Apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

none Capaian pembelajaran learning outcomes) adalah suatu ungkapan tujuan pendidikan, yang merupakan suatu pernyataan tentang apa yang diharapkan diketahui, dipahami, dan dapat dikerjakan oleh peserta didik setelah menyelesaikan suatu periode belajar.

Capaian pembelajaran adalah kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap, keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman kerja. Istilah capaian pembelajaran kerap kali digunakan bergantian dengan kompetensi, meskipun memiliki pengertian yang berbeda dari segi ruang lingkup pendekatannya.

Allan dalam Butcher (2006) menjelaskan bahwa banyak terminology digunakan untuk menjelaskan educational intent, di antaranya adalah; learning outcomes; teaching objectives; competencies; behavioural objectives; goals; dan aims Menurut Butcher (2006), “aims” merupakan ungkapan tujuan pendidikan yang bersifat luas dan umum, yang menjelaskan informasi kepada siswa tentang tujuan suatu pelajaran, program atau modul dan umumnya ditulis untuk pengajar bukan untuk siswa.

Sebaliknya capaian pembelajaran (learning outcomes) lebih difokuskan pada apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh siswa selama atau pada akhir suatu proses belajar.

Sedangkan “objectives” cakupannya meliputi belajar dan mengajar, dan kerapkali digunakan dalam proses asesmen. Capaian pembelajaran menunjukkan kemajuan belajar yang digambarkan secara vertikal dari satu tingkat ke tingkat yang lain serta didokumentasikan dalam suatu kerangka kualifikasi.

Capaian pembelajaran harus disertai dengan kriteria penilaian yang tepat yang dapat digunakan untuk menilai bahwa hasil pembelajaran yang diharapkan telah dicapai. Penyusunan CP dengan pola di atas setidaknya membutuhkan langkah penentuan atau identifikasi profil lulusan.

Profil dapat disepadankan dengan spesifikasi teknis dari hasil proses produksi, dalam hal ini adalah proses pembelajaran pada institusi pendidikan.

Dengan demikian, pendeskripsian Profil menjadi langkah utama yang harus dilakukan dalam menyusun CP. Tidak akan ada CP yang dapat dihasilkan tanpa mengetahui profil terlebih dahulu. Standar kompetensi lulusan merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran lulusan Apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran digunakan sebagai acuan utama. Pengembangan standar isi pembelajaran, standar proses pembelajaran, standar penilaian pembelajaran, standar dosen dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana pembelajaran, standar pengelolaan pembelajaran, dan standar pembiayaan pembelajaran.

Rumusan capaian pembelajaran lulusan sebagaimana dimaksud wajib mengacu pada deskripsi capaian pembelajaran lulusan KKNI dan memiliki kesetaraan dengan jenjang kualifikasi pada KKNI. (Gambar 2) • Rumusan pengetahuan dan keterampilan khusus sebagai bagian dari capaian pembelajaran lulusan sebagaimana dimaksud dalam a) forum program studi sejenis apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran nama lain yang setara; b) pengelola program studi dalam hal tidak memiliki forum program studi sejenis.

• Rumusan pengetahuan dan keterampilan khusus merupakan satu kesatuan rumusan capaian pembelajaran lulusan diusulkan kepada Direktur Jenderal untuk ditetapkan menjadi capaian pembelajaran lulusan. • Rumusan capaian pembelajaran lulusan dikaji dan ditetapkan oleh Direktur Jenderal sebagai rujukan program studi sejenis (2) Pengetahuan merupakan penguasaan konsep, teori, metode, dan/atau falsafah bidang ilmu tertentu secara sistematis yang diperoleh melalui penalaran dalam proses pembelajaran, pengalaman kerja mahasiswa, penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat yang terkait pembelajaran.

Yang dimaksud dengan pengalaman kerja mahasiswa adalah pengalaman dalam kegiatan di bidang tertentu pada jangka waktu tertentu yang berbentuk pelatihan kerja, kerja praktik, praktik kerja lapangan atau bentuk kegiatan lain yang sejenis.

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

(3) Keterampilan merupakan kemampuan melakukan unjuk kerja dengan menggunakan konsep, teori, metode, bahan, dan/atau instrumen, yang diperoleh melalui pembelajaran, pengalaman kerja mahasiswa, penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat yang terkait pembelajaran. Unsur ketrampilan dibagi menjadi dua yakni keterampilan umum dan keterampilan khusus yang diartikan sebagai berikut: Keterampilan khusus dan pengetahuan yang merupakan rumusan kemampuan minimal lulusan suatu program studi bidang tertentu, wajib disusun oleh forum program studi yang sejenis atau diinisiasi dan diusulkan oleh penyelenggara program studi.

Hasil rumusan CP dari forum atau pengelola prodi disampaikan kepada Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dirjen DIKTI, dan bersama rumusan CP prodi yang lain akan dimuat di dalam laman DIKTI untuk masa sanggah dalam waktu tertentu sebelum ditetapkan sebagai standar kompetensi lulusan (SKL) oleh Dirjen DIKTI yang akan menjadi rujukan bagi program studi sejenis.

Substansi dari Permendikbud Nomor 49 Tahun 2014 berubah dalam Permenristekdikti Nomor 44 Tahun 2015. Namun, para ahli mengkaji poin-poin Permendikbud Nomor 49 Tahun 2014 yang masih belum implementatif. Hematnya, ada apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran yang perlu dikaji ulang seperti jumlah sks untuk program magister dari 72 kembali menjadi 36, masa studi untuk S1 dari 5 tahun menjadi 7 tahun, dan syarat jurnal yang harus dipenuhi untuk calon magister dan calon doktor, termasuk calon promotor.

Selain itu, yang perlu dikaji kembali adalah Biaya Kuliah Tunggal. Direktur Penjaminan Mutu Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Aris Junaidi pun menjelaskan bahwa awalnya revisi Permendikbud Nomor 49 Tahun 2014 hanya mencakup 4 hal, tapi setelah uji publik ada tambahan masukan untuk revisi permen tersebut.

Sistematika Permen 44/2015 ini terdiri atas lima Bab, terdiri dari Ketentuan Umum, Standar Nasional Pendidikan, Standar Nasional Penelitian, Standar Nasional Pengabdian Masyarakat dan Ketentuan Lain.
Bagaimana Ruang Lingkup Capaian Pembelajaran (CP) dan Komponen Capaian Pembelajaran (CP) PAUD SD SMP SMA. Untuk mengetahui silahkan Anda baca uraian tentang Format Rumusan Capaian Pembelajaran dan Komponen Capaian Pembelajaran berikut ini. A. Format Rumusan Capaian Pembelajaran 1. Bentuk Penulisan Format CP ditulis dalam bentuk paragraf, sehingga keterkaitan antara pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi umum terlihat jelas dan utuh sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam pembe lajaran dan menggambarkan apa yang akan d icapai peserta did ik di akhir pembelajaran.

Hal ini berfungsi untuk memberikan kesempatan mengeksplorasi materi pelajaran lebih mendalam, tidak terburu-buru, dan cukup waktu untuk menguatkan kompetensi, mengingat tahap perkembangan dan kecepatan anak untuk memahami sesuatu belum tentu sama untuk set iap anak. Kondisi ini juga memungkinkan seorang anak dengan kond isi berkebutuhan khusus dapat menggunakan CP yang sama dengan anak pada umumnya (anak di sekolah regu ler).

Hal ini secara tidak langsung juga akan memudahkan guru mengajar pada level yang seharusnya (teaching at the right level). Hal ini tentunya impian set iap guru untuk dapat mengajar anak sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Imp ian anak pula memperoleh layanan pend idikan sesuai haknya. Capaian Pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan untuk mengembangakan dan menguatkan kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila adalah sa lah satu komponen pent ing dalam pelaksanaan pembe lajaran dengan paradigma baru.

Capaian pembelajaran yang digunakan di Sekolah Penggerak merupakan hal utama dalam suatu kur ikulum dan kriteria suatu capaian pembelajaran yang ba ik yang dikembangkan oleh satuan pendidikan yang te lah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

2. Integrasi Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap CP merupakan hasil peleburan kompetensi inti dan kompetensi dasar. Hasil peleburan ini menjadi satu kesatuan penjabaran kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai anak di akhir pembelajaran.

