Apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

none Pengertian Toleransi Dalam Beragama. Toleransi mengandung arti membolehkan terbentuknya sistem yang menjamin terjaminnya pribadi, harta benda dan unsur-unsur minoritas yang terdapat pada masyarakat dengan menghormati agama, moralitas dan lembaga-lembaga mereka serta menghargai pendapat orang lain serta perbedaan-perbedaan yang ada di lingkungannya tanpa harus berselisih dengan sesamanya karena hanya berbeda keyakinan atau agama. Definisi Toleransi Dalam Beragama Toleransi beragama memiliki arti sikap lapang dada seseorang untuk menghormati dan membiarkan pemeluk agama untuk melaksanakan ibadah mereka menurut ajaran dan ketentuan agama masing-masing yang diyakini tanpa ada yang mengganggu atau memaksakan baik dari orang lain maupun dari keluarganya sekalipun.

Adapun kaitannya dengan agama, pengertian toleransi beragama adalah toleransi yang mencakup masalah - masalah keyakinan pada diri manusia yang berhubungan dengan akidah atau yang berhubungan dengan ke-Tuhanan yang diyakininya.

Toleransi dalam pergaulan hidup antara umat beragama, yang didasarkan kepada; setiap agama menjadi tanggung jawab pemeluk agama itu sendiri dan mempunyai bentuk ibadat (ritual) dengan system dan cara tersendiri yang ditaklifkan (dibebankan) serta menjadi tanggung jawab orang yang pemeluknya atas dasar itu, maka toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama bukanlah toleransi dalam masalah-masalah keagamaan, melainkan perwujudan sikap keberagamaan pemeluk suatu agama dalam pergaulan hidup antara orang yang seagama, dalam masalah-masalah kemasyarakatan atau kemaslahatan umum.

Sikap Toleransi Dalam Beragama Dalam memantapkan Toleransi beragama perlu dilakukan suatu upaya-upaya yang mendorong terjadinya Toleransi beragama secara mantap antara lain adalah sebagai berikut : • Memperkuat dasar-dasar toleransi antar umat beragama, dengan pemerintah. • Membangun harmoni sosial dan persatuan nasional dalam bentuk upaya mendorong dan mengarahkan seluruh umat beragama untuk hidup rukun dan bertoleransi dalam bingkai teologi dan implementasi dalam menciptakan kebersamaan dan sikap toleransi.

• Menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif dalam rangka memantapkan pendalaman dan penghayatan agama. • Melakukan eksplorasi secara luas tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dari seluruh keyakinan plural umat manusia yang fungsinya dijadikan sebagai pedoman bersama dalam melaksanakan prinsip-prinsip berpolitik dan berinteraksi sosial satu sama lainnya dengan memperlihatkan adanya sikap keteladanan dan tolernasi. • Melakukan pendalaman nilai-nilai spiritual apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama implementatif bagi kemanusiaan yang mengarahkan kepada nilai-nilai Ketuhanan, agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan nilai-nilai sosial kemasyarakatan maupun sosial keagamaan.

• Menempatkan cinta dan kasih dalam kehidupan umat beragama dengan cara menghilangkan rasa saling curiga terhadap pemeluk agama lain, sehingga akan tercipta suasana yang damai • Menyadari bahwa perbedaan adalah suatu realita dalam kehidupan bermasyarakat, oleh sebab itu hendaknya hal ini dijadikan mozaik yang dapat memperindah fenomena kehidupan beragama.

Prinsip-prinsip Toleransi Beragama Dalam melaksanakan toleransi beragama kita harus mempunyai sikap atau prinsip untuk mencapai kebahagiaan dan ketenteraman. Adapun prinsip tersebut adalah: • Kebebasan Beragama.

Hak asasi manusia yang paling esensial dalam hidup adalah hak kemerdekaan atau kebebasan baik kebebasan untuk berfikir maupun kebebasan untuk berkehendak dan kebebasan di dalam memilih kepercayaan atau agama. • Penghormatan dan Eksistensi Agama lain. Etika yang harus dilaksanakan dari sikap toleransi setelah memberikan kebebasan beragama adalah menghormati eksistensi agama lain dengan pengertian menghormati keragaman dan perbedaan ajaran-ajaran yang terdapat pada setiap agama dan kepercayaan yang ada baik yang diakui negara maupun belum diakui oleh negara.

• “Agree in Disagreement “ (setuju di dalam perbedaan). Perbedaan tidak harus ada permusuhan, karena perbedaan selalu ada di dunia ini, dan perbedaan tidak harus menimbulkan pertentangan.

Dikutip dari berbagai sumber
MENU • Beranda • Sosiologi • Sosiologi Hukum • Sosiologi Apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama • Sosiologi Pedesaan • Sosiologi Perkotaan • Sosiologi Pendidikan • Sosiologi Politik • Sosiologi Menurut Para Ahli • Sosiologi Agama • Kajian Sosiologi • Sosiologi Umum • Sosiologi Perguruan Tinggi • Sosiologi SMA • Tokoh Sosiologi • Globalisasi • Penelitian Sosial • Lainnya • Antropologi • Ekonomi • Masyarakat dan Penduduk • Sosial • Karya Tulis • Budaya • Contact Us • Disclaimer • Privacy Policy • Daftar Isi • Toleransi Beragama • Pengertian Tolerasi Beragama • Pengertian Toleransi Beragama Menurut Para Ahli • Fungsi Toleransi Beragama • Mencegah perasaan yang berorientasi pada ego • Mencapai mufakat bersama • Meningkatkan rasa nasionalisme dalam diri • Mempersatukan setiap perbedaan • Manfaat Toleransi Beragama • Terhindar dari adanya perpecahan antara umat beragama • Memperkuat tali silaturahmi antar umat beragama • Memperkokoh persatuan negara • Terciptanya keteraturan dan keharmonisan • Memperkuat tingkat keimanan diri • Prinsip Toleransi Beragama • Contoh Toleransi Beragama • Sebarkan ini: • Posting terkait: Toleransi Beragama Toleransi beragama merupakan sikap menyadari bahwa adanya perbedaan adalah suatu realita sosial dalam masyarakat yang dijadikan sebagai mozaik yang dapat menjadikan hidup ini beragam warna akan tetapi tetap dalam kesatuan yang sama.

Bila ditinjau dari segi bahasa, toleransi merupakan sebuah bentuk kesabaran, ketahanan seseirang dalam mengendalikan emosi dan kelapangan dada seseorang dalam menghadapi suatu masalah sosial yang dihadapi. Sedangkan dalam istilah, toleransi diartikan sebagai bentuk sikap atau sifat seseorang dalam menghargai, memperbolehkan, atau bahkan membiarkan. Hal tersebut berlaku dalam menyikapi pandangan, kepercayaan, kebiasaan yang berbeda antara individu dengan individu lain yang berbeda dengan pendirinannya.

Pengertian Tolerasi Beragama Definisi toleransi beragama merupakan sikap individu yang dilakukan dalam menghormati dan menghargai keyakinan dan kepercayaan seorang individu lainnya yang berbeda, dengan mengedepankan asas-asas kemanusiaan bukan pada keyakinan.

Pengertian Toleransi Beragama Menurut Para Ahli Adapun definisi tolerasi bergama menurut para ahli, antara lain; • Nurcholish Madjid, Toleransi beragama adalah adanya realitas sosial dalam kehidupan yang saling menghargai dan menghormati kepercayaan agama lain dengan implementasi dijalankan secara universal yaitu memandang bahwa masing-masing agama apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama menuju kebenaran.

keharmonisan antar umat beragama Fungsi Toleransi Beragama Adapun fungsi dari adanya sikap toleransi antar umat beragama adalah sebagai berikut: • Mencegah perasaan yang berorientasi pada ego Dalam diri tiap individu memiliki ego yang keberadaannya harus dikendalikan setiap waktu. Dengan sikap toleransi, individu akan terhindar untuk melakukan sikap yang egois.

