Non disabilitas adalah

non disabilitas adalah

Istilah disabilitas dan difabel sering kali dianggap sama. Namun, kedua istilah tersebut sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Lantas, apa perbedaan disabilitas dan difabel? Disabilitas dan difabel merupakan istilah yang menggambarkan keterbatasan seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu.

non disabilitas adalah

Meski secara garis besar sama, ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Terkadang, salah dalam menempatkan kata-kata tersebut dapat menimbulkan sentimen yang berbeda. Definisi Disabilitas dan Difabel Secara umum, disabilitas adalah ketidakmampuan seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Terdapat beberapa jenis disabilitas, yaitu: • Disabilitas fisik, seperti gangguan gerak yang menyebabkan tidak bisa berjalan • Disabilitas sensorik, seperti gangguan pendengaran atau penglihatan • Disabilitas intelektual, seperti kehilangan ingatan • Disabiltas mental, seperti fobia, depresi, skizofrenia, atau gangguan kecemasan Sementara itu, difabel adalah istilah yang lebih halus untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami disabilitas.

Difabel mengacu pada keterbatasan peran penyandang disabilitas dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari karena ketidakmampuan yang mereka miliki. Artinya, seorang yang difabel bukanlah tidak mampu, melainkan hanya terbatas dalam melakukan aktivitas tertentu. Kondisi seorang difabel juga bisa diperbaiki dengan alat bantu yang membuatnya jadi mampu melakukan aktivitasnya seperti semula.

Perbedaan Disabilitas dan Difabel, Bagaimana Penggunaan Istilahnya? Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah disabilitas dan difabel sebenarnya tidak jauh beda. Perbedaan dari keduanya bisa dilihat dari penggunaan istilah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang pelajar yang menderita disleksia bisa disebut sebagai penyandang disabilitas, karena ia tidak bisa membaca dengan normal.

Namun, ia juga bisa dikatakan difabel karena ia akan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, misalnya untuk membaca buku pelajaran.

Disleksia adalah salah satu disabilitas yang sulit disembuhkan, non disabilitas adalah bisa diatasi. Pelajar tersebut bisa menggunakan rekaman atau video untuk belajar. Dengan begitu, sifat difabelnya akan berkurang, karena ia tetap bisa memenuhi aktivitasnya sehari-hari, meski sebenarnya ia tetap memiliki disabilitas.

Itulah mengapa sebutan difabel menjadi lebih halus dibandingkan disabilitas. Hal ini karena ada derajat ringan dan berat pada kata difabel. Sementara itu, dengan menyebut pelajar tadi sebagai seorang penyandang disabilitas, seakan-akan kita tidak melihat usahanya untuk mengatasi keterbatasannya. Setelah memahami perbedaan disabilitas dan difabel, mulai sekarang Anda diharapkan dapat lebih menunjukkan rasa empati dan non disabilitas adalah merendahkan penyandang disabilitas.

Bantulah mereka untuk mengatasi keterbatasannya. Namun, jika Anda tidak mampu, setidaknya bersikaplah biasa seperti Anda bersikap kepada orang pada umumnya. Apabila Anda ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi disabilitas atau difabel, jangan ragu untuk bertanya ke dokter.

• 20 Oktober 2018 • 33.528 • Artikel Yuk Mengenal Penyandang Disabilitas Lebih Dekat (bagian 1) Sesuai amanat undang-undang, penyandang disabilitas tentunya mendapatkan hak yang sama dengan non disabilitas. Apa itu penyandang disabilitas? Apa saja ragamnya? Bagaimana kita berinteraksi dengan mereka? Dan bagaimana pelayanan kesehatan yang ramah terhadap penyandang disabilitas? Pada bagian ini, kita akan mulai dengan mengenal penyandang disabilitas dan apa saja ragamnya.

Pengertian Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Ragam Disabilitas Penyandang disabilitas meliputi disabilitas sensorik, disabilitas fisik, disabilitas intelektual, disabilitas mental.

Seorang penyandang disabilitas dapat mengalami satu atau lebih ragam disabilitas dalam waktu bersamaan. Disabilitas Sensorik Disabilitas sensorik adalah terganggunya salah satu fungsi dari panca indera antara lain disabilitas netra, rungu dan atau wicara. Disabilitas netra adalah orang yang memiliki akurasi penglihatan kurang dari 6 per 60 setelah dikoreksi atau sama sekali tidak memiliki daya penglihatan. Disabilitas rungu wicara adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau hilangnya fungsi pendengaran dan atau fungsi bicara baik disebabkan oleh kelahiran, kecelakaan, maupun penyakit.

Disabilitas Fisik Disabilitas fisik adalah terganggunya fungsi gerak antara lain lumpuh layu atau kaku, paraplegi, cerebral palsy (CP), akibat amputasi, stroke, kusta, dan lain-lain. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh kelainan bawaan. Pada penyandang disabilitas fisik terlihat kelainan bentuk tubuh, anggota gerak atau otot, berkurangnya fungsi tulang, otot, sendi, maupun syaraf-syarafnya.

Disabilitas Intelektual Disabilitas intelektual adalah suatu disfungsi atau keterbatasan baik secara intelektual maupun perilaku adaptif yang dapat diukur atau dilihat yang menimbulkan berkurangnya kapasitas untuk beraksi dalam non disabilitas adalah tertentu.

Penyandang disabilitas intelektual adalah penyandang gangguan perkembangan mental yang secara prinsip ditandai oleh deteriorasi fungsi konkrit di setiap tahap perkembangan dan berkontribusi pada seluruh tingkat intelegensi (kecerdasan). Selain mempunyai keterbatasan pada fungsi intelektual, penyandang disabilitas ini juga mempunyai keterbatasan dalam hal kemampuan adaptasi yang menyebabkan terjadinya keterbatasan dalam hal kemampuan komunikasi, rawat diri, kehidupan non disabilitas adalah rumah, keterampilan sosial, keterlibatan dalam komunitas, kesehatan dan keamanan, akademik dan kemampuan bekerja.