Tidak lagi terp isah antara komponen s ikap, pengetahuan dan keterampilan. CP akan menjadi acuan deskripsi keberhasilan anak da lam mempelajari sesuatu hal. Pengintegrasian tersebut juga disesuaikan dengan tujuan untuk mengembangakan dan menguatkan kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Prof il Pelajar Pancasila,yang merupakan sa lah satu komponen penting dalam pelaksanaan pembelajaran dengan paradigma baru.

3. Fase dalam Perumusan CP (Capaian Pembelajaran) PAUD SD SMP SMA CP (Capaian Pembelajaran) dirumuskan dalam bentuk fase-fase yang menyatakan target capaian untuk rentang waktu yang lebih panjang (bukannya per tahun seperti kurikulum terdahulu).

Durasi setiap fase dapat berbeda untuk setiap jenjang pendidikan. Penggunaan istilah “fase” dilakukan untuk membedakannya dengan kelas karena peserta didik di satu kelas yang sama bisa jadi belajar dalam fase pembelajaran yang berbeda. Ini merupakan penerapan dari prinsip pembelajaran sesuai tahap capaian be lajar atau yang dikenal juga dengan istilah teaching at the right level (mengajar pada tahapan/t ingkat yang sesuai).

Apabila peserta didik ke las 5 masih harus be lajar materi Fase B (fase untuk kelas 3-4), misalnya, maka guru dapat menggunakan materi pe lajaran fase tersebut. Di PAUD terdapat fase awal yang disebut fase pondasi (TK B). Fase fondasi ini mencakup capaian perkembangan yang diharapkan dikuasai oleh anak jenjang PAUD hingga SD ke las awal sehingga terlihat adanya trans isi kemampuan dari PAUD ke SD termasuk di dalamnya kesiapan bersekolah.

Pembelajaran di SD berbeda dengan pembelajaran di PAUD termasuk kompetensi yang diharapkan di dalamnya. Pembelajaran di PAUD tidak menggunakan mata pelajaran tetapi muatan pembe lajaran yang didalamnya mengintegrasikan keenam aspek perkembangan sedangkan di SD pembelajaran mengacu pada mata pelajaran meski disaj ikan secara tematik.

CP (Capaian Pembelajaran) pada jenjang SD terdapat 3 fase yaitu fase A (kelas 1 - 2), fase B ( kelas 3-4) dan fase C ( kelas 5 - 6. Pada jenjang SMP, CP (Capaian Pembelajaran) terdapat 1 fase yaitu fase D, dengan durasi 3 tahun, untuk kelas 7- 9 SMP. Sedangkan CP (Capa ian Pembelajaran) di SMA terdapat 2 fase, yaitu fase E ( kelas 10) dan fase F ( kelas 11-12).

Perbedaan durasi fase ini leb ih didasari oleh alasan praktikal dan bukan teoritis. Durasi 2 tahun di SD disebabkan banyaknya sekolah yang menggunakan kelas multi usia ( multi aging class) dengan mengakomodir 2 kelas.

Sedangkan durasi fase di SMP didasari oleh alasan tahap perkembangan dan di SMA d idasari oleh kebutuhan siswa SMA untuk memperkuat materi dan keterampilan di SMP dan peminatan. Dengan fase diharapkan siswa akan dapat memiliki banyak waktu untuk menjalani proses belajar sehingga dapat mengupas konsep-konsep dan mempe lajari keterampilan kunci, sehingga materi dapat d ihantarkan dengan eksploratif dan pendalaman, bukan sekadar transfer pengetahuan.

4. Capaian Perkembangan (CP) Untuk PAUD Khusus untuk PAUD, istilah CP dimaknai sebagai capaian perkembangan bukan capaian pembelajaran. Mengingat pembelajaran di PAUD berbasis pada enam aspek perkembangan kognitif, sosial emosi, bahasa, fisik dan motorik serta apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran.

Aspek ini menjadi satu kesatuan da lam pembelajaran. Pembelajaran di SD berbeda dengan pembelajaran di PAUD termasuk kompetensi yang diharapkan di dalamnya.

Pembelajaran di PAUD tidak menggunakan mata pelajaran tetapi muatan pembelajaran yang didalamnya mengintegrasikan keenam aspek perkembangan sedangkan di SD pembe lajaran mengacu pada mata pelajaran meski disajikan secara tematik. Selanjutnya diturunkan menjadi capaian pembelajaran menurut elemen yang dipetakan menurut perkembangan peserta didik. Lingkup Capaian pembelajaran di PAUD mencakup tiga elemen stimulasi yang saling terintegrasi.

Tiga elemen stimulasi tersebut merupakan penggabungan lima aspek perkembangan anak (n ilai agama dan moral, fis ik-motorik, kognitif, sosial-emosi, dan bahasa) dan bidang-bidang lain untuk optimalisasi tumbuh kembang anak sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad 21 dalam konteks Indones ia. Tiap elemen stimulasi mengeksplorasi aspek-aspek perkembangan secara utuh dan tidka terpisah. Ketiga elemen stimulasi tersebut adalah; 1) Nilai agama dan budi pekerti, yang mencakup kemampuan dasar-dasar agama dan akhlak mulia; 2) Jati diri mencakup pengenalan jati diri anak Indonesiayang sehat secara emosi dan sosial dan berdasarkan Pancas ila, serta memiliki kemandirian fisik, 3) Literasi dan sains, tekhnologi rekayasa, seni dan matematika yang mencakup kemampuan memahami sebagai informasi dan berkomunikasi serta berpartisipasi dalam keg iatan pramembaca.

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

Juga kemampuan dasar berpikir STEAM untuk membangun anakyang kreatif dan mampu memecahkan masalah. B. Komponen Capaian Pembelajaran Apa saja Komponen Capaian Pembelajaran? Dalam dokumen CP terdapat empat komponen, diantaranya 1.

Rasional Mata Pelajaran: Memuat alasan pentingnya mempelajari mata pelajaran tersebut dan keterkaitan antara mata pelajaran dengan salah satu (atau lebih) Profil Pelajar Pancasila. Untuk SLB rasional mata pe lajaran apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran dikaitkan dengan keterkaitan mata pelajaran untuk menunjang keteramp ilan fungsional anak dalam kehidupan sehari-hari. 2. Tujuan Mata Pelajaran: Kemampuan atau kompetensi yang perlu dicapai peserta didik setelah mempelajari mata pelajaran tersebut.

3. Karakteristik Mata Pelajaran: Deskripsi umum tentang apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran yang dipelajari dalam mata pelajaran serta e lemen-elemen (strands) atau domain mata pe lajaran dan deskripsinya. 4.

Capaian Pembelajaran Setiap Fase: Deskripsi yang mencakup pengetahuan, keteramp ilan, serta kompetensi umum. Capaian Pembelajaran (CP) setiap fase Selanjutnya diturunkan menjadi capaian pembelajaran menurut elemen yang dipetakan menurut perkembangan siswa. Pembag ian fase dalam CP dapat digambarkan sebagai berikut: Fase A : Pada umumnya SD Kelas 1-2 Fase B : Pada umumnya SD Kelas 3-4 Fase C : Pada umumnya SD Ke las 5-6 Fase D : Pada umumnya SMP Kelas 7-9 Fase E : Pada umumnya SMA Kelas 10 Fase F : Pada umumnya SMA Ke las 11-12 Untuk SLB CP didasarkan pada usía mental yang ditetapkan berdasarkan has il asesmen.

Pembagian fase dapat digambarkan sebagai berikut: Fase A : Pada umumnya us ía mental (≤7 tahun) Fase B : Pada umumnya usía mental (±8 tahun) Fase C : Pada umumnya usia mental (±8 tahun) Fase D : Pada umumnya us ía mental (±9 tahun) Fase E : Pada umumnya usía mental (±10 tahun) Fase F : Pada umumnya usía mental (±10 tahun) Demikian uraian tentang Ruang Lingkup Capaian Pembelajaran (CP) dan Komponen Capaian Pembelajaran (CP) PAUD SD SMP SMA, semoga ada manfaatnya.