Adanya sikap toleransi dapat membuat individu lebih berpikir secara positif dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi. • Mencapai mufakat bersama Di Indonesia, masyarakat mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan berbgaia masalah.

Musyawarah dilakuka dengan tujuan untuk mempertemukan berbagai pendapat dan pandangan untuk menyelesaikan suatu masalah. Sehingga, dengan sikap toleransi meminimalisir adanya kesalahpahaman maupun permusuhan dalam masyarakat. • Meningkatkan rasa nasionalisme dalam diri Toleransi bila diterapkan dalam berkehidupan bernegara akan berpengaruh pada meningkatnya rasa nasionalisme diri terhadap negara. karena pada dasarnya, negara yang maju adalah negara yang memiliki masyarakat yang dapat menerima perbedaan tanpa mengedeoankan ego pada diri sendiri.

• Mempersatukan setiap perbedaan Dari banyaknya perbedaan yang ada di Indonesia, masih banyak masyarakat yang menganggap agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar, atau dengan kata lain masih merasa bahwa mayoritas adalah pemegang kendali kuasa dalam masyarakat.

Dengan sikap toleransi, perasaan tersebut dapat diredam dengan tujuan agar solidaritas antar masyarakat dapat terjaga dan keutuhan negara turut terjamin. Manfaat Toleransi Beragama Manfaat yang timbul dari adanya toleransi beragama ini sangatlah beragam, terutama bagi negara yang banyak memiliki aliran kepercayaan dan agama seperti Indonesia.

Adapun manfaat yang dapat diambil dari adanya sikap toleransi beragama tersebut, antara lain: • Terhindar dari adanya perpecahan antara umat beragama Dalam setiap diri individu, sikap toleransi sudah sewajibnya ditanamkan dalam diri individu tersebut, setra menerapkannya di dalam kehidupan masyarakat yang di dalamnya terdapat berbagai jenis kepercayaan dan agama. Toleransi menjadi sebuah solusi untuk mencegah terjadinya perpecahan antar umat beragama.

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

• Memperkuat tali silaturahmi antar umat beragama Perbedaan merupakan salah satu hal yang menjadi masalah utama dalam timbulnya konflik perpecahan.

Jalan keluar yang paling tepat dalam mencegah hal tersebut agar tidak terjadi adalah dengan menumbuhkan kesadaran diri dalam tiap diri individu terkait pentingnya sikap saling menghormati dan saling menjaga hbungan yang baik antar umat beragama. • Memperkokoh persatuan negara Sebagai warga negara yang memegang teguh persatuan, menjaga keamanan, ketertiban serta stabilitas nasional dari sebuah negara merupakan hal yang sangat diperlukan dalam mensukseskan program yang telah dirancang oleh pemerintah.

Terjadinya kerusuhan serta kekacauan lainnya akan berpengaruh dalam jalannya pembangunan di suatu negara. • Terciptanya keteraturan dan keharmonisan Sebagai mahluk sosial bermasyarakat, perbedaan merupakan suatu hal yang selalu hadir di dalamnya. Dengan adanya sikap toleransi antar umat beragama akan menciptakan suasana tentram, damai, dan aman dalam lingkungan sosial.

• Memperkuat tingkat keimanan diri Menjaga kerukunan antar umat beragama dapat menghidarkan diri dari perbuatan yang tidak diigninkan. Hal tersebut akan berdampak pada meningkatnya tingkat keimanan seorang individu. Prinsip Toleransi Beragama Dalam menjalankan toleransi beragama, kita memiliki prinsip untuk mencapai ketentraman dan kedamaian dalam lingkungan masyarakat. Berikut merupakan prinsip-prinsip tersebut adalah: • Terbuka dalam menerima perbedaan. Sikap terbuka tersebut dapat mencegah adanya permusuhan dalam masyarakat.

Karena pada hakikatnya, perbedaan akan selalu ada dalam masyarakat, namun tidak harus menimbulkan pertentangan dan permusuhan. • Penghormatan dan eksistensi agama lain. Etika harus dilaksanakan dari sikap toleransi akan memberikan kebebasan dalam beragama. • Kebebasan dalam memeluk agama. Hak asasi yang paling penting keberadaannya adalah kebebasan dalam berfikir maupun kebebasan untuk memeluk agama dan keyakinan. Contoh Toleransi Beragama Adapun contoh- contoh nyata toleransi beragama di masyarakat Indonesia dalam kehidupan apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama, antara lain adalah sebagai berikut; • Tidak menertawakan cara beribadah umat lain yang cara beribadahnya tentu sangat berbeda dengan kita.

• Tidak membicarakan mengenai keburukan agama-agama yang dianut. • Tidak mencela aturan agama satu sama lain. • Tidak menghina serta tidak membanding-bandingkan bahwa agama yang dianut adalah agama yang paling benar dan baik. • Mempersilahkan teman untuk menjalankan ibadah ketika sudah pada waktunya. • Mengajak teman untuk berkunjung ke rumah saat perayaan hari raya.

• Tidak berisik ketika dilingkungannya sedang mengadakan prosesi peribadatan. • Mengucapkan selamat hari raya kepada teman yang sedang merayakan hari raya. • Tidak menyinggung soal agama saat sedang berdebat. • Memberi maaf apabila teman melakukan kesalahan.

• Tidak makan dihadapan teman yang sedang menjalani ibadah puasa. • Mengingatkan kepada sesama untuk beribadah tepat pada waktunya. • Saling berbagi pengalaman dalam melakukan beribadatan kepada teman yang berbeda agama.

• Saling berbagi rejeki ketika teman sedang kesusahan tanpa memandang agama apa yang ia peluk. • Mengantarkan teman beribadah ke gereja disaat tidak ada kendaraan. • Tidak berisik saat perayaan nyepi di Bali.

• Membantu pengamanan dalam penjagaan lahan parkir saat peibadatan shalat Jum’at. Demikianlah apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama mengenai pengertian toleransi beragama menurut para ahli, manfaat beserta contoh dalam masyarakat.

Semoga dengan adanya pembahasan ini dapat memberikan referensi dan memberikan pemahaman bagi setiap pembaca. Posting terkait: • 15 Manfaat Kerjasama dalam Kehidupan Sehari-hari • 7 Contoh Fasilitas Kesehatan di Masyarakat dalam Keseharian • 21 Contoh Nasionalisme dan Patriotisme di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat Posting pada Kajian Sosiologi, Masyarakat dan Penduduk, Sosiologi Menurut Para Ahli Ditag contoh toleransi beragama, fungsi toleransi beragama, manfaat toleransi beragama, pengertian toleransi beragama, prinsip toleransi beragama, toleransi, toleransi beragama, toleransi beragama adalah, toleransi beragama di masyarakat, tolerasi bergama di Indonesia, apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama bergama menurut para ahli Navigasi pos Kategori • Antropologi • Budaya • Ekonomi • Geografi • Globalisasi • Kajian Sosiologi • Karya Tulis • Kategori Tingkatan • Kehidupan Sehari-Hari • Lainnya • Masyarakat dan Penduduk • Penelitian Sosial • Sejarah • Sosial • Sosiologi • Sosiologi Agama • Sosiologi Hukum • Sosiologi Keluarga • Sosiologi Klasik • Sosiologi Menurut Para Ahli • Sosiologi Pedesaan • Sosiologi Pendidikan • Sosiologi Perguruan Tinggi • Sosiologi Perkotaan • Sosiologi Politik • Sosiologi SMA • Sosiologi Umum • Teori Sosiologi • Tokoh Sosiologi MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me 2.4.

Sebarkan ini: Toleransi berasal dari kata “ Tolerare ” yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilakumanusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Toleransi juga dapat dikatakan istilah dalam konteks sosial budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya deskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

Contohnya adalah toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi “kelompok” yang lebih luasmisalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi baik dari kaum liberal maupun konservatif.

Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain. Baca Juga : Pranata Agama adalah Dalam masyarakat berdasarkan pancasila terutama sila pertama, bertaqwa kepada tuhan menurut agama dan kepercayaan masing-masing adalah mutlak. Semua agama menghargai manusia maka dari itu semua umat beragama juga wajib saling menghargai.

Dengan demikian antar umat beragama yang berlainan akan terbina kerukunan hidup. • Toleransi Antarumat Beragama Sebagai makhluk sosial manusia tentunya harus hidup sebuah masyarakat yang kompleks akan nilai karena terdiri dari berbagai macam suku dan agama.

Untuk menjaga persatuan antar umat beragama maka diperlukan sikap toleransi.dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sikap memiliki arti perbuatan dsb yang berdasarkan pada pendirian, dan atau keyakinan sedangkan toleransi berasal dari bahasa Latin yaitu tolerare artinya menahan diri, bersikap sabar,membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda (W.J.S Poerwodarminto; wartawarga.gunadarma.ac.id/).

Toleransi sendiri terbagi atas tiga yaitu : • Negatif Isi ajaran dan penganutnya tidak dihargai. Isi ajaran dan penganutnya hanya dibiarkan saja karena menguntungkan dalam keadaan terpaksa.Contoh PKI atau orang-orang yang beraliran komunis di Indonesia pada zamanIndonesia baru merdeka. • Positif Isi ajaran ditolak, tetapi penganutnya diterima serta dihargai.Contoh Anda beragama Islam wajib hukumnya menolak ajaran agama lain didasari oleh keyakinan pada ajaran agama Anda, tetapi penganutnya atau manusianya Anda hargai.

• Ekumenis Isi ajaran serta penganutnya dihargai, karena dalam ajaran mereka itu terdapat unsur-unsur kebenaran yang berguna untuk memperdalam pendirian dan kepercayaan sendiri.Contoh Anda dengan teman Anda sama-sama beragama Islam atau Kristen tetapi berbeda aliran atau paham. Dalam kehidupan beragama sikap toleransi ini sangatlah dibutuhkan, karena dengan sikap toleransi ini kehidupan antar umat beragama dapat tetap berlangsung dengan tetap saling menghargai dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing.

Baca Juga; Menghilangnya Keanekaragaman Hayati Mengingat pentingnya toleransi, maka ia harus diajarkan kepada anak-anak baik dilingkungan formal maupun lingkungan informal. Di lingkungan formal contohnya siswa dapat dibekali tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama melalui bidang studi Agama, Kewarganegaraan, ataupun melalui aspek pengembangan diri seperti Pramuka, PMR, OSIS, dll.

Hal yang sama dapat juga dilakukan di lingkungan informal oleh orang tua kepada anak-anaknya melalui pengajaran nilai-nilai yang diajarkan sedini mungkin di rumah.

Ada beberapa manfaat yang akan kita dapatkan dengan menanamkan sikap toleransi, manfaat tersebut adalah: • hidup bermasyarakat akan lebih tentram • persatuan, bangsa Indonesia, akan terwujud • pembangunan Negara akan lebih mudah Menghormati Dan Memelihara Hak Dan Kewajiban Antar Umat Beragama • Pengertian Hak Hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik kita dan penggunaannya tergantung kepada kita sendiri.Contoh dari hak adalah: • Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum; • Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak; • Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan di dalam pemerintahan; • Setiap warga negara bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing yang dipercayai; • Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran; • Setiap warga negara berhak mempertahankan wilayah negara kesatuan Indonesia atau nkri dari serangan musuh;dan • Setiap warga negara memiliki hak sama dalam kemerdekaan berserikat, berkumpul mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan sesuai undang-undang yang berlaku.

• Pengertian Kewajiban Kewajiban adalah sesuatu yg dilakukan dengan tanggung jawab.Contoh dari kewajiban adalah: • Setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berperan serta dalam membela, mempertahankan kedaulatan negara indonesia dari serangan musuh; • Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda); • Setiap warga negara wajib mentaati serta menjunjung tinggi dasar negara, hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali, serta dijalankan dengan sebaik-baiknya; • Setiap warga negara berkewajiban taat, tunduk dan patuh terhadap segala hukum yang berlaku di wilayah negara Indonesia;dan • Setiap warga negara wajib turut serta dalam pembangunan untuk membangun bangsa agar bangsa kita bisa berkembang dan maju ke arah yang lebih baik.

Kewajiban merupakan hal yang harus dikerjakan atau dilaksanankan. Jika tidak dilaksanankan dapat mendatangkan sanksi bagi yang melanggarnya. Sedangkan hak adalah kekuasaan untuk melakukan sesuatu. Namun, kekuasaan tersebut dibatasi oleh undang-undang.

Pembatasan ini harus dilakukan agar pelaksanaan hak seseorang tidak sampai melanggar hak orang lain. Jadi pelaksanaan hak dan kewajiban haruslah seimbang, artinya, kita tidak boleh terus menuntut hak tanpa memenuhi kewajiban. Baca Juga; Macam Agama di Indonesia Indonesia adalah bangsa apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama terdiri dari beragam suku dan agama, dengan adanya sikap toleransi dan sikap menjaga hak dan kewajiban antar umat beragama, diharapkan masalah-masalah yang berkaitan dengan sara tidak muncuk kepermukaan.

Dalam kehidupan masyarakat sikap toleransi ini harus tetap dibina, jangan sampai bangsa Indonesia terpecah antara satu sama lain Toleransi Hak dan kewajiban dalam umat beragama telah tertanam dalam nilai-nilai yang ada pada pancasila. Indonesia adalah Negara majemuk yang terdiri dari berbagai macam etnis dan agama, tanpa adanya sikap saling menghormati antara hak dan kewajiban maka akan dapat muncul berbagai macam gesekan-gesekan antar umat beragama.

Pemeluk agama mayoritas wajib menghargai ajaran dan keyakinan pemeluk agama lain, karena dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 dikatakan bahwa “setiap warga diberi kemerdekaan atau kebebasan untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya.” Hal ini berarti kita tidak boleh memaksakan kehendak, terutama dalam hal kepercayaan, kepada penganut agama lain, termasuk mengejek ajaran dan cara peribadatan mereka.

• Pandangan Islam Mengenai Silaturrahmi Untuk terciptanya kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera, Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk semata beribadah kepada Allah SWT. Melainkan Islam justru sangat menekankan umatnya untuk membina dan menjalin silaturahmi yang baik dengan tetangga dan lingkungannya. Islam adalah agama yang universal artinya rahmatan lil alamin.

Umat Islam yang sangat menginginkan hidupnya mendapatkan ridha Allah SWT selalu namanya berpegang dengan ajaran Islam, dimana hubungan secara vertical kepada Allah senantiasa harus dibina tetapi karena manusia mahluk social maka dia harus membina hidup bermasyarakat artinya berhubungan dengan tetangga secara baik.