American Psychological Association (APA) membuat klasifikasi penyandang disabilitas intelektual berdasar tingkat kecerdasan atau skor IQ, yaitu - ringan (debil,) skor IQ 55-70 - sedang (imbesil), skor IQ 40-55 - berat, skor IQ 25-40 - sangat berat, skor IQ < 25.

Disabilitas Mental Disabilitas mental adalah terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku antara lain: - psikososial, misalnya skizofrenia, bipolar, depresi, anxietas, gangguan kepribadian. - disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial, misalnya autis dan hiperaktif.

Disabilitas Ganda Ragam disabilitas dapat dialami secara tunggal, ganda, atau multi dalam jangka waktu lama (paling singkat enam bulan dan/atau bersifat permanen) dan ditetapkan oleh tenaga kesehatan.

Penyandang disabilitas ganda atau multi adalah penyandang disabilitas yang mempunyai dua atau lebih ragam disabilitas antara lain disabilitas rungu-wicara dan disabilitas netra-tuli. Sumber: Buku Pedoman Pelaksanaan Yankespro bagi Penyandang Disabilitas Usia Dewasa, Kemenkes RI, 2017.

Sekarang kita sudah mengerti apa itu penyandang disabilitas dan ragamnya. Pada artikel berikutnya kita akan mengupas bagaimana kita berinteraksi dengan penyandang disabilitas. @pf26
Dibuat: Rabu, 08 Mei 2019 Pengertian, Jenis dan Hak Penyandang Disabilitas Apa itu Penyandang Disabilitas?

Penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi non disabilitas adalah lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak (Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas).

Istilah disabilitas berasal dari bahasa inggris yaitu different ability yang artinya manusia memiliki kemampuan yang berbeda.

non disabilitas adalah

Terdapat beberapa istilah penyebutan menunjuk pada penyandang disabilitas, Kementerian Sosial menyebut dengan istilah penyandang cacat, Kementerian Pendidikan Nasional menyebut dengan istilah berkebutuhan khusus dan Kementerian Kesehatan menyebut dengan istilah Penderita cacat.

Berikut ini beberapa pengertian penyandang disabilitas dari beberapa sumber: • Menurut Resolusi PBB Nomor 61/106 tanggal 13 Desember 2006, penyandang disabilitas merupakan setiap orang yang tidak mampu menjamin oleh dirinya sendiri, seluruh atau sebagian, kebutuhan individual normal dan/atau kehidupan sosial, sebagai hasil dari kecacatan mereka, baik yang bersifat bawaan maupun tidak, dalam hal kemampuan fisik atau mentalnya.

• Menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, penyandang cacat/disabilitas merupakan kelompok masyarakat rentan yang berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.

• Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, penyandang cacat/disabilitas digolongkan sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial.

• Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat menganggu atau merupakan rintangan dan hamabatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari, penyandang cacat fisik; penyandang cacat mental; penyandang cacat fisik dan mental.

• Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Jenis-jenis Penyandang Disabilitas Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, Penyandang Disabilitas dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut: a.

Cacat Fisik Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Cacat fisik antara lain: a) cacat kaki, b) non disabilitas adalah punggung, c) cacat tangan, d) cacat jari, e) cacat leher, f) cacat netra, g) cacat rungu, h) cacat wicara, i) cacat raba (rasa), j) cacat pembawaan. Cacat tubuh atau tuna daksa berasal dari kata tuna yang berarati rugi atau kurang, sedangkan daksa berarti tubuh.

Jadi tuna daksa non disabilitas adalah bagi mereka yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna. Cacat tubuh dapat digolongkan sebagai berikut: • Menurut sebab cacat adalah cacat sejak lahir, disebabkan oleh penyakit, disebabkan kecelakaan, dan disebabkan oleh perang. • Menurut jenis cacatnya adalah putus (amputasi) tungkai dan lengan; cacat tulang, sendi, dan otot pada tungkai dan lengan; cacat tulang punggung; celebral palsy; cacat lain yang termasuk pada cacat tubuh orthopedi; paraplegia.

non disabilitas adalah

b. Cacat Mental Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit, antara lain: a) retardasi mental, b) gangguan psikiatrik fungsional, c) alkoholisme, d) gangguan mental organik dan epilepsi. c. Cacat Ganda atau Cacat Fisik dan Mental Yaitu keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus.

Apabila yang cacat adalah keduanya maka akan sangat mengganggu penyandang cacatnya. Menurut Reefani (2013:17), penyandang disabilitas dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: a. Disabilitas Mental Disabilitas mental atau kelainan mental terdiri dari: • Mental Tinggi. Sering dikenal dengan orang berbakat intelektual, di mana selain memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata dia juga memiliki kreativitas dan tanggungjawab terhadap tugas. • Mental Rendah. Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual/IQ (Intelligence Quotient) di bawah rata-rata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learnes) yaitu anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) antara 70-90.

Sedangkan anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus. • Berkesulitan Belajar Spesifik. Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achievment) yang diperoleh. a. Disabilitas Fisik Disabilitas Fisik atau kelainan fisik terdiri dari: • Kelainan Tubuh (Tuna Daksa).

Tuna daksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan (kehilangan organ tubuh), polio dan lumpuh.

non disabilitas adalah Kelainan Indera Penglihatan (Tuna Netra). Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu: buta total (blind) dan low vision. • Kelainan Pendengaran (Tunarungu). Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen.

Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga non disabilitas adalah biasa disebut tunawicara. • Kelainan Bicara (Tunawicara). Tunawicara adalah seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

non disabilitas adalah

Kelainan bicara ini dapat dimengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini dapat bersifat fungsional di mana kemungkinan disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motorik yang berkaitan dengan bicara. c. Tunaganda (disabilitas ganda) Tunaganda atau penderita cacat lebih dari satu kecacatan (cacat fisik dan mental) merupakan mereka yang menyandang lebih dari satu jenis keluarbiasaan, misalnya penyandang tuna netra dengan tuna rungu sekaligus, penyandang tuna daksa disertai dengan tuna grahita atau bahkan sekaligus.

