Cara wik wik yang benar menurut islam

cara wik wik yang benar menurut islam

Dalam masyarakat Indonesia, selain dari kata agama, dikenal pula kata din (dari bahasa Arab) dan kata religi dari bahasa Eropa. Dalam masyarakat Indonesia, selain dari kata agama, dikenal pula kata din (dari bahasa Arab) dan kata religi dari bahasa Eropa. • Agama berasal dari kata Sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata, a berarti tidak dan gam berarti pergi, jadi tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun-temurun.

Agama memang mempunyai sifat yg demikian. Ada lagi pendapat yg mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci.

Selanjutnya, dikatakan lagi bahwa gam berarti tuntunan. • Din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Agama memang membawa peraturan-peraturan yg merupakan hukum, yg harus dipatuhi orang. • Religi berasal dari bahasa Latin. Menurut satu pendapat asalnya ialah relegere yg mengandung arti mengumpulkan, membaca.

Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan. Ini terkumpul dalam kitab suci yg harus dibaca. Tetapi menurut pendapat lain kata itu berasal dari religare yg berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia Agama diberi definisi-definsi sebagai berikut : 1.

cara wik wik yang benar menurut islam

Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi. 2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia. 3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia. 4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.

5. Suatu sistem tingkah laku ( code of conduct) yang berasal dari suatu kekuatan gaib. 6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini cara wik wik yang benar menurut islam pada suatu kekuatan gaib. 7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia. 8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul. Unsur-unsur penting yang terdapat dalam agama ialah : 1.

Kekuatan gaib : Manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong. Sehngga manusia merasa harus mengadakan hubungan baik dengan kekuatan gaib yang dapat diwujudkan dengan mematuhi perintah dan larangan kekuatan gaib ini. 2. Keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud.

3. Respons yang bersifat emosionil dari manusia. Respons itu bisa mengambil bentuk perasaan takut, seperti yang terdapat dalam agama-agama primitif, atau perasaan cinta, seperti yang terdapat dalam agama-agama monoteisme. 4. Paham adanya yang kudus ( sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu. Agama-agama yang terdapat dalam masyarakat, yaitu Agama Dinamisme • Agama dinamisme mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius.

Dalam faham ini ada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari. Kekuatan gaib itu tidak dapat dilihat, tetapi yang dapat dilihat hanyalah efek atau bekas dan pengaruhnya. Jika efek tersebut hilang, maka benda tersebut tidak dihargai lagi.

Dalam bahasa ilmiah, kekuatan gaib itu, disebut mana dan dalam bahasa Indonesia tuah atau sakti. • Tujuan beragama di sini ialah mengumpulkan mana sebanyak mungkin. • Dalam masyarakat primitif terdapat dukun atau ahli sihir, dan mereka inilah yg dianggap dapat mengontrol dan menguasai mana yg beraneka ragam itu. Agama animisme • Animisme dalah agma yang mengajarkan ahwa tiap-tiap benda baik yang bernyawa maupun yang tidak memiliki roh.

Kepada roh serupa ini diberi sesajen untuk menyenangkan hati mereka. Roh nenek moyang ini juga menjadi objek yng ditakuti dan dihormati. • Tujuan beragama di sini ialah mengadakan hubungan baik dengan roh-roh yg ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka. Membuat mereka marah harus dijauhi.

Kemarahan roh-roh itu akan menimbulkan bahaya dan malapetaka. • Yang dapat mengontrol roh-roh itu sebagai halnya dalam agama dinamisme ialah juga dukun atau ahli sihir. Agama Politeisme • Politeisme mengandung kepercayaan pada dewa-dewa.

Dalam gama ini hal-hal yg menimbulkan perasaan takjub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh roh-roh tapi dewa-dewa. Dewa-dewa dalam politeisme telah mempunyai tugas-tugas tertentu. • Tujuan hidup beragama di sini bukanlah hanya memberi cara wik wik yang benar menurut islam dan persembahan-persembahan kepada dewadewa itu, tetapi juga menyembah dan berdoa pada mereka untuk menjauhkan amarahnya Henoteisme • Henoteisme mengakui satu tuhan untuk satu bangsa, dan bangsa-bangsa lain mempunyai tuhannya sendiri-sendiri.

Henoteisme mengandung faham tuhan nasional. • Agama ini berkembang dalam masyarakat yahudi. Monoteisme • Monoteisme ialah bahwa dalam agama akhir ini Tuhan tidak lagi merupakan Tuhan nasional tetapi Tuhan internasional, Tuhan semua bangsa di dunia ini bahkan Tuhan Alam Semesta. • Tujuan hidup dalam agama monoteisme bukan lagi mencari keselamatan hidup material saja, tetapi juga keselamatan hidup kedua atau hidup spirituil.

Dalam istilah agama disebut keselamatan dunia dan keselamatan akhirat. • Tuhan dalam monoteisme tidak dapat dibujuk-bujuk dengan saji-sajian.

Kepada Tuhan sebagai pencipta yg mutlak otang tak bisa kecuali menyerahkan diri, menyerahkan diri kepada kehendak-Nya. Dan sebenarnya inilah arti kata Islam yg menjadi nama agama yg diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Islam ialah menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Dengan menyerahkan diri ini, yaitu dengan patuh kepada perintah dan larang-larangan Tuhanlah, orang dalam monoteisme mencoba mencari keselamatan.

Perbedaan besar antara agama-agama primitif dan agama monoteisme. • Dalam agama-agama primitif manusia mencoba menyogok dan membujuk kekuasaan supernaturil dengan penyembahan dan saji-sajian supaya mengikuti kemauan manusia, sedang dalam monoteisme manusia sebaliknya tunduk kepada kemauan Tuhan. Agama monoteis, yaitu antara lain adalah: • Kristen Kristen, berhubungan dengan ajaran tentang dosa warisan yang melekat pada diri manusia, seseorang tidak akan dapat menjadi suci selama ia tidak menerima Kristus sebagai juru selamat yang mengorbankan diri diatas salib untuk menebus dosa manusia.

Jalan untuk memupuk dan memelihara kontak itu ialah dengan berdoa, membaca Al-kitab, ke Gereja, merayakan hari-hari suci dan lainnya yang merupakan jalan untuk senantiasa berada dekat dan teringat pada Tuhan.

• Hindu Agama Hindu atau Hindu Dharma dengan ajarannya tentang Tuhan Yang Maha Esa memandang bahwa roh manusia adalah percikan dari Sang Hyang Widhi. Kebahagiaan manusia ialah bersatu dengan Sang Hyang Widhi yang disebut moksa.

Cara mengadakan hubungan dengan Tuhan untuk mencapai kesucian jiwa ialah sembahyang di Pura atau di rumah, merayakan hari-hari suci dan sebagainya. • Islam Islam juga mengajarkan bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Orang haruslah berusaha supaya mempunyai roh bersih lagi suci dan senantiasa berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat di dunia.

Jalan untuk membersihkan dan mensucikan roh ialah ibadat yang diajarkan Islam, yaitu shalat, puasa, zakat dan haji. Tujuan dari ibadat selain dari membersihkan dan mensucikan diri, ialah juga untuk menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat.

Tujuan hidup beragama dalam agama monoteis: • Membersihkan diri dan mensucikan jiwa dan roh.

cara wik wik yang benar menurut islam

• cara wik wik yang benar menurut islam diri seluruhnya kepada Tuhan Pencipta semesta alam dengan patuh pada perintah dan larangannya, agar dengan demikian manusia mempunyai roh dan jiwa bersih dan budi pekerti luhur. Agama-agama monoteisme mempunyai ajaran-ajaran tentang norma akhlak. Agama tanpa ajaran moral tidak akan berarti dan tidak akan dapat merubah kehidupan manusia. Tidak mengherankan agama selalu diidentifikasikan dengan moralitas.

Agama-agama yang dimasukkan ke dalam kelompok agama monoteisme, Islam, Yahudi, Kristen dengan kedua golongan Protestan Katholik yang terdapat di dalamnya, dan Hindu. Ketiga Agama tersebut pertama merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak masuk dalam rumpun ini.

Di antara ketiga agama serumpun ini yang pertama datang ialah agama Yahudi dengan Nabi-nabi Ibrahim, Ismail, lshaq, Yusuf dan lain-lain; kemudian agama Kristen dengan Nabi Isa, yang datang untuk mengadakan reformasi dalam agama Yahudi.

Dan terakhir datang agama Islam dengan Nabi Muhammad s.a.w. Ajaran yang beliau bawa ialah ajaran yang diberikan kepada Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan lain-lain dalam bentuk murninya. Sebagai diterangkan oleh Al-Qur-an, ajaran murni itu ialah Islam, menyerahkan diri seluruhnya kepada kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Mengenai hal ini Surat Ali lmran 19 mengatakan: Agama (yang benar) dalam pandangan Tuhan ialah Islam (menyerahkan diri kepada Nya). Dan mereka yang diberi Kitab bertikai hanya setelah pengetahuan datang kepada mereka; (dan mereka bertikai) karena dipengaruhi perasaan dengki.

Apa yang dimaksud dengan Islam dijelaskan oleh Surat al-Nisa' ayat 125 : Siapa mempunyai agama yang lebih baik dari orang yang menyerahkan diri seluruhnya kepada Tuhan dan berbuat baik serta mengikuti agama Ibrahim, (agama) yang sebenarnya? Nabi Ibrahim menyerahkan diri kepada Tuhan dan beragama Islam disebut Surat al- Baqarah ayat 131 : Ketika Tuhannya berkata kepadanya (Ibrahim) : "Serahkan dirimu'; ia menjawab : "Aku menyerahkan diriku kepada Tuhan semesta alam' : Surat Ali Imran ayat 67 : Bukanlah Ibrahim seorang Yahudi, bukan pula seorang Kristen, tetapi adalah seorang yang benar (dalam keyakinannya), seorang muslim.

Dan bukanlah ia masuk dalam golongan kaum polities. Surat Ali Imran 84 mengatakan bahwa bukan hanya agama yang didatangkan kepada Nabi Ibrahim, tetapi juga agama yang didatangkan kepada Nabi-nabi lain adalah. sama dengan agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad : Katakanlah : “Kami percaya kepada apa yang diturunkan kepada kami, kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail cara wik wik yang benar menurut islam suku-suku bangsa lain dan kepada apa yang diturunkan kepada Musa, Isa serta Nabi-nabi lain dari Tuhan Mereka.