(Sumber modul diklat sekolah penggerak) Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran.

Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan ( berpikir holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Dengan adanya pemaduan itu, siswa akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan makna bahwa pada pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah.

Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Untuk itu guru dituntut harus mampu merancang dan melaksanakan program pengalaman belajar dengan tepat. Manfaat dari pembelajaran terpadu yaitu banyak topik-topik yang tertuang disetiap mata pelajaran mempunyai keterkaitan konsep yang dipelajari oleh siswa.

Sebagai guru, harus pandai dalam memilih topik yang sesuai dalam membimbing pembelajaran. 1. Menurut Poerwadarminta (dalam Abdul Majid, 2014:80) pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada murid. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. 2. Menurut Hadisubroto (dalam Trianto, 2010:57) pembelajaran terpadu adalah pembelajarana yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncangakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar anak, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna.

3. Menurut Abdul Majid (2014:80) pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu ( integrated instruction) yang merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individu maupun kelompok aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistic, bermakna, dan otentik. Menurut Bell (dalam Abdul Majid (2014:84) pembelajaran terpadu berawal dari pengembangan skema-skema pengetahuan yang ada di dalam diri siswa.

Hal tersebut merupakan salah satu pengembangan filsafat konstruktivisme. Salah satu pandangan tentang proses kontruktivisme dalam pembelajaran adalah bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri ( self-regulation).

Pada akhir proses belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya Pada dasarnya pembelajaran terpadu dikembangkan untuk menciptakan pembelajaran yang di dalamnya siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya yang dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya.

Pendidik lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar dan mengajar lebih berfokus pada suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman mereka, bukan ketepatan siswa dalam melakukan replikasi atas apa yang dilakukan pendidik. Pendukung gaya belajar dengan pendekatan terintegrasi berakar dari tradisi pendidikan progresif, inspirasi dari tokoh filsafat yaitu Friedrich Froebel, Yohanes Dewey, Piaget Jean, dan Rudolf Steiner (Compton, 2000).

Menurut aliran progresif, anak merupakan satu kesatuan yang utuh, perkembangan emosi dan sosial sama pentingnya dengan perkembangan intelektual. Dewey mengungkapkan bahwa Education is growth, development, and life. Hal ini berarti bahwa proses pendidikan itu tidak mempunyai tujuan di luar dirinya, tetapi terdapat dalam pendidikan itu sendiri.

Proses pendidikan juga bersifat kontinu dan merupakan reorganisasi, rekonstruksi, dan pengetahuan pengalaman hidup. (Sukmadinata, 2002) Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dilakukan sebagai pendekatan belajar-mengajar yang melibatkan beberapa bidng studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak.

Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Kegiatan pembelajaran terpadu memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, paling tidak pelaksanaan belajar mengajar dengan cara ini dapat dilakukan dengan dua cara.

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

Pertama, materi beberapa mata pelajaran disajikan dalam tiap pertemuan sedangkan cara yang kedua, tiap kali oertemuan hanya menyajikan satu jenis mata pelajaran. Pada cara kedua ini, keterpaduannya diikat dengan satu tema pemersatu. Penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di kelas rendah oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tidak lepas dari perkembangan akan konsep dari pendekatan terpadu itu sendiri.

Menilik perkembangan konsep pendekatan terpadu di Indonesia, pada saat ini model pembelajaran yang dipelajari dan berkembang adalah model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty (1990). Model pembelajaran terpadu dikemukakan oleh Fogarty ini berawal dari konsep pendekatan interdisipliner yang dikembangkan oleh Jacob (1989) Sedangkan menurut Ahmadi dan Amri (2014:75-76) dalam rencana penerapan Kurikulum 2013 disajikan model pembelajaran Tematik Integratif.

Ini mungkin yang berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Dengan pola Tematik Integratif ini, buku-buku siswa SD tidak lagi dibuat berdasarkan mata pelajaran. Namun, berdasarkan tema yang merupakan gabungan dari beberapa mata pelajaran yang relevan dengan kompetensi di SD. Kita ambil contoh, dalam pelajaran kelas I SD ada 8 tematik, yakni diriku; kegemaranku; kegiatanku; keluargaku; pengalamanku; lingkungan bersih, sehat, dan asri; benda, binatang, dan tanaman di sekitarku; serta peristiwa alam.

Ditambah lagi dengan pendidikan agama dan budi pekerti. Dalam Kurikulum 2013 ini, siswa diarahkan untuk mampu mengeksplor dirinya sendiri menuju arah perkembangan. Siswa tidak lagi belajar IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, atau mata pelajaran lainnya. Akan tetapi, siswa belajar tema yang didalam tema itu sudah mencakup seluruh mata pelajaran dan kompetensinya. Dengan kata lain, tidak ada pemisahan antar mata pelajaran. Eksplorasi pada pelajaran sistem tematik ini bertujuan agar peserta didik/siswa mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran.

Lantas untuk menjembatani hal tersebut, obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan Kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Siswa diarahkan untuk memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik.

Tujuan lainnya, agar siswa/peserta didik tidak menjadi sosok yang asal menerima atau belajar untuk hafal. Ia diaharapkan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Konsep menjadi diri sendiri dengan mengembangkan aspek kognitif, apektif, dan psikomotorik pada diri mereka dapat lebih digali. Diharapkan nantinya siswa/peserta didi mampu menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya. Tentunya apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran ini dengan acuan mampu berkancah pada tantangan global yang berakar pada lokaliras.

Dalam sistem tematik integratif ini, indikator mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial akan muncul di kelas IV, V, dan VI SD. Untuk mata pelajaran IPA dan IPS di SD tidak diajarkan secara terpisah, tetapi indikatornya dibuat muncul atau diperjelas sejak kelas IV SD. Kusnandar (dalam Abdul Majid (2014:79) menyatakan bahwa peningkatan mutu pembelajaran di sekolah akan selalu mendapatkan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan. Perbaikan dan penyempuranaan pembelajaran di sekolah itu dilakukan melalui perubahan kurikulum sekolah oleh pemerintah.

Kurikulum itu memang bersifat dinamis, harus selalu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Di samping itu, melalui berbagai observasi dan evaluasi pendidikan, masukan dari pakar pendidik serta masukan dari masyarakat yang peduli pendidikan, pemerintah berusaha untuk memperbaiki kurikulum yang mereka pandang perlu untuk diadakan perbaikan dan penyempurnaan. Meskipun masyrakat banyak yang mengasumsikan bahwa setiap ganti menteri mesti ganti kurikulum, sebagai seorang guru yang profesional sudah seharusnya cepat merespons perubahan kurikulum.

Perubahan kurikulum yang terjadi merupakan hal yang biasa dan merupakan suatu keniscayaan dalam rangka mengikuti perkembangan masyarakat yang begitu cepat. Pemerintah (Kemdikbud) mulai tahun ajaran baru (2013) akan menerapkan kurikulum baru di semua jenjang pendidikan sekolah.

Dari jenjang sekolah tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK mulai tahun ajaran 2013-2014, akan menerapkan kurikulum baru, terutama di sekolah jenjang SD/MI akan mendapatkan porsi perubahan yang cukup banyak.

Salah satu ciri kurikulum tahun 2013 adalah bersifat tematik integrative pada level pendidikan dasar (SD). Abdul Majid (2014: 95) menyatakan bahwa pada dasarnya bagi siswa, keterpaduan pemahaman selalu berlangsung baik secara vertical maupun secara horizontal. Keterpaduan yang bersifat vertical berlangsung mulai materi pelajaran kelas 1 sampai dengan materi kelas 6, dan bahkan keterpaduan pemahaman berlangsung mulai TK sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti sekolah lanjutan.

