Contoh asesmen kognitif

contoh asesmen kognitif

Penilaian pembelajaran adalah sebuah rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengevaluasi dan menganalisis serta mengukur kemampuan siswa secara sistematis dan berkesinambungan. Tujuannya agar tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran dapat terlihat. Kegiatan penilaian pembelajaran dalam proses pendidikan wajib dilaksanakan, karena dengan proses penilaian ini seorang pendidik dapat melihat sejauh mana tingkat keberhasilan proses pembelajaran yang dilaksanakan.

Penilaian pembelajaran ini juga dapat sebagai bukti pertanggungjawaban contoh asesmen kognitif guru sebagai pelaksana pendidikan terhadap orang tua peserta didik. Karena bagaimanapun juga pendidik utama seorang anak adalah orang tua mereka, adapun guru disini berperan sebagai partner dalam proses pendidikan. Adapun aspek yang dinilai dalam proses pembelajaran yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotor siswa.

Aspek kognitif menitikberatkan proses penilaian untuk mengukur pengetahuan peserta didik, sedangkan aspek afektif untuk mengukur sikap dan kepribadian siswa adapun psikomotor untuk mengukur keahlian dan keterampilan siswa. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penilaian pembelajaran dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan siswa sedangkan kata evaluasi sendiri dapat disinonimkan dengan kata tes dan pengukuran.

contoh asesmen kognitif

Menurut Kaufman Dab Thomas sebagaimana dikutip oleh Rusijono Rusijono dalam bukunya Evaluasi Pembelajaran, (1991) bahwa tes adalah pemberian tugas yang bertujuan untuk mengumpulkan data, dan pengukuran adalah teknik atau metode untuk membandingkan data, sedangkan evaluasi adalah penggunaan hasil tes dan pengukuran untuk keperluan tertentu. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa, ketika guru memberikan tugas ulangan atau ujian kepada siswa maka proses tersebut dapat dikatakan sebagai tes, setelah hasil pekerjaan siswa di koreksi oleh guru maka disitu guru melakukan pengukuran hasil siswa dengan kriteria penilaian guru, dari proses ini guru dapat menganalisa dan mengambil kesimpulan sejauh mana tingkat keberhasilan proses belajar siswa.

Tes ini dapat dilakukan untuk mengukur contoh asesmen kognitif siswa dari segi aspek kognitif, karena tes dilakukan dengan memberikan beberapa soal untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa terhadap materi yang telah diberikan Di sekolah formal kebanyakan para pendidik melakukan proses penilaian pembelajaran dengan melakukan ulangan atau ujian, baik itu ujian semester ganjil maupun ujian semester contoh asesmen kognitif, pada ujian ini guru melakukan penilaian dengan memberikan tes secara tertulis.

contoh asesmen kognitif

Secara sederhana tes tertulis dapat mengukur kemampuan siswa secara keseluruhan dan dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang banyak untuk melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Di sisi lain siswa pun dapat memberikan jawaban yang terbaik karena mereka mempunyai waktu yang relatif lebih lama untuk memikirkan jawaban yang akan diberikan. Namun selain tes tertulis terdapat contoh penilaian pembelajaran yang lain untuk mengukur aspek kognitif siswa yaitu tes lisan dan penugasan.

Tes Lisan Secara sederhana tes lisan yaitu tes yang dilakukan secara lisan antara siswa dan guru (pendidik). Tes ini sangat bermanfaat contoh asesmen kognitif menguji siswa pada aspek yang berkaitan dengan komunikasi, tes ini juga dapat dilakukan secara individual dan kelompok. Tes lisan memiliki kesamaan dengan tes tertulis, hanya saja terdapat perbedaan pada pelaksanaannya. Tes lisan dilakukan secara lisan yaitu dengan cara berkomunikasi atau tanya jawab antara siswa dan guru sebagai tester, adapun materi yang di tes sama dengan tes tulis, yaitu dari aspek kognitif siswa (mengukur tingkat kemampuan siswa dalam menguasai materi yang telah diberikan).

Semua tes ini tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Adapun kelebihan tes secara lisan yaitu β€’ Dapat mengetahui kemampuan siswa secara langsung, baik kemampuannya dalam menguasai materi pelajaran atau kemampuannya dalam mengemukakan pendapat β€’ Tidak ada kesempatan untuk menyontek karena siswa menjawab secara langsung β€’ Hasil tes dapat diketahui peserta didik secara langsung β€’ Bagi siswa yang memiliki taraf berfikir agak contoh asesmen kognitif dapat mengkonfirmasi ulang soal yang diberikan apabila siswa belum memahaminya.