Kami tidak mengadakan perbedaan antara mereka dan kami menyerahkan diri kepada Nya”. Dari ayat-ayat di atas jelaslah kelihatan bahwa agama-agama Yahudi, Kristen dan Islam adalah satu asal. Tetapi perkembangan masing-masing dalam sejarah mengambil jurusan yang berlainan. Dan diantara agama monoteis, hanya Islamlah yang memelihara faham monoteisme yang murni. Monoteisme Kristen dengan faham Trinitasnya dan monoteisme Hindu dengan faham politeisme yang banyak terdapat di dalamnya tidak dapat dikatakan monoteisme murni.

tirto.id - Hewan ternak merupakan binatang yang halal dikonsumsi umat Islam. Berkaitan dengan hal itu, Islam mengatur mengenai ketentuan menyembelih hewan tersebut sesuai syariat.

Lantas, apa doa, adab, dan tata cara penyembelihannya agar daging hewan berkah dan pengonsumsinya menuai pahala di sisi Allah SWT? Secara umum, ajaran Islam menyatakan bahwa setiap hewan yang dikonsumsi (kecuali ikan dan belalang) harus disembelih dengan baik dan benar.

Binatang ternak yang tidak disembelih sesuai syariat atau tidak disebut nama Allah saat disembelih terlarang dikonsumsi.

cara wik wik yang benar menurut islam

Hal itu tertera dalam firman Allah SWT dalam surah Al-An'am ayat 121: "Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan .

" (QS. Al-An'am: [6]: 121). Menyembelih hewan yang benar adalah dengan memutuskan saluran napas dan saluran makanan beserta urat nadi pada leher hewan dengan senjata tajam, selain gigi atau tulang. Penyembelihan hewan dapat dilakukan dengan dua cara: tradisional atau mekanik (modern). Penyembelihan tradisional adalah menggunakan cara sederhana, misalnya pisau atau parang tajam.

Sementara itu, penyembelihan secara mekanik adalah menggunakan mesin pemotong hewan. Biasanya, penyembelihan mekanik atau modern dilakukan di pabrik atau usaha peternakan besar untuk mempersingkat waktu. Bagaimanapun tata cara penyembelihannya, ketentuannya harus sesuai syariat Islam agar daging binatang ternak itu halal dikonsumsi. Dalam Islam, ketentuan menyembelih hewan terbagi menjadi empat, yakni ketentuan orang yang menyembelih, ketentuan hewan yang akan disembelih, ketentuan alat yang digunakan untuk menyembelih, dan tata cara saat penyembelihan tersebut.

Baca juga: • Cara Menyembelih Ayam agar Halal untuk Dikonsumsi Menurut Islam • Umur Minimal Kambing Kurban, Syarat, Tata Cara Menyembelih dan Doa A. Ketentuan Orang yang Menyembelih Hewan Berikut ini sejumlah ketentuan bagi penyembelih hewan yang harus terpenuhi: 1.

Penyembelih beragama Islam atau ahli kitab Penyembelih hewan harus beragama Islam atau ahli kitab. Dalam hal ini, ahli kitab yang dimaksud adalah orang-orang beragama Nasrani (Kristen dan Protestan) serta Yahudi. Selain dari ahli kitab, penganut agama lainnya tidak halal dimakan sembelihan mereka. Hal itu tergambar dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 5: "Makanan [sembelihan] Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka," (QS.

Al-Maidah [5]:5) 2. Penyembelih adalah orang yang berakal Orang yang menyembelih hewan tersebut dalam kondisi berakal, tidak gila, mabuk, atau dalam keadaan lingling. 3. Penyembelih adalah orang yang sudah balig atau tamyiz Orang yang menyembelih hewan adalah sosok yang sudah bisa membedakan hal baik dan buruk atau tamyiz.

Alangkah lebih baik lagi, ia sudah balig. 4. Penyembelih harus menyembelih dengan sengaja Sosok penyembelih melakukan sembelihan dengan sengaja, bukan dalam keadaan mabuk atau kondisi terpaksa. 5. Penyembelih harus menyebut nama Allah SWT ketika menyembelih Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-An'am ayat 121 di atas, penyembelih harus menyebut nama Allah SWT ketika menyembelih.

Untuk kesempurnaan penyembelihan, ia dianjurkan membaca doa menyembelih hewan sebagai berikut: بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Bacaan latinnya: "Bismillahi wallahu akbar" Artinya: “Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar,” (HR. Muslim) B. Ketentuan Hewan yang Disembelih Ketentuan hewan yang disembelih haruslah dalam keadaan hidup, serta hewan itu tergolong hewan yang halal dikonsumsi.

1. Hewan dalam keadaan masih hidup Hewan yang disembelih harus dalam kondisi hidup dan belum menjadi bangkai. Jika seseorang menemukan hewan yang terluka, tercekik, terpukul, terjatuh, ditanduk oleh hewan lain atau yang diserang hewan buas, tetapi hewan tersebut belum mati, dianjurkan untuk segera menyembelihnya sehingga hewan tersebut hukumnya halal dimakan.

"Diharamkan bagimu [memakan] bangkai, darah, daging babi, dan [daging] hewan yang disembelih bukan atas [nama] Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam hewan buas, kecuali yang sempat kamu sembelih," (QS.

Al-Māidah [5]:3). cara wik wik yang benar menurut islam. Hewan tersebut termasuk jenis hewan yang halal Hewan yang akan disembelih harus hewan yang masuk kategori hewan halal, baik dari segi zatnya (bukan anjing, babi, dan sebagainya) atau cara memperolehnya (bukan hasil curian atau taruhan judi).

Dalam hal ini, apabila hewan itu adalah hewan haram, meskipun sudah mengikuti tata cara penyembelihan yang benar tetap haram dikonsumsi. C. Ketentuan Alat yang Digunakan Menyembelih Ketentuan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah alat-alat yang akan digunakan menyembelih. Setidaknya, alat yang dipakai menyembelih hewan ternak mesti dalam kondisi tajam dan tidak terbuat dari tulang, kuku, atau gigi.

1. Alat tajam dan dapat melukai Alat yang tajam dimaksudkan agar hewan tidak terlalu tersiksa dan memudahkannya untuk mati. Islam mengajarkan agar kita memperlakukan hewan dengan baik, termasuk ketika menyembelihnya. Alat yang tajam biasanya terbuat dari besi, baja, bambu, atau alat apa pun yang bisa ditajamkan, kecuali tulang, kuku, atau gigi. 2. Tidak terbuat dari tulang, kuku, atau gigi Alat yang digunakan menyembelih tidak terbuat dari tulang, kuku, atau gigi.

Hal itu tergambar dalam hadis yang diriwayatkan Raft’ bin Khadis bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Segala sesuatu yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah SWT ketika menyembelihnya, dibolehkan untuk dikonsumsi, dengan ketentuan alat yang digunakan bukan gigi dan kuku," (H.R.

Bukhari). D. Ketentuan Proses Menyembelih Yang patut diperhatikan dalam proses penyembelihan adalah hal-hal yang disunahkan dan dimakruhkan selama menyembelih hewan ternak. Selain itu, agar proses penyembelihan menjadi sah, ketentuan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut. • Penyembelihan dilakukan pada bagian leher hewan. • Ketika menyembelih, pastikan sudah memotong dan memutuskan tenggorokan (saluran pernafasan), saluran makanan, dan dua urat leher yang ada di tenggorokan.

Selanjutnya, ada juga beberapa sunah dalam penyembelihan hewan, yaitu: • Mengasah alat menyembelih setajam mungkin. • Hewan yang disembelih diihadapkan ke kiblat, digulingkan ke sebelah kiri rusuknya, supaya mudah bagi orang yang menyembelihnya.

• Menyembelih pada bagian pangkal leher hewan. Hal itu dimaksudkan agar mempercepat proses kematian cara wik wik yang benar menurut islam yang disembelih.

• Mempercepat proses penyembelihan agar hewan tidak tersiksa. Sementara itu, hal-hal yang dimakruhkan dalam proses penyembelihan adalah sebagai berikut: • Menyembelih dengan alat tumpul. • Memukul hewan sebelum disembelih. • Mulai menyembelih dari bagian belakang leher.

• Memutuskan leher hewan atau mengulitinya sebelum benar-benar mati. Tata Cara dan Adab Menyembelih Hewan Ternak Berikut ini adab-adab dan tata cara menyembelih hewan sesuai syariat Islam: • Menyiapkan lubang penampung darah. • Hewan yang akan disembelih sebaiknya dihadapkan kiblat. Posisikan lambung kiri hewan berada di bawah. • Pegang kaki hewan kuat-kuat atau diikat.

Kepala hewan, khususnya bagian leher diarahkan tempat penampung darah yang sudah disiapkan. • Berniat menyembelih dan membaca basmalah dan takbir (doa menyembelih hewan di atas). • Mulai menyembelih hewan sampai tenggorokan, saluran makanan, dan urat lehernya terputus. Adab dan tata cara pembelihan hewan di atas berdasarkan hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik: "Nabi SAW berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan dibanding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut," (H.R.

Bukhari).
Islam sebagai agama yang diturun akan Allah SWT, telah mengatur hidup umatnya dengan dasar hukum yang jelas, yaitu Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. Ini lah cara Allah menjadikan agama Islam sebagai pegangan manusia untuk mencapai tujuan hidup menurut islam.

Agar manusia yang ditugaskan sebagai khalifah di muka bumi bisa menjaga dan merawat kehidupan yang selamat dunia dan akirat serta tercapai tujuan penciptaan manusia dalam islam. Alquran dan Sunnah adalah 2 dasar utama dari sumber syariat Islam itu sendiri. Sesuai berkembangnya zaman, waktu pun berlalu, maka permasalahan umat pun semakin complicated.

makanan halal, minuman halal dalam islam, makanan haram menurut islam, hukum pernikahan, dan fiqih muamalah jual beli dalam islam sudah berkembang dan semakin komplit.

