Tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Belakangan ini banyak sekali berita tentang kriminal salah satunya adalah pembacokan, perkelahian antar pemuda dan terakhir terjadi pembunuhan karyawan karaoke oleh bekas anak buahnya. Kalau kita mau jujur semua itu terjadi akibat merosotnya moral karena dipengaruhi oleh berbagai faktor namun apapun alasannya kejahatan yang merugikan orang lain apa lagi sampai menghilangkan nyawa orang, tetap tidak dapat dibenarkan dan harus diproses secara hukum.

Berbicara masalah moral yang semakin merosot, dalam umat Hindu kita mengenal sebuah ajaran untuk membentuk karakter manusia.

Dalam Hindu ajaran itu disebut dengan Catur Paramitha. Catur Paramitha berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari Catur yang artinya empat dan Paramitha yang artinya sifat atau sikap utama, jadi Catur Paramitha berarti empat sifat atau sikap utama yang menjadi landasan dalam melakukan perbuatan sehari-hari.

Catur Paramitha terdiri dari empat bagian yaitu: Maitri artinya sifag lemah lembut, sopan santun yang merupakan bagian dari budi pekerti luhur yang berusaha untuk kebahagiaan seluruh makhluk.

Jika sudah memiliki sifat Maitri ini maka akan menjadi manusia yang bisa menempatkan diri dalam setiap situasi. Menghormati orang tua dan menghargai orang yang lebih muda merupakan contoh Maitri.

Karuna artinya welas asih atau kasih sayang yang merupakan bagian dari budi pekerti luhur, yang menghendaki terhapusnya seluruh penderitaan makhluk hidup. P Melakukan sesutu tanpa kekerasan atau tidak mebuat orang merasa tersakiti oleh perbuatan dan perkataan kita.

Saling mengasihi dan menyanyangi adalah sifat dari Karuna ini. Mudita artinya tersenyum dalam artian selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan bersahabat. Penuh rasa simpati kepada siapa saja, jauh dari rasa iri dan dengki terhadap siapa saja dan tidak menyusahkan orang lain. Dengan wajah yang selalu ceria maka akan sangat bisa untuk menyenangkan orang lain. Belajar dari makna Catur Paramitha maka dapat kita ketahui bahwa tindakan kejahatan dalam bentuk apapun merupakan bentuk cerminan bahwa kualitas moral manusia makin memprihatinkan.

Oleh sebab itu sejak usia dini harus diajarkan dan ditanamkan sifat-sifat dari Catur Paramitha ini dan semakin dewasa seharusnya semakin mampu berfikir jernih da mengendalikan pikiran supaya tidak berbuat yang merugikan orang lain.

Dengan demikian selalu mendekatkan diri dengan Tuhan adalah salah satu caranya yaitu dengan melaksanakan Tri Sandya, semoga bermanfaat dan dapat menerapkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari dan mendapat hasil yang baik pula.

Om Santhi, Santhi, Santhi Om. Percaya atau tidak percaya, seseorang yang suka mengurusi hidup orang lain itu kayanya sudah familiar banget di telinga kamu. Sepertinya sudah menjadi hobi bagi sebagian orang. Tidak betah jika tidak mengurusi hidup orang-orang. Mungkin kamu punya teman yang hobinya selalu ikut campur urusan orang, atau malah kamu sendiri yang suka campuri kehidupan orang lain? Entahlah, mau kamu atau siapa pun orangnya, sebaiknya untuk bisa berhenti melakukan kegiatan yang tidak berguna itu.

Ada beberapa alasan mengapa kamu jangan pernah campuri kehidupan orang lain. Sudahkah kamu tahu bahwa mencampuri urusan orang lain yang memang tidak ada hubungannya dengan kamu itu sangatlah tidak menghasilkan apa pun. Coba deh pikirkan lagi, tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut hasil yang kamu dapat jika kamu mengurusi hidup orang lain?

Dapat piagamkah? Atau dapat bahasan gosip? Agar lebih berguna, sebaiknya kamu memang harus mengurusi hidup, tapi hidup kamu sendiri bukan orang lain.

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Setiap orang punya kehidupan masing-masing dan punya permasalahannya juga, jadi kenapa harus mencari urusan yang orang lain punya, padahal kamu sendiri pun sepertinya sudah banyak urusan yang belum terselesaikan.

Saat kamu terlalu ikut campur urusan orang lain, tanpa kamu mengetahui betul permasalahannya, tanpa disadari kamu akan mengambil kesimpulan sendiri tentang permasalahan orang tersebut. Apa yang kamu pikirkan tentang orang itu, belum tentu benar adanya, dari sinilah akan menimbulkan fitnah. Perlu kamu ketahui, jika kamu menyebarkan informasi yang belum tentu benar, nanti akan menjadi bumerang untuk diri kamu sendiri.

Hasilnya kamu akan malu, dengan apa yang telah kamu perbuat. Maka dari itu, jangan pernah ikut campur urusan orang lain, nanti akan membuat jelek namamu. Gimana mau maju kalau yang diurusin sama kamu itu adalah urusan orang lain. Sedangkan urusan yang kamu punya juga belum tentu bisa diselesaikan dengan cepat. Daripada kamu capek-capek buang energi untuk sibuk ikut campur tentang orang lain, lebih baik fokuslah ke diri kamu sendiri dan melakukan hal-hal baik untuk bisa berkembang.
HINDUALUKTA -- Secara etimologi Catur Paramitha (bhs Sanskerta) berasal dari dua kata yakni Catur yang artinya empat dan Paramitha yang berarti sifat dan sikap utama.

Jadi dengan demikian Catur Paramitha dapat diartikan sebagai empat macam sifat dan sikap utama yang patut dijadikan landasan bersusila.Catur Paramitha juga bisa diartikan sebagai empat bentuk budi luhur dalam diri manusia atau empat sifat-sifat Ketuhanan yang ada di dalam pikiran, ucapan dan badan manusia.

Perbuatan berbudi luhur wajib menjadi panutan dalam kehidupan manusia sebab dengan adanya perbuatan yang luhur, maka kehidupan menjadi baik. Manusia akan lebih muda mencari teman baik yang akan menyayanginya seperti keluarga sendiri. Sebaliknya jika tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut paramitha tidak dilaksanakan dengan baik maka hidup akan menjadi susah. Teman-teman menjadi jauh. Orang tua dan guru juga menjadi tidak sayang.

Oleh karena itu hendaknya manusia melaksanakan ajaran catur paramitha dengan tulus iklas. Ada pun bagian dari catur paramitha diantaranya yakni Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa. Keempat bagian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Maitri atau Lemah Lembut Maitri berasal dari kata mitra, artinya berteman atau bersahabat yang tulus dengan sesama dan alam semesta. Manusia hendaknya memiliki sifat lemah lembut terhadap semua makhluk hidup. Maitri juga dapat di defenisikan sebagai senang mencari teman bergaun.

Dalam kehidupan masyarakat bisa menempatkan diri, tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut ramah-tamah, serta menarik hati segala perilakunya sehingga menyenangkan orang lain dalam diri pribadinya. 2. Karuna atau Belas Kasihan Karuna dapat diartikan sebagai cinta kasih atau sikap luhur atau belas kasihan terhadap orang yang menderita.

Sebagai manusia yang berasal dari satu sumber yaitu Brahman, maka manusia harus hidup saling berbelas kasihan. Manusia hendaknya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk agar tidak ada yang menderita. Contoh kecilnya misalnya jika ada yang kelaparan maka yang memiliki uang lebih harus membantu yang susah.

3. Mudita atau Sifat dan Sikap Menyenangkan Orang Lain Mudita atau bersimpati atau turut merasakan kebahagiaan maupun kesusahan orang lain. Mudita adalah ekspresi manusia dalam pergaulan seperti selalu memperlihatkan wajah yang riang gebira, penuh simpatisan terhadap yang baik serta sopan santun. 4. Upeksa atau Toleransi Upeksa adalah prilaku manusia yang senantiasa mengalah demi kebaikan, walaupun tersinggung perasaan oleh orang lain, ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan deman kebaikan bisa juga dimaksud dengan ( tahu mawas diri ).

Upeksa juga merupakan Sikap luhur ditunjukkan dengan selalu berempati atau menghargai keadaan orang lain. Contoh Catur Paramitha Berdasarkan penjelasan di atas maka contoh dari Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa dapat dijelaskan sebagai berikut: • Contoh Maitri: Manusia Hendaknya tidak melakukan / berbuat bencana yang bersifat maut ( Anta Kabhaya ) atau jangan membenci.

• Contoh Karuna: Manusia hendaknya pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan, tersiksa, kesengsaraan, atau jangan bengis. • Contoh mudita: Manusia hendaknya jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah, atau jangan memiliki rasa iri hati kepada orang lain.

• Contoh upeksa: Manusia hendaknya pantang menghina orang lain, memandang rendah orang lain, menindas orang lain, atau selalu dapat berusaha mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat. Demikian penjelasan dari Catur Paramitha dan Bagia-Bagiannya Serta Contohnya. Semoga tulisan ini bermanfaat. Om Santi Santi Santi Om. Kitab Sarasamuscaya menerangkan bahwa kelahiran menjadi manusia merupakan suatu kesempatan yang terbaik untuk memperbaiki diri.

