Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

SHARE • Twitter • Facebook • Google+ • Pinterest • LinkedIn Jika bahasa adalah alat berkomunikasi, maka tujuan dari bahasa adalah menyampaikan pesan. Pesan yang memiliki fungsi terhadap situasi (konteks) penuturnya. Bahasa dengan demikian lebih dikenali dan digunakan sebagai medium atau alat dalam menjalankan fungsi (ekspresi) komunikasi manusia. Melalui sifat yang komunikatif tersebut, bahasa menunjukkan fungsinya secara lugas, efektif, bebas, dan kadang semaunya dalam mengakomodir ekspresi-ekspresi komunikasi manusia.

Eksistensi bahasa dalam karya sastra dikategorikan sebagai sistem tanda tingkat kedua atau cenderung memiliki karakteristik yang berbeda dari bahasa dalam tingkat pertama, yaitu bahasa sebagai fungsi komunikasinya. Fenonema tersebut mengindikasikan bahwa bahasa dalam (teks) sastra tidak sebatas fungsi komunikasi, melainkan sebagai pemaknaan yang hadir di dalam diri (strukturnya) dan juga mengacu pada konteks (di luar strukturnya). Pemaknaan tersebut mengarah kepada model harfiah atau denotasi (sebenarnya) dan model kias atau konotasi (simbolik).

Makna dalam teks (bahasa) sastra menjadi signifikan ketika ia bertemu dengan pembaca dan memperoleh interpretasi untuk diterima sebagai fakta estetik. Sebagaimana halnya bahasa dalam teks puisi yang cenderung terikat pada konvensi kiasan, Riffatterre menjelaskan adanya tiga proses dalam ketaklangsungan ekspresi puisi, yaitu displacing of meaning (penggantian arti), distorting of meaning (penyimpangan arti), dan creating of meaning (penciptaan arti).

Tiga proses tersebut menunjukkan bahwa reproduksi kata (bahasa) merupakan bahan baku bagi hadirnya “arti” dalam teks puisi. Dalam dimensi strukturalisme, arti di sini mengarah kepada satu metafor atau model yang secara konvensional terpusat dan diterima melalui kode, tanda, dan simbol yang mampu ditafsirkan oleh pembaca (pemakai bahasa).

Dalam khazanah perkembangan karya sastra Indonesia modern, semangat struktural ini masih menjadi satu model kanonik yang efektif dalam merumuskan estetika teks puisi (kreatif) dan juga sebagai titik pijak dalam melakukan kajian akademik (telaah/kritik).

Seiring perkembangan wacana mutakhir (ilmu pengetahuan dan filsafat) yang bergerak dari struktural ke pascastruktural, hal tersebut juga memberikan pengaruh bagi perkembangan dinamika estetik (sastrawan) dan metode telaah serta kritik sastra di Indonesia, khususnya terhadap karya puisi.

Usaha untuk menawarkan formulasi estetis dalam berkarya pun dimulai, tidak terkecuali juga dalam ranah kritik yang memaparkan model-model kajian dengan perspektif keilmuan dan teori-teori mutakhir.

Termasuk di dalamnya model telaah pascastruktural yang memberikan berbagai cara pandang dan kemungkinan baru yang melampaui struktural. Karya-karya puisi Indonesia mutakhir juga mengalami bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. dan pergerakan yang masif, baik secara struktur maupun tema (ide) yang mencoba menggali kemungkinan baru dalam menguraikan fenomena-fenomena estetik sebagai eksperimen, perayaan, hingga euforia.

Seiring terbukanya kemungkinan yang lebih luas, konsekuensi yang terjadi adalah formulasi-formulasi baru terhadap struktur dan ide (teknik, gaya, bahasa, dan isu/wacana). Kemungkinan tersebut harus bisa melampaui keterbatasan bahkan konvensi, sehingga menjadi kreatif dan adaptif bagi kemungkinan estetik penciptaan karya sastra. Kondisi di atas secara konseptual menunjukkan adanya dinamika sifat dan ciri (tema dan bentuk) yang diusung dalam model-model karya sastra mutakhir khususnya puisi.

Tidak kalah penting, perkembangan dunia digital dan informasi yang masif telah memberikan sumbangsih bagi hadirnya percikan-percikan gagasan secara simultan dalam proses kreatif pengarang Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa semua “kemungkinan” telah terbuka dan menjadi tidak terbatas, cair dan fleksibel. Dunia yang jungkir balik dirayakan, sebagai sebuah realitas estetik.

Kebudayaan digital dan informasi yang cepat telah menyumbang gagasan-gagasan menjadi nyata, viral, dan masif. Demikian halnya bahasa, menjadi lebih kompleks dan dinamis, pemaknaan menjadi luas, dan seterusnya. Gagasan-gagasan yang secara simultan dirayakan dalam berbagai model, telah memengaruhi estetika kebudayaan dan seni, termasuk di dalamnya gagasan dalam puisi.

Sebagai karya yang bermediumkan bahasa, bahasa puisi sudah bukan lagi suatu realitas struktur yang otonom, melainkan sudah menjelma sebagai suatu medium yang relatif tidak stabil, dinamis, dialektik, dan kontekstual. Hal ini menunjukkan adanya satu perkembangan gagasan yang secara masif bergerak dari singular ke plural. Bahasa bisa jadi menjadi medium untuk memediasi “ruang” lain dalam karya sastra.

Mengacu kepada sesuatu yang hadir di luar dirinya, sebagai ekspresi yang terus-menerus berusaha untuk melampaui yang sudah ada. Bahasa dengan demikian mengalami transformasi sebagai suatu realitas yang tidak tertahankan. Mengutip pernyataan Teeuw, ia bergerak melalui tegangan antara invensi dan konvensi.

Bahasa puisi pun demikian, ia bermain-main dengan dirinya untuk menciptakan keseriusan makna dan bahkan memaknai keseriusan sebagai permainan belaka. Pada situasi inilah bahasa puisi menjadi sangat relatif. Bahasa dalam konteks pascastruktural bahkan pascamodern dilihat bukan sekadar bersifat denotatif.

Bahasa tidak hanya penting dengan fungsi logis/epistemologis belaka. Bahasa menjadi fokus atau titik pusat yang mengalami transformasi dan pergeseran dari yang terpusat (sentral/dominan) menjadi tersebar (pinggiran/relatif).

Jika bahasa dalam puisi di era struktural terpusat pada metafora (tanda sebagai media bagi penanda lain untuk mencapai makna) maka di era pascastruktural bahasa dalam teks puisi mencoba bergeser ke metonimi (tanda sebagai media bagi dirinya sendiri).

Permainan tanda bahasa yang berpusat pada metafora seolah menjadi konvensi yang terus-menerus dieksplorasi oleh penyair. Sebagaimana ditekankan dalam gagasan dekonstruksi bahwa metafora sebenarnya “tidak berdasar”, bahasa cenderung mengingkari sifat ilusif dan arbitrernya persis pada titik di mana bahasa menjadi sarana paling meyakinkan.

Demikian halnya dalam karya puisi, bahasa yang menggunakan metafora sebagai bagian dari ketaklangsungan ekspresi menjadi sama ilusifnya. Ilusif dalam konteks puisi bisa dipahami sebagai metode untuk menjelaskan kemungkinan tawaran estetika yang diusung dalam karya-karya puisi mutakhir. Apabila kondisi tersebut masih mengacu pada model metafora sebagai pusat, maka bisa disimpulkan estetika dalam karya puisi tersebut cenderung memiliki karakter struktural (epistemologis).

Sebaliknya, jika karya puisi tersebut tidak hanya terbatas pada metafora tetapi juga berpindah ke sifat metonimi, kemungkinan besar hal tersebut menunjukkan adanya perubahan karakter estetik pascastruktural (ontologis). Pergulatan diri terhadap tanda dan ekspresi bahasa inilah yang secara bertahap menjadi dasar perkembangan dan perubahan estetika puisi dari periode ke periode.

Fenomena tersebut tampaknya diusung oleh Hasta Indriyana dalam buku kumpulan puisi terbarunya Belajar Lucu dengan Serius, Gramedia, 2017.

Bahasa puisi menjadi semacam medium untuk menciptakan kebaruan makna dan estetika dengan teknik bermain-main. Sebagai penyair, Hasta Indriyana menuntun pembaca kepada satu kenyataan bahwa penguasaan bahasa penting, sebab bahasa adalah pusat dari segala ekspresi komunikasi. Ia serius namun sekaligus bermain-main (lucu) dalam memperlakukan bahasa sebagai struktur teks (fisik) maupun sebagai tema (batin).

Melalui bahasa, puisi adalah semesta kemungkinan yang kompleks. Bahasa dalam puisi adalah dualitas, relasi antara tubuh dan jiwa. Jika dikaitkan pada dimensi pascatruktural, bahasa bersifat licin dan ambigu, yang tidak memiliki makna yang stabil.

Berdasar gagasan tersebut, bahasa terus-menerus menghadirkan realitas di satu sisi bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. di sisi yang lain menegasikannya sebagai satu fenomena bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

subtil bahkan ganjil. Barangkali konsep tentang metafora dan pusat dalam bahasa mulai dieksplorasi Hasta Indriyana sebagai model permainan estetikanya. Ia menggunakan bahasa dalam dua klasifikasi, yaitu “belajar lucu” dan “dengan serius”. Substansi “lucu” menekankan pada teknik permainan bahasa yang menghasilkan impresi pembaca secara kontemplatif dari suatu peristiwa.

Peristiwa kontemplatif tersebut sebenarnya sangat serius dan mendalam, namun dikemas dengan analogi dan asosiasi, kedekatan serta kecenderungan sifatnya. Sebagai misal puisi pembuka berjudul “Penjual Jam” berikut. Di toko besar penjual jam “Apakah toko ini menjual waktu?” Pemilik toko diam “Apakah toko menjual baterai abadi?” Pemilik toko diam “Apakah tik tok semua jam seperti detak nadi?” Pemilik toko diam “Apakah semua jarum di sini seruncing maut?” Pemilik toko diam “Apakah toko ini sudah setua waktu?” Pemilik toko diam “Apakah Anda bisa memperbaiki waktu saya Jika kelak rusak?” Toko seluas ruang itu senyap Tak mau menjawab Cimahi, 2016 Puisi tersebut menjelaskan bahwa bahasa adalah medium dalam mengekspresikan realitas dan gagasan tentang waktu.