Kekurangan Tes Secara Lisan, adalah: β€’ Penguji mempunyai kesempatan untuk menyimpang dari materi atau bahan ajar yang mau diujikan. β€’ Lebih memungkinkan terjadinya ketidakadilan antar peserta didik, karena subjektivitas penilaian. β€’ Membutuhkan waktu pelaksanaan yang relatif lebih lama karena melakukan pengujian secara secara langsung β€’ Siswa kurang bebas dalam mengemukakan pendapat β€’ Penilaian secara subjektivitas lebih berpeluang terjadi dibandingkan dengan tes yang dilakukan secara tertulis.

contoh asesmen kognitif

Berikut ini beberapa petunjuk yang bisa dijadikan acuan untuk meminimalisir adanya kekurangan dalam pelaksanaan tes lisan. β€’ Sebelum pelaksanaan tes tertulis, hendaknya guru sudah meng-inventarisasi-kan jenis-jenis soal yang akan diajukan pada siswa, sehingga memiliki validitas yang tinggi, dari isi maupun konstruksinya.

β€’ Selain menyiapkan butir soal guru juga harus menyiapkan jawabannya secara langsung. β€’ Jangan menentukan skor hasil tes setelah siswa menjalani tes secara lisan. β€’ Hendaknya tes yang dilakukan tidak berubah menjadi diskusi, tapi tetap evaluasi. β€’ Demi objektifitas dan keadilan, guru tidak boleh memberikan clue untuk membantu siswa, dengan memancing kata atau kalimat yang mengarah kepada jawaban soal dikarenakan rasa simpati atau kasihan pada siswa.

β€’ Ciptakan keseimbangan alokasi waktu antara siswa. β€’ Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan hendaknya dibuat bervariasi. β€’ Sebaiknya tes lisan dilakukan secara individual agar mudah melakukan penilaian terhadap kemampuan siswa secara individu β€’ Tes lisan yang dilakukan harus disadari guru sebagai cara untuk mengevaluasi hasil belajar para siswa. Penugasan Contoh lain dari penilaian pembelajaran dari segi aspek kognitif yaitu penugasan. Penugasan adalah ketika siswa diberikan tugas untuk mengukur kemampuan siswa dengan tujuan meningkatkan pengetahuan siswa.

Adapun penugasan yang dilakukan sebelum proses pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan contoh asesmen kognitif, dan penugasan yang dilakukan setelah proses pembelajaran bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa terhadap materi. Sama halnya dengan tes lisan yang dilakukan, tes yang dilakukan dengan penugasan pun memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan dari penugasan yaitu: β€’ Pengetahuan yang dipahami oleh siswa dapat bertahan lebih lama karena kemungkinan siswa dapat menemukan hal-hal baru ketika mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru β€’ Siswa memiliki kesempatan untuk memupuk perkembangan dan keberanian dalam mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.

Kekurangan dari penugasan ini adalah: β€’ Ada peluang untuk meniru hasil kerja siswa lain. β€’ Terkadang tugas dikerjakan orang lain tanpa pengawasan. β€’ Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individu, sehingga peluang siswa untuk bekerja sama lebih besar. Demikianlah contoh penilaian pembelajaran untuk aspek kognitif siswa selain tes tertulis, tes lisan dan penugasan dapat contoh asesmen kognitif alternatif oleh guru dalam melakukan penilaian pembelajaran Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga contoh asesmen kognitif, yakni: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah keterampilan.

Berdasarkan penilaian tersebut, pendidik dan orang tua anak dapat memperoleh informasi tentang capaian perkembangan untuk menggambarkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki anak setelah melakukan kegiatan belajar. Tiga ranah obyek asesmen proses dan hasil belajar ini juga diaplikasikan di pendidikan anak usia dini dalam STPPA atau standar tingkat pencapaian perkembangan anak yang dirumuskan dalam kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator.

Penilaia n dilakukan untuk mengukur dan mengetahui sejauh mana siswa mampu mengguasai kemampuan yang telah ditetapkan dalam tujuan pendidikan. Sebagaimana dijelaskan bahwa Assessment as the art of placing learners in a context that brings out of clarifies what a learner knows and can do, as well contoh asesmen kognitif what a learner may not know or cannot do. [1] Penilaian sebagai seni dalam menempatkan siswa dalam konteks untuk mengklarifikasi apa yang siswa tahu dan yang bisa dilakukan, seperti juga apa yang siswa tidak tahu dan apa yang tidak bisa dilakukan.

Pertanyaan pokok sebelum melakukan penilaian adalah apa saja yang harus dinilai. Untuk dapat menjawab pertanyaan ini maka sebelumnya harus mengetahui unsur-unsur yang terdapat dalam proses pembelajaran. Ada empat unsur utama dalam proses pembelajaran yaitu: 1) tujuan, 2) bahan, 3) metode dan alat, dan 4) penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses pemebelajaran pada hakikatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya.

Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan atau dibahas dalam proses pembelajaran agar sampai pada tujuan yang telah ditetapkan.

Metode dan alat adalah cara atau teknik yang digunakan dalam mencapai tujuan. Sedangkan penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Dengan kata lain penilaian berfungsi untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. Proses adalah kegiatan yang dilakukan siswa dalam memcapai tujuan pembelajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya, yakni: 1) Keterampilan dan kebiasaaan, 2) pengetahuan dan pengertian, 3) sikap dan cita-cita.

Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni: 1) informasi verbal, 2) keterampilan intelektual, 3) strategi kognitif, 4) sikap, dan 5) Keterampilan motoris. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan dan tujuan pembelajaran, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin S.

Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. [2] Pada pendidikan anak usia dini dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dalam bahasan Pedoman Penilaian menyatakan bahwa penilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur capaian kegiatan belajar anak.

Penilaian hasil kegiatan belajar anak oleh pendidik dilakukan untuk memantau proses dan kemajuan belajar anak secara berkesinambungan. Berdasarkan penilaian tersebut, pendidik dan orang tua anak dapat memperoleh informasi tentangcapaian perkembangan untuk menggambarkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki anak setelah melakukan kegiatan belajar.

[3] The cognitive domain includes those objectives which deal with recall or recognition of knowledge and the development of intellectual abilities and skills. [4] Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni: pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.

Istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata knowledge dalam taksonomi Bloom. Sekalipun demikian, maknanya tidak sepenuhnya tepat sebab dalam istilah tersebut termasuk pula pengetahuan faktual di samping pengetahuan hafalan atau untuk diingat seperti rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam undang-undang, nama-nama tokoh, nama-nama kota dan sebagainya.

Dilihat dari segi proses belajar, istilah-istilah tersebut memang perlu dihafal dan diingat agar dapat dikuasainya sebagai dasar bagi pengetahuan atau pemahaman konsep-konsep lainnya. Ada beberapa cara untuk dapat mengingat dan menyimpannya dalam ingatan seperti teknik memo, jembatan keledai, mengurutkan kejadian, membuat singkatan yang bermakna. Tipe hasil belajar pengetahuan termasuk kognitif tingkat rendah yang paling rendah.

Namun, tipe hasil contoh asesmen kognitif ini menjadi prasarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. Hafal menjadi prasarat bagi pemahaman. Contoh: anak mengetahui nama-nama warna sebelum anak mewarnai gambar pohon dengan warna yang sesuai. Tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan. Pemahaman adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan peserta didik/siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya.

contoh asesmen kognitif

{INSERTKEYS} [5] Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dibaca atau didengarnya, member contoh lain dari yang telah dicontohkan, atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Dalam taksonomi Bloom, kesanggupan memahami setingkat lebih tinggi daripada pengetahuan.

Namun, tidaklah berarti bahwa pengetahuan tidak perlu ditanyakan sebab, untuk dapat memahami, perlu terlebih dahulu mengetahui atau mengenal. Contoh: Anak memberikan dapat membedakan daun warna hijau yang masih muda dan warna kuning yang sudah tua. Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus.

Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi. Mengulang-ulang menerapkannya pada situasi lama akan beralih menjadi pengetahuan hafalan atau ketrampilan. {/INSERTKEYS}

contoh asesmen kognitif

Suatu situasi akan tetap dilihat sebagai situasi baru bila tetap terjadi proses pemecahan masalah. Contoh: anak menggunakan crayon warna merah untuk mewarnai bunga. Analisis adalah usaha memilah suatu integritas menjadi unsure-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hierarkinya dan atau susunannya.

Analisis merupakan kecakapan yang kompleks, yang memanfaatkan kecakapan dari ketiga tipe sebelumnya. Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai pemahaman yang komperhensif dan dapat memilahkan integritas menjadi bagian-bagian yang terpadu, untuk beberapa hal memahami prosesnya, untuk hal lain memahami cara bekerjanya, untuk hal lain lagi memahami sitematikanya.

Bila kecakapan analisis telah dapat berkembang pada seseorang, maka ia akan dapat mengaplikasikannya pada situasi baru secara kreatif. Contoh: anak mampu menyeleksi warna yang sesuai untuk mewarnai matahari, misal warna merah, kuning, dan orange. Penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian kedalam bentuk menyeluruh disebut sitesis. Berpikir berdasarkan pengetahuan hafalan, berpikir pemahaman, contoh asesmen kognitif aplikasi, dan berpikir analisis dapat dipandang sebagai berpikir konvergen yang satu tingkat lebih rendah daripada berpikir divergen.

Dalam berpikir konvergen, pemecahan atau jawabannya akan sudah diketahui berdasarkan yang sudah dikenalnya. Berpikir sintesis adalah berpikir divergen. Dalam pemikiran divergen pemecahan atau jawabannya belum dapat dipastikan. Berpikir sintesis merupakan salah satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif. Berpikir kreatif merupakan salah satu hasil yang hendak dicapai dalam pendidikan.

Seseorang yang kreatif sering menemukan atau menciptakan sesuatu. Kreativitas juga beroperasi dengan cara berpikir divergen. Contoh: Anak mampu mengombinasikan warna saat mewarnai awan dengan teknik gradasi mulai dari warna biru tua, biru muda, dan putih. Mengembangkan kemampuan evaluasi penting bagi kehiduapan bermasyarakat dan bernegara. Mampu memberikan evaluasi tentang kebijakan mengenai kesempatan belajar, kesempatan kerja, dapat mengembangkan partisipasi dan tanggung jawabnya sebagai warga Negara.

Mengembangkan kemampuan evaluasi yang dilandasi pemahaman, aplikasi, analisis, dan sintesis akan mempertinggi mutu evaluasinya. [6] Contoh: anak mampu menilai ternyata gambar yang diberi warna gradasi lebih bagus daripada dengan blocking atau satu warna saja.