Manusialah yang dapat memperbaiki segala tingkah lakunya yang dipandang tidak baik agar menjadi baik, guna menolong dirinya dari penderitaan dalam usahanya untuk mencapai moksa.

Pura Aditya Jaya Rawamangun Dalam kitab Nitisastra, Bhagawan Sukra mengemukakan bahwa semua perbuatan manusia itu pada hakikatnya didasarkan pada usaha untuk mencapai empat hakikat hidup yang terpenting dharma, artha, kama dan moksa. Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang tidak didorong oleh keinginannya untuk mencapai keempat tujuan itu, sehingga dapat dikatakan bahwa keempat hal inilah yang menjadi hakikat tujuan hidup manusia menurut ajaran Agama Hindu.

dharma, artha, kama dan moksa dikenal juga dengan " Catur Warga atau Catur Purusartha". Keempat aspek tujuan hidup manusia ini di dalam ilmu politik disamakan dengan aspek-aspek keamanan, kesejahteraan, kebahagiaan lahir batin dan dharma yang mengandung pengertian aspek keadilan dan kepatutan.

Unsur keinginan yang berakar pada pikiran manusia, terdapat pula hakikat tujuan agama Hindu yang dirumuskan dalam "Moksartham Jagadhita ya, ca iti Dharma" artinya bahwa dharma bertujuan untuk mencapai moksa dan kesejahteraan dunia.

Moksa dalam filsafat Hindu " Tattwa Dharsana" merupakan tujuan hidup manusia tertinggi. Tujuan ini harus diusahakan oleh setiap umat Hindu tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut mencapainya dengan cara mengamalkan agama sebaik-baiknya. Adapun Jagadhita atau kesejahteraan itu akan dicapai apabila ketiga kerangka dharma, artha dan kama itu terealisir dan manusia benar-benar berusaha untuk mewujudkannya dengan jalan berpikir, bertutur kata dan beryajna.

Keinginan manusia itu tidak ada batasnya dan pada umumnya cenderung selalu merasa kurang. Oleh karena itu, Agama Hindu memberi ukuran yang bersifat membatasinya dengan Catur Purusartha, yaitu suatu usaha untuk mewujudkan kesejahteraan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah secara seimbang melalui pengamalan dharma.

Di samping itu Agama Hindu juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyucikan jasmani dan rohani, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:124). Agama Hindu sebagai dharma untuk mengatur tata kehidupan manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya. Hindu sebagai agama bukan hanya bersifat doktrinal dan dogma semata, tetapi juga memberikan jalan berdasarkan Wahyu Tuhan yang sifatnya ilmiah, karena itu Kitab Suci Agama Hindu disebut Veda, artinya ilmu pengetahuan tertinggi.

Catur Purusartha sering disebut Catur Warga. Kata Warga dalam hal ini artinya ikatan atau jalinan yang saling melengkapi atau saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Di samping itu, keempat tujuan hidup itu saling menunjang. Dharma adalah landasan untuk mendapatkan arta dan kama. Artha dan kama adalah landasan atau sarana untuk melaksanakan dharma.

Dharma, arta dan kama adalah landasan untuk mencapai moksa. Moksa Juga landasan untuk mendapatkan dharma, arta dan kama, justru akan mengikat manusia karena bukan tujuan akhir. Dalam kitab tafsiran tentang Catur Purusartha, disebutkan bahwa dharma, arta dan kama merupakan tujuan pertama dan moksa disebut tujuan akhir atau tujuan tertinggi untuk kembali kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa.

Empat tujuan hidup itu adalah suatu kenyataan yang tidak mungkin dapat dihindari oleh setiap orang yang mendambakan hidup yang sejahtera lahir dan batin, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:125). Urut-urutan ini merupakan tahapan yang tidak boleh ditukar-balik karena mengandung keyakinan bahwa tiada artha yang diperoleh tanpa melalui dharma; tiada kama diperoleh tanpa melalui artha, dan tiada moksa yang bisa dicapai tanpa melalui dharma, artha, dan kama.

Berikut ini adalah bagian-bagian dari Catur Purusartha; Dharma berasal dari akar kata " dhr" yang berarti menjinjing, memelihara, memangku atau mengatur.

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Jadi kata dharma dapat berarti sesuatu yang mengatur atau memelihara dunia beserta semua makhluk. Hal ini dapat pula berarti ajaran-ajaran suci yang mengatur, memelihara, atau menuntun umat manusia untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketenteraman batin (rohani).

Dalam Santi Parwa (109,11) dapat ditemui keterangan tentang arti tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut sebagai berikut. Makna yang terkandung dalam kata dharma sebenarnya sangat luas dan dalam. Bagi mereka yang menekuni ajaran-ajaran agama akan memberi perhatian yang pokok pada pengertian dharma tersebut.

Kutipan dari salah satu sloka kitab Santi Parwa di atas telah menggambarkan bahwa semua yang ada di dunia ini telah mempunyai dharma, yang diatur oleh dharma tersebut. Agar mudah menangkap pengertian dharma tersebut, kita ambil beberapa contoh.

Manusia yang memelihara dan mengatur hidupnya untuk mencapai jagadhita dan moksa adalah telah melaksanakan dharma. Artinya melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai manusia tak lain adalah pelaksanaan dharma. Sebagaimana kitab Sarasamuccaya menjelaskan, bahwa kalau artha dan kama yang dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dahulu, tak disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti.

Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Pernyataan di atas menekankan bahwa jika dharma harus dilaksanakan, maka artha dan kama datang dengan sendirinya. Bila petunjuk suci itu dapat kita jalani dalam hidup ini berarti kita telah dapat memfungsikan dharma dalam kehidupan ini.

Sehubungan dengan itu, kitab Manu Samhita menyebutkan sebagai berikut. Berdasarkan sloka di atas, yang dimaksud dengan dharma adalah kebenaran yang abadi (agama), atau sebagai hukum guna mengatur hidup dari segala perbuatan manusia yang berdasarkan pada pengabdian keagamaan.

Di samping itu dharma juga merupakan suatu tugas sosial di masyarakat. Untuk mengamalkan ajaran ini dipakai pedoman “Catur Dharma” yang terdiri dari dharma kriya, dharma santosa, dharma jati, dan dharma Putus.

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Dharma Kriya berarti manusia harus berbuat, berusaha dan bekerja untuk kebahagiaan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, dengan menempuh cara peri kemanusiaan sesuai dengan ajaran-ajaran agama Hindu. Setiap pekerjaan dan usaha akan berhasil dengan baik apabila dilandasi dengan Sad Paramita, seperti diuraikan di bawah ini. • Dana Paramita: suka berbuat dharma, amal dan kebajikan. • Ksanti Paramita:suka mengampuni orang lain. • Wirya Paramita: mengutamakan kebenaran dan keadilan.

• Prajna Paramita: selalu bersikap tenang, cakap dan bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu persoalan. • Dhiyana Paramita: merasa bahwa segalanya ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya wajib menyayangi sesama makhluk hidup. • Sila Paramita: selalu bertingkah laku yang baik (Tri Kaya Parisuda) dalam pergaulan.

Dharma Santosa berarti berusaha untuk mencapai kedamaiaan lahir bathin dalam diri sendiri, dilanjutkan ke dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Tanpa adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam diri sendiri akan sangat sukar untuk mewujudkan kedamaian dan kesentausaan dalam keluarga, bangsa dan negara.

Dharma Putus berarti melakukan kewajiban dengan penuh keikhlasan, berkorban serta bertanggung jawab demi terwujudnya keadilan sosial bagi umat manusia dan selalu mengutamakan penanaman budhi baik untuk menjauhkan diri dari noda dan dosa yang menyebabkan moral menjadi rusak, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:128).

Artha dalam Catur Purusartha mempunyai beberapa makna. Di atas telah diuraikan bahwa dalam kaitannya dengan kata Purusartha, kata artha dapat berarti tujuan. Demikian pula dalam kaitannya dengan kata Parama Artha (tujuan yang tertinggi), Parartha (tujuan atau kepentingan orang lain), dan sebagainya. Tetapi sebagai tujuan dari Catur Purusartha, kata artha berarti harta atau kekayaan. Artha berarti benda-benda, materi, atau kekayaan sebagai sumber kebutuhan duniawi yang merupakan alat untuk mencapai kepuasan hidup.

Artha merupakan pelengkap hidup. Artha (dalam arti artha benda) memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan beragama. di antaranya sebagaimana berikut ini. • Dewa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk melakukan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya. • Manusa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia. • Pitra Yajña: korban suci yang ditujukan ke hadapan para leluhur atau pitara baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal/disucikan.

• Rsi Yajña: korban suci atau penghormatan yang ditujukan terhadap para Rsi atau para guru dengan ilmu-ilmunya.

• Bhuta Yajña: korban yang tulus ikhlas ditujukan ke hadapan para Bhuta Kala, makhluk-makhluk bawahan dan unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang lainnya. Baca: Prioritas Penerapan Catur Purusartha untuk Kebahagiaan Rohani Dalam Ajaran Hindu Pemanfaatan artha yang sesuai dengan petunjuk dharma berarti umat Hindu telah melaksanakan dharma agama.