Pemahaman pada topic/konsep kelas 2, dan begitu seharusnya. Dengan demikian, pemahaman konsep selalu bersinergi melalui keterpaduan pemahaman. Keterpaduan pemahaman secara horizontal merupakan keterpaduan tentang keluasan dan kedalaman materi pembelajaran dalam satu mata pelajaran. Ketika mata pelajaran disajikan guru dan dipahami siswa secara terpisah., diharapkan supaya dampak keterpaduan pemahaman kumulatif ini akan berkembang menjadi dasar pemahaman topic/konsep yang terkait pada masa mendatang.

Dalam pelaksanaan kegiatannya hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan ( berpikir holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Jadi, dengan adanya pemaduan itu, siswa akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran makna bahwa pada pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.

Menurut Goys Keraf (2001:107) kata tema berasal dari kata Yunani tithenai yang berarti ”menempatkan” atau ”meletakkan” dan kemudian kata itu mengalami perkembangan sehingga kata tithenai berubah menjadi tema. Menurut arti katanya, tema berarti ”sesuatu yang telah diuraikan” atau ”sesuatu yang telah ditempatkan” Pengertian secara luas, tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh.

Dalam pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Penggunaan tema dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas. Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang meliibatkan beberpa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.

Keterpaduan pembelajaran ini dapaat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar-mengajar. Jadi pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi dalam beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali pertemuan. Konsep pembelajaran tematik merupakan pengembangan dari pemikiran dua orang tokoh apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran yakni Jacob tahun 1989 dengan konsep pembelajaran interdisipliner dan Fogarty pada tahun 1991 dengan konsep pembelajaran terpadu.

Pembelajaran tematik merupan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi peserta didik.

Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran tematik peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman lansung dan nyata yang menghubungkan antar konsep-konsep dalam intra maupun antar mata pelajaran.

Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, maka pembelajaran tematik tampak lebih menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan.

BNSP (2006:35) menyatakan bahwa pengalaman belajar peserta didik menempati posisi penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan. Untuk itu pendidik dituntut harus mampu merancang dan melaksanakan pengalaman belajar dengan tepat. Setiap peserta didik memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup dimasyarakat, dan bekal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar disekolah.

Oleh sebab itu pengalam belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal bagi peserta didik dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut dengan kecapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar keterampilan. Menurut Abdul Majid (2014:85-87) pengertian pembelajaran tematik dapat dijelaskan sebagai berikut: • Pembelajaran yang berangkat dari suatu tema tertentu sebagai pusat yang digunakan untuk memahami gejala-gejala, dan konsep-konsep, baik yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya.

• Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia riil di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak. • Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan. • Menggabungkan suatu konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan harapan anak akan belajar lebih baik dan bermakna.

Menurut Depdikbud (dalam Abdul Majid (2014:85) menyatakan bahwa pengembangan pembelajaran terpadu di sekolah dasar didasari beberapa hal, yaitu: • Sesuai dengan penghayatan dunia kehidupan anak yang bersifat holistik. • Sesuai dengan potensi pengaitan mata pelajaran di sekolah dasar sehingga mampu membuahkan penguasaan isi pembelajaran secara utuh.

• Idealisasi pelaksanaan kurikulum yang selayaknya dikembangkan secara integratif. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu yang dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran.

Sebagai contoh, tema “keluarga” dapat ditinjau dari mata pelajaran pkn, bahasa, matenatika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain. Jadi, pembelajara terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna pada anak didik.

Dikatakan bermakna karena dalam pengajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengamatan langsung dan menghubungkan dengan konseplain yang mereka pahami. Pembelajaran tematik berpusat pada siswa ( student centered). Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subyek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator,yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untukmelakukan aktifitas belajar.

Pembelajaran tematik menyajikan konsep –konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini di perlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang di hadapi dalam kehidupan sehari – hari.

Rujukan yang nyata dari segala konsep yang diperoleh, dan keterkaitanya dengan konsep-konsep lainya akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari. Selanjutnya ini akan mengakibatkan pembelajaran yang fungsional.

Siswa mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul di dalam kehidupan. Pembelajaran terpadu memungkinkan apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan secara langsung. Mereka memahami dari hasil belajarnya sendiri, bukan sekedar pemberitahuan guru. Informasi dan pengetahuan yang diperoleh sifatnya jadi lebih otentik.

Misalnya hukum pemantulan cahaya diperoleh siswa melalui kegiatan eksperimen. Guru lebih banyak bersifat sebagai fasilitator dan katalisator, sedangkan siswa bertindak sebagai aktor pencari informasi dan pengetahuan.

Guru memberikan bimbingan kearah mana yang dilalui dan memberikan fasilitas seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut. Pembelajaran terpadu menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran baik secar fisik, mental, intelektual, maupun emosional guna tercapai hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan hasrat, minat, dan kemampuan siswa sehingga mereka termotovasi untuk terus menerus belajar.

Dengan demikian pembelajaran terpadu bukan semata-mata merangrang aktivitas-aktivitas dari masing-masing mata pelajaran yang saling terkait. Pembelajaran terpadu bisa saja dikembangkan dari suatu tema yang disepakati bersama dengan melirik aspek-aspek kurikulum yang bisa dipelajari secara bersama melalui pengembangan tema tersebut. Jadi, dapat disimpulkan karaktaeristik pembelajaran tematik yaitu, berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, p emisahan mata pelajaran tidak begitu jelasmenyajikan konsep dari berbagai mata pelajaranb ersifat fleksibelmenggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan, holistic, bermakna, otentik, dan aktif, hasil pembelajaran sesuai dengan minta dan kebutuhan siswa.

Pengelolaan dapat optimal apabila guru mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan proses. Artinya, guru harus mampu menempatkan diri sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembelajaran.

Menurut Prabowo mengatakan bahwa dalam pengelolaan pembelajaran hendaknya guru dapat berlaku sebagai berikut: Dampak pengiring ( nurturant effect) yang penting bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru alam KBM. Karean itu guru di tuntut agar mampu merencanakan dan melaksankan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa dalam semua peristiwa serta tidak mengarhkan aspek yang sempit melainkan kesuatu kesatuan yang utuh dan bermakna.

Pembelajrana terpadu memungkinkan hal ini dan guru hendaknya menemukan kiat-kiat untuk memunculkan kepermukaan hal-hal yang dicapai melalui dampak pengiring. Tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai dengan tahap berpikir nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak melihat mata pelajaran berdiri sendiri. Mereka melihat objek atau peristiwa yang di dalamnya memuat sejmlah konsep atau materi beberapa mat pelajaran.

Misalnya, saat mereka berbelanja di pasar, mereka akan di hadapkan dengan suatu perhitungan (matematika), aneka ragam makanan sehat (IPA), dialog tawar menawar (Bahasa Indonesia), harga yang naik turun (IPS) dan beberapa materi pelajaran lain.

• Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa Pengajaran terpadu memberi peluang siswa untuk mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan secara bersamaan.

Ketiga ranah sasaran pendidikan itu meliputi sikap (jujur, teliti, tekun, terbuka terhadap gagasan ilmiah), ketrampilan (memperoleh, memanfaatkan, dan memilih informasi, menggunakan alat, bekerja sama, dan kepemimpinan) dan ranah kognitif (pengetahuan) • Memperkuat kemampuan yang diperoleh Dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman peserta didik.

Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung peserta didik (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia.

Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada peserta didik, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing peserta didik.

Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus.

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

Keaktifan peserta didikyang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat peserta didikdari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.

Pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.

Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.

Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar.

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9).

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).

Pembelajaran tematik terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran. Dengan adanya pemaduan itu, siswa akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan makna bahwa pada pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.

Pengajaran terpadu tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum yang berlaku, tetapi sebaliknya pengajaran terpadu harus mendukung pencapaian tujuan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum. Materi pembelajaran yang dapat dipadukan dalam satu tema perlu mempertimbangkan karakteristik siswa, seperti minat, kemampuan, kebutuhan dan pengetahuan awal.