Waktu direpresentasikan sebagai bagian yang tidak terelakkan dalam hidup manusia. Konsep waktu yang absolut dan mutlak direpresentasikan melalui teknik bermain-main. Permainan bahasa yang mengarah pada model asosiasi, mencari analoginya sebagai bentuk perbandingan yang dekat serta linier dengan momen puitik yang dimaksudkan penyair.

Bahasa dalam situasi teks puisi tersebut menunjukkan bahwa ia hadir untuk mengerucutkan suasana. Memiliki relasi dan koherensi yang padu, yaitu antara toko-waktu, toko-baterai abadi, tik tok-detak nadi, jarum-seruncing maut, tua-waktu, dan waktu saya-kelak rusak. Relasi tersebut mengarah pada pemaknaan tentang esensi waktu di toko (penjual) jam. Waktu dimaknai dalam relasi bahasa yang terseleksi berdasarkan kedekatan sifat dan konsepnya. Hal tersebut dimainkan sebagai teknik untuk menghasilkan komposisi yang impresif agar “kesegaran” bahasa puisi tercapai.

Teknik tersebut menunjukkan bahwa keseriusan berbahasa yang dikelola dengan tepat dan efektif akan menciptakan situasi puitik dari permainan kata yang diasosiasikan sebagai “lucu”.

Tentu saja, bukan konsep lucu dalam arti harfiah, yaitu menggelikan hati. Lucu dalam konteks estetik ini dipahami oleh Hasta Indriyana sebagai esensi dan ekspresi untuk mengarahkan ekstensi bahasa secara ontologis. Pilihan tersebut barangkali memiliki kecenderungan sebagai kamuflase. Ada kesadaran substansial yang melandasi estetika penyair dalam membaca wacana dan perkembangan puisi mutakhir.

Bahasa puisi yang awalnya sakral ditransformasi menjadi profan, serius menjadi lucu. Serius dan lucu bagi Hasta Indriyana diibaratkan sebagai dualitas yang berelasi, sebagai oposisi yang membentuk harmoni. Dari gagasan menuju ke bentuk, dari bentuk kembali ke gagasan, dan keduanya saling mengisi, saling melengkapi.

Bahasa yang lugas dan kocak menjadi metafora yang tidak sepenuhnya sederhana. Jika hendak disimpulkan, ia memilki kompleksitas abstrak sekaligus konkret, longgar sekaligus ketat, plural sekaligus singular, dan seterusnya. Konsep senada, bisa ditemukan dalam judul puisi, seperti “Di Toko Peti”, “Di Mall”, “Fried Chicken”, “Asu Cinta Padamu”, “Gerobak Afdruk”, “Tukang Edit Bahasa”, “Teman-Teman Maaf”, “Kopi”, “Selfie”, “Lebay”, “Gokil”, “Tubuh Bahasa”, “Kepo”, “Cemen”, “Rempong”, dan “Jadul”.

Sifat yang menggejala dalam pengalaman metaforis tersebut bisa ditemukan melalui dimensi narasi-narasi kecil, parsial, lokal, sehingga menunjukkan sifat yang plural dan kontekstual dalam diri penyair. Jika dikaitkan dalam dimensi pascamodern, sifat tersebut mengarah pada model pastiche, yaitu parodi yang kosong, netral, dan tanpa norma.

Tidak ada lagi realitas yang representatif (parodi yang ditiru). Pastiche meniru imajinasi kita sendiri (subjektif), khususnya dalam imajinasi dan permainan bahasa. Sebagai contoh, puisi dengan judul “Gokil” berikut.

GOKIL … Diam-diam ia mangkir ketika Seorang ahli bahasa mengajaknya Berumah di halaman 456. Rumah Yang bukan kampung halamannya Rumah baik dan benar yang semua Penghuninya waras, lurus, baku Dan kaku Gokil kawannya jancuk yang rumahnya Di Jawa Timur. Gokil temannya asu Di Jogja. Dan ia punya kembaran Namanya edan, punya sepupu Frasa luar biasa yang sering disebut oleh Thukul Arwana.

Gokil dilahirkan di Jakarte, tempat elu dan gue Dibesarkan … (“Gokil”, hlm 45-46, dalam Belajar Lucu dengan Serius) Puisi di atas secara sekilas menunjukkan dimensi sifat pascamodern yang menjadi semangat estetiknya. Bahasa yang semula terpusat sebagai fungsi komunikasi (metafora) “dilampaui” oleh penyair. Ia justru mengusung realitas empirik dari bahasa, yaitu relasi hierarkis antara bahasa baku dan bahasa gaul. Representasi tersebut tentu saja dipengaruhi konteks zaman di mana penyair menemukan fenonema bahwa bahasa kamus yang waras, lurus, baku, dan kaku adalah sebuah totalitas konstruktif (rasional/modern).

Sedangkan bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. wilayah sebaliknya, bahasa gaul justru menjadi realitas empirik yang langsung bersentuhan dalam interaksi keseharian dan konteks individual, kawan jancuk, temannya asu, kembarannya edan, dan sepupu frasa luar biasa (irasional/pascamodern).

Bahasa di dunia digital informasi ini sudah “menubuh” dan mengejawantah sebagai bagian komunikasi dalam puisi. Apabila di era modern, konsep metafora adalah pusat (epistemologis) dalam estetika puisi, maka di era pascamodern/pascatruktural bahasa cenderung berpusat pada metonimi sebagai medium estetiknya sekaligus juga bolak-balik di antara kedua poros tersebut.

Kondisi tersebut memaparkan realitas bahasa yang bergerak melalui kecenderungan sifat kedalaman menuju permukaan. Model pastiche, dalam kasus puisi di atas bisa dipahami sebagai gejala dalam mendekonstruksi eksistensi bahasa dari fungsi jasmaniahnya (oralitas/komunikatif) menjadi wilayah yang distrukturkan dan termediasi ke dalam yang rohaniah (konseptual/regulatif).

Konsep tersebut menunjukkan adanya “kuasa” atau konstruksi yang ideal dalam memperlakukan bahasa secara sistemik, yaitu melalui kaidah pembakuan dengan tujuan-tujuan konvensional yang terkontrol, terukur, dan resmi. Puitika pascamodern menawarkan dimensi alternatif, yaitu dengan mengaburkan batas-batas antara yang baku dengan yang tidak baku, adiluhung dengan populer, dan sebagainya.

Di tangan penyair, bahasa menjelma medium (piranti) untuk menuju “kesegaran” pemaknaan. Estetika inilah yang secara struktural dimediasi dalam gaya kepenulisan dalam keseluruhan buku Belajar Lucu dengan Serius. Penyair menguasai bahasa, mengonstruksinya melalui metode dan teknik berpuisi seperti paradoks, perbandingan-pertentangan, analogi, alusi, personifikasi, metafora, dan sebagainya.

Jika secara tekstual mengikuti perkembangan kepenyairan Hasta Indriyana, model dan teknik tersebut memiliki korelasi dengan buku Seni Menulis Puisi terbitan Gambang, 2014 yang pernah ditulisnya. Jika kondisi sebagaimana yang dimaksudkan tersebut dibaca secara pascamodern, maka bisa disimpulkan bahwa permainan bahasa yang terjadi dalam puisi “Gokil” di atas menunjukkan adanya pergeseran sifat dari isi ke bentuk atau gaya dan sebaliknya (bolak-balik), transformasi realitas menjadi citra, pastiche, dan juga alegori.

Secara verbal model dan teknik tersebut mengindikasikan semangat pascamodern/pascastruktural melihat peran bahasa sebagai elemen utama yang membedakan cara pandang terhadap realitas. Kemunculan pascamodernisme berawal dari reaksi menentang institusionalisasi modern di museum, universitas, dan gedung konser, serta kanonisasi ragam arsitektur tertentu. Hal ini kemudian memicu adanya upaya untuk membuat ruang baru dengan mengabaikan nilai-nilai modernisme.

Dalam konteks sastra, nilai-nilai tidak lagi dikenali termasuk juga kompleksitas dan ambiguitas bahasa, ironi, dan semesta yang konkret, serta konstruksi sistem simbolik yang terpadu. Fenomena ini menjadi salah satu penanda bahwa kesastraan Indonesia mutakhir sudah mengalami perkembangan estetik, khususnya karya-karya puisi dengan kecenderungan gejala pascamodernisme.

Makna yang Belum Beranjak dari Epistemologis Secara keseluruhan, buku kumpulan puisi Belajar Lucu dengan Serius strukturnya dipilah menjadi dua bagian, yaitu bagian “Belajar Lucu” dan bagian “Dengan Serius”.

Pemilahan tersebut jika dicermati mengindikasikan suatu alasan, baik konseptual maupun tekstual. Bagian “Belajar Lucu” secara konseptual memfokuskan pada gejala-gejala kekinian (fenonema bahasa, gaya hidup, realitas-realitas dalam parodi, dan keseharian). Secara tekstual, keseluruhan puisi pada bagian ini mengindikasikan kecenderungan gaya dan rentang penulisan yang dilakukan pada tahun 2016. Pemilihan tersebut memberikan klasifikasi atas dasar tipikal struktur dan teknik yang cenderung intensif antara satu puisi dengan puisi yang lainnya.

Bagian “Dengan Serius” cenderung berbeda dari bagian sebelumnya. Bagian ini secara struktur menggunakan teknik metafora sebagai strategi berbahasa yang cenderung serius, terpusat, dan konvensional. Jika dihubungkan dengan pembahasan tentang estetika pascamodern/pascastruktural di atas, keseluruhan karya puisi yang disajikan pada bagian “Dengan Serius” secara struktural berpusat pada konvensi metafora sebagai ekspresi puitik yang lazim digunakan dalam karya puisi Indonesia modern.

“Dengan Serius” menunjukkan model-model yang lebih baku, stabil, berbeda halnya dengan bagian “Belajar Lucu” yang cenderung relatif dan gaul.

Keduanya secara tekstual ditandai dengan perbedaan komoditi bahasa dalam dimensi yang cenderung berjarak. Kenyataan ini bukan tanpa tujuan, melainkan sebagai dualistis atau bahkan model oposisi biner, yang dilihat penyair memiliki potensi sebagai strategi dan teknik berpuisi.