Kebahagiaan lahir bathin akan tercapai, kehidupan rumah tangga, masyarakat jadi rukun harmonis damai dan sentosa, tidak ada penghisaban antara manusia dengan manusia, karena umat telah menggunakan artha itu sesuai dengan ajaran dharma. Di dalam Brahma Purana dan Santi Parwa disebutkan sebagai berikut. "Sebab artha itu, jika dharma landasan memperolehnya, laba atau untung namanya, sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang memperoleh artha tersebut, namun jika artha itu diperoleh dengan jalan adharma, maka artha itu adalah merupakan noda, hal itu dihindari oleh orang yang berbudhi utama, oleh karenanya janganlah bertindak menyalahi dharma, jika hendak berusaha menuntun sesuatu".

Menurut penjelasan dari beberapa kitab agama tersebut dapat disimpulkan, bahwa artha itu memang benar-benar sangat dibutuhkan dalam kehidupan di dunia ini sebagai sarana baik dalam melaksanakan ajaran agama maupun dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Fungsi dan manfaat artha sangat penting, namun semuanya tidak boleh bertentangan dengan dharma. Kama berarti nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup.

Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau kebutuhan manusia. Biasanya kama itu diartikan dengan kesenangan, cinta. Kama adalah tujuan tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut, kenikmatan yang didapat melalui indra, tetapi harus berlandaskan dharma dalam memenuhinya.

Kama berarti kesenangan dan cinta kasih penuh keikhlasan terhadap sesama makhluk hidup dan yang penting memupuk cinta kasih, kebenaran, keadilan dan kejujuran untuk mencapainya, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:131).

a. Asih, menyayangi dan nengasihi sesama makhluk sebagai mengasihi diri sendiri. Kita harus saling asah (harga menghargai), asih (cinta mencintai) asuh (hormat menghormati), dan mewujudkan ajaran Tat Twam Asi terhadap sesama makhluk agar terwujudnya kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan serta tercapainya masyarakat Jagadhita (tat tentram kerta raharja).

c. Bhakti, cinta kasih pada Hyang Widhi dengan senantiasa sujud kepadanya dalam bentuk pelaksanaan agama. Kebahagiaan berupa bersatunya “atma” dengan “brahmana”( Tuhan ) menimbulkan“Sat Cit Ananda” (kesadaran, ketentraman, dan kebahagiaan abadi) yang dicapai hanya dengan ketekunan sujud bhakti dan sembahyang yang sempurna. Kama atau kesenangan atau kenikmatan menurut ajaran agama, tidak akan ada artinya jika diperoleh menyimpang dari dharma.

Karenanya dharma menduduki tempat di atas kama, dan menjadi pedoman dalam pencapaiannya. Dalam hal ini dikemukakan contoh, bagaimana tindakan seorang Raja dalam pencapaian kama tersebut. Dalam kekawin Ramayana disebutkan. Dalam bait kekawin Ramayana di atas telah dinyatakan bahwa kenikmatan (kama) hendaknya terletak dalam kemungkinan yang diberikan pada orang lain untuk merasakan kenikmatannya.

Jadi pekerjaan yang sifatnya ingin menguntungkan diri sendiri dalam memperoleh kama (kenikmatan) itu harus dihindari, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:132). Hindu. Kebahagiaan bathin yang terdalam dan langgeng ialah bersatunya atma dengan brahmana yang disebut moksa. Moksa atau mukti berarti kebebasan, kemerdekaan yang sempurna, ketentraman rohani sebagai dasar kebahagiaan abadi, kesucian dan bebasnya roh dari penjelmaan dan manunggal dengan Tuhan yang sering disebut dengan "Kelepasan".

Manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidup pada hakikatnya adalah perjalanan mencari Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), lalu bersatu dengan Tuhan. Perjalanan seperti itu penuh dengan rintangan, bagaikan mengarungi samudra tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut bergelombang. Sudah dikatakan di atas bahwa ajaran agama telah menyiapkan sebuah perahu untuk mengarungi samudra itu, yaitu dharma. Hanya dengan berbuat berdasarkan dharma manusia akan dapat dengan selamat mengarungi samudra yang luas dan ganas itu.

Dengan bersatunya atma pada sumbernya yaitu brahmana (sang Hyang Widhi) maka berakhirlah proses atau lingkaran punarbhawa atau samsara bagi atma. Selesailah pengembaraan atma yang telah berulang kali lahir di dunia ini, dan tercapailah kebahagiaan yang kekal abadi.

Berdasarkan petunjuk kitab-kitab suci agama Hindu moksa sebagai kebebasan abadi, dinyatakan memiliki beberapa tingkatan, antara lain sebagai berikut.

Sarupya adalah moksa atau kebebasan yang dicapai semasih hidup di mana kedudukan atma mengatasi unsur-unsur maya. Kendati pun atma mengambil perwujudan tertentu namun tidak akan terikat oleh segala sesuatunya seperti halnya awatara seperti Budha, Sri Kresna, Rama dan lain sebagainya, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:133). Salokya (Karma Mukti) merupakan kebebasan yang dicapai oleh atma itu sendiri dan telah berada dalam posisi kesadaran sama dengan Tuhan, tetapi belum dapat bersatu dengan-Nya.

Dalam keadaan ini dapat dikatakan bahwa atma itu telah mencapai tingkat "Dewa" yang merupakan manifestasi dari sinar suci Tuhan itu sendiri. Walaupun ada beberapa aspek atau tingkatan dari moksa berdasarkan keadaan atma dalam hubungannya dengan Tuhan, yang terpenting dan patut menjadi kunci pemikiran untuk mencapai moksa itu adalah agar kita dapat melenyapkan pengaruh “awidya (maya)” dalam alam pikiran itu, sehingga atma akan mendapat kebebasan yang sempurna.

Kitab Bhagavad Gita menyebutkan tentang itu, sebagai berikut. Keenam hal tersebut serentak harus dilaksanakan, jadi tidak hanya memilih salah satu. Di samping hal tersebut di atas kita juga mengenal jalan atau cara yang dapat dilalui untuk menuju ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa, yakni mempertemukan atman dengan atma. Cara seperti itu disebut dengan yoga. Yoga terdiri atas empat macam yang disebut Catur Yoga, yaitu Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga. Kata "yoga" berasal dari akar kata "yuj" yang artinya menghubungkan diri.

Setiap yoga di atas mempunyai cara dan sifat tersendiri, yang dapat diikuti atau dilaksanakan oleh setiap orang. Dan setiap orang dalam memilih yoga itu disesuaikan dengan sifat, bakat, dan kemampuannya. Dengan demikian cara yang ditempuh berbeda, namun sasaran atau tujuan yang ingin dicapai adalah satu dan sama yaitu moksa atau mukti.

Untuk jelasnya akan diuraikan tentang yoga satu per satu sebagai berikut. Karma Yoga yaitu proses mempersatukan atman atau jiwatman dengan paramatma (Brahman) dengan jalan berbuat kebajikan (subha-karma) untuk membebaskan diri dari ikatan duniawi. Karma yang dimaksud adalah perbuatan baik (subhakarma), suatu perbuatan baik tanpa mengikat diri dengan mengharapkan hasilnya. Semua hasil (phala) perbuatan harus diserahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan perbuatan yang bebas dari harapan hasil itu disebut " Karma Nirwritta".

Sedangkan perbuatan (karma) yang masih mengharapkan hasilnya disebut "Karma Prawritta". Jadi dengan mengabdikan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa berlandaskan subha-karma yang tanpa pamrih itu, seseorang akan dapat mencapai kesempurnaan itu secara bertahap. Dengan bekerja tanpa terikat orang akan dapat mencapai tujuan tertinggi itu. Dengan demikian Karma Yoga yang mengajarkan bahwa setiap orang yang menjalani cara ini bekerja dengan baik tanpa terikat dengan hasil, sesuai dengan kewajibannya (Swadharmanya).

Salah kalau orang beranggapan bahwa dengan tidak bekerja kesempurnaan akan dapat dicapai. Karena pada hakikatnya dunia ini pun dikuasai dan diatur oleh hukum karma sehingga seorang Karma Yoga beryajna dengan kerja (karma). Karena itu bekerjalah selalu dengan tidak mengikatkan diri pada hasilnya, sehingga tujuan tertinggi pasti akan dapat dicapai dengan cara yang demikian.

Dengan menyerahkan segala hasil pekerjaan itu sebagai yajna kepada Sang Hyang Widhi dan dengan memusatkan pikiran kepada-Nya kemudian melepaskan diri dari segala pengharapan serta menghilangkan kekuatan maka kesempurnaan itu dapat dicapai.

Dengan demikian ajaran Karma Yoga yang pada pokoknya menekankan kepada setiap orang agar selalu bekerja sesuai dengan Swadharmanya dengan tidak terikat pada hasilnya serta tidak mementingkan tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut sendiri, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:135). Bhakti Yoga artinya jalan cinta kasih, jalan persembahan. Seorang Bhakta (orang yang menjalani Bhakti Marga) dengan sujud dan cinta, menyembah dan berdoa dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya sebagai yajna kepada Sang Hyang Widhi.

