribadinya melalui interaksinya dengan orang lain. Tahap keenam, seseorang mulai menembangkan hubungan cinta yang abadi dengan lawan jenisnya.

Tahap usia dewasa menengah, seseorang berkarya untuk keluarga dan masyarakat, memberikan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi keluarga maupun masyarakatnya. Tahap akhirhidupnya, seseorang akan menemukan akhir hidupnya dengan penuh harga diri atau kebanggan atau penuh penyesalan diri. Usia Krisis identitas yang harus dilampaui Nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai keutamaan dasar yang dikembangkan Bayi Percaya vs tidak percaya Harapan Awal kanak-kanak (2-3 tahun) Kemandirian vs pemalu dan peragu Kehendak/kemauan Tahap bermain (4-5 tahun) Inisiatif vs rasa bersalah Tujuan/cita-cita Tahap sekolah (6-10 tahun ) Pekerja keras vs rendah diri Kompetensi Remaja (12-18 tahun) Identitas vs kebingungan peran Loyalitas / kesetiaan Dewasa awal (19-35 tahun) Keakraban vs keteransingan Cinta Dewasa menengah ( 36-50 tahun ) Produktivitas vs kemandegan Kepedulian Tua (51 tahun keatas ) Intregitas vs tak berpengharapan Kebijaksanaan 2.4.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter atau Kepribadian Adanya perbedaan kepribadian setiap individu sangatlah bergantung pada faktor-faktor yang memengaruhinya. Kepribadian terbentuk, berkembang, dan berubah seiring dengan proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut. a. Faktor Biologis Faktor biologis yang paling berpengaruh dalam pembentukan kepribadian adalah jika terdapat karakteristik fisik unik yang dimiliki oleh seseorang.

Contohnya, kalau orang bertubuh tegap diharapkan untuk selalu memimpin dan dibenarkan kalau bersikap seperti pemimpin, tidak aneh jika orang tersebut akan selalu bertindak seperti pemimpin. Jadi, orang menanggapi harapan perilaku dari orang lain dan cenderung menjadi berperilaku seperti yang diharapkan oleh orang lain itu.

Ini berarti tidak semua nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai karakteristik fisik menggambarkan kepribadian seseorang.Sama halnya dengan anggapan orang gemuk adalah periang.

Perlu dipahami bahwa faktor biologis yang dimaksudkan dapat membentuk kepribadian seseorang adalah faktor fisiknya dan bukan warisan genetik.Kepribadian seorang anak bisa saja berbeda dengan orangtua kandungnya bergantung pada pengalaman sosialisasinya. Contohnya, seorang bapak yang dihormati di masyarakat karena kebaikannya, sebaliknya bisa saja mempunyai anak yang justru meresahkan masyarakat akibat salah pergaulan.Akan tetapi, seorang yang cacat tubuh banyak yang berhasil dalam hidupnya dibandingkan orang normal karena memiliki semangat dan kemauan yang keras.

Dari contoh tersebut dapat berarti bahwa kepribadian tidak diturunkan secara genetik, tetapi melalui proses sosialisasi yang panjang. Salah apabila banyak pendapat yang mengatakan bahwa faktor genetik sangat menentukan pembentukan kepribadian. b. Faktor Geografis Faktor lingkungan menjadi sangat dominan dalam meme ngaruhi kepribadian seseorang.Faktor geografis yang dimaksud adalah keadaan lingkungan fisik (iklim, topografi, sumberdaya alam) dan lingkungan sosialnya.Keadaan lingkungan fisik atau lingkungan sosial tertentu memengaruhi kepribadian individu atau kelompok karena manusia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Contohnya, orang-orang Aborigin harus berjuang lebih gigih untuk dapat bertahan hidup karena kondisi alamnya yang kering dan tandus, sementara, bangsa Indonesia hanya memerlukan sedikit waktunya untuk mendapatkan makanan yang akan mereka makan sehari-hari karena tanahnya yang subur. Contoh lain, orang-orang yang tinggal di daerah pantai memiliki ke pribadian yang lebih keras dan kuat jika dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pegunungan.

Masyarakat di pedesaan penuh dengan kesederhanaan dibandingkan masyarakat kota. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa faktor geografis sangat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, tetapi banyak pula ahli yang tidak menganggap hal ini sebagai faktor yang cukup penting dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya.

c. Faktor Kebudayaan Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku dan kepribadian seseorang, terutama unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung memengaruhi individu.Kebudayaan dapat menjadi pedoman hidup manusia dan alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Oleh karena itu, unsur-unsur kebudayaan yang berkembang di masyarakat dipelajari oleh individu agar menjadi bagian dari dirinya dan ia dapat bertahan hidup.

Proses mem pelajari unsur-unsur kebudayaan sudah dimulai sejak kecil sehingga terbentuklah kepribadian-kepribadian yang berbeda antarindividu ataupun antarkelompok kebudayaan satu dengan lainnya. Contohnya, orang Bugis memiliki budaya merantau dan mengarungi lautan.Budaya ini telah membuat orang-orang Bugis menjadi keras dan pemberani.

d. Faktor Pengalaman Kelompok Pengalaman kelompok yang dilalui seseorang dalam sosialisasi cukup penting perannya dalam mengembangkan kepribadian.

Kelompok yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

1. Kelompok Acuan (Kelompok Referensi). Sepanjang hidup seseorang, kelompok-kelompok tertentu dijadikan model yang penting bagi gagasan atau norma-norma perilaku.

Dalam hal ini, pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola hubungan dengan kelompok referensinya. Pada mulanya, keluarga adalah kelompok yang dijadikan acuan seorang bayi selama masa-masa yang paling peka.

Setelah keluarga, kelompok referensi lainnya adalahteman-teman sebaya. Peran kelompok sepermainan ini dalam perkembangan kepribadian seorang anak akan semakin berkurang dengan semakin terpencar nya mereka setelah menamatkan sekolah dan memasuki kelompok lain yang lebih majemuk (kompleks).

2. Kelompok Majemuk. Kelompok majemuk menunjuk pada kenyataan masyarakat yang lebih beraneka ragam. Dengan kata lain, masyarakat majemuk memiliki kelompok-kelompok dengan budaya dan ukuran moral yang berbeda-beda. Dalam keadaan seperti ini, hendaknya seseorang berusaha dengan keras mempertahankan haknya untuk menentukan sendiri hal yang dianggapnya baik dan bermanfaat bagi diri dan kepribadiannya sehingga tidak hanyut dalam arus perbedaan dalam kelompok majemuk tempatnya berada.

Artinya, dari pengalaman ini seseorang harus mau dan mampu untuk memilah-milahkannya. e. Faktor Pengalaman Unik Pengalaman unik akan memengaruhi kepribadian seseorang.

Kepribadian itu berbeda-beda antara satu dan lainnya karena pengalaman yang dialami seseorang itu unik dan tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama. Sekalipun dalam lingkungan keluarga yang sama, tetapi tidak ada individu yang memiliki kepribadian yang sama, karena meskipun berada dalam satu, setiap individu keluarga tidak mendapatkan nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai yang sama.

Begitu juga dengan pengalaman yang dialami oleh orang yang lahir kembar, tidak akan sama. Sebagai mana menurut Paul B. Horton, kepribadian tidak dibangun dengan menyusun peristiwa di atas peristiwa lainnya.Arti dan pengaruh suatu pengalaman bergantung pada pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya. 2.5. Peran Nilai-nilai dalam Pembentukan Karakter atauKepribadian a.

Nilai Etik atau Moral Mungkin tidak semua dari kita sadar bahwa lingkungan kita semakin tidak nyaman, baik secara lahiriyah apalagi secara batiniyah karena berbagai kerusakan muncul dan terus bertambah seiring dengan perjalanan waktu kerusakan moral missal.Kita akrab dengan berita kekerasan di berbagai institusi mulai dari institusi non-formal seperti keluarga sampai pada institusi formal seperti institusi pendidikan.Korupsi dan tindakan koruptif juga mengatakan dan mendarah daging baik di institusi pemerintah maupun swasta.Pergaulan bebas menjadi kebanggan, seks menjadi kebiasaan, aborsi menjadi hal yang normal, tindakan asusila menjadi susila dan perisakan lingkungan menjadi lumrah.

Pendidikan itu memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan hidup sosial masyarakat. Tujuan pertama-tama pendidikan adalah memperkuat pikiran dan memperkembang kebajikan-kebajikan utama, yakni kebajikan, kebenaran, penghormatan terhadap ritus dan kebijaksanaan.

Seperti dikatakan bahwa manusia pada dasarnya baik, namun kebaikan itu perlu diolah agar menjadi orang baik, bisa menjadi guru dan suci. Sebaliknya, orang yang tidak mengolahnya akan tidak lain seperti seekor binatang. Pengolahan kebajikan asli itu dapat diperkuat dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pendidikan.

Dengan kata lain, belajar merupakan usaha untuk mengembalikan kebajikan manusia yang telah hilang. Pendidikan juga dapat melestarikan dan mengembangkan serta mengembalikan kecenderungan kodrat dasariah manusia. Untuk itu dia menawarkan usaha perbaikan diri yang dilakukan ‘ke dalam diri sendiri’ sebagai bentuk pengujian diri dari kecenderungan yang terpengaruh oleh hal-hal eksternal. Maka pengaruh lingkungan tempat kita berada sangat mempengaruhi kita dalam belajar membentuk karakter moral kita.

b. Nilai Estetik Pendidikan seni sebagai induk dari kemampuan estetika memiliki peran yangberagam dalam pembentukan kepribadian.Peran pendidikan seni bersifatmultidimensional, multilingual, dan multikultural.Dalam menghadapi perkembangan ilmupengetahuan, teknologi dan informasi diperlukan pengembangan kemampuan dalamberbahasa visual, rupa, bunyi dan gerak.Berbagai kemampuan berbahasa ini dapatdikembangkan melalui pendidikan seni yang bersifat multilingual.Melalui pendidikan seni berbagai kemampuan dasar manusia seperti fisik,perseptual, pikir, emosional, kreativitas, sosial, dan estetika dapat dikembangkan.

Pendidikan seni juga mengembangkan imajinasi untuk memperoleh berbagaikemungkinan gagasan dalam pemecahan masalah serta menemukan pengetahuan danteknologi baru secara aktif dan menyenangkan. Bila berbagai kemampuan dasar tersebut dapat berkembang secara optimal akan menghasilkan tingkat kecerdasan emosional,intelektual, kreatif, moral dan edversity tinggi. c. Nilai Agama Terjadinya penyimpangan-penyimpangan moral pada masa sekarang ini berakar dari tidak ditanamkannya nilai-nilai agama yang implikasi pada lemahnya kepribadian dan karakter setiap individu maupun kelompok.Dari hal tersebut, sesungguhnya disinilah agama memiliki peran yang sangat urgent terlebih dalam hal pembentukan kepribadian.

Peran agama : • Sumber pedoman hidup individu maupun kelompok. • Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia. • Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah. • Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan. • Pedoman perasaan keyakinan. • Pedoman keberadaban • Pedoman rekreasi dan hiburan. • Pengungkapan estetika (keindahan) • Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.

Dalam proses pembentukan kepribadian seseorang. Agama memiliki peran yang sangat penting, melalui pengenalan akan agama seseorang mampu mengenal aturan dalam bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama yang dianut, agama berperan dalam melarang setiap pribadi dari tindakan-tindakan negatif dan megiring pribadi tersebut kea rah yang lebih baik. d. Nilai Sosial Dalam masyarakat, umumnya ada nilai-nilai yang dianut bersama oleh warga masyarakat.

Nilai-nilai bersama itu sering disebut sebagai nilai sosial.Misalnya, ada nilai social dalam proses sosialisasi karena sosialisasi merupakan salah nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai proses dalam pembentukan kepribadian.

Peran Nilai dalam proses sosialisasi Nilai merupakan seperangkat kebiasaan atau aturan yang diakui kebenarannya oleh semua anggota masyarakat dalam rangka berikut : • Menciptakan kehidupan masyarakat yang teratur. • Dan juga mengikat individu sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang bulat dan utuh. Kepribadian dalam sosialisasi Seorang yang tidak mengalami sosialisasi tidak akan dapat berinteraksi dengan orang lain secara normal.

Tanpa sosialisasi, seseorang akan menjadi terasing, tidak dapat bergaul dengan orang lain, dan tidak akan berkembang secara normal.