Derajat Kecacatan Penyandang Disabilitas Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 104/MENKES/PER/II/1999 tentang Rehabilitasi Medik pada Pasal 7 mengatur derajat kecacatan dinilai berdasarkan keterbatasan kemampuan seseorang dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, yaitu sebagai berikut: • Derajat cacat 1: Mampu melaksanakan aktivitas atau mempertahankan sikap dengan kesulitan.

• Derajat cacat 2: Mampu melaksanakan kegiatan atau mempertahankan sikap dengan bantuan alat bantu. • Derajat cacat 3: Dalam melaksanakan aktivitas, sebagian memerlukan bantuan orang lain dengan atau tanpa alat bantu.

• Derajat cacat 4: Dalam melaksanakan aktivitas tergantung penuh terhadap pengawasan orang lain. • Derajat cacat 5: Tidak mampu melakukan aktivitas tanpa bantuan penuh orang lain dan tersedianya lingkungan khusus. • Derajat cacat 6: Tidak mampu penuh melaksanakan kegiatan sehari-hari meskipun dibantu penuh orang lain.

Asas dan Hak-hak Penyandang Disabilitas Menurut Rahayu, dkk (2013:111), terdapat empat asas yang dapat menjamin kemudahan atau aksesibilitas penyandang disabilitas yang mutlak harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut: • Asas kemudahan, yaitu setiap orang dapat mencapai semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan.

• Asas kegunaan, yaitu semua orang dapat mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan. • Asas keselamatan, yaitu setiap bangunan dalam suatu lingkungan terbangun harus memperhatikan keselamatan bagi semua orang termasuk disabilitas. • Asas non disabilitas adalah, yaitu setiap orang harus bisa mencapai dan masuk untuk mempergunakan semua tempat atau bangunan dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.

Menurut Pasal 41 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengatur bahwa setiap penyandang cacat/disabilitas, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan anak-anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus. Berdasarkan hal tersebut maka penyandang cacat/disabilitas berhak atas penyediaan sarana aksesibilitas yang menunjang kemandiriannya, kesamaan kesempatan dalam pendidikan, kesamaan kesempatan dalam ketenagakerjaan, rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.

Dalam hal ini yang dimaksud rehabilitasi meliputi rehabilitasi medik, rehabilitasi pendidikan, rehabilitasi pelatihan, dan rehabilitasi sosial.

Dalam Pasal 6 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat ditegaskan bahwa setiap penyandang cacat/disabilitas berhak memperoleh: • Pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. • Pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya. non disabilitas adalah Perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya • Aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya.

• Rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. • Hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak (Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas).

Penyandang Disabilitas Istilah disabilitas berasal dari bahasa inggris yaitu different ability yang artinya manusia memiliki kemampuan yang berbeda. Terdapat beberapa istilah penyebutan menunjuk pada penyandang disabilitas, Kementerian Sosial menyebut dengan istilah penyandang cacat, Kementerian Pendidikan Nasional menyebut dengan istilah berkebutuhan khusus dan Kementerian Kesehatan menyebut dengan istilah Penderita cacat.

Berikut ini beberapa pengertian penyandang disabilitas dari beberapa sumber: • Menurut Resolusi PBB Nomor 61/106 tanggal 13 Desember 2006, penyandang disabilitas merupakan setiap orang yang tidak mampu menjamin oleh dirinya sendiri, seluruh atau sebagian, kebutuhan individual normal dan/atau kehidupan sosial, sebagai hasil dari kecacatan mereka, baik yang bersifat bawaan maupun tidak, dalam hal kemampuan fisik atau mentalnya. • Menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, penyandang cacat/disabilitas merupakan kelompok masyarakat rentan yang berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.

• Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, penyandang cacat/disabilitas digolongkan sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial. • Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat menganggu atau merupakan rintangan dan hamabatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari, penyandang cacat fisik; penyandang cacat mental; penyandang cacat fisik dan mental.

• Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Jenis-jenis Penyandang Disabilitas Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, Penyandang Disabilitas dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut: a.

Cacat Fisik Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Cacat fisik antara lain: a) cacat kaki, b) cacat punggung, c) cacat tangan, d) cacat jari, e) cacat leher, f) cacat netra, g) cacat rungu, h) cacat wicara, i) cacat raba (rasa), j) cacat pembawaan. Cacat tubuh atau tuna daksa berasal dari kata tuna yang berarati rugi atau kurang, sedangkan daksa berarti tubuh. Jadi tuna daksa ditujukan bagi mereka yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna.

Cacat tubuh dapat digolongkan sebagai berikut: • Menurut sebab cacat adalah cacat sejak lahir, disebabkan oleh penyakit, disebabkan kecelakaan, dan disebabkan oleh perang. • Menurut jenis cacatnya adalah putus (amputasi) tungkai dan lengan; cacat tulang, sendi, dan otot pada tungkai dan lengan; cacat tulang punggung; celebral palsy; cacat lain yang termasuk pada cacat tubuh orthopedi; paraplegia.

b. Cacat Mental Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit, antara lain: a) retardasi mental, b) gangguan psikiatrik fungsional, c) alkoholisme, d) gangguan mental organik dan epilepsi. c. Cacat Ganda atau Cacat Fisik dan Mental Yaitu keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus. Apabila yang cacat adalah keduanya maka akan sangat mengganggu penyandang cacatnya. Menurut Reefani (2013:17), penyandang disabilitas dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: a.

Disabilitas Mental Disabilitas mental atau kelainan mental terdiri dari: • Mental Tinggi. Sering dikenal dengan orang berbakat intelektual, di mana selain memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata dia juga memiliki kreativitas dan tanggungjawab terhadap tugas. non disabilitas adalah Mental Rendah. Non disabilitas adalah mental rendah atau kapasitas intelektual/IQ (Intelligence Quotient) di bawah rata-rata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learnes) yaitu anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) antara 70-90.

Sedangkan anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus. • Berkesulitan Belajar Spesifik. Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achievment) yang diperoleh. a. Disabilitas Fisik Disabilitas Fisik atau kelainan fisik terdiri dari: • Kelainan Tubuh (Tuna Daksa). Tuna daksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan (kehilangan organ tubuh), polio dan lumpuh.

• Kelainan Indera Penglihatan (Tuna Netra). Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu: buta total (blind) dan low vision.