Materi pelajaran yang dipadukan tidak perlu terlalu dipaksakan. Artinya, materi yang tidak mungkin dipadukan tidak usah dipadukan. Pembelajaran terpadu memiliki arti penting dalam kegiatan belajar mengajar karena, dunia anak adalah dunia nyata, proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa, pembelajaran akan lebih bermakna, memberi peluang siswa untuk mengembangkan kemampuan diri, memperkuat kemampuan yang diperoleh, guru dapat lebih menghemat waktu dalam menyusun persiapan mengajar.

Jadi, pembelajarn terpadu merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara invididual maupun kelompok, aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan otentik. Pembelajaran tematik terpadu juga memiliki karakteristik; berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel, serta menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

Untuk itu guru dituntut harus mampu merancang dan melaksanakan program pengalaman belajar dengan tepat. Manfaat dari pembelajaran terpadu yaitu banyak topik-topik yang tertuang disetiap mata pelajaran mempunyai keterkaitan konsep yang dipelajari oleh siswa. Sebagai guru, harus pandai dalam memilih topik yang sesuai dalam membimbing pembelajaran.

• ► 2022 (6) • ► February (6) • ► 2021 (10) • ► December (5) • ► November (4) • ► October (1) • ► 2020 (6) • ► May (4) • ► March (2) • ► 2019 (10) • ► September (10) • ► 2018 (1) • ► August (1) • ▼ 2017 (17) • ► May (5) • ▼ February (12) • RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA.

• Analisis Buku Teks dengan Kurikulum “KTSP” Bahasa . • Interdependensi Global Sosiologi dan Antropologi • INTERDEPENDENSI di BIDANG HUKUM • KARAKTERISTIK PENILAIAN HASIL BELAJAR • REFLEKSI PENDEKATAN, METODE • ANALISIS JURNAL • MEDIA PEMBELAJARAN KEAHLIAN MTK • POHON SIMETRI PUTAR • LAPORAN OBSERVASI • HAKIKAT DAN LATAR BELAKANG LAHIRNYA PEMBELAJARAN T.

• Ragam Bentuk Implementasi Pembelajaran Tematik Ter. • ► 2016 (7) • ► November (3) • ► September (1) • ► August (1) • ► April (2)
Hal yang dilakukan Capaian Pembelajaran apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran 1. Dengan memberi petunjuk dalam pemilihan materi ajar, strategi, model, metode, serta media yang akan digunakan dalam KBM. 2. Dengan menuliskan tujuan pembelajaran dalam bentuk bahan yang akan dibahas dalam pelajaran 3. Dengan menguraikan topik-topik atau konsep-konsep yang akan dibahas selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran.

Harapan Capaian Pembelajaran : 1. Memahami dan mampu menerapkan capaian pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

2. Menginginkan peserta didik untuk berhasil dalam memahami pembelajaran.

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

3. Mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. 4. Melakukan inovasi dalam dunia pendidikan. Kegiatan, materi, manfaat yang diharapkan : Mampu melakukan kegiatan yang relevan dalam pencapaian belajar. Materi yang menyeimbangi dengan kebutuhan siswa dan aspek kurikulum. Menjadikan proses belajar mengajar lebih menarik, sesuai target dan kebutuhan dalam bidang pendidikan. Latar Belakang konsep Capaian Pembelajaran : 1.

Adapun yang melatarbelakangi adanya konsep Capaian Pembelajaran dirujuk pada sistem pendidikan yang berkembang. 2. Perlunya konsep tersebut adalah agar tercapainya suatu hasil bafi peserta didik seperti yang diharapkan. 3. Capaian pembelajaran tersebut juga salah satu kunci utama untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik. 4. Capaian pembelajaran kedudukannya sangat penting dalam pelaksanaan dan penilaian. Capaian pembelajaran adalah suatu ungkapan tujuan pendidikan, yang merupakan suatu pernyataan tentang apa yang diharapkan diketahui, dipahami, dan dapat dikerjakan oleh peserta didik setelah menyelesaikan suatu periode belajar.

Capaian pembelajaran adalah kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap, keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman kerja. Peran Capaian Pembelajaran dalam kurikulum Sekolah Penggerak : 1. Memberikan pemahaman tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang hendaknya dicapai oleh anak dalam setiap tahapan perkembangan usianya.

2. Berfokus apa yang diharapkan pada siswa di akhir pembelajaran, hal ini sejalan dengan pendekatan student centered dalam dunia pendidikan. 3. Memuat sekumpulan kompetensi dan lingkup materi yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi. 4. Menjadi kompetensi pembelajaran minimal yang harus dicapai peserta didik untuk setiap mata pelajaran pada satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

5. Mengembangakan dan menguatkan kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Capaian pembelajaran dirumuskan per fase karena untuk membedakannya dengan kelas karena peserta didik di satu kelas yang sama bisa jadi belajar dalam fase pembelajaran yang berbeda. Ini merupakan penerapan dari prinsip pembelajaran sesuai tahap capaian belajar atau yang dikenal juga dengan istilah teaching at the right level (mengajar pada tahapan/tingkat yang sesuai).

• Pendaftaran Program Guru Penggerak Angkatan 6 Tahun 2022 Dibuka Kembali, Begini Cara Daftarnya • Pengertian Kurikulum Prototipe 2022, Manfaat dan Karakteristiknya • Besaran Gaji dan Tunjangan PPPK Guru yang Terima Setiap Bulan Dari Gol I Hingga XVII • Pendaftaran Calon Kepala Sekolah Penggerak Angkatan 3 dibuka Dari 19 Januari - 28 Februari 2022 • Pengertian Kurikulum Prototipe 2022, Manfaat dan Karakteristiknya • Berapa Gaji Guru Penggerak?

Berikut Penjelasannya • Cara Mengikuti dan Syarat Sertifikasi Guru Tahun 2022 • Pendaftaran Guru Penggerak Angkatan Ke 6 Tahun 2022 di Buka, Berikut Cara Mendaftar, Jadwal dan Syaratnya di Link Ini • Jadwal Pendaftaran Calon Guru Penggerak Angkatan 6 Tahun 2022 Mulai Jenjang TK, SDSMP, SMA, SMK dan SLB • Pendaftaran Calon Pengajar Praktik Angkatan 6 Dibuka Kembali, Berikut Syarat, Mekanisme, dan Jadwal Seleksinya
Apa yang dimaksud CP atau Capaian Pembelajaran?

Apa dan bagaimana Pengertian Capaian Pembelajaran (CP) dan Capaian Pembelajaran Di Kurikulum Sekolah Penggerak. Berikut ini Uraian tentang Pengertian Capaian Pembelajaran (CP ) dan Tujuan Capaian Pembelajaran (CP ) di Kurikulum Sekolah Penggerak, Prinsip Perumusan Capaian Pembelajaran (CP) di Kurikulum Seko lah Penggerak.

(Tulisan ini bersumber dari modul Seko lah Penggerak). Pengertian Capaian Pembelajaran (CP ) Capaian pembelajaran (CP) bukanlah istilah asing di dunia pendidikan.

Di Indonesia sendiri, istilah CP lebih sering digunakan di dunia pendidikan tinggi. Meski demikian istilah CP sendiri sebenarnya tidak merujuk pada satuan pend idikan tertentu. CP dikenal juga dengan istilah learning achievement, achievement standard atau learn ing outcomes. Capaian pembelajaran adalah suatu ungkapan tujuan pendidikan, yang merupakan suatu pernyataan tentang apa yang diharapkan diketahui, dipahami, dan dapat dikerjakan oleh peserta didik setelah menyelesa ikan suatu periode belajar (Dikti, 2015: 1).

Kondisi ini juga dijalankan oleh sebag ian besar negara di Eropa saat ini yang saat ini menggunakan CP untuk mengungkapkan apa yang mereka harapkan agar diketahui dan dapat di lakukan oleh peserta didik dan memahami di akh ir program atau urutan pembelajaran. Capaian pembelajaran biasanya digunakan untuk menentukan tingkat kerangka kualifikasi, menetapkan standar kualifikasi, menje laskan program dan kursus, mengarahkan kurikulum, dan menentukan spesif ikasi penilaian.