Hal tersebut tidak dijelaskan dalam kedua sumber tersebut secara jelas dan gamblang. Melihat kasus ini maka perlu adanya peranan para ulama untuk mengkaji lebih dalam makna yang tersimpan dalam Alquran sebagai cara mencari jalan keluar dari hukum Islam. Selain dua dasar utama dari hukum Islam tadi ( Alquran dan Sunah,) maka ada cara lain yang bisa menjadi sumber hukum dalam Islam yaitu Ijtihad. Ijtihad ini mencakup beberapa macam cara yaitu : ijtima’, qiyas, istihsan, isthshab, istidlal, maslahatul murshalah, urf, dan zara’i.

Baca juga : sumber pokok ajaran islam Al-qur’an Secara bahasa Alquran berasal dari Bahasa Arab dengan asal kata qara a– yaqri u- quranan, yang artinya bacaan.

Sedangkan secara istilah Alquran adalah: perkataan Allah yang tertulis di Lahul Mahfuz diturunkan melalui Malaikat Jibril pada Nabi Muhammad SAW secara mutawatir, yang ditulis dalam bentuk mushaf, diawali oleh surat Al Fatihah dan diakiri dengan Surat An Nass dan merupakan pahala membacannya.

Baca juga: manfaat membaca alquran setiap hari dan hukum membaca alquran saat haid Sebagaimana Allah berfirman “Dan sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Rab semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin (Malaikat Jibril )kedalam hati mu ( Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang dari orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa arab yang jelas”.

(QS. Asy Syu’ara ayat 192-195 ) Alquran adalah dasar utama dari hukum Islam, karena memang segala sesuatu dalam Islam atas izin dan ketetapan Allah.

Alquran adalah mushaf yang dijamin kebenarannya oleh Allah, yang tidak mungkin dibuat oleh manusia manapun. Hal ini tersirat dalam tantangan Allah terhadap kaum Kafir Quraisy untuk membuat perumpamaan Alquran sebagaimana Allah berfirman: “ Dengan demikian hendaklah mereka mengatakan kalimat yang semisal dengan Alquran itu jika memang mereka cara wik wik yang benar menurut islam orang-orang yang benar”.

(QS. At Thur ayat 33-34) Dalam hadist Rasulullah SAW bersabda : “ Dari Ali Bin Abi Thalib RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : Aku telah meninggalkan ditengah kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan pernah tersesat.kedua perkara itu adalah kitab Allah dan juga Sunnah Nabi-Nya”.

(HR. Malik, dalam Almuwatta’ no 3338 dan Al Hakim dalam Mustadra’ no 319 dengan sanad hasan) Dengan demikian tidak ada keraguan lagi pada Alquran sebagai mukjizat dari Allah sebagai petunjuk yang benar pada manusia. Baca juga: hukum bacaan alquran dan keajaiban alquran di dunia As-sunah Sunah aadalah dasar dari hukum Islam yang kedua setelah Alquran. Kebenaran sunah sama dengan Alquran, karena setiap apa yang berasal dari Nabi juga merupakan wahyu dari Allah SWT.

Secara pengertian sunah menurut bahasa adalah kebiasaan yang diikuti. Sedangkan pengertian secara istilah Sunnah adalah: perkataan, perbuatan, dan takrir Nabi SAW yang berupa ketetapan, persetujuan dan diamnya Nabi Muhammad SAW terhadap sesuatu hal atau perbuatan sahabat yang cara wik wik yang benar menurut islam.

Ada beberapa fungsi sunah terhadap Alquran sebagai dasar dari hukum Islam yaitu : • Sunah sebagai penjelas Alquran • Pengkususan ayat yang umum • Membatasi makna Alquran yang bersifat mutlak • Memperkuat hukum yang ditentukan Alquran • Menetapkan hukum yang tidak ditetapkan dalam Alquran Kelima fungsi tersebut berkaitan dengan sifat Alquran yang diturunkan pada Nabi SAW, ada yang bersifat mutashabihat dan ada yang bersifat muhkamat.

Artinya ayat-ayat Alquran ada yang masih butuh penjelasn dan perincian lebih lanjut tentang hukum dan perintah-Nya. Sebagai contoh, perintah sholat, zakat, puasa dan haji, dalam Alquran hanya menjelaskan secara umum saja, namun bagaimana cara dan pelaksanaannya diterangkan dan dicontohkan dalam sunah rasulullah SAW. Baca juga: fungsi hadist dalam islam Ijtihad Selain dari dua sumber hukum tersebut di atas.

Maka dasar hukum Islam juga Bisa diambil dengan cara ijtihad. Pengertian ijtihad secara bahasa adalah: bersungguh-sungguh, atau mencurahkan seluruh kemampuan. Ijtihad dalam hukum islam dilakukan terhadap hukum-hukum syara’ yang belum ada dalil qath’I serta hukum yang didasarkan pada dalil-dalil yang bersifat zhanni, serta hukum-hukum yang belum ada nashnya serta ijma’ para ulama.

Ijtihad adalah suatu jalan yang ditempuh untuk menentukan hukum Islam. Untuk melakukan ijtihad ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para mujtahid (orang yang berijtihad), agar bisa menetapkan hukum tersebut. Diantara syarat berijtihad adalah: • Baligh, berakal sehat dan beriman kepada Allah • Kuat ingatanya (dhabit) • Memahami Alquran • Mengetahui tujuan hukum Islam dan kaidah hukum Islam • Menguasai Bahasa Arab, Ilmu Ushul Fiqhi, Ilmu Mantiq dan Logika • Mengetahui asal perkara • Tidak terdapat dalil qath’i bagi kasus yang diijtihadkan • Memelihara kesholehan dan ketakwaan pada Allah SWT • Mengetahui tempat kilafiyah Setelah semua kriteria di atas terpenuhi, maka barulah seorang ulama boleh dan layak menentukan hukum suatu perkara.

Berdasarkan dari pengertian ijtihad itu sendiri adalah pengerahan usaha untuk menentukan hukum dari perkara yang tidak ada dalil qath’i nya, maka ada beberapa bentuk dari ijtihad tersebut. Bentuk ijtihad ini adalah cara yang bisa dilakukan untuk menetapkan sebuah hukum yaitu: • Ijtima’– Ijtima’ ulama adalah kesepakatan para ulama dalam menentukan sebuah hukum dari suatu perkara yang diterangkan oleh Alquran dan Hadist setelah wafatnya Rasulullah SAW dengan cara musyawarah.

• Qiyas – Adalah menetapkan suatu hukum atas suatu perkara yang belum ada dalilnya berdasarkan persamaan ilat atau sama permasalahannya. • Ishtihsan – Adalah penetapan hukum suatu perkara yang tidak dijelaskan dalam Alquran dan sunah berdasarkan pada kebaikan bersama demi keadilan. • Istishab – Menetapkan hukum terhadap suatu perkara dengan cara melanjutkan hukum yang telah ada, sampai ditetapkannya dalil lain yang dapat mengubah kedudukan hukum tersebut.

• Istidhlal – Menetapkan suatu hukum terhadap suatu permasalahan yang tidak ada dalilnya dalam Alquran dan Hadist, namun perkara tersebut sudah menjadi adat ( kebiasaan ) masyarakat. • Mashlahatur Murshalah – Menetapkan hukum terhadap suatu perkara berdasarkan kemashlahatan atau kebaikan umat dengan maksud menghindari mudharat.

• U’rf– Dalam bahasa artinya adat. Secara istilah adalah penetapan hukum berdasarkan adat istiadat yang dianggap baik dan tidak menentang sumber hukum yang lebih tinggi. • Zara’I – Pekerjaan yang dilakukan untuk medapatkan kemashlahatan, dengan kata lain menghilangkan kemudharatan. Itulah dasar-dasar hukum Islam yang bisa menjadi acuan dalam menetapkan kedudukan suatu permasalahan umat.

Dasar tersebut tetap bersumber dari Alquran dan Hadist serta pertimbangan lain yang tidak melanggar aturan Allah SWT. Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Islam adalah agama samawi, yang datang dari Allah Ta’ala melalui lisannya yang mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan agama yang berasal dari manusia, malaikat atau makhluk lainnya.

Sehingga, ketika seseorang telah mengikrarkan keislamannya, maka setiap keyakinan, ucapan dan perbuatannya, haruslah sesuai dengan yang diajarkan dan disyariatkan oleh agama Islam.

Namun kenyataannya, ternyata banyak sekali kaum muslimin yang tidak benar dalam menjalankan agama Islam. Mereka meyakini apa yang tidak sesuai dengan Islam, mereka mengucapkan perkataan yang menyelisihi Islam dan mereka berbuat sesuatu yang dapat mengeluarkan dirinya dari keislaman. Lantas, bagaimana cara beragama yang benar yang disyariatkan oleh Islam? Semoga pembahasan ringkas berikut dapat menerangkannya. Islam adalah Agama Tauhid Inti dari ajaran agama Islam adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatan-Nya, peribadatan kepada-Nya dan dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia.

Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya) “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56), yakni agar kita mengesakannya di dalam beribadah kepada-Nya. Maknanya adalah ikhlas dalam beribadah, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya) “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2) “Padahal mereka tidak disuruh keculi supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS.

Al-Bayyinah: 5) “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu mengeluarkan dengan sebab air hujan tersebut buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian.

Maka dari itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam keadaan kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22) Dalil-dalil di atas dan yang semakna dengannya, sangat jelas memerintahkan kepada kita sebagai hamba Nya agar mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah. Dan setiap bentuk peribadatan yang ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, baik berupa pohon, batu, laut, kuburan atau selainnya, maka ia telah masuk ke dalam kesyirikan dan pelakunya terancam dengan neraka.

Allah berfirman (artinya) “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan seseuatu dengan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72) Walaupun tujuan mereka menyembah kuburan atau selainnya itu untuk beribadah kepada Allah, atau sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Maka semua itu telah dibantah oleh Allah sendiri dalam firman-Nya, dan disebutkan bahwa perbuatan tersebut sebagai sebuah kekufuran. Sebagaimana firman Allah (artinya) “Dan orang-orang yang mengambil wali (pelindung) selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kufur.” (QS.

Az Zumar: 3) Karenanya, seseorang dikatakan telah berislam dengan benar jika ia telah menghilangkan sekutu bagi Allah dan ikhlas di dalam beribadah kepada-Nya. Dalam Meyakini, Berucap dan Berbuat Haruslah Berdasarkan Ilmu Sumber ilmu dan pedoman manusia di dunia adalah Al-Quran dan hadits Rasulullah. Seseorang yang telah beragama Islam dengan cara yang benar, adalah seseorang yang mencocoki setiap keyakinannya, ucapannya dan perbuatannya dengan Al-Quran dan hadits Nabi.