• Kelainan Pendengaran (Tunarungu). Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. • Kelainan Bicara (Tunawicara).

Tunawicara adalah seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini dapat dimengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini dapat bersifat fungsional di mana kemungkinan disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motorik yang berkaitan dengan bicara.

c. Tunaganda (disabilitas ganda) Tunaganda atau penderita cacat lebih dari satu kecacatan (cacat fisik dan mental) merupakan mereka yang menyandang lebih dari satu jenis keluarbiasaan, misalnya penyandang tuna netra dengan tuna rungu sekaligus, penyandang tuna daksa disertai dengan tuna grahita atau bahkan sekaligus.

Derajat Kecacatan Penyandang Non disabilitas adalah Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 104/MENKES/PER/II/1999 tentang Rehabilitasi Medik pada Pasal 7 mengatur derajat kecacatan dinilai berdasarkan keterbatasan kemampuan seseorang dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, yaitu sebagai berikut: • Derajat cacat 1: Mampu melaksanakan aktivitas atau mempertahankan sikap dengan kesulitan. • Derajat cacat 2: Mampu melaksanakan kegiatan atau mempertahankan sikap dengan bantuan alat bantu.

• Derajat cacat 3: Dalam melaksanakan aktivitas, sebagian memerlukan bantuan orang lain dengan atau tanpa alat bantu. • Derajat cacat 4: Dalam melaksanakan aktivitas non disabilitas adalah penuh terhadap pengawasan orang lain. • Derajat cacat 5: Tidak mampu melakukan aktivitas tanpa bantuan penuh orang lain dan tersedianya lingkungan khusus. • Derajat cacat 6: Tidak mampu penuh melaksanakan kegiatan sehari-hari meskipun dibantu penuh orang lain.

Asas dan Hak-hak Penyandang Disabilitas Menurut Rahayu, dkk (2013:111), terdapat empat asas yang dapat menjamin kemudahan atau aksesibilitas penyandang disabilitas yang mutlak harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut: • Asas kemudahan, yaitu setiap orang dapat mencapai semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan.

non disabilitas adalah

• Asas kegunaan, yaitu semua orang dapat mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan. • Asas keselamatan, yaitu setiap bangunan dalam suatu lingkungan terbangun harus memperhatikan keselamatan bagi semua orang termasuk disabilitas. • Asas kemandirian, yaitu setiap orang harus non disabilitas adalah mencapai dan masuk untuk mempergunakan semua tempat atau bangunan dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.

Menurut Pasal 41 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengatur bahwa setiap penyandang cacat/disabilitas, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan anak-anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus.

non disabilitas adalah

Berdasarkan hal non disabilitas adalah maka penyandang cacat/disabilitas berhak atas penyediaan sarana aksesibilitas yang menunjang kemandiriannya, kesamaan kesempatan dalam pendidikan, kesamaan kesempatan dalam ketenagakerjaan, rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.

Dalam hal ini yang dimaksud rehabilitasi meliputi rehabilitasi medik, rehabilitasi pendidikan, rehabilitasi pelatihan, dan rehabilitasi sosial. Dalam Pasal 6 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat ditegaskan bahwa setiap penyandang cacat/disabilitas berhak memperoleh: • Pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. • Pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya.

• Perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya • Aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya. • Rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. • Hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Daftar Pustaka
Belajar adalah suatu proses yang menimbulakan suatu perubahan pada tingkah laku. Proses belajar secara relaitanya menimbulakn berbagai pendekatan, metode dan langkah – langkah yang beragam dengan harapan penyampaian pengetahuan (knowkedge) yang diasampaikan oleh pemberi dalam hal ini adalah pendidik dapat terserap dengan maksimal dalam hal ini peserta didik.

Belajar tidak hanya dilakukan dalam runga lingkup formal sebagai contoh satuan pendidikan namun belajar juga non disabilitas adalah dilakukan secara non formal dilungkungan manpundan kapanpun. Pendidikan merupakan hal yang penting bagi seluruh anak karena dengan pendidikan martabat seorang anak akan diakui di masyarakat. Nilai kecerdasan mengakibatkan pemisahan level skor dari genius hingga idiot. Hingga adanya anak dengan kategori disabilitas, normal dan supernormal.

Pendidikan di indonesia yang belum merata menyebabkan kesenjangan pendidikan. Sehingga hal itu menjadikan potensi yang dimilki penerus bangsa belum dioptimalkan. Intelektual dapat didefinisikan sebagai kecakapan yang tinggi untuk berfikir. Para ahli psikologi memberi arti yang sama dengan Intelegency. Secara harfiah Intelegency = Intelect. [1]Intelektual non disabilitas adalah kecerdasan secara umum menggambarkan kecerdasan, kepintaran untuk memecahkan problem tertentu.

Intelect atau intelegency berkaitan dengan berfikir. Istilah Intelegency telahdikenal oleh masyarakat umum dengan istilah IQ (Intelegency Quation) padahal pada Intelegency dan IQ memilki arti yang berbeda, Intelegency diartikan kecerdasan sedangkan IQ jumlah Skor yang menunujukan kapasitas tinggi rendahnya kecerdasan seseorang.

Kecerdasan sendiri ada tiga macam kecerdasan emosional (EQ) merupakn kecerdasan emosional yang ditinjau dari cara memahamiperasaan orang lain, membaca tersurat dan tersirat, kecerdasan spiritual (SQ) merupakan kecerdasan spritual berupa kecerdasan untuk mengahadpai makna atau velue, dan kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan kognitif berupa kemampuna intelektual, logika dan rasio.

Secara umum IQ, EQ dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan tentang hidup kita. Seperti yang kita alami setiap hari, keputusan yang kita buat, berasal dari proses merumuskan keputusan, menjalankan keputusan, dan menyikapi keputusan.

Rumusan keputusan itu seharusnya didasarkan pada fakta yang kita termuka di lapangan realita (apa yang terjadi) bukan berdasarkan pada kebiasaan atau preferensi pribadi suka atau tidak suka.

Kita bisa menggunakan IQ yang menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan untuk memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada. Rencana keputusan yang hendak diambil merupakan hasil dari non disabilitas adalah logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri.