Demikianlah artikel dari dosenpendidikan.co.id mengenai Toleransi Antar Umat Beragama Di Indonesia : Pengertian, Hak, Kewajibannya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Agama Ditag apa arti dari tasamuh itu, apa pentingnya toleransi dalam perbedaan, apa yang dimaksud toleransi, apakah pentingnya toleransi dalam perbedaan, artikel tentang beragama, artikel toleransi umat katolik, bagaimana jika tidak ada sikap toleransi, berikan contoh perilaku hidup rukun, berita intoleransi, berita tentang perbedaan agama, berita tentang toleransi beragama, berita toleransi antar suku, cerita toleransi agama, contoh bentuk toleransi beragama, contoh gambar toleransi beragama, contoh intoleransi, contoh kasus intoleransi apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama indonesia, contoh kasus toleransi antar umat beragama, contoh kasus apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama brainly, contoh kasus toleransi di masyarakat, contoh perwujudan dialog antar umat beragama, contoh poster toleransi beragama, contoh rukun, contoh sikap kekeluargaan dan gotong royong, contoh sikap toleransi, contoh sikap toleransi antar umat beragama di lingkungan sekolah, contoh sikap toleransi di masyarakat, contoh sikap toleransi di sekolah, contoh tidak toleransi, contoh toleransi, contoh toleransi antar umat beragama, contoh toleransi antar umat seagama, contoh toleransi dalam agama islam, contoh toleransi di rumah, contoh toleransi di sekolah, contoh toleransi keberagaman, contoh toleransi politik, dalam memelihara kedamaian antar umat beragama sikap yang harus kita terapkan adalah, gambar intoleransi, gambar kartun kerukunan umat beragama, gambar sikap toleransi, gambar toleransi antar suku, gambar toleransi antar umat beragama, gambar toleransi dan penjelasannya, gambar toleransi di sekolah, hari besar keagamaan umat buddha antara lain, hikmah dari perilaku toleransi adalah, hukum toleransi, isu toleransi agama di indonesia, kasus toleransi antar umat beragama di indonesia, kegiatan toleransi beragama, kesimpulan toleransi antar umat beragama, Keyword, kliping tentang toleransi, konsep toleransi, konsep toleransi antar umat beragama, macam macam toleransi, makalah toleransi antar umat beragama, manfaat toleransi, meme toleransi beragama, mengapa kita harus memiliki sikap toleransi, pengaruh toleransi, pengertian toleransi beragama dan contohnya, pengertian toleransi dalam islam, pentingnya toleransi antar umat beragama, pentingnya toleransi brainly, Peradaban Islam toleran, praktek toleransi di indonesia, sikap toleransi dalam keragaman adalah, toleransi adalah, toleransi antar umat agama, toleransi antar umat beragama adalah pengamalan sila pancasila ke, toleransi antar umat beragama brainly, toleransi antar umat beragama dalam islam, toleransi antar umat beragama pdf, toleransi beragama dalam islam, Toleransi Dalam Kemajemukan, toleransi indonesia di mata dunia, toleransi intern umat beragama, toleransi pai, tuliskan 5 contoh sikap toleransi dalam kehidupan sehari hari, uji sku toleransi, Ukhuwah Islamiah Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com
Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya.

Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Dalam Islam, toleransi yang dilarang adalah toleransi dalam masalah aqidah; artinya kita dilarang mempertukarkan aqidah atau turut serta dalam peribadatan agama lain atau mengikuti ajaran agama lain. Dalam masalah muamalah maliyah umat Islam dapat berhubungan dengan non muslim selama objek yang ditransaksikan dan akadnya dibolehkan dalam Islam. Penjelasan Dalam Islam sendiri, sangat jelas diajarkan bahwa Islam adalah agama yang sangat toleran.

Hal ini dapat dibuktikan dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw. Baca Juga Apakah Tujuan Diturunkannnya Islam? Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6) لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).

Sesungguhnya telah jelas yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang inkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus.

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ” (al-Baqarah: 256) Baca Juga Makna Toleransi dan Pandangan Buya Hamka Dalam kehidupan Rasulullah saw, beliau juga telah menunjukkan diri sebagai orang yang sangat toleran. Sebagai contoh dalam Piagam Madinah, Rasulullah saw. siap bekerjasama dengan orang-orang non muslim, untuk saling melindungi kalau di serang muasuh. Toleransi (dalam bahasa Arabnya “tasamuh”) telah banyak diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah saw. kepada umatnya.

Rasulullah saw.

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

paham betul bahwa masyarakat Arab yang menjadi obyek dakwahnya terdiri dari berbagai suku. Apalagi di lingkungan bangsa Arab sendiri, sikap kesukuan sangat tinggi, yang terdiri dari banyak kabilah. Salah satu contohnya adalah bagaimana Nabi saw. mampu bergaul dan berhubungan secara sosial dengan tetangganya yang beragama Yahudi di Madinah.

Apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama suatu kali ada seorang Yahudi meninggal dunia yang dibawa oleh para apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama untuk dimakamkan. Pada saat yang sama, Nabi saw. dan para sahabat sedang duduk-duduk. Mengetahui ada jenazah orang Yahudi sedang lewat, Nabi saw.

kemudian berdiri sebagai tanda penghormatan. Spontanitas para sahabat bertanya, “wahai Nabi, kenapa engkau berdiri, padahal jenazah tersebut adalah seorang Yahudi? Jawaban Rasuullah singkat: “setidaknya ia adalah seorang manusia”.

Sikap Nabi saw. ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah tipe yang menjunjung tinggi toleransi. Baca Juga Bagaimana Caranya Tingkatkan Iman Selama Pandemi? Sejarah membuktikan betapa Islam menjunjung tinggi berbagai perbedaan. Sikap toleran berarti tidak ada pemaksaan kehendak pribadi atas orang lain. Toleransi ini dianjurkan dalam segala bidang kehidupan, terutama sekali dalam bidang kehidupan keagamaan.

Firman Allah SWT. dalam al-Qur’an : لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ Artinya: Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. (Q.S. al-Kâfirûn: 6) Ayat Al-Quran tersebut memberi pelajaran kepada kita betapa toleransi yang diajarkan Al-Quran telah sampai pada pokok-pokok kehidupan, yaitu soal keyakinan.

Di mana kita harus menghormati keyakinan orang lain. Namun, alam sikap saling menghormati itu kita tetap ada batasannya, yaitu agamamu agamamu dan agamaku agamaku.

Kategori • Advertorial • Akhlaq • Aqidah • Berita • Bimbingan Syariah • DSN MUI • Ekonomi Syariah • Etika Sosial/Politik • Fatwa • Halal MUI • Hikmah • Hukum Keluarga • Ibadah • Infografis • Kegiatan • Khutbah • Majalah • Muamalah • MUI Bali • MUI DKI Jakarta • MUI Gorontalo • MUI JaBar • MUI JaTeng • MUI JaTim • MUI Lampung • MUI SulSel • MUI SumUt • Opini • Paradigma Islam • Pojok MUI • PPT • Press Release • Produk • Rekomendasi • Tanya Jawab Keislaman • Tuntunan Ibadah apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama Uncategorized
Istilah dari kata toleransi itu,, hal ini merupakan salah satu istilah kata yang sudah diajarkan pada sekolah karena di kalangan masyarakat Indonesia sangat banyak beragam pemahaman yang dapat mengembangkan dari perbedaan pemahaman tersebut tentang kalimat toleransi sehingga dapat disampaikan dengan baik.

Baiklah untuk lebih jelasnya langsung saja simak artikel kami di bawah ini : Daftar Menu Artikel • Pengertian Toleransi • Tujuan Toleransi • Manfaat Toleransi • Ciri Ciri Sikap Toleransi • Contoh Sikap Toleransi • Share this: • Related posts: Pengertian Toleransi Toleransi adalah sebuah kata yang memiliki serapan yang diambil dari bahasa inggris dengan arti adalah “ tolerance” sehingga kata tersebut sebuah usapan dengan tindakan yang membiarkan perbuatan seseorang.

Dalam kata lain bahwa toleransi adalah suatu hubungan yang dapat mengizinkan atau dapat juga diartikan sebagai memfasilitasi satu sama lain. Dengan demikian pengertian toleransi juga dapat di simpulkan adalah tindakan yang memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan pemahaman secara dasar.

Baca Juga: Pengertian Poster Tujuan Toleransi Pada dasarnya, tujuan dari toleransi dapat menciptakan suasana yang harmonis dalam masyarakat dan dapat juga menciptakan kehidupan yang lebih baik Dengan demikianlah kami akan memberikan beberapa tujuan yang terdapat dari toleransi adalah sebagai berikut : • Meningkatkan Rasa Persaudaraan Sikap ini adalah sikap yang terdapat pada toleransi yang mampu membangkitkan kasih sayang dalam dirinya, sehingga timbul perasaan rasa persaudaraan kepada anak-anak bangsa dalam hidup bermasyarakat.