Karena, setiap perbuatan ibadah yang tidak ada tuntunannya dalam Al-Quran dan hadits atau bahkan menyelisihi keduanya, maka ia telah masuk kepada hal-hal yang dilarang dalam syariat, dan perbuatannya dihukumi sebagai perbuatan yang sia-sia.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintah kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim) Ketika seseorang masuk ke dalam agama Islam, maka konsekuensinya ia wajib menerima, mengambil dan mengikuti sumber ajarannya dari Al-Quran dan hadits Nabi yang shahih, bukan mengambil dari nenek moyang, seseorang yang dimuliakan atau selainnya. Allah berfiman (artinya) “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.

Amatlah sedikit kalian mengambil pelajaran (darinya).” (QS. Al-A’raaf: 3) Allah juga berfirman (artinya) “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Hujuraat: 1) Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Saya meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat sesudahnya (yaitu) Al-Quran dan Sunnahku dan keduanya tidak akan bercerai sampai keduanya menemuiku di telaga.” (HR.

HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi, Hasan) Karenanya, mengagungkan nenek moyang, adat istiadat atau kebiasaan yang sudah turun menurun dari tahun ke tahun, ketika ajaran tersebut menyelisi apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka wajib untuk ditinggalkan dan tidak boleh dikerjakan. Allah Ta’ala berfirman (artinya) “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.

kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nisa: 59) Memahami dan mengamalkan Al-Quran dan Hadits Nabi sebagaimana yang Dipahami dan diamalkan para Sahabat Jika kita perhatikan kaum muslimin pada saat ini, setiap mereka memahami suatu dalil di dalam Al-Quran atau hadits nabi berdasarkan pemahamannya masing-masing.

Sehingga tidak dapat diketahui, manakah dari pemahaman tersebut yang benar dan mana yang salah. Akibatnya adalah perselisihan yang berujung perpecahan tidak dapat dihindari.

Padahal Rasulullah telah menuntunkan kepada kita, bahwa di dalam memahami Al-Quran dan hadits harusnya sebagaimana yang dipahami para sahabat, bukan pemahamannya masing-masing. Allah berfirman (artinya) “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100) Ayat di atas menyebutkan bahwa orang-orang yang diridhoi oleh Allah di dalam beragama adalah para sahabat (Muhajirin dan Anshar) dan orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik. Sehingga orang-orang yang menyelisihi cara beragamanya para sahabat, maka ia telah terjerumus ke dalam kesesatan.

Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang yang menyelisihi jalan mereka (para sahabat) dengan firman-Nya (artinya) “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia larut dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115) Yang dimaksudkan dengan orang-orang mukmin ketika ayat ini turun adalah para sahabat.

Barangsiapa yang menyelisihi jalan mereka akan terancam kesesatan dan jahannam. Dengan demikian, ketika seseorang ingin mengetahui apa maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Quran dan hadits, maka lihatlah terlebih dahulu bagaimana perkataan dan pemahaman para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Sehingga perpecahan tidak akan terjadi dan kesesatan tidak akan tersebar luas di tengah masyarakat. Bukan memahami dalil tersebut dengan akalnya atau hawa nafsunya masing-masing.

Sebagaimana yang banyak dipraktikkan baik oleh para intelektual agama atau awamnya. Mengikuti Rasul, Menjauhi Perpecahan dan Fanatisme Buta Suatu ketika, Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ditanya, “Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”. Maka beliau menjawab, “Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat al-Ishbah, hal. 86) Itulah seharusnya sikap seorang muslim. Ketika terjadi perselisihan di cara wik wik yang benar menurut islam hukum, pendapat atau madzhab, maka ia tidak terlalu fanatik terhadap salah satu madzhab atau pendapat, namun mengembalikannya kepada Al-Quran dan hadits nabi.

Karena dengan demikianlah, perpecahan dapat dicegah dan kejayaan Islam akan datang. Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Dan cara wik wik yang benar menurut islam kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan, dan untuk mereka itulah siksaan yang sangat pedih.” (QS.

Ali Imran: 105) Perpecahan adalah kunci kekalahan dan mengikuti rasul adalah kunci persatuan untuk menuju kejayaan Islam. Kesimpulan Keempat hal di atas adalah dasar di dalam beragama Islam yang benar yang wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakannya.

Sungguh indah ketika suatu masyarakat dapat mengamalkan keempat hal ini. Dengannya, kesyirikan dapat dihilangkan, setiap individu menjadi orang yang amanah dan selalu berhati-hati di dalam beramal serta bergaul dengan sesama. Tidak ada rasa dengki dan hasad terhadap orang lain, munculnya rasa aman dalam bermasyarakat, sikap toleran dan saling tolong menolong satu dengan yang lainnya, sehingga kebaikan-kebaikan pun akan muncul ketika syariat Islam ditegakkan.

Karenanya, marilah kita bersama-sama berusaha untuk beragama yang benar, dengan menerapkan dasar beragama ini, sehingga Islam dapat bangkit dari keterpurukan dan kita termasuk orang-orang yang diridhoi Allah Ta’ala dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Aamiin Penulis : Rian Permana, ST (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta) Murojaah : Ust Abu Salman, BIS Pertanyaan : Sebutkan dalil dari Al Quran yang menunjukkan wajibnya memahami dan mengamalkan Al Quran dan Hadits Nabi sebagaimana yang dipahami dan diamalkan para sahabat?
• • Home • Komunikasi • Jurnalistik • Media • Humas • Public Speaking • Bahasa • Bahasa Jurnalistik • Bahasa Indonesia • Blogging • SEO • Adsense • Template • WordPress • Blogger • Links • Blog Romeltea • Romeltea Media • Seni Komunikasi • Katalisnet • RKSB Maja FM • Nuansa Cendekia • Reaktor • Indeks • Dalam beberapa hari terakhir ini saya mengedit tulisan keislaman.

Tiba-tiba saya menghadapi masalah penulisan kata muslim, antara menggunakan huruf kapital (Muslim) dan huruf kecil (muslim). Selama ini saya menuliskan kata muslim dalam huruf kapital, Muslim. Entah kenapa haru sekarang saya ngeh untuk memastikan penulisan kata muslim yang benar (baku) dalam bahasa Indonesia. Saya pun membuka lansiran berita Google dengan kata kunci muslim. Hasilnya, media massa kita tidak konsisten dalam penulisan kata muslim, antara menggunakan huruf kapital ( Muslim) dan huruf kecil ( muslim).

cara wik wik yang benar menurut islam

Bagaimana menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)? Daftar Isi • 1 Penulisan Kata Muslim Menurut KBBI • 2 Huruf Kapital dan Istilah Agama • 3 Pedoman Penulisan Huruf Kapital Penulisan Kata Muslim Menurut KBBI Saya buka Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (KBBI Daring).

Hasilnya, penulisan kata muslim menggunakan huruf kecil: muslim, bukan Muslim. Menurut KBBI, muslim adalah penganut agama Islam. Contoh kalimat: Selaku seorang muslim, kita wajib berzakat dan menunaikan ibadah haji jika mampu.

Demikian pula kata muslimin menggunakan huruf kecil: muslimin. Menurut KBBI, muslimin adalah para penganut agama Islam; laki-laki muslim (wanita muslim disebut muslimah).

Jadi, selama ini saya salah dong menuliskan kata muslim dengan huruf kapital? Ya, salah atuh menurut KBBI tadi mah! Lagi pula, selama ini kita juga terbiasa menuliskan istilah untkuk orang yang beriman dengan huruf kecil, yakni mukmin, bukan Mukmin.

Kalau tetap menuliskan Muslim (huruf kapital) bagaimana? Ya… gak apa-apa, nggak kena pidana! Sah-sah saja.

cara wik wik yang benar menurut islam

Namun, dalam penulisan karya ilmiah atau dokumen resmi, harusnya menggunakan kata baku: muslim (huruf kecil). Penulisan bukan muslim pun nonmuslim, bukan non-Muslim.

Bagaimana dengan kata Islam? Kalau istilah Islam mah tidak usah diperdebatkan lagi: cara wik wik yang benar menurut islam huruf kapital, Islam. Menurut KBBI, Islamadalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. yang berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah Swt. Huruf Kapital dan Istilah Agama Menurut PUEBI, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan Misalnya: • Islam • Al-Qur’an • Kristen • Alkitab • Hindu • Weda • Allah • Tuhan • Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

• Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat. Pedoman Penulisan Huruf Kapital Bahasan soal penulisan kata muslim ini kita “lebarkan” sekalian ya dengan pedoman penulisan huruf kapital, menurut PUEBI.

Dalam PUEBI ada 13 poin pedoman. Saya kutipkan enam poin saja. Perhatikan juga contoh-contohnya, khususnya pada huruf kapital yang digunakan pada setiap kata.

1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan. Misalnya: • Amir Hamzah • Dewi Sartika • Dewa Pedang Catatan: Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.

Misalnya: • Abdul Rahman bin Zaini • Siti Fatimah binti Salim • Indani boru Sitanggang • Charles Adriaan van Ophuijsen • Ayam Jantan dari Timur • Mutiara dari Selatan 2.

Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung. Misalnya: • Adik bertanya, “Kapan kita pulang?” • Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!” • “Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya. • “Besok pagi,” kata dia, “mereka akan berangkat.” 3.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan. Misalnya: • Islam • Al-Qur’an • Kristen • Alkitab • Hindu • Weda • Allah • Tuhan • Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya. • Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan. Misalnya: • Selamat datang, Yang Mulia. • Semoga berbahagia, Sultan. • Terima kasih, Kiai. • Selamat pagi, Dokter. • Silakan duduk, Prof. • Mohon izin, Jenderal. 5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya: • bangsa Indonesia • suku Dani • bahasa Bali 6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan. Misalnya: • “Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan. • Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?” • “Silakan duduk, Dik!” kata orang itu. • Surat Saudara telah kami terima dengan baik.