Bagaimanapun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan oran lain. Oleh sebab itu, salah satu kemampuan EQ yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam membimbing dan memutuskan.

Banyak fakta dan dinamika dalam hidup ini, yang harus dipertimbangkan, sehingga kita tidak bisa menggunakan rumus logika matematis untung rugi. Kita pun sering menjumpai kenyataan bahwa faktor human tosch turut mempengaruhi penerimaan atau pendakan seseorang terhadap kita-salah satu contoh kongkrit di Indonesia budaya “kekurangan” sangat ketal mendominasi dan mempengaruhi perjanjian bisnis atau bahkan penyelesaian konflik.

Intelektual merupakan bentuk tingkah laku seseorang terhadap lingkungan dengan mempertimbangkan pola pikir orang tersebut. Seseorang memposisikan subjek sebagai pihak yang aktif dalam interaksi adaptif antara organisme atau terjadi hubungan dialektis antar organisme dengan lingkungannya.

Sebab organisme tidak dapat lepas dari lingkungannya dan juga tidak semacam penerima yang pasif. Interaksi antara organisme dengan lingkungannya lebih bersifat interaksi timbal balik. Hanya dalam bentuk interaksinya juga, setiap perubahan tingkah laku adalah hasil dari dialektis pengaruh timbal balik antara organisme dengan lingkungannya.

Karena pandangannya tersebut, intelektual atau kognitif disebut dengan teori interaksionisme. Intelektual sebagai bentuk khusus dari penyesuain organisme baru dapat diketahui melalui dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi.

Organisme sebagai suatu sistem dapat meyesuaikan diri dengan lingkungannya karena kemampuan mengakomodasi struktur kognitifnya sehingga objek yang baru itu dapat ditangkap dan dipahami. Asimilasi ialah suatu proses individu memasukkan dan menggabungkanpengalaman-pengalaman dengan struktur psikologis yang telah ada pada diri individu.

Struktur psikologis dalam diri individu ini disebut skema yaitu kerangka mental individu yang digunakan untuk menafsirkan segala sesuatu yang dilihat atau di dengar. Skema mampu menyusun pengamatan-pengamatan dan tingkah laku sehingga terjadi suatu rangkaian tindakan fisik dan mental untuk dapat memahami lingkungannya. Kemamapun berfik abstrak menunjukan perhatian seseorang kepada kejadian dan peristiwa yang tidak kongkret seperti pilihan pekerjaan, corak hidup masyrakat dan lain sebagainya.

Baik remaja, corak perilkau pribadinya di hari depan dan corak tingkah lakunya sekarang akan berbeda. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan kepribadianya. Mereka dapat memikirkan perihal diri sendiri, pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri yang sering mengarah ke penilaian diri dan kritik diri.

non disabilitas adalah

Hasil penelitian tentang dirinya tidak selalu diketahui oleh orang lain bahkan cenderung untuk menyembunyikannya. Melalui refleksi diri hubungan situasi yang akan datang nyata dalam pikiranya, perihal keadaan diri yang tercermin sebagai suatu kemungkinan bentuk kelak di kemudian hari. Seorang remaja dalam berfikir sering dipengaruhi oleh ide – ide dan teori – teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang tua.setiap pendapat orag lain selalu dikaitkan dengan teori yang diikuti.

Kemampuan abstraksi mempermasalahkan kenyataan dari peristiwa – peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semestinya menurut alam pikiranya, situasi ini menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa hal itu juga menjebabkan seseorang memiliki sifat egosentris. Egosentris inilah yang menyebabkan “ Kekakuan” para remaja dalam berfikir dan bertingkah laku. Karakteristik perkembangan Intelektual pada remaja tidak mudah diukur. Pada usia remaja anak sudah dapat berfikir abstrak dan hipotek sehingga pada tahap ini anak sudah mempunyai dua sufat penting yaitu sifat deduktif hipotesis dan berfikir operasional disertai kombinatoris [2].

Nilai IQ yang dihasilkan dari pengukuran Intelegency pada anak umur tertentu akan menghasikan sebaran nilai yang membentuk sebaran normal ( Normal Distribution) dengan rata – rata 100 dan simpangan baku 15.

Skala IQ yang banyak digunakan adalah skla IQ yang dikembangkan oleh Wechler dan Belleveu. Mereka berpendapat jika semua orang didunia ini diukur kecerdasanya maka hasilnya banyaknya orang ynag memilki kecerdasan sangat rendah (Terbelakang) non disabilitas adalah akan sama dengan jumlah orang ynag sangat cerdas (Supernormal).

Sedangakan yang terbanyak adalah orang – orang yang tergolong yang berintelegency rata – rata atau nirmal [3]. Individu yang memilki IQ dibwah 70 mereka tidak bisa pada sekolah biash mereka perlu sekolah disekolah luar biasah dengan didikan dan bimbingan secara khusus. Begitu juga sebaliknya mereka yang mempunyai IQ diatas 140 mereka juga memerlukan didikan dan bimbingan secara khusus dengan kategori annak sangat cerdas akan tetapi mereka bisa bersekolah di sekolah umum.

Disabilitas intelektual terdiri dari kata intelektual dan diasbilitas. Intelektual disabilitas adalah suatu disfungsi atau ketrbatasan baik secara intelektual maupun perilkau adaptif yang terwujud melalui kemampuan adaptif kontekstual, sosial dan praktika keadaan ini muncul sebelum 18 tahun.

Disabiliatas intelektual disandang oleh anak – anak yang memilki ketrbelaknagna / kecacatan baik cacat mental, cacat fisik ataupun cacat mental dan cacat fisik. Pendidikan untuk anak yang berkebutuhan khusus telah dicantumkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dalam kebijakan tersebut memberi warna baru bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Ditegaskan dalam pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan non disabilitas adalah peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar non disabilitas adalah menengah.

Inklusi adalah sebuah filosofi pendidikan dan sosial. Mereka yang percaya inklusi meyakini bahwa semua orang adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan masyarakat, apapun perbedaan mereka. Dalam pendidikan ini berarti bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun ketidak mampuan mereka, latar belakang sosial-ekonomi, suku, latar belakang budaya atau bahasa, agama atau jender, menyatu dalam komunitas sekolah yang sama.