Cinta kasih yang mendalam adalah suatu cinta kasih yang bersifat umum dan mendalam yang disebut maitri. Semangat Tat Twam Asi sangat subur dalam hati sanubarinya. Sehingga seluruh dirinya penuh dengan rasa cinta kasih dan kasih sayang tanpa batas, sedikit pun tidak ada yang terselip dalam dirinya sifat-sifat negatif seperti kebencian, kekejaman, iri dengki dan kegelisahan atau keresahan. Cinta baktinya kepada Hyang Widhi yang sangat mendalam, juga dipancarkan kepada semua makhluk baik manusia maupun binatang.

Dalam doanya selalu menggunakan pernyataan cinta dan kasih sayang dan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar semua makhluk tanpa kecuali selalu berbahagia dan selalu mendapat berkah termulia dari Sang Hyang Widhi. Jadi untuk lebih jelasnya seorang Bhakta akan selalu berusaha melenyapkan kebenciannya kepada semua makhluk.

Sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan mengembangkan sifat-sifat Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa (Catur Paramita).

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Ia selalu berusaha membebaskan dirinya dari belenggu keakuannya (Ahamkara). Sikapnya selalu sama menghadapi suka dan duka, pujian dan celaan. Ia selalu merasa puas dalam segala-galanya, baik dalam kelebihan dan kekurangan. Jadi benar-benar tenang dan sabar selalu. Dengan demikian baktinya kian teguh dan kokoh kepada Hyang Widhi Wasa. Keseimbangan batinnya sempurna, tidak ada ikatan sama sekali terhadap apa pun. Ia terlepas dan bebas dari hukuman serba dua(dualis) misalnya suka dan duka, susah senang dan sebagainya.

Jnana Yoga ialah pengetahuan suci yang dilaksanakan untuk mencapai hubungan atau persatuan antara atma dengan Brahman. Kata " Jnana" artinya pengetahuan sedangkan kata yoga berarti berhubungan.

Jadi dengan jalan menggunakan ilmu pengetahuan suci (jnana) seorang (jnanin) menghubungkan dirinya (Atmanya) dengan Hyang Widhi untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan yang kekal abadi. Seorang Jnana akan memusatkan bayu, sabda dan idepnya untuk mendalami dan menekuni isi pustaka suci Veda, terutama bidang filsafat (tattwa), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:136).

Dengan demikian lenyaplah ketidaktahuannya (Awidya) dan kekhayalannya (maya), sehingga dapat menembus jalan bebas dari ikatan karma dan samsara. Kebijaksanaan tertinggi itu sesungguhnya ada pada Hyang Widhi yang bergelar Sang Hyang Saraswati. Tuhan (Hyang Widhi) adalah serba tahu. Pengetahuan suci yang merupakan anugrah-Nya itu, patutlah dipakai sarana beryajna dan memusatkan pikiran kepada Beliau.

Karena disebutkan bahwa yajna berupa pengetahuan(jnana) adalah lebih utama sifatnya dibandingkan dengan yajna (korban) benda yang berupa apa pun. Segala pekerjaan tanpa kecuali tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut atau berpusat dalam kebijaksanaan. Disebutkan pula dengan berdarmakan ilmu pengetahuan seseorang dapat menyebrangkan diri untuk mengarungi lautan dosa sekali pun. Dengan ilmu pengetahuan suci itu orang sanggup melepaskan diri dari ikatan karma. Semua hasil karma akan habis terbakar oleh apinya ilmu pengetahuan.

Seperti halnya kayu api terbakar menjadi abu. Sehingga terhapuslah dualisme (suka-duka). Orang yang memiliki kebijaksanaan akan segera menemukan kedamaian yang abadi. Semua kebimbangan dan keraguan lenyap dan dengan demikian atma dapat bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).

Akhirnya hukum karma dan punarbawa dapat ditebus dan sampailah pada moksa. Dengan melakukan latihan Yoga (Astāngga yoga) seorang pengikut Raja Yoga akan dapat menerima wahyu melalui pengamatan intiusinya yang telah mekar. Dan juga akan dapat mengalami " Jiwan Mukti" selanjutnya setelah meninggal dunia maka atmanya akan dapat bersatu dengan Tuhan. Selanjutnya individu yang bersangkutan akan dapat menikmati kebebasan yang tertinggi (moksa).

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Di dalam Bhagavad Gita Bab 6, sloka 10 disebutkan sebagai berikut. Demikianlah cara atau jalan untuk dapat dituruti, dilaksanakan oleh manusia sebagai tuntunan baginya untuk mencapai tujuan hidup rohani, yakni guna dapat menikmati kesempurnaan hidup yang disebut moksa. Di antara keempat cara atau jalan tersebut di atas semuanya adalah sama, tiap-tiap jalan meletakkan dasar dan cara-cara tersendiri.

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Tidak ada yang lebih tinggi, atau pun yang lebih rendah, semuanya baik dan utama tergantung pada kepribadian, watak, kesanggupan dan bakat manusia masing-masing. Jika kita perhatikan dari semua jalan tersebut semuanya menekankan bahwa syarat untuk mencapai kebebasan (moksa) ialah lenyapnya pengaruh maya tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut emosi karena maya inilah yang merupakan perintang dan penghalang bagi atma untuk bersatu dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), seperti halnya udara di alam (di luar).

Moksa sebagai tujuan spiritual bukan merupakan janji yang hampa melainkan suatu keyakinan yang tinggi bagi tiap orang yang beriman dan merupakan suatu pendidikan rohani untuk menciptakan rohani manusia yang berethika dan bermoral serta memberi efek positif.

Demi tercapainya masyarakat yang sejahtera tersebut, bekerja atas dasar kebenaran, kebajikan dan pengorbanan dan bebas dari segala macam kecurangan (satyam eva jayate na órtam). Demikianlah moksa itu dapat ditempuh dengan beberapa macam jalan sesuai dengan tingkat kemampuan dari masing-masing orang, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:139).

"Wahai orang-orang yang berpikiran-mulia, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras mencapai tujuan-tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan tekun untuk mencapai tujuan. Orang yang bersemangat berhasil, hidup berbahagia dan menikmati kemakmuran.

Para dewa tidak menolong orang yang bermalas-malasan" (Rgveda VII. 32. 9). • Acara Agama Hindu (29) • Asta Brata (3) • Avatara (1) • Berita Hindu (15) • Biografi Hindu (3) • Buku Hindu (1) • Cerita Hindu (3) • Gambar Hindu (7) • Glosarium (3) • Hari Suci Hindu (5) • Jurnal Bahasa Inggris (1) • Jurnal Hindu (70) • Komunikasi Hindu (3) • Lagu Hindu (1) • Majalah (5) • Mantra Hindu (52) • Materi Agama Hindu (179) • Materi Kelas III (18) • Materi Kelas IV (15) • Materi Kelas IX (22) • Materi Kelas V (20) • Materi Kelas VI (11) • Materi Kelas X (31) • Materi Kelas XI (27) • Materi Kelas XII (44) • Orang Suci (4) • Perspektif Hindu (9) • Pura (4) • Saya Hindu (1) • Veda (4) • Yajna (7) • Yoga (3)
I.TRI PURUSHA Pengertian: Tiga penggambaran Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi).

Bagian-bagian Tri Purusha: 1. Paramasiwa: Tuhan (Brahman) dalam keadaan kosong,tidak terjangkau oleh pikiran kita,tampa aktivitas,dan tanpa pribadi. 2. Sadha Siwa: Tuhan (Brahman) dalam keadaan aktif,sudah beraktivitas dan berpribadi dan memiliki tugas sebagai pencipta,memelihara dan melebur.

Pada saat mencipta Tuhan berwujud Dewa Brahma.Pada saat memelihara Tuhan berwujud Dewa Wisnu.Pada saat melebur Tuhan berwujud Dewa Siwa. 3. Siwa atau Siwatma: Tuhan (Brahman) dalam keadaan menyatu dengan ciptaan-Nya,menjadi jiwa dari mahluk hidup. Pada saat ini beliau dipengaruhi oleh maya(selalu berubah).

II.PEMIMPIN Pengertian: Orang yang dapat menggerakkan dan mengarahkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Contohnya peminpin dirumah adalah orang tua (ayah/ibu).Peminpin dikelas adalah kepala kelas. Peminpin Disekolah adalah kepala sekolah.

Peminpin di likungan adalah kepala lingkungan (kelihan dinas/kepala dusun).Peminpin di kedesaan adalah Kepala Desa.Peminpin di kecamatan adalah camat.Peminpin di kabupaten adalah Bupati.Peminpin di propinsi adalah Gubernur.Peminpin negara kita adalah Presiden, dsb. Sifat-sifat peminpin yang baik:1. Jujur2. Memiliki pengetahuan luas3. Mau menerima pendapat orang lain4. Adil5. Demokratis6. Tidak pilih kasih7.