• “Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?” • “Bu, saya sudah cara wik wik yang benar menurut islam hal ini kepada Bapak.” Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital. Misalnya: • Sudahkah Anda tahu? • Siapa nama Anda? Itu dia ulasan tentang penulisan kata muslim plus pedoman penulisan huruf kapital dalam bahasa Indonesia.

Baca juga Daftar Kata Baku-Tidak Baku dalam Bahasa Indonesia.

cara wik wik yang benar menurut islam

Wasalam. Sumber: PUEBI
Akhir kata penlis mengucapkan terima kasih kepada Allah Subhaanahuwata’aala,dan dosen pembimbing yang telah mendukung baik morial maupun material dalam pembuatan karya ilmiah ini. Penulis mengakui bahwa dalam karya ilmiah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis memohon maaf dan mengharapkan kritik serta saran dari pembaca demi kesempurnaan karya ilmiah penulis dikesempatan mendatang.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat. Segala yang diciptakan oleh Allah Subhaanahuwata’ala sudah menjadi takdir yang telah dituliskan dalam Laumahfudz-Nya. Termasuk juga manusia yang dicipatakan Allah Subhaanahu Wata’ala. Yang mana Allah Subhaanahu Wata’ala menciptakan laki-laki dan perempuan dengan bentuk fisik yang berbeda-beda serta masing-masing mereka memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda pula.

Pada hakikatnya manusia diberikan Allah kelebihan fisik bukan lain hanya untuk menutupi kekurangan yang tmanusia tersebut miliki. Dan itu juga merupakan salah satu dari nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Maka selaku hamba Allah Subhanahuwata’aala hendaknya kita mensyukukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Dan adapun kekurangan fisik yang diberikan Allah Subhaanahuwata’aala kepada hamba-hamba-Nya, itu merupakan anugrah dan hikmah yang diberikan Allah agar kita dapat muhasabah diri dan mensyukurinya.

Namun dengan teknologi sekarang ini sudah muncul berbagai kecanggihan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada pada saat ini. Sehingga dengan berkembangnya teknologi yang ada pada saat ini membuat orang-orang banyak yang merubah/memperindah diri merekayang banyak kita lihat pada saat ini banyak penduduk beberapa negara bahkan hampir semua negara termasuk negara Indonesia ini.

Yang salah satunya adalah memperindah rambut yang begitu buruk bisa diatasi dengan cara menyambungnya (rambut), memakai wig, sanggul, ataupun konde. Namun permasalahannya adalah banyak dari mereka hanya untuk merubah ciptaan Allah sehingga melampaui batas yang telah ditetapkan oleh Allah Subhaanahuwata’aala dan Rasul-Nya Shallallahu’Alaihi Wasallam rambut yang begitu buruk bisa diatasi dengan cara menyambungnya (rambut), memakai wig, sanggul, ataupun konde.

Pada dasarnya mereka yang merubah/memperindah penampilan rambut mereka tersebut, mereka belum tahu pasti apakah hal tersebut dibenarkan dalam pandangan islam. Oleh karena hal tersebut diatas, untuk mengetahui lebih dalam mengenai hal pemakaian wig, sanggul, dan konde menurut pandangan islam. Maka akan disajikan pembahasan tersebut melalui karya tulis ilmiah (makalah) yang diberi judul “Memakai Sanggul, Wig, Dan Konde Menurut Pandangan Islam.” 1.2 Tujuan b.

Bagi masyarakat, adalah agar mengetahui pandangan islam terhadap kemajuan teknologi pada saat ini. Sehingga masyarakat mampu mempertimbangkan segala resikonya terkait norma dan hukum serta kaedah islam dalam melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan merubah ciptaan yang maha kuasa (Allah). 1.4 Metode Penulisan 1.4.1 Metode Teknologi yang semakin canggih dan modern dizaman ini sangat banyak menghasilkan perubahan demi perubahan terhadap manusia pada saat ini. Dapat kita lihat pada saat ini salah sataunya dibidang tata rias dan kecantikan yaitu teknologi yang telah banyak menghasilkan sesuatu yang baru dan modern seperti wig, sanggul, dan konde.

Wig, sanggul, dan konde memiliki arti yang sama hanya saja memiliki istilah yang berbeda dan ketiga istilah ini juga sering disebut dengan Hair Piece. Hair Piece adalah rambut tambahan yang diberi dasar berbentuk bulat seperti tatakan gelas agak kecil, yang dibuat dari kain gaas, terkadang berbentuk oval atau bulat kecil.

Rambut tambahan atau raambut palsu tersebut biasa dibentuk bermacam-macam wig, sanggul, ataupun konde yang dikenal oleh kebanyakan wanita sebagai sanggul tempel. Selain Hair Piece ada juga rambut tambahan yang biasa dibuka pasang yang disebut wig. Wig dapat berbentuk full wig/sanggul dan half wig/sanggul. Full wig/sanggul adalah rambut palsu dengan tatakan dasar satu kepala sehingga bila dipakai rambut aslinya tidak terlihat.

Adapun half wig/sanggul, adalah rambut palsu dengan bentuk setengah kepala jadi dasar kop-nya. Half wig/sanggul biasanya dipakai dipakai oleh wanita-wanita untuk menambah rambutnya yang kelihatan tipis, selain itu juga untuk menutup kebotakan dan mengikuti mode.

Cara wik wik yang benar menurut islam, sanggul, dan konde sudah digunakan sejak zaman mesir kuno sekitar 4000 tahun yang lalu.

cara wik wik yang benar menurut islam

Hal ini disebabkan oleh keperluan keagamaan, panasnya udara, dan pertimbangan kebersihan. Pria dan wanita mesir kuno memiliki kebiasaan mencukur bersih rambut kepalanya. Dizaman itu wig banyak dibuat dari serat daun palma, dari bulu binatang dan dari rambut manusia. Dikalangan orang berada, wig, sanggul, dan konde dihiasi dengan untaian emas dan permata. Kemahalan wig, sanggul dan konde ditentukan oleh ukuran dan mahalnya bahan baku pembuatannya. Semakin mahal maka semakin tinggi status sosial pemakainya.

Pada awalnya, pengerajinan wig, sanggul dan konde tidak menciptakan wig yang menyerupai rambut asli manausia. Baru pada akhir abad XVI, wig mulai mendapat bentuk yang lebih mengarah kepada keindahan dari penampilan. Ketika raja Perancis Lois XIII yang mengalami kebotakan naik tahta, wig, sanggul, dan konde mulai banyak digunakan di istana. Terlebih lagi ketika putranya Lois XIV naik tahta ditahun 1643 dan juga mengalami kebotakan, maka pemakaian sanggul seakan memasuki zaman keemasannya.

Lois VIV memiliki begitu juga banyak sanggul dan dipakainya setiap saat berada diluar kamar tidurnya. Ia memakai sanggul khusus untuk bangun tidur, sanggul untuk misa, sanggul sehabis makan, sanggul berburu dan seterusnya, sehingga orang berkata, bahwa sepanjang hidupnya, Lois XIV tidak pernah terlihat tanpa mengenakan sanggul.

Meskipun sanggul juga sudah digunakan dibeberapa negara Eropa, bahkan sebuah sanggul dengan variasi rumit pernah ditemukan di tempat pemakaman zaman tembaga di Denmark (1500-1800 SM), namun kedudukan Perancis sebagai pusat kegiatan diplomatic dan perkembangan mode zaman itu, member pengaruh besar bagipopularitas wig, sanggul, dan konde di negara-negara Eropa lainnya [2].

Bahan pembuatan Hair Piece dan wig, sanggul, dan kondeterdiri atas beberapa bagian. Berdasarkan bahannya maka dapat dibedakan: a. Rambut manusia. Hair piece dan wig, sanggul, serta konde yang dibuat dari rambut manusia harganya lebih mahal. Pada umumnya rambut berasal dari Eropa, dan Asia. Untuk menandai bahan wig, sanggul, dan konde tersebut terbuat dari rambut manusia, maka dapat dibakar sedikit helainya, maka akan timbul bau khas karena rambut manusia terdiri dari keratin dan protein.

Asal rambut juga menentukan kualitas dan harganya. 1) Rambut Eropa, memiliki kualitas terbaik, mempunyai tekstur yang halus, sedang dan kasar, dari segi warna dapat diperoleh warna pirang, merah, kelabu, dan putih, baik warna asli maupun sintetis. Rambut ini berasal dari Itali Utara. Para wanita sering menjual rambutnya untuk pembayaran Dauri/maskawin, rambut para wanita disebut memiliki kualitas prima karena rambut mereka tidak dikeriting, disasak, maupun diwarnai.

Mereka juga sering memakai kerudung untuk melindungi rambut dari kerusakan akibat radiasi sinar ultraviolet matahari. 2) Rambut Asia, umumnya berasal dari Indonesia, Korea, Cina, Jepang, dan India. Tekstur rambut lebih kasar, tetapi lebih kuat, sementara dari jenis warna umumnya hitam dan coklat kehitaman. Tetapi warna lain dapat diperoleh sebagai warna buatan.

Harga rambut Asia lebuh murah, karena persediaannya banyak. Rambut merupakan mahkota semua orang, yang mana dengan mahkota mereka dapat tampil dengan percaya diri. Namun beberapa orang tidak merasa pede dengan rambut yang mereka miliki. Sehingga dengan alasan tidak pede banyak dari mereka yang menggunakan wig cara wik wik yang benar menurut islam palsu) ataupun sejenisnya. Dan demi kecantikan serta keindahan semua hal mereka korbankan.Dan kebanyakan mereka memakainya hanya untuk memperlihatkan perhiasan dan kecantikan mereka.

Namun, yang demikian itu apakah boleh dalam pandangan Islam? Al-washilah [9] dan Al-Mustaushilah. [10] Wasl disini adalah menyambung (menyanggul) rambut dengan benda lain, baik berupa rambut asli atau bukan. Ketika muawiyah Radhiallahu’Anhu datang ke Madinah untuk berhaji, dia heran atas kelakuan penduduk Madinah dan para ulamanya, mengapa mereka tidak melarang sanggul rambut.

Muawiyah berkata seraya mengangkat sebuah sanggul rambut, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam melarang benda ini dan bersabda bahwa kaum Bani Israil cara wik wik yang benar menurut islam ketika para wanitanya memakai benda ini.” [11] 2.3.2 Pandangan Para Ulama Mengenai Wig, Sanggul, dan Konde Mayoritas ulama mengharamkan penyambungan rambut, menyanggul, atau pemakaian rambut buatan (wig) baik yang terbuat dari rambut asli, dari kain, atau dari bahan lain.