Misal dianalogikan dalam konteks latar waktu, yaitu antara kekinian dengan kekunoan. Metafora sebagai pusat makna dalam bagian “Dengan Serius”, jika dicermati menunjukkan adanya transformasi estetik dalam model dan gaya kepenyairan penulis. Transformasi tersebut mengindikasikan bahwa pada bagian “Dengan Serius” lebih dominan menggunakan pola-pola konvensional dan lazim dalam teknik menciptakan puisi.

Pola konvensional dan lazim secara struktural lebih berpusat pada gagasan, tema, dan ide, sedangkan pada bagian “Belajar Lucu”, mencoba untuk melampaui konstruksi tematik dan cenderung memfokuskan pada permainan bahasa secara struktural, singular, dan ontologis. Meskipun pada kenyataannya kondisi ini belum sepenuhnya berhasil dan masih terbatas pada semangat dan gagasan belaka. Gagasan-gagasan tentang teknik dan kebaruan estetika memang bukan sebuah hasil yang final, melainkan sebagai proses yang terus-menerus harus dihadapi penyair sepanjang kebudayaan dan tanda (bahasa) terus berkembang.

Sebagai pusat makna penggunaan metafora bisa dilihat dalam kutipan puisi berikut. PENDIDIKAN Pendidikan terbuat dari Gerusan bahan kimia dan Herbal dalam kapsul Pendidikan bangun tidur Menjelang siang. Ia tidak suka Kopi dan selalu tergesa berangkat Kerja … Ibunya adalah kardus tempat Menyimpan benda-benda Lama. … … Orang-orang rumah itu Seperti obat pereda rasa nyeri Seseorang kadang mengharapkan Mereka datang cepat seperti Makanan yang bisa dipesan Lewat telepon genggam 2014-2016 Model di atas menegaskan bahwa metafora menjadi dominan dalam mengonstruksi pusat pemaknaan.

Bukan dalam artian dengan dominasi metafora tersebut puisi menjadi tidak bermakna, akan tetapi hal tersebut menjadi indikasi bahwa ada perbedaan gaya estetika puisi pada bagian “Dengan Serius” jika dibandingkan dengan bagian “Belajar Lucu”. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, estetika yang berpusat antara metafora dan metonimi adalah sebuah konsekuensi pembacaan terhadap gaya kepenyairan Hasta Indriyana dalam buku Belajar Lucu dengan Serius menunjukkan adanya gejala perubahan dari model konvensional tematik ke permainan bahasa.

Gejala tersebut menandai adanya pengaruh dari wacana pascastruktural/pascamodern yang menawarkan model-model alternatif dalam bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. realitas struktural dan juga tekstual dalam karya puisi. Perlu digarisbawahi, bahwa keseluruhan model estetik dalam buku puisi Belajar Lucu dengan Serius meskipun sudah mengindikasikan adanya sifat pascastruktural/pascamodern, belum sepenuhnya melampaui yang struktural/modern tersebut.

Mengapa demikian? Keberadaan estetik struktur dan tema yang diusung Hasta Indriyana tersebut masih berada dalam model semu. Ia menawarkan permainan bahasa bukan secara ontologis untuk menjelaskan realitas bahasa tersebut melainkan hanya sebagai medium terciptanya “kesegaran” struktur belaka.

Dalam artian, bahasa masih sebagai metafora untuk mengacu kepada penanda lain di luar dirinya. Hal ini bisa dikategorikan bahasa masih terpusat pada sifatnya yang epistemologis dan belum ontologis. Konstruksi estetik dalam kumpulan puisi Belajar Lucu dengan Serius jika dicermati dalam konteks perpuisian Indonesia mutakhir secara interteks juga terdapat pada karya-karya Joko Pinurbo. Secara estetik barangkali ada keterpengaruhan gaya antara karya Hasta Indriyana dengan gaya Joko Pinurbo.

Tentu saja hal ini masih sebatas asumsi dan praduga. Hasta Indriyana belum sepenuhnya melepaskan diri dari makna (metafora) sebagai pusat (ide/rohaniah) dan bahasa (struktur/jasmaniah) masih difungsikan sebatas komunikasi dengan pembaca. Sehingga bisa disimpulkan bahwa proses pembacaan karya-karya dalam Belajar Lucu dengan Serius menghasilkan proses universalitas makna secara total dan terpusat secara konvensional.

Kemungkinan Puisi dan Fenomena yang Euforia Apabila mengacu dalam kondisi mutakhir, gejala yang bisa disimpulkan dari kecenderungan pascamodernitas adalah euforia. Euforia dalam dunia perpuisian Indonesia ditunjukkan dengan hadirnya ruang-ruang baru yang secara simultan menandai perayaan. Perkembangan teknologi yang pesat telah menggantikan posisi alam, demikian juga dalam perkembangan teknologi digital.

Teknologi digital memunculkan mesin baru yang menjadi “masa depan” kehidupan, di mana manusia kadang kesulitan untuk merespons secara kognitif. Demikian halnya dengan dunia percetakan dan penerbitan dalam wilayah karya sastra, hal ini menjadi “pintu” kebebasan yang memukau.

Betapa tidak, fasilitas percetakan atau penerbitan telah bertransformasi melalui model digital dan komputerisasi yang semakin canggih serta praktis.

Pada wilayah ini teknologi disajikan melebihi kapasitas dan kategori manusia. Kebaruan teknologi juga memiliki kaitan yang erat dengan bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

lanjut karena sifatnya yang memukau. Teknologi menyediakan jalan pintas yang siap-pakai dan memungkinkan untuk menggapai jaringan kekuasaan dan bahkan mengendalikan apa yang selama ini sulit dijangkau oleh pikiran dan imajinasi.

Fenomena ini memiliki kecenderungan bahwa perkembangan “produksi” karya sastra memberikan ruang bagi siapa saja untuk masuk ke dalamnya. Selanjutnya, jika kita menilik perkembangan dewasa ini, ruang yang memberikan kehidupan bagi teks-teks sastra mulai bergeser dari cetak ke digital, dari kualitas ke kuantitas—meskipun perlu disadari bahwa gejala ini masih sebatas asumsi belaka. Sebagai contoh, pola-pola penerbitan pun bergeser dari yang konvensional (minimal cetak eksemplar) ke wilayah print on demand (POD) atau cetak berdasarkan permintaan/kebutuhan pemesan.

Hal ini menjadi lebih efektif dan praktis untuk memotong biaya produksi serta meminimalisir kerugian. Dampak yang terjadi cukup signifikan. Ruang-ruang penerbitan yang semula sepi, menjadi riuh. Buku-buku muncul secara masif, terutama buku puisi, yang bisa dicetak dengan biaya murah dan praktis. Realitas tersebut selanjutnya berhubungan dekat dengan bermacam perlombaan sastra yang cenderung menjadi timpang. Mengapa timpang? Barangkali disebabkan masifnya produksi karya sastra (dalam hal ini puisi) tanpa diimbangi dengan kritik sastra yang sebanding.

Alih-alih memberikan kontribusi bagi bacaan yang berkualitas, beberapa hasil perlombaan karya puisi cenderung terjebak pada mekanisme yang klise dikarenakan kualitas karya. Tantangan yang dihadapi dalam era kapitalisme global berupa munculnya anggapan bahwa identitas personal dan kekhasan gaya adalah bagian masa lalu, bahkan yang lebih radikal lagi menganggapnya sebagai suatu mitos belaka.

Oleh karena itu, para seniman dan penulis kini hanya bisa meniru gaya yang telah ada, karena semua gaya telah ditemukan dan hanya sedikit sekali yang berhasil menemukan gaya baru yang orisinal.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perlu adanya “kesadaran” melalui sikap kritis dan cermat, bahwa pascamodernitas sebagaimana dipaparkan Jameson adalah the death of the subject. Tatkala ledakan sastra modern yang menampung segala gaya dan perangai yang berbeda-beda kemudian diikuti oleh fragmentasi linguistik dalam kehidupan sosial. Pada kondisi tersebut, ketersediaan gaya personal semakin berkurang dan menyebabkan hilangnya subjek individual. Akibatnya norma pun tereduksi menjadi tuturan media yang netral dan tereifikasi.

Reifikasi berarti transformasi seseorang, proses, atau konsep abstrak menjadi sebuah “benda” dan “pembendaan”, ini adalah bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. Karl Marx atas masyarakat yang sakit. Pada keadaan inilah kekhasan bahasa tertentu menjadi sirna dan yang tersisa hanyalah stilistika yang beragam dan heterogen tanpa norma.

Dalam artian substansi/esensi tereduksi ke wilayah sensasi. Dewasa ini, hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya perayaan buku-buku puisi yang diterbitkan dalam berbagai model, bentuk, dan beragam tujuan, baik secara swadaya, antologi bersama, dari sosial media, hingga jenis-jenis perlombaan puisi yang fantastis. Di era digital informasi, puisi mengalami kemungkinan untuk dirayakan bertubi-tubi, melalui stilistika yang retoris.

Jika hal ini terus-menerus terjadi tanpa kendali, kemungkinan puitika menjadi datar dan kosong. Puisi sebatas menandai subjektivitas yang klise, teralienasi tanpa peduli dengan konteks sosiologis, kecuali relasi kekerabatan dan pertemanan. Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. ada lagi ironi dan parodi sebagai bentuk kritik terhadap realitas yang semakin membingungkan.

Hasta Indriyana masih menunjukkan bahwa puisi adalah ruang kontemplasi melalui model permainan bahasa, sebagai misal ironi, parodi, satire, dan sejenisnya.

Ia bermain-main dengan bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. sebagai upaya menegosiasikan ulang realitas, terutama bahasa.

Barangkali konstruksi tersebut secara filosofis bisa dijadikan satu rujukan terhadap eksistensi penyair dan juga pilihan-pilihan estetik dalam kerja kepenyairannya. Pembacan ini adalah sebuah upaya sederhana menafsirkan relasi antara kecenderungan gaya dan fenomena dari gejala pascamodern dalam realitas puisi mutakhir. Saya rasa upaya pembacaan ini juga terjebak pada argumentasi retoris yang semu dan terburu-buru.