Bertanggung jawab8. memiliki sifat mengayomi9. berperilaku baik10. Lemah lembut11. Bijaksana III.SARANA PERSEMBAHYANGAN Pengertian: sarana persembahyangan artinya alat atau perlengkapan yang digunakan untuk sembahyang,meliputi: 1.Sarana pokok:a. Bungab. Kwangenc. Dupad. Tirtae. Bija 2. Sarana penunjang:Bokor/nare,sangku,dan alas duduk. Bunga:Bunga melambangkan kesucian.

Bunga yang lazim digunakan sebagai sarana sembahyang diantaranya: kenanga/sandat,bunga kamboja,bunga mawar,bunga pancar galuh,kamboja/jepun,teratai/tunjung,dll.syarat bunga yang boleh digunakan sembahyang adalah: indah,segar(tidak layu),berbau harum,utuh/tidak dimakan ulat,tidak berisi semut,tidak tumbuh di kuburan,tidak jatuh dengan sendirinya ke tanah. Kwangen: Kwangen melambangkan perwujudan Ida Sang Hyang Widhi atau melambangkang Ongkara (pranawa/aksara suci Ida Sang Hyang Widhi).

Dupa: Melambangkan Dewa Agni sebagai saksi yang menghantarkan persembahyangan kita ke alam Dewata. Tirta: Melambangkan pensucian tangan dan mulut juga pikiran. Bija: Melambangkan benih ke-Siwa-an. Mantram penggunaan bija: Dahi: Mantramnya “ Om Sriyam Bhawantu“ Tenggorokan: Mantramnya “ Om Sukham Bhawantu“ Ditelan: Mantramnya “Om Purnam Bhawantu” HARI SUCI Pengertian: Hari suci adalah hari-hari yang disucikan oleh Umat Hindu.

Hari suci Agama Hindu banyak jenisnya, ada hari suci berdasarkan pertemuan Panca Wara dengan Tri wara dan sebagainya. Adapun hari suci Agama Hindu antara lain:a. Purnama: dilaksanakan setiap 30 hari sekali.b.

Tilem: dilaksanakan setiap 30 hari sekalic. Galungan: dilaksanakan setiap 210 hari sekali (enam bulan),tepatnya pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan.d. Kuningan: dilaksanakan setiap 210 hari sekali (enam bulan),tepatnya pada hari Sabtu Kliwon wuku Dungulan.e. Saraswati: dilaksanakan setiap 210 hari sekali (enam bulan),tepatnya pada hari sabtu Umanis Watugunung.f.

Pagerwesi: dilaksanakan setiap 210 hari sekali (enam bulan),tepatnya pada hari Rabu Kliwon Sinta.g. Siwalatri: dilaksanakan setiap 1 tahun sekali,pada Purwaning Tilem Sasih Kapitu.h. Nyepi: dilaksanakan setiap 1 tahun sekali,pada Penangal Apisan sasih Kedasa. silahkan baca rainan selengkapnya CATUR PARAMITHA Kata Catur Paramitha terdiri dari 2 kata,”catur” dan “Paramitha”.

catur artinya 4 dan Paramitha artinya budi atau perbuatan yang luhur/mulia.Jadi catur Paramitha artinya: Empat macam perbuatan yang luhur untuk mencapai kesempurnaan hidup. Bagian-bagian Catur Paramitha:a. Maitri = suka bersahabatb.

Karuna = suka menolong/belas kasihanc. Muditha = simpatik/tolerand. Upeksa = tidak suka mencampuri urusan orang orang lain. Ajaran Maitri mengajarkan kepada kita agar selalu:-Menunjukan sikap bersahabat-Suka bergaul-Menjauhi sikap permusuhan-Menghindari kebencian-Tidak dendam-Tidak membedabedakan teman-Tidak pilih kasih-Menjungjung sikap kekeluargaan-Selalu ingin menyenangkan orang lain Ajaran Kruna mengharafkan kita untuk:-Sikap welas-asih (belas kasihan)-Suka membantu/menolong-Murah hati-Bisa berbagi dengan orangn lain-Tidak pelit/kikir-Suka mengampuni/memaafkan-Suka berderma/berjiwa sosial Ajaran Muditha mengharafkan kita untuk:-selalu simpatik kepada orang lain-tenggang rasa-peduli dengan kesusahan orang lain-memperlihatkan suka cita kepada kebahagiaan orang lain-selalu menjaga perasaan orang lain Ajaran Upeksa mengharafkan kita untuk:-bijaksana dalam melihat suatu permasalahan-tidak mencampuri urusan pribadi orang lain-tidak suka membicarakan kekurangan/kejelekan orang lain-Tidak suka membicarakan aib orang lain-Tidak suka menggosipkan dan memfitnah orang lain TRI PARARTHA Tri Parartha terdiri dari 2 kata: Tri dan Parartha.

Tri artinya 3 dan parartha artinya kesejahteraan atau kebahagiaan orang lain. Jadi yang dimaksud dengan Tri Parartha adalah: Tiga macam perbuatan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.

Bagian-bagian Tri Parartha:a. Asih : Asih adalah sifat welas asih,kasih sayang kita kepada orang lain (mahluk hidup) yang ditanamkan sejak kanak-kanakb. Punia : Punia adalah perwujudan cinta kasih itu sendiri yang diwujudkan dengan perbuatan suka memberi atau suka membantu/suka menolong.c. Bakti : Persembahan atau sujud pada Hyang Widhi dan hormat pada sesama.(pengamalan Asih dan Punia dengan ketulusan dan keiklasan).

Ajaran Asih mengharafkan kita agar:-Menanamkan rasa welas asih dan kasih sayang dalam diri kita kepada mahluk hidup ciptaan Tuhan dan lingkungan disekitar kita. Sikap asih itu ditunjukan dengan: tidak semena-mena,memperlakukan orang lain/mahluk hidup/lingkungan dengan penuh rasa kasih sayang,menghindari pertengkaran/permusuhan,menjaga,merawat dan melindunginya. Ajaran Punia mengharafkan kita agar:-Menanamkan rasa kepedulian,tidak membiarkan orang lain menderita,suka memberikan pertolongan kepada orang lain,mahluk hidup,lingkungan bisa berbentuk materi/kebendaan dan non materi/perbuatan.

Menolong dalam bentuk non materi misalnya: menolong anak kucing tercebur diselokan,menyiram tanaman yang kekeringan,menolong orang tua atau orang buta menyebrang jalan dan sebagainya. Menolong dalam bentuk materi kebendaan misalnya: memberikan sumbangan pmakanan,minuman dan pakaian kepada korban bencana alam dan sebagainya Punia (pemberian) dibedakan menjadi 4 jenis:a.

Pemberian dana berupa makanan disebut: Kanista Dana.b. Pemberian dana berupa pakaian disebut Madyama Dana.c. Pemberian dana berupa pelayanan/istri disebut: Utama Dana.d. Pemberian berupa ilmu pengetahuan disebut: Atyanta Dana atau Utamaning Dana. Ajaran Bakti mengharafkan kita agar: A. Menanamkan rasa Baktikepada Tuhan sebagai wujud rasa terima kasih atas segala karunia-Nya,dengan:-Sembahyang Tri Sandhya tiga kali sehari.-Melakukan pemujaan pada hari-hari suci.-Memelihara kebersihan dan kesucian tempat suci.-Mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

B. Bhakti kepada guru diwujudkan dengan:-Menghormati guru,dan mentaati nasehat guru.-Mentaati peraturan sekolah.-Belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh dll. C. Bhakti kepada orang tua diujudkan dengan:-Menghormati dan mematuhi nasehat orang tua.-Membantu pekerjaan tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut tua/meringankan beban orang tua.-Tidak mempermalukan orang tua.-Menyenangkan orang tua dengan prestasi dll.

D. Bhakti pada pemerintah/Guru Wisesa dilakukan dengan:-Mentaati peraturan dan undang-undang yang berlaku.-Ikut mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.-Ikut menjaga keamanan dan ketentraman bangsa.-menjaga persatuan dan keutuhan bangsa dan negara dll.

TRI MANDALA Tri artinya 3 (tiga) dan mandala berarti wilayah. Yang dimaksud dengan Tri Mandala adalah: tiga wilayah yang terdapat dalam tempat suci. Bagian-bagian Tri mandala:A. Nista Mandala/Kanista Mandala : halaman paling luar (jaba sisi).B.

Madya Mandala : halaman dalam (jaba tengah).C. Utama Mandala : halaman utama (jeroan) Jenis-jenis bangunan pada tiap-tiap mandala:a. Pada Nista Mandala ini biasanya tidak terdapat bangunan. Karena merupakan jalan umum,tapi kadang-kadang terdapat tempat parkir dan wc umum.b.

Pada Madya Mandala:-Bale kulkul (tempat kentongan).-Wantilan adalah bangunan terbuka tempat umat untuk beristirahat.-Bale gong,tempat perangkat gambelan ditabuh saat upacara.-Pelinggih apit lawang.-Pwaregan adalah dapur umum yang digunakan saat berlangsungnya upacara.Pada utama Mandala:-Padmasana atau Sanggar Agung adalah Stana Ida Sang Hyang Widhi.-Gedong adalah bangunan pelinggih yang meiliki ruang atau rong.Pesimpangan Bhatari Dewi Danuh.-Pelinggih kidang seluang pesimpangan Mpu Kuturan.-Pelinggih Bhatara Angrurah.-Gedong Tri Sakti adalah Stananya Bhatara Tri sakti ( Brahma,Wisnu,Siwa).-Bale piasan adalah bangunan menggunakan tiang 6 atau 8 tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut digunakan sebagai tempat ngiasin Ida Bhatara dan tempat Ida padanda mapuja.-Bale pepelik atau pengaruman.