Ini dikuatkan oleh keumuman hadits dari Jabir Radhiallahu’Anhu, dia berkata, “Rasulullah melarang wanita memperpanjang rambutnya dengan benda lain.” [13] Ini adalah larangan yang bersifat umum dan berlaku pada segala jenis rambut buatan. Salah satu ulama yang mengharamkannya adalah syeikh Utsaimin beliau berkata dalam fatwanya, bahwasannya “Asma’ binti Abu Bakar Radhiallah’Anhaa berkata, ”Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam wanita itu berkata: ”Wahai Rasulullah,sesungguhnya aku mempunyai anak-anak perempuan yang pernah terserang campak sehingga rambutnya rontok, kini ia mau menikah, bolehkah aku menyambung (rambut)nya?”.

Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam menjawab, Termasuk dalam hal ini mengenakan wig, sanggul, dan konde yang biasanya dipasangkan oleh perias-perias salon kecantikan. Ini semua termasuk perbuatan yang haram, sekalipun untuk berhias dihadapan suami. Terlebih jika memakai rambut palsu ini untuk meniru model orang-orang kafir.

cara wik wik yang benar menurut islam

Karena berhiaspun ada koridor syariat yang mestinya tidak dilanggar. Dan ini merupakan bagian dari tasyabbuh dengan kaum kuffar. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam dalam haditsnya yang telah kita sebutkan diatas, Namun, jika seorang wanita tidak mempunyai rambut dikepalanya sama sekali misalnya, dia seorang yang botak, maka dia boleh menggunakan suatu rambut palsu untuk menutupi seluruh cacatnya, karena adanya pertimbangan yang diizinkan untuk cara wik wik yang benar menurut islam cacat.

Sebagaimana Nabi Shallallahu’Alaihi Wasallam pernah membolehkan seorang laki-laki yang hidungnya terpotong dalam suatu pertempuran, untuk memakai hidung palsu yang terbuat dari emas. Hal ini dapat dilihat lebih fleksibel dibandingkan dengan yang ada pada zaman Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasalam. Yang mana permasalahan yang dihadapi saat ini meliputi permasalahan orang-orang yang menjalanin perawatan plastik (operasi plastik) untuk memperbaiki hidung yang kecil dan lain sebagainya.

Bagaimanapun, proses mempercantik tidaklah sama dengan menghilangkan cacat. Jika permasalahannya berkenaan dengan menghilangkan cacat, maka tidak ada kejelekan di dalamnya. Seperti ketika hidung bengkok atau menghilangkan tanda/tahi lalat. Memang benar bahwa setengah kecantikan wanita adalah terletak pada rambutnya maka tak dilarang untuk merawatnya. Rambut boleh dibersihkan, diminyaki, dan boleh dirawat dengan obat untuk mencegah kerontokan. Wanita juga boleh mewarnainya dengan warna kekuningan atau kemerahan dengan bahan katm [19] dan hina’.

[20] Wig, sanggul, dan konde merupakan rambut palsu yang memiliki makna yang sama yakni rambut palsu yang dipakai wanita baik yang terbuat dari rambut, dari kain atau bahan lainnya. Dan ini sudah ada sejak zaman pada tahun 4000 tahun yang lalu.

Dan sudah ada pada zaman rasulullah Shallallahu‘Alaihi Wasallam. Yang disebut dengan istilah menyambung rambut namun bedanya yang ada pada zaman yang penuh dengan teknolgi canggih pada saat ini hanya perbedaan istilah saja yang banyak disebut dengan istilah wig, sanggul, dan konde.

Secara hukum islam, para ulama salaf dalam hal menghukumi pemakaian wig, sanggul, dan konde memiliki ikhtilaf ada yang mengatakan boleh asal tidak terbuat dari rambut asli. Termasuk salah satunya imam Ahmad. Dan ada sebagian ulama salaf yang mengharamkannya meskipun sudah izin dengan suami. Dan mereka mengatakan bahwasannya ini termasuk bagian dari kaum kuffar serta dengan hujjah yang kuat dengan landasan hadits Rasul Shallallahu’Alaihi Wasallam yang mana beliau mengatakan bahwasannya Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan orang yang cara wik wik yang benar menurut islam disambung.

Salah satunya adalah syeikh Utsaimin yang mengharamkannya dan tentang hadits tersebut beliau menjelaskan termasuk dalam hal menyambung rambut adalah memakai wig, sanggul, dan konde. Dalam hal ini selaku umat muslim yang beriman kepada Allah Subhaanahuwata’aala dan Rasul-Nya Shallallahu’Alaihi Wasallam, hendaknya kita menjauhi hal-hal yang syubhat dan yang masih diikhtilafkan oleh para ulama.

Untuk menghindari hal yang syubhat sebaiknya kita tidak melakukan hal tersebut. Baik memakai wig, sanggul, dan konde ataupun menyambung rambut. Walaupun ada ulama yang membolehkan dan dengan syarat-syarat tertentu, demi menjaga diri dari perbuatan yang menjerumuskan kita kepada kemaksiatan alangkah baiknya takut akan hal tersebut.

Penulis menyadari bahwa materi terkait judul masih lebih banyak dan lebih luas daripada yang telah termuat dalam makalah ini. Pemahaman akan hal itu seyogianya menjadi modal pemicu termotivasinya para pembaca untuk melakukan penulisan lanjut terhadap hal yang sama sesudahnya demi peningkatan peradaban dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Dan semoga makalah yang singkat ini menjadi bermanfaat bagi seluruh umat muslim. • ▼ 2018 (10) • ▼ April (10) • STAND UP COMEDY DALAM PANDANGAN ISLAM • MENUTUP AURAT DENGAN HIJAB YANG SYAR’I • ALQURAN DAN AS-SUNNAH SEBAGAI PETUNJUK HIDUP DAN S.

• TERORISME DALAM PANDANGAN ISLAM • Hukum Merokok • MEMAKAI WIG, SANGGUL, DAN KONDE MENURUT PANDANGAN . • PENTINGNYA PENGOBATAN BEKAM BAGI KESEHATAN • BIOGRAFI ILMUWAN-ILMUWAN MUSLIM • Mengapa wanita harus berjilbab????

• THE POWER OF ZIKIR DI AKHIR ZAMAN • ► 2013 (3) • ► Maret (3)Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video cara wik wik yang benar menurut islam Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Baca Juga • Mengubur Suami Istri dalam Satu Liang Lahad, Bolehkah?

• Mengapa Sholat Ashar Disebut Sholat Tengah dan Harus Dijaga? • 4 Hadiah Terbaik Persembahan Orang Hidup untuk Almarhum إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.

Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” Mengutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat 19 Ali Imran itu sebagai berita dari Allah SWT yang menyatakan, tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para rasul yang diutus Allah SWT di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang telah ditempuhnya. "Karena itu, barang cara wik wik yang benar menurut islam yang menghadap kepada Allah sesudah Nabi Muhammad SAW diutus dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima Allah SWT," katanya.

Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, surat Ali Imran ayat 85: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” Ibnu Katsir mengatakan, dalam ayat ini Allah memberitakan terbatasnya agama yang diterima Allah hanya pada agama Islam, yaitu: “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran 19) Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca firman-Nya .شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُإِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ “Allah menyatakan sesungguhnya tiada Tuhan selain Dia, Yang menegakkan keadilan.

Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Bahwasanya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 18-19) Dengan innahu yang di-kasrah-kan dan anna yang di-fathah-kan, artinya 'Allah telah menyatakan —begitu pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu— bahwa agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam'.

Sedangkan menurut jumhur ulama, mereka membacanya kasrah' innad dina 'sebagai kalimat berita. Bacaan tersebut kedua-duanya benar, tetapi menurut bacaan jumhur ulama lebih kuat. Kemudian Allah SWT memberitakan, orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab kepada mereka di masa-masa yang lalu, mereka berselisih pendapat hanya setelah hujah ditegakkan atas mereka, yakni sesudah para rasul diutus kepada mereka dan kitab-kitab samawi diturunkan buat mereka.
• l • b • s Jilbāb ( Arab: جلباب ) adalah busana muslim terusan panjang menutupi seluruh badan kecuali tangan, kaki, dan wajah yang biasa dikenakan oleh para wanita muslim.

Penggunaan jenis pakaian ini terkait dengan tuntunan syariat Islam untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat atau dikenal dengan istilah hijab. Sementara kerudung sendiri di dalam Al-Qur'an disebut dengan istilah khumur, sebagaimana terdapat pada surat An Nuur ayat 31: “ Hendaklah mereka menutupkan khumur (kerudung-nya) ke dadanya.

(An Nuur :31) ” Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Asal-usul perintah berhijab • 3 Sejarah dan kontroversi pemakaian jilbab • 3.1 Dunia • 3.2 Indonesia • 4 Fatwa berjilbab bagi para penganutnya • 5 Lihat pula • 6 Referensi Etimologi [ sunting - sunting sumber ] Secara etimologis, jilbab berasal dari bahasa arab jalaba yang berarti menghimpun atau membawa. [1] Istilah jilbab digunakan pada negeri-negeri berpenduduk muslim lain sebagai jenis pakaian dengan penamaan berbeda-beda.

[1] Di Iran disebut chador, di India dan Pakistan disebut pardeh, di Libya milayat, di Irak abaya, di Turki charshaf, dan tudung di Malaysia, sementara di negara Arab-Afrika disebut hijab. [1] Di Indonesia, penggunaan kata jilbab digunakan secara luas sebagai busana kerudung yang menutupi sebagian kepala perempuan (rambut dan leher) yang dirangkai dengan baju yang menutupi tubuh kecuali telapak tangan dan kaki.

[1] Kata ini masuk dalam lema Kamus Besar Bahasa Indonesia pada tahun 1990 bersamaan dengan mulai populernya penggunaan jilbab di kalangan muslimah perkotaan. [1] Dalam kosakata bahasa Indonesia menurut KBBI daring, jilbab adalah kerudung lebar yang dipakai perempuan muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai ke dada. [2] Secara umum mereka yang menutupi bagian itu disebut orang yang berjilbab. [1] Asal-usul perintah berhijab [ sunting - sunting sumber ] Awalnya istri-istri Nabi Muhammad tidak berhijab, dan tidak pula Sang Nabi memerintahkan istri-istri beliau untuk mengenakannya.