Pengertian Puisi : Ciri-Ciri, Jenis, Struktur, dan Contohnya yang tepat paket-wisatabromo.com – Puisi tergolong teks fiksi. Teks puisi menjadi bahan ajar peserta didik di SMP kelas VII.

Peserta didik kelas VII harus memahami teks puisi dengan tepat. Pada pembelajaran kelas VII sudah dibahas mengenai puisi rakyat.

Puisi itu terdiri atas pantun, syair, dan gurindam. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai pengertian puisi. Selain itu di bahas juga mengenai ciri-cirijenis, struktur, dan contohnya. A. Pengertian Puisi Pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan ungkapan perasaan seorang penyair dengan menggunakan bahasa yang bermakna semantis serta mengandung irama, rima, dan ritma dalam penyusunan larik dan baitnya.

Ada juga yang menyebutkan pengertian puisi adalah suatu karya sastra yang isinya mengandung ungkapan kata-kata bermakna kiasan dan penyampaiannya disertai dengan rima, irama, larik dan bait, dengan gaya bahasa yang dipadatkan. Beberapa ahli modern mendefinisikan puisi sebagai perwujudan imajinasi, curahan hati, dari seorang penyair yang mengajak orang lain ke “dunianya.” Meskipun bentuknya singkat dan padat, umumnya orang lain kesulitan untuk menjelaskan makna puisi yang disampaikan dari setiap baitnya.

B.Ciri-Ciri Puisi Ciri-Ciri Puisi Baru • Nama pengarang atau penulis puisi diketahui. • Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama. • Mempunyai gaya bahasa yang dinamis atau berubah-ubah. • Puisi cenderung bersifat simetris atau memiliki bentuk rapi. • Lebih menggunakan sajak syair atau pola pantun. • Puisi biasanya berbentuk empat seuntai.

Ciri-Ciri Puisi Lama • Anonim atau tidak diketahui siapa nama penulis puisi. • Terikat pada jumlah baris, rima, irama, diksi, intonasi, dan sebagainya.

• Memiliki gaya bahasa yang statis/tetap dan klise. • Merupakan sastra lisan karena disampaikan dan diajarkan dari mulut ke mulut. Pengertian Puisi C. Jenis Puisi Puisi memiliki beragam jenis. Namun, pada umumnya puisi dibagi menjadi tiga jenis, yakni puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer.

Masing-masing jenis puisi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda, berikut ulasannya. 1. Puisi lama Pengertian Puisi lama merupakan puisi yang dihasilkan sebelum abad ke-20 sehingga puisi ini cenderung memiliki aturan dan bermakna yang sering digunakan saat upacara adat. dan Puisi ini terbagi menjadi beberapa jenis, seperti pantun, talibun, syair, dan gurindam.

2. Puisi baru Puisi baru merupakan sebuah karya sastra berisi ungkapkan perasaan serta pikiran dengan menggunakan bahasa yang memperhatikan irama, mantra, penyusunan lirik hingga makna dalam puisi tersebut.

3. Puisi kontemporer Puisi kontemporer adalah puisi yang selalu berusaha menyesuaikan perkembangan zaman atau keluar dari ikatan konvensional. Umumnya jenis puisi ini tidak lagi mementingkan irama serta gaya bahasa seperti puisi lama dan puisi baru. Adapun klasifikasi bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. kontemporer meliputi puisi konkret, puisi lama dan puisi mbeling atau puisi yang tidak mengikuti aturan umum.

D. Struktur Puisi Unsur-unsur puisi itu terdiri atas dua jenis yaitu struktur fisik dan struktur batin puisi.Pada kesempatan ini akan dibahas khusus mengenai struktur fisik puisi. Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi dari luar. Puisi disusun dari kata dengan bahasa yang indah dan bermakna yang dituliskan dalam bentuk bait-bait. Orang dapat membedakan mana puisi dan mana bukan puisi berdasarkan bentuk lahir atau fisik yang terlihat.

Berikut ini akan dibahas struktur fisik puisi yang meliputi: diksi, imajinasi, kata konkret, majas, versifikasi, majas dan tipografi. Pengertian puisi 1. Diksi atau Pilihan Kata Salah satu hal yang ditonjolkan dalam puisi adalah kata-katanya ataupun pilihan katanya. Bahasa merupakan sarana utama dalam puisi. Dalam menciptakan sebuah puisi penyair mempunyai tujuan yang hendak disampaikan kepada pembaca bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

puisinya. Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami hatinya. Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk itulah harus dipilih kata-kata yang setepat-tepatnya. Penyair juga ingin mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat.

Penyair harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu.

2. Imajinasi (Gambaran angan) Pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan. Ada hubungan yang erat antara pemilihan kata-kata, pengimajian dan kata konkret, di mana diksi yang dipilih harus menghasilkan imajinasi. Karena itu, kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati dalam penglihatan, pendengaran atau citarasa.

Pilihan serta penggunaan kata-kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan energi tersebut dapat mendorong imajinasi atau daya bayang kita untuk menjelmakan gambaran yang nyata. Dalam puisi kita kenal bermacam-macam imajinasi (gambaran angan) yang dihasilkan oleh indera pengihatan, pendengaran, pengecapan, rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan. Selanjutnya terdapat juga imaji penglihatan (visual), imaji pendengaran (auditif)dan imaji cita rasa (taktil).

Semua imaji di atas bila dijadikan satu, secara keseluruhan dikenal beberapa macam imajinasi, yaitu: Imajinasi Visual, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah seperti melihat sendiri apa yang dikemukakan atau diceritakan oleh penyair. Imajinasi Auditori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar sendiri apa yang dikemukakan penyair. Suara dan bunyi yang dipergunakan tepat sekali untuk melukiskan hal yang dikemukakan, hal ini sering menggunakan kata-kata onomatope.

Artikulatori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut waktu kita membaca sajak itu seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian mulut kita dengan sendirinya.

Olfaktori, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu. Kita seperti mencium bau rumput yang sedang dibakar, kita seperti mencium bau tanah yang baru dicangkul, kita seperti mencium bau bunga mawar, kita seperti mencium bau apel yang sedap dan sebagainya.

Gustatori, yakni imajinasi pencicipan. Dengan membaca atau mendengar kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam dan sebagainya. Faktual, yakni imajinasi rasa kulit, yang menyebabkan kita seperti merasakan di bagian kulit badan kita rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh perubahan suhu udara. Kinestetik, yakni imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan badan atau otot-otot tubuh.

Organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita seperti melihat atau merasakan badan yang capai, lesu, loyo, ngantuk, lapar, lemas, mual, pusing dan sebagainya. 3. Kata Konkret Salah satu cara untuk membangkitkan daya bayang atau daya imajinasi para penikmat sastra khususnya puisi adalah dengan menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang kongkret, yang dapat mengarah pada suatu pengertian menyeluruh.

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Semakin tepat sang penyair menggunakan kata-kata atau bahasa dalam karya sastranya maka akan semakin kuat juga daya pemikat untuk penikmat sastra sehingga penikmat sastra akan merasakan sensasi yang berbeda. Para penikmat sastra akan menganggap bahwa mereka benar-benar melihat, mendengar, merasakan, dan mengalami segala sesuatu yang dialami oleh sang penyair.

Dengan keterangan singkat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang dapat ditangkap dengan indra.

4.Majas atau Bahasa Figuratif Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambing. Bahasa kias merupakan wujud penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan makna dasar ke asosi lainnya. Kiasan yang tepat dapat menolong pembaca merasakan dan melihat seperti apa yang dilihat atau apa yang dirasakan penulis.

Adapun bahasa kias yang biasa digunakan dalam puisi ataupun karya sastra lainnya yaitu: a. Perbandingan/Perumpamaan (Simile) Perbandingan atau perumpamaan (simile) ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama, laksana, dan kata-kata pembanding lainnya. b. Metafora Bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana dan sebagainya. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama.

c. Personifikasi Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir dan sebagainya. Seperti halnya manusia danbanyak dipergunakan penyair dulu sampai sekarang. Personifikasi membuat hidup lukisan di samping itu memberi kejelasan kebenaran, memberikan bayangan angan yang konkret.

d. Hiperbola Kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca. e. Metonimia Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya. Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat hubungannya dengan mengganti objek tersebut. f. Sinekdoki (Syneadoche) Bahasa kiasan yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri.

Sinekdoke ada dua macam: -Pars Prototo: sebagian untuk keseluruhan -Totum Proparte: keseluruhan bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

sebagian g. Allegori Cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal lain atau kejadian lainnya. Perlambangan yang dipergunakan dalam puisi:Lambang warna, lambang benda: penggunaan benda untuk menggantikan sesuatu yang ingin diucapkan, lambang bunyi: bunyi yang diciptakan penyair untuk melambangkan perasaan tertentu, lambang suasana: suasana yang dilambangkan dengan suasana lain yanglebih konkret.

5.

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Versifikasi (Rima, Ritma dan Metrum) Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalisasi atau orkestrasi sehingga puisi menjadi menarik untuk dibaca. Dalam puisi banyak jenis rima yang kita jumpai antara lain: Menurut bunyinya: (a) Rima sempurna bila seluruh suku akhir sama bunyinya (b)Rima tak sempurna bila sebagian suku akhir sama bunyinya (c) Rima mutlak bila seluruh bunyi kata itu sama (d) Asonansi perulangan bunyi vokal dalam satu kata (e) Aliterasi: perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan, (f) Pisonansi (rima rangka) bila konsonan yang membentuk kata itu sama,tetapi vokalnya berbeda.

Jenis rima menurut letaknya antara lain: Rima • depan: bila kata pada permulaan baris sama • tengah: bila kata atau suku kata di tengah baris suatu puisiitusama • akhir bila perulangan kata terletak pada akhir baris • tegak bila kata pada akhir baris sama dengan kata padapermulaan baris berikutnya.

• datar bila perulangan itu terdapat pada satu baris. Menurut letaknya dalam bait puisi terdiri atas rima: • berangkai dengan pola aabb, ccdd • berselang dengan pola abab, cdef • berpeluk dengan pola abba, cddc • terus dengan pola aaaa, bbbb • patah dengan pola abaa, bcbb • bebas: rima yang tidak mengikuti pola persajakan yang disebut sebelumnya • Efoni kombinasi bunyi yang merdu dan indah untuk menggambarkan bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

mesra, kasih sayang, cinta dan hal-hal yang menggembirakan. • Kakafoni kombinasi bunyi yang tidak merdu, parau dan tidak cocok untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau, serba tak teratur, bahkan memuakkan.