Dengan demikian, orang itu akan memiliki kepribadian yang buruk. April 2014 M T W T F S S 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 « Mar May » Recent Posts • Kumpulan PPT Teori Akuntansi • Anomali Pasar Seasonal : The Day Of The Week Effect, Week Four Effect dan January Effect nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai Anomali Pasar • Teori Eficiency Market Hipotesis (EMH) • Return On Invesment : Pengertian, Kegunaan dan Kelemahan Penggunaan ROI Dalam Analisis • Modal Kerja : Pengertian, Konsep, Jenis, Manfaat, Penggunaan, Manajemen dan Perputaran • Laporan Keuangan • Market Value • Holding Period • Teori Sinyal (Signalling Teory) Archives Archives Categories • 48Family (73) • Data Catatan Study (228) • Accounting (107) • Akuntansi Internasional (10) • Akuntansi Sektor Publik (6) • Auditing (14) • Bank dan Lembaga Keuangan (19) • Etika Bisnis (7) • Kewirausahaan (2) • Manajemen (41) • Manajemen Keuangan (1) • Perpajakan (2) • Umum (53) • Home (509) • Hukum Bisnis (6) • Kpop (164) • 2PM (1) Follow me on Twitter My Tweets Top Posts & Pages • Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif • PERBEDAAN DAN PERSAMAAN SEKTOR PUBLIK DAN SEKTOR SWASTA • Sistem Informasi Manajemen - Sistem Informasi, Organisasi, dan Strategi • LIKUIDASI PERSEKUTUAN • SISTEM PENGUKURAN KINERJA SEKTOR PUBLIK • Contoh Soal Akuntansi Perbankan - Jurnal untuk Giro, Tabungan, Deposito, Traveller's Cheques, Pinjaman • Contoh Soal Analisis Biaya Overhead Pabrik • Sistem Informasi Manajemen - Mengelola Pengetahuan • ANALISIS LAPORAN KEUANGAN INTERNASIONAL • PERBANDINGAN PENDIDIKAN INDONESIA DAN MALAYSIA Recent Comments MyNote on Contoh Soal Akuntansi Perbanka… MyNote on KUMPULAN JURNAL AKUNTANSI – SI… Nisa on KUMPULAN JURNAL AKUNTANSI – SI… Man on Contoh Soal Akuntansi Perbanka… Bioteknologi –… on PRODUK BIOTEKNOLOGI KONVENSION… Blog Stats • 7,763,962 hits Tags 2AM 2NE1 2PM 4MINUTE 9Muses 15& 48Family After School AKB48 AKMU Akuntansi Akuntansi Advance Akuntansi Biaya Akuntansi Internasional Akuntansi Manajemen Akuntansi Pemerintahan Akuntansi Perbankan Akuntansi Sektor Publik AOA Apink Aplikasi Art Auditing B.A.P B1A4 Bahasa Bank dan Lembaga Keuangan BEAST Bigbang boyfriend Boys Republic BTOB BTS C-clown CclowN CNBLUE Cross Gene Dal★shabet Data Catatan Study Ekonomi Etika Bisnis EXO F(x) Fiestar Girls Day GOT7 Hukum Bisnis india Indo INFINITE islam IU Jessica JKT48 JYJ KARA Kepribadian Kewirausahaan Kim So Eun Kim So Hyun Kim Soo Hyun Kim Woo Bin KPOP kwill LABOUM LeeHi Lee Jong Suk Lee Min Ho Lee Seung Gi Lirik Lagu Lovelyz Lunafly Manajemen Manajemen Keuangan Manajemen Sumber Daya Manusia MBLAQ Miss A Model Music Video Natthew Park Shin Hye Perpajakan Profil Rain Bi RAINBOW Red Velvet romantic idol Seminar Akuntansi SHINee Shin Se Kyung sistar Sistem Informasi Akuntansi Sistem Informasi Manajemen Sistem Pengendalian Manajemen SKE48 SNH48 SNSD Song Hye Kyo Song Jong Ki Speed Spica Super Junior T-ARA Teen Top Teknologi Informasi Teori Akuntansi TVXQ U-KISS Umum Video VIXX Winner Yoo Seung Ho ZE:A Nilai-nilai moral adalah nilai-nilai yang terkait dengan tindakan manusia baik serta perbuatan buruk yang memandu kehidupan manusia secara umum.

Pemahaman nilai sendiri adalah abstraksi dari serangkaian perilaku atau kelakuan yang dilakukan oleh seseorang. Nilai dibagi menjadi beberapa jenis. Salah satu nilai yang melekat dalam diri seseorang adalah nilai moral. Daftar Isi : • Nilai Moral Adalah • Pengertian Nilai Moral Menurut Para Ahli • 1. Hurlock (Edisi ke-6, 1990) • 2. Webster New word Dictionary (Wantah, 2005) • 3.

Dian Ibung • 4.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Maria Assumpta • 5. Sonny Keraf • 6. Zainuddin Saifullah Nainggolan • Jenis-jenis Nilai Moral • 1. Nilai Moral Baik • 2. Nilai Moral Buruk • Ciri-ciri Nilai Moral • Nilai Moral Dalam Kehidupan • 1. Keagamaan atau Religius • 2. Jujur • 3. Toleransi • 4. Disiplin • 5. Kerja Keras • 6. Kreatif • 7. Mandiri • 8. Demokratis • 9.

Rasa Ingin Tahu • 10. Semangat Kebangsaan • 11. Cinta Tanah Air • 12. Menghargai Prestasi • 13. Bersahabat • 14. Cinta Damai • 15. Gemar Membaca • 16. Peduli Lingkungan • 17. Peduli Sosial • 18. Tanggung Jawab • Fungsi Nilai Moral • Contoh Nilai Moral • 1. Berbicara Dengan Sopan Kepada Orang Tua atau Orang Lain • 2. Membuang Sampah Pada Tempatnya • 3. Antre Sesuai Urutan • 4. Tindakan Koruptif • 5. Menjaga Ketenangan Lingkungan • Share this: • Related posts: Nilai Moral Adalah Nilai moral adalah nilai-nilai yang terkait dengan tindakan baik dan buruk yang memandu kehidupan manusia secara umum.

Pendapat lain menyebutkan pentingnya nilai moral sebagai nilai yang dapat mendorong orang untuk bertindak dan sebagai sumber motivasi. Oleh karena itu, nilai-nilai moral cenderung mengatur dan membatasi tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral adalah deskripsi objektif tindakan manusia dalam menjalankan aktivitas hidupnya. Dalam hal ini, istilah moralitas mengacu pada tindakan orang atau individu yang memiliki nilai atau kebaikan positif. Nilai moral adalah suatu bentuk gambaran objektif tentang kebenaran yang dibuat oleh seseorang dalam lingkungan sosial.

Pemahaman ini dapat digunakan untuk menjelaskan suku kata moral dari bahasa yang berbeda, seperti dalam Bahasa Yunani “Etika”, Bahasa Arab “Akhlak, dan Bahasa Indonesia “Kesulitan”.

Moral adalah kebiasaan atau adat yang dilakukan oleh seseorang di daerah tersebut. Arti sebenarnya dari moralitas dihasilkan dari etimologis moral yang berasal dari kata “mos”. Menimbang bahwa memahami nilai-nilai moral secara umum adalah etika kehidupan yang digunakan untuk menjaga ketertiban sosial dalam masyarakat.

Pengertian Nilai Moral Menurut Para Ahli Berikut ini adalah definisi nilai moral menurut beberapa par ahli: 1. Hurlock (Edisi ke-6, 1990) Nilai moral adalah perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial.

Moral itu sendiri berarti tata cara, kebiasaan dan adat. Perilaku moral dikendalikan oleh konsep konsep moral atau kode etik yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. 2. Webster New word Dictionary (Wantah, 2005) Nilai Moral adalah sesuatu yang terkait dengan kemampuan seseorang untuk menentukan perilaku yang benar dan salah dan baik atau buruk.

3. Dian Ibung Nilai Moral adalah nilai yang berlaku dalam lingkungan sosial dan mengatur perilaku seseorang. 4. Maria Assumpta Nilai Moral adalah aturan tentang postur dan perilaku manusia sebagai manusia. Sama halnya nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai orang yang bermoral atau beretika disebut orang yang memanusiakan orang lain.

5. Sonny Keraf Nilai Moral adalah titik acuan. Nilai Moral dapat digunakan untuk mengukur tingkat positif dan negatif dari tindakan manusia sebagai pribadi, mungkin sebagai anggota masyarakat atau sebagai orang yang memiliki posisi atau pekerjaan tertentu.

6. Zainuddin Saifullah Nainggolan Nilai Moral adalah kecenderungan spiritual untuk menerapkan seperangkat standar yang mengatur perilaku dan masyarakat seseorang.

Pemahaman moral kali ini berkaitan erat dengan moralitas manusia atau sifat manusia yang memang diciptakan untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Jenis-jenis Nilai Moral 1. Nilai Moral Baik Yaitu nilai-nilai yang terkait dengan rekonsiliasi harapan dan tujuan hidup manusia. Dalam implementasinya, Anda bisa melihat dari aturan sosial mana yang baik dan mana yang buruk.

Misalnya, tindakan membantu orang lain yang membutuhkan adalah bentuk nilai moral yang baik karena bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat. 2. Nilai Moral Buruk yaitu nilai yang buruk dan tidak memenuhi harapan dan tujuan hidup manusia lainnya. Nilai ini berbeda dari tatanan sosial di mana efeknya dapat menyebabkan banyak masalah sosial di masyarakat.

Misalnya, mencuri atau merusak adalah bentuk moralitas yang buruk karena merugikan orang lain. Ciri-ciri Nilai Moral Berikut ini adalah Ciri-ciri dari Nilai Moral: • Terbentuk oleh masyarakat sebagai hasil dari interaksi antar warga.

• Banyak digunakan di kalangan orang (bukan bawaan). • Terbentuk oleh sosialisasi (proses pembelajaran). • Bagian dari upaya untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kepuasan sosial. • Bervariasi antar budaya (relatif). • Dapat memengaruhi perkembangan pribadi. • Memiliki pengaruh yang berbeda di masyarakat.

• Cenderung berhubungan satu sama lain dan membentuk sistem nilai. Nilai Moral Dalam Kehidupan 1. Keagamaan atau Religius Sikap dan perilaku patuh dalam pelaksanaan ajaran agama yang diwakilinya, toleransi pelaksanaan agama lain dan hidup dalam harmoni dengan para pengikut agama lain. 2. Jujur Perilaku berdasarkan pada upaya menjadikan diri Anda orang yang selalu dapat Anda percayai dengan kata-kata, tindakan, dan pekerjaan. 3. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghormati perbedaan agama, etnis, suku, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda darinya.

4. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan mematuhi berbagai peraturan.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Perilaku yang menunjukkan upaya serius untuk mengatasi berbagai kendala dan tugas belajar serta menyelesaikan tugas dengan benar. 5. Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya serius untuk mengatasi berbagai kendala dan tugas belajar serta menyelesaikan tugas dengan benar.

6. Kreatif Pikirkan dan lakukan sesuatu untuk menemukan cara baru atau hasil dari sesuatu yang sudah Anda miliki. 7. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain saat melakukan tugas. 8. Demokratis Bagaimana Anda berpikir, berperilaku dan bertindak yang menghargai hak dan kewajiban yang sama seperti Anda dan orang lain. 9. Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berusaha untuk menemukan lebih dalam dan komprehensif apa yang dipelajari, dilihat dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak dan memiliki intuisi yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompok. 11.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Cinta Tanah Air Cara berpikir, berperilaku dan bertindak yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan rasa hormat yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, budaya sosial, ekonomi dan politik bangsa.

12. Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorongnya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengenali dan menghormati kesuksesan orang lain.

13. Bersahabat Tindakan yang menunjukkan kegembiraan dalam berbicara, keluar dan bekerja dengan orang lain. 14. Cinta Damai Sikap, kata-kata dan tindakan yang membuat orang lain bahagia dan aman di hadapan mereka.

15. Gemar Membaca Kebiasaan memberi waktu untuk membaca bacaan berbeda yang memberinya kebajikan. 16. Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu bertujuan untuk mencegah kerusakan lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin membantu orang lain dan komunitas yang membutuhkan. 18. Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang dalam memenuhi tugas dan tugasnya yang harus ia lakukan terhadap dirinya, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Fungsi Nilai Moral Pada dasarnya, hukum dan nilai-nilai moral memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan kita.

Nilai-nilai dianggap penting oleh manusia untuk menjadi jelas, mereka harus semakin dipercaya oleh individu dan harus digunakan dalam tindakan yang sangat sering, moralitas didefinisikan sebagai tindakan baik dan buruk dan untuk mengukur ini, dapat dilakukan oleh mereka yang ada di dalamnya Tindakan berisi nilai.

Berikut ini adalah beberapa fungsi nilai-nilai moral bagi kehidupan manusia: • Berfungsi untuk mengingatkan orang-orang yang melakukan diri mereka sendiri dan orang lain yang baik sebagai bagian dari masyarakat. • Bisa menarik perhatian pada masalah moral yang kurang diperhatikan oleh orang-orang.

• Hal ini dapat digunakan sebagai daya tarik untuk perhatian manusia terhadap gejala “pembiasaan emosional”. Contoh Nilai Moral Berikut ini adalah beberapa contoh dari nilai moral yang baik: 1. Berbicara Dengan Sopan Kepada Orang Tua atau Orang Lain Berbicara dengan sopan kepada orang tua adalah contoh moral yang baik dalam keluarga dan masyarakat. Kami menyadari bahwa tidak semua orang bisa mengimplementasikanya, mereka yang berbicara secara kasar kepada orang tua adalah bentuk moral yang buruk.

2. Membuang Sampah Pada Tempatnya Ini adalah contoh tindakan yang sejalan dengan nilai-nilai moral positif. Sementara individu yang mencemari dan merusak lingkungan adalah contoh perilaku moral yang buruk. 3. Antre Sesuai Urutan Menunggu dalam antrean untuk memesan giliran Anda secara teratur adalah bentuk positif dari nilai moral. Kebanyakan orang Indonesia sangat sulit untuk mengantri secara teratur yang menunjukkan betapa buruknya moral kebanyakan orang Indonesia.

4. Tindakan Koruptif Suatu tindakan oleh seseorang yang ingin membuat keuntungan pribadi dengan mengambil posisi, tidak jujur ​​dan merugikan orang lain. Tindakan tersebut adalah contoh moral buruk yang ada pada banyak orang, yang mengambil bentuk berbeda dan sangat berbahaya bagi banyak bagian.

5. Menjaga Ketenangan Lingkungan Tindakan mempertahankan lingkungan yang menguntungkan dan menghindari kebingungan adalah contoh moral positif. Sedangkan bagian yang membuat kebisingan dan mengganggu kenyamanan orang lain adalah tindakan dengan moral yang buruk (tidak baik). Sekian artikel tentang Nilai Moral ini semoga bisa memberi manfaat bagi kita semua, Terimakasih.