ORANG SUCI Orang Suci adalah orang yang disucikan oleh umatnya dan mempunyai kesucian hati dan pikiran untuk dapat menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi.

Jenis-jenis Orang Suci:1. Resi : Orang suci yang karena kesucian pikirannya dapat menerima wahyu Ida Sang Hyang Widhi.2.

Sulinggih : Orang yang mempunyai wewenang untuk muput upacara. Sulinggih adalah orang suci yang disucikan melalui proses sakral yang disebut Dwijati atau Madiksa.3.

Pemangku atau Pinandita : Orang yang mempunyai wewenang untuk muput upacara dalam skala kecil.Pemangku adalah orang yang disucikan melalui proses Ekajati/mawinten. Tugas Orang Suci Resi:-Menyiarkan Weda kepada umat manusia-Menuntun umat manusia sesuai ajaran Weda Sulinggih:-Melakukan pemujaan dalam menyelesaikan Yadnya-Melakukan upacara Nyurya Sewana-Ngeloka Phala Sraya,dsb.

Pemangku:-Meminpin upacara dalam tingkatan tertentu seperti:caru Panca sata,Mendem Sawa,otonan dsb.-Membantu sulinggih dalam menyelesaikan upacara Yadnya tertentu.-Meminpin upacara di Pura tempatnya bertugas.-Melakukan penyucian diri terus menerus melalui sembahyangdan selalu meningkatkan pengetahuan.

Larangan Bagi Orang Suci:-Tidak boleh berjudi.-Tidak boleh bertengkar atau berkelahi.-Tidak boleh melakukan perbuatan dosa.-Tidak boleh bergaul dengan orang jahat.-Tidak boleh berzina.-Tidak boleh ingkar janji.-Tidak boleh berpolitik praktis.-Tidak boleh berdagang.-Tidak boleh menyetir.-tidak boleh tersangkut pidana.

Pantangan Makan dan Minum:-Tidak boleh minum minuman berakohol: tuak,arak,berem dan minuman keras lainnya.-Tidak boleh makan daging sapi.-Tidak boleh makan daging babi.-Tidak boleh makan daging anjing.-Tidak boleh makan daging kuda.-Tidak boleh makan atau minuman yang berasal dari: mencuri,menipu,korupsi
Setiap orang pasti memiliki banyak masalah dalah hidupnya.

Namun tak jarang pula banyak orang yang suka ikut campur urusan tanpa sebab yang jelas. Jika kamu merupakan salah satu di antara mereka, lebih baik sudahi saja. Ada banyak dampak buruk yang akan didapatkan bagi mereka yang memiliki masalah atau pun juga bagimu.

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Ingatlah bahwa diam itu lebih baik daripada berbicara yang tak penting. Berikut beberapa alasan mengapa tak semestinya kamu mencampuri orang lain. pexels.com/pixabay Orang yang memiliki masalah pasti pikirannya sangat kacau. Ketika kamu tiba-tiba datang untuk mencampuri urusannya, bisa saja orang tersebut malah stres. Apakah kamu tega membuatnya stres padahal banyak penderitaan yang harus dia tanggung? Selain itu, mencampuri urusan orang lain juga dapat menambah bebanmu juga.

Kamu yang sebelumnya hidup tenag-tenang saja tanpa ada gangguan apa pun namun tiba-tiba masuk ke dalam urusan orang lain, bukankah hal tersebut malah menambah bebanmu? Renungkanlah baik-baik. pexela.com/randylle deligero Semua orang pasti setuju dengan istilah waktu adalah uang. Kalimat tersenut dapat diartikan bahwa kita tak boleh membuang waktu secara sia-sia jika ingin mendapatkan kesuksesan.

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Tidak hanya tentang materi, kebahagiaan hati juga akan didapat jika menghargai waktu. Ketika kamu mncampuri urusan orang lain, bukankah hal itu hanya membuang waktumu secara percuma saja? Fokuslah pada dirimu sendiri. Ingatlah bahwa banyak mimpi yang harus kamu realisasikan. Sebuah keberhasilan akan terus menjauh jika kamu tak ada usaha untuk mengejarnya. Salah satu risiko yang harus ditanggung ketika kamu memutuskan mencampuri urusan orang lain adalah harus siap-siap jika orang tersebut malah bergantung padamu.

Orang lain menganggap bahwa satu-satunya jalan untuk bisa memecahkan masalahnya adalah melalui bantuan yang kamu berikan. Jika memang seperti itu adanya, bukankah hal tersebut malah menambah bebanmu? Ingatlah bahwa kamu juga memiliki masalah sendiri dalam hidupmu. Cobalah untuk lebih berfokus pada penyelesasian masalahmu sendiri daripada ikut campur urusan orang lain.

Baca Juga: 5 Alasan Kenapa Kamu Gak Perlu Terlalu Ikut Campur Urusan Teman unsplash/eric ward Kamu pasti setuju bahwa ketika piiran sedang kacau maka semua gangguan yang datang dengan sendirinya akan membuat stres. Gangguan-gangguan yang dimaksud adalah ketika orang lain tiba-tiba masuk ke kehidupanmu lalu menambah masalah baru.

Hal tersebut juga akan dirasakan oleh orang lain ketika kamu ikut campur dalam segala urusannya. Dia pasti akan merasa risih dan tidak tenang akibat perbuatanmu yang sangat mengganggu itu.

Berihal dia pengertian untuk menyelesaikan masalahnya sediri. unsplash.com/胡 卓亨 Tidakkah kamu berpikir bahwa mencampuri urusan orang lain itu tidak ada manfaatnya? Jika kamu menganggap hal tersebut adalah kepuasan batin, maka kondisi hatimu patut dipertanyakan.

Seseorang yang memiliki hati pastinya selalu berusaha untuk tidak menyakiti perasaan orang lain. Lebih baik kamu melakukan hal lain yang bermanfaat dan memiliki dampak langsung untuk hidupmu. Salah satu contohnya adalah dengan konsisten mengejar impian. Berpikirlah secara realistis bahwa hidup itu perlu diperjuangkan agar bisa survive.

Itulah kelima alasan mengapa tak semestinya kamu mencampuri urusan orang lain. Fokuslah pada diri sendiri! Baca Juga: 5 Alasan Kenapa Kita Tidak Boleh Ikut Campur Urusan Pribadi Sahabat Berita Terpopuler • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Potret Liburan Ayu Ting Ting dan Keluarga ke Jogja, Ayah Rozak Hits • Kamu Workaholic?

Waspadai 7 Tanda Kamu Terlalu Keras ke Diri Sendiri • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • BMKG: Waspada, Suhu Panas Terik Terjadi hingga Pertengahan Mei • 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya • Libur Lebaran Usai, Jakarta Kembali Terapkan Ganjil Genap Hari Ini • Menko Muhadjir: Biaya Pasien Hepatitis Akut Ditanggung BPJS Kesehatan • 10 Potret Baby Ameena dalam Berbagai Ekspresi, Gemasnya KebangetanKepemimpinan Gajah Mada Kepemimpinan Gajah Mada Prinsip Asta Dasa Pramiteng Prabu • Wijaya artinya seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan karena hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan • Mantriwira artinya seorang pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun • Natangguan artinya seorang pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan • Satya Bakti Prabu artinya seorang pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa • Wagmiwak artinya seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya • Wicaksaneng Naya artinya seorang pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur stratehi dan siasat • Sarjawa Upasama artinya seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa • Dirosaha artinya seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, pemimpin harus memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum • Tan Satresna maksudnya seorang pemimpin tidak boleh memihak dan pilih kasih terhadap salah satu golongan atau memihak saudaranya, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masayarakatnya untuk mensukseskan cita-cita bersama • Masihi Samasta Buwana maksudnya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia dari Tuhan/Hyang Widi dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat • Sih Samasta Buwana naksudnya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya • Negara Gineng Pratijna maksudnya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan Negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.

• Dibyacita maksudnya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif) • Sumantri maksudnya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa • Nayaken Musuh maksudnya seorang pemimpin harus dapat menguasai musuh-musuh, baik yang dating dari dalam maupun dari luar, termasuk yang ada didalam dirinya sendiri (nafsunya/sadripu) • Ambek Parama Arta maksudnya seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum • Waspada Purwa Arta maksudnya seorang pemimpin selalu harus waspada dan mau melakukan mawas diri (introspeksi) untuk melakukan perbaikan • Prasaja artinya seorang pemimpin seharusnya berpola hidup sederhana (aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap Visi Politik Negarawan Gajah Mada • Visi Laku Hambeging Bathara • Laku Hambeging Bathara Indra, seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan • Laku Hambeging Bathara Yamaseorang pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat • Laku Hambeging Bathara Suryaseorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti matahari (surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi • Laku Hambeging Bathara Candraseorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.