Selain itu capaian pembelajaran secara tak langsung akan mempengaruhi metode pengajaran, pembelajaran lingkungan dan prakt ik penilaian (ECFOP, 2017:14). CP berfokus apa yang diharapkan pada siswa di akhir pembelajaran, hal ini sejalan dengan pendekatan student centered dalam dunia pendidikan. Kondisi ini juga ditegaskan oleh Kennedy et.al (2014:3) yang menyatakan bahwa trend internasional dalam pendidikan menunjukkan pergeseran dari tradisional pendekatan "berpusat pada guru" ke pendekatan "berpusat pada s iswa".

Model alternatif ini berfokus pada apa yang diharapkan dari siswa yang harus d ilakukan di akhir modul atau program. Oleh karena itu, pendekatan ini b iasa disebut sebagai pendekatan berbasis hasil. Sejalan dengan hal tersebut menurut Gosling dan Moon (2001) dalam Mahajan dan Singh (2017: 65) disebutkan bahwa pendekatan berbasis hasil untuk mengajar menjadi semakin populer di tingkat internas ional, bahkan sejumlah negara pun telah mengadopsinya secara progres if dalam kerangka kualifikasi nasional seperti QAA (Qua lity Assurance Agency for Higher Education) di Inggr is, Australia, Selandia Baru dan Afrika Selatan.

Dalam Keputusan Menteri Republik Indonesia ( Kepmendikbud) Nomor 958 tahun 2020 Tentang Capaian Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Dan Pendidikan Menengah dinyatakan bahwa Capaian Pembelajaran merupakan bentuk pengintegrasian kompetensi inti dan kompetensi dasar yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi yang mel iputi: sekumpulan kompetensi dan lingkup materi.

Sehingga CP memungkinkan setiap anak. Secara sederhana Pengertian CP atau Capaian Pembelajaran bisa didefinisikan sebagai kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap tahap perkembangan peserta didik untuk setiap mata pelajaran pada satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Capaian pembelajaran memuat sekumpulan kompetensi dan lingkup materi yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi. Menurut Mahajan dan Singh (2017: 65) CP diibaratkan sebagai alat navigasi atau GPS. Setelah tujuan diumpankan ke perangkat GPS, selanjutnya pengemudi akan d ipandu sepanjang perjalanan dan membawa pengemudi ke tujuan yang d isebutkan dengan benar tanpa rasa takut kehilangan arah atau salah tujuan.

Ketika pengemudi mengambil rute yang salah, GPS akan memandu pengemudi dan membantu untuk Kembali pada rute semula yang mengarah ke tujuan yang hendak dituju. Sehingga CP adalah acuan yang membimbing siswa untuk hasil yang diinginkan apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran kegiatan pembe lajaran yang direncanakan.

CP juga menunjukkan dan mengarahkan para guru ja lan yang harus diikuti dan menyadarkan s iswa tentang apa yang akan mereka capai di akhir pembelajaran. Dalam Keputusan Menteri Republik Indonesia atau Kepmendikbud Nomor 958 tahun 2020 Tentang Capaian Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Dan Pendidikan Menengah dinyatakan bahwa capaian pembelajaran juga menjadi kompetensi pembe lajaran minimal yang harus dicapai peserta didik untuk setiap mata pelajaran pada satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Capaian Pembe lajaran memuat sekumpulan kompetensi dan l ingkup yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi. Pada satuan PAUD disebut dengan Capaian Perkembangan PAUD (CP PAUD).

B. Tujuan Capaian Pembelajaran ● Tujuan Capaian Pembelajaran PAUD Pembelajaran di PAUD adalah pembelajaran yang mengintegrasikan semua aspek perkembangan anak dengan penekanan pada kesejahteraannya.

Tujuan Capa ian Pembelajaran di PAUD adalah memberikan arah yang sesuai dengan usia perkembangan anak (nilai agama, fisik-motor ik, emosional, bahasa, dan kognitif) agar anak siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya.

● Tujuan Capaian Pembelajaran Tingkat SD-SMA Capaian pembelajaran menunjukkan kemajuan belajar yang digambarkan secara vertikal dari satu tingkat ke tingkat yang lain serta didokumentasikan dalam suatu kerangka kualifikasi. Selain itu, capaian pembelajaran juga harus disertai dengan kriteria penilaian yang tepat yang dapat digunakan untuk menilai bahwa hasil pembelajaran yang diharapkan telah dicapai. Capaian pembelajaran –bersama dengan kriteria penilaian– hal tersebut mengidentifikasi capaian pembe lajaran sebagai tujuan belajar yang terukur.

Seh ingga dapat disimpulkan bahwa capaian pembelajaran kedudukannya sangat penting dalam pelaksanaan dan penilaian. Apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran CP hanya dapat diidentifikasi setelah siswa meng ikuti proses pembe lajaran melalui penilaian dan harus dapat didemonstrasikan dalam kehidupan nyata. C. Prinsip Perumusan atau Penyusunan Capaian Pembelajaran (CP) Apa prinsip perumusan atau penyusunan Capaian Pembelajaran (CP) ?

Dalam perumusannya, CP memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Terukur dan spesifik CP harus dapat diukur dan spesifik, berdasarkan hierarki tahapan konseptual proses pembelajaran yang hasil belajarnya dapat digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa, seperti yang dinyatakan oleh European Commission (2011) dalam (ECFOP, 2017:33), bahkan secara spesifik Mahajan (2017:65) menyebutkan bahwa CP harus ditul is berdasarkan Taksonomi Bloom karena telah terbukti relevan untuk untuk membantu mengembangkan has il belajar.

Konsep taksonomi Bloom sangat sederhana, yaitu: a. Sebelum memahami konsepnya, ingatlah dengan baik, b. Pahami sebe lum anda menerapkannya, c. Analisis proses sebelum anda mengevaluasinya. Dalam proses menerapkan prinsip terukur dan spesifik tersebut ada beberapa aspek yang yang diperhatikan, yaitu : a.

Pemahaman dan pengetahuan Kata pemahaman sering digunakan sebagai salah satu luaran yang diharapkan dari suatu pembelajaran tetapi maknanya seringkali kurang dipahami. John Dewey (1933) merangkum ‘Pemahaman’ da lam How We Think Understanding dengan menyampaikan bahwa (Pemahaman) adalah makna yang dikembangkan atau diproses dari fakta-fakta.

Secara umum, pemahaman ser ingkali diidentikkan dengan pengetahuan. Padahal keduanya adalah dua hal yang sangat berbeda. Perbedaan kedua hal tersebut b isa dilihat dalam contoh berikut ini : 1. Pengetahuan: Fakta-fakta atau informasi Pemahaman: Arti dari fakta-fakta atau informasi 2.“Teori” atau kes impulan yang membantu hubungan dan pemaknaan dari fakta2 tersebut Pemahaman: Sekumpulan fakta yang berhubungan 3.Pengetahuan: Pernyataan yang masih dapat d iperdebatkan, teori2 masih dapat diproses Pemahaman: Pernyataan yang akurat 4.

Pengetahuan: Benar atau salah bukan merupakan sesuatu yang sifatnya absolut, tetapi bisa dianalisis dan dis impulkan tergantung kompleksitas dan kapasitas Pemahaman: Benar atau salah 5.

Pengetahuan: “Saya tahu mengapa hal tersebut benar” Pemahaman: “Saya tahu bahwa hal tersebut benar” 6. Pengetahuan: “Saya mampu membuat keputusan kapan perlu memberikan respon dengan pengetahuan yang saya miliki” Pemahaman: “Saya merespon petunjuk atau instruksi dengan pengetahuan yang saya miliki” b.

Praktis Bagaimana merancang dan me apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran eksperimen? Kata-kata yang umum digunakan adalah menunjukkan, menerapkan dll.

c. Keterampilan Generik Keterampilan umum mencakup teknik pemecahan masalah, inti pembelajaran. Yang biasa digunakan kata-kata menganal isis, membandingkan, dll. 2. Fleksibel (sesuai proses dan tahap belajar siswa) Fleksibel ( sesuai proses dan tahap belajar siswa) Seringkali belajar dirasa sebagai sebuah perlombaan dan bukan proses.