Melalui pendidikan inklusi ini diharapkan anak berkelainan atau berkebutuhan khusus dapat dididik bersama-sama dengan anak normal lainnya. Tujuannya adalah tidak ada kesenjangan di antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya. Diharapkan pula anak dengan kebutuan khusus dapat memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya.

Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Oleh karena itu anak yang berkebutuhan khusus perlu diberkan kesempatan non disabilitas adalah sama dengan anak normal lainnya untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di jenjang pendidikan yang ada.

Bervariasinya tipe anak berkebutuhan khusus dan masing-masing jenis tersebut mempunyai permasalahan yang berbeda maka dibutuhkan penanganan khusus baik itu dari keluarga, lingkungan, sekolah maupun intervensi medis maupun rehabilitasi medic, pendampingan psikologi anak bila diperlukan demi tercapainya pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Hal yang harus kita laksanakan agar hak anak berkebutuhan khusus agar tercapai pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal dimulai dari keluarga terlebih dahulu seperti menyayangi anak dengan tulus dan memenuhi semua hak anak.

non disabilitas adalah

Penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia sampai saat non disabilitas adalah memang masih mengundang kontroversi. Namun praktek sekolah inklusif memiliki berbagai manfaat. Misalnya adanya sikap positif bagi siswa berkelainan yang berkembang dari komunikasi dan interaksi dari pertemanan dan kerja sebaya. Siswa belajar untuk sensitif, memahami, menghargai, dan menumbuhkan rasa nyaman dengan perbedaan individual. Dengan adanya pendidikan inklusi anak disabilitas dapat mendapatkan pendidikan dengan kategori kekurangan masing – masing.

Pendidikan inklusi di indonesia menjadi solusi namun juga menjadi kesulitan. Kesulitan dalam pross belajar mengajar sarana prasarana, SDM dari Guru, ketersedian lembaga pendidikan yang belum merata dan pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang memahami konsep pendidikan untuk anak disabilitas. Prestasi belajar anak Disabilitas intelktual lebih rendah.

Anak disabilitas Intelektual memilki kemampuan yang berbeda dengan begitu diharapkan peran dunia pendidikan diharapkan lebih memperhatikanya. Walaupu adanya program inklusi untuk anak disabilitas akan tetapi produk yang dihasilakn masih minim namun bukan berarti pemerintah tidak mencoba memberikan solusi mengenai kesenjagan pendidikan pada anak – anak yang memilki kebutuhan khusus. Pendidikan yang diterapakan atau diajarkan pada anak yang memilki kecerdasan rata – rata telah diatur oleh pemerintah dengan memilki kurikulum tersediri, badan hukum sendiri diharapkan dapat meningkatkaon potensi anak sehingga terbentuk SDM yang bermutu.

Akan tetapi kebanyakan dari anak – anak yang memilki kecerdasan diatas rata – rata berada di lembaga sekolah nirmal dengan proses pendidikan seperti biadsahnya hal itu menyebabkan pengoptimalan potensi kurang. Lembaga sekolah yang khusus didirikan untuk anak – non disabilitas adalah sepurormal dari tingkat vinansial biasanya memunggut biaya yang lebih, dan tempat lembaga sekolah terdapat di kota – kota besar. Prestasi belajar anak supernormal sangat tinggi. Hal itu disebabkan anak – anak supernormal memilki kemampuan berfikir yang tinggi.

Anak – anka supernoraml dalam memyelesaika tugas – tugas belajarnya bisa mengerjakan dengan cepat dan tepat. Golongan anak – anak supernoramal harus mempeoleh pendidikan yang memcukupi guna peningkatan potensinya. Masalah yang timbul dari adanya kesenjngan antara golongan anak sepurnormal, normal dan disabilitas adalah kesejangan pendidikan dan sosial dalam kehidupan sehari – hari.

Terjadinya tumpang tindih seperti itu menimbulkan masalah secara psikilogis pada anak sehingga mempengaruhi proses berfikir anak. Pada dasarnya proses berfikir seseorang dipengaruhi oleh beberapafaktor antara lain faktor somatik ( gangguan otak, sakit, kelelahan) dan faktor psikologis non disabilitas adalah emosi, ingatan, perhatian) dan faktor sosial ( kegaduahn, suasana alam tidak tenang, dan suasana tempat tinggal.

Intelektual atau kecerdasan secara umum menggambarkan kecerdasan, kepintaran untuk memecahkan problem tertentu. Intelect atau intelegency berkaitan dengan berfikir.

Kecerdasan yang dimilki seseorang mengantrakan adanya golongan – golongan kecerdasan. Tingkat kecerdasan seseorang berpengaruh pada perilaku yag ditunjukan sehari – hari. Perilaku yang ditunjukan sehari – hari tersebut dipengaruhi oleg=h kecerdasan baik kecerdasan IQ, EQ, dan SQ. Pendidikan di Indonesia sudah memperhatikan kesenjanga kecerdasan yang dimilki anak hal itu dibuktikan dengan adanya lembaga pendidikan khusu untuk anak – anak disabilitas, normal mauoun super noral.

Akan tetapi hasil yang diperoleh belum maksimal hal itu disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya ketersedian lembaga pendidikan khusus yang belum merata. Demikianlah makalah yang kami buat kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dalam berbagai hal. Penulis sangat berharap pembaca untuk berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun guna kemajuan pembuatan maklah yang selanjutnya.