• Laku Hambeging Bathara Bayuseorang pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada ditengah-tengah masyarakat-nya, memberikan kesegaran dan selalu turun kebawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya • Laku Hambeging Bathara Danadaseorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi yaitu teguh menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya • Laku Hambeging Bathara Barunaseorang pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan • Laku Hambeging Bathara Agniseorang pemimpin hendaknya memilki sifat mulia dari api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.

• Visi Panca Titi Darmaning Prabu • Handayani Hanyakra Purana, seorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan, motivasi dan kesempatan bagi para Generasi Mudanya atau anggotanya untuk melangkah kedepan tanpa ragu-ragu • Madya Hanyakrabawa, seorang pemimpin ditengah-tengah masyarakatnya senantiasa berkonsolidasi memberikan bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah dan mufakat yang mengutama-kan kepentingan masyarakat • Ngarsa Hanyakrabawa, seorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri tauladan bagi masyarakatnya • Nir bala wikara, seorang pemimpin tidaklah selalu mengunakan kekuatan dan kekuasaan didalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya.

Namun berusaha menggunakan pendekatan pikiran, lobi, sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesaingnya. • Ngarsa dana upaya, seorang pemimpin sebagai ksatria senantiasa berada terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya sekalipun untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat. • Visi Kamulyaning Nerpati Catur • Jalma Sulaksana, seorang pemimpin hendaknya memiliki/menguasai ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahu-an dan teknologi maupun ilmu pengetahuan agama spiritual secara teori ataupun praktek • Praja Sulaksana, seorang pemimpin hendaknya mempunyai perasaan belas kasihan kepada bawahan/rakyat dan berusaha mengadakan perbaikan kondisi masyarakat (Catur Paramita : Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa) • Wirya Sulaksana, seorang pemimpin hendaknya mempunyai keberanian untuk menegak-kan kebenaran dan keadilan dengan prinsip berani karena benar dan takut karena salah • Wibawa Sulaksana, seorang pemimpin hendaknya memiliki kewibawaan terhadap bawah-an/rakyat, sehingga perintahnya dapat dilaksanakan dan program yang direncanakan dapat teralisasi.

• Visi Catur Praja Wicaksana / Catur Naya Sandhi • Sama yaitu selalu waspada dan siap siaga untuk menghadapi segala ancaman musuh baik yang dating dari dalam maupun dari luar yang merongrong kewibawaan pemimpin yang sah • Beda yaitu memberikan perlakuan yang sama dan adil tanpa perkecualian dalam melaksanakan hokum/peraturan bagi bawahan/rakyat sehingga tercipta kedisiplinan dan tata tertib dalam masyarakat (penegakan supremasi hukum) • Dana yaitu mengutamakan sandang, pangan, pendidikan dan papan guna menunjang kesejahteraan/kemakmuran bawahan/rakyat serta memberikan penghargaan bagi warga yang berprestasi.

Memberikan upah/gaji bagi para pekerja sebagai balas jasa dari pekerjaan yang dibebankan sesuai dengan peraturan yang berlaku agar dapat mencukupi kehidupan keluarganya • Danda yaitu menghukum dengan adil kepada semua yang berbuat salah/melanggar hokum sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuatnya • Visi Sad Guna Upaya • Sidi Wasesa artinya pemimpin harus berkemampuan untuk menjalin persahabatan dengan rakyat, sesame dan Negara tetangga • Wigraha Wasesa artinya pemimpin harus berkemampuan untuk memilah-milah persoalan dan mampu untuk mempertahankan hubungan baik • Wibawa Wasesa artinya pemimpin harus memiliki kewibawaan atau disegani baik oleh rakyat, Negara tetangga ataupun musuh-musuhnya • Winarya Wasesa artinya pemimpin harus cakap dan bijak dalam memimpin sehingga memuaskan semua pihak • Gasraya Wasesa artinya pemimpin harus berkemampuan untuk menghadapi musuh yang kuat dan tangguh dengan menggunakan strategi/muslihat dalam berdiplomasi atau perang • Stana Wasesa artinya pemimpin harus dapat menjaga hubungan dan perdamaian dengan baik dan memprioritaskan tentaranya untuk menjaga kedaulatan Negara dan menjaga perdamaian serta menghindari peperangan • Visi Panca Tata Upaya • Maya Tata Upaya, artinya seorang birokrat harus melakukan upaya dalam mengumpulkan data atau permasalahan yang belum jelas faktanya sehingga didapat informasi yang akurat (hal ini dapat lewat telik sandi atau tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut • Upeksa Tata Upaya, artinya seorang birokrat harus berusaha untuk meneliti dan menganalisa secara mendalam semua data-data/informasi yang diperoleh guna dapat memecahkan masalah secara proporsional dan menarik kesimpulan yang obyejtif • Indra Jala Wisaya, artinya seorang birokrat hendaknya senantiasa berusaha untuk mencari jalan keluar/pemecahan terhadap setiap permasalahan yang dihadapi secara maksimal dan berpihak kepada kepentingan rakyat • Wikrama Wisaya, artinya setiap birokrat hendaknya berupaya untuk melaksanakan semua usaha yang telah diprogramkan/dirumuskan untuk tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut tujuan, yakni kesejahteraan lahir batin • Lokika Wisaya, artinya setia tindakan dan ucapan seorang birokrat harus dipertimbangkan sebelumnya secara akal sehat, ilmiah dan logis serta tidak boleh bertindak/berucap berdasarkan emosi semata • Visi Tri Jana Upaya / Tri Upaya Sandhi • Rupa Upaya, artinya seorang pemimpin harus dapat mengenali atau mengamati wajah masyarakat yang dipimpinnya.

Wajah masyarakat dapat menggambarkan apakah rakyat yang bersangkutan dalam keadaan senang, sejahtera atau kesusahan. Pemimpin yag dapat mengetahui keadaan masyarakatnya dengan baik akan lebih mudah dapat mengatasi permasalahannya yang dihadapi rakyatnya • Wamsa Upaya, artinya seorang pemimpin harus dapat mengetahui susunan stratifikasi social masyarakatnya. Seorang pemimpin yang mengenali adat istiadat masyarakatnya dengan baik akan lebih mudah dapat menentukan sistim pendekatan atau motivasi yang harus digunakan dalam mencapai dan mendorong pembangunan menuju kemajuan • Guna Upaya, artinya seorang pemimpin hendaknya mengetahui tingkat intelektual masyarakatnya termasuk ketrampilan dan keahlian.

Dengan mengetahui tingkat kemampuan masyarakatnya seorang pemimpin akan lebih mudah berkomunikasi serta menawarkan ide-ide kepada rakyatnya. Dengan demikian program-program pembangunan akan lebih cepat terealisasi. Disamping program pemenuhan sandang, pangan dan papan, seorang pemimpin harus memprioritaskan program pendidikan kepada rakyatnya, sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan fisik dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka membangun nusa dan bangsa dimasa depan (Eka Darma dari berbagai sumber) Visi Sosial Kemasyarakatan Gajah Mada • Ajaran Sad Guna Weweka • Kama (hawa nafsu), hawa nafsu ada dalam diri manusia, dan menjadi musuh bagi setiap orang.

Nafsu yang tidak terkendalikan akan membawa manusia ke jurang neraka • Loba (tamak, rakus), loba atau tamak menyebabkan orang tidak pernah merasa puas akan sesuatu. Orang loba ingin selalu memiliki sesuatu yang banyak dari apa yang telah dimiliki. Orang seperti ini akan selalu gelisah karena didorong oleh kelobaannya. • Kroda (marah), kemarahan timbul karena pengaruh perasaan loba yang tidak dapat dikendalikan, sehingga timbul rasa tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut, muak, tersinggung, dll.

Orang yang suka marah tidak baik, sebab kemarahan menyebabkan orang menderita, dan pada umumnya orang tidak senang dimarahi. Sehingga orang yang sering tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut, tidak akan disenangi orang lain. • Moha (kebingungan), kebingungan dapat membuat pikiran menjadi gelap, karena pikiran yang gelap tidak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk.

Biasanya lebih cenderung untuk melaksanakan perbuatan yang terkutuk, seperti membunuh orang, atau membunuh diri sendiri. Untuk menghindari kebingungan dalam menghadapi segala persoalan, maka perlu pengendalian pikiran, kuatkan iman, dan harus memiliki rasa pasrah • Mada (mabuk), mabuk akibat minuman keras, penyebab keburukan seperti merusak tubuh, merusak urat syaraf dlsb. • Masarya (iri hati), perasaan iri hati timbul karena seseorang tidak senang melihat orang lain yang lebih daripadanya atau menyamai dirinya.

Ia tidak senang melihat orang lain bahagia atau lebih beruntung darinya. Orang demikian merasakan dirinya dikalahkan, lebih rendah, malang dlsb. Akibatnya muncul rencana jahat untuk mencelakakan orang yang dianggap menyaingi dirinya. • Visi Sad Paramuka • Agnida (suka membakar milik orang lain) • Wisada (suka meracun) • Atarwa (melakukan ilmu hitam) • Sastraghna (mengamuk) • Dratikrama (suka memperkosa) • Raja Pisuna (suka memfitnah) • Visi Catur Sarama Gajah Mada • Brahmacari • Grahasta • Wanaprasta • Bikduka atau Sanyasin • Visi Catur Purusa Arta • Darma berarti segala perilaku yang luhur., perilaku manusia yang sesuai ajaran agama.