Baca Juga Artikel Lainnya >>> • Kerajinan Adalah • Merkantilisme Adalah • Karya Sastra Adalah Related posts: • Termometer Adalah • Senam Irama Adalah • Typography Adalah Posted in Pendidikan Tagged 1990), 2005), Antre Sesuai Urutan, Berbicara Dengan Sopan Kepada Orang Tua atau Orang Lain, Ciri-Ciri Nilai Moral, Contoh Nilai Moral, contoh nilai moral adalah, Dian Ibung, Fungsi Nilai Moral, Hurlock (Edisi ke-6, jenis nilai moral, Jenis-Jenis Nilai Moral, macam macam nilai moral, Maria Assumpta, Membuang Sampah Pada Tempatnya, Menjaga Ketenangan Lingkungan, Nilai Moral, Nilai Moral adalah, Nilai Moral Baik, Nilai Moral Buruk, nilai moral dalam bahasa indonesia, Nilai Moral Dalam Kehidupan, Pengertian Nilai Moral, Pengertian Nilai Moral Menurut Para Ahli, Sonny Keraf, Tindakan Koruptif, Webster New word Dictionary (Wantah, Zainuddin Saifullah Nainggolan Post navigation Artikel Terbaru • Ensefalopati Adalah • Ekonomi Makro Adalah • Miconazole Adalah • Hidroponik Adalah • Termometer Adalah • Senam Irama Adalah • Typography Adalah • Teks Eksplanasi Adalah • Combivent Adalah • Antalgin Adalah • Pelanggan Adalah • Gutasi Adalah • Epidermis Adalah • Tunjangan Adalah • Teller Adalah
Nilai dan masyarakat memiliki kaitan yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan.

Masyarakat akan terkoyak bila nilai-nilai kebersamaan telah lenyap dari masyarakat itu. Perkembangan nilai dalam suatu masyrakat sangat dipengaruhi oleh warga masyarakat atau bangsa yang memiliki nilai itu sendiri. Nilai pada hakikatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang namun tidak menghakimi apakah perilaku itu salah atau benar.

(Horton, 1987) Nilai merupakan bagian yang sangat penting di masyarakat dan perkembangan kebudayaan. Suatu tindakan atau perbuatan warga masyarakat dianggap sah apabila sesuai atau serasi dengan nilai-nilai yang berlaku atau dijunjung tinggi oleh suatu masyarakat.Perkembangan nilai Budaya ini dapat berupa materi abstrak, konkret maupun fisik.

Secara langsung maupun tidak langsung, budaya akan sangat berpengaruh pada perkembangan kesehatan masyarakat yang menganut suatu budaya.

Indonesia yang terdiri dari beragam etnis tentu memiliki banyak budaya dalam masyarakatnya. Terkadang,perkembangan nilai budaya suatu etnis dengan etnis yang lain dapat berbeda jauh. Hal ini menyebabkan suatu budaya yang positif, dapat dianggap budaya negatif di etnis lainnya. Sehingga tidaklah mengherankan jika permasalahan kesehatan di Indonesia begitu kompleksnya.

Untuk mengatasi dan memahami suatu masalah kesehatan diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai budaya dasar dan budaya suatu daerah. Atas dasar inilah, kami ingin mengetahui lebih lanjut mengenai perkembangan nilai budaya individu yang kaitannya dengan kesmas. Sehingga dalam mensosialisasikan kesehatan pada masyarakat luas dapat lebih terarah yang nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai adalah naiknya derajat kesehatan masyarakat.

Pengertian nilai (value), menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara fungsional.

Disini, nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku. Sedangkan menurut Dictionary dalam Winataputra (1989), nilai adalah harga atau kualitas sesuatu. Artinya, sesuatu dianggap memiliki nilai apabila sesuatu tersebut secara intrinsik memang berharga.

Nilai Instrumental harus tetap mengacu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai nilai-nilai dasar yang dijabarkannya Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan dalam batas-batasyang dimungkinkan oleh nilai dasar itu. Penjabaran itu jelas tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya.

1. Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai,tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu.

Yang dapat kita indra adalah kejujuran itu. 2. Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai nemiliki sifat ideal (das sollen). Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak.

Misalnya, nilai keadilan. Semua orang berharap dan mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan. Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang mahasiswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan mahasiswa itu buruk karena jawabanya salah.

Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan, nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu. Kita tidak bisa memaksakan bahwa luikisan itu indah. Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral.

Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. Kata Moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai mempunyai nilai positif.

Manusia yang tidak memiliki moral disebut abmoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.

Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit.

Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Menurut kamus besar bahasa indonesia adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya.

Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.

Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dll. Nilai budaya yang dianut individu merupakan masukan nilai-nilai yang berasal dari era global yang sangat luas. Nilai pada hakikatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang namun tidak menghakimi apakah perilaku itu salah atau benar. Nilai pada individu akan mengikuti perkembangan dan perubahan yang ada pada masyarakat.

Sebagai contoh makin maraknya sinetron di televisi yang menampilkan artis-artis dengan pakaian yang agak terbuka maka akan mempengaruhi nilai-nilai budaya yang ada pada individu. Dahulu di masyarakat terdapat nilai bahwa selayaknya mengenakan pakaian yang menutup aurat. Begitu juga pada sapek lingkungan, bila individu tersebut bergaul di lingkungan yang baik maka sikap baik juga yang akan ditunjukkan dalam kesehariannya.

Kini nilai-nilai itu mengalami pergeseran atau perubahan yakni wanita telah dianggap lazim mengenakan pakaian yang mini. Di era sebelum tahun 1990-an masih banyak wanita yang memliki rambut yang panjang (sampai lutut) namun pada kenyataannya akhir-akhir ini sudah sedikit sekali kita dapat menjumpai seorang wanita yang berambut panjang. Hal itu karena bila seorang wanita berambut panjang maka dianggap tidak fleksibel atau ribet dalam beraktifitas dan mungkin ada anggapan wanita berambut panjang sudah ketinggalan jaman.

Selama nilai-nilai itu mengalami perubahan yang masih relative positif maka tidak berdampak buruk bagi integritas individu itu sendiri dan begitu pula sebaliknya. Keluarga menempati posisi diantara individu dan masyarakat yang juga merupakan suatu system.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Sebagai system keluarga mempunyai anggota yaitu; ayah, ibu dan anak atau semua individu yang tiunggal di dalam rumah tangga tersebut. Anggota keluarga saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi untuk mencapai tujuan bersama.

Keluarga merupakan system yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra sistemnya yaitu linkungan dan masyarakat dan sebaliknya sebagai subsistem dari lingkungan (masyarakat) keluarga dapat mempengaruhi masyarakat (suprasistem). Oleh karena itu betapa pentingnya peran dan fungsi keluarga dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang bernilai budaya positif.

Keluarga memiliki lima fungsi dasar yang telah diuraikan oleh Friedman (1986) sebagai berikut: 1. Fungsi afektif : berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan keluarga. Berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan pelaksanaan funsi afektif tampak pada kebahagian dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga.

Dengan demikian keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat mengembangkan konsep diri yang positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam memenuhi fungsi afektif adalah: a. Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga.

Setiap anggota yang mendapatkan kasih saying dan dukungan dari anggota yang lain maka kemapuannya untuk memberikan kasih sayang akan meningkat yang pada akhirnya tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal dasar dalam member hubungan dengan orang lain diluar keluarga.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

c. Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai perilaku yang positif tersebut.

2. Fungsi sosialisasi : sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.

Anggota keluarga belajar displin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan keluarga. Nilai dan masyarakat memiliki kaitan yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan.

Masyarakat akan terkoyak bila nilai-nilai kebersamaan telah lenyap dari masyarakat itu. Perkembangan nilai dalam suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh warga masyarakat atau bangsa yang memiliki nilai itu sendiri. Nilai merupakan bagian yang sangat penting di masyarakat dan perkembangan kebudayaan.

Suatu tindakan atau perbuatan warga masyarakat dianggap sah apabila sesuai atau serasi dengan nilai-nilai yang berlaku atau dijunjung tinggi oleh suatu masyarakat. Misalnya suatu masyarakat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, maka bila terdapat anggota masyarakat yang selalu berbuat jujur dalam berperilaku sehari-hari di masyarakat maka ia akan di hormati oleh warga masyarakat itu sendiri.

Namun sebaliknya, bila ia suka berbuat curang, tidak berkata sebenarnya maka warga masyarakat akan menjadikan ia sebagai bahan pergunjingan.Selama nilai-nilai itu mengalami perubahan yang masih relative positif maka tidak berdampak buruk bagi integritas masyarakat namun bila di masyarakat yang berkembang adalah nilai-nilai yang negative maka dapat mengancam kesinambungan masyarakat itu sendiri.

Dulu kita sering mendengar bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kegotongroyongan, namun kini nilai-nilai itu telah bergeser menjadi nilai-nilai yang mengarah pada individualis, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama. Kita juga punya nilai-nilai kepedulian sosial yang tinggi, namun kini telah mengalami pergeseran menjadi “cuek is the best”.

Hal ini sangat berbahaya bila kita tidak mengantisipasinya. Jangan sampai integritas masyarakat terkoyak karena kita tidak mampu mengarahkan perkembangan atau perubahan nilai yang berlangsung di masyarakat. Kebudayaan atau disebut juga kultur merupakan keseluruhan cara hidup manusia sebagai warisan sosial yang diperoleh individu dari kelompoknya.

Pengetahuan tentang suatu kebudayaan tertentu dapat digunakan untuk meramalkan berbagai kepercayaan dan perilaku anggotanya. Untuk itu petugas kesehatan perlu mempelajari kebudayaan sebagai upaya mengetahui perilaku masyarakat di kebudayaan tersebut sehingga dapat turut berperan serta memperbaiki status kesehatan di masyarakat tersebut.

Dalam tiap kebudayaan terdapat berbagai kepercayaan yang berkaitan dengan kesehatan. Di pedesaan masyarakat jawa, ibu nifas tidak boleh makan yang amis-amis (misalnya : Ikan) karena menurut kepercayaan akan membuat jahitan perineum sulit sembuh dan darah nifas tidak berhenti.

Menurut ilmu gizi hal tersebut tidak dibenarkan karena justru ikan harus dikonsumsi karena mengandung protein sehingga mempercepat pemulihan ibu nifas. Disinilah peran petugas kesehatan untuk meluruskan anggapan tersebut.

Di daerah Langkat, Sumatera Utara ada kebudayaan yang melarang ibu nifas untuk melakukan mobilisasi selama satu minggu sejak persalinan. Ibu nifas harus bedrest total selama seminggu karena dianggap masih lemah dan belum mampu beraktivitas sehingga harus istirahat di tempat tidur. Mereka juga menganggap bahwa dengan ilmu pengetahuan saat ini bahwa dengan beraktivitas maka proses penyembuhan setelah persalinan akan terhambat. Hal ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan saat ini bahwa ibu nifas harus melakukan mobilisasi dini agar cepat pulih kondisinya.

Dengan mengetahui kebudayaan di daerah tersebut, petugas kesehatan dapat masuk perlahan-lahan untuk memberi pengertian yang benar kepada masyarakat. Di sisi lain ada kebudayaan yang sejalan dengan aspek kesehatan. Dalam arti kebudayaan yang berlaku tersebut tidak bertentangan bahkan saling mendukung dengan aspek kesehatan.

Dalam hal ini petugas kesehatan harus mendukung kebudayaan tersebut. Tetapi kadangkala rasionalisasinya tidak tepat sehingga peran petugas kesehatan adalah meluruskan anggapan tersebut. Sebagai contoh, ada kebudayaan yang menganjurkan ibu hamil minum air kacang hijau agar rambut bayinya lebat. Kacang hijau sangat baik bagi kesehatan karena banyak mengandung vitamin B yang berguna bagi metabolisme tubuh.

Petugas kesehatan mendukung kebiasaan minum air kacang hijau tetapi meluruskan anggapan bahwa bukan membuat rambut bayi lebat tetapi karena memang air kacang hujau banyak vitaminnya. Ada juag kebudayaan yang menganjurkan ibu menyusui untuk amakan jagung goring (di Jawa disebut “marning”) untuk melancarkan air susu. Hal ini tidak bertentangan dengan kesehatan.

Bila ibu makan jagung goring maka dia akan mudah haus. Karena haus dia akan minum banyak. Banyak minum inilah yang dapat melancarkan air susu. Masing-masing kebudayaan memiliki berbagai pengobatan untuk penyembuhan anggota masyarakatnya yang sakit.

Nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai dengan ilmu kedokteran yang menganggap bahwa penyebab penyakit adalah kuman, kemudian diberi obat antibiotika dan obat tersebut dapat mematikan kuman penyebab penyakit.

Pada masyarakat tradisional, tidak semua penyakit itu disebabkan oleh penyebab biologis. Kadangkala mereka menghubung-hubungkan dengan sesuatu yang gaib, sihir, roh jahat atau iblis yang mengganggu manusia dan menyebabkan sakit. Banyak suku di Indonesia menganggap bahwa penyakit itu timbul akibat guna-guna. Orang yang terkena guna-guna akan mendatangi dukun untuk meminta pertolongan. Masing-masing suku di Indonesia memiliki dukun atau tetua adat sebagai penyembuh orang yang terkena guna-guna tersebut.

Cara yang digunakan juga berbeda-beda masing-masing suku. Begitu pula suku-suku di dunia, mereka menggunakan pengobatan tradisional masing-masing untuk menyembuhkan anggota sukunya yang sakit. Suku Azande di Afrika Tengah mempunyai kepercayaan bahwa jika anggota sukunya jari kakinya tertusuk sewaktu sedang berjalan melalui jalan biasa dan dia terkena penyakit tuberkulosis maka dia dianggap terkena serangan sihir.

Penyakit itu disebabkan oleh serangan tukang sihirdan korban tidak akan sembuh sampai serangan itu berhenti. Orang Kwakuit di bagian barat Kanada percaya bahwa penyakit dapat disebabkan oleh dimasukkannya benda asing ke dalam tubuh dan yang terkena dapat mencari pertolongan ke dukun.

Dukun itu biasa disebut Shaman. Dengan suatu upacara penyembuhan maka Shaman akan mengeluarkan benda asing itu dari tubuh pasien.