Pada suatu saat, Umar bin Khattab menyarankan agar Nabi Muhammad menghijabi istri-istri beliau, tetapi hal itu tidak dihiraukan oleh Sang Nabi. Di zaman Nabi Muhammad, jika istri-istri beliau ingin buang air besar, mereka keluar pada waktu malam menuju tempat buang hajat yang berupa tanah lapang dan terbuka bernama Al-Manasi.

Mengetahui hal tersebut, Umar yang begitu antusias agar ayat hijab diturunkan pun menunggu ketika salah satu istri Nabi akan buang air besar, yang mana pada saat itu adalah Saudah, lalu Umar berseru kepadanya, "Sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah!".

Takut akan hal itu terulang, Saudah pun melaporkan hal tersebut kepada Nabi. Dan tidak lama berselang ayat-ayat hijab pun diturunkan. Dan istri-istri Nabi kembali diizinkan untuk buang air besar. [3] [4] [5] Sejarah dan kontroversi pemakaian jilbab [ sunting - sunting sumber ] Sebuah tempat yang disebut dengan Medina quarter di Essaouira, Moroko, menunjukkan para wanita yang sedang menggunakan jilbab tradisional.

Dunia [ sunting - sunting sumber ] • Di Turki pada bulan Desember 1934 Presiden Turki Mustafa Kemal Atatürk mengeluarkan pelarangan cara wik wik yang benar menurut islam kain asli pribumi (sebelumnya Turki diperintah oleh Kerajaan Ottoman) cara wik wik yang benar menurut islam negaranya.

[6] • Di Iran pada tahun 1936 Shah Reza Pahlevi mengeluarkan perintah yang melarang penggunaan segala bentuk pakaian bernuansa Islami oleh perempuan di Iran. [7] • Di Turki pada 2006 seorang arkeolog pakar Sumeria bernama Muazzez Ilmiye Cig, dalam bukunya yang berjudul My Reactions as a Citizen, menyebut jilbab terkait dengan prostitusi pada masa peradaban Sumeria.

Menurut Cig, asal usul jilbab sudah dilacak sejak peradaban Sumeria di wilayah Mesopotamia (kini wilayah Irak tenggara) 5.000 tahun silam, jauh sebelum agama Islam hadir di dunia. Saat itu, sudah banyak perempuan yang mengenakan jilbab. Biasanya, jilbab digunakan perempuan yang bekerja di prostitusi di kuil-kuil untuk membedakannya dengan biarawati di kuil tersebut.

Akibat dari pernyataannya tersebut ia digugat di pengadilan Turki namun akhirnya divonis bebas. [8] Indonesia [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Jilbab di Indonesia Pada tahun 1983 perdebatan tentang penggunaan "jilbab" di sekolah antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Noegroho Notosoesanto yang kemudian direspons oleh MUI, masih menggunakan kata kerudung.

[9] [10] [1] Noegroho menyatakan bahwa pelajar yang karena suatu alasan merasa harus memakai kerudung, pemerintah akan membantunya pindah ke sekolah yang seragamnya memakai kerudung.

[10] Sebelumnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga mengadakan pertemuan khusus dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan menegaskan bahwa seragam harus sama bagi semua orang berkaitan dengan peraturannya, karena bila tidak sama berarti bukan seragam.

[10] Di Indonesia pada Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka cetakan ke-7 tahun 1984 belum ada lema kata jilbab, lema yang digunakan adalah kata yang belum populer di Indonesia (saat itu) yaitu "hijab" yang merujuk pada kain penutup aurat bagi perempuan muslim. [1] Fatwa berjilbab bagi para penganutnya [ sunting - sunting sumber ] Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albany kriteria jilbab yang benar harus menutup seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak, jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas.

[11] Pendapat yang sama sebagaimana dituturkan Ikrimah, jilbab itu menutup bagian leher dan mengulur ke bawah menutupi tubuhnya, [12] sementara bagian di atasnya ditutup dengan khimâr (kerudung) [13] yang juga diwajibkan, sesuai dengan salah satu ayat surah An-Nur 24:31, yang berbunyi: “ Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

(QS an-Nur [24]: 31) ” Pendapat ini dianut juga oleh Qardhawi sebagaimana dicantumkan pada kumpulan fatwa kontemporernya. [14] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Burkak • Hijab • Surat An Nuur • Jilboobs Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b c d e f g h Prasetia, Heru.

"Pakaian, Gaya, dan Identitas Perempuan Islam". Identitas Perempuan Indonesia: Status, Pergeseran Relasi Gender, dan Perjuangan Ekonomi Politik. Desantara Foundation. Depok. November 2010. • ^ Kamus Bahasa Indonesia:Jilbab • ^ "Hadits Shahih Al-Bukhari No. 143 - Kitab Wudlu". Hadits.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-07-19. Diakses tanggal 2021-07-22. • ^ "Sahih Muslim 2170d". Sunnah.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-07-20. Diakses tanggal 2021-07-22.

• ^ "Sahih al-Bukhari 146". Sunnah.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-07-19. Diakses tanggal 2021-07-22. • ^ (Inggris) Mustafa Kemal Ataturk • ^ Susilo, Taufik Adi. Ensiklopedi Pengetahuan Dunia Abad 20.

Javalitera, Yogyakarta. 2010 • ^ Arkeolog yang Menjadi Terdakwa Pelecehan Jilbab Dibebaskan Diarsipkan 2015-01-19 di Wayback Machine. rakyatmerdeka. diakses 19 Januari 2015 • ^ Nuraini Juliastuti. Politik Pakaian Muslim. KUNCI Cultural Studies • ^ a b c Suciati, S.Pd., M.Ds. Gaya Busana Unisex. Makalah. Diakses 14 Mei 2011 • ^ Dikutip dari Cara wik wik yang benar menurut islam Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albany) • ^ Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur'ân al'Azhîm, vol.

3 (Riyadh: Dar 'Alam al-Kutub, 1997), 637 • ^ "Said Hawa, al-Asâs fî Tafsîr, vol. 8 (tt: Dar as-Salam, 1999), 4481". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-03-11. Diakses tanggal 2006-09-13. • ^ Yusuf Qardhawi, Fatwa kontemporer: Apakah cadar itu bid'ah • Halaman ini terakhir diubah pada 5 Februari 2022, pukul 13.50. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Kedua belas ISLAM ADALAH SATU-SATUNYA AGAMA YANG BENAR [1] Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Satu-satunya agama yang benar, diridhai dan diterima oleh Allah Azza wa Jalla adalah Islam.

cara wik wik yang benar menurut islam

Adapun agama-agama lain, selain Islam, tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Agama selain Islam, yaitu Nasrani, Yahudi, Kong Hu Chu, Hindu, Budha, Sinto dan yang selainnya, tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla, karena agama-agama tersebut telah mengalami penyimpangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor manusia.

Setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya wajib masuk ke dalam agama Islam, mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Azza wa Jalla berfirman: إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ “ Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.

Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” [Ali ‘Imran/3: 19] Allah Azza wa Jalla berfirman: أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ “ Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada dilangit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembalikan ?” [Ali ‘Imran/3: 83] Allah Azza wa Jalla juga berfirman: وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ “ Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran/3: 85] Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى.

“ Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” [2] Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam Cara wik wik yang benar menurut islam bahwa Yahudi dan Nasrani selalu berusaha untuk menyesatkan kaum Muslimin dan mengembalikan mereka kepada kekafiran, mengajak kaum Muslimin kepada agama Yahudi dan Nasrani. Allah Azza wa Jalla berfirman: وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “ Banyak di antara ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dari dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka.

Maka maafkanlah dan berlapang dadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Al-Baqarah/2: 109] Allah Azza wa Jalla berfirman: وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ “ Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka.

Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, maka tidak akan ada bagimu Pelindung dan Penolong dari Allah.” [Al-Baqarah/2: 120] Allah Azza wa Jalla berfirman: قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا تَعْمَلُونَ قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنتُمْ شُهَدَاءُ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تُطِيعُوا فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَوَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ “ Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai ahli Kitab!

Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?’ Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai ahli Kitab! Mengapa kamu menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah, kamu menghendakinya (jalan Allah) bengkok, padahal kamu menyaksikan?’ Dan Allah tidak lengah terhadap yang kamu kerjakan. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikanmu menjadi orang kafir setelah beriman.

Dan bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepadamu, dan Rasul-Nya (Mu-hammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.’” [Ali ‘Imran/3: 98-101] Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Islam satu-satunya agama yang benar, adapun selain Islam tidak benar dan tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, agama selain Islam, yaitu Nasrani, Yahudi, Kong Hu Cu, Hindu, Budha, Shinto dan yang lainnya, tidak akan diterima oleh Allah, karena agama-agama tersebut telah mengalami penyim-pangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor manusia.

Setelah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya wajib masuk ke dalam Islam, mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga Al-Wala’ cara wik wik yang benar menurut islam Al-Bara’ Kemudian ayat-ayat di atas juga menjelaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepada Islam serta mereka tidak ridha sampai umat Islam mengikuti mereka. Mereka berusaha untuk menyesatkan umat Islam dan me-murtadkan umat Islam dengan berbagai cara.

Saat ini gencar sekali dihembuskan propaganda penyatuan agama, yang menyatakan konsep satu Tuhan tiga agama. Hal ini tidak bisa diterima, baik secara nash (dalil Al-Qur-an dan As-Sunnah) maupun akal. Ini hanyalah angan-angan semu belaka. Kesesatan ini telah dibantah oleh Allah dalam Al-Qur-an: وَقَالُوا لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَبَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “ Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, ‘Tidak akan masuk Surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.’ Itu (hanya) angan-angan mereka.

Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar. Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.’” [Al-Baqarah/2: 111-112] Allah kemudian menjelaskan bahwa orang yang ikhlas dan ittiba’, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka akan mendapat balasan yang menggembirakan di akhirat.

Sedangkan propaganda tersebut merupakan tipuan mereka (orang Yahudi dan Nasrani) agar kaum Muslimin keluar dari ke-Islamannya dan memeluk agama Yahudi atau Nasrani. Bahkan mereka memberikan iming-iming bahwa dengan mengikuti agama mereka, orang Islam akan mendapat petunjuk.