Ritme Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Ritme terdiri dari tiga macam, yaitu: (a)Andante: Kata yang terdiri dari dua vokal, yang menimbulkan irama lambat.

(b)Alegro: Kata bervokal tiga, menimbulkan irama sedang (c)Motto Alegro: kata yang bervokal empat yang menyebabkan irama cepat. Metrum Selain itu, terdapat pula istilah metrum, yakni perulangan-perulangan kata yang tetap bersifat statis. Nama metrum didapati dalam puisi sastra lama. Pengertian metrum menurut Pradopo adalah irama yang tetap, pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu Peranan metrum sangat penting dalam pembacaan puisi dan deklamasi.

Ada bermacam tanda yang biasa diberikan pada tiap kata. Untuk tekanan keras ditandai dengan (/) di atas suku kata yang dimaksudkan, sedangkan tekanan lemah diberi tanda (U) di atas suku katanya. 6. Tipografi atau Perwajahan Ciri-ciri yang dapat dilihat sepintas dari puisi adalah perwajahannya atau tipografinya. Melalui indera mata tampak bahwa puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi. Larik-larik itu disusunke bawah dan terikat dalam bait-bait. Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi yang ingin dituliskan penyair.

Dengan demikian satu bait puisi bisa terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja. Dalam hal cara penulisannya puisi tidak selalu harus ditulis dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan seperti bentuk tulisan umumnya.

Susunan penulisan dalam puisi disebut tipografi. Struktur fisik puisi membentuk tipografi yang khas puisi. Tiprografi puisi merupakan bentuk visual yang bisa memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret.

Bentuk tipografi bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi, kerucut dan sebagainya. Jadi, tipografi memberikan ciri khas puisi pada periode angkatan tertentu Struktur Batin Puisi Struktur batin puisi atau struktur makna bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. pikiran perasaan yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991:47). Dan Struktur batin puisi merupakan wacana teks puisi secara utuh yang mengandung arti atau makna yang hanya dapat dilihat atau dirasakan melalui penghayatan.

Menurut I.A Richards sebagaimana yang dikutip Herman J.Waluyo menyatakan batin puisi ada empat, yaitu : tema(sense), perasaanpenyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), amanat (intention) (Waluyo, 1991:180-181). Berikut ini akan dibahas struktur batin puisi. 1. Tema Dalam sebuah puisi tentunya sang penyair ingin mengemukakan sesuatu hal bagi penikmat puisinya. Sesuatu yang ingin diungkapkan oleh penyair dapat diungkapkan melalui puisi atau hasil karyanya yang dia dapatkan melalui penglihatan, pengalaman ataupun kejadian yang pernah dialami atau kejadian yang terjadi pada suatu.

Masyarakat dengan bahasanya sendiri. Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan caranya sendiri. Atau dengan kata lain sang penyair ingin mengemukakan pengalaman pribadinya kepada para pembaca melalui puisinya (Tarigan, 1984:10). Inilah tema, tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh sang penyair yang terdapat dalam puisinya (Siswanto, 2008:124).

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Baca: • Mengidentifikasi Struktur Fisik Puisi Detail dan Lengkap • Jenis-Jenis Teks Fiksi Bahan Ajar Bahasa Indonesia, Ini Lebih Tepat • Jenis-Jenis Teks Fiksi Bahan Ajar Bahasa Indonesia, Ini Lebih Tepat • Contoh-Contoh Analisis Struktur Batin Puisi yang Tepat 2. Perasaan Penyair (Feeling) Perasaan bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya.

Dan, Perasaan penyair dalam puisinya dapat dikenal melalui penggunaan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisinya karena dalam menciptakan puisi suasana hati penyair juga ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca (Waluyo,1991:121). Hal ini selaras dengan pendapat Tarigan (1984:11) yang menyatakan bahwa rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya.

3. Nada dan Suasana Menurut Tarigan (1984:17) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair terhadap pembacanya atau dengan kata lain sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya.

4. Amanat (Pesan) Penyair sebagai sastrawan dan anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak merasa bertanggug jawab menjaga kelangsungan hidup sesuai dengan hati nuraninya.

Oleh karena itu, puisi selalu ingin mengandung amanat (pesan). Meskipun penyair tidak secara khusus dan sengaja E. Contoh Puisi Kehidupan Remaja Zaman Sekarang oleh: Dino Joy Begitu indahnya saat remaja Masa-masa penuh dengan tawa dan canda… Beratnya bebankehidupan yang belum terasa Belumlah nampak kerikil terjal kehidupan dimata… Indah masa remaja bagaikan pantai yang damai Yang belum pernah di sapa ombak besar dan badai… Menikmati keindahan hidup dan terbuai Dalam tumpulnya kedisiplinan dan kerap terbuai… Tingkah laku remaja cenderung berubah Seiring budaya zaman yang terus berputar arah… Menggerogoti tebalnya adat yang kian parah Tergilas roda mode zaman membuat orang tuapun pasrah… Dunia terus berputar hidup inipun terus berjalan Tak ada jeda waktu untuk menahan… Arus deras dan badai dasyat kan berdatangan Persiapkanlah diri agar tak terhanyut dalam buaian kebebasan zaman SAJAK PUTIH Bersandar pada tari warna Pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolamjiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah… Senja Di PelabuhanKecil Karya: Chairil Anwar (1946) Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.

Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan.

Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap Aku Ingin Karya: Sapardi Djoko Damono Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 1989 Hujan Bulan Juni Karya: Sapardi Djoko Damono tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu Demikian pembahasan mengenai Pengertian Puisi : Ciri-Ciri, Jenis, Struktur, dan Contohnya yang tepat.

Semoga bermanfaat. Search for: Search Recent Posts • Buku Matematika untuk SMK Kelas X Sekolah Penggerak Kurikulum Merdeka Unduh • Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMK Kelas X Kurikulum Merdeka Unduh • Download Buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMK Kelas X • Buku Panduan Guru PAUD TK Sekolah Penggerak Kurikulum Merdeka Unduh • Buku Panduan Guru Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Untuk PAUD Recent Comments • admin on Menyimpulkan Isi Teks Tanggapan yang Tepat dan Contohnya • Bisma Adinata on Menyimpulkan Isi Teks Tanggapan yang Tepat dan Contohnya • admin on Menelaah Struktur Dan Kebahasaan Teks Laporan Percobaan • admin on Menelaah Struktur Dan Kebahasaan Teks Laporan Percobaan • Jaris ammar bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

Menelaah Struktur Dan Kebahasaan Teks Laporan Percobaan
Silahkan dibaca dan dipelajari semoga bermanfaat. Jangan lupa berbagi kepada yang lainnya. Cukup dengan meng-klik tombol share sosial media yang Sekolahmuonline sediakan pada postingan di di bawah ini. Selamat dan semangat belajar. Contoh Soal Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. Indonesia Kelas X Bab 16 Mendalami Puisi ~ sekolahmuonline.com Jawablah soal-soal berikut ini dengan memilih huruf A, B, C, D, atau E pada jawaban yang benar dan tepat!

1. Pada saat membaca puisi, kita harus memperhatikan irama agar…. A. puisinya menarik B. tidak kehabisan nafas C. memahami makna puisi D. penampilan kita berhasil E. tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat Jawaban: E Irama merupakan pergantian tinggi rendah, panjang pendek, cepat lambat dan keras lembutnya suara dalam pembacaan puisi 2.

Pembacaan puisi Doa karya Chairil Anwar akan memperlihatkan ekspresi mimik berupa…. A. sedih B. gembira C. haru D. memberontak E. menakutkan Jawaban: C Puisi Doa karya Chairil Anwar merupakan puisi yang bertemakan ketuhanan. Puisi menggambarkan seorang hamba yang mengaku telah berbuat salah dan menyesalinya. 3. Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi, kecuali….

A. vokal, ekspresi, dan intonasi B. vokal, rima, dan ekspresi C. mimik, intonasi dan penghayatan D. penghayatan, ekspresi, dan rima E. vokal, ekspresi, dan penghayatan Jawaban: A Dalam membaca puisi, maka yang perlu diperhatikan adalah penguasaan vokal/artikulasi, ekspresi/mimik, dan intonasi yang tepat 4.

Ketepatan penyajian dalam menentukan keras dan lemah pengucapan suatu kata disebut…. A. Penghayatan B. Intonasi C. Ekspresi D. Vokal E. rima Jawaban: B 5. Salah satu hal yang penting kita lakukan agar membaca puisi dengan baik adalah.… A.

membaca puisi dengan satu tarikan napas panjang B. menguasai artikulasi tertentu saja dalam membaca puisi C. memperlihatkan ekspresi/mimik yang tepat sesuai isi puisi D. memahami suasana, menghayati tema, dan makna puisinya E. menguasai konsep tentang cara membacakan puisi dengan baik Jawaban: D Dengan memahami suasana, menghayati tema, dan makna puisi maka kita akan mudah untuk bias membacakan puisi dengan baik 6.

Membaca dalam hati puisi secara berulang-ulang bertujuan untuk…. A. melatih untuk penampilan yang lebih baik B. memahami isi dan cara membaca puisi C. melatih teknik pernapasan D. melatih vokal artikulasi E. menguasai puisi Jawaban: B Dengan membaca berulangkali puisi, maka akan memudahkan kita dalam memahami dan membacakan puisi dengan baik 7. Berikut ini merupakan vokal yang perlu kita kuasai saat membaca puisi, kecuali…. A. /a/, /i/, /u/, /e/, /o B. u/, /e/, /o/, /ai/, /au C. /i/, /u/, /e/, /o/, /ai D.

a/, /i/, /u/ ai/, /au E. /ai/, /au/, /ae/, /ab/, /ac Jawaban: E Vokal dalam puisi adalah /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ai/, /au, /ae/, ao/ 8.

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Seorang pembaca puisi yang baik mampu…. A. Membacakan puisi dengan penuh kepercayaan diri B. Menjiwai puisi yang dibacakan C. Memperlihatkan ekspresi D. Menguasai intonasi E. Menguasai vokal Jawaban: B Syarat untuk mampu menjadi pembaca puisi salah satunya adalah menjiwai keseluruhan isi puisi. 9. Pengungkapan atau proses menyatakan yang memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, dan perasaan dalam pembacaan puisi disebut….