Nilai-nilai sosial budaya banyak ditemukan pada tradisi-tradisi yang turun-temurun mempengaruhi pola piker dan cara pandang kita dalam melakukan sesuatu, begitu juga pengaruhnya dengan kesehatan masyarakat. Berikut beberapa contoh yang dapat dijadikan pembanding seberapa besar pengaruh sosial budaya dalam praktik kesehatan masyarakat.

1) Enggannya ibu hamil memeriksakan kehamilannya pada bidan di puskesmas atau sarana kesehatan lainnya. Mereka lebih senang memeriksakan kehamilannya dengan dukun kampung karena dianggap sudah terpercaya dan turun-temurun dilakukan. Padahal, dukun kampung tersebut tidak memiliki pengetahuan standar dalam pelayanan kehamilan yang normal. 2) Pada saat hamil, ibu hamil dilarang makan ikan, telur atau makanan bergizi lainnya karena dipercaya akan menimbulkan bau amis saat melahirkan.

Hal ini sebenarnya tidak perlu dilakukan karena berbahaya bagi kesehatan ibu dan dapat mengakibatkan ibu kekurangan asupan gizi akan protein yang terkandung pada ikan. 5) Pusar bayi yang puput di simpan dan jika bayi sudah besar,pusat tersebut bisa jadi obat untuk bayi,caranya tali pusat di rendam dan di minum kan kepada si bayi. Mitos seperti ini malah merugikan karna jika sampai terminum oleh bayi maka akan membiarkan mikroorganisme yang ada di plasenta akan masuk ke tubuh bayi.

6) Wanita- wanita Hausa yang tinggal di sekitar Zaria Nigeria utara, secara tradisi nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai garam kurang selama priode nifas, untuk meningkatkan produksi air susunya. Merka juga menganggap bahwa hawa dingin adalah penyebab penyakit. Oleh sebab itu mereka memanasi tubuhnya paling kurang selama 40 hari setelah melahirkan.

Diet garam yang berlebihan dan hawa panas, merupakan penyebab timbulnya kegagalan jantung. Faktor budaya disini adalah kebiasaan makan garam yang berlebihan dan memanasi tubuh adalah faktor pencetus terjadinya kegagalan jantung. 1) Pengobatan tradisional biasanya mengunakan cara-cara menyakitkan seperti mengiris-iris bagian tubuh atau dengan memanasi penderita,akan tidak puas hanya dengan memberikan pil untuk diminum.

Hal tersebut diatas bisa menjadi suatu penghalang dalam memberikan pelayanan kesehatan, tapi dengan berjalannya waktu mereka akan berfikir dan menerima. 2) Contoh lain dari Papua Nugini dan Nigeria. ”pigbel” sejenis penyakit berat yang dapat menimbulkan kematian disebabkan oleh kuman clodistrium perfringens type C. Penduduk papua Nugini yang tinggal didaratan tinggi biasanya sedikit makan daging.

Oleh sebab itu, cenderung untuk menderita kekurangan enzim protetase dalam usus. Bila suatu perayaan tradisional diadakan, mereka makan daging babi dalam jumlah banyak tapi tungku tempat masaknya tidak cukup panas untuk memasak daging dengan baik sehingga kuman clostridia masih dapat berkembang. Makanan pokok mereka adalah kentang, mengandung tripsin inhibitor, oleh sebab itu racun dari kuman yang seharusnya terurai oleh tripsin, menjadi terlindung. Tripsin inhibitor juga dihasilkan oleh cacing ascaris yang banyak terdapat pada penduduk tersebut.

Kuman dapat juga berkembang dalam daging yang kurang dicernakan, dan secara bebas mengeluarkan racunnya. 3) Bentuk pengobatan yang di berikan biasanya hanya berdasarkan anggapan mereka sendiri tentang bagaimana penyakit itu timbul. Kalau mereka menganggap penyakit itu disebabkan oleh hal-hal yang supernatural atau magis, maka digunakan pengobatan secara tradisional.

Pengobatan modern dipilih bila meraka duga penyebabnya adalah fator ilmiah. Ini dapat merupakan sumber konflik bagi tenaga kesehatan, bila ternyata pengobatan yang mereka pilih berlawana denganpemikiran secara medis.

4) Masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sakit panas dan kejang-kejang disebabkan oleh hantu. Di Sukabumi disebut hantu gegep, sedangkan di Sumatra Barat disebabkan hantu jahat. Di Indramayu pengobatannya adalah dengan dengan pergi ke dukun atau memasukkan bayi ke bawah tempat tidur yang ditutupi jaring tanpa membawa ke pelayanan kesehatan. 6) Masih banyaknya masyarakat yang enggan melakukan pencegahan kehamilan atau pelayanan Keluarga Berencana karena bertentangan dengan budaya ataupun kepercayaan yang dianut.

Sehingga mereka cenderung memilih memiliki anak banyak. Hal ini sebenarnya merugikan karena dapat menimbulkan ledakan penduduk dan ketidakseimbangan jumlah populasi masyarakat di Indonesia dengan kesempatan kerja yang tersedia.

7) Masih minimnya kepedulian masyarakat tentang pemahaman konsep sehat sakit. Mereka menganggap sakit adalah keadaan jika sama ssekali tidak dapat melakukan aktifitas. Bahkan mereka tidak senang mencegah penyakit melainkan hanya bersifat pengobatan sehingga seringkali baru dilakukan pengobatan saat kondisinya parah sehingga tingkat kesembuhannya sangat kecil 1) Nilai pada hakikatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang namun tidak menghakimi apakah perilaku itu salah atau benar.

Nilai pada individu akan mengikuti perkembangan dan perubahan yang ada pada masyarakat. Selama nilai-nilai itu mengalami perubahan yang masih relative nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai maka tidak berdampak buruk bagi integritas individu itu sendiri dan begitu pula sebaliknya.

2) Nilai dan masyarakat memiliki kaitan yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan. Masyarakat akan terkoyak bila nilai-nilai kebersamaan telah lenyap dari amasyarakat itu. Perkembangan nilai dalam suatu masyrakat sangat dipengaruhi oleh warga masyarakat atau bangsa yang memiliki nilai itu sendiri. 4) Kebudayaan disebut juga kultur merupakan keseluruhan cara hidup manusia sebagai warisan sosial yang diperoleh individu dari kelompoknya.

Pengetahuan tentang suatu kebudayaan tertentu dapat digunakan untuk meramalkan berbagai kepercayaan dan perilaku anggotanya. Untuk itu petugas kesehatan perlu mempelajari kebudayaan sebagai upaya mengetahui perilaku masyarakat di kebudayaan tersebut sehingga dapat turut berperan serta memperbaiki status kesehatan di masyarakat tersebut. Nilai-nilai budaya positif yang sekarang ada dalam masyarakat seharusnya kita lestarikan dan kita lakukan setiap nilainya dan jangan membawa nilai-nilai budaya yang berdampak negative kedalam suatu masyarakat, karena dari situlah berkembangnya nilai budaya terhadap individu dan keluarga atau sebaliknya.

Bab 8: Nilai kristiani dan norma 1. Nilai tidak dapat diindra, yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. misalnya kejujuran. Kejujuran adalah nilai yang tidak dapat diindra, tetapi tindakannya dapat diindra.ini adalah sifat sifat nilai, yaitu … a. Bersifat abstrak d. bernilai estetika b. Berdaya dorong e. bernilai logika c.

Bersifat normative 2. Nilai mengandung harapan, cita-cita, dan satu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal. Nilai di wujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Ini adalah sifat-sifat nilai, yaitu … a. Bersifat abstrak d. bernilai estetika b. Berdaya dorong e. bernilai logika c. Bersifat normative 3. Nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai … a. Logika d. normatif b. Moral e. abstrak c. Estetika 4. Norma yang terdapat dalam hati nurani manusia mencakup perbuatan, perilaku atau tindakan yang mengutamakan pengharapan terhadap manusia sebagai pribadi adalah norma … a.

Agama d. sopan santun b. Hukum e. kebiasaan c. Susila 5. Norma yang akhirnya menjadi sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat setempat karena telah berlaku berulang ulang di dalam masyarakat adalah norma … a. Agama d. sopan santun b. Hukum e. kebiasaan c. Susila Essai: 1. Jelaskan perbedaan antara nilai-nilai moral dan norma ! Norma itu pedoman atau alat yang tertulis atau tidak tertulis, dan nilai moral itu tergantung dari manusia itu sendiri bagaimana ia memandang manusia lain.

Nilai moral dapat membentuk norma, bukan sebaliknya. 2. Nilai-nilai kristiani terdapat dalam hati nurani dan tindakan. Sebutkan ! Mengasihi dan menolong sesama manusia, memberi kepada yang membutuhkan dan membantu sesama yang memerlukan bantuan. Bab 9: Nilai-nilai kristiani berdasarkan buah roh 1.

Dorongan yang dirasakan oleh dua insan berbeda kelamin yang tidak ada hubungannya dengan dorongan seksual pengertian dari kata … a. Agape d. egrateria b. Abev e. pra’is c. Pistis 2. Kualitas watak yang didasarkan pada Allah dan berasal dari Allah sendiri sebagai dampak persekutuan yang erat antara nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai percaya ataupun persekutuan dengan Kristus adalah salah satu buah roh, yaitu… a.

Kasih d. sukacita b. Kesabaran e. damai sejahtera c. Kesetiaan 3. Nilai yang sangat berharga sebab dapat menghindarkan perselisihan dan menyesuaikan hal hal yang dapat menimbulkan amarah adalah … a. Kasih d. kebaikan b. Sukacita e.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

kesabaran c. Damai sejahtera 4. Kerinduan untuk selalu memberi apa yang dimilikinya untuk membangun kehidupan orang lain adalah esensi dari nilai … a.

Kasih d. kebaikan b. Sukacita e. kelemahlembutan • Company About Us Scholarships Sitemap Q&A Archive Standardized Tests Education Summit • Get Course Hero iOS Android Chrome Extension Educators Tutors • Careers Leadership Careers Campus Rep Program • Help Contact Us FAQ Feedback • Legal Copyright Policy Academic Integrity Our Honor Code Privacy Policy Terms of Use Attributions • Connect with Us College Life Facebook Twitter LinkedIn YouTube Instagram
Artikel ini akan menjelaskan secara ringkas apa itu nilai moral, jenis-jenisnya, serta beberapa contoh tindakanya yang ada di dalam kehidupan masyarakat sosial.

Pengertian Nilai Moral Apa yang dimaksud dengan nilai moral ( moral values)? Secara umum, pengertian nilai moral adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi pedoman kehidupan manusia secara umum.

Pendapat lain menyebutkan arti nilai moral adalah nilai-nilai yang dapat mendorong manusia untuk bertindak atau melakukan sesuatu, dan merupakan sumber motivasi. Dengan kata lain, moral values cenderung mengatur dan membatasi tindakan kita di dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Nicolaus Driyarkara, seorang ahli di bidang filsafat, pengertian nilai moral adalah suatu gambaran objektif terhadap tindakan manusia dalam menjalankan rutinitas kehidupannya. Dalam hal ini, istilah moral merujuk pada tindakan manusia atau individu yang mengandung nilai positif atau kebaikan. Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa moral value adalah suatu sistem penilaian yang bersumber dari kehendak maupun kemauan (karsa, etik) di dalam diri manusia.

Baca juga: • Pengertian Nilai • Pengertian Moral Jenis-Jenis Nilai Moral Berdasarkan karakteristiknya, moral value dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: 1. Nilai Moral Baik Ini merupakan nilai-nilai yang berhubungan dengan kesesuaian antara harapan dan tujuan hidup manusia. Dalam pelaksanaannya, hal ini dapat ditinjau dari kaidah sosial masyarakat dimana akan terlihat mana yang baik dan mana yang buruk. Sebagai contoh; tindakan menolong orang lain yang membutuhkan merupakan suatu bentuk moral yang baik karena bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan masyarakat.

2. Nilai Moral Buruk Ini merupakan nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai yang mengandung keburukan dan tidak sesuai dengan harapan dan tujuan hidup manusia.

Nilai ini merupakan sesuatu yang menyimpang dari keteraturan sosial dimana dampak yang ditimbulkan dapat mengakibatkan berbagai masalah sosial di masyarakat. Sebagai contoh; tindakan mencuri atau korupsi merupakan bentuk moral yang buruk karena mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Baca juga: Pengertian Adab Beberapa Contoh Moral Value Ada banyak sekali contoh moral value di dalam kehidupan bermasyarakat, baik itu yang bernilai positif maupun negatif. Mengacu pada definisinya, adapun beberapa contoh nilai moral adalah sebagai berikut ini: • Berbicara dengan sopan kepada orang lain, misalnya; berbicara dengan sopan pada orang tua merupakan salah satu contoh penerapan moral yang baik dalam keluarga dan masyarakat.

Kita sadar bahwa tidak semua orang bisa menerapkannya, mereka yang berbicara dengan kasar terhadap orang tua merupakan bentuk moral yang buruk.

• Membuang sampah pada tempatnya, ini merupakan contoh tindakan yang sesuai dengan moral value yang positif. Sedangkan individu yang membuang sampah sembarangan dan merusak lingkungan merupakan contoh tindakan orang yang bermoral buruk. • Antre sesuai urutan, mengantre menunggu giliran dengan tertib dan teratur merupakan bentuk moral value yang positif.

Sebagian besar masyarakat Indonesia sangat sulit untuk antre secara teratur, ini menunjukkan betapa buruknya moral sebagian masyarakat Indonesia. • Tindakan Koruptif, yaitu suatu tindakan seseorang yang ingin mendapatkan keuntungan pribadi dengan cara memanfaatkan jabatan, tidak jujur, dan merugikan orang lain.

Tindakan ini merupakan contoh moral buruk yang terdapat pada diri banyak orang yang dilakukan dalam berbagai bentuk dan sangat merugikan banyak pihak.