Taksonomi Contoh asesmen kognitif baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri dari enam level: remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisis, mengurai), evaluating (menilai) dan creating (mencipta).

Revisi Krathwohl ini sering digunakan dalam merumuskan tujuan belajar yang sering kita kenal dengan istilah C1 sampai dengan C6. Perubahan istilah dan pola level taksonomi bloom dapat digambarkan sebagai berikut: Afektif tidak sama persis dengan sikap.

Sikap adalah bagian dari afektif. A second part of the Bloom taxonomy is affective domain. It includes objectives which describe changes in interest, attitudes, and values, and the development appreciations and adequate adjustment. [9] Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaa, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.

Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Penilaian belajar afektif kurang mendapat perhatian para guru. Tipe belajar afektif tampak pada siswa dalam beragai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.

e. Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi kepribadian dan tingkah lakunya.

[12] Contoh: anak diajari pentingnya menjaga persahabatan antar teman, maka salah satu cara menjaga persahabatan adalah mau berbagi makanan misalnya. Ketrampilan merupakan hasil dari aspek kognitif dan sikap yang berubah menjadi action (tindakan). A third domain is manipulative or motor skill area. [13] Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni: gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan ketrampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk ketrampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan ketrampilan, yakni: a) gerak refleks (ketrampilan pada gerakan yang tidak sadar); b) ketrampilan pada gerak-gerakan dasar; c) kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris dan lain-lain; d) kemampuan di bidang fisik, mislanya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan; e) gerak-gerakan skill, mulai dari ketrampilan sederhana sampai pada ketrampilan yang kompleks; f) kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.

contoh asesmen kognitif Ranah Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Ketrampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya. Perkembangan tersebut dapat diukur sudut kecepatan, ketepatan, jarak, cara/teknik pelaksanaan. Ada tujuh kategori dalam ranah psikomotorik mulai dari tingkat yang sederhana hingga tingkat yang rumit. [15] Contoh asesmen kognitif hasil belajar ranah psikomotoris berkenaan dengan ketrampilan atau kemampuan bertindak setelah ia menerima pengalaman belajar tertentu.

Hasil belajar ini sebenarnya tahap lanjutan dari hasil belajar afektif yang baru tampak dalam kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku. Contoh-contoh hasil perilaku ranah afektif dapat menjadi hasil belajar psikomotoris manakala siswa menunjukan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung di dalam ranah afektifnya.

contoh asesmen kognitif

{INSERTKEYS} [17] Perbedaan ranah psikomotoris dan ketrampilan. Ranah psikomotor merupakan istilah dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), sedangkan ranah keterampilan merupakan istilah dalam kurikulum 2013 (kutilas). Ada dua macam aspek keterampilan yaitu keterampilan ranah konkret dan keterampilan ranah abstrak.

{/INSERTKEYS}

contoh asesmen kognitif

Keterampilan ranah konkret mencakup aktivitas, menggunakan, mengurai dan lainnya, contohnya: anak menendang bola. Pada ranah konkret yang dinilai adalah aspek motorik/gerak fisik maka disebut psikomotor dan yang paling dominan disini adalah aspek motoriknya. Sedangkan keterampilan ranah abstrak yaitu keterampilan yang mencakup ranah menulis, membaca, menghitung, menggambar dan sebagainya.

pada ranah abstrak cenderung pada keterampilan seperti menguji, mengolah, menalar dan yang dominan dalam hal ini adalah aspek kognitif, maka disebut dengan keterampilan. Obyek Asesmen proses dan hasil belajar PAUD pada pasal 4 ayat (1) dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2004 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini menjelaskan bahwa: kompetensi inti PAUD merupakan gambaran pencapaian perkembangan anak pada akhir layanan PAUD usia 6 tahun yang dirumuskan secara terpadu dalam bentuk: Contoh objek asesmen proses dan hasil belajar dapat dilihat dari catatan guru dari hasil karya anak, catatan anekdot, serta lembar portofolio.

Misalnya anak menghasilkan karya berupa lukisan yang didalamnya ada gunung, matahari, awan, jalan, mobil, pohon, dan sawah. Guru dapat menulis catatan sebagai memakai kata kerja kunci taksonomi Contoh asesmen kognitif berikut: Ketiga ranah tersebut terdiri dari beberapa level serta kata kerja yang digunakan di masing-masing ranah mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks.

Di Pendidikan Anak Usia dini tiga ranah tersebut pun ada dalam Peraturan Menteri Pendidikan No. 146 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. Di dalamnya sudah terdapat 4 Kompetensi Inti (KI) yang kemudian dikembangkan menjadi Kompetensi Dasar (KD) serta dijabarkan lagi dalam indikator-indikator. Dalam model pembelajaran tematik terpadu di PAUD, kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk satu tema, sub tema, atau sub-sub tema dirancang untuk mencapai tujuan secara bersama-sama kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dengan mencakup sebagian atau seluruh aspek pengembangan.
Asesmen Diagnosis Kognitif Berkala yang Wajib Guru Ketahui di Masa Pandemi Sumber gambar: SC Buku Saku Asesmen Diagnosis Kognitif Berkala CecepGaos.Com - Halo, sahabat Edukasi!