Kurikulum disusun sedemikian rupa sehingga siswa dijejali dengan berbagai materi yang has il akhirnya berorientasi pada “sekadar tahu” dan bukan pemahaman atau penguasaan sedangkan siswa memer lukan waktu dan tahapan untuk mengupas konsep. Capaian pembelajaran membawa perubahan dalam pendekatan pembelajaran di kelas dari yang berfokus kepada guru menjadi fokus kepada siswa. Menurut Harden karakteristik CP sebagai berikut: • Pengembangan CP jelas mendefinisikan hasil yang harus dicapai siswa pada akhir program pembelajaran • Desain kurikulum, strategi belajar, dan kesempatan belajar dilakukan untuk menjamin tercapainya CP • Proses penilaian disesuaikan dengan CP dan penilaian setiap individu siswa dilakukan untuk memastikan bahwa siswa mencapai target pembelajaran.

Demikian materi tentang modul Pengertian Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Capaian Pembelajaran (CP) dan Prinsip Perumusan Capaian Pembelajaran (CP) di Kurikulum Sekolah Penggerak. Semoga bermanfaat.Membangun pelajar Indonesia yang memiliki jiwa Pancasila dan memiliki keterampilan abad 21 adalah salah satu tujuan utama pendidikan Indonesia. Untuk mencapainya, maka orang tua, guru, siswa, dan semua pemangku kepentingan perlu mendapatkan pemahaman yang sama tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang hendaknya dicapai oleh anak dalam setiap tahapan perkembangan usianya.

Capaian Pembelajaran (CP) merupakan satu alternatif dalam mendeskripsikan kompetensi yang digunakan untuk mengukur apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran siswa. Penggunaan CP ini diharapkan sejalan dengan semangat merdeka belajar. Tulisan ini menjabarkan tentang mengapa capaian pembelajaran merupakan hal utama dalam suatu kurikulum dan kriteria suatu capaian pembelajaran yang baik.

Melalui studi literatur dikaji pula bagaimana konsep capaian pembelajaran dikembangkan dan dilaksanakan di berbagai negara, dan bagaimana perbandingannya dengan kurikulum Indonesia saat ini serta kebijakan yang menyertainya.

Perbandingan terhadap kurikulum Indonesia difokuskan pada analisa standar isi dan relevansinya dengan capaian pembelajaran dan kebutuhan pembangunan manusia Indonesia. Hasil kajian tersebut kemudian dipakai untuk membangun rekomendasi terhadap pengembangan kurikulum di Indonesia.

Termasuk didalamnya adalah rekomendasi terhadap proses penyusunan capaian pembelajaran dan gambaran implementasinya. Capaian pembelajaran (CP) bukanlah istilah asing di dunia pendidikan. Di Indonesia sendiri, istilah CP lebih sering digunakan di dunia pendidikan tinggi. Meski demikian istilah CP sendiri sebenarnya tidak merujuk pada satuan pendidikan tertentu. CP dikenal juga dengan istilah learning achievement, achievement standard atau learning outcomes.

Capaian pembelajaran adalah suatu ungkapan tujuan pendidikan, yang merupakan suatu pernyataan tentang apa yang diharapkan diketahui, dipahami, dan dapat dikerjakan oleh peserta didik setelah menyelesaikan suatu periode belajar (Dikti, 2015: 1). Kondisi ini juga dijalankan oleh sebagian besar negara di Eropa saat ini yang saat ini menggunakan CP untuk mengungkapkan apa yang mereka harapkan agar diketahui dan dapat dilakukan oleh peserta didik dan memahami di akhir program atau urutan pembelajaran.

Capaian pembelajaran biasanya digunakan untuk menentukan tingkat kerangka kualifikasi, menetapkan standar kualifikasi, menjelaskan program dan apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran, mengarahkan kurikulum, dan menentukan spesifikasi penilaian.

Selain itu capaian pembelajaran secara tak langsung akan mempengaruhi metode pengajaran, pembelajaran lingkungan dan praktik penilaian (ECFOP, 2017:14). CP berfokus apa yang diharapkan pada siswa di akhir pembelajaran, hal ini sejalan dengan pendekatan student centered dalam dunia pendidikan. Kondisi ini juga ditegaskan oleh Kennedy et.al (2014:3) yang menyatakan bahwa trend internasional dalam pendidikan menunjukkan pergeseran dari tradisional pendekatan “berpusat pada guru” ke pendekatan “berpusat pada siswa”.

Model alternatif ini berfokus pada apa yang diharapkan dari siswa yang harus dilakukan di akhir modul atau program. Oleh karena itu, pendekatan ini biasa disebut sebagai pendekatan berbasis hasil. Sejalan dengan hal tersebut menurut Gosling dan Moon (2001) dalam Mahajan dan Singh (2017: 65) disebutkan bahwa pendekatan berbasis hasil untuk mengajar menjadi semakin populer di tingkat internasional, bahkan sejumlah negara pun telah mengadopsinya secara progresif dalam kerangka kualifikasi nasional seperti QAA ( Quality Assurance Agency for Higher Education) di Inggris, Australia, Selandia Baru dan Afrika Selatan.

Dalam Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor 958 tahun 2020 Tentang Capaian Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Dan Pendidikan Menengah dinyatakan bahwa Capaian Pembelajaran merupakan bentuk pengintegrasian kompetensi inti dan kompetensi dasar yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi yang meliputi: sekumpulan kompetensi dan lingkup materi. Sehingga CP apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran setiap anak mendapatkankan pengalaman belajar sesuai dengan tingkat kompetensinya.

Menurut Mahajan dan Singh (2017: 65) CP diibaratkan sebagai alat navigasi atau GPS. Setelah tujuan diumpankan ke perangkat GPS, selanjutnya pengemudi akan dipandu sepanjang perjalanan dan membawa pengemudi ke tujuan yang disebutkan dengan benar tanpa rasa takut kehilangan arah atau salah tujuan.

Ketika pengemudi mengambil rute yang salah, GPS akan memandu pengemudi dan membantu untuk Kembali pada rute semula yang mengarah ke tujuan yang hendak dituju. Sehingga CP adalah acuan yang membimbing siswa untuk hasil yang diinginkan dari kegiatan pembelajaran yang direncanakan.

CP juga menunjukkan dan mengarahkan para guru jalan yang harus diikuti dan menyadarkan siswa tentang apa yang akan mereka capai di akhir pembelajaran. Dalam Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor 958 tahun 2020 Tentang Capaian Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Dan Pendidikan Menengah dinyatakan bahwa capaian pembelajaran juga menjadi kompetensi pembelajaran minimal yang harus dicapai peserta didik untuk setiap mata pelajaran pada satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran.

Capaian Pembelajaran memuat sekumpulan kompetensi dan lingkup yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi. Pada satuan PAUD disebut dengan Capaian Perkembangan PAUD (CP PAUD).

apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran

• Tujuan Capaian Pembelajaran PAUD Pembelajaran di PAUD adalah pembelajaran yang mengintegrasikan semua aspek perkembangan anak dengan penekanan pada kesejahteraannya. Tujuan Capaian Pembelajaran di PAUD adalah memberikan arah yang sesuai dengan usia perkembangan anak (nilai agama, fisik-motorik, emosional, bahasa, dan kognitif) agar anak siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya.

• Tujuan Capaian Pembelajaran Tingkat SD-SMA Capaian pembelajaran menunjukkan kemajuan belajar yang digambarkan secara vertikal dari satu tingkat ke tingkat yang lain serta didokumentasikan dalam suatu kerangka kualifikasi. Selain itu, capaian pembelajaran juga harus disertai dengan kriteria penilaian yang tepat yang dapat digunakan untuk menilai bahwa apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran pembelajaran yang diharapkan telah dicapai.

Capaian pembelajaran –bersama dengan kriteria penilaian– hal tersebut mengidentifikasi capaian pembelajaran sebagai tujuan belajar yang terukur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa capaian pembelajaran kedudukannya sangat penting dalam pelaksanaan dan penilaian. Pencapaian CP hanya dapat diidentifikasi setelah siswa mengikuti proses pembelajaran melalui penilaian dan harus dapat didemonstrasikan dalam kehidupan nyata.