A. ekspresi B. intonasi C. artikulasi D. vokal E. rima Jawaban: A 10. Tekanan pada kata-kata yang dianggap penting dalam bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. puisi disebut…. A. Intonasi B. Dinamik C. Tempo D. irama E.

Artikulasi Jawaban: B 11. Suatu karya puisi yang baik memiliki makna yang mendalam. Makna diungkapkan dengan memadatkan berbagai. A. kata B. nilai puisi C.

bahasa kias D. unsur bahasa E. kata imajinatif Jawaban: D 12. Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. merupakan karya sastra hasil ungkapan pemikiran dan perasaan manusia yang bahasanya terikat oleh hal-hal berikut, kecuali. A. rima B. ragam C. matra D. irama E.

penyusunan lirik Jawaban: B 13. Dengan adanya irama, puisi yang ditulis dapat disajikan dengan indah, sehingga mampu memengaruhi ketertarikan pembaca atau pendengar terhadap puisi. Berdasarkan pernyataan tersebut, pengertian irama adalah.

A. Pergantian, keras lembut, lambat cepat, panjang pendek, atau tinggi rendahnya pengucapan kata dalam puisi. B. Hasil dari upaya memilih kata kata tertentu untuk dipakai dalam suatu tuturan bahasa. C. Karya sasrta hasil ungkapan pemikiran dan perasaan manusia. D. Bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair. E. Penyusunan bunyi dari kata-kata dalam sebuah puisi. Jawaban: A 14. Untuk menemukan makna dalam sebuah puisi, pembaca harus membaca puisi dengan saksama dan memperhatikan banyak faktor dalam puisi tersebut.

Salah satunya adalah. A. Nilai seni dari pembacaan puisi B. Penggunaan diksi dalam bahasa C. Kemampuan seseorang membaca puisi D.

Pendengar merasa terbawa dalam puisi yang dibacakan E. penggunaan kata-kata kiasan Jawaban: B 15. Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. A. denotatif B. konotatif C. leksikal D. gramatikal E. lugas dan konkret Jawaban: B 16.

Bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusun lirik dan bait, serta penuh makna.

Pernyataan tersebut merupakan pengertian dari. A. cerita pendek B. karya sastra C. gurindam D. puisi E. prosa Jawaban: D 17. Buku yang memuat kumpulan puisi, baik dari seorang penyair atau beberapa penyair, pernyataan tersebut merupakan pengertian dari. A. pembacaan puisi B. memahami puisi C. antologi puisi D.

penilaian puisi E. menulis puisi Jawaban: C 18. Memahami isi puisi adalah upaya awal yang harus dilakukan oleh pembaca puisi untuk mengungkap makna yang. A. indah B. tersirat C. tersurat D. menarik E. imajinatif Jawaban: B 19. Puisi mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan kekuatan bahasa dengan. A. strukturnya B. unsur intrinsik C. unsur ekstrinsik D.

unsur pembangun E. struktur fisik dan batin Jawaban: E 20. Puisi berjudul “aku“ merupakan karya dari. A. Goenawan Muhammad B. Chairil Anwar C. Acep Zamzam D. H.B. Jasin E. Sitor Situmorang Jawaban: B. Chairil Anwar Demikian postingan Sekolahmuonline tentang contoh soal mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 10 Bab 16 tentang Mendalami Puisi lengkap dengan jawabannya.

Silahkan baca postingan-postingan Sekolahmuonline lainnya. Selamat dan semangat belajar. • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 1 Laporan Hasil Observasi • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 2 Isi Dan Aspek Kebahasaan Teks Laporan Hasil Observasi (LHO) • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 3 Identifikasi Teks Eksposisi • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 4 Struktur Dan Kebahasaan Teks Eksposisi • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 5 Makna Tersirat Dalam Teks Anekdot • Soal B.

Indonesia Kelas 10 Bab 6 Struktur Dan Kebahasaan Teks Anekdot • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 7 Nilai-nilai dan Isi Hikayat • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 8 Nilai-nilai dan Kebahasaan Teks Cerita • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 9 Butir-butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 10 Teks Negosiasi • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 11 Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Negosiasi • Soal B.

Indonesia Kelas 10 Bab 12 Berdebat Secara Santun • Soal B. Indonesia Kelas X Bab 13 Analisis Isi Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. • Soal B. Indonesia Kelas X Bab 14 Hal yang Dapat Diteladani dari Tokoh Biografi • Soal B.

Indonesia Kelas 10 Bab 15 Keteladanan Tokoh dalam Teks Biografi • Soal B. Indonesia Kelas 10 Bab 16 Mendalami Puisi Gaya bahasa dalam puisi seringkali digunakan penyair untuk membuat karyanya menjadi lebih indah. Pilihan kata yang digunakan dalam puisi bebas menentukan puisi terhadap nilai estetikanya. Gaya bahasa apabila dipadukan dengan pemilihan kata yang tepat maka akan menciptakan karya sastra yang lebih bermakna.

Gaya bahasa menjadi sangat penting untuk memperoleh aspek keindahan secara maksimal yang ada pada puisi lama dan puisi baru.

Gaya bahasa berkaitan dengan masalah penulisan, penyajian, komposisi, struktur penceritaan, termasuk penampilan huruf pada suatu puisi. Gaya bahasa bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. mampu membentuk tulisan dalam puisi secara keseluruhan menjadi puisi yang mudah dianalisis pembaca. Macam-macam gaya bahasa yang selama ini digunakan pada puisi sangat beraneka ragam. Tidak ada aturan baku yang mengelompokkan macam-macam gaya bahasa tersebut karena sangat luas jenisnya.

Seperti jenis-jenis majas yang sering kita lihat dalam karya sastra lainnya juga termasuk dalam puisi, novel, dan juga cerpen. Berikut terdapat macam-macam gaya bahasa yang sering muncul di dalam puisi : 1. Gaya Bahasa Perbandingan Gaya bahasa perbandingan dalam puisi sering digunakan untuk membandingkan benda mati sebagai benda hidup. Gaya bahasa perbandingan yang sering muncul dalam puisi yaitu simile, metafora, personifikasi, dan majas alegori.

Misalnya senyummu menghangatkan hatiku. 2. Gaya Bahasa Pertentangan Gaya bahasa pertentangan dalam puisi sering digunakan untuk menekannkan suatu makna agar lebih terasa maknanya. Meskipun terkadang terlalu bersifat terlalu melebihkan ataupun merendahkan suatu hal. Gaya bahasa pertentangah yang sering muncul dalam puisi yaitu hiperbola, litotes, dan ironi.

3. Gaya Bahasa Pengulangan Gaya bahasa pengulangan dalam puisi digunakan untuk mengaitkan suatu hal dengan lainnya secara vokal. Artinya barisan puisi memiliki barisan dengan suara yang indah ketika dibaca oleh pembaca. Gaya bahasa pengulangan dalam puisi yang sering dijumpai yaitu asonansi, danbisa di lihat pada contoh majas aliterasi dalam puisi.

Contoh gaya bahasa dalam puisi Agarlebih memahami macam-macam gaya bahasa dalam puisi, mari kita simak contohpuisi berikut. Optimisme (karyaW. S. Rendra) Cinta kita berdua adalah istanadari porselen. Angin telah membawa kedamaian Membelitkan kita dalampelukan Bumi telah memberi kekuatan, Karena kita telah melangkah Dengan ketegasan Muraiku, Hati kita berdua Adalah pelangi selusinwarna. Pada puisi tersebut terdapat beberapa gaya bahasa yang digunakan bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

penyair. Kalimat “ Cinta kita berdua adalah istana dari porselen”, menggunakan gaya bahasa perbandingan. Dengan menggunakan depersonifikasi, kalimat tersebut menjadikannya indah saat dibaca. Pada sajak “ Angin telah membawa kedamaian”, menggunakan gaya bahasa simile, artinya seolah-olah angin mampu memberikan rasa damai. Kalimat “ Membelitkan kita dalam pelukan”, menggunakan gaya bahasa personifikasi.

Sajak “ Bumi telah memberi kekuatan,” menggunakan personifikasi dan simile. Selanjutnya kalimat “ Karena kita telah melangkah dengan ketegasan,” menggunakan depersonifikasi. Kalimat sajak terakhir juga menggunakan gaya bahasa depersonifikasi. Hal itu ditunjukkan dengan “ Hati kita berdua Adalah pelangi selusin warna”. Sajak tersebut mengibaratkan hati manusia sebagai pelangi, artinya hati manusia depersonifikasikan sebagi pelangi.

Selanjutnya pada sajak yang digunakan dalam puisi tersebut menggunakan gaya bahasa pengulangan konsonan huruf mati, yaitu aliterasi. Sajak tersebut terdapat pada akhiran –an yang dilakukan berulang-ulang. “Cinta kita berdua adalah istanadari porselen. Angin telah membawa kedamaian Membelitkan kita dalampelukan Bumi telah memberi kekuatan” Sekarangperhatikan kembali contoh puisi berikut agar lebih memahami macam-macam gayabahasa dalam puisi. Lagu Serdadu(karya W. S. Rendra) Kamimasuk serdadu dan dapat senapan Ibukami nangis tapi elang toh harus terbang Yoho,darah kami campur arak!

Yoho,mimpi kami patung-patung dari perak Nenek cerita pulau-pulaukita indah sekali Wahai, tanah yang baik untuk mati Dan kala ku telentang denganpelor timah Cukilahia bagi puteraku di rumah Pada sajak “ elang toh harus terbang”, menunjukkan gaya bahasa simile dengan diri penyair diibaratkan sebagai elang. Selanjutnya sajak “ Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali”, merupakan gaya bahasa sindiran.

Dalam puisi tersebut dibuat saat perang terjadi, sehingga kenyataannya tidak seindah yang diceritakan nenek. Dilanjutkan dengan sajak “ tanah yang baik untuk mati”, juga menggunakan gaya bahasa sindiran. Maksud dari tanah yang baik merupakan medan perang (yang menggunakan gaya bahasa simile), sehingga bisa dikatakan bahwa medan perang bukanlah tempat yang baik untuk mati.