• Menjaga ketenangan lingkungan, tindakan menjaga suasana lingkungan masyarakat tetap kondusif dan tidak terjadi keributan merupakan contoh moral yang positif. Sedangkan pihak-pihak yang menimbulkan keributan dan menggangu kenyamanan orang lain merupakan tindakan dengan moral yang buruk (tidak baik).

Selain yang disebutkan di atas, masih ada banyak sekali contoh moral value yang ada di dalam kehidupan nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai sosial, baik itu yang mengandung nilai positif maupun negatif.

Baca juga: Pengertian Jujur Demikianlah penjelasan ringkas mengenai nilai moral, mulai dari pengertiannya, jenis-jenisnya, serta beberapa contoh moral value yang ada di dalam diri manusia. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kamu.
Warga belajar sekalian berikut ini kita akan mengulas sedikit tentang Nilai dan macam-macam nilai yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran di kelas kita akan menemukan pembahasan tentang nilai ini di beberapa mata pelajaran, khususnya mata pelajaran PPKn dan Sosiologi, juga uraian dan bahasan Nilai ini sering keluar pada soal-soal Ujian Akhir nanti.

Jadi warga belajar agar menyimak dengan seksama dan sungguh-sungguh, sehingga paham betul tentang Nilai ini, sebagai berikut : 1. Pengertian Nilai Menurut kamus besar bahasa Indonesia Istilah nilai diartikan sebagai : a. Harga dalam arti taksiran misal nilai emas, b. Harga sesuatu misalnya uang, c. Angka, sekor, d. Kadar, mutu, e. Sifat-sifat atau hal penting bagi kemanusiaan Dari beberapa pengertian di atas, disimpulkan bahwa nilai adalah suatu yang berharga, bermutu, menunjukan kualitas dan berguna bagi manusia.

Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Beberapa pengertian tentang nilai dapat dijelaskan dari pendapat beberapa ahli : a.

Nilai merupakan pedoman tingkah laku tentang sesuatu yang indah, efisien dan pantas dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dimiliki seseorang, cita-citanya, sikap, minatnya, perasaanny, keyakinannya, kegiatannya, dan kecemasannya. b. Nilai sekaligus dapat berupa pilihan atau juga merupakan norma, kaidah, perintah yang dianut dalam masyarakat.

Sebagai pilihan atau sikap pribadi, nilai bersumber pada kebutuhan seseorang. Sebagai kaidah atau norma masyarakat nilai dipatuhi sehingga hidupnya menjadi efektif dan efisien. c. Nilai sebagai sesuatu keyakinan yang harus dilakukan oleh seseorang atau sesuatu yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Pendapat ketiga ini selajutnya membedakan nilai sebagai penyebab adalah sumber dari nial instrumental. Nilai-nilai instrumental merupakan alat untuk mencapai tujuan terkandung dlaam nilai penyebab.

Adanya dua macam tersebut sejalan dengan penegasan Pancasila sebagai ideologi terbuka. Perumusan Pancasila Pembukaan UUD 1945 dinyatakan sebagai nilai dasar dan penjabarannya sebagai nilai instrumental.

Nilai dasar tidak berubah dan tidak boleh dirubah lagi.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Betapa pun pentingnya nilai dasar yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum operasional. Artinya, kita belum dapat menjabarkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Penjelasan UUD 1945 sendiri menunjukan adanya Undang-Undang sebagai pelaksana hukum dasar tertulis itu. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 itu memerlukan penjabaran lebih lanjut.

Penjabaran itu sebagai arahan untuk kehidupan nyata. Penjabaran tersebut, kemudian dinamakan nilai instrumental. Nilai-nilai instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang dijabarkannya. Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh nilai dasar itu.

Penjabaran itu jelas tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya. Sifat-sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986) adalah sebagai berikut : a. Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra.

Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai. Yang dapat kita indra adalah orang itu. b. Nilai memiliki nilai normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita dan suatu kekuasaan sehingga nilai memiliki sifat ideal (dos sollen).

Nilai ini diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya nilai keadilan. Semua orang berharap mendapatkan dari berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan. c. Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari nilai. Nilai akan selalu berada di sekitar manusia dan melingkupi kehidupan manusia dalam segala bidang. Nilai amat banyak dan selalu berkembang. Contoh nilai adalah kejujuran, kedamaian, kecantikan, keindahan, keadilan, kebersamaan, ketakwaan dan kehormatan. Dalam filsafat, niali dibedakan dalam tiga macam, yaitu : a.

Nilai logika adalah nilai benar salah b. Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah c. Nilai etika atau moral adalah nilai baik buruk. Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan.

Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia berlaku benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabannya salah.

Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan.

Nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu.

Kita tidak bisa memaksakan bahwa lukisan itu indah. Nilai moral adalah salah satu bagian dari nilai yaitu yang menangani kelakuan baik/buruk dari manusia. Moral selalu berhubungan dengan nilai tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral.

Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih bersifat dengan tingkah laku kehidupan sehari-hari. Notonegoro dalam Kaelan (2000) menyebutkan adanya tiga macam nilai.

Ketiga nilai itu adalah sebagai berikut : a. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmnai manusia atau kebutuhan ragawi manusia. b. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan/ aktivitas. c. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

Nilai kerohanian, meliputi: 1) Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia. 2) Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan (emotion) manusia. Sumber : Buku Modul Sosiologi Paket C Setara SMA Kelas X, 2006 Akhmad Solihin October 29, 2014 CB Blogger Indonesia Warga belajar sekalian berikut ini kita akan mengulas sedikit tentang Nilai dan macam-macam nilai yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran di kelas kita akan menemukan pembahasan tentang nilai ini di beberapa mata pelajaran, khususnya mata pelajaran PPKn dan Sosiologi, juga uraian dan bahasan Nilai ini sering keluar pada soal-soal Ujian Akhir nanti.

Jadi warga belajar agar menyimak dengan seksama dan sungguh-sungguh, sehingga paham betul tentang Nilai ini, sebagai berikut : 1.

Pengertian Nilai Menurut kamus besar bahasa Indonesia Istilah nilai diartikan sebagai : a. Harga dalam arti taksiran misal nilai emas, b. Harga sesuatu misalnya uang, c. Angka, sekor, d. Kadar, mutu, e. Sifat-sifat atau hal penting bagi kemanusiaan Dari beberapa pengertian di atas, disimpulkan bahwa nilai adalah suatu yang berharga, bermutu, menunjukan kualitas dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia.

Beberapa pengertian tentang nilai dapat dijelaskan dari pendapat beberapa ahli : a. Nilai merupakan pedoman tingkah laku tentang sesuatu yang indah, efisien dan pantas dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dimiliki seseorang, cita-citanya, sikap, minatnya, perasaanny, keyakinannya, kegiatannya, dan kecemasannya. b. Nilai sekaligus dapat berupa pilihan atau juga merupakan norma, kaidah, perintah yang dianut dalam masyarakat. Sebagai pilihan atau sikap pribadi, nilai bersumber pada kebutuhan seseorang.

Sebagai kaidah atau norma masyarakat nilai dipatuhi sehingga hidupnya menjadi efektif dan efisien. c. Nilai sebagai sesuatu keyakinan yang harus dilakukan oleh seseorang atau sesuatu yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Pendapat ketiga ini selajutnya membedakan nilai sebagai penyebab adalah sumber dari nial instrumental.

Nilai-nilai instrumental merupakan alat untuk mencapai tujuan terkandung dlaam nilai penyebab. Adanya dua macam tersebut sejalan dengan penegasan Pancasila sebagai ideologi terbuka.

Perumusan Pancasila Pembukaan UUD 1945 dinyatakan sebagai nilai dasar dan penjabarannya sebagai nilai instrumental. Nilai dasar tidak berubah dan tidak boleh dirubah lagi. Betapa pun pentingnya nilai dasar yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum operasional.

Artinya, kita belum dapat menjabarkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan UUD 1945 sendiri menunjukan adanya Undang-Undang sebagai pelaksana hukum dasar tertulis itu. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 itu memerlukan penjabaran lebih lanjut. Penjabaran itu sebagai arahan untuk kehidupan nyata. Penjabaran tersebut, kemudian dinamakan nilai instrumental. Nilai-nilai instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang dijabarkannya.

Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh nilai dasar itu. Penjabaran itu jelas tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya.

Sifat-sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986) adalah sebagai berikut : a. Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu.

Yang dapat kita indra adalah orang itu. b. Nilai memiliki nilai normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita dan suatu kekuasaan sehingga nilai memiliki sifat ideal (dos sollen). Nilai ini diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya nilai keadilan. Semua orang berharap mendapatkan dari berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan. c. Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung nilai.

Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari nilai.

Nilai akan selalu berada di sekitar manusia dan melingkupi kehidupan manusia dalam segala bidang. Nilai amat banyak dan selalu berkembang. Contoh nilai adalah kejujuran, kedamaian, kecantikan, keindahan, keadilan, kebersamaan, ketakwaan dan kehormatan.

Dalam filsafat, niali dibedakan dalam tiga macam, yaitu : a. Nilai logika adalah nilai benar salah b. Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah c.

Nilai etika atau moral adalah nilai baik buruk. Berdasarkan nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai di atas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia berlaku benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabannya salah.

Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan. Nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai.

Kita tidak bisa memaksakan bahwa lukisan itu indah. Nilai moral adalah salah satu bagian dari nilai yaitu yang menangani kelakuan baik/buruk dari manusia. Moral selalu berhubungan dengan nilai tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia.

Nilai moral inilah yang lebih bersifat dengan tingkah laku kehidupan sehari-hari. Notonegoro dalam Kaelan (2000) menyebutkan adanya tiga macam nilai. Ketiga nilai itu adalah sebagai berikut : a. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmnai manusia atau kebutuhan ragawi manusia. b. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan/ aktivitas.

c. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian, meliputi: 1) Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia.

2) Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan (emotion) manusia. Sumber : Buku Modul Sosiologi Paket C Setara SMA Kelas X, 2006Yahoo is part of the Yahoo family of brands.

By clicking " Accept all" you agree that Yahoo and our partners will store and/or access information on your device through the use of cookies and similar technologies and process your personal data, to display personalised ads and content, for ad and content measurement, audience insights and product development.

Your personal data that may be used • Information about your device and Internet connection, including your IP address • Browsing and search activity while using Yahoo websites and apps • Precise location You can select ' Manage settings' for more information and to manage your choices. You can change your choices at any time by visiting Your Privacy Controls. Find out more about how we use your information in our Privacy Policy and Cookie Policy.

Click here to find out more about our partners.
Manusia tidak dapat hidup tanpa nilai. Nilai sebagai sifat atau kualitas yang membuat sesuatu berharga, layak diingini dan dikehendaki, dipuji, dihormati, dan dijunjung tinggi, pantas dicari, diupayakan dan dicita-citakan perwujudannya, merupakan pemandu dan pengarah hidup kita sebagai manusia.

Berdasarkan sistem nilai yang kita miliki dan kita anut kita memilih tindakan mana yang perlu dan bahkan wajib kita lakukan dan mana yang perlu dan wajib kita hindarkan.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Berdasarkan sistem nilai yang kita miliki dan kita anut, kita memberi arah, tujuan, dan makna pada diri dan keseluruhan hidup kia. Dengan kata lain, berdasarkan sistem nilai yang kita miliki dan dalam kenyataan kita hayati, akhirnya kita membentuk indentitas diri kita sebagai manusia dan bahkan menentukan nasib keabadian kita.” Demikianlah kutipan yang diambil penulis dari kata pengantar J.

Sudarminta dalam buku Paulus Wahana yang berjudul Nilai Etika Aksiologi Max Scheler. Dari kutipan di atas, manusia, demikianlah ia dinamakan, adalah manusia yang tidak hidup tanpa nilai. Sebab dengan nilai, manusia digerakkan untuk nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai selangkah”; manusia mengalami transformasi.

Nilai. Ia tidak berada jauh dari hidup kita. Ia berada dekat degan hidup kita. Bahkan sangat dekat. Kehadirannya menuntut kesadaran kita. Kehadirannya bukanlah pertamatama berdasarkan pada pengalaman atau karena pengalamanlah maka kita mengetahui bahwa nilai sesuatu itu baik atau jelek atau nilai itu ada dan tidak ada. Tidak! Saya tegaskan sekali lagi Tidak. Nilai itu entah baik atau jahat ada dalam dirinya sendiri tanpa bergantung pada apa yang mengembannya.

Ia tetap ada dalam dirinya sendairi. Sekarnag, kitalah yang berusaha agar apa yang bernilai itu kita sadari sehingga kita mengalami apa yang disebut mengidentifiksai plus menginternalisasi nilai. Jika demikian apa hubungan antara nilai dengan realitas pluralitas Indonesia?

Hidup kita selalu dikelilingi dengan aneka nilai. Dan nilai-nilai itu menuntut pertanggungjawaban kita artinya kita mempunyai tanggung jawab atas arah dan tujuan hidup kita tanpa mengabaikan nilai-nilai yang ada disekitar kita.

Nilai-nilai yang ada disekitar kita termanifestasi dalam realitas pluralitas di Indonesia. Realitas yang menyimpan nilai-nilai yang mendorong dan mengarahkan manusia menuju kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Akan tetapi, manusia, justru menggunakan realitas itu sebagai senjata dan alsan untuk saling bermusuhan, saling bertikai satu sama lain. Jadi, agar realitas pluralitas yang tetap merupakan perbedaan tanpa mengalami pergeseran ke arah pertentangan dan yang masing-masingnya memiliki nilai yang ideal, maka perlulah kita memperlajari dan memahami nilai.

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia.