Dalam perumusannya, CP memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Terukur dan spesifik CP harus dapat diukur dan spesifik, berdasarkan hierarki tahapan konseptual proses pembelajaran yang hasil belajarnya dapat digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa, seperti yang dinyatakan oleh European Commission (2011) dalam (ECFOP, 2017:33), bahkan secara spesifik Mahajan (2017:65) menyebutkan bahwa CP harus ditulis berdasarkan Taksonomi Bloom karena telah terbukti relevan untuk untuk membantu mengembangkan hasil belajar.

Konsep taksonomi Bloom sangat sederhana, yaitu: • Sebelum memahami konsepnya, ingatlah dengan baik, • Pahami sebelum anda menerapkannya, • Analisis proses sebelum anda mengevaluasinya. Dalam proses menerapkan prinsip terukur dan spesifik tersebut ada beberapa aspek yang yang diperhatikan, yaitu : • Pemahaman dan pengetahuan Kata pemahaman sering digunakan sebagai salah satu luaran yang diharapkan dari suatu pembelajaran tetapi maknanya seringkali kurang dipahami.

John Dewey (1933) merangkum ‘Pemahaman’ dalam How We Think Understanding dengan menyampaikan bahwa (Pemahaman) adalah makna yang dikembangkan atau diproses dari fakta-fakta. Secara umum, pemahaman seringkali diidentikkan dengan pengetahuan.

Padahal keduanya adalah dua hal yang sangat berbeda. Perbedaan kedua hal tersebut bisa dilihat dalam tabel berikut ini : • Praktis Bagaimana merancang dan melaksanakan eksperimen? Kata-kata yang umum digunakan adalah menunjukkan, menerapkan dll. apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran Keterampilan Generik Keterampilan umum mencakup teknik pemecahan masalah, inti pembelajaran. Yang biasa digunakan kata-kata menganalisis, membandingkan, dll.

2. Fleksibel (sesuai proses dan tahap belajar siswa) Fleksibel ( sesuai proses dan tahap belajar siswa) Seringkali belajar dirasa sebagai sebuah perlombaan dan bukan proses.

Kurikulum disusun sedemikian rupa sehingga siswa dijejali dengan berbagai materi yang hasil akhirnya berorientasi pada “sekadar tahu” dan bukan pemahaman atau penguasaan sedangkan siswa memerlukan waktu dan tahapan untuk mengupas konsep.

Capaian pembelajaran membawa perubahan dalam pendekatan pembelajaran di kelas dari yang berfokus kepada guru menjadi fokus kepada siswa. Menurut Harden karakteristik CP sebagai berikut: • Pengembangan CP jelas mendefinisikan hasil yang harus dicapai siswa pada akhir program pembelajaran • Desain kurikulum, strategi belajar, dan kesempatan belajar dilakukan untuk menjamin tercapainya CP • Proses penilaian disesuaikan dengan CP dan penilaian setiap individu siswa dilakukan untuk memastikan bahwa siswa mencapai target pembelajaran.

1. Latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran yaitu ,Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila siswa menguasai kompetensi dasar dari suatu materi pelajaran.

Substansi kompetensi memuat pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), dan pemahaman (attitude). Namun dalam kenyataannya tidak semua siswa mampu mencapai prestasi belajar sesuai dengan yang diharapkan.

2. Capaian pembelajaran learning outcomes) adalah suatu ungkapan tujuan pendidikan, yang merupakan suatu pernyataan tentang apa yang diharapkan diketahui, dipahami, dan dapat dikerjakan oleh peserta didik setelah menyelesaikan suatu periode belajar.

Capaian pembelajaran adalah kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap, keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman kerja.

1. Latar belakang adanya konsep Capaian Pembelajaran yaitu disesuaikan dengan tujuan untuk mengembangakan dan menguatkan kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. dimana penjabaran kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai anak di akhir pembelajaran tidak lagi terpisah antara komponen sikap, apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran dan keterampilan. 1. Orang tua, guru, siswa, dan semua pemangku kepentingan perlu mendapatkan pemahaman yang apa latar belakang adanya konsep capaian pembelajaran tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang hendaknya dicapai oleh anak dalam setiap tahapan perkembangan usianya.

Maka konsep Capaian pembelajaran muncul untuk mendeskripsikan kompetensi yang digunakan untuk mengukur pencapaian siswa. 2. Secara sederhana CP bisa didefinisikan sebagai kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap tahap perkembangan peserta didik untuk setiap mata pelajaran pada satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Capaian pembelajaran memuat sekumpulan kompetensi dan lingkup materi yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi.

Komponen Capaian Pembelajaran Dalam dokumen CP terdapat empat komponen, diantaranya • Rasional Mata Pelajaran: Memuat alasan pentingnya mempelajari mata pelajaran tersebut dan keterkaitan antara mata pelajaran dengan salah satu (atau lebih) Profil Pelajar Pancasila. Untuk SLB rasional mata pelajaran juga dikaitkan dengan keterkaitan mata pelajaran untuk menunjang keterampilan fungsional anak dalam kehidupan sehari-hari. • Tujuan Mata Pelajaran: Kemampuan atau kompetensi yang perlu dicapai peserta didik setelah mempelajari mata pelajaran tersebut.

• Karakteristik Mata Pelajaran: Deskripsi umum tentang apa yang dipelajari dalam mata pelajaran serta elemen-elemen ( strands) atau domain mata pelajaran dan deskripsinya. • Capaian Pembelajaran Setiap Fase: Deskripsi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, serta kompetensi umum. Selanjutnya diturunkan menjadi capaian pembelajaran menurut elemen yang dipetakan menurut perkembangan siswa.

Pembagian fase dalam CP dapat digambarkan sebagai berikut: • Fase A : Pada umumnya SD Kelas 1-2 • Fase B : Pada umumnya SD Kelas 3-4 • Fase C : Pada umumnya SD Kelas 5-6 • Fase D : Pada umumnya SMP Kelas 7-9 • Fase E : Pada umumnya SMA Kelas 10 • Fase F : Pada umumnya SMA Kelas 11-12 Untuk SLB CP didasarkan pada usía mental yang ditetapkan berdasarkan hasil asesmen. Pembagian fase dapat digambarkan sebagai berikut: • • Fase A : Pada umumnya usía mental (≤7 tahun) • Fase B : Pada umumnya usía mental (±8 tahun) • Fase C : Pada umumnya usia mental (±8 tahun) • Fase D : Pada umumnya usía mental (±9 tahun) • Fase E : Pada umumnya usía mental (±10 tahun) • Fase F : Pada umumnya usía mental (±10 tahun) 2.

Karena dalam mempelajari sesuatu harus di pelajari per fase agar dapat mengetahui atau mengajarkan dengan baik. Contohnya, saat kita belajar bermain bola basket yang fase pertama yang harus kita ketahui bagaimana cara mengunakan bolanya hal ini membantu kita mengerti langkah apa yang harus kita ambil dalam mengetahui permainan bola dan mengarahkan kita mengetahui fase atau tahap mana yang bisa dan tidak kita lakukan.

1. Peran CP dalam sekolah penggerak: keterkaitan antara pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi umum terlihat jelas dan utuh sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam pembelajaran dan menggambarkan apa yang akan dicapai peserta didik di akhir pembelajaran.

Sehingga, Capaian pembelajaran yang digunakan di Sekolah Penggerak merupakan hal utama dalam suatu kurikulum dan kriteria suatu capaian pembelajaran yang baik yang dikembangkan oleh satuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat 2. Penggunaan istilah “fase” dilakukan untuk membedakannya dengan kelas karena peserta didik di satu kelas yang sama bisa jadi belajar dalam fase pembelajaran yang berbeda.

Ini merupakan penerapan dari prinsip pembelajaran sesuai tahap capaian belajar atau yang dikenal juga dengan istilah teaching at the right level (mengajar pada tahapan/tingkat yang sesuai).

Siapa yang menyusun capaian pembelajaran?




2022 www.videocon.com