Selamat datang kembali di blog sederhana CecepGaos.Com, media informasi pendidikan terbaru. Kali ini, CecepGaos.Com akan berbagi informasi tentang Asesmen Diagnosis Kognitif Berkala.

Di dalam kata pengantar buku saku tersebut disebutkan bahwa Pandemi Virus Corona (Covid-19) pada beberapa bulan belakangan berdampak pada berbagai sektor kehidupan, tidak terkecuali sektor pendidikan.

Untuk membatasi penyebaran dan penularan virus corona (Covid-19) secara luas di satuan pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengambil kebijakan penyelenggaraan Belajar dari Rumah (BDR). Kebijakan yang sama juga diterapkan di lebih dari 180 negara di dunia. Kebijakan BDR diyakini dapat berdampak pada perkembangan kognitif dan nonkognitif peserta didik yang selanjutnya dapat mempengaruhi wajah pendidikan di masa depan.

Kemudian disebutkan bahwa di Indonesia, beraneka ragamnya kondisi sosial-ekonomi, akses teknologi, serta kondisi wilayah sebaran Covid-19 menyebabkan pelaksanaan BDR serta capaian belajar peserta didik beraneka ragam.

Oleh sebabnya, asesmen untuk mengetahui hambatan dan kelemahan peserta didik pada saat BDR perlu dilaksanakan. Asesmen yang meliputi aspek kognitif dan nonkognitif perlu dilaksanakan supaya pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan kondisi peserta didik.

Hasil asesmen memberikan dasar kepada guru untuk menetapkan perlakuan atau strategi yang tepat kepada masing-masing peserta didik. Remedial atau pengayaan yang dilaksanakan sebagai tindak lanjut hasil asesmen adalah upaya untuk memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal atau dirugikan. Lebih lanjut disampaikan bahwa buku saku ini disusun untuk memberikan inspirasi, wawasan, dan panduan bagi Bapak dan Ibu guru dalam melaksanakan persiapan, pelaksanaan, diagnosis dan tindak lanjut yang tepat pada proses asesmen diagnosis.

Diharapkan buku ini menjadi salah satu penguatan terhadap prinsip β€œteaching at the right level” (pembelajaran sesuai dengan tingkat) khususnya pada masa pandemik. Asesmen Diagnosis Kognitif merupakan asesmen diagnosis yang dapat dilakukan secara rutin, pada awal ketika guru akan memperkenalkan sebuah topik pembelajaran baru, pada akhir ketika guru sudah selesai menjelaskan dan membahas sebuah topik, dan waktu yang lain selama semester (setiap dua minggu/ bulan/ triwulan/ semester).

Asesmen Diagnosis Kognitif bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar peserta didik dalam topik sebuah mata pelajaran. Asesmen diagnosis dapat mengandung satu atau lebih dari satu topik.

Contoh: asesmen diagnosis untuk matematika kelas V bisa mengandung topik penjumlahan dan pengurangan saja, atau semua topik dalam mata pelajaran matematika (termasuk penjumlahan dan pengurangan, jaring-jaring bangun ruang sederhana, pecahan, dll). Seperti Bapak/Ibu guru ketahui, kemampuan dan keterampilan peserta didik di dalam sebuah kelas berbeda-beda. Ada yang lebih cepat paham dalam topik tertentu, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami topik tersebut.

Seorang peserta didik yang cepat paham dalam satu topik, belum tentu cepat contoh asesmen kognitif dalam topik lainnya. β€’ Melakukan penilaian untuk masing-masing murid, dengan memberikan nilai 1 apabila jawaban benar, dan nilai 0 apabila jawaban salah. Jadi, seorang murid yang bisa menjawab dengan benar 10 soal akan mendapatkan nilai 10.

β€’ Menghitung rata-rata kelas, dengan menambahkan nilai total semua murid, dan membagi dengan jumlah murid yang mengikuti asesmen awal. β€’ Siswa dengan rata-rata kelas akan diajar oleh guru kelas β€’ Siswa 1 semester di bawah rata-rata mendapatkan pelajaran tambahan dari guru kelas β€’ Siswa 2 semester di bawah rata-rata akan dititipkan ke guru kelas di bawah, atau dibuatkan kelompok belajar yang didampingi orang tua, anggota keluarga, dan pendamping lainnya yang relevan Sumber gambar: Buku Saku Asesmen Diagnosis Kognitif Berkala β€’ Home β€’ About Us β€’ Dokter β€’ Kesehatan Wanita β€’ Nice Dental Care Clinic β€’ Mind and Behaviour Clinic β€’ Poliklinik Akupunktur β€’ Poliklinik Okupasi β€’ Poliklinik Umum β€’ Sport Injury Clinic β€’ Services β€’ Akupunktur Medik β€’ Dokter Umum / Spesialis β€’ Kesehatan Wanita β€’ Medical Check Up (Health Screening)) β€’ Mind & Behaviour Clinic β€’ NDC Aesthetic Dental Clinic β€’ Occupational Health Clinic β€’ Sasana Ciputra Physiotherapy Clinic β€’ Sport Injury Clinic β€’ Medical Support β€’ Laboratory β€’ Audiometri β€’ USG β€’ Treadmill β€’ Spirometri β€’ EKG β€’ Radiology β€’ Artikel BUAT JANJI Asesmen Kognitif Asesmen merupakan proses pengumpulan informasi yang sebagian besar digunakan untuk pengambilan keputusan oleh pihak terkait.