Ajaran agama menuntun, membina, dan mengatur hidup manusia sehingga mencapai kesejahteraan hidup lahir dan batin. Kewajiban untuk berbuat kebajikan adalah Darma.

Jadi Darma itu juga berarti kebajikan. Ada 2 (dua) kewajiban yang harus dilaksanakan yaitu : Swa Darma artinya kewajiban sendiri, karena setiap orang punya kewajibannya sendiri-sendiri. Para Darma artinya menghormati dan menghargai tugas dan kewajiban orang lain, tidak memandang rendah kewajiban orang lain. Manfaat Darma adalah alat untuk mencapai surga dan kesempurnaan atau moksa. Darma menghilangkan segala macam penderitaan, sumber datangnya kebaikan bagi yang melaksanakannya, dan dapat melebur dosa-dosa.

Darma adalah harta kekayaan orang yang saleh yang tidak bias dicuri dan dirampas. Darma adalah landasan untuk mendapatkan Arta dan Kama. • • Arta berarti harta benda. Harta benda dapat diartikan kekayaan. Dalam hidup ini manusia perlu harta benda. Dalam ajaran agama Hindu, tidak dilarang untuk memiliki harta benda atau kekayaan asalkan harta benda dan kekayaan itu didapat dengan jalan yang benar, jalan yang sesuai dengan Darma.

• Kamayang berarti hawa nafsu/keinginan. Keinginan dapat memberikan kenikmatan dan tujuan hidup. Dalam hidup ini manusia perlu kenikmatan dan kenikmatan itu diperoleh bila keinginan itu sudah dipenuhi. Keinginan/hawa nafsu ini timbul karena manusia memiliki indra. Indra menyebabkan timbulnya keinginan atau hawa nafsu dan manusia memiliki 10 (sepuluh) indra yang disebut Dasa Indra yang terdiri dari : • Panca Budi Indriya • Sruta indriya (indra penilai telinga untuk mendengar) • Twaka indriya (indra penilai kulit untuk rasakan sentuhan) • Caksu indriya (indra penilai mata untuk melihat) • Jihwa indriya (indra penilai lidah untuk mengecap) • Grana indriya (indra penilai hidung untuk membaui) • Panca Karma Indriya • Pana indriya (indra penggerak tangan untuk memegang/mengambil) • Pada indriya (indra penggerak kaki untuk bergerak/berjalan) • Waka indriya (indra penggerak mulut untuk ber-kata2/makan/minum) • Paywa indriya (indra penggerak anus untuk buang air besar/kotoran) • Upasta indriya (indra penggerak kelamin untuk buang air kecil/seni) Dalam kehidupan manusia, keinginan/nafsu sangatlah perlu dikendalikan.

Sebab, bila tidak akan membuat kehancuran pada diri manusia. Seperti nyala api yang disirami minyak, begitulah akibatnya keinginan yang selalu dituruti. Begitulah halnya dengan Kama, Kama harus dikendalikan dengan Darma agar tidak menyebabkan penderitaan.

• • Moksa/Mukhti • Visi Tata Susila Gama Visi Pendidikan Gajah Mada • Tri Nilai • Nilai Shastratama, yakni norma-norma tentang apa yang disebut Indah dan apa yang disebut buruk • Nilai Buwanatama, yakni tentang kepekaan social, yaitu nilai kebersamaan, empati dan kepedulian terhadap permasalahan kemasyarakatan • Nilai Susilatama, yakni kaidah-kaidah atau norma-norma tentang apa yang benar dan yang salah menurut berbagai jenis ketentuan yang berlaku dalam masyarakat • Visi Empat Perbuatan Luhur • Mitra, artinya kawan, sahabat, saudara atau teman.

Jadi mitra berarti sifat-sifat yang menghendaki persahabatan terhadap sesame makhluk. Mitra mengajarkan agar manusia memandang semua manusia seperti keluarga besar. Manusia wajib saling mengasihi, tolong menolong, dan hormat-menghormati. • Tresna, berarti cinta kasih, yaitu perasaan belas kasihan kepada semua makhluk yang menderita. Sifat Karuna adalah suka menolong dan rela berkorban demi kebahagiaan orang lain.

tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut

Sifat Karuna selalu merasakan penderitaan orang lain, seperti penderitaan diri sendiri. Orang yang menjalankan sifat Karuna, tidak segan-segan menolong orang yang kesusahan dan juga mempunyai sifat suka mengampuni dan memaafkan kesalahan orang lain, karena pada dasarnya manusia tidak bias luput dari kesalahan.

• Gumbira, adalah sifat bahagia, puas, dan simpati yang tidak pernah dikotori oleh sifat iri hati, dengki, dan benci. Orang yang memiliki sifat Mudita akan merasa sedih bila melihat orang yang mengalami penderitaan dan mereka berusaha membantunya.

Demikian pula sebaliknya mereka merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain. • Upeksa, adalah sifat yang tidak mencampuri urusan orang lain dalam catur paramita disebut mencampuri urusan orang lain. Upeksa mengajarkan kepada manusia untuk selalu waspada dan bijaksana dalam meneliti segala keadaan atau suatu masalah, apakah suatu masalah itu benar atau salah.

Sifat Upeksa tidak suka menceritakan kesalahan dan kejelekan orang lain, tidak suka menyinggung perasaan orang lain. • Visi Menghormati Catur Guru • Guru Sudarma, orangtua yang melahirkan manusia. • Guru Surasa, bapak dan ibu guru didalam/luar sekolah juga disebut orangtua kedua, karena beliau sebagai pengganti orang untuk mendidik dan membimbing anak-anak didalam/luar sekolah. • Guru Wisesa, pemerintah membuat Undang-undang atau peraturan untuk kepentingan bersama.

Pemerintah juga mengatur kekayaan alam untuk kepentingan manusia bersama. Yang disebut pemerintah adalah mantra, nindya mantra, darma jaksa, dlsb. Melanggar peraturan pemerintah disebut alpaka guru wisesa. • Guru Swadaya, Tuhan. Beliau menciptakan alam semesta beserta isinya. Tuhan pembimbing sekalian alam atau Tuhan itu guru sejati. Manusia perlu makan, minum, perumahan, pakaian, dlsb. Semua itu manusia dapatkan dari ciptaan Tuhan. Visi Spiritual Gajah Mada • Visi Tri Hita Wacana • Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan • Hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia lainnya • Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam atau lingkungannya Ketiga hubungan harmonis itu diyakini akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini, yang diwujudkan dalam 3 (tiga) unsur yaitu (1) Parahyangan atau tempat suci, (2) Pawongan atau manusia itu sendiri, (3) Palemahan atau alam semesta atau lingkungan.

• Visi Tri Karya Parasada • Manacika (berpikir yang baik dan benar) • Wacika (berkata yang baik dan benar) • Kayika (berbuat yang baik dan benar) • Visi Tri Guna Sukmaya • Sifat Satwam (sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas, terang, tentram, waspada, disiplin, ringan dan sifat-sifat baik lainnya) • Sifat Rajah (sifat lincah, gesit, goncang, tergesa-gesa, bimbang, dinamis, iri hati, congkak, kasar, bengis, panas hati, cepat tersinggung, angkuh dan bernafsu) • Sifat Tamak (sifat paling tidak sadar, bodoh, gelap, pengantuk, gugup, malas, kumal, kadang-kadang suka berbohong) • Visi Tri Parama Arta • Cinta Kasih, artinya menyayangi dan mengasihi sesame makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri.

Manusia harus saling asah, saling asih dan saling asuh. Tujuannya agar terwujud kerukunan, kedamaian dan keharmonisan dalam hidup ini • Punia, artinya perwujudan cinta kasih dengan wujud saling menolong dengan memberikan sesuatu atau harta benda yang manusia miliki secara ikhlas dan berguna bagi yang diberi.

Punia atau pemberian dengan ikhlas dapat dibedakan menjadi 4 (empat) yakni (1) makanan dan minuman, (2) pakaian dan perhiasan, (3) pelayan atau istri, (4) ilmu pengetahuan • Bhakti, artinya perwujudan hati nurani berupa cinta kasih dan sujud Tuhan, orangtua, guru dan pemerintah.

Bhakti Marga yaitu cara atau jalan untuk melakukan hubungan kepada Tuhan dengan jalan sujud bhakti kepada-NYA. • Visi Tri Rena Tata • Hutang jiwa kepada Tuhan, karena Tuhan yang memberi hidup kepada semua makhluk yang ada didunia ini • Hutang jasa kepada leluhur, yakni orangtua dan nenek moyang yang telah disucikan • Hutang ilmu pengetahuan kepada para guru, karena para guru adalah orang yang bijaksana dan menurunkan ilmunya kepada siswanya.

• Visi Tat Twam Asi

Pengertian Dan Bagian - Bagian Catur Paramitha KELAS II Semester II




2022 www.videocon.com