• Meningkatkan Rasa Nasionalisme sikap ini adalah sebagai sikap yang berfifat positif dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang akan berdampak pada nasionalisme. • Meningkatkan Kekuatan Iman hal ini merupakan dalam sikap toleransi yang mampu menghormati antar agama lain dalam bentuk keyakinan seseorang sehingga seseorang akan terhubung dengan kepercayaan ydan keyakinan iman yang kuat.

• Memudahkan Mencapai Mufakat dalam hal ini adalah salah satu sikap yang sangat penting ketika akan mempertimbangkan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai sehingga akan timbul rasa saling menghormati perbedaan satu sama lain. • Memudahkan Pembangunan Negara dalam hal ini adalah salah satu sikap dengan masing-masing individu yang akan memudahkan proses pembangunan suatu negara dengan gagasan negara lebih kuat.

Baca Juga: Pengertian Ilmu Ekonomi Manfaat Toleransi Dari beberapa ulasan yang sudah kami bahas di atas, maka kami juga akan memberikan beberapa manfaat yang terdapat pada Toleransi diantaranya : • Akan rercipta rasa keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat • Akan muncul rasa kekeluargaan dalam kehidupan bermasyarakat atau dalam kehidupan individu • Akan menimbulkan sifat dengan kasih sayang sesama muslim atau antar agama yang lainnya • Akan tercipta rasa aman damai dan tentram Ciri Ciri Sikap Toleransi Seteleh mengetahui pengertian dan manfaat nya, maka kami jua akan memberikan beberapa ciri-ciri yang terdapat pada sikap toleransi.

Berikut beberapa ciri-ciri dari sikap toleransi adalah sebagai berikut: • Seseorang memiliki sikap toleransi pastinya dapat menghargai serta dapat menghormati orang lain walaupun berbeda agama dan keyakinan. • Seseorang memiliki sikap toleransi pastinya akan lebih mudah menghargai pendapat atau usulan dari orang lain • Sikap toleransi dapat menjunjung tinggi serta tidak memandang sukuras dan agama, untuk melakukan hal-hal yang baik.

• Sikap toleransi dapat memberikan kebebasan pada setiap orang untuk melakukan beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan meskipun perbeda agama. • Ciri sikap toleransi adalah dapat memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melakukan kebaikan tanpa memandang perbedaan agama yang di anut.

Baca Juga: Pengertian Kecepatan Contoh Sikap Toleransi Terdapat banyak sekali hal-hal yang sangat sederhana yang terdapat pada sikap toleransi, maka kami juga akan memberikan beberapa contoh dari kalimat toleransi yang sering dilakukan banyak orang di antaranya : “Menghormati dan mampu menghargai apa yang jadi kewajiban yang dimiliki oleh orang lain, pada umumnya dalam masyarakat majemuk. Misalnya kewajiban dan hak dalam beragama.” “Turut serta dan mampu menjaga keharmonisan dalam hidup bermasyarakat dengan menghargai pendapat atau usulan dari orang lain walaupun berbeda agama dan keyakinan.” “Suka membantu dan tolong-menolong antar sesama manusia atau sebagai mahluk sosial tanpa adanya sifat yang membeda-bedakan.” “Menghargai kegiatan yang di lakukan antar umat meskipun berbeda keyakinan atau agama yang di anut, supaya tidak terjadi perselisihan.” Nah demikianlah sobat yang dapat kami sampaikan mengenai ulasan tentang pengertian toleransi secara umum atau menurut para ahli serta ciri-ciri toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Sekian dan terima kasih, Semoga bermanfaat…! Baca Juga: Pengertian Administrasi Related posts: • Pengertian Ringkasan – Bentuk, Tujuan, Ciri-Ciri, Manfaat Dan Contoh • Teks Iklan – Pengertian, Fungsi, Struktur, Ciri, Syarat Dan Contoh • Latihan Soal UNBK SMP Bahasa Indonesia Posted in Bahasa Indonesia Tagged contoh toleransi, contoh toleransi di sekolah, hikmah toleransi, makalah toleransi, manfaat toleransi, pengertian toleransi beragama, pengertian toleransi dalam islam, pengertian toleransi menurut bahasa dan istilah, pengertian toleransi menurut para ahli, tujuan toleransi Materi Terbaru • Jenis – Jenis Meteor – Pengertian, Sejarah dan Teori Terbentuknya Meteor • Upaya Penegakan Ham • Bentuk Bentuk Bela Negara • Contoh Konflik Sosial • Pasal Tentang Ham • Contoh Perjanjian Internasional • Cara Kerja Proyektor – Pengertian, Fungsi, Jenis-Jenis • Benua Asia, Ciri-ciri, Peta, Karakteristik, Gambar dan Pembagian Wilayah • Shalat Jum’at – Rukun-Rukun, Syarat Dan Hukum Khutbah • Macam – Macam Alat Ukur Lengkap Dengan Fungsinya • Pengertian Ringkasan – Bentuk, Tujuan, Ciri-Ciri, Manfaat Dan Contoh • Jenis – Jenis Validitas Beserta Penjelasannya [Lengkap] • Jenis – Jenis Tenaga Kerja Dan Contohnya [Lengkap] • Pengertian Vitamin – Jenis-Jenis, Manfaat, Fungsi dan Dampak • Masyarakat Tradisional dan Modern – Pengertian, Perbedaan dan Ciri-CiriFirman Allah Swt., artinya: ”Hai Manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’’ (terj. QS. Al-Hujurat 13).

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

TOLERANSI(Arab: as-samahah) adalah konsep modern untuk mengambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kolompok masyarakatyang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik maupun agama. Toleransikarena itu, merupakan konsep agung dan mulia yang sepenuhnya menjadi bagian organik dari ajaran agama-agama, termasuk agama islam. Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, islam memiliki konsep yang jelas. “tidak ada paksaan dalam agama”, “bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami” adalah contoh populer dari toleransi dalam islam.

Selain ayat-ayat itu banyak ayat lain yang tersebar di berbagai Surah. Juga sejumlah hadis dan praktik toleransi dalam sejarah islam. Fakta-fakta historis itu menunjukkan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukan konsep asing.

Toleransi adalah bagian intergral dari islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga akhirnya menjadi praktik kesejarahan dalam masyarakat Islam. Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup.

Dengan makna toleransi yang luas semacam memperoleh perhatian penting dan serius. Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Ia begitu sensitif, primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dari Islam.

Makalah berikut akan mengulas pandangan Islam tentang toleransi. Ulasan ini dilakukan baik pada tingkat paradigma, doktrin, teori maupun praktik toleransi dalam kehidupan manusia.

Konsep Toleransi Dalam Islam Islam secara definisi adalah “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri”. Definisi Islam yang demikan sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil’alamin” (agama yang mengayomi seluruh islam).

Ini bararti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati.

Islam menyadari bahwa keagaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, “dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang yang beriman semuanya?”.

Di bagian lain Allah mengingatkan, yang artinya: “Sesungguhnya ini adalah umatmu semua (wahai para rasul), yaitu umat yang tunggal, dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah olehmu sekalian akan Daku (saja).

Ayat ini menegaskan bahwa pada dasarnya umat manusia itu tunggal tapi mereka berpencar memilih keyakinan nya masing-masing. Ini mengartikulasikan bahwa Islam memahami pilihan keyakinan mereka sekalipun Islam juga menjelaskan “sesungguhnya telah jelas antara yang benar dari bathil”. Selanjutnya, di surah Yunus Allah menandaskan lagi, yang artinya: “Katakannlah olehmu (ya muhammad), ‘Wahai Ahli Kitab!

Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimat sawa atau common values) antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak pula mempersirakatkan-Nya kepada apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah!” ayat ini mengajak umat beragama (terutama Yahudi, Kristiani, dan Islam) menekankan persamaan dan menghindari perbedaan demi merengkuh rasa saling menghargai dan menghormati.

Ayat ini juga mengajak untuk sama-sama menjunjung tinggi tawhid, yaitu sikap tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Jadi, ayat ini dengan amat jelas menyuguhkan suatu konsep toleransi antar-umat beragama yang didasari oleh kepentingan yang sama, yaitu ‘menjauhi konflik’ Saling menghargai dalam iman dan keyakinan adalah konsep Islam yang amat komprehesif.

Konsenkuensi dari prinsip ini adalah lahirnya spirit taqwa dalam beragama. Karena taqwa kepada Allah melahirkan rasa persaudaraan universal di antara umat manusia. Abu ju’la dengan amat menarik mengemukakan, “Al-khalqu kulluhum ‘iyalullahi fa ahabbuhum ilahi anfa’uhum li’iyalihi” (“Semua makhluk adalah tanggung Allah, dan yang paling di cintainya adalah yang paling bermanfaat bagi sesama tanggunngannya”) Selain itu hadits Nabi tentang pesaudaran universal juga menyatakan, “irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fil sama”(sayangilah orang yang ada di bumi maka akan sayang pula mereka yang di langit kepadamu).

Persaudraan universal adalah bentuk dari toleransi yang di ajarkan Islam. Persaudaraan ini menyebabkan terlindungnya hak-hak orang lain dan diterimanya perbedaan dalam suatu masyarakat Islam. Apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama persaudaraan universal juga terlibat konsep keadilan, perdamaian, dan kerja sama yang saling menguntungkan serta menegasikan semua keburukan.

Fakta historis toleransi juga dapat ditunjukan melalui Piagam Madinah.

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

Piagam ini adalah satu contoh mengenai prinsip kemerdekaan beragama yang pernah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah. Di antara butir-butir yang menegaska toleransi beragama adalah sikap saling menghormati di antara agama yang ada dan tidak saling menyekati serta saling melindungi anggotayang terikat dalam Piagam Madinah. Sikap melindungi dan saling tolong-menolong tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan juga muncul dalam sejumlah Hadis dan praktik Nabi.

Bahkan sikap ini di anggap sebagai bagian yang melibatkan Tuhan. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Syu’ab al-Iman, karya seorang pemikir abad ke-11, al-Baihaqi, dikatakan: “Siapa yang membongkar aib orang lain di dunia ini, maka Allah (nanti) pasti akan membongkar aibnya di hari pembalasan”.

Di sini, saling tolong-menolong di antara sesama umat manusia muncul dari pemahaman bahwa umat manusia adalah satu badan, dan kehilangan sifat kemanusiaannya bila merekan saling menyakiti satu sama lain.

Tolong-menolong, sebagai bagian dari inti toleransi, menjadi prinsip yang sangat kuat di dalam Islam. Selanjutnya, menurut Salin al-Hilali karakteristik itu merupakan [a] Inti Islam, [b] Seutama iman, dan [c] Puncak tertinggi budi pekerti (akhlaq).

Dalam konteks ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, bersabda. Artinya: “Sebaik-baik orang adalah yang memiliki hati yang mahmum dan lisan yang jujur, ditanyakan: Apa hati yang mahmum itu? Jawabanya: ‘Adalah hati yang bertaqwa, bersih tidak ada dosa, tidak ada sikap melampaui batas dan tidak ada rasa dengki’.

Ditanyakan: Siapa lagi setelah itu? Jawabnya: ‘Seorang mukmin yang berbudi pekerti luhur.” Dasar-dasar al-Sunnah (Hadis Nabi) tersebut dikemukakan untuk menegaskan bahwa toleransi dalam Islam itu sangat komperehensif dan serba-meliputi. Baik lahir maupun batin.

Toleransi, karena itu, tak akan tegak jika tidak lahir dari hati, dari dalam. Ini berarti toleransi bukan saja memerlukan kesediaan ruang untuk menerima perbedaan, tetapi juga memerlukan pengorbanan material maupun spritual, lahir maupun batin.

Disinilah, konsep Islam tentang toleransi (as-samahah) menjadi dasar bagi apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama Islam untuk melakukan mu’amalah (hablum minan nas) yang ditopang oleh kaitan spritual kokoh (hablum minallah). Toleransi Dalam Praktik Sejarah Islam Sejarah Islam adalah sejarah toleransi. Perkembangan Islam ke wilayah-wilayah luar Jazirah Arabia yang begitu cepat menunjukkan bahwa Islamdapat di terima sebagai rahmatal lil’alamin (pangayom semua manusia dan alam semesta).

Ekspansi-ekspansi Apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama ke Siria, Mesir, Spanyol, Persia, Asia, dan ke seluruh dunia melalui jalan damai. Islam tidak memaksakan agama kepada mereka (penduduk taklukan) sampai akhirnya mereka menemukan kebenaran Islam itu sendiri melalui intraksi intensif wilayah yang sangat luas ke hampir seluruh dunia dengan amat singkat dan fantastik.

Memang perlu diakui bahwa perluasan wilayah Islam itu sering menimbulkan peperangan. Tapi peperangan itu dilakukan hanya sebagai pembelaan sehingga Islam tak mengalami kekalahan.

Peperangan itu bukan karena memaksakan keyakinan kepada mereka tapi karena ekses-ekses politik sebagai konsekuensi logis dari sebuah penduduk. Pemaksaan keyakinan agama adalah dilarang dalam Islam. Bahkan sekalipun Islam telah berkuasa, banyak agama lokal yang tetap dibolehkan hidup. Demikanlah, sikap toleransi Islam terhadap agama-agama dan keyakinan-keyakinan lokal dalam kekuasaan Islam menunjukan garis kontinum antara perinsip Syari’ah dengan praktiknya di lapangan.

Meski praktik toleransi sering mengalami intrupsi, namun secara doktrin tak ada dukungan teks Syari’ah. Ini berati kekerasan yang terjadi atas nama Islam bukanlah otentisitas ajaran Islam itu sendiri. Bahkan bukti-bukti sejarah menunjukkan pemerintah-pemerintah muslim membiarkan, bekerjasama, dan memakai orang-orang Kristen, Yahudi, Shabi’un dan penyembah berhala dalam pemerintahan mereka atau sebagai pegawai dalam pemerintahan.

Selanjutnya, dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, ia dilakukan melalui perdagangan dan intraksi kawin-kawin. Ia tidak di lakukan melalui kolonialisme penjajahan sehingga penerima masyarakat Nusantara sangat apresiatif dan dengan suka rela memeluk agama memeluk Islam. Sementara penduduk lokal lain yang tetap pada keyakinan lamanya juga tidak dimusuhi.

Di sini, perlu dicatat bahwa model akultrasi dan enkulturasi budaya juga dilakukan demi toleransi dengan budaya-budaya setempat sehingga tak menimbulkan konflik. Apa yang dicontohkan para walisongo di Jawa, misalnya, merupakan contoh sahih betapa penyebaran Islam dilakukan dengan pola-pola toleransi yang amat mencengangkan bagi keagungan ajaran Islam.

Secara perlahan dan pasti, islamisasi di seluruh Nusantara hampir mendekati sempurna yang dilakukan tanpa konflik sedikitpun.

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

Hingga hari ini kegairah beragama Islam dengan segala gempita-gampitanya menandai keberhasilan toelransi Islam. Ini menimbulkan bahwa jika tak ada toleransi, yakni sikap menghormati perbedaan budaya maka pekermbangan Islam di Nusantara tak akan sefantastik sekarang. Sumber: ALWAASIT Edisi 680-12-2013
Kajian • Beranda • Kajian • Toleransi Antar-Umat Beragama dalam Pandangan Islam Toleransi Antar-Umat Beragama dalam Pandangan Islam Dikirim tanggal 13 Mar 2009 03.47.55 22.872 Kali dibaca Oleh Ust.