Atas perhatianya kami ucapakn terimakasih. • ▼ 2017 (8) • ▼ Desember (8) • MAKALAH KONSEP DASAR PENILAIAN OTENTIK DI KELAS TI. • makalah Program Semester (PROMES) • PENDIDIKAN ANAK DISABILITAS DAN NON DISABILITAS • RPP Fiqh Sholat Rowatib • RPP Aqidah Akhlak Sikap Malas • KEBUDAYAAN JAWA PRA ISLA (MASA HINDU – BUDHA) BAB . • RPP Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW • Teknik Statistik, Analisis Data, dan Jenis Data Pe. • ► 2016 (2) • ► Desember (2)
• Afrikaans • Alemannisch • Aragonés • Ænglisc • العربية • অসমীয়া • Asturianu • Azərbaycanca • Башҡортса • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • Banjar • বাংলা • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Non disabilitas adalah • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • کوردی • Čeština • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Galego • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • Қазақша • 한국어 • Кыргызча • Latina • Limburgs • Lietuvių • Latviešu • Македонски • മലയാളം • मराठी • Bahasa Melayu • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Non disabilitas adalah • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پنجابی • Português • Română • Русский • Саха тыла • Sicilianu • Srpskohrvatski / српскохрватски • Simple English • Slovenščina • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • తెలుగు • ไทย • Türkmençe • Tagalog • Türkçe • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • ייִדיש • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Rumah untuk para penyandang difabel di Johor, Malaysia.

Difabel, disabilitas, ketunaan, ketunadayaan, atau keterbatasan diri ( bahasa Inggris: disability) dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi dari ini.

Istilah difabel dan disabilitas sendiri memiliki makna yang agak berlainan. Difabel ( different ability—kemampuan berbeda) didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjalankan aktivitas berbeda bila dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan, serta belum tentu diartikan sebagai "cacat" atau disabled. Sementara itu, disabilitas ( disability) didefinisikan sebagai seseorang yang belum mampu berakomodasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan disabilitas.

[1] Daftar isi non disabilitas adalah 1 Definisi • 2 Klasifikasi • 3 Pemberdayaan • 4 Undang-Undang • 5 Lihat pula • 6 Referensi dan catatan kaki Definisi [ sunting - sunting sumber ] Difabel atau disabilitas adalah istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan adalah sebuah masalah pada fungsi tubuh atau strukturnya; suatu pembatasan kegiatan adalah kesulitan yang dihadapi oleh individu dalam melaksanakan tugas atau tindakan, sedangkan pembatasan partisipasi merupakan masalah yang dialami oleh individu dalam keterlibatan dalam situasi kehidupan.

Jadi disabilitas adalah sebuah fenomena kompleks, yang mencerminkan interaksi antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari masyarakat tempat dia tinggal. [2] Penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari: • penyandang cacat fisik; • penyandang cacat mental; serta • penyandang cacat fisik dan mental.

[3] Klasifikasi [ sunting - sunting sumber ] Tipe Nama Jenis disabilitas Pengertian [4] A tunanetra disabilitas fisik tidak dapat melihat; buta B tunarungu disabilitas fisik tidak dapat mendengar dan kurang dalam mendengar; tuli C tunawicara disabilitas fisik tidak dapat berbicara; bisu D tunadaksa disabilitas fisik cacat tubuh E1 tunalaras disabilitas fisik cacat suara dan nada E2 tunalaras disabilitas mental sukar mengendalikan emosi dan sosial.

F tunagrahita disabilitas mental cacat pikiran; lemah daya tangkap; G tunaganda disabilitas ganda penderita cacat lebih dari satu kecacatan Pemberdayaan [ sunting - sunting sumber ] Program kebijakan pemerintah bagi penyandang disabilitas (penyandang cacat) cenderung berbasis belas kasihan ( charity), sehingga kurang memberdayakan penyandang disabilitas untuk terlibat dalam berbagai masalah.

Kurangnya sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang penyandang disabilitas menyebabkan perlakuan pemangku kepentingan unsur pemerintah dan swasta yang kurang peduli. [ butuh rujukan] Undang-Undang [ sunting - sunting sumber ] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (difabel) bertujuan untuk menciptakan/agar: • upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang cacat berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

non disabilitas adalah

{INSERTKEYS} [5] • setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. [6] DPR menilai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (difabel) sudah tidak sesuai dengan paradigma terkini mengenai kebutuhan penyandang disabilitas dan merancang RUU inisiatif DPR tentang penyandang disabilitas.

Rapat Paripurna DPR yang digelar pada Kamis, 17 Maret 2016, akhirnya resmi mengesahkan Rancangan Undang-undang Penyandang Disabilitas. Rancangan tersebut akan menjadi undang-undang 30 hari sejak disahkan DPR, dengan atau tanpa tanda-tangan presiden. [7] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Hari Penyandang Cacat Internasional • Anak berkebutuhan khusus Referensi dan catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ Difabel atau Disabilitas • ^ (Inggris) World Health Organization - Disabilities • ^ (Indonesia) Halaman resmi BPKP - Unduhan UU RI No.4 Tahun 1997 • ^ Semua bersumber dari Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III kecuali tunalaras (disabilitas mental).

• ^ UU 4/1997 psl. 2 • ^ UU 4/1997 psl. 9 • ^ DPR Sahkan Undang-undang Penyandang Disabilitas Tempo.co tanggal 18 Maret 2016. Diakses tanggal 18 Maret 2016.

• Halaman ini terakhir diubah pada 30 April 2022, pukul 00.13. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •Image : Saujana Image Apa yang Perlu Kalian Ketahui Tentang Disabilitas! Perayaan Hari Disabilitas Internasional tahun ini mengusung tema “Transformation Towards Sustainable and Resilient Society For All”. Dan di Indonesia, kita menggunakan tema “Menuju Masyarakat Inklusi Tangguh dan Berkelanjutan”.

Kedua tema ini bersama-sama menekankan semakin pentingnya pemastian keterlibatan penyandang disabilitas, sebagai salah satu komponen dalam keberagaman, untuk terlibat aktif dalam setiap kesempatan. Dan untuk itu diperlukan terpenuhinya kebutuhan disabilitas dalam mengeliminasi hambatan yang mereka alami. Untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 bulan Desember tahun ini, berikut akan kami sajikan sejumlah informasi mengenai disabilitas. Mulai dari penyebutan, ragam disabilitas, hingga hal-hal yang berkaitan dalam kehidupan penyandang disabilitas di Indonesia.

Penyandang disabilitas sebagai salah satu bagian penting dalam sistem tatanan sosial yang inklusif, dapat berperan aktif sehingga menjadi penunjang kemajuan yang berkelanjutan.