Asesmen juga dapat didefinisikan sebagai proses sistematis dalam mengumpulkan data yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi oleh individu.

Asesmen kognitif sendiri dapat diartikan sebagai pengambilan data untuk mengetahui kemampuan dan kesulitan secara kognitif yang dimiliki oleh individu. Asesmen dapat contoh asesmen kognitif interview, tes tertulis, observasi, maupun life record.

Kepada siapa Asesmen Kognitif diperuntukan? Pengukuran kognitif dari aspek contoh asesmen kognitif lebih dalam untuk melihat perkembangan bagi anak-anak, masalah sosial, masalah emosional, problem solving, dsb.

Bagi orang dewasa dapat digunakan untuk melihat penurunan fungsi kognitif dan sebagai media untuk menentukan diagnosa Untuk mendapatkan info lengkap dan pendaftaran, segera hubungi Ciputra Medical Center.

Anda akan dibantu oleh Staff kami yang siap memberikan informasi yang Anda butuhkan. Anda dapat melakukan konsultasi, asesmen, dan terapi yang sesuai dengan kebutuhan anda serta dilayani oleh Team yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya.
Contoh Asesmen Sederhana Penilaian Diagnosis Berkala Siswa Amongguru.com. Asesmen kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) dilakukan di semua kelas secara berkala untuk mendiagnosis kondisi contoh asesmen kognitif dan non kognitif siswa sebagai dampak pembelajaran jarak jauh.

1. Asesmen Kognitif Asesmen kognitif ditujukan untuk menguji kemampuan dan capaian pembelajaran peserta didik. Asesmen contoh asesmen kognitif diberikan untuk mengindentifikasi capaian kompetensi peserta didik.

Hasil asesmen kognitif akan menjadi dasar pilihan strategi pembelajaran. Asesmen kognitif juga dapat dilakukan dalam bentuk remedial atau pelajaran tambahan untuk peserta didik yang paling tertinggal. 2. Asesmen Non Kognitif Asesmen non kognitif ditujukan untuk mengukur aspek psikologis dan kondisi emosional peserta didik.

Asesmen non kognitif lebih mengutamakan pada kesejahteraan psikologi dan sosial emosi peserta didik. Asesmen non kognitif dilakukan untuk menilai aktivitas peserta didik selama belajar di rumah dengan tetap memperhatikan kondisi keluarganya. Baca : β€’ Pedoman Kurikulum Darurat pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus β€’ Download Buku Saku Asesmen Diagnosis Kognitif Berkala β€’ Buku Saku Kegiatan Literasi dan Numerasi Pembelajaran Jarak Jauh PJJ Prinsip Asemen dalam Kondisi Khusus Asesmen dalam Kondisi Khusus tetap dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.

1. Valid Asesmen menghasilkan informasi yang sahih mengenai pencapaian Peserta Didik. 2. Reliabel Asesmen menghasilkan informasi yang konsisten dan dapat contoh asesmen kognitif tentang pencapaian Peserta Didik.

contoh asesmen kognitif

3. Adil Asesmen yang dilaksanakan tidak merugikan Peserta Didik tertentu. 4. Fleksibel Asesmen yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Peserta Didik dan Satuan Pendidikan. 5. Otentik Asesmen yang terfokus pada capaian belajar Peserta Didik dalam konteks penyelesaian masalah dalam contoh asesmen kognitif sehari-hari. 6. Terintegrasi Asesmen dilaksanakan sebagai bagian integral dari pembelajaran sehingga menghasilkan umpan balik yang berguna untuk memperbaiki proses dan hasil belajar Peserta Didik.

Hasil asesmen selanjutnya digunakan oleh pendidik, Peserta Didik, dan orangtua/wali peserta didik sebagai umpan balik dalam perbaikan pembelajaran. Pengertian Asesmen Diagnosis Berkala Asesmen Diagnosis Kognitif bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar siswa dalam topik sebuah mata pelajaran.

Asesmen diagnosis dapat mengandung satu atau lebih dari satu topik. Contoh: asesmen diagnosis untuk matematika kelas V (lima) dapat mengandung topik penjumlahan dan pengurangan saja, atau semua topik dalam mata pelajaran matematika (termasuk penjumlahan dan pengurangan, jaring-jaring bangun ruang sederhana, pecahan, dan sejenisnya). Asesmen Diagnosis Kognitif berkala adalah asesmen diagnosis yang dapat dilaksanakan secara rutin, pada awal ketika guru akan memperkenalkan sebuah topik pembelajaran baru, pada akhir ketika guru sudah selesai menjelaskan dan membahas sebuah topik, dan waktu yang lain selama semester (setiap dua minggu/ bulan/ triwulan/ semester).