[1] Adanya dua macam nilai tersebut sejalan dengan penegasan pancasila sebagai ideologi terbuka. Perumusan pancasila sebagai dalam pembukaan UUD 1945. Alinea 4 dinyatakan sebagai nilai dasar dan penjabarannya sebagai nilai instrumental. Nilai dasar tidak berubah dan tidak boleh diubah lagi. Betapapun pentingnya nilai dasar yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum operasional. Artinya kita belum dapat menjabarkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Penjelasan UUD 1945 sendiri menunjuk adanya undang-undang sebagai pelaksanaan hukum dasar tertulis itu. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 itu memerlukan penjabaran lebih lanjut.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Penjabaran itu sebagai arahan untuk kehidupan nyata. Penjabaran itu kemudian dinamakan Nilai Instrumental. Nilai Instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang dijabarkannya Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan dalam batas-batasyang dimungkinkan oleh nilai dasar itu. Penjabaran itu jelas tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya.

Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabanya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan, nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan.

Seseorang nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu. Kita tidak bisa memaksakan bahwa luikisan itu indah. Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia.

Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. 2. Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.
KEPRIBADIAN, NILAI, DAN GAYA HIDUP Nama Kelompok Fikry fadhil (13213469) Ferdy yohanes ( 19213766) Kelas 3EA18 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat allah SWT, bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah pengantar manajemen ini.

Yang atas rahmatnya sehingga kami dapat menyeleseikan makala yang berjudul “ Manajemen Pemasaran “. dalam penulisan makala ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi pembuatan makala ini. Makalah ini penulis menjelaskan apa itu manajemen pemasaran dimana dalam manjemen pemasaran sangatlah dibutuhkan dalam memasarkan dalam suatu barang. Pemasaran itu adalah proses sosial manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan,menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain.

Dalam penulisan makala ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. BAB I • Latar Belakang Memahami kepribadian setiap konsumen sangat penting bagi pemasar, karena kepribadian sangat terkait dengan prilaku yang di timbulkan oleh konsumen.

Dari beberapa definisi kepribadian dapat di simpulkan bahwa kepribadian sangat erat dengan adanya perbedaan karakteristik yang dimiliki setiap manusia, dengan perbedaan karakteristik inilah menghasilkan banyak sekali perilaku manusia yang berbeda dalam merespon setiap stimulus.

Individu yang memiliki karakteristik yang hampir sama cenderung akan bereaksi yang relative sama terhadap stimulus nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai sama. Pemahaman tentang konsumen dan proses konsumsi akan menghasilkan sejumlah manfaat, antara lain yaitu kemampuan untuk membantu para manager mengambil keputusan, memberikan para peneliti pemasaran pengetahuan dasar ketika menganaisis konsumen, serta membantu para konsumen untuk mengambil keputusan yang lebih baik.

Dengan mempelajari prilaku konsumen dapat memperdalam pengetahuan kita tentang faktor-faktor psikologis, sosiologi, dan ekonomi yang mempengaruhi semua konsumen. Para pemasar berusaha untuk mengetahui kepribadian konsumen dan apa pengaruh terhadap prilaku konsumsi.

Pemahaman tersebut sangat penting agar pemasar dapat merancang komunikasi yang sesuai dengan sasaran konsumen yang di tuju, sehingga konsumen dapat menerima produk atau jasa yang si pasarkan sesuai dengan kepribadiannya. BAB II Pembahasan • PENGERTIAN KEPRIBADIAN Kepribadian didefinisikan sebagai ciri-ciri kejiwaan dalam diri yang menentukan dan mencerminkan bagaimana seseorang berespon terhadap lingkungannya.

Penekanan dalam definisi ini adalah pada sifat-sifat dalam diri atau sifat-sifat kewajiban yaitu kualitas, sifat, pembawaan, kemampuan mempengaruhi orang dan perangai khusus yang membedakan satu individu dari individu lainnya. Kepribadian cenderung mempengaruhi pilihan seseorang terhadap produk. Nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai inilah yang mempengaruhi cara konsumen merespon usaha promosi para pemasar, dan kapan, di mana, dan bagaimana mereka mengkonsumsi produk dan jasa tertentu.

Karena itu, identifikasi teerhadap karakteristik kepribadian khusus yang berhubungan dengan perilaku konsumen sangat berguna dalam penyusunan strategi segmentasi pasar perusahaan. Sifat-sifat Dasar Kepribadian : 1) Kepribadian mencerminkan perbedaan individu Karena karakterisitik dalam diri yang memebentuk kepribadian individu me rupakan kombinasi unik berbagai faktor, maka tidak ada dua individu yang betul-betul sama. Kepribadian merupakan konsep yang berguna karena memungkinkan kita untuk menggolongkan konsumen ke dalam berbagai kelompok yang berbeda atas dasar satu atau beberapa sifat.

2) Kepribadian bersifat konsisten dan bertahan lama Suatu kepribadian umumnya sudah terlihat sejak manusia berumur anak-anakhal ini cenderung akan bertahan secara konsisten membentuk kepribadian ketika kita dewasa. Walaupun para pemasar tidak dapat merubah kepribadian konsumen supa ya sesuai dengan produk mereka, jika mereka mengetahui, mereka dapat berusaha me narik perhatian kelompok konsumen yang menjadi target mereka melalui sifat-sifat relevan yang menjadi karakteristik kepribadian kelompok konsumen yang bersangku tan.

Walaupun kepribadian konsumen mungkin konsisten, perilaku konsumsi mereka s ering sangat bervariasi karena berbagai faktor psikologis, sosiobudaya, lingkung an, dan situasional yang mempengaruhi perilaku.

3) Kepribadian dapat berubah Kepribadian dapat mengalami perubahan pada berbagai keadaan tertentu. Karena adanya berbagai peristiwa hidup seperti kelahiran, kematian, dan lain sebagainya.

Kepribadian seseorang berubah tidak hanya sebagai respon terhadap berbagai peristiwa yang terjadi tiba-tiba, tetapi juga sebagai bagian dari proses menuju ke kedewasaan secara berangsur-angsur. • TEORI KEPRIBADIAN 2.1 Teori Freud Teori ini dibangun atas dasar pemikiran bahwa kebutuhan atau dorongan yang tidak disadari, terutama dorongan seksual dan dorongan biologis lainnya, merupakan inti dari motivasi dan kepribadian manusia.

Didasarkan kepada analisisnyaFreud mengemukakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari 3 sistem yang saling mempengaruhi yaitu id, superego, dan ego. Id dirumuskan sebagai “gudang” dari berbagai dorongan primitif dan impulsif berupa kebutuhan fisiologis dasar seperti rasa haus, lapar, dan seks yang diusahakan individu untuk segera dipenuhi, terlepas dari bagaimana cara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu.Sedangkan superego dirumuskan sebagai pernyataan diri individu mengenai moral dan kode eti k yang berlaku di dalam masayarakat.

Peran superego adalah menjaga agar individu tersebut memuaskan kebutuhan dengan cara yang dapat diterima masyarakat. Terakhir, yaitu ego, merupakan pengendalian individu secara sadar. Fungsinya sebagai p emantau dalam diri manusia yang berusaha menyeimbangkan tuntutan id yang impulsi f dengan kendala sosial buadaya atas superego. Freud juga menekankan bahwa kepribadian individu dibentuk ketika ia mela lui beberapa tahap khas perkembangan bayi dan masa kanak-kanak.

Tahap-tahap ini terdiri dari tahap oral, anal, phallic, laten, dan genital. Menurut teori Freud, kepribadian orang dewasa ditentukan oleh seberapa baik dia menghadapi krisis ya ng dialami selama melalui setiap tahap ini. Para peneliti yang menerapkan teori psikionalitis Freud pada studi kepribadian konsumen percaya bahwa dorongan pada manusia sebagian besar tidak disadari dan bahwa para konsumen terutama tidak menyadari alasan mereka yang sebenarnya atas pembelian suatu jenis barang / jasa tertentu.

Para peneliti ini cenderung memandang bahwa pembelian konsumen dan kepemilikan barang oleh konsumen sebagaicerminan dari kepribadian individu yang bersangkutan. 2.2 Teori Kepribadian Neo-Freud Penganut Neo-Freud percaya bahwa hubungan sosial menjadi dasar pembentukan dan pengembangan kepribadian.

Alfred Adler memandang manusia berusaha supaya dapat mencapai berbagai sasaran yang rasional yang disebutnya gaya hidup. Dia juga banyak menekankan pada usaha individu untuk mengatasi perasaan rendah diri. Harry Stack Sullivan menekankan bahwa manusia terus menerus berusaha membangun hubungan yang berarti dan bermanfaat dengan orang lain.

Ia terutama tertarik pada berbagai usah individu untuk mengurangi tekanan, seperti kegelisahan. Karen Horney juga memfokuskan pada pengaruh hubungan anak-orang tua, dan keinginan individu untuk mengatasi perasaan gelisah.

Banyak pemasar menggunakan teori Neo-Freud ini secar intuitif. Misalnya jika seorang pemasar ingin memposisikan produk mereka sebagai produk yang memberikan kesempatan menjadi bagian dan dihargai orang lain dalam lingkkungan kelompok / sosial tertentu, maka pemposisian produk tersebut berdasarkan pengggambaran karakterisitik individu yang yang patuh menurut Horney.

2.3 Teori Sifat Teori sifat merupakan awal penting berpisahnya dari pengukuran kualitatif yang menjadi ciri khas gerakan pengikut Freud dan Neo-Freud. Orientasi Teori Sifat terutama bersifat kuantitatif / empiris. Teori ini memfikuskan pada pengukuran kepribadian menurut karakteristik psikologis khusus yang disebut sifat. Sifat didefinisikan sebagai cara yang khas dan relatif bertahan lama yang dapat membedakan seorang individu dari individu lain.

Tes sifat kepribadian tunggal yang dipilih (yang hanya mengukur satu sifat) sering disusun terutama untuk dipakai dalam studi perilaku konsumen. Tes kepribadian ini mengukur berbagai sifat seperti keinovatifan konsumen (seberapa besar kemauan seseorang untuk menerima berbagai pengalaman baru), materialisme konsumen (tingkat kecenderungan konsumen pada “kepemilikan duniawi”), dan etnosentrisme konsumen (kemungkinan konsumen untuk menerima/ menoilak berbagai produk buatan luar negeri).

Para peneliti sifat telah menemukan bahwa biasanya lebih realistis mengharapkan kepribadian berhubungan dengan cara konsumen membuat pilihan mereka atas konsumsi golongan produk yang luas, bukan atas merk tertentu. • KEPRIBADIAN DAN MEMAHAMI PERBEDAAN KONSUMEN 3.1 Keinovatifan konsumen dan sifat kepribadian yang berkaitan Para praktisi pemasaran berusaha mempelajari semua yang dapat mereka pelajarai mengenai invator konsumen karena respon pasar para inovator konsumen sering menjadi petunjuk atas faktor-faktor yang akhirnya akan menentukan sukses tidaknya produk / jasa baru tertentu.

Inovator konsumen yaitu mereka yang cenderung menjadi orang pertama mencoba berbagai produk, jasa atau praktik baru.

Sifat kepribadian yang berguna untuk membedakan anatar inovator konsumen dan bukan inovator meliputi sifat-sifat konsumen sebagai berikut: -Keinovatifan Para peneliti konsumen telah berusaah menyusun instrumen pengukuran untuk menaksir tingkat keinovatifan konsumen, karena ukuran sifat kepribadian tersebut memberikan wawasan yang penting mengenai sifat dan batas-batas kesediaan konsumen untuk berinovasi.

-Dogmatisme Dogmatisme adalah sebuah sifat kepribadian yang mengukur tingkat kekakuan (versus keterbukaan) yang ditunjukkan individu terhadap hal yang belum dikenal dengan baik dan terhadap informasi yang berlawanan dengan kepercayaan mereka yang sudah mendalam. -Karakter Sosial Karakter sosial adalah sifat kepribadian yang berkisar dari pengarahan diri sendiri dan pengarahan oleh orang lain. Para konsumen yang diarahkan oleh diri sendiri cenderung menyandarkan pada nilai-nilai / standar dalam diri mereka sendiri dalam menilai berbagai produk barudan berkemungkinan menjadi konsumen inovator.

Mereka cenderung tertarik pada tipe pesan promosi yang berbeda terutama iklan yang menkankan sifat-sifat produk dan manfaat pribadi. Sedangkan poara konsumen yang diarahkan oleh orang lain cenderung mencari petunjuk dari orang lain mengenai apa yang betul dan apa yang salah. Mereka cenderung menyukai iklan-iklan yang menonjolkan lingkungan masyarakat / penerimaan masyarakat yang disetujuinya.

Jadi,para individu yang diarahkan oleh orang lain mungkin lebih mudah dipengaruhi. • Tingkat stimulasi optimum (TSO) : Tingkat stimulasi optimum(TSO) berkaitan dengan kesediaan yang lebih besar untuk mengambil resiko, mencoba berbagai produk baru, menjadi inovatif, mencari informasi yang berhubungan dengan pembelian, dan menerima fasilitas eceran yang baru daripada TSO yang rendah.

Skor TSO juga kelihatan mencerminkan tingkat stimulasi gaya hidup yang diingini seseorang. Sebagai contoh, para konsumen yang gaya hidup sebenarnya sama dengan skor TSO mereka kelihatan sangat puas, sedangkan orang-orang yang gaya hidupnya kurang memperoleh stimulasi, mungkin pemborosan.

Sedangkan mereka yang mempunyai gaya hidup yang berlebihan, mungkin mencari ketenangan atau kelegaan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara gaya hidup konsumen dan TSO mereka mungkin mempengaruhi pilihan mereka akan produk dan jasa serta cara mereka mengatur dan menggunakan waktu mereka. 2.Pencari Variasi – Kesenangan Baru : Ada berbagai tipe konsumen pencari variasi : perilaku pembelian yang bersifat penyelidikan ( misalnya berpindah merek untuk mengalami berbagai pilihan baru dan mungkin alternatif yang lebih baik), penyelidikan pengalaman orang lain (misalnya memperoleh informasi mengenai pilihan baru atau berbeda dan kemudian memikirkan atau merenungkan pilihan tersebut), dan keinovatifan pemakaian ( menggunakan produk yang sudah bisa dipakai dengan cara baru).