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang disabilitas, kita perlu memahami mengapa menjadi penting untuk memiliki kepekaan terhadap isu ini. Jawabannya sederhana saja. Bahwa setiap orang berpotensi menjadi penyandang disabilitas. Sehingga menjadi wajar ketika kesetaraan hak untuk disabilitas seharusnya diadvokasi oleh semua orang. Hambatan umum yang sering dihadapi penyandang disabilitas adalah absennya sarana yang aksesibel untuk mereka.

Seperti lift, bidang miring, penerjemah isyarat, tanda bergambar, dan lain sebagainya. Sedangkan pemenuhan sarana yang akesibel ini adalah hak setiap manusia, yang nantinya tidak hanya akan digunakan oleh penyandang disabilitas, tapi tentu akan dinikmati oleh semua orang. Lalu apa saja yang dibutuhkan para penyandang disabilitas untuk bisa mengakses kesempatan tanpa harus terhambat oleh hambatan yang dialaminya?

Aksesibilitas fisik. Diantaranya ramp atau bidang miring, lift, rambu disabilitas, toilet khusus, dan parkir khusus. Untuk media tulis, hendaknya disediakan versi braille, teks, atau audio. Penyebutan disabilitas atau difabel Seringkali terjadi penyebutan istilah penyandang disabilitas yang masih salah. Meskipun tidak ada aturan baku dalam penyebutannya, namun setelah masyarakat dunia meratifikasi Konvensi Hak-Hak Asasi Penyandang Disabilitas (United Nation Convention on The Right of Person With Disabilities) oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) penyebutan penyandang disabilitas mulai dipergunakan untuk menghapus kata “cacat”, “normal — tidak normal”, “handicap”.

Sedangkan untuk orang yang bukan disabilitas, pada umumnya penyebutannya adalah “non-disabilitas” atau “non-difabel”. Ragam Disabilitas Sebelumnya di Indonesia kita menggunakan istilah ketunaan. Namun sejak tahun lalu, pemerintah mengesahkan UU No. 8 tahun 2016 yang salah 1 poinnya memaparkan ragam disabilitas. Yang diantaranya adalah: 1.

Disabilitas fisik, merupakan ragam disabilitas dimana terganggunya fungsi gerak. Antara lain amputasi, lumpuh layu, atau kaku hingga paraplegi dan tetraplegi. 2. Disabilitas sensorik, merupakan ragam disabilitas dimana terganggunya salah satu fungsi dari panca indra. Antara lain disabilitas netra, Tuli atau wicara. 3. Disabilitas mental, merupakan terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku.

Antara lain depresi, gangguan kepribadian, hiperaktif dan autis. 4. Disabilitas intelektual, merupakan adanya kekurangan intelektual dan keterbelakangan secara mental, lamban belajar, dan gangguan otak. Disabilitas ganda, merupakan keadaan ketika terdapat dua atau lebih ragam disabilitas. Fakta menarik dari disabilitas 1. Penyandang disabilitas Tuli lebih menyukai sebutan Tuli ketimbang rungu. Karena menurut mereka kata Tuli lebih menunjukkan identitas mereka yang memiliki cara komunikasi berbeda.

Bukan semata-mata tidak bisa mendengar atau bicara saja. 2. Bahasa isyarat yang digunakan oleh Tuli berbeda setiap daerahnya. 3. Banyak tokoh ternama mulai dari peneliti hingga figur publik yang juga seorang penyandang disabilitas. Seperti; Hellen Keller — Ilmuwan, Stevie Wonder — Penyanyi Internasional, dan masih banyak lagi.

4. Pertandingan atau cabang olahraga yang khusus disabilitas disebut Paralympic. Pada Olimpiade Paralympic di Brazil tahun lalu, Cabang Tenis Lapangan Kursi Roda dimenangkan oleh Shingo Kunieda asal Jepang. 5. Beberapa penyandang disabilitas mayoritas disabilitas fisik memodifikasi kendaraan mereka sesuai kebutuhan mereka. Seperti sepeda motor roda tiga maupun sespan. Informasi di atas adalah sebagian kecil dari dunia disabilitas yang sangat beragam dan belum banyak diketahui orang.

Dengan segala keterbatasan dan hambatan yang penyandang disabilitas hadapi, mereka mampu untuk mengaktualisasikan kehidupan mereka dalam bermasyarakat. Tinggal bagaimana kita, yang juga bagian dari masyarakat yang sama tempat di mana mereka hidup, mampu mendukung terciptanya akses yang ramah disabilitas, dan mewujudkan kesempatan yang setara untuk semua.
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Pengertian Disabilitas Istilah “Disabilitas” mungkin kurang akrab  di sebagian masyarakat Indonesia berbeda dengan “Penyandang Cacat”, istilah ini banyak yang mengetahui atau sering digunakan di tengah masyarakat.

 Istilah Disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia berasal dari serapan kata bahasa Inggris disability (jamak: disabilities) yang berarti cacat atau ketidakmampuan. Namun, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Disabilitas” belum tercantum.

Disabilitas adalah istilah baru pengganti Penyandang Cacat.  Penyandang Disabilitas dapat diartikan individu yang mempunyai keterbatasan fisik atau mental/intelektual. Mengapa perlu perubahan istilah?

Dalam UU RI No. 4 tahun 1977 disebutkan tentang "Penyandang Cacat". Penyandang cacat  seakan subyek hukum yang dipandang kurang diberdayakan.

Istilah “Cacat” berkonotasi sesuatu yang negatif. Kata “penyandang” memberikan predikat kepada seseorang dengan tanda atau label negatif yaitu cacat pada keseluruhan pribadinya. Namun kenyataan bisa saja seseorang penyandang disabilitas hanya mempunyai kekurangan fisik tertentu, bukan disabilitas secara keseluruhan. Untuk itu istilah "cacat"  dirubah menjadi "disabilitas" yang lebih berarti ketidakmampuan secara penuh.

Untuk lebih jelasnya dapat dibaca di artikel Disabilitas dan Pandangan Masyarakat. Sumber: Lentera Kecil{/INSERTKEYS}

Apa Itu Disabilitas?




2022 www.videocon.com