Sedangkan Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim Alaihissallam yang lurus, agama tauhid yang terpelihara. Allah Azza wa Jalla berfirman: وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “ Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘(Tidak!) tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus.

Dan dia tidak termasuk orang yang mempersekutukan Allah.” [Al-Baqarah/2: 135] Allah Cara wik wik yang benar menurut islam wa Jalla berfirman: وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ “ Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” [Al-Baqarah/2: 42] Dalam tafsir Ibnu Jarir berkenaan dengan ini: “Dan janganlah kalian campuradukkan yang haq dengan yang bathil,” beliau membawakan pernyataan Imam Mujahid rahimahullah yang mengatakan, “Janganlah kalian mencampuradukkan antara agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Islam.” Sementara dalam Tafsir Ibnu Katsir, Imam Qatadah rahimahullah berkata, “Janganlah kalian campuradukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Islam, karena sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah Azza wa Jalla hanyalah Islam.

Sedangkan Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah bukan dari Allah Azza wa Jalla !” Sungguh, tafsir ini merupakan khazanah fiqih yang sangat agung dalam memahami Al-Qur-an. Untuk itulah kewajiban kita bersikap hati-hati terhadap propaganda-propaganda sesat, yang menyatakan bahwa, ‘Semua agama adalah baik’, ‘kebersamaan antar agama’, ‘satu tuhan tiga agama’, ‘persaudaraan antar agama’, ‘persatuan agama’, ‘perhimpunan agama samawi’, ‘persatuan agama Ibrahimiyyah’, ‘persatuan agama Ilahi’, ‘persatuan kaum beriman’, ‘pengikut millah’, ‘persatuan umat manusia’, ‘persatuan agama-agama tingkat nasional’, ‘persatuan agama-agama tingkat internasional’, ‘persaudaraan agama’, ‘satu surga banyak jalan’, ‘dialog antar umat beragama’.

Muncul juga dengan nama ‘persaudaraan Islam Nasrani’ atau ‘Himpunan Islam Nasrani Anti Komunisme’ atau ‘Jaringan Islam Liberal (JIL)’. Semua slogan dan propaganda tersebut bertujuan untuk menyesatkan umat Islam, dengan memberikan simpati atas agama Nasrani dan Yahudi, mendangkalkan pengetahuan umat Islam tentang Islam yang haq, untuk menghapus jihad, untuk menghilangkan ‘aqidah al-wala wal bara’ (cinta/loyal kepada kaum mukminin dan berlepas diri dari selainnya), dan mengembangkan pemikiran anti agama Islam.

Dari semua sisi hal ini sangat merugikan Islam dan umatnya. Semua propaganda sesat tersebut merusak ‘aqidah Islam. Sedangkan ‘aqidah merupakan hal yang paling pokok dan asas dalam agama Islam ini, karena agama yang mengajarkan prinsip ibadah yang benar kepada Allah Azza wa Jalla saja, hanyalah agama Cara wik wik yang benar menurut islam.

Oleh karena itu, seorang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabinya, tidak boleh ikut serta dalam seminar-seminar, perkumpulan, pertemuan, yayasan dan organisasi mereka. Tidak boleh pula menjadi anggota mereka.

Bahkan ia wajib menjauhinya, mewaspadainya dan takut terhadap akibat buruknya. Ia harus menolaknya, memusuhinya dan menampakkan penolakannya secara terang-terangan serta mengusirnya dari negeri kaum Muslimin. Ia wajib mengikis pemikiran sesat itu dari benak kaum Muslimin, membasmi sampai ke akar-akarnya, menolaknya, mengucilkannya dan membendungnya.

Pemerintah muslim wajib menegakkan sanksi murtad terhadap pengikut propaganda tersebut, setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak adanya penghalang. Hal itu dilakukan demi menjaga keutuhan agama dan sebagai peringatan terhadap orang-orang yang mempermainkan agama, dan dalam rangka mentaati Allah dan Rasul-Nya serta demi tegaknya syari’at Islam yang suci.

cara wik wik yang benar menurut islam

Hendaknya setiap muslim mengetahui hakikat propaganda ini. Ia tidak lain hanyalah benih-benih filsafat yang berkembang di alam politik yang akhir kesudahannya adalah kesesatan. Muncul dengan mengenakan baju baru untuk memangsa korban dari kalangan kaum Muslimin. Memangsa ‘aqidah mereka, tanah air mereka dan merenggut kekuasaan mereka. Target utama propaganda itu hanyalah Islam dan kaum muslimin dalam bentuk sebagai berikut: • Menimbulkan kebimbangan terhadap Islam, mengacaukan pemahaman kaum Muslimin serta menjerumuskan kaum Muslimin dengan cara menyebarluaskan syahwat dan syubhat.

• Mendangkalkan cakupan agama Islam dan kandungannya. • Memunculkan kaidah-kaidah yang bertujuan menguliti dan mematikan ajaran Islam, melumpuhkan kaum Muslimin, mencabut dan memupus akar keimanan dari dalam hati mereka. • Mengurai dan memutuskan tali persaudaraan di antara kaum Muslimin di seluruh negeri Islam. Lalu menggantinya dengan persaudaraan baru yang terkutuk, yaitu persaudaraan Yahudi dan Nasrani. • Membungkam pena dan lisan kaum Muslimin dari pengkafiran Yahudi, Nasrani serta orang-orang yang telah dikafirkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

• Menghapus hukum-hukum Islam yang diwajibkan atas kaum Muslimin terhadap Yahudi, Nasrani dan orang-orang kafir lainnya.

• Menahan dan menghalangi kaum Muslimin dari puncak amal dalam Islam yaitu jihad fi sabilillah. Di antaranya adalah berjihad melawan ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani.

Memerangi mereka karena Allah, serta memaksa mereka membayar jizyah (pajak) apabila menolak masuk Islam. Baca Juga Dasar Islam Adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah(1) Allah Azza wa Jalla berfirman: قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ “ Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian dan mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Al-Kitab hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” [At-Taubah/9: 29] • Merobohkan kaidah dasar agama Islam, yaitu kaidah al-wala’ wal bara’ (loyal dan benci karena Allah Azza wa Jalla).

Propaganda penyatuan agama ini berfungsi untuk mematahkan sikap berlepas diri kaum Muslimin terhadap orang-orang kafir.

• Menghembuskan pemikiran dan sikap anti Islam yang bersembunyi di balik slogan persatuan agama-agama. Memisahkan umat Islam dari agama, menjauhkan syari’at yang tertuang dalam al-Qur-an dan as-Sunnah dari kehidupan mereka. Dengan hal itu, mereka lebih leluasa menggiring kaum Muslimin kepada pemikiran Jahiliyyah dan moral yang tercela. • Memadamkan inti ajaran Islam yaitu tauhid, keunggulannya, kejayaannya dan keistimewaannya.

• Memperlancar progam-progam kristenisasi dengan merobohkan benteng ‘aqidah kaum Muslimin serta memadamkan api perlawanan kaum Muslimin terhadap mereka. • Melebarkan sayap kekuasaan orang-orang kafir, Yahudi, Nasrani dan orang-orang komunis di seluruh dunia, khususnya terhadap negara-negara Islam, lebih khusus lagi terhadap negara-negara Arab dan terutama sekali terhadap pusat dunia Islam dan ibu kotanya, yaitu Jazirah Arab. Mereka juga berusaha untuk memurtadkan umat Islam di Indonesia dan ini sudah terbukti di beberapa daerah dan propinsi.

Itulah target dan tujuan utama propaganda keji tersebut! Dan sangat disayangkan dan merupakan musibah yang lebih besar lagi, adanya segelintir oknum dari kalangan kaum Muslimin dan orang yang mengaku muslim menyambut positif propaganda keji tersebut! Bahkan mendukung terselenggaranya seminar-seminar yang mereka adakan. Sehingga gaungnya lebih luas, berlomba-lomba menyambut seruan keji dan konspirasi jahat orang-orang kafir itu! Propaganda ini, mulai dari asal usulnya, slogannya, pada hakikatnya merupakan musibah besar atas kaum Muslimin saat ini.

Merupakan kekufuran yang sangat parah, mencampuradukkan Islam dengan kekufuran, haq dengan bathil, petunjuk dengan kesesatan, ma’ruf dengan mungkar, Sunnah dengan bid’ah serta ketaatan dengan maksiyat! Propaganda kepada penyatuan agama Islam dengan agama lainnya yang telah menyimpang dan dihapus cara wik wik yang benar menurut islam syari’at Islam, merupakan kemurtadan yang nyata dan kekufuran yang jelas. Hal itu disebabkan karena propaganda itu secara terang-terangan telah mencabut sendi-sendi Agama Islam, baik pada aspek ‘aqidah, cara wik wik yang benar menurut islam, dan lainnya.

Hukum ini merupakan kesepakatan yang tidak boleh diselisihi oleh kaum Muslimin. Propaganda ini merupakan kancah peperangan baru melawan kaum salibis dan melawan orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu Yahudi. Ini adalah perkara yang sangat serius, bukan main-main! Mereka tidak henti-hentinya senantiasa berusaha siang dan malam memurtadkan umat Islam, sebagaimana Allah berfirman : وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا “… Cara wik wik yang benar menurut islam tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup…” [Al-Baqarah/2: 217] [Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3] _______ Footnote [1] Pembahasan lengkapnya lihat buku al-Ibthal Linazhariyyatil Khalthi baina Diinil Islam wa Ghairihi minal Adyaan karya Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, cet.

Daar ‘Alamul Fawa-id, cet II/ th. 1421 H. [2] HR. Ad-Daruquthni (III/ 181 no. 3564), tahqiq Syaikh ‘Adil Ahmad ‘Abdul Maujud dan Syaikh ‘Ali Mu’awwadh, Darul Ma’rifah, th. 1422 H) dan al-Baihaqy (VI/205) dari Shahabat ‘Aidh bin ‘Amr al-Muzany Radhiyallahu anhu. Lihat Irwaa-ul Ghalil (V/106 no.

1268) oleh Syaikh al-Albany rahimahullah

PRIA WAJIB NONTON! 4 Posisi Bercinta yang Paling Disukai Perempuan




2022 www.videocon.com