Para pemasar sampai tingkat tertentu diuntungkan jika menawarkan berbagai pihan tambahan kepada para konsumen yang lebih mencari variasi produk, karena konsumen yang mempunyai kebutuhan yang tinggi akan variasi cenderung mencari pasar yang menyediakan berbagai lini produk.

Namun jika produk yang ditaearkan terlalu banyak memiliki keistimewaan, konsumen mungkin akan berpaling dan menghindari lini produk yang mempunyai terlalu banyak variasi. Akhirnya parapemasar harus menempuh jalan yang tepat, yaitu jangan terlalu banyak, dan jangan terlalu edikit pilihan yang ditawarkan kepada konsumen. 3.2 Faktor Kepribadian Kognitif Kepribadian kognitif mempengaruhi berbagai aspek perilaku konsumen.

Khusunya – dua sifat kepribadian kognitif – kebutuhan akan kognisi dan orang-orang yang suka visual (pengamat) versus orang-orang yang suka verbal (kata-kata) Kebutuhan Akan Kognisi : Kebutuhan ini mengukur kebutuhan atau kesenangan seseorang untuk berpikir.

Konsumen yang tinggi Kknya mungkin lebih responsif terhadap bagian iklan yang banyak memuat informasi atau dekripsi yang berhubungan dengan produk. Konsumen yang relatif rendah Kknya mungkin lebih tertarik pada latar belakang atau aspek di sekitar iklan, seperti model nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai menarik atau selebriti yang terkenal. Riset kepribadian kognitif menggolongkan konsumen ke dalam kelompok orang yang suka visual ( konsumen yang lebih menyukai informasi visual dan produk yang menekankan pada penawaran visual, seperti keanggotaan dalam klub videotape) dan orang yang suka verbal ( konsumen yang lebih menyukai informasi dan produk tertulis atau verbal, seperti keanggotaan dalam klub buku atau klub audiotape).

Beberapa pemasar menekankan dimensi visualyang kuat untuk menarik orang yang suka visual, yang lain mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban, atau menonjolkan uraian atau penjelasan yang terinci untuk menarik perhatian orang yang suka verbal.

3.3 Dari Materialisme Konsumen Samapai Ke Konsumen Yang Kompulsif Materialisme Konsumen : Materialisme sebagai sifat kepribadian membedakan antara individu yang menganggap kepemilikan barang sangat penting bagi identitas dan kehidupan mereka, dan orang-orang yang menganggap kepemilikan barang merupakan hal yang sekunder.

Ciri-ciri orang yang materialistis yaitu : (1) mereka sangat menghargai barang-barang yang dapat diperoleh dan dapat dipamerkan; (2) mereka sangat egosentris dan egois;(3) mereka mencari gaya hidup dengan banyak barang ( misalnya mereka ingin mempunyai berbagai barang, bukannya gaya hidup yang teratur dan sederhana saja); (4) kebanyakan milik mereka tidak memberikan kepuasan pribadi yang lebih besar (maksudnya barang-barang milik mereka tidak memberikan kebahagiaan yang lebih besar).

Perilaku Konsumen yang Mendalam Diantara materialisme dan desakan untuk membeli atau memiliki terdapat gagasan keterikatan yang mendalam dalam mengkonsumsi atau memiliki. Seperti materialisme, perilaku konsumsi yang mendalam termasuk perilaku yang normal dan diterima secara sosial. Para konsumen yang berperasaan mendalam tidak merahasiakn barang-barang atau pembelian barang yang diminatinya sebaliknya mereka sering mempertunjukkannya, dan keterlibatan mereka secara terbukadilakukan bersama-sama orang lain yang mempunyai minat yang sama.

Dalam dunia kolektor serius, terdapat berjuta-juta konsumen yang medalam ang berusaha memenuhi minat mereka dan menambah koleksi mereka. Karakteristik konsumen yang mendalam yaitu : (1) minat yang dalam (mungkin penuh gairah) terhadap barang atau golongan produk tertentu (2) kesediaan untuk bepergian jauh dalam rangka menambah contoh-contoh barang atau golongan produk yang diminati, dan (3) dedikasi untuk mengorbankan uang dan waktu yang banyak secara bebas untuk mencari barang atau produk tersebut.

Bagi konsumen yang menda lam, bukan hanya muncul keterlibatan yang berjangka panjang atas golongan barang itu sendiri tetapi juga intensifnya keterlibatan atas proses memperoleh barang itu ( kadang-kadang disebut perburuan).

Perilaku Konsumsi yang Kompulsif : Konsumsi yang kompulsif termasuk perilaku yang abnormal yang merupakan contoh ”sisi gelap konsumsi”. Para konsumen yang kompulsif cenderung kecanduan; dalam beberapa hal mereka tidak dapat mengendalikan diri, dan tindakan mereka dapat berakibat merusak diri sendiri dan orang-orang di sekeliling mereka.

Contohnya adalah berjudi yang tidak dapat dikendalikan, kecanduan obat bius alkoholisme, dan berbagai penyimpangan makanan dan minuman. Untuk mengendalikan atau menghilangkan masalah kompulsif tersebut biasanya diperlukan beberapa tipe terapi atau perlakuan klinis. • KEPRIBADIAN MERK Kepribadian merk menghubungkan berbagai sifat atau karakteristik ”mirip-kepribadian” pada berbagai merk di berbagai macam golongan produk.

Citra merek yang mirip kepribadian seperti itu mencerminkan visi konsumen mengenai intisari dari berbagai merek produk konsumen yang kuat. Personifikasi Merk : Personifikasi merek yaitu berusaha menuangkan kembali persepsi konsumen mengenai sifat-sifat produk atau jasa ”karakter manusiawi”.

Banyak konsumen yang menyatakan perasaan diri mereka mengenai produk atau merek menurut kepribadian yang mereka kenal. Mengenali hubungan kepribadian merek konsumen sekarang ini atau menciptakan hubungan kepribadian untuk produk baru merupakan tugas pemasaran yang penting. Mr. Coffee, merek alat pembuat kopi yang populer dan menetes secara otomatis menggambarkan hubungan konsumen-merek. Para konsumen menyebut Mr.Coffee seolah-olah produk tersebut adalah seseorang. Jadi Mr.Coffee dipandang sebagai seseorang yang dapat diandalkan, bersahabat, efisien, cerdas, dan hebat.

Ada lima dimensi yang menentukan kepribadian merek yaitu ketulusan, kegairahan, kemampuan, kecanggihan, dan kekuatan, dan segi-segi kepribadian yang mengalir dari tiap dimensi seperti ketulusan hati, keberanian, cerdas, dan luwes.

Kerangka ini cenderung menampung berbagai kepribadian merek yang dikejar oleh berbagai produk konsumen. Kepribadian Produk Dan Gender : Kepribadian produk atau pesona sering melengkapi produk atau merek dengan gender. Pemberian gender sebagai bagian dari gambaran kepribadian produk sesuai sekali dengan realitas pasar bahwa produk dan jasa, pada umumnya dipandang oleh konsumen mempunyai gender.

Misalnya kopi dan pasta gigi merupakan produk maskulin, sedangkan sabun mandi dan shampo dipandang sebagai produk feminin. Kepribadian Dan Warna : Konsumen tidak hanya mengaitkan sifat-sifat kepribadian ke produk dan jasa tetapi mereka juga cenderung menghubungkan berbagai faktor kepribadian ke berbagai warna khusus. Contohnya, Coca Cola dihubungkan dengan merah yang mengandung arti kegembiraan. Kuning dihubungkan dengan sesuatu yang baru, dan hitam sering mengandung arti kecanggihan.

Kombinasi hitam dan putih menunjukkan bahwa produk dibuat dengan teliti, berteknologi tinggi, dan desainnya canggih. Nike menggunakan warna hitam, putih, dan sedikit merah untuk berbagai model sepatu olahraganya yang terpilih yang secara tidak langsung menyatakan ”sepatu olahraga berkinerja tinggi”.

Untuk mengungkapkan pandangan tersebut, para peneliti menggunakan berbagai macam teknik pengukuran kualitatif,seperti observasi, kelompok fokus, wawancara yang mendalam, dan teknik proyektif. 5.POLA DAN JENIS-JENIS KEPRIBADIAN Pola Kepribadian Elizabeth B.

Hurlock mengemukakan bahwa pola kepribadian merupakan suatu penyatuan struktur yang multi dimensi yang terdiri atas self-concept sebagai inti atau pusat grafitasi kepribadian dan traits sebagai struktur yang mengintegrasikan kecenderungan pola-pola respon. Masing-masing pola itu dibahas dalam paparan berikut. Nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai Concept (Concept of Self) Self-Concept ini dapat diartikan sebagai (a) persepsi, keyakinan, perasaan, atau sikap seseorang tentang dirinya sendiri; (b) kualitas pensipatan individu tentang dirinya sendiri; (c) suatu sistem pemaknaan individu tentang dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

Self-concept ini memiliki tiga komponen, yaitu: (a) perceptual atau phsycal self-concept, citra seseoarang tentang penampilan dirinya (kemenarikan tubuh atau bodynya), seperti: kecantikan, keindahan atau kemolekan tubuhnya; (b) conceptual atau psychological self-concept, konsep seseorang tentang kemampuan (kelemahan) dirinya, dan masa depannya, serta meliputi juga kualitas penyesuaian hidupnya: honesty, self-confidence, independence, dan courage, dan (c) attitudinal, yang menyangkut perasaan seseorang tentang dirinya, sikapnya terhadap keberadaan dirinya, sikapnya terhadap keberadaan dirinya sekarang dan masa depannya, sikapnya terhadap keberhargaan, kebanggaan dan keterhinaannya.

Apabila seseorang telah masuk masa dewasa, komponen ketiga ini terkait juga dengan aspek-aspek: keyakinan, nilai-nilai, idealita, aspirasi, dan komitmen terhadap filsafat hidupnya. Dilihat dari jenisnya, self-concept ini terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut. • The Basic Self-Concept Jame menyebutnya sebagai real self, yaitu konsep seseorang tentang dirinya sebagaimana apa adanya.

Jenis ini meliputi : persepsi seseorang tentang penampilan dirinya, kemampuan dan ketidak mampuannya, peranan dan status dalam kehidupannya, dan nilai-nilai, keyakinan, serta aspirasinya. • The Transitory Self-Concept Ini artinya bahwa seseorang memiliki self-concept yang pada suatu saat dia memegangnya, tetapi pada saat lain dia melepaskannya.

Self-concept ini mungkin menyenangkan, tetapi juga tidak menyenangkan. Kondisinya sangat situasional, sangat dipengaruhi oleh suasana perasaan (emosi), atau pengalaman yang telah lalu. • The Social Self-Concept. Jenis ini berkembang berdasarkan cara individu mempercayai orang lain yang mempersepsi dirinya, baik melalui perkataan maupun tindakan.

Jenis ini sering juga dikatakan sebagai mirror image. Contoh : jika kepada seorang anak secara terus menerus dikatakan bahwa dirinya naughty (nakal), maka dia akan mengembangkan konsep dirinya sebagai anak yang nakal.

Perkembangan konsep diri sosial seseorang dipengaruhi oleh jenis kelompok sosial dimana dia hidup, baik keluarga, sekolah, teman sebaya atau masyarakat. Jersild mengatakan apabila seoarang anak diterima, dicintai, dan dihargai oleh orang-orang yang berarti baginya (yang pertama orang tuanya, kemudian guru, dan teman), maka anak dapat mengembangkan sikap untuk menerima dan menghargai dirinya sendiri. Namun apabila orang-orang yang berarti (significant people) itu menghina, menyalahkan, dan menolaknya, maka anak akan mengembangkan sikap-sikap yang tidak menyenangkan bagi dirinya sendiri.

• The Idea Self-Concept konsep diri ideal merupakan persepsi seseorang tentang apa yang diinginkan mengenai dirinya, atau nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai apa yang seharusnya mengenai dirinya. Konsep diri ideal ini terkait denga citra fisik maupun psikis. Pada masa anak terdapat diskrepansi yang cukup renggang antara konsep diri ideal dengan konsep diri yang lainnya.

Namun diskrepansi itu dapat berkurang seiring dengan berkembangnya usia anak (terutama apabila seseorang sudah masuk usia dewasa). • Nilai • Pengertian Nilai Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia.

Adanya dua macam nilai tersebut sejalan dengan penegasan pancasila sebagai ideologi terbuka. Perumusan pancasila sebagai dalam pembukaan UUD 1945. Alinea 4 dinyatakan sebagai nilai dasar dan penjabarannya sebagai nilai instrumental. Nilai dasar tidak berubah dan tidak boleh diubah lagi. Betapapun pentingnya nilai dasar yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum operasional. Artinya kita belum dapat menjabarkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Penjelasan UUD 1945 sendiri menunjuk adanya undang-undang sebagai pelaksanaan hukum dasar tertulis itu. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 itu memerlukan penjabaran lebih lanjut. Penjabaran itu sebagai arahan untuk kehidupan nyata. Penjabaran itu kemudian dinamakan Nilai Instrumental. Nilai Instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang dijabarkannya Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan dalam batas-batasyang dimungkinkan oleh nilai dasar itu.

Penjabaran itu jelas tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya. • Ciri-Ciri Nilai Sifat-sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986) adalah Sebagai berikut : • Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran.

Kejujuran adalah nilai,tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu. Yang dapat kita indra adalah kejujuran itu. • Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai nemiliki sifat ideal (das sollen).

Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya, nilai keadilan. Semua orang berharap dan mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.

• Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya.Misalnya, nilai ketakwaan.

Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan. • Macam-Macam Nilai Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu • Nilai logika adalah nilai benar salah.

• Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah. • Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabanya salah.

Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan, nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu.

Kita tidak bisa memaksakan bahwa luikisan itu indah. Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. Notonegoro dalam Kaelan (2000) menyebutkan adanya 3 macam nilai.