Syamsul Arifin Nababan Pendahuluan Toleransi (Arab: as-samahah) adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama.

Toleransi, karena itu, merupakan konsep agung dan mulia yang sepenuhnya menjadi bagian organik dari ajaran agama-agama, termasuk agama Islam.

Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam agama”“Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami” adalah contoh populer dari toleransi dalam Islam. Selain ayat-ayat itu, banyak ayat lain yang tersebar di berbagai Surah. Juga sejumlah hadis dan praktik toleransi dalam sejarah Islam.

Fakta-fakta historis itu menunjukkan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing. Toleransi adalah bagian integral apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama Islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka.

Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga akhirnya menjadi praktik kesejarahan dalam masyarakat Islam. Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup. Dengan makna toleransi yang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius.

Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Ia begitu sensitif, primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dari Islam. Makalah berikut akan mengulas pandangan Islam tentang toleransi. Ulasan ini dilakukan baik pada tingkat paradigma, doktrin, teori maupun praktik toleransi dalam kehidupan manusia.

Konsep Toleransi Dalam Islam Secara doktrinal, toleransi sepenuhnya diharuskan oleh Islam. Islam secara definisi adalah “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri”. Definisi Islam yang demikian sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil’�?lamîn” (agama yang mengayomi seluruh alam). Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, ““dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” Di bagian lain Allah mengingatkan, yang artinya: “Sesungguhnya ini adalah umatmu semua (wahai para rasul), yaitu umat yang tunggal, dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah olehmu sekalian akan Daku (saja).

Ayat apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama menegaskan bahwa pada dasarnya umat manusia itu tunggal tapi kemudian mereka berpencar memilih keyakinannya masing-masing.

Ini mengartikulasikan bahwa Islam memahami pilihan keyakinan mereka sekalipun Islam juga menjelaskan “sesungguhnya telah jelas antara yang benar dari yang bathil”. Selanjutnya, di Surah Yunus Allah menandaskan lagi, yang artinya: “Katakan olehmu (ya Muhamad), ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimatun saw�?

atau common values) antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak pula memperserikatkan-Nya kepada apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah!” Ayat ini mengajak umat beragama (terutama Yahudi, Kristiani, dan Islam) menekankan persamaan dan menghindari perbedaan demi merengkuh rasa saling menghargai dan menghormati. Ayat ini juga mengajak untuk sama-sama menjunjung tinggi tawhid, yaitu sikap tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya.

Jadi, ayat ini dengan amat jelas menyuguhkan suatu konsep toleransi antar-umat beragama yang didasari oleh kepentingan yang sama, yaitu ‘menjauhi konflik’. Saling menghargai dalam iman dan keyakinan adalah konsep Islam yang amat komprehensif. Konsekuensi dari prinsip ini adalah lahirnya spirit taqwa dalam beragama. Karena taqwa kepada Allah melahirkan rasa persaudaraan universal di antara umat manusia. Abu Ju’la dengan amat menarik mengemukakan, “Al-khalqu kulluhum ‘iy�?lull�?hi fa ahabbuhum ilahi anfa’uhum li’iy�?lihi” (“Semu makhluk adalah tanggungan Allah, dan yang paling dicintainya adalah yang paling bermanfaat bagi sesama tanggungannya”).

Selain itu, hadits Nabi tentang persaudaraan universal juga menyatakan, “irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fil sam�?” (sayangilah orang yang ada di bumi maka akan sayang pula mereka yang di lanit kepadamu).

Persaudaran universal adalah bentuk dari toleransi yang diajarkan Islam. Persaudaraan ini menyebabkan terlindunginya hak-hak orang lain dan diterimanya perbedaan dalam suatu masyarakat Islam.

Dalam persaudaraan universal juga terlibat konsep keadilan, perdamaian, dan kerja sama yang saling menguntungkan serta menegasikan semua keburukan.

Fakta historis toleransi juga dapat ditunjukkan melalui Piagam Madinah. Piagam ini adalah satu contoh mengenai prinsip kemerdekaan beragama yang pernah dipraktikkan oleh Nabi Muhamad SAW di Madinah.

Di antara butir-butir yang menegaskan toleransi beragama adalah sikap saling menghormati di antara agama yang ada dan tidak saling menyakiti serta saling melindungi anggota yang terikat dalam Piagam Madinah. Sikap melindungi dan saling tolong-menolong tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan juga muncul dalam sejumlah Hadis dan praktik Nabi. Bahkan sikap ini dianggap sebagai bagian yang melibatkan Tuhan.

Sebagai contoh, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Syu’ab al-Imam, karya seorang pemikir abad ke-11, al-Baihaqi, dikatakan: “Siapa yang membongkar aib orang lain di dunia ini, maka Allah (nanti) pasti akan membongkar aibnya di hari pembalasan”.

Di sini, saling tolong-menolong di antara sesama umat manusia muncul dari pemahaman bahwa umat manusia adalah satu badan, dan kehilangan sifat kemanusiaannya bila mereka menyakiti satu sama lain. Tolong-menolong, sebagai bagian dari inti toleransi, menajdi prinsip yang sangat kuat di dalam Islam. Namun, prinsip yang mengakar paling kuat dalam pemikiran Islam yang mendukung sebuah teologi toleransi adalah keyakinan kepada sebuah agama fitrah, yang tertanam di dalam diri semua manusia, dan kebaikan manusia merupakan konsekuensi alamiah dari prinsip ini.

Dalam hal ini, al-Qur’an menyatakan yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama menurut cara (Alla); yang alamiah sesuai dengan pola pemberian (fitrah) Allah, atas dasar mana Dia menciptakan manusia…” Mufassir Baidhawi terhadap ayat di atas menegaskan bahwa kalimat itu merujuk pada perjanjian yang disepakati Adam dan keturunanya.

Perjanjian ini dibuat dalam suatu keadaan, yang dianggap seluruh kaum Muslim sebagai suatu yang sentral dalam sejarah moral umat manusia, karena semua benih umat manusia berasal dari sulbi anak-anak Adam. Penegasan Baidhawi sangat relevan jika dikaitkan dengan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi ditanya: “Agama yang manakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab “agama asal mula yang toleran (al-hanîfiyyatus samhah). Dilihat dari argumen-argumen di atas, menunjukkan bahwa baik al-Qur’an maupun Sunnah Nabi secara otentik mengajarkan toleransi dalam artinya yang penuh.

Ini jelas berbeda dengan gagasan dan praktik toleransi yang ada di barat. Toleransi di barat lahir karena perang-perang agama pada abad ke-17 telah mengoyak-ngoyak rasa kemanusiaan sehingga nyaris harga manusia jatuh ke titik nadir. Latar belakang itu menghasilkan kesepakatan-kesepakatan di bidang Toleransi Antar-agama yang kemudian meluas ke aspek-aspek kesetaraan manusia di depan hukum.

Lalu, apa itu as-samahah (toleransi)? Toleransi menurut Syekh Salim bin Hilali memiliki karakteristik sebagai berikut, yaitu antara lain: Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan Kelemah lembutan karena kemudahan Muka yang ceria karena kegembiraan Rendah diri dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan Mudah dalam berhubungan sosial (mu'amalah) tanpa penipuan dan kelalaian Menggampangkan dalam berda'wah ke jalan Allah tanpa basa basi Terikat dan tunduk kepada agama Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa ada rasa keberatan.