Langkah-langkah Asesmen Penilaian Diagnosis Berkala 1. Chek list untuk memastikan semua prinsip asesmen terpenuhi β€’ Untuk siswa kelas berapa asesmen dibuat?

β€’ Materi apa yang akan dinilai dalam asesmen? β€’ Kapan asesmen akan diberikan kepada siswa?

contoh asesmen kognitif

β€’ Dimana asesmen akan dilakukan, apakah di rumah atau di sekolah? β€’ Bagaimana cara asesmen dilakukan? Jika dilakukan di rumah, bagaimana cara soal disampaikan contoh asesmen kognitif orangtua/siswa? Apabila dilakukan di sekolah, apa saja yang harus disiapkan? 2. Menyusun Instrumen Asesmen β€’ Topik atau materi apa saja yang perlu dipahami peserta didik sesuai jenjangnya. β€’ Pengetahuan dan keterampilan apa yang perlu dikuasai siswa dari jenjang kelas sebelumnya sebagai prasarat dasar pembelajaran di jenjang kelas sekarang.

β€’ Memastikan setiap soal yang dipilih akan memberikan informasi tingkat pemahaman siswa. β€’ Pertanyaan disusun membentuk lintasan kemampuan yang kontinum.

3. Rencanakan tindak lanjut Tindak lanjut disesuaikan dengan aspek yang dinilai pada asesmen. Tindak lanjut pembelajaran mencerminkan tindakan yang relevan dengan kondisi setiap siswa, akomodatif, dan fleksibel 4. Lakukan secara berkala β€’ Guru melakukan asesmen diagnosis kognitif berkala pada awal dan setiap akan berganti topik atau materi baru. β€’ Guru melakukan asesmen diagnosis kognitif untuk menyesuaikan tingkat pembelajaran dengan kemampuan siswa, bukan untuk mengejar target kurikulum.

β€’ Guru mengajar kelompok sesuai dengan tingkat pembelajaran. Guru menyesuaikan aktivitas dan materi belajar di kelas dengan peningkatan rata-rata semua siswa di kelas. Contoh Asesmen Sederhana Penilaian Diagnosis Berkala Siswa dan penjelasannya secara lengkap dapat dilihat dan di unduh pada tautan di bawah ini. Unduh Demikian informasi mengenai contoh asesmen sederhana penilaian diagnosis berkala siswa. Semoga bermanfaat.
Langsung saja ya, buat Bapak/Ibu yang ingin berlatih soal-soal Kognitif dan soal-soal Non kognitif silahkan download soal-soal yang ada dan berlatih disini secara online.

β€’ – Non Kognitif Subtest 02 –> (208 pernyataan30 menit) β€’ – Non Kognitif Subtest 03 –> (153 pernyataan30 menit) β€’ – TKB Sub Tes 01 –> Logika dan berpikir kritis (20 soal, 30 menit) β€’ – TKB Sub Tes 02 –> Bayangan cermin contoh asesmen kognitif soal, 5 menit) β€’ – TKB Sub Tes 03 –> Memilih bentuk (20 soal, 8 menit) β€’ – TKB Sub Tes 04 –> Analisis Spasial (20 soal, 12 menit) β€’ TKB Sub Tes 06 –> Penalaran angka (16 soal, 10 menit) β€’ – Kompetensi Sub Tes 01 –>Pengetahuan (10 soal, 10 menit) β€’ – Kompetensi Sub Tes 02 –>Pengetahuan (10 soal, 10 menit) β€’ – Kompetensi Sub Tes 03 –>Pengetahuan (11 soal, 11 menit) β€’ – Kompetensi Sub Tes 04 –>Pengetahuan Akreditasi (8 soal, 12 menit) β€’ – Kompetensi Sub Tes 05 –>Pengetahuan Akreditasi (6 soal, 17 menit) Demikian dulu yang bisa kami bagikan semoga bermanfaat bagi Bapak/Ibu Asesor S/M yang akan mengikuti Ujian Ulang Kamis, 16 Juli 2020 nanti.

Contoh asesmen kognitif Sejahtera Bagi kita semua ! Profesional-Terpercaya-Terbuka Pos-pos Terbaru β€’ KUMPULAN SOAL TES SKD (TWK, TIU, TKP) SEKOLAH KEDINASAN BESERTA PENYELESAIANNYA 5 Mei 2022 β€’ KUMPULAN SOAL TES AKADEMIK BINTARA POLRI BESERTA PENYELESAIANNYA 5 Mei 2022 β€’ SOAL TRY OUT UTBK-SBMPTN TAHUN 2022 30 Apr 2022 β€’ KUMPULAN TES PSIKOLOGI (TNI/POLRI, CPNS/ASN, BUMN,SEKOLAH KEDINASAN) GRATIS !