Selanjutnya pada sajak “ Dan kala ku telentang dengan pelor timah”, menggunakan gaya bahasa simile. Kata pelor timah diibaratkan sebagai peluru dari senapan. Barisan sajak yang digunakan pada puisi tersebut menggunakan pengulangan vokal asonansi. Terdapat dua pengulangan asonansi yaitu pengulangan vokal pada kata arak dan perak.

Yoho, darah kami campur arak! Yoho, mimpi kamipatung-patung dari perak Selain itu terdapat juga pengulangan asonansi pada kata timah dan rumah. Gaya bahasa asonansi tersebut sesuai dengan jenis rima dalam puisi dan juga di dalam syair sehingga memiliki unsur yang baik dalam setiap kata dan kalimat. Dan kala ku telentang denganpelor timah Cukilah ia bagi puteraku dirumah Demikianpenjelasan mengenai macam-macam majas yang sering ditemukan dalam puisi.
Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna konotasi (kiasan) Pembahasan Puisi menggunakan 2 bahasa yang memiliki makna : • Denotasi artinya kata bermakna yang memili arti sebenarnya dari suatu frasa/kata • konotasi adalah kata bermakna yang menimbulkan nilai rasa seseorang dan melekat pada suatu frasa/kata.

kata konotasi bersifat emosional. Namun kalimat yang lebih sering muncul dalam puisi adalah kata bermakna kontasi. contoh kalimat bermakna denotasi/kiasan Matahari itu terbit di ufuk timur dan memancarkan cahaya yang terang artinya: Matahari memang terbit di timur dan pada saat matahari muncul, ia mengeluarkan sinar yang menerangi bumi. contoh kalimat bermakna konotasi/kiasan sikapnya begitu memakan hatiku artinya: Sikap si dia membuat kesal/kecewa dan ia membuat luka dalam hati.

Pelajari lebih lanjut materi • Makna denotasi dan kontasi brainly.co.id/tugas/10088257 • Contoh kalimat denotasi dan konotasi brainly.co.id/tugas/14556427 • kalimat bermakna konotasi brainly.co.id/tugas/19940641 Detai jawaban Mapel : Bahasa Indonesia Kelas : VIII Materi : Puisi Kata Kunci : Makna denotasi dan konotasi Kode Kategorisasi : 8.1.4 Badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (bmkg) menyebut cuaca ekstrem masih akan terjadi di wilayah indonesia dalam sepekan ke depan.

hasil anal … isis bmkg merilis potensi hujan deras membayangi jakarta dan kota-kota lain di indonesia. analisis tersebut menunjukkan berkurangnya bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. tekanan rendah di belahan bumi utara (bbu), sekaligus meningkatnya pola tekanan rendah di belahan bumi selatan (bbs). ini mengindikasikan terjadinya peningkatan aktivitas monsun asia yang bisa mengakibatkan penambahan massa udara basah.

komentar yang tepat terhadap isi teks tersebut adalah . a. curah hujan tidak dapat diprediksi keberadaannya. b. indonesia harus mewaspadai hasil analisis bmkg ini. c. pola tekanan rendah di belahan bumi mengakibatkan hujan. d. hujan deras hanya melanda beberapa kota besar di indonesia.​
Brilio.net - Puisi adalah satu di antara bentuk karya sastra yang banyak disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya imajinatif.

Puisi juga dianggap sebagai rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penulisnya. Pesan yang ingin disampaikan penyair dirangkai dengan kata-kata yang indah, yang berbeda dengan bahasa sehari-hari.

foto: ilustrasi/pixabay.com Loading. Indonesia memiliki banyak penyair besar yang telah menghasilkan karya-karya puisi yang fenomenal, seperti Chairil Anwar, WS Rendra, Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan lain sebagainya. Beberapa sastrawan tersebut memiliki gaya bahasa masing-masing saat menulis dan membaca puisi.

Dilansir brilio.net dari berbagai sumber inilah pengertian puisi, ciri-ciri dan cara penulisnya. Ciri-Ciri puisi secara umum. 1.

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Penulisan puisi dituangkan dalam bentuk bait yang terdiri atas baris-baris, bukan bentuk paragraf. 2. Diksi yang dipakai dalam puisi biasanya bersifat kiasan, padat, dan indah. 3. Penggunaan majas sangat dominan dalam bahasa puisi. 4. Pemilihan diksi yang digunakan mempertimbangkan adanya rima dan persajakan. 5. Dalam puisi, setting, alur, dan tokoh tidak begitu ditonjolkan dalam pengungkapan.

Ciri-ciri puisi lama. 1. Anonim atau tidak diketahui siapa nama penulis puisi. 2. Terikat pada jumlah baris, rima, irama, diksi, intonasi, dan sebagainya. 3. Memiliki gaya bahasa yang statis/tetap dan klise. 4. Merupakan sastra lisan karena disampaikan dan diajarkan dari mulut ke mulut.

Ciri-ciri puisi baru. foto: ilustrasi/pixabay.com 1. Nama pengarang atau penulis puisi diketahui. 2. Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama. 3. Mempunyai gaya bahasa yang dinamis atau berubah-ubah.

4. Puisi cenderung bersifat simetris atau memiliki bentuk rapi. 5. Lebih menggunakan sajak syair atau pola pantun. 6. Puisi biasanya berbentuk empat seuntai. 7. Terdiri dari kesatuan sintaksis atau gatra. 8. Pada tiap gatra terdiri dari 4 sampai 5 suku kata. 9. Isi puisi baru umumnya berisi tentang kehidupan. Unsur-unsur puisi. foto: ilustrasi/pixabay.com Diksi. Diksi adalah pilihan kata yang pas dan selaras dalam puisi. Pilihan kata yang pas, akan menghidupkan situasi, perasaan, serta keindahan dari puisi.

Majas. Majas adalah satu gaya bahasa yang berbentuk kiasan. Pengarang puisi biasanya memakai bahasa kiasan agar puisi yang ditulis terlihat indah serta menarik. Bahasa kiasan mempunyai tujuan untuk mengemukakan secara otomatis tentang arti yang disebut oleh pengarang puisi. Rima atau Unsur Bunyi. Rima atau unsur bunyi abisa disebut sebagai sajak.

Jadi, rima merupakan satu pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak atau pada akhir larik di sajak. Pengulangan bunyi ini ditujukan untuk menambah nilai merdu dari puisi yang ditulis. Citraan atau Imajinasi. Citraan dipakai untuk memancing imajinasi dari pembaca. Pengarang puisi bakal memakai kata yang biasa dipakai untuk mengungkap pengalaman imajinasinya. Kata-kata yang dipakai itu memberi kesan pada panca indra untuk pembaca.

Jenis-jenis citraan dalam puisi antara lain, citraan pandang, citraan dengar, citraan rasa, serta citraan pengecap. Jenis-Jenis Puisi. foto: ilustrasi/pixabay.com Puisi memiliki beragam jenis, namun umumnya puisi dibagi menjadi tiga jenis, yakni puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer. Masing-masing jenis puisi tersebut memiliki bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. yang berbeda-beda, berikut ulasannya. 1. Puisi lama. Puisi lama merupakan puisi yang dihasilkan sebelum abad ke-20 sehingga puisi ini cenderung memiliki aturan dan bermakna yang sering digunakan saat upacara adat.

Puisi ini terbagi menjadi beberapa jenis, seperti pantun, talibun, syair, dan gurindam. 2. Puisi baru. Puisi baru merupakan sebuah karya sastra berisi ungkapkan perasaan serta pikiran dengan menggunakan bahasa yang memperhatikan irama, mantra, penyusunan lirik hingga makna dalam puisi tersebut.

3. Puisi kontemporer. Puisi kontemporer adalah puisi yang selalu berusaha menyesuaikan perkembangan zaman atau keluar dari ikatan konvensional. Umumnya jenis puisi ini tidak lagi mementingkan irama serta gaya bahasa seperti puisi lama dan puisi baru. Adapun klasifikasi puisi kontemporer meliputi puisi konkret, puisi lama dan puisi mbeling atau puisi yang tidak mengikuti aturan umum.

Contoh puisi. Hujan Bulan Juni Karya: Sapardi Djoko Damono tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna. lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu• • Home • LENTERA • Artikel Umum • Sejarah dan Budaya • Biografi • Inspirasi • DUNIA PENDIDIKAN • Dapodik dan Kurikulum • BAHASA DAN SASTRA • Feature • Kebahasaan • Serba-Serbi Sastra • Puisi • Cerpen • Cerita Rakyat • BAHASA INDONESIA [SMA] • Kelas X • Kelas XI • Contoh Teks • Soal dan Pembahasan • BAHASA JAWA [SMA] • Kelas X • Kelas XI • Kelas XI • Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

Teks • PKN [SMP] • Kelas IX • • About Kontak • Sitemap • Disclaimers • Privacy • Kirim Tulisan Mengidentifikasi Komponen Penting dalam Puisi Pengertian dari Ciri Puisi Puisi merupakan bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Puisi dibentuk oleh struktur fisik (tipografi, diksi, majas, rima, dan irama) serta struktur batin (tema, amanat, perasaan, nada, dan suasana fisik). Setelah membaca sebuah puisi, apa yang anda rasakan? Suasana yaitu keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi.

Suasana juga sering dikatakan sebuah akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca. Contoh: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Sumber: Hujan Bulan Juni, Kumpulan Puisi karya Sapardi Djoko Damono, 2001 Puisi tersebut merupakan ungkapan cinta seseorang kepada kekasihnya.

Dapatkah anda merasakan bagaimana perasaan seseorang ketika kekasihnya menyatakan kerelaannya untuk berkorban, seperti pengorbanan kayu kepada api? Perasaan yang timbul setelah membaca puisi tersebut adalah merasakan perasaan romantik, merasa disayangi dan terlindungi. Ciri-ciri puisi yaitu sebagai berikut: • Dalam puisi terdapat pemadatan segala unsur Bahasa. Meskipun Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna konotatif tetapi tema puisi salah satunya dapat dirunut menggunakan kata-kata kunci dalam puisi tersebut.

Tema puisi akan sangat menentukan penyair dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam puisinya. • Dalam penyusunannya, unsur-unsur Bahasa itu dirapikan, diperbagus, serta diatur sebaik-baiknya dengan memperhatikan irama dan bunyi.