Ketiga nilai itu adalah sebagai berikut : • Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia. • Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas. • Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian meliputi : 1) Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia.

2) Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan(emotion) manusia. 3) Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak (karsa,Will) manusia.

4) Nilai religius yang merupakan nilai keohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia. • Gaya Hidup Gaya hidup menurut Plummer (1983) gaya hidup adalah cara hidup individu yang di identifikasikan oleh bagaimana orangmenghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya(ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitar.

• Konsep Gaya Hidup dan Pengukurannya Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menjalankan apa yang menjadi konsep dirinya yang ditentukan oleh karakteristik individu yang terbangun dan terbentuk sejak lahir dan seiring dengan berlangsungnya interaksi sosial selama mereka menjalani siklus kehidupan.

Psikografi adalah variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur gaya hidup. Bahkan sering kali istilah psikografi dan gaya hidup digunakan secara bergantian.

Beberapa variabel psikografi adalah sikap, nilai, aktivitas, minat, opini, dan demografi. Teori sosio-psikologis melihat dari variabel sosial yang merupakan determinan yang paling penting dalam pembentukan kepribadian.

Teori faktor ciri, yang mengemukakan bahwa kepribadian individu terdiri dari atribut predisposisi yang pasti yang disebut ciri (trait). Konsep gaya hidup konsumen sedikit berbeda dari kepribadian. Gaya hidup terkait dengan bagaimana seseorang hidup, bagaimana menggunakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu mereka. Kepribadian menggambarkan konsumen lebih kepada perspektif internal, yang memperlihatkan karakteristik pola berpikir, perasaan dan persepsi mereka terhadap sesuatu.

• Ada 3 Faktor yang mempengaruhi Gaya Hidup Konsumen : 1) Kegiatan yaitu bagaimana konsumen menghabiskan waktunya.

2) Minat yaitu tingkat keinginan atau perhatian atas pilihan yang dimiliki konsumen. 3) Pendapat atau pemikiran yaitu jawaban sebagai respon dari stimulus dimana semacam pertanyaan yang diajukan. Contoh nyata pada kehidupan sehari-hari : Di Amerika Serikat kelas sosial ini seperti yang diklasifikasikan oleh Coleman menjadi 7 kelas sosial masing-masing kelas Atas-Atas, Atas Bawah, Menengah Atas, kelas Menengah, kelas Pekerja, Bawah Atas, Bawah-bawah Sementara di Kota Jakarta, hasil penelitian Sosiologi UI yang tertuang dalam Rencana Umum Pembangunan Sosial Budaya DKI Jakarta 1994-1995, dapat distratifikasikan dalam lima strata, yaitu lapisan elite, lapisan menengah, lapisan peralihan, lapisan bawah, dan lapisan terendah.

Dalam perilaku konsumen secara samar nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai membedakan pengertian kelas sosial dengan pengertian status sosial. Jika kelas sosial mengacu kepada pendapatan atau daya beli, status sosial lebih mengarah pada prinsip-prinsip konsumsi yang berkaitan dengan gaya hidup.

• Pengukuran Ganda Perilaku Individu Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku individu terhadap pengambilan keputusan konsumen : • sikap orang lain • Faktor situasi tak terduga Konsumen mungkin membentuk kecenderungan pembelian berdasar pada pendapatan yang diharapkan, harga, dan manfaat produk yang diharapkan. Ada 5 tahap proses pengambilan keputusan pembelian terdiri dari : • Pengenalan Kebutuhan Proses pembelian bermula dari pengenalan kebutuhan (need recognition)-pembelian mengenali permasalahan atau kebutuhan.

Pembeli merasakan adanya perbedaan antara keadaan aktual dan sejumlah keadaan yang diinginkan. • Pencarian Informasi Konsumen yang tergerak mungkin mencari dan mungkin pula tidak mencari informasi tambahan. Jika dorongan konsumen kuat dan produk yang memenuhi kebutuhan berada dalam jangkauannya, ia cenderung akan membelinya.

nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai

• Pengevaluasian Alternatif Cara konsumen memulai usaha nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai alternatif pembelian tergantung pada konsumen individual dan situasi pembelian tertentu. Dalam beberapa kasus, konsumen menggunakan kalkulasi yang cermat dan pikiran yang logis. • Keputusan Pembeli Tahap pengevaluasian, konsumen menyusun peringkat merek dan membentuk kecenderuangan (niat) pembelian. Secara umum, keputusan pembelian konsumen akan membeli merek yang paling disukai, tetapi ada dua faktor yang muncul diantara kecenderungan pembelian dan keputusan pembelian.

• Perilaku Setelah Pembelian Pekerjaan pemasar tidak hanya berhenti pada saat produk dibeli. Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas dan akan masuk ke perilaku setelah pembelian yang penting diperhatikan oleh pemasar. • Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup Menurut pendapat Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.Lebih lanjut Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal).

Faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi (Nugraheni, 2003) dengan penjelasannya sebagai berikut : • Sikap Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya. • Pengalaman dan pengamatan Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman.

Hasil dari pengalaman sosial akan dapat membentuk pandangan terhadap suatu objek. • Kepribadian Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu. • Konsep diri Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep diri. Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas untuk menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan image merek.

Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan frame of reference yang menjadi awal perilaku.

• Motif Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis. • Persepsi Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.

Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut : • Kelompok referensi Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang.

Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan kelompok yang memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana individu tidak menjadi anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu. • Keluarga Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku individu.Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.

• Kelas social Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan.

Kedudukan sosial artinya tempat seseorang dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya. Kedudukan sosial ini dapat dicapai oleh seseorang dengan usaha yang sengaja maupun diperoleh karena kelahiran. Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan.

Apabila individu melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan.

• Kebudayaan Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri pola pikir, merasakan dan bertindak.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup berasal dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal).

Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motifdan persepsi. Adapun faktor eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan. Orang-orang yang berasal dari sub-budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda.

Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya. Pemasar mencari hubungan antara produknya dengan kelompok gaya hidup konsumen.

Contohnya, perusahaan penghasil komputer mungkin menemukan bahwa sebagian besar pembeli komputer berorientasi pada pencapaian prestasi. Dengan demikian, pemasar dapat dengan lebih jelas mengarahkan mereknya ke gaya hidup orang yang berprestasi.

Terutama bagaimana dia ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosial yang disandangnya. Untuk merefleksikan image inilah, dibutuhkan simbol-simbol status tertentu, yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya.

• Kepribadian, Nilai, dan Gaya Hidup Terhadap Perilaku Konsumen Nilai dan Gaya hidup dalam perilaku konsumen sangat berkaitan erat dalam kaidah-kaidah menganalisa Perilaku Konsumen serta relevansinya dengan strategi market dalam membentuk sebuah konsumen yang kuat dengan produsennya.

Produsen tentu memiliki standar prosedur dalam menguasai pasar, tentunya apabila ingin memperoleh dan mendapatkan hati di para konsumen, hal-hal yang berkaitan dengan ini yaitu melakukan riset pemasaran, agar memperoleh hasil yang maksimal dalam proses penjualan. Kepribadian dan gaya hidup adalah naluri alamiah yang merupakan atribut atau sifat-sifat yang berada pada sifat manusia, bagaimana cara manusia berfikir, faktor lingkungan sebagai sebuah objek pengaruh dalam menentukan pola berfikir manusia, dan juga faktor pendapatan yang membentuk manusia pada pola-pola konsumerisme.

Cara berfikir manusia nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai sebuah ideologi atau gagasan yang bersifat idealistis yang dimiliki setiap manusia secara alamiah untuk menentukan suatu pola terarah dan memiliki sikap dalam menentukan banyak hal, hal inilah yang menjadi indikator bagi para pemasar, bagaimana mereka menganalisa sebuah pemikiran masyarakat agar mau membeli produk mereka.

Faktor-faktor lingkungan adalah suatu pola eksternal dalam mempengaruhi pola berfikir manusia dalam bersikap, yang akhirnya menjadi gaya hidup dan perilaku seseorang dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Pendapatan adalah sebuah hal pokok, yang akhirnya membentuk sebuah perilaku konsumen dalam bersikap dan juga memenuhi kebutuhan hidupnya, seorang yang memiliki pendapatan besar tentu memiliki gaya hidup yang berbeda dalam menjalani sebuah kehidupannya sehingga munculah sebuah perilaku konsumerisme, yaitu pola hidup yang berlebih-lebihan dalam mengambil keputusan untuk sebuah pola yang lebih dari apa yang dibutuhkan.

Kepribadian merupakan ciri watak seorang individu yang konsisten yang mendasari perilaku individu. Kepribadian sendiri meliputi kebiasaan, sikap, dan sifat lain yang kas dimiliki seseorang.

Tapi kepribadian berkembang jika adanya hubungan dengan orang lain. Dasar pokok dari perilaku seseorang adalah faktor biologis dan psikologisnya. Kepribadian sendiri memiliki banyak segi dan salah satunya adalah self atau diri pribadi atau citra pribadi.

Mungkin saja konsep diri actual individu tersebut (bagaimana dia memandang dirinya) berbeda dengan konsep diri idealnya (bagaimana ia ingin memandang dirinya) dan konsep diri orang lain (bagaimana dia mengganggap orang lain memandang dirinya).

Keputusan membeli dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri pembeli. Nilai memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat karena nilai sendiri merupakan ukuran mengenai baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan tak pantas.

Nilai sangat mencerminkan suatu kualitas pilihan dalam tindakan dalam hal apapun termasuk melakukan pembelian. Gaya hidup adalah cara hidup, yang diidentifikasi melalui aktivitas seseorang, minat, dan pendapat seseorang. Mowen dan Minor menyatakan bahwa penting bagi pemasar untuk melakukan segmentasi pasar dengan mengidentifikasi gaya hidup melalui pola perilaku pembelian produk yang konsisten, penggunaan waktu konsumen, dan keterlibatannya dalam berbagai aktivitas.

Mowen dan Minor juga menegaskan bahwa gaya hidup merujuk pada bagaimana orang hidup, bagaimana mereka membelanjakan uangnya, dan bagaimana mereka mengalokasikan waktu mereka. Hal ini dinilai dengan bertanya kepada konsumen tentang aktivitas, minat, dan opini mereka, gaya hidup berhubungan dengan tindakan nyata dan pembelian yang dilakukan konsumen sendiri menurut Kepribadian dan gaya hidup merupakan marupakan salah satu dari karakteristik pribadi yang mempengaruhi perilaku konsumen selain umur, pekerjaan, dan situasi ekonomi.

Banyak konsumen yang sangat loyal dengan produk tertentu saperti minuman pepsi sehingga mereka tidak akan minum minuman bersoda lainnya selain pepsi. Selain itu barang dan jasa juga mempunyai nilai yaitu nilai pakai dan nilai tukar.

Nilai pakai sendiri dibagi dua yaitu nilai pakai objektif dan nilai pakai subjektif. Nilai pakai objektif merupakan kemampuan suatu barang untuk memenuhi kebutuhan banyak orang sedangkan nilai pakai subjektif merupakan nilai yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu benda atau jasa dalam memenuhi kubutuhan pribadi pemakainya.

Sementara nilai tukar juga dibagi dua yaitu nilai tukar objektif dan nilai tukar subjektif. Teori nilai juga terbagi menjadi dua teori nilai objektif dan teori nilai subjektif. Yang termasuk teori nilai objektif yaitu teori biaya produksi dari Adam smith, teori dari biaya produksi tenaga kerja dari David ricardo, teori nilai lebih dari Karl mark, teori nilai reproduksi dari Carey, teori nilai pasar dari Humme dan Locke.

Sementara teori nilai subjektif yang terkenal yaitu hukum Gossen 1, hukum Gossen 2, dan Carl Menger. Menurut hukum Gossen 1 nilai suatu barang bagi konsumen yang mengkonsumsinya berkurang jika semakin banyak barang tersebut dikonsumsi.

Menurut hukum Gossen 2 manusia akan memuaskan kebutuhan yang beraneka ragam sampai mencapai tingkat intensitas yang sama. Menurut Menger nilai lebih ditentukan oleh faktor subjektif (kepuasan atau permintaan) dibandingkan faktor objektif (biaya produksi atau permintaan). BAB III Penutup Kesimpulan – Kepribadian adalah karakter-karakter internal termasuk didalamnya berbagai atribut,sifat,tindakan yang membedakan dengan orang lain. Secara praktis konsep kepribadian dapat didefinisikan sebagai seperangkat pola perasaan,pemikiran dan perilaku yang unik yang menjadi standar respon konsumen untuk berbagai situasi.

– Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. – Gaya hidup menurut Plummer (1983) gaya hidup adalah cara hidup individu yang di identifikasikan oleh bagaimana orangmenghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk manusia disebut nilai mereka anggap penting dalam hidupnya(ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitar.

• Saran Dari pembahasan di atas penulis berharap kepada mahasiswa- mahasiswi semua dalam berbisnis kita harus telaten dan mengetahui sifat dan karakter konsumen, baik dari segi kepribadian, nilai dan gaya hidup. Cuma itu saran yang dapat saya paparkan, semoga dapat membantu.

DAFTAR PUSTAKA Pawitra, Teddy, (2002), “Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran”, edisi 2, PT. Remaja Rosdakarya, Bandu Hurriyati, Ratih, (2008), “Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen”, edisi 2, CV.Alfabeta, Bandung.

Pawitra, Teddy, (2002), “Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran”, edisi 2, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung Internet – http://delviadelvi.wordpress.com/2011/01/20/kepribadian-nilai-dan-gaya-hidup-terhadap-perilaku-konsumen/ – http://id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/2291346-pengertian-kepribadian/#ixzz2HEKblWRU – http://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_hidup – http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian – http://www.scribd.com/doc/204164046/4-Kepribadian-Nilai-Dan-Gaya-Hidup#scribd

PPKN KLS 7




2022 www.videocon.com