29 Apr 2022 β€’ PERMENDIKBUD RISTEK RI NOMOR 16 TAHUN 2022 TENTANG STANDAR PROSES PADA PAUD, JENJANG DIKDAS, DAN JENJANG DIKMEN 28 Apr 2022 β€’ Tata Cara Pendaftaran, Jadwal, Ketentuan Umum, dan Syarat Rekrutmen Bersama BUMN 2022 !

contoh asesmen kognitif

27 Apr 2022 β€’ KUMPULAN KAMUS LENGKAP SINONIM DAN ANTONIM 26 Apr 2022 β€’ CONTOH SOAL TES INTELIGENSIA UMUM (TIU) SEKOLAH KEDINASAN TAHUN 2022 BESERTA PENYELESAIANNYA 23 Apr 2022 β€’ CONTOH SOAL TES KARAKTERISTIK PRIBADI (TKP) SEKOLAH KEDINASAN TAHUN 2022 BESERTA PENYELESAIANNYA 23 Apr 2022 β€’ CONTOH SOAL TES WAWASAN KEBANGSAAN (TWK) SEKOLAH KEDINASAN TAHUN 2022 BESERTA PENYELESAIANNYA 23 Apr 2022 β€’ PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) SMA/SMK NEGERI T.P.

2022/2023 DI LINGKUNGAN DINAS PENDIDIKAN PROVINSI SUMATERA UTARA 23 Apr 2022 β€’ PENERIMAAN TERPADU BINTARA POLRI GELOMBANG II TAHUN ANGGARAN 2022 12 Apr 2022 β€’ DOWNLOAD KUMPULAN CONTOH SOAL TES PSIKOLOGI POLRI TAHUN 2022 6 Apr 2022 β€’ 35 SOAL TES KARAKTERISTIK PRIBADI (TKP) BESERTA KUNCI JAWABANNYA 31 Mar 2022 β€’ SOAL TES WAWASAN KEBANGSAAN (TWK) UNTUK TES MASUK SEKDIN DAN POLRI 2022 28 Mar 2022 β€’ Contoh asesmen kognitif WAWASAN KEBANGSAAN (TWK) TES MASUK BINTARA POLRI DAN SEKDIN 2022 27 Mar 2022 β€’ 40 SOAL PSIKOTES PENGETAHUAN KUANTITATIF 25 Mar 2022 β€’ Sinonim, Antonim, Homonim, Hiponim, dan Polisemi 24 Mar 2022 β€’ PREDIKSI SOAL PSIKOTES POLRI (PENALARAN ANALITIS) TAHUN 2022 23 Mar 2022 β€’ CONTOH SOAL PSIKOTES POLRI (PENALARAN) TAHUN 2022 23 Mar 2022 β€’ Jadwal Penerimaan Calon Mahasiswa dan Taruna Sekolah Kedinasan Tahun 2022 21 Mar 2022 β€’ SOAL TES WAWASAN KEBANGSAAN DAN JAWABAN SESUAI KISI-KISI PERMENPAN-RB 21 Mar 2022 β€’ SOAL IKATAN KIMIA KELAS X SMA DAN JAWABANNYA 20 Mar 2022 β€’ KUMPULAN SOAL TES MASUK CALON BINTARA POLRI TAHUN 2022 19 Mar 2022 β€’ BIMBEL POLRI TERBAIK DI MEDAN TAHUN 2022 13 Mar 2022 β€’ CONTOH SOAL UTBK TPS (PENGETAHUAN DAN PEMAHAMAN UMUM) 9 Mar 2022 β€’ CONTOH SOAL PENGETAHUAN UMUM BESERTA JAWABANNYA 8 Mar 2022 β€’ SOAL-SOAL PSIKOTES (SINONIM, ANTONIM, ANALOGI, DAN POLA BILANGAN/HURUF) 8 Mar 2022 β€’ CONTOH SOAL AKADEMIK BINTARA POLRI TAHUN 2022 4 Mar 2022 β€’ KURIKULUM PROTOTYPE, SEBUAH HARAPAN BARU PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN 3 Mar 2022 β€’ PREDIKSI SOAL PENGETAHUAN UMUM POLRI TAHUN 2022 1 Mar 2022 β€’ PREDIKSI SOAL TES KOMPETENSI MANAJERIAL (TKM) POLRI TAHUN 2022 1 Mar 2022 β€’ Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Tahun 2022 28 Feb 2022 β€’ CONTOH SOAL PENGETAHUAN UMUM BINTARA TAHUN 2022 18 Feb 2022 β€’ CONTOH SOAL PENGETAHUAN UMUM AKPOL TAHUN 2022 18 Feb 2022 β€’ KUMPULAN SOAL PAEDAGOGIK TERBARU 12 Feb 2022 β€’ Contoh Soal Pengetahuan Umum Tes Masuk Calon Bintara Polri Tahun 2022 2 Feb 2022 β€’ Contoh Soal Wawasan Kebangsaan Tes Masuk Calon Bintara Polri Tahun 2022 30 Jan 2022 β€’ Contoh Soal Matematika Tes Masuk Calon Bintara Polri Tahun 2022 30 Contoh asesmen kognitif 2022 β€’ Contoh Soal Bahasa Inggris Tes Masuk Calon Bintara Polri Tahun 2022 28 Jan 2022 KLIK DULU

In House Training ASESMEN DIAGNOSTIK NON KOGNITIF & ASESMEN KOGNITIF




2022 www.videocon.com