• Puisi menggunkan pikiran dan perasaan penyair berdasarkan pengalamannya serta bersifat imajinatif. • Bahasa yang dipergunakan bersifat konotatif. Keindahan Puisi Keindahan puisi dapat kita rasakan dari penggunaan kata-kata indahnya yang bias menimbulkan suasana.

Suasana merupakan sebuah perasaan atau jiwa yang muncul setelah membaca puisi. Dalam puisi, hal yang mendasar adalah tema. Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang pembuatan puisi. Tema memancarkan amanat. Amanat merupakan pesan yang disampaikan pengarang. Amanat bias memaknai puisi. Mendemonstrasikan Puisi Membaca puisi bukanlah seperti membaca bacaan biasa.

Puisi mengandung sebuah keindahan dalam susunan katanya. Dalam membaca puisi ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berikut. • Rima dan Irama yaitu Panjang pendeknya, keras lembutnya, serta kuat lemahnya suara. • Artikulasi yaitu setiap kata yang diucapkan harus jelas. • Ekspresi adalah penghayatan jiwa dalam membaca puisi.

• Pernapasan, artinya saat membaca puisi harus mengatur pernapasan dengan baik agar kita bias memproduksi suara yang baik pula. • Penampilan, saat membacakan puisi kita harus memiliki penampilan dan sikap tubuh yang baik, tidak gugup, sopan dan meyakinkan.

• Intonasi adalah penekanan kata dalam puisi. Teknik membaca puisi antara lain sebagai berikut. • Membaca dalam hati puisi tersebut berulang-ulang. • Memberikan ciri pada bagian-bagian tertentu, misalnya tanda jeda. Head pendenk dengan satu tanda (/) dan jeda Panjang dengan dua tanda (//). Penjedaan pendek diberikan pada frasa, sedangkan penjedaan Panjang diberikan pada akhir klausa atau kalimat. • Memahami dan menghayati suasana, tema serta makna puisinya.

• Menghayati suasana, tema, dan makna puisi untuk mengekspresikan puisi yang kita baca. Menganalisis Unsur Pembangun Puisi Unsur-unsur puisi bias dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik. Struktur Batin Struktur batin puisi atau serung disebut sebagai hakikat puisi, meliputi beberapa hal bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

berikut. • Tema/Makna (sense) media puisi adalah Bahasa. Tataran Bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait maupun makna keseluruhan. • Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.

Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, serta pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya Bahasa dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, serta kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.

• Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh serta rendah pembaca dan lain-lain. • Amanat/tujuan/maksud (intention), sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi.

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Tujuan tersebut bias dicari sebelum penyair menciptakan puisi mauoun dapat ditemui dalam puisinya. Struktur Fisik Adapun struktur fisik puisi atau disebut pula metode puisi adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.

• Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan dan kiri, pengaturan barisannya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. • Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya.

Oleh karena itu puisi adalah bentuk karya sastra dengan sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi dan urutan kata. Pilihan kata saat menulis puisi sangat menentukan keindahan puisi. Diksi muncul karena adanya: • Makna khas (konotatif) • Simbol, dan • Persamaan bunyi atau rima Perhatikan contoh berikut.

Aspek Diksi Larik Analisis Konotatif Dan bara kagum menjadi api Bagimu negeri Menyediakan api Pada kalimat ini menimbulkan makna semangat patriotism untuk negeri. Simbol Ini barisan tak bergenderang-berpalu Menyatakan makna semangat, gendering menyimbolkan arti semangat.

Rima Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali dan bara kagum menjadi api Dengan pengulangan bunyi puisi menjadi merdu jika dibaca. Pada bait pertama bunyi yang cukup dominan adalah /i/ Imaji imaji yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil).

Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

yang dialami penyair. Perhatikan contoh analisis imaji pendengaran dan penglihatan dalam puisi Asmarandana karya Goenawan Mohamad berikut! Hasil analisis: Dalam larik 1-3 terdapat imaji pendengaran, sedangkan larik ke-4 terdapat imaji penglihatan. Kata Konkret Kata Konkret yaitu kata yang ditangkap dengan indra yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang, misalnya kata konkret “salju” melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dan lain-lain, sedangkan kata konkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dan lain-lain.

Untuk membangkitkan imaji (daya khayal) pembaca, kata-kata harus diperkonkret. Fungsinya agar seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan apa yang dilukiskan penyair. Kata konkret berhubungan erat dengan imaji. Kata konkret adalah kata-kata yang dapat ditangkap dengan indra. Perhatikan contoh berikut!

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

No Jenis Imaji Contoh 1 Penglihatan Merah, kuning, biru, kucing, ular, gunung, awan berarak, tanah, batu, dan lain-lain 2 Pendengaran Dengung, deru, ringkik, desing, dengking, lengking, kicau, kecek, repet, repek, gemertak, kerincing, kelening-kelenung, gelegak, gelegar, gemericik, dentum, desir, menyuit, dengkur, bising, dan lain-lain.

3 Penciuman Asam, kohong, pesing, apak, basi, bangar, busuk, anyir, tengik, dan lain-lain. 4 Pengecapan Pedas, pahit, asam, gayau, asin, manis, kelat, dan lain-lain. 5 Perabaan Dingin, panas, lembab, basah, kering, kasar, kasap, kerut, halus, lembut, rata, licin, gelenyar, geli, dan lain-lain.

6 Perasa Sedih, senang, gembira, riang, duka, pedih, kaget, dan lain-lain. Bahasa Figuratif Bahasa figuratif yaitu Bahasa berkias yang dapat menghidupkan/mengingatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soejito, 1986:128).

Bahasa figuratif menyebabkan pusii menjadi prismatic, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapun macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antithesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars prototo, totem proparte, paradoks, dan lain-lain.

Versifikasi Verifikasi yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, maupun akhir baris puisi. Rima mencakup onomatope (tiruan terhadap bunyi misalnya /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutardji Colzoum Bachri), bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonasi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya, (Waluyo, 187:92)), dan pengulangan kata ungkapan.

Ritme adalah tinggi rendah. Panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritme sangat menonjol bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna.

pembacaan puisi. Rima Rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, tetapi irama tidak hanya dibentuk oleh rima.

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Baik rima ataupun irama dapat menciptakan efek musikalisasi pada puisi, membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan. Berdasarkan jenis bunyi yang diulanhg, ada delapan jenis rima, yaitu sebagai berikut. • Rima Sempurna, yaitu persamaan bunyi pada suku kata terakhir. • Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir. • Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi).

• Rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata terakhir terbuka atau dengan vokal sama. • Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan). • Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau pada baris yang berlainan. • Rima asonasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonasi vocal tengah kata. • Rima disonasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada huruf-huruf mati/konsonan.

Perhatikan contoh analisis rima dan ritme pada puisi Diponegoro karya Chairil Anwar berikut! Rima Dengan pengulangan bunyi, puisi menjadi merdu jika dibaca. Pada bait pertama bunyi yang cukup dominan adalah /i/. Punah di atas penghamba/ Binasa di atas ditindas/ Sesungguhnya jalan ajal baru dicapai/ Jika hidup harus merasai/ Menulis Puisi Banyak penyair menulis puisi sebagai ekspresi diri atau sebagai media pengungkapan perasaan.

Puisi dapat bersumber pada pengalaman pribadi. Pengalaman merupakan segala sesuatu yang pernah dibaca, didengar, dilihat, dirasakan, atau dialami sendiri. Perhatikan contoh berikut! Puisi di atas merupakan hasil dari pengalaman batin penulisnya.

Penulis ingin menyampaikan perasaannya yang selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap kehidupannya. Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan sebelum menulis puisi, terutama pemahaman dan pengertian akan hakikat dari puisi itu sendiri.

Puisi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. • Pemilihan katanya padat dan ekspresif. • Mempunyai rima dan persajakan. • Mempunyai irama (naik turun, Panjang bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna., dan keras lembut pengucapannya). Dalam menulis puisi, Anda harus memperhatikan cara penyampaian dan penyusunan Bahasa yang baik. Dalam membuat puisi kita harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya sebagai berikut.

• Pemilihan Tema, merupakan langkah awal dalam pembuatan puisi.

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Tema merupakan pokok masalah yang mendasari penulisan puisi. Tema puisi bias kita temukan disekitar kita. Bagi yang sudah terbiasa menulis puisi, akan dengan mudah menemukan tema puisi. • Pemilihan Kata dalam membuat puisi harus tepat.

Pemilihan kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan disebut juga dengan diksi. Diksi biasanya sesuai dengan situasi yang sesuai dengan nilai rasa dan pengarahan. Pemilihan kata memegang peranan yang penting dalam pembuatan puisi karena estetika puisi juga bergantung pada diksi yang tepat. • Pemilihan Rima, keindahan dari sebuah puisi juga ditentukan oleh persamaan bunyi pada setiap akhir baris yang biasa disebut rima atau sajak.

• Pemilihan Majas. Majas adalah salah satu pendukung gaya Bahasa. Cara penyampaian suatau perasaan atau ide dari penulis disebut dengan majas. Majas digunakan dalam puisi bias membuat kata-kata dalam puisi menjadi hidup, bermakna, dan bergerak sehingga bisa menimbulkan reaksi tertentu pada pembaca. Menyusun Ulasan dari Buku yang Dibaca Resensi atau ulasan buku adalah suatu kegiatan mengulas, menilai, menganalisis, atau mengapresiasi suatu buku secara keseluruhan.

Dalam meresensi suatu buku meliputi kualitas sebuah buku dari berbagai segi. Resensi disebut juga tinjauan buku, timbangan buku, ataupun bedah buku.

bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung bermakna...

Tujuan dari penulis meresensi sebuah buku adalah sebagai berikut. • Untuk memberikan informasi dan mengupas sebuah buku.

• Mengajak pembaca untuk memperhatikan, merenungkan, mencermati, dan mendiskusikan isi dari sebuah buku. • Memberikan sebuah pertimbangan dan penilaian tentang kualitas buku.

• Dalam menulis resensi buku, Anda harus mempertimbangkan bahasa yang digunakan. Bahasa yang digunakan untuk meresensi buku adalah bahasa yang ringkas, padat, dan jelas selain penggunaan bahasa yang sederhana.

Kata dan Frasa Bermakna Konotasi




2022 www.videocon.com