Selanjutnya, menurut Salin al-Hilali karakteristik itu merupakan [a] Inti Islam, [b] Seutama iman, dan [c] Puncak tertinggi budi pekerti (akhlaq). Dalam konteks ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda. Artinya: “Sebaik-baik orang adalah yang memiliki hati yang mahmum dan lisan yang jujur, ditanyakan: Apa hati yang mahmum itu?

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

Jawabnya : 'Adalah hati yang bertaqwa, bersih tidak ada dosa, tidak ada sikap melampui batas dan tidak ada rasa dengki'. Ditanyakan: Siapa lagi (yang lebih baik) setelah itu?. Jawabnya : 'Orang-orang yang membenci dunia dan cinta akhirat'. Ditanyakan : Siapa lagi setelah itu? Jawabnya : 'Seorang mukmin yang berbudi pekerti luhur." Dasar-dasar al-Sunnah (Hadis Nabi) tersebut dikemukakan untuk menegaskan bahwa toleransi dalam Islam itu sangat komprehensif dan serba-meliputi.

Baik lahir maupun batin. Toleransi, karena itu, tak akan tegak jika tidak lahir dari hati, dari dalam. Ini berarti toleransi bukan saja memerlukan kesediaan ruang untuk menerima perbedaan, tetapi juga memerlukan pengorbanan material maupun spiritual, lahir maupun batin.

Di sinilah, konsep Islam tentang toleransi (as-samahah) menjadi dasar bagi umat Islam untuk melakukan mu’amalah (hablum minan nas) yang ditopang oleh kaitan spiritual kokoh (hablum minall�?h). Toleransi Dalam Praktik Sejarah Islam Sejarah Islam adalah sejarah toleransi. Perkembangan Islam ke wilayah-wilayah luar Jazirah Arabia yang begitu cepat menunjukkan bahwa Islam dapat diterima sebagai rahmatal lil’alamin (pengayom semua manusia dan alam semesta).

Ekspansi-ekspansi Islam ke Siria, Mesir, Spanyol, Persia, Asia, dan ke seluruh dunia dilakukan melalui jalan damai. Islam tidak memaksakan agama kepada mereka (penduduk taklukan) sampai akhirnya mereka menemukan kebenaran Islam itu sendiri melalui interaksi intensif dan dialog.

Kondisi ini berjalan merata hingga Islam mencapai wilayah yang sangat luas ke hampir seluruh dunia dengan amat singkat dan fantastik. Memang perlu diakui bahwa perluasan wilayah Islam itu sering menimbulkan peperangan. Tapi peperangan itu apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama hanya sebagai pembelaan sehingga Islam tak mengalami kekalahan.

Peperangan itu bukan karena memaksakan keyakinan kepada mereka tapi karena ekses-ekses politik sebagai konsekuensi logis dari sebuah pendudukan. Pemaksaan keyakinan agama adalah dilarang dalam Islam. Bahkan sekalipun Islam telah berkuasa, banyak agama lokal yang tetap dibolehkan hidup. Demikianlah, sikap toleransi Islam terhadap agama-agama dan keyakinan-keyakinan lokal dalam sejarah kekuasaan Islam menunjukkan garis kontinum antara prinsip Syari’ah dengan praktiknya di lapangan.

Meski praktik toleransi sering mengalami interupsi, namun secara doktrin tak ada dukungan teks Syari’ah. Ini berarti kekerasan yang terjadi atas nama Islam bukanlah otentisitas ajaran Islam itu sendiri. Bahkan bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa pemerintah-pemerintah Muslim membiarkan, bekerjasama, dan memakai orang-orang Kristen, Yahudi, Shabi’un, dan penyembah berhala dalam pemerintahan mereka atau sebagai pegawai dalam pemerintahan.

Lebih lanjut kesaksian seorang Yahudi bernama Max I. Dimon menyatakan bahwa “salah satu akibat dari toleransi Islam adalah bebasnya orang-orang Yahudi berpindah dan mengambil manfaat dengan menempatkan diri mereka di seluruh pelosok Empirium Islam yang amat besar itu.

Lainnya ialah bahwa mereka dapat mencari penghidupan dalam cara apapun yang mereka pilih, karena tidak ada profesi yang dilarang bagi mereka, juga tak ada keahlian khusus yang diserahkan kepada mereka”.

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

Pengakuan Max I. Dimon atas toleransi Islam pada orang-orang Yahudi di Spanyol adalah pengakuan yang sangat tepat.

Ia bahkan menyatakan bahwa dalam peradaban Islam, masyarakat Islam membuka pintu masjid, dan kamar tidur mereka, untuk pindah agama, pendidikan, maupun asimilasi. Orang-orang Yahudi, kata Max I. Dimon selanjutnya, tidak pernah mengalami hal yang begitu bagus sebelumnya.

apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama

Kutipan ini saya tegaskan karena ini dapat menjadi kesaksian dari seorang non-Muslim tentang toleransi Islam. Dan toleransi ini secara relatif terus dipraktikkan di dalam sejarah Islam di masa-masa sesudahnya oleh orang-orang Muslim di kawasan lain, termasuk di Nusantara.

Melalui para pedagang Gujarat dan Arab, para raja di Nusantara Indonesia masuk Islam dan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya Islam di sini. Selanjutnya, dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, ia dilakukan melalui perdagangan dan interaksi kawin-mawin. Ia tidak dilakukan melalui kolonialisme atau penjajahan sehingga sikap penerimaan masyarakat Nusantara sangat apresiatif dan dengan suka rela memeluk agama Islam.

Sementara penduduk lokal lain yang tetap pada keyakinan lamanya juga tidak dimusuhi. Di sini, perlu dicatat bahwa model akulturasi dan enkulturasi budaya juga dilakukan demi toleransi dengan budaya-budaya setempat sehingga tak menimbulkan konflik.

Apa yang dicontohkan para walisongo di Jawa, misalnya, merupakan contoh sahih betapa penyebaran Islam dilakukan dengan pola-pola toleransi yang amat mencengangkan bagi keagungan ajaran Islam. Secara perlahan dan pasti, islamisasi di seluruh Nusantara apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama mendekati sempurna yang dilakukan tanpa konflik sedikitpun. Hingga hari ini kegairahan beragama Islam dengan segala gegap-gempitanya menandai keberhasilan toleransi Islam.

Ini membuktikan bahwa jika tak ada toleransi, yakni sikap menghormati perbedaan budaya maka perkembangan Islam di Nusantara tak akan sefantastik sekarang.

Penutup Toleransi dalam Islam apa yang dimaksud dengan toleransi umat beragama otentik. Artinya tidak asing lagi dan bahkan mengeksistensi sejak Islam itu ada. Karena sifatnya yang organik, maka toleransi di dalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen untuk mempraktikkannya secara konsisten.

Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Toleransi di sini adalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.

Syari’ah telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Karena pemaksaan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama kita adalah sikap a historis, yang tidak ada dasar dan contohnya di dalam sejarah Islam awal.

Justru dengan sikap toleran yang amat indah inilah, sejarah peradaban Islam telah menghasilkan kegemilangan sehingga dicatat dalam tinta emas oleh sejarah peradaban dunia hingga hari ini dan insyaallah di masa depan.

Jakarta, 15 Januari 2009 DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’nul Karim Natsir, Mohamad. Keragaman Hidup Antar Agama (Jakarta: Penerbit Hudaya, 1970), cet. II. Al-Baihaqi, Syu’ab al-Imam (Beirut: t.t), ed. Abu Hajir Muhamad b. Basyuni Zaghlul, VI, h. 105.

Syeikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Toleransi Islam Menurut Pandangan Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Abdillah Mohammad Afifuddin As-Sidawi (Misra: Penerbit Maktabah Salafy Press, t.t.). Shahih Al-Jami' As-Shaghir wa Ziyadatuhu.

No. 3266 Max I. Dimon, Jews, God, and History (New York: New American Library, 1962), h. 194.

Toleransi Beragama dalam Islam - Buya Yahya Menjawab




2022 